0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan12 halaman

Tugas 1 Metode Penelitian Sosial

Dokumen tersebut merupakan bagian dari tugas mahasiswa bernama Ilham tentang penelitian Covid-19 di kota Singkawang. Dokumen tersebut membahas latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan landasan teori mengenai partisipasi masyarakat dan bentuk partisipasi masyarakat.

Diunggah oleh

mentibary d ilham
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
80 tayangan12 halaman

Tugas 1 Metode Penelitian Sosial

Dokumen tersebut merupakan bagian dari tugas mahasiswa bernama Ilham tentang penelitian Covid-19 di kota Singkawang. Dokumen tersebut membahas latar belakang masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan landasan teori mengenai partisipasi masyarakat dan bentuk partisipasi masyarakat.

Diunggah oleh

mentibary d ilham
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas 1

Nama : Ilham Kode MK : ISIP4216


NIM : 042989362 MK : Metode Penelitian Sosial
1. Masalah penelitian yang berkaitan dengan Covid-19
1) Bagaimana partisipasi masyarakat dalam Penanganan Pencegahan Covid-19 di
kota Singkawang?
2) Bagaimana bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam Penanganan
Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang?
3) Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam Penanganan
Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang?
Alasan saya mengambil masalah penelitian di atas, adalah:
1) Untuk mengetahui dan menganalisis partisipasi masyarakat dalam Penanganan
Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
2) Untuk mengetahui dan menganalisis bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam
Penanganan Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
3) Untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi
masyarakat dalam Penanganan Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
Draf Judul Penelitian ini yaitu:
I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Coronavirus (Covid-19) merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit
infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East
Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernapasan Akut Berat/ Severe Acute
Respiratory Syndrome (SARS). Penyakit ini terutama menyebar di antara orang-orang
melalui tetesan pernapasan dari batuk dan bersin. Virus ini dapat tetap bertahan hingga tiga
hari dengan plastik dan stainless steel SARS CoV-2 dapat bertahan hingga tiga hari atau
dalam aerosol selama tiga jam (Kemendagri, 2020:3). Sesuai hal tersebut, coronavirus hanya
bisa berpindah melalui perantara dengan media tangan, baju ataupun lainnya yang terkena
tetesan batuk dan bersin.
Indonesia menjadi salah satu negara positif virus corona (Covid-19). Kasus pertama yang
terjadi di Indonesia dialami oleh dua warga Depok, Jawa Barat. Hal tersebut diumumkan
langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta pada hari senin, 2 maret
2020. Menurut Bapak Joko Widodo, kedua warga tersebut merupakan seorang ibu usia 64

1
tahun dan putrinya yang berusia 31 tahun. Keduanya diduga tertular virus corona karena
adanya kontak dengan warga negara Jepang yang datang ke Indonesia. Warga Jepang
tersebut terdeteksi Corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia. Tim
Kementrian Kesehatan (Kemenkes) melakukan penelusuran terhadap warga lainnya yang
sebelumnya melakukan interaksi dengan warga negara Jepang tersebut selama di Indonesia.
Menurut Kementerian Kesehatan anak tersebut diperkirakan tertular virus corona saat
berdansa dengan warga negara Jepang di sebuah klub di Jakarta pada tanggal 14 Februari
2020. Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes
Achmad Yurianto (Yuri) menyebutkan bahwa jumlah orang yang mengikuti acara tersebut
ada 50 orang. Pada tanggal 16 Februari 2020, anak tersebut mengeluh batuk dan agak panas,
kemudian berobat ke dokter. Setelah peristiwa tersebut, Kemenkes berupaya untuk
melakukan tracking kepada semua orang yang ikut berdansa pada acara tersebut
([Link], 2020).
Untuk data seprovinsi Kalimantan Barat, Singkawang menempati urutan pertama untuk
indikator jumlah pasien positif dalam perawatan karena covid-19. Dengan luas wilayah 504
km persegi, kabkota yang ada di povinsi Kalimantan Barat ini memiliki penduduk 207,14
ribu jiwa dilaporkan mencatatkan jumlah kasus covid-19 sebanyak 3938 orang, jumlah pasien
sembuh 2681 orang, dan jumlah meninggal dunia mencapai 108 orang. Jumlah total kasus
covid di wilayah ini berada di urutan pertama untuk level penyajian data tingkat provinsi
Kalimantan Barat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dapat dibuat suatu rumusan
masalah diantaranya:
1) Bagaimana partisipasi masyarakat dalam Penanganan Pencegahan Covid-19 di kota
Singkawang?
2) Bagaimana bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam Penanganan Pencegahan
Covid-19 di kota Singkawang?
3) Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam Penanganan
Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dibuat, maka adapun tujuan dari penelitian ini
yaitu:
1) Untuk mengetahui dan menganalisis partisipasi masyarakat dalam Penanganan
Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
2
2) Untuk mengetahui dan menganalisis bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam
Penanganan Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
3) Untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi
masyarakat dalam Penanganan Pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam dua hal, diantaranya:
1) Manfaat Teoritis Penelitian ini dapat memperluas dan menambah wawasan ilmu
pengetahuan dalam kajian Ilmu Pemerintahan.
2) Manfaat Praktis
a. Bagi Universitas
Sebagai wawasan dan sumber informasi yang dapat memberikan tambahan referensi
dan sumbangan pemikiran yang dapat digunakan oleh peneliti lain.
b. Bagi Masyarakat di kota Singkawang
Sebagai masukan pemikiran bagi pemerintah kota dan masyarakat yang ada di kota
Singkawang dalam usaha meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanganan
Covid-19.
c. Bagi Peneliti
Sebagai sarana bagi penulis untuk melatih dan mengembangkan kemampuan berfikir
secara sistematis dan teoritis dalam memecahkan suatu permasalahan secara objektif
dan kritis melalui karya ilmiah sehingga diperoleh suatu kesimpulan yang bersifat
teruji dan berguna.
II. Landasan Teori
1. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi berasal dari Bahasa Inggris “participation” yang memiliki arti mengambil
bagian atau keikutsertaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang
dimaksud partisipasi adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan, keikutsertaan,
peran serta. Partisipasi menurut Pasaribu adalah keikutsertaan, perhatian dan sumbangan
yang diberikan oleh kelompok yang berpartisipasi, dalam hal ini adalah masyarakat
(Wahyuddin, 2018:13).
Menurut Chabib Soleh menyatakan bahwa: Partisipasi Masyarakat merupakan manifestasi
dari kesadaran dan kepedulian serta tanggung jawab terhadap upaya memperbaiki kualitas
hidup bersama. Partisipasi Masyarakat tersebut cukup luas cakupannya mulai dari proses
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pemanfaatan hasil pembangunan” (Asritama,
2019:23).
3
Lebih lanjut Rukminto, 2008:110 menyatakan bahwa: Partisipasi masyarakat
merupakan keikutsertaan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi
yang ada di masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk
menangani masalah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang
terjadi” (Haqqie, 2016:8).
Menurut Tilaar, 1997:237-238 Masyarakat yang berpartisipasi adalah: Masyarakat
yang produktif, sadar akan hak-hak dan kewajiban, sadar hukum, dan bertekad untk mandiri
(Haqqie, 2016:10). Masyarakat yang berpartisipasi memiliki karakteristik:
a. Masyarakat yang kritis yang berarti masyarakat yang mengetahui masalah yang
dihadapinya dan berusaha memecahakan masalah tersebut untuk meningkatkan mutu
kehidupannya,
b. Masyarakat berdiri sendiri yang berarti masyarakat yang mengetahui potensi dan
kemampuannya termasuk hambatan karena keerbatasa,
c. Masyarakat yang mau berkarya. Oleh karena itu partisipasi masyarakat memiliki peranan
penting dalam suatu program.”
Berdasarkan beberapa pernyataan yang telah disebutkan oleh beberapa ahli diatas, dapat
ditarik kesimpulan bahwa yang disebut dengan partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan
masyarakat dengan kesadaran dan kepedulian serta tanggung jawab secara sukarela dalam
proses pengidentifikasian masalah, pemilihan dan pengambilan keputusan mengenai solusi
alternatif untuk menangani masalah, serta mengevaluasi perubahan yang terjadi didalam
masyarakat.
2. Bentuk dan Jenis Partisipasi Masyarakat
Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat menurut Huraerah dalam Septyasa 2013:6 (Rahayu,
2018:12-13) adalah:
a. Partisipasi buah pikiran
b. Partisipasi tenaga, yang diberikan partisipan dalam berbagai kegiatan untuk perbaikan atau
pembangunan Desa, pertolongan bagi orang lain dan sebagainya.
c. Partisipasi harta benda, yang diberikan orang dalam berbagai kegiatan untuk perbaikan
atau pembangunan Desa, pertolongan bagi orang lain yang biasanya berupa uang, makanan
dan sebagainya.
d. Partisipasi keterampilan dan kemahiran.
e. Partisipasi sosial yang diberikan orang sebagai tanda keguyuban.
Berdasarkan cara keterlibatannya, partisipasi menurut Fauzi dapat dibagi menjadi dua (Fauzi,
2018:21), diantaranya:
4
a. Partisipasi langsung
Yaitu keterlibatan seseorang, kelompok maupun masyarakat dalam berperan aktif, baik itu
menyediakan tenaga pada proses pembangunan, maupun memberikan kontribusi pemikiran
serta mengikuti saat pembuatan rancangan kegiatan pembangunan.
b. Partisipasi tidak langsung
Yaitu partisipasi yang dimana seseorang mewakilkan hak berpartisipasinya kepada orang lain
yang bisa mewakilinya dalam aktifitas partisipatif.
Menurut Mardikanto, 2013:88 adapun tipe partisipasi yang dibedakan berdasarkan
karakteristiknya yaitu sebagai berikut (Asritama, 2019:30-31):
a. Partisipasi pasif/manipulative yaitu masyarakat diberi tau apa yang sedang atau telah
terjadi, pengumuman sepihak oleh pelaksana proyek tanpa memperhatikan tanggapan
masyarakat dan informasi yang dipertukarkan terbatas pada kalangan professional di luar
kelompok sasaran.
b. Partisipasi informatif yaitu masyarakat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian,
masyarakat tidak di beri kesempatan untuk terlibat dan mempengaruhi proses penelitian dan
akurasi hasil penelitian tidak dibahas bersama masyarakat.
c. Partisipasi konsultatif yaitu masyarakat berpartisipasi dengan cara berkonsultasi, orang luar
mendengarkan, menganalisis masalah dan pemecahannya, tidak ada peluang untuk
pembuatan keputusan bersama, para professional tidak berkewajiban untuk mengajukan
pandangan dan masyarakat (sebagai masukan) untuk ditindak lanjuti.
d. Partisipasi intensif yaitu masyarakat memberikan pengorbanan/jasanya untuk
memperboleh imbalan/insentif, masyarakat tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran dan
eksperimen-eksperimen yang dilakukan dan masyarakat tidak memiliki andil untuk
melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah insentif dihentikan.
e. Partisipasi fungsional yaitu masyarakat membentuk kelompok untuk mencapai tujuan
proyek, pembentukan kelompok biasanya setelah ada keputusan-keputusan utama yang
disepakati dan pada tahap awal, masyarakat tergantung kepada pihak luar, tetapi secara
bertahap menunjukkan kemandiriannya.
f. Partisipasi interaktif yaitu masyarakat berperan dalam analisis untuk perencanaan kegiatan
dan pembentukan atau penguatan kelembagaan, cenderung memperlihatkan metode
indisipliner yang mencari keragaman perspektif dalam proses belajar yang terstruktur dan
sistematis dan masyarakat memiliki peran untuk mengontrol atas pelaksanaan keputusan-
keputusan mereka, sehingga memiliki andil dalam keseluruhan proses kegiatan.

5
g. Self mobilization (kemandirian) yaitu masyarakat mengambil inisiatif sendiri secara bebas
(tidak dipengaruhi pihak luar) untuk mengubah sistem atau nilai-nilai yang mereka miliki,
masyarakat mengembangkan kontak dengan Lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan
bantuan teknis dan sumber daya yang diperlukan dan masyarakat memegang kendali atas
pemanfaatan sumber daya yang ada dan atau digunakan.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Partisipasi Masyarakat
Menurut Najib dalam Tanuwijaya, 2016: 7 menjelaskan bahwa keberhasilan partisipasi
masyarakat dipengaruhi oleh (Rahayu, 2018:21-22):
a. Siapa penggagas partisipasi, apakah pemerintah pusat, pemerintah daerah atau Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM).
b. Untuk kepentingan siapa partisipasi itu dilaksanakan, apakah untuk kepentingan
pemerintah atau untuk masyarakat.
c. Siapa yang memegang kendali, apakah pemerintah pusat, pemerintah daerah, atau lembaga
donor. Jika pemerintah daerah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memegang
kendali cenderung lebih berhasil. Hal ini dikarenakan cenderung mengetahui permasalahan,
kondisi dan kebutuhan daerah atau masyarakatnya dibandingkan pihak luar.
d. Hubungan pemerintah dengan masyarakat, apakah ada kepercayaan dari masyarakat
terhadap pemerintahannya. Jika hubungan ini baik, partisipasi akan lebih mudah
dilaksanakan.
e. Kultural, daerah yang masyarakatnya memiliki tradisi dalam berpartisipasi (proses
pengambilan keputusan melalui musyawarah) cenderung lebih mudah dan berlanjut.
f. Politik, kepemerintahan yang stabil serta menganut sistem yang transparan, menghargai
keragaman dan demokratis.
g. Legalitas, tersedianya (diupayakan) regulasi yang menjamin partisipasi warga dalam
pengelolaan pembangunan (terintegrasi dalam sistem kepemerintahan di daerah).
h. Ekonomi, adanya mekanisme yang menyediakan akses bagi warga miskin untuk terlibat
atau memastikan bahwa mereka akan memperoleh manfaat (baik langsung maupun tidak
langsung) setelah berpartisipasi.
i. Kepemimpinan, adanya kepemimpinan yang disegani dan memiliki komitmen untuk
mendorong serta melaksanakan partisipasi, dapat dari kalangan pemerintah, Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM), masyarakat itu sendiri atau tokoh masyarakat.
j. Waktu, penerapan partisipasi tidak hanya sesaat, tetapi ditempatkan pada kurun waktu yang
cukup lama.

6
k. Tersedianya jaringan yang menghubungkan antara warga masyarakat dan pemerintah
(forum warga).
Sejalan dengan beberapa faktor yang telah dijelaskan diatas, Haqqie menyimpulkan bahwa
terdapat dua faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat (Haqqie, 2016:13),
diantaranya:
a. Faktor internal
Faktor internal yang mempengaruhi partisipasi masyarakat yaitu, keinginan, motivasi,
pendidikan, pekerjaan dan penghasilan dari masyarakat itu sendiri
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal yang mempengaruhi partisipasi masyarakat yaitu peran serta pemerintah
daerah dan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah.
4. Covid-19
Covid-19 merupakan genus coronavirus â dan memiliki karakteristik genetik yang berbeda
dari SARSr- CoV dan MERSr-CoV (Kemendagri, 2020:31). Coronavirus sensitif terhadap
sinar ultraviolet dan panas, dan dapat dinonaktifkan secara efektif pada suhu lingkungan 560
C selama 30 menit, pelarut lemak seperti ether, 75% ethanol, disinfektan yang mengandung
klorin, asam pyroxyacetic dan kloroform kecuali chlorhexidine. Berdasarkan investigasi
epidemiologi saat ini, masa inkubasi Covid-19 adalah 1-14 hari, dan umumnya dalam 3
hingga 7 hari. Saat ini, sumber utama infeksi adalah pasien Covid-19 dan pembawa (carrier)
Covid-19 yang tanpa gejala juga dapat menjadi sumber infeksi (Kemendagri, 2020:31).
Adapun beberapa istilah mengenai karakteristik virus Covid-19, diantaranya:
1. Kasus suspek adalah seseorang yang memiliki salah satu dari kriteria berikut: Orang
dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul
gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan
transmisi lokal. Orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum
timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable Covid-19. Orang
dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak
ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan. Sebagai catatan, istilah
pasien dalam pengawasan (PDP) saat ini diperkenalkan dengan istilah kasus suspek.
2. Kasus probable adalah kasus suspek dengan ISPA berat/meninggal dengan gambaran klinis
yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium real time PCR.
3. Kasus konfirmasi adalah seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 yang
dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium real time. Kasus konfirmasi dibagi menjadi dua,

7
yaitu: Kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) Kasus konfirmasi tanpa gejala
(asimptomatik).
4. Kontak erat adalah orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau
konfirmasi Covid-19.
5. Pelaku perjalanan adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri
(domestik) maupun luar negeri pada 14 hari terakhir.
6. Discarded adalah apabila memenuhi salah satu kriteria berikut: Seseorang dengan status
kasus suspek dengan hasil pemeriksaan RT-PCR 2 kali negatif selama dua hari berturut-turut
dengan selang waktu lebih dari 24 jam. Seseorang dengan status kontak erat yang telah
menyelesaikan masa karantina selama 14 hari.
7. Selesai isolasi, yaitu apabila memenuhi salah satu kriteria berikut: Kasus konfirmasi tanpa
gejala (asimptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dengan
ditambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi. Kasus
probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan
follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengan ditambah minimal tiga hari
setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan. Kasus
probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang mendapatkan hasil pemeriksaan
follow up RT-PCR 1 kali negatif, dengan ditambah minimal tiga hari setelah tidak lagi
menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.
8. kematian atau kematian Covid-19 untuk kepentingan surveilans adalah kasus konfirmasi
atau prodable Covid-19 yang meninggal ([Link], 2020).
Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku
Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal,
tapi ditambah dengan penerapan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan
Covid-19.
Prinsip new normal adalah bisa menyesuaikan dengan pola hidup. "Transformasi ini
adalah untuk menata kehidupan dan perilaku baru, ketika pandemi, yang kemudian akan
dibawa terus ke depannya sampai ditemukannya vaksin untuk Covid-19 ini,” kata Wiku.
Untuk membiasakan masyarakat, Tim Gugus Tugas telah siap meracik gerakan
bertajuk empat sehat lima sempurna. Gerakan ini tidak sama dengan pola konsumsi makanan
yang sudah ada sebelumnya. Ini lebih ditujukan pada pencegahan penularan virus corona.
"Pemilihan jargon itu karena masyarakat sudah mengenal lama gerakan empat sehat lima
sempurna itu," kata Wiku.

8
Empat sehat yang dimaksud adalah memakai masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan,
serta istirahat yang cukup dan tidak panik. "Tubuh perlu imunitas tinggi. (Jika) imunitas
rendah maka diperlukan makan bergizi yang menjadi bagian lima sempurna," ujar Wiku
([Link], 2020).
New Normal bisa dikatakan sebuah keniscayaan, karena masyarakat perlu melanjukan
aktivitasnya meskipun dengan budaya dan prilaku yang berbeda dari massa sebelumnya.
Pemerintah juga menyatakan bahwa kebijakan ini tidak asal-asalan, karena ada faktor
saintifik yang melandasinya.
Rencana penerapan new normal di Indonesia, tentu akan berdampak pada sejumlah kegiatan
yang sebelumnya dihentikan atau dibatasi bakal dibuka kembali dengan sejumlah aturan.
Aktifitas tersebut termasuk kegiatan perekonomian seperti di pusat perbelanjaan hingga
tempat ibadah.
Presiden RI Joko Widodo mengatakan pembukaan tempat ibadah hingga aktifitas
ekonomi yang dimaksud dilakukan melalui tahapan yang ketat. Ia memastikan pembukaan
fasilitas tersebut menggunakan data-data keilmuan.
Hingga saat ini memang belum semua wilayah di Indonesia bisa dikendalikan. Oleh
sebab itu pemerintah berniat ingin membuka fasilitas yang sebelumnya ditutup atau dibatasi
tentunya dengan melihat angka-angka kurva. Sehingga keputusan ini akan ditetapkan sesuai
dengan data keilmuan yang ketat ([Link], 2020).
III. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Di dalam penelitian deskriptif ini akan menggunakan pendekatan kualitatif. Yang
dimaksud dengan Pendekatan kualitatif menurut Bodgan dan Taylor yaitu sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-
orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 2017:4). Sehingga penelitian ini akan
menggambarkan bentuk partisipasi masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
dalam penangganan pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
Sugiyono menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah: Metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafat pospositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang
alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument
kunci, pengambilan sampel, sumber data dilakukan secara purposive dan snowball, teknik
pengumpulan dengan triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif atau kualitatif dan
hasilnya lebih menekankan makna daripada generalisasi” (Sugiyono, 2013:13).

9
Sesuai dengan pemaparan di atas, maka melalui pendekatan ini akan diperoleh data
dari aparatur Pemerintah Desa dan Masyarakat di Kota Singkawang yang dapat diolah
menjadi kata-kata tertulis. Sehingga, hasil dari penelitian ini ditekankan untuk memberikan
gambaran secara obyektif dan dibandingkan dengan teori yang ada dengan cara
mendeskripsikan informasi sesuai dengan apa adanya.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini bertempat di Kota Singkawang. Alasan pemilihan pada lokasi
tersebut karena lokasinya berdekatan dengan Sambas yang mana tempat saya tinggal. Karena
didaerah saya pasien yang terinfeksi corana relative rendah, jadi saya mengambil sampel di
kota Singkawang yang penyebarannya relative tinggi. Berdasarkan beberapa pertimbangan
tersebut perlu diidentifikasi lebih mengenai pentingnya partisipasi masyarakat dalam
penangganan pencegahan Covid-19 di Kota Singkawang.
IV. Metode Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono, teknik pengumpulan data harus dilakukan dengan tepat agar didapat data
yang valid dan reliable Sugiyono (2013:201). Untuk itu, adapun beberapa cara yang akan
dilakukan melalui beberapa teknik agar diperoleh data yang lengkap dan objektif,
diantaranya:
a. Wawancara
Pengumpulan data dengan wawancara pada penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan
informasi yang berhubungan dengan bentuk dan faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi
Masyarakat Dalam Penanganan Covid-19 di Kota Singkawang. Adapun teknik wawancara
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara terstruktur dimana peneliti telah
menyiapkan pertanyaan-pertanyaan sebagai pedoman saat melakukan wawancara. Namun,
dalam proses pengumpulan data tidak menutup kemungkinan seorang peneliti untuk
mengembangkan pertanyaan tersebut tetapi tetap dalam batas yang sesuai dengan arah dan
tujuan penelitian. Kegiatan wawancara dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data dan
informasi dari masyarakat yang ada di Kota Singkawang.
b. Observasi
Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi saat proses partisipasi masyarakat dalam
upaya penanganan Covid-19 di kota Singkawang berlangsung maupun hal-hal yang berkaitan
dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Sehingga dapat diperoleh kesesuaian antara data yang
diperoleh dari wawancara dengan kondisi nyata yang ada dilapangan.
c. Dokumentasi

10
Dokumentasi digunakan sebagai alat pelengkap dan pendukung dalam mencari data dan
informasi yang berhubungan dengan penelitian. Dokumentasi tersebut terkait dengan data-
data internal Kota Singkawang, khususnya mengenai kegiatan-kegiatan yang berkaitan
dengan upaya penanganan Covid-19 yang memenuhi kriteria yang sudah ditentukan.
Berdasarkan pemaparan metode pengumpulan data diatas, maka dalam penelitian ini akan
digunakan metode wawancara dan observasi. Metode wawancara dilakukan kepada beberapa
informan untuk mendapat data dan pernyataan kemudian mencocokkan data yang diperoleh
dengan menggunakan metode observasi.
2. Tentukan pendekatan penelitian yang tepat untuk masalah dan draft judul penelitian
yang telah Anda pilih tersebut, dan jelaskan alasan Anda memilih pendekatan tersebut.
Di dalam penelitian deskriptif ini akan menggunakan pendekatan kualitatif. Yang
dimaksud dengan Pendekatan kualitatif menurut Bodgan dan Taylor yaitu sebagai prosedur
penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-
orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 2017:4). Sehingga penelitian ini akan
menggambarkan bentuk partisipasi masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
dalam penangganan pencegahan Covid-19 di kota Singkawang.
3. Jelaskan langkah-langkah penelitian sesuai dengan pendekatan penelitian yang telah
Anda pilih tersebut
Menurut Sugiyono, teknik pengumpulan data harus dilakukan dengan tepat agar didapat
data yang valid dan reliable Sugiyono (2013:201). Untuk itu, adapun beberapa cara yang
akan dilakukan melalui beberapa teknik agar diperoleh data yang lengkap dan objektif,
diantaranya:
a) Wawancara
Pengumpulan data dengan wawancara pada penelitian ini dimaksudkan untuk
mendapatkan informasi yang berhubungan dengan bentuk dan faktor-faktor yang
mempengaruhi partisipasi Masyarakat Dalam Penanganan Covid-19 di Kota
Singkawang. Adapun teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
wawancara terstruktur dimana peneliti telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan
sebagai pedoman saat melakukan wawancara. Namun, dalam proses pengumpulan
data tidak menutup kemungkinan seorang peneliti untuk mengembangkan pertanyaan
tersebut tetapi tetap dalam batas yang sesuai dengan arah dan tujuan penelitian.
Kegiatan wawancara dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data dan informasi
dari masyarakat yang ada di Kota Singkawang.
b) Observasi
11
Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi saat proses partisipasi masyarakat
dalam upaya penanganan Covid-19 di kota Singkawang berlangsung maupun hal-hal
yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Sehingga dapat diperoleh
kesesuaian antara data yang diperoleh dari wawancara dengan kondisi nyata yang ada
dilapangan.
c) Dokumentasi
Dokumentasi digunakan sebagai alat pelengkap dan pendukung dalam mencari data
dan informasi yang berhubungan dengan penelitian. Dokumentasi tersebut terkait
dengan data-data internal Kota Singkawang, khususnya mengenai kegiatan-kegiatan
yang berkaitan dengan upaya penanganan Covid-19 yang memenuhi kriteria yang
sudah ditentukan.
Berdasarkan pemaparan metode pengumpulan data diatas, maka dalam penelitian ini
akan digunakan metode wawancara dan observasi. Metode wawancara dilakukan
kepada beberapa informan untuk mendapat data dan pernyataan kemudian
mencocokkan data yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi.
Sumber:
 BMP ISIP4216/Metode Penelitian Sosial
 [Link]
yang-teratas-untuk-jumlah-pasien-positif-dalam-perawatan
 [Link]
 [Link]
pertama-virus-corona-di-indonesia?page=all
 Jurnal Partisipasi Masyarakat Dalam Penanganan Penyebaran Covid-19 Oleh
M Mulyadi, 2020.

12

Anda mungkin juga menyukai