BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)
UAS TAKE HOME EXAM (THE)
SEMESTER 2020/21.2 (2021.1)
Nama Mahasiswa : NOVIANTI SYAPUTRI
Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 042862473
Tanggal Lahir : 03/11/1997
Kode/Nama Mata Kuliah : HKUM4205/KRIMINOLOGI
Kode/Nama Program Studi : ILMU HUKUM – S1
Kode/Nama UPBJJ : 19-BENGKULU
Hari/Tanggal UAS THE : SABTU / 03 JULI 2021
Tanda Tangan Peserta Ujian
NOVIANTI SYAPUTRI
Petunjuk
1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS TERBUKA
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA
Surat Pernyataan Mahasiswa
Kejujuran Akademik
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Mahasiswa : NOVIANTI SYAPUTRI
NIM : 042862473
Kode/Nama Mata Kuliah : HKUM4205/KRIMINOLOGI
Fakultas : ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
Program Studi : ILMU HUKUM – S1
UPBJJ-UT : 19-BENGKULU
1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada laman
https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal ujian
UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai pekerjaan
saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan aturan
akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan tidak
melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media apapun, serta
tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik Universitas Terbuka.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat pelanggaran
atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik yang ditetapkan oleh
Universitas Terbuka.
Bengkulu, 03 Juli 2021
Yang Membuat Pernyataan
NOVIANTI SYAPUTRI
1. Berbicara kriminologi tidak terlepas membahas mengenai obyek kriminologi dan kejahatan, maka untuk
itulah kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu definisi kriminologi baik secara umum (etimologis)
maupun secara khusus. Memberikan definisi yang memuaskan atau bahkan seragam memang
sulit didapat dalam ilmu pengetahuan sosial karena setiap ilmuwan mempunyai pendapat
yang berbeda. Namun hal itu merupakan keharusan apabila ingin membahas suatu
permasalahan, sebab dengan pemberian definisi akan memperolehgambaran permasalahan.Pertanyaan:
a. Berikanlah analisis Saudara mengapa dalam teori kriminologi harus ada definisi tentang
kejahatan?
Jawab :
Kriminologi dapat ditinjau dari dua segi, yaitu, 1. kriminologi dalam arti sempit yang hanya
mempelajari kejahatan, dan 2. kriminologi dalam arti luas, yang mempelajari teknologi, dan metode-
metode yang berkaitan dengan kejahatan dan masalah prevensi kejahatan dengan tindakan-tindakan
yang bersifat punitif.
Pemahaman kejahatan melalui pendekatan deskriptif ini dikenal sebagai fenomenologi atau
simptomatologi kejahatan. Di kalangan ilmuwan, pendekatan deskriptif sering dianggap sebagai
pendekatan yang bersifat sangat sederhana. Meskipun demikian pendekatan ini sangat bermanfaat
sebagi studi awal sebelum melangkah pada studi yang bersifat lebih mendalam.
Bianchi mengatakan apabila kejahatan itu merupakan konsep yuridis, berarti merupakan
dorongan bagi kriminologi untuk mempelajari norma-norma. Oleh karena itu kriminologi merupakan
disiplin yang normatif.
Berbeda dengan Bianchi, Hermann Mannheim berpendapat bahwa meskipun kriminologi itu
mempelajari sesuatu yang bersifat normatif, kriminologi itu sendiri bukan bersifat normatif, tetapi
bersifat faktual. Criminology is not a normative but a factual discipline, demikian Harmann
Mannheim.
Sehingga dalam teori kriminologi harus ada definisi tentang kejahatan untuk
mempermudah mempelajarinya sehingga dapat muncul aturan yang tepat untuk mengaturnya.
b. Bagaimakah analisis Saudara dalam menyikapi adanya berbagai perbedaan dalam hal pemberian
definisi kejahatan dalam teori kriminologi?
Jawab :
Dalam menyikapi adanya berbagai perbedaan dalam hal pemberian definisi kejahatan dalam teori
kriminologi tidaklah begitu rumit. Sederhananya, kejahatan menurut pandangan para pakar
kriminologi secara umum berarti adalah perilaku manusia yang melanggar norma (hukum
pidana/kejahatan/,criminal law) merugikan, menjengkelkan, menimbulkan korban, sehingga tidak
dapat dibiarkan.
c. Gambarkan konsep analisis Saudara terhadap definisi kejahatan yang harus didefinisikan baik
secara umum maupun khsusus!
Jawab :
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) sendiri tidak mendefinisikan secara jelas
mengenai kejahatan. Adapun KUHP telah mengatur sejumlah delik kejahatan dalam Pasal 104 hingga
Pasal 488 KUHP.
Pengertian kejahatan secara umum adalah suatu perbuatan tingkah laku yang bertentangan
dengan undang-undang. Secara khusus kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain
merugikan si penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan,
ketentraman dan ketertiban.
d. Suatu definisi itu merupakan keharusan apabila ingin membahas suatu permasalahan, sebab dengan
pemberian definisi akan memperoleh gambaran permasalahan. Bagaimanakah analisis Saudara
terhadap pernyataan ini?
Jawab :
Suatu definisi menurut saya merupakan keharusan apabila ingin membahas suatu
permasalahan, sebab dengan pemberian definisi akan memperoleh gambaran permasalahan,
sehingga permasalahan yang dibahas akan menjadi jelas dan dapat ditentukan pemecahan dari
masalah tersebut. Menurut saya, tanpa sebuah definisi, suatu permasalahn akan menjadi kabur dan
kita akan kesulitan untuk menyelesaikan suatu masalah.
2. Reaksi represif merupakan suatu reaksi yang diberikan atas adanya peristiwa kejahatan. Artinya atas
kejahatan yang terjadi, masyarakat melalui lembaga penegakanhukum akan memberikan reaksi negatif
berupa tindakan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan. Sistem peradilan pidana terdiri dari
berbagai unsur penegak hukum, yakni kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan.
Reaksi sosial terhadapkejahatan dan pelaku kejahatan dilihat dari segi pencapaian tujuannya, dapat
dibagi menjadi dua, yakni reaksi yang bersifat represif dan reaksi yang bersifat preventif.
Pertanyaan:
a. Institusi kepolisian merupakan lembaga yang bisa melakukan tindakan represif yakni suatu tindakan
yang merupakan suatu reaksi yang diberikan atas adanya peristiwa kejahatan. Terhadap
pernyataan ini, bagaimanakan analisa Saudara?
Jawab :
Aparat penegak hukum di Indonesia seringkali menafsirkan perintah undang-undang untuk
menciptakan ketertiban umum sebagai landasan untuk penggunaan kekerasan dalam keamanan
publik. Penggunaan kekerasan merupakan pilihan paling murah dan mudah dalam rangka penanganan
masalah sosial. Aparat di lapangan seringkali menerjemahkan perintah “amankan” dari atasan dengan
melakukan represi demi mencapai stabilitas keamanan. Demikian pendapat saya.
b. Jelaskan analisa Saudara terhadap pernyataan yang menyatakan bahwa masyarakat melalui
lembaga penegakan hukum dapat memberikan reaksi negatif berupa tindakan penegakan hukum
terhadap pelaku kejahatan!
Jawab :
Salah satu indikator negara hukum adalah keberhasilan dalam penegakan hukumnya.
Dikatakan berhasil karena hukum yang telah diaturnya, sudah seharusnya dan sudah waktunya,
dijalankan dan ditaati oleh seluruh elemen masyarakat. Ketiadaan dan kurang maksimalnya
penegakan hukum dapat berimplikasi terhadap kredibilitas para pembentuk aturannya, pelaksana
aturan dan masyarakat yang terkena aturan itu sendiri, sehingga seluruh elemen akan terkena
dampaknya. Untuk itulah, maka menjadi penting untuk diketahui apakah penegakan hukum itu
sesungguhnya. Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk dapat tegak atau
berfungsinya norma-norma hukum yang berlaku dan telah diatur sebagai pedoman perilakunya
dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan manusia bermasyarakat dan
bernegara. Untuk itulah, maka ketentuan yang telah mengaturnya tidak akan berhenti dalam arti
aturan yang tidak bergerak atau mati, tetapi tetap akan tegak bediri dan berjalan ke depan
sebagaimana yang ditentukan oleh lembaga resmi dan diakui negara untuk mengaturnya. Secara luas,
proses dalam penegakan hukum itu melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum.
Siapa sajakah yang menjalankan aturan normatif atau melakukan atau tidak melakukan sesuatu
dengan mendasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku, maka hal itu berarti telah
menjalankan atau menegakkan aturan hukum.
Dari sudut sosial dan budaya, Indonesia merupakan suatu masyarakat yang majemuk dengan
sekian banyaknya golongan etnik dengan ragam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Seorang
penegak hukum harus mengenal stratifikasi sosial atau pelapisan masyarakat yang ada dalam suatu
lingkungan beserta tatanan status/kedudukan dan peranan yang ada. Setiap stratifikasi sosial pasti ada
dasar-dasarnya. Hal lainnya yang perlu diketahui dan dipahami adalah perihal lembaga-lembaga
sosial yang hidup, serta sangat dihargai oleh bagian terbesar warga-warga masyarakat yang ada.
Dengan mengetahui dan memahami hal-hal tersebut, maka dapat memudahkan penegak hukum untuk
mengidentifikasikan nilai-nilai dan norma-norma atau kaidah-kaidah yang berlaku di lingkungan
tersebut. Dalam garis besar, masyarakat di Indonesia terbagi dua yaitu masyarakat kalangan atas
(orang kaya) dan kalangan bawah (orang miskin). Penegakan hukum diantara keduanya pun sangat
berbeda penyelesaiannya. Hal ini karena pola pikir dan pengetahuan yang jelas berbeda. Jika orang
kalangan bawah, keinginan atau taatnya pada suatu hukum oleh seseorang sangat kecil
kemungkinannya atau tidak mau mematuhi hukum yang telah diatur.
Hal ini, disebabkan kurang pengetahuan dan pendidikan yang mereka miliki sangat terbatas,
dan tidak dapat mengetahui bahwa ada sanksi yang akan mengikat jika dilanggar (blue collar crime).
Sedangkan, orang-orang kalangan atas cenderung mengikuti hukum atau aturan-aturan yang ada,
karena mereka lebih memiliki pengetahuan yang banyak tentang hukum dan mengetahui sanksinya.
Hal ini terjadi cenderung lebih bersifat tertib. Pada kalangan atas ini jika terjadi kejahatan, maka dapat
dikatakan white collar crime (untuk kepentingan semata). Masyarakat di Indonesia semakin lama,
jumlah masyarakat miskinnya semakin banyak. Sehingga jika dilihat dari faktor masyarakat, maka
masalah kejahatan atau penegakan hukum ini ada di lapisan ini. Setiap stratifikasi sosial memiliki
dasar-dasarnya tersendiri, sehingga dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain pemberian
pengetahuan hukum kepada masyarakat yang mungkin tidak begitu mengerti akan hukum sehingga
memudahkan mereka untuk mengidentifikasikan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di
lingkungannya.
c. Sistem peradilan pidana terdiri dari berbagai unsur penegak hukum, yakni kepolisian,
kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. Mengapa pengacara/advokat tidak termasuk
dalam unsur penegak hukum?Bagaimana analisis Saudara terhadap hal ini?
Jawab :
Pengacara/advokat tidak termasuk dalam unsur penegak hukum. Advokat bisa dikatakan
penasihat hukum karena pekerjaannya dalam Pengadilan sebagai penasihat. Istilah penasihat
hukum/bantuan hukum dan advokat/pengacara merupakan istilah yang tepat dengan fungsinya
sebagai pendamping tersangka/terdakwa atau penggugat/ tergugat, bila dibandingkan dengan istilah
pembela. Karena istilah pembela dapat diartikan sebagai seseorang yang membantu hakim dalam
usaha menemukan kebenaran materiil walaupun itu bertolak dari sudut pandang subjektif yaitu
berpihak pada kepentingan tersangka / terdakwa.
d. Reaksi sosial terhadap kejahatan dan pelaku kejahatan dapat dilihat dari segi pencapaian
tujuannya, yakni berupa reaksi yang bersifat represif dan reaksi yangbersifat preventif.
Bagaimana analisis Saudara terhadap hal ini!
Jawab :
Reaksi sosial terhadap kejahatan dan penjahat adalah berbagai macam bentuk tindakan yang
diambil dalam rangka menanggulangi kejahatan atau menindak pelaku kejahatan agar masyarakat
terbebas dari kejahatan dan pelaku kejahatan tidak mengulangi perbuatannya. Reaksi sosial formal
adalah tindakan yang dilakukan oleh masyarakat melalui pembentukan pranata formal untuk
penanggulangan kejahatan serta pembuatan aturan formal (hukum) yang mengatur tingkah laku
anggota masyarakat. Pranata sosial formal tersebut adalah berbagai pranata dalam sistem peradilan
pidana, mulai pranata kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan penjara (lembaga pemayarakatan).
Pranata-pranata tersebut dibentuk berdasarkan aturan hukum yang berlaku.
3. Ekologi perkotaan merupakan studi tentang bagaimana hubungan antar manusia yang
dipengaruhi oleh lingkungan sosial tertentu. Pada umumnya, masalah kejahatan berhubungan
dengan kondisi buruk perkotaan. Tekanan ekonomi dan interaksi sosial menyebabkan
perkembangan suatu bentuk pola-pola di kota besar. Kota atau perkotaan merupakan suatu sistem
lingkungan dalam kehidupan masyarakat. Kota sudah pasti membawa dan memberikan corak pada pola
kehidupan masyarakatnya, termasuk kejahatan yang terjadi didalamnya. Untuk itulah, maka perlu
mengenal sistemik mengenai kehidupan perkotaan. Dengan pengenalan yang memadai tersebut
dapat dikenali pula faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku anggota masyarakat termasuk
kecenderungan kejahatannya. Di Indonesia, misalnyakonsep kota,baik sebagai satuan pemerintahan
maupun sebagai komunitas, mengandung berbagai ciri yang sedikitnya memberi andil bagi munculnya
kejahatan perkotaan.Pertanyaan:
a. Bagaimana analisis Saudara mengenai hubungan antar manusia yang dipengaruhi oleh
lingkungan sosial tertentu?
Jawab :
Manusia merupakan makhluk hidup yang selalu berinteraksi dengan sesama. Manusia sebagai
makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri, tapi sangat membutuhkan peran orang lain. Karena kita
hidup di dunia ini saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Di mana pun dan bila mana pun,
manusia senantiasa memerlukan kerja sama dengan orang lain. Manusia membentuk pengelompokan
sosial di antara sesama dalam upaya mempertahankan hidup dan mengembangkan kehidupan.
Interaksi-interaksi itulah yang kemudian melahirkan sesuatu yang dinamakan lingkungan
hidup, seperti keluarga inti, keluarga luas, atau kelompok masyarakat. Lingkungan hidup itu sebagai
tempat berlangsungnya bermacam-macam interaksi sosial antara anggota atau kelompok masyarakat
beserta pranatanya dengan simbol dan nilai serta norma yang sudah mapan. Manusia memerlukan
lingkungan sosial yang serasi untuk kelangsungan hidup. Lingkungan hidup yang serasi bukan hanya
dibutuhkan oleh seseorang saja, tapi juga oleh seluruh orang di dalam kelompoknya. Untuk
mewujudkan itu dibutuhkan kerja sama kolektif di antara sesama anggota. Kerja sama tersebut
dilakukan untuk membuat dan melaksanaan aturan-aturan yang disepakati bersama sebagau
mekanisme pengendalian perilaku sosial.
b. Masalah kejahatan berhubungan dengan kondisi buruk perkotaan. Tekanan ekonomi dan
interaksi sosial menyebabkan perkembangan suatu bentuk pola-pola di kota besar.
Bagaimana menurut analisa Saudara tentang pernyataan ini?
Jawab :
Tingginya angka kejahatan di sebuah wilayah, banyaknya jenis kejahatan spesifik yang terjadi
di suatu kelompok masyarakat tertentu, merupakan sejumlah fenomena yang berkembang di sebuah
masyarakat. Penjelasan mengenai kejahatan memberikan kontribusi pemahaman mengenai kejahatan
baik individual maupun kelompok, mulai dari sebab kejahatan, proses perkembangan kejahatan
bahkan terbentuknya kelompok kejahatan di sebuah masyarakat. Cara beradaptasi yang menyimpang
dari nilai dan perilaku konformitas dalam sebuah masyarakat, pada gilirannya menjadi pola perilaku
sebagai anggota kebudayaan, bahkan kemudian dianggap sebagai cara yang bisa diterima. Cara
beradaptasi yang sedemikian kemudian menjadi nilainilai kelompok dalam masyarakat bahkan
mendapatkan penguatan (reinforcement) dengan beragam bentuk dan cara. Cara beradaptasi akan
selalu ada pada masyarakat perkotaan.
c. Kota sudah pasti membawa dan memberikan corak pada pola kehidupan masyarakatnya,
termasuk kejahatan yang terjadi di dalamnya. Untuk itulah, maka perlu mengenal sistemik
mengenai kehidupan perkotaan. Bagaimana menurut analisis Saudara akan hal ini?
Jawab :
Perubahan dan perkembangan kota tidak luput dari eksistensi konflik, yang pada gilirannya
pastinya bisa mengarah pada lahirnya kejahatan di daerah perkotaan. Tingginya jumlah kejahatan di
suatu wilayah, jumlah jenis kejahatan tertentu yang terjadi pada sekelompok orang tertentu, adalah
semakin banyak fenomena dalam masyarakat. Banyaknya arena budaya yang mengharuskan
seseorang untuk menunjukkan kesuksesannya tetapi cara untuk merayakan kesuksesan tidak sama
tersedia di kota telah menyebabkan ketidak percayaan cara yang dilembagakan dengan cara yang
tersedia untuk mencapai tujuan budaya, kemudian melakukan kejahatan sebagai entitas merupakan
alternatif untuk memuaskan keinginan untuk mencapai budaya tujuan. Munculnya wilayah kejahatan
adalah bentuk penyesuaian yang dibuat oleh individu dalam masyarakat yang berada di daerah
perkotaan dikarenakan ketidakseimbangan antara tujuan budaya dan kesempatan menggunakan cara-
cara kelembagaan untuk mencapai tujuan tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk model adaptasi
Inovasi. Penyesuaian seperti itu terjadi sebagai akibat dari konflik mental yang dialami ketika ada
kewajiban untuk mengikuti cara yang dilembagakan untuk mencapai tujuan dengan tekanan untuk
menggunakan cara tidak sah dalam mencapai tujuan tersebut.
d. Konsep kota,baik sebagai satuan pemerintahan maupun sebagai komunitas, mengandung berbagai
ciri yang sedikitnya memberi andil bagi munculnya kejahatan perkotaan. Bagaimana
menurut analisis Saudara akan hal ini?
Jawab :
Kejahatan perkotaan semakin memperlihatkan kecenderungan peningkatan. Semakin
bertambahnya penduduk kota yang tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan membuat tingkat
kemiskinan semakin meningkat di Kota, efek langsungnya terlihat dengan densitas yang semakin
tinggi disertai munculnya perumahan-perumahan kumuh. Hal ini menjadi push factor bagi tingginya
intensitas kejahatan di perkotaan. Intensitas dan ragam kejahatan yang terjadi di setiap bagian kota
berbeda-beda. Daerah kampus didominasi oleh tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor dan
penganiayaan berat (efek dari tawuran mahasiswa), pemukiman padat didominasi oleh Penganiayaan
berat, kompleks pelabuhan dan perdagangan oleh pencurian dengan kekerasan dan kompleks hiburan
malam, wisma dan kost di dominasi oleh penyalahgunaan narkotika dan pencurian dengan kekerasan.
4. Ahli psikologi selalu berbicara tentang pola-pola tingkah laku dan tidak tentang tindakan-tindakan atau
responsi-responsi yang berdiri sendiri. Beberapa dari pola-pola ini nampaknya sudah diatur lebih dahulu
atau ditentukan oleh keturunan atau pewarisan, dan oleh karena itu disebut tingkah laku yang tidak
dipelajari atau tingkah laku instinktif. Kebiasaan-kebiasaan dikembangkan secara pelan-pelan sebagai
hasil daripada pengalaman-pengalaman manusia dalam menghadapi lingkungan yang
mengelilinginya dan di dalam usaha untuk menyesuaikan dirinya kepada lingkungan
tersebut.Pertanyaan:
a. Berikanlah analisis Saudara bahwa dalam proses sosial dan kejahatan mempelajari tentang teori
belajar sosial!
Jawab :
Teori belajar social adalah proses belajar yang muncul sebagai fungsi dari pengamatan,
penguasaan dan, dalam kasus proses belajar imitasi, peniruan perilaku orang lain. Jenis belajar ini
banyak diasosiasikan dengan penelitian Albert Bandura, yang membuat teori belajar sosial. Di
dalamnya ada proses belajar meniru atau menjadikan model tindakan orang lain melalui pengamatan
terhadap orang tersebut. Penelitian lebih lanjut menunjukkan adanya hubungan antara belajar sosial
dengan belajar melalui pengkondisian klasik dan operant.
b. Meskipun sudah jelas apa yang dimaksud dengan sikap dan peranannya, namun belum ada
persesuaian paham mengenai apa sebab orang itu perlu bersikap, bertindak dan belajar,baik sikap
(yang tidak nampak), maupun tingkah laku (yang nampak)diperoleh orang melalui pembelajaran
dan pengalaman. Bagaimana analisis Saudara terhadap pernyataan tersebut?
Jawab :
Menurut saya pernyataan tersebut sesuai dengan fakta dilapangan, dimana tidak semua orang
memiliki sifat / sikap yang sama. Serta tindakan yang dilakukan oleh masing-masing individu
memiliki motif yang berbeda satu dengan lainnya.
c. Teori Differentian dari Sutherland ada dalam pembahasan teori belajar sosial. Di mana
Sutherland menunjukkan dengan jelas sifat dan dampak dari pengaruh kelompok lingkungan terhadap
individu. Bagaimana analisis Saudara terhadap hal ini?
Jawab :
Hal ini tidak berarti bahwa hanya kelompok pergaulan dengan penjahat akan menyebabkan
seseorang berprilaku kriminal. Yang terpenting adalah isi dari proses komunikasi dengan orang lain.
Hal ini jelas menerangkan bahwa kejahatan atau perilaku jahat itu timbul karena komunikasi dengan
orang lain yang jahat pula. Pada tahun 1947, Sutherland memaparkan versi kedua nya yang lebih
menekankan pada semua tingkah laku dapat dipelajari dan mengganti istilah social disorganization
dengan differential social organization. Teori ini menentang bahwa tidak ada tingkah laku jahat yang
diturunkan dari kedua orangtuanya. Pola perilaku jahat tidak diwariskan tetapi dipelajari melalui suatu
pergaulan yang akrab.
d. Memang benar bahwa banyak orang menjadi jahat karena berhadapan dengan suatu rangkaian
keadaan-keadaan atau asosiasi-asosiasi yang disebut tingkah laku sistematis. Tetapi sebaliknya
adalah benar pula, bahwa banyak tingkah laku jahat bersifat implusif dan irasional. Asosiasi
berbeda tidak dapat diterapkan terhadap tingkah laku yang psikologis bersifat implusif dan
irasional, hanya karena tingkah laku tersebut kebetulan dirumuskan sebagai jahat. Bagaimana
analisis Saudara dalammenyikapi pernyataan tersebut?
Jawab :
Menurut saya pernyataan tersebut benar adanya, terkadang orang yang baik, namun
mendapatkan intimidasi dan perlakuan buruk dari individu atau sekelompok orang, maka akan timbul
kebencian dan kejahatan dalam diri orang tersebut, namun menurut saya prinsip beragama seseorang
juga berpengaruh besar dalam hal ini. Semakin kuat keimanan seseorang, maka kemungkinan berbuat
kejahatan akan semakin kecil dan begitupula sebaliknya.