100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
771 tayangan4 halaman

Pengelolaan ASN Daerah dan Kebijakan Pemerintah

Dokumen tersebut membahas tentang tugas 2 yang mencakup penjelasan tentang pegawai daerah, cara mengisi formasi, pemberhentian, dan pembinaan pegawai daerah. Juga dibahas proses perencanaan kebijakan pemerintah daerah dan cara mengevaluasi kebijakan menurut empat tipe evaluasi yaitu kecocokan, efektivitas, efisiensi, dan meta-evaluasi.

Diunggah oleh

retna
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
771 tayangan4 halaman

Pengelolaan ASN Daerah dan Kebijakan Pemerintah

Dokumen tersebut membahas tentang tugas 2 yang mencakup penjelasan tentang pegawai daerah, cara mengisi formasi, pemberhentian, dan pembinaan pegawai daerah. Juga dibahas proses perencanaan kebijakan pemerintah daerah dan cara mengevaluasi kebijakan menurut empat tipe evaluasi yaitu kecocokan, efektivitas, efisiensi, dan meta-evaluasi.

Diunggah oleh

retna
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS 2

Kejakan Tugas Berikut.


1. Jelaskan yang dimaksud dengan pegawai daerah dan berikan contohnya!
2. Jelaskan bagaimanakah cara mengisi formasi pegawai daerah, pemberhentiannya dan
pembinaannya?
3. Bagaimanakah proses perencanaan kebijakan pemerintah daerah?
4. Jelaskan cara mengevaluasi kebijakan menurut Finance (1994:4 dalam Badjuri dan
Yuwono, 2002: 135)

Jawaban soal nomor 1


Sesuai UU ASN No 5/2014 sumber daya manusia pada pemerintah daerah disebut ASN
pemerintah daerah. ASN pemerintah daerah adalah aparatur sipil negara pada pemerintah
daerah. Aparatur sipil negara daerah adalah unsur aparatur negara yang bertugas memberikan
pelayanan kepada masyarakat secara professional, jujur, adil dan merata dalam
penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan.

Pegawai ASN terdiri atas pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja (PPPK). PNS merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap
oleh pejabat pembina kepegawaian dan memiliki nomor induk pegawai secara nasional. PPPK
merupakan pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja oleh pejabat
pembina kepegawaian sesuai dengan kebutuhan instansi pemerintah. Pegawai ASN
berkedudukan sebagai unsur aparatur negara.
Sebagai contoh, pegawai ASN di daerah adalah pegawai yang bekerja di
provinsi/kabupaten/kota. Pegawai ASN adalah pegawai pusat yang ditempatkan di daerah
otonom provinsi atau kebupaten/kota. Gajinya dibebankan pada APBD karena bekerja pada
pemerintah daerah, kecuali pegawai ASN Kementerian Keuangan, Kementerian Pertahanan
dan Keamanan, Kementerian Agama, serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, tetap
sebagai pegawai ASN pusat, hanya ada yang ditempatkan kantor-kantor cabangnya di daerah,
misalnya di kantor wilayah dan kantor kabupaten bahkan di kantor kecamatan.

Jawaban soal nomor 2


Untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia, pemerintah daerah perlu melakukan
pengadaan pegawai ASN untuk daerahnya. Pegawai ASN terdiri atas PNS dan PPPK. Dimana
dalam pengadaan, pemberhentian serta pembinaan ASN dan PPPK, ada sedikit perbedaan.

Pengadaan PNS merupakan kegiatan untuk mengisi kebutuhan jabatan administrasi atau
jabatan fungsional dalam suatu instansi pemerintah. Pengadaan PNS di instansi pemerintah
dilakukan berdasarkan penetapan kebutuhan yang ditetapkan oleh Menteri. Pengadaan PNS
dilakukan melalui tahapan perencanaan, pengumuman lowongan, pelamaran, seleksi,
pengumuman hasil seleksi, masa percobaan, dan pengangkatan.

Sebelum seleksi dilakukan pemerintah daerah harus melakukan perencanaan kebutuhan PNS
untuk lima tahun ke depan berdasarkan analisis jabatan dan analisis kebutuhan per satuan kerja
perangkat daerah (SKPD). Berdasarkan analisis jabatan dan kebutuhan tersebut, pemerintah
daerah menetapkan formasi. Formasi adalah penentuan jumlah dan susunan pangkat PNS yang
diperlukan agar mampu melaksanakan tugas pokok yang ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang. Jumlah PNS yang diperlukan ditetapkan berdasarkan beban kerja suatu organisasi.
Formasi ditetapkan untuk jangka waktu tertentu berdasarkan jenis, sifat dan beban kerja yang
harus dilaksanakan. Dalam mengisi formasi, masing-masing satuan organisasi negara
menyusun kebutuhan formasi berdasarkan analisis jabatan dan analisis kebutuhan dengan
memperhatikan norma, standar, dan prosedur yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah daerah
melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) melakukan analisis jabatan dan analisis
kebutuhan. Berdasarkan analisis jabatan dan analisis kebutuhan per satuan kerja perangkat
daerah (SKPD), BKD lalu mengajukan ke Bdan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian
PAN RB di Jakarta. Kementerian PAN RB kemudian menentukan formasi PNS yang diusulkan
pemerintah daerah. Kementerian PAN RB lalu menyerahkan formasi pegawai ASN tersebut
ke BKN. Selanjutnya, BKN dan Kementerian PAN RB membentuk tim Nasional yang khusus
menangani perekrutan calon PNS.

Dalam hal pemberhentian PNS telah diatur dalam UU ASN No 5/2014. Dimana jenis
pemberhentian PNS sebagai berikut:
1) PNS diberhetikan dengan hormat karena meninggal dunia, atas permintaan sendiri,
mencapai batas usia pension, perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah yang
mengakibatkan pension dini; atau tidak cakap jasmani atau rohani sehingga tidak dapat
menjalankan tugas dan kewajiban
2) PNS diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri karena melalukan
pelanggaran disiplin PNS tingkat berat
3) PNS diberhentikan tidak dengan hormat karena hal yaitu melakukan penyelewengan
terhadap Pancasila dan UUD RI 1945, dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan
pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidanan
kejahatan jabatan, dll, dan menjadi anggota atau pengurus partai politik.

Pembinaan PNS adalah suatu kegiatan atau bentuk usaha yang dilakukan dengan cara
pembinaan disiplin, pembinaan karir, dan pembinaan etika profesi Pegawai Negeri Sipil
didalam suatu organisasi pemerintahan untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui tugas pokok dan fungsinya supaya
tercapainya visi dan misi organisasi pemerintahan tersebut.

Pembinaan disiplin diatur sebagaimana dalam PP No 53/2010, dimana pelanggaran terkait


disiplin dan sanksi telah diatur secara rinci. Pembinaan karir dan etika profesi telah diatur
dalam UU ASN No 5/2014. Pembinaan karir dapat melalui tugas belajar, izin belajar,
pendidikan dan pelatihan.
Untuk ASN dari unsur pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK), dalam menyusun
formasi, wajib menyusun kebutuhan jumlah dan jenis jabatan PPPK berdasarkan analisis
jabatan dan analisis beban kerja. Penyusunan kebutuhan jumlah PPPK dilakukan untuk jangka
waktu lima tahun yang diperinsi per satu tahun berdasarkan prioritas kebutuhan. Kebutuhan
jumlah dan jenis jabatan PPPK ditetapkan dengan keputusan Menteri.

Dalam pemberhentian PPPK, atau biasa disebut dengan pemutusan hubungan perjanjian kerja
PPPK sebagai berikut:
1) Pemutusan hubungan perjanjian kerja PPPK dengan hormat karena jangka waktu perjanjian
kerja berakhir, meninggal dunia, atas permintaan sendiri, adanya perampingan organisasi
yang mengakibatkan pengurangan PPPK dan tidak cakap jasmani serta rohani sehingga
tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban sesuai perjanjian kerja yang disepakati.
2) Pemutusan hubungan perjanjian kerja PPPK dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
karena melalukan pelanggaran disiplin PPPK tingkat berat
3) pemutusan hubungan perjanjian kerja PPPK tidak dengan hormat karena hal yaitu
melakukan penyelewengan terhadap Pancasila dan UUD RI 1945, dihukum penjara atau
kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap
karena melakukan tindak pidanan kejahatan jabatan, dll, dan menjadi anggota atau
pengurus partai politik.
sedangkan dalam hal pembinaan, PPPK diberikan kesempatan untuk pengembangan
kompetensi. pembinaan disiplin di atur lebih lanjut pada PP No 53/2010 dan UU No 5/2014.

Jawaban soal nomor 3


Pada pemerintah daerah, lembaga yang sah membuat perencanaan kebijakan publik adalah
pemerintah daerah dan DPRD. kebijakan yang dihasilkan disebut kebijakan daerah yang
dituangkan dalam peraturan daerah. Proses perencanaan kebijakan pemerintah daerah meliputi
langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, membuat agenda kebijakan. Kedua, melakukan
identifikasi kebutuhan. Ketiga, membuat rumusan usulan yang konkret berdasarkan langkah
kedua. Keempat, membahas usulan yang telah disajikan secara sistematis dan logis dalam
DPRD. Kelima, penetapan kebijakan dalam bentuk peraturan daerah. Keenam, melaksanakan
kebijakan daerah yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tersebut oleh pemerintah
daerah.

Jawaban soal nomor 4


Menurut Finance 1994:4 ada empat dasar tipe evaluasi sejalan dengan tujuan yang ingin
dicapai. Keempat tipe ini adalah sebagai berikut:
1) evaluasi kecocokan (appropriateness evaluation) yaitu menguji dan mengevaluasi tentang
apakah kebijakan yang sedang berlangsung cocok untuk dipertahankan. Selain itu, apakah
kebijakan baru dibutuhkan untuk mengganti kebijakan yang ada. Pertanyaan pokok dalam
evaluasi kecocokan ini adalah siapakah semestinya yang menjalankan kebijakan publik
tersebut pemerintah daerah atau sektor swasta. Jawaban atas pertanyaan ini memungkinkan
penentuan tingkat kecocokan implementasi kebijakan.
2) evaluasi efektivitas (effectiveness evaluation) yaitu menguji dan menilai apakah program
kebijakan tersebut menghasilkan dampak hasil kebijakan yang diharapkan. Selain itu,
apakah tujuan yang dicapai dapat terwujud dan apakah dampak yang diharapkan sebanding
dengan usaha yang telah dilakukan. Tipe evaluasi ini memfokuskan diri pada mekanisme
pengujian berdasar tujuan yang ingin dicapai yang biasanya secara tertulis tersedia dalam
setiap kebijakan publik.
3) evaluasi efisiensi (efficiency evaluation), merupakan pengujian dan penilaian berdasarkan
tolak ukur ekonomis yaitu apakah input yang digunakan telah digunakan dan hasilnya
sebanding dengan output kebijakannya serta apakah cukup efisien dalam penggunaan
keuangan publik untuk mencapai dampak kebijakan.
4) evaluasi meta (meta-evaluations) yaitu, menguji dan menilai terhadap proses evaluasi itu
sendiri. Apakah evaluasi yang dilakukan lembaga berwenang sudah profesional dan apakah
evaluasi tersebut sensitif terhadap kondisi sosial, kultural dan lingkungan serta apakah
evaluasi tersebut menghasilkan laporan yang mempengaruhi pilihan- pilihan manajerial.

Anda mungkin juga menyukai