100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
943 tayangan2 halaman

Antilogisme dan Dilema: Uji Silogisme Majemuk

Dokumen tersebut membahas tentang antilogisme dan dilema. Antilogisme adalah penolakan kesimpulan silogisme majemuk yang menimbulkan ketidaksesuaian antara premis dan kesimpulan, sedangkan dilema adalah penyimpulan bercabang yang berasal dari dua premis implikatif dan satu premis disjungtif yang menghasilkan kesimpulan sulit. Kedua konsep ini digunakan untuk menguji keabsahan penalaran dalam silogisme

Diunggah oleh

Mellisa Astary
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
943 tayangan2 halaman

Antilogisme dan Dilema: Uji Silogisme Majemuk

Dokumen tersebut membahas tentang antilogisme dan dilema. Antilogisme adalah penolakan kesimpulan silogisme majemuk yang menimbulkan ketidaksesuaian antara premis dan kesimpulan, sedangkan dilema adalah penyimpulan bercabang yang berasal dari dua premis implikatif dan satu premis disjungtif yang menghasilkan kesimpulan sulit. Kedua konsep ini digunakan untuk menguji keabsahan penalaran dalam silogisme

Diunggah oleh

Mellisa Astary
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Antisilogisme atau pengujian silogisme adalah “suatu ingkaran kesimpulan pada silogisme
majemuk yang menimbulkan ketidakselarasan antara premis dan kesimpulan”. 

 Antilogisme dapat didefinisikan sebagai suatu pengingkaran kesimpulan bentuk silogisme


yang akan terwujud ketidakselarasan antara premis dan kesimpulan. Antisilogisme
digunakan untuk menguji silogisme majemuk. Adapun produk atau hasil akhir dari
antilogisme merupakan pernyataan bahwa yang tepat adalah kesimpulan semula, sebab
kesimpulan yang kedua diingkari.

 Hukum dasar antisilogisme: “Ingkaran kesimpulan dari silogisme majemuk yang


mewujudkan ketidakselarasan dengan premisnya, maka yang tepat adalah kesimpulan
semula”

Pembuktian dari antilogisme, yaitu ke-tepat-an kesimpulannya dengan diagram himpunan.

2. Dilema atau penyimpulan bercabang adalah; “Penyimpulan dalam silogisme majemuk


yang lebih kompleks dengan dua proposisi implikatif sebagai premis mayor dan proposisi
disjungtif sebagai premis minor, yang mewujudkan kesimpulan yang bercabang”

Dilema adalah bentuk penyimpulan berpangkal pada dua pernyataan dengan hubungan
ketergantungan antara dua bagian yang mewujudkan kesimpulan bercabang.

Dilema digunakan di dalam perbincangan, yang menuntut teman bicara harus mengambil
kesimpulan yang sulit atau tidak menyenangkan, untuk menuntut keadilan.

Atas dasar sistem penalarannya, ada 2 (dua) macam Dilema : Konstruktif dan Destruktif.


Konklusinya, berupa proposisi disjungtif, tetapi bisa proposisi kategorika. Dalam konsep
Dilema, terkandung konsekuensi yang kedua kemungkinannya memiliki berat sama. Adapun
konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan. Dalam debat, dilema dipergunakan
sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apapun yang dipilih, lawan bicara selalu dalam
situasi tidak menyenangkan.

Hubungan Antilogisme dan Dilema dalam Penyimpulan langsung sesuai dengan penjelasan
diatas, maka ditarik kesimpulan bahwa antilogisme berperan sebagai penguji untuk
silogisme majemuk apakah selaras  atau tidak terhadap premis dan kesimpulan, hasil
silogisme yang sesuai adalah silogisme yang semula sebelum di ingkari. Sedangkan dilema
adalah penyimpulan bercabang maksudnya adalah uraian dari argumentasi kedua jenis
silogisme yaitu (hipotetik dan silogisme disjungtif). Kenapa demikian? Karena premis
mayornya terdiri dari dua proposisi hipotetik dan premis minornya satu proposisi disjungtif,
tetapi bisa proposisi kategorik. Konklusi yang diambil selalu tidak menyenangkan, dan dalam
sebuah perdebatan, dilema dipergunakan sebagai alat pemojok, sehingga alternatif apapun
yang dipilih, lawan bicara selalu dalam situasi tidak menyenangkan.

Penyimpulan antisilogisme didasarkan pada hukum dasar antisilogisme sebagai suatu


TAUTOLOGIS (silogisme yang mesti benar), yang disusun oleh silogisme kondisional dengan
cara: “ingkari konsekuen dengan menetapkan salah satu anteseden, maka kesimpulannya
cukup ingkari salah satu antesedennya. Langkah tersebut mengikuti cara modus tolendo
tolen (dalam silogisme ekuivalen).

Berdasarkan kaidah antilogisme  sebagai suatu tautologi dapat disusun juga suatu silogisme
kondisional dengan cara "mengingkari konsekuen dengan menetapkan salah satu anteseden
maka kesimpulannya cukup mengingkari salah satu antesedennya."

Contoh : jika setiap rakyat Indonesia sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan
(p), dan tidak semua warga PDI sama kedusukannya dalam hukum dan pemerintahan (~r)
maka berarti tidak semua warga PDI adalah rakyat Indonesia (~q).

Kesimpulan yang bercabang dapat juga satu kesimpulan berupa pernyataan tunggal sebagai
gabungan dua kesimpulan yang sama. Bentuk penyimpulan dilema sering digunakan dalam
perbincangan untuk menuntut pada lawan bicara.

Contoh:

Kristus ditampar oleh prajurit yang mengawalnya kemudia beliau berkata; saya berkata
benar atau salah, bila saya berkata benar mengapa saya kautampar, bila saya berkata salah
buktikan.

Contoh sederhana lainya adalah:

 Semua Rakyat Indonesia sama Kedudukannya dalam Hukum dan Pemerintahan.


 Semua Anggota DPR adalah Rakyat Indonesia.
 Semua Anggota DPR adalah sama kedudukannya dalam hukum dan Pemerintahan.

Contoh :

 Jika Ismail jujur Solikin akan membencinya.


 Jika Ismail tidak jujur Rahmat akan membencinya.

Referensi : BMP ISIP4211 – Logika (Edisi 2) - BAB “Antilogisme dan Dilema”

Anda mungkin juga menyukai