Krisis Ekonomi Di Indonesia Tahun 1930-an
Pengantar Sejarah Indonesia
Imas Emalia, M. Hum
Disusun oleh
Syaidina Sapta Wilandra
Sejarah Kebudayaan Islam
Fakultas Adab dan Humaniora
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bab 1.
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Sejak pertama kali bangsa Belanda hadir di Nusantara, mereka sudah berniat untuk
menguasai perekonomian di Nusantara saat itu. Hingga pada 1602 pemerintah belanda
membentuk VOC sebagai asosiasi para pedagang belanda di kawasan Nusantara. Sejak saat itu
lah bangsa belanda melalui VOC melakukan penjajahan terhadap rakyat di Nusantara.
Dengan dikuasainya wilayah Indonesia saat itu, maka perekonomian pun juga bergantung
kepada perekonomian Hindia Belanda. Saat perang dunia I berakhir, Amerika Serikat dan
banyak negara Eropa lain mengalami krisis dan depresi ekonomi. Otomatis Indonesia saat itu
juga terkena dampaknya meskipun Indonesia tidak terlibat perang dunia.
Krisis yang melanda dunia itu juga berpengaruh ke Indonesia. Perekonomian Indonesia
menjadi sangat terpuruk. Banyak rakyat yang makin menderita akibat krisis tersebut. Tidak
hanya di satu kota saja, tapi hampir disemua kota, terutama di kota-kota besar di Indonesia
kondisinya menjadi makin terpruk akibat krisis ekonomi.
B. Rumusan Masalah
1. Apa penyebab terjadinya krisis ekonomi pada kurun tahun 1930-an?
2. Bagaimana kondisi Indonesia saat krisis terjadi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab terjadinya krisis ekonomi tahun 1930-an
2. Untuk mengetahui bagaimana kondisi Indonesia saat krisis itu terjadi
Bab. 2
Pembahasan
A. Penyebab Terjadinya Krisis Ekonomi
Semenjak terjadinya perang dunia I kondisi di dunia menjadi kacau balau termasuk dalam
bidang ekonominya. Hal ini akibat negara-negara yang terlibat dalam perang mengalami
kerugian yang besar baik itu harta, benda, maupun sumber daya manusianya. Penyebab depresi
besar terjadi pada akhir perang dunia I tahun 1919. Perjanjian Versailles memaksa Jerman agar
membayar kompensasi sangat besar atas kemenangan sekutu. Hal ini berakibat banyaknya
penduduk Jerman yang kehilangan tabungan akibat anjloknya mata uang. Di inggris, Prancis,
dan AS, indsutri berjuang agar dapat beradaptasi dengan perdagangan masa damai. Serikat
dagang meminta para pekerjanya agar mogok kerja menentang para pemilik perusahaan yang
mendesak pemotongan upah. Pemogokan umu terjadi pertama kali di Inggris pada 1926. Harga
bangan pangan terjatuh hingga banyak petani merana dan berhenti mengolah lahan.
Selama 1920-an, pertumbuhan pesat ekonomi AS sebagian berasal dari pelunasan
pinjaman perang dari London ke New York. Pertumbuhan juga didukung oleh kebijakan
ekonomi presiden Harding dan Coolidge. Para spekulan mendongkrak harga saham di AS
melampaui nilai yang sebenarnya.
Pada oktober 1929, orang-orang mulai panik dan menjual sahamnya dengan cepat. Dalam
satu hari, 13 juta saham terjual di Bursa Saham New York. Ini memulai krisis ekonomi yang
dikenal sebagai Wall Street Crash yang segara menjangkit seluruh dunia. Banyak orang yang
kehilangan uangnya. Bank dan bisnis terpaksa ditutup, sementara pengangguran mulai melonjak.
Pada tahun 1933 menjadi tahun krisis terburuk bagi AS. Bahkan hampir 12 juta orang
menganggur. Situasi di AS diperpah lagi dengan kekeringan yang melanda pertanian dalam
negeri.1
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpukul dengan krisis tersebut karena banyak
produksi yang berorientasi ekspor sangat rentan terhadap siklus perdagangan. Karena Indonesia
betsifat agraris dan merupakan pengekspor bahan-bahan mentah, disamping itu merupakan
negara debitur. Indonesia relatif lebih sensitif terhadap kemerosotan ekonomi disbanding negara-
negara lain yang berada dalam kondisi yang berbeda. Harga produk ekspor jatuh drastis lebih
dari harga impor. Akibatnya perbandingan antara harga impor dan ekspor Indonesia memburuk.2
B. Dampak Krisis Ekonomi di Indonesia
1
Ensiklopedia Sejarah dan Budaya Jilid V
2
J. Thomas Limblad. Sejarah Ekonomi Modern Indonesia. 2000. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia. Hlm 241-242.
Bagi Indonesia, depresi ekonomi tahun 1930-an merupakan bukti paling nyata bahwa
perekonomian Indonesia telah terintegrasikan dengan pasar internasional, khususnya melalui
ekonomi perkebunan. Oleh karenanya dampak dari depresi dan krisis ini pengaruhnya juga
dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Banyak ahli menganggap bahwa depresi ekonomi dunia
tahun 1930-an telah menimbulkan dampak yang lebih besar dalam kurun yang lebih lama. Anne
Booth, mengungkapkan bahwa depresi eknomi telah menghambat pertumbuhan ekonomi
Indonesia.3
Masa depresi dan krisis yang melanda pada awal tahun 1929 telah mengacaukan
penghasilan ekspor hasil panen dari Hindia Belanda dan mengakibatkan efek mendalam terhadap
ekonomi kolonial yang selama ini bergantung padanya. Bagi rakyat Indonesia, banyak diantara
mereka yang kehilangan pekerjaannya dan ada pula yang terpaksa menerima gaji yang lebih
kecil atau bekerja serabutan dengan upah harian dimana pun mereka bisa temukan. Sebagian
bahkan ada yang kembali ke kampung halaman mereka dimana kebutuhan hidup mereka
kemudian ditanggung sanak saudara mereka.4
Ketika masa krisis terjadi, di Indonesia terjadi banyak pengangguran. Pengangguran dari
Eropa diperkirakan berjumlah 10.000 dan ini belum termasuk mereka yang kembali ke Belanda.
Keadaan tahun 1930 menunjukan bahwa ada 12.898 orang Indonesia yang mencari pekerjaan ke
kantor buruh sepanjang tahun. Diantara mereka yang terdidik melamar menjadi juru tulis atau
tenaga administrasi. Dalam setengah tahun pertama dari tahun 1932 kantor buruh mengeluarkan
pendataan terhadap para pekerja berstatus sebagai juru ketik atau lainnya di Sembilan kota besar
di Jawa.5
Masa depresi tersebut dengan sangat cepat mempengaruhi pekerja-pekerja kota terdidik.
Jatuhnya Industri gula memiliki efek yang semakin besar pada bidang ekonomi. Dengan
jatuhnya pasar hasil bumi ekspor, tidak hanya ada sedikit pekerjaan di pabrik-pabrik gula, tapi
juga di bidang kereta api, pelabuhan dan industry pabrik serta sector layanan yang tergantung
pada permintaan dari pabrik-pabrik gula. Dalam jangka waktu enam bulan sejak Juni sampai
Desember 1930, di Surabaya saja industri logam memecat 1.073 pekerjanya, percetakan
memecat 250 pekerja, dan Sembilan perusahaan 1.100 pekerja. Banyak perusahaan yang
memanfaatkan masa krisis ini untuk mengganti pekerja yang lebih tua dengan gaji yang tinggi
dengan pekerja yang lebih muda dengan gaji yang rendah. Pada 1930 satu perusahaan memecat
1.169 pekerja tapi memperkejakan 488 pekerja baru.6
Di Surabaya selama 1930-1931 melakukan pemecatan skala besar. Besarnya angka buruh
yang menganggur menunjukan kenyataan bahwa Surabaya adalah kota industri besar di koloni
3
Abdul Wahid. Bertahan di Tengah Krisis : Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon. 2009. Yogyakarta :
Ombak. Hlm 3.
4
John Ingleson. Perkotaan, Masalah Sosial & Perburuhan di Jawa Masa Kolonial. 2013. Depok : Komunitas Bambu.
Hlm 137-138.
5
John….. Hlm 139-140
6
John….. Hlm 141
Hindia Belanda. Perusahaan lainnya di Surabaya, The British American Tobacco Company
menutup perkebunannya pada Mei 1931 dan memecat 2.000 pekerjanya. Sebagian buruh
Indonesia yang telah bertahun-tahun kerja disana dipecat dengan gaji hanya dibayar satu minggu.
Sebagian diantara mereka yang dipecat perga untuk bekerja memotong padi di sawah di luar
Surabaya. Sebagian juga ada yang bekerja memotong tebu, namun kerja ini hanya musiman saja.
Pada Oktober 1931 di Bandung juga banyak para pekerja yang terlatih menganggur dan sebagian
besar mereka pulang ke desa dan telah diurus oleh keluarga mereka.7
Pemerintah kolonial Belanda sangat mengkhawatirkan banyaknya pengangguran yang
terjadi akibat krisis yang terjadi pada 1930-an. Banyak para pengangguran dari para pekerja
Indonesia yang sudah terdidik dan dikhawatirkan menjadi lahan subur perekrutan partai-partai
nasionalis yang mengarah terjadinya kerusuhan di kota. Begitu pula pihak pemerintah kolonial
khawatir dengan kerusakan moral dari generasi muda bangsa Eropa yang lahir di wilayah
setempat yang menganggur. Pada akhir 1932, seorang jurnalis Eropa menulis pengalamannya di
Batavia. Dia mengatakan telah terbiasa melihat warga pribumi miskin yang tidur dijalanan.
Namun diantara mereka juga banyak orang Eropa yang terlantar akibat kehilangan pekerjaan.8
Kesimpulan
7
John…. Hlm 150-152
8
John…. Hlm 167-168
Krisisi ekonomi yang melanda dunia terjadi berawal dari akhir perang dunia I dimana
banyak negara yang terlibat mengalami kerugian akibat kalah perang. Ditambah lagi Amerika
Serikat meskipun dalam perang dunia I tidak mengalami kerugian namun AS mengalami depresi
ekonomi akibat anjloknya bursa saham Wall Street. Segera setelah itu AS mengalami masa-masa
depresi ekonomi yang akhirnya juga melanda dunia.
Indonesia saat itu perekonomiannya telah terintegrasikan dengan perdagangan
internasional. Maka ketika dunia terlanda krisis, Indonesia pun ikut merasakan akibatnya.
Banyak buruh dan pekerja Indonesia dipecat dan menjadi pengangguran. Sebagian yang masih
bekerja gajinya dipotong dengan gaji yang lebih rendah. Bukan hanya bagi pribumi saja, namun
warga Eropa yang ada di Indonesia ketika itu juga banyak yang merasakan dampak krisisnya.
Sebagian warga Eropa itu banyak yang kembali ke negaranya, namun ada pula yang tetap di
Indonesia akibat tidak punya biaya untuk pulang dan terlantar di jalanan.
Krisis yang melanda di dunia ini terjadi di awal tahun 1929 hingga memasuki tahun
1940-an. Banyak negara yang mengalami kerugian dan kemerosotan Ekonomi dan membuat
masyarakat sengsara.
Daftar Pustaka
Ingleson, John. Perkotaan, Masalah Sosial & Perburuhan di Jawa Masa Kolonial. Depok :
Komunitas Bambu. 2013.
Linblad, J. Thomas. Sejarah Ekonomi Indonesia Modern. Jakarta : Pustaka LP3ES
Indonesia. 2010.
Ensiklopedia Sejarah dan Budaya Jilid V
Wahid, Abdul. Bertahan di Tengah Krisis : Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota
Cirebon. Yoyakarta : Ombak. 2009.