0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
816 tayangan149 halaman

Psikolog Pendidikan

Buku ini membahas psikologi pendidikan dalam 6 bab. Bab 1 menjelaskan konsep kepribadian dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Bab 2 menganalisis konsep pertumbuhan dan perkembangan manusia. Bab 3 membahas emosi, interaksi sosial, dan pembentukan karakter. Bab 4 meninjau teori kognitif. Bab 5 menjelaskan psikologi behavioristik. Bab 6 menggarisbawahi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

Diunggah oleh

Raven Claw
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
816 tayangan149 halaman

Psikolog Pendidikan

Buku ini membahas psikologi pendidikan dalam 6 bab. Bab 1 menjelaskan konsep kepribadian dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Bab 2 menganalisis konsep pertumbuhan dan perkembangan manusia. Bab 3 membahas emosi, interaksi sosial, dan pembentukan karakter. Bab 4 meninjau teori kognitif. Bab 5 menjelaskan psikologi behavioristik. Bab 6 menggarisbawahi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.

Diunggah oleh

Raven Claw
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prof. Dr. H.

Djaali
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
Prof. Dr. H. Djaali 

PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
BA 01.39.1280

PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Oleh : Prof. Dr. H. Djaali
Diterbitkan oleh PT Bumi Aksara Jl. Sawo Raya No. 18 Jakarta
13220

Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak buku ini


sebagian atau seluruhnya, dalam bentuk dan dengan cara apa pun juga,
baik secara mekanis maupun elektronis, termasuk fotokopi, rekaman, dan
lain-lain tanpa izin tertulis dari penerbit.

Cetakan pertama, Juni 2007 Perancang kulit, Agus Bastoni Dicetak oleh
Sinar Grafika Offset

ISBN (13) 978-979-010-002-2 ISBN (10) 979-010-002-7

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Jaali, Haji
Psikologi pendidikan/H. Jaali; editor,Tarmizi. -- Ed.
1, Cet. 1. — Jakarta: Bumi Aksara, 2007. x, 138 hlm.; 21
cm.

Bibliografi: hlm. 133 ISBN (13)


978-979-010-002-2 ISBN (10)
979-010-002-7

I. Psikologi pendidikan.
I. Judul.
II. Tarmizi.

370.15 .
PRAKATA

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan rangkaian - upaya


untuk mewujudkan manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya,
yaitu mencakup pembangunan manusia, baik sebagai insan maupun sebagai
sumber daya pembangunan. Pembangunan manusia sebagai insan dan sumber
daya pembangunan adalah menekankan pada harkat, martabat, hak, dan
kewajiban manusia. Hal tersebut tercermin dalam nilai-nilai yang terkandung
dalam diri manusia, baik etika, estetika, maupun logika. Oleh karena itu,
pemahaman terhadap manusia merupakan sesuatu yang penting. Pembangunan
manusia sebagai insan tidak terbatas pada kelompok umur tertentu, tetapi
berlangsung dalam seluruh kehidupan manusia. Salah satu kelompok manusia
yang sedang dalam proses dibangun adalah dalam konteks pendidikan.
Buku Psikologi Pendidikan ini menguraikan tentang bagaimana gambaran
manusia dalam konteks pendidikan, sehingga dapat dibangun menjadi sesuatu
potensi dalam pembangunan bangsa.
Buku ini terbagi dalam enam bab. Bab 1 mengupas tentang bagaimana
Kepribadian manusia dalam pendidikan. Dalam bab ini membahas konsep
kepribadian secara umum terlebih dahulu, mengkaji perkembangan
pengelompokan dalam teori kepribadian, kemudian belajar dari tokoh teori
kepribadian, dan juga mengkaji faktor penentu dalam perubahan kepribadian.
Setelah mengetahui konsep kepribadian, kemudian buku ini menguraikan lebih
mendalam dalam Bab 2 mengenai pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Konsep ini sengaja ditempatkan dalam Bab 2, karena dalam pendidikan, konsep
pertumbuhan dan perkembangan menjadi sumber penting untuk menjelaskan
aspek psikologi pembelajaran. Untuk itu dalam bab ini diuraikan terlebih dahulu
tentang konsep pertumbuhan baik secara pribadi, kelompok, maupun sebagai
pribadi yang

Prakata v
kompleks. Uraian berikutnya adalah tentang konsep perkembangan yang
meliputi bagaimana prinsip dan hukum-hukum perkembangan, dan konsep yang
lebih penting lagi dalam konteks pendidikan adalah tentang tahap
perkembangan pribadi manusia, serta secara mendalam diuraikan tentang tugas
perkembangan itu sendiri. Dalam konteks inilah dikaji tentang peran teori
perkembangan dalam pendidikan anak dari masa kecil sampai dengan dewasa.
Setelah mengetahui konsep pertumbuhan dan perkembangan manusia dalam
pendidikan, maka diperlukan aksentuasi proses dalam berpendidikan. Bentuk
aksentuasi tersebut antara lain dalam hal emosi, perkembangan interaksi sosial,
dan pembentukan karakter sebagai manusia. Untuk itu dalam Bab 3 buku ini
dibahas tentang emosi dan hal- hal yang menimbulkannya, kemudian dibahas
pula bagaimana jenis emosi khas dan cara mengontrolnya, sampai dengan
bagaimana konsep perkembangan sosial seorang manusia dalam proses
pendidikan. Yang terakhir dalam bab ini tidak ketinggalan dibahas tentang
bagaimana pembentukan karakter baik dalam lingkungan akademik maupun
dalam lingkungan sosial. Dengan mengetahui perkembangan emosional peserta
didik, maka tibalah pembahasan buku tentang proses manusia yang diberikan
sentuhan pembangunan insani.
Untuk itu dalam Bab 4 ini diuraikan tentang Teori Kognitif. Dalam
pembahasannya, teori kognitif ini berisi secara sekilas tentang inteligensia
sampai dengan perkembangannya. Tidak kalah pentingnya adalah pembaca
diajak belajar tentang beberapa teori inteligensia, dan juga fakdor-faktor yang
mempengaruhi intelegensia itu sendiri. Hal tersebut dikupas dalam subbab
tentang teori belajar kognitif. Bab 5 membahas tentang Psikologi Behavioristik
yang menjelaskan bagaimana aliran-aliran dalam psikologi tersebut. Kelebihan
dalam uraian bab ini adalah ditampilkannya konsep Psikologi Konstitusi dalam
konteks pendidikan. Oleh karena itu, kemudian bab ini diberi judul tidak Teori
Behavioristik tetapi Psikologi Behavioristik. Dengan demikian, sengaja judul
Bab 4 dan 5 dibedakan. Uraian Bab 5 ini sangat penting, karena selama ini
Psikologi Behavioristik yang dipergunakan dalam kajian pendidikan belum
banyak menekankan pada konteks konstitusi. Agar sejalan dengan Bab 4 yang
menguraikan Teori Kognitif, bab ini juga disinggung tentang teori belajar yang
menitikberatkan pada Teori Behavioristik. Yang terakhir adalah

vi Psikologi Pendidikan
menguraikan faktor-faktor yang menimbulkan perilaku baik faktor dari dalam
maupun dari luar. Dalam buku ini, kemudian ditutup dengan Bab 6, yaitu
diuraikan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Dalam bab ini,
disajikan hanya 5 faktor dari sekian banyak faktor yang menentukan kemajuan
belajar. Faktor tersebut adalah motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan
konsep diri. Bahasan dalam bab ini menarik, karena di setiap akhir pembahasan
faktor, penulis kemudian mencoba menerapkan teori- teori-tersebut ke dalam
bidang administrasi pendidikan, dengan berbagai contoh kasus.
Dengan enam bab ini, diharapkan pembaca dapat memahami bagaimana
karakteristik manusia dalam konteks pendidikan. Dengan pemahaman secara
psikologis, diharapkan dapat membantu melakukan perbaikan ke arah
pembangunan manusia seutuhnya.
Dalam menyiapkan buku ini, kami sangat dibantu oleh rekan-rekan Program
Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, khususnya Program Studi Administrasi
Pendidikan. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada: (l)Kelompok 1,
yaitu Tutik Dwi Winarwi, Muchlis Dasuki, Nieke Masruchiah, Hashim Ahmad,
dan Irwan Sumaji yang telah memberikan masukan terhadap tulisan ini berkaitan
dengan konsep kepribadian. (2) Kelompok 2, yaitu Lia Amalia, Isnandar Ali,
Rosyid Rosihan, Yusuf Mudzakhir, dan Suparko yang telah memberikan
masukan materi tentang konsep pertumbuhan dan perkembangan. (3) Kelompok
3, yaitu Anoesyirwan, Basuki Ranto, Driwiyatna, Lim Kie Seng, dan Sungkowo
yang telah memberikan masukan materi tentang konsep emosi. (4) Kelompok 4,
yaitu Walujo Rahardjo, Sumartono, Imam Maskur Ali, dan IG. Agung Rai yang
telah memberikan masukan materi tentang teori kognitif. (5) Kelompok 5, yaitu
Arifuddin, Safruddin Setia Budi, Y.C. Soewandi Santoso, dan Anak Agung
Sukowati yang telah memberikan masukan materi tentang psikologi
behavioristik. (6) Kelompok 6, yaitu Jason Lase, Sasmoko, Soelaiman Hariadi,
Imam Kusrin, dan Robby S.E. Jacob yang telah memberikan masukan materi
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Secara khusus kami sampaikan terima kasih kepada Walujo Rahardjo, Jason
Lase, dan Sasmoko, yang telah mengedit naskah buku ini. Tanpa keija keras
mereka bertiga, mustahil naskah buku ini dapat diwujudkan.

Prakata vii
Secara spesial, kami sampaikan terima kasih kepada Walujo Rahardjo yang
telah mewujudkan naskah yang dikerjakan oleh mereka bertiga di atas menjadi
bentuk buku yang sangat bermakna. Dengan sentuhan sampul yang artistik dari
teman-teman percetakan, dan juga hasil fantasi Walujo Rahardjo & Sasmoko,
buku ini dapat dinikmati oleh adik-adik kelas di PPS UNJ, dan masyarakat
pecinta pendidikan secara umum.
Kami mengucapkan terima kasih juga kepada Direktur Program
Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, dan juga teman-teman dosen di PPS
UNJ yang telah mendukung terwujudnya buku ini. Tanpa dukungan mereka
semua, mustahil kami dapat mewujudkannya.

Jakarta, 6 Maret 2006 Djaali

viii Psikologi Pendidikan


DAFTAR ISI

PRAKATA ................................................................................................. v

BAB 1 KEPRIBADIAN DALAM PENDIDIKAN 1


A. Pengertian Umum............................................................. 2
B. Kelompok Teori Kepribadian ............................................. 4
C. Tokoh Teori Kepribadian ................................................... 7
D. Faktor Penentu Perubahan Kepribadian ............................. 13

BAB 2 PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN


MANUSIA ................................................................................. 16
A. Pertumbuhan ..................................................................... 16
B. Perkembangan ................................................................... 21

BAB 3 EMOSI, PERKEMBANGAN SOSIAL, DAN PEMBENTUKAN


KARAKTER .............................................................................. 37
A. Emosi ................................................................................ 37
B. Perkembangan Sosial dan Karakter .................................... 48
C Pembentukan Karakter ...................................................... 58

BAB 4 TEORI KOGNITIF ................................................................... 62


A. Pendahuluan ...................................................................... 62
B. Inteligensia ..................................................................... 63
C. Perkembangan Inteligensi ................................................ 66
D. Beberapa Teori Inteligensi................................................. 72
E. Faktor yang Mempengaruhi Inteligensi .............................. 74
F. Teori Belajar Kognitif ....................................................... 75

Daftar Isi ix
BAB 5 PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK .............................................. 78
A. Pendahuluan....................................................................... 78
B. Aliran Psikologi Behavioristik.. ......................................... 78
C. Teori Belajar Conditioning ................................................. 85
D. Faktor dari Dalam Diri ....................................................... 99
E. Faktor dari Luar Diri .......................................................... 99

BAB 6 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


BELAJAR ............................................................................ 101
A. Motivasi ........................................................................... 101
B. Sikap ................................................................................ 114
C. Minat ............................................................................... 121
D. Kebiasaan Belajar ............................................................ 127
E. Konsep Diri ..................................................................... 129

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... 133

BIOGRAFI PENULIS ........................................................................ 137

x Psikologi Pendidikan
KEPRIBADIAN DALAM
PENDIDIKAN

Pada dasarnya jiwa manusia dibedakan menjadi dua aspek, yakni aspek
kemampuan (ability) dan aspek kepribadian (personality). Aspek kemampuan
meliputi prestasi belajar, inteligensia, dan bakat; sedangkan aspek kepribadian
meliputi watak, sifat, penyesuaian diri, minat, emosi, sikap, dan motivasi.
Gagasan tersebut memberikan gambaran kesan tentang apa yang dipikirkan,
dirasakan, dan diperbuat, yang terungkap melalui perilaku. Berikut ini
merupakan gambaran umum arti kepribadian ditinjau dari berbagai aspek.
Ilmu tentang kepribadian cakupannya sangat luas, yang pada
perkembangan-nya, teori ini sudah sangat maju dalam pengenalan yang lebih
luas tentang kepribadian manusia. Namun, meskipun hanya membatasi
sebagian dari pengetahuan itu, membicarakan kepribadian merupakan suatu hal
yang menarik.
Kepribadian sangat perlu diketahui dan dipelajari karena kepribadian
sangat berkaitan erat dengan pola penerimaan lingkungan sosial terhadap
seseorang. Orang yang memiliki kepribadian sesuai dengan pola yang dianut
oleh masyarakat di lingkungannya, akan mengalami penerimaan yang baik,
tetapi sebaliknya jika kepribadian seseorang tidak sesuai, apalagi bertentangan
dengan pola yang dianut lingkungannya, maka akan terjadi penolakan dari
masyarakat.
Jika terdapat kesesuaian antara kepribadian yang dimiliki dengan
lingkungan sosial, akan terjadi keseimbangan di antara keduanya, sebaliknya
jika terjadi ketidaksesuaian di antara keduanya, maka akan timbul akibat, yaitu
orang tersebut akan mencari lingkungan sosial yang sesuai atau akan
mengadakan penyesuaian terhadap lingkungan sosialnya. Pertanyaan yang
timbul adalah apakah kepribadian itu bisa berubah dan

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 1


faktor-faktor apa yang mempengaruhi kepribadian seseorang, dan apakah
lingkungan yang membentuk kepribadian seseorang ataukah kepribadian yang
menyesuaikan dengan lingkungan. Berikut ini akan dijelaskan berbagai uraian
yang akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan di atas. Namun, untuk
menjelaskan hal tersebut, perlu dibahas terlebih dahulu tentang kepribadian
secara umum.

A. PENGERTIAN UMUM 
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona yang berarti topeng,
yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. Bagi bangsa Romawi persona
berarti “bagaimana seseorang tampak pada orang lain", jadi bukan diri yang
sebenarnya. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris
person, atau persona dalam bahasa Latin yang berarti manusia sebagai
perseorangan, diri manusia atau diri orang sendiri.
Sumber lain melihat, pribadi (persona, personeidad) adalah akar struktural
dari kepribadian, sedang kepribadian (personality, personalidad) adalah pola
perilaku seseorang di dalam dunia.
Secara filosofis dapat dikatakan bahwa pribadi adalah ”aku yang sejati”
dan kepribadian merupakan "penampakan sang aku” dalam bentuk perilaku
tertentu. Di sini muncul gagasan umum bahwa kepribadian adalah kesan yang
diberikan seseorang kepada orang lain yang diperoleh dari apa yang dipikir,
dirasakan, dan diperbuat yang terungkap melalui perilaku.
Banyak definisi tentang kepribadian, tetapi uraian paling lengkap adalah
yang dikemukakan oleh G.W. Allport dalam buku Child Development karangan
Elizabeth Hurlock. Dikatakan bahwa, kepribadian adalah organisasi (susunan)
dinamis dari sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan
penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan.1
Sejalan dengan pengertian yang dikemukakan di atas, Bruce Perry, seorang
peneliti dari Baylor College of Medicine AS menemukan bukti bahwa perilaku
buruk juga disebabkan oleh perubahan struktur dan kerja

1 Elizabeth Hurlock, Child Development, (Singapore: McGraw-Hill, 1978).

2 Psikologi Pendidikan
pada otak. Adapun Sumarmo Markam berkesimpulan bahwa kepribadian
tersebut dapat dilihat dari perilaku seseorang yang dibentuk melalui Amigdala,
yaitu bagian dalam sistem limbik pada otak manusia yang berfungsi sebagai
pusat perasaan.
Sebagai organisasi yang dinamis, artinya kepribadian itu dapat berubah-
ubah dan antarberbagai koinponen kepribadian tersebut (sistem psikofisik seperti
kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, emosi, perasaan, dan motif) memiliki
hubungan yang erat. Hubungan tersebut terorganisasi sedemikian rupa secara
bersama-sama mempengaruhi pola perilaku dalam menyesuaikan diri terhadap
lingkungan. Di lain pihak, Freud menyebutnya sebagai struktur yang memiliki
tiga sistem, yakni id, ego, dan super ego, di mana ego merupakan badan eksekutif
kepribadian yang menetapkan tindakan apa yang tepat, impuls id mana yang
dipuaskan dan bagaimana caranya, dan ego menjadi penengah antara id dan super
ego yang menginginkan kesempurnaan bersih terhadap realitas lingkungan dan
tuntutan norma. Fieldman menggambarkan sebagai perilaku yang stabil dari
manusia yang ditunjukkan pada sikap yang uniform dan merupakan kelanjutan
pengalaman masa lalu. Chambers, menyatakan bahwa kepribadian adalah hal
yang aneh yang tidak bisa diperhitungkan jika berbicara tentang diri sendiri akan
kelihatan berbeda dengan setiap orang.
Meskipun secara eksplisit Littauer tidak merumuskan apa yang disebut
dengan kepribadian, namun ia mengutip pendapat David Lykken bahwa
kepribadian sebagai suatu perangai dan langkah serta semua kekhasan yang
membuat orang berbeda dari orang lain dalam hal kemungkinan hubungan
dengan genetik tertentu dalam diri manusia. Dengan demikian, kita dapat
melihat bahwa kepribadian memiliki arti yang sangat khas dan kompleks,
karena mengacu kepada suatu proses yang dapat dilakukan manusia sejak kecil
hingga dewasa. Dalam uraian di atas ditunjukkan dengan "kelanjutan masa
lalu”.
Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep
diri orang. Jika dikaji lebih dalam sebenarnya proses ini sudah berjalan dengan
memberi pengalaman dan mewarnai perkembangan kepribadian seseorang. Jadi
secara umum, dapat dikatakan bahwa kepribadian merupakan suatu proses
dinamis di dalam diri, yang terus- menerus dilakukan terhadap sistem psikofisik
(fisik dan mental), sehingga

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 3


terbentuk pola penyesuaian diri yang unik atau khas pada setiap orang terhadap
lingkungan.

B. KELOMPOK TEORI KEPRIBADIAN 
Berdasarkan definisi dan sudut pandang para psikolog, diungkapkan
mengenai tipe-tipe kepribadian. Beberapa psikolog membagi tipe kepribadian
berbeda satu sama lain, dan perbedaan ini disebabkan oleh sudut pandang dari
mana penelitian atas kepribadian dimulai atau didasarkan oleh faktor tertentu
yang juga berbeda antara satu ahli dengan lainnya. Oleh karena itu, beberapa
tipe kepribadian yang akan dikemukakan berikut ini, dibatasi oleh pendapat
yang dianggap cukup banyak diperbincangkan oleh para ahli.

1. Type Theory
Tokohnya adalah Galen, Emest Kretschmer, William Sheldon. Galen
mendasarkan penemuannya pada doktrin Hippocrates bahwa tubuh manusia
dibentuk dari darah (blood), zat empedu kuning (yellow bile), zat empedu hitam
(black bile), zat lendir (phlegm) yang berkaitan erat dengan empat tipe
temperamen manusia berikut.
1. Sanguin dengan kekuatan pengaruh zat darah, dicirikan dengan orang
yang aktif, giat, dan atletis.
2. Choleric dengan kekuatan pengaruh zat empedu kuning (yellow bile)
dicirikan dengan temperamen suka marah.
3. Melankolik dengan kekuatan pengaruh zat empedu hitam (black bile)
dicirikan dengan mudah depresi atau sedih.
4. Phegmatik dengan kekuatan pengaruh cairan lendir (phlegm) dicirikan
dengan cepat lelah dan malas.
Emst Kretschmer, mengemukakan kepribadian yang juga didasarkan pada
bentuk tubuh, antara lain dikatakan bahwa orang yang memiliki bentuk tubuh
tinggi kurus dan atletis diasosiasikan dengan orang yang senang menarik diri,
kurang bergaul. Adapun orang yang pendek, gemuk adalah orang yang memiliki
emosi yang kurang stabil (emotional instability).

4 Psikologi Pendidikan
Tipe kepribadian yang dikemukakan di atas selain ”kadar” ilmiahnya
masih dipertanyakan juga hanya mengemukakan sisi negatif dari kepribadian
sehingga sangat disarankan untuk tidak dijadikan patokan penilaian
kepribadian, sebab seringkali orang yang diberi cap negatif seringkah
bertingkah laku sesuai dengan cap yang diberikan kepadanya.

2. Trait Theory
Tokohnya Gordon Allport dan R.B. Cattell. Mereka mendefinisikan trait
(watak), sebagai susunan neuropsychic yang mempunyai kemampuan
memberikan banyak rangsangan pada fungsi yang sederajat dan mengarahkan
bentuk dan pengungkapan perilaku. R.B. Cattell mengklasifikasikan sifat
berdasarkan empat pasang tipe, yaitu sebagai berikut.
1. Common versus unique, artinya terdapat sifat-sifat umum yang dimiliki
oleh semua orang dan orang yang memiliki sifat khusus dan tidak dimiliki
oleh orang lain.
2. Surface versus source, artinya suatu sifat ada yang dengan mudah dapat
dilihat dan ada yang harus dilakukan penelitian lebih jauh baru dapat
kelihatan.
3. Constitutional versus environmental mold, yaitu sifat yang tergantung pada
pembawaan (constitutional) dan yang tergantung pada lingkungan.
4. Dynamic versus ability and temperament, dynamic, artinya sifat yang
mendorong seseorang untuk mencapai tujuan dan sifat yang menentukan
kemampuan untuk mencapai tujuan dan temperamen adalah aspek-aspek
emosional yang mengarahkan kepada aktivitas.

3. Psychoanalysis Theory
Tokohnya adalah Sigmund Freud yang mengatakan bahwa kepribadian
manusia adalah pertarungan antara id, ego, dan super ego. Id adalah bagian
kepribadian manusia yang mengendalikan dorongan biologis seperti dorongan
sex dan sifat agresif, id bertindak atas prinsip kesenangan semata, sehingga
seringkali disebut tabiat hewani manusia. Super ego adalah hati nurani yang
bertindak atas prinsip moral. Super

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 5


ego merupakan internalisasi dari norma sosial dan kultural masyarakatnya, id
dan super ego seringkali bertentangan, dan ketiganya berada dalam alam bawah
dasar manusia. Ego merupakan kepribadian yang menjembatani antarkeiftginan
id-dan aturan yang ditentukan oleh super ego. Baik id, ego, dan super ego,
ketiganya berada dalam alam bawah sadar manusia.
Jadi, dalam teori psikoanalisis dijelaskan oleh Freud bahwa perilaku
manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego),
dan sosial (super ego) atau menurut Jalaluddin Rahmat disebut unsur animal,
rasional, dan moral. Freud juga mengemukakan bahwa kepribadian manusia
dipengaruhi oleh tingkatan psychosexual yang dibagi ke dalam tiga tingkatan,
yaitu sebagai berikut.
1. Oral Stage: umur 0-1/2 tahun dicirikan dengan kesenangan pada bagian
mulut dan bibir seperti ngemut, menggigit, dan menelan.
2. Anal Stage: umur 1 1/2 - 3 tahun dicirikan dengan sering mempermainkan
sesuatu yang keluar dari analnya.
3. Phallic Stage: umur 3-6 tahun sangat tertarik pada bagian-bagian vitalnya.
Pada fase ini juga mulai terlihat kesenangan pada lawan jenisnya, seperti
anak laki-laki yang menyenangi ibunya dan anak perempuan menyenangi
bapaknya. Apa hubungan antara fase perkembangan dengan kepribadian
seseorang? Menurut Freud, rasa frustrasi dan konflik yang terjadi pada fase-fase
tertentu akan mempengaruhi kepribadian seseorang pada saat beranjak dewasa
yang mengakibatkan dua hal, yaitu yang disebut fixation (perasaan yang
mendalam) dan regression. Sebagai contoh, jika seseorang mengalami fixation
pada oral stage, orang tersebut akan cenderung berkarakter rakus, dan kurang
peduli, dan jika mengalami hal yang sama pada anal stage, ia cenderung kikir
dan kepala batu.

4. Phenomenology Theory
Tokohnya adalah Abraham Maslow dan Carl Rogers. Berbeda dengan teori
psikoanalisis yang menekankan pada masalah perkembangan psychosexual,
ketidaksadaran (unconscious), teori ini lebih menekankan

6 Psikologi Pendidikan
pada masalah persepsi, pengertian, perasaan, dan pengertian akan diri sendiri
(self).
Teori ini melihat manusia sebagai pribadi unik dan sangat individual
sifatnya, artinya kepribadian seseorang dalam perkembangannya, sangat
dipengaruhi oleh faktor lingkungannya, dalam hal ini orang tua dan orang-
orang yang menjadi panutannya. Teori tentang kepribadian banyak pula dibahas
oleh para pakar di antaranya adalah sebagai berikut.

C. TOKOH TEORI KEPRIBADIAN 
1. Larry A. Hjelle dan Daniel J. Ziegler
Menurut Larry A. Hjelle dan Daniel J. Ziegler teori-teori kepribadian
diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu sebagai berikut.
a. Psikoanalisis: yang menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk yang
mempunyai naluri dan konflik batiniah (intrapsychic), konsep tersebut hasil
riset Sigmund Freud tentang gangguan mental terhadap orang yang
menekankan pada kekuatan ketidaksadaran (unconscious) dan mengambil
faktor irasional sebagai faktor pengontrol dari perilaku manusia.
b. Prospektif dari kepribadian psikologi dari behaviorism: memandang
manusia lebih lunak dan mudah dibentuk, dan korban yang pasif dari
kekuatan-kekuatan di dalam lingkungan seperti yang diterangkan oleh
pakar perilaku B.F. Skinner. Dia menekankan belajar dari pengalaman
sebagai kualitas dasar dalam pembentukan blok- blok pemikiran kita yang
disebut kepribadian.
c. Humanic Psychology: yang merupakan perspektif terbaru dalam
kepribadian manusia yang mempersembahkan suatu gambaran yang sangat
berbeda tentang manusia yang satu dengan yang lain, pakar- pakar
kepribadian yang berorientasi pada prinsip kekuatan ketiga atau potensi
bahwa gerakan manusia (human potential movement) menyatakan manusia
pada hakikatnya adalah baik dan dapat menyempurnakan diri (self
perfecting). Berdasarkan pandangan ini wajar bagi manusia secara alamiah
berubah secara konstan ke arah pengembangan diri kreatif dan mencukupi
diri sendiri, kecuali

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 7


adanya kondisi lingkungan yang sangat kuat yang menjadikan sebaliknya.
Para pakar pendukung humanistic psychology mempertahankan bahwa
manusia sebagian besar sadar dan rasional dan tidak didominasi oleh kebutuhan
dari ketidaksadaran dan konflik. Ada beberapa pakar psychology yang telah
terlibat dalam memperkenalkan kepribadian yang menggunakan pendekatan
humanistic, antara lain Erich Fromm, Gordon Allport, Carl Rogers, Victor
Frankl, Rollo May, dan Abraham Maslow.

2. Ericson
Ketika Freud mengidentifikasi perkembangan kepribadian dengan tiga
subsistem, maka Ericson mengembangkan menjadi delapan tahap. Seperti
Freud, Ericson juga mengembangkan kepribadian dalam berbagai tahapan. Di
mana setiap tahapan dapat diidentifikasi dengan masa krisis. Delapan tahapan
perkembangan kepribadian dari Ericson adalah sebagai berikut.

Tabel 1.1 Tahap Perkembangan Kepribadian Ericson

Usia (Dalam
Tahapan Karakteristik Sukses ><Gagal
Tahun)

Bayi awal 0-±1 Percaya >< Tidak Percaya


Bayi lanjut ±1 - ±3 Otonomi >< Malu dan Ragu-ragu
Anak-anak awal ±4-±5 Inisiatif >< Merasa bersalah
Anak-anak pertengahan ±6-±11 Ketekunan >< Rasa rendah diri
Masa puber ±12-±20
Membuktikan Kemampuan ><
Kekacauan peran
Dewasa awal ±12-±40 Kekariban >< Pengasingan
Dewasa pertengahan ±30 - ±65 Menyamaratakan >< Tidak aktif
Dewasa lanjut Di atas ±65 Menggabungkan >< Putus asa

Ericson tidak merasa bahwa semua periode yang penting dalam


bertambahnya perbuatan yang disengaja dan kemampuan yang lebih tinggi
terjadi pada masa krisis secara berturut-turut. Ia menegaskan bahwa
perkembangan psikologi terjadi karena tahapan-tahapan kritikal. Kritikal

8 Psikologi Pendidikan
adalah karakteristik pada saat membuat keputusan antara kemajuan dan
kemunduran. Pada situasi seperti ini, bisa terjadi prestasi atau kegagalan,
sehingga dapat mengakibatkan masa depan yang akan lebih baik atau lebih
buruk, tetapi sebetulnya situasi tersebut dapat disusun kembali. Bagaimanapun
juga, Ericson tidak menerima gagasan atau pikiran Freud yang mengatakan
bahwa kepribadian setelah masa kanak-kanak yang tidak penurut tidak bisa
diubah. Ericson percaya bahwa kepribadian masih dapat dibentuk dan diubah
pada masa dewasa.
Masa dewasa dibagi dalam tiga tahap, yaitu dewasa awal, dewasa
pertengahan, dan dewasa lanjut. Pada masa dewasa awal persoalan utamanya
adalah kekariban dan alternatifnya adalah pengasingan. Masa dewasa
pertengahan akan menuju kemenyamaratakan, dalam proses tersebut, individu
dengan perasaannya yang baru akan menjadi kebapakan (paternaf) dan kreatif,
dengan rasa ikut bertanggung jawab untuk menuntun generasi yang baru dan
perkumpulan anak-anak muda, tahapan terakhir menawarkan peluang untuk
memecahkan masa krisis awal melalui penggabungan. Oleh karena itu, pada
saat Ericson membandingkan tahapan awal dengan teori Freud, ternyata tahapan
dewasa lanjut menggambarkan periode pertumbuhan secara alamiah.
Sependapat dengan Freud, Ericson juga percaya bahwa setiap orang tidak dapat
berhasil dalam menyesuaikan diri di setiap tahapan, tidak berdayanya
perkembangan kepribadian pria dan wanita, dapat mengakibatkan bertambahnya
tekanan (stres) dan kegelisahan.

3. Algyris
Chris Algyris meyakini bahwa orang yang sehat mencoba mendapatkan
atau menuntut situasi yang menawarkan otonomi (mandiri, keinginan yang
bebas atau luas), perlakuan yang sama, dan kesempatan untuk menonjolkan
kemampuannya dalam masalah rumit. Kesempatan itu cenderung bergerak dari
ketidakmatangan menuju kematangan dari:
a. keadaan pasif ke pengembangan aktif;
b. ketergantungan ke kemandirian;
c. sejumlah rata-rata berkelakuan baik ke alternatif pilihan yang jelas;
d. minat yang dangkal atau sederhana ke minat yang penting atau
bermanfaat;

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 9


e. perspektif waktu yang singkat ke perspektif waktu yang lebih leluasa;
f. posisi subordinasi ke cara memandang dirinya sebagai superordinat;
g. miskinnya kesadaran terhadap dirinya ke kesadaran tentang dirinya.
Orang sehat akan selalu menampakkan tingkah laku yang matang,
sedangkan orang sakit cenderung kekanak-kanakan dan bertingkah laku
yang tidak matang.

4. Sheehy
Perkembangan orang dewasa ditempuh melalui lima tahap krisis
sebagai berikut.
a. Periode Pulling up roots. Fase ini adalah fase ketakutan dan
ketidakpastian yang menyebabkan munculnya perlawanan diri sebagai
akibat dari rasa tidak puas dengan keadaan rumah, gangguan fisik (sakit),
ketidakpuasan finansial dan keretakan emosional dengan orang tua. Dalam
hal ini hukuman mungkin lebih sulit.
b. The trying twenties. Pada usia 21 tahun kita berupaya memahami siapa
kita dan ke mana kita. Semuanya terasa serba mungkin. Fase ini adalah
masa yang baik, sekaligus masa terbentuknya ketakutan yang diikuti
dengan tidak ditemukan pilihan yang pasti. Ada dua kekuatan yang
menekan kita. Pertama masa depan dengan pemulihan kepercayaan. Kedua
menyelidiki dan memelihara fleksibilitas kepercayaan.
c. The catch thirties. Pada usia 30 tahunan kepercayaan hidup terbentuk,
rusak, dan diperbarui ke visi baru atau berkurangnya sifat yang idealistis
ke tujuan realistis. Kepercayaan diubah atau harus dikuatkan. Adanya
perubahan, kegelisahan dan sering munculnya dorongan hati yang kuat.
d. The deadline decade (35-45 tahun). Pada usia ini memunculkan kembali
masalah-masalah hidup. Sewaktu muda penuh sejarah yang bahaya dan
baik, tetapi kini sudah berakhir Namun pada periode ini disifati oleh ujian
kembali terhadap seluruh tujuan yang ada, bagaimana kita sekarang akan
menikmati seluruh kekayaan atau kepemilikan kita.

10 Psikologi Pendidikan
e. Renewal or regisnation. Pertengahan umur 50 tahun adalah periode stabil.
Periode ini membawa seseorang merasa dalam kesabaran dan segalanya
sudah terlewati. Bagi seseorang yang sukses menemukan bangunan
hidupnya, pada usia ini menjadikan seseorang tahun hidup yang terbaik.

5. Sheldon
Menurut Sheldon, manusia dilihat dari segi morphology (bentuk badan)
dapat dibedakan menjadi hal-hal berikut.
a. Endomorph, dengan ciri-ciri gemuk, suka makan, lamban bereaksi, dan suka
berteman.
b. Mesomorph, dengan ciri-ciri atletis, agresif, dan suka hal-hal yang
menantang.
c. Ectomorph, dengan ciri-ciri kurus, cepat dalam bereaksi, dan suka hal-hal
yang bersifat privacy.
Penyelidikan Sheldon di atas berdasarkan adanya korelasi antara bentuk
badan dengan karakter seseorang. Penampilan fisik seseorang akan membawa
pengaruh karakternya, contoh: seseorang berfisik atletis, dalam bertindak
cenderung menjadi agresif.

6. Carl Gustav Jung


Menurut Carl Gustav Jung, kepribadian dalam individu dapat dibedakan
antara dua sisi yang introvert serta extrovert. Pada diri individu yang introvert
umumnya memiliki sifat-sifat cenderung menarik diri, suka bekerja sendiri,
tenang, pemalu, tetapi rajin, hati-hati dalam mengambil keputusan, dan
cenderung tertutup secara sosial. Individu yang extrovert, pada umumnya
memiliki ciri-ciri suka berpandangan atau berorientasi keluar, bebas dan
terbuka secara sosial, berminat terhadap keanekaan, sigap dan tidak sabar dalam
menghadapi pekerjaan yang lamban, dan suka bekerja kelompok.
Extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian
keluar dari dirinya, sehingga segala minat, sikap, keputusan yang diambil lebih
ditentukan oleh peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Pada dasarnya orang-
orang yang bersifat extrovert menunjukkan sikap

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 11


yang lebih terbuka dan mau menerima masukan dari pihak luar, aktif, suka
berteman, dan ramah tamah. Umumnya mereka sudah senada dengan
kebudayaan dan orang-orang yang berada di sekitarnya, serta berupaya untuk
mengambil keputusan sesuai dan serasi dengan permintaan dan harapan
lingkungan. Adapun tipe introvert adalah kecenderungan seseorang untuk
menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat, sikap, dan keputusan yang
diambil selalu didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri.
Pada dasarnya orang yang introvert cenderung pendiam dan tidak membutuhkan
orang lain karena merasa segala kebutuhannya dapat dipenuhinya sendiri.
Di samping penampakan umum tersebut, introvert menunjukkan sikap yang
tertutup dan lebih berhati-hati, pengambilan keputusan agak terlepas dari
kendala dan penelaahan mengenai situasi, kebudayaan, perorangan atau benda di
sekitar mereka, mereka tenang, rajin, bekerja sendiri, dan agak tertutup secara
sosial. Umumnya orang introvert tidak suka diinterupsi apabila sedang bekerja
dan cenderung melupakan nama dan muka orang. Meskipun demikian, keduanya
masing-masing memiliki kecenderungan ciri stable dan unstable. Meskipun
demikian baik extrovert dan introvert hanya merupakan suatu tipe reaksi yang
terus- menerus, dan bila seseorang menunjukkan reaksi semacam itu secara
kontinu atau dengan kata lain reaksi semacam itu telah menjadi kebiasaannya,
maka barulah dapat dianggap seseorang mempunyai kepribadian satu dari kedua
tipe itu.
Pada perkembangan melalui adaptasi maupun intervensi terhadap
lingkungan, sebagian individu mengadakan penyesuaian, sehingga menjadi sifat
yang ambivalen, yakni sifat di antara introvert dan extrovert. Seseorang yang
mempunyai sifat introvert dengan adanya unsur adaptasi dengan lingkungan
serta rasa percaya dirinya yang semakin bertambah akan cenderung bergerak ke
arah extrovert. Demikian juga seorang extrovert dengan adanya unsur adaptasi
dengan lingkungan serta rasa percaya diri yang semakin bertambah akan
cenderung bergerak ke arah introvert.

7. Eric Berne
Eric Berne memperkenalkan suatu metode untuk menganalisis

12 Psikologi Pendidikan
kepribadian seseorang dengan melihat tingkah laku mereka yang dominan pada
suatu saat, dan bila ini menjadi kebiasaan yang terus-menerus dapat dikatakan
manusia memiliki kecenderungan tipe kepribadian tertentu. Berne membagi tipe
kepribadian manusia menjadi tiga bagian, yakni kanak- kanak, dewasa, dan orang
tua. Setiap tipe kepribadian ini membawa perilaku tertentu dalam berinteraksi
dengan orang lain. Metode yang dilakukan untuk pembagian tipe kepribadian ini
adalah dengan analisis transaksional yang merugikan liku-liku yang mendasari tata
cara, tingkah laku pribadi dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam cara
berpikir dan berperilaku, dalam perasaan dan cara menghadapi kenyataan hidup
ternyata terdapat beberapa corak yang berbeda, sehingga didapat konsep ego state
yang menampakkan kepribadian seseorang.
Berne membedakan ego state manusia dalam tiga tipe kepribadian yang
berbeda, yakni kanak-kanak (child), orang tua (parents), dan dewasa (adult).
Orang dengan tipe kanak-kanak, menampakkan kembali perilaku, perasaan,
pemikiran, pengamatan orang dari masa kecilnya. Kelincahan dan kebebasan
berpikir masih tampak juga pada orang dewasa yang memiliki tipe kanak-kanak
kuat. Tipe dewasa menampakkan akal sehat yang mampu menilai kenyataan
sekarang ini dan merencanakan masa depan. Pengertian tipe kepribadian dengan
menggunakan ego state dinamakan analisis struktural. Meskipun perkataan Eric
Berne ini belum dapat diterima sepenuhnya sebagai suatu tipe kepribadian, namun
secara metodologis ia telah membanggakan cara meneliti perilaku manusia yang
membentuk kepribadiannya. Sama seperti kedua teori di atas sebelumnya, ego
state bersifat ambivalen tidak ada yang seratus persen mewakili salah satu tipe
dalam diri manusia, pada dasarnya manusia memiliki ketiga tipe tersebut, hanya
berbeda dari faktor dominannya saja.

D. FAKTOR PENENTU PERUBAHAN KEPRIBADIAN 
Perubahan dalam kepribadian tidak terjadi secara spontan, tetapi merupakan
hasil pematangan, pengalaman, tekanan dari lingkungan sosial budaya, dan faktor-
faktor dari individu.
1. Pengalaman Awal
Sigmund Freud menekankan tentang pentingnya pengalaman awal
(masa kanak-kanak) dalam perkembangan kepribadian. Trauma

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 13


kelahiran, pemisahan dari ibu adalah pengalaman yang sulit dihapus dari
ingatan.
2. Pengaruh Budaya
Dalam menerima budaya anak mengalami tekanan untuk mengembangkan
pola kepribadian yang sesuai dengan standar yang ditentukan budayanya.
3. Kondisi Fisik
Kondisi fisik berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap
kepribadian seseorang. Kondisi tubuh menentukan apa yang dapat
dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan seseorang. Secara tidak
langsung seseorang akan merasakan tentang tubuhnya yang juga
dipengaruhi oleh perasaan orang lain terhadap tubuhnya. Kondisi fisik
yang mempengaruhi kepribadian antara lain adalah kelelahan, malnutrisi,
gangguan fisik, penyakit menahun, dan gangguan kelenjar endokrin ke
kelenjar tiroid (membuat gelisah, pemarah, hiperaktif, depresi, tidak puas,
curiga, dan sebagainya).
4. Daya Tarik
Orang yang dinilai oleh lingkungannya menarik biasanya memiliki lebih
banyak karakteristik kepribadian yang diinginkan daripada orang yang
dinilai kurang menarik, dan bagi mereka yang memiliki karakteristik
menarik akan memperkuat sikap sosial yang menguntungkan.
5. Inteligensi
Perhatian yang berlebihan terhadap anak yang pandai dapat menjadikan ia
sombong, dan anak yang kurang pandai merasa bodoh apabila berdekatan
dengan orang yang pandai tersebut, dan tidak jarang memberikan
perlakuan yang kurang baik.
6. Emosi
Ledakan emosional tanpa sebab yang tinggi dinilai sebagai orang yang
tidak matang. Penekanan ekspresi emosional membuat seseorang murung
dan cenderung kasar, tidak mau bekerja sama dan sibuk sendiri.

14 Psikologi Pendidikan
7. Nama
Walaupun hanya sekadar nama, tetapi memiliki sedikit pengaruh terhadap
konsep diri, namun pengaruh itu hanya terasa apabila anak menyadari
bagaimana nama itu mempengaruhi orang yang berarti dalam hidupnya.
Nama yang dipakai memanggil mereka (karena nama itu mempunyai
asosiasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam pikiran orang
lain) akan mewarnai penilaian orang terhadap dirinya.
8. Keberhasilan dan Kegagalan
Keberhasilan dan kegagalan akan mempengaruhi konsep diri, kegagalan
dapat merusak konsep diri, sedangkan keberhasilan akan menunjang
konsep diri itu.
9. Penerimaan Sosial
Anak yang diterima dalam kelompok sosialnya dapat mengembangkan
rasa percaya diri dan kepandaiannya. Sebaliknya anak yang tidak diterima
dalam lingkungan sosialnya akan membenci orang lain, cemberut, dan
mudah tersinggung.
10. Pengaruh Keluarga
Pengaruh keluarga sangat mempengaruhi kepribadian anak, sebab waktu
terbanyak anak adalah keluarga dan di dalam keluarga itulah diletakkan
sendi-sendi dasar kepribadian.
11. Perubahan Fisik
Perubahan kepribadian dapat disebabkan oleh adanya perubahan
kematangan fisik yang mengarah kepada perbaikan kepribadian. Akan
tetapi, perubahan fisik yang mengarah pada klimakterium dengan
meningkatnya usia dianggap sebagai suatu kemunduran menuju ke arah
yang lebih buruk. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang
mempengaruhi kepribadian, tetapi tidak dapat seluruhnya disampaikan di
sini mengingat keterbatasan-keterbatasan yang ada.

Bab 1 Kepribadian dalam Pendidikan 15


PERTUMBUHAN DAN
PERKEMBANGAN
MANUSIA

A. PERTUMBUHAN
Dua bagian yang kondisional dari manusia meliputi pribadi yang bersifat
material kuantitatif yang mengalami pertumbuhan, dan pribadi yang fungsional
kualitatif yang mengalami perkembangan.
Pertumbuhan diartikan perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai
akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitatif dapat berupa
pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari sedikit menjadi
banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya. Pertumbuhan pribadi sebagai
perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya
pengaruh lingkungan material seperti sel, kromosom, butir darah, rambut,
lemak, dan tulang tidak dapat dikatakan berkembang melainkan tumbuh. Begitu
juga material pribadi, seperti kesan, keinginan, ide, pengetahuan, nilai, selama
tidak dihubungkan dengan fungsinya tidak dapat dikatakan berkembang
melainkan mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan dinyatakan dalam bentuk
perubahan yang terjadi pada bagian-bagian material, tetapi pertumbuhan itu
sendiri mempunyai sifat kesatuan dan keumuman, dalam hal ini suatu
organisme.

1. Pertumbuhan Pribadi Manusia


Manusia secara genetis mula-mula terjadi dari satu sperma dan satu telur.
Satu sperma memasuki sebuah telur dan satu individu baru mulai membuka
diri.
Kehidupan awal dari individu sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu, yaitu
wanita yang mengandungnya. Adapun peranan ayah dalam menumbuhkan
individu baru hanyalah memberikan kemungkinan yang tepat agar individu itu
terkonsep. Apa pun yang akan diturunkan oleh

16 Psikologi Pendidikan
seorang ayah kepada anaknya adalah berupa sifat-sifat yang terkandung di
dalam satu sperma yang terbuahkan. Sperma adalah satu tetes air senggama.
Dari satu pria saja sudah terdiri atas berjuta-juta sperma yang dapat dilihat
melalui mikroskop yang berbentuk menyerupai bulatan kepala, berekor
panjang, dan bergerak. Dengan ekornya itu sperma bergerak dan berenang cepat
mencari sasarannya. Di dalam satu sperma yang kecil itu terkandung benda-
benda teramat kecil sejumlah dua puluh empat yang disebut kromosom
(chromosomes).
Berjuta-juta sperma berenang memasuki rahim ibu, hanya satu di
antaranya yang dapat sampai ke sasaran, yaitu telur. Ketika sperma menembus
dan memasuki telur, kepalanya mulai membuka dan mensenyawakan dua puluh
empat kromosom yang tadinya terbungkus. Besar adalah beribu-ribu kali
besarnya sperma, maka mata telanjang kita dapat mengamatinya sebesar mata
ular. Berat sebuah telur manusia diperkirakan sekitar seperjuta gram. Di dalam
telur berisikan bahan makanan, dengan satu bulatan kecil yang ringan yang
disebut nucleas. Isi telur itu baru dapat dilihat mikroskop ketika sperma (yang
kepalanya saja) memasuki telur dan melepaskan kedua puluh empat
kromosomnya dalam waktu yang hampir bersamaan dengan nucleas. Telur yang
pecah melepaskan pula kedua puluh empat kromosomnya sebagai sumbangan
dari pihak ibu untuk membentuk seorang anak.
Individu terbentuk dari empat puluh delapan kromosom. Setiap kromosom
mempunyai bentuk dan sifat yang berbeda-beda. Dua puluh empat kromosom
dari ayah dan dua puluh empat kromosom dari ibu, masing-masing berpasangan
di dalam indung telur. Dua puluh empat pasang kromosom inilah penentu
turunan fisik dari kehidupan pribadi manusia. Pertumbuhan berlanjut terus
dengan adanya proses devision dan redevision (pembagian sel dan pembagian
atau pembelahan kembali pada sel-sel). Pembelahan dan perpasangan
kromosom menyerupai rangkaian mata rantai membentuk seperti halnya per
yang semakin lama semakin merapat. Pada saat-saat tertentu, rapatan
kromosom ini tumbuh dan semakin banyak membentuk butiran yang
menyerupai embun yang disebut genes tersebut merupakan faktor penentu
hereditas. Setiap genes mempunyai fungsi tertentu dalam pertumbuhan
manusia.
Setelah itu, telur menjadi masak dan masuklah saraf dari pihak ibu.

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 17


Sel-sel tidak lagi tinggal bersama-sama. Tatkala jumlah sel masih terbatas, sel-
sel itu mulai mengadakan specializing (spesialisasi), yaitu beberapa menjadi
sel-sel tulang, sebagian menjadi sel-sel kulit, sebagian menjadi sel-sel daging,
sebagian menjadi sel-sel otak, sebagian menjadi sel-sel otot, dan sebagainya.
Semua sel yang telah terspesialisasi ini tumbuh terus dan membentuk berbagai
bagian dari tubuh manusia. Di antara semua sel tersebut ada sejumlah sel
tertentu dicadangkan untuk fungsi lain. Sel-sel itu adalah sel-sel germ yang
terambil dari sperma dan telur yang akan berfungsi sebagai bahan pembenihan.
Apabila proses ini terjadi pada anak laki-laki, bahan inilah yang memproduksi
sperma. Apabila proses ini terjadi pada anak perempuan, maka bahan inilah
yang memproduksi telur-telur dalam kandungan. Produksi benih tersebut akan
lebih nyata ketika anak menginjak pubertas. Proses produksi berlangsung terus
sepanjang hidup manusia.
Pertumbuhan sperma agak berbeda dengan pertumbuhan sel-sel. Sel
bertumbuh dari luar germ yang cadangan sel-sel dari tahun ke tahun tidak
berkurang. Setiap satu kali persetubuhan pria mengeluarkan sperma sekitar
200.000 sampai dengan 600.000, dan segera setelah itu terproduksi lagi berjuta-
juta sperma pengganti. Tubuh selalu memproduksi bahan- bahan sperma dan
pekerjaan produksi ini berjalan secara mekanis seperti kegiatan mesin.
Walaupun tubuh sakit, terluka, atau menjadi tua, hanya akan mengurangi
jumlah produksi normal. Pada wanita, meskipun telur- telur tua terjadi dari sel-
sel germ, namun kelangsungan pertumbuhannya berbeda dengan pertumbuhan
sperma. Pertumbuhan telur tidak mencapai berjuta-juta jumlahnya. Ketika
wanita mencapai masa pubertas diharapkan secara normal hanya akan
mematangkan satu telur setiap bulan, ini pun hanya untuk semasa sekitar tiga
puluh lima tahun. Wanita sejak dilahirkan telah memiliki germ yang baru akan
siap memproduksi telur setelah wanita itu menginjak pubertas. Kromosom yang
akan ia wariskan kepada anak-anaknya di kemudian hari juga terdapat di dalam
masing-masing telurnya. Proses pematangan telur hanya berupa pembesaran
telur dengan pengisian bahan-bahan makanan yang dipakai untuk memulai
kehidupan individu baru.
Proses kejadian telur tidak jauh berbeda dengan proses kejadian sperma.
Proses kejadian telur dari sel-sel germ ini disebut reproduction.

18 Psikologi Pendidikan
Setiap telur hanya terjadi dari separuh kromosom ibu/wanita. Perubahan dalam
struktur kromosom dapat mempengaruhi pekerjaan genes. Hal- hal yang tidak
diwariskan meliputi beberapa aspek, baik material pertumbuhan fisik maupun
mental. Dari sifat genes yang dimiliki, individu dapat saja menjadi orang yang
pemurung, periang, pendiam, lamban, ataupun cerdas.
Tidak semua aspek pribadi manusia diwarisi dari orang tuanya. Hal- hal
yang tidak diwariskan meliputi beberapa aspek, baik material pertumbuhan fisik
maupun mental. Dari sifat genes yang dimiliki, individu dapat saja menjadi
orang yang pemurung, periang, pendiam, lamban, ataupun cerdas. Akan tetapi,
keadaan fisik atau mental seperti penyakit, kelelahan, kemiskinan, kegagalan,
atau kemalasan adalah tidak diwariskan, melainkan diperoleh dari pendidikan.
Perlengkapan mental setiap individu sejak lahir adalah sama seperti halnya pada
orang dewasa, begitu pula perlengkapan fisik. Kesamaan material hereditas
dapat melahirkan individu-individu yang berbeda dalam penampilan fisik. Hal
ini belum tentu disebabkan oleh faktor hereditas, tetapi karena perbedaan
kondisi pertumbuhan itu dipengaruhi, baik oleh hereditas maupun lingkungan.
Pertumbuhan terjadi secara fisiologis terhadap material kehidupan.
Pertumbuhan material ternyata tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif.
Hukum-hukum yang mengatur pertumbuhan adalah (1) pertumbuhan bersifat
kuantitatif serta kualitatif, (2) pertumbuhan merupakan suatu proses yang
berkesinambungan dan teratur, (3) tempo pertumbuhan adalah tidak sama, (4)
tahap perkembangan berbagai aspek pertumbuhan adalah berbeda-beda, (5)
kecepatan serta bola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi ini di dalam
dan di luar badan, dan (6) setiap individu tumbuh menurut caranya masing-
masing yang unik. Keunikan pertumbuhan pada masing-masing individu antara
lain disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan internal, kondisi lingkungan
eksternal, materi hereditas, aktivitas, kondisi fisiologis seperti cacat fisik, usia,
jenis kelamin, dan hasil belajar.

2. Pertumbuhan Bersifat Kompleks


Aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan adalah anak sebagai keseluruhan;
umur mental anak mempengaruhi pertumbuhannya;

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 19


permasalahan tingkah laku sering berhubungan dengan pola-pola pertumbuhan;
dan penyesuaian pribadi dan sosial mencerminkan dinamika pertumbuhan.

3. Pertumbuhan Fisik yang Normal


Pertumbuhan manusia dimulai dalam kandungan ketika bertemunya dua
sel germ, masing-masing adalah sperma dari pria dan ovum dari wanita. Calon
bayi disebut embrio tumbuh dengan pesat terutama selama separuh masa
kandungan.
Selama sembilan bulan bayi mengalami pertumbuhan sehingga memiliki
bentuk dan struktur tubuh yang lengkap meliputi jari, kaki, lengan, genital,
sistem saraf, organ indra, kelenjar endokrin, tulang, kulit, otot- otot, dan lain-
lain. Sejak lahir, alat-alat indra sudah siap pakai, tetapi baru berfungsi beberapa
saat sesudah lahir. Setelah dilahirkan pertumbuhan fisik anak terjadi secara
pesat pada tahun pertama, pada tahun kedua anak tumbuh secara pelan-pelan
tetapi konstan selama sepuluh tahunan. Ketika anak menuju ke puncak masa
remaja, pertumbuhannya terjadi dengan pesat, setelah itu untuk menuju ke taraf
dewasa jasmani kecepatan pertumbuhan semakin menurun. Setelah usia 21
tahun, badan semakin kekar progresif menuju ketuaan dan akhirnya mati.
Pertumbuhan fisik di antaranya meliputi pertumbuhan kelenjar,
pertumbuhan badan pada umumnya, pertumbuhan sistem saraf, dan
pertumbuhan seksual. Pertumbuhan kelenjar terjadi dengan pesat sejak lahir
sampai umur 10 tahun, dan pada umur 12 tahun kecepatannya menurun sampai
umur 20 tahun.
Pertumbuhan sistem saraf manusia secara pesat terjadi sejak lahir sampai
umur 4 tahun, setelah itu kecepatannya berkurang sampai umur 12 tahun. Dari
umur 12 tahun sampai umur 20 tahun pertumbuhan sistem saraf kecepatannya
tetap. Pertumbuhan seksual terjadi secara mencolok mulai pada masa pubertas.
Pada anak laki-laki, pubertas umumnya dimulai pada umur 12 atau 13 tahun,
sedangkan pada anak perempuan lebih awal, yaitu sejak menstruasi yang
pertama sekitar 10 sampai 16 tahun, dan rata-rata menjelang umur 12 tahun.
Pada masa pubertas ini mulailah tumbuh rambut-rambut khusus pada tubuh,
baik laki-laki maupun perempuan. Pada anak laki-laki mulai terjadi perubahan
suara yang

20 Psikologi Pendidikan
menjadi lebih besar dan badan yang semakin tegap.
Pertumbuhan seksual yang dimulai dari masa pubertas berlangsung terus
secara pesat hingga umur 20 tahun. Sejak umur 21 tahun pertumbuhan berjalan
konstan, tetapi pasti.

B. PERKEMBANGAN 
Perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhannya.
Pertumbuhan adalah sesuatu yang menyangkut materi jasmaniah yang dapat
menumbuhkan fungsi dan bahkan perubahan fungsi pada materi jasmaniah.
Perubahan jasmaniah dapat menghasilkan kematangan atas fungsinya.
Kematangan fungsi jasmaniah sangat mempengaruhi perubahan pada fungsi
psikologis. Oleh karena itu, perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan
dengan pertumbuhannya.

1. Prinsip Perkembangan
Ciri perkembangan menunjukkan gejala yang secara relatif teratur,
sehingga terjadinya pola perkembangan sistematik. Atas dasar hal tersebut, para
ahli merumuskan dalam bentuk prinsip-prinsip perkembangan. Beberapa
prinsip perkembangan antara lain:
a. perkembangan merupakan fungsi jasmaniah dan kejiwaan yang
berlangsung dalam proses satu kesatuan yang menyeluruh (integrated);
b. setiap individu mempunyai kecepatan perkembangan;
c. perkembangan seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek
tidak konstan melainkan berirama;
d. proses perkembangan dengan mengikuti pola tertentu;
e. proses perkembangan berlangsung secara berkesinambungan;
f. antara aspek perkembangan yang satu dengan aspek yang lain saling
berkaitan atau berkorelasi secara signifikan;
g. perkembangan berlangsung dari pola yang bersifat umum ke khusus;
h. perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan;
i. memiliki fungsi kepribadian yang bersifat jasmaniah, yaitu fungsi motorik
pada bagian-bagian tubuh, fungsi sensoris pada alat-alat indra,

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 21


fungsi neurotik pada sistem saraf, fungsi seksual pada bagian-bagian tubuh
yang erotis, fungsi pemapasan pada alat pemapasan, fungsi peredaran
darah pada jantung dan urat-urat nadi, dan fungsi pencernaan makanan
pada alat percernaan. Adapun fungsi kepribadian yang bersifat kejiwaan,
misalnya fungsi perhatian, fungsi pengamatan, fungsi tanggapan, fungsi
ingatan, fungsi fantasi, fungsi pikiran, fungsi perasaan, dan fungsi
kemauan.

2. Hukum Perkembangan
Hukum perkembangan dalam kepribadian meliputi: (1) perkembangan
bersifat kualitatif, (2) perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil
belajar, (3) usia ikut mempengaruhi perkembangan, (4) masing-masing individu
mempunyai tempo perkembangan yang berbeda-beda, (5) dalam keseluruhan
periode perkembangan, (6) setiap spesies perkembangan individu mengikuti
pola umum yang sama, dan (7) perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan
lingkungan pendidikan. Untuk itu harus melakukan usaha-usaha seperti
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi kegiatan anak
untuk belajar, dan membimbing perkembangan anak ke arah perkembangan
yang optimal.

3. Tahap Perkembangan Pribadi Manusia


Sigmund Freud menekankan bahwa kehidupan pribadi manusia pada
dasarnya adalah libido seksualitas. Pembentukan pribadi seseorang terjadi dari
lahir sampai usia 20 tahun. Freud mengemukakan adanya enam tahap
perkembangan fisiologis manusia, yaitu sebagai berikut.
1. Tahap oral (umur 0 sampai sekitar 1 tahun).
Dalam tahap ini, mulut bayi merupakan daerah utama dari aktivitas yang
dinamis pada manusia.
2. Tahap anal (antara umur 1 sampai 3 tahun).
Dalam tahap ini, dorongan dan aktivitas gerak individu lebih banyak
terpusat pada fungsi pembuangan kotoran.
3. Tahap falish (antara umur 3 sampai 5 tahun)
Dalam tahap ini, alat kelamin merupakan daerah perhatian yang penting
dalam pendorong aktivitas.

22 Psikologi Pendidikan
4. Tahap latent (antara umur 5 tahun sampai 12-13 tahun)
Dalam tahap ini, dorongan aktivitas dan pertumbuhan cenderung bertahan
dan istirahat dalam arti tidak meningkatkan kecepatan pertumbuhan.
5. Tahap pubertas (antara umur 12-13 tahun sampai 20 tahun) Dalam tahap
ini, dorongan aktif kembali, kelenjar endokrin tumbuh pesat dan berfungsi
mempercepat pertumbuhan ke arah kematangan.
6. Tahap genital (setelah umur 20 tahun dan seterusnya)
Dalam tahap ini, pertumbuhan genital merupakan dorongan penting bagi
tingkah laku seseorang.
Freud secara menyeluruh kurang menjelaskan mengenai pertumbuhan dan
perkembangan fisiologi, tetapi dalam perkembangan individu, ia lebih menjurus
kepada sudut pandang seksualitas. Gesel dan Amtruda mengemukakan tahapan
secara berurutan tentang perkembangan fisiologis manusia dari awai prenatal
sampai umur 5 tahun sebagai berikut.
1. Tahap konsepsi (1 minggu setelah pembuahan). Dalam tahap ini, sperma
memasuki ovum dan dalam proses pertumbuhan terjadi pula
pengorganisasian sel germinal.
2. Tahap embrionik (antara 1 minggu s.d. 8 minggu). Setelah ovum dimasuki
oleh saraf dari ibu, terjadilah pertumbuhan sistem saraf dan terjadi pula
pembentukan fungsi preneural.
3. Tahap fetal (2 bulan s.d. 2,5 bulan). Terjadi pembentukan fungsi informasi
dan komunikasi dengan sensitivitas oral.
4. Tahap perluasan fetal (2,5 bulan s.d. 3,5 bulan). Dalam tahap ini terjadi
perluasan pembentukan fungsi vital dengan berkembangnya sistem saraf
dan jaringan otak.
5. Tahap perkembangan refleks-refleks (3,5 bulan s.d. 4 bulan), fungsi
refleks mulai berkembang.
6. Tahap perkembangan alat pemapasan (4 bulan s.d. 4,5 bulan), dalam tahap
ini, terjadi perkembangan fungsi pemapasan pada bayi prenatal.
7. Tahap perkembangan fungsi tangan (4,5 bulan s.d. 5 bulan), tangan dan
jari-jari bayi mulai dapat bergerak.

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 23


8. Tahap perkembangan fungsi leher (5 bulan s.d. 6 bulan), dalam tahap ini,
terjadi percepatan gerakan dan refleks pada leher.
9. Tahap perkembangan fungsi otonomik (6 bulan sampai bayi lahir).
Dengan semakin lengkapnya pertumbuhan material tubuh bayi, dalam
tahap ini berkembanglah fungsi otonomi dengan pengendalian
fisiokimiawi.
10. Tahap kelahiran (umur 0 s.d. 1 bulan), dalam tahap ini, perkembangan
fungsi-fungsi vegetatif menjadi sangat pesat.
11. Tahap perkembangan fungsi penglihatan (umur 1 bulan), bayi mulai dapat
melihat benda-benda di alam sekitarnya, dan hal ini berlangsung sampai
dengan umur 4 bulan.
12. Tahap keseimbangan kepala (antara umur 4 bulan s.d. 7 bulan), dalam
tahap ini gerakan kepala semakin seimbang.
13. Tahap perkembangan fungsi tangan (antara umur 7 bulan s.d. 10 bulan),
dalam tahap ini gerakan tangan anak semakin terarah dan semakin kuat,
sehingga bayi dapat memegang dan menangkap sesuatu dengan tangannya.
14. Tahap perkembangan fungsi otot dan anggota badan (umur 10 bulan s.d. 1
tahun), dalam tahap ini anak mengalami perkembangan berangsur-angsur
dalam duduk, merayap, merangkak, dan merambat.
15. Tahap perkembangan fungsi kaki (umur 1 tahun s.d. 1,5 tahun), anak
mulai dapat berdiri dan berjalan.
16. Tahap perkembangan fungsi verbal (antara umur 1,5 s.d. 2 tahun), anak
mulai dapat menirukan dan mengucapkan kata-kata dan pernyataan
singkat.
17. Tahap perkembangan toilet (antara umur 2 tahun s.d. 3 tahun), anak mulai
dapat belajar kencing dan buang air besar tanpa bantuan orang lain.
18. Tahap perkembangan fungsi bicara (antara umur 3 s.d. 4 tahun), anak
mulai berbicara secarajelas dan berarti. Kalimat yang diucapkan oleh anak
semakin baik.
19. Tahap belajar matematik (antara umur 4 tahun s.d. 5 tahun), anak

24 Psikologi Pendidikan
mulai belajar matematik sederhana misalnya menyebut bilangan,
menghitung urutan bilangan, dan penguasaan jumlah kecil dari benda-
benda.
20. Tahap sosialitas (antara umur 5 tahun s.d. 7 tahun)
Anak mulai dapat belajar bergaul dengan teman-teman sebayanya. Dalam
usia inilah anak mulai mengikuti pendidikan anak-anak.
21. Tahap intelektual (antara umur 7 tahun s.d. 12 tahun), dalam tahap ini,
fungsi ingatan, imajinasi dan pikiran pada anak mulai berkembang. Anak
mulai mampu mengenal sesuatu secara objektif. Anak juga mulai berpikir
kritis.
22. Tahap pubertas (antara umur 12 tahun s.d. 17 tahun), dalam tahap ini,
pertumbuhan dan perkembangan fungsi kelenjer endokrin terutama
kelenjar sel germinal sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku
manusia.
23. Tahap pematangan fisiologis (antara umur 17 tahun s.d. 20 tahun), dalam
tahap ini pertumbuhan fisik anak menuju ke arah kematangan
fisiologisnya. Semua fungsi jasmaniahnya berkembang menjadi seimbang.
Keseimbangan fungsi fisiologis memungkinkan pribadi manusia
berkembang secara positif sehingga manusia semakin mampu bertingkah
laku sesuai dengan tuntutan sosial, moral, serta intelektual.
Menurut Jean Jacques Rousseau perkembangan fungsi dan kapasitas
kejiwaan manusia berlangsung dalam lima tahap sebagai berikut.
1. Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir - 2 tahun), dalam tahap ini,
perkembangan pribadi didominasi oleh perasaan. Perasaan senang ataupun
tidak senang menguasai diri bayi, sehingga setiap perkembangan fungsi
pribadi dan tingkah laku bayi, sangat dipengaruhi oleh perasaannya.
Perasaan ini sendiri tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan
berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi bayi terhadap stimuli
lingkungannya.
2. Tahap perkembangan masa kanak-kanak (2 tahun s.d. 12 tahun), dalam
tahap ini, perkembangan pribadi anak dimulai dengan semakin
berkembangnya fungsi indra anak untuk mengadakan pengamatan.

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 25

MILIK 
PERPUSTAKAAN UIN 
Perkembangan fungsi ini memperkuat perkembangan fungsi pengamatan
pada anak, bahkan dapat dikatakan bahwa perkembangan setiap aspek
kejiwaan anak pada masa ini sangat didominasi oleh pengamatannya.
1. Tahap perkembangan pada masa preadolesen (12 tahun s.d. 15 tahun),
dalam tahap ini, perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak
sangat dominan. Dengan adanya pertumbuhan sistem saraf serta fungsi
pikirannya, anak mulai kritis dalam menanggapi sesuatu ide atau
pengetahuan dari orang lain. Kekuatan intelektualnya kuat. Energi fisiknya
kuat, sedangkan kemauannya kurang keras, dengan pikirannya yang
berkembang, anak mulai belajar menemukan tujuan serta keinginan yang
dianggap sesuai baginya untuk memperoleh kebahagiaan.
2. Perkembangan pada masa adolesen (15-20 tahun), dalam tahap
perkembangan ini, kualitas kehidupan manusia diwarnai oleh dorongan
seksual yang kuat. Keadaan ini membuat orang mulai tertarik kepada
orang lain yang berlainan jenis kelaminnya. Di samping itu, orang mulai
mengembangkan pengertian tentang kenyataan hidup serta mulai
memikirkan pola tingkah laku yang bernilai moral. Ia juga mulai belajar
memikirkan kepentingan sosial serta kepentingan pribadi. Berhubung
dengan berkembangnya keinginan dan emosi yang dominan dalam pribadi
orang dalam masa ini, maka orang dalam masa ini sering mengalami
keguncangan serta ketegangan dalam jiwa.
3. Masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun), dalam tahap ini,
perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat
membedakan adanya tiga macam tujuan hidup pribadi, yaitu pemuasan
keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, dan pemuasan
keinginan masyarakat. Semua ini akan direalisasi oleh individu dengan
belajar mengandalkan daya kehendaknya Dengan kemauannya, orang
melatih diri untuk memilih keinginan yang akan direalisasi dalam
tindakannya. Realisasi setiap keinginan ini menggunakan fungsi
penalaran, sehingga orang dalam masa perkembangan ini mulai mampu
melakukan self direction dan self control.

26 Psikologi Pendidikan
Dengan kemampuan ini, manusia tumbuh berkembang menuju
kematangan untuk hidup berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Pada masa
tersebut, manusia mulai mampu melakukan self control dan self direction.
Menurut Oswald Kroch secara umum terdapat dua keguncangan selama
perkembangan pribadi, yaitu pada masa perkembangan anak:
1. umur 3 atau 4 tahun, di mana anak mulai menemukan ”akunya”;
2. usia pubertas, di mana anak laki-laki mulai umur 12 tahun atau 13 tahun,
sedangkan pada anak perempuan terjadi lebih awal, yaitu mulai 10 atau 11
tahun.
Masa keguncangan tersebut oleh Oswald Kroch disebut Trotzperiods.
Tahapan utama perkembangan pribadi secara psikologis adalah sebagai berikut.
1. Masa kanak-kanak awal, yakni perkembangan sejak lahir sampai masa
trotz pertama.
2. Masa bersekolah, yakni masa perkembangan sejak setelah masa trotz
kedua.
3. Masa kematangan, yakni setelah masa trotz kedua sampai akhir masa
remaja.
Dari beberapa pendapat termasuk yang menguraikan pertumbuhan/
perkembangan fisiologis masa prenatal, dapatlah dikemukakan di sini
pentahapan perkembangan pribadi secara agak lebih luas yang meliputi tahap:
1. kematangan prenatal (antara umur 2,5 bulan - 9 bulan prenatal);
2. perkembangan vital (sejak lahir - 2 tahun);
3. tahap perkembangan ingatan (umur 2-3 tahun);
4. tahap perkembangan kekuatan dan imajinasi (mulai umur 3-4 tahun);
5. tahap perkembangan pengamatan (umur 4-6 tahun);
6. tahap perkembangan intelektual (antara umur 6/7 tahun -12/13 tahun),
masa perkembangan intelektual ini meliputi masa siap sekolah, dan masa
anak bersekolah (umur 7-12 tahun). Beberapa ciri pribadi anak masa kini
antara lain sebagai berikut:

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 27


a. kritis dan realistis;
b. banyak ingin tahu dan suka belajar;
c. ada perhatian terhadap hal-hal yang praktis dan konkret dalam
kehidupan sehari-hari;
d. mulai timbul minat terhadap bidang-bidang pelajaran tertentu;
e. sampai umur 11 tahun anak suka minta bantuan kepada orang dewasa
dalam menyelesaikan tugas belajar;
f. mendambakan angka raport yang tinggi tanpa memikirkan tingkat
prestasi belajarnya;
g. setelah umur 11 tahun, anak mulai ingin bekerja sendiri dalam
menyelesaikan tugas belajarnya;
h. anak suka berkelompok dan memilih teman sebaya dalam bermain
dan belajar;
i. masa Pueral (umur 11/12 tahun). Beberapa ciri pribadi anak masa
pueral antara lain mempunyai harga diri yang kuat, ingin berkuasa dan
menjadi juara, tingkah lakunya sering berorientasi kepada orang lain,
suka bersaing, suka bergaya tetapi penakut, dan suka memerankan
tokoh besar.
tahap perkembangan praremaja (umur 13-16 tahun), perbedaan sifat anak
perempuan dan sifat anak laki-laki adalah sebagai berikut. Sifat negatif
anak perempuan pada masa preadolesen antara lain: mudah gelisah dan
bingung, kurang suka bekerja, mudah jengkel dan marah, pemurung, kurang
bergembira, membatasi diri dari pergaulan umum, dan agresif terhadap
orang lain. Sifat-sifat negatif anak laki-laki pada masa preadolesen antara
lain mudah lelah, malas bergerak/bekerja, suka tidur dan bersantai-santai,
mempunyai rasa pesimis dan rendah diri, dan perasaan mudah berubah,
senang, sedih, yakin dan gelisah silih berganti.
tahap perkembangan remaja (antara umur 16-20 tahun). Dalam tahap ini
antara anak laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan yang mencolok dan
bahkan bertentangan. Beberapa sifat yang berbeda tersebut adalah aktif dan
suka memberi, suka memberi perlindungan, aktif meniru pribadi pujaannya,
tertarik kepada hal-hal yang bersifat

28
Psikologi Pendidikan
abstrak dan intelektual; dan berusaha menunjukkan diri mampu dan
bergengsi.
Anak remaja perempuan memiliki sifat-sifat pasif dan suka menerima,
suka mendapat perlindungan, pasif tetapi mengagumi pribadi pujaannya,
tertarik kepada hal-hal yang bersifat konkret dan emosional, dan berusaha
menuruti dan menyenangkan orang lain.
Tujuh Tipe Anak Remaja
1. Tipe intelektual. Mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab, dan
berkesadaran tinggi.
2. Tipe kalem. Mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab, dan
berkesadaran rendah.
3. Tipe perenung. Dapat dikendalikan, kurang bertanggung jawab, dan
berkesadaran tinggi.
4. Tipe pemuja. Sukar dikendalikan, bertanggung jawab, dan berkesadaran
rendah.
5. Tipe ragu-ragu. Dapat dikendalikan, kurang bertanggung jawab, dan
berkesadaran rendah.
6. Tipe sok bisa. Sukar dikendalikan, bertanggung jawab, dan berkesadaran
rendah.
7. Tipe perasa. Sukar dikendalikan.

4. Tugas Perkembangan
Karakteristik dominan dari periode anak yang baru belajar berjalan adalah
aktivitas. Anak yang baru belajar jalan (toddler) sangat sibuk bicara, bergerak,
dan berencana sepanjang waktu. Dorongan aktivitas yang berlimpah menjadi
suatu kebutuhan untuk self-assertion (pernyataan diri) dan mastery
(penguasaan).
Periode dari 2 sampai 4 tahun, anak-anak sadar akan individualitasnya dan
terdorong untuk membuktikan hal itu. Pada periode ini toddler harus belajar
memperhitungkan orang lain dalam penemuan diri mereka sendiri. Toddler
berubah dramatis dari umur 2 dan 4 dari anak egosentris yang tidak menyadari
ketergantungan pada orang lain menjadi pribadi yang sadar diri. Pada mulanya
mereka sangat bebas, tetapi pada akhir tahapan

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 29


umur, "kebebasan semu” diubah menjadi lebih realistis di mana mereka
tergantung pada orang lain dan mereka juga bebas dari orang lain Ringkasnya
toddlerhood adalah periode aktivitas dan penguasaan mengatur diri sendiri dan
berkembangnya kesadaran akan ketergantungan dan kebebasan.

a. Kontrol Diri
Kontrol diri berarti kemampuan anak untuk mengontrol impuls mereka,
dan perasaan anak bahwa mereka dapat mengendalikan kejadian atau peristiwa
di sekeliling mereka.
Toddler ingin memuaskan keinginannya sesaat. Tidak terpenuhinya
keinginan sesaat tersebut membuat mereka frustrasi dan marah, misalnya
mereka ingin dilayani pada waktu makan. Apabila keinginan mereka tidak
terpenuhi, membuat mereka marah. Luapan emosi anak toddler sulit dikontrol.
Cinta, kesedihan, dan ketakutan sewaktu-waktu menguasai anak. Selama
periode toddler; anak meningkatkan kemampuannya untuk mengendalikan
impuls mereka. Salah satu alasan berkurangnya frustrasi anak adalah karena
mereka menghargai masa depan. Toddlers berulang kali menemukan bahwa
apa yang mereka inginkan, meskipun tidak tersedia saat itu juga, biasanya
tersedia setelah itu.
Tugas perkembangan berikut pada tahap ini adalah bahasa dan fantasi.
Anak yang baru mulai berjalan memakai bahasa untuk menyatakan perasaan
mereka. Mereka belajar memakai bahasa untuk menyela tindakan impulsif.
Anak belajar memahami kata-kata yang menyenangkan yang diucapkan orang
tuanya sehingga mereka dapat mengurangi sakit dan penderitaan; misalnya,
perkataan "pahlawan tidak pernah menangis”.
Dalam fantasi, toddler mengontrol situasi yang jauh di luar kemampuan
dunia nyata mereka. Lama-kelamaan mereka menjadi tuan bukan lagi budak dari
kebutuhan emosi mereka. Pada periode awal toddlerhood, anak gampang
frustrasi, kurang sabar dan penuntut. Pada periode akhir, toddlerhood dapat
mengatur impuls mereka secara efektif J dengan memahami waktu, keterampilan
bahasa, dan peluang mengekspresikan fantasi. Toddlers memiliki perasaan dapat
mengendalikan peristiwa di sekeliling mereka. Anak berupaya berpartisipasi
untuk mengambil keputusan tentang waktu tidur, pakaian

30 Psikologi Pendidikan
dipakai, jenis makanan yang disukai dan aktivitas keluarga. Anak toddler
memiliki keyakinan diri bahwa apa yang dilakukan orang tua atau anggota
keluarga lain yang lebih besar dapat juga mereka kerjakan, dengan semboyan
anything you can do, I can do it better.
Apabila mereka melakukan sesuatu pekerjaan yang kompleks dan berhasil,
mereka mendapat keyakinan diri akan kemampuannya. Mereka merasa berharga
sebagai anggota keluarga lainnya. Akan tetapi, kadang- kadang pekerjaan itu
tidak dapat mereka lakukan dan menyebabkan mereka frustrasi serta tidak
berani. Jika orang tua mengatakan kepada anak untuk tidak mencoba, juga
membuat mereka frustrasi karena mereka beranggapan dapat melakukannya
dengan baik. Pemecahan yang terbaik adalah dengan membiarkan mereka
melakukannya, tetapi memberikan bantuan apabila perlu.

b. Perkembangan Bahasa
Antara umur satu setengah dan tiga tahun, anak belajar bahasa ibu. Pada
saat mereka 4 tahun, anak memiliki kosakata seribu kata dan mereka dapat
membuat kalimat yang sesuai dengan tata bahasa. Ada penelitian di bidang
psikolinguistik, yang mempelajari proses anak-anak menciptakan tata bahasa
sendiri dan kemudian mereka mengubahnya sehingga menuruti aturan tata
bahasa baku. Anak-anak tidak belajar untuk berbicara sesuai tata bahasa dengan
peniruan.
Pada awalnya, mereka berkata-kata dengan banyak hal yang tidak
dilakukan orang dewasa. Kedua anak-anak membuat kesalahan dalam kalimat
yang memberi simpul pada orang dewasa bahwa mereka berupaya mencapai
aturan tata bahasa. L.S Vygotsky memiliki teori tentang hubungan antara
bahasa dan pikiran. Fungsi penting bahasa bagi toddler adalah bersifat simbolis.
Toddlers kurang dalam hal kemampuan kognitif yang kompleks yang menuntut
arah kematangan konseptual. Meskipun toddlers dapat mengatakan kalimat yang
sesuai tata bahasa dan kosakatanya makin banyak, masih banyak yang belum
dapat mereka lakukan dengan bahasanya itu. Dia belum mampu memakai
instruksi verbal secara efektif untuk memandu perilakunya.

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia


31
c. Fantasi dan Permainan
Jean Piaget melukiskan umur 5 atau 6 tahun sebagai tahap preoperational
thought. Anak membutuhkan lima bentuk representasi yang mampu memani-
pulasi objek secara simbolis dari perilaku nyata, yaitu imitation in the absence
of the model, mental images, symbolic drawing, symbolic play, dan language.
Dalam tugas perkembangan terdapat pertentangan antara fantasi dan
permainan dengan aktivitas dan bahasa. Agar bahasa efektif, anak mesti
memakai kata-kata dan tata bahasa yang sama dengan yang dipakai anggota
keluarganya. Akan tetapi, dalam fantasi anak menciptakan karakter dan situasi
yang memiliki arti yang sangat pribadi. Permainan fantasi memainkan
perubahan dalam dua cara yang penting selama tahap toddlerhood. Pertama,
anak belajar memasukkan sejumlah aktivitas yang berbeda dalam rangkaian
permainan yang sama. Kedua, anak menciptakan karakter khas dan situasi yang
menjadi penyaluran untuk mengekspresikan perasaan di dalam dirinya.
Selama toddlerhood, permainan simbolis menjadi fokus sentral dari
perhatian si anak. Pada masa memasuki toddlerhood, anak menirukan aktivitas
orang tua pada saat mereka sendirian. Hal ini merupakan permulaan dari
perkembangan permainan simbolis. Misalnya pada saat dia bermain sebagai
petugas pemadam kebakaran, dia juga bertugas sebagai sopir mobil pemadam,
petugas selang air, sirene, bangunan yang terbakar dan orang-orang yang
menyelamatkan dan diselamatkan. Tema permainan berubah dari situasi biasa
kepada cerita kepahlawanan yang mereka lihat di televisi atau dalam buku
cerita. Si anak berperan sebagai makhluk yang memiliki kekuatan luar biasa.
Bentuk yang canggih dari permainan simbolis mencakup penciptaan teman
imajiner, berupa binatang, anak lain atau makhluk lain. Terdapat beberapa
fungsi teman imajiner bagi si anak. Pengganti orang, sebagai teman yang
dipercaya untuk mengekspresikan privasi anak. Teman imajiner juga berfungsi
sebagai kambing hitam apabila si anak membuat kesalahan. Dengan
perkembangan fantasi, si anak memperluas kesadarannya. Tidak lagi terbatas
pada apa yang nyata tetapi mulai berhubungan dengan apa yang mungkin dan
yang tidak mungkin. Fantasi bagi anak adalah untuk mencapai kontrol diri.

32 Psikologi Pendidikan
d. Pengembangan Daya Gerak
Tahap toddler (2-4 tahun) menggambarkan pentingnya daya gerak.
Sebenarnya, hanya tahun pertama dari periode itu yang disebut toddler, umur 3
tahun cara anak berjalan sudah berubah. Lari dan lompat merupakan bagian dari
daya gerak anak. Pada saat seperti ini anak perlu diajari gerak seperti berenang,
main ski, skating dan menari, karena anak memakai tubuhnya dalam posisi yang
berbeda dan belajar cepat. Pada tahap ini biasanya diberi sepeda roda tiga
(tricycle). Tricycle menjadi alat gerak sukacita, bahaya dan kebebasan yang
mendebarkan dan makna sosial dari transportasi mekanik.
Dengan demikian, ada empat tugas perkembangan dalam toddlerhood,
yaitu kontrol diri, perkembangan bahasa, fantasi, dan pengembangan daya
gerak. Tugas perkembangan berhubungan dengan kesadaran hubungan antara
diri sendiri (the self) dengan manusia dan objek lain dalam lingkungan. Jadi,
tugas perkembangan toddlerhood adalah meningkatkan kemampuan anak untuk
menata dan bersifat konsisten dengan dunia mereka. Dengan kontrol diri mereka
memiliki keyakinan untuk mengontrol impuls. Dengan bahasa, mereka
mempengaruhi orang lain untuk menjawab kebutuhan mereka dan memberikan
informasi tentang dunia. Dengan keterampilan gerak, cenderung meningkatkan
perasaan dan menguasai dalam diri mereka. Pada saat kontrol sulit dilakukan,
fantasi mereka memberi penguasaan semu (pseudo mastery). Keberhasilan
dalam tugas perkembangan ini memberikan perasaan kompetensi dan efektif
bagi si anak.

5. Krisis Psikososial
a. Otonomi terhadap Malu dan Ragu
Dalam tahap toddlerhood, si anak berupaya menjelajahi kebebasan sebagai
proses penemuan diri (self discovery). Anak memiliki ritual sendiri untuk
mengontrol dan menata lingkungan. Toddler yang sudah besar memiliki
semboyan ”saya dapat lakukan sendiri” (I can do it my self). Pada saat
melakukan sesuatu berhasil positif, tumbuh rasa otonomi dalam diri mereka.
Mereka membayangkan sebagai orang yang dapat mengelola situasi dengan
baik untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Pada tahap akhir dari
toddlerhood, anak sudah bisa bereksperimen dengan

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 33


otonomi, sebagai dasar yang kuat untuk keyakinan diri dan kesenangan menjadi
bebas. Toddlers tetap berkutat dengan aktivitas sampai mereka dapat
menguasainya.
Penegakan rasa otonomi selama periode toddlerhood menuntut tidak hanya
upaya anak, tetapi bantuan dan kesabaran ekstra dari orang tua. Karena dengan
mendorong anak pada tugas, orang tua berharap dapat meningkatkan rasa
kompetensi dalam diri si anak. Apabila gagal dan tiada dorongan bahkan terlalu
mengkritik, maka si anak mengembangkan rasa malu dan ragu diri. Perasaan
malu sangat tidak enak. Perasaan keyakinan diri dan merasa berharga diganti
dengan proses ragu secara konstan. Anak yang memiliki rasa ragu hanya bisa
terbiasa apabila risiko kegagalan sangat minimal.

b. Proses Inti (Peniruan)


Toddlers kelihatannya meniru semua yang dilihatnya, termasuk misalnya
posisi orang tua di kamar mandi. Kosakata mereka berkembang dari peniruan
kata-kata dari orang tua, televisi, dan buku cerita. Perilaku meniru adalah
kendaraan untuk belajar. Motivasi utama peniruan selama tahap toddlerhood
adalah dorongan untuk menguasai dan kompetensi. Misalnya dalam latihan
tersebut toddler merasa bahagia apabila telah memenuhi sesuatu yang dirasa
penting bagi orang tuanya, yaitu dapat mengetahui waktu, memberitahukan, dan
melakukan aktivitas buang hajat. Keberhasilan dalam hal tersebut
meningkatkan keyakinan diri si anak.

c. Sosialisasi Perasaan Marah


Tugas orang tua juga untuk menerima ekspresi amarah anak dan mengajar
mereka bagaimana mengontrol rasa amarah itu. Anak belajar tentang ekspresi
amarah melalui contoh orang tuanya. Kepada anak dikondisikan tentang
kewajaran untuk memiliki rasa marah, tetapi yang paling penting adalah belajar
untuk mengendalikan amarah itu.
Perkembangan tentang otonomi menuntut lingkungan untuk menerima
anak secara total, termasuk rasa marah mereka. Jadi, krisis psikososial dari
otonomi terhadap malu dan ragu muncul dan terpecahkan selama umur 2-4
tahun, di mana periode ini didominasi oleh kebutuhan anak untuk ekspresi diri
dan penguasaan. Keraguan diri merupakan hasil dari

34 Psikologi Pendidikan
pengalaman gagal dan ketidaklayakan. Mekanisme untuk mencapai rasa yang
kuat akan otonomi adalah pengembangan kompetensi berbagai keterampilan.
Peniruan menjadi alat utama untuk keterampilan belajar dalam tahap ini.
Contoh latihan buang hajat, kemandirian dan sosialisasi dari agresi memberikan
bukti ketegangan antara kebebasan pribadi dan kendala kultural. Dalam hal
tersebut- terdapat dua tema tentang investigasi riset yang memberikan kilasan
kepentingan dari lingkungan sosial, yaitu sebagai berikut. Pertama, peranan
komunikasi dalam proses sosialisasi. Hubungan antara bahasa dengan
pembentukan konsep, yang membantu anak untuk menentukan diri mereka dan
hubungan mereka dengan lingkungan sosial. Kedua, strategi yang berbeda-beda
dari disiplin orang tua yang mempengaruhi perkembangan psikologis dari anak.
Peranan komunikasi dalam proses sosialisasi menjadi penting. Fungsi
bahasa bagi toddler adalah pertama, bahasa lebih konkret, lebih spesifik, lebih
berdaya guna (powerful) bagi si anak daripada bagi orang dewasa. Kedua,
dampak komunikasi anak-orang tua atas kognisi anak. Cara orang tua memilih
interaksi dengan anak dalam lapangan kehidupan yang khusus merangsang
interaksi verbal yang cenderung mengubah interpretasi anak tentang peranan
sosial, teknik mereka belajar dan konseptualisasi tentang posisi mereka dalam
konstelasi dari kelompok keluarga.

d. Ragam Teknik Disiplin


Disiplin orang tua dapat dikategorikan dalam tiga dimensi sebagai berikut.
1 Kehangatan/permusuhan (warmth/hostility).
2. Batasan/keleluasaan (restrictivenessl/permisiveness).
3. Calm detachment/anxious emotional involvement.
Praktik disiplin terbagi dalam dua kategori sebagai berikut.
1. Disiplin unjuk kuasa (power assertive discipline):
a. hukuman fisik (physical punishment);
b. teriakan (shouting);
c. ancaman hukuman (threat of punishment).
2. Disiplin psikologis (psyschological discipline):

Bab 2 Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia 35


a. lepas kasih dan guilt (love-withdrawal and guilt);
b. bina kasih (inductions).

36 Psikologi Pendidikan
EMOSI, PERKEMBANGAN
SOSIAL DAN PEMBENTUKAN
KARAKTER

A. EMOSI 
i. Pengertian
Menurut L. Crow & A. Crow, emosi adalah pengalaman yang afektif yang
disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, di mana keadaan mental dan
fisiologi sedang dalam kondisi yang meluap-luap, juga dapat diperlihatkan
dengan tingkah laku yang jelas dan nyata2. Menurut Kaplan dan Saddock, emosi
adalah keadaan perasaan yang kompleks yang mengandung komponen
kejiwaan, badan, dan perilaku yang berkaitan dengan affect dan mood. Affect
merupakan ekspresi sebagai tampak oleh orang lain dan affect dapat bervariasi
sebagai respons terhadap perubahan emosi, sedangkan mood adalah suatu
perasaan yang meluas, meresap dan terus-menerus yang secara subjektif dialami
dan dikatakan oleh individu dan juga dilihat oleh orang lain. Menurut Goleman,
emosi adalah perasaan dan pikiran khasnya; suatu keadaan biologis dan
psikologis; suatu rentangan dari kecenderungan untuk bertindak. Menurut
kamus The American College Dictionary, emosi adalah suatu keadaan afektif
yang disadari di mana dialami perasaan seperti kegembiraan (joy), kesedihan,
takut, benci, dan cinta (dibedakan dari keadaan kognitif dan keinginan yang
disadari); dan juga perasaan seperti kegembiraan (Joy), kesedihan, takut, benci,
dan cinta.

2 L. Crow & A. Crow, Educational Psychology, terjemahan Abd. Rachman Abbor,


(Yogyakarta: Nur Cahaya, 1989), hlm. 98.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 37


2. Timbulnya Emosi
a. Rangsangan yang Menimbulkan Emosi
Emosi timbul dari rangsangan (stimulus), stimulus yang sama mungkin
dapat menimbulkan emosi yang berbeda-beda dan kadang-kadang malah
berlawanan. Adapun rangsangan dapat muncul dari dorongan, keinginan atau
minat yang terhalang, baik disebabkan oleh tidak atau kurangnya kemampuan
individu untuk memenuhinya atau menyenangkan. Apabila semua keinginan
dan minat tidak terhalang, dapat dikatakan bahwa secara emosional individu
tersebut dalam keadaan stabil.
Intensitas dan lamanya respons emosional sangat ditentukan oleh kondisi
fisik dan mental dari individu itu sendiri, juga faktor lain yang sangat
menentukan adalah stimulus itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa emosi akan
berlangsung terus selama stimulusnya ada dan yang menyertainya masih aktif.
Karena emosi mempengaruhi tingkah laku, tingkah lakunya akan terus
terpengaruh selama stimulusnya aktif, namun demikian emosi bukan satu-
satunya faktor yang menentukan tingkah laku.

b. Perubahan Fisik dan Fisiologis


Perubahan fisik dan fisiologis dapat dipengaruhi oleh rangsangan yang
menimbulkan emosi. Emosi ini akan menghasilkan berbagai perubahan yang
mendalam (visceral changes) dan akan mempengaruhi urat-urat kerangka di
dalam tubuhnya. Jenis perubahan secara fisik dapat dengan mudah kita amati
pada diri seseorang selama tingkah lakunya dipengaruhi emosi, misalnya dalam
keadaan marah, cemburu, bingung, dan lain-lain. Hal inilah yang biasanya
disebut kerangka individu. Adapun secara fisiologis perubahan yang terjadi
tidak tampak dari luar, biasanya dapat diketahui melalui pemeriksaan atau tes
diagnosis dari para ahli ilmu jiwa. Perubahan fisiologis pada saat emosi
umumnya meliputi fungsi pencernaan, aliran darah, pengurangan air liur (mulut
terasa kering), pengeluaran kelenjar endokrin, dan lain-lain.

38 Psikologi Pendidikan
3. Perkembangan Emosional Selama Pertumbuhan
a. Selama Masa Awal
Diketahui bahwa sifat perasaan emosi telah timbul selama masa bayi,
bahkan sebagian ahli berpendapat bahwa masa bayi di dalam kandungan pun
sudah dipengaruhi oleh emosi Akan tetapi, kita sendiri seringkali kurang
mengerti apakah tanda-tanda seperti menangis, tertawa, dan lain-lain pada masa
awal bayi disertai atau diikuti dengan intensitas perasaan atau tidak. Menurut
Bridges, emosi anak akan berkembang melalui pengalaman, sekalipun masih
dangkal dan berubah-ubah. Ketika emosi bayi diungkapkan dalam bentuk marah
dan takut dengan menangis atau gemetar.
Ketika bayi sudah berusia 8 bulan, ia mulai dapat memperlihatkan dengan
sangat berbeda antara rasa marah dan rasa takut. Selama pertumbuhan,
perubahan pada ekspresi emosi itu semakin lama akan semakin jelas dan
berbeda. Sebagai contoh, bayi akan menyerang benda- benda di sekitarnya
untuk mengekspresikan kemarahannya, lambat laun ia mampu memusatkan
ekspresi emosinya langsung kepada objek yang memang menimbulkan
kemarahannya.

b. Fase Selanjutnya
Perkembangan emosi pada masa pertumbuhan anak semakin lama semakin
halus dalam mengekspresikannya sampai masa remaja. Peralihan ekspresi emosi
yang tadinya kasar, karena terpengaruh latihan dan kontrol, berangsur-angsur
tingkah laku emosionalnya berubah. Misalkan anak yang tadinya menjerit-jerit
karena senang, pada saat remaja ia akan memperhalus ekspresinya. Sebagai
orang tua dan guru sebaiknya bisa menyadari bahwa ekspresi yang lebih lunak
ini tidak berarti emosinya tidak lagi memainkan peranan yang penting pada
kehidupan anak, karena sebenarnya ia masih membutuhkan stimulan yang
positif bagi perkembangan emosional selanjutnya. Selama anak bertambah
kekuatan fisik dan pengertiannya, ia akan merespons dengan cara yang berbeda-
beda terhadap segala sesuatunya, karena sudah terlebih dahulu diper-
timbangkannya.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 39


c. Perkembangan Akhir
Pada akhirnya dia akan mencapai kemampuan untuk menyesuaikan
tingkah lakunya sehubungan dengan apa yang terjadi pada dirinya. Semakin
dewasa, ia akan semakin dapat mengungkapkan dengan jelas emosinya, karena
emosinya menjadi semakin mudah diklasifikasikan seperti rasa takut, marah,
muak, dan benci, juga apresiasinya terhadap nilai, keinginan, cita-cita, minat
dan reaksinya terhadap orang, lembaga, tanggung jawab, sudut pandang, dan
gagasan orang lain.

2. Jenis Emosi Khas dan Cara Mengontrol


a. Takut
Menurut J.B. Watson melalui observasi yang dilakukannya, ia mengatakan
bahwa rasa takut seseorang adalah hasil dari conditioning. Beliau memberi
contoh seorang bayi yang baru lahir sebenarnya tidak takut dengan api, ular,
atau singa. Jenis stimulan yang mendatangkan rasa takut datang dari latihan
atau pengalaman sebelumnya. Menurut Watson faktor ketidakamananlah yang
memegang peranan penting untuk mendatangkan rasa takut. Apa yang
dikatakan rasa takut itu telah tampak pada masa bayi (5-6 bulan), selama
pertumbuhan, kemampuan mental anak itu akan berkembang, maka rasa
takutnya akan bertambah pula.
Hasil pertemuan Jersild dan Holmes yang dilaporkan oleh Kinsley dalam
studi tentang rasa takut anak-anak yang berumur 7 bulan, ternyata bahwa anak-
anak tersebut sudah dapat memperlihatkan respons takutnya terhadap hewan,
suara benda jatuh atau bahaya jatuh, rasa sakit atau orang-orang dan barang-
barang yang berhubungan dengan pengalaman yang menyakitkan, orang asing,
objek asing, dan situasi yang dirasakannya asing. Begitu anak merespons rasa
takut terhadap suatu keadaan, mungkin dia akan trauma dan selama masa
berikutnya responsnya yang sama akan terulang. Padahal mungkin pengalaman
kedua tidak menimbulkan masalah apa-apa.
Rasa takut yang mengerikan itu barangkali merupakan basil dari
imajinasinya. Jika kesusahan dan kegelisahan itu merupakan produk atau hasil
dari situasi yang diimajinasikan mengerikan, mungkin reaksi emosional yang
ditimbulkan akan menjadi lebih berbahaya akibatnya daripada stimuli

40 Psikologi Pendidikan
yang menimbulkan rasa takut yang sebenarnya. Membicarakan situasi yang
dapat menimbulkan rasa takut, banyak faktor yang setiap saat bisa menambah
perkembangan rasa takut dari pengalaman tertentu, seperti tabrakan, naik jet-
coaster, bisa juga yang disebabkan oleh ingatan terhadap tingkah laku yang
dahulu pernah dilakukan (tawuran). Perkembangan rasa takut yang lain sebagai
akibat dari pengajaran yang diterima dengan sengaja dari orang tua mereka,
seperti harus takut kepada guru di sekolah, polisi, hantu, dan sebagainya.
Rasa takut pada permulaan masa anak-anak itu berpengaruh kuat pada
perkembangan kepribadian individu. Akan tetapi, setelah anak tumbuh dewasa,
ia dapat menekan secara bertahap rasa takutnya, sehingga malah kadang-kadang
sampai merugikan perkembangan emosionalnya. Rasa takut juga bisa
disebabkan oleh mendengar pengalaman yang mengerikan dari orang lain. Nilai
rasa takut, juga dapat berguna sebagai tindakan preventif agar risiko atau
kerusakan dapat dihindari.
Hal positif ini dapat membuat seseorang berpikir kreatif untuk mencari
jalan lain agar memperoleh cara-cara yang lebih baik. Artinya, rasa takut dapat
digunakan oleh individu untuk membangun sesuatu yang konstruktif. Seseorang
dapat didorong untuk bergerak dan bertindak karena kemarahan, kebencian,
kecintaan, cemburu, dan lain-lain, namun yang lebih baik adalah bila tingkah
lakunya tetap berada dalam batas-batas yang layak karena akibat rasa takutnya.
Menurut analisis terakhir, rasa takut itu dapat berperan sebagai pembimbing ke
arah pencapaian hidup yang konservatif dan ke arah pencapaian kebijakan
sosial, asalkan keadaan emosionalnya dapat menjaga tingkah laku yang secara
rohaniah terarah.
Kontrol atas rasa takut, peniadaan rasa takut sampai ke tingkat yang tidak
diinginkan adalah mustahil. Akan tetapi, untuk membantu mengurangi sebanyak
mungkin rasa takut dari kehidupan anak adalah sangat bermanfaat, karena pada
situasi tertentu rasa takut harus dihadapi dan diatasi oleh setiap anak. Oleh
karena itu, usaha tersebut sangat bermanfaat yang akan membantu anak untuk
bersikap hati-hati, menghargai hukum, peraturan, takut ditabrak, takut akibat
yang ditimbulkan oleh api, dan lain-lain.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 41


Pengetahuan merupakan penghalang atas rasa takut yang hebat, karena
salah satu unsur utama yang membuat situasi yang menimbulkan rasa takut
adalah tidak dikenal (unknown). Kalau ketidakpastian ini menyertai terus dan
tetap melekat, ada kemungkinan rasa takutnya akan tetap ada. Oleh sebab itu,
anak-anak muda harus dibantu untuk mengembangkan rasa dihargainya,
menserasikan pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya yang nyata.

b. Marah
Marah adalah jenis emosi lain yang dialami oleh anak-anak dan juga orang
dewasa. Marah itu berbeda-beda menurut bentuk ekspresinya pada setiap
individu dan juga dari faktor umur. Pada anak-anak, ledakan kemarahan
dipergunakan untuk memperoleh tujuan yang diinginkan. Inilah penemuan
mereka yang pertama atas penggunaan kemarahan sebagai alat untuk
pemenuhan terhadap keinginannya. Kalau anak tidak diberitahu atau dibantu
dalam mengontrol emosinya, mungkin dia akan tetap meneruskan teknik
tersebut selama hidupnya. Bahkan kadang ia akan menggunakan teknik yang
lebih negatif seperti menyerang. Bentuk tingkah laku emosional inilah bila
tidak diperbaiki sejak awal, nantinya akan sulit diperbaiki. Sewaktu anak
belajar meniru dan menggunakan bahasa, ia mulai dapat mengekspresikan
kemarahannya dengan cara-cara yang semakin lama semakin kurang bersifat
fisik. Sesudah remaja bila marah ia akan mengekspresikannya melalui
penggunaan bahasa seperti melalui sindiran, menertawakan, dan lain-lain. Akan
tetapi, ia juga dapat mengekspresikan kemarahannya dengan membolos dari
sekolah dan menyalurkannya dalam bentuk kenakalan remaja.
Nilai marah adalah beberapa nilai atau manfaat yang diberikan oleh rasa
marah, karena kemarahan dapat digunakan sebagai serangan balik dalam
usahanya mengatasi rasa takut. Dengan menggunakan kemarahannya seseorang
dapat dikejutkan dan dibangkitkan dari kelesuan atau kemalasannya.
Kontrol atas kemarahannya dilakukan dengan cara mengalihkan stimulus
sumber kemarahan. Jika Anda ingin mengatasi kemarahan yang terjadi pada diri
Anda atau ingin membantu orang lain untuk mengatasinya, yang penting harus
dapat mengalihkan perhatian yang diarahkan kepada

42 Psikologi Pendidikan
stimulus yang sangat berbeda dari stimulus yang akan menimbulkan emosi.
Orang tua dan guru, sebenarnya mempunyai peran dalam memberi kesempatan
setiap harinya untuk menerapkan prinsip ini, dengan menghindari perintah yang
keras atau kata-kata penghinaan di muka anak yang akan membangkitkan
kemarahan, namun akan lebih bermanfaat dengan kritik yang konstruktif.
Begitu pula yang ingin meredakan kemarahan orang lain (anak atau orang
dewasa), sebaiknya ia memahami latar belakang hal-hal yang menimbulkan
kemarahannya. Biasanya akan lebih mudah menghadapi kemarahan individu
jika motif atau alasan yang mendasari tingkah lakunya diketahui, karena orang
bisa saja mempunyai alasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan atas
kemarahannya.
Oleh sebab itu, kalau sedang menghadapi anak-anak (bahkan orang yang
lebih tua), setelah diketahui latar belakangnya, akan lebih mudah untuk
mencegah atau memperkecil sebab-sebab yang menimbulkan kemarahan.
Biasanya cara yang efektif adalah dengan memberi penghargaan atau pujian
dalam membantu anak untuk mengatasi kemarahannya. Alasan atau
pertimbangan seringkali malah menambah kemarahannya, sebaliknya ucapan
yang menyenangkan meskipun tidak berhubungan dengan pokok masalah,
mungkin akan mengubah individu dari keadaan marah ke arah sikap yang lebih
positif.

c. Afeksi
Para psikolog menganjurkan agar anak sebaiknya diperlakukan secara
objektif dan jangan membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain.
Para ahli di bidang anak menyarankan memberikan perhatian dengan penuh
kasih sayang terhadap bayi, karena bila bayi menerima kasih sayang (afeksi)
yang mumi dari orang lain, bisa menjadikan salah satu faktor penting dalam
perkembangan emosi anak untuk selanjutnya. Bayi memang tidak berdaya,
karena itu memerlukan perawatan, kebaikan atau kemurahan hati dari orang
lain yang diterimanya. Ternyata selama perkembangan menuju dewasa, rasa
kasih sayang dari orang lain untuk mendatangkan rasa aman tetap dibutuhkan.
Dengan demikian, sadarlah dia bahwa kehadirannya memang disukai atau
diinginkan. Anak ini hendaknya dari kecil sudah dilatih untuk merasa peduli
terhadap kebutuhan dan kesejahteraan orang lain. Sejak mulai kanak-kanak, dia
sudah harus

Bab 3 Emosi, .Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 43


didorong untuk membentuk kebiasaan melakukan tindakan-tindakan yang
menyenangkan hatinya serta menimbulkan kesenangan kepada orang lain,
khususnya saudara kandung dan saudara dekatnya. Di sinilah peran orang tua
sangat dibutuhkan untuk bersikap adil dan objektif dalam memberikan perilaku
kepada anak-anaknya. Demikian juga peranan para guru hendaknya tidak
menunjukkan sikap pilih kasih terhadap anak didiknya.

d. Simpati
Simpati adalah suatu ekspresi emosional yang dipergunakan individu dalam
usahanya menempatkan dirinya pada tempat dan pengalaman orang lain di mana
perasaan terakhirnya mungkin berupa kesenangan atau kesusahan.
Kemampuan menyatakan simpati ini tidak datang secara alamiah, tetapi
memerlukan proses latihan yang lama dalam kesadaran sosial. Biasanya anak
yang lebih tua atau dewasa lebih dapat menunjukkan perhatiannya dan simpatinya
pada saat dewasa. Kata-kata yang diucapkan ataupun yang ditulis menjadi kurang
penting artinya bila dibandingkan dengan sikap dan tingkah laku yang
ditunjukkan orang tua itu yang dengan tulus dan mumi menyatakan rasa
simpatinya. Semakin sama pengalaman seorang simpatisan terhadap orang yang
disimpatikan, maka akan semakin mudah simpatisan memberikan ekspresi
simpatinya dengan perasaan yang lebih jelas.
Para peneliti menemukan detail psikologi tentang bagaimana emosi
mempersiapkan tubuh untuk tiap jenis reaksi tertentu seperti hal-hal berikut.
1) Anger. Rasa marah, ditandai dengan detak jantung meningkat, hormon
adrenalin meningkat dan mengalirkan energi untuk memukul, mengumpat,
dan lain-lain.
2) Fear. Rasa takut, ditandai dengan tubuh terasa membeku, reaksi' waspada,
wajah pucat, dan darah terasa mengalir ke otot rangka besar, misalnya kaki
untuk dapat lari atau mata terasa awas untuk mengamati kondisi sekitarnya.
3) Happiness. Kebahagiaan, ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas di
pusat otak yang menghamhat perasaan negatif dan

44 Psikologi Pendidikan
menenangkan perasaan yang menimbulkan kerisauan.
4) Love. Rasa cinta, adalah perasaan kasih sayang serta pola simpatik yang
menunjuk pada respons relaksasi, yaitu sekumpulan reaksi pada seluruh
tubuh yang membangkitkan keadaan yang menenangkan serta rasa puas
untuk mempermudah kerja sama.
5) Surprise. Terkejut, ditandai dengan naiknya alis pada mata individu. Hal ini
merupakan reaksi untuk suatu kemungkinan menerima lebih banyak
informasi atau mencoba menyelami apa yang sedang terjadi untuk
merancang tindakan terbaik.
6) Disgust. Rasa jijik, menunjuk pada sikap hidung mengkerut (menutupnya)
atau ungkapan lain wajah rasa jijik, akibat rangsangan bau atau rasa
menyengat.
7) Sadness. Rasa sedih, ditandai dengan menurunnya energi ataupun semangat
hidup untuk melakukan kegiatan sehari-hari karena menyesuaikan diri akibat
adanya kehilangan yang menyedihkan atau kekecewaan besar.

5. Fungsi Emosi dalam Kehidupan


a. Pengaruh Emosi pada Tingkah Laku
Pengaruh rasa takut dan marah bisa menyebabkan hati dan jantung individu
berdebar-debar, mulut terasa kering, tekanan darah dan kerja susunan
pencernaannya bisa berubah-ubah selama rangsangan emosional. Keadaan emosi
yang menyenangkan akan membantu pencernaan dan sebaliknya akan
mengganggu pencernaan. Gangguan emosional juga bisa mengakibatkan
kesulitan berbicara. Oleh karena itu, ketegangan emosional yang berkepanjangan
bisa menyebabkan orang menjadi gagap.
Sikap takut-takut atau agresif juga bisa diakibatkan oleh ketegangan
emosional atau frustrasi. Sebagai contoh, bila seorang murid tidak menyukai
seorang guru, bukan karena pribadinya, tetapi mungkin karena ia telah mengalami
hal yang tidak mengenakkan pada saat di dalam kelas, misalkan menerima
penghinaan dari guru. Hal ini bisa mengakibatkan ia bolos, dan mungkin akan
diikuti oleh tindakan yang lebih drastis, yaitu melarikan diri dari segalanya baik
dari guru, orang tua, dan orang lain.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 45


Pengalaman keagamaan di samping bersifat emosional juga intelektual,
karena selain ketenangan dan perdamaian batin yang akan diperoleh, juga dari
sini dapat diperoleh pandangan hidup. Kesukaran dalam mengatasi emosional dan
frustrasi akan mengganggu hasil belajar. Faktor-faktor yang menyangkut afektif
pada pengalaman individu akan mempengaruhi hasil belajarnya.
Seorang anak barulah dapat belajar semakin efektif bila didorong
sebagaimana mestinya. Begitu hasratnya muncul karena kegembiraan atau
kepuasan dari hasil prestasi yang dialami, ia akan terus termotivasi dengan
sendirinya. Hampir semua situasi dapat menyebabkan ketegangan emosional
terutama jika individu tidak mengenal situasi dan tidak tahu bagaimana cara
meresponsnya. Mungkin ia akan mengalami konflik minat atau keinginan
sehingga menimbulkan kesukaran dalam mengontrol emosi. Bagaimanapun kita
ingin menghadapi tekanan emosional secara efektif, kita harus mengetahui
terlebih dahulu penyebabnya, agar dapat dihilangkan atau disesuaikan. Pada
umumnya guru di TK mengetahui bahwa pada saat hari pertama dan kedua masuk
sekolah anak-anak akan selalu gelisah karena dihadapkan pada situasi yang baru,
sehingga ia harus berusaha untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan
sekitarnya yang sangat berbeda.
Di sinilah peranan para guru untuk membantu para siswanya. Kondisi
demikian pun akan tetap melekat pada kebanyakan pemuda, jika mereka tahu
akan dipelonco pada saat memasuki perguruan tinggi. Maka mereka sebelum
kuliah diberikan orientasi tentang situasi yang akan dihadapi. Biasanya
keberhasilan akan menambah kegairahan hidup dan akan memberikan stimulasi
emosional ke arah prestasi selanjutnya. Sebaliknya kegagalan akan mematahkan
semangat dan gairah. Kegagalan yang berkelanjutan di sekolah merupakan
penyebab utama terhadap gangguan emosional di kalangan pemuda. Remaja yang
melarikan diri dari rumah biasanya mereka yang gagal atau tidak mampu dalam
memenuhi harapan dari orang tuanya. Hal lain adalah sosialisasi, bila ia tidak
diterima oleh lingkungan di mana ia berada, maka gangguan emosional akan
merangsang terus di dalam dirinya.
Tekanan emosional juga seringkali disebabkan oleh apa yang dikerjakan
tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan minatnya.

46 Psikologi Pendidikan
Ketegangan emosional yang terus-menerus muncul dalam menghadapi
pekerjaan yang tidak cocok dengan minatnya yang sudah sangat lazim terjadi di
masyarakat, akan menimbulkan konflik emosional dalam diri individu tersebut.

b. Kematangan Emosional
Sikap adalah faktor penentu untuk tingkah laku. Sikap merupakan
kecenderungan untuk bertindak dengan cara-cara yang sangat khas pada saat
menerima stimulasi tertentu.
Sikap adalah keadaan di mana selalu ada kesiapan untuk bertindak. Sikap
merupakan hasil akumulasi dari pengalaman yang mempengaruhi kehidupan
dalam kegiatan langsung. Dengan demikian, sikap merupakan pengaruh dinamis
yang membentuk pola tingkah laku individu. Misalkan, anak yang merasa aman
tinggal di rumah yang diberikan kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya,
dan anak yang dilindungi dari ketegangan emosional yang muncul pada dirinya,
mungkin anak tersebut diharapkan dapat menyesuaikan sikapnya menuju ke
perkembangan selanjutnya dengan lebih baik.
Sudah sering kita mendengar ada orang dewasa yang bertindak kekanak-
kanakan. Hal ini dapat berarti individu itu tidak dapat menyesuaikan tingkah
laku emosionalnya dengan tingkat kematangannya. Ketidakmatangan emosional
dapat ditunjukkan melalui pola-pola respons yang beraneka ragam, yaitu
dengan cara menarik perhatian, ucapan yang dibuat-buat, penampilan yang
aneh, rasionalisasi (memberikan alasan yang tampaknya bagus terhadap tingkah
lakunya yang tolol dan yang tidak diinginkan oleh orang lain), proyeksi
(melemparkan kesalahan kepada orang lain atas kekurangan dan kelemahan
sendiri), serta mimpi di siang hari bolong (menolak kenyataan).
Reaksi pemuasan seseorang dalam bentuk lain meliputi tingkah laku
marah, identifikasi diri terhadap seorang pahlawan atau tokoh, mengeluarkan
kecaman yang tidak layak kepada orang lain, dan memperlihatkan rasa
cemburu.
Pada umumnya tingkah laku yang dimiliki oleh orang-orang jenis ini tidak
konsisten. Individu yang sudah dapat mengatasi tingkah laku

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 47


emosional di atas, biasanya adalah pria atau wanita yang sudah dapat
menyesuaikan diri dengan baik, dan oleh masyarakat biasanya dianggap sudah
kompeten. Umumnya orang jenis ini pada siang hari waktu mereka sudah diisi
dengan jenis kegiatan yang konstruktif, dan pada malam hari waktu mereka
diisi dengan istirahat yang cukup. Dengan kegiatan yang teratur seperti ini,
diharapkan kondisi emosionalnya akan menjadi lebih mantap. Elizabeth B.
Hurlock memberi saran dalam mengatasi emosi, yaitu dengan cara
menyibukkan diri dengan bermain atau bekerja dan pemahaman bahwa
kesibukan dapat menyehatkan fisik dan emosi,3 mengembangkan rasa humor,
sekalipun menertawakan diri sendiri, dan menangis untuk membantu
pelampiasan emosi.

B. PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KARAKTER 
1. Pengertian
Membicarakan pertumbuhan dan perkembangan sosial tidak dapat lepas
dari perkembangan lainnya seperti fisik, mental, dan emosi. Hubungan di
antara ketiga faktor ini sangat erat kaitannya, sehingga salah satu faktor itu
sudah dapat menjadi dasar untuk menghasilkan perkembangan sosial individu
itu sendiri, misalnya keadaan fisik dan fisiologis, taraf kesiapan mental, serta
taraf kematangan emosional, karena faktor inilah yang akan mempengaruhi dan
dipengaruhi orang lain, sehingga akan menentukan cepat lambatnya
perkembangan di setiap fase. Power mendefinisikan perkembangan sosial dan
karakter sebagai berikut.
a. Perkembangan sosial didefinisikan sebagai kemajuan yang progresif
melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas
warisan sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes. Hal itu
disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan
warisan sosial itu.4
b. Karakter dapat didefinisikan sebagai kecenderungan tingkah laku yang
konsisten secara lahiriah dan batiniah. Karakter adalah hasil

3 Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, terjemahan Agus Dharma, (Jakarta:


Erlangga, 1977), hlm. 235.
4 L. Crow & A. Crow, op. cit., hlm. 124.

48 Psikologi Pendidikan
kegiatan yang sangat mendalam dan kekal yang nantinya akan membawa ke
arah pertumbuhan sosial.5
c. Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan
seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi
dengan unsur sosialisasi di masyarakat. Hal ini akan banyak dipengaruhi
oleh sifat pribadi setiap individu, yaitu sifat introvert atau ekstrovert.
d. Abu Ahmadi, berpendapat bahwa ada sebagian psikolog yang ber-
argumentasi tentang perkembangan sosial yang telah dimulai sejak
manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau
anak tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial
antara anak dan lingkungannya.
e. Menurut Singgih D. Gunarsah, perkembangan sosial merupakan kegiatan
manusia sejak lahir, dewasa, sampai akhir hidupnya akan terus melakukan
penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya yang menyangkut norma-
norma dan sosial budaya masyarakatnya.
f. Menurut Muhibinsyah, dikutip dari Bruno, perkembangan sosial
merupakan proses pembentukan sosial (social self), yakni pribadi dalam
keluarga, budaya, bangsa, dan negara.
Jadi, dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan
perhatiannya kepada pertumbuhan yang bersifat progresif. Seorang anak atau
individu yang lebih besar tidak bersifat statis dalam pergaulannya, karena ia
dirangsang oleh lingkungan sosial, adat istiadat, kebiasaan- kebiasaan kelompok
di mana ia sebagai salah satu anggota kelompoknya, dan minat serta
keinginannya. Tingkah laku batiniah dan lahiriah akan berubah seiring dengan
perubahan lingkungannya. Demikian juga tidak seorang pun yang bersikap pasif
dalam menerima pengaruh dari pergaulannya. Kesadaran dan karakter sosial
merupakan hasil pertumbuhan dari kegiatan individu yang konsisten dengan
dasar dan taraf dari keseluruhan pola dan arah pertumbuhannya, sehingga
perkembangan itu akan berjalan menurut situasi lingkungan untuk mencapai
kedewasaan.

5 Ibid., hlm. 124.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 49


1. Faktor yang Diwariskan
Pada tiap fase perkembangan manusia memang relatif sulit untuk
membedakan secara tegas antara yang tidak dipelajari dan yang dipelajari.
Karena dalam masa konsepsi-pun seluruh kehidupan individu itu sudah tinggal
dalam suatu lingkungan, sehingga kemampuan yang membuat kematangan
sudah diarahkan oleh kekuatan dan kondisi yang khas. Setiap pertumbuhan di
mana saja sudah dipelajari atau dikondisikan dan tidak dapat dihindari bahwa
memang inilah yang merupakan faktor pembiasaan dan persiapan yang sangat
kuat pengaruhnya di kemudian hari.

2. Bidang Tingkah Laku Sosial


Sebagian terbesar bentuk tingkah laku dan dorongan yang melekat itu
kebanyakan mempunyai kaitan sosialnya. Misalkan kita makan 3 kali sehari
untuk memenuhi kebutuhan fisik yang paling dasar, ini merupakan kebiasaan
makan dari lingkungan. Unsur spesifik dalam berbagai situasi sewaktu
memenuhi rasa lapar itu bisa memberikan dampak psikologis terhadap selera
kita. Misalkan pada saat duduk di restoran dalam keadaan lapar, meja restoran
yang kotor sudah dapat mengurangi selera makan.
Karena anak dilahirkan dalam kultural yang khusus, ia akan
mengembangkan pola tingkah laku sosialnya sesuai dengan adat istiadat dari
kelompok kebudayaan di mana ia dibesarkan sampai menuju ke kematangan
sosial.

3. Individu versus Sosial


Istilah individu dan sosial seringkali dipergunakan untuk menyatakan
bahwa pembiasaan individualistik dan perkembangan sosial mencerminkan dua
pola pertumbuhan yang berbeda dan berlawanan. Sebaliknya, pertumbuhan
dalam suatu bidang akan mendorong pada bidang yang lain, misalnya
membangun rasa harga diri. Hal ini merupakan rangkaian kemajuan terhadap
nilai-nilai sosial yang diakui untuk ikut serta dalam kegiatan sosial yang
diinginkan. Bukan saja individu itu belajar untuk memperoleh kepuasan
dirinya, tetapi juga sambil meningkatkan kemampuan untuk mengelola
urusannya sendiri. Dengan demikian, semakin konsisten pola tingkah laku yang
berkenaan bagi kesejahteraan

50 Psikologi Pendidikan
nya sendiri maupun terhadap orang lain. Hal inilah yang akhirnya akan
membentuk karakternya.
Kalau diteliti perkembangan sosial seorang anak sejak lahir, kita akan
mengetahui bahwa ia sebenarnya akan menempatkan dirinya sebagai seorang
individu di kalangan individu lainnya-seperti halnya dia pun dapat menentang
dan juga dapat bekerja sama, dapat juga patuh atau tidak. Dalam berhubungan
dengan keluarga, sahabat, kesetiaannya terhadap kelompok, dan sumbangannya
terhadap pola kebudayaan pada zamannya, hal ini merupakan benih-benih
penyesuaian sosial dan pembentukan karakter yang terencana yang akhirnya
akan tumbuh secara berkesinambungan. Apabila dibimbing dengan layak, akan
menciptakan manusia yang bermanfaat.
Bentuk kelompok telah diakui mempunyai nilai bagi setiap orang, karena
di dalamnya ada interaksi antara individu dalam kelompok. Stimulan sosial
akan mempengaruhi individu selama dia belum mampu untuk memilih sendiri
lingkungan sosialnya. Memang benar bahwa dalam batas tertentu, ia dapat
menolak atau menerima pengaruh tersebut. Meskipun demikian, si anak barulah
merasa tidak senang terhadap kelompok ini pada saat ia diisolasi. Oleh sebab
itu, awalnya dia akan belajar menyesuaikan tingkah lakunya kepada para
anggota kelompoknya sendiri, baru kemudian kepada para anggota kelompok
yang lain.
Selanjutnya, arah perkembangan sosial anak sangat banyak tergantung
kepada reaksi orang lain terhadap usahanya, baik yang disengaja maupun tidak
disengaja dalam menghasilkan salah satu bentuk hubungan sosial antara dirinya
dengan orang lain. Teori latihan anak yang klasik menekankan perhatiannya
atas kenyataan bahwa anak cukup dilihat saja, bukan untuk didengar. Akan
tetapi, pandangan yang lebih baru menekankan agar memberikan lebih banyak
kesempatan bagi anak untuk menyatakan dirinya. Kita tidak mempersoalkan
kedua pandangan di atas. Yang sangat penting adalah bimbingan orang tua
terhadap perkembangan sosial anak. Arah bimbingan inilah yang nantinya dapat
membentuk anak menjadi sosiosentris atau egosentris dalam sikap atau tingkah
lakunya.

4. Perkembangan Kesadaran Sosial


Tidak ada satu pun tingkatan atau batas dalam perkembangan anak

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 51


yang dapat menjadi jaminan bahwa dia telah menyadari dunia sekelilingnya dan
dunianya sendiri sebagai bagian dari dunianya. Barulah mungkin diketahui
kalau kesadaran ini mulai diarahkan terutama pada objek dan orang yang ada di
sekitarnya. Komunikasi merupakan alat untuk menjadikan lingkungannya
menjadi lebih luas, kemudian akan menjadi arah bagi dirinya dalam memasuki
dunia sekitarnya.
Anak yang mula-mula kurang terlatih dan membentuk proyeksi terhadap
dirinya sebagai individu yang tadinya kurang terkontrol dalam memasuki alam
manusia yang berfungsi aktif akhirnya akan menjadi lebih terkontrol dalam hal:
(1) penggunaan kata-kata yang lebih ramah dan bersahabat, (2) tingkah laku
sosialnya akan lebih dapat dikendalikan sesuai aturan yang berlaku, (3) adanya
penghargaan terhadap orang lain, dan (4) tanggung jawab sebagai anggota dari
suatu kelompok dan masyarakat.
Dengan penguasaan teknik komunikasi, anak tersebut dimungkinkan untuk
menyebarluaskan pengaruhnya sendiri sebagai individu. Kesadaran sosial baru
benar-benar terjadi kalau individu yang sedang berkembang telah memiliki
kemampuan untuk mengenal maksud atau makna tingkah laku sosial yang
sempurna, kalau peraturan dan undang-undang yang mengatur individu itu
bermakna baginya, bukan saja sebagai peraturan yang harus dipatuhi, tetapi
juga sebagai ekspresi dari persetujuan umum. Misalkan, dia menghargai nilai-
nilai perintah yang baik serta hubungan keluarga yang dirasakan ada manfaat,
maka sekurang-kurangnya ada beberapa kasus pokok yang dapat menimbulkan
masalah sosial yang penting terhadap dirinya.

5. Perkembangan Sosial (Bayi dan Kanak-Kanak Pertama)


Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu, pertumbuhan selama masa
bayi yang baru lahir sebenarnya sudah hampir sepenuhnya berhubungan dengan
pemenuhan keinginan jasmaniahnya. Akan tetapi juga dengan cepat sekali dia
mulai merespons terhadap tingkah lakunya sendiri sebagai pemenuhan
keinginannya. Walaupun cara merespons sederhana, namun sudah memberikan
tanda tentang permulaan adanya kesadaran terhadap barang atau objek yang ada
di sekitarnya. Selanjutnya akan dijelaskan melalui tabel berikut.

52 Psikologi Pendidikan
Tabel 3.1 Respons Bayi terhadap Orang Dewasa

No
. Aktivitas Usia (Bulan)
1 -2
1. Membalas pandangan orang dewasa sepintas, kadang-kadang
dengan senyuman
2. Merasa tenang apabila dibelai

3. Menangis bila orang dewasa yang menemaninya pergi 2-3


4.
Tampak tidak senang bila orang dewasa yang mengajaknya
bergurau pergi meninggalkannya
3-4
5. Menjadi tenang kembali kalau dibelai
6. Tampak tidak senang bila dipandang oleh orang asing
7. Meminta perhatian dengan celoteh

8. Menggapai-gapaikan tangannya ke arah orang dewasa yang


ada di sekitarnya 7-8
9. Berusaha menarik perhatian dengan gerakan 8-9
10
.
Menarik pakaian orang dewasa yang berada di dekatnya
9-10
11
. Menirukan gerakan orang dewasa dengan barang mainan
12
Menyusun atau mengatur aktivitas permainan 10-11
.

a. Pertumbuhan Selama Prasekolah


Anak secara berangsur-angsur sudah dapat menunjukkan ciri khas dalam
berinteraksi dengan orang lain atau objek lain (pengaruh lingkungan). Dalam
masa ini kesadaran sosial berkembang dengan lamban. Anak bersikap peka
terhadap sikap orang lain terhadap dirinya. Dia akan merespons kepada orang
yang menaruh perhatian dan memberi pujian kepada dirinya. Akan tetapi,
tingkah laku tersebut timbul untuk kepentingannya sendiri, bukan karena ia
suka kepada pribadi yang memberikan perhatian atau pujian, karena di masa ini
ia tinggal dalam alamnya yang sempit di mana pengalaman dan pemahaman
masih sederhana. Inilah masa kehidupan anak yang penting, kebiasaan
merespons sosial yang terjadi selama tahun pertama ini yang membuat pola
tingkah lakunya melawan atau menolak yang diinginkannya pada masa
berikutnya.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 53


a. Pertumbuhan Selama Taman Kanak-Kanak
Pada saat ini anak ternyata memiliki kemampuan untuk memilih kawan
bermainnya dan ia sudah dapat menyesuaikan tingkah lakunya bila bermain
dengan teman yang berbeda jenis kelaminnya. Akan tetapi, biasanya mereka
mencari teman bermain dengan jenis kelamin yang sama. Alasan mereka
berteman adalah karena memiliki kesamaan dalam hal minat, kegiatan bermain,
dan tingkat yang sama dalam perkembangan mentalnya. Juga biasanya pada
saat pulang ke rumah, ia akan menceritakan semua pengalaman yang terjadi di
sekolah kepada orang tuanya. Di sinilah pentingnya peranan orang tua untuk
membiasakan diri memberi perhatian dengan penuh kasih sayang dalam
menanggapi cerita anak-anaknya, agar si anak di kemudian hari dalam
menghadapi masalah tidak ragu-ragu untuk mengungkapkan kepada anggota
keluarganya. Juga peranan guru sangat penting, karena ia sebagai pengganti
orang tua, maka pada saat Taman Kanak-Kanak ia harus menunjukkan kasih
sayang dan perhatian kepada para muridnya.

b. Pertumbuhan pada Masa Sekolah Dasar


Permulaan pendidikan formal bukan hanya menambah kesempatan untuk
meningkatkan perkembangan sosialnya, tetapi juga akan menimbulkan
kemampuan untuk menyesuaikan diri, sehingga dapat mendorong untuk
bertingkah laku sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat. Salah satu
jalan pemecahannya terletak kepada bimbingan guru yang terampil dan yang
simpatik.
Anak yang berumur antara 6-12 tahun biasanya memperlihatkan
penyesuaian diri yang luar biasa terhadap lingkungan sosialnya yang selalu
berubah. Pada umur 6 tahun anak tersebut mengalami kebingungan karena taraf
kesadaran sosial dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan pola
sosial yang diterima di sekolah berbeda dengan pengalaman yang diterima
sebelumnya seperti tingkat perkembangan fisiknya, tingkat ketajaman mental,
dan tipenya.
Apa pun pola perkembangan yang terjadi, pada saat ia memasuki SD kelas
1, ia sudah diliputi oleh banyak masalah yang berkaitan dengan perkembangan
sosialnya. Kemajuan diperoleh melalui SD. Selama tahun- tahun pertama,
biasanya mereka membentuk kelompok 4-5 orang,

54 Psikologi Pendidikan
meskipun sering muncul perbedaan pendapat dan pertengkaran, tetapi ia akan
memberikan kesetiaannya kepada kelompoknya bila ada gangguan dari
kelompok lain. Pada saat anak-anak menginjak kelas pertengahan, ukuran
anggota kelompoknya akan bertambah, yaitu kira-kira 6-8 orang, sudah mulai
ada pemisahan jenis kelamin, anak laki-laki biasanya digerakkan oleh minat dan
hobi yang sama seperti olahraga, petualangan, dan lain-lain, sedangkan anak
perempuan cenderung lebih berminat dengan urusan rumah tangga. Sejak umur
11-14 tahun, kelompoknya akan semakin meluas dan relatif terorganisasi. Pada
masa inilah ada istilah gang yang dibentuk dalam kelompok dan yang masing-
masing diberi nama sandi, ada lencana kelompok, peraturan anggota, tempat
bertemu tertentu, pimpinan yang diakui, dan tujuan yang spesifik atau kegiatan
sosial yang bercorak kelompok sosial remaja. Dengan demikian, rasa kesatuan
kelompoknya semakin kuat. Anak-anak ini merasa bebas bila berada di dalam
kelompoknya juga ia tunduk dengan pimpinan kelompok tersebut, sehingga ia
akan menyesuaikan tingkah lakunya. Formasi dari kelompok yang serupa inilah
yang akan menandai minat di kemudian hari pada pembentukan persaudaraan di
sekolah menengah dan perguruan tinggi, perkumpulan kemasyarakatan,
organisasi politik, dan masyarakat atau sosial orang dewasa.
Sebaliknya bagi anak yang terisolasi akan bisa menimbulkan kesulitan
bagi dirinya dalam mengikuti kegiatan anak yang normal, karena ia bersifat
peka. Anak tunggal mungkin akan memperlihatkan hal seperti ini. Biasanya
anak seperti ini memperoleh peraturan yang ketat di rumah dan orang tua
dengan keras membentuk tingkah laku anak. Apabila bertemu kasus seperti ini,
guru di sekolah dapat memberi bimbingan melalui konseling.

7. Pengalaman Sosial Remaja


a. Penahapan Proses Sosialisasi
Masa remaja disebut juga masa adolesensi yang berarti tumbuh ke arah
dewasa. Masa remaja itu merupakan masa transisi, baik dari sudut biologis,
psikologis, sosial, maupun ekonomis. Masa remaja merupakan masa yang
penuh dengan gejolak dan keguncangan. Pada masa ini timbul minat kepada
lawan jenisnya dan secara biologis alat kelaminnya sudah produktif. Pada umur
antara 13-14 tahun terjadilah perubahan fisiologis

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 55


pada dirinya. Ada beberapa pemuda yang tumbuh melampaui umurnya, bukanlah
mustahil bahwa ada beberapa pemuda yang menemui kesulitan untuk mencapai
tingkat kematangan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat
perkembangan sosial yang berbeda-beda di kalangan pemuda. Bahkan ada
beberapa pemuda yang menunjukkan sifat kekanak-kanakan untuk mewujudkan
keinginannya.

b. Hubungan Anak Laki-Laki dan Perempuan


Perbedaan pertumbuhan anak laki-laki dan perempuan yang khas pada
masa akhir anak-anak akan memperlihatkan tanda-tanda kesadaran akan
perbedaan kelamin. Anak perempuan yang berumur 11-12 tahun bila bermain
dengan anak laki-laki, mungkin akan dipanggil tomboy, sebaliknya anak laki-laki
akan disebut sissay. Karena anak perempuan lebih cepat matang baik secara fisik
maupun secara sosial bila dibandingkan anak laki-laki, maka anak perempuan
pada masa praremaja akan lebih cepat menemukan anak laki-laki yang berkenan
di hatinya. Akan tetapi, biasanya hal tersebut akan ia rahasiakan dari semua
temannya kecuali pada temannya yang paling akrab. Sementara anak perempuan
tersebut ingin menarik perhatian laki-laki yang berkenan di hatinya, tetapi di
samping itu ia juga bisa mengkritik ketidaksopanan, ketidakdewasaan, dan
sebagainya terhadap anak laki-laki tersebut. Sebaliknya bagi anak laki-laki yang
tadinya menganggap lawan jenis sebagai gangguan, sekarang menjadi suatu daya
tarik yang cukup merisaukan bagi dirinya.
Pada masa ini seringkali orang tua merasa kesal atau tersinggung karena
mengalami kegagalan dalam mengendalikan anak. Mula-mula orang tua bisa
menoleransikan kegiatan kelompok anaknya, tetapi setelah anaknya tertarik
kepada lawan jenisnya, ada sebagian orang tua yang menerima dan ada yang
menolak. Sebetulnya hal ini merupakan pengalaman yang sangat wajar bagi
anak-anak muda sebagai suatu persiapan untuk berpartisipasi setelah dewasa
dalam menuju ikatan perkawinan. Kadang-kadang terutama seorang ibu lebih
banyak ingin mengurung anaknya di rumah agar selalu memperoleh bimbingan
darinya seperti seorang bayi. Hal ini dimaksudkan demi pemuasan rasa aman
dari orang tuanya. Oleh sebab itu, saat anaknya mengadakan kencan, bagi orang
tua yang tidak setuju, sering menimbulkan perselisihan antara

56 Psikologi Pendidikan
ia dan anaknya. Sebagian besar kelompok remaja terdiri atas selusin pemuda
atau lebih dan mereka adalah peniru yang kuat. Mereka seringkali meniru tanpa
menyadarinya, dan mereka cenderung percaya bahwa hubungan sosial mereka
memiliki hak bertindak yang sama menurut aturan orang dewasa.

c. Memisahkan Diri dari Kelompok


Ada sebagian kecil remaja yang tidak populer memilih memisahkan diri
dari kelompok. Biasanya seorang siswa yang tidak disukai bisa dijuluki seorang
pemalu, seorang yang canggung, kutu buku, seorang yang serbatahu, yang suka
cemberut, seorang yang ketinggalan zaman, seorang penghambat, ataupun
sebutan lain yang menyatakan bahwa sifat-sifat khas yang dimiliki oleh remaja
tersebut berlawanan dengan keyakinan yang dianut oleh para pengecamnya.

d. Hubungan Remaja dengan Keluarga


Biasanya remaja mencintai keluarganya, namun sering tingkah lakunya
sangat berlawanan dari yang diingini oleh keluarganya (terutama ibunya). Bagi
kedua orang tuanya, anak tersebut masih perlu diasuh, dilindungi, dan diawasi.
Adapun bagi remaja, ia menganggap bahwa dirinya sudah dewasa dan ia perlu
suatu kebebasan yang lebih agar ia dapat menggali lapangan kegiatan yang
sebelumnya tidak dikenal, memilih kawan sendiri, dan membuat keputusan
sendiri.
Orang-orang dewasa berusaha menyatakan kepada remaja apa yang
sebaiknya diperbuat seperti jangan merokok, jangan meminum minuman keras, j
angan pergi ke kafe dan bar, j angan pulang terlambat, j angan lalai bila sudah
membuat janji, jangan salah memilih kawan, jangan menghabiskan waktu yang
terlampau banyak di mal, dan lain-lain. Jadi, dalam segala hal anak muda selalu
ditegur dan diperingatkan atas akibat yang mengerikan mengenai tingkah
lakunya jika ia tidak mematuhi peringatan tersebut. Hal inilah yang dapat
menimbulkan konflik dalam perebutan untuk saling menguasai antara orang tua
dan anaknya. Di lain pihak, karena anak berumur belasan tahun mengikat
kesetiaan yang kuat dengan keluarganya, ia tidak ingin orang lain atau bahkan
teman yang paling baik sekalipun untuk mengkritik keluarganya.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 57


a. Masalah Remaja yang Lain
Dalam masa perkembangannya, pribadi dari para remaja mengalami
banyak masalah dalam penyesuaian diri bila dibandingkan dengan masa
sebelumnya, karena ternyata pada masa anak-anak cukup tenang dan bahagia.
Adapun dalam masa pertumbuhannya ia mengalami ketegangan batin akibat
ingin lepas dari ketergantungan dan pengawasan dari orang lain menuju
kebebasan dari pengawasan dan pengekangan orang dewasa. Seringkali dalam
masa penyesuaian ia mengalami rasa resah, kecewa, kebencian, dan
keputusasaan. Gangguan batin lain adalah masalah kecantikan atau
kegantengan, inteligensi, bakat, minat, keinginan, keberadaannya dalam
kelompok, dan lain-lain.

b. Bimbingan
Sampai tingkat tertentu, para remaja suka menonjolkan diri, kemudian
mereka sadar akan kenyataan bahwa mereka sedang menuju ke arah orang
dewasa. Seiring dengan itu, mereka berada dalam kebimbangan dan
kebingungan, tidak begitu percaya diri, dan selalu cemas untuk melakukan
sesuatu yang benar dan yang bisa diterima dalam hubungan mereka dengan
orang lain. Meskipun tampaknya mereka dapat lepas dari pengawasan orang
dewasa terutama kedua orang tuanya, namun mereka tetap mencari alasan untuk
meminta bantuan. Di sinilah keluarga dan guru harus berperan untuk
membimbing para remaja ke arah yang benar.

A. PEMBENTUKAN KARAKTER 
1. Pendidikan dan Anak
Ada perbedaan pendapat di kalangan orang tua mengenai nilai latihan yang
diberikan di sekolah Taman Kanak-Kanak. Sebagian orang tua menganggap
bahwa anak yang berumur 2,5-3 tahun adalah masa penting bagi anak untuk
mendapat kasih sayang dan perhatian langsung dari orang tuanya sendiri.
Apabila anak dikirim ke Taman Kanak-Kanak, berarti tanggung jawab
mengasuh anak dipindahkan ke sekolah. Sebagian lagi berpendapat bahwa
mengirim anak ke Taman Kanak-Kanak sama dengan pembuangan anak agar si
ibu tetap dapat bebas. Meskipun demikian nilai-nilai yang diperoleh anak
selama Taman Kanak-Kanak

58 Psikologi Pendidikan
dalam proses sosialisasi sangat dibutuhkan, karena ia dapat berteman dengan
anak yang sebaya dengan dia, dengan cara diperkenalkan dengan kebiasaan
tertentu dalam kehidupan dan kegiatan kelompok, keterampilan dasar (untuk
makan, kebersihan, menggunakan dan menyimpan alat permainan, dan
bermain). Semua hal ini akan memberikan bantuan kepadanya pada kehidupan
sekolah dan kehidupan sosial selanjutnya. Juga dapat mengurangi ketegangan
yang mungkin terjadi antara orang tua dan anak bila si anak berada di rumah.
Kemudian, di Taman Kanak- Kanak, anak akan tertolong dalam proses
pergaulan atau sosialisasi yang sebenarnya.

2. Pengaruh Sekolah Selama Tahun-Tahun Pertengahan


Sifat-sifat khas yang dimiliki anak sekolah dasar dalam merencanakan
program sekolah yang akan diberikan kepada mereka perlu dipertimbangkan
masak-masak. Sejak berumur 9-12 tahun anak tadi harus dibimbing atau
dibantu untuk ikut serta mengambil bagian dalam kerja kelompok agar dapat
bekerja sama dengan teman-temannya dengan baik. Lagi pula dengan
pengalaman yang diperolehnya, rasa ingin tahunya akan bertambah. Oleh sebab
itu, anak pada masa-masa, tersebut juga harus diberi kesempatan untuk melatih
pengarahan dirinya sendiri menurut minat dan perhatiannya.

3. Pendidikan Selama Remaja


Sekolah lanjutan atau perguruan tinggi yang diorganisasikan dengan baik
dapat memberikan banyak kesempatan kepada para siswa/siswinya untuk
berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang diprakarsainya. Ada juga jenis
kegiatan yang harus diorganisasikan sendiri oleh para siswa/siswinya di bawah
bimbingan seorang pendidik yang simpatik dan bijaksana. Dalam melakukan
kegiatan tersebut, peran pendidik merupakan faktor penting terhadap masa
penyesuaian diri bagi remaja.

4. Pengaruh Sosialisasi atau Pergaulan


Media cetak dan elektronik serta film dewasa ini memperoleh perhatian
yang besar dari kalangan remaja. Semua ini bisa membawa pengaruh yang
penting dalam perkembangan sikap dan cita-cita sosialnya.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 59


Sekalipun dapat berdampak buruk, namun pengaruh pendidikan nonformal ini
mempunyai nilai yang besar dalam melahirkan seorang individu. Sebab, selama
ia melihat, mendengar dan membaca, ia akan menemukan nilai- nilai kehidupan
yang lain, dan ini akan ikut mendorong dan mempengaruhi minat dan sikapnya.
Pada masa ini, jika ia dapat bertindak selektif dalam menerima dan
menggunakan sarana yang ada; jika ia dapat memisahkan yang baik dan buruk;
dan jika pengalaman yang diperoleh di rumah, di sekolah, dan di masyarakat
dan jika ia dapat menghubungkannya sehingga timbul manfaat; dia diharapkan
dapat menjadi orang dewasa yang berkarakter luhur dan akan menjadi anggota
kelompok yang dapat menyesuaikan diri dengan baik serta konstruktif. Secara
lebih rinci Erikson dengan membagi delapan tahapan perkembangan dan
memberi gambaran sebagai berikut.
1. Masa bayi (infancy). Terjaminnya rasa aman tercermin dari rasa sayang
sentuhan cinta kasih, dan makanan yang baik merupakan bahan dasar rasa
kepercayaan. Rasa percaya atau tidak percaya merupakan kekuatan
psikososial yang amat fundamental bagi taraf perkembangan selanjutnya.
2. Masa kanak-kanak awal (early childhood). Terjamin atau tidaknya
mengembangkan self control tanpa mengurangi self esteem-nya. akan
menumbuhkan rasa otonom/mandiri, atau sebaliknya diliputi rasa ragu-
ragu dan rasa malu.
3. Masa kanak-kanak (childhood). Terjamin atau tidaknya kesempatan untuk
berprakarsa dalam menumbuhkan inisiatif sebaliknya bila sering dilarang
akan timbul rasa bersalah dan rasa berdosa (guilty).
4. Masa anak sekolah (school age/middle childhood). Pada periode ini,
umumnya anak dituntut untuk dapat mengerjakan atau menyelesaikan
dengan baik dan sempurna. Dari hal demikian akan timbul rasa
kepercayaan dan kecakapan menyelesaikan suatu tugas. Apabila individu
tersebut tidak mampu maka lahir bibit perasaan rendah diri (inferiority)
yang akan dibawanya pada tahapan hidup selanjutnya.
5. Masa remaja (adolescense). Pada tahap ini remaja dituntut mampu
menjawab pertanyaan tentang peran diri dan masa depannya di

60 Psikologi Pendidikan
masyarakat. Dengan berbekal kepercayaan pada lingkungannya,
kemandirian, inisiatif, percaya pada kecakapan dan kemampuannya,
individu yang demikian akan mampu mengintegrasikan seluruh unsur
kepribadiannya sehingga mampu menemukan jati dirinya. Sebaliknya bila
gagal individu yang demikian mengalami kebingungan dan kekacauan
(confusion).
6. Masa dewasa muda (young adulthood). Setelah terbentuk jati diri dan
identitas diri secara definitif, kini individu tersebut dituntut untuk mampu
membina kehidupan bersama. Kalau individu itu mampu memelihara
keseimbangan antara aku, kami, dan kita akan tumbuh rasa keakraban
(intimacy). Sebaliknya bila tidak mampu akan tumbuh rasa keterasingan
(isolation).
7. Masa dewasa (adulthood). Pada masa ini apakah orang dewasa
mempunyai kesempatan dan kehidupan secara kreatif, produktif, dan
bermanfaat dalam membina kehidupan generasi yang akan datang.
Apabila individu tersebut mampu hidup kreatif dan produktif akan tumbuh
gairah hidup, bila tidak hanya cukup puas dengan keadaan yang ada.
8. Masa hari tua (old age/aging). Mereka yang masa dewasanya sukses akan
memperoleh penghargaan dari masyarakat dan individu tersebut
merupakan bagian dari masyarakat (integrity). Apabila sebaliknya, akan
dianggap sepi oleh masyarakatnya sehingga timbul rasa kurang berharga.

Bab 3 Emosi, Perkembangan Sosial, dan Pembentukan Karakter 61


TEORI KOGNITIF

A. PENDAHULUAN 
Psikologi kognitif mulai diperkenalkan pada akhir abad ke-19, yaitu
dengan lahirnya teori belajar Gestalt, dan salah satu tokoh psikologi Gestalt
adalah Mex Wertheimer, di mana ia meneliti tentang pengamatan dan problem
solving. Kemudian dilanjutkan oleh Kurt Kaffka yang mencoba untuk
menguraikan secara terperinci hukum-hukum pengamatan. Tokoh yang lain
adalah Wolfgang Kohler yang meneliti tentang insight pada simpanse. Hasil
penelitian tokoh tersebut telah memunculkan “Psikologi Gestalt” yang
mengutamakan pembahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan
dalam pengalaman.
Para penganut Gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstruktur
dan terbentuk dalam suatu keseluruhan. Berarti orang yang sedang belajar,
akan mengamati stimulus secara keseluruhan yang terorganisasi dan bukan
dalam bagian-bagian yang terpisah. Jadi konsep yang terpenting dalam
psikologi gestalt adalah tentang insight, yaitu pemahaman mendadak tentang
hubungan antarbagian dalam suatu permasalahan. Dalam kehidupan sehari-hari
orang sering memberi pernyataan spontan aha atau oh I see now setelah
memahami suatu permasalahan secara tiba-tiba.
Selanjutnya, Kohler dalam penelitiannya menemukan adanya insight pada
seekor simpanse, dengan cara menghadapkannya pada masalah bagaimana cara
memperoleh pisang yang terletak di luar kandang. Ternyata, kadang-kadang
simpanse dapat memecahkan masalah secara mendadak, kadang-kadang gagal
meraih pisang, kadang-kadang duduk sambil merenungkan masalah yang
dihadapi, dan kemudian secara tiba- tiba menemukan pemecahan (yaitu cara
meraih pisang, misalnya dengan menggunakan tongkat yang terletak di dekat
kandang).

62 Psikologi Pendidikan
Wertheimer selanjutnya berpendapat bahwa dalam proses belajar, tidaklah
tepat mempergunakan metode menghafal, tetapi lebih baik bila murid belajar
dengan pengertian atau pemahaman. Oleh karena itu, para ahli jiwa dari aliran
kognitif berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada
kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku
itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu
dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah.
Psikologi kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum dan
mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental sejauh berkaitan
dengan cara manusia berpikir dalam memperoleh pengetahuan, mengolah
kesan-kesan yang masuk melalui indra, pemecahan masalah, menggali ingatan
pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kehidupan mental mencakup gejala kognitif, afektif, konatif sampai pada taraf
tertentu, yaitu psikomatis yang tidak dapat dipisahkan secara tegas satu sama
lain. Oleh karena itu, psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar gejala khas
kognitif, tetapi juga dari afektif (penafsiran dan pertimbangan yang menyertai
reaksi perasaan), konatif (keputusan kehendak). Ilmu kognitif menjelaskan
bidang penelitian psikologi yang mengurusi proses kognitif seperti perasaan,
pengingatan, penalaran, pemutusan dan pemecahan masalah, serta menghindari
adanya tumpang-tindih ilmu pengetahuan yang tertarik dalam proses tersebut
seperti filosofi.
Dalam ilmu komputer, tujuan mempelajari psikologi kognitif adalah
menemukan bagaimana informasi diwakili di dalam pikiran manusia. Gagasan
sentral di balik ilmu kognitif adalah sistem kognisi manusia dipandang sebagai
komputer raksasa yang melakukan kalkulasi kompleks yang dapat dipecah-
pecahkan menjadi komputasi yang lebih sederhana. Oleh karena itu, kognisi
manusia dapat dianalisis pada tingkat (hardware) atau neuron dan tingkat
representasi mental (software). Komputasi mental dan tingkat analisis ideal
adalah kognitif.

A. INTELIGENSIA 
Perkataan inteligensi berasal dari kata intelligere yang berarti meng-
hubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut Stem, inteligensi

Bab 4 Teori Kognitif 63


ialah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan
alat-alat berpikir menurut tujuannya. Di sini terlihat bahwa Stern
menitikberatkan pada soal penyesuaian diri (adjustment) terhadap masalah yang
dihadapi Dengan demikian, orang yang inteligensinya tinggi (orang cerdas)
akan lebih cepat menyesuaikan diri dengan masalah baru yang dihadapi, bila
dibandingkan dengan orang yang tidak cerdas. Adapun Thomdike seorang
tokoh psikologi koneksionisme memberikan pengertian: Intelligence is
demonstrable in ability of individual to make good responses from the stand point
of truth or fact. Orang dianggap cerdas bila responsnya merupakan respons yang
baik terhadap stimulus yang diterimanya. Terman memberikan pengertian
inteligensi sebagai ... the ability to carry on abstract thinking.
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa Terman berusaha
menjelaskan ability yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Seseorang
dapat dikategorikan sebagai orang yang cerdas, bila mempunyai kemampuan
berpikir abstrak secara benar dan atau tepat.
Mengenai faktor-faktor apa yang dapat ditemukan dalam inteligensi,
sampai saat ini belum ada kesamaan pandapat secara utuh dan bulat. Seperti
yang disampaikan oleh Thomdike dengan teori multifaktor yang menjelaskan
bahwa inteligensi itu tersusun atas beberapa faktor yang terdiri atas elemen-
elemen, dan tiap-tiap elemen terdiri atas atom, tiap- tiap atom merupakan
hubungan stimulus-respons. Jadi, suatu aktivitas adalah kumpulan dari atom-
atom aktivitas yang berkombinasi satu dengan yang lain. Adapun menurut
Speamian, inteligensi itu mengandung dua faktor, yaitu General ability (faktor
G) dan Specific ability (faktor S). Teori dari Spearman ini juga dikenal dengan
Two Factor Theory.
Menurut Spearman General ability atau General Factor terdapat pada
semua individu, namun berbeda satu dengan yang lain. Di mana faktor G selalu
didapati dalam semua Performance atau penampilan, sedangkan faktor S
merupakan faktor yang bersifat khusus, yaitu mengenai bidang tertentu. Berarti
jumlah faktor S itu banyak, misalnya ada S1, S2, S3, dan seterusnya. Jadi, kalau
seseorang mempunyai faktor S yang dominan dalam bidang tertentu (misalnya
bidang seni rupa), maka orang tersebut akan menonjol dalam bidang tersebut.

64 Psikologi Pendidikan
Menurut Piaget, inteligensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada
pada tingkat perkembangan khusus. Menurut Super dan Cites, inteligensi ialah
kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari
pengalaman. Menurut Garrett, inteligensi itu setidak-tidaknya mencakup
kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah yang memerlukan
pengertian, serta menggunakan simbol-simbol. Menurut Robert J. Stemberg
intelligence is capacity to learn from experience, and the ability to adapt to the
surrounding environment. Atau inteligensi ialah kecakapan untuk belajar dari
pengalaman dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Manusia dalam menghadapi kehidupannya senantiasa menghadapi
berbagai masalah dan tantangan yang amat besar dan rumit yang tidak
seluruhnya mudah untuk dipecahkan. Fungsi kognitif manusia menghadapi
objek dalam bentuk representatif yang menghadirkan objek tersebut dalam
kesadaran, hal tersebut tampak jelas pada aktivitas berpikir. Pengaturan
kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri, orang yang memiliki
kemahiran ini ia akan mampu mengontrol dan menyalurkan aktivitas kognitif
yang berlangsung dalam dirinya sendiri. Sebagai contoh, bagaimana ia
memusatkan perhatian, bagaimana belajar, bagaimana menggali ingatan,
bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki, dan bagaimana berpikir
menggunakan konsep dalam menghadapi permasalahan.
Sasaran umum belajar pengaturan kegiatan kognitif adalah sistematisasi
alur pikiran sendiri dan sistematisasi proses belajar dalam diri yang biasa
disebut proses kontrol. Jalur belajar kegiatan kognitif dapat diuraikan sebagai
berikut.
1. Fase motivasi: anak sadar akan tujuan yang harus dicapai dan bersedia
melibatkan diri.
2. Fase konsentrasi: anak khusus memperhatikan unsur yang relevan,
sehingga terbentuk pola perseptual tertentu.
3. Fase mengolah: anak menahan informasi dan mengolah informasi untuk
diambil maknanya.
4. Fase menyimpan: anak menyimpan informasi yang telah diolah ke dalam
ingatan.

Bab 4 Teori Kognitif 65


5. Fase menggali 1: anak menggali informasi yang tersimpan dalam ingatan
yang tersimpan dalam ingatan mereka dan memasukkan kembali ke dalam
working memory. Informasi ini telah dikaitkan dengan informasi baru.
6. Fase menggali 2: anak menggali informasi yang tersimpan dalam ingatan
mereka dan mempersiapkan sebagai masukan bagi fase prestasi.
7. Fase prestasi: informasi yang telah disimpan digali kembali untuk
memberikan prestasi mereka.
8. Fase umpan balik: anak mendapat konfirmasi sejauh prestasinya.

C. PERKEMBANGAN INTELIGENSI 
Bidang genetika dan perilaku mengombinasikan metode genetika dan
psikologi untuk mempelajari karakteristik perilaku tuntutan. Para ahli genetika
perilaku tertarik mempelajari derajat karakteristik psikologi- kemampuan
mental, temperamen, stabilitas emosional, dan sebagainya yang ditransmisikan
dari orang tua kepada anak. Unit hereditas turunan dibawa oleh kromosom,
ditemukan pada setiap inti sel tiap sel tubuh. Saat konsepsi, manusia menerima
23 kromosom dari sperma ayah dan 23 kromosom dari sel telur ibu, dan
kemudian kromosom itu membentuk 23 pasang kromosom yang mengalami
duplikasi setiap sel membelah diri. Tiap kromosom terdiri atas banyak gen,
yaitu segmen asam deoksiribonukleat (DNA) yang merupakan pembawa
informasi genetik yang' sesungguhnya. Semua DNA dalam tubuh seseorang
memiliki komposisi kimiawi yang sama, yang terdiri atas gula sederhana
(deoksiribosa) dan fosfat yang disatukan oleh empat basa yang sama yang
sangat menentukan karakteristik makhluk hidup, dan susunannya akan
menentukan apakah makhluk itu akan menjadi burung, singa, manusia, dan
sebagainya.
Perkembangan pralahir dimulai dari periode ovum, kemudian periode embrio
dan periode janin yang biasanya seluruhnya ditempuh dalam waktu 9 bulan
kalender atau 10 bulan lunar/280 hari (28 hari siklus menstruasi wanita).
Menurut teori Otto Rank, kejutan kelahiran menimbulkan kecemasan sebagai
pengaruh yang mengganggu sepanjang hidup. Karena kelahiran merupakan
bahaya pertama yang dialami anak, ia menjadi model

66 Psikologi Pendidikan
bagi semua kecemasan selanjutnya. Masa bayi merupakan waktu penyesuaian
yang radikal dan sulit, yang dibuktikan dengan adanya penurunan berat badan,
ketidakteraturan perilaku bahkan kesakitan atau kematian.
Pengaturan kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri. Orang
yang memiliki kemampuan kognitif tinggi ini akan mampu mengontrol dan
menyalurkan aktivitas kognitif yang berlangsung dalam dirinya sendiri;
bagaimana ia memusatkan perhatian, bagaimana ia belajar, bagaimana menggali
ingatan, bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki, bagaimana
berpikir menggunakan konsep, kaidah, pengetahuan yang dimiliki yang
merupakan satu perangkat kemahiran yang terorganisasikan dengan baik dalam
menghadapi problem.
Dalam menghadapi suatu problem orang dapat menggunakan berbagai
strategi yang termasuk pengetahuan prosedural. Strategi ada yang dapat dipakai
secara luas, tetapi ada yang terbatas.
Sasaran belajar adalah pengaturan kegiatan kognitif dalam sistematika arus
pikiran sendiri dan sistematisasi proses belajar dalam diri sendiri (control
process). Untuk menunjuk pada pengaturan kegiatan kognitif dapat
menggunakan metacognition, yaitu pengetahuan tentang kegiatan berpikir dan
belajar serta kontrol terhadap kegiatan itu pada diri sendiri. Yang harus dikuasai
bukan hanya mengetahui apa yang harus diperbuat melainkan juga mengetahui
bagaimana dan kapan harus berbuat (cognitive monitoring). Adapun fase-fase
jalur belajar pengaturan kegiatan kognitif adalah sebagai berikut.
1. Fase motivasi; untuk mendapat motivasi siswa harus memeras otaknya
sendiri. Jika motivasi lemah, anak akan membiarkan problem tetap
menjadi problem dan terlalu susah untuk memikirkan.
2. Fase konsentrasi; anak harus mengamati dengan cermat, jika penyelesaian
masalah memerlukan pengamatan.
3. Fase pengolahan; anak harus menggali dari ingatannya terhadap siasat
yang pernah digunakan untuk mengatasi hal serupa, yang cocok untuk
suatu problem. Jika siasat dalam ingatan tidak tersedia, ia harus
menciptakan siasat baru dengan menggunakan kreativitas dan pikiran
terarah.

Bab 4 Teori Kognitif 67


4. Fase umpan balik; konfirmasi tepat dan tidaknya penyelesaian yang
ditempuh. Konfirmasi ini bisa meningkatkan dan melemahkan motivasi
anak untuk memeras otak lagi pada kesempatan yang akan datang.
Perkembangan inteligensi anak menurut Piaget mengandung tiga aspek,
yaitu structure, content, danfunction. Jadi, inteligensi anak yang sedang
mengalami perkembangan, struktur (structure) dan content inteligensinya
berubah atau berkembang. Di mana fungsi dan adaptasi akan tersusun
sedemikian rupa, sehingga melahirkan rangkaian perkembangan, dan masing-
masing mempunyai struktur psikologis khusus yang menentukan kecakapan
pikiran anak. Adapun tahap-tahap perkembangan menurut Piaget ialah
kematangan, pengalaman fisik atau lingkungan, transmisi sosial, dan
equilibrium atau self regulation. Selanjutnya Piaget membagi tingkat
perkembangan sebagai tahap: (1) sensori motor, (2) berpikir praoperasional, (3)
berpikir operasional konkret, dan (4) berpikir operasional formal.

1. Tahap Sensorik-Motorik
Selama tahap sensorik-motorik (0-2 tahun), bayi mulai menampilkan
perilaku reflektif, dengan melibatkan perilaku yang inteligen. Dengan demikian,
kematangan seseorang terjadi dari interaksi sosial dengan lingkungan (asimilasi
dan akomodasi). Perilaku sensorik-motorik menjadi tambah berbeda, sehingga
konstruksi dan perilaku progresif termasuk dalam kategori perlaku intensional.
Bayi berkembang means-end, perilaku pemecahan masalah.
Pada usia 2 tahun, anak secara mental telah dapat mengenali objek dan
kegiatan, dan dapat menerima solusi masalah sensorik-motorik. Berdasarkan
skemata, pada usia 2 tahun secara kualitatif dan kuantitatif telah dianggap
superior untuk berkembang menjadi anak muda. Pada usia 2 tahun
perkembangan afektif sudah mulai dapat dilihat, anak sudah mulai dapat
membedakan suka dan tidak suka. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap diri
anak.
Perilaku seorang bayi sangat mengandalkan gerakan refleksinya.
Kemudian, pada masa 2 bulan berikutnya, bayi mulai belajar untuk
membedakan objek yang ada di sekitarnya diawali dengan refleksinya

68 Psikologi Pendidikan
untuk mengisap segala sesuatu yang ditemukan di sekelilingnya.
Perkembangan kognitif dari tahap sensorik-motorik pada anak-anak akan
terlihat pada upayanya untuk melakukan gerakan tertentu di antara lingkungan
sekitarnya. Pada mulanya gerakan seorang bayi dilakukan secara spontan.
Dorongan untuk melakukan gerakan tertentu selalu datang dari faktor internal
dirinya sendiri. Penyesuaian dan pengaturan dari proses penyesuaian serta proses
akomodasi dilaksanakan dari proses awal, hingga hasilnya berlanjut baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, seiring dengan perubahan yang terjadi pada
skemata atau pengertian. Proses pembentukan pengetahuan pada anak-anak
dimulai dari proses yang paling primitif, yaitu mencoba mengulang-ulang bunyi
yang didengarnya.

2. Tahap Berpikir Praoperasional


Selama tahap praoperasional (2-7 tahun), perilaku intelektual bergerak dari
tingkat sensorik-motorik menuju ke tingkat konseptual. Pada tahap ini terjadi
perkembangan yang cepat dari keterampilan representasional termasuk di
dalamnya kemampuan berbahasa, yang menyertai perkembangan konseptual
secara cepat dari proses ini. Perkembangan bahasa lisan tidak berguna untuk
mengembangkan proses berpikir. Pikiran yang dimiliki anak masih egosentris,
dan belum mampu mengembangkan untuk hal lain. Mereka yakin bahwa apa
yang mereka pikirkan adalah benar.
Dalam masalah konservasi mereka tidak menyadari bahwa transformasi
mengarah ke pusat aspek perseptual dari setiap masalah. Pada usia 7 tahun,
mereka sudah mulai dapat berpikir pralogis atau semi- logis. Konflik yang terjadi
antara persepsi dan pemikiran secara umum dipecahkan kembali di dalam
persepsi. Perkembangan bahasa dan representasi akan menunjang perkembangan
berikutnya dari perilaku sosial. Perasaan moral dan pemikiran moral akan
tampak (muncul). Anak- anak mulai berpikir tentang peraturan dan hukum, tetapi
mereka belum mengembangkan konsep tersebut secara intensional. Secara
kualitatif, pemikiran dari anak praoperasional memiliki keuntungan dari
pemikiran anak sensorik-motorik. Pemikiran praoperasional terutama tidak lagi
terbatas pada persepsi segera dan kejadian motorik. Pikiran sebenarnya
representasional (simbol); dan rangkaian tingkah laku dapat dimainkan

Bab 4 Teori Kognitif 69


dalam pikiran daripada kejadian fisik yang sebenarnya. Walaupun demikian,
persepsi dan pemikiran, sebagaimana di dalam problem konservasi, anak-anak
yang menggunakan pemikiran praoperasional membuat pendapat berdasarkan
persepsi.
Tahap praoperasional ditandai oleh terjadinya peningkatan bahasa secara
dramatis. Bahasa diperoleh cepat sekali antara umur 2-4 tahun. Tingkah laku
pada bagian sebelumnya sangat egosentris dan tidak sosial.
Pada umur 6-7 tahun pembicaraan anak-anak menjadi lebih komunikatif
dan sosial. Perkembangan kognitif dan perkembangan afektif tidak berhenti
pada umur 2-7 tahun. Agaknya mereka bergerak terus, asimilasi dan akomodasi
berhenti di dalam konstruksi konstan dari skemata yang baru dan kognitif yang
lebih maju. Tingkah laku anak praoperasional sebenarnya sama dengan anak
sensorik motorik. Pada umur 7 tahun terdapat sedikit kemiripan.
Jadi, pada masa tahap praoperasional seorang anak berkembang dari
seorang sensorik-motorik ke skemata kemampuan baru, yaitu kecakapan
representasional dan tingkah laku sosial dengan ciri-ciri khusus praoperasional.
Begitu juga terjadi dengan cepat perkembangan egosentris bahasa percakapan,
perkembangan afektif dengan munculnya responsitas (timbal balik) serta
perasaan moral sesuai dengan konsep anak-anak tentang peraturan dalam
bermasyarakat dengan lingkungan sosialnya. Perkembangan ini bergerak terus
ke skemata yang baru yang lebih maju pada tingkatan selanjutnya sesuai teori
Piaget yang lebih operasional konkret.

3. Tahap Berpikir Operasional Konkret


Tahap operasional konkret anak (7-11 tahun) berkembang dengan
menggunakan berpikir logis. Anak-anak dapat memecahkan masalah konservasi
dan masalah yang konkret. Dua reversibilitas, inversi dan reciprocity,
digunakan secara independent dalam berpikir. Selama tahun tersebut, operasi
secara logis dan klasifikasi berkembang. Anak-anak dapat berpikir secara logis,
tetapi belum mampu menerapkan secara logis masalah hipotetik dan abstrak.
Perkembangan afektif utama selama tahap operasional konkret adalah
konservasi perasaan. Perkembangan tersebut merupakan instrumental dalam
meningkatkan regulasi dan stabilitas

70 Psikologi Pendidikan
berpikir efektif. Dengan kata lain dapat dinyatakan konstruksi konsep muncul
dari intensional dan mengizinkan anak-anak untuk meyakini bahwa motif akan
mampu membuat keputusan moral.
Tahap operasional konkret ini merupakan tahap transisi antara tahap
praoperasional dengan tahap berpikir formal (logika). Selama tahap operasional
konkret perhatian anak mengarah kepada operasi logis yang sangat cepat. Tahap
ini tidak lama dan didominasi oleh persepsi dan anak dapat memecahkan
masalah dan mampu bertahan dengan pengalamannya. Keseluruhan harus selalu
diobservasi antara perkembangan kognitif dan afektif dalam setiap tahap.
Pertumbuhan anak dapat dilihat dari konsep moral. Seperti dia memahami
peraturan, berbohong, perhatian, dan hukum.

4. Tahap Berpikir Operasional Formal


Selama tahap operasi formal (11-15 tahun), struktur kognitif menjadi
matang secara kualitas, anak mulai dapat menerapkan operasi secara konkret
untuk semua masalah yang dihadapi di dalam kelas. Anak dapat menerapkan
berpikir logis dari masalah hipotetis yang berkaitan dengan masa yang akan
datang. Anak-anak dengan operasi formal dapat beroperasi dengan logika dari
kebebasan argumen dari isinya. Secara logis benar-benar disediakan kepada anak
sebagai alat berpikir. Selama puber, berpikir formal secara esensial ditandai oleh
egosentris. Pada masa puber, individu mencoba mengembalikan semua perilaku
pemikiran adalah logis dan dia mengalami kesulitan koordinasi dengan dunia
yang dihadapi. Emergensi perasaan idealistik formasi personal berlanjut sebagai
permulaan masa puber untuk beradaptasi terhadap dirinya untuk dunia dewasa.
Berpikir operasional konkret dapat dibalik, inversi dan reciprocity, yang
digunakan secara bebas. Dua macain berpikir terbalik menjadi terkoordinasikan
dalam berpikir formal. Beberapa struktur penting yang melandasi selama
konstruksi operasi formal antara lain berpikir hipotetis- deduktif, yaitu
kemampuan berpikir tentang hipotetis seperti kondisi yang sebenarnya dan
kemampuan untuk menyimpulkan berdasarkan premis- premis hipotetis. Dua isi
kognitif pertama yang berkembang selama tahap operasi formal adalah
proporsional atau operasi kombinasi, dan skema

Bab 4 Teori Kognitif 71


operasi formal adalah proporsional atau operasi kombinasi, dan skema operasi
formal, seperti proporsi dan probability, lebih cepat ditutup seperti berpikir
keilmuan. Operasi formal tidak begitu abstrak bila dibandingkan dengan
berpikir proporsional. Menurut Kohstan, inteligensi itu dapat dikembangkan,
namun sebatas segi kualitasnya, yaitu pengembangan itu hanya sampai pada
batas kemampuan saja, terbatas pada segi peningkatan mutu inteligensi, dan
cara-cara berpikir secara metodis.
Untuk mengukur tingkat kecerdasan anak, dapat digunakan tes IQ
(Intelligence Quotient) misalnya dari Binet Simon. Dari basil tes Binet- Simon,
dibuatlah penggolongan inteligensi sebagai berikut:

1. Genius > 140;


2. Gifted> 130;

3. Superior > 120;


4. Normal 90-110;

5. Debil 60-79;
6. Imbesil 40-55;
7. Idiot > 30.

D. BEBERAPA TEORI INTELIGENSI
1.
Teori Faktor (Charles Spearman)
Teori faktor berusaha mendeskripsikan struktur inteligensi, yang
terdiri atas dua faktor utama, yakni faktor ”g” (general) yang mencakup
semua kegiatan intelektual yang dimiliki oleh setiap orang dalam berbagai
derajat tertentu, dan faktor ”s” (specific) yang mencakup berbagai faktor
khusus yang relevan dengan tugas tertentu. Kedua faktor ini kadang-
kadang tumpang-tindih, tetapi juga sering berbeda. Faktor ”g” lebih
banyak memiliki segi genetis dan faktor ”s” lebih banyak diperoleh melalui
latihan dan pendidikan.

2. Teori Struktur Inteligensi (Guilford)


Menurut Guilford struktur kemampuan intelektual terdiri atas 150
kemampuan dan memiliki tiga parameter, yaitu operasi, produk, dan konten.
Parameter operasi terdiri atas evaluasi, produksi, konvergen, produksi,

72 Psikologi Pendidikan
divergen, memori, dan kognisi. Parameter Produk terdiri atas unit, kelas, relasi,
sistem, transformasi, dan implikasi. Parameter Konten terdiri atas figurasi,
simbolis, semantik, dan perilaku.

2. Teori Multiple Intelligence (Gardner)


Menurut Gardner, inteligensi manusia memiliki tujuh dimensi yang
semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestetik
fisik, sosial interpersonal, dan intrapersonal. Setiap dimensi tersebut,
merupakan kompetensi yang eksistensinya berdiri sendiri dalam sistem neuron.
Artinya, memiliki organisasi neurologis yang berdiri sendiri dan bukan hanya
terbatas kepada yang bersifat intelektual.

3. Teori Uni Factor (Wilhelm Stern)


Menurut teori ini, inteligensi merupakan kapasitas atau kemampuan
umum. Oleh karena itu, cara kerja inteligensi juga bersifat umum. Reaksi atau
tindakan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau dalam
memecahkan masalah, bersifat umum pula. Kapasitas umum itu timbul akibat
pertumbuhan fisiologis ataupun akibat belajar.

4. Teori Multifaktor (E.L. Thorndike)


Menurut teori ini inteligensi terdiri atas bentuk hubungan neural antara
stimulus dengan respons. Hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan
tingkah laku individu. Manusia diperkirakan memiliki tiga belas miliar urat
saraf, sehingga memungkinkan adanya hubungan neural yang banyak sekali.
Jadi, inteligensi menurut teori ini adalah jumlah koneksi aktual dan potensial di
dalam sistem saraf.

5. Teori Primary Mental Ability (Thurstone)


Teori ini mencoba menjelaskan tentang organisasi inteligensi yang
abstrak, dengan membagi inteligensi menjadi kemampuan primer, yang terdiri
atas kemampuan numerical/matematis, verbal atau berbahasa, abstraksi, berupa
visualisasi atau berpikir, membuat keputusan, induktif maupun deduktif,
mengenal atau mengamati, dan mengingat.
Menurut teori Primary Mental Ability masing-masing dari kemampuan
primer tersebut adalah independen serta menjadikan fungsi

Bab 4 Teori Kognitif 73


pikiran yang berbeda atau berdiri sendiri-sendiri. Oleh karena itu, para ahli
yang lain menilai bahwa teori ini mengandung kelemahan, karena kemampuan
individu itu pada hakikatnya saling berhubungan secara integratif.

6. Teori Sampling (Godfrey H. Thomson)


Menurut teori ini, inteligensi merupakan berbagai kemampuan sampel.
Dunia berisikan berbagai bidang pengalaman dan sebagian terkuasai oleh
pikiran manusia. Masing-masing bidang hanya terkuasai sebagian saja, dan ini
mencerminkan kemampuan mental manusia. Inteligensi beroperasi dengan
terbatas pada sampel dari berbagai kemampuan atau pengalaman dunia nyata.

7. Entity Theory
Menurut teori ini, inteligensi atau kecerdasan adalah kesatuan yang tetap
dan tidak berubah-ubah.

8. Incremental Theory
Menurut teori ini, seseorang dapat meningkatkan inteligensi/
kecerdasannya melalui belajar.

E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI 
Inteligensi orang satu dengan yang lain cenderung berbeda-beda. Hal ini
karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor yang
mempengaruhi inteligensi antara lain sebagai berikut.
1. Faktor pembawaan, di mana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa
sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam
memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh
karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak
pintar, dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan
pelatihan yang sama.
2. Faktor minat dan pembawaan yang khas, di mana minat mengarahkan
perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan
itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang

74 Psikologi Pendidikan
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar, sehingga apa
yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat
lebih giat dan lebih baik.
3. Faktor pembentukan, di mana pembentukan adalah segala keadaan di luar
diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Di sini
dapat dibedakan antara pembentukan sengaja, seperti yang dilakukan di
sekolah dan pembentukan yang tidak disengaja, misalnya
pengaruh alam di sekitarnya.
4. Faktor kematangan, di mana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami
pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun
psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau
berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya
masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila anak-anak
belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di
kelas empat sekolah dasar, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi
anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk
menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan
umur.
5. Faktor kebebasan, yang berarti manusia dapat memilih metode tertentu
dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan
memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan
kebutuhannya.
Kelima faktor itu saling terkait satu dengan yang lain. Jadi, untuk
menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman kepada salah
satu faktor tersebut.

F. TEORI BELAJAR KOGNITIF 
1. Cognitive Field (Kurt Lewin)
Teori belajar cognitive field menitikberatkan perhatian pada kepribadian
dan psikologi sosial, karena pada hakikatnya masing-masing individu berada di
dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis, yang disebut life space.
Life space mencakup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi,
misalnya orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang dimiliki dan objek
material yang dihadapi.

Bab 4 Teori Kognitif 75


UIN SUNAN KAUJAGA!
Jadi, tingkah laku merupakan hasil interaksi antarkekuatan, baik yang
berasal dari dalam diri individu, seperti tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan,
maupun yang berasal dari luar diri individu, seperti tantangan dan
permasalahan yang dihadapi. Menurut teori ini, belajar itu berlangsung sebagai
akibat dari perubahan dalam struktur kognitif.
Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil pertemuan dari dua kekuatan,
yaitu yang berasal dari struktur medan kognitif itu sendiri dan yang lainnya
berasal dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Dengan demikian,
peranan motivasi jauh lebih penting daripada reward atau hadiah.

2. Cognitive Development (Piaget)


Dalam teori ini, Piaget memandang bahwa proses berpikir merupakan
aktivitas gradual dari fungsi intelektual, yaitu dari berpikir konkret menuju
abstrak. Berarti perkembangan kapasitas mental memberikan kemampuan baru
yang sebelumnya tidak ada.
Perkembangan intelektual adalah kualitatif, bukan kuantitatif. Inteligensi
itu terdiri atas tiga aspek, yaitu
1. struktur atau scheme ialah pola tingkah laku yang dapat diulang;
2. isi atau content ialah pola tingkah laku spesifik, ketika seseorang
menghadapi suatu masalah;
3. fungsi atau function adalah yang berhubungan dengan cara seseorang
mencapai kemajuan intelektual. Function terdiri atas dua macam fungsi
invarian, yaitu organisasi dan adaptasi.
Organisasi berupa kecakapan seseorang dalam menyusun proses fisik dan
psikis dalam bentuk sistem yang koheren, sedangkan adaptasi adalah
kemampuan seseorang dalam menyesuaikan dengan lingkungan. Adaptasi
terdiri atas dua macam proses komplementer, yaitu asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi adalah proses penggunaan struktur atau kemampuan individu untuk
menghadapi masalah dalam lingkungannya; sedangkan akomodasi adalah
proses perubahan respons individu terhadap stimulasi.
Jadi, perkembangan kognitif tergantung pada akomodasi. Oleh karena itu,
siswa harus diberikan suatu areal yang belum diketahui, agar ia dapat

76 Psikologi Pendidikan
belajar. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha- usaha
untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah
perkembangan kognitif.

3. Teori Benyamin S. Bloom


Benyamin S. Bloom telah mengembangkan "taksonomi” untuk domain
kognitif. Taksonomi adalah metode untuk membuat urutan pemikiran dari tahap
dasar ke arah yang lebih tinggi dari kegiatan mental, dengan enam tahap
sebagai berikut.
1. Pengetahuan (knowledge) ialah kemampuan untuk menghafal, mengingat,
atau mengulangi informasi yang pernah diberikan. Contoh: sebutkan lima
bagian utama kamera 35 mm.
2. Pemahaman (comprehension) ialah kemampuan untuk menginterpretasi
atau mengulang informasi dengan menggunakan bahasa sendiri. Contoh:
uraikan 6 tahapan dalam mengisi film untuk kamera 35 mm.
3. Aplikasi (application) ialah kemampuan menggunakan informasi, teori,
dan aturan pada situasi baru. Contoh: pilih ekpose 3 kamera untuk
pengambilan gambar yang berbeda.
4. Analisis (analysis) ialah kemampuan mengurai pemikiran yang kompleks,
dan mengenai bagian-bagian serta hubungannya. Contoh: bandingkan cara
kerja dua kamera 35 mm yang memiliki model yang berbeda.
5. Sintesis (synthesis) ialah kemampuan mengumpulkan komponen yang
sama guna membentuk satu pola pemikiran yang baru. Contoh: susunlah
urutan fotografi untuk 6 objek.
6. Evaluasi (evaluation) ialah kemampuan membuat pemikiran berdasarkan
kriteria yang telah ditetapkan. Contoh: buatlah penilaian terhadap kualitas
slide yang dihasilkan dalam lomba, dengan 4 urutan penilaian.

Bab 4 Teori Kognitif 77


PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK

A.  PENDAHULUAN 
Perilaku atau behavior dari peserta didik dan pendidik merupakan
masalah penting dalam psikologi pendidikan. Perilaku peserta didik agar dapat
menguasai atau memahami sesuatu, merupakan upaya diri peserta didik sesuai
dengan pengertian bahwa peserta didik adalah proses pendewasaan (dari
ketidak-dewasaan menjadi dewasa). Adapun pendidik berupaya agar dapat
memahami atau dikuasai oleh peserta didik yang belum dewasa.
Perilaku sebelum menguasai atau memahami dibandingkan dengan
perilaku sesudah menguasai atau memahami merupakan objek pengamatan dari
kelompok behavioris. Perilaku dapat berupa sikap, ucapan, dan tindakan
seseorang sehingga perilaku ini merupakan bagian dari psikologi dinamis.
Psikologi dinamis adalah psikologi yang khusus menggarap masalah tenaga
batin, dorongan, dan motif yang mempengaruhi perilaku orang-seorang
ataupun kelompok.
Salah satu fungsi psikologi pendidikan adalah dasar perilaku manusia.
Pendidikan berupaya mengembangkan perilaku kehidupan yang baik.
Pendekatan perilaku ini melahirkan beberapa teori dan konsep dari banyak
peneliti.

B.  ALIRAN PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK 
Psikologi behavioristik merupakan salah satu dari tiga aliran psikologi
pendidikan yang tumbuh dan berkembang secara beruntun dari periode ke
periode. Dalam perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori
belajar, yang secara garis besar dikelompokkan pada dua teori belajar, yaitu
teori belajar conditioning dan teori belajar connectionism.

78 Psikologi Pendidikan
Selanjutnya, akan diuraikan secara lebih rinci mengenai psikologi konstitusi
masa lampau dan masa depan.

1. Psikologi Konstitusi di Masa Lampau


Teori yang menggunakan hubungan antara jasmani atau tingkah laku
sudah ada berabad-abad sebelum lahirnya psikologi akademik. Tokoh yang
merintis bidang ini adalah Hipokrates yang mengemukakan bukan hanya
tipologi jasmani, melainkan juga tipologi temperamen. Dalam tipologi jasmani
ini Hipokrates membagi fisik manusia menjadi dua macam, yaitu pendek dan
gemuk serta tinggi dan kurus.
Tubuh yang pendek dan gemuk sangat mudah terserang penyakit ayan.
Adapun tubuh tinggi dan kurus seringkali mengidap penyakit TBC. Hipokrates
juga mengemukakan bahwa manusia dapat dibagi tiga tipe dasar, yaitu udara,
air, dan tanah.
Di samping itu, juga terdapat empat humor (zat berupa cairan) dalam
tubuh, tergantung humor mana yang paling menonjol itulah yang
mempengaruhi temperamen.

2. Psikologi Konstitusi Masa Modern


a. Teori Ernest Kretschmer
Meneliti hubungan antara jasmani dengan gangguan jiwa. Melalui praktik
psikiatrinya ia menjadi yakin bahwa ada hubungan antara jasmani dan tingkah
lahiriah, khususnya jenis tingkah laku yang biasa tampak dalam dua bentuk
utama gangguan jiwa, yaitu maniak depresif dan skizoprenia.
1) Psikologi Maniak Depresif
Ditandai oleh perubahan suasana hati, pada saat tertentu begitu aktif
(maniak), sehingga mereka harus dijaga secara paksa agar jangan sampai
melukai diri sendiri dan orang lain. Mereka mungkin begitu aktif, lesu, dan
tertekan maka perlu dirawat seperti bayi.
2) Skizoprenia
Skizoprenia adalah jenis gangguan psikotik yang paling lazim dengan ciri-
ciri hilangnya perasaan efektif atau respons emosional dan

Bab 5 Psikologi Behavioristik 79


menarik diri dari hubungan antarpribadi yang normal, serta sering
diikuti dengan delusi dan halusinasi. Kretscher membagi tiga tipe
fundamental jasmani sebagai berikut:
a) Tipe Astenik = jasmani yang ringkih dan linear;
b) Tipe Atletik = jasmani yang berotot dan perkasa;
c) Tipe Piknik = ciri tubuh yang montok bulat.
Dari penemuannya, Kretschmer menarik kesimpulan bahwa ada hubungan
biologis yang jelas antara psikologis maniak depresif dengan bentuk tubuh
piknik. Adapun skizoprenia berhubungan dengan bentuk tubuh astenik dan
atletik.

b. Teori William Sheldon


Sheldon lahir pada tahun 1889 di Rhode Island tempat ia tumbuh dalam
lingkungan pertanian. Suasana desa selama awal kehidupannya dan lingkungan
yang erat dengan ayahnya yang seorang pecinta alam dan peternak, besar
pengaruhnya terhadap nilai-nilai dan pandangannya mengenai tingkah laku
manusia. Tulisannya membuktikan dengan jelas tentang perhatiannya terhadap
dunia binatang. Banyak dari idenya tentang faktor tingkah laku manusia,
tampaknya berkembang dari pengetahuannya tentang cara hidup binatang dan
jenisnya.
Latar belakang pendidikannya adalah kedokteran dan minatnya semasa
kecil terhadap pembiakan binatang terungkap dengan jelas dalam perhatian
profesinya terhadap faktor biologis, hereditas dan tingkah laku. Kita
menemukan uraian yang jelas dan meyakinkan tentang begitu pentingnya
struktur fisik tubuh sebagai faktor utama tingkah laku. Selanjutnya, tekniknya
untuk mengukur ciri-ciri struktural tubuh melibatkan penggunaan foto baku dan
prosedur yang dirancang secara jauh lebih saksama dan lebih dapat
direproduksikan dibandingkan dengan prosedur para pendahulunya. Yang
mendasari tekanan pada jasmani dan pengukurannya ini adalah keyakinan kuat
bahwa faktor biologis keturunan sangat penting dalam menentukan tingkah
laku dan pengertian bahwa teka-teki organisme manusia akan terungkap hanya
dengan semakin memahami faktor itu. Suatu psikologi yang sungguh utuh tidak
mungkin melepaskan diri dari faktor biologis. Jadi, di tengah dunia psikologi
yang

80 Psikologi Pendidikan
berpaham pada transaksi lingkungan, kita bertemu dengan Sheldon yang
berpaling dari dunia luar dan mengarahkan pandangannya pada struktur jasmani
yang secara diam-diam mendasari semua gejala tingkah laku.
Sheldon beranggapan bahwa dalam jasmani ini psikologi dapat
menemukan satuan konstan, sub-substruktur kokoh yang sangat dibutuhkan
untuk memasukkan konsep tentang regularitas dan konsistensi ke dalam studi
tingkah laku manusia.
1) Struktur Jasmani
Sesuai dengan pendekatan kebanyakan psikologi konstitusi lain, Sheldon
berusaha menentukan ukuran yang cocok untuk berbagai komponen
jasmani tubuh manusia. Perlu disadari bahwa ia tidak hanya mencari
sarana untuk mengklarifikasikan atau menggambarkan ragam jasmani.
Sheldon beranggapan bahwa ada kemungkinan memperoleh sekadar
gambaran tentang faktor-faktor ini melalui serangkaian pengukuran yang
didasari pada jasmani. Dalam pandangannya ada sejenis struktur biologis
hipotesis (morfogenotipe) yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati
(fenotipe) dan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam
menentukan perkembangan jasmani tetapi juga dalam membentuk tingkah
laku. Somatotype merupakan suatu usaha untuk mengukur morfogenotipe.
2) Dimensi Jasmani
Meskipun Sheldon mengetahui usaha-usaha para pendahulunya untuk
menciptakan tipologi atau mengukur jasmani, ia memulai usahanya secara
induktif Masalah utama yang dihadapinya ialah mendapatkan sejumlah
besar contoh tubuh yang dapat diteliti.
Untuk membuat cara praktis dan efisien, ia menggunakan teknik fotografi
untuk mengambil gambar foto individu dari depan, samping, dan belakang
yang berpose dengan cara tertentu di depan latar belakang yang baku. Cara
ini disebut Somatotype Performance Test dan dijelaskan secara rinci dalam
Atlas of Men, karangan Sheldon, dalam penelitian pentingnya yang
pertama tentang jasmani manusia Berikut ini diuraikan komponen dimensi
jasmani, yaitu primer jasmani, endormorfi, mesomorfi, dan ektomorfi.

Bab 5 Psikologi Behavioristik 81


a) Komponen Primer Jasmani
Setelah lama memeriksa, meneliti, dan menilai foto tersebut, Sheldon
mengambil kesimpulan bahwa selain tiga dimensi yang telah
ditemukan, kiranya tidak ada lagi kemungkinan untuk menemukan
komponen baru. Ketiga dimensi ini menjadi teknik pengukuran
struktur jasmani tubuh dan usaha menggambarkan serta mengukur
secara teliti ketiga dimensi tersebut memenuhi tahap selanjutnya
dalam kegiatan penelitian Sheldon.
b) Komponen Pertama = Endormorfi
Individu yang komponen endormorfi-nya tinggi sedangkan kedua
komponen lainnya rendah, kelihatan lembek atau bulat sesuai dengan
sifat lembek dan bulat itu, tulang dan ototnya kurang berkembang,
serta perbandingan antara tinggi dan berat badannya relatif rendah.
Orang yang demikian itu, memiliki berat jenis yang rendah dan
mudah mengapung di air, karena alat pencernaan berkembang dengan
baik pada jenis tubuh ini, sedangkan unsur fungsional dari struktur
pada mulanya berkembang dari lapisan embrionik endodemal. Oleh
karena itu, digunakan istilah Endormorfi.
c) Komponen Kedua = Mesomorfi
Jasmani yang berkembang dengan baik dalam komponen ini
merupakan nilai tengah antara kedua komponen lainnya. Tubuh
mesomorfik ini keras dan persegi dengan tulang dan otot-otot yang
menonjol, kokoh, tahan sakit, dan pada umumnya tahan melakukan
pekerjaan yang berat dan membutuhkan energi. Olahragawan,
pengelana, dan tentara profesional yang terbaik memiliki tipe jasmani
seperti ini.
d) Komponen Ketiga = Ektomorfi
Individu yang berada pada ekstrem atas pada komponen ini dan pada
ekstrem di bawah di kedua komponen lainnya. Berciri jangkung,
rapuh, berdada pipih, dan bertubuh halus. la biasanya kurus dan
kurang berotot. Seorang ektomorfi memiliki lebih banyak bagian
tubuh yang rata dibandingkan dua tipe fisik lainnya. Tubuhnya lebih
tampak rata daripada gempal. Ia juga

82 Psikologi Pendidikan
memiliki otak dan sistem saraf pusat yang terbesar dibandingkan
dengan keseluruhan tubuh. Atas alasan tersebut, Sheldon berpendapat
bahwa tipe fisik ini lebih lemah untuk bersaing dan bertahan secara
fisik.
1) Komponen Sheldon
Salah satu komponen sekunder yang terpenting adalah displasia. Istilah
yang dipinjam dari Kretscher ini digunakan Sheldon untuk menyebut suatu
campuran ketiga komponen primer yang tidak konsisten dan tidak
seimbang di berbagai daerah tubuh. Jadi, displasia merupakan ukuran
ketidak-harmonisan antara berbagai daerah jasmani, misalnya antara kepala
dan leher dari salah satu somatotipe atau antara lengan-lengan kaki dari
somatotipe lainnya.
2) Menetapkan Somatotype Wanita
Bagian terbesar dari penelitian awal tentang dimensi fisik Sheldon
dilakukan pada subjek pria. Jelas bahwa dalam masyarakat kita sanksi
terhadap penelitian tubuh telanjang manusia lebih keras ditujukan pada
wanita daripada pria. Oleh karena itu, sangat wajar bila karya awal di
bidang ini telah dilakukan dengan subjek laki-laki. Dalam bukunya yang
pertama tentang jasmani, Sheldon menegaskan bahwa buku yang tersedia
pada waktu itu menunjukkan bahwa 76 somatotype yang berhasil diamati
di kalangan laki-laki rupanya terjadi juga di kalangan wanita, walaupun
mungkin frekuensinya berbeda.
3) Analisis Tingkah Laku
Walaupun telah ada cara yang mantap untuk menilai aspek jasmaniah
tubuh manusia, psikolog konstitusi masih harus mengembangkan atau
meminjamkan suatu metode penilaian tingkah laku untuk menyelidiki
hubungan antara jasmani dan kepribadian. Dalam hal ini Sheldon mulai
dengan asumsi bahwa walaupun terdapat banyak dimensi atau variabel
lahiriah yang dapat dipakai untuk menggambarkan tingkah laku, di balik
semua itu terdapat sejumlah kecil komponen besar yang diharapkan dapat
menjelaskan secara kompleksitas dan varietas lahiriah tersebut. Mulailah
ia mengembangkan suatu teknik untuk mengukur komponen dasar ini
dengan mengambil hikmah penelitian kepribadian di masa lalu dan
mengagungkan pengetahuan induktifnya sendiri.

Bab 5 Psikologi Behavioristik 83


6) Komponen Primer Temperamen
Komponen pertama dinamakan Viskerotonia. Individu yang tinggi dalam
komponen ini memiliki ciri-ciri cinta atau suka pada kenyamanan, pergaulan,
makanan, orang-orang, dan kasih sayang. Sikap tubuh santai, bereaksi pelan,
berwatak tenang, bersikap terbuka dalam pergaulan dengan orang lain dan
umumnya mudah diajak bergaul dengan orang-orang lain. Sheldon
mengemukakan bahwa kepribadian jenis ini tampaknya banyak di sekitar
viskera atau organ- organ di dalam perut.
Komponen kedua dinamakan Somtotonia. Sektor yang tinggi dalam komponen
ini biasanya disertai dengan siap suka petualangan fisik, suka mengambil risiko,
sangat membutuhkan kegiatan otot dan fisik yang berat. Orang ini bersifat
agresif tidak peka terhadap perasaan orang lain, berpenampilan lebih matang dari
sebenarnya, suka ribut, pemberani, dan mudah takut berada dalam ruangan
sempit dan tertutup. Tindakan ketakutan dan kekerasan sangat penting bagi
orang semacam ini.
Komponen ketiga dinamakan Serebrotania. Skor yang tinggi pada komponen
ini menunjukkan sifat mengendalikan diri dan suka menyembunyikan diri.
Orang ini bersifat tertutup, pemalu, kelihatan muda, takut pada orang lain, dan
paling suka berada pada tempat sempit dan tertutup. Ia beraksi luar biasa cepat,
suka tidur dan senang menyendiri, khususnya kalau menghadapi kesukaran.
Orang yang demikian selalu berusaha untuk tidak menarik perhatian.
Sekarang dapat dilihat bagaimana Sheldon menentukan apa yang dianggapnya
sebagai komponen dasar jasmani (struktur) dan temperamen (fungsi) dan kita juga
telah memperhatikan bagaimana ia menciptakan alat-alat untuk mengukur komponen
tersebut. Di satu pihak, kita dapat memandang penelitian awalnya hanya sebagai
langkah persiapan bagi tujuan yang lebih penting, yakni mengukur tingkat hubungan
antara jasmani dan temperamen. Di lain pihak, jelas kiranya bahwa ukuran
somatotype dan ukuran temperamen memiliki nilai tersendiri yang tidak berasal dari
hasil penelitian yang akan dibicarakan di sini. Sebagian besar penelitian Sheldon
berkisar pada masalah seberapa besar hubungan yang ada antara jasmani dan
kepribadian.

84 Psikologi Pendidikan
Perlu diingat bahwa teori konstitusi lebih bersifat induktif dan kurang bernilai
teori dibandingkan dengan teori lain dalam psikologi. Bagi teori ini komponen primer
yang telah diuraikan dan hubungannya yang telah dibuktikan secara empiris adalah
jauh lebih utama daripada sekumpulan aksioma. Sheldon sendiri pada hakikatnya
adalah seorang naturalis yang keranjingan taksonomi.
Jadi, ia paling mahir dalam melakukan observasi tajam mengenai pola tingkah
laku dalam mengelompokkan atau menggolongkan individu yang memiliki
kesamaan tertentu. Akan tetapi, ia kurang terlatih untuk merumuskan atau
mensistematisasikan segi pandangannya sebagai berikut.

C. TEORI BELAJAR CONDITIONING  
1. Teori Classical Conditioning a. Ivan Pavlov
Ivan Pavlov adalah seorang ahli Psikologi Refleksologi dari Rusia yang
mengadakan percobaan dengan anjing. Moncong anjing dibedah sehingga kelenjar
ludahnya berada di luar pipinya dan dimasukkan di kamar gelap serta ada sebuah
lubang di depan moncong tempat menyodorkan makanan atau menyemprotkan
cahaya. Pada moncong yang dibedah dipasang selang yang dihubungkan dengan
tabung di luar kamar sehingga dapat diketahui keluar atau tidaknya air liur pada
waktu percobaan. Hasil percobaan mengatakan bahwa gerakan refleks itu dapat
dipelajari dan dapat berubah karena mendapat latihan, sehingga dapat dibedakan dua
macam refleks, yaitu refleks bersyarat/refleks yang dipelajari, yaitu keluarnya air liur
karena menerima/bereaksi terhadap warna sinar tertentu, atau terhadap suatu bunyi
tertentu.
Teori di atas juga disebut dengan teori classical, yang merupakan sebuah
prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum
terjadinya refleks tersebut. Disebut classical karena yang mengawali nama teori ini
untuk menghargai karya Ivan Pavlov yang paling pertama di bidang conditioning
(upaya pembiasaan), serta untuk membedakan dari teori lainnya. Teori ini disebut
juga respondent conditioning (pembiasaan yang dituntut). Teori ini sering disebut
juga contemporary behaviorists atau juga disebut S-R psychologists yang

Bab 5 Psikologi Behavioristik 85


berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran
(reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Jadi, tingkah laku
belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi behavioral dengan stimulasinya.
Guru yang menganut pandangan ini bahwa masa lalu dan pada masa sekarang
dan segenap tingkah laku merupakan reaksi terhadap lingkungan mereka
merupakan hasil belajar. Teori ini menganalisis kejadian tingkah laku dengan
mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku
tersebut.

b. John B. Watson
Ia merupakan orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan
teori belajar berdasarkan hasil penelitian Ivan Pavlov. Watson berpendapat
bahwa belajar merupakan proses terjadi refleks atau respons bersyarat melalui
stimulus pengganti. Manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi
emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk
oleh hubungan stimulus respons baru melalui conditioning. Ia mengadakan
eksperimen tentang perasaan takut pada anak dengan menggunakan tikus atau
kelinci. Dari hasil percobaannya dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut
pada anak dapat diubah atau dilatih. Anak-anak pada mulanya tidak takut
kepada kelinci dibuat menjadi takut pada kelinci. Kemudian anak tersebut
dilatih pula sehingga tidak menjadi takut lagi kepada kelinci.
Menurut teori conditioning, belajar itu merupakan suatu proses perubahan
yang terjadi karena adanya syarat-syarat (condition) yang kemudian
menimbulkan reaksi. Untuk menjadikan orang itu belajar haruslah kita
memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori
conditioning adalah latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini
adalah belajar yang terjadi secara otomatis. Teori ini mengatakan bahwa segala
tingkah laku manusia juga merupakan hasil conditioning, yaitu hasil latihan
atau kebiasaan bereaksi terhadap syarat atau perangsang tertentu yang dialami
dalam kehidupannya. Kelemahan teori ini adalah bahwa belajar itu hanyalah
terjadi secara otomatis dan keaktifan serta penentuan pribadi dalam belajar
tertentu saja seperti belajar tentang keterampilan tertentu dan pembiasaan pada
anak-anak kecil.

86 Psikologi Pendidikan
c. Teori Conditioning (Guthrie)
Teori ini memperluas penemuan John B. Watson tentang belajar, yang
mengemukakan bagaimana cara atau metode untuk mengubah kebiasaan yang
kurang baik berdasarkan teori conditioning ini. Tingkah laku manusia secara
keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan tingkah laku yang terdiri atas
unit-unit.
Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang
atau stimulus sebelumnya dan kemudian unit tersebut dapat menjadi stimulus
pula yang menimbulkan respons bagi unit tingkah laku berikutnya dan
seterusnya. Pada proses conditioning ini, umumnya terjadi proses asosiasi
antarunit tingkah laku yang berurutan. Latihan yang berkali- kali memperkuat
asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah
laku berikutnya. Pada percobaan Ivan Pavlov mengenai anjing yang penting
diperhatikan ialah dapat diubahnya stimulus tertentu dengan stimulus yang lain.
Menurut Guthrie, untuk menggunakan kebiasaan yang tidak baik harus
dilihat dalam rentetan deretan unit-unit tingkah lakunya, kemudian diusahakan
untuk menghilangkan unit yang tidak baik atau menggantinya dengan yang lain
atau yang seharusnya. Dalam mengubah tingkah laku atau kebiasaan pada
hewan maupun manusia ada beberapa metode. Pertama, Metode Reaksi
Berlawanan (Incompatible Response Method). Manusia merupakan suatu
organisme yang selalu mereaksi kepada perangsang tertentu. Jika suatu reaksi
terhadap perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara mengubahnya
adalah menghubungkan stimulus dengan respons yang berlawanan dengan
reaksi buruk yang hendak dihilangkan. Ada dua contoh untuk hal ini, yaitu
mengubah perilaku anak takut pada kelinci menjadi tidak takut lagi, dengan
memberinya makanan yang disukai berkali-kali sampai anak tidak takut pada
kelinci. Kemudian mengubah perilaku seorang pemabuk menjadi tidak
pemabuk, dengan memberinya suntikan yang menyebabkan muntah sebelum
disodori minuman dan dilakukan berkali-kali sehingga orang tersebut ingin
muntah kalau melihat minuman. Kedua, Metode Membosankan (Exhaustive
Method). Tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama, sehingga
makhluk itu menjadi bosan. Melalui metode ini dapat menggunakan contoh
sebagai berikut. Menjinakkan kuda

Bab 5 Psikologi Behavioristik 87


liar menjadi kuda tunggangan, dengan menggunakan cowboy secara bergantian
yang melatih menunggangi kuda itu dalam waktu berturut- turut sehingga
akhirnya kuda liar itu jinak. Ketiga, Metode Mengubah Lingkungan (Change of
Environment Method). Dengan jalan memisahkan hubungan antara S dan R
yang buruk, yang akan dihilangkan, yaitu menghilangkan kebiasaan buruk yang
disebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan mengubah perangsangnya sendiri.

2. Teori Operant Conditioning (Skinner)


Teori operant conditioning dari Burrhus Frederic Skinner penganut
behaviorisme yang dianggap kontroversial, dengan teori pembiasaan perilaku
responsnya, merupakan teori belajar yang paling muda dan masih sangat
berpengaruh di kalangan psikologi belajar masa kini. Karya tulis terbarunya
berjudul About Behaviorism. Di dalam karyanya, tingkah laku terbentuk oleh
konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri. Seperti Pavlov dan
Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara
perangsang dan respons. Perbedaannya, Skinner membuat perincian lebih jauh,
yang membedakan dua macam respons, yaitu respondent response dan operant
response.

a. Respondent Response (Reflexive Response)


Respondent response merupakan respons yang ditimbulkan oleh perangsang
tertentu, misalnya keluarnya air liur setelah melihat makanan tertentu, dan
umumnya perangsang yang demikian itu mendahului respons yang
ditimbulkannya.

b. Operant Response (Instrumental Response)


Operant response, yaitu respons yang timbul dan berkembangnya diikuti
oleh perangsang tertentu. Perangsang yang demikian disebut reinforcing stimuli
atau reinforce, karena perangsang itu memperkuat respons yang telah dilakukan
oleh organisme. Jadi, respons yang demikian itu mengikuti sesuatu tingkah laku
tertentu yang telah dilakukan. Misalnya, seorang anak yang belajar melakukan
perbuatan lalu mendapat hadiah, maka ia menjadi lebih giat belajar (responsnya
menjadi lebih intensif/ kuat).

88 Psikologi Pendidikan
Kenyataan bahwa jenis respons pertama (reflexive response) sangat
terbatas pada manusia, dan jenis respons kedua (operant response) merupakan
bagian terbesar dari tingkah laku manusia dan kemungkinan untuk
memodifikasinya hampir tidak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih
memfokuskan pada jenis tingkah laku yang kedua, yang penting bagaimana
menimbulkan, mengembangkan, dan memodifikasi tingkah laku.
Prosedur pembentukan tingkah laku dalam Operant Conditioning adalah
sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi hal-hal yang merupakan reinforcer (hadiah) bagi tingkah
laku yang akan dibentuk.
2. Menganalisis dan mengidentifikasi komponen kecil yang membentuk
tingkah laku dimaksud, kemudian komponen tersebut disusun dalam
urutan yang tepat untuk menuju pembentukan tingkah laku yang
dimaksud.
3. Urutan komponen tersebut sebagai tujuan sementara, dengan
mengidentifikasi reinforcer (hadiah) untuk masing-masing komponen itu.
4. Melakukan pembentukan tingkah laku, dengan menggunakan urutan
komponen yang telah disusun.
Jadi, Skinner menganggap reward atau reinforcement sebagai faktor
terpenting dalam proses belajar, serta tujuan psikologi adalah meramal dan
mengontrol tingkah laku. Perbedaan penting antara Pavlov Classical
Conditioning dan Skinner Operant Conditioning adalah dalam Classical
Conditioning, ada akibat-akibat suatu tingkah laku itu. Reinforcement tidak
diperlukan karena stimulasinya menimbulkan respons yang diinginkan. Jadi,
operant conditioning merupakan situasi belajar di mana suatu respons dibuat
lebih kuat akibat reinforcement langsung. Percobaannya adalah dengan
menggunakan tikus dalam sangkar, dengan menggunakan suatu discriminative
stimulus (tanda untuk memperkuat respons), seperti tombol, lampu, dan
pemindah makanan. Di samping itu, menggunakan pula suatu reinforcement
stimulus berupa makanan.
Dalam pendidikan, operant conditioning menjamin respons

Bab 5 Psikologi Behavioristik 89


terhadap stimulus. Apabila murid tidak mengajukan reaksi terhadap stimulus,
guru tidak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan perubahan
tingkah laku. Jenis stimulus adalah sebagai berikut.
1. Positive Reinforcement penyajian stimulus dengan meningkatkan
probabilitas suatu respons.
2. Negative Reinforcement: pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan,
yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respons.
3. Hukuman: pemberian stimulus yang tidak menyenangkan.
4. Primary Reinforcement: stimulus pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
fisiologis.
5. Secondary or learned reinforcement.
6. Modifikasi tingkah laku guru: perlakuan guru terhadap murid sesuai minat
kesenangan mereka.
Adapun penjadwalan reinforcement terdiri atas empat cara penjadwalan
reinforcement yang menguraikan kapan dan bagaimana suatu respons dibuat.
1. Fixed ratio schedule: didasarkan pada penyajian bahan pelajaran yang
mana pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respons setelah
terjadi jumlah tertentu dari respons.
2. Variable ratio schedule: yang didasarkan atas penyajian bahan pelajaran
dengan penguat setelah sejumlah rata-rata respons.
3. Fixed internal schedule: yang didasarkan atas satuan waktu.
4. Tetap di antara reinforcement.
5. Variable interval schedule: pemberian reinforcement menurut respons yang
pertama setelah terjadi kesalahan respons.

3. Teori Systematic (Clark C. Huli)


Teori ini menggunakan prinsip-prinsip yang mirip dengan yang
dikemukakan behavioris lainnya, yaitu dasar stimulus-respons dan adanya
reinforcement. Teori ini juga dalam usahanya mengembangkan teori belajar.

90 Psikologi Pendidikan
Menurut Hull, suatu kebutuhan harus ada dalam diri seseorang yang belajar.
Sebelum respons dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. Dalam
hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan
kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar oleh respons yang
dibuat individu itu. Setiap objek, kejadian, atau situasi dapat mempunyai nilai
sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu
keadaan depresi atau kekurangan pada diri individu yaitu objek, kejadian, atau
situasi tadi dapat menjawab kebutuhan pada saat individu itu melakukan respons.
Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi,
mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai
pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang, misalnya uang,
perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial tingkat tinggi. Jadi, prinsip utama adalah
suatu kebutuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi;
dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai
sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan atau memuaskan kebutuhannya.
Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull, yaitu adanya
motif atau motivation (motivasi insentif), dan drive stimulus reduction
(pengurangan stimulus pendorongan). Kecepatan merespons berubah bila
besarnya hadiah (reward) berubah. Penggunaan teori belajar secara praktis dari
Hull untuk kegiatan dalam kelas adalah sebagai berikut.
1. Teori belajar didasarkan drive reduction atau drive stimulus reduction.
2. Instructional objektif harus dirumuskan secara spesifik dan jelas.
3. Ruangan kelas harus diatur sedemikian rupa, sehingga memudahkan
terjadinya proses belajar.
4. Pelajaran harus dimulai dari yang sederhana/mudah menuju ke yang lebih
kompleks/sulit.
5. Kecemasan harus ditimbulkan untuk mendorong kemauan belajar.
6. Latihan harus didistribusikan dengan hati-hati supaya tidak terjadi inhibisi.
Dengan kata lain, kelelahan tidak boleh mengganggu belajar.
7. Urutan mata pelajaran diatur sedemikian rupa.

Bab 5 Psikologi Behavioristik 91


3. Teori Belajar Connectionism (Thorndike)
Teori Thorndike di Amerika Serikat terkenal dengan nama teori belajar
Connectionism karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi antara
stimulus dan respons. Teori ini disebut Trial and Error dalam rangka memilih
respons yang tepat bagi stimulus tertentu. Penelitiannya melihat tingkah laku
berbagai binatang antara lain kucing, tingkah laku anak-anak dan orang dewasa.
Objek penelitian dihadapkan kepada situasi baru yang belum dikenal dan
membiarkan objek melakukan berbagai pola aktivitas untuk merespons situasi
itu. Dalam hal ini objek mencoba berbagai cara reaksi, sehingga menemukan
keberhasilan dalam membuat koneksi suatu reaksi dengan stimulasinya. Ciri-
ciri belajar dengan Trial and Error adalah ada motif pendorong aktivitas, ada
berbagai respons terhadap situasi, ada eliminasi respons yang gagal/salah, dan
ada kemajuan reaksi mencapai tujuan.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Thorndike menemukan hukum- hukum
sebagai berikut.
1. Law of readines: jika reaksi terhadap stimulus didukung oleh kesiapan
untuk bertindak atau bereaksi, maka reaksi menjadi memuaskan.
2. Law of exercise: semakin banyak dipraktikkan atau digunakannya
hubungan stimulus-respons, makin kuat hubungan itu. Praktik perlu
disertai dengan reward.
3. Law of effect: apabila terjadi hubungan antara stimulus dan respons dan
diikuti dengan State of affairs yang memuaskan, maka hubungan itu
menjadi lebih kuat. Jika sebaliknya, kekuatan hubungan menjadi
berkurang.
Menurut hasil penelitian tersebut, proses belajar melalui proses trial and
error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan), dan law of effect: merupakan
segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok
dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baiknya.
Kelemahan teori ini adalah (1) memandang manusia sebagai mekanistis dan
otomatisme belaka disamakan dengan hewan, tidak selalu tingkah laku manusia
dapat dipengaruhi secara trial and error (tidak laku mutlak), dan (2)
memandang belajar hanya merupakan asosial belaka antara stimulus dan
respons, sehingga yang

92 Psikologi Pendidikan
dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-
latihan, atau ulangan yang terus-menerus, dan (3) karena proses belajar
berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak dipandangnya sebagai
suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur
yang pokok dalam belajar.

5. Teori Bandura
Menurut A. Bandura, belajar itu lebih dari sekadar perubahan perilaku.
Belajar adalah pencapaian pengetahuan dan perilaku yang didasari oleh
pengetahuannya tersebut (Teori Kognitif Sosial).
Lewat teori observational learning, Bandura beranggapan bahwa masalah
proses psikologi terlalu dianggap penting, atau sebaliknya hanya ditelaah
sebagian saja. Orang dapat melibatkan diri dalam pikiran simbolik, orang
cenderung untuk membimbing dirinya sendiri dalam belajar, dan lingkungannya
dapat dipengaruhi perilaku tiruan. Menurut Bandura, yang penting ialah
kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dari perilaku orang
lain. Pengambilan keputusan dilakukan mengenai perilaku mana yang akan
menjadi alternatif dan kemudian melakukan perilaku yang dipilih. Prinsip
belajar menurut Bandura adalah usaha menjelaskan belajar dalam situasi alami.
Hal ini berbeda dengan situasi di laboratorium atau pada lingkungan sosial yang
banyak memerlukan pengamatan tentang pola perilaku beserta konsekuensinya.
Kritik Bandura terhadap belajar itu sebagai hubungan antara stimulus dan
respons adalah (1) kurang menjelaskan tentang diperolehnya respons yang baru.
Dalam situasi alami, menurut Bandura orang akan berbuat lebih banyak
daripada sekadar meniru perilaku yang telah ada, dan (2) hanya mengamati
direct learning (belajar langsung), yaitu orang berperilaku sesuatu dan
mengalami akibatnya (konsekuensi). Sebaliknya, Bandura mengatakan bahwa
seorang anak dalam hubungan pribadinya dengan orang dewasa, melalui
interaksi anak dengan orang tuanya, dengan perasaan irinya dan sebagainya
menyebabkan anak meniru perilaku tertentu. Jadi, peniruan itu tidak terbatas
hanya pada satu orang tua saja, hubungan antara orang tua dan anak bukanlah
satu-satunya prasyarat untuk peniruan. Demikian juga perasaan takut terhadap
seorang tipe penyerang bukanlah prasyarat peniruan perilakunya.

Bab 5 Psikologi Behavioristik 93


Perilaku seseorang dan lingkungan itu dapat dimodifikasi. Buku tidak
berpengaruh terhadap seseorang, kecuali kalau ada orang yang menulisnya dan
orang yang memilih untuk membaca. Dengan demikian, hadiah atau hukuman
tidak akan banyak bermakna, kecuali diikuti oleh lahirnya perilaku yang
diharapkan. Diperolehnya perilaku yang kompleks bukan hanya disebabkan
oleh hubungan dua arah antara pribadi dan lingkungan, melainkan hubungan
tiga arah antara perilaku-lingkungan-peristiwa batiniah (reciprocal
determinism/determinasi timbal balik). Contoh: Seorang yang telah berlatih,
akan timbul perasaan percaya diri. Perilakunya menimbulkan reaksi baru, yang
pada akhirnya reaksi ini mempengaruhi kepercayaan dirinya yang kemudian
menimbulkan perilaku berikutnya dan dapat melukiskan perilaku yang baru itu,
meskipun dia tidak melakukannya.
Peranan utama model perilaku dari luar dirinya, memberikan berbagai
kemungkinan pada dirinya, yaitu (1) perilaku itu dicontohkan/ditiru, (2)
perilaku itu memperkuat atau memperlemah, dan (3) perilaku itu menyebabkan
pindah ke perilaku yang sama sekali baru. Urutan langkah dalam observasi
pembelajaran adalah model perilaku; model diperhatikan; perilaku dikode dan
disimpan (coding and memorizing); diperoleh kode simbolis; motivasi
berperilaku; kemampuan berperilaku; dan perilaku.
Adapun analisis teori belajar aliran psikologi behavioristik sebagai teori
belajar dari psikologi behavioristik sebagaimana telah dijelaskan di atas secara
garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu teori conditioning dan teori
connectionism. Teori conditioning dibedakan lagi menjadi empat, yaitu (1)
classical conditioning, (2) conditioning, (3) operant conditioning, dan (4)
sistematic behavior. Semua penemu teori tersebut mambahas tentang teori
belajar, melalui eksperimen yang berbeda sehingga menghasilkan cara belajar.
Teori belajar tersebut ada yang mirip atau meneruskan teori yang ada pada
umumnya ke arah perilaku belajar.

4. Classical Conditioning
Melalui eksperimen anjing dengan bunyi bel sebagai stimulasi dan
makanan sebagai responsnya sehingga air liur anjing keluar. Manusia
disamakan dengan anjing, dalam arti perilaku manusia dikendalikan oleh

94 Psikologi Pendidikan
ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement). Tingkah laku belajar
terdapat jalinan yang erat antara reaksi behavior dengan stimulasinya.Teori ini
oleh Ivan Pavlov disebut teori yang classical karena ia yang pertama kali
menemukannya. Teori ini cocok untuk zaman itu dan sekarang tampaknya teori
ini lebih mengena pada anak-anak saja. Memasuki abad ke-21 perkembangan
teknologi dan informasi sangat jauh berbeda pada saat ditemukannya teori ini,
sehingga perilaku manusia juga befubah mengikuti perkembangan zaman.
Kalaupun masih ada persamaan, ini dapat ditemui pada bangsa yang
kehidupannya masih sangat tertinggal, sehingga belum tentu semua bangsa
dapat menerapkan teori ini. Hal ini sangat bergantung pada kesejahteraan suatu
bangsa serta tingkat kebutuhan berada pada level yang mana (teori kebutuhan
Maslow).

7. Teori Conditioning
John B. Watson termasuk kelompok pakar dari classical conditioning yang
mengembangkan teori yang telah ditemukan oleh Ivan Pavlov. Tingkah laku
manusia sebagai hasil dari conditioning (hasil dari latihan), atau teori ini
menekankan latihan yang kontinu. Belajar merupakan proses yang terjadi dari
refleksi respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Manusia dilahirkan
dengan beberapa refleks dan reaksi emosional seperti takut, cinta, dan marah.
Teori belajar conditional menekankan bahwa merupakan proses perubahan
yang terjadi karena syarat-syarat (condition) yang menimbulkan reaksi
(response). Inti teori ini diambil dari eksperimen bahwa anak kecil yang semula
memiliki perasaan takut dapat diubah atau dilatih tidak takut melalui tikus atau
kelinci. Jadi, latihan yang kontinu atau berulang-ulang akan mengubah tingkah
laku manusia, dalam hal ini anak kecil saja, bukan untuk orang dewasa. Melalui
latihan yang kontinu mungkin lebih tepat untuk belajar, sifatnya skill atau
keterampilan tertentu dan pembiasaan pada anak-anak kecil saja. Kelemahan
teori ini adalah belajar terjadi secara otomatis, keaktifan dan penentuan pribadi
dalam hal-hal belajar tertentu saja.
Teori ini ditemukan oleh Guthrie yang memperluas teori tentang belajar
oleh J.B. Watson berupa mengubah kebiasaan yang kurang baik.

Bab 5 Psikologi Behavioristik 95


Metode mengubah tingkah laku yang kurang baik dilakukan melalui metode
reaksi berlawanan, metode membosankan, dan metode mengubah lingkungan.
Teori Guthrie ini merupakan pengembangan teori belajar dari Watson, di mana
latihan-latihan yang kontinu tersebut sebagai proses terjadinya refleksi-
refleksi/respons bersyarat melalui stimulus pengganti, kemudian mengubah
kebiasaan yang kurang baik sebagaimana dijelaskan di atas. Oleh karena itu,
teori ini sudah lebih bagus dari teori-teori sebelumnya seperti Ivan Pavlov dan
Watson. Adapun perkembangan situasi dan kondisi saat ini sudah lebih baik
sehingga kondisi perilaku juga berbeda seiring dengan perkembangan zaman.
Oleh karena itu, sifat kebiasaan kurang baik saat ini kadarnya juga sudah
berbeda.

5. Operant Conditioning
Menurut teori Skinner, tingkah laku terbentuk dari konsekuensi yang
ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri, sedangkan tingkah laku merupakan
hubungan antara stimulus dan respons. Ada dua macam respons, yaitu
responden response dan operant response (timbul dan berkembang yang diikuti
perangsang tertentu dan fokus Skinner pada perilaku ini). Dalam proses belajar
reward atau reinforcement menjadi faktor terpenting dalam teori ini, karena
perangsang itu memperkuat respons yang telah dilakukan. Misalnya, sistem
hadiah pada anak yang telah melakukan hasil yang baik, sehingga anak menjadi
lebih giat belajar. Namun di sisi lain, kebiasaan mendapat hadiah akan
mengubah perilaku anak; ia selalu menunggu hadiah, kalau tidak ada hadiah
tidak mau belajar. Hal ini akan menjadi kebiasaan sampai dewasa, sedangkan
keberhasilan belajar merupakan kepentingannya sendiri guna masa depan yang
lebih baik.

6. Teori Sistematic Behavior


Teori ini dikemukakan oleh Clark C. Hull, yang menggunakan prinsip-
prinsip yang mirip dengan behavioris lainnya, yaitu berdasarkan stimulus-
respons dan adanya reinforcement. Teori ini juga mengembangkan teori belajar
bahwa kebutuhan harus ada dalam diri seseorang yang sedang belajar. Dua hal
yang penting dari teori ini, yaitu adanya motive motivation dan pengurangan
stimulus pendorong, serta kecepatan merespons berubah

96 Psikologi Pendidikan
bila besarnya hadiah berubah. Jadi, melalui teori ini hadiah menjadi penentu
kecepatan respons, dan teori ini akan membentuk anak belajar yang tergantung
kepada hadiah yang akan diberikan. Teori ini hanya mungkin terjadi pada orang
yang masih anak-anak bukan untuk orang dewasa. Apabila hal ini terus sampai
dewasa akan merusak mental yang bersangkutan.

10. Teori Connectionism


Teori ini ditemukan oleh Thorndike, yang menggunakan eksperimen
kucing, anak-anak, dan orang dewasa bahwa belajar merupakan proses
pembentukan koneksi antara stimulus dan respons. Teori ini disebut juga teori
Trial and Error Learning. Individu yang belajar melakukan kegiatan belajarnya
melalui proses trial and error dalam rangka memilih respons yang tepat bagi
stimulus tertentu. Dalam teori ini, objek mencoba berbagai cara bereaksi
sehingga menemukan keberhasilan dalam membuat koneksi suatu reaksi dengan
stimulinya. Teori ini merumuskan hukum-hukum, yaitu law of readiness, law of
exercise, dan law of effect. Belajar melalui proses berupa trial dan error dan law
of effect.
Teori ini menyamakan manusia dengan hewan dan tidak selalu tingkah
laku manusia dapat dipengaruhi secara trial dan error. Kemudian ia
memandang belajar hanya merupakan asosial belaka antara stimulus dan
respons, sehingga memperkuat asosiasi dengan latihan-latihan. Ia memandang
proses belajar berlangsung secara mekanistis, tidak dipandangnya sebagai suatu
pokok dalam belajar dan mengabaikan pengertian sebagai unsur pokok dalam
belajar.
Dari analisis di atas jelaslah bahwa teori belajar psikologi behavioristik
yang dikemukakan oleh para psikolog behavioristik, sering disebut
contemporary behaviorist atau disebut juga S-R psychologist bahwa tingkah
laku manusia dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan
(reinforcement) dari lingkungan. Oleh karena itu, dalam tingkah laku belajar
ternyata terdapat hubungan yang erat antara reaksi behavioral dengan
stimulasinya.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang teori dan konsep behavioristik
dalam uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan usaha untuk
menyesuaikan diri terhadap kondisi atau situasi

Bab 5 Psikologi Behavioristik 97


di sekitar kita, dalam proses ini termasuk mendapatkan pengertian dan sikap
yang baru. Dengan demikian, terjadi perubahan perilaku yang sebelumnya tidak
mengenal/mengerti menjadi mengerti terhadap suatu hal. -
Jadi, secara sadar bahwa dalam proses belajar ini yang diutamakan adalah
bagaimana individu dapat menyesuaikan diri terhadap rangsangan lingkungan
kemudian individu ini mengadakan reaksi. Reaksi yang dilakukan merupakan
usaha untuk menciptakan kegiatan sekaligus menyelesaikannya, dan akhirnya
mendapatkan hasil yang mengakibatkan perubahan pada dirinya sebagai hal
baru serta menambah pengetahuan. Perubahan perilaku yang dimaksud tentunya
berupa adanya stimulus yang berulang-ulang dan dirasakan bermanfaat bagi
individu serta memiliki nilai positif dalam mempelajari hal yang baru. Belajar
bertujuan untuk mengubah sikap positif, artinya apabila seseorang belajar
sesuatu hal yang baru tergantung stimulus di sekitarnya (faktor lingkungan yang
kondusif memberikan kenyamanan dalam proses belajar), termasuk keaktifan
proses mental yang sering dilatih dan akhirnya menjadi suatu kegiatan yang
terbiasa.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa belajar merupakan kegiatan penting
yang harus dilakukan setiap orang secara maksimal untuk dapat mengatasi atau
memperoleh sesuatu. Prinsip-prinsip belajar meliputi kematangan jasmani dan
rohani; jasmani sehat, kuat, umur cukup, dan secara psikologis memiliki
kemampuan berpikir termasuk ingatan dan fantasi; memiliki kesiapan; kesiapan
mental (minat, motivasi), dan fisik yang sehat; memahami tujuan; arah tujuan
belajar dipahami dan mengetahui manfaat belajar bagi dirinya; memiliki
kesanggupan; sungguh-sungguh dalam melakukan dan mengharapkan hasil
yang memuaskan, serta maksimal; ulangan dan latihan; sesuatu yang dipelajari
perlu diulang agar meresap dalam otak; faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar, yaitu faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar berasal dari
dalam diri orang yang belajar dan ada dari luar dirinya.

98 Psikologi Pendidikan
D.  FAKTOR DARI DALAM DIRI 
1. Kesehatan
Apabila orang selalu sakit (sakit kepala, pilek, demam) mengakibatkan
tidak bergairah belajar dan secara psikologi sering mengalami gangguan pikiran
dan perasan kecewa karena konflik.

2. Inteligensi
Faktor inteligensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemajuan
belajar.

3. Minat dan Motivasi


Minat yang besar (keinginan yang kuat) terhadap sesuatu merupakan
modal besar untuk mencapai tujuan. Motivasi merupakan dorongan diri sendiri,
umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu. Motivasi juga dapat
berasal dari luar dirinya yaitu dorongan dari lingkungan, misalnya guru dan
orang tua.

4. Cara Belajar
Perlu diperhatikan teknik belajar, bagaimana bentuk catatan yang
dipelajari dan pengaturan waktu, belajar, tempat serta fasilitas belajar lainnya.

E.  FAKTOR DARI LUAR DIRI 
1. Keluarga
Situasi keluarga (ayah, ibu, saudara, adik, kakak, serta famili) sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam keluarga. Pendidikan orang tua,
status ekonomi, rumah kediaman, persentase hubungan orang tua, perkataan,
dan bimbingan orang tua, mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak.

2. Sekolah
Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat instrumen pendidikan,
lingkungan sekolah, dan rasio guru dan murid per kelas (40- 50 peserta didik),
mempengaruhi kegiatan belajar siswa.

Bab 5 Psikologi Behavioristik 99


1. Masyarakat
Apabila di sekitar tempat tinggal keadaan masyarakat terdiri atas orang-
orang yang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi
dan moralnya baik, hal ini akan mendorong anak lebih giat belajar.

2. Lingkungan Sekitar
Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, dan iklim dapat
mempengaruhi pencapaian tujuan belajar, sebaliknya tempat-tempat dengan
iklim yang sejuk, dapat menunjang proses belajar.

100 Psikologi Pendidikan


FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI BELAJAR

Kemampuan belajar peserta didik sangat menentukan keberhasilannya


dalam proses belajar. Di dalam proses belajar tersebut, banyak faktor yang
mempengaruhinya, antara lain motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan
konsep diri. Berikut ini diuraikan kelima faktor tersebut dalam mempengaruhi
belajar.

A. MOTIVASI 
Motivasi menurut Sumadi Suryabrata6 adalah keadaan yang terdapat dalam
diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna
pencapaian suatu tujuan. Sementara itu Gates7 dan kawan-kawan
mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis
yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara
tertentu. Adapun Greenberg8 menyebutkan bahwa motivasi adalah proses
membangkitkan, mengarahkan, dan memantapkan perilaku arah suatu tujuan.
Dari tiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi
fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang
mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan
(kebutuhan).
Sehubungan dengan kebutuhan hidup manusia yang mendasari timbulnya
motivasi, Maslow9 mengungkapkan bahwa kebutuhan dasar

6 Sumardi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1984), hlm. 70.


7 Arthur J. Gates, et. al., Educational Psychology, (New York: The MacMillan Com- pany,
1954), hlm. 301.
8 Greenberg, Jerald, Managing Behaviors in Organizations, (New York: Prentice Hall,
1996), hlm. 62-93.
9 Abraham H. Maslow, Motivation andPersonality, (New York: Harper & Row Pub-
lishers, 1970), hlm. 35-47.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 101


hidup manusia itu terbagi atas lima tingkatan, yaitu kebutuhan fisiologis,
kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan harga diri, dan
kebutuhan akan aktualisasi diri.
Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan pokok yang harus dipenuhinya
dengan segera seperti keperluan untuk makan, minum, berpakaian, dan
bertempat tinggal.
Kebutuhan keamanan adalah kebutuhan seseorang untuk
memperoleh keselamatan, keamanan, jaminan, atau perlindungan dari
ancaman yang membahayakan kelangsungan hidup dan kehidupan dengan
segala aspeknya.
Kebutuhan sosial adalah kebutuhan seseorang untuk disukai dan
menyukai, dicintai dan mencintai, bergaul, berkelompok, bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
Kebutuhan akan harga diri adalah kebutuhan seseorang untuk
memperoleh kehormatan, penghormatan, pujian, penghargaan, dan
pengakuan.
Kebutuhan akan aktualisasi diri adalah kebutuhan seseorang untuk
memperoleh kebanggaan, kekaguman, dan kemasyhuran sebagai pribadi
yang mampu dan berhasil mewujudkan potensi bakatnya dengan hasil
prestasi yang luar biasa.
Menurut Maslow10, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas
seratus persen. Bagi manusia, kepuasan sifatnya sementara. Jika suatu
kebutuhan telah terpenuhi, orang tidak lagi berkeinginan memenuhi
kebutuhan tersebut, tetapi berusaha untuk memenuhi kebutuhan lain yang
lebih tinggi tingkatannya. Jadi, kebutuhan yang mendapat prioritas pertama
untuk dipuaskan adalah kebutuhan dasar fisiologis. Setelah kebutuhan
tersebut terpenuhi, orang akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan
lain yang lebih tinggi tingkatannya, seperti kebutuhan keamanan, kebutuhan
sosial, kebutuhan berprestasi, dan seterusnya. Berarti untuk dapat
berprestasi dengan baik, seseorang harus memenuhi terlebih dahulu
kebutuhan dasar fisiologis dan keamanan. Atau dengan perkataan lain,

10 Ibid., hlm. 46.

102 Psikologi Pendidikan


seseorang tidak mungkin bisa berprestasi dengan baik jika perutnya lapar serta
keamanannya terganggu.
Sementara itu McClelland11 mengemukakan bahwa di antara kebutuhan
hidup manusia terdapat tiga macam kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk
berprestasi, kebutuhan untuk berafiliasi, dan kebutuhan untuk memperoleh
makanan.
Karena uraian ini berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi belajar,
maka konteks motivasi yang sesuai di sini adalah motivasi berprestasi. Dengan
demikian, motivasi berprestasi adalah kondisi fisiologis dan psikologis
(kebutuhan untuk berprestasi) yang terdapat di dalam diri siswa yang
mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan
tertentu (berprestasi setinggi mungkin).
McClelland dalam The Encyclopedia Dictionary of Psychology yang
disusun oleh Hare dan Lamb12 mengungkapkan bahwa motivasi berprestasi
merupakan motivasi yang berhubungan dengan pencapaian beberapa standar
kepandaian atau standar keahlian. Sementara itu, Heckhausen13 mengemukakan
bahwa motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang terdapat dalam diri
siswa yang selalu berusaha atau berjuang untuk meningkatkan atau memelihara
kemampuannya setinggi mungkin dalam semua aktivitas dengan menggunakan
standar keunggulan.
Standar keunggulan ini, menurut Heckhausen14 terbagi atas tiga komponen,
yaitu standar keunggulan tugas, standar keunggulan diri, dan standar
keunggulan siswa lain. Standar keunggulan tugas adalah standar yang
berhubungan dengan pencapaian tugas sebaik-baiknya. Standar keunggulan diri
adalah standar yang berhubungan dengan pencapaian prestasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan prestasi yang pernah dicapai

11 David C. McClelland, et. al., The Achievement Motive, (New York: Irvington Pub- lisher,
1976), hlm. 75.
12 Rom Hare and Roger Lamb, Ed., The Encyclopedia Dictionary of Psychology, (Lon- don:
Brasil Blackwell Publisher Ltd., 1983), hlm. 3.
13 H. Heckhausen, The Anatomy of Achievement Motivation. (New York: Academic Press,
1967), hlm. 4-5.
14 Ibid., hlm. 4-5.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 103


selama ini. Adapun standar keunggulan siswa lain adalah standar keunggulan
yang berhubungan dengan pencapaian prestasi yang lebih tinggi dibandingkan
dengan prestasi yang dicapai oleh siswa lain (misalnya teman sekelas). Standar
ini lebih ditujukan kepada keinginan siswa untuk menjadi juara pertama dalam
setiap kompetisi.
Sementara itu Ausubel seperti dikutip oleh Howe15 mengemukakan bahwa
motivasi berprestasi terdiri atas tiga komponen, yaitu dorongan kognitif, An
ego-enhancing one, dan komponen afiliasi. Dorongan kognitif adalah keinginan
siswa untuk mempunyai kompetensi dalam subjek yang ditekuninya serta
keinginan untuk menyelesaikan tugas yang dihadapinya dengan hasil yang
sebaik-baiknya. An ego-enhanching one maksudnya keinginan siswa untuk
meningkatkan status dan harga dirinya (self-esteem), misalnya dengan jalan
berprestasi dalam segala bidang, sedangkan komponen afiliasi adalah keinginan
siswa untuk selalu berafiliasi dengan siswa lain.
Peranan motivasi dalam mempelajari tingkah laku seseorang besar sekali.
Hal ini menurut Wisnubroto Hendro Juwono16 disebabkan, motivasi diperlukan
bagi rein-forcement (stimulus yang memperkuat dan mempertahankan tingkah
laku yang dikehendaki) yang merupakan kondisi mutlak bagi proses belajar,
motivasi menyebabkan timbulnya berbagai tingkah laku, di mana salah satu di
antaranya mungkin dapat merupakan tingkah laku yang dikehendaki.
Eysenck17 dan kawan-kawan dalam Encyclopedia of Psychology menjelaskan
bahwa fungsi motivasi antara lain adalah menjelaskan dan mengontrol tingkah
laku. Menjelaskan tingkah laku berarti dengan mempelajari motivasi, dapat
diketahui mengapa siswa melakukan suatu pekerjaan dengan tekun dan rajin,
sementara siswa lain acuh terhadap pekerjaan itu. Mengontrol tingkah laku
maksudnya, dengan mempelajari

15 Michael J. A. Howe, A Teacher 's Guide to The Psychology of Learning. (New York:
Brasil Blackwell, Inc., 1984), hlm. 143
16 Wisnubroto Hendro Juwono, "Pengantar Psikologi Belajar”, dalam Materi Dasar
Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi, buku IIc,
Psikologi Belajar. (Depdikbud Dikti, Proyek NKK, 1982), hlm. 4.
17 H. J. Eysenck, et al., Encyclopedia of Psychology. (New York: The Continuum Pub-
lishing Company, 1972), hlm. 682-683.

104 Psikologi Pendidikan


motivasi dapat diketahui mengapa seseorang sangat menyenangi suatu objek
dan kurang menyenangi objek yang lain.
Jika dikaitkan dengan kegiatan belajar mengajar, siswa akan berusaha
untuk selalu mendekati hal-hal yang menyenangkan. Bagi guru, ini merupakan
prinsip penting, yaitu menimbulkan suasana stimulus yang selalu
menyenangkan siswa, sehingga siswa selalu berkeinginan untuk belajar.
Atkinson seperti dikutip Houston18 mengemukakan bahwa di antara
kebutuhan hidup manusia, terdapat kebutuhan untuk berprestasi, yaitu
dorongan untuk mengatasi hambatan, melatih kekuatan, dan berusaha untuk
melakukan suatu pekerjaan yang sulit dengan cara yang baik dan secepat
mungkin, atau dengan perkataan lain usaha seseorang untuk menemukan atau
melampaui standar keunggulan. Menurut Atkinson19, motivasi seseorang
ditentukan oleh dua faktor, yaitu harapan terhadap suatu subjek dan nilai dari
objek itu. Makin besar harapan seseorang terhadap suatu objek dan makin tinggi
nilai objek itu bagi orang tersebut, berarti makin besar motivasinya.
Begitu juga sebaliknya. Hubungan antara motivasi dengan harapan dan
nilai, oleh Atkinson20 dirumuskan sebagai berikut: (motivasi = harapan x nilai).
Hal ini berarti jika salah satu di antara kedua faktor di atas tidak ada (harapan
atau nilai tidak ada), maka tidak akan ada motivasi pada diri seseorang.
Lebih lanjut Atkinson21 mengemukakan bahwa di dalam diri setiap
individu selalu terdapat pertentangan antara harapan akan sukses yang
menyebabkan seseorang termotivasi untuk mencari atau mendekati pencapaian
tujuan, sedangkan rasa takut akan mengalami kegagalan menyebabkan orang
termotivasi untuk menjauhi atau menghindari pencapaian tujuan. Motivasi yang
terjadi pada diri seseorang menurut Atkinson22 adalah hasil dari interaksi antara
harapan akan sukses dan

18 John P. Houston, Motivation, (London: Collier McMilland Publishers, 1985), hlm. 239.

19 Ibid., hlm. 238.


20 Ibid., hlm. 244.
21 Ibid., hlm. 245.
22 Ibid., hlm. 251.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 105


rasa takut akan mengalami kegagalan. Jika kedua keadaan ini terjadi pada
diri pribadi seseorang dalam waktu yang bersamaan, maka motivasi yang
muncul dalam diri orang itu merupakan hasil (resultant) dari kedua keadaan
tersebut, di mana keadaan yang dominan akan menang. Ini berarti jika harapan
akan sukses lebih besar dibandingkan dengan rasa takut akan mengalami
kegagalan, maka orang akan termotivasi untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya
jika rasa takut akan mengalami kegagalan lebih dominan dibandingkan dengan
harapan akan sukses, maka orang akan termotivasi untuk menjauhi atau
menghindari pencapaian tujuan tersebut. Menurut Atkinson23 seseorang yang
mempunyai motivasi berprestasi tinggi pada umumnya harapan akan suksesnya
selalu mengalahkan rasa takut akan mengalami kegagalan. Ia selalu merasa
optimis dalam mengerjakan setiap apa yang dihadapinya, sehingga setiap saat
selalu termotivasi untuk mencapai tujuannya.
Berkaitan dengan hubungan antara motivasi berprestasi dengan prestasi
belajar siswa, Bruner24 mengemukakan bahwa siswa dengan tingkat motivasi
berprestasi tinggi, cenderung untuk menjadi lebih pintar sewaktu mereka
menjadi dewasa.
Johnson mendefinisikan motif ini sebagai berikut ...achievement motive
can be defined as impetus to do well relative to some Standard of excellence.2S
Adapun Fremount E. Kast dan James E. Roseinzweig memberi pengertian
motivasi adalah dorongan yang datang dari dalam diri seseorang untuk
melakukan tindakan tertentu. Buchari Zainun menyebutkan, motivasi adalah
bagian fundamental dari kegiatan manajemen, sehingga dapat ditujukan untuk
pengerahan potensi dan daya manusia dengan jalan menimbulkan dan
menumbuhkan keinginan yang tinggi, kebersamaan dalam menjalankan tugas.26
Karena judul topik adalah faktor-faktor yang

23 Ibid., hlm. 267.


24 Jerome S. Bruner, Relevance ofEducation, (Harmonsworth, Midlesex: A Davidson of
Penguin Book Ltd., 1974), hlm. 157.
25 Johnson David W., The Social Psychology of Education, (New York: Holt, Rinehart and
Winston Inc., 1970), hlm. 111.
26 Buchari Zainun, Manajemen dan Motivasi, (Jakarta: Balai Aksara, 1979), hlm. 10.

106 Psikologi Pendidikan


mempengaruhi belajar, maka uraian ini akan lebih difokuskan kepada
motivasi belajar, dalam hal ini motivasi berprestasi.
Motivasi berprestasi dapat diartikan dorongan untuk mengerjakan suatu
tugas dengan sebaik-baiknya berdasarkan standar keunggulan. Motivasi
berprestasi bukan sekadar dorongan untuk berbuat, tetapi mengacu kepada
suatu ukuran keberhasilan berdasarkan penilaian terhadap tugas yang
dikerjakan seseorang.
Untuk memahami konsep motivasi berprestasi, terlebih dahulu perlu
dijelaskan pengertian istilah motive dan achievement.

1. Motivasi Berprestasi
Motivasi berprestasi selalu melibatkan nama-nama seperti McClelland,
Atkinson, Clark dan Lowell, karena merekalah yang mula- mula menyusun dan
mengembangkan teori ini. Teori motivasi yang dikembangkannya disebut The
Affective Arousal Model. Disebut demikian karena dalam konsep mereka, motif
berasal dari perubahan afeksi.
McClelland dkk. mendefinisikan motivasi sebagai: ... the redintegration by
a cue of a change in an affective situation.21
Tiga istilah penting di sini adalah redintegration, cue, dan affective situation.
Redintegration secara etimologis berarti membulatkan kembali atau membuat
suatu kesatuan baru. Dalam konteks ini redintegration berarti membulatkan
kembali proses psikologis dalam kesadaran sebagai akibat adanya rangsangan
suatu peristiwa di dalam lingkungannya. Cue (isyarat) merupakan penyebab
tergugahnya afeksi dalam diri individu. Contoh, bila seorang siswa melihat
gurunya yang sudah lama berpisah, maka persepsi tentang guru tersebut akan
bekerja sebagai isyarat yang menggugah perasaannya (affective feelings) dan
keseluruhan proses psikologisnya dikembalikan lagi (reinstated). Affective
situation (disebut juga affective state), asumsi McClelland bahwa setiap orang
memiliki

27 McClelland C. David: Atkinson W. John; Clark A. Russell; and Lowell L. Edgar, The
Achievement Motive, with new preface with hindsight by John W. Atkinson, (New
York: Irvington Publishers, Inc., 1976), hlm. 28.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 107


situasi afeksi yang merupakan dasar semua situasi motif Afeksi ini dapat
disebut primary affect yang tidak dipelajari.28 Situasi ini berasal dari
kesenjangan antara harapan (expectation, yang disebut juga adaptation level)
dengan kenyataan. Situasi afeksi disebut positif, bila penyimpangan itu kecil,
sedang afeksi negatif bila penyimpangan tersebut lebih besar.
Jadi, apabila sebuah isyarat dalam lingkungan menyertai atau berpasangan
dengan situasi afeksi dalam diri individu, maka afeksi tersebut akan berubah.
Karena perubahan situasi afeksi itulah motif timbul.
Dalam perjalanan hidupnya, tiap orang akan banyak mengalami peristiwa,
di mana harapannya tidak selamanya terpenuhi. Hal ini mengakibatkan adanya
berbagai kesenjangan antara harapan dengan kenyataan, dan oleh karena itu
dalam diri seseorang akan terdapat berbagai primary affect yang merupakan
sumber berbagai motif. Ia juga akan banyak mengalami peristiwa, di mana
berbagai isyarat menyertai berbagai situasi afeksi dalam dirinya. Ini berarti,
dalam proses perkembangannya ia mempelajari (dan dengan demikian akan
memperoleh) berbagai motif. Oleh karena itu, menurut McClelland dan kawan-
kawan, semua motif manusia adalah hasil belajar, seperti dinyatakannya:
... from our point of view all drives (motives) are learned. Affective arousal,
on which motive are based, is essentially primary (unlearned), although the
adaptation levels which govern it can obviously be changed by experience.
So the traditional distinction between primary (biological need) motives
and secondary (learned or social) motive are disappeared. Instead we may
speak of primary affect and secondary motives if we like.29

2. Pengertian Achievement
Suatu prestasi atau achievement berkaitan erat dengan harapan
(expectation). Inilah yang membedakan motivasi berprestasi dengan motivasi
lain seperti lapar, haus, dan motif biologis lainnya.

28 Ibid., hlm. 28 dan hlnv 83.


29 Ibid., hlm. 83

108 Psikologi Pendidikan


Harapan seseorang terbentuk melalui belajar dalam lingkungannya. Suatu
harapan selalu mengandung standar keunggulan (Standard of excellence).
Standar ini mungkin berasal dari tuntutan orang tua atau lingkungan kultur
tempat seseorang dibesarkan. Oleh karena itu, standar keunggulan merupakan
kerangka acuan bagi seseorang tatkala ia belajar mengerjakan suatu tugas,
memecahkan masalah dan mempelajari keterampilan lainnya. Semua
penyimpangan dari kerangka acuan itu dapat membangkitkan afeksi, baik yang
positif maupun negatif. Salah satu petunjuk yang paling meyakinkan tentang
kerangka acuan semacam itu ialah evaluasi terhadap suatu jenis perbuatan,
misalnya siswa telah menyelesaikan tugas dengan baik.
Menurut McClelland30, kerangka acuan sangat penting, tetapi bukan
meupakan motivasi itu sendiri. Fungsi kerangka acuan sebagai standar untuk
memungkinkan bangkitnya afeksi. Dengan demikian, pengertian motivasi
berprestasi yang dikembangkan McClelland dan kawan- kawannya didasarkan
atas afeksi dalam kaitannya dengan perbuatan yang dievaluasi. Oleh karena
itulah motivasi berprestasi dapat diartikan dorongan untuk mengerjakan tugas
dengan sebaik-baiknya yang mengacu kepada standar keunggulan.

3. Karakteristik Individu yang Motivasi Berprestasinya Tinggi


Buku yang membahas karakteristik ini antara lain adalah Johnson31 dan
Schwitzgebel & Kalb.32 Dari uraian mereka dapat disimpulkan bahwa individu
yang memiliki motivasi berprestasi tinggi memiliki karakteristik sebagai
berikut.
1. Menyukai situasi atau tugas yang menuntut tanggung jawab pribadi atas
hasil-hasilnya dan bukan atas dasar untung-untungan, nasib, atau
kebetulan.
2. Memilih tujuan yang realistis tetapi menantang dari tujuan yang terlalu
mudah dicapai atau terlalu besar risikonya.

30 Ibid., hlm. 79.


31 Ibid., 110-111.
32 Scwitzgebel, Ralph K. and Kalb, David A, Changing Human Behavior: Principles of
Planned Intervention, (Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha, 1974), hlm. 151.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 109


3. Mencari situasi atau pekerjaan di mana ia memperoleh umpan balik
dengan segera dan nyata untuk menentukan baik atau tidaknya hasil
pekerjaannya.
4. Senang bekerja Sendiri dan bersaing untuk mengungguli orang lain.
5. Mampu menangguhkan pemuasan keinginannya demi masa depan yang
lebih baik.
6. Tidak tergugah untuk sekadar mendapatkan uang, status, atau keuntungan
lainnya, ia akan mencarinya apabila hal-hal tersebut merupakan lambang
prestasi, suatu ukuran keberhasilan.

4. Motivasi Berprestasi dan Prestasi Belajar


Motivasi berprestasi merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan
keberhasilan dalam belajar. Besar kecilnya pengaruh tersebut tergantung pada
intensitasnya. Klausmeier33 menyatakan bahwa perbedaan dalam intensitas
motivasi berprestasi (need to achieve) ditunjukkan dalam berbagai tingkatan
prestasi yang dicapai oleh berbagai individu. Pengaruh motivasi berprestasi
terhadap prestasi belajar, tergantung pada kondisi dalam lingkungan dan kondisi
individu. Dalam hubungan ini Johnson menyatakan sebagai berikut.
The theory of achievement motivation ... does not say that there should be a
general relationship between achievement motivation and academic
performance. On the contrary, it states that under certain conditions, there
will be a strong relationship, under other conditions there will be no
relationship.34
Siswa yang motivasi berprestasinya tinggi hanya akan mencapai prestasi
akademis yang tinggi apabila:
1. rasa takutnya akan kegagalan lebih rendah daripada keinginannya untuk
berhasil;
2. tugas-tugas di dalam kelas cukup memberi tantangan, tidak terlalu

33 Klausmeier, Herbert J., Learning and Human Abilities: Educational Psychology, (New
York: Harper & Brothers Publisher, 1961), hlm. 327.
34 Johnson, David W., The Social Psychology of Education, (New York: Holt Rinehart and
Winston Inc., 1970), hlm. 106.

110 Psikologi Pendidikan


mudah tetapi juga tidak terlalu sukar, sehingga memberi kesempatan untuk
berhasil.

5. Penerapan di Bidang Administrasi Pendidikan


Di sini akan diberikan tiga contoh, yaitu motivasi berkarier, motivasi
melayani, dan motivasi kerja.

a. Motivasi Berkarier
Berkarier adalah bekerja untuk mengembangkan kemajuan diri dalam
pekerjaan.35 Menurut Thelma G. Alper, motivasi ini adalah bagian yang sangat
spesifik dari motivasi kerja, sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain.36
Jadi, berkarier berarti dapat juga dikaitkan dengan harapan yang di dalamnya
ada standar keunggulan tertentu, implikasinya di sini dapat diartikan juga ke
dalam motivasi berkarier.
Di samping Thelma, yang membahas konsep motivasi keija antara lain
Crites O. John37, yang mengatakan bahwa bimbingan diri dan lingkungan dapat
meningkatkan pemilihan kejuruan.
Dari teori tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang motivasi
berkariemya baik ditandai dengan:
1. menyukai situasi kerja yang menuntut tanggung jawab pribadi, sebagai
tantangan untuk maju;
2. memilih tujuan yang realistis sebagai upaya untuk mengembangkan karier;
3. cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan mengharapkan cepat
memperoleh umpan balik;
4. senang bekerja sendiri dan bersaing untuk menunjukkan kemajuan
prestasinya;

35 Hansen L. Sunny & Rapoza S. Rita, Career Development and Counceling ofWomen,
(Illinois: Charles C. Thomas Publisher, 1978), hlm. 7.
36 Thelma G Alper, “Achievement Motivation in College Women” dalam Hansen L.
Sunny & Rapoza S. Rita, Career Development and Counseling ofWomen (Illinois:
Charles C. Thomas Publisher, 1978), hlm. 101-115.
37 Crites O. John, Vocational Psychology (The Study ofVocational Behavior and Devel-
opment), (New York: McGraw-Hill Book Company, 1969), hlm. 10.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 111


5. mampu menangguhkan pemuasan sesaat, demi kemajuan karier yang lebih
baik.

b. Motivasi Pelayanan
Implikasi motivasi untuk bidang administrasi pendidikan yang lain adalah
dalam hal motivasi pelayanan. Pelayanan yang dimaksud adalah proses
memberi bantuan dengan sepenuh hati kepada konsumen38 dengan menyisihkan
waktu untuk memahami orang lain dan peduli terhadap perasaan mereka.39
Teori ini banyak dikembangkan antara lain oleh Patricia Patton40 yang
mengatakan bahwa pelayanan sepenuh hati adalah kecerdasan emosional yang
terfokus kepada memanusiakan manusia. Fred Luthan, Organization Behavior
yang dikutip Moenir HAS41 menyebutkan bahwa pelayanan adalah proses
pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain secara langsung, dan
memerlukan interaksi harmonis di kedua belah pihak. Bob Woworuntu42
mengatakan bahwa pelayanan merupakan bentuk pencerminan pendekatan
seutuhnya dari seseorang kepada masyarakat.
Dari pendapat di atas, seseorang yang motivasi pelayanannya baik
memiliki tanda-tanda:
1. menyukai kesungguhan dalam bentuk gairah (passionate) untuk melayani
konsumen;

38 Contohnya, jika yang melayani adalah guru, maka murid dan orang tua/wali sebagai
konsumen, sedang jika pelayannya adalah administrator sekolah, konsumen adalah
murid, guru, orang tua.
39 Patricia Patton, Kecerdasan Emosional: Pelayanan Sepenuh Hati, Meraih EQ untuk
Pelayanan yang Memuaskan Pelanggan, terjemahan oleh Lembaga Penerjemahan
Hermes, Malang, (Jakarta: Pustaka Delapratasa, 1998), hlm. 6
40 Ibid., 1998.
41 Moenir HAS, Manajemen Pelayanan Umum Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1998),
hlm. 15-17.
42 Bob Woworuntu, Dasar-Dasar Keterampilan Abdi Negara Melayani Masyarakat,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1977), hlm. 9-11. Juga dibahas oleh Hicks G
Herbert & Gullet G Ray, Organisasi: Teori dan Tingkah Laku, terjemahan oleh
Kartasapoetra (Jakarta: Bumi Aksara, 1975), hlm. 552-554, khususnya tentang konsep
komunikasi organisasi yang berhasil.

112 Psikologi Pendidikan


2. senang menciptakan cara-cara baru dan menarik untuk meningkatkan
layanaan (progressive);
3. memiliki sikap proaktif, yaitu mengambil inisiatif yang tepat;
4. menyambut hangat para konsumen dengan keyakinan bahwa pelayanan
mampu menemukan penyelesaian (yang positif);
5. tidak hanya menunaikan pekerjaan saja, tetapi juga melibatkan rasa junta c
dan bangga serta memberikan pengalaman positif kepada konsumen.

C. Motivasi Kerja
Penerapan lain dari konsep motivasi adalah motivasi kerja. Dari beberapa
definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi fisiologis d dan
psikologis yang terdapat di dalam diri pribadi seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuaran. Aktivitas yang
dimaksudkan dapat berupa aktivitas pekerja, karyawan, pimpinan, dan lain-lain.
Dengan demikian, konsep motivasi dapat diterapkan di dalam bidang administrasi
pendidikan, antara lain untuk motivasi kerja dan motivasi bekerja.
Pada hakikatnya dalam kehidupan manusia, selalu terjadi berbagai aktivitas.
Salah satu aktivitas ditunjukkan dalam gerakan yang dinamakan kerja.
Bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan
buah karya. Wexley mengatakan, seorang itu kerja karena bekerja itu merupakan
kondisi bawaan seperti bermain atau istirahat untuk aktif dan melakuukan
sesuatu.43 Jadi, bekerja adalah suatu bentuk aktivitas yang bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan.
Jika konsep motivasi diterapkan ke dalam konteks bekerja, maka seorang
yang motivasi bekerjanya tinggi ditandai dengan:
1. menyuukai tugas kantor yang menuntut tanggung jawab pribadi;
2. mencari situasi di mana pekerja memperoleh umpan balik dengan segera a
baik dari pimpinan maupun teman sejawat;

43 Ruben D.). Brent, Communication and Human Behavior 3rd, (New Jersey: Prentice Hall,
19932), hlm. 34-38.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 113


1. senang bekerja sendiri, sehingga kemampuan diri dapat dikedepankan;
2. senang bersaing mengungguli prestasi bekerja orang lain;
3. memiliki kemampuan menangguhkan pemuasan keinginan demi
pekerjaan;
4. tidak tergugah sekadar mendapatkan uang, status, atau keuntungan
lainnya.

A. SIKAP 
1. Pengertian Sikap dan Belajar
Sikap dapat didefinisikan dengan berbagai cara dan setiap definisi itu
berbeda satu sama lain. Trow44 mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan
mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat.
Di sini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental atau emosional seseorang
terhadap sesuatu objek. Sementara itu Allport seperti dikutip oleh Gable45
mengemukakan bahwa sikap adalah sesuatu kesiapan mental dan saraf yang
tersusun melalui pengalaman dan memberikan pengaruh langsung kepada
respons individu terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan
objek itu.
Definisi sikap menurut Allport ini menunjukkan bahwa sikap itu tidak
muncul seketika atau dibawa lahir, tetapi disusun dan dibentak melalui
pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang.
Harlen46 mengemukakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan
seseorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu.
Jadi di sini makna sikap yang terpenting apabila diikuti oleh objeknya.
Misalnya sikap terhadap Undang-Undang Pemilu, sikap terhadap sistem
kampanye, dan lain-lain. Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak
berkenaan dengan objek tertentu. Sikap bukan tindakan nyata (overt behavior)
melainkan masih bersifat tertutup (covert behavior). Cardno mendefinisikan
sikap sebagai berikut.

44 Trow, op cit., hlm. 109.


45 Robert K. Gable, Instrument Development In Affective Domain, (Boston: Kluwer).
46 Wyne Harlen, Teachirfg and Learning Primary Science, (London: Row Publisher, 1985),
hlm. 44-45.

114 Psikologi Pendidikan


Attitude entails an existing predisposition to response to social object
which, in interaction with situational and other dispositional variables,
guides and directs the overt behavior of the individual.47
Dalam istilah kecenderungan (predisposition), terkandung pengertian arah
tindakan yang akan dilakukan seseorang berkenaan dengan suatu objek. Arah
tersebut dapat bersifat mendekati atau menjauhi. Tindakan mendekati atau
menjauhi suatu objek (orang, benda, ide, lingkungan, dan lain-lain), dilandasi
oleh perasaan penilaian individu yang bersangkutan terhadap objek tersebut.
Misalnya, ia menyukai atau tidak menyukainya, menyenangi atau tidak
menyenanginya, menyetujui atau tidak menyetujui.
Adapun belajar menunjuk kepada suatu cabang belajar48 yaitu belajar
dalam arti sempit, khusus untuk mendapatkan pengetahuan akademik. Belajar
menurut Morgan dkk. merupakan setiap perubahan tingkah laku yang relatif
tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman.49

2. Konsep Sikap Belajar


Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas, sikap belajar dapat
diartikan sebagai kecenderungan perilaku seseorang tatkala ia mempelajari hal-
hal yang bersifat akademik.
Brown dan Holtzman mengembangkan konsep sikap belajar melalui dua
komponen, yaitu Teacher Approval (TA) dan Education Acceptance (EA). TA
berhubungan dengan pandangan siswa terhadap guru-guru; tingkah laku mereka
di kelas; dan cara mengajar. Adapun Education Acceptance terdiri atas
penerimaan dan penolakan siswa terhadap tujuan yang akan dicapai; dan materi
yang disajikan, praktik, tugas, dan persyaratan yang ditetapkan di sekolah.
Sikap belajar penting karena didasarkan atas peranan guru sebagai

47 Mar’at. Sikap Manusia: Perubahan serta Pengukurannya, (Jakarta: Ghalia, 1982), hlm. 10.

48 Good, Carter V, Dictionary of Education, (New York: McGraw-Hill Book Company,


1973), hlm. 564.
49 Tuti Soekamto & Udin Sarpudin Winataputra, "Teori Belajar", Teori Belajar dan Model
Pembelajaran, (Jakarta: PAU PPAI UT., 1994), hlm. 8.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 115


leader dalam proses belajar mengajar. Gaya mengajar yang diterapkan guru
dalam kelas berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa.50 Dalam
hubungan ini, Nasution menyatakan bahwa hubungan tidak baik dengan guru
dapat menghalangi prestasi belajar yang tinggi.51 Sikap belajar bukan saja sikap
yang ditujukan kepada guru, melainkan juga kepada tujuan yang akan dicapai,
materi pelajaran, tugas, dan lain-lain.
Sikap belajar siswa akan berwujud dalam bentuk perasaan senang atau
tidak senang, setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka terhadap hal-hal
tersebut. Sikap seperti itu akan berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar
yang dicapainya. Sesuatu yang menimbulkan rasa senang, cenderung untuk
diulang, demikian menurut hukum belajar (law ofeffect) yang dikemukakan
Thorndike. Pengulangan ini (law of exercise) penting untuk mengukuhkan hal-
hal yang telah dipelajari.52

3. Peranan Sikap Belajar


Sikap belajar ikut menentukan intensitas kegiatan belajar. Sikap belajar
yang positif akan menimbulkan intensitas kegiatan yang lebih tinggi dibanding
dengan sikap belajar yang negatif. Peranan sikap bukan saja ikut menentukan
apa yang dilihat seseorang, melainkan juga bagaimana ia melihatnya.
Segi afektif dalam sikap merupakan sumber motif.53 Sikap belajar yang
positif dapat disamakan dengan minat54, sedangkan minat akan memperlancar
jalannya pelajaran siswa yang malas, tidak mau belajar dan gagal dalam belajar,
disebabkan oleh tidak adanya minat.55
Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa
sikap belajar ikut berperan dalam menentukan aktivitas belajar

50 Bennett Nevile, et.al., Teaching Styles and Pupil Progress, (London: Open Books
Publishing, Ltd., 1976), hlm. 45.
51 Nasution, S. Azas-Azas Kurikulum, (Bandung: Terate, 1978), hlm. 58.
52 Staton, Thomas F., Cara Mengajar dengan Hasil yang Baik, terjemahan oleh Tahalele
(Bandung: Diponegoro, 1978), hlm. 27.
53 Sri Mulyani Martaniah, Motif Sosial, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
1984), hlm. 51.
54 Ibid., hlm. 34-37
55 Nasution, S., Didaktik Azas-Azas Mengajar, (Bandung: Jemmares, 1982), hlm. 85.

116 Psikologi Pendidikan


siswa. Sikap belajar yang positif berkaitan erat dengan minat dan motivasi.
Oleh karena itu, apabila faktor lainnya sama, siswa yang sikap belajarnya
positif akan belajar lebih aktif dan dengan demikian akan memperoleh hasil
yang lebih baik dibandingkan siswa yang sikap belajarnya negatif
Cara mengembangkan sikap belajar yang positif:55
1. bangkitkan kebutuhan untuk menghargai keindahan, untuk mendapat
penghargaan, dan sebagainya;
2. hubungkan dengan pengalaman yang lampau;
3. beri kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik;
4. gunakan berbagai metode mengajar seperti diskusi, kerja kelompok,
membaca, demonstrasi, dan sebagainya.

4. Penerapan di Bidang Administrasi Pendidikan


Di sini akan diberikan tiga contoh variabel bidang Administrasi
Pendidikan yang berkaitan dengan konsep/variabel sikap, yaitu
1. sikap sosial di lingkungan kerja,
2. sikap guru terhadap kebijaksanaan awal ”Kepala Sekolah Baru”, dan
3. sikap kerja.

a. Sikap Sosial di Lingkungan Kerja


Teori yang melandasi sikap sosial seperti yang dikemukakan oleh
Koentjaraningrat bahwa kecenderungan tindakan seseorang terhadap sesama di
suatu lingkungan tertentu disebut sikap sosial.57 Sikap tersebut merupakan hasil
kecenderungan reaksi terhadap lingkungannya, termasuk di dalamnya
lingkungan tempat bekerja. Tannenbaum yang dikutip Hicks dan Gullet
menyebutkan sikap sosial itu sebagai utilitas organisasi yang penting, karena
dapat memberi pertukaran kepada kemajuan ekonomi.58

56 Ibid., hlm. 85-88.


57 Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta: Gramedia, 1976),
hlm. 20.
58 Hick G Herbert & Gullet, G Ray, Organisasi Teori dan Tingkah Laku, terjemahan oleh
Kartasapoetra, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 8-12.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 117


Dari dua pendapat di atas, ternyata sikap sosial dalam komunitas kerja sangat
penting untuk menggerakkan kehidupan organisasi.
Berdasarkan konsep yang dikembangkan dua ahli tersebut, dapat
diidentifikasi seorang pekerja/administrator yang memiliki sikap sosial yang
baik akan ditandai dengan:
1. kesadaran manusia terhadap hakikat hidupnya di tengah-tengah teman
sejawat,
2. kesadaran akan kelemahannya, sehingga segala aspek tergantung sesama,
3. kecenderungan memiliki kerelaan untuk selalu dapat memelihara
hubungan baik dengan sesama, dan
4. kecenderungan memiliki kerelaan untuk menyenangkan orang lain.59

b. Sikap Guru terhadap Kebijaksanaan Awal Kepala Sekolah Baru


Sikap ini dapat diamati melalui respons guru, yaitu berupa kecenderungan
untuk bereaksi terhadap semua kebijaksanaan awal yang dikeluarkan oleh
kepala sekolah yang baru. Kebijaksanaan awal kepala sekolah yang baru
merupakan objek sikap.
Mengapa penelitian ini penting? Menunjuk pendapat Wayne dan Faules
yang mengatakan bahwa proses difusi inovasi dalam organisasi akan berhasil,
jika penyesuaian diri karyawan terhadap kebijaksanaan berhasil.60 Hubungan
antara difusi inovasi usaha dengan kebijaksanaan terletak pada kebijaksanaan
yang dikeluarkan oleh pejabat yang baru memangku jabatan tertentu.
Memerlukan difusi, karena dalam menjalankan sistem, ada kecenderungan
organisasi tersebut dalam hal-hal tertentu sifatnya rutin/selalu dilakukan dengan
cara-cara yang lama. Dengan pejabat organisasi baru, maka kebijakan
cenderung akan mengalami perubahan baik cara maupun pendekatannya. Jika
pekerja

59 Indikator ini juga dijadikan kriteria EQ sebagai bagian dari sikap sosial oleh Patricia
Patton, seperti dalam Patton, op. cit. hlm. 52-55.
60 Wayne R. Pace dan Faules F. Don, Komunikasi Organisasi-Strategi Meningkatkan
Kinerja Perusahaan, terjemahan oleh Desi Mulyana, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1998), hlm. 67-69.

118 Psikologi Pendidikan


mengalami hambatan beradaptasi dengan pimpinan baru, maka kebijakan
tersebut juga akan gagal dilaksanakan, karena kurang mendapat dukungan dari
pekerja. Hal itu berarti sikap terhadap kebijaksanaan merupakan salah satu
ruang lingkup riset, khususnya untuk objek yang berstatus pejabat baru.

Dengan memperhatikan makna konsep sikap di atas, sikap guru terhadap


kepala sekolah yang baru ditandai dengan kecenderungan bereaksi tentang:
1. keputusan menerapkan disiplin sekolah dengan ketat;
2. keputusan larangan memberi les privat;
3. seragam sekolah, dan lain-lain.

c. Sikap terhadap Tugas


Contoh lain, yaitu sehubungan dengan kecenderungan tingkah laku,
Harlen61 mengemukakan bahwa terdapat lima ciri khas kecenderungan tingkah
laku seseorang yang bisa dijadikan indikator sikap terhadap tugas, yaitu
1. hasrat ingin tahu,
2. respek kepada fakta,
3. fleksibel dalam berpikir dan bertindak,
4. mempunyai pikiran kritis, dan
5. peka terhadap lingkungan/kehidupan.
Hasrat ingin tahu adalah sifat seseorang yang ingin mengetahui apa saja
yang ada di sekitarnya.62 Di dalam pikiran orang tersebut selalu timbul berbagai
pertanyaan, di mana ia selalu berusaha untuk mencari jawabannya, baik dengan
bertanya kepada orang lain maupun dengan mencari sendiri jawabannya. Dalam
proses penyelesaian tugas, sifat ingin tahu ini sangat membantu pimpinan dalam
mengelola perusahaan.
Respek kepada fakta adalah suatu sifat di mana pekerja selalu merasa tidak
puas dengan pertanyaan atau penjelasan pimpinan tanpa fakta yang

61 Ibid., hlm. 44.


62 Ibid., hlm. 46.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 119


mendasari pertanyaan itu.63 Untuk menemukan fakta di atas, dituntut suatu ketekunan,
pandangan yang terbuka, dan keinginan untuk memikirkan atau mempermasalahkan
ide-ide yang tidak sesuai dengan fakta.
Seorang pekerja tidak menerima begitu saja apa yang diberikan oleh
pimpinannya, tetapi ingin mengetahui lebih jauh lagi. Dengan demikian, pekerja
menjadi lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan tugas. Fleksibel dalam berpikir
dan bertindak adalah suatu sifat seseorang yang tidak kaku, moderat, mau diajak
kompromi, dan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan.64 Mempunyai pikiran
kritis adalah suatu sifat pada diri seseorang yang tidak mau menerima begitu saja apa
yang dikatakan oleh orang lain, tanpa pemikiran rasional dan kritis.65 Pekerja selalu
mempunyai ide baru dan berkeinginan untuk meningkatkan atau mengubah ide lama
yang tidak sesuai lagi dengan kenyataan yang ada sekarang. Dalam kegiatan diskusi
biasanya pekerja yang mempunyai pikiran kritis selalu aktif dalam menanggapi
pernyataan yang dilontarkan oleh pimpinan, cepat tanggap dan selalu dinamis dalam
perilakunya. Dalam mempelajari hal yang baru, sifat ini sangat diperlukan sebab
untuk bisa mempelajari dengan baik diperlukan sifat yang kritis dan dinamis. Peka
terhadap lingkungan dan kehidupan adalah suatu sifat seseorang di mana ia selalu
sensitif terhadap apa saja yang ada di sekitarnya.66
Pekerja yang mempunyai sifat seperti ini biasanya cepat tanggap dalam setiap
permasalahan yang dihadapinya, tidak bersifat acuh atau masa bodoh, selalu
bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya, dan selalu
mencintai lingkungan.
Saifuddin Azwar67 (mengutip teori fungsional Katz) mengemukakan bahwa
salah satu fungsi sikap bagi individu adalah fungsi instrumental atau fungsi manfaat.
Maksudnya adalah setiap individu akan bersikap positif terhadap hal-hal yang
mendatangkan manfaat bagi dirinya, dan

63 Ibid., hlm. 48.


64 Ibid., hlm. 48.
65 Ibid., hlm. 49.
66 Ibid., hlm. 50.
67 Saifuddin Azwar, Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya, (Yogyakarta: Liberty,
1988), hlm. 40.

120 Psikologi Pendidikan


bersikap negatif terhadap hal-hal yang tidak membawa manfaat atau bahkan dapat
membahayakan dirinya. Jika dikaitkan dengan penilaian ini maka seseorang akan
bersikap positif terhadap tugas, jika ia merasa dan menganggap tugas tersebut
bermanfaat bagi pengembangan dirinya. Sebaiknya orang tersebut akan bersikap
kurang positif atau bahkan bersikap negatif terhadap tugas jika ia merasa tugasnya
kurang bermanfaat atau bahkan menghalanginya.

C. MINAT 
Minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh.68 Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu
hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat
hubungan tersebut, semakin besar minatnya. Crow and Crow mengatakan bahwa minat
berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau
berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan
itu sendiri.69
Jadi, minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa
siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan
melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan
diperoleh kemudian.

1. Minat dan Usaha


Tugas atau pekerjaan tidak dapat diselesaikan tanpa pengerahan usaha, daya, dan
tenaga. Semakin sulit tugas, semakin banyak pula tenaga yang diperlukan untuk
mengerjakan tugas dengan baik. Generalisasi ini berlaku pula dalam belajar.
Penguasaan yang sempurna terhadap suatu mata pelajaran, memerlukan
pencurahan perhatian yang rinci.
Minat yang telah disadari terhadap bidang pelajaran, mungkin sekali

68 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991),
hlm. 182.
69 Crow D. Leatar & Crow, Alice, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1989),
hlm. 302-303.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 121


akan menjaga pikiran siswa, sehingga dia bisa menguasai pelajarannya. Pada
gilirannya, prestasi yang berhasil akan menambah minatnya, yang bisa berlanjut
sepanjang hayat.

2. Minat dan Kelelahan


Kondisi lelah bisa ditimbulkan oleh kerja fisik. Akan tetapi, seringkali apa
yang dianggap sebagai kelelahan, sebenarnya karena tidak ada atau hilangnya
minat terhadap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang itu sendiri. Membaca
buku pelajaran secara terus-menerus, dapat mengakibatkan anak menge-
mukakan kelelahan dan timbullah karenanya keinginan untuk menghentikan
belajarnya. Akan tetapi, jika dia mengalihkan dari buku tersebut kepada buku
baru atau buku lainnya yang menarik minat, dia bisa terus membacanya sampai
berjam-jam.
Jadi, minat adalah perasaan ingin tahu, mempelajari, mengagumi atau
memiliki sesuatu.70 Di samping itu, minat merupakan bagian dari ranah afeksi,
mulai dari kesadaran sampai pada pilihan nilai.71 Gerangan menyebutkan minat
merupakan pengerahan perasaan dan menafsirkan untuk sesuatu hal (ada unsur
seleksi).72
Jika dikaitkan ke dalam bidang kerja, teori minat Holland lebih sesuai.
Holland mengatakan, minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap
sesuatu. Minat tidak timbul sendirian, ada unsur kebutuhan, misalnya minat
belajar, dan lain-lain.
Jadi, dari enam pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat
memiliki unsur afeksi, kesadaran sampai pilihan nilai, pengerahan perasaan,
seleksi, dan kecenderungan hati. Dari sumber tersebut, kemudian dapat
dirangkum pemilahan kelompok minat, berdasarkan orang dan pilihan kerjanya,
minat dapat dibagi ke dalam enam jenis, yaitu (1) realistis, (2) investigatif, (3)
artistik, (4) sosial, (5) enterprising, dan (6) konvensional.73

70 The American Heritage Distionary of the English Language, 1976.


71 Crites O. John, op. cit., hlm. 36.
72 Gerungan, W. A., Psikologi Sosial, (Bandung: Eresco, 199), hlm. 145.
73 London. H.H., Principles and Techniques ofVocational Guidance, (Ohio:
Charles E. Merril Publishing Co., 1973),'"hlm. 69-100.

122 Psikologi Pendidikan


a. Realistis
Orang realistis umumnya mapan, kasar, praktis, berfisik kuat, dan sering
sangat atletis, memiliki koordinasi otot yang baik dan terampil. Akan tetapi, ia
kurang mampu menggunakan medium komunikasi verbal dan kurang memiliki
keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, pada umumnya
mereka kurang menyenangi hubungan sosial, cenderung mengatakan bahwa
mereka senang pekerjaan tukang, memiliki sifat langsung, stabil, normal, dan
kukuh, menyukai masalah konkret dibanding abstrak, menduga diri sendiri
sebagai agresif, jarang melakukan kegiatan kreatif dalam bidang seni dan ilmu
pengetahuan, tetapi suka membuat sesuatu dengan bantuan alat. Orang realistis
menyukai pekerjaan montir, insinyur, ahli listrik, ikan, dan kehidupan satwa
liar, operator alat berat, dan perencana alat.74

b. Investigatif
Orang investigatif termasuk orang yang berorientasi keilmuan. Mereka
umumnya berorientasi pada tugas, introspektif, dan asosial, lebih menyukai
memikirkan sesuatu daripada melaksanakannya, memiliki dorongan kuat untuk
memahami alam, menyukai tugas-tugas yang tidak pasti (ambiguous), suka
bekerja sendirian, kurang pemahaman dalam kepemimpinan akademik dan
intelektualnya, menyatakan diri sendiri sebagai analis, selalu ingin tahu, bebas,
dan bersyarat, dan kurang menyukai pekerjaan yang berulang. Kecenderungan
pekerjaan yang disukai termasuk ahli perbintangan, biologi, binatang, kimia,
penulis, dan ahli jiwa.75

c. Artistik
Orang artistik menyukai hal-hal yang tidak terstruktur, bebas, memiliki
kesempatan bereaksi, sangat membutuhkan suasana yang dapat
mengekspresikan sesuatu secara individual, sangat kreatif dalam bidang

74 Campbell D.P, & Hansen, J.C., Manualfor the SVIB-SCII: Strong-Campbell Interest
Inventory, (Stanford, CA: Stanford University Press, 1981), juga diuraikan panjang
lebar oleh Crites O. John.
75 Ibid., 1981.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 123


seni dan musik. Kecenderungan pekerjaan yang disenangi adalah pengarang,
musisi, penata pentas, konduktor konser, dan lain-lain.76

d. Sosial
Tipe ini dapat bergaul, bertanggung jawab, berkemanusiaan, dan sering
alim, suka bekerja dalam kelompok, senang menjadi pusat perhatian kelompok,
memiliki kemampuan verbal, terampil bergaul, menghindari pemecahan
masalah secara intelektual, suka memecahkan masalah yang ada kaitannya
dengan perasaan; menyukai kegiatan menginformasikan, melatih, dan
mengajar. Pekerjaan yang disukai menjadi pekerja sosial, pendeta, ulama, guru.

e. Enterprising
Tipe ini cenderung menguasai atau memimpin orang lain, memiliki
keterampilan verbal untuk berdagang, memiliki kemampuan untuk mencapai
tujuan organisasi, agresif, percaya diri, dan umumnya sangat aktif. Pekerjaan
yang disukai termasuk pimpinan perusahaan, pedagang, dan lain-lain.

f. Konvensional
Orang konvensional menyukai lingkungan yang sangat tertib, menyenangi
komunikasi verbal, senang kegiatan yang berhubungan dengan angka, sangat
efektif menyelesaikan tugas yang berstruktur tetapi menghindari situasi yang
tidak menentu, menyatakan diri orang yang setia, patuh, praktis, tenang, tertib,
efisien; mereka mengidentifikasi diri dengan kekuasaan dan materi. Pekerjaan
yang disukai antara lain sebagai akuntan, ahli tata buku, ahli pemeriksa barang,
dan pimpinan armada angkutan.

3. Penerapan di Bidang Administrasi Pendidikan


Berikut ini akan diberikan dua contoh penerapan variabel minat untuk
bidang administrasi pendidikan, yaitu

76 Ibid., 1981.

124 Psikologi Pendidikan


1. Variabel Minat Kepala Sekolah untuk Masuk Program S-2 PPS
Universitas Negeri Jakarta, dan
2. Variabel Minat Kejuruan.

a. Minat Kepala Sekolah untuk Masuk Program S-2 PPS Universitas


Negeri Jakarta
Logikanya sebagai kepala sekolah, baik secara langsung maupun tidak
langsung akan mendapat tuntutan untuk bekerja lebih baik, atau memiliki
kelebihan dibanding dengan guru pada umumnya dan atau dengan kepala
sekolah yang lain. Untuk mampu berkompetisi, salah satu cara adalah
mengambil jenjang pendidikan yang sesuai dengan profesinya. Wayne
mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan yang paling cepat untuk
meningkatkan mutu sumber daya manusia.77
Program Strata 2 Administrasi Pendidikan merupakan salah satu contoh
yang dapat meningkatkan kemampuan kepala sekolah. Dengan memperhatikan
dua definisi di atas, kepala sekolah yang berminat untuk studi lanjut (S-2), akan
ditandai dengan:
1. partisipasi sebagai peserta dalam acara seminar yang diselenggarakan
oleh PPS;
2. mengumpulkan berbagai jenis informasi yang berkaitan dengan
pengelolaan sekolah;
3. mengumpulkan berbagai jenis informasi yang berkaitan dengan S-2;
4. senang dalam hal pengembangan diri.

b. Minat Kejuruan
Dari penjelasan di atas yaitu minat secara umum tersebut, kemudian
dicoba untuk diterapkan dalam bidang Administrasi Pendidikan, khususnya
untuk bidang kejuruan. Minat umum-kejuruan yang berkembang dalam diri
seseorang merupakan akumulasi minat yang berkembang, sejalan dengan
pengalaman, sikap, dan keinginannya. Hal ini sangat dipengaruhi secara
signifikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.78

77 Wayne., op cit., hlm. 89.


78 Ibid., hlm. 445.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 125


Jika konsep umum tersebut kemudian digabungkan dengan teori Holland, dapat
ditemukan konstelasi seperti gambar berikut ini.

Minat kejuruan adalah kecenderungan seseorang untuk memiliki prospek


pekerjaan atau jabatan tertentu yang sesuai dengan karakteristik
kepribadiannya. Konstelasi tersebut didukung oleh William B. Michael yang
menyebutkan bahwa perpaduan tipe-tipe minat akan memperlihatkan pola
tingkah laku tertentu dalam melaksanakan tugas, yang disebut kecakapan
tugas.79 Faktor minat kejuruan adalah penting untuk melihat sejauh mana
merencanakan seseorang dalam pendidikan untuk suatu pekerjaan tertentu
sesuai dengan bidangnya.80
Melalui konsep minat secara umum, kemudian dikembangkan menjadi
minat kejuruan (gambar), dan berdasarkan pertimbangan referensi yang
mendukung adanya minat kejuruan, maka dapat dibuat dimensi dan indikator
minat kejuruan seperti tabel berikut ini.

79 Depdikbud, Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V, Buku III-A Psikologi
Perkembangan, (Jakarta, Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi,
1981), hlm. 75-76.
80 Finch R. Curtis & Crunkilton R. John, Curriculum Development in Vocational and
Technical Education-Planning. Content and Implementation. 2nd. (Toronto: Allyn
and Bacon. Inc., 1984).

126 Psikologi Pendidikan


Tabel 6.1 Pengembangan Dimensi dan Indikator Minat Kejuruan

Dimensi Indikator/Tanda-Tanda

Aktivitas Real
Aktivitas Investigatif
Aktivitas Aktivitas Artistik
Aktivitas Sosial
Aktivitas Enterpreneur
Aktivitas Konvensional
Kompetensi Real
Kompetensi Investigatif
Kompetensi Sosial

Kompetensi Kompetensi Mekanik


Kompetensi Ilmiah
Kompetensi Seni
Kompetensi Mengajar
Kompetensi Berjualan
Keterampilan Matematik
Keterampilan Musik
Keterampilan Keterampilan Ramah-tamah

Keterampilan Manajerial
Keterampilan Perkantoran
Okupansional Realistis
Okupansional Investigatif
Okupansional Artistik
Okupansional
Okupansional Sosial
Okupansional Enterprising
Okupansional Konvensional

D. KEBIASAAN BELAJAR 
1. Pengertian
Berbagai hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil belajar mempunyai
korelasi positif dengan kebiasaan belajar atau study habit. Witherington dalam
Andi Mappiare 1983 mengartikan kebiasaan (habit) sebagai:

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 127


an acquired way of acting which is persistent, uniform, and
fairly automatic,81
Kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh melalui belajar secara
berulang-ulang; yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis.
Perbuatan kebiasaan tidak memerlukan konsentrasi perhatian dan pikiran
dalam melakukannya. Kebiasaan dapat berjalan terus, sementara individu
memikirkan atau memperhatikan hal-hal lain.
Kebiasaan belajar dapat diartikan sebagai cara atau teknik yang menetap
pada diri siswa pada waktu menerima pelajaran, membaca buku, mengerjakan
tugas, dan pengaturan waktu untuk menyelesaikan kegiatan. Kebiasaan belajar
dibagi ke dalam dua bagian, yaitu Delay Avoidan (DA), dan Work Methods
(WM). DA menunjuk pada ketepatan waktu penyelesaian tugas-tugas akademis,
menghindarkan diri dari hal-hal yang memungkinkan tertundanya penyelesaian
tugas, dan menghilangkan rangsangan yang akan mengganggu konsentrasi
dalam belajar. Adapun WM menunjuk kepada penggunaan cara (prosedur)
belajar yang efektif, dan efisiensi dalam mengerjakan tugas akademik dan
keterampilan belajar.

2. Peranan Kebiasaan Belajar dalam Kegiatan Belajar


Kebiasaan belajar cenderung menguasai perilaku siswa pada setiap kali
mereka melakukan kegiatan belajar. Sebabnya ialah karena kebiasaan
mengandung motivasi yang kuat.82 Pada umumnya setiap orang bertindak
berdasarkan force of habit sekalipun ia tahu, bahwa ada cara lain yang mungkin
lebih menguntungkan. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan sebagai cara yang
mudah dan tidak memerlukan konsentrasi dan perhatian yang besar.
Sesuai dengan Law of effect dalam belajar, perbuatan yang menimbulkan
kesenangan cenderung untuk diulang. Oleh karena itu, tindakan berdasarkan
kebiasaan bersifat mengukuhkan (reinforcing).

81 Andi Mappiare, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm. 34.

82 Gilmer, Van Haller B, Applied Psychology: Adjustment in Living and Work. (New
Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Co., 1978), hlm. 264.

128 Psikologi Pendidikan


Sumadi Suryabrata merumuskan cara belajar yang efisien adalah dengan usaha
sekecil-kecilnya memberikan hasil yang sebesar-besarnya bagi perkembangan
individu yang belajar.83 Mengenai cara belajar yang efisien, belum menjamin
keberhasilan dalam belajar. Yang paling penting, siswa mempraktikkannya
dalam belajar sehari-hari, sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan, baik di
dalam maupun di luar kelas.

3. Penerapan di Bidang Administrasi Pendidikan


Kotter dan Heskett menyatakan bahwa kebiasaan kerja merupakan bagian
dari nilai yang dianut bersama di lingkungan kerja.84 Hal ini dapat diartikan
sebagai cara yang cenderung menetap dalam diri pekerja pada waktu tertentu
selama menyelesaikan tugas. Kebiasaan kerja dapat pula dijadikan sebagai
pembina kerja sama di antara pekerja/administrator.85
Melalui konsep kebiasaan kerja yang dikembangkan oleh ahli di atas,
kebiasaan kerja seorang administrator dapat ditandai dengan kecenderungan
perilaku yang:
1. peduli kepada konsumen, pelanggan, teman, atau teman sejawat,
2. selalu memberi perhatian yang cermat terhadap konstituensi86, konsumen,
pelanggan, atau teman sejawat, dan
3. menunjukkan komitmen tinggi.

F. KONSEP DIRI 
1. Pengertian
Konsep diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang
menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang perilakunya, isi

83 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Radjawali, 1987), hlm. 153.


84 Kotter P. John & Heskett L. James, Corporate Culture and Perjormance, Dampak
Budaya Perusahaan terhadap Kinerja, terjemahan oleh Benyamin Molan, (Jakarta:
Prenhalindo, Simon & Schuster Ltd., 1992), hlm. 5.
85 Suit, Yusuf & Almasdi,,4iy?e£ Sikap Mental dalam Manajemen Sumber Daya Manusia
(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1995), hlm. 87-89.
86 Konstituensi biasanya dipakai dalam bahasa, yang oleh Kotter & Heskett
dipergunakan sebagai perilaku yang diwujudkan melalui prakarsa mengubah,
melayani, bahkan dengan mendapatkan beberapa risiko.

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 129


pikiran dan perasaannya, serta bagaimana perilakunya tersebut berpengaruh
terhadap orang lain.87 Di sini konsep diri yang dimaksud adalah bayangan
seseorang tentang keadaan dirinya sendiri pada saat ini dan bukanlah bayangan
ideal, dari dirinya sendiri sebagaimana yang diharapkan atau yang disukai oleh
individu bersangkutan. Konsep diri berkembang dari pengalaman seseorang
tentang berbagai hal mengenai dirinya sejak ia kecil, terutama yang berkaitan
dengan perlakuan orang lain terhadap dirinya.
Konsep diri seseorang mula-mula terbentuk dari perasaan apakah ia
diterima dan diinginkan kehadirannya oleh keluarganya. Melalui perlakuan
yang berulang-ulang dan setelah menghadapi sikap-sikap tertentu dari ayah-ibu-
kakak dan adik ataupun orang lain di lingkup kehidupannya, akan
berkembanglah konsep diri seseorang. Konsep diri ini yang pada mulanya
berasal dari perasaan dihargai atau tidak dihargai. Perasaan inilah yang menjadi
landasan dari pandangan, penilaian, atau bayangan seseorang mengenai dirinya
sendiri yang keseluruhannya disebut konsep diri. Dalam teori Psikoanalisis,
proses perkembangan konsep diri disebut proses pembentukan ego (the process
of ego formation). Menurut aliran ini, ego yang sehat adalah ego yang dapat
mengontrol dan mengarahkan kebutuhan primitif (dorongan libido) supaya
setara dengan dorongan dari super ego serta tuntutan lingkungan.
Untuk mengembangkan ego atau diri (self) yang sehat adalah dengan
memberikan kasih sayang yang cukup dan dengan cara orang tua menunjukkan
sikap menerima anaknya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, terutama
pada tahun-tahun pertama dari perkembangannya.
Dalam kaitan ini, konsep diri menurut Erikson88 berkembang melalui lima
tahap, yaitu sebagai berikut.
1. Perkembangan dari sense of trust vs sense of mistrust, pada anak usia 11/2 -
2 tahun. Melalui hubungan dengan orang tuanya anak akan mendapat
kesan dasar apakah orang tuanya merupakan pihak yang

87 Anant Pai, How to Develop Self-Confidence, (Singapore: S.S. Mubarak and Brother Ltd.,
1996), hlm. 23-25.
88 Slameto, op cit., hlm. 45-50.

130 Psikologi Pendidikan


dapat dipercaya atau tidak. Apabila ia yakin dan merasa bahwa orang
tuanya dapat memberi perlindungan dan rasa aman bagi dirinya pada diri
anak akan timbul rasa percaya terhadap orang dewasa, yang nantinya akan
berkembang menjadi berbagai perasaan yang sifatnya positif.
1. Perkembangan dari sense of anatomy vs shame and doubt, pada anak usia 2-
4 tahun. Yang terutama berkembang pesat pada usia ini adalah
kemampuan motorik dan berbahasa, yang keduanya memungkinkan anak
menjadi lebih mandiri (autonomy). Apabila anak diberi kesempatan untuk
melakukan segala sesuatu menurut kemampuannya, sekalipun kemam-
puannya terbatas, tanpa terlalu banyak ditolong apalagi dicela, maka
kemandirian pun akan terbentuk. Sebaliknya ia sering merasa malu dan
ragu-ragu bila tidak memperoleh kesempatan membuktikan
kemampuannya.
2. Perkembangan dari sense of initiative vs sense of guilt, pada anak usia 4-7
tahun. Anak usia 4-7 tahun selalu menunjukkan perasaan ingin tahu,
begitu juga sikap ingin menjelajah, mencoba-coba. Apabila anak terlalu
sering mendapat hukuman karena perbuatan tertentu yang didorong oleh
perasaan ingin tahu dan menjelajah tadi, keberaniannya untuk mengambil
inisiatif akan berkurang. Yang nantinya berkembang justru adalah
perasaan takut-takut dan perasaan bersalah.
3. Perkembangan dari sense of industry vs inferiority, pada usia 7— 11 atau
12 tahun. Inilah masa anak ingin membuktikan keberhasilan dari
usahanya. Mereka berkompetisi dan berusaha untuk bisa menunjukkan
prestasi. Kegagalan yang berulang-ulang dapat mematahkan semangat dan
menimbulkan perasaan rendah diri.
4. Perkembangan dari sense of identity diffusion, pada remaja. Remaja
biasanya sangat besar minatnya terhadap diri sendiri. Biasanya mereka
ingin memperoleh jawaban tentang siapa dan bagaimana dia. Dalam
menemukan jawabannya mereka akan mengumpulkan berbagai informasi
yang berhubungan dengan konsep dirinya pada masa lalu. Apabila
informasi kenyataan, perasaan, dan pengalaman yang dimiliki mengenai
diri sendiri tidak dapat diintegrasi

Bab 6 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar 131


hingga membentuk suatu konsep diri yang utuh, remaja akan terus-
menerus bimbang dan tidak mengerti tentang dirinya sendiri.
Lebih lanjut dikatakan, konsep diri terbentuk karena empat faktor, yaitu
1. kemampuan (competence);
2. perasaan mempunyai arti bagi orang lain (significance to others);
3. kebajikan (virtues);
4. kekuatan (power).

1. Penerapannya di Bidang Administrasi Pendidikan


Misalnya variabel ”Konsep Diri Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
sebagai Calon Manajer Pendidikan”. Dengan memperhatikan teori di atas,
dapat dikatakan bahwa konsep diri dari mahasiswa yang baik-baik ditandai oleh
hal-hal sebagai berikut.
1. Pandangan mahasiswa terhadap kemampuan sendiri dihubungkan dengan
tujuan pendidikan sebagai manajer pendidikan.
2. Perasaan mahasiswa tentang kebermaknaan dirinya dan kaitannya dengan
calon manajer pendidikan.
3. Pandangan mahasiswa terhadap kebajikan yang ada dalam dirinya.
4. Pandangan mahasiswa terhadap kekuatan yang dihubungkan dengan
proses persiapan menjadi manajer pendidikan.

132 Psikologi Pendidikan


DAFTAR PUSTAKA

Alper, T.G., 1978. "Achievement Motivation in College Women” dalam


Hansen L. Sunny & Rapoza S. Rita, Career Development and Counseling
of Women. Illinois: Charles C. Thomas Publisher.
Atkinson, R.L. et.al., 1997. Introduction to Psychology. Terjemahan Widjaya
Kusuma. Batam: Interaksara.
Azwar, S. 1988. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:
Liberty.
Beard, R.M., 1969. An Out Line of Piaget’s Developmental
Psychology._London: University of London of Institute of Education.
Brent, R.D. 1992. Communication and Human Behavior 3rd. New Jersey:
Prentice Hall.
Bruner, J.S., 1974. Relevance of Education, Harmonsworth. Midlesex: A
Davidson of Penguin Book Ltd.
Campbell, D.P. & Hansen, J.C., 1981. Manual for the SVIB-SCII Strong-
Campbell Interest Inventory. Stanford: Stanford University Press.
Crow, D.L., dan Crow, A. 1989. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Nur
Cahaya.
Curtis, F.R., dan John, C.R. 1984. Curriculum Development in Vdcational and
Technical Education-Planning, Content, and Implementation 2nd. Toronto:
Allyn and Bacon. Inc.
Dalyono, M., 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Eysenck, H. J., 1972. Encyclopedia of Psychology. New York: The Continuum
Publishing Company.

Daftar Pustaka 133


Gates, A.J., 1954. Educational Psychology. New York: The MacMillan
Company.
Harlen, W. 1985. Teaching and Learning, Primary Science. London: Row
Publishing.
Gerungan, W., A. 1967. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco.
Gimer, V.H.B. 1978. Applied Psychology: Adjusment in Living and Work. New
Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing.
Good, C.V. 1973. Dictionarv of Education. New York: McGraw-Hill Book
Company.
Good, T.L., Brophy, J.E. 1990. Educational Psychology. New York: Logman.
Greenberg, J. 1996. Managing Behaviors in Organizations. New York: Prentice
Hall.
Hansen, L.S., dan Rapoza, S.R. 1978. Career Development and Counseling
ofWomen. Illinois: Charles C. Thomas Publisher.
Hare, R., dan Lamb, R. Ed. 1983. The Encyclopedia Diction of Psychology.
London: Basil Blackwell Publisher Ltd.
Heckhausen, H. 1967. The Anatomy of Achievement Motivation. New York:
Academic Press.
Herbert H.G. dan Ray, G.G. 1995. Organisasi Teori dan Tingkah Laku.
Terjemahan oleh Kartasapoetra. Jakarta: Bumi Aksara.
Houston, J.P. 1985.Motivation. London: CollierMcMillandPublishers.
Howe, M.J.A. 1984. A Teacher’s Guide to The Psychology of Learning. New
York: Basil Black-well.
Hurlock, E. 1978. Child Development. Singapore: McGraw-Hill.
John, C.O. 1969. Vocational Psychology (The Study of Vocational Behavior and
Development). New York: McGraw-Hill Book Company.
Johnson, D.W. 1970. The Social Psychology of Education. New York: Holt,
Rinehart and Winston Inc.
Kemp, J.E. 1997. Instructional Design, A Plan For Unit and Course
Development, 2nd. California: Fearon Pitman Publishers,.

134 Psikologi Pendidikan


Klausmeier, H.J. 1961. Learning and Human Abilities: Educational Psychology.
New York: Harper & Brothers Publisher.
Koentjaraningrat. 1976. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta:
Gramedia.
Kotter, P.J., dan Heskett, L.J. 1992. 'Gorporate Culture and Performance-
Dampak Budaya Perusahaan terhadap Kinerja. "Terjemahan oleh Benyamin
Molan. Jakarta: Prenhalindo, Simon & Schuster Ltd.
Leahy, T.H, dan Harris, R. J. 1996. Learning and Cognition. New Jersey:
Prentice Hall.
London, H.H. 1973. Principles and Techniques of Vocational Guidance. Ohio:
Charles E. Merril Publishing.
Mappiare, A. 1983. Psikologi Orang Dewasa. Surabaya: Usaha Nasional.
Mar’at. 1982. Sikan Manusia: Perubahan serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia.
Maslow, A.H. 1970. Motivation and Personality. New York: Harper & Row
Publisher.
McClelland, D.C. 1976. The Achievement Motive. New York: Irvingnon
Publishers.
Moenir, HAS. 1998. Manajemen Pelayanan Umum Indonesia. Jakarta: Bumi
Aksara.
Nevile, B. 1976. Teaching Styles and Pupil Progress. London: Open Books
Publishing.
Patton, P. 1998. Kecerdasan Emosional: Pelayanan Sepenuh Hati, Meraih EO
untuk Pelayanan yang Memuaskan Pelanggan. Terjemahan oleh Lembaga
Penerjemahan Hermes. Jakarta: Pustaka Delapratasa.
Pai, A. 1996. How to Develop Self-Confidence. Singapore: S.S.
Mubarak and Brother.
Pace, W.R. dan Don, F.F. 1998. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan
Kinerja Perusahaan. Terjemahan oleh Dedi Mulyana. Bandung: Remadja
Rosdakarya.

Daftar Pustaka 135


Schwitzgebel, R.K dan Kalb, D.A. 1974. Changing-Human Behavior Principles
of Planned Intervention. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.
Semiawan, C.R. 1997.PerspektifPendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Grasindo.
Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi.
Jakarta: Rineka Cipta.
Staton, T.F. 1978. Cara Mengajar dengan Hasil yang Baik.
Terjemahan oleh Tahalele. Bandung: Diponegoro.
Sternberg, R.J. 1996. Successful Intelligence How Practical and Creative
Intelligence Determine Success in Life. New York: Simon & Scuster.
Suit, Y., & Almasdi. 1995. Aspek Sikap Mental dalam Manajemen Sumber
Daya Manusia. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Suryabrata, S. 1987. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Radjawali. Winkel, W.S.
1997. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Grasindo. Woworuntu, B. 1977. Dasar-
Dasar Keterafnpilan Abdi Negara Melayani Masyarakat. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama. Zainun, B. 1979. Manajemen dan Motivasi. Jakarta: Balai
Aksara.

136 Psikologi Pendidikan


BIOGRAFI PENULIS

Prof. Dr. H. Djaali, lahir di Buton, 2 September 1955. Pembina Utama


Muda-IV C. Guru Besar Madya, Jabatan Struktural adalah Sekretaris Program
Doktor dan Ketua Progam Pengembangan Pascasarjana UNJ.
Pendidikan SD, SMP, SMA di Bau-Bau, Buton, lulus tahun 1968,
1971,1974. Sarjana Pendidikan Matematika IKIP Ujung Pandang tahun 1980.
Doktor Penelitian dan Evaluasi Pendidikan FPS-IKIP Jakarta, 1984.
Pekerjaan dosen mata kuliah Metodologi Penelitian, Statistik Terapan, Tes
dan Pengukuran, Pengembangan Instrumen Baku, dan Psikologi Pendidikan
pada Program Pascasarjana UNJ tahun 1996-sekarang. Dosen dalam mata
kuliah Metodologi Penelitian, Statistik Terapan, Matematika Ekonomi,
Evaluasi Pendidikan, dan Kalkulus pada Program Sarjana di beberapa
Perguruan Tinggi Negeri antara lain IKIP Ujung Pandang (UNM), UNHALU
Kendari, dan IKIP Jakarta (UNJ).
Pengalaman dalam kegiatan ilmiah sejak tahun 1984 sampai sekarang
telah menyelesaikan 24 topik penelitian dalam bentuk penelitian mandiri atau
sebagai ketua tim peneliti, baik yang dibiayai oleh perguruan tinggi setempat,
oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Dikti melalui
Proyek PSSR, PIT, P4M, dan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi, oleh
Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan, oleh PAU-PPAI Universitas
Terbuka, oleh Toyota Foundation, maupun oleh UNFPA. Dua topik dari 24
topik tersebut antara lain adalah Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi
dengan judul (a) Peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Berwawasan
Lingkungan melalui

Biografi Penulis 137


Strategi Penyuluhan Terpadu, Penelitian Hibah Bersaing, selama 5 tahun,
1992—1997, dan (b) Strategi Pembelajaran Matematika di SD sesuai
Perkembangan Kesiapan Intelektual Anak, Penelitian Hibah Bersaing, tahun I
dari rencana 3 tahun, 1998/1999. Telah menulis berbagai artikel ilmiah bidang
Ilmu Pendidikan yang dimuat dalam majalah ilmiah seperti Jurnal Pendidikan
dan Keguruan IKIP Ujung Pandang, Jurnal Alumni IKIP Ujung Pandang, Jurnal
Ilmu Pendidikan (Nasional), Majalah Ilmiah Lontar UNHAS, dan Media
Pendidikan Matematika Nasional, tahun 1985-1999.

138 Psikologi Pendidikan


Psikologi Pendidikan ini menguraikan tentang bagaimana
gambaran manusia dalam konteks pendidikan sehingga dapat
dibangun menjadi sesuatu yang berpotensi dalam pembangunan
bangsa.
Buku ini mengajarkan tentang perilaku manusia, baik yang
tampak maupun yang tidak tampak,yang merupakan manifestasi
dari adanya kejiwaan pada manusia tersebut.
Secara lebih rinci, hal-hal yang dibahas dalam buku ini
meliputi teori kepribadian; pertumbuhan dan perkembangan
manusia; emosi, perkembangan sosial dan karakter,pengalaman
sosial remaja, pembentukan karakter; teori kognitif, psikologi
behavioristik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Buku ini sangat tepat digunakan oleh para mahasiswa yang
sedang mendalami materi tentang psikologi pendidikan.

Anda mungkin juga menyukai