0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
234 tayangan19 halaman

RPL Konseling Tahapan Gestal-Sri Wiwik Endang Witosari

Dokumen tersebut merupakan rencana pelaksanaan layanan konseling individu untuk siswa bernama B di SMP Negeri 1 Babakancikao. Siswa B memiliki masalah kebiasaan berbicara kasar yang menyebabkan dirinya dijauhi teman-temannya. Guru BK akan melakukan konseling dengan pendekatan Gestalt untuk membantu siswa B mengurangi kebiasaan berbicara kasar dan mencapai integritas diri yang baik.

Diunggah oleh

doby81
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
234 tayangan19 halaman

RPL Konseling Tahapan Gestal-Sri Wiwik Endang Witosari

Dokumen tersebut merupakan rencana pelaksanaan layanan konseling individu untuk siswa bernama B di SMP Negeri 1 Babakancikao. Siswa B memiliki masalah kebiasaan berbicara kasar yang menyebabkan dirinya dijauhi teman-temannya. Guru BK akan melakukan konseling dengan pendekatan Gestalt untuk membantu siswa B mengurangi kebiasaan berbicara kasar dan mencapai integritas diri yang baik.

Diunggah oleh

doby81
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAH KABUPATEN PURWAKARTA

DINAS PENDIDIKAN
UPTD SMP NEGERI 1 BABAKANCIKAO
Jl. Kopi Ciwareng No. 125 Babakancikao 41151 Telp/Fax.(0264) 200210
Website: [Link]/ email: smpn1babakancikao@[Link]

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL


SEMESTER GANJIL
TAHUN AJARAN 2021/2022

1. Nama Konseli :B
2. Kelas/Semester : IX /Ganjil
3. Hari/Tanggal : Selasa/ 01 November 2021
4. Pertemuan ke :1
5. Waktu : 1 x 40 Menit
6. Tempat : Ruang BK
7. Deskrisi Masalah :
a. Gejala Masalah :
 B sering berbiacara jorok/kasar dengan teman sekelas sehingga ada temannya
yang menangis dan mengadu dengan orang tuanya
 B bertengkar dengan teman lain kelas karena mengolok-olok dengan Bahasa
kasar
 B kebiasaan memanggil teman sekelas dengan Bahasa tidak sopan seperti
Bahasa nama binatang
 B dijauhin temannya karena terbiasa berbicara kasar/jorok
 Mungkin dapat ditambahkan bagaimana permasalahan konseli B secara
faktor emosi, tingkah laku, faktor fisik, dan faktor-faktor sosial yang terkait
dengan masalah konseli/siswa agar lebih terlihat gejalanya.

b. Sebab Masalah :
 Konseli sering berbicara kasar/jorok karena dilingkunngan rumahnya
sudah terbiasa menggunakan kasar/jorok
 Konseli pernah dimarahi orang tuanya dengan menggunakan kata kasar
yang membikin konseli terbiasa mengikuti ucapan orang tuanya
 Konseli melampiaskan emosinya dengan berbicara kasar/jorok seperti
yang ada dilingkungan rumahnya
 Konseli …………….
 Dijabarkan sebab masalahnya agar terfokus pada
permasalahan apa…bisa belajar, pribadi, social atau karier.
Sehingga bisa mengerucut ke akar masalah yang sudah
dibuat

c. Akar Masalah/Diagnosis :
 Konseli mempunyai kebiasaan berbicara kasar/jorok

d. Prognosis :
Membantu Konseli B agar dapat menurunkan bahkan menghilangkan kebiasaan
negative dalam berbicara kasar/jorok yang dapat menyaiti dirinya dan orang lain.
Selain itu membantu konseli B agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami
kenyataan atau realitas terhadap apa yang sebenarnya terjadi, dan mampu menuju
pencapaian integritas kepribadiannya yang baik.

8. Tujuan Konseling :
Membantu konseli agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun
kenyataan yang harus dihadapi. Membantu konseli agar dapat memperoleh
kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight
secara penuh. Membantu konseli menuju pencapaian integritas kepribadiannya.
Mengentaskan konseli dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain
menjadi mampu mengatur diri sendiri. Dan membantu konseli untuk dapat
melepaskan energi tertahan akibat unfinished business, sehingga tercapai integritas
kepribadian.

9. Pendekatan/Strategi/Teknik :
Guru BK menggunakan pendekatan konseling Gestalt. Pendekatan gestalt lebih menekankan
pada apa yang terjadi saat ini-dan-di sini, dan proses yang berlangsung, bukan pada masa
lalu ataupun masa depan. Yang penting dalam pendekatan ini adalah kesadaran saat ini
dalam pengalaman seseorang. Penemu psikoterapi Gestalt adalah Frederick (Fritz) Perls dan
mulai berkembang pada awal tahun 1950. Pendekatan Gestalt berfokus pada masa kini dan
itu di butuhkan kesadaran saat itu juga. Kesadaran ditandai oleh kontak, penginderaan, dan
gairah. Kontak dapat terjadi tanpa kesadaran, namun kesadaran tidak dapat dipisahkan dari
kontak.
Tugas konselor adalah mendorong konseli untuk dapat melihat kenyataan yang ada pada
dirinya dan mau mencoba menghadapinya, konseli bisa diajak untuk memilih dua
alternative, menolak kenyataan yang ada pada dirinya atau membuka diri untuk melihat apa
yang sebenarnya terjadi pada dirinya sekarang. Tujuan utama konseling Gestalt adalah
membantu konseli agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan
yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa klien haruslah dapat berubah
dari ketergantungan terhadap lingkungan/orang lain menjadi percaya pada diri, dapat berbuat
lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.
Teknik dalam Pendekatan Gestalt yaitu:  Permainan Dialog/Kursi Kosong. Teknik ini
dilakukan dengan cara konseli dikondisikan untuk mendialogkan dua kecenderungan yang
saling bertentangan yaitu, kecenderungan top dog (adil, menuntut, dan berlaku sebagai
majikan) dan under dog (korban, bersikap tidak berdaya, membela diri, dan tak berkuasa).
Disini ada permainan kursi kosong, yaitu konseli diharapkan bermain dialog dengan
memerankan top dog maupun under dog sehingga konseli dapat merasakan keduanya dan
dapat melihat sudut pandang dari keduanya.  Teknik Pembalikan. Teknik pembalikan/role
reversal adalah konseli akan terjun ke dalam suatu yang ditakutinya karena dianggap bisa
menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungan dengan bagian-bagian diri yang telah
ditekan atau diingkarinya. Gejala-gejala dan tingkah laku sering kali mempresentasikan
pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasari. Jadi konselor bisa meminta konseli
memainkan peran yang bertentangan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya atau
pembalikan dari kepribadiannya
10. Prosedur Konseling :

No. Langkah / Proses


Konseling
1 Prakonseling
1. Kesiapan Konselor :
a. Persiapan Fisik
 Menunjukkan penampilan diri yang rapi, tidak bertentangan dengan
nilai yang berlaku dengan tempat di mana konseling dilaksanakan.
 Menunjukkan wajah yang segar dan tidak terlihat lelah.
 Menjaga kebersihan diri, minimal supaya tidak bau badan sehingga
konseli merasa nyaman.
b. Persiapan Psikologis
 Menjernihkan pikiran untuk konsentrasi penuh saat konseling, misalnya
dengan menyingkirkan pikiran-pikiran negatif.
 Mencegah diri supaya tidak melamun saat akan melakukan konseling.
 Mempersiapkan mental dan kekuatan energi untuk mendengarkan
apapun cerita konseli
 Meningkatkan minat dan motivasi untuk membantu konseli.
2. Persiapan Instrumen Pelaksanaan Konseling :
a. Persiapan instrumen pendukung kegiatan konseling inti
 Mempersiapkan alat perekam untuk konseling (misalnya : recorder,
kamera digital, alat perekam lainnya).
 Mempersiapkan alat tulis jika sewaktu-waktu diperlukan untuk
pembuatan kontrak konseling
 Mempersiapkan tissue untuk mengantisipasi konseli menangis.
 Mempersiapkan stopwatch atau jam tangan untuk mengukur waktu
pelaksanaan konseling.
 Me-non aktifkan telepon seluler / handphone saat memulai proses
konseling untuk menghindari adanya gangguan selama konseling
berlangsung.
b. Persiapan media Bimbingan dan Konseling
 Mempersiapkan bahan-bahan informasional jika sewaktu-waktu
dibutuhkan oleh konseli (brosur, buku-buku penunjang, dll).
 Mempersiapkan media layanan, misalnya format self-help, modul, alat
tes, dll.
3. Setting Tempat Pelaksanaan Konseling :
a. Memilih tempat pelaksanaan konseling yang aman dan nyaman bagi
konseli.
 Memilih tempat pelaksanaan konseling yang tertutup tapi aman dan
nyaman untuk konselor dan konseli.
 Menata dekorasi ruangan tempat konseling, misalnya mengatur hiasan
supaya tidak terlalu ramai dan menata penerangan supaya tidak terlalu
terang atau sebaliknya.
b. Memilih posisi duduk yang nyaman dan mendukung selama
proses konseling.
 Mempersilakan konseli untuk memilih di mana dia ingin duduk, untuk
menciptakan kenyamanan pada diri konseli.
 Menangkap kesan nonverbal dari posisi duduk yang dipilih oleh konseli
(setiap posisi duduk memiliki arti tersendiri yang secara tersirat
menggambarkan karakteristik konseli dan masalah yang dialaminya).
 Mengatur posisi duduk membentuk sudut 90-120 derajat antara
konselor dan konseli (posisi duduk yang lurus antara konselor dan
konseli memberikan kesan terlalu formal).
 Mengatur jarak duduk, yaitu antara 75-100 cm antara konselor dengan
konseli, dengan tujuan untuk menggambarkan keakraban.
 Mencegah adanya pembatas antara konselor dan konseli, misalnya
meja, bangku, atau benda-benda yang lain sehingga tidak menghalangi
konselor untuk melakukan pengamatan terhadap gerak-gerik konseli,
termasuk gerak-gerik nonverbal yang ditunjukkannya.
 Menjaga postur tubuh, condong ke arah konseli untuk mengisyaratkan
perhatian.
 Menjaga kedinamisan posisi duduk, tidak terlalu kaku dengan posisi
condong ke depan, tidak pula terlalu banyak mengubah-ubah posisi
duduk.
 Mengarahkan kontak mata pada konseli untuk mengisyaratkan
perhatian, namun tidak melotot dan terus-terusan menatap konseli
untuk menghindari konseli salah tingkah dan ketakutan.

2 Opening
1. Penyambutan Konseli
a. Non Verbal
 menghentikan aktivitas,
 membuka pintu atau menjemput,
 jabat tangan atau senyum,
 isyarat meyilahkan masuk,
 menutup pintu,
 mendampingi konseling masuk,
 memegang tangan atau memegang pundak (bila diperlukan dan tidak
riskan atau ada hambatan nilai),
 isyarat mempersilahkan duduk,dan memilih tempat duduk.
b. Verbal
 memberi salam atau menjawab salam,
 menyambut nama,
 pujian atas kedatangan konseli,
 menanyakan kabar,
 menyilahkan memilih tempat duduk
2. Inisiasi Pembicaraan
a. Topic netral adalah bahan pembicaraan yang sifatnya umum dan tidak
menyinggung perasaan konseli. Misalnya: hobi, peristiwa hangat, kondisi
cuaca, potensi asal lingkungan konseli.
Kalimat yang diucapkan : ”apakah anda/kamu nyaman dengan keadaan
ruang yang seperti ini?”
b. Kegiatan dalam kaitan denagn kelonggaran kehadiaran.
Kalimat yang diucapkan seperti: “ apakah saat ini anda/kamu tidak ada
kegiatan yang mendesak?”
3. Transisi Pembicaraan
a. Alih topik
b. Informasi harapan keberhasilan
c. Pengembangan topik
(Cara perpindahan topik sebagai berikut: Menggunakan kalimat “ jembatan’’
misalnya : “ setelah kita membicarakan (isi topik netral), barangkali ada sesuatu
hal yang perlu kita bicarakan bersama dalam pertemuan ini ’’. Mengembangkan
sebagian isi topik netral, misalnya: “ itu tadi hobimu dibidang musik, lalu
bagaimana dengan prestasi dalam kelas? ’’)

3 Proses Inti
a. Identifikasi masalah (Assesmen konseli dan lingkungan dengan teknik
dasar komunikasi) :
 Memimpin (leading)
 Fokus
 Konfrontasi
 Menjernihkan (Clarifying)
 Memudahkan (facilitating)
 Mengambil Inisiatif
 Menyimpulkan
b. Penerapan teknik Gestalt ( Teknik Kursi Kosong)
1. Tahap pertama (The Begining Phase)
 Melakukan rapport. Konselor menerima konseli dalam hubungan yang
hangat, intim, bersifat pribadi, penuh pemahaman dan menghindari hal-
hal yang akan mengancam konseli.
 membangun hubungan dialogis. Konselor membangun hubungan yang
baik dengan konseling sehingga membuat komunikasi antara konseli dan
konselor berjalan dengan baik.
 assesmen pengalaman, kepribadian dan permasalahan umum konseli.
Mengumpulkan data, pengalaman konseli dan keseluruhan gambaran
kepribadian konseli melalui pendekatan fenomenologis.
 mengidentifikasi permasalahan-permasalahan konseli. Mengidentifikasi
dan mengklarifikasi kebutuhan-kebutuhan konseli dan tema-tema
masalah yang akan muncul.
 membuat prioritas permasalahan yang akan diatasi. Konselor membuat
prioritas pada masalah yang dihadapi konseli dan membuat kesimpulan
diagnosis pada konseli.
 bekerjasama dengan konseli untuk membuat rencana konseling. Konselor
dan konseli mempertimbangkan isu-isu yang memiliki perbedaan
potensial antara konselor dan konseli yang akan mempengaruhi proses
konseling. Konselor dan konseli bersama-sama membuat rancanganproses
konseling ke depan.
2. Tahap Kedua (Clearing The Ground)
 Assesmen terhadap pengalaman konseli secara mendalam. Konselor
menggali pengalaman dan masalah yang dialami konseli secara lebih
detail dan mendalam.
 mendukung ekspresi konseli dalam proses katarsis. Konselor mendorong
konseli untuk menunjukkan ekspresinya lebih kuat dalam proses katarsis.
 memperluas pilihan-pilihan perilaku baru bagi konseli. Konselor
melakukan eksperimentasi perilaku baru pada konseli dan memperluas
pilihan-pilihan yang bisa diambil oleh konseli
3. Tahap Ketiga (The Existentian Encounter)
 implementasi teknik Empty Chair/Kursi kosong. Konseli mulai dapat
menemukan krisis-krisis yang sebelumnya telah dieksplorasi dan mulai
melakukan proses empty chair yaitu bermain peran sebagai
topdogmaupun underdog.
 menghadapi hal-hal yang tidak diketahui. Konselor membantu konseli
membentuk kembali pola-pola hidup dalam bimbingan pemahaman baru
dan pandangan baru.
 menumbuhkan kesadaran konseli. Konselor membantu konseli untuk
memiliki kembali bagian pada diri konseli yang sebelumnya hilang
atau bahkan tidak diakui oleh konseli.
 mengambil keputusan untuk berani menghadapi ketidak pastian hidup.
Konseli mulai bisa mengambil keputusan dan berani menghadapi
ketidakpastian dalam hidup dan kecemasan yang kemudan menghasilkan
makna-makna baru dalam hidup konseli.
4. Tahap Keempat (Integration)
 membentuk rasa tanggungjawab untuk menghadapi hidup. Konseli
menerima tanggungjawab untuk melanjutkan hidup.
 menerima kecemasan dan ketidakpastian. Konseli mampu menghadapi
ketidakpastian dalam hidup dan kecemasan yang sebelumnya menjadi hal
yang menuktkan bagi konseli.
 membangun rasa untuk melakukan kontak relasi dengan lingkungan.
Konseli membangun hubungan dengan lingkungan di luar dirinya.
5. Tahap kelima (Ending)
 membahas kembali isu-isu yang ada. Konselor dan konseli membahas
kembali isu-isu yang muncul dalam proses konseling.
 membuat kesimpulan terhadap keseluruhan proses konseling. Konseli
membuat kesimpulan semua proses yang sudah sialami dalam proses
konseling.
 merayakan apa yang sudah tercapai dan menerima yang belum tercapai.
Konselor dan konseli bersama-sama merayakan apa yang sudah klien
capai melalui proses konseling dan menerima apa saja yang belum dapat
dicapai oleh klien dalam proses konseling.
 membuat antisipasi terhadap krisis kepercayaan diri di masa depan.
Konselor dan konseli bersama-sama membuat kesepakatan terhadap apa
yang akan dilakukan konseli apabila krisis atau permasalahan yang baru
saja terselesaikan.
 membiarkan konseli melanjutkan kehidupannya. Konselor melepaskan
intervensinya terhadap konseli sehingga konseli dapat melanjutkan
kembali hidupnya.

4 Acceptance (Penerimaan)
Digunakan konselor untuk menunjukan minat dan pemahaman terhadap hal-hal
yang dikemukakan konseli.
1. Verbal bentuk pendek :
a) Oh....ya,
b) Lalu/kemudian,
c) Ya....ya....
d) Hemm.....hemm....
2. Verbal bentuk Panjang :
a) Saya memahami.....
b) Saya menghayati....
c) Saya dapat merasakan.....
d) Saya dapat mengerti...
3. Non Verbal
a) Anggukan kepala,
b) Posisi duduk condong kedepan
c) Perubahan mimik,
d) Memelihara kontak mata
(Catatan: Penerimaan bukan berarti mensetujui, cerita apapun yang disampaikan
konseli diterima namun bukan berarti setuju. Konselor menerima tanpa menilai
sesuai dengan asas konseli tidak pernah salah ( KTSP ).
Konselor bertanggungjawab untuk memperbaiki konseli atau bisa disebut debgan
memberikan dorongan minimal pada konseli.)

5 Pembuatan Keputusan
 Penetapan tujuan konseling
 Penetapan strategi pencapaian tujuan konseling
 Penetapan komitmen diri dari tujuan konseling

6 Terminasi Tindak Lanjut


 Pemantapan diri dan peneguhan kepada konseli bahwa konseli siap
mengakhiri proses konseling.
 Konselor bersama konseli membuat kesimpulan mengenai hasil proses
konseling.
 Menyusun rencana tindak lanjut yang akan dilakukan berdasarkan
kesepakatan yang telah terbangun dari proses konseling.
 Mengevaluasi jalannya proses dan hasil konseling (penilaian segera).
 Membuat perjanjian untuk pertemuan berikutnya.
 Penentuan kegiatan tindak lanjut

11. Rencana Evaluasi :


 Konselor menilai kesungguhan konseli dalam proses konseling dengan
teknik yang digunakan konseling berhasil jika tingkat kesungguhan konseli
dalam pelibatan konseling tinggi yang ditandai dengan respons yang verbal
dan non-verbal.
 Konselor menilai kemampuan konseli dalam melakukan pembicaraan keakraban
dengan teknik observasi.
 Tujuan tercapai jika konseli dapat mereduksi gejala-gejala dari
permasalahan yang dialami.
 Melakukan pengamatan secara berkala terhadap perubahan konseli lewat
kesehariannya disekolah dan memantau tugas-tugasnya.
 Melakukan follow up langsung (bertanya) kepada konseli dan juga melalui
chat WA pribadi.

Purwakarta, 07 Oktober 2021

Mengetahui,
Kepaka Sekolah Guru BK/Konselor

Dr. Haerudin Syam, [Link] Sri Wiwik Endang W, S. Psi

NIP.196909251988012003
LAPORAN VERBATIM GESTALT
KONSELING INDIVIDU

A. Identitas Konseli
Nama : B (Samaran)
Kelas : IXB
Sekolah : SMP Negeri 1 Babakancikao Purwakarta Jabar

B. Sinopsis
A adalah siswa kelas IXB, di SMP Negeri 1 Babakancikao Purwakarta Jabar. A merupakan
siswa yang mudah bersosialisasi dengan teman. Tapi akhir-akhir ini A terlihat lebih sering
berantem dengan temannya. Menurut teman-temannya A sering berbicara kasar/jorok yang
menyebabkan pertengkaran dengan teman sekelas maupun lain kelas sehingga A dijauhi
temannya.

C. Wawancara Konseling
Tahapan dan
Konselor/Konseli Dialog
Keterampilan
Konselor Assalamu’alaikum, selamat siang Tahap 1:
Menerima konseli
Konseli Wa’alaikumusalam Warahmatullahi Wabarakatuh, siang ibu Acceptance
(penerimaan)
Konselor Bagaimana kabarnya baik-baik saja kan B?
Konseli Alhamdulilah baik bu
Konselor Ada pelajaran tidak?
Konseli Tidak bu,
Konselor Baiklah, Sebelumnya ibu bertanya, B tahu kenapa dipanggil Pernyataan
disini tertutup
Konseli Tidak ibu
Konselor Baiklah, ibu jelaskan dulu tentang pertemuan hari ini. Hari ini Pengantar
ibu mengadakan konseling, Konseling adalah bantuan konseling
profesional yang diberikan konselor kepada Konseli agar
konseli mampu memecahkan masalah/problem yang sedang
dihadapi . Konseling ini dilandasi oleh asas-asas, seperti
kerahasiaan, kesukarelaan, keahlian, kegiatan, kemandirian, dan
masih banyak yang lain. Asas kerahasiaan menjamin semua
data-data atau informasi yang terkait dengan masalah kamu. Di
samping itu, dalam mencari pemecahannya B tidak “menunggu”
saja hasil dari berfikir ibu, tapi juga ikut memikirkannya. Paham
B?) Bagaimana, kamu sudah paham?
Konseli Paham ibu
Konselor Selanjutnya Pertemuan kita ini dibatasi oleh waktu. Kita akan Kontrak waktu
melakukan pertemuan dengan mempergunakan waktu kurang
lebih 30–40 menit. Dengan adanya waktu yang singkat ini, maka
kita sebaiknya benar-benar memanfaatkan waktu yang [Link],
jika pada pertemuan pertama ini, masalahmu belum
terselesaikan, maka kita adakan perjanjian untuk mengadakan
pertemuan berikutnya, setuju B?
Tahapan dan
Konselor/Konseli Dialog
Keterampilan
Konseli Setuju bu,
Konselor Baiklah, coba b ceritakan kepada ibu apa yang menjadi ganjalan Rapport
dihati B, sehingga sering berantem dengan temanmu?
Konseli Eemmm…tadi saya dipukul bu
Konselor Apa yang membuat kamu dipukul, coba ceritakan ke ibu
Konseli Iya bu karena saya bilang kasar sama T bu, jadi T marah mukul
deh
Konselor Oowwhhh, coba jelaskan ke ibu kenapa kamu bicara kasar sama Identifikasi kasus
T Pertanyaan
terbuka
Konseli Saya sdh biasa ngomong seperti itu bu, bapak saya terbiasa
bicara kasar kalau marah, apalagi lingkungan dirumah saya bu,
sudah biasa ngomong seperti itu
Konselor Menurut kamu B, mendengar kata kasar/jorok enak didengar
tidak? bagaimana rasanya…
Konseli Tidak enak ibu, saya sudah biasa bicara kasar/jorok bu
Koselor Hmmm,,, tapi apakah kamu nyaman dengan berbicara seperti itu
dengan teman-temanmu?
Konseli Tidak bu, saya jadi di jauhin teman-teman, jadi sepi tidak ada
teman yang diajak ngobrol
Konselor Ooo begitu, baik B ibu sudah faham, rupanya kamu kebiasaan
berbicara kasar/jorok
Konseli Iya bu,
Konselor B, untuk masalah yang kamu hadapi, ibu bisa membantu kamu,
mau melanjutkan?
Konseli Iya ibu
Konselor Oke untuk menyelesaikan masalah kamu ini ibu mempunyai Pengantar
teknik namanya teknik kursi kosong pengenalan teknik
Konseli Apa itu bu?
Konselor jadi nanti kamu B harus memainkan peran, berperan sebagai top Penjelasan
dog dan under dog,top dog adalah orang yg memiliki kuasa tahapan teknik
orang yg pegang kendali dlm hal ini bosnya kamu, kemudian kursi kosong
berperan sebagai under dog yaitu pihak yg merasa tertekan dlm
hal ini teman kamu [Link] nanti disini ibu memiliki kursi
kosong nanti kamu B harus dapat memerankan top dog dan
under dog yg telah ibu jelaskan. Nanti duduk di kursi yg kanan
dan berperan sebagai top dog atau bos B. Peran selama ini bos
anda menyuruh kamu B, kata-katanya seperti apa kemudian
nanti kamu B bisa berpindah ke kursi sebelah kiri untuk
berperan sebagai under dog pihak yg tertekan seperti apa
biasanya lalu berpindah kursi lagi berperan sebagai top dog lagi
ke kursi sebelah kanan dan kemudian berpindah lagi sebagai
under dog di kursi sebelah kiri dari jawaban atau respon seperti
apa kamu B terhadap bosnya dan juga sebaliknya bosnya B
merespon seperti apa dan bagaimana?? Apa kamu B mau
mencobanya ? ”
Konseli Siap bu, jadi nanti saya duduk dikursi sebelah kanan berperan
sebagai saya terus saya duduk di kursi di sebelah kiri berperan
Tahapan dan
Konselor/Konseli Dialog
Keterampilan
sebagai teman saya
Konselor iya,sampai kamu B bisa merasa nyaman dengan posisi yang
kamu jalani sekarang…begitulah B penjelasan dari ibu tentang
apa yang akan kamu lakukan disini..bagaimana apakah kamu B
sudah paham ?
Konseli Iya ibu, mulai ya bu Teknik kursi
Under dog:”kenapa kamu B suka sering bicara kasar/jorok” kosong dimulai
Top dog: “dirumah ak sudah biasa berkata seperti itu”?apa lagi
kalau bapakku marah
Under dog: “apa yang kamu rasakan waktu dibilang seperti itu
sama bapakmu”
Top dog;”sedih, sebel sih sakit hati.
Under dog: “Nah itu kamu B bisa rasakan perasaanmu, sama
seperti orang yang kamu katakan sakit hati kan!
Top dog; “Iya tidak akan diulang lagi, saya mau minta maaf
dengan teman saya
Under dog: “bagus, luar biasa”
Konselor Baiklah dari apa yg telah dilakukan itu tadi agar bisa berbicara
dengan baik dengan temanmu, kira-kira bisa tidak?
Konseli Hhmmm..bisa bu saya akan saya coba pelan-pelan
Konselor Bagaimana perasaanya setelah berlatih?
Konseli Alhamdulillah bu, ada perubahan saya jadi tahu apa yang teman
rasakan dan saya ga enak sama teman saya
Koselor Baik B setelah konseling ini apa yang akan kamu lakukan
Konseli Saya akan mencari waktu yang tepat bu untuk mencoba untuk
minta maaf dengan teman saya sehingga saya tidak dijauhin
Konselor Baik B, kamu sudah berlatih, dan berkomitmen dan bertanggung
jawab untuk berbicara dengan teman kamu, bagaimana jika
minggu depan kita bertemu lagi kita akan membicarakan
perkembangan dari masalah kamu, bisa?
Konseli Bisa bu
Konselor Semoga apa yang kamu inginkan tercapai ya
Konseli Terima kasih atas semua bantuan ibu, Attending
Konselor Baiklah, sekarng kembali saja kekalas, semoga kamu sukses
selalu
Konseli Baik, makasih ibu, Assalamualaikum bu
Konselor Wa’alaikum salam
KEPUASAN KONSELI TERHADAP KONSELING INDIVIDU

Identitas :
Nama konseli :
Kelas :
Konselor :

Petunjuk :
1. Bacalah secara teliti
2. Berilah tanda centang (v) pada kolom jawaban yang tersedia

Sangat Kurang
No Aspek yang dinilai Memuaskan
Memuaskan Memuaskan
[Link] guru BK terhadap
kehadiran Anda
[Link] yang disediakan untuk
konseling individu
[Link] yang diberikan BK
kepada peserta didik untuk
menyampaikan pendapat/ide
[Link] Anda terhadap guru BK
dalam layanan konseling individu

[Link] yang diperoleh dari konseling


individu
[Link] dalam pelaksanaan
konseling individu

Purwakarta, 01 November 2021


Guru BK

Sri Wiwik Endang Witosari, [Link]

PEDOMAN OBSERVASI
PROSES LAYANAN KONSELING INDIVIDU

Identitas :
Nama Peserta Didik :
Kelas :

Beri tanda centang (√) pada kolom skor sesuai dengan hasil penilaian Anda.
SKOR
NO PERNYATAAN
1 2 3 4
TAHAP PEMBENTUKAN
[Link] didik aktif menjawab salam
[Link] didik antusias dalam mengikuti layanan
konseling individu
[Link] didik aktif memulai Doa sebelum melakukan
konseling individu.
[Link] didik memahami pengertian dan tujuan
konseling individu.
[Link] didik memahami cara pelaksanaan konseling
individu.
[Link] didik memhami asas-asas konseling individu
yang harus dilakukan.
[Link] didik antusias melakukan ikrar janji dalam konseling
individu.

[Link] didik membuat kesepakatan waktu untuk


menentukan kegiatan konseling individu.
TAHAP PERALIHAN
10. Peserta didik aktif menyimpulkan tentang pelaksanaan
konseling Individu.
11. Peserta didik antusias untuk melanjutkan konseling
Individu.
12. Peserta didik mengemukakan permasalahan dan dibahas
dalam konseling individu.
TAHAP KEGIATAN
13. Peserta didik memahami permasalahan pribadi
yang dialami
14. Peserta didik antusias mengemukakan masalah secara
sukarela.
15. Permasalahan yang dialami peserta didik dibahas secara
tuntas.
17. Peserta didik mampu menyimpulkan proses pelaksanaan
Konseling individu.
TAHAP PENGAKHIRAN
19. Peserta didik memahami bahwa kegiatan konseling
individu akan berakhir.
20. Penilaian segera (UCA) :
d) Understanding : Peserta didik mengungkapakan
tentang pemahaman permasalahan yang telah di
bahas di dalam konseling individu.
e) Comport : Peserta didik mengungkapkan perasaan
yang dialami selama mengikuti kegiatan konseling
individu.
f) Action : Peserta didik mengungkapkan rencana
tindakan yang akan dilakukan setelah mengikuti
kegiatan konseling individu.
21. Peserta didik membuat kesepakatan untk melakukan
pembahasan kegiatan lanjutan kegiatan konseling
individu.
22. Peserta didik mengungkapkan ucapan terima kasih
23. Peserta didik bersama-sama melakukan D’oa
24. Peserta didik melakukan perpisahan.

Observer
KOMITMENTKU

Setelah mengikuti kegiatan konseling individu ,menyampaikan permasalahan yang saya hadapi
dan mendapatkan solusi terbaik untuk permasalahan saya. Dibawah ini,saya menuliskan
komitmen setelah mengikuti kegiatan ini.

Rencana Saya setelah mengikuti kegiatan Konseling Individu ini adalah :

Peserta Didik

...................................
DAFTAR HADIR KEGIATAN KONSELING INDIVIDU

Hari/Tanggal Kegiatan :
Tempat :
Topik Layanan :

No Nama Siswa Tanda Tangan


1. 1.

2. 2.

3. 3.

4. 4.

5. 5.

6. 6.

7 7.

8. 8.

Purwakarta,01 Nov 2021

Koordinator BK Guru BK

Anda mungkin juga menyukai