Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
I
PENDAHULUAN
Kodifikasi sejarah merupakan sebuah bentuk proses
pengisahan peristiwa-peristiwa masalalu. Terlepas dari
keotentikan pengisahan tersebut, proses ini sangat erat kaitannya
dengan sikap, pendekatan, atau orientasi hidup manusia. Oleh
karena itu, perbedaan pandangan terhadap masa lalu yang pada
dasarnya adalah objektif dan absolut, pada gilirannya akan
menjadi suatu kenyataan yang relatif (Dudung,2007). Sebab, fakta-
fakta sejarah ibarat kepingan-kepingan puzzle berserakan
dimana-mana. peneliti berperan merangkai kembali kepingan-
kepingan ini, dengan baik dan benar. Dalam proses ini, kepingan-
kepingan fakta dituangkan oleh peneliti dalam bentuk tulisan,
cerita atau yang sering disebut historiografi (penulisan sejarah).
Metode sejarah sebagai metode penelitian, prinsipnya
adalah menjawab enam pertanyaan utama dalam sejarah.
Pertanyaan tersebut adalah: what (apa), when (kapan), where
(dimana), who (siapa), why (mengapa), dan how (bagaimana),
sebuah peristiwa terjadi. Karenanya, peneliti menilai penting
untuk mengelaborasi metodologi penelitian sejarah secara lebih
mendalam. Pembahasan ini akan dimulai dengan historiografi
penulisan sejarah sebagai ilmu pengetahuan.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |1
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Sejarah sebagai ilmu pengetahuan, tidak semata-mata
muncul begitu saja. Ia telah menjalani serangkaian proses untuk
menjelma menjadi sebuah disiplin keilmuan yang diakui. Sebabnya,
tiada lain sebagaimana ungkapan bahwa pernyataan historis
hanyalah sebuah statemen mengenai fakta-fakta historis,
sedangkan peristiwa historis sendiri sifatnya faktual bukan
tekstual (Ankersmit,1987).
Menggali eksistensi I Dewa Gedong Artha dan
keturunannya di masa silam yang mempunyai peranan penting
dalam dinamika kepemimpinan di Bali dapat dilakukan melalui
metode sejarah sebagaimana yang telah diungkapkan di atas.
Dalam mengungkap eksistensi seorang tokoh sejarah di masa
silam yang bernama I Dewa Gedong Artha putra dari Sri Aji
Dhalem Tegal Besung menjadi fokus pembahasan tulisan,
dilakukan melalui upaya penelitian dan telaah berbagai naskah
manuskrip, media lontar, media tembaga dan karya tulis ilmiah
yang mengungkap garis keturunan I Dewa Gedong Artha,
kepemimpinan dan hubungan kekerabatannya. Walaupun
pembahasan dalam buku ini lebih fokus kepada eksistansi I Dewa
Gedong Artha dan keturunannya, namun masih dipandang perlu
untuk mengungkap kepemimpinan yang pernah terjadi di keraton
Lingga Pura Samprangan.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |2
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
II
KEPEMIMPINAN DI KRATON LINGGA PURA
SAMPRANGAN
2.1 Sri Aji Dhalem Kresna Kapakisan
Kepemimpinan di Keraton Lingga Pura Samprangan diawali
dengan invasi Armada militer Majapahit melakukan penyerangan
ke Bali pada tahun 1343 dengan candrasangkala "Çaka Isu Raksasi
Nabhi" (anak panah, rasa, mata, pusat). Setekah Ki Pasung Grigis
dapat diperdaya dan ditawan maka seluruh wilayah Balidwipa yang
dipimpin oleh Sri Asthasura Ratna Bhumi Banten di keraton
Bedahulu, berada di bawah kontrol Majapahit. Namun demikian
semenjak Bedahulu takluk dibawah kontrol Majapahit situasi
politik Balidwipa belum betul betul stabil karena secara sporadis
masyarakat Bali Aga dan Bali Mula masih melakukan perlawanan.
Untuk mengatasi gejolak masyarakat yang semakin meluas
diperlukan pemimpin yang difinitif untuk melakukan penataan
wilayah dan membina kehidupan masyarakat Bali di bawah
hegemoni Majapahit.
Bertepatan dengan hari purnama-raya bulan keempat tahun
1352, Pemerintah Majapahit menetapkan kepemimpinan di
Balidwipa yang dipercayakan kepada Mpu Kresna Kapakisan putra
ke empat dari Sri Kresna Wang Bang Kepakisan. Setelah Mpu
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |3
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Kresna Kapakisan dinobatkan kemudian bergelar Sri Aji Dhalem
Kresna Kapakisan, Abhiseka Ratu Mpu Kresna Kapakisan tersurat
dalam Babad Dalem A sebagai berikut.
“.... ri wekasan dhatang måtta masa, ri pùrnnna ning
kàrttika, irika sira Ràkriyan Apatih Dwiradha Madha
amisèka dipati sang nemang diri. Mangkè sang petang
diri waûiþakna, anakè sira Çri Kreshna Wang Bang
Kapakisan, ri wus ing amiûeka, irika Kryan Apatih
Madha miturunaken sira sowang-sowang. Kang panuha
rinatwaken hanèng Balangbangan, kang pangulu
andiryyeng Pasùrwwan, ikang stri andirya ning
Sambhawa, kang pamuruju maka catra ning Balirajya.
Ndan tucapa sira sang sinuruh ing Balirajya, Dalem
Ketut Kreshna Kapakisan tengran ira, andiri
ngawengkwi Balirajya tembèyan ing çaka yogan muni
kang nètra dè ning bhaskara...."(Warna:1986:5;
Soebandi:2003:167)
Artinya:
Pada hari yang baik, tatkala purnama bulan keempat, saat
itu Rakriyan Patih Gajah Mada melantik enam orang adipati.
Kini diceritakan ke empat orang putra dan putri Sri Kresna
Wang Bang Kepakisan setelah dilantik, masing masing
dikirim oleh Maha Patih Gajah Mada yang tertua dijadikan
Adipati di daerah Blambangan, yang kedua di Pasuruhan,
yang ketiga seorang wanita menjadi ratu di Pulau Sumbawa
dan yang bungsu menjadi Adipati di Pulau Bali. Selanjutnya
dikisahkan yang ditugaskan menjadi Adipati di Bali,
bergelar Shri Aji Dalem Ketut Kresna Kapakisan, bertahta
di Bali pada Ç 1274 tahun 1352 Masehi ...."(Warna:1986:5.
Soebandi,2003:167).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |4
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Setelah Shri Aji Dalem Ketut Kresna Kapakisan dilantik
menjadi pemimpin difinitif untuk daerah Bali di dalam tahun Çaka
1274, Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan dengan diiringi oleh para
Arya dan pengikutnya menuju pulau Bali. Para Arya yang
mengiringi beliau antara lain: Arya Kanuruhan, arya wang Bang,
Arya Demung, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Manguri, Arya
pangalasan dan Arya Kutawaringin. Arya Gajah Para bersama
adiknya yang bernama Arya Getas dan tiga orang waisia yaitu Si
Tan Kober, Si Tan Kawur dan Si Tan Mundur menyusul para Arya
yang sudah berangkat lebih dahulu.
Shri Aji Dhalem Ketut Kresna Kapakisan dalam menjalankan
jantra pemerintahannya, baginda dibantu oleh Kyayi Gusti
Nyuhaya sebagai Mahapatih keturunan dari Shri Jayasaba.
Tumenggung dijabat oleh Sirarya Kutawaringin, dan Demung
dijabat oleh Sirarya Wangbang. Atas kesepakatan Shri Aji
Dhalem Ketut Kresna Kapakisan dengan para arya yang
mengiringinya dari majapahit, baginda menetapkan lokasi Alas
Sabrang sebagai lokasi Keraton pusat pemerintahan Balidwipa.
dipilihnya alas sabrang untuk membangun keraton karena
mempunyai kenangan tersendiri bagi Mahapatih Gajah Mada dan
pengikut-pengikutnya dimasa yang lampau.
Keraton yang didirikan di alas sabrang, diberinama Keraton
Lingga Pura Samprangan. Pemberian nama ini tersurat dalam
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |5
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Prasasti Pasek Gelgel Mahagotra Pasek Sanak Sapta Rsi
(Soebandi,2003:167) sebagai berikut.
”.... Raju Ida Dalem lumaris, nyujur Bangsul bhumi, tan
kateng hawan rawuh ka pasisi bhumi Baliyaga, raju Ida
Dalem angalor ring bhumi Rangkung, ngungsi ring Alas
Sabrang, irika Ida kawangunang puri, antuk para punggawa
sami, dening sampun manggeh linggih Ida Dalem irika, ika
marmmane kaparabin Rajya Samprangan....”
Artinya:
"....segera Ida Dalem berangkat, menuju Pulau Bali, tidak
diceritakan dalam perjalanan hingga sampai di pantai pulau
Bali, selanjutnya Ida Dalem bergerak ke arah utara dari
Pantai Rangkung (Lebih), menuju Alas Sabrang, oleh karena
sudah dipandang tepat lokasi Alas Sabrang sebagai keraton,
kemudian di lokasi ini dibangun keraton, oleh para punggawa
dan rakyatnya, itulah sebabnya dinamakan Keraton
Samprangan...."
Membangun pusat kerajaan dan perkampungan penduduk
tentu harus memperhatikan paling tidak dua faktor yaitu 1)
keamanan, 2) transfortasi.
Pertama, bilamana ditinjau dari aspek keamanan bahwa
kawasan alas sabrang secara geografi di apit oleh dua aliran
sungai dan ngarai yang cukup dalam, disebelah timur adalah sungai
sangsang dan di sebelah barat terdapat sungai cangkir, di utara
berdiri megah bukit jati dan di selatan pasisir lebih (pesisi
rangkung). Sungai dan ngarai yang dalam dapat dimanfaatkan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |6
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
sebagi pelindung kota kerajaan dan bukit sebagai tempat
pemantauan terhadap akses keluar-masuk kota kerajaan, Sungai,
bukit dan pantai inilah yang menjadi pembatas kompleks keraton
dengan daerah lainnya. Pembatas ini dapat dipandang sebagai
benteng pertahanan yang sangat dibutuhkan dalam rangka
mempertahankan keraton dari serangan musuh.
Kedua, Apabila memperhatikan kota kota kerajaan
dibeberapa negara selalu dekat dengan pelabuhan yang digunakan
akses keluar masuk barang dalam rangka pengembangan pasar.
Adanya dua sungai yang terhubung dengan pantai Lebih (pasisi
rangkung) memberikan manfaat dari aspek lalu - lintas
perekonomian dan perdagangan. Nampaknya pantai Lebih
diharapkan menjadi pelabuhan kerajaan yang akan dikunjungi oleh
kapal-kapal pengangkut barang berikut para pedagang dan para
pejabat kerajaan beserta kaum brahmana maupun warga
pendatang yang hendak ke kota Samprangan ataupun dengan
tujuan sebaliknya untuk meninggalkan Bali.
Tidak kalah menariknya untuk di bahas mengapa memilih
Alas Sabrang sebagai lokasi membangun kota kerajaan dan
perkampungan penduduk. dipilihnya Alas Sabrang dijadikan kota
kerajaan berdasarkan historis alas sabrang pernah dijadikan
lokasi perkemahan pasukan Majapahit untuk mengatur strategi
dan siasat yang tidak terendus oleh keraton Bedahulu.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |7
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Perkemahan di Alas Sabrang menjadi kenangan tersendiri di hati
Mahapatih Gajah Mada dan para perwira Majapahit. Siasat yang
direncanakan di Alas Sabrang berhasil dan Keraton Bedahulu
dapat ditaklukan pada tahun Ç 1343, dengan takluknya keraton
Bedahulu berarti kepemimpan Balidwipa berada di dalam kontrol
Majapahit.
Dalam rangka membangun pusat pemerintahan dan
perkampungan dengan berbagai fasilitas infrastruktur suatu kota
kerajaan, maka dilakukan pembukaan lahan yakni alas sabrang.
Pembukaan alas sabrang dimulai dari suatu delta yang disebut
Tegal Ancut atau Abian Sahang adalah dataran yang terletak di
antara pertemuan dua aliran sungai (Campuhan) yaitu Sungai
Cangkir dan Sungai Sangsang yang bermuara di Samudera
Indonesia (Wiguna, 2016). Pengerjaan pembukaan lahan ini juga
terungkap dan tersurat dalam kitab Bhuwana Tattwa Maharsi
Markandheya (Ginarsa, 1979: 22), sebagai berikut.
“ ….Ngkana Sri Aji Wawu Rawuh, umarah ring wadwa
nira agawe genahing pagagan, mwang unggwaning
pasraman, katekaning anandur palabuktya mwang
palamula, ya nimita agirang wadwa nira marabas ikang
janggala, apan ikang janggala pingit-angker, pinasuki
Dete-Dawang, wong samar, ya angde wadwa Sri Aji
kena lara gering sumeng,..... “
Arti kutipan tersebut:
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |8
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
“…..saat itulah baginda raja yang baru datang (Dhalem
Ketut Kresna Kapakisan), memerintahkan warganya
membuat lahan perkebunan-pertanian, dan areal pemukiman,
guna dijadikan lahan mem-budidayakan tanaman yang dapat
mendatangkan hasil panen dan tanaman yang layak
dikembangkan, membuat suka-cita para warga dalam
membuka lahan tegalan, oleh karena lokasi tegalan sangat
angker, dijaga oleh mahluk halus, mahluk yang tidak tampak
dengan kasat mata, menyebabkan warga terserang wabah
penyakit....”
Diceritakan pada saat pembukaan lahan di tegal ancut
berjangkit wabah penyakit di kalangan warga yang sedang
melakukan pembukaan lahan. Hal ini menjadi perhatian Dhalem
Ketut Kresna Kapakisan secara serius, untuk mengatasinya.
Baginda memohon masukan dari Ida Rsi Bujangga Mustika. Atas
masukan dan nasehat Ida Rsi, kemudian diselenggarakan upacara
persembahan dan pemujaan berupa Caru Boganana yang dipimpin
oleh Rsi Bujangga Mustika, tujuannya dipersembahkan Caru
Boganana di tegal ancut untuk menetralisir anasir-anasir negatif
di kawasan pembukaan lahan tersebut. Tidak berselanglama
setelah selesai penyelenggaraan persembahan tersebut para
warga kembali sehat seperti sedia-kala sehingga pekerjaan dapat
dilanjutkan sampai tuntas (Ginarsa, 1987: 29).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton |9
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Sebagai ungkapan syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widi
Wasa dan penguasa alam setempat, karena berhasilan membuka
Alas Sabrang yang dijadikan pusat kerajaan dan perkampungan
penduduk, kemudian dibangun tempat-tempat suci di tegal ancut.
Di sekitar sumber mata air dibangun tempat suci yang disebut
Pancoran Tirta Maya yang diyakini merupakan waranugraha dari
Yang Maha Kuasa kepada Dhalem Kresna Kapakisan dan rakyatnya
untuk mencapai kesejahteraan.
Kepemimpinan Ida Dhalem Kresna Kapakisan di Bali
membawa pula ketentuan tradisi yang berlaku di Majapahit dalam
arti otoritas Samprangan telah mengupayakan memajapahitkan
Bali (Sidemen,2005;114). Hal ini tampak dari penerapan produk
hukum Majapahit di Bali seperti pemberlakuan konstitusi Manawa
Dharma Sastra, Kuttara Manawa, Adigama yang mengubah
paradigma sistem hukum sebelumnya. Begitu juga struktur
birokrasi pemerintahan juga mengikuti sistem ketatanegaraan
Majapahit, seperti jabatan di tingkat pusat terdiri atas jabatan
Raja, Patih, Demung, Tumenggung dan Punggawa yang kesemuanya
dijabat oleh orang-orang Majapahit. Adapun di tingkat desa
muncul jabatan Pasek sebagai pelaksana pemerintahan dalam
penerapan hukum kerajaan dan Bandesa bertugas mengelola
penyelenggaraan upacara keagamaan di desa-desa pakraman.
Penerapan sistem ketatanegaraan Majapahit di Bali tersebut
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 10
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
mengindikasikan sebagai garis kebijakan otoritas Samprangan
dalam me-Majapahit-kan Bali termasuk dalam tata ruang
pembangunan keraton Samprangan yang mengikuti tradisi di
Majapahit berikut tempat-tempat ibadah yang menghulu ke
Gunung dan berstatus sebagai Pura Kerajaan (Wiguna, dkk: 2016)
Seperti yang telah diuraikan di atas, para menteri, arya
yang bersama Shri Aji Dhalem Ketut Kresna Kapakisan dari
Majapahit di tempatkan diberbagai tempat yang strategis oleh
Mahapati Gajah Mada. Arya Kapakisan berkedudukan sebagai
Mahapatih di tempatkan di Nyuhaya, sehingga Arya Kapakisan
lebih dikenal di masyarakat dengan nama I Gusti Nyuhaya. Adapun
para meteri yang lain seperti: Arya Kutawaringin di tempatkan
Gegel, Arya Kenceng di Tabanan, Arya Belog (Tan Wikan) di Kaba
- kaba, arya dalancang di Kapal, Arya belentong di Pacung, Arya
Sentong di Carangsari, Arya Kanuruhan di Tangkas, Kriyan Punta
di Mambal, Arya Jrudeh di Tamukti, Kryan Tumenggung di
Patemon, Arya Demung Wang Bang Kediri di kretalangu, Arya
Sura Wang Bang Lasem di Sukahet, Arya Melel Cengkrong di
Jembrana, Arya Pamacekan di Bondalem, Arya Gajah Para dan
Arya Getas di Toyanyar dan Arya Wang Bang Mataram tidak
menetap disuatu tempat dan boleh dimana-mana.
Di awal pemerintahan Ida Dalem Shri Aji Kresna Kapakisan,
telah terjadi komunikasi yang tidak nyambung antara pihak
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 11
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
kerajaan dengan masyarakat pegunungan Bali Aga dan Bali Mula,
hal inilah penyebab terjadinya perlawanan yang hebat dari warga
masyarakat Bali Mula dan Bali Aga. Golongan ini menilai
pemerintahan yang baru dibawah kepemimpinan Ida Dhalem Shri
Aji Kresna Kapakisan tidak mengindahkan tradisi masyarakat Bali
Mula dan Bali Aga yang telah berlangsung beratus-ratus tahun
sebelumnya. Gerakan pembangkangan ini cepat meluas, sampai
sampai membuat sang adhipati putusasa untuk menghadapinya.
Namun berkat motivasi dari Patih Gajah Mada, kemudian Sri Aji
Dhalem Kresna Kapakisan mengambil langkah-langkah kongkrit,
yaitu: Mendekati para pimpinan masyarakat Bali Mula dan Bali Aga
yang menetap di daerah pegunungan dan mengakui eksistensi
mereka atas daerah yang dikuasainya. Mengakui dan mengayomi
tempat-tempat ibadah yang telah ada di seluruh Bali dan
menghormati adat yang telah berlaku.
Atas kebijakan sang adhipati lalu diadakan usaha kodifikasi
atas beberapa tradisi pengelolaan pura-pura besar di Bali seperti
Pura Agung Besakih, Pura Ulun Danu Batur dan tempat tempat
pemujaan lainnya yang tercantum dalam Raja Purana Pura.
Kebijakan yang tidak kalah pentingnya memberikan tugas dan
wewenang kepada keturunan Sang Sapta Resi diberikan memegang
jabatan Pasek dan Bandesa dalam mengelola pelaksanaan hukum
kerajaan dan upacara keagamaan di desa-desa pakraman. Dengan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 12
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
diberlakukannya kebijakan ini maka stabilitas politik di Bali
semakin hari semakin mantap dan "Jantra" roda pemerintahan
dapat berlangsung dengan efektif.
Pembahasan sejarah kepemimpinan di Bali tahun Ç 1274
(1352 M), tampaknya sangat penting untuk menyegarkan ingatan
kita dalam mengenal kelahiran tokoh-tokoh yang pernah
memegang jabatan "Dhalem" di keraton Lingga Pura Samprangan.
Ada tiga tokoh sebagai pemimpin Balidwipa yang berkedudukan di
Samprangan. 1) Mpu Kresna Kepakisan yang dilantik sebagai
Adipati Majapahit di Bali. Setelah abiseka ratu bergelar Sri Aji
Dhalem Kresna Kapakisan. 2) I Dewa Samprangan adalah putra
sulung dari Sri Aji Dhalem Kresna Kapakisan, beliau menjadi
penguasa Balidwipa menggantikan ayahndanya yang wafat pada
tahun 1373.
Menurut sistem kerajaan yang menjadi raja menggantikan
pendahulunya adalah putra sulung, dengam demikian secara tradisi
kerajaan I Dewa Samprangan yang berhak atas tahta di keraton
Lingga Pura Samprangan. Setelah I Dewa Samprangan menjalani
abiseka ratu beliau bergelar Sri Aji Dhalem Agra Samprangan
pemegang tahta ke- 2 keraton Lingga Pura Samprangan , dan
selanjutnya sebagai pemegang tahta ke-3 adalah I Dewa Tegal
Besung setelah abhiseka ratu bergelar Sri Aji Dhalem Tegal
Besung menggantikan Kakandanya Sri Aji Dhalem Agra
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 13
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Samprangan. Diangkatnya I Dewa Tegal Besung menjadi Raja di
Samprangan karena I Dewa Tarukan tidak berkenan menjadi raja
beliau lebih fokus mejalankan kewikuan, disamping itu secara
ekonomi beliau sudah berkecukupan, sementara I Dewa Ketut
Ngulesir sudah diangkat menjadi raja di keraton Sweca Lingga
Arsa Pura di Gegel oleh petinggi kerajaan yang diprakarsai oleh
kyayi Bendesa Gegel Klopadyana.
Pemahaman kepada tiga tokoh sentral yang pernah
memimpin Balidwipa yang berkedudukan di keraton Lingga Pura
Samprangan sangat penting, baik diamati dari orang tuanya,
saudaranya maupun lingkungan kehidupan masa kecil sampai
dewasa, termasuk keturunannya. Pemahaman ini sangat diperlukan
dalam rangka mengikuti perjalanan sejarah tokoh-tokoh ini
sehingga terbentuk pola pemikiran sejarah yang komprehensif
terkait dengan dinamika sejarah Bali pada periode tersebut.
Dalam mengemban kepemimpinan di Balidwipa Sri aji Kresna
Kapakisan didampingi oleh para istri yang terikat dalam
pernikahan secara adat dn agama, dari pernikahan itu lahir empat
orang putra, tiga orang laki-laki dan satu orang putri yang lahir
dari Ni Gusti Ayu Tirtha, keturunan dari Siraryya Gajah Para,
istri beliau yang kedua bernama Ni Gusti Ayu Kutawaringin
keturunan dari Siraryya Kutawaringin menurunkan seorang putra
laki-laki, dan istri ke tiga bernama Ni Dyah Amerta Jiwa yang
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 14
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
juga dikenal dengan nama Brahmani Ketepeng Reges karena Ni
Dyah berasal dari desa Ketepeng Reges di Jawa Timur. Ni Dyah
Amerta Jiwa adalah saudara tua dari istri Kyayi Kenceng (Warna,
1986,11; Babad Dhalem Sukawati).
Keberadaan para putra Dhalem Sri Aji Kresna Kapakisan
seperti yang tersurat dalam buku Babad Dalem "Teks dan
Terjemahan, yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan, Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Bali (1986,11)
pada buku tersurat sebagai berikut.
”..., Dalem Ketut Kreshna Kapakisan maka patra bhisèka nira
Çri Aji, huwus umantuk èng swarggà-loka, wus puput
tiniwaken sahà panileman sapratyèka ning pulà-pali
pangupakara ning prabhù anyakra wartti. Sira aninggalaken
suta tatiga patunggalan ing ibu, matuh saking Ni Gusti Ayu
Tirtha, wangsa nira Siràryya Gajah Para, lwirè kang jyèsta,
Ida I Dewa Samprangan, hilè pwa sira. Kang panghulu
apasajna Ida I Dewa Taruk, tan kèmut èng kaprabhon, makadi
hus tan kurang bharana, hyun ira lumakûaóang kapaódhitan.
Wàrggi nira stri, dèn pasomahana lawan sira Kuda
Paóandhang Kajar, putra Blangbangan tùs ning Tumenggung
saking Pasùrwwan, kanggeh putra-putrayan dè Ida I Dewa
Taruk, kahana ning rùpawan, guóa wicakûaóa, kahana ning
widhya wiwèka, weruh amet màs mawor laàwan prithiwi.
Kunang ikang pamuruju, apanelah Ida I Dewa Ketut babotoh
sira angulesir. Hana mwah suta nira sanunggal, waneh ibu,
abhiûèka Ida I Dewa Tegal Besung, wijil ira saking Ni Gusti
Ayu Kùtawaringin sanakè Kyayi Abyan Tubuh, pinih alit kayà
anglangsut pwa wijil ira ....”.(Babad Dalem A, 1986:11)
Artinya:
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 15
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
".... Dhalem Ketut Kresna Kapakisan, baginda telah
berpulang ke Wisnu Loka, sudah dilasankan pelebon sampai
pada panileman sesuai dengan tatacara seorang raja besar.
Baginda mempunyai beberapa orang putra, tiga orang lahir
dari Ni Gusti Ayu Tirta putri Sira Arya Gajah Para yang
tertua bernama Ida I Dewa Samprangan, sangat gemar
bersolek. Yang kedua Ida I Dewa Taruk tidak tertarik
hatinya untuk menjadi raja, juga beliau seorang hartawan,
ingin melaksanakan darma seorang pendeta. Yang bungsu
bernama Ida I Dewa Ketut, suka berjudi berkeliling, adalagi
seorang putra lain ibu bernama Ida I Dewa Tegal Besung,
lahir dari Ni Gusti Ayu Kutawaringin saudara Kyayi Abian
Tubuh, putra yang paling muda, jarak waktu kelahirannya
agak jauh bila dibandingkan dengan kakak-kakaknya...."
Piagem: I Dewa Gedong Artha, koleksi Merajan Anyar Desa
Manggis Karangasem menyuratkan:
”.... sapatilare Dalem Wawu Rawuh, tri putra nira,
patunggalaning ibu saking Ni Gusti Ayu Gajah Para, lwire,
kang pinih luhur I Dewa Samprangan, ile pwa sira, I Dewa
Tarukan buduh-buduhan, kang warggi stri pasomahaken
lawan Ki Kuda Panandhang Kajar, kunang kang pinih alit I
Dewa Ketut babotoh sira angulesir. Hana mwah waneh ibu,
abhiseka I Dewa Tegal Besung, wijil ira saking Ni Gusti Ayu
Kutawaringin, pinih alit anglangsut pwa wijil ira....”
Artinya: Berpulangnya Dalem Wawu Rawuh, meninggalkan
tiga orang putra dari I Gusti Ayu Gajah Para, antara lain
yang paling besar bernama I Dewa Samprangan, suka
bersolek beliau, putra kedua bernama I Dewa Tarukan, yang
ketiga sorang putri dikawinkan dengan Ki Kuda Panandang
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 16
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Kajar putra angkat I Dewa Tarukan dan yang paling kecil
bernama I Dewa Ketut babotoh, Ada juga seorang putra
berlainan Ibu diberinama I Dewa Tegal Besung lahir dari Ni
Gusti Ayu Kutawaringin. Kelahiran beliau sangat jauh
jaraknya dari empat saudaranya yang lain.
Pamancangah I Dewa Kaleran, koleksi I Dewa Made Sukita
di Nusa Penida Klungkung, pada halaman 2 dan 3 menyuratkan:
”....Kunang sira dalem Ketut Kresna Kapakisan,
hangamet sira stri, panuha anak ira Siraryya Gajah
Para, manuwuhaken suta titiga padha kakung, jyesta
Sira Dalem Samprangan, sangari Sira Dalem Tarukan,
pamungsu Sira Dalem Ketut Ngulesir, sira babotoh
angulesir, ri wekasan bhiniseka Dalem Ketut Smara
kapakisan, kang hamimiti asthaneng Gelgel. Kunang sira
dalem Ketut Kresna Kapakisan, astri pamadhe anak ira
Siraryya Kutawaringin, manuwuhaken suta kakung
sanunggal, apasajna Dalem Tegal Besung....”
Artinya : ".... Dalem Ketut Kresna Kapakisan mengambil istri
putri dari Siraryya Gajah Para, menurunkan tiga orang
putra, yang paling besar bernama Dalem Samprangan,
adiknya bernama Dalem Tarukan, yang bungsu bernama,
Dalem Ketut Smara kapakisan menjadi raja di Gegel. Istri
ke dua putri dari Siraryya Kutawaringin menurunkan
seorang putra bernama Dalem Tegal Besung...."
Purana Shri Aji Tegal Besung Drewen Pemerajan Lebih
lepihan 5 menyuratkan:
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 17
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
".... sapatilare Dewa Wawu Rawuh, tri putra nira,
patunggalaning ibu saking Ni Gusti Ayu Gajah Para,
luire tkang pinih luhur I Dewa Samprangan. Suka hayas
pwa sira, I Dewa Tarukan wruh riambek mas ring lemah,
kang wargi stri pasomahaken lawan Ki Kuda
Panangdang Kajar, kunang kang pinih alit I Dewa Ketut
Kepakisan, sira angulesir sumaksaya wruhing balada
bali. Ana muah waneh Ibu, abiseka I Dewa Tegal
Besung, wijilira saking Ni Gusti Kutawaringin, pinih alit
anglansut pwa wijilira...."
Artinya: ".... Berpulangnya Dalem Wawu Rawuh,
meninggalkan tiga orang putra dari I Gusti Ayu Gajah Para,
antara lain yang paling besar bernama I Dewa Samprangan,
suka bersolek beliau, putra kedua bernama I Dewa Tarukan
pintar mencari emas dari tanah, yang ketiga sorang putri
dikawinkan dengan Ki Kuda Panandang Kajar putra angkat I
Dewa Tarukan dan yang paling kecil bernama I Dewa Ketut
Kepakisan senang bepergian untuk mengamatan masyarakat
Bali...."
Babad Dhalem sukawati yang telah dialih bahasakan ke
dalam bahasa Bali menyuratkan I Dewa Tegal Besung lahir dari Ni
Gusti ayu Kutawaringin. Sementara istri ketiga dari Shri Aji
Dahlem Ketut Kresna Kapakisan bernama Ni Dyah Amerta Jiwa,
pada babad-babad yang lain lebih dikenal dengan sebutan
Brahmani Ketepeng Reges adalah putri pertama dari desa
Ketepang Reges di jawa timur. Pernikahan Ni Dyah Amerta Jiwa
dangan Dahlem Ketut Kresna Kapakisan melahirkan seorang putra
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 18
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
yang bernama I Dewa Anom dikemudian dikenal dengan nama
Dhalem Benculuk, dilindungi dan dibesarkan oleh Arya Kenceng. I
Dewa Anom adalah keponakan dari Arya Kenceng karena istri
Arya Kenceng adik dari Ni Dyah Amerta Jiwa. Keberadaan
Brahmani Ketepeng Reges yang tidak lain adalah Ni Dyah Amerta
Jiwa juga disebutkan dalam buku Serat Tanah Bali Babad Dhalem
yang ditulis oleh Ida I Dewa Ketut Mardiana pada halaman 116.
Catatan sejarah tentang keberadaan Dewa Tegal Besung
dan keturunannya dapat juga dijumpai dalam beberapa buku hasil
penelitian. buku-buku tersebut antara lain:
Buku Sejarah Bali yang ditulis oleh Warna dkk (1986:125)
menyatakan bahwa ”Dalem Ketut Sri Kresna Kapakisan mempunyai
dua orang istri, yaitu: (1). I Gst Ayu Gajah Para, bernama I Gst
Ayu Raras, puteri dari Sirarya Gajah Para mempunyai putera
empat orang yaitu : I Dewa Samprangan, I Dewa Tarukan, Dewa
Ayu Swabawa dan I Dewa Ketut Ngulesir. (2). I Gst Ayu
Kutawaringin, putri Sirarya Kutawaringin mempunyai putera satu
orang bernama I Dewa Tegal Besung.
Buku Sejarah Bali Dari Prasejarah Hingga Modern yang
ditulis oleh Ardika dkk (2018:272) menyuratkan bahwa ”Raja Sri
Aji Dhalem Kresna Kepakisan mempunyai dua orang istri, yakni I
Gusti Ayu Raras atau Ni Gusti Ayu Tirta (putri Arya Gajah Para)
dan Ni Gusti Ayu Kutawaringin(adik Arya Kebon Tubuh). Dari istri
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 19
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
pertama melahirkan tiga orang putra dan satu putri yakni, I Dewa
Samprangan, disebut sangat gemar bersolek, malas mengurus
pemerintahan, maka dikenal dengan Dalem Ile. Putra kedua
bernama I Dewa Tarukan, tidak tertarik hatinya untuk menjadi
raja karena ingin melaksanakan dharma seorang bujangga. Yang
ketiga seorang putri bernama I Dewa Ayu Swabawa dan keempat
I Dewa Ketut Ngulesir, suka pelesiran berpetualang ke mana-
mana, suka berjudi, tidak betah tinggal di puri. Selanjutnya dari
istri kedua melahirkan seorang putra bernama I Dewa Tegal
Besung”.
Eksistensi I Dewa Tegal Besung juga dapat dijumpai pada
buku yang bersumber dari Lontar yang telah dialih aksarakan dan
sebagian telah dialih bahasakan seperti: Babad Dalem milik Ida I
Dewa Made Oka, Jro Kanginan Sidemen Karangasem dialih
aksarakan oleh Ida I Dewa Catra yang tinggal di Desa Subagan
Amlapura (1982). Buku sejarah Bali dalam projek penyusunan
sejarah Bali oleh Pemerintah Daerah Tk. I Bali Yang diketuai oleh:
drs. I Gusti Ngurah Rai Mirsha, juga menyebutkan keberadaan I
Dewa Tegal besung dan keturunannya, hal yang sama juga
disebutkan alih aksara lontar "Prasasti I Dewa Timbul Ring
merajan Lebih Gianyar, Babad Pungakan Timbul koleksi Puri kawan
Singaraja, Prasasti Merajan Jeroan Desa Manggis Karangasem
Koleksi Balai Arkeologi Denpasar (2000). Prasasti Dinasti
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 20
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Warmadewa Tatwa, Koleksi Balai Arkeologi Denpasar (2011),
Prasasti Mrajan Agung Kaleran Banjarangkan (Turun,2000),
Prasasti I Dewa Banjar Koleksi Anak Agung Gde Mayu (2001),
Babad Pungakan Timbul Koleksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali
(2002) dan masih banyak lagi prasasti, Rajapurana, Pamancanggah,
Gaguritan yang memuat eksistensi I Dewa Tegal Besung dan
Keturunannya.
Buku sejarah I Dewa Tegal Besung yang di Tulis Oleh Jro
Mangku Ktut Soebanadi (2000,22) menyuratkan bahwa dalam
tahun Çaka 1382 Sri Aji Dhalem Smara Kapakisan wafat,
meninggalkan seorang putera laki-laki bernama Sri Jaya Kapakisan
karena beliau masih remaja, Atas kesepakatan petinggi kerajaan
maka pemerintahan dikendalikan oleh I Dewa Tegal Besung (Ywa
Raja saat Sri Aji Dhalem Smara Kepakisan bertahta) setelah
melalui upacara kerajaan beliau bergelas Sri Aji Dhelem Tegal
Besung. Sri Jaya Kapakisan mempunyai kegemaran mengunjungi
tempat-tempat suci antara. Tempat suci dan kramat yang beliau
kunjungi antaralain kawasan hutan di pinggir Danau Batur. Karena
tekun dan taat melakukan tapa-berata itu maka pada suatu saat
beliau memperoleh waranugraha (rakhmat) dari Hyang Enggong
(Dewa). Atas waranugraha (rakhmat) dari Dewa yang berstana di
Danau Batur, beliau bergelar I Dewa Batur Ra Enggong (Watur
Enggong).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 21
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Sumber-sumber tertulis tersebut di atas, dengan sangat
jelas menyatakan bahwa I Dewa Tegal Besung merupakan putera
bungsu dari Sri Aji Dhalem Kresna Kapakisan yang bertahta di
keraton Lingga Pura Samprangan sejak tahun 1352 sampai 1380.
Jika dilihat dari aspek hubungan keluarga, I Dewa Tegal Besung
bersaudara lain ibu dengan I Dewa Samprangan.,I Dewa Tarukan,
I Dewa Ayu Swabawa, dan I Dewa Ketut Anom Ngulesir, seperti
yang tersurat dalam Babad Dalem "Teks dan Terjemahannya
(Warna,1986:11), sebagai berikut.
”....Hana mwah suta nira sanunggal, waneh ibu,
abhiseka Ida I Dewa Tegal Besung, wijil ira saking Ni
Gusti Ayu Kutawaringin sanake Kiyai Abyan Tubuh,
pinih alit kaya anglangsut pwa wijil ira....”
Artinya: "....ada lagi seorang putera beliau, dari lain ibu,
bernama Ida I Dewa Tegal Besung, lahir dari Ni Gusti Ayu
Kutawaringin, saudara I Gusti Abian Tubuh, paling kecil
seperti jauh jarak kelahirannya....".
Mencermati ungkapan yang tersurat dalam buku-buku
tersebut, dapat diyakini bahwa I Dewa Tegal Besung adalah
seorang tokoh dan salah seorang keluarga kerajaan di Keraton
Samprangan. Hal ini juga diperkuat oleh fakta dalam kehidupan
sosial kemasyarakatan di Bali dewasa ini, bahwa eksistensi tokoh
ini dapat dibuktikan dari berkembangnya suatu komunitas dari
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 22
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
garis silsilah keturunan I Dewa Tegal Besung yang keberadaannya
berada di seluruh pelosok wilayah Bali.
2.2 Pemerintahan Sri Aji Dhalem Agra Samprangan
Berpulangnya Sri Aji Dhalem kresna Kepakisan pada Ç 1302,
maka secara tradisi kerajaan sebagai penggantinya adalah putra
sulung yakni; I Dewa Samprangan. Sebagaimana yang diungkapkan
oleh Samodra Wibawa (2001 :21) bahwa karakteristik sistem
kerajaan memberikan peluang hanya kepada putra sulung raja /
putra mahkota atau putra yang lainnya yang ditunjuk sebagai
putra mahkota dapat menduduki singasana kerajaan. Setelah
melalui upacara penobatan raja I Dewa Samprangan bergelar Sri
Aji Dhalem Agra Samprangan, keratonnya tetap di Lingga Pura
Samprangan.
Di masa awal pemerintahan Sri Aji Dhalem Agra
Samprangan beliau memantau keadaan pura besakih, mungkin ada
bangunan atau pelinggih yang perlu di renovasi. Setelah selesai
meninjau pura besakih beliau berajang sana ke desa sekitar pura
besakih, tanpa disangka beliau bertemu dengan seorang gadis
desa yang amat cantik bagai bidadari dari Kahyangan. Tanpa
rasamalu kemudian beliau menyatakan bahwa beliau jatuh cinta
kepada gadis yang ditemui itu. Ungkapan perasaan beliau seperti
yang tersuat dalam babd pulasari lepihan 17b, sebagai berikut "....
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 23
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
dadi kene raga sri maharaja pan sira rambang kapthi, tan kene
hineretan hyun ira. Tan harang sira mujarake hyun ira....".
Semenjak Sri Aji Dhalem Agra Samprangan menikah dengan
gadis dari desa Besakih, prilaku Dhalem berubah dan sulit dihadap
oleh pembesar kerajaan meskipun ada masalah yang penting untuk
disampaikan kepada Dhalem. Raja lebih asyik bercumbu rayu dan
bersolek tanpa perduli dengan kelanjutan kerajaan. Perhatian raja
Sri Aji Dhalem Agra Samprangan terhadap keberlangsungan
kerajaan Balidwipa sangat kurang hal ini sudah belangsung cukup
lama, sehingga sangat mengkawatirkan petinggi-petinggi kerajaan
akan terjadinya disintegrasi.
Pertemuan petinggi-petinggi kerajaan Atas prakarsa Kyayi
Klapodyana Bendesa Gelgel membahas situasi kerajaan yang
semakin kurang mendapat perhatian raja. Dari rapat petinggi
kerajaan bersepakat untuk mengganti kedudukan Sri Aji Dhalem
Agra Samprangan, dalam rapat tersebut juga memutuskan Kyayi
Klapodyana Bendesa Gelgel dipercayakan untuk mencari putra-
putra Shri Aji Dhalem kresna Kepakisan yang lain. Pencarian putra
Shri Aji Dhalem kresna Kepakisan oleh Kyayi Klapodyana yang
pertama kali dihadap adalah I Dewa Tarukan dimohon untuk dapat
menggantikan kakandanya, namun ditolak karena beliau sangat
fokus memperdalam spiritual dan kewikuan. Penolakan I Dewa
Tarukan tersurat dalam dalam babad Pulasari lepihan 19a sebagai
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 24
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
berikut "....Hyun ira lumaksanang kepanditan, apan durung kane
den ira rasa suksaman ing dadi wang, matangniyan sira gumawe
weca kadi bhranthajnyana...." disamping itu beliau telah cukup
sandang pangam dan Arta bharana karena beliau mempunyai ke
ahlian mendulang emas. Sebenarnya I Dewa Tarukan sangat
prihatin terhadap kondisi kerajaan yang disampaikan oleh Kyayi
Klapodyana. Dari keprihatinan ini kemudian I Dewa Tarukan
memerintahkan putra angkatnya yang bernama Kuda Pinandang
Kajar untuk mencari I Dewa Ketut Anom. I Dewa Ketut Anom
yang juga dikenal dengan nama I Dewa Ketut Anom Ngulesir
karena beliau senang beranjang sana ke desa desa melihat
kehidupan masyarakat, beliau juga dikenal dengan nama I Dewa
ketut Anom Babotoh, predikat ini diberikan karena beliau sangat
gemar berjudi. Menyimak keberadaan I Dewa Tarukan yang
membangun puri di Pejeng dan I Dewa Ketut Anom Ngulesir
berkelana ke dasa - desa, rupanya di dalam keraton Samprangan
terjadi ketidak harmonisan sehingga adik - adik Shri Aji Agra
Samprangan lebih suka tinggal di luar keraton (ardika
dkk,2014:272). Namun demikian Ida Dalem Agra Samprangan
selalu berupaya untuk menjalin keharmonisan dengan adindanya
hal ini dapat disimak dalam suratan Babad Manggis Gianyar pada
lepihan 22a, yang menyuratkan: ”....mwah tucapang Ida Sri
Samprangan, heling pwa sira ring hari nira Cili Ketut, asuwe tan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 25
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
keneng mantuk ring Samprangan, dadya sira apotusan mangulihana
hari nira maring Puri Samprangan ...."( Dan dikisahkan Ida Sri
Samprangan, ingat beliau dengan adindanya I Dewa Ketut,
lantaran sudah lama tidak pernah pulang ke Samprangan,
selanjutnya beliau mengirim utusan untuk memulangkan adindanya
ke Puri Samprangan...."). Abdi yang di utusnya berhasil
menemukan keberadaan I Dewa Ketut Ngulesir di Desa Pandak
Tabanan. Abdi Dhalem kemudian menyampaikan permintaan
Dhalem Agra Samprangan agar I Dewa Ketut berkenan kembali ke
Samprangan. Permintaan sang raja ditolak oleh I Dewa Ketut
Ngulesir dengan ungkapan kalimat seperti yang tersurat pada
lepihan 22b sebagai berikut. ”....dadya andhika Cili Ketut, ah kita
hutusan, lah malwi mareng rakan ingong, warahen ngong tan
mantuka de kaka ni ngong, apan ngong kanistura, mangkana
warahakna dene kakang ni ngong....” (selanjutnya berkata I Dewa
Ketut, ah kamu utusan, silakan kembali menghadap kakak saya,
sampaikan saya tidak akan pulang menemui kakak, sebab saya
sangat hina, sampaikan itu pada kakak saya).
Setibanya abdi yang diutus dari penjeputan I Dewa Ketut
menyampaikan pesan yang disampaikan oleh I Dewa Ketut
Ngulesir kepada Sri Aji Dhalem Agra Samprangan. Tanggapan
Dhalem Agra Samprangan atas sikap adindanya tersebut sebagai
berikut. ”.... ri wus karengo hatureng hutusan, dadya naneng sira
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 26
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Aghra Samprangan sarwwi mojar, nah depang suba, mangkana
linge Sri Aghra Samprangan.” (setelah mendengar penyampaian
utusan, membuat diam Sri Aji Dhalem Agra Samprangan seraya
berkata, sudah biarkan saja, demikian ucapan Sri Agra
Samprangan). Menyimak tanggapan dari Sri Agra Samprangan
tampaknya beliau marah dan kesal terhadap I Dewa Ketut Anom
Ngulesir.
Sekarang kembali diceritakan setelah Kyayi Klopadyana
Bendesa Gegel selesai menghadap I Dewa Tarukan, kemudian
mohon diri untuk melanjutkan mencari putra Dhalem yang bungsu
dari permaisuri Ni Gusti Ayu Gajah Para. Tidak diceritakan dalam
pencarian I Dewa Ketut Anom Ngulesir, akhirnya Kyayi Klopadiana
menemui I Dewa Ketut Anom Ngulesir di tempat sabung Ayam,
beliau sedang melamun (bengong) dan salah tingkah melihat
kedatangan Kyayi Klopadiana dan rombongan. Kemudian Kyayi
Klopadiana tanpa ragu dengan sangat sopan yang dilandasi dengan
ketulusan hati yang mendalam mendekati I Dewa Ketut Anom
Ngulesir untuk menyampaikan maksud dan tujuannya menghadap,
agar beliau besedia kembali ke keraton Samprangan menggantikan
Shri Aji Dhalem Agra Samprangan menjadi raja dengan harapan
kerajaan Balidwipa terhindar dari kehancuran, karena Shri Aji
Dhalem Agra Samprangan sudah tidak lagi memperhatikan
kerajaan.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 27
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Semula permohonan yang disampaikan Kyayi Klopadyana
ditolak dengan alasan belum memiliki kecakapan dan kewibawaan
untuk memimpin pemerintahan dan merasa diri hina dan miskin.
Disamping itu beliau juga takut dikira merebut kekuasaan yang
sah dari kakandanya yang sangat dihormati dan dicintai. Berbagai
usaha yang dilakukan oleh Kyayi Klopadyana untuk meyakinkan I
Dewa Ketut Anom Ngulesir agar berkenan menggantikan
kakandanya di Samprangan belum berhasil.
Kyayi Bendesa Gegel Klapodyana memahami sikap dan
maksud dan alasan yang diutarakan oleh I Dewa Ketut anom
ngulesir. Tanpa berpanjang kata lagi Kyayi Klapodyana
menawarkan karang kepatihannya untuk dijadikan istana raja, dan
Kyayi Klopadiana akan pidah ke tegalan yang ada pohon kelapanya.
Permohonan Kyayi Bendesa dapat disetujui oleh I Dewa Ketut
Anom Ngulesir. Setelah kesepakatan antara Kyayi Klopadyana
dengan I Dewa Ketut Ngulesir, maka berangkatlah I Dewa ketut
Anom Ngulesir diiringi oleh Kyayi Klapodyana beserta abdi yang
bersamanya dalam pencarian kembali ke Gegel.
Dicerikan sekarang setelah I Dewa ketut Anom Ngulesir
dinobatan sesuai dengan upacara penobatan raja, beliau kemudian
bergelar "Sri Aji Dhalem Ketut Smara Kepakisan", dan
keratonnya berinama Sweca Lingga Arsa Pura. Lokasi keraton
bekas karang kepatihan milik Kyayi Klpodyana di Gegel.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 28
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Pemerintahan Sri Aji Dhalem Smara Kepakisan dibantu oleh
tiga menteri utama, yaitu I Gusti Patandakan, Ki Gusti Pinatih dan
Ki Gusti Kubon Tubuh. Sementara para Arya yang telah lanjut usia
dan meninggal dunia, jabatannya digantikan oleh putra- putranya.
Sekarang dikisahkan di Majapahit akan diadakan upacara
besar- besaran dengan mengundang adipati-adipati di luar
Majapahit termasuk Adipati Bali. Sri Aji Dhalem Smara Kepakisan
merencanakan perjalanan ke Majapahit dengan rombongan di
bawah pimpinan Kryan Patandakan, Kryan Penatih dan Kryan Kubon
Tubuh.
Selama di Majapahit, Sri Aji Dhalem Smara Kepakisan
selalu aktif mengikuti kegiatan - kegiatan yang diadakan. Suatu
saat baginda Raja Majapahit menghadiahkan sebilah keris yang
bernama Ki Sudamala kepada Sri Aji Dhalem Smara Kepakisan.
Dalam perjalan pulang ke Gegel keris itu jatuh di begawan canggu.
Setelah keris itu didapatkan kembali kemudian keris yang semula
bernama Ki Sudamala kemudian namanya diganti dengan nama Ki
Bangawan Canggu.
2.3 Pemerintahan Sri Aji Dhalem Tegal Besung
I Dewa Tegal Besung, putera bungsu Ida Dhalem Kresna
Kapakisan yang lahir dari Ni Gusti Ayu Kutawaringin, seorang
puteri dari petinggi kerajaan Balidwipa pemegang jabatan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 29
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Tumenggung bernama Sira Aryya Kutawaringin. Kehidupan
keseharian I Dewa Tegal Besung tersurat pada naskah Babad
Manggis Gianyar pada lepihan 17a yang mengungkapkan, ”.... I
Dewa Tegal Besung, sira angabih karatone Dalem Hile,... (".... I
Dewa Tegal Besung, mendampingi kepemimpinan Dalem Hile ....).
Berdasarkan suratan Babad Manggis Gianyar tersebut dapat
dipahami bahwa I Dewa Tegal Besung telah mendedikasikan
hidupnya untuk mendampingi dan membantu Sri Aji Dhalem Agra
Samprangan dalam mengendalikan roda pemerintahan (Mayun,
2020,9:11)
Dari ke tiga saudara laki - laki Sri Aji Dhalem Agra
Samprangan hanya I Dewa Tegal Besung yang setia mendampingi
dan membantu Sri Aji Dhalem Agra Samprangan dalam mengelola
pemerintahan. I Dewa Tarukan tidak berkenan menjadi raja, I
Dewa Ketut Anom Ngulesir sudah diangkat oleh petinggi kerajaan
menjadi raja yang berkedudukan di gegel.
Mengamati kenyataan ini, loyalitas dan dedikasi I Dewa
Tegal Besung dalam mendukung kepemimpinan di Keraton
Samprangan membuat Sri Aji Dhalem Agra Samprangan menaruh
simpati dan kepercayaan yang mendalam kepada adik bungsunya
itu. Berdasarkan kepercayaan tersebut maka di dalam tahun 1383
Sri Dalem Agra Samprangan menyerahkan keraton samprangan
secara pulung kaprabhon kepada I Dewa Tegal Besung untuk
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 30
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
menggantikan posisinya menjadi raja Bali berkedudukan di
Keraton Lingga Pura Samprangan. Adapun proses pengalihan
kekuasaan dari Sri Dalem Agra Samprangan kepada I Dewa Tegal
Besung tersurat pada beberapa literatur sebagai berikut.
lontar Warmadewa Tattwa koleksi Geria Alit Belayu pada
lepihan 14 b dan 15a, menyebutkan:”...kadaton Samprangan
kasukserahang ri yayinya, sira Ida Dalem Tegal Besung... (istana
Samprangan diserahkan kepada adindanya yaitu Ida Dalem Tegal
Besung..). Lontar Babad Manggis Gianyar koleksi Kantor Pusat
Dokumentasi Kebudayaan Bali Denpasar, pada lembar 28a – 28b
menyuratkan:
”..... sampun lami pandiryyan Ida Sri Aji Samprangan,
wetning kalingsiran ira anemu lara-bhaya, i wus
panamayanya, dadya mur pwa sira, wus mulih ing tan
katon, tan titanan panilem nira, dadya binasmi laywan
ira maring setra agung, mangke kagentyani de hari nira,
kang apasajna I Dewa Tegal Besung,...”
Artinya:
(sudah lama bertahta Sri Aji Samprangan, karena sudah tua
sehingga kerap diserang penyakit, setelah waktunya tiba,
wafatlah beliau, menuju alam yang tidak tampak, tidak
diceritakan upacara perabuannya, jasad beliau dibakar di
kuburan yang utama, sekarang kedudukan beliau digantikan
oleh adindanya, yang bernama I Dewa Tegal Besung..).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 31
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Buku Purana Pura Dalem Samprangan, diterbitkan oleh
Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar Tahun 2016, pada halaman
64, menyatakan:
”.... Namun keadaan ini tidak berlangsung lama karena
kondisi kesehatan Sri Agra Samprangan yang semakin
memburuk dan tidak lama kemudian wafat. Tahta Keraton
Samprangan selanjutnya dipegang oleh I Dewa Tegal
Besung. Adapun I Dewa Tegal Besung selanjutnya
mengendalikan pemerintahan di Keraton Samprangan
bergelar Dalem Tegal Besung ....”.
Wafatnya Ida Dalem Agra Samprangan tahun 1383, maka
tahta Kerajaan Bali dipegang oleh I Dewa Tegal Besung yang
selanjutnya bergelar Sri Aji Dhalem Tegal Besung. Sebutan yang
disematkan kepada I Dewa Tegal Besung sebagai raja Balidwipa
yang berkedudukan di keraton Samprangan menurut beberapa
literatur bervariasi seperti lontar Warmadewa Tatwwa,
Pamancangah I Dewa Kaleran dan Purana Dalem Samprangan
menyuratkan Ida Dalem Tegal Besung, sedangkan lontar Babad
Prasasti Dalem dan buku Sejarah I Dewa Tegal Besung karya Jro
Mangku Gde Ktut Soebandi menyuratkan Sri Aji Dhalem Tegal
Besung. Sebutan Ida Dhalem dan Sri Aji yang melekat pada diri I
Dewa Tegal Besung seperti tersurat dalam beberapa naskah
tersebut telah membuktikan bahwa Ida Dalem Tegal Besung
bertahta di Keraton Samprangan sebagai raja Balidwipa
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 32
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
melanjutkan kepemimpinan mendiang Ida Dhalem Agra
Samprangan (Mayun,2020:11).
Tampaknya sejak tahun 1383 muncul dua pucuk
kepemimpinan di Bali yang sama-sama mendapat dukungan sebagai
raja Bali, yaitu Ida Dhalem Tegal Besung di Keraton Samprangan
diserahkan oleh Sri Aji Dhalem Agra Samprangan secara pulung
kaprabon, dan Sri Aji Dhalem Smara Kapakisan di Keraton Sweca
Lingga Arsa Pura Gelgel diangkat sebagai raja oleh petinggi -
petinggi kerajaan.
Diawal pemerintahan Shri Aji Dhalem Tegal Besung, beliau
beranjamgsana ke desa desa yang diayomi untuk melihat warga
masyarakatnya, beliau berjalan menelusuri sungai, ngarai, hutan.
Tidak diceritakan dalam perjalan. Pada suatu saat beliau tiba di
hutan jarak Bang dan bertemu dengan Ki Pande Pamaron
keturunan Pande Brahma Raja. Oleh Ki Pande Pamaron beliau
dipersilahkan beristirahat dipondoknya. Shri Aji Dhalem Tegal
Besung beristirahat dan sempat tinggal beberapa lama disana. Ki
Pande sangat hormat dan bakti kepada Dhalem, begitu juga
Dhalem sangat menaruh cinta kasih kepada Ki Pande Pamaron.
Ki Pande Pamaron mempunyai seorang putri yang sangat
cantik, melihat kecantikan Ni Luh Pamaron, Dhalem menaruh
perhatian dan jatuh cinta kepada Ni Luh Pemaron. Perasaan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 33
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Dhalem tersurat pada lepihan 18b sampai 19b lontar Warmadewa
Tattwa sebagai berikut.
”...yan akudang warssa Ida Dalem Tegal Besung, jenek
ring Jro Pande Pamaron, kalulut asih sira ring Luh
Pamaron, ri sira Ida Dalem Tegal Besung, sangkan
bhakti Ki Pande Pamaron, wit treh Pande Bang
Brahmaraja, dadya katur sira Ni Luh Pamaron dadi
arddhanareswari,.."
Artinya:
"....telah berapa tahun Ida Dalem Tegal Besung, tinggal di
rumah Pande Pamaron, jatuh cinta beliau pada Luh Pamaron,
demikian juga perasaan si wanita kepada Ida Dalem Tegal
Besung, oleh karena setianya Ki Pande Pamaron, seorang
keturunan Pande Bang Brahmaraja, itulah sebabnya
dihaturkan Ni Luh Pamaron untuk menjadi pendamping hidup
sang raja.... "
Tingkah laku dua orang yang berlainan jenis ini diketahui
oleh Ki Pande Pamaron, hubungan Dhalem dengan Ni Luh Pamaron
mendapat restu dari Ki Pande Pamaron yang dilanjutkan dengan
upacara pawiwahan dan upacara widi widana di Keraton Lingga
Pura Samprangan. Dari pernikahan Shri Aji Dhalem Tegal Besung
dengan Ni Luh Pande Pamaron melahirkan lima orang putra. Putra
pertama diberi nama I Dewa Gdong Artha, yang kedua I Dewa
Nusa, I Dewa Pagedangan, I Dewa Anggungan dan I Dewa Bangli
(Suarbawa dkk,2011:34). Setelah para putra cukup dewasa, Shri
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 34
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Aji Dhalem Tegal Besung menjadi Raja Rsi, dengan abhiseka Sri
Aji Dhalem Bangkada Astasura. Beliau sangat menguasai
pengatahuan Sastra, agama, Tattwa, Kadiatmikan dan lain lainnya.
Pengetahuan inilah yang diajarkan kepada murid muridnya (sisia)
sesuai dengan minat dan kemampuannya. Sisia beliau semakin
lama semakin banyak tidak kurang dari 1800 orang.
Walaupun telah menjadi Raja Rsi, pemerintahan berjalan
dengan baik rakyat menjadi sahabat, beliau tidak pernah
mengalahkan musuh dan tidak pernah pula dikalahkan musuh.
Untuk menghormati Ki Pande Pamaron mertua beliau, maka Jarak
Bang diganti namanya menjadi jagat Bangli. Selama
pemerintahannya beliau menbangun tempat tempat suci di Bangli
antara lain; pura Taman Suci, Pura Sakti whorengen, dan Pura
Waringin. Inilah tinggalan beliau di jagat Bangli (Warmadewa
Tattwa lepihan 20a).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 35
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
III
Penyatuan Keraton Samprangan dengan Gegel
Kondisi pemerintahan kembar di Balidwipa pertengahan
abad keempatbelas telah berdampak pada kurang efektifnya
penyelenggaraan pemerintahan yang mempunyai kecendrungan
terjadinya persaingan yang kurang sehat di antara kedua
pemimpin tersebut.
Kebersamaan dua raja Balidwipa Sri Aji Dhalem Smara
Kapakisan dengan Sri Aji Dhalem Tegal Besung dalam memenuhi
undangan Raja Majapahit Sri Maharaja Hayam Wuruk
mengadakan perayaan bulan Caitra pada tahun 1387, dijadikan
moment atau Solusi untuk mengharmoniskan hubungan ke dua
kerajaan. Beliau berdua secara bijak kemudian membagi
kekuasaan yang ditantadai dengan terbentuknya lembaga
Yuwaraja mengikuti sistem yang berlaku di Majapahit. Sebagai
contoh Ratu Tribhuwana Tunggadewi yang bertahta tahun 1328
sampai 1350, telah menobatkan Hayam Wuruk menjadi Yuwaraja
di negara bagian Kahuripan. Menurut Slamet Muljana (1979)
dalam buku yang berjudul "Negarakerttagama dan tapsir
sejarahnya mengatakan bahwa: lembaga Yuwaraja dapat menjadi
solusi dalam mengatasi kemelut dualisme kepemimpinan di
Balidwipa yang diimplementasikan tidak saja untuk putera
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 36
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
mahkota tetapi juga keluarga raja yang dipandang cakap dan
mampu mengemban tugas tersebut.
Kesepakatan atas kehadiran lembaga ini telah memposisikan
Sri Aji Dhalem Tegal Besung pada satu struktur kepemimpinan di
Bali yang tampaknya keputusan yang dilakukan oleh dua raja Sri
Aji Dhalem Smara Kapakisan bersama Sri Aji Dhalem Tegal
Besung akan digunakan pada beberapa periode kepemimpinan
berikutnya di Balidwipa. Yuwaraja pernah terjadi ketika
bertahtanya I Dewa Agung Jambe di Kerajaan Klungkung, telah
menobatkan adindanya bernama I Dewa Agung Anom Sirikan
menjadi yuwaraja di wilayah Sukawati di dalam tahun 1710
(Wirawan,1992:9 & Babad Dalem Sukawati).
Dengan landasan pemikiran mulia untuk mewujudkan
efektivitas pemerintahan di Bali rupanya para petinggi kerajaan
Bali melakukan kesepakatan menobatkan Sri Aji Dhalem Smara
Kapakisan sebagai raja berkedudukan di Keraton Swecalinggapura
Gelgel lantaran secara etika usia beliau lebih tua. Dan menobatkan
Sri Aji Dhalem Tegal Besung yang usianya lebih muda diposisikan
menjadi yuwaraja berkedudukan di Keraton Lingga pura
Samprangan. Upacara penobatan (abhiseka ratu) Sri Aji Dhalem
Smara Kapakisan bersama Sri Aji Dhalem Tegal Besung tahun
1401 adalah dimaksudkan untuk mengesahkan secara adat dan
agama posisi jabatan kedua tokoh tersebut dalam mewujudkan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 37
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
kepemimpinan yang efektif di Balidwipa. Sehingga mulai tahun
1401 kondisi dualisme pucuk kepemimpinan di Bali telah berakhir
dan diberlakukan pembagian tugas kepemimpinan di Bali antara
tugas seorang raja yang dilaksanakan oleh Sri Aji Dhalem Smara
Kapakisan dengan tugas Sri Aji Dhalem Tegal Besung sebagai
yuwaraja.
Berlangsungnya roda pemerintahan di Balidwipa secara
efektif ditandai dengan diselenggarakannya aktifitas keagamaan
yang mempunyai makna untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan
warga masyarakat Balidwipa menuju kesejahteraan menyeluruh,
yaitu:
Menyelenggarakan upacara Sradha di Pura Pucak Panulisan
sebagai simbolik penghormatan terhadap Sri Asthasura Ratna
Bhumi Banten yang menjadi panutan masyarakat Bali Mula dan Bali
Aga. Dengan terselenggaranya upacara ini menunjukkan
kepemimpinan Sri Aji Dhalem Smara Kapakisan dan Sri Aji
Dhalem Tegal Besung telah mengayomi kehidupan masyarakat Bali
Mula dan Bali Aga yang bermukim di desa-desa pegunungan
(Soebandi, 1983;44).
Dibangun Pura Dasar Bhuwana Gelgel sebagai pusat
penyungsungan raja bersama keluarganya, warga Pasek Sapta Rsi
dan Warga Pande yang menjadi simbol persatuan rakyat Bali
(Wirawan, 2018;18-19)
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 38
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Menetapkan Pura Dalem Samprangan sebagai Pura Kerajaan
baik sebagai pemujaan raja beserta keluarganya maupun
masyarakat umum melalui Bhisama Ida Dalem Tegal Besung
kepada semua keturunannya agar selalu ingat melakukan pemujaan
di tempat suci warisan Ida Dalem Kresna Kapakisan di
Samprangan (di Desa Samplangan sekarang) yang disebut Pura
Dalem Samprangan (Tara Wiguna, 2016;65, Alih Aksara Piagem I
Dewa Gedong artha halaman 15, dari lontar yang berangka tahun Ç
1781 atau 1859 Masehi)
Kori Agung Pura Dalem Samprangan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 39
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
IV
Ida Dalem Tegal Besung Sebagai Raja
Balidwipa Di Gelgel
Di dalam tahun 1460 Ida Dhalem Smara Kapakisan wafat
dan meninggalkan seorang putera mahkota yang masih remaja
sehingga dipandang belum cakap dan memenuhi syarat untuk
menduduki singasana kerajaan. Dalam rangka melanjutkan
kesinambungan roda pemerintahan di Balidwipa atas kesepakatan
para petinggi kerajaan maka dinobatkan Ida Dalem Tegal Besung
sebagai raja Balidwipa berkedudukan di keraton Sweca Lingga
Arsa Pura Gelgel, menggantikan posisi Ida Dalem Smara Kapakisan
(Soebandi, 2000;22).
Kepemimpinan Ida Dhalem Tegal Besung yang didampingi
oleh para pejabat kerajaan telah mempu mewujudkan kedamaian
dan kesejahteraan masyarakat Bali. Hal ini terindikasi dari tidak
adanya gejolak yang menerpa kehidupan masyarakat Bali pada
periode ini dan justru kehidupan warga masyarakat semakin
mapan baik dari aspek kehidupan spiritual maupun sosial ekonomi.
I Dewa Gedong Artha, I Dewa Anggungan, I Dewa
Pagedangan, I Dewa Nusa dan I Dewa Bangli adalah putera Shri
Aji Dhalem Tegal Besung, dengan tekun mendampingi ayahandanya
dalam mengelola pemerintahan di keraton Sweca Lingga Arsa Pura
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 40
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Gelgel. Rupanya mereka ini nantinya diharapkan dapat
mendampingi kepemimpinan di Gelgel pada periode berikutnya.
Putera mahkota Sri Aji Dhalem Smara Kapakisan kerajaan
Gegel dari usianya yang masih muda, sangat gemar melakukan
pemujaan ke beberapa tempat suci atau tempat keramat di
pelosok daerah Bali. Suatu ketika putra mahkota melakukan
pemujaan di pinggir Danau Batur, pada saat melakukan pemujaan
beliau mendengarkan suara gaib bahwa dikemudian hari akan
menjadi raja yang disegani oleh rakyat. Berkat anugerah Dewata
(Hyang Enggong) kemudian putera mahkota mengganti namanya
menjadi Batur Ra Enggong yang bermakna mendapat anugerah
dari Dewa di Batur (Babad Usana Bali Pulina, 1997, Soebandi,
2000:22).
Diceritakan Sri Aji Dhalem Tegal Besung sudah sangat
sepuh, sudah cukup lama memegang tahta raja Balidwipa,
kemudian pada tahun 1465 beliau mengangkat dan merestui
putera mahkota Ida Dalem Smara Kapakisan sebagai raja
Balidwipa duduk di singgasana kerajaan, dilantik dengan upacara
"Bisekaning ratu uttama". dipuja oleh pendeta Siwa dan Buddha.
Setelah Biseka Ratu beliau bergelar Sri Aji Dhalem Kresna
Wijaya Waturenggong. Beliau mulai memerintah tahun 1465
sampai tahun 1550 yang didampingi oleh ke lima putra Sri Aji
Dhalem Tegal Besung yakni: I Dewa Gedong Artha, I Dewa Nusa,
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 41
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
I Dewa Pagedangan, Dewa Anggungan, dan I Dewa Bangli. ke lima
putra Ida Dalem Shri Aji Tegal Besung menjabat sebagai Majelis
Agung yang lebih dikenal dengan sebutan Manca Agung (MA) dan
bertugas untuk memberi nasehat, masukan, strategi dalam
membesarkan kerajaan.
Sri Aji Dhalem Tegal Besung telah menyadari bahwa tidak
lama lagi beliau akan menuju ke Wisnu loka, maka beliau
memanggil ke lima putra putranya untuk diberikan nasehat.
Adapun nasehat beliau seperti tersurat dalam prasasti Pungakan
Timbul lepihan 119a dan 119b sebagai berikut:
“.... Anakku, lawan pasamodaya, mangke Nira apan wus
werda agia aningali kita kabeh, anuta ring taya mangke
ana pawarah-warah mami lawan kita sadaya, aja lali
anyiwi kahyanganira Bhatara Dalem wawu dateng
maring Samprangan makadi ka Besakih apan sira
Bhatara maka cuda maninta maring Balirajia. Kunang
yan kita lali anyungsunga maring Samprangan tanwun
kita kna sotira Bhatara, apan kita dudu Santana, susud
kawanganta, andadi wang tani tawang, telas saulat
ulating kasatria. Salampah lakunta lan santana, tan
amanggih sadia rahayu, amangguh sangkalagung tan
wun acengilan lawan sanak amisan, sugih gawe kirang
pangan, umelikaning parajana, mangka palania sang tan
umengeting kalingan muang kawangan. Mangke
wekangku, kengetakna aja lupa pawaraha juga
pratisantananta kayang wekasing sagnah ksatria anyiwi
kahyanganira Brahtara Wawu Dateng moga-moga
rendah makurambiah wekasing dlaha, sasananing
ksatrian, waluiya sagnah-gnahnia, maran pada
umegeting kalingan muang kawangan sasaning ksatrian
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 42
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
waluiya ujar nguni, anyungsung anyiwia padannira
Bhatara Dalem Wawu Dateng, maring Samprangan,
makadi ring temen, kna sotira Bhatara Hyanging
Tolangkir, mangkana kaweruhakna kalinganning
warawakiannira, Bhatara Dalem prasama stananta Ida I
Dewa Tegal Besung nguni,..."
Terjemahan Bebas:
".... Anak anakku sekalian ayahmu sudah semakin tua,tidak
lama lagi pasti meninggalkan dirimu semua. Kini ada pesanku
kepadamu sekalian,jangan lupa berbakti kehadapan
Kahyangan Bhatara Dalem Wau Dateng yang berada di
Samprangan dan juga ke Besakih karena beliau sebagai
cudamaninya kerajaan Bali. Jika kamu lupa berbakti di
Samprangan tak henti hentinya kamu kena kutuk Bhatara,
bukan keturunanku, rendah martabat maupun
Wangsamu,menjadi orang hina, sedikitpun tidak sesuai
dengan perlakuan Ksatria. Perjalananmu tak akan menemui
keselamatan,selalu mendapat rintangan. Tidak pernah
selaras dengan sanak saudara, giat bekerja kurang dapat
dinikmati, dibenci orang. Itulah hasilnya bila tidak ingat
dengan leluhur maupun kewangsaan, sekarang wahai anak
anakku,ingatlah jangan sampai lup. Sampaikan pesan ini
kepada anak cucumu turun temurun, setiap yang namanya
Ksatria selalu bakti kehadapan Kahyangan Bhatara Wau
Dateng. Semoga keluarga kita berkembang sampat ke
pelosok pelosok dan selalu ingat dengan keluarga maupun
wangsanya dan tahu dengan tatakrama sebagai ksatria.
Kembali aku tekankan ingat kehadapan Kahyangan Bhatara
Dalem Wau Dateng di Samprangan dan di Besakih. Itulah
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 43
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
pesanku kepadamu sekalian, tetap ingat jangan sampai lupa
karena sangat berbahaya sekali,bila lupa akan kena kutuk
Bhatara Hyang Tolangkir...."
Tidak lama berselang setelah penobatan Ida Dhalem Kresna
Wijaya Waturenggong, Sri Aji Dhalem Tegal Besung wafat
menuju wisnu loka. Jantra Pemerintahan Sri Aji Dhalem Kresna
Wijaya Waturenggong dalam keadaan relatif stabil dan
kekuasaanya sampai keluar pulau Bali, sejalan dengan
keruntuhan Majapahit. Pemerintahan yang relatif tenang dan
setabil sudah diwarisi mulai dari pemerintahan Sri Aji Dhalem
Smara Kapakisan yang diperkuat lagi oleh Sri Aji Dhalem Tegal
Besung pada masa pemerintahannya. Pemerintahan Sri Aji Dhalem
Kresna Wijaya Waturenggong didampingi oleh Manca Agung dan
para mentri, dan pejabat-pejabat lainnya untuk memajukan
kerajaan dan kesejahtraan masyarakat. Dalam pemerintahan
Sri Aji Dhalem Kresna Wijaya Waturenggong yang diperkuat oleh
Manca Agung, para petinggi kerajaan dan didukung oleh rakyat
kerajaan Balidwipa dapat berkembang dengan pesat dalam
bidang pemerintahan, sosial politik, dan kebudayaan.
Keamanan terjamin baik, karena dalam menjalani jantra
pemerintahan Sri Aji Dhalem Kresna Wijaya Waturenggong
sangat bijaksana. Stabilitas keamanan didukung oleh laskar
keraton Sweca Lingga Arsa Pura yang cukup kuat, dengan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 44
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
pasukan inti yang terkenal dengan nama "Dulang Mangap"
berjumlah 1600 orang, di bawah pimpinan seorang panglima
yang gagah berani yaitu Kyayi Ularan putra dari Ki Pasung
Grigis.
Dalam pemerintahan Sri Aji Dhalem Kresna Wijaya
Waturenggong kedudukan para mentri dan pejabat-pejabat
yamg telah werda / tua dan meninggal, jabatannya digantikan
oleh putranya masing-masing. Sebagai patih Agung adalah
Rakryan Batan Jeruk putra Rakryan Patandakan. Sementara
Dua putra I Dewa Gedong Arta yaitu; I Dewa Karang juga
dengan sebutan I Dewa Karangamla diperintahkan oleh Sri Aji
Dhalem Kresna Wijaya Waturenggong untuk mengendalikan
daerah Karangasem, dan I Dewa Kaler diberikan tugas oleh Sri
Aji Dhalem Kresna Wijaya Waturenggong mengatur daerah
Serongga Gianyar. Pada masa pemerintahan Sri Aji Dhalem
Kresna Wijaya Waturenggong, kerajaan Gelgel mencapai Jaman
ke Emasan, berkuasa sampai ke luar Bali antara lain:
Blangbangan, Sumbawa, Sasak, dan Pasuruan.
Tiba saatnya Sri Aji Dhalem Kresna Wijaya Waturenggong
menuju Wisnu Loka pada tahun Çaka 1472 (sapranga, pandita,
catur, janma), atau tahun 1550 Masehi, secara tradisi kerjaan
yang sudah berlaku, baginda digantikan oleh putra sulungnya yaitu
I Dewa Pemayun, yang selanjutnya disebut Dhalem Pemayun
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 45
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Bekung. Dalam menjalankan roda pemerintahan Dhalem Pemayun
Bekung didampingi oleh lima paman-paman beliau Putra dari Sri
Aji Dhalem Tegal Besung disamping para petinggi kerjaan, dan
para Arya - arya yang lainnya.
Pada masa pemerintahan Dhalem Pemayun Bekung
berbagai intrik-intrik terjadi di kalangan petinggi istana.
Sifat-sifat ambisius ditunjukkan oleh tokoh kunci keraton,
yakni I Gusti Agung Batanjeruk yang menjabat sebagai Patih
Agung. Suasana panas semakin membara ketika I Gusti Agung
Batanjeruk mendengar bahwa: I Gusti Manginte yang juga
pernah pamannya sendiri telah mempersiapkan diri untuk
menyerang dan mengganti kedudukan I Gusti Agung
Batanjeruk sebagai Patih Agung, karena I Gusti Manginte
merasa lebih tua dan berhak dalam melaksanakan tugas
kerajaan tersebut (Ardika,2018:283).
Situasi di keraton Gegel semakin panas dan
menegangkan, dengan maksud untuk menurunkan ketegangan
dan ambisi dari I Gusti Agung Batanjeruk Dang Hyang
Astapaka ( Bhagawanta keraton sekaligus Guru I Gusti Agung
Batanjeruk ) memberikan nasehat-nasehat agar I Gusti Agung
Batanjeruk keinginannya untuk menduduki Singasana keraton
Gegel di urungkan. Nasehat-nasehat dari Sang Guru tidak
dihiraukan, sehingga Dang Hyang Astapaka meninggalkan Gegel
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 46
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
menuju desa Bhudakling karena beliau sangat kecewa terhadap
prilaku I Gusti Agung Batanjeruk.
Mengantipasi terjadinya penurunan paksa Mahapatih
dari tangan I Gusti Agung Batan Jeruk, maka setiap gerakan
yang pandang mencurigakan langsung ditumpasnya.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 47
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
V
Pebalik Sumpah I Gusti Batan Jeruk
Kali Sanghara yang menyelimuti sifat yang terbangun dalam diri
Kriyan Batan Jeruk, tiga sifat itu adalah: loba, sesat dan angkuh
ditambah lagi dengan meda (mabuk), itulah yang merasuk ke dalam
jiwanya. Ingin berkuasa sebagai seorang raja, tiga sifat itu diperkuat
lagi dengan perasaan was-was dan dendam kepada paman-paman Dhalem
yang mempunyai posisi sebagai pendamping dan majelis kerajaan (manca
Agung) karena itulah I Gusti Agung Batan Jeruk berprasangka
kedudukan mahapatih bisa digantikan setiap saat, walaupun salah satu
dari Manca Agung adalah menantu I Gusti Agung Batan Jeruk.
Ketakutan Kriyan Batan Jeruk yang terus siraman dari orang
orang dekatnya sehingga semakin subur dan berkembang, maka dibuatlah
intrik intrik pengambil alihan kekuasaan. Pada tahun Ç 1478 atau tahun
1556 Masehi di dalam keraton Sweca Lingga Arsa Pura Gegel timbul
huru-hara yang diciptakan Kriyan Batan Jeruk yang terkenal dengan
nama perlawanan Batan Jeruk "Pabalik Batan Jeruk" (Djeraken,3; Babad
Dalem Teks dan Terjemahan oleh Depdikbud Prov Bali, 1987:31)
Ida I Dewa Pamayun yang bertahta sebagai raja, dan adiknya Ida
I Dewa Sagening belum mengerti membaca suasana yang terjadi di
dalam Keraton, sehingga Kriyan Patih Batan Jeruk tidak ragu- ragu lagi
untuk menggulingkan kekuasaan ida Dhalem Pamayun Bekung. Kriyan
Batan Jeruk dengan ambisi yang sangat kuat untuk menduduki singasana
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 48
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
kerajaan Gegel tidak lagi memperhitungkan kekuatan pihak lain yang
masih setia kepada Dhalem. Timbulah pertempuran yang hebat di dalam
keraton Gegel. Dalam suasana yang kacau putri dari Sri Aji Dhalem
Baturenggong, saudara dari Dhalem Pamayun Bekung dipenggal oleh
Kriyan Patih Batan Jeruk. Dhalem Pemayun Bekung dan Dhalem
Sagening dimasukan di dalam Gedong dan dijaga dari luar pintu
oleh I Dewa Anggungan peristiwa ini tersurat dalam babad
Dalem Teks dan Terjemahan (1986:31) sebagai berikut. "....
sang raja putra kalih pinañjara sira aneng jro pura oliha sira I
Dewa anggungan..." (kedua putra raja di masukan ke dalam
Gedong oleh I Dewa Anggungan). Jika menyimak teks yang
tersurat dalam babad dalem, secara logika dan akal sehat
seorang prajurit yang bersenjatakan lengkap apa sulitnya
untuk memenggal kepala dua orang bocah, sementara adiknya
kepala dan badan sudah dipisahkan oleh kekejaman Kriyan Batan
Jeruk.
Ke dua putra Dhalem Waturenggong, Ida I Dewa Pamayun dan
Ida I Dewa Sagening dapat dikeluarkan dari dalam gedong
melalui lubang tembok yang dibuat oleh Kryan Kebon Tubuh.
Pemberontakan Kriyan Patih Batan Jeruk dapat di tumpas dan Kriyan
Patih Batan Jeruk dapat di bunuh di desa Jungutan Bungaya oleh Kyayi
Manginte.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 49
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Maksud baik I Dewa Anggungan menyelamatkan kedua
putra mahkota agar terhindar dari amukan membabibuta Kriyan
Patih Batan Jeruk yang ingin merebut tahta Dhalem Bekung,
ternyata di kemudian hari justru digunakan untuk menyikirkan
I Dewa Anggungan dan empat saudaranya dari Gegel.
Setelah I Dewa Pamayun bertahta bergelar Shri Aji Pamahyun
Bekung dan dibantu oleh adiknya I Dewa anon Sagening pada tahun çaka
1482 atau tahun 1560 masehi. Menteri utama dipegang oleh Kryian
Manginte yang lebih dikenal dengan nama Ki Gusti Dawuh. Shri Aji
Pamahyun Bekung, jalan pikiran baginda sangat berubah, baginda
menjaga jarak dengan paman-paman beliau, baginda raja tidak mau lagi
memerima nasehat - nasehat yang diberikan oleh paman baginda karena
para paman beliau yakni; I Dewa Gedong Artha, I Dewa Nusa, I Dewa
Pagedangan, dan I Dewa Bangli adalah saudara dari I Dewa Anggungan
yang disangka telah ikut melakukan pemberontakan terhadap Dhalem
Pamahyun Bekung walaupun sudah disampaikan alasan-alasan mengapa
beliau di lindungi di dalam Gedong dan dijaga ketat oleh I Dewa
Anggungan di depan pintu yang nyaris dihancurkan oleh Kriyan pande,
namun Dhalem Bekung tetap mencurigai saudara saudar dari I Dewa
Anggungan. Kecurigaan Dhalem direalisasikan dengan memerintahkan
semua putra-putra Sri Aji Dhalem Tegal Besung untuk meninggalkan
Gegel.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 50
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
I Dewa Anggungan telah terlebih dahulu meninggalkan Gegel,
Kemudian menyusul empat saudara I Dewa Anggungan meninggalkan
Gegel. Dhalem Pamayun Bekung memberikan pesangon berupa sawah dan
ladang di tempat-tempat yang ditujunya. I Dewa Gedong Artha beserta
anak dan istri pindah menuju Desa Manggis diiringi oleh 20 pengikut. I
Dewa Nusa bersama istri dan putra putrinya menuju desa Sibang, I
Dewa Bangli beserta istri dan putranya meninggalkan Gegel menuju
Bangli, sebab disana banyak keluarganya dari pihak ibu, dan I Dewa
Pagedangan menuju Tohpati Banjar Angkan Klungkung.
Semasih I Dewa Gedong Artha Tinggal di Gegel telah
mempersunting dua orang putri yang sangat cantik, istri pertama putri
dari Kyayi Kacang Paos bernama Ni Gusti Ayu Kacang paos dari
pernikahan ini melahirkan lima orang putra yakni; I Dewa Karang, I
Dewa Kaler, I Dewa Anom Pande, I Dewa Duuran, dan I Dewa
Timbul Gunung. Dari istri kedua yang bernama Ni Gusti Ayu
Parembu putri Kyayi Parembu di Gegel melahirkan empat orang
putra yaitu: I Dewa Anom Bengkel, I Dewa Kalanganyar, I Dewa
Tangeb, dan I Dewa Sakawati. Itulah sembilan putra I Dewa
Gedong Artha yang lahir dari dua istri.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 51
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
VI
Pertemuan Dhalem Sagening dengan
Dewa Ayu Gedong
Bertepatan dengan purnama yang jatuh pada sasih ke empat
(kapat) diadakan upacara di Pura Kahyangan Giri Indrakila
manggis Karangasem. Upacara itu dihadiri oleh Dhalem Anom
Sagening, karena Pura Kahyangan Giri Indrakila adalah pura
keluarga milik paman beliau yaitu Ida I Dewa Gedong Artha
saudara lain ibu dari kakek beliau (Sri aji Dhalem Semara
Kapakisan). Disela sela aktivitas upacara baginda Dhalem Sagening
melihat seorang putri cantik yang menarik perhatian Dhalem,
ditanyalah Ida I Dewa Gedong Artha. Percakapan antara Dhalem
Anom Sagening dengan Ida I Dewa Gedong Atha tersurat dalam
Pamancangah Ida I Dewa Gedong Artha lepihan 24b sebagai
berikut.
".... Ih paman manggis Gedong Artha, iku sangapa
anrewening suta, sangapa namania, sang diah iku, toh
warahakena...."
".... Hai Paman Manggis Gedong Artha, siapa yang
mempunyai anak gadis cantik itu dan siapa pula namanya
tolong segera katakan paman!...."
sumaur I Dewa Gedong Artha, ling nira, sadnya aji sang
pinaka catraning sarat, pinaka putu de kaula, kasuta de
Anom Pande, anama Ni Gedong.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 52
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
I Dewa Gedong Arta Segera menjawab. "duhai Sri Dhalem
pelindung negeri, itu tiada lain adalah cucuku, anak dari
anom Pande, namanya Ni Gedong"
".... ih paman yaning mangkana, hulun aminta mantuk
ka dhalem....".
" Wahai paman, bila betul demikian, saya meminta akan
saya ajak ke Gegel."
Ida I Dewa Gedong Artha mengnyanggupi permitaan
Dhalem. Setelah upacara piodalan selesai di pura Kahyangan Giri
Indrakila, Dhalem kembali ke Gegel beserta pengiringnya. Ida I
Dewa Gedong Artha mengumpulkan para putranya untuk
membicarakan permintaan Dhalem, disampaikanlah permintaan
Dhalem Anom Sagening untuk menyunting I Dewa Ayu Gedong
sebagai Istrinya. Semua para putra I Dewa Gedong Artha
menyetujui untuk mempersembahkan I Dewa Ayu Gedong
kehadapan Dhalem. Pada hari yang tepat I Dewa Ayu Gedong
diantar ke keraton Gegel serta diantar sanak saudaranya dan para
abdi Pamancangah I Dewa Gedong Artha (lepihan 25b).
I Dewa Gede Kramas saudara lain ibu dengan I Dewa Ayu
gedong menyusul ke Gegel dan tinggal di Gegel sebagai juru
kurung ayam milik Dhalem. Kedatangan I Dewa Gede Kramas ke
Gegel karena di Manggis semua arta bendanya habis terjual
dipakai untuk berjudi. Dihadapan Dhalem, I Dewa Gede Kramas
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 53
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
duduk dengan muka muram dan sikap seperti sahaya (parekan),
kemudian Dhalem menyapa " hai Ki Kramas kita teka, mengapa
begitu raut mukamu, tuhu kita Pungakan Dhalem saking
Manggis” perbaikilah raut mukamu (Babad Pungakan Timbul
lepihan 89a). Penyebutan Pungakan secara epistimolgi yang
berhasal dari kata Pung mempunyai arti pemimpin dan Pungakan
juga dapat di artikan bagian dari Dhelem atau Pretisentana
Dhalem. Mulai saat itulah pungkusan Pungakan banyak digunakan
dalam keseharian tidak hanya oleh I Dewa Gede Kramas, tetapi
juga digunakan oleh pretisentana Dhalem yang lainnya khususnya
pratisentana Manca Agung.
Setelah proses penyerahan I Dewa Ayu Gedong kepada
Dhalem selesai, I Dewa Gedong Artha memohon diri untuk
kembali ke Manggis ditemani oleh I Dewa Anom Pande. Atas
permintaan Dhalem Sagening I Dewa Timbul Gunung yang lahir
dari Ni Gusti Ayu Kacang Paos beserta anak dan istri dan I Dewa
Anom Bengkel dari Ibu Ni Gusti Ayu Parembu beserta anak istri
masih tetap tinggal di Gegel dan diberikan tempat oleh Dhalem di
Satra (Djareken,..:9).
Suatu ketika I Dewa Gedong Artha menghadap Dhalem di
Gegel, Dhalem Berkata, "wahai paman Manggis cucu paman sudah
hamil menurut pemikiranku ajaklah cucu paman kembali ke
Manggis, namun jangan sembarangan memelihara kehamilannya.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 54
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Bila sudah lahir putraku berinama I Dewa Anom Kuning".
Mengikuti permintaan Dhalem akhirnya Dewa Ayu Gedong oleh I
Dewa Gedong Artha diajak kembali ke Manggis. Setibanya di
Manggis disambut oleh sanak saudaranya dengan gembira.
Umur kehamilan Dewa Ayu Gedong Sudah semakin tua,
tampaknya sudah waktunya untuk melahirkan. Tiba-tiba Dewa Ayu
Gedong memegang perutnya sambil menahan rasa sakit, oleh sanak
saudaranya dicarikan dukun untuk membantu melahirkan. Setelah
beberapa lama lahirlah seorang bayi laki - laki tanpa cacat, sesuai
dengan pesan Dhalem bayi yang baru lahir diberinama I Dewa
Anom Kuning.
Setelah I Dewa Anom Kuning beranjak dewasa, beliau
menanyakan kepada ibunya siapa ayahnya. Dewa Ayu Gedong
memberikan petunjuk tentang ayahnya "bila didalam persidangan
di keraton Sweca Lingga Arsa Pura ada seseorang duduk di atas
Singhasana itulah ayahmu". Pada hari yang tepat berangkatlah I
Dewa Anom Kuning ke Gegel untuk menemui ayahnya.
Diceritakan Kyayi Tegeh Kori yang sedang berada di Gegel
pada suatu malam melihat dari ubun-ubun I Dewa Anom Kuning
terpancar cahaya yang berkilau, inilah yang membuat kagum Kyayi
Tegeh Kori disamping ketampannya, perasan senang menyaksikan
kejadian ini Kyayi Tegeh Kori dipersidangan menyampaikan apa
yang dilihat tetang keberadaan I Dewa Anom Kuning dan memohon
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 55
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
agar Dhalem mengijinkan untuk mendudukan I Dewa Anom Kuning
sebagai Pacek di Badung didaerah kekuasaan Kyayi Tegeh Kori.
Setelah Dhalem mempertimbangkan akhirnya permohonan Kyayi
Tegeh Kori direstui oleh Dhalem.
Keberangkatan I Dewa Anom Kuning bersama I Dewa Anom
Kuning dan juga diikuti oleh para ksatria dhalem yang berada
dimanggis. Para ksatria dhalem tiada lain saudara maupun paman
dari Dhalem sendiri seperti I Dewa Watuaya, I Dewa Putu Kapal,
I Dewa Mangwi, I Dewa Gianyar, I Dewa Tusan, I Dewa Tamesi, I
Dewa Lanpijeh, I Dewa Tlabah, I Dewa Asah, I Dewa Tlabah, I
Dewa Basang Tamiang, I Dewa Kramas serta sanak saudara yang
ada di Manggis. Para Punggawa dan Manca yang berada dibawah
kekuasaan Kyayi Tegeh Kori menyambut dengan sukacuta
kedatangan I Dewa Anom Kuning bersama rombongan.
Kini diceritakan Sri Aji Dhalem Anom Sagening
mengeluarkan kebijakan terhadap keberadaan para ksatia dhalem
untuk kembali ke Gegel, supaya dapat melindungi Dhalem lebih
dekat. Kebijakan Dhalem inilah yang menyebabkan sebagian besar
para ksatria Manggis kembali ke Gegel seperti misalnya
Pretisentana I Dewa Karang Beserta anak dan istri, Pretisentana
I Dewa Kaleran beserta anak istri, I Dewa Pemacekan, I Dewa
Gianyar, disamping itu ikut pula Pretisentana I Dewa Duhuran, I
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 56
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Dewa Telabah, I Dewa Tegeh, I Dewa Asah beserta anak, cucu
dan istri sudah terlebih dahulu tinggal di satra atas titah Dhalem.
Sekarang diceritakan putra Dhalem yang sudah berada di
Badung, karena ketampannya banyak para wanita termasuk istri
Kyayi Tegeh Kori tergoda dengan ketampanan putra Dhalem.
Mengetahui hal ini menyebabkan Kyayi Tegeh Kori sangat marah
dan sertamerta mengumpulan para prajurit untuk menyerang
putra Dhalem. I Dewa Anom Kuning mengetahui rencana
penyerangan dari Kyayi Tegeh Kori dengan pasukannya, kemudian
I Dewa Anom Kuning dapat melarikan diri atas bantuan pedagang
tikar. I Dewa Anom Kuning digulung sekujur tubuhnya agar dapat
keluar dari kepungan prajurit Kyayi Tegeh Kori. Dalam pelariannya
sampailah di Rumah Kyayi Pinatih, disini beliau tidak lama karena
Kyayi Pinatih mendapat informasi bahwa Kyayi Tegeh Kori akan
kembali menyerang I Dewa Anom Kuning. Berkat saran Kyayi
Pinatih diminta Dewa Anom Kuning untuk melanjutkan perjalanan
ke arah timur laut. Dalam pelarian Kyayi Pinatih meminta putri
kesayangannya yang bernama Ni Gusti Ayu Pahang mendapingin I
Dewa Anom dikala suka dan duka, ini terjadi karena rasa cinta
kasih Kyayi Pinatih terhadap I Dewa Anom.
Tidak diceritakan pelarian I Dewa Anom yang selalu
ditemani oleh Ni Gusti Ayu Pahang dan seorang emban bernama Ni
Luh Cramcam, akhirnya sampailah beliau di hutan Bengkel dan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 57
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
bertemu dengan Ki Dukuh Petalesan (Pamancangah I Dewa Gedong
Artha,lep. 35a ).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 58
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
VII
Pancarian I Dewa Manggis Kuning
Seorang hamba I Dewa Anom yang berada di Badung datang
ke Manggis menginformasikan bahwa I Dewa Anom telah
meninggalkan Badung untuk menyelamatkan diri karena mendapat
serangan dari Kyayi Tegeh Kori dan pasukannya. Tidak diketahui
entah berada dimana sekarang, mungkin beliau sudah tiada.
Mendengar berita yang kurang baik ini menyebabkan seluruh
warga, pratisantana maupun hamba sahaya menjadi sedih.
Kemarahan I Dewa Lanpijeh tidak bisa disembunyikan, ingin
menghancurkan Kyayi Tegeh Kori di Badung, namun keinginannya
dapat diurungkan karena dinasehati oleh I Dewa Anom Pande
(sang ayah). Adapun wejangan yang diberikan sang ayah seperti
tersurat pada lepihan 95b babad pungakan timbul sebagai
berikut.
".... ana petangguh sang yayah lawan sira, ih aja
mangkana ankingsun, pira saktine wong sanunggal, apan
kakuehing ari, yadiapin ana papareng pada
angwirangana sanakta kabeh, tlas tekang waduanta
kabeh arep angamuk, tan sida pwa Ki Tegeh Kori Pejah,
apan dede pawibaganing waduanta anaku, ...."
Terjemahan Bebas: ".... ada nasehat ayah kepada anak-
anaku, anakku, bagaimanapun kekuatanmu jika seorang diri
tidak mungkin, walaupun semua sanak saudara ikut
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 59
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
berperang, tidak bisa membunuh Kyayi Tegeh Kori karena
banyak prajuitnya.
Keinginan I Dewa Lanpijeh beserta keluarga dan warga
manggis untuk menyerang Kyayi Tegeh dapat ditunda. Atas
nasehat sang ayah maka dikumpulkan semua sanak saudara
termasuk yang tinggal di Gegel untuk mencari keberadaan I Dewa
Anom di desa-desa, di hutan. Pada hari yang telah ditentukan
berdasarkan penanggal Bali, berangkatlah I Dewa Lanpijeh diikuti
oleh prajurit pilihan. Tidak diceritakan dalam perjalanan,
sampailah I Dewa Lanpijeh diikuti oleh prajurit pilihan di Gelgel
untuk mengutarakan kehadapan sanak keluarga perihal bencana
yang dialami oleh I Dewa Anom Kuning. Mendengar berita yang
disampaikan oleh I Dewa Lanpijeh semua pratisentana I Dewa
Gedong Arta yang berada di gegel merasa prihatin dan ber-
"sapata" ikut melakukan pencarian I Dewa Anom Kuning.
Pembagian tugas pencarian dilakukan. Menelusuri tempat tempat
dibagian Barat sampai ke wilayah Sibang ditugaskan kepada I
Dewa Putu Kapal, I Dewa Mangwi disertai pengikut masing masing.
Sanak saudara yang lain ikut mencariya antara lain I Dewa Bangun
Sakti, I Dewa Sukawati bersama sama berangkat menelusuri
wilayah Tabanan dan Kaba Kaba. I Dewa Pasekan, I Dewa Budi, I
Dewa Gianyar, I Dewa Kaleran, bersama sepupu seperti I Dewa
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 60
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Batubulan, I Dewa Basang, I Dewa Kalang menuju sebelah Utara
Gunung yang juga disertai pengikut masing masing. I Dewa Tusan,
I Dewa Tamesi disertai I Dewa Lanpijeh menelusuri jajahan
Mengwi, Mambal, Buringkit, Carangsari, Pacung, Abiansemal yang
dikawal pula oleh I Dewa Undisan, I Dewa Bakas, I Dewa
Tambahan, I Dewa Batuaji, I Dewa Kembengan, I Dewa
Tanggahan diringi oleh pengikut masing masing. Adapun I Dewa
Gede Kramas. I Dewa Gede Pasekan menuju arah Utara sampai ke
pelosok pelosok termasuk wilayah Bintang Danu lengkap dengan
pengikut. I Dewa Tlabah, I Dewa Tegeh, I Dewa Asah, I Dewa
Basangtamiang, I Dewa Kamasan, I Dewa Kalang, I Dewa
Manduang lengkap pula dengan prajurit masing masing beserta
kelengkapannya menuju wilayah Badung.
Diceritakan pencarian I Dewa anom Kuning sudah memasuki
desa-desa sampai ke pelosok pelosok pegunungan belum juga
belum menemukan jejak yang dicari. Sudah sebulan menelusuri
semua tempat memasuki hutan desa-desa juga belum ditemukan. I
Dewa Lanpijeh disertai sanak saudara dan prajuritnya merasa
putusasa akhirnya kembali ke rumah masing masing, tapi ada juga
yang tetap tinggal dan mendirikan tempat istirahat di wilayah
wilayah pencarian I Dewa Anom Kuning dengan harapan suatu saat
I Dewa Anom Kuning melewati daerah itu (Prasasti I Dewa
Pungakan Timbul lepihan 96b).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 61
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Keberadaan I Dewa Anom Kuning di Bengkel sudah cukup
lama untuk menghilangkan jejak keberadaan kemudian beliau nama
digantinya menjadi I Dewa Manggis. Diceritakan hampir setiap
malam beliau berdoa memohon keselamatan dan pengampunan
(madewasraya) di khayangan. Tidak lama kemudian ada anugrah
dari Ida Sang Hyang Widi Wasa, tatkala istri beliau Ni Gusti Ayu
Pahang berendam (akrèming) di sungai disana beliau memperoleh
pusaka suci berupa tombak (watang) yang terselip di dalam kayu
bakar yang hanyut babad Pungakan Timbul (97a).
Ketenangan rakyat Gegel terganggu karena kedatangan
musuh yang tidak disangka sangka melakukan penjarahan dan
merusak. Penduduk desa yang ketakutan membunyikan Ketongan
(kukul) bulus disetiap dusun sebagai tanda desa mereka dalam
keadaan genting. Suara ketongan yang tidak putus-putus dan saut
menyaut sampai terdengar di keraton Sweca Lingga Arsa Pura.
Sri Aji Dhalem Sagening merasa kaget mendengar ada pengacau
yang tidak terduga datang ke wilayah Gegel, beliau
memerintahkan abdinya untuk membunyikan tègtèg Agung
(kentongan besar). Masyarakat yang mendengar tègtèg Agung
berbunyi pada berdatangan lengkap denga persentaan ke kota
kota kerajaan (keraton). Balatentara Gegel dengan senjata
lengkap, para Menteri, Punggawa, Demung tidak terkecuali
berdatangan ke Keraton Sweca Lingga Arsa Pura Gegel. Ida
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 62
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Dhalem kemudian menyampaikan musuh dibawah pimpinan I Gusti
Panji Sakti sudah sampai disekitar desa Tohpati di sebelah utara
Banjar Angkan. Kedatangan musuh dihadang oleh Kyayi Kebon
Tubuh dan Para Ksatrya seperti; I Dewa Watuhaya. Dewa Putu
Kaphal, Dewa Ngwi, Dewa Bhudi, Dewa Pasekan, Dewa Tianyar,
Dewa Kramas, Dewa Tlabah, Dewa Asah, Dewa Tegeh, dan
sebagai Pimpinan para Ksatrya adalah I Dewa Basang Tamiang
Babad Pungakan Timbul (98a). Pertempuran yang sangat dasyat
terjadi di Desa Tohpati. Informasi pertempuran yang terjadi di
Tohpati didengar oleh I Dewa Manggis Kuning dan dengan sigap
beliau ikut membantu pasukan Gegel dengan bersenjatakan
tombak berumbai (oncer) ganda jagung dengan prajurit bengkel
yang juga bersenjatakan bambu runcing dengan oncer ganda
jagung, akhirnya Pasukan Gegel dapat mengusir pasukan I Gusti
Panji Sakti tersurat dalam babad Pungakan Timbul (99b).
Keberhasilan penumpasan gerombolan pengacau ini kemudian
dilaporkan kepada Dhalem oleh Mahapatih kebon Tubuh dan para
ksatrya yang ikut dalam penumpasan itu. Dhalem dan petinggi
kerajaan gegel merasa kaget melihat yang menghadap bersama I
Dewa Dimade adalah I Dewa Manggis Kuning putra Dhalem yang
dikabarkan meninggalkan Badung. Kemudian Dhalem Bersabda
kepada I Dewa Anom Kuning " hai anaku betapa bahagianya
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 63
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
ayah bagaikan mendapat tirta Sanjiwani" Babad Pungakan
Timbul (100a).
Atas Titah Dhalem Sagening, Paman Beliau dan Wayah dari
I Dewa Manggis Kuning yang bemama I Dewa Timbul Gunung
beserta istri dan putranya yang bemama I Dewa Basang Tamiang
juga bersama istri dan putra putrinya pindah dari Satra ke
Bengkel, membawa kris yang bernama Ki Sampana dan Tombak luk
tiga bernama Ki Panuju untuk menjaga keselamatan I Dewa
Manggis Kuning (Putra Dhalem Segening dengan I Dewa Ayu
Gedong) dan di iringi oleh 60 prajurit pilihan beserta istri dan
anaknya yang terdiri atas : 10 kuren dari Gunaksa, 10 kuren dari
Dawan, 10 kuren dari Sampalan, 10 kuren dari kamasan, dan
lainnya dari Pasinggahan Babad Pungakan Timbul (101a).
Di masa pemerintahan I Dewa Manggis pahang di Keraton
Gianyar terjadi hubungan yang tidak harmonis dengan penguasa
Serongga yang di pimpin oleh pratisentana I Dewa Kaleran, maka
terjadi pengambil alihan kekuasaan oleh Gianyar atas Serongga di
bawah Pimpinan I Dewa Nyoman Tegal cucu dari I Dewa Basang
Tamiang. Setelah Serongga dapat dikuasai kemudian I Dewa
Pinatih putra dari Manggis Pahang diangkat sebagai penguasa
Serongga dan I Dewa Nyoman Tegal sebagai patihnya. Entah
berapa lama I Dewa Nyomam Tegal melajang akhirnya menemukan
jodoh yang bernama Desak Bona, dari pernikahan ini lahir dua
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 64
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
orang anak laki laki dan satu perempuan. Putra yang sulung
diberinama I Dewa Anom Serongga yang menengah bernama
Desak Ayu Rai dan yang bungsu bernama I Dewa Anom Parwata
yang juga dikenal dengan nama I Dewa Sangkan Gunung.
Dikisahkan di Ler Bukit terjadi ketidak stabilan politik
karena serangan-serangan yang dilakukan oleh perompak Bajo,
maka I Dewa Anom Parwata bersama 70 pengikut termasuk para
Arya dan pensehat berangkat ke Ler Bukit untuk membantu
menumpas pengacau disana. Setelah situasi stabil dan terkendali
maka anak dan istri pengikutnya menyusul dan menetap di Ler
Bukit (babad Dalem, Babad Pungakan Timbul, Ksatrya Kalipaksa).
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 65
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
VIII
Pemberontakan I Gusti Ngurah Widia (Maruti)
Hanya beberapa tahun Dalem Di Made, pemegang tahta di
keraton Swecalinggarsapura mampu mempertahankan kestabilan
negara. Sesudah itu, kekuasaan Gelgel di luar Pulau Bali
berangsur-angsur mengalami kemunduran sedangkan persatuan
dalam negeri kerajaan goncang dan terpecah belah. Daerah
Blambangan batas wilayah di sebelah barat lepas dan direbut oleh
Mataram. pulau Lombok di rebut oleh Makassar, sementara di
dalam negeri kerajaan Gelgel sendiri telah terjadi konflik, intrik
yang akhirnya memuncak menjadi perebutan tahta yang dilakukan
I Gusti Agung Maruti. (Sirikan, I, 1956: 212; Utrecht 1962: 94-
96;Babad Dalem). Sementara itu, para Manca, Ksatrya Dhalem
Pratisentana I Dewa Tegal Besung, Prajurit dan kaula yang masih
setia dengan Dhalem Dimade meninggalkan Gelgel menuju Guliang,
Keris pustaka yang sempat dibawa oleh Dhalem Dimade ke Guliang
bemama Ki Tanda Langlang (Berg, 1932 : 44-45, Babad Dalem).
Tidak terceritakan berapa lama Pratisentana Dhalem Sri
Aji Tegal Besung tinggal di Guliang bersama Dhalem Dimade,
kemudian beberapa Pratisentana Dhalem Sri Aji Tegal Besung
pindah dari Guliang mencari saudara-saudaranya diantaranya: I
Dewa Temesi (anak I Dewa Anom Pande kembali ke Manggis), I
Dewa Tusan pindah ke Desa Bengkel dan membangun rumah di
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 66
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Selat. I Dewa Duuran ke Desa Suwung, I Dewa Telabah ke Kuta,
berikutnya pindah ke Desa Banjar Den Bukit (Buleleng) kemudian
berguru kepada Pedanda di Banjar, sehingga memahami sastra
agama dan tatwa. I Dewa Kalanganyar ngungsi ke Desa
Kalanganyar Badung, dan I Dewa Anom Bengkel tetap tinggal di
Satra beserta anak dan istri dan semua kaulanya.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 67
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
IX
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gedong Artha
Menyimat uraian dari V sampai dengan VIII ternyata
migrasi / perpindahan Pratisentana Sri Aji Dhalem Tegal Besung,
khususnya warih I Dewa Gedong Artha terjadi dalam tiga tahap,
hal ini disebabkan oleh: 1) Pemberontakan I Gusti Batan Jeruk,
karena salah satu putra dari Sri Aji Dhalem Tegal Besung dan
menantu dari I Gusti Batan Jeruk yakni I Dewa Anggungan
disangkakan ikut terlibat dalam pemberontakan sehingga Dhalem
Pamayun Bengkung tidak percaya dengan empat saudara yang
lainnya dari I Dewa Anggungan yakni; I Dewa Gedong Artha, I
Dewa Nusa, I Dewa Pagedangan dan I Dewa Bangli. 2) Migrasi ke
dua terjadi dalam pencarian keberadaan I Dewa Anom Kuning ( I
Dewa Manggis) putra dari Dhalem Sagening bersama Dewa Ayu
Gedong, cucu dari I Dewa Anom Pande kesegala pelosok pulau Bali.
Penelusuran keberadaan I Dewa Anom berlangsung cukup lama
sehingga banyak yang tetap tinggal di tempat pencarian sambil
berharap dapat menemukan I Dewa Anom Kuning. 3) perpindahan
besar-besaran terjadi pada saat penguasaan I Gusti Agung
Maruti Atas Keraton Sweca Lingga Arsa Pura Gegel.
Beberapa catatan yang tersuarat dalam Prasasti, Babad,
Pamancanggah, manuskrip, dan Kidung Pamancangah menyebutkan
bahwa Pratisentana I Dewa Gedong Artha: 1) I Dewa Karang, 2) I
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 68
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Dewa Kaler, 3) I Dewa Anom Pande, 4) I Dewa Duhuran, 5) I
Dewa Timbul Gunung, 6) I Dewa Anom Bengkel, 7) I Dewa
Kalanganyar, 8) I Dewa Tangeb, dan 9) I Dewa Sukawati. Keturan
dari sembilan bersaudara inilah tersebar di berbagai pelosok
pulau Bali yang dapat dilacak keberadaannya di sembilan
Kabupaten Kota dan Luar Pulau Bali.
1. Kabupaten Karangasem
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berada di
Br. Kawan Manggis, Br. ..... Padang Bay Kecamatan
Manggis, Watuaya, Br. ........, desa Besang Ababi
kecamatan......,
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
2. Kabupaten Klungkung :
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 69
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
3. Kabupaten Gianyar
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
4. Kota Denpasar
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 70
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
5. Kabupaten Badung
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
6. Kabupaten Tabanan
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 71
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
7. Kabupaten Jembrana
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
8. Kabupaten Buleleng
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 72
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
9. Kabupaten Bangli
a) Pratisentana dari I Dewa Karang berdomisili di
b) Pratisentana I Dewa Kaler berdomisili di......
c) Pratisentana I Dewa Duuran berdomisili di......
d) Pratisentana I Dewa Anom Pande berdomisili di......
e) Pratisentana I Dewa Timbul Gunung berdomisili di......
f) Pratisentana I Dewa Anom Bengkel berdomisili di......
g) Pratisentana I Dewa Kalanganyar berdomisili di......
h) Pratisentana I Dewa Tangeb berdomisili di......
i) Pratisentana I Dewa Sukawati berdomisili di......
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 73
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
X
GARIS KETURUNAN
10. Sri Aji Dhelem Kresna Kapakisan
Sri Aji Dhelem Kresna Istri I
Kapakisan Ni Gusti Ayu Tirtha
1 2
I Dewa Sampranag I Dewa Taruk
3
4
Dewa Ayu Swabawa I Dewa Ketut
Ngulesir
Sri Aji Dhalem Kresna Istri II
Kapakisan Ni Gusti Ayu Kutawaringin
I Dewa Tegal Besung
Sri Aji Dhalem Kresna Istri III
Kapakisan Ni Dyah Amerta Jiwa
I Dewa Anom
(Dhalem Benculuk
11. Sri Aji Dhalem Tegal Besung
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 74
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Sri Aji Dhalem Tegal
Besung Ni Luh Pamaron
1 2
I Dewa Gedong I Dewa Nusa
Artha
3
4
I Dewa Pagedangan
5 I Dewa Anggungan
I Dewa Bangli
2.1 Pratisentana I Dewa Gedong Artha
I Dewa Gedong Artha Istri I
Ni Gusti Ayu Kacang Paos
1 2
I Dewa Karang I Dewa Kaler
3
4
I Dewa Anom Pande
5 I Dewa Duuran
I Dewa Timbul
Gunung
1. I Dewa Karang
3 Orang Istri dari
I Dewa Karang 1. Putri Anglurah Watuaya
2. Putri Anglurah Kaphal
3. Putri Anglurah Mangwi
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 75
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
1 2
I Dewa Watuaya Ni Desak Ayu Karang
(Ibunya dari Watuaya) (Ibunya dari Watuaya)
4
3
I Dewa Rai Mangwi Ni Desak Ayu Mangwi
(Ibunya dari Mangwi) (Ibunya dari Mangwi)
5 6
Ni Desak Ayu Kaphal
I Dewa Putu Kaphal (Ibunya dari Watuaya)
(Ibunya dari Nglurah Kapal)
1) I Dewa Kaler
I Dewa Kaler Ni Gusti Ayu Batan
1 2
I Dewa Budhi
I Dewa Pacekan
3
4
I Dewa Tianyar Ni Desak Tianyar
6
5
Ni Desak Batan Ni Desak Gianyar
2. I Dewa Anom Pande
I Dewa Anom Pande Ni Gusti Ayu Tusan
(Putri I Gusti Tusan)
1 2
I Dewa Tusan I Dewa Tamesi
3 4
I Dewa Lanpijeh Desak Ayu Gedong
5 6
Desak Tusan 3 Desak Temesi
8
I Dewa Gde Kramas Dewa Gde Pacek
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 76
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
3. I Dewa Duuran
I Dewa Duuran Ni Gusti Ayu Telabah
1
I Dewa Telabah 2
I Dewa Asah
3
5 4
I Dewa Tegeh
Desak Tutur
Desak Kumuda
4. I Dewa Timbul Gunung
I Dewa Timbul Gunung Ni Gusti Ayu Basang Kasa
2 3
Desak Tirttha 1 Desak Gangga
I Dewa Basang Tamiang
5. I Dewa Anom Bengkel
I Dewa Anom Bengkel
I Dewa Kamasan
6. I Dewa Kalanganyar
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 77
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
I Dewa Kalanganyar
1
2
I Dewa Kalang I Dewa Munduk
3 4
I Dewa Siman I Dewa Munggu
5 7 6
Desak Trang Desak Sangka
Ni Desak Mandwang
7. I Dewa Tangeb
I Dewa Tangeb
1 2
I Dewa Bumbungan I Dewa Padhang
3
Desak Pindi
8. I Dewa Sukawati
I Dewa Sukawati
1
I Dewa Tonja
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 78
I Dewa Batu
3
4
I Dewa Peling I Dewa Bona
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 79
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
XI
Merajan Pratisentana I Dewa Gedong Artha
j) Kahyangan Giri Indrakila
Lokasi Parhyangan Indrakila
terletak pada titik koordinat
geografi antara 115º27’00” –
115º28’05” (Bujur Timur) dan
8º25’30”–8º26’40” (Lintang
Selatan) Desa Manggis,
Kecamatan Manggis
Karangasem, disusung oleh 25
KK Pratisentana I Dewa Gedong
Arta
Parhyangan Di Bukit Sari sekitar
300 sebelah utara Parhyangan
Indrakila terletak pada titik
koordinat geografi ..... Desa
Manggis, Kecamatan Manggis
Karangasem, disusung oleh ....
KK Pratisentana I Dewa Gedong
Arta, warih I Dewa anom Pande
Parhyangan Di Bujaga
Karangasem, disusung oleh ....
KK Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
anom Pande
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 80
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
anom Pande disusung oleh ...
Kepala Keluarga, terletak di
Banjar Besang Kangin
Klungkung
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Timbul Gunung, terletak di
Banjar bukit sakti, Lokapaksa
Seririt Buleleng, kasusung oleh
11 Kepala keluarga. Pemangku
Merajan: I Gusti Agung Darma
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Timbul Gunung, Satrya
Wangsa Lokapaksa, Ring Desa
Galih Sari. Kec. Lalan. Kab.
Musi Banyuasin. Prop
Sumatera Selatan. Palembang.
pengempon sareng 7. Kepala
keluarga Pengelingsir:
Pinandita. I Gusti Ketut
Satyamerta..
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Timbul Gunung Terletak Di
jalan Cekomaria disusung oleh
38 Kepala keluarga
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 81
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Duhuran Terletak Di Desa Beng,
Kecamatan Gianyar, Kabupaten
Gianyar disusung oleh .....Kepala
keluarga
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Kaleran Terletak Di Desa
Klating Kecamatan
Selemadeg, Kabupaten
Tabanan disusung oleh .... KK
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Kaleran Terletak Di Desa
Bongan Cina Kecamatan .....,
Kabupaten .... disusung oleh
.... KK
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Kaleran Terletak Di Desa
Batuan Kecamatan Sukawati
Kabupaten Gianyar disusung
oleh 22 Kepala Keluarga.
Penglingsir Dewa Made Widia
Pemangku Dewa Kompyang
Tapa.
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 82
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
Mrajan Pratisentana I Dewa
Gedong Arta, warih I Dewa
Kaleran Terletak Di Banjar
Bucu Kecamatan Klungkung
Kabupaten Klungkung
disusung oleh 31 Kepala
Keluarga. Penglingsir: I
Dw.Gd.Widagda Mangku
Daftar Bacaan
Alih Aksara/Bahasa lontar :
k) Babad Arya Bang Pinatih, koleksi Kantor Pusdok Provinsi
Bali.
l) Babad Arya Kutawaringin, koleksi Kantor Pusdok Provinsi
Bali
m) Babad Dalem, koleksi Jero Kanginan Sidemen Karangasem
n) Babad Dalem, koleksi Puri Kaleran Sukawati Gianyar
o) Babad Dalem Tarukan, koleksi Kantor Pusdok Provinsi Bali
p) Babad Dalem Turun Ka Bali, koleksi Gedong Kirtya
Singaraja
q) Babad Manggis Gianyar, koleksi Kantor Pusdok Provinsi
Bali
r) Babad Pasek, koleksi Gedong Kirtya Singaraja
s) Babad Prasasti Dalem, koleksi Kantor Pusdok Provinsi Bali
t) Babad Pungakan Timbul, koleksi Gedong Kirtya Singaraja
u) Babad I Dewa Pungakan Timbul, Koleksi Mrajan Lebih
Gianyar
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 83
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
v) Alih Aksara dan Bahasa Babad I Dewa Tibul Timbul
Gunung Koleksi I Dewa Made Darmawan Kedhatuan
Cittamana Sidakarya Denpasar
w) Babad I Dewa Tibul Timbul Gunung Koleksi Jeroan
Babakan Lokapaksa
x) Prasasti I Dewa Duuran Koleksi Merajan Duuran, Banjar,
seririt Buleleng
y) Prasasti I Dewa Duuran Koleksi I Dewa Putu Suryanta,
Pandak Kediri Tabanan
z) Prasasti I Dewa Duuran Koleksi semeton Jadi kaja, Kediri,
Tabanan
å) Babad Pulasari, koleksi Kantor Pusdok Provinsi Bali
ä) Pamancangah I Dewa Gedong Artha koleksi Gedong Kirtya
Singaraja
cc) Pamancangah I Dewa Kaleran koleksi I Dewa Made Sukita,
Nusa Penida, Klungkung
aa) Piagem I Dewa Gedong Artha koleksi Merajan Anyar
Manggis Karangasem
bb) Warmadewa Tattwa, koleksi Geria Alit, Desa Belayu
Marga Tabanan.
ff) Kidung Pamancangah, Koleksi Ida Made Oka ring Kasimàn
Buku :
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 84
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
gg) Ankersmit F.R.1987, Refleksi Tentang Sejarah, Pendapat-
pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah,
Jakarta:Gramedia.
hh) Ardika, I Wayan dkk, 2013, Sejarah Bali Dari Prasejarah
Hingga Modern, Udayana University Press.
ii) Berg, C, C.,1932. Babad Blahbatuh. Santpoort:Uitgeverij
C. A. Mees.
jj) Dudung Abdurahman, 2007, Metodologi Penelitian
Sejarah, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media,).
kk) Djereken I Dewa Ketut,....Alih Bahasa "Tedunanan Piagem
Ida I Dewa Gedong Artha"
ll) Geertz,C, 2000. Negara Teater: Kerajaan -Kerajaan di
Bali Abad kesembilan Belas, Yogyakarta: Bentang Budaya.
mm) Sirikan, Gora, 1956. Sejarah Bali, Madyakala,
1651-1824, Sediakala 1825-1945.
nn) Soebandi Ktut,2000, Sejarah I Dewa Tegal Besung,
Denpasar;
oo) Tara Wiguna I Gusti Ngurah dkk, 2016, Purana Pura
Dalem Samprangan, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar;
pp) Utrecht, E., 1962. Sejarah Hukum Internasional di Bali
dan lombok percobaan sebuah Studi Hukum Internasional
Regional di Indonesia. Bandung:Sumur Bandung
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 85
Penyebaran Pratisentana I Dewa Gdong Artha
qq) Warna, I Wayan dkk, 1986, Babad Dalem Teks dan
Terjemahan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,
Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Bali;
rr) Wirawan, A.A. Bagus, 2018, Pura Dasar dan
Swecalinggarsapura Kahyangan Jagat dan Keraton
Ibukota Bali Pusat Agama Hindu di Nusantara Abad XIV,
Pura Dasar Gelgel Kabupaten Klungkung
Olih: I Dewa Made Darmawan dan Semeton | 86
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDA YAAN,
RISET DAN TEKNOLOGI
INSTJTUT SENI INDONESIA DENPASAR
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
Alamat : Jin. Nusa lndab, Denpasar 80235
Tipn. 0361-227316, 0361-236100
E-mail :
[email protected], Website: http://www.isi-dps.ac.id.
SURAT KETERANGAN
NOMOR: 0104/ITS.lrfU/2022
Yang bertanda tangan dibawah ini Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni
Indonesia Denpasar dengan ini menerangkan:
Nama : Dr. Drs I Dewa Made Darmawan, M.Si
NIP. : 195902191986031002.
Pangkat/Gol. : Pembina Tingkat I, IVlb.
Jabatan : Lektor Kepala.
Memang benar telah melakukan penelitian mandiri dengan Judul " Penyebaran Pratisentana
Ida I Dewa Gedong Artha di Provisi Bali"
Demikian Surat Keterangan ini dibuat agar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
GDE BAGUS UDAYANA
Tembusan Yth :
1. Rektor ISI Denpasar sebagai laporan;
2. Koordinator Prodi Desain Komunikasi Visual;
3. Yang bersangkutan.