0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan23 halaman

Rencana Penanggulangan Banjir Palembang

Dokumen tersebut membahas rencana penanggulangan bencana banjir di Kota Palembang. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan tentang gambaran umum geografis, administratif, kondisi geohidrologi dan demografi Kota Palembang yang rentan terhadap bencana banjir beserta statistik jumlah penduduk menurut kecamatan. Dokumen tersebut juga menjelaskan tentang sungai-sungai utama di Kota Palembang dan perubahan fun

Diunggah oleh

Viona Violeta
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan23 halaman

Rencana Penanggulangan Banjir Palembang

Dokumen tersebut membahas rencana penanggulangan bencana banjir di Kota Palembang. Secara ringkas, dokumen tersebut menjelaskan tentang gambaran umum geografis, administratif, kondisi geohidrologi dan demografi Kota Palembang yang rentan terhadap bencana banjir beserta statistik jumlah penduduk menurut kecamatan. Dokumen tersebut juga menjelaskan tentang sungai-sungai utama di Kota Palembang dan perubahan fun

Diunggah oleh

Viona Violeta
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS DISASTER PLAN MANAGEMENT

BANJIR DI KOTA PALEMBANG

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat


dalam menempuh Kepaniteraan Klinik
Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disusun oleh :
Dera Des Robiah
030.14.046

Pembimbing:
dr. Gita Handayani Tarigan, MPH

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 28 OKTOBER 2019 – 4 JANUARI 2020
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA
RENCANA PENANGGULANGAN BENCANA BANJIR
KOTA PALEMBANG PROVINSI SUMATRA SELATAN

A. Gambaran Umum
I. Geografis
Keadaan topografi Kota Palembang, pada umumnya merupakan dataran rendah
dengan ketinggian rata-rata + 4 – 12 meter di atas permukaan laut, dengan komposisi:
48% tanah dataran yang tidak tergenang air, 15% tanah tergenang secara musiman dan
35% tanah tergenang terus menerus sepanjang musim. Lokasi daerah yang tertinggi
berada di Bukit Seguntang Kecamatan Ilir Barat I, dengan ketinggian sekitar 10 meter
dpl. Sedangkan kondisi daerah terendah berada di daerah Sungai Lais, Kecamatan Ilir
Timur II. Kota Palembang dibedakan menjadi daerah dengan topografi mendatar sampai
dengan landai, yaitu dengan kemiringan berkisar antara ± 0 - 3o dan daerah dengan
topografi bergelombang dengan kemiringan berkisar antara ± 2 – 10o. 1
Sebagian besar dari wilayah Kota Palembang merupakan dataran rendah yang landai
dengan ketinggian tanah rata-rata +12 meter di atas permukaan laut, sedangkan daerah
yang bergelombang ditemukan di beberapa tempat seperti Kenten, Bukit Sangkal, Bukit
Siguntang dan Talang Buluh-Gandus.1

II. Administratif
Berdasarkan PP No 23 tahun 1998 tentang perubahan batas wilayah Kota Palembang,
luas wilayah Kota Palembang adalah sebesar 400,61 km2 atau 40.061 Ha. Wilayah ini
terbagi atas 16 kecamatan dan 107 kelurahan yang terdiri dari 989 Rukun Warga (RW)
dan 3.910 Rukun Tetangga (RT). Keenam belas kecamatan tersebut yaitu Kec. Ilir Timur
I, Ilir Timur II, Ilir Barat I, Ilir Barat II, Seberang Ulu I, Seberang Ulu II, Sukarame,
Sako, Bukit Kecil, Gandus, Kemuning, Kalidoni, Plaju, Kertapati dan 2 kecamatan baru
(hasil pemekaran tahun 2007) yaitu Kecamatan Alang-Alang Lebar dan Sematang
Borang.1

Secara administratif, Kota Palembang memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:1

1. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Pangkalan Benteng, Desa Gasing


dan Desa Kenten Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten
Banyuasin.
2. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Bakung Kecamatan Indralaya
Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kecamatan Gelumbang
Kabupaten Muara Enim.
3. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Balai Makmur Kecamatan Banyuasin I
Kabupaten Banyuasin.
4. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Sukajadi Kecamatan Talang
Kelapa Kabupaten Banyuasin.
Gambar 1. Peta Administrasi Kota Palembang1
III. Kondisi Geohidrologi
Berdasarkan kondisi geologi, Kota Palembang memiliki relief yang beraneka ragam
dan terdiri dari jenis tanah berlapis alluvial, liat dan berpasir, terletak pada lapisan yang
masih muda, banyak mengandung minyak bumi, yang juga dikenal dengan lembah
Palembang-Jambi. Tanahnya relatif datar dan rendah, tempat-tempat yang agak tinggi
terletak di bagian utara kota. Sebagian Kota Palembang digenangi air terlebih lagi bila
terjadi hujan terus menerus. Sebagian besar jenis tanah di wilayah Kota Palembang
adalah tanah liat dan lapisan aluvial terutama di wilayah Seberang Ilir. Sedangkan pada
wilayah Seberang Ulu terdiri dari tanah liat berpasir. Adapun rincian lapisan tanah yang
terdapat di Kota Palembang berupa tanah lempung, pasir lempung, napal dan napal
pasiran. Keadaan stratigrafi wilayah Kota Palembang terbagi atas 3 bagian, yaitu :1

1. Satuan Alluvial dan Rawa, terdapat di Seberang Ulu dan Rawa-Rawa dibagian
timur dan bagian barat wilayah Kota Palembang.
2. Satuan Palembang Tengah, mempunyai batuan lempung dan lempung pasiran yang
kedap air, tersebar dibagian utara yaitu Kenten, Talang Betutu dan Sungai Ringgit
(Kabupaten Banyuasin). Sedangkan disebelah selatan tersebar kearah Indralaya
(Kabupaten Ogan Ilir) dan Gelumbang (Kabupaten Muara Enim).
3. Satuan Palembang Bawah, tersebar dibagian dalam Kota Palembang dengan arah
memanjang ke barat daya tenggara dan merupakan suatu rangkaian antiklin.

Dari segi hidrologi, Kota Palembang terbelah oleh Sungai Musi menjadi 2 (dua)
wilayah besar yaitu Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Sungai Musi merupakan sungai
terbesar dengan lebar rata-rata 504 meter. Ketiga sungai besar lainnya adalah Sungai
Komering, Sungai Ogan, dan Sungai Keramasan yang terletak di Seberang Ulu.
Disamping sungai-sungai besar tersebut terdapat sungai-sungai kecil lainnya yang terletak
di Seberang Ilir yang berfungsi sebagai drainase perkotaan. Terdapat ± 68 anak sungai
aktif dengan lebar berkisar antara 3 – 20 meter. Permukaan air Sungai Musi sangat
dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada musim kemarau terjadi penurunan debit
sungai, sehingga permukaan air Sungai Musi mencapai ketinggian yang minimum. Pola
aliran sungai di Kota Palembang dapat digolongkan sebagai pola aliran dendritik, artinya
merupakan ranting pohon, di mana dibentuk oleh aliran sungai utama (Sungai Musi)
sebagai batang pohon, sedangkan anak-anak sungai sebagai ranting pohonnya. Pola aliran
sungai seperti ini mencerminkan bahwa, daerah yang dialiri sungai tersebut memiliki
topografi mendatar. Dengan kekerasan batuan relatif sama (uniform) sehingga air
permukaan (run off) dapat berkembang secara luas, yang akhirnya akan membentuk pola
aliran sungai (river channels) yang menyebar ke daerah tangkapan aliran sungai
(catchment area). 1
Fungsi sungai di Kota Palembang sebelumnya adalah sebagai alat angkutan sungai ke
daerah pedalaman, namun sekarang sudah banyak mengalami perubahan fungsi antara
lain sebagai drainase dan untuk pengendalian banjir. Fungsi anak-anak sungai yang
semula sebagai daerah tangkapan air, sudah banyak ditimbun untuk kepentingan sosial
sehingga berubah fungsinya menjadi permukiman dan pusat kegiatan ekonomi lainnya,
dimana rata-rata laju alih fungsi ini diperkirakan sebesar ± 6% per tahun. Secara
geomorfik perubahan bentang alam pada satuan geomorfik di Kota Palembang berkaitan
dengan adanya sedimentasi sungai yang bertanggung jawab terhadap pendangkalan
sungai atau penyebab terjadinya penyempitan (bottle neck) seperti di daerah Mariana
Kecamatan Seberang Ulu I; penambangan pasir sungai atau gravel pada dasar sungai,
yang akan berdampak kepada pendalaman cekungan; pemanfaatan dataran pada bentaran
sungai untuk permukiman, persawahan serta aktivitas lain yang akan berdampak pada
aliran sungai; dan adanya penebangan hutan illegal di daerah hulu sungai.1
Struktur rawa yang ada di Kota Palembang juga dipengaruhi oleh pasang surut Sungai
Musi dan sungai-sungai lain yang bermuara di Sungai Musi. Satuan geomorfik rawa pada
umumnya dicirikan oleh terbentuknya cekungan yang lebih luas, dengan kedalaman
relatif dangkal, genangan air yang relatif stagnant (yang tergenang tidak mengalir,
sepanjang masa), dan bahkan di beberapa lokasi dijumpai pula area rawa yang telah
kering atau tak berair kecuali di musim hujan. Satuan geomorfik rawa banyak
mendominasi terutama kawasan Barat, kawasan Timur, daerah Seberang Ulu I, dan
Seberang Ulu II Kota Palembang. Pada satuan ini dijumpai pula beberapa cekungan yang
relatif lebih dalam bila dibandingkan dengan beberapa daerah di sekitarnya, dan bentuk
bentang alamnya ini merupakan perairan yang ditumbuhi oleh gulma, yang lazim disebut
dengan “lebak”. Daerah ini dikenal dengan daerah tangkapan air yang banyak digunakan
untuk kolam retensi banjir yaitu di Kecamatan Ilir Barat I, Kambang Iwak Talang Semut
di Kecamatan Ilir Timur I, kolam retensi Rumah Sakit Siti Khodijah, kolam retensi depan
Kapolda dan kolam retensi Kenten di Kecamatan Ilir Timur II.1
IV. Demografi
Tingkat pertumbuhan penduduk di suatu daerah dapat dilihat dari angka pertumbuhan
penduduk. Bila angka tersebut semakin tinggi berarti tingkat pertumbuhan penduduk semakin
cepat.2
Jumlah penduduk Kota Palembang pada pertengahan tahun 2009 adalah sebesar
1.438.938 jiwa dengan laju pertumbuhan sebesar 1,55% dibandingkan dengan tahun 2008.
Sebaran jumlah penduduk Kota Palembang menurut kecamatan dan laju pertumbuhan rata-
rata selama periode tahun 2004-2009 dapat dilihat pada tabel 2.4.3

Tabel 1. Jumlah Pendudukan dan Pertumbuhan Penduduk Kota Palembang Tahun 2005-2010

Rata2
Jumlah Penduduk (jiwa) Pertum-
No Kecamatan buhan

2005 2006 2007 2008 2009 2010

1. Ilir Barat II 63.264 64.708 65.923 66.966 68.004 63.959 0,27

2. Gandus 50.078 51.182 52.125 52.973 53.795 57.221 2,72

3. Seberang Ulu I 149.135 152.607 155.521 157.933 160.390 162.744 1,76

4. Kertapati 77.978 79.736 81.225 82.520 83.803 80.226 0,60

5. Seberang Ulu II 86.889 88.833 90.482 91.933 93.237 92.276 1,22

6. Plaju 80.749 82.581 84.129 85.464 86.794 79.096 -0,32

7. Ilir Barat I 112.099 114.668 116.833 118.671 120.517 124.657 2,15

8. Bukit Kecil 46.789 47.850 48.748 49.522 50.292 43.811 -1,12

9. Ilir Timur I 78.674 80.599 82.191 83.409 84.701 69.406 -2,12

10. Kemuning 83.423 85.351 86.973 88.331 89.707 82.661 -0,10

11. Ilir Timur II 160.818 164.449 167.522 170.192 172.836 159.152 -0,13

12. Kalidoni 89.617 91.596 93.281 94.795 96.266 99.738 2,17


13. Sako 92.214 94.251 95.986 72.396 73.519 82.661 -1,31

14. Sematang Borang*) - - - 25.148 25.538 32.207 5,53

15. Sukarami 167.066 170.828 174.015 104.700 106.327 139.098 -0,67

16. Alang2 Lebar*) - - - 72.094 73.212 86.371 3,9

TOTAL 1.312.551 1.338.793 1.369.239 1.394.954 1.417.047 1.455.284 18,51

Sumber: PDA 2006, PDA 2007, PDA 2008, PDA 2009, PDA 2010, untuk 2009 data diambil dari Data Dasar
Kesehatan Kota Palembang Tahun 2018
Ket:*) Kecamatan baru terbentuk pada bulan Juli 2007 (setelah pemekaran)

Laju pertumbuhan penduduk rata-rata di Kota Palembang selama periode 2005-2010


mencapai 18,51%. Laju pertumbuhan penduduk ini, pada dasarnya masih tetap bersifat alami
atau karena faktor kelahiran dan kematian, walaupun masih pula dipengaruhi oleh migrasi.2
Perkembangan penduduk dari tahun 2005–2010, terlihat bahwa pada dasarnya
pertumbuhan jumlah penduduk Kota Palembang menunjukkan pola linear. Proyeksi jumlah
penduduk Kota Palembang untuk lima tahun kedepan dilakukan dengan memproyeksikan
jumlah penduduk setiap kecamatan agar diperoleh hasil yang lebih akurat. Dasar
pertimbangannya adalah bahwa setiap kecamatan memiliki karakteristik perkembangan yang
berbeda-beda dan terdapat faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi perkembangan
penduduknya.2
Tabel 2. Perkembangan Data Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Palembang Tahun 2006 – 2010.

Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
Luas
No Kecamatan Daerah
Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan
(Km2)
Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2)

1. Ilir Barat II 6,22 64.708 10.403,22 65.923 10.598,55 66.966 10.171,06 66.966 10.766,24 63.959 10.282,80

2. Gandus 68,78 51.182 744,14 52.125 757,85 50.078 728,09 52.973 770,18 57.221 831,94

3. SU I 17,44 152.607 8.750,40 155.521 8.917,49 149.135 8.551,32 157.933 9.055,79 162.744 9.331,65

4. Kertapati 42,56 79.736 1.873,50 81.225 1.908,48 77.978 1.832,19 82.520 1.938,91 80.226 1.885,01

5. SU II 10,69 88.833 8.309,92 90.482 8.464,17 86.889 8.128,06 91.933 8.599,91 92.276 8.631,99

6. Plaju 15,17 82.581 5.443,70 84.129 5.545,75 80.749 5.322,94 85.464 5.633,75 79.096 5.213,97

7. Ilir Barat I 19,77 114.668 5.800,10 116.833 5.909,61 112.099 5.670,16 118.671 6.002,58 124.657 6.305,36

8. Bukit Kecil 9,92 47.850 4.823,59 48.748 4.914,11 46.789 4.716,63 49.522 4.992,14 43.811 4.416,43

9. Ilir Timur I 6,50 80.599 12.399,85 82.191 12.644,77 78.674 12.103,69 83.409 12.832,15 69.406 10.677,85

10. Kemuning 9,00 85.351 9.483,44 86.973 9.663,67 83.423 9.269,22 88.331 9.814,56 82.661 9.184,56

11. Ilir Timur II 25,58 164.449 6.428,81 167.522 6.548,94 160.818 6.286,86 170.192 6.653,32 159.152 6.221,74

12. Kalidoni 27,92 91.596 3.280,66 93.281 3.341,01 89.617 3.209,78 94.795 3.395,24 99.738 3.572,28

13. Sako 18,04 94.251 5.224,56 95.986 5.320,73 92.214 5.111,64 72.396 4.013,08 82.661 4.582,10

14. Smt Borang 51,46 - - - - - - 25.148 488,70 32.207 625,88

15. Sukarami 36,98 170.828 4.619,47 174.015 4.705,65 167.066 4.517,74 104.700 2.831,26 139.098 3.761,44

16. Alang Lebar 34,58 - - - - - - 72.094 2.084,79 86.371 2.497,64


Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010
Luas
No Kecamatan Daerah
Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan Jumlah Kepadatan
(Km2)
Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2) Penduduk (jiwa/Km2)

TOTAL 400,61 1.369.239 3.417,89 1.394.954 3.482,07 1.417.047 1.338.793 3.341,89 3.537,22 1.455.284 3.632,67

Sumber ; Palembang Dalam Angka Tahun 2006-20


B. Analisis Komponen Bencana
I. Hazard Mapping
Luas wilayah Kota Palembang adalah 400,61 km², dengan ketinggian rata-rata 8
meter dari permukaan laut dimana terdpat suni yang membelah kota palembang yakni
suni musi. Sungai Musi adalah sebuah sungai yang terletak di provinsi Sumatra
Selatan, Indonesia. Dengan panjang 750 km, sungai ini merupakan yang terpanjang di
pulau Sumatra dan membelah Kota Palembang menjadi dua bagian. Jembatan
Ampera yang menjadi ikon Kota Palembang pun melintas di atas sungai ini.2

Berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan/banjir dapat dikategorikan dalam


tiga kategori:2
i. Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran
sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase
buatan manusia
ii. Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat
pasang laut maupun meningginya gelombang laut akibat badai
iii. Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan,
tanggul dan bangunan pengendali banjir

II. Vulnerability
Kerentanan adalah keadaan atau suatu sifat atau perilaku manusia yang
menyebabkan ketidakmampuan untuk menghadapi bahaya atau ancaman. Kerentanan
di Kota palembang diantaranya adalah :
 Kerentanan Fisik : Mendangkalnya permukaan muara akibat terjadinya hujan
deras hingga air dari dalam sungai meluap.2

 Kerentanan Sosial :
1. Tingkat kepadatan penduduk(1)
Semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk maka semakin rentan terhadap
bencana banjir. Berdasarkan data Berdasarkan data Direktorat Jenderal
Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota palembang, jumlah
penduduk Kota Palembang pada pertengahan tahun 2009 adalah sebesar
1.438.938 jiwa.2
2. Tingkat laju pertumbuhan penduduk2
Semakin tinggi tingkat laju pertumbuhan penduduk, maka semakin rentan
terhadap bencana banjir. Laju pertumbuhan penduduk rata-rata di Kota
Palembang selama periode 2005-2010 mencapai 18,51%. Laju pertumbuhan
penduduk ini, pada dasarnya masih tetap bersifat alami atau karena faktor
kelahiran dan kematian, walaupun masih pula dipengaruhi oleh migrasi.
3. Persentase jumlah lansia dan balita2
Semakin banyak jumlah penduduk usia tua dan balita, maka semakin rentan
terhadap bencana banjir.
4. Kurangnya pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana, rendahnya
pendidikan, corak budaya individualisme, tingkat kesehatan masyarakat yang
rendah akan mempertinggi tingkat kerentanan.2

 Kerentanan Lingkungan : Peningkatan curah hujan lokal, debit air sungai


meningkat namun banyaknya penyempitan badan sungai, tergolong kawasan
industrial dan tingginya laju pembangunan dan pemukiman penduduk sehingga
daerah penyerapan air tanah menurun, rendahnya pemeliharaan saluran dan kanal,
luapan beberapa sungai besar yang mengalir ke tengah kota, kerusakan
lingkungan pada daerah hulu serta pertumbuhan pemukiman di pinggiran kali
semakin tak terkendali. selain karena rumah-rumah wilayah tersebut berada di atas
rawa-rawa yang ditimbun tanah, juga di karenakan banyaknya bangunan yang
tinggi, dan saluran yang tertutup dan dangkal2
Gambar 2. Daerah Rawan Banjir Kota palembang2

 Kerentanan Ekonomi : Semakin banyak rumah tangga miskin, maka semakin


rentan terhadap bencana banjir. Pada bulan Maret 2018 jumlah penduduk miskin
(penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di
Kota Palembang mencapai 179,32 ribu orang (10,95 persen). Berkurang sebesar
5,09 ribu orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 184,41
ribu orang (11,40 persen).4
 Kerentanan sosial : di Palembang cukup rendah, karena sebagian besar memiliki
pendidikan yang cukup tinggi.4
 Kerentanan Fisik : ditinjau dari struktur fisik di Palembang, bangunan sudah
terbentuk dari batu bata dan semen, namun bangunan di wilayah tersebut berada
di atas rawa-rawa yang ditimbun tanah, sehingga daerah resapan air didaerah
tersebut berkurang. Hal tersebut meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap
bencana banjir.2
III. Capacity
 Kapasitas Fisik.
1. Fasilitas
- Jarak penduduk untuk mencapai tempat pengungsian ketika terjadi bencana
- Pemeliharan dan pengendali bangunan terhadap banjir

 Kapasitas Sosial
1. Keberadaan organisasi
- Meningkatkan keberadaan organisasi kemasyarakatan yang berhubungan
dengan penanggulangan bencana di masyarakat
2. Kekerabatan penduduk dalam upaya penanggulangan bencana
- Meningkatkan kekerabatan penduduk dalam masyarakat sebagai upaya
penanggulangan bencana.

 Kapasitas Sumber Daya Masyarakat


1. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam sosialisasi kebencanaan
- Tingkat keterlibatan masyarakat didalam diskusi / sosialisasi.
- Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang resiko banjir
2. Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pelatihan persiapan sebelum
terjadi bencana
3. Meningkatkan intensitas warga dalam mengikuti pelatihan persiapan bencana
4. Jenis & jumlah Sarana Kesehatan Dasar dan Kesehatan Rujukan(

Kota Palembang memiliki 34 buah rumah sakit yang terdiri dari 10 buah RS milik
pemerintah (29,42%) dan24 buah RS milik swasta (70,58%). Dari 10 RS milik
pemerintah tersebut, hanya 1 yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Palembang yaitu
Rumah Sakit Umum Daerah Palembang Bari (RSUD Bari). RS milik Pemerintah
provinsiseperti RS Moh. Husin, RS Mata, dan lainnya. RS milik swasta seperti RSI
Siti Khadijah, RS Muhammadiyah, RS RK Charitas, dan lainnya.(Data Dasar, Dinkes
Palembang 2017)Rumah Bersalin (RB) di Kota Palembang yang memperoleh izin
berjumlah 32 buah. Balai Pengobatan/Balai Kesehatan di Kota Palembang yang
mempunyai izin berjumlah 148 buah.3
Sumber daya manusia (SDM) adalah aset terpenting dalam sistem apapun
termasuk dalam sistem pelayanan kesehatan. Sumber dayamanusia adalah komponen
terpenting yang menentukan keberhasilan suatu sistem kerja. Pelayanan kesehatan
khususnya puskesmas di Kota Palembang telah memiliki tenaga kesehatan dengan
kualitas yang baik dan akan terus [Link] daya manusia dalam
pelayanan kesehatan cukup beragam antara lain Dokter Spesialis, Magister
Kesehatan Masyarakat ([Link].), Dokter (dr.), Dokter Gigi (drg.), Sarjana
Kesehatan Masyarakat (SKM), Perawat, Bidan, Analis kesehatan, sarjana umum,
sarjana psikologi dan sebagainya. Pemerintah Kota Palembang sangat mendukung
peningkatan mutu tenaga kesehatan melalui pelatihan peningkatan
keterampilan,pelatihan struktural, pelatihan fungsional dan juga pendidikan formal
lanjutan sarjana dan [Link] Daya Manusia (SDM) yang berada dalam
lingkup Dinas Kesehatan Kota Palembang berjumlah 1.178orang PNS dan 601 orang
Non PNS. SDM ini terdiri dari SDM yang bekerja di Dinas Kesehatan dan SDM
yang bekerja di Puskesmas dan Jaringannya3

 Kapasitas Ekonomi
1. Rendahnya minat dan pemahaman penduduk sekitar akan pentingnya
berasuransi. Sehingga puskesmas harus bekerja sama dengan BPJS untuk
melakukan sosialisasi jaminan kesehatan.4

C. Disaster Management Plan


I. Pra Bencana
A. Pencegahan
Pencegahan dengan cara memberikan peringatan kepada warga agar dapat
waspada terhadap datangnya banjir, diharapkan juga dapat menyadarkan warga
untuk memperhatikan penyerapan air di sekitar lingkungan rumah, bisa dengan
memperbaiki selokan dan menambah lahan untuk penghijauan.

B. Mitigasi
Pada fase ini dilakukan usaha - usaha untuk meredam dan mengurangi
bencana dan juga meredam atau mengurangi dampak bencana. Pada fase ini
bidang kesehatan lebih cenderung pasif, dengan melakukan pengobatan dan upaya
kesehatan yang insidentil dan screening penderita banjir melalui pengobatan
massal. Fase ini lebih banyak diperankan oleh institusi lainnya dengan(1) :
a) Pengenalan faktor resiko/Hazard, penyebab-penyebab harus dikenali
b) Rencana mereduksi faktor resiko, jika penyebab dikenali makan faktor
resiko diturunkan atau dihilangkan
c) Rencana mengurangi dampak bencana (mitigation plan), jika bencana
tidak dapat dihindari maka dilakukan rencana pengurangan dampak
bencana
Bentuk upaya mitigasi non struktural yang dapat dilakukan oleh masyarakat di
kawasan rawan banjir antara lain:
a) Mengetahui akan ancaman banjir termasuk banjir yang pernah terjadi dan
mengetahui letak daerah yang banjir dan mengetahui seberapa tinggi banjir
di daerah tersebut.
b) Mengembangkan diri dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dalam
menghadapi bencana seperti pelatihan pertolongan pertama pada kondisi
tanggap darurat dan lain-lain.
c) Berperan aktif pada posko banjir

C. Kesiapsiagaan
a) Penyusunan dan uji coba bencana penanggulangan kedaruratan bencana
b) Pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem peringatan dini
c) Penyediaan dan penyiapan barang pasokan pemenuhan kebutuhan dasar
d) Pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme
tanggap darurat, berupa:
 Menempatkan barang barang elektronik (pemanas air, panel,meteran
dan peralatan listrik) serta barang berharga (ijasah, sertifikat tanah, dll)
di tempat yang tinggi (tidak terjangkau bencana banjir)
 Menyiapkan alamat/no telpon yang penting untuk dihubungi
 Menyediakan barang-barang kebutuhan darurat saat memasuki musim
penghujan (seperti radio, obat obatan, makanan, minuman, baju hangat
dan pakaian, senter, lilin, selimut, pelampung, ban dalam mobilatau
barang-barang yang bisa mengapung, tali dan korek api.
 Pindahkan barang-barang rumah tangga seperti furniture ke tempat
yang lebih tinggi
 Menyimpan surat-surat penting di dalam tempat yang tinggi, kedap air
dan aman
e) Penyiapan lokasi evakuasi
f) Penyusunan data akurat, informasi, dan pemutakhiran prosedur tetap
tanggap darurat bencana, dan
g) Penyediaan dan penyiapan bahan, barang, dan peralatan untuk pemenuhan
pemulihan prasarana dan sarana.
h) Mengorganisasikan sistem keamanan pada keadaan darurat, khususnya
rumah hunian yang ditinggal mengungsi.
i) Koordinasi antara BMG, media massa, pejabat setempat dan masyarakat
yang terkait.
j) Penyiapan bahan dan material untuk tanggul yang jebol.

Puskesmas melakukan fase kesiapsiagaan seperti :


1. Revitalisasi sarana dan pra sarana PPPK (Ambulance, Peralatan, Obat-
obatan)
2. Menyiagakan Brigada siaga Bencana (BSB)
3. Melaksanakan rencana kontingensi (pendelegasian tugas) dengan
membentuk Gugus Tugas untuk menempati pos-pos tertentu yang sudah
ditentukan melalui kesepakatan rapat evaluasi bencana

II. Saat Terjadi Bencana


Tanggap Darurat
1. Mendata lokasi dan jumlah korban bencana.
2. Pencarian dan penyelamatan korban bencana
3. Pelayanan kesehatan darurat kepada korban bencana
4. Pengoperasian sistem peringatan banjir (flood warning system), pemberitahuan
dini kepada masyarakat tentang kondisi cuaca
5. Mengevakuasi dan mengungsikan penduduk ke daerah aman, sesuai yang
telah direncanakan
6. Menempatkan petugas pada pos-pos pengamatan, penyelenggaraan piket
banjir di setiap posko
7. Memberikan bantuan pangan, pakaian, dan peralatan kebutuhan lainnya, serta
pelayanan
8. Pemantauan tinggi muka air dan debit air pada setiap titik pantau.
9. Melaporkan hasil pemantauan pada saat mencapai tingkat siaga kepada
dinas/instasi terkait, untuk kemudian diinformasikan kepada masyarakat sesuai
dengan Standar Prosedur Operasional Banjir.
10. Gawar/Pemberitaan Banjir (Pemberitaan)
Dilakukan dengan sirine, kentongan dan atau sarana sejenis lainnya dari
masing-masing pos pengamatan berdasarkan informasi dari posko banjir.

III. Paska Bencana


A. Rehabilitatif
Fase rehabilitasi umumnya berlangsung selama 1 bulan dan diikuti fase
rekontruksi selama 6 bulan. Tahapan pada fase ini adalah,
a. Inventarisasi dan dokumentasi kerusakan sarana dan prasarana sumber daya
air, kerusakan lingkungan, korban jiwa, dan perkiraan kerugian yang
ditimbulkan;
b. Merencanakan dan melaksanakan program pemulihan, berupa: rehabilitasi,
rekonstruksi atau pembangunan baru sarana dan prasarana sumber daya air;
dan memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar fisik, pendidikan,
kesehatan, kejiwaan, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, lingkungan,
prasarana transportasi, penyusunan kebijakan dan pembaharuan struktur
penanggulangan bencana di pemerintahan.

B. Rekonstruksi
Fase ini meliputi pembangunan prasarana dan pelayanan dasar fisik, umum,
pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, lingkungan,
pembaharuan rencana tata ruang wilayah, sistem pemerintahan dan lainnya yang
memperhitungkan faktor risiko bencana.

IV. Pengawasan
Salah satu tugas dinas dan/atau badan hukum yang mengelola wilayah sungai
adalah melaksanakan pengendalian banjir. Agar tugas tersebut dapat terlaksana
sebagaimana mestinya, maka diperlukan pengawasan oleh BPBD provinsi (atau
Satkorlak) dan BPBD kabupaten/kota (Satlak) yang meliputi:
 Pengawasan terhadap dampak dari banjir
 Pengawasan terhadap upaya penanggulangannya.

V. Kelembagaan
Pengaturan pengendalian banjir di suatu wilayah sungai diselenggarakan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, atau badan hukum sesuai kewenangan masing-
masing, yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh BNPB, BPBD provinsi (atau
Satkorlak), dan BPBD kabupaten/kota (Satlak).

VI. Organisasi
Pengendalian banjir merupakan sebagian tugas yang diemban oleh pengelola
sumber daya air wilayah sungai. Untuk melaksanakan tugas tersebut, di dalam
struktur organisasi pengelola sumber daya air wilayah sungai terdapat unit yang
menangani pengendalian banjir.
Tugas-tugas unit yang menangani pengendalian banjir adalah:
1. Melaksanakan pengumpulan data, pembuatan peta banjir, penyusunan
rencana teknis pengendalian banjir;
2. Melaksanakan analisis hidrologi dan penyebab banjir;
3. Melaksanakan penyusunan prioritas penanganan daerah rawan banjir;
4. Melaksanakan pengendalian bahaya banjir, meliputi tindakan darurat
pengendalian dan penanggulangan banjir;
5. Menyusun dan mengoperasikan sistem peramalan dan peringatan dini
banjir;
6. Melaksanakan persiapan, penyusunan, dan penetapan pengaturan dan
petunjuk teknis pengendalian banjir; dan
7. Menyiapkan rencana kebutuhan bahan untuk penanggulangan banjir.

VII. Sumber Daya Pendukung


Personil
a. Kelompok tenaga ahli
Tenaga ahli yang diperlukan adalah tenaga ahli yang memenuhi kualifikasi
di bidang sumber daya air, antara lain: bidang hidrologi, klimatologi,
hidrolika, sipil, elektro mekanis, hidrogeologi, geologi teknik, dan tenaga
ahli lainnya yang berhubungan dengan masalah banjir.
b. Kelompok tenaga lapangan
Dalam pelaksanaan pengendalian banjir, dibutuhkan petugas lapangan
dalam jumlah cukup, utamanya untuk kegiatan pemantauan dan tindakan
turun tangan.

VIII. Sarana dan Prasarana


Peralatan dan bahan dalam rangka pengendalian banjir terdiri dari:
- Peralatan hidrologi dan hidrometri (antara lain: peralatan klimatologi,
AWLR, ARR, extensometer)
- Peralatan komunikasi (antara lain: radio komunikasi, telepon, faksimili)
- Alat-alat berat dan transportasi (antara lain: bulldozer, excavator, truk)
- Perlengkapan kerja penunjang (antara lain: sekop, gergaji, cangkul,
pompa air)
- Perlengkapan untuk evakuasi (antara lain: tenda darurat, perahu karet,
dapur umum, obat obatan)
- Bahan banjiran (a.l. karung plastik, bronjong kawat, bambu, dolken
kayu)

IX. Dana
Dalam pengendalian banjir, diperlukan alokasi dana yang diupayakan selalu
tersedia. Dana yang diperlukan tersebut harus dialokasikan sebagai dana
cadangan yang bersumber dari APBN, APBD, atau sumber dana lainnya. Dana
cadangan disediakan sesuai ketentuan yang berlaku.

X. Koordinasi
Lembaga Koordinasi
Berkaitan dengan pengendalian banjir, lembaga koordinasi yang ada adalah
Tim Penanggulangan Bencana Alam. Pada tingkat nasional adalah Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tingkat provinsi adalah BPBD
provinsi (jika belum dibentuk dikoordinir oleh Satkorlak PB), dan pada tingkat
kabupaten/kota adalah BPBD kabupaten/kota (jika tidak dibentuk dikoordinir
oleh Satlak PB).
Obyek yang dikoordinasikan dalam pengendalian serta penanggulangan banjir
dapat dipisahkan menjadi tahapan sebelum banjir, saat banjir, dan sesudah banjir.

Sebelum Banjir
a. Perencanaan rute evakuasi dan tempat penampungan penduduk.
b. Perencanaan program penyelamatan dan pertolongan kepada masyarakat.
c. Perencanaan rute pengiriman material penanggulangan pada tempat-tempat
kritis.
d. Perencanaan rute pengiriman logistik kepada masyarakat.
e. Perencanaan jenis dan jumlah bahan serta peralatan banjiran.
f. Penyiapan sarana dan prasarana pendukung serta Sumberdaya Manusia.

Saat Banjir
a. Evakuasian penduduk sesuai dengan prosedur.
b. Memberikan bantuan kepada penduduk.
b. Sesudah Banjir
c. Pemulihan kembali pemukiman penduduk, prasarana umum, bangunan
pengendali banjir, dan lain-lain.
d. Pengembalian penduduk ke tempat semula.
e. Pengamatan, pendataan kerugian dan kerusakan banjir.

Mekanisme Koordinasi
Koordinasi dalam pengendalian banjir dilakukan secara bertahap melalui
BPBD kabupaten (Satlak PB), BPBA, dan BNPB. Dalam forum koordinasi
tersebut, dilakukan musyawarah untuk memutuskan sesuatu yang sebelumnya
mendengarkan pendapat dari anggota yang mewakili instansi terkait.

Sistem Pelaporan
Dinas/Instansi/Badan hukum pengelola wilayah sungai melaporkan hal-hal
sebagai berikut:
a. Karakteristik banjir (antara lain: hidrologi banjir, peta daerah rawan banjir, banjir
bandang);
b. Kejadian banjir (antara lain: waktu, lokasi, lama dan luas genangan banjir);
c. Kerugian akibat banjir (antara lain: korban jiwa, harta benda, sosial ekonomi);
d. Kerusakan (antara lain: sarana dan prasarana, permukiman, pertanian, perikanan,
lingkungan);
e. Penanggulangan darurat; dan
f. Usulan program pemulihan secara menyeluruh.

Laporan tersebut di atas disampaikan kepada Bupati/Walikota/Gubernur/Menteri


sesuai dengan jenis dan tingkatannya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Pemerintah Kota Palembang. Ringkasan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan


Daerah Kota Palembang 2018.
2. Pokja Sanitasi Kota Palembang. Gambaran Umum Kota Palembang. In : Buku Putih
Sanitasi Palembang 2018.
3. Dinas Kesehatan Kota Palembang ; Profil Kesehatan Kota Palembang. 2017
4. Badan Pusat Statistik Kota Palembang ; Palembang Dalam Angka Tahun 2006-2011

Anda mungkin juga menyukai