Psikolog Pendidikan
Psikolog Pendidikan
Djaali
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
Prof. Dr. H. Djaali
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
BA 01.39.1280
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Oleh : Prof. Dr. H. Djaali
Diterbitkan oleh PT Bumi Aksara Jl. Sawo Raya No. 18 Jakarta
13220
Cetakan pertama, Juni 2007 Perancang kulit, Agus Bastoni Dicetak oleh
Sinar Grafika Offset
Jaali, Haji
Psikologi pendidikan/H. Jaali; editor,Tarmizi. -- Ed.
1, Cet. 1. — Jakarta: Bumi Aksara, 2007. x, 138 hlm.; 21
cm.
I. Psikologi pendidikan.
I. Judul.
II. Tarmizi.
370.15 .
PRAKATA
Prakata v
kompleks. Uraian berikutnya adalah tentang konsep perkembangan yang
meliputi bagaimana prinsip dan hukum-hukum perkembangan, dan konsep yang
lebih penting lagi dalam konteks pendidikan adalah tentang tahap
perkembangan pribadi manusia, serta secara mendalam diuraikan tentang tugas
perkembangan itu sendiri. Dalam konteks inilah dikaji tentang peran teori
perkembangan dalam pendidikan anak dari masa kecil sampai dengan dewasa.
Setelah mengetahui konsep pertumbuhan dan perkembangan manusia dalam
pendidikan, maka diperlukan aksentuasi proses dalam berpendidikan. Bentuk
aksentuasi tersebut antara lain dalam hal emosi, perkembangan interaksi sosial,
dan pembentukan karakter sebagai manusia. Untuk itu dalam Bab 3 buku ini
dibahas tentang emosi dan hal- hal yang menimbulkannya, kemudian dibahas
pula bagaimana jenis emosi khas dan cara mengontrolnya, sampai dengan
bagaimana konsep perkembangan sosial seorang manusia dalam proses
pendidikan. Yang terakhir dalam bab ini tidak ketinggalan dibahas tentang
bagaimana pembentukan karakter baik dalam lingkungan akademik maupun
dalam lingkungan sosial. Dengan mengetahui perkembangan emosional peserta
didik, maka tibalah pembahasan buku tentang proses manusia yang diberikan
sentuhan pembangunan insani.
Untuk itu dalam Bab 4 ini diuraikan tentang Teori Kognitif. Dalam
pembahasannya, teori kognitif ini berisi secara sekilas tentang inteligensia
sampai dengan perkembangannya. Tidak kalah pentingnya adalah pembaca
diajak belajar tentang beberapa teori inteligensia, dan juga fakdor-faktor yang
mempengaruhi intelegensia itu sendiri. Hal tersebut dikupas dalam subbab
tentang teori belajar kognitif. Bab 5 membahas tentang Psikologi Behavioristik
yang menjelaskan bagaimana aliran-aliran dalam psikologi tersebut. Kelebihan
dalam uraian bab ini adalah ditampilkannya konsep Psikologi Konstitusi dalam
konteks pendidikan. Oleh karena itu, kemudian bab ini diberi judul tidak Teori
Behavioristik tetapi Psikologi Behavioristik. Dengan demikian, sengaja judul
Bab 4 dan 5 dibedakan. Uraian Bab 5 ini sangat penting, karena selama ini
Psikologi Behavioristik yang dipergunakan dalam kajian pendidikan belum
banyak menekankan pada konteks konstitusi. Agar sejalan dengan Bab 4 yang
menguraikan Teori Kognitif, bab ini juga disinggung tentang teori belajar yang
menitikberatkan pada Teori Behavioristik. Yang terakhir adalah
vi Psikologi Pendidikan
menguraikan faktor-faktor yang menimbulkan perilaku baik faktor dari dalam
maupun dari luar. Dalam buku ini, kemudian ditutup dengan Bab 6, yaitu
diuraikan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Dalam bab ini,
disajikan hanya 5 faktor dari sekian banyak faktor yang menentukan kemajuan
belajar. Faktor tersebut adalah motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan
konsep diri. Bahasan dalam bab ini menarik, karena di setiap akhir pembahasan
faktor, penulis kemudian mencoba menerapkan teori- teori-tersebut ke dalam
bidang administrasi pendidikan, dengan berbagai contoh kasus.
Dengan enam bab ini, diharapkan pembaca dapat memahami bagaimana
karakteristik manusia dalam konteks pendidikan. Dengan pemahaman secara
psikologis, diharapkan dapat membantu melakukan perbaikan ke arah
pembangunan manusia seutuhnya.
Dalam menyiapkan buku ini, kami sangat dibantu oleh rekan-rekan Program
Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, khususnya Program Studi Administrasi
Pendidikan. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada: (l)Kelompok 1,
yaitu Tutik Dwi Winarwi, Muchlis Dasuki, Nieke Masruchiah, Hashim Ahmad,
dan Irwan Sumaji yang telah memberikan masukan terhadap tulisan ini berkaitan
dengan konsep kepribadian. (2) Kelompok 2, yaitu Lia Amalia, Isnandar Ali,
Rosyid Rosihan, Yusuf Mudzakhir, dan Suparko yang telah memberikan
masukan materi tentang konsep pertumbuhan dan perkembangan. (3) Kelompok
3, yaitu Anoesyirwan, Basuki Ranto, Driwiyatna, Lim Kie Seng, dan Sungkowo
yang telah memberikan masukan materi tentang konsep emosi. (4) Kelompok 4,
yaitu Walujo Rahardjo, Sumartono, Imam Maskur Ali, dan IG. Agung Rai yang
telah memberikan masukan materi tentang teori kognitif. (5) Kelompok 5, yaitu
Arifuddin, Safruddin Setia Budi, Y.C. Soewandi Santoso, dan Anak Agung
Sukowati yang telah memberikan masukan materi tentang psikologi
behavioristik. (6) Kelompok 6, yaitu Jason Lase, Sasmoko, Soelaiman Hariadi,
Imam Kusrin, dan Robby S.E. Jacob yang telah memberikan masukan materi
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi belajar.
Secara khusus kami sampaikan terima kasih kepada Walujo Rahardjo, Jason
Lase, dan Sasmoko, yang telah mengedit naskah buku ini. Tanpa keija keras
mereka bertiga, mustahil naskah buku ini dapat diwujudkan.
Prakata vii
Secara spesial, kami sampaikan terima kasih kepada Walujo Rahardjo yang
telah mewujudkan naskah yang dikerjakan oleh mereka bertiga di atas menjadi
bentuk buku yang sangat bermakna. Dengan sentuhan sampul yang artistik dari
teman-teman percetakan, dan juga hasil fantasi Walujo Rahardjo & Sasmoko,
buku ini dapat dinikmati oleh adik-adik kelas di PPS UNJ, dan masyarakat
pecinta pendidikan secara umum.
Kami mengucapkan terima kasih juga kepada Direktur Program
Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, dan juga teman-teman dosen di PPS
UNJ yang telah mendukung terwujudnya buku ini. Tanpa dukungan mereka
semua, mustahil kami dapat mewujudkannya.
PRAKATA ................................................................................................. v
Daftar Isi ix
BAB 5 PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK .............................................. 78
A. Pendahuluan....................................................................... 78
B. Aliran Psikologi Behavioristik.. ......................................... 78
C. Teori Belajar Conditioning ................................................. 85
D. Faktor dari Dalam Diri ....................................................... 99
E. Faktor dari Luar Diri .......................................................... 99
x Psikologi Pendidikan
KEPRIBADIAN DALAM
PENDIDIKAN
Pada dasarnya jiwa manusia dibedakan menjadi dua aspek, yakni aspek
kemampuan (ability) dan aspek kepribadian (personality). Aspek kemampuan
meliputi prestasi belajar, inteligensia, dan bakat; sedangkan aspek kepribadian
meliputi watak, sifat, penyesuaian diri, minat, emosi, sikap, dan motivasi.
Gagasan tersebut memberikan gambaran kesan tentang apa yang dipikirkan,
dirasakan, dan diperbuat, yang terungkap melalui perilaku. Berikut ini
merupakan gambaran umum arti kepribadian ditinjau dari berbagai aspek.
Ilmu tentang kepribadian cakupannya sangat luas, yang pada
perkembangan-nya, teori ini sudah sangat maju dalam pengenalan yang lebih
luas tentang kepribadian manusia. Namun, meskipun hanya membatasi
sebagian dari pengetahuan itu, membicarakan kepribadian merupakan suatu hal
yang menarik.
Kepribadian sangat perlu diketahui dan dipelajari karena kepribadian
sangat berkaitan erat dengan pola penerimaan lingkungan sosial terhadap
seseorang. Orang yang memiliki kepribadian sesuai dengan pola yang dianut
oleh masyarakat di lingkungannya, akan mengalami penerimaan yang baik,
tetapi sebaliknya jika kepribadian seseorang tidak sesuai, apalagi bertentangan
dengan pola yang dianut lingkungannya, maka akan terjadi penolakan dari
masyarakat.
Jika terdapat kesesuaian antara kepribadian yang dimiliki dengan
lingkungan sosial, akan terjadi keseimbangan di antara keduanya, sebaliknya
jika terjadi ketidaksesuaian di antara keduanya, maka akan timbul akibat, yaitu
orang tersebut akan mencari lingkungan sosial yang sesuai atau akan
mengadakan penyesuaian terhadap lingkungan sosialnya. Pertanyaan yang
timbul adalah apakah kepribadian itu bisa berubah dan
A. PENGERTIAN UMUM
Personality atau kepribadian berasal dari kata persona yang berarti topeng,
yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. Bagi bangsa Romawi persona
berarti “bagaimana seseorang tampak pada orang lain", jadi bukan diri yang
sebenarnya. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris
person, atau persona dalam bahasa Latin yang berarti manusia sebagai
perseorangan, diri manusia atau diri orang sendiri.
Sumber lain melihat, pribadi (persona, personeidad) adalah akar struktural
dari kepribadian, sedang kepribadian (personality, personalidad) adalah pola
perilaku seseorang di dalam dunia.
Secara filosofis dapat dikatakan bahwa pribadi adalah ”aku yang sejati”
dan kepribadian merupakan "penampakan sang aku” dalam bentuk perilaku
tertentu. Di sini muncul gagasan umum bahwa kepribadian adalah kesan yang
diberikan seseorang kepada orang lain yang diperoleh dari apa yang dipikir,
dirasakan, dan diperbuat yang terungkap melalui perilaku.
Banyak definisi tentang kepribadian, tetapi uraian paling lengkap adalah
yang dikemukakan oleh G.W. Allport dalam buku Child Development karangan
Elizabeth Hurlock. Dikatakan bahwa, kepribadian adalah organisasi (susunan)
dinamis dari sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan
penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan.1
Sejalan dengan pengertian yang dikemukakan di atas, Bruce Perry, seorang
peneliti dari Baylor College of Medicine AS menemukan bukti bahwa perilaku
buruk juga disebabkan oleh perubahan struktur dan kerja
2 Psikologi Pendidikan
pada otak. Adapun Sumarmo Markam berkesimpulan bahwa kepribadian
tersebut dapat dilihat dari perilaku seseorang yang dibentuk melalui Amigdala,
yaitu bagian dalam sistem limbik pada otak manusia yang berfungsi sebagai
pusat perasaan.
Sebagai organisasi yang dinamis, artinya kepribadian itu dapat berubah-
ubah dan antarberbagai koinponen kepribadian tersebut (sistem psikofisik seperti
kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, emosi, perasaan, dan motif) memiliki
hubungan yang erat. Hubungan tersebut terorganisasi sedemikian rupa secara
bersama-sama mempengaruhi pola perilaku dalam menyesuaikan diri terhadap
lingkungan. Di lain pihak, Freud menyebutnya sebagai struktur yang memiliki
tiga sistem, yakni id, ego, dan super ego, di mana ego merupakan badan eksekutif
kepribadian yang menetapkan tindakan apa yang tepat, impuls id mana yang
dipuaskan dan bagaimana caranya, dan ego menjadi penengah antara id dan super
ego yang menginginkan kesempurnaan bersih terhadap realitas lingkungan dan
tuntutan norma. Fieldman menggambarkan sebagai perilaku yang stabil dari
manusia yang ditunjukkan pada sikap yang uniform dan merupakan kelanjutan
pengalaman masa lalu. Chambers, menyatakan bahwa kepribadian adalah hal
yang aneh yang tidak bisa diperhitungkan jika berbicara tentang diri sendiri akan
kelihatan berbeda dengan setiap orang.
Meskipun secara eksplisit Littauer tidak merumuskan apa yang disebut
dengan kepribadian, namun ia mengutip pendapat David Lykken bahwa
kepribadian sebagai suatu perangai dan langkah serta semua kekhasan yang
membuat orang berbeda dari orang lain dalam hal kemungkinan hubungan
dengan genetik tertentu dalam diri manusia. Dengan demikian, kita dapat
melihat bahwa kepribadian memiliki arti yang sangat khas dan kompleks,
karena mengacu kepada suatu proses yang dapat dilakukan manusia sejak kecil
hingga dewasa. Dalam uraian di atas ditunjukkan dengan "kelanjutan masa
lalu”.
Kepribadian manusia merupakan gabungan dari berbagai sifat dan konsep
diri orang. Jika dikaji lebih dalam sebenarnya proses ini sudah berjalan dengan
memberi pengalaman dan mewarnai perkembangan kepribadian seseorang. Jadi
secara umum, dapat dikatakan bahwa kepribadian merupakan suatu proses
dinamis di dalam diri, yang terus- menerus dilakukan terhadap sistem psikofisik
(fisik dan mental), sehingga
B. KELOMPOK TEORI KEPRIBADIAN
Berdasarkan definisi dan sudut pandang para psikolog, diungkapkan
mengenai tipe-tipe kepribadian. Beberapa psikolog membagi tipe kepribadian
berbeda satu sama lain, dan perbedaan ini disebabkan oleh sudut pandang dari
mana penelitian atas kepribadian dimulai atau didasarkan oleh faktor tertentu
yang juga berbeda antara satu ahli dengan lainnya. Oleh karena itu, beberapa
tipe kepribadian yang akan dikemukakan berikut ini, dibatasi oleh pendapat
yang dianggap cukup banyak diperbincangkan oleh para ahli.
1. Type Theory
Tokohnya adalah Galen, Emest Kretschmer, William Sheldon. Galen
mendasarkan penemuannya pada doktrin Hippocrates bahwa tubuh manusia
dibentuk dari darah (blood), zat empedu kuning (yellow bile), zat empedu hitam
(black bile), zat lendir (phlegm) yang berkaitan erat dengan empat tipe
temperamen manusia berikut.
1. Sanguin dengan kekuatan pengaruh zat darah, dicirikan dengan orang
yang aktif, giat, dan atletis.
2. Choleric dengan kekuatan pengaruh zat empedu kuning (yellow bile)
dicirikan dengan temperamen suka marah.
3. Melankolik dengan kekuatan pengaruh zat empedu hitam (black bile)
dicirikan dengan mudah depresi atau sedih.
4. Phegmatik dengan kekuatan pengaruh cairan lendir (phlegm) dicirikan
dengan cepat lelah dan malas.
Emst Kretschmer, mengemukakan kepribadian yang juga didasarkan pada
bentuk tubuh, antara lain dikatakan bahwa orang yang memiliki bentuk tubuh
tinggi kurus dan atletis diasosiasikan dengan orang yang senang menarik diri,
kurang bergaul. Adapun orang yang pendek, gemuk adalah orang yang memiliki
emosi yang kurang stabil (emotional instability).
4 Psikologi Pendidikan
Tipe kepribadian yang dikemukakan di atas selain ”kadar” ilmiahnya
masih dipertanyakan juga hanya mengemukakan sisi negatif dari kepribadian
sehingga sangat disarankan untuk tidak dijadikan patokan penilaian
kepribadian, sebab seringkali orang yang diberi cap negatif seringkah
bertingkah laku sesuai dengan cap yang diberikan kepadanya.
2. Trait Theory
Tokohnya Gordon Allport dan R.B. Cattell. Mereka mendefinisikan trait
(watak), sebagai susunan neuropsychic yang mempunyai kemampuan
memberikan banyak rangsangan pada fungsi yang sederajat dan mengarahkan
bentuk dan pengungkapan perilaku. R.B. Cattell mengklasifikasikan sifat
berdasarkan empat pasang tipe, yaitu sebagai berikut.
1. Common versus unique, artinya terdapat sifat-sifat umum yang dimiliki
oleh semua orang dan orang yang memiliki sifat khusus dan tidak dimiliki
oleh orang lain.
2. Surface versus source, artinya suatu sifat ada yang dengan mudah dapat
dilihat dan ada yang harus dilakukan penelitian lebih jauh baru dapat
kelihatan.
3. Constitutional versus environmental mold, yaitu sifat yang tergantung pada
pembawaan (constitutional) dan yang tergantung pada lingkungan.
4. Dynamic versus ability and temperament, dynamic, artinya sifat yang
mendorong seseorang untuk mencapai tujuan dan sifat yang menentukan
kemampuan untuk mencapai tujuan dan temperamen adalah aspek-aspek
emosional yang mengarahkan kepada aktivitas.
3. Psychoanalysis Theory
Tokohnya adalah Sigmund Freud yang mengatakan bahwa kepribadian
manusia adalah pertarungan antara id, ego, dan super ego. Id adalah bagian
kepribadian manusia yang mengendalikan dorongan biologis seperti dorongan
sex dan sifat agresif, id bertindak atas prinsip kesenangan semata, sehingga
seringkali disebut tabiat hewani manusia. Super ego adalah hati nurani yang
bertindak atas prinsip moral. Super
4. Phenomenology Theory
Tokohnya adalah Abraham Maslow dan Carl Rogers. Berbeda dengan teori
psikoanalisis yang menekankan pada masalah perkembangan psychosexual,
ketidaksadaran (unconscious), teori ini lebih menekankan
6 Psikologi Pendidikan
pada masalah persepsi, pengertian, perasaan, dan pengertian akan diri sendiri
(self).
Teori ini melihat manusia sebagai pribadi unik dan sangat individual
sifatnya, artinya kepribadian seseorang dalam perkembangannya, sangat
dipengaruhi oleh faktor lingkungannya, dalam hal ini orang tua dan orang-
orang yang menjadi panutannya. Teori tentang kepribadian banyak pula dibahas
oleh para pakar di antaranya adalah sebagai berikut.
C. TOKOH TEORI KEPRIBADIAN
1. Larry A. Hjelle dan Daniel J. Ziegler
Menurut Larry A. Hjelle dan Daniel J. Ziegler teori-teori kepribadian
diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu sebagai berikut.
a. Psikoanalisis: yang menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk yang
mempunyai naluri dan konflik batiniah (intrapsychic), konsep tersebut hasil
riset Sigmund Freud tentang gangguan mental terhadap orang yang
menekankan pada kekuatan ketidaksadaran (unconscious) dan mengambil
faktor irasional sebagai faktor pengontrol dari perilaku manusia.
b. Prospektif dari kepribadian psikologi dari behaviorism: memandang
manusia lebih lunak dan mudah dibentuk, dan korban yang pasif dari
kekuatan-kekuatan di dalam lingkungan seperti yang diterangkan oleh
pakar perilaku B.F. Skinner. Dia menekankan belajar dari pengalaman
sebagai kualitas dasar dalam pembentukan blok- blok pemikiran kita yang
disebut kepribadian.
c. Humanic Psychology: yang merupakan perspektif terbaru dalam
kepribadian manusia yang mempersembahkan suatu gambaran yang sangat
berbeda tentang manusia yang satu dengan yang lain, pakar- pakar
kepribadian yang berorientasi pada prinsip kekuatan ketiga atau potensi
bahwa gerakan manusia (human potential movement) menyatakan manusia
pada hakikatnya adalah baik dan dapat menyempurnakan diri (self
perfecting). Berdasarkan pandangan ini wajar bagi manusia secara alamiah
berubah secara konstan ke arah pengembangan diri kreatif dan mencukupi
diri sendiri, kecuali
2. Ericson
Ketika Freud mengidentifikasi perkembangan kepribadian dengan tiga
subsistem, maka Ericson mengembangkan menjadi delapan tahap. Seperti
Freud, Ericson juga mengembangkan kepribadian dalam berbagai tahapan. Di
mana setiap tahapan dapat diidentifikasi dengan masa krisis. Delapan tahapan
perkembangan kepribadian dari Ericson adalah sebagai berikut.
Usia (Dalam
Tahapan Karakteristik Sukses ><Gagal
Tahun)
8 Psikologi Pendidikan
adalah karakteristik pada saat membuat keputusan antara kemajuan dan
kemunduran. Pada situasi seperti ini, bisa terjadi prestasi atau kegagalan,
sehingga dapat mengakibatkan masa depan yang akan lebih baik atau lebih
buruk, tetapi sebetulnya situasi tersebut dapat disusun kembali. Bagaimanapun
juga, Ericson tidak menerima gagasan atau pikiran Freud yang mengatakan
bahwa kepribadian setelah masa kanak-kanak yang tidak penurut tidak bisa
diubah. Ericson percaya bahwa kepribadian masih dapat dibentuk dan diubah
pada masa dewasa.
Masa dewasa dibagi dalam tiga tahap, yaitu dewasa awal, dewasa
pertengahan, dan dewasa lanjut. Pada masa dewasa awal persoalan utamanya
adalah kekariban dan alternatifnya adalah pengasingan. Masa dewasa
pertengahan akan menuju kemenyamaratakan, dalam proses tersebut, individu
dengan perasaannya yang baru akan menjadi kebapakan (paternaf) dan kreatif,
dengan rasa ikut bertanggung jawab untuk menuntun generasi yang baru dan
perkumpulan anak-anak muda, tahapan terakhir menawarkan peluang untuk
memecahkan masa krisis awal melalui penggabungan. Oleh karena itu, pada
saat Ericson membandingkan tahapan awal dengan teori Freud, ternyata tahapan
dewasa lanjut menggambarkan periode pertumbuhan secara alamiah.
Sependapat dengan Freud, Ericson juga percaya bahwa setiap orang tidak dapat
berhasil dalam menyesuaikan diri di setiap tahapan, tidak berdayanya
perkembangan kepribadian pria dan wanita, dapat mengakibatkan bertambahnya
tekanan (stres) dan kegelisahan.
3. Algyris
Chris Algyris meyakini bahwa orang yang sehat mencoba mendapatkan
atau menuntut situasi yang menawarkan otonomi (mandiri, keinginan yang
bebas atau luas), perlakuan yang sama, dan kesempatan untuk menonjolkan
kemampuannya dalam masalah rumit. Kesempatan itu cenderung bergerak dari
ketidakmatangan menuju kematangan dari:
a. keadaan pasif ke pengembangan aktif;
b. ketergantungan ke kemandirian;
c. sejumlah rata-rata berkelakuan baik ke alternatif pilihan yang jelas;
d. minat yang dangkal atau sederhana ke minat yang penting atau
bermanfaat;
4. Sheehy
Perkembangan orang dewasa ditempuh melalui lima tahap krisis
sebagai berikut.
a. Periode Pulling up roots. Fase ini adalah fase ketakutan dan
ketidakpastian yang menyebabkan munculnya perlawanan diri sebagai
akibat dari rasa tidak puas dengan keadaan rumah, gangguan fisik (sakit),
ketidakpuasan finansial dan keretakan emosional dengan orang tua. Dalam
hal ini hukuman mungkin lebih sulit.
b. The trying twenties. Pada usia 21 tahun kita berupaya memahami siapa
kita dan ke mana kita. Semuanya terasa serba mungkin. Fase ini adalah
masa yang baik, sekaligus masa terbentuknya ketakutan yang diikuti
dengan tidak ditemukan pilihan yang pasti. Ada dua kekuatan yang
menekan kita. Pertama masa depan dengan pemulihan kepercayaan. Kedua
menyelidiki dan memelihara fleksibilitas kepercayaan.
c. The catch thirties. Pada usia 30 tahunan kepercayaan hidup terbentuk,
rusak, dan diperbarui ke visi baru atau berkurangnya sifat yang idealistis
ke tujuan realistis. Kepercayaan diubah atau harus dikuatkan. Adanya
perubahan, kegelisahan dan sering munculnya dorongan hati yang kuat.
d. The deadline decade (35-45 tahun). Pada usia ini memunculkan kembali
masalah-masalah hidup. Sewaktu muda penuh sejarah yang bahaya dan
baik, tetapi kini sudah berakhir Namun pada periode ini disifati oleh ujian
kembali terhadap seluruh tujuan yang ada, bagaimana kita sekarang akan
menikmati seluruh kekayaan atau kepemilikan kita.
10 Psikologi Pendidikan
e. Renewal or regisnation. Pertengahan umur 50 tahun adalah periode stabil.
Periode ini membawa seseorang merasa dalam kesabaran dan segalanya
sudah terlewati. Bagi seseorang yang sukses menemukan bangunan
hidupnya, pada usia ini menjadikan seseorang tahun hidup yang terbaik.
5. Sheldon
Menurut Sheldon, manusia dilihat dari segi morphology (bentuk badan)
dapat dibedakan menjadi hal-hal berikut.
a. Endomorph, dengan ciri-ciri gemuk, suka makan, lamban bereaksi, dan suka
berteman.
b. Mesomorph, dengan ciri-ciri atletis, agresif, dan suka hal-hal yang
menantang.
c. Ectomorph, dengan ciri-ciri kurus, cepat dalam bereaksi, dan suka hal-hal
yang bersifat privacy.
Penyelidikan Sheldon di atas berdasarkan adanya korelasi antara bentuk
badan dengan karakter seseorang. Penampilan fisik seseorang akan membawa
pengaruh karakternya, contoh: seseorang berfisik atletis, dalam bertindak
cenderung menjadi agresif.
7. Eric Berne
Eric Berne memperkenalkan suatu metode untuk menganalisis
12 Psikologi Pendidikan
kepribadian seseorang dengan melihat tingkah laku mereka yang dominan pada
suatu saat, dan bila ini menjadi kebiasaan yang terus-menerus dapat dikatakan
manusia memiliki kecenderungan tipe kepribadian tertentu. Berne membagi tipe
kepribadian manusia menjadi tiga bagian, yakni kanak- kanak, dewasa, dan orang
tua. Setiap tipe kepribadian ini membawa perilaku tertentu dalam berinteraksi
dengan orang lain. Metode yang dilakukan untuk pembagian tipe kepribadian ini
adalah dengan analisis transaksional yang merugikan liku-liku yang mendasari tata
cara, tingkah laku pribadi dalam berinteraksi dengan orang lain. Dalam cara
berpikir dan berperilaku, dalam perasaan dan cara menghadapi kenyataan hidup
ternyata terdapat beberapa corak yang berbeda, sehingga didapat konsep ego state
yang menampakkan kepribadian seseorang.
Berne membedakan ego state manusia dalam tiga tipe kepribadian yang
berbeda, yakni kanak-kanak (child), orang tua (parents), dan dewasa (adult).
Orang dengan tipe kanak-kanak, menampakkan kembali perilaku, perasaan,
pemikiran, pengamatan orang dari masa kecilnya. Kelincahan dan kebebasan
berpikir masih tampak juga pada orang dewasa yang memiliki tipe kanak-kanak
kuat. Tipe dewasa menampakkan akal sehat yang mampu menilai kenyataan
sekarang ini dan merencanakan masa depan. Pengertian tipe kepribadian dengan
menggunakan ego state dinamakan analisis struktural. Meskipun perkataan Eric
Berne ini belum dapat diterima sepenuhnya sebagai suatu tipe kepribadian, namun
secara metodologis ia telah membanggakan cara meneliti perilaku manusia yang
membentuk kepribadiannya. Sama seperti kedua teori di atas sebelumnya, ego
state bersifat ambivalen tidak ada yang seratus persen mewakili salah satu tipe
dalam diri manusia, pada dasarnya manusia memiliki ketiga tipe tersebut, hanya
berbeda dari faktor dominannya saja.
D. FAKTOR PENENTU PERUBAHAN KEPRIBADIAN
Perubahan dalam kepribadian tidak terjadi secara spontan, tetapi merupakan
hasil pematangan, pengalaman, tekanan dari lingkungan sosial budaya, dan faktor-
faktor dari individu.
1. Pengalaman Awal
Sigmund Freud menekankan tentang pentingnya pengalaman awal
(masa kanak-kanak) dalam perkembangan kepribadian. Trauma
14 Psikologi Pendidikan
7. Nama
Walaupun hanya sekadar nama, tetapi memiliki sedikit pengaruh terhadap
konsep diri, namun pengaruh itu hanya terasa apabila anak menyadari
bagaimana nama itu mempengaruhi orang yang berarti dalam hidupnya.
Nama yang dipakai memanggil mereka (karena nama itu mempunyai
asosiasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam pikiran orang
lain) akan mewarnai penilaian orang terhadap dirinya.
8. Keberhasilan dan Kegagalan
Keberhasilan dan kegagalan akan mempengaruhi konsep diri, kegagalan
dapat merusak konsep diri, sedangkan keberhasilan akan menunjang
konsep diri itu.
9. Penerimaan Sosial
Anak yang diterima dalam kelompok sosialnya dapat mengembangkan
rasa percaya diri dan kepandaiannya. Sebaliknya anak yang tidak diterima
dalam lingkungan sosialnya akan membenci orang lain, cemberut, dan
mudah tersinggung.
10. Pengaruh Keluarga
Pengaruh keluarga sangat mempengaruhi kepribadian anak, sebab waktu
terbanyak anak adalah keluarga dan di dalam keluarga itulah diletakkan
sendi-sendi dasar kepribadian.
11. Perubahan Fisik
Perubahan kepribadian dapat disebabkan oleh adanya perubahan
kematangan fisik yang mengarah kepada perbaikan kepribadian. Akan
tetapi, perubahan fisik yang mengarah pada klimakterium dengan
meningkatnya usia dianggap sebagai suatu kemunduran menuju ke arah
yang lebih buruk. Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang
mempengaruhi kepribadian, tetapi tidak dapat seluruhnya disampaikan di
sini mengingat keterbatasan-keterbatasan yang ada.
A. PERTUMBUHAN
Dua bagian yang kondisional dari manusia meliputi pribadi yang bersifat
material kuantitatif yang mengalami pertumbuhan, dan pribadi yang fungsional
kualitatif yang mengalami perkembangan.
Pertumbuhan diartikan perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai
akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Perubahan kuantitatif dapat berupa
pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari sedikit menjadi
banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya. Pertumbuhan pribadi sebagai
perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya
pengaruh lingkungan material seperti sel, kromosom, butir darah, rambut,
lemak, dan tulang tidak dapat dikatakan berkembang melainkan tumbuh. Begitu
juga material pribadi, seperti kesan, keinginan, ide, pengetahuan, nilai, selama
tidak dihubungkan dengan fungsinya tidak dapat dikatakan berkembang
melainkan mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan dinyatakan dalam bentuk
perubahan yang terjadi pada bagian-bagian material, tetapi pertumbuhan itu
sendiri mempunyai sifat kesatuan dan keumuman, dalam hal ini suatu
organisme.
16 Psikologi Pendidikan
seorang ayah kepada anaknya adalah berupa sifat-sifat yang terkandung di
dalam satu sperma yang terbuahkan. Sperma adalah satu tetes air senggama.
Dari satu pria saja sudah terdiri atas berjuta-juta sperma yang dapat dilihat
melalui mikroskop yang berbentuk menyerupai bulatan kepala, berekor
panjang, dan bergerak. Dengan ekornya itu sperma bergerak dan berenang cepat
mencari sasarannya. Di dalam satu sperma yang kecil itu terkandung benda-
benda teramat kecil sejumlah dua puluh empat yang disebut kromosom
(chromosomes).
Berjuta-juta sperma berenang memasuki rahim ibu, hanya satu di
antaranya yang dapat sampai ke sasaran, yaitu telur. Ketika sperma menembus
dan memasuki telur, kepalanya mulai membuka dan mensenyawakan dua puluh
empat kromosom yang tadinya terbungkus. Besar adalah beribu-ribu kali
besarnya sperma, maka mata telanjang kita dapat mengamatinya sebesar mata
ular. Berat sebuah telur manusia diperkirakan sekitar seperjuta gram. Di dalam
telur berisikan bahan makanan, dengan satu bulatan kecil yang ringan yang
disebut nucleas. Isi telur itu baru dapat dilihat mikroskop ketika sperma (yang
kepalanya saja) memasuki telur dan melepaskan kedua puluh empat
kromosomnya dalam waktu yang hampir bersamaan dengan nucleas. Telur yang
pecah melepaskan pula kedua puluh empat kromosomnya sebagai sumbangan
dari pihak ibu untuk membentuk seorang anak.
Individu terbentuk dari empat puluh delapan kromosom. Setiap kromosom
mempunyai bentuk dan sifat yang berbeda-beda. Dua puluh empat kromosom
dari ayah dan dua puluh empat kromosom dari ibu, masing-masing berpasangan
di dalam indung telur. Dua puluh empat pasang kromosom inilah penentu
turunan fisik dari kehidupan pribadi manusia. Pertumbuhan berlanjut terus
dengan adanya proses devision dan redevision (pembagian sel dan pembagian
atau pembelahan kembali pada sel-sel). Pembelahan dan perpasangan
kromosom menyerupai rangkaian mata rantai membentuk seperti halnya per
yang semakin lama semakin merapat. Pada saat-saat tertentu, rapatan
kromosom ini tumbuh dan semakin banyak membentuk butiran yang
menyerupai embun yang disebut genes tersebut merupakan faktor penentu
hereditas. Setiap genes mempunyai fungsi tertentu dalam pertumbuhan
manusia.
Setelah itu, telur menjadi masak dan masuklah saraf dari pihak ibu.
18 Psikologi Pendidikan
Setiap telur hanya terjadi dari separuh kromosom ibu/wanita. Perubahan dalam
struktur kromosom dapat mempengaruhi pekerjaan genes. Hal- hal yang tidak
diwariskan meliputi beberapa aspek, baik material pertumbuhan fisik maupun
mental. Dari sifat genes yang dimiliki, individu dapat saja menjadi orang yang
pemurung, periang, pendiam, lamban, ataupun cerdas.
Tidak semua aspek pribadi manusia diwarisi dari orang tuanya. Hal- hal
yang tidak diwariskan meliputi beberapa aspek, baik material pertumbuhan fisik
maupun mental. Dari sifat genes yang dimiliki, individu dapat saja menjadi
orang yang pemurung, periang, pendiam, lamban, ataupun cerdas. Akan tetapi,
keadaan fisik atau mental seperti penyakit, kelelahan, kemiskinan, kegagalan,
atau kemalasan adalah tidak diwariskan, melainkan diperoleh dari pendidikan.
Perlengkapan mental setiap individu sejak lahir adalah sama seperti halnya pada
orang dewasa, begitu pula perlengkapan fisik. Kesamaan material hereditas
dapat melahirkan individu-individu yang berbeda dalam penampilan fisik. Hal
ini belum tentu disebabkan oleh faktor hereditas, tetapi karena perbedaan
kondisi pertumbuhan itu dipengaruhi, baik oleh hereditas maupun lingkungan.
Pertumbuhan terjadi secara fisiologis terhadap material kehidupan.
Pertumbuhan material ternyata tidak hanya kuantitatif, tetapi juga kualitatif.
Hukum-hukum yang mengatur pertumbuhan adalah (1) pertumbuhan bersifat
kuantitatif serta kualitatif, (2) pertumbuhan merupakan suatu proses yang
berkesinambungan dan teratur, (3) tempo pertumbuhan adalah tidak sama, (4)
tahap perkembangan berbagai aspek pertumbuhan adalah berbeda-beda, (5)
kecepatan serta bola pertumbuhan dapat dimodifikasi oleh kondisi ini di dalam
dan di luar badan, dan (6) setiap individu tumbuh menurut caranya masing-
masing yang unik. Keunikan pertumbuhan pada masing-masing individu antara
lain disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan internal, kondisi lingkungan
eksternal, materi hereditas, aktivitas, kondisi fisiologis seperti cacat fisik, usia,
jenis kelamin, dan hasil belajar.
20 Psikologi Pendidikan
menjadi lebih besar dan badan yang semakin tegap.
Pertumbuhan seksual yang dimulai dari masa pubertas berlangsung terus
secara pesat hingga umur 20 tahun. Sejak umur 21 tahun pertumbuhan berjalan
konstan, tetapi pasti.
B. PERKEMBANGAN
Perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhannya.
Pertumbuhan adalah sesuatu yang menyangkut materi jasmaniah yang dapat
menumbuhkan fungsi dan bahkan perubahan fungsi pada materi jasmaniah.
Perubahan jasmaniah dapat menghasilkan kematangan atas fungsinya.
Kematangan fungsi jasmaniah sangat mempengaruhi perubahan pada fungsi
psikologis. Oleh karena itu, perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan
dengan pertumbuhannya.
1. Prinsip Perkembangan
Ciri perkembangan menunjukkan gejala yang secara relatif teratur,
sehingga terjadinya pola perkembangan sistematik. Atas dasar hal tersebut, para
ahli merumuskan dalam bentuk prinsip-prinsip perkembangan. Beberapa
prinsip perkembangan antara lain:
a. perkembangan merupakan fungsi jasmaniah dan kejiwaan yang
berlangsung dalam proses satu kesatuan yang menyeluruh (integrated);
b. setiap individu mempunyai kecepatan perkembangan;
c. perkembangan seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek
tidak konstan melainkan berirama;
d. proses perkembangan dengan mengikuti pola tertentu;
e. proses perkembangan berlangsung secara berkesinambungan;
f. antara aspek perkembangan yang satu dengan aspek yang lain saling
berkaitan atau berkorelasi secara signifikan;
g. perkembangan berlangsung dari pola yang bersifat umum ke khusus;
h. perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan;
i. memiliki fungsi kepribadian yang bersifat jasmaniah, yaitu fungsi motorik
pada bagian-bagian tubuh, fungsi sensoris pada alat-alat indra,
2. Hukum Perkembangan
Hukum perkembangan dalam kepribadian meliputi: (1) perkembangan
bersifat kualitatif, (2) perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil
belajar, (3) usia ikut mempengaruhi perkembangan, (4) masing-masing individu
mempunyai tempo perkembangan yang berbeda-beda, (5) dalam keseluruhan
periode perkembangan, (6) setiap spesies perkembangan individu mengikuti
pola umum yang sama, dan (7) perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan
lingkungan pendidikan. Untuk itu harus melakukan usaha-usaha seperti
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi kegiatan anak
untuk belajar, dan membimbing perkembangan anak ke arah perkembangan
yang optimal.
22 Psikologi Pendidikan
4. Tahap latent (antara umur 5 tahun sampai 12-13 tahun)
Dalam tahap ini, dorongan aktivitas dan pertumbuhan cenderung bertahan
dan istirahat dalam arti tidak meningkatkan kecepatan pertumbuhan.
5. Tahap pubertas (antara umur 12-13 tahun sampai 20 tahun) Dalam tahap
ini, dorongan aktif kembali, kelenjar endokrin tumbuh pesat dan berfungsi
mempercepat pertumbuhan ke arah kematangan.
6. Tahap genital (setelah umur 20 tahun dan seterusnya)
Dalam tahap ini, pertumbuhan genital merupakan dorongan penting bagi
tingkah laku seseorang.
Freud secara menyeluruh kurang menjelaskan mengenai pertumbuhan dan
perkembangan fisiologi, tetapi dalam perkembangan individu, ia lebih menjurus
kepada sudut pandang seksualitas. Gesel dan Amtruda mengemukakan tahapan
secara berurutan tentang perkembangan fisiologis manusia dari awai prenatal
sampai umur 5 tahun sebagai berikut.
1. Tahap konsepsi (1 minggu setelah pembuahan). Dalam tahap ini, sperma
memasuki ovum dan dalam proses pertumbuhan terjadi pula
pengorganisasian sel germinal.
2. Tahap embrionik (antara 1 minggu s.d. 8 minggu). Setelah ovum dimasuki
oleh saraf dari ibu, terjadilah pertumbuhan sistem saraf dan terjadi pula
pembentukan fungsi preneural.
3. Tahap fetal (2 bulan s.d. 2,5 bulan). Terjadi pembentukan fungsi informasi
dan komunikasi dengan sensitivitas oral.
4. Tahap perluasan fetal (2,5 bulan s.d. 3,5 bulan). Dalam tahap ini terjadi
perluasan pembentukan fungsi vital dengan berkembangnya sistem saraf
dan jaringan otak.
5. Tahap perkembangan refleks-refleks (3,5 bulan s.d. 4 bulan), fungsi
refleks mulai berkembang.
6. Tahap perkembangan alat pemapasan (4 bulan s.d. 4,5 bulan), dalam tahap
ini, terjadi perkembangan fungsi pemapasan pada bayi prenatal.
7. Tahap perkembangan fungsi tangan (4,5 bulan s.d. 5 bulan), tangan dan
jari-jari bayi mulai dapat bergerak.
24 Psikologi Pendidikan
mulai belajar matematik sederhana misalnya menyebut bilangan,
menghitung urutan bilangan, dan penguasaan jumlah kecil dari benda-
benda.
20. Tahap sosialitas (antara umur 5 tahun s.d. 7 tahun)
Anak mulai dapat belajar bergaul dengan teman-teman sebayanya. Dalam
usia inilah anak mulai mengikuti pendidikan anak-anak.
21. Tahap intelektual (antara umur 7 tahun s.d. 12 tahun), dalam tahap ini,
fungsi ingatan, imajinasi dan pikiran pada anak mulai berkembang. Anak
mulai mampu mengenal sesuatu secara objektif. Anak juga mulai berpikir
kritis.
22. Tahap pubertas (antara umur 12 tahun s.d. 17 tahun), dalam tahap ini,
pertumbuhan dan perkembangan fungsi kelenjer endokrin terutama
kelenjar sel germinal sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku
manusia.
23. Tahap pematangan fisiologis (antara umur 17 tahun s.d. 20 tahun), dalam
tahap ini pertumbuhan fisik anak menuju ke arah kematangan
fisiologisnya. Semua fungsi jasmaniahnya berkembang menjadi seimbang.
Keseimbangan fungsi fisiologis memungkinkan pribadi manusia
berkembang secara positif sehingga manusia semakin mampu bertingkah
laku sesuai dengan tuntutan sosial, moral, serta intelektual.
Menurut Jean Jacques Rousseau perkembangan fungsi dan kapasitas
kejiwaan manusia berlangsung dalam lima tahap sebagai berikut.
1. Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir - 2 tahun), dalam tahap ini,
perkembangan pribadi didominasi oleh perasaan. Perasaan senang ataupun
tidak senang menguasai diri bayi, sehingga setiap perkembangan fungsi
pribadi dan tingkah laku bayi, sangat dipengaruhi oleh perasaannya.
Perasaan ini sendiri tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan
berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi bayi terhadap stimuli
lingkungannya.
2. Tahap perkembangan masa kanak-kanak (2 tahun s.d. 12 tahun), dalam
tahap ini, perkembangan pribadi anak dimulai dengan semakin
berkembangnya fungsi indra anak untuk mengadakan pengamatan.
MILIK
PERPUSTAKAAN UIN
Perkembangan fungsi ini memperkuat perkembangan fungsi pengamatan
pada anak, bahkan dapat dikatakan bahwa perkembangan setiap aspek
kejiwaan anak pada masa ini sangat didominasi oleh pengamatannya.
1. Tahap perkembangan pada masa preadolesen (12 tahun s.d. 15 tahun),
dalam tahap ini, perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak
sangat dominan. Dengan adanya pertumbuhan sistem saraf serta fungsi
pikirannya, anak mulai kritis dalam menanggapi sesuatu ide atau
pengetahuan dari orang lain. Kekuatan intelektualnya kuat. Energi fisiknya
kuat, sedangkan kemauannya kurang keras, dengan pikirannya yang
berkembang, anak mulai belajar menemukan tujuan serta keinginan yang
dianggap sesuai baginya untuk memperoleh kebahagiaan.
2. Perkembangan pada masa adolesen (15-20 tahun), dalam tahap
perkembangan ini, kualitas kehidupan manusia diwarnai oleh dorongan
seksual yang kuat. Keadaan ini membuat orang mulai tertarik kepada
orang lain yang berlainan jenis kelaminnya. Di samping itu, orang mulai
mengembangkan pengertian tentang kenyataan hidup serta mulai
memikirkan pola tingkah laku yang bernilai moral. Ia juga mulai belajar
memikirkan kepentingan sosial serta kepentingan pribadi. Berhubung
dengan berkembangnya keinginan dan emosi yang dominan dalam pribadi
orang dalam masa ini, maka orang dalam masa ini sering mengalami
keguncangan serta ketegangan dalam jiwa.
3. Masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun), dalam tahap ini,
perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat
membedakan adanya tiga macam tujuan hidup pribadi, yaitu pemuasan
keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, dan pemuasan
keinginan masyarakat. Semua ini akan direalisasi oleh individu dengan
belajar mengandalkan daya kehendaknya Dengan kemauannya, orang
melatih diri untuk memilih keinginan yang akan direalisasi dalam
tindakannya. Realisasi setiap keinginan ini menggunakan fungsi
penalaran, sehingga orang dalam masa perkembangan ini mulai mampu
melakukan self direction dan self control.
26 Psikologi Pendidikan
Dengan kemampuan ini, manusia tumbuh berkembang menuju
kematangan untuk hidup berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Pada masa
tersebut, manusia mulai mampu melakukan self control dan self direction.
Menurut Oswald Kroch secara umum terdapat dua keguncangan selama
perkembangan pribadi, yaitu pada masa perkembangan anak:
1. umur 3 atau 4 tahun, di mana anak mulai menemukan ”akunya”;
2. usia pubertas, di mana anak laki-laki mulai umur 12 tahun atau 13 tahun,
sedangkan pada anak perempuan terjadi lebih awal, yaitu mulai 10 atau 11
tahun.
Masa keguncangan tersebut oleh Oswald Kroch disebut Trotzperiods.
Tahapan utama perkembangan pribadi secara psikologis adalah sebagai berikut.
1. Masa kanak-kanak awal, yakni perkembangan sejak lahir sampai masa
trotz pertama.
2. Masa bersekolah, yakni masa perkembangan sejak setelah masa trotz
kedua.
3. Masa kematangan, yakni setelah masa trotz kedua sampai akhir masa
remaja.
Dari beberapa pendapat termasuk yang menguraikan pertumbuhan/
perkembangan fisiologis masa prenatal, dapatlah dikemukakan di sini
pentahapan perkembangan pribadi secara agak lebih luas yang meliputi tahap:
1. kematangan prenatal (antara umur 2,5 bulan - 9 bulan prenatal);
2. perkembangan vital (sejak lahir - 2 tahun);
3. tahap perkembangan ingatan (umur 2-3 tahun);
4. tahap perkembangan kekuatan dan imajinasi (mulai umur 3-4 tahun);
5. tahap perkembangan pengamatan (umur 4-6 tahun);
6. tahap perkembangan intelektual (antara umur 6/7 tahun -12/13 tahun),
masa perkembangan intelektual ini meliputi masa siap sekolah, dan masa
anak bersekolah (umur 7-12 tahun). Beberapa ciri pribadi anak masa kini
antara lain sebagai berikut:
28
Psikologi Pendidikan
abstrak dan intelektual; dan berusaha menunjukkan diri mampu dan
bergengsi.
Anak remaja perempuan memiliki sifat-sifat pasif dan suka menerima,
suka mendapat perlindungan, pasif tetapi mengagumi pribadi pujaannya,
tertarik kepada hal-hal yang bersifat konkret dan emosional, dan berusaha
menuruti dan menyenangkan orang lain.
Tujuh Tipe Anak Remaja
1. Tipe intelektual. Mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab, dan
berkesadaran tinggi.
2. Tipe kalem. Mampu mengendalikan diri, bertanggung jawab, dan
berkesadaran rendah.
3. Tipe perenung. Dapat dikendalikan, kurang bertanggung jawab, dan
berkesadaran tinggi.
4. Tipe pemuja. Sukar dikendalikan, bertanggung jawab, dan berkesadaran
rendah.
5. Tipe ragu-ragu. Dapat dikendalikan, kurang bertanggung jawab, dan
berkesadaran rendah.
6. Tipe sok bisa. Sukar dikendalikan, bertanggung jawab, dan berkesadaran
rendah.
7. Tipe perasa. Sukar dikendalikan.
4. Tugas Perkembangan
Karakteristik dominan dari periode anak yang baru belajar berjalan adalah
aktivitas. Anak yang baru belajar jalan (toddler) sangat sibuk bicara, bergerak,
dan berencana sepanjang waktu. Dorongan aktivitas yang berlimpah menjadi
suatu kebutuhan untuk self-assertion (pernyataan diri) dan mastery
(penguasaan).
Periode dari 2 sampai 4 tahun, anak-anak sadar akan individualitasnya dan
terdorong untuk membuktikan hal itu. Pada periode ini toddler harus belajar
memperhitungkan orang lain dalam penemuan diri mereka sendiri. Toddler
berubah dramatis dari umur 2 dan 4 dari anak egosentris yang tidak menyadari
ketergantungan pada orang lain menjadi pribadi yang sadar diri. Pada mulanya
mereka sangat bebas, tetapi pada akhir tahapan
a. Kontrol Diri
Kontrol diri berarti kemampuan anak untuk mengontrol impuls mereka,
dan perasaan anak bahwa mereka dapat mengendalikan kejadian atau peristiwa
di sekeliling mereka.
Toddler ingin memuaskan keinginannya sesaat. Tidak terpenuhinya
keinginan sesaat tersebut membuat mereka frustrasi dan marah, misalnya
mereka ingin dilayani pada waktu makan. Apabila keinginan mereka tidak
terpenuhi, membuat mereka marah. Luapan emosi anak toddler sulit dikontrol.
Cinta, kesedihan, dan ketakutan sewaktu-waktu menguasai anak. Selama
periode toddler; anak meningkatkan kemampuannya untuk mengendalikan
impuls mereka. Salah satu alasan berkurangnya frustrasi anak adalah karena
mereka menghargai masa depan. Toddlers berulang kali menemukan bahwa
apa yang mereka inginkan, meskipun tidak tersedia saat itu juga, biasanya
tersedia setelah itu.
Tugas perkembangan berikut pada tahap ini adalah bahasa dan fantasi.
Anak yang baru mulai berjalan memakai bahasa untuk menyatakan perasaan
mereka. Mereka belajar memakai bahasa untuk menyela tindakan impulsif.
Anak belajar memahami kata-kata yang menyenangkan yang diucapkan orang
tuanya sehingga mereka dapat mengurangi sakit dan penderitaan; misalnya,
perkataan "pahlawan tidak pernah menangis”.
Dalam fantasi, toddler mengontrol situasi yang jauh di luar kemampuan
dunia nyata mereka. Lama-kelamaan mereka menjadi tuan bukan lagi budak dari
kebutuhan emosi mereka. Pada periode awal toddlerhood, anak gampang
frustrasi, kurang sabar dan penuntut. Pada periode akhir, toddlerhood dapat
mengatur impuls mereka secara efektif J dengan memahami waktu, keterampilan
bahasa, dan peluang mengekspresikan fantasi. Toddlers memiliki perasaan dapat
mengendalikan peristiwa di sekeliling mereka. Anak berupaya berpartisipasi
untuk mengambil keputusan tentang waktu tidur, pakaian
30 Psikologi Pendidikan
dipakai, jenis makanan yang disukai dan aktivitas keluarga. Anak toddler
memiliki keyakinan diri bahwa apa yang dilakukan orang tua atau anggota
keluarga lain yang lebih besar dapat juga mereka kerjakan, dengan semboyan
anything you can do, I can do it better.
Apabila mereka melakukan sesuatu pekerjaan yang kompleks dan berhasil,
mereka mendapat keyakinan diri akan kemampuannya. Mereka merasa berharga
sebagai anggota keluarga lainnya. Akan tetapi, kadang- kadang pekerjaan itu
tidak dapat mereka lakukan dan menyebabkan mereka frustrasi serta tidak
berani. Jika orang tua mengatakan kepada anak untuk tidak mencoba, juga
membuat mereka frustrasi karena mereka beranggapan dapat melakukannya
dengan baik. Pemecahan yang terbaik adalah dengan membiarkan mereka
melakukannya, tetapi memberikan bantuan apabila perlu.
b. Perkembangan Bahasa
Antara umur satu setengah dan tiga tahun, anak belajar bahasa ibu. Pada
saat mereka 4 tahun, anak memiliki kosakata seribu kata dan mereka dapat
membuat kalimat yang sesuai dengan tata bahasa. Ada penelitian di bidang
psikolinguistik, yang mempelajari proses anak-anak menciptakan tata bahasa
sendiri dan kemudian mereka mengubahnya sehingga menuruti aturan tata
bahasa baku. Anak-anak tidak belajar untuk berbicara sesuai tata bahasa dengan
peniruan.
Pada awalnya, mereka berkata-kata dengan banyak hal yang tidak
dilakukan orang dewasa. Kedua anak-anak membuat kesalahan dalam kalimat
yang memberi simpul pada orang dewasa bahwa mereka berupaya mencapai
aturan tata bahasa. L.S Vygotsky memiliki teori tentang hubungan antara
bahasa dan pikiran. Fungsi penting bahasa bagi toddler adalah bersifat simbolis.
Toddlers kurang dalam hal kemampuan kognitif yang kompleks yang menuntut
arah kematangan konseptual. Meskipun toddlers dapat mengatakan kalimat yang
sesuai tata bahasa dan kosakatanya makin banyak, masih banyak yang belum
dapat mereka lakukan dengan bahasanya itu. Dia belum mampu memakai
instruksi verbal secara efektif untuk memandu perilakunya.
32 Psikologi Pendidikan
d. Pengembangan Daya Gerak
Tahap toddler (2-4 tahun) menggambarkan pentingnya daya gerak.
Sebenarnya, hanya tahun pertama dari periode itu yang disebut toddler, umur 3
tahun cara anak berjalan sudah berubah. Lari dan lompat merupakan bagian dari
daya gerak anak. Pada saat seperti ini anak perlu diajari gerak seperti berenang,
main ski, skating dan menari, karena anak memakai tubuhnya dalam posisi yang
berbeda dan belajar cepat. Pada tahap ini biasanya diberi sepeda roda tiga
(tricycle). Tricycle menjadi alat gerak sukacita, bahaya dan kebebasan yang
mendebarkan dan makna sosial dari transportasi mekanik.
Dengan demikian, ada empat tugas perkembangan dalam toddlerhood,
yaitu kontrol diri, perkembangan bahasa, fantasi, dan pengembangan daya
gerak. Tugas perkembangan berhubungan dengan kesadaran hubungan antara
diri sendiri (the self) dengan manusia dan objek lain dalam lingkungan. Jadi,
tugas perkembangan toddlerhood adalah meningkatkan kemampuan anak untuk
menata dan bersifat konsisten dengan dunia mereka. Dengan kontrol diri mereka
memiliki keyakinan untuk mengontrol impuls. Dengan bahasa, mereka
mempengaruhi orang lain untuk menjawab kebutuhan mereka dan memberikan
informasi tentang dunia. Dengan keterampilan gerak, cenderung meningkatkan
perasaan dan menguasai dalam diri mereka. Pada saat kontrol sulit dilakukan,
fantasi mereka memberi penguasaan semu (pseudo mastery). Keberhasilan
dalam tugas perkembangan ini memberikan perasaan kompetensi dan efektif
bagi si anak.
5. Krisis Psikososial
a. Otonomi terhadap Malu dan Ragu
Dalam tahap toddlerhood, si anak berupaya menjelajahi kebebasan sebagai
proses penemuan diri (self discovery). Anak memiliki ritual sendiri untuk
mengontrol dan menata lingkungan. Toddler yang sudah besar memiliki
semboyan ”saya dapat lakukan sendiri” (I can do it my self). Pada saat
melakukan sesuatu berhasil positif, tumbuh rasa otonomi dalam diri mereka.
Mereka membayangkan sebagai orang yang dapat mengelola situasi dengan
baik untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Pada tahap akhir dari
toddlerhood, anak sudah bisa bereksperimen dengan
34 Psikologi Pendidikan
pengalaman gagal dan ketidaklayakan. Mekanisme untuk mencapai rasa yang
kuat akan otonomi adalah pengembangan kompetensi berbagai keterampilan.
Peniruan menjadi alat utama untuk keterampilan belajar dalam tahap ini.
Contoh latihan buang hajat, kemandirian dan sosialisasi dari agresi memberikan
bukti ketegangan antara kebebasan pribadi dan kendala kultural. Dalam hal
tersebut- terdapat dua tema tentang investigasi riset yang memberikan kilasan
kepentingan dari lingkungan sosial, yaitu sebagai berikut. Pertama, peranan
komunikasi dalam proses sosialisasi. Hubungan antara bahasa dengan
pembentukan konsep, yang membantu anak untuk menentukan diri mereka dan
hubungan mereka dengan lingkungan sosial. Kedua, strategi yang berbeda-beda
dari disiplin orang tua yang mempengaruhi perkembangan psikologis dari anak.
Peranan komunikasi dalam proses sosialisasi menjadi penting. Fungsi
bahasa bagi toddler adalah pertama, bahasa lebih konkret, lebih spesifik, lebih
berdaya guna (powerful) bagi si anak daripada bagi orang dewasa. Kedua,
dampak komunikasi anak-orang tua atas kognisi anak. Cara orang tua memilih
interaksi dengan anak dalam lapangan kehidupan yang khusus merangsang
interaksi verbal yang cenderung mengubah interpretasi anak tentang peranan
sosial, teknik mereka belajar dan konseptualisasi tentang posisi mereka dalam
konstelasi dari kelompok keluarga.
36 Psikologi Pendidikan
EMOSI, PERKEMBANGAN
SOSIAL DAN PEMBENTUKAN
KARAKTER
A. EMOSI
i. Pengertian
Menurut L. Crow & A. Crow, emosi adalah pengalaman yang afektif yang
disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, di mana keadaan mental dan
fisiologi sedang dalam kondisi yang meluap-luap, juga dapat diperlihatkan
dengan tingkah laku yang jelas dan nyata2. Menurut Kaplan dan Saddock, emosi
adalah keadaan perasaan yang kompleks yang mengandung komponen
kejiwaan, badan, dan perilaku yang berkaitan dengan affect dan mood. Affect
merupakan ekspresi sebagai tampak oleh orang lain dan affect dapat bervariasi
sebagai respons terhadap perubahan emosi, sedangkan mood adalah suatu
perasaan yang meluas, meresap dan terus-menerus yang secara subjektif dialami
dan dikatakan oleh individu dan juga dilihat oleh orang lain. Menurut Goleman,
emosi adalah perasaan dan pikiran khasnya; suatu keadaan biologis dan
psikologis; suatu rentangan dari kecenderungan untuk bertindak. Menurut
kamus The American College Dictionary, emosi adalah suatu keadaan afektif
yang disadari di mana dialami perasaan seperti kegembiraan (joy), kesedihan,
takut, benci, dan cinta (dibedakan dari keadaan kognitif dan keinginan yang
disadari); dan juga perasaan seperti kegembiraan (Joy), kesedihan, takut, benci,
dan cinta.
38 Psikologi Pendidikan
3. Perkembangan Emosional Selama Pertumbuhan
a. Selama Masa Awal
Diketahui bahwa sifat perasaan emosi telah timbul selama masa bayi,
bahkan sebagian ahli berpendapat bahwa masa bayi di dalam kandungan pun
sudah dipengaruhi oleh emosi Akan tetapi, kita sendiri seringkali kurang
mengerti apakah tanda-tanda seperti menangis, tertawa, dan lain-lain pada masa
awal bayi disertai atau diikuti dengan intensitas perasaan atau tidak. Menurut
Bridges, emosi anak akan berkembang melalui pengalaman, sekalipun masih
dangkal dan berubah-ubah. Ketika emosi bayi diungkapkan dalam bentuk marah
dan takut dengan menangis atau gemetar.
Ketika bayi sudah berusia 8 bulan, ia mulai dapat memperlihatkan dengan
sangat berbeda antara rasa marah dan rasa takut. Selama pertumbuhan,
perubahan pada ekspresi emosi itu semakin lama akan semakin jelas dan
berbeda. Sebagai contoh, bayi akan menyerang benda- benda di sekitarnya
untuk mengekspresikan kemarahannya, lambat laun ia mampu memusatkan
ekspresi emosinya langsung kepada objek yang memang menimbulkan
kemarahannya.
b. Fase Selanjutnya
Perkembangan emosi pada masa pertumbuhan anak semakin lama semakin
halus dalam mengekspresikannya sampai masa remaja. Peralihan ekspresi emosi
yang tadinya kasar, karena terpengaruh latihan dan kontrol, berangsur-angsur
tingkah laku emosionalnya berubah. Misalkan anak yang tadinya menjerit-jerit
karena senang, pada saat remaja ia akan memperhalus ekspresinya. Sebagai
orang tua dan guru sebaiknya bisa menyadari bahwa ekspresi yang lebih lunak
ini tidak berarti emosinya tidak lagi memainkan peranan yang penting pada
kehidupan anak, karena sebenarnya ia masih membutuhkan stimulan yang
positif bagi perkembangan emosional selanjutnya. Selama anak bertambah
kekuatan fisik dan pengertiannya, ia akan merespons dengan cara yang berbeda-
beda terhadap segala sesuatunya, karena sudah terlebih dahulu diper-
timbangkannya.
40 Psikologi Pendidikan
yang menimbulkan rasa takut yang sebenarnya. Membicarakan situasi yang
dapat menimbulkan rasa takut, banyak faktor yang setiap saat bisa menambah
perkembangan rasa takut dari pengalaman tertentu, seperti tabrakan, naik jet-
coaster, bisa juga yang disebabkan oleh ingatan terhadap tingkah laku yang
dahulu pernah dilakukan (tawuran). Perkembangan rasa takut yang lain sebagai
akibat dari pengajaran yang diterima dengan sengaja dari orang tua mereka,
seperti harus takut kepada guru di sekolah, polisi, hantu, dan sebagainya.
Rasa takut pada permulaan masa anak-anak itu berpengaruh kuat pada
perkembangan kepribadian individu. Akan tetapi, setelah anak tumbuh dewasa,
ia dapat menekan secara bertahap rasa takutnya, sehingga malah kadang-kadang
sampai merugikan perkembangan emosionalnya. Rasa takut juga bisa
disebabkan oleh mendengar pengalaman yang mengerikan dari orang lain. Nilai
rasa takut, juga dapat berguna sebagai tindakan preventif agar risiko atau
kerusakan dapat dihindari.
Hal positif ini dapat membuat seseorang berpikir kreatif untuk mencari
jalan lain agar memperoleh cara-cara yang lebih baik. Artinya, rasa takut dapat
digunakan oleh individu untuk membangun sesuatu yang konstruktif. Seseorang
dapat didorong untuk bergerak dan bertindak karena kemarahan, kebencian,
kecintaan, cemburu, dan lain-lain, namun yang lebih baik adalah bila tingkah
lakunya tetap berada dalam batas-batas yang layak karena akibat rasa takutnya.
Menurut analisis terakhir, rasa takut itu dapat berperan sebagai pembimbing ke
arah pencapaian hidup yang konservatif dan ke arah pencapaian kebijakan
sosial, asalkan keadaan emosionalnya dapat menjaga tingkah laku yang secara
rohaniah terarah.
Kontrol atas rasa takut, peniadaan rasa takut sampai ke tingkat yang tidak
diinginkan adalah mustahil. Akan tetapi, untuk membantu mengurangi sebanyak
mungkin rasa takut dari kehidupan anak adalah sangat bermanfaat, karena pada
situasi tertentu rasa takut harus dihadapi dan diatasi oleh setiap anak. Oleh
karena itu, usaha tersebut sangat bermanfaat yang akan membantu anak untuk
bersikap hati-hati, menghargai hukum, peraturan, takut ditabrak, takut akibat
yang ditimbulkan oleh api, dan lain-lain.
b. Marah
Marah adalah jenis emosi lain yang dialami oleh anak-anak dan juga orang
dewasa. Marah itu berbeda-beda menurut bentuk ekspresinya pada setiap
individu dan juga dari faktor umur. Pada anak-anak, ledakan kemarahan
dipergunakan untuk memperoleh tujuan yang diinginkan. Inilah penemuan
mereka yang pertama atas penggunaan kemarahan sebagai alat untuk
pemenuhan terhadap keinginannya. Kalau anak tidak diberitahu atau dibantu
dalam mengontrol emosinya, mungkin dia akan tetap meneruskan teknik
tersebut selama hidupnya. Bahkan kadang ia akan menggunakan teknik yang
lebih negatif seperti menyerang. Bentuk tingkah laku emosional inilah bila
tidak diperbaiki sejak awal, nantinya akan sulit diperbaiki. Sewaktu anak
belajar meniru dan menggunakan bahasa, ia mulai dapat mengekspresikan
kemarahannya dengan cara-cara yang semakin lama semakin kurang bersifat
fisik. Sesudah remaja bila marah ia akan mengekspresikannya melalui
penggunaan bahasa seperti melalui sindiran, menertawakan, dan lain-lain. Akan
tetapi, ia juga dapat mengekspresikan kemarahannya dengan membolos dari
sekolah dan menyalurkannya dalam bentuk kenakalan remaja.
Nilai marah adalah beberapa nilai atau manfaat yang diberikan oleh rasa
marah, karena kemarahan dapat digunakan sebagai serangan balik dalam
usahanya mengatasi rasa takut. Dengan menggunakan kemarahannya seseorang
dapat dikejutkan dan dibangkitkan dari kelesuan atau kemalasannya.
Kontrol atas kemarahannya dilakukan dengan cara mengalihkan stimulus
sumber kemarahan. Jika Anda ingin mengatasi kemarahan yang terjadi pada diri
Anda atau ingin membantu orang lain untuk mengatasinya, yang penting harus
dapat mengalihkan perhatian yang diarahkan kepada
42 Psikologi Pendidikan
stimulus yang sangat berbeda dari stimulus yang akan menimbulkan emosi.
Orang tua dan guru, sebenarnya mempunyai peran dalam memberi kesempatan
setiap harinya untuk menerapkan prinsip ini, dengan menghindari perintah yang
keras atau kata-kata penghinaan di muka anak yang akan membangkitkan
kemarahan, namun akan lebih bermanfaat dengan kritik yang konstruktif.
Begitu pula yang ingin meredakan kemarahan orang lain (anak atau orang
dewasa), sebaiknya ia memahami latar belakang hal-hal yang menimbulkan
kemarahannya. Biasanya akan lebih mudah menghadapi kemarahan individu
jika motif atau alasan yang mendasari tingkah lakunya diketahui, karena orang
bisa saja mempunyai alasan yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan atas
kemarahannya.
Oleh sebab itu, kalau sedang menghadapi anak-anak (bahkan orang yang
lebih tua), setelah diketahui latar belakangnya, akan lebih mudah untuk
mencegah atau memperkecil sebab-sebab yang menimbulkan kemarahan.
Biasanya cara yang efektif adalah dengan memberi penghargaan atau pujian
dalam membantu anak untuk mengatasi kemarahannya. Alasan atau
pertimbangan seringkali malah menambah kemarahannya, sebaliknya ucapan
yang menyenangkan meskipun tidak berhubungan dengan pokok masalah,
mungkin akan mengubah individu dari keadaan marah ke arah sikap yang lebih
positif.
c. Afeksi
Para psikolog menganjurkan agar anak sebaiknya diperlakukan secara
objektif dan jangan membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain.
Para ahli di bidang anak menyarankan memberikan perhatian dengan penuh
kasih sayang terhadap bayi, karena bila bayi menerima kasih sayang (afeksi)
yang mumi dari orang lain, bisa menjadikan salah satu faktor penting dalam
perkembangan emosi anak untuk selanjutnya. Bayi memang tidak berdaya,
karena itu memerlukan perawatan, kebaikan atau kemurahan hati dari orang
lain yang diterimanya. Ternyata selama perkembangan menuju dewasa, rasa
kasih sayang dari orang lain untuk mendatangkan rasa aman tetap dibutuhkan.
Dengan demikian, sadarlah dia bahwa kehadirannya memang disukai atau
diinginkan. Anak ini hendaknya dari kecil sudah dilatih untuk merasa peduli
terhadap kebutuhan dan kesejahteraan orang lain. Sejak mulai kanak-kanak, dia
sudah harus
d. Simpati
Simpati adalah suatu ekspresi emosional yang dipergunakan individu dalam
usahanya menempatkan dirinya pada tempat dan pengalaman orang lain di mana
perasaan terakhirnya mungkin berupa kesenangan atau kesusahan.
Kemampuan menyatakan simpati ini tidak datang secara alamiah, tetapi
memerlukan proses latihan yang lama dalam kesadaran sosial. Biasanya anak
yang lebih tua atau dewasa lebih dapat menunjukkan perhatiannya dan simpatinya
pada saat dewasa. Kata-kata yang diucapkan ataupun yang ditulis menjadi kurang
penting artinya bila dibandingkan dengan sikap dan tingkah laku yang
ditunjukkan orang tua itu yang dengan tulus dan mumi menyatakan rasa
simpatinya. Semakin sama pengalaman seorang simpatisan terhadap orang yang
disimpatikan, maka akan semakin mudah simpatisan memberikan ekspresi
simpatinya dengan perasaan yang lebih jelas.
Para peneliti menemukan detail psikologi tentang bagaimana emosi
mempersiapkan tubuh untuk tiap jenis reaksi tertentu seperti hal-hal berikut.
1) Anger. Rasa marah, ditandai dengan detak jantung meningkat, hormon
adrenalin meningkat dan mengalirkan energi untuk memukul, mengumpat,
dan lain-lain.
2) Fear. Rasa takut, ditandai dengan tubuh terasa membeku, reaksi' waspada,
wajah pucat, dan darah terasa mengalir ke otot rangka besar, misalnya kaki
untuk dapat lari atau mata terasa awas untuk mengamati kondisi sekitarnya.
3) Happiness. Kebahagiaan, ditandai dengan adanya peningkatan aktivitas di
pusat otak yang menghamhat perasaan negatif dan
44 Psikologi Pendidikan
menenangkan perasaan yang menimbulkan kerisauan.
4) Love. Rasa cinta, adalah perasaan kasih sayang serta pola simpatik yang
menunjuk pada respons relaksasi, yaitu sekumpulan reaksi pada seluruh
tubuh yang membangkitkan keadaan yang menenangkan serta rasa puas
untuk mempermudah kerja sama.
5) Surprise. Terkejut, ditandai dengan naiknya alis pada mata individu. Hal ini
merupakan reaksi untuk suatu kemungkinan menerima lebih banyak
informasi atau mencoba menyelami apa yang sedang terjadi untuk
merancang tindakan terbaik.
6) Disgust. Rasa jijik, menunjuk pada sikap hidung mengkerut (menutupnya)
atau ungkapan lain wajah rasa jijik, akibat rangsangan bau atau rasa
menyengat.
7) Sadness. Rasa sedih, ditandai dengan menurunnya energi ataupun semangat
hidup untuk melakukan kegiatan sehari-hari karena menyesuaikan diri akibat
adanya kehilangan yang menyedihkan atau kekecewaan besar.
46 Psikologi Pendidikan
Ketegangan emosional yang terus-menerus muncul dalam menghadapi
pekerjaan yang tidak cocok dengan minatnya yang sudah sangat lazim terjadi di
masyarakat, akan menimbulkan konflik emosional dalam diri individu tersebut.
b. Kematangan Emosional
Sikap adalah faktor penentu untuk tingkah laku. Sikap merupakan
kecenderungan untuk bertindak dengan cara-cara yang sangat khas pada saat
menerima stimulasi tertentu.
Sikap adalah keadaan di mana selalu ada kesiapan untuk bertindak. Sikap
merupakan hasil akumulasi dari pengalaman yang mempengaruhi kehidupan
dalam kegiatan langsung. Dengan demikian, sikap merupakan pengaruh dinamis
yang membentuk pola tingkah laku individu. Misalkan, anak yang merasa aman
tinggal di rumah yang diberikan kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya,
dan anak yang dilindungi dari ketegangan emosional yang muncul pada dirinya,
mungkin anak tersebut diharapkan dapat menyesuaikan sikapnya menuju ke
perkembangan selanjutnya dengan lebih baik.
Sudah sering kita mendengar ada orang dewasa yang bertindak kekanak-
kanakan. Hal ini dapat berarti individu itu tidak dapat menyesuaikan tingkah
laku emosionalnya dengan tingkat kematangannya. Ketidakmatangan emosional
dapat ditunjukkan melalui pola-pola respons yang beraneka ragam, yaitu
dengan cara menarik perhatian, ucapan yang dibuat-buat, penampilan yang
aneh, rasionalisasi (memberikan alasan yang tampaknya bagus terhadap tingkah
lakunya yang tolol dan yang tidak diinginkan oleh orang lain), proyeksi
(melemparkan kesalahan kepada orang lain atas kekurangan dan kelemahan
sendiri), serta mimpi di siang hari bolong (menolak kenyataan).
Reaksi pemuasan seseorang dalam bentuk lain meliputi tingkah laku
marah, identifikasi diri terhadap seorang pahlawan atau tokoh, mengeluarkan
kecaman yang tidak layak kepada orang lain, dan memperlihatkan rasa
cemburu.
Pada umumnya tingkah laku yang dimiliki oleh orang-orang jenis ini tidak
konsisten. Individu yang sudah dapat mengatasi tingkah laku
B. PERKEMBANGAN SOSIAL DAN KARAKTER
1. Pengertian
Membicarakan pertumbuhan dan perkembangan sosial tidak dapat lepas
dari perkembangan lainnya seperti fisik, mental, dan emosi. Hubungan di
antara ketiga faktor ini sangat erat kaitannya, sehingga salah satu faktor itu
sudah dapat menjadi dasar untuk menghasilkan perkembangan sosial individu
itu sendiri, misalnya keadaan fisik dan fisiologis, taraf kesiapan mental, serta
taraf kematangan emosional, karena faktor inilah yang akan mempengaruhi dan
dipengaruhi orang lain, sehingga akan menentukan cepat lambatnya
perkembangan di setiap fase. Power mendefinisikan perkembangan sosial dan
karakter sebagai berikut.
a. Perkembangan sosial didefinisikan sebagai kemajuan yang progresif
melalui kegiatan yang terarah dari individu dalam pemahaman atas
warisan sosial dan formasi pola tingkah lakunya yang luwes. Hal itu
disebabkan oleh adanya kesesuaian yang layak antara dirinya dengan
warisan sosial itu.4
b. Karakter dapat didefinisikan sebagai kecenderungan tingkah laku yang
konsisten secara lahiriah dan batiniah. Karakter adalah hasil
48 Psikologi Pendidikan
kegiatan yang sangat mendalam dan kekal yang nantinya akan membawa ke
arah pertumbuhan sosial.5
c. Menurut Elizabeth B. Hurlock, perkembangan sosial adalah kemampuan
seseorang dalam bersikap atau tata cara perilakunya dalam berinteraksi
dengan unsur sosialisasi di masyarakat. Hal ini akan banyak dipengaruhi
oleh sifat pribadi setiap individu, yaitu sifat introvert atau ekstrovert.
d. Abu Ahmadi, berpendapat bahwa ada sebagian psikolog yang ber-
argumentasi tentang perkembangan sosial yang telah dimulai sejak
manusia itu lahir. Sebagai contoh, anak menangis saat dilahirkan, atau
anak tersenyum saat disapa. Hal ini membuktikan adanya interaksi sosial
antara anak dan lingkungannya.
e. Menurut Singgih D. Gunarsah, perkembangan sosial merupakan kegiatan
manusia sejak lahir, dewasa, sampai akhir hidupnya akan terus melakukan
penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya yang menyangkut norma-
norma dan sosial budaya masyarakatnya.
f. Menurut Muhibinsyah, dikutip dari Bruno, perkembangan sosial
merupakan proses pembentukan sosial (social self), yakni pribadi dalam
keluarga, budaya, bangsa, dan negara.
Jadi, dapat diartikan bahwa perkembangan sosial akan menekankan
perhatiannya kepada pertumbuhan yang bersifat progresif. Seorang anak atau
individu yang lebih besar tidak bersifat statis dalam pergaulannya, karena ia
dirangsang oleh lingkungan sosial, adat istiadat, kebiasaan- kebiasaan kelompok
di mana ia sebagai salah satu anggota kelompoknya, dan minat serta
keinginannya. Tingkah laku batiniah dan lahiriah akan berubah seiring dengan
perubahan lingkungannya. Demikian juga tidak seorang pun yang bersikap pasif
dalam menerima pengaruh dari pergaulannya. Kesadaran dan karakter sosial
merupakan hasil pertumbuhan dari kegiatan individu yang konsisten dengan
dasar dan taraf dari keseluruhan pola dan arah pertumbuhannya, sehingga
perkembangan itu akan berjalan menurut situasi lingkungan untuk mencapai
kedewasaan.
50 Psikologi Pendidikan
nya sendiri maupun terhadap orang lain. Hal inilah yang akhirnya akan
membentuk karakternya.
Kalau diteliti perkembangan sosial seorang anak sejak lahir, kita akan
mengetahui bahwa ia sebenarnya akan menempatkan dirinya sebagai seorang
individu di kalangan individu lainnya-seperti halnya dia pun dapat menentang
dan juga dapat bekerja sama, dapat juga patuh atau tidak. Dalam berhubungan
dengan keluarga, sahabat, kesetiaannya terhadap kelompok, dan sumbangannya
terhadap pola kebudayaan pada zamannya, hal ini merupakan benih-benih
penyesuaian sosial dan pembentukan karakter yang terencana yang akhirnya
akan tumbuh secara berkesinambungan. Apabila dibimbing dengan layak, akan
menciptakan manusia yang bermanfaat.
Bentuk kelompok telah diakui mempunyai nilai bagi setiap orang, karena
di dalamnya ada interaksi antara individu dalam kelompok. Stimulan sosial
akan mempengaruhi individu selama dia belum mampu untuk memilih sendiri
lingkungan sosialnya. Memang benar bahwa dalam batas tertentu, ia dapat
menolak atau menerima pengaruh tersebut. Meskipun demikian, si anak barulah
merasa tidak senang terhadap kelompok ini pada saat ia diisolasi. Oleh sebab
itu, awalnya dia akan belajar menyesuaikan tingkah lakunya kepada para
anggota kelompoknya sendiri, baru kemudian kepada para anggota kelompok
yang lain.
Selanjutnya, arah perkembangan sosial anak sangat banyak tergantung
kepada reaksi orang lain terhadap usahanya, baik yang disengaja maupun tidak
disengaja dalam menghasilkan salah satu bentuk hubungan sosial antara dirinya
dengan orang lain. Teori latihan anak yang klasik menekankan perhatiannya
atas kenyataan bahwa anak cukup dilihat saja, bukan untuk didengar. Akan
tetapi, pandangan yang lebih baru menekankan agar memberikan lebih banyak
kesempatan bagi anak untuk menyatakan dirinya. Kita tidak mempersoalkan
kedua pandangan di atas. Yang sangat penting adalah bimbingan orang tua
terhadap perkembangan sosial anak. Arah bimbingan inilah yang nantinya dapat
membentuk anak menjadi sosiosentris atau egosentris dalam sikap atau tingkah
lakunya.
52 Psikologi Pendidikan
Tabel 3.1 Respons Bayi terhadap Orang Dewasa
No
. Aktivitas Usia (Bulan)
1 -2
1. Membalas pandangan orang dewasa sepintas, kadang-kadang
dengan senyuman
2. Merasa tenang apabila dibelai
54 Psikologi Pendidikan
meskipun sering muncul perbedaan pendapat dan pertengkaran, tetapi ia akan
memberikan kesetiaannya kepada kelompoknya bila ada gangguan dari
kelompok lain. Pada saat anak-anak menginjak kelas pertengahan, ukuran
anggota kelompoknya akan bertambah, yaitu kira-kira 6-8 orang, sudah mulai
ada pemisahan jenis kelamin, anak laki-laki biasanya digerakkan oleh minat dan
hobi yang sama seperti olahraga, petualangan, dan lain-lain, sedangkan anak
perempuan cenderung lebih berminat dengan urusan rumah tangga. Sejak umur
11-14 tahun, kelompoknya akan semakin meluas dan relatif terorganisasi. Pada
masa inilah ada istilah gang yang dibentuk dalam kelompok dan yang masing-
masing diberi nama sandi, ada lencana kelompok, peraturan anggota, tempat
bertemu tertentu, pimpinan yang diakui, dan tujuan yang spesifik atau kegiatan
sosial yang bercorak kelompok sosial remaja. Dengan demikian, rasa kesatuan
kelompoknya semakin kuat. Anak-anak ini merasa bebas bila berada di dalam
kelompoknya juga ia tunduk dengan pimpinan kelompok tersebut, sehingga ia
akan menyesuaikan tingkah lakunya. Formasi dari kelompok yang serupa inilah
yang akan menandai minat di kemudian hari pada pembentukan persaudaraan di
sekolah menengah dan perguruan tinggi, perkumpulan kemasyarakatan,
organisasi politik, dan masyarakat atau sosial orang dewasa.
Sebaliknya bagi anak yang terisolasi akan bisa menimbulkan kesulitan
bagi dirinya dalam mengikuti kegiatan anak yang normal, karena ia bersifat
peka. Anak tunggal mungkin akan memperlihatkan hal seperti ini. Biasanya
anak seperti ini memperoleh peraturan yang ketat di rumah dan orang tua
dengan keras membentuk tingkah laku anak. Apabila bertemu kasus seperti ini,
guru di sekolah dapat memberi bimbingan melalui konseling.
56 Psikologi Pendidikan
ia dan anaknya. Sebagian besar kelompok remaja terdiri atas selusin pemuda
atau lebih dan mereka adalah peniru yang kuat. Mereka seringkali meniru tanpa
menyadarinya, dan mereka cenderung percaya bahwa hubungan sosial mereka
memiliki hak bertindak yang sama menurut aturan orang dewasa.
b. Bimbingan
Sampai tingkat tertentu, para remaja suka menonjolkan diri, kemudian
mereka sadar akan kenyataan bahwa mereka sedang menuju ke arah orang
dewasa. Seiring dengan itu, mereka berada dalam kebimbangan dan
kebingungan, tidak begitu percaya diri, dan selalu cemas untuk melakukan
sesuatu yang benar dan yang bisa diterima dalam hubungan mereka dengan
orang lain. Meskipun tampaknya mereka dapat lepas dari pengawasan orang
dewasa terutama kedua orang tuanya, namun mereka tetap mencari alasan untuk
meminta bantuan. Di sinilah keluarga dan guru harus berperan untuk
membimbing para remaja ke arah yang benar.
A. PEMBENTUKAN KARAKTER
1. Pendidikan dan Anak
Ada perbedaan pendapat di kalangan orang tua mengenai nilai latihan yang
diberikan di sekolah Taman Kanak-Kanak. Sebagian orang tua menganggap
bahwa anak yang berumur 2,5-3 tahun adalah masa penting bagi anak untuk
mendapat kasih sayang dan perhatian langsung dari orang tuanya sendiri.
Apabila anak dikirim ke Taman Kanak-Kanak, berarti tanggung jawab
mengasuh anak dipindahkan ke sekolah. Sebagian lagi berpendapat bahwa
mengirim anak ke Taman Kanak-Kanak sama dengan pembuangan anak agar si
ibu tetap dapat bebas. Meskipun demikian nilai-nilai yang diperoleh anak
selama Taman Kanak-Kanak
58 Psikologi Pendidikan
dalam proses sosialisasi sangat dibutuhkan, karena ia dapat berteman dengan
anak yang sebaya dengan dia, dengan cara diperkenalkan dengan kebiasaan
tertentu dalam kehidupan dan kegiatan kelompok, keterampilan dasar (untuk
makan, kebersihan, menggunakan dan menyimpan alat permainan, dan
bermain). Semua hal ini akan memberikan bantuan kepadanya pada kehidupan
sekolah dan kehidupan sosial selanjutnya. Juga dapat mengurangi ketegangan
yang mungkin terjadi antara orang tua dan anak bila si anak berada di rumah.
Kemudian, di Taman Kanak- Kanak, anak akan tertolong dalam proses
pergaulan atau sosialisasi yang sebenarnya.
60 Psikologi Pendidikan
masyarakat. Dengan berbekal kepercayaan pada lingkungannya,
kemandirian, inisiatif, percaya pada kecakapan dan kemampuannya,
individu yang demikian akan mampu mengintegrasikan seluruh unsur
kepribadiannya sehingga mampu menemukan jati dirinya. Sebaliknya bila
gagal individu yang demikian mengalami kebingungan dan kekacauan
(confusion).
6. Masa dewasa muda (young adulthood). Setelah terbentuk jati diri dan
identitas diri secara definitif, kini individu tersebut dituntut untuk mampu
membina kehidupan bersama. Kalau individu itu mampu memelihara
keseimbangan antara aku, kami, dan kita akan tumbuh rasa keakraban
(intimacy). Sebaliknya bila tidak mampu akan tumbuh rasa keterasingan
(isolation).
7. Masa dewasa (adulthood). Pada masa ini apakah orang dewasa
mempunyai kesempatan dan kehidupan secara kreatif, produktif, dan
bermanfaat dalam membina kehidupan generasi yang akan datang.
Apabila individu tersebut mampu hidup kreatif dan produktif akan tumbuh
gairah hidup, bila tidak hanya cukup puas dengan keadaan yang ada.
8. Masa hari tua (old age/aging). Mereka yang masa dewasanya sukses akan
memperoleh penghargaan dari masyarakat dan individu tersebut
merupakan bagian dari masyarakat (integrity). Apabila sebaliknya, akan
dianggap sepi oleh masyarakatnya sehingga timbul rasa kurang berharga.
A. PENDAHULUAN
Psikologi kognitif mulai diperkenalkan pada akhir abad ke-19, yaitu
dengan lahirnya teori belajar Gestalt, dan salah satu tokoh psikologi Gestalt
adalah Mex Wertheimer, di mana ia meneliti tentang pengamatan dan problem
solving. Kemudian dilanjutkan oleh Kurt Kaffka yang mencoba untuk
menguraikan secara terperinci hukum-hukum pengamatan. Tokoh yang lain
adalah Wolfgang Kohler yang meneliti tentang insight pada simpanse. Hasil
penelitian tokoh tersebut telah memunculkan “Psikologi Gestalt” yang
mengutamakan pembahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan
dalam pengalaman.
Para penganut Gestaltis berpendapat bahwa pengalaman itu berstruktur
dan terbentuk dalam suatu keseluruhan. Berarti orang yang sedang belajar,
akan mengamati stimulus secara keseluruhan yang terorganisasi dan bukan
dalam bagian-bagian yang terpisah. Jadi konsep yang terpenting dalam
psikologi gestalt adalah tentang insight, yaitu pemahaman mendadak tentang
hubungan antarbagian dalam suatu permasalahan. Dalam kehidupan sehari-hari
orang sering memberi pernyataan spontan aha atau oh I see now setelah
memahami suatu permasalahan secara tiba-tiba.
Selanjutnya, Kohler dalam penelitiannya menemukan adanya insight pada
seekor simpanse, dengan cara menghadapkannya pada masalah bagaimana cara
memperoleh pisang yang terletak di luar kandang. Ternyata, kadang-kadang
simpanse dapat memecahkan masalah secara mendadak, kadang-kadang gagal
meraih pisang, kadang-kadang duduk sambil merenungkan masalah yang
dihadapi, dan kemudian secara tiba- tiba menemukan pemecahan (yaitu cara
meraih pisang, misalnya dengan menggunakan tongkat yang terletak di dekat
kandang).
62 Psikologi Pendidikan
Wertheimer selanjutnya berpendapat bahwa dalam proses belajar, tidaklah
tepat mempergunakan metode menghafal, tetapi lebih baik bila murid belajar
dengan pengertian atau pemahaman. Oleh karena itu, para ahli jiwa dari aliran
kognitif berpendapat bahwa tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada
kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku
itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu
dan memperoleh insight untuk pemecahan masalah.
Psikologi kognitif merupakan salah satu cabang dari psikologi umum dan
mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental sejauh berkaitan
dengan cara manusia berpikir dalam memperoleh pengetahuan, mengolah
kesan-kesan yang masuk melalui indra, pemecahan masalah, menggali ingatan
pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kehidupan mental mencakup gejala kognitif, afektif, konatif sampai pada taraf
tertentu, yaitu psikomatis yang tidak dapat dipisahkan secara tegas satu sama
lain. Oleh karena itu, psikologi kognitif tidak hanya menggali dasar gejala khas
kognitif, tetapi juga dari afektif (penafsiran dan pertimbangan yang menyertai
reaksi perasaan), konatif (keputusan kehendak). Ilmu kognitif menjelaskan
bidang penelitian psikologi yang mengurusi proses kognitif seperti perasaan,
pengingatan, penalaran, pemutusan dan pemecahan masalah, serta menghindari
adanya tumpang-tindih ilmu pengetahuan yang tertarik dalam proses tersebut
seperti filosofi.
Dalam ilmu komputer, tujuan mempelajari psikologi kognitif adalah
menemukan bagaimana informasi diwakili di dalam pikiran manusia. Gagasan
sentral di balik ilmu kognitif adalah sistem kognisi manusia dipandang sebagai
komputer raksasa yang melakukan kalkulasi kompleks yang dapat dipecah-
pecahkan menjadi komputasi yang lebih sederhana. Oleh karena itu, kognisi
manusia dapat dianalisis pada tingkat (hardware) atau neuron dan tingkat
representasi mental (software). Komputasi mental dan tingkat analisis ideal
adalah kognitif.
A. INTELIGENSIA
Perkataan inteligensi berasal dari kata intelligere yang berarti meng-
hubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut Stem, inteligensi
64 Psikologi Pendidikan
Menurut Piaget, inteligensi adalah sejumlah struktur psikologis yang ada
pada tingkat perkembangan khusus. Menurut Super dan Cites, inteligensi ialah
kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari
pengalaman. Menurut Garrett, inteligensi itu setidak-tidaknya mencakup
kemampuan yang diperlukan untuk pemecahan masalah yang memerlukan
pengertian, serta menggunakan simbol-simbol. Menurut Robert J. Stemberg
intelligence is capacity to learn from experience, and the ability to adapt to the
surrounding environment. Atau inteligensi ialah kecakapan untuk belajar dari
pengalaman dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan.
Manusia dalam menghadapi kehidupannya senantiasa menghadapi
berbagai masalah dan tantangan yang amat besar dan rumit yang tidak
seluruhnya mudah untuk dipecahkan. Fungsi kognitif manusia menghadapi
objek dalam bentuk representatif yang menghadirkan objek tersebut dalam
kesadaran, hal tersebut tampak jelas pada aktivitas berpikir. Pengaturan
kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri, orang yang memiliki
kemahiran ini ia akan mampu mengontrol dan menyalurkan aktivitas kognitif
yang berlangsung dalam dirinya sendiri. Sebagai contoh, bagaimana ia
memusatkan perhatian, bagaimana belajar, bagaimana menggali ingatan,
bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki, dan bagaimana berpikir
menggunakan konsep dalam menghadapi permasalahan.
Sasaran umum belajar pengaturan kegiatan kognitif adalah sistematisasi
alur pikiran sendiri dan sistematisasi proses belajar dalam diri yang biasa
disebut proses kontrol. Jalur belajar kegiatan kognitif dapat diuraikan sebagai
berikut.
1. Fase motivasi: anak sadar akan tujuan yang harus dicapai dan bersedia
melibatkan diri.
2. Fase konsentrasi: anak khusus memperhatikan unsur yang relevan,
sehingga terbentuk pola perseptual tertentu.
3. Fase mengolah: anak menahan informasi dan mengolah informasi untuk
diambil maknanya.
4. Fase menyimpan: anak menyimpan informasi yang telah diolah ke dalam
ingatan.
C. PERKEMBANGAN INTELIGENSI
Bidang genetika dan perilaku mengombinasikan metode genetika dan
psikologi untuk mempelajari karakteristik perilaku tuntutan. Para ahli genetika
perilaku tertarik mempelajari derajat karakteristik psikologi- kemampuan
mental, temperamen, stabilitas emosional, dan sebagainya yang ditransmisikan
dari orang tua kepada anak. Unit hereditas turunan dibawa oleh kromosom,
ditemukan pada setiap inti sel tiap sel tubuh. Saat konsepsi, manusia menerima
23 kromosom dari sperma ayah dan 23 kromosom dari sel telur ibu, dan
kemudian kromosom itu membentuk 23 pasang kromosom yang mengalami
duplikasi setiap sel membelah diri. Tiap kromosom terdiri atas banyak gen,
yaitu segmen asam deoksiribonukleat (DNA) yang merupakan pembawa
informasi genetik yang' sesungguhnya. Semua DNA dalam tubuh seseorang
memiliki komposisi kimiawi yang sama, yang terdiri atas gula sederhana
(deoksiribosa) dan fosfat yang disatukan oleh empat basa yang sama yang
sangat menentukan karakteristik makhluk hidup, dan susunannya akan
menentukan apakah makhluk itu akan menjadi burung, singa, manusia, dan
sebagainya.
Perkembangan pralahir dimulai dari periode ovum, kemudian periode embrio
dan periode janin yang biasanya seluruhnya ditempuh dalam waktu 9 bulan
kalender atau 10 bulan lunar/280 hari (28 hari siklus menstruasi wanita).
Menurut teori Otto Rank, kejutan kelahiran menimbulkan kecemasan sebagai
pengaruh yang mengganggu sepanjang hidup. Karena kelahiran merupakan
bahaya pertama yang dialami anak, ia menjadi model
66 Psikologi Pendidikan
bagi semua kecemasan selanjutnya. Masa bayi merupakan waktu penyesuaian
yang radikal dan sulit, yang dibuktikan dengan adanya penurunan berat badan,
ketidakteraturan perilaku bahkan kesakitan atau kematian.
Pengaturan kegiatan kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri. Orang
yang memiliki kemampuan kognitif tinggi ini akan mampu mengontrol dan
menyalurkan aktivitas kognitif yang berlangsung dalam dirinya sendiri;
bagaimana ia memusatkan perhatian, bagaimana ia belajar, bagaimana menggali
ingatan, bagaimana menggunakan pengetahuan yang dimiliki, bagaimana
berpikir menggunakan konsep, kaidah, pengetahuan yang dimiliki yang
merupakan satu perangkat kemahiran yang terorganisasikan dengan baik dalam
menghadapi problem.
Dalam menghadapi suatu problem orang dapat menggunakan berbagai
strategi yang termasuk pengetahuan prosedural. Strategi ada yang dapat dipakai
secara luas, tetapi ada yang terbatas.
Sasaran belajar adalah pengaturan kegiatan kognitif dalam sistematika arus
pikiran sendiri dan sistematisasi proses belajar dalam diri sendiri (control
process). Untuk menunjuk pada pengaturan kegiatan kognitif dapat
menggunakan metacognition, yaitu pengetahuan tentang kegiatan berpikir dan
belajar serta kontrol terhadap kegiatan itu pada diri sendiri. Yang harus dikuasai
bukan hanya mengetahui apa yang harus diperbuat melainkan juga mengetahui
bagaimana dan kapan harus berbuat (cognitive monitoring). Adapun fase-fase
jalur belajar pengaturan kegiatan kognitif adalah sebagai berikut.
1. Fase motivasi; untuk mendapat motivasi siswa harus memeras otaknya
sendiri. Jika motivasi lemah, anak akan membiarkan problem tetap
menjadi problem dan terlalu susah untuk memikirkan.
2. Fase konsentrasi; anak harus mengamati dengan cermat, jika penyelesaian
masalah memerlukan pengamatan.
3. Fase pengolahan; anak harus menggali dari ingatannya terhadap siasat
yang pernah digunakan untuk mengatasi hal serupa, yang cocok untuk
suatu problem. Jika siasat dalam ingatan tidak tersedia, ia harus
menciptakan siasat baru dengan menggunakan kreativitas dan pikiran
terarah.
1. Tahap Sensorik-Motorik
Selama tahap sensorik-motorik (0-2 tahun), bayi mulai menampilkan
perilaku reflektif, dengan melibatkan perilaku yang inteligen. Dengan demikian,
kematangan seseorang terjadi dari interaksi sosial dengan lingkungan (asimilasi
dan akomodasi). Perilaku sensorik-motorik menjadi tambah berbeda, sehingga
konstruksi dan perilaku progresif termasuk dalam kategori perlaku intensional.
Bayi berkembang means-end, perilaku pemecahan masalah.
Pada usia 2 tahun, anak secara mental telah dapat mengenali objek dan
kegiatan, dan dapat menerima solusi masalah sensorik-motorik. Berdasarkan
skemata, pada usia 2 tahun secara kualitatif dan kuantitatif telah dianggap
superior untuk berkembang menjadi anak muda. Pada usia 2 tahun
perkembangan afektif sudah mulai dapat dilihat, anak sudah mulai dapat
membedakan suka dan tidak suka. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap diri
anak.
Perilaku seorang bayi sangat mengandalkan gerakan refleksinya.
Kemudian, pada masa 2 bulan berikutnya, bayi mulai belajar untuk
membedakan objek yang ada di sekitarnya diawali dengan refleksinya
68 Psikologi Pendidikan
untuk mengisap segala sesuatu yang ditemukan di sekelilingnya.
Perkembangan kognitif dari tahap sensorik-motorik pada anak-anak akan
terlihat pada upayanya untuk melakukan gerakan tertentu di antara lingkungan
sekitarnya. Pada mulanya gerakan seorang bayi dilakukan secara spontan.
Dorongan untuk melakukan gerakan tertentu selalu datang dari faktor internal
dirinya sendiri. Penyesuaian dan pengaturan dari proses penyesuaian serta proses
akomodasi dilaksanakan dari proses awal, hingga hasilnya berlanjut baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, seiring dengan perubahan yang terjadi pada
skemata atau pengertian. Proses pembentukan pengetahuan pada anak-anak
dimulai dari proses yang paling primitif, yaitu mencoba mengulang-ulang bunyi
yang didengarnya.
70 Psikologi Pendidikan
berpikir efektif. Dengan kata lain dapat dinyatakan konstruksi konsep muncul
dari intensional dan mengizinkan anak-anak untuk meyakini bahwa motif akan
mampu membuat keputusan moral.
Tahap operasional konkret ini merupakan tahap transisi antara tahap
praoperasional dengan tahap berpikir formal (logika). Selama tahap operasional
konkret perhatian anak mengarah kepada operasi logis yang sangat cepat. Tahap
ini tidak lama dan didominasi oleh persepsi dan anak dapat memecahkan
masalah dan mampu bertahan dengan pengalamannya. Keseluruhan harus selalu
diobservasi antara perkembangan kognitif dan afektif dalam setiap tahap.
Pertumbuhan anak dapat dilihat dari konsep moral. Seperti dia memahami
peraturan, berbohong, perhatian, dan hukum.
5. Debil 60-79;
6. Imbesil 40-55;
7. Idiot > 30.
D. BEBERAPA TEORI INTELIGENSI
1.
Teori Faktor (Charles Spearman)
Teori faktor berusaha mendeskripsikan struktur inteligensi, yang
terdiri atas dua faktor utama, yakni faktor ”g” (general) yang mencakup
semua kegiatan intelektual yang dimiliki oleh setiap orang dalam berbagai
derajat tertentu, dan faktor ”s” (specific) yang mencakup berbagai faktor
khusus yang relevan dengan tugas tertentu. Kedua faktor ini kadang-
kadang tumpang-tindih, tetapi juga sering berbeda. Faktor ”g” lebih
banyak memiliki segi genetis dan faktor ”s” lebih banyak diperoleh melalui
latihan dan pendidikan.
72 Psikologi Pendidikan
divergen, memori, dan kognisi. Parameter Produk terdiri atas unit, kelas, relasi,
sistem, transformasi, dan implikasi. Parameter Konten terdiri atas figurasi,
simbolis, semantik, dan perilaku.
7. Entity Theory
Menurut teori ini, inteligensi atau kecerdasan adalah kesatuan yang tetap
dan tidak berubah-ubah.
8. Incremental Theory
Menurut teori ini, seseorang dapat meningkatkan inteligensi/
kecerdasannya melalui belajar.
E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTELIGENSI
Inteligensi orang satu dengan yang lain cenderung berbeda-beda. Hal ini
karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor yang
mempengaruhi inteligensi antara lain sebagai berikut.
1. Faktor pembawaan, di mana faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa
sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam
memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh
karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, agak
pintar, dan pintar sekali, meskipun mereka menerima pelajaran dan
pelatihan yang sama.
2. Faktor minat dan pembawaan yang khas, di mana minat mengarahkan
perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan
itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang
74 Psikologi Pendidikan
mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar, sehingga apa
yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat
lebih giat dan lebih baik.
3. Faktor pembentukan, di mana pembentukan adalah segala keadaan di luar
diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan inteligensi. Di sini
dapat dibedakan antara pembentukan sengaja, seperti yang dilakukan di
sekolah dan pembentukan yang tidak disengaja, misalnya
pengaruh alam di sekitarnya.
4. Faktor kematangan, di mana tiap organ dalam tubuh manusia mengalami
pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik maupun
psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau
berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya
masing-masing. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila anak-anak
belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di
kelas empat sekolah dasar, karena soal-soal itu masih terlampau sukar bagi
anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk
menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan
umur.
5. Faktor kebebasan, yang berarti manusia dapat memilih metode tertentu
dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan
memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan
kebutuhannya.
Kelima faktor itu saling terkait satu dengan yang lain. Jadi, untuk
menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman kepada salah
satu faktor tersebut.
F. TEORI BELAJAR KOGNITIF
1. Cognitive Field (Kurt Lewin)
Teori belajar cognitive field menitikberatkan perhatian pada kepribadian
dan psikologi sosial, karena pada hakikatnya masing-masing individu berada di
dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis, yang disebut life space.
Life space mencakup perwujudan lingkungan di mana individu bereaksi,
misalnya orang yang dijumpai, fungsi kejiwaan yang dimiliki dan objek
material yang dihadapi.
76 Psikologi Pendidikan
belajar. Dengan adanya area baru ini siswa akan mengadakan usaha- usaha
untuk dapat mengakomodasi. Situasi atau area itulah yang akan mempermudah
perkembangan kognitif.
A. PENDAHULUAN
Perilaku atau behavior dari peserta didik dan pendidik merupakan
masalah penting dalam psikologi pendidikan. Perilaku peserta didik agar dapat
menguasai atau memahami sesuatu, merupakan upaya diri peserta didik sesuai
dengan pengertian bahwa peserta didik adalah proses pendewasaan (dari
ketidak-dewasaan menjadi dewasa). Adapun pendidik berupaya agar dapat
memahami atau dikuasai oleh peserta didik yang belum dewasa.
Perilaku sebelum menguasai atau memahami dibandingkan dengan
perilaku sesudah menguasai atau memahami merupakan objek pengamatan dari
kelompok behavioris. Perilaku dapat berupa sikap, ucapan, dan tindakan
seseorang sehingga perilaku ini merupakan bagian dari psikologi dinamis.
Psikologi dinamis adalah psikologi yang khusus menggarap masalah tenaga
batin, dorongan, dan motif yang mempengaruhi perilaku orang-seorang
ataupun kelompok.
Salah satu fungsi psikologi pendidikan adalah dasar perilaku manusia.
Pendidikan berupaya mengembangkan perilaku kehidupan yang baik.
Pendekatan perilaku ini melahirkan beberapa teori dan konsep dari banyak
peneliti.
B. ALIRAN PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK
Psikologi behavioristik merupakan salah satu dari tiga aliran psikologi
pendidikan yang tumbuh dan berkembang secara beruntun dari periode ke
periode. Dalam perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori
belajar, yang secara garis besar dikelompokkan pada dua teori belajar, yaitu
teori belajar conditioning dan teori belajar connectionism.
78 Psikologi Pendidikan
Selanjutnya, akan diuraikan secara lebih rinci mengenai psikologi konstitusi
masa lampau dan masa depan.
80 Psikologi Pendidikan
berpaham pada transaksi lingkungan, kita bertemu dengan Sheldon yang
berpaling dari dunia luar dan mengarahkan pandangannya pada struktur jasmani
yang secara diam-diam mendasari semua gejala tingkah laku.
Sheldon beranggapan bahwa dalam jasmani ini psikologi dapat
menemukan satuan konstan, sub-substruktur kokoh yang sangat dibutuhkan
untuk memasukkan konsep tentang regularitas dan konsistensi ke dalam studi
tingkah laku manusia.
1) Struktur Jasmani
Sesuai dengan pendekatan kebanyakan psikologi konstitusi lain, Sheldon
berusaha menentukan ukuran yang cocok untuk berbagai komponen
jasmani tubuh manusia. Perlu disadari bahwa ia tidak hanya mencari
sarana untuk mengklarifikasikan atau menggambarkan ragam jasmani.
Sheldon beranggapan bahwa ada kemungkinan memperoleh sekadar
gambaran tentang faktor-faktor ini melalui serangkaian pengukuran yang
didasari pada jasmani. Dalam pandangannya ada sejenis struktur biologis
hipotesis (morfogenotipe) yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati
(fenotipe) dan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam
menentukan perkembangan jasmani tetapi juga dalam membentuk tingkah
laku. Somatotype merupakan suatu usaha untuk mengukur morfogenotipe.
2) Dimensi Jasmani
Meskipun Sheldon mengetahui usaha-usaha para pendahulunya untuk
menciptakan tipologi atau mengukur jasmani, ia memulai usahanya secara
induktif Masalah utama yang dihadapinya ialah mendapatkan sejumlah
besar contoh tubuh yang dapat diteliti.
Untuk membuat cara praktis dan efisien, ia menggunakan teknik fotografi
untuk mengambil gambar foto individu dari depan, samping, dan belakang
yang berpose dengan cara tertentu di depan latar belakang yang baku. Cara
ini disebut Somatotype Performance Test dan dijelaskan secara rinci dalam
Atlas of Men, karangan Sheldon, dalam penelitian pentingnya yang
pertama tentang jasmani manusia Berikut ini diuraikan komponen dimensi
jasmani, yaitu primer jasmani, endormorfi, mesomorfi, dan ektomorfi.
82 Psikologi Pendidikan
memiliki otak dan sistem saraf pusat yang terbesar dibandingkan
dengan keseluruhan tubuh. Atas alasan tersebut, Sheldon berpendapat
bahwa tipe fisik ini lebih lemah untuk bersaing dan bertahan secara
fisik.
1) Komponen Sheldon
Salah satu komponen sekunder yang terpenting adalah displasia. Istilah
yang dipinjam dari Kretscher ini digunakan Sheldon untuk menyebut suatu
campuran ketiga komponen primer yang tidak konsisten dan tidak
seimbang di berbagai daerah tubuh. Jadi, displasia merupakan ukuran
ketidak-harmonisan antara berbagai daerah jasmani, misalnya antara kepala
dan leher dari salah satu somatotipe atau antara lengan-lengan kaki dari
somatotipe lainnya.
2) Menetapkan Somatotype Wanita
Bagian terbesar dari penelitian awal tentang dimensi fisik Sheldon
dilakukan pada subjek pria. Jelas bahwa dalam masyarakat kita sanksi
terhadap penelitian tubuh telanjang manusia lebih keras ditujukan pada
wanita daripada pria. Oleh karena itu, sangat wajar bila karya awal di
bidang ini telah dilakukan dengan subjek laki-laki. Dalam bukunya yang
pertama tentang jasmani, Sheldon menegaskan bahwa buku yang tersedia
pada waktu itu menunjukkan bahwa 76 somatotype yang berhasil diamati
di kalangan laki-laki rupanya terjadi juga di kalangan wanita, walaupun
mungkin frekuensinya berbeda.
3) Analisis Tingkah Laku
Walaupun telah ada cara yang mantap untuk menilai aspek jasmaniah
tubuh manusia, psikolog konstitusi masih harus mengembangkan atau
meminjamkan suatu metode penilaian tingkah laku untuk menyelidiki
hubungan antara jasmani dan kepribadian. Dalam hal ini Sheldon mulai
dengan asumsi bahwa walaupun terdapat banyak dimensi atau variabel
lahiriah yang dapat dipakai untuk menggambarkan tingkah laku, di balik
semua itu terdapat sejumlah kecil komponen besar yang diharapkan dapat
menjelaskan secara kompleksitas dan varietas lahiriah tersebut. Mulailah
ia mengembangkan suatu teknik untuk mengukur komponen dasar ini
dengan mengambil hikmah penelitian kepribadian di masa lalu dan
mengagungkan pengetahuan induktifnya sendiri.
84 Psikologi Pendidikan
Perlu diingat bahwa teori konstitusi lebih bersifat induktif dan kurang bernilai
teori dibandingkan dengan teori lain dalam psikologi. Bagi teori ini komponen primer
yang telah diuraikan dan hubungannya yang telah dibuktikan secara empiris adalah
jauh lebih utama daripada sekumpulan aksioma. Sheldon sendiri pada hakikatnya
adalah seorang naturalis yang keranjingan taksonomi.
Jadi, ia paling mahir dalam melakukan observasi tajam mengenai pola tingkah
laku dalam mengelompokkan atau menggolongkan individu yang memiliki
kesamaan tertentu. Akan tetapi, ia kurang terlatih untuk merumuskan atau
mensistematisasikan segi pandangannya sebagai berikut.
C. TEORI BELAJAR CONDITIONING
1. Teori Classical Conditioning a. Ivan Pavlov
Ivan Pavlov adalah seorang ahli Psikologi Refleksologi dari Rusia yang
mengadakan percobaan dengan anjing. Moncong anjing dibedah sehingga kelenjar
ludahnya berada di luar pipinya dan dimasukkan di kamar gelap serta ada sebuah
lubang di depan moncong tempat menyodorkan makanan atau menyemprotkan
cahaya. Pada moncong yang dibedah dipasang selang yang dihubungkan dengan
tabung di luar kamar sehingga dapat diketahui keluar atau tidaknya air liur pada
waktu percobaan. Hasil percobaan mengatakan bahwa gerakan refleks itu dapat
dipelajari dan dapat berubah karena mendapat latihan, sehingga dapat dibedakan dua
macam refleks, yaitu refleks bersyarat/refleks yang dipelajari, yaitu keluarnya air liur
karena menerima/bereaksi terhadap warna sinar tertentu, atau terhadap suatu bunyi
tertentu.
Teori di atas juga disebut dengan teori classical, yang merupakan sebuah
prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum
terjadinya refleks tersebut. Disebut classical karena yang mengawali nama teori ini
untuk menghargai karya Ivan Pavlov yang paling pertama di bidang conditioning
(upaya pembiasaan), serta untuk membedakan dari teori lainnya. Teori ini disebut
juga respondent conditioning (pembiasaan yang dituntut). Teori ini sering disebut
juga contemporary behaviorists atau juga disebut S-R psychologists yang
b. John B. Watson
Ia merupakan orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan
teori belajar berdasarkan hasil penelitian Ivan Pavlov. Watson berpendapat
bahwa belajar merupakan proses terjadi refleks atau respons bersyarat melalui
stimulus pengganti. Manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi
emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk
oleh hubungan stimulus respons baru melalui conditioning. Ia mengadakan
eksperimen tentang perasaan takut pada anak dengan menggunakan tikus atau
kelinci. Dari hasil percobaannya dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut
pada anak dapat diubah atau dilatih. Anak-anak pada mulanya tidak takut
kepada kelinci dibuat menjadi takut pada kelinci. Kemudian anak tersebut
dilatih pula sehingga tidak menjadi takut lagi kepada kelinci.
Menurut teori conditioning, belajar itu merupakan suatu proses perubahan
yang terjadi karena adanya syarat-syarat (condition) yang kemudian
menimbulkan reaksi. Untuk menjadikan orang itu belajar haruslah kita
memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori
conditioning adalah latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini
adalah belajar yang terjadi secara otomatis. Teori ini mengatakan bahwa segala
tingkah laku manusia juga merupakan hasil conditioning, yaitu hasil latihan
atau kebiasaan bereaksi terhadap syarat atau perangsang tertentu yang dialami
dalam kehidupannya. Kelemahan teori ini adalah bahwa belajar itu hanyalah
terjadi secara otomatis dan keaktifan serta penentuan pribadi dalam belajar
tertentu saja seperti belajar tentang keterampilan tertentu dan pembiasaan pada
anak-anak kecil.
86 Psikologi Pendidikan
c. Teori Conditioning (Guthrie)
Teori ini memperluas penemuan John B. Watson tentang belajar, yang
mengemukakan bagaimana cara atau metode untuk mengubah kebiasaan yang
kurang baik berdasarkan teori conditioning ini. Tingkah laku manusia secara
keseluruhan dapat dipandang sebagai deretan tingkah laku yang terdiri atas
unit-unit.
Unit-unit tingkah laku ini merupakan reaksi atau respons dari perangsang
atau stimulus sebelumnya dan kemudian unit tersebut dapat menjadi stimulus
pula yang menimbulkan respons bagi unit tingkah laku berikutnya dan
seterusnya. Pada proses conditioning ini, umumnya terjadi proses asosiasi
antarunit tingkah laku yang berurutan. Latihan yang berkali- kali memperkuat
asosiasi yang terdapat antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah
laku berikutnya. Pada percobaan Ivan Pavlov mengenai anjing yang penting
diperhatikan ialah dapat diubahnya stimulus tertentu dengan stimulus yang lain.
Menurut Guthrie, untuk menggunakan kebiasaan yang tidak baik harus
dilihat dalam rentetan deretan unit-unit tingkah lakunya, kemudian diusahakan
untuk menghilangkan unit yang tidak baik atau menggantinya dengan yang lain
atau yang seharusnya. Dalam mengubah tingkah laku atau kebiasaan pada
hewan maupun manusia ada beberapa metode. Pertama, Metode Reaksi
Berlawanan (Incompatible Response Method). Manusia merupakan suatu
organisme yang selalu mereaksi kepada perangsang tertentu. Jika suatu reaksi
terhadap perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara mengubahnya
adalah menghubungkan stimulus dengan respons yang berlawanan dengan
reaksi buruk yang hendak dihilangkan. Ada dua contoh untuk hal ini, yaitu
mengubah perilaku anak takut pada kelinci menjadi tidak takut lagi, dengan
memberinya makanan yang disukai berkali-kali sampai anak tidak takut pada
kelinci. Kemudian mengubah perilaku seorang pemabuk menjadi tidak
pemabuk, dengan memberinya suntikan yang menyebabkan muntah sebelum
disodori minuman dan dilakukan berkali-kali sehingga orang tersebut ingin
muntah kalau melihat minuman. Kedua, Metode Membosankan (Exhaustive
Method). Tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama, sehingga
makhluk itu menjadi bosan. Melalui metode ini dapat menggunakan contoh
sebagai berikut. Menjinakkan kuda
88 Psikologi Pendidikan
Kenyataan bahwa jenis respons pertama (reflexive response) sangat
terbatas pada manusia, dan jenis respons kedua (operant response) merupakan
bagian terbesar dari tingkah laku manusia dan kemungkinan untuk
memodifikasinya hampir tidak terbatas. Oleh karena itu, Skinner lebih
memfokuskan pada jenis tingkah laku yang kedua, yang penting bagaimana
menimbulkan, mengembangkan, dan memodifikasi tingkah laku.
Prosedur pembentukan tingkah laku dalam Operant Conditioning adalah
sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi hal-hal yang merupakan reinforcer (hadiah) bagi tingkah
laku yang akan dibentuk.
2. Menganalisis dan mengidentifikasi komponen kecil yang membentuk
tingkah laku dimaksud, kemudian komponen tersebut disusun dalam
urutan yang tepat untuk menuju pembentukan tingkah laku yang
dimaksud.
3. Urutan komponen tersebut sebagai tujuan sementara, dengan
mengidentifikasi reinforcer (hadiah) untuk masing-masing komponen itu.
4. Melakukan pembentukan tingkah laku, dengan menggunakan urutan
komponen yang telah disusun.
Jadi, Skinner menganggap reward atau reinforcement sebagai faktor
terpenting dalam proses belajar, serta tujuan psikologi adalah meramal dan
mengontrol tingkah laku. Perbedaan penting antara Pavlov Classical
Conditioning dan Skinner Operant Conditioning adalah dalam Classical
Conditioning, ada akibat-akibat suatu tingkah laku itu. Reinforcement tidak
diperlukan karena stimulasinya menimbulkan respons yang diinginkan. Jadi,
operant conditioning merupakan situasi belajar di mana suatu respons dibuat
lebih kuat akibat reinforcement langsung. Percobaannya adalah dengan
menggunakan tikus dalam sangkar, dengan menggunakan suatu discriminative
stimulus (tanda untuk memperkuat respons), seperti tombol, lampu, dan
pemindah makanan. Di samping itu, menggunakan pula suatu reinforcement
stimulus berupa makanan.
Dalam pendidikan, operant conditioning menjamin respons
90 Psikologi Pendidikan
Menurut Hull, suatu kebutuhan harus ada dalam diri seseorang yang belajar.
Sebelum respons dapat diperkuat atas dasar pengurangan kebutuhan itu. Dalam
hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan
kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar oleh respons yang
dibuat individu itu. Setiap objek, kejadian, atau situasi dapat mempunyai nilai
sebagai penguat apabila hal itu dihubungkan dengan penurunan terhadap suatu
keadaan depresi atau kekurangan pada diri individu yaitu objek, kejadian, atau
situasi tadi dapat menjawab kebutuhan pada saat individu itu melakukan respons.
Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi,
mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai
pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang, misalnya uang,
perhatian, afeksi, dan aspirasi sosial tingkat tinggi. Jadi, prinsip utama adalah
suatu kebutuhan atau motif harus ada pada seseorang sebelum belajar itu terjadi;
dan bahwa apa yang dipelajari itu harus diamati oleh orang yang belajar sebagai
sesuatu yang dapat mengurangi kekuatan atau memuaskan kebutuhannya.
Dua hal yang sangat penting dalam proses belajar dari Hull, yaitu adanya
motif atau motivation (motivasi insentif), dan drive stimulus reduction
(pengurangan stimulus pendorongan). Kecepatan merespons berubah bila
besarnya hadiah (reward) berubah. Penggunaan teori belajar secara praktis dari
Hull untuk kegiatan dalam kelas adalah sebagai berikut.
1. Teori belajar didasarkan drive reduction atau drive stimulus reduction.
2. Instructional objektif harus dirumuskan secara spesifik dan jelas.
3. Ruangan kelas harus diatur sedemikian rupa, sehingga memudahkan
terjadinya proses belajar.
4. Pelajaran harus dimulai dari yang sederhana/mudah menuju ke yang lebih
kompleks/sulit.
5. Kecemasan harus ditimbulkan untuk mendorong kemauan belajar.
6. Latihan harus didistribusikan dengan hati-hati supaya tidak terjadi inhibisi.
Dengan kata lain, kelelahan tidak boleh mengganggu belajar.
7. Urutan mata pelajaran diatur sedemikian rupa.
92 Psikologi Pendidikan
dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-
latihan, atau ulangan yang terus-menerus, dan (3) karena proses belajar
berlangsung secara mekanistis, maka pengertian tidak dipandangnya sebagai
suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur
yang pokok dalam belajar.
5. Teori Bandura
Menurut A. Bandura, belajar itu lebih dari sekadar perubahan perilaku.
Belajar adalah pencapaian pengetahuan dan perilaku yang didasari oleh
pengetahuannya tersebut (Teori Kognitif Sosial).
Lewat teori observational learning, Bandura beranggapan bahwa masalah
proses psikologi terlalu dianggap penting, atau sebaliknya hanya ditelaah
sebagian saja. Orang dapat melibatkan diri dalam pikiran simbolik, orang
cenderung untuk membimbing dirinya sendiri dalam belajar, dan lingkungannya
dapat dipengaruhi perilaku tiruan. Menurut Bandura, yang penting ialah
kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dari perilaku orang
lain. Pengambilan keputusan dilakukan mengenai perilaku mana yang akan
menjadi alternatif dan kemudian melakukan perilaku yang dipilih. Prinsip
belajar menurut Bandura adalah usaha menjelaskan belajar dalam situasi alami.
Hal ini berbeda dengan situasi di laboratorium atau pada lingkungan sosial yang
banyak memerlukan pengamatan tentang pola perilaku beserta konsekuensinya.
Kritik Bandura terhadap belajar itu sebagai hubungan antara stimulus dan
respons adalah (1) kurang menjelaskan tentang diperolehnya respons yang baru.
Dalam situasi alami, menurut Bandura orang akan berbuat lebih banyak
daripada sekadar meniru perilaku yang telah ada, dan (2) hanya mengamati
direct learning (belajar langsung), yaitu orang berperilaku sesuatu dan
mengalami akibatnya (konsekuensi). Sebaliknya, Bandura mengatakan bahwa
seorang anak dalam hubungan pribadinya dengan orang dewasa, melalui
interaksi anak dengan orang tuanya, dengan perasaan irinya dan sebagainya
menyebabkan anak meniru perilaku tertentu. Jadi, peniruan itu tidak terbatas
hanya pada satu orang tua saja, hubungan antara orang tua dan anak bukanlah
satu-satunya prasyarat untuk peniruan. Demikian juga perasaan takut terhadap
seorang tipe penyerang bukanlah prasyarat peniruan perilakunya.
4. Classical Conditioning
Melalui eksperimen anjing dengan bunyi bel sebagai stimulasi dan
makanan sebagai responsnya sehingga air liur anjing keluar. Manusia
disamakan dengan anjing, dalam arti perilaku manusia dikendalikan oleh
94 Psikologi Pendidikan
ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement). Tingkah laku belajar
terdapat jalinan yang erat antara reaksi behavior dengan stimulasinya.Teori ini
oleh Ivan Pavlov disebut teori yang classical karena ia yang pertama kali
menemukannya. Teori ini cocok untuk zaman itu dan sekarang tampaknya teori
ini lebih mengena pada anak-anak saja. Memasuki abad ke-21 perkembangan
teknologi dan informasi sangat jauh berbeda pada saat ditemukannya teori ini,
sehingga perilaku manusia juga befubah mengikuti perkembangan zaman.
Kalaupun masih ada persamaan, ini dapat ditemui pada bangsa yang
kehidupannya masih sangat tertinggal, sehingga belum tentu semua bangsa
dapat menerapkan teori ini. Hal ini sangat bergantung pada kesejahteraan suatu
bangsa serta tingkat kebutuhan berada pada level yang mana (teori kebutuhan
Maslow).
7. Teori Conditioning
John B. Watson termasuk kelompok pakar dari classical conditioning yang
mengembangkan teori yang telah ditemukan oleh Ivan Pavlov. Tingkah laku
manusia sebagai hasil dari conditioning (hasil dari latihan), atau teori ini
menekankan latihan yang kontinu. Belajar merupakan proses yang terjadi dari
refleksi respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Manusia dilahirkan
dengan beberapa refleks dan reaksi emosional seperti takut, cinta, dan marah.
Teori belajar conditional menekankan bahwa merupakan proses perubahan
yang terjadi karena syarat-syarat (condition) yang menimbulkan reaksi
(response). Inti teori ini diambil dari eksperimen bahwa anak kecil yang semula
memiliki perasaan takut dapat diubah atau dilatih tidak takut melalui tikus atau
kelinci. Jadi, latihan yang kontinu atau berulang-ulang akan mengubah tingkah
laku manusia, dalam hal ini anak kecil saja, bukan untuk orang dewasa. Melalui
latihan yang kontinu mungkin lebih tepat untuk belajar, sifatnya skill atau
keterampilan tertentu dan pembiasaan pada anak-anak kecil saja. Kelemahan
teori ini adalah belajar terjadi secara otomatis, keaktifan dan penentuan pribadi
dalam hal-hal belajar tertentu saja.
Teori ini ditemukan oleh Guthrie yang memperluas teori tentang belajar
oleh J.B. Watson berupa mengubah kebiasaan yang kurang baik.
5. Operant Conditioning
Menurut teori Skinner, tingkah laku terbentuk dari konsekuensi yang
ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri, sedangkan tingkah laku merupakan
hubungan antara stimulus dan respons. Ada dua macam respons, yaitu
responden response dan operant response (timbul dan berkembang yang diikuti
perangsang tertentu dan fokus Skinner pada perilaku ini). Dalam proses belajar
reward atau reinforcement menjadi faktor terpenting dalam teori ini, karena
perangsang itu memperkuat respons yang telah dilakukan. Misalnya, sistem
hadiah pada anak yang telah melakukan hasil yang baik, sehingga anak menjadi
lebih giat belajar. Namun di sisi lain, kebiasaan mendapat hadiah akan
mengubah perilaku anak; ia selalu menunggu hadiah, kalau tidak ada hadiah
tidak mau belajar. Hal ini akan menjadi kebiasaan sampai dewasa, sedangkan
keberhasilan belajar merupakan kepentingannya sendiri guna masa depan yang
lebih baik.
96 Psikologi Pendidikan
bila besarnya hadiah berubah. Jadi, melalui teori ini hadiah menjadi penentu
kecepatan respons, dan teori ini akan membentuk anak belajar yang tergantung
kepada hadiah yang akan diberikan. Teori ini hanya mungkin terjadi pada orang
yang masih anak-anak bukan untuk orang dewasa. Apabila hal ini terus sampai
dewasa akan merusak mental yang bersangkutan.
98 Psikologi Pendidikan
D. FAKTOR DARI DALAM DIRI
1. Kesehatan
Apabila orang selalu sakit (sakit kepala, pilek, demam) mengakibatkan
tidak bergairah belajar dan secara psikologi sering mengalami gangguan pikiran
dan perasan kecewa karena konflik.
2. Inteligensi
Faktor inteligensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap kemajuan
belajar.
4. Cara Belajar
Perlu diperhatikan teknik belajar, bagaimana bentuk catatan yang
dipelajari dan pengaturan waktu, belajar, tempat serta fasilitas belajar lainnya.
E. FAKTOR DARI LUAR DIRI
1. Keluarga
Situasi keluarga (ayah, ibu, saudara, adik, kakak, serta famili) sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam keluarga. Pendidikan orang tua,
status ekonomi, rumah kediaman, persentase hubungan orang tua, perkataan,
dan bimbingan orang tua, mempengaruhi pencapaian hasil belajar anak.
2. Sekolah
Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat instrumen pendidikan,
lingkungan sekolah, dan rasio guru dan murid per kelas (40- 50 peserta didik),
mempengaruhi kegiatan belajar siswa.
2. Lingkungan Sekitar
Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas, dan iklim dapat
mempengaruhi pencapaian tujuan belajar, sebaliknya tempat-tempat dengan
iklim yang sejuk, dapat menunjang proses belajar.
A. MOTIVASI
Motivasi menurut Sumadi Suryabrata6 adalah keadaan yang terdapat dalam
diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna
pencapaian suatu tujuan. Sementara itu Gates7 dan kawan-kawan
mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu kondisi fisiologis dan psikologis
yang terdapat dalam diri seseorang yang mengatur tindakannya dengan cara
tertentu. Adapun Greenberg8 menyebutkan bahwa motivasi adalah proses
membangkitkan, mengarahkan, dan memantapkan perilaku arah suatu tujuan.
Dari tiga definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi
fisiologis dan psikologis yang terdapat dalam diri seseorang yang
mendorongnya untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan
(kebutuhan).
Sehubungan dengan kebutuhan hidup manusia yang mendasari timbulnya
motivasi, Maslow9 mengungkapkan bahwa kebutuhan dasar
11 David C. McClelland, et. al., The Achievement Motive, (New York: Irvington Pub- lisher,
1976), hlm. 75.
12 Rom Hare and Roger Lamb, Ed., The Encyclopedia Dictionary of Psychology, (Lon- don:
Brasil Blackwell Publisher Ltd., 1983), hlm. 3.
13 H. Heckhausen, The Anatomy of Achievement Motivation. (New York: Academic Press,
1967), hlm. 4-5.
14 Ibid., hlm. 4-5.
15 Michael J. A. Howe, A Teacher 's Guide to The Psychology of Learning. (New York:
Brasil Blackwell, Inc., 1984), hlm. 143
16 Wisnubroto Hendro Juwono, "Pengantar Psikologi Belajar”, dalam Materi Dasar
Pendidikan Program Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi, buku IIc,
Psikologi Belajar. (Depdikbud Dikti, Proyek NKK, 1982), hlm. 4.
17 H. J. Eysenck, et al., Encyclopedia of Psychology. (New York: The Continuum Pub-
lishing Company, 1972), hlm. 682-683.
18 John P. Houston, Motivation, (London: Collier McMilland Publishers, 1985), hlm. 239.
1. Motivasi Berprestasi
Motivasi berprestasi selalu melibatkan nama-nama seperti McClelland,
Atkinson, Clark dan Lowell, karena merekalah yang mula- mula menyusun dan
mengembangkan teori ini. Teori motivasi yang dikembangkannya disebut The
Affective Arousal Model. Disebut demikian karena dalam konsep mereka, motif
berasal dari perubahan afeksi.
McClelland dkk. mendefinisikan motivasi sebagai: ... the redintegration by
a cue of a change in an affective situation.21
Tiga istilah penting di sini adalah redintegration, cue, dan affective situation.
Redintegration secara etimologis berarti membulatkan kembali atau membuat
suatu kesatuan baru. Dalam konteks ini redintegration berarti membulatkan
kembali proses psikologis dalam kesadaran sebagai akibat adanya rangsangan
suatu peristiwa di dalam lingkungannya. Cue (isyarat) merupakan penyebab
tergugahnya afeksi dalam diri individu. Contoh, bila seorang siswa melihat
gurunya yang sudah lama berpisah, maka persepsi tentang guru tersebut akan
bekerja sebagai isyarat yang menggugah perasaannya (affective feelings) dan
keseluruhan proses psikologisnya dikembalikan lagi (reinstated). Affective
situation (disebut juga affective state), asumsi McClelland bahwa setiap orang
memiliki
27 McClelland C. David: Atkinson W. John; Clark A. Russell; and Lowell L. Edgar, The
Achievement Motive, with new preface with hindsight by John W. Atkinson, (New
York: Irvington Publishers, Inc., 1976), hlm. 28.
2. Pengertian Achievement
Suatu prestasi atau achievement berkaitan erat dengan harapan
(expectation). Inilah yang membedakan motivasi berprestasi dengan motivasi
lain seperti lapar, haus, dan motif biologis lainnya.
33 Klausmeier, Herbert J., Learning and Human Abilities: Educational Psychology, (New
York: Harper & Brothers Publisher, 1961), hlm. 327.
34 Johnson, David W., The Social Psychology of Education, (New York: Holt Rinehart and
Winston Inc., 1970), hlm. 106.
a. Motivasi Berkarier
Berkarier adalah bekerja untuk mengembangkan kemajuan diri dalam
pekerjaan.35 Menurut Thelma G. Alper, motivasi ini adalah bagian yang sangat
spesifik dari motivasi kerja, sehingga dapat dipisahkan satu dengan yang lain.36
Jadi, berkarier berarti dapat juga dikaitkan dengan harapan yang di dalamnya
ada standar keunggulan tertentu, implikasinya di sini dapat diartikan juga ke
dalam motivasi berkarier.
Di samping Thelma, yang membahas konsep motivasi keija antara lain
Crites O. John37, yang mengatakan bahwa bimbingan diri dan lingkungan dapat
meningkatkan pemilihan kejuruan.
Dari teori tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang motivasi
berkariemya baik ditandai dengan:
1. menyukai situasi kerja yang menuntut tanggung jawab pribadi, sebagai
tantangan untuk maju;
2. memilih tujuan yang realistis sebagai upaya untuk mengembangkan karier;
3. cekatan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan mengharapkan cepat
memperoleh umpan balik;
4. senang bekerja sendiri dan bersaing untuk menunjukkan kemajuan
prestasinya;
35 Hansen L. Sunny & Rapoza S. Rita, Career Development and Counceling ofWomen,
(Illinois: Charles C. Thomas Publisher, 1978), hlm. 7.
36 Thelma G Alper, “Achievement Motivation in College Women” dalam Hansen L.
Sunny & Rapoza S. Rita, Career Development and Counseling ofWomen (Illinois:
Charles C. Thomas Publisher, 1978), hlm. 101-115.
37 Crites O. John, Vocational Psychology (The Study ofVocational Behavior and Devel-
opment), (New York: McGraw-Hill Book Company, 1969), hlm. 10.
b. Motivasi Pelayanan
Implikasi motivasi untuk bidang administrasi pendidikan yang lain adalah
dalam hal motivasi pelayanan. Pelayanan yang dimaksud adalah proses
memberi bantuan dengan sepenuh hati kepada konsumen38 dengan menyisihkan
waktu untuk memahami orang lain dan peduli terhadap perasaan mereka.39
Teori ini banyak dikembangkan antara lain oleh Patricia Patton40 yang
mengatakan bahwa pelayanan sepenuh hati adalah kecerdasan emosional yang
terfokus kepada memanusiakan manusia. Fred Luthan, Organization Behavior
yang dikutip Moenir HAS41 menyebutkan bahwa pelayanan adalah proses
pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain secara langsung, dan
memerlukan interaksi harmonis di kedua belah pihak. Bob Woworuntu42
mengatakan bahwa pelayanan merupakan bentuk pencerminan pendekatan
seutuhnya dari seseorang kepada masyarakat.
Dari pendapat di atas, seseorang yang motivasi pelayanannya baik
memiliki tanda-tanda:
1. menyukai kesungguhan dalam bentuk gairah (passionate) untuk melayani
konsumen;
38 Contohnya, jika yang melayani adalah guru, maka murid dan orang tua/wali sebagai
konsumen, sedang jika pelayannya adalah administrator sekolah, konsumen adalah
murid, guru, orang tua.
39 Patricia Patton, Kecerdasan Emosional: Pelayanan Sepenuh Hati, Meraih EQ untuk
Pelayanan yang Memuaskan Pelanggan, terjemahan oleh Lembaga Penerjemahan
Hermes, Malang, (Jakarta: Pustaka Delapratasa, 1998), hlm. 6
40 Ibid., 1998.
41 Moenir HAS, Manajemen Pelayanan Umum Indonesia, (Jakarta: Bumi Aksara, 1998),
hlm. 15-17.
42 Bob Woworuntu, Dasar-Dasar Keterampilan Abdi Negara Melayani Masyarakat,
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1977), hlm. 9-11. Juga dibahas oleh Hicks G
Herbert & Gullet G Ray, Organisasi: Teori dan Tingkah Laku, terjemahan oleh
Kartasapoetra (Jakarta: Bumi Aksara, 1975), hlm. 552-554, khususnya tentang konsep
komunikasi organisasi yang berhasil.
C. Motivasi Kerja
Penerapan lain dari konsep motivasi adalah motivasi kerja. Dari beberapa
definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah kondisi fisiologis d dan
psikologis yang terdapat di dalam diri pribadi seseorang yang mendorongnya
untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuaran. Aktivitas yang
dimaksudkan dapat berupa aktivitas pekerja, karyawan, pimpinan, dan lain-lain.
Dengan demikian, konsep motivasi dapat diterapkan di dalam bidang administrasi
pendidikan, antara lain untuk motivasi kerja dan motivasi bekerja.
Pada hakikatnya dalam kehidupan manusia, selalu terjadi berbagai aktivitas.
Salah satu aktivitas ditunjukkan dalam gerakan yang dinamakan kerja.
Bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang diakhiri dengan
buah karya. Wexley mengatakan, seorang itu kerja karena bekerja itu merupakan
kondisi bawaan seperti bermain atau istirahat untuk aktif dan melakuukan
sesuatu.43 Jadi, bekerja adalah suatu bentuk aktivitas yang bertujuan untuk
mendapatkan kepuasan.
Jika konsep motivasi diterapkan ke dalam konteks bekerja, maka seorang
yang motivasi bekerjanya tinggi ditandai dengan:
1. menyuukai tugas kantor yang menuntut tanggung jawab pribadi;
2. mencari situasi di mana pekerja memperoleh umpan balik dengan segera a
baik dari pimpinan maupun teman sejawat;
43 Ruben D.). Brent, Communication and Human Behavior 3rd, (New Jersey: Prentice Hall,
19932), hlm. 34-38.
A. SIKAP
1. Pengertian Sikap dan Belajar
Sikap dapat didefinisikan dengan berbagai cara dan setiap definisi itu
berbeda satu sama lain. Trow44 mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan
mental atau emosional dalam beberapa jenis tindakan pada situasi yang tepat.
Di sini Trow lebih menekankan pada kesiapan mental atau emosional seseorang
terhadap sesuatu objek. Sementara itu Allport seperti dikutip oleh Gable45
mengemukakan bahwa sikap adalah sesuatu kesiapan mental dan saraf yang
tersusun melalui pengalaman dan memberikan pengaruh langsung kepada
respons individu terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan
objek itu.
Definisi sikap menurut Allport ini menunjukkan bahwa sikap itu tidak
muncul seketika atau dibawa lahir, tetapi disusun dan dibentak melalui
pengalaman serta memberikan pengaruh langsung kepada respons seseorang.
Harlen46 mengemukakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kecenderungan
seseorang untuk bertindak dalam menghadapi suatu objek atau situasi tertentu.
Jadi di sini makna sikap yang terpenting apabila diikuti oleh objeknya.
Misalnya sikap terhadap Undang-Undang Pemilu, sikap terhadap sistem
kampanye, dan lain-lain. Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak
berkenaan dengan objek tertentu. Sikap bukan tindakan nyata (overt behavior)
melainkan masih bersifat tertutup (covert behavior). Cardno mendefinisikan
sikap sebagai berikut.
47 Mar’at. Sikap Manusia: Perubahan serta Pengukurannya, (Jakarta: Ghalia, 1982), hlm. 10.
50 Bennett Nevile, et.al., Teaching Styles and Pupil Progress, (London: Open Books
Publishing, Ltd., 1976), hlm. 45.
51 Nasution, S. Azas-Azas Kurikulum, (Bandung: Terate, 1978), hlm. 58.
52 Staton, Thomas F., Cara Mengajar dengan Hasil yang Baik, terjemahan oleh Tahalele
(Bandung: Diponegoro, 1978), hlm. 27.
53 Sri Mulyani Martaniah, Motif Sosial, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
1984), hlm. 51.
54 Ibid., hlm. 34-37
55 Nasution, S., Didaktik Azas-Azas Mengajar, (Bandung: Jemmares, 1982), hlm. 85.
59 Indikator ini juga dijadikan kriteria EQ sebagai bagian dari sikap sosial oleh Patricia
Patton, seperti dalam Patton, op. cit. hlm. 52-55.
60 Wayne R. Pace dan Faules F. Don, Komunikasi Organisasi-Strategi Meningkatkan
Kinerja Perusahaan, terjemahan oleh Desi Mulyana, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
1998), hlm. 67-69.
C. MINAT
Minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh.68 Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu
hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat
hubungan tersebut, semakin besar minatnya. Crow and Crow mengatakan bahwa minat
berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau
berurusan dengan orang, benda, kegiatan, pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan
itu sendiri.69
Jadi, minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa
siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan
melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan
diperoleh kemudian.
68 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991),
hlm. 182.
69 Crow D. Leatar & Crow, Alice, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1989),
hlm. 302-303.
b. Investigatif
Orang investigatif termasuk orang yang berorientasi keilmuan. Mereka
umumnya berorientasi pada tugas, introspektif, dan asosial, lebih menyukai
memikirkan sesuatu daripada melaksanakannya, memiliki dorongan kuat untuk
memahami alam, menyukai tugas-tugas yang tidak pasti (ambiguous), suka
bekerja sendirian, kurang pemahaman dalam kepemimpinan akademik dan
intelektualnya, menyatakan diri sendiri sebagai analis, selalu ingin tahu, bebas,
dan bersyarat, dan kurang menyukai pekerjaan yang berulang. Kecenderungan
pekerjaan yang disukai termasuk ahli perbintangan, biologi, binatang, kimia,
penulis, dan ahli jiwa.75
c. Artistik
Orang artistik menyukai hal-hal yang tidak terstruktur, bebas, memiliki
kesempatan bereaksi, sangat membutuhkan suasana yang dapat
mengekspresikan sesuatu secara individual, sangat kreatif dalam bidang
74 Campbell D.P, & Hansen, J.C., Manualfor the SVIB-SCII: Strong-Campbell Interest
Inventory, (Stanford, CA: Stanford University Press, 1981), juga diuraikan panjang
lebar oleh Crites O. John.
75 Ibid., 1981.
d. Sosial
Tipe ini dapat bergaul, bertanggung jawab, berkemanusiaan, dan sering
alim, suka bekerja dalam kelompok, senang menjadi pusat perhatian kelompok,
memiliki kemampuan verbal, terampil bergaul, menghindari pemecahan
masalah secara intelektual, suka memecahkan masalah yang ada kaitannya
dengan perasaan; menyukai kegiatan menginformasikan, melatih, dan
mengajar. Pekerjaan yang disukai menjadi pekerja sosial, pendeta, ulama, guru.
e. Enterprising
Tipe ini cenderung menguasai atau memimpin orang lain, memiliki
keterampilan verbal untuk berdagang, memiliki kemampuan untuk mencapai
tujuan organisasi, agresif, percaya diri, dan umumnya sangat aktif. Pekerjaan
yang disukai termasuk pimpinan perusahaan, pedagang, dan lain-lain.
f. Konvensional
Orang konvensional menyukai lingkungan yang sangat tertib, menyenangi
komunikasi verbal, senang kegiatan yang berhubungan dengan angka, sangat
efektif menyelesaikan tugas yang berstruktur tetapi menghindari situasi yang
tidak menentu, menyatakan diri orang yang setia, patuh, praktis, tenang, tertib,
efisien; mereka mengidentifikasi diri dengan kekuasaan dan materi. Pekerjaan
yang disukai antara lain sebagai akuntan, ahli tata buku, ahli pemeriksa barang,
dan pimpinan armada angkutan.
76 Ibid., 1981.
b. Minat Kejuruan
Dari penjelasan di atas yaitu minat secara umum tersebut, kemudian
dicoba untuk diterapkan dalam bidang Administrasi Pendidikan, khususnya
untuk bidang kejuruan. Minat umum-kejuruan yang berkembang dalam diri
seseorang merupakan akumulasi minat yang berkembang, sejalan dengan
pengalaman, sikap, dan keinginannya. Hal ini sangat dipengaruhi secara
signifikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.78
79 Depdikbud, Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V, Buku III-A Psikologi
Perkembangan, (Jakarta, Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi,
1981), hlm. 75-76.
80 Finch R. Curtis & Crunkilton R. John, Curriculum Development in Vocational and
Technical Education-Planning. Content and Implementation. 2nd. (Toronto: Allyn
and Bacon. Inc., 1984).
Dimensi Indikator/Tanda-Tanda
Aktivitas Real
Aktivitas Investigatif
Aktivitas Aktivitas Artistik
Aktivitas Sosial
Aktivitas Enterpreneur
Aktivitas Konvensional
Kompetensi Real
Kompetensi Investigatif
Kompetensi Sosial
Keterampilan Manajerial
Keterampilan Perkantoran
Okupansional Realistis
Okupansional Investigatif
Okupansional Artistik
Okupansional
Okupansional Sosial
Okupansional Enterprising
Okupansional Konvensional
D. KEBIASAAN BELAJAR
1. Pengertian
Berbagai hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil belajar mempunyai
korelasi positif dengan kebiasaan belajar atau study habit. Witherington dalam
Andi Mappiare 1983 mengartikan kebiasaan (habit) sebagai:
81 Andi Mappiare, Psikologi Orang Dewasa, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hlm. 34.
82 Gilmer, Van Haller B, Applied Psychology: Adjustment in Living and Work. (New
Delhi: Tata McGraw-Hill Publishing Co., 1978), hlm. 264.
F. KONSEP DIRI
1. Pengertian
Konsep diri adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri yang
menyangkut apa yang ia ketahui dan rasakan tentang perilakunya, isi
87 Anant Pai, How to Develop Self-Confidence, (Singapore: S.S. Mubarak and Brother Ltd.,
1996), hlm. 23-25.
88 Slameto, op cit., hlm. 45-50.