0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
616 tayangan42 halaman

PRAKONSEPSI

Laporan ini membahas praktik asuhan kebidanan holistik pada pasangan calon pengantin wanita berusia 21 tahun dengan diagnosis anemia ringan. Laporan meninjau konsep pranikah, anemia, dan asuhan kebidanan holistik pada prakonsepsi dengan anemia ringan. Laporan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapan pasangan calon pengantin dalam merencanakan kehamilan.

Diunggah oleh

Tria Ke
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
616 tayangan42 halaman

PRAKONSEPSI

Laporan ini membahas praktik asuhan kebidanan holistik pada pasangan calon pengantin wanita berusia 21 tahun dengan diagnosis anemia ringan. Laporan meninjau konsep pranikah, anemia, dan asuhan kebidanan holistik pada prakonsepsi dengan anemia ringan. Laporan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapan pasangan calon pengantin dalam merencanakan kehamilan.

Diunggah oleh

Tria Ke
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PRAKTIK ASUHAN KEBIDANAN HOLISTIK PRANIKAH


PADA “Nn. S USIA 21 TAHUN DENGAN ANEMIA RINGAN”
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WONOKROMO

OLEH :

Nama Mahasiswa : Fitria Nathalia Maria Ke


NIM : P27824620019

KEMENTERIAN KESEHATAN R. I.
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PRODI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
TAHUN 2020
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Kebidanan Holistik Pada Pranikah ini dilaksanakan sebagai dokumen/laporan
praktik Blok 2 yang telah dilaksanakan di Puskesmas Wonokromo
Periode praktik tanggal, 12 s.d 25 Oktober 2020

Surabaya, 12 Oktober 2020

Fitria Nathalia Maria Ke


NIM : P27824620019

Pembimbing Lahan Pembimbing Pendidikan 1 Pembimbing Pendidikan 2

Ely Sariani, [Link].,[Link] Dwi Wahyu Wulan S, SST.,[Link] Yuni Ginarsih, SST.,[Link]
NIP : 1997002261991032006 NIP :197910302005012001 NIDN.4024067801

Mengetahui

Kepala Puskesmas Ketua Program Studi

drg. Dwiana Yuniarti Evi Pratami, M. Keb


NIP : NIP : 197905242002122003

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena limpahan taufiq dan hidayah-

Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Individu yang berjudul “Praktik

Asuhan Kebidanan Holistik Pranikah Pada Nn. S Usia 21 Tahun dengan

Anemia Ringan di Wilayah Kerja Puskesmas Wonokromo Surabaya”. Laporan

ini disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan tugas Blok 2

(Pranikah/Prakonsepsi) pada Pendidikan Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes

Surabaya.

Dalam penyusunan Laporan, penulis banyak mendapat bimbingan,

petunjuk dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Evi Pratami, [Link], selaku Ketua Prodi Pendidikan Profesi Bidan

Poltekkes Kemenkes Surabaya.

2. drg. Dwiana Yuniarti, selaku Kepala Puskesmas Wonokromo.

3. Ely Sariani, [Link].,[Link], selaku pembimbing praktik lapangan yang

telah memberi arahan, masukan dan bimbingan dalam menyusun

laporan ini.

4. Dwi Wahyu Wulan, SST., [Link] , selaku pembimbing pendidikan 1 yang

telah memberi arahan, masukan dan bimbingan dalam menyusun laporan

ini.

5. Yuni Ginarsih, SST.,[Link], selaku pembimbing pendidikan 2 yang telah

memberi arahan, masukan dan bimbingan dalam menyusun laporan ini.

ii
6. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan dan penyusunan

laporan ini.

Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna,

oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun dari pembaca demi kesempurnaan laporan ini. Semoga Allah SWT

memberikan balasan pahala atas segala amal baik yang telah diberikan. Semoga

laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis

pada khususnya.

Surabaya, 12 Oktober 2020

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

Halaman :
Lembar Pengesahan............................................................................................i
Kata Pengantar ...................................................................................................ii
Daftar Isi.............................................................................................................iv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Tujuan Penelitian.........................................................................................2
1.3 Lama Praktik ..............................................................................................3

BAB 2 TINJAUAN TEORI


2.1 Konsep Pranikah..........................................................................................4
2.2 Konsep Anemia ..........................................................................................10
2.3 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Holistik Prakonsepsi dengan
Anemia Ringan ...........................................................................................15

BAB 3 TINJAUAN KASUS


3.1 Pengkajian Data Subjektif dan Data Obyektif.............................................24
3.2 Analisa Data................................................................................................27
3.3 Diagnosa Potensial .....................................................................................28
3.4 Antisipasi Masalah......................................................................................28
3.5 Intervensi.....................................................................................................28
3.6 Implementasi dan Evaluasi..........................................................................29

BAB 4 PEMBAHASAN....................................................................................31

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan .................................................................................................33
5.2 Saran ...........................................................................................................33

iv
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................34
LAMPIRAN......................................................................................................35

v
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Calon pengantin merupakan pasangan laki-laki dan perempuan yang
akan segera hidup bersama dalam mahligai rumah tangga dan membentuk
keluarga dalam ikatan pernikahan (Kemenag, 2009). Masalah pra nikah dapat
dikaitkan dengan masa prakonsepsi, karena setelah menikah akan segera
menjalani proses konsepsi. Kualitas seorang generasi penerus akan ditentukan
oleh kondisi sejak sebelum hamil dan selama kehamilan. Kesehatan
prakonsepsi menjadi sangat penting untuk diperhatikan termasuk status
gizinya, terutama dalam upaya mempersiapkan kehamilan karena akan
berkaitan erat dengan outcome kehamilan (Paratmanitya & Hadi, 2012).
Kehamilan merupakan impian bagi pasangan suami istri dengan
memiliki seorang anak, salah satu tujuan dari pernikahan telah terpenuhi. Bagi
beberapa wanita, hamil adalah hal yang sangat mudah didapatkan. Namun, ada
beberapa wanita yang harus melakukan banyak usaha untuk dapat hamil.
Pengetahuan gizi sangat diperlukan bagi pasangan suami istri dalam
mempersiapkan kehamilan terutama bagi pasangan yang akan menikah
(Nuryani, 2012).
Kehamilan yang sehat membutuhkan persiapan fisik dan mental, oleh
karena itu perencanaan kehamilan harus dilakukan sebelum masa kehamilan.
Proses kehamilan yang direncanakan dengan baik akan berdampak positif
pada kondisi janin dan adaptasi fisik, serta psikologis ibu pada kehamilan
menjadi lebih baik. Pengaturan gizi yang baik juga sangat berperan dalam
proses pembentukan sperma dan sel telur yang sehat. Status gizi yang baik
dapat mencegah masalah gizi pada saat kehamilan seperti anemia, KEK,
pencegahan infeksi dan komplikasi kehamilan (Oktaria dan Juli , 2016).
Anemia dan KEK merupakan masalah yang sering terjadi pada
kelompok usia dewasa terutama pada wanita hamil. Berdasarkan dari data
World Health Organization (WHO) pada tahun 2008, prevalensi anemia ibu
hamil di Negara berkembang meningkat dari 35% menjadi 75%. Keadaan

1
2

anemia ditandai dengan penurunan kadar hemoglobin (Hb), hematokrit dan


jumlah eritrosit dibawah nilai 2 normal yaitu 25 kg/m2. Hasil analisis bivariat
dengan odds ratio (OR) terhadap obesitas didapatkan OR sebesar 2.695
sehingga obesitas merupakan faktor risiko terhadap kejadian keterlambatan
konsepsi (Infertilitas) pasangan suami istri pada laki-laki.
Faktor lain yang berhubungan dengan masalah gizi pra hamil adalah
rendahnya pengetahuan gizi. Rendahnya pengetahuan gizi dapat menyebabkan
rendahnya pemilihan makanan dan memiliki peran dalam masalah gizi.
Tingkat pengetahuan gizi seseorang akan menentukan mudah tidaknya
seseorang memahami manfaat kandungan gizi dari makanan yang dikonsumsi.
Pengetahuan gizi juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam
pembentukan kebiasaan makan seseorang. Pendidikan gizi suatu kegiatan atau
usaha menyampaikan pesan gizi kepada masyarakat, kelompok atau individu
dengan harapan agar bisa memperoleh pengetahuan tentang gizi yang lebih
baik sehingga dapat berpengaruh pada sikap dan prilaku (Notoatmojo, 2010).
Salah satu upaya menanggulangi masalah gizi melalui peningkatan
pengetahuan, sikap dan tindakan seseorang dengan melakukan penyuluhan
gizi. Penyuluhan gizi merupakan suatu prinsip pemasaran yang bersifat
edukatif untuk memperbaiki kesadaran gizi yang bertujuan sebagai salah satu
cara dalam peningkatan pengetahuan seseorang dalam masalah gizi pra
kehamilan. Edukasi gizi merupakan bagian dari kegiatan pendidikan
kesehatan, didefinisikan sebagai upaya terencana untuk mengubah prilaku
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam bidang kesehatan
(Chacigo, 2010).

1.2. Tujuan
2.1.1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat melakukan Asuhan Kebidanan Holistik Pranikah pada Nn.
S dengan dengan anemia ringan menggunakan Manajemen Asuhan Kebidanan
Varney.
3

2.1.2. Tujuan Khusus


Disusun menggunakan Asuhan Kebidanan 7 langkah Varney, sehingga
mahasiswa diharapkan :
a) Dapat melakukan pengkajian data subjektif dan objektif pada Nn. S dengan
dengan anemia ringan
b) Dapat melakukan Interpretasi data pada Nn. A dengan dengan anemia ringan
c) Dapat melakukan pengkajian data subjektif dan objektif pada Nn. S dengan
dengan anemia ringan
d) Dapat menentukan diagnosa potensial pada Nn. S dengan dengan anemia
ringan
e) Dapat membuat intervensi yang kemuadian akan diimplementasikan pada
Nn. S dengan dengan anemia ringan
f) Dapat melakukan implementasi (penatalaksanaan) dan evaluasi pada Nn. S
dengan dengan anemia ringan

1.3. Lama Praktik


Praktik Asuhan Kebidanan Holistik Pranikah dilaksanakan di wilayah
kerja Puskesmas Wonokromo Surabaya pada tanggal 12 s/d 25 Oktober 2020.
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1. Konsep Dasar PraNikah dan Anemia


1. Pranikah
a) Pengertian
Kata dasar dari pranikah ialah "nikah” yang merupakan ikatan (akad)
perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum danajaran
agama. Imbuhan kata pra yang memiliki makna sebelum, sehingga arti dari
pranikah adalah sebelum menikah atau sebelum adanyanya ikatan
perkawinan (lahir batin) antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri
(Setiawan, 2018).
Berdasarkan UU No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No.
23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, usia kurang dari 18 tahun masih
tergolong anak-anak. Oleh karena itu, BKKBN memberikan batasan usia
pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk pria. Selain itu,
umur ideal yang matang secara biologis dan psikologis adalah 20 – 25 tahun
bagi wanita dan umur 25 – 30 tahun bagi pria (BKKBN, 2017). Sedangkan,
pasangan yang akan melangsungkan pernikahan/akad perkawinan disebut
calon pengantin (Setiawan, 2018).
Remaja wanita yang akan memasuki jenjang perkawinan perlu
dijaga kondisi kesehatannya. Kepada para remaja diberi pengertian tentang
hubungan seksual yang sehat, kesiapan mental dalam menghadapi
kehamilan dan pengetahuan tentang proses kehamilan dan persalinan, serta
pemeliharaan kesehatan dalam masa pra dan pasca kehamilan.
Pemeriksaan kesehatan dianjurkan bagi remaja yang akan menikah.
Tujuan dari pemeriksaan tersebut adalah untuk mengetahui secara dini
kondisi kesehatan para remaja. Jika ditemukan penyakit atau kelainan
didalam diri remaja, maka tindakan pengobatan dapat segera dilakukan. Bila
penyakit atau kelainan tersebut tidak diatasi, maka diupayakan masalah
tersebut tidak bertambah berat atau menular kepada pasangannya. Misalnya

4
5

remaja penderita penyakit jantung yang sedang hamil harus memeriksakan


kesehatannya secara teratur. Remaja yang menderita AIDS harus menjaga
pasangannya agar tidak terkena virus HIV dengan menggunakan kondom
saat bersenggama bila sudah menikah.
Upaya pemeliharaan kesehatan bagi para calon ibu ini dapat
dilakukan melalui kelompok atau kumpulan remaja seperti: karang taruna,
pramuka, organisasi remaja, dan sebagainya. Para remaja yang terhimpun
dalam organisasi masyarakat perlu diorganisasikan agar pelayanan
kesehatan dan kesiapan dalam menghadapi peran sebagai istri dapat
dilakukan dengan baik.
Pembinaan kesehatan remaja, terutama remaja wanita, tidak hanya
ditujukan hanya pada masalah gangguan kesehatan (penyakit system
reproduksi). Fakta perkembangan psikologis dan social perlu diperhatikan
juga dalam membina kesehatan remaja. Remaja yang tumbuh kembang
secara biologis diikuti dengan perkembangan psikologis dan sosialnya.
Alam dan pikiran remaja perlu diketahui di dalam membina kesehatan.
Penyampaian pesan kesehatan dilakukan melalui bahasa remaja. Bimbingan
terhadap remaja antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut :
1) Perkawinan yang sehat.
Remaja dibimbing tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi
perkawinan ditinjau dari sudut kesehatan. Perkawinan bukan hanya
sekedar hubungan antara suami dan istri. Perkawinan menghasilkan
keturunan Bayi yang dilahirkan atau keturunan ini diharapkan adalah
bayi yang sehat dan direncanakan.
2) Keluarga yang sehat
Remaja diajarkan tentang keluarga sehat dan cara mewujudkan serta
membinanya, Keluarga yang diidamkan (sejahtera) adalah keluarga
yang memiliki norma keluarga kecil (jumlah keluarga yang ideal terdiri
atas suami, istri, dan dua anak), bahagia, sejahtera, aman, tenteram,
disertai rasa ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keluarga
sejahtera juga memiliki kemampuan social ekonomi yang mendukung
6

kehidupan anggota keluarganya serta mampu menabung untuk masa


depan. Selain itu, keluarga sejahtera juga dapat membantu dan
mendorong peningkatan taraf hidup keluarga lain.
3) Sistem reproduksi dan masalahnya.
Tidak semua remaja memahami system reproduksi manusia.
Membicarakan system reproduksi dianggap tabu bagi beberapa
kalangan remaja. Penjelasan mengenai perubahan yang terjadi pada
system reproduksi pada masa kehamilan, persalinan, dan
pascapersalinan perlu diberikan. Penjelasan mengenai perawatan bayi
serta gangguan system reproduksi, seperti gangguan menstruasi,
kelainan system reproduksi dan penyakit, juga hendaknya diberikan.
Penyakit system reproduksi yang dimaksud adalah penyakit-penyakit
hubungan seksual, HIV/AIDS, dan tumor.
4) Penyakit yang berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan atau
sebaliknya.
Remaja yang siap sebagai ibu harus dapat mengetahui penyakit-
penyakit yang memberatkan kehamilan dan membahayakan masa
kehamilan atau persalinan, Penyakit yang perlu dan penting dijelaskan
sewaktu mengadakan bimbingan, antara lain penyakit jantung, penyakit
ginjal, hipertensi, DM, anemia, dan tumor.
5) Sikap dan perilaku pada masa kehamilan dan persalinan.
Perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi pada masa kehamilan dan
persalinan. Perubahan sikap dan perilaku dapat mengganggu kesehatan,
misalnya pada masa hamil muda terjadi gangguan psikologi seperti
benci dengan seseorang (suami) atau benda tertentu. Emosi yang
berlebihan dimungkinkan akibat perubahan perilaku. Pada masa
persalinan atau pascapersalinan gangguan jiwa juga mungkin terjadi.
Selain hal-hal tersebut masih ada lagi permasalahan remaja dan
dikaitkan dengan kesehatan keluarga. Bidan harus dapat memberikan
bimbingan sewaktu remaja berkonsultasi atau memberikan penyuluhan. Bila
masalah remaja sangat besar, maka dapat dirujuk pada yang lebih ahli.
7

Misalnya, bila remaja merasa ketakutan yang amat sangat dalam


mengahadapi kehamilan, remaja dirujuk ke dokter spesialis jiwa atau ke
psikolog. Bimbingan remaja juga dilakukan melalui organisasi remaja
seperti karang taruna, pramuka, serta organisasi pelajar, mahasiswa, dan
pemuda.

b) Persiapan Pranikah
Menurut Setiawan (2018), beberapa persiapan yang perlu dihadapi
menjelang pernikahan, yaitu persiapan ilmu tentang pernikahan, persiapan
mental/psikologis dalam menghadapi pernikahan.
1) Persiapan Ilmu tentang pernikahan.
Hal yang perlu dipersiapkan adalah memperjelas visi pernikahan.
Untuk apa kita menikah. Visi yang jelas dan juga sama antara calon
suami dan isteri diharapkan akan melanggengkan pernikahan. Banyak
orang yang menikah hanya karena cinta, atau mengikuti tradisi
masyarakat. Bisa juga karena malu karena sudah cukup umur tetapi
masih belum juga menuju pelaminan. Alasan-alasan seperti ini tidak
memiliki akar yang jelas. Bisa juga menjadi sangat rapuh ketika
memasuki bahtera rumah tangga, dan akhirnya hancur ketika badai
rumah tangga datang menerjang.
2) Persiapan mental/psikologis menghadapi pernikahan.
Pernikahan adalah kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dari
masa-masa sebelumnya. Dalam pernikahan berkumpul dua pribadi yang
berbeda yang berasal dari keluarga yang memiliki kebiasaan yang
berbeda. Didalamnya terbuka semua sifat-sifat asli masing-masing.
Mempersiapkan diri untuk berlapang dada menghadapi segala
kekurangan pasangan adalah hal yang mutlak diperlukan. Begitu juga
cara-cara mengkomunikasikan pikiran dan perasan kita dengan baik
kepada pasangan juga perlu diperhatikan, agar emosi negatif tidak
mewarnai rumah tangga kita.
8

Di dalam penikahan juga diperlukan rasa tanggung jawab untuk


untuk memenuhi hak dan kewajiban masing-masing. Sehingga setiap
anggota keluarga tidak hanya menuntut hak-haknya saja, tetapi berusaha
untuk lebih dulu memenuhi kewajibannya.
Selain persiapan yang sudah dijelaskan di atas, menurut Kemenkes
RI (2015), ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan oleh calon
pengantin seperti :
1. Persiapan Fisik:
- Pemeriksaan status kesehatan : • tanda-tanda vital (suhu, nadi,
frekuensi nafas, tekanan darah)
- Pemeriksaan Darah rutin : Hb, Trombosit, Lekosit,
- Pemeriksaan Darah yang dianjurkan :
 Golongan Darah dan Rhesus
 Gula Darah Sewaktu (GDS)
 Thalasemia
 Hepatitis B dan C
 TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, Citomegalovirus dan Herpes
simpleks)
- Pemeriksaan Urin : Urin Rutin
2. Persiapan Gizi : Peningkatan status gizi calon pengantin terutama
perempuan melalui penanggulangan KEK (Kekurangan Energi Kronis)
dan anemia gizi besi serta defisiensi asam folat.
3. Status Imunisasi TT: Pencegahan dan perlindungan diri yang aman
terhadap penyakit tetanus dilakukan dengan pemberian 5 dosis imunisasi
TT untuk mencapai kekebalan penuh.
Lama
Dosis Saat Pemberian % Perlindungan
Perlindungan
Pada saat kunjungan pertama atau
TT I 0% 1 tahun
sedini mungkin pada kehamilan
TT II Minimal 4 minggu setelah TT I 80 % 3 tahun
9

Minimal 6 bulan setelah TT II


TT III 95 % 5 tahun
atau selama kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT III
TT IV 99 % 10 tahun
kehamilan berikutnya
Minimal setahun setelah TT 25 tahun/
TT V 99 %
kehamilan berikutnya seumur hidup

4. Menjaga kebersihan organ reproduksi


 Sebaiknya pakaian dalam diganti minimal 2 kali sehari.
 Tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat dan berbahan non
sintetik.
 Pakailah handuk yang bersih, kering, tidak lembab/bau.
 Membersihkan organ reproduksi luar dari depan ke belakang dengan
menggunakan air bersih dan dikeringkan menggunakan handuk atau
tisu.
 Khusus untuk perempuan :
- Tidak boleh terlalu sering menggunakan cairan pembilas vagina.
- Jangan memakai pembalut tipis dalam waktu lama.
- Pergunakan pembalut ketika mentruasi dan diganti paling lama
setiap 4 jam sekali atau setelah buang air.
- Bagi perempuan yang sering keputihan, berbau dan berwarna
harap memeriksakan diri ke petugas kesehatan.
- Bagi laki-laki dianjurkan disunat untuk kesehatan.

c) Manfaat Periksa Kesehatan Pranikah


Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah kita
dapat mengetahui kondisi pasangan serta proyeksi masa depan pernikahan,
terutama yang berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi (fertilitas)
dan genetika (keturunan), dan Anda juga dapat mengetahui penyakit-
penyakit yang nantinya bila tak segera ditanggulangi dapat membahayakan
Anda dan pasangan termasuk calon keturunan.
10

2. Konsep Anemia
a) Pengertian Anemia
Anemia didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin (Hb) yang
rendah dalam darah. (WHO,2015). National Institute of Health (NIH)
Amerika 2011 menyatakan bahwa anemia terjadi ketika tubuh tidak
memiliki jumlah sel darah merah yang cukup (Fikawati, Syafiq, &
Veretamala, 2017).
Anemia gizi adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin darah
yang lebih rendah dari pada normal sebagai akibat ketidakmampuan
jaringan pembentuk sel darah merah dalam produksinya guna
mempertahankan kadar hemoglobin pada tingkat normal. Anemia gizi besi
adalah anemia yang timbul karena kekurangan zat besi sehingga
pembentukan sel-sel darah merah dan fungsi lain dalam tubuh terganggu
(Adriani & Wijatmadi, 2012).
Secara definisi, anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan
oleh kurangnya zat besi dalam tubuh sehingga kebutuhan besi untuk
eritropoesis tidak cukup ditandai dengan gambaran sel darah merah yang
hipokrom mikrositik, kadar besi serum dan saturasi (jenuh) transferrin
menurun, mampu ikat besi total (TIBC) meninggi dan cadangan besi dalam
sumsum tulang dan tempat lain sangat kurang atau tidak sama sekali.

b) Patogenesa Anemia
Defisiensi Besi Perjalanan keadaan kurang gizi besi mulai dari
terjadinya anemia sampai dengan timbulnya gejala-gejala yang klasik,
melalui beberapa tahap :
a. Tahap I Terdapat kekurangan zat besi di tempat-tempat cadangan besi
(depot ion), tanpa disertai dengan anemia (anemia latent) ataupun
perubahan konsentrasi besi dalam serum (SI). Pada pemeriksaan didapat
kadar ferritin berkurang.
11

b. Tahap II Selanjutnya kemampuan ikat besi total (TIBC) akan meningkat


yang diikuti dengan penurunan besi dalam serum (SII) dan jenuh
(saturasi) transferrin. Pada tahap ini mungkin anemia sudah timbul, tetapi
masih ringan sekali dan bersifat normokrom [Link] tahap ini
terjadi eritropoesis yang kekurangan zat besi (iron deficient
erythropoiesis).
c. Tahap III Jika balans besi tetap negatif maka akan timbul anemia yang
tambah nyata dengan gambaran tepi yang bersifat hipokrom mikrositik.
d. Tahap IV Hemoglobin (Hb) rendah sekali. Sumsum tulang tidak
mengandung lagi cadangan besi, kadar besi plasma (SI) berkurang. Jenuh
transferrin turun dan eritrosit jelas bentuknya hipokrom [Link]
stadium ini kekurangan besi telah mencapai [Link]
klinisnya sudah nyata (Yuni, 2015).

c) Batas Normal Kadar Hb dan Metode Pengukuran Hb


Hemoglobin adalah metaloprotein pengangkut oksigen yang
mengandung besi dalam [Link] adalah suatu zat di dalam sel
darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh
[Link] terdiri dari 4 molekul zat besi (heme), 2 molekul rantai
globin alpha dan 2 8 molekul rantai globin beta. Rantai globin alpha dan
beta adalah protein yang produksinya disandi oleh gen globin alpha dan beta
(Yuni, 2015).
Kadar hemoglobin pada setiap golongan berbeda, kadar hemoglobin
bervariasi tergantung umur dan jenis kelamin.
Tabel 2.3
Batas Normal Kadar Hemoglobin (Hb)
No. Kelompok Hemoglobin (gr/dl)
1. Bayi Baru Lahir 17-22
2. Bayi 1 Minggu 15-20
3. Bayi 1 Bulan 11-15
4. Anak-anak 11-13
5. Remaja Laki-laki 14-18
6. Remaja Putri 12-16
7. Laki-laki Dewasa 14-18
8. Wanita Dewasa 12-16
12

9. Laki-laki Paruh Baya 12,4-14,9


10, Wanita Paruh Baya 11,7-13,8
Sumber : (Yuni, 2015)
Menurut Proverawati dan Siti (2010; h.77-78) anemia
diklasifikasikan menjadi:
1) Anemia defisiensi besi sebanyak 62,3%
Anemia ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam darah. Dapat
didiagnosa melalui pemeriksaan hemoglobin, dengan ketentuan:
 Tidak anemia : Kadar hemoglobin ≥ 11 gr%.
 Anemia ringan : Kadar hemoglobin 8-10 gr%.
 Anemia berat : Kadar hemoglobin <8 gr% (Irianto, 2014).
2) Anemia megaloblastik sebanyak 29%
Anemia ini disebabkan defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12.
3) Anemia hipoplastik dan aplastik sebanyak 8%
Anemia ini disebabkan oleh sumsum tulang belakang yang kurang
mampu membuat sel-sel darah yang baru.
4) Anemia hemolitik sebanyak 0,7%
Anemia ini karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih
cepat daripada pembuatannya.
Beberapa metode pengukuran Hb yang dapat digunakan yaitu:
1) Pemeriksaan Hb dengan metode Sahli, dalam peggunaan metode ini Hb
dihidrolisis dengan HCL (asam klorida) menjadi globin ferrp-hem.
2) Pemeriksaan Hb dengan metode Cyanmethemoglobin, yaitu cara
pemeriksaan hemoglobin dengan menggunakan larutan Drabskin dan
diukur dengan alat spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu.
3) Pemeriksaan Hb dengan metode hemocue, metode ini dilakukan dengan
pengukuran optical density pada kuvet yang mempunyai kapasitas
volume sebesar 10 mikroliter oleh sinar yang berasal dari lampu berjarak
0.133 milimeter sampai pada dinding parallel celah optis tempat kuvet
berada. Prinsip system hemocue terdiri dari pembaca hemoglobin kecil
portable, dan memakai mikrocuvettes sekali pakai.
13

d) Penyebab Anemia
Beberapa jenis anemia dapat diakibatkan oleh defisiensi zat besi,
infeksi atau ganguan genetik. Yang paling sering terjadi adalah anemia yang
disebabkan oleh kekurangan asupan zat besi. Kehilangan darah yang cukup
banyak, seperti saat menstruasi, kecelakaan dan donor darah berlebihan juga
dapat menghilangkan zat besi dalam tubuh. Wanita yang mengalami
menstruasi setiap bulan berisiko menderita anemia. Kehilangan darah secara
perlahan-lahan di dalam tubuh, seperti ulserasi polip kolon dan kanker kolon
juga dapat menyebabkan anemia (Briawan, 2014).
Selain zat besi, masih ada dua jenis lagi anemia yang sering timbul
pada anak-anak dan remaja. Aplastic anemia terjadi bila sel yang
memproduksi butiran darah merah tidak dapat menjalankan tugasnya. Hal
ini dapat terjadi karena infeksi virus, radiasi, kemoterapi atau obat tertentu.
Adapun jenis berikutnya adalah haemolityc anemia, yang terjadi karena sel
darah merah hancur secara dini, lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk
memperbaharuinya. Penyebab anemia jenis ini 10 bermacam-macam, bisa
bawaan seperti talasemia atau sickle cell anemia (Adriani & Wirjatmadi,
2014).

e) Gejala Anemia
Menurut Natalia Erlina Yuni (2015) dalam bukunya yang berjudul
kelainan darah menyebutkan gejala anemia sebagai berikut: a) kulit pucat;
b) detak jantung meningkat; c) sulit bernafas; d) kurang tenaga atau cepat
lelah; e) pusing terutama saat berdiri; f) sakit kepala; g) siklus menstruasi
tidak menentu; h) lidah yang bengkak dan nyeri; i) kulit mata dan mulut
berwarna kuning; j) limpa atau hati membesar; k) penyembuhan luka atau
jaringan yang terganggu.

f) Dampak Anemia
14

Anemia memiliki dampak buruk pada kesehatan bagi penderitanya,


terutama pada golongan rawan gizi yaitu, anak balita, anak sekolah, remaja,
ibu hamil dan menyusui dan juga pekerja. Menurtut (Fikawati, Syafiq, &
Veretamala, 2017) dampak anemia sebagai beritkut:
1) Menurunkan Daya Tahan Terhadap Infeksi
Defisiensi zat besi menyebabkan menurunnya daya tahan terhadap
penyakit infeksi (Thompson & Ward, 2008) dan meningkatnya
kerentanan mengalami keracunan (Bersamin et al., 2008). Pada populasi
yang mengalami kekurangan zat besi, kematian akibat penyakit infeksi
meningkat karena kurangnya zat besi berdampak pada system imun.
2) Mengganggu Produktivitas kerja Selain itu, anemia juga berdampak pada
produktivitas kerja dan juga menyebabkan kelelahan.
3) Berdampak saat kehamilan Anemia yang terjadi pada massa hamil
berhubungan dengan kejadian BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dan
peningkatan risiko kematian ibu dan bayi perinatal. Selama kehamilan,
anemia diasosiasikan dengan peningkatan kesakitan dan kematian.
Anemia tingkat berat diketahui merupakan faktor risiko kematian ibu.
Untuk janinnya sendiri, anemia selama kehamilan dapat meningkatkan
risiko BBLR, kelahiran prematur, dan defisiensi zat besi serta anemia
pada bayi nantinya.

d) Pencegahan Anemia
Anemia dapat dicegah dengan cara:
1) Meningkatkan konsumsi makanan bergizi.
2) Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan
makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan
nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe).
3) Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung
vitamin c (daun katuk, daun singkong, bayam, jambu, tomat, jeruk dan
nenas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi
dalam usus.
15

4) Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet


Tambah Darah (TTD).
5) Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia
seperti: kecacingan, malaria, dan penyakit TBC.

2.2. Konsep Dasar Asuhan Holistik Prakonsepsi dengan Anemia Ringan


1. Pengkajian
1) Data Subjektif
a. Biodata/Identitas
 Nama : dikaji untuk mengetahui nama dan mempermudah komunikasi
 Usia : Pada wanita, umur reproduksi sehat dan aman adalah umur 20 -
35 tahun (Prawirohardjo, dkk, 2010).
Pada laki-laki, kesuburan pria ini diawali saat memasuki usia pubertas
ditandai dengan perkembangan organ reproduksi pria, rata rata umur
12 tahun. Perkembangan organ reproduksi pria mencapai keadaan
stabil umur 20 tahun. Tingkat kesuburan akan bertambah sesuai
dengan pertambahan umur dan akan mencapai puncaknya pada umur
25 tahun. Semakin tua usia seseorang maka kesuburan juga menjadi
berkurang (RSUA, 2013)
 Agama : dikaji untuk mengetahui keyakinan pasien untuk
membeimbing atau mengarahkan pasien dalam berdoa.
 Suku ; dikaji untuk mengetahui adat dan kebiasaan.
 Pendidikan : dikaji untuk mengetahui sejauh mana tingkat
intelektualnya.
 Pekerjaan : dikaji untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya karena akan berpengaruh pada pemenuhan gizi dan
kebutuhan oleh pasien.
 Alamat : dikaji untuk mempermudah hubungan jika diperlukan dalam
keadaan mendesak sehingga bidan mengetahui tempat tinggal pasien.
16

b. Alasan utama atau keluhan utama : alasan atau keluhan yang mendasari
klien datang ke fasilitas kesehatan. Biasanya keluahan pada anemia
adalah keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang.

c. Riwayat menstruasi, meliputi :


 Menarche : Usia pertama kali menstruasi
 Siklus menstruasi : Siklus menstruasi normal berkisar antara 21-35
hari.
 Lama haid : Normalnya menstruasi berlangsung 3-7 hari (Ramaiah,
2006)
 Banyak haid : banyaknya darah haid yang keluar, normalnya dengan
batasan 80 ml/hari.
 Keluhan saat haid : Umumnya mengeluh nyeri haid dismenorea
(Kusmir an, 2012)
 Flour Albus : Keputihan normal adalah tidak berbau, berwarna putih,
dan tidak gatal apabila berbau, berwarna, dan gatal dicurigai adanya
kemungkinan infeksi alat genital. (Saifuddin, 2010).
d. Riwayat Imunisasi
Skrining status imunisasi perlu dilakukan pada calon ibu terutama
imuniasai TT. Indonesia merupakan salah satu negara yang belum dapat
mengeliminasi tetanus 100% sehingga status imunisasi ibu/calon ibu
harus selalu diskrining (Kemenkes RI, 2012). Status imunisasi lain yang
perlu diskrining yaitu hepatitis B, HPV, TORCH/Rubella, dan imunisasi
penyakit lainnya yang memiliki prevalensi tinggi di daerah tempat
tinggal calon pengantin wanita dan laki-laki.
e. Riwayat Penyakit Sekarang : Penjelasan dari keluhan utama,
mendeskripsikan perkembangan gejala dari keluhan utama tersebut
dimulai saat pertama kali pasien merasakan keluhan.
f. Riwayat Penyakit Dahulu : keterangan terperinci dari semua penyakit
yang pernah dialami dan sedapat mungkin dituliskan menurut urutan
waktu.
17

g. Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat kesehatan anggota keiarga. Ada


atau tidaknya penyakit spesifik dalam keluarga, misalnya jantung,
hipertensi, diabetes dan sebagainya. (Kemenkes RI, 2017:64).
h. Riwayat sosial ekonomi : pendidikan terakhir, riwayat pekerjaan, dan
riwayat perilaku berisiko
i. Aktivitas Seksual : Adanya perilaku seksual pranikah, atau perilaku
seksual berisiko, kemungkinan terjadi kehamilan, kemungkinan
IMS/HIV, kemungkinan kekerasan seksual.
j. Pernikahan (bagi catin remaja dan catin sudah pernah menikah) : alasan
memutuskan menikah karena kehendak pribadi, keluarga atau masalah
lainnya. Bila catin sudah pernah menikah sebelumnya tambahkan data
(usia pertama kali menikah, lama menikah, jumlah anak, jarak anak, sttus
kesehatan dan riwayat penyakit pasangan sebelumnya, adanya perilaku
seksual berisiko).
k. Riwayat obstetrik (bagi catin sudah pernah menikah) : riwayat
kehamilan, persalinan, jumlah anak, bayi yang dilahirkan, keguguran,
kontrasepsi.

2) Data Objektif
a. Pemeriksaan umum
 Keadaan umum : Keadaan umumnya baik, kesadaran komposmentis
(Romauli, 2011).
 Tanda-tanda vital meliputi : Tanda-tanda vital menurut Nursalam
(2009) meliputi :
 Tekanan darah : Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi atau
hipotensi dengan nilai satuannya mmHg. Keadaan ini sebaiknya
antara 90/60 - 130/90 mmHg.
 Denyut jantung : Menilai kecepatan, irama suara jantung jelas dan
teratur. Denyut jantung normal pada orang dewasa adalah 60-80
x/menit.
 Pernafasan : Menilai sifat pernafasan dan bunyi nafas dalam 1
18

menit. Respirasi normal 16-20x/menit.


 Temperatur : Suhu tubuh normal 36,50C-37,50C

 Antopometri :
 Berat Badan (BB) : Berat Badan Sehat adalah nilai rata-rata berat
badan dari sekelompok orang yang memiliki status gizi yang
normal. Pada kelompok usia dewasa bila nilai IMT atau IMT/U
berada diantara 20.25 sampai 23.25 (Hardinsyah, Riyadi dan
Napitupulu, 2013:4)
 Tinggi Badan (TB) : Pertumbuhan tinggi/ panjang badan tidak
seperti berat badan yang relatif kurang sensitif pada masalah
kekurangan gizi pada waktu singkat. (Marmi, 2015:122)
 IMT : Indeks Masa Tubuh (IMT) merupakan proporsi standar BB
terhadap TB. IMT perlu diketahui untuk menilai status gizi catin
dalam kaitannya dengan persiapan kehamilan. (Kemenkes RI,
2017:21)
 LILA : Penapisan status gizi dilakukan dengan pengukuran
menggunakan pita LILA pada WUS untuk mengetahui adanya
risiko KEK. Ambang batas LILA pada WUS dengan risiko KEK di
Indonesia adalah 23,5 cm.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala : Mengkaji adanya kelainan bawaan atau genetik, keadaan
rambut, kulit kepala, warna dan kebersihan atau keluhan dan masalah
yang dimiliki klien. (Marmi, 2015:122)
2) Wajah : Keadaan muka pucat merupakan salah satu tanda anemia.
3) Mata : Konjungtiva penderita anemia biasanya pucat, sklera putih atau
tidak. (Marmi, 2017)
4) Hidung Bersih, tidak ada polip, tidak ada secret. (Marmi, 2017)
5) Mulut : Pada penderita anemia biasanya bibir pucat dan kurang
lembab. Bisa juga di kaji kebersihan lidah, gigi, dan ada/tidaknya
karies. (Marmi, 2017)
19

6) Telinga : Bersih, tidak ada serumen. (Marmi, 2015: 123)


7) Leher : Pembengkakan kelenjar getah bening merupakan tanda
adanya infeksi pada klien. Pembengkakan vena jugularis untuk
mengetahui adanya kelainan jantung, dan kelenjar tiroid untuk
menyingkirkan penyakit Graves dan mencegah tirotoksikosis. (Marmi,
2015: 122)
8) Ketiak : Tidak ada benjolan dan pembesaran kelenjar limfe. (Marmi,
2017)
9) Dada : dikaji irama jantung teratur/tidak, paru-paru; ada ronchi dan
wheezing atau tidak. (Marmi, 2017)
10) Payudara : Tidak terdapat benjolan/masa yang abnormal. (Marmi,
2015: 123)
11) Abdomen Menilai ada tidaknya massa abnormal dan ada tidaknya
nyeri tekan. (Marmi, 2015: 123)
12) Genitalia Tidak terdapat tanda-tanda IMS seperti bintil-bintil berisi
cairan, lecet, kutil seperti jengger ayam pada daerah vulva dan
vagina. Tidak terdapat tanda-tanda keputihan patologis. (Marmi,
2015: 123)
13) Ekstremitas Tidak ada odema, CRT < 2 detik, akral hangat,
pergerakan bebas, tidak ada varises. (Marmi, 2015: 123).
c. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Darah Rutin
 Hemoglobin
Pemeriksaan haemoglobin dilakukan untuk mendeteksi adanya
anemia dan penyakit ginjal.
 HbsAg
Peradangan hati atau hepatitis disebabkan oleh virus hepatitis,
perlemakan, parasite (malaria, ameba), alkohol, obat-obatan, dan
virus lain (dengue, herpes). Hal tersebut yang mendasari Kemenkes
memprioritaskan deteksi dini hepatitis B pada ibu hamil terutama
20

pada remaja dengan persiapan kehamilan setelah menikah.


(Kemenkes RI, 2017:2)

 Sifilis
Sifilis merupakan salah satu IMS (infeksi menular seksual) yang
menimbulkan kondisi cukup parah misalnya infeksi otak
(neurosifilis), kecacatan tubuh (guma). Pada asuhan pra nikah
dianjurkan untuk pemeriksaan sifilis mengingat akan persiapan
kehamilan nantinya. (Kemenkes RI, 2013:1).
 HIV/AIDS
Langkah dini yang paling efektif untuk mencegah terjadinya
penularan HIV pada bayi adalah dengan mencegah perempuan usia
reproduksi tertular HIV. Komponen ini dapat juga dinamakan
pencegahan primer. Dengan demikian, penularan HIV dari ibu ke
bayi dijamin bisa dicegah. (Kemenkes RI, 2015:9).
 Golongan Darah dan Rhesus
Pemeriksaan Golongan darah dan rhesus bertujuan menghindari
komplikasi fatal saat transfusi darah, yaitu penghancuran sel darah
(hemolisis). Penghancuran sel darah ini dapat menyebabkan
anemia, gagal ginjal, gangguan paruparu, hingga syok anafilaktik.
(Kemenkes RI, 2017:77).
2) Pemeriksaan Darah yang Dianjurkan
 Gula Darah
Sewaktu Pemeriksaan gula darah perlu dilakukan oleh pasangan
apalagi jika ada riwayat diabetes dalam keluarga. Pemeriksaan
tersebut diperlukan untuk mencegah dan komplikasi yang
disebabkan oleh diabetes. Terutama ketika nanti hamil, wanita
dengan risiko diabetes otomatis kan turut membahayakan janin
yang dikandung. (Kemenkes RI, 2017:80-81).
21

 TORCH (Toksoplasmosis, Rubella, Citomegalovirus, dan Herpes)


TORCH adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
Toksoplasma Gondii, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan
Herpes Simplex Virus II (HSV-II). TORCH dapa menimbulka
masalah kesuburan (fertilitas) baik pada perempuan maupun laki-
laki sehingga menyebabkan sulit terjadinya kehamilan, kecacatan
janin, dan resiko keguguran. (Kemenkes RI, 2017:82).

2. Langkah II : Interpretasi data dasar


Data dasar yang sudah dikumpulkan, diinterpretasikan sehingga dirumuskan
diagnosa, masalah dan kebutuhan.
a. Diagnosa kebidanan
Diagnosa kebidanan adalah diagnosis bidan dalam lingkup praktik kebidanan
dan memenuhi standar nomenklatur diagnosis kebidanan (Yulifah dan
Surachmindari, 2014). Diagnosa kebidanan dalam kasus ini adalah :
Nn .... Pasangan Catin umur .. tahun dengan ............
b. Masalah
Masalah adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman klien yang
ditemukan dari hasil pengkajian yang menyertai diagnosis (Yulifah dan
Surachmindari, 2014).
c. Kebutuhan
Kebutuhan adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum
terindentifikasi dalam diagnosis dan masalah yang didapatkan dengan
melakukan analisis data (Yulifah dan Surachmindari, 2014).

3. Langkah III : Diagnosa Potensial


Pada langkah ini diagnosa merupakan tindakan segera yang dapat
menimbulkan kegawatdaruratan pada klien (Yulifah dan Surachmindari, 2014).

4. Langkah IV : Antisipasi
Langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen
22

kebidanan. Data-data terbaru senantiasa dikumpulkan dan dievaluasi. Sebagian


data menunjukkan satu situasi yang memerlukan tindakan segera. Sementara yang
lain harus menunggu dari seorang dokter, situasi lainya bisa saja tidak merupakan
kegawatdaruratan tetapi memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter
atau tim kesehatan lainya (Yulifah dan Surachmindari, 2014).
5. Langkah V : Rencana tindakan
Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah
teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan, tetapi
juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut (Yulifah dan
Surachmindari, 2014).
1. Jalin Komunikasi Interpersonal
Rasional : membangun komunikasi yang baik dengan pasien sehingga
pasien dapat dengan nyaman terbuka kepada petugas.
2. Beritahu pasien tentang hasil pemeriksaan
Rasional : agar pasien dapat mengetahui kondisinya saat ini
3. Berikan penjelasan kepada pasien tentang keluhan yang klien rasakan
Rasional : agar klien mengetahui penyebab dari keluhan yang dirasakan
sehingga pasien tidak terlalu cemas
4. Jelaskan hasil pemeriksaan SRQ-20
Rasional : untuk mengetahui apakah ada gangguan psikososial pada calon
pengantin
5. Jelaskan tentang pentingnya Gizi
Rasional : agar calon pengantin dapat mengetahui tentan makanan yang
bergizi dan kebutuhan nutrusu yang tepat bagi persiapan kehamilan,
pencegaan anemia dan KEK
6. Jelaskan tentang pemberian imunisasi TT
Rasional : Agar calon pengantin dapat mengerti manfaat pemberian
imunisasi TT
7. Jelaskan tentang bahaya merokok
Rasional : agar calon pengantin dapat mengetahui dampak merokok bagi
persiapan kehamilan, tidak hanya bagi wanita namun juga bagi pria
23

8. Kolaborasi dengan dokter untuk penangan dan pemberian terapi


Rasional : agara mendapat penangan secara cepat dan tepat untuk
menangani keluhan yang dirasakan
9. Memberikan KIE tentang Kesetaraan Gender dan Kesehatan Reproduksi
Rasional : agar calon pengantin dapat mengerti tentang kesetaraan gender
dalam membangun sebuah rumah tangga, dan mengerti tentang pentingnya
kesehatan reprosuksi sebagai awal persiapan rencana kehamilan

6. Langkah VI : Pelaksanaan
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan menyeluruh
seperti diuraikan pada langkah kelima secara efisien dan aman. Pelaksanaan
asuhan disesuaikan dengan rencana tindakan (Yulifah dan Surachmindari, 2014).

7. Langkah VII : Evaluasi


Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah
dilakukan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali
proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah
dilaksanakan tapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum
terlaksana (Yulifah dan Surachmindari, 2014).
BAB 3

TINJAUAN KASUS

3.1. Pengkajian
Tanggal Pengkajian : 13 Oktober 2020
Pukul : 10.00 WIB
Oleh : Fitria Nathalia Maria Ke

1.1. Data Subyektif


1.1.1. Biodata
Nama : Nn. S
Umur : 21 Tahun
Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Wonokromo
Nomor Telepon : 08574608xxxx

1.1.2. Keluhan Utama/Alasan berkunjung :


Pasien datang ke puskesmas dengan mendapat pengantar dari KUA
untuk melakukan pemeriksaan kesehatan persiapan pranikah

1.1.3. Riwayat menstruasi :


Menarche : 13 Tahun
Siklus : 28 Hari, Teratur
Lama haid : ± 7 Hari (Sekarang haid hari ke 4)
Volume : 2-3 Pembalut/hari
Disminorhea : Hari pertama menstruasi
Flour Albus : Ya, kadang-kadang sebelum mentruasi,

24
25

tidak gatal, berwarna putih bening, dan


tidak berbau.

1.1.4. Riwayat penyakit sekarang : Nn. S tidak memiliki riwayat penyakit


menurun (Hipertensi, Diabetes Melitus), menular (HIV/AIDS, IMS),
bahkan menahun (Penyakit Jantung dan Ginjal).

1.1.5. Riwayat penyakit dahulu : Nn. S tidak pernah mengalami penyakit


menurun, menular bahkan menahun.

1.1.6. Riwayat penyakit keluarga : Ibu dari Nn. S memiliki riwayat


penyakit darah tinggi.

1.1.7. Riwayat sosial ekonomi : Nn. S bekerja swasta dengan penghasilan


±1.500.000-2.000.000/bulan.

1.1.8. Aktivitas yang Mempengaruhi kesehatan/berisiko : Nn. S tidak


pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, tidak
merokok, tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak
menggunakan Narkoba.

1.1.9. Pola Kebiasaan sehari-hari


 Nutrisi : Makan 3x/hari, porsi sedang (Nn. S hanya menyukai
sayur tertentu, seperti kubis, wortel dan kangkung), minum ±
6-7 gelas/hari.
 Aktivitas sehari-hari : Nn. S berangkat kerja jam 06.00 WIB
dan pulang jam 17.00 WIB.
 Istirahat : Nn. S Jarang tidur siang, tidur malam ±6-7 jam
 Personal Hygiene : Mandi 2x/hari, ganti pakaian 2-3x/hari
26

1.1.10. Keadaan Psiko, Sosio, dan Spiritual : Keluarga mendukung


pernikahan. Nn. S mengatakan Sudah siap secara mental untuk
menikah.

1.1.11. Riwayat Pernikahan : Nn. S akan menikah tanggal 10 November


2020 dan merupakan pernikahan pertama.

1.2. Data Obyektif


1.2.1. Keadaan Umum
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 90/70 mmHg
Suhu : 36,8oC
Nadi : 79 x/menit
Respirasi : 19x/menit

Antropometri
Berat Badan : 52 Kg
Tinggi Badan : 154 Cm
IMT : 21,94 kg/m2
LILA : 25 cm

1.2.2. Pemeriksaan Fisik


Wajah : Tidak Bengkak, agak pucat
Mata : Sklera putih, konjungtiva agak pucat
Mulut : Tidak ada karies pada gigi, bibir agak pucat
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid,
kelenjar limfe dan vena jugularis
Dada : Tidak dilakukan
Abdomen : Tidak dilakukan
Genetalia : Tidak dilakukan
27

Ekstremitas : Normal, tidak ada gangguan pergerakan

1.2.3. Program therapi yang diperoleh : Tablet Fe dan Vitamin

1.2.4. Status TT : TT5 (Sehingga Tidak diberikan suntikan TT)

1.2.5. Data Penunjang


- Laboratorium :
 Hb : 10 gr/dl (12,0-16,0)
 Golongan Darah/Reshus : O/+
 HbSAg : NR
 HIV : NR
 IMS : NR
 WBC : 9.0 10’3/uL (3,2-10,0)
 RBC : 4,31 10’6/uL (3,80-5,00)
 MCV : 65 fl (80,0-100,0)
 Thalasemia <13 : dari perhitungan antara MCV dan RBC
menggunakan rumus Mentzer index, didapatkan hasil 15,08
sehingga dapat disimpulan bahwa Nn. S tidak mengalami
Thalasemia.
- Screening SRQ-20 : 3

3.2. Analisa Data


a. Diagnosa Kebidanan
Nn. S Calon Pengantin Usia 21 Tahun dengan Anemia Ringan
Data Dasar :
 Data Subjektif : Nn. S Usia 21 Tahun
 Data Objektif : Hb 10 g/dL, muka agak pucat, konjungtiva mata
agak pucat, bibir agak pucat
28

[Link]
Anemia Ringan
c. Kebutuhan
Pemberian KIE tentang Gizi Seimbang

3.3. Diagnosa Potensial


Apabila tidak dilakukan penanganan secara cepat dan tepat maka Anemia
Ringan yang dialami oleh Nn. S akan menjadi Anemia Berat.

3.4. Antispasi Masalah


Pemberian terapi berupa Vitamin dan tablet tambah darah oleh dokter
3.5. Rencana Tindakan (Intervensi )
Rencana asuhan dilakukan secara mandiri dan kolaborasi dengan ahli gizi
dan dokter umum.
1. Jalin Komunikasi Interpersonal
Rasional : membangun komunikasi yang baik dengan pasien sehingga
pasien dapat dengan nyaman terbuka kepada petugas.
2. Beritahu pasien tentang hasil pemeriksaan
Rasional : agar pasien dapat mengetahui kondisinya saat ini
3. Jelaskan hasil pemeriksaan SRQ-20
Rasional : untuk mengetahui apakah ada gangguan psikososial pada klien
4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian KIE tentang pentingnya Gizi
seimbang
Rasional : agar Klien dapat mengetahui tentan makanan yang bergizi dan
kebutuhan nutrisu yang tepat bagi pencegaan anemia
5. Jelaskan tentang pemberian imunisasi TT
Rasional : Agar klien dapat mengerti manfaat pemberian imunisasi TT
6. Kolaborasi dengan dokter untuk penangan dan pemberian terapi
Rasional : agar klien mendapat penangan secara cepat dan tepat untuk
menangani keluhan yang dirasakan
7. Memberikan KIE tentang Kesehatan Reproduksi
29

Rasional : agar Nn. S dapat mengerti tentang pentingnya kesehatan


reprosuksi sebagai awal persiapan rencana kehamilan

3.6. Penatalaksanaan (Implementasi)

No Hari/
Implementasi TTD
. Tanggal
1. Selasa, (10.15)Melakukan komunikasi interpersonal dengan
13-10-2020 Klien
e/ Nn. S kooperatif menjawab pertanyaan
yang diberikan
(10.17)Memberitahu tentang hasil pemeriksaan, dan
menjelaskan hasil SRQ-20.
e/ Nn. S mengetahui kondisinya saat ini (hasil
pemeriksaan terlampir)
(10.18)Menjelaskan kepada Nn. S bahwa dari hasil
pemeriksaan di dapatkan hasil pengukuran Hb
yang rendah sehingga termasuk dalam
kategori anemia ringan, serta menjelaskan
penyebab penyebab anemia.
e/ Nn. S mengerti dan dapat menjawab
pertanyaan yang diberikan
(10.19)Kolaborasi dengan petugas Gizi untuk
memberikan KIE kepada pasangan Catin
tentang Gizi seimbang, pentingnya
mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung protein dan zat besi, sayur-
sayuran dan makanan yang banyak
mengandung B12 untuk mencegah anemia
serta pentingnya nutrisi dengan gizi seimbang
untuk persiapan kehamilan.
e/ Nn. S bisa mengulang apa yang telah
30

dijelaskan.
(10.20)Melakukan kolaborasi dengan dokter umum
untuk pemberian terapi berupa tablet Fe dan
Vitamin
e/ Nn. S sudah mendapatkan terapi tambah
darah dan vitamin dosis 1 x 1 selama 1
bulan
(10.21)Memberitahu Nn. S bahwa pemberian
imunisasi TT tidak perlu diberikan lagi,
karena sesuai screening TT, Nn. S sudah
mendapatkan kekebalan seumur hidup (TT5).
e/ Nn. S mengerti penjelasan petugas bahwa
dirinya sudah termasuk CPW yang long
live TT5
(10.22)Memberikan KIE tentang Kesehatan
reproduksi (proses, fungsi dan perilaku
reproduksi yang sehat dan aman).
e/ Nn. S mengerti penjelasan petugas dan
dapat menyebutkan kembali apa yang
sudah dijelaskan
(10.23)Nn. S pulang
BAB 4
PEMBAHASAN

Dari hasil pengkajian data subjektif, didapatkan bahwa Nn. S datang ke


puskesmas untuk memeriksakan kesehatan sebagai syarat pengajuan pernikahan
di KUA. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium didapatkan bahwa Hb dari
Nn. S yaitu 10 g/dl, hasil pemeriksaan fisik didapatkan muka agak pucat,
konjungtiva agak pucat dan bibir agak pucat. Hal ini mengindikasi Nn. S
mengalami anemia dengan kategori ringan. Hasil ini sejalan dengan teori yang
sudah di paparkan. Dalam kaitan dengan persiapan calon pengantin, anemia perlu
mendapat penanganan yang cepat untuk mempersiapkan calon ibu yang sehat
untuk mengahasilkan janin yang sehat pula. Apa bila anemia dibiarkan di saat
sebelum hamil maka akan memberikan dampak yang tidak baik bagi kesehatan
ibu maupun janin yang dikandung. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Widianti (2017) dengan judul "Hubungan Anemia Defisiensi Besi Pada Ibu Hamil
Dengan Kejadian Abortus Di Ruangan Kasuari Rumah Sakit Umum Anutapura
Palu” didapatkan hasil bahwa dari 60,8% ibu hamil yang anemia mengalami
abortus. Selain itu, anemia pada ibu hamil juga dapat menyebabkan BBLR,
kelahiran dengan anemia, cacat bawaan, mudah terserang infeksi hingga dapat
menyebakan kematian pada janin. Dampak pada ibu seperti, perdarahan
persalinan, partus lama (Manuaba, 2010).
Untuk itu, salah satu kewenangan bidan berdasarkan Permenkes RI Nomor
28 Tahun 2017 adalah memberikan pelayanan kesehatan pada masa sebelum
hamil. Hal ini menjadi sangat penting karena bermanfaat dalam menyiapkan
fungsi reproduksi khususnya kehamilan, seperti pemberian KIE tentang Gizi
seimbang, kesehatan reproduksi dan pemeriksaan lainnya guna mempersiapkan
calon pengantin wanita untuk menghasilan janin yang sehat, sesuai dengan jadwal
penyuluhan/konseling pranikah adalah untuk menyiapkan calon pengantin yang
sehat baik fisik maupun mental sehingga bisa mencetak generasi penerus yang
sehat pula. Selain itu untuk menyiapkan pasangan yang sehat dan bahagia dengan
mempersiapkan kehamilan dengan baik dari segi fisik, mental dan finansial.

31
32

Pasangan yang mengalami suatu masalah kesehatan/psikologis akan


dilakukan pendampingan dari petugas 1000 HPK dari petugas sesuai wilayah
kerjanya. Pendampingan tersebut mulai dari calon pengantin sampai pasangan
tersebut menikah dan mempunyai anak usia 2 tahun. Dilakukan pemantauan dan
kunjungan secara berkala, dilaporkan hasil pemeriksaan dan kunjungan untuk
segera dilakukan tindak lanjut dan penangan secepatnya bila ada
kelainan/penyimpangan yang terjadi. Program pendampingan 1000 HPK ini
merupakan salah satu tujuan kegiatan yang dilakukan untuk menurunkan angka
kematian ibu dan bayi khususnya di wilayah surabaya.
Anemia yang ringan merupakan masalah jika calon pengantin wanita
tersebut hamil. Karena pada saat kehamilan membutuhkan kondisi yang sehat
untuk ibu dan bayinya, karena bayi membutuhkan asupan nutrisi dari ibunya
melalui tali pusat. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu mengalami
hemodelusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30% sampai 40% sampai
34 minggu (Manuaba, 2010). Sehingga apa bila, anemia yang ringan sebelum
hamil tidak mendapatkan penangan yang cepat dan tepat maka bisa menjadi
anemia yang berat saat setelah ibu menikah dan hamil dan akan mempenagruhi
keadaan ibu dan janin yang dikandung.
BAB 5
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Kata dasar dari pranikah ialah "nikah” yang merupakan ikatan (akad)
perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum danajaran
agama. Imbuhan kata pra yang memiliki makna sebelum, sehingga arti dari
pranikah adalah sebelum menikah atau sebelum adanyanya ikatan
perkawinan (lahir batin) antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri
(Setiawan, 2017).
2. Anemia gizi besi adalah anemia yang timbul karena kekurangan zat besi
sehingga pembentukan sel-sel darah merah dan fungsi lain dalam tubuh
terganggu (Adriani & Wijatmadi, 2012).
3. Pemeriksaan pranikah perlu dilakukan untuk menghasilkan pasangan yang
sehat dan generasi yang juga sehat.

5.2. Saran
Diharapkan bagi semua Calon pengantin untuk memeriksakan kesehatan
pranikah, sehingga dapat mencegah dan mendapat penanganan yang cepat dan
tepat untuk masalah kesehatan yang ada sehingga tidak akan mempengaruhi
kesehatan setelah menikah. Bagi tenaga kesehatan, program penyuluhan catin
perlu terus dilakukan sehingga setiap pasangan yang akan menikah menjadi sadar
akan pentingnya persiapan pranikah yang akan mempenagruhi masa sesudah
menikah dan mempersiapkan ibu yang sehat untuk menghasilkan generasi yang
sehat.

33
34

DAFTAR PUSTAKA

Paratmanitya, Y., Hadi., & Susetyowati. (2012). Citra Tubuh, Asupan Makanan
dan Status Gizi Wanita Usia Subur. Jurnal Gizi Klinik Indonesia

World Health Organization. The Global Prevalence Of Anaemia In 2011. Geneva:


World Health Organization, 2015.

Fikawati, S., Syafiq, A., & Veratamala, A. (2017). Gizi Anak dan Remaja. Depok:
PT. RajaGrafindo Persada.

Natalia Erlina Yuni. Kelainan Darah [Internet]. Kota Gede Yogyakarta; 2017.
Available from: [Link]

Briawan D. Anemia: Masalah Gizi pada Remaja Wanita. Jakarta: EGC; 2014.

Adriani dan Wirjatmadi. 2012. Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan. Kencana.


Jakarta.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 Tentang


Penyelenggaraan Imunisasi.

Aris, Setiawan. (2018). Jurnal EFEKTIVITAS KURSUS CALON PENGANTIN


(Studi Kasus di Kantor Urusan Agama Metro Selatan dan Metro
Pusat).
35

Lampiran

Self-Reporting Questionnaire (SRQ-20)

Nama : Nn. S Tanggal : 13/10/2020


Alamat : Wonokromo Telepon/Hp : 08574608xxxx
Petunjuk : bacalah petunjuk ini seluruhnya sebelum mulai mengisi. Pertanyaan
berikut berhubungan dengan masalah yang mungkin mengganggu Anda selama
30 hari terakhir. Apabila Anda menganggap pertanyaan itu berarti bagi Anda
dan Anda mengalami masalah yang disebabkan dalam 30 hari terakhir, berilah
tanda pada kolom Y. Sebaliknya, Apabila Anda menganggap pertanyaan itu tidak
berlaku bagi Anda dan Anda tidak mengalami masalah yang disebutkan dalam 30
hari terakhir, berilah tanda pada kolom T. Jika Anda tidak yakin tentang
jawabannya, berilah jawaban yang paling sesuai di antara Y dan T, kami tegaskan
bahwa, jawaban Anda bersifat rahasia, dan akan digunakan hanya untuk
membantu pemecahan masalah Anda.
No. Y T
1. Apakah Anda sering menderita sakit kepala ? T
2. Apakah Anda kehilangan nafsu makan ? T
3. Apakah tidur Anda tidak lelap ? Y
4. Apakah Anda mudah menjadi takut ? T
5. Apakah Anda merasa cemas, tegang dan T
khawatir ?
6. Apakah tangan Anda gemetar ? T
7. Apakah Anda mengalami gangguan T
pencernaan ?

8. Apakah Anda merasa sulit berpikir jernih ? Y


9. Apakah Anda merasa tidak bahagia ? T
10. Apakah Anda lebih sering menangis ? T
11. Apakah Anda sulit untuk menikmati aktivitas T
sehari-hari ?
12. Apakah Anda mengalami kesulitan untuk T
mengambil keputusan ?
13. Apakath aktivitas/tugas sehari-hari Anda T
terbengkalai ?
14. Apakah Anda merasa tidak mampu berperan T
dalam kehidupan ini ?
15. Apakah Anda kehilangan minat terhadap T
banyak hal ?
16. Apakah Anda merasa tidak berharga ? T
17. Apakah Anda mempunya pikiran untuk T
mengakiri hidup Anda ?
36

18. Apakah Anda merasa lelah sepanjang waktu ? T


19. Apakah Anda merasa tidak enak di perut ? T
20. Apakah Anda mudah lelah ? Y

Hasil Y : 3
Interpretasi :
a. Tidak terdapat nilai cut off yang universal yang dapat digunakan
b. Dalam kebanyakan situasi 5 sampai 7 jawaban Ya pada no 1-20 (gejala
neurosis) mengindikasikan adanya masalah psikologis, perlu dirujuk untuk
mendapatkan pelayanan bagi masalah psikologisnya.

Anda mungkin juga menyukai