0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
390 tayangan5 halaman

Jong Java

Organisasi pemuda Tri Koro Dharmo didirikan pada 1915 dengan tujuan menghidupkan persatuan pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok serta berkolaborasi dengan organisasi pemuda lain untuk membentuk Indonesia. Organisasi ini berganti nama menjadi Jong Java pada 1918 untuk memperluas cakupan keanggotaan. Jong Java akhirnya bergabung dengan organisasi pemuda lain membentuk Indonesia Moeda pada 1929.

Diunggah oleh

mukmin amrullah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
390 tayangan5 halaman

Jong Java

Organisasi pemuda Tri Koro Dharmo didirikan pada 1915 dengan tujuan menghidupkan persatuan pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali dan Lombok serta berkolaborasi dengan organisasi pemuda lain untuk membentuk Indonesia. Organisasi ini berganti nama menjadi Jong Java pada 1918 untuk memperluas cakupan keanggotaan. Jong Java akhirnya bergabung dengan organisasi pemuda lain membentuk Indonesia Moeda pada 1929.

Diunggah oleh

mukmin amrullah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peranan pemuda dan organisasi kepemudaan merupakan fenomena baru pada abad XX. Pada
abad-abad sebelumnya, dengan mengesampingkan pemuda di sekitar pangeran mahkota Jawa
dan anak-anak ulama, peranan kelompok ini hamper tidak tercatat dalam sejarah. Dapat
dikatakan sejarah Indonesia pada masa itu merupakan sejarahnya orang dewasa, terutama
sejarahnya orang tua.
Munculnya gerakan–gerakan pemuda pada abad XX di Indonesia tidaklah sendirian karena di
Negara-negara Asia lainnya juga sama-sama mengalami struktur perubahan yang sama.
Perubahan itu terjadi karena masuknya ide-ide baru, system pendidikan, industrialisasi dalam
batas-batas tertentu, urbanisasi, disintegrasi tatanan masyarakat lama, teknologi baru dan lain
sebagainya. Perubahan yang telah memporak-porandakan tatanan lama itu ternyata belum diikuti
dengan terwujudnya masyarakat baru. Dalam masyarakat yang anomie terjadilah krisis dalam
pikiran-pikiran golongan social dalam masyarakat, termasuk kelompok pemudanya. Mereka
mulai berpikir dan mempertanyakan posisi diri mereka dalam asas perubahan zaman yang tidak
menentu itu. Mereka mulai mencari identitas dirinya demi menatap masa depannya yang selama
ini dikungkung oleh dekapan generasi tua dan tekanan penjajahan Belanda. Oleh karena itu
pemuda-pemuda Indonesia merasa perlunya persatuan pemuda-pemuda Indonesia yang
dituangkan dalam satu wadah sehingga didapat satu derap langkah yang sama dalam mencapai
apa yang dicita-citakan oleh para pemuda pada umumnya. (Cahyo B.U, hal 113)

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Sejarah Tri Koro Dharmo?
2. Apakah yang melatar belakangi Berdirinya Tri Koro Dharmo?
3. Apakah Tujuan Berdirinya Tri Koro Dharmo ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Sejarahnya Tri Koro Dharmo .
2. Untuk mengetahui dan memahami latar belakang Berdirinya Tri Koro Dharmo.
3. Untuk memahami Tujuan Berdirinya Tri Koro Dharmo.

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tri Koro Dharmo

Jong Java atau Tri Kor Dharmo merupakan organisasi pemuda yang didirikan oleh Satiman
Wirjosandjojo di Gedung STOVIA pada 7 Maret 1915 dengan nama awal Tri Koro Dharmo
(TKD) (Bahasa Indonesia: “Tiga Tujuan Mulia”). Ia mendirikan asosiasi pemuda ini karena
banyak orang muda berpikir bahwa Boedi Oetomo dianggap sebagai organisasi elit.

B. Sejarah Berdirinya Tri Koro Dharmo ( Jong Java )


Sejak Boedi Oetomo beralih tangan dari golongan muda ke golongan tua pada kongres
pertamanya pada 5 Oktober 1908, timbul rasa ketidakpuasan di kalangan generasi muda.
Ketidakpuasan itu didasarkan pada gerak-langkah Boedi Oetomo yang cenderung konservatif
dan kurang menampung aspirasi para pemuda. Atas dasar itu, para pemuda membentuk suatu
perkumpulan sendiri yang dapat dijadikan tempat para pemuda dapat dididik untuk memenuhi
kewajibannya di kelak kemudian hari. (SNI V, hal 190) 7 Maret 1915, bertempat di Gedung
Boedi Oetomo Stovia Jakarta, para pemuda sepakat untuk mendirikan organisasi pemuda yang
berfungsi sebagai tempat latihan bagi calon-calon pemimpin bangsa atas dasar kecintaan kepada
tanah airnya. Perkumpulan para pemuda itu diberi nama Tri Koro Dharmo, yang mengandung
arti tiga tujuan yang mulia. Jabatan ketua diemban oleh oleh Satiman Wirjosandjojo, wakil
ketuan Soenardi (Mr.Wongsonegoro), dan sekertaris Soetomo. Pengurus lain diantaranya adalah
Muslich, Musodo, dan Abdul Rachman.
Sesuai dengan namanya, Tri Koro Dharmo memiliki tujuan, yaitu: Menjalin pertalian antara
murid-murid bumi putera pada sekolah menengah, kursus perguruan kejuruan dan sekolah vak,
menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya, membangkitkan dan mempertajam
perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Hindia (Indonesia). Hal ini dilakukan antara lain

2
dengan menyelenggarakan berbagai pertemuan dan kursus, mendirikan lembaga yang memberi
beasiswa, menyelenggarakan berbagai pertunjukan kesenian, serta menerbitkan majalah Tri
Koro Dharmo.
Pada 12 Juni 1918, Tri Koro Dharmo yang sejak 1917 diketuai oleh Sutardiaryodirejo
melakukan kongres di Solo. Kongres itu menghasilkan dua keputusan, yaitu tentang ruang
lingkup keanggotaan dan nama organisasi, serta mengenai kepengurusannya. Nama Tri Koro
Dharmo yang sangat jawasentris diganti dengan nama Jong Java. Dengan begitu diharapkan
pemuda-pemuda Sunda, Madura, Bali, dan Lombok diharapkan bisa ikut memasuki organisasi
tersebut. Tujuan pengubahan organisasi adalah untuk membangun persatuan Jawa Raya, yang
dapat dicapai dengan jalan mengadakan suatu ikatan yang baik di antara murid-murid sekolah
menengah, berusaha meningkatkan kepandaian anggotanya, dan menimbulkan rasa cinta
terhadap budaya sendiri. Dalam kongres itu, dipilihlah Sukiman Wirjosandjojo sebagai ketua.
Beliau inilah yang di kemudian hari terpilih menjadi ketua Perhimpunan Indonesia di Belanda.
Sampai kongres terakhirnya pada 23 Desember 1929, Jong Java telah sepuluh kali melakukan
kongres, dan menghasilkan keputusan-keputusan penting yang sangat berpengaruh terhadap
perjuangan para pemuda di masa selanjutnya. Keputusan-keputusan tersebut diantaranya adalah
Disetujuinya seorang wanita untuk duduk dalam pengurus besar dan anggota redaksi majalah
Jong Java, serta usaha untuk menterjemahkan surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Ini berarti
pengakuan hak wanita disamakan dengan pria sebagai kelanjutan usaha emansipasi Kartini.
Pada kongres ketiganya, bahasa-bahasa daerah seperti Jawa, Bali, Sunda, Makasar, dan Lombok
boleh dipergunakan, asalkan dengan diterjemahkan dalam bahasa Belanda.
Adanya cita-cita untuk membangun Jawa Raya dengan jalan membina persatuan diantara
golongan-golongan di Jawa dan Madura untuk mencapai kemakmuran bersama. Walaupun
masih sebatas Jawa dan Madura, hal tersebut menjadi bibit awal bagi terbentuknya integrasi
bangsa.
Pada kongres Mei 1922 dan kongres luar biasa Desember 1922, dipertegas bahwa Jong Java
tidak akan mencampuri aksi atau propaganda di bidang politik. Jong Java tetap hanya akan
bergerak di masalah sosial, budaya, dan pendidikan saja. Jong Java hanya akan mengadakan
hubungan antara murid-murid sekolah menengah, mempertinggi perasaan terhadap budaya
sendiri, menambah pengetahuan umum anggotanya, dan menggiatkan olahraga. Raden
Samsurijal, ketua Jong Java pada Kongres VI di Yogyakarta, mengusulkan agar Jong Java ikut
bergerak di bidang politik dan lebih mengutamakan program memajukan Islam. Namun kedua
usulan tersebut ditolak, sehingga ia mengundurkan diri dari Jong Java dan membentuk Jong
Islamieten Bond.
Setelah kongres pemuda I pada tahun 1926, faham persatuan dan kebangsaan Indonesia semakin
meningkat di kalangan anggota Jong Java. Pada kongres VII 27-31 Desember 1926 di Surakarta,
Jong Java yang diketuai Sunardi Djaksodipuro (Mr.Wongsonegoro) membuat putusan untuk
merubah tujuan dan ruang gerak organisasi tersebut. Tujuan tidak hanya membangun Jawa Raya

3
saja, tetapi pada saatnya nanti, Jong Java juga harus bercita-cita membangun persatuan dan
membangun Indonesia Merdeka. Ruang lingkup yang dirambah organisasi tersebut juga mulai
memasuki dunia Politik, setelah adanya putusan bahwa anggota yang berusia lebih dari 18 tahun
boleh mengikuti rapat-raapat politik, sedangkan yang di bawah 18 tahun hanya boleh mengikuti
kegiatan-kegiatan dalam seni, olah raga, dan kepanduan. (Cahyo, B.U, hal 119)
Pada tahun 1928, organisasi ini siap bergabung dengan organisasi kepemudaan lainnya dan
ketuanya R. Koentjoro Poerbopranoto, menegaskan kepada anggota bahwa pembubaran Jong
Java, semata-mata demi tanah air. Oleh karena itu, maka terhitung sejak tanggal 27 Desember
1929, Jong Javapun bergabung dengan Indonesia Moeda

C. Tujuan Tri Koro Dharmo


Ada beberapa tujuan dengan lahirnya Tri Koro Dharmo sebenarnya dalam anggaran dasar,
termasuk:
Ingin menghidupkan kembali persatuan dan persatuan, di antara pemuda Jawa, Sunda, Madura,
Bali, dan Lombok.
Berkolaborasi dengan semua organisasi pemuda untuk membentuk Indonesia. Dengan
keanggotaan terbatas, yaitu pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok.

D. Tokoh - Tokoh Tri Koro Dharmo


Tokoh Tri Koro Darmo
1. Ketua adalah Dr. Satiman Wirjosandjojo
2. Wakil ketua Wongsonegoro
3. Sekretaris Sutomo
4. Anggotanya adalah Muslich, Mosodo dan Abdul Rahman

Tokoh Pemuda Tri Koro Darmo


Banyak organisasi pemuda regional lainnya lahir termasuk Pasundan, Jong Sumatranen Bond,
Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Timorees Ver Bond, PPPI
(Perhimpunan Pelajar Indonesia), Pemuda Indonesia, Jong Islamienten Bond, kepanduan, dll.

4
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tri Koro Dharmo ( Jong Java ) Ingin menghidupkan kembali persatuan dan persatuan, di antara
pemuda Jawa, Sunda, Madura, Bali, dan Lombok. Berkolaborasi dengan semua organisasi
pemuda untuk membentuk Indonesia. Dengan keanggotaan terbatas, yaitu pemuda Jawa, Sunda,
Madura, Bali, dan Lombok.

B. Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekuarangan. Untuk kedepannya penulis
akan menjelaskan makalah secara lebih fokus dan detail dengan sumber yang lebih banyak dan
dapat dipertanggungjawabkan. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat
dibutuhkan penulis.

Anda mungkin juga menyukai