BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Arsip
2.1.1. Pengertian Arsip
Menurut (Priansa, 2014) Kata arsip dalam bahasa belanda disebut
dengan “archief” , dalam Bahasa Inggris disebut dengan
“archieve”, dalam Bahasa Latin, arsip disebut dengan
“archivum” , atau “archium”, sedangkan dalam Bahasa Yunani
disebut dengan “arche”, yang berarti permulaan. Kata “arche”
dalam Bahasa Yunani berkembang menjadi kata “archia” , yang
berarti catatan, yang kemudian berkembang lagi menjadi kata
“arsipcheton” , yang berarti gedung pemerintahan.
Pengertian arsip menurut (Sugiarto & Wahyono, 2016) adalah sebagai
berikut:
1. Arsip mempunyai peranan sebagai “pusat ingatan”, sebagai sumber informasi
dan sebagai “alat pengawasan yang sangat diperlukan dalam setiap organisasi
dalam rangka kegiatan”, perencanaan, penganalisaan, pengembangan,
perumusan kebijaksanaan, pengambilan keputusan, pembuatan laporan,
pertanggung jawaban, penilian dan pengendalian setepat-tepatnya.
2. Arsip juga mempunyai peran penting bagi pimpinan untuk membuat keputusan
dan merumuskan kebijakan, oleh sebab itu untuk dapat menyajikan informasi
yang lengkap, cepat dan benar, haruslah ada sistem dan prosedur kerja yang baik
dalam bidang pengelolaan arsip.
Menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1971 Bab 1, Pasal 1 Tentang
Ketentuan-ketentuan pokok kearsipan. Dalam (Sedarmayanti, 2017) bahwa arsip
ialah :
8
9
1. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh Lembaga-lembaga Negara dan
Badan-badan pemerintahan dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan
tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemerintahan.
2. Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh Badan-badan Swasta dan/atau
perorangan, dalam bentuk corak apapun, baik dalam keadaan tunggal maupun
berkelompok, dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan.
Menurut Undang-Undang Nomor 43 tahun 2009 tentang Kearsipan. Dalam
(Rosalin, 2017) memberikan pengertian bahwa “Arsip merupakan rekaman
kegiatan atau peristiwa yang dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan media
sesuai dengan bentuk perkembangan teknologi informasi dan komunikasi
yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintah daerah, lembaga
pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan
perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.”
Berdasarkan pengertian arsip menurut para ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa arsip merupakan sekumpulan warkat atau dokumen-dokumen sebagai sumber
informasi pemting disuatu organissasi, instansi, Lembaga-lembaga Negara maupun
Badan Pemerintahan. Arsip sangat berperan penting sebagai bahan untuk
perencanaan, penganalisaan, pengembangan, perumusan kebijaksanaan, pengambilan
keputusan, pembuatan laporan, pertanggung jawaban, penilian dan pengendalian
setepat-tepatnya.
2.1.2. Jenis Arsip
Jenis-jenis arsip menurut Undang-undang No.43 Tahun 2009 Tentang
Kearsipan. Dalam (Rosalin, 2017) arsip terbagi dalam 7 jenis, antara lain Arsip
Dinamis, Arsip Statis, Arsip Vital, Arsip Aktif, Arsip Terjaga, dan Arsip Umum.
Arsip Dinamis merupakan arsip yang dipergunakan secara langsung dalam
kegiatan penciptaan arsip dan disimpan dalam jangka waktu tertentu.
1. Arsip Statis merupakan arsip yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena
memiliki nilai guna kesejarahan, telah habis retensinya, dan berketerangan
dipermanenkan yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak
langsung oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dan/atau lembaga kearsipan.
Sedangkan Arsip Statis adalah arsip yang tidak dipergunakan secara langsung
untuk perencanaan, penyelenggaraan sehari-hari administrasi negara. Arsip yang
sudah mencapai taraf nilai yang abadi khusus sebagai bahan
pertanggungjawaban nasional/pemerintah.
2. Arsip Vital adalah arsip yang keberadaannya merupakan persyaratan dasar bagi
kelangsungan operasional pencipta arsip, tidak dapat diperbarui, dan tidak
tergantikan apabila rusak atau hilang.
3. Arsip Aktif adalah arsip yang frekuensi penggunaannya tinggi dan/atau terus
menerus.
4. Arsip Statis adalah arsip yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki
nilai guna kesejarahan, telah habis retensinya, dan berketerangan dipermanenkan
yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Arsip
Nasional Republik Indonesia dan/atau lembaga kearsipan.
5. Arsip Terjaga adalah arsip negara yang berkaitan dengan keberadaan dan
kelangsungan hidup bangsa dan negara yang harus dijaga keutuhan, keamanan,
dan keselamatannya.
6. Arsip Umum adalah arsip yang tidak termasuk dalam kategori arsip terjaga.
Menurut (Priansa, 2014) , Arsip pada dasarnya memiliki banyak jenis.
Berikut ini disampaikan beberapa jenis arsip :
1. Berdasarkan Media.
a. Arsip Berbasis Kertas.
Merupakan arsip berupa teks atau gambar atau numerik yang tertuang di atas
kertas.
b. Arsip Lihat-Dengar.
Merupakan arsip yang dapat dilihat dan didengar. Contohnya : Kaset video,
film, VCD, Casette recording, dan lain sebagainya .
c. Arsip Kartografik dan Arsitektual.
Merupakan arsip berbasis kertas tetapi isinya memuat gambar grafik, peta,
maket, atau gambar arsitek lainnya, dan karena bentuknya unik dan khas maka
dibedakan dari arsip berbasis kertas pada umumnya.
d. Arsip Elektronik.
Arsip elektronik merupakan arsip yang dihasilkan oleh teknologi informasi,
khususnya computer (Machine readable).
2. Berdasarkan Fungsi.
a. Arsip Dinamis
Arsip dinamis adalah arsip yang dipergunakan secara langsung dalam
perencanaan. Pelaksanaan maupun penyelenggaraan aktivitas di lingkungan
perkantoran, yang pada umumnya dipergunakan secara langsung dalam
penyelenggaraan administrasi perkantoran. Jadi arsip dinamis adalah semua
arsip yang masih berada dalam organisasi. Karena Masih dipergunakan secara
langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, dan kegiatan administrasi lainnya.
b. Arsip Statis.
Arsip yang sudah tidak lagi digunakan dalam kegiatan oleh penciptanya, tetapi
mempunyai nilai tertentu, sehingga pantas untuk dilestarikan/diabadikan untuk
kepentingan umum, sejarah, atau sebagai bahan bukti.
Berdasarkan hasil pendapat para ahli mengenai jenis-jenis arsip di atas ,
bahwa jenis arsip dibagi berdasarkan Fungsi, Media, dan Kegunaannya. Masing-
masing arsip mempunyai kegunaannya tersendiri untuk mengefektifkan kelancaran
administrasi perkantoran di dalam perusahaan maupun Badan Pemerintahan.
2.1.3. Proses Terjadinya Arsip
Menurut (Priansa, 2014) proses terjadinya arsip umumnya melalui beberapa
tahap sebagai berikut :
1. Tahap Penciptaan dan Penerimaan (Creation and Receipt).
Arsip Dinamis dimulai dari penciptaan atau penerimaan dokumen yang
merupakan awal dari siklus arsip. Dokumen itu dapat berupa surat, laporan,
formulir, atau gambar.
2. Tahap Distribusi (Distribution).
Setelah ada penciptaan arsip maka agar informasinya sampai kepada pihak/
orang/ sasaran yang dituju diperlukan adanya pendistribusian atau
penyebaran informasi. Caranya bisa melalui kurir, pos, e-mail, dan
sebagainya.
3. Tahap Penggunaan (Use).
Setelah pihak-pihak yang berkepentingan menerima arsip yang dimaksud,
kemudian digunakan untuk kepentingan tertentu sesuai maksud dan tujuan
penciptaannya.
4. Tahap Pemeliharaan (Maintenance).
Arsip Aktif yang sudah mengalami penurunan fungsinya, karena kegiatan
sudah selesai kemudian menjadi inaktif tetapi harus dipelihara karena
menjadi sumber informasi, sumber data, dan sebagai bahan bukti
pertanggungjawaban.
5. Tahap Pemusnahan (Disposion).
Arsip dinamis inaktif yang sudah habis masa simpan dan tidak mempunyai
nilai khusus yang dianggap permanen dapat dimusnahkan. Dengan demikian
tidak memenuhi ruangan penyimpanan serta tidak menimbulkan pemborosan.
Sedangkan arsip permanen disimpan sebagai arsip statis yang dikelola oleh
unit kearsipan.
Proses terjadinya arsip merupakan bagian penting dalam pengelolaan arsip
karena proses pengelolaan arsip merupakan alur berjalannya arsip, mulai dari tahap
penciptaan dan penerimaan, tahap distribusi, tahap penggunaan, tahap pemeliharaan,
hingga tahap pemusnahan.
2.2. Kearsipan
2.2.1. Pengertian Kearsipan
Menurut (Priansa, 2014) Kearsipan merupakan aktivitas yang berhubungan
dengan kegiatan pengelolaan arsip atau administrasi arsip .
Menurut Sedarmayanti (2003) dalam (Priansa, 2014) menyatakan bahwa
kearsipan adalah kegiatan mengatur dan menyusun arsip dalam suatu tatanan yang
sistematis dan logis, menyimpan serta merawat arsip untuk digunakan secara aman
dan ekonomis.
Menurut Komaruddin (1993) dalam (Priansa, 2014) menyatakan bahwa
kearsipan merupakan proses penyusutan dan penyimpanan warkat asli, atau copy-nya
(salinannya) sehingga dengan cara itu, warkat tersebut dapat ditemukan dengan
mudah jika diperlukan.
Berdasarkan Pengertian Kearsipan menurut para ahli di atas , bahwa
kearsipan adalah sebuah kegiatan atau proses pengelolaan arsip yang mengatur dan
menyusun arsip dalam suatu tatanan yang sistematis dan logis. Selain itu kearsipan
juga merupakan proses penyusutan dan penyimpanan warkat asli atau salinannya.
2.2.2. Fungsi dan Tujuan Kearsipan
Menurut (Leidiyana & Ridwan, 2019) Arsip mempunyai fungsi yang sangat
penting dalam berjalannya sebuah organisasi, yaitu sebagai sumber informasi dan
sebagai pusat ingatan kolektif dalam memutuskan masalah atau dalam memutuskan
sebuah kebijakan.
Menurut (Priansa, 2014) kearsipan bagi organisasi merupakan salah satu
unsur penunjang yang paling penting bagi kegiatan operasional. Melalui kearsipan,
informasi dan data otentik dapat diperoleh dengan cepat dan tepat. Lebih lanjut lagi,
kearsipan berfungsi untuk :
1. Alat penyimpanan warkat.
2. Alat bantu perpustakaan, khususnya pada organisasi besar yang
menyelenggarakan sistem sentralisasi.
3. Alat bantu bagi pimpinan dan manajemen dalam mengambil keputusan.
4. Alat perekam perjalanan organisasi.
5. Mengefektifkan dan mengefisienkan pekerjaan.
6. Alat untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi organisasi.
7. Alat untuk memberikan keterangan yang diperlukan bagi yang membutuhkan
data.
8. Sumber informasi peristiwa dan kegiatan yang terjadi di kantor.
Menurut Bambang P. Widodo dalam (Redaksi et al., n.d.) arsip bertujuan
sebagai berikut :
1. Arsip sebagai Memori Perusahaan
Arsip merupakan sebuah rekaman kegiatan suatu lembaga/badan/perorangan
diibaratkan sebagai sebuah organ tubuh yang disebut dengan otak, dimana otak
tersebut mempunyai fungsi untuk mengingat segala hal yang kegiatan yang sudah
dilakukan.
2. Arsip sebagai Pembuktian
Fungsi lain dari arsip adalah arsip sebagai alat pembuktian. Alat pembuktian
disini mempunyai arti, bahwasanya arsip merupakan sebagai bentuk alat legalitas
akan suatu permasalahan, baik sebagai bukti kepemilikan maupun sebagai bukti
tindakan.
3. Arsip sebagai Sumber Penelitian
Dalam bidang akademis, keberadaan arsip BUMN dalam khasanah arsip statis
mempunyai peran penting, yaitu sebagai sumber penelitian. arsip sebagai data
penelitian yang mempunyai berbagai informasi akan otensitas maupun realibilitas
isi informasi tersebut dapat dipercaya. Hal ini dikarenakan arsip merupakan
sebuah rekaman kegiatan dari suatu lembaga/badan.
Menurut Madiana (2004) dalam (Sholikah & Oktarina, 2019) arsip juga
digunakan sebagai pusat informasi yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam
menetapkan dan sebagai alat bukti autentik dalam menentukan hasil penilaian
akreditasi sekolah dari delapan komponen standar nasional pendidikan.
Menurut (Mulyadi, 2016) arsip memiliki fungsi yaitu membantu
pengambilan keputusan , menunjang perencanaan, mendukung pengawasan,
sebagai alat pembuktian, memori perusahaan, efisiensi instansi / lembaga,
menyediakan informasi produk, sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan, sebagai rujukan historis, menyediakan informasi personalia atau
keuangan sejenisnya, memelihara aktivitas hubungan masyarakat, untuk
kepentingan politik, pendidikan, untuk menyelamatkan diri, serta untuk
menelusuri silsilah.
Menurut pendapat para ahli di atas, arsip dan kearsipan mempunyai fungsi
dan tujuan yang sangat penting antara lain salah satu unsur penunjang yang paling
penting bagi kegiatan operasional. Dengan demikian informasi dan data otentik dapat
diperoleh dengan cepat dan tepat. Arsip juga dapat membantu untuk pengambilan
keputusan, menunjang perencanaan, sebagai alat pembuktian, sebagai sumber
informasi penting dan lain sebagainya.
2.2.3. Pengelolaan Kearsipan
Menurut (Sholikah & Oktarina, 2019) Pengelolaan itu digunakan sebagai
proses mengkoordinir kegiatan-kegiatan secara efektif dan efisien dengan dan
melalui orang lain.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009
Tentang Kearsipan. Dalam (Sholikah & Oktarina, 2019) tentang Kearsipan,
menegaskan bahwa pengelolaan arsip dilakukan untuk menjamin ketersediaan
arsip yang autentik dan terpercaya sebagai alat bukti pertanggung-jawaban yang
sah.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 43 tahun 2009 pasal 40 ayat 2 (dua)
Tentang Kearsipan. Dalam (Suherman, 2017) pengelolaan sebuah arsip meliputi
proses penciptaan, penggunaan dan pemeliharaan arsip serta penyusutan arsip.
Menurut Sugiarto (2005) dalam (Lisnawanty, 2014) untuk mengelola
dokumen/arsip yang ada pada suatu kantor diperlukan suatu metode/cara
pengelolaan arsip, yang sering dikenal dengan Tata Kearsipan atau Manajemen
Kearsipan.
Asas Pengelolaan keasipan menurut Sedarmayanti (2001) dalam (Priansa,
2014) terdiri dari :
1. Sentralisasi.
Asas sentralisasi adalah pelaksanaan pengelolaan arsip bagi seluruh organisasi
yang dipusatkan di satu unit khusus yaitu pusat penyimpanan arsip.
Keuntungan sentralisasi arsip adalah :
a. Ruang dan peralatan arsip dapat dihemat.
b. Petugas dapat mengonsentrasikan diri khusus pada pekerjaan kearsipan.
c. Kantor hanya menyimpan 1 (satu) arsip, duplikasinya dapat dimusnahkan.
d. Sistem penyimpanan dari berbagai macam arsip dapat diseragamkan.
Kerugian dari sentralisasi :
a. Sentralisasi hanya efisien dan efektif untuk organisasi yang kecil.
b. Tidak semua jenis arsip dapat disimpan dengan satu sistem penyimpanan
yang seragam
c. Unit kerja yang memerlukan arsip akan memakan waktu lebih lama untuk
memperoleh arsip yang diperlukan
2. Desentralisasi
Asas desentralisasi arsip adalah pelaksanaan pengelolaan arsip yang
ditempatkan di masing-masing unit pada suatu organisasi. Mengelola
informasi khusus. Keuntungan :
a. Pengelolaan arsip dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan unit kerja
masing-masing.
b. Keperluan akan arsip mudah dipenuhi, karena berada pada unit kerja
tersendiri.
c. Penanganan arsip lebih mudah dilakukan, karena arsipnya sudah dikenal
baik.
Kerugian Desentralisasi arsip adalah :
a. Penyimpanan arsip tersebar diberbagai lokasi, dan dapat menimbulkan
duplikasi arsip yang disimpan.
b. Kantor harus menyediakan peralatan dan perlengkapan arsip disetiap unit
kerja, sehingga penghematan pemakaian peralatan dan perlengkapan
sukar dijalankan.
c. Penataran dan latihan kearsipan perlu diadakan karena petugas-petugas
umumnya bertugas rangkap dan tidak mempunyai latar belakang
Pendidikan kearsipan.
d. Kegiatan pemusnahan arsip harus dilakukan setiap unit kerja, dan ini
merupakan pemborosan.
3. Gabungan.
Asas gabungan adalah pelaksanaan pengelolaan arsip dengan cara
menggabungkan antara asas sentralisasi dengan desentralisasi. Asas ini
digunakan untuk mengurangi dampak kerugian yang terdapat pada asas
sentralisasi dan desentralisasi.
Berdasarkan penjelasan menurut para ahli di atas, pengelolaan kearsipan merupakan
proses mengkoordinir kegiatan-kegiatan secara efektif dan efisien serta dilakukan
untuk menjamin ketersediaan arsip yang autentik dan terpercaya sebagai alat bukti
pertanggung-jawaban yang sah. Selain itu pengelolaan kearsipan juga memiliki
metode atau cara pengelolaan arsip , dikenal dengan sebutan asas pengelolaan
kearsipan, meliputi asas sentralisasi, desentralisasi, dan asas gabungan.
Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan SDM dan
sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan. Efektif
menekankan dalam cara, efisien menekankan dalam biaya