Rencana Penanggulangan Banjir Palembang
Rencana Penanggulangan Banjir Palembang
Disusun oleh :
Dera Des Robiah
030.14.046
Pembimbing:
dr. Gita Handayani Tarigan, MPH
A. Gambaran Umum
I. Geografis
Keadaan topografi Kota Palembang, pada umumnya merupakan dataran rendah
dengan ketinggian rata-rata + 4 – 12 meter di atas permukaan laut, dengan komposisi:
48% tanah dataran yang tidak tergenang air, 15% tanah tergenang secara musiman dan
35% tanah tergenang terus menerus sepanjang musim. Lokasi daerah yang tertinggi
berada di Bukit Seguntang Kecamatan Ilir Barat I, dengan ketinggian sekitar 10 meter
dpl. Sedangkan kondisi daerah terendah berada di daerah Sungai Lais, Kecamatan Ilir
Timur II. Kota Palembang dibedakan menjadi daerah dengan topografi mendatar sampai
dengan landai, yaitu dengan kemiringan berkisar antara ± 0 - 3o dan daerah dengan
topografi bergelombang dengan kemiringan berkisar antara ± 2 – 10o. 1
Sebagian besar dari wilayah Kota Palembang merupakan dataran rendah yang landai
dengan ketinggian tanah rata-rata +12 meter di atas permukaan laut, sedangkan daerah
yang bergelombang ditemukan di beberapa tempat seperti Kenten, Bukit Sangkal, Bukit
Siguntang dan Talang Buluh-Gandus.1
II. Administratif
Berdasarkan PP No 23 tahun 1998 tentang perubahan batas wilayah Kota Palembang,
luas wilayah Kota Palembang adalah sebesar 400,61 km2 atau 40.061 Ha. Wilayah ini
terbagi atas 16 kecamatan dan 107 kelurahan yang terdiri dari 989 Rukun Warga (RW)
dan 3.910 Rukun Tetangga (RT). Keenam belas kecamatan tersebut yaitu Kec. Ilir Timur
I, Ilir Timur II, Ilir Barat I, Ilir Barat II, Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Sukarame,
Sako, Bukit Kecil, Gandus, Kemuning, Kalidoni, Plaju, Kertapati dan 2 kecamatan baru
(hasil pemekaran tahun 2007) yaitu Kecamatan Alang-Alang Lebar dan Sematang
Borang.1
1. Satuan Alluvial dan Rawa, terdapat di Seberang Ulu dan Rawa-Rawa dibagian
timur dan bagian barat wilayah Kota Palembang.
2. Satuan Palembang Tengah, mempunyai batuan lempung dan lempung pasiran yang
kedap air, tersebar dibagian utara yaitu Kenten, Talang Betutu dan Sungai Ringgit
(Kabupaten Banyuasin). Sedangkan disebelah selatan tersebar kearah Indralaya
(Kabupaten Ogan Ilir) dan Gelumbang (Kabupaten Muara Enim).
3. Satuan Palembang Bawah, tersebar dibagian dalam Kota Palembang dengan arah
memanjang ke barat daya tenggara dan merupakan suatu rangkaian antiklin.
Dari segi hidrologi, Kota Palembang terbelah oleh Sungai Musi menjadi 2 (dua)
wilayah besar yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Sungai Musi merupakan sungai
terbesar dengan lebar rata-rata 504 meter. Ketiga sungai besar lainnya adalah Sungai
Komering, Sungai Ogan, dan Sungai Keramasan yang terletak di Seberang Ulu.
Disamping sungai-sungai besar tersebut terdapat sungai-sungai kecil lainnya yang terletak
di Seberang Ilir yang berfungsi sebagai drainase perkotaan. Terdapat ± 68 anak sungai
aktif dengan lebar berkisar antara 3 – 20 meter. Permukaan air Sungai Musi sangat
dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada musim kemarau terjadi penurunan debit
sungai, sehingga permukaan air Sungai Musi mencapai ketinggian yang minimum. Pola
aliran sungai di Kota Palembang dapat digolongkan sebagai pola aliran dendritik, artinya
merupakan ranting pohon, di mana dibentuk oleh aliran sungai utama (Sungai Musi)
sebagai batang pohon, sedangkan anak-anak sungai sebagai ranting pohonnya. Pola aliran
sungai seperti ini mencerminkan bahwa, daerah yang dialiri sungai tersebut memiliki
topografi mendatar. Dengan kekerasan batuan relatif sama (uniform) sehingga air
permukaan (run off) dapat berkembang secara luas, yang akhirnya akan membentuk pola
aliran sungai (river channels) yang menyebar ke daerah tangkapan aliran sungai
(catchment area). 1
Fungsi sungai di Kota Palembang sebelumnya adalah sebagai alat angkutan sungai ke
daerah pedalaman, namun sekarang sudah banyak mengalami perubahan fungsi antara
lain sebagai drainase dan untuk pengendalian banjir. Fungsi anak-anak sungai yang
semula sebagai daerah tangkapan air, sudah banyak ditimbun untuk kepentingan sosial
sehingga berubah fungsinya menjadi permukiman dan pusat kegiatan ekonomi lainnya,
dimana rata-rata laju alih fungsi ini diperkirakan sebesar ± 6% per tahun. Secara
geomorfik perubahan bentang alam pada satuan geomorfik di Kota Palembang berkaitan
dengan adanya sedimentasi sungai yang bertanggung jawab terhadap pendangkalan
sungai atau penyebab terjadinya penyempitan (bottle neck) seperti di daerah Mariana
Kecamatan Seberang Ulu I; penambangan pasir sungai atau gravel pada dasar sungai,
yang akan berdampak kepada pendalaman cekungan; pemanfaatan dataran pada bentaran
sungai untuk permukiman, persawahan serta aktivitas lain yang akan berdampak pada
aliran sungai; dan adanya penebangan hutan illegal di daerah hulu sungai.1
Struktur rawa yang ada di Kota Palembang juga dipengaruhi oleh pasang surut Sungai
Musi dan sungai-sungai lain yang bermuara di Sungai Musi. Satuan geomorfik rawa pada
umumnya dicirikan oleh terbentuknya cekungan yang lebih luas, dengan kedalaman
relatif dangkal, genangan air yang relatif stagnant (yang tergenang tidak mengalir,
sepanjang masa), dan bahkan di beberapa lokasi dijumpai pula area rawa yang telah
kering atau tak berair kecuali di musim hujan. Satuan geomorfik rawa banyak
mendominasi terutama kawasan Barat, kawasan Timur, daerah Seberang Ulu I, dan
Seberang Ulu II Kota Palembang. Pada satuan ini dijumpai pula beberapa cekungan yang
relatif lebih dalam bila dibandingkan dengan beberapa daerah di sekitarnya, dan bentuk
bentang alamnya ini merupakan perairan yang ditumbuhi oleh gulma, yang lazim disebut
dengan “lebak”. Daerah ini dikenal dengan daerah tangkapan air yang banyak digunakan
untuk kolam retensi banjir yaitu di Kecamatan Ilir Barat I, Kambang Iwak Talang Semut
di Kecamatan Ilir Timur I, kolam retensi Rumah Sakit Siti Khodijah, kolam retensi depan
Kapolda dan kolam retensi Kenten di Kecamatan Ilir Timur II.1
IV. Demografi
Tingkat pertumbuhan penduduk di suatu daerah dapat dilihat dari angka pertumbuhan
penduduk. Bila angka tersebut semakin tinggi berarti tingkat pertumbuhan penduduk semakin
cepat.2
Jumlah penduduk Kota Palembang pada pertengahan tahun 2009 adalah sebesar
1.438.938 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1,55% dibandingkan dengan tahun 2008.
Sebaran jumlah penduduk Kota Palembang menurut kecamatan dan laju pertumbuhan rata-
rata selama periode tahun 2004-2009 dapat dilihat pada tabel 2.4.3
Tabel 1. Jumlah Pendudukan dan Pertumbuhan Penduduk Kota Palembang Tahun 2005-2010
Rata2
Jumlah Penduduk (jiwa) Pertum-
No Kecamatan buhan
11. Ilir Timur II 160.818 164.449 167.522 170.192 172.836 159.152 -0,13
Sumber: PDA 2006, PDA 2007, PDA 2008, PDA 2009, PDA 2010, untuk 2009 data diambil dari Data Dasar
Kesehatan Kota Palembang Tahun 2018
Ket:*) Kecamatan baru terbentuk pada bulan Juli 2007 (setelah pemekaran)
Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
Luas
No Kecamatan Daerah
Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan
(Km2)
Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2)
1. Ilir Barat II 6,22 64.708 10.403,22 65.923 10.598,55 66.966 10.171,06 66.966 10.766,24 63.959 10.282,80
2. Gandus 68,78 51.182 744,14 52.125 757,85 50.078 728,09 52.973 770,18 57.221 831,94
3. SU I 17,44 152.607 8.750,40 155.521 8.917,49 149.135 8.551,32 157.933 9.055,79 162.744 9.331,65
4. Kertapati 42,56 79.736 1.873,50 81.225 1.908,48 77.978 1.832,19 82.520 1.938,91 80.226 1.885,01
5. SU II 10,69 88.833 8.309,92 90.482 8.464,17 86.889 8.128,06 91.933 8.599,91 92.276 8.631,99
6. Plaju 15,17 82.581 5.443,70 84.129 5.545,75 80.749 5.322,94 85.464 5.633,75 79.096 5.213,97
7. Ilir Barat I 19,77 114.668 5.800,10 116.833 5.909,61 112.099 5.670,16 118.671 6.002,58 124.657 6.305,36
8. Bukit Kecil 9,92 47.850 4.823,59 48.748 4.914,11 46.789 4.716,63 49.522 4.992,14 43.811 4.416,43
9. Ilir Timur I 6,50 80.599 12.399,85 82.191 12.644,77 78.674 12.103,69 83.409 12.832,15 69.406 10.677,85
10. Kemuning 9,00 85.351 9.483,44 86.973 9.663,67 83.423 9.269,22 88.331 9.814,56 82.661 9.184,56
11. Ilir Timur II 25,58 164.449 6.428,81 167.522 6.548,94 160.818 6.286,86 170.192 6.653,32 159.152 6.221,74
12. Kalidoni 27,92 91.596 3.280,66 93.281 3.341,01 89.617 3.209,78 94.795 3.395,24 99.738 3.572,28
13. Sako 18,04 94.251 5.224,56 95.986 5.320,73 92.214 5.111,64 72.396 4.013,08 82.661 4.582,10
15. Sukarami 36,98 170.828 4.619,47 174.015 4.705,65 167.066 4.517,74 104.700 2.831,26 139.098 3.761,44
TOTAL 400,61 1.369.239 3.417,89 1.394.954 3.482,07 1.417.047 1.338.793 3.341,89 3.537,22 1.455.284 3.632,67
II. Vulnerability
Kerentanan adalah keadaan atau suatu sifat atau perilaku manusia yang
menyebabkan ketidakmampuan untuk menghadapi bahaya atau ancaman. Kerentanan
di Kota palembang diantaranya adalah :
Kerentanan Fisik : Mendangkalnya permukaan muara akibat terjadinya hujan
deras hingga air dari dalam sungai meluap.2
Kerentanan Sosial :
1. Tingkat kepadatan penduduk(1)
Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka semakin rentan terhadap
bencana banjir. Berdasarkan data Berdasarkan data Direktorat Jenderal
Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota palembang, jumlah
penduduk Kota Palembang pada pertengahan tahun 2009 adalah sebesar
1.438.938 jiwa.2
2. Tingkat laju pertumbuhan penduduk2
Semakin tinggi tingkat laju pertumbuhan penduduk, maka semakin rentan
terhadap bencana banjir. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata di Kota
Palembang selama periode 2005-2010 mencapai 18,51%. Laju pertumbuhan
penduduk ini, pada dasarnya masih tetap bersifat alami atau karena faktor
kelahiran dan kematian, walaupun masih pula dipengaruhi oleh migrasi.
3. Persentase jumlah lansia dan balita2
Semakin banyak jumlah penduduk usia tua dan balita, maka semakin rentan
terhadap bencana banjir.
4. Kurangnya pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana, rendahnya
pendidikan, corak budaya individualisme, tingkat kesehatan masyarakat yang
rendah akan mempertinggi tingkat kerentanan.2
Kapasitas Sosial
1. Keberadaan organisasi
- Meningkatkan keberadaan organisasi kemasyarakatan yang berhubungan
dengan penanggulangan bencana di masyarakat
2. Kekerabatan penduduk dalam upaya penanggulangan bencana
- Meningkatkan kekerabatan penduduk dalam masyarakat sebagai upaya
penanggulangan bencana.
Kota Palembang memiliki 34 buah rumah sakit yang terdiri dari 10 buah RS milik
pemerintah (29,42%) dan24 buah RS milik swasta (70,58%). Dari 10 RS milik
pemerintah tersebut, hanya 1 yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Palembang yaitu
Rumah Sakit Umum Daerah Palembang Bari (RSUD Bari). RS milik Pemerintah
provinsiseperti RS Moh. Husin, RS Mata, dan lainnya. RS milik swasta seperti RSI
Siti Khadijah, RS Muhammadiyah, RS RK Charitas, dan lainnya.(Data Dasar, Dinkes
Palembang 2017)Rumah Bersalin (RB) di Kota Palembang yang memperoleh izin
berjumlah 32 buah. Balai Pengobatan/Balai Kesehatan di Kota Palembang yang
mempunyai izin berjumlah 148 buah.3
Sumber daya manusia (SDM) adalah aset terpenting dalam sistem apapun
termasuk dalam sistem pelayanan kesehatan. Sumber dayamanusia adalah komponen
terpenting yang menentukan keberhasilan suatu sistem kerja. Pelayanan kesehatan
khususnya puskesmas di Kota Palembang telah memiliki tenaga kesehatan dengan
kualitas yang baik dan akan terus [Link] daya manusia dalam
pelayanan kesehatan cukup beragam antara lain Dokter Spesialis, Magister
Kesehatan Masyarakat ([Link].), Dokter (dr.), Dokter Gigi (drg.), Sarjana
Kesehatan Masyarakat (SKM), Perawat, Bidan, Analis kesehatan, sarjana umum,
sarjana psikologi dan sebagainya. Pemerintah Kota Palembang sangat mendukung
peningkatan mutu tenaga kesehatan melalui pelatihan peningkatan
keterampilan,pelatihan struktural, pelatihan fungsional dan juga pendidikan formal
lanjutan sarjana dan [Link] Daya Manusia (SDM) yang berada dalam
lingkup Dinas Kesehatan Kota Palembang berjumlah 1.178orang PNS dan 601 orang
Non PNS. SDM ini terdiri dari SDM yang bekerja di Dinas Kesehatan dan SDM
yang bekerja di Puskesmas dan Jaringannya3
Kapasitas Ekonomi
1. Rendahnya minat dan pemahaman penduduk sekitar akan pentingnya
berasuransi. Sehingga puskesmas harus bekerja sama dengan BPJS untuk
melakukan sosialisasi jaminan kesehatan.4
B. Mitigasi
Pada fase ini dilakukan usaha - usaha untuk meredam dan mengurangi
bencana dan juga meredam atau mengurangi dampak bencana. Pada fase ini
bidang kesehatan lebih cenderung pasif, dengan melakukan pengobatan dan upaya
kesehatan yang insidentil dan screening penderita banjir melalui pengobatan
massal. Fase ini lebih banyak diperankan oleh institusi lainnya dengan(1) :
a) Pengenalan faktor resiko/Hazard, penyebab-penyebab harus dikenali
b) Rencana mereduksi faktor resiko, jika penyebab dikenali makan faktor
resiko diturunkan atau dihilangkan
c) Rencana mengurangi dampak bencana (mitigation plan), jika bencana
tidak dapat dihindari maka dilakukan rencana pengurangan dampak
bencana
Bentuk upaya mitigasi non struktural yang dapat dilakukan oleh masyarakat di
kawasan rawan banjir antara lain:
a) Mengetahui akan ancaman banjir termasuk banjir yang pernah terjadi dan
mengetahui letak daerah yang banjir dan mengetahui seberapa tinggi banjir
di daerah tersebut.
b) Mengembangkan diri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dalam
menghadapi bencana seperti pelatihan pertolongan pertama pada kondisi
tanggap darurat dan lain-lain.
c) Berperan aktif pada posko banjir
C. Kesiapsiagaan
a) Penyusunan dan uji coba bencana penanggulangan kedaruratan bencana
b) Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini
c) Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar
d) Pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme
tanggap darurat, berupa:
Menempatkan barang barang elektronik (pemanas air, panel,meteran
dan peralatan listrik) serta barang berharga (ijasah, sertifikat tanah, dll)
di tempat yang tinggi (tidak terjangkau bencana banjir)
Menyiapkan alamat/no telpon yang penting untuk dihubungi
Menyediakan barang-barang kebutuhan darurat saat memasuki musim
penghujan (seperti radio, obat obatan, makanan, minuman, baju hangat
dan pakaian, senter, lilin, selimut, pelampung, ban dalam mobilatau
barang-barang yang bisa mengapung, tali dan korek api.
Pindahkan barang-barang rumah tangga seperti furniture ke tempat
yang lebih tinggi
Menyimpan surat-surat penting di dalam tempat yang tinggi, kedap air
dan aman
e) Penyiapan lokasi evakuasi
f) Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap
tanggap darurat bencana, dan
g) Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan
pemulihan prasarana dan sarana.
h) Mengorganisasikan sistem keamanan pada keadaan darurat, khususnya
rumah hunian yang ditinggal mengungsi.
i) Koordinasi antara BMG, media massa, pejabat setempat dan masyarakat
yang terkait.
j) Penyiapan bahan dan material untuk tanggul yang jebol.
B. Rekonstruksi
Fase ini meliputi pembangunan prasarana dan pelayanan dasar fisik, umum,
pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, lingkungan,
pembaharuan rencana tata ruang wilayah, sistem pemerintahan dan lainnya yang
memperhitungkan faktor risiko bencana.
IV. Pengawasan
Salah satu tugas dinas dan/atau badan hukum yang mengelola wilayah sungai
adalah melaksanakan pengendalian banjir. Agar tugas tersebut dapat terlaksana
sebagaimana mestinya, maka diperlukan pengawasan oleh BPBD provinsi (atau
Satkorlak) dan BPBD kabupaten/kota (Satlak) yang meliputi:
Pengawasan terhadap dampak dari banjir
Pengawasan terhadap upaya penanggulangannya.
V. Kelembagaan
Pengaturan pengendalian banjir di suatu wilayah sungai diselenggarakan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, atau badan hukum sesuai kewenangan masing-
masing, yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh BNPB, BPBD provinsi (atau
Satkorlak), dan BPBD kabupaten/kota (Satlak).
VI. Organisasi
Pengendalian banjir merupakan sebagian tugas yang diemban oleh pengelola
sumber daya air wilayah sungai. Untuk melaksanakan tugas tersebut, di dalam
struktur organisasi pengelola sumber daya air wilayah sungai terdapat unit yang
menangani pengendalian banjir.
Tugas-tugas unit yang menangani pengendalian banjir adalah:
1. Melaksanakan pengumpulan data, pembuatan peta banjir, penyusunan
rencana teknis pengendalian banjir;
2. Melaksanakan analisis hidrologi dan penyebab banjir;
3. Melaksanakan penyusunan prioritas penanganan daerah rawan banjir;
4. Melaksanakan pengendalian bahaya banjir, meliputi tindakan darurat
pengendalian dan penanggulangan banjir;
5. Menyusun dan mengoperasikan sistem peramalan dan peringatan dini
banjir;
6. Melaksanakan persiapan, penyusunan, dan penetapan pengaturan dan
petunjuk teknis pengendalian banjir; dan
7. Menyiapkan rencana kebutuhan bahan untuk penanggulangan banjir.
IX. Dana
Dalam pengendalian banjir, diperlukan alokasi dana yang diupayakan selalu
tersedia. Dana yang diperlukan tersebut harus dialokasikan sebagai dana
cadangan yang bersumber dari APBN, APBD, atau sumber dana lainnya. Dana
cadangan disediakan sesuai ketentuan yang berlaku.
X. Koordinasi
Lembaga Koordinasi
Berkaitan dengan pengendalian banjir, lembaga koordinasi yang ada adalah
Tim Penanggulangan Bencana Alam. Pada tingkat nasional adalah Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tingkat provinsi adalah BPBD
provinsi (jika belum dibentuk dikoordinir oleh Satkorlak PB), dan pada tingkat
kabupaten/kota adalah BPBD kabupaten/kota (jika tidak dibentuk dikoordinir
oleh Satlak PB).
Obyek yang dikoordinasikan dalam pengendalian serta penanggulangan banjir
dapat dipisahkan menjadi tahapan sebelum banjir, saat banjir, dan sesudah banjir.
Sebelum Banjir
a. Perencanaan rute evakuasi dan tempat penampungan penduduk.
b. Perencanaan program penyelamatan dan pertolongan kepada masyarakat.
c. Perencanaan rute pengiriman material penanggulangan pada tempat-tempat
kritis.
d. Perencanaan rute pengiriman logistik kepada masyarakat.
e. Perencanaan jenis dan jumlah bahan serta peralatan banjiran.
f. Penyiapan sarana dan prasarana pendukung serta Sumberdaya Manusia.
Saat Banjir
a. Evakuasian penduduk sesuai dengan prosedur.
b. Memberikan bantuan kepada penduduk.
b. Sesudah Banjir
c. Pemulihan kembali pemukiman penduduk, prasarana umum, bangunan
pengendali banjir, dan lain-lain.
d. Pengembalian penduduk ke tempat semula.
e. Pengamatan, pendataan kerugian dan kerusakan banjir.
Mekanisme Koordinasi
Koordinasi dalam pengendalian banjir dilakukan secara bertahap melalui
BPBD kabupaten (Satlak PB), BPBA, dan BNPB. Dalam forum koordinasi
tersebut, dilakukan musyawarah untuk memutuskan sesuatu yang sebelumnya
mendengarkan pendapat dari anggota yang mewakili instansi terkait.
Sistem Pelaporan
Dinas/Instansi/Badan hukum pengelola wilayah sungai melaporkan hal-hal
sebagai berikut:
a. Karakteristik banjir (antara lain: hidrologi banjir, peta daerah rawan banjir, banjir
bandang);
b. Kejadian banjir (antara lain: waktu, lokasi, lama dan luas genangan banjir);
c. Kerugian akibat banjir (antara lain: korban jiwa, harta benda, sosial ekonomi);
d. Kerusakan (antara lain: sarana dan prasarana, permukiman, pertanian, perikanan,
lingkungan);
e. Penanggulangan darurat; dan
f. Usulan program pemulihan secara menyeluruh.