TUGAS PENITENSIER
Nama : Elvinna Aniendya V
Nomor Presensi : 22 (Dua puluh dua)
NIM : 8111419025
Mata Kuliah : Penitensier
Dosen Pengampu : Muhammad Azil Maskur, S. H., M. H.
Anis Widyawati, S. H., M. H.
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
SEMARANG
2021
ALUR PELAKSANAAN PIDANA PENJARA
Pidana penjara merupakan salahsatu dari lima pidana pokok dalam system hukum pidana
di Indonesia, hal tersebut diatur didalam Pasal 10 KUHP. Menurut pasal 12 ayat (1) dan (2) KUHP,
pada pelaksanaan pidana penjara terdiri dari pidana penjara seumur hidup, dan pidana penjara
selama waktu tertentu. Menurut Andi Hamzah, pidana penjara adalah bentuk pidana yang berupa
kehilangan kemerdekaan. Pidana kehilangan kemerdeekaan itu bukan hanya dalam bentuk pidana
penjara tetapi juga berupa pengasingan, dahulu kala pidana penjara tidak dikenal di Indonesia
(hukum adat), yang dikenal ialah pidana pembuangan, pidana badan berupa pemotongan anggota
badan atau dicambuk, pidana mati dan denda atau berupa pembayaran ganti rugi.
Terdapat beberapa istilah mengenai system pemenjaraan, ialah Country Jail, House of
Correction/Workhouse, Correctional Institution, Penitentiary, Reformatory. Sedangkan dalam
pengelompokannya dikenal ada dua system ialah USA dan Britnnica. Adapun ciri dari system
pemenjaraan system ialah sebagai beikut:
1. System Pennsylvania/ Cellulaire Cell, dimana para narapidana akan dikurung secara terpisah
dan didalam sel mereka hanya diizinkan untuk membaca kitab suci. Narapidana setiap
harinya hanya akan melihat petugas saja.
2. System Auburn/ Silent System, narapidana tidak diperbolehkan berkomunikasi satu sama
lain, pada pagi hari narapidana diharuskan untuk berkerja dan akan kembali pada sel masing
masing di malam hari.
3. System Elmira/ The Parent Reformatory Plan, system ini juga kerap disebut Lembaga
Perbaikan Narapidana narapidana akan diberikan pendidikan, pengajaran dan latihan kerja.
4. System Osborne/ Mutual Welfare League, narapidana mengattur kehidupannya sendiri
didalam penjara dan mandor hanya bertugas mengawasi dan memimpin para narapidana,
mandor diangkat dari kalangan narapidana itu sendiri.
5. System Konvensional yang mirip dengan System Pennsylvania dan Sistem Auburn.
6. System Irlandia/ Mark System, dalam system ini ada 5 pedoman kerja, ialah lamanya pidana
dihapuskan dan digani dengan pemberian tugas, jumlah pekerjaan yang dilakukan
narapidana dinyatakan dalam sebuah bilangan yang berupa tanda yang harus didapatkan,
selama berada dipenjara narapidana memperoleh upah, untuk memenuhi sayarat lewat
disiplin yang harus dipatuhi narapidana harus bekerjasama dengan sekelompok kecil
narapidana, dan mempersiapkan dirinya untuk dibebaskan kedalam masyarakat. Sedangkan
untuk memisahkan antara narapidana yang masih dapat diperbaiki dengan yang tidk apat
diperbiki dapat dibagi dengan tiga tingkatan narapidadna, ialah Probation/Percobaan, Publik
WorkPrison dan Ticket of Leave
7. System Borstal/ Voorwaardelijke Invrijheidstelling, mirip dengan Sistem Elmira, hanyasaja
lama pidana penjara diputuskan oleh pengadilan setelah terpidana menjalani pidana penjara
selama 6 bulan.
8. System Zuthpen, ialah penjara khusus bagi orang muda
9. System Rehabilitasi, ialah titik berat pada perbaikan individu
10. System Reedukasi, ialah titik berat pada pendidikan bagi terpidana
11. System Reformasi, ialah titik berat pada aspek pembentukan ulang diri terpidana
12. System Resosialisasi, ialah titik berat pada bagaimana mengembalikan terpidana ke
masyarakat.
Adapun tata cara dalam melaksanakan pidana penjara ialah sebagai berikut:
Penjatuhan Macam penjara
pidana penjara ada dua :
dan kurungan •Pidana Penjara Jika terpidana
pemotongan
•Pidana penjara seumur hidup Terpidana lari maka
mulai berlaku sejak masa tahanan
Perhitungan •Pidana Penjara wajib selama diluar
putusan dan seumur hidup
mulai memperole kerja(pasal 14 penjara tidak
penangkapan,
berlakunya kekuatan yang dan pasal 19 dihitung
inkrach (Pasal 32 hakim berhak
pidana jopasal 29 menjalani
ayat 1 KUHP) memotong
•Pidana kurungan KUHP) pidana (pasal
dan tidak
mulai berlaku saat 34 KUHP).
pidana penjaranya
selesai dijalani
(Pasal 22 ayat 1
KUHP)
1. Perhitungan mulai belakunnya pidna penjara saat putusan telah memperoleh kekuatan
hukum yang inkracht, dalam hal megajukan Grasi dan ditahan, tidak diperhitungkan
kecuali presiden menentukan sebagian atau seluruhnya sebagai waktu menjalanipidana,
terdapat pada Pasal 33a KUHP.
2. Dalam hal dijatuhi pidana penjara dan kurungan berbarengan:
a. Pasal 32 ayat (1) KUHP, pidana penjara mulai berlaku sejak putusan telah memperoleh
kekuatan hukum yang inkracht.
b. Pasal 22 ayat (1) KUHP, pidana kurungan mulai berlaku saat pidana penjaranya selesai
dijalani.
3. Dalam pemotongan masa tahanan dan penangkapan, hakim boleh memotong dan boleh
tidak memotong.
4. Adapun macam penjara adalah pidana penjara seumur hidup dan pidana penjara sementara
waktu.
5. Terpidana wajib kerja, terdapat pada Pasal 14 dan Pasal 19 jo Pasal 29 KUHP
6. Terpidana lari maka waktu selama berada diluar penjara tidak dihitung sebagai waktu
menjalani pidana (Pasal 34 KUHP). Dalam hal itu terjadi daluwarsa kesewenangan
Penuntut Umum hapus (Pasal 84 KUHP).
Kata penjara memunculkan stigma buruk di masyarakat, sehingga pada saat ini di
Indonesia penjara diubah namanya menjadi lembaga permasyarakatan. Istilah penjara sangat
melekat dengan kejahatan atau tindak pidana yang dimana pelakunya harus diasingkan,
dihindarkan bahkan dijauhkan dari masyarakat. Pergantian nama tersebut juga disertai dengan
pergantian konsep dengan beberapa pertimbangan. Sistem Pemasyarakatan ada untuk
menggantikan Sistem Kepenjaraan yang sebelumnya lebih dulu ada dengan menerapkan konsep
pembinaan dan pembimbingan yang tentu jauh berperi kemanusiaan dan lebih melindungi Hak
Asasi Manusia. Secara umum proses pembinaan narapidana dengan Sistem Pemasyarakatan
Indonesia terdiri atas 4 (empat) tahap, yaitu:
Tahap Tahap Medium
Tahap Integrasi Tahap Asimilasi
Admisiorientasi Security
1. Tahap Admisiorientasi, melakukan penelitian terhadap hal ikhwal narapidana; sebab
dilakukannya suatu pelanggaran. Pembinaan ini dilaksanakan saat yang bersangkutan
berstatus sebagai narapidana sampai dengan 1/3 (sepertiga) masa pidananya. Masa ini
merupakan masa pengamatan, pengenalan dan adptasi pada lingkungan.
2. Tahap Medium Security, Narapidana tersebut dianggap sudah mencapai cukup kemajuan
maka kepada narapidana diberikan kebebasan yang lebih banyak dan ditempatkan pada
Lembaga Pemasyarakatan dalam pengawasan medium security. Yang dimaksud dengan
narapidana telah menunjukkan kemajuan disini adalah dengan terlihatnya keinsyafan,
perbaikan diri, disiplin dan patuh pada peraturan tatatertib yang berlaku di Lembaga.
3. Tahap Asimilasi yang dilakukan setelah menjalani 1/2 dari masa pidana yang sebenarnya.
pelaksanaannya terdiri dari 2 bagian yaitu yang pertama waktunya dimulai sejak
berakhirnya tahap awal sampai dengan 1/2 dari masa pidananya. Dalam bagian lanjutan ini
narapidana sudah memasuki tahap asimilasi dan selanjutnya dapat diberikan pembebasan
bersyarat atau cuti menjelang bebas dengan pengawasan minimum.
4. Tahap Integrasi, merupakan tahap proses pembinaan telah berjalan selama 2/3 masa pidana
yang sebenarnya atau sekurang-kurangnya 9 bulan. Pada tahap ini, bagi narapidana yang
memenuhi syarat diberikan cuti menjelang bebas atau pembebasan 8 bersyarat. Pembinaan
dilakukan diluar Lapas oleh Balai Pemasyarakatan (BAPAS) yang kemudian disebut
pembimbingan Klien Pemasyarakatan