Mazhab Sosiologi Hukum: Analisis dan Pengertian
Mazhab Sosiologi Hukum: Analisis dan Pengertian
Penyusun
Kelas 2f
Agus Supriadi
Alda Srimaulia
Alvin Hernanda
Amanda Natasya Putri Munthe
Anisa Fahlevi
Dinda Agusina Harahap
May Rista Melani
M. Aridiansyah Putra Sinaga
Wara Kumayan
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
T.A 2020/2021
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum wr. wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayatnya sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Mazhab-Mazhab Sosiologi ini tepat pada
waktunya. Saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Albert Al-Fikri yang membimbing pada
mata pelajaran Sosiologi Hukum. Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna,
oleh karena itu kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kesempurnaan makalah
ini.
Salam Penulis
2
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR....................................................................................................................................2
DAFTAR ISI......................................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah...........................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah........................................................................................................4
1.3. Tujuan.......................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian, Ruang lingkup dan Obyek Sosiologi Hukum.......................................5
2.2. Karakteristik dan Manfaat Sosiologi Hukum .............................................................9
2.3. Mazhab/Aliran Yang Mempengaruhi Terbentuknya Sosiologi Hukum......................11
BAB III PENUTUP
3.1.Kesimpulan.....................................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................................17
Salam Penulis
3
BAB I
PENDAHULUAN
Istilah Sosiologi Hukum adalah Anzilotti pada tahun 1882. Waktu lahirnya, Sosiologi
Hukum dipengaruhi oleh Disiplin (ilmu), yaitu : Filsafat Hukum, Ilmu Hukum dan Sosiologi yang
orientasinya hukum. Berkembangnya berbagai aliran dalam filsafat hukum menunjukkan pemikiran
yang tidak henti-hentinya dalam ilmu hukum. Dengan mengetahui pemikiran-pemikiran tersebut
kita banyak mendapat masukan yang sekaligus menghargai pendapat orang lain adalah hal yang
wajar dalam tataran ilmiah suatu pemikiriran pada saat tertentu tidak sesuai dengan zamannya, dan
segera disangkal oleh pemikiran berikutnya. Namun demikian, pemikiran yang lama tetaplah
menjadi suatu karya yang berharga untuk dikaji terus-menerus, dan tidak menutup kemungkinan
suatu saat nanti pemikiran lama tersebut tampil kedepan dengan wajah barunya.
B. Pengertian Mahzab
Aliran atau mazhab adalah sebuah keyakinan tentang sesuatu yang dinilai baik ataupun yang
dinilai sebuah gagasan yang sudah nyaris sempurna atau bisa dibilang terbaik.
1.3. Tujuan
Untuk memenuhi tugas pada mata pelajaran Sosiologi Hukum. Agar kita mengetahui
mazhab-mazhab dalam sosiologi hukum, lebih mengetahui semua hal mengenai sosiologi hukum
dan filsafat/ Alirannya. Serta lebih peka terhadap kondisi dalam fenomena lingkungan sekitar kita.
4
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian, Ruang Lingkup dan Obyek Sosiologi Hukum Dari sudut sejarah, sosiologi
hukum untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh seorang Itali yang bernama Anzilotti pada tahun
1882. Sosiologi hukum pada hakekatnya lahir dari hasil-hasil pemikiran para ahli, baik di bidang
filsafat hukum, ilmu maupun sosiologi. Hasil-hasil pemikiran tersebut tidak saja berasal dari
individu-individu tetapi mungkin juga berasal dari mazhab-mazhab atau aliran-aliran yang mewakili
sekelompok ahli pemikir yang secara garis besar mempunyai pendapat yang berbeda. Ilmu ini
diarahkan untuk menjelaskan hukum positif yang berlaku (artinya isi dan bentuknya yang berubah-
ubah menurut waktu dan tempat) dengan bantuan faktor-faktor kemasyarakatan.
Dapat diketahui bahwa apa yang menjadi perhatian sosiologi hukum bukanlah peraturan
yang mengandung muatan abstrak dan stereotip, melainkan apa yang di amati dalam kenyataan.
Dengan demikian, hukum adalah hukum bukan karena peraturannya mengatakan demikian,
melainkan karena teramati dalam kenyataan. Dalam istilah Black, maka yang teramati dalam
kenyataan adalah struktur sosial. Pada waktu Stewart Macaulay melakukan penelitian sosiologis
terhadap kontrak dalam dunia bisnis di Amerika, maka struktur sosial tersebut adalah hal-hal yang
senyatanya dilakukan oleh para pengusaha Amerika apabila memasuki hubungan kontrak.
Dalam sosiologi hukum, disebabkan oleh perhatian terhadap struktur sosial tersebut, maka
hukum juga tidak memiliki lingkup universal, melainkan variabel, seperti latar belakang sosial dan
ekonomi, kedudukan dalam masyarakat, juga etnis dan ras. Berbeda halnya dengan ilmu hukum
normatif yang memandang hukum dalam hukum itu sendiri (apa yang tertuang dalam peraturan).
Eksponen dari aliran positivisme Joh Austin, mengatakan “the study of the nature should be a study
of law as it actually exists in a legal system, and not of law as it ought to be on moral ground”
(bahwa studi tentang sifat hukum seharusnya merupakan studi tentang hukum yang benarbenar
terdapat dalam sistem hukum, dan bukan hukum yang seharusnya ada dalam norma-norma moral).
Sedangkan sosiologi hukum memandang hukum dari luar hukum.
Sosiologi hukum mencoba untuk memperlakukan sistem hukum dari sudut pandang ilmu
sosial. Pada dasarnya sosiologi hukum berpendapat bahwa hukum hanyalah salah satu dari banyak
sistem sosial dan bahwa justru sistem Satjipto Rahardjo, 2010, Sosiologi Hukum Perkembangan
Metode dan Pilihan Masalah, Genta Publishing, Yogyakarta, (Selanjutnya disingkat Satjipto
Rahardjo I), Satjipto Rahardjo I, sistem sosial lain yang terdapat di dalam masyarakat memberi arti
dan pengaruh terhadap hukum. Menurut Achmad Ali, yang mengutip dari Friedman, sosiologi
hukum beranjak dari asumsi dasar “...The people who make, apply, or use the law are human being.
Their behavoir is social behavior. Yet, the study of law has proceeded in relative isolation from
other studies in the social sciences...”. Asumsi dasar tersebut beranggapan bahwa orang yang
membuat, yang menerapkan, atau yang menggunakan hukum adalah manusia. Perilaku mereka
adalah perilaku sosial.
Kajian hukum secara relatif telah memisahkan diri dari studistudi lain di dalam ilmu sosial.
Selanjutnya, Achmad Ali mengatakan bahwa dengan menggunakan pandangan-pandangan
sosiologi terhadap hukum, kita akan menghilangkan kecenderungan untuk senantiasa
mengidentikkan hukum sebagai undang-undang belaka (seperti yang dianut oleh kalangan kaum
positivistis atau legalistis).
5
Sosiologi hukum merupakan teori tentang hubungan antara kaidah hukum dan kenyataan
kemasyarakatan. Hubungan hukum dapat dipelajari dengan dua cara yaitu :
1. Menjelaskan kaidah hukum dari sudut kenyataan kemasyarakatan
2. Menjelaskan kenyataan kemasyarakat dari sudut kaidah hukum
Sebelum memberikan definisi atas sosiologi hukum, perlu diketahui terlebih dahulu
perbedaan antara sociology of the law dengan sociology in the law, Disamping itu kita juga
membedakannya dengan sociological jurisprudence. Harry C. Bredemeir dalam tulisannya yang
berjudul Law as an intregative mechanism, berpendapat seperti di bawah ini : “It is important to
distinguish between two kinds of enterprises relating sociology and law : one is denoted by the
phrase sociology of the law, the other by sociology in the law, Yesmil Anwar dan Adang, Op.Cit,
Yesmil Anwar dan Adang, Op.Cit, H. Salim, 2010, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, Cet. Kepertama, the first make ‘the law’ a focus of sociological
investigation in the same way that ‘small groups’ and voting are foci. The goal here is either to
describe the significance of the law for the large society or to describe its internal processes or both.
The second aims to facilitate the law’s performance of its functions by adding sociological
knowledge to its stock of tools. Cleary, the second aim defends on the first : there can be no
sociological knowledge that is useful to the law until there is sociological knowledge about the
functions of the law and mechanism of performing those functions. For that reason, in the first part
of this paper I set out an analysis of the functions of the law vand their relationships to other
functional subsystem of the society. I then discuss some of the salient lines of research in sociology
of the law suggested by that analysis and the place of sociology in the law”.
Menurut Bredemeire, sangatlah penting untuk membedakan antara dua jenis usaha yang
menghubungkan antara sosiologi dan hukum. Yang pertama ditunjukkan dengan istilah sosiologi
tentang hukum, sedang yang kedua ditunjukkan dengan istilah sosiologi dalam hukum. Yang
pertama menjadikan hukum sebagai fokus dari investigasi yang bersifat sosiologis dengan
menjadikan kelompok-kelompok kecil dan voting sebagai fokusnya. Tujuannya di sini adalah untuk
menggambarkan arti penting dari hukum terhadap masyarakat yang lebih luas, atau untuk
menggambarkan proses-proses internalnya atau keduanya. Yang kedua (sosiologi di dalam hukum),
adalah memfasilitasi pelaksanaan hukum dari fungsi-fungsinya. Tujuan yang kedua tergantung dari
yang pertama. Dalam hal ini, pengetahuan sosiologis yang digunakan adalah pengetahuan
sosiologis tentang berbagai fungsi hukum dan mekanisme pelaksanaan fungsi tersebut. Dengan
alasan itulah dalam bagian pertama, Bredemeire mengungkapkan suatu analisis terhadap fungsi-
fungsi hukum dan hubungannya dengan subsistem fungsional lain dari masyarakat. Ia kemudian
membahas beberapa garis penting dari riset dalam sosiologi hukum yang menjadi penekanan
analisis dan kedudukan sosiologi dalam hukum. Yesmil Anwar dan Adang, Loc.Cit , Yesmil Anwar
dan Adang, Op.Cit, Meuwissen juga mengemukakan pandangan tentang sosiologi hukum. Ia
berpendapat bahwa sosiologi hukum menjelaskan hukum positif yang berlaku (artinya isi dan
bentuknya yang berubah-ubah menurut waktu dan tempat) dengan bantuan faktor kemasyarakatan.
Alvin S Johnson mengemukakan bahwa sosiologi hukum adalah bagian dari sosiologi jiwa
manusia, yang menelaah sepenuhnya realitas sosial hukum dimulai dari hal-hal yang nyata, seperti
observasi perwujudan lahirlah dalam kebiasaan-kebiasaan kolektif yang efektif (organisasi-
organisasi yang baku, adat istiadat sehari-hari dan tradisitradisi atau kebiasaan inovatif) dan juga
dalam materi dasarnya (struktur ruang dan kepadatan lembaga-lembaga hukumnya secara
demografis). Gurvitch mengemukakan sosiologi hukum adalah bagian dari sosiologi sukma
manusia yang menelaah kenyataan sosial sepenuhnya dari hukum, diawali dengan pernyataan yang
konkrit yang dapat diperiksa dari luar, dalam kelakuan kolektif yang efektif dalam dasar materinya.
Sosiologi hukum menafsirkan kelakuan dan manifestasi material hukum menurut makna
batinnya, seraya mengilhami dan meresapi, sementara itupun untuk sebagian dirubahnya.
Selanjutnya Gurvitch membedakan sosiologi hukum atas beberapa bentuk dengan menggunakan
ukuran ruang lingkup masalah yang dicakup :
6
1. Masalah sosiologi hukum sistematik (sistematic sociology of law), yang menelaah hubungan
antara bentuk kemasyarakatan (forms of sociality) dengan jenis hukum (kinds of law)
2. Masalah sosiologi hukum diferensial, yang menelaah manifestasi hukum sebagai suatu fungsi
satuan kolektif yang nyata
3. Masalah sosiologi hukum genetik yang menelaah keteraturan sebagai tendensi dan faktor-faktor
dari perubahan, perkembangan dan keutuhan hukum dalam satu type masyarakat tertentu. H. Salim,
Op.Cit, Yesmil Anwar dan Adang, Op.Cit, Khairuddin, 1991, Sosiologi Hukum, Sinar Grafika,
Jakarta, Cet. Kepertama, dalam kajian sosiologi hukum, Soetandyo Wignyosoebroto
mengemukakan bahwa dalam kajian-kajian sosiologis, perbincangan mengenai kontrol sosial itu
amat erat sangkut pautnya dengan persoalan sosialisasi.
Sosialisasi adalah suatu proses untuk menjadikan insaninsan sosial menjadi sadar akan
adanya kaidah-kaidah dan dengannya menjadikan insan-insan ini sanggup menaati sepenuh hati (to
obey), atau setidak-tidaknya menyesuaikan perilakunya (to conform) dengan ketentuan kaidah-
kaidah itu. Apa yang dikemukakan oleh Soetandyo tersebut, akan lebih jelas apabila kita menyimak
apa yang diungkapkan oleh seorang bapak ilmu sosiologi hukum Roscoe Pound. Ia mengungkapkan
bahwa “The main problem to which sociological jurists are addressing themselves today is to enable
and to compel law making and also interpretation and application of legal rules, to make more
account and more intelligent account of the social fact upon which law must proceed and to which it
is to be applied..”, Pound, memandang bahwa problem utama yang dewasa ini menjadi perhatian
dari para praktisi sosiologi hukum adalah bagaimana mendorong pembuat hukum menafsirkan dan
menerapkan aturanaturan hukum yang lebih mengacu pada fakta-fakta sosial, hukum tersebut
diterapkan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sosiologi hukum adalah cabang kajian
sosiologi. Sebagai cabang kajian sosiologi, sosiologi hukum banyak memusatkan perhatiannya pada
ihwal hukum, sebagaimana terwujud dari pengalaman kehidupan bermasyarakat sehari-hari.
Berbeda dengan kajian-kajian ilmu hukum murni yang sering disebut dengan Jurisprudence
(Inggris) atau Reine Rechtslehre (Jerman). Sosiologi hukum tidak hendak membatasi kajian-kajian
pada ikhwal kandungan normatif peraturan perundangan berikut sistematikanya dan doktrin-doktrin
yang mendasarinya. Sosiologi Yesmil Anwar dan Adang, Op.Cit, Yesmil Anwar dan Adang,
Op.Cit, Yesmil Anwar dan Adang, Op.Cit, hukum dapat dikatakan sebagai suatu cabang kajian
khusus dalam keluarga besar ilmu-ilmu sosial yang disebut sosiologi. Kalaupun sosiologi hukum
juga mempelajari hukum sebagai perangkat kaidah khusus, yang dikaji bukanlah kaidah-kaidah itu
sendiri, melainkan kaidah-kaidah positif dalam fungsinya yang diperlukan untuk menegakkan
ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat. Sosiologi hukum diperlukan dan bukan merupakan
penamaan yang baru bagi suatu ilmu pengetahuan yang telah lama ada. Baik ilmu hukum maupun
sosiologi hukum mempunyai pusat perhatian yang sama yaitu hukum, akan tetapi sudut pandang
kedua ilmu pengetahuan tersebut juga berbeda oleh karena itu, hasil yang diperoleh ke dua ilmu
pengetahuan tadi juga berbeda.
Hukum adalah suatu gejala sosial-budaya yang berfungsi untuk menerapkan kaidah-kaidah
dan pola-pola perikelakuan tertentu terhadap individu-individu dalam masyarakat. Ilmu hukum
mempelajari gejala-gejala tersebut serta menerangkan arti dan maksud kaidah-kaidah tersebut, oleh
karena kaidah-kaidah tadi seringkali tidak jelas.
Sosiologi hukum merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang antara lain meneliti
mengapa manusia patuh pada hukum dan mengapa dia gagal untuk mentaati hukum tersebut serta
faktor-faktor sosial lain yang mempengaruhinya. Sosiologi hukum merupakan suatu cabang dari
sosiolog umum, sebagaimana halnya dengan sosiologi keluarga, sosiologi industri, sosiologi politik,
ataupun sosiologi ekonomi. Sosiologi hukum (maupun sosiologi umum) dapat dipandang sebagai
suatu alat dari ilmu hukum di dalam meneliti obyeknya dan untuk pelaksanaan proses hukum.
Setelah melihat beberapa persoalan yang disoroti sosiologi hukum, maka akan dapat diperoleh suatu
perumusan yang mantap tentang objeknya. Satjipto Rahardjo mengemukakan obyek yang menjadi
7
sasaran studi sosiologi hukum yaitu mengkaji pengorganisasian sosial hukum. Objek sasaran di sini
adalah badan-badan yang terlibat dalam penyelenggaraan hukum, yaitu pembuat undang-undang,
pengadilan, polisi dan advokat. Hal yang sama di kemukakan oleh Apeldoorn bahwa sosiologi
hukum mempergunakan hukum sebagai titik pusat penyelidikannya. Dengan berpangkal pada
kaidah-kaidah yang diuraikan dalam undang, Soerjono Soekanto I, Ibid, Yesmil Anwar dan Adang,
Op.Cit, undang, keputusan-keputusan pemerintah, peraturan-peraturan, kontrak, keputusan-
keputusan hakim, tulisan-tulisan yang bersifat yuridis dan dalam sumber-sumber yang lain.
sosiologi menyelidiki, adakah dan sampai dimanakah kaidah-kaidah tersebut dengan
sungguhsungguh dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat, dengan perkataan lain sampai hingga
mana hidup mengikutinya atau menyimpang daripadanya. Pembuat undang-undang di sini dilihat
sebagai manifestasi dari kelakuan manusia yang oleh karenanya faktor-faktor keadaan identitas
yang berperan itu perlu diamati seperti usia pada anggotanya, pendidikan dan faktor-faktor sosial
lainnya.
Dalam studi tentang perundang-undangan sosiologi hukum secara mendalam berusaha
mengungkap faktor-faktor apa yang mempengarufi efektifitas undangundang, mengapa orang
mentaati hukum, golongan mana yang diuntungkan dan dirugikan dengan dikeluarkannya undang-
undang tertentu dan sebagainya, sehingga dapat dipahami benar perhatian dan obyek penyelidikan
sosiologi hukum. Hal yang perlu dipahami pula dari segi obyek sasaran studi sosiologi hukum juga
adalah mengenai “janji-janji” dalam hukum akan efektif dan bermanfaat terutama oleh kelompok-
kelompok yang mampu mengorganisasikan dirinya secara baik. Dengan demikian antara hukum
dan pengorganisasian sosial terdapat suatu hubungan tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh
Schuyt, kemampuan untuk mengorganisasikan diri tersebut tergantung pula dari beberapa faktor
lain yakni sosial dari suatu kelompok tertentu. Apeldoorn membahas sosiologi hukum dalam
kaitannya dengan cabang ilmu lain Dengan demikian akhirnya hukum dibebani tanggung jawab
hukum dipahami dan diamalkan masyarakat.
8
sebab, perkembangan, serta efek dari tingkah laku sosial. Dengan demikian menurut
Satjipto, mempelajari hukum secara sosiologis adalah menyelidiki tingkah laku manusia
dalam hukum. Oleh Weber, dikatakannya tingkah laku hukum itu mempunyai dua segi
yaitu, segi “luar” dan segi “dalam”. Dengan demikian sosiologi Yesmil Anwar dan Adang,
Op.Cit, hukum tidak hanya menerima tingkah laku yang tampak dari luar saja, melainkan
ingin juga memperoleh penjelasan yang bersifat internal, yaitu yang meliputi motif-motif
tingkah laku seseorang. Apabila di sini disebut tingkah laku (hukum), maka sosiologi hukum
tidak membedakan antara tingkah laku yang sesuai dengan hukum dan yang menyimpang.
Kedua-duanya merupakan obyek pengamatan dan penyelidikan ilmu ini. Itulah karakteristik
yang pertama.
2. Sosiologi hukum senantiasa menguji kesahihan empiris (empirical validity) dari suatu
peraturan atau pernyataan hukum. Pernyataan yang bersifat khas di sini adalah
“Bagaimanakah dalam kenyataan peraturan itu?”, “Apakah kenyataannya seperti yang
tertera pada bunyi peraturan itu?”. Perbedaan yang besar antara pendekatan tradisional yang
normatif dan pendekatan sosiologis adalah, bahwa yang pertama menerima saja apa yang
tertera pada peraturan hukum, sedang yang kedua senantiasa mengujinya dengan data
(empiris).
3. Sosiologi hukum tidak melakukan ”penilaian” terhadap hukum. Tingkah laku yang mentaati
hukum dan yang menyimpang dari hukum sama-sama merupakan obyek pengamatan yang
setaraf. Ia tidak menilai yang satu lebih dari yang lain. perhatiannya yang utama hanyalah
pada memberikan penjelasan terhadap obyek yang dipelajarinya. Pendekatan yang demikian
sering menimbulkan salah paham, seolah-olah sosiologi hukum ingin membenarkan
praktek-praktek yang menyimpang atau melanggar hukum.
9
1. Memberikan kemampuan-kemampuan bagi pemahaman terhadap hukum dalam konteks
sosial. Misalnya, kemampuan untuk memahami sampai sejauh manakah pengaruh timbal
balik antara hukum sebagai kompleks daripada sikap-sikap atau prilaku, dengan perilaku-
perilaku sosial lainnya dalam masyarakat.
2. Mengadakan analisa terhadap efektifitas hukum tertulis. Misalnya, bagaimana
mengusahakan agar suatu undangundang melembaga dalam masyarakat. Soerjono Soekanto
I, Op.Cit, \ Soerjono Soekanto I, Op.Cit, Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, 1983,
Menelusuri Sosiologi Hukum Negara, CV. Rajawali, Jakarta, Cet
3. Penguasaan konsep-konsep sosiologi hukum dapat memberikan kemampuan-kemampuan
untuk mengadakan analisis terhadap efektifitas hukum dalam masyarakat, baik sebagai
sarana pengendalian sosial, sarana untuk mengubah masyarakat, dan sarana untuk mengatur
interaksi sosial agar mencapai keadaankeadaan sosial tertentu.
4. Sosiologi hukum memberikan kemungkinan-kemungkinan serta kemampuan untuk
mengadakan evaluasi terhadap efektifitas hukum di dalam masyarakat. Kegunaan-kegunaan
umum tersebut, secara terinci dapat dijabarkan sebagai berikut : Soerjono Soekanto I,
Loc.Cit. Yesmil Anwar dan Adang, Op.Cit.
10
A Dalam sosiologi hukum ada beberapa hasil pemikiran ahli filsafat hukum yang terhimpun dalam
berbagai Mahzab, yaitu ada Mahzab formalistis, Mahzab Sejarah dan Kebudayaan, Mahzab
Utilirialism, Sosiological Jurisprudence dan Mahzab Realisme Hukum. Kami akan sedikit
membahas tentang 5 Mahzab diatas sebagai berikut:
I. Mahzab Formalistis
Beberapa ahli filsafat hukum menekankan, baetapa pentingnya hubungan antara
hukum dengan prinsip-prinsip moral (yaitu etika dalam arti sempit) yang berlaku
umum. Salah satu cabang dari aliran tersebut adalah mazhab formalistis yang
teorinya lebih dikenal dengan nama analytical jurisprudence. Salah seorang tokoh
terkemuka dari mazhab ini adalah ahli filsafat hukum dari Inggris John Austin
(1790-1859) Austin terkenal dengan pahamnya yang menyatakan, bahwa hukum
merupakan perintah dari mereka yang memegang kekuasaan tertinggi atau dari yang
memegang kedaulatan. Menurut Austin, hukum dibedakan menjadi dua bagian, yaitu
hukum yang dibuat oleh Tuhan dan hukum yang dibuat oleh manusia. Hukum yang
dibuat manusia dapat dibedakan dalam Hukum yang sebenarnya dan hukum yang
tidak sebenarnya. Tapi kelemahan dari ajaran analytical jurisprudence ini antara lain
bahwa suatu sistem hukum tidak mungkin untuk sepenuhnya tertutup.
Akan tetapi teori ini menentukan bagaimana suatu keputusan pengadilan
bekerja dan dengan memperhitungkan, bagaimana para hakim mungkin terikat oleh
analisis-analisis formal mengenai konsep-konsep dan masalah hukum. Menurut
Austin, hukum merupakan perintah dari mereka yang memegangkekuasaan tertinggi,
atau dari yang memegang kedaulatan.
Hukum adalah perintah yang dibebankaaan untuk mengatur makhluk berfikir,
perintah mana dilakukan oleh makhluk berfikir yang memegang dan mempunyai
kekuasaan. Austin juga beranggapan bahwa hukum sebagai suatu sistem yang logis,
tetap dan bersifat tertutup. Hukum dibagi dalam dua bagian, yaitu hukum yang
dibuat oleh Tuhan dan hukum yang dibuat oleh manusia.
11
Hukum yang dibuat oleh manusia dapat dibedakan dalam :
Hukum yang sebenarnya : Yaitu hukum yang dibuat oleh penguasa bagi pengikut-
pengikutnya, dan hukum yang disusun oleh individu-individu guna melaksanakan
hak-hak yang diberikan kepadanya.
Hukum yang tidak sebenarnya. Hukum yang tidak sebenarnya bukanlah merupakan
hukum yang secara langsung berasal dari penguasa, akan tetapi merupakan peratura-
p eraturan yang disusun oleh perkumpulan-perkumpulan atau badan-badan
tertentu.
II. Mahzab Sejarah dan Kebudayaan
Dalam aliran ini hukum dapat dimengerti dengan menelaah kerangka sejarah
dan kebudayaan dimana hukum tersebut timbul.
Von Savigny beranggapan bahwa hukum merupakan perwujudan dari
kesadaran hukum masyarakat (Volksgeist). Hukum berasal dari adat-
istiadat dan kepercayaan dan bukan berasal dari pembentuk undang-
undang. Ia mengemukakan pentingnya meneliti hubungan antara
hukum dengan struktur masyarakat beserta sistem nilai-nilainya.
Sementara menurut Sir Henry Main, hubungan-hubungan hukum
yang didasarkan pada status warga-warga masyarakat yang masih
sederhana, berangsur-angsur hilang apabila masyarakat itu
berkembang menjadimasyarakat yang modern dan kompleks.
12
III. Mahzab Utilitarialism
Rudolf Von Jhering (tahun 1818 sampai tahun 1889), yang juga penganut
positivisme, dia beranggapan bahwa paksaan dari negara merupakan unsur yang
esensial dari hukum. Rudolf mendefinisikan hukum sebagai berikut : “Pengertian
Hukum adalah keseluruhan dari keadaan kehidupan masyarakat dalam arti yang
seluas-luasnya, yang dipertahankan oleh kekuasaan negara dengan menggunakan
alat pemaksa yang bersifat ekstern” Menurut Rudolph Von Ihering Disebut social
utilitarianism hukum sebagai alat bagi masyarakat untuk mencapai tujuan hukum
sebagai alat perubahan sosial. Aliran ini diberi nama aliran utilitarianisme karena
hukum itu harus memberikan manfaat (utility) kepada manusia lain, sedangkan yang
dimaksud memberikan manfaat adalah menghindarkan keburukan dan mendapatkan
kebaikan.
13
Pada intinya aliran ini hendak mengatakan bahwa hukum yang baik adalah
hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Kata “sesuai”
diartikan sebagai hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalam
masyarakat.
Aliran Sociological Jurispurdence sebagai salah satu aliran pemikiran filsafat
hukum menitik beratkan pada hukum dalam kaitannya dengan masyarakat Menurut
Sociological Yurisprudence hukum yang baik haruslah hukum yang sesuai dengan
hukum yang hidup dalam msyarakat. Aliran ini memisahkan secara tegas antara
hukum positif dengan hukum yang hidup dalam masyarakat (living law). Aliran ini
timbul sebagai akibat dari proses dialektika antara (tesis) positivisme hukum dan
(antitesis) mazhab sejarah. Roscoe Pound, hukum harus dipandang sebagai suatu
lembaga kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
sosial, dan adalah tugas ilmu hukum untuk mengembangkan suatu kerangka dengan
mana kebutuhan-kebutuhan sosial dapat terpenuhi secara maksimal.
14
V. Mahzab Realisme Hukum
Hubungan antara aliran realisme hukurn dan aliran sosiologi hukum ini
sangat unik. Di satu pihak, beberapa fondasi dari aliran sosiologi hukum mempunyai
kemiripan atau overlapping, tetapi di lain pihak dalam beberapa hal, kedua aliran
tersebut justru saling berseberangan. Roscoe Pound, yang merupakan penganut
aliran sociological jurisprudence, merupakan, salah satu pengritik terhadap aiiran
realisme hukum. Akan tetapi, yang jelas, sesuai dengan namanya, aliran realisme
hukum lebih aktual dan memiliki program-program yang lebih nyata dibandingkan
dengan aliran sociological jurisprudence.
Paham realisme hukum memandang hukum sebagaimana seorang advokat
memandang hukum. Bagi seorang advokat, yang terpenting dalam memandang
hukum adalah bagaimana memprediksikan hasil dari suatu proses hukum dan
bagaimana masa depan dari kaidah hukum tersebut. Karena itu, agar dapat
memprediksikan secara akurat atas hasil dari suatu putusan hukum, seorang advokat
haruslah juga mempertimbangkan putusan-putusan hukum pada masa lalu untuk
kemudian memprediksi putusan pada masa yang akan datang.
Seperti telah dijelaskan bahwa aliran realisme hukum ini oleh para
pelopornya sendiri lebih suka dianggap sebagai hanya sebuah gerakan sehingga
mereka. menyebutnya sebagai “gerakan” realisme hukum (legal realism movement).
Nama populer untuk aliran tersebut memang “realisme hukum” (legal realism)
meskipun terhadap aliran ini pernah juga diajukan nama lain seperti: Functional
Jurisprudence. Experimental Jurisprudence.
BAB III
KESIMPULAN
15
Filsafat Hukum adalah cabang dari filsafat yang mempelajari hukum yang benar, atau dapat
juga kita katakan Filsafat Hukum adalah merupakan pembahasan secara filosofis tentang hukum,
yang sering juga diistilahkan lain dengan Jurisprudence, adalah ilmu yang mempelajari hukum
secara filosofis, yang objeknya dikaji secara mendalam sampai pada inti atau dasarnya, yang
disebut hakikat. Terdapat enam macam aliran dalam filsafat hukum, meliputi; mazhab hukum alam;
mazhab positivisme hukum; hukum murni; mazhab sejarah; mazhab sociological jurisprudence; dan
realisme hukum.
Dari sekian mazhab yang telah dijelaskan dapat dikatakan bahwa masing-masing mazhab
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun terlepas dari semua itu setiap mazhab
mengedepankan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat yaitu, ketertiban sosial. Tidak semata-
mata sebuah idealisme tetapi juga ide-ide tentang hukum dan moral yang saling berkaitan
DAFTAR PUSTAKA
16
https://sites.google.com/a/unida.ac.id/gelardwi/pengantar-ilmu-hukum/sociological-
jurisprude
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/
http://repository.unp.ac.id/17201/1/Bahan%20Ajar%20Sosiologi%20Hukum.pdf
17