MAKALAH
HUKUM ADAT DALAM PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pancasila
Dosen Pengampu : Farrah Syamala Rosyda,M.H
Disusun Oleh;
M.Jaozan Irfandi
20103080003
HUKUM EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2020-2021
i
KATA PENGANTAR
Alhamdulillaha dengan memanjatkan puji syukur kehadirant Allah SWT karena atas
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya lah saya dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu
Penyusunan makalah semaksimal mungkin kami upayakan dan didukung bantuan berbagai
pihak, sehingga dapat memperlancar dalam penyusunannya. Untuk itu tidak lupa kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
merampungkan makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih
terdapat kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu,
dengan lapang dada kami membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang ingin
memberi saran maupun kritik demi memperbaiki makalah ini.
Akhirnya penyusun sangat mengharapkan semoga dari makalah sederhana ini dapat
diambil manfaatnya dan besar keinginan kami dapat menginspirasi para pembaca untuk
mengangkat permasalahan lain yang relevan pada makalah-makalah selanjutnya.
Yogyakarta, 4 Juli 2021
Penulis
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .............................................................................................................ii
DAFTAR ISI ...........................................................................................................................iii
BAB I- PENDAHULUAN ......................................................................................................1
A.LATAR BELAKANG ..................................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH .............................................................................................2
C. TUJUAN .......................................................................................................................2
BAB II- PEMBAHASAN .......................................................................................................3
A. Pengertian Hukum Adat ...............................................................................................3
B. Hukum Adat Sebagai Asas-asas Pembentukan Hukum Nasioanl ................................4
C. Hukum Adat Dalam Suasana Globalisasi .....................................................................7
BAB III- PENUTUP ………………………………………………………………………...12
A. Kesimpulan …………………………………………………………………………...12
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………….13
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peninggalan pemerintah kolonial Belanda pada bangsa Indonesia di bidang Hukum salah
satunya adalah keanekawarmaan hukum yang berlaku, memecah belah bangsa Indonesia
menjadi golongan-golongan penduduk, dan kemudian tiap tap golongan perduduk tersebut
diberlakukan hukum-hukum yang berbeda-beda pula. Pada zaman penjajahan Belanda
sebagian besar hukum yang diperuntukan bagi bangsa Indonesia adalah alat bagi penjajah
Belanda untuk melestarikan kekuasaannnya. Pendeknya dapat dikatakan segala kehidupan
hukum dibina untuk dicapainya maksud-maksud penjajah, sehingga konsepsi hukum pada
waktu itu tidak menguntungkan bagi bangsa Indonesia.
Dengan demikian jelaslah masyarakat Indonesia sejak proklamasi kemerdekaan, harus
mengadakan perubahan-perubahan yang besar khususnya dalam bidang hukum. Pada tanggal
18 Agustus 1945 UUD 1945 disahkan dan sejak itu pula menjadi Hukum Dasar tertinggi di
Negara Hukum Indonesia. Adanya Aturan Peralihan Pasal II UUD 1945, memberikan izin
terus berlakunya hukum dan perundang-undangan pada zaman kolonial Belanda dahulu,
selama belum dicabut, diganti maupun diubah atas kuasa UUD 1945. Akibatnya sudah
barang tentu sering terjadi kepincangan maupun kekacauan di bidang hukum, dalam
pelaksanaannya di dalam masyarakat, khususnya dalam lapangan Hukum Sipil/Hukum
Perdata dan Dagang. Politik Dualisme yang dijalankan oleh pemerintah kolonial Belanda
dahulu di lapangan hukum ini terus berlanjut sampai sekarang.
Dualisme yang dimaksud adalah dalam satu negara Hukum Republik Indonesia
khususnya dalam lapangan Hukum Perdata dan Hukum Dagang berlaku dua sistem hukum
yang berbeda untuk para warga negaranya. Di satu pihak berlaku Hukum Perdata dan Hukum
Dagang Belanda bagi orang-orang Eropa dan Tionghoa yang menjadi warganegara Indonesia
semenjak penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia, di lain
pihak yaitu orang-orang Indonesia Asli yang pada zaman Hindia Belanda dinamakan
golongan pribumi tunduk pada hukum Perdata Adat.
Bagaimanapun juga keadaan semacam ini harus segera diakhiri, demi untuk persatuan
dan kesatuan bangsa di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu tidaklah sesuai
1
dengan rasa keadilan, Hukum Belanda yang asing bagi Masyarakat Adat Indonesia
dipaksakan berlaku di bumi Indonesia yang sudah merdeka ini yang jelas bertentangan
dengan kemauan orang terbanyak dalam masyarakat atau tidak mencukupi rasa keadilan
rakyat yang bersangkutan, pendeknya bertentangan dengan kebudayaan rakyat Indonesia.
Selain itu menjelang abad ke duapuluh satu, kita dihadapkan pada suatu era dunia tanpa batas
atau globalisasi, negara-negara di dunia tidak dapat menghindari pengaruh dari wilayah lain
di dunia ini karena kemajuan teknologi informasi dan transportasi. Oleh karena itu yang
menjadi pertanyaan adalah bagaimana peranan hukum adat dalam pembangunan hukum
nasional Indonesia di era Globalisasi ?
B. Rumusan Masalah
Untuk menghindari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalh ini, maka penulis
membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:
1. Apa itu Hukum Adat?
2. Bagaimana sumbangsih hukum adat dalam pembangunan hukum nasional?
3. Bagaimana bentuk hukum adat dalam suasana globalisasi?
C. Tujuan Penulisan
1. Penulis ingin mengetahui apa definisi hukum adat
2. Selain hukum adat sudah menjadi ciri khas bangsa, namun perlu kita ketahui
bagaimana perkembangan hukum adat di Indonesia dari masa lampau sampai
sekarang.
3. Memang hukum adat mempunyai cirri khas tersendiri. Kadang tidak saling berkaitan
dengan hukum negara dan kadang pula sejalan dengan hukum negara. Nah, untuk itu
penulis ingin mengetahui peranan hukum adat dalam pembangunan hukum nasional.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hukum Adat
Di dalam masyarakat kita, pengertian hukum adat masih simpang siur. Untuk lebih
jelasnya, maka perlu kiranya kita mengetahui beberapa faham yang berkembang dalam
masyarakat tentang apa hukum adat itu, sebagaimana yang dikemukakan oleh Moch
Koesnoe, sebagai berikut:
a) Faham pertama, mengasosiasikan hukum adat dengan hukum primitif. Hukum adat
yang diartikan sebagai demikian, menimbulkan suatu konsekuensi yakni adanya suatu
pandangan betapa tidak akan sesuainya hukum adat untuk dipergunakan sebagai
hukum yang mengarah kepada kehidupan yang modern. Dalam pandangan ini hukum
adat hanya sesuai dengan kehidupan yang primitif.
b) Faham kedua, melihat bahwa hukum adat sama dengan hukum kebiasaan
(gewoonterecht atau customary law) yakni hukum yang hidup dalam praktek hukum
sehari-hari dalam bentuknya yang relatif konstan untuk sepanjang masa mengenai
persoalan-persoalan hukum yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan.
Faham yang membawa hukum adat sebagai yang demikian ini membawa konsekuensi
pandangan, bahwa hukum adat tidak berubah, tidak mengikuti perkembangan
masyarakat dan tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
c) Faham ketiga, melihat hukum adat sebagaimana diikuti oleh Snouck Hurgronje yang
menyatakan bahwa hukum adat adalah hukum yang mempunyai akibat hukum,
kemudian Van Vollebhoven menegaskan lebih lanjut bahwa adat yang mempunyai
sanksi, dan kemudian Ter Haar lebih mempertegas untuk kepentingan penggarapan
secara yuridis.
d) Faham keempat, melihat hukum adat bukan sebagai hukum yang hidup di dalam
masyarakat kita sebagai hukum yang merupakan milik bangsa, karena lahir dari cita-
cita budaya bangsa. dalam pengertian ini, hukum adat sebagai golongan-golongan
dalam kalangan rakyat Indonesia asli, dikehendaki menjadi hukum bagi bangsa
Indonesia, artinya hukum nasional Indonesia.
3
Maka kesimpulan dari keempat faham tersebut bahwa hukum adat adalah hukum
Indonesia asli yang tidak tertulis yang bersumber dari kesadaran dan budaya bangsa yang
mengandung unsur agama.
B. Hukum Adat sebagai Asas-asas Pembentukan Hukum Nasional
Hukum adat adalah bagian dari kebudayaan Indonesia. Dimana ada masyarakat disana
ada hukum (Ubi Societas Ubi lus), demikian dikatakan oleh Cicero 2000 tahun yang lalu.
Hukum yang terdapat di dalam masyarakat manusia, betapa sederhana dan kecilpun
masyarakat itu menjadi cerminnya. Karena tiap masyarakat, tiap rakyat mempunyai
kebudayaan sendiri dengan corak dan sifatnya sendiri biarpun dalam kebudayaan beberapa
rakyat tertentu (misalnya semua rakyat Eropa Barat) ada banyak persamaan pula, mempunyai
cara berpikir geestestructuur sendiri, maka hukum di dalam masyarakat sebagai salah satu
penjelmaan geetestructuur masyarakat yang bersangkutan, mempunyal corak dan sifatnya
sendiri sehingga hukum masing-masing masyarakat itu berlain-lainan.
Von Savigny pernah mengajarkan bahwa hukum mengikuti Volkgeist dari masyarakat
tempat hukum itu berlaku, karena volgeist masing-masing masyarakat berlainan. Demikian
halnya dengan hukum adat di Indionesia. Seperti halnya dengan semua sistem hukum di
bagian Imuka bumi maka hukum adat itu senantiasa tumbuh, ini, berkembang serta serta
dipertahankan oleh masyarakat adat Indonesia karena timbul dari suatu kebutuhan hidup yang
nyata, cara hidup dan p dan pandangan hidup yang keseluruhannya merupakan kebudayaan
masyarakat tempat hukum adat itu berlaku.
Ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960 pada Lampiran A Paragraf 402 telah menetapkan
hukum adat sebagai asas-asas pembinaan hukum nasional, yang merupakan garis-garis politik
di bidang hukum, yang bunyi selengkapnya sebagai berikut:
a) Azas-azas pembinaan hukum nasional supaya sesuai dengan haluan negara dan
berlandaskan pada hukum adat yang tidak menghambat perkembangan masyarakat adil
dan makmur.
b) Di dalam usaha ke arah homogenitas dalam bidang hukum supaya diperhatikan
kenyataan kenyataan yang hidup di Indonesia.
c) Dalam penyempurnaan undang-undang hukum perkawinan dan hukum waris supaya
diperhatikan adanya faktor-faktor agama, adat dan lain-lainnya.
4
Berpijak pada Tap MPRS No.II/MPRS/1960 tersebut diatas, maka kedudukan serta
peranan hukum adat dalam pembinaan hukum nasional menjadi lebih jelas dan tegas, yaitu
sepanjang tidak menghambat perkembangan masyarakat a makmur merupakan Ketetapan
adil dan landasannya. Sangat tepat MPRS tersebut, karena hukum adat bagian dari
kebudayaan Indonesia. Suatu hukum yang timbul dari keseluruhan tingkah laku, kesusilaan
dan kebiasaan bangsa Indonesia sehari hari. Hukum yang dipatuhi, ditaati serta dipertahankan
oleh rakyat Indonesia, sehinggal dapat dikatakan bahwa hukum adat tersebut adalah hukum
rakyat Indonesia.
Menurut van Vollenhoven dalam bukunya Het Adatsrecht van Nederlandch Indie Jilid III,
dikatakan bahwa 19 lingkaran hukum (rechtskringen), di mana tiap-tiap lingkaran hukum i itu
memperlihatkan sifat dan coraknya sendiri. Oleh karena itu hukum adat dipakai sebagai asas-
asas atau landasan pembinaan hukum nasional harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a) Hukum adat tidak boleh bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara yang
berdasarkan atas persatuan bangsa;
b) Hukum adat tidak boleh bertentangan dengan negara Indonesia yang berfalsafah
Pancasila: negara.
c) Hukum adat tidak boleh bertentangan dengan peraturan-peraturan tertulis (undang-
undang)
d) Hukum adat yang bersih dari sifat-sifat feodalisme, kapitalisme serta penghisapan
manusia atas manusia.
e) Hukum adat yang tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama.
Dengan demikian hukum adat yang dapat dipakai sebagai asas-asas atau landasan
pembinaan hukum nasional adalah bukan hukum adat mumi, tetapi hukum adat yang sudah
bersih dan memenuhi syarat-syarat di atas. Ketentuan syarat-syarat di atas mengharuskan kita
untuk melakukan penelitian yang seksama terhadap seluruh komplek adat yang sedang hidup
dan berkembang di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Penelitian tersebut diharapkan
akan menghasilkan kaidah-kaidah adat yang perlu ditinggalkan karena dikualifikasi dapat
menghambat perkembangan masyarakat yang adil dan makmur, serta-kaidah-kaidah mana
yang memenuhi syarat untuk diperkembangkan menjadi landasan pembinaan hukum
nasional.
Untuk memenuhi persyaratan seperti tersebut di atas, bagi hukum adat tidaklah sulit,
karena hukum adat mempunyai sifat-sifat yang istimewa antara lain:
5
"Hukum adat adalah hukum rakyat yang tidak tertulis. Demikian pula tidak ada suatu
Badan Legislatif yang secara revolusioner membuat peraturan baru pada setiap
perubahan keadaan dan perubahan kebutuhan hukum. Sebagai hukum rakyat yang
mengatur kehidupannya sendiri yang terus-menerus berubah dan berkembang, hukum
adat selalu pula menjalani perubahan-perubahan yang terus melalui keputusan-
keputusan atau penyelesaian penyelesaian yang dikeluarkan oleh masyarakat sebagai
hasil temu rasa dan kata tentang pengisian sesuatu hukum adat dalam
permusyawaratan rakyat. Dalam hal itu, setiap perkembangan yang terjadi selalu
mendapatkan tempatnya di dalam tata hukum mendapatkan adat. Dan hal-hal yang
lama yang tidak lagi dapat dipergunakan atau dipakai secara tidak revolusioner pula
lalu ditinggalkan.
Dari apa yang dikemukakan oleh Moch Koesnoe di atas sekaligus menjawab pula
pendapat yang mengatakan bahwa hukum adat bersifat kaku, sulit berkembang, sulit
menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan zaman. Senada dengan apa yang ditulis
oleh Moch Kosnoe di atas, Soepomo menulis:
Hukum adat adalah suatu hukum yang hidup, karena ia menjelmakan perasaan hukum
yang nyata dari rakyat. Sesuai dengan fitrahnya sendiri, hukum adat terus menerus
dalam keadaan tumbuh dan berkembang seperti hidup itu sendiri.
Dalam Sub b dari Tap MPRS No.II/MPRS/1960 ditegaskan bahwa di dalam usaha-usaha ke
arah homogenitas dalam bidang hukum diperhatikan kenyataan-kenyataan yang hidup di
Indonesia. Hal ini berarti, bahwa perasaan keadilan yang tercermin serta terpantul dalam
kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari, wajib dijadikan pedoman di dalam pelaksanaan
perwujudan homogenitas dalam bidang hukum. Hal ini berarti pula usaha usaha ke arah
homogenitas dalam bidang hukum adalah usaha-usaha masyarakat. Rasa keadilan masyarakat
ini tentunya armadoman mengkonkritkan rasa keadilan ini berpedoman kepada ukuran-
ukuran baru, berdasarkan kebutuhan-kebutuhan cional hanges Indonesia bangsa Indonesia
yang nasional disesuaikan dengan tuntutan hidup modern pada dewasa ini. Oleh karena itu
sedapat mungkin kita harus menguta mengutamakan hands bangsa nilai-nilai dari pada
kebudayaan sendiri walaupun tidak menutup kemungkinan kita menerima lembaga-lembaga
asing (baca: Barat) sepanjang tidak bertentangan dengan sa filsafat negara yaitu kepribadian
bangsa Indonesia. Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia.
6
Mengenai kedudukan hukum adat dan peranannya dalam pembinaan hukum nasional,
Seminar Hukum Adat dan Pembangunan Hukum Nasional tanggal 15-17 Januari 1975 yang
diselenggarakan oleh BPHN bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Madal
menyimpulkan sebagai berikut:
1) Hukum adat merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahan-
bahan bagi pembangunan hukum nasional yang menuju kepada unifikasi hukum yang
terutama akan dilakukan melalui pembuatan-pembuatan peraturan-peraturan
perundang-undangan, dengan tidak mengabaikan timbul/tumbuh dan
perkembangannya hukum kebiasaan dan peranan pengadilan dan pembinaan hukum;
2) Pengambilan bahan-bahan dari hukum adat dalam penyusunan hukum nasional pada
dasarnya seperti:
a) Pengunaan konsep-konsep dan asas-asas hukum dan hukum adat untuk
dirumuskan dalam norma-norma hukum yang memenuhi kebutuhan masyarakat
masa kini dan mendatang dalam rangka pembangunan masyarakat yang adil dan
makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
b) Pembangunan lembaga-lembaga hukum adat yang dimodernisasi dan disesuaikan
dengan kebutuhan zaman, tanpa menghilangkan cirri dan sifat-sifat kepribadian
Indoensia;
c) Memasukkan konsepsi-konsepsi dan asas asas hukum adat ke dalam lembaga-
lembaga hukum baru dan lembaga-lembaga hukum dari hukum asing yang
dipergunakan untuk memperkaya dan memperkembangkan hukum nasional, agar
tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dari hasil seminar tersebut diatas, maka tugas yang penting sekarang adalah bagaimana
kita harus menyiapkan nilai-nilai hukum yang benar-benar hidup di dalam masyarakat yang
dapat sesuai dengan tuntutan zaman menuju ke arah pembentukan hukum nasional, sebagai
hukum yang modern yang dapat sejajar dengan hukum-hukum dari negara-negara yang telah
maju di dunia. Untuk itu kita harus terus-menerus menggali, mengikuti dan memahami nilai-
nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.
C. Hukum Adat Dalam Suasana Globalisasi
Membicarakan globalisasi sesungguhnya yang terjadi adalah ketika manusia telah
menguasai dan mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
7
telekomunikasi dan transportasi. Menghadapi yang demikian, maka yang menjadi pertanyaan
adalah bagaimana pengaruh globalisasi dalam pembangunan hukum nasional, dan hal-hal apa
saja yang harus diperhatikan untuk menghadapi globalisasi tanpa meninggalkan identitas
sebagai bangsa.
Sunaryati Hartono mengatakan bahwa kerangka formal bagi pembangunan sistem hukum
nasional harus didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, sehingga setiap bidang hukum
yang akan dibangun merupakan bagian dari sistem hukum nasional, yang terdiri dari
sejumlah peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, maupun hukum kebiasaan, wajib
bersumber pada Pancasila dan UUD 1945. Apabila pluralisme hukum tidak ingin
dipertahankan lagi, maka unsur-unsur hukum adat dan hukum agama ditransformasikan atau
menejadi bagian dari bidang-bidang hukum dalam sistem hukum nasional, yang akan
berkembang dalam bidang masing-masing.
Bagaimana globalisasi mempengaruhi pola perilaku dan kebiasaan-kebiasaan dari bangsa
Indonesia, dapat dijelaskan dengan contoh yang diberikan oleh Sunaryati Hartono. Apabila
kini Indonesia sudah timbul semacam sopan santun untuk bertanya lebih dahulu apakah kita
boleh merokok, maka hal itu dilandasi oleh suatu kesadaran bahwa asap rokok itu mencemari
lingkungan dan karena itu membahayakan seluruh lingkungan s sekitarnya. Di Singapura
hukum kebiasaan menutun mulut Singapura sudah menjadi orang akan segera demonstratif
menutup mulutnya dengan sapu tangan, atau bahkan menyatakan keberatannya kepada orang
yang merokok di dekatnya. Di tempat-tempat umum merokok sudah dilarang oleh hukum
tertulis. Di sinilah kita melihat pengaruh globalisasi dari suatu hasil penelitian yang
diinformasikan secara luas, tumbuh menjadi kesadaran untuk berkembang yai nilai yang
menjadi nilai, yang kemudian diimplementasikan ke dalam perilaku, melalui sopan santun,
dan dan melalui kebiasaan, akhimya akan menjadi norma hukum. Di masa mendatang dapat
diperkirakan, masih banyak norma hukum yang didasarkan pada pada penelitian ilmiah yang
kemudian diakui secara internasional, sebagai suatu kaidah hukum internasional atau
memiliki nilai universal, akan juga diterima dan diresepsi ke si ke dalam hukum nasional kita.
Perubahan nilai dan kesadaran sebagai akibat globalisasi di bidang teknologi dan
informasi, secara langsung maupun tidak tidak langsung juga akan mempengaruhi isi dan
corak dari sistem hukum nasional kita. Dengan demikian, maka hukum adat yang bersumber
dari kesadaran dan budaya bangsa, yakni hukum yang merupakan pernyataan langsung dari
kesadaran dan perasaan hukum) bangsa Indonesia atas dasar tata budaya nasional, akan
8
memegang peranan yang penting dalam pembangunan hukum nasional. Dengan globalisasi,
hukum adat yang demikian itu tidak akan bergeser sebagai salah satu sumber yang penting
dalam pembangunan hukum nasional. Hanya saja hukum adat perlu disesuaikan dengan
keadaan yang jauh berbeda dengan sebelumnya, namun asas-asasnya tetap akan mewarnai
setiap pembentukan hukum nasional.
Imam Sudiyat dalam kaitannya dengan modernsasi mengatakan bahwa hukum adat yang
bersifat klasik-modern dan berurat berakar di dalam jiwa rakyat Indonesia itu seyogyanya
dijadikan modal dasar utama bagi pembentukan dant pembinaan hukum nasional. Hukum
adat yang semula dianggap primitif, kolot, konservatif, ketinggalan zaman, statis, a-rasional,
dan sebagainya, dalam banyak segi ternyata lebih lahulu maju daripada hukum barat, c.q.
hukum inggris dan hukum Belanda, misalnya:
1) Sifatnya yang konkret/riil/empiris itu membuatnya lebih plastis, membesarkan
kemungkinan untuk selalu menyegarkan diri, lebih lincah dalam menanggapi
tantangan alam dan zaman.
2) Tiadanya pembeda-pisahan ketat antara hukum publik dan hukum privat dapat
membebaskannya dari jebakan ranjau yang menghambat gerak langkahnya.
3) Fungsi sosial bagi personal maupun benda dapat didik masyarakat untuk hidup dan
mendidik masyarakat berperilaku yang serba proporsional-manusiawi.
4) Pragmatisme dan fungsionalisme religius dapat merangsang manusia budaya/beradab
untuk memanfaatkan serbaragam wahana penghidupan secara efektif.
5) Pemilikan tanah sebagai benda vital bagi kehidupan warga masyarakat, menjadi
pendorong kuat untuk berusaha melestarikan dan membina daya produktivitasnya
demil daya prodl kebahagiaan hidup bersama.
6) Asas pemisahan yang ternyata lebih relevan untuk taraf pembangunan masa kini dan
masa akan datang, mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang
serba kompleks/canggih/sophisticated.
7) Toleransi hidup antar tetangga yang tidak memerlukan pengaturan tertulis terperinci,
dapat membina rasa solidaritas ke arah integrasi harmons ke dalam kehidupan alam
semesta.
8) Pengutamaan kepentingan bersama tanpa mengabaikan kepentingan perorangan,
disertai perhatian mendalam terhadap nasib si kecil dan si lemah -yang justru
merupakan mayoritas rakyat-dapat memperlancar usaha mencapai idaman masyarakat
adil-makmur lahir-batin berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
9
Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa sekarang kita tidak bisa menempatkan hukum
nasional berhadapan dengan hukum adat, karena hukum adat dirangkum masuk ke dalam
hukum nasional itu sendiri. Dengan kata lain, hukum adat merupakan kekayaan dalam hukum
nasional, karena hukum nasional ini dibangun dari kekayaan tersebut, dan hukum adat tidak
dapat dipertahankan keutuhannya dan dalam hukum nasional. Untuk itu struktur hukum adat
yang mana cenderung untuk berubah, untuk mengetahui itu bantuan antropologi hukum akan
terasa penting.
Dalam kehidupan modern, Soetandyo Wigjosoebroto mengutip pendapat Koesnoe
mengatakan bahwa jika terjadi sengketa di antara warga masyarakat, diselesaikan, bukan
diputuskan, berdasarkan tiga asas kerja yaitu rukun, patut, dan laras. Inilah nilai harmoni,
dalam yang setiap perhubungan sosial, implisit hubungan kerja, dapat dijabarkan sebagai
berikut: pertama, hubungan antara manajemen dengan tenaga kerja merupakan suatu
paguyuban yang dilandasi oleh kaidah rukun dan hormat satu sama lain. Hal ini berarti bahwa
hubungan antara manajemen dengan tenaga kerja ketika akan mengadakan hubungan kerja
adalah saling menjadi, bukan memiliki. Kedua, agar ayal hubungan kerja senantiasa berasa
dalam suasana paguyuban, perlu ada perlindungan terhadap tenaga kerja yang bukan semata-
mata perlindungan dengan usaha mencukupi kebutuhan, tetapi dimensi immateriilnya
hendaknya tidak diabaikan, artinya tenaga kerja tidak diperlakukan sebagai orang lain.
Menurut Achid Masduki," dalam masyarakat modern maka hukum adat yang kita pakai
haruslah bukan hukum adat level persekutuan, yaitu hukum adat yang oleh F.D. Holleman
memiliki ciri religius magis, komunal, kontan dan konkret,tetapi telah diubah oleh UU No.5
Tahun 1960 tentang Ketentuan Pokok Agraria, sehingga telah berubah menjadi religius-
rasional, keseimbangan antara kepentingan individu dan masy masyarakat, konsensual, dan
abstrak. Sehubungan dengan itu maka peranan hukum adat dalam menata masalah pemilikan
dalam masyarakat industri ialah agar hak milik bersifat individual (contoh sertifikat tanah),
ada kepastian hukum (contohnya pendaftaran tanah), keseimbangan tetap berfungsi sosial,
dan terjaga keseim antara kepentingan individu dan masyarakat.
Di dalam kancah penegakan hukum, peranan dan sumbangan hukum adat tidak dapat
dipungkiri bahwa penegakan hukum merupakan penyerasian nilai-nilai dengan perilaku
manusia, dengan jalar mewujukan ide-ide atau nilai-nilai ke dlaam hukum in concreto
concreto dengan mewajibkan hakim sebagai penegak hukum dan keadilan untuk menggali,
mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum hidup di dalam masyarakat. Hal demikian itu
10
dengan yang tandas mengisyaratkan bahwa hukum adat adalah faktor penting dalam
penegakan hukum, karena sasarannya adalah terwujudnya rasa keadilan yang hidup di dalam
masyarakat.
11
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bertolak dari pembahasan tersebut di atas, maka ditarik simpulan sebagai berikut:
1. Hubungan antara hukum adat dengan hukum nasion nasional dalam rangka
pembangunan hukum nasional adalah hubungan yang bersifat fungsional, artinya
hukum adat sebagai sumber utama dalam mengambil bahan-bahan yang diperlukan
dalam rangka pembangunan hukum nasional.
2. Hukum adat yang diperlukan dalam era globalisasi atau zaman modem adalah hukum
adat yang disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan zaman, sehingga hukum
adat menunjukkan sifat yang dinamis sehingga mudah dapat berkembang
menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman karena mempunyai nilai-nilai yang
universal maupun lembaga-lembaga hukum yang dalam bentuk pernyataan modern.
Karena penyesuaian ini maka tidak menutup kemungkinan kemurnian penerapan
kaidah-kaidah hukum adat menjadi hukum nasional akan mengalami pergeseran,
sepanjang untuk memperkaya dan mengembangkan hukum nasional, asal tidak
bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
12
DAFTAR PUSTAKA
Hartono, Sunaryati, 1998, "Sumbangsih Hukum Adat bagi Perkembangan Pembentukan
Hukum Nasional" dalam Hukum Adat dan Modernisasi Hukum Yogyakarta: FH-UII.
Masduki, Achid, 1998, "Peranan Hukum Adat dalam Mengatasi Masalah Pemilikan pada
Masyarakat Industri" dalam Hukum Adat Dan Modernisasi Hukum "Yogyakarta: FH-UII.
Rahardjo, Satjipto, 1998, "Relevansi Hukum Adat dengan Modernisasi Hukum Kita" dalam
Hukum Adat Dan Modernisasi Hukum Yogyakarta: FH-UII.
Wignjodipoero, Soerojo, 1982, Kedudukan serta Perkembangan Hukum Adat Setelah
Kemerdekaan, Jakarta: Gunung Agung.
13