Modul 1
Ruang Lingkup Ilmu Hukum Pajak
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
PEN D A HU L UA N
W alaupun pajak mempunyai peranan penting untuk membiayai belanja
negara, tetapi pajak bukan merupakan tujuan semata, hanya sebagai
alat/sarana/instrumen untuk mencapai tujuan negara Indonesia sebagaimana
dinyatakan dalam alinea keempat Pembukaan Undang-undang Dasar Republik
Indonesia1945:
............ untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial
.............
Untuk itulah pungutan pajak diberi kewenangan yang berkekuatan
memaksa guna mencapai tujuan negara tersebut, di mana legitimasinya
dinyatakan dalam konstitusi dasar UUD 1945 sebagai sumber peraturan
perundang-undangan tertinggi di Indonesia. Dalam perkembangannya, dasar
pengaturan pajak telah terjadi perubahan mendasar. Semula dinyatakan dalam
Pasal 23 ayat 2 UUD 1945, kemudian setelah amandemen ke-III UUD 1945
dinyatakan dalam Pasal 23A UUD 1945 yang menegaskan bahwa “Pajak dan
pungutan bersifat memaksa untuk kepentingan negara diatur dengan undang-
undang.”
Perubahan paradigma pungutan pajak tersebut ingin menunjukkan bahwa
pajak yang mempunyai daya paksa tersebut implementasinya tidak dilakukan
dengan semena-mena, tetapi harus melalui undang-undang yang
mekanismenya tentu melalui persetujuan dari wakil rakyat di parlemen.
Seandainya dalam pelaksanaannya harus dilakukan melalui peraturan
perundang-undangan yang lebih rendah, tetapi tetap tidak boleh bertentangan
dengan undang-undang. Hingga diharapkan pelaksanaan pungutan pajak yang
memiliki daya paksa yang kuat ini tetap dilakukan sesuai dengan rasa keadilan.
1.2 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Dalam modul ini dibagi dalam tiga kegiatan belajar, masing-masing
menguraikan mengenai ruang lingkup dan perkembangan hukum pajak,
pengertian pajak, dan fungsi pemungutan pajak.
Selamat mengikuti kegiatan belajar.
HKUM4407/MODUL 1 1.3
Kegiatan Belajar 1
Ruang Lingkup
dan Perkembangan Hukum Pajak
N egara Indonesia merupakan negara yang berdasarkan hukum, hal ini
tercermin dalam Penjelasan UUD 1945 di mana ditegaskan bahwa
Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum (rechts staat) tidak
berdasarkan kekuasaan (mahcts staat). Sebagai negara yang berlandaskan
hukum, negara menjamin keadilan bagi seluruh rakyatnya. Artinya, segala
tindakan dan kebijakan alat-alat perlengkapan negara harus berdasarkan
hukum. Hukum menjadi landasan pokok untuk mencapai cita-cita masyarakat
yang adil dan makmur secara merata.
Keadilan adalah syarat tercapainya kebahagiaan hidup. Keadilan
merupakan cerminan dari cita-cita rakyat yang tertuang dalam konstitusi
negara. Ukuran keadilan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan dari
negara hukum. Untuk mencapai negara hukum yang berkeadilan diperlukan
biaya yang salah satunya diperoleh dari pungutan pajak, yang aturan dasarnya
dicantumkan dalam konstitusi Undang-Undang Dasar 1945.
Pungutan pajak merupakan kebijakan pemerintah atau kebijakan publik.
Setiap kebijakan publik yang ditetapkan sebagai sebuah dokumen formal dan
berlaku mengikat kehidupan bersama maka pada saat itu pula kebijakan publik
menjadi hukum. Dengan demikian, hukum merupakan salah satu bentuk atau
wujud dari kebijakan publik atau dengan istilah lain, hukum merupakan bagian
dari kebijakan publik. Namun demikian, tidak selamanya bahwa kebijakan
publik merupakan hukum publik, apabila tidak didokumenkan secara formal.
Hukum pajak yang disebut juga hukum fiskal merupakan kebijakan publik
yang ditetapkan sebagai sebuah dokumen formal, yaitu dalam konstitusi UUD
negara Republik Indonesia 1945 dan di dalam konstitusi tersebut
mengamanatkan bahwa regulasi pungutan pajak harus ditetapkan dalam
bentuk undang-undang. Oleh karena itu, kebijakan pungutan pajak masuk
bagian dari hukum publik yang mengatur hubungan antara negara dan orang-
orang atau badan (hukum) yang mempunyai kewajiban membayar pajak
(selanjutnya disebut wajib pajak). Dengan demikian, kedudukan hukum pajak
ditinjau dari substansinya termasuk dalam kategori hukum publik (hukum
negara), yaitu hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan
1.4 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
perseorangan (warga negara), bukan hukum privat (hukum sipil), yaitu hukum
yang mengatur antara orang yang satu dengan orang yang lain dengan
menitikberatkan kepada kepentingan perseorangan.
Penggolongan hukum pajak sebagai hukum publik, sebagian besar pakar
berpendapat bahwa pajak adalah merupakan bagian dari hukum administrasi
negara karena permasalahan yang diatur dalam hukum pajak berkaitan dengan
administrasi negara. Sementara itu, penulis berpendapat walaupun hukum
pajak adalah sebagai disiplin ilmu tersendiri yang terlepas dari hukum
administrasi negara, namun tetap kelompok dari hukum publik. Akan tetapi,
merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri dengan alasan sebagai berikut:
1. jangkauan pengaturan hukum pajak sangat luas, meliputi pemerintah
daerah kabupaten/kota (pajak daerah kabupaten/kota), pemerintah daerah
provinsi (pajak daerah provinsi), pemerintah pusat (pajak pusat), pajak
bilateral (tax treaty), dan pajak regional dan pajak internasional;
2. bahkan pengertian pajak dalam postur APBN adalah penerimaan
perpajakan yang meliputi penerimaan pajak pusat, penerimaan bea dan
cukai, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
3. hukum pajak secara langsung dapat digunakan sebagai instrumen politik
perekonomian suatu negara;
4. hukum pajak tidak saja bersifat administrasi, tetapi juga bersifat
pengaturan (regulasi) dan hitung-hitungan (akuntansi);
5. hukum pajak memiliki aturan dan istilah yang khusus;
6. hukum pajak mengatur sanksi lebih luas baik dalam jenis maupun
objeknya.
A. JANGKAUAN PENGATURAN HUKUM PAJAK
Hukum pajak memiliki lingkup jangkauan pengaturan dan kewenangan
yang berbeda, yang meliputi pajak daerah, pajak pusat, pajak bilateral, dan
pajak internasional.
1. Pajak daerah adalah pajak yang pungutannya ditetapkan berdasarkan
Peraturan daerah (Perda), namun jenis, subjek, objek, dan tarifnya tidak
boleh bertentangan dengan Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah sebagaimana ditetapkan dalam UU Nomor 28 Tahun 2009. Pajak
daerah dibedakan pajak daerah provinsi, di mana wilayah berlakunya
hanya dalam provinsi yang bersangkutan dan pajak daerah kabupaten/kota
yang wilayah berlakunya hanya sebatas kabupaten/kota yang
HKUM4407/MODUL 1 1.5
bersangkutan saja. Terhadap penerimaan pajak provinsi akan dibagi
hasilkan kepada daerah kabupaten/kota di mana pajak tersebut dipungut.
2. Pajak pusat adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat guna
membiayai kelangsungan pemerintahan negara Republik Indonesia,
melalui APBN. Berkenaan dengan perubahan sistem tata kelola
pemerintahan di Indonesia menjadi otonomi daerah sejak ditetapkannya
UU Nomor 22 Tahun 1999 maka penerimaan pajak pusat dari Penghasilan
Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh Pasal 25 dan Pasal 29) dan Pajak
Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 21) dibagihasilkan kepada daerah.
3. Pajak bilateral adalah dalam pemberlakuan hukum pajak atas dasar
kesepakatan antar dua negara berdasarkan perjanjian bilateral yang
dikenal dengan tax treaty di mana diperjanjikan di antara dua negara
mengenai subjek, objek, tarif pajak maupun hal-hal lain yang disepakati
mengenai pengenaan pajak antarnegara.
4. Pajak regional adalah kesepakatan dasar dan lingkup pengenaan pajak di
antara negara-negara dalam masing-masing regional, misalnya negara-
negara ASEAN, Schengen, dan lain-lain.
5. Pajak internasional adalah kesepakatan dasar dan lingkup pengenaan
pajak atas dasar keputusan internasional.
B. PENGERTIAN PAJAK DALAM POSTUR APBN
Pengertian pajak dalam APBN adalah perpajakan yang mempunyai
makna lebih luas. Secara garis besar dalam postur APBN dibagi dalam tiga
kelompok, yaitu pendapatan negara, belanja negara, dan pembiayaan.
Pendapatan negara, meliputi pendapatan perpajakan, Pendapatan Negara
Bukan Pajak (PNBP), dan pendapatan hibah. Pendapatan perpajakan, meliputi
penerimaan pajak pusat, penerimaan bea dan cukai. Dengan demikian, dalam
lingkup APBN perpajakan, meliputi segala pungutan negara (pemerintah
pusat) selain Penerimaan Negara Bukan Pajak.
C. SEBAGAI INSTRUMEN POLITIK PEREKONOMIAN SUATU
NEGARA
Pajak merupakan instrumen politik perekonomian suatu negara karena
penerimaan pajak sangat dominan sebagai penerimaan negara guna membiayai
roda pemerintahan negara Indonesia. Karena itu, hukum pajak mempunyai
1.6 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
daya paksa yang kuat, ketetapannya langsung dapat dilaksanakan walaupun
pembayar pajak sedang mengajukan upaya hukum (ketetapan pajak bersifat
executorial beslag yang mempunyai kekuatan hukum tetap). Dalam rangka
meningkatkan penerimaan dalam pemerintahan, Bapak Presiden Joko Widodo
melakukan pengawasan yang ketat terhadap kewajiban perpajakan sebagai
instrumen politik perekonomian nasional guna mewujudkan cita-cita
kemakmuran rakyat. Dengan demikian, pajak dapat dijadikan sebagai
instrumen politik perekonomian suatu negara, namun pelaksanaannya harus
berpijak pada undang-undang sebagaimana tercantum konstitusi dasar NKRI
1945 Pasal 23A.
D. TIDAK HANYA BERSIFAT ADMINISTRASI
Keputusan atau ketetapan tentang pajak (dalam Hukum Tata Usaha
Negara lazim disebut dengan beschikking) tidak saja hanya berkaitan dengan
administrasi, tetapi juga meliputi regulasi dan akuntansi (hitung-hitungan).
Bersifat administrasi karena penetapan dan ketetapan pajak sangat berkaitan
dengan kompetensi yang menetapkan berdasarkan jabatan dan wilayah
administrasi. Selain itu, penetapan dan ketetapan pajak ditetapkan harus diatur
dengan undang-undang. Konsekuensinya bahwa untuk regulasi yang mengikat
publik tidak boleh diatur selain dengan peraturan perundang-undangan. Selain
itu, pajak meliputi hitung-hitungan yang bersifat akuntansi, walaupun dalam
hal-hal khusus ketentuan akuntansi tidak dapat sepenuhnya diberlakukan
dalam pengenaan pajak.
E. MEMILIKI ATURAN DAN ISTILAH KHUSUS
Pajak memiliki aturan dan istilah khusus yang tidak lazim digunakan
dalam ketentuan lain. Misalnya, pajak dikenakan terhadap penghasilan tanpa
membedakan dari sebab yang dibenarkan maupun bertentangan dengan
undang-undang (dari sebab yang halal maupun yang haram), hal tersebut tentu
saja bertentangan dengan segala ketentuan perundang-undangan dari berbagai
lembaga.
HKUM4407/MODUL 1 1.7
F. SANKSINYA LUAS
Sanksi pajak selain dikenakan terhadap pembayar pajak (wajib pajak) juga
dikenakan kepada aparatur pajak dan pihak ketiga berkaitan dengan kewajiban
dalam bidang perpajakan. Khusus terhadap wajib pajak, terdapat sanksi
administrasi berupa denda, bunga, dan kenaikan serta sanksi pidana. Sanksi
pidana walaupun dinyatakan dengan tegas dalam perundang-undangan, namun
penerapannya merupakan upaya akhir (mutatis mutandis) manakala sanksi
administrasi kurang dapat menimbulkan efek jera.
Undang-Undang Dasar 1945 mensyaratkan bahwa pajak harus diatur
dengan undang-undang. Oleh karena itu, pajak termasuk sebagai hukum
tertulis (statute law = writen law), yaitu hukum yang dicantumkan dalam
berbagai peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, tidak mungkin
pajak dikenakan karena adat kebiasaan dari hukum tidak tertulis (unstatute law
= unwriten law), kalau terjadi namanya bukan pajak, tetapi upeti.
Rochmat Soemitro, salah seorang pakar hukum pajak di Indonesia,
menggambarkan kedudukan dan hubungan hukum pajak dengan hukum-
hukum lainnya sebagai berikut:
I Hukum I
I
I I
I Perdata I I Publik I
I
I
Hukum Tata Negara I
I
Hukum Administratif
I I
I
I
Hukum Pajak
I
I Hukum Pidana I
Gambar 1.1
Kedudukan dan Hubungan Hukum Pajak
dengan Hukum-hukum Lainnya
1.8 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Di Indonesia, pajak merupakan sumber penerimaan utama negara,
penerimaan pajak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
dari tahun ke tahun menunjukkan peranan yang terus meningkat terhadap
seluruh pendapatan negara. Salah satu ciri dari pajak adalah pungutannya
dilakukan negara bersifat memaksa. Agar pungutan pajak tidak mencederai
rasa keadilan masyarakat maka upaya pemaksaan tersebut bersifat legal.
Legalitas dimaksud adalah dengan menyandarkan pungutan pajak melalui
undang-undang. Tanpa undang-undang, pemungutan pajak tidak mengikat
masyarakat dan menjadi tidak sah. Oleh karena itu, walaupun pemungutan
pajak itu digunakan untuk keperluan rakyat, namun pemungutan pajak harus
terlebih dahulu disetujui oleh rakyat sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 23
UUD 1945 yang mengatur dasar pemungutan pajak di Indonesia. Ketentuan
tersebut merupakan manifestasi dari negara Republik Indonesia sebagai negara
hukum yang berfalsafah Pancasila serta menjunjung tinggi hak dan kewajiban
warga negara.
Seiring dengan perkembangan politik ketatanegaraan dan perekonomian
Indonesia, dasar pungutan pajak dalam UUD telah berubah di mana semula
tercantum dalam Pasal 23 ayat (2) yang berbunyi “Segala pajak untuk
keperluan negara berdasarkan undang-undang.” Setelah amandemen ketiga
UUD NKRI 1945 tanggal 9 November 2001 dinyatakan di dalam Pasal 23A
yang berbunyi “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
keperluan negara diatur dengan undang-undang.”
Terdapat perbedaan prinsip perubahan pengaturan pajak dalam UUD
NKRI 1945, yaitu semula “berdasarkan undang-undang” setelah amandemen
ketiga berubah menjadi “diatur dengan undang-undang”. Para pakar hukum
yang menganut aliran hukum positif, secara ekstrim menyatakan bahwa
dengan berubahnya aturan dasar pungutan pajak menjadi “diatur dengan
undang-undang”, sesuai amanat konstitusi Undang-Undang Dasar 1945
sebagai peraturan perundang-undangan tertinggi di Indonesia maka segala
pengaturan pajak yang mengikat publik tidak boleh diatur selain dengan
undang-undang.
Penulis berpendapat bahwa “diatur dengan undang-undang” harus
dimaknai sebagai diatur dengan peraturan perundang-undangan. Pengertian
perundang-undangan, diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dalam Pasal 7 ayat (1)
UU Nomor 12 Tahun 2011 mengatur mengenai jenis dan hierarki perundang-
undangan, yaitu terdiri atas:
HKUM4407/MODUL 1 1.9
1. Undang-Undang Dasar RI tahun 1945 (UUD 1945);
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP MPR);
3. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
(PERPPU);
4. Peraturan Pemerintah (PP);
5. Peraturan Presiden (Perpres);
6. Peraturan Daerah (Perda) Provinsi;
7. Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten/Kota.
Dengan demikian, konsekuensi dari perubahan aturan dasar pungutan
pajak dalam UUD 1945 tersebut, berakibat bahwa pengaturan pajak yang
mengikat publik tidak dibolehkan diatur selain dengan peraturan perundang-
undangan. Bahkan dengan ditetapkannya hierarki peraturan perundang-
undangan tersebut maka peraturan pelaksanaan dari undang-undang tidak
boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Sementara itu, pemahaman sesuai bunyi gramatika pasal 23A UUD 1945,
pajak harus diatur dengan undang-undang, apabila dilaksanakan akan
berakibat pengaturan pajak akan out of date ketinggalan dengan perkembangan
dunia usaha yang berkembang begitu cepat dan dinamis. Hal tersebut
disebabkan karena untuk melahirkan sebuah undang-undang akan melalui
proses yang lama, baik dari tata cara mengajukan Rancangan Undang-Undang
(RUU) yang melalui proses tata urutan prioritas Prolegnas (Program Legislasi
Nasional), serta pembahasannya RUU di DPR sebagai badan legislatif.
Lingkup pembahasan pajak dalam kajian ini juga memperhatikan
kewenangan pemerintah daerah dalam memungut pajak karena berkaitan
dengan tata kelola pemerintahan Indonesia yang telah berubah menjadi
desentralistik (otonomi daerah). Satu dan lain hal disebabkan karena pajak baik
bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, memiliki peranan yang
dominan terhadap penerimaan Anggaran Pendapatan Belanja Nasional
(APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Pentingnya pajak bagi negara (pemerintah pusat maupun daerah) sangat
disadari karena peranan pajak dalam menunjang APBN sebagai penerimaan
negara maupun APBD sebagai penerimaan daerah sangat dominan.
Penerimaan tersebut semata dalam rangka untuk kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat sebagaimana tertuang dalam Mukadimah UUD 1945
alinea keempat, yaitu:
1.10 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
“……untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial maka disusunlah
kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat………dst”
Begitu besarnya peranan dan kewajiban pajak untuk penerimaan negara
hingga ketetapan pajak mempunyai sifat daya paksa setara dengan putusan
pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).
Atas dasar alasan tersebut maka pemerintah mengatur pungutan pajak di dalam
Undang-Undang Dasar yang implementasinya harus tertib dan disahkan wakil
rakyat di DPR sebagai undang-undang.
Menurut Teresa Ter-Minassian dalam buku “Fiscal Federalism in Theory
and Practise” menyatakan bahwa untuk menjaga ketertiban dalam
pemungutan pajak, perlu dipenuhi persyaratan administratif sebagai berikut:
1. Jumlah pajak yang dipungut dari masing-masing wajib pajak harus jelas
dan pasti.
2. Wajib pajak harus dimungkinkan untuk menghitung sendiri jumlah pajak
terutang, kapan serta di mana harus membayar, dan melaporkannya
kepada institusi yang berwenang.
3. Pemerintah harus memberikan fasilitas yang sebaik-baiknya supaya wajib
pajak dapat dengan mudah, tanpa tambahan pengorbanan untuk
memenuhi kewajiban perpajakan kepada negara.
4. Biaya administrasi pajak harus diusahakan seminimal mungkin karena
yang diharapkan sebagai dana untuk membiayai pengeluaran negara
adalah dari hasil bersih.
5. Pemerintah harus diberi kekuasaan untuk memungut tunggakan pajak
dengan paksa, apabila diperlukan.
6. Demikian pula wajib pajak harus dijamin haknya untuk mengajukan
upaya hukum apabila dirasakan tidak adil terhadap beban pajak yang
dipikul.
Rochmat Sumitro dalam buku “Asas dan Dasar Perpajakan I” mengutip
pendapat Adam Smith dalam bukunya “Wealth of Nations” yang terkenal di
seluruh dunia yang memberikan pedoman bahwa supaya peraturan pajak itu
adil harus memenuhi empat syarat. Keempat syarat tersebut disebut dengan
“The Four Canons of Adam Smith” sering juga disebut dengan “The Four
Maxims”, yaitu:
HKUM4407/MODUL 1 1.11
1. Equalty and equity
Orang berada dalam keadaan sama harus dikenakan pajak yang sama.
2. Certainty
Dalam membuat undang-undang perpajakan, peraturannya harus jelas,
tegas dan tidak mengandung arti ganda yang memberikan peluang
penafsiran,
3. Convenience of payment
Pajak harus dipungut pada saat yang tepat, yaitu saat wajib pajak
mempunyai uang.
4. Economics of collection
Harus dipertimbangkan bahwa biaya pemungutan pajak harus lebih kecil
dari uang pajak yang masuk.
Dalam meneliti lebih dalam mengenai hukum pajak, terdapat hal penting
yang menjadi pokok bahasan, yaitu bahwa pungutan pajak harus memenuhi
rasa keadilan baik bagi pemerintah sebagai pemungut pajak, maupun
pembayar pajak (wajib pajak). Keadilan berkenaan dengan pajak (tax justice),
mengandung pemahaman yang luas dan pelik. John Rawls mengemukakan
terdapat dua prinsip keadilan, pertama, yaitu hak perlakuan yang sama yang
dimiliki setiap orang tanpa membedakan status dan jabatan. Kemudian yang
kedua adalah bagaimana mengatur ketimpangan sosial dan ekonomi sehingga
dapat memberikan harapan dan keuntungan bagi semua orang.
Keadilan adalah kebajikan utama dalam pemerintahan dan institusi sosial,
apalagi pungutan pajak yang mempunyai daya paksa, walaupun
penerimaannya akan digunakan untuk pembangunan negara, akan tetapi harus
dirasakan adil bagi masyarakat yang dipungut sebagai pembayar pajak. Untuk
itulah, UUD 1945 sebagai konstitusi dasar negara Republik Indonesia
mewajibkan bahwa segala pungutan pajak harus ditetapkan dengan undang-
undang. Undang-undang merupakan manifestasi keadilan karena mekanisme
pembuatan undang-undang adalah melalui proses yang harus diwakili
perwakilan rakyat melalui persetujuan Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan
Perwakilan Rakyat.
Berkaitan dengan kebijakan fiskal dalam jangka menengah Pemerintah
Republik Indonesia, sebagaimana dituangkan dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RJPMN) 2004-2010 diarahkan untuk menjaga
ketahanan fiskal yang berkelanjutan (fiscal sustainability) melalui optimalisasi
sumber-sumber pendapatan negara, peningkatan efisensi dan efektifitas
1.12 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
belanja negara, serta pengelolaan pembiayaan secara berhati-hati. Dengan
kebijakan tersebut, defisit anggaran dapat terjaga dan terkelola sehingga rasio
utang pemerintah terhadap PDB terus menurun. Di tahun 2014, kebijakan
fiskal diarahkan untuk (1) menyediakan stimulasi fiskal secara terukur dengan
tetap menjaga kesinambungan fiskal; (2) memperkuat kapasitas fiskal (fiscal
capasity); (3) memperlebar ruang fiskal (fiscal space); (4) meningkatkan
kualitas belanja (quality spending); (5) memperkuat pengelolaan keuangan
daerah dalam kerangka desentralisasi fiskal; dan (6) memantapkan
pengelolaan pembiayaan anggaran.
Dalam upaya meningkatkan pendapatan negara, utamanya dalam
mendukung penerimaan perpajakan, sepanjang tahun 2004-2013, pemerintah
telah melakukan berbagai kebijakan di bidang perpajakan. Secara garis besar
dapat digolongkan menjadi: (1) kebijakan yang bersifat umum; (2) kebijakan
di bidang PPh; dan (3) kebijakan di bidang PPN.
Kebijakan umum perpajakan yang dilakukan, meliputi (1) perluasan basis
pengenaan pajak (tax base); (2) optimalisasi teknologi informasi dalam rangka
penggalian potensi dan pengawasan Wajib Pajak (WP) melalui pemanfaatan
aplikasi profil berbasis web (Approweb) dan aplikasi dashboard penerimaan
pajak; (3) Sensus Pajak Nasional (SPN); dan (4) penguatan infrastruktur
penerimaan pajak dengan memanfaatkan sinkronisasi Sistem Kliring Nasional
(SKN) antara Bank Indonesia dan Modul Penerimaan Negara (MPN).
Sementara itu, kebijakan di bidang PPh yang telah dilakukan antara lain: (1)
pembenahan kebijakan pengenaan PPh final; dan (2) kebijakan penyesuaian
batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk memberikan stimulus
fiskal bagi perekonomian. Untuk bidang PPN, kebijakan difokuskan pada
pembenahan administrasi dalam sistem PPN untuk mengurangi
penyalahgunaan faktur pajak bermasalah melalui: (1) penyederhanaan
pengenaan PPN melalui mekanisme Ideemed Tax; (2) pemberlakuan sistem E-
invoice; dan (3) pemberlakuan sistem barcode sebagai identitas transaksi
Pengusaha Kena Pajak (PKP).
Dari sisi belanja, dalam upaya meningkatkan kualitas belanja negara,
kebijakan lebih ditekankan pada pentingnya langkah efisiensi dan efektivitas
dalam mendorong produktivitas pada setiap jenis belanja untuk menciptakan
efisiensi ekonomi dan peningkatan daya saing perekonomian domestik.
Dari sisi pembiayaan, untuk dapat mengimbangi perkiraan defisit besar,
pemerintah berupaya untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan
menerapkan prinsip kehati-hatian dan mempertimbangkan berbagai faktor, di
HKUM4407/MODUL 1 1.13
antaranya biaya dan risiko utang, perkembangan kondisi pasar keuangan,
kapasitas daya serap pasar Surat Berharga Negara (SBN), country ceilling/
single county limit masing-masing lender, dan kebutuhan kas negara.
Pembiayaan defisit anggaran diprioritaskan melalui optimalisasi sumber-
sumber pembayaran utang dari dalam negeri yang dilaksanakan bersamaan
dengan upaya untuk mengoptimalkan peran serta dari masyarakat (financial
inclusion), mengembangkan pasar keuangan domestik (financial deepening),
dan meningkatkan pengaruh pengganda (multipier effect) perekonomian
nasional. Sementara itu, pembiayaan yang bersumber dari luar negeri selalu
diupayakan dengan menjaga negatif net flow untuk mengurangi
ketergantungan terhadap pinjaman luar negeri.
Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa pungutan pajak harus ada
ketentuan undang-undang yang mengaturnya terlebih dahulu, seperti halnya
jenis-jenis pajak pusat diatur dengan undang-undang. Namun, untuk pajak
daerah seiring dengan otonomi daerah yang memberikan kewenangan
pungutan pajak dan retribusi kepada daerah, sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 telah melimpahkan kewenangannya
pengaturan pemungutannya kepada daerah dengan Peraturan daerah (Perda),
tetapi tetap harus berpedoman dan tidak boleh menyimpang atau bertentangan
dengan UU (UU Nomor 28 Tahun 2009). Karena, berdasarkan hierarki
peraturan perundang-undangan dalam Pasal 7 dari UU Nomor 12 Tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan bahwa peraturan daerah
adalah kedudukannya di bawah undang-undang. Sesuai asas dan teori hukum
murni yang juga dianut dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 bahwa “Peraturan
perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan di atasnya.” Tegasnya, peraturan daerah tentang pajak daerah tidak
boleh bertentangan dengan undang-undang.
Sementara itu, untuk Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD)
kewenangan pemungutannya dibedakan antara PDRD provinsi dan PDRD
kabupaten/kota di mana jenis dan peruntukannya berbeda yang akan dibahas
kemudian.
1.14 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
1) Mengapa pajak termasuk dalam hukum publik?
2) Mengapa pajak termasuk dalam disiplin ilmu hukum tersendiri?
3) Jelaskan kedudukan hukum pajak dengan hukum lainnya!
4) Jelaskan penerimaan negara berdasarkan postur APBN!
5) Mengapa pengaturan pajak harus ditetapkan dengan undang-undang?
6) Bagaimana perkembangan pengaturan dasar tentang pajak dalam UUD
1945?
7) Apakah makna pajak diatur dengan undang-undang?
8) Bagaimana pungutan pajak agar dirasakan adil bagi pembayar pajak?
9) Jelaskan hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia!
10) Apa yang Saudara ketahui tentang Teori “The Four Maxims“!
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Pajak termasuk lingkup hukum publik karena mengatur hubungan antara
negara dan orang-orang atau badan (hukum) yang mempunyai kewajiban
membayar pajak.
2) Pajak termasuk disiplin ilmu tersendiri karena selain berkaitan dengan tata
kelola negara, administrasi juga mengatur secara khusus tentang tindak
pidana bagi yang tidak melaksanakan kewajiban perpajakan.
3) Kedudukan hukum pajak dengan hukum lainnya bahwa hukum pajak
merupakan lex specialis di bidang pungutan pajak terhadap undang-
undang lainnya.
4) Penerimaan negara di dalam postur APBN terdiri dari penerimaan
perpajakan, penerimaan negara bukan pajak, dan penerimaan hibah.
5) Pengaturan pajak harus ditetapkan dengan undang-undang, hal tersebut
disebabkan bahwa walaupun pajak mempunyai kekuatan bersifat
memaksa untuk kepentingan negara, tetapi pajak bukan merupakan tujuan
dari negara namun keberadaannya adalah sebagai sarana atau instrumen
guna mencapai tujuan negara.
HKUM4407/MODUL 1 1.15
6) Pengaturan perkembangan dasar tentang pajak dalam UUD 1945 telah
berubah, semula dinyatakan dalam Pasal 23 ayat (2) UUD 1945 kemudian
setelah amandemen ke-III UUD 1945 diatur dalam Pasal 23A UUD 1945.
7) Makna pajak diatur dengan undang-undang sebagaimana dinyatakan
dalam Pasal 23A UUD 1945 adalah bahwa “Pajak tidak boleh diatur selain
dengan peraturan perundang-undangan.”
8) Pungutan pajak agar dirasakan adil bagi pembayar pajak maka ketentuan
pajak harus diatur dengan undang-undang.
9) Hierarki peraturan perundang-undangan di Indonesia terdapat dalam Pasal
7 UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan, yaitu:
a) UUD 1945;
b) Ketetapan MPR;
c) UU/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU);
d) Peraturan Pemerintah (PP);
e) Peraturan Presiden;
f) Peraturan Daerah Provinsi;
g) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
10) Teori “The Four Maxims” dari Adam Smith menegaskan terdapat 4
(empat) syarat dalam melaksanakan pungutan pajak, yaitu:
a) equalty dan equity;
b) certainty;
c) convenience of payment;
d) economics of collection.
R A NG KU M AN
Pajak merupakan penerimaan negara yang dominan untuk
melaksanakan pembangunan di negeri ini, baik dilihat dari peranannya
terhadap APBN maupun besarannya yang dari tahun ke tahun
menunjukkan kenaikan. Seiring dengan otonomi daerah yang merupakan
tata kelola pemerintahan yang dimulai sejak awal tahun 1984, yaitu sejak
ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti dengan Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004, peranan pajak diharapkan menjadi tulang
punggung bagi penerimaan APBN dan APBD.
1.16 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Begitu strategisnya penerimaan pajak hingga Undang-Undang Dasar
1945 sebagai konstitusi negara RI menempatkan pungutan pajak dalam
Pasal 23A amandemen ketiga UUD 1945 yang menyatakan “Pajak dan
pungutan yang bersifat memaksa untuk kepentingan negara diatur dengan
undang-undang.”
Pengertian diatur dengan undang-undang dimaknai sebagai peraturan
perundang-undangan, di mana jenis dan hierarkinya dinyatakan dalam
Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yaitu: “Pungutan pajak
merupakan kebijakan pemerintah atau kebijakan publik.” Setiap kebijakan
publik yang ditetapkan sebagai sebuah dokumen formal dan berlaku
mengikat kehidupan bersama maka kebijakan publik tersebut adalah
menjadi hukum. Karena hukum pajak di Indonesia didokumenkan dalam
konstitusi dasar UUD negara Republik Indonesia 1945 maka hukum pajak
adalah dikategorikan sebagai hukum publik yang mengatur mengenai
hubungan hak dan kewajiban individu (orang maupun badan) kepada
negara.
Terdapat berbagai pendapat mengenai kedudukan pajak, apakah
termasuk dalam hukum administrasi negara atau hukum tersendiri?
TES F OR M AT IF 1
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Alasan hukum pajak merupakan hukum publik adalah ....
A. karena pajak penting buat pembangunan negara
B. karena pajak merupakan kebijakan publik yang ditetapkan dalam
dokumen formal
C. karena pajak bersifat memaksa
D. karena diatur dalam undang-undang
2) Perbedaan pajak dan perpajakan adalah ....
A. keduanya sama saja
B. perpajakan lebih luas, yaitu merupakan pungutan negara yang
meliputi pajak pusat, pajak daerah, serta bea dan cukai
C. perpajakan meliputi pajak pusat dan pajak daerah
D. perpajakan meliputi penerimaan perpajakan, penerimaan negara
bukan pajak dan penerimaan hibah
HKUM4407/MODUL 1 1.17
3) Sanksi perpajakan, meliputi ....
A. sanksi bunga, kenaikan, dan denda
B. sanksi administrasi dan sandera
C. sanksi administrasi dan pidana
D. sanksi denda dan pidana
4) Peraturan yang menyatakan bahwa pajak seharusnya diatur dengan
undang-undang terdapat dalam ....
A. Ketetapan MPR
B. Pasal 23A UUD 1945
C. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009
D. kebiasaan hukum tidak tertulis
5) Alasan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) diatur dengan
peraturan daerah adalah ....
A. karena otonomi daerah
B. karena merupakan tanggung jawab daerah
C. karena diberikan kewenangan oleh undang-undang
D. karena pajak sangat penting bagi daerah
6) Tujuan dari pajak adalah ....
A. untuk kesejahteraan rakyat
B. untuk pembangunan
C. bentuk kepatuhan masyarakat kepada negara
D. semuanya benar
7) Apakah mungkin pajak dipungut berdasarkan perintah presiden?
A. mungkin dalam keadaan emergency
B. sangat mungkin karena presiden adalah kepala pemerintahan
C. mungkin karena presiden dipilih langsung oleh rakyat
D. tidak mungkin karena bertentangan dengan konstitusi dasar UUD
1945
8) Filosofi dari Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah ....
A. peraturan perundang-undangan yang berada di bawah tidak boleh
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya
B. agar peraturan perundang-undangan tidak tumpang tindih satu dengan
yang lain
C. membatasi kebijakan agar selalu dengan peraturan perundang-
undangan
D. semuanya benar
1.18 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
9) Pungutan pajak agar dirasakan adil bagi masyarakat pembayar pajak
harus ....
A. digunakan untuk kesejahteraan masyarakat
B. ditetapkan dengan undang-undang
C. memenuhi rasa keadilan
D. semuanya benar
10) Berdasarkan Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 12 Tahun 2011, hierarki
peraturan perundang-undangan, sebagai berikut ....
A. Tap MPR, UUD 1945, Undang-undang/Perppu, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Presiden, Perda Provinsi dan Perda
Kabupaten/Kota
B. UUD 1945, Undang-undang/Perppu, Peraturan Pemerintah,
Peraturan Presiden, Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota
C. UUD 1945, Tap MPR, Undang-undang/Perppu, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Presiden, Perda Provinsi dan Perda
Kabupaten/Kota
D. UUD 1945, Tap MPR, UU/Perppu, PP, Perpres, Peraturan Menteri,
Perda Provinsi dan Perda Kabupaten/Kota
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 1.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
HKUM4407/MODUL 1 1.19
Kegiatan Belajar 2
Pengertian Pajak
M otivasi utama pemajakan di negara berkembang adalah pengumpulan
dana pembiayaan pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik.
Motivasi lainnya adalah redistribusi penghasilan dan penyesuaian
kekurangsempurnaan mekanisme pasar. Walaupun suatu tingkat pemajakan
diperlukan untuk mencapai motivasi tersebut, pemajakan selalu mempunyai
pengorbanan, baik karena beban langsung berupa biaya administrasi, maupun
beban tidak langsung dalam upaya memperoleh penerimaan pajak.
Pola pemajakan di berbagai negara berbeda-beda seiring dengan keadaan
ekonomi, budaya dan sejarah. Rasio penerimaan pajak di negara berkembang
sekitar 10-15-20% dari Pendapatan Domestik Bruto (GDP), sedangkan di
negara maju lebih dari 30%. Berbeda dengan negara maju, negara berkembang
mengandalkan penerimaan pajaknya pada pajak tidak langsung (barang dan
jasa), sedangkan negara berkembang dari pajak penghasilan. Pajak
Penghasilan Orang Pribadi umumnya sulit dipungut dalam masyarakat yang
didominasi oleh ekonomi pedesaan yang merupakan masyarakat tunai (cash
society) dengan sebagian terbesar kegiatan ekonominya merupakan sektor
informal (underground economy).
Sementara itu, peranan penerimaan pajak di Indonesia guna membiayai
pembangunan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2012
sejumlah Rp1.016,237 triliun, sedangkan pada tahun 2013 sejumlah
Rp1.192,994 triliun, meningkat sejumlah Rp176,757 triliun.
Begitu pentingnya pajak untuk membiayai pembangunan dan pelayanan
pemerintahan di suatu negara, Gunadi menafsir pajak sebagai penerimaan bagi
negara berarti juga merupakan pengeluaran dari sisi masyarakat, artinya
penerimaan negara itu adalah beban bagi seluruh masyarakat. Beban dimaksud
ditanggung masyarakat dengan mengalihkan sebagian dari penghasilan yang
diperolehnya, kemudian membayarkannya kepada negara untuk sesuatu yang
mereka dapatkan. Agar tercipta keadilan maka kewajiban masyarakat untuk
membayar pajak dituangkan dalam undang-undang yang mengikat semua
warga negara. Karena dalam bentuk undang-undang itu pulalah masyarakat
seharusnya mengerti, memahami, dan sadar akan kewajiban perpajakannya
dan dapat melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Apabila kewajiban-
kewajiban perpajakan tersebut tidak dijalankan dengan benar sebagaimana
1.20 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
mestinya maka sanksi pidana yang diatur dalam undang-undang layak untuk
ditetapkan.
Begitu besarnya peranan penerimaan pajak untuk membiayai roda peme-
rintahan suatu negara, karena itu kita sangatlah penting kita mengetahui
pengertian pajak. Para ilmuwan dan pakar perpajakan mengemukakan
pengertian tentang pajak adalah sebagai berikut.
1. Prof. Edwin R. A. Seligman
Dalam bukunya “Essays In Taxation” (New York, 1925) memberi definisi
yang berbunyi: “Tax is a compulsery contribution from the person, to the
government to defray the expenses incurred in the common interest of all,
without reference to special benefit conferred.” Banyak terdengar keberatan
atas kalimat without reference karena bagaimanapun juga uang-uang pajak
tersebut digunakan untuk produksi barang dan jasa. Jadi, benefit diberikan
kepada masyarakat, hanya tidak mudah ditunjukkannya, apalagi secara
perseorangan.
2. Philip E. Taylor
Dalam bukunya “The Economist of Public Finance” (1948) mengganti
without reference menjadi with little reference.
3. [Link].N.J. Feldmann
Dalam bukunya “De Overheidsmiddelen van Indonesia (Leyden, 1949)
menyatakan bahwa “Belastingen zijn aan de Overheid (volgens algemene,
door haar vastgestelde normen) verschuldigde afdwingbare prestaties,
waargeen tegenprestatie tegenover staat en uitsluitend dienen tot dekking van
publieke uitgaven.” Artinya, pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak
oleh dan terhutang kepada penguasa (menurut norma-norma yang
ditetapkannya secara umum), tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata
digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum. Feldmann (seperti
juga halnya Seligman) berpendapat bahwa “Terhadap pembayaran pajak, tidak
ada kontraprestasi dari negara.” Dalam mengemukakan kritik-kritiknya
terhadap definisi dari sarjana-sarjana lain ternyata bahwa Feldmann tidak
berhasil pula mendefinisikan untuk memberikan gambaran tentang pengertian
pajak.
HKUM4407/MODUL 1 1.21
4. Prof. Dr. M. J. H. Smeets
Dalam bukunya “De Ecnomische betekenis der Belastingen” (1951)
menyatakan bahwa “Belastingen zijn aan de overheid (volgens normen)
verschuldigde, afdwingbare prestaties, zonder dat hiertegenover, in het
individuele geval, aanwijsbare tegen-prestaties staan; zij strekken tot dekking
van publieke uitgaven.” Artinya, pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang
terutang melalui norma-norma umum dan yang dapat dipaksakan, tanpa
adanya kontraprestasi yang dapat ditunjukkan dalam hal yang individual;
maksudnya adalah untuk membiayai pengeluaran pemerintah. Dalam bukunya
ini, Smeets mengakui bahwa definisinya hanya menonjolkan fungsi budgeter
saja; baru kemudian ia menambahkan fungsi mengatur pada definisinya.
5. Dr. Soeparman Soemohamidjojo
Dalam disertasinya yang berjudul “Pajak berdasarkan Asas Gotong
Royong” (Universitas Padjajaran Bandung, 1964) mendefinisikan pajak
sebagai iuran wajib, berupa uang dan barang, yang dipungut oleh penguasa
berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-
barang dan jasa-jasa secara kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.
Dengan mencantumkan istilah iuran wajib, ia mengharapkan terpenuhinya
ciri bahwa pajak dipungut dengan bantuan dari dan kerja sama dengan wajib
pajak sehingga perlu pula dihindari penggunaan istilah “paksaan”. Lebih-lebih
(demikian pula menurut sarjana lainnya) bilamana suatu kewajiban harus
dilaksanakan berdasarkan undang-undang, dalam hal kewajiban tersebut tidak
dilaksanakan maka undang-undang menunjukkan cara pelaksanaan yang lain,
hal ini tidak mengenai pajak (saja dan cara ini biasanya adalah untuk
memaksa). Selanjutnya, (menurut pendapatnya) berkelebihanlah kiranya,
kalau khusus mengenai pajak ditekankan pentingnya paksaan itu, seakan-akan
tidak ada kesadaran masyarakat untuk melakukan kewajibannya. Ia sudah
menganggapnya cukup dengan menyatakan bahwa pajak adalah “iuran wajib”
(tidak usah diberi tambahan “yang dapat dipaksakan”). Adapun mengenai
kontraprestasi, Dr. Soeparman berpendirian bahwa justru untuk
menyelenggarakan kotraprestasi itulah perlu dipungut pajak.
6. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H.
Dalam bukunya “Dasar-Dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan 1944”,
Rochmat Soemitro mendefinisikan pajak sebagai suatu iuran rakyat kepada kas
negara (pengalihan kekayaan dari sektor partikelir ke sektor pemerintah)
1.22 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa
timbal balik (tegen prestasi) yang langsung dapat ditunjuk dan yang digunakan
untuk membiayai keperluan umum (publike uitgiven).
7. Prof. S. I. Djojoniningrat
Pajak menurut S.I. Djojoniningrat adalah sebagai suatu kewajiban
menyerahkan sebagian dari kekayaan kepada negara disebabkan suatu
keadaan, kejadian dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi
bukan sebagai hukuman, menurut peraturan-peraturan yang ditetapkan
pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa balik dari negara
secara langsung untuk memelihara kesejahteraan umum.
8. P. J. A. Adriani
“Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang
oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak
mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan yang ada
gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung
dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.”
9. Dr. Tjip Ismail, S.H., M.B.A., M.M.
“Pajak adalah hak dan kewajiban kepada negara yang dapat dilaksanakan,
diatur dengan undang-undang, digunakan untuk keperluan negara dengan
memperoleh kontraprestasi pada sektor pajak yang bersangkutan.”
Dari definisi tersebut di atas, baik pengertian secara ekonomis (pajak
sebagai perpindahan kekayaan dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau
secara yuridis (pajak sebagai iuran wajib) dapat diambil suatu kesimpulan
tentang ciri-ciri yang terdapat pada pengertian pajak sebagai berikut:
a. pajak dipungut oleh negara baik oleh Pemerintah Pusat maupun
Pemerintah Daerah didasarkan undang-undang serta aturan
pelaksanaannya;
b. pemungutan pajak menghendaki adanya alih dana (sumber) dari sektor
swasta (wajib pajak pembayar pajak) ke sektor negara (pemungut pajak,
administrator pajak);
c. terdapat perkembangan bahwa pajak seyogianya ada kontraprestasi atau
imbalan yang diberikan oleh negara (Pemerintah Pusat/Pemerintah
Daerah) kepada sektor pajak yang bersangkutan, bukan kepada pembayar
pajak. Karena apabila tidak demikian, penerimaan pajak akan
HKUM4407/MODUL 1 1.23
diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan oleh
alinea keempat pembukaan UUD 1945 sebagai tujuan dari negara
Indonesia;
d. pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum
pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahannya, baik rutin
maupun pembangunan.
e. pemungutan pajak dihubungkan dengan adanya suatu keadaan, kejadian,
dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu pada seseorang,
misalnya keadaan kekayaan seseorang, terjadinya perolehan pendapatan
dan perbuatan pemindahan barang.
Dasar pemungutan pajak adalah undang-undang pajak (untuk setiap jenis
pajak) yang bersumber kepada konstitusi atau Undang-Undang Dasar.
Sehubungan dengan kegiatan bisnis yang berkembang pesat, di mana tidak
mungkin hanya diatur dengan undang-undang, dalam memudahkan
pelaksanaan pemungutan pajak, kewenangan tersebut dapat dilimpahkan
kepada peraturan perundang-undangan yang lebih rendah sepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan di atasnya. Hal tersebut sesuai dengan teori
stufenbouw theory mengenai hukum murni dari Hans Kelsen. Oleh karena itu,
pemungutan pajak melalui Peraturan daerah (Perda) dapat dibenarkan karena
Perda merupakan bagian dari peraturan perundang-undangan. Sebagaimana
telah diuraikan mengenai hierarki peraturan perundang-undangan dalam Pasal
7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 terdahulu.
Dengan demikian, sebagaimana disertasi penulis pada tahun 2005 yang
memperoleh apresiasi tertinggi dari Universitas Indonesia mengenai pajak
seharusnya terdapat kontraprestasi atau imbalan kepada sektor pajak,
kemudian telah diakomodir khususnya oleh undang-undang pajak daerah yang
baru (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009). Selama ini paradigma pajak
selalu diidentikkan dengan pungutan memaksa berdasarkan undang-undang
dengan tanpa imbalan atau kontraprestasi adalah tidak sejalan dengan tujuan
negara Indonesia dan makna otonomi daerah, yaitu untuk lebih mendekatkan
pelayanan kepada masyarakat lokal melalui Pemerintah Daerah.
Apabila pembayaran pajak harus tanpa imbalan dari pemerintah (dalam
hal ini juga Pemerintah Daerah) maka hal tersebut menjadi kontraproduktif.
Semestinya pajak harus jelas peruntukannya yang dalam hukum fiskal lazim
disebut dengan earmarking tax. Karena itu, pembayaran pajak daerah harus
terdapat imbalan atau kontraprestasi bagi sektor pajak yang bersangkutan.
1.24 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Berbeda dengan retribusi imbalan atau kontraprestasinya hanya untuk
pembayar retribusi saja.
Contohnya, apabila kita membayar pajak daerah, pajak kendaraan
bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor diharapkan pemerintah
daerah akan memberikan pelayanan terhadap kenyamanan berkaitan dengan
pembayaran pajak tersebut bagi pengendara bermotor, misalnya jalanan mulus,
rambu-rambu jalan, dan lampu stopan lalu lintas berfungsi dengan baik, dst.
Berdasarkan penelitian penulis, sebagian besar Pemerintah Daerah sudah
melaksanakan peruntukan prioritas penggunaan penerimaan pajak daerah yang
dituangkan dalam peraturan daerahnya. Misalnya, Provinsi Sumatera Utara
telah mencantumkan dalam peraturan daerah tentang bagi hasil penerimaan
pajak kendaraan bermotor kepada daerah kabupaten/kota agar diprioritaskan
untuk perbaikan jalan dan rambu-rambu lalu lintas. Di kabupaten/kota di Bali,
dalam menunjang pariwisata penerimaan dari Pajak Penerangan Jalan (PPJ)
digunakan untuk pembiayaan penerangan jalan. Diharapkan juga penerimaan
jenis pajak daerah kabupaten/kota, yaitu pajak mineral bukan logam dan
batuan (pajak hasil tambang golongan c), diprioritaskan untuk reklamasi,
perbaikan ekosistem dan kerusakan alam akibat kegiatan penambangan
tersebut.
Demikian pula untuk pajak-pajak pusat kontraprestasinya dilakukan
pemerintah dalam bentuk meningkatkan pelayanan informasi. Selain itu,
dalam UU ditetapkan penerimaan perpajakan pusat, yaitu penerimaan PPh
Perseorangan (PPh Pasal 25 dan 29), PPh Karyawan (PPh Pasal 21) dan
penerimaan cukai dibagihasilkan kepada pemerintah daerah. Alasan bagi hasil
tersebut adalah dalam rangka menjaga keutuhan NKRI, di mana pungutan
pajak perseorangan, pajak karyawan maupun cukai obyeknya berada di daerah.
Berkaitan dengan penerapan pungutan Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Ronald John Hy dan William L Waugh, JR menyatakan bahwa “Untuk
meningkatkan pendapatan daerah adalah lebih rational bila dilakukan melalui
pungutan retribusi dari pada mengenakan pajak.” Artinya bahwa dalam
penyelenggaraan pemerintahan di daerah adalah lebih baik kualitasnya,
apabila penerimaan retribusinya lebih tinggi dari pada pajak daerah.
“State are always looking for ways to acquire additional revenues without
raising taxes. Fees and user charges are commonly used. Closing tax
loopholes for sales and income taxes also is frequently employed. Whatever
the form of revenue enchancement, it seems obvious that for now broad-based
tax increases are not on the horizon.”
HKUM4407/MODUL 1 1.25
Demikian juga Mikesell menyatakan bahwa retribusi dirasakan lebih adil
dan efisien diterapkan dari pada pajak di suatu state/negara bagian/pemerintah
daerah.
Berkenaan dengan persyaratan bahwa penerimaan pajak untuk digunakan
dalam pembiayaan umum dimaksudkan agar pembiayaan umum pemerintah
harus terukur dan sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam undang-undang
bagi APBN, dan untuk pengeluaran APBD harus terlebih dahulu ditetapkan
melalui peraturan daerah. Mekanisme tersebut diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Oleh karena itu, administrasi pajak mempunyai peranan yang sangat
penting dalam menentukan efektivitas suatu sistem pajak. Menurut Richard M
Bird, di negara-negara berkembang para analis kebijakan pajak meyakini
bahwa perubahan kebijakan tanpa diikuti oleh perubahan administrasi tidak
akan menghasilkan apa-apa. Dengan demikian, sangatlah penting untuk
memastikan agar setiap perubahan kebijakan pajak harus sesuai dengan
kapasitas administrasi. Besarnya penerimaan bukanlah indikator mutlak
berhasilnya suatu sistem administrasi pajak. Pemerintah juga wajib
mempertimbangkan bagaimana penerimaan tersebut didapat bagaimana
dampak pengenaan pajak terhadap keadilan, politik pemerintahan, dan tingkat
kesejahteraan sosial.
Selain pajak, pungutan lain untuk Pemerintah Pusat diperoleh dari bea dan
cukai, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sedangkan pungutan
untuk pemerintah daerah selain dari pajak daerah adalah retribusi daerah.
Namun demikian, potensi dalam menunjang perolehan APBN maupun APBD
tetap saja didominasi dari penerimaan pajak.
Begitu besarnya peranan penerimaan pajak bagi Pemerintah Pusat
maupun daerah, hingga di lapangan sering terjadi tumpang tindih dalam
pengenaan terhadap suatu obyek pajak. Oleh karena itu, undang-undang pajak
daerah yang baru (Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009) menetapkan
bahwa jenis pajak daerah adalah limitatif. Daerah tidak boleh lagi menambah
jenis pajak daerah selain yang ditetapkan oleh undang-undang (closed list).
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
1) Mengapa perlu dilakukan perubahan definisi pajak?
1.26 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
2) Bagaimana pendapat Saudara mengenai pendapat yang menyatakan
bahwa dalam rangka otonomi daerah seharusnya penerimaan retribusi
daerah lebih besar daripada pajak daerah?
3) Sebutkan ciri-ciri pungutan pajak menurut Saudara!
4) Jelaskan pajak merupakan earmark system!
5) Apa yang dimaksud dengan closed list dalam jenis pajak daerah?
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Perlunya dilakukan perubahan definisi pajak agar sesuai dengan
perubahan paradigma pungutan pajak sebagaimana telah terjadi
perubahan dasar pungutan pajak menurut UUD 1945.
2) Dalam tata kelola otonomi daerah memang seharusnya penerimaan
retribusi daerah lebih besar dari pajak daerah dimaksudkan bahwa tujuan
otonomi daerah untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat lokal
melalui pemerintah daerah dapat terealisasi.
3) Ciri pungutan pajak adalah bersifat memaksa dan dilakukan atas dasar
undang-undang.
4) Pajak merupakan earmark system artinya bahwa penerimaan pajak itu
utamanya diperuntukkan untuk pelayanan di sektor pajak yang
bersangkutan.
5) Jenis pajak daerah bersifat closed list artinya bahwa daerah tidak boleh
menambah jenis pajak selain yang telah ditetapkan dalam undang-undang
(plus).
R A NG KU M AN
Pajak sangat diperlukan bagi APBN maupun APBD di mana dari
tahun ke tahun baik besaran jumlahnya maupun peranannya menunjukkan
kenaikan. Definisi pajak selama ini tidak memberikan peluang
kontraprestasi atau imbalan. Hal ini menjadi kontraproduktif karena tidak
sejalan dengan tujuan negara Indonesia, sebagaimana tercantum dalam
alinea keempat Pembukaan UUD 1945 yang seharusnya pajak
diperuntukkan untuk semata kesejahteraan rakyat. Di lain hal, berkaitan
dengan otonomi daerah di mana makna otonomi daerah adalah guna
mendekatkan pelayanan Pemerintah Daerah kepada masyarakat lokal
tidak mungkin tercapai apabila tidak ditekankan bahwa penerimaan pajak
HKUM4407/MODUL 1 1.27
seharusnya ada kontraprestasi atau imbalan kepada sektor yang
bersangkutan. Oleh karena itu, definisi pajak yang selama ini ada harus
diubah dengan mencantumkan adanya kontraprestasi.
Secara tidak langsung earmarking system bagi pajak telah
dilaksanakan baik untuk pajak pusat maupun pajak daerah.
Untuk pajak pusat undang-undang telah menetapkan bagi hasil
kepada daerah di samping meningkatkan pelayanan kepada seluruh
pembayar pajak. Sedangkan untuk pajak daerah dalam undang-undang
pajak daerah telah menetapkan persentase tertentu untuk keperluan sektor
pajak yang bersangkutan dan hal tersebut harus ditetapkan dalam
peraturan daerah.
TES F OR M AT IF 2
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Menurut Saudara, apakah pajak diperlukan adanya kontraprestasi?
A. tidak perlu
B. perlu bahwa kontraprestasi diberikan kepada pembayar pajak
C. perlu bahwa kontraprestasi diberikan kepada sektor pajak yang
bersangkutan
D. ketiganya salah
2) Menurut Saudara, apakah alasan bahwa retribusi daerah seyogianya lebih
besar dari pajak daerah?
A. sejalan dengan makna otonomi daerah yang tidak ingin
membebankan masyarakat dengan membayar pajak
B. sesuai dengan UUD 1945
C. guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
D. ketiganya benar
3) Mengapa pajak harus diatur dengan undang-undang?
A. sesuai dengan amanat konstitusi dasar UUD 1945
B. sesuai dengan makna otonomi daerah
C. agar ada kepastian hukum
D. agar tercapai rasa keadilan
4) Di manakah penerimaan pajak dialokasikan?
A. di Kementerian Keuangan
B. di Bank Indonesia
1.28 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
C. dalam APBN/APBD
D. ketiganya benar
5) Mengapa pajak pusat dibagihasilkan kepada daerah?
A. dalam rangka otonomi daerah
B. dalam rangka pemerataan pembangunan
C. dalam rangka menjaga keutuhan NKRI
D. ketiganya benar
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
HKUM4407/MODUL 1 1.29
Kegiatan Belajar 3
Fungsi dan Syarat Pemungutan Pajak
S etelah memahami pengertian tentang ruang lingkup pajak dan definisi
tentang pajak, selanjutnya kita akan membahas fungsi pajak dan syarat
pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara kepada masyarakat.
A. FUNGSI PAJAK
Fungsi pajak menurut pendapat modern dari Richard A Musgrave sebagai
berikut.
1. Fungsi Budgetair
Fungsi ini merupakan fungsi utama pajak atau fungsi fiskal, yaitu fungsi
pajak semata sebagai alat untuk memasukkan dana secara optimal ke kas
negara berdasarkan undang-undang perpajakan yang berlaku.
Sebagai konsekuensinya pengenaan pajak tidak membedakan dari sebab
yang dilarang atau tidak dilarang dalam undang-undang.
Contoh:
Besarnya tarif PPh dari penghasilan judi dan koruptor adalah sama besarnya
dengan penghasilan yang diperoleh dari gaji guru atau ustadz.
Fungsi budgetair dari pajak berarti bahwa pungutan pajak oleh negara
dilakukan untuk menutup pembiayaan atau belanja penyelenggaraan
pemerintahan, meliputi: (1) belanja barang, (2) belanja modal, (3) pembayaran
bunga utang, (4) subsidi, (5) belanja hibah, (6) bantuan sosial, serta (7) belanja
lain-lain dari kementerian dan lembaga. Besarnya budgetair tersebut
ditetapkan dengan undang-undang setiap tahun yang diusulkan oleh
pemerintah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Dari tabel di bawah ini, tampak penerimaan perpajakan menunjukkan
kenaikan dari tahun ke tahun daripada penerimaan negara bukan pajak dan
hibah sebagai berikut:
1.30 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Tabel 1.1
Perkembangan Penerimaan Dalam Negeri 2008 – 2013
(Triliun Rupiah)
Uraian 2011 2012 2013 2014 2015
I. Penerimaan Perpajakan 873,9 980,5 1.148,3 1.146,9 1.240,4
a. Pajak Dalam Negeri 819,8 930,8 1.099,9 1.103,2 1.205,5
i. Pajak Penghasilan 43 1,1 465,0 538,7 546,2 602,3
1) Migas 73,1 76,6 83,5 87,4 49,7
2) Non migas 358,0 422,4 455,2 458,7 552,6
ii. Pajak Pertambahan Nilai 277,8 337,5 423,7 409,2 423,7
iii. Pajak Bumi dan Bangunan 29,9 28,9 27,3 23,5 29,3
iv. BPHTB 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
v. Cukai 77,0 95,0 104,7 118,1 144,6
vi. Pajak lainnya 3,9 4,2 5,4 6,3 5,6
b. Pajak Perdagangan 43,6 34,9
54,1 49,6, 48,4
Internasional
i. Bea Masuk 25,3 28,4 30,8 32,3 31,2
ii. Pajak Ekspor 28,9 21,2 17,6 11,3 3,7
II. Penerimaan Negara Bukan 398,7 253,7
331,5 351,8 349,2
Pajak
a. Penerimaan SDA 2 13,8 225,8 203,7 242,9 102,3
i. Migas 193,5 201,6 18 3,3 216,9 78,4
ii. Non Migas 20,3 24,2 20,4 26,0 24,0
b. Bagian Laba BUMN 28,2 30,8 36,5 40,3 37,6
c. PNBP lainnya 69,4 73,5 85,4 85,8 78,5
d. Pendapatan Badan Layanan 29,6 35,2
20,1 21,7 23,5
Umum
III. Penerimaan Hibah 5,3 5,8 4,5 5,1 10,4
TOTAL 1.210,6 1.338,1 1.502,0 1.550,6 1.504,5
Sumber: Kemenkeu
2. Fungsi Regulerend
Fungsi ini merupakan fungsi tambahan karena hasil penerimaan dari pajak
harus digunakan untuk mengatur pemerintahan secara adil. Pajak yang
memiliki pengaruh dalam politik anggaran dan keuangan tentunya dapat
berperan sebagai instrumen untuk ikut serta mengatur agar pungutan pajak
dapat dipatuhi karena dirasakan adil bagi masyarakat. Fungsi mengatur dari
pajak dimaksudkan bahwa pajak itu dapat dipergunakan sebagai alat untuk
mengatur pelaksanaan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial.
Fungsi tersebut dapat diwujudkan dalam suatu bentuk paket kebijakan
perpajakan (fiscal policy) secara khusus misalnya insentif pajak terhadap para
HKUM4407/MODUL 1 1.31
investor, tidak mengenakan suatu pajak tertentu di daerah kawasan berikat,
mengenakan tarif pajak yang tinggi terhadap penjualan minuman beralkohol,
dll.
3. Fungsi Distribution of Income
Pajak yang dipungut pemerintah didistribusikan kembali kepada
masyarakat sehingga pendapatan nasional melalui pajak dapat dikontribusikan
merata di seluruh lapisan masyarakat. Dalam teori hukum pajak lazim disebut
dengan earmarking tax, yaitu bahwa penerimaan pajak harus diperuntukkan
kembali kepada masyarakat. Dengan adanya fungsi ini memberikan stimulus
agar masyarakat patuh membayar pajak, ikut juga mengawasi penggunaan dari
penerimaan pajak.
4. Fungsi Harmonization of Political Wants and Economy
Kepentingan pemerintah dalam memungut pajak harus jelas sesuai dengan
peraturan perpajakan, namun tetap memperhatikan keserasian keadaan politik
dan ekonomi negara. Misalnya, pungutan pajak harus menghormati dan
memberlakukan perjanjian pajak yang dilakukan secara bilateral antarnegara
(tax treaty), dan pajak internasional berikut ini.
a. Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B / Tax Treaty) adalah
perjanjian antar dua negara berisikan kesepakatan perlakuan perpajakan
terhadap subjek, objek, tarif pajak dan hal-hal lain dalam rangka
penghindaran pajak berganda dari dua negara.
b. Regulasi pajak secara internasional, hendaknya dijadikan rujukan dalam
rangka menghormati dan memperhatikan keserasian politik antarnegara.
5. Fungsi Stabilization of Economy
Pajak merupakan alat untuk menstabilkan perekonomian karena dengan
pajak akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang berdampak pada
lapangan kerja, stabilitas harga, inflasi neraca perdagangan, dst. Oleh karena
itu, regulasi pajak kebijakan pajak diupayakan agar:
a. jangan sampai menghambat lancarnya produksi dan perdagangan;
b. tidak menghalangi usaha rakyat untuk mencapai kemakmuran;
c. tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
d. memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan rakyat;
e. memperhitungkan potensi penerimaan;
f. tidak merugikan kepentingan umum.
1.32 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Misalnya, penerimaan pajak menjadi tulang punggung pendapatan negara
dalam APBN, karena kisaran 80% pendapatan negara diperoleh dari
penerimaan perpajakan yang setiap tahun APBN tersebut dibahas bersama
pemerintah dengan DPR dan ditetapkan menjadi undang-undang. Dalam
menetapkan UU tersebut, tentunya di dalamnya telah mempertimbangkan
politik anggaran dan perekonomian yang meliputi stabilitas harga, neraca
perdagangan, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dll.
Untuk mendukung tercapainya sasaran fungsi penerimaan pajak,
ditempuh berbagai kebijakan yang meliputi upaya:
a. intensifikasi pemungutan pajak;
b. ekstensifikasi subjek atau objek pajak;
c. kerja sama dengan instansi pemerintah dalam rangka pengumpulan data;
d. mengoptimalkan bank data secara elektronik;
e. peningkatan pelayanan kepada wajib pajak.
Kebijakan tersebut diaplikasikan terhadap wajib pajak dan jenis pajak
terkait, tentunya melalui pemeriksaan dan selanjutnya apabila wajib pajak
kurang atau tidak melaporkannya kegiatan usahanya dengan benar dalam Surat
Pemberitahuan Tahunan (SPT) maka akan diterbitkan ketetapan pajak, baik
berupa Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB) maupun SKPKBT (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
Tambahan).
Selain fungsi tersebut, pajak berfungsi sebagai sarana partisipasi
masyarakat terhadap pembangunan negara karena pajak tidak sekedar
kewajiban, tetapi lebih dari itu adalah merupakan hak warga negara untuk ikut
berpartisipasi dalam membangun negara. Oleh karena itu, adalah tepat slogan
pajak saat sekarang ini, yaitu ”lunasi pajaknya dan awasi penggunaannya.”
Berkaitan dengan fungsi partisipasi tersebut maka seyogianya institusi
pajak harus terbuka khususnya kepada wajib pajak mengenai kewajiban dan
haknya. Kewajiban adalah keharusan membayar pajak sesuai dengan
ketentuan perpajakan yang berlaku, sedangkan hak wajib pajak adalah hak
untuk memperoleh pelayanan informasi berkaitan dengan kewajiban
membayar pajak. Selain itu, wajib pajak mempunyai hak untuk memperoleh
pengembalian kelebihan bayar yang telah dituangkan dalam SPT apabila
setelah dilakukan pemeriksaan, kelebihan yang dituntut adalah benar.
HKUM4407/MODUL 1 1.33
B. SYARAT-SYARAT PEMUNGUTAN PAJAK
Pajak haruslah dipungut berdasarkan suatu keadilan. Keadilan tersebut
harus dituangkan baik dalam undang-undang yang rancangannya diajukan oleh
pemerintah untuk memperoleh persetujuan dari DPR sebagai lembaga
perwakilan rakyat. Pemungutan pajak dapat disebut adil apabila dipungut
secara umum dan merata kepada seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Jadi, jelasnya pajak harus
mengabdi kepada keadilan, dan keadilan inilah yang merupakan asas
pemungutan pajak menurut falsafah hukum.
Keadilan dalam perpajakan meliputi dua sisi, yaitu:
1. keadilan sejajar atau horizontal, dan
2. keadilan tegak lurus atau vertikal.
Keadilan sejajar (horizontal equity) maksudnya adalah kesamaan dalam
besaran kewajiban membayar pajak terhadap orang yang mempunyai
kemampuan ekonomis yang sama. Misalnya, Tuan A dan Tuan B yang
masing-masing mempunyai penghasilan yang sama Rp10.000.000,00 harus
membayar jumlah pajak yang besarnya sama.
Keadilan tegak lurus (vertical equity) maksudnya ialah ketidaksamaan
dalam membayar pajak walaupun mempunyai kemampuan ekonomis sama,
tetapi kondisinya berbeda. Misalnya, Tuan A berpenghasilan lebih besar dari
Tuan B maka Tuan A harus membayar pajak yang lebih besar dari Tuan B,
atau walaupun Tuan A dan Tuan B berpenghasilan sama sebesar
Rp10.000.000,00, tetapi Tuan A statusnya bujangan, sedangkan Tuan B sudah
beristri dan memiliki 3 maka perbedaan keadaan pribadi tersebut
menyebabkan jumlah pajak yang dibayar menjadi berbeda
R. Santosa Brotodihardjo, SH dalam bukunya ”Pengantar Ilmu Hukum
Pajak” menguraikan beberapa teori untuk memberikan dasar menyatakan
keadilan tersebut, sebagai berikut:
1. Teori Asuransi
Menurut Teori Asuransi dinyatakan bahwa “Pembayaran pajak yang
dilakukan oleh warga negara (masyarakat) dipersamakan dengan pembayaran
premi asuransi kepada negara karena negara dalam tugasnya telah melindungi
orang dan segala kepentingannya, (dianggap seolah-olah sebagai asuransi).”
1.34 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Namun pokok pikiran tersebut secara luas kurang dapat diterima dengan
alasan:
a. negara tidak dapat dipersamakan dengan perusahaan asuransi karena apa
bila terjadi kerugian yang diderita masyarakat, negara tidak mengganti;
b. tidak adanya hubungan langsung yang dapat ditunjuk antara jasa-jasa yang
diterima dengan jumlah pembayar pajak.
2. Teori Kepentingan
Menurut Teori Kepentingan, “Pembayaran pajak yang dilakukan oleh
masyarakat kepada negara merupakan perwujudan dari peran serta masyarakat
terhadap biaya kenegaraan dalam rangka menjaga dan melindungi kepentingan
masyarakat. Kepentingan tersebut termasuk perlindungan atas jiwa dan harta
bendanya.” Sesuai dengan prinsip teori tersebut, seharusnya semakin banyak
kepentingan seseorang harus semakin banyak pula membayar pajak. Namun,
dalam kehidupan sehari-hari hal tersebut sulit terlaksana karena misalnya,
orang yang miskin tentunya punya kepentingan yang banyak (antara lain
perlindungan jaminan sosial dan sebagainya), tetapi mereka justru tidak
membayar pajak. Karena tidak adanya hubungan langsung antara jumlah pajak
yang dibayarkan dengan kepentingan seseorang terhadap jasa pemerintah
maka teori ini pun kurang dapat diterima.
3. Teori Gaya Pikul
Menurut Teori Gaya Pikul, “Pembayaran pajak oleh masyarakat kepada
negara agar memenuhi rasa keadilan, haruslah disesuaikan dengan gaya pikul
masing-masing orang yang ukurannya adalah besarnya penghasilan. Semakin
besar gaya pikul seseorang berarti semakin besar pula jumlah beban pajak yang
akan dipikulkan kepadanya dan sebaliknya.” Gaya pikul seseorang dapat
diukur misalnya dengan indikator penghasilan, kekayaan, pengeluaran
(belanja) atau tanggungan keluarga dan sebagainya.
4. Teori Kewajiban Pajak Mutlak atau Teori Bakti
Menurut Teori Kewajiban, “Pajak mutlak atau teori bakti, pembayaran
pajak oleh masyarakat kepada negara dipandang sebagai suatu bentuk
pembuktian rasa baktinya kepada negara. Kebaktian tersebut dilakukan
sehubungan dengan terlaksananya penyelenggaraan kepentingan umum.”
Dalam teori ini, dasar hukum pajak terletak pada hubungan antara rakyat
HKUM4407/MODUL 1 1.35
dengan negara karena hakikat negara itulah maka timbul hak negara untuk
memungut pajak.
5. Teori Asas Daya Beli
Menurut teori asas daya beli, “Pembayaran pajak oleh masyarakat
merupakan transfer daya beli dari sektor swasta ke sektor pemerintah, dan
ditransfer kembali ke masyarakat dengan maksud untuk memelihara
kehidupan masyarakat dan membawanya ke arah tertentu. Dasar keadilan dari
pemungutan pajak terletak pada penyelenggaraan kepentingan masyarakat,
bukannya kepentingan individu dan negara.”
Dalam pemungutan pajak syarat keadilan (asas falsafah hukum) harus
diwujudkan baik dalam prinsip perundang-undangan maupun dalam
pelaksanaan sehari-hari.
Keadilan tersebut umumnya dituangkan dalam hak dan kewajiban wajib
pajak secara tegas sehingga betul-betul memberikan jaminan dan kepastian
hukum.
Menurut R. Santoso Brotodihardjo, S.H. dalam pembuatan undang-
undang pajak di samping harus memenuhi asas keadilan juga harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut.
a. Syarat Yuridis
Syarat yuridis menghendaki agar hukum pajak harus dapat memberikan
jaminan dan kepastian hukum yang perlu untuk menyatakan keadilan yang
tegas baik bagi negara (pemungut pajak) maupun untuk masyarakat (pembayar
pajak, wajib pajak). Di Indonesia sebagai negara hukum, dasar pemungutan
pajak diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 setelah amandemen ketiga
Pasal 23A yang menyatakan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat
memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang.
Berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 tersebut maka dengan per-
setujuan Dewan Perwakilan Rakyat disusunlah undang-undang pajak, untuk
setiap jenis pajak yang dipungut. Dalam menyusun undang-undang pajak
tersebut, harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:
1) hak-hak pemungut pajak yang telah diamanatkan oleh undang-undang
harus dijamin dapat dilaksanakan dengan baik;
2) para wajib pajak harus mendapat jaminan kepastian hukum, agar tidak
diperlakukan kurang adil oleh pemungut pajak;
3) adanya jaminan tentang kerahasiaan data wajib pajak.
1.36 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
b. Syarat Ekonomis
Syarat ekonomis menghendaki agar pemungutan pajak tidak menghalangi
atau menghambat atau bukan menjadi kendala terhadap keseimbangan dalam
kehidupan perekonomian, bahkan sebaliknya justru pajak harus menjadi
pendorong bagi pertumbuhan ekonomi, hal tersebut sesuai dengan fungsi
mengatur yang melekat pada pajak. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan
perpajakan harus diusahakan agar pemungutan pajak tidak menghambat
lancarnya produksi dan perdagangan serta merugikan kepentingan umum atau
menghalangi usaha masyarakat untuk mencapai kesejahteraan. Syarat
ekonomis ini dapat dipakai untuk mendorong atau menunjang kebijaksanaan
ekonomi pemerintah, misalnya untuk mendorong pemerataan penghasilan
diberlakukan tarif progresif untuk pajak penghasilan dan sebagainya.
c. Syarat Finansial
Syarat finansial menghendaki agar jumlah penerimaan pajak sedapat
mungkin cukup untuk menutup belanja pemerintah (fungsi budgetair).
Di samping itu, biaya pemungutan pajak hendaknya tidak terlalu besar, dan
tetap memperhatikan unsur efisiensi.
LAT IH A N
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
1) Jelaskan mengenai fungsi pajak!
2) Mengapa fungsi budgetair lebih diutamakan daripada fungsi pajak
lainnya?
3) Tindakan apa yang dilakukan pemerintah dalam rangka meningkatkan
penerimaan pajak?
4) Apa yang Saudara ketahui mengenai fungsi mengatur dari pajak?
5) Mengapa pungutan pajak harus diatur dengan undang-undang?
Petunjuk Jawaban Latihan
1) Fungsi pajak bersifat budgetair, regulerend, distribution of income,
harmonization of political wants and economy dan stabilization of
economy.
HKUM4407/MODUL 1 1.37
2) Fungsi budgetair lebih diutamakan karena utamanya fungsi pajak adalah
untuk kepentingan penerimaan negara.
3) Dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak dilakukan melalui:
a. intensifikasi pemungutan pajak;
b. ekstensifikasi subjek atau objek pajak;
c. kerja sama dengan instansi pemerintah dalam rangka pengumpulan
data;
d. mengoptimalkan bank data secara elektronik;
e. peningkatan pelayanan kepada wajib pajak.
4) Fungsi mengatur pajak adalah bersifat untuk kepastian bagi pemerintah
sebagai pemungut pajak maupun wajib pajak.
5) Pungutan pajak harus diatur dengan undang-undang agar terdapat rasa adil
dalam pungutan pajak.
R A NG KU M AN
Terdapat tiga fungsi pajak dalam membiayai tata kelola
pemerintahan, yaitu fungsi budgetair, regulerend, dan partisipatif. Akan
tetapi, fungsi budgedtair lebih menonjol daripada fungsi lainnya
dikarenakan peranan pajak sangat dominan dan diperlukan dalam
membiayai roda pemerintahan.
Untuk mendukung tercapainya sasaran penerimaan pajak, utamanya
dilakukan dalam bentuk intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi
adalah optimalisasi di dalam pemungutan pajak terhadap subjek pajak,
objek pajak, dan tarif pajak. Sedangkan, ekstensifikasi adalah upaya untuk
memperbesar jumlah subjek pajak. Kegiatan tersebut tentunya harus
didukung dengan data dan informasi yang dimiliki oleh pemerintah (c.q).
Sehubungan dengan hal tersebut, perlu ada peningkatan pelayanan
kepada wajib pajak agar wajib pajak dapat mengisi laporannya (SPT)
dengan benar. Apabila tidak, akan dikenakan surat ketetapan pajak.
TES F OR M AT IF 3
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Apakah fungsi pajak menurut Saudara?
A. budgetair, regulerend, dan partisipatif
B. untuk membiayai APBN
1.38 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
C. untuk membiayai otonomi daerah
D. untuk pemerataan dan rasa keadilan
2) Apakah yang dimaksud dengan fungsi regulerend?
A. suatu keadaan yang luar biasa
B. pajak berfungsi mengatur
C. fungsi pajak untuk membiayai keperluan negara
D. semuanya benar
3) Jenis penerimaan negara bukan pajak terdiri atas apa saja?
A. semua pungutan selain pajak
B. hibah
C. pungutan yang tidak diatur dalam undang-undang
D. terdiri dari penerimaan sumber daya alam, bagian laba BUMN, PNBP
lainnya, dan pendapatan Badan Layanan Umum
4) Apa yang dimaksud dengan intensifikasi pajak?
A. dikenakan pajak yang besar untuk membiayai negara
B. perluasan subjek pajak
C. mengoptimalkan pungutan pajak sesuai dengan undang-undang
D. semuanya benar
5) Apa yang dimaksud dengan ekstensifikasi pajak?
A. meningkatkan jumlah wajib pajak sesuai dengan undang-undang
B. memberikan insentif pajak kepada wajib pajak sesuai undang-undang
C. memberikan sanksi kepada wajib pajak yang tidak patuh atas
kewajiban perpajakannya
D. pengaturan pajak harus sesuai dengan undang-undang
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 3.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = 100%
Jumlah Soal
HKUM4407/MODUL 1 1.39
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 3, terutama bagian yang
belum dikuasai.
1.40 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif 1
1) B. Karena pajak merupakan kebijakan publik yang ditetapkan dalam
dokumen formal.
Sejalan dengan pengaturan pajak yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan tertinggi, yaitu konstitusi dasar 1945, Pasal
23A.
2) B. Perpajakan lebih luas, yaitu merupakan pungutan negara yang
meliputi pajak pusat, pajak daerah, serta bea dan cukai. Pengertian ini
dianut dalam undang-undang APBN.
3) C. Sanksi administrasi dan pidana.
Sesuai dengan undang-undang formal perpajakan yang diatur dalam
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan (KUP) sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, sanksi perpajakan
meliputi sanksi administrasi, yaitu berupa bunga, kenaikan, dan
denda, serta sanksi pidana.
4) B. Pasal 23A UUD 1945
Pasal ini merupakan amandemen ke-III UUD 1945 yang sebelumnya
diatur dalam Pasal 23 ayat (2) UUD 1945.
5) C. Karena diberikan kewenangan oleh undang-undang.
Pada dasarnya, pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan oleh
undang-undang, yaitu UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah. Akan tetapi, UU tersebut memberikan
kewenangan kepada daerah untuk memberlakukan pajak daerah dan
retribusi daerah dengan peraturan daerah.
6) D. Semuanya benar.
Tujuan pajak adalah sesuai dengan alinea ke-4 Pembukaan UUD
1945, yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, serta ikut serta melaksanakan ketertiban dunia,
berdasarkan….. dst. Pada hakikatnya adalah untuk kesejahteraan
rakyat, demi pembangunan, dan sebagai partisipasi kepatuhan
masyarakat kepada negara.
7) D. Tidak mungkin karena bertentangan dengan konstitusi dasar UUD
1945.
HKUM4407/MODUL 1 1.41
Pajak dipungut berdasarkan undang-undang, hal tersebut
sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi dasar negara Republik
Indonesia UUD 1945 Pasal 23A.
8) A. Peraturan perundang-undangan yang berada di bawah tidak boleh
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya.
Hal tersebut menegaskan bahwa hierarki perundangan tetap dijaga
agar sejalan dengan undang-undang yang merupakan produk
kebijakan pemerintah yang disetujui oleh wakil rakyat melalui Dewan
Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah.
9) D. Semuanya benar.
Bahwa pajak ditetapkan dengan undang-undang guna memenuhi rasa
keadilan untuk kesejahteraan masyarakat.
10) C. UUD 1945, TAP MPR, Undang-Undang/Perppu, Peraturan
Pemerintah, Peraturan Presiden, Perda Provinsi, dan Perda
Kabupaten/Kota. Hierarki peraturan perundang-undangan tersebut
sesuai dengan Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 11 Tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Tes Formatif 2
1) C. Perlu bahwa kontraprestasi diberikan kepada sektor pajak yang
bersangkutan.
Telah terjadi paradigma perubahan definisi pajak bahwa pajak harus
ada kontraprestasi atau imbalan yang diberikan bukan kepada
pembayar pajak, tetapi kepada sektor pajak yang bersangkutan.
2) A. Sejalan dengan makna otonomi daerah yang tidak ingin
membebankan masyarakat dengan membayar pajak retribusi daerah
adalah imbalan yang diberikan kepada pembayar retribusi karena
memperoleh jasa atau layanan dari Pemerintah Daerah. Berbeda
dengan pajak yang bersifat memaksa. Oleh karena itu, lebih tepat
menurut para pakar sebagai pendapatan asli daerah, retribusi daerah
lebih besar dari pajak daerah.
3) A. Sesuai dengan amanat konstitusi dasar UUD 1945. Hal tersebut diatur
dengan tegas dalam amandemen ke-III UUD 1945 pada Pasal 23A.
4) C. Dalam APBN/APBD
Penerimaan pajak merupakan penerimaan negara/daerah yang
dialokasikan dalam APBN/APBD, demikian juga penggunaannya
sesuai dengan target yang ditetapkan dalam APBN/APBD.
1.42 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
5) D. Ketiganya benar.
Pajak pusat PPh Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh Pasal 25 dan Pasal
29), dan PPh Karyawan (PPh Pasal 21) dibagihasilkan kepada daerah
dalam rangka otonomi daerah, pemerataan pembangunan, dan
menjaga keutuhan NKRI karena objek PPh tersebut berada di daerah.
Tes Formatif 3
1) A. Budgedtair, regulerend, distribution of income, harmonization of
political wants, and economy, dan stabilization of economy.
Fungsi pajak utama adalah untuk penerimaan negara, namun selain
itu adalah bersifat mengatur, menyesuaikan dengan perkembangan
negara lain guna stabilisasi ekonomi dalam negeri.
2) B. Pajak berfungsi mengatur.
Fungsi regurelend adalah bersifat mengatur merupakan fungsi selain
fungsi pajak sebagai penerimaan negara.
3) D. Terdiri dari penerimaan sumber daya alam, bagian laba BUMN,
PNBP lainnya, dan Pendapatan Badan Layanan Umum.
Penerimaan negara bukan pajak dimaksud sebagaimana diatur dalam
UU APBN.
4) C. Mengoptimalkan pungutan pajak sesuai dengan undang-undang.
Intensifikasi pajak adalah upaya meningkatkan penerimaan pajak,
berdasarkan undang-undang karena pada dasarnya wajib pajak
diberikan kepercayaan penuh untuk menghitung, membayar, dan
melapor sendiri pajak terutang yang dikenal dengan sistem self
assesment.
5) A. Meningkatkan jumlah wajib pajak sesuai dengan undang-undang.
Dalam melaksanakan self assesment banyak terjadi bahwa orang atau
badan yang seharusnya melakukan kewajiban pajaknya sebagai wajib
pajak ternyata tidak mendaftar sebagai wajib pajak. Untuk itu,
pemerintah melaksanakan ekstensifikasi agar orang atau badan
menjadi wajib pajak.
HKUM4407/MODUL 1 1.43
Glosarium
Beschikking : keputusan atau ketetapan tata usaha negara yang
bersifat individual, final dan konkret.
Budgetair : fungsi utama dari pungutan pajak. Menurut
fungsi ini pungutan pajak dimaksudkan sebagai
alat untuk mengisi kas atau anggaran negara.
Closed list : daerah tidak boleh menambah jenis pajak
daerah selain yang ditetapkan oleh undang-
undang.
Earmarking tax : peruntukan pajak, yaitu pungutan pajak harus
dinyatakan peruntukannya, misalnya Pajak
Kendaraan Bermotor (PKB) dan bea balik nama
kendaraan bermotor, dalam peraturan daerahnya
harus menyatakan diprioritaskan untuk
kenyamanan orang berkendaraan bermotor.
Ekstensifikasi : upaya untuk memperbesar jumlah subjek pajak
orang atau badan.
Intensifikasi : optimalisasi di dalam pemungutan pajak
terhadap subjek pajak, objek pajak, dan tarif
pajak.
Inkracht van Gewijs : putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum yang pasti.
Limitatif : ketentuan jumlah jenis pajak yang boleh
dikenakan berdasarkan undang-undang.
Official Assessment : kewenangan pemerintah atau pejabat yang
dilakukan dalam menetapkan pajak.
Regulerend : fungsi pajak yang bersifat mengatur.
Self Assessment : kewenangan wajib pajak dalam menghitung,
membayar, dan melapor pajak terutang
berdasarkan kepercayaan penuh yang diberikan
oleh pemerintah.
Stufenbouw Theory : teori hukum murni dari Hans Kelsen yang
menyatakan bahwa peraturan perundang-
undangan yang lebih rendah tidak boleh
1.44 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
bertentangan dengan peraturan perundang-
undangan di atasnya.
Tax base : dasar pengenaan pajak.
Tax treaty : diperjanjikan antara dua negara mengenai
subjek, objek, dan tarif pajak maupun hal-hal
lain yang disepakati mengenai pengenaan pajak
antar dua negara.
HKUM4407/MODUL 1 1.45
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. 1998. Ilmu Hukum Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
Djafar, Saidi Muhammad. 2007. Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Ilyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. “Pajak Daerah dan Retribusi Daerah”. Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail – Cet.1; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
_________. 2009. Hukum Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Hukum, Masyarakat, dan Pembangunan
Hukum Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Hukum (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum UII.
Nick Devas, dkk. 1989. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
UI Press.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentralizaion in
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarundayang. 2011. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
1.46 Hukum Pajak dan Acara Perpajakan
Singh, Verinderjet. 2005. Tax Thoughts on today’s Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link]. Malaysia: Selangor.
Soriaatmadja, Arifin P. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Hukum Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pusat dan Pajak Daerah. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No.7 Tahun 1983 sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. 10 Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai UU No. 11 Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL 2
Penggolongan Pajak
dan Peranan Pajak Bagi Negara
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
y l PEND AH UL U AN _
odul ini meliputi dua kegiatan belajar. Dalam Kegiatan Belajar I
M rnenguraikan mengenai filosofi pungutan pajak, kedudukan hukum
pajak, sifat hukurn pajak, asas pernungutan, sistem pemungutan, dan tarif
pemungutan pajak. Sedangkan dalam kelornpok Kegiatan Belajar 2
menguraikan mengenai bagairnana peranan pajak sebagai somber penerimaan
negara (APBN) dalam melaksanakan pernbangunan di Indonesia.
Di dalam penggolongan pajak kedudukan pajak memiliki sifat khusus
ditinjau dari kedudukannya dalam sistem hukurn, asas atau sistern pemungutan
serta tarif sesuai dengan ketentuan undang-undang, Peranan pajak sebagai
somber penerimaan negara menunjukkan kenaikan yang signifikan dari tahun
ke tahun yang target penerirnaannya ditetapkan setiap tahun dalam bentuk
undang-undang penerimaan negara (UU APBN). Konsekuensinya dalam
melaksanakan pungutan pajak selain besaran jumlahnya telah dibahas oleh
pemerintah dan wakil rakyat di DPR juga irnplementasinya harus sesuai
dengan ketentuan undang-undang.
2.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 1
Filosofi dalam Perpajakan
A. PAJAK BERDASARKAN FILOSOFI PEMUNGUTAN
Pada saat sekarang ini, seiring dengan terjadinya perubahan tata kelola
pemerintahan di Indonesia menjadi desentralistis (oronorni daerah) sejak
ditetapkannya Undang-undang Nornor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah, kewenangan siapa yang berhak mernungut pajak rarnai diperdebatkan.
Kewenangan tersebut berkaitan dengan dikotorni penggolongan pajak, yaitu
antara pajak pusat dan pajak daerah. Hal tersebut dapat dimaklumi karena
pajak adalah sangat dorninan sebagai sumber penerirnaan bagi Pernerintah
Pusat rnaupun Pernerintah Daerah (Pernerintah Daerah Provinsi dan
Kabupaten/Kota).
Sebelurnnya, implementasi tata kelola pemerintahan menggunakan asas
sentralistik, walaupun sebelurn diproklamasikannya kernerdekaan negara
Indonesia the founding fathers negara ,nenyatakan bahwa Indonesia yang
mempunyai sebaran wilayah yang Juas terdiri Jebih dari 15.000 kepulauan
besar dan kecil dengan keanekaragaman budaya, adat istiadat, dan agama yang
rnajernuk, seharusnya dalam ,nelaksanakan tata kelola pernerintahan menganut
asas otonorni daerah. Hal tersebut diwujudkan dalam konstitusi dasar Undang-
undang Dasar 1945, yaitu Pasal 18 UUD 1945 sebagai berikut:
"Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk
dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang dengan
memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem
pemerintahan negara, dan hak-hak asal usul dalam daerah yang bersifat
istimewa"
Maknanya bahwa dalam melaksanakan tata pemerintahan di Indonesia
harus menganut asas otonorni daerah.
Namun dernikian, pada awal pasca kemerdekaan Pernerintah Republik
Indonesia memerlukan satu komando dari pusat pemerintahan khususnya
dalam melawan penjajah karena ternyata belum semua daerah lepas dari
belenggu penjajahan. Untuk itulah walaupun konstitusi dasar Republik
Indonesia UUD 1945 dalarn pemerintahannya menyatakan harus rnelakukan
asas otonomi daerah, tetapi di dalam pelaksanaannya pemerintah
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.3
menggunakan asas sentralistik, di mana segala urusan pemerintahan ,nenjadi
kewenangan dari Pernerintah Pusat.
Menyadari atas kekeliruan tersebut rnaka dilakukan reformasi tata kelola
pemerintahan Indonesia otonomi daerah sebagaimana dinyatakan dalam Pasal
18 UUD 1945, yaitu dengan ditetapkan dan diundangkannya UU Nomor 22
Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah pada tanggal 22 Mei 1999. Di dalam
UU Nomor 22 Tahun 1999 Pasal 7 ayat (I) menegaskan bahwa "Kewenangan
daerah mencakup kewenangan seluruh bidang pemerintahan kecuali
kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan,
peradilan, moneter dan fiskal, agarna, serta kewenangan bidang lain."
Seiring dengan hal tersebut dilakukan pula perubahan pedoman tata kelola
pemerintahan otonomi daerah dalam 18 UUD 1945 karena dianggap kurang
jelas, yaitu melalui amandemen kedua UUD 1945 pada langgal 18 Agustus
2000. Berdasarkan amandernen kedua UUD 1945, Pengaturan Dasar Otonorni
Daerah diatur di dalam Pasal 18, Pasal 18A dan Pasal 18B sebagai berikut:
Pasal 18
(I) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi
dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap
provinsi, kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang
diatur dengan undang-undang.
(2) Pernerintah Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten dan Kola rncngatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonorni dan tugas
pembanruan,
(3) Pemerintah Daerah Provinsi, Daerah Kabupaten, dan Kota memiliki
Dewan Perwakilan Rakyat yang anggota-anggotanya dipilih melalui
pemilihan umum.
(4) Gubernur, bupati dan wali kota ,nasing-masing sebagai kepala pernerintah
daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara dernokratis.
(5) Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan
Pernerintah Pusat.
(6) Pernerintah Daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-
peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
(7) Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam
undang-undang.
2.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Pasa ISA
(I) Hubungan wewenang antara Pemerintah Pusat dan Pernerintahan Daerah
Provinsi, Kabupaten dan Kota atau antara Provinsi dan Kabupaten dan
Kota, diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan
dan keragarnan daerah.
(2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alarn,
dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah
diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-
undang.
Pasal 188
(I) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pernerintahan daerah
yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-
undang.
(2) Negara mengakui dan rnenghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan
Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.
Di dalam melaksanakan tata kelola pemerintahan daerah yang baik,
idealnya dibiayai oleh sumber-sumber dari daerah itu scndiri, yaitu dari
Pendapatan Asli Daerah khususnya dari pajak daerah sehingga kewenangan
institusi mana yang mempunyai hak mernungut pajak apakah Pemerintah
Pusat, Pemerintah Daerah Provinsi atau Pernerintah Kabupaten/Kota menjadi
penting karena menyangkut penerimaan bagi pemerintahan yang
bersangkutan. Hingga saat ini peranan penerimaan pajak terhadap penerimaan
negara (Pemerintah Pusat maupun Daerah) di dalam APBN maupun APBD
masih dominan sehingga penggolongan pajak pusat dan pajak daerah menjadi
relevan untuk dibahas Jebih detail.
Penggolongan pajak pusat dan pajak daerah, menurut teori dan filosofi
pungutan pajak dibedakan atas dasar sifat objek pajak yang dipungut. Apabila
objek pajak yang dipungut tidak berada di suatu tempat/daerah atau berpindah-
pindah (mobiles maka pajak tersebut dikategorikan sebagai pajak pusat.
Sebaliknya, apabila objek pajaknya tidak berpindah-pindah atau berada di
suatu ternpat/daerah (immobile) maka berdasarkan teori digolongkan sebagai
pajak daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.5
Sebagai contoh jenis Pajak Penghasilan Badan/PPh Badan di mana
subjeknya adalah badan (misalnya Perseroan Terbatas). Objek PPh Badan
adalah penghasilan yang pada umumnya diperoleh dari berbagai daerah
(nzobile) yang digabungkan. Demikian juga Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
objek pajaknya adalah nilai penyerahan yang bersumber dari berbagai daerah
(mobile). Oleh karena itu, terhadap jenis PPN dan PPh Badan digolongkan
sebagai pajak pusat.
Berbeda dengan jenis pajak daerah (baik pajak kabupaten/kota rnaupun
pajak provinsi), objek pajaknya adalah immobile. Jenis pajak daerah
kabupaten/kota, antara Jain pajak restoran, pajak hiburan, pajak hotel, pajak
parkir, pajak reklame, pajak air tanah, dst. Atas jenis pajak tersebut objeknya
adalah penerimaan pembayaran di tempat perusahaan itu berada (immobiiev.
Karena objeknya immobile maka alas pajak tersebut digolongkan sebagai
pajak daerah kabupaten/kota. Sedangkan terhadap objek pajak immobile, tetapi
objeknya berada di berbagai daerah kabupaten/kota namun masih dalam satu
provinsi maka dikategorikan sebagai pajak daerah provinsi. Contohnya, pajak
kendaraan bermotor, pajak balik nama kendaraan berrnotor, pajak air
pennukaan air, dll.
Contoh Jebih konkret dapat diuraikan bahwa terhadap pajak daerah
tentang air, dibedakan pajak air bawah tanah yang termasuk pajak daerah
kabupaten/kota dan pajak air perrnukaan sebagai pajak daerah provinsi yang
pajaknya dikenakan atas nilai perolehan air. Kriteria penggolongan pajak
daerah tersebut adalah sebagai berikut:
I. kalau objeknya air dari dalam tanah yang tidak dapat berpindah, terrnasuk
kategori pajak air tanah merupakan pajak daerah kabupaten/kota;
2. apabila objeknya air mengalir antar kabupaten/kota dan biasanya berada
hanya dalarn satu wilayah propinsi, dikategorikan sebagai pajak daerah air
permukaan yang merupakan pajak daerab provinsi.
Berkaitan dengan teori dan dasar filosofi objek pajak yang mobile,
immobile terhadap pembagian jenis pajak maka berdasarkan Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2009 Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan Perkotaan (PBB
P2) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang semula
sebagai pajak pusat dialihkan menjadi pajak daerah (kabupaten/kota).
Dalam irnplernentasinya, di Indonesia teori tersebut tidak sepenuhnya
dapat dilaksanakan dan rnenjadi ajang tarik menarik antara Pemerintah Pusat
dan Daerah. Hal tersebut disebabkan karena masing-rnasing pemerintah (baik
2.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Pemerintah Pusat dan Daerah) sangat mengandalkan pajak sebagai sumber
pendapatan dalam melaksanakan roda pemerintahan khususnya Pernerintah
Pusat. Pada saat ini, peranan penerimaan pajak berada pada kisaran 80%
terhadap penerimaan Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).
Oleh karena itu, objek Pajak Penghasilan Orang Pribadi dan Pajak Penghasilan
Karyawan yang objeknya pajaknya adalah i111111obi/e, yaitu berada di suatu
daerah dan daerah kabupaten/kota yang saat ini masih menjadi kewenangan
Pemerintah Pusat, tetapi penerimaannya dibagihasilkan kepada daerah. Hal
tersebut dapat dimaklumi, mengingat Pajak Penghasilan masih diperlukan
untuk mernbiayai roda pemerintahan melalui rnekanisme Undang-Undang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN).
B. PAJAK MENURUT KEDUDUKAN HUKUM
Hukum pajak merupakan hukum khusus (lex specia/is) dari hukum publik
yang mengatur hubungan antara orang/badan dengan negara. Adapun
kedudukan hukum pajak secara scehematis dapat uraikan sebagai sebagai
berikut.
1. Hukum Privat, yaitu hukum yang mengatur hubungan orang/badan
dengan orang/badan lainnya dan bersifat individual.
Hukum privat meliputi:
a. hukum perdata;
b. hukum dagang.
2. Hukum Publik, yaitu hukum yang mengatur hubungan antara orang/
badan sebagai individu dengan lembaga negara dan hubungan antara
lernbaga negara dengan Iernbaga negara lainnya.
Hukum Publik meliputi:
a. Hukum Tata Negara;
b. Hukum Adrninistrasi/Tata Usaha Negara;
c. Hukum Pajak;
d. Hukum Pidana.
Dengan demikian, hukum pajak merupakan bagian dari hukum publik
yang mernpunyai kekhususan berkaitan dengan penerirnaan negara. Berbeda
dengan Hukum Tata Negara yang mengatur fungsi dan tugas alat perlengkapan
negara, dan Hukum Administrasi Negara yang mengatur pengadministrasian
• HKUM4407/MCJDUL 2 2. 7
penyelenggaraan tata pemerintahan serta Hukurn Pidana yang berkaitan
dengan sanksi pidana terhadap pelaku kejahatan baik kejahatan secara urnurn
maupun yang merugikan keuangan negara (korupsi).
Berkaitan dengan pembagian pajak menurut kedudukan hukum, di mana
kedudukan hukum pajak berada dalam lingkup hukum publik, apabila terdapat
konflik antara hukum privat dan hukum publik maka yang lebih diutamakan
adalah hukum publik.
Contoh:
Dalam suatu pelelangan yang dilakukan Kantor Lelang Negara terhadap
harta jaminan debitur (nasabah) karena debitur tidak dapat rnernbayar
utangnya (kredit rnacet) dari suatu bank. Dalarn pelelangan tersebut akan
didahulukan adalah utang pajak dari pada utang kepada bank tersebut. Karena
utang pajak adalah utang kepada negara (termasuk hukum publik), sedangkan
utang bank adalah tennasuk dalam hukurn privat.
C. PAJAK MENURUT SIFAT
Menurut sifatnya, pajak dibedakan antara lain:
I. Pajak subjektif, yaitu pajak yang pengenaannya didasarkan kepada
keadaan subjeknya. Misalnya, pengenaan Pajak Penghasilan Orang
Pribadi (PPhOP), di dalarn menghitung pajak terutang akan
mernperhatikan status dari wajib pajak yang bersangkutan. Pengenaan
PPh OP terhadap penghasilan dengan status sudah kawin, kawin punya
anak, dan bujangan berbeda. Hal tersebut disebabkan karena penghasilan
yang dikenakan pajak dalam PPhOP (Penghasilan Kena Pajak) adalah
penghasilan neto setelah dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
yang ditetapkan berdasarkan status wajib pajak yang bersangkutan.
Contoh:
a. Tuan Maryanto status bujangan, pada tahun 2014 mempunyai
penghasilan neto (penghasilan bruto setelah dikurangi biaya) adalah
sebesar Rp50 J uta
Perhitungan PPh Tuan Maryanto (bujangan)
Penghasilan neto Rp50.000.000,00
PTKP (WP sendiri) Rp 15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp34. I 60.000,00
PPh 5% x Rp.34.160.000,- ; Rp 1.708.000,00
2.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
b. Tuan Ronny status kawin belum punya anak, pada tahun 2014
mempunyai penghasilan neto sebesar Rp50 juta
Perhitungan PPh Tuan Ronny (kawin, belum punya anak)
Penghasilan neto Rp50.000.000,00
PTKP
• WP sendiri Rp 15.840.000,00
• Status kawin Rp 1.320.000,00 Rp 17 .160.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp32.840.000,00
PPh 5o/o x Rp32.840.000,00 - Rp 1.642.000,00
c. Tuan Ulum status kawin pun ya anak empat, pada tahun 2014
mempunyai penghasilan neto sebesar Rp. 50 juta
Perhitungan PPh Tuan Ulum (kawin, anak em pat)
Penghasilan neto Rp50.000.000,00
PTKP
• WP sendiri Rp 15.840.000,00
• Status kawin Rp I 320.000,00
• Anak 4, dlm UU diakui 3,
3 x Rp 1.320.000,00 Rp3.960.000,00 Rp2 I. I 20.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp28.880.000,00
PPh 5% x Rp.28.880.000,- = Rp 1.440.000,00
Catalan
a. PTKP sebagai pengurang penghasilan, di dalarn PPh Orang Pribadi
dihitung atas dasar status yang bersangkutan sebagai berikut:
I) Rp 15.840.000,00 untuk diri WP pribadi;
2) Rp 1.320.000,00 tambahan untuk WP yang kawin;
3) Rp 15.840.000,00 tambahan seorang istri yang penghasilannya
digabung dengan penghasilan suami;
4) Rp 1.320.000,00 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah
dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya paling banyak 3
(tiga) orang.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.9
b. T an·r PP! 1 0 ran Pribadi a am ne er, se b a a,. b enik ut:
n a I dal
La isan Pen hasilan Kena Paiak Tarif Paiak
Samnai den an Rn50.000.000,00 5o/o (lima nersen)
Di atas Rn50.000.000 s.d. Rn250.000.000,00 15% (lima belas nersen)
Di atas Rp250.000.000 s.d. 25% (dua puluh lima
Ro500.000.000,00 oersen)
Di atas Rp500.000.000,00 35% (tiga puluh lima
nersen)
2. Pajak objektif, yaitu pajak dikenakan hanya memperhatikan pada objek
pajaknya saja, tanpa rnemperhatikan status subjek pajak yang
bersangkutan. Misalnya, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah (PPN & PPnBM) dikenakan pajak setiap terjadi
penyerahan tanpa melihat status yang menyerahkan.
Contoh:
Terhadap penyerahan barang kena pajak di dalam negeri akan dikenakan
PPN dengan tarif I 0% dari harga jual.
D. PAJAK MENURUT LEMBAGA PEMUNGUTANNYA
Berdasarkan lembaga pemungutannya, pajak dibedakan antara pajak pusat
dan pajak daerah. Pajak daerah terdiri dari pajak daerah provinsi dan
kabupaten/kota.
Pajak pusat dipungut oleh Menteri Keuangan c.q. Direktorat Jenderal
Pajak, sedangkan pajak daerah, yaitu untuk jenis pajak daerah provinsi adalah
gubernur c.q. Dinas Pendapatan Daerah Provinsi dan jenis pajak daerah
kabupaten/kota adalah bupati/walikota c.q. Dinas Pendapatan Daerah
Kabupaten/Kota.
Adapun jenis-jenis pajak pusat dan jenis pajak daerah dapat diuraikan
sebagai berikut.
I. Pajak pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat dan
digunakan untuk membiayai APBN. Jenis pajak tersebut meliputi:
a. Pajak Penghasilan (PPh);
b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN);
e. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM);
d. Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perhutanan, Perkebunan,
Pertambangan;
e. Bea Materai.
2.1Q HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2. Pajak daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan
digunakan untuk mernbiayai APBD, meliputi:
a. Pajak provinsi, terdiri:
• Pajak Kendaraan Bermotor (PKB);
• Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB);
• Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB);
• Pajak air permukaan; dan
• Pajak rokok.
b. Pajak kabupaten/kota, terdiri dari:
• Pajak hotel;
• Pajak restoran;
• Pajak hiburan;
• Pajak reklame;
• Pajak penerangan jalan;
• Pajak mineral bukan logam dan batuan;
• Pajak park:ir;
• Pajak air tanah;
• Pajak sarang burung walet;
• Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan
• Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan
(PBBP2).
E. PAJAK MENURUT ASAS PEMUNGUTAN
Berdasarkan asas pemungutan, pajak dikelompokkan menjadi:
I. Asas Domisili (Asas Tempat Tinggal)
Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan wajib pajak
yang berternpat tinggal di dalam negeri, baik dari penghasilan yang diperoleh
dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri.
Asas ini berlaku untuk pajak penghasilan di Indonesia.
Contoh:
Tuan Indra tinggal di Indonesia, mempunyai penghasilan dalam usahanya
perkebunan di Indonesia pada Tahun 2014, sebesar Rp200.000.000,00. Selain
itu, ia mempunyai penghasilan beternak sapi di Australia sebesar
Rp I .000.000.000,00. Maka atas penghasilan tersebut, Tuan Indra akan
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.11
dikenakan Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPhOP) di Indonesia sebesar
Rp [Link],00
2. Asas Sumber
Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di
wilayah Indonesia saja tanpa perlu mernperhatikan sumbernya dari Juar
Indonesia.
Contoh:
Dari contoh di atas yang dikenakan pajak hanya sebesar Rp200.000.000,00
3. Asas Kebangsaan
Pengenaan pajak dikaitkan dengan kebangsaan suatu negara. Misalnya,
pajak orang asing dikenakan kepada setiap warga negara asing (WNA) yang
berternpat tinggal di Indonesia, pajak tersebut saat ini sudah ditiadakan.
F. PAJAK MENURUT SISTEM PEMUNGUTAN
Menurut sistern pemungutannya, pajak dibedakan:
I. Official I Government System
Adalah sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang kepada
negara untuk menentukan besaran pajak yang harus dibayarkan oleh wajib
pajak. Ciri dari official/government system adalah:
a. negara mernpunyai wewenang dalam ,nenentukan besaran pajak terutang;
b. wajib pajak bersifat pasif;
c. hutang pajak timbul setelah adanya surat ketetapan pajak yang
dikeluarkan olehfisk11s.
Sistem official/government assessment sejak reformasi perpajakan sejak
awal tahun 1984, dengan ditetapkannya UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang rnengatur hak dan kewajiban
pemerintah dan wajib pajak, sistem officiat/government assessment diganti
menjadi sistem self assessment.
2. Self Assesment System
Adalah sistem pernungutan pajak yang mernberikan wewenang kepada
wajib pajak untuk menentukan sendiri besaran pajak yang terutang sesuai
dengan ketentuan undang-undang perpajakan. Mekanisme perhitungannya
2.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
dilaporkan melalui SPT (Surat Pemberitahuan), ciri dari self assesment system
adalah:
a. wajib pajak memiliki kewenangan untuk menentukan besarnya pajak
terutang dan membayarkannya ke kas negara atau bank yang ditunjuk;
b. wajib pajak bersifat aktif (menghitung, menyetor, dan melapor sendiri
pajak yang terutang);
c. negara hanya bersifat mengawasi saja.
Si stern self assessment berlaku di Indonesia sejak awal tahun I 984,
dengan ditetapkannya seluruh ketentuan hukum formal perpajakan di
Indonesia, yaitu dengan UU Nomor 6 Tahun I 983 tentang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan.
3. With Holding Tax System
Adalah sebuah cara atau sistem pemungutan pajak yang memberikan
kewenangan kepada pihak ketiga untuk mernotong, menentukan besaran pajak
yang harus dibayarkan oleh wajib pajak.
Sistern with holding tax juga berlaku di Indonesia, yaitu bagi
bendaharawan pemerintah dan badan-badan tertentu yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan diwajibkan untuk memotong pajak terutang
dan menyetorkannya ke kas negara.
G. PAJAK MENURUT TARIF
Tarifpajak dibedakan menjadi empat macam, sebagai berikut:
I. Tarif Pajak Proporsional/Sebanding
Adalah tarif pajak di mana tarif berupa persentase yang dikenakan
besarnya tetap terhadap jumlah yang dikenai pajak sehingga besarannya pajak
terutang rnenjadi proporsional terhadap besaran nilai yang dikenakan pajak.
Contoh:
• Tarif PPN sebesar I Oo/o (sepuluh persen) setiap penyerahan Barang Kena
Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak;
• Tarif PPh Wajib Pajak Badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah
25% (dua puluh lirna persen);
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.13
• Tarif PPh 20o/o (dua puluh persen) bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri
yang berbentuk perseroan terbuka yang paling sedikit 40% dari jumlah
keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek Indonesia.
2. Tarif Pajak Progresif
Adalah tarif pajak di maria tarif berupa persentase yang dikenakan secara
bertingkat, semakin tinggi dasar pengenaan pajak maka sernakin tinggi pula
besarnya larif pajak yang diterapkan. Tarif ini diterapkan dalam pasal 17
undang-undang PPh Orang Pribadi Dalam Negeri (PPhOP) dengan tarif
se b a a1. b enik ut:
Laoisan Pen hasilan Kena Paiak Tarif Paiak
Sam ai den an R 50.000.000,00 5%
Di alas Rn50.000.000,00 s.d. Rn250.000.000,00 15%
Di alas Ro250.000.000,00 s.d. Ro500.000.000,00 25%
Di alas Ro500.000.000,00 30%
Contoh:
Terhadap penghasilan yang dikenakan pajak sebesar Rp700.000.000,00
Pajak PPh Orang pribadi sebagai berikut.
• Sampai dengan . . . . . . . . .. . . ... = Rp50 jl x 5 % = Rp 2.500.000,00
• Rp50 juta s.d. Rp 250 juta = Rp200 jt x 15% = Rp 30.000.000,00
• Rp250 juta s.d. Rp 500 juta = Rp250 jl x 25% = Rp 62.500.000,00
• Di alas Rp500 juta = Rp200 jt x 30% = Rp 60.000.000,00
Jumlah penghasilan = Rp700 jt Pajak Rp!SS.000.000,00
3. Tarif Pajak Dcgresif
Besarnya tarif pajak lebih kecil atau rnenurun terhadap dasar yang
dikenakan pajak yang tinggi. Scolah memberikan insentif tarif pajak kepada
wajib pajak yang ,nempunyai berpenghasilan tinggi. Tarif ini tidak dikenal
dalam sistern perpajakan di lndonesia.
4. Tarif Pajak Tetap
Berapa pun besarnya pengenaan pajak, besar nilai tarif pajak adalah tetap
tak berubah. Misalnya, tarif bea materai, berapa pun besarnya nilai uang
sebagai tanda terima atau kuitansi, eek dan giro bilyet, tarif bea materai tetap,
yaitu sebesar Rp6.000,00.
2.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Bagaimana kedudukan hukum pajak terhadap hukum lainnya?
2) Bagaimana sifat hukum pajak?
3) Jelaskan lembaga yang mernungut pajak di Indonesia!
4) Jelaskan sistem pemungutan pajak, bagaimana implementasinya di
Indonesia!
5) Bagaimana pengelompokan tarif pajak?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Kedudukan pajak digolongkan dalam hukum publik yang mengatur
hubungan antara orang atau badan sebagai individu dengan lembaga
negara dan hubungan antarlernbaga negara dengan lernbaga negara
lainnya, untuk itu Ii hat KB I huruf B.
2) Menurut sifatnya, pajak dibedakan sebagai pajak subjektif dan pajak
objektif. Li hat KB I huruf C.
3) Kewenangan lembaga yang mernungut pajak di Indonesia dibedakan
antara pajak pusat dan pajak daerah, sedangkan untuk pajak daerah terdiri
atas pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota. Untuk itu, agar mernpelajari
KB I huruf D tentang pajak serta lembaga pemungutannya.
4) Terdapat 3 (tiga) sistern pemungutan pajak, yaitu goverment
system/official system, self assessment system dan with holding tax system.
Sejak awal tahun 1984 dengan ditetapkannya UU Nomor 6 Tahun 1983 di
Indonesia berlaku sistern self assesment, untuk itu pelajari KB I huruf F.
5) Pengelompokan tarif pajak diuraikan dalarn KB I huruf G.
-Cl RANG KUM AN _
Dalam Modul 2 ini dibahas pengelompokan pajak ditinjau dari
berbagai aspek, yaitu meliputi kedudukan hukum, sifat, lernbaga yang
mernungut, asas pemungutan, sistem pemungutan, tarif dan dasar
pemungutan. Dari berbagai aspek tersebut sernakin jelas bahwa pajak
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.15
memiliki kekhususan (lex specialis derogat legi generalisy dari berbagai
sudut pandang aspek tugas penerimaan negara.
Hal yang penting dari pengelompokan pajak di dalam penerapannya
di lndonesia adalah sangat terkait dengan politik hukurn dan politik
anggaran yang lebih rnengutamakan pada kepentingan negara. Dengan
demikian, dimungkinkan dapat terjadi benturan antara teoritis dan
imple,nentasi regulasi pungutan pajak. Sebagai contoh mengenai
kewenangan mernungut pajak terhadap objek pajak immobile (tidak
bergerak) yang seharusnya merupakan kelornpok pajak daerah, akan tetapi
masih dipungut oleh Pernerintah Pusat dan dibagihasilkan kepada daerah.
Dilihat dari kedudukan hukum, pajak merupakan hukum publik
karena mengatur hubungan antara orang/badan sebagai individu dengan
negara. Dari kewenangan yang rnernungur dibedakan pajak pusat yang
memungut Pemerintah Pusat dan pajak daerah di mana yang memungut
adalah Pemerintah Daerah. Berdasar asas pemungutan dikelompokkan
dalam asas domisili, asas sumber, dan asas kebangsaan. Menurut sistem
pemungutannya, dibedakan official assessment, selfassessment, dan with
holding system. Selain itu, dalam pengenaan tarif pajak dikenal dengan
berbagai tarif, yaitu: tarif proporsional, tarif progresif, tarif degresif, dan
tarif pajak tetap.
�I
TES FORM AT IF 1 _
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Menurut sifatnya pungutan pajak digolongkan sebagai ....
A. pajak subjektif dan pajak objektif
B. pajak besar, pajak menengah, dan pajak kecil
C. pajak usaha mikro, pajak usaha kecil, dan pajak usaha menengah
(UMKM)
D. pajak pusat dan pajak daerah
2) Menurut lembaga yang rnemungut, pajak dikelompokkan sebagai ....
A. Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai
B. negara Jndonesia dan negara asing
C. pemerintah dan nonpemerintah (swasta)
D. pajak pusat oleh pemerintah dan pajak daerah oleh pemerintah daerah
3) Kelompok pajak menurut tarif, meliputi ....
A. tarif progresif dan tarif linier
B. tarif prosentasi dan tarif nilai uang
2.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
C. tarif untuk wajib pajak besar, wajib pajak menengah, dan wajib pajak
kecil
D. tarif proporsional, tarif progresif, tarif degresif, dan tarif tetap
4) Berdasarkan sistern pemungutan pajak dikelornpokkan menjadi ....
A. Pemerintah Pusat dan Pernerintah Daerah
B. sistern langsung dan tidak langsung
C. self assessment, official assessment, dan with holding
D. sernuanya benar
5) Asas pemungutan pajak, dikelompokan menjadi ....
A. asas domisili, asas sumber, dan asas kebangsaan
8. asas mobile dan asas inunobile
C. asas keadilan, asas kepastian hukum, dan asas pemerataan
D. asas sentralistik dan desentralistik
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif I yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk rnengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = ----------- x I 00%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70o/o = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar I, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.17
KEGIATAN [Link] 2
Pajak dalam APBN
A. PERANAN PAJAK DALAM APBN
Kesadaran membayar pajak di kalangan masyarakat Indonesia masih
tergolong rendah, hal tersebut diukur besaran tax ratio, yairu perbandingan
antarajumlah penerirnaan pajak dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto
(PDB) dari suatu negara. Rasio itu dipergunakan untuk menilai tingkat
kepatuhan pembayaran pajak oleh masyarakat dalam suatu negara berdasarkan
OECD model yang biasa dilakukan dalam praktik internasional, di dalam
menghitung penerimaan pajak juga mernperhitungkan penerimaan dari bagi
hasil yang diterima dari sumber daya alarn yang di Indonesia dikategorikan
sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Hal tersebut merupakan
koreksi mengenai perhitungan tax ratio sebelumnya yang dikemukakan oleh
para pengamat perpajakan di Indonesia yang rnenyatakan tax ratio di Indonesia
adalah sebesar 12% di mana dalam formula perhitungan tax ratio hanya
memperhitungkan dari penerirnaan perpajakan saja. Atas dasar perhitungan tax
ratio Indonesia pada tahun 20 IO berdasarkan OECD Model, dibandingkan
dengan negara berkernbang lainnya sebagai berikut.
Tabel 2.1
Perhitungan Tax Ratio Indonesia pada Tahun 2010
Ne ara Tax Ratio
India 10,9%
Thailand 17,0o/,
Philipina 14.6%
Malavsla 15,4%
Indonesia 14.64°/o
Arnerika Serikat 18,4%
Tax ratio di Indonesia relatif rendah, ha! tersebut disebabkan falsafah dan
penggunaan pajak selama ini seolah tidak perlu ,nemberikan manfaat langsung
yang dapat dirasakan oleh rakyat. Sebagaimana dapat dilihat pada umumnya
2.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
pendefinisian pajak, yang selama ini menyatakan bahwa pembayaran pajak
tidak ,nemperoleh imbalan atau kontraprestasi langsung dari pemerintah.
Dalam perkembangannya, timbul opini perlunya perubahan paradigma
pungutan pajak mengenai perlunya imbalan atau kontraprestasi dari
pemerintah yang diprioritaskan untuk pelayanan pada sektor pajak yang
bersangkutan, sebagaimana disampaikan penulis daJam disertasinya pada
tahun 2005 di Universitas Indonesia. Pendapat ini sejalan dengan filosofi pajak
earmarking system, yaitu pajak harus jelas dan tepat peruntukannya, hingga
pajak bukan sekedar pungutan yang bersifat memaksa saja, tetapi harus
digunakan untuk rnernbiayai roda pernerintahan guna ,nenyejahterakan rakyat,
sebagaimana dinyatakan dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.
"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial dst"
Dengan demikian, pungutan pajak semata merupakan sarana, bukan
tujuan, tepatnya pajak adalah sarana untuk mencapai tujuan. Bagi negara
Republik Indonesia tujuan tcrsebut adalah untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dst yang telah terpatri dalam alinea
ke-4 Pernbukaan UUD 1945. Di dalam teori hukum, tujuan negara tersebut
lazirn disebut dengan teori negara kesejahteraan (welfare state).
Otto von Bismarck dalam bukunya "Soziale Sicherheit" tahun 1880,
mengemukakan prinsip dasar Teori Welfare State, yaitu bahwa negara atau
pemerintah bertanggung jawab penuh untuk rnenyediakan semua kebutuhan
rakyatnya dan tidak dapat dilimpahkan kepada siapa pun. Otto mewacanakan
konsep kesejahteraan masyarakat (social welfare) tersebut secara konkrer ke
dalam bentuk model program kesejahteraan masyarakat bagi pemerintahan
modern (the model of modern government social security program ).
Dengan demikian, disimpulkan bahwa pajak adalah sarana untuk
mewujudkan kesejahteraan, yaitu menuju rakyat yang adil dan makmur.
Apabila tidak demikian maka pajak tidak ubahnya pajak sebagai upeti, yaitu
pungutan paksa sebagai persernbahan rakyat kepada sang raja sebagai
penguasa negara.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.19
Berkaitan dengan pungutan pajak secara general terdapat dua sisi yang
harus diaplikasikan, sebagai berikut.
I. Pungutan pajak harus dirasakan adil dan tidak terlalu membebani
masyarakat.
Rasa adil dan tidak membebani masyarakat diaplikasikan bahwa pajak dan
pungutan yang bersifat memaksa harus diatur dengan undang-undang.
Proses pembuatan undang-undang, lazimnya diawali dengan pernerintah
mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada parlernen
(parlemen terdiri dari dua lembaga, yaitu Dewan Perwakilan Rakyat dan
Dewan Perwakilan Daerah). Kernudian sesuai dengan urutan prioritas
pernbuatan undang-undang yang ditetapkan bersama antara pernerintah
(Kementerian Hukum dan HAM) dan parlemen dalam Prolegnas
(Program Legislasi Nasional), RUU tersebut dibahas pemerintah dan
parlemen. Setelah disetujui parlemen maka RUU tersebut ditetapkan
menjadi undang-undang tentunya terlebih dahulu dilakukan melalui
proses pembahasan. Melalui mekanisme ini diharapkan setiap undang-
undang perpajakan akan betul-betul memenuhi rasa keadilan bagi rakyat.
Pajak tidak dirasakan sebagai beban, tetapi merupakan hak rakyat untuk
ikut berpartisipasi dalam membangun negara.
Sehubungan dengan hat tersebut, telah ditegaskan dalam konstitusi dasar
negara Republik Indonesia dalam Pasal 23A yang menyatakan bahwa
pajak dan pungutan lain yang bersifat mernaksa untuk kepentingan negara
diatur dengan undang-undang. Makna pungutan pajak diatur dengan
undang-undang tersebut bahwa dasar memungut pajak melalui proses
legitirnasi undang-undang, yaitu melalui perwakilan rakyat baik Dewan
Perwakilan Rakyat maupun Dewan Perwakilan Daerah maka pengaturan
pajak tentunya sudah sesuai dengan rasa keadilan masyarakat,
2. Peruntukannya harus jelas
Peranan penerimaan pajak yang signifikan terhadap pendapatan negara
dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan, tentunya harus diawasi pula
peruntukannya (penggunaannya) sebagaimana ditentukan dalam APBN.
Untuk itu, pemerintah setiap tahun mengajukan rancangan anggaran
belanja dari setiap kementerian dan lembaga kepada parlemen untuk
disahkan menjadi undang-undang penerirnaan dan belanja negara (UU
APBN). UU APBN rnenjadi rujukan dalam pelaksanaan peruntukan dari
penerimaan negara yang didorninasi oleh penerirnaan pajak. Selain itu,
atas pelaksanaan dari peruntukan tersebut akan dilakukan pengawasan
2.20 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
atau pemeriksaan baik oleh institusi internal (lnspektorat Jenderal) dari
dalam kementerian atau lembaga itu sendiri maupun eksternal dari luar,
yaitu Badan Pemeriksa Keuangan. Apabila dalam pemeriksaan terdapat
temuan yang berindikasikan "kerugian negara" maka atas ternuan tersebut
akan dilaporkan kepada penegak hukum sebagai telah melakukan tindak
pidana korupsi. Dengan demikian, berkaitan dengan peruntukan dari
penerimaan pajak, pemerintab telah rnengupayakan melalui tindakan
preventif (pencegahan) maupun represif, yaitu pengenaan sanksi bagi
yang melanggarnya.
Dengan adanya mekanisme pengaturan pajak harus ditetapkan dengan
undang-undang baik pungutan pajak dan peruntukannya, yaitu melalui UU
APBN diharapkan pelaksanaan dari pungutan pajak adalah benar-benar
sebagai sarana untuk mencapai tujuan negara, yaitu masyarakat yang adil dan
rnakrnur.
Berikut dalam tabel ini nampak peranan penerimaan pajak terhadap
pendapatan Negara (APBN) sebagai berikut:
Tabet 2.2
Peranan Penerimaan Pajak terhadap APBN
(dalam Triliun Rupiah)
Pendapatan Negara Realisasi Penerimaan
Tahun
dan Hibah Paiak
'I,
2006 637.987,2 409.203,0 64, 1
2007 707.806, 1 490.988,6 69,3
2008 981.609,4 658.700,8 67, 1
2009 848.763,2 619.922.2 73,0
2010 995.271,5 723.342.2 72,6
2011 1,210.599,7 873.873,9 72,1
2012 1.338.110,1 980.518,1 73,2
2013 1.502.005, 1 1.148.365,1 76,4
2014 1.550.638,5 1.146.897,2 74,0
2015 1.504.520,2 1.240.432,4 82,4
Sumber: LKPP 2006 s.d. 2015
Dari tabel tersebut tampak bahwa peranan dan besaran pajak dari tahun ke
tahun menunjukkan kenaikan. Penerirnaan pajak pada tahun 2013 adalah
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.21
Rpl,148.365,1 triliun naik 17,l lo/o dari penerimaan pajak tahun 2012 sebesar
Rp980.5 I 8, I triliun. Sedangkan dari peranan penerimaan pajak terhadap
APBN yang terdiri dari penerimaan pajak, penerimaan negara bukan pajak dan
hibah pada tahun 2013 adalah 76,4%, menunjukkan kenaikan dibandingkan
dengan tahun-tahun sebelumnya.
8. PENETAPAN DAN KETETAPAN PAJAK BERSIFAT
EXECUTOR/AL
Sebagaimana telah kita maklumi ketentuan perpajakan di Indonesia
setelah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan dan Tata cara Perpajakan yang berlaku sejak awal Januari 1984
rnenganut sistem self assessment. Dengan sistem ini, pemerintah memberikan
kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk menghitung pajaknya sendiri,
rnernbayar, dan melaporkannya melalui laporan yang disebut dengan Surat
Pemberitahuan (SPT). Tahap selanjutnya sudah barang tentu pemerintah akan
meneliti kebenaran dari SPT tersebut. Adapun sarana untuk mengevaluasi SPT
tersebut sebagai berikut.
I. Menguji Kepatuhan Wajib Pajak (Tax Compliance)
Kewajiban wajib pajak untuk menyampaikan SPT ada batas waktunya
yaitu:
a. untuk SPT Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari sejak akhir masa pajak;
b. untuk SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan
setelah akhir tahun pajak;
c. untuk SPT Tahunan Wajib Pajak Badan, paling lama 4 (empat) bulan
setelah akhir tahun pajak.
Apabila wajib pajak terlambat memasukan SPT akan dikenakan sanksi
administrasi berupa denda sebesar RpS00.000,- (lima rat us ribu rupiah), untuk
Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai Rp 100.000,- (seratus ribu
rupiah), sanksi tersebut dilakukan melalui Surat Tagihan Pajak (STP).
2. Scoring SPT
Walaupun SPT merupakan sarana penjabaran aktivitas kegiatan usaha
wajib pajak dalam bentuk angka-angka, namun di dalamnya terkandung
rumus/ score yang dapat memonitor secara dini apakah wajib pajak telah
2.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
mengisi SPT dengan benar. Hal tersebut tentu saja ,nerupakan rahasia dari
Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka ,nengamankan self assessment dalam
rangka penerimaan negara melalui sistem elektronik teknologi.
3. Cross Check dengan Bank Data yang Dimiliki Pemerintah
Pemerintah (c.q. Direktorat Jenderal Pajak) memiliki bank data yang
menghimpun dan mengadministrasikan data dari pihak ketiga. Bank data
tersebut merupakan sarana untuk mengecek kebenaran SPT yang dilaporkan
oleh wajib pajak.
Bank data Ditjen Pajak tersebut dihirnpun dari para wajib pajak dan/atau
dari pihak ketiga yang diwajibkan mernberikan laporan segala transaksi
keuangannya secara rutin, misalnya Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT),
show roan, mobil, Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK),
dll. UU KUP menegaskan bahwa larangan melaporkan bagi instansi lain
dengan alasan kerahasiaan, ditiadakan semata untuk kepentingan penerimaan
negara.
4. SPT Lebih Bayar
Konsekuensi dari sistem perpajakan self assessment, yaitu apabila wajib
pajak dalam SPTnya menyatakan lebih bayar maka menjadi kewajiban
pemerintah untuk rnengernbalikan kelcbihan bayar tersebut. Olch karena itu,
kelebihan bayar yang dinyatakan dalam SPT harus dilakukan pemeriksaan
untuk diuji kebenarannya. Dirjen Pajak setelah rnelakukan pemeriksaan atas
permohonan pengembalian kelebihan pernbayaran pajak harus menerbitkan
Surat Ketetapan Pajak paling lama 12 (dua belas) bulan sejak surat
permohonan diterima secara lengkap. Apabila setelah melampaui jangka
waktu, Direktur Jenderal Pajak tidak memberikan suatu keputusan maka
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan
dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) harus diterbitkan paling lama
I (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir. Dalam hal SKPLB
terlambat diterbitkan, kepada wajib pajak diberikan imbalan bunga sebesar 2o/o
(dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya SKPLB.
5. Pengaduan Masyarakat
Tidak tertutup kemungkinan Direktur Jenderal Pajak memperoleh
pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan dugaan adanya manipulasi pajak
yang dilakukan oleh wajib pajak. Pengaduan tersebut dapat diajukan dengan
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.23
tertulis maupun lisan dan dilakukan oleh masyarakat atau pegawai pada
perusahaan wajib pajak.
Atas pengaduan tersebut, aparat pajak terlebih dahulu melakukan
pengecekan atau penelitian terhadap SPT yang dilaporkan oleh wajib pajak.
6. Pemerlksaan Acak
Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan secara acak
terhadap wajib pajak tertentu, alas dasar dugaan bahwa terhadap wajib pajak
dalam usaha tertentu SPT yang dilaporkannya tidak benar.
Contohnya saat boomingnya usaha pertarnbangan batubara karena harga
pasaran di luar negeri cukup mahal, ternyata terdapat pengusaha batubara
melaporkan SPTnya yang menyatakan dalam keadaan rugi.
Atas dasar pertimbangan tersebut, mernberikan alasan Direktur Jenderal
Pajak untuk dapat melakukan perneriksaan kepada wajib pajak dan out put
perneriksaan adalah ketetapan pajak, yaitu berupa:
a. Surat Tagihan Pajak (STP);
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
c. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ( SKPKBT);
d. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN); atau
e. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
Atas ketetapan pajak yang menimbulkan kurang bayar pajak atau utang
pajak (STP, SKPKB dan SKPBT) merupakan dasar penagihan yang memiliki
executorial beslag setara dengan putusan peradilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap (inkracht van ge,vijsde). Artinya, ketetapan pajak dapat
ditagih paksa walaupun wajib pajak sedang melakukan upaya hukum
keberatan kepada pernerintah atau banding kepada Pengadilan Pajak.
C. PAJAK TIDAK SEKEDAR KEWAJIBAN
Dengan ditetapkannya tata kelola pemerintahan di Indonesia menjadi
otonomi daerah serta berubahnya paradigma regulasi pungutan pajak maka
dimaknai bahwa pajak tidak sekedar kewajiban, tetapi lebih merupakan hak
warga negara untuk ikut serta berpartisipasi dalam pembangunan. Hal tersebut
ditandai hal-hal sebagai berikut.
I. Dalam penerimaan pajak pusat untuk jenis Pajak Penghasilan Orang
Pribadi (PPhOP) dan Pajak Karyawan (PPh Pasal 21) terdapat hak
2.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Pemerintah Daerah sebesar 20o/o (dua puluh persen) sebagai bagi hasil.
Diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
2. Pemerintah Daerah rnerniliki hak sekurang-kurangnya 26% (dua puluh
enam persen) dari pendapatan dalam negeri neto yang ditetapkan dalam
APBN, (pendapatan dalam negeri neto harnpir 80% diperoleh dari
penerimaan pajak). Diatur dalam UU Nomor 33 Tahun 2004;
3. Dalam penerimaan pajak diprioritaskan untuk membiayai pelayanan
sektor pajak yang bersangkutan;
4. Dalam hal SPT wajib pajak menyatakan lebih bayar rnaka setelah
dilakukan pemeriksaan benar adanya rnaka hak kelebihan pembayaran
pajak dari wajib pajak tersebut wajib dipenuhi oleh pemerintah;
5. UUD 1945 mengarnanatkan bahwa pungutan pajak harus diatur dengan
undang-undang.
D. BAGI HASIL PAJAK PUSAT KEPADA DAERAH
Kewenangan memungut pajak menurut filosofi pungutan dibedakan atas
dasar objek yang dipungut, apabila objek pajaknya mobile menjadi pajak pusat
dan yang berwenang memungut adalah Pemerintah Pusat. Sebaliknya, apabila
objek pajaknya immobile adalah pajak daerah di mana kewenangan yang
mernungut adalah Pemerintah Daerah, yaitu provinsi atau kabupaten/kota.
Pembagian kewenangan mernungut pajak tersebut mernang belum
sepenuhnya dilaksanakan. Seiring dengan perubahan tata kelola pemerintahan
di Indonesia menjadi otonomi daerah, secara bertahap pajak yang semula
sebagai pajak pusat dialihkan menjadi pajak daerah, atau setidaknya
dibagihasilkan penerimaannya kepada daerah.
Kewenangan pemungutan dan penerirnaan pajak yang semula berada di
pusat dan diaLihkan menjadi wewenang pungutan dan penerimaan daerah
(kabupaten/kota) adalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sektor Perdesaan
dan Perkotaan serta Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
di mana kedua pajak tersebut objeknya adalah tanah dan/atau bangunan yang
tidak berpindah-pindah (immobiles terletak di daerah kabupaten/kota.
Demikian juga Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPhOP), di mana objek
pajaknya adalah penghasilan di mana orang tersebut berdomisili (di daerah)
dan Pajak Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 21) yang objek pajaknya adalah
penghasilan di tempat di mana mereka bekerja (di daerah). Namun demikian,
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.25
karena penerimaan PPhOP dan PPh Pasal 21 masih sangat diperlukan untuk
rnenunjang penerimaan APBN maka terhadap penerimaan pajak-pajak
tersebut dibagihasilkan kepada daerah. Berdasarkan Pasal 13 UU Nomor 33
Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah penerimaan PPhOP dan PPh Pasal 21 dibagihasilkan
20% kepada daerah dengan pembagian 8o/o untuk provinsi dan 12% untuk
kabupaten/kota yang bersangkutan.
I. Peruntukan Penerimaan Pajak
Pajak adalah sarana untuk mernbiayai roda pemerintahan dalam rangka
rnencapai tujuan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Jadi, pajak
bukan tujuan, apa artinya pungutan pajak apabila hasil penerimaannya
digunakan untuk foya-foya bagi pejabat penyelenggara negara. Oleh
karenanya, perlu diatur dengan jelas peruntukan dari penerimaan pajak
tersebut. Peruntukan untuk pajak pusat tersirat dalam APBN (penerimaan
APBN, kisaran 80% ditunjang dari pajak) yang tiap tahun ditetapkan dalam
undang-undang tentunya setelah mernperoleh persetujuan wakil rakyat di
parlemen (DPR dan DPD).
Untuk pajak daerah dinyatakan dengan tegas dalam UU Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah bahwa penerimaan pajak
diprioritaskan untuk mernbiayai sektor pajak yang bersangkutan.
2. Perlakuan SPT Lebih Bayar
Sejak ditetapkannya UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Urnurn
dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) diberlakukan perpajakan di Indonesia
menganut sistern self assessment yang mernberikan kepercayaan penuh kepada
wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, mernbayar sendiri, dan
melapor pajak terutang melalui mekanisrne pelaporan Surat Pemberitahuan
(SPT). Konsekuensinya, apabila wajib pajak dalam SPT yang dilaporkannya
rnenyatakan lebih bayar maka pemerintah (Dirjen Pajak) atas pennohonan
wajib pajak harus mengembalikan kelebihan tersebut, tentunya setelah rnelalui
pemeriksaan untuk menguji kebenaran dari SPT tersebut.
UU KUP menegaskan apabila dalam 12 (dua belas) bulan sejak surat
permohonan diterima secara lengkap pemerintah tidak memberi suatu
keputusan maka perrnohonan kelebihan pernbayaran pajak dianggap
dikabulkan. Bahkan kepada wajib pajak diberikan imbalan bunga sebcsar 2%
(dua persen) per bulan dihitung sejak berakhirnya jangka waktu 12 bulan
terse but.
2.26 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3. Pengaturan UUD 1945 terhadap Pajak
Terdapat paradigrna baru dalarn dasar pungutan pajak sejak amandernen
ketiga UUD 1945 yang dinyatakan dalam Pasal 23A : "Pajak dan pungutan
yang bersifat memaksa untuk kepentingan negara diatur dengan undang-
undang." Maknanya bahwa pajak tidak boleh dipungut selain dengan undang-
undang, dan hanya boleh didelegasikan kepada peraturan perundang-
undangan. Seperti halnya pajak daerah berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009
tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pelaksanaannya ditetapkan dengan
Peraturan Daerah (Perda) oleh rnasing-rnasing daerah baik daerah provinsi
atau kabupaten/kota.
Ditetapkannya pajak harus diatur dengan undang-undang dimaksudkan
agar pungutan pajak walaupun sangat dibutuhkan untuk membiayai
kelangsungan pernerintahan baik pusat maupun daerah, namun tetap
diupayakan tidak terlalu mernbebani masyarakat. Karena itu, hak rakyat yang
disuarakan oleh lembaga legislatif akan rnemfilter apakah pajak tersebut
benar-benar sejalan dengan tujuan negara untuk kesejahteraan rakyat.
Pengertian diatur dengan undang-undang mengandung makna bahwa
pajak hanya boleh didelegasikan pungutannya kepada peraturan perundang-
undangan saja. Peraturan perundang-undangan dimaksud adalah sebagaimana
diatur dalam Pasal 7 ayat (I) Undang-undang Nomor 12 Tahun 201 l tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang rnengatur jenis dan
hierarki peraturan perundang-undangan, yaitu:
a. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Pera tu ran Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah
penjenjangan setiap jenis peraturan perundang-undangan yang didasarkan
pada asas bahwa peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh
berlentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.27
LATIHAN
Untuk memperdalam pemaharnan Anda mengenai rnaten di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Membayar pajak perlu ada kontraprestasi dari pemerintah. Jelaskan!
2) Jelaskan terdapat dua sisi secara general mengenai pungutan pajak yang
harus diaplikasikan1
3) Mengapa ketetapan pajak disebut dengan executorial bes/ag?
4) Sebutkan sarana pengawasan terhadap SPT yang dilaporkan wajib pajak!
5) Jelaskan bahwa pajak bukan sekedar kewajiban, tetapi lebih rnerupakan
hak wajib pajak untuk ikut berpartisipasi dalam pe,nbangunan!
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Pajak tidak sekedar kewajiban di dalamnya terdapat hak dari wajib pajak
sebagai aplikasi dari sistem perpajakan self assesment, ha! tersebut
diuraikan dalam KB2 huruf A.
2) Dua sisi general pungutan pajak telah diuraikan dalam huruf A KB2
tentang pungutan pajak dan peruntukannya.
3) Pajak sebagai eksekutoria! beslag yang maknanya walaupun atas
ketetapan pajak sedang dilakukan upaya hukum tetap pajak itu harus
dibayar terlebih dahulu dapat dilihat dalarn KB2 huruf B.
4) Pengawasan laporan SPT wajib pajak secara rinci diuraikan dalam KB2
huruf B.
5) Pajak bukan sekedar kewajiban, tetapi lebih merupakan hak wajib pajak
untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan merupakan penjabaran dari
sistem perpajakan di Indonesia yang menganut self assesment yang
maknanya pemerintah memberikan kepercayaan kepada wajib pajak
untuk menghitung, memperhitungkan sendiri pajak terutang, rnernbayar
dan melapor melalui mekanisme SPT yang merupakan intisari dari Modul
2 tentang Penggolongan Pajak dan Peranan Pajak Bagi Negara.
2.28 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Q RANG KUM AN _
Kesadaran mernbayar pajak di Indonesia masih tergolong rendah, hal
1n1 disebabkan karena tidak dirasakan Iangsung manfaatnya bagi
pernbayar pajak. Oleh karena itu, paradigma bahwa mernbayar pajak tidak
mendapat imbalan atau kontraprestasi sudah diubah, yaitu terdapat
imbalan atau kontraprestasi pada sektor pajak yang bersangkutan. Hal
tersebut sejalan dengan tujuan negara Indonesia untuk menyejahterakan
rakyat menuju rnasyarakat yang adil dan rnakrnur.
Setidaknya terdapat dua sisi dalam rnengaplikasikan pungutan pajak,
pertama pajak dirasakan harus adil dan tidak dirasakan rnernbebani
masyarakat dan kedua peruntukannya harus jelas. Oleh karena itu,
pungutan pajak harus ditetapkan dengan undang-undang, di mana
pembuatannya harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari
perwakilan rakyat pada badan Iegislatif (DPR dan DPD).
Sistem perpajakan di Indonesia menganut sistem self assessment,
yaitu memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung,
memperhitungkan sendiri, rnernbayar sendiri, dan melapor pajak terutang
melalui SPT (Surat Pemberitahuan). Namun demikian, pernerintah
merniliki instrumen untuk mendeteksi atas kebenaran Japoran wajib pajak
tersebut. Apabila setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Japoran wajib
pajak tidak benar maka pemerintah akan mengeluarkan ketetapan pajak.
Alas ketetapan pajak tersebut Jangsung dapat dilaksanakan atau
dieksekusi walaupun wajib pajak sedang melakukan upaya hukum
instrurnen pengawasan pemerintah tersebut adalah berupa tax complience.
scoring SPT, cross check dengan Bank Data, SPT Lebih Bayar, dan
pengaduan masyarakat.
�I
TES FDR MAT IF 2�---------------
Pilihlah satujawaban yang paling tepat!
I) Penetapan dan ketetapan pajak bersifat executoria/, maknanya ....
A. tidak dapat dilaksanakan secara Jangsung, menunggu persetujuan dari
pejabat yang berwenang
B. belurn dapat dilaksanakan apabila masih dalam proses upaya hukum
C. dapat dilaksanakan Iangsung walaupun sedang dilakukan upaya
hukum
D. semuanya tidak benar
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.29
2) Mengapa terhadap SPT Lebih Bayar harus diperiksa?
A. menguji kebenaran SPT merupakan kewenangan pernerintah
B. negara bisa rugi karena kelebihan pajak dalam SPT yang dihitung
sendiri oleh wajib pajak dengan sistem self assessment belum tentu
benar
C. seluruh SPT harus diperiksa
D. kekurangan dan kelebihan pajak yang ,nenentukan pemerintah, bukan
wajib pajak
3) Apa makna pajak dan pungutan bersifat memaksa untuk kepentingan
negara diatur dengan undang-undang?
A. seluruh peraturan pajak harus diatur dengan undang-undang
B. pengaturan pajak yang mengikat publik harus diatur dengan peraturan
perundang-undangan
C. dasar pungutan pajak diatur dalam UUD 1945
D. semuanya benar
4) Di mana dasar pungutan pajak diatur?
A. Pasal 23 ayat (2) UUD 1945
B. Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
C. Pasal 23A UUD 1945
D. Mukadimah/Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4
5) Mengapa jenis pajak pusat PPhOP dan PPh Pasal 21 dibagihasilkan
kepada daerah?
A. karena daerah mernbutuhkan dana unruk pembangunan
B. karena paradigma tata kelola pernerintahan telah berubah
C. karena pada objek pajak tersebut berada di daerah (i111111obile)
D. karena berdasarkan keadilan perlu pemerataan pemerintah pusat dan
daerah
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Fonnatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkar penguasaan = ----------- x I 00%
Jumlah Soal
2.30 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi rnateri Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.31
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
I) A. Pajak subjektif dan pajak objektif;
Berdasarkan sifatnya dibedakan pajak subjektif dengan
memperhatikan keadaan subjeknya, misalnya Pajak Penghasilan
Orang Pribadi mernpertimbangkan status wajib pajak yang
bersangkutan apakah bujangan, kawin dengan jumlah anak tertentu,
sedangkan pajak objektif hanya melihat pada objek pajaknya saja.
2) D. Pajak Pusat oleh Pemerintah Pusat dan Pajak Daerah oleh Pemerintah
Daerah;
Lembaga yang memungut pajak adalah Pernerintah Pusat untuk pajak
pusat, dan Pemerintah Daerah untuk pajak daerah.
3) D. Tarif Proporsional, tarif progresif, tarif degresif, dan tarif tetap;
Kelompok tarif pajak dikenal dengan tarif proporsional, yaitu
besarnya tarif adalah tetap sama, tarif progresif, yaitu semakin tinggi
yang dikenakan pajak secara bertingkat semakin tinggi pula tarif
pajaknya, sebaliknya tarif degresif adalah semakin tinggi yang
dikenakan pajak semakin rendah tarif pajaknya, dan tarif tetap, yaitu
tarif yang nilai pajaknya tetap sama.
4) C. Self Assessment, official assessment, dan with holding;
Si stem pungutan pajak dikelompokkan menjadi self assesment, yaitu
wajib pajak diberikan kepercayaan untuk menghitung sendiri,
rnembayar, dan melapor pajak terutang, official assesment besarnya
pajak terutang ditentukan oleh pernerintah dan with holding system
adalah pajak yang dipungut oleh pihak ketiga.
5) A. Asas domisili, asas sumber, dan asas kebangsaan;
Asas pemungutan pajak dikenal dengan asas domisili, yaitu
dikenakan di mana wajib pajak bertempat tinggaJ, asas sumber, yaitu
pajak dikenakan di tempat di mana objek pajak tersebut berasal dan
asas kebangsaan, yaitu dikenakan terhadap bagaimana status bangsa
itu melekat.
2.32 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Tes Formatif 2
I) C. Dapat dilaksanakan langsung walaupun sedang dilakukan upaya
hukum;
Karena ketetapan pajak bersifat executorial, jangan sarnpai upaya
hukum dimanfaatkan untuk menunda kewajiban mernbayar pajak.
2) B. Negara bisa rugi karena kelebihan pajak dalam SPT yang dihitung
sendiri oleh wajib pajak dengan sistem self· assessment belum tentu
benar. Pada dasarnya self assesment harus dicek kebenarannya
khususnya bagi wajib pajak yang mengklaim terdapat kelebihan
bayar.
3) B. Pengaturan pajak yang mengikat publik harus diatur dengan peraturan
perundang-undangan;
Sesuai dengan makna Pasal 23A UUD 1945 amandemen ke-3 agar
pungutan pajak yang mempunyai daya paksa sesuai dengan rasa
keadilan harus ditetapkan berdasarkan persetujuan wakil rakyat.
4) C. Pasal 23A UUD 1945;
Pasal 23A UUD 1945 amandemen ke-3 merupakan revisi dari Pasal
23 ayat (2) UUD I 945 yang mengatur rnasalah pungutan pajak.
5) C. Karena pada objek pajak tersebut berada di daerah (immobile);
Pada dasarnya, Pajak Penghasilan Orang Pribadi dalarn negeri (PPh
OP) dan pajak karyawan (PPh Pasal 2 I) objeknya immobile, yaitu
berada di suatu ternpat (daerah), karena itu layak menjadi pajak
daerah. Akan tetapi, karena pajak tersebut masih diperlukan oleh
Pemerintah Pusat maka pajak tersebut dipungut oleh pusat dan
dibagihasilkan kepada derah.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.33
Glosarium
Desentralisasi penyerahan wewenang pemerintah oleh
pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur
dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistern
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Earmarking Tax pajak harus jelas peruntukannya.
Penetapan penetapan dan ketetapan pajak dapat langsung
Executorial dilaksanakan walaupun sedang rnengajukan upaya
hukum, tanpa menunggu keputusan yang lain.
Hukum Privat hukum yang ,nengatur hubungan orang atau
badan dengan orang atau badan lainnya yang
bersifat individual.
Hukum Publik hukum yang mengatur hubungan antara orang atau
badan sebagai individu dengan lembaga negara
atau hubungan antara lembaga negara dengau
lembaga negara lainnya.
Self Asses111ent sistem pernungutan pajak yang rnemberi kan
System wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan
sendiri besaran pajak yang terutang sesuai dengan
ketentuan undang-undang perpajakan.
Government sistem pemungutan pajak yang memberikan
System wewenang kepada negara untuk menentukan
besaran pajak yang harus dibayarkan oleh wajib
pajak.
Tax Compliance ,nenguji kepatuhan wajib pajak, dari Surat
Pemberitahuan (SPT).
2.34 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Tax Immobile pajak yang objek pajak berada dalam suatu ternpat
atau daerah, pada umumnya dikelompokkan
sebagai pajak daerah.
Tax Mobile Pajak yang objek pajaknya tidak berada dalam
suatu tempat atau daerah, pada umumnya
dikelompokkan sebagai pajak pusat.
lex Specialis (Lex ketentuan hukum khusus mengalahkan ketentuan
Specialis Derogat hukum yang bersifat urnum.
lex Generate)
Tax Ratio perbandingan antara jumlah penerirnaan pajak
dibandingkan dengan Produk Dornestik Bruto.
Welfare State teori hukum yang menyatakan bahwa tujuan
negara adalah untuk rnenyejahterakan rakyatnya.
Teori ini dianut oleh negara lndonesia yang
dinyatakan dalam alinea keempat Pembukaan
UUD 1945.
With Holding sebuah cara atau sistern pemungutan pajak yang
System memberikan kewenangan kepada pihak ketiga
untuk memotong, menentukan besaran pajak yang
harus dibayarkan oleh wajib pajak.
• HKUM4407/MCJDUL 2 2.35
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. 1998. f/11111 H11k11111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Devas, Nick, dkk. 1989. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
UI Press.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak, Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. I; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
____ . 2009. Huk11111 Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. H11kun1, Masyarakat, don Pe,nbangunan
Hukuni Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Oto1101ni Daerah, Pusat Studi
Huku111 (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum UII.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentralizaion 111
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Saidi, Muhammad Djafar. 2007. Perli11d1111ga11 Huk111n Wajib Pajak dalani
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sarundayang. 2011. Arus Batik Kekuasaan Pu sat ke Dae rah. Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
2.36 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor.
Soriaatmadja, P Arifin. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Huku,n Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pu sat dan Pajak Dae rah. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No.7 Tahun 1983 sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Harang dan Jasa dan Pajak
Pcnjualan atas Harang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. 10 Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai, UU No. 1 I Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL 3
Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
y l PEND AH UL U AN _
(6 erdasarkan sifatnya, hukum pajak dibedakan antara hukum formal dan
'£li hukum material. Hukum formal mengatur tentang hak dan kewajiban
pemerintah dan wajib pajak, sedangkan hukurn ,naterial rnengatur mengenai
subjek pajak, objek pajak, dan tarif pajak. Hukum formal pajak diatur dalam
Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) yang
berlaku untuk seluruh pungutan perpajakan, baik pajak pusat, pajak daerah,
maupun pungutan bea masuk, bea keluar dan cukai. Sedangkan hukum
material diatur da1am masing-rnasing undang-undang pajak, yaitu UU Pajak
Penghasilan (PPh), UU Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas
Barang Mewah (PPN dan PPnBM), UU Bea Materai (BM), UU Pajak Bumi
dan Bangunan (PBB), UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD), UU
Kepabeanan, dan UU Cukai.
Pernisahan UU KUP yang mengatur khusus mengenai hukum formal
perpajakan, dimulai sejak reformasi perpajakan di Indonesia yang berlaku
sejak awal tahun 1984. Hingga saat ini UU KUP telah mengalarni empat kali
perubahan, sebagai berikut:
I. UU Nomor 6 Tahun 1983, mulai berlaku 1 Januari 1984;
2. UU Nomor 9 Tahun 1994, mulai berlaku I Januari 1995;
3. UU Nomor 16 Tahun 2000, mulai berlaku 1 Januari 2001;
4. UU Nomor 28 Tahun 2007, muJai berlaku 1 Januari 2008;
5. UU Nomor 16 Tahun 2009, mulai berlaku 25 Maret 2009.
Pengaturan ketentuan formal perpajakan tersebut di dalam UU Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, walaupun cakupannya lebih luas, yaitu
mengatur seluruh pungutan perpajakan, tetapi dalam pelaksanaannya hanya
3.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
berlaku untuk jenis pajak pusat saja. Hal tersebut disebabkan untuk pajak
daerah dan pungutan bea masuk,
Bea keluar dan cukai telah diatur dalam masing-masing undang-
undangnya tersendiri yang merupakan lex specialis derogat lex generale
(ketentuan yang khusus mengalahkan ketentuan umum). Ketentuan formal
dimaksud sebagai berikut.
I. Pajak daerah (Pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota)
Diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah yang implernentasinya di masing-masing daerah
provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh Peraturan Daerah (Perda).
2. Pajak bea dan cukai
a. UU Nomor IO Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagairnana telah
diubah dengan UU Nornor 17 Tahun 2006;
b. UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana Lelah diubah
dengan UU Nomor 39 Tahun 2007.
Namun demikian, walaupun hukum formal terhadap pajak daerah dan
pungutan bea dan cukai Lelah diatur tersendiri (lex specialis), tetapi UU KUP
tetap diberlakukan sepanjang di dalam UU Pajak Daerah dan Bea Cukai tidak
mengaturnya secara khusus. Pemberlakuan UU KUP tersebut di dalam ilrnu
hukum disebut mutatis mutandis yang maknanya adalah diterapkan suatu
ketentuan sepanjang tidak diatur tersendiri dalam ketentuan yang lain. Dalarn
modul ini, lingkup pernbahasan hukurn formal khususnya diperuntukkan
terhadap pajak pusat saja.
Hukum formal perpajakan diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) sebagaimana
telah diubah beberapa kali terakhir dengan UU Nornor 16 Tahun 2009. UU
KUP mengatur mengenai hak dan kewajiban pemerintah dan wajib pajak
dalam rangka rnelaksanakan sistem perpajakan self assessment, yaitu sistem di
mana wajib pajak diberi kepercayaan penuh oleh pemerintah untuk
menghitung, memperhitungkan, mernbayar sendiri, dan melaporkan pajak
terutang melalui rnekanisme laporan SPT (Surat Pemberitahuan).
Hak dan kewajiban pemerintah dan wajib pajak di dalam UU KUP, diatur
sebagai berikut:
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.3
Tabel 3.1
Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Wajib Pajak
No. Hak & Kewajiban Pemerintah Hak & Kewajiban Wajib Pajak
1. Hak Pemerintah Hak Wajib Pajak
a. Memberikan NPWP, a. Permohonan memperoleh NPWP/ PKP.
mengukuhkan PKP b. Permohonan menghapus NPWP/PKP.
dan/alau menghapusnya. c. Melaporkan perhilungan pajak melalui
b. Memeriksa kebenaran SPT
SPT. d. Melakukan pembelulan SPT.
c. Menerbilkan Kelelapan e. Mengajukan penyicilan alas ulang pajak.
Pajak. f. Menghindari lindakan penyidikan.
d. Menagih pajak lerulang. g. Permohonan pengembalian kelebihan
e. Mengurangi, menerima pembayaran pajak.
alau menolak upaya h. Mengajukan upaya hukum lerhadap
hukum Wajib Pajak. kelelapan pajak.
f. Melakukan penyidikan. I. Mengajukan permohonan banding.
g. Menghentikan penyidikan. I. Memperoleh imbalan pajak.
2. Kewajiban Pemerintah Kewajiban Wajib Pajak
a. Sosialisasi alas kewajiban a. Mengajukan permohonan sebagai
perpajakan. WP/PKP.
b. Memberikan pelayanan b. Menyampaikan SPT dengan benar.
kepada Wajib Pajak. c. Melunasi pajak terutanq.
c. Penghapusan NPWP d. Menyelenggarakan pembukuan.
dan/alau PKP.
d. Pengembalian
pembayaran pajak.
e. Menerbilkan kepulusan
keberalan.
Di dalam modul mengenai Ketentuan Urnum dan Tata Cara Perpajakan
ini akan dibagi dalam dua kegiatan belajar. Kegiatan Belajar I mengenai hak
dan kewajiban pemerintah dan Kegiatan Belajar 2 mengenai hak dan
kewajiban wajib pajak.
3.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 1
Hak dan Kewajiban Pemerintah
dalam Perpajakan
A. HAK PEMERINTAH
l. Memberikan NPWP, Mengukuhkan PKP, dan/atau Menghapusnya
Setiap wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib
mendaftarkan diri pada kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerjanya, meliputi ternpat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak dan
kepadanya diberikan Nornor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Demikian pula
kepada setiap wajib pajak sebagai pengusaha yang dikenakan pajak
berdasarkan undang-undang Pajak Pertambahan Nilai (UU Nomor 8 Tahun
1983 dan perubahannya), wajib ,nelaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP).
NPWP merupakan nomor identitas diri bagi wajib pajak yang di dalamnya
menunjukkan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) daerah mana terdaftar dan
diadministrasikan, bukan atas dasar identitas regional daerah kabupaten/kota.
Karena boleh jadi di suatu daerah kabupaten/kota dapat memiliki lebih dari
satu Kantor Pelayanan Pajak, atau sebaliknya terdapat suatu daerah
kabupaten/kota yang tidak memiliki Kantor Pelayanan Pajak. Selain itu,
NPWP adalah identitas wajib pajak dalarn melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya.
Pemerintah (Direktur Jenderal Pajak) dapat memberikan NPWP dan
mengukuhkan wajib pajak sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) secara
jabatan apabila WP dan/atau PKP tidak melaksanakan kewajiban mengajukan
permohonan NPWP/PKP bagi wajib pajak yang telah mernenuhi persyaratan
subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Selain itu juga, Direktur Jenderal Pajak mempunyai hak untuk
menghapuskan NPWP/PKP atas permohonan wajib pajak dan/atau secara
jabatan setelah dilakukan pemeriksaan (Pasal 2 UU KUP).
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.5
2. Memeriksa Kebenaran SPT
Walaupun penyampaian SPT sebagai sarana laporan perhitungan pajak
yang merupakan kepercayaan yang diberikan pemerintah kepada wajib pajak,
Direktur Jenderal Pajak mernpunyai hak untuk memeriksa kebenaran dari SPT
tersebut. Pemeriksaan dilakukan dalam rangka menguji kepatuhan wajib pajak
dan/atau karena adanya data transaksi dari pihak lain yang mungkin tidak
dilaporkan dalam SPT wajib pajak. Untuk keperluan pemeriksaan tersebut,
petugas pemeriksa harus merniliki tanda pengenal pemeriksa, dilengkapi
dengan Surat Perintah Pemeriksaan dan mernperlihatkannya kepada wajib
pajak yang diperiksa.
Pemeriksaan dapat dilakukan di Kantor Ditjen Pajak (pemeriksaan kantor)
atau di tempat wajib pajak (pemeriksaan lapangan) yang lingkup
pemeriksaannya untuk satu jenis atau tahun pajak tertentu, beberapa jenis
pajak, atau seluruh jenis pajak baik untuk tahun-tahun yang lalu maupun untuk
tahun berjalan. Pemeriksaan dapat dilakukan terhadap wajib pajak, termasuk
instansi pemerintah dan badan lain sebagai pemungut pajak atau pemotong
pajak. Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji kebenaran SPT dalam
rangka pernenuhan kewajiban perpajakan, dilakukan dengan menelusuri
kebenaran SPT, pembukuan atau pencatatan, dan pemenuhan kewajiban
perpajakan lainnya dibandingkan dengan keadaan atau kegiatan usaha
sebenarnya dari wajib pajak.
Untuk ,nencegah adanya dalih bahwa wajib pajak yang sedang diperiksa
terikat pada kerahasiaan sehingga pembukuan, catatan, dokumen serta
keterangan-keterangan yang diperlukan tidak dapat diberikan oleh wajib pajak
maka UU menegaskan bahwa kewajiban merahasiakan itu ditiadakan (Pasal
29 UU KUP).
3. Menerbitkan Ketetapan Pajak
Dalam hal setelah dilakukan pemeriksaan ternyata SPT yang disampaikan
dianggap tidak benar maka Direktur Jenderal Pajak mempunyai hak untuk
menerbitkan ketetapan pajak berupa Surat Tagihan Pajak (STP) dan Surat
Ketetapan Pajak yang terdiri dari Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
(SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), Surat
Ketetapan Pajak Nihil (SKPN), dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
(SKPLB).
STP adalah surat untuk melakukan tagihan pajak berupa sanksi
administrasi berupa bunga dan/atau denda. SKPKB adalah surat ketetapan
3.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
pajak yang ,nenentukan besarnya jurnlah pokok pajak, jurnlah kredit pajak,
jurnlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi,
dan jurnlah pajak yang rnasih harus dibayar. SKPKBT adalah surat ketetapan
pajak yang rnenentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
SKPN adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak
sarna besarnya dengan jurnlah kredit pajak atau pajak terutang dan tidak ada
kredit pajak. SKPLB adalah surat ketetapan pajak yang rnenentukan jurnlah
kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada
pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang (Pasal 13, Pasal 14, dan
Pasal IS UU KUP).
Terhadap ketetapan pajak yang menirnbulkan utang pajak, wajib pajak
wajib melunasi pajak terutang walaupun masih dalam upaya tnengajukan
keberatan kepada Ditjen Pajak atau permohonan banding ke Pengadilan Pajak
(Pasal 25 dan Pasal 27 UU KUP).
4. Menagih Pajak Terutang
Terhadap penerbitan ketetapan pajak berupa STP, SKPKB dan SKP KBT
yang tentunya menimbulkan utang pajak, Dirjen Pajak mempunyai hak untuk
rnenagih hingga lunas. Si fat penagihan pajak adalah sebagai executorial beslag
yang maknanya Dirjen Pajak dapat menagih walaupun wajib pajak sedang
melakukan upaya hukum kcberatan kepada Dirjen Pajak atau banding ke
Pengadilan Pajak.
Begitu urgentnya penagihan pajak terhadap wajib pajak yang mempunyai
utang pajak baik pajak pusat maupun pajak daerah hingga perlu diatur dalam
undang-undang tersendiri, yaitu dalam UU Nomor 19 Tahun 1997 tentang
penagihan pajak dengan surat paksa sebagaimana telah diubah dengan UU
Nornor 19 Tahun 2000.
Adapun tata urutan penagihan pajak sebagai berikut:
a. surat teguran;
b. surat paksa;
c. penyitaan;
d. pencegahan ke luar negeri; dan
e. penyanderaan
Dalam melakukan penagihan, melalui tahapan urutan seperti di alas,
namun demikian dalarn keadaan yang darurat (misalnya, wajib pajak akan
meninggalkan Indonesia, dll) fiskus dalam melakukan tindakan penagihan
• HKUM4407/MCJDUL 3 3. 7
seketika dan sekaligus tanpa harus melalui tahapan penagihan (UU Nornor I 9
Tahun 1997 jo UU Nornor 19 Tahun 2000).
5. Mengurangi, Menerima, atau Menolak Upaya Hukum Wajib Pajak
Terhadap ketetapan pajak, wajib pajak dapat melakukan upaya hukum (I)
mengajukan pengurangan, pembatalan, pembetulan dan/atau (2) rnengajukan
keberatan kepada Direktur Jenderal Pajak. Atas pengajuan permohonan
tersebut, Direktur Jenderal Pajak mempunyai hak untuk mengurangi,
menerima, atau menolak upaya hukum dari wajib pajak tersebut dalam ha):
a. karena terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan
penerapan ketentuan tertentu dalarn peraturan perundang-undangan
perpajakan (Pasal I 6 UU KUP);
b. mengurangkan atau rnenghapuskan sanksi administrasi bunga, denda, dan
kenaikan yang terutang, dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena
kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya;
c. mengurangkan atau membatalkan Surat Ketetapan Pajak dan Surat
Tagihan Pajak yang tidak benar;
d. membatalkan Surat Ketetapan Pajak dari hasil pemeriksaan yang
dilaksanakan tanpa prosedur yang benar.
Hak Direktur Jenderal Pajak tersebut diberikan dalam rangka rnernberikan
keadilan dan melindungi wajib pajak dari tindakan yang fiskus yang tidak
sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku (Pasal
I 6, Pasal 25, dan Pasal 36 UU KUP).
6. Melakukan Penyidikan
Pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh wajib
pajak sepanjang menyangkut tindakan adrninistrasi perpajakan, dikenai sanksi
administrasi dengan menerbitkan Surat Tagihan Pajak atau Surat Ketetapan
Pajak, sedangkan yang menyangkut tindak pidana di bi dang perpajakan dikenai
sanksi pidana.
Dalam hal wajib pajak melakukan perbuatan yang dapat diancam pidana,
Direktur Jenderal Pajak mempunyai hak untuk melakukan penyidikan tindak
pidana dibidang perpajakan dan menentukan adanya bukti perrnulaan. Bukti
permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan,
tulisan, atau benda yang dapat mernberikan petunjuk adanya dugaan kuat
bahwa sedang atau telah terjadi suatu tindak pidana dibidang perpajakan yang
3.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
dilakukan oleh siapa saja yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan
negara. Tindakan penyidikan hanya dapat dilakukan oleh Pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak yang diberi
wewenang khusus sebagai penyidik tindak pidana perpajakan. Dalam rangka
pelaksanaan kewenangan penyidikan, penyidik dapat merninta bantuan aparat
penegak hukum Jain (Pasal 43A dan Pasal 44 UU KUP).
7. Menghentikan Penyidikan
Penyidik rnempunyai hak untuk menghentikan penyidikan dalam hal tidak
terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana
dibidang perpajakan atau penyidikan dihentikan karena peristiwanya telah
kadaluarsa atau tersangkanya meninggal dunia.
Derni kepentingan penerimaan negara, Menteri Keuangan mernpunyai
hak merninta kepada Jaksa Agung untuk ,nenghentikan penyidikan tindak
pidana dibidang perpajakan. Jaksa Agung dapat menghentikan penyidikan
paling Jama dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal surat
permintaan. Penghentian tindak pidana dibidang perpajakan hanya dilakukan
setelah wajib pajak melunasi utang pajak yang tidak atau kurang dibayar atau
tidak seharusnya dikembalikan dan ditambah sanksi adrninistrasi berupa denda
sebesar 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar atau tidak
seharusnya dikembalikan ( Pasal 44A dan Pasal 448 UU KUP).
B. KEWAJIBAN PEMERINTAH
1. Sosialisasi atas Kewajiban Perpajakan
Perubahan sistem perpajakan di Indonesia menjadi self assessment, yaitu
pernerintah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk
menghitung, memperhitungkan sendiri, membayar, dan melaporkan pajak
terutang melalui mekanisme formulir laporan Surat Pernbcritahuan (SPT),
perlu disosialisasikan dengan sungguh-sungguh. Sebab dengan mernberikan
kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk menghitung sendiri pajak
terutang, mernberikan peluang kepada wajib pajak berbuat kecurangan dalam
perhitungan kewajiban pajaknya, walaupun pemerintah rnerniliki instrumen
untuk mendeteksi ketidakbenaran laporan SPT dari wajib pajak tersebut.
Untuk itu, demi kepentingan penerimaan negara dari pajak, pemerintah wajib
memberikan penyuluhan atau sosialisasi hal yang berkaitan dengan kewajiban
perpajakan disetiap kesempatan. Melalui sosialisasi kewajiban perpajakan,
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.9
diharapkan masyarakat menjadi sadar atas pentingnya membayar pajak dengan
benar guna membiayai roda pernerintahan di negeri Indonesia yang kita cintai
101.
2. Memberikan Pelayanan kepada Wajib Pajak
Paradigma pungutan pajak yang tertuang dalam definisi pajak oleh para
pakar pajak terdahulu yang menyatakan bahwa pajak merupakan pungutan
bersifat memaksa berdasarkan undang-undang untuk kepentingan negara tanpa
imbalan atau kontraprestasi sudah ditinggalkan. Karena tujuan pungutan pajak
adalah untuk kesejahteraan masyarakat yang adil dan makrnur. Jadi, tujuan
pajak harus jelas peruntukannya. Dalam rangka itulah pemerintah wajib
memberikan pelayanan kepada wajib pajak sebagai rnanifestasi dari imbalan
atau kontraprestasi yang harus diberikan kepada segenap pembayar pajak.
Pelayanan kepada wajib pajak tersebut berupa bimbingan mengenai
pernenuhan kewajiban dan hak sebagaimana ketentuan dalam undang-undang
bidang perpajakan. Untuk itu, Ditjen Pajak menyediakan kisaran 7.000 petugas
Account Representative (AR), yaitu sebuah jabatan baru dalam struktur
Direktorat Jenderal Pajak yang tersebar di setiap Kantor Pelayanan Pajak yang
bertugas memberikan pelayanan dan konsultasi kepada wajib pajak.
3. Penghapusan NPWP dan/atau PKP
Dirjen Pajak atas permohonan wajib pajak, Direktur Jenderal Pajak wajib
,nenghapuskan Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau rnemutuskan untuk
mencabut Pengusaha Kena Pajak yang diajukan kepadanya setelah dilakukan
pemeriksaan mengenai alasan kebenaran permintaan tersebut.
Kewajiban penghapusan NPWP/PKP dilakukan oleh Dirjen Pajak apabila
berikut ini:
a. Diajukan permohonan NPWP/PKP oleh wajib pajak dan/atau ahli
warisnya apabila wajib pajak /Pengusaha Kena Pajak sudah tidak
memenuhi persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan;
b. Wajib Pajak Badan dilikuidasi karena penghentian atau penggabungan
usaha;
c. Wajib pajak bentuk usaha tetap menghentikan kegiatan usahanya di
Indonesia; atau
d. Dianggap perlu oleh Dirjen Pajak untuk menghapuskan NPWP/PKP dari
wajib pajak/Pengusaha Kena Pajak yang sudah tidak memenuhi
3.10 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
persyaratan subjektif dan/atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan.
Kewajiban pemerintah (dalam hal ini Direktur Jenderal Pajak) berkaitan
dengan penghapusan NPWP/PKP, dilakukan atas permohonan wajib pajak
maupun atas kewenangan jabatannya (Pasal 2 UU KUP). Dengan [Link],
walaupun tanpa pennohonan dari wajib pajak, Direktur Jenderal Pajak
berdasarkan undang-undang dapat saja menghapuskan NPWP/PKP, apabila
dianggap telah mernenuhi persyaratan penghapusan.
4. Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
Dirjen Pajak wajib memberikan kelebihan pernbayaran pajak atas
permohonan wajib pajak, dengan ketentuan bahwa apabila ternyata wajib
pajak mempunyai utang pajak, pengembalian tersebut akan langsung
diperhitungkan untuk melunasi utang pajaknya. Direktur Jenderal Pajak dalam
melaksanakan kewajiban kelebihan pajak tersebut, tentunya terlebih dahulu
harus melakukan pemeriksaan atas SPT wajib pajak tersebut (Pasal 11 UU
KUP). Hal tersebut dilakukan karena sistem perpajakan yang kita anut adalah
self assessment, di mana pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada
wajib pajak untuk menghitung dan melaporkan pajaknya melalui SPT.
Perhitungan wajib pajak yang dilaporkan belum tentu benar, bahkan mungkin
dimanipulasikan. Oleh karena itu, ketika wajib pajak mengklaim terdapat
kelebihan mernbayar pajak maka pemerintah untuk memenuhi kewajiban
mernberikan kelebihan pajak tersebut harus dicek, agar tidak terjadi kerugian
negara. Apabila ternyata setelah diperiksa ternyata laporan SPT wajib pajak
tidak benar dan justru terdapat kekurangan pajak yang disetor maka akan
diterbitkan ketetapan pajak berupa Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.
5. Menerbitkan Keputusan Keberatan
Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas)
bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus menerbitkan keputusan
keberatan yang diajukan oleh wajib pajak. Apabila jangka waktu dimaksud
terlampaui dan Dirjen Pajak belum rnemberikan suatu keputusan maka
undang-undang perpajakan menyatakan keberatan wajib pajak yang diajukan
dianggap disetujui dan diterima.
Dengan diaturnya batas waktu penyelesaian keputusan atas keberatan,
akan diperoleh suatu kepastian hukum bagi wajib pajak (Pasal 26 KUP).
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.11
LATIHAN
Untuk memperdalam pemaharnan Anda mengenai rnaten di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Apakah hukum formal dan hukum material perpajakan?
2) Apakah hukum formal diberlakukan untuk seluruh perpajakan?
3) Bagaimana memberlakukan VV KVP terhadap pajak daerah dan bea dan
cukai?
4) Apakah hak dan kewajiban pemerintah dalam sistem self assessment'!
5) Self assessment adalah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib
pajak untuk melaksanakan sendiri kewajiban perpajakannya. Mengapa
VV KVP mengatur hak dan kewajiban pernerintah?
Petunjuk Jawaban. Latihan
I) Pengertian hukurn formal dan material perpajakan dapat dilihat pada
Pendahuluan dari Modul 3.
2) Dernikian juga jawaban atas pemberlakuan ketentuan hukum formal
perpajakan terdapat dalarn uraian dari Pendahuluan Modul 3.
3) VV KVP merupakan ketentuan hukum formal perpajakan yang berlaku
bagi seluruh pungutan perpajakan baik pajak pusat, pajak daerah, dan
pungutan bea dan cukai. Hal tersebut diuraikan dalarn Pendahuluan
Modul 3.
4) Hak dan kewajiban sistern self assesment diuraikan dalam Kegiatan
Belajar I huruf Adan B.
5) Hak dan kewajiban pemerintah perlu diatur rnerupakan konsekuensi dari
sistern perpajakan self assesment sebagaimana diuraikan dalam Kegiatan
Belajar I huruf A.
Q RANG KLIMA N�------------------
Sebagaimana diketahui pengaturan perpajakan di Indonesia sejak
awal tahun 1984 dengan ditetapkannya VU Nornor 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KVP) berlaku sistem self
assessment, yaitu pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada
wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, sendiri rnernbayar, dan
3.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
rnelapor pajak terutang melalui mekanisme pelaporan Surat
Pemberitahuan (SPT). Dalam ilmu hukurn sistem tersebut dikategorikan
sebagai hukum formal perpajakan.
Hukum formal mengatur mengenai hak dan kewajiban pemerintah
dan wajib pajak dalam melaksanakan perpajakan dalarn satu undang-
undang, yaitu UU KUP. Sedangkan hukurn material perpajakan yang
mengatur mengenai subyek, obyek, dan tarif pajak diatur dalam rnasing-
masing jenis pajak (misal UU PPh, UU PPN dan PPnBM, UU PBB, UU
Bea Meterai, dst).
Namun demikian, dalam hal-hal yang khusus dan spesifik ketentuan
formal perpajakan dapat diatur dalam UU jenis pajak secara tersendiri, hal
tersebut dalam hukurn disebut dengan mutatis mutandis.
Dalam pelaksanaan sistem self assessment dalam UU KUP diatur
mengenai hak dan kewajiban pernerintah. Hak pernerintah rneliputi:
mernberikan NPWP, mengukuhkan PKP dan/atau menghapuskannya,
merneriksa SPT, menerbitkan ketetapan pajak, menagih pajak terutang,
dst. Sedangkan kewajiban pemerintah rneliputi: mernberikan pelayanan
kepada wajib pajak, penghapusan NPWP dan/atau PKP, sosialisasi
regulasi perpajakan, dst. Hal tersebut dimaksudkan agar terdapat
kepastian hukum bagi pemerintah maupun wajib pajak.
�I
TES FORM AT IF l. _
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Apakah hukum formal perpajakan?
A. hukum yang mengatur hak dan kewajiban pemerintah dalam
perpajakan
B. hukum yang mengatur hak dan kewajiban pemerintah dan wajib pajak
dalam perpajakan
C. hukum yang mengatur sanksi wajib pajak yang tidak memenuhi
kewajiban perpajakan
D. hukum yang mengatur self assessment
2) Di mana hukum formal perpajakan diatur?
A. masing-rnasing undang-undangjenis pajak
B. UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Pajak
C. UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan
D. UUD 1945 Pasal 23A
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.13
3) Kapan pemerintah menerbitkan ketetapan pajak?
A. dalam hal pernerintah menilai SPT yang dilaporkan wajib pajak tidak
benar
B. apabila wajib pajak tidak menyampaikan SPT
C. apabila setelah dilakukan perneriksaan ternyata SPT yang dilaporkan
dianggap tidak benar
D. sernuanya benar
4) Apakah yang dimaksud penagihan bersifat parate executie'I
A. pajak dapat dieksekusi aparat
B. pajak merupakan kewajiban warga negara karena itu terhadap yang
lalai dengan kewajibannya dapat dikenakan sanksi eksekusi
C. utang pajak dalarn ketetapan pajak tetap harus dibayar walaupun
sedang melakukan upaya hukum
D. demi keadilan pelaksanaan penagihan harus dihentikan apabila wajib
pajak sedang rnelakukan upaya hukum
5) Dalam hal wajib pajak diduga melakukan melakukan tindak pidana
perpajakan, siapa yang melakukan tindakan penyidikan?
A. kepolisian
B. kejaksaan karena merupakan tindak pidana khusus
C. hakim pengadilan pajak
D. pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat
Perpajakan
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif I yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x 100%
Jumlah Saal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
3.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau Jebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar I, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.15
KEGIATAN [Link] 2
Hak dan Kewajiban Wajib Pajak
A. HAK WAJIB PAJAK
1. Permohonan Memperoleh NPWP/PKP
Wajib pajak dalam rangka memenuhi kewajiban perpajakannya
mempunyai hak untuk mengajukan permohonan memperoleh Nomor Pokok
Wajib Pajak dan/atau dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
Hak tersebut diperlukan berkaitan dengan segala aktivitas sebagai anggota
rnasyarakat dan usaha yang mewajibkan harus merniliki NPWP/PKP
misalnya:
a. mernbuat akte pendirian perusahaan;
b. permohonan SIUP (Surat lzin Usaha Perdagangan);
c. rnenjadi rekanan pemerintah;
d. sebagai pegawai pemerintah;
e. kepernilikan tanah dan atau bangunan, dll.
Untuk keperluan tersebut maka anggota masyarakat mempunyai hak
untuk merniliki NPWP dan atau dikukuhkan sebagai PKP (Pasal 2 UU KUP).
2. Menghapus NPWP/PKP
Namun demikian sebaliknya, wajib pajak juga mempunyai hak unruk
mengajukan penghapusan NPWP/PKP dari administrasi perpajakan, apabila
persyaratan subjektif dan objektif sudah tidak dimiliknya lagi. Misalnya:
a. Wajib pajak telah rneninggal dunia, permohonan penghapusan diajukan
oleh ahli warisnya;
b. Wajib Pajak Badan dinyatakan pailit;
c. Wajib pajak wanita telah kawin dan menyatakan bergabung dengan
NPWP suarni;
d. Wajib pajak sudah tidak merniliki usaha lagi dan hanya akan rnenikmati
. .
pensiun saja;
f. Dan lain-lain.
3.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3. Melaporkan Perhitungan Pajak Melalui SPT
Wajib pajak mempunyai hak untuk rnelaporkan perhitungan pajak melalui
mekanisme formulir laporan SPT. Pelaporan tersebut selain sebagai kewajiban
juga rnerupakan hak dari wajib pajak. Karena, perhitungan pajak dalam SPT
tidak hanya berupa perhitungan kekurangan pajak yang harus dibayaran dan
rnelarnpirkan bukti pelunasannya dalam pelaporan SPT, tetapi Jebih dari itu
melalui SPT dimungkinkan wajib pajak untuk menuntut lclaim kelebihan
pembayaran pajak. Hal tersebut di dalam pajak penghasilan disebabkan karena
terdapat kelebihan rnembayar pajak yang diakibatkan adanya pernbayaran di
rnuka rnelalui angsuran bulanan wajib pajak (PPh Pasal 25) yang dihitung
sebesar 1/12 dari pajak terutang tahun lalu atau diakibatkan karena adanya
kelebihan potongan pajak yang diperhitungkan sebagai kredit pajak (PPh Pasal
2 I, 22, 23, dan 24) yang berdasarkan UU perpajakan boleh diperhitungkan
(Pasal 4 UU KUP).
4. Melakukan Pembetulan SPT
Wajib pajak atas kemauan sendiri mempunyai hak untuk membetulkan
surat pernberitahuan yang telah disarnpaikan dengan mernbuat pernyataan
tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum rnelakukan pemeriksaan.
Dalam ha) pembetulan surat pemberitahuan menyatakan rugi atau lebih bayar,
pernbetulan SPT harus disampaikan paling lama 2 (dua) tahun sebelum
kadaluarsa penetapan. Apabila wajib pajak rnernbetulkan sendiri surat
pernberitahuan yang mengakibatkan utang pajak rnenjadi Jebih besar,
kepadanya dikenai sanksi berupa bunga 2 (dua) persen per bu Ian atas jumlah
pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian surat
pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran (Pasal 8 UU
KUP).
5. Mengajukan Penyicilan Utang Pajak
Surat Ketetapan Pajak bersi fat pa rate executie/executorial beslag, artinya
Surat Ketetapan Pajak Jangsung dapat dilaksanakan dan besaran pajak utang
pajak yang tercantum dalarn surat ketetapan pajak harus dilunasi walaupun
wajib pajak sedang melakukan upaya hukum. Walaupun demikian, wajib pajak
mempunyai hak untuk melakukan penyicilan kepada Dirjen Pajak apabila
mernang benar-benar tidak rnernpunyai kemarnpuan untuk melunasinya
dengan cara melakukan permohonan perjanjian penyicilan. Namun dernikian,
akibat keterlambatan dari pelunasan kekurangan pajak tersebut akan dikenakan
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.17
bunga penagihan yang besarnya 2% (dua persen) sebulan (Pasal 18 UU KUP
jo UU Nomor 19 Tahun 2000).
6. Menghindari Tindakan Penyidikan
Wajib pajak rnempunyai hak untuk menghindari tindakan penyidikan
yang dilakukan oleh Dirjen Pajak, apabila karena kealpaannya tidak
menyampaikan surat pemberitahuan dan/atau menyarnpaikan surat
pemberitahuan, tetapi isinya tidak benar, sebelum dilakukan tindakan
penyidikan dengan mernbayar kekurangan jumlah pajak yang sebenarnya
terutang beserta sanksi adrninistrasi berupa denda sebesar I SOo/o (seratus lima
puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar (Pasal 8 UU KUP).
7. Permohonan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak
Wajib pajak mernpunyai hak untuk mengajukan pennohonan kelebihan
pernbayaran pajak sebagaimana dinyatakan dalam perhitungan surar
pemberitahuan. Namun dernikian, terhadap permohonan pengembalian
tersebut, untuk membuktikan bahwa pennohonan yang diajukan adalah benar
adanya, akan dilakukan perneriksaan Direktur Jenderal Pajak. Selain itu,
Direktur Jenderal Pajak akan meneliti apakah wajib pajak tersebut masih
mempunyai utang pajak yang nantinya akan diperhitungkan dengan besarnya
pengembalian kelebihan pajak yang disetujui.
Selanjutnya, UU KUP menyatakan apabila dalam waktu 12 (dua belas)
bulan perrnohonan wajib pajak tersebut tidak ditanggapi rnaka pennohonan
kelebihan bayar tersebut dianggap diterima (Pasal I I UU KUP).
8. Mengajukan Upaya Hukum terhadap Ketetapan Pajak
Wajib pajak mempunyai hak untuk mengajukan upaya hukum terhadap
ketetapan, yaitu terhadap Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar (SKPKB) atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
(SKPKBT), Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) dan Surat Ketetapan Pajak
Lebih Bayar (SKPLB) sebagai berikut.
a. Mengajukan permohonan pembetulan karena terdapat kesalahan tulis,
kesalahan hitung dan /atau penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan sebagaimana diatur dalarn Pasal 16 UU
KUP, meliputi:
I) Surat Ketetapan Pajak (STP, SKPKB, SKPKBT, SKPN, SKPLB);
3.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Surat
Keputusan Pengurangan/Penghapusan Sanksi Adrninistrasi, Surat
Keputusan Penghapusan/Pembatalan Ketetapan Pajak, Surat
Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak, dan Surat
Keputusan Pemberian lmbalan Bunga.
b. Mengajukan keberatan atas SKPKB, SKPKBT, SKPN dan SKPLB atau
pemotongan atau pernungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (Pasal 25 UU KUP);
c. Mengajukan pengurangan atau menghapuskan: sanksi adrninistrasi,
mengurangkan atau membatalkan Surat Ketetapan Pajak dan Surat Tagih
Pajak yang tidak benar, atau rnembatalkan Surat Ketetapan Pajak karena
prosedurnya tidak benar (Pasal 36 UU KUP).
Walaupun UU Perpajakan memberikan hak kepada wajib pajak untuk
melakukan upaya hukum terhadap ketetapan pajak, tetapi wajib pajak tetap
harus melunasi utang pajaknya karena ketetapan pajak bersifat executorial
beslag.
9, Mengajukan Permohonan Gugatan atau Banding
Wajib pajak rnernpunyai hak untuk rnengajukan gugatan ke Pengadilan
Pajak atas surat keputusan Direktur Jenderal Pajak alas:
a. pernbetulan ketetapan pajak (Pasal 16 UU KUP); atau
b. surat keputusan pengurangan sanksi administrasi dan ketetapan pajak
yang tidak benar (Pasal 36 UU KUP).
Dan mengajukan permohonan banding kepada Pengadilan Pajak atas
Keputusan Keberatan (Pasal 27 UU KUP). Gugatan atau permohonan banding
diajukan paling lambat 3 (tiga) bulan sejak Surat Keputusan tersebut diterima.
10. Memperoleh Imbalan Bunga
Apabila upaya hukum wajib pajak sebagairnana tersebut dalam Pasal 16,
Pasal 25, Pasal 27, dan Pasal 36 UU KUP dikabulkan sebagian atau seluruhnya
dan menyebabkan kelebihan pembayaran pajak, atas kelebihan pembayaran
pajak tersebut wajib pajak mempunyai hak untuk merninta kelebihan
pembayaran pajak untuk dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga
sebesar 2o/o (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat
bu Ian (Pasal 27 A UU KUP).
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.19
B. KEWAJIBAN WAJIB PAJAK
1. Mengajukan Permohonan sehagai WP/PKP
Setiap wajib pajak yang tel ah mernenuhi persyaratan subjektif dan objekti f
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib
mendaftarkan diri pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah
kerjanya meliputi ternpat tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak dan
kepadanya diberikan Nornor Pokok Wajib Pajak.
Demikian juga terhadap wajib pajak sebagai pengusaha wajib melaporkan
usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (Pasal 2 UU
KUP).
2. Menyampaikan SPT dengan Benar
Wajib pajak wajib menyampaikan surat pe,nberitahuan dengan benar,
lengkap, dan jelas sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditetapkan, sebagai
berikut.
a. Untuk SPT Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir masa
pajak.
b. Untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi, paling
lama 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun pajak.
c. Untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan, paling Jania
4 (empat) bulan setelah akhir tahun pajak.
SPT dianggap tidak disampaikan apabila tidak ditandatangani, tidak
dilampiri keterangan dan/atau dokumen pendukung berdasarkan peraturan
Menteri Keuangan, atau SPT disampaikan setelah Direktur Jenderal Pajak
,nelakukan perneriksaan dan ,nenerbitkan Surat Ketetapan Pajak (Pasal 3 dan
Pasal 4 UU KUP).
3. Melunasi Pajak Terutang
Wajib pajak wajib membayar atau ,nenyetor kekurangan pajak sesua,
perhitungan wajib pajak sendiri dalam surat pemberitahuan yang disampaikan
kepada Direktorat Jenderal Pajak. Demikian juga wajib pajak berkewajiban
melunasi utang pajak dalam STP, SKPKB dan/atau SKPKBT yang
dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
Dalam hal wajib pajak mengajukan keberatan kewajiban melunasi pajak
yang rnasih harus dibayar paling sedikit sejurnlah yang disetujui wajib pajak
dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan sebelum surat keberatan
3.20 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
disampaikan. Pelunasan pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran
Pajak ke kas negara di ternpat pembayaran yang ditunjuk berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan ( Pasal I 0, Pasal I 2 UU KUP, dan Pasal 25 UU
KUP).
5. Menyelenggarakan Pembukuan
Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas dan Wajib Pajak Badan di Indonesia wajib menyelenggarakan
pembukuan. Dalarn ha) wajib pajak dikecualikan dari kewajiban
menyelenggarakan pernbukuan maka wajib pajak diwajibkan melakukan
catatan. Dari catatan akan digunakan untuk ,nemperoleh penghasilan neto,
dengan menggunakan (mengalikan) penghasilan bruto dengan norm a
penghitungan yang besarannya ditetapkan oleh Dirjen Pajak.
Khusus Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan usaha yang
mempunyai peredaran bruto setahun kurang dari Rp4,8 miliar boleh
menggunakan catatan dengan syarat harus rnemberitahukan kepada Direktur
Jenderal Pajak (Pasal 14 ayat 2 UU PPh).
Pernbukuan atau pencatatan tersebut harus diselenggarakan dengan
memperhatikan itikad baik dan rnencerrninkan keadaan atau kegiatan usaha
yang sebenarnya dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata
uang rupiah, dan disusun dalam bahasa lndonesia atau dalarn bahasa asing
yang diizinkan oleh Menteri Keuangan. Pembukuan sekurang-kurangnya
terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban modal, penghasilan, dan biaya,
serta penjualan dan pembelian sehingga dapat di hi tung besarnya pajak terutang
(Pasal 28 UU KUP).
LATIHAN
Untuk mernperdalarn pemahaman Anda mengena1 materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut I
I) Mengapa wajib pajak rnernerlukan NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)?
2) Kapan wajib pajak dapat mengajukan pennohonan menghapuskan
NPWP?
3) Dalam ha) apa wajib pajak mengajukan upaya hukum perpajakan?
4) Apakah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh wajib pajak?
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.21
5) Dalam melaksanakan kewajiban perpajakan, ,nengapa wajib pajak harus
,nenyelenggarakan pembukuan?
Petunjuk lawaban Latihan
I) Wajib pajak memerlukan nomor identitas yang disebut dengan NPWP
yang merupakan hak wajib pajak sebagairnana diuraikan dalam KB2 huruf
A.
2) Demikian juga hak wajib pajak untuk rnengajukan penghapusan NPWP
telah diuraikan dalam KB 2 huruf A.
3) Mengenai upaya hukurn perpajakan bagi wajib pajakjuga telah diuraikan
dalam KB 2 huruf A.
4) Jenis-jenis upaya hukum wajib pajak hendaknya memperhatikan dalam
hak wajib pajak yang terdapat dalam KB 2 huruf A.
5) Mengenai kewajiban rnenyelenggarakan pernbukuan diuraikan dalam KB
2 huruf B.
-D RANG Ku MAN�------------------
Dalam rangka melaksanakan self assessment wajib pajak mempunyai
hak dan kewajiban yang diatur dalam Undang-Undang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Dalam hal kewajiban perpajakan tidak
dipenuhi maka wajib pajak dapat dikenakan sanksi baik sanksi
administrasi berupa bunga, dan/atau denda bahkan sanksi pidana. Untuk
itu, wajib pajak memiliki hak untuk melakukan upaya hukum. Hal tersebut
diatur dalam hukum formal perpajakan, yaitu UU KUP.
Hak kewajiban pajak, antara lain: permohonan memperoleh NPWP,
rnenghapus NPWP, melaporkan perhitungan pajak melalui SPT,
melakukan pembetulan SPT, mengajukan cicilan utang pajak,
mengajukan upaya hukum alas ketetapan pajak, dan lain-lain. Sedangkan,
kewajiban wajib pajak antara lain: mengajukan permohonan unruk
dikukuhkan sebagai Wajib Pajak/Pengusaha Kena Pajak, menyampaikan
laporan SPT dengan benar, melunasi pajak terutang baik atas perhitungan
wajib pajak sendiri atau atas ketetapan pajak yang diterbitkan olehfiskus
dan menyelenggarakan pembukuan sebagai dasar laporan SPT.
3.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
�I
Pilihlah satujawaban yang paling tepat!
I) Regulasi hak dan kewajiban wajib pajak diatur dalam ....
A. Undang-Undang Pengadilan Pajak
B. Undang-Undang Administrasi Pemerintahan
C. Undang-Undang Pajak Penghasilan
D. Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
2) Manifestasi hak wajib pajak adalah melaporkan perhitungan pajak
terutang melalui pelaporan SPT ....
A. SPT yang dilaporkan harus benar dan didukung dengan pembukuan
B. dalam ha] belum dilakukan pemeriksaan, wajib pajak dapat
membetulkan SPT
C. Direktur Jenderal Pajak berhak untuk meneliti kebenaran SPT
D. semuanya benar
3) Untuk rnenghindari tindakan penyidikan, wajib pajak dapat melakukan
A. gugatan ke pengadilan
B. mernbayar kekurangan jumlah pajak terutang
C. membayar kekurangan jumlah pajak yang sebenarnya terutang
beserta sanksi denda sebesar 150%
D. mengajukan pengampunan pajak
4) Wajib Pajak Orang Pribadi wajib menyelenggarakan pembukuan, tetapi
dapat membuat catatan dalam ha! peredaran bruto setahun kurang dari ....
A. Rp!O miliar
B. Rp4,8 miliar
C. Rp7,2 rniliar
D. Rp6,2 rniliar
5) Dalam ha! wajib pajak sedang mengajukan upaya hukurn keberatan atau
banding maka ....
A. penagihan pajak akan tertunda hingga adanya keputusan keberatan
atau banding
B. demi keadilan penagihan pajak harus dihentikan
C. wajib pajak tetap wajib rnelunasi sejumlah yang diakuinya dalam
perneriksaan
D. semuanya salah
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.23
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
rnateri Kegiatan Bel ajar 2.
Jurnlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan » ------------x 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila rnencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika rnasih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
3.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 3
Penerapan UU KUP terhadap Kepabeanan,
Cukai,dan Pajak Daerah
JI ak dan kewajiban pernerintah dan wajib pajak untuk jenis pajak pusat
yang menjadi kewenangan Direktorat Jenderal Pajak diatur dalam
undang-undang formal tersendiri, yaitu Undang-Undang Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Tetapi pungutan bea masuk, bea keluar,
dan cukai yang menjadi kewenangan Direktorat Bea dan Cukai, serta pajak
daerah yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah (Provinsi Atau
Kabupaten/Kota) ketentuan hukurn formalnya (yang mengatur subjek, objek,
dan tarif pajak daerah) diatur dalam undang-undang tersendiri yang merupakan
lex specialis. Ketentuan pengaturan tersebut adalah UU Kepabeanan untuk bea
masuk dan bea keluar, UU Cukai untuk cukai, serta UU Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah untuk pajak daerah.
A. KEPABEANAN DAN CUKAI
Seperti halnya dalam pajak pusat, kepabeanan yang menyangkut bea
masuk dan bea keluar berlaku sistem self assessment. Dalam kegiatan impor
barang dari luar daerah pabean dikenakan bea masuk demikian pula kegiatan
ekspor barang ke luar daerah pabean akan dikenakan bea keluar diberikan
kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung sendiri besarnya
kepabeanannya.
Di dalarn kegiatan imper barang akan dikenakan tarifbea masuk demikian
pula ketika ekspor barang dikenakan bea keluar. Namun dernikian, apabila
dilakukan impor atau ekspor barang tanpa dokumen, dianggap sebagai
penyelundupan yang akan dikenakan sanksi pidana. Perlakuannya bagi pajak-
pajak pusat cenderung lebih mengutamakan sanksi adrninistrasi untuk
penerimaan negara daripada sanksi pidana, berbeda dalam UU Kepabeanan
terhadap kegiatan impor dan ekspor tanpa dokumen merupakan tindak pidana
penyelundupan. Dernikian pula perlakuan terhadap pelanggaran cukai. Karena
itu, diperlukan pengaturan khusus dalam aktivitas Kepabeanan dan Cukai.
Selain itu, ketika wajib pajak mengajukan upaya hukum keberatan ke
Direktur Jenderal Bea dan Cukai dan banding kc Pengadilan Pajak maka wajib
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.25
pajak harus menyerahkan jaminan sebesar tagihan yang harus dibayar.
Ja,ninan tersebut dapat berbentuk uang tunai, jaminan bank, jaminan dari
perusahaan asuransi, atau jaminan lainnya. Kewajiban wajib pajak tersebut
tidak terdapat dalam UU KUP.
Jangka waktu hak wajib pajak mengajukan upaya hukum keberatan ke
Oirektur Jenderal Bea dan Cukai, dan kewajiban Direktur Jenderal Bea dan
Cukai mernberikan keputusan berbeda dengan pengaturan dalam UU KUP.
Demikian pula jangka waktu mengajukan banding ke Pengadilan Pajak.
Karena terdapat hal-hal khusus yang menyimpang dari UU KUP maka
ketentuan formal perpajakan khusus kepabeanan dan cukai diatur tersendiri
yaitu:
I. UU Nomor IO Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana tel ah diubah
dengan UU Nomor 17 Tahun 2006; dan
2. UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana Lelah diubah
dengan UU Nomor 39 Tahun 2007.
Kedua undang-undang tersebut selain mengatur UU formal juga di
dalamnya mengatur ketentuan material, yaitu ,nengenai subjek, objek, tarif,
dan pengecualian dari jenis pajak yang bersangkutan.
Oalam ha! ketentuan formal dalam UU tersebut maka ketentuan formal
tersebut secara mutatis mutandis berlaku UU Ketentuan Umurn dan Tata Cara
Perpajakan.
B. PAJAK DAERAH
Ketentuan formal dan material dalarn pajak daerah diatur dalam satu
undang-undang, yaitu UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah (PORO). Dalam hat terdapat ketentuan yang tidak diatur
dalarn UU PORO maka akan diberlakukan UU Ketentuan Umurn dan Tata
Cara Perpajakan sebagai rujukan. Namun demikian, ketentuan formal pajak
daerah tersebut baru dapat diberlakukan apabila ketentuan tersebut Lelah
ditetapkan dalam Peraturan Oaerah (Perda), baik Peraturan Oaerah Provinsi
maupun Peraturan Oaerah Kabupaten/Kota. Oleh karena itu, di setiap daerah
baik provinsi maupun kabupaten/kota merniliki Perda Ketentuan Formal Pajak
Daerah yang lazirn disebut dengan Perda KUPD (Ketentuan Umum Tata Cara
Perpajakan Oaerah).
Mengapa kctentuan formal pajak daerah diatur tersendiri dalam UU
PORD, ha! tersebut disebabkan alasan sebagai berikut:
3.26 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I. Ketentuan Pajak Daerah selain menganut sistem self assessment juga
terhadap pajak daerah tertentu rnasih menganut sistem official assessment,
hingga diperlukan ketentuan khusus yang diatur dalam UU formal
tersendiri, yaitu dalam UU PDRD.
2. Dalarn ha) terdapat kekosongan ketentuan formal pajak daerah tidak diatur
dalarn UU PDRD maka UU KUP dapat menjadi rujukan.
3. Kekuatan yuridis berlakunya ketentuan formal pajak daerah adalah dalam
Peraturan daerah.
Dengan demikian, ketentuan formal yang mengatur hak dan kewajiban
pemerintah dan wajib pajak untuk pajak daerah diatur dalam Peraturan daerah
sebagai pelaksanaan dari UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan UU
Ketentuan Urnum dan Tata Cara Perpajakan.
�,
-----
--
LATIHAN
Untuk mernperdalarn pernahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah Jatihan berikut1
I) Di maria hukum formal kepabeanan, cukai, dan pajak daerah diatur?
2) Apakah yang dimaksud dengan mutatis 11111ta11dis hukum formal
kepabeanan, cukai, dan pajak daerah?
3) Apakah pengaturan hukum formal pajak daerah terhadap Pemerintah
Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sama?
4) Bagaimana hukum formal pajak daerah dapat dilaksanakan?
5) Dalam ha) di dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 terdapat kekosongan
pengaturan hukum formal pajak daerah. Bagaimana rujukan
pengaturannya?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Hukum formal kepabeanan dalam hal yang umum diatur dalam UU KVP,
dalam ha) yang khusus diatur tersendiri dalam UU Kepabeanan, UU
Cukai, dan Pajak Daerah.
2) Mutatis ,nutandis maknanya adalah apabila tidak diatur dalam undang-
undang khusus mengenai ketentuan formal berlaku Undang-Undang
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.27
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan bagi pengaturan kepabeanan,
cukai, dan pajak daerah.
3) Pengaturan formal pajak daerah provinsi dan kabupaten/kota diatur
dengan peraturan daerah, tetapi tetap tidak boleh menyimpang dari
induknya, yaitu UU Nomor 28 Tahun 2009.
4) Hukum formal pajak daerah dapat dilaksanakan atas dasar peraturan
daerah, sesuai dengan amanat UU Nornor 28 Tahun 2009 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah.
5) Dalam ha! UU Nornor 28 Tahun 2009 tidak mengatur ketentuan formal
maka akan merujuk pada UU KUP.
--�
RANG KUMAN�------------------
Hukum formal perpajakan menyangkut hak dan kewajiban
pemerintah dan wajib pajak dalam rnelaksanakan kewajiban perpajakan
secara urnurn diatur dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP). KUP mengatur ketentuan formal pungutan pajak-
pajak pusat yang menjadi wewenang Direktorat Jenderal Pajak, pungutan
kepabeanan dan cukai merupakan kewenangan Direktorat Bea dan Cukai
serta pajak daerah yang menjadi wewenang Pemerintah Daerah Provinsi
maupun Kabupaten/Kota.
Untuk pungutan bea dan cukai serta pajak daerah, ketentuan
formalnya diatur dalam undang-undang tersendiri di luar UU KUP yang
rnerupakan lex specialis. Namun demikian, dalarn ha! tidak diatur dalam
UU tersebut, ketentuan formal akan mengikuti UU KUP yang rnerupakan
mutatis mutandis.
Mengapa ketentuan formal perlu diatur tersendiri dalarn pungutan bea
dan cukai serta pajak daerah karena sifat dan ciri dari pungutan tersebut
berbeda dengan pajak-pajak pusat.
TE 5 FDR MAT IF 3�---------------
Pilihlah satujawaban yang paling tepat!
I) Di mana secara umurn ketentuan formal perpajakan diatur?
A. dalam UU Kepabeanan dan UU Cukai
B. dalam UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
C. dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
D. sernuanya benar
3.28 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) Di mana pelaksanaan ketentuan formal diatur dalam pajak daerah?
A. dalam UU Ketentuan Urnurn dan Tata Cara Perpajakan
B. dalam UU Nornor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Dae rah
C. dalam Peraturan daerah
D. dalam Peraturan pemerintah
3) Mengapa ketentuan formal pajak daerah diatur tersendiri dalam UU
PORO?
A. seiring dengan otonomi daerah yang mernberikan kewenangan
kepada daerah
B. karena sistem pungutan pajak daerah adalah self assessment dan
official assessment
C. karena daerah satu dan daerah yang lain mempunyai karakteristik
yang berbeda
D. semuanya salah
4) Di mana ketentuan formal pajak daerah diatur?
A. UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Dae rah
B. UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan
C. UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan
D. UU Nornor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
5) Apa yang dimaksud dengan Perda KUPD?
A. Perda yang mengatur Ketentuan Umum Pajak Daerah
8. Perda yang mengatur Ketentuan Umum Pembinaan Daerah
C. Perda yang mengatur Ketentuan Umum Pembangunan Daerah
D. Perda yang mengatur Ketentuan Umurn dan Tata Cara Perpajakan
Dae rah
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang
terdapat di bagian akhir rnodul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 3.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = ----------� x I 00%
J umlah Soal
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.29
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
rneneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 3, terutama bagian yang
belum dikuasai.
3.30 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
l ) B. Hukum yang mengatur hak dan kewajiban pemerintah dan wajib
pajak dalam perpajakan.
Dalam hukum formal perpajakan di mana sistem perpajakan di
Indonesia berlaku sistern self assesment diatur secara khusus hak dan
kewajiban pemerintah dan wajib pajak dalam satu undang-undang,
yaitu UU KUP.
2) C. UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan.
Hukum formal perpajakan diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 1983
yang mengatur hak dan kewajiban pemerintah dan wajib pajak dalam
melaksanakan kewajiban perpajakan.
3) C. Apabila setelah dilakukan pemeriksaan ternyata SPT yang dilaporkan
dianggap tidak benar.
Pada dasarnya, pemerintah harus secara sukarela rnengakui bahwa
apa yang dilaporkan wajib pajak dalam surat pemberitahuan pajak
(SPT) adalah benar, namun demik:ian dalam hal tax compliance
pemerintah dapat menguji kebenaran SPT melalui pemeriksaan.
4) C. Utang pajak dalam ketetapan pajak tetap harus dibayar walaupun
sedang melakukan upaya hukum.
Ketetapan pajak yang menyatakan terdapat kekurangan pajak
kedudukannya sama dengan putusan pengadilan yang rnernpunyai
kekuatan hukum tetap.
5) D. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Direktorat
Perpajakan.
Karena tindak pidana perpajakan adalah tindak pidana khusus, di
samping itu merupakan ultimum remedium (upaya terakhir apabila
sanksi administrasi tidak dipenuhi) maka diperlukan pejabat
perpajakan sendiri sebagai aparat penyidik.
Tes Formatif Z
I) D. Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Undang-undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU
KUP) mengatur mengenai hak dan kewajiban pemerintah dan wajib
pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.31
2) D. Semuanya benar.
Dalam pelaksanaan sistem self assesment, wajib pajak harus
menyampaikan laporan kewajiban perpajakannya melalui laporan
SPT dengan benar, sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan wajib
pajak dapat melakukan pembetulan SPT, namun demikian fiskus
dapat menguji kebenaran laporan SPT tersebut dengan melakukan
penelitian dan/atau pemeriksaan.
3) C. Membayar kekurangan jumlah pajak yang sebenarnya terutang
beserta sanksi denda sebesar I 50o/o.
UU KUP mernberikan kebijakan alasan pemaafbagi wajib pajak yang
akan mernbetulkan Japoran SPT ketika dilakukan pemeriksaan oleh
fiskus sebelum dilakukan tindakan penyidikan dengan melunasi
sanksi denda sebesar 150%. Hal tersebut diatur dalam pasal 8 ayat (3)
UU KUP.
4) B. Rp4,8 miliar.
Bagi pengusaha kecil yang peredaran brutonya dalam setahun tidak
lebih dari Rp4,8 miliar boleh tidak melakukan pembukuan, tetapi
wajib membuat catatan.
5) C. Wajib pajak tetap wajib melunasi sejumlah yang diakuinya dalam
pemeriksaan.
Hal tersebut menunjukkan rasa keadilan dan kepastian hukum bagi
pemerintah dan wajib pajak sebagaimana diatur dalarn Peraturan
Perundangan Perpajakan.
Tes Formatif 3
I) A. Dalam Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Secara umurn, ketentuan formal mengenai hak dan kewajiban
pemerintah dan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban
perpajakan diatur dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, kecuali diatur tersendiri bagi jenis pajak tertentu.
2) C. Dalam peraturan daerah.
Berlakunya UU Pajak Daerah dan ketentuan formalnya berdasarkan
Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 atas dasar Peraturan daerah
yang dibuat oleh daerah yang bersangkutan.
3) B. Karena sistern pungutan pajak daerah adalah self asessment dan
official asessntent,
3.32 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Sistern pajak daerah tidak hanya seperti pajak pusat yang menganut
self asessntent, tetapi bagi pajak daerah terdapat jenis-jenis pajak yang
masih menganut sistem official asess,nent. Oleh karena itu, perlu
pengaturan khusus mengenai ketentuan formal pajak daerah diatur
tersendiri.
4) A. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
Dalam undang-undang ini, selain mengatur ketentuan material jenis
pajak daerah, yaitu mengenai subjek, objek, dan tarif pajak daerah
juga di dalamnya rnengatur ketentuan formal pajak daerah.
5) D. Perda yang mengatur Ketentuan Umurn dan Tata Cara Perpajakan
Daerah.
Dalam melaksanakan ketentuan perpajakan daerah baik material
maupun formal undang-undang menyatakan harus melalui peraturan
daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.33
Glosarium
Account aparat pajak yang bertugas rnengawasi kepatuhan
Representative (AR) dan konsultasi bagi wajib pajak.
KUPD Ketentuan dan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Daerah merupakan ketentuan formal pajak
daerah.
Mutatis Mutandis memberlakukan ketentuan umum ketika dalam
ketentuan khusus tidak mengaturnya.
Parate Executie/ pelaksanaan keputusan yang mempunyai
Executorial Beslag kekuatan hukum tetap.
Pengusaha Kena pengusaha sebagai yang wajib rnemungut PPN.
Pajak (PKP)
Pengusaha Kecil pengusaha yang tidak diwajibkan memungut PPN
(PK) karena penghasilan brutonya setahun di bawah
Rp4,8 miliar.
Penyidikan tindakan aparat untuk rnengkriminalisasi
seseorang atau badan.
3.34 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. I 998. llmu Huku111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
Djafar, Saidi Muhammad, 2007. Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah". Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. l; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
____ . 2009. Huku111 Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Huku,n, Masyarakat, dan Pembangunan
Huku111 Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Hukun, (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum Uil.
Nick Devas, dkk. 1989. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
Ul Press.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentra/izaion in
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarundayang. 2011. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
• HKUM4407/MCJDUL 3 3.35
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor,
Soriaatmadja, Arifin P. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Huku,n Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pusat dan Pajak Dae rah. Bogar: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana tel ah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No. 7 Tahun 1983 sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. 10 Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai UU No. I I Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL 4
Pajak Daerah
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
y l PEND AH UL U AN _
(' ebagaimana kita ketahui bersama bahwa sejak ditetapkannya VU Nomor
0 22 Tahun 1999 paradigma tata kelola pemerintahan di Indonesia berubah
dari sentralistik rnenjadi desentralisasi, yairu penyerahan wewenang
pemerintahan kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sedangkan
hak, wewenang, dan kewajibannya disebut dengan otonomi daerah. Otonomi
daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah (otonom) untuk
mengatur dan ,nengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempar sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan
sistern otonomi daerah segala urusan pernerintahan diserahkan kepada daerah,
kecuali enarn urusan, yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi,
moneter dan fiskal nasional, serta agama.
Jdealnya dalam membiayai pemerintahan di daerah dalam melaksanakan
otonomi daerah seharusnya bertumpu pada sumber-sumber yang ada di
daerahnya sendiri. Sumber-sumber tersebut lazim disebut dengan pendapatan
asli daerah (PAD), yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil badan
usaha rnilik daerah, dan pendapatan lain-lain (PAD yang sah). Dari sumber
PAD tersebut yang paling menonjol dan berperan dalam menunjang
penerirnaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah dari
pajak daerah.
Pajak daerah berdasarkan kewenangan dan peruntukannya dibagi dalam
dua kelornpok, yaitu pajak provinsi dan pajak kabupaten/kota yang masing-
masing digunakan sebagai penerimaan APBD provinsi dan APBD
kabupaten/kota. Peranan pajak daerah provinsi terhadap APBD provinsi cukup
baik rata-rata berkisar 70o/o, sedangkan pajak kabupaten/kota menunjukkan
peranan sekitar 30% saja.
Regulasi pajak daerah saat ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD). Di dalam
4.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
UU PDRD mengatur ketentuan formal dan ketentuan material. Ketentuan
formal pada intinya ,nengatur hak dan kewajiban, sedangkan ketentuan
material mengatur tentang subjek, objek, dan tarif pajak tiap jenis pajak daerah
baik provinsi maupun kabupaten/kota. Berbeda dengan undang-undang pajak
pusat, ketentuan formal dan masing-rnasing jenis pajak pusat diatur di dalarn
tiap undang-undang tersendiri.
Jenis pungutan pajak daerah sebagaimana diatur dalam UU Nomor 28
Tahun 2009 bersifat limitatif/closed list, artinya bahwa daerah tidak boleh
menarnbah jenis pajak daerah selain yang ditentukan dalam undang-undang.
Bahkan jenis pajak yang ditentukan dalam undang-undang, dapat tidak
dipungut apabila potensinya kurang memadai dan/atau disesuaikan dengan
kebijakan daerah yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah. Berbeda dengan
undang-undang sebelumnya, yaitu UU Nomor 34 Tahun 2000, untuk daerah
kabupaten/kota boleh menambah pajak baru (opened list) selain yang
ditentukan dalam undang-undang sepanjang tidak bertentangan dengan
kepentingan urnurn dan/atau peraturan yang lebih tinggi.
Selain iru, terdapat perubahan mendasar yang diatur dalam UU Nomor 28
Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai pengganti dari
UU Nornor 34 Tahun 2000, yaitu bahwa pengawasan terhadap regulasi PDRD
(Peraturan Daerah Pajak Daerah dan Retribusi Daerah) berubah dari represif
mcnjadi preventif.
Pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap
peraturan daerah PDRD yang harus disampaikan oleh Pernerintah Daerah
(daerah provinsi dan/atau kabupaten/kota) kepada Menteri Dalarn Negeri dan
Menteri Keuangan paling lama 15 (lirna belas) hari setelah ditetapkan. Dalam
hal peraturan daerah bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, Menteri Dalam Negeri
dengan pertimbangan Menteri Keuangan membatalkan peraturan daerah
dimaksud.
Pengawasan yang berlaku saat sekarang sebagairnana diatur dalarn UU
Nornor 28 Tahun 2009 adalah pengawasan represi], di mana mekanisme
pengawasan dilakukan sejak Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang
telah disetujui kepala daerah dan DPRD. Raperda PDRD dapat ditetapkan
menjadi Perda PDRD setelah memperoleh persetujuan Menteri Dalam Negeri
setelah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan.
Dalam Modul 4 ini, kita akan mendalami mengenai ketentuan urnurn dan
tata cara pungutan pajak daerah yang akan dibahas dalam Kegiatan Belajar I.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4. 3
Sedangkan Kegiatan Belajar selanjutnya akan mernbahas mengenaijenis- jenis
pajak daerah, yaitu jenis pajak provinsi dalam Kegiatan Belajar 2 dan jenis
pajak daerah kabupaten/kota dalam Kegiatan Belajar 3 yang mengatur
mengenai subjek, objek, dan tarif pajak serta implikasinya.
4.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 1
Ketentuan Formal Pajak Daerah
(' ebagaimana telah diuraikan terdahulu bahwa pengaturan ketentuan umum
� (ketentuan formal) pajak daerah yang mengatur hak dan kewajiban
pemerintah dan wajib pajak daerah, demikian juga pengaturan jenis pajak
daerah (ketentuan material) diatur dalam satu undang-undang, yaitu Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
(UU PDRD), di mana irnplernentasinya ditetapkan dengan Peraturan Daerah
(Perda). Dalam hal daerah (daerah provinsi maupun kabupaten/kota) tidak
membuat Perda maka pungutan pajak daerah tidak dapat dilaksanakan.
Ketentuan formal pajak adalah sangat penting terhadap pelaksanaan
pungutan pajak karena di dalam ketentuan formal diatur rnengenai segala
kewenangan dan batasan, meliputi hak dan kewajiban pemerintah yang
rnernpunyai tugas sebagai pemungut pajak dan wajib pajak sebagai pembayar
pajak. Ketentuan formal dalam pajak pusat diatur dalam undang-undang
tersendiri, yaitu UU Nornor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Urnum dan Tata
Cara Perpajakan yang telah beberapa kaJi diubah, terakhir dengan UU Nomor
16 Tahun 2009. Sedangkan untuk ketentuan material, yaitu mengenai subjek,
objek, dan tarifpajak diatur dalam masing-masing jenis pajak, yaitu:
I. Pajak Penghasilan (PPh) diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 1983 yang
tel ah beberapa kali diubah, terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun 2008.
2. Pajak Pertambahan Nilai Harang dan Jasa (PPN) dan Pajak Penjualan atas
Harang Mewah (PPnBM) diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 1983 yang
tel ah beberapa kali diubah, terakhir dengan UU Nomor 42 Tahun 2009.
3. Bea Meterai (BM) diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 1965.
4. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk sektor pertambangan, perhutanan,
dan perkebunan diatur dalam UU Nornor 12 tahun 1985 yang telah diubah
dengan UU Nornor 12 Tahun 1994. (Untuk PBB sektor perdesaan dan
perkotaan telah dialihkan menjadi pajak daerah dan diatur dalarn UU
Nomor 28 Tahun 2009).
Untuk ketentuan formal pajak daerah, yaitu Ketentuan Urnum dan Tata
Cara Perpajakan Daerah yang meliputi pajak daerah dan retribusi daerah diatur
dalam UU Nomor 28 Tahun 2009. Dalam undang-undang tersebut di dalamnya
juga mengatur ketentuan materiil, yaitu mengatur tentang jenis-jenis pajak
• HKUM4407/MCJDUL 4 4. 5
daerah baik pajak daerah provinsi dan kabupaten/kota yang tidak diatur dalarn
undang-undang tersendiri seperti pada jenis pajak pusat.
Dalam rangka penyelenggaraan pernerintahan otonomi daerah Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang dibagi atas daerah-daerah provinsi dan
daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap-tiap daerah
tersebut rnernpunyai hak dan kewajiban mengatur dan ,nengurus sendiri urusan
pernerintahannya untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk
itulah dalarn rnelaksanakan tata kelola perpajakan daerah di daerah sesuai
arnanat UU PORO, pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Daerah narnun
tetap berpedoman pada UU Nornor 28 Tahun 2009 tentang PORO. Tentunya
dengan Peraturan Daerah tentang ketentuan formal (Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan Oaerah/KUPO) harus tetap berpedoman pada UU PORO
yang mengatur KUPO sesuai dengan kebutuhan spesifik daerahnya masing-
masmg.
Berikut ini akan dijabarkan berbagai pengaturan berkaitan dengan
ketentuan umum pajak daerah secara rinci:
I. Ketentuan umum pajak daerah diatur dalam Peraturan Daerah;
2. Tata cara pemungutan pajak daerah;
3. Surat Tagihan Pajak Daerah;
4. Keberatan dan banding;
5. Pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan/
pengurangan sanksi administrasi;
6. Pengawasan dan pembata1an Peraturan Daerah tentang pajak daerah;
7. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak daerah;
8. Kadaluwarsa penagihan;
9. Pembukuan pemeriksaan;
I 0. Penyidikan dan ketentuan pidana.
A. KETENTUAN UMUM PAJAK DAERAH DIATUR DALAM
PERA TU RAN DAERAH
1. Pajak Daerah Ditetapkan dengan Peraturan Daerah
Ketentuan pengaturan pajak daerah harus diatur dengan Peraturan Daerah.
Pengaturan tersebut sejalan dengan ketentuan dasar pungutan pajak
sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 23A UUO 1945 (amandemen ke-3) yang
menyatakan bahwa pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk
4.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
keperluan negara diatur dengan undang-undang. Ketentuan tersebut
rnengandung makna bahwa pungutan pajak (pajak pusat rnaupun pajak
daerah), harus ditetapkan dengan undang-undang, sedangkan ketentuan
pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan selain dengan peraturan perundang-
undangan. Adapun jenis serta hierarki peraturan perundang-undangan
sebagairnana diatur dalarn Undang-Undang Nornor 12 Tahun 20 I I tentang
Pernbentukan Peraturan Perundang-undangan Pasal 7 ayat (I), yaitu terdiri
dari:
a. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Perrnusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pernerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Ketentuan regulasi pajak daerah ditetapkan dalarn UU Nornor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, narnun pernberlakuannya
untuk rnasing-rnasing daerah baik provinsi ,naupun kabupaten/kota
berdasarkan Pasal 95 ayat (I) UU Nornor 28 Tahun 2009 ditetapkan dengan
Peraturan Daerah. Mengapa dernikian? Karena jenis pajak daerah yang
ditetapkan dalarn undang-undang, jenis pajak daerah dapat tidak dipungut
apabila potensinya kurang memadai dan/atau disesuaikan dengan kebijakan
daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
2. Peraturan Daerah tentang Pajak Tidak Berlaku Surut
Ketentuan ini dalarn ilmu hukum disebut dengan asas legalitas, yaitu
rnasyarakat baru terikat pada ketentuan undang-undang apabila terdapat
undang-undang yang mengatumya terlebih dahulu. Hal yang sama asas ini
dianut hukum pidana, yaitu "nullum. delictuni nu/la poena sine previa /ege
poenali" yang artinya tiada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan pidana yang telah ada
terlebih dahulu. Asas legalitas dalarn hukurn pidana ini, di Indonesia diatur
dalarn Pasal I ayat (I) Ki tab Undang-undang Hukurn Pidana (KUHP).
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.7
B. TATACARA PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH
1. Ketentuan lni Mengatur Tata Cara Pengenaan Pajak Daerah, yaitu
Ditetapkan oleh Kepala Daerah atau Dibayar Sendiri oleh Wajib
Pajak
Cara pertama, pajak dibayar oleh wajib pajak setelah terlebih dahulu
ditetapkan oleh kepala daerah melalui Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD)
atau dokumen yang dipersarnakan.
Cara kedua, pajak dibayar sendiri adalah pengenaan pajak yang
rnernberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang
berdasarkan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD).
2. Pemungutan Pajak Daerah Dilarang Dihorongkan
Di belahan mana pun di dunia ini pungutan pajak dilakukan oleh
pernerintah, dimaksudkan agar pungutannya tepat sasaran sesuai dengan
ketentuan undang-undang. Untuk itu, Undang-Undang PDRD juga
,nenegaskan bahwa pungutan pajak daerah, tidak boleh diborongkan.
3. Dalam Jangka Waktu 5 (Lima) Tahun Sesudah Saat Terutangnya
Pajak Daerah, Kepala Daerah Dapat Menerbitkan:
a. SKPDKB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar)jika berdasarkan
hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pihak yang terutang tidak atau
kurang dibayar atau jika kewajiban mengisi SPTPD tidak dipenuhi, pajak
yang terutang di hi tung secara jabatan.
b. SKPDKBT (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan),jika
ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang
menyebabkan penambahan jumlah pajak terutang.
c. SKPDN (Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil), jika jumlah pajak terutang
sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan
tidak ada kredit pajak.
C. SURAT TAGIHAN PAJAK DAERAH
I. Kepala daerah dapat rnenerbitkan STPD (Surat Tagihan Pajak Daerah),
apabila:
a. Pajak dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar;
4.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
b. Dari hasil penelitian SPTPD terdapat kekurangan pernbayaran
sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung.
c. Wajib pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau
denda.
2. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SPTPD ditambah sanksi
administrasi 2o/o (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima
belas bulan) sejak saat terutangnya pajak.
D. KEBERATAN DAN BANDING
I. Wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada kepala daerah
atau pejabat yang ditunjuk atas suatu SPPT, SKPD, SKPDKB,
SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN, dan pemotongan atau pungutan oleh
pihak ketiga berdasarkan ketentuan perundang-undangan pajak daerah.
Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan-
alasan yang jelas, paling lama dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak
tanggal surat SPPT, SKPD, dan tersebut di atas;
2. Kepala daerah dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal
surat keberatan diterirna, harus rnernberi keputusan keberatan yang
diajukan. Apabila tidak, keberatan yang diajukan dianggap dikabulkan.
3. Wajib pajak dapat mengajukan pennohonan banding kepada Pengadilan
Pajak terhadap keputusan keberatan yang ditetapkan oleh kepala daerah.
Pennohonan banding tersebut diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan
sejak keputusan diterima, dilampiri salinan, dan surat keputusan keberatan
terse but.
Pennohonan banding menangguhkan kewajiban membayar pajak sampai
dengan I (satu) bulan sejak tanggal penerbitan putusan banding.
4. Jika pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian
atau seluruhnya, kelebihan pernbayaran pajak dikembalikan dengan
imbalan bunga 2% (dua persen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh
ernpat) bulan yang dihitung sejak bulan pelunasan sampai dengan
diterbitkannya SKPDLB.
5. Dalarn hal keberatan wajib pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, wajib
pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebcsar 50% (lima puluh
persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi
dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.
6. Dalam hal wajib pajak mengajukan banding maka sanksi administratif
berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) tersebut tidak dikenakan.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.9
7. Apabila permohonan banding wajib pajak ditolak atau dikabulkan
sebagian, sanksi administrasi berupa denda sebesar I 00% (seratus persen)
sebagai man a tersebut di atas.
E. PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGURANGAN
KETETAPAN, DAN PENGHAPUSAN/ PENGURANGAN SANKSI
ADMINISTRASI
I. Atas pennohonan wajib pajak atau karenajabatannya, kepala daerah dapat
mernbetulkan SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, STPD, SKPDN atau
SKPDLB yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis dan/atau
kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
2. Kepala daerah atas pennohonan atau secara jabatan dapat:
a. mengurangkan atau menghapuskan sanksi adrninistratif berupa
bunga, denda, dan kenaikan pajak yang terutang rnenurut perundang-
undangan perpajakan daerah, dalarn ha! sanksi tersebut dikenakan
karena kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya;
b. mengurangkan atau membatalkan SPPT, SKPD, SKPDKB,
SKPDKBT, STPD, SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar;
c. membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang
dilaksanakan atau diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang
ditentukan; dan
d. mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertirnbangan
kemampuan mernbayar wajib pajak atau kondisi tertentu objek pajak.
e. Yang dimaksud dengan "kondisi tertentu objek pajak" antara Jain,
lahan pertanian yang sangat terbatas, bangunan ditempati sendiri
yang dikuasai atau dimiliki oleh golongan wajib pajak tertentu, dst.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan
sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak
diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
F. PEN GAW ASAN DAN PEMBA TA LAN PERA TU RAN DAERAH
TENTANG PAJAK DAERAH
I. Rancangan Peraturan Daerah Provinsi tentang pajak daerah yang telah
disetujui bersama oleh gubernur dan DPRD Provinsi sebelum ditetapkan,
4.10 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
disampaikan kepada Menteri Dal am Negeri dan Menteri Keuangan paling
lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak tanggal persetujuan dimaksud,
2. Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang pajak daerah yang
telah disetujui bersama oleh bupati/walikota dan DPRD Kabupaten/Kota
sebelum ditetapkan disampaikan kepada gubernur paling lambat 3 (tiga)
hari kerja terhitung sejak tanggaJ persetujuan dirnaksud.
3. Menteri Dalam Negeri melakukan evaluasi terhadap Rancangan Peraturan
Daerah dimaksud untuk menguji kesesuaian Rancangan Peraturan Daerah
dengan ketentuan undang-undang ini, kepentingan umurn, dan/atau
peraturan perundang-undangan lain yang Jebih tinggi.
4. Dalam rnelakukan evaluasi tersebut Menteri Dalarn Negeri berkoordinasi
dengan Menteri Keuangan.
5. Hasil evaluasi yang telah dikoordinasikan tersebut, dapat berupa
persetujuan atau penolakan.
6. Pengawasan terhadap peraturan daerah dimaksud bersifat preventif, yaitu
pengawasan dilakukan sejak Rancangan Peraturan Daerah.
F. PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
DAERAH
I. Atas kelebihan pernbayaran pajak, wajib pajak dapat mengajukan
permohonan pengernbalian kepada kepala daerah.
2. Kepala daerah dalarn jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak diterirnanya
permohonan pengembalian kelebihan pajak harus mernberikan keputusan.
3. Dalam hal melebihi jangka waktu 12 (dua belas) bulan tersebut belum
diberikan keputusan maka permohonan pengembalian pajak daerah
dianggap diterima, namun akan diperhitungkan dengan utang pajak yang
bersangkutan.
4. Pengembalian pembayaran pajak dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB. Jika pengembalian
tersebut dilakukan setelah Jewat 2 (dua) bulan, kepala daerah rnernberikan
irnbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan atas keterlambatan
pembayaran kelebihan pembayaran pajak tersebut.
5. Tata cara pengembalian kelebihan pembayaran pajak diatur dengan
peraturan kepala daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.11
G. KADALUARSA PENAGIHAN
I. Hak untuk melakukan penagihan pajak menjadi kadaluarsa setelah
melarnpaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak,
kecuali apabila wajib pajak melakukan tindak pidana dibidang perpajakan
daerah.
2. Kadaluarsa penagihan pajak tertangguh apabila:
a. diterbitkan surat teguran dan/atau surat paksa; atau
b. ada pengakuan utang pajak dari wajib pajak, baik langsung maupun
tidak langsung.
3. Dal am hal diterbitkan surat teguran dan surat paksa, kadaluarsa penagihan
di hi tung sejak tanggal penyampaian surat paksa tersebut.
4. Pengakuan utang pajak secara langsung adalah wajib pajak dengan
kesadarannya rnenyatakan masih mempunyai utang pajak dan belum
rnelunasinya kepada pemerintah daerah.
5. Pengakuan utang secara tidak langsung, dapat diketahui dari pengajuan
permohonan angsuran atau penundaan pembayaran dan permohonan
keberatan oleh wajib pajak.
H. PEMBUKUAN PEMERIKSAAN
I. Wajib pajak daerah yang melakukan usaha dengan ornzet paling sedikit
sebesar Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) per tahun, wajib untuk
menyelenggarakan pembukuan.
2. Kriteria wajib pajak daerah dan penentuan besarnya omzet serta tata cara
pembukuannya diatur dengan peraturan kepala daerah.
I. KEWAJIBAN MERAHASIAKAN BAGI PEJABAT
I. Setiap pejabat dilarang memberitahukan kepada pihak lain segala sesuatu
yang diketahui atau diberitahu oleh wajib pajak dalam rangka jabatan atau
pekerjaannya untuk menjalankan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.
2. Larangan dimaksud juga terhadap tenaga ahli yang ditunjuk kepala
daerah.
3. Dikecualikan dari larangan merahasiakan adalah:
a. pejabat atau saksi ahli yang memberikan kesaksian di pengadilan;
4.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
b. pejabat dan/atau tenaga ahli yang ditetapkan oleh kepala daerah untuk
rnemberikan keterangan kepada pejabat lembaga negara atau instansi
pemerintah dalam rangka pemeriksaan keuangan daerah.
4. Terhadap pejabat yang tidak mernenuhi kewajiban merahasiakan ha! yang
berkaitan dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan:
a. karena kealpaannya, dipidana dengan pidana kurungan paling Jama l
(satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp4.000.000,00 (empat
juta rupiah);
b. karena kesengajaan/dengan sengaja, dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 2 (dua) tahun dan pidana denda paling banyak
Rp I 0.000.000,00 (sepuluh juta rupiah);
c. penuntutan terhadap tindak pidana tersebut, hanya dilakukan atas
pengaduan orang yang kerahasiaannya dilanggar.
J. PENYIDIKAN DAN KETENTUAN PIDANA
I. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah
diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk ,nelakukan penyidikan
tindak pidana dibidang perpajakan daerah dan retribusi daerah
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
2. Wajib pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau
,nengisi dengan tidak benar atau tidak Jengkap atau me!a,npirkan
keterangan yang tidak benar sehingga ,nerugikan keuangan daerah dapat
dipidana dengan pidana kurungan paling Jama I (satu) tahun atau denda
paling ban yak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang atau kurang dibayar.
3. Wajib pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau tidak
mengisi dengan tidak benar atau tidak Jengkap atau melampirkan
keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda
paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang atau kurang dibayar.
4. Tindak pidana di bidang perpajakan daerah tidak dituntut setelah
melampaui jangka waktu 5 (lima) tahun sejak saat terutangnya pajak atau
berakhirnya Bagian Tahun Pajak atau berakhirnya Tahun Pajak yang
bersangkutan.
5. Walaupun dalam ketentuan formal pajak daerah diatur mengenai sanksi
pidana terhadap wajib pajak, namun dernikian pengenaan sanksi pidana
tersebut merupakan ultimurn re,nidiunz, yaitu upaya paling akhir sebagai
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.13
efek jera, manakala sanksi administrasi tidak efektif dilaksanakan. Hal
tersebut dapat dimaklumi, karena tugas utarna bidang perpajakan adalah
dalam rangka penerimaan bukan memenjarakan.
�,
- - �
····-
LATIHAN
Untuk rnernperdalarn pemahaman Anda mengenai rnaten di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Bagaimana idealnya membiayai pelaksanaan tata kelola pemerintahan di
daerah di era otonorni daerah?
2) Apa yang dimaksud dengan jenis pajak daerah bersifat limitatif?
3) Jelaskan perbedaan dasar pungutan pajak menurut UUD 1945 sebelum
dan sesudah amandemen ke-3 !
4) Bagaimana rnekanisme pengawasan terhadap Peraturan Daerah Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah?
5) Siapa yang berhak membatalkan Peraturan Daerah Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah?
6) Jelaskan mengenai kadaluwarsa penagihan pajak daerah !
7) Dalam hal apa kadaluwarsa penagihan tertangguh?
8) Apakah terhadap kelalaian atas kewajiban pembayaran pajak dapat
dipidana?
9) Bagaimana kewajiban pejabat terhadap hal-hal mengenai perpajakan dari
wajib pajak yang diketahuinya?
10) Dalam hal apa wajib pajak dapat mengajukan keberatan dan banding atas
ketetapan pajak daerah?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Membiayai tata kelola pemerintahan di daerah idealnya dari pendapatan
asli daerah. Diuraikan dalarn Pendahuluan Modul 4.
2) Jenis pajak daerah yang bersifat limitatif maknanya tidak boleh
menarnbah jenis pajak daerah selain yang ditetapkan dalam undang-
undang pajak daerah dan retribusi daerah Undang-Undang Nornor 28
tahun 2009, hat tersebut diuraikan dalam Pendahuluan Modul 4.
3) Dasar pengenaan pajak menurut UUD 1945 diuraikan dalam KB I
mengenai ketentuan umum pajak daerah.
4.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
4) Mekanisme pengawasan pengaturan pajak daerah diatur dalam UU
Nomor 28 Tahun 2009 dalam KB I nomor 6.
5) Yang berhak rnembatalkan Peraturan Daerah diatur dalam UU Nomor 28
Tahun 2009 dalam KB I angka 5.
6) Kadaluwarsa penagihan pajak daerah diuraikan dalam KB I angka 8.
7) Kadaluwarsa penagihan yang tertangguh juga diuraikan dalam KB I
angka 8.
8) Perihal pemidanaan terhadap pembayar pajak yang lalai memenuhi
kewajibannya diuraikan dalam KB I angka I I.
9) Mengenai kewajiban aparat pajak untuk rnerahasiakan data wajib pajak
diuraikan dalam KB I angka I 0.
I 0) Mengenai keberatan dan banding pajak daerah diuraikan dalam KB I
angka 4.
tJ RANG KUMAN. _
Hak dan kewajiban pemerintah dalam menetapkan dan menagih pajak
daerah terutang, serta hak dan kewajiban wajib pajak untuk melakukan
upaya hukum atas ketetapan pajak dan rnelunasi pajak terutang diatur
dalarn UU Nomor 28 Tahun 2009. Di dalam UU tersebut selain memuat
hak dan kewajiban pernerintah dan wajib pajak yang merupakan ketentuan
formal pajak daerah juga memuat jenis pajak daerah serta aplikasinya
yang disebut dengan ketentuan materiil.
Berbeda dengan pengaturan pajak pusat di mana ketentuan formal
dan ketentuan material yang rnemuat tiap jenis pajak diatur dalam masing-
masing undang-undang tersendiri, untuk pajak daerah ketentuan formal
dan material diatur dalam satu undang-undang, yaitu UU Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (UU PDRD).Untuk
ketentuan formal pajak daerah, yaitu Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan Daerah meliputi pajak daerah dan retribusi daerah.
Dalam UU PDRD selain mengatur ketentuan formal pajak daerah di
dalamnyajuga mengatur ketentuan materill, yaitu mengatur tentang jenis-
jenis pajak daerah baik pajak daerah provinsi dan kabupaten/kota yang
tidak diatur dalam undang-undang tersendiri seperti pada jenis pajak
pusat. Sesuai tata kelola pemerintahan di Indonesia, otonorni daerah dan
amanat UU PDRD, ketentuan formal dan material pajak daerah dengan
tetap berpedornan pada UU PDRD pelaksanaannya di daerah baik provinsi
maupun kabupaten dan kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.15
Pengaturan ketentuan formal pajak daerah (Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan Daerah) yang diatur dalam Peraturan Daerah, antara
lain meliputi tata cara pemungutan, sanksi administrasi dan pidana, upaya
hukum, pengawasan peraturan daerah, tata cara menagih utang pajak, dan
kadaluwarsa penagihan.
Begitu pentingnya penerimaan pajak dalarn rangka mernbiayai tata
kelola pemerintahan daerah hingga dalarn ketentuan formal diatur juga
sanksi adrninistrasi dan pidana bagi pernbayar pajak (wajib pajak) yang
tidak rnemenuhi kewajibannya. Di sisi Jain, juga terdapat pengaturan
sanksi pidana, bagi pejabat fiskus yang membocorkan kerahasiaan dari
pembayar pajak.
TE 5 FORMAT IF 1 _
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Dal am membiayai tata kelola pemerintahan di daerah, idealnya dibiayai
oleh ....
A. Pernerintah Pusat melalui dana perimbangan
B. Pemerintah Pusat melalui dana bagi hasil
C. sumber-surnber dari daerah itu sendiri, yaitu Pendapatan Asli Daerah
D. pinjaman luar negeri yang tidak mengikat
2) UU Nomor 28 Tahun 2009 menyatakan bahwa jenis pajak daerah bersifat
limitatif, artinya ....
A. pajak digunakan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat
B. hanya pajak yang potensial untuk menunjang APBD saja yang boleh
dipungut
C. pungutan pajak bersifat memaksa
D. daerah tidak boleh menambah jerus pajak daerah selain yang
ditenrukan dalam undang-undang
3) Ketenruan formal pajak daerah adalah mengatur ....
A. tentang subjek, objek, dan tarif jenis pajak daerah
B. ketentuan menagih pajak daerah dengan benar
C. tata cara membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang pajak daerah
D. bak dan kewajiban pemerintah dan wajib pajak terhadap pungutan
paj ak daerah
4.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
4) Di rnana ketentuan formal pajak daerah dapat diterapkan di daerah?
A. berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah
B. berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
C. berdasarkan Peraturan Daerah pada daerah yang bersangkutan
D. berdasarkan UU Nornor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Urnum dan
Tata Cara Perpajakan
5) Dalam hal keberatan atas ketetapan pajak daerah, wajib pajak dapat
melakukan upaya hukum ....
A. mengajukan keberatan ke Pengadilan Pajak
B. mengajukan keberatan ke kepala daerah
C. mengajukan banding ke Pengadilan Pajak
D. mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung
6) Apabila keberatan wajib pajak telah melebihi 12 bulan, tetapi pemerintah
daerah tidak memberi keputusan maka ....
A. keberatan dianggap ditolak
B. keberatan dianggap dikabulkan
C. tidak ada batasan waktu keharusan untuk menerbitkan keputusan
D. ketiganya salah
7) Apabila banding wajib pajak telah melebihi 12 bulan, tetapi Pengadilan
Pajak tidak member! putusan rnaka ....
A. permohonan banding dianggap ditolak
B. permohonan banding dianggap dikabulkan
C. tidak ada batasan waktu keharusan untuk pengadilan untuk memutus
D. ketiganya salah
8) Apa yang dimaksud dengan pemerintah melakukan pengawasan preventif
terhadap peraturan daerah?
A. pengawasan dilakukan secara efektif terhadap peraturan daerah
B. pengawasan dilakukan sejak rancangan peraturan daerah
C. pengawasan dilakukan secara berjenjang sejak rancangan peraturan
daerah dibuat
D. sernuanya benar
9) Pengenaan sanksi pidana terhadap pembayar pajak merupakan ulti111u111
re111idit1111, artinya ....
A. sanksi pidana harus dilaksanakan dalam upaya penerimaan negara
B. sanksi pidana dicantumkan untuk menakuti dengan tujuan agar wajib
pajak melakukan kewajiban pajaknya dengan benar
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.17
C. merupakan upaya paling akhir ketika sanksi administrasi tidak efektif
dilaksanakan
D. sanksi pidana tidak perlu dilaksanakan karena tidak sesuai dengan
fungsi utama pajak dalam rangka penerimaan negara
I 0) Bagaimana batasan bagi wajib pajak daerah untuk melakukan
pembukuan?
A. apabila rnelakukan us aha dengan omzet paling sedikit
Rp500.000.000,00
B. apabila melakukan usaha dengan omzet paling sedikit
Rp [Link],00
c. apabila melakukan usaha dengan omzet paling sedikit
Rp300.000.000,00
D. semuanya salah
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif I yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kernudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x 100%
Jurnlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar I, rerutama bagian yang
belum dikuasai.
4.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 2
Pajak Daerah Provinsi
rtv ajak Daerah Provinsi adalah pajak daerah yang objeknya berada di daerah,
':!r namun pada umumnya melintasi daerah kabupaten dan kota masih dalam
suatu provinsi yang bersangkutan. Ditetapkannya pajak daerah tersebut
sebagai pajak provinsi bukan pajak daerah kabupaten/kota karena apabila
sebagai pajak daerah kabupaten/kota, tiap kabupaten/kota di suatu wilayah
provinsi akan menetapkan pajak daerah terhadap suatu objek pajak daerah
yang sama yang berakibat membebani masyarakat di daerah. Untuk itu, tepat
bahwa terhadap objek pajak immobile yang melintasi daerah kabupaten dan
kota dalam suatu provinsi ditetapkan sebagai jenis pajak daerah provinsi yang
penerimaannya dibagihasilkan kepada daerah kabupaten/kota bersangkutan.
Jenis pajak daerah provinsi menurut UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah terdiri atas lirna jenis pajak, yaitu:
I. Pajak kendaraan bermotor;
2. Bea balik nama kendaraan bermotor;
3. Pajak bahan bakar kendaraan bermotor;
4. Pajak air permukaan; dan
5. Pajak rokok
Khusus untuk pajak rokok, guna rnemudahkan dalam pemungutannya
pajak tersebut dikenakan dari cukai rokok. Dengan kata lain, pajak dikenakan
atas pungutan pajak. Dalam ilmu hukum pajak disebut dengan opsen atau
opsenten, dan sistern ini biasa dilakukan di negara yang menganut sistern
pemerintahan federal.
Berikut ini akan dibahas rnasing-masing jenis pajak daerah provinsi baik
subjek, objek, maupun tarif pajaknya serta peruntukannya seperti tersebut di
bawah ini.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.19
A. JENIS PAJAK PROVINSI
1. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
a. Pengertian
I) Pajak kendaraan bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau
penguasaan kendaraan bermotor.
2) Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan berrnotor beroda beserta
gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan
oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi
untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak
kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat besar dan alat-
alat berat, serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan
ukuran isi kotor GT 5 (lima Gross Tonnage) sampai dengan GT 7 (tujuh
Gross Tonnage).
3) Dengan demikian termasuk pengertian kendaraan bermotor adalah:
(a) kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya;
(b) terrnasuk alat besar dan alat berat yang dioperasikan di sernua jalan
darat; dan
(c) kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan isi kotor GT 5
s.d. GT 7.
b. Dikecualikan dari pengertian kendaraan bermotor:
I) kereta api;
2) kendaraan bermotor yang sernata-rnata digunakan untuk keperluan
pertahanan dan keamanan negara;
3) kendaraan berrnotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsulat,
perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan lernbaga-lembaga
internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari
pemerintah; dan
4) objek pajak lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak;
Subjek pajak kendaraan bennotor adalah orang pribadi atau badan yang
rnerniliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor;
4.2Q HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) Wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang mempunyai hak dan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan daerah, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak,
dan pernungut pajak;
Wajib pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau badan yang
merniliki kendaraan berrnotor. Dalam ha! wajib pajak badan, kewajiban
perpajakannya diwakili oleh pengurus atau kuasa badan tersebut.
d. Objek Pajak
Objek pajak kendaraan bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan
kendaraan bennotor.
e. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor adalah hasil perkalian dari 2
(dua) unsur pokok:
a) nilai jual kendaraan bermotor; dan
b) bobot yang mencerminkan secara relatif tingkar kerusakan jalan
dan/atau pencernaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan
bermotor;
2) Khusus untuk kendaraan bermotor yang digunakan di luar jalan umum,
termasuk alat-alat besar dan alat-alat berat serta kendaraan di air, dasar
pengenaan pajak adalah nilai jual kendaraan bermotor;
3) Nilai jual kendaraan bermotor ditentukan berdasarkan harga pasaran
umum atas suatu kendaraan bermotor, yang ditetapkan pada rrunggu
pertama bu Ian Descmbcr tahun pajak sebelumnya;
4) Perhitungan dasar pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)
dinyatakan dalarn suatu tabel yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Keuangan;
5) Perhitungan dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor ditinjau kernbali
setiap tahun.
f Tarif Pajak
I) Tarif pajak kendaraan bermotor ditetapkan sebagai berikut:
(a) Untuk kepemilikan kendaraan pertarna, paling rendah sebesar I%
(satu persen) dan paling tinggi sebesar 2o/o (dua persen);
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.21
(b) Untuk kepernilikan kendaraan bennotor kedua dan seterusnya dapat
ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua persen)
dan paling tinggi sebesar I Oo/o (sepuluh persen).
2) Kepemilikan kendaraan bermotor tersebut didasarkan atas nama dan/atau
alamat yang sama.
3) Tarif pajak kendaraan bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam
kebakaran, sosial keagamaan, lembaga sosial dan keagamaan,
Pemerintah/TNI/POLRI, pemerintah daerah dan kendaraan lain yang
ditetapkan dengan peraturan daerah ditetapkan paling rendah 0,5% (not
korna lima persen) dan paling tinggi I% (satu persen);
4) Tarif kendaraan bennotor alat-alat berat dan alat-alat besar ditetapkan
paling rendah sebesar 0, I% (not koma satu persen) dan paling tinggi
sebesar 0,2% (not korna dua persen).
5) Tarif pajak kendaraan bermotor ditetapkan dengan peraturan daerah.
g. Te,npat dan Masa Pajak Kendaraan Bermotor Terutang
Pajak kendaraan bermotor yang terutang, dipungut di wilayah daerah
tempat kendaraan bermotor terdaftar dan pemungutan dilakukan bersarnaan
dengan penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. Dikenakan untuk
masa pajak 12 (dua betas) bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran
kendaraan bennotor.
2. Bea Batik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)
a. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
Subjek pajak bea batik nama kendaraan bermotor adalah orang pribadi
atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan bermotor.
Wajib pajak bea batik nama kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau
badan yang menerima penyerahan kendaraan berrnotor.
b. Objek Pajak Bea Halik Nama Kendaraan Bermotor
Objek pajak bea batik nama kendaraan bermotor adaJah:
I) penyerahan kepemilikan kendaraan bermotor;
2) pengertian kendaraan bennotor, sama seperti pengertian pada pajak
kendaraan bennotor, yaitu kendaraan beroda beserta gandengannya
termasuk alat besar dan alat berat serta kendaraan yang dioperasikan di
air·,
4.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3) penguasaan kendaraan bermotor melebihi 12 (dua belas) bulan dapat
dianggap sebagai penyerahan, tidak tennasuk penguasaan kendaraan
bermotor karena perjanjian sewa beli;
4) yang dikecualikan dalam pengertian kendaraan bermotor pada pajak
daerah BBNKB adalah sama seperti kendaraan bermotor yang
dikecualikan pada PKB, yaitu:
(a) kereta api;
(b) kendaraan bermotor yang sernata-rnata digunakan untuk keperluan
pertahanan dan keamanan negara;
(c) kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan,
konsulat, perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan
lernbaga-lernbaga internasional yang memperoleh fasilitas
pernbebasan pajak dari pemerintah; dan
(d) objek pajak lainnya yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
c. Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan bea balik nama kendaraan bermotor adalah nilai jual
kendaraan bennotor yang dinyatakan dalam suatu tabel yang ditetapkan
dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri setelah rnendapat pertimbangan dari
Menteri Keuangan.
d. Tarif Batik Nama Kendaraan. Berniotor
I) Tarif bea balik nama kendaraan bermotor ditetapkan paling tinggi masing-
masing sebagai berikut:
(a) penyerahan pertama sebesar 20% (dua puluh persen); dan
(b) penyerahan kedua dan seterusnya I o/o (satu persen)
2) Khusus untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang
tidak menggunakanjalan umum, tarifpajak ditetapkan paling tinggi:
(a) penyerahan pertama sebesar 0,75% (nol koma tujuh puluh lima
persen);
(b) penyerahan kedua dan seterusnya sebesar 0,075% (no! koma nol tujuh
puluh lirna persen)
3) Tarif bea balik nama kendaraan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.23
3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB KB)
a. Suhjek Pajak dan Wajib Pajak
1) Subjek pajak bahan bakar kendaraan bermotor adalah konsumen bahan
bakar kendaraan bermotor;
2) Wajib pajak bahan bakar kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau
badan yang menggunakan bahan bakar kendaraan bermotor;
3) Pemungutan pajak bahan bakar kendaraan bermotor dilakukan oleh
penyedia bahan bakar kendaraan bennotor yang disalurkan atau dijual
kepada:
(a) Lembaga penyalur antara lain:
• Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum (SPBU);
• Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk TNl/POLRl;
• Agen Premium dan Minyak Solar (APMS);
• Premium Solar Packed Dealer (PSPD);
• Stasiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBBB);
• Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG);
yang akan menjual BBM kepada konsumen akhir (konsumen
langsung)
(b) Konsumen Iangsung, yaitu pengguna bahan bakar kendaraan
bermotor.
4) Penyedia bahan bakar kendaraan bennotor adalah produsen dan/atau
importir bahan bakar kendaraan bermotor, baik untuk dijual maupun
untuk digunakan sendiri.
b. Objek Pajak
Objek pajak bahan bakar kendaraan bermotor adalah bahan bakar
kendaraan bermotor yang disediakan atau dianggap digunakan untuk
kendaraan bermotor, termasuk bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan
di air.
c. Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak bahan bakar kendaraan bermotor adalah nilai jual
bahan kendaraan bermotor sebelum dikenakan Pajak Pertambahan Nilai.
4.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
d. Tarif Pajak
I) Tarif pajak bahan bakar kendaraan berrnotor adalah:
(a) Tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor paling tinggi I Oo/o
(sepuluh persen);
(b) Khusus pajak bahan bakar kendaraan bermotor unruk kendaraan
umum ditetapkan paling sedikit 50% (lima puluh persen) lebih rendah
dari pajak bahan kendaraan bermotor untuk kendaraan pribadi;
(c) Pemerintah dapat mengubah tarif pajak bahan bakar kendaraan
bermotor yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan
Peraturan Presiden.
2) Tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor ditetapkan dengan Peraturan
Daerah;
3) Pernerintah dapat mengubah tarif pajak bahan bakar kendaraan bermotor
yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah dengan Peraturan
Presiden.
4. Pajak Air Permukaan
a. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak air permukaan adalah orang pribadi atau badan yang dapat
melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan,
2) Wajib pajak air pemukaan adalah orang pribadi atau badan yang
melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan air pennukaan.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak air permukaan adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan air
permukaan;
2) Dikecualikan dari objek pajak air permukaan adalah:
(a) Pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan untuk keperluan
dasar rumah tangga, pengairan pertanian, dan perikanan rakyat,
dengan tetap mernperhatikan kelestarian lingkungan dan peraturan
perundang-undangan;dan
(b) Pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan lainnya yang
ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.25
c. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak arr pennukaan adalah nilai perolehan air
permukaan;
2) Nilai perolehan air permukaan dinyatakan dalam rupiah yang dihitung
dengan mernpertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor berikut:
(a) jenis sumber air;
(b) lokasi sumber air;
(c) tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
(d) volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan;
(e) kualitas air;
(f) luas areal tempat pengambilan dan/atau pemanfaatan air; dan
(g) tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan
dan/atau pemanfaatan air
3) Faktor-faktor tersebut disesuaikan dengan kondisi masing-rnasing daerah.
4) Besarnya nilai perolehan air permukaan ditetapkan dengan Peraturan
Gubernur.
d. Tarif Pajak
Tarif pajak air permukaan ditetapkan paling tinggi sebesar I Oo/o (sepuluh
persen), dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
5. Pajak Rokok
a. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak rokok adalah konsumen rokok;
2) Wajib pajak rokok adalah pengusaha pabrik rokok/produsen dan importir
rokok yang memiliki izin berupa Nomor Pokok Pengusaha Bea Kena
Cukai;
3) Pajak rokok dipungut oleh instansi pemerintah yang berwenang
memungut cukai bersamaan dengan pemungutan cukai rokok;
4) Pajak rokok yang dipungut oleh instansi pernerintah disetor ke rekening
kas umum daerah provinsi secara proporsional berdasarkan jumlah
penduduk;
5) Tata cara pemungutan dan penyetoran pajak rokok diatur dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
4.26 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
b. Objek Pajak
I) Objek pajak rokok adalah konsumsi rokok;
2) Rokok dimaksud meliputi sigaret, cerutu, dan rokok daun;
3) Dikecualikan dari objek pajak rokok adalah rokok yang tidak dikenai
cukai berdasarkan peraturan perundang-undangan cukai,
c. Tarif Pajak
Tarif pajak rokok ditetapkan sebesar I 0% (sepuluh persen) dari cukai
rokok.
d. Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak rokok adalah cukai yang ditetapkan oleh
pemerintah terhadap rokok.
B. BAGI HASIL PAJAK PROVINSI
Hasil penerimaan pajak provinsi dibagihasilkan kepada daerah
kabupaten/kota di wilayah provinsi yang bersangkutan dengan ketentuan
sebagai berikut:
I. Hasil penerimaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama
kendaraan berrnotor diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 30% (tiga
puluh persen);
2. Hasil penerimaan pajak bahan bakar kendaraan bermotor diserahkan
kepada kabupaten/kota sebesar 70% (tujuh puluh persen);
3. Hasil penerimaan pajak rokok diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar
70o/o (tujuh puluh persen);
4. Hasil penerimaan pajak air pennukaan diserahkan kepada kabupaten/kota
sebesar 50% (lima puluh persen);
5. Khusus untuk penerirnaan pajak air permukaan dari sumber air yang
berada hanya pada I (satu) wilayah kabupaten/kota, hasil penerirnaan
pajak air permukaan diserahkan kepada kabupaten/kota sebesar 80%
(delapan puluh persen);
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.27
LATIHAN
Untuk memperdalam pemaharnan Anda mengenai rnaten di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Apakah kriteria pajak daerah sebagai pajak provinsi?
2) Jelaskan jenis-jenis pajak provinsi yang Saudara ketahui !
3) Apa beda objek pajak daerah kendaraan berrnotor dan balik narna
kendaraan bermotor?
4) Jelaskan mengapa penerimaan pajak daerah provinsi dibagihasilkan
kepada daerah kabupaten dan kola dalam provinsi yang bersangkutan?
5) Bagaimana cara mengenakan pajak rokok?
6) Mengapa dalam ha! terjadi kenaikan harga BBM, Pemerintah Daerah
sebenarnya diuntungkan?
7) Apakah yang dimaksud dengan kendaraan berrnotor dalam pajak
kendaraan bermotor dan balik nama kendaraan berrnotor?
8) Berapa besaran penerimaan pajak daerah provinsi yang dibagihasilkan
kepada kabupaten dan kota?
9) Apakah yang dimaksud dengan objek pajak daerah air permukaan?
I 0) Apakah yang dikecualikan dari kendaraan bermotor terhadap pajak
kendaraan bermotor dan batik narna kendaraan bermotor?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Kriteria pajak daerah yang menjadi wewenang provinsi (jenis pajak
provinsi) diuraikan dalam Pendahuluan KB 2.
2) Jenis-jenis pajak provinsi secara global telah diuraikan dalam KB 2 huruf
A.
3) Beda objek pajak daerah kendaraan bermotor dan balik nama kendaraan
bermotor dapat dilihat dalam uraian pada KB 2 mengenai jenis pajak
provinsi PKB dan balik nama kendaraan bermotor.
4) Pajak daerah provinsi rnenurut undang-undang akan dibagihasilkan
kepada daerah kabupaten/kota di wilayah provinsi yang bersangkutan
sebagaimana diuraikan dalam huruf B KB 2.
5) Cara mengenakan pajak rokok diuraikan dalarn KB 2 huruf A angka 5.
4.28 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
6) Karena di dalam unsur harga BBM di dalamnya terdapat pajak daerah
maka apabila BBM naik tentunya penerimaan pajak daerah BBM juga
akan sernakin besar.
7) Pengertian kendaraan bermotor dalam pajak kendaraan bermotor dan
balik nama kendaraan bermotor adalah kendaraan yang bergerak di jalan
darat termasuk kendaraan besar dan alat berat serta kendaraan air
sebagaimana diuraikan dalam KB 2 huruf A angka I tentang jenis pajak
kendaraan bermotor.
8) Besarnya bagi hasil penerimaan pajak daerah provmsi kepada
kabupaten/kota diuraikan dalam huruf B KB 2.
9) Objek pajak daerah air permukaan diuraikan dalam huruf A angka 4
Kegiatan B 2.
I 0) Pengecual ian dari pengenaan pajak kendaraan bermotor dan balik nama
kendaraan bennotor diuraikan dalam jenis pajak provinsi pada KB 2 huruf
A.
D RANG Ku MAN _
Pajak daerah provinsi adalah pajak yang objeknya berada di daerah
tinnnobile), tetapi ,nelintasi kabupaten dan kota. Namun demikian, secara
general ,nasih berada dalarn provinsi yang bersangkutan. Objek pajak
daerah tersebut apabila dikenakan di tiap kabupaten dan kota maka tiap
daerah akan ,nengenakan pajak terhadap satu objek pajak yang sarna, hal
tersebut tentunya akan menimbulkan biaya ekonomi tinggi.
Seiring dengan perubahan tata kelola pemerintahan di Indonesia
menjadi otonomi daerah maka pajak pusat yang objeknya immobile berada
di daerah, semula merupakan jenis pajak pusat dialihkan menjadi jenis
pajak daerah. Pajak tersebut antara lain Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan (PBBP2) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB). Sementara itu, terdapat pajak pusat yang seharusnya
merupakan pajak daerah karena objek pajaknya di daerah, yaitu Pajak
Penghasilan Orang Pribadi (PPhOP, Pasal 25 dan Pasal 29), serta Pajak
Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 21) karena teknis pungutannya sulit
kalau dikenakan di daerah penerimaan pajaknya dibagihasilkan sebesar
kepada daerah. Berdasarkan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan
Daerah, penerimaan PPh Orang Pribadi dan PPh Karyawan dibagihasilkan
sebesar 20% (dua puluh persen) kepada daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.29
�I
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Dibedakannya pajak daerah antara pajak provmsi dan pajak
kabupaten/kota karena ....
A. pajak provinsi objeknya melintasi kabupaten kota pada provinsi yang
bersangkutan
B. karena pajak provinsi lebih potensial daripada pajak kabupaten/kota
C. perlunya pemerataan penerimaan untuk pemerintah daerah provinsi
dan kabupaten/kota
D. sernuanya salah
2) Pengertian kendaraan bermotor dalam pajak kendaraan bermotor dan bea
balik nama kendaraan bermotor adalah ....
A. segala kendaraan bermotor yang bergerak di jalan raya umum
B. semua kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya di sernua
jenis jalan darat termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang
dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat
secara pennanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air
C. sernua kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya di semua
jenis jalan darat tennasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang
dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat
secara pern1anen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di atas
air
D. kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor
3) Pajak daerah provinsi terdiri dari ....
A. pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak
bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air dan pajak rokok
B. pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan berrnotor, pajak
bahan bakar minyak kendaraan bermotor, pajak permukaan dan pajak
rokok
C. pajak kendaraan berrnotor, bea balik nama kendaraan bermotor, pajak
bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air permukaan
D. pajak kendaraan bennotor, bea balik nama kendaraan bennotor, pajak
bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air permukaan dan pajak
rokok
4.30 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
4) Dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor dan bea batik nama kendaraan
bermotor adalah ....
A. nilaijual kendaraan bermotor yang dinyatakan dalam suatu tabel yang
ditetapkan oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM)
B. nilai jual kendaraan bermotor yang dinyatakan dalam suatu tabel yang
ditetapkan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri setelah mendapat
pertimbangan dari Menteri Keuangan
C. nilai jual kendaraan bennotor yang dinyatakan dalam suatu tabel yang
ditetapkan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri;
D. nilaijual kendaraan bermotor yang dinyatakan dalam suatu tabel yang
ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan;
5) Penetapan jenis dan kriteria pajak daerah provinsi ditetapkan dengan ....
A. Peraturan Gubernur
B. Keputusan Gubernur
C. Peraturan Daerah Provinsi
D. sernuanya benar
6) Mengapa kenaikan BBM, dari sisi pajak daerah menguntungkan
penerimaan daerah?
A. terdapat bagi hasil dari keuntungan pemerintah kepada daerah
B. karena porn bensin (stasiun pengisian bahan bakar untuk umum/
SPBU) berada di daerah maka keuntungannya akan dibagihasilkan
kepada daerah
C. karena atas harga bbm di dalamnya terdapat unsur pajak daerah
D. sernuanya benar
7) Halmanakah di bawah ini yang benar?
A. objek pajak air permukaan adalah pengambilan air permukaan
B. objek pajak air permukaan adalah pemanfaatan air permukaan
C. objek pajak air permukaan adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan
air permukaan
D. objek pajak air permukaan adalah pengambilan dan pemanfaatan air
perrnukaan
8) Siapa subjek pajak rokok?
A. konsumen rokok
B. pengusaha pabrik rokok/produsen dan importir rokok
C. instansi pemerintah yang mernungut cukai rokok
D. ditentukan dalam Peraturan Daerah provinsi tentang pajak rokok
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.31
9) Termasuk pengertian kendaraan bermotor adalah ....
A. kendaraan bermotor yang dioperasikan di atas air dalam batas zona
ekonomi eksklusif
B. kendaraan bermotor yang dioperasikan di atas air dengan ukuran isi
kotor GT 5 sampai dengan GT 7
C. kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran isi kotor
GT 5 sampai dengan GT 7
D. kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dalam daerah pabean
I 0) Apakah provinsi boleh tidak menetapkan jenis pajak daerah yang menjadi
kewenangannya?
A. tidak boleh, karenajenis pajak telah ditetapkan dalarn undang-undang
B. boleh sepanjang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur
C. boleh sepanjang ditetapkan dalam Keputusan Gubernur
D. boleh sepanjang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Provinsi
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir rnodul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kernudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = ----------- x I 00%
Jurnlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 3. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
4.32 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 3
Pajak Dae rah Kabupaten /Kota
rtv ajak daerah kabupaten/kota adalah pajak yang objeknya benar-benar
':Ir immobile berada di kabupaten atau kota, oleh karenanya sangat tepat
menjadi wewenang bupati atau walikota sebagai kepala daerah untuk
memungut pajak tersebut guna membiayai tata kelola daerah kabupaten/kota
melalui APBD. Kewenangan pungutan pajak terhadap jenis pajak atas dasar
objek pajak mobile (sebagai pajak pusat) dan immobile (sebagai pajak daerah),
merupakan filosofi pungutan pajak yang dianut harnpir seluruh belahan dunia.
Di Indonesia setelah era otonomi daerah di mana pembagian kekuasaan
dalam urusan pemerintahan pusat dan daerah diatur secara tegas, beberapa
pajak semula sebagai pajak pusat karena objeknya immobile berada di daerah,
kemudian dialihkan menjadi pajak daerah kabupaten/kota. Pajak tersebut
adalah Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBBP2)
serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Selain itu,
terdapat pajak walaupun objeknya immobile, yaitu berada di daerah. Karena
administrasi pengenaan pajaknya bergabung dengan pajak pusat lainnya tetap
menjadi pajak pusat, tetapi dibagihasilkan kepada daerah. Pajak tersebut
adalah Pajak Penghasilan Orang Pribadi (PPhOP Pasal 25 dan Pasal 29) dan
Pajak Penghasilan Karyawan (PPh Pasal 21) yang peneri maan pajaknya
dibagihasilkan sebesar 20% (dua puluh persen) kepada daerah.
Di dalam pungutan pajak daerah kabupaten/kota diupayakan tidak terjadi
duplikasi pungutan terhadap objek pajak yang sama. Contohnya, semula
terhadap usaha katering, selain dikenakan pajak restoran juga pajak
pertambahan nilai, demikian halnya pajak parkir. Na mun demikian, masihjuga
terdapat duplikasi pungutan, misalnya Pajak Penerangan Jalan (PPJ), Pajak
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.
Berikut ini secara rinci akan dibahas mengenai jenis-jenis pajak
kabupaten/kota dan aplikasinya lebih jauh.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.33
A. JENIS PAJAK KABUPATEN/KOTA
Jenis pajak daerah kabupaten/kota terdiri atas:
I. Pajak Hotel
a. Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/peristirahatan termasuk
jasa terkait lainnya yang dipungut bayaran, yang rnencakup juga motel,
losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata, pesanggrahan, rurnah
penginapan dan sejenisnya, serta rurnah kos dengan jumlah karnar lebih
dari IO (sepuluh).
b. Pajak hotel adalah pajak atas pelayanan yang disediakan oleh hotel.
c. Objek pajak
1) Objek pajak hotel adalah pelayanan disediakan oleh hotel dengan
pembayaran, termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel
yang sifatnya rnernberikan kemudahan dan kenyamanan, terrnasuk
fasilitas olahraga dan hiburan;
2) Jasa penunjang adalah fasilitas telepon, Jaxi,nile, teleks, internet,
fotokopi, pelayanan cuci, setrika, transportasi, dan fasilitas sejenis
lainnya yang disediakan atau dikelola hotel;
3) Tidak termasuk objek pajak hotel adalah:
• jasa ternpat tinggal asrama yang diselenggarakan oleh
pemerintah atau pemerintah daerah;
• jasa sewa aparternen, kondominium, dan sejenisnya;
• jasa tempat tinggal di pusat pendidikan atau kegiatan keagamaan;
• jasa tempat tinggal di rumah sakit, asrama perawat, panti jompo,
panti asuhan, dan panti sosial lainnya yang sejenis; dan
• jasa biro perjalanan atau perjalanan wisata yang diselenggarakan
oleh hotel yang dapat dimanfaatkan oleh umum.
d. Subjek pajak dan wajib pajak
1) Subjek pajak hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang mengusahakan
hotel;
2) Wajib pajak hotel adalah orang pribadi atau badan yang
rnengusahakan hotel.
4.34 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
e. Dasar pengenaan pajak
Dasar pengenaan pajak hotel adalah jumlah pembayaran atau yang
seharusnya dibayar kepada hotel.
f. Tarif pajak
I) Tarif pajak hotel ditetapkan paling tinggi I Oo/o (sepuluh persen);
2) Tarif pajak hotel ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
3) Pajak hotel yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat hotel
berlokasi.
2. Pajak Restoran
a. Pengertian
I) Pajak restoran adalah pajak alas pelayanan yang disediakan oleh
res to ran;
2) Rcstoran adalah fasilitas penyedia rnakanan dan/atau minuman
dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan,
kafetaria, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa
boga/katering.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh restoran;
2) Pelayanan yang disediakan restoran meliputi pelayanan penjualan
rnakanan dan/atau rninuman yang dikonsumsi oleh pembeli, baik
dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di tempat lain;
3) Tidak termasuk objek pajak restoran adalah pelayanan yang
disediakan oleh restoran yang nilai penjualannya tidak melebihi batas
tertentu yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang mernbeli
makanan dan/atau minurnan di restoran;
2) Wajib pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang
mengusahakan restoran.
d. Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak restoran adalah jumlah pembayaran yang diterima
atau yang seharusnya diterima restoran.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.35
e. Tarif Pajak
I) tarif pajak restoran ditetapkan paling tinggi I Oo/o (sepuluh persen);
2) tarif pajak restoran ditetapkan dengan Peraturan Daerah;
3) pajak restoran yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat
restoran berlokasi.
3. Pajak Hiburan
a. Pengertian
I) Pajak hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan;
2) Hiburan adalah sernua jenis tontonan, pertunjukan, permainan
dan/atau keramaian yang dinikrnati dengan dipungut bayaran.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak hiburan adalah jasa penyelenggaraan hiburan dengan
dipungut bayaran;
2) Hiburan dirnaksud adalah:
• tontonan film;
• pagelaran kesenian, musik tari dan/atau busana;
• kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya;
• pameran;
• diskotik, karaoke, club rnalam, dan sejenisnya
• sirkus, akrobat, dan sulap;
• perrnainan bilyar, golf, dan baling;
• pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan;
• panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness
center); dan
• pertandingan olahraga .
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I ) Subjek pajak hiburan adalah orang pribadi a tau bad an yang
menikmati hiburan;
2) Wajib pajak hiburan adalah orang pribadi atau bad an yang
menyelenggarakan hiburan.
d. Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau
yang seharusnya diterima oleh penyelenggara hiburan.
4.36 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
e. Tarif Pajak
I) Tarif pajak hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35o/o (tiga puluh
lima persen).
2) Tarif hiburan mewah: mode show, diskotik, karaoke, club malam,
permainan ketangkasan, panti pijat, mandi uap/spa paling tinggi
sebesar 7 5 % .
3) Tarif hiburan kesenian rakyat/tradisional yang dianggap perlu
dilestarikan dan dikunjungi oleh semua lapisan masyarakat,
dikenakan tarif paling tinggi I 0% (sepuluh persen).
4) Tarif hiburan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
5) Pajak hiburan yang terutang dipungut di wilayah daerah tempat
hiburan diselenggarakan.
5. Pajak Reklame
a. Pengertian
I) Pajak reklame adalah pajak atas penyelenggaraan reklame.
2) Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang bentuk dan
corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial mernperkenalkan,
menganjurkan, memprornosikan, atau untuk menarik perhatian
umum terhadap barang, jasa, orang atau badan yang dapat dilihat
dibaca, didengar, dirasakan, dan/atau dinikmati oleh umum.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak reklame adalah semua penyelenggaraan reklame.
2) Objek pajak reklame meliputi:
• reklame papan/bil/boardlvidiotron/111egatron dan sejenisnya:
• reklame kain;
• reklame melekat, stiker;
• reklame selebaran;
• reklame berjalan, termasuk pada kendaraan;
• reklame udara;
• reklame apung;
• reklame suara;
• reklame filnilslide; dan
• rek1ame peragaan .
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.37
3) Tidak tennasuk sebagai objek pajak reklarne:
• penyelenggaraan reklame rnelalui internet, televisi, radio, surat
kabar;
• tabel merek produk yang melekat pada barang yang
diperdagangkan yang berfungsi untuk membedakan dari produk
sejenis lainnya;
• nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada
tempat usaha;
• reklame yang diselenggarakan oleh Pernerintah atau Pernerintah
Daerah:,
• penyelenggaraan reklarne lainnya yang ditetapkan dalarn
Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak reklame adalah orang pribadi atau badan yang
menyelenggarakan rekJame;
2) Wajib pajak reklame adalah orang pribadi atau badan yang
,nenyelenggarakan reklame;
3) Dalarn hat reklame diselenggarakan sendiri secara langsung oleh
orang pribadi atau badan, wajib pajak reklarne adalah orang pribadi
atau badan tcrsebut;
4) Dalam hat reklame diselenggarakan melalui pihak ketiga, pihak
ketiga tersebut ,nenjadi wajib pajak reklame.
cl. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak reklame adalah nilai sewa reklame;
2) Dalam hal reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga, nilai sewa
reklame ditetapkan berdasarkan nilai kontrak reklame;
3) Dalam hal reklame diselenggarakan sendiri, nilai sewa reklame
dihitung dengan mernperhatikan faktor jenis, bahan yang digunakan,
lokasi pene,npatan, jangka waktu penyelenggaraan, jurnlah, dan
ukuran media reklame.
e. Tarif Pajak
I) Tarif pajak reklame ditetapkan paling tinggi 25o/o (dua puluh lima
persen);
2) Tarif pajak reklame ditetapkan dengan peraturan daerah.
4.38 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3) Pajak reklame yang terutang dipungut di wilayah daerah ternpat
reklame tersebut diselenggarakan.
5. Pajak Penerangan Jalan
a. Pengertian
Pajak penerangan jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik
yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain.
b. Objek Pajak
I) Objek penerangan jalan adalah penggunaan tenaga listrik baik yang
dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh dari sumber lain;
2) Listrik yang dihasilkan sendiri rneliputi seluruh pembangkit listrik.
3) Dikecualikan dari objek pajak penerangan jalan adalah:
• penggunaan tenaga listrik oleh instansi Pemerintah dan
Pemerintah Daerah;
• penggunaan tenaga listrik pada ternpat-tempat yang digunakan
oleh kedutaan, konsulat, dan perwakilan asing dengan asas
timbal balik;
• penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri dengan
kapasitas tertentu yang tidak mernerlukan izin dari instansi teknis
terkait; dan
• penggunaan tenaga listrik lainnya yang diatur dengan Peraturan
Daerah.
c. Subjek Pajak don Wajib Pajak
I) Subjek pajak penerangan jalan adalah orang pribadi atau badan yang
dapat menggunakan tenaga listrik;
2) Wajib pajak penerangan jalan adalah orang pribadi atau badan yang
menggunakan tenaga listrik;
3) Dalam hal tenaga listrik disediakan oleh sumber lain, wajib pajak
penerangan jalan adalah penyedia tenaga listrik.
d. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak penerangan jalan adalah nilai jual tenaga
listrik:
'
2) Nilai jual tenaga listrik ditetapkan:
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.39
• Dalam hal tenaga listrik berasal dari sumber Jain dengan
pembayaran, nilai jual tenaga listrik adalah jumlah tagihan biaya
beban/tetap ditambah dengan biaya pemakaian kWh/variabel
yang ditagihkan dalam rekening listrik;
• Dalam ha! tenaga listrik dihasilkan sendiri, nilai jual tenaga
listrik dihitung berdasarkan kapasitas tersedia, tingkat
penggunaan listrik, jangka waktu pemakaian listrik, dan harga
satuan listrik yang berlaku di wilayah daerah yang bersangkutan.
e. Tarif Pajak
I) Tarif penerangan jalan ditetapkan paling tinggi sebesar I Oo/o (sepuluh
persen);
2) Penggunaan tenaga listrik dari sumber Jain oleh industri,
pertambangan minyak bumi dan gas alam, tarif pajak penerangan
jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 3% (tiga persen);
3) Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri, tarif pajak
penerangan jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 1,5% (satu koma
lima persen);
4) Tarif pajak penerangan jalan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
5) Pajak penerangan jalan yang terutang dipungut di wilayah daerah
tempat penggunaan tenaga listrik;
6) Hasil penerirnaan pajak penerangan jalan sebagian dialokasikan
untuk penyediaan penerangan jalan.
6, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
a. Pengertian
1) Pajak mineral bukan logam dan batuan adalah pajak alas kegiatan
pengambilan mineral bukan Jogam dan batuan, baik dari sumber alam
di dalam dan/atau pennukaan bumi untuk dimanfaatkan;
2) Mineral bukan logam dan batuan adalah mineral bukan logam dan
batuan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan
dibidang mineral dan batubara.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak mineral bukan logam dan batuan adalah kegiatan
pengambilan mineral bukan logam dan batuan yang rneliputi:
As bes Nitrat
Batu tulis Opsidien
4.40 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Batu setengah perrnata Oker
Batu kapur Pasir dan kerikil
Batu apung Pasir kuarsa
Batu permata Perl it
Bentonit Phospat
Dolomit Talk
Feldspar Tanah serap(jullers earth)
Garam batu (halite) Tanah diatome
Grafit Tanah liat
Granit/andesit Tawas (a/11111)
Gips Tras
Kalsit Yarosif
Kaloi in Zeolit
Leusit Basal
Magnesit Trakkit
Mika Mineral bukan logam dan
Marmer batuan lainnya sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan
2) Dikecualikan dari objek pajak mineral bukan logam dan batuan
adalah:
a) Kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan yang
nyata-nyata tidak dimanfaatkan secara komersial, seperti
kegiatan pengambilan tanah untuk keperluan rumah tangga,
pemancangan tiang listrik/telepon, penanaman kabel listrik/
telepon, penanarnan pipa air/gas;
b) Kegiatan pengambilan mineral bukan logam dan batuan yang
merupakan ikutan dari kegiatan pertambangan lainnya, yang
tidak dimanfaatkan secara komersial; dan
c) Pcngambilan mineral bukan logam dan batuan lainnya yang
ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak mineral bukan logarn dan batuan adalah orang pribadi
atau badan yang dapat mengambil mineral bukan logam dan batuan;
2) Wajib pajak mineral bukan logarn dan batuan adalah orang pribadi
atau badan yang mengambil mineral bukan logam dan batuan.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.41
d. Dasar Pengenaan Pajak
1) Dasar pengenaan pajak mineral bukan logarn dan batuan adalah nilai
jual hasil pengarnbilan mineral bukan logam dan baruan;
2) Nilai jual dihitung dengan ,nengalikan volume/tonase hasil
pengambilan dengan nilai pasar atau harga standar masing-rnasing
jenis mineral;
3) Nilai pasar adalah harga rata-rata yang berlaku di lokasi seternpar
di wilayah daerah yang bersangkutan;
4) Dalam hal nilai pasar dari hasil produksi mineral tersebut sulit
diperoleh, digunakan harga standar yang ditetapkan oleh instansi
yang berwenang dalam bidang pertambangan mineral bukan logam
dan batuan.
f Tarif Pajak
I) Tarif pajak mineral bukan logam dan batuan ditetapkan paling tinggi
sebesar 25o/o (dua puluh lima persen).
2) Tarif pajak mineral bukan logam dan batuan ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.
3) Pajak mineral bukan logarn dan batuan yang terutang dipungut
di wilayah daerah ternpat penga,nbilan mineral bukan logam dan
batuan.
7. Pajak Parkir
a. Pengertian
I) Pajak parkir adalah pajak atau penyelenggaraan tempat parkir di luar
badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha
maupun yang disediakan sebagai usaha, termasuk penyediaan tempat
penitipan kendaraan bermotor,
2) Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak
bersifat sementara.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak parkir adalah penyelenggaraan tempar parkir di luar
badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha
maupun yang disediakan sebagai usaha, termasuk penyediaan tempat
penitipan kendaraan bermotor.
4.42 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) Tidak termasuk objek pajak parkir adalah:
• penyelenggaraan tempat parkir oleh Pemerintah dan Pernerintah
Daerah;
• penyelenggaraan tempat parkir oleh perkantoran yang hanya
digunakan untuk karyawannya sendiri;
• penyelenggaraan tempat parkir oleh kedutaan, konsulat, dan
perwakilan negara asing dengan asas timbal balik; dan
• penyelenggaraan tempat parkir lainnya yang diatur dengan
Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak parkir adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
parkir kendaraan bermotor;
2) Wajib pajak parkir adalah orang pribadi atau badan dan yang
menyelenggarakan tempat parkir.
d. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak parkir adalah jumlah pembayaran atau yang
seharusnya dibayar kepada penyelenggara ternpat parkir;
2) Dasar pengenaan pajak parkir ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
e. Tarif Pajak
I) Tarif pajak parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30o/o (tiga puluh
persen);
2) Tarif pajak parkir ditetapkan dengan Peraturan Daerah;
3) Pajak parkir terutang di wilayah daerah tempat parkir berlokasi.
8. Pajak Air Tanah
a. Pengertian
I) Pajak air tanah adalah pajak atas pengarnbilan dan/atau pemanfaatan
air tanah;
2) Air tanah adalah air yang terdapat dalam Iapisan tanah atau batuan di
bawah permukaan tanah.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.43
b. Objek Pajak
I) Objek pajak air tanah adalah penga,nbilan dan/atau pe,nanfaatan air
tan ah;
2) Dikecualikan dari objek pajak air tanah adalah:
• pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah untuk keperluan
dasar rumah tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat,
serta peribadatan; dan
• pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah lainnya yang diatur
dengan Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak air tanah adalah orang pribadi atau badan yang
melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan air tanah;
2) Wajib pajak air tanah adalah orang pribadi atau badan yang
melakukan pengarnbilan dan /atau pemanfaatan air tanah.
d. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak air tanah adalah nilai perolehan air tanah;
2) Nilai perolehan air tanah dinyatakan dalam rupiah yang dihitung
dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor
berikut:
• jenis sumber air;
• lokasi sumber air;
• tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air;
• volume air yang diam bi! dan/atau dimanfaatkan;
• kualitas air; dan
• tingkat kerusakan Lingkungan yang diakibatkan oleh
pengambilan dan/atau pemanfaatan air.
3) penggunaan faktor-faktor tersebut disesuaikan dengan kondisi
masing-rnasing daerah;
4) besarnya nilai perolehan air tanah ditetapkan dengan Peraturan
Bupati/Walikota.
e. Tarif Pajak Air Tanah
I) Tarif pajak air tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20o/o (dua puluh
persen)
2) Tarif pajak air tanah ditetapkan dengan peraturan daerah;
4.44 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3) Besarnya pokok pajak air tanah yang terutang dihitung dengan cara
,nengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak;
4) Pajak air tanah yang terutang, dipungut di wilayah daerah tempat air
diambil.
9. Pajak Sarang Burung Walet
a. Pengertian
I) Pajak sarang burung walet adalah pajak atas kegiatan pengarnbilan
dan/atau pengusahaan sarang burung walet;
2) Burung walet adalah satwa yang termasuk marga collocalia, yaitu
collocaliafuchliap haga, collocalia ,naxina, collocalia esculanta, dan
collocalia line/ii.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak sarang burung walet adalah pengambilan dan/atau
pengusahaan sarang burung walet;
2) Tidak tennasuk objek pajak pajak sarang burung walet:
• pengambilan sarang burung walet yang telah dikenakan
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
• kegiatan pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung
walet lainnya yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak den Wajib Pajak
I) Subjek pajak sarang burung walet adalah orang pribadi atau badan
yang melakukan pengarnbilan dan/atau mengusahakan sarang burung
walet ,·
2) Wajib pajak sarang burung walet adalah orang pribadi atau badan
yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan sarang burung
walet.
d. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak sarang burung walet adalah nilai jual sarang
burung walet;
2) Nilai jual sarang burung walet dihitung berdasarkan perkalian antara
harga pasaran umum sarang burung walet yang berlaku di daerah
yang bersangkutan dengan volume sarang burung walet.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.45
e. Tarif Pajak
I) Tarif pajak sarang burung walet ditetapkan paling tinggi sebesar I Oo/o
(sepuluh persen);
2) Tarif pajak sarang burung walet ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
3) Pajak sarang burung walet yang terutang dipungut di wilayah daerah
tempat pengambilan dan/atau pengusahaan sarang burung walet.
10. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
a. Pengertian
I) Pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan adalah pajak atas
bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai dan/atau
dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang
digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan
pertambangan;
2) Bumi adalah permukaan bumi yang meliputi tanah dan perairan
pedalaman serta laut wilayah kabupaten/kota;
3) Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan
secara tetap pada tanah dan/atau perairan pedalaman dan/atau laut;
4) Nilai Jual Objek Pajak, yang selanjutnya disingkat NJOP adalah
harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi
secara wajar, dan bila mana tidak terdapat transaksi jual beli, NJOP
ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang
sejenis atau nilai perolehan baru atau NJOP pengganti.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak burni dan bangunan perdesaan dan perkotaan adalah
bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau
dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan, kecuali kawasan yang
digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan
pertambangan.
2) Tennasuk dalam pengertian bangunan adalah:
• jalan lingkungan yang terletak dalam suatu kompleks bangunan,
seperti hotel, pabrik, dan emplasernennya yang merupakan suatu
kesatuan dengan kompleks bangunan tersebut;
• jalan to!;
• kolam renang;
4.46 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
• pagar mewah;
• tempat olahraga;
• galangan kapal, dermaga;
• taman mewah;
• tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak;
dan
• menara.
3) Objek pajak yang tidak dikenakan pajak bumi dan bangunan
perdesaan dan perkotaan adalah objek pajak yang:
• digunakan oleh pernerintah dan daerah untuk penyelenggaraan
pernerintahan;
• digunakan semata-mata untuk melayani kepentingan urnurn di
bidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan
nasional, yang tidak dirnaksudkan untuk mernperoleh
keuntungan;
• digunakan unruk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang
sejenis dengan itu;
• merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman
nasional, tanah penggernbalaan yang dikuasai oleh desa dan
tanah negara yang belurn dibebani suatu hak;
• digunakan olch pcrwakilan diplomatik dan konsulat bcrdasarkan
asas perlakuan timbal batik; dan
• digunakan oleh badan atau perwakilan lernbaga internasional
yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.
3) Besarnya Nilai Jual Objek Pajak tidak dikenakan pajak ditetapkan
paling rendah sebesar Rp I 0.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk
setiap wajib pajak;
4) Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak selanjutnya ditetapkan
dengan Peraturan Daerah.
c. Subjek Pajak dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak burni dan bangunan perdesaan dan perkotaan adalah
orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas
bumi dan/atau mernperoleh rnanfaat atas burni dan/atau rnemiliki,
menguasai dan/atau mernperoleh manfaat atas bangunan.
2) Wajib pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan adalah
orang pribadi atau badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.47
bumi dan/atau mernperoleh manfaat atas bumi dan/atau memiliki,
menguasai dan/atau memperoleh manfaat atas bangunan.
d. Dosar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan
adalah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP);
2) Besarnya NJOP ditetapkan setiap 3 (tiga) tahun, kecuali untuk objek
pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan
perkernbangan wilayahnya;
3) Penetapan besarnya NJOP dilakukan oleh kepala daerah.
e. Tarif Pajak
I) Tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan ditetapkan
paling tinggi sebesar 0,3% (nol korna tiga persen);
2) Tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan ditetapkan
dengan Peraturan Daerah;
3) Saal yang menentukan pajak terutang adalah menurul keadaan objek
pajak pada tanggal I Januari;
4) Tempat pajak terutang adalah di wilayah daerah yang meliputi Jetak
objek pajak.
f Administrasi Pajak;
I) Pendataan dilakukan dengan menggunakan SPOP;
2) SPOP harus diisi denganjelas, benar dan lengkap serta ditandatangani
dan disampaikan kepada kepala daerah yang wilayah kerjanya
meliputi letak objek pajak, selarnbat-lambatnya 30
(tiga puluh) hari kerja setelah tanggal diterimanya SPOP oleh subjek
pajak.
3) Berdasarkan SPOP, kepala daerah menerbitkan SPPT.
11. Bea Perolehan Bak atas Tanah dan Bangunan
a. Pengertian
I) Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah pajak alas
perolehan hak alas tanah dan/atau bangunan;
4.48 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) Perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan adalah perbuatan atau
peristiwa hukurn yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah
dan/atau bangunan oleh orang atau badan;
3) Hak atas tanah dan/atau bangunan adalah hak atas tanah termasuk hak
pengelolaan, beserta bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud
dalarn undang-undang di bidang pertanahan dan bangunan.
b. Objek Pajak
I) Objek pajak bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah
perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan, ,neliputi:
• hak milik;
• hak guna usaha;
• hak guna bangunan;
• hak pakai;
• hak milik atas satuan rumah susun; dan
• hak pengelolaan
2) Perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan, meliputi:
• jual beli;
• tukar menukar;
• hi bah;
• hibah wasiat;
• wans;
• pemasukan dalam perseroan atau badan hukum Jain;
• pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan;
• penunjukan pembeli dalam lelang;
• pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum
tetap;
• penggabungan usaha;
• peleburan usaha;
• pemekaran usaha; atau
• hadiah
3) Pemberian hak baru disebabkan:
• kelanjutan pelepasan hak; atau
• diluar pelepasan hak
4) Objek pajak yang tidak dikenakan bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan adalah objek pajak yang diperoleh:
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.49
• Perwakilan diplornatik dan konsulat berdasarkan atas perlakuan
timbal balik;
• Negara untuk penyelenggaraan pernerintahan dan/atau untuk
pelaksanaan pembangunan guna kepentingan umum;
• Badan atau perwakilan lembaga internasional yang ditetapkan
dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan syarat tidak
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain di luar fungsi
dan tugas badan atau perwakilan organisasi tersebut;
• Orang pribadi atau badan karena konversi hak atau karena
perbuatan hukum Jain dengan tidak adanya perubahan nama;
• Orang pribadi atau badan karena wakaf; dan
• Orang pribadi atau badan yang digunakan untuk kepentingan
ibadah.
c. Subjek dan Wajib Pajak
I) Subjek pajak bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah orang
pribadi atau badan yang mernperoleh hak atas tanah dan/atau
bangunan;
2) Wajib pajak bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah orang
pribadi atau badan yang memperoleh hak atas tanah dan/atau
bangunan
d. Dasar Pengenaan Pajak
I) Dasar pengenaan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah
ni Jai perolehan objek pajak;
2) Nilai perolehan objek pajak dimaksud adalah dalam hal:
• jual beli adalah harga transaksi;
• tukar menukar adalah nilai pasar;
• hibah adalah nilai pasar;
• hibah wasiat adalah nilai pasar;
• waris adalah nilai pasar;
• pemasukan dalam perseroan atau badan hukum Jainnya adalah
nilai pasar;
• pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan hak adalah nilai
pasar;
• peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang
mempunyai kekuatan hukum tetap adalah nilai pasar;
4.50 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
• pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan
hak adalah nilai pasar;
• penggabungan usaha adaJah nilai pasar;
• peleburan usaha adalah nilai pasar;
• pemekaran usaha adalah nilai pasar;
• hadiah adalah nilai pasar; dan/atau
• penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang
tercantum dalam risaJah lelang.
3) Nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak ditetapkan paling rendah
Rp60.000.000,00 (enam puluhjuta rupiah) untuk setiap wajib pajak;
4) Dalam hal perolehan hak karena waris atau hibah wasiat yang
diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah
dalam garis keturunan Jurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke
bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, nilai
perolehan pajak tidak kena pajak ditetapkan paling rendah sebesar
Rp300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah);
5) Nilai perolehan objek pajak tidak kena pajak ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.
e. Tari/ Pajak
I) Tarif bea perolehan hak atas tanah dan bangunan ditetapkan paling
tinggi 5% (lima persen);
2) Tarif bea perolehan hak atas tanah dan bangunan ditetapkan dengan
Peraturan Daerah.
3) Bea perolehan hak atas tanah dan bangunan yang terutang dipungut
di wilayah daerah tempat tanah dan/atau bangunan berada.
f Saat Terutang
Saat terutangnya bea perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah:
I) Sejak tanggal dibuat dan ditandatanganinya akta, untuk:
a) jual beli;
b) tukar menukar;
c) hibah;
d) hibah wasiat;
e) pemasukan dalam perseroan atau badan hukum Jainnya;
f) pemisahan hak yang mengakibatkan terjadi peralihan;
g) penggabungan usaha;
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.51
h) peleburan usaha;
i) pernekaran usaha;
j) hadiah.
k) Untuk waris, sejak didaftarkan ke kantor bidang pertanahan;
I) Untuk putusan pengadilan sejak tanggal putusan pengadilan yang
mernpunyai kekuatan hukum tetap;
m) Untuk pemberian hak baru, sejak tanggal diterbitkannya surat
keputusan pemberian hak;
n) Untuk Jelang sejak tanggal penunjukan pemenang Jelang.
2) Pajak yang terutang harus dilunasi pada saat terjadinya perolehan
hak:'
g. Lain-lain
I) Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)/Notaris hanya dapat
menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan/atau bangunan
setelah wajib pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak;
2) Kepala Kantor Bidang Pertanahan hanya dapat melakukan
pendaftaran hak atas tanah atau pendaftaran peralihan hak atas tanah
setelah wajib pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak.
B. PENGALIHAN PAJAK PUSAT MENJADI PAJAK DAERAH
KABUPATEN/KOTA
Terdapat dua jenis pajak pusat yang dialihkan menjadi pajak
kabupaten/kota yaitu:
I. Pajak Bumi dan Bangunan sektor Perdesaan dan Perkotaan (PBBP2); dan
2. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Kedua pajak tersebut semula merupakan jenis pajak pusat yang
penerirnaan atas pajak tersebut dibagihasilkan kepada daerah, karena memang
objek dari pajak tersebut adalah tanah dan atau bangunan yang bersifat
immobile berada di daerah kabupaten/kota. Namun, atas tuntutan daerah
berdasarkan UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, PBBP2 dan BPHTB dialihkan menjadi pajak daerah kabupaten/kota.
4.52 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
1. Pajak Bumi dan Bangunan, Sektor Perdesaan dan Perkotaan
Pajak bumi dan bangunan terdiri dari lima sektor, yaitu sektor perhutanan,
perkebunan, pertambangan, perdesaan dan perkotaan. Sejak ditetapkannya UU
Nomor 28 Tahun 2009 PBB sektor perdesaan dan perkotaan saja yang
dialihkan menjadi pajak daerah, sedangkan PBB sektor perhutanan,
perkebunan dan pertambangan rnasih tetap sebagai jenis pajak pusat di mana
penerimaannya dibagi kepada daerah kabupaten/kota yang bersangkutan.
Dengan demikian, terdapat dua undang-undang berkaitan dengan pengenaan
PBB yaitu:
a. UU Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 12 Tahun 1994, untuk PBB
pajak pusat, meliputi PBB sektor perhutanan, perkebunan dan
pertambangan; dan
b. UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
untuk PBB jenis pajak pusat, meliputi PBB sektor perdesaan dan
perkotaan;
c. Pasal 180 angka 5, Bab XVIII Ketentuan Penutup UU Nornor 28 Tahun
2009 menyatakan bahwa PBB perdesaan dan perkotaan masih berlaku
ketentuan lama sampai dengan 31 Desember 2013, sepanjang belum ada
Peraturan Daerah PBB Perdesaan dan Perkotaan.
2. Bea Perolehan Bak atas Tanah dan Bangunan
Seperti halnya PBB Perdesaan dan Perkotaan, pada awalnya BPHTB
merupakan jenis pajak pusat yang diatur dalam UU Nomor 21 Tahun 1997
tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU Nomor 20 Tahun 2000. Kemudian berdasarkan
UU Nornor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
BPHTB dialihkan menjadi pajak daerah kabupaten/kota. Hal tersebut
disebabkan karena objek BPHTB immobile berada di daerah kabupaten/kota.
Berdasarkan Pasal 180 angka 6, Bab XVIII Ketentuan Penutup UU Nornor
28 Tahun 2009, BPHTB sebagai pajak daerah berlaku sejak awal tahun 2010.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.53
LATIHAN
Untuk memperdalam pemaharnan Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Mengapa suatu pungutan pajak ditetapkan sebagai jenis pajak daerah
kabupaten/kota? Jelaskan!
2) Sebutkan jenis-jenis pajak daerah kabupaten/kota!
3) Apa objek pajak hotel?
4) Terdapat 3 (tiga) kriteria dari pajak hiburan, bagaimana pengenaan tarif
pajaknya? Jelaskanl
5) Jelaskan subjek dan objek pajak parkir!
6) Mengapa PB B pedesaan dan perkotaan dan bea perolehan hak atas tan ah
dan bangunan dialihkan dari pajak pusat menjadi pajak daerah
kabupaten/kota?
7) Berapa nilai batas tidak dikenakan pajak terhadap PBB perdesaan dan
perkotaan dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan?
8) Apa yang dimaksud dengan pajak air tanah?
9) Bagaimana pengawasan terhadap Peraturan Daerah tentang pajak daerah
kabupaten/kota?
10) Apabila Anda ,nemanfaatkan air sumur untuk keperluan rurnah tangga,
apakah dapat dikenakan pajak air tanah?
Petunjuk Jawaban. Latihan.
I) Pungutan pajak daerah kabupaten/kota adalah objek pajak immobile yang
objeknya berada di kabupaten/kota.
2) Jenis-jenis pajak kabupaten/kota ada 11 (sebelas) sebagaimana diuraikan
dalam KB 3 angka l.
3) Objek pajak hotel adalah pelayanan yang disediakan oleh hotel dengan
pembayaran termasuk jasa penunjang sebagai kelengkapan hotel, seperti
fasilitas olahraga, hiburan, restoran, dst.
4) Terdapat 3 (tiga) kriteria pajak hiburan, yaitu hiburan mewah, hiburan
biasa dan hiburan rakyat/tradisional. Tarif maksimum hiburan rnewah
75o/o, hiburan biasa maksimum tarifnya 35%, dan hiburan
rakyat/tradisional, tarif maksirnumnya I 0%.
4.54 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
5) Subjek pajak parkir adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
parkir kendaraan bermotor, sedangkan objek pajak parkir adalah
penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan.
6) PBB perdesaan dan perkotaan dan bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan dialihkan dari pajak pusat menjadi pajak daerah kabupaten/kota
karena keduajenis pajak tersebut objek pajaknya berada di kabupaten/kota
(i 111111obi Ie).
7) Batas nilai tidak dikenakan pajak terhadap PBB Perdesaan dan Perkotaan
adalah paling rendah Rp I 0.000.000,- sedangkan untuk Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) paling rendah Rp60.000.000,-.
Karena undang-undang menetapkan paling rendah masing-rnasing daerah
kabupaten/kota dapat rnenetapkan batas tidak dikenakan pajak tersebut
lebih tinggi sepanjang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
8) Yang dimaksud pajak air tanah adalah pajak atas pengambilan dan
pemanfaatan air tanah.
9) Pengawasan terhadap Peraturan Daerah tentang pajak kabupaten/kota,
sejak Rancangan Peraturan Daerah Gubernur dan Menteri Keuangan akan
mengevaluasi Rancangan Perda dimaksud. Apabila Perda tersebut
bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-
undangan lain yang lebih tinggi dapat dibatalkan oleh Menteri Dalam
Negeri yang berkoordinasi dengan Merucri Kcuangan.
I 0) Mernanfaatkan air sumur untuk keperluan rumah tangga rnerupakan
pengecualian terhadap pengenaan pajak air tanah.
-Cl RANG KUMAN. _
Pajak daerah kabupaten/kota adalah pajak yang objek pajaknya
immobile berada di daerah kabupaten/kota. Guna membiayai tata kelola
pemerintahan di dalam sistem pemerintahan yang otonorni daerah di
Indonesia ini, seyogianya bertumpu pada surnber-sumber dari daerah itu
sendiri, yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sumber PAD terdiri dari
pajak daerah, retribusi daerah, laba BUMD, dan lain-lain PAD. Di antara
sumber PAD tersebut yang paling menonjol berperan adalah pajak daerah.
Na mun kenyataannya, peranan pajak daerah di Indonesia adalah berkisar
..... o/o peranannya terhadap APED. Hal tersebut disebabkan rnasih
terdapat pungutan pajak yang seharusnya menjadi wewenang daerah
kabupaten/kota, tetapi masih dipungut oleh Pemerintah Pusat.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.55
Jenis pajak daerah kabupaten/kota dan aplikasinya diatur dalam VU
Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Jenis
pajak tersebut ditetapkan secara linutatif I closed list artinya daerah tidak
boleh lagi menetapkan pajak daerah selain yang ditetapkan dalam undang-
undang. Namun demikian, daerah dapat tidak mernungut pajak, apabila
potensinya kurang ,nemadai dan/atau disesuaikan dengan kebijakan
daerah yang ditetapkan dengan peraturan daerah.
Jen is pajak daerah kabupaten/kota terdiri atas: 1) pajak hotel; 2)
pajak restoran; 3) pajak hiburan; 4) pajak reklame; 5) pajak penerangan
jalan; 6) pajak mineral bukan logam dan batuan; 7) pajak parkir; 8) pajak
air tanah; 9) pajak sarang burung walet; 10) pajak bumi dan bangunan
perdesaan dan perkotaan; dan 1 1) bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan. Dalam UV Nomor 28 Tahun 2009, telah mengarur subjek,
objek, dan tarif maksirnum pajak dan aplikasinya, namun pelaksanaannya
ditetapkan oleh masing-masing daerah kabupaten dan kota dalam bentuk
Peraturan daerah (Perda).
�I
TES FORM AT IF 3�---------------
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
1) Mengapa suatu pungutan pajak ditetapkan sebagai jenis pajak daerah
kabupaten/kota?
A. karena objek pungutannya sebagai immobile berada di suatu daerah
kabupaten/kota
B. karena potensinya berada di daerah kabupaten/kota
C. karena kepentingan pendanaan bagi APBD daerah kabupaten/kota
D. bergantung pada peraturan daerah kabupaten/kota yang bersangkutan
2) Terhadap sebuah restoran yang diselenggarakan di hotel, apakah
dikenakan pajak restoran?
A. di manapun restoran diselenggarakan tetap dikenakan pajak restoran
B. dikenakan sebagai pajak hotel, apabila restoran tersebut
diselenggarakan oleh hotel yang bersangkutan
C. pengusaha boleh mernilih apakah sebagai pajak restoran atau pajak
hotel
D. semuanya salah
3) UU Nomor 28 Tahun 2009 ,nenggolongkan hiburan yang dikenakan pajak
daerah sebagai berikut ....
A. hiburan mewah, hiburan biasa, hiburan rakyat, dan hiburan tradisional
4.56 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
B. hiburan super mewah, hiburan mewah, hiburan biasa, hiburan rakyat,
dan hiburan tradisional
C. hiburan mewah, hiburan biasa, dan hiburan rakyat/tradisional
D. hiburan mewah dan hiburan lainnya
4) Apakah dasar pengenaan pajak penerangan jalan?
A. nilai jual tenaga listrik baik yang dihasilkan sendiri maupun yang
diperoleh dari sumber lain
B. nilai subsidi listrik untuk penerangan jalan
C. nilai jual tenaga listrik untuk penerangan jalan
D. nilai jual tenaga listrik
5) Siapa wajib pajak reklame?
A. orang atau badan yang menggunakan rekJame
B. orang atau badan yang menyelenggarakan reklame
C. orang yang terpampang dalam model reklame
D. pemilik lahan yang digunakan untuk papan reklame
6) Berapa tarif pajak sarang burung walet?
A. ditetapkan dengan SK bupati/walikota, dengan tarif pajak paling
tinggi scbesar 25% (dua puluh lima persen)
B. ditetapkan dengan peraturan bupati/walikota, dengan tarif pajak
paling tinggi sebesar 20% (dua puluh persen)
C. ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota, dengan tarif
pajak paling tinggi sebesar 20o/o (dua puluh persen)
D. ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota, dengan tarif
pajak paling tinggi 10% (sepuluh persen).
7) Apakah objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
(PBBP2)?
A. bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau
dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan
B. burni dan/atau bangunan yang dimiliki oleh orang pribadi atau badan
C. bumi dan/atau bangunan yang dimiliki, dikuasai dan/atau
dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan kecuali kawasan yang
digunakan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan
D. bumi dan/atau bangunan yang dimiliki atau dikuasai oleh orang
pribadi atau badan kawasan yang digunakan usaha perkebunan,
perhutanan dan perta,nbangan
8) Berapa besarnya Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak terhadap
Bea Perolehan Hak alas Tanah dan Bangunan (BPHTB)?
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.57
A. Ditetapkan paling rendah Rp60.000.000 (enam puluh juta rupiah),
khusus untuk waris dan hibah paling rendah Rp300.000.000,- (tiga
ratus juta rupiah)
B. ditetapkan paling rendah Rp300.000.000 (tiga ratus juta rupiah),
khusus untuk waris dan hibah paling rendah Rp60.000.000,00 (enam
puluh juta rupiah)
C. paling rendah Rp600.000.000,00 untuk waris/hibah
Rp300,000.000,00
D. paling rendah Rp60.000.000,00 untuk waris/hibah Rp30.000.000,00
9) Apakah persa,naan PBBP2 dan BPHTB?
A. objeknya tanah dan/atau bangunan
B. objeknya tanah
C. objeknya bangunan
D. ketiganya benar
10) Dasar pengenaan pajak hotel adalah ....
A. jumlah pembayaran yang dibayarkan kepada hotel
B. jumlah pembayaran dan service yang dibayarkan kepada hotel
C. jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel
D. ketiga-tiganya benar
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
rnateri Kegiatan Belajar 3.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 1 OOo/o = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 3, terutama bagian yang
belum dikuasai.
4.58 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
l ) C. Oleh sumber-sumber dari daerah itu sendiri, yaitu Pendapatan Asli
Daerah.
Dengan dibiayai oleh sumber-sumber PAD, Pemerintah Daerah dapat
melaksanakan otonomi daerah seluas-Juasnya dan mandiri tanpa
bantuan dan pengaruh dari Pemerintah Pusat.
2) D. Daerah itu tidak boleh menambah jenis pajak daerah yang ditentukan
dalam undang-undang.
Undang-undang mengharapkan pajak bukan tujuan dalam otonorni
daerah, namun sekedar sarana untuk mencapai tujuan, yaitu
rnenyejahterakan rakyat. Karena itu, jenis pajak daerah ditetapkan
secara limitatif sesuai yang ditentukan dalarn undang-undang saja.
3) D. Hak dan kewajiban pemerintah dan wajib pajak terhadap pungutan
pajak daerah.
Ketentuan formal mengatur hak dan kewajiban pemerintah dan wajib
pajak, berbeda dengan ketentuan material yang mengatur mengenai
subjek, objek, dan tarif rnasing-rnasing jenis pajak.
4) C. Berdasarkan Peraturan daerah pada daerah yang bersangkutan.
Ketentuan formal pajak daerah diatur dalam undang-undang, yaitu
UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, tetapi UU tersebut memberikan mandat/delegasi bahwa
pelaksanaan dari UU tersebut dilakukan melalui Peraturan daerah.
5) B. Mengajukan keberatan ke kepala daerah.
UU Nomor 28 Tahun 2009 mengamanatkan bahwa terhadap
ketetapan pajak daerah dapat diajukan keberatan kepada kepala
daerah.
6) B. Keberatan dianggap dikabulkan.
Pasal I 04 ayat (I) UU Nomor 28 Tahun 2009 menyatakan apabila
keberatan dalam 12 bulan tidak diberikan keputusan maka keberatan
dianggap dikabulkan. Hal tersebut untuk ,nemberikan keadilan dan
kepastian kepada wajib pajak yang rnengajukan keberatan.
7) C. Tidak ada batasan waktu keharusan pengadilan dalam memutus.
UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, tidak dapat mengatur
peradilan yang menjadi kewenangan Mahkamah Agung.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.59
8) C. Pengawasan dilakukan secara berjenjang sejak rancangan peraturan
daerah dibuat.
Sejak rancangan Perda oleh Pemerintah Daerah disetujui oleh DPRD,
rancangan tersebut disampaikan secara berjenjang untuk dievaluasi.
Setelah disetujui oleh Menteri Dalam Negeri dengan berkoordinasi
dengan menteri baru rancangan Perda tersebut, dapat ditetapkan
rnenjadi Peraturan Daerah.
9) C. Merupakan upaya paling akhir ketika sanksi administrasi tidak efektif
dilaksanakan.
Pada dasarnya pungutan pajak adalah upaya dalam penerimaan
negara (Pemerintah Pusat maupun Daerah), dengan demik:ian untuk
rujuan penerimaan rnaka sanksi adrninistrasi lebih tepat diterapkan
daripada sanksi pidana.
10) C. Apabila melakukan usaha dengan omzet paling sedik:it Rp300.000,-
Kriteria tersebut diatur dalam Pasal 169 ayat (l) UU Nomor 28 Tahun
2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Tes Formatif Z
1) A. Pajak provinsi objeknya melintasi kabupaten/kota pada provinsi yang
bersangkutan.
Pada dasarnya pajak daerah adalah pajak yang objeknya i111111obi/e,
yaitu berada pada daerah yang bersangkutan. Akan tetapi, apabila
pajak dimaksud objeknya rnelintasi kabupaten/kota pada provinsi
yang bersangkutan dikategorikan sebagai pajak provinsi.
2) B. Semua kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya di semua
jenis jalan darat termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang
dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat
secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.
Pengertian kendaraan bermotor dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 ini
,nerupakan penyempurnaan dari pengertian kendaraan bermotor
berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 1997 ,naupun UU Nomor 34 Tahun
2000.
3) 8. Pajak daerah provinsi terdiri dari Pajak Kendaraan Bermotor, Bea
Balik Nama.
Kendaraan Berrnotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak
Air Perrnukaan dan Pajak Rokok.
4.60 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Jenis pajak provinsi tersebut datur dalam Pasal 2 ayat (I) UU No. 28
Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
4) B. Pengenaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan
bermotor adalah nilaijual kendaraan bermotor yang dinyatakan dalam
suatu tabel yang diretapkan dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
setelah rnendapat pertimbangan dari Menteri Keuangan.
Ketentuan pengenaan tersebut diatur di dalarn Pasal 5 ayat (9) dan
Pasal 11 UU Nomor 28 Tahun 2009.
5) B. Peraturan daerah provinsi.
UU Nornor 28 Tahun 2009 Pasal 95 ayat (I) menyatakan bahwa
"Pemberlakuan pajak daerah ditetapkan dengan peraturan daerah."
6) C. Karena alas harga BBM di dalamnya terdapat unsur pajak daerah.
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor yang dijual di SPBU di
dalamnya sudah tennasuk pajak daerah sebesar I Oo/o. Dengan
demikian, apabila harga BBM naik maka daerah akan memperoleh
keuntungan atas kenaikan tersebut.
7) C. Objek pajak air Permukaan adalah pengambilan dan/atau pemanfaatan
air permukaan.
Sesuai Pasal 21 ayat (I) UU Nomor 28 Tahun 2009.
8) A. Subjek pajak rokok adalah konsumen rokok.
Hal tersebut sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (I) UU Nomor
28 Tahun 2009, karena pajak rokok adalah pajak tidak Jangsung yang
pajaknya dikenakan kepada pembeli.
9) C. Termasuk pengertian kendaraan bermotor adalah kendaraan bermotor
yang dioperasikan di air dengan ukuran isi kotor GT 5 sampai dengan
GT 7.
Sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (2) UU No.28 Tahun 2009
10) D. Boleh sepanjang ditetapkan dalam Peraturan daerah provinsi.
Sebagaimana diatur dalam Pasal 95 ayat (I) juncto Pasal 2 ayat (4)
UU Nornor 28 Tahun 2009, provinsi boleh tidak mernungut tidak
memungut jenis pajak yang menjadi wewenangnya apabila hasilnya
tidak memadai.
Tes Fonnatif 3
I) A. Karena objek pungutannya sebagai i111111obi/e berada di suatu daerah
kabupaten/kota.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.61
Sesuai dengan filosofi perpajakan apabila objek pajaknya immobile
berada di daerah kabupaten/kota maka pajak tersebut ,nerupakan
pajak daerah kabupaten/kota.
2) B. Dikenakan sebagai pajak hotel, apabila restoran tersebut
diselenggarakan oleh hotel yang bersangkutan.
Terhadap restoran yang diselenggarakan oleh hotel dikenakan sebagai
pajak hotel, sesuai Pasal 32 ayat (I) UU Nomor 28 Tahun 2009.
3) C. Hiburan mewah, hiburan biasa dan hiburan rakyat/tradisional.
Berdasarkan Pasal 45 UU Nomor 28 Tahun 2009, hiburan
digolongkan rnenjadi tiga, yaitu hiburan mewah, hiburan biasa dan
hiburan rakyat/tradisional.
4) A. Dasar pengenaan pajak penerangan jalan adalah nilai jual tenaga
listrik baik yang dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh dari
sumber lain.
Sesuai ketentuan Pasal 52 UU Nomor 28 Tahun 2009.
5) B. Orang atau badan yang menyelenggarakan reklame.
Sesuai Ketentuan Pasal 48 ayat (2) UU Nomor 28 Tahun 2009.
6) D. Tarif pajak sarang burung walet ditetapkan dengan Peraturan daerah
paling tinggi IO % (sepuluh persen).
Sesuai ketentuan Pasal 75 ayat (I) UU Nomor 28 Tahun 2009.
7) D. Bumi dan/atau bangunan yang dirniliki, dikuasai dan/atau
dimanfaatkan oleh orang pribadi atau badan kecuali kawasan yang
digunakan usaha perkebunan perhutanan dan pertambangan.
Sesuai ketentuan Pasal 77 ayat (I) UU No. 28 tahun 2009.
8) A. Ditetapkan paling rendah Rp60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah),
khusus untuk waris dan hibah wasiat garis lurus paling rendah
Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Diatur dalam Pasal 87 ayat (4 dan 5) UU Nomor 28 Tahun 2009.
9) A. Objeknya tanah dan/atau bangunan.
Persamaan PBB-P2 dan BPHTB objek pajaknya sarna, yaitu tanah
dan/atau bangunan. Bedanya kalau PBB-P2 objeknya kepemilikan,
sedangkan BPHTB adalah pengalihan hak.
I 0) C. JumJah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel.
Diatur dalarn ketentuan Pasal 34 UU Nomor 28 Tahun 2009, dengan
demikian walaupun terdapat penyewa yang dibebaskan dari
pembayaran hotel maka pengusaha hotel tetap wajib membayar pajak
hotel.
4.62 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Glosarium
Desentralisasi sistem pemerintahan yang memberikan
kewenangan kepada daerah untuk
melaksanakan tata kelola pemerintahan
dengan batasan tertentu.
Hierarki Perundangan tingkatan peraturan perundang-undangan
yang diatur dalarn UU Nomor 12 Tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-
undangan.
!111111obile objek pajak yang tidak berpindah, berada
pada suatu tempat. Terhadap pajak immobile
diklasifikasikan sebagai pajak daerah.
Limitative/Closed List ketentuan undang-undang yang menyatakan
bahwa pernerintah tidak boleh menarnbah
jerus pajak kecuali ditetapkan dengan
undang-undang.
Omzer peredaran usaha.
Opened List ketentuan undang-undang yang menyatakan
bahwa pernerintah boleh ,nenambah jenis
pajak sepanjang tidak bertentangan dengan
kepentingan umum dan/atau peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.
Opsen/opsenten pajak dikenakan atas pajak.
Preventif sistem pengawasan peraturan daerah sejak
rancangan Perda dibuat, di mana rancangan
tersebut harus terlebih dahulu disetujui oleh
Pemerintah Pusat.
Represif penilaian peraturan daerah oleh pernerintah
pusat, di mana dilakukan evaluasi setelah
menjadi Peraturan daerah.
Sentralistik sistern tata kelola pemerintahan yang
sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah
pusat.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.63
Ultimum Remidium tindakan terakhir manakala tindakan
persuasif tidak mernbawa hasil yang
maksimal.
4.64 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. I 998. llmu Huku111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Devas, Nick, dkk. 1989. Keuangan Pemerintan Daerah di Indonesia. Jakarta:
UI Press.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak, Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. l; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
____ . 2009. Huku111 Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Huku,n, Masyarakat, dan Pembangunan
Huku111 Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Huku111 (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum Uil.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentralizaion 111
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Saidi, Muhammad Djafar. 2007. Perlindungan Hukuni Wajib Pajak dalam
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Sarundayang. 2011. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
• HKUM4407/MCJDUL 4 4.65
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor,
Soriaatmadja, P Arifin, 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Huku,n Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pusat dan Pajak Dae rah. Bogar: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Urnum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No.7 Tahun 1983 sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. IO Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai, UU No. I I Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL 5
Pajak Penghasilan
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
tl PEND AH UL U AN _
rt» ajak penghasilan (PPh) rnerniliki peranan dominan terhadap penerimaan
'Jr negara dalam APBN dibandingkan dengan jenis perpajakan pusat lainnya,
seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Harang Mewah
(PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB sektor pertambangan, perhutanan,
dan perkebunan), Bea Meterai, Bea Masuk, Bea Keluar, dan Cukai.
Hal tersebut dapat kita Ii hat dalam tabel di bawah ini.
Tabel 5.1
Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(dalam Triliun Rupiah)
Penerimaan Peranan PPh terhadap
No. Tahun Penerimaan PPh
Pernaiakan Penerimaan Perpaiakan
1. 2010 723,3 357,0 48,70 %
2. 2011 873,9 431, 1 49,33 %
3. 2012 980,5 465,0 47,42 "I,
4. 2013 1.148,3 538,7 46,91 "lo
5. 2014 1.146.9 546,2 45,72 o/,
6. 2015 1.240,4 602,3 48,56 %
7. 2016 1.539, 1 855,8 55,60 %
Sumber: Kernenterian Keuangan
Dari tabel tersebut dapat kita lihat bahwa hampir separuh dari total
realisasi penerimaan negara dalam APBN yang digunakan untuk pengeluaran
5.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
rutin dan pernbangunan pernerintah Republik Indonesia, ditunjang dari
penerirnaan Pajak Penghasilan.
Regulasi Pajak Penghasilan (PPh) sejak reforrnasi perpajakan 1983 yang
ditetapkan dengan UU Nornor 7 Tahun 1983 rnerupakan penggantian dari
nomenklatur Pajak Pendapatan, di mana pengaturannya terdapat perbedaan
yang prinsipil dengan undang-undang sebelurnnya. Sebelum tahun 1983,
pengenaan pajak penghasilan diatur dalarn berbagai undang-undang sehingga
menimbulkan kelemahan yang dapat tnenghambat pemungutannya. Berbagai
undang-undang dan ketentuan lain yang rnengatur pengenaan pajak
pendapatan (sebelum tahun 1983) sebagai berikut.
I. Odonansi Pajak Perseroan 1925, yang rnengatur rnateri dan tata cara
pengenaan pajak atas laba (penghasilan) badan-badan, misalnya: firma,
perseroan terbatas, dan sebagainya. Pajak atas Jaba ini Jazim disebut
dengan Pajak Perseroan (PPs);
2. Ordonansi Pajak Pendapatan 1944, yang mengatur mengenai materi dan
tata cara pengenaan pajak atas pendapatan (penghasilan) bagi orang-orang
pribadi. Pajak penghasilan tersebut, lazim disebut dengan Pajak
Pendapatan (PPd);
3. Undang-undang Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalti 1970, yang
mengatur mengenai materi dan pernungutan pajak atas penghasilan berupa
bunga, dividen, dan royalti yang wajib dipotong oleh orang atau badan
yang membayarkan penghasilan tersebut. Pajak ini lazim disebut dengan
Pajak atas Bunga, Dividen dan Royalti atau PBDR;
4. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1967 juncto Peraturan Pemerintah
Nomor I I Tahun 1967, yang mengatur rnengenai tata cara pengenaan
pajak atas penghasilan terutama berupa laba usaha, sepanjang mengenai
tata cara pernungutan oleh pihak lain (disebut sistern MPO = Menghitung,
Memungut, dan Menyetor Pajak Orang lain) dan pembayaran oleh wajib
pajak sendiri (disebut sistem MPS = Menghitung dan Menyetor Pajak
Sendiri).
Dengan ditetapkannya Ketentuan Um urn dan Tata Cara Perpajakan (KUP)
pada tahun 1983, dengan UU Nomor 6 Tahun 1983 maka sistem dan tata cara
pengenaan perpajakan untuk seluruh jenis perpajakan termasuk Pajak
Penghasilan diatur tersendiri dalarn satu undang-undang, yaitu Undang-
Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Sedangkan,
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.3
mengenai subjek, objek, tarif, dan pengecualiannya diatur dalam Undang-
Undang Pajak Penghasilan (UU PPh).
Di dalam perkembangannya, UU PPh, telah mengalami 4 (empat) kali
perubahan, sebagai berikut:
• UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan;
• UU Nomor 7 Tahun 1991 perubahan pertama UU PPh;
• UU Nomor 10 Tahun 1994 perubahan kedua UU PPh;
• UU Nomor 17 Tahun 2000 perubahan ketiga UU PPh;
• UU Nornor 36 Tahun 2008 perubahan keempat UU PPh .
Pajak penghasilan merupakan salah satu jenis pajak langsung berarti
kewajiban pemenuhan beban pajak secara ekonomis tidak dilirnpahkan atau
digeser kepada pihak lain. Dengan kata lain, di sini PPh tidak terjadi
pergeseran (shifti11g) beban pajak oleh pemikul pajak artinya kewajiban
pernbayaran pajak harus dipikul sendiri oleh wajib pajak.
PPh dipungut oleh Pemerintah Pusat sehingga merupakan pajak pusat atau
pajak negara. Penanganan pajak ini dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak
(Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan dan pelaksanaannya di tingkat daerah
oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Pada prinsipnya, pemungutan PPh
menganut prinsip self assessment system, artinya wajib pajak diberi
kepercayaan penuh olch pemerintah untuk menghitung mernperhitungkan
sendiri pajak terutang, kemudian rnembayar dan melaporkannya kepada
Kantor Pelayanan Pajak di mana wajib pajak itu terdaftar melalui mekanisme
pelaporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT).
Dalam Modul 5 ini, akan dibahas secara detail dalam dua kelompok
Kegiatan Belajar, yaitu mengenai subjek, objek, dan tarif PPh dalam Kegiatan
Belajar I dan potongan dan/atau pungutan PPh pihak ketiga yang
dikelompokkan dalam Kegiatan Belajar 2.
5.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 1
Subjek, Objek, dan Tarif PPh
(' ubjek, objek, dan tarif Pajak Penghasilan ini sebagaimana diatur dalam UU
� Nomor 7 Tahun I 983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah
beberapa kali terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun 2008 sebagai berikut:
A. SUBJEK PAJAK
I. Jenis Subjek PPh
meliputi:
• orang pribadi;
• warisan yang belum terbagi;
• badan;
• bentuk usaha tetap .
a. Orang Pribadi
Orang pribadi adalah setiap orang yang bertempat tinggaJ atau berada di
Indonesia selama I 83 (seratus delapan puluh tiga) hari a tau lebih, dalam jangka
waktu 12 (dua belas) bulan.
b. Warisan yang be/11111 terbagi
Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek
pengganti, menggantikan mereka yang berhak, yaitu ahli waris. Penunjukkan
warisan yang belum terbagi sebagai subjek pajak pengganti dimaksudkan agar
pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap
dapat dilaksanakan.
c. Badon
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha,
meliputi:
I) Perseroan Terbatas;
2) Perseroan Kornanditer;
3) Perseroan Jainnya;
4) Badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah;
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.5
5) Firrna;
6) Kongsi;
7) Koperasi;
8) Dana pensiun;
9) Persekutuan;
I 0) Perkumpulan;
11) Yayasan;
12) Organisasi masa;
13) Organisasi politik, atau organisasi lainnya;
14) Lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif;
dan
15) Bentuk usaha tetap.
d. Bentuk Usaha Tetap
Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh
orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang
berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak berternpat kedudukan
di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia
yang dapat berupa:
I) ternpat kedudukan manajemen;
2) cabang perusahaan;
3) kantor perwakilan;
4) gedung kantor;
5) pabrik;
6) bengkel;
7) gudang;
8) ruang untuk promosi penjualan;
9) pertambangan dan penggalian sumber alam;
I 0) wilayah kerja pertambangan minyak dan gas burni;
11) perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
12) proyek konstruksi, instalasi atau proyek perakitan;
13) pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain
sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu
12 (dua belas) bulan;
14) orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas;
5.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I 5) agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang menerirna prerni asuransi atau
menanggung risiko di Indonesia; dan
I 6) kornputer, agen elektronik, atau peralatan otornatis yang dirniliki, disewa
atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk
menja]ankan kegiatan usaha melalui internet.
2. Ternpat Kedudukan Subjek Pajak
a. Subjek Pajak Dala111 Negeri;
I) Orang pribadi yang berternpat tinggal atau berada di Indonesia Jebih
dari I 83 (seratus delapan puluh tiga) hari dalarnjangka waktu I? (dua
belas) bulan atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada
di Indonesia dan mernpunyai niat untuk bertempat tinggal di
Indonesia;
2) Badan yang didirikan atau berternpat kedudukan di Indonesia, kecuali
unit tertentu dari Badan Pernerintah yang memenuhi kriteria.
3) Pernbentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan;
(a) Pernbiayaannya bersurnber dari APBN atau APBD;
(b) Penerirnaannya dirnasukkan dalarn anggaran Pernerintah Pusat
atau Pernerintah Daerah; dan
(c) Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional
negara.
• Warisan yang belum terbagi, sebagai satu kesatuan
menggantikan yang berhak;
• Terhadap subjek pajak dalam negeri berkewajiban merniliki
Nornor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan setiap tahun
rnernasukkan Japoran Surat Pernberitahuan Tahunan (SPT);
b. Subjek Pajak Luar Negeri
Orang pribadi yang tidak berternpat tinggal atau berada di Indonesia tidak
lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalarn jangka waktu 12 (dua
belas) bulan dan badan yang tidak didirikan dan berternpat kedudukan di
Indonesia:
I) Yang rnenjalankan usaha atau rnelakukan kegiatan rnelalui bentuk usaha
tetap di Indonesia;
• HKUM4407/MCJDUL 5 5. 7
2) Yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan di Indonesia tidak
dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha
tetap di Indonesia;
3) Terhadap Wajib Pajak Luar Negeri iidak diwajibkan memiliki Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan rnenyampaikan Laporan Surat
Pemberitahuan Tahunan (SPT);
4) Penghasilan yang diperoleh oleh Wajib Pajak Luar Negeri selain bentuk
usaha tetap, berdasarkan Pasal 26 UU PPh dipotong pajak, yaitu sebesar
20% dari jumlah bruto oleh yang membayarkannya.
3. Tidak Termasuk Subjek Pajak
Yang tidak termasuk subjek pajak penghasilan adalah:
a. kantor perwakilan negara asing;
b. pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat
lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka
yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka dengan
syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak menerima
atau mernperoleh penghasilan di luar jabatan atau pekerjaannya tersebut
serta negara yang bersangkutan mernberikan perlakuan timbal batik;
c. Organisasi-organisasi internasional dengan syarat:
(I) Negara Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut; dan
(2) Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk mernperoleh
penghasilan dari Indonesia selain memberikan pinjarnan kepada
pernerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota;
d. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional dengan syarat bukan
warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau
pekerjaan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia;
e. Organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak yang
ditetapkan dengan keputusan menteri keuangan.
B. OBJEK PAJAK
Objek Pajak Penghasilan adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan
kernampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan
dengan nama dan dalarn bentuk apapun termasuk:
5.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh tennasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium,
kornisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbaJan dalam bentuk
lainnya, kecuaJi ditentukan lain dalam undang-undang ini;
2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;
3. Laba usaha;
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
a. keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan,
dan badan lainnya sebagai pengganti saharn atau penyertaan modal;
b. keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham,
sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan dan
badan Jainnya;
c. keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambi Jan usaha atau reorganisasi dengan narna dan
bentuk apapun;
d. keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam
garis Jurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan,
badan sosial termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang
menjalankan usaha mikro dan kecil;
e. keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atas seluruh
hak penambangan:
5. Penerimaan kernbali pernbayaran pajak yang telah dibebankan sebagai
biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;
6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang;
7. Dividen termasuk dividen tennasuk dividen dari pemegang asuransi dan
pernbagian sisa hasil usaha koperasi;
8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;
9. Sewa dan penghasilan lain schubungan dengan penggunaan harta;
10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
I I . Keuntungan karena pembebasan utang dengan batas tertentu yang
ditentukan dalam Peraturan Pemerintah;
12. Keuntungan selisih kurs mata uang asing;
I 3. Selisih Jebih karena penilaian kembali aktiva;
14. Prerni asuransi;
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.9
I 5. Juran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang
terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum
dikenakan pajak;
17. Penghasilan dari usaha yang berbasis syariah;
18. lmbalan bunga sebagaimana yang dimaksud dalam UU KUP;
19. Surplus Bank Indonesia.
C. TARIF PAJAK
Tarif pajak penghasilan diatur dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan:
1. Tarif Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (Pasal 17 ayat l UU PPh)
Tarif pajak wajib pajak orang pribadi dalam negeri, berlaku tarif pajak
progresif sebagai berikut:
La isan Pen hasilan Kena Pa· ak Tarif Paiak
San1""-'::::::.'.""-'--'�:.::'....!-""''--------------+----=5�o/,�-
o ---j
DiatasR 15%
Di atas R 25o/o
Di atas R ===,_ c____:c:_:3 ::.0::c%'------__J
2. Tarif Pajak Badan Dalam Negeri (Pasal 17 ayat 2 UU PPh)
a. Tarif pajak Wajib Pajak Badan Dalam Negeri dan Bentuk Usaha
Tetap adalah sebesar 25%;
b. Tarif pajak Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang berbentuk
perseroan terbuka yang paling sedikit 40% dari keseluruhan saham
yang disetor dan diperdagangkan di bursa efek Indonesia dan
mernenuhi persyaratan tertentu lainnya dapat memperoleh tarif 20%.
3. Tarif Pajak Final (Pasal 4 ayat 2 UU PPh)
Pajak Penghasilan yang bersifat final atau rampung adalah jenis PPh
dengan perlakuan tersendiri di mana pengenaannya telah dianggap selesai pada
saat dipotong dari penghasilan atau disetor sendiri oleh wajib pajak yang
bersangkutan ke kas negara.
Tarif final dikenakan atas jumlah penghasilan bruto dan pengenaan
pajaknya dianggap selesai. Penghasilan yang bersifat final, dalam perhitungan
5.10 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
akhir tahun tidak perlu dijumlahkan dengan penghasilan Jainnya karena
dianggap sudah selesai atau rarnpung.
Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat 2 UU PPh dinyatakan bahwa
penghasilan tersebut di bawah ini yang dapat dikenakan pajak bersifat final,
yaitu:
a. penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan Jainnya, bunga obligasi
dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh
koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;
b. penghasilan berupa hadiah undian;
c. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derifatif
yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saharn atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan modal pasangannya yang
diterima oleh perusahaan modal ventura;
d. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau
bangunan, usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah
dan bangunan;
e. penghasilan tertentu lainnya yang ditetapkan berdasarkan Peraturan
Pemerintah,
Mengenai tarif PPh dan pengelornpokannya, berdasarkan arnanat Pasal 4
ayat (2) diatur dengan Peraturan Pernerintah dan secara rinci dijabarkan dalam
Peraturan Menteri Keuangan.
4. Tarif Pajak Wajib Pajak Luar Negeri (Pasal 26 UU PPh)
Berdasarkan Pasal 26 UU PPh Penghasilan bagi wajib pajak Juar negeri
yang rnemperoleh penghasilan dari Indonesia dipotong PPh, yaitu sebesar 20%
dari jumlah bruto oleh yang rnernbayarkannya dan bersifat final.
Namun dernikian, besarnya tarif PPh tersebut dapat Jebih rendah atas dasar
perjanjian bilateral antara Indonesia dengan negara lain melalui tax treaty
(Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda/P3B). Pengaturan tax treaty tcrsebut
bersifat reciprocal!resiprositas, yaitu perlakuan yang sama di antara negara
yang melakukan perjanjian.
D. PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (PTKP)
Di dalam ketentuan Pasal 7 ayat (I) UU PPh memberikan pengurangan
berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berkaitan dengan status dari
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.11
wajib pajak orang pribadi dalam negen. Penyesuaian besarnya PTKP
ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah dikonsultasikan
dengan Dewan Perwakilan Rakyat.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor IOI/PMK.010/2016
besaran PTKP terhitung tahun 20 I 6 sebagai berikut:
I. Rp54.000.000,00 untuk wajib pajak orang pribadi;
2. Rp4.500.000,00 tambahan untuk wajib pajak status kawin;
3. Rp54.000.000,00 tambahan istri yang penghasilannya digabung dengan
suarru;
4. Rp4.500.000,00 tambahan untuk setiap anggota keluarga
sedarah/sernenda dalam keturunan garis lurus, serta anak angkat yang
rnenjadi tanggungan sepenuhnya, maksimum 3 orang untuk setiap
anggota keluarga.
E. PENGHASlLAN KENA PAJAK
Penghasilan Kena Pajak adalah besarnya penghasilan yang dikenakan tarif
pajak.
Bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan
berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih,
dan mernelihara penghasilan, termasuk:
I. biaya langsung atau tidak langsung, berkaitan dengan kegiatan usaha:
pernbelian bahan, biaya bunga sewa dan royalti, biaya perjalanan, premi
asuransi, promosi, biaya administrasi, pajak kecuali pajak penghasilan;
2. penyusutan bagi perolehan harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran yang mempunyai masa manfaat Jebih dari I (satu) tahun;
3. iuran kepada dana pensiun;
4. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan
digunakan dalam perusahaan yang dimiliki dalam perusahaan;
5. kerugian selisih kurs rnata uang asing;
6. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di
Indonesia;
7. biaya beasiswa, magang dan pelatihan;
8. piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih;
9. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional;
I 0. sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan
di Indonesia;
I I. biaya pernbangunan infrastruktur sosial;
5.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I 2. sumbangan fasilitas pendidikan;
I 3. sumbangan dalam pernbinaan olahraga.
F. PERBEDAAN WAJIB PAJAK PPH DALAM NEGERI
DAN WAJIB PAJAK PPH LUAR NEGERI
Wajib Pajak PPh Dalam Ne eri Wajib Pajak PPh Luar Ne ------,
eri
Subjek Pajak Subjek Pajak
• Orang pribadi yang bertempat tinggal • Orang pribadi yang bertempat tinggal
atau berada di Indonesia lebih dari 183 atau berada di Indonesia tidak lebih
hari dalam waktu 12 bulan; dari 183 hari dalam waktu 12 bulan;
• Badan yang didinkan dan bertempat • Badan yang tidak didirikan dan
kedudukan di Indonesia. bertempat kedudukan di Indonesia.
Objek Pajak Objek pajak
adalah penghasilan di dalam negeri dan adalah penghasilan yang diperoleh dari
penghasilan diperoleh dari luar Indonesia. Indonesia.
Harus punya NPWP dan wajib Tidak pertu NPWP dan menyampaikan SPT.
menyampaikan SPT.
Dasar Pengenaan Pajak Dasar Pengenaan Pajak
Dasar pengenaan pajak dari penghasilan Dasar pengenaan pajak dari penghasilan
neto, yaitu penghasilan bruto setelah bruto.
dikurangi biaya (termasuk PTKP bagi PPh
Orang Pribadi).
Tarif Pajak Tarif Pajak
• Tarif orang Pribadi "? tarif progresif • Orang pribadi atau badan dikenakan
5°/, 15°/, 25°/, 30°/,
I ! I I tarif final 20%;
• Tarif badan "? linier 25'/,, dan untuk • Dalam hal terdapat tax treaty,
perusahaan masuk bursa (Tbk) 20%. dikenakan tarif final 10°/, alas asas
timbal balik {reciorocan.
G. CONTOH PERHITUNGAN PAJAK PENGHASILAN
Tuan Indra pengusaha bengkel dengan penghasilan bruto satu tahun pada
tahun 2016 adalah Rp950.250.000,00, biaya beli spare part, cat, tukang, dan
Jain-Jain Rp I 5.250.000,00 peralatan bengkel Rp I 00.000.000, ia mempunyai
seorang istri Keni yang mernpunyai usaha salon rias pengantin dengan
penghasilan bruto satu tahun Rp 190.000.000,00 dan biaya kosmetik, pekerja,
promosi salon, dan lain-lain sebesar Rp25.000.000,00 dari perkawinannya
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.13
mempunyai 5 (lima) anak yang masih menjadi tanggungannya. Pajak
penghasilan yang telah diangsur ([Link].25) dalam tahun 2016 berjumlah
Rp27.200.000,00
Perhitungan Pajak Penghasilan Tuan Indra
Penghasilan bruto dalarn tahun 2016 = Rp 950.250.000,00
Penghasilan bruto istrinya Keni dari salon = Rp l 90.000.000,00
Jumlah Penghasilan Bruto = Rp [Link],00
Pengurangan biaya mendapatkan, menagih, dan rnernelihara
Biaya bengkel Rp 15.250.000,00
Biaya peralatan bengkel Rpl00.000.000,00
Biaya salon Rp 25.000.000,00 = Rp 140.250.000,00
Penghasilan Neto Rpl.000.000.000,00
Penghasilan Tidak Kena Pajak:
• Untuk wajib pajak orang pribadi Rp54.000.000,00
• Tambahan WP status kawin Rp 4.500.000,00
• Tambahan istri yang penghasilannya
digabung dengan suami Rp54.000.000,00
• Tambahan anak (diakui 3 anak)
3 x Rp4.500.000,00 Rpl3.500.000,00 Rp 126.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 874.000.000,00
Pajak Penghasilan
s.d. Rp50 jt x 5% = Rp 2.500.000,00
Rp50 jt sd. Rp250 jt = Rp200 jt x 15 % =Rp 30.000.000,00
Rp250 jt sd. Rp500 jt = Rp250 jt x 25 % e Rp 62.500.000,00
Rp374 jt x 30o/o = Rp 112.200.000,00
Pajak Penghasilan terutang Rp 207.200.000,00
5.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Apa maksudnya pajak penghasilan merupakan pajak langsung? Jelaskan!
2) Apakah jenis subjek pajak penghasilan?
3) Jelaskan mengenai tarif pajak progresif pajak penghasilan orang pribadi !
4) Apa saja yang tidak termasuk subjek pajak PPh?
5) Kapan seseorang dikenakan PPh. Pasal 26 yang bersifat final?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Pajak penghasilan merupakan pajak langsung karena secara langsung
dipikul dan dibayar sendiri oleh subjek pajak yang bersangkutan.
2) Jenis subjek pajak penghasilan adalah orang pribadi, badan, warisan yang
belum terbagi dan bentuk usaha tetap (BUT).
3) Yang dimaksud dengan tarif pajak progresif PPh orang pribadi adalah
semakin besar penghasilan yang dikenakan pajak maka tarifnya semakin
tinggi, yaitu:
• sampai dengan Rp50 juta tarifnya 5%
• di atas Rp50 juta sampai dengan Rp250 juta tarifnya 15%
• di atas Rp250 juta sampai dengan Rp500 juta tarifnya 25o/o
• di atas Rp500 juta tarifnya 30%
4) Yang tidak termasuk subjek PPh adalah sebagaimana diuraikan dalam KB
I huruf A angka 3.
5) Seseorang dikenakan PPh Pasal 26 yang bersifat final adalah wajib pajak
PPh luar negeri yang memperoleh penghasilan yang diperoleh dari
Indonesia.
-Cl RANG KUM AN _
Pajak Penghasilan (PPh) merupakan pajak langsung, yaitu pajak yang
secara langsung dipikul dan dibayar sendiri oleh subjek pajak yang
bersangkutan. Saal ini PPh merupakan jenis pajak yang paling diandalkan
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.15
sebagai penerimaan negara dalam APBN. Hampir separuh dari
penerimaan negara di support dari pajak penghasilan.
Regulasi Pajak Penghasilan merupakan hasil reformasi perpajakan
pada tahun 1983. yang sebelurnnya diatur dalarn beberapa undang-
undang, antara lain pada Ordonansi Pajak Perseroan 1925, Ordonansi
Pajak Pendapatan 1944 dan Undang-Undang Pajak alas Bunga Dividen
dan Royalti 1970.
Sesuai amanat Pasal 23A UUD 1945 yang menyatakan bahwa "Pajak
dan pungutan bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan
undang-undang" maka substansi subjek, objek, dan tarif pajak
penghasilan serta pengecualiannya diatur di dalarn Undang-Undang Pajak
Penghasilan di rnana dalarn perkernbangannya Lelah dilakukan ernpat kali
perubahan. Perubahan tersebut tentunya dalarn rangka menyesuaikan
pengenaan pajak penghasilan dengan perkernbangan dunia bisnis yang
rnelaju cepat.
Jenis subjek pajak penghasilan yang terdiri dari orang pribadi,
warisan yang belum terbagi, badan dan bentuk usaha tetap masing-rnasing
memiliki pengaturan sendiri mengenai objek, tarif, penghasilan yang
dikenakan pajak.
Untuk memperrnudah uraian PPh terdapat contoh mekanisme
perhitungan sederhana untuk dapat dipahami secara comprehensive.
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Tarif PPh terhadap subjek PPh Luar Negeri adalah ....
A. dikenakan tarif progresif
B. dikenakan tarif final 20% berdasarkan ketentuan Pasal 26 UU PPh,
selain bentuk usaha tetap di Indonesia
C. dikenakan tarif 20o/o disarnakan dengan tarif PPh rnasuk bursa
D. sernuanya salah
2) Terhadap subjek pajak PPh Dalarn Negeri ....
A. wajib melaporkan jenis usahanya di Indonesia
B. wajib rnembayar pajak PPh di Indonesia
C. wajib mernpunyai NPWP, menghitung dan rnembayar pajak terutang
dan melaporkan dalam SPT tahunan
D. mernpunyai usaha di Indonesia
5.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3) Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah ....
A. batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak subjek pajak terhadap
PPh Orang Pribadi, berkaitan dengan status keluarga wajib pajak
yang bersangkutan
B. batas penghasilan yang dikenakan pajak bagi subjek pajak PPh Orang
Pribadi, berkaitan dengan status keluarga wajib pajak yang
bersangkutan
C. kriteria penghasilan rnana yang dapat dikenakan pajak penghasilan
D. kriteria khusus pajak yang tidak dikenakan pajak penghasilan
berkenaan dengan sumber penghasilan diperoleh
4) Berapa besar tarif pajak penghasilan terhadap Wajib Pajak Luar Negeri?
A. dikenakan terhadap lapisan Penghasilan Kena Pajak tertenru dengan
tarif, 5o/o, 15%, 25% dan 30%
B. dikenakan tarif 20% final dari penghasilan bruto, kecuali apabila ada
tax treaty
C. tidak dikenakan PPh karena sudah dikenakan di luar negeri
D. dikenakan tarif 25 % sama dengan tarif PPh Badan Dalam Negeri
5) Apakah orang asing yang tinggal untuk sementara waktu di Indonesia
dikenakan Pajak Penghasilan Dalarn Negeri?
A. karena statusnya sebagai orang asing bukan WNI maka tidak
dikenakan Pajak Penghasilan
B. kalau tinggal di Indonesia lebih dari satu tahun akan dikenakan Pajak
Penghasilan
C. diserahkan kepada yang bersangkutan untuk rnemilih di mana akan
membayar Pajak Penghasilan
D. apabila orang tersebut bertempat tinggal atau berada di Indonesia
lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga hari) dalam jangka waktu
12 (dua belas) bulan atau berniat tinggal di Indonesia maka wajib
membayar Pajak Penghasilan di Indonesia
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif I yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x 100%
Jumlah Soal
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.17
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau Jebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar I, terutama bagian yang
belum dikuasai.
5.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 2
Kewajiban Memotong, Memungut Pajak
Penghasilan, serta Mengangsur
dan Memperhitungkan Pajak Penghasilan
Terutang
(h agi orang pribadi atau badan sclain wajib menghitung sendiri, membayar,
'JD dan melaporkan pajak terutang, bagi subjek pajak tertentu undang-undang
perpajakan juga mewajibkan mernotong atau mernungut pajak penghasilan
alas pembayaran yang dilakukannya. Dikatakan memotong PPh kalau
pembayaran dikeluarkan dari uang kas perusahaan sendiri misalnya
pembayaran gaji, upah, dst. Kewajiban rnernungut PPh apabila pembayaran
melalui kas oleh orang atau badan yang ditunjuk undang-undang perpajakan,
misalnya bendaharawan wajib memungut setiap pembayaran uang kas negara
kepada rekanan pemerintah. Kewajiban tersebut diatur dalam UU Pajak
Penghasilan Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, dan Pasal 26.
Selain itu, bagi orang pribadi atau badan wajib mengangsur pajak terutang
setiap bulan yang dihitung dari pajak tertuang tahun sebelumnya dibagi dua
belas angsuran pajak tersebut dengan PPh Pasal 25 dan mernperhitungkan
pajak penghasilan yang dibayar di luar negeri dikenal dengan PPh. Pasal 26.
Dalam kegiatan belajar ini akan dikelornpokkan dalam kewajiban mernotong
dan memungut PPh, serta kewajiban mengangsur PPh dan mernperhirungkan
pembayaran pajak di luar negeri.
A. KEWAJIBAN MEMOTONG DAN/ATAU MEMUNGUT PAJAK
PENGHASILAN
I. PPh Pasal 21
a. PPh Pasal 21 merupakan cara pelunasan PPh dalam tahun berjalan
rnelalui pernotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh wajib pajak orang pribadi dalarn negeri sehubungan dengan
pekerjaan, jasa atau kegiatan;
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.19
b. Pemotongan PPh Pasal 21. dibedakan menurut penerima
penghasilannya antara lain: pegawai, pensiunan, peserta kegiatan, dan
bukan pegawai sebagai berikut:
I) Pegawai, dibedakan:
a) Pegawai tetap adalah pegawai yang menenrna atau
memperoleh penghasilan dalarn jumlah tertentu secara
teratur, termasuk pegawai yang bekerja berdasarkan kontrak
untuk suatu jangka wak:tu tertentu;
b) Pegawai tidak tetap disebut juga tenaga kerja lepas adalah
pegawai yang hanya rnenerirna penghasilan apabila pegawai
yang bersangkutan bekerja berdasarkan jumlah hari bekerja.
2) Penerima pensiun adalah orang pribadi atau ahli warisnya yang
menerirna atau rnemperoleh imbalan untuk pekerjaan yang
dilakukan di masa lalu.
3) Peserta kegiatan adalah orang pribadi yang terlibat dalam suatu
kegiatan tertentu, termasuk mengikuti rapat, sidang, seminar,
lokakarya (,vorkshop), pendidikan, pertunjukan, olah raga atau
kegiatan lainnya dan menerima atau memperoleh imbalan
sehubungan dengan keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut.
4) Bukan pegawai adalah orang pribadi selain pegawai tetap dan
pegawai tidak tetap/tenaga kerja lepas yang memperoleh
penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun dari
pernotong PPh Pasal 21 sebagai irnbalan jasa yang dilakukan
berdasarkan perintah atau permintaan dari pemberi penghasilan.
5) lmbalan bersifat berkesinambungan adalah imbalan kepada
bukan pegawai yang dibayar atau terutang lebih dari satu kali
dalam satu tahun kalender sehubungan dengan pekerjaan, jasa
atau kegiatan.
c. Pemotongan PPh Pasal 21 adalah atas penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan dengan nama dan dalam bentuk
apa pun yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi dalam
negeri wajib dilakukan oleh:
I) pemberi kerja yang membayar gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pernbayaran lain sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai atau bukan
pegawai;
5.2Q HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) bendahara pemerintah yang membayar gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran Jain sehubungan dengan pekerjaan
jasa, atau kegiatan;
3) dana pensiun atau badan lain membayarkan uang pensiun dan
pembayaran lain dengan nama apa pun dalam rangka pensiun;
4) badan yang membayar honorarium atau pembayaran Jain sebagai
imbalan sehubungan dengan jasa termasuk jasa tenaga ahLi yang
melakukan pekerjaan bebas; dan
5) penyelenggara kegiatan yang melakukan pembayaran
sehubungan dengan pelaksanaan suatu kegiatan.
Besarnya tarif adalah tarif progresif untuk PPh Orang Pribadi, kecuali
ditetapkan lain oleh Peraturan Pemerintah.
d. PPh Pasal 21 terhadap penghasilan pegawai tetap atau pensrunan
setiap bulannya dipotong pajak adalah jurnlah penghasilan bruto
dikurangi:
I) Biayajabatan 5o/o (lima persen); dan
2) Penghasilan Tidak Kena Pajak
e. Bagi Wajib PPh Orang Pribadi yang dipotong PPh Pasal 21, dapat
mengkreditkan potongan pajaknya dalam Japoran surat
pemberitahuan tahunan yang bersangkutan (SPT PPh);
f. PPh Pasal 21 terhadap pegawai harian, mingguan, serta pegawai tidak
tetap Jainnya dipotong pajak adalah jumlah penghasilan bruto
dikurangi penghasilan yang tidak dikenakan pemotongan yang
besamya ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan.
2. PPh. Pasal 22
a. PPh Pasal 22 merupakan cara pelunasan pembayaran pajak dalam
tahun berjalan oleh wajib pajak atas penghasilan sehubungan dengan:
I) impor barang/jasa;
2) pembelian barang dengan menggunakan APBN/APBD;
3) pembelian barang dengan menggunakan non APBN/APBD; dan
4) penjualan barang sangat mewah.
b. Berikut daftar pernungut dan objek PPh. Pasal 22
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.21
No. Pemunaut PPh. Pasal 22 Obiek Pemunautan
1. Bank Devisa/Ditjen Bea dan 1. lmpor barang; dan
Cukai 2. Ekspor komoditas tambang
batubara, mineral logam, dan
mineral bukan logam yang
dilakukan eksportir, kecuali
yang dilakukan oleh wajib
pajak yang terikat dalam
perjanjian kerja sama
pengusahaan pertambangan
dan kontrak karva
2. Bendahara pemerintah dan Pembayaran alas pembelian
Kuasa Pengguna Anggaran barang
(KPA\
3. Bendahara pengeluaran Pembayaran atas pembelian
barang yang dilakukan dengan
mekanisme uan oersediaan (UP)
4. Kuasa Pengguna Anggaran Pembayaran alas pembelian
(KPA) atau pejabat penerbit Surat barang kepada pihak ketiga yang
Perintah Membayar yang diberi dilakukan dengan mekanisme
deleoasi oleh KPA oernbavaran lancsun ILS\
5. Badan usaha tertentu, meliputi : Pembayaran alas pembelian
a. BUMN, yaitu badan usaha barang dan/atau bahan-bahan
yang seluruh atau sebagian untuk kepertuan kegiatan
besar modalnya dimiliki oleh usahanya.
negara melalui penyertaan
secara langsung yang berasal
dari kekayaan negara yang
dipisahkan;
b. Badan usaha dan BUMN
yang merupakan hasil dari
strukturisasi yang dilakukan
pemerintah kepada BUMN;
c. Badan usaha tertentu yang
dimiliki secara langsung oleh
BUMN, meliputi: PT Pupuk
Sriwijaya, PT Petrokimia, PT
Pupuk Kijang, PT Pupuk
lskandar Muda, dst.
5.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
No. Pemun ut PPh. Pasal 22 Obiek Pemun utan
6. Sadan usaha yang bergerak Penjualan hasil produksinya
dalam bidang usaha industri kepada distributor di dalam negeri
semen, lndustri kertas, industri
baja, industri otomotif, dan
industri farmasi
7. Agen Tunggal Pemegang Merek Penjualan kendaraan bermotor di
(ATPM), Agen Pemegang Merek dalam negeri
(APM), dan importir umum
kendaraan bermotor
8. Produsen atau importir bahan Penjualan bahan bakar minyak
bakar minyak, bahan bakar gas, bahan bakar gas dan pelumas
dan oelurnas
9. Sadan usaha yang melakukan Penjualan emas batangan di
penlualan emas batan an dalam necen
10. lndustri dan eksportir yang Pembelian bahan untuk keperluan
bergerak dalam sektor industri atau ekspor mereka ;
kehutanan, perkebunan,
pertanian, peternakan dan
perikanan yang belum melalui
proses industri, untuk keperluan
industri atau eksoomva.
11. Sadan Usaha yang melakukan Pembelian komoditas tambang
pembelian komoditas tambang batubara, mineral logam, dan
batubara, mineral logam dan mineral bukan logam dari badan
mineral bukan logam atau orang pribadi pemegang izin
usaha oertambanaan
c. Yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 sebagairnana diatur
dalam Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan Nomor
34/PM K.0I0/2017, yaitu:
I) Diberikan dengan Surat Keterangan Bebas:
a) Impor barang dan/atau penyerahan barang yang berdasarkan
ketentuan perundang-undangan tidak terutang PPh;
b) Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk
dan/atau Pajak Pertambahan Nilai.
2) Impor sementara jika pada waktu impornya nyata-nyata
dirnaksudkan untuk diekspor kernbali.
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.23
3) lmpor kernbali treimpor) yang meliputi barang-barang yang
telah diekspor, kernudian diimpor kernbali dalam kualitas yang
sama atau barang-barang yang telah diekspor untuk keperluan
perbaikan, pengerjaan, dan pengujian yang telah mernenuhi
syarat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
4) Pembayaran yang dilakukan oleh pemungut pajak berkenaan
dengan:
a) Pernbelian barang oleh bendahara pemerintah yang
jumlahnya paling banyak Rp2.000.000,00 dan tidak
merupakan pembayaran yang terpecah-pecah;
b) Pembelian barang oleh BUMN tertentu yang jurnlahnya
paling ban yak Rp I 0.000.000,00 dan tidak merupakan
pembayaran yang terpecah-pecah;
c) Pernbayaran bahan bakar minyak, bahan bakar gas, pelurnas,
benda-benda pos serta pembayaran untuk air dan listrik;
d) Pembayaran untuk pembelian minyak bumi, gas bumi,
dan/atau produk sampingan dan kegiatan usaha hulu di
bidang minyak dan gas bumi yang dihasilkan di Indonesia
dari:
• kontraktor yang melakukan eksporasi dan eksploitasi
berdasarkan kontrak kerja sarna;
• kantor pusat kontraktor yang melakukan eksplorasi dan
eksploitasi berdasarkan kontrak kerja sama;
• trading arms kontraktor yang melakukan eksplorasi
dan eksploitasi berdasarkan kontrak kerja sama.
e) Pembayaran untuk pembelian panas bumi atau listrik hasil
pengusahaan panas burni dari wajib pajak yang menjalankan
usaha di bidang usaha panas bumi berdasarkan kontrak kerja
sama pengusahaan surnber daya panas bumi;
I) Pembelian bahan-bahan berupa hasil kehutanan,
perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan yang
belum melalui proses industri manufaktur untuk keperluan
industri atau ekspor oleh badan usaha industri atau eksportir
yang jumlahnya paling banyak Rp20 juta rupiah tidak
termasuk PPN dalam satu rnasa pajak;
g) Pembelian batubara mineral Iogam dan mineral bukan
logam dari badan atau orang pribadi pemegang izin usaha
5.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
perdagangan yang telah dipungut PPh Pasal 22 atas
pembelian barang dan/atau bahan-bahan untuk keperluan
kegiatan usaha oleh badan usaha tertentu;
h) Impor emas batangan yang akan diproses untuk
menghasilkan perhiasan dari emas untuk tujuan ekspor;
i) Pernbayaran untuk pernbelian barang sehubungan dengan
penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS);
j) Penjualan kendaraan bermotor di dalam negeri yang
dilakukan oleh industri otomotif, Agen Tunggal Pemegang
Merek (ATPM), Agen Pemegang Merek (APM), dan
importir umum kendaraan bermotor, yang telah dikenai
pemungutan Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Pasal
22 ayat (I) VU Pajak Penghasilan.
k) Penjualan ernas batangan oleh badan usaha yang melakukan
penjualan emas batangan kepada Bank Indonesia;
I) Pcmbelian gabah dan /atau beras oleh bendahara pemerintah
atau Perum Bulog;
m) Pernbelian bahan pangan pokok dalam rangka menjaga
ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan oleh
Perun, Bulog atau BUMN Jainnya yang rnendapatkan
penugasan sesuai peraturan perundang-undangan.
d. Tarif PPh Pasal 22
Tarif PPh Pasal 22 bervariasi dari paling rendah 0, I o/o, hingga paling
tinggi I Oo/o sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 34/ PMK.O I 0/2017 tanggal I Maret 2017.
3. PPh Pasal 23
a. PPh Pasal 23 merupakan cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan
melalui pemotongan pajak, antara Jain atas penghasilan berupa
dividen royal ti, jasa manajernen, jasa teknik, dan jasa-jasa Jainnya;
b. Pernotongan PPh Pasal 23 dikenakan dari jumlah bruto dengan tarif
sebagai berikut:
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.25
No. Jenis Pen hasilan Tari!
1. Dividen
2. Bunga, termasuk premium, diskonto dan imbalan karena
iaminan oen embalian utan 15°/,
3. Ravalli
4. Hadiah, penghargaan, bonus selain yang telah dipotong
PPh. Pasal 21
5. Sewa dan penghasilan sehubungan dengan 2°/o
oen unaan harta
6. Jasa teknik jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa 2°10
konsultan
7. Jasa Lainnya sebagaimana diatur dalam PMK 2°10
No.141/PMK.03/2015
c. Jenis Penghasilan yang dikecualikan pernotongan PPh Pasal 23:
I) Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;
2) Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa
guna usaha dengan hak opsi;
3) Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas
jasa keuangan yang berfungsi sebagai penyalur pinjarnan
dan/atau pernbiayaan;
4) Dividen yang diterima perseroan terbatas sebagai wajib pajak
dalarn negeri, koperasi, BUMN, atau BUMN dari penyertaan
modal pada badan usaha yang didirikan dan berternpat
kedudukan di Indonesia dengan syarat:
a) Dividen berasal dari cadangan laba ditahan, dan
b) Bagi perseroan terbatas, BUMN, dan BUMD yang
menerima dividen, kepernilikan saharn pada badan yang
rnernberikan dividen paling rendah 25o/o dari jumlah modal
disetor.
5) Dividen yang diterima oleh wajib pajak orang pribadi dalam
negen;
6) Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada
anggotanya;
7) Bagian laba yang diterima anggota dari perseroan kornanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan,
perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit
penyertaan kontrak investasi kolektif.
5.26 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
4. PPh Pasal 26
a. PPh Pasal 26 merupakan cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan
melalui pemotongan pajak atas penghasilan wajib pajak luar negeri
dari Indonesia berupa:
I) dividen;
2) bunga terrnasuk premium, diskonto dan irnbalan sehubungan
dengan jaminan pengembalian utang;
3) royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan dengan
penggunaan harta;
4) irnbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan kegiatan;
5) hadiah dan penghargaan:
6) pensiun dan pernbayaran berkala lainnya;
7) prerni swap dan transaksi lindung nilai lainnya; dan/atau
8) keuntungan karena pernbebasan utang, yang diterima wajib pajak
luar negeri selain bentuk usaha tetap;
9) penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di Indonesia;
I 0) premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar
negen;
I I) penghasilan dari penjualan atau penghasilan saharn.
a. T art"f· oernotoncan d an d a ftar oenzenaan PPh P asa 116
_ ad a I ah :
Tarif Dasar Pen enaan Pa iak Jenis Pen hasilan
20o/o Penghasilan Bruto Butir a angka I s.d.
8
20% [Link] Penghasilan Butir a angka 9 s.d.
Neto II
b. Apabila terdapat persetujuan Penghindaran Berganda (P3B) atau
tax treaty antara Pernerintah Indonesia dengan negara mitra
maka pengenaan PPh Pasal 26 rnengacu pada ketentuan yang
terdapat dalarn P3 B tersebut.
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.27
B. KEWAJIBAN MENGANGSUR PAJAK PENGHASILAN
DAN MEMPERHITUNGKAN PAJAK YANG DIBAYAR
DI LUAR NEGERI
I. PPh Pasal 25
a. Wajib pajak diwajibkan mengangsur pajak terutang setiap bulan
dalarn tahun pajak berjalan adalah sebesar pajak penghasilan yang
terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
tahun lalu setelah dikurangi PPh Pasal 21, 22, 23, 24 dibagi 12 (dua
belas) atau banyaknya bulan dalarn bagian tahun pajak;
b. Apabila pajak penghasilan yang terutang menurut Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan tahun pajak yang lalu
lebih kecil daripada jumlah pajak penghasilan yang telah dibayar,
dipotong dan/atau dipungut selama tahun pajak yang bersangkutan
maka besarnya angsuran pajak untuk setiap bulannya sarna dengan
angsuran pajak untuk bulan terakhir dari tahun pajak sampai
dikeluarkannya keputusan Direktur Jenderal Pajak dan untuk bulan
berikutnya angsuran pajak dihitung berdasarkan jumlah pajak yang
terutang menurut keputusan tersebut;
c. Direktur Jenderal Pajak berwenang untuk menetapkan penghitungan
besarnya angsuran pajak dalam tahun pajak berjalan dalam hal-hal
tertentu, apabila:
• Wajib pajak berhak atas kompensasi kerugian;
• Wajib pajak rnernperoleh penghasilan tidak teratur;
• Surat Pemberi Tahunan Pajak Penghasilan tahun lalu
disampaikan setelah lewat waktu yang ditentukan;
• Wajib pajak diberikan perpanjanganjangka waktu penyampaian
Surat Pernberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan;
• Wajib pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan yang mengakibatkan angsuran bulanan lebih
besar daripada angsuran bulanan sebelum pembetulan;
• Terjadi perubahan keadaan usaha atau kegiatan wajib pajak.
2. Pasal 24 UU PPh
a. Penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan wajib pajak dalam
negeri, baik wajib pajak orang pribadi maupun badan adalah seluruh
penghasilan yang diterima atau diperoleh dari dalam negeri rnaupun
dari luar negeri;
5.28 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
b. Apabila penghasilan dari luar negeri tersebut telah dikenakan pajak
rnaka atas penghasilan dari Juar negeri yang diterirna atau diperoleh
Wajib Pajak Dalam Negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang
terutang berdasarkan undang-undang dalam tahun pajak yang sama;
c. Besarnya kredit pajak penghasilan dari luar negeri tersebut tidak
boleh melebihi penghitungan pajak yang terutang berdasarkan
undang-undang pajak penghasilan.
3. Contoh Perhitungan Pajak
PT Bahtera yang berusaha dibidang konstruksi pada tahun 2015
mernperoleh penghasilan bruto dalam negeri Rp7.000.720.000,00 penghasilan
mengerjakan konstruksi di luar negeri (Thailand) sebesar Rp5.000.000.000,00
dalam usahanya tersebut telah mengeluarkan biaya langsung untuk
,nemperoleh penghasilan tersebut sebesar Rp5.560.220.000,00 dan membayar
gaji pegawai perusahaan sebesar Rpl.440.500.000,00. Sementara itu,
perusahaan telah dipotong pajak penghasilan oleh bendaharawan Kementerian
Tenaga Kerja atas pembayaran sebagai rekanan Rp 750.000,00, dipotong PPh
sebesar Rp2.250.000,00 karena mernperoleh bunga pinjaman dari partner
perusahaan. Karena juga mengerjakan proyek di Thailand keuntungannya
dikenakan pajak sebesar Rp5.500.000,00. Selama Tahun 20 l 5 telah
mengangsur pajaknya sebesar Rp7.500.000,00.
Perhitungan Pajak Penghasilan Badan PT Bahtera
Penghasilan bruto dalam negeri Rp [Link],00
Penghasilan bruto luar negeri Rp [Link],00
Jumlah Penghasilan Bruto Rp 12.000. 720.000,00
Biaya perusahaan Rp [Link],00
Gaj i pegawai Rp [Link],00 Rp [Link],00
Penghasilan Kena Pajak RpS.000.000.000,00
Pajak Terutang 25% x Rp.[Link],00 = Rp [Link],00
Kredit pajak
PPh Pasal 22 Rp 750.000,00
PPh Pasal 23 Rp 2.250.000,00
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.29
PPh Pasal 24 Rp 5.500.000,00
PPh Pasal 25 Rp 7.500.000,00 - Rp [Link]
PPh Kurang Bayar Rp [Link],00
�,
- - �
····-
LATIHAN
Untuk rnernperdalarn pemahaman Anda mengenai rnaten di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Siapa yang diberikan kewajiban untuk memotong pajak penghasilan Pasal
21?
2) Apabila seseorang yang bertempat tinggal di Indonesia mempunyai
penghasilan dan dikenakan pajak luar negeri, apakah atas penghasilan di
luar negeri tersebut tetap dikenakan pajak penghasilan di Indonesia?
3) Jelaskan apakah wajib pajak PPh wajib mengangsur pajak terutangnya?
Dan bagaimana cara menghitungnya?
4) Apakah terdapat kewajiban mernotong pajak penghasilan terhadap
pernbayaran kepada wajib pajak luar negeri yang berternpat tinggal dan
telah membayar pajaknya di sana?
5) Apakah terhadap penghasilan yang Anda peroleh telah dipotong oleh
pihak lain, yaitu PPh Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24 dapat
dikreditkan dalam SPT tahunan Saudara?
Petunjuk Jawaban. Latihan
I) Yang rnempunyai kewajiban mernotong PPh Pasal 21 adalah pemberi
kerja.
2) Seseorang yang bertempat tinggal di Indonesia yang mempunyai
penghasilan dan dikenakan pajak di luar negeri tetap dikenakan PPh di
Indonesia dan pajak yang dikenakan di luar negeri sebagai kredit pajak.
3) Wajib pajak PPh diwajibkan mengangsur pajak terutang setiap bulan
dalam tahun pajak berjalan menurut surat pemberitahuan pajak
penghasilan tahun lalu setelah dikurangi PPh Pasal 21, 22, 23, dan 24
dibagi 12 atau banyaknya bulan dalam tahun pajak sebagaimana diuraikan
dalam KB 2 huruf B angka I.
4) Terhadap wajib pajak luar negeri yang bertempat tinggal dan telah
rnernbayar pajaknya di sana tetap wajib dipotong pajak penghasilannya
sesuai Pasal 26 UU PPh.
5.30 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
5) Terhadap pernotongan PPh oleh pihak lain, yaitu PPh Pasal 21, 22, 23, dan
24 UU PPh dapat dikreditkan dalam SPT tahunan.
D RANG Ku MAN. _
Sebagaimana kira ketahui sistem perpajakan yang berlaku di
Indonesia menganut asas self assesment, yaitu kepada wajib pajak
diberikan kepercayaan penuh untuk rnenghitung, mernperhitungkan
sendiri, mernbayar, dan melapor pajak terutang melalui mekanisrne
laporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT).
Yang menjadi objek pajak penghasilan adalah penghasilan, yaitu
setiap tambahan kemampuan ekonornis yang diterima atau diperoleh
wajib pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia.
Dengan demikian, yang dikenakan pajak penghasilan tidak sekedar
penghasilan yang diperoleh di dalam negeri saja, tetapi juga penghasilan
yang diperoleh dari luar negeri. Namun demikian, apabila penghasilan di
luar negeri tersebut sudah dikenakan pajak maka pajak tersebut dapat
diperhitungkan sebagai kredit pajak di dalam perhitungan SPT wajib pajak
tersebut sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 24 UU Pajak Penghasilan.
Selain itu, apabila terdapat pajak penghasilan lain yang sudah
dipotong oleh pihak lain yang memberikan penghasilan juga dapat
dikreditkan, seperti pemotongan oleh bendaharawan pemerintah (PPh
Pasal 22), bunga pinjarnan PPh Pasal 23 atau mernperoleh potongan
gaji/honorarium (Pasal 21 UU PPh).
Peraturan perundang-undangan perpajakan mewajibkan wajib pajak
untuk rnengangsur PPh yang akan terutang dalam tahun berjalan setiap
bulan sebesar pajak penghasilan terutang menurut Surat Pemberitahuan
Tahunan (SPT) tahun pajak yang lalu dikurangi PPh Pasal 21, 22, 23, dan
Pasal 24. Angsuran pajak tersebut disebut dengan PPh Pasal 25.
�I
TES FORM AT IF Z�---------------
Pilihlah satujawaban yang paling tepat!
I) Apabila perusahaan Saudara mempunyai karyawan, atas gaji yang
diberikan akan dipotong pajak ....
A. PPh Pasal 22
B. PPh Pasal 21
C. PPh Pasal 23
D. PPh Pasal 24
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.31
2) Bagi wajib pajak PPh dalam negeri yang mempunyai penghasilan lain di
luar negeri ....
A. tidak dikenakan pajak penghasilan di Indonesia karena tentunya
sudah dikenakan pajak di luar negeri
8. tidak dikenakan pajak di Indonesia karena pajak penghasilan hanya
dikenakan terhadap penghasilan yang diperoleh di dalam negeri saja
C. bergantung perjanjian bilateral antara Indonesia dengan negara mitra
yang mempunyai penghasilan tersebut
D. penghasilan dikenakan PPh baik yang berasal dari dalam negeri
maupun luar negeri
3) Apakah wisatawan asing yang tidak berdomisili di Indonesia yang
rnemperoleh penghasilan sebagai pemandu wisata dapat dikenakan pajak
penghasilan di Indonesia?
A. tidak dikenakan karena dia tidak tinggal di Indonesia
8. dikenakan PPh Pasal 26 yang bersifat final sebagai wajib pajak luar
negen
C. tidak dikenakan PPh kecuali orang tersebut adalah mempunyai
keturunan dari Indonesia
D. sernuanya salah
4) Apakah wajib pajak berkewajiban untuk mengangsur pajak terutang setiap
bulannya?
A. tidak wajib karena ketentuan perpajakan kita menganut sistern self
assesment
8. tidak wajib karena pajak terutang baru diketahui pada akhir tahun
pajak
C. wajib mengangsur sepanjang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak
D. wajib pajak diwajibkan rnengangsur pajak terutang setiap bulan
dalarn tahun pajak berjalan sesuai ketenruan PPh Pasal 25
5) Dalam hal wajib pajak tidak melakukan angsuran PPh Pasal 25, apakah
wajib pajak tersebut akan dikenakan sanksi?
A. wajib pajak akan diterbitkan sanksi berupa Surat Tagihan Pajak (STP)
8. tidak dikenakan sanksi karena sistem perpajakan di Indonesia
,nenganut self assesment
C. bergantung kebijakan dari kantor pelayanan pajak setempat
D. tidak dikenakan pajak karena pada hakikatnya kewajiban pajak akan
di hi tung pada akhir tahun pajak rnelalui surat pemberitahuan tahunan
5.32 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rurnus berikut untuk rnengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = ----------- x I OOo/o
Jumlah Saal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila rnencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
rneneruskan dengan rnodul selanjutnya. Bagus! Jika rnasih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.33
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
l) B. Dikenakan tarif final 20% berdasarkan ketentuan Pasal 26 UU PPh,
selain bentuk usaha tetap di Indonesia.
Terhadap wajib pajak luar negeri, orang pribadi maupun badan selain
bentuk usaha tetap di Indonesia berdasarkan ketentuan Pasal 26 UU
PPh dikenakan tarif final 20%.
2) C. Wajib mempunyai NPWP, menghirung, dan membayar pajak
terutang dan melaporkannya dalarn SPT tahunan.
Sesuai dengan sistern perpajakan di Indonesia self assessment kepada
wajib pajak dalam negeri, berkewajiban memiliki NPWP,
menghitung, membayar, dan melapor pajak terutang melalui
mekanisrne laporan Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) tahunan.
3) A. Adalah batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak subjek pajak
terhadap PPh Orang Pribadi, berkaitan dengan status keluarga wajib
pajak yang bersangkutan.
Berdasarkan Pasal 7 ayat (I) UU PPh, penghasilan tidak kena pajak
adalah batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak penghasilan
terhadap subjek pajak orang pribadi dalam negeri, yang besarnya
ditetapkan oleh undang-undang dan selanjutnya dengan Peraturan
Menteri Keuangan setelah dikonsultasikan dengan Dewan
Perwakilan Rakyat.
4) B. Dikenakan tarif20o/o final dari penghasilan bruto, kecuali apabila ada
tax treaty.
Tarif pajak wajib pajak luar negeri yang berpenghasilan di Indonesia
berdasarkan Pasal 26 UU PPh dikenakan tarif 20% final dari jumlah
penghasilan bruto yang diterimanya, kecuali atas dasar perjanjian
bilateral (tax treaty) dikenakan sesuai perjanjian.
5) D. Apabila orang tersebut bertempat tinggal atau berada di Indonesia
lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga hari) dalam jangka waktu
l 2 (dua belas) bulan atau berniat tinggal di Indonesia maka wajib
membayar Pajak Penghasilan di Indonesia.
Pada dasarnya, orang asing akan dikenakan pajak penghasilan di
Indonesia sebagai wajib pajak dalam negeri, apabila bertempat
tinggal atau berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh
tiga hari) dalarn jangka waktu 12 (dua be las) bu Ian atau berniat tinggal
di Indonesia.
5.34 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Tes Formatif 2
I) B. PPh Pasal 21.
Terhadap gaji karyawan di atas penghasilan tidak kena pajak wajib
dipotong oleh pemberi kerja atas dasar kewajiban PPh Pasal 21.
2) D. Penghasilan dikenakan PPh baik yang berasal dari dalam negeri
maupun luar negeri.
Berdasarkan Pasal 4 ayat (I) UU PPh yang menjadi objek pajak
adaJah penghasilan, yaitu setiap tambahan kernampuan ekonomis
yang diterima atau diperoleh wajib pajak baik yang berasal dari
Indonesia maupun di luar Indonesia.
3) B. Dikenakan PPh Pasal 26 yang bersifat final sebagai wajib pajak Juar
negeri terhadap wajib pajak luar negeri yang rnemperoleh penghasilan
dari Indonesia berdasarkan ketentuan UU PPh Pasal 26 dikenakan
pajak PPh dengan tarif final 20o/o (dua puluh persen) sesuai ketentuan
PPh Pasal 26.
4) D. Wajib pajak diwajibkan mengangsur pajak terutang setiap bulan
dalarn tahun pajak berjalan sesuai ketentuan PPh Pasal 25.
Ketentuan UU PPh Pasal 25 ,newajibkan kepada wajib pajak untuk
,nengangsur pajak terutang setiap bulan dalam tahun pajak berjalan
sebesar pajak penghasilan yang terutang menurut surat
pernberitahuan tahunan pajak penghasilan tahun lalu setelah
dikurangi PPh Pasal 21, Pasal 22. Pasal 23, Pasal 24 dibagi 12 (dua
belas) atau banyaknya bulan dalam bagian tahun pajak.
5) A. Wajib pajak akan diterbitkan sanksi berupa Surat Tagihan Pajak
(STP).
Mengangsur pajak merupakan kewajiban sebagaimana dinyatakan
dalam UU PPh Pasal 25, dan apabila diketahui tidak melakukan
angsuran maka akan diterbitkan Surat Tagihan Pajak (STP).
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.35
Glosarium
Kredit Pajak jerus pajak penghasilan yang dapat dijadikan
pengurang pajak terutang, yaitu meliputi
potongan/pungutan PPh Pasal 2 I, 22, 23, 24, dan
PPh Pasal 25.
MPO singkatan dari Menghitung Pajak Orang Jain, yaitu
kewajiban rnernungut pajak terhadap transaksi
tertentu. Pungutan MPO tersebut merupakan
kredit pajak yang akan diperhitungkan dengan
pajak terutang bagi yang dipungut.
MPS singkatan dari Menghitung Pajak Sendiri, yaitu
menghitung sendiri besarnya pajak terutang.
Sistern MPO dan MPS berlaku sebelum reforrnasi
perpajakan self assessment.
Pajak Jangsung pajak yang dipikul dan dibayar oleh wajib pajak
bersangkutan.
Pajak
tidak langsung pajak yang dipikul oleh konsumen/pembeli, tetapi
menjadi tanggung jawab penjual sebagai wajib
pajak.
Penghasilan Kena besarnya penghasilan yang dikenakan tarif pajak.
Pajak
Penghasilan Tidak penghasilan yang tidak dikenakan pajak
Kena Pajak berdasarkan status wajib pajak orang pribadi yang
(PTKP) setiap tahun berubah berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan, berdasarkan PMK Nomor
I/PMK.010/2016 besaran PTKP terhitung tahun
2016 sebagai berikut:
a. Rp54.000.000,00 untuk wajib pajak orang
pribadi;
b. Rp4.500.000,00 tambahan untuk wajib pajak
status kawin;
c. Rp54.000.000,00 tambahan istri yang
penghasilannya digabung dengan suami;
5.36 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
d. Rp4.500.000.00 tambahan untuk setiap
anggota keluarga sedarah/sernenda dalam
keturunan garis lurus, serta anak angkat yang
menjadi tanggungan sepenuhnya, maksimum
3 orang untuk setiap anggota keluarga.
Tarif pajak final tarif pajak yang dikenakan sekali saja setiap
transaksi dan tidak dapat diperhitungkan terhadap
transaksi selanjutnya, diatur dalam Pasal 4 ayat (2)
UU PPh.
Tarif pajak Iinier besarnya tarif pajak yang sama berapa pun
besarnya jumlah penghasilan yang dikenakan
pajak.
Tarif pajak besarnya tarif pajak menaik secara bertahap sesuai
progresif ketentuan batasan besarnya penghasilan yang
dikenakan pajak, dikenal dalarn ketentuan tarif
pajak PPh Orang Pribadi.
Tax Treaty perjanjian bilateral Indonesia dengan negara lain
mengenai ketentuan perpajakan. dikenal dengan
Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (P3B).
• HKUM4407/MCJDUL 5 5.37
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. 1998. fl,1111 Huk11111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Pand11a11 Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
Djafar, Saidi Muhammad. 2007. Perlindungan Huk11111 Wajib Pajak dalam.
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah". Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. l; Ed.3. Jakarta: Uni versitas Terbuka.
---�· 2009. Huk11111 Pajak. Edisi Perta,na, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Hukum, Masyarakat, dan Pembangunan
Huk11111 Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Huku111 (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum UII.
Nick Devas, dkk. 1989. Keuangan Penterintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
UI Press.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentralizaion in
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
5.38 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Sarundayang. 2011. Art1s Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor.
Soriaatmadja, Arifin P. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Ht1kt1111 Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia,
Zuraida, Ida. 20 I I. Penagihan Pajak Pusat don Pajak Dae rah. Bogor: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No.7 Tahun 1983 sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. IO Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengau UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai UU No. 11 Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL 6
Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah (PPN a PPnBM)
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
� 1 PEND AH UL U AN _
rt) eranan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah
:Jr (PPN dan PPnBM) terhadap penerimaan negara dalarn APBN walaupun
rnasih di bawah penerimaan Pajak Penghasilan (PPh), namun tetap rnenjadi
andalan. Sebagai gambaran realisasi penerimaan PPN dan PPnBM sebagai
berikut:
Tabet 6.1
Realisasi Penerimaan Dalam Negeri Tahun 2010-2015
(dalam Triliun Rupiah)
No. Tahun PPh PPN & PPn BM 'I,
1 2 3 4 (3:2)
1. 2010 357,0 230,6 64°/,
2. 2011 431, 1 277,8 64°/,
3. 2012 465,0 337,5 72'/,
4. 2013 538,7 423,7 78°/,
5. 2014 569,8 475,6 83'/,
6. 2015 680,7 576,4 84°/,
. .
Sumber: Kementenan Keuangan, Realtsast Penenmaan Dalam Negen 2010-2015
Dari tabel di atas, dari tahun ke tahun peranan PPN dan PPnBM terhadap
penerimaan PPh menunjukkan kenaikan dan mendekati penerimaan dari PPh.
PPN yang ditetapkan dengan UU Nomor 8 Tahun 1983 merupakan
pengganti dari UU Pajak Penjualan (PPn), di mana sebelurnnya setiap
penjualan barang hasil produksi atau pabrikasi dikenakan PPn, hingga
setiap mata rantai penjualan akan dikenakan PPn secara berulang-ulang. Hal
6.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
tersebut dianggap tidak sesuai dengan rasa keadilan karena terhadap objek
pajak yang sarna akan dikenakan pajak secara berulang Jebih dari satu kali.
Regulasi PPn yang berlaku saat itu adalah UU Darurat Nornor I 9 Tahun
I 95 I tentang Pemungutan Pajak Penjualan yang kemudian ditetapkan sebagai
undang-undang berdasarkan UU Nomor 35 Tahun I 953. Perkembangan
selanjutnya, dengan dilandasi pertimbangan yang seksama tentang
kemampuan rakyat, rasa keadilan, dan kebutuhan pembangunan serta untuk
mendorong dan meningkatkan daya saing kornoditi ekspor nonminyak di
pasaran Juar negeri, dengan dukungan kondisi dan kernampuan aparat
perpajakan yang terus berkembang maka dilakukan perubahan regulasi Pajak
Penjualan (UU PPn) menjadi Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah (UU PPN dan PPnBM).
Dalam sistern pungutan PPN yang berlaku sekarang sebagai pengganti
ketentuan PPn, setiap transaksi penyerahan barang hanya dikenakan dari nilai
pertambahannya saja, hingga dirasakan Jebih adil. Namun, untuk itu
diperlukan pengawasan dan administrasi yang lebih akurat karena dalam
sistem PPN dilakukan mekanisrne perhitungan pengenaan PPN sebelumnya
sebagai pajak masukan (kredit pajak) terhadap penyerahan berikutnya sebagai
pajak keluaran yang akan diuraikan secara rinci.
Dalam perkembangannya, UU PPN dan PPnBM yang ditetapkan dengan
UU Nomor 8 Tahun 1983 dan mulai berlaku pada I Juli 1984 tel ah rnengalami
3 (tiga) kali perubahan, sebagai berikut:
I. UU Nomor 8 Tahun I 993 tentang PPN dan PPnBM;
2. UU Nomor I I Tahun I 994 sebagai perubahan perta,na;
3. UU Nomor I 8 Tahun 2000 sebagai perubahan kedua;
4. UU Nomor 42 Tahun 2009 sebagai perubahan ketiga.
Perubahan tersebut dilakukan antara Jain dalam rangka untuk
meningkatkan kepastian hukum dan keadilan bagi pengenaan PPN,
perkembangan transaksi bisnis, serta pola transaksi baru yang perlu ditegaskan
Jebih Janjut dalam pengenaan PPN. Selain itu, perubahan dilakukan dalam
rangka penyederhanaan sistem PPN, pengawasan kepatuhan wajib pajak, serta
mengurangi distorsi dalam peningkatan kegiatan ekonomi.
Di dalam perubahan regulasi tersebut, terdapat pengaturan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang merupakan ikutan dari pungutan
PPN. Berbeda dengan aturan PPN, pungutan PPnBM dikenakan hanya sekali
saja, yaitu pada saat dilakukan penyerahan pertama dan penyerahan
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.3
selanjutnya tidak dikenakan lagi PPnBM. Lebih lanjut, akan diuraikan dalam
Modul 6 ini ,nengenai pengaturan PPnBM yang ditetapkan dalarn satu undang-
undang, yaitu UU PPN dan PPnBM.
Untuk itu, dalam Modul 6 ini akan diklasifikasikan dalam dua kelompok,
yaitu Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
6.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 1
Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
rt» erbeda dengan Pajak Penghasilan (PPh) sebagai pajak langsung di mana
'f) pajak dikenakan terhadap orang atau badan yang sekaligus menanggung
dan membayar pajak tersebut. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan
pajak tidak langsung, yaitu orang atau badan (sebagai Pengusaha Kena Pajak)
harus menanggung kewajiban mernungut pajak. Dengan demikian, dalam
PPN, sebenarnya yang rnembayar dan rnernikul pajak adalah
konsumen/pembeli, tetapi yang bertanggung jawab terhadap pajak adalah
Pengusaha Kena Pajak sebagai destinataris.
Dalam mekanisme perhitungan PPN, kewajiban pengusaha yang
mernungut pajak dari pembeli akan memperhitungkan dengan PPN yang telah
dipungut oleh penjual sebelumnya sebagai pajak masukan (kredit pajak) ketika
pengusaha itu mernbeli barang yang bersangkutan. Oleh karena itu, sebenarnya
yang dikenakan pajak adalah pertambahan nilainya saja sesuai dengan
nomenklatur pajak, yaitu Pajak Pertambahan Nilai.
Sebagai contoh, ketika Anda selaku pedagang komputer membeli
komputer dari pusat grosir komputer X maka pusat grosir akan mernungut PPN
I 0% dari harga jual. Selanjutnya, ketika komputer tersebut oleh Anda dijual
kepada pembeli Z maka Anda wajib memungut PPN I 0% dari harga jual
kepada Z, namun kewajiban Anda tersebut dengan memperhitungkan PPN
yang telah dipungut oleh pusat grosir sebagai pajak masukan (kredit pajak).
Dengan demikian, sebenarnya PPN terscbut yang membayar adalah
konsumen, sedangkan yang rnernikul kewajiban adalah penjual dengan
memperhitungkan PPN yang telah dipungut ketika ia membeli. Dengan kata
Jain, kewajiban PPN hanya pertambahan nilainya saja karena diperhitungkan
dengan PPN yang telah dipungut sebelumnya.
A. SUBJEK PAJAK
Subjek PPN diatur dalam Pasal 4 UU PPN adalah pengusaha yang
melakukan:
I. Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak di dalam daerah
pabean yang dilakukan oleh pengusaha;
2. Impor Barang Kena Pajak;
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.5
3. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak dari
luar daerah pabean di dalam daerah pabean;
4. Ekspor Barang Kena Pajak berwujud, Barang Kena Pajak tidak berwujud
dan Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak;
Subjek PPN yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau
penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan PPN, yaitu disebut dengan
Pengusaha Kena Pajak (PKP), tidak termasuk pengusaha kecil.
Pengusaha kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun melakukan
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak yang batasannya
ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Terhitung l Januari
2014 berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor
197/PMK.03/2013 batasan pengusaha kecil adalah pengusaha yang jumlah
penerimaan brutonya tidak lebih dari Rp. 4,8 miliar.
Dengan dernikian, PPN hanya dikenakan terhadap pengusaha yangjumlah
penerimaan brutonya dalam satu tahun Rp4,8 mi liar atau lebih.
B. OBJEK PAJAK PPN
Objek PPN adalah penyerahan barang dan/atau jasa yang dikenakan PPN
disebut dengan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP). Karena
objek pajaknya adalah penyerahan maka atas barang/jasa yang dipakai sendiri
dan penyerahan tanpa bayaran/cuma-cuma juga termasuk yang dikenakan
PPN.
PPN dikenakan terhadap pengusaha (disebut Pengusaha Kena Pajak atau
PKP) adalah pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP maupun yang
seharusnya dikukuhkan sebagai PKP karena melakukan penyerahan:
l. Barang berwujud/tak berwujud/jasa yang termasuk kriteria yang
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai;
2. Penyerahan dilakukan di dalam daerah Pabean;
3. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Dengan demikian, walaupun Pengusaha Kena Pajak Indonesia melakukan
transaksi penyerahan, akan tetapi apabila dilakukannya di luar daerah Pabean
maka tidak dikenakan PPN.
Yang dimaksud dengan daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia
yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya, serta
6.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
ternpat-tempat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang
di dalamnya berlaku undang-undang kepabeanan.
Wilayah Pabean berbeda dengan wilayah NKRI, terdapat daerah wilayah
RI yang bukan daerah pabean, seperti Pulau Sabang, Pulau Batam, dan
Kawasan Berikat. Kawasan Berikat adalah kawasan di mana di dalamnya
dilakukan kegiatan industri pengolahan barang dan bahan asal irnpor yang
hasilnya terutama untuk tujuan ekspor. Dernikian juga apabila penyerahan
Barang Kena Pajak dilakukan di luar kegiatan usaha atau pekerjaannya, tidak
akan dikenakan PPN.
Contoh:
Perusahaan Anda di bidang Law Fir111 akan menjual seluruh AC
perusahaan untuk diganti yang baru. Ketika menjual AC tersebut, Anda tidak
berkewajiban memungut PPN kepada pembeli. Akan tetapi, ketika Anda
mernbeli AC baru di toko X misalnya, Anda akan dipungut PPN I Oo/o oleh toko
X dari harga jualnya karena toko X tersebut memang usahanya sebagai penjual
AC.
Syarat dari penyerahan sebagai berikut:
I. Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dalam daerah
Pabean oleh Pengusaha Kena Pajak;
2. lrnpor Barang Kena Pajak;
3. Penyerahan Barang Kena Pajak tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak, dari
luar daerah Pabean ke dalam daerah Pabean;
4. Ekspor Barang Kena Pajak berwujud/tidak berwujud dan Jasa Kena Pajak
oleh Pengusaha Kena Pajak;
Termasuk pengertian Penyerahan Rarang Kena Pajak, meliputi:
1. Penyerahan hak atas Harang Kena Pajak karena suatu perjanjian;
2. Pengalihan Barang Kena Pajak karena perjanjian sewa beli/leasing;
3. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada pedagang perantara/juru lelang;
4. Pernakaian sendiri dan/atau pernberian cuma-cuma;
5. Persediaan Barang Kena Pajak dan aktiva yang semula tidak diperjual
belikan yang rnasih tersisa saat pembubaran perusahaan;
6. Penyerahan Barang Kena Pajak ke perusahaan cabang atau sebaliknya;
7. Penyerahan Barang Kena Pajak secara konsinyasi.
• HKUM4407/MCJDUL 6 6. 7
C. PENGUSAHA YANG DIKENAKAN PPN
PPN dikenakan terhadap pengusaha (disebut Pengusaha Kena Pajak atau
PKP) adalah pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP ,naupun yang
seharusnya dikukuhkan sebagai PKP karena melakukan penyerahan:
I. Barang berwujud/tak berwujud/jasa yang termasuk kriteria yang
dikenakan Pajak Pertambahan Nilai;
2. Penyerahan dilakukan di dalam daerah Pabean;
3. Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.
Dengan demikian, walaupun Pengusaha Kena Pajak yang melakukan
transaksi penyerahan di luar daerah Pabean tidak dikenakan PPN.
Yang dimaksud dengan daerah Pabean adalah wilayah Republik Indonesia
yang meliputi wilayah darat, perairan, dan ruang udara di atasnya, serta
tempat-ternpat tertentu di Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen yang
di dalamnya berlaku undang-undang kepabeanan.
Demikian juga apabila terdapat penyerahan Barang Kena Pajak yang
dilakukan di Iuar kegiatan usaha atau pekerjaannya tidak akan dikenakan PPN.
D. OBJEK PAJAK PPN
Objek PPN adalah penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena
Pajak, meliputi:
I. Penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak dalam daerah
Pabean oleh Pengusaha Kena Pajak;
2. Impor Barang Kena Pajak;
3. Pernanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak,
dari luar daerah Pabean ke dalam daerah Pabean;
4. Ekspor Barang Kena Pajak berwujud/tidak berwujud atau Jasa Kena Pajak
oleh Pengusaha Kena Pajak.
E. BARANG KENA PAJAK
Barang Kena Pajak (BKP) adalah barang berwujud yang menurut sifat dan
hukumnya berupa barang bergerak atau barang tidak bergerak, maupun barang
tidak berwujud yang dikenakan pajak berdasarkan undang-undang PPN dan
PPNBM. Dengan batasan tersebut, barang kena pajak dapat dirinci:
6.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I. Barang berwujud atau barang tidak berwujud (hak cipta, hak paten, hak
merek dagang, hak rahasia dagang, hak desain tata Jetak sirkuit terpadu,
dll);
2. Barang yang dikenakan PPN berdasarkan UU ini.
Pengertian Barang Kena Pajak pada awalnya merupakan hanya barang
berwujud baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak sebagai hasil
proses pengolahan (pabrikasi) sehingga dikenal sebagai positif list, artinya
suatu PPN dikenakan terhadap barang tertentu saja sesuai yang ditentukan
dalam UU PPN. Dalam perkernbangannya, dengan UU PPN dinyatakan bahwa
semua barang baik berwujud maupun tidak berwujud dikenakan PPN, kecuali
apabila UU menyatakan sebagai barang yang dikecualikan disebut sebagai
negatif list.
Tidak termasuk penyerahan Barang Kena Pajak (Pasal 1 A ayat 2
UUPPN)
I. Penyerahan Barang Kena Pajak kepada makelar;
2. Penyerahan Barang Kena Pajak untuk jarninan hutang piutang;
3. Penyerahan Barang Kena Pajak dalam ha) pengusaha kena pajak
melakukan pemusatan tempat pajak terutang;
4. Pengalihan Barang Kena Pajak dalam rangka penggabungan, peleburan,
pernekaran, pemecahan, dan pengambilan usaha dengan syarat pihak yang
melakukan pengalihan dan yang rnenerima pengalihan adalah Pengusaha
Kena Pajak;
5. Barang Kena Pajak berupa aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk
diperjualbelikan yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan dan
yang pajak masukan atas perolehannya tidak dapat dikreditkan.
Jenis barang yang tidak dikenakan PPN (Pasal 4 A UU PPN)
I. Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil Jangsung
dari sumbernya, meliputi rninyak mentah (crude oil), gas bumi, panas
bumi, ashes, batu tulis, batu setengah permata, batu apung, batu perrnata,
bentonit, dolomit, felspar, garam batu, grafit, granit, gips, kalsit, kaolin,
leosit, magnesit, mika, rnarmer, nitrat, opsidien, oker, pasir dan krikilo,
pasir kuarsa, perlit, fosfat, talk, tanah serap, tanah diatome, tanah liat,
tawas, tras, yarosif, zeolit, basal dan trakkit, batu bara sebelum di proses
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.9
menjadi briket; bijih besi,bijih timah, bijih emas, bijih tembaga, bijih
nikel, bijih perak, dan bijih bauksit.
2. Barang-barang kebutuhan pokok, meliputi beras, gabah, jagung, sagu,
kedelai, garam, daging, telur, susu, buah-buahan, sayur sayuran.
3. Makanan dan minuman yang disajikan di hotel dan restoran baik yang
dikonsumsi maupun dibawa pulang (take a,vay).
4. Uang, emas batangan, dan surat berharga.
F. JASA KENA PAJAK
Jasa Kena Pajak (JKP) adalah setiap kegiatan pelayanan berdasarkan suatu
perikatan atau perbuatan hukum yang menyebabkan suatu barang atau fasilitas
atau kernudahan atau hak tersedia untuk dipakai termasuk jasa yang dilakukan
untuk menghasilkan barang karena pesanan atau permintaan dengan bahan dan
atas petunjuk dari pemesan yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN dan
PPnBM.
Dari penjelasan tersebut bahwa JKP pada dasarnya semua jenis jasa
dikenakan PPN sepanjang UU tidak mengecualikannya. Dengan demikian,
seperti halnya dalam BKP terhadap JKP berlaku negatif list.
Jasa yang tidak dikenakan PPN adalah jasa tertentu dalam kelompok jasa
sebagai berikut:
I. Jasa pelayanan kesehatan medis, meliputi: jasa dokter umum, dokter
spesialis dan dokter gigi; jasa dokter hewan; jasa ahli kesehatan, seperti
akupunktur, ahli gigi, ahli gizi; jasa kebidanan dan dukun bayi; jasa
paramedis dan perawat; jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik
kesehatan, laboratorium kesehatan dan sanatorium; jasa psikolog dan
psikiater; dan jas pengobatan alternatif.
2. Jasa pelayanan sosial, meliputi: jasa pelayanan panti asuhan dan panti
jompo; jasa pemadam kebakaran; jasa pemberian pertolongan pada
kecelakaan; jasa lembaga rehabilitasi; jasa penyediaan rumah duka atau
pemakaman termasuk krematorium; dan jasa di bidang olah raga kecuali
yang bersifat kornersial.
3. Pengiriman surat dengan prangko, meliputi: jasa pengiriman surat dengan
menggunakan prangko tempel dan cara lain pengganti prangko tempel.
4. Jasa keuangan, meliputi: jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa
giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk
lain yang dipersamakan dengan itu; jasa rnenempatkan dana, meminjam
6.10 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
dana , atau merninjamkan dana kepada pihak lain dengan rnenggunakan
surat, sarana kornunikasi maupun dengan wesel unjuk, eek, atau sarana
lain; jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah;
jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai, termasuk gadai syariah
dan fidusia; dan jasa penjaminan.
5. Jasa asuransi, meliputi: asuransi kerugian, asuransi jiwa, dan reasuransi
yang dilakukan oleh perusahaan asuransi kepada pernegang polis tidak
termasuk jasa penunjang asuransi seperti agen asuransi, penilai kerugian
asuransi dan konsultan asuransi.
6. Jasa keagarnaan, meliputi: jasa pelayanan rumah ibadah; jasa pemberian
khotbah atau dakwah; jasa penyelenggaraan keagamaan; dan jasa lai nnya
di bidang keagamaan.
7. Jasa pendidikan, meliputi: jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah,
seperti jasa penyelenggaraan pendidikan umum, pendidikan kejuruan,
pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan,
pendidikan akademik dan pendidikan profesional; dan jasa
penyelenggaraan pendidikan luar sekolah.
8. Jasa kesenian dan hiburan, meliputi semua jenis jasa yang di lakukan oleh
pekerja seni dan hiburan.
9. Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan, meliputi : jasa penyiaran radio
atau televisi yang dilakukan oleh instansi pemerintah atau swasta yang
bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan kornersial.
I 0. Jasa angkutan umurn di darat dan di air, serta jasa angkutan udara dalam
negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan
udara luar negeri.
I I. Jasa tenaga kerja, meliputi: jasa tenaga kerja; jasa penyediaan tenaga kerja
sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggung jawab atas
hasil kerja dari tenaga kerja tersebut; dan jasa penyelenggaraan pelatihan
bagi tenaga kerja.
12. Jasa perhotelan, meliputi : jasa penyewaan kamar tennasuk tambahannya
di hotel, rumah penginapan, motel, losmen, hostel, serta fasilitas yang
terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tarnu yang menginap; dan jasa
penyewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel, rumah
penginapan, motel, losmen dan hostel.
13. Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalarn rangka menjalankan
pernerintahan secara umum, rneliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan
oleh instansi pemerintah, antara lain: pemberian izin mendirikan
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.11
bangunan, pemberian izin usaha perdagangan, pernberian NPWP dan
pembuatan KTP.
14. Jasa penyediaan tempat parkir, yaitu penyediaan tempat parkir yang
dilakukan oleh pernilik tempat parkir dan/atau pengusaha kepada
pengguna tempat parkir dengan dipungut bayaran.
15. Jasa telepon umurn dengan uang logarn, yaitu jasa telepon umum dengan
uang logarn atau koin yang diselenggarakan oleh pernerintah maupun
swasta
16. Jasa pengiriman uang dengan wesel pos; dan
17. Jasa boga atau katering
G. TARIF PAJAK
Tarif PPN diatur dalam Pasal 7 Ayat (I) UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan UU Nomor 41 Tahun
2009. Adapun tarif PPN sebagai berikut:
I. Tarif PPN untuk ekspor 0%
2. Tarif PPPN penyerahan dalarn negeri I 0%
3. Dengan Peraturan Pernerintah tarif PPN dapat diubah
menjadi: serendah-rendahnya 5%
- setinggi-tingginya 15%
H. SAAT DAN TEMPAT TERUTANG PAJAK
I. Saal Terutang
a. Pada dasarnya PPN terutang pada saat penyerahan Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak, pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak
berwujud dan Jasa Kena Pajak dari luar daerah Pabean;
b. Dalarn ha! pembayaran diterirna sebelum penyerahan atau sebelum
pernanfaatan seperti tersebut di atas maka terutangnya PPN adalah
pada saat pembayaran.
2. Tempat Terutang
a. Tempat kedudukan dan/atau ternpat kegiatan usaha;
b. Dalam ha! impor, di tempat Barang Kena Pajak dimasukkan dan
dipungut melalui Ditjen Bea dan Cukai.
6.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I. MEKANISME PERHITUNGAN PPN
PT. ABC distributor laptop membeli laptop dari pabrikan X senilai Rp I
miliar, dan kemudian PT. ABC menjual laptop tersebut kepada toko pengecer
X senilai Rp I, I mi liar, perhitungan PPN sebagai berikut:
I. Ketika rnernbeli dari pabrikan Y, PT ABC akan dipungut PPN sebesar
10% x Rpl M; RplOOjuta, sebagai pajak masukan;
2. Ketika menjual kepada toko pengecer X, PT. ABC memungut PPN
sebesar I Oo/o x Rp I, I M ; Rp 110 juta, sebagai pajak keluaran;
3. PPN terutang PT ABC adalah:
Pajak Keluaran (PK) Rp 110 juta
Pajak Masukan (PM) Rp I 00 juta
PPN terutang Rp 10 juta
PT ABC distributor laptop rnernbeli laptop dari pabrikan X senilai Rpl
mi liar dan kemudian laptop tersebut diekspor ke Malaysia dengan harga Rp 1,5
miliar, perhitungan PPN sebagai berikut:
I. Ketika rnembeli dari pabrikan Y, PT. ABC akan dipungul PPN sebesar
I 0% x Rp I M ; Rp I 00 juta sebagai pajak masukan;
2. Ketika menjual /ekspor ke Malaysia, PT. ABC rnernungut PPN sebesar
0% x Rp 1,5 M ; Rp0,00 sebagai pajak keluaran;
3. PPN terutang PT ABC adalah:
Pajak Keluaran (PK) Rp O
Pajak Masukan (PM) RplOO juta
PPN Lebih Bayar Rp lOjuta
J. FAKTUR PAJAK
1. Kewajiban membuat Faktur Pajak
a. Pasal 13 ayat (I) UU PPN menentukan bahwa Pengusaha Kena Pajak
wajib ,nembuat Faktur Pajak untuk setiap penyerahan Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak;
b. Faktur Pajak dimaksud harus dibuat paling lama pada akhir bulan
penyerahan;
c. Dalam faktur pajak harus dicantumkan keterangan penyerahan
Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak, paling sedikit mernuat:
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.13
• Narna, alamat, dan Nornor Pokok Wajib Pajak yang
menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak;
• Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang
Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak;
• Jen is barang atau jasa, jumlah harga jual atau penggantian, dan
potongan harga;
• Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut;
• Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan faktur pajak;
• Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani faktur
pajak.
d. Direktur Jenderal Pajak dapat menetapkan dokumen tertentu yang
kedudukannya dipersamakan dengan faktur pajak.
2. Faktur Pajak Elektronik
a. Dalam perkembangannya faktur pajak dapat berbentuk elektronik,
yang disebut dengan e-Faktur
b. e-Faktur adalah faktur pajak yang dibuat melalui aplikasi atau sistern
elektronik yang ditentukan dan/atau disediakan oleh Direktorat
Jenderal Pajak;
c. Pemberlakuan e-Faktur dimaksudkan untuk memberikan
kernudahan, kenyamanan, dan keamanan bagi Pengusaha Kena Pajak
dalarn melaksanakan kewajiban perpajakan khususnya pembuatan
faktur pajak. Pengusaha Kena Pajak yang diwajibkan mernbuat faktur
pajak berbentuk elektronik ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak.
K. DASAR PENGENAAN PAJAK
Pajak Pertambahan Nilai terutang, dihitung dengan cara rnengalikan tarif
PPN dengan Dasar Pengenaan Pajak yang meliputi:
J. HargaJual;
2. Penggantian;
3. Nilai lmpor;
4. Nilai Ekspor; atau
S. Nilai lain.
6.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
LATIHAN
Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Apa maknanya PPN merupakan pajak tidak langsung? Jelaskan!
2) Subjek PPN adalah Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan.
Mengapa bukan penjualan?
3) Mengapa tidak semua Pengusaha Kena pajak dikenakan PPN?
4) Jelaskan mengenai tarif pajak PPN!
5) Di mana ternpat terutang PPN?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) PPN rnerupakan pajak tidak langsung karena sebenarnya yang rnernbayar
dan mernikul pajak adalah konsumen/pembeli, tetapi yang bertanggung
jawab atas pajaknya adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) sebagai
destinataris, sebagaimana diuraikan dalam KB I huruf A.
2) Subjek PPN adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang rnelakukan
penyerahan dan bukan penjualan karena terhadap barang kena pajak yang
dipakai sendiri atau diberikan cuma-cuma kepada pihak lain tetap
dikenakan PPN.
3) Tidak semua pengusaha kena PPN karena pengusaha yang omzetnya
kurang dari Rp4,8 M dalam setahun tidak dikenakan PPN.
4) Tarif pajak PPN adalah I 0% untuk penyerahan dalam negeri dan untuk
PPN ekspor adalah Oo/o.
5) Ternpat terutang PPN adalah tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan
usaha. Dalam ha! impor di tempat Barang Kena Pajak dirnasukkan dan
dipungut melalui Ditjen Bea dan Cukai.
D RANG Ku MAN _
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) merupakan pajak tidak langsung, di
mana yang memikul beban sebenarnya ada pada konsumen, tetapi yang
bertanggungjawab atas kewajiban pungutan pajak adalah pengusaha kena
pajak/penjual/yang menyerahkan sebagai pemungut pajak (destinataris).
Berbeda pada awal ditetapkannya UU PPN yang menganut asas positif
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.15
list, yaitu barang dan/atau jasa yang dikenakan pajak adalah yang
tercantum dalam undang-undang, di dalam UU saat ini semua barang
dan/atau jasa dikenakan PPN sepanjang UU tidak mengecualikannya,
ketentuan tersebut dengan negatif list.
Objek PPN adalah penyerahan, karena itu PPN akan dikenakan
terhadap barang dan/atau jasa yang dipakai sendiri dan diserahkan curna-
cuma tanpa pe,nbayaran. Subjek PPN adalah pengusaha yang
menyerahkan barang/jasa yang dikenakan pajak kecuali pengusaha kecil
yang batasannya ditetapkan atas dasar Peraturan Menteri Keuangan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nornor 197 /PM K.03/2013
batasan pengusaha kecil adalah pengusaha yang jumlah penerimaan
brutonya dalam satu tahun tidak lebih dari Rp4,8 miliar.
Tarif PPN untuk penyerahan dalam negeri adalah IOo/o dari hargajual
atau penggantian, nilai impor, nilai ekspor atau nilai lain, namun
sesungguhnya pajak yang dikenakan adalah pertambahan nilainya saja.
Hal tersebut disebabkan karena pada waktu pengusaha rnernbeli dan
dikenakan PPN akan diperhitungkan sebagai pajak masukan (kredit
pajak).
�I
TES FORM AT IF 1 _
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Subjek PPN adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang ,nenyerahkan
Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak, kecuali ....
A. pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan oleh Peraturan
Pemerintah
B. pengusaha sederhana yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden
C. pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan dengan Peraturan
Menteri Keuangan
D. pengusaha mikro kecil berdasarkan ketetapan Menteri Perdagangan
2) Berapa tarif PPN penyerahan dalam negeri?
A. tarif PPN penyerahan dalam negeri adalah 7%, dengan Peraturan
Pemerintah dapat diubah minimum 5%, dan maksimum 10%
B. tarif PPN penyerahan dalam negeri adalah 10%, dengan Peraturan
Pemerintah dapat diubah minimum 7%, dan rnaksimum 15%
C. tarif PPN penyerahan dalam negeri adalah 10%, dengan Peraturan
Pernerintah dapat diubah minimum 5%, dan maksimum 15%
D. tarif PPN penyerahan dalam negeri adalah I 0%, dengan Peraturan
Pemerintah dapat diubah minimum 5%, dan rnaksimum 20o/o
6.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3) Di mana tempat terutang PPN?
A. di tempat Nomor Pokok Wajib Pajak terdaftar
B. di tempat kedudukan dan/atau tempat kegiatan usaha
C. di tempat keterangan dornisili akta pendirian
D. di tempat Nomor Pokok Wajib Pajak pimpinan perusahaan terdaftar
4) Siapa yang berkewajiban mernbuat faktur pajak PPN?
A. penjual atas nama pembeli/konsumen
B. pembeli/konsurnen atas nama penjual
C. pemerintah atas narna pernbeli/konsumen dan penjual
D. sernuanya salah
5) Kapan faktur pajak PPN dibuat?
A. setiap terjadi penyerahan
B. paling lama pada akhir tahun penyerahan
C. setiap terjadi penjualan
D. paling lama pada akbir bulan penyerahan
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Fonnatif 1 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x lOOo/o
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< ?Oo/o = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.17
KEGIATAN [Link] 2
Pajak Penjualan atas Barang Mewah
� i samping pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, terhadap penyerahan
':ll:J barang yang tergolong mewah dikenai juga Pajak Penjualan atas Barang
Mewah (PPnBM) dalam rangka:
I. Perlu keseimbangan pembebanan pajak antara konsumen yang
berpenghasilan rendah dan konsumen yang berpenghasilan tinggi;
2. Perlu adanya pengendalian pola konsumsi atas Barang Kena Pajak yang
tergolong mewah;
3. Perlu adanya perlindungan terhadap produsen kecil atau tradisional;
4. Perlu untuk rnengamankan penerimaan negara
Walaupun PPnBM berada dalam satu undang-undang dengan PPN, yaitu
undang-undang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah (UU PPN dan PPn BM), tetapi ada perbedaan yang rnendasar, yaitu:
I. Objek PPN adalah pajak setiap penyerahan, sedangkan PPnBM dikenakan
hanya sekali saja saat penyerahan pertama;
2. Tarif PPN linier I Oo/o, dan PPnBM bergantung jenis barang mewahnya
yang ditentukan oleh Peraturan Pemerintah, kecuali untuk tarif ekspor
sama, yaitu Oo/o.
A. SUBJEK PAJAK
Subjek Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) adalah:
I. Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak tergolong
mewah, dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya;
2. Irnportir barang yang tergolong mewah.
B. OBJEK PAJAK
Objek Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) penyerahan barang
berwujud yang tergolong mewah. Namun demikian, pengenaan PPnBM hanya
terhadap penyerahan yang pertama saja.
6.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
C. TARIF PAJAK
I. Tarif Pajak Penjualan alas Barang Mewah ditetapkan paling rendah I 0%,
dan paling tinggi 200 o/o. Khusus tarif Pajak Penjualan atas Barang
Mewah untuk ekspor ditetapkan 0%.
2. Ketentuan mengenai kelompok Barang Kena Pajak tergolong mewah dan
tarifnya diatur dengan Peraturan Pemerintah dan rinciannya diatur lebih
lanjut melalui Peraturan Menteri Keuangan. Pada saat ini, Peraturan
Menteri Keuangan, ,nengklasifikasikan tarif PPnBM dalam dua
kelompok, yaitu:
a. Kelornpok BKP Mewah Kendaraan Bermotor, diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 64/PMK.011/2014; dan
b. Kelornpok B KP Mewah Selain Kendaraan Bermotor, diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan Nomor I 06/PMK.O I 0/2015.
Adapun jenis dan besarnya tarif PPn BM adalah sebagai berikut:
Tabet 6.2
Jenis dan Tarif PPnBM
Barang Kena Pajak Berupa Barang Kena Pajak Selain
Tari!
No. Kendaraan Bermotor Kendaraan Bermotor
PPnBM
IPMK No. 106/PMK.010/2015) (PMK No. 64/PMK.011/2014)
1. 10°/, • Kendaraan bennotor untuk
pengangkutan 10 (sepuluh)
orang sampai dengan 15
(lima belas) orang termasuk
pengemudi, dengan motor
bakar cetus api atau nyala
kompresi
(diesel atau semidiesel)
untuk semua kapasitas ----
silinder;
• Kendaraan bennotor untuk
pengangkutan kurang dari 10
(sepuluh) orang termasuk
pengemudi selain sedan atau
station wagon, dengan motor
bakar cetus api atau nyala
kompresi (diesel atau semi
diesel) den an sistem 1
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.19
Barang Kena Pajak Berupa Barang Kena Pajak Selain
Tari!
No. Kendaraan Bermotor Kendaraan Bermotor
PPnBM
(PMK No. 106/PMK.010/20151 (PMK No. 64/PMK.011/2014)
(satu) gardan penggerak
4x2, dengan kapasitas isi
silinder sampai dengan 1.500
cc·
'
• Kendaraan benmotor untuk
pengangkutan orang kurang
dari 10 (sepuluh) orang
tenmasuk pengemudi selain
sedan atau station wagon,
dengan motor bakar nyala
kompresi (diesel/semidiesel),
dengan sistem 1 (satu)
gardan penggerak (4x2), de-
ngan kapasitas isi silinder
sampai dengan 1500 cc.
2. 20'/, • Kendaraan benmotor untuk Kelompok hunian mewah, seperti
pengangkutan kurang dari 10 rumah mewah, apartemen,
(sepuluh) orang termasuk kondominium, town house, dan
pengemudi selain sedan sejerusnya:
atau station wagon, dengan • Rumah dan town house dari jenis
sistem 1 (satu) gardan nonstra-ta title dengan luas
penggerak (4x2), dengan bangunan 350 m2 atau lebih;
motor bakar cetus api,
dengan kapasitas isi silinder • Apartemen, kondominium, town
lebih dari 1500 cc sampai house dari jenis strata title, dan
dengan 2500 cc; sejenisnya dengan luas
bangunan 150 m2 atau lebih.
• Kendaraan benmotor untuk
peng-angkutan orang kurang
dari 10 (sepuluh) orang
tenmasuk pengemudi selain
sedan atau station wagon,
dengan sistem 1 (satu)
gardan penggerak (4x2),
dengan motor bakar nyala
kompresi (diesel,
semidiesel), clengan
kapasitas isi silinder lebih
dari 1500 cc sampai dengan
2500 cc;
6.20 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Barang Kena Pajak Berupa Barang Kena Pajak Selain
Tari!
No. Kendaraan Bermotor Kendaraan Bermotor
PPnBM
IPMK No. 106/PMK.010/2015) (PMK No. 64/PMK.011/2014)
• Kendaraan bermotor dengan
kabin yang dirancang untuk
2 (dua) baris tempat duduk
(double cabin) untuk
penumpang melebihi 3 (tiga)
orang, tetapi tidak melebihi 6
(enam) orang termasuk
pengemudi dan memiliki bak
(terbuka atau tertutup) untuk
pengangkutan barang,
dengan
• Motor bakar cetus api atau
nyala kompresi (diesel/
semidiesel),
dengan sistem 1 (satu)
gardan penggerak (4 x 2)
atau dengan sistem 2 (dua)
gardan penggerak (4 x 4),
untuk semua kapasitas isi
silinder, dengan massa total
tidak lebih dari 5 (lima) ton
3. 30°/, • Kendaraan bermotor untuk
pengangkutan orang kurang
dari 10 (sepuluh) orang
termasuk pengemudi,
dengan motor bakar cetus
api, dengan kapasitas isi
silinder sampai dengan 1500
cc: ........
- sedan atau station
wagon;
- selain sedan atau
station wagon, dengan
sistem 2 (dua) gardan
penggerak (4x4).
• Kendaraan bermotor untuk
pengangkutan orang kurang
dari 10 (sepuluh) orang
termasuk pengemudi
den an motor bakar nvala
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.21
Barang Kena Pajak Berupa Barang Kena Pajak Selain
Tari!
No. Kendaraan Bermotor Kendaraan Bermotor
PPnBM
(PMK No. 106/PMK.010/20151 (PMK No. 64/PMK.011/2014)
kompresi
(diesel/semidiesel), dengan
kapasitas isi silinder sampai
dengan 1500 cc:
- sedan atau station
wagon;
- selain sedan atau
station wagon, dengan
sistem 2 (dua) gardan
penggerak (4x4)
4. 40°/, • Kendaraan bermotor untuk • Kelompok balon udara dan balon
pengangkutan orang kurang udara yang dapat dikemudikan,
dari 10 (sepuluh) orang pesawat udara lainnya tanpa
termasuk pengemudi selain tenaga penggerak;
sedan atau station wagon,
dengan motor bakar cetus • Kelompok peluru senjata api dan
api, dengan sistem 1 (satu) senjata api lainnya, kecuali untuk
gardan penggerak (4x2) , keperluan negara:
dengan kapasitas isi silinder Peluru dan bagiannya, tidak
lebih dari 2500 cc dengan termasuk peluru senapan angin.
3000 cc;
• Kendaraan bermotor untuk
pengangkutan orang kurang
dari 10 (sepuluh) orang
termasuk pengemudi dengan
motor bakar cetus api,
dengan kapasitas isi silinder
lebih dari 1500 cc sampai
dengan kapasitas 3000 cc :
- sedan atau station
wagon;
- selain sedan atau
station wagon, dengan
sistem 2 (dua) garden
penggerak (4x4)
• Kendaraan bermotor untuk
pengangkutan orang kurang
dari 10 (sepuluh) orang
termasuk nennemudi
6.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Barang Kena Pajak Berupa Barang Kena Pajak Selain
Tari!
No. Kendaraan Bermotor Kendaraan Bermotor
PPnBM
tPMK No. 106/PMK.010/2015) (PMK No. 64/PMK.011/2014)
dengan motor bakar nyala
kompresi (diesel/semidiesel),
dengan kapasitas isi silinder
lebih dari 1500 cc sampai
dengan 2500 cc:
- sedan atau station
wagon;
- se1ain sedan atau
station wagon, dengan
sistem 2 (dua) gardan
penggerak (4x4)
5. 50°/o Semua jenis kendaraan khusus • Kelompok pesawat udara selain
yang dibuat untuk golt. yang tercantum dalam Lampiran
II, untuk keperluan negara atau
angkutan udara niaga:
- Helikopter
- Pesawat udara dan
kendaraan udara lainnya
selain helikopter
• Kelompok senjata api dan
senjata api lainnya, kecuali untuk
keperluan negara:
- Senjata Artileri
- Revolver dan Pistol
- Senjata api (selain senjata
artileri, revolver dan pistol)
dan peralatan semacam itu
yang dioperasikan dengan
nenembakan bahan oeledak.
6. 60°/, • Kendaraan benmotor beroda
dua dengan kapasitas isi
lebih dari 250 cc sampai
dengan 500 cc;
-----
• Sepeda motor (termasuk
moped) dari sepeda yang
dilengkapi dengan motor
tambahan, dengan atau
tanoa kereta oasan an sisi,
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.23
Barang Kena Pajak Berupa Barang Kena Pajak Selain
Tari!
No. Kendaraan Bermotor Kendaraan Bermotor
PPnBM
(PMK No. 106/PMK.010/20151 (PMK No. 64/PMK.011/2014)
termasuk kereta pasangan
sisi:
• Kendaraan khusus yang
dibuat untuk perjalanan di
atas salju, di pantai, di
gunung, dan kendaraan
semacam itu.
7. 75°/, Kelompok kapal pesiar mewah,
kecuali untuk keperluan negara atau
angkutan umum:
• Kapal pesiar, kapal ekskursi, dan
kendaraan air semacam itu
terutama dirancang untuk
------ pengangkutan orang, kapal feri
dari semua jenis, kecuali untuk
kepentingan negara atau
angkutan umum.
• Yacht, kecuali untuk kepentingan
negara atau angkutan umum.
8. 125% • Kendaraan bermotor untuk
pengangkutan kurang dari 10
(sepuluh) orang pengemudi,
dengan motor bakar celus
api, dengan kapasitas isi
silinder lebih dari 3000 cc : -----
- sedan atau station
wagon
- selain sedan atau
station wagon, dengan
sistem 1 (satu) gardan
penggerak (4x2)
- selain sedan atau
station wagon, dengan
sistem 2 (dua) gardan
penggerak (4x4)
• Kendaraan bermotor
pengangkutan kurang dari
10 (senuluhl crane termasuk
6.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Barang Kena Pajak Berupa Barang Kena Pajak Selain
Tari!
No. Kendaraan Bermotor Kendaraan Bermotor
PPnBM
IPMK No. 106/PMK.010/2015) (PMK No. 64/PMK.011/2014)
pengemudi, dengan motor
bakar nyala kompresi
(diesel/semidiesel), dengan
kapasitas isi silinder lebih
dari 2500 cc :
- sedan atau station
wagon
- selain sedan atau station
wagon dengan sistem 1
(satu) gardan penggerak
(4x2)
- selain sedan atau station
wagon dengan sistem 2
(dua) gardan penggerak
(4x4)
• Kendaraan benmotor beroda
dua dengan kapasitas isi
silinder lebih dari 500 cc:
- Sepeda motor (tenmasuk
moped) dan sepeda
yang dilengkapi dengan
motor tambahan, dengan
atau tanpa kereta
pasangan sisl, tenmasuk
kereta pasangan sisi.
• Trailer atau semitrailer dari
tipe cara-van, untuk
oerumahan atau kemah
D. OBJEK PAJAK
Walaupun nomenklatur dari pajak ini adalah Pajak Penjualan atas Barang
Mewah, tetapi objeknya bukan penjualan rnelainkan penyerahan Barang Kena
Pajak yang tergolong mewah. Dengan dernikian, pernberian pemakaian untuk
sendiri dan pemberian cuma-cuma tennasuk dalam objek yang dikenakan
PPnBM.
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.25
E. DASAR PENGENAAN PAJAK
Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang, dihitung dengan cara
mengalikan tarif PPnBM dengan Dasar Pengenaan Pajak, yang meliputi:
I. HargaJual;
2. Penggantian;
3. Nilai Impor;
4. Nilai Ekspor; atau
5. Nilai Lain.
Tabel 6.3
Perbedaan PPN dan PPnBM
Pajak Pertambahan Pajak Penjualan alas Barang Mewah
No. Keterangan
Nilai IPPNl IPPnBMl
1. Tarif Pajak Ekspor - QO/o Ekspor - Oo/o
Penyerahan Penyerahan
Dalam Negeri - Dalam Negeri
10'/, Paling Rendah - 10%
Paling tinggi - 200'/,
2. Objek Pajak Penyerahan Barang Penyerahan Barang Kena Pajak Kategori
Kena Pajak Mewah
3. Dasar Dikenakan PPN pada Dikenakan PPn BM hanya sekali saja,
Pengenaan setiap penyerahan pada saat penyerahan pertama :
- dari pabrikan kepada konsumen,
a tau
- ketika imnor baranc mewah
LATIHAN
Untuk ruernperdalarn pemahaman Anda rnengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Apakah perbedaan pengenaan PPnBM dan PPN?
2) Bagaimana pengelompokan tarif PPnBM berdasarkan Peraturan
Pemerintah jo. Peraturan Menteri Keuangan?
3) Apakah dasar pengenaan pajak PPnBM yang Saudara ketahui?
6.26 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
4) Apabila Saudara rnernbeli rurnah di real estate dikenakan PPnBM?
5) Apakah tujuan pengenaan pajak atas barang rnewah?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Perbedaan pengenaan PPnBM dan PPN adalah kalau PPnBM dikenakan
sekali saja pada saat penyerahan pertama dari pabrikan dengan tarif yang
berbeda bergantung pada jenis barang mewah yang bersangkutan. Sedang
PPN dikenakan setiap penyerahan namun yang dikenakan nilai tambahnya
saja dengan tarif Oo/o untuk ekspor dan I 0% untuk penyerahan dalarn
negen.
2) Pengelornpokan tarif PPnBM adalah berdasarkan Peraturan Pemerintah
jo. Peraturan Menteri Keuangan sebagaimana diuraikan dalam KB 2 huruf
B angka 3.
3) Dasar pengenaan pajak PPnBM adalah sebagaimana diuraikan dalam KB
2 huruf 8 angka 5 mengenai dasar pengenaan pajak.
4) Real estate dengan Juas 350 m2 atau Jebih adalah dikenakan PPnBM
sebagaimana diuraikan dalam "Jenis dan Besarnya Tarif PPnBM" pada
KB 2.
5) Tujuan dikenakannya PPnBM diuraikan dalam pengantar KB 2 huruf B.
Q RANG KUM AN _
Di dalam penyerahan barang kena pajak selain dikenakan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN), apabila barang kena pajak tersebut tergolong
mewah juga dikenakan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn BM). Oleh
karena itu, kedua jenis pajak tersebut diatur dalam satu undang-undang,
yaitu UU No. 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPn BM sebagaimana telah
diubah beberapa kali terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Berbeda dengan PPN yang dikenakan terhadap setiap penyerahan,
tetapi PPn BM dikenakan hanya sekali, yaitu terhadap Pengusaha Kena
Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak tergolong mewah, dalam
lingkungan perusahaan atau pekerjaannya atau importir barang yang
tergolong mewah.
Tarif dan pengelompokan barang yang tergolong mewah yang
dikenakan PPnBM diatur dalam Peraturan Pemerintah dan selanjutnya
secara rinci diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan. Di dalam
Peraturan Menteri Keuangan barang yang tergolong mewah
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.27
diklasifikasikan dalam Barang Kena Pajak berupa Kendaraan
Bermotor berdasarkan PMK Nomor 106/PMK.010/2015) dan Barang
Kena Pajak selain Kendaraan Bermotor berdasarkan PMK Nomor
64/PMK.011/2014).
�I
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Siapa yang menentukan tarif dan pengelompokan barang mewah?
A. Peraturan Pemerintah dan selanjutnya diatur dengan Peraturan
Menteri Keuangan
B. Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai dan Penjualan atas Barang
Mewah
C. Peraturan Pemerintah
D. Peraturan Menteri Keuangan
2) Bagaimana UU mengatur tarif PPnBM?
A. tarif Pajak Penjualan alas Barang Mewah paling rendah 20% dan
paling tinggi 200%, dan untuk ekspor barang mewah 20%
B. tarif Pajak Penjualan alas Barang Mewah paling rendah 20% dan
paling tinggi I 00%, dan untuk ekspor barang mewah 20%
C. tarif Pajak Penjualan alas Barang Mewah paling rendah 20% dan
paling tinggi 200o/o, dan untuk ekspor barang mewah I 0%
D. tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah paling rendah I 0% dan
paling tinggi 200%, dan untuk ekspor barang mewah Oo/o
3) Bagaimana Peraturan Menteri Keuangan mengelornpokkan Barang Kena
Pajak tergolong mewah?
A. Barang Kena Pajak berupa kendaraan bermotor dan perumahan
mewah
B. Barang Kena Pajak berupa kendaraan bermotor dan selain kendaraan
bermotor
C. Barang Kena Pajak berupa perhiasan dan kendaraan bermotor
D. semuanya benar
4) Apa dasar pengenaan pajak PPnBM?
A. hargajual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor, atau nilai lain
B. hargajual, penggantian, nilai penyerahan, nilai ekspor, atau nilai lain
C. hargajual, penggantian, nilai impor, nilai kurs, atau nilai lain
D. harga jual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor, atau nilai buku
6.28 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
5) Apakah rumah mewah yang dibuat oleh pengembang dikenakan PPn BM?
A. ya, setiap rumah rnewah yang dibuat oleh pengembang dikenakan
PPnBM
B. segalajenis rurnah dikecualikan dari pungutan PPnBM, karena rurnah
merupakan kebutuhan dasar dari masyarakat
C. hanya hunian rnewah dengan luas bangunan tertentu yang dikenakan
PPnBM
D. hanya apartemen, kondominium, dan sejenisnya yang dikenakan
PPnBM
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rurnus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
rnateri Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = ----------- x I 00%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70o/o = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau Jebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belurn dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.29
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
I) C. Pengusaha kecil yang batasannya ditetapkan dengan Menteri
Keuangan Terhitung I Januari 2104, berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013, batasan Pengusaha Kecil
pengusaha yangjumlah penerimaan brutonya setahun tidak lebih dari
Rp4,8 rniliar;
2) C. Tarif PPN Penyerahan Dalam Negeri adalah I Oo/o, dengan Peraturan
Pemerintah dapat diubah menjadi minimum So/o, dan maksimum 15%
Diatur dalam ketentuan Pasal 7 UU PPN dan PPnBM;
3) B. Di tempat kedudukan dan/atau di tempat kegiatan usaha. Diaturdalam
ketentuan Pasal 12 UU PPN dan PPnBM;
4) A. Penjual atas narna pernbeli/konsumen
PPN rnerupakan pajak tidak langsung, walaupun yang memikul pajak
adalah pernbeli/konsumen, tetapi Pengusaha Kena Pajak wajib
memungut dan bertanggungjawab atas PPN, hal tersebut diatur dalarn
Ketentuan Pasal 13 UU PPN dan PPnBM
5) D. Paling lama pada akhir bulan penyerahan.
Diatur dalam ketentuan Pasal 13 UU PPN dan PPnBM.
Tes Forn,atif2
I) A. Peraturan Pemerintah dan selanjutnya diatur dengan Peraturan
Menteri Keuangan;
Peraturan Pemerintah Nornor 22 Tahun 2014 selanjutnya dijabarkan
dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor I 06/PMK.IOI0/2015
untuk kendaraan bermotor, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
62/PMK.01 I/ 2014 untuk selain kendaraan bermotor,
2) D. Tarif Pajak Penjualan atas Barang Mewah paling rendah I 0% dan
paling tinggi 200%, dan untuk ekspor barang mewah Oo/o.
Diatur berdasarkan ketentuan Pasal 7 UU PPN dan PPnBM
3) B. Barang Kena Pajak berupa kendaraan bennotor dan selain kendaraan
bermotor.
Di dalam Peraturan Menteri Keuangan yang merupakan pelaksanaan
dari Peraturan Pernerintah, barang kena pajak tergolong mewah yang
dikenakan PPn BM dikelornpokkan untuk kendaraan bermotor (PMK.
6.30 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Nornor I 06fPMK.IOI012015) dan selain kendaraan berrnotor (PMK.
Nomor 62fPMK.O 1112014
4) A. Harga jual, penggantian, nilai impor, nilai ekspor, atau nilai lain;
Diatur dalam Ketentuan Pasal UU PPN dan PPnBM.
5) C. Han ya hunian mewah dengan luas bangunan tertentu yang dikenakan
PPnBM.
Diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
[Link] lf2014.
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.31
Glosarium
Faktur Pajak bukti pungutan pajak yang dibuat oleh
Pengusaha Kena Pajak yang melakukan
penyerahan Barang Kena Pajak atau
penyerahan Jasa Kena Pajak.
Faktur Pajak Elektronik disebut dengan e-Faktur adalah faktur pajak
yang dibuat melalui aplikasi atau sisrern
elektronik yang ditentukan dan/atau
disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak;
Pemberlakuan e-Faktur dimaksudkan untuk
memberikan kemudahan, kenyamanan, dan
keamanan bagi Pengusaha Kena Pajak dalarn
rnelaksanakan kewajiban perpajakan
khususnya dalam pembuatan faktur pajak.
Daerah Pabean wilayah Republik Indonesia yang meliputi
wilayah darat, perairan dan ruang udara di
atasnya serta tempar-tcmpat tertentu di Zona
Ekonomi Ekslusif dan landas kontinen yang
di daJamnya berlaku undang-undang
kepabeanan.
Destinataris pihak yang menurut maksud pernbuat
undang-undang seharusnya memikul pajak.
Dalarn pajak PPN yang memikul pajak
adalah si pernbeli.
6.32 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. I 998. llmu Huku111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
Djafar, Saidi Muhammad, 2007. Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah", Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. l; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
____ . 2009. Huku111 Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Huku,n, Masyarakat, dan Pembangunan
Huku111 Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Hukun, (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum Uil.
Nick Devas, dkk. 1989. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
Ul Press.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentra/izaion in
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarundayang. 2011. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
• HKUM4407/MCJDUL 6 6.33
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor,
Soriaatmadja, Arifin P. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Huku,n Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pusat dan Pajak Dae rah. Bogar: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana tel ah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No. 7 Tahun 1983 sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. 10 Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai UU No. I I Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL 7
Pemeriksaan dan Penagihan Pajak
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
'1 1 PEND AH UL U AN _
(' ebagaimana telah kita ketahui bahwa dalam melaksanakan sistem
� perpajakan di Indonesia dilakukan dengan sistern self assessment, yaitu
pemerintah rnemberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk
menghitung sendiri memperbitungkan rnernbayar dan melapor pajak terutang
melalui mekanisme laporan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT). Ketentuan
dalam pengawasan self assessment tersebut diatur dalam hukurn formal
perpajakan, yaitu Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (KUP) yang rnengatur hak dan kewajiban pemerintah dan wajib
pajak dalam pelaksanaan self assessment,
Kepercayaan pemerintah terhadap wajib pajak dalam rnelaksanakan
kewajiban perpajakannya tentu saja perlu ada tindakan yang disebut dengan
tax compliance untuk mengawasi kepatuhan dan kebenaran dari self
assessment dengan melakukan pengujian (cross check) laporan SPT yang
disampaikan wajib pajak dengan data yang dimiliki pemerintah, laporan pihak
ketiga, pengaduan masyarakat, dst. Lanjutan dari pengujian tersebut adalah
dilakukan pemeriksaan oleh fiskus, yang outputnya berupa Surat Tagihan
Pajak berkaitan sanksi adrninistrasi berupa bunga dan denda maupun Surat
Ketetapan Pajak, meliputi Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB),
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tarnbahan (SKPKBT), Surat Ketetapan
Pajak Nihil (SKPN) atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB).
Terhadap ketetapan pajak STP, SKPKB, dan SKPKBT yang di dalamnya
terdapat besaran nilai sanksi atau utang pajak, apabila tidak atau kurang
dibayar oleh wajib pajak akan dilakukan penagihan sesuai ketentuan UU
Nomor 19 Tahun 2000.
Modul 7 ini akan membahas mengenai pemeriksaan dan penagihan pajak
secara seksama. Selamat Belajar.
7.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 1
Pemeriksaan Pajak
(1 esuai dengan prinsip self assessment yang dianut di Indonesia. Wajib pajak
el harus menghitung, mernperhitungkan sendiri, membayar, dan melapor
pajak yang terutang melalui mekanisme laporan SPT di Kantor Pelayanan
Pajak (KPP) tempat wajib pajak terdaftar atau tempat lain. Penyampaian SPT
merupakan ciri utama dari sistem self' assessment dan merupakan bentuk
pertanggungjawaban atas kewajiban perpajakan yang telah dipenuhinya dalam
suatu masa pajak, tahun pajak, atau bagian tahun pajak.
Proses perneriksaan pajak tidak dapat dilepaskan dari keberadaan SPT
yang disarnpaikan oleh wajib pajak ke KPP. Hal ini dikarenakan dalarn proses
perneriksaan pajak, objek yang akan dilakukan pemeriksaan adalah dari SPT.
SPT inilah yang akan dilakukan pengujian dan dinilai oleh pemeriksa pajak
apakah nilai pajak terutang yang dinyatakan oleh wajib pajak dalam SPT telah
diisi dengan benar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan yang berlaku.
Dalam hal tidak menyampaikan SPT dan/atau menyarnpaikan SPT tidak
lengkap atau tidak benar setelah dilakukan penelitian akan dilakukan
pemeriksaan,
I. Surat Pemberitahuan
Surat pemberitahuan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk
melaporkan pcrhitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau
bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan perpajakan.
Surat pemberitahuan terdiri dari:
a. Surat Pemberitahuan Masa (SPM) adalah surat pernberitahuan untuk suatu
masa pajak (bulanan);
b. Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) adalah surat pemberitahuan untuk
suatu tahun pajak atau bagian tahun pajak.
a. Jenis SPT
I) SPT Masa (SPM) meliputi:
(a) SPT Masa PPh Pasal 21/26;
(b) SPT Masa PPh Pasal 22;
• HKUM4407/MCJDUL 7 7. 3
(c) SPT Masa PPh Pasal 23/26;
(d) SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2);
(e) SPT Masa PPh Pasal 15;
(f) SPT Masa PPN dan PPnBM.
2) SPT Tahunan (SPT) meliputi:
(a) SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
• SPT PPh OP 1770;
• SPT PPh OP 1770 S (sederhana);
• SPT PPh OP 1770 SS (sangat sederhana)
(b) SPT Tahunan PPh Badan
• SPT PPh Badan 1771
• SPT PPh Badan 1771 S (sederhana)
b. Kewajiban Pengisian SPT
Setiap wajib pajak wajib mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar,
lengkap dan jelas, dalam bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf Latin,
angka Arab, satuan uang rupiah, ditandatangani serta disampaikan ke kantor
Direktorat Jenderal Pajak tempat wajib pajak terdaftar atau dikukuhkan atau
ternpat Jain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.
c. Batas Waktu Penyampaian SPT
Sesuai ketentuan Pasal 3 ayat (3) Undang-Undang KUP dan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 243/PMK.03/2014, batas waktu penyampaian SPT
dinyatakan sebagai berikut.
Batas Akhir
No. SPT Keterangan
Penvamnaian
1. PPh. Ps.4 ayat (2) PPh. Ps.4 ayat(2) yang dipotong
oleh oemoton PPh.
2. PPh. Ps.4 ayat (2) PPh. Ps.4 ayat (2) yang harus
dibayar sendiri oleh wajib paiak.
3. PPh. Ps.15 PPh. Ps.15 yang dipotong oleh
pemotong PPh.
4. PPh. Ps.15 PPh. Ps.15 yang harus dibayar Paling lama 20 (dua
sendiri. puluh) hari setelah
5. PPh. Ps.21126 PPh Ps.21126 yang dipotong oleh masa pajak
pemotong PPh. berakhir.
7.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Batas Akhir
No. SPT Keterangan
Penvamnaian
6. PPh. Ps.23/26 PPh. Ps.23/26 yang dipotong oleh
oernotonn PPh.
7. PPh. Ps.25 PPh. Ps. 25 dibavar sendiri.
8. PPh. Ps.22 PPh. Ps. 22 yang
pemungutannya dilakukan oleh
wajib pajak badan tertentu
sebaoai nemun ut aiak.
9. PPh. Ps. 22 PPh. Ps. 22 yang dipungut oleh Paling lama 14
bendahara. (empat belas) hari
setelah masa pajak
berakhir.
10. PPN dan PPn BM PPN dan PPnBM terutang dalam Paling lama akhir
satu masa pajak, PPN yang bulan berikutnya
terutang alas pemanfaatan
Barang Kena Pajak tidak
berwujud dan/atau Jasa Kena
Pajak dari luar daerah pabean,
dan PPN kegiatan membangun
sendiri.
11. PPn dan PPn BM PPN atau PPN dan PPnBM yang
pemungutannya dilakukan oleh
nemun ut PPN.
12 Pajak-pajak dalam PPh. Ps. 22, PPN atau PPN dan Secara mingguan
rangka lmpor PPN dan PPn BM alas impor paling lama akhir
yang dipungut oleh Direktorat bulan benkutnya
Jenderal Bea dan Cukai
13. PPh. Ps. 25 wajib pajak yang melaporkan Paling lama 20 (dua
beberapa masa pajak dalam satu puluh) hari setelah
pemberitahuan masa. berakhirnya Masa
Paiak terakhir.
14. SPT Tahunan PPh Paling lama 3 (tiga)
Orang Pribadi (OP) bulan setelah akhir
tahun oaiak
15. SPT Tahunan PPh. Paling lama 4 (em-
Sadan pat) bulan setelah
akhir tahun oaiak
2. Penelitian
Kepada wajib pajak setelah diteliti dalam administrasi, ternyata tidak
menyampaikan laporan SPT atau terlambat menyarnpaikan laporan SPT
sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, akan
diterbitkan sanksi berupa Surat Tagihan Pajak.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7. 5
3. Pemeriksaan
Walaupun rnelalui sistem perpajakan self assessment, pemerintah telah
memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk menghitung,
memperhitungkan sendiri membayar dan melaporkan pajak terutang melalui
mekanisme.
Surat Pemberitahuan, tetapi pemerintah rnemiliki kewenangan untuk
meneliti dan merneriksa kebenaran laporan SPT yang dilakukan melalui:
sistem scoring SPT; bank data yang dirnilik pemerintah; laporan pihak ke-tiga;
pengaduan masyarakat; hal tertentu; atau sistem acak.
a. Scoring SPT
Di dalam kolom data dan perhitungan wajib pajak dalarn SPT, sebenarnya
terdapat rumus rahasia di mana ketika direkarn akan dapat terungkap bahwa
SPT tersebut pengisiannya tidak benar sehingga terhadap wajib pajak tersebut
perlu diklarifikasi mengenai pengisian SPT. Klarifikasi tersebut dapat
dilakukan melalui pemeriksaan.
b. Bank Data yang Dimiliki Pemerintah;
Dalam rangka kewajiban mengawasi kepatuhan pelaksanaan self
assessment perpajakan, pemerintah mengumpulkan data dari berbagai sumber
sebagai bahan cross check terhadap kebenaran SPT yang dilaporkan wajib
pajak.
c. Surat Pemberitahuan Tahunan Lebih Bayar
Bahwa terhadap Surat Pemberitahuan Tahunan wajib pajak yang
menyatakan lebih bayar maka pemerintah wajib untuk mengembalikan
kelebihan tersebut apabila terhadap permohonan pengembalian kelebihan.
Untuk itu, karena menyangkut penerimaan negara atas pennintaan kelebihan
pajak, pemerintah harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum
dilakukan pernbayaran kelebihan pajak.
cl. Laporan Pihak Ketiga
Terhadap wajib pajak tertentu, diwajibkan melaporkan transaksinya
kepada Ditjen Pajak. Hal tersebut akan dijadikan bahan pengecekan kebenaran
laporan SPT wajib pajak. Pihak yang diwajibkan memberikan laporan antara
lain:
7.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I) Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) untuk setiap transaksi tanah;
2) Dealer/snow roan, mobil, setiap transaksi ,nobil.
e. Pengaduan Masyarakat
Direktorat Jenderal Pajak akan menindaklanjuti pengaduan masyarakat
berkaitan dengan pengaduan masyarakat di bidang perpajakan.
f Hal Tertentu
Dalam rangka ,neningkatkan penerimaan negara, Direktorat Jenderal
Pajak dapat melakukan perneriksaan terhadap kegiatan bisnis tertentu,
misalnya terhadap bisnis batubara, bisnis handpone, komputer, dst. Ketika
bisnis tersebut sedang booming,
g. Sistem Acak
Secara acak pemerintah dapat juga melakukan pemeriksaan dalam rangka
meningkatkan kepatuhan wajib pajak (tax compliance).
4. Jenis Pemeriksaan
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: I 7/PMK.03/20 I 3
tentang Tata Cara Pemeriksaan, pemeriksaan perpajakan meliputi:
a. Pemeriksaan kantor, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di Kantor
Direktorat Jenderal Pajak;
b. Pemeriksaan Japangan, yaitu pemeriksaan yang dilakukan di tempat
tinggal atau tempat kedudukan wajib pajak, tempat usaha atau pekerjaan
bebas.
S. Kriteria Pemeriksaan
Terdapat 3 (tiga) kriteria pemeriksaan alasan dilakukannya pemeriksaan
terhadap wajib pajak:
a. Pemeriksaan Rutin
Perneriksaan rutin adalah pemeriksaan yang dilakukan sehubungan
dengan pemenuhan hak dan/atau pelaksanaan kewajiban perpajakan. Adapun
pemeriksaan rutin, antara lain:
I) Wajib pajak yang menyampaikan SPT PPh Tahunan atau SPT Masa PPN
Jebih bayar;
2) Wajib pajak rnenyampaikan SPT yang menyatakan rugi;
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.7
3) Wajib pajak melakukan penggabungan, peleburan, pernekaran, Jikuidasi
atau pembubaran usaha;
4) Wajib pajak orang pribadi akan meninggalkan Indonesia untuk selarna-
lamanya;
5) Wajib pajak melakukan perubahan tahun buku, perubahan metode
pembukuan dan/atau penilaian kembali aktiva tetap.
b. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap wajib
pajak yang berdasarkan hasil analisis risiko secara manual atau secara
komputerisasi menunjukkan adanya indikasi ketidakpatuhan dalam
pemenuhan kewajiban perpajakan.
Adapun ketentuan pemeriksaan khusus sebagai berikut:
I) Pemeriksaan khusus merupakan perneriksaan yang dilakukan terhadap
wajib pajak berdasarkan analisis risiko;
2) Terhadap wajib pajak yang tidak memenuhi kriteria pemeriksaan rutin
dapat dilakukan pemeriksaan khusus;
3) Analisis risiko adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai tingkat
ketidakpatuhan wajib pajak yang mengindikasikan potensi penerirnaan
pajak;
4) Analisis risiko dibuat dengan mendasarkan pada profil wajib pajak
dan/atau data internal Jainnya serta memanfaatkan data eksternal baik
secara ,nanual ,naupun berdasarkan kriteria seleksi berbasis risiko secara
komputerisasi;
5) Pemeriksaan khusus dilakukan dengan jenis pemeriksaan lapangan;
6) Pemeriksaan khusus dapat dilakukan atas alasan:
(a) Persetujuan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak;
(b) Instruksi Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak;
(c) Instruksi Direktur Pemeriksaan dan Penagihan.
c. Pemeriksaan. Tujuan Lain
Ruang lingkup pemeriksaan untuk tujuan Jain dalam rangka melaksanakan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat meliputi
pencocokan, atau pengumpulan rnateri yang berkaitan dengan tujuan
pemeriksaan.
7.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Pemeriksaan untuk tujuan Jain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan dilakukan dengan alasan sebagai
berikut:
I) Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secarajabatan;
2) Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak secarajabatan;
3) Pengukuhan dan pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak;
4) Wajib pajak rneugajukan keberatan;
5) Pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghitungan penghasilan
neto;
6) Pencocokan data dan/atau alat keterangan;
7) Penentuan wajib pajak berlokasi di daerah terpencil;
8) Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai;
9) Perneriksaan dalam rangka penagihan pajak;
I 0) Penentuan saat produksi dimulai sehubungan dengan pernberian fasilitas
perpajakan, dan/atau
11) Memenuhi permmtaan informasi dari negara rmtra Perjanjian
Penghindaran Pajak Berganda.
6. Tata Cara Pemeriksaan Pajak
a. Penyampaian surat pemberitahuan pemeriksaan atau surat panggilan
dalam rangka pemeriksaan kantor;
b. Perternuan dengan wajib pajak;
c. Peminjarnan dokumen;
d. Penolakan perneriksaan, untuk itu perneriksa pajak akan membuat berita
acara penolakan pemeriksaan pajak;
e. Pengujian oleh pemeriksa pajak, dilakukan terhadap buku, catatan, dan
dokumen serta data atau keterangan lain;
f. Penyampaian Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan (SPHP)
wajib pajak wajib memberikan tanggapan tertulis atas SPHP dalam waktu
7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal diterirnanya SPHP oleh wajib pajak;
g. Pernbahasan hasil akhir pemeriksaan;
Atas has ii pemeriksaan dalam SPHP dan daftar temuan hasil perneriksaan,
kepada wajib pajak harus diberikan hak hadir dalarn pembahasan akhir
hasil perneriksaan;
h. Pembahasan dengan Tim Quality Assurance Pemeriksaan
Dalam ha) hasil pemeriksaan belurn disepakati antara pemeriksa pajak dan
wajib pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, guna
• HKUM4407/MCJDUL 7 7. 9
memperoleh hasil pemeriksaan yang berkualitas, wajib pajak dapat
mengajukan pennohonan agar hal tersebut dibahas oleh Ti111 Qualiry
Assurance Pemeriksaan. Perrnohonan disampaikan kepada Kepala Kantor
Wilayah Ditjen Pajak atau Direktur Pemeriksaan dan Penagihan;
1. Penandatanganan Berita Acara Pernbahasan Akhir Hasil Pemeriksaan.
j. Usu! pemeriksaan Bukti Permulaan
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan
dapat diusulkan menjadi Bukti Permulaan.
7. Produk Hokum Hasil Pemeriksaan Pajak
Produk hukum dari pemeriksaan pajak adalah ketetapan pajak, meliputi
Surat Ketetapan Pajak dan Surat Tagihan Pajak.
a. Surat Ketetapan Pajak
Ketetapan dari hasil pemeriksaan yang meliputi Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat
Ketetapan Pajak Nihil, dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.
I) Surat Ketetapan Pajak Kurang Pajak Bayar (SKPKB)
SKPKB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah
pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok
pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.
2) Surat Ketetapan Pajak Kurang Pajak Bayar Tambahan (SKPKBT)
SKPKBT adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas
jumlah pajak yang telah ditetapkan.
3) Surat Ketetapan Pajak Kurang Pajak Nihil (SKPN)
SKPN adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak
sama besarnya dengan jumlah kredit pajak, atau pajak tidak terutang dan
tidak ada kredit pajak;
4) Surat Ketetapan Pajak Kurang Pajak Lebih Bayar (SKPLB)
SKPLB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan
pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak Jebih besar daripada pajak
yang terutang atau seharusnya tidak terutang.
b. Surat Tagihan Pajak (STP)
STP adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi
administrasi berupa bunga dan/atau denda.
7.1Q HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
8. Tunggakan Pajak
Atas penerbitan STP, SKPKB dan SKPKBT akan terdapat kekurangan
pajak yang wajib dilunasi oleh wajib pajak dan/atau penanggung pajak.
Apabila tidak dibayar akan menimbulkan tunggakan pajak di mana pemerintah
mernpunyai hak executoria/ untuk menagih hingga lunas yang akan dibahas
dalam Kegiatan Belajar 2 Modul ini.
��
�""
-------
�
LATIHAN
Untuk rnernperdalam pernahaman Anda rnengenai rnateri di atas,
kerjakanlah latihan berikut l
I) Mengapa keberadaan laporan SPT wajib pajak menjadi penting dalam
perneriksaan pajak?
2) Jelaskan jenis pemeriksaan pajak!
3) Apakah produk hasil dari pemeriksaan pajak?
4) Kapan terjadi tunggakan pajak?
5) Apa beda pemeriksaan rutin dan pemeriksaan khusus?
Petunjuk Jawaban Latihan
l) SPT wajib pajak menjadi penting dalarn pemeriksaan pajak karena
pemeriksaan pajak dilakukan terhadap laporan SPT yang dianggap tidak
benar.
2) Jenis pemeriksaan pajak adalah pemeriksaan kantor dan pemeriksaan
lapangan.
3) Produk hasil perneriksaan sebagai berikut:
a. Surat Ketetapan Pajak yang terdiri dari SKPKB, SKPKBT, SKPN
dan S KPLB; dan
b. Surat Tagihan Pajak.
4) Terjadi tunggakan pajak apabila STP, SKPKB, dan SKPKBT tidak
dilunasi oleh wajib pajak.
5) Beda pemeriksaan rutin dan pemeriksaan khusus diuraikan dalam KB I
huruf A angka 5.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7 .11
D RANG Ku MAN�------------------
Setelah reformasi perpajakan di Indonesia pada tahun 1983, berlaku
sistem self assessment di maria wajib pajak diberikan kepercayaan pen uh
untuk menghitung, mernperhitungkan sendiri, mernbayar, dan melapor
pajak terutang melalui mekanisme laporan surat pemberitahuan.
Walaupun dengan sistern perpajakan ini, pemerintah memberikan rnandat
sepenuhnya kepada wajib pajak untuk menghitung pajak terutang, tetapi
pemerintah tetap selalu mengawasi apakah SPT yang dilaporkan telah
benar sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku.
Apabila laporan SPT terdapat indikasi tidak benar maka pemerintah
akan melakukan tindakan pemeriksaan. Pemeriksaan tentu saja harus
memenuhi kriteria yang ditetapkan dalarn peraturan perundang-undangan.
Hasil dari pemeriksaan adalah keletapan pajak baik berupa Surat Tagihan
Pajak maupun Surat Ketetapan Pajak, meliputi Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat
Ketetapan Pajak Nihil dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.
Dalam hat Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar,
dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan di mana di dalamnya
terdapat sejumlah tagihan/pajak tidak dilunasi dalam jangka waktu
tertentu sesuai ketentuan UU Perpajakan maka akan dilakukan penagihan.
�I
TES FORMATIF 1
---------------�
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Jenis pemeriksaan meliputi ....
A. pemeriksaan kantor administrasi dan pemeriksaan tindak pidana
perpajakan
8. pemeriksaan kantor dan pemeriksaan lapangan
C. pemeriksaan adrninistrasi dan pemeriksaan luar
D. pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan lapangan
2) Surat ketetapan pajak yang dapat dilakukan penagihan adalah surat ....
A. Tagihan Pajak dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
B. Ketetapan Pajak Nihil dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar
C. Tagihan Pajak
D. Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak Kurang
Bayar Tarnbahan
7.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3) Mengapa terhadap permohonan SPT lebih bayar dilakukan pemeriksaan?
A. karena terhadap SPT Lebih Bayar terdapat kewajiban pemerintah
untuk membayar kelebihan tersebut
B. karena pemerintah mernpunyai kekuasaan
C. karena pe,neriksaan hanya untuk SPT Lebih Bayar
D. karena SPT Lebih Bayar merugikan keuangan negara
4) Kriteria pemeriksaan meliputi ....
A. perneriksaan rutin dan pemeriksaan nonrutin
B. pemeriksaan adrninistrasi dan pemeriksaan nonadrninisrtrasi
C. perneriksaan rutin, pemeriksaan khusus, dan pemeriksaan untuk
tujuan lain.
D. perneriksaan khusus dan pemeriksaan biasa
5) Kapan dilakukannya pembahasan laporan hasil pemeriksaan oleh Tim
Quality Assurance Pemeriksaan?
A. dalarn ha! hasil pemeriksaan tidak disetujui oleh wajib pajak
B. atas permintaan wajib pajak
C. diajukan oleh wajib pajak kepada Kanwil Ditjen Pajak atau Direktorat
Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak
D. semuanya benar
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Format if I yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = ----------- x 1 OOo/o
J umlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar I, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.13
KEGIATAN [Link] 2
Penagihan Pajak
(' istern perpajakan di Indonesia untuk pajak-pajak pusat berlaku sistem self
O assessment, sedangkan untuk pajak daerah pada umumnya masih
menganut official assessment di mana terdapat pajak terutang apabila
pemerintah daerah telah menerbitkan ketetapan pajak. Namun demikian, baik
dalarn self assessment maupun official assessment, jumlah kekurangan pajak
yang harus dibayar baru ,nempunyai kekuatan hukum apabila pemerintah telah
menerbitkan ketetapan pajak. Di dalam ketetapan pajak tersebut implisit di
dalamnya terdapat kewajiban wajib pajak atau penanggung pajak harus
rnelunasi besarnya ketetapan pajak yang harus dibayar.
Apabila setelah jatuh tempo ketetapan pajak ternyata wajib pajak atau
penanggung pajak tidak melunasinya maka akan dilakukan penagihan pajak
sebagaimana diatur dalam UU Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 19 Tahun
2000.
Walaupun titelnya penagihan dengan surat paksa, tetapi di dalamnya
merupakan rangkaian tindakan penagihan aktif pernerintah dengan memaksa,
yang akan diuraikan dalam bab ini.
A. PENGERTIAN PENAGIHAN PAJAK
Dinyatakan dalam Pasal I angka 9 UU Nomor 19 Tahun 2000 bahwa
penagihan pajak adalah serangkaian tindakan agar penanggung pajak melunasi
utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan menegur atau memperingatkan,
melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus, memberitahukan surat paksa,
mengusulkan pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan
penyanderaan, menjual barang yang telah disita.
Ketentuan penagihan iru mengandung pengertian bahwa dalam
pelaksanaan/ tindakan penagihan pajak harus dilakukan secara berurutan
sesuai dengan ketentuan undang-undang, kecuali dalarn hal tertentu apabila
penanggung pajak dikhawatirkan akan meninggalkan Indonesia.
7.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
B. PENANGGUNG PAJAK
Penanggung pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung
jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan
mernenuhi kewajiban wajib pajak menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan. Penagihan pajak atas utang pajak dilakukan kepada
penanggung pajak, yang terdiri dari wajib pajak, yaitu pihak yang menurut
ketentuan perpajakan ditentukan melakukan kewajiban perpajakan dan orang
atau badan yang bertanggung jawab atas utang pajak.
Penanggung pajak tersebut tidak berarti orang atau badan yang tercantum
dalam akta pendirian, tetapi orang lain pun dapat menjadi penanggung pajak
apabila sebenarnya orang tersebut yang bertanggung jawab atas perusahaan
terse but.
Contoh:
Dalam suatu perusahaan PT. Rajawali, tertulis Direktur Utarnanya Subagio,
padahal pemilik perusahaan itu Tuan Ayong, sedangkan Subagio adalah
supirnya yang dipinjam namanya dalam akta pendirian perusahaan sebagai
direktur utama. Apabila dikernudian hari ternyata terdapat utang pajak maka
yang bertanggung jawab untuk ,nelunasi termasuk Ayong, walaupun tidak
tertera dalam akta pendirian perusahaan.
C. DASAR PENAGIHAN PAJAK
Sebagairnana diatur dalam ketentuan Pasal 18 ayat ( I) UU Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) Dasar Penagihan Pajak meliputi:
I. Surat Tagihan Pajak (STP);
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);
4. Sura Keputusan Pembetulan;
5. Surat Keputusan Keberatan;
6. Putusan Banding; serta
7. Putusan Peninjauan Kembali.
menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.15
D. TATA URUTAN PENAGIHAN PAJAK
Tata urutan dan pelaksanaan penagihan sebagai berikut:
I. Surat Teguran, Surat Peringatan, atau Surat Lainnya yang Sejenis;
adalah surat yang diterbitkan pejabat untuk menegur atau
mernperingatkan kepada wajib pajak untuk melunasi utang pajaknya.
2. Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus;
adalah penagihan pajak yang dilaksanakan oleh Juru Sita Pajak kepada
penanggung pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran yang
meliputi seluruh utang pajak dari semuajenis pajak, masa pajak, dan tahun
pajak;
3. Surat Paksa;
adalah surat perintah rnernbayar utang pajak dan biaya penagihan pajak
dan dilaksanakan oleh Juru Sita Pajak.
4. Surat Perintah Melakukan Penyitaan;
adalah tindakan Juru Sita Pajak untuk menguasai barang penanggung
pajak, guna dijadikan jaminan untuk melunasi utang pajak menurut
peraturan perundang-undangan.
S. Surat Penyanderaan;
adalah pengekangan sementara waktu kebebasan penanggung pajak
dengan menernpatkannya di tempat tertentu.
6. Surat Pencabutan Sita;
adalah dicabutnya penyitaan karena telah dilunasinya utang pajak atau
karena barang yang disita ternyata bukan milik dari penanggung pajak;
7. Pengumuman Lelang;
adalah pengumuman atas penjualan barang di muka umum dengan cara
penawaran harga secara lisan atau tertulis melalui usaha pengumuman
peminat atau calon pembeli;
8. Surat Penentuan Harga Limit;
Penentuan harga paling rendah yang ditentukan oleh kesepakatan Ditjen
Pajak dan kantor lelang.
9. Pembatalan Lelang;
adalah pembatalan pelaksanaan lelang karena telah dilunasinya pajak
terutang atau karena tidak tercapainya penawaran harga limit yang telah
ditentukan.
10. Surat lain yang diperlukan untuk pelaksanaan penagihan pajak.
7.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
E. SURAT PAKSA
I. Surat paksa diberitahukan oleh Juru Sita Pajak dengan pernyataan dan
penyerahan salinan Surat Paksa kepada Penanggung Pajak;
2. Pemberitahuan Surat Paksa dituangkan dalarn Berita Acara yang
sekurang-kurangnya rnernuat hari dan tanggal pernberitahuan Surat Paksa,
nama Juru Sita Pajak, narna yang menerima dan tempat pemberitahuan
Surat Paksa;
3. Surat Paksa terhadap orang pribadi diberitahukan oleh Juru Sita Pajak
kepada:
a. Penanggung Pajak di ternpat tinggal, ternpat usaha atau di ternpat lain
yang mernungkinkan;
b. Orang dewasa yang bertempat tinggal bersarna ataupun yang bekerja
di ternpat usaha Penanggung Pajak, apabila Penanggung Pajak yang
bersangkutan tidak dapat dijurnpai;
c. Salah seorang ahli waris atau pelaksana wasiat atau yang mengurus
harta peninggalannya apabila wajib pajak telah meninggal dunia, dan
harta warisan belum dibagi; atau
d. Para ahli waris, apabila wajib pajak telah ,neninggal dunia atau harta
warisan telah dibagi.
4. Surat Paksa terhadap badan diberitahukan oleh Juru Sita Pajak kepada:
a. Pengurus, kepala perwakilan, kepala cabang, penanggung jawab,
pernilik modal baik di ternpat kedudukan badan yang bersangkutan,
di tempat tinggal mereka maupun di tempat lain yang
memungkinkan; atau
b. Pegawai tetap di tempat kedudukan atau tempat usaha badan yang
bersangkutan apabila Juru Sita Pajak tidak dapat rnenjurnpai salah
seorang tersebut di atas.
5. Dalarn hal wajib pajak dinyatakan pailit, Surat Paksa diberitahukan
kepada Kurator, Hakim Pengawas atau Balai Harta Peninggalan, dan
dalarn hal wajib pajak dinyatakan bubar atau dalam likuidasi, Surat Paksa
diberitahukan kepada orang atau badan yang dibebani untuk rnelakukan
pemberesan atau likuiditor;
6. Dalarn hal wajib pajak rnenunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa
khusus untuk rnenjalankan hak dan kewajiban perpajakan, Surat Paksa
dapat diberitahukan kepada penerirna kuasa dirnaksud;
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.17
7. Apabila pernberitahuan Surat Paksa dirnaksud tidak dapat dilaksanakan,
Surat Paksa disampaikan rnelalui Pemerintah Daerah seternpat;
8. Dalam hal wajib pajak atau penanggung pajak tidak diketahui tempat
tinggalnya, ternpat usaha atau ternpat kedudukannya, penyarnpaian Surat
Paksa dilaksanakan dengan cara menempelkan Surat Paksa pada papan
pengumuman kantor Pejabat yang menerbitkannya, mengumurnkan
melalui media massa, atau cara lain yang ditetapkan dengan keputusan
menteri atau keputusan kepala daerah;
9. Dalam ha! Surat Paksa harus dilakukan di Juar wilayah kerja pejabat,
pejabat dirnaksud rnerninta bantuan kepada pejabat yang wilayahnya
kerjanya meliputi ternpat pelaksanaan Surat Paksa, kecuali ditetapkan Jain
dengan keputusan menteri atau keputusan kepala daerah;
I 0. Pengajuan keberatan oleh wajib pajak tidak rnengakibatkan penundaan
pelaksanaan Surat Paksa;
11. Surat Paksa rnempunyai eksekutorial dan kedudukannya hukum yang
sama dengan grosse akte, yaitu putusan pengadilan perdata yang telah
mernpunyai kekuatan hukum tetap;
12. Pelaksanaan Surat Paksa dapat dilakukan dengan penyitaan setelah Jewat
waktu 2(dua) kali 24 (dua puluh ernpat) jam setelah Surat Paksa
diberitahukan.
F. PENAGIHAN PAJAK SEKETIKA DAN SEKALIGUS
Juru Sita Pajak dalam melaksanakan penagihan seketika dan sekaligus
tanpa menunggu tanggal jatuh tempo pembayaran berdasarkan Surat Perintah
Penagihan Seketika dan Sekaligus yang diterbitkan oleh pejabat, apabila:
I. Penanggung pajak akan ,[Link] Indonesia untuk selarna-lamanya
atau berniat untuk itu;
2. Penanggung pajak memindahkan barang yang dimiliki atau yang dikuasai
dalarn rangka menghcntikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan atau
pekerjaan yang dilakukan di Indonesia;
3. Terdapat tanda-tanda bahwa penanggung pajak akan rnernbubarkan badan
usahanya, atau menggabungkan usahanya atau memekarkan usahanya
atau memindahkan perusahaan yang dimiliki atau dikuasainya atau
rnelakukan perubahan bentuk lainnya;
4. Badan usaha akan dibubarkan oleh negara;
7.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
5. Terjadi penyitaan atas barang penanggung pajak oleh pihak ketiga atau
terdapat tanda-tanda kepailitan.
G. PENYITAAN
Apabila utang pajak juga tidak dilunasi penanggung pajak dalam jangka
waktu 2 (dua) kali 24 (dua puluh ernpat) jam setelah Surat Paksa diberitahukan,
pejabat menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan:
I. Penyitaan dilaksanakan oleh Juru Sita Pajak dengan disaksikan oleh
sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yang telah dewasa, penduduk
Indonesia, dikenal oleh Juru Sita dan dapat dipercaya;
2. Setiap Penyitaan, Juru Sita membuat Serita Acara Pelaksanaan Sita yang
ditandatangani oleh Juru Sita Pajak, penanggung pajak, dan saksi-saksi;
3. Dalam hal penanggung pajak adalah badan rnaka Serita Acara
Pelaksanaan Sita ditandangani oleh pengurus, kepala perwakilan, kepala
cabang, penanggung jawab, pemilik modal atau pegawai tetap
perusahaan;
4. Walaupun penanggung pajak tidak hadir, penyitaan tetap dapat
dilaksanakan dengan syarat salah seorang saksi berasal dari Pemerintah
Daerah setempat, dan di ungkapkan dalam Serita Acara Sita yang
mernpunyai kekuatan hukum mengikat;
5. Salinan Serita Pelaksanaan Sita dapat ditempelkan pada barang bergerak
atau barang tidak bergerak yang disita atau di tempat barang yang disita
itu berada, dan/atau di tempat-tempat umum;
6. Terhadap barang yang disita dapat ditempel atau diberi segel sita.
H. OBJEK SITA DAN PENJUALAN LELANG BARANG SITAAN
I. Bahwa yang dapat dijadikan objek sita adalah barang milik penanggung
pajak yang berada di ternpat tinggal, tempat usaha, tempat kedudukan,
atau di ternpar Jain termasuk yang penguasaannya berada di tangan pihak
Jain atau yang dijaminkan sebagai pelunasan hutang tertentu (Pasal 3 PP
Nomor 135 Tahun 2000).
2. Penyitaan dilakukan dengan mendahulukan barang bergerak, kecuali
dalam keadaan tertentu dapat dilaksanakan Jangsung terhadap barang
tidak bergerak. Misalnya, dalam hal juru sita tidak menemukan barang
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.19
bergerak yang memadai sebagai jaminan hutang pajak, penyitaan dapat
di lakukan langsung pad a barang tidak bergerak.
3. Barang bergerak yang dikecualikan sebagai objek sita adalah sebagai
berikut:
a. Pakaian dan tempat tidur beserta perlengkapannya yang digunakan
oleh penanggung pajak dan keluarga yang menjadi tanggungannya;
b. Persediaan makanan dan minuman untuk keperluan I (satu) bulan
beserta peralatan memasak yang ada di rumah termasuk obat-obatan
yang dipergunakan penanggung pajak beserta keluarganya;
c. Perlengkapan penanggung pajak yang bersifat dinas yang diperoleh
dari negara;
d. Buku-buku yang bertalian denganjabatan atau pekerjaan penanggung
pajak, alat-alat yang dipergunakan untuk pendidikan, kebudayaan,
keilmuan
e. Peralatan yang masih digunakan untuk menjalankan pekerjaan atau
sehari-hari yang tidak lebih dari Rp20.000.000 (dua puluhjuta rupiah)
atau jumlah lain yang ditetapkan Menteri Keuangan atau Kepala
Daerah.
f. Peralatan penyandang cacat yang digunakan oleh penanggung pajak
dan keluarga yang menjadi tanggungannya
I. PEMBLOKIRAN
Dalarn rangka penagihan pajak dapat juga dilakukan pemblokiran
rekening di bank milik penanggung pajak, akan tetapi perintah pemblokiran
dilakukan oleh Menteri Keuangan atas permintaan pemerintah (Direktur
Jenderal Pajak/Direktur Jenderal Bea dan Cukai/Kepala Daerah).
J. HAK MENDAHULU PENAGIHAN PAJAK
Dalarn melaksanakan kegiatan penagihan pajak pemerintah dan
pemerintah daerah berdasarkan Pasal 21 UU KUP rnernpunyai hak mendahulu
atas hutang pajak terhadap barang-barang rnilik penanggung pajak, melebihi
segala hak rnendahulu lainnya kecuali terhadap:
I. Biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk
melelang suatu barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak;
7.2Q HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2. Biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud;
dan/atau
3. Biaya perkara yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian
suatu wansan;
4. Hak mendahulu hilang setelah melampaui waktu 5 tahun sejak tanggal
diterbitkan Surat Tagihan Pajak, surat ketetapan pajak, surat keputusan
keberatan, putusan banding, atau putusan peninjauan kembali yang
menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.
K. BUNGA PENAGIHAN
Apabila SKPKB atau SKPKBT, Surat Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan, Putusan Banding, atau Putusan Peninjauan Kembali,
yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah, pada
saat jatuh tempo pelunasan tidak atau kurang dibayar:
I. Atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu dikenai sanksi
administrasi berupa bunga sebesar 2o/o (dua persen) per bulan untuk
seluruh masa yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan
tanggal pelunasan atau tanggal diterbitkan Surat Tagihan Pajak dan bagian
dari bulan dihitung penuh satu bulan;
2. Dalam ha] wajib pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda
pembayaran pajak, juga dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang masih harus dibayar
dan bagian dari bulan dihitung penuh satu bulan.
L. PENCEGAHAN DAN PENY ANDERAAN
Pencegahan dan penyanderaan merupakan upaya yang berbeda dalam
kegiatan penagihan pajak. Dalam pencegahan dan penyanderaan adalah
merupakan penjaminan pelunasan hutang pajak terhadap kcbebasan diri dari
penanggung pajak. Pencegahan dan penyanderaan bukan bersifat hukuman
tapi bersifat penjaminan, dengan demikian pelaksanaan pencegahan dan
penyanderaan tidak rnenghapuskan dan menjadikan pelunasan bagi hutang
pajak. Kegiatan penagihan pajak Jain seperti penyitaan, pemblokiran, dan
pelelangan dapat dilaksanakan bersamaan dengan upaya pencegahan dan
penyanderaan. Persetujuan dalam pelaksanaan pencegahan dan penyanderaan
dalam rangka penagihan berada pada Menteri Keuangan untuk pajak pusat dan
Kepala Daerah untuk pajak daerah.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.21
I. Pencegahan
Pencegahan adalah larangan bersifat sementara terhadap
yang
penanggung pajak tertentu untuk keluar dari wilayah Negara Republik
Indonesia berdasarkan alasan tertentu sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan. Pencegahan berdasarkan Pasal 29 UU Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa, syarat kuantitatif yang harus dipenuhi:
a. Hutang pajak sekurang-kurangnya Rp I [Link] (seratus juta
rupiah);
b. Diragukan itikad baiknya dalam melunasi hutang pajak;
c. Upaya pencegahan dapat dilakukan bersamaan dengan tindakan
penagihan lain;
d. Pencegahan tidak menghapus tunggakan hutang pajak.
2. Penyanderaan
Penyanderaan atau gijzelling merupakan salah satu upaya penagihan pajak
yang wujudnya berupa pengekangan sernentara waktu terhadap kebebasan
penanggung pajak dengan menempatkan pada tempat tertentu. Berdasarkan
Pasal 33 ayat (I) UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa diatur syarat
kuantitatif:
a. Untuk melakukan penyanderaan hanya dapat dilakukan terhadap
penanggung pajak yang hutang pajaknya sekurang-kurangnya
Rp I 00.000.000,00 (seratus j uta rupiah);
b. Penanggung pajak diragukan itikad baiknya dalam melunasi tunggakan
hutang pajak;
c. Penyanderaan dilakukan setelah lewat waktu 14 (ernpat belas) hari
terhitung sejak tanggal Surat Paksa diberitahukan kepada penanggung
pajak;
d. Walaupun penanggung pajak dikenakan penyanderaan, pada dasarnya
bukanlah kesalahan penanggung pajak. Penyanderaan hanyalah upaya
paksa agar penanggung pajak melunasi biaya-biaya penagihan. Dengan
dernikian, penempatan sandera harus terpisah dengan tahanan lainnya,
jika tempat penyanderaan belum ada dititipkan pada rumah tahanan
negara.
7.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
M. DALUARSA PENAGIHAN
Dinyatakan dalam Pasal 22 UU KUP bahwa hak untuk melakukan
penagihan pajak termasuk bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak
daluarsa setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penerbitan
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan
Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan, Putusan Banding, serta Putusan Peninjauan Kembali.
Daluarsa penagihan pajak dimaksud tertangguh apabila:
I. Diterbitkan Surat Paksa, daluarsa dihitung sejak penerbitan dan
pemberitahuan Surat Paksa kepada penanggung pajak yang tidak
melakukan pembayaran hutang pajak;
2. Ada pengakuan hutang pajak dari wajib pajak baik langsung maupun tidak
langsung;
3. Diterbitkan SKPKB atau SKPKBT dalarn ha! wajib pajak melakukan
tindak pidana perpajakan;
4. Dilakukan penyidikan tindak pidana bidang perpajakan.
N. PENGHAPUSAN PIUTANG PAJAK
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 68/PMK.03/2012
tanggal 2 Mei 2012 tentang Tata Cara Penghapusan Pajak dan Penetapan
Besarnya Penghapusan ,nengatur ,nengenai piutang pajak yang dapat
dihapuskan adalah piutang pajak yang tercantum dalam:
I. Surat Tagihan Pajak;
2. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar;
3. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan;
4. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang;
5. Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan
Banding serta Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jurnlah
pajak yang rnasih harus dibayar bertambah,
Adapun piutang pajak tersebut di atas tidak dapat ditagih lagi karena:
1. Bagi Orang Pribadi, karena:
a. Wajib pajak dan/atau penanggung pajak meninggal dunia dan tidak
rnernpunyai harta warisan atau kekayaan;
b. Wajib pajak dan/atau penanggung pajak tidak dapat ditemukan;
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.23
c. Hak untuk rnelakukan penagihan pajak sudah daluarsa;
d. Dokurnen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah
dilakukan penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan di bidang perpajakan; atau
e. Hak negara untuk rnelakukan penagihan pajak tidak dapat
dilaksanakan karena kondisi tertentu sehubungan dengan adanya
perubahan kebijakan dan/atau berdasarkan pertimbangan yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
2. Bagi Wajib Pajak Badan, karena:
a. Wajib pajak bubar, likuidasi, atau pailit dan penanggung pajak tidak
dapat diternukan;
b. Hak untuk rnelakukan penagihan pajak sudah daluarsa;
c. Dokurnen sebagai dasar penagihan pajak tidak ditemukan dan telah
dilakukan penelusuran secara optimal sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan di bidang perpajakan; atau
d. hak negara untuk rnelakukan penagihan pajak tidak dapat
dilaksanakan karena kondisi tertentu sehubungan dengan adanya
perubahan kebijakan dan/atau berdasarkan pertimbangan yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan.
��
-�
- --
�
-----
LATIHAN
Untuk memperdalarn pernaharnan Anda rnengena, materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Mengapa penagihan pajak dilakukan terhadap penanggung pajak bukan
kepada wajib pajak?
2) Jelaskan dasar penagihan pajak yang Saudara ketahui !
3) Jelaskan tata urutan penagihan pajak!
4) Bilarnana penagihan pajak seketika dan sekaligus dilaksanakan?
5) Apakah gijzel/ing penagihan pajak? Jelaskan !
Perunjuk Jawaban Latihan
I) Kegiatan penagihan pajak dilakukan terhadap penanggung pajak bukan
kepada wajib pajak karena di dalarn hukum pajak menganut asas material
7.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
di mana hak dan kewajiban pajak terletak tidak hanya yang secara formal
ada atau terdapat dalarn kepengurusaan (akta pendirian).
2) Dasar penagihan pajak sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat I undang-
undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) sebagairnana
diuraikan dalam KB ? huruf B angka 3.
3) Tata urutan penagihan pajak diuraikan dalam KB 2 huruf B angka 4.
4) Penagihan pajak seketika dan sekaligus dilaksanakan apabila wajib pajak
akan meninggalkan negara Indonesia selamanya.
5) Gijzelling penagihan pajak (penyanderaan) adalah bentuk penagihan di
mana wajib pajak/penanggung pajak ditempatkan atau dititipkan pada
rumah tahanan negara sebagaimana diuraikan dalam KB 2 huruf B angka
12.
¢:;]_ RANG KUMAN _
Penagihan pajak yang diatur dalarn UU Nornor 19 Tahun 1997
tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa sebagaimana telah diubah
dengan UU Nomor 19 Tahun 2000 memiliki fungsi, peranan yang
strategis dalam Ian, enforcement perpajakan di Indonesia. Hal tersebut
disebabkan penagihan pajak aktif yang diawali dengan penagihan dengan
surat paksa merupakan parate executie I executorial beslag, yaitu
merupakan tindakan yang setara dengan eksekusi putusan peradilan yang
telah rnernpunyai kekuatan hukum tetap. Hal tersebut dapat dirnaklumi,
karena penagihan pajak sangat diperlukan dalarn menegakkan sistem
perpajakan self assessment yang mernberikan kepercayaan penuh kepada
wajib pajak dalam menghitung dan memperhitungkan sendiri pajak
terutang. Selain itu, karena pajak mempunyai peranan yang dominan
sebagai penerimaan negara dalam APBN. Oleh karena itulah penagihan
pajak diatur dalam undang-undang secara tersendiri yang merniliki
kekhasan kekuatan dalam pelaksanaannya.
Walaupun penagihan pajak sangat diperlukan dalam rangka
penerimaan negara, namun ketentuan peraturan perundang-undangan
telah mernberikan rambu-rambu guna mewujudkan keadilan dan
kepastian hukum bagi pernbayar pajak khususnya dan rnasyarakat pada
umumnya.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.25
�I
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Di mana UU Penagihan Pajak dengan Surat Paksa diatur ....
A. UU Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 16 Tahun 2009
B. UU Nomor 19 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 19 Tahun 2000
C. UU Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 42 Tahun 2009
D. UU Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah dengan UU
Nornor 36 Tahun 2008
2) Surat Paksa penagihan pajak diberikan kepada ....
A. wajib pajak
B. direktur perusahaan
C. wakil perusahaan
D. penanggung pajak
3) Dalam melaksanakan kegiatan penagihan pajak, pemerintah, dan
pernerintah daerah mernpunyai ....
A. hak mendahulu melebihi hak mendahulu lainnya
B. hak untuk melakukan penyitaan apabila utang pajak tidak dilunasi
penanggung pajak dalam jangka waktu I (satu) kali 24 (dua puluh
ernpat) jam setelah Surat Paksa diberitahukan
C. hak melakukan penyanderaan wajib pajak ke penjara (rumah
pemasyarakatan)
D. semuanya benar
4) Apakah yang dimaksud pencegahan dalam pelaksanaan penagihan pajak?
A. adalah larangan terhadap wajib pajak untuk keluar dari kola di mana
ia terdaftar sebagai wajib pajak
B. adalah larangan sementara wajib pajak untuk menjadi Pegawai
Negeri Sipil sebelum rnelunasi utang pajaknya
C. adalah larangan sernentara terhadap penanggung pajak tertentu untuk
keluar dari wilayah negara Republik Indonesia
D. sernuanya salah
7.26 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
5) Daluarsa penagihan sebagaimana diatur dalam Pasal 22 UU KUP
adalah ....
A. setelah melampaui waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak penerbitan
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan, Putusan Banding, dan Putusan Peninjauan
Kernbali
B. setelah melarnpaui waktu 7 (tujuh) tahun terhitung sejak penerbitan
Surat Tagihan Pajak, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat
Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan, putusan Banding dan putusan Peninjauan
Kembali
C. dalam hal wajib pajak meninggal dunia
D. dalarn hal alamat wajib pajak tidak lagi diternukan lagi
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
rnateri Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = ----------- x I 00%
Jumlah Saal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70o/o == kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi rnateri Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.27
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
I) B. Perneriksaan kantor dan pemeriksaan lapangan
Jenis pemeriksaan meliputi Pemeriksaan Kantor dan Pemeriksaan,
berdasarkan tempat di muka dilakukan Lapangan
2) D. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan;
Surat Ketetapan Kurang Pajak (SKPKB) dan Surat Ketetapan Kurang
Pajak Tambahan (SKPKBT) yang dapat ditagih karena di dalamnya
terdapat kekurangan pajak yang harus dibayar
3) A. Karena dalam SKP Lebih bayar terdapat kewajiban pemerintah untuk
membayar kelebihan tersebut;
Karena sistern perpajakan di Indonesia menganut self assessment, di
maria pernyataan lebih bayar dalam SPT hanya pengungkapan
sepihak dari Wajib Pajak yang perlu diperiksa kebenarannya;
4) C. Perneriksaan Rutin, Pemeriksaan Khusus, dan Pemeriksaan Untuk
Tujuan Lain;
Kriteria pemeriksaan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan perpajakan meliputi Perneriksaan Rutin, Pemeriksaan
Khusus dan Pemeriksaan untuk tujan Lain
5) D. Sernuanya benar.
Dilakukannya pembahasan laporan hasil pemeriksaan oleh Tim
Quality Assurance Perneriksaan, adalah atas permintaan Wajib Pajak
kepada Kanwil Ditjen Pajak atau Direktorat Pemeriksaan dan
Penagihan Ditjen Pajak disebabkan hasil pemeriksaan tidak disetujui
oleh Wajib Pajak.
Tes Forn,ati/2
I) B. UU Nomor 19 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah dengan UU
Nomor 19 Tahun 2000.
UU pelaksanaan penagihan aktif dan surat paksa hingga penyitaan ,
diatur khusus dalam UU Nornor 19 Tahun 1997 tentang penagihan
dengan surat paksa sebagaimana diubah dengan UU Nomor 19 Tahun
2000
2) B. Penanggung Pajak
7.28 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Penagihan dengan Surat Paksa disampaikan kepada Penanggung
Pajak walaupun yang orang atau badan yang bersangkutan tidak
tercantum dalam akta pendirian.
3) A. Hak mendahulu melebihi hak mendahulu lainnya;
Terhadap utang pajak pemerintah dan/atau pemerintah daerah
mernpunyai hak mendahulu atas hak mendahulu lainnya, karena
utang pajak rnerupakan utang negara
4) C. Adalah larangan sementara terhadap penanggung pajak tertentu untuk
keluar dari wilayah negara Republik Indonesia;
Pencegahan penanggung pajak tertentu untuk keluar wilayah negara
Republik Indonesia adalah salah satu upaya pressure pemerintah atau
Pemerintah Daerah kepada penanggung pajak agar melunasi utang
pajaknya.
5) A. Setelah ,nelampaui waktu 5 (Iima) tahun terhitung sejak penerbitan
STP, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, Surat Pemberitahuan, Surat Keputusan
keberatan, Putusan Banding dan Putusan Peninjauan Kembali.
Hal tersebut sebagaimana diatur di dalam Pasal 22 UU Ketentuan
Urnum dan Tata Cara Perpajakan (KUP).
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.29
Glosarium
Executorial Beslagl • eksekusi penagihan pajak setara dengan
Parate Executie putusan peradilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.
Penanggung Pajak orang atau badan yang bertanggungjawab
atas kegiatan usaha wajib pajak.
Quality Assurance • Tim Perneriksa di Kantor Wilayah Ditjen
Penieriksaan Pajak atau pada Direktur Pemeriksaan dan
Penagihan, dalam ha! wajib pajak tidak
setuju terhadap basil pemeriksaan.
Tax Compliance pengawasan pemerintah terhadap
kepatuhan dan kebenaran self assessment
yang dilakukan oleh wajib pajak.
Surat Pernberitahuan Masa: kewajiban wajib pajakjenis pajak tertentu
(SPM) (PPh Pasal 15, 21, 22, 23, 26, PPN)
menyampaikan Surat Pemberitahuan
Pajak setiap bulan.
Surat Pemberitahuan kewajiban wajib pajak (PPh Orang Pribadi
PajakTahunan (SPT) dan Badan) untuk menyampaikan Surat
Pemberitahuan Pajak setiap akhir tahun.
7.30 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. I 998. llmu Huku111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
Djafar, Saidi Muhammad, 2007. Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah", Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. l; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
____ . 2009. Huku111 Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Huku,n, Masyarakat, dan Pembangunan
Huku111 Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Hukun, (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum Uil.
Nick Devas, dkk. 1989. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
Ul Press.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentra/izaion in
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarundayang. 2011. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
• HKUM4407/MCJDUL 7 7.31
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor,
Soriaatmadja, Arifin P. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Huku,n Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pusat dan Pajak Dae rah. Bogar: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana tel ah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No. 7 Tahun 1983 sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. 10 Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai UU No. I I Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL B
Upaya Hukum Sengketa Pajak
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
tl PEND AH UL U AN _
(' engketa perpajakan rnerupakan sengketa antara wajib pajak dan/atau
e) penanggung pajak dengan aparat pajak sebagai Pejabat Tata Usaha Negara.
Sengketa terhadap keputusan pejabat negara sejak ditetapkannya UU Nomor 5
Tahun l 986 diselesaikan oleh Peradilan Tata Usaha Negara yang merupakan
badan peradilan urnum di bawah Mahkamah Agung. Namun demikian,
sebagairnana dinyatakan dalam Pasal 8 UU Nornor 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU
Nomor 31 Tahun 2009, dalam hal badan atau Pejabat Tata Usaha Negara diberi
wewenang oleh peraturan perundang-undangan untuk menyelesaikan sengketa
tersebut maka sengketa Tata Usaha Negara (TUN) terlebih dahulu harus
diselesaikan melalui upaya administratif yang tersedia, baru kemudian
dilakukan oleh Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagai badan banding
ad mi ni strati f.
Khusus mengenai sengketa perpajakan ,nengacu pada pasal 48 UU PTUN
tersebut, sengketa pajak akan diselesaikan terlebih dahulu oleh pejabat TUN,
kemudian apabila pihak yang bersengketa (wajib pajak) tidak puas terhadap
keputusan pemerintah dapat mengajukan banding administratif ke Pengadilan
Pajak sebagai pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara.
Dalam Modul 8 ini, akan diuraikan berbagai sengketa di bidang
perpajakan dan upaya hukum yang dapat dilakukan oleh wajib pajak. Guna
,nempermudah pembahasan, bahasan dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
l. upaya hukurn sengketa pajak pusat dan pajak daerah; dan
2. upaya hukum sengketa bea dan cukai.
Dimasukkannya pajak pusat dan pajak daerah dalam satu kelompok
bahasan karena produk hukumnya yang disengketakan dan kewenangan yang
,nenyelesaikan sengketa pajak pusat dan pajak daerah relatif ada kemiripan.
Hal ini disebabkan karena, pengaturan ketentuan formal yang menjadi rujukan
8.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
dalam pajak pusat dan pajak daerah walaupun undang-undangnya berbeda,
yaitu UU Ketentuan Umurn dan Tata Cara Perpajakan untuk pajak pusat dan
UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah untuk pajak daerah, tetapi substansi
pengaturannya sama. Berbeda dengan sengketa bea dan cukai, oleh karena itu
masuk dalam kelornpok yang lain.
Dalam modul ini selain jerus upaya hukum, juga akan diuraikan
kewenangan institusi/lembaga yang menyelesaikan upaya hukum dalam
kelompok perpajakan tersebut.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.3
KEGIATAN [Link] 1
Upaya Hukum Sengketa Pajak Pusat
dan Pajak Daerah
ff"\. alam Kegiatan Belajar I ini akan dibahas mengenai upaya hukum
':II:) sengketa pajak pusat dan pajak daerah. Pajak pusat rneliputi jenis pajak:
Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan
atas Barang Mewah (PPnBM), Bea Meterai (BM), dan Pajak Bumi dan
Bangunan sektor Pertarnbangan, Perhutanan, dan Perkebunan (PBBP3).
Sedangkan pajak daerah, rneliputi pajak daerah provinsi dan pajak
kabupaten/kota. Pajak provinsi terdiri dari pajak kendaraan bennotor, bea balik
narna kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan berrnotor, pajak air
permukaan, dan pajak rokok. Pajak kabupaten/kota terdiri dari pajak hotel,
pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak
mineral bukan logarn dan batuan, pajak parkir, pajak air tanah, pajak sarang
burung walet, pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan, dan bea
perolehan hak atas tanah dan bangunan.
A. UPAYA HUKUM SENGKETA PAJAKPUSAT
Upaya hukum terhadap sengketa pajak pusat diatur dalam UU
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), yang ditetapkan dalam
UU Nornor 6 Tahun 1983 tentang KUP sebagaimana telah diubah beberapa
kali terakhir dengan UU Nomor 16 Tahun 2009. Dalam UU KUP, upaya
hukurn tersebut pengaturannya dikelornpokkan sebagai berikut :
• Pasal 16 UU KUP;
Kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan penerapan tertentu
perundang-undangan perpajakan;
• Pasal 36 UU KUP;
Surat ketetapan yang tidak benar;
• Pasal 25 UU KUP;
Keberatan atas surat ketetapan pajak.
8.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
1. Kesalahan Tulis, Kesalahan Hitung dan/atau Kekeliruan Penerapan
Tertentu Perundang-undangan Perpajakan (Pasal 16 UU KUP)
Upaya hukum terhadap kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau
kesalahan penerapan tertentu peraturan perundang-undangan dapat dibetulkan
baik:
a. atas permohonan wajib pajak; rnaupun
b. tanpa permohonan karena kewenangan jabatan selaku Direktur Jenderal
Pajak.
a. Kesalahan tulis dan kesalahan hitung
Kesalahan tulis dan kesalahan hitung dimaksud adalah terhadap:
I) Surat Tagihan Pajak;
2) Surat Ketetapan Pajak (SKPKB, SKPKBT, SKPN, dan SKPLB);
3) Surat Keputusan Pembetulan;
4) Surat Keputusan Keberatan;
5) Surat Keputusan Pengurangan Ketetapan Pajak;
6) Surat Keputusan Pernbatalan Ketetapan Pajak;
7) Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pajak; atau
8) Surat Keputusan Pemberian lmbalan Bunga.
Contoh kesalahan tulis, antara lain kesalahan nama, alarnat, nomor
pokok wajib pajak, jenis pajak, masa pajak, tahun pajak, tanggal jatuh tempo,
dst.
Contoh kesalahan hitung, antara lain kesalahan penjumlahan,
pengurangan, dan pembagian.
b. Kesalahan penerapan ketentuan tertentu peraturan perundang-
undangan perpajakan
Kesalahan atau kekeliruan dalarn penerapan ketentuan tertentu peraturan
perundang-undangan perpajakan, yaitu kekeliruan dalam:
I) Penerapan tari f;
2) Kekeliruan dalam penerapan persentase norma penghitungan;
3) Kekeliruan penerapan sanksi administrasi;
4) Kekeliruan penerapan Penghasilan Tidak Kena Pajak;
5) Kekeliruan penghitungan pajak penghasilan dalam tahun berjalan; dan
6) Kekeliruan dalarn pengkreditan pajak.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.5
Direktur Jenderal Pajak dalarnjangka waktu 6 (enarn) bulan sejak tanggal
surat permohonan pembetulan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau
kesalahan penerapan ketentuan tertentu peraturan perundang-undangan
perpajakan diterima, harus rnernberikan keputusan atas pennohonan
pernbetulan yang diajukan oleh wajib pajak (Pasal 16 ayat 2 UU KUP).
Apabila dalarn jangka waktu tersebut tidak mernberikan keputusan,
perrnohonan pernbetulan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan (Pasal
16 ayat 3 UU KUP).
2. Surat Ketetapan yang Tidak Benar (Pasal 36 UU KUP)
a. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi
I) Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas perrnohonan wajib pajak
dapat mengurangkan sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan
kenaikan pajak yang terutang sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan perpajakan, dalarn hal sanksi tersebut dikenakan karena
kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya;
2) Kekhilafan wajib pajak adalah karena benar-benar tidak tahu rnasalah
peraturan perpajakan. Bukan kesalahan wajib pajak adalah karena sernata-
rnata ketidaktelitian petugas pajak yang dapat mernbebani wajib pajak
yang tidak bersalah atau tidak memahami peraturan perpajakan.
b. Mengurangkan atau memhatalkun ketetapan pajak yang tidak benar
I) Direktur Jenderal Pajak karena jabatan atau atas perrnohonan wajib pajak
dapat rnengurangkan atau mernbatalkan ketetapan pajak yang tidak benar;
2) Ketetapan pajak yang tidak benar, rneliputi :
(a) Surat Tagihan Pajak (STP); atau
(b) Surat Ketetapan Pajak, berupa:
• Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);
• Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tarnbahan SKPKBT);
• Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN); dan/atau
• Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) .
c. Membatalkan hasil pemeriksaan atau surut ketetapan pajak hasil
pemeriksaan
Direktur Jenderal Pajak karena jabatannya atau alas perrnohonan wajib
pajak dapat mernbatalkan hasil perneriksaan atau Surat Ketetapan Pajak hasil
pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa:
8.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
I) penya,npaian surat pemberitahuan hasil pemeriksaan; atau
2) pernbahasan akhir hasil pemeriksaan dengan wajib pajak.
Surat Ketetapan Pajak hasil pemeriksaan, meliputi: Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat
Ketetapan Pajak Nihil, dan/atau Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.
Dalam jangka waktu paling Jama 6 (enam ) bulan sejak tanggal
diterimanya:
I) perrnohonan mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi;
2) permohonan rnengurangkan atau mernbatalkan Surat Ketetapan Pajak dan
Surat Tagihan Pajak yang tidak benar; atau
3) permohonan membatalkan hasil pemeriksaan pajak atau Surat Ketetapan
Pajak dari hasil perneriksaan tanpa penyampaian surat pemberitahuan
hasil pemeriksaan atau pembahasan akhir hasil pemeriksaan.
Direktur Jenderal Pajak harus memberikan keputusan atas perrnohonan
yang diajukan wajib pajak. Apabila dalam jangka waktu 6 (enam) bu Ian tidak
memberi suatu keputusan, permohonan wajib pajak dianggap dikabulkan.
3. Keberatan (Pasal 25 UU KUP)
a. Objek keberatan
Wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal
Pajak atas suatu:
I) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar;
2) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan;
3) Surat Ketetapan Pajak Nihil;
4) Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.
5) Pemotongan atau pernungutan pajak oleh pihak ketiga berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. Syarat pengajuan keberatan
Dalarn mengajukan keberatan harus dipenuhi persyaratan sebagai berikut:
I) diajukan secara tertulis;
2) dalarn bahasa Indonesia;
3) dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal dikirimnya Surat
Ketetapan Pajak;
• HKUM4407/MCJDUL S 8. 7
4) mengemukakan jumlah pajak yang terutang, jurnlah pajak yang dipotong
atau dipungut atau jumlah rugi menurut perhitungan wajib pajak;
5) alasan yang menjadi dasar perhitungan;
6) Dalam mengajukan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak, wajib pajak
wajib melunasi pajak yang masih harus dibayar paling sedikit sejumlah
yang telah disetujui wajib pajak dalam pernbahasan hasil akhir
pemeriksaan, sebelum surat keberatan disampaikan.
c. Keputusan keberatan
I) Direktur Jenderal Pajak dalarn jangka waktu paling lama 12 (dua belas)
bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus mernberikan keputusan.
2) Keputusan keberatan dapat berupa mengabulkan seluruhnya atau
sebagian, menolak atau menarnbah besarnya jumlah pajak yang harus
dibayar;
3) Apabila dalam jangka waktu tersebut telah terlampaui dan Direktur
Jenderal Pajak tidak memberi Keputusan maka kebcratan yang diajukan
tersebut dianggap dikabulkan.
B. UPAYA HUKUM SENGKETA PAJAK DAERAH
Di dalam pungutan pajak pusat menganut sistem perpajakan self
assessment, di mana hukum formal yang ,nengatur hak dan kewajiban
pemerintah dan wajib pajak termasuk upaya hukum atas sengketa pajak diatur
dalam satu undang-undang, yaitu UU Ketentuan Umurn dan Tata Cara
Perpajakan. Sedangkan hukum material yang mengatur subjek, objek, tarif
pajak diatur dalam undang-undang masing-rnasing jenis pajak (misal UU PPh,
VU PPN, dan PPnBM, UU Kepabeanan, dst). Berbeda dengan pajak daerah,
hukurn formal dan hukum rnateriilnya berada dalam satu undang-undang, yaitu
UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Terdapat pengaturan yang spesifik dalam pajak daerah bahwa kedudukan
UU Nomor 28 Tahun 2009 sebatas sebagai pedoman yang mengatur pajak
daerah baikjenis pajak, tata cara pemungutan, penagihan hingga upaya hukum
wajib pajak. Sedangkan penerapannya harus ditetapkan melalui Peraturan
Daerah (Perda) oleh Pernerintah Daerah masing-masing. Hal tersebut dapat
dimaklumi karena dengan sistem pernerinrahan otonomi daerah di Indonesia,
rnasing-rnasing daerah rnernpunyai kewenangan seluas-luasnya untuk
mengatur tata kelola pernerintahan daerahnya termasuk pungutan pajak daerah
sebagai surnber penerimaan APBD. Selain itu, terdapat perbedaan kewajiban
8.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
membayar pajak pusat dan daerah. Dalam pajak pusat menggunakan sistem
self assessment, sedangkan pada pajak daerah masih menggunakan sistern
official assessment, hanya untuk jenis pajak daerah tertentu saja yang
menggunakan sistem self assessment,
Di bawah ini akan dibahas upaya hukum terhadap pengenaan pajak daerah
baik jenis pajak provinsi maupun kabupaten/kota, diatur dalam UU Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah, sebagai berikut:
I. Pengurangan atau Penghapusan Sanksi Administratif
dan Pengurangan atau Pembatalan Ketetapan Pajak
(Pasal 107 UU PDRD)
a. Kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dan/atau kekeliruan
penerapon lcetentuon tertcntu dalorn peraturan perundang-untlangan
perpajakan
Atas permohonan dari wajib pajak atau karena jabatan selaku kepala
daerah dapat membetulkan:
I) STPD (Surat Tagihan Pajak Daerah)
2) SPPT(Surat Pemberitahuan Pajak Terutang)
3) SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah)
4) SKPDKB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar)
5) SKPDKBT (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan)
6) SKPDN (Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil)
7) SKPDLB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar)
b. Pengurangan atau penghapusan sanksi administratif
Atas permohonan dari wajib pajak, kepala daerah dapat mengurangkan
atau menghapuskan sanksi administratif berupa bunga, denda, dan kenaikan
pajak terhutang menurut peraturan perundang-undangan perpajakan daerah
karena kekhilafan wajib pajak atau bukan karena kesalahannya.
b. Pengurangan a tau pembatalan ketetapan pajak daerah
Atas pennohonan dari wajib pajak, kepala daerah dapat mengurangkan
atau rnernbatalkan STPD, SPPT, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau STPD,
SKPDN atau SKPDLB yang tidak benar.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.9
c. Pembatalan hasil pemeriksaan a tau ketetapan pajak tanpa pemeriksaan
Atas pennohonan dari wajib pajak, kepala daerah dapat ,nembatalkan
hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau diterbitkan
tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan.
d. Pengurangan ketetapan pajak dalam kondisi tertentu
Atas permohonan dari wajib pajak, kepala daerah dapat mengurangkan
ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan membayar
wajib pajak atau kondisi tertentu objek pajak.
Ketentuan lebih Ianjut mengenai tata cara pengurangan atau penghapusan
sanksi administratif dan pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak tersebut
diatur dengan Peraturan Kepala Daerah.
2. Keberatan (Pasal 103 UU PDRD)
a. Wajib pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada kepala daerah
atau pejabat yang ditunjuk alas suatu:
I) SPPT (Surat Pemberitahuan Pajak Terutang)
2) SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah)
3) SKPDKB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar)
4) SKPDKBT (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar
Tambahan)
5) SKPDN (Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil)
6) SKPDLB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar)
7) Pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
b. Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai
alasan-alasan yang jelas.
c. Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan
sejak tanggal surat, tanggal pemotongan atau pemungutan, kecuali jika
wajib pajak dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat
dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
d. Keberatan dapat diajukan apabila wajib pajak telah membayar paling
sedikit sejumlah yang telah disetujui wajib pajak.
e. Kepala daerah dalam jangka waktu paling lama 12 (dua betas) bulan sejak
tanggal surat keberatan diterirna harus mernberi keputusan atas keberatan
yang diajukan.
8.1Q HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
f. Apabila dalamjangka waktu dimaksud telah lewat dan kepala daerah tidak
memberi suatu keputusan keberatan yang diajukan maka keberatan
tersebut dianggap dikabulkan.
g. Keputusan kepala daerah atas keberatan dapat berupa: menenma
seluruhnya atau sebagian, menolak, atau rnenambah besarnya pajak yang
terutang.
��
�""
-------
�
LATIHAN
Untuk rnernperdalam pernahaman Anda rnengenai rnateri di atas,
kerjakanlah latihao berikut l
I) Apakah yang harus dilakukan wajib pajak jika terdapat kesalahan tulis
atau kesalahan hitung terhadap Surat Ketetapan Pajak?
2) Kriteria apa yang dapat dibetulkan oleh Direktur Jenderal Pajak tanpa
perlu permohonan wajib pajak menurut Ketentuan UU Perpajakan?
3) Bagaimana pengaturan pajak daerah terhadap kesalahan tulis kesalahan
hitung dan kesalahan penerapan peraturan perundang-undangan
perpajakan?
4) Jelaskan jangka waktu keberatan!
5) Terhadap apakah keberatan pajak daerah dapat diajukan?
Petunjuk Jawaban Larihan
I) Dalam ha! terjadi kesalahan tulis atau kesalahan hitung terhadap Surat
Ketetapan Pajak, wajib pajak dapat mengajukan permohonan
pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar sesuai
Pasal 36 Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan.
2) Kriteria yang dapat dibetulkan oleh Direktur Jenderal Pajak tanpa perlu
perrnohonan wajib pajak adalah kesalahan ketetapan pajak yang tidak
benar terhadap salah hi tung dan saJah tulis.
3) Pengaturan pajak daerah terhadap salah hitung dan salah tulis diatur dalam
Pasal I 07 UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
4) Jangka waktu rnengajukan keberatan adalah diajukan paling Jania 3 (tiga)
bulan sejak tanggal surat, tanggal pemotongan atau pemungutan, kecuali
jika wajib pajak dapat rnenunjukkan bahwa jangka waktu tersebut tidak
• HKUM4407/MCJDUL S 8.11
dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya, sebagaimana diatur
dalam Pasal I 03 UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
5) Keberatan pajak daerah dapat diajukan terhadap Ketetapan Pajak Daerah
sebagairnana diuraikan dalam KB I huruf B angka 2.
Q RANG KUMAN�------------------
Upaya hukum dalam pajak pusat adalah terhadap jenis Pajak
Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas
Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan Pertambangan,
Perhutanan dan Perkebunan (PBBP3), dan Bea Meterai. Sedangkan upaya
hukum dalam pajak daerah meliputi pajak daerah provinsi dan pajak
daerah kabupaten/kota.
Upaya hukum yang dapat dilakukan sebagai berikut:
I. kesalahan hitung atau kesalahan tulis dan/atau kekeliruan dalam
penerapan ketentuan tertentu daJam peraturan perundang-undangan
perpajakan;
2. ketetapan pajak yang tidak benar; atau
3. keberatan atas Surat Ketetapan Pajak.
Dalarn hal wajib pajak melakukan upaya hukum maka dalam jangka
waktu tertentu sebagaimana ditentukan undang-undang perpajakan
Direktur Jenderal Pajak/kepala daerah berdasarkan kewenangannya harus
mernberikan keputusan. Apabila tidak mernberikan keputusan maka
permohonan wajib pajak dianggap dikabulkan.
�I
TES FDR MAT IF 1 _
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Kesalahan tulis dan kesalahan hi tung Surat Ketetapan Pajak dapat
dirnintakan pernbetulan, yaitu ....
A. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tarnbahan
B. Surat Keputusan Keberatan
C. Surat Penetapan Direktur Jenderal Pajak
D. Surat Keteiapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, dan Surat
Ketetapan Pajak Lebih Bayar
8.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) Upaya hukum terhadap kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan kesalahan
penerapan tertentu peraturan perundang-undangan perpajakan terhadap
pajak pusat dan pajak daerah adalah ....
A. atas permohonan wajib pajak
B. atas permohonan penanggung pajak
C. dibetulkan sendiri oleh Direktur Jenderal Pajak/kepala daerah
D. atas permohonan wajib pajak atau karena jabatan Direktur Jenderal
Pajak/kepala daerah
3) Bagaimana apabila dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan Direktur
Jenderal Pajak/kepala daerah tidak mernberikan keputusan keberatan yang
diajukan oleh wajib pajak?
A. keberatan yang diajukan dianggap ditolak
B. keberatan yang diajukan dianggap dikabulkan
C. tidak ada ketentuan yang mengatur batas waktu menyelesaikan
kebcratan
D. semuanya salah
4) Terhadap pajak daerah di mana pelaksanaan upaya hukurn diatur?
A. UU Nornor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah.
B. UU Nomor 6 Tahun 1983 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
C. PP Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah.
D. Peraturan Daerah tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan Daerah.
5) Kapan batas jangka waktu mengajukan keberatan bagi pajak pusat dan
pajak daerah?
A. untuk pajak pusat 3 (tiga) bulan dan pajak daerah 2 (dua) bulan sejak
tanggal Surat Ketetapan Pajak
B. untuk pajak pusat 4 (empat) bulan dan pajak daerah 3 (tiga) bulan
sejak tanggal Surat Ketetapan Pajak
C. untuk pajak pusat dan pajak daerah 3 (tiga) bulan sejak tanggal Surat
Ketetapan Pajak
D. untuk pajak pusat dan pajak daerah 4 (empat) bulan sejak tanggal
Surat Ketetapan Pajak
• HKUM4407/MCJDUL S 8.13
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif I yang
terdapat di bagian akhir ,nodul ini. Hitunglahjawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x IOOo/o
Jumlah Saal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau Jebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar I, terutama bagian yang
belurn dikuasai.
8.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 2
Upaya Hukum Sengketa Kepabeanan
dan Cukai
(f, T paya hukum kepabeanan dan cukai dikelompokkan tersendiri, walaupun
""it) dalam penerimaan APBN merupakan bagian dari postur penerimaan
perpajakan, tetapi kewenangan pungutan ini dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Bea dan Cukai bukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Selain itu,
nomenklatur pungutannya adalah bukan pajak, tetapi kepabeanan dan cukai.
Seperti halnya pungutan pajak, hak dan kewajiban dalam pelaksanaan
assessment diatur dalarn UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU
KUP). Akan tetapi, karena terdapat kekhususan dalam pungutan kepabeanan
dan cukai, pengaturan upaya hukurn sebagai ketentuan formal selain UU KUP,
diatur juga dalam UU Kepabeanan dan UU Cukai di rnana perlakuannya
sebagai mutatis mutandis.
A. KEPABEANAN
UU Kepabeanan diatur dalarn UU Nomor IO Tahun I 995 tentang
Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan UU Nornor l 7 Tahun 2006.
Kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan
lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean serta pemungutan bea
masuk dan bea keluar. Oleh karena itu, upaya hukum Kepabeanan akan
dikelompokkan ,nenjadi Bea Masuk dan Bea Keluar.
1. Bea Masuk
Bea rnasuk adalah pungutan negara berdasarkan UU Kepabeanan yang
dikenakan lerhadap barang diirnpor, yaitu barang yang dimasukkan ke dalam
daerah Pabean.
Besarnya bea masuk adalah perkalian tarif bea masuk dengan nilai pabean,
di mana sistem klasifikasi barang impor pembebanan bea masuk ditetapkan
oleh Peraturan Menteri Keuangan berdasarkan keselarasan ketentuan
peraturan bea masuk yang berlaku dalam perdagangan internasional, kernudian
dikelompokkan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai melalui Har111011ize
System Code (HS).
• HKUM4407/MCJDUL S 8.15
Upaya hukum atas kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan/atau kesalahan
penerapan undang-undang atau adrninistrasi berupa denda terhadap Bea
Masuk dapat dibetulkan, dikurangi, atau dihapus:
a. baik atas permohonan orang yang bersangkutan; maupun
b. karena jabatan selaku Direktur Jenderal Bea dan Cukai.
Jangka waktu mengajukan permohonan adalah 14 (ernpat belas) hari sejak
tanggal diterbitkan surat tagihan. Dalam ha! dalam jangka waktu tersebut
Direktur Jenderal Bea dan Cukai tidak rnemberikan keputusan, pennohonan
dianggap dikabulkan.
a. Kesalahan Tulis, Kesalahan Hitung, Kesalahan Penerapan Ketentuan
Perundang-undangan Perpajakan dan Denda Administrasi ( Pasal 92A
UU Kepabeanan)
I) Kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan kesalahan penerapan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan adalah:
(a) kesalahan tulis dan kesalahan hitung dimaksudkan adalah terhadap
Surat Penetapan Tagihan Kekurangan Pembayaran (SPTKP) Bea
Masuk;
(b) pengertian membetulkan dapat berarti menambah, mengurangi, atau
menghapus sesuai dengan sifat kesalahan dan kekeliruannya.
2) Sanksi adrninistrasi berupa denda
Direktur Jenderal Bea Cukai dapat mengurangi atau menghapus sanksi
administrasi berupa denda apabila:
(a) orang yang dikenai sanksi ternyata hanya melakukan kekhilafan
bukan kesalahan yang disengaja; atau
(b) kesalahan dimaksud terjadi akibat perbuatan orang lain yang tidak
mempunyai hubungan usaha dengannya serta tanpa sepengetahuan
dan persetujuannya.
3) Keberatan (Pasal 93 UU Kepabeanan)
Orang dapat mengajukan keberatan terhadap penetapan Pejabat Bea dan
Cukai mengenai tarif dan/atau nilai pabean serta selain tarif dan/atau nilai
pabean.
8.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
b. Tarif dan/atau Nilai Pa bean
I) Orang yang berkeberatan terhadap penetapan Pejabat Bea dan Cukai
mengenai tarif dan/atau nilai pabean untuk penghitungan bea masuk dapat
mengajukan keberatan hanya kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai
dengan syarat:
(a) diajukan secara tertulis;
(b) dalam waktu 60 (enarn puluh) hari sejak tanggal penetapan;
(c) menyerahkanjaminan sebesar tagihan yang harus dibayar.
2) Jaminan tidak wajib diserahkan dalam hal barang impor belum
dikeluarkan dari kawasan pabean;
3) Direktur Jenderal Bea dan Cukai mernutus keberatan dalam jangka waktu
60 (enarn puluh) hari sejak diterimanya pengajuan keberatan;
4) Apabila keberatan ditolak, jaminan dicairkan untuk membayar bea masuk
dan/atau sanksi administrasi berupa denda yang ditetapkan dan apabila
keberatan dikabulkan jaminan dikembalikan;
5) Apabila dalamjangka waktu 60 (enam puluh) hari Direktur Jenderal tidak
memberikan keputusan, keberatan yang bersangkutan dianggap
dikabulkan dan jaminan dikembalikan;
6) Apabila jaminan berupa uang tunai dan pengembalian jaminan dilakukan
setelah jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak keberatan dikabulkan,
pemerintah mernberikan bunga sebesar 2o/o (dua persen) setiap bulannya
paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.
c. Keberatan Setain Tarifdan/atau Nilai Pabean (Pasal 93 A UU
Kepabeanan)
I) Keberatan yang dapat diajukan selai n tarif dan/atau ni lai pabean, misalnya
penetapan berupa pencabutan fasilitas atau penetapan sebagai akibat
penafsiran peraturan.
2) Orang yang berkeberatan terhadap penetapan pejabat bea dan cukai selain
tarif dan/atau nilai pabean untuk penghitungan bea masuk dapat
mengajukan keberatan secara tertulis hanya kepada Direktur Jenderal
dalam waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penetapan.
3) Sepanjang keberatan menyangkut kekurangan pembayaran bea masuk,
jaminan wajib diserahkan sebesar tagihan yang harus dibayar.
4) Jaminan sebagairnana dimaksud di atas, tidak wajib diserahkan dalam hal
barang impor belum di keluarkan dari kawasan pabean.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.17
5) Direktur Jenderal memutuskan sebagaimana dimaksud pada ayat (I)
dalam jangka waktu 60 (enam puluh hari) sejak diterimanya pengajuan
keberatan.
6) Apabila keberatan ditolak oleh Direktur Jenderal, jaminan dicairkan untuk
mernbayar bea masuk dan/atau sanksi administrasi berupa denda yang
ditetapkan dan apabila keberatan dikabulkan jaminan dikembalikan,
7) Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari Direktur Jenderal tidak
rnernberikan keputusan, keberatan yang bersangkutan dianggap
dikabulkan dan jaminan dikembalikan.
8) Apabilaja,ninan berupa uang tunai dan pengembalianja,ninan dilakukan
setelah jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak keberatan diterima,
pemerintah memberikan bunga sebesar 2o/o (dua persen) setiap bulannya
paling Jama 24 (dua puluh empat) bulan.
2. Bea Keluar
Bea keluar adalah pungutan negara berdasarkan UU Kepabeanan yang
dikenakan terhadap barang ekspor, yaitu barang yang telah dimuat di sarana
pengangkut untuk dikeluarkan dari daerah Pabean.
Pada awalnya Bea Keluar dinamakan sebagai pungutan ekspor yang
dikelompokkan sebagai pungutan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak)
yang diatur berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 1997 di mana yang mernungut
adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Dengan ditetapkannya UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Kepabaeanan
sebagai pengganti UU Nomor IO Tahun 1995, pungutan ekspor menjadi bea
keluar namun tugas kewenangan yang memungut tetap dilakukan oleh Ditjen
Bea dan Cukai.
Pengaturan Jebih Janjut, diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan PMK
Nornor 214/PMK.04/2008, sebagaimana telah diubah dengan PMK Nomor
146/PMK.04/ 2014 terakhir dengan PMK Nomor 86/PMK.04/2016.
a. Pungutan Bea Keluar
Sernua barang ekspor pada dasarnya dapat dikenakan bea keluar kecuali:
I) merupakan barang perwak:ilan negara asing beserta para pejabatnya yang
bertugas di Indonesia berdasarkan asas timbal batik;
2) barang untuk kepentingan museum, kebun binatang, dan tempat Jain
semacam itu yang terbuka untuk umum serta barang untuk konservasi
alam;
8.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
3) barang untuk keperluan penelitian dan pengernbangan ilmu pengetahuan;
4) barang contoh yang tidak untuk diperdagangkan;
5) barang pindahan;
6) barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan
barang kiri man sarnpai batas nilai pabean ekspor dan arau jumlah tertentu;
7) barang asal impor yang kemudian diekspor kembali;
8) barang ekspor yang akan diimpor kembali.
b. Tujuan Dikenakan Bea Keluar
Bea keluar dikenakan terhadap barang ekspor dengan tujuan untuk:
l) menjamin terpenuhinya kebutuhan dalam negeri;
2) melindungi kelestarian sumber daya alam;
3) mengantisipasi kenaikan harga yang cukup drastis dari komoditas ekspor
tertentu di pasaran internasional; atau
4) ,nenjaga stabilitas harga komoditas tertentu dalarn negeri.
c. Pemberitahuun Pabean Ekspor, Pembetulan. Pembatalan,
dan Pemeriksaan Fisik
I) Pemberitahuan Pabean Ekspor
(a) Barang yang akan diekspor wajib diberitahukan dengan PBE
(Pemberitahuan Pabean Ekspor).
(b) Pemberitahuan Pabean Ekspor sebagaimana dimaksud di atas tidak
diperlukan terhadap:
• Barang pribadi penumpang;
• Barang awak sarana pengangkut;
• Barang pelintas batas; atau
• Barang kiriman melalui PT. Pos Indonesia dengan berat tidak
melebihi I 00 (seratus) kilogram.
2) Pembetulan Data Pemberitahuan Pabean Ekspor
(a) Dalam hal terjadi kesalahan data pemberitahuan Pabean Ekspor yang
telah didaftarkan, eksportir dapat melakukan pembetulan terhadap
kesalahan data tersebut setelah mendapat persetujuan dari Kepala
Kantor Pabean atau Pejabat Bea dan Cukai yang ditunjuk.
(b) Pembetulan data pemberitahuan Pabean Ekspor mengenai tanggal
perkiraan ekspor untuk barang ekspor yang dikenakan bea keluar,
hanya dapat dilakukan dalam hal barang ekspor tersebut telah
dimasukkan ke kawasan Pabean.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.19
(c) Pemasukan barang ekspor yang dikenakan bea keluar ke kawasan
pabean harus dilakukan paling lambat pada tanggal perkiraan ekspor.
(d) Pengajuan pembetulan terhadap tanggal perkiraan ekspor hanya dapat
dilayani dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak
tanggal pernberitahuan pabean ekspor didaftarkan ke kantor Pabean;
(e) Pernbetulan terhadap tanggal perkiraan ekspor untuk barang ekspor
yang dikenakan bea keluar yang ditimbun atau dirnuat di tempat Jain
selain di kawasan pabean, hanya dapat dilakukan dalam hal tanggal
perkiraan ekspor yang diajukan pernbetulan tidak melampaui tanggal
perkiraan ekspor yang dibetulkan.
3) Pernbatalan Pemberitahuan Pabean Ekspor
(a) Eksportir wajib mengajukan pembatalan pemberitahuan pabean
ekspor dalam hal:
• pemasukan barang ekspor yang dikenakan bea keluar ke kawasan
pabean dilakukan setelah tanggal perkiraan ekspor;
• pengajuan pembetulan tanggal perkiraan ekspor melampaui
jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal pemberitahuan
pabean ekspor didaftarkan ke kantor Pabean; atau
• tanggal perkiraan ekspor yang diajukan pembetulan untuk barang
ekspor melampaui tanggal perkiraan ekspor yang dibetulkan.
(b) Dalam hal eksportir tidak mcngajukan pembatalan pemberitahuan
pabean ekspor sebagaimana dimaksud di atas maka terhadap eksportir
tersebut tidak diberikan pelayanan ekspor.
4) Pemeriksaan Fisik Terhadap Barang Ekspor yang dikenai Bea Keluar
(a) terhadap barang ekspor yang dikenai bea keluar dilakukan
perneriksaan fisik;
(b) dikecualikan dari pemeriksaan fisik dalam hal ekspornya dilakukan
oleh eksportir tertentu;
(c) eksportir tertentu tersebut adalah sesuai dengan ketentuan peraturan
kepabeanan di bidang ekspor.
d. Upaya Hukum terhadap Pengenaan Bea Keluar
I) Upaya Hukum Keberatan
(a) Eksportir yang berkeberatan terhadap penetapan Pejabat Bea dan
Cukai mengenai perhitungan bea keluar dan/atau sanksi administrasi
berupa denda, dapat mengajukan keberatan hanya kepada Direktur
Jenderal dalam jangka waktu paling larna 60 (enam puluh) hari sejak
tanggal surat penetapan dengan dilampiri:
8.20 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
• bukti penyerahan jaminan sebesar tagihan yang harus dibayar
atau bukti pelunasan tagihan; dan
• fotokopi surat penetapan Pejabat Bea dan Cukai.
(b) Pengajuan keberatan tersebut di atas dapat dilampiri data dan/atau
bukti yang mendukung alasan pengajuan keberatan.
(c) Apabila sampai dengan jangka waktu 60 (enarn puluh) hari sejak
tanggal surat penetapan, keberatan tidak diajukan atau persyaratan
sebagaimana dimaksud pada ayat (I) tidak dipenuhi, hak untuk
mengajukan keberatan rnenjadi gugur dan penetapan Pejabat Bea dan
Cukai dianggap diterima.
(d) Keberatan sebagairnana dimaksud pada ayat (I) diajukan dengan satu
surat keberatan untuk setiap penetapan.
(e) Keberatan diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal melalui
Kantor Pabean tempat penyelesaian kewajiban pabean.
(f) Kepala Kantor Pabean rneneruskan keberatan kepada Direktur
Jenderal.
(g) Direktur Jenderal memberikan keputusan atas keberatan yang
diajukan dalarn jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak berkas
keberatan diterima secara lengkap.
(h) Direktur Jenderal dapat menerima alasan, penjelasan, atau bukti
dan/atau data pcndukung tambahan lain sccara tertulis dari orang
yang mengajukan keberatan, sepanjang belurn ditetapkan keputusan
atas keberatan.
(i) Untuk rnemutuskan keberatan, Direktur Jenderal dapat meminta bukti
dan/atau data lain yang diperlukan kepada orang yang mengajukan
keberatan atau pihak lain yang terkait.
U) Apabila sampai dengan batas waktu 60 (enam puluh) hari sejak
berkas keberatan diterima secara lengkap, Direktur Jenderal tidak
menerbitkan Keputusan maka keberatan dianggap dikabulkan.
(k) Dalam hal permohonan terhadap keberatan yang dianggap
dikabulkan tersebut, Direktur Jenderal menerbitkan surat keputusan.
(I) Keputusan Direktur Jenderal tersebut di atas dikirimkan dalam jangka
waktu paling lama 3 (tiga) hari sejak tanggal keputusan dimaksud dan
pengiriman keputusan tersebut dinyatakan dengan bukti pengiriman.
(m) Apabila sampai dengan hari ke- 70 (tujuh puluh) dari sejak berkas
keberatan diserahkan secara lengkap dan keputusan atas pengajuan
• HKUM4407/MCJDUL S 8.21
keberatan belum diterima maka eksportir yang mengaj ukan keberatan
dapat menanyakan secara tertulis kepada Direktur Jenderal.
(n) Atas permintaan tertulis tersebut, Direktur Jenderal menyampaikan
secara tertulis tentang penyelesaian keberatan yang bersangkutan.
(o) Keputusan atas keberatan hanya berlaku untuk pengajuan keberatan
yang diajukan.
B. CUKAl
Cukai adalah salah satu postur penerirnaan perpajakan yang dipungut oleh
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai diatur dalam UU Nornor I I Tahun 1995
tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan UU Nornor 39 Tahun 2007.
Dikenakannya pungutan cukai terhadap barang-barang tertentu (Barang Kena
Cukai) karena barang tersebut mempunyai sifat atau karakteristik di rnana
konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya
menimbulkan dampak negatif karena itu demi keadilan terhadap barang
tersebut perlu diberikan beban dengan pungutan yang disebur dengan cukai.
Pungutan cukai dikenakan pada saat Barang Kena Cukai selesai dibuat di
Indonesia, sedangkan terhadap Barang Kena Cukai yang diimpor pada saat
masuk ke dalam daerah pabean sesuai ketentuan undang-undang kepabeanan.
Upaya hukum terhadap barang yang dikenakan cukai selain UU
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), banyak diatur secara
khusus dalam UU Cukai dan peraturan pelaksanaannya, yaitu Peraturan
Menteri Keuangan.
I. Pembebasan Cukai
Yang dimaksud "pembebasan" adalah fasilitas yang diberikan kepada
pengusaha pabrik, pengusaha tempat penyimpanan atau irnportir untuk tidak
membayar cukai yang terutang.
a. Barang Cukai yang Dibebaskan
Pembebasan cukai dapat diberikan atas barang kena cukai:
I) yang digunakan sebagai bahan baku a tau bahan penolong dalam
pembuatan barang hasil akhir yang bukan rnerupakan Barang Kena Cukai;
2) untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
3) untuk keperluan [Link] negara asing yang bertugas pada badan atau
organisasi internasional di Indonesia;
8.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
4) untuk keperluan tenaga ahli bangsa asing yang bertugas pada badan atau
organisasi internasional di Indonesia;
5) yang dibawa oleh penumpang awak sarana pengangkut, pelintas batas atau
kiri man dari luar negeri dalam jumlah yang ditentukan;
6) yang dipergunakan untuk tujuan sosial;
7) yang dimasukkan ke dalam tempat penimbunan berikat.
b. Syarat Pembebasan Cukai
Syarat untuk memperoleh pembebasan cukai:
I) diajukan oleh pengusaha pabrik, pengusaha ternpat penyimpanan atau
importir kepada Menteri Keuangan u.p. Direktur Jenderal Bea dan Cukai
melalui Kepala Kantor Bea dan Cukai;
2) pembebasan diberikan atas etil alkohol;
3) Direktur Jenderal Bea dan Cukai dalam waktu paling Jama 14 (empat
belas) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap, untuk
melengkapi kekurangan persyaratan atau memperbaiki data permohonan
dalam jangka waktu paling Jama IO (sepuluh) hari sejak diterimanya
pernberitahuan;
c. Keberatan atas Penetapan Kekurangan Cukai dan/atau Sanksi
Administrasi Denda
Orang yang berkeberatan atas penetapan Pejabat Bea Dan Cukai dalam
penegakan undang-undang cukai yang mengakibatkan kekurangan cukai
dan/atau sanksi adrninistrasi berupa denda dapat mengajukan keberatan:
I) diajukan secara tertulis;
2) dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterimanya surat
tagihan;
3) menyerahkan jaminan sebesar kekurangan cukai dan/atau sanksi
administrasi berupa denda yang ditetapkan.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai rnemberikan keputusan pennohonan
keberatan dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak diterimanya
pengajuan keberatan. Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari tidak
memberikan keputusan, keberatan yang bersangkutan dianggap dikabulkan.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.23
LATIHAN
Untuk memperdalam pemaharnan Anda mengenai rnaten di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Jelaskan kronologis bea keluar menjadi penerirnaan perpajakan!
2) Apakah perbedaan pengenaan bea masuk dan bea keluar?
3) Jelaskan barang yang dibebaskan sebagai Barang Kena Cukai !
4) Bagaimana prosedur permohonan keberatan terhadap bea masuk?
5) Apakah harus membayar terlebih dahulu bea atau cukai yang terutang
terhadap keberatan bea masuk, bea keluar, atau cukai?
Petunjuk Jawaban. Latihan
I) Bea keluar pada mulanya merupakan pungutan Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) atas ekspor, sesuai dengan UU Nomor 17 Tahun 2006
tentang Kepabeanan pungutan ekspor rnenjadi bea keluar. Narnun, tugas
kewenangan yang memungut tetap dilakukan oleh Ditjen Bea dan Cukai.
2) Perbedaan bea masuk dan bea keluar adalah kalau bea masuk adalah
pungutan pajak terhadap barang-barang yang diirnpor, sedangkan bea
keluar adalah pungutan pajak terhadap barang-barang yang diekspor.
3) Barang yang dibebaskan sebagai Barang Kena Cukai sebagaimana telah
diuraikan dalam KB 2 huruf B angka I.
4) Prosedur permohonan keberatan terhadap bea masuk diatur dalarn Pasal
93 UU Kepabeanan sebagairnana Lelah diuraikan dalarn KB 2 huruf A
angka 3.
5) Terhadap bea rnasuk, bea keluar, dan cukai diharuskan membayar jaminan
(harus membayar terlebih dahulu) atas kekurangan bea masuk, bea keluar,
dan cukai.
-Cl: RANG KUMAN�------------------
Dalarn APBN pencrimaan negara meliputi penerirnaan perpajakan,
penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan penerimaan dari hibah.
Penerimaan perpajakan meliputi penerimaan pajak pusat dari Direktorat
Jenderal Pajak dan penerimaan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,
meliputi bea masuk, bea keluar dan cukai.
8.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Bea masuk berkaitan dengan pungutan negara terhadap barang-
barang impor, sedangkan bea keluar merupakan pungutan negara terhadap
barang-barang yang diekspor. Untuk cukai terhadap barang tertentu akan
dikenakan cukai dalarn rangka pernbatasan produk yang berda,npak
negatif.
Dalam hat Pejabat Bea dan Cukai salah tulis, salah hitung, dan keliru
dalam penerapan tertentu undang-undang terkait serta pengurangan atau
penghapusan sanksi yang terjadi bukan karena kesalahan wajib bea dan
cukai, sebagairnana juga diatur dalam UU Ketentuan Umurn dan Tata
Cara Perpajakan, tagihan tersebut dapat diperbaiki baik atasjabatan Dirjen
Bea dan Cukai rnaupun atas perrnohonan.
Selain itu, bagi yang setuju dengan ketetapan atas bea rnasuk, bea
keluar atau cukai dapat rnelakukan upaya keberatan kepada Direktur
Jenderal Bea dan Cukai dengan rnenyerahkan jarninan sebesar ketetapan.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai wajib rnernberikan keputusan atas
upaya hukurn dari pernohon dalarn batas waktu yang ditentukan dalarn
peraturan perundang-undangan. Apabila dalam jangka waktu yang
ditentukan ternyata belurn diberikan Keputusan rnaka upaya hukurn
tersebut dianggap dikabulkan. Khusus terhadap keputusan keberatan,
karena pernohon telah rnclunasi dengan menyerahkan uang jaminan,
apabila keputusan keberatan diterima sebagian atau seluruhnya kepada
pernohon akan diberi imbalan bunga sebesar 2o/o (dua persen) sebulan
paling banyak 24 (dua puluh ernpat) bulan.
$'_1 TES FDR MAT IF 2�---------------
Pilihlah satujawaban yang paling tepat!
I) Jangka waktu mengajukan permohonan kesalahan tulis, kesalahan hitung
dan/atau kesalahan dalarn penerapan UU Bea Masuk adalah ....
A. 14 (ernpat betas) hari sejak tanggal diterbitkan surat tagihan
B. 3 (tiga) bulan sejak tanggal diterbitkan surat tagihan
C. 3 (tiga) minggu sejak tanggal diterbitkan surat tagihan
D. 14 (ernpat betas) hari sejak tanggal surat pernberitahuan bea rnasuk
2) Sebelurn ditetapkannya perubahan UU Pabean dengan UU Nornor 17
Tahun 2006, bea keluar merupakan pungutan ekspor, dalarn APBN
dikelornpokkan sebagai ....
A. Penerimaan Perpajakan
B. Penerimaan Negara Bukan Pajak
• HKUM4407/MCJDUL S 8.25
C. Penerimaan Kementerian Keuangan
D. Penerimaan Ditjen Bea dan Cukaj
3) Keberatan ,nengenai tarif dan/atau nilai pabean dilakukan dalam
waktu ....
A. 3 (tiga) bulan sejak tanggal penetapan
B. 14 (ernpat belas) hari sejak tanggal penetapan
C. 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penetapan
D. 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penetapan
4) Salah satu persyaratan dalarn pengajuan keberatan terhadap bea masuk,
bea keluar, atau cukai adalah ....
A. melunasi terlebih dahulu sebesar dalam tagihan
B. melunasi sejumlah tagihan yang disetujui dalam hasil pemeriksaan
Pejabat Bea Cukai
C. rnenyerahkan jarninan sebesar yang tercantum dalam tagihan
D. sesuai asas praduga tak bersalah, tidak perlu membayar tagihan
hingga keputusan dari pejabat yang berwenang memproses keberatan
5) Bagaimana jika dalam batas waktu yang ditentukan peraturan perundang-
undangan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tidak mengeluarkan keputusan
upaya hukum yang diajukan oleh wajib bea/cukai?
A. upaya hukurn dianggap ditolak
B. upaya hukum dianggap dikabulkan
C. yang bersangkutan agar ,nengulang upaya hukum kernbali
D. tidak ada ketentuan yang mengatur hal tersebut
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir ,nodul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x IOOo/o
Jumlah Saal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
8.26 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan modul selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80o/o,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.27
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
l) D. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan Surat Ketetapan Pajak
Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Nihil, dan Surat
Ketetapan Pajak Lebih Bayar.
Berdasarkan ketentuan Pasal l angka 15 UU KUP yang dinamakan
Surat Ketetapan Pajak adalah Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar
dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan
Pajak Nihil, dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar.
2) D. Atas permohonan wajib pajak atau karena jabatan Direktur Jenderal
Pajak/kepala daerah.
Berdasarkan ketentuan Pasal 16 UU KUP (untuk pajak pusat), dan
Pasal 107 UU PDRD (untuk pajak daerah), upaya hukum karena
kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan kesalahan penerapan tertentu
peraturan perundang-undangan perpajakan adalah atas permohonan
waj ib pajak atau tan pa pennohonan semata karena kewenangan
jabatan Direktur Jenderal Pajak/kepala daerah;
3) B. Keberatan yang diajukan dianggap dikabulkan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 26 UU KUP (untuk pajak pusat), dan
Pasal l 04 UU PDRD (untuk pajak daerah), apabila dalam jangka
waktu J 2 (dua belas) bulan Direktur Jenderal Pajak/kepala daerah
tidak memberikan Keputusan maka keberatan yang diajukan oleh
wajib pajak dianggap dikabulkan.
4) D. Peraturan Daerah tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
Daerah.
Walaupun upaya hukum pajak daerah diatur dalam UU Nomor 28
Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, tetapi untuk
pelaksanaannya diatur rnelalui Peraturan Daerah yang bersangkutan.
Pada umurnnya, setiap daerah merniliki hukum formal dalam
peraturan daerah tersendiri, yaitu Peraturan Daerah Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan Daerah (Perda KUPD).
5) C. Untuk pajak pusat dan pajak daerah 3 (tiga) bu Ian sejak tanggal Surat
Ketetapan Pajak.
Berdasarkan ketentuan Pasal 25 UU KUP (untuk pajak pusat) dan
Pasal I 03 UU PDRD (untuk pajak daerah) jangka waktu mengajukan
keberatan adalah 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat ketetapan pajak.
8.28 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Tes Formatif 2
I) A. 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterbitkan surat tagihan bea
masuk.
Jangka waktu mengajukan permohonan kesalahan tulis, kesalahan
hitung dan/atau kesalahan dalam penerapan UU Bea Masuk
berdasarkan ... , dst adalah 14 (empat belas) hari sejak tanggal
diterbitkannya surat tagihan bea masuk.
2) B. Penerimaan Negara Bukan Pajak.
Sebelumnya bea keluar adalah pungutan ekspor di maria dalarn APBN
dikelornpokkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),
setelah dilakukan perubahan UU Pabean dengan UU Nomor 17
Tahun 2006 pungutan ekspor diganti menjadi bea keluar dan dalam
APBN dikelornpokkan sebagai postur penerimaan negara perpajakan.
3) C. Dalam waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal penetapan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 93 ayat (I) UU Kepabeanan, keberatan
rnengenai tarif dan/atau nilai pabean diajukan dalam waktu 60 (enam
puluh) hari sejak tanggal penetapan.
4) C. Menyerahkan jaminan sebesar yang tercanturn dalam tagihan.
Peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai, rnensyaratkan
bagi yang mengajukan keberatan bea masuk, bea keluar atau cukai
harus menyerahkan uang jaminan sebesar yang tercantum dalam
tagihan. Dalarn hal keberatan dikabulkan, pe,nerintah akan
rnemberikan bunga sebesar 2o/o (dua persen) setiap bulannya paling
lama 24 (dua puluh empat) bulan.
5) C. Upaya hukum dianggap dikabulkan.
Ketentuan UU Kepabeanan dan UU Cukai mengatur apabila dalam
batas waktu yang ditentukan Direktur Jenderal Bea dan Cukai tidak
menerbitkan Keputusan maka upaya hukum wajib bea/cukai
dianggap dikabulkan.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.29
Glosarium
Harmonize System sistem klasifikasi tarif barang impor yang
Code (HS) ditetapkan rnelalui Peraturan Menteri Keuangan.
Hukum Formal hukum yang mengatur mengenai hak dan
kewajiban pemerintah dan pembayar pajak yang
diatur dalam undang-undang perpajakan.
Hukum Material hukum yang mengatur subjek, objek, dan tarif
perpajakan serta pengecualiannya yang diatur
dalam undang-undang perpajakan.
Nornenklatur pengelornpokan dalarn penarnaan dalarn bidang
tertentu.
Peradi Ian Tata U saha peradilan yang mengadili sengketa atas
Negara keputusan (beschikking) badan/pejabat tata
usaha negara.
Surat Penetapan penetapan tagihan kekurangan pernbayaran oleh
Tagihan Kekurangan pejabat bea dan cukai atas bea masuk, bea keluar,
Pernbayaran (SPTKP) dan cukai.
8.30 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. I 998. llmu Huku111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
Djafar, Saidi Muhammad, 2007. Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah", Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. l; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
____ . 2009. Huku111 Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Huku,n, Masyarakat, dan Pembangunan
Huku111 Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Hukun, (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum Uil.
Nick Devas, dkk. 1989. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
Ul Press.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentra/izaion in
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarundayang. 2011. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
• HKUM4407/MCJDUL S 8.31
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor,
Soriaatmadja, Arifin P. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Huku,n Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pusat dan Pajak Dae rah. Bogar: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana tel ah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No. 7 Tahun 1983 sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. 10 Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai UU No. I I Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
MDDUL 9
Badan Peradilan Pajak
Prof. Dr. Tjip Ismail, S.H.,M.B.A.,M.M., [Link].
tl PEND AH UL U AN _
rt» enanganan sengketa perpajakan berdasarkan ketentuan perundang-
'Jr undangan, pada tingkat pertama diselesaikan oleh internal pemerintah,
yaitu Direktorat Jenderal Pajak untuk sengketa pajak pusat, Direktorat Bea dan
Cukai untuk sengketa kepabeanan dan cukai, serta Pemerintah Daerah baik
provinsi atau kabupaten/kota untuk pajak daerah dengan menerbitkan
keputusan.
Terdapat kecenderungan wajib pajak merasa kurang puas atas keputusan
sang wasit yang berasal dari pihak yang bersengketa. Oleh karena itu,
peraturan perundang-undangan memberikan ruang kepada masyarakat
khususnya wajib pajak akan adanya sebuah institusi/lernbaga di luar pihak
yang bersengketa, yaitu badan peradilan pajak. Badan peradilan tersebut
adalah Pengadilan Pajak, sebagai pengadilan banding administrasi yang
menangani sengketa perpajakan.
Pengadilan Pajak merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan
peradilan tata usaha negara karena ,nenangani sengketa keputusan
(beschikking) Pejabat Tata Usaha Negara di bidang perpajakan.
Kedudukannya setara dengan Peradilan Tinggi karena menangani sengketa
perpajakan sebagai lanjutan dari keputusan sengketa yang ditangani oleh
pernerintah.
Berbeda dengan peradilan lainnya, putusan Pengadilan Pajak bersifat
rnengikat yang berkekuatan hukum tetap. Namun demikian, dalam ha! yang
khusus terhadap putusan Pengadilan Pajak para pihak dapat melakukan upaya
hukum luar biasa, yaitu melakukan Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.
Oleh karena itu, dalam Modul 9 ini akan dibahas bagaimana penanganan
sengketa di Pengadilan Pajak dan di Mahkarnah Agung.
9.2 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 1
Perkembangan Badan Peradilan Pajak
A. REGULASI
Regulasi dasar mengenai pengaturan baru peradi Ian di Indonesia
tercantum dalam Amandernen ketiga Konstitusi UUD RI 1945 Bab IX tentang
"Kekuasaan Kehakirnan", pada Pasal 24, 24A, 248, dan Pasal 24C yang pada
intinya sebagai berikut:
I. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
badan peradilan yang ada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan
Umum, Peradilan Agarna, Peradilan Militer, dan Peradilan Tata Usaha
Negara, dan Mahkamah Konstitusi;
2. Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman
diatur dalarn undang-undang.
Berdasarkan ketentuan Pasal 27 UU Kekuasaan Kehakiman (UU Nomor
48 Tahun 2009), masing-masing lingkungan peradilan dapat dibentuk
pengadilan khusus. Pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan tersebut
sebagai berikut:
I. Peradilan Urnum, yaitu Pengadilan Anak, Pengadilan Niaga, Pengadilan
Hak Asasi Manusia, Pengadilan Hubungan Industrial, Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi, dan Pengadilan Pcrikanan;
2. Peradilan Agarna, yaitu Mahkamah Syariah; dan
3. Peradilan Tata Usaha Negara, yaitu Pengadilan Pajak.
Pengadilan Pajak sebagai pengadilan khusus adalah berbeda dengan
pengadilan khusus Jainnya, seperti Pengadilan Anak, Pengadilan Niaga,
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, dan Jain-Jain yang dibentuk atas dasar
kebutuhan yang mendesak. Keberadaan Pengadilan Pajak sebagai pengadilan
khusus sebenarnya merupakan legitimasi semata karena pengadilan pajak telah
ada sejak zaman Hindia Belanda hanya nomenklaturnya saja yang berubah,
yaitu dari Majelis Pertimbangan Pajak, Badan Penyelesaian Sengketa Pajak
hingga menjadi Pengadilan Pajak, yang akan diuraikan di bawah ini.
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.3
I. Majelis Pertimbangan Pajak
a. Pada masa Hindia Belanda, walaupun pajak diibaratkan sebagai "pundi"
Pemerintahan Belanda untuk mempertahankan penjajahannya di
Indonesia, tetapi untuk konflik /sengketa perpajakan telah ditangani oleh
peradilan khusus yang dinarnakan Raad van het Beroep voor
Belastingzaken (Badan Banding Adrninistrasi Pajak) berdasarkan
Ordonansi 1925, yang kemudian diganti dengan Statblaad 1927 Nornor
29. Dalam perkembangannya, setelah kemerdekaan dengan UU Nomor 5
Tahun 1959 banding adrninistrasi pajak terse but diganti namanya ,nenjadi
Majelis Pertimbangan Pajak (MPP).
b. MPP mengadili sengketa perpajakan, yaitu rneliputi pajak negara (jenis
pajak pusat : pajak perseroan, pajak pendapatan, pajak penjualan dan
pajak kekayaan) serta pajak daerah tingkat i (provinsi) dan pajak daerah
tingkat ii (kabupaten & kotapraja).
c. Susunan majelis terdiri dari ketua dan empat orang anggota, ditetapkan
oleh presiden atas usulan masing-rnasing 2 (dua) orang dari Mahkamah
Agung (MA) dan Kamar Dagang Industri (KADIN).
d. Seiring dengan ditetapkannya UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan
Tata Usaha Negara (PTUN) di dalam penjelasan Pasal 48 dinyatakan
bahwa "putusan MPP adalah sebagai keputusan Badan Tata Usaha
Negara" maka kedudukan MPP sebagai badan peradilan menjadi goyah.
Hal tersebut karena, walaupun pada mulanya MPP merupakan badan yang
khusus menangani sengketa perpajakan yang putusannya final, tetapi
setelah terbitnya UU Nornor 5 Tahun 1986, kedudukannya disamakan
dengan badan tata usaha negara yang dapat digugat kembali ke Peradilan
Tata Usaha Negara (dalam ha! ini Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara).
2. Badan Penyelesaian Sengketa Pajak
a. Berkaitan dengan amanat penjelasan Pasal 48 UU Nomor 5 Tahun 1985
tentang Peradilan Tata Usaha Negara, membuat keresahan pernerintah dan
wajib pajak karena penanganan upaya hukum sengketa perpajakan
menjadi panjang. Hal tersebut menimbulkan ketidakpastian. Di sisi lain,
dapat dijadikan alasan bagi wajib pajak untuk menunda kewajiban
mernbayar pajak dengan melakukan upaya hukum, yaitu mengajukan
keberatan kepada pernerintah, ,nengajukan banding MPP, mengajukan
gugatan ke PTTUN, mengajukan Kasasi ke Mahkarnah Agung hingga
Peninjauan Kembali ke Mahkamah Agung.
9.4 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah dengan UU Nornor 17 Tahun
1977 mernbentuk Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP) sebagai
pengganti Majelis Pertimbangan Pajak.
b. BPSP rnerupakan badan yang bertugas rnenyelesaikan sengketa pajak
yang pembinaannya dilakukan oleh Kementerian Keuangan, dan anggota
(hakirn)nya diangkat dan diberhentikan oleh presiden atas usulan Menteri
Keuangan.
c. Dinyatakan dalam Pasal 76 UU Nomor 17 Tahun 1997 bahwa putusan
BPSP merupakan putusan akhir yang bersifat tetap dan bukan rnerupakan
keputusan Tata Usaha Negara.
d. Namun demikian, karena Jernbaga BPSP tidak dikenal dalam sistem
peradilan di Indonesia maka tetap saja putusan BPSP dianggap sebagai
keputusan Badan TUN yang dapat digugat di Peradilan Tata Usaha
Negara.
e. Sejalan dengan hal tersebut, telah terjadi Amandemen ketiga UUD 1945
Pasal 24 ayat (2) pada 9 November 200 I dinyatakan bahwa:
"Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkarnah Agung dan
badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum,
lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, dan
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara dan oleh sebuah Mahkamah
Konstitusi."
Berdasarkan pertirnbangan di atas maka dibentuklah pengadilan khusus
dalam lingkungan empat peradilan tersebut dengan undang-undang, Di
antaranya dengan UU Nomor 14 Tahun 2002 dibentuk Pengadilan Pajak
sebagai pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara.
3. Pengadilan Pajak
a. Pengadilan Pajak yang ditetapkan berdasarkan UU Nornor 14 Tahun 2002
rnerupakan pengadilan khusus di lingkungan Peradilan Tata Usaha
Negara. Hal tersebut ditegaskan dalarn perubahan kedua UU Peradilan
Tata Usaha Negara, Pasal 9A ayat (I) UU Nornor 51 Tahun 2009 yang
dinyatakan bahwa:
"Di Jingkungan peradilan Tata Usaha Negara dapat dibentuk pengadilan
khusus yang diatur dengan undang-undang."
Penjelasan:
Pengadilan khusus merupakan diferensiasi atau spesialisasi
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.5
di lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, misalnya Pengadilan Pajak.
b. Pernbinaan pengadilan pajak dilakukan oleh dua institusi, yaitu:
I) Pembinaan teknis peradilan dilakukan oleh Mahkamah Agung;
2) Pembinaan organisasi, administrasi dan keuangan dilakukan oleh
Departemen Keuangan
c. Tempat kedudukan Pengadilan Pajak di ibukota negara, Jakarta,
sedangkan tempat bersidang saat ini di Yogyakarta, Surabaya, Makasar,
dan Medan.
d. Dalam merneriksa dan memutus perkara sengketa pajak tertentu yang
mernerlukan keahlian khusus, ketua dapat menunjuk Hakim Ad Hoc
sebagai Hakim Anggota.
B. KEWENANGAN PENGADILAN PAJAK
Upaya hukum yang dapat dilakukan oleh wajib pajak atau penanggung
pajak terhadap keputusan pemerintah (Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat
Bea dan Cukai, dan Pemerintah Daerah) terhadap sengketa perpajakan adalah
ke Pengadilan Pajak, yaitu melalui gugatan dan pennohonan banding.
I. Gugatan
a. Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh wajib pajak atau
penanggung pajak terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau terhadap
keputusan yang dapat diajukan gugatan berdasarkan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku,
b. Sengketa perpajakan yang dapat digugat adalah terhadap:
I) Pelaksanaan penagihan
Penagihan pajak walaupun bersifat parate executie, tindakan yang
setara dengan eksekusi peradilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap, namun tindakan penagihan tersebut harus sesuai dengan
tata urutan yang telah diatur dalam UU penagihan pajak. Dalam hal
urutan prosedur penagihan dilanggar atau tindakan penagihan
tersebut bukan terhadap barang penanggung pajak maka pelaksanaan
penagihan tersebut dapat digugat ke pengadilan pajak.
2) Keputusan pemerintah selain keputusan keberatan
Keputusan pemerintah atas sengketa perpajakan selain keberatan
meliputi:
9.6 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
(a) Kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan kesalahan dalam
penerapan ketentuan tertentu perundang-undangan perpajakan;
(b) Kesalahan dalam prosedur pemeriksaan atau hasil pemeriksaan
berupa Surat Ketetapan Pajak yang dilakukanfiskus tanpa:
• menyampaikan surat pemberitahuan hasil pemeriksaan; atau
• pembahasan akhir hasil pemeriksaan dengan wajib pajak .
2. Banding
a. Banding adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh wajib pajak atau
penanggung pajak terhadap suatu keputusan yang dapat diajukan banding,
berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku;
b. Banding diajukan terhadap keputusan keberatan adalah mengenai jumlah
besarnya Surat Ketetapan Pajak yang menurut wajib pajak atau
penanggung pajak tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan.
C. PROSES/PROSEDUR GUGATAN DAN BANDING
Proses/prosedur yang dikenal sebagai hukum acara dalam mengajukan
gugatan atau banding diatur dalam UU Nomor 14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak, sebagai berikut:
l. Gugatan
a. Jangka waktu mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan penagihan
adalah 14 (ernpat betas) hari sejak tanggal pelaksanaan penagihan,
sedangkan jangka waktu gugatan terhadap keputusan selain gugatan
pelaksanaan penagihan adalah 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal
diterimanya keputusan yang digugat;
b. Terhadap I (satu) pelaksanaan penagihan atau I (satu) keputusan yang
dapat diajukan gugatan, diajukan I (satu) Surat Gugatan;
c. Gugatan yang sudah diajukan, dapat diajukan kembali surat pernyataan
pencabutan ke Pengadilan Pajak. Gugatan yang dicabut dihapus dari datar
sengketa dengan:
I) penetapan ketua dalam hat surat pernyataan pencabutan diajukan
sebelum sidang;
• HKUM4407/MCJDUL 9 9. 7
2) putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan, dalam ha!
surat pernyataan pencabutan diajukan dalam sidang atas persetujuan
Tergugat.
Gugatan yang telah dicabut melalui penetapan atau purusan dimaksud,
tidak dapat diajukan kernbali (nebis in ide,n).
2. Banding
a. Banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal
diterimanya keputusan yang dibanding;
b. Terhadap I (satu) keputusan diajukan I (satu) surat pennohonan banding;
c. Banding yang sudah diajukan, dapat diajukan kernbali surat pernyataan
pencabutan ke Pengadilan Pajak. Banding yang dicabut dihapus dari datar
sengketa dengan:
I) Penetapan Ketua Pengadilan Pajak dalam ha! surat pernyataan
pencabutan diajukan sebelum sidang dilaksanakan;
2) Putusan Majelis/Hakim Tunggal melalui pemeriksaan, dalam ha!
surat pernyataan pencabutan diajukan dalam sidang atas persetujuan
Terbanding.
Banding yang telah dicabut melalui penetapan atau putusan dimaksud
tidak dapat diajukan kembali (nebis in idem);
D. PERSIAPAN PERSIDANGAN
Sebelum acara persidangan, terlebih dahulu dilakukan proses administrasi
rnelalui panitera (sekretaris pengadilan) sebagai berikut:
I. Gugatan
a. Jangka waktu untuk mengajukan gugatan terhadap pelaksanaan penagihan
14 (empat belas) hari sejak tanggal pelaksanaan penagihan, sedangkan
gugatan terhadap keputusan yang dapat digugat adalah 30 (tiga puluh) hari
sejak tanggal diterirna keputusan yang digugat.
b. Pengadilan Pajak mengirimkan gugatan kepada pemerintah untuk
dimintakan surat tanggapan dalam jangka waktu 14 (ernpat belas) hari
sejak diterimanya surat gugatan.
c. Tergugat menyerahkan surat tanggapan dalamjangka waktu I (satu) bulan
sejak tanggal dikirirn permintaan surat tanggapan.
d. Penggugat dapat menyerahkan surat bantahan dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari sejak tanggal diterima salinan surat tanggapan. Dalam hal
9.8 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
surat bantahan tidak dipenuhi oleh penggugat, Pengadilan Pajak tetap
melanjutkan pemeriksaan gugatan.
2. Banding
a. Permohonan banding diajukan oleh wajib pajak atau penanggung pajak
kepada Pengadilan Pajak dalarn batas waktu 3 (tiga) bulan setelah
menerima keputusan yang di banding.
b. Pengadilan Pajak mengirirnkan permohonan banding kepada pernerintah
untuk dimintakan Surat Uraian Banding (SUB) dalam jangka waktu 14
(empat belas) hari, sejak diterirnanya surat banding.
c. Terbanding menyerahkan Surat Uraian Banding dalam jangka waktu 3
(tiga) bulan sejak tanggal dikirim permintaan Surat Uraian Banding;
d. Pernohon banding dapat menyerahkan surat bantahan dalam jangka waktu
30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima salinan Surat Uraian Banding.
Dalam hal surat bantahan tidak dipenuhi oleh pernohon banding,
Pengadilan Pajak tetap melanjutkan pemeriksaan banding.
��
- -=:
--·� - LATIHAN
Untuk memperdalam pernahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Jelaskan perkembangan Badan Peradilan Pajak di Indonesia!
2) Mengapa Pengadilan Pajak rnerupakan pengadilan khusus dalam
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara?
3) Dalam hal apa wajib pajak atau penanggung pajak mengajukan gugatan
kepada Pengadilan Pajak?
4) Apakah terhadap putusan Pengadilan Pajak dapat diajukan lagi upaya
hukum?
5) Di mana tempat kedudukan Pengadilan Pajak?
Petunjuk Jawaban Latilian
I) Perkembangan Badan Peradilan Pajak di Indonesia diuraikan dalam KB I
huruf A.
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.9
2) Pengadilan Pajak merupakan pengadilan khusus dalam Lingkungan
Peradilan Tata Usaha Negara karena pengadilan pajak mengadili atas
keputusan (besschiking) Pejabat Tata Usaha Negara di bidang perpajakan.
3) Wajib pajak atau penanggung pajak mengajukan gugatan kepada
pengadilan pajak terhadap keputusan selain keputusan keberatan.
4) Putusan Pengadilan Pajak ,nerupakan putusan yang final dan berkekuatan
tetap, hanya hal-hal yang luar biasa saja dapat diajukan peninjauan
kembali ke Mahkamah Agung.
5) Kedudukan Pengadilan Pajak adalah di ibukota negara Indonesia.
-Ci RANG KUMAN�------------------
Pengadilan pajak merupakan pengadilan khusus di lingkungan
Peradilan Tata Usaha Negara sebagai pengadilan banding adrninistratif.
Oleh karena itu, kewenangannya setara dengan pengadilan tinggi yang
memeriksa dan memutus sengketa perpajakan di tingkat banding.
Sebenarnya peradilan pajak sudah ada sejak zaman Hindia Belanda
dengan nama Raad van het Beroep voor Belasringzaken (Badan Banding
Administrasi Pajak). Seiring dengan perkembangan hukum peradilan di
Indonesia, Badan Banding Adrninistrasi Pajak berubah menjadi Majelis
Pertimbangan Pajak (MPP), kernudian Badan Penyelesaian Sengketa
Pajak (BPSP), dan terakhir menjadi Pengadilan Pajak (PP) yang
ditetapkan berdasarkan UU Nornor 14 Tahun 2002.
Kewenangan Pengadilan Pajak adalah menangani sengketa pajak
berupa gugatan dan banding. Gugatan, dilakukan oleh wajib pajak atau
penanggung pajak terhadap pelaksanaan penagihan pajak atau terhadap
keputusan yang dapat diajukan gugatan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Sedangkan upaya banding adalah upaya hukum
wajib pajak atau penanggung pajak terhadap suatu keputusan yang dapat
diajukan banding berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Persidangan dalam Pengadilan Pajak yang dihadiri oleh
penggugat/pemohon banding dan tergugat/terbanding dilakukan sebagai
tahap/proses pembuktian, sedangkan tahapan awal yaitu jawab menjawab
surat gugatan/banding ditangani oleh Panitera (sekretaris Pengadilan
Pajak) yang dilakukan sebelum persidangan.
9.10 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
�I
Pilihlah satujawaban yang paling tepat!
I) Dalarn hal wajib pajak atau penanggung pajak tidak setuju dengan
penagihan pajak dapat diajukan ....
A. permohonan banding ke Pengadilan Pajak
B. permohonan banding ke Pengadilan Negeri
C. ,nengajukan gugatan ke Pengadilan Pajak
D. mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
2) Tempat kedudukan Pengadilan Pajak adalah ....
A. di ibukota negara
B. di Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan
C. di provinsi tempat Pengadilan Tinggi Usaha Negara berada
D. semuanya tidak benar
3) Terhadap permohonan banding yang diajukan wajib pajak atau
penanggung pajak, Pengadilan Pajak akan meminta pemerintah untuk
menyampaikan ....
A. bantahan
B. tanggapan
C. Surat Uraian Banding
D. duplik
4) Gugatan dan pennohonan banding dalam batas waktu ....
A. satu bulan setelah wajib pajak atau penanggung pajak menenma
keputusan yang dapat diajukan gugatan atau banding
B. tiga bulan setelah wajib pajak atau penanggung pajak menenma
keputusan yang dapat diajukan gugatan atau banding
C. enam puluh hari setelah wajib pajak atau penanggung pajak menerirna
keputusan yang dapat diajukan gugatan atau banding
D. gugatan terhadap pelaksanaan penagihan adalah 14 (empat belas) hari
sejak pelaksanaan penagihan, terhadap keputusan yang dapat digugat
adalah 30 (tiga puluh) hari sejak keputusan yang digugat diterima,
sedangkan jangka waktu pengajuan banding adalah 3 (tiga) bulan
sejak tanggal diterima keputusan yang dibanding
• HKUM4407/MCJDUL 9 9 .11
5) Upaya hukum peninjauan kembali atas putusan Pengadilan Pajak diajukan
ke ....
A. Mahkamah Konstitusi
B. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
C. Kornisi Pernberantasan Korupsi
D. Mahkamah Agung
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif l yang
terdapat di bagian akhir rnodul ini. Hitunglahjawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
rnateri Kegiatan Belajar I.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------x 100%
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali
80 - 89o/o = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda harus rnengulangi materi Kegiatan Belajar I, terutama bagian yang
belum dikuasai.
9.12 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
KEGIATAN BELAJAR 2
Kualifikasi Acara Persidangan
A. PEMERIKSAAN DALAM PERSIDANGAN
Pemeriksaan dalam persidangan Pengadilan Pajak dapat dilakukan
melalui pemeriksaan dengan acara biasa atau pemeriksaan dengan acara cepat.
I. Pemeriksaan dengan Acara Biasa
a. Dilakukan oleh Majelis terdiri dari 3 (tiga) orang hakim.
b. Putusan diambil dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak surat
banding diterima, Dalam hal-hal khusus jangka waktu dimaksud
diperpanjang paling lama 3 (tiga) bulan.
c. Pemeriksaan dalam persidangan Pengadilan Pajak dilakukan dengan
proses pemeriksaan acara biasa, kecuali dalam hal-hal tertentu dapat
dilakukan dengan acara cepat.
2. Pemeriksaan dengan Acara Cepat
a. Dilakukan oleh Majelis atau Hakim Tunggal.
b. Putusan diambil dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak surat gugatan
diterima. Dalam hal-hal khusus jangka waktu dimaksud diperpanjang
paling lama 3 (tiga) bulan.
c. Pemeriksaan dengan acara cepat, yaitu dilakukan terhadap:
I) Sengketa pajak tertentu, yaitu dalam tidak dipenuhinya:
• batas waktu mengajukan gugatan/banding yang ditentukan;
• menggunakan bahasa Indonesia;
• satu permohonan gugatan/banding untuk satu keputusan .
2) Gugatan yang tidak diputus dalarn jangka waktu yang ditentukan.
3) Tidak dipenuhinya salah satu persyaratan dalarn rnernbuat putusan.
4) Terdapat kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung dalam putusan
Pengadilan Pajak.
5) Sengketa yang bukan merupakan kornpetensi Pengadilan Pajak;
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.13
B. PROSES PERSIDANGAN
Proses persidangan dalam Pengadilan Pajak sebagai berikut:
I. Pemeriksaan Formal
a. Majelis hakim setelah mernbuka persidangan dibuka dan terbuka untuk
umurn, menanyakan kepada para pihak mengenai legalitas kewenangan
untuk mengikuti persidangan;
b. Apabila rnajelis hakim meragukan legalitas kewenangan para pihak yang
bersidang maka diminta untuk melengkapi legalitas kewenangan tersebut.
2. Pemeriksaan Material
a. Majelis hakim meminta kepada penggugat/pemohon banding untuk
menyampaikan pesan duduk perkara secara ringkas dalam persidangan,
kernudian dipersilahkan tergugat/terbanding untuk menanggapinya;
b. Dalam hal yang disengketakan adalah masalah perhitungan pajak,
diberikan kesempatan kepada para pihak untuk melakukan rekonsiliasi
perhitungan besarnya pajak yang dijadikan sengketa;
c. Masing-rnasing pihak dapat mengajukan keterangan ahli dan/atau saksi
fakta dalam persidangan:
I) Keterangan Ahli adalah pendapat orang yang di bawah sumpah dalarn
persidangan tentang yang ia ketahui rnenurut pengalaman dan
pengetahuannya;
2) Saksi Fakta adalah pendapat orang yang di bawah sumpah dalam
persidangan berdasarkan yang dialami, dilihat, dan didengar sendiri.
C. PUTUSAN
I. Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir dan mempunyai
kekuatan hukum tetap iInkraclu van Gewijsde).
2. Pengadilan Pajak dapat mengeluarkan putusan sela untuk sementara tidak
dilanjutkan pelaksanaan penagihan sarnpai dengan putusan akhir,
terhadap gugatan mengenai pelaksanaan penagihan.
3. Putusan Pengadilan Pajak dapat berupa:
a. menolak;
b. mengabulkan sebagian atau seluruhnya;
c. menambah pajak yang harus dibayar;
9.14 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
d. tidak diterima;
e. mernbetulkan kesalahan tulis dan/atau kesalahan hitung; dan/atau
f. membatalkan.
4. Terhadap putusan tersebut tidak dapat lagi diajukan gugatan, banding,
atau kasasi.
5. Namun [Link], pihak-pihak yang bersengketa dapat mengajukan
penmjauan kernbali atas putusan Pengadilan Pajak kepada Mahkamah
Agung.
D. PELAKSANAAN PUTUSAN
I. Putusan Pengadilan Pajak Jangsung dapat dilaksanakan dengan tidak
memerlukan lagi keputusan pejabat yang berwenang, kecuali peraturan
perundang-undangan mengatur Jain.
2. Apabila putusan Pengadilan Pajak rnengabulkan sebagian atau seluruh
banding, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah
imbalan bunga sebesar 2 (dua) persen sebulan untuk paling Jama 24 (dua
puluh ernpat) bulan sesuai ketentuan perundang-undangan perpajakan
yang berlaku.
3. Salinan putusan atau salinan penetapan Pengadilan Pajak dikirim kepada
para pihak dengan surat oleh sekretaris dalarn jangka waktu 30 (tiga
puluh) hari sejak tanggal putusan Pengadilan Pajak diucapkan atau dalarn
jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak putusan sela diucapkan.
4. Putusan Pengadilan Pajak harus dilaksanakan oleh pejabat yang
berwenang dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima
putusan.
E. PENINJAUAN KEMBALI
I. Peninjauan kembali adalah upaya hukum Juar biasa kepada Mahkamah
Agung atas putusan Pengadilan Pajak. Dikatakan sebagai upaya hukum
Juar biasa karena putusan Pengadilan Pajak pada dasarnya adalah
merupakan putusan yang sudah inkracht (mempunyai kekuatan hukum
tetap ).
2. Pennohonan peninjauan kernbali hanya dapat diajukan berdasarkan
alasan-alasan sebagaimana diatur dalam Pasal 91 UU Pengadilan Pajak
sebagai berikut:
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.15
a. Apabila putusan Pengadilan Pajak didasarkan suatu kebohongan atau
tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus
atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana
dinyatakan palsu.
b. Apabila terdapat bukti tertulis baru (novu,11) yang penting dan bersifat
menentukan, yang apabila diketahui pada tahap persidangan di
Pengadilan Pajak akan rnenghasilkan putusan yang berbeda.
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih
daripada yang dituntut.
d. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa
dipertimbangkan sebab-sebabnya,
e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Pengajuan pennohonan peninjauan kernbali terhadap putusan karena
kebohongan atau tipu muslihat, di lakukan dalam jangka waktu paling
lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diketahui kebohongan atau tipu
muslihat.
4. Pengajuan pennohonan peninjauan kernbali terhadap putusan karena
11ovu111, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan
terhitung sejak ditemukan surat-surat bukti baru tersebut.
5. Pengajuan permohonan peninjauan kernbali terhadap putusan:
a. dikabulkannya suatu yang tidak dituntut atau lebih daripada yang
dituntut;
b. suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa pertimbangan dan
alasan;
c. terdapat putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak
putusan dikirim.
LATIHAN
Untuk memperdalam pernahaman Anda mengenai materi di atas,
kerjakanlah latihan berikut!
I) Kapan pemeriksaan di Pengadilan Pajak dilakukan dengan acara cepat?
9.16 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
2) Apakah yang Saudara ketahui mengenai proses persidangan di Pengadilan
Pajak?
3) Apa yang dimaksud dengan Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan
akhir yang mernpunyai kekuatan hukum tetap?
4) Apakah Putusan Pengadilan Pajak dapat dilakukan upaya hukum
peninjauan kembali?
5) Bagaimana jenis amar Putusan Pengadilan Pajak?
Petunjuk Jawaban Latihan
I) Pemeriksaan dengan acara cepat dilakukan oleh Pengadilan Pajak apabila
tidak memenuhi ketentuan formal.
2) Proses persidangan di Pengadilan Pajak telah diuraikan dalarn KB 2 huruf
B.
3) Yang dirnaksud dengan Putusan Pengadilan Pajak adalah putusan akhir
yang berkekuatan hukum tetap adalah putusan Pengadilan Pajak
merupakan putusan telah inkracht yang dapat dieksekusi. Hanya yang
bersifat khusus saja putusan Pengadilan Pajak dapat dilakukan upaya
hukum Juar biasa berupa peninjauan kernbali ke Mahkamah Agung.
4) Putusan Pengadilan Pajak dapat diajukan upaya hukum peninjauan
kembali.
5) Jenis amar putusan Pengadilan Pajak diuraikan dalam KB 2 hurufC angka
3.
Dalam persidangan di Pengadilan Pajak dilakukan pemeriksaan
dengan acara biasa kecuali dalam hal-hal tertentu saja dapat dilakukan
dengan perneriksaan acara cepat. Dilakukannya pemeriksaan acara cepat
adalah berkaitan dengan sengketa yang tidak menyangkut substansi
perhitungan pajak. Oleh karena itu, biasanya pemeriksaan dilakukan
melalui hakim tunggal.
Di daJam proses persidangan rnasalah jawab menjawab surat
pennohonan gugatan/banding dilakukan sebelum persidangan dimulai,
yaitu melalui panitera/sekretaris Pengadilan Pajak. Sedangkan di dalam
persidangan adalah berkaitan dengan pembuktian sengketa dari masing-
masing pihak.
Kedua belah pihak dapat mengajukan keterangan ahli dan atau saksi
fakta dalam persidangan untuk memperkuat dalil yang diajukannya.
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.17
Keterangan ahli adalah pendapat orang yang di bawah sumpah dalam
persidangan tentang apa yang dia ketahui menurut pengalaman dan
pengetahuannya. Sedangkan saksi fakta adalah pendapat orang yang di
bawah sumpah dalam persidangan berdasarkan apa yang dialami, dilihat,
dan didengarnya sendiri.
Setelah melalui proses persidangan Majelis Hakim akan mengambil
putusan akhir yang mempunyai kekuatan hukurn tetap. Selain itu, dapat
juga dikeluarkan putusan sela, yaitu putusan sernentara sampai rnenunggu
putusan akhir di dalam sengketa pelaksanaan penagihan pajak.
Walaupun putusan Pengadilan Pajak bersifat inkracht, tetapi dapat
dilakukan peninjauan kembali yang merupakan upaya hukum luar biasa
kepada Mahkarnah Agung alas dasar alasan yang ditentukan secara
lirnitatif dalam undang-undang Pengadilan Pajak.
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!
I) Kualifikasi acara persidangan di Pengadilan Pajak adalah ....
A. pemeriksaan dengan acara biasa atau acara cepat
8. perneriksaan acara biasa dan acara khusus
C. pemeriksaan acara biasa dan acara luar biasa
D. pemeriksaan acara biasa dan acara tilang
2) Kapan jangka waktu gugatan harus di putus oleh Pengadilan Pajak?
A. putusan diambil dalam jangka waktu IO (sepuluh) bu Ian sejak surat
gugatan diterirna
B. putusan diambil dalam jangka waktu 9 (sembilan) bulan sejak surat
gugatan diterima dan dapat diperpanjang paling lama 3 (tiga) bu Ian
C. putusan diambil dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak surat
gugatan diterirna, dalam hal-hal khusus dapat diperpanjang paling
lama 3 (tiga) bulan
D. semuanya salah
3) Apakah yang dimaksud dengan upaya peninjauan kernbali?
A. upaya hukum luar biasa kepada Mahkamah Konstitusi
B. upaya hukum luar biasa kcpada Mahkamah Agung
C. upaya hukum luar biasa kepada Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
D. upaya hukum luar biasa kepada Komisi Yudisial
9.18 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
4) Apakah yang dimaksud putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan
akhir yang mempunyai kekuatan hukum tetap?
A. purusan tersebut tidak dapat diajukan gugatan, banding, atau kasasi
B. putusan tersebut harus dilaksanakan walaupun para pihak sedang
mengajukan upaya hukurn peninjauan kembali
C. putusan tersebut hanya dapat dilakukan upaya hukum karena sebab
yang luar biasa
D. sernuanya benar
5) Kapan Pengadilan Pajak dapat mengeluarkan putusan sela?
A. putusan terhadap wajib pajak yang masih di bawah umur
B. putusan Pengadilan Pajak karena wajib pajak dalam keadaan rugi
C. purusan sela terhadap pelaksanaan penagihan pajak
D. putusan sela terhadap jumlah sengketa pajak yang relatif kecil
[Link] jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang
terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian,
gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap
materi Kegiatan Belajar 2.
Jumlah Jawaban yang Benar
Tingkat penguasaan = -----------xlOOo/o
Jumlah Soal
Arti tingkat penguasaan: 90 - I 00% = baik sekali
80 - 89% = baik
70 - 79% = cukup
< 70% = kurang
Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat
mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS). Selamat! Jika rnasih di bawah 80%,
Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belurn dikuasai.
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.19
Kunci Jawaban Tes Formatif
Tes Formatif I
I) C. Mengajukan gugatan ke Pengadilan Pajak.
Berdasarkan ketentuan Pasal 40 ayat (2) UU Pengadilan Pajak, wajib
pajak atau penanggung pajak yang melakukan upaya hukum terhadap
pelaksanaan penagihan pajak dapat melakukan gugatan ke Pengadilan
Pajak.
2) A. Di ibukota negara.
Berdasarkan Pasal 3 UU Pengadilan Pajak, Pengadilan Pajak
berkedudukan di ibukota negara, tetapi dapat bersidang di tern pat lain.
3) C. Surat Uraian Banding.
Surat Uraian Banding adalah tanggapan/bantahan pemerintah atas
surat banding yang diajukan oleh pernohon banding.
4) D. Gugatan terhadap pelaksanaan penagihan adalah 14 (ernpat belas)
hari sejak pelaksanaan penagihan, terhadap keputusan yang dapat
digugat adalah 30 (tiga puluh) hari sejak keputusan yang digugat
diterirna, sedangkan untuk jangka waktu pengajuan banding adalah 3
(tiga) bulan sejak tanggal diterima keputusan yang dibanding.
Jangka waktu dalam mengajukan gugatan atau banding diatur dalam
UU tersebut berdasarkan Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan
Pajak.
5) D. Mahkamah Agung
Upaya hukum luar biasa pemnjauan kernbali dilakukan oleh
Mahkamah Agung, sesuai pasal 89 UU Pengadilan Pajakjt111cto Pasal
66 UU Mahkamah Agung.
Tes Formatif Z
1) A. Pemeriksaan dengan acara biasa atau acara cepat.
Pada dasarnya pemeriksaan di pengadilan dilakukan dengan acara
biasa, kecuali terhadap kualifikasi perkara tertentu yang tidak
menyangkut substansi sengketa pajak dilakukan dengan pemeriksaan
acara cepat.
2) C. Putusan diarnbil dalam jangka waktu 6 (enarn) bulan sejak surat
gugatan diterima, dalam hal-hal khusus dapat diperpanjang paling
Jania 3 (tiga) bulan.
9.20 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Jangka waktu putusan tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor
14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak.
3) B. Upaya hukum Juar biasa kepada Mahkamah Agung.
Peninjauan kembali adalah upaya hukum Juar biasa kepada
Mahkamah Agung atas putusan peradilan yang telah mernpunyai
kekuatan hukum tetap.
4) D. Sernuanya benar.
Putusan Pengadilan Pajak merupakan putusan akhir yang mempunyai
kekuatan hukum tetap, oleh karenanya harus dilaksanakan oleh pihak-
pihak yang bersengketa walaupun terdapat upaya hukum peninjauan
kernbali ke Mahkamah Agung. Peninjauan kembali merupakan upaya
luar biasa atas putusan Pengadilan Pajak yang bersifat inkracht.
5) C. Putusan sela terhadap pelaksanaan penagihan pajak
Putusan sela hanya dapat diterapkan terhadap gugatan pelaksanaan
penagihan pajak saja sesuai Pasal 77 ayat (2) Undang-undang
Pengadilan Pajak.
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.21
Glosarium
Badan Penyelesaian Badan Peradilan Pajak yang ditetapkan
Sengketa Pajak (BPSP) berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 1997
sebagai pengganti Majelis Pertimbangan
Pajak
Inkracht van Gewijsde putusan akhir yang mernpunyai kekuatan
hukum tetap.
Majelis Pertimbangan Badan Peradilan Pajak di era Hindia Belanda
Pajak hingga awal kemerdekaan, keberadaannya
sebagai lembaga yang menyelesaikan
sengketa pajak yang independen menjadi
pudar setelah ditetapkannya UU Nomor 5
Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara.
Nebis in idem atas objek perkara yang sarna tidak boleh
diadili untuk kedua kalinya.
Nov tun bukti dokumen/tulisan yang baru didapatkan
setelah sengketa diputus oleh pengadilan.
Parate executie pelaksanaan keputusan yang kekuatannya
setara dengan putusan pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum tetap.
Putusan Sela putusan yang bersifat serncntara sambil
menunggu putusan akhir.
Raad van het Beroep Badan Banding Administrasi Pajak pada era
voor Belastizangken penjajahan Hindia Belanda.
Surat Bantahan Surat Jawaban yang dibuat oleh Tergugat di
Pengadilan Pajak
Surat Tanggapan surat jawaban dari penggugat/pemohon
banding atas surat bantahan/Surat Uraian
Banding dari tergugat/terbanding
di Pengadilan Pajak.
Surat Uraian Banding surat jawaban yang dibuat oleh terbanding
(SUB) atas permohonan banding di Pengadilan
Pajak.
9.22 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Daftar Pustaka
Brotodihardjo, Santoso. I 998. llmu Huku111 Pajak. Bandung: Refika Aditama.
Charles O John. 1994. Pengantar Kebijakan Publik (Public Polic). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Direktorat Jenderal Pajak. 2012. Buku Panduan Hak & Kewajiban Wajib
Pajak. Jakarta.
Djafar, Saidi Muhammad, 2007. Perlindungan Hukum Wajib Pajak dalam
Penyelesaian Sengketa Pajak. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
llyas, B Wirawan B. 2015. Pemeriksaan Pajak. Jakarta: Mitra Wacana Media.
Ismail, Tjip. 2009. "Pajak Daerah dan Retribusi Daerah", Buku Materi Pokok
Paja 3345/2sks/ Tjip Ismail - Cet. l; Ed.3. Jakarta: Universitas Terbuka.
____ . 2009. Huku111 Pajak. Edisi Pertama, Cetakan ke-2. Jakarta: Citra
Kreasindo Mandiri.
Kusumaatmadja, Muchtar. 1976. Huku,n, Masyarakat, dan Pembangunan
Huku111 Nasional. Bandung: Bina Cipta.
Manan, Bagir. 2005. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Pusat Studi
Hukun, (PSH). Yogyakarta: Fakultas Hukum Uil.
Nick Devas, dkk. 1989. Keuangan Pemerintah Daerah di Indonesia. Jakarta:
Ul Press.
Richar M Bird & Francois Vaillancourt. 2000. Fiscal Decentra/izaion in
Developing Countries (Desentralisasi Fiskal di Negara-negara
Berkembang). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sarundayang. 2011. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah, Jakarta: Kata
Hasta Pustaka.
• HKUM4407/MCJDUL 9 9.23
Singh, Yerinderjet. 2005. Tax Thoughts on today's Taxing Times. Digibook
Sdn Bhd, [Link], Malaysia: Selangor,
Soriaatmadja, Arifin P. 1986. Mekanisme Pertanggungjawaban Keuangan
Negara, Suatu Tinjauan Yuridis. Jakarta: Gramedia.
W. Riawan Tjandra. 2013. Huku,n Keuangan Negara. Jakarta: Gramedia.
Zuraida, Ida. 2011. Penagihan Pajak Pusat dan Pajak Dae rah. Bogar: Ghalia
Indonesia.
Undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan No.6
Tahun 1983 sebagaimana tel ah diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun
2009.
Undang-undang tentang Pajak Penghasilan No. 7 Tahun 1983 sebagaimana
tel ah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008.
Undang-undang tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah No.8 Tahun 1983 sebagaimana telah
diubah terakhir dengan UU No. 42 Tahun 2009.
Undang-undang tentang Kepabeanan, UU No. IO Tahun 1995 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 17 Tahun 2006.
Undang-undang tentang Cukai UU No. I I Tahun 1995 sebagaimana telah
diubah dengan UU No. 39 Tahun 2007.
Undang-undang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah No.28 Tahun
2009.
Undang-undang Peradilan Tata Usaha Negara No. 5 Tahun 1986, sebagaimana
telah diubah terakhir dengan UU No. 51 Tahun 2009.
9.24 HUKUM PAJAK DAN ACARA PERPAJAKAN e
Penutup
Mata kuliah Hukum Pajak dan Acara Perpajakan adalah disiplin ilmu yang
strategis bagi kelangsungan tata kelola pernerintahan sebuah negara khususnya
Republik Indonesia yang tengah gencar rnembangun di segala bidang yang
tentunya mernerlukan sumber pembiayaan. Hal ini sangat dimaklumi karena
perpajakan merupakan postur penerimaan negara yang diandalkan baik dari
besarannya maupun peranannya di dalam penerimaan APBN.
Oleh karena itu, wajar apabila pajak pengaturan dasarnya ditegaskan
dalam UUD 1945 karena pajak memiliki kekuatan daya paksa di dalam
pelaksanaan pungutannya (parate executie), tanpa dapat dihalangi walaupun
wajib pajak tengah melakukan upaya hukum. Sebagaimana dinyatakan dalam
Pasal 23A UUD 1945 bahwa pajak dan pungutan bersifat mernaksa untuk
kepentingan negara diatur dalam undang-undang.
Dengan demikian, apabila terdapat pungutan pajak tanpa ada dasar
undang-undang yang mengaturnya terlebih dahulu maka pungutan pajak itu
tidak merniliki pijakan hukum atau in constitusional. Asas legalitas ini
merupakan kesetaraan dari daya paksa pajak, di sisi Iain pengaturan undang-
undang sebagai landasan keadilan dalam melakukan pungutan karena
legitimasi terbitnya undang-undang melalui proses persetujuan wakil rakyat di
parlernen.
Dalam buku "Hukum Pajak dan Acara Perpajakan" ini, penulis mencoba
untuk menguraikan secara rinci mengenai hukum acara perpajakan yang
dimuat dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang mernuat
hak dan kewajiban pemerintah dan wajib pajak dalam melaksanakan pungutan
perpajakan yang menggunakan prinsip pada self assessment. Selain itu,
bagaimana kewajiban perpajakan harus dilaksanakan berdasarkan rarnbu-
rambu subyek, objek, dan tarif pajak dan pengecualiannya sebagaimana diatur
dalam masing-masing undang-undang jenis perpajakan dibahas dalarn tahapan
modul per modul.
Terima kasih atas segala perhatiannya, sukses selalu dalarn belajar dan
semoga menjadikan ilmu yang bermanfaat.