0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
211 tayangan9 halaman

Ilham 042989362 Tugas 1 Kebijakan Publik ADPU4410

Dokumen tersebut membahas kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kebijakan ini merupakan kebijakan sosial terpusat dan komprehensif yang mencakup aktivitas mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi secara terpadu dan berkelanjutan.

Diunggah oleh

mentibary d ilham
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
211 tayangan9 halaman

Ilham 042989362 Tugas 1 Kebijakan Publik ADPU4410

Dokumen tersebut membahas kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Kebijakan ini merupakan kebijakan sosial terpusat dan komprehensif yang mencakup aktivitas mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi secara terpadu dan berkelanjutan.

Diunggah oleh

mentibary d ilham
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas 1

Nama : Ilham Kode Mata Kuliah : ADPU4410


NIM : 042989362 Mata Kuliah : Kebijakan Publik
Menurut saya Kebijakan pemerintah dalam penanggulangan bencana sendiri tertuang
dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.
Penanggulangan bencana yang diamanatkan dalam undang-undang tersebut memuat aktivitas
yaitu pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, tanggap darurat, rehabilitasi, dan
rekonstruksi. Semua aktivitas tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kerja holistik-
berkesinambunga dengan kerangka menyukseskan pembangunan.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi
penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan
bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Dalam definisi diatas tidak memasukkan kegiatan
rekonstruksi. Namun pada prinsipnya upaya penanggulangan bencana mengacu pada siklus
menejemen bencana yang memuat upaya mitigasi, emergensi, rehabilitasi, dan rekonstruksi.
Kebijakan ini telah lama ditunggu-tunggu oleh sebagian masyarakat dan stakeholder yang
berkepentingan dalam urusan kebencanaan, terkait Indonesia belum mempunyai undang-
undang tentang kebencanaan. Sangat riskan kiranya dilihat dengan mempertimbangkan
kondisi geografi, geologi, dan demografi Indonesia yang rawan bencana, mulai dari bencana
alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, angin rebut, kebakaran hutan.
Bahkan bencana sosial seperti konflik antar komunitas sebagai dampak negatif dari
keberagaman adat, budaya, agama, disparitas pendapatan ekonomi, dan sebagainya.
Kebijakan penanggulangan bencana ini termasuk dalam model kebijakan imperatif.
Kebijakan imperatif adalah kebijakan sosial terpusat, yakni seluruh tujuan-tujuan sosial,
jenis, sumber, dan jumlah pelayanan sosial, seluruhnya telah ditentukan. Seringkali
pemerintah di negara-negara berkembang memilih kebijakan imperatif dimana peran
perencanaan pembangunan sebagian besar dilaksanakan oleh pemerintah.
Kebijakan penanggulangan bencana termasuk dalam model residual. Menurut model
residual, kebijakan sosial hanya diperlukan apabila lembaga-lembaga alamiah, yang karena
suatu sebab (misalnya keluarga kehilangan pencari nafkah karena meninggal dunia) tidak
dapat menjalankan peranannya. Pelayanan sosial yang diberikan biasanya bersifat temporer,
dalam arti segera dihentikan manakala lembaga tersebut berfungsi kembali. Namun, dalam
kebijakan tersebut memiliki variable institusional atau berkesinambungan. Hal tersebut

1|ADPU4410
terdapat dalam upaya mitigasi bencana yang menekankan pada kegiatan-kegiatan pencegahan
dan kesiapsiagaan bencana, meliputi:
a. perencanaan penanggulangan bencana;
b. pengurangan risiko bencana;
c. pencegahan;
d. pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
e. persyaratan analisis risiko bencana;
f. pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
g. pendidikan dan pelatihan; dan
h. persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.
Tahap ini di lanjutkan ketika terjadi pada tahap tanggap darurat ketika terjadi bencana
meliputi pengerahan segala sumber daya untuk korban bencana. Dilanjutkan pada tahap
setelah terjadinya bencana yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi yang bersifat pemulihan dan
pembangungan kembali fasilitas-fasilitas sosial dan kehidupan ekonomi masyarakat.
Jika tahap setelah terjadi bencana, kegiatan yang diharapkan terus dilakukan adalah
dengan meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan dampak/risiko bencana. Melalui
pelatihan dan simulasi tindakan ketika terjadi bencana pada lembaga-lembaga pendidikan,
perusahaan, pemerintahan, dan sebagainya. Aktivitas tersebut bertujuan untuk menyadarkan
masyarakat untuk mengetahui tentang kebencanaan (awernes) dan pengorganisasian
masyarakat dalam kerangka advokasi. Memang kebijakan ini disiapkan untuk menangani
bencana dengan segala perangkatnya secara holistik dan berkesinambungan. Dalam UU No.
24 Tahun 2007, tujuan yang dirumuskan adalah:
1) memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana;
2) menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada;
3) menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,
terkoordinasi, dan menyeluruh;
4) menghargai budaya lokal;
5) membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta;
6) mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan; dan
7) menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana dilakukan dalam tahap-tahap
mitigasi dan kesiapsiagaan bencana untuk mengurangi risiko bencana. Aktivitas yang
dilakukan antara lain pengkajian dan risiko dan kerentanan, penanggulangan dampak risiko

2|ADPU4410
bencana, pendidikan dan pelatihan kesiapsiagaan bencana. Upaya ini termasuk dalam
kebijakan pencegahan terhadap risiko bencana.
Menyelaraskan kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang ada adalah
menyempurnakan kebijakan sosial kebencanaan yang sebelumnya ada, kebijakan sebelumnya
tersebut masih bersifat parsial. Kemampuan Indonesia untuk menanggulangi bencana dapat
dilihat dari beberapa dimensi, yaitu dimensi filsafat dan paradigma, kebijakan, struktur,
mekanisme, program dan kegiatan. Dari segi filsafat dan paradigma, penanggulangan
bencana di Indonesia pada masa lalu lebih banyak diwarnai oleh paradigma fatalistik-
responsif. Bencana dianggap sebagai suatu kutukan dari Tuhan dan tidak terlalu banyak yang
dapat dilakukan oleh rakyat kecuali melakukan tanggapan darurat terhadap peristiwa dan
dampak bencana yang baru saja terjadi.
Regulasi sebelum UU No.24 Tahun 2007 hanyalah setingkat keputusan presiden, antara lain
Keppres No. 3 Tahun 2001 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana dan
Penanggulangan Pengungsi, Keppres No. 111 tahun 2001 tentang Perubahan atas Keppres RI
No. 3 tahun 2001, dan Pedoman Umum Penanggulangan Bencana dan Penanganan
Pengungsi yang ditetapkan melalui Keputusan Sekretaris Bakornas PBP No. 2 tahun 2001.
Keputusan Presiden No. 28 tahun 1979 Tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan
Bencana Alam (BAKORNAS PBA). Pada tahun 1990, melalui Keppres No. 43 tahun 1990,
Badan tersebut disempurnakan menjadi Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan
Bencana (BAKORNAS PB) yang tidak hanya berfokus pada bencana alam belaka, namun
juga berfokus pada bencana oleh ulah manusia (man-made disaster) (Sekretariat Bakornas
PBP, 2001). Selanjutnya, Keppres ini disempurnakan lagi dengan Keppres Nomor 106 tahun
1999 yang memberikan tugas tambahan kepada Bakornas PBP untuk juga menangani
dampak kerusuhan sosial dan pengungsi. Namun usia Keppres No. 106 tahun 1999–pun tidak
bertahan lama. Sebabnya antara lain pembubaran Departemen Sosial pada era tersebut yang
menyebabkan Bakornas PBP kehilangan salah satu organnya. Menyadari kejadian tersebut,
Pemerintah kemudian menerbitkan Keppres No. 3 tahun 2001 tentang Bakornas
Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi yang diketuai oleh Wakil Presiden dan
Sekretaris Wakil Presiden secara ex officio menjadi Sekretaris Bakornas PBP.
Sedangkan Jepang yang memiliki kerentanan hampir sama dengan Indonesia telah mempunyi
regulasi tentang kebencanaan sejak 1880 yaitu Provision and Saving Act for Natural Disaster.
Dan pada tahun 1961 melahirkan Disaster Countermeasures Basic Act (1961) yang mengatur
dan memiliki sejumlah elemen antara lain :

3|ADPU4410
Pendirian Dewan Penanggulangan Bencana (Disaster Management Council) di tingkat
nasional, prefektur, kota/ municipality berkoordinasi dengan organisasi-organisasi multi
sektoral.
Pemantapan Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster Management Plan) di tingkat
nasional, prefektur, dan kota/ municipality.
Pemantapan markas pusat yang bersifat ad hoc dan kerjasama multisektoral untuk respon
gawat darurat.
Regulasi terakhir mengenai penanggulangan bencana bertujuan menagani bencana
secara integral, koodinatif, holistik, dan terencana. Mainstream yang digunakan adalah
menyukseskan pembangunansebab ketika terjadi banyaknya kerugian infrastruktur seperti
jembatan, bangunan perkantoran, pasar, sekolah, rumah sakit tentunya menghambat
pembangunan. Kongkritnya anggaran yang dapat dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat
dikurangi atau paling tidak dialihkan pada pembangunan kembali infrastruktur yang rusak.
Dari dimensi pembangunan manusia, bencana menghambat pengembangan kualitas manusia
pada tersendatnya penyelenggaraan pendidikan, ekonomi, sosial, dan kesehatan yang lambat
laun akan menurunkan kualitas pembangunan manusia. Angka kemiskinan sudah barang
tentu akan meningkat ketika masyarakat kehilangan harta benda dan akses sosial.
Pelayanan sosial dan atau perlindungan sosial penanggulangan bencana yang secara
menyeluruh dikaitkan dengan siklus menejemen bencana, yaitu tahap pencegahan, mitigasi,
kesiapsiagaan, peringatan dini, tanggap darurat (emergensi/relief), rehabilitasi, dan
rekonstruksi.
Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai
upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. Mitigasi adalah
serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik
maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana
melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin
kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga
yang berwenang. Tahap taggap darurat adalah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan,
yang meliputi kegiatan menyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan
kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan
prasarana dan sarana

4|ADPU4410
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah paska bencana dengan sasaran utama
untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana.
Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada
wilayah paska bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran
utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya
hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah paska bencana.
Kebutuhan dasar dalam kerangka pengembangan manusia (human development)
untuk peningkatan kapasitas dan keberfungsian individu pada saat bencana harus terpenuhi,
pasalnya komunitas tidak berdaya dan tidak mampu mengatasi persoalan tanpa bantuan orang
lain. Kebutuhan dasar yang harus terpenuhi yaitu, nutrisi, pelayanan kesehatan, pedidikan,
dan perumahan.
Partisipasi dapat diartikan sebagai keikutsertaan dan proses memberikan wewenang
lebih luas kepada komunitas untuk secara bersama-sama memecahkan berbagai persoalan,
menyediakan kesempaan untuk ikut bagian dan memiliki kewenangan dalam proses
pegambilan keputusan dan alokasi sumber daya dalam kegiatan menejemen bencana.
Tujuannya adalah memecahkan persoalan dengan lebih baik dengan mempertimbangkan
kontribusi dan peran komunitas. Partisipasi komunitas bertujuan untuk mencari jawaban atas
masalah dengan cara kebih baik, dengan memberikan kontribusi sehingga implementsi
kegiatan berjalan lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan. Partisipasi komunitas dilakukan
mulai dari tahapan kegiatan pembuatan konsep, konstruksi, operasional-pemeliharaan, serta
evaluasi dan pengawasan.
Secara sederhana pengelompokan stakeholder dikelompokan menjadi aktor dalam dan
aktor dalam. Aktor dalam merujuk pada para individu, organisasi, dan pemangku kepentingan
yang berada dalam komunitas, seperti karangtaruna dan seluruh anggota komunitas yang
tercakup di dalam organisasi komunitas untuk pengelolaan bencana (Community Based
Disaster Management). Aktor luar merujuk pada sector-sektor dan lembaga-lembaga yang
terletak di luar komunitas dan ingin mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas
mereka dalam mengelola bencana, seperti departemen dan lembaga pemerintah, LSM, PBB,
sektor swasta dan lembaga luar lainnya
Tujuan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara sesungguhnya mengantisipasi dampak bencana sosial. Bencana sosial dapat

5|ADPU4410
diartikan sebagai bencana yang ditimbulkan oleh faktor manusia. Seperti konflik bersenjata,
penggusuran, terorisme, dan lain sebagainya. Disebut becana sosial karea disebabkan oleh
perilaku atau ulah manusia, baik dalam pengelolaan lingkungan, perebuatan sumber daya,
permasalahan ras dan kepentingan lainnya yang dapat menimbulkan ketidakharmonisan dan
ketidaksesuaian.
Menurut Edi Suharto yang mengutip Spicker:1995 dan Thompson:2005 menerangkan
bahwa tradisi kebijakan sosial pemerintah di Negara-negara maju mencakup ketetapan atau
regulasi mengenai lima bidang pelayanan sosial, yaitu, jaminan sosial, pelayanan perumahan,
kesehatan, pendidikan dan pelayanan atau perawatan personal. Pemerintah Republik
Indonesia melalui UU No. 24 Tahun 2007 sebagai wujud kewajiban negara (state obligation)
dalam memenuhi hak-hak sosial warganya. Perwujudan pemenuhan hak sosial tersebut
terdapat dalam pemenuhan kebutuhan dasar warga negara dalam keadaan paska bencana.
Selain itu guna melindungi warga negara dari ancaman dampak bencana alam ataupun
bencana sosial melalui upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan.
Kelima pelayanan sosial yang dicakup oleh undang-undang tersebut serentak
dilakukan ketika terjadi bencana, tujuannya adalah masyarakat yang terkena dampak bencana
dapat cepat pulih dari kondisi terpuruk kepada kondisi normal bahkan lebih baik dari
sebelumnya. Program bantuan sosial (social assistance) diberikan kepada keluarga dan
individu yang mengalai kerugian fisik, kehilangan pekerjaan, kehilangan anggota keluarga.
Misalnya jatah hidup (living cost) pada keluarga korban gempa bumi Yogyakarta tahun lalu
yang besarnya Rp. 90.000 selama tiga bulan. Pada keyataannya tidak terbukti secara pasti,
hanya diberikan satu kali dan itupun pembagiannya belum merata, di sebagian wilayah
Bantul besaran yang diterima warga ada yang mencapai angka 260 ribu perkepala keluarga
sementara dibagian wilayah yang lain rata-rata hanya menerima 90 ribu rupiah, adapula
mereka yang sama sekali tidak mendapatkannya.
Pelayanan perumahan pada masa tanggap darurat disediakan dalam bentuk posko-
posko pengungsian dalam bentuk tenda atau gedung yang dianggap aman. Pada tahap
rehabilitasi disediakan tempat tinggal sementara (temporary shelter) dari bahan bambu dan
terpal plastik. Pada tahap rekonstruksi, pemerintah menyediakan dana rekonstruksi (dakon)
bagi korban dengan tiga kriteria; rumah roboh atau rusak berat sebesar Rp.15.000.000,-,
rumah rusak sedang Rp. 4.000.000,-, dan rumah rusak ringan Rp.1.000.000,- melalui skema
kelompok masyarakat (pokmas), penggantian lahan tempat tinggal dan usaha bagi korban
luapan lumpur (Lapindo) di Sidoarjo.

6|ADPU4410
Pelayanan kesehatan gratis untuk korban luka-luka dijamin selama masa rehabilitasi
dan penyembuhan. Begitu pula dengan pendidikan gratis bagi anak korban bencana gempa
bumi di Yogyakarta selama satu semester. Pelayanan perseorangan terutama penderita
gangguan fisik dan mental juga disediakan beberapa bulan paska gempa maupun
perlindungan pada kelompok rentan; perempuan, anak, manula, dan kaum difable.
Sasaran kebijakan (target group) dari kebijakan ini adalah seluruh warga negara yang terkena
dampak bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial. Tanpa memperhitungkan
kontribusi pada negara, mereka berhak mendapat pelayanan sosial dalam kondisi
ketidakberdayaan dan ketidakberfungsian individu dan institusi.
Kebijakan ini termasuk dalam kategori instrument wajib (compulsory Instrumen) atau
instrument instruksi atau tindakan langsung ke sasaran baik individu maupun perusahaan.
Instrument intruksi yang ada berbentuk regulasi yang dimaksudkan membatasi perilaku
individu, masyarakat, dan perusahaan baik perusahaan swasta maupun perusahaan publik.
Regulasi juga dapat berbentuk penentan standar, prosedur perijinan, larangan perilaku
tertentu, dan perintah untuk melakukan tindakan. Regulasi penanggulangan bencana kiranya
tepat dikategorikan sebagai perintah untuk melakukan tindakan.
Dari segi anggaran, perubahan radikal yang diamanatkan oleh undang-undang
tersebut adalah merubah anggaran bencana dari dana tak tersangka yang aksesnya sangat
terbatas menjadi masuk dalam salah satu item pos anggaran baik APBN dan APBD. Hal ini
dirasakan penting berlandaskan paradigma bahwa bencana dapat menghambat proses
pembangunan, tentunya apabila tidak diantisipasi akan lebih banyak anggaran untuk
membiayai kerugaian yang dialami pemerintah dan masyarakat.
Untuk melaksanakan kebijakan tersebut, ada empat stakeholder yang terlibat dalam
penanggulangan bencana yang terdapat di dalam UU No.24 Tahun 2007. yaitu Pemerintah
dalam hal ini Badan Nasional Penaggulangan Bencana, Pemerintah daerah dalam hal ini
Badan Penanggulangan Bencana Daerah, lembaga usaha, dan lembaga internasional da
lembaga asing nonpemerintah. Dua pemangku kepentingan pertama merupakan bentuk
tanggungjawab/kewajiban pemerintah dalam melindungi dan menyediakan layanan pada
warganya, sedangkan dua pemangku kepentingan terakhir adalah wujud partisipasi dan
kemitraan yang digalang oleh pemerintah untuk menanggulangi bencana. Namun pemerintah
pusat tetap mempunyai wewenang dan tanggungjawab besar dalam memutuskan dan
melaksanakan undang-undang ini, seperti memutuskan tidakan yang dilakukan waktu
bencana terjadi, penetapan status dan tingkatan bencana nasional dan daerah, penentuan

7|ADPU4410
kebijakan kerja sama dalam penanggulangan bencana dengan negara lain, badan-badan, atau
pihak-pihak internasional lain, dan sebagainya.
Pelaksanaan kebijakan penanggulangan bencana yang baru ditetapkan pada 26 April
2007 memang masih belum terlihat secara nyata dari segi hasil dan capaian-capaiannya.
Sebagai kebijakan yang menyelaraskan dan menyempurnakan kebijakan sebelumnya yang
bersifat ad hoc. Pelaksanaan penanggulangan bencana masih terlihat pada upaya tanggap
darurat ketika terjadi bencana, seperti di Bengkulu dan Dompu. Upaya mitigasi dan
kesiapsiagaan terjadi ketika Gunung Kelud meletus di Kediri dan Blitar, Jawa Timur dengan
memindahkan penduduk di kawasan rawan bencana 1 dan 2 ke tempat pengungsian yang
lebih aman.
Walau demikian, penanggulangan bencana di kawasan Kelud, yaitu Kabupaten Kediri
dan Blitar belum memadai. Selain tidak fokus, program-program yang dibuat setiap tahun
lebih banyak berbentuk respon daripada pengurangan risiko. Misalnya, kegiatan monitoring
daerah rawan bencana. Selain itu, program daerah baru sebatas penguatan institusi
penanggulangan bencana. Anggaran yang dialokasikan hanya Rp 270.706.600. Jumlah itu
jauh lebih kecil daripada pembiayaan pembangunan jaringan listrik dan prasarana objek
wisata Kelud. Anggarannya sembilan kali lipat lebih besar atau senilai Rp [Link].[16]
Pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah seringkali tidak
diiringi dengan pengalihan tanggung jawab pelayanan dan perlindungan kepada rakyat.
Akibatnya pada saat bahaya terjadi, tanggapan pemerintah daerah cenderung lambat dan
seringkali mengharapkan tanggapan langsung dari pemerintah pusat. Di lain pihak, pada saat
bencana, kurangnya koordinasi antar tataran pemerintahan menghambat pemberian
tanggapan yang cepat, optimal, dan efektif.
Sebelum ditetapkannya UU No.24 Tahun 2007 Tentang Penaggulangan Bencana,
pemerintah melalui Bappenas telah menyusun dokumen Rencana Aksi Nasional Pengurangan
Risiko Becana. Tujuan penyusunan rencana aksi ini adalah untuk mendukung perumusan
kebijakan dan pengawasan dalam pelaksanaan kegiatan pengurangan risiko bencana,
sehingga sasaran dokumen ini lebih pada pengendalian kegiatan yang berkelanjutan, terarah
dan terpadu. Saat ini, di beberapa daerah sedang giat untuk menyusun rencana aksi daerah
pengurangan risiko bencana.
Sejauh ini belum terdapat aturan atau regulasi pendukung untuk pelaksanaan yang
lebih bersifat teknis. Semisal Kepres pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana
dan Kepres yang mengatur keterlibatan lembaga internasioal dan lembaga asing
nonpemerintah yang diamanatkan undang-undang. Jika aturan pendukung tersebut tidak

8|ADPU4410
segera dibentuk, maka kemungkinan besar pelaksanaan di lapangan akan terhambat, tidak
terkoordinasi dengan baik, dan kendala teknis lainnya akan muncul.
Sebagai negara rawan bencana, Indonesia sangat terlambat dalam mengantisipasi dan
menangani dampak bencana. Hal ini dapat dibuktikan dengan keterlambatan pemerintah
mengeluarkan regulasi berbentuk undang-undang yang mengatur penanggulangan bencana
secara berkelanjutan atau berkesinambungan. Sebelumnya, regulasi hanya bersifat ad hoc
sehingga penanganan bencana dijalankan parsial dan tidak terkoordininasi dengan baik sesuai
siklus menejemen bencana.
Namun, dengan hadirnya undang-undang bencana dapat mengobati rasa haus
masyarakat sipil yang menambakan penanganan bencana secara integratif. Pasalnya, telah
terjadi beberapa perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana, diantaranya
paradigma linear ke siklus, dari responsif ke pengelolaan, dari karikatif ke pemberdayaan,
dan dari mengelola dampak ke mereduksi risiko.
Sumber:
BMP ADPU4410/Kebijakan Publik Edisi 2
INDYAH HAYU ARIYANTI (2015) IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENANGGULANGAN
BENCANA (Studi Deskriptif tentang Penanggulangan Bencana Letusan Gunung Kelud di
Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri).
[Link] Penanggulangan Bencana.
[Link]
[Link]
berbasi.
[Link]

9|ADPU4410

Anda mungkin juga menyukai