0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan174 halaman

112160665-Isna Siti Mulyani

Skripsi ini membahas onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis, bentuk, dan fungsi onomatope dalam novel tersebut. Hasilnya menunjukkan empat jenis onomatope yakni bunyi benda, hewan, alam, dan manusia. Bentuknya beragam mulai dari satu silabel hingga frasa. Fungsinya antara lain menggambar suasana hati tokoh dan mendeskrips
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan174 halaman

112160665-Isna Siti Mulyani

Skripsi ini membahas onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jenis, bentuk, dan fungsi onomatope dalam novel tersebut. Hasilnya menunjukkan empat jenis onomatope yakni bunyi benda, hewan, alam, dan manusia. Bentuknya beragam mulai dari satu silabel hingga frasa. Fungsinya antara lain menggambar suasana hati tokoh dan mendeskrips
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ONOMATOPE DALAM NOVEL EMAS SUMAWUR

ING BALUWARTI KARYA PARTINI B.

SKRIPSI

Disusun sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh
Isna Siti Mulyani
NIM 112160665

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA JAWA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2014
ONOMATOPE DALAM NOVEL EMAS SUMAWUR ING
BALUWARTI KARYA PARTINI B.

Oleh
Isna Siti Mulyani
NIM 112160665

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan


di depan Panitia Penguji Skripsi
Menyetujui

Pembimbing I, Pembimbing II,

Rochimansyah, M. Pd. Aris Aryanto, M.Hum.


NIDN 0613048602 NIDN 0625038601

Mengetahui

Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa,

Yuli Widiyono, M. Pd.

NIDN 0616078301

ii
ONOMATOPE DALAM NOVEL EMAS SUMAWUR ING
BALUWARTI KARYA PARTINI B.

Oleh
Isna Siti Mulyani
NIM 112160665

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi


Universitas Muhammadiyah Purworejo
Pada tanggal: 15 Juli 2014

TIM PENGUJI

Yuli Widiyono, M. Pd.


NIDN 0616078301 …………………………..
Penguji Utama

Rochimansyah, M. Pd.
NIDN 0613048602 ……………………………
Penguji I

Aris Aryanto, M.Hum.


NIDN 0625038601 …………………………….
Penguji II

Purworejo, Agustus 2014


Mengetahui
Dekan FKIP,

Drs. H. Hartono, M.M.


NIP 19540105 198103 1 002

iii
PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Isna Siti Mulyani


NIM : 112160665
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Dengan ini saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar

hasil karya sendiri, bukan jiplakan orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya.

Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau

dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Apabila terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini adalah hasil jiplakan,

saya bersedia bertanggung jawab secara hukum yang diperkarakan oleh

Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Purworejo, 15 Juli 2014


Yang membuat pernyataan

Isna Siti Mulyani

iv
MOTO

1. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan selama ada komitmen untuk
menyelesaikannya. (Penulis)

2. “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu


telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain”. (Q. S. AL. Insiroh: 6-7)

3. Jangan menunda-nunda pekerjaan, belum tentu kita masih punya waktu untuk
menyelesaikannya. (Penulis)

v
PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur kepada Allah Swt., skripsi ini penulis

persembahkan kepada :

1. Ayah dan Ibuku tercinta, Suyanto, S. Pd. dan Poyem yang senantiasa

mencurahkan segenap kasih sayang serta selalu mendoakan dan memberikan

dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.

2. Kakakku Eka Supriyanto, S. Pd. dan adikku yang kusayangi Amin putri

Salasati yang selalu memberikan dukungan dan motivasi.

3. Sahabat-sahabatku Maryani, Rindi, Nunung, Hesti, Ayun, Mina, Yeni, Nani,

Dila, Dani, dan Fendi Dwi Kurniawan, S. Pd. yang selalu memberikan

motivasi.

4. Teman-teman angkatan 2010 khususnya PBSJ Kelas C yang selama 4 tahun

telah bersama-sama dalam suka dan duka.

vi
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt., atas

segala rahmat dan inayah-Nya sehingga skripsi dengan judul “Onomatope dalam

Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya Partini B. ” dapat diselesaikan dengan

baik. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi Program Strata Satu

(S1) pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa di Fakultas

Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat terselesaikan tanpa ada

dukungan, bimbingan, saran, motivasi dan kerjasama berbagai pihak. Oleh karena

itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarnya

kepada:

1. Drs. H. Supriyono, M. Pd., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah

Purworejo.

2. Drs. H. Hartono, M.M., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.

3. Yuli Widiyono, M. Pd., selaku ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Sastra Jawa yang telah memberikan dorongan penulisan skripsi.

4. Rochimansyah, M. Pd., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan dan arahan kepada penulis.

5. Aris Aryanto, M. Hum., sebagai Dosen Pembimbing II, yang telah

memberikan motivasi, petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

vii
6. Bapak dan Ibu Dosen FKIP PBSJ yang telah memberikan ilmu dan

pengetahuan kepada penyusun.

7. Semua pihak yang turut membantu yang tidak dapat penyusun sebutkan satu

persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, segala kritik dan saran yang membangun, akan diterima dengan tangan

terbuka dan senang hati. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini

bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan

bahasa, khususnya bahasa Jawa. Amin.

Purworejo, 24 Juni 2014

Penulis

Isna Siti Mulyani

viii
ABSTRAK

Isna Siti Mulyani.” Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti
Karya Partini B”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.
2014.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis-jenis onomatope
dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B, (2) mendeskripsikan
bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B dan
(3) mendeskripsikan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.
Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini
diperoleh dari novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Data yang
ada dalam penelitian ini berupa satuan gramatikal yang berwujud kata atau
kalimat yang mengandung onomatope pada novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan
teknik pustaka, teknik observasi dan teknik simak catat. Teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Dalam penyajian data
menggunakan teknik formal dan informal.
Hasil penelitian pemerolehan data dan pembahasan yang mengkaji tentang
onomatope yaitu (1) Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
terdapat empat jenis onomatope yang digunakan dalam novel tersebut. Jenis-jenis
onomatope yang terdapat dalam novel ialah a) tiruan bunyi benda, b) tiran bunyi
hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Jumlah jenis
onomatope yang paling banyak dalam novel ialah tiruan bunyi benda sebanyak 39
data, tiruan bunyi hewan sebanyak 3 data. tiruan bunyi alam sebanyak 9 data, dan
tiruan bunyi manusia sebanyak 31 data. Dari semua jenis onomatope ini, memiliki
bentuk frasa, yaitu frasa yang terbentuk dari kata mak dan pating dengan kata-kata
yang lain sehingga bernilai onomatope, misalnya mak byar, pating pleyot, dan
sebagainya, (2) Bentuk dasar onomatope yang digunakan dalam novel ialah
bentuk satu silabel sejumlah 16 data, bentuk dua silabel sejumlah 9 data, bentuk
tiga silabel tidak ditemukan dalam novel, sedangkan bentuk multisilabel sejumlah
8 data, dan bentuk frasa sejumlah 16 data. Dari bentuk dasar tersebut ada yang
mengalami pengulangan sehingga bentuk onomatopenya menjadi pengulangan
satu silabel sejumlah 11 data, pengulangan dua silabel sejumlah 20 data, dan
pengulangan tiga silabel sejumlah 2 data. Onomatope berbentuk frasa dalam novel
Emas Sumawur ing Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak
dan pating, onomatope berfrasa mak ada sejumlah 7 data dan yang berfrasa pating
sejumlah 9 data. (3) Fungsi onomatope yang terdapat dalam novel, terbagi
menjadi empat fungsi, yaitu sebagai berikut. (a) Penggambaran suasana hati,
yaitu: cinta, terkejut, manja, malu, bahagia, dan berani.(b) Memberikan kesan
pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, (c) Mendeskripsikan tentang
keadaan, (d) Meniru perbuatan atau benda yang menghasilkan bunyi.

Kata kunci : onomatope, Emas Sumawur ing Baluwart

ix
SARIPATI

Isna Siti Mulyani.” Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti
Karya Partini B”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.
2014.
Panaliten punika gadhah ancas kangge: (1) ngandharaken jenis-jenising
onomatope wonten ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B, (2)
ngandharaken bentuk onomatope wonten ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B lan (3) ngandharaken fungsi utawi ginanipun onomatope wonten
ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B
Penaliten punika arupi panaliten deskriptif kualitatif. Sumber data wonten
ing panaliten inggih punika novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
Data ing panaliten punika awujud satuan gramatikal awujud tembung utawi ukara
ingkang ngemot onomatope wonten ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B. Teknik pengumpulan data wonten ing panaliten punika mawi cara
teknik pustaka, teknik observasi lan teknik simak catat. Teknik analisis data ing
panaliten teknik deskriptif analisis. Kasil analisis data dipunjlentrehaken kanthi
teknik formal lan teknik informal.
Asil data panaliten awujud onomatope wonten ing novel Emas Sumawur
ing Baluwarti karya Partini B inggih punika (1) Wonten sekawan jenis onomatope
ingkang dipunginakaken salebeting novel. Jenis-jenising onomatope ing novel
inggih punika a) tiruan swara benda, b) tiruan swara kewan, c) tiruan swara alam,
lan d) tiruan swara manungsa. Gunggunging jenis onomatope ingkang paling
kathah wonten ing novel inggih punika tiruan swara benda wonten 39 data,
tiruan swara kewan wonten 3 data. tiruan swara alam wonten 9 data, lan tiruan
swara manungsa wonten 31 data. Jenis-jenis onomatope kasebut wonten ingkang
awujud frasa, frasa saking gabungan tembung mak lan pating kaliyan tembung-
tembung sanesipun. (2) Bentuk dasar onomatope ingkang dipunginakaken wonten
novel inggih punika bentuk setunggal silabel wonten 16 data, bentuk kalih silabel
wonten 9 data, tiga silabel mboten wonten, multisilabel wonten 8 data lan frasa
wonten 16 data. Saking bentuk dasar kasebut wonten ingkang dipunambali,
satemah bentuk onomatopenipun dados pengulangan setunggal silabel wonten 11
data, pengulangan kalih silabel wonten 20 data, lan pengulangan tiga silabel
wonten 2 data. Onomatope kanthi bentuk frasa mak wonten 7 data, lan kanthi
bentuk frasa pating wonten 9 data. (3) Fungsi onomatope wonten ing novel,
kaperang dados sekawan fungsi, inggih punika (a) nggambaraken suasananing ati,
yaitu: tresna, kaget, manja, isin, seneng, lan wantun. (b) maringi kesan kangge
benda ingkang dipirsani, dimirengaken utawi dirasakaken, (c) ngandharaken
babagan kahanan, (d) niru tumindak utawi benda ingkang ngasilaken swanten.

Kata kunci : onomatope, Emas Sumawur ing Baluwarti

x
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ............................................... iv
MOTO ......................................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................. vi
KATA PENGANTAR ................................................................................ vii
ABSTRAK .................................................................................................. ix
SARIPATI ................................................................................................... x
DAFTAR ISI ............................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiii
DAFTAR SINGKATAN ............................................................................ xiv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1


A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................. 5
C. Batasan Masalah ........................................................................ 7
D. Rumusan Masalah ..................................................................... 7
E. Tujuan Penelitian ....................................................................... 8
F. Manfaat Penelitian ..................................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORI ....................... 10


A. Tinjauan Pustaka ....................................................................... 10
B. Kajian Teoretis .......................................................................... 12
1. Bahasa ................................................................................... 12
a. Hakikat Bahasa ................................................................. 12
b. Fungsi Bahasa ................................................................... 15
2. Semantik ............................................................................... 19
a. Pengertian Semantik ........................................................ 19
b. Manfaat Semantik ............................................................ 22
c. Unsur-Unsur Semantik .................................................... 23
3. Onomatope ........................................................................... 29
a. Pengertian Onomatope .................................................... 29
b. Jenis Onomatope .............................................................. 31
c. Bentuk Onomatope .......................................................... 33
d. Fungsi Onomatope ........................................................... 36
4. Novel ...................................................................................... 39
a. Pengertian Novel.............................................................. 39
b. Struktur Novel.................................................................. 40
c. Jenis Novel ....................................................................... 42

xi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................... 45
A. Jenis Penelitian .......................................................................... 45
B. Sumber Data dan Data Penelitian ............................................. 45
C. Instrumen Penelitian.................................................................. 46
D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 47
E. Teknik Keabsahan Data ............................................................ 50
F. Teknik Analisis Data ................................................................. 51
G. Teknik Penyajian Data ............................................................. 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................... 54


A. Penyajian Data .......................................................................... 54
B. Pembahasan............................................................................... 77
1. Jenis Onomatope ................................................................. 77
a. Tiruan bunyi benda ...................................................... 77
b. Tiruan bunyi hewan ...................................................... 94
c. Tiruan bunyi alam ......................................................... 96
d. Tiruan bunyi manusia ................................................... 100
2. Bentuk Onomatope ............................................................ 108
a. Satu Silabel ................................................................... 109
b. Dua Silabel .................................................................... 114
c. Tiga Silabel ................................................................... 119
d. Frasa .............................................................................. 123
3. Fungsi Onomatope .............................................................. 128
a. Penggambaran Suasana Hati ......................................... 128
b. Memberikan kesan ........................................................ 131
c. Mendeskripsikan keadaan ............................................. 136
d. Meniru perbutan atau benda yang menghasilkan bunyi 139

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN .................................. 143


A. Simpulan ................................................................................... 143
B. Saran ......................................................................................... 145

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 146


LAMPIRAN-LAMPIRAN ....................................................................... 149

xii
DAFTAR TABEL
halaman

Tabel 1 : Kartu Data ................................................................................... 49

Tabel 2 : Jenis, bentuk, dan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B. .......................................................... 55

Tabel 3 : Tiruan bunyi manusia ................................................................... 102

Tabel 4 : Struktur fonem bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan 110

Tabel 5 : Struktur fonem bentuk onomatope pengulangan satu silabel ..... 113

Tabel 6 : Struktur fonem bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan 116

Tabel 7 : Struktur fonem, bentuk onomatope pengulangan dua silabel .... 118

xiii
DAFTAR SINGKATAN

PASC : Para Abdi Sami Cecaturan


Ngl : Ngulandara
TC : Tata Cara
AM : Adipati Madiun
KIWJ : Kendhil Isi Woh Jetun

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

halaman

Lampiran 1. Sinopsis novel Emas Sumawur ing Baluwarti....................... 149

Lampiran 2. Surat Penetapan Dosen Pembimbing..................................... 157

Lampiran 3. Kartu Bimbingan Skripsi........................................................ 158

xv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni menggunakan bahasa

sebagai media pemaparannya. Bahasa yang digunakan dalam karya sastra

berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa

sastra memiliki kekhasan sendiri, bahasa sastra biasanya sudah direkayasa

sehingga muncul gaya bahasa yang manis.

Bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer

atau mana suka, artinya dalam penyebutan antara lambang bahasa dengan

benda atau konsep yang ditandai hanya berdasarkan kesepakatan antar

penutur bahasa di lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Lambang yang

berupa bunyi itu tidak memberi saran atau petunjuk apapun untuk mengenal

konsep yang diwakilinya. Maksudnya antara lambang bahasa yang berwujud

bunyi dengan konsep yang dimaksud oleh lambang tersebut tidak memiliki

hubungan wajib. Misalnya, kata kursi dalam bahasa Indonesia kata ini

merujuk pada benda berkaki empat yang biasa digunakan untuk duduk,

sementara dalam bahasa Inggris menyebut benda tersebut dengan chair,

berarti penyebutan lambang bunyi tersebut berdasarkan kesepakatan

penuturnya, meskipun referen yang dimaksud sama. Apabila diantara

keduanya memiliki hubungan wajib, di antara lambang dengan konsep, maka

1
2

tenta lambang yangdalam bahasa Indonesia disebut dengn kursi maka dalam

bahasa lain penyebutannya juga sama.

Beberapa bahasa memiliki sejumlah kata yang berasal dari bunyi

benda yang diwakilinya. Misalnya meong untuk menyebut binatang yang

menghasilkan bunyi demikian (kucing), guk guk untuk menyebut anjing, dan

sebagainya. Kata-kata tiruan bunyi ini lambangnya mengandung petunjuk

atau memberikan saran terhadap konsep yang dilambangkannya sehingga

hubungan antara keduanya bersifat arbitrer. Tergantung dari penuturnya dan

kesepakatan penuturnya.

Bahasa Jawa merupakan salah satu media pemaparan karya sastra

seperti novel. Untuk menarik perhatian pembaca, bahasa dapat diekspresikan

dengan beragam variasi bahasa. Salah satu bentuk variasi bahasa adalah

dengan penggunaan tiruan-tiruan bunyi yang bersifat ekspresif dan

imajinatif. Sifat ekspresif dan imajinatif ini digunakan untuk

mengungkapkan perasaan tokoh ceritanya. Pengungkapannya dapat melalui

tiruan bunyi benda, hewan, manusia, dan alam.

Penulis cerita dapat mengungkapkan perasaan tokoh, misalnya

perasaan sedih, senang, kecewa, terkejut, dengan menggunakan tiruan bunyi.

Contoh tiruan bunyi yang ditimbulkan oleh perasaan tokoh misalnya, lho,

wah, kok, hore, hahaha. Tiruan bunyi benda seperti benda jatuh, tabrakan

benda, dan letusan juga dapat digunakan untuk mengungkapkan atau

menceritakan hal yang didengar, dilihat atau dirasakan. Contohnya kriiing

’suara telepon berdering’, thok…thok tiruan ’suara pukulan palu’, dan lain
3

sebagainya. Tiruan bunyi yang menghasilkan kata-kata tersebut disebut

dengan peniruan bunyi atau onomatope.

Onomatope merupakan istilah bahasa yang dapat didefinisikan

sebagai kosakata yang dibentuk berdasarkan bunyi atau suara yang

dikeluarkan oleh kata yang bersangkutan. Kosakata ini bisa berbentuk kata

benda, kata kerja, kata sifat dan sebagainya. Onomatope juga dikenal dalam

berbagai bahasa di dunia, namun nampaknya masing-masing bangsa tidak

sama dalam menangkap bunyi atau suara itu. Setiap bahasa memiliki

penafsiran bunyi yang sama dengan hasil yang berbeda, begitu pula dalam

bahasa Jawa. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai peniruan

bunyi dalam bahasa Jawa. Dalam penelitian ini, onomatope dikhususkan pada

novel berbahasa Jawa yang berjudul Emas Sumawur ing Baluwarti.

Onomatope kebanyakan ditemukan dalam bahasa Jepang, oleh karena

itu, tidak heran bila banyak sekali penelitian mengenai onomatope dalam

berbahasa Jepang. Padahal sebenarnya Bahasa Jawa juga memiliki kekayaan

bahasa yang berwujud onomatope. Misalnya, untuk menggambarkan bunyi

gerakan air saja orang Jawa setidaknya memiliki tiga ekspresi, kricik-kricik

untuk menggambarkan bunyi air yang alirannya kecil, krucuk-krucuk umtuk

menggambarkan bunyi bunyi air yang alirannya sedang, dan krocok-krocok

untuk menggambarkan bunyi aliran air yang deras. Ekspresi-ekspresi bunyi

itu, merupakan kekayaan bahasa yang harus dipahami dan dimengerti lebih

dalam lagi, maka perlu dilakukan kajian mendalam mengenai onomatope

dalam bahasa Jawa.


4

Onomatope biasanya lebih banyak digunakan pada komik, onomatope

berfungsi untuk memberikan efek imajinasi pembaca dan sebagai ungkapan

perasaan tokoh. Namun, sebenarnya onomatope tidak hanya ditemukan dalam

wacana komik saja, onomatope juga dapat ditemukan dalam novel, kumpulan

dongeng, kumpulan cerpen, dan lagu-lagu anak, meskipun intensitasnya tidak

terlalu banyak seperti yang terdapat di dalam komik. Hal ini menarik

perhatian penulis untuk meneliti dan menemukan onomatope dalam bahasa

Jawa yang terdapat dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya

Partini.B.

Onomatope atau tiruan bunyi digunakan dalam karya sastra seperti

novel untuk menunjang isi cerita yang ada dalam karya tersebut. Salah satu

karya sastra berbahasa Jawa yang menggunakan onomatope untuk menunjang

isi cerita ialah novel ’Emas Sumawur ing Baluwarti’ karya Partini.B. Novel

ini terdiri dari lima cerita yaitu Para Abdi Sami Cecaturan, Ngulandara, Tata

Cara, Adipati Madiun, dan Kendhil Isi Woh Jetun. Novel Emas Sumawur ing

Baluwarti berisi cerita tentang kehidupan sehari-hari seperti kehidupan rumah

tangga, kehidupan sosial manusia, dan sebagainya. Novel ini mengandung

tiruan bunyi benda, bunyi hewan, bunyi alam, dan bunyi manusia atau

perasaan pengarang sehingga ceritanya lebih menarik untuk dibaca dan

menimbulkan kesan tersendiri di hati pembacanya. Onomatope dalam novel

juga digunakan sebagai sarana pengungkap perasaan tokoh, misalya marah,

kecewa, kaget, sedih, dan sebagainya.


5

Onomatope atau tiruan bunyi biasanya diwujudkan dalam bentuk

satuan lingual yang berupa kata atau silabel. Silabel terbentuk dari

pengucapan yang dilakukan oleh alat bicara. Satu kali kecap berarti satu

silabel, begitu seterusnya. Dalam satu silabel ini terdiri dari beberapa fonem.

Fonem inilah yang menjadi struktur onomatope sementara silabel akan

menjadi bentuk onomatope.

Peneliti tertarik untuk meneliti tentang onomatope dalam novel “Emas

Sumawur ing Baluwarti” karena peneliti menganggap onomatope merupakan

salah satu bentuk kekayaan dan keragaman bahasa khususnya bahasa Jawa.

Onomatope menjadikan suatu karya sastra lebih menarik untuk dibaca. Dalam

novel Emas Sumawur ing Baluwarti terdapat ragam onomatope sepertti

krecek-krecek, kropyok, hrrrrrr, dan sebagainya sehingga membuat cerita

dalam novel tersebut menarik.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian tersebut, masalah yang dapat diidentifikasi adalah

sebagai berikut.

1. Onomatope biasanya lebih banyak digunakan dalam komik untuk

mengungkapkan perasaan tokoh. Namun sebenarnya onomatope juga

dapat ditemukan dalam novel, sehingga menarik perhatian penulis untuk

mengkaji jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti

karya Partini B.
6

2. Bahasa Jawa sebagai salah satu media pemaparan karya sastra seperti

novel, menggunakan bentuk onomatope untuk menarik para pembaca.

Untuk mengetahui bentuk-bentuk onomatope dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.diperlukan kajian yang lebih

mendalam, yaitu analisis bentuk onomatope.

3. Onomatope yang terdapat dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti

karya Partini B memiliki makna sesuai dengan konteks bacaan. Oleh

karena itu, diperlukan suatu analisis semantik terhadap makna onomatope

dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.

4. Novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. menggunakan

satuan gramatikal yang berwujud kata atau frasa yang mengandung

onomatope yang memiliki fungsi tersendiri dalam suatu kalimat,

misalnya untuk penggambaran suasana hati, memberikan kesan terhadap

benda yang dilihat, mendeskripsikan keadaan, dan meniru perbuatan

yang menghasilkan bunyi. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai

fungsi onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya

Partini B. maka diperlukan kajian yang lebih mendalam.

5. Setiap kata atau kalimat tentu memiliki struktur tersendiri, begitu pula

dengan onomatope. Onomatope yang digunakan dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti karya Partini B memiliki struktur tersendiri.

Oleh karena itu, diperlukan kajian yang mendalam untuk mengetahui

struktur suatu onomatope.


7

C. Batasan Masalah

Pembatasan masalah perlu dilakukan agar penelitian tidak keluar dari

sasaran yang akan dicapai. Dari identifikasi masalah di atas, peneliti

membatasi masalah. Adapun batasan masalah tersebut peneliti membatasi

pada:

1. jenis onomatope yang digunakan dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.;

2. bentuk onomatope yang digunakan dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.;

3. fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya

Partini B.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka dapat ditentukan rumusan

masalah penelitian ini, sebagai berikut.

1. Apa sajakah jenis onomatope yang terdapat dalam novel Emas Sumawur

ing Baluwarti karya Partini B?

2. Bagaimanakah bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.?

3. Bagaimanakah fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.?


8

E. Tujuan Penelitian

Dari perumusan masalah di atas diperoleh tujuan penelitian sebagai

berikut.

1. Mendeskripsikan jenis-jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.

2. Mendeskripsikan bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.

3. Mendeskripsikan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian terhadap Novel Emas Sumawur ing Baluwarti ini

diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara praktis maupun secara

teoretis. Adapun manfaat penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut.

1. Secara teoretis

Penelitian ini diharapkan akan dapat menambah dan memperkaya

khasanah penelitian linguistik, berguna dalam ilmu yang mengkaji

tentang bahasa dan sastra, serta sebagai sumbangsih dalam

pengetahuan lingistik yang berkaitan dengan penggunaan onomatope

dalam karya sastra yang berbentuk novel. Diharapkan penelitan ini

dapat digunakan untuk penelitian lain yang sejenis.


9

2. Secara praktis

a. Bagi peneliti, dapat memahami lebih dalam tentang kajian

semantik terutama mengenai bentuk, jenis, dan fungsi onomatope

dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti.

b. Bagi pembaca, hasil penelitian terhadap onomatope dalam Novel

Emas Sumawur ing Baluwarti diharapkan dapat menambah

wawasan mengenai bahasa dan sastra terutama dalam bidang

semantik, khususnya dalam kajian onomatope, serta membantu

pembaca dalam memahami onomatope yang digunakan dalam

karya sastra.

c. Bagi pemerintah, dapat lebih melestarikan karya sastra Jawa yang

berwujud novel di zaman sekarang.


10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORI

G. Tinjauan Pustaka

Ratna (2010: 276) mendefinisikan tinjauan pustaka adalah penelaahan

terhadap bahan bacaan seperti skripsi yang berkaitan dengan objek yang

sudah dilakukan oleh orang lain. Tinjuan pustaka merupakan penelitian

relevan untuk pengkajian terhadap penelitian terdahulu yang memiliki kaitan

langsung dengan objek yang diteliti sebelum penelitian ini. Peneliti

menggunakan dua tinjauan pustaka yang berbentuk skripsi sesuai dengan

objek kajian. Adapun tinjauan pustakanya adalah sebagai berikut.

1. Penelitian mengenai onomatope pernah dilakukan oleh Rias Risnawati

(2012) jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah

Surakarta yang berjudul ‘Kajian Onomatope pada Lagu Anak Usia Dini

Berbahasa Indonesia di Playgroup/Kindergarten Anak Bintang

Purwodadi Grobogan’. Peneliti terdahulu melakukan penelitian tentang

bentuk onomatope, struktur onomatope, dan fungsi onomatope. Dalam

penelitian tersebut disebutkan bahwa bentuk onomatope yang terdapat

dalam lagu anak usia dini diklasifikasikan menjadi empat wujud (a) suara

khas benda, (b) suara khas hewan, (c) perasaan manusia, dan (d) tindakan

atau perbuatan, struktur onomatope berdasarkan jumlah silabel dibagi


11

menjadi tiga onomatope berbentuk satu silabel, dua silabel dan tiga

silabel.

Adapun persamaan penelitian ini mengkaji tentang bentuk dan fungsi

onomatope. Adapun yang membedakan adalah penulis mengkaji jenis

onomatope sementara penelitian terdahulu mengkaji stuktur onomatope.

Selain itu, sumber data penelitian juga berbeda, peneliti terdahulu

menggunakan lagu sebagai sumber data penelitiannya, sementara peneliti

menggunakan novel sebagai sumber data

2. Penelitian yang dilakukan oleh Ely Masyehuroh (2012) Universitas

Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Daerah yang berjudul “Onomatope

dalam Kumpulan Dongeng Sega Rames Karya Suwardi Endraswara”.

Peneliti meneliti jenis, bentuk dan fungsi onomatope dalam kumpulan

dongeng Sega Rames. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa

terdapat jenis, bentuk dan fungsi onomatope pada kumpulan dongeng

Sega Rames karya Suwardi Endraswara. Ada empat jenis onomatope

dalam kumpulan dongeng tersebut, yaitu tiruan bunyi benda, tiruan bunyi

alam, tiruan bunyi hewan, dan tiruan bunyi manusia. Tiruan bunyi

tersebut timbul karena tangkapan dari kesan indrawi manusia. Ada tujuh

bentuk onomatope dan ada empat fungsi onomatope dalam kumpulan

dongeng Sega Rames karya Suwardi Endraswara. Adapun persamaan

penelitian ini mengkaji tentang jenis, bentuk, dan fungsi onomatope.

Yang membedakan pengkajiannya adalah dalam penelitian ini penulis

menggunakan novel Emas Sumawur ing Baluarti sebagai sumber data


12

penelitian, sementara penelitian terdahuu mengkaji onomatope dalam

kumpulan dongeng Sega Rames karya Suwardi Endraswara. Selain itu,

peneliti terdahulu mengkaji jenis onomatope berdasarkan tangkapan kesan

indrawi penglihatan, pendengaran dan rasa, sementara peneliti hanya meneliti

jenisnya saja tanpa meneliti tangkapan kesan indrawi.

H. Kajian Teoritis

1. Bahasa

a. Hakikat Bahasa

Menurut Kridalaksana (dalam Kushartanti, 2005: 3) bahasa

ialah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh

para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama,

berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Kutipan di atas

menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi, sekelompok masyarakat

menggunankan bahasa sebagai sarananya. Bahasa yang digunakan

di masyarakat tentu berdasarkan kesepakatan masyarakat

penuturnya. Melengkapi pendapat tersebut, Laccotere (dalam

Suwandi, 2008: 24) berpendapat bahwa bahasa merupakan alat

manusia dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, dengan

menggunakan suatu sistem yang terdiri dari lambang-lambang

bunyi yang dihasilkan oleh alat bicara manusia. Kutipan tersebut

menjelaskan bahwa bahasa merupakan suatu lambang bunyi

tersistem yang dihasilkan oleh alat bicara manusia, uamh


13

digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada

orang lain.

Sementara itu, Sturtevant (dalam Suwandi, 2008: 24)

berpendapat bahwa bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi

sewenang-wenang yang digunakan oleh suatu kelompok sosial

untuk bekerja sama dan berhubungan. Kesewenang-wenangan ini

sering disebut dengan sifat arbitrer dalam bahasa. Bahasa tersebut

memang sewenang-wenang, namun harus tetap berdasarkan pada

kesepakan dari masyarakat pendukungnya.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

bahasa dibagi ke dalam beberapa definisi, yaitu bahasa merupakan

suatu sistem, bahasa merupakan suatu lambang yang bersifat

arbitrer, dan bahasa merupakan alat interaksi di dalam masyarakat.

Bahasa sebagai suatu sistem, artinya bahasa itu terkumpul

dari sejumlah unsur yang beraturan, di mana unsur-unsur bahasa

tersebut diatur seperti pola berulang sehingga misalnya salah satu

unsur tersebut dihilangkan, keseluruhan ujaran atau tujuan yang

diinginkan dapat diperkirakan atau diramalkan. Sebagai sistem,

bahasa bersifat sistemis dan sistematis. Sistematis artinya bahasa

dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang terkombinasi

dengan kaidah-kaidah bahasa. Sementara itu, sistemis artinya

bahasa itu bukan sistem tunggal melainkan terdiri dari beberapa


14

subsistem yang saling berkaitan, yaitu subsistem fonologi,

subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem leksikon.

Bahasa merupakan sutu lambang atau tanda. Lambang atau

tanda bahasa berupa bunyi. Bunyi-bunyi ini dihasilkan oeh alat

ucap manusia. Sistem lambang ini merupakan sisem lambang yang

arbitrer. Artinya, tidak adanya hubungan wajib antara lambang

bahasa yang berupa bunyi dengan konsep yang dilambangkannya.

Hubungan di antara keduanya adalah hubungan mana suka, namun

berdasarkan kesepakatan antar penuturnya.

Definisi ketiga dari bahasa ialah bahasa merupakan alat

interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat. Definisi ini

diambil dari fungsi bahasa dari segi sosial. Dalam masyarakat

bahasa dapat menjadi alat komunikasi yang utama. Bahasa

digunakan untuk berkomunikasi dalam pergaulan sehari-hari di

masyarakat. Dalam suatu kelompok sosial, bahasa dapat digunakan

sebagai alat untuk mengidentifikasi diri. Maksudnya, dalam

kehidupan bermasyarakat bahasa menjadi ciri pembeda yang paling

menonjol.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah

sistem simbol yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan

manusia lainnya. Berkaitan dengan penelitian ini bahasa

digunakan sebagai sarana komunikasi tulis dengan media novel,

10
15

untuk mengungkapkan perasaan pengarang dalam wujud

onomatope.

b. Fungsi bahasa

Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi manusia baik

secara lisan maupun berupa tulisan, alat interaksi sosial. Selain itu

bahasa merupakan alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan,

konsep, atau juga perasaan. Semua fungsi di atas, mencakup lima

fungsi dasar. Menurut Kinneavy (dalam Chaer, 2003: 33) lima

fungsi dasar tersebut adalah:

1) fungsi ekspresi: bahasa merupakan alat untuk melahirkan

ungkapan-ungkapan batin yang ingin disampaikan seorang

penutur kepada orang lain. Ungkapan tersebut dapat berupa

sedih, senang, kecewa, marah, jengkel, dan sebagainya;

2) fungsi informasi adalah fungsi untuk menyampaikan pesan dan

amanat kepada orang lain;

3) fungsi eksplorasi adalah penggunaan bahasa untuk

menjelaskan suatu hal, perkara dan keadaan;

4) fungsi persuasi adalah penggunaan bahasa yang bersifat

mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melakukan

atau tidak melakukan sesuatu secara baik-baik;

5) fungsi entertaimen adalah pengguaan bahasa dengan maksud

menghibur, memyenangkan, atau memuaskan perasaan batin.


16

Berkaitan dengan onomatope, bahasa memiliki fungsi

ekspresi dan fungsi eksplorasi dalan suatu karya sastra seperti

novel. Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B,

bahasa digunakan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan

perasaan tokoh dalam bentuk onomatope. Selain itu, bahasa

digunakan sebagai eksplorasi untuk menjelaskan suatu hal atau

keadaan.

Sementara itu, MAK Halliday (dalam Sumarlam, 2010: 11-

13) menyebutkan ada tujuh fungsi bahasa. Tujuh fungsi bahasa ini

dimuat dalam tulisannya yang berjudul Explorations in the

Function of Language yang dicetak ulang pada tahun 1976.

Adapun tujuh fungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut.

1) Fungsi instrumental (the instrumental function), bahasa

berfungsi menghasilkan kondisi-kondisi tertentu dan

menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu.

2) Fungsi regulasi (the regulatory function), bahasa berfungsi

sebagai pengawas, pengendali atau pengatur peristiwa, dengan

kata lain bahasa berfungsi untuk mengendalikan serta

mengatur orang lain.

3) Fungsi pemerian atau fungsi representasi (the representational

function), bahasa berfungsi untuk membuat pernyataan-

pernyataan, menyampaikan fakta dan pengetahuan, atau


17

menyampaikan realitas sebenarnya sebagaimana yang dilihat

atau dialami orang.

4) Fungsi interaksi (the interctional function), bahasa berfungsi

menjamin dan memantapkan ketahanan dan keberlangsungan

komunikasi serta menjalin interaksi sosial.

5) Fungsi perseorangan (the personal function), bahasa memberi

kesempatan pada pembicara untuk mengekspresikan perasaan,

emosi pribadi, serta reaksi-reaksi yang mendalam.

6) Fungsi heuristik (the heuristic function), dalam fungsi ini

bahasa digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan

sebanyak-banyaknya. Fungsi ini sering disampaikan dalam

bentuk pertanyaan yang menuntut jawaban.

7) Fungsi imajinatif (the imaginative function), bahasa berfungsi

sebagai pencipta sistem, gagasan, atau kisah yang imajinatif.

Fungsi ini biasanya untuk mengisahkan cerita-cerita, dongeng,

membacakan lelucon, atau menuliskan cerpen, novel dan

sebagainya.

Kaitanya dengan penelitian ini, bahasa memiliki fungsi

imajinatif karena bahasa digunakan dalam novel untuk menulis

kisah-kisah imajiantif. Melengkapi pendapat MAK Halliday di

atas, Soeparno (2002: 6-10) membagi fungsi bahasa menjadi dua,

yaitu fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi umum bahasa ialah

sebagai alat komunikasi sosial. Setiap anggota masyarakat pasti


18

menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Selain fungsi umum,

bahasa juga memiliki fungsi khusus. Fungsi khusus bahasa

menurut Jakobson (dalam Soeparno 2002: 6-10) ada enam, yaitu

sebagai berikut.

1) Fungsi emotif, apabila bahasa digunakan untuk

mengungkapkan rasa senang, sedih, kecewa, dan sebagainya.

2) Fungsi konatif, apabila berbahasa dengan tumpuan lawan tutur,

misalnya untuk memerintah, melawak, memaki, memuji,

menyeru, dan sebagainya.

3) Fungsi referensial, apabila digunakan untuk membicarakan

suatu permasalahan dengan topik tertentu.

4) Fungsi puitik, apabila dalam berbahasa digunakan untuk

menyampaikan amanat atau pesan tertentu.

5) Fungsi fatik, apabila dalam berbahasa hanya untuk

mengadakan kontak dengan orang lain, misalnya ketika tegur

sapa, menanyakan sesuatu, salam, dan sebagainya.

6) Fungsi metalingual, apabia berbahasa dengan kode tertentu,

misalnya untuk menguraikan tentang morfem, fonem, dan

sebagainya.

Dari beberapa pendapat ahli tentang fungsi bahasa tersebut

saling melengkapi, sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa

berfungsi sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, untuk

menyampaikan ekspresi, pesan, dan informasi dalam masyarakat.


19

Bahasa dalam suatu karya sastra memiliki fungsi estetis dan emotif

yang berguna untuk mempercantik suatu karya sastra seperti novel.

Fungsi estetis dan emotif ini dapat diwujudkan dengan penggunaan

onomatope.

2. Semantik

a. Pengertian Semantik

Istilah semantik berasal dari beberapa bahasa, di antaranya

dari bahasa Inggris dan bahasa Yunani. Dalam bahasa Inggris,

semantik disebut dengan semantics (dalam bentuk nomina/kata

benda) dan semantic (semantis, dalam bentuk kata sifat/adjektifa).

Sementara itu, dalam bahasa Yunani semantik berasal dari akar

kata sema yang dalam nomina berarti tanda atau dari kata verba

samaino yang artinya menandai, berarti. Tanda atau lambang yang

menjadi padanan kata sema ialah tanda linguistik seperti yang

dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (dalam Chaer, 2009: 2)

yaitu terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud

bentuk-bentuk bunyi bahasa, dan (2) komponen yang diartikan atau

makna dari komponen pertama. Komponen pertama berupa tanda

atau lambang, sementara komponen kedua berupa sesuatu yang

ditandainya (referen atau hal yang ditunjuk).

Penjelasan di atas, merupakan penjelasan secara etimologis

mengenai semantik. Pengertian semantik secara istilah,


20

diungkapkan oleh Chaer (2009: 2) yang menyatakan bahwa

semantik adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari

makna atau arti dalam bahasa. Semantik merupakan istilah yang

digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari hubungan

antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya.

Senada dengan pendapat tersebut Djajasudarma (2009: 1)

menjelaskan semantik digunakan para pakar bahasa (linguis) untuk

menyebut bagian ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari

makna.

Sementara itu, pengertian semantik secara lebih rinci

dijelaskan oleh Mulyono (dalam Suwandi, 2008: 9) yang

menjelaskan bahwa semantik merupakan cabang linguistik yang

mempelajari tentang makna atau arti, yang merupakan salah satu

dari tataran analisis bahasa yang mencakup fonologi, garamatika

atau tata bahasa dan semantik. Dari pendapat para ahli di atas,

maka semakin memperkuat bahwa semantik merupakan cabang

ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna.

Sementara itu, semantik mengandung makna to signify atau

memaknai. Semantik mengandung pengertian ‘studi tentang

makna’, dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari

bahasa, maka semantik merupakan bagian dari linguistik

(Aminuddin, 2001: 15). Bukan hanya Aminudin yang menjelaskan

demikian, Kambartel (dalam Pateda, 2010: 7) juga berpendapat


21

bahwa semantik adalah studi tentang makna. Senada dengan

pendapat Kambartel, Verhaar (dalam Pateda, 2010: 7) mengatakan

bahwa semantik berarti teori makna atau teori arti. Dalam hal ini,

semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang

akan menampakkan makna.

Sementara itu, Lehrer (dalam Djajasudarma, 2009: 4)

mengemukakan bahwa semantik merupakan bidang yang sangat

luas, karena di dalamnya termasuk unsur-unsur dan fungsi bahasa

yang berkaitan erat dengan psikologi, filsafat, antropologi dan

sosiologi. Antropologi berkaitan erat dengan semantik, karena di

dalam linguistik (bahasa) untuk dapat menyajikan klasifikasi

budaya pemakai bahasa (sosiolinguistik) secara praktis tentunya

menggunakan analisis makna. Filsafat erat kaitannya dengan

semantik, karena makna tentu dapat dijelaskan secara filosofis

(misalnya makna ungkapan dan peribahasa). Psikologi

berhubungan erat dengan semantik, karena psikologi

memanfaatkan gejala-gejala kejiwaan yang ditampilkan manusia

secara verbal atau non verbal. Sosiologi mempunyai kepentingan

dengan semantik, karena ungkapan atau ekspresi tertentu dapat

menandai kelompok sosial atau identitas sosial tertentu. Dari

pendapat Lehler di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

ternyata semantik tidak hanya mencakup tentang makna saja,

namun berkaitan pula dengan psikologi, sosiologi, dan antropologi.


22

Dari pendapat para ahli di atas jelas terlihat bahwa semantik

adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna.

Namun, tidak hanya mempelajari makna, semantik juga berkaitan

dengan psikologi, filsafat, antropologi dan sosiologi.

b. Manfaat Semantik

Manfaat dari semantik dapat dikelompokkan sesuai dengan

bidang yang dilakukan seseorang. Dalam bidang jurnalistik

misalnya, pengetahuan semantik akan memudahkan jurnalis dalam

memilih dan menggunakan kata yang tepat, sehingga masyarakat

umum dapat memahami makna informasi yang mereka peroleh.

Bagi jurnalis penting sekali mempelajari mengenai konsep-konsep

polisemi, homonimi, denotasi, konotasi dan nuansa-nuansa makna

untuk dapat menyampaikan berita dengan tepat dan benar.

Bagi pendidik (guru) semantik memiliki manfaat yang

begitu besar. Dengan semantik, pendidik mampu menjelaskan

kepada peserta didik tentang bentuk yang secara sistematis benar.

Hal ini diperkuat dengan pendapat Chaer (2010:12) bahwa tanpa

pengetahuan semantik pendidik tidak akan dapat menjelaskan

perbedaan dan persamaan semantis antara dua buah bentuk kata

serta bagaimana menggunakan kedua bentuk kata itu dengan benar.

Hal ini menunjukkan bahwa semantik memang perlu dipelajari

oleh pendidik.
23

Dengan demikian, semantik memiliki manfaat yang

disesuaikan dengan bidang tertentu. Misalnya bagi seorang

peneliti, semantik juga mampu memberkan manfaat secara teoretis

karena dengan teori semantik, peneliti dapat menganalisis semantik

bahasa tertentu ynag ditelitinya. Berkaitan dengan ini, semantik

memiliki manfaat untuk menganlisis penggunaan onomatope yang

digunakan dalam novel berbahasa Jawa, Emas Sumawur ing

Baluwarti.

c. Unsur-Unsur Semantik

Menurut Djajasudarma (2009: 35) terdapat tiga unsur

dalam kajian semantik, yaitu tanda (sign) dan lambang (symbol),

makna leksikal dan hubungan referensial, dan penamaan (naming).

1) Tanda (sign) dan Lambang (symbol)

Tanda dapat dikatakan leksem yang sevara langsuung dapat

diikuti bentuk lain (Pateda, 2010: 43). Misalnya tanda baca,

tanda bukti, tanda kurung, dan sebagainya. Dalam kehidupan

sehari-hari manusia mengenal berbagai macam tanda yang

langsung berhubungan dengan kenyataan. Teori tanda

dikembangkan oleh Peirce pada abad ke-18. Teori Peirce ini

dipertegas dengan teori dari Ogden & Richards yang muncul

pada tahun 1923 yang berjudul The Meaning of Meanning.


24

Menurut Djajasudarma (2009: 35), penggolongan tanda

dapat dilakukan dengan beberapa cara. Adapun caranya adalah

sebagai berikut.

a) Tanda yang timbul karena peristiwa alam yang diketahui

manusia karena pengalaman, misalnya hari mendung

tanda akan hujan.

b) Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, yang diketahui

manusia lewat suara binatang tersebut, misalnya anjing

menggonggong tanda ada seseorang asing yang datang.

c) Tanda yang ditimbulkan manusia, tanda ini dibedakan atas

tanda verbal dan nonverbal. Tanda yang bersifat verbal

merupakan tanda yang dihasilkan menusia melalui alat

bicara, contohnya bersiul tanda sedang gembira. Tanda

yang bersifat nonverbal tanda yang digunakan untuk

berkomunikasi, misalnya menggelengkan kepala berarti

tidak.

Lambang memiliki hubungan tidak langsung dengan

kenyataan. Menurut Lyons (dalam Pateda, 2010: 50) lambang

adalah unsur bahasa yang bersifat arbitrer dan konvensional

yang mewakili hubungan objek dengan signifikasinya.

Maksudnya lambang memiliki hubungan yang signifikan

dengan objek yang dilambangkannya.


25

Tanda dan lambang memiliki beberapa perbedaan

diantaranya, tanda memperlihatkan hubungan langsung,

sedangkan lambang memperlihatkan hubungan tidak langsung.

Dari segi sifat tanda bersifat terbatas, lambat bertambah,

sedangkan lambang berkembang pesat sesuai dengan

perkembanagn pemikiran penutur bahasa yang bersangkutan.

Lambang memanfaatkan bunyi bahasa yang dihasilkan oleh

alat bicara manusia yang kemudian bisa dinyatakan dengan

bentuk tertulis, sedangkan tanda tidak demikian. Meskipun

tanda bersifat konvensional, tanda tidak dapat diorganisasi,

tidak dapat direkam, dan bahkan tidak dapat dikomunikasikan

seperti lambang.

2) Makna Leksikal dan Hubungan Referensial

Makna leksikal dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu

makna dasar dan makna perluasan. Makna dasar dapat

dikatakan juga dengan makna denotatif atau makna kognitif

deskriptif, sedangkan makna perluasan dapat dikatakan sebagai

makna konotatif atau emotif. Antara kata, makna kata, dan

dunia kenyataan memiliki hubungan referensial. Hubungan

referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata

dan dunia luar bahasa yang diacu oleh pembicaranya.

Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep) dan sesuatu

yang diacu adalah tidak langsung.


26

3) Penamaan (naming)

Nama merupakan kata yang menjadi label setiap makhluk,

benda, aktivitas, dan peristiwa di dunia (Djajasudarma, 2009:

47). Ada beberapa jenis penamaan, antara lain sebagai berikut.

a) Tiruan Bunyi

Penamaan berdasarkan peniruan bunyi dianggap sebagai

dasar primitif dalam penyebutan suatu benda. Kosakata

yang terbentuk berdasarkan peniruan bunyi disebut

onomatope. Tiruan bunyi juga dapat digunakan untuk

menyebut perbuatan yang menghasilkan bunyi yang

bersangkutan. Contoh penamaan ini adalah kucing disebut

dengan meong dan anjing disebut dengan gukguk, dan

sebagainya.

b) Penyebutan Bagian

Penyebutan berdasarkan sebagian dari keseluruhan

tanggapan sering disebut dengan pars pro toto. Dalam hal

ini meskipun yang disebutkan hanya sebagian saja, namun

sebenarnya yang dimaksud adalah secara keseluruhan.

Misasnya pada ungkapan ‘setiap kepla wajib membayar

denda Rp 10.000,00. Kepala yang dimaksud bukanhanya

bagian kepala saja, melainkan seluruh anggota lain yang

membentuk manusia. Kebalikan dari pas pro toto ialah

totem pro parte, yaittu penyebutan keseluruhan namun


27

sebenarnya yang dituju hanyalah sebagian saja. Misal

‘dalam kejuaraan bulu tangkis Indonesia mendapatkan

medali emas’. Dalam kalimat tersebut yang memenangkan

pertandingan hanyalah satu atau dua orang saja, namun

disebutkan secra keseluruhan menjadi Indonesia.

c) Penyebutan Sifat Khas

Penamaan dengan salah satu sifat yang menonjol

merupakan peristiwa semantik (Chaer, 2009: 6). Dalam

peristiwa penamaan berdasarkan sifat ini terdapat

perubahan makna dari kata sifat menjadi suatu kata benda.

Misalnya si jangkung, kata jangkung merupakan kata sifat,

namun dengan adanya kata si, kata jangkung berubah

makna menjadi kata benda, karena yang dirujuk ialah

sesorang yang berbadan tinggi.

d) Penemu atau Pembuat

Banyak kata yang dinamakan berdasarkan nama si penemu

atau pembuatnya, misalnya dalam bidang pengetahuan ada

yang disebut dengan hukum archimedes, hal ini

dikarenakan nama penemu hukum tersebut ialah

Archimedes, dan sebagainya.

e) Tempat Asal

Ada sejumlah kata benda atau kata kerja yang berasal dari

nama benda ataupun ada hubungannya dengan tempat


28

tersebut. Misalnya burung kenari, burung ini dinamakan

kenari, karena berasal dari Pulau Kenari di Afrika.

Sementara itu, kata kerja yang tebentuk berdasarkan tempat

asal misalnya dinusakambangkan yang berarti dipenjara,

karena di Nusakambangan merupakan suatu tempat

lembaga permasyarakatan yang terkenal.

f) Bahan

Penamaan berdasarkan bahan banyak dijumpai dalam

kehidupan sehari-hari, Miaslnya kata kaca mata, kaca

sepion, dan kaca jendela. Semua penamaan tersebut

berdasarkan bahan yang sama, yaitu kaca, namun yang

membedakan ialah fungsinya.

g) Keserupaan Ciri

Dalam pemakaian bahasa banyak terdapat nama benda

yang terbentuk berdasarkan kesamaan ciri. Miaslnya raja

dangdut, raja uang, dan sebagainya. Dari kedua frasa

tersebut meimiliki kesamaan ciri dari kata raja, yaitu orang

yang menguasai atau berkuasa.

h) Singkatan

Perkembanagan bahasa di era sekarang begitu pesat, salah

satunya dengan penggunaan gabungan unsur-unsur huruf

awal suku kata dari beberapa kata yang digabungkan

menjasi satu kata. Misalnya kata TNI, kata ini merupakan


29

gabungan dari kata tentara, Nasional dan Indonesia,

sehingga untuk mempermudah pengucapan, diucapkan

dengan kata TNI.

i) Penamaan Baru

Penamaan baru merupakan penggunaan istilah baru untuk

menggantikan istilah lama yang dianggap kurang tepat.

Misalnya untuk menyebut bui diganti dengan istilah

lembaga pemasyarakatan agar terlihat lebih sopan, dan

istilah piknik diganti dengan istilah wisata, agar lebih baku.

3. Onomatope

a. Pengertian Onomatope

Onomatope berasal dari kata Yunani onomatopoila

‘pembentuk kata’(word making). Onomatope merupakan gabungan

dari kata onoma, atos yang berarti nama, dan poieo yang berarti

membuat, membentuk (Ullman, 2012: 141). Dari uraian di atas,

dapat diketahui bahwa onomatope memiliki akar kata onoma, atos

dan poieo. Onoma, atos berarti nama dan poieo berarti membentuk,

yang apabila kedua kata tersebut digabungkan maka akan berarti

membentuk nama. Sehingga dengan kata lain, onomatope dapat

diartikan sebagai kata yang membentuk atau membuat nama.

Pengertian di atas, merupakan pengertian onomatope

secara etimologis. Pengertian onomatope secara istilah,


30

diungkapkan oleh Chaer ( 2009: 44) yang berpendapat bahwa

onomatope atau peniru bunyi adalah kata-kata yang dibentuk

berdasarkan tiruan bunyi. Senada dengan pendapat Chaer di atas,

Suwandi (2008:136) berpendapat bahwa ada sejumlah kata dalam

bahasa Indonesia yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi dari

benda yang bersangkutan. Kaitannya dengan kedua pengertian

tersebut, perlu diketahui bahwa bunyi yang dihasilkan tersebut

merupakan kata, kata tersebut hampir menyerupai bunyi yang

dihasilkan oleh manusia, benda, alam, dan hewan. Selain kedua

pendapat di atas, Kridalaksana (2008: 167) juga menjelaskan

bahwa onomatope merupakan penamaan benda atau perbuatan

dengan peniruan bunyi. Kaitannya dengan pendapat tersebut,

berarti onomatope tidak hanya terbatas pada peniruan bunyi benda

saja, melainkan termasuk peniruan bunyi yang dihasilkan oleh

suatu perbuatan manusia.

Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini juga

tidak bisa persis sama hanya mirip saja. Kemiripan ini dikarenakan

benda atau binatang yang mengeluarkan bunyi itu tidak

mempunyai alat ucap fisiologis seperti manusia. Selain itu, hal ini

disebabkan adanya perbedaan sistem fonologi setiap bahasa.

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang terbentuk sebagai

hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda atau hal

tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara


31

yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, meong nama

untuk kucing, gukguk nama unuk untuk anjing, menurut bahasa

anak-anak karena bunyinya begitu.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa

onomatope adalah penamaan atau penyebutan suatu kosakata

berdasarkan tiruan bunyi yang dari suatu benda atau perbuatan

yang menghasilkan bunyi.

b. Jenis Onomatope

Teori onomatopetik atau ekoik (imitasi bunyi atau gema)

mula-mula dikemukakan oleh J.G. Herder. Dalam teorinya J.G.

Herder (dalam Keraf, 1984: 3) mengatakan bahwa objek-objek

diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh objek-

objek itu. Objek-objek penamaan itu bisa berasal dari tiruan bunyi-

bunyi binatang atau peristiwa alam. Sering kali manusia berusaha

meniru bunyi hewan seperti anjing, kucing, ayam, kambing, atau

menirukan desis angin, debur ombak, dan sebagainya sehingga

objek-objek itu mereka beri nama sesuai dengan apa yang manusia

tirukan. Misalnya ada yang menyebut kucing dengan kata meong.

Penamaan ini dilakukan karena peniruan bunyi sesuai dengan

bunyi yang didengar oleh manusia. Melalui proses peniruan bunyi

ini, maka tercipta kata-kata dalam bahasa.


32

D. Whitney (dalam Keraf, 1984: 3) mengatakan bahwa

dalam setiap tahap pertumbuhan bahasa, banyak kata baru timbul

dengan peniruan bunyi. Kata-kata mulai timbul pada anak-anak

yang berusaha meniru bunyi kereta api, bunyi mobil, dan

sebagainya. Pendapat Whitney semakin melengkapi pendapat J.G.

Herder di atas. Dari pendapat Whitney mengenai teori peniruan

bunyi, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan bahasa manusia

akan timbul ketika mereka mulai menirukan bunyi-bunyi dari

benda yang menghasilkan bunyi.

Dalam hal peniruan bunyi ini, Whitney tidak hanya

menjelaskan tentang peniruan bunyi benda saja. Namun, Whitney

(dalam Keraf, 1984: 4) juga mengatakan bahwa karena ketakutan,

kegembiraan dan sebagainya manusia akan mengucapkan ujaran

tertentu, dan ujaran-ujaran itu kemudian ditiru oleh manusia

lainnya. Ujaran-ujaran ini merupakan ekspresi jiwa yang akan

memberikan makna sesuai dengan suasana batin tertentu.

Misalnya, saat merasa senang, maka perasaan itu akan dinyatakan

dengan ekspresi wajah atau bagian tubuh manusia disertai pula

dengan bunyi-bunyi yang keluar dari mulut manusia misalnya

diekspresikan dengan kata hore. Contoh lain misalnya ketika

merasa jijik atau muak, maka perasaan itu akan dinyatakan dengan

ekspresi wajah atau bagian tubuh manusia disertai pula dengan

bunyi heek, dan sebagainya.


33

Senada dengan pendapat Whitney, Lefevre (dalam Keraf,

1984: 3) menjelaskan manusia mengembangkan bermacam-macam

bunyi dengan mempergunakan beberapa variasi tekanan,

reduplikasi dan intonasi berkat mekanisme ujaran yang lebih

sempurna, dan otak yang sudah lebih berkembang. Perkembangan

bunyi ini terjadi karena pada dasarnya binatang-binatang

mempunyai dua elemen bahasa yang penting yaitu teriakan refleks

dan spontan karena emosi atau kebutuhan, dan teriakan sukarela

untuk memberi peringatan, menyatakan ancaman atau panggilan.

Dari imitasi yang dilakukan manusia terhadap bunyi binatang baik

imitasi langsung maupun simbolik, akan menimbulkan nama-nama

barang atau tindakan.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, jenis onomatope

dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu 1) tiruan bunyi benda,

contohnya tuut…tuut…tuut ‘suara kereta’; 2) tiruan bunyi hewan,

contohnya wek..wek…wek ‘suara bebek; 3) tiruan bunyi alam,

contohnya brees’suara hujan’; 4) tiruan suara manusia, contohnya

sssss’suara peringatan untuk diam atau mengecilkan suara’.

c. Bentuk Onomatope

Dalam bahasa terdapat beberapa jenis satuan lingual, yaitu

satuan lingual situasional, satuan lingual mental dan satuan lingual

fonik (Sudaryanto, 1985: 243). Onomatope sebagai salah satu


34

bentuk peristiwa yang bersifat lingual biasanya diwujudkan dalam

bentuk satuan lingual berupa kata dan silabel. Silabel terbentuk

dari pemasangan alat bicara atau dapat dikatakan dengan kecap.

Sebuah silabel dihasilkan dari aktivitas lingual sekecap, dua silabel

dihasilkan oleh aktivitas lingual dua kecap, dan seterusnya.

Sebagai tiruan bunyi, bentuk onomatope biasanya terdiri

dari satu atau pengulangan silabel. Bentuk dasar onomatope ada 3

yaitu 1) satu silabel, misalnya thok ‘bunyi pukulan palu; 2) dua

silabel, misalnya kropyak ‘suara kepingan uang emas yang tumpah

dari kendhil; 3) tiga silabel atau lebih (multisilabel), misalnya

keteplek ‘suara langkah kaki orang’, ketanting greg ‘kesan yang

diberikan terhadap cara berjalan seseorang’. Semua itu terbentuk

oleh deretan fonem yang termotivasi oleh suara yang ditirunya.

Dalam pengguanaan onomatope sebagai perabot stilistika,

efek itu tidak banyak didasarkan pada kata demi kata seperti pada

kombinasi dan modulasi nilai bunyi yang dapat diperkuat oleh

faktor-faktor sepert aliterasi ritme asonansi, dan rima. Menurut

Ullmann (2012: 101) dari sudut semantik bentuk onomatope

dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Bentuk onomatope pertama adalah tiruan bunyi atas bunyi.

Tiruan bunyi ini betul-betul suatu gema atas makna.

Referennya adalah suatu pengalaman akustik yang sedikit

banyak sangat mirip dengan stuktur fonetik kata. Kata-kata


35

seperti dengung, ketik, bum, pang, desis, decak bisa masuk

pada onomatope pertama;

2) Bentuk onomatope kedua, bunyi-bunyi itu tidak

membangkitkan pengalaman akustik, melainkan suatu gerakan

(movement), seperti gemetar, geletuk, geletar, geretak. Jadi,

dapat dikatakan bahwa onomatope bentuk kedua ini mampu

membangkitkan suatu kualitas fisik atau moral, baiasanya yang

tidak mengenakkan, seperti suram (gloom), muak (mawkish),

becek (sloppy).

Penjelasan Ullman di atas semakin menambah khasanah

bentuk onomatope yang menurut Sudaryato terbentuk dari silabel,

dan menurut Ullman bentuk onomatope ini terjadi karena tiruan

bunyi atas bunyi dan tiruan bunyi karena gerakan.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan adanya tiga

bentuk dasar onomatope, yaitu 1) satu silabel, 2) dua silabel, 3) tiga

silabel (multisilabel), dan ada pula bentuk pengulangan satu

silabel, pengulangan dua silabel, pengulangan tiga silabel dan

bentuk frasa. Tiruan bunyi itu terjadi karena gema atas makna dan

gerakan.

Dari bentuk silabel onomatope tersebut, tersusun atas

pola-pola suku kata tertentu. Kushartanti (2005:164) menyebutkan

bahwa dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa pola-pola suku

kata, yaitu V, VK, KV, KVK dan mengenal pula pola suku kata
36

VKK, KKVK, KVKK, KKVKK, KKKV, dan KKKVK dalam

ragam bahasa bakunya (V= vokal, dan K= konsonan). Begitu juga

dalam bahasa Jawa, onomatope juga memiliki pola-pola suku kata

tersendiri.

d. Fungsi Onomatope

Fungsi onomatope erat kaitannya dengan tugas dan

kegunaan onomatope tersebut dalam suatu karya sastra seperti

novel atau komik. Suwandi (2008: 137) menjelaskan bahwa tiruan

bunyi digunakan untuk penyebutan suatu benda dan menyebut

perbuatan yang menghasilkan bunyi bersangkutan atau dengan kata

lain terdapat penamaan berdasarkan tiruan bunyi. Dari pendapat

tersebut, terlihat bahwa peniruan bunyi berfungsi untuk penyebutan

nama suatu benda atau menyebut suatu perbuatan yang

menghasilkan bunyi. Senada dengan pendapat Suwandi, Keraf

(1984: 4) menyatakan bahwa manusia dapat menciptakan kata-kata

baru karena usaha meniru bunyi sesama manusia lainnya. Suatu

bunyi yang mungkin dihasilkan oleh suatu makhluk tanpa makna,

ditiru dan dipakai manusia untuk merujuk makhluk itu sendiri atau

perbuatannya. Maknanya justru diberi oleh manusia yang meniru

bunyi itu, dan bukan oleh makhluknya sendiri.

J.G. Herder (dalam Keraf, 1984: 3) menjelaskan bahwa

manusia berusaha meniru bunyi anjing, bunyi ayam atau desis


37

angin dan sebagainya, akan menyebut objek-objek atau

perbuatannya dengan bunyi-bunyi itu. Dengan ini terciptalah kata-

kata dalam bahasa. Kutipan di atas menjelaskan bahwa peniruan

bunyi dapat menciptakan kata-kata dalam bahasa dan untuk

menyebut suatu perbuatan sesuai dengan bunyinya. Hal ini

diperkuat dengan pendapat Lefevre (dalam Keraf, 1984: 3)

menjelaskan manusia mengembangkan bermacam-macam bunyi

dengan mempergunakan variasi tekanan, reduplikasi intonasi

berkat mekanisme ujaran yang lebih sempurna, dan otak yang

sudah lebih berkembang sehingga menimbulkan nama-nama

barang atau tindakan. Dari dua pendapat tersebut dapat

disimpulkan bahwa manusia melakukan peniruan bunyi untuk

menghasilkan nama-nama barang atau tindakan yang

dilakukannya.

Pradopo (1987: 22) menambahkan bahwa bunyi mampu

menimbulkan bayangan dan angan yang jelas, menimbulkan rasa,

serta menimbulkan suasana yang khusus. Kaitannya dengan fungsi

onomatope, sebagai peniru bahasa dalam puisi berfungsi sebagai

sugesti tentang suara yang sebenarnya dan memberikan kesan pada

suatu benda yang dilihat, didengar, atau pun dirasakannya, begitu

pula yang terdapat dalam novel. Pada awalnya peniruan bunyi itu

semata-mata hanya dimaksudkan untuk menirukan suara seperti

yang didengar. Peniruan bunyi ini juga digunakan untuk


38

menjelaskan tentang keadaan yang ada pada suatu cerita. Dari

kutipan tersebut semakin memperkaya fungsi onomatope untuk

memberikan kesan terhadap sesuatu yang dilihat, didengar atau

dirasakan.

Ullman (2012: 102) menjelaskan bahwa kata-kata

onomatope memiliki unsur-unsur tertentu yang ada pada semua

kata. Contohnya dalam bahasa Indonesia mempunyai kata-kata

bersuku akhir serupa resah, gelisah, susah, desah, yang semuanya

menggambarkan suasana hati yang tidak tenang. Selain itu,

onomatope memiliki pola yang bekerja melalui aliterasi atau

perubahan vokal. Dengan menggantikan satu vokal dengan vokal

yang lain, maka akan dapat memberikan kesan yang berbeda pula.

Misalnya kricik-kricik dan krocok-krocok (tentang bunyi air

mengucur). Kricik-kricik memberikan kesan bahwa air yang

mengucur itu beraliran kecil sementara setelah diganti denga vokal

/o/ maka akan memberikan kesan air mengalir dengan deras.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas sapat diketahui

ada empat fungsi dari onomatope, yaitu: 1) penggambaran suasana

hati, yang meliputi emosi, memberi peringatan, 2) memberikan

kesan pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, 3)

mendesripsikan tentang keadaan, 4) meniru perbuatan yang

menghasilkan bunyi.
39

4. Novel

a. Pengertian Novel

Novel adalah karangan sastra yang panjang dan

mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang

di sekelilingnya (Departemen Pendidikan Nasional, 1995: 694).

Kutipan di atas menjelaskan bahwa novel memiliki rangkaian

cerita yang terkait dengan kehidupan manusia dan lingkungan

sekitarnya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nurhayati (2012: 5)

yang menyatakan bahwa novel merupakan pengungkapan dalam

fragmen kehidupan manusia dalam jangka yang lebih panjang yang

di dalamnya terjadi konflik yang mengakibatkan terjadinya

perubahan jalan hidup antara pelakunya. Dari kedua pendapat

tersebut sama-sama menyatakan bahwa sebuah novel biasanya

menceritakan tentang gambaran-gambaran realita kehidupan

manusia dengan lingkungannya.

Nurgiyantoro (2010: 4) mengatakan bahwa sebuah novel

merupakan sebuah karya fiksi yang menngambarkan sebuah dunia

imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya.

Novel juga merupakan totalitas, suatu kemenyeluruhan yang

bersifat artistik. Keartistikan sebuah novel dapat dilukiskan melalui

gaya. Gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa.

Gaya bahasa dapat menarik perhatian pembaca terhadap sebuah

novel. Setiap pengarang memiliki cara masing-masing dalam


40

mengungkapkan isi cerita dalam karya sastranya. Misalnya dalam

novel Emas Sumawur ing Baluarti, selain dengan gaya bahasa

yang berupa majas, pengarang juga menggunakan onomatope

untuk memberikan kesan tersendiri di hati pembacanya.

b. Struktur Novel

Abrams (dalam Heru, 2009:7) mengartikan bahwa struktur

karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan dan

gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya

sehingga membentuk kebulatan yang indah. Pendapat tersebut

menjelaskan bahwa suatu karya sastra dikatakan indak ketika

semua komponen-komponen yang terdapat di dalamnya saling

melengkapi satu sama lain. Berbeda dengan pendapat Abrams,

Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2010: 25) memperici unsur

pembangun dalam sebuah novel menjadi tiga, yaitu fakta, tema dan

sarana pengucapan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan fakta

adalah hal-hal yang meliputi tokoh cerita, plot, dan setting.

Sementara sarana pengucapan (sastra) merupakan teknik yang

dipergunakan pengarang untuk memilih dan menyusun detil cerita

menjadi pola yang bermakana, seperti dengan penggunaan sudut

pandang, gaya bahasa, nada, dan simbolisme.

Senada dengan pendapat Stanton, Sumarjo dan Saini

(dalam Heru, 2009:7) menyatakan bahwa ada beberapa unsur


41

pembentuk cerita rekan, yaitu peristiwa cerita (alur), tokoh cerita

(karakter), tema cerita, suasana cerita, latar cerita (setting), sudut

andang penceritaan dan gaya. Dari pendapat tersebut adalah hal

yang hampir sama dengan pendapat Stanton, hanya saja pendapat

Stanton tentang unsur pembangun karya sastra disederhanakan dan

dikelompokkan. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan

bahwa unsur-unsur pembentuk karya sastra meliputi tema, alur,

latar, dan tokoh.

1) Tema

Tema merupakan gagasan umum yang menopang sebuah

karya sastra yang terkandung di dalam teks sebagai struktur

semantis yang menyangkut persamaan dan perbedaan (Hartoko

&Rahmanto dalam Nurgiantoro, 2010: 68). Sebagai gagasan

umum, tema harus menjiwai seluruh bagian cerita dan menjadi

dasar untuk mengembangkan cerita.

2) Plot

Plot merupakan penyajian secara linear tentang berbagai hal

yang berhubungan dengan tokoh (Nurgiantoro, 2010: 65). Plot

merupakan alur atau jalannya sebuah cerita, sehingga plot

dikatakan berhubungan dengan tokoh cerita. Plot berisi

peristiwa-peristiwa dalam cerita yang dikisahkan dalam cerita

baik secara runtut maupun tidak runtut.


42

3) Latar (setting)

Latar merupakan tempat, saaat kejadian dan keadaan sosial

yang menjadi wadah tempat tokoh melakukan dan dikenai

suatu kejadian (Nurgiantoro, 2010: 75). Latar akan

mempengaruhi cara berpikir, sikap dan tingkah laku tokoh.

Dengan latar kita bisa mengetahui keadaan sosial tokoh, waktu

dan peristiwa yang terjadi dalam cerita.

4) Tokoh

Tokoh adalah pelaku dalam cerita sedangkan penokohan

adalah teknik dalam menampilkan tokoh untuk identitas tokoh

(Heru, 2009:8). Kaitannya dengan hal ini, tokoh merupakan

orangnya sementara penokohan merupakan karakter dari orang

tersebut. Tokoh cerita menempati peranan yang strategis sebgai

pembewa amanat atau pesan dalam cerita.

c. Jenis-jenis Novel

Novel mempunyai beberapa jenis, diantaranya yang

dijelaskan oleh Nurgiyantoro (2010: 16-22) menggolongkan jenis-

jenis novel sebagai berikut.

1) Novel Serius

Novel serius merupakan novel yang mampu memberikan

serba kemungkinan sehingga dalam membaca diperlukan

konsentrasi yang tinggi untuk memahaminya dan disertai


43

kemauan. Novel serius di samping memberikan hiburan, juga

memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau

paling tidak mengajaknya untuk meresapi dan merenungkan

secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang

dikemukakan. Novel serius berusaha mengungkapkan sesuatu

yang baru dengan cara pengucapan yang baru pula.

2) Novel Populer

Novel popular adalah novel yang popular pada masanya

dan banyak penggemarnya, khususnya pembaca di kalangan

remaja. Novel populer tidak menampilkan permaslahan

kehidupan yang lebih intens, tidak berusaha meresapi hakikat

kehidupan.

Menurut Suharianto (1982: 42-44) novel dapat dibedakan

menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.

1) Novel bertendens, disebut dengan novel tujuan, karena

pengarang sangat mempengaruhi novel ini. Misalnya untuk

mendidik.

2) Novel sejarah yaitu novel yang menceritakan peristiwa-

peristiwa sejarah dalam bentuk catatan atau dokumentasi

yang sudah lampau. Tokoh-tokoh cerita yang terdapat dalam

novel disesuaikan dengan sikap dan pandangan hidup

pengarang.
44

3) Novel adat, yaitu novel menceritakan tentang persoalan adat,

sehingga novel ini dapat memberikan informasi bagi para

pembaca mengenai adat-istiadat sesuatu daerah.

4) Novel anak-anak adalah novel yang menceritakan kehidupan

anak-anak. Semua yang terdapat dalam novel disesuaikan

dengan pola pikir anak-anak. Bahasa dan pilihan kata juga

sederhana.

5) Novel politik adalah novel yang mengangkat masalah yang

berlatar belakang tentang masalah politik. Novel politik

merupakan wadah untuk memperjuangkan gagasan politik

masyarakat.

6) Novel psikologis adalah novel yang berisi tentang

perkembangan jiwa para tokoh. Novel psikologis dapat

memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang watak

atau sifat yang dimiliki manusia pada umumnya.

7) Novel percintaan (novel pop) , pada dasarnya hanya hiburan

untuk pembaca yang didalamnya banyak menceritakan

tentang hubungan laki-laki dengan perempuan dengan

masalah yang tidak begitu mendalam.


45

BAB III
METODE PENELITIAN

I. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yaitu

penelitian yang dilakukan dengan mencatat secara teliti dan cermat data yang

berwujud kata-kata, kalimat-kalimat, gambar-gambar, catatan harian, dan

sebagainya (Subroto 1992: 7). Dalam penelitian ini data yang terkumpul

berupa daftar kata yang diperoleh setelah peneliti mencatat dengan cermat

data yang ada dalam novel tersebut. Penelitian onomatope dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti ini bersifat deskriptif karena data-data yang

dipaparkan berupa uraian naratif yang diperoleh berdasarkan situasi yang

diteliti. Penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan data mengenai jenis,

bentuk dan fungsi onomatope novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya

Partini B.

J. Sumber Data dan Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana datanya

diperoleh (Arikunto, 2010: 172). Sumber data dalam penelitian ini didapat

dari novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.

Data adalah adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan

untuk menyusun suatu informasi (Arikunto, 2010: 161). Jadi, data yang ada

dalam penelitian ini berupa satuan gramatikal yang berwujud kata atau

45
46

kalimat yang mengandung onomatope pada novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.

K. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian

ialah peneliti sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human instrument berfungsi

menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data,

melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data,

menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono, 2012:

60).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penelitilah yang menjadi

instrumen utama dalam sebuah penelitian kulaitatif. Sebagai instrumen utama

suatu penelitian maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang

luas untuk dapat melakukan analisis yang jelas dan bermakna. Peneliti

bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, dan

menjadi pelapor hasil penelitiannya. Peneliti dibantu dengan buku-buku yang

memuat teori onomatope, buku-buku tentang teori bahasa dan sastra, sebagai

acuan dalam penulisan penelitian. Peneliti menggunakan alat bantu berupa

kartu data untuk mengelompokkan data yang berupa jenis, bentuk dan fungsi

onomatope yang digunakan dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya

Partini B.
47

L. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik pustaka,

teknik observasi dan teknik simak catat.

1. Teknik Pustaka

Menurut Subroto (1992:42), teknik pustaka adalah

mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data.

Sumber-sumber tertulis itu berupa buku-buku yang memuat teori

onomatope, buku-buku tentang teori bahasa dan sastra.

2. Teknik observasi

Teknik observasi adalah kegiatan pengamatan terhadap suatu

objek dengan menggunakan alat indera manusia, yaitu melalui

penciuman, penglihatan, peraba, pendengaran, dan pengecap (Ismawati,

2011: 98). Teknik observasi dalam penelitian ini ialah observasi terhadap

naskah yang berupa novel. Observasi dilakukan dengan penanadaan

terhadap satuan gramatikal yang berwujud kata atau kalimat yang

mengandung onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti

karya Partini B.

3. Teknik simak catat

Teknik simak catat adalah teknik yang dilakukan dengan

melakukan penyimakan terhadap pemakaian bahasa yang bersifat

spontan dan mengadakan pencatatan terhadap data relevan yang sesuai

dengan sasaran dan tujuan penelitian (Subroto, 1992: 42). Penyimakan

dilakukan terhadap penggunaan bahasa (onomatope) dalam novel Emas


48

Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. dan pencatatan dilakukan

dengan menggunakan kartu data. Oleh karena itu, metode pengumpulan

data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak catat.

Langkah-langkah yang ditempuh penulis dalam pengumpulan data

yaitu:

1. menentukan sumber tertulis berupa novel dan buku-buku yang

memuat teori onomatope, buku-buku tentang teori bahasa dan sastra,

dan buku ataupun artikel penunjang lainnya;

2. membaca keseluruhan novel dan menandai satuan gramatikal yang

berwujud kata atau kalimat yang mengandung onomatope dalam novel

Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.;

3. menyimak penggunaan onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B.;

4. mencatat data-data yang merupakan satuan gramatikal yang berwujud

kata atau kalimat yang mengandung onomatope dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.;

Peneliti menggunakan kartu data, sebagai sarana untuk

mengumpulkan data. Bentuk kartu data tersebut adalah sebagai berikut.


49

Tabel 1
Kartu data
No. Data

Sumber Data

Ungkapan

Analisis 1. Jenis

2. Bentuk

3. Fungsi

4. Konteks

Keterangan:

Kartu data berupa tabel yang terdiri dari dua kolom dan empat baris,

secara terperinci sebagai berikut.

1) Baris pertama terdiri dari dua kolom.

a) Kolom pertama berisi Nomor Data.

b) Kolom kedua digunakan untuk mengisi isian nomor data

berdasarkan urutan di dalam kartu data dan ditulis menggunakan

angka arab (1, 2, 3, dan seterusnya).

2) Baris kedua terdiri dari dua kolom.

a) Kolom pertama berisi Sumber Data.

b) Kolom kedua pertama berisi sumber dari mana data tersebut

diperoleh. Urutan penulisan sumber data yaitu singkatan subjudul

cerita misalnya PASC (Para Abdi Sami Cecaturan), nomor

halaman di mana sumber data diperoleh. Nomor halaman dan

ditulis menggunakan angka arab (1, 2, 3, dan seterusnya).


50

3) Baris ketiga terdiri dari dua kolom

a) Kolom pertama berisi Ungkapan.

b) Kolom kedua berisi kutipan onomatope dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti.

4) Baris keempat terdiri dari dua kolom

a) Kolom pertama berisi Analisis.

b) Kolom kedua berisi analisis. Dalam analisis dijelaskan jenis bentuk

dan fungsi onomatope serta konteks situasi dalam kutipan tersebut.

M. Teknik Keabsahan Data

Teknik keabsahan data pada penelitian sastra umumnya menggunakan

validitas semantik (Endrasawa, 2011:164). Validitas semantik yaitu suatu

teknik yang mengukur tingkat kesensitifan makna yang berkaitan dengan

konteksnya. Validitas semantik digunakan untuk melihat seberapa jauh data

yang berwujud onomatope yang dapat dimaknai konteksnya. Proses analisis

diuji dengan melakukan analisis terhadap hubungan data dengan berbagai

komponen yang menjadi konteksnya.

Selain teknik keabsahan data di atas, dalam penelitian ini juga

menggunakan uji keabsahan data dengan uji kredibilitas atau kepercayaan

terhadap hasil penelitian, yaitu dengan cara meningkatkan ketekunan dan

menggunakan bahan referensi. Sugiyono (2012: 124) menyatakan bahwa

meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat

dan berkesinambungan. Peningkatan ketekunan ini dapat dilakukan dengan


51

cara membaca berbagai referensi, atau membaca novel yang diteliti secara

cermat, sehingga peneliti akan memliki wawasan yang semakin luas.

Sementara itu, uji kredibilitas dengan menggunakan bahan referensi

dilakukan dengan menunjukkan bukti-bukti data yang ditemukan oleh

peneliti. Dalam penelitian ini, bukti pendukung tersebut ditunjukkan dalam

bentuk nomor halaman di mana data tersebut ditemukan dan subjudul cerita

juga disebutkan.

N. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

deskriptif analisis. Teknik deskriptif analisis adalah teknik yang dilakukan

dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan

analisis (Ratna, 2004, 53). Dengan teknik analisis deskriptif ini, peneliti tidak

semata-mata menguraikan melainkan juga memberikan pemahaman dan

penjelasan secukupnya mengenai onomatope dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B..

Miles&Huberman (dalam Sugiyono, 2012: 91) mengemukakan bahwa

aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan

berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah jenuh.

Jadi, ketika penelitan harus dilakuakan analisis data hingga diperoleh data

yang dianggap kredibel. Ada tiga aktivitas dalam analisis data yaitu, data

reduction, data display, dan conclusion.


52

Reduksi data (data reduction) diperlukaan dalam suatu penelitian,

karena semakin lama penelitian, maka jumlah data akan semakin kompleks

dan rumit. Reduksi data dilakukan dengan merangkum dan memfokuskan

pada hal-hal penting dalam penelitian. Reduksi data dilakukan untuk

pemilihan dan penyederhanaan data. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan

ini adalah seleksi data dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data

yang relevan dengan penelitian akan diorganisasikan sehingga terbentuk

sekumpulan data yang dapat memberi informasi faktual. Reduksi data dalam

penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi data ke

dalam jenis onomatope, bentuk onomatope, dan fungsi onomatope.

Penyajian data (data display) dilakukan dalam bentuk sekumpulan

informasi, baik berupa tabel, bagan, maupun deskriptif naratif, sehingga data

yang tersaji relatif jelas dan informatif. Tindakan lanjutan, penyajian data

digunakan dalam kerangka menarik kesimpulan dari akhir sebuah tindakan.

Penyajian data dilakukan dengan membahas data onomatope dalam novel,

dijelaskan dan dipaparkan dengan kalimat yang singkat, jelas dan mudah

dipahami.

Penarikan kesimpulan (conclusion) merupakan kegiatan tahap akhir

dari proses analisis data. Penarikan kesimpulan digunakan utuk menjawab

pertanyaan dalam rumusan masalah.

Langkah-langkah yang digunakan dalam teknik analisis data adalah

sebagai berikut.
53

1. Mengidentifikasi dan mengklasifikasi data ke dalam jenis onomatope,

bentuk onomatope, dan fungsi onomatope.

2. Menganalisis jenis, bentuk, dan fungsi onomatope secara deskriptif dengan

berpedoman pada buku atau referensi tentang teori onomatope.

3. Membahas data onomatope dalam novel, dijelaskan dan dipaparkan

dengan kalimat yang singkat, jelas dan mudah dipahami.

4. Menyimpulkan semua pembahasan terkait onomatope.

O. Teknik Penyajian Data

Penelitian dilakukan terhadap Novel Emas Sumawur ing Baluwarti

merupakan penelitian kualitatif dengan teknik formal dan informal. Hasil

penelitian ini disajikan secara informal yaitu metode penyajian hasil analisis

data yang menggunakan kata-kata biasa atau sederhana agar mudah dipahami

(Sudaryanto, 1993: 145). Jadi, dalam penyampaian hasil analisisnya, penulis

menggunakan bahasa sederhana agar para pembaca mudah memahami

maksud dan isi dari hasil penelitian.

Selain itu juga disajikan secara formal yaitu perumusan dengan

menggunakan lambang-lambang atau tanda-tanda sehingga makna kaidah,

hubungan kaidah dan kekhasan kaidah dapat diketahui dan dipahami

(Sudaryanto, 1993: 145). Tanda yang digunakan dalam penelitian ini adalah

tanda kurung biasa ( ( ) ). Sementara lambang yang digunakan ialah

singkatan nama misalnya Para Abdi Sami Cecaturan menjadi PASC, dan

sebagainya.
54

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini disajikan hasil penelitian dan pembahasan tentang onomatope

dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Hasil penelitian

berupa analisis yang disajikan dalam bentuk tabel-tabel rangkuman dan

penjelasannya dideskripsikan dalam pembahasan.

P. Penyajian Data

Penyajian data dalam penelitian ini merupakan upaya yang dilakukan

untuk menggambarkan hasil pengolahan data-data penelitian yang diperoleh

berdasarkan proses penelitian terhadap novel yang berjudul Emas Sumawur

ing Baluwarti karya Partini B. Data mencakup satuan gramatikal yang

berwujud kata, frasa, kalimat atau tuturan yang mengandung (1) jenis

onomatope, (2) bentuk onomatope, (3) fungsi onomatope.

1. Jenis Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya

Partini B.

Berdasarkan hasil penelitian terhadap novel Emas Sumawur ing

Baluwarti karya Partini B., ditemukan empat jenis onomatope. Jenis-jenis

onomatope yang meliputi:

a. tiruan bunyi benda,

b. tiruan bunyi hewan,

c. tiruan bunyi alam, dan

d. tiruan bunyi manusia.

54
55

2. Bentuk Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya

Partini B.

Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,

ditemukan empat bentuk onomatope 1) satu silabel, 2) dua sialbel, 3)

tiga silabel dan multisilabel, 4) frasa. Adapun bentuk onomatope satu

silabel, dua silabel, dan tiga silabel ada yang mengalami pengulangan.

3. Fungsi Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya

Partini B.

Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,

ditemukan empat fungsi onomatope, yaitu: 1) penggambaran suasana

hati, yang meliputi emosi, memberi peringatan, 2) memberikan kesan

pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, 3) mendesripsikan

tentang keadaan, 4) meniru perbuatan yang menghasilkan bunyi.

Berikut merupakan data jenis, bentuk, dan fungsi onomatope.

Penyajian hasil pengolahan data yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.

Tabel 2
Jenis, bentuk, dan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.

No.
Ungkapan Sumber Indikator
data
1 Dhi, wis sedhengan, mengko (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi benda
tak pakune. Thok, thok, thok, 2) 2. Bentuk: satu silabel
saiki sing sisih, ora menceng (pengulangan)
iki…. 3. Fungsi: meniru perbuatan yang
menghasilkan bunyi, merujuk
“Dik, sudah cukup, nanti pada paku yang dipukul dengan
akan saya paku. Thok, thok, palu
thok, sekarang yang sebelah,
tidak miring kan….” Konteks: Gareng sedang memaku
kain penutup tembok (lurub), ia
56

mengungkapkan bunyi paku yang


dipukul dengan palu dengan kata
thok thok thok.
2 Tik-tiking sekon dados menit, (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
…. 71) 2. Bentuk: satu silabel
(pengulangan)
“Tik-tik sekon menjadi 3. Fungsi: meniru benda yang
menit” menghasilkan bunyi, merujuk
pada bunyi detik pada jarum
jam.

Konteks: menggambarkan
perubahan waktu dari detik ke
menit, menit hingga menjadi jam,
saat Raden Ajeng Tien beserta ayah
ibunya menunggu bantuan karena
oto mereka mogok.
3 “Iya nanging kiraku dudu (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
taksi, awit yen taksi lumrahe 72) 2. Bentuk: satu silabel
lenterane ora…. “Saweg 3. Fungsi: meniru benda yang
dumugi semanten kepunggel menghasilkan bunyi, merujuk
dening swara…..Hrrrrrrrrrr. pada suara mesin oto yang
sedang berjalan.
“Tetapi menurutku bukan
taksi, biasanya kalau taksi Konteks: ketika melihat cahaya
lampunya tidak….. “Baru lampu mobil yang mulai mendekat
sampai di situ terdengar ke arah oto mereka, Den Bei dan
suara…. Hrrrrrrrrrr.” istrinya berdebat apakah yang
mendekat itu taksi atau mobil
pribadi,
4 Sssssssssssss!Oto wau kendel (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
ing wingking leres. 72) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“Sssssssssssss!Oto berhenti menghasilkan bunyi, merujuk
tepat dibelakang” pada suara oto yang berhenti
karena direm.

Konteks: ada sebuah oto yang


berhenti tepat di belakang oto
miliki Den Bei yang mogok.
5 Saweg kemawon kendel (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
greg…. 80) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: menirukan perbuatan
“Baru saja berhenti greg….” yang meghasilkan bunyi,
merujuk pada oto yang baru saja
berhenti.
57

Konteks: Overland baru saja


berhenti karena ia akan menemui
rekannya
6 … Hel nedha pisang, (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
gulunipun dipun puk-puk… 106) 2. Bentuk: satu silabel
. (pengulangan)
“… Hel makan pisang, 3. Fungsi: menirukan perbuatan
lehernya di puk-puk….” yang menghasilkan bunyi,
merujuk pada Rapingun yang
sedang menepuk leher Hel
ketika makan.

Konteks: Rapingun memperlakukan


Hel, kuda milik Den Bei dengan
baik setelah Hel makan pisang, ia
kemudian ditepuk-tepuk lehernya.
7 Hel mandheg greg. (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
113) 2. Bentuk: satu silabel
“Hel berhenti greg.” 3. Fungsi: menirukan perbuatan
yang meghasilkan bunyi,
merujuk pada hel yang
mendadak berhenti ketika tahu
ada oto yang lewat.

Konteks: Hel yang sedang berjalan


bersama Rapingun tiba-tiba
berhenti ketika melihat Kerta.
8 … saking wingking (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kamirengan wonten klakson 146) 2. Bentuk: satu silabel
kaganter tiiiiit…. (pengulangan)
tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. 3. Fungsi: meniru benda yang
mengahasilkan bunyi, merujuk
“… dari belakang terdengar pada suara klakson motor yang
suara klakson tiiiii…. dibunyikan berulang kali.
tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit….”
Konteks: ketika oto yang
dikemudikan Rapingun sampai di
Secang, tiba-tiba terdengar suara
klakson dari belakang oto mereka.
9 Thing, thing, thing (TC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
(nuthuk gelas sepisan mengel 260) 2. Bentuk: satu silabel
kaping tiga, kaaturaken 3. Fungsi: menirukan benda yang
samingiseni gelasipun anggur menghasilkan bunyi, merujuk
piyambak-piyambak) pada gelas yang dipukul tiga
kali sebagai tanda untuk para
“Thing, thing, thing tamu agar mengisi gelasnya
58

(memukul gelas sekali, dengan anggur.


berbunyi tiga kali. para tamu
dipersilakan mengisi gelasnya Konteks: Tamu dalam pesta yang
dengan anggur” diadakan Raden Ngabei Tangkilan
memukul gelas, sebagai tanda agar
para tamu lain bersiap untuk
mengisi gelas mereka dengan
anggur.
10 Theng, theng lah punika (TC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
saweg mungel. 275) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“Theng, theng lha itu sedang menghasilkan bunyi, merujuk
berbunyi.” pada bunyi jam dinding

Konteks: Raden Ngenten bertanya


pada Dentawinangun apakah sudah
pukul sepuluh, tak lama kemudian,
jam berbunyi menunjukkan pukul
sepuluh.
11 Bebasan piring wis rengat, (KIWJ, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
wis benthet, kesenggol 322) 2. Bentuk: satu silabel
sethithik wae mesthi 3. Fungsi: meniru benda yang
‘pyar….’ pecah! menghasilkan bunyi, merujuk
pada bunyi piring yang pecah
“Ibarat piring yang sudah ketika jatuh tersenggol
retak, tersenggol sedikit saja
pasti pyar….pecah!” Konteks: mengibaratkan
persahabatan pak Ali dan Pak
Kasim yang sudah mulai retak.
12 … lan menawa seneng- (PASC, 1. Jenis : peniruan bunyi benda
seneng tetabuhane iya sing 10) 2. Bentuk : satu silabel
dhung, dhung, dhung sing (pengulangan)
rame banget…. 3. Fungsi : mendeskripsikan
“… dan ketika bersenang- keadaan, merujuk pada keadaan
senang musiknya dhung, yang sangat meriah dan penuh
dhung, dhung sangat dengan suara musik.
ramai….”
Konteks: Gareng bercerita pada
Petruk tentang pesta yang
dilakukan orang-orang pada zaman
dahulu.
13 … paronen byak bae. (TC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
215) 2. Bentuk: satu silabel
“… dibagi byak saja.” 3. Fungsi: memberikan kesan
pada benda yang dilihat,
merujuk pada daging ayam
59

yang utuh akan dibelah


menjadi dua

Konteks: Dalam acara sunatan


putra pertamanya Raden Bagus
Suwarna, Raden Nganten
menginginkan daging ayam
utuhnya dibelah menjadi dua.
14 Lo, lo, epret-eprete wis labuh (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
muni, …. 23) 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“Lo, lo, epret-epretnya sudah 3. Fungsi: meniru benda yang
mulai berbunyi.” menghasilkan bunyi, merujuk
pada peniruan bunyi alat musik
tiup seperti terompet.

Konteks: Petruk bercerita pada


Gareng kalau pembukaan Pasar
Gambir telah dimulai, ditandai
dengan bunyi-bunyian musik.
15 … dadak nyuwara ‘krecek- (KIWJ, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
krecek’. 319) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“… tiba-tiba berbunyi krecek- menghasilkan bunyi, merujuk
krecek.” pada bunyi kepingan uang emas
yang terdapat di dalam kendhil.

Konteks: Kasim penasaran dengan


isi kendhil yang Pak ali titipkan
padanya. Ia memiringkan kendhil
tersebut dan terdengar bunyi itu.
16 Kendhil tumuli di walik, (KIWJ, 1. Jenis:tiruan bunyi benda
isnine disuntak. Kropyok…! 319) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“Kendhil kemudian dibalik, menghasilkan bunyi, merujuk
isinya ditumpahkan. pada bunyi kendhil yang berisi
Kropyok…! kepingan uang emas yang
ditumpahkan.

Konteks: Kasim membuka tutup


kendhil dan menumpahkan kendhil
itu.
17 Sebab liya-liyane anggone (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
padha mlaku, temtune manut 23) 2. Bentuk: dua silabel
gendhing, tojing, tojing. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, di dengar,
60

“Sebab ketika orang lain dirasakan, merujuk pada suara


berjalan tentu mengikuti langkah kaki yang sesuai
irama tojing, tojing” dengan irama musik.

Konteks: Gareng bercerita pada


petruk kalau ia ikut berjalan
mengelilingi Pasar Gambir pasti
jalannya tidak kompak karena
langkah akinya tidak sesuai dengan
gendhing.
18 … lo kuwi para nyonyah- (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
nyonyah Landa lan nyonyah- 27) 2. Bentuk: dua silabel
nyonyah Jawa kuwi akeh sing (pengulangan)
bokonge dijlentrik- 3. Fungsi: memberikan kesan pada
jlentrikake. benda yang dilihat, didengar,
atau dirasakan, merujuk pada
“… lo para nyonyah Belanda kesan ketika para nyonyah
dan nyonyah Jawa itu banyak sedang bergoyang-goyang
yang pantatnya di jlentrik- sedikit pantatnya saat
jlentikkan.” mendengar suara musik.

Konteks: Gareng bercerita pada


Petruk tentang nyonyah Belanda
yang pantatnya sedikit bergoyang-
goyang ketika mendengar suara
musik.
19 … ya iku supaya dalan ing (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kono katon kinclong- 40) 2. Bentuk: dua silabel
kinclong kaya gelas. (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… ya itu supaya jalan di benda yang dilihat, didengar,
sana terlihat kinclong seperti dirasakan, merujuk pada jalanan
gelas.” yang sangat mulus dan bersih
karena pembangunan kota.

Konteks: Petruk bercerita pada


Gareng akan pembangunan jalan
yang dilakukan pemerintah,
sehingga jalan terlihat berkilau.
20 … pada mangku dalan sing (PASC, 1. Jenis: tirun bunyi benda
kincling-kincling, meling- 45) 2. Bentuk: dua silabel
meling…. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… melihat jalan yang benda ang dilihat, merujuk pada
kincling dan berkilau….” jalanan yang sangat bersih dan
licin.
61

Konteks: Gareng bercerita pada


Petruk tentang keadaan ekonomi
bangsa asing yang begitu makmur
sampai jalanan pun terlihat licin
dan bersih.
21 Mila oto wau katingalipun (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
inggih kinclong-kinclong 88) 2. Bentuk: dua silabel
ajegan. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Apalagi oto (mobil itu pada mobil yang masih bersih
terlihat masih tetap kincong.” dan berkilau meskipun sudah
dipakai sejak dulu.

Konteks: Nyah Hien mengutarakan


akan kelebihan oto miliknya yang
akan di beli Raden Ayu Asisten
wedana.
22 Sida diklethak temenan (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
mengko. 99) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Benar diklethak nantinya.” benda yang didengar, bunyi
gigitan yang akan dilakukan Hel
terhadap Rapingun.

Konteks: Raden Ayu Asisten


wedana berkata pada suaminya
kalau ia takut Rapingun akan di
gigit atau diserang Hel, kuda
mereka yang dianggap gila.
23 … naming dhiwut-dhiwut AM, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
anggegilani. 306 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“… hanya dhiwut-dhiwut 3. Fungsi: memberikan kesan pada
mengerikan.” benda yang dilihat, merujuk
pada rajapati di Cindhereja yang
besar dan mengerikan.

Konteks: dalam pertemuan


perangkat desa, Jayadi bercerita
tenang bentuk rajapati di
Cindhereja.
24 Lha kok kendhilmu mau sing (KIWJ, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
sisih ngisor jebul isi dhuwit 319) 2. Bentuk: dua silabel
emas kinclong-kinclong. (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan
“Lha kok bagian bawah isi terhadap benda yang dilihat,
62

endhil itu ternyata uang emas merujuk pada kepingan uang


kinclong-kincong.” emas milik Pak Ali yang
berkilauan.

Konteks: isi kendhil yang dititipkan


pada Kasim ternyata berupa
kepingan uang emas.
25 Sreset, iki suwarane jaran (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
andhong sing kepleset. 45) 2. Bentuk:dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Sreset, itu suara andong keadaan, merujuk pada suara
yang terpeleset.” andhong yang terpeleset.

Konteks: Gareng bercerita pada


Petruk akan suara delman yang
terpeleset karena jalannya begittu
licin.
26 … iya banjur, gluthek, weruh (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
wae. 52) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi:mendeskripsikan
“… iya lalu, gluthek, keadaan, merujuk pada keadaan
melihat.” di mana menurut Petruk wanita
itu lebih teliti dari pada pria, ada
sesuatu sedikit saja wanita bisa
melihatnya.

Konteks: Pertuk berpendapat kalau


wanita itu bila sudah punya
kesibukan maka ia akan konsentrasi
sepenuhnya pada kesibukan
mereka. tetapi kalau melihat
sesuatu yang tidak semestinya
maka ia akan merasakannya.
27 Ana oto isih kincling- (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kincling ngene jare bobrok. 69) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Oto masih kincling-kincling keadaan, merujuk pada kondisi
kok katanya rusak.” oto (mobil) yang masih bagus,
tetapi kok macet ditengah jalan.

Konteks: den Bei menjelaskan pada


istrinya kalau oto mogok itu hal
yang wajar bukan karena oto itu
rusak, apalagi kondisi oto masih
bagus.
63

28 … grobyak, ni Wungkuk (AM, 1. Jenis: tmenceritakan ketika


jumedhul. 311) Raden Mas iruan bunyi benda
2. Bentuk: dua silabel
“… grobyak, ni Wungkuk 3. Fungsi: mendeskripsikan
muncul.” keadaan, merujuk pada keadaan
yang mengejutkan ketika warga
melihat ni Wungkuk yang
muncul tiba-tiba.

Konteks: ketika Jayadi akan


membunuh Mbok Karta dan
anaknya tiba-tiba ni Wunguk
muncul.
39 Gareng (rengeng-rengeng), (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo- 27) 2. Bentuk: multisilabel
ing-ting gentak, dhublang, 3. Fungsi: memberikan kesan pada
dhublang, ging....’ benda yang dilihat, didengar dan
dirasakan, merujuk pada Gareng
“Gareng bersenandung ‘Dhu- yang senang mendengar suara
wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-ing-ting musik demikian, kemudian
gentak, dhublang, dhublang, dengan lirih menirukan suara
ging….” musik tersebut.

Konteks: Ketika Petruk, Gareng


dan istri mereka sedang berdebat,
Gareng tiba-tiba bersenandung
menirukan suara gendhing yang
didengarnya.
30 Bareng musike wiwit (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
diunekake, thethet thiyet 27) 2. Bentuk: multisilabel
tretet jing jing jing…. 3. Fungsi: meniru benda yang
menghasilkan bunyi, merujuk
“Ketika musiknya mulai pada suara musik yang begitu
dibunyikan, thethet thiyet meriah.
tretet jing jing jing….”
Konteks: Gareng bercerita ketika
para peserta pesta mendengar suara
musik seperti itu, mereka kemudian
menari.
31 Sikile diketheplek- (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi benda
ketheplekake, sajak nikmat 27) 2. Bentuk: tiga silabel
banget kae. (pengulangan)
3. Fungsi: Meniru perbuatan yang
“Kakinya diketheplek- menghasilkan bunyi, merujuk
ketheplekke sepertinya pada suara hentakan kaki yang
menyenagkan sekali.” didengar Gareng ketika para
64

nyonyah-nyonyah Belanda
sedang menari dan berpesta.

Konteks: Gareng mencerikan ketika


ia melihat penari yang kakinya
diketheplek-ketheplekke
32 … jebul tangane melu pating (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kethuwel…. 27) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… ternyata tangannya ikut benda yang dilihat, dan
pating kethuwel…” dirasakan, merujuk saat Biyang
Nala melihat Gareng yang asik
berjoget, tetapi hanya tangannya
saja.

Konteks: Biyang Nala melihat


Petruk bergoyang jempol, dan
mengekspresikan goyangan jempol
tersebut dengan kata pating
kethuwel.
33 Nanging sami ketingal pating (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
dlemok tilas kenging lisah. 73) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Namun terlihat pating benda yang dilihat, didengar
dlemok bekas terkena dirasakan, merujuk pada benda
minyak.” yang terlihat kotor atau terkena
bercak minyak

Konteks: Den Bei bingung melihat


laki-laki yang menolongnya,
apakah dia sopir atau orang
terpandang.
34 Wis peteng kathik dalane (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
pating tleser pirang-pirang, 30) 2. Bentuk: frasa
wong sok bisa kesasar 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“Sudah gelap, sementara di mana banyak sekali jalan
jalanya pating tleser, kadang sehingga kadang membuat orang
orang bisa tersesat.” tersesat.

Konteks: Petruk menceritakan pada


Biyang nala tentang permainan
dulhop, permainan ditempat gelap
dengan jalan yang begitu banyak.
35 Ya kuwi adate kakangmu, ana (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
ing ngarep plentas-plentus, 32) 2. Bentuk: frasa
65

nanging nek dikon ngecaki 3. Fungsi: mendeskripsikan


temenan iya banjur mak keadaan, merujuk pada keadaan
pengkeret. di mana Gareng yang seakan
terlihat berani namun sebenarnya
“Ya seperti itulah kakakmu, ia tidak punya nyali.
di depan terlihat berani, tetapi
ketika harus berbuat ya mak Konteks: Biyang Nala
pengkeret.” menceritakan sifat Gareng yang
ternyata hanya berani di belakang
saja.
36 Dumugi pratiga ingkang (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
dhateng Waleri, ing pinggir 80) 2. Bentuk: frasa
margi kiwa tengen katingal 3. Fungsi: mendeskripsikan
dilah pating klencar. keadaan, merujuk pada suasana
kota yang terang benderang
“Sampai pertigaan menuju karena ada lampu penerangan
Waleri, di sepanjang jalan jalan.
terlihat lampu pating
klencar.” Konteks: Oto Raden Ajeng Tien
sampai di pertigaan, di sana terlihat
lampu yang begitu terang.
37 Lo sing makcethit kuwi (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
suwarane selop sing 33) 2. Bentuk: frasa
diganduli lemah lempung 3. Fungsi: meniru perbuatan yang
kaya ing kene kiyi, banjur menghasilkan bunyi, merujuk
ditarik cethit. pada bunyi sandal yang ada di
dalam lumpur kemudian ditarik.
“Lo yang makcethit itu suara
selop yang terkena tanah liat Konteks: Petruk menirukan suara
kemudian ditarik.” selop berlumpur yang ditarik.
38 Lakune iya, thoprak, (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
thoprak, thoprak, balik aku 23) 2. Bentuk: dua silabel
…. 3. Fungsi: Meniru perbuatan
(benda) yang menghasilkan
“Jalannya ya, thoprak, bunyi, merujuk pada suara septu
thoprak, thoprak kalau atau sandal yang dipakai
aku….” berjalan sesuai dengan irama
musik.

Konteks: Gareng berkata pada


Petruk tentang langkah kaki orang,
yang sesuai irama musik.
39 … buntele godong sing (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
dilengani nganti kinyis- 38) 2. Bentuk: dua silabel
kinyis. (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan pada
66

“… bungkusnya daun yang benda yang dilihat, di dengar,


diberi minyak sampai kinyis- dirasakan, merujuk pada
kinyis.” bungkus daun yang berkilau.

Konteks: Petruk dan Gareng


menceritakan tentang makanan
yang dibungkus daun, dan
berminyak.
40 Mbakyumu iya wis wek, wek, (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi hewan
wek, sepuluh kecap. 39) 2. Bentuk: satu silabel
“Kakakmu ya sudah wek, (pengulangan)
wek, wek, sepuluh kecap.” 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
gaduh bila Biyang Kampret
sudah mulai berbicara.
Konteks: Gareng bercerita pada
Petruk tentang istrinya yang begitu
cerewet seperti bebek.
41 Bekas-bekos kaliyan gebras- (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi hewan
gebres. 112) 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“Bekas-bekos dan gebras- 3. Fungsi: meniru pebuatan yang
gebres.” menghasilkan bunyi, merujuk
pada kuda Hel yang seperti
terengah-engah dan
menggeleng-gelengkan
kepalanya.

Konteks: Hel bersemangat ketika


Rapingun menaikinya untuk
melintasi jembatan.
42 Rapingun lajeng murugi Hel (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi hewan
ingkang tansah gereng- 119) 2. Bentuk: dua silabel
gereng (pengulangan)
3. Fungsi: menirukan perbuatan
“Rapingun lalu mendekati yang meghasilkan bunyi,
Hel yang sedang gereng- merujuk pada hel yang bersuara
gereng” lirih (meggeram)

Konteks: Rapingun mendekati Hel


yang sudah kelelahan.
43 … lentera byar padhang. (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
76) 2. Bentuk: satu silabel
“… lentera byar terang.” 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
pada cahaya lampu mobil yang
67

menyala terang ketika mesin


mobil dihidupkan.

Konteks: Den Bei Asiaten wedana


menghidupkan otonya, dan lampu
oto menyala
44 Udhengipun blangkon udan (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
riris byur…. 90) 2. Bentuk: satu silabel
“Memakai blangkon hujan 3. Fungsi: memberikan kesan pada
grimis byur….” benda yang dilihat, merujuk
pada kepala blangkon yang
bermotif seperti hujan riris

Konteks: Den bei Asisten wedana


terkejut ketika melihat Kerta sudah
berganti pakaian dan memakai
blangkon dengan motif udan riris
byur.
45 Brol tresna kula metu. (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
130) 2. Bentuk: satu silabel
“Brol cintaku muncul.” 3. Fungsi: penggambaran suasana
hati, merujuk pada rasa sayang
Den Bei Mantri kepada
Rapingun yang muncul begitu
saja padahal mereka baru saja
saling mengenal.

Konteks: Den Bei Asiten wedana


mengatakan pada Rapingun kalau
ia merasa menyayangi Rapingun.
46 Sanalika pasemonipun Raden (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
Ajeng Tien ingkang katingal 155) 2. Bentuk: satu silabel
suntrut lajeng byar 3. Fungsi: mendeskripsikan
padhang….. keadaan, merujuk pada keadaan
Raden Ajeng Tien yang tadinya
“Seketika wajah Raden Ajeng sedih, namun sekarang sudah
Tien yang terlihat muram, kembali ceria.
seketika byar bahagia….
Konteks: Raden Ajeng Tien kaget
ketika Rapingun memanggilnya,
dan ia merasa senang.
47 … mangka anakipun namung ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
setunggal thil kula piyambak. 187) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: mendeskripdikan
“… sementara anaknya keadaan, merujuk pada keadaan
hanya satu, aku sendiri.” Rapingun yang merupakan anak
68

tunggal.

Konteks: Rapingun mengatakan


pada Den Bei asisten Wedana dia
ingin bertemu orang tuanya, karena
ia adalah putra tunggal.
48 … panganggone mopro Karto (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
mompyor nganti kaya toko 50) 2. Bentuk: dua silabel
mlaku. 3. Fungsi:mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada cara
“… pakaian mopro Karto berpakaian mopro Karto yang
mompyor seperti toko sangat mewah dan berlebihan.
berjalan.”
Konteks: Petruk bercerita pada
Gareng tentang cara berpakaian
mopro Karto sangat berlebihan.
49 … diyan pompan sing maune ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
urube byar-pet, saiki wah 98) 2. Bentuk: dua silabel
bregase banget. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada nyala
“… lampu yang tadinya lampu yang tadinya kadang
menyala byar-pet, sekarang nyala kadang tidak, tetapi
menyala dengan baik.” sekarang menyala dengan baik.

Konteks: Raden Ayu asisten


wedana mengatakan pada Raden
Ayu Tien kalau sekarang rumahnya
menjadi bersih dan lampu menyala
dengan baik.
50 … dumadakan kacaning (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
tendha ingkang wingking 72) 2. Bentuk: frasa
mak byar, ketingal padhang. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Tiba-tiba kaca belakang pada cahaya lampu yang begitu
tenda mak byar, telihat terang, sehingga menerangi oto
terang.” yang mogok.

Konteks: ada cahaya yang


menembus kaca belakang oto Den
Bei Asisten wedana yang mogok.
51 Ketingal sumlorot pating (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
glebyar dening dilah listrik 127) 2. Bentuk: frasa
ingkang tanpa wincalan. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Terlihat bersinar pating pada keadaan kota yang diterang
glebyar lampu listrik sekan akan caaya lampu penerangan.
69

tak terhitung.” Konteks: ketika Raden ajeng Tien


sampai di alun-alun dan melihat
banyak lampu yang terang.
52 … hek, hek, Mo-as, tukokake (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
jungkat ngawe-awe kaya sing 50) 2. Bentuk: satu silabel
dienggo jipro Sarinten. (pengulangan)
3. Fungsi: penggambaran suasana
“… hek, hek, Mo-as, belikan hati, merujuk pada seseorang
aku sisir melambai seperti yang merengek untuk meminta
yang dipakai jipro Sarinten.” dibelikan sesuatu.

Konteks: Petruk berceria pada


Gareng tentang wanita yang bisa
mengerti keadaan suaminya, tidak
hanya menuntut saja.
53 Sssssss! Iki lho delengen, ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
lathine rak padha karo 177) 2. Bentuk: satu silabel
lambemu. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
sesuatu yang dilihat, merujuk
“Sssssss! Ini lihat, bibirnya pada Raden Ajeng Tien yang
kan sama dengan bibirmu.” sedang berpikir ketika melihat
Rapingun yang mirip dengan
Raden Ayu Gandaatmaja.
Konteks: Raden Ajeng Tien
mengatakan pada Rapingun kalau
Rapingun mirip dengan Raden Ayu
Gandaatmaja
54 Hus, hus Ta, aja gemblung ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
lho. 204) 2. Bentuk: satu silabel pengulangan
“Hus, hus ta, jangan gila 3. Fungsi: penggambaran suasana
dong.” hati, merujuk pada suasana hati
Raden Mas Sutanta yang malu
karena disindir oleh Kerta
sehingga meminta Karta unyuk
menghentikan pembicaraannya.

Konteks: Kerta dan Ndara Seter


(Rapingun) sedang membicarakan
tentang oto baru Ndara Seter,
namun kerta kadang salah
menyebut nama Ndara Seter
dengan sebutan Rapingun.
55 Sarta winantua kabegjan ( TC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
ageng, miwah panjang 260) 2. Bentuk: satu silabel
ingkang yuswa, kasarasan 3. Fungsi: penggambaran suasana
ing salami-laminipun. hati, merujuk pada suasana hati
70

(kendel). bahagia ketika sedang berpesta.


Hip, hip hip
Konteks: sorak sorai para tamu
“Serta menemui pesta yang diadakan oleh Raden
keberuntungan besar, panjang Nganten Tangkilan.
umur, dan sehat selama-
lamanya. (terdiam).
Hip, hip hip”
56 Set, Landa jejerku iki, wong (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
sampanye dewekku jare 23) 2. Bentuk: satu silabel
ditenggak wani. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“Set. landa sebelahku ini, ketika Petruk meminta Gareng
sampanye punyaku berani mengurang volume suaranya
diminum.” ketika Landa yang mereka
bicarakan berada di samping
Petruk.

Konteks: Petruk mengatakan pada


Gareng kalau orang asing di
sebelahnya telah menghabiskan
sampanye Petruk, sehingga
meminta Gareng untuk diam.
57 … dilalah jaka ingkang (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
prakosa punika noleh 138) 2. Bentuk: satu silabel
dhateng wingking, plek 3. Fungsi: mendeskripsikan
gathuk panyawangipun. keadaan, merujuk pada keadaan
di mana pandangan Raden Ajeng
“… kebetulan pemuda gagah Tien dan seorang pemuda tepat
perkasa itu menoleh ke saling beradu mata.
belakang, plek bertemu
pandang.” Konteks: Raden Ajeng Tien
bertemu dengan seorang pemuda
saat ia menonton wayang, dan
mereka saling berpandangan.
58 Tamu-tamu sareng sumerep (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
raden Mas Sutanta, tiga pisan 200) 2. Bentuk: satu silabel
cep, mboten nyuwanten 3. Fungsi: mendeskrisikan keadaan,
ngantos sawetawis dangu. merujuk pada keadaan di mana
para tamu kaget hingga tak bisa
“Setelah para tamu melihat berkata apapun ketika melihat
Raden Mas Sutanta, cep, Raden Mas Sutanta
tidak bersuara.”
Kontes: Keadaan hening saat para
tamu melihat Raden Mas Sutanta.
59 Uwaling tas, tanganipun ceg (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
71

nyandak pundakipun 122) 2. Bentuk: satu silabel


Rapingun ingkang tengen. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Tas terlepas, tangannya ceg pada Raden Ajeng Tien yang
memegang pundak kanan secara reflek berpegangan tepat
Rapingun.” di pundak Rapingun.

Konteks: Rapingun membantu


Raden Ajeng Tien yang baru saja
terjatuh ketika akan menaiki oto.
60 … iya mung dibrongot ana (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi manusia
bedhiyan sarta banjur gewel- 9) 2. Bentuk : dua silabel
gewel dipangan… (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan
“… iya hanya dibakar di atas terhadap benda yang dilihat,
api, lalu gewel-gewel didengar dan dirasakan, merujuk
dimakan.” pada kesan ketika orang jaman
dahulu makan daging kambing
bakar dengan lahapnya.

Konteks: Gareng menceritakan


pada Petruk tentang kehidupan
orang-orang purba.
61 Ibu kok ngendika klesak- ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
klesik. 71) 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“Ibu kok berbicara berbisik- 3. Fungsi: memberikan kesan pada
bisik.” benda yang didengar, merujuk
pada Ibunya Tien yang sedang
berdoa dengan pelan-pelan

Konteks: Den Ayu wedana berdoa


memohon bantuan datang untuk
otonya yang mogok.
62 … ingkang putra sampun ( TC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
ketingal therok-therok…. 216) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Putra Anda sudah terlihat benda yang dilihat, merujuk
therok-therok….” pada putra Jagakarsa yang sudah
cukup umur untuk disunat.

Konteks: Jagakarsa mengatakan


pada Raden Nganten Tangkilan
untuk segera mengadakan pesta
tetesan untuk putrinya.
72

63 … ngemungake sing pancen (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia


wis ucul, kuwi sok banjur 13) 2. Bentuk : dua silabel
plencing, mlumpat jendela, 3. Fungsi: penggambaran keadaan,
…. merujuk pada keadaan di mana
seseorang yang pergi begitu saja.
“… membiarkan yang sudah
lepas, itu kadang plencing, Konteks: Gareng bercerita pada
melompat jendela.” petruk tentang Kumidhi setambul.
64 … mila namung gidro-gidro (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
kaliyan mengkal-mengkal 107) 2. Bentuk: dua silabel
kemawon. … … (pengulangan)
3. Fungsi: mendeskripsikan
“… maka hanya gidro-gidro keadaan, merujuk pada kuda
sambil menyepak saja.’” yang melompat-lompat
kebingungan.

Konteks: menceritakan tingkah


laku Hel saat Rapingun akan
memasang tapel kuda.
65 … tanganipun kiwa lajeng (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
kangge nutupi mripatipun 163) 2. Bentuk: dua silabel
ingkang wiwit brebel-brebel (pengulangan)
medal luhipun. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“… tangan kirinya lalu Raden Ajeng Tien yang mulai
digunakan untuk menutupi menangis karena tidak tega
matanya yang mulai brebel- melihat keadaan Rapingun.
brebel mengeluarkan air
mata.” Konteks: Raden Ajeng Tien
menangis ketika melihat Rapingun
yang terluka.
66 Den Bei Asisten wedana (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
dheleg-dheleg. 195) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Den Bei Asisten wedana keadaan, merujuk pada keadaan
dheleg-dheleg.” ketika Den Bei Asisten merasa
kagum pada Rapingun

Konteks: Den Bei Asisten wedana


menceritakan pengalaman
pertamanya bertemu Rapingun.
67 … krungu swara blag-bleg (AM, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
sarta sesambat.… 302) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“… terdengar suara blag-bleg keadaan, merujuk pada keadan
dan teriakan.” ketika Kertwana memukuli
73

istrinya.

Konteks: Kertawana dan istrinya


sedang bertengkar masalah orang
ketiga dalam rumah tangga mereka.
68 Iya ketanting grek, ketanting (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
grek. 24) 2. Bentuk : multisilabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Iya ketanting grek, ketanting benda yang dilihat, di dengar,
grek.” dirasakan, merujuk pada suara
langkah kaki Gareng, yang tidak
senada dengan irama musik.

Konteks: Petruk menggambarkan


cara berjalan Gareng.
69 … wong mlaku besus kathik (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
diunekake cethit genteyong. 33) 2. Bentuk: multisilabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… orang berjalan kok benda yang dilihat, didengar atau
dikatakakan cethit dirasakan, merujuk pada suara
genteyong.” langkah kaki Makne Kampret.

Konteks: Petruk menggambarkan


cara berjalan makne Kampret
ketika menggunakan selop.
70 … kathik nganggo nyuwara (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
dicemengkling- 30) 2. Bentuk: multisilabel
cemengklingake, dhah, dhah, 3. Fungsi: mendeskripsikan suatu
dhah, dho, wah, dho wah…. keadaan merujuk pada suara
yang dikeraskan
“… dengan suara yang
dinyaring-nyaringkan dhah, Konteks: Gareng menceritakan
dhah, dhah, dho, wah, dho pada Petruk ketika istrinya
wah….” berpamitan padanya.
71 … sinambi ngomong (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
mangkene, yah seker, seker, 29) 2. Bentuk: multisilabel
nin, nin, turlek, turlek, 3. Fungsi: meniru perbuatan yang
lekker, seh. menghasilkan bunyi, Gareng
yang sedang menirukan cara
“… sambil berkata, yah berbicara seorang Nyonyah
seker, seker, nin, nin, turlek, Belanda.
turlek, lekker, seh.”
Konteks: Gareng menirukan cara
berbicara seorang Nyonyah
Belanda.
74

72 … ketheplik, ketheplik, iki (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia


swara lakune. 37) 2. Bentuk: tiga silabel
3. Fungsi: meniru perbuatan yang
“Ketheplik, ini suara menghasilkan bunyi, merujuk
langkahnya.” pada bunyi suara langkah kaki
seorang putri permaisuri yang
lemah gemulai.

Konteks: Gareng bercerita pada


petruk tentang wanita cantik yang
berjalan lemah gemulai.
73 … lumrahe malah karo (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
singsat-singsot, sit su-wit, sit 57) 2. Bentuk: multisilabel
sit suwit suwit. 3. Fungsi: menirukan perbuatan
yang menghasilkan bunyi,
“Biasanya malah sambil merujuk pada menirukan bunyi
bersiul, sit su-wit, sit sit suwit siulan para laki-laki yang
suwit.” melihat kecantikan para wanita
yang menjadi wakil rakyat.

Konteks: Gareng menirukan bunyi


siulan para laki-laki yang melihat
kecantikan para wanita yang
menjadi wakil rakyat.
74 Mengko ndisik ta, kae lho (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
lagi tekan: E ala. hai lola. 133) 2. Bentuk: multisilabel
nek nganti kecer marai ora 3. Fungsi: menirukan perbuatan
bisa turu. (benda) yang menghasilkan
“Apa gendhing kuwi ana pal- bunyi, merujuk pada Den Bei
palane ta Pak, lha lok tekan e Mantri yang menirukan suara
ala kuwi?” gendhing Lambangsari.
“Ora ngono gendhing
Lambangsari kuwi angger Konteks: Den Bei Mantri yang
tekan sendhon ngana kae menirukan suara gendhing
dhemenku ora jamak.” Lambangsari.

“Sebentar, itu lho baru


sampai E ala. hai lola. Kalau
sampai siaga membuat tidak
bisa tidur.
“Apa gendhing itu ada
hafalannya Pak, lha kok: e
alaseperti itu?
“Tidak seperti itu, gendhing
lambangsari itu kalau sudah
sampai dinyanyikan seperti itu,
75

membuat aku senang sekali.”


75 Tinimbang pating klapret, (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi manusia
rak becik diresiki dhisik. 6) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Daripada pating klapret, keadaan, merujuk pada keadaan
lebih baik dibersihkan dulu.” yang kotor dan tidak rapi

Konteks: Gareng ingat pesan


ayahnya untuk membenahi sesuatu
yang kotor dan tidak beraturan.
76 Dene jogede pating pleyot, (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
nganggo ngulat-ngulet 17) 2. Bentuk: frasa
barang kae. 3. Fungsi: mendesripsikan keadaan,
merujuk pada keadaan di mana
“Gerak tarinya pating pleyot ada penari tledek pada jaman
meliuk-liuk juga.” dahulu yang menari dengan
gerakan yang meliuk-liuk.
Konteks: Petruk menceritakan
tentang tarian ala Spanyol.
77 … malah padha pating (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
pendongong, pating 17) 2. Bentuk: frasa
plompong. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“… malah mereka pating di mana banyak orang yang
pendongong, pating tercengang ketika melihat para
plompong.” penari yang begitu seksi.

Konteks: Petruk menceritakan


ketika Rohaya akan pergi tidak ada
orang yang menghalangi, malah
mereka heran.
78 Mara, apa iki ora andedawa (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
rasa panalangsa le omahe 59) 2. Bentuk: frasa
bocor, utawa pating gambleh 3. Fungsi: mendeskripsikan
mau.. keadaan, merujuk pada keadaan
rumah yang tidak beraturan dan
“Apa ini tidak atapnya bocor di mana-mana.
memperpanjang penderitaan
ketika rumahnya bocor atau Konteks: Petruk membandingkan
pating gambleh.” kehidupan orang miskin dan orang
berada.
79 Sami sekala punika ugi pit (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
montor mak brubut 146) 2. Bentuk: frasa
ngrumiyini. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“Ketika itu pula juga ada saat sepeda motor menyalip
76

sepeda motor mak brubut mobil Raden Ajeng Tien.


menyalip.”
Konteks: Rapingun menepikan
mobilnya ketika ada sepeda motor
yang mendahului.
80 Mak dheg atiku, sing lekker (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
kui apane…. 29) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: penggambaran suasana
“Mak dheg hatiku, yang hati, merujuk pada Gareng yang
lekker itu apanya….” sedang kaget setelah mendengar
dan menirukan perkataan para
Nyonya Belanda

Konteks: Gareng kaget ketika


mendengar pembicaraan para
Nyonyah Belanda.
81 Mulane aku banjur wani mak (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
clup kapat tengah. 85) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: penggambaran suasana
“Maka aku berani mak clup hati, merujuk pada suasana hati
mengatakannya.” yang sudah tidak tahan
memendam suatu perasaan,
maka langsung mengatakannya
begitu saja.

Konteks: Raden Bei Asisten


wedana dan Nyah Hien sedang
tawar menawar mobil.
82 … iya banjur mak clinguk (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
dawa…. 52) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: menirukan perbuatan
“… lalu mak clinguk.” yang menghasilkan bunyi,
merujuk pada perbuatan ketika
seorang pria tiba-tiba melihat
wanita berbaju merah muda
maka akan langsung menoleh
untuk melihat wanita tersebut.

Konteks: Petruk menceritakan


watak lelaki ketika melihat wanita
cantik, pasti langsung menoleh.
77

Q. Pembahasan

Pembahasan hasil penelitian ini berupa deskripsi permasalahan yang

telah disebut pada bab sebelumnya. Berdasarkan rumusan masalah, dalam

pembahasan ada tiga hal yang dibahas, yaitu 1) jenis onomatope, 2) bentuk

onomatope, dan 3) fungsi onomatope yang terdapat dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Jenis, bentuk, dan fungsi onomatope

dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. tersebut akan

dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikut.

1. Jenis Onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya

Partini B.

Jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti

karya Partini B. dapat diklasifikasikan dalam empat jenis. Jenis-jenis

onomatope tersebut meliputi: a) tiruan bunyi benda, b) tiruan bunyi

hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Keempat jenis

onomatope tersebut akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut.

a. Tiruan Bunyi Benda

 Data 1

Konteks: Gareng sedang memaku kain penutup tembok (lurub), ia


mengungkapkan bunyi paku yang dipukul dengan palu dengan
kata thok thok thok.

Dhi, wis sedhengan, mengko tak pakune.


Thok, thok, thok, saiki sing sisih, ora menceng iki….
(PASC, 2)

“Dik, sudah cukup, nanti akan saya paku. Thok, thok, thok,
sekarang yang sebelah, tidak miring kan….” (PASC, 2)
78

Data (1) merupakan tuturan yang mengandung jenis onomatope

berupa tiruan bunyi benda, yaitu tiruan bunyi palu yang

dipukulkan pada paku sehingga menimbulkan bunyi thok thok

thok. Tiruan bunyi pukulan palu pada paku ini dilakukan ketika

Gareng sedang memaku kain penutup tembok di rumah Petruk.

Gareng mengungkapkan bunyi pukulan palu tersebut dengan

bunyi thok thok thok.

 Data 2

Konteks: Raden Ajeng Tien beserta ayah ibunya menunggu


bantuan karena oto mereka mogok.

Tik-tiking sekon dados menit…. (Ngl, 71)

Tik-tik sekon menjadi menit….” (Ngl, 71)

Data (2) merupakan teks yang mengandung jenis onomatope

berupa tiruan bunyi benda, tik-tik menunjukkan suara detik pada

jarum jam ketika Raden Ajeng Tien beserta ayah ibunya

menunggu bantuan untuk otonya yang mogok. Karena hal yang

dirujuk atau ditirukan adalah bunyi benda yang berupa jam, maka

digolongkan dalam jenis tiruan bunyi benda.

 data 3

Konteks: Den Bei dan istrinya berdebat ketika melihat cahaya


lampu mobil yang mulai mendekat ke arah oto mereka.

ya nanging kiraku dudu taksi, awit yen taksi lumrahe


lenterane ora…. Saweg dumugi semanten kepunggel dening
swara…..Hrrrrrrrrrr. (Ngl, 72)
79

“Tetapi menurutku bukan taksi, biasanya kalau taksi


lampunya tidak….. Baru sampai di situ terdengar suara….
Hrrrrrrrrrr.” (Ngl, 72)

Pada data (3) menunjukkan jenis onomatope tiruan bunyi benda.

Hrrrrrrrrrr menunjukkan suara mesin oto yang didengar oleh

semua anggota keluarga Den Bei asisten Wedana. Karena yang

dirujuk adalah suara oto, maka termasuk dalam jenis tiruan bunyi

benda.

 data 4

Konteks: ada sebuah oto yang berhenti tepat dibelakang oto miliki
Den Bei yang mogok.

Sssssssssssss! Oto wau kendel ing wingking leres. (Ngl, 72)

“Sssssssssssss! Oto berhenti tepat dibelakang” (Ngl, 72)

Pada data (4) menunjukkan jenis onomatope tiruan bunyi benda.

Sssssssssssss! menunjukkan suara oto yang berhenti tepat

dibelakang oto milik Den Bei, karena yang dirujuk adalah suara

benda (oto), maka termasuk dalam jenis tiruan bunyi benda.

 data 5

Konteks: Overland baru saja berhenti karena ia akan menemui


rekannya.

Saweg kemawon kendel greg…. (Ngl, 80)

“Baru saja berhenti greg….”(Ngl, 80)

Pada data (5) menunjukkan jenis onomatope tiruan bunyi benda

karena yang dirujuk adalah suara benda (oto), maka termasuk

dalam jenis tiruan bunyi benda. Greg menunjukkan ekspresi suara


80

oto Overland yang baru saja berhenti ketika akan menemui

temannya.

 data 6
Konteks: Rapingun menepuk leher Hel, kuda yang dirawatnya.

… Hel nedha pisang, gulunipun dipun puk-puk…(Ngl, 106)

“… Hel makan pisang, lehernya di puk-puk….”(Ngl, 106)

Pada data (6) terdapat tiruan bunyi benda berupa kata puk-puk.

Tiruan bunyi benda ini menunjukkan bunyi benda yang ditepuk,

dalam hal ini menunjukkan bunyi leher kuda (Hel) yang ditepuk

oleh Rapingun.

 data 8

Konteks: terdengar suara klakson dari belakang oto yang


dikemudikan Rapingun.

… saking wingking kamirengan wonten klakson kaganter


tiiiii…. tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. (Ngl, 146)

“… dari belakang terdengar suara klakson tiiiii….


tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit….”(Ngl, 146)

Pada data (8), bunyi tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. menunjukkan bunyi

yang dikeluarkan oleh sebuah benda, yaitu klakson motor yang

mengejar mobil Raden Ajeng Tien.

 data 9

Konteks: Tamu dalam pesta yang diadakan Raden Ngabei


Tangkilan memukul gelas, sebagai tanda agar para tamu lain
bersiap untuk mengisi gelas mereka.

Thing, thing, thing


(nuthuk gelas sepisan mengel kaping tiga, kaaturaken
samingiseni gelasipun anggur piyambak-piyambak) (TC, 260)
81

“Thing, thing, thing


(memukul gelas sekali, berbunyi tiga kali. para tamu
dipersilakan mengisi gelasnya dengan anggur” (TC, 260)

Pada data (9), terdapat jenis onomatope bunyi benda. Thing,

thing, thing menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari gelas yang

dipukul sebgai tanda untuk menuangkan anggur bagi para tamu

yang hadir dalam pesta yang diadakan Raden Ngabehi Tangkilan.

 data 10

Konteks: Raden Ngenten bertanya pada Dentawinangun apakah


sudah pukul sepuluh, tak lama kemudian, jam berbunyi
menunjukkan pukul sepuluh.

Theng, theng lah punika saweg mungel. (TC, 275)

“Theng, theng lha itu sedang berbunyi.” (TC, 275)

Pada data (10) terdapat tiruan bunyi benda Theng, theng. Theng,

theng menunjukkan bunyi yang dikeluarkan oleh jam dinding

yang telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

 data 11

Konteks: mengibaratkan persahabatan Pak Ali dan Pak Kasim


yang sudah mulai retak.

Bebasan piring wis rengat, wis benthet, kesenggol sethithik


wae mesthi ‘pyar….’ pecah! (KIWJ, 322)

“Ibarat piring yang sudah retak, tersenggol sedikit saja pasti


pyar….pecah!” (KIWJ, 322)

Kata ‘pyar….’ pada data (11) merupakan tiruan bunyi benda.

Tiruan bunyi ini menunjukkan bunyi piring yang pecah. Bunyi ini

mengibaratkan retaknya hubungan Pak Ali dan Pak Kasim yang


82

sudah mulai retak, karena tidak adanya rasa percaya di antara

keduanya.

 data 12

Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang pesta yang


dilakukan orang-orang pada zaman dahulu.

… lan menawa seneng-seneng tetabuhane iya sing dhung,


dhung, dhung sing rame banget…. (PASC, 10)

“… dan ketika bersenang-senang musiknya dhung, dhung,


dhung sangat ramai….” (PASC, 10)

Onomatope dhung, dhung, dhung pada data (12) termasuk ke

dalam jenis tiruan bunyi benda. Tiruan bunyi tersebut

menunjukkan bunyi alat musik pukul. Alat musik ini dibunyikan

pada pesta yang dilakukan oleh manusia-manusia zaman dahulu

yang belum mengenal peradaban.

 data 13

Konteks: Dalam acara snatan putra pertamanya Raden Bagus


Suwarna, Raden Nganten meninginginkan daging ayam utuhnya
dibelah menjadi dua.

… paronen byak bae. (TC 215)

“… dibagi byak saja.” (TC 215)

Byak pada data (13) termasuk ke dalam jenis onomatope tiruan

bunyi benda. Tiruan bunyi ini menunjukkan bunyi yang

dihasilkan oleh benda yang dibelah tepat menjadi dua.

Berdasarkan konteks, bunyi benda yang dimaksud ialah bunyi

daging ayam utuh yang dibagi menjadi dua.


83

 data 14

Konteks: Petruk bercerita pada Gareng kalau pembukaan Pasar


Gambir telah dimulau, ditandai dengan bunyi-bunyian musik.

Lo, lo, epret-eprete wis labuh muni, …. (PASC, 23)

“Lo, lo, epret-epretnya sudah mulai berbunyi.” (PASC, 23)


Pada data (14) terdaat tiruan bunyi benda, yaitu epret-epret.

Epret-epret menunjukkan bunyi yang dihasilakan oleh alat musik

tiup seperti terompet. Tiruan bunyi tersebut muncul karena

penutur (Petruk) mendengarkan bunyi terompet saat pembukaan

Pasar Gambir dan ia mengekspresikan apa yang ia dengar dengan

kata epret-epret.

 data 15

Konteks: Kasim penasaran dengan isi kendhil yang Pak ali


titipkan padanya. Ia memiringkan kendhil tersebut dan terdengar
bunyi itu.

… dadak nyuwara ‘krecek-krecek’. (KIWJ, 319)

“… tiba-tiba berbunyi krecek-krecek.” (KIWJ, 319)

Krecek-krecek pada data (15) merupakan tiruan bunyi benda.

Bunyi ini menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari gesekan

kepingan uang emas, ketika wadahnya (kendhil) dimiringkan oleh

Kasim yang penasaran dengan isi kendhil.

 data 16

Konteks: Kasim membuka tutup kendhil dan menumpahkan


kendhil itu.

Kendhil tumuli di walik, isnine disuntak. Kropyok…!(KIWJ,


319)
84

“Kendhil kemudian dibalik, isinya ditumpahkan.


Kropyok…!(KIWJ, 319)

Pada data (16) terdapat kata Kropyok…! yang termasuk ke dalam

jenis tiruan bunyi benda. Bunyi Kropyok…! menunjukkan bunyi

yang muncul ketika kepingan uang emas yang ada pada kendhil

ditumpahkan oleh Kasim.

 data 17

Konteks: Gareng bercerita pada petruk kalau ia ikut berjalan


mengelilingi Pasar Gambir pasti jalannya tidak kompak karena
langkah kakinya tidak sesuai dengan gendhing.

Sebab liya-liyane anggone padha mlaku, temtune manut


gendhing, tojing, tojing. (PASC, 23)

“Sebab ketika orang lain berjalan tentu mengikuti irama


tojing, tojing” (PASC, 23)

Pada tuturan data (17) terdapat jenis onomatope tiruan bunyi

benda, yaitu tojing, tojing. Bunyi tersebut menunjukkan bunyi

yang dihasilkan alat musik, seolah iramanya tojing, tojing. Karena

langkah kaki gareng berbunyi demikian, maka ia memutuskan

untuk tidak ikut berjalan kaki.

 data 18

Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang nyonyah Belanda


yang pantatnya sedikit bergoyang-goyang ketika mendengar suara
musik.

… lo kuwi para nyonyah-nyonyah Landa lan nyonyah-


nyonyah Jawa kuwi akeh sing bokonge dijlentrik-jlentrikake.
(PASC, 27)

“… lo para nyonyah Belanda dan nyonyah Jawa itu banyak


yang pantatnya di jlentrik-jlentikkan.” (PASC, 27)
85

Jlentrik-jlentrik merupakan tiruan bunyi benda, Tiruan bunyi ini

mncul karena manusia melihat para nyonyah Belanda yang

pantatnya bergoyang-goyang sedikit ketika mendengar suara

musik, sehingga manusia mengekspresikan apa yang dilihatnya

dengan kata jlentrik-jlentrik.

 data 19

Konteks: Petruk bercerita pada Gareng akan pembangunan jalan


yang dilakukan pemerintah, sehingga jalan terlihat licin dan
berkilau.

… ya iku supaya dalan ing kono katon kinclong-kinclong


kaya gelas. (PASC, 40)

“… ya itu supaya jalan di sana terlihat kinclong seperti gelas.”


(PASC, 40)

Pada data (19) terdapat jenis onomatope tiruan bunyi benda.

Tiruan bunyi ini muncul karena kesan yang diberikan manusia,

ketika manusia melihat benda yang bersih dan berkilau, dalam

tuturan di atas, jalan yang begitu bersih digambarkan seperti gelas

yang berkilau. Benda berkilau yang dirujuk berdasarkan konteks

ialah kondisi jalan yang mulus tanpa lubang dan bersih. Selain

pada data (19) tiruan bunyi benda kinclong-kinclong juga terdapat

pada data (21), dan data (24).

data 21

Konteks: Nyah Hien mengutarakan akan kelebihan


otomiliknya yang akan di beli Raden Ayu asisten wedana.

Mila oto wau katingalipun inggih kinclong-kinclong


ajegan. (Ngl, 88)
86

“Apalagi oto (mobil itu terlihat masih tetap kincong.” (Ngl,


88)

data 24

Konteks: isi kendhil yang dititipkan pada Kasim ternyata


berupa kepingan uang emas.
Lha kok kendhilmu mau sing sisih ngisor jebul isi dhuwit
emas kinclong-kinclong. (KIWJ, 319)
“Lha kok bagian bawah isi kendhil itu ternyata uang emas
kinclong-kincong.” (KIWJ, 319)
Pada data (21) dan data (24) juga menggunakan tiruan bunyi

benda kinclong-kinclong. Tiruan bunyi ini menunjukkan bunyi

yang seakan-akan dihasilkan dari benda yang bersih dan berkilau.

Pada data (21) benda yang dimaksud adalah mobil Nyah Hien

yang masih bagus kondisinya dan ditawarkan pada Raden Ayu

Asisten Wedana. Sementara itu, pada data (24) benda yang

dimaksud ialah kepingan uang emas yang berkilau yang terdapat

dalam kendhil milik Pak Ali., Bukan hanya dengan kata kinclong-

kinclong, tiruan bunyi benda yang diberikan terhadap benda yang

berkilau dan besih juga diungkapkan dengan kata kincling-

kincling, seperti pada data (21) dan data (28) sebgai berikut.

data 20

Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang keadaan


ekonomi bangsa asing yang begitu makmur sampai jalanan
pun terlihat licin dan bersih.

… pada mangku dalan sing kincling-kincling, meling-


meling…. (PASC, 45)
87

“… melihat jalan yang kincling dan berkilau….” (PASC,


45)

data 27

Konteks: den Bei menjelaskan pada istrinya kalau oto mogok


itu hal yang wajar bukan karena oto itu rusak, apalagi kondisi
oto masih bagus.

Ana oto isih kincling-kincling ngene jare bobrok. (Ngl, 69)

“Oto masih kincling-kincling kok katanya rusak.” (Ngl,


69)

Pada data (20) dan (27) juga terdapat tiruan bunyi yang seolah

dihasilkan dari bunyi benda yang berkilau dan bersih, yaitu

diwujudkan dengan kata kincling-kincling. Berdasarkan konteks,

pada data (20) benda yang dirujuk adalah jalanan yang licin dan

bersih, sedangkan pada data (27) benda yang dirujuk ialah oto

milik Den Bei Asisten Wedana.

 data 22

Konteks: Raden Ayu asisten wedana berkata pada suaminya kalau


ia takut Rapingun akan di gigit atau diserang Hel, kuda mereka
yang dianggap gila.

Sida diklethak temenan mengko. (Ngl, 99)

“Benar diklethak nantinya.” (Ngl, 99)

Pada data (22) terdapat jenis tiruan bunyi benda, yaitu klethak.

Bunyi ini menunjukkan bunyi yang dihasilkan ketika sesuatu

yang keras berhasil dipecahkan. Dalam cerita, digambarkan

manusia akan digigit kuda sehingga menimbulkan bunyi

demikian.
88

 data 23

Konteks: dalam pertemuan perangkat desa, Jayadi bercerita


tenang bentuk rajapati di Cindhereja.

… naming dhiwut-dhiwut anggegilani. (AM, 306)

“… hanya dhiwut-dhiwut mengerikan.” (AM, 306)

Pada tuturan tersebut terdapat tiruan bunyi benda, yaitu dhiwut-

dhiwut. Tiruan bunyi ini menunjukkan reaksi bunyi yang akan

mucul ketika manusia merasakan sesuatu yang besar dan

mengerikan. Benda yang dimaksud berdasarkan konteks ialah

rajapati di desa Cindhereja.

 data 25

Konteks: Gareng bercerita pada Petruk akan suarakuda yang


terpeleset karean jalannya begittu licin.

Sreset,iki suwarane jaran andhong sing kepleset. (PASC, 45)

“Sreset, itu suara andong yang terpeleset.” (PASC, 45)

Pada tuturan tersebut kata sreset merupakan tiruan bunyi benda.

Bunyi tersebut muncul ketika manusia mendengar suara andhong

yang terpeleset dan mengekspresikannya dengan kata sreset.

 data 26

Konteks: Pertuk berpendapat kalau wanita itu bila sudah punya


kesibukan maka ia akan konsentrasi sepenuhnya pada kesibukan
mereka. tetapi kalau melihat sesuatu yang tidak semeestinya
maka ia akan merasakannya.

… iya banjur, gluthek, weruh wae. (PASC, 52)

“… iya lalu, gluthek, melihat.” (PASC, 52)


89

Pada data (26) terdapat tiruan bunyi benda, yaitu gluthek. Tiruan

bunyi ini biasanya menunjukkan bunyi benda yang jatuh. Pada

data tersebut berisi ungkapan untuk menunjukkan seorang wanita

yang sangat peka dan teliti terhadap setiap keadaan dan peristiwa.

Ungkapan yang mengandung jenis tiruan bunyi benda, juga

terdapat pada data (28), (29), (30), (31), (32), (33), (34), (35), (36), (37),

(38), dan (39). Tiruan bunyi benda ini digunakan untuk

menungungkapkan kesan terhadap sesuatu yang dilihat, didengar dan

dirasakan, serta untuk mendeskripsikan keadaan.

 data 28

Konteks: ketika Jayadi akan membunuh Mbok Karta dan anaknya


tiba-tiba ni Wunguk muncul.

… grobyak, ni Wungkuk jumedhul. (AM, 311)

“… grobyak, ni Wungkuk muncul.” (AM, 311)

Pada data (28) terdapat tiruan bunyi benda yaitu grobyak.

Grobyak menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari ekspresi

manusia ketika melihat dan mendengar benda yang jatuh. Namun

berdasarkan konteks hal yang dimaksud bukanlah benda yang

jatuh melainkan ni Wungkuk yang tiba-tiba muncul ketika Jayadi

akan membunuh Mbok Karta.

 data 29

Konteks: Ketika Petruk, Gareng dan istri mereka sedang berdebat,


Gareng tiba-tiba bersenandung menirukan suara gendhing yang
didengarnya.
90

Gareng (rengeng-rengeng), ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-


ing-ting gentak, dhublang, dhublang, ging....’ (PASC, 27)

“Gareng bersenandung ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-ing-ting


gentak, dhublang, dhublang, ging….”(PASC, 27)

Pada data tersebut terdapar tiruan bunyi ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-

lolo-ing-ting gentak, dhublang, dhublang, ging….”. Bunyi

tersebut menunjukkan bunyi alat-alat musik (seperangkat

gamelan) yang ditirukan oleh Gareng.

 data 30

Konteks: Gareng bercerita ketika para peserta pesta mendengar


suara musik seperti itu, mereka kemudian menari.

Bareng musike wiwit diunekake, thethet thiyet tretet jing


jing jing…. (PASC, 27)

“Ketika musiknya mulai dibunyikan, thethet thiyet tretet


jing jing jing….” (PASC, 27)

Pada data (30) tedapat tiruan bunyi benda yaitu thethet thiyet

tretet jing jing jing. Bunyi thethet thiyet tretet menunjukkan bunyi

yang dihasilkan oleh alat musik tiup, berupa terompet. Sementara

itu, bunyi jing jing jing juga merupakan bunyi yang dihasilkan

oleh alat musik, berupa alat musik pukul. Dengan adanya bunyi-

bunyian tersebut, membuat para peserta pesta menari.

 data 31

Konteks: Gareng mencerikan ketika ia melihat penari yang


kakinya diketheplek-ketheplekke

Sikile diketheplek-ketheplekake, sajak nikmat banget kae.


(PASC, 27)
91

“Kakinya diketheplek-ketheplekke sepertinya menyenagkan


sekali.” (PASC, 27)

Pada data (31) terdapat jenis onomatope tiruan bunyi benda,

benda yang dirujuk adalah kaki manusia. Bunyi ketheplek-

ketheplek menunjukkan bunyi yang muncul ketika kaki penari

menyentuh lantai (berjalan),

 data 32

Konteks: Biyang Nala melihat Petruk bergoyang jempol, dan


mengekspresikan goyangan jempol tersebut dengan kata pating
kethuwel.

… jebul tangane melu pating kethuwel…. (PASC, 27)

“… ternyata tangannya ikut pating kethuwel…”(PASC, 27)

Pating kethuwel menunjukkan bunyi yang dihasilkan oleh benda

berupa tangan manusia. Bunyi ini timbul karena manusia

memberikan kesan terhadap apa yang dilihat dan dirasakannya,

yaitu terhadap tangan yang bergoyang-goyang tak beraturan.

Berdasarkan konteks, bunyi pating kethuwel menunjukkan bunyi

goyangan jempol yang dilakukan oleh petruk.

 data 33

Konteks: Den Bei bingung melihat laki-laki yang menolongnya,


apakah dia sopir atau orang terpandang.

Nanging sami ketingal pating dlemok tilas kenging lisah.


(Ngl, 73)

“Namun terlihat pating dlemok bekas terkena minyak.”


(Ngl, 73)
92

Pada data (33) terdapat frasa pating dlemok. Frasa ini menunjukkan

tiruan bunyi benda, yang muncul ketika manusia melihat celana

yang dipakai Rapingun kotor terkena noda minyak.

 data 34

Konteks: Petruk menceritakan pada Biyang nala tentang


permainan dulhop, permainan ditempat gelap dengan jalan yang
begitu banyak.

Wis peteng kathik dalane pating tleser pirang-pirang, wong


sok bisa kesasar (PASC, 30)

“Sudah gelap, sementara jalanya pating tleser, kadang


orang bisa tersesat.” (PASC, 30)

Pating tleser merupakan tiruan bunyi benda yang menunjukkan

bunyi yang dihasilkan dari perasaan (kesan) Petruk ketika melihat

dan merasakan jalanan yang begitu banyak cabangnya sehingga

membuat orang tersesat.

 data 35

Konteks: Biyang Nala menceritakan sifat Gareng yang ternyata


hanya berani di belakang saja.

Ya kuwi adate kakangmu, ana ing ngarep plentas-plentus,


nanging nek dikon ngecaki temenan iya banjur mak
pengkeret. (PASC, 32)

“Ya seperti itulah kakakmu, di depan terlihat berani, tetapi


ketika harus berbuat ya mak pengkeret.” (PASC, 32)

Mak pengkeret menunjukkan tiruan bunyi yang dihasilkan dari

benda yang dirasakan semakin mengecil, atau dalam bahasa Jawa

disebut dengan istilah mengkeret. Berdasarkan konteks yang


93

semakin mengecil ialah nyali Gareng, Gareng hanya berani

berkata di belakang saja.

 data 36

Konteks: Oto Raden Ajeng Tien sampai di pertigaan, di sana


terlihat lampu yang begitu terang.

Dumugi pratiga ingkang dhateng Waleri, ing pinggir margi


kiwa tengen katingal dilah pating klencar. (Ngl, 80)

“Sampai pertigaan menuju Waleri, di sepanjang jalan terlihat


lampu pating klencar.” (Ngl, 80)

Pating klencar menunjukkan tiruan bunyi yang dihasilkan dari

benda yang dirasakan bercahaya dan begitu terang. Benda ini

berupa lampu di pertigaan yang menyala dan dalam jumlah yang

banyak.

 data 37

Konteks: Petruk menirukan suara selop berlumpur yang ditarik.

Lo sing makcethit kuwi suwarane selop sing diganduli lemah


lempung kaya ing kene kiyi, banjur ditarik cethit. (PASC, 33)

“Lo yang makcethit itu suara selop yang terkena tanah liat
kemudian ditarik.” (PASC, 33)

Pada data (37) terdapat frasa makcethit yang merupakan tiruan

bunyi benda. Mak cethit menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari

sandal yang terkena lumpur kemudian ditarik.

 data 38

Konteks: Gareng berkata pada Petruk tentang langkah kaki orang,


yang sesuai irama musik.
94

Lakune iya, thoprak, thoprak, thoprak, balik aku ….(PASC,


23)

“Jalannya ya, thoprak, thoprak, thoprak kalau


aku….”(PASC, 23)

Pada data tersebut terdapat tiruan bunyi benda, yaitu thoprak,

thoprak, thoprak. Berdasarkan konteks tiruan bunyi tersebut

bersumber dari suara sepatu atau sandal yang dipakai para

peserta pawai untuk berjalan.

 data 39

Konteks: Petruk dan Gareng menceritakan tentang makanan yang


dibungkus daun, dan berminyak.

… buntele godong sing dilengani nganti kinyis-kinyis.


(PASC, 38)

“… bungkusnya daun yang diberi minyak sampai kinyis-


kinyis.” (PASC, 38)

Pada data (39) terdapat tiruan bunyi benda kinyis-kinyis. Tiruan

bunyi ini menunjukkan bunyi yang Petruk ketika bercerita pada

Gareng tentang daun pembungkus makanan yang terlihat

berminyak.

b. Tiruan Bunyi Hewan

 data 40

Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang istrinya yang


begitu cerewet seperti bebek.

Mbakyumu iya wis wek, wek, wek, sepuluh kecap. (PASC, 39)

“Kakakmu ya sudah wek, wek, wek, sepuluh kecap.” (PASC,


39)
95

Wek, wek, wek merupakan tiruan bunyi hewan. Wek, wek, wek

menunjukkan bunyi bebek. Berdasarkan konteks, diceritakan istri

Petruk sangat cerewet sehingga Petruk mengungkapkannya

dengan tiruan bunyi hewan bebek, yang juga dianggap hewan

yang cerewet dan tidak bisa diam.

 data 41

Konteks: Hel bersemangat ketika Rapingun menaikinya untuk


melintasi jembatan.
Bekas-bekos kaliyan gebras-gebres. (Ngl, 112)

“Bekas-bekos dan gebras-gebres.” (Ngl, 112)

Bekas-bekos dan gebras-gebres merupakan tiruan bunyi hewan,

yaitu bunyi yang dihasilkan ketika kuda Hel yang bernafas

dengan terngah-engah, Sementara gebras-gebres menunjukkan

bunyi yang muncul ketika Rapingun melihat kuda Hel

menggeleng-gelengkan kepalanya.

 data 42

Konteks: Rapingun mendekati Hel yang sudah kelelahan.

Rapingun lajeng murugi Hel ingkang tansah gereng-gereng


(Ngl, 119)

“Rapingun lalu mendekati Hel yang sedang gereng-gereng”


(Ngl, 119)

Gereng-gereng menunjukkan bunyi yang dihasilkan kuda milik

Den Bei Asisten Wedana, ketika kuda tersebut menggeram karena

kelelahan.
96

c. Tiruan Bunyi Alam

 data 43

Konteks: Den Bei Asiaten Wedana menghidupkan otonya, dan


lampu oto menyala

… lentera byar padhang. (Ngl, 76)

“… lentera byar terang.” (Ngl, 76)

Byar merupakan tiruan bunyi alam. Bunyi byar menunjukkan

bunyi yang dihasilkan matahari terbit pada pagi hari, yang tadinya

gelap menjadi terang. Oleh karena itu, byar dikategorikan dalam

jenis tiruan bunyi alam. Dalam konteks data (43) di atas, byar

merupakan tiruan bunyi terhadap lampu oto yang menyala setelah

beberapa saat padam. Tidak hanya itu, perasaan manusia pun bisa

digambarkan dengan kata byar. Perasaan manusia yang tadinya

terlihat sedih, setelah menjadi bahagia diekspresikan dengan kata

byar. Hal ini terlihat pada data 46:

data 46

Konteks: Raden Ajeng Tien kaget ketika Rapingun


memanggilnya, dan ia merasa senang.

Sanalika pasemonipun Raden Ajeng Tien ingkang katingal


suntrut lajeng byar padhang….. (Ngl, 155)

“Seketika wajah Raden Ajeng Tien yang terlihat muram,


seketika byar bahagia…. (Ngl, 155)

Byar pada data (46) mengungkapkan ekspersi wajah Raden Ajeng

Tien yang tadinya sedih, lalu berubah menjadi bahagia ketika


97

mendengar suara Rapingun. Selain itu, penggunan onomatope

byar juga terdapat pada:

data 50

Konteks: ada cahaya yang menembus kaca belakang oto Den


Bei Asisten wedana yang mogok.

… dumadakan kacaning tendha ingkang wingking mak byar,


ketingal padhang. (Ngl, 72)

“Tiba-tiba kaca belakang tenda mak byar, telihat terang.”


(Ngl, 72)

Mak byar menunjukkan tiruan bunyi alam yang merujuk pada

suasana terang setelah ada cahaya yang menembus kaca belakang

oto milik Den Bei Asisten Wedana yang mogok di jalan.

 data 44

Konteks: Den Bei Asisten wedana terkejut ketika melihat Kerta


sudh berganti pakaian dan memakai blangkon dengan motif udan
riris byur

Udhengipun blangkon udan riris byur…. (Ngl, 90)

“Memakai blangkon hujan grimis byur….” (Ngl, 90)

Byur termasuk dalam tiruan bunyi alam. Byur menunjukkan bunyi

alam yang muncul ketika hujan. Bunyi itu dilambangkan dalam

bentuk motif kain penutup kepala (blangkon).

 data 45

Konteks:Den Bei Asiten wedana mengatakan pada Rapingun


kalau ia merasa menyayangi Rapingun.

Brol tresna kula metu. (Ngl, 130)

“Brol cintaku muncul.” (Ngl, 130)


98

Pada data (45) terdapat tiruan bunyi alam, yaitu brol. Bunyi brol

menunjukkan bunyi yang dihasilkan ketika manusia mencabut

sesuatu, misalnya tanaman atau bisa juga untuk menunjukkan

bunyi yang dihasilkan ketika manusia mengeluarkan sesuatu

dalam jumlah yang banyak. Namun berdasarkan konteks, kata

brol menunjukkan perasaan cinta yang dalam.

 data 47

Konteks: Rapingun mengatakan pada Den Bei asisten Wedana dia


ingin bertemu orang tuanya, karena ia adalah putra tunggal.

… mangka anakipun namung setunggal thil kula piyambak. (


Ngl, 187)

“… sementara anaknya hanya satu, aku sendiri.” ( Ngl, 187)

Thil merupakan tiruan bunyi alam. Tiruan bunyi ini menunjukkan

bunyi buah atau bunga yang dipetik. Namun berdasarkan konteks

cerita, bunyi ini menunjukkan bunyi yang menegaskan keadaan

satu-satunya, yaitu keadaan yang menyatakan bahwa Rapingun

sebenarnya adalah seorang anak tunggal dari keluarga kaya.

 data 48

Konteks: Petruk bercerita pada Gareng tentang cara berpakaian


mopro Karto sangat berlebihan.

panganggone mopro Karto mompyor nganti kaya toko


mlaku. (PASC, 50)

“… pakaian mopro Karto mompyor seperti toko berjalan.”


(PASC, 50)

Mompyor merupakan tiruan bunyi alam. Bunyi mompyor

menunjukkan bunyi yang digunakan untuk menggambarkan


99

keadaan alam yang begitu terang di malam hari karena dihiasi

cahaya bintang. Berdasarkan konteks, mompyor di sini

menunjukkan bunyi yang dihasilkan ketika melihat cara

berpakaian Mopro Karto yang sangat mewah dan berlebihan.

 data 49

Konteks: Raden Ayu asisten wedana mengatakan pada Raden


Ayu Tien kalau sekarang rumahnya menjadi bersih dan lampu
menyala dengan baik.

… diyan pompan sing maune urube byar-pet, saiki wah


bregase banget. ( Ngl, 98)

“… lampu yang tadinya menyala byar-pet, sekarang menyala


dengan baik.” ( Ngl, 98)

Pada data (49) terdapat tiruan bunyi alam byar-pet. bunyi byar

biasanya menunjukkan keadaan alam yang terang, dan bunyi pet

biasanya menunjukan keadaan gelap. Namun dalam konteks ini,

byar-pet digunakan untuk menunjukkan nyala lampu yang kadang

menyala dan kadang padam.

 data 51

Konteks: ketika Raden ajeng Tien sampai di alun-alun dan


melihat banyak lampu yang terang.

Ketingal sumlorot pating glebyar dening dilah listrik ingkang


tanpa wincalan. (Ngl, 127)

“Terlihat bersinar pating glebyar lampu listrik sekan tak


terhitung.” (Ngl, 127)

Pating glebyar merupakan tiruan bunyi alam yang muncul ketika

manusia melihat sesutu yang bercahaya terang, seperti bintang,


100

dalam jumlah yang banyak. Dalam konteks cerita cahaya yang

terang itu berasal dari lampu dalam jumlah yang cukup banyak.

d. Tiruan Bunyi Manusia

 data 52

Konteks: Petruk berceria pada Gareng tentang wanita yang bisa


mengerti keadaan suaminya, tidak hanya menuntut saja.

… hek, hek, Mo-as, tukokake jungkat ngawe-awe kaya sing


dienggo jipro Sarinten. (PASC,50)

“… hek, hek, Mo-as, belikan aku sisir melambai seperti yang


dipakai jipro Sarinten.” (PASC,50)

Hek, hek merupakan tiruan bunyi manusia. Bunyi ini menunjukan

bunyi tangisan atau rengakan seotrang wanita yang meinta

dibelikan sisir seperti milik jipro Sarinten.

 data 53

Konteks: Raden Ajeng Tien mengatakan pada Rapingun kalau


Rapingun mirip dengan Raden Ayu Gandaatmaja.

Sssssss! Iki lho delengen, lathine rak padha karo lambemu. (


Ngl, 177)

“Sssssss! Ini lihat, bibirnya kan sama dengan bibirmu.” ( Ngl,


177)

Sssssss! merupakan tiruan bunyi manusia. Tiruan bunyi ini

menunjukkan bunyi untuk mengheningkan keaadaan yang tadinya

gaduh, dengan kata lain, bunyi ini untuk mengheningkan keadaan.

Raden Ajeng Tien meminta Rapingun untuk diam sejenak dan


101

melihat foto putra Raden Ayu Gandaatmaja yang mirip dengan

Rapingun.

 data 54

Konteks: Kerta dan Ndara Seter (Rapingun) sedang


membicarakan tentang oto baru Ndara Seter, namun Kerta kadang
salah menyebut nama Ndara Seter dengan sebutan Rapingun.

Hus, hus Ta, aja gemblung lho. ( Ngl, 204)

“Hus, hus Ta, jangan gila dong.” ( Ngl, 204)

Pada data di atas, terdapat tiruan bunyi manusia, hus,hus. Tiruan

bunyi ini menunjukkan tiruan bunyi yang dihasilkan ketika akan

mengusir hewan. Namun berdasarkan konteks, tiruan bunyi ini

menunjukkan tiruan bunyi manusia ketika Ndara Seter

(Rapingun) merasa malu ketika disindir oleh Kerta.

 data 55

Konteks: sorak sorai para tamu pesta yang diadakan oleh Raden
Nganten Tangkilan.

Sarta winantua kabegjan ageng, miwah panjang ingkang


yuswa, kasarasan ing salami-laminipun. (kendel).
Hip, hip hip ( TC, 260)

“ Serta menemui keberuntungan besar, panjang umur, dan


sehat selama-lamanya. (terdiam).
Hip, hip hip ( TC, 260)

Hip, hip hip merupakan tiruan bunyi manusia yang menunjukkan

bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh perasaan bahagia, ketika sedang

berpesta. Ketika berpesta para tamu bersorak sorai untuk


102

memeriahkan pesta yang diadakan oleh Raden Nganten

Tangkilan.

Ungkapan yang mengandung jenis onomatope tiruan bunyi

manusia, juga terdapat pada data (56), (57), (58), (59), (60), (61),

(62), (63), (64), (65), (66), (67), (68), (69), (70), (71), (72), (73),

(74), (75), (76), (77), (78), (79), (80), (81), dan (82). Tiruan bunyi

manusia ini menunjukkan ekspresi yang dihasilkan manusia ketika

menanggapi suatu keadaan. Adapun data-data tersebut, dapat

dijelaskan dengan tabel berikut.

Tabel 3
Tiruan bunyi manusia

No. data Data Konteks Keterangan


56 Set, Landa jejerku iki, Petruk mengatakan Menunjukkan
wong sampanye pada Gareng kalau bunyi ketika Petruk
dewekku jare orang asing di meminta Gareng
ditenggak wani. sebelahnya telah untuk diam
(PASC, 23) menghabiskan
sampanye Petruk,
“Set. landa sebelahku sehingga meminta
ini, sampanye Gareng untuk diam
punyaku berani
diminum.”
57 … dilalah jaka Raden Ajeng Tien Menunjukkan
ingkang prakosa bertemu dengan bunyi yang
punika noleh dhateng seorang pemuda saat diekspresikan
wingking, plek gathuk ia menonton wayang, manusia ketika
panyawangipun. (Ngl, dan mereka saling melihat sesuatu
138) berpandangan. yang saling
bertepatan, yaitu
“… kebetulan pemuda pandangan Raden
gagah perkasa itu Ajeng Tien dan
menoleh ke belakang, seorang pemuda.
plek bertemu
pandang.”
103

58 Tamu-tamu sareng Keadaan hening saat Menunjukkan


sumerep raden Mas para tamu mlihat bunyi yang
Sutanta, tiga pisan Raden Mas Sutanta. dihasilkan ketika
cep, mboten terjadi keheningan
nyuwanten ngantos dalam pesta setelah
sawetawis dangu. datangnya Raden
(Ngl, 200) Mas Sutanta
(Rapingun).
“Setelah para tamu
melihat Raden Mas
Sutanta, cep, tidak
bersuara.” (Ngl, 200)
59 Uwaling tas, Rapingun membantu Menunjukkan
tanganipun ceg Raden Ajeng Tien sesuatu yang dapat
nyandak pundakipun yang baru saja terjatuh ditangkap dengan
Rapingun ingkang ketika akan menaiki tepat, yaitu Radden
tengen. (Ngl, 122) oto. Ajeng Tien yang
tepat berpegangan
“Tas terlepas, pada pundak
tangannya ceg Rapingun..
memegang pundak
kanan Rapingun.”
(Ngl, 122)
60 … iya mung dibrongot Gareng menceritakan Menunjukkan
ana bedhiyan sarta pada Petruk tentang bunyi yang
banjur gewel-gewel kehidupan orang- dihasilkan manusia
dipangan…(PASC, 9) orang pada zaman purba ketika
purba. makan.
“… iya hanya dibakar
di atas api, lalu
gewel-gewel
dimakan.”
61 Ibu kok ngedika Den Ayu wedana Menunjukkan
klesak-klesik. (Ngl, berdoa memohon bunyi perkataan
71) bantuan datang untuk Den Ayu Wedana
otonya yang mogok. yang berbisik-bisik
“Ibu kok berbicara (pelan)
berbisik-bisik.”
62 … ingkang putra Jagakarsa mengatakan Menunjukkan
sampun ketingal pada Raden Nganten bunyi yang
therok-therok…. (TC, Tangkilan untuk dihasilkan karena
216) segera mengadakan penampilan putri
pesta tetesan untuk Raden Nganten
“Putra Anda sudah putrinya. yang sudah cukup
terlihat therok- dewasa..
therok….”
104

63 … ngemungake sing Gareng bercerita pada Menunjukkan


pancen wis ucul, kuwi petruk tentang bunyi untuk
sok banjur plencing, Kumidhi setambul. sesuatu yang hilang
mlumpat jendela, atau pergi beitu
….(PASC, 13) saja.
“… membiarkan yang
sudah lepas, itu
kadang plencing,
melompat jendela.”
64 … mila namung gidro- menceritakan tingkah Menunjukkan
gidro kaliyan laku hel saat Rapingun bunyi ketika
mengkal-mengkal akan memasang tapel Rapingun melihat
kemawon.… (Ngl, kuda. Hel yang bergerak
107) dengan tidak
beraturan
“… maka hanya
gidro-gidro sambil
menyepak saja.’”
65 … tanganipun kiwa Raden Ajeng Tien Menunjukkan
lajeng kangge nutupi menangis ketika bunyi air mata
mripatipun ingkang melihat Rapingun Raden Ajeng Tien
wiwit brebel-brebel yang terluka. yang menetes
medal luhipun. (Ngl, begitu deras.
163)

“… tangan kirinya
lalu digunakan untuk
menutupi matanya
yang mulai brebel-
brebel mengeluarkan
air mata.”
66 Den Bei Asisten Den Bei Asisten Menunjukkan
wedana dheleg- Wedana menceritakan bunyi yang
dheleg. (Ngl, 195) pengalaman dihasilkan karena
pettamanya bertemu Den Bei Asisten
“Den Bei Asisten Rapingun. Wedana merasa tak
wedana dheleg- berdaya ketika
dheleg.” bertemu Rapingun.
67 … krungu swara blag- Kertawana dan Menunjukkan
bleg sarta istrinya sedang bunyi pukulan
sesambat.… (AM, bertengkar masalah berulang-ulang
302) orang ketiga dalam yang dilakukan
rumah tangga mereka. Kertawana
“… terdengar suara terhadap istrinya.
blag-bleg dan
teriakan.”
105

68 Iya ketanting grek, Petruk Menunjukkan


ketanting grek. menggambarkan cara bunyi langkah kaki
(PASC, 24) berjalan Gareng. Gareng.

“Iya ketanting grek,


ketanting grek.”
69 … wong mlaku besus Petruk Menunjukkan
kathik diunekake menggambarkan cara bunyi selop yang
cethit genteyong. berjalan makne dipakai makne
(PASC, 33) Kampret ketika Kampret ketika
mengunakan selop. ditarik dari lumpur
“… orang berjalan
kok dikatakakan
cethit genteyong.”
70 …, kathik nganggo Gareng menceritakan Menunjukkan
nyuwara pada Petruk ketika bunyi cara
dicemengkling- istrinya berpamitan berbicara istri
cemengklingake, padanya. Gareng ketika
dhah, dhah, dhah, berpamitan pada
dho, wah, dho wah…. Gareng.
(PASC, 30)

“… dengan suara yang


dinyaring-nyaringkan
dhah, dhah, dhah,
dho, wah, dho
wah….”
71 … sinambi ngomong Gareng menirukan Menunjukkan
mangkene, yah seker, cara berbicara bunyi cara
seker, nin, nin, turlek, seorang Nyonyah berbicara Nyonyah
turlek, lekker, seh. Belanda. Belanda yang
(PASC, 29) ditirukan Gareng

“… sambil berkata,
yah seker, seker, nin,
nin, turlek, turlek,
lekker, seh.”
72 … ketheplik, Gareng bercerita pada Menunjukkan
ketheplik, iki swara Petruk tentang wanita bunyi langkah kaki
lakune. (PASC, 37) cantik yang berjalan seorang wanita
lemah gemulai. yang lemah
“Ketheplik, ini suara gemulai.
langkahnya.”
73 … lumrahe malah Gareng menirukan Menunjukkan
karo singsat-singsot, bunyi siulan para laki- bunyi siulan para
sit su-wit, sit sit suwit laki yang melihat lelaki ketika
106

suwit. (PASC, 57) kecantikan para melihat wanita


wanita yang menjadi menjadi wakil
“Biasanya malah wakil rakyat. rakyat.
sambil bersiul, sit su-
wit, sit sit suwit
suwit.”
74 Mengko ndisik ta, kae Den Bei Mantri yang Menunjukkan
lho lagi tekan: E ala. menirukan suara bunyi Gendhing
hai lola. nek nganti gendhing Lambangsari yang
kecer marai ora bisa Lambangsari. ditirukan oleh Den
turu. Bei Mantri.
“Apa gendhing kuwi
ana pal-palane ta
Pak, lha lok tekan e
ala kuwi?”
“Ora ngono gendhing
Lambangsari kuwi
angger tekan sendhon
ngana kae dhemenku
ora jamak.” (Ngl,
133)

“Sebentar, itu lho baru


sampai E ala. hai
lola. kalau sampai
siaga membuat tidak
bisa tidur.
“Apa gendhing itu ada
hafalannya Pak, lha
kok : e alaseperti itu?
“Tidak seperti itu,
gendhing lambangsari
itu kalau sudah sampai
dinyanyikan seperti
itu, membuat aku
senang sekali.”
75 Tinimbang pating Gareng ingat pesan Menunjukkan
klapret, rak becik ayahnya untuk bunyi terhadap
diresiki dhisik. membenahi sesuatu sesuatu yang kotor.
(PASC, 6) yang kotor dan tidak
beraturan.
“Daripada pating
klapret, lebih baik
dibersihkan dulu.”
107

76 Dene jogede pating Petruk menceritakan Menunjukkan


pleyot, nganggo tentang tarian ala bunyi tarian ala
ngulat-ngulet barang Spanyol. Spanyol yang tidak
kae. (PASC, 17) beraturan.

“Gerak tarinya pating


pleyot meliuk-liuk
juga.”
77 … malah padha Petruk menceritakan Menunjukkan
pating pendongong, ketika Rohaya akan bunyi untuk
pating plompong. pergi tidak ada orang
mengekspresikan
(PASC, 17) yang menghalangi,
kekaguman atau
malah mereka heran. heran ktika Rohaya
“… malah mereka sang pengantin
pating pendongong, pergi dan tidak ada
pating plompong.” yang menghalangi
kepergiannya..
78 Mara, apa iki ora Petruk Menunjukkan
andedawa rasa membandingkan bunyi untuk
panalangsa le omahe kehidupan orang menggambarkan
bocor, utawa pating miskin dan orang rumah yang bocor
gambleh mau. (PASC, berada. karena ekonomi
59) miskin.

“Apa ini tidak


memperpanjang
penderitaan ketika
rumahnya bocor atau
pating gambleh.”
79 Sami sekala punika Rapingun menepikan Menunjukkan
ugi pit montor mak mobilnya ketika ada bunyi ekspresi
brubut ngrumiyini. sepeda motor yang manusia ketika ada
(Ngl, 146) mendahului. yang menyalip
mobil yang
“Ketika itu pula juga dikendarai begitu
ada sepeda motor saja.
mak brubut
menyalip.”
80 Mak dheg atiku, sing Gareng kaget ketika Menunjukkan
lekker kui apane…. mendengar bunyi yang muncul
(PASC, 29) pembicaraan para ketika Gareng
Nyonyah Belanda. merasa kaget
“Mak dheg hatiku, seytelah
yang lekker itu mendengar
apanya….” perkataan nyonyah
Belanda
108

81 Mulane aku banjur Raden Bei Asisten Menunjukkan


wani mak clup kapat wedana dan Nyah bunyi yang
tengah. (Ngl, 85) Hien sedang tawar dihasilkan ketika
menawar mobil. Raden Bei Asisten
“Maka aku berani Wedana tiba-tiba
mak clup berani
mengatakannya. mengungkapkan
apa yang
terpendam.
82 … iya banjur mak Petruk menceritakan Menunjukkan
clinguk dawa…. watak lelaki ketika ekspresi bunyi
(PASC, 52) melihat wanita cantik, ketika Petruk
pasti langsung menggambarkan
“… lalu mak menoleh. sifat lelaki yang
clinguk.” langsung menoleh
ketika melihat
wanita cantik.

Tabel di atas menunjukkan tabel tiruan bunyi manusia dan

penyebab munculnya bunyi-bunyi tersebut. Tiruan bunyi manusia yang

terdapat dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.

sangat beragam. Sehingga hal ini mampu menambah kosakata dalam

bahasa Jawa.

2. Bentuk Onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya

Partini B.

Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,

ditemukan empat bentuk onomatope 1) satu silabel, 2) dua silabel, 3)

tiga silabel dan multisilabel, 4) frasa. Adapun bentuk onomatope satu

silabel dan dua silabel ada yang mengalami pengulangan.


109

a. Bentuk Onomatope Satu Silabel

Bentuk onomatope satu silabel mencakup 1) bentuk tanpa

pengulangan dan 2) bentuk pengulangan satu silabel.

1) Bentuk Onomatope Satu Silabel Tanpa Pengulangan

 data 3
Konteks: Den Bei dan istrinya berdebat ketika melihat
cahaya lampu mobil yang mulai mendekat ke arah oto
mereka,

Iya nanging kiraku dudu taksi, awit yen taksi


lumrahe lenterane ora…. Saweg dumugi semanten
kepunggel dening swara…..Hrrrrrrrrrr. (Ngl, 72)

“Tetapi menurutku bukan taksi, biasanya kalau taksi


lampunya tidak….. Baru sampai di situ terdengar
suara…. Hrrrrrrrrrr.” (Ngl, 72)

Data (3) merupakan teks yang mengandung bentuk

onomatope satu silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk

Hrrrrrrrrrr. Bentuk Hrrrrrrrrrr disebut satu silabel karena

terdiri dari satu kecap, yang hanya tersusun atas deretan

konsonan. sehingga strukturnya dapat dikatakan K-K-K-

K-K-K-K-K-K-K-K.

 data 5

Konteks: Overland baru saja berhenti karena ia akan


menemui rekannya

Saweg kemawon kendel greg…. (Ngl, 80)

“Baru saja berhenti greg….”(Ngl, 80)

Data (5) merupakan teks yang mengandung bentuk

onomatope satu silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk


110

greg. Bentuk greg disebut satu silabel karena terdiri dari

satu kecap, yang hanya tersusun atas deretan fonem yaitu

Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K).

Bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan juga

terdapat pada data (4), (7), (11), (13), (43), (44), (45), (46), (47),

(53), (56), (57), (58), dan (59). Pada data-data tersebut, dikatakan

bentuk satu silabel karena terdiri dari satu kecap, dari satu kecap ini

tersusun atas fonem vokal dan konsonan. Adapun masing-masing

sruktur fonem dari data tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.

Tabel 4
Struktur fonem bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan

No. Data Data Struktur


3 Hrrrrrrrrrr K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K
4 Sssssssssssss K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K
5 dan 7 Greg K-K-V-K
11 Pyar K-K-V-K
13 Byak K-K-V-K
43 dan 46 Byar K-K-V-K
44 Byur K-K-V-K
45 Brol K-K-V-K
47 Thil K-K-V-K
53 Sssssss K-K-K-K-K-K-K-K
56 Set K-V-K
57 Plek K-K-V-K
58 Cep K-V-K
59 Ceg K-V-K
Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal

Tabel di atas, menunjukkan bahwa struktur fonem dalam

bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan begitu beragam.

Dalam bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan terdapat 5


111

pola struktur, yaitu 1) K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K; 2) K-K-K-K-K-

K-K-K-K-K-K-K-K:;3) K-K-V-K; 4) K-K-K-K-K-K-K-K; dan 5) K-

V-K.

2) Bentuk Pengulangan Satu Silabel

 data 1

Gareng sedang memaku kain penutup tembok

Dhi, wis sedhengan, mengko tak pakune. Thok,


thok, thok, saiki sing sisih, ora menceng iki….
(PASC, 2)

“Dik, sudah cukup, nanti akan saya paku. Thok,


thok, thok, sekarang yang sebelah, tidak miring
kan….” (PASC, 2)

Data (1) merupakan tuturan yang mengandung bentuk

onomatope satu silabel dengan pengulangan, yaitu bentuk

thok. Adapun disebut bentuk pengulangan karena

diucapkan sebanyak tiga kali thok thok thok. Bentuk thok

disebut satu silabel karena terdiri dari satu kecap, yang

hanya tersusun atas deretan fonem. yaitu Konsonan-

Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K).

 data 2

Konteks: Raden Ajeng Tien beserta ayah ibunya menunggu


bantuan karena oto mereka mogok.

Tik-tiking sekon dados menit…. (Ngl, 71)

Tik-tik sekon menjadi menit….” (Ngl, 71)

Data (2) merupakan tuturan yang mengandung bentuk

onomatope satu silabel dengan pengulangan, yaitu bentuk


112

tik. Adapun disebut bentuk pengulangan karena diucapkan

sebanyak dua kali tik tik. Bentuk tik disebut satu silabel

karena terdiri dari satu kecap, yang hanya tersusun atas

deretan fonem. yaitu Konsonan-Vokal-Konsonan (K-V-

K).

 data 10
Konteks: Raden Ngenten bertanya pada Dentawinangun
apakah sudah pukul sepuluh, tak lama kemudian, jam
berbunyi menunjukkan pukul sepuluh.

Theng, theng lah punika saweg mungel. (TC, 275)

“Theng, theng lha itu sedang berbunyi.” (TC, 275)

Data (10) merupakan tuturan yang mengandung bentuk

onomatope satu silabel dengan pengulangan, yaitu bentuk

Theng. Adapun disebut bentuk pengulangan karena

diucapkan sebanyak dua kali Theng, theng. Bentuk theng

disebut satu silabel karena terdiri dari satu kecap, yang

hanya tersusun atas deretan fonem. yaitu Konsonan-

Konsonan-Vokal-Konsonan-Konsonan (K-K-V-K-K).

Bentuk onomatope pengulangan satu silabel juga terdapat pada

data (6), (8), (9), (12), (40), (52), (54), dan (55). Pada data-data

tersebut, dikatakan bentuk pengulangan satu silabel karena dari satu

kecap ini diulang dua atau tiga kali pengucapan, dari pengulangan

satu kecap ini tersusun atas fonem vokal dan konsonan. Adapun

masing-masing sruktur fonem dari data tersebut dapat dijelaskan

dalam tabel berikut.


113

Tabel 5
Struktur fonem bentuk onomatope pengulangan satu silabel

Banyaknya
No.
Data Struktur pengulangan
Data
(kali)
1 Thok, thok, thok K-K-V-K 3
K-K-V-K
K-K-V-K
2 Tik. Tik K-V-K 2
K-V-K
6 Puk-puk K-V-K 2
K-V-K
8 tiiiii…. K-V-V-V-V 4
tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. K-V-V-V-V-
K
K-V-V-V-K
K-V-V-V-V-
V-V-V-V-V-
K
9 Thing, thing, thing K-K-V-K-K 3
K-K-V-K-K.
K-K-V-K-K.

10 Theng, theng K-K-V-K-K 2


K-K-V-K-K.
12 dhung, dhung, dhung K-K-V-K-K. 3
K-K-V-K-K.
K-K-V-K-K.
40 wek, wek, wek K-V-K 3
K-V-K
K-V-K
52 hek, hek K-V-K 2
K-V-K
54 Hus, hus K-V-K 2
K-V-K
55 Hip, hip hip K-V-K 3
K-V-K
K-V-K
Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa struktur fonem dalam

bentuk onomatope pengulangan satu silabel begitu beragam. Dalam


114

bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan terdapat beberapa

pola struktur, yaitu 1) K-K-V-K; 2) K-V-K; 3) K-V-V-V-V-K; 4) K-

K-V-K-K; 5) K-V-K, K-V; V. Dari deretan fonem tersebut, diulang

beberapa kali sehingga dikatakan pengulangan satu silabel.

b. Bentuk Onomatope Dua Silabel

Bentuk onomatope dua silabel mencakup 1) bentuk tanpa

pengulangan dan 2) bentuk pengulangan satu silabel.

1) Bentuk Onomatope Dua Silabel Tanpa Pengulangan

 data 16
Konteks: Kasim membuka tutup kendhil dan menumpahkan
kendhil itu.

Kendhil tumuli di walik, isnine disuntak.


Kropyok…!(KIWJ, 319)

“Kendhil kemudian dibalik, isinya ditumpahkan.


Kropyok…!(KIWJ, 319)

Data (16) merupakan teks yang mengandung bentuk

onomatope dua silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk

kropyok. Bentuk kropyok disebut dua silabel karena terdiri

dari dua kecap, yaitu kro dan pyok. Kropyok tersusun atas

deretan fonem, yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-

Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K-K-V-K).

 data 22
Konteks: Raden Ayu asisten wedana berkata pada suaminya
kalau ia takut Rapingun akan di gigit atau diserang Hel,
kuda mereka yang dianggap gila.

Sida diklethak temenan mengko. (Ngl, 99)

“Benar diklethak nantinya.” (Ngl, 99)


115

Data (22) merupakan tuturan yang mengandung bentuk

onomatope dua silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk

klethakk. Bentuk klethak disebut dua silabel karena terdiri

dari dua kecap, yaitu kle dan thak. Klethak tersusun atas

deretan fonem. yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-

Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K-K-V-K).

 data 25
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk akan suarakuda yang
terpeleset karean jalannya begittu licin.

Sreset,iki suwarane jaran andhong sing kepleset.


(PASC, 45)

“Sreset, itu suara andong yang terpeleset.” (PASC,


45)

Data (25) merupakan tuturan yang mengandung bentuk

onomatope dua silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk

sreset. Sreset disebut dua silabel karena terdiri dari dua

kecap, yaitu sre dan set. Sreset tersusun atas deretan

fonem. yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan-

Vokal-Konsonan (K-K-V-K-V-K).

Bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan juga

terdapat pada data (26), (28), (48), (49), (63), dan (67). Pada

data-data tersebut, dikatakan bentuk dua silabel karena terdiri

dari dua kecap, dari dua kecap ini tersusun atas fonem vokal dan

konsonan. Adapun masing-masing sruktur fonem dari data

tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.


116

Tabel 6
Struktur fonem bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan

No. data Data Silabel (kecap) Struktur


16 Kropyok Kro-pyok K-K-V-K-K-V-K
22 Klethak Kle-thak K-K-V-K-K-V-K
25 Sreset Sre-set K-K-V-K-V-K
26 Gluthek Glu-thek K-K-V-K-K-V-K
28 Grobyak Gro-byak K-K-V-K-K-V-K
48 Mompyor Mom-pyor K-V-K-K-K-V-K
49 Byar-pet Byar-pet K-K-V-K-K-V-K
63 Plencing Plen-cing K-K-V-K-K-V-K-K
67 Blag-bleg Blag-bleg K-K-V-K-K-K-V-K
Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal

Tabel di atas, menunjukkan bahwa struktur fonem dalam

bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan begitu

beragam. Dalam bentuk onomatope satu silabel tanpa

pengulangan terdapat 7 pola struktur.

2) Bentuk Onomatope Pengulangan Dua Silabel

 data 14
Konteks: Petruk bercerita pada Gareng kalau pembukaan
Pasar Gambir telah dimulau, ditandai dengan bunyi-bunyian
musik.

Lo, lo, epret-eprete wis labuh muni, …. (PASC, 23)

“Lo, lo, epret-epretnya sudah mulai berbunyi.”


(PASC, 23)

Data (14) merupakan tuturan yang mengandung bentuk

onomatope dua silabel dengan pengulangan. yaitu bentuk

epret. Adapun disebut bentuk pengulangan karena

diucapkan sebanyak dua kali epret-epret. Bentuk epret


117

disebut dua silabel karena terdiri dari dua kecap, yaitu e

dan prêt. Epret-epret tersusun atas deretan fonem. yaitu

Vokal-Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (V-K-K-V-

K) dan diulang satu kali.

 data 18
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang nyonyah
Belanda yang bergoyang-goyang ketika mendengar suara
musik.

… lo kuwi para nyonyah-nyonyah Landa lan


nyonyah-nyonyah Jawa kuwi akeh sing bokonge
dijlentrik-jlentrikake. (PASC, 27)

“… lo para nyonyah Belanda dan nyonyah Jawa itu


banyak yang pantatnya di jlentrik-jlentikkan.”
(PASC, 27)

Data (18) merupakan tuturan yang mengandung bentuk

onomatope dua silabel dengan pengulangan. yaitu bentuk

jlentrik. Adapun disebut bentuk pengulangan karena

diucapkan sebanyak dua kali, yaitu jlentrik- jlentrik.

Bentuk jlentrik disebut dua silabel karena terdiri dari dua

kecap, yaitu jlen dan trik. Jlentrik tersusun atas deretan

fonem. yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan-

Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K-K-K-V-

K) dan diulang satu kali.

Bentuk onomatope pengulangan dua silabel juga terdapat pada

data (15), (17), (19), (20), (21), (23), (24), (27), (38), (39), (41), (42),

(60), (61), (62), (64), (65), dan (66). Pada data-data tersebut,

dikatakan bentuk pengulangan dua silabel karena dari dua kecap ini
118

diulang dua atau tiga kali pengucapan, dari pengulangan dua kecap

ini tersusun atas fonem vokal dan konsonan. Adapun masing-masing

sruktur fonem dari data tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.

Tabel 7
Struktur fonem, bentuk onomatope pengulangan dua silabel

No. data Data Silabel (kecap) Struktur


14 Epret-epret e-pret V-K-K-V-K
V-K-K-V-K
15 Krecek- Kre-cek K-K-V-K-V-K
krecek K-K-V-K-V-K
17 Tojing, To-jing K-V-K-V-K-K
tojing K-V-K-V-K-K
18 Jlenrik- Jlen-trik K-K-V-K-K-K-V-K
jlentrik K-K-V-K-K-K-V-K
19, 21, Kinclong- Kin-clong K-V-K-K-K-V-K-K
24 kinclong K-V-K-K-K-V-K-K
20, 27 Kincling- Kin-cling K-V-K-K-K-V-K-K
kincling K-V-K-K-K-V-K-K
23 Dhiwut- Dhi-wut K-K-V-K-V-K
dhiwut K-K-V-K-V-K
38 Thoprak, Tho-prak K-K-V-K-K-V-K
thoprak, K-K-V-K-K-V-K
thoprak K-K-V-K-K-V-K
39 Kinyis- Ki-nyis K-V-K-K-V-K
kinyis K-V-K-K-V-K
41 Bekas- Be-kas K-V-K-V-K
bekos K-V-K-V-K
Gebras- Ge-bres K-V-K-K-V-K
gebres K-V-K-K-V-K
42 Gereng- Ge-reng K-V-K-V-K-K
gereng K-V-K-V-K-K
60 Gewel- Ge-wel K-V-K-V-K
gewel K-V-K-V-K
61 Klesak- Kle-sak K-K-V-K-V-K
klesik K-K-V-K-V-K
62 Therok- The-rok K-K-V-K-V-K
therok K-K-V-K-V-K
64 Gidro-gidro Gi-dro K-V-K-K-V
K-V-K-K-V

Mengkal- Meng-kal K-V-K-K-K-V-K


mengkal K-V-K-K-K-V-K
119

65 Brebel- Bre-bel K-K-V-K-V-K


brebel K-K-V-K-V-K
66 Dheleg- Dhe-leg K-K-V-K-V-K
dheleg K-K-V-K-V-K

Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal

Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa struktur fonem dalam

bentuk onomatope pengulangan dua silabel begitu beragam. Dalam

bentuk onomatope pengulangan dua silabel terdapat bermacam-

macam pola struktur. Dari deretan fonem tersebut, diulang beberapa

kali sehingga dikatakan pengulangan dua silabel.

c. Bentuk Onomatope Tiga Silabel dan Multisilabel

Bentuk onomatope tiga silabel mencakup 1) bentuk tanpa

pengulangan dan 2) bentuk pengulangan tiga silabel. Selain itu, ada

pula bentuk onomatope multisilabel. Onomatope ini terbentuk atas

empat silabel atau lebih.

1) Bentuk Onomatope Tiga Silabel Tanpa Pengulangan

Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.

tidak ditemukan adanya penggunaan onomatope dalam bentuk

tiga silabel tanpa pengulangan.

2) Bentuk Onomatope Pengulangan Tiga Silabel

 data 31

Konteks: Gareng mencerikan ketika ia melihat penari yang


kakinya diketeplek-keteplekke

Sikile diketheplek-ketheplekake, sajak nikmat


banget kae. (PASC, 27)
120

“Kakinya diketheplek-ketheplekke sepertinya


menyenagkan sekali.” (PASC, 27)

Pada data di atas terdapat bentuk onomatope pengulangan

tiga silabel, yaitu pada bunyi ketheplek. Ketheplek

dikatakan tiga silabel karena terbentuk atas tiga kecap,

yaitu ke, the, dan plek. Bunyi tersebut tersusun atas deretan

fonem K-V-K-K-V-K-K-V-K. Bunyi tersebut diulang

sebanyak dua kali.

 data 72

Konteks: Gareng bercerita pada petruk tentang wanita


cantik yang berjalan lemah gemulai.

… ketheplik, ketheplik, iki swara lakune. (PASC,


37)

“Ketheplik, ini suara langkahnya.” (PASC, 37)

Pada data di atas terdapat bentuk onomatope pengulangan

tiga silabel, yaitu pada bunyi ketheplik. Ketheplik

dikatakan tiga silabel karena terbentuk atas tiga kecap,

yaitu ke, the, dan plik. Bunyi tersebut tersusun atas deretan

fonem K-V-K-K-V-K-K-V-K. Bunyi tersebut diulang satu

kali.

3) Bentuk Onomatope Multisilabel

 data 29
Konteks: Ketika Petruk, Gareng dan istri mereka sedang
berdebat, Gareng tiba-tiba bersenandung menirukan suara
gendhing yang didengarnya.
121

Gareng (rengeng-rengeng), ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-


lolo-ing-ting gentak, dhublang, dhublang, ging....’
(PASC, 27)

“Gareng bersenandung ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-


ing-ting gentak, dhublang, dhublang,
ging….”(PASC, 27)

Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel.

Onomatope tersebut terdiri atas beberapa silabel, yaitu

Dhu, wa, lo, lo, lo, lo, lo, lo, lo, ing, ting, gen, tak, dhu,

blang, dhu, blang dan ging. Silabel-silabel tersebut,

tersusun atas deretan fonem K-K-V-K-V-K-V-K-V-K-V-

K-V-K-V-K-V-K-V-V-K-K-K-V-K-K-K-V-K-K-V-K-K-

K-V-K-K-V-K-K-K-K-V-K-K-V-K-K-K-V-K-K.

 data 30
Konteks: Gareng bercerita ketika para peserta pesta
mendengar suara musik seperti itu, mereka kemudian
menari.

Bareng musike wiwit diunekake, thethet thiyet


tretet jing jing jing…. (PASC, 27)

“Ketika musiknya mulai dibunyikan, thethet thiyet


tretet jing jing jing….” (PASC, 27)

Pada data (30), terdapat bentuk onomatope multisilabel,

yaitu thethet thiyet tretet jing jing jing. Onomatope tersebut

terdiri atas beberapa silabel, yaitu the, thet, thi, yet, tre, tet,

jing, jing, dan jing. Silabel-silabel tersebut, tersusun atas

deretan fonem K-K-V-K-K-V-K-K-K-V-K-V-K-K-K-V-

K-V-K-K-V-K-K-K-V-K-K-K-V-K-K.
122

 data 68
Konteks: Petruk menggambarkan cara berjalan Gareng.

Iya ketanting grek, ketanting grek. (PASC, 24)

“Iya ketanting grek, ketanting grek.” (PASC, 24)

Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,

yaitu ketanting grek. Onomatope tersebut terdiri atas empat

silabel, yaitu ke, tan, ting dan grek. Silabel-silabel tersebut,

tersusun atas deretan fonem K-V-K-V-K-K-V-K-K-K-K-

V-K.

 data 69

Konteks:Petruk menggambarkan cara berjalan makne


Kampret ketika mengunakan selop.

… wong mlaku besus kathik diunekake cethit


genteyong. (PASC, 33)

“… orang berjalan kok dikatakakan cethit


genteyong.” (PASC, 33)

Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,

yaitu cethit genteyong. Onomatope tersebut terdiri atas

lima silabel, yaitu ce, thit, gen, te, dan yong. Silabel-silabel

tersebut, tersusun atas deretan fonem K-V-K-K-V-K-K-V-

K-K-V-K-V-K-K..

 data 70

Konteks: Gareng menceritakan pada Petruk ketika istrinya


berpamitan padanya.
123

…, kathik nganggo nyuwara dicemengkling-


cemengklingake, dhah, dhah, dhah, dho, wah, dho
wah…. (PASC, 30)

“… dengan suara yang dinyaring-nyaringkan dhah,


dhah, dhah, dho, wah, dho wah….” (PASC, 30)

Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,

yaitu dhah, dhah, dhah, dho, wah, dho wah. Onomatope

tersebut terdiri atas beberapa silabel, yaitu dhah, dhah,

dhah, dho, wah, dho, dan wah. Silabel-silabel tersebut,

tersusun atas deretan fonem K-K-V-K-K-K-V-K-K-K-V-

K-K-K-V-K-V-K-K-K-V-K-V-K.

 data 71

Konteks: Gareng menirukan cara berbicara seorang


Nyonyah Belanda

… sinambi ngomong mangkene, yah seker, seker,


nin, nin, turlek, turlek, lekker, seh. (PASC, 29)

“… sambil berkata, yah seker, seker, nin, nin,


turlek, turlek, lekker, seh.” (PASC, 29)

Pada data (71), terdapat bentuk onomatope multisilabel,

yaitu yah seker, seker, nin, nin, turlek, turlek, lekker, seh.

Onomatope tersebut terdiri atas beberapa silabel, yaitu yah

se, ker, se, ker, nin, nin, tur, lek, tur, lek, lek, ker, dan seh.

Silabel-silabel tersebut, tersusun atas deretan fonem K-V-

K-K-V-K-V-K-K-V-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-

K-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-K.
124

 data 73

Konteks: Gareng menirukan bunyi siulan para laki-laki


yang melihat kecantikan para wanita yang menjadi wakil
rakyat.

… lumrahe malah karo singsat-singsot, sit su-wit,


sit sit suwit suwit. (PASC, 57)

“Biasanya malah sambil bersiul, sit su-wit, sit sit


suwit suwit.” (PASC, 57)

Pada data (73), terdapat bentuk onomatope multisilabel,

yaitu sit su-wit, sit sit suwit suwit. Onomatope tersebut

terdiri atas beberapa silabel, yaitu sit, su, wit, sit, sit, su,

wit, su, dan wit. Silabel-silabel tersebut, tersusun atas

deretan fonem K-V-K-K-V-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-

K-V-K-K-V-K-V-K.

 data 74

Konteks: Den Bei Mantri yang menirukan suara gendhing


Lambangsari

Mengko ndisik ta, kae lho lagi tekan: E ala. hai


lola. nek nganti kecer marai ora bisa turu.
“Apa gendhing kuwi ana pal-palane ta Pak, lha lok
tekan e ala kuwi?”
“Ora ngono gendhing Lambangsari kuwi angger
tekan sendhon ngana kae dhemenku ora jamak.”
(Ngl, 133)

“Sebentar, itu lho baru sampai E ala. hai lola. kalau


sampai siaga membuat tidak bisa tidur.
“Apa gendhing itu ada hafalannya Pak, lha kok : e
alaseperti itu?
125

“Tidak seperti itu,gendhin lambangsari itu kalau


sudah sampai dinyanyikan seperti itu, membuat aku
senang sekali.” (Ngl, 133)

Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,

yaitu E ala. hai lola. Onomatope tersebut terdiri atas enam

silabel, yaitu e, a, la. hai, lol, dan la. Silabel-silabel

tersebut, tersusun atas deretan fonem V-V-K-V-K-V-V-K-

V-K-V.

d. Bentuk Onomatope Frasa

Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti ditemukan

onomatope berbentuk frasa. Adapun data-data onomatope berbentuk

frasa adalah sebagai berikut.

 data 32

Konteks: Biyang Nala melihat Petruk bergoyangan jempol,


dan mengekspresikan goyangan jempol tersebut dengan
kata pating kethuwel.

… jebul tangane melu pating kethuwel…. (PASC,


27)

“… ternyata tangannya ikut pating


kethuwel…”(PASC, 27)

Pada data tersebut terdapat onomatope berbentuk frasa,

yaitu pating kethuwel. Frasa tersebut tersusun atas

gabungan kata pating dan kethuwel.

 data 50

Konteks: ada cahaya yang menembus kaca belakang oto


Den Bei Asisten wedana yang mogok.
126

… dumadakan kacaning tendha ingkang wingking


mak byar, ketingal padhang. (Ngl, 72)

“Tiba-tiba kaca belakang tenda mak byar, telihat


terang.” (Ngl, 72)

Pada data (50) terdapat onomatope berbentuk frasa, yaitu

mak byar. Frasa tersebut tersusun atas gabungan kata mak

dan byar.

 data 75

Konteks: Gareng ingat pesan ayahnya untuk membenahi


sesuatu yang kotor dan tidak beraturan.

Tinimbang pating klapret, rak becik diresiki dhisik.


(PASC, 6)

“Daripada pating klapret, lebih baik dibersihkan


dulu.”

Pada data tersebut terdapat onomatope berbentuk frasa,

yaitu pating klapret. Frasa tersebut tersusun atas gabungan

kata pating dan klapret.

Bentuk onomatope frasa juga terdapat pada data (33), (34),

(35), (36), (37), (38), (51), (76), (77), (78), (79), (80), (81), dan

(82). Onomatope tersebut dikatakan berbentuk frasa karena

merupakan gabungan dua kata yang di antara keduanya tidak

melebihi unsur klausa.

Pada data (33) terdapat frasa pating dlemok, yang

merupakan gabungan kata pating dan dlemok. Pada data (34)

terdapat frasa pating tleser, yang merupakan gabungan kata dari

kata pating dan tleser. Pada data (35) terdapat frasa mak pengkeret
127

yang merupakan gabungan dari kata mak dan pengkeret. Pada data

(36) terdapat frasa pating klencar, yang merupakan gabungan dari

kata pating dan klencar. Pada data (51) terdapat frasa pating

glebyar, yang merupakan gabungan dari kata pating dan glebyar.

Pada data (76) terdapat frasa pating pleyot, yang tersusun dari kata

pating dan pleyot.

Pada data (77) terdapat frasa pating pendongong, yang

merupakan gabungan dari kata pating dan pendongong. Pada data

(78) terdapat frasa pating gambleh yang merupakan gabungan dari

kata pating dan gambleh. Pada data (79) terdapat frasa mak brubut,

yang merupakan gabungan dari kata mak dan brubut. Pada data

(80) tedapat frasa mak dheg, yang merupakan gabungan dari kata

mak dan dheg. pada data (81) terdapat gabungan kata mak dan

clup, sehingga menbentuk frasa mak clup. Pada data (81) terdapat

gabungan kata mak dan clinguk, sehingga membentuk gabungan

kata mak clinguk.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa

onomatope berbentuk frasa dalam novel Emas Sumawur ing

Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak dan

pating.
128

3. Fungsi Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya

Partini B.

Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,

ditemukan empat fungsi onomatope, yaitu: 1) penggambaran suasana

hati, yang meliputi emosi, memberi peringatan, 2) memberikan kesan

pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, 3) mendesripsikan

tentang keadaan, 4) meniru perbuatan yang menghasilkan bunyi.

a. Penggambaran Suasana Hati

Penggambaran suasana hati berkaitan dengan pengungkapan

berbagai hal yang berhubungan dengan perasaan, seperti senang,

sedih, marah, kecewa, cinta, dan sebagainya. Selain dapat dirasakan

dalam hati, aspek suasana hati dapat tampak atau diwujudkan lewat

ekspresi tutur baik secara lisan maupun tulis. Dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. terdapat penggunan

onomatope untuk mengungkapkan perasaan. Adapun ungkapan

perasaan tersebut meliputi perasaan:

1) cinta

Ungkapan perasaan ini tampak pada data 45

Konteks: Den Bei Asiten wedana mengatakan pada Rapingun


kalau ia merasa menyayangi Rapingun.

Brol tresna kula metu. (Ngl, 130)

“Brol cintaku muncul.” (Ngl, 130)

Data (45) merupakan tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk penggambaran suasana hati. Suasana hati


129

tersebut merujuk pada rasa sayang Den Bei Mantri kepada

Rapingun yang muncul begitu saja padahal mereka baru saja

saling mengenal.

2) terkejut

Ungkapan perasaan ini tampak pada data 80

Konteks: Gareng kaget ketika mendengar pembicaraan para


Nyonyah Belanda.

Mak dheg atiku, sing lekker kui apane…. (PASC,


29)

“Mak dheg hatiku, yang lekker itu


apanya….”(PASC, 29)

Pada data (80) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk penggambaran suasana hati, merujuk pada

Gareng yang sedang kaget setelah mendengar dan menirukan

perkataan para Nyonya Belanda.

3) manja

Ungkapan perasaan ini tampak pada data 52

Konteks: Petruk berceria pada Gareng tentang wanita yang bisa


mengerti keadaan suaminya, tidak hanya menuntut saja.

… hek, hek, Mo-as, tukokake jungkat ngawe-awe kaya sing


dienggo jipro Sarinten. (PASC,50)

“… hek, hek, Mo-as, belikan aku sisir melambai seperti


yang dipakai jipro Sarinten.” (PASC,50)

Penggambaran suasana hati pada data (52) merujuk pada

seseorang yang merengek untuk meminta dibelikan sesuatu.


130

malu

Ungkapan perasaan ini tampak pada data 52

Konteks: Kerta dan Ndara Seter (Rapingun) sedang


membicrakan tentang oto baru Ndara Seter, namun kerta kadang
salah menyebut nama NdaraSeter dengan sebutan Rapingun.

Hus, hus Ta, aja gemblung lho. ( Ngl, 204)

“Hus, hus ta, jangan gila dong.” ( Ngl, 204)

Pada data (52) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk penggambaran suasana hati yang merujuk

pada suasana hati Raden Mas Sutanta yang malu karena disindir

oleh Kerta sehingga menyuruh kerta untuk menghentikan

pembicaraannya.

4) bahagia

Ungkapan perasaan ini tampak pada data 55

Konteks: sorak sorai para tamu pesta yang diadakan oleh Raden
Nganten Tangkilan.

Sarta winantua kabegjan ageng, miwah panjang ingkang


yuswa, kasarasan ing salami-laminipun. (kendel).
Hip, hip hip ( TC, 260)

“ Serta menemui keberuntungan besar, panjang umur, dan


sehat selama-lamanya. (terdiam).
Hip, hip hip” ( TC, 260)

Penggambaran suasana hati pada data (55) merujuk pada

suasana hati bahagia ketika sedang berpesta.

5) berani

Ungkapan perasaan ini tampak pada data 81


131

Konteks: Petruk menceritakan watak lelaki ketika melihat


wanita cantik, pasti langsung menoleh.

Mulane aku banjur wani mak clup kapat tengah. (Ngl, 85)

“Maka aku berani mak clup mengatakannya.” (Ngl, 85)

Penggambaran suasana hati pada data (81), merujuk pada

suasana hati yang sudah tidak tahan memendam suatu perasaan,

maka langsung mengatakannya begitu saja.

b. Memberikan Kesan pada Benda yang Dilihat, Didengar dan

Dirasakan

Ketika manusia melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu,

manusia bisa mengungkapkannya dengan berbagai ekspresi tutur.

Data-data yang mengandung fungsi ini adalah sebagai berikut.

 data 19

Konteks: Petruk bercerita pada Gareng akan pembangunan


jalan yang dilakukan pemerintah, sehingga jalan terlihat
berkilau.
… ya iku supaya dalan ing kono katon kinclong-
kinclong kaya gelas. (PASC, 40)

“… ya itu supaya jalan di sana terlihat kinclong


seperti gelas.” (PASC, 40)

Pada data (19) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk memberikan kesan pada benda yang

dilihat, didengar, dirasakan, merujuk pada jalanan yang sangat

mulus dan bersih karena pembangunan kota.

 data 33

Konteks: Den Bei bingung melihat laki-laki yang


menolongnya, apakah dia sopir atau orang terpandang.
132

Nanging sami ketingal pating dlemok tilas kenging


lisah. (Ngl, 73)

“Namun terlihat pating dlemok bekas terkena


minyak.” (Ngl, 73)

Pada data (33) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk memberikan kesan pada benda yang

dilihat, didengar dirasakan, merujuk pada benda yang terlihat

kotor atau terkena bercak minyak

 data 43

Konteks: Den Bei Asiaten wedana menghidupkan otonya, dan


lampu oto menyala

… lentera byar padhang. (Ngl, 76)

“… lentera byar terang.” (Ngl, 76)

Pada data (43) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk memberikan kesan pada benda yang

dilihat, merujuk pada cahaya lampu mobil yang menyala

terang ketika mesin mobil dihidupkan.

Onomatope yang memilki fungsi untuk memberikan kesan

pada benda yang dilihat didengar dan dirasakan, juga terdapat dalam

data (13), (17), (18), (20), (21), (22) (23), (24), (29), (32), (44), (48),

(49), (51), (57), (58), (59), (60), (61), (70) dan (71). Masing-masing

data akan dijelaskan sebagai bertkut.


133

1) Pada data 13 terdapat onomatope byak, yang berfungsiuntuk

memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang dibagi

menjadi dua.

2) Pada data 17 terdapat onomatope tojing-tojing, yang

menunjukkan kesan yang diberikan pada suara langkah kaki

yang sesuai dengan irama musik.

3) Pada data 18 terdapat onomatope jlentrik-jlentrik, yang

menunjukkan kesan yang diberikan ketika melihat para Nyonyah

sedang bergoyang saat mendengarkan suara musik.

4) Pada data 20 terdapat kata kincling-kincling yang digunakan

untuk memberikan kesan pada jalanan yang terlihat sangat bersih

dan licin,

5) Pada data 21 terdapat kata kinclong-kinclong yang digunakan

untuk memberikan kesan ketika melihat mobil yang masih bersih

dan berkilau meskipun sudah dipakai sejak dulu.

6) Pada data 22 terdapat kata klethak yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika mendengar bunyi gigitan yang akan

dilakukan Hel terhadap Rapingun.

7) Pada data 23 terdapat kata dhiwut-dhiwut, yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang besar

dan mengerikan.
134

8) Pada data 24 terdapat kata kinclong-kinclong yang digunakan

untuk memberikan kesan ketika melihat uang emas yang

berkilauan.

9) Pada data 29 terdapat ungkapan Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-ing-

ting gentak, dhublang, dhublang, ging yang erfungsi untuk

memberikan kesan ketika manusia mendegarkan suara musik

tersebut.

10) Pada data 32 terdapat frasa pating kethuwel, yang berfungsi

untuk memberikan kesan ketia manusia melihat dan merasakan

tangan yang selalu bergerak.

11) Pada data 39 terdapat kata kinyis-kinyis yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika mansia melihat sesuatu yang terlihat

berkilau.

12) Pada data 46 terdapat kata byar, yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang

bercahaya.

13) Pada data 50 terdapat frasa mak byar, yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang

bercahaya

14) Pada data 51 terdapat frasa pating glebyar yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang

bercahaya
135

15) Pada data 53 terdapat kata sssssss ysng berfungsi untuk

memberikan kesan ketika melihat sesuatu yang dirasa aneh.

16) Pada data 59 terdapat kata ceg, yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang dapat

ditangkap dengan tepat.

17) Pada data 60 terdapat kata gewel-gewel yang berfungsi untuk

memberikan kesan rasa ketika manusia melihat orang sedang

makan dengan lahap

18) Pada data 61 terdapat kata klesak-klesik, yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika mendengar sesuatu yang tidak begitu

keras (berbisik-bisik). Pada kata klesak-klesik, mengalami

perubahan bunyi dari vokal /a/ berubah menjadi vokal /i/.

Perubahan bunyi ini berfungsi untuk menunjukkan sesuatu yang

dilakukan secara pelan-pelan.

19) Pada data 62 terdapat kata therok-therok yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika manusia melihat dan merasakan

sesuatu yang dirasa sudah pantas.

20) Pada data 68 terdapat kata ketanting grek, yang berfungsi untuk

memberikan kesan ketika melihat cara berjalan Gareng.

Sementara itu kesan terhadap cara berjalan juga diungkapkan

pada data 69, yaitu dengan kata cethit genteyong.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa onomatope dalam novel

Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. berfungsi untuk


136

memberikan kesan terhadapa benda yang dilihat, misalnya dengan

kata byar dan kincling-kincling, kesan terhadap sesuatu yang

didengar, misalnya dengan kata klethak, dan sesuatu yang dirasakan,

misalnya dengan frasa pating kethuwel.

c. Mendeskripsikan Keadaan

Suatu keadaan bisa di deskripsikan dengan onomatope.

Misalnya keadaan meriah, bisa diungkapkan dengan kata dhung,

dhung, dhung (data 12), keadaan cocok atau pas dapat diungkapkan

dengan plek (data 55), keadaan mengejutkan bisa diungkapkan

dengan sreset (data 25), gluthek (data 26), grobyak (data 28), dheleg-

dheleg (data 66), pating pendongong, pating plompong (data 77),

mak brubut (data 79), keadaaan hening bisa diungkapkan dengan

onomatope cep (data 58). Selain itu, ada onomatope-onomatope lain,

dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. yang

digunakan untuk mendeskripsikan keadaan. Misalnya kincling-

kincling (data 27) untuk mendeskripsikan keadaan bersih, pating

klapret (data 75) untuk mendeskripsikan keadaan kotor.

Keadaan gaduh juga bisa diekspresikan dengan onomatope,

misalnya dengan frasa pating tleser (data 34), wek, wek, wek (data

38), gidro-gidro (data 64), blag-bleg (data 67), dan dhah, dhah,

dhah, dho, wah, dho wah (data 70). Keadaan kota yang terang

benderang dapat diungkapkan dengan onomatope pating klencar

(data 36), byar (data 46), dan byar pet (data 49) untuk
137

mendeskripsikan keadaan lampu yang kadang menyala, kadang

tidak. Keadaan takut bisa diekspresikan dengan frasa mak pengkeret

(data 35), dan keadaan yang menunjukkan hal satu-satunya dapat

diungkapkan dengan kata thil (data 47). Ada pula onomatope untuk

mendeskripsikan keadaan yang mengharukan, yaitu dengan kata

brebel-brebel (data 65).

Onomatope yang memilki fungsi untuk mendeskripsikan

keadaan, juga terdapat dalam data (48), (56), (63), (76), dan (78).

 data 48

Konteks: Petruk bercerita pada Gareng tentang cara berpakaian


mopro Karto sangat berlebihan.

… panganggone mopro Karto mompyor nganti kaya toko


mlaku. (PASC, 50)

“… pakaian mopro Karto mompyor seperti toko berjalan.”


(PASC, 50)

Pada data (48) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan. Keadaan ini

merujuk pada cara berpakaian mopro Karto yang sangat mewah

dan berlebihan.

 data 56

Konteks: Petruk mengatakan pada Gareng kalau orang asing di


sebelahnya telah menghabiskan sampanye Petruk.

Set, Landa jejerku iki, wong sampanye dewekku jare


ditenggak wani. (PASC, 23)

“Set. landa sebelahku ini, sampanye punyaku berani


diminum.” (PASC, 23)
138

Pada data (56) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan, Keadaan ini

merujuk pada keadaan tenang ketika Petruk meminta Gareng

mengurang volume suaranya ketika Landa yang mereka

bicarakan berada di samping Petruk.

 data 63

Konteks: Gareng bercerita pada petruk tentang Kumidhi


setambul.

… ngemungake sing pancen wis ucul, kuwi sok banjur


plencing, mlumpat jendela…. (PASC, 13)

“… membiarkan yang sudah lepas, itu kadang plencing,


melompat jendela….” (PASC, 13)

Pada data (63) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan. Keadaan yag

dimaksud merujuk pada keadaan di mana seseorang yang pergi

begitu saja.

 data 76

Konteks: Petruk menceritakan tentang tarian ala Spanyol.

Dene jogede pating pleyot, nganggo ngulat-ngulet barang


kae. (PASC, 17)

“Gerak tarinya pating pleyot meliuk-liuk juga.” (PASC, 17)

Pada data (76) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk mendesripsikan keadaan. Hal ini merujuk

pada keadaan di mana ada penari tledek pada jaman dahulu yang

menari dengan gerakan yang meliuk-liuk.


139

 data 78

Konteks: Petruk membandingkan kehidupan orang miskin dan


orang berada.

Mara, apa iki ora andedawa rasa panalangsa le omahe


bocor, utawa pating gambleh mau.. (PASC, 59)

“Apa ini tidak memperpanjang penderitaan ketika


rumahnya bocor atau pating gambleh.” (PASC, 59)

Pada data (78) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi

yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan. Hal ini merujuk

pada keadaan rumah yang tidak beraturan dan atapnya bocor di

mana-mana.

d. Meniru Perbuatan atau Benda yang Menghasilkan Bunyi

Suatu benda dapat menghasilkan bunyi. Berdasarkan bunyi

tersebut, dapat disebutkan nama benda yang bersangkutan. Bunyi

benda akan mampu memberkan suatu penjelasan kepada pembaca

tentang benda apa yang dimaksudkan. Adapun onomatope yang

berfungsi untuk meniru bunyi benda adalah sebagai berikut.

1) Pada data 2 terdapat kata tik-tik, yang merupakan tiruan bunyi

detik jam.

2) Pada data 3 terdapat kata Hrrrrrrrrrr, yang merupakan tiruan

bunyi mobil yang sedang melaju.

3) Pada data 4 terdapat bunyi Sssssssssssss, yang merupakan bunyi

mobil yang berhenti.

4) Pada data 8 terdapat bunyi tiiiii…. tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. yang

merupakan bunyi klakson.


140

5) Pada data 9 terdapat bunyi Thing, thing, thing yang merupakan

bunyi gelas ketika dipukul.

6) Pada data 10 terdapat bunyi Theng, theng yang merupakan bunyi

dentang jam dinding yang menunjukkan tepat pukul sepuluh.

7) Pada data 11 terdapat bunyi pyar….yang merupakan bunyi piring

yang pecah.

8) Pada data 14 terdapat bunyi epret-eprete yang merupakan bunyi

alat music seperti terompet.

9) Pada data 15 terdapat bunyi krecek-krecek yang merupakan

bunyi kepingan uang logam saat kendhil digoyangkan.

10) Pada data16 terdapat bunyi Kropyok…! yang merupakan bunyi

kepingan uang logam yang tumpah.

11) data 30 terdapat bunyi thethet thiyet tretet jing jing jing…. yang

merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat musik.

Dari data-data di atas, dapat diketahui adanya penggunan

onomatope yang memiliki fungsi untuk menirukan bunyi benda.

Selain menirukan benda yang menghasilkan bunyi onomatope juga

berfungsi untuk menyebutkan suatu perbuatan dari bunyi yang

bersangkutan. Tiruan bunyi yang terbentuk dari suatu perbuatan

dapat dihasilkan atau dilakukan oleh benda, manusia maupun hewan.

Adapun onomatope yang berfungsi untuk meniru perbuatan yang

menghasilkan bunyi adalah sebagai berikut.


141

1) Pada data 1 terdapat bunyi Thok, thok, thok, yang merupakan

bunyi ketika manusia memukulkan palu pada paku.

2) Pada data 5 dan data 7 terdapat bunyi greg yang merupakan

bunyi ketika ada benda atau manusia yang berhenti begitu saja.

3) Pada data 6 terdapat bunyi puk-puk yang merupakan bunyi tiruan

ketika manusia menepuk-nepuk leher seekor kuda.

4) Pada data 31 terdapat bunyi ketheplek-ketheplek yang merupakan

tiruan bunyi yang dihasilkan oleh perbuatan manusia ketika

menghentakkan kakinya ke lantai.

5) Pada data 38 terdapat bunyi thoprak, thoprak, thoprak yang

merupakan bunyi yang dihasilkan dari langkah kaki manusia.

6) Pada data 41 terdapat bunyi Bekas-bekos dan gebras-gebres

yang merupakan bunyi perbuatan ketika kuda bernafas terengah-

engah dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

7) Pada data 42 terdapat bunyi gereng-gereng yang merupakan

bunyi yang dihasilkan ketika seekor kuda menggeram.

8) Pada data 71 terdapat bunyi yah seker, seker, nin, nin, turlek,

turlek, lekker, seh yang merupakan bunyi perbuatan (perkataan)

Nyonyah Belanda yang ditirukan Gareng.

9) Pada data 72 terdapat bunyi ketheplik, ketheplik yang merupakan

bunyi perbuatan ketika manusia berjalan hati-hati.

10) Pada data 73 terdapat bunyi sit su-wit, sit sit suwit suwit yang

merupakan bunyi ketika manusia sedang bersiul.


142

11) Pada data 74 terdapat bunyi E ala. hai lola yang merupakan

bunyi ketika manusia menirukan suara gendhing.

12) Pada data 82 terdapat bunyi mak clinguk, yang merupakan bunyi

ketika manusia menoleh begitu saja ketika melihat sesuatu.

Dari pejelasan di atas, tampak bahwa dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. menggunakan onomatope

untuk menirukan perbuatan atau menyebutkan bunyi benda yang

menghasilkan bunyi.
143

BAB V
PENUTUP

R. Simpulan

Berdasarkan hasil pemerolehan data dan pembahasan yang mengkaji

tentang onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini

B. di atas, dapat diambil simpulan sebagai berikut.

1. Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. terdapat

empat jenis onomatope yang digunakan dalam novel tersebut. Jenis-jenis

onmatope yang terdapat dalam novel ialah a) tiruan bunyi benda, b) tiran

bunyi hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Jumlah

jenis onomatope yang paling banyak dalam novel ialah tiruan bunyi benda

sebanyak 39 data, tiruan bunyi hewan sebanyak 3 data. tiruan bunyi alam

sebanyak 9 data, dan tiruan bunyi manusia sebanyak 31 data. Dari semua

jenis onomatope ini, memiliki bentuk frasa, yaitu frasa yang terbentuk

dari kata mak dan pating dengan kata-kata yang lain sehingga bernilai

onomatope, misalnya mak byar, pating pleyot, dan sebagainya..

2. Bentuk dasar onomatope yang digunakan dalam novel ialah bentuk satu

silabel sejumlah 16 data, bentuk dua silabel sejumlah 9 data, bentuk tiga

silabel tidak ditemukan dalam novel, sedangkan bentuk multisilabel

sejumlah 8 data, dan bentuk frasa sejumlah 16 data. Dari bentuk dasar

tersebut ada yang mengalami pengulangan sehingga bentuk

onomatopenya menjadi pengulangan satu silabel sejumlah 11 data,

143
144

pengulangan dua silabel sejumlah 20 data, dan pengulangan tiga silabel

sejumlah 2 data. Onomatope berbentuk frasa dalam novel Emas Sumawur

ing Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak dan

pating, onomatope berfrasa mak ada sejumlah 7 data dan yang berfrasa

pating sejumlah 9 data.

3. Fungsi onomatope yang terdapat dalam novel, terbagi menjadi empat

fungsi, yaitu sebagai berikut.

a. Penggambaran suasana hati, yaitu: cinta, terkejut, manja, malu,

bahagia, dan berani.

b. Memberikan kesan pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan,

c. Mendeskripsikan tentang keadaan,

d. Meniru perbuatan atau benda yang menghasilkan bunyi.

S. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan kesimpulan

penulis memberikan saran sebagai berikut.

1. Bagi peneliti lain penting untuk memahami bahasa yang selalu

berkembang seiring dengan perubahan zaman. Untuk itu, perlu

dilakukan penelitian-penelitian tentang kebahasaan secara lebih

mendalam, khususnya tentang onomatope. Sehingga hasil peneitian

tersebut dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan dapat

dijadikan masukan dalam meningkatkan kualitas penulisan karya

ilmiah lain.
145

2. Bagi mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Jawa, penelitian ini

dapat dijadikan referensi dalam suatu usaha memahami dan mencoba

menggali penelitian tentang onomatope.

3. Bagi pemerintah, hendaknya dapat lebih menjaga kelestarian karya

sastra Jawa di era modern ini agar para generasi muda mengerti akan

karya sastra Jawa serta ikut membantu dalam hal pendidikan, misalnya

dengan memanfaatkan kelebihan yang terdapat dalam sebuah novel,

khususnya dalam onomatope. Onomatope diharapkan dapat menjadi

bahan pembelajaran kosakata kepada anak-anak yang duduk dibangku

TK, SD, SMP, dan SMA, sehingga anak memiliki perbendaharaan kata

yang beraneka ragam dan dapat menirukan suara yang dikeluarkan

hewan, benda, manusia, dan alam.


146

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 2001. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: CV Sinar


Baru.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian dan Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Departemen Pendidikan Nasinal. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi


Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Djajasudarma, Fatimah. 2012. Semantik 1. Bandung: Refika Aditama.

Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model,


Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS.

Ginanjar, Nurhayati. 2012. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta.

Heru, Wijaya Santosa, dan Sri Wahyuningtyas. 2009. Pengkajian Prosa Fiksi.
Purworejo: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia:
Universitas Muhammadiyah Purworejo

Ismawati, Esti. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra.


Surakarta: Yuma Pustaka.

Masyehuroh, Ely. 2012. Onomatope dalam Kumpulan Dongeng Sega Rames


Karya Suwardi Endraswara. Skripsi, tidak diterbitkan. Universitas Negeri
Yogyakarta, Yogyakarta.
147

Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka


Utama.

Kushartini, Untung Yuwono. 2005. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami


Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada


University Press.

Partini. B. 2010. Emas Sumawur ing Baluwarti. Yogyakarta: Pura Pustaka.

Pateda, Mansur. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta. Rineka Cipta.

Pradopo, Rahmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi Analisis Strata Norma dan
Analisis Struktural dan Semotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Risnawati, Rias. 2012. Kajian Onomatope pada Lagu Anak Usia Dini Berbahasa
Indonesia di Playgroup/Kindergarten Anak Bintang Purwodadi Grobogan.
Skripsi, tidak diterbitkan. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Soeparno. 2002. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana


Yogya.

Subrata, Edi. 1992. Pengantar Metoda Penelitian Struktural. Surakarta: Sebelas


Maret University Press.

Sudaryanto. 1985. Linguistik Esai tentang Bahasa dan Pengantar dalam Ilmu
Bahasa. Yogakarta: Gadjah Mada University Press.
148

.1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta


Wacana University Press.

Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Suharyanto. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta

Sumarlam. 2010. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Solo: Penerbit bukuKatta.

Suwandi, Sarwji. 2008. Semantik Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media


Perkasa.

Ullmann, Stephen. 2012. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


149

SINOPSIS NOVEL EMAS SUMAWUR ING BALUWARTI

Penulis : Partini B.

Penerbit : Pura Pustaka Yogyakarta

Tahun terbit : 2010

Cetakan ke :1

Jumlah halaman : 325

Novel Emas Sumawur ing Baluwarti adalah novel yang tersusun atas kumpulan

lima buah cerita, dengan pengarang yang berbeda-beda. Cerita dalam novel Emas

Sumawur ing Baluwarti yaitu:

1. Para Abdi Sami Cecaturan

Para Abdi Sami Cecaturan merupakan novel karya Mas Ngebehi

Pangrawit. Novel ini menceritakan tentang keluarga Gareng dan Petruk

beserta keluarga besarnya. Dalam novel ini terdapat nilai kekeluargaan,

gotong royong, dan kerukunan.Dalam novel diceritakan bahwa Petruk

hendak pindah rumah, Gareng dan istrinya membantu acara pindah rumah

ini. Setelah selesai membenahi rumah baru Petruk, Gareng dan Petruk

beserta isitri-istri mereka pergi ke rumah Semar. Di rumah Semar, Petruk

dan Gareng banyak bercerita, salah satunya tentang Film Terang Bulan

yang meceritakan Pulau Sawobah dan kehidupan di sana pada zaman

dahulu, di mana masih banyak orang yang menyembah berhala,

berpakaian seadanya, dan sering berpesta pora.


150

Mereka kemudian berjalan-jalan hingga sampai Pasar Gambir.

Biasanya Gareng ke Pasar Gambir bersama istrinya, namun kali ini lain, ia

hanya pergi bersama Petruk. Di Pasar Gambir sedang ada karnaval, Petruk

dan Gareng ke sana untuk melihat. Petruk mengajak Gareng untuk ikut

berkeliling, namun Gareng tidak mau. Istri Gareng dan Petruk kemudian

menyusul,dan akhirnya mereka berjalan-jalan di karnaval Pasar Gambir

bersama-sama. Mereka bercerita banyak hal, salah satunya menceritakan

wanita yang bekerja di bidang pemerintahan, di mana parawanita itu akan

bekerja secara teliti dan hati-hati. Setelah cukup lama bercerita dan melihat

karnaval, mereka memutuskan pulang ke rumah-masing-masing dan esok

hari bertemu lagi untuk berdiskusi.

2. Ngulandara

Novel Ngulandara ditulis oleh Margana Djajaatmadja. Novel

Ngulandara menceritakan tentang kisah perjalanan hidup seorang pria,

yang bernama Raden Mas Sutanta. Ia seorang keturunan ningrat. Raden

Mas Sutanta pergi berkelana untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya.

Ia memutuskan pergi dari rumah dan berkelana, karena kegagalannya

dalam pekerjaannya. Ia ingin mencapai kesuksesan dengan usahanya

sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Dalam perjalannya, Raden Mas

Sutanta bertemu dengn seorang Asisiten Wedanan dari Ngadireja. Ia

bekerja menjadi supir pribadi Raden Asisiten Wedana. Pertemuannya

dengan Asisten Wedana ini secara tidak sengaja, pada pertemuan pertama,

Rapingun membantu Asisten Wedana membetulkan otonya yang mogok,


151

dan pada pertemuan kedua, Asisten Wedana berkunjung ke rumah Nyah

Hien. Sebelumya Rapingun bekerja pada Nyah Hien, namun Den Bei

Asisiten Wedana dari Ngadireja meminta Rapingun menjadi sopir

pribadinya.Selama ia berkelana ia menggunakan nama samaran, namanya

yaitu Rapingun. Rapingun menjadi sopir yang sangat baik dan cekatan.

Meskipun ia seorang sopir, ia tidak segan melakukan pekerjaaan lain di

luar tugasnya, seperti mengurusi Hel (kuda peliharaan Asisten Wedana),

membersihkan rumah, dan sebagainya. Rapingun sangat rajin dan ulet,

sehingga tak heran bila Den Bei Asisten Wedana sangat menyayanginya

meskipun ia hanya seorang sopir pribadi saja. Selama Rapingun bekerja

pada Asisiten Wedana, ia banyak mendapatkan pelajaran hidup. Sekarang

ia yakin jika sebenarnya seorang manusia tetaplah tidak bisa lepas dari

bantuan orang lain. Pasti manusia tetaplah membutuhkan bantuan dari

keluarga dan teman. Selama ia bekerja ia juga mendapatkan seorang rekan

kerja, yaitu Kreta. Kreta sangat baik dan perhatian pada Rapingun.

Rapingun sering mengantarkan Raden Ayu Supartinah, putri dari

Den Bei Asisiten wedana ketika bepergian. Dari kedekatan ini, muncul

perasaan sayang Rapingun pada Raden Ayu Asisten Wedana. Sebagai

seorang sopir Rapingun juga mampu melindungi Raden Ayu Asisiten

Wedana. Misalnya ketika Raden Ayu pulang dari sebuah pesta, dia

dihadang oleh Harjana, pria yang menyukai Raden Ayu Tien dan mencoba

mengangganggu Raden Ayu Tien, Rapingun melindungi tuannya dengan

sekuat tenaganya. Saat itu tangan Rapingun sampai cedera, namun


152

Rapingun tetep mencoba bertahan sampai rumah asisiten Wedana.

Semenjak saat itu muncullah rasa cinta di antara Rapingun dan Raden Ayu

Tien. Pada suatu hari ia menyadari kesalahannya, yaitu ia pergi jauh dari

orang tuanya, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya

dan berhenti menjadi sopir pribadi. Setibanya di kota asalnya, ia

memutuskan untuk merintis usaha kembali. Pada suatu hari, tanpa sengaja

ia bertemu kembali dengan Asisten Wedana dari Ngadireja, dan ia

melamar Raen Ayu Tien untuk menjadi istrinya. Mereka berdua pun hidup

bahagia.

3. Tata Cara

Tata Cara merupakan cerita yang ditulis oleh Padmasusastra. Novel

ini menceritakan tentang keluarga Raden Nganten Tangkilan yang

dikarunia dua orang anak yaitu Raden Bagus Suwarna yang berusia 12

tahun dan Raden Rara Suwarni yang berusia 10 tahun. Raden Nganten

hendak mengadakan pesta ulang tahun untukny ayang sekarang sudah

genap 33 tahun. Ia menginginkan peata ulang tahunnya ini dibarengi

dengan sunatan putra pertamanya dan syukuran untuk putrinya juga.

Tangkilan meminta Tangkilan mempersiapkan segala sesuatunya. Raden

Ngenten meminta Mbok Karyaboga untuk berbelanja keperluan yang

dibutuhkan untuk pesta. Setelah selesai membicarakan segala

perlengkapan bersama Karyaboga, Raden Nganten kemudian menyuruh

Karyaboga untuk memanggil Jagakarsa. Ia juga meninta Jagakarsa untuk

ikut membantu mempersiapkan pesta tersebut.


153

Selain pada Karyaboga dan Jagakarsa, Tangkilan juga meminta

bantuan dari Sastraubaya untuk membuatkan undangan. Tangkilan

menyuruh Jayanimpura untuk mencari penari tledhek, namun Jayanimpura

tidak menyanggupinya, ia hanya memberikan saran kelompok mana yang

bagus dan meminta Raden Tangkilan untuk menemui pemimpin

kelompoknya. Persiapan untuk pesta ini dilakukan sangat maksimal,

semua emban keluarga Raden Nganten Tangkilan bekerja sama

mempersiapkan dan mensukseskan pesta ulang tahun ini. Pesta ulang

tahun dan sunatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 7 Rabingulakir.

Tepat pada tangaal tersebut, mulai pukul delapan para tamu sudah hadir.

Pesta ulang tahun tersebut sangatlah meriah. Beberapa hari setelah pesta

dilanjutkan dengan sunatan putra pertamanya Raden Bagus Suwarna.

4. Adipati Madiun

Cerita ini ditulis oleh Raden Ngenten Sumardi. Dalam cerita ini

dikisahkan perjalanan seorang Bupati Madiun yang bernama Pangeran

Rangga Prawiradirja menuju ke Yogyakarta. Dalam perjalanan ini ia

bersama anak dan cucunya. Ketika perjalanan mereka sampai di Delanggu,

putranya yang masih muda melihat seekor kambing yang aneh, ia

menginginkan kambing itu menjadi miliknya. Pangeran Rangga

Prawiradirja memanggil demang Delanggu untuk menanyakan kambing

itu milik siapa, dan ternyata pemiliknya ialah Pangeran Adipati

Mangkunegara. Ia meminta kambing itu pada Demang Delanggu namun

demang Delanggu tidak memberikannya karena ia diberi amanah untuk


154

tidak memberikan kambing kepada siapapun kecuali pemiliknya. Mereka

berdebat, Kemarahan Adipati Madiun memuncak, hingga akhirnya ia

menmbak demang Delanggu dengan pistolnya Beberapa bulan setelah itu

Raden Rangga sakit keras, dan ia kemudian meninggal dunia.

5. Kendhil Isi Woh Jetun

Cerita ini ditulis oleh Ali Rahmat. Kendil Isi Woh Jetun

menceritakan tentang seseorang yang bernama Pak Ali, seorang saudagar

kaya yang akan mengembara berdagang ke mancanegara. Kepergiannya

ini akan lama. Pak Ali memiliki tabungan satu dinar. Ia merasa takut untuk

membawa tabungannya ketika pergi, sehingga ia memikirkan suatu cara

untuk menyimpan tabungannya ini agar aman. Akhirnya, ia menemukan

cara untuk menyimpan uang tabungannya, yaitu dengan menyimpan

uangnya di dalam kendhil dan menutupi isi uangnya dengan buah jetun,

kemudian ditutup rapat dan dititipkan pada temannya Kasim yang juga

seorang saudagar kaya. Kasim menyanggupi permintaan Pak Ali, ia mau

dititipi kendhil berisi uang itu. Pak Ali dan Kasim pergi ke tempat yang

aman untuk menyimpan kendhil tersebut.

Suatu hari, istri Kasim menginginkan buah jetun. Seketika ia ingat

kalau Pak Ali pernah menitipkan kendhil berisi buah jetun padanya,

sehingga muncul keinginan untuk mengambil jetun titipan Pak Ali

tersebut, apalagi sudah beberapa tahun Pak Ali tidak ada kabarnya.

Istrinya memperingatkan untuk tidsk mengambil buah itu dari kendhil Pak

Ali, namun Kasim tidak menghiraukannya. Kasim mengambil lilin


155

kemudian pergi ke gudang penyimpanan kendhil. Ia membuka kendhil

yang tertutup rapat, dan melihat ternyata buah jetunnya sebagian sudah

busuk. Ia berpikir kalau yang busuk hanyalah bagian atas saja sehingga ia

mencoba mengambil bagian dalam. Ketika ia mencoba untuk mengambil,

tiba-tiba ia mendengar bunyi kepingan uang logam. Kendhil kemudian

ditumpahkan. Ternyata kendhil itu berisi kepingan uang emas. Ia

mengembalikan uang dan buah jetun isi kedhil. Seminggu kemudian ia

masuk ke dalam gudang dan mengambil semua uang yang ada dalam

kendhil, dan mengganti buah jetunnya dengan buah jetun yang baru. Uang

itu disimpannya dalam peti besi.

Beberapa hari kemudian, Ali pulang dari pengembaraan

dagangnya. Ia berniat mengambil kendhilnya yang dititipkan pada Kasim.

Pak Ali mengambil kendhil yang ia titipkan. Sampai di rumah, Pak Ali

membuka tutup kendhil, dan betapa kagetnya ia, ternyata emas di dalam

kendhil sudah hilang. Ia tidak yakin kalau Kasim yang mengambilnya. Pak

Ali menceritakan tentang isi kendhil itu pada Kasim, namun Kasim malah

marah-marah dan pura-pura tidak tahu. Mereka bertengkar.

Pak ali memutuskan untuk melaporkan kejadian ini pada jaksa. Pak jaksa

pergi ke kampung Pak Ali dan Kasim sambil mencari bukti dan saksinya.

Berbagai pendapat didengar oleh pak jaksa. Pak Jaksa bingung. Selama

dalam perjalanan ia melihat anak kecil yang sedang bermain maling-

malingan. Pak jaksa berhenti dan meilhat permainan itu. Ternyata anak-

anak itu bermain peran dengan cerita yang dialami Pak Ali dan Kasim. Pak
156

jaksa memperhatikan dengan seksama. Ia mendapat inspirasi penyelesaian

masalah dari sandiwara anak-anak yang dilihatnya.

Keesokan hari setelah Pak jaksa melihat sandiwara itu, ia

memanggiil Pak Ali dan Kasim, dan meminta Pak Ali membawakan jetun

yang sudah disimpannya selama 7 tahun. Pak jaksa memamnggil seorang

saudagar jetun dan menyuruhnya untuk mencicipi jetun yang dibawa Pak

Ali. Ternyata buah jetun yang dibawa Pak Ali bukanlah jetun yang sudah

disimpan tujuh tahun lalu, melainkan jetun yang masih baru. Pak jaksa

kemudian memutuskan bahwa Kasimlah yang bersalah. Pak Ali senang

uangnya bisa kembali. Ia mendengar kalau keputusan pak jaksa ini didapat

setelah pak jaksa melihat sandiwara anak-anak. Pak Ali memberikan 100

dinar pada anak yang berperan sebagai jaksa.


157
158
159

Common questions

Didukung oleh AI

Onomatopoeic expressions in the novel "Emas Sumawur ing Baluwarti" display a variety of structural forms, including single syllable, two syllables, three syllables, and multisyllabic patterns. These structures may involve repetition to emphasize certain effects or reactions. Additionally, some expressions manifest as phrases that encapsulate more complex auditory scenery, enhancing the readers' perceptual experience of the text .

Onomatopoeia in "Emas Sumawur ing Baluwarti" serves to communicate intricate themes and emotions by creating a sensory connection with the readers. It illustrates atmospheres, such as excitement or tension, and embodies the characters' emotional states, such as fear or happiness. By doing so, it not only enriches the narrative theme but also creates an emotional resonance that makes the storyline more engaging and relatable .

Onomatopoeia in "Emas Sumawur ing Baluwarti" serves multiple roles, enhancing the narrative's vividness and emotional depth. It is used to describe sounds relating to objects, nature, animals, and human emotions, adding a layer of authenticity and engagement for the reader. The novel employs onomatopoeia to illustrate the characters' emotions, such as anger or surprise, and to create an immersive environment by replicating real-life sounds, thereby enriching the storytelling and providing a unique auditory experience .

In "Emas Sumawur ing Baluwarti," onomatopoeia is categorized into four main types: imitation of object sounds, animal sounds, natural sounds, and human sounds. These categories are identified by examining the linguistic structure, such as the syllables and phonemes that constitute each onomatopoeic expression, and their contextual meanings within the narrative, thereby highlighting their semantic differences and functional uses .

The categorization of onomatopoeia in "Emas Sumawur ing Baluwarti" parallels previous linguistic studies, which similarly classify onomatopoeic expressions based on their source of sound—whether objects, animals, nature, or human actions. This study aligns with conventional linguistic frameworks, reinforcing the consistency of how onomatopoeia is understood and analyzed across different languages and works. The detailed breakdown into specific sound types aids in a systematic approach to understanding their functional and aesthetic roles within the text .

The research on onomatopoeia in "Emas Sumawur ing Baluwarti" employed qualitative methods, utilizing both formal and informal presentation techniques to analyze data. This included classifying onomatopoeia into types, shapes, and functions, as well as descriptive analysis guided by theory. The presentation of findings utilized clear, accessible language supplemented with formal representations to clarify relationships and distinctions within the data, ensuring both comprehensibility and analytical rigor .

Onomatopoeia serves as a vital tool for depicting character emotions in "Emas Sumawur ing Baluwarti." It provides an auditory embodiment of emotions such as anger, surprise, or sadness, allowing readers to perceive changes in mood and emotional intensity through sound. This not only aids in character development but also deepens readers' empathy and understanding of character motivations and internal states .

The use of Javanese language in "Emas Sumawur ing Baluwarti" enriches the depiction of onomatopoeia by incorporating cultural nuances and linguistic features unique to Javanese. This allows the onomatopoeic sounds not only to imitate the auditory landscape but also to reflect cultural context, making the literary work distinctively authentic and resonant with Javanese identity. The onomatopoeia captures local sounds familiar to native speakers, thus enhancing cultural depth and linguistic diversity .

The narrative of "Emas Sumawur ing Baluwarti" incorporates onomatopoeia to vividly depict settings and environments, enhancing sensory experiences and grounding the story in recognizable reality. By employing sounds typical of various environments—such as bustling markets or serene natural scenes—the narrative paints a vivid picture, aiding readers in immersively visualizing and experiencing the story world. This auditory engagement complements visual imagery, adding depth to environmental descriptions .

Semantic analysis is crucial for understanding the multifaceted role of onomatopoeia in "Emas Sumawur ing Baluwarti," as it deciphers how these sounds convey meaning beyond mere imitation. By evaluating contexts and underlying meanings, semantic analysis reveals how onomatopoeia enhances narrative engagement, reflects cultural intricacies, and conveys implicit messages about the characters and settings. This analysis uncovers deeper narrative layers by interpreting the sounds as carriers of symbolic and emotional content .

Anda mungkin juga menyukai