Sistem Politik Indonesia
Soal :
Pendekatan Analisis Sistem Politik merupakan bagian
dari pendekatan tingkah laku dalam usaha menjadikan
Ilmu Politik sebagai sebuah ilmu yang ilmiah. Ada 2
(dua) pendekatan besar yaitu Analisis Sistem Politik
David Easton dan Analisis Struktural Fungsional Gabriel
Almond.
Diskusikan perbedaan antara kedua analisis tersebut
dan sertakan contohnya!
Catatan Penting: Jawaban anda harus lengkap dengan disertai contoh sesuai intruksi
pertanyaan.
Jawab :
Analisis system politik David Easton
Menurut Easton minimal ada tiga hal mendasar yang harus diperhatikan dalam membahas system
politik (Easton, 1992: 181-184), Perbedaan sistem politik dengan sistem lainnya dapat dilihat dari
definisi politik itu sendiri. Politik adalah perjuangan individu atau kelompok dalam menguasai nilai-
nilai sosial. Sistem politik sebagai suatu sistem memiliki ciri-ciri tertentu titik batas antara sistem
politik dengan sistem lainnya akan dapat dilihat apabila kita dapat memahami tindakan politik
sebagai sebuah tindakan yang ingin berkaitan dengan pembuatan keputusan publik. Perbedaan
sistem politik dengan sistem yang lain, tidak menjadikan jurang pemisah antara sistem politik
dengan sistem yang lain. Sebuah sistem dapat menjadi input bagi sistem yang lain. Contohnya
adalah kebijaksanaan pajak. Kebijaksanaan pajak merupakan output dari sistem politik, sekaligus
dapat menjadi input bagi sistem ekonomi.
Setidaknya ada empat ciri sistem politik yang dapat membedakan sistem politik dengan sistem yang
lain (Mas`oed dan MacAndrews, 1991: 5-6) :
1. Ciri identifikasi.
Kita harus dapat mengidentifikasikan sistem politik untuk dapat membedakannya dengan
yang lainnya. Dalam identifikasi ini, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu
unit-unit dalam sistem politik dan pembatasan. Dalam politik, unit-unitnya berupa tindakan
politik. Adapun mengenai pembatasan, ini perlu diperhatikan ketika kita membicarakan
sistem politik dengan lingkungan.
2. input dan output
Untuk dapat menjamin bekerjanya sistem politik diperlukan input yang rutin, tetap, dan
ajeg. Tanpa adanya input, sistem politik tidak akan bekerja. Lebih dari itu, tanpa output kita
tidak akan dapat mengidentifikasi pekerjaan yang telah dihasilkan oleh sistem politik.
3. Diferensiasi dalam sistem politik
Dalam politik, kita akan menemukan beragam tindakan politik dengan perannya masing-
masing, misalnya legislatif, eksekutif, yudikatif, partai politik, sampai dengan kelompok
kepentingan dan kelompok penekan.
4. Integrasi dalam sistem.
Integrasi dalam sistem politik sebagai salah satu usaha untuk mengatur kekuatan-kekuatan
dan kegiatan-kegiatan dalam sistem politik.
Unsur-unsur yang terdapat dalam sistem politik secara umum adalah input, konversi
(proses), output, feedback, dan lingkungan (Easton, 1992: 193-195). Adanya input yang
berupa tuntutan dan dukungan, kemudian dilanjutkan dengan konversi dan pada akhirnya
menjadi output, berupa keputusan atau kebijakan. Setelah menjadi output, ada umpan balik
melalui lingkungan yang kemudian akan kembali lagi mempengaruhi input.
A. Input
Input dalam sistem politik dibedakan menjadi dua, yaitu tuntutan dan dukungan. Input
yang berupa tuntutan muncul sebagai konsekuensi dari kelangkaan atas berbagai
sumber-sumber yang langka dalam masyarakat (kebutuhan). Input tidak akan sampai
(masuk) secara baik dalam sistem politik jika tidak terorganisir secara baik. Oleh sebab
itu komunikasi politik menjadi bagian penting dalam hal ini. Terdapat perbedaan tipe
komunikasi politik di negara yang demokratis dengan negara yang nondemokratis. Tipe
komunikasi politik ini pula yang nantinya akan membedakan besarnya peranan dari
organisasi politik.
Adapun mengenai input yang berupa dukungan, tidak semata-mata berupa dukungan
yang tampak dari luar, namun juga dukungan yang berupa pandangan atau suasana
pikiran. Suasana pikiran yang mendukung merupakan suatu kumpulan sikap,
kecenderungan yang kuat atau kesediaan untuk bertindak demi orang lain. Hal ini dapat
berupa kesetiaan pada partai sampai dengan semangat patriotisme.
B. Output
Output merupakan keputusan otoritatif (yang mengikat) dalam menjawab dan
memenuhi input yang masuk. Output sering dimanfaatkan sebagai mekanisme
dukungan dalam rangka memenuhi tuntutan-tuntutan yang muncul.
C. Lingkungan
Lingkungan mempunyai peranan penting berupa input, baik tuntutan ataupun
dukungan. Kemampuan anggota sistem politik dalam mengelola dan menanggapi
desakan ataupun pengaruh lingkungan bergantung pada pengenalannya pada
lingkungan itu sendiri.
Lingkungan terbagi menjadi dua, yaitu intrasocietal dan extrasocietal. Intrasocietal
merupakan komponen dalam sistem politik. Intrasocietal mencakup seperangkat tingkah
laku, sikap, kepribadian, serta gagasan baik dari lingkungan ekonomi, budaya maupun
struktur sosial. Intrasocietal dalam hal ini merupakan segmen fungsional masyarakat.
Extrasocietal mencakup semua sistem di luar suatu sistem politik dan merupakan
komponen fungsional dari masyarakat internasional atau sebuah suprasistem.
Easton (Easton, 1992: 189) mengkategorikan analisis sistem politik menjadi empat, yaitu:
1. Interaksi politik dalam masyarakat membentuk sistem perilaku.
2. Sistem politik berada dalam lingkungan fisik, sosial, dan psikologi.
3. Sistem politik sifatnya terbuka, artinya tidak terlepas dari pengaruh sistem yang lain.
Lebih dari itu, sistem politik (melalui kebijakan yang dihasilkan) turut mempengaruhi
sistem yang lain.
4. Oleh karena tidak lepas dari pengaruh dari lingkungan, sistem politik harus memiliki
keterampilan untuk merespon ancaman dan gangguan yang datang, serta
beradaptasi dalam segala kondisi.
Contoh pengaplikasian skema politik Dvid Easton tentang kenaikan BBM yang ditentang
oleh masyarakat Indonesia.
Input tuntutan yang ada didalam kasus ini adalah tuntutan untuk tidak menaikkan harga
BBM yang disampikan hampir seluruh lapisan masyarakat terhadap rencana kenaikan
harga BBB, tentu saja ini menjadi alas an yang sangat jelas megapa banyak masyarakat
yang menolak kenaikan harga BBM. Penyebab utama adalah efek domino yang akan
ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM. Jika harga BBM naik, maka harga
akan segala kebutuhan pokok pun akan naik pula. Hal ini tidak dibarengi
dengan daya beli masyarakat yang baik. Masih banyak rakyat Indonesia yang
daya belinya rendah. Sehingga untuk menjaga keberlangsungan hidupnya
mereka mau tidak mau akan menolak rencana kenaikan harga BBM tersebut.
Lalu input dukungan yang akan terjadi jika rencana kenaikan harga BBM
digulirkan misalnya sikap DPR yang mendukung aspirasi masyarakat dalam
menolak kenaikan harga BBM tersebut. Maka, berdasarkan input yang ada
pemerintah akan membuat keputusan berupa output misalnya tidak jadi
menaikan harga BBM.
Tetapi sebenarnya input dari pengaplikasian sistem politik tersebut
merupakan wujud dari lanjutan suatu sistem politik sebelumnya. Rencana
pemerintah menaikan harga BBM merupakan output yang dikarenakan oleh
adanya input tuntutan berupa tingginya harga minyak dunia dan dukungan
agar subsidi pemerintah tidak membengkak.
Analisis Struktural Fungsional Gabriel Almond.
Menurut Almond, sistem politik adalah sistem interaksi yang terdapat dalam semua
masyarakat yang bebas dan merdeka untuk melaksanakan fungsi-fungsi integrasi dan
adaptasi (baik dalam masyarakat ataupun berhadap-hadapan dengan masyarakat
lainnya) melalui penggunaan paksaan fisik yang absah. Dari penjelasan almond,
setidaknya ada beberapa hal yang utama dalam sebuah sistem politik (1) sistem politik
merupakan sistem interaksi yang terdapat dalam semua masyarakat yang bebas dan
merdeka. (2) tujuan sistem politik adalah untuk mencapai suatu kesatuan dalam
masyarakat (integrasi). (3) sistem politik absah dalam menggunakan kekuatan dan
paksaan fisik.
Dalam pandangan Almond, semua sistem politik memiliki persamaan karena sifat
universalitas dari struktur dan fungsi politik. Mengenai fungsi politik ini, Almond
membaginya dalam dua jenis, yaitu fungsi input dan output. Termasuk dalam kategori
fungsi input adalah sosialisasi politik dan rekruitmen politik, artikulasi kepentingan,
agregasi kepentingan, dan komunikasi politik. Sedangkan fungsi output terdiri dari
pembuatan aturan, pelaksanaan aturan, dan peradilan dari pelaksanaan aturan.
Pada dasarnya pendekatan sistem politik yang digagas oleh Almond merupakan
pendekatan perbandingan sistem politik. Menurut Almond, dalam membandingkan
lembaga dan proses-proses politik yang terdapat di dalamnya, setidaknya dapat
dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu :
a. Kegiatan deskriptif, dengan melihat dan memusatkan perhatian pada keseluruhan
bagian dari sistem politik tersebut
b. memilah-milah temuan yang didapat, kemudian dikelompokkan berdasarkan
tipenya masing-masing
c. dicari keajegan dari hubungan-hubungan dari berbagai variabel, misalnya antara
sistem sosial dengan konflik yang ada
3 konsep yang dapat digunakan dalam menganalisis berbagai system politik menurut
almond yaitu system, struktur, dan fungsi. Sistem diartikan sebagai suatu konsep
ekologis yang menunjukkan adanya suatu organisasi yang berinteraksi dengan
lingkungan, yang mempengaruhinya maupun dipengaruhinya sehingga sistem politik
dapat diartikan sebagai suatu organisasi di mana masyarakat merumuskan dan berusaha
mencapai tujuan-tujuan bersama mereka. Agar dapat melaksanakan fungsinya, sistem
politik mempunyai lembaga-lembaga atau struktur-struktur, misalnya: parlemen,
birokrasi, partai politik, lembaga peradilan, yang menjalankan kegiatan-kegiatan atau
fungsi-fungsi tertentu, selanjutnya memungkinkan sistem politik tersebut untuk
melaksanakan dan merumuskan kebijaksanaannya.
Almond menilai bahwa terdapat empat ciri dalam semua sistem politik :
1. Sistem politik memiliki struktur dan lembaga politik.
2. Sistem politik menjalankan fungsi yang sama walaupun frekuensinya berbeda.
Perbedaan frekuensi ini terjadi karena perbedaan struktur.
3. Struktur politik menjalankan fungsi tertentu. Betapa pun khusus fungsi dari sistem
politik, ia akan dapat bersifat multifungsi. Dengan demikian, sistem politik dapat
diperbandingkan menurut tingkat kekhususan fungsi dalam struktur tersebut.
4. Sistem politik merupakan sistem campuran apabila dilihat dari segi budaya. Artinya,
tidak ada struktur politik dan kebudayaan yang paling modern dan paling tradisional
karena keduanya hanya bersifat relatif saja.
Menurut Gabriel Almond, dalam setiap sistem politik terdapat enam struktur atau
lembaga politik, yaitu kelompok kepentingan, partai politik, badan legislatif, badan
eksekutif, birokrasi, dan badan peradilan. Dengan melihat keenam struktur dalam setiap
sistem politik, kita dapat membandingkan suatu sistem politik dengan sistem politik yang
lain. Hanya saja, perbandingan keenam struktur tersebut tidak terlalu membantu kita
apabila tidak disertai dengan penelusuran dan pemahaman yang lebih jauh dari
bekerjanya sistem politik tersebut.
Contoh Analisa struktur fungsional dalam Pendidikan
Setiap masyarakat pasti ingin hidup denga ketenangan terhadap bentuk perubahan sosial
harus memiliki pendidikan tinggi. Adanya pemerintah memberikan fasilitas dalam
pendidikan maka masyarakat mengisi serta mendorong suksesi kehidupan dengan
masuk dalam lembaga pendidikan tertentu. Misalnya saja untuk memperbaiki SDM
pemerintah membangun pendidikan formal, untuk membangun karakter yang baik
pemerintah membangun pendidikan non formal, dan untuk menunjang keterampilan
pemerintah kemudian menyusun dan membangun pendidikan informal.
Sumber :
BMP Sistem Politik Indonesia/ISIP4213/ 3 sks/Modul 1 – 9/Edisi 2/ Ikhsan Drmawan, dkk/ Tangerang
Selatan, Universitas Terbuka, 2020.
https://wendygipn.wordpress.com/2012/10/05/tugas-kuliah-contoh-pengaplikasian-sistem-politik-
david-easton/
https://dosensosiologi.com/6-teori-struktural-fungsional-menurut-para-ahli-dan-contohnya-
lengkap/