ONOMATOPE DALAM NOVEL EMAS SUMAWUR
ING BALUWARTI KARYA PARTINI B.
SKRIPSI
Disusun sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Isna Siti Mulyani
NIM 112160665
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA JAWA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO
2014
ONOMATOPE DALAM NOVEL EMAS SUMAWUR ING
BALUWARTI KARYA PARTINI B.
Oleh
Isna Siti Mulyani
NIM 112160665
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan
di depan Panitia Penguji Skripsi
Menyetujui
Pembimbing I, Pembimbing II,
Rochimansyah, M. Pd. Aris Aryanto, M.Hum.
NIDN 0613048602 NIDN 0625038601
Mengetahui
Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa,
Yuli Widiyono, M. Pd.
NIDN 0616078301
ii
ONOMATOPE DALAM NOVEL EMAS SUMAWUR ING
BALUWARTI KARYA PARTINI B.
Oleh
Isna Siti Mulyani
NIM 112160665
Skripsi ini telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Skripsi
Universitas Muhammadiyah Purworejo
Pada tanggal: 15 Juli 2014
TIM PENGUJI
Yuli Widiyono, M. Pd.
NIDN 0616078301 …………………………..
Penguji Utama
Rochimansyah, M. Pd.
NIDN 0613048602 ……………………………
Penguji I
Aris Aryanto, M.Hum.
NIDN 0625038601 …………………………….
Penguji II
Purworejo, Agustus 2014
Mengetahui
Dekan FKIP,
Drs. H. Hartono, M.M.
NIP 19540105 198103 1 002
iii
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Isna Siti Mulyani
NIM : 112160665
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Dengan ini saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar
hasil karya sendiri, bukan jiplakan orang lain, baik sebagian maupun seluruhnya.
Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau
dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Apabila terbukti atau dapat dibuktikan bahwa skripsi ini adalah hasil jiplakan,
saya bersedia bertanggung jawab secara hukum yang diperkarakan oleh
Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Purworejo, 15 Juli 2014
Yang membuat pernyataan
Isna Siti Mulyani
iv
MOTO
1. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan selama ada komitmen untuk
menyelesaikannya. (Penulis)
2. “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu
telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain”. (Q. S. AL. Insiroh: 6-7)
3. Jangan menunda-nunda pekerjaan, belum tentu kita masih punya waktu untuk
menyelesaikannya. (Penulis)
v
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur kepada Allah Swt., skripsi ini penulis
persembahkan kepada :
1. Ayah dan Ibuku tercinta, Suyanto, S. Pd. dan Poyem yang senantiasa
mencurahkan segenap kasih sayang serta selalu mendoakan dan memberikan
dorongan sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.
2. Kakakku Eka Supriyanto, S. Pd. dan adikku yang kusayangi Amin putri
Salasati yang selalu memberikan dukungan dan motivasi.
3. Sahabat-sahabatku Maryani, Rindi, Nunung, Hesti, Ayun, Mina, Yeni, Nani,
Dila, Dani, dan Fendi Dwi Kurniawan, S. Pd. yang selalu memberikan
motivasi.
4. Teman-teman angkatan 2010 khususnya PBSJ Kelas C yang selama 4 tahun
telah bersama-sama dalam suka dan duka.
vi
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt., atas
segala rahmat dan inayah-Nya sehingga skripsi dengan judul “Onomatope dalam
Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya Partini B. ” dapat diselesaikan dengan
baik. Skripsi ini disusun dalam rangka menyelesaikan studi Program Strata Satu
(S1) pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa di Fakultas
Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat terselesaikan tanpa ada
dukungan, bimbingan, saran, motivasi dan kerjasama berbagai pihak. Oleh karena
itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarnya
kepada:
1. Drs. H. Supriyono, M. Pd., selaku Rektor Universitas Muhammadiyah
Purworejo.
2. Drs. H. Hartono, M.M., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.
3. Yuli Widiyono, M. Pd., selaku ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Jawa yang telah memberikan dorongan penulisan skripsi.
4. Rochimansyah, M. Pd., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan dan arahan kepada penulis.
5. Aris Aryanto, M. Hum., sebagai Dosen Pembimbing II, yang telah
memberikan motivasi, petunjuk dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.
vii
6. Bapak dan Ibu Dosen FKIP PBSJ yang telah memberikan ilmu dan
pengetahuan kepada penyusun.
7. Semua pihak yang turut membantu yang tidak dapat penyusun sebutkan satu
persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, segala kritik dan saran yang membangun, akan diterima dengan tangan
terbuka dan senang hati. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi pembaca dan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan
bahasa, khususnya bahasa Jawa. Amin.
Purworejo, 24 Juni 2014
Penulis
Isna Siti Mulyani
viii
ABSTRAK
Isna Siti Mulyani.” Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti
Karya Partini B”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.
2014.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis-jenis onomatope
dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B, (2) mendeskripsikan
bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B dan
(3) mendeskripsikan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.
Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini
diperoleh dari novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Data yang
ada dalam penelitian ini berupa satuan gramatikal yang berwujud kata atau
kalimat yang mengandung onomatope pada novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan
teknik pustaka, teknik observasi dan teknik simak catat. Teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analisis. Dalam penyajian data
menggunakan teknik formal dan informal.
Hasil penelitian pemerolehan data dan pembahasan yang mengkaji tentang
onomatope yaitu (1) Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
terdapat empat jenis onomatope yang digunakan dalam novel tersebut. Jenis-jenis
onomatope yang terdapat dalam novel ialah a) tiruan bunyi benda, b) tiran bunyi
hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Jumlah jenis
onomatope yang paling banyak dalam novel ialah tiruan bunyi benda sebanyak 39
data, tiruan bunyi hewan sebanyak 3 data. tiruan bunyi alam sebanyak 9 data, dan
tiruan bunyi manusia sebanyak 31 data. Dari semua jenis onomatope ini, memiliki
bentuk frasa, yaitu frasa yang terbentuk dari kata mak dan pating dengan kata-kata
yang lain sehingga bernilai onomatope, misalnya mak byar, pating pleyot, dan
sebagainya, (2) Bentuk dasar onomatope yang digunakan dalam novel ialah
bentuk satu silabel sejumlah 16 data, bentuk dua silabel sejumlah 9 data, bentuk
tiga silabel tidak ditemukan dalam novel, sedangkan bentuk multisilabel sejumlah
8 data, dan bentuk frasa sejumlah 16 data. Dari bentuk dasar tersebut ada yang
mengalami pengulangan sehingga bentuk onomatopenya menjadi pengulangan
satu silabel sejumlah 11 data, pengulangan dua silabel sejumlah 20 data, dan
pengulangan tiga silabel sejumlah 2 data. Onomatope berbentuk frasa dalam novel
Emas Sumawur ing Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak
dan pating, onomatope berfrasa mak ada sejumlah 7 data dan yang berfrasa pating
sejumlah 9 data. (3) Fungsi onomatope yang terdapat dalam novel, terbagi
menjadi empat fungsi, yaitu sebagai berikut. (a) Penggambaran suasana hati,
yaitu: cinta, terkejut, manja, malu, bahagia, dan berani.(b) Memberikan kesan
pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, (c) Mendeskripsikan tentang
keadaan, (d) Meniru perbuatan atau benda yang menghasilkan bunyi.
Kata kunci : onomatope, Emas Sumawur ing Baluwart
ix
SARIPATI
Isna Siti Mulyani.” Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti
Karya Partini B”. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Purworejo.
2014.
Panaliten punika gadhah ancas kangge: (1) ngandharaken jenis-jenising
onomatope wonten ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B, (2)
ngandharaken bentuk onomatope wonten ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B lan (3) ngandharaken fungsi utawi ginanipun onomatope wonten
ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B
Penaliten punika arupi panaliten deskriptif kualitatif. Sumber data wonten
ing panaliten inggih punika novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
Data ing panaliten punika awujud satuan gramatikal awujud tembung utawi ukara
ingkang ngemot onomatope wonten ing novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B. Teknik pengumpulan data wonten ing panaliten punika mawi cara
teknik pustaka, teknik observasi lan teknik simak catat. Teknik analisis data ing
panaliten teknik deskriptif analisis. Kasil analisis data dipunjlentrehaken kanthi
teknik formal lan teknik informal.
Asil data panaliten awujud onomatope wonten ing novel Emas Sumawur
ing Baluwarti karya Partini B inggih punika (1) Wonten sekawan jenis onomatope
ingkang dipunginakaken salebeting novel. Jenis-jenising onomatope ing novel
inggih punika a) tiruan swara benda, b) tiruan swara kewan, c) tiruan swara alam,
lan d) tiruan swara manungsa. Gunggunging jenis onomatope ingkang paling
kathah wonten ing novel inggih punika tiruan swara benda wonten 39 data,
tiruan swara kewan wonten 3 data. tiruan swara alam wonten 9 data, lan tiruan
swara manungsa wonten 31 data. Jenis-jenis onomatope kasebut wonten ingkang
awujud frasa, frasa saking gabungan tembung mak lan pating kaliyan tembung-
tembung sanesipun. (2) Bentuk dasar onomatope ingkang dipunginakaken wonten
novel inggih punika bentuk setunggal silabel wonten 16 data, bentuk kalih silabel
wonten 9 data, tiga silabel mboten wonten, multisilabel wonten 8 data lan frasa
wonten 16 data. Saking bentuk dasar kasebut wonten ingkang dipunambali,
satemah bentuk onomatopenipun dados pengulangan setunggal silabel wonten 11
data, pengulangan kalih silabel wonten 20 data, lan pengulangan tiga silabel
wonten 2 data. Onomatope kanthi bentuk frasa mak wonten 7 data, lan kanthi
bentuk frasa pating wonten 9 data. (3) Fungsi onomatope wonten ing novel,
kaperang dados sekawan fungsi, inggih punika (a) nggambaraken suasananing ati,
yaitu: tresna, kaget, manja, isin, seneng, lan wantun. (b) maringi kesan kangge
benda ingkang dipirsani, dimirengaken utawi dirasakaken, (c) ngandharaken
babagan kahanan, (d) niru tumindak utawi benda ingkang ngasilaken swanten.
Kata kunci : onomatope, Emas Sumawur ing Baluwarti
x
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN..................................................................... iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ............................................... iv
MOTO ......................................................................................................... v
HALAMAN PERSEMBAHAN.................................................................. vi
KATA PENGANTAR ................................................................................ vii
ABSTRAK .................................................................................................. ix
SARIPATI ................................................................................................... x
DAFTAR ISI ............................................................................................... xi
DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiii
DAFTAR SINGKATAN ............................................................................ xiv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xv
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................ 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................. 5
C. Batasan Masalah ........................................................................ 7
D. Rumusan Masalah ..................................................................... 7
E. Tujuan Penelitian ....................................................................... 8
F. Manfaat Penelitian ..................................................................... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORI ....................... 10
A. Tinjauan Pustaka ....................................................................... 10
B. Kajian Teoretis .......................................................................... 12
1. Bahasa ................................................................................... 12
a. Hakikat Bahasa ................................................................. 12
b. Fungsi Bahasa ................................................................... 15
2. Semantik ............................................................................... 19
a. Pengertian Semantik ........................................................ 19
b. Manfaat Semantik ............................................................ 22
c. Unsur-Unsur Semantik .................................................... 23
3. Onomatope ........................................................................... 29
a. Pengertian Onomatope .................................................... 29
b. Jenis Onomatope .............................................................. 31
c. Bentuk Onomatope .......................................................... 33
d. Fungsi Onomatope ........................................................... 36
4. Novel ...................................................................................... 39
a. Pengertian Novel.............................................................. 39
b. Struktur Novel.................................................................. 40
c. Jenis Novel ....................................................................... 42
xi
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................... 45
A. Jenis Penelitian .......................................................................... 45
B. Sumber Data dan Data Penelitian ............................................. 45
C. Instrumen Penelitian.................................................................. 46
D. Teknik Pengumpulan Data ........................................................ 47
E. Teknik Keabsahan Data ............................................................ 50
F. Teknik Analisis Data ................................................................. 51
G. Teknik Penyajian Data ............................................................. 53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................... 54
A. Penyajian Data .......................................................................... 54
B. Pembahasan............................................................................... 77
1. Jenis Onomatope ................................................................. 77
a. Tiruan bunyi benda ...................................................... 77
b. Tiruan bunyi hewan ...................................................... 94
c. Tiruan bunyi alam ......................................................... 96
d. Tiruan bunyi manusia ................................................... 100
2. Bentuk Onomatope ............................................................ 108
a. Satu Silabel ................................................................... 109
b. Dua Silabel .................................................................... 114
c. Tiga Silabel ................................................................... 119
d. Frasa .............................................................................. 123
3. Fungsi Onomatope .............................................................. 128
a. Penggambaran Suasana Hati ......................................... 128
b. Memberikan kesan ........................................................ 131
c. Mendeskripsikan keadaan ............................................. 136
d. Meniru perbutan atau benda yang menghasilkan bunyi 139
BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN .................................. 143
A. Simpulan ................................................................................... 143
B. Saran ......................................................................................... 145
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 146
LAMPIRAN-LAMPIRAN ....................................................................... 149
xii
DAFTAR TABEL
halaman
Tabel 1 : Kartu Data ................................................................................... 49
Tabel 2 : Jenis, bentuk, dan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B. .......................................................... 55
Tabel 3 : Tiruan bunyi manusia ................................................................... 102
Tabel 4 : Struktur fonem bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan 110
Tabel 5 : Struktur fonem bentuk onomatope pengulangan satu silabel ..... 113
Tabel 6 : Struktur fonem bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan 116
Tabel 7 : Struktur fonem, bentuk onomatope pengulangan dua silabel .... 118
xiii
DAFTAR SINGKATAN
PASC : Para Abdi Sami Cecaturan
Ngl : Ngulandara
TC : Tata Cara
AM : Adipati Madiun
KIWJ : Kendhil Isi Woh Jetun
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
halaman
Lampiran 1. Sinopsis novel Emas Sumawur ing Baluwarti....................... 149
Lampiran 2. Surat Penetapan Dosen Pembimbing..................................... 157
Lampiran 3. Kartu Bimbingan Skripsi........................................................ 158
xv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sastra sebagai salah satu bentuk kreasi seni menggunakan bahasa
sebagai media pemaparannya. Bahasa yang digunakan dalam karya sastra
berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa
sastra memiliki kekhasan sendiri, bahasa sastra biasanya sudah direkayasa
sehingga muncul gaya bahasa yang manis.
Bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer
atau mana suka, artinya dalam penyebutan antara lambang bahasa dengan
benda atau konsep yang ditandai hanya berdasarkan kesepakatan antar
penutur bahasa di lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Lambang yang
berupa bunyi itu tidak memberi saran atau petunjuk apapun untuk mengenal
konsep yang diwakilinya. Maksudnya antara lambang bahasa yang berwujud
bunyi dengan konsep yang dimaksud oleh lambang tersebut tidak memiliki
hubungan wajib. Misalnya, kata kursi dalam bahasa Indonesia kata ini
merujuk pada benda berkaki empat yang biasa digunakan untuk duduk,
sementara dalam bahasa Inggris menyebut benda tersebut dengan chair,
berarti penyebutan lambang bunyi tersebut berdasarkan kesepakatan
penuturnya, meskipun referen yang dimaksud sama. Apabila diantara
keduanya memiliki hubungan wajib, di antara lambang dengan konsep, maka
1
2
tenta lambang yangdalam bahasa Indonesia disebut dengn kursi maka dalam
bahasa lain penyebutannya juga sama.
Beberapa bahasa memiliki sejumlah kata yang berasal dari bunyi
benda yang diwakilinya. Misalnya meong untuk menyebut binatang yang
menghasilkan bunyi demikian (kucing), guk guk untuk menyebut anjing, dan
sebagainya. Kata-kata tiruan bunyi ini lambangnya mengandung petunjuk
atau memberikan saran terhadap konsep yang dilambangkannya sehingga
hubungan antara keduanya bersifat arbitrer. Tergantung dari penuturnya dan
kesepakatan penuturnya.
Bahasa Jawa merupakan salah satu media pemaparan karya sastra
seperti novel. Untuk menarik perhatian pembaca, bahasa dapat diekspresikan
dengan beragam variasi bahasa. Salah satu bentuk variasi bahasa adalah
dengan penggunaan tiruan-tiruan bunyi yang bersifat ekspresif dan
imajinatif. Sifat ekspresif dan imajinatif ini digunakan untuk
mengungkapkan perasaan tokoh ceritanya. Pengungkapannya dapat melalui
tiruan bunyi benda, hewan, manusia, dan alam.
Penulis cerita dapat mengungkapkan perasaan tokoh, misalnya
perasaan sedih, senang, kecewa, terkejut, dengan menggunakan tiruan bunyi.
Contoh tiruan bunyi yang ditimbulkan oleh perasaan tokoh misalnya, lho,
wah, kok, hore, hahaha. Tiruan bunyi benda seperti benda jatuh, tabrakan
benda, dan letusan juga dapat digunakan untuk mengungkapkan atau
menceritakan hal yang didengar, dilihat atau dirasakan. Contohnya kriiing
’suara telepon berdering’, thok…thok tiruan ’suara pukulan palu’, dan lain
3
sebagainya. Tiruan bunyi yang menghasilkan kata-kata tersebut disebut
dengan peniruan bunyi atau onomatope.
Onomatope merupakan istilah bahasa yang dapat didefinisikan
sebagai kosakata yang dibentuk berdasarkan bunyi atau suara yang
dikeluarkan oleh kata yang bersangkutan. Kosakata ini bisa berbentuk kata
benda, kata kerja, kata sifat dan sebagainya. Onomatope juga dikenal dalam
berbagai bahasa di dunia, namun nampaknya masing-masing bangsa tidak
sama dalam menangkap bunyi atau suara itu. Setiap bahasa memiliki
penafsiran bunyi yang sama dengan hasil yang berbeda, begitu pula dalam
bahasa Jawa. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai peniruan
bunyi dalam bahasa Jawa. Dalam penelitian ini, onomatope dikhususkan pada
novel berbahasa Jawa yang berjudul Emas Sumawur ing Baluwarti.
Onomatope kebanyakan ditemukan dalam bahasa Jepang, oleh karena
itu, tidak heran bila banyak sekali penelitian mengenai onomatope dalam
berbahasa Jepang. Padahal sebenarnya Bahasa Jawa juga memiliki kekayaan
bahasa yang berwujud onomatope. Misalnya, untuk menggambarkan bunyi
gerakan air saja orang Jawa setidaknya memiliki tiga ekspresi, kricik-kricik
untuk menggambarkan bunyi air yang alirannya kecil, krucuk-krucuk umtuk
menggambarkan bunyi bunyi air yang alirannya sedang, dan krocok-krocok
untuk menggambarkan bunyi aliran air yang deras. Ekspresi-ekspresi bunyi
itu, merupakan kekayaan bahasa yang harus dipahami dan dimengerti lebih
dalam lagi, maka perlu dilakukan kajian mendalam mengenai onomatope
dalam bahasa Jawa.
4
Onomatope biasanya lebih banyak digunakan pada komik, onomatope
berfungsi untuk memberikan efek imajinasi pembaca dan sebagai ungkapan
perasaan tokoh. Namun, sebenarnya onomatope tidak hanya ditemukan dalam
wacana komik saja, onomatope juga dapat ditemukan dalam novel, kumpulan
dongeng, kumpulan cerpen, dan lagu-lagu anak, meskipun intensitasnya tidak
terlalu banyak seperti yang terdapat di dalam komik. Hal ini menarik
perhatian penulis untuk meneliti dan menemukan onomatope dalam bahasa
Jawa yang terdapat dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya
Partini.B.
Onomatope atau tiruan bunyi digunakan dalam karya sastra seperti
novel untuk menunjang isi cerita yang ada dalam karya tersebut. Salah satu
karya sastra berbahasa Jawa yang menggunakan onomatope untuk menunjang
isi cerita ialah novel ’Emas Sumawur ing Baluwarti’ karya Partini.B. Novel
ini terdiri dari lima cerita yaitu Para Abdi Sami Cecaturan, Ngulandara, Tata
Cara, Adipati Madiun, dan Kendhil Isi Woh Jetun. Novel Emas Sumawur ing
Baluwarti berisi cerita tentang kehidupan sehari-hari seperti kehidupan rumah
tangga, kehidupan sosial manusia, dan sebagainya. Novel ini mengandung
tiruan bunyi benda, bunyi hewan, bunyi alam, dan bunyi manusia atau
perasaan pengarang sehingga ceritanya lebih menarik untuk dibaca dan
menimbulkan kesan tersendiri di hati pembacanya. Onomatope dalam novel
juga digunakan sebagai sarana pengungkap perasaan tokoh, misalya marah,
kecewa, kaget, sedih, dan sebagainya.
5
Onomatope atau tiruan bunyi biasanya diwujudkan dalam bentuk
satuan lingual yang berupa kata atau silabel. Silabel terbentuk dari
pengucapan yang dilakukan oleh alat bicara. Satu kali kecap berarti satu
silabel, begitu seterusnya. Dalam satu silabel ini terdiri dari beberapa fonem.
Fonem inilah yang menjadi struktur onomatope sementara silabel akan
menjadi bentuk onomatope.
Peneliti tertarik untuk meneliti tentang onomatope dalam novel “Emas
Sumawur ing Baluwarti” karena peneliti menganggap onomatope merupakan
salah satu bentuk kekayaan dan keragaman bahasa khususnya bahasa Jawa.
Onomatope menjadikan suatu karya sastra lebih menarik untuk dibaca. Dalam
novel Emas Sumawur ing Baluwarti terdapat ragam onomatope sepertti
krecek-krecek, kropyok, hrrrrrr, dan sebagainya sehingga membuat cerita
dalam novel tersebut menarik.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian tersebut, masalah yang dapat diidentifikasi adalah
sebagai berikut.
1. Onomatope biasanya lebih banyak digunakan dalam komik untuk
mengungkapkan perasaan tokoh. Namun sebenarnya onomatope juga
dapat ditemukan dalam novel, sehingga menarik perhatian penulis untuk
mengkaji jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B.
6
2. Bahasa Jawa sebagai salah satu media pemaparan karya sastra seperti
novel, menggunakan bentuk onomatope untuk menarik para pembaca.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk onomatope dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.diperlukan kajian yang lebih
mendalam, yaitu analisis bentuk onomatope.
3. Onomatope yang terdapat dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B memiliki makna sesuai dengan konteks bacaan. Oleh
karena itu, diperlukan suatu analisis semantik terhadap makna onomatope
dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
4. Novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. menggunakan
satuan gramatikal yang berwujud kata atau frasa yang mengandung
onomatope yang memiliki fungsi tersendiri dalam suatu kalimat,
misalnya untuk penggambaran suasana hati, memberikan kesan terhadap
benda yang dilihat, mendeskripsikan keadaan, dan meniru perbuatan
yang menghasilkan bunyi. Untuk mengetahui lebih mendalam mengenai
fungsi onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya
Partini B. maka diperlukan kajian yang lebih mendalam.
5. Setiap kata atau kalimat tentu memiliki struktur tersendiri, begitu pula
dengan onomatope. Onomatope yang digunakan dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti karya Partini B memiliki struktur tersendiri.
Oleh karena itu, diperlukan kajian yang mendalam untuk mengetahui
struktur suatu onomatope.
7
C. Batasan Masalah
Pembatasan masalah perlu dilakukan agar penelitian tidak keluar dari
sasaran yang akan dicapai. Dari identifikasi masalah di atas, peneliti
membatasi masalah. Adapun batasan masalah tersebut peneliti membatasi
pada:
1. jenis onomatope yang digunakan dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.;
2. bentuk onomatope yang digunakan dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.;
3. fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya
Partini B.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka dapat ditentukan rumusan
masalah penelitian ini, sebagai berikut.
1. Apa sajakah jenis onomatope yang terdapat dalam novel Emas Sumawur
ing Baluwarti karya Partini B?
2. Bagaimanakah bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.?
3. Bagaimanakah fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.?
8
E. Tujuan Penelitian
Dari perumusan masalah di atas diperoleh tujuan penelitian sebagai
berikut.
1. Mendeskripsikan jenis-jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.
2. Mendeskripsikan bentuk onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.
3. Mendeskripsikan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian terhadap Novel Emas Sumawur ing Baluwarti ini
diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara praktis maupun secara
teoretis. Adapun manfaat penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut.
1. Secara teoretis
Penelitian ini diharapkan akan dapat menambah dan memperkaya
khasanah penelitian linguistik, berguna dalam ilmu yang mengkaji
tentang bahasa dan sastra, serta sebagai sumbangsih dalam
pengetahuan lingistik yang berkaitan dengan penggunaan onomatope
dalam karya sastra yang berbentuk novel. Diharapkan penelitan ini
dapat digunakan untuk penelitian lain yang sejenis.
9
2. Secara praktis
a. Bagi peneliti, dapat memahami lebih dalam tentang kajian
semantik terutama mengenai bentuk, jenis, dan fungsi onomatope
dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti.
b. Bagi pembaca, hasil penelitian terhadap onomatope dalam Novel
Emas Sumawur ing Baluwarti diharapkan dapat menambah
wawasan mengenai bahasa dan sastra terutama dalam bidang
semantik, khususnya dalam kajian onomatope, serta membantu
pembaca dalam memahami onomatope yang digunakan dalam
karya sastra.
c. Bagi pemerintah, dapat lebih melestarikan karya sastra Jawa yang
berwujud novel di zaman sekarang.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN KAJIAN TEORI
G. Tinjauan Pustaka
Ratna (2010: 276) mendefinisikan tinjauan pustaka adalah penelaahan
terhadap bahan bacaan seperti skripsi yang berkaitan dengan objek yang
sudah dilakukan oleh orang lain. Tinjuan pustaka merupakan penelitian
relevan untuk pengkajian terhadap penelitian terdahulu yang memiliki kaitan
langsung dengan objek yang diteliti sebelum penelitian ini. Peneliti
menggunakan dua tinjauan pustaka yang berbentuk skripsi sesuai dengan
objek kajian. Adapun tinjauan pustakanya adalah sebagai berikut.
1. Penelitian mengenai onomatope pernah dilakukan oleh Rias Risnawati
(2012) jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah
Surakarta yang berjudul ‘Kajian Onomatope pada Lagu Anak Usia Dini
Berbahasa Indonesia di Playgroup/Kindergarten Anak Bintang
Purwodadi Grobogan’. Peneliti terdahulu melakukan penelitian tentang
bentuk onomatope, struktur onomatope, dan fungsi onomatope. Dalam
penelitian tersebut disebutkan bahwa bentuk onomatope yang terdapat
dalam lagu anak usia dini diklasifikasikan menjadi empat wujud (a) suara
khas benda, (b) suara khas hewan, (c) perasaan manusia, dan (d) tindakan
atau perbuatan, struktur onomatope berdasarkan jumlah silabel dibagi
11
menjadi tiga onomatope berbentuk satu silabel, dua silabel dan tiga
silabel.
Adapun persamaan penelitian ini mengkaji tentang bentuk dan fungsi
onomatope. Adapun yang membedakan adalah penulis mengkaji jenis
onomatope sementara penelitian terdahulu mengkaji stuktur onomatope.
Selain itu, sumber data penelitian juga berbeda, peneliti terdahulu
menggunakan lagu sebagai sumber data penelitiannya, sementara peneliti
menggunakan novel sebagai sumber data
2. Penelitian yang dilakukan oleh Ely Masyehuroh (2012) Universitas
Negeri Yogyakarta jurusan Sastra Daerah yang berjudul “Onomatope
dalam Kumpulan Dongeng Sega Rames Karya Suwardi Endraswara”.
Peneliti meneliti jenis, bentuk dan fungsi onomatope dalam kumpulan
dongeng Sega Rames. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa
terdapat jenis, bentuk dan fungsi onomatope pada kumpulan dongeng
Sega Rames karya Suwardi Endraswara. Ada empat jenis onomatope
dalam kumpulan dongeng tersebut, yaitu tiruan bunyi benda, tiruan bunyi
alam, tiruan bunyi hewan, dan tiruan bunyi manusia. Tiruan bunyi
tersebut timbul karena tangkapan dari kesan indrawi manusia. Ada tujuh
bentuk onomatope dan ada empat fungsi onomatope dalam kumpulan
dongeng Sega Rames karya Suwardi Endraswara. Adapun persamaan
penelitian ini mengkaji tentang jenis, bentuk, dan fungsi onomatope.
Yang membedakan pengkajiannya adalah dalam penelitian ini penulis
menggunakan novel Emas Sumawur ing Baluarti sebagai sumber data
12
penelitian, sementara penelitian terdahuu mengkaji onomatope dalam
kumpulan dongeng Sega Rames karya Suwardi Endraswara. Selain itu,
peneliti terdahulu mengkaji jenis onomatope berdasarkan tangkapan kesan
indrawi penglihatan, pendengaran dan rasa, sementara peneliti hanya meneliti
jenisnya saja tanpa meneliti tangkapan kesan indrawi.
H. Kajian Teoritis
1. Bahasa
a. Hakikat Bahasa
Menurut Kridalaksana (dalam Kushartanti, 2005: 3) bahasa
ialah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh
para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama,
berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Kutipan di atas
menjelaskan bahwa dalam berkomunikasi, sekelompok masyarakat
menggunankan bahasa sebagai sarananya. Bahasa yang digunakan
di masyarakat tentu berdasarkan kesepakatan masyarakat
penuturnya. Melengkapi pendapat tersebut, Laccotere (dalam
Suwandi, 2008: 24) berpendapat bahwa bahasa merupakan alat
manusia dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, dengan
menggunakan suatu sistem yang terdiri dari lambang-lambang
bunyi yang dihasilkan oleh alat bicara manusia. Kutipan tersebut
menjelaskan bahwa bahasa merupakan suatu lambang bunyi
tersistem yang dihasilkan oleh alat bicara manusia, uamh
13
digunakan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada
orang lain.
Sementara itu, Sturtevant (dalam Suwandi, 2008: 24)
berpendapat bahwa bahasa merupakan suatu sistem lambang bunyi
sewenang-wenang yang digunakan oleh suatu kelompok sosial
untuk bekerja sama dan berhubungan. Kesewenang-wenangan ini
sering disebut dengan sifat arbitrer dalam bahasa. Bahasa tersebut
memang sewenang-wenang, namun harus tetap berdasarkan pada
kesepakan dari masyarakat pendukungnya.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
bahasa dibagi ke dalam beberapa definisi, yaitu bahasa merupakan
suatu sistem, bahasa merupakan suatu lambang yang bersifat
arbitrer, dan bahasa merupakan alat interaksi di dalam masyarakat.
Bahasa sebagai suatu sistem, artinya bahasa itu terkumpul
dari sejumlah unsur yang beraturan, di mana unsur-unsur bahasa
tersebut diatur seperti pola berulang sehingga misalnya salah satu
unsur tersebut dihilangkan, keseluruhan ujaran atau tujuan yang
diinginkan dapat diperkirakan atau diramalkan. Sebagai sistem,
bahasa bersifat sistemis dan sistematis. Sistematis artinya bahasa
dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang terkombinasi
dengan kaidah-kaidah bahasa. Sementara itu, sistemis artinya
bahasa itu bukan sistem tunggal melainkan terdiri dari beberapa
14
subsistem yang saling berkaitan, yaitu subsistem fonologi,
subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem leksikon.
Bahasa merupakan sutu lambang atau tanda. Lambang atau
tanda bahasa berupa bunyi. Bunyi-bunyi ini dihasilkan oeh alat
ucap manusia. Sistem lambang ini merupakan sisem lambang yang
arbitrer. Artinya, tidak adanya hubungan wajib antara lambang
bahasa yang berupa bunyi dengan konsep yang dilambangkannya.
Hubungan di antara keduanya adalah hubungan mana suka, namun
berdasarkan kesepakatan antar penuturnya.
Definisi ketiga dari bahasa ialah bahasa merupakan alat
interaksi atau komunikasi di dalam masyarakat. Definisi ini
diambil dari fungsi bahasa dari segi sosial. Dalam masyarakat
bahasa dapat menjadi alat komunikasi yang utama. Bahasa
digunakan untuk berkomunikasi dalam pergaulan sehari-hari di
masyarakat. Dalam suatu kelompok sosial, bahasa dapat digunakan
sebagai alat untuk mengidentifikasi diri. Maksudnya, dalam
kehidupan bermasyarakat bahasa menjadi ciri pembeda yang paling
menonjol.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah
sistem simbol yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan
manusia lainnya. Berkaitan dengan penelitian ini bahasa
digunakan sebagai sarana komunikasi tulis dengan media novel,
10
15
untuk mengungkapkan perasaan pengarang dalam wujud
onomatope.
b. Fungsi bahasa
Fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi manusia baik
secara lisan maupun berupa tulisan, alat interaksi sosial. Selain itu
bahasa merupakan alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan,
konsep, atau juga perasaan. Semua fungsi di atas, mencakup lima
fungsi dasar. Menurut Kinneavy (dalam Chaer, 2003: 33) lima
fungsi dasar tersebut adalah:
1) fungsi ekspresi: bahasa merupakan alat untuk melahirkan
ungkapan-ungkapan batin yang ingin disampaikan seorang
penutur kepada orang lain. Ungkapan tersebut dapat berupa
sedih, senang, kecewa, marah, jengkel, dan sebagainya;
2) fungsi informasi adalah fungsi untuk menyampaikan pesan dan
amanat kepada orang lain;
3) fungsi eksplorasi adalah penggunaan bahasa untuk
menjelaskan suatu hal, perkara dan keadaan;
4) fungsi persuasi adalah penggunaan bahasa yang bersifat
mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melakukan
atau tidak melakukan sesuatu secara baik-baik;
5) fungsi entertaimen adalah pengguaan bahasa dengan maksud
menghibur, memyenangkan, atau memuaskan perasaan batin.
16
Berkaitan dengan onomatope, bahasa memiliki fungsi
ekspresi dan fungsi eksplorasi dalan suatu karya sastra seperti
novel. Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B,
bahasa digunakan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan
perasaan tokoh dalam bentuk onomatope. Selain itu, bahasa
digunakan sebagai eksplorasi untuk menjelaskan suatu hal atau
keadaan.
Sementara itu, MAK Halliday (dalam Sumarlam, 2010: 11-
13) menyebutkan ada tujuh fungsi bahasa. Tujuh fungsi bahasa ini
dimuat dalam tulisannya yang berjudul Explorations in the
Function of Language yang dicetak ulang pada tahun 1976.
Adapun tujuh fungsi bahasa tersebut adalah sebagai berikut.
1) Fungsi instrumental (the instrumental function), bahasa
berfungsi menghasilkan kondisi-kondisi tertentu dan
menyebabkan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu.
2) Fungsi regulasi (the regulatory function), bahasa berfungsi
sebagai pengawas, pengendali atau pengatur peristiwa, dengan
kata lain bahasa berfungsi untuk mengendalikan serta
mengatur orang lain.
3) Fungsi pemerian atau fungsi representasi (the representational
function), bahasa berfungsi untuk membuat pernyataan-
pernyataan, menyampaikan fakta dan pengetahuan, atau
17
menyampaikan realitas sebenarnya sebagaimana yang dilihat
atau dialami orang.
4) Fungsi interaksi (the interctional function), bahasa berfungsi
menjamin dan memantapkan ketahanan dan keberlangsungan
komunikasi serta menjalin interaksi sosial.
5) Fungsi perseorangan (the personal function), bahasa memberi
kesempatan pada pembicara untuk mengekspresikan perasaan,
emosi pribadi, serta reaksi-reaksi yang mendalam.
6) Fungsi heuristik (the heuristic function), dalam fungsi ini
bahasa digunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan
sebanyak-banyaknya. Fungsi ini sering disampaikan dalam
bentuk pertanyaan yang menuntut jawaban.
7) Fungsi imajinatif (the imaginative function), bahasa berfungsi
sebagai pencipta sistem, gagasan, atau kisah yang imajinatif.
Fungsi ini biasanya untuk mengisahkan cerita-cerita, dongeng,
membacakan lelucon, atau menuliskan cerpen, novel dan
sebagainya.
Kaitanya dengan penelitian ini, bahasa memiliki fungsi
imajinatif karena bahasa digunakan dalam novel untuk menulis
kisah-kisah imajiantif. Melengkapi pendapat MAK Halliday di
atas, Soeparno (2002: 6-10) membagi fungsi bahasa menjadi dua,
yaitu fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi umum bahasa ialah
sebagai alat komunikasi sosial. Setiap anggota masyarakat pasti
18
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Selain fungsi umum,
bahasa juga memiliki fungsi khusus. Fungsi khusus bahasa
menurut Jakobson (dalam Soeparno 2002: 6-10) ada enam, yaitu
sebagai berikut.
1) Fungsi emotif, apabila bahasa digunakan untuk
mengungkapkan rasa senang, sedih, kecewa, dan sebagainya.
2) Fungsi konatif, apabila berbahasa dengan tumpuan lawan tutur,
misalnya untuk memerintah, melawak, memaki, memuji,
menyeru, dan sebagainya.
3) Fungsi referensial, apabila digunakan untuk membicarakan
suatu permasalahan dengan topik tertentu.
4) Fungsi puitik, apabila dalam berbahasa digunakan untuk
menyampaikan amanat atau pesan tertentu.
5) Fungsi fatik, apabila dalam berbahasa hanya untuk
mengadakan kontak dengan orang lain, misalnya ketika tegur
sapa, menanyakan sesuatu, salam, dan sebagainya.
6) Fungsi metalingual, apabia berbahasa dengan kode tertentu,
misalnya untuk menguraikan tentang morfem, fonem, dan
sebagainya.
Dari beberapa pendapat ahli tentang fungsi bahasa tersebut
saling melengkapi, sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa
berfungsi sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, untuk
menyampaikan ekspresi, pesan, dan informasi dalam masyarakat.
19
Bahasa dalam suatu karya sastra memiliki fungsi estetis dan emotif
yang berguna untuk mempercantik suatu karya sastra seperti novel.
Fungsi estetis dan emotif ini dapat diwujudkan dengan penggunaan
onomatope.
2. Semantik
a. Pengertian Semantik
Istilah semantik berasal dari beberapa bahasa, di antaranya
dari bahasa Inggris dan bahasa Yunani. Dalam bahasa Inggris,
semantik disebut dengan semantics (dalam bentuk nomina/kata
benda) dan semantic (semantis, dalam bentuk kata sifat/adjektifa).
Sementara itu, dalam bahasa Yunani semantik berasal dari akar
kata sema yang dalam nomina berarti tanda atau dari kata verba
samaino yang artinya menandai, berarti. Tanda atau lambang yang
menjadi padanan kata sema ialah tanda linguistik seperti yang
dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (dalam Chaer, 2009: 2)
yaitu terdiri dari (1) komponen yang mengartikan, yang berwujud
bentuk-bentuk bunyi bahasa, dan (2) komponen yang diartikan atau
makna dari komponen pertama. Komponen pertama berupa tanda
atau lambang, sementara komponen kedua berupa sesuatu yang
ditandainya (referen atau hal yang ditunjuk).
Penjelasan di atas, merupakan penjelasan secara etimologis
mengenai semantik. Pengertian semantik secara istilah,
20
diungkapkan oleh Chaer (2009: 2) yang menyatakan bahwa
semantik adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari
makna atau arti dalam bahasa. Semantik merupakan istilah yang
digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari hubungan
antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya.
Senada dengan pendapat tersebut Djajasudarma (2009: 1)
menjelaskan semantik digunakan para pakar bahasa (linguis) untuk
menyebut bagian ilmu bahasa (linguistik) yang mempelajari
makna.
Sementara itu, pengertian semantik secara lebih rinci
dijelaskan oleh Mulyono (dalam Suwandi, 2008: 9) yang
menjelaskan bahwa semantik merupakan cabang linguistik yang
mempelajari tentang makna atau arti, yang merupakan salah satu
dari tataran analisis bahasa yang mencakup fonologi, garamatika
atau tata bahasa dan semantik. Dari pendapat para ahli di atas,
maka semakin memperkuat bahwa semantik merupakan cabang
ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna.
Sementara itu, semantik mengandung makna to signify atau
memaknai. Semantik mengandung pengertian ‘studi tentang
makna’, dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari
bahasa, maka semantik merupakan bagian dari linguistik
(Aminuddin, 2001: 15). Bukan hanya Aminudin yang menjelaskan
demikian, Kambartel (dalam Pateda, 2010: 7) juga berpendapat
21
bahwa semantik adalah studi tentang makna. Senada dengan
pendapat Kambartel, Verhaar (dalam Pateda, 2010: 7) mengatakan
bahwa semantik berarti teori makna atau teori arti. Dalam hal ini,
semantik mengasumsikan bahwa bahasa terdiri dari struktur yang
akan menampakkan makna.
Sementara itu, Lehrer (dalam Djajasudarma, 2009: 4)
mengemukakan bahwa semantik merupakan bidang yang sangat
luas, karena di dalamnya termasuk unsur-unsur dan fungsi bahasa
yang berkaitan erat dengan psikologi, filsafat, antropologi dan
sosiologi. Antropologi berkaitan erat dengan semantik, karena di
dalam linguistik (bahasa) untuk dapat menyajikan klasifikasi
budaya pemakai bahasa (sosiolinguistik) secara praktis tentunya
menggunakan analisis makna. Filsafat erat kaitannya dengan
semantik, karena makna tentu dapat dijelaskan secara filosofis
(misalnya makna ungkapan dan peribahasa). Psikologi
berhubungan erat dengan semantik, karena psikologi
memanfaatkan gejala-gejala kejiwaan yang ditampilkan manusia
secara verbal atau non verbal. Sosiologi mempunyai kepentingan
dengan semantik, karena ungkapan atau ekspresi tertentu dapat
menandai kelompok sosial atau identitas sosial tertentu. Dari
pendapat Lehler di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
ternyata semantik tidak hanya mencakup tentang makna saja,
namun berkaitan pula dengan psikologi, sosiologi, dan antropologi.
22
Dari pendapat para ahli di atas jelas terlihat bahwa semantik
adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari tentang makna.
Namun, tidak hanya mempelajari makna, semantik juga berkaitan
dengan psikologi, filsafat, antropologi dan sosiologi.
b. Manfaat Semantik
Manfaat dari semantik dapat dikelompokkan sesuai dengan
bidang yang dilakukan seseorang. Dalam bidang jurnalistik
misalnya, pengetahuan semantik akan memudahkan jurnalis dalam
memilih dan menggunakan kata yang tepat, sehingga masyarakat
umum dapat memahami makna informasi yang mereka peroleh.
Bagi jurnalis penting sekali mempelajari mengenai konsep-konsep
polisemi, homonimi, denotasi, konotasi dan nuansa-nuansa makna
untuk dapat menyampaikan berita dengan tepat dan benar.
Bagi pendidik (guru) semantik memiliki manfaat yang
begitu besar. Dengan semantik, pendidik mampu menjelaskan
kepada peserta didik tentang bentuk yang secara sistematis benar.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Chaer (2010:12) bahwa tanpa
pengetahuan semantik pendidik tidak akan dapat menjelaskan
perbedaan dan persamaan semantis antara dua buah bentuk kata
serta bagaimana menggunakan kedua bentuk kata itu dengan benar.
Hal ini menunjukkan bahwa semantik memang perlu dipelajari
oleh pendidik.
23
Dengan demikian, semantik memiliki manfaat yang
disesuaikan dengan bidang tertentu. Misalnya bagi seorang
peneliti, semantik juga mampu memberkan manfaat secara teoretis
karena dengan teori semantik, peneliti dapat menganalisis semantik
bahasa tertentu ynag ditelitinya. Berkaitan dengan ini, semantik
memiliki manfaat untuk menganlisis penggunaan onomatope yang
digunakan dalam novel berbahasa Jawa, Emas Sumawur ing
Baluwarti.
c. Unsur-Unsur Semantik
Menurut Djajasudarma (2009: 35) terdapat tiga unsur
dalam kajian semantik, yaitu tanda (sign) dan lambang (symbol),
makna leksikal dan hubungan referensial, dan penamaan (naming).
1) Tanda (sign) dan Lambang (symbol)
Tanda dapat dikatakan leksem yang sevara langsuung dapat
diikuti bentuk lain (Pateda, 2010: 43). Misalnya tanda baca,
tanda bukti, tanda kurung, dan sebagainya. Dalam kehidupan
sehari-hari manusia mengenal berbagai macam tanda yang
langsung berhubungan dengan kenyataan. Teori tanda
dikembangkan oleh Peirce pada abad ke-18. Teori Peirce ini
dipertegas dengan teori dari Ogden & Richards yang muncul
pada tahun 1923 yang berjudul The Meaning of Meanning.
24
Menurut Djajasudarma (2009: 35), penggolongan tanda
dapat dilakukan dengan beberapa cara. Adapun caranya adalah
sebagai berikut.
a) Tanda yang timbul karena peristiwa alam yang diketahui
manusia karena pengalaman, misalnya hari mendung
tanda akan hujan.
b) Tanda yang ditimbulkan oleh binatang, yang diketahui
manusia lewat suara binatang tersebut, misalnya anjing
menggonggong tanda ada seseorang asing yang datang.
c) Tanda yang ditimbulkan manusia, tanda ini dibedakan atas
tanda verbal dan nonverbal. Tanda yang bersifat verbal
merupakan tanda yang dihasilkan menusia melalui alat
bicara, contohnya bersiul tanda sedang gembira. Tanda
yang bersifat nonverbal tanda yang digunakan untuk
berkomunikasi, misalnya menggelengkan kepala berarti
tidak.
Lambang memiliki hubungan tidak langsung dengan
kenyataan. Menurut Lyons (dalam Pateda, 2010: 50) lambang
adalah unsur bahasa yang bersifat arbitrer dan konvensional
yang mewakili hubungan objek dengan signifikasinya.
Maksudnya lambang memiliki hubungan yang signifikan
dengan objek yang dilambangkannya.
25
Tanda dan lambang memiliki beberapa perbedaan
diantaranya, tanda memperlihatkan hubungan langsung,
sedangkan lambang memperlihatkan hubungan tidak langsung.
Dari segi sifat tanda bersifat terbatas, lambat bertambah,
sedangkan lambang berkembang pesat sesuai dengan
perkembanagn pemikiran penutur bahasa yang bersangkutan.
Lambang memanfaatkan bunyi bahasa yang dihasilkan oleh
alat bicara manusia yang kemudian bisa dinyatakan dengan
bentuk tertulis, sedangkan tanda tidak demikian. Meskipun
tanda bersifat konvensional, tanda tidak dapat diorganisasi,
tidak dapat direkam, dan bahkan tidak dapat dikomunikasikan
seperti lambang.
2) Makna Leksikal dan Hubungan Referensial
Makna leksikal dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu
makna dasar dan makna perluasan. Makna dasar dapat
dikatakan juga dengan makna denotatif atau makna kognitif
deskriptif, sedangkan makna perluasan dapat dikatakan sebagai
makna konotatif atau emotif. Antara kata, makna kata, dan
dunia kenyataan memiliki hubungan referensial. Hubungan
referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata
dan dunia luar bahasa yang diacu oleh pembicaranya.
Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep) dan sesuatu
yang diacu adalah tidak langsung.
26
3) Penamaan (naming)
Nama merupakan kata yang menjadi label setiap makhluk,
benda, aktivitas, dan peristiwa di dunia (Djajasudarma, 2009:
47). Ada beberapa jenis penamaan, antara lain sebagai berikut.
a) Tiruan Bunyi
Penamaan berdasarkan peniruan bunyi dianggap sebagai
dasar primitif dalam penyebutan suatu benda. Kosakata
yang terbentuk berdasarkan peniruan bunyi disebut
onomatope. Tiruan bunyi juga dapat digunakan untuk
menyebut perbuatan yang menghasilkan bunyi yang
bersangkutan. Contoh penamaan ini adalah kucing disebut
dengan meong dan anjing disebut dengan gukguk, dan
sebagainya.
b) Penyebutan Bagian
Penyebutan berdasarkan sebagian dari keseluruhan
tanggapan sering disebut dengan pars pro toto. Dalam hal
ini meskipun yang disebutkan hanya sebagian saja, namun
sebenarnya yang dimaksud adalah secara keseluruhan.
Misasnya pada ungkapan ‘setiap kepla wajib membayar
denda Rp 10.000,00. Kepala yang dimaksud bukanhanya
bagian kepala saja, melainkan seluruh anggota lain yang
membentuk manusia. Kebalikan dari pas pro toto ialah
totem pro parte, yaittu penyebutan keseluruhan namun
27
sebenarnya yang dituju hanyalah sebagian saja. Misal
‘dalam kejuaraan bulu tangkis Indonesia mendapatkan
medali emas’. Dalam kalimat tersebut yang memenangkan
pertandingan hanyalah satu atau dua orang saja, namun
disebutkan secra keseluruhan menjadi Indonesia.
c) Penyebutan Sifat Khas
Penamaan dengan salah satu sifat yang menonjol
merupakan peristiwa semantik (Chaer, 2009: 6). Dalam
peristiwa penamaan berdasarkan sifat ini terdapat
perubahan makna dari kata sifat menjadi suatu kata benda.
Misalnya si jangkung, kata jangkung merupakan kata sifat,
namun dengan adanya kata si, kata jangkung berubah
makna menjadi kata benda, karena yang dirujuk ialah
sesorang yang berbadan tinggi.
d) Penemu atau Pembuat
Banyak kata yang dinamakan berdasarkan nama si penemu
atau pembuatnya, misalnya dalam bidang pengetahuan ada
yang disebut dengan hukum archimedes, hal ini
dikarenakan nama penemu hukum tersebut ialah
Archimedes, dan sebagainya.
e) Tempat Asal
Ada sejumlah kata benda atau kata kerja yang berasal dari
nama benda ataupun ada hubungannya dengan tempat
28
tersebut. Misalnya burung kenari, burung ini dinamakan
kenari, karena berasal dari Pulau Kenari di Afrika.
Sementara itu, kata kerja yang tebentuk berdasarkan tempat
asal misalnya dinusakambangkan yang berarti dipenjara,
karena di Nusakambangan merupakan suatu tempat
lembaga permasyarakatan yang terkenal.
f) Bahan
Penamaan berdasarkan bahan banyak dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari, Miaslnya kata kaca mata, kaca
sepion, dan kaca jendela. Semua penamaan tersebut
berdasarkan bahan yang sama, yaitu kaca, namun yang
membedakan ialah fungsinya.
g) Keserupaan Ciri
Dalam pemakaian bahasa banyak terdapat nama benda
yang terbentuk berdasarkan kesamaan ciri. Miaslnya raja
dangdut, raja uang, dan sebagainya. Dari kedua frasa
tersebut meimiliki kesamaan ciri dari kata raja, yaitu orang
yang menguasai atau berkuasa.
h) Singkatan
Perkembanagan bahasa di era sekarang begitu pesat, salah
satunya dengan penggunaan gabungan unsur-unsur huruf
awal suku kata dari beberapa kata yang digabungkan
menjasi satu kata. Misalnya kata TNI, kata ini merupakan
29
gabungan dari kata tentara, Nasional dan Indonesia,
sehingga untuk mempermudah pengucapan, diucapkan
dengan kata TNI.
i) Penamaan Baru
Penamaan baru merupakan penggunaan istilah baru untuk
menggantikan istilah lama yang dianggap kurang tepat.
Misalnya untuk menyebut bui diganti dengan istilah
lembaga pemasyarakatan agar terlihat lebih sopan, dan
istilah piknik diganti dengan istilah wisata, agar lebih baku.
3. Onomatope
a. Pengertian Onomatope
Onomatope berasal dari kata Yunani onomatopoila
‘pembentuk kata’(word making). Onomatope merupakan gabungan
dari kata onoma, atos yang berarti nama, dan poieo yang berarti
membuat, membentuk (Ullman, 2012: 141). Dari uraian di atas,
dapat diketahui bahwa onomatope memiliki akar kata onoma, atos
dan poieo. Onoma, atos berarti nama dan poieo berarti membentuk,
yang apabila kedua kata tersebut digabungkan maka akan berarti
membentuk nama. Sehingga dengan kata lain, onomatope dapat
diartikan sebagai kata yang membentuk atau membuat nama.
Pengertian di atas, merupakan pengertian onomatope
secara etimologis. Pengertian onomatope secara istilah,
30
diungkapkan oleh Chaer ( 2009: 44) yang berpendapat bahwa
onomatope atau peniru bunyi adalah kata-kata yang dibentuk
berdasarkan tiruan bunyi. Senada dengan pendapat Chaer di atas,
Suwandi (2008:136) berpendapat bahwa ada sejumlah kata dalam
bahasa Indonesia yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi dari
benda yang bersangkutan. Kaitannya dengan kedua pengertian
tersebut, perlu diketahui bahwa bunyi yang dihasilkan tersebut
merupakan kata, kata tersebut hampir menyerupai bunyi yang
dihasilkan oleh manusia, benda, alam, dan hewan. Selain kedua
pendapat di atas, Kridalaksana (2008: 167) juga menjelaskan
bahwa onomatope merupakan penamaan benda atau perbuatan
dengan peniruan bunyi. Kaitannya dengan pendapat tersebut,
berarti onomatope tidak hanya terbatas pada peniruan bunyi benda
saja, melainkan termasuk peniruan bunyi yang dihasilkan oleh
suatu perbuatan manusia.
Kata-kata yang dibentuk berdasarkan tiruan bunyi ini juga
tidak bisa persis sama hanya mirip saja. Kemiripan ini dikarenakan
benda atau binatang yang mengeluarkan bunyi itu tidak
mempunyai alat ucap fisiologis seperti manusia. Selain itu, hal ini
disebabkan adanya perbedaan sistem fonologi setiap bahasa.
Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata yang terbentuk sebagai
hasil peniruan bunyi. Maksudnya, nama-nama benda atau hal
tersebut dibentuk berdasarkan bunyi dari benda tersebut atau suara
31
yang ditimbulkan oleh benda tersebut. Misalnya, meong nama
untuk kucing, gukguk nama unuk untuk anjing, menurut bahasa
anak-anak karena bunyinya begitu.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa
onomatope adalah penamaan atau penyebutan suatu kosakata
berdasarkan tiruan bunyi yang dari suatu benda atau perbuatan
yang menghasilkan bunyi.
b. Jenis Onomatope
Teori onomatopetik atau ekoik (imitasi bunyi atau gema)
mula-mula dikemukakan oleh J.G. Herder. Dalam teorinya J.G.
Herder (dalam Keraf, 1984: 3) mengatakan bahwa objek-objek
diberi nama sesuai dengan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh objek-
objek itu. Objek-objek penamaan itu bisa berasal dari tiruan bunyi-
bunyi binatang atau peristiwa alam. Sering kali manusia berusaha
meniru bunyi hewan seperti anjing, kucing, ayam, kambing, atau
menirukan desis angin, debur ombak, dan sebagainya sehingga
objek-objek itu mereka beri nama sesuai dengan apa yang manusia
tirukan. Misalnya ada yang menyebut kucing dengan kata meong.
Penamaan ini dilakukan karena peniruan bunyi sesuai dengan
bunyi yang didengar oleh manusia. Melalui proses peniruan bunyi
ini, maka tercipta kata-kata dalam bahasa.
32
D. Whitney (dalam Keraf, 1984: 3) mengatakan bahwa
dalam setiap tahap pertumbuhan bahasa, banyak kata baru timbul
dengan peniruan bunyi. Kata-kata mulai timbul pada anak-anak
yang berusaha meniru bunyi kereta api, bunyi mobil, dan
sebagainya. Pendapat Whitney semakin melengkapi pendapat J.G.
Herder di atas. Dari pendapat Whitney mengenai teori peniruan
bunyi, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan bahasa manusia
akan timbul ketika mereka mulai menirukan bunyi-bunyi dari
benda yang menghasilkan bunyi.
Dalam hal peniruan bunyi ini, Whitney tidak hanya
menjelaskan tentang peniruan bunyi benda saja. Namun, Whitney
(dalam Keraf, 1984: 4) juga mengatakan bahwa karena ketakutan,
kegembiraan dan sebagainya manusia akan mengucapkan ujaran
tertentu, dan ujaran-ujaran itu kemudian ditiru oleh manusia
lainnya. Ujaran-ujaran ini merupakan ekspresi jiwa yang akan
memberikan makna sesuai dengan suasana batin tertentu.
Misalnya, saat merasa senang, maka perasaan itu akan dinyatakan
dengan ekspresi wajah atau bagian tubuh manusia disertai pula
dengan bunyi-bunyi yang keluar dari mulut manusia misalnya
diekspresikan dengan kata hore. Contoh lain misalnya ketika
merasa jijik atau muak, maka perasaan itu akan dinyatakan dengan
ekspresi wajah atau bagian tubuh manusia disertai pula dengan
bunyi heek, dan sebagainya.
33
Senada dengan pendapat Whitney, Lefevre (dalam Keraf,
1984: 3) menjelaskan manusia mengembangkan bermacam-macam
bunyi dengan mempergunakan beberapa variasi tekanan,
reduplikasi dan intonasi berkat mekanisme ujaran yang lebih
sempurna, dan otak yang sudah lebih berkembang. Perkembangan
bunyi ini terjadi karena pada dasarnya binatang-binatang
mempunyai dua elemen bahasa yang penting yaitu teriakan refleks
dan spontan karena emosi atau kebutuhan, dan teriakan sukarela
untuk memberi peringatan, menyatakan ancaman atau panggilan.
Dari imitasi yang dilakukan manusia terhadap bunyi binatang baik
imitasi langsung maupun simbolik, akan menimbulkan nama-nama
barang atau tindakan.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, jenis onomatope
dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu 1) tiruan bunyi benda,
contohnya tuut…tuut…tuut ‘suara kereta’; 2) tiruan bunyi hewan,
contohnya wek..wek…wek ‘suara bebek; 3) tiruan bunyi alam,
contohnya brees’suara hujan’; 4) tiruan suara manusia, contohnya
sssss’suara peringatan untuk diam atau mengecilkan suara’.
c. Bentuk Onomatope
Dalam bahasa terdapat beberapa jenis satuan lingual, yaitu
satuan lingual situasional, satuan lingual mental dan satuan lingual
fonik (Sudaryanto, 1985: 243). Onomatope sebagai salah satu
34
bentuk peristiwa yang bersifat lingual biasanya diwujudkan dalam
bentuk satuan lingual berupa kata dan silabel. Silabel terbentuk
dari pemasangan alat bicara atau dapat dikatakan dengan kecap.
Sebuah silabel dihasilkan dari aktivitas lingual sekecap, dua silabel
dihasilkan oleh aktivitas lingual dua kecap, dan seterusnya.
Sebagai tiruan bunyi, bentuk onomatope biasanya terdiri
dari satu atau pengulangan silabel. Bentuk dasar onomatope ada 3
yaitu 1) satu silabel, misalnya thok ‘bunyi pukulan palu; 2) dua
silabel, misalnya kropyak ‘suara kepingan uang emas yang tumpah
dari kendhil; 3) tiga silabel atau lebih (multisilabel), misalnya
keteplek ‘suara langkah kaki orang’, ketanting greg ‘kesan yang
diberikan terhadap cara berjalan seseorang’. Semua itu terbentuk
oleh deretan fonem yang termotivasi oleh suara yang ditirunya.
Dalam pengguanaan onomatope sebagai perabot stilistika,
efek itu tidak banyak didasarkan pada kata demi kata seperti pada
kombinasi dan modulasi nilai bunyi yang dapat diperkuat oleh
faktor-faktor sepert aliterasi ritme asonansi, dan rima. Menurut
Ullmann (2012: 101) dari sudut semantik bentuk onomatope
dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
1) Bentuk onomatope pertama adalah tiruan bunyi atas bunyi.
Tiruan bunyi ini betul-betul suatu gema atas makna.
Referennya adalah suatu pengalaman akustik yang sedikit
banyak sangat mirip dengan stuktur fonetik kata. Kata-kata
35
seperti dengung, ketik, bum, pang, desis, decak bisa masuk
pada onomatope pertama;
2) Bentuk onomatope kedua, bunyi-bunyi itu tidak
membangkitkan pengalaman akustik, melainkan suatu gerakan
(movement), seperti gemetar, geletuk, geletar, geretak. Jadi,
dapat dikatakan bahwa onomatope bentuk kedua ini mampu
membangkitkan suatu kualitas fisik atau moral, baiasanya yang
tidak mengenakkan, seperti suram (gloom), muak (mawkish),
becek (sloppy).
Penjelasan Ullman di atas semakin menambah khasanah
bentuk onomatope yang menurut Sudaryato terbentuk dari silabel,
dan menurut Ullman bentuk onomatope ini terjadi karena tiruan
bunyi atas bunyi dan tiruan bunyi karena gerakan.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan adanya tiga
bentuk dasar onomatope, yaitu 1) satu silabel, 2) dua silabel, 3) tiga
silabel (multisilabel), dan ada pula bentuk pengulangan satu
silabel, pengulangan dua silabel, pengulangan tiga silabel dan
bentuk frasa. Tiruan bunyi itu terjadi karena gema atas makna dan
gerakan.
Dari bentuk silabel onomatope tersebut, tersusun atas
pola-pola suku kata tertentu. Kushartanti (2005:164) menyebutkan
bahwa dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa pola-pola suku
kata, yaitu V, VK, KV, KVK dan mengenal pula pola suku kata
36
VKK, KKVK, KVKK, KKVKK, KKKV, dan KKKVK dalam
ragam bahasa bakunya (V= vokal, dan K= konsonan). Begitu juga
dalam bahasa Jawa, onomatope juga memiliki pola-pola suku kata
tersendiri.
d. Fungsi Onomatope
Fungsi onomatope erat kaitannya dengan tugas dan
kegunaan onomatope tersebut dalam suatu karya sastra seperti
novel atau komik. Suwandi (2008: 137) menjelaskan bahwa tiruan
bunyi digunakan untuk penyebutan suatu benda dan menyebut
perbuatan yang menghasilkan bunyi bersangkutan atau dengan kata
lain terdapat penamaan berdasarkan tiruan bunyi. Dari pendapat
tersebut, terlihat bahwa peniruan bunyi berfungsi untuk penyebutan
nama suatu benda atau menyebut suatu perbuatan yang
menghasilkan bunyi. Senada dengan pendapat Suwandi, Keraf
(1984: 4) menyatakan bahwa manusia dapat menciptakan kata-kata
baru karena usaha meniru bunyi sesama manusia lainnya. Suatu
bunyi yang mungkin dihasilkan oleh suatu makhluk tanpa makna,
ditiru dan dipakai manusia untuk merujuk makhluk itu sendiri atau
perbuatannya. Maknanya justru diberi oleh manusia yang meniru
bunyi itu, dan bukan oleh makhluknya sendiri.
J.G. Herder (dalam Keraf, 1984: 3) menjelaskan bahwa
manusia berusaha meniru bunyi anjing, bunyi ayam atau desis
37
angin dan sebagainya, akan menyebut objek-objek atau
perbuatannya dengan bunyi-bunyi itu. Dengan ini terciptalah kata-
kata dalam bahasa. Kutipan di atas menjelaskan bahwa peniruan
bunyi dapat menciptakan kata-kata dalam bahasa dan untuk
menyebut suatu perbuatan sesuai dengan bunyinya. Hal ini
diperkuat dengan pendapat Lefevre (dalam Keraf, 1984: 3)
menjelaskan manusia mengembangkan bermacam-macam bunyi
dengan mempergunakan variasi tekanan, reduplikasi intonasi
berkat mekanisme ujaran yang lebih sempurna, dan otak yang
sudah lebih berkembang sehingga menimbulkan nama-nama
barang atau tindakan. Dari dua pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa manusia melakukan peniruan bunyi untuk
menghasilkan nama-nama barang atau tindakan yang
dilakukannya.
Pradopo (1987: 22) menambahkan bahwa bunyi mampu
menimbulkan bayangan dan angan yang jelas, menimbulkan rasa,
serta menimbulkan suasana yang khusus. Kaitannya dengan fungsi
onomatope, sebagai peniru bahasa dalam puisi berfungsi sebagai
sugesti tentang suara yang sebenarnya dan memberikan kesan pada
suatu benda yang dilihat, didengar, atau pun dirasakannya, begitu
pula yang terdapat dalam novel. Pada awalnya peniruan bunyi itu
semata-mata hanya dimaksudkan untuk menirukan suara seperti
yang didengar. Peniruan bunyi ini juga digunakan untuk
38
menjelaskan tentang keadaan yang ada pada suatu cerita. Dari
kutipan tersebut semakin memperkaya fungsi onomatope untuk
memberikan kesan terhadap sesuatu yang dilihat, didengar atau
dirasakan.
Ullman (2012: 102) menjelaskan bahwa kata-kata
onomatope memiliki unsur-unsur tertentu yang ada pada semua
kata. Contohnya dalam bahasa Indonesia mempunyai kata-kata
bersuku akhir serupa resah, gelisah, susah, desah, yang semuanya
menggambarkan suasana hati yang tidak tenang. Selain itu,
onomatope memiliki pola yang bekerja melalui aliterasi atau
perubahan vokal. Dengan menggantikan satu vokal dengan vokal
yang lain, maka akan dapat memberikan kesan yang berbeda pula.
Misalnya kricik-kricik dan krocok-krocok (tentang bunyi air
mengucur). Kricik-kricik memberikan kesan bahwa air yang
mengucur itu beraliran kecil sementara setelah diganti denga vokal
/o/ maka akan memberikan kesan air mengalir dengan deras.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas sapat diketahui
ada empat fungsi dari onomatope, yaitu: 1) penggambaran suasana
hati, yang meliputi emosi, memberi peringatan, 2) memberikan
kesan pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, 3)
mendesripsikan tentang keadaan, 4) meniru perbuatan yang
menghasilkan bunyi.
39
4. Novel
a. Pengertian Novel
Novel adalah karangan sastra yang panjang dan
mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang
di sekelilingnya (Departemen Pendidikan Nasional, 1995: 694).
Kutipan di atas menjelaskan bahwa novel memiliki rangkaian
cerita yang terkait dengan kehidupan manusia dan lingkungan
sekitarnya. Hal ini diperkuat dengan pendapat Nurhayati (2012: 5)
yang menyatakan bahwa novel merupakan pengungkapan dalam
fragmen kehidupan manusia dalam jangka yang lebih panjang yang
di dalamnya terjadi konflik yang mengakibatkan terjadinya
perubahan jalan hidup antara pelakunya. Dari kedua pendapat
tersebut sama-sama menyatakan bahwa sebuah novel biasanya
menceritakan tentang gambaran-gambaran realita kehidupan
manusia dengan lingkungannya.
Nurgiyantoro (2010: 4) mengatakan bahwa sebuah novel
merupakan sebuah karya fiksi yang menngambarkan sebuah dunia
imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya.
Novel juga merupakan totalitas, suatu kemenyeluruhan yang
bersifat artistik. Keartistikan sebuah novel dapat dilukiskan melalui
gaya. Gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa.
Gaya bahasa dapat menarik perhatian pembaca terhadap sebuah
novel. Setiap pengarang memiliki cara masing-masing dalam
40
mengungkapkan isi cerita dalam karya sastranya. Misalnya dalam
novel Emas Sumawur ing Baluarti, selain dengan gaya bahasa
yang berupa majas, pengarang juga menggunakan onomatope
untuk memberikan kesan tersendiri di hati pembacanya.
b. Struktur Novel
Abrams (dalam Heru, 2009:7) mengartikan bahwa struktur
karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan dan
gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya
sehingga membentuk kebulatan yang indah. Pendapat tersebut
menjelaskan bahwa suatu karya sastra dikatakan indak ketika
semua komponen-komponen yang terdapat di dalamnya saling
melengkapi satu sama lain. Berbeda dengan pendapat Abrams,
Stanton (dalam Nurgiyantoro, 2010: 25) memperici unsur
pembangun dalam sebuah novel menjadi tiga, yaitu fakta, tema dan
sarana pengucapan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan fakta
adalah hal-hal yang meliputi tokoh cerita, plot, dan setting.
Sementara sarana pengucapan (sastra) merupakan teknik yang
dipergunakan pengarang untuk memilih dan menyusun detil cerita
menjadi pola yang bermakana, seperti dengan penggunaan sudut
pandang, gaya bahasa, nada, dan simbolisme.
Senada dengan pendapat Stanton, Sumarjo dan Saini
(dalam Heru, 2009:7) menyatakan bahwa ada beberapa unsur
41
pembentuk cerita rekan, yaitu peristiwa cerita (alur), tokoh cerita
(karakter), tema cerita, suasana cerita, latar cerita (setting), sudut
andang penceritaan dan gaya. Dari pendapat tersebut adalah hal
yang hampir sama dengan pendapat Stanton, hanya saja pendapat
Stanton tentang unsur pembangun karya sastra disederhanakan dan
dikelompokkan. Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan
bahwa unsur-unsur pembentuk karya sastra meliputi tema, alur,
latar, dan tokoh.
1) Tema
Tema merupakan gagasan umum yang menopang sebuah
karya sastra yang terkandung di dalam teks sebagai struktur
semantis yang menyangkut persamaan dan perbedaan (Hartoko
&Rahmanto dalam Nurgiantoro, 2010: 68). Sebagai gagasan
umum, tema harus menjiwai seluruh bagian cerita dan menjadi
dasar untuk mengembangkan cerita.
2) Plot
Plot merupakan penyajian secara linear tentang berbagai hal
yang berhubungan dengan tokoh (Nurgiantoro, 2010: 65). Plot
merupakan alur atau jalannya sebuah cerita, sehingga plot
dikatakan berhubungan dengan tokoh cerita. Plot berisi
peristiwa-peristiwa dalam cerita yang dikisahkan dalam cerita
baik secara runtut maupun tidak runtut.
42
3) Latar (setting)
Latar merupakan tempat, saaat kejadian dan keadaan sosial
yang menjadi wadah tempat tokoh melakukan dan dikenai
suatu kejadian (Nurgiantoro, 2010: 75). Latar akan
mempengaruhi cara berpikir, sikap dan tingkah laku tokoh.
Dengan latar kita bisa mengetahui keadaan sosial tokoh, waktu
dan peristiwa yang terjadi dalam cerita.
4) Tokoh
Tokoh adalah pelaku dalam cerita sedangkan penokohan
adalah teknik dalam menampilkan tokoh untuk identitas tokoh
(Heru, 2009:8). Kaitannya dengan hal ini, tokoh merupakan
orangnya sementara penokohan merupakan karakter dari orang
tersebut. Tokoh cerita menempati peranan yang strategis sebgai
pembewa amanat atau pesan dalam cerita.
c. Jenis-jenis Novel
Novel mempunyai beberapa jenis, diantaranya yang
dijelaskan oleh Nurgiyantoro (2010: 16-22) menggolongkan jenis-
jenis novel sebagai berikut.
1) Novel Serius
Novel serius merupakan novel yang mampu memberikan
serba kemungkinan sehingga dalam membaca diperlukan
konsentrasi yang tinggi untuk memahaminya dan disertai
43
kemauan. Novel serius di samping memberikan hiburan, juga
memberikan pengalaman yang berharga kepada pembaca atau
paling tidak mengajaknya untuk meresapi dan merenungkan
secara lebih sungguh-sungguh tentang permasalahan yang
dikemukakan. Novel serius berusaha mengungkapkan sesuatu
yang baru dengan cara pengucapan yang baru pula.
2) Novel Populer
Novel popular adalah novel yang popular pada masanya
dan banyak penggemarnya, khususnya pembaca di kalangan
remaja. Novel populer tidak menampilkan permaslahan
kehidupan yang lebih intens, tidak berusaha meresapi hakikat
kehidupan.
Menurut Suharianto (1982: 42-44) novel dapat dibedakan
menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.
1) Novel bertendens, disebut dengan novel tujuan, karena
pengarang sangat mempengaruhi novel ini. Misalnya untuk
mendidik.
2) Novel sejarah yaitu novel yang menceritakan peristiwa-
peristiwa sejarah dalam bentuk catatan atau dokumentasi
yang sudah lampau. Tokoh-tokoh cerita yang terdapat dalam
novel disesuaikan dengan sikap dan pandangan hidup
pengarang.
44
3) Novel adat, yaitu novel menceritakan tentang persoalan adat,
sehingga novel ini dapat memberikan informasi bagi para
pembaca mengenai adat-istiadat sesuatu daerah.
4) Novel anak-anak adalah novel yang menceritakan kehidupan
anak-anak. Semua yang terdapat dalam novel disesuaikan
dengan pola pikir anak-anak. Bahasa dan pilihan kata juga
sederhana.
5) Novel politik adalah novel yang mengangkat masalah yang
berlatar belakang tentang masalah politik. Novel politik
merupakan wadah untuk memperjuangkan gagasan politik
masyarakat.
6) Novel psikologis adalah novel yang berisi tentang
perkembangan jiwa para tokoh. Novel psikologis dapat
memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang watak
atau sifat yang dimiliki manusia pada umumnya.
7) Novel percintaan (novel pop) , pada dasarnya hanya hiburan
untuk pembaca yang didalamnya banyak menceritakan
tentang hubungan laki-laki dengan perempuan dengan
masalah yang tidak begitu mendalam.
45
BAB III
METODE PENELITIAN
I. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yaitu
penelitian yang dilakukan dengan mencatat secara teliti dan cermat data yang
berwujud kata-kata, kalimat-kalimat, gambar-gambar, catatan harian, dan
sebagainya (Subroto 1992: 7). Dalam penelitian ini data yang terkumpul
berupa daftar kata yang diperoleh setelah peneliti mencatat dengan cermat
data yang ada dalam novel tersebut. Penelitian onomatope dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti ini bersifat deskriptif karena data-data yang
dipaparkan berupa uraian naratif yang diperoleh berdasarkan situasi yang
diteliti. Penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan data mengenai jenis,
bentuk dan fungsi onomatope novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya
Partini B.
J. Sumber Data dan Data Penelitian
Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana datanya
diperoleh (Arikunto, 2010: 172). Sumber data dalam penelitian ini didapat
dari novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
Data adalah adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan
untuk menyusun suatu informasi (Arikunto, 2010: 161). Jadi, data yang ada
dalam penelitian ini berupa satuan gramatikal yang berwujud kata atau
45
46
kalimat yang mengandung onomatope pada novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.
K. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian
ialah peneliti sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human instrument berfungsi
menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data,
melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data,
menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono, 2012:
60).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penelitilah yang menjadi
instrumen utama dalam sebuah penelitian kulaitatif. Sebagai instrumen utama
suatu penelitian maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang
luas untuk dapat melakukan analisis yang jelas dan bermakna. Peneliti
bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, dan
menjadi pelapor hasil penelitiannya. Peneliti dibantu dengan buku-buku yang
memuat teori onomatope, buku-buku tentang teori bahasa dan sastra, sebagai
acuan dalam penulisan penelitian. Peneliti menggunakan alat bantu berupa
kartu data untuk mengelompokkan data yang berupa jenis, bentuk dan fungsi
onomatope yang digunakan dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya
Partini B.
47
L. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik pustaka,
teknik observasi dan teknik simak catat.
1. Teknik Pustaka
Menurut Subroto (1992:42), teknik pustaka adalah
mempergunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data.
Sumber-sumber tertulis itu berupa buku-buku yang memuat teori
onomatope, buku-buku tentang teori bahasa dan sastra.
2. Teknik observasi
Teknik observasi adalah kegiatan pengamatan terhadap suatu
objek dengan menggunakan alat indera manusia, yaitu melalui
penciuman, penglihatan, peraba, pendengaran, dan pengecap (Ismawati,
2011: 98). Teknik observasi dalam penelitian ini ialah observasi terhadap
naskah yang berupa novel. Observasi dilakukan dengan penanadaan
terhadap satuan gramatikal yang berwujud kata atau kalimat yang
mengandung onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B.
3. Teknik simak catat
Teknik simak catat adalah teknik yang dilakukan dengan
melakukan penyimakan terhadap pemakaian bahasa yang bersifat
spontan dan mengadakan pencatatan terhadap data relevan yang sesuai
dengan sasaran dan tujuan penelitian (Subroto, 1992: 42). Penyimakan
dilakukan terhadap penggunaan bahasa (onomatope) dalam novel Emas
48
Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. dan pencatatan dilakukan
dengan menggunakan kartu data. Oleh karena itu, metode pengumpulan
data dalam penelitian ini menggunakan teknik simak catat.
Langkah-langkah yang ditempuh penulis dalam pengumpulan data
yaitu:
1. menentukan sumber tertulis berupa novel dan buku-buku yang
memuat teori onomatope, buku-buku tentang teori bahasa dan sastra,
dan buku ataupun artikel penunjang lainnya;
2. membaca keseluruhan novel dan menandai satuan gramatikal yang
berwujud kata atau kalimat yang mengandung onomatope dalam novel
Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.;
3. menyimak penggunaan onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.;
4. mencatat data-data yang merupakan satuan gramatikal yang berwujud
kata atau kalimat yang mengandung onomatope dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.;
Peneliti menggunakan kartu data, sebagai sarana untuk
mengumpulkan data. Bentuk kartu data tersebut adalah sebagai berikut.
49
Tabel 1
Kartu data
No. Data
Sumber Data
Ungkapan
Analisis 1. Jenis
2. Bentuk
3. Fungsi
4. Konteks
Keterangan:
Kartu data berupa tabel yang terdiri dari dua kolom dan empat baris,
secara terperinci sebagai berikut.
1) Baris pertama terdiri dari dua kolom.
a) Kolom pertama berisi Nomor Data.
b) Kolom kedua digunakan untuk mengisi isian nomor data
berdasarkan urutan di dalam kartu data dan ditulis menggunakan
angka arab (1, 2, 3, dan seterusnya).
2) Baris kedua terdiri dari dua kolom.
a) Kolom pertama berisi Sumber Data.
b) Kolom kedua pertama berisi sumber dari mana data tersebut
diperoleh. Urutan penulisan sumber data yaitu singkatan subjudul
cerita misalnya PASC (Para Abdi Sami Cecaturan), nomor
halaman di mana sumber data diperoleh. Nomor halaman dan
ditulis menggunakan angka arab (1, 2, 3, dan seterusnya).
50
3) Baris ketiga terdiri dari dua kolom
a) Kolom pertama berisi Ungkapan.
b) Kolom kedua berisi kutipan onomatope dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti.
4) Baris keempat terdiri dari dua kolom
a) Kolom pertama berisi Analisis.
b) Kolom kedua berisi analisis. Dalam analisis dijelaskan jenis bentuk
dan fungsi onomatope serta konteks situasi dalam kutipan tersebut.
M. Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data pada penelitian sastra umumnya menggunakan
validitas semantik (Endrasawa, 2011:164). Validitas semantik yaitu suatu
teknik yang mengukur tingkat kesensitifan makna yang berkaitan dengan
konteksnya. Validitas semantik digunakan untuk melihat seberapa jauh data
yang berwujud onomatope yang dapat dimaknai konteksnya. Proses analisis
diuji dengan melakukan analisis terhadap hubungan data dengan berbagai
komponen yang menjadi konteksnya.
Selain teknik keabsahan data di atas, dalam penelitian ini juga
menggunakan uji keabsahan data dengan uji kredibilitas atau kepercayaan
terhadap hasil penelitian, yaitu dengan cara meningkatkan ketekunan dan
menggunakan bahan referensi. Sugiyono (2012: 124) menyatakan bahwa
meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat
dan berkesinambungan. Peningkatan ketekunan ini dapat dilakukan dengan
51
cara membaca berbagai referensi, atau membaca novel yang diteliti secara
cermat, sehingga peneliti akan memliki wawasan yang semakin luas.
Sementara itu, uji kredibilitas dengan menggunakan bahan referensi
dilakukan dengan menunjukkan bukti-bukti data yang ditemukan oleh
peneliti. Dalam penelitian ini, bukti pendukung tersebut ditunjukkan dalam
bentuk nomor halaman di mana data tersebut ditemukan dan subjudul cerita
juga disebutkan.
N. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
deskriptif analisis. Teknik deskriptif analisis adalah teknik yang dilakukan
dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan
analisis (Ratna, 2004, 53). Dengan teknik analisis deskriptif ini, peneliti tidak
semata-mata menguraikan melainkan juga memberikan pemahaman dan
penjelasan secukupnya mengenai onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B..
Miles&Huberman (dalam Sugiyono, 2012: 91) mengemukakan bahwa
aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya sudah jenuh.
Jadi, ketika penelitan harus dilakuakan analisis data hingga diperoleh data
yang dianggap kredibel. Ada tiga aktivitas dalam analisis data yaitu, data
reduction, data display, dan conclusion.
52
Reduksi data (data reduction) diperlukaan dalam suatu penelitian,
karena semakin lama penelitian, maka jumlah data akan semakin kompleks
dan rumit. Reduksi data dilakukan dengan merangkum dan memfokuskan
pada hal-hal penting dalam penelitian. Reduksi data dilakukan untuk
pemilihan dan penyederhanaan data. Kegiatan yang dilakukan pada tahapan
ini adalah seleksi data dan pembuangan data yang tidak relevan. Data-data
yang relevan dengan penelitian akan diorganisasikan sehingga terbentuk
sekumpulan data yang dapat memberi informasi faktual. Reduksi data dalam
penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasi data ke
dalam jenis onomatope, bentuk onomatope, dan fungsi onomatope.
Penyajian data (data display) dilakukan dalam bentuk sekumpulan
informasi, baik berupa tabel, bagan, maupun deskriptif naratif, sehingga data
yang tersaji relatif jelas dan informatif. Tindakan lanjutan, penyajian data
digunakan dalam kerangka menarik kesimpulan dari akhir sebuah tindakan.
Penyajian data dilakukan dengan membahas data onomatope dalam novel,
dijelaskan dan dipaparkan dengan kalimat yang singkat, jelas dan mudah
dipahami.
Penarikan kesimpulan (conclusion) merupakan kegiatan tahap akhir
dari proses analisis data. Penarikan kesimpulan digunakan utuk menjawab
pertanyaan dalam rumusan masalah.
Langkah-langkah yang digunakan dalam teknik analisis data adalah
sebagai berikut.
53
1. Mengidentifikasi dan mengklasifikasi data ke dalam jenis onomatope,
bentuk onomatope, dan fungsi onomatope.
2. Menganalisis jenis, bentuk, dan fungsi onomatope secara deskriptif dengan
berpedoman pada buku atau referensi tentang teori onomatope.
3. Membahas data onomatope dalam novel, dijelaskan dan dipaparkan
dengan kalimat yang singkat, jelas dan mudah dipahami.
4. Menyimpulkan semua pembahasan terkait onomatope.
O. Teknik Penyajian Data
Penelitian dilakukan terhadap Novel Emas Sumawur ing Baluwarti
merupakan penelitian kualitatif dengan teknik formal dan informal. Hasil
penelitian ini disajikan secara informal yaitu metode penyajian hasil analisis
data yang menggunakan kata-kata biasa atau sederhana agar mudah dipahami
(Sudaryanto, 1993: 145). Jadi, dalam penyampaian hasil analisisnya, penulis
menggunakan bahasa sederhana agar para pembaca mudah memahami
maksud dan isi dari hasil penelitian.
Selain itu juga disajikan secara formal yaitu perumusan dengan
menggunakan lambang-lambang atau tanda-tanda sehingga makna kaidah,
hubungan kaidah dan kekhasan kaidah dapat diketahui dan dipahami
(Sudaryanto, 1993: 145). Tanda yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tanda kurung biasa ( ( ) ). Sementara lambang yang digunakan ialah
singkatan nama misalnya Para Abdi Sami Cecaturan menjadi PASC, dan
sebagainya.
54
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini disajikan hasil penelitian dan pembahasan tentang onomatope
dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Hasil penelitian
berupa analisis yang disajikan dalam bentuk tabel-tabel rangkuman dan
penjelasannya dideskripsikan dalam pembahasan.
P. Penyajian Data
Penyajian data dalam penelitian ini merupakan upaya yang dilakukan
untuk menggambarkan hasil pengolahan data-data penelitian yang diperoleh
berdasarkan proses penelitian terhadap novel yang berjudul Emas Sumawur
ing Baluwarti karya Partini B. Data mencakup satuan gramatikal yang
berwujud kata, frasa, kalimat atau tuturan yang mengandung (1) jenis
onomatope, (2) bentuk onomatope, (3) fungsi onomatope.
1. Jenis Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya
Partini B.
Berdasarkan hasil penelitian terhadap novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B., ditemukan empat jenis onomatope. Jenis-jenis
onomatope yang meliputi:
a. tiruan bunyi benda,
b. tiruan bunyi hewan,
c. tiruan bunyi alam, dan
d. tiruan bunyi manusia.
54
55
2. Bentuk Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya
Partini B.
Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,
ditemukan empat bentuk onomatope 1) satu silabel, 2) dua sialbel, 3)
tiga silabel dan multisilabel, 4) frasa. Adapun bentuk onomatope satu
silabel, dua silabel, dan tiga silabel ada yang mengalami pengulangan.
3. Fungsi Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya
Partini B.
Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,
ditemukan empat fungsi onomatope, yaitu: 1) penggambaran suasana
hati, yang meliputi emosi, memberi peringatan, 2) memberikan kesan
pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, 3) mendesripsikan
tentang keadaan, 4) meniru perbuatan yang menghasilkan bunyi.
Berikut merupakan data jenis, bentuk, dan fungsi onomatope.
Penyajian hasil pengolahan data yang telah dilakukan adalah sebagai berikut.
Tabel 2
Jenis, bentuk, dan fungsi onomatope dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti karya Partini B.
No.
Ungkapan Sumber Indikator
data
1 Dhi, wis sedhengan, mengko (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi benda
tak pakune. Thok, thok, thok, 2) 2. Bentuk: satu silabel
saiki sing sisih, ora menceng (pengulangan)
iki…. 3. Fungsi: meniru perbuatan yang
menghasilkan bunyi, merujuk
“Dik, sudah cukup, nanti pada paku yang dipukul dengan
akan saya paku. Thok, thok, palu
thok, sekarang yang sebelah,
tidak miring kan….” Konteks: Gareng sedang memaku
kain penutup tembok (lurub), ia
56
mengungkapkan bunyi paku yang
dipukul dengan palu dengan kata
thok thok thok.
2 Tik-tiking sekon dados menit, (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
…. 71) 2. Bentuk: satu silabel
(pengulangan)
“Tik-tik sekon menjadi 3. Fungsi: meniru benda yang
menit” menghasilkan bunyi, merujuk
pada bunyi detik pada jarum
jam.
Konteks: menggambarkan
perubahan waktu dari detik ke
menit, menit hingga menjadi jam,
saat Raden Ajeng Tien beserta ayah
ibunya menunggu bantuan karena
oto mereka mogok.
3 “Iya nanging kiraku dudu (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
taksi, awit yen taksi lumrahe 72) 2. Bentuk: satu silabel
lenterane ora…. “Saweg 3. Fungsi: meniru benda yang
dumugi semanten kepunggel menghasilkan bunyi, merujuk
dening swara…..Hrrrrrrrrrr. pada suara mesin oto yang
sedang berjalan.
“Tetapi menurutku bukan
taksi, biasanya kalau taksi Konteks: ketika melihat cahaya
lampunya tidak….. “Baru lampu mobil yang mulai mendekat
sampai di situ terdengar ke arah oto mereka, Den Bei dan
suara…. Hrrrrrrrrrr.” istrinya berdebat apakah yang
mendekat itu taksi atau mobil
pribadi,
4 Sssssssssssss!Oto wau kendel (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
ing wingking leres. 72) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“Sssssssssssss!Oto berhenti menghasilkan bunyi, merujuk
tepat dibelakang” pada suara oto yang berhenti
karena direm.
Konteks: ada sebuah oto yang
berhenti tepat di belakang oto
miliki Den Bei yang mogok.
5 Saweg kemawon kendel (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
greg…. 80) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: menirukan perbuatan
“Baru saja berhenti greg….” yang meghasilkan bunyi,
merujuk pada oto yang baru saja
berhenti.
57
Konteks: Overland baru saja
berhenti karena ia akan menemui
rekannya
6 … Hel nedha pisang, (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
gulunipun dipun puk-puk… 106) 2. Bentuk: satu silabel
. (pengulangan)
“… Hel makan pisang, 3. Fungsi: menirukan perbuatan
lehernya di puk-puk….” yang menghasilkan bunyi,
merujuk pada Rapingun yang
sedang menepuk leher Hel
ketika makan.
Konteks: Rapingun memperlakukan
Hel, kuda milik Den Bei dengan
baik setelah Hel makan pisang, ia
kemudian ditepuk-tepuk lehernya.
7 Hel mandheg greg. (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
113) 2. Bentuk: satu silabel
“Hel berhenti greg.” 3. Fungsi: menirukan perbuatan
yang meghasilkan bunyi,
merujuk pada hel yang
mendadak berhenti ketika tahu
ada oto yang lewat.
Konteks: Hel yang sedang berjalan
bersama Rapingun tiba-tiba
berhenti ketika melihat Kerta.
8 … saking wingking (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kamirengan wonten klakson 146) 2. Bentuk: satu silabel
kaganter tiiiiit…. (pengulangan)
tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. 3. Fungsi: meniru benda yang
mengahasilkan bunyi, merujuk
“… dari belakang terdengar pada suara klakson motor yang
suara klakson tiiiii…. dibunyikan berulang kali.
tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit….”
Konteks: ketika oto yang
dikemudikan Rapingun sampai di
Secang, tiba-tiba terdengar suara
klakson dari belakang oto mereka.
9 Thing, thing, thing (TC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
(nuthuk gelas sepisan mengel 260) 2. Bentuk: satu silabel
kaping tiga, kaaturaken 3. Fungsi: menirukan benda yang
samingiseni gelasipun anggur menghasilkan bunyi, merujuk
piyambak-piyambak) pada gelas yang dipukul tiga
kali sebagai tanda untuk para
“Thing, thing, thing tamu agar mengisi gelasnya
58
(memukul gelas sekali, dengan anggur.
berbunyi tiga kali. para tamu
dipersilakan mengisi gelasnya Konteks: Tamu dalam pesta yang
dengan anggur” diadakan Raden Ngabei Tangkilan
memukul gelas, sebagai tanda agar
para tamu lain bersiap untuk
mengisi gelas mereka dengan
anggur.
10 Theng, theng lah punika (TC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
saweg mungel. 275) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“Theng, theng lha itu sedang menghasilkan bunyi, merujuk
berbunyi.” pada bunyi jam dinding
Konteks: Raden Ngenten bertanya
pada Dentawinangun apakah sudah
pukul sepuluh, tak lama kemudian,
jam berbunyi menunjukkan pukul
sepuluh.
11 Bebasan piring wis rengat, (KIWJ, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
wis benthet, kesenggol 322) 2. Bentuk: satu silabel
sethithik wae mesthi 3. Fungsi: meniru benda yang
‘pyar….’ pecah! menghasilkan bunyi, merujuk
pada bunyi piring yang pecah
“Ibarat piring yang sudah ketika jatuh tersenggol
retak, tersenggol sedikit saja
pasti pyar….pecah!” Konteks: mengibaratkan
persahabatan pak Ali dan Pak
Kasim yang sudah mulai retak.
12 … lan menawa seneng- (PASC, 1. Jenis : peniruan bunyi benda
seneng tetabuhane iya sing 10) 2. Bentuk : satu silabel
dhung, dhung, dhung sing (pengulangan)
rame banget…. 3. Fungsi : mendeskripsikan
“… dan ketika bersenang- keadaan, merujuk pada keadaan
senang musiknya dhung, yang sangat meriah dan penuh
dhung, dhung sangat dengan suara musik.
ramai….”
Konteks: Gareng bercerita pada
Petruk tentang pesta yang
dilakukan orang-orang pada zaman
dahulu.
13 … paronen byak bae. (TC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
215) 2. Bentuk: satu silabel
“… dibagi byak saja.” 3. Fungsi: memberikan kesan
pada benda yang dilihat,
merujuk pada daging ayam
59
yang utuh akan dibelah
menjadi dua
Konteks: Dalam acara sunatan
putra pertamanya Raden Bagus
Suwarna, Raden Nganten
menginginkan daging ayam
utuhnya dibelah menjadi dua.
14 Lo, lo, epret-eprete wis labuh (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
muni, …. 23) 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“Lo, lo, epret-epretnya sudah 3. Fungsi: meniru benda yang
mulai berbunyi.” menghasilkan bunyi, merujuk
pada peniruan bunyi alat musik
tiup seperti terompet.
Konteks: Petruk bercerita pada
Gareng kalau pembukaan Pasar
Gambir telah dimulai, ditandai
dengan bunyi-bunyian musik.
15 … dadak nyuwara ‘krecek- (KIWJ, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
krecek’. 319) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“… tiba-tiba berbunyi krecek- menghasilkan bunyi, merujuk
krecek.” pada bunyi kepingan uang emas
yang terdapat di dalam kendhil.
Konteks: Kasim penasaran dengan
isi kendhil yang Pak ali titipkan
padanya. Ia memiringkan kendhil
tersebut dan terdengar bunyi itu.
16 Kendhil tumuli di walik, (KIWJ, 1. Jenis:tiruan bunyi benda
isnine disuntak. Kropyok…! 319) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: meniru benda yang
“Kendhil kemudian dibalik, menghasilkan bunyi, merujuk
isinya ditumpahkan. pada bunyi kendhil yang berisi
Kropyok…! kepingan uang emas yang
ditumpahkan.
Konteks: Kasim membuka tutup
kendhil dan menumpahkan kendhil
itu.
17 Sebab liya-liyane anggone (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
padha mlaku, temtune manut 23) 2. Bentuk: dua silabel
gendhing, tojing, tojing. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, di dengar,
60
“Sebab ketika orang lain dirasakan, merujuk pada suara
berjalan tentu mengikuti langkah kaki yang sesuai
irama tojing, tojing” dengan irama musik.
Konteks: Gareng bercerita pada
petruk kalau ia ikut berjalan
mengelilingi Pasar Gambir pasti
jalannya tidak kompak karena
langkah akinya tidak sesuai dengan
gendhing.
18 … lo kuwi para nyonyah- (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
nyonyah Landa lan nyonyah- 27) 2. Bentuk: dua silabel
nyonyah Jawa kuwi akeh sing (pengulangan)
bokonge dijlentrik- 3. Fungsi: memberikan kesan pada
jlentrikake. benda yang dilihat, didengar,
atau dirasakan, merujuk pada
“… lo para nyonyah Belanda kesan ketika para nyonyah
dan nyonyah Jawa itu banyak sedang bergoyang-goyang
yang pantatnya di jlentrik- sedikit pantatnya saat
jlentikkan.” mendengar suara musik.
Konteks: Gareng bercerita pada
Petruk tentang nyonyah Belanda
yang pantatnya sedikit bergoyang-
goyang ketika mendengar suara
musik.
19 … ya iku supaya dalan ing (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kono katon kinclong- 40) 2. Bentuk: dua silabel
kinclong kaya gelas. (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… ya itu supaya jalan di benda yang dilihat, didengar,
sana terlihat kinclong seperti dirasakan, merujuk pada jalanan
gelas.” yang sangat mulus dan bersih
karena pembangunan kota.
Konteks: Petruk bercerita pada
Gareng akan pembangunan jalan
yang dilakukan pemerintah,
sehingga jalan terlihat berkilau.
20 … pada mangku dalan sing (PASC, 1. Jenis: tirun bunyi benda
kincling-kincling, meling- 45) 2. Bentuk: dua silabel
meling…. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… melihat jalan yang benda ang dilihat, merujuk pada
kincling dan berkilau….” jalanan yang sangat bersih dan
licin.
61
Konteks: Gareng bercerita pada
Petruk tentang keadaan ekonomi
bangsa asing yang begitu makmur
sampai jalanan pun terlihat licin
dan bersih.
21 Mila oto wau katingalipun (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
inggih kinclong-kinclong 88) 2. Bentuk: dua silabel
ajegan. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Apalagi oto (mobil itu pada mobil yang masih bersih
terlihat masih tetap kincong.” dan berkilau meskipun sudah
dipakai sejak dulu.
Konteks: Nyah Hien mengutarakan
akan kelebihan oto miliknya yang
akan di beli Raden Ayu Asisten
wedana.
22 Sida diklethak temenan (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
mengko. 99) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Benar diklethak nantinya.” benda yang didengar, bunyi
gigitan yang akan dilakukan Hel
terhadap Rapingun.
Konteks: Raden Ayu Asisten
wedana berkata pada suaminya
kalau ia takut Rapingun akan di
gigit atau diserang Hel, kuda
mereka yang dianggap gila.
23 … naming dhiwut-dhiwut AM, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
anggegilani. 306 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“… hanya dhiwut-dhiwut 3. Fungsi: memberikan kesan pada
mengerikan.” benda yang dilihat, merujuk
pada rajapati di Cindhereja yang
besar dan mengerikan.
Konteks: dalam pertemuan
perangkat desa, Jayadi bercerita
tenang bentuk rajapati di
Cindhereja.
24 Lha kok kendhilmu mau sing (KIWJ, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
sisih ngisor jebul isi dhuwit 319) 2. Bentuk: dua silabel
emas kinclong-kinclong. (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan
“Lha kok bagian bawah isi terhadap benda yang dilihat,
62
endhil itu ternyata uang emas merujuk pada kepingan uang
kinclong-kincong.” emas milik Pak Ali yang
berkilauan.
Konteks: isi kendhil yang dititipkan
pada Kasim ternyata berupa
kepingan uang emas.
25 Sreset, iki suwarane jaran (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
andhong sing kepleset. 45) 2. Bentuk:dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Sreset, itu suara andong keadaan, merujuk pada suara
yang terpeleset.” andhong yang terpeleset.
Konteks: Gareng bercerita pada
Petruk akan suara delman yang
terpeleset karena jalannya begittu
licin.
26 … iya banjur, gluthek, weruh (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
wae. 52) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi:mendeskripsikan
“… iya lalu, gluthek, keadaan, merujuk pada keadaan
melihat.” di mana menurut Petruk wanita
itu lebih teliti dari pada pria, ada
sesuatu sedikit saja wanita bisa
melihatnya.
Konteks: Pertuk berpendapat kalau
wanita itu bila sudah punya
kesibukan maka ia akan konsentrasi
sepenuhnya pada kesibukan
mereka. tetapi kalau melihat
sesuatu yang tidak semestinya
maka ia akan merasakannya.
27 Ana oto isih kincling- (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kincling ngene jare bobrok. 69) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Oto masih kincling-kincling keadaan, merujuk pada kondisi
kok katanya rusak.” oto (mobil) yang masih bagus,
tetapi kok macet ditengah jalan.
Konteks: den Bei menjelaskan pada
istrinya kalau oto mogok itu hal
yang wajar bukan karena oto itu
rusak, apalagi kondisi oto masih
bagus.
63
28 … grobyak, ni Wungkuk (AM, 1. Jenis: tmenceritakan ketika
jumedhul. 311) Raden Mas iruan bunyi benda
2. Bentuk: dua silabel
“… grobyak, ni Wungkuk 3. Fungsi: mendeskripsikan
muncul.” keadaan, merujuk pada keadaan
yang mengejutkan ketika warga
melihat ni Wungkuk yang
muncul tiba-tiba.
Konteks: ketika Jayadi akan
membunuh Mbok Karta dan
anaknya tiba-tiba ni Wunguk
muncul.
39 Gareng (rengeng-rengeng), (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo- 27) 2. Bentuk: multisilabel
ing-ting gentak, dhublang, 3. Fungsi: memberikan kesan pada
dhublang, ging....’ benda yang dilihat, didengar dan
dirasakan, merujuk pada Gareng
“Gareng bersenandung ‘Dhu- yang senang mendengar suara
wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-ing-ting musik demikian, kemudian
gentak, dhublang, dhublang, dengan lirih menirukan suara
ging….” musik tersebut.
Konteks: Ketika Petruk, Gareng
dan istri mereka sedang berdebat,
Gareng tiba-tiba bersenandung
menirukan suara gendhing yang
didengarnya.
30 Bareng musike wiwit (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
diunekake, thethet thiyet 27) 2. Bentuk: multisilabel
tretet jing jing jing…. 3. Fungsi: meniru benda yang
menghasilkan bunyi, merujuk
“Ketika musiknya mulai pada suara musik yang begitu
dibunyikan, thethet thiyet meriah.
tretet jing jing jing….”
Konteks: Gareng bercerita ketika
para peserta pesta mendengar suara
musik seperti itu, mereka kemudian
menari.
31 Sikile diketheplek- (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi benda
ketheplekake, sajak nikmat 27) 2. Bentuk: tiga silabel
banget kae. (pengulangan)
3. Fungsi: Meniru perbuatan yang
“Kakinya diketheplek- menghasilkan bunyi, merujuk
ketheplekke sepertinya pada suara hentakan kaki yang
menyenagkan sekali.” didengar Gareng ketika para
64
nyonyah-nyonyah Belanda
sedang menari dan berpesta.
Konteks: Gareng mencerikan ketika
ia melihat penari yang kakinya
diketheplek-ketheplekke
32 … jebul tangane melu pating (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
kethuwel…. 27) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… ternyata tangannya ikut benda yang dilihat, dan
pating kethuwel…” dirasakan, merujuk saat Biyang
Nala melihat Gareng yang asik
berjoget, tetapi hanya tangannya
saja.
Konteks: Biyang Nala melihat
Petruk bergoyang jempol, dan
mengekspresikan goyangan jempol
tersebut dengan kata pating
kethuwel.
33 Nanging sami ketingal pating (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
dlemok tilas kenging lisah. 73) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Namun terlihat pating benda yang dilihat, didengar
dlemok bekas terkena dirasakan, merujuk pada benda
minyak.” yang terlihat kotor atau terkena
bercak minyak
Konteks: Den Bei bingung melihat
laki-laki yang menolongnya,
apakah dia sopir atau orang
terpandang.
34 Wis peteng kathik dalane (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
pating tleser pirang-pirang, 30) 2. Bentuk: frasa
wong sok bisa kesasar 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“Sudah gelap, sementara di mana banyak sekali jalan
jalanya pating tleser, kadang sehingga kadang membuat orang
orang bisa tersesat.” tersesat.
Konteks: Petruk menceritakan pada
Biyang nala tentang permainan
dulhop, permainan ditempat gelap
dengan jalan yang begitu banyak.
35 Ya kuwi adate kakangmu, ana (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
ing ngarep plentas-plentus, 32) 2. Bentuk: frasa
65
nanging nek dikon ngecaki 3. Fungsi: mendeskripsikan
temenan iya banjur mak keadaan, merujuk pada keadaan
pengkeret. di mana Gareng yang seakan
terlihat berani namun sebenarnya
“Ya seperti itulah kakakmu, ia tidak punya nyali.
di depan terlihat berani, tetapi
ketika harus berbuat ya mak Konteks: Biyang Nala
pengkeret.” menceritakan sifat Gareng yang
ternyata hanya berani di belakang
saja.
36 Dumugi pratiga ingkang (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
dhateng Waleri, ing pinggir 80) 2. Bentuk: frasa
margi kiwa tengen katingal 3. Fungsi: mendeskripsikan
dilah pating klencar. keadaan, merujuk pada suasana
kota yang terang benderang
“Sampai pertigaan menuju karena ada lampu penerangan
Waleri, di sepanjang jalan jalan.
terlihat lampu pating
klencar.” Konteks: Oto Raden Ajeng Tien
sampai di pertigaan, di sana terlihat
lampu yang begitu terang.
37 Lo sing makcethit kuwi (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
suwarane selop sing 33) 2. Bentuk: frasa
diganduli lemah lempung 3. Fungsi: meniru perbuatan yang
kaya ing kene kiyi, banjur menghasilkan bunyi, merujuk
ditarik cethit. pada bunyi sandal yang ada di
dalam lumpur kemudian ditarik.
“Lo yang makcethit itu suara
selop yang terkena tanah liat Konteks: Petruk menirukan suara
kemudian ditarik.” selop berlumpur yang ditarik.
38 Lakune iya, thoprak, (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
thoprak, thoprak, balik aku 23) 2. Bentuk: dua silabel
…. 3. Fungsi: Meniru perbuatan
(benda) yang menghasilkan
“Jalannya ya, thoprak, bunyi, merujuk pada suara septu
thoprak, thoprak kalau atau sandal yang dipakai
aku….” berjalan sesuai dengan irama
musik.
Konteks: Gareng berkata pada
Petruk tentang langkah kaki orang,
yang sesuai irama musik.
39 … buntele godong sing (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
dilengani nganti kinyis- 38) 2. Bentuk: dua silabel
kinyis. (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan pada
66
“… bungkusnya daun yang benda yang dilihat, di dengar,
diberi minyak sampai kinyis- dirasakan, merujuk pada
kinyis.” bungkus daun yang berkilau.
Konteks: Petruk dan Gareng
menceritakan tentang makanan
yang dibungkus daun, dan
berminyak.
40 Mbakyumu iya wis wek, wek, (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi hewan
wek, sepuluh kecap. 39) 2. Bentuk: satu silabel
“Kakakmu ya sudah wek, (pengulangan)
wek, wek, sepuluh kecap.” 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
gaduh bila Biyang Kampret
sudah mulai berbicara.
Konteks: Gareng bercerita pada
Petruk tentang istrinya yang begitu
cerewet seperti bebek.
41 Bekas-bekos kaliyan gebras- (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi hewan
gebres. 112) 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“Bekas-bekos dan gebras- 3. Fungsi: meniru pebuatan yang
gebres.” menghasilkan bunyi, merujuk
pada kuda Hel yang seperti
terengah-engah dan
menggeleng-gelengkan
kepalanya.
Konteks: Hel bersemangat ketika
Rapingun menaikinya untuk
melintasi jembatan.
42 Rapingun lajeng murugi Hel (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi hewan
ingkang tansah gereng- 119) 2. Bentuk: dua silabel
gereng (pengulangan)
3. Fungsi: menirukan perbuatan
“Rapingun lalu mendekati yang meghasilkan bunyi,
Hel yang sedang gereng- merujuk pada hel yang bersuara
gereng” lirih (meggeram)
Konteks: Rapingun mendekati Hel
yang sudah kelelahan.
43 … lentera byar padhang. (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
76) 2. Bentuk: satu silabel
“… lentera byar terang.” 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
pada cahaya lampu mobil yang
67
menyala terang ketika mesin
mobil dihidupkan.
Konteks: Den Bei Asiaten wedana
menghidupkan otonya, dan lampu
oto menyala
44 Udhengipun blangkon udan (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
riris byur…. 90) 2. Bentuk: satu silabel
“Memakai blangkon hujan 3. Fungsi: memberikan kesan pada
grimis byur….” benda yang dilihat, merujuk
pada kepala blangkon yang
bermotif seperti hujan riris
Konteks: Den bei Asisten wedana
terkejut ketika melihat Kerta sudah
berganti pakaian dan memakai
blangkon dengan motif udan riris
byur.
45 Brol tresna kula metu. (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
130) 2. Bentuk: satu silabel
“Brol cintaku muncul.” 3. Fungsi: penggambaran suasana
hati, merujuk pada rasa sayang
Den Bei Mantri kepada
Rapingun yang muncul begitu
saja padahal mereka baru saja
saling mengenal.
Konteks: Den Bei Asiten wedana
mengatakan pada Rapingun kalau
ia merasa menyayangi Rapingun.
46 Sanalika pasemonipun Raden (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
Ajeng Tien ingkang katingal 155) 2. Bentuk: satu silabel
suntrut lajeng byar 3. Fungsi: mendeskripsikan
padhang….. keadaan, merujuk pada keadaan
Raden Ajeng Tien yang tadinya
“Seketika wajah Raden Ajeng sedih, namun sekarang sudah
Tien yang terlihat muram, kembali ceria.
seketika byar bahagia….
Konteks: Raden Ajeng Tien kaget
ketika Rapingun memanggilnya,
dan ia merasa senang.
47 … mangka anakipun namung ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
setunggal thil kula piyambak. 187) 2. Bentuk: satu silabel
3. Fungsi: mendeskripdikan
“… sementara anaknya keadaan, merujuk pada keadaan
hanya satu, aku sendiri.” Rapingun yang merupakan anak
68
tunggal.
Konteks: Rapingun mengatakan
pada Den Bei asisten Wedana dia
ingin bertemu orang tuanya, karena
ia adalah putra tunggal.
48 … panganggone mopro Karto (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
mompyor nganti kaya toko 50) 2. Bentuk: dua silabel
mlaku. 3. Fungsi:mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada cara
“… pakaian mopro Karto berpakaian mopro Karto yang
mompyor seperti toko sangat mewah dan berlebihan.
berjalan.”
Konteks: Petruk bercerita pada
Gareng tentang cara berpakaian
mopro Karto sangat berlebihan.
49 … diyan pompan sing maune ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
urube byar-pet, saiki wah 98) 2. Bentuk: dua silabel
bregase banget. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada nyala
“… lampu yang tadinya lampu yang tadinya kadang
menyala byar-pet, sekarang nyala kadang tidak, tetapi
menyala dengan baik.” sekarang menyala dengan baik.
Konteks: Raden Ayu asisten
wedana mengatakan pada Raden
Ayu Tien kalau sekarang rumahnya
menjadi bersih dan lampu menyala
dengan baik.
50 … dumadakan kacaning (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
tendha ingkang wingking 72) 2. Bentuk: frasa
mak byar, ketingal padhang. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Tiba-tiba kaca belakang pada cahaya lampu yang begitu
tenda mak byar, telihat terang, sehingga menerangi oto
terang.” yang mogok.
Konteks: ada cahaya yang
menembus kaca belakang oto Den
Bei Asisten wedana yang mogok.
51 Ketingal sumlorot pating (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi alam
glebyar dening dilah listrik 127) 2. Bentuk: frasa
ingkang tanpa wincalan. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Terlihat bersinar pating pada keadaan kota yang diterang
glebyar lampu listrik sekan akan caaya lampu penerangan.
69
tak terhitung.” Konteks: ketika Raden ajeng Tien
sampai di alun-alun dan melihat
banyak lampu yang terang.
52 … hek, hek, Mo-as, tukokake (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
jungkat ngawe-awe kaya sing 50) 2. Bentuk: satu silabel
dienggo jipro Sarinten. (pengulangan)
3. Fungsi: penggambaran suasana
“… hek, hek, Mo-as, belikan hati, merujuk pada seseorang
aku sisir melambai seperti yang merengek untuk meminta
yang dipakai jipro Sarinten.” dibelikan sesuatu.
Konteks: Petruk berceria pada
Gareng tentang wanita yang bisa
mengerti keadaan suaminya, tidak
hanya menuntut saja.
53 Sssssss! Iki lho delengen, ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
lathine rak padha karo 177) 2. Bentuk: satu silabel
lambemu. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
sesuatu yang dilihat, merujuk
“Sssssss! Ini lihat, bibirnya pada Raden Ajeng Tien yang
kan sama dengan bibirmu.” sedang berpikir ketika melihat
Rapingun yang mirip dengan
Raden Ayu Gandaatmaja.
Konteks: Raden Ajeng Tien
mengatakan pada Rapingun kalau
Rapingun mirip dengan Raden Ayu
Gandaatmaja
54 Hus, hus Ta, aja gemblung ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
lho. 204) 2. Bentuk: satu silabel pengulangan
“Hus, hus ta, jangan gila 3. Fungsi: penggambaran suasana
dong.” hati, merujuk pada suasana hati
Raden Mas Sutanta yang malu
karena disindir oleh Kerta
sehingga meminta Karta unyuk
menghentikan pembicaraannya.
Konteks: Kerta dan Ndara Seter
(Rapingun) sedang membicarakan
tentang oto baru Ndara Seter,
namun kerta kadang salah
menyebut nama Ndara Seter
dengan sebutan Rapingun.
55 Sarta winantua kabegjan ( TC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
ageng, miwah panjang 260) 2. Bentuk: satu silabel
ingkang yuswa, kasarasan 3. Fungsi: penggambaran suasana
ing salami-laminipun. hati, merujuk pada suasana hati
70
(kendel). bahagia ketika sedang berpesta.
Hip, hip hip
Konteks: sorak sorai para tamu
“Serta menemui pesta yang diadakan oleh Raden
keberuntungan besar, panjang Nganten Tangkilan.
umur, dan sehat selama-
lamanya. (terdiam).
Hip, hip hip”
56 Set, Landa jejerku iki, wong (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
sampanye dewekku jare 23) 2. Bentuk: satu silabel
ditenggak wani. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“Set. landa sebelahku ini, ketika Petruk meminta Gareng
sampanye punyaku berani mengurang volume suaranya
diminum.” ketika Landa yang mereka
bicarakan berada di samping
Petruk.
Konteks: Petruk mengatakan pada
Gareng kalau orang asing di
sebelahnya telah menghabiskan
sampanye Petruk, sehingga
meminta Gareng untuk diam.
57 … dilalah jaka ingkang (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
prakosa punika noleh 138) 2. Bentuk: satu silabel
dhateng wingking, plek 3. Fungsi: mendeskripsikan
gathuk panyawangipun. keadaan, merujuk pada keadaan
di mana pandangan Raden Ajeng
“… kebetulan pemuda gagah Tien dan seorang pemuda tepat
perkasa itu menoleh ke saling beradu mata.
belakang, plek bertemu
pandang.” Konteks: Raden Ajeng Tien
bertemu dengan seorang pemuda
saat ia menonton wayang, dan
mereka saling berpandangan.
58 Tamu-tamu sareng sumerep (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
raden Mas Sutanta, tiga pisan 200) 2. Bentuk: satu silabel
cep, mboten nyuwanten 3. Fungsi: mendeskrisikan keadaan,
ngantos sawetawis dangu. merujuk pada keadaan di mana
para tamu kaget hingga tak bisa
“Setelah para tamu melihat berkata apapun ketika melihat
Raden Mas Sutanta, cep, Raden Mas Sutanta
tidak bersuara.”
Kontes: Keadaan hening saat para
tamu melihat Raden Mas Sutanta.
59 Uwaling tas, tanganipun ceg (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
71
nyandak pundakipun 122) 2. Bentuk: satu silabel
Rapingun ingkang tengen. 3. Fungsi: memberikan kesan pada
benda yang dilihat, merujuk
“Tas terlepas, tangannya ceg pada Raden Ajeng Tien yang
memegang pundak kanan secara reflek berpegangan tepat
Rapingun.” di pundak Rapingun.
Konteks: Rapingun membantu
Raden Ajeng Tien yang baru saja
terjatuh ketika akan menaiki oto.
60 … iya mung dibrongot ana (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi manusia
bedhiyan sarta banjur gewel- 9) 2. Bentuk : dua silabel
gewel dipangan… (pengulangan)
3. Fungsi: memberikan kesan
“… iya hanya dibakar di atas terhadap benda yang dilihat,
api, lalu gewel-gewel didengar dan dirasakan, merujuk
dimakan.” pada kesan ketika orang jaman
dahulu makan daging kambing
bakar dengan lahapnya.
Konteks: Gareng menceritakan
pada Petruk tentang kehidupan
orang-orang purba.
61 Ibu kok ngendika klesak- ( Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
klesik. 71) 2. Bentuk: dua silabel
(pengulangan)
“Ibu kok berbicara berbisik- 3. Fungsi: memberikan kesan pada
bisik.” benda yang didengar, merujuk
pada Ibunya Tien yang sedang
berdoa dengan pelan-pelan
Konteks: Den Ayu wedana berdoa
memohon bantuan datang untuk
otonya yang mogok.
62 … ingkang putra sampun ( TC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
ketingal therok-therok…. 216) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Putra Anda sudah terlihat benda yang dilihat, merujuk
therok-therok….” pada putra Jagakarsa yang sudah
cukup umur untuk disunat.
Konteks: Jagakarsa mengatakan
pada Raden Nganten Tangkilan
untuk segera mengadakan pesta
tetesan untuk putrinya.
72
63 … ngemungake sing pancen (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
wis ucul, kuwi sok banjur 13) 2. Bentuk : dua silabel
plencing, mlumpat jendela, 3. Fungsi: penggambaran keadaan,
…. merujuk pada keadaan di mana
seseorang yang pergi begitu saja.
“… membiarkan yang sudah
lepas, itu kadang plencing, Konteks: Gareng bercerita pada
melompat jendela.” petruk tentang Kumidhi setambul.
64 … mila namung gidro-gidro (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
kaliyan mengkal-mengkal 107) 2. Bentuk: dua silabel
kemawon. … … (pengulangan)
3. Fungsi: mendeskripsikan
“… maka hanya gidro-gidro keadaan, merujuk pada kuda
sambil menyepak saja.’” yang melompat-lompat
kebingungan.
Konteks: menceritakan tingkah
laku Hel saat Rapingun akan
memasang tapel kuda.
65 … tanganipun kiwa lajeng (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
kangge nutupi mripatipun 163) 2. Bentuk: dua silabel
ingkang wiwit brebel-brebel (pengulangan)
medal luhipun. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“… tangan kirinya lalu Raden Ajeng Tien yang mulai
digunakan untuk menutupi menangis karena tidak tega
matanya yang mulai brebel- melihat keadaan Rapingun.
brebel mengeluarkan air
mata.” Konteks: Raden Ajeng Tien
menangis ketika melihat Rapingun
yang terluka.
66 Den Bei Asisten wedana (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
dheleg-dheleg. 195) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Den Bei Asisten wedana keadaan, merujuk pada keadaan
dheleg-dheleg.” ketika Den Bei Asisten merasa
kagum pada Rapingun
Konteks: Den Bei Asisten wedana
menceritakan pengalaman
pertamanya bertemu Rapingun.
67 … krungu swara blag-bleg (AM, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
sarta sesambat.… 302) 2. Bentuk: dua silabel
3. Fungsi: mendeskripsikan
“… terdengar suara blag-bleg keadaan, merujuk pada keadan
dan teriakan.” ketika Kertwana memukuli
73
istrinya.
Konteks: Kertawana dan istrinya
sedang bertengkar masalah orang
ketiga dalam rumah tangga mereka.
68 Iya ketanting grek, ketanting (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
grek. 24) 2. Bentuk : multisilabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“Iya ketanting grek, ketanting benda yang dilihat, di dengar,
grek.” dirasakan, merujuk pada suara
langkah kaki Gareng, yang tidak
senada dengan irama musik.
Konteks: Petruk menggambarkan
cara berjalan Gareng.
69 … wong mlaku besus kathik (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
diunekake cethit genteyong. 33) 2. Bentuk: multisilabel
3. Fungsi: memberikan kesan pada
“… orang berjalan kok benda yang dilihat, didengar atau
dikatakakan cethit dirasakan, merujuk pada suara
genteyong.” langkah kaki Makne Kampret.
Konteks: Petruk menggambarkan
cara berjalan makne Kampret
ketika menggunakan selop.
70 … kathik nganggo nyuwara (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
dicemengkling- 30) 2. Bentuk: multisilabel
cemengklingake, dhah, dhah, 3. Fungsi: mendeskripsikan suatu
dhah, dho, wah, dho wah…. keadaan merujuk pada suara
yang dikeraskan
“… dengan suara yang
dinyaring-nyaringkan dhah, Konteks: Gareng menceritakan
dhah, dhah, dho, wah, dho pada Petruk ketika istrinya
wah….” berpamitan padanya.
71 … sinambi ngomong (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
mangkene, yah seker, seker, 29) 2. Bentuk: multisilabel
nin, nin, turlek, turlek, 3. Fungsi: meniru perbuatan yang
lekker, seh. menghasilkan bunyi, Gareng
yang sedang menirukan cara
“… sambil berkata, yah berbicara seorang Nyonyah
seker, seker, nin, nin, turlek, Belanda.
turlek, lekker, seh.”
Konteks: Gareng menirukan cara
berbicara seorang Nyonyah
Belanda.
74
72 … ketheplik, ketheplik, iki (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
swara lakune. 37) 2. Bentuk: tiga silabel
3. Fungsi: meniru perbuatan yang
“Ketheplik, ini suara menghasilkan bunyi, merujuk
langkahnya.” pada bunyi suara langkah kaki
seorang putri permaisuri yang
lemah gemulai.
Konteks: Gareng bercerita pada
petruk tentang wanita cantik yang
berjalan lemah gemulai.
73 … lumrahe malah karo (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
singsat-singsot, sit su-wit, sit 57) 2. Bentuk: multisilabel
sit suwit suwit. 3. Fungsi: menirukan perbuatan
yang menghasilkan bunyi,
“Biasanya malah sambil merujuk pada menirukan bunyi
bersiul, sit su-wit, sit sit suwit siulan para laki-laki yang
suwit.” melihat kecantikan para wanita
yang menjadi wakil rakyat.
Konteks: Gareng menirukan bunyi
siulan para laki-laki yang melihat
kecantikan para wanita yang
menjadi wakil rakyat.
74 Mengko ndisik ta, kae lho (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
lagi tekan: E ala. hai lola. 133) 2. Bentuk: multisilabel
nek nganti kecer marai ora 3. Fungsi: menirukan perbuatan
bisa turu. (benda) yang menghasilkan
“Apa gendhing kuwi ana pal- bunyi, merujuk pada Den Bei
palane ta Pak, lha lok tekan e Mantri yang menirukan suara
ala kuwi?” gendhing Lambangsari.
“Ora ngono gendhing
Lambangsari kuwi angger Konteks: Den Bei Mantri yang
tekan sendhon ngana kae menirukan suara gendhing
dhemenku ora jamak.” Lambangsari.
“Sebentar, itu lho baru
sampai E ala. hai lola. Kalau
sampai siaga membuat tidak
bisa tidur.
“Apa gendhing itu ada
hafalannya Pak, lha kok: e
alaseperti itu?
“Tidak seperti itu, gendhing
lambangsari itu kalau sudah
sampai dinyanyikan seperti itu,
75
membuat aku senang sekali.”
75 Tinimbang pating klapret, (PASC, 1. Jenis : tiruan bunyi manusia
rak becik diresiki dhisik. 6) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: mendeskripsikan
“Daripada pating klapret, keadaan, merujuk pada keadaan
lebih baik dibersihkan dulu.” yang kotor dan tidak rapi
Konteks: Gareng ingat pesan
ayahnya untuk membenahi sesuatu
yang kotor dan tidak beraturan.
76 Dene jogede pating pleyot, (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
nganggo ngulat-ngulet 17) 2. Bentuk: frasa
barang kae. 3. Fungsi: mendesripsikan keadaan,
merujuk pada keadaan di mana
“Gerak tarinya pating pleyot ada penari tledek pada jaman
meliuk-liuk juga.” dahulu yang menari dengan
gerakan yang meliuk-liuk.
Konteks: Petruk menceritakan
tentang tarian ala Spanyol.
77 … malah padha pating (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
pendongong, pating 17) 2. Bentuk: frasa
plompong. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“… malah mereka pating di mana banyak orang yang
pendongong, pating tercengang ketika melihat para
plompong.” penari yang begitu seksi.
Konteks: Petruk menceritakan
ketika Rohaya akan pergi tidak ada
orang yang menghalangi, malah
mereka heran.
78 Mara, apa iki ora andedawa (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
rasa panalangsa le omahe 59) 2. Bentuk: frasa
bocor, utawa pating gambleh 3. Fungsi: mendeskripsikan
mau.. keadaan, merujuk pada keadaan
rumah yang tidak beraturan dan
“Apa ini tidak atapnya bocor di mana-mana.
memperpanjang penderitaan
ketika rumahnya bocor atau Konteks: Petruk membandingkan
pating gambleh.” kehidupan orang miskin dan orang
berada.
79 Sami sekala punika ugi pit (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
montor mak brubut 146) 2. Bentuk: frasa
ngrumiyini. 3. Fungsi: mendeskripsikan
keadaan, merujuk pada keadaan
“Ketika itu pula juga ada saat sepeda motor menyalip
76
sepeda motor mak brubut mobil Raden Ajeng Tien.
menyalip.”
Konteks: Rapingun menepikan
mobilnya ketika ada sepeda motor
yang mendahului.
80 Mak dheg atiku, sing lekker (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
kui apane…. 29) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: penggambaran suasana
“Mak dheg hatiku, yang hati, merujuk pada Gareng yang
lekker itu apanya….” sedang kaget setelah mendengar
dan menirukan perkataan para
Nyonya Belanda
Konteks: Gareng kaget ketika
mendengar pembicaraan para
Nyonyah Belanda.
81 Mulane aku banjur wani mak (Ngl, 1. Jenis: tiruan bunyi benda
clup kapat tengah. 85) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: penggambaran suasana
“Maka aku berani mak clup hati, merujuk pada suasana hati
mengatakannya.” yang sudah tidak tahan
memendam suatu perasaan,
maka langsung mengatakannya
begitu saja.
Konteks: Raden Bei Asisten
wedana dan Nyah Hien sedang
tawar menawar mobil.
82 … iya banjur mak clinguk (PASC, 1. Jenis: tiruan bunyi manusia
dawa…. 52) 2. Bentuk: frasa
3. Fungsi: menirukan perbuatan
“… lalu mak clinguk.” yang menghasilkan bunyi,
merujuk pada perbuatan ketika
seorang pria tiba-tiba melihat
wanita berbaju merah muda
maka akan langsung menoleh
untuk melihat wanita tersebut.
Konteks: Petruk menceritakan
watak lelaki ketika melihat wanita
cantik, pasti langsung menoleh.
77
Q. Pembahasan
Pembahasan hasil penelitian ini berupa deskripsi permasalahan yang
telah disebut pada bab sebelumnya. Berdasarkan rumusan masalah, dalam
pembahasan ada tiga hal yang dibahas, yaitu 1) jenis onomatope, 2) bentuk
onomatope, dan 3) fungsi onomatope yang terdapat dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. Jenis, bentuk, dan fungsi onomatope
dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. tersebut akan
dijelaskan lebih lanjut dalam pembahasan berikut.
1. Jenis Onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya
Partini B.
Jenis onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti
karya Partini B. dapat diklasifikasikan dalam empat jenis. Jenis-jenis
onomatope tersebut meliputi: a) tiruan bunyi benda, b) tiruan bunyi
hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Keempat jenis
onomatope tersebut akan dibahas lebih lanjut sebagai berikut.
a. Tiruan Bunyi Benda
Data 1
Konteks: Gareng sedang memaku kain penutup tembok (lurub), ia
mengungkapkan bunyi paku yang dipukul dengan palu dengan
kata thok thok thok.
Dhi, wis sedhengan, mengko tak pakune.
Thok, thok, thok, saiki sing sisih, ora menceng iki….
(PASC, 2)
“Dik, sudah cukup, nanti akan saya paku. Thok, thok, thok,
sekarang yang sebelah, tidak miring kan….” (PASC, 2)
78
Data (1) merupakan tuturan yang mengandung jenis onomatope
berupa tiruan bunyi benda, yaitu tiruan bunyi palu yang
dipukulkan pada paku sehingga menimbulkan bunyi thok thok
thok. Tiruan bunyi pukulan palu pada paku ini dilakukan ketika
Gareng sedang memaku kain penutup tembok di rumah Petruk.
Gareng mengungkapkan bunyi pukulan palu tersebut dengan
bunyi thok thok thok.
Data 2
Konteks: Raden Ajeng Tien beserta ayah ibunya menunggu
bantuan karena oto mereka mogok.
Tik-tiking sekon dados menit…. (Ngl, 71)
Tik-tik sekon menjadi menit….” (Ngl, 71)
Data (2) merupakan teks yang mengandung jenis onomatope
berupa tiruan bunyi benda, tik-tik menunjukkan suara detik pada
jarum jam ketika Raden Ajeng Tien beserta ayah ibunya
menunggu bantuan untuk otonya yang mogok. Karena hal yang
dirujuk atau ditirukan adalah bunyi benda yang berupa jam, maka
digolongkan dalam jenis tiruan bunyi benda.
data 3
Konteks: Den Bei dan istrinya berdebat ketika melihat cahaya
lampu mobil yang mulai mendekat ke arah oto mereka.
ya nanging kiraku dudu taksi, awit yen taksi lumrahe
lenterane ora…. Saweg dumugi semanten kepunggel dening
swara…..Hrrrrrrrrrr. (Ngl, 72)
79
“Tetapi menurutku bukan taksi, biasanya kalau taksi
lampunya tidak….. Baru sampai di situ terdengar suara….
Hrrrrrrrrrr.” (Ngl, 72)
Pada data (3) menunjukkan jenis onomatope tiruan bunyi benda.
Hrrrrrrrrrr menunjukkan suara mesin oto yang didengar oleh
semua anggota keluarga Den Bei asisten Wedana. Karena yang
dirujuk adalah suara oto, maka termasuk dalam jenis tiruan bunyi
benda.
data 4
Konteks: ada sebuah oto yang berhenti tepat dibelakang oto miliki
Den Bei yang mogok.
Sssssssssssss! Oto wau kendel ing wingking leres. (Ngl, 72)
“Sssssssssssss! Oto berhenti tepat dibelakang” (Ngl, 72)
Pada data (4) menunjukkan jenis onomatope tiruan bunyi benda.
Sssssssssssss! menunjukkan suara oto yang berhenti tepat
dibelakang oto milik Den Bei, karena yang dirujuk adalah suara
benda (oto), maka termasuk dalam jenis tiruan bunyi benda.
data 5
Konteks: Overland baru saja berhenti karena ia akan menemui
rekannya.
Saweg kemawon kendel greg…. (Ngl, 80)
“Baru saja berhenti greg….”(Ngl, 80)
Pada data (5) menunjukkan jenis onomatope tiruan bunyi benda
karena yang dirujuk adalah suara benda (oto), maka termasuk
dalam jenis tiruan bunyi benda. Greg menunjukkan ekspresi suara
80
oto Overland yang baru saja berhenti ketika akan menemui
temannya.
data 6
Konteks: Rapingun menepuk leher Hel, kuda yang dirawatnya.
… Hel nedha pisang, gulunipun dipun puk-puk…(Ngl, 106)
“… Hel makan pisang, lehernya di puk-puk….”(Ngl, 106)
Pada data (6) terdapat tiruan bunyi benda berupa kata puk-puk.
Tiruan bunyi benda ini menunjukkan bunyi benda yang ditepuk,
dalam hal ini menunjukkan bunyi leher kuda (Hel) yang ditepuk
oleh Rapingun.
data 8
Konteks: terdengar suara klakson dari belakang oto yang
dikemudikan Rapingun.
… saking wingking kamirengan wonten klakson kaganter
tiiiii…. tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. (Ngl, 146)
“… dari belakang terdengar suara klakson tiiiii….
tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit….”(Ngl, 146)
Pada data (8), bunyi tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. menunjukkan bunyi
yang dikeluarkan oleh sebuah benda, yaitu klakson motor yang
mengejar mobil Raden Ajeng Tien.
data 9
Konteks: Tamu dalam pesta yang diadakan Raden Ngabei
Tangkilan memukul gelas, sebagai tanda agar para tamu lain
bersiap untuk mengisi gelas mereka.
Thing, thing, thing
(nuthuk gelas sepisan mengel kaping tiga, kaaturaken
samingiseni gelasipun anggur piyambak-piyambak) (TC, 260)
81
“Thing, thing, thing
(memukul gelas sekali, berbunyi tiga kali. para tamu
dipersilakan mengisi gelasnya dengan anggur” (TC, 260)
Pada data (9), terdapat jenis onomatope bunyi benda. Thing,
thing, thing menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari gelas yang
dipukul sebgai tanda untuk menuangkan anggur bagi para tamu
yang hadir dalam pesta yang diadakan Raden Ngabehi Tangkilan.
data 10
Konteks: Raden Ngenten bertanya pada Dentawinangun apakah
sudah pukul sepuluh, tak lama kemudian, jam berbunyi
menunjukkan pukul sepuluh.
Theng, theng lah punika saweg mungel. (TC, 275)
“Theng, theng lha itu sedang berbunyi.” (TC, 275)
Pada data (10) terdapat tiruan bunyi benda Theng, theng. Theng,
theng menunjukkan bunyi yang dikeluarkan oleh jam dinding
yang telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
data 11
Konteks: mengibaratkan persahabatan Pak Ali dan Pak Kasim
yang sudah mulai retak.
Bebasan piring wis rengat, wis benthet, kesenggol sethithik
wae mesthi ‘pyar….’ pecah! (KIWJ, 322)
“Ibarat piring yang sudah retak, tersenggol sedikit saja pasti
pyar….pecah!” (KIWJ, 322)
Kata ‘pyar….’ pada data (11) merupakan tiruan bunyi benda.
Tiruan bunyi ini menunjukkan bunyi piring yang pecah. Bunyi ini
mengibaratkan retaknya hubungan Pak Ali dan Pak Kasim yang
82
sudah mulai retak, karena tidak adanya rasa percaya di antara
keduanya.
data 12
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang pesta yang
dilakukan orang-orang pada zaman dahulu.
… lan menawa seneng-seneng tetabuhane iya sing dhung,
dhung, dhung sing rame banget…. (PASC, 10)
“… dan ketika bersenang-senang musiknya dhung, dhung,
dhung sangat ramai….” (PASC, 10)
Onomatope dhung, dhung, dhung pada data (12) termasuk ke
dalam jenis tiruan bunyi benda. Tiruan bunyi tersebut
menunjukkan bunyi alat musik pukul. Alat musik ini dibunyikan
pada pesta yang dilakukan oleh manusia-manusia zaman dahulu
yang belum mengenal peradaban.
data 13
Konteks: Dalam acara snatan putra pertamanya Raden Bagus
Suwarna, Raden Nganten meninginginkan daging ayam utuhnya
dibelah menjadi dua.
… paronen byak bae. (TC 215)
“… dibagi byak saja.” (TC 215)
Byak pada data (13) termasuk ke dalam jenis onomatope tiruan
bunyi benda. Tiruan bunyi ini menunjukkan bunyi yang
dihasilkan oleh benda yang dibelah tepat menjadi dua.
Berdasarkan konteks, bunyi benda yang dimaksud ialah bunyi
daging ayam utuh yang dibagi menjadi dua.
83
data 14
Konteks: Petruk bercerita pada Gareng kalau pembukaan Pasar
Gambir telah dimulau, ditandai dengan bunyi-bunyian musik.
Lo, lo, epret-eprete wis labuh muni, …. (PASC, 23)
“Lo, lo, epret-epretnya sudah mulai berbunyi.” (PASC, 23)
Pada data (14) terdaat tiruan bunyi benda, yaitu epret-epret.
Epret-epret menunjukkan bunyi yang dihasilakan oleh alat musik
tiup seperti terompet. Tiruan bunyi tersebut muncul karena
penutur (Petruk) mendengarkan bunyi terompet saat pembukaan
Pasar Gambir dan ia mengekspresikan apa yang ia dengar dengan
kata epret-epret.
data 15
Konteks: Kasim penasaran dengan isi kendhil yang Pak ali
titipkan padanya. Ia memiringkan kendhil tersebut dan terdengar
bunyi itu.
… dadak nyuwara ‘krecek-krecek’. (KIWJ, 319)
“… tiba-tiba berbunyi krecek-krecek.” (KIWJ, 319)
Krecek-krecek pada data (15) merupakan tiruan bunyi benda.
Bunyi ini menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari gesekan
kepingan uang emas, ketika wadahnya (kendhil) dimiringkan oleh
Kasim yang penasaran dengan isi kendhil.
data 16
Konteks: Kasim membuka tutup kendhil dan menumpahkan
kendhil itu.
Kendhil tumuli di walik, isnine disuntak. Kropyok…!(KIWJ,
319)
84
“Kendhil kemudian dibalik, isinya ditumpahkan.
Kropyok…!(KIWJ, 319)
Pada data (16) terdapat kata Kropyok…! yang termasuk ke dalam
jenis tiruan bunyi benda. Bunyi Kropyok…! menunjukkan bunyi
yang muncul ketika kepingan uang emas yang ada pada kendhil
ditumpahkan oleh Kasim.
data 17
Konteks: Gareng bercerita pada petruk kalau ia ikut berjalan
mengelilingi Pasar Gambir pasti jalannya tidak kompak karena
langkah kakinya tidak sesuai dengan gendhing.
Sebab liya-liyane anggone padha mlaku, temtune manut
gendhing, tojing, tojing. (PASC, 23)
“Sebab ketika orang lain berjalan tentu mengikuti irama
tojing, tojing” (PASC, 23)
Pada tuturan data (17) terdapat jenis onomatope tiruan bunyi
benda, yaitu tojing, tojing. Bunyi tersebut menunjukkan bunyi
yang dihasilkan alat musik, seolah iramanya tojing, tojing. Karena
langkah kaki gareng berbunyi demikian, maka ia memutuskan
untuk tidak ikut berjalan kaki.
data 18
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang nyonyah Belanda
yang pantatnya sedikit bergoyang-goyang ketika mendengar suara
musik.
… lo kuwi para nyonyah-nyonyah Landa lan nyonyah-
nyonyah Jawa kuwi akeh sing bokonge dijlentrik-jlentrikake.
(PASC, 27)
“… lo para nyonyah Belanda dan nyonyah Jawa itu banyak
yang pantatnya di jlentrik-jlentikkan.” (PASC, 27)
85
Jlentrik-jlentrik merupakan tiruan bunyi benda, Tiruan bunyi ini
mncul karena manusia melihat para nyonyah Belanda yang
pantatnya bergoyang-goyang sedikit ketika mendengar suara
musik, sehingga manusia mengekspresikan apa yang dilihatnya
dengan kata jlentrik-jlentrik.
data 19
Konteks: Petruk bercerita pada Gareng akan pembangunan jalan
yang dilakukan pemerintah, sehingga jalan terlihat licin dan
berkilau.
… ya iku supaya dalan ing kono katon kinclong-kinclong
kaya gelas. (PASC, 40)
“… ya itu supaya jalan di sana terlihat kinclong seperti gelas.”
(PASC, 40)
Pada data (19) terdapat jenis onomatope tiruan bunyi benda.
Tiruan bunyi ini muncul karena kesan yang diberikan manusia,
ketika manusia melihat benda yang bersih dan berkilau, dalam
tuturan di atas, jalan yang begitu bersih digambarkan seperti gelas
yang berkilau. Benda berkilau yang dirujuk berdasarkan konteks
ialah kondisi jalan yang mulus tanpa lubang dan bersih. Selain
pada data (19) tiruan bunyi benda kinclong-kinclong juga terdapat
pada data (21), dan data (24).
data 21
Konteks: Nyah Hien mengutarakan akan kelebihan
otomiliknya yang akan di beli Raden Ayu asisten wedana.
Mila oto wau katingalipun inggih kinclong-kinclong
ajegan. (Ngl, 88)
86
“Apalagi oto (mobil itu terlihat masih tetap kincong.” (Ngl,
88)
data 24
Konteks: isi kendhil yang dititipkan pada Kasim ternyata
berupa kepingan uang emas.
Lha kok kendhilmu mau sing sisih ngisor jebul isi dhuwit
emas kinclong-kinclong. (KIWJ, 319)
“Lha kok bagian bawah isi kendhil itu ternyata uang emas
kinclong-kincong.” (KIWJ, 319)
Pada data (21) dan data (24) juga menggunakan tiruan bunyi
benda kinclong-kinclong. Tiruan bunyi ini menunjukkan bunyi
yang seakan-akan dihasilkan dari benda yang bersih dan berkilau.
Pada data (21) benda yang dimaksud adalah mobil Nyah Hien
yang masih bagus kondisinya dan ditawarkan pada Raden Ayu
Asisten Wedana. Sementara itu, pada data (24) benda yang
dimaksud ialah kepingan uang emas yang berkilau yang terdapat
dalam kendhil milik Pak Ali., Bukan hanya dengan kata kinclong-
kinclong, tiruan bunyi benda yang diberikan terhadap benda yang
berkilau dan besih juga diungkapkan dengan kata kincling-
kincling, seperti pada data (21) dan data (28) sebgai berikut.
data 20
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang keadaan
ekonomi bangsa asing yang begitu makmur sampai jalanan
pun terlihat licin dan bersih.
… pada mangku dalan sing kincling-kincling, meling-
meling…. (PASC, 45)
87
“… melihat jalan yang kincling dan berkilau….” (PASC,
45)
data 27
Konteks: den Bei menjelaskan pada istrinya kalau oto mogok
itu hal yang wajar bukan karena oto itu rusak, apalagi kondisi
oto masih bagus.
Ana oto isih kincling-kincling ngene jare bobrok. (Ngl, 69)
“Oto masih kincling-kincling kok katanya rusak.” (Ngl,
69)
Pada data (20) dan (27) juga terdapat tiruan bunyi yang seolah
dihasilkan dari bunyi benda yang berkilau dan bersih, yaitu
diwujudkan dengan kata kincling-kincling. Berdasarkan konteks,
pada data (20) benda yang dirujuk adalah jalanan yang licin dan
bersih, sedangkan pada data (27) benda yang dirujuk ialah oto
milik Den Bei Asisten Wedana.
data 22
Konteks: Raden Ayu asisten wedana berkata pada suaminya kalau
ia takut Rapingun akan di gigit atau diserang Hel, kuda mereka
yang dianggap gila.
Sida diklethak temenan mengko. (Ngl, 99)
“Benar diklethak nantinya.” (Ngl, 99)
Pada data (22) terdapat jenis tiruan bunyi benda, yaitu klethak.
Bunyi ini menunjukkan bunyi yang dihasilkan ketika sesuatu
yang keras berhasil dipecahkan. Dalam cerita, digambarkan
manusia akan digigit kuda sehingga menimbulkan bunyi
demikian.
88
data 23
Konteks: dalam pertemuan perangkat desa, Jayadi bercerita
tenang bentuk rajapati di Cindhereja.
… naming dhiwut-dhiwut anggegilani. (AM, 306)
“… hanya dhiwut-dhiwut mengerikan.” (AM, 306)
Pada tuturan tersebut terdapat tiruan bunyi benda, yaitu dhiwut-
dhiwut. Tiruan bunyi ini menunjukkan reaksi bunyi yang akan
mucul ketika manusia merasakan sesuatu yang besar dan
mengerikan. Benda yang dimaksud berdasarkan konteks ialah
rajapati di desa Cindhereja.
data 25
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk akan suarakuda yang
terpeleset karean jalannya begittu licin.
Sreset,iki suwarane jaran andhong sing kepleset. (PASC, 45)
“Sreset, itu suara andong yang terpeleset.” (PASC, 45)
Pada tuturan tersebut kata sreset merupakan tiruan bunyi benda.
Bunyi tersebut muncul ketika manusia mendengar suara andhong
yang terpeleset dan mengekspresikannya dengan kata sreset.
data 26
Konteks: Pertuk berpendapat kalau wanita itu bila sudah punya
kesibukan maka ia akan konsentrasi sepenuhnya pada kesibukan
mereka. tetapi kalau melihat sesuatu yang tidak semeestinya
maka ia akan merasakannya.
… iya banjur, gluthek, weruh wae. (PASC, 52)
“… iya lalu, gluthek, melihat.” (PASC, 52)
89
Pada data (26) terdapat tiruan bunyi benda, yaitu gluthek. Tiruan
bunyi ini biasanya menunjukkan bunyi benda yang jatuh. Pada
data tersebut berisi ungkapan untuk menunjukkan seorang wanita
yang sangat peka dan teliti terhadap setiap keadaan dan peristiwa.
Ungkapan yang mengandung jenis tiruan bunyi benda, juga
terdapat pada data (28), (29), (30), (31), (32), (33), (34), (35), (36), (37),
(38), dan (39). Tiruan bunyi benda ini digunakan untuk
menungungkapkan kesan terhadap sesuatu yang dilihat, didengar dan
dirasakan, serta untuk mendeskripsikan keadaan.
data 28
Konteks: ketika Jayadi akan membunuh Mbok Karta dan anaknya
tiba-tiba ni Wunguk muncul.
… grobyak, ni Wungkuk jumedhul. (AM, 311)
“… grobyak, ni Wungkuk muncul.” (AM, 311)
Pada data (28) terdapat tiruan bunyi benda yaitu grobyak.
Grobyak menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari ekspresi
manusia ketika melihat dan mendengar benda yang jatuh. Namun
berdasarkan konteks hal yang dimaksud bukanlah benda yang
jatuh melainkan ni Wungkuk yang tiba-tiba muncul ketika Jayadi
akan membunuh Mbok Karta.
data 29
Konteks: Ketika Petruk, Gareng dan istri mereka sedang berdebat,
Gareng tiba-tiba bersenandung menirukan suara gendhing yang
didengarnya.
90
Gareng (rengeng-rengeng), ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-
ing-ting gentak, dhublang, dhublang, ging....’ (PASC, 27)
“Gareng bersenandung ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-ing-ting
gentak, dhublang, dhublang, ging….”(PASC, 27)
Pada data tersebut terdapar tiruan bunyi ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-
lolo-ing-ting gentak, dhublang, dhublang, ging….”. Bunyi
tersebut menunjukkan bunyi alat-alat musik (seperangkat
gamelan) yang ditirukan oleh Gareng.
data 30
Konteks: Gareng bercerita ketika para peserta pesta mendengar
suara musik seperti itu, mereka kemudian menari.
Bareng musike wiwit diunekake, thethet thiyet tretet jing
jing jing…. (PASC, 27)
“Ketika musiknya mulai dibunyikan, thethet thiyet tretet
jing jing jing….” (PASC, 27)
Pada data (30) tedapat tiruan bunyi benda yaitu thethet thiyet
tretet jing jing jing. Bunyi thethet thiyet tretet menunjukkan bunyi
yang dihasilkan oleh alat musik tiup, berupa terompet. Sementara
itu, bunyi jing jing jing juga merupakan bunyi yang dihasilkan
oleh alat musik, berupa alat musik pukul. Dengan adanya bunyi-
bunyian tersebut, membuat para peserta pesta menari.
data 31
Konteks: Gareng mencerikan ketika ia melihat penari yang
kakinya diketheplek-ketheplekke
Sikile diketheplek-ketheplekake, sajak nikmat banget kae.
(PASC, 27)
91
“Kakinya diketheplek-ketheplekke sepertinya menyenagkan
sekali.” (PASC, 27)
Pada data (31) terdapat jenis onomatope tiruan bunyi benda,
benda yang dirujuk adalah kaki manusia. Bunyi ketheplek-
ketheplek menunjukkan bunyi yang muncul ketika kaki penari
menyentuh lantai (berjalan),
data 32
Konteks: Biyang Nala melihat Petruk bergoyang jempol, dan
mengekspresikan goyangan jempol tersebut dengan kata pating
kethuwel.
… jebul tangane melu pating kethuwel…. (PASC, 27)
“… ternyata tangannya ikut pating kethuwel…”(PASC, 27)
Pating kethuwel menunjukkan bunyi yang dihasilkan oleh benda
berupa tangan manusia. Bunyi ini timbul karena manusia
memberikan kesan terhadap apa yang dilihat dan dirasakannya,
yaitu terhadap tangan yang bergoyang-goyang tak beraturan.
Berdasarkan konteks, bunyi pating kethuwel menunjukkan bunyi
goyangan jempol yang dilakukan oleh petruk.
data 33
Konteks: Den Bei bingung melihat laki-laki yang menolongnya,
apakah dia sopir atau orang terpandang.
Nanging sami ketingal pating dlemok tilas kenging lisah.
(Ngl, 73)
“Namun terlihat pating dlemok bekas terkena minyak.”
(Ngl, 73)
92
Pada data (33) terdapat frasa pating dlemok. Frasa ini menunjukkan
tiruan bunyi benda, yang muncul ketika manusia melihat celana
yang dipakai Rapingun kotor terkena noda minyak.
data 34
Konteks: Petruk menceritakan pada Biyang nala tentang
permainan dulhop, permainan ditempat gelap dengan jalan yang
begitu banyak.
Wis peteng kathik dalane pating tleser pirang-pirang, wong
sok bisa kesasar (PASC, 30)
“Sudah gelap, sementara jalanya pating tleser, kadang
orang bisa tersesat.” (PASC, 30)
Pating tleser merupakan tiruan bunyi benda yang menunjukkan
bunyi yang dihasilkan dari perasaan (kesan) Petruk ketika melihat
dan merasakan jalanan yang begitu banyak cabangnya sehingga
membuat orang tersesat.
data 35
Konteks: Biyang Nala menceritakan sifat Gareng yang ternyata
hanya berani di belakang saja.
Ya kuwi adate kakangmu, ana ing ngarep plentas-plentus,
nanging nek dikon ngecaki temenan iya banjur mak
pengkeret. (PASC, 32)
“Ya seperti itulah kakakmu, di depan terlihat berani, tetapi
ketika harus berbuat ya mak pengkeret.” (PASC, 32)
Mak pengkeret menunjukkan tiruan bunyi yang dihasilkan dari
benda yang dirasakan semakin mengecil, atau dalam bahasa Jawa
disebut dengan istilah mengkeret. Berdasarkan konteks yang
93
semakin mengecil ialah nyali Gareng, Gareng hanya berani
berkata di belakang saja.
data 36
Konteks: Oto Raden Ajeng Tien sampai di pertigaan, di sana
terlihat lampu yang begitu terang.
Dumugi pratiga ingkang dhateng Waleri, ing pinggir margi
kiwa tengen katingal dilah pating klencar. (Ngl, 80)
“Sampai pertigaan menuju Waleri, di sepanjang jalan terlihat
lampu pating klencar.” (Ngl, 80)
Pating klencar menunjukkan tiruan bunyi yang dihasilkan dari
benda yang dirasakan bercahaya dan begitu terang. Benda ini
berupa lampu di pertigaan yang menyala dan dalam jumlah yang
banyak.
data 37
Konteks: Petruk menirukan suara selop berlumpur yang ditarik.
Lo sing makcethit kuwi suwarane selop sing diganduli lemah
lempung kaya ing kene kiyi, banjur ditarik cethit. (PASC, 33)
“Lo yang makcethit itu suara selop yang terkena tanah liat
kemudian ditarik.” (PASC, 33)
Pada data (37) terdapat frasa makcethit yang merupakan tiruan
bunyi benda. Mak cethit menunjukkan bunyi yang dihasilkan dari
sandal yang terkena lumpur kemudian ditarik.
data 38
Konteks: Gareng berkata pada Petruk tentang langkah kaki orang,
yang sesuai irama musik.
94
Lakune iya, thoprak, thoprak, thoprak, balik aku ….(PASC,
23)
“Jalannya ya, thoprak, thoprak, thoprak kalau
aku….”(PASC, 23)
Pada data tersebut terdapat tiruan bunyi benda, yaitu thoprak,
thoprak, thoprak. Berdasarkan konteks tiruan bunyi tersebut
bersumber dari suara sepatu atau sandal yang dipakai para
peserta pawai untuk berjalan.
data 39
Konteks: Petruk dan Gareng menceritakan tentang makanan yang
dibungkus daun, dan berminyak.
… buntele godong sing dilengani nganti kinyis-kinyis.
(PASC, 38)
“… bungkusnya daun yang diberi minyak sampai kinyis-
kinyis.” (PASC, 38)
Pada data (39) terdapat tiruan bunyi benda kinyis-kinyis. Tiruan
bunyi ini menunjukkan bunyi yang Petruk ketika bercerita pada
Gareng tentang daun pembungkus makanan yang terlihat
berminyak.
b. Tiruan Bunyi Hewan
data 40
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang istrinya yang
begitu cerewet seperti bebek.
Mbakyumu iya wis wek, wek, wek, sepuluh kecap. (PASC, 39)
“Kakakmu ya sudah wek, wek, wek, sepuluh kecap.” (PASC,
39)
95
Wek, wek, wek merupakan tiruan bunyi hewan. Wek, wek, wek
menunjukkan bunyi bebek. Berdasarkan konteks, diceritakan istri
Petruk sangat cerewet sehingga Petruk mengungkapkannya
dengan tiruan bunyi hewan bebek, yang juga dianggap hewan
yang cerewet dan tidak bisa diam.
data 41
Konteks: Hel bersemangat ketika Rapingun menaikinya untuk
melintasi jembatan.
Bekas-bekos kaliyan gebras-gebres. (Ngl, 112)
“Bekas-bekos dan gebras-gebres.” (Ngl, 112)
Bekas-bekos dan gebras-gebres merupakan tiruan bunyi hewan,
yaitu bunyi yang dihasilkan ketika kuda Hel yang bernafas
dengan terngah-engah, Sementara gebras-gebres menunjukkan
bunyi yang muncul ketika Rapingun melihat kuda Hel
menggeleng-gelengkan kepalanya.
data 42
Konteks: Rapingun mendekati Hel yang sudah kelelahan.
Rapingun lajeng murugi Hel ingkang tansah gereng-gereng
(Ngl, 119)
“Rapingun lalu mendekati Hel yang sedang gereng-gereng”
(Ngl, 119)
Gereng-gereng menunjukkan bunyi yang dihasilkan kuda milik
Den Bei Asisten Wedana, ketika kuda tersebut menggeram karena
kelelahan.
96
c. Tiruan Bunyi Alam
data 43
Konteks: Den Bei Asiaten Wedana menghidupkan otonya, dan
lampu oto menyala
… lentera byar padhang. (Ngl, 76)
“… lentera byar terang.” (Ngl, 76)
Byar merupakan tiruan bunyi alam. Bunyi byar menunjukkan
bunyi yang dihasilkan matahari terbit pada pagi hari, yang tadinya
gelap menjadi terang. Oleh karena itu, byar dikategorikan dalam
jenis tiruan bunyi alam. Dalam konteks data (43) di atas, byar
merupakan tiruan bunyi terhadap lampu oto yang menyala setelah
beberapa saat padam. Tidak hanya itu, perasaan manusia pun bisa
digambarkan dengan kata byar. Perasaan manusia yang tadinya
terlihat sedih, setelah menjadi bahagia diekspresikan dengan kata
byar. Hal ini terlihat pada data 46:
data 46
Konteks: Raden Ajeng Tien kaget ketika Rapingun
memanggilnya, dan ia merasa senang.
Sanalika pasemonipun Raden Ajeng Tien ingkang katingal
suntrut lajeng byar padhang….. (Ngl, 155)
“Seketika wajah Raden Ajeng Tien yang terlihat muram,
seketika byar bahagia…. (Ngl, 155)
Byar pada data (46) mengungkapkan ekspersi wajah Raden Ajeng
Tien yang tadinya sedih, lalu berubah menjadi bahagia ketika
97
mendengar suara Rapingun. Selain itu, penggunan onomatope
byar juga terdapat pada:
data 50
Konteks: ada cahaya yang menembus kaca belakang oto Den
Bei Asisten wedana yang mogok.
… dumadakan kacaning tendha ingkang wingking mak byar,
ketingal padhang. (Ngl, 72)
“Tiba-tiba kaca belakang tenda mak byar, telihat terang.”
(Ngl, 72)
Mak byar menunjukkan tiruan bunyi alam yang merujuk pada
suasana terang setelah ada cahaya yang menembus kaca belakang
oto milik Den Bei Asisten Wedana yang mogok di jalan.
data 44
Konteks: Den Bei Asisten wedana terkejut ketika melihat Kerta
sudh berganti pakaian dan memakai blangkon dengan motif udan
riris byur
Udhengipun blangkon udan riris byur…. (Ngl, 90)
“Memakai blangkon hujan grimis byur….” (Ngl, 90)
Byur termasuk dalam tiruan bunyi alam. Byur menunjukkan bunyi
alam yang muncul ketika hujan. Bunyi itu dilambangkan dalam
bentuk motif kain penutup kepala (blangkon).
data 45
Konteks:Den Bei Asiten wedana mengatakan pada Rapingun
kalau ia merasa menyayangi Rapingun.
Brol tresna kula metu. (Ngl, 130)
“Brol cintaku muncul.” (Ngl, 130)
98
Pada data (45) terdapat tiruan bunyi alam, yaitu brol. Bunyi brol
menunjukkan bunyi yang dihasilkan ketika manusia mencabut
sesuatu, misalnya tanaman atau bisa juga untuk menunjukkan
bunyi yang dihasilkan ketika manusia mengeluarkan sesuatu
dalam jumlah yang banyak. Namun berdasarkan konteks, kata
brol menunjukkan perasaan cinta yang dalam.
data 47
Konteks: Rapingun mengatakan pada Den Bei asisten Wedana dia
ingin bertemu orang tuanya, karena ia adalah putra tunggal.
… mangka anakipun namung setunggal thil kula piyambak. (
Ngl, 187)
“… sementara anaknya hanya satu, aku sendiri.” ( Ngl, 187)
Thil merupakan tiruan bunyi alam. Tiruan bunyi ini menunjukkan
bunyi buah atau bunga yang dipetik. Namun berdasarkan konteks
cerita, bunyi ini menunjukkan bunyi yang menegaskan keadaan
satu-satunya, yaitu keadaan yang menyatakan bahwa Rapingun
sebenarnya adalah seorang anak tunggal dari keluarga kaya.
data 48
Konteks: Petruk bercerita pada Gareng tentang cara berpakaian
mopro Karto sangat berlebihan.
panganggone mopro Karto mompyor nganti kaya toko
mlaku. (PASC, 50)
“… pakaian mopro Karto mompyor seperti toko berjalan.”
(PASC, 50)
Mompyor merupakan tiruan bunyi alam. Bunyi mompyor
menunjukkan bunyi yang digunakan untuk menggambarkan
99
keadaan alam yang begitu terang di malam hari karena dihiasi
cahaya bintang. Berdasarkan konteks, mompyor di sini
menunjukkan bunyi yang dihasilkan ketika melihat cara
berpakaian Mopro Karto yang sangat mewah dan berlebihan.
data 49
Konteks: Raden Ayu asisten wedana mengatakan pada Raden
Ayu Tien kalau sekarang rumahnya menjadi bersih dan lampu
menyala dengan baik.
… diyan pompan sing maune urube byar-pet, saiki wah
bregase banget. ( Ngl, 98)
“… lampu yang tadinya menyala byar-pet, sekarang menyala
dengan baik.” ( Ngl, 98)
Pada data (49) terdapat tiruan bunyi alam byar-pet. bunyi byar
biasanya menunjukkan keadaan alam yang terang, dan bunyi pet
biasanya menunjukan keadaan gelap. Namun dalam konteks ini,
byar-pet digunakan untuk menunjukkan nyala lampu yang kadang
menyala dan kadang padam.
data 51
Konteks: ketika Raden ajeng Tien sampai di alun-alun dan
melihat banyak lampu yang terang.
Ketingal sumlorot pating glebyar dening dilah listrik ingkang
tanpa wincalan. (Ngl, 127)
“Terlihat bersinar pating glebyar lampu listrik sekan tak
terhitung.” (Ngl, 127)
Pating glebyar merupakan tiruan bunyi alam yang muncul ketika
manusia melihat sesutu yang bercahaya terang, seperti bintang,
100
dalam jumlah yang banyak. Dalam konteks cerita cahaya yang
terang itu berasal dari lampu dalam jumlah yang cukup banyak.
d. Tiruan Bunyi Manusia
data 52
Konteks: Petruk berceria pada Gareng tentang wanita yang bisa
mengerti keadaan suaminya, tidak hanya menuntut saja.
… hek, hek, Mo-as, tukokake jungkat ngawe-awe kaya sing
dienggo jipro Sarinten. (PASC,50)
“… hek, hek, Mo-as, belikan aku sisir melambai seperti yang
dipakai jipro Sarinten.” (PASC,50)
Hek, hek merupakan tiruan bunyi manusia. Bunyi ini menunjukan
bunyi tangisan atau rengakan seotrang wanita yang meinta
dibelikan sisir seperti milik jipro Sarinten.
data 53
Konteks: Raden Ajeng Tien mengatakan pada Rapingun kalau
Rapingun mirip dengan Raden Ayu Gandaatmaja.
Sssssss! Iki lho delengen, lathine rak padha karo lambemu. (
Ngl, 177)
“Sssssss! Ini lihat, bibirnya kan sama dengan bibirmu.” ( Ngl,
177)
Sssssss! merupakan tiruan bunyi manusia. Tiruan bunyi ini
menunjukkan bunyi untuk mengheningkan keaadaan yang tadinya
gaduh, dengan kata lain, bunyi ini untuk mengheningkan keadaan.
Raden Ajeng Tien meminta Rapingun untuk diam sejenak dan
101
melihat foto putra Raden Ayu Gandaatmaja yang mirip dengan
Rapingun.
data 54
Konteks: Kerta dan Ndara Seter (Rapingun) sedang
membicarakan tentang oto baru Ndara Seter, namun Kerta kadang
salah menyebut nama Ndara Seter dengan sebutan Rapingun.
Hus, hus Ta, aja gemblung lho. ( Ngl, 204)
“Hus, hus Ta, jangan gila dong.” ( Ngl, 204)
Pada data di atas, terdapat tiruan bunyi manusia, hus,hus. Tiruan
bunyi ini menunjukkan tiruan bunyi yang dihasilkan ketika akan
mengusir hewan. Namun berdasarkan konteks, tiruan bunyi ini
menunjukkan tiruan bunyi manusia ketika Ndara Seter
(Rapingun) merasa malu ketika disindir oleh Kerta.
data 55
Konteks: sorak sorai para tamu pesta yang diadakan oleh Raden
Nganten Tangkilan.
Sarta winantua kabegjan ageng, miwah panjang ingkang
yuswa, kasarasan ing salami-laminipun. (kendel).
Hip, hip hip ( TC, 260)
“ Serta menemui keberuntungan besar, panjang umur, dan
sehat selama-lamanya. (terdiam).
Hip, hip hip ( TC, 260)
Hip, hip hip merupakan tiruan bunyi manusia yang menunjukkan
bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh perasaan bahagia, ketika sedang
berpesta. Ketika berpesta para tamu bersorak sorai untuk
102
memeriahkan pesta yang diadakan oleh Raden Nganten
Tangkilan.
Ungkapan yang mengandung jenis onomatope tiruan bunyi
manusia, juga terdapat pada data (56), (57), (58), (59), (60), (61),
(62), (63), (64), (65), (66), (67), (68), (69), (70), (71), (72), (73),
(74), (75), (76), (77), (78), (79), (80), (81), dan (82). Tiruan bunyi
manusia ini menunjukkan ekspresi yang dihasilkan manusia ketika
menanggapi suatu keadaan. Adapun data-data tersebut, dapat
dijelaskan dengan tabel berikut.
Tabel 3
Tiruan bunyi manusia
No. data Data Konteks Keterangan
56 Set, Landa jejerku iki, Petruk mengatakan Menunjukkan
wong sampanye pada Gareng kalau bunyi ketika Petruk
dewekku jare orang asing di meminta Gareng
ditenggak wani. sebelahnya telah untuk diam
(PASC, 23) menghabiskan
sampanye Petruk,
“Set. landa sebelahku sehingga meminta
ini, sampanye Gareng untuk diam
punyaku berani
diminum.”
57 … dilalah jaka Raden Ajeng Tien Menunjukkan
ingkang prakosa bertemu dengan bunyi yang
punika noleh dhateng seorang pemuda saat diekspresikan
wingking, plek gathuk ia menonton wayang, manusia ketika
panyawangipun. (Ngl, dan mereka saling melihat sesuatu
138) berpandangan. yang saling
bertepatan, yaitu
“… kebetulan pemuda pandangan Raden
gagah perkasa itu Ajeng Tien dan
menoleh ke belakang, seorang pemuda.
plek bertemu
pandang.”
103
58 Tamu-tamu sareng Keadaan hening saat Menunjukkan
sumerep raden Mas para tamu mlihat bunyi yang
Sutanta, tiga pisan Raden Mas Sutanta. dihasilkan ketika
cep, mboten terjadi keheningan
nyuwanten ngantos dalam pesta setelah
sawetawis dangu. datangnya Raden
(Ngl, 200) Mas Sutanta
(Rapingun).
“Setelah para tamu
melihat Raden Mas
Sutanta, cep, tidak
bersuara.” (Ngl, 200)
59 Uwaling tas, Rapingun membantu Menunjukkan
tanganipun ceg Raden Ajeng Tien sesuatu yang dapat
nyandak pundakipun yang baru saja terjatuh ditangkap dengan
Rapingun ingkang ketika akan menaiki tepat, yaitu Radden
tengen. (Ngl, 122) oto. Ajeng Tien yang
tepat berpegangan
“Tas terlepas, pada pundak
tangannya ceg Rapingun..
memegang pundak
kanan Rapingun.”
(Ngl, 122)
60 … iya mung dibrongot Gareng menceritakan Menunjukkan
ana bedhiyan sarta pada Petruk tentang bunyi yang
banjur gewel-gewel kehidupan orang- dihasilkan manusia
dipangan…(PASC, 9) orang pada zaman purba ketika
purba. makan.
“… iya hanya dibakar
di atas api, lalu
gewel-gewel
dimakan.”
61 Ibu kok ngedika Den Ayu wedana Menunjukkan
klesak-klesik. (Ngl, berdoa memohon bunyi perkataan
71) bantuan datang untuk Den Ayu Wedana
otonya yang mogok. yang berbisik-bisik
“Ibu kok berbicara (pelan)
berbisik-bisik.”
62 … ingkang putra Jagakarsa mengatakan Menunjukkan
sampun ketingal pada Raden Nganten bunyi yang
therok-therok…. (TC, Tangkilan untuk dihasilkan karena
216) segera mengadakan penampilan putri
pesta tetesan untuk Raden Nganten
“Putra Anda sudah putrinya. yang sudah cukup
terlihat therok- dewasa..
therok….”
104
63 … ngemungake sing Gareng bercerita pada Menunjukkan
pancen wis ucul, kuwi petruk tentang bunyi untuk
sok banjur plencing, Kumidhi setambul. sesuatu yang hilang
mlumpat jendela, atau pergi beitu
….(PASC, 13) saja.
“… membiarkan yang
sudah lepas, itu
kadang plencing,
melompat jendela.”
64 … mila namung gidro- menceritakan tingkah Menunjukkan
gidro kaliyan laku hel saat Rapingun bunyi ketika
mengkal-mengkal akan memasang tapel Rapingun melihat
kemawon.… (Ngl, kuda. Hel yang bergerak
107) dengan tidak
beraturan
“… maka hanya
gidro-gidro sambil
menyepak saja.’”
65 … tanganipun kiwa Raden Ajeng Tien Menunjukkan
lajeng kangge nutupi menangis ketika bunyi air mata
mripatipun ingkang melihat Rapingun Raden Ajeng Tien
wiwit brebel-brebel yang terluka. yang menetes
medal luhipun. (Ngl, begitu deras.
163)
“… tangan kirinya
lalu digunakan untuk
menutupi matanya
yang mulai brebel-
brebel mengeluarkan
air mata.”
66 Den Bei Asisten Den Bei Asisten Menunjukkan
wedana dheleg- Wedana menceritakan bunyi yang
dheleg. (Ngl, 195) pengalaman dihasilkan karena
pettamanya bertemu Den Bei Asisten
“Den Bei Asisten Rapingun. Wedana merasa tak
wedana dheleg- berdaya ketika
dheleg.” bertemu Rapingun.
67 … krungu swara blag- Kertawana dan Menunjukkan
bleg sarta istrinya sedang bunyi pukulan
sesambat.… (AM, bertengkar masalah berulang-ulang
302) orang ketiga dalam yang dilakukan
rumah tangga mereka. Kertawana
“… terdengar suara terhadap istrinya.
blag-bleg dan
teriakan.”
105
68 Iya ketanting grek, Petruk Menunjukkan
ketanting grek. menggambarkan cara bunyi langkah kaki
(PASC, 24) berjalan Gareng. Gareng.
“Iya ketanting grek,
ketanting grek.”
69 … wong mlaku besus Petruk Menunjukkan
kathik diunekake menggambarkan cara bunyi selop yang
cethit genteyong. berjalan makne dipakai makne
(PASC, 33) Kampret ketika Kampret ketika
mengunakan selop. ditarik dari lumpur
“… orang berjalan
kok dikatakakan
cethit genteyong.”
70 …, kathik nganggo Gareng menceritakan Menunjukkan
nyuwara pada Petruk ketika bunyi cara
dicemengkling- istrinya berpamitan berbicara istri
cemengklingake, padanya. Gareng ketika
dhah, dhah, dhah, berpamitan pada
dho, wah, dho wah…. Gareng.
(PASC, 30)
“… dengan suara yang
dinyaring-nyaringkan
dhah, dhah, dhah,
dho, wah, dho
wah….”
71 … sinambi ngomong Gareng menirukan Menunjukkan
mangkene, yah seker, cara berbicara bunyi cara
seker, nin, nin, turlek, seorang Nyonyah berbicara Nyonyah
turlek, lekker, seh. Belanda. Belanda yang
(PASC, 29) ditirukan Gareng
“… sambil berkata,
yah seker, seker, nin,
nin, turlek, turlek,
lekker, seh.”
72 … ketheplik, Gareng bercerita pada Menunjukkan
ketheplik, iki swara Petruk tentang wanita bunyi langkah kaki
lakune. (PASC, 37) cantik yang berjalan seorang wanita
lemah gemulai. yang lemah
“Ketheplik, ini suara gemulai.
langkahnya.”
73 … lumrahe malah Gareng menirukan Menunjukkan
karo singsat-singsot, bunyi siulan para laki- bunyi siulan para
sit su-wit, sit sit suwit laki yang melihat lelaki ketika
106
suwit. (PASC, 57) kecantikan para melihat wanita
wanita yang menjadi menjadi wakil
“Biasanya malah wakil rakyat. rakyat.
sambil bersiul, sit su-
wit, sit sit suwit
suwit.”
74 Mengko ndisik ta, kae Den Bei Mantri yang Menunjukkan
lho lagi tekan: E ala. menirukan suara bunyi Gendhing
hai lola. nek nganti gendhing Lambangsari yang
kecer marai ora bisa Lambangsari. ditirukan oleh Den
turu. Bei Mantri.
“Apa gendhing kuwi
ana pal-palane ta
Pak, lha lok tekan e
ala kuwi?”
“Ora ngono gendhing
Lambangsari kuwi
angger tekan sendhon
ngana kae dhemenku
ora jamak.” (Ngl,
133)
“Sebentar, itu lho baru
sampai E ala. hai
lola. kalau sampai
siaga membuat tidak
bisa tidur.
“Apa gendhing itu ada
hafalannya Pak, lha
kok : e alaseperti itu?
“Tidak seperti itu,
gendhing lambangsari
itu kalau sudah sampai
dinyanyikan seperti
itu, membuat aku
senang sekali.”
75 Tinimbang pating Gareng ingat pesan Menunjukkan
klapret, rak becik ayahnya untuk bunyi terhadap
diresiki dhisik. membenahi sesuatu sesuatu yang kotor.
(PASC, 6) yang kotor dan tidak
beraturan.
“Daripada pating
klapret, lebih baik
dibersihkan dulu.”
107
76 Dene jogede pating Petruk menceritakan Menunjukkan
pleyot, nganggo tentang tarian ala bunyi tarian ala
ngulat-ngulet barang Spanyol. Spanyol yang tidak
kae. (PASC, 17) beraturan.
“Gerak tarinya pating
pleyot meliuk-liuk
juga.”
77 … malah padha Petruk menceritakan Menunjukkan
pating pendongong, ketika Rohaya akan bunyi untuk
pating plompong. pergi tidak ada orang
mengekspresikan
(PASC, 17) yang menghalangi,
kekaguman atau
malah mereka heran. heran ktika Rohaya
“… malah mereka sang pengantin
pating pendongong, pergi dan tidak ada
pating plompong.” yang menghalangi
kepergiannya..
78 Mara, apa iki ora Petruk Menunjukkan
andedawa rasa membandingkan bunyi untuk
panalangsa le omahe kehidupan orang menggambarkan
bocor, utawa pating miskin dan orang rumah yang bocor
gambleh mau. (PASC, berada. karena ekonomi
59) miskin.
“Apa ini tidak
memperpanjang
penderitaan ketika
rumahnya bocor atau
pating gambleh.”
79 Sami sekala punika Rapingun menepikan Menunjukkan
ugi pit montor mak mobilnya ketika ada bunyi ekspresi
brubut ngrumiyini. sepeda motor yang manusia ketika ada
(Ngl, 146) mendahului. yang menyalip
mobil yang
“Ketika itu pula juga dikendarai begitu
ada sepeda motor saja.
mak brubut
menyalip.”
80 Mak dheg atiku, sing Gareng kaget ketika Menunjukkan
lekker kui apane…. mendengar bunyi yang muncul
(PASC, 29) pembicaraan para ketika Gareng
Nyonyah Belanda. merasa kaget
“Mak dheg hatiku, seytelah
yang lekker itu mendengar
apanya….” perkataan nyonyah
Belanda
108
81 Mulane aku banjur Raden Bei Asisten Menunjukkan
wani mak clup kapat wedana dan Nyah bunyi yang
tengah. (Ngl, 85) Hien sedang tawar dihasilkan ketika
menawar mobil. Raden Bei Asisten
“Maka aku berani Wedana tiba-tiba
mak clup berani
mengatakannya. mengungkapkan
apa yang
terpendam.
82 … iya banjur mak Petruk menceritakan Menunjukkan
clinguk dawa…. watak lelaki ketika ekspresi bunyi
(PASC, 52) melihat wanita cantik, ketika Petruk
pasti langsung menggambarkan
“… lalu mak menoleh. sifat lelaki yang
clinguk.” langsung menoleh
ketika melihat
wanita cantik.
Tabel di atas menunjukkan tabel tiruan bunyi manusia dan
penyebab munculnya bunyi-bunyi tersebut. Tiruan bunyi manusia yang
terdapat dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
sangat beragam. Sehingga hal ini mampu menambah kosakata dalam
bahasa Jawa.
2. Bentuk Onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya
Partini B.
Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,
ditemukan empat bentuk onomatope 1) satu silabel, 2) dua silabel, 3)
tiga silabel dan multisilabel, 4) frasa. Adapun bentuk onomatope satu
silabel dan dua silabel ada yang mengalami pengulangan.
109
a. Bentuk Onomatope Satu Silabel
Bentuk onomatope satu silabel mencakup 1) bentuk tanpa
pengulangan dan 2) bentuk pengulangan satu silabel.
1) Bentuk Onomatope Satu Silabel Tanpa Pengulangan
data 3
Konteks: Den Bei dan istrinya berdebat ketika melihat
cahaya lampu mobil yang mulai mendekat ke arah oto
mereka,
Iya nanging kiraku dudu taksi, awit yen taksi
lumrahe lenterane ora…. Saweg dumugi semanten
kepunggel dening swara…..Hrrrrrrrrrr. (Ngl, 72)
“Tetapi menurutku bukan taksi, biasanya kalau taksi
lampunya tidak….. Baru sampai di situ terdengar
suara…. Hrrrrrrrrrr.” (Ngl, 72)
Data (3) merupakan teks yang mengandung bentuk
onomatope satu silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk
Hrrrrrrrrrr. Bentuk Hrrrrrrrrrr disebut satu silabel karena
terdiri dari satu kecap, yang hanya tersusun atas deretan
konsonan. sehingga strukturnya dapat dikatakan K-K-K-
K-K-K-K-K-K-K-K.
data 5
Konteks: Overland baru saja berhenti karena ia akan
menemui rekannya
Saweg kemawon kendel greg…. (Ngl, 80)
“Baru saja berhenti greg….”(Ngl, 80)
Data (5) merupakan teks yang mengandung bentuk
onomatope satu silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk
110
greg. Bentuk greg disebut satu silabel karena terdiri dari
satu kecap, yang hanya tersusun atas deretan fonem yaitu
Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K).
Bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan juga
terdapat pada data (4), (7), (11), (13), (43), (44), (45), (46), (47),
(53), (56), (57), (58), dan (59). Pada data-data tersebut, dikatakan
bentuk satu silabel karena terdiri dari satu kecap, dari satu kecap ini
tersusun atas fonem vokal dan konsonan. Adapun masing-masing
sruktur fonem dari data tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.
Tabel 4
Struktur fonem bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan
No. Data Data Struktur
3 Hrrrrrrrrrr K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K
4 Sssssssssssss K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K
5 dan 7 Greg K-K-V-K
11 Pyar K-K-V-K
13 Byak K-K-V-K
43 dan 46 Byar K-K-V-K
44 Byur K-K-V-K
45 Brol K-K-V-K
47 Thil K-K-V-K
53 Sssssss K-K-K-K-K-K-K-K
56 Set K-V-K
57 Plek K-K-V-K
58 Cep K-V-K
59 Ceg K-V-K
Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal
Tabel di atas, menunjukkan bahwa struktur fonem dalam
bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan begitu beragam.
Dalam bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan terdapat 5
111
pola struktur, yaitu 1) K-K-K-K-K-K-K-K-K-K-K; 2) K-K-K-K-K-
K-K-K-K-K-K-K-K:;3) K-K-V-K; 4) K-K-K-K-K-K-K-K; dan 5) K-
V-K.
2) Bentuk Pengulangan Satu Silabel
data 1
Gareng sedang memaku kain penutup tembok
Dhi, wis sedhengan, mengko tak pakune. Thok,
thok, thok, saiki sing sisih, ora menceng iki….
(PASC, 2)
“Dik, sudah cukup, nanti akan saya paku. Thok,
thok, thok, sekarang yang sebelah, tidak miring
kan….” (PASC, 2)
Data (1) merupakan tuturan yang mengandung bentuk
onomatope satu silabel dengan pengulangan, yaitu bentuk
thok. Adapun disebut bentuk pengulangan karena
diucapkan sebanyak tiga kali thok thok thok. Bentuk thok
disebut satu silabel karena terdiri dari satu kecap, yang
hanya tersusun atas deretan fonem. yaitu Konsonan-
Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K).
data 2
Konteks: Raden Ajeng Tien beserta ayah ibunya menunggu
bantuan karena oto mereka mogok.
Tik-tiking sekon dados menit…. (Ngl, 71)
Tik-tik sekon menjadi menit….” (Ngl, 71)
Data (2) merupakan tuturan yang mengandung bentuk
onomatope satu silabel dengan pengulangan, yaitu bentuk
112
tik. Adapun disebut bentuk pengulangan karena diucapkan
sebanyak dua kali tik tik. Bentuk tik disebut satu silabel
karena terdiri dari satu kecap, yang hanya tersusun atas
deretan fonem. yaitu Konsonan-Vokal-Konsonan (K-V-
K).
data 10
Konteks: Raden Ngenten bertanya pada Dentawinangun
apakah sudah pukul sepuluh, tak lama kemudian, jam
berbunyi menunjukkan pukul sepuluh.
Theng, theng lah punika saweg mungel. (TC, 275)
“Theng, theng lha itu sedang berbunyi.” (TC, 275)
Data (10) merupakan tuturan yang mengandung bentuk
onomatope satu silabel dengan pengulangan, yaitu bentuk
Theng. Adapun disebut bentuk pengulangan karena
diucapkan sebanyak dua kali Theng, theng. Bentuk theng
disebut satu silabel karena terdiri dari satu kecap, yang
hanya tersusun atas deretan fonem. yaitu Konsonan-
Konsonan-Vokal-Konsonan-Konsonan (K-K-V-K-K).
Bentuk onomatope pengulangan satu silabel juga terdapat pada
data (6), (8), (9), (12), (40), (52), (54), dan (55). Pada data-data
tersebut, dikatakan bentuk pengulangan satu silabel karena dari satu
kecap ini diulang dua atau tiga kali pengucapan, dari pengulangan
satu kecap ini tersusun atas fonem vokal dan konsonan. Adapun
masing-masing sruktur fonem dari data tersebut dapat dijelaskan
dalam tabel berikut.
113
Tabel 5
Struktur fonem bentuk onomatope pengulangan satu silabel
Banyaknya
No.
Data Struktur pengulangan
Data
(kali)
1 Thok, thok, thok K-K-V-K 3
K-K-V-K
K-K-V-K
2 Tik. Tik K-V-K 2
K-V-K
6 Puk-puk K-V-K 2
K-V-K
8 tiiiii…. K-V-V-V-V 4
tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. K-V-V-V-V-
K
K-V-V-V-K
K-V-V-V-V-
V-V-V-V-V-
K
9 Thing, thing, thing K-K-V-K-K 3
K-K-V-K-K.
K-K-V-K-K.
10 Theng, theng K-K-V-K-K 2
K-K-V-K-K.
12 dhung, dhung, dhung K-K-V-K-K. 3
K-K-V-K-K.
K-K-V-K-K.
40 wek, wek, wek K-V-K 3
K-V-K
K-V-K
52 hek, hek K-V-K 2
K-V-K
54 Hus, hus K-V-K 2
K-V-K
55 Hip, hip hip K-V-K 3
K-V-K
K-V-K
Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa struktur fonem dalam
bentuk onomatope pengulangan satu silabel begitu beragam. Dalam
114
bentuk onomatope satu silabel tanpa pengulangan terdapat beberapa
pola struktur, yaitu 1) K-K-V-K; 2) K-V-K; 3) K-V-V-V-V-K; 4) K-
K-V-K-K; 5) K-V-K, K-V; V. Dari deretan fonem tersebut, diulang
beberapa kali sehingga dikatakan pengulangan satu silabel.
b. Bentuk Onomatope Dua Silabel
Bentuk onomatope dua silabel mencakup 1) bentuk tanpa
pengulangan dan 2) bentuk pengulangan satu silabel.
1) Bentuk Onomatope Dua Silabel Tanpa Pengulangan
data 16
Konteks: Kasim membuka tutup kendhil dan menumpahkan
kendhil itu.
Kendhil tumuli di walik, isnine disuntak.
Kropyok…!(KIWJ, 319)
“Kendhil kemudian dibalik, isinya ditumpahkan.
Kropyok…!(KIWJ, 319)
Data (16) merupakan teks yang mengandung bentuk
onomatope dua silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk
kropyok. Bentuk kropyok disebut dua silabel karena terdiri
dari dua kecap, yaitu kro dan pyok. Kropyok tersusun atas
deretan fonem, yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-
Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K-K-V-K).
data 22
Konteks: Raden Ayu asisten wedana berkata pada suaminya
kalau ia takut Rapingun akan di gigit atau diserang Hel,
kuda mereka yang dianggap gila.
Sida diklethak temenan mengko. (Ngl, 99)
“Benar diklethak nantinya.” (Ngl, 99)
115
Data (22) merupakan tuturan yang mengandung bentuk
onomatope dua silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk
klethakk. Bentuk klethak disebut dua silabel karena terdiri
dari dua kecap, yaitu kle dan thak. Klethak tersusun atas
deretan fonem. yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-
Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K-K-V-K).
data 25
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk akan suarakuda yang
terpeleset karean jalannya begittu licin.
Sreset,iki suwarane jaran andhong sing kepleset.
(PASC, 45)
“Sreset, itu suara andong yang terpeleset.” (PASC,
45)
Data (25) merupakan tuturan yang mengandung bentuk
onomatope dua silabel tanpa pengulangan, yaitu bentuk
sreset. Sreset disebut dua silabel karena terdiri dari dua
kecap, yaitu sre dan set. Sreset tersusun atas deretan
fonem. yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan-
Vokal-Konsonan (K-K-V-K-V-K).
Bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan juga
terdapat pada data (26), (28), (48), (49), (63), dan (67). Pada
data-data tersebut, dikatakan bentuk dua silabel karena terdiri
dari dua kecap, dari dua kecap ini tersusun atas fonem vokal dan
konsonan. Adapun masing-masing sruktur fonem dari data
tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.
116
Tabel 6
Struktur fonem bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan
No. data Data Silabel (kecap) Struktur
16 Kropyok Kro-pyok K-K-V-K-K-V-K
22 Klethak Kle-thak K-K-V-K-K-V-K
25 Sreset Sre-set K-K-V-K-V-K
26 Gluthek Glu-thek K-K-V-K-K-V-K
28 Grobyak Gro-byak K-K-V-K-K-V-K
48 Mompyor Mom-pyor K-V-K-K-K-V-K
49 Byar-pet Byar-pet K-K-V-K-K-V-K
63 Plencing Plen-cing K-K-V-K-K-V-K-K
67 Blag-bleg Blag-bleg K-K-V-K-K-K-V-K
Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal
Tabel di atas, menunjukkan bahwa struktur fonem dalam
bentuk onomatope dua silabel tanpa pengulangan begitu
beragam. Dalam bentuk onomatope satu silabel tanpa
pengulangan terdapat 7 pola struktur.
2) Bentuk Onomatope Pengulangan Dua Silabel
data 14
Konteks: Petruk bercerita pada Gareng kalau pembukaan
Pasar Gambir telah dimulau, ditandai dengan bunyi-bunyian
musik.
Lo, lo, epret-eprete wis labuh muni, …. (PASC, 23)
“Lo, lo, epret-epretnya sudah mulai berbunyi.”
(PASC, 23)
Data (14) merupakan tuturan yang mengandung bentuk
onomatope dua silabel dengan pengulangan. yaitu bentuk
epret. Adapun disebut bentuk pengulangan karena
diucapkan sebanyak dua kali epret-epret. Bentuk epret
117
disebut dua silabel karena terdiri dari dua kecap, yaitu e
dan prêt. Epret-epret tersusun atas deretan fonem. yaitu
Vokal-Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (V-K-K-V-
K) dan diulang satu kali.
data 18
Konteks: Gareng bercerita pada Petruk tentang nyonyah
Belanda yang bergoyang-goyang ketika mendengar suara
musik.
… lo kuwi para nyonyah-nyonyah Landa lan
nyonyah-nyonyah Jawa kuwi akeh sing bokonge
dijlentrik-jlentrikake. (PASC, 27)
“… lo para nyonyah Belanda dan nyonyah Jawa itu
banyak yang pantatnya di jlentrik-jlentikkan.”
(PASC, 27)
Data (18) merupakan tuturan yang mengandung bentuk
onomatope dua silabel dengan pengulangan. yaitu bentuk
jlentrik. Adapun disebut bentuk pengulangan karena
diucapkan sebanyak dua kali, yaitu jlentrik- jlentrik.
Bentuk jlentrik disebut dua silabel karena terdiri dari dua
kecap, yaitu jlen dan trik. Jlentrik tersusun atas deretan
fonem. yaitu Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan-
Konsonan-Konsonan-Vokal-Konsonan (K-K-V-K-K-K-V-
K) dan diulang satu kali.
Bentuk onomatope pengulangan dua silabel juga terdapat pada
data (15), (17), (19), (20), (21), (23), (24), (27), (38), (39), (41), (42),
(60), (61), (62), (64), (65), dan (66). Pada data-data tersebut,
dikatakan bentuk pengulangan dua silabel karena dari dua kecap ini
118
diulang dua atau tiga kali pengucapan, dari pengulangan dua kecap
ini tersusun atas fonem vokal dan konsonan. Adapun masing-masing
sruktur fonem dari data tersebut dapat dijelaskan dalam tabel berikut.
Tabel 7
Struktur fonem, bentuk onomatope pengulangan dua silabel
No. data Data Silabel (kecap) Struktur
14 Epret-epret e-pret V-K-K-V-K
V-K-K-V-K
15 Krecek- Kre-cek K-K-V-K-V-K
krecek K-K-V-K-V-K
17 Tojing, To-jing K-V-K-V-K-K
tojing K-V-K-V-K-K
18 Jlenrik- Jlen-trik K-K-V-K-K-K-V-K
jlentrik K-K-V-K-K-K-V-K
19, 21, Kinclong- Kin-clong K-V-K-K-K-V-K-K
24 kinclong K-V-K-K-K-V-K-K
20, 27 Kincling- Kin-cling K-V-K-K-K-V-K-K
kincling K-V-K-K-K-V-K-K
23 Dhiwut- Dhi-wut K-K-V-K-V-K
dhiwut K-K-V-K-V-K
38 Thoprak, Tho-prak K-K-V-K-K-V-K
thoprak, K-K-V-K-K-V-K
thoprak K-K-V-K-K-V-K
39 Kinyis- Ki-nyis K-V-K-K-V-K
kinyis K-V-K-K-V-K
41 Bekas- Be-kas K-V-K-V-K
bekos K-V-K-V-K
Gebras- Ge-bres K-V-K-K-V-K
gebres K-V-K-K-V-K
42 Gereng- Ge-reng K-V-K-V-K-K
gereng K-V-K-V-K-K
60 Gewel- Ge-wel K-V-K-V-K
gewel K-V-K-V-K
61 Klesak- Kle-sak K-K-V-K-V-K
klesik K-K-V-K-V-K
62 Therok- The-rok K-K-V-K-V-K
therok K-K-V-K-V-K
64 Gidro-gidro Gi-dro K-V-K-K-V
K-V-K-K-V
Mengkal- Meng-kal K-V-K-K-K-V-K
mengkal K-V-K-K-K-V-K
119
65 Brebel- Bre-bel K-K-V-K-V-K
brebel K-K-V-K-V-K
66 Dheleg- Dhe-leg K-K-V-K-V-K
dheleg K-K-V-K-V-K
Keterangan:
K : Konsonan
V : Vokal
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa struktur fonem dalam
bentuk onomatope pengulangan dua silabel begitu beragam. Dalam
bentuk onomatope pengulangan dua silabel terdapat bermacam-
macam pola struktur. Dari deretan fonem tersebut, diulang beberapa
kali sehingga dikatakan pengulangan dua silabel.
c. Bentuk Onomatope Tiga Silabel dan Multisilabel
Bentuk onomatope tiga silabel mencakup 1) bentuk tanpa
pengulangan dan 2) bentuk pengulangan tiga silabel. Selain itu, ada
pula bentuk onomatope multisilabel. Onomatope ini terbentuk atas
empat silabel atau lebih.
1) Bentuk Onomatope Tiga Silabel Tanpa Pengulangan
Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.
tidak ditemukan adanya penggunaan onomatope dalam bentuk
tiga silabel tanpa pengulangan.
2) Bentuk Onomatope Pengulangan Tiga Silabel
data 31
Konteks: Gareng mencerikan ketika ia melihat penari yang
kakinya diketeplek-keteplekke
Sikile diketheplek-ketheplekake, sajak nikmat
banget kae. (PASC, 27)
120
“Kakinya diketheplek-ketheplekke sepertinya
menyenagkan sekali.” (PASC, 27)
Pada data di atas terdapat bentuk onomatope pengulangan
tiga silabel, yaitu pada bunyi ketheplek. Ketheplek
dikatakan tiga silabel karena terbentuk atas tiga kecap,
yaitu ke, the, dan plek. Bunyi tersebut tersusun atas deretan
fonem K-V-K-K-V-K-K-V-K. Bunyi tersebut diulang
sebanyak dua kali.
data 72
Konteks: Gareng bercerita pada petruk tentang wanita
cantik yang berjalan lemah gemulai.
… ketheplik, ketheplik, iki swara lakune. (PASC,
37)
“Ketheplik, ini suara langkahnya.” (PASC, 37)
Pada data di atas terdapat bentuk onomatope pengulangan
tiga silabel, yaitu pada bunyi ketheplik. Ketheplik
dikatakan tiga silabel karena terbentuk atas tiga kecap,
yaitu ke, the, dan plik. Bunyi tersebut tersusun atas deretan
fonem K-V-K-K-V-K-K-V-K. Bunyi tersebut diulang satu
kali.
3) Bentuk Onomatope Multisilabel
data 29
Konteks: Ketika Petruk, Gareng dan istri mereka sedang
berdebat, Gareng tiba-tiba bersenandung menirukan suara
gendhing yang didengarnya.
121
Gareng (rengeng-rengeng), ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-
lolo-ing-ting gentak, dhublang, dhublang, ging....’
(PASC, 27)
“Gareng bersenandung ‘Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-
ing-ting gentak, dhublang, dhublang,
ging….”(PASC, 27)
Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel.
Onomatope tersebut terdiri atas beberapa silabel, yaitu
Dhu, wa, lo, lo, lo, lo, lo, lo, lo, ing, ting, gen, tak, dhu,
blang, dhu, blang dan ging. Silabel-silabel tersebut,
tersusun atas deretan fonem K-K-V-K-V-K-V-K-V-K-V-
K-V-K-V-K-V-K-V-V-K-K-K-V-K-K-K-V-K-K-V-K-K-
K-V-K-K-V-K-K-K-K-V-K-K-V-K-K-K-V-K-K.
data 30
Konteks: Gareng bercerita ketika para peserta pesta
mendengar suara musik seperti itu, mereka kemudian
menari.
Bareng musike wiwit diunekake, thethet thiyet
tretet jing jing jing…. (PASC, 27)
“Ketika musiknya mulai dibunyikan, thethet thiyet
tretet jing jing jing….” (PASC, 27)
Pada data (30), terdapat bentuk onomatope multisilabel,
yaitu thethet thiyet tretet jing jing jing. Onomatope tersebut
terdiri atas beberapa silabel, yaitu the, thet, thi, yet, tre, tet,
jing, jing, dan jing. Silabel-silabel tersebut, tersusun atas
deretan fonem K-K-V-K-K-V-K-K-K-V-K-V-K-K-K-V-
K-V-K-K-V-K-K-K-V-K-K-K-V-K-K.
122
data 68
Konteks: Petruk menggambarkan cara berjalan Gareng.
Iya ketanting grek, ketanting grek. (PASC, 24)
“Iya ketanting grek, ketanting grek.” (PASC, 24)
Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,
yaitu ketanting grek. Onomatope tersebut terdiri atas empat
silabel, yaitu ke, tan, ting dan grek. Silabel-silabel tersebut,
tersusun atas deretan fonem K-V-K-V-K-K-V-K-K-K-K-
V-K.
data 69
Konteks:Petruk menggambarkan cara berjalan makne
Kampret ketika mengunakan selop.
… wong mlaku besus kathik diunekake cethit
genteyong. (PASC, 33)
“… orang berjalan kok dikatakakan cethit
genteyong.” (PASC, 33)
Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,
yaitu cethit genteyong. Onomatope tersebut terdiri atas
lima silabel, yaitu ce, thit, gen, te, dan yong. Silabel-silabel
tersebut, tersusun atas deretan fonem K-V-K-K-V-K-K-V-
K-K-V-K-V-K-K..
data 70
Konteks: Gareng menceritakan pada Petruk ketika istrinya
berpamitan padanya.
123
…, kathik nganggo nyuwara dicemengkling-
cemengklingake, dhah, dhah, dhah, dho, wah, dho
wah…. (PASC, 30)
“… dengan suara yang dinyaring-nyaringkan dhah,
dhah, dhah, dho, wah, dho wah….” (PASC, 30)
Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,
yaitu dhah, dhah, dhah, dho, wah, dho wah. Onomatope
tersebut terdiri atas beberapa silabel, yaitu dhah, dhah,
dhah, dho, wah, dho, dan wah. Silabel-silabel tersebut,
tersusun atas deretan fonem K-K-V-K-K-K-V-K-K-K-V-
K-K-K-V-K-V-K-K-K-V-K-V-K.
data 71
Konteks: Gareng menirukan cara berbicara seorang
Nyonyah Belanda
… sinambi ngomong mangkene, yah seker, seker,
nin, nin, turlek, turlek, lekker, seh. (PASC, 29)
“… sambil berkata, yah seker, seker, nin, nin,
turlek, turlek, lekker, seh.” (PASC, 29)
Pada data (71), terdapat bentuk onomatope multisilabel,
yaitu yah seker, seker, nin, nin, turlek, turlek, lekker, seh.
Onomatope tersebut terdiri atas beberapa silabel, yaitu yah
se, ker, se, ker, nin, nin, tur, lek, tur, lek, lek, ker, dan seh.
Silabel-silabel tersebut, tersusun atas deretan fonem K-V-
K-K-V-K-V-K-K-V-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-
K-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-K.
124
data 73
Konteks: Gareng menirukan bunyi siulan para laki-laki
yang melihat kecantikan para wanita yang menjadi wakil
rakyat.
… lumrahe malah karo singsat-singsot, sit su-wit,
sit sit suwit suwit. (PASC, 57)
“Biasanya malah sambil bersiul, sit su-wit, sit sit
suwit suwit.” (PASC, 57)
Pada data (73), terdapat bentuk onomatope multisilabel,
yaitu sit su-wit, sit sit suwit suwit. Onomatope tersebut
terdiri atas beberapa silabel, yaitu sit, su, wit, sit, sit, su,
wit, su, dan wit. Silabel-silabel tersebut, tersusun atas
deretan fonem K-V-K-K-V-K-V-K-K-V-K-K-V-K-K-V-
K-V-K-K-V-K-V-K.
data 74
Konteks: Den Bei Mantri yang menirukan suara gendhing
Lambangsari
Mengko ndisik ta, kae lho lagi tekan: E ala. hai
lola. nek nganti kecer marai ora bisa turu.
“Apa gendhing kuwi ana pal-palane ta Pak, lha lok
tekan e ala kuwi?”
“Ora ngono gendhing Lambangsari kuwi angger
tekan sendhon ngana kae dhemenku ora jamak.”
(Ngl, 133)
“Sebentar, itu lho baru sampai E ala. hai lola. kalau
sampai siaga membuat tidak bisa tidur.
“Apa gendhing itu ada hafalannya Pak, lha kok : e
alaseperti itu?
125
“Tidak seperti itu,gendhin lambangsari itu kalau
sudah sampai dinyanyikan seperti itu, membuat aku
senang sekali.” (Ngl, 133)
Pada data di atas, terdapat bentuk onomatope multisilabel,
yaitu E ala. hai lola. Onomatope tersebut terdiri atas enam
silabel, yaitu e, a, la. hai, lol, dan la. Silabel-silabel
tersebut, tersusun atas deretan fonem V-V-K-V-K-V-V-K-
V-K-V.
d. Bentuk Onomatope Frasa
Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti ditemukan
onomatope berbentuk frasa. Adapun data-data onomatope berbentuk
frasa adalah sebagai berikut.
data 32
Konteks: Biyang Nala melihat Petruk bergoyangan jempol,
dan mengekspresikan goyangan jempol tersebut dengan
kata pating kethuwel.
… jebul tangane melu pating kethuwel…. (PASC,
27)
“… ternyata tangannya ikut pating
kethuwel…”(PASC, 27)
Pada data tersebut terdapat onomatope berbentuk frasa,
yaitu pating kethuwel. Frasa tersebut tersusun atas
gabungan kata pating dan kethuwel.
data 50
Konteks: ada cahaya yang menembus kaca belakang oto
Den Bei Asisten wedana yang mogok.
126
… dumadakan kacaning tendha ingkang wingking
mak byar, ketingal padhang. (Ngl, 72)
“Tiba-tiba kaca belakang tenda mak byar, telihat
terang.” (Ngl, 72)
Pada data (50) terdapat onomatope berbentuk frasa, yaitu
mak byar. Frasa tersebut tersusun atas gabungan kata mak
dan byar.
data 75
Konteks: Gareng ingat pesan ayahnya untuk membenahi
sesuatu yang kotor dan tidak beraturan.
Tinimbang pating klapret, rak becik diresiki dhisik.
(PASC, 6)
“Daripada pating klapret, lebih baik dibersihkan
dulu.”
Pada data tersebut terdapat onomatope berbentuk frasa,
yaitu pating klapret. Frasa tersebut tersusun atas gabungan
kata pating dan klapret.
Bentuk onomatope frasa juga terdapat pada data (33), (34),
(35), (36), (37), (38), (51), (76), (77), (78), (79), (80), (81), dan
(82). Onomatope tersebut dikatakan berbentuk frasa karena
merupakan gabungan dua kata yang di antara keduanya tidak
melebihi unsur klausa.
Pada data (33) terdapat frasa pating dlemok, yang
merupakan gabungan kata pating dan dlemok. Pada data (34)
terdapat frasa pating tleser, yang merupakan gabungan kata dari
kata pating dan tleser. Pada data (35) terdapat frasa mak pengkeret
127
yang merupakan gabungan dari kata mak dan pengkeret. Pada data
(36) terdapat frasa pating klencar, yang merupakan gabungan dari
kata pating dan klencar. Pada data (51) terdapat frasa pating
glebyar, yang merupakan gabungan dari kata pating dan glebyar.
Pada data (76) terdapat frasa pating pleyot, yang tersusun dari kata
pating dan pleyot.
Pada data (77) terdapat frasa pating pendongong, yang
merupakan gabungan dari kata pating dan pendongong. Pada data
(78) terdapat frasa pating gambleh yang merupakan gabungan dari
kata pating dan gambleh. Pada data (79) terdapat frasa mak brubut,
yang merupakan gabungan dari kata mak dan brubut. Pada data
(80) tedapat frasa mak dheg, yang merupakan gabungan dari kata
mak dan dheg. pada data (81) terdapat gabungan kata mak dan
clup, sehingga menbentuk frasa mak clup. Pada data (81) terdapat
gabungan kata mak dan clinguk, sehingga membentuk gabungan
kata mak clinguk.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
onomatope berbentuk frasa dalam novel Emas Sumawur ing
Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak dan
pating.
128
3. Fungsi Onomatope dalam Novel Emas Sumawur ing Baluwarti Karya
Partini B.
Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B.,
ditemukan empat fungsi onomatope, yaitu: 1) penggambaran suasana
hati, yang meliputi emosi, memberi peringatan, 2) memberikan kesan
pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan, 3) mendesripsikan
tentang keadaan, 4) meniru perbuatan yang menghasilkan bunyi.
a. Penggambaran Suasana Hati
Penggambaran suasana hati berkaitan dengan pengungkapan
berbagai hal yang berhubungan dengan perasaan, seperti senang,
sedih, marah, kecewa, cinta, dan sebagainya. Selain dapat dirasakan
dalam hati, aspek suasana hati dapat tampak atau diwujudkan lewat
ekspresi tutur baik secara lisan maupun tulis. Dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. terdapat penggunan
onomatope untuk mengungkapkan perasaan. Adapun ungkapan
perasaan tersebut meliputi perasaan:
1) cinta
Ungkapan perasaan ini tampak pada data 45
Konteks: Den Bei Asiten wedana mengatakan pada Rapingun
kalau ia merasa menyayangi Rapingun.
Brol tresna kula metu. (Ngl, 130)
“Brol cintaku muncul.” (Ngl, 130)
Data (45) merupakan tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk penggambaran suasana hati. Suasana hati
129
tersebut merujuk pada rasa sayang Den Bei Mantri kepada
Rapingun yang muncul begitu saja padahal mereka baru saja
saling mengenal.
2) terkejut
Ungkapan perasaan ini tampak pada data 80
Konteks: Gareng kaget ketika mendengar pembicaraan para
Nyonyah Belanda.
Mak dheg atiku, sing lekker kui apane…. (PASC,
29)
“Mak dheg hatiku, yang lekker itu
apanya….”(PASC, 29)
Pada data (80) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk penggambaran suasana hati, merujuk pada
Gareng yang sedang kaget setelah mendengar dan menirukan
perkataan para Nyonya Belanda.
3) manja
Ungkapan perasaan ini tampak pada data 52
Konteks: Petruk berceria pada Gareng tentang wanita yang bisa
mengerti keadaan suaminya, tidak hanya menuntut saja.
… hek, hek, Mo-as, tukokake jungkat ngawe-awe kaya sing
dienggo jipro Sarinten. (PASC,50)
“… hek, hek, Mo-as, belikan aku sisir melambai seperti
yang dipakai jipro Sarinten.” (PASC,50)
Penggambaran suasana hati pada data (52) merujuk pada
seseorang yang merengek untuk meminta dibelikan sesuatu.
130
malu
Ungkapan perasaan ini tampak pada data 52
Konteks: Kerta dan Ndara Seter (Rapingun) sedang
membicrakan tentang oto baru Ndara Seter, namun kerta kadang
salah menyebut nama NdaraSeter dengan sebutan Rapingun.
Hus, hus Ta, aja gemblung lho. ( Ngl, 204)
“Hus, hus ta, jangan gila dong.” ( Ngl, 204)
Pada data (52) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk penggambaran suasana hati yang merujuk
pada suasana hati Raden Mas Sutanta yang malu karena disindir
oleh Kerta sehingga menyuruh kerta untuk menghentikan
pembicaraannya.
4) bahagia
Ungkapan perasaan ini tampak pada data 55
Konteks: sorak sorai para tamu pesta yang diadakan oleh Raden
Nganten Tangkilan.
Sarta winantua kabegjan ageng, miwah panjang ingkang
yuswa, kasarasan ing salami-laminipun. (kendel).
Hip, hip hip ( TC, 260)
“ Serta menemui keberuntungan besar, panjang umur, dan
sehat selama-lamanya. (terdiam).
Hip, hip hip” ( TC, 260)
Penggambaran suasana hati pada data (55) merujuk pada
suasana hati bahagia ketika sedang berpesta.
5) berani
Ungkapan perasaan ini tampak pada data 81
131
Konteks: Petruk menceritakan watak lelaki ketika melihat
wanita cantik, pasti langsung menoleh.
Mulane aku banjur wani mak clup kapat tengah. (Ngl, 85)
“Maka aku berani mak clup mengatakannya.” (Ngl, 85)
Penggambaran suasana hati pada data (81), merujuk pada
suasana hati yang sudah tidak tahan memendam suatu perasaan,
maka langsung mengatakannya begitu saja.
b. Memberikan Kesan pada Benda yang Dilihat, Didengar dan
Dirasakan
Ketika manusia melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu,
manusia bisa mengungkapkannya dengan berbagai ekspresi tutur.
Data-data yang mengandung fungsi ini adalah sebagai berikut.
data 19
Konteks: Petruk bercerita pada Gareng akan pembangunan
jalan yang dilakukan pemerintah, sehingga jalan terlihat
berkilau.
… ya iku supaya dalan ing kono katon kinclong-
kinclong kaya gelas. (PASC, 40)
“… ya itu supaya jalan di sana terlihat kinclong
seperti gelas.” (PASC, 40)
Pada data (19) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk memberikan kesan pada benda yang
dilihat, didengar, dirasakan, merujuk pada jalanan yang sangat
mulus dan bersih karena pembangunan kota.
data 33
Konteks: Den Bei bingung melihat laki-laki yang
menolongnya, apakah dia sopir atau orang terpandang.
132
Nanging sami ketingal pating dlemok tilas kenging
lisah. (Ngl, 73)
“Namun terlihat pating dlemok bekas terkena
minyak.” (Ngl, 73)
Pada data (33) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk memberikan kesan pada benda yang
dilihat, didengar dirasakan, merujuk pada benda yang terlihat
kotor atau terkena bercak minyak
data 43
Konteks: Den Bei Asiaten wedana menghidupkan otonya, dan
lampu oto menyala
… lentera byar padhang. (Ngl, 76)
“… lentera byar terang.” (Ngl, 76)
Pada data (43) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk memberikan kesan pada benda yang
dilihat, merujuk pada cahaya lampu mobil yang menyala
terang ketika mesin mobil dihidupkan.
Onomatope yang memilki fungsi untuk memberikan kesan
pada benda yang dilihat didengar dan dirasakan, juga terdapat dalam
data (13), (17), (18), (20), (21), (22) (23), (24), (29), (32), (44), (48),
(49), (51), (57), (58), (59), (60), (61), (70) dan (71). Masing-masing
data akan dijelaskan sebagai bertkut.
133
1) Pada data 13 terdapat onomatope byak, yang berfungsiuntuk
memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang dibagi
menjadi dua.
2) Pada data 17 terdapat onomatope tojing-tojing, yang
menunjukkan kesan yang diberikan pada suara langkah kaki
yang sesuai dengan irama musik.
3) Pada data 18 terdapat onomatope jlentrik-jlentrik, yang
menunjukkan kesan yang diberikan ketika melihat para Nyonyah
sedang bergoyang saat mendengarkan suara musik.
4) Pada data 20 terdapat kata kincling-kincling yang digunakan
untuk memberikan kesan pada jalanan yang terlihat sangat bersih
dan licin,
5) Pada data 21 terdapat kata kinclong-kinclong yang digunakan
untuk memberikan kesan ketika melihat mobil yang masih bersih
dan berkilau meskipun sudah dipakai sejak dulu.
6) Pada data 22 terdapat kata klethak yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika mendengar bunyi gigitan yang akan
dilakukan Hel terhadap Rapingun.
7) Pada data 23 terdapat kata dhiwut-dhiwut, yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang besar
dan mengerikan.
134
8) Pada data 24 terdapat kata kinclong-kinclong yang digunakan
untuk memberikan kesan ketika melihat uang emas yang
berkilauan.
9) Pada data 29 terdapat ungkapan Dhu-wa-lolo-lo-lo-lo-lolo-ing-
ting gentak, dhublang, dhublang, ging yang erfungsi untuk
memberikan kesan ketika manusia mendegarkan suara musik
tersebut.
10) Pada data 32 terdapat frasa pating kethuwel, yang berfungsi
untuk memberikan kesan ketia manusia melihat dan merasakan
tangan yang selalu bergerak.
11) Pada data 39 terdapat kata kinyis-kinyis yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika mansia melihat sesuatu yang terlihat
berkilau.
12) Pada data 46 terdapat kata byar, yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang
bercahaya.
13) Pada data 50 terdapat frasa mak byar, yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang
bercahaya
14) Pada data 51 terdapat frasa pating glebyar yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang
bercahaya
135
15) Pada data 53 terdapat kata sssssss ysng berfungsi untuk
memberikan kesan ketika melihat sesuatu yang dirasa aneh.
16) Pada data 59 terdapat kata ceg, yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika manusia melihat sesuatu yang dapat
ditangkap dengan tepat.
17) Pada data 60 terdapat kata gewel-gewel yang berfungsi untuk
memberikan kesan rasa ketika manusia melihat orang sedang
makan dengan lahap
18) Pada data 61 terdapat kata klesak-klesik, yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika mendengar sesuatu yang tidak begitu
keras (berbisik-bisik). Pada kata klesak-klesik, mengalami
perubahan bunyi dari vokal /a/ berubah menjadi vokal /i/.
Perubahan bunyi ini berfungsi untuk menunjukkan sesuatu yang
dilakukan secara pelan-pelan.
19) Pada data 62 terdapat kata therok-therok yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika manusia melihat dan merasakan
sesuatu yang dirasa sudah pantas.
20) Pada data 68 terdapat kata ketanting grek, yang berfungsi untuk
memberikan kesan ketika melihat cara berjalan Gareng.
Sementara itu kesan terhadap cara berjalan juga diungkapkan
pada data 69, yaitu dengan kata cethit genteyong.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa onomatope dalam novel
Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. berfungsi untuk
136
memberikan kesan terhadapa benda yang dilihat, misalnya dengan
kata byar dan kincling-kincling, kesan terhadap sesuatu yang
didengar, misalnya dengan kata klethak, dan sesuatu yang dirasakan,
misalnya dengan frasa pating kethuwel.
c. Mendeskripsikan Keadaan
Suatu keadaan bisa di deskripsikan dengan onomatope.
Misalnya keadaan meriah, bisa diungkapkan dengan kata dhung,
dhung, dhung (data 12), keadaan cocok atau pas dapat diungkapkan
dengan plek (data 55), keadaan mengejutkan bisa diungkapkan
dengan sreset (data 25), gluthek (data 26), grobyak (data 28), dheleg-
dheleg (data 66), pating pendongong, pating plompong (data 77),
mak brubut (data 79), keadaaan hening bisa diungkapkan dengan
onomatope cep (data 58). Selain itu, ada onomatope-onomatope lain,
dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. yang
digunakan untuk mendeskripsikan keadaan. Misalnya kincling-
kincling (data 27) untuk mendeskripsikan keadaan bersih, pating
klapret (data 75) untuk mendeskripsikan keadaan kotor.
Keadaan gaduh juga bisa diekspresikan dengan onomatope,
misalnya dengan frasa pating tleser (data 34), wek, wek, wek (data
38), gidro-gidro (data 64), blag-bleg (data 67), dan dhah, dhah,
dhah, dho, wah, dho wah (data 70). Keadaan kota yang terang
benderang dapat diungkapkan dengan onomatope pating klencar
(data 36), byar (data 46), dan byar pet (data 49) untuk
137
mendeskripsikan keadaan lampu yang kadang menyala, kadang
tidak. Keadaan takut bisa diekspresikan dengan frasa mak pengkeret
(data 35), dan keadaan yang menunjukkan hal satu-satunya dapat
diungkapkan dengan kata thil (data 47). Ada pula onomatope untuk
mendeskripsikan keadaan yang mengharukan, yaitu dengan kata
brebel-brebel (data 65).
Onomatope yang memilki fungsi untuk mendeskripsikan
keadaan, juga terdapat dalam data (48), (56), (63), (76), dan (78).
data 48
Konteks: Petruk bercerita pada Gareng tentang cara berpakaian
mopro Karto sangat berlebihan.
… panganggone mopro Karto mompyor nganti kaya toko
mlaku. (PASC, 50)
“… pakaian mopro Karto mompyor seperti toko berjalan.”
(PASC, 50)
Pada data (48) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan. Keadaan ini
merujuk pada cara berpakaian mopro Karto yang sangat mewah
dan berlebihan.
data 56
Konteks: Petruk mengatakan pada Gareng kalau orang asing di
sebelahnya telah menghabiskan sampanye Petruk.
Set, Landa jejerku iki, wong sampanye dewekku jare
ditenggak wani. (PASC, 23)
“Set. landa sebelahku ini, sampanye punyaku berani
diminum.” (PASC, 23)
138
Pada data (56) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan, Keadaan ini
merujuk pada keadaan tenang ketika Petruk meminta Gareng
mengurang volume suaranya ketika Landa yang mereka
bicarakan berada di samping Petruk.
data 63
Konteks: Gareng bercerita pada petruk tentang Kumidhi
setambul.
… ngemungake sing pancen wis ucul, kuwi sok banjur
plencing, mlumpat jendela…. (PASC, 13)
“… membiarkan yang sudah lepas, itu kadang plencing,
melompat jendela….” (PASC, 13)
Pada data (63) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan. Keadaan yag
dimaksud merujuk pada keadaan di mana seseorang yang pergi
begitu saja.
data 76
Konteks: Petruk menceritakan tentang tarian ala Spanyol.
Dene jogede pating pleyot, nganggo ngulat-ngulet barang
kae. (PASC, 17)
“Gerak tarinya pating pleyot meliuk-liuk juga.” (PASC, 17)
Pada data (76) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk mendesripsikan keadaan. Hal ini merujuk
pada keadaan di mana ada penari tledek pada jaman dahulu yang
menari dengan gerakan yang meliuk-liuk.
139
data 78
Konteks: Petruk membandingkan kehidupan orang miskin dan
orang berada.
Mara, apa iki ora andedawa rasa panalangsa le omahe
bocor, utawa pating gambleh mau.. (PASC, 59)
“Apa ini tidak memperpanjang penderitaan ketika
rumahnya bocor atau pating gambleh.” (PASC, 59)
Pada data (78) terdapat tuturan yang mengandung tiruan bunyi
yang berfungsi untuk mendeskripsikan keadaan. Hal ini merujuk
pada keadaan rumah yang tidak beraturan dan atapnya bocor di
mana-mana.
d. Meniru Perbuatan atau Benda yang Menghasilkan Bunyi
Suatu benda dapat menghasilkan bunyi. Berdasarkan bunyi
tersebut, dapat disebutkan nama benda yang bersangkutan. Bunyi
benda akan mampu memberkan suatu penjelasan kepada pembaca
tentang benda apa yang dimaksudkan. Adapun onomatope yang
berfungsi untuk meniru bunyi benda adalah sebagai berikut.
1) Pada data 2 terdapat kata tik-tik, yang merupakan tiruan bunyi
detik jam.
2) Pada data 3 terdapat kata Hrrrrrrrrrr, yang merupakan tiruan
bunyi mobil yang sedang melaju.
3) Pada data 4 terdapat bunyi Sssssssssssss, yang merupakan bunyi
mobil yang berhenti.
4) Pada data 8 terdapat bunyi tiiiii…. tiiiit…..tiiit…tiiiiiiiit…. yang
merupakan bunyi klakson.
140
5) Pada data 9 terdapat bunyi Thing, thing, thing yang merupakan
bunyi gelas ketika dipukul.
6) Pada data 10 terdapat bunyi Theng, theng yang merupakan bunyi
dentang jam dinding yang menunjukkan tepat pukul sepuluh.
7) Pada data 11 terdapat bunyi pyar….yang merupakan bunyi piring
yang pecah.
8) Pada data 14 terdapat bunyi epret-eprete yang merupakan bunyi
alat music seperti terompet.
9) Pada data 15 terdapat bunyi krecek-krecek yang merupakan
bunyi kepingan uang logam saat kendhil digoyangkan.
10) Pada data16 terdapat bunyi Kropyok…! yang merupakan bunyi
kepingan uang logam yang tumpah.
11) data 30 terdapat bunyi thethet thiyet tretet jing jing jing…. yang
merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat musik.
Dari data-data di atas, dapat diketahui adanya penggunan
onomatope yang memiliki fungsi untuk menirukan bunyi benda.
Selain menirukan benda yang menghasilkan bunyi onomatope juga
berfungsi untuk menyebutkan suatu perbuatan dari bunyi yang
bersangkutan. Tiruan bunyi yang terbentuk dari suatu perbuatan
dapat dihasilkan atau dilakukan oleh benda, manusia maupun hewan.
Adapun onomatope yang berfungsi untuk meniru perbuatan yang
menghasilkan bunyi adalah sebagai berikut.
141
1) Pada data 1 terdapat bunyi Thok, thok, thok, yang merupakan
bunyi ketika manusia memukulkan palu pada paku.
2) Pada data 5 dan data 7 terdapat bunyi greg yang merupakan
bunyi ketika ada benda atau manusia yang berhenti begitu saja.
3) Pada data 6 terdapat bunyi puk-puk yang merupakan bunyi tiruan
ketika manusia menepuk-nepuk leher seekor kuda.
4) Pada data 31 terdapat bunyi ketheplek-ketheplek yang merupakan
tiruan bunyi yang dihasilkan oleh perbuatan manusia ketika
menghentakkan kakinya ke lantai.
5) Pada data 38 terdapat bunyi thoprak, thoprak, thoprak yang
merupakan bunyi yang dihasilkan dari langkah kaki manusia.
6) Pada data 41 terdapat bunyi Bekas-bekos dan gebras-gebres
yang merupakan bunyi perbuatan ketika kuda bernafas terengah-
engah dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
7) Pada data 42 terdapat bunyi gereng-gereng yang merupakan
bunyi yang dihasilkan ketika seekor kuda menggeram.
8) Pada data 71 terdapat bunyi yah seker, seker, nin, nin, turlek,
turlek, lekker, seh yang merupakan bunyi perbuatan (perkataan)
Nyonyah Belanda yang ditirukan Gareng.
9) Pada data 72 terdapat bunyi ketheplik, ketheplik yang merupakan
bunyi perbuatan ketika manusia berjalan hati-hati.
10) Pada data 73 terdapat bunyi sit su-wit, sit sit suwit suwit yang
merupakan bunyi ketika manusia sedang bersiul.
142
11) Pada data 74 terdapat bunyi E ala. hai lola yang merupakan
bunyi ketika manusia menirukan suara gendhing.
12) Pada data 82 terdapat bunyi mak clinguk, yang merupakan bunyi
ketika manusia menoleh begitu saja ketika melihat sesuatu.
Dari pejelasan di atas, tampak bahwa dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. menggunakan onomatope
untuk menirukan perbuatan atau menyebutkan bunyi benda yang
menghasilkan bunyi.
143
BAB V
PENUTUP
R. Simpulan
Berdasarkan hasil pemerolehan data dan pembahasan yang mengkaji
tentang onomatope dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini
B. di atas, dapat diambil simpulan sebagai berikut.
1. Dalam novel Emas Sumawur ing Baluwarti karya Partini B. terdapat
empat jenis onomatope yang digunakan dalam novel tersebut. Jenis-jenis
onmatope yang terdapat dalam novel ialah a) tiruan bunyi benda, b) tiran
bunyi hewan, c) tiruan bunyi alam, dan d) tiruan bunyi manusia. Jumlah
jenis onomatope yang paling banyak dalam novel ialah tiruan bunyi benda
sebanyak 39 data, tiruan bunyi hewan sebanyak 3 data. tiruan bunyi alam
sebanyak 9 data, dan tiruan bunyi manusia sebanyak 31 data. Dari semua
jenis onomatope ini, memiliki bentuk frasa, yaitu frasa yang terbentuk
dari kata mak dan pating dengan kata-kata yang lain sehingga bernilai
onomatope, misalnya mak byar, pating pleyot, dan sebagainya..
2. Bentuk dasar onomatope yang digunakan dalam novel ialah bentuk satu
silabel sejumlah 16 data, bentuk dua silabel sejumlah 9 data, bentuk tiga
silabel tidak ditemukan dalam novel, sedangkan bentuk multisilabel
sejumlah 8 data, dan bentuk frasa sejumlah 16 data. Dari bentuk dasar
tersebut ada yang mengalami pengulangan sehingga bentuk
onomatopenya menjadi pengulangan satu silabel sejumlah 11 data,
143
144
pengulangan dua silabel sejumlah 20 data, dan pengulangan tiga silabel
sejumlah 2 data. Onomatope berbentuk frasa dalam novel Emas Sumawur
ing Baluwarti, terbentuk dari frasa, yang terbentuk dari kata mak dan
pating, onomatope berfrasa mak ada sejumlah 7 data dan yang berfrasa
pating sejumlah 9 data.
3. Fungsi onomatope yang terdapat dalam novel, terbagi menjadi empat
fungsi, yaitu sebagai berikut.
a. Penggambaran suasana hati, yaitu: cinta, terkejut, manja, malu,
bahagia, dan berani.
b. Memberikan kesan pada benda yang dilihat, didengar atau dirasakan,
c. Mendeskripsikan tentang keadaan,
d. Meniru perbuatan atau benda yang menghasilkan bunyi.
S. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan, dan kesimpulan
penulis memberikan saran sebagai berikut.
1. Bagi peneliti lain penting untuk memahami bahasa yang selalu
berkembang seiring dengan perubahan zaman. Untuk itu, perlu
dilakukan penelitian-penelitian tentang kebahasaan secara lebih
mendalam, khususnya tentang onomatope. Sehingga hasil peneitian
tersebut dapat menambah pengetahuan bagi pembaca dan dapat
dijadikan masukan dalam meningkatkan kualitas penulisan karya
ilmiah lain.
145
2. Bagi mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Jawa, penelitian ini
dapat dijadikan referensi dalam suatu usaha memahami dan mencoba
menggali penelitian tentang onomatope.
3. Bagi pemerintah, hendaknya dapat lebih menjaga kelestarian karya
sastra Jawa di era modern ini agar para generasi muda mengerti akan
karya sastra Jawa serta ikut membantu dalam hal pendidikan, misalnya
dengan memanfaatkan kelebihan yang terdapat dalam sebuah novel,
khususnya dalam onomatope. Onomatope diharapkan dapat menjadi
bahan pembelajaran kosakata kepada anak-anak yang duduk dibangku
TK, SD, SMP, dan SMA, sehingga anak memiliki perbendaharaan kata
yang beraneka ragam dan dapat menirukan suara yang dikeluarkan
hewan, benda, manusia, dan alam.
146
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2001. Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: CV Sinar
Baru.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik Kajian dan Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.
. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasinal. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Djajasudarma, Fatimah. 2012. Semantik 1. Bandung: Refika Aditama.
Endraswara, Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra Epistemologi, Model,
Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: CAPS.
Ginanjar, Nurhayati. 2012. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta.
Heru, Wijaya Santosa, dan Sri Wahyuningtyas. 2009. Pengkajian Prosa Fiksi.
Purworejo: Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia:
Universitas Muhammadiyah Purworejo
Ismawati, Esti. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Masyehuroh, Ely. 2012. Onomatope dalam Kumpulan Dongeng Sega Rames
Karya Suwardi Endraswara. Skripsi, tidak diterbitkan. Universitas Negeri
Yogyakarta, Yogyakarta.
147
Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia.
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Kushartini, Untung Yuwono. 2005. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami
Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Nurgiyantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Partini. B. 2010. Emas Sumawur ing Baluwarti. Yogyakarta: Pura Pustaka.
Pateda, Mansur. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta. Rineka Cipta.
Pradopo, Rahmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi Analisis Strata Norma dan
Analisis Struktural dan Semotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan teknik Penelitian Sastra.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Risnawati, Rias. 2012. Kajian Onomatope pada Lagu Anak Usia Dini Berbahasa
Indonesia di Playgroup/Kindergarten Anak Bintang Purwodadi Grobogan.
Skripsi, tidak diterbitkan. Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Soeparno. 2002. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana
Yogya.
Subrata, Edi. 1992. Pengantar Metoda Penelitian Struktural. Surakarta: Sebelas
Maret University Press.
Sudaryanto. 1985. Linguistik Esai tentang Bahasa dan Pengantar dalam Ilmu
Bahasa. Yogakarta: Gadjah Mada University Press.
148
.1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta
Wacana University Press.
Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Suharyanto. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta
Sumarlam. 2010. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Solo: Penerbit bukuKatta.
Suwandi, Sarwji. 2008. Semantik Pengantar Kajian Makna. Yogyakarta: Media
Perkasa.
Ullmann, Stephen. 2012. Pengantar Semantik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
149
SINOPSIS NOVEL EMAS SUMAWUR ING BALUWARTI
Penulis : Partini B.
Penerbit : Pura Pustaka Yogyakarta
Tahun terbit : 2010
Cetakan ke :1
Jumlah halaman : 325
Novel Emas Sumawur ing Baluwarti adalah novel yang tersusun atas kumpulan
lima buah cerita, dengan pengarang yang berbeda-beda. Cerita dalam novel Emas
Sumawur ing Baluwarti yaitu:
1. Para Abdi Sami Cecaturan
Para Abdi Sami Cecaturan merupakan novel karya Mas Ngebehi
Pangrawit. Novel ini menceritakan tentang keluarga Gareng dan Petruk
beserta keluarga besarnya. Dalam novel ini terdapat nilai kekeluargaan,
gotong royong, dan kerukunan.Dalam novel diceritakan bahwa Petruk
hendak pindah rumah, Gareng dan istrinya membantu acara pindah rumah
ini. Setelah selesai membenahi rumah baru Petruk, Gareng dan Petruk
beserta isitri-istri mereka pergi ke rumah Semar. Di rumah Semar, Petruk
dan Gareng banyak bercerita, salah satunya tentang Film Terang Bulan
yang meceritakan Pulau Sawobah dan kehidupan di sana pada zaman
dahulu, di mana masih banyak orang yang menyembah berhala,
berpakaian seadanya, dan sering berpesta pora.
150
Mereka kemudian berjalan-jalan hingga sampai Pasar Gambir.
Biasanya Gareng ke Pasar Gambir bersama istrinya, namun kali ini lain, ia
hanya pergi bersama Petruk. Di Pasar Gambir sedang ada karnaval, Petruk
dan Gareng ke sana untuk melihat. Petruk mengajak Gareng untuk ikut
berkeliling, namun Gareng tidak mau. Istri Gareng dan Petruk kemudian
menyusul,dan akhirnya mereka berjalan-jalan di karnaval Pasar Gambir
bersama-sama. Mereka bercerita banyak hal, salah satunya menceritakan
wanita yang bekerja di bidang pemerintahan, di mana parawanita itu akan
bekerja secara teliti dan hati-hati. Setelah cukup lama bercerita dan melihat
karnaval, mereka memutuskan pulang ke rumah-masing-masing dan esok
hari bertemu lagi untuk berdiskusi.
2. Ngulandara
Novel Ngulandara ditulis oleh Margana Djajaatmadja. Novel
Ngulandara menceritakan tentang kisah perjalanan hidup seorang pria,
yang bernama Raden Mas Sutanta. Ia seorang keturunan ningrat. Raden
Mas Sutanta pergi berkelana untuk mencari jati dirinya yang sebenarnya.
Ia memutuskan pergi dari rumah dan berkelana, karena kegagalannya
dalam pekerjaannya. Ia ingin mencapai kesuksesan dengan usahanya
sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Dalam perjalannya, Raden Mas
Sutanta bertemu dengn seorang Asisiten Wedanan dari Ngadireja. Ia
bekerja menjadi supir pribadi Raden Asisiten Wedana. Pertemuannya
dengan Asisten Wedana ini secara tidak sengaja, pada pertemuan pertama,
Rapingun membantu Asisten Wedana membetulkan otonya yang mogok,
151
dan pada pertemuan kedua, Asisten Wedana berkunjung ke rumah Nyah
Hien. Sebelumya Rapingun bekerja pada Nyah Hien, namun Den Bei
Asisiten Wedana dari Ngadireja meminta Rapingun menjadi sopir
pribadinya.Selama ia berkelana ia menggunakan nama samaran, namanya
yaitu Rapingun. Rapingun menjadi sopir yang sangat baik dan cekatan.
Meskipun ia seorang sopir, ia tidak segan melakukan pekerjaaan lain di
luar tugasnya, seperti mengurusi Hel (kuda peliharaan Asisten Wedana),
membersihkan rumah, dan sebagainya. Rapingun sangat rajin dan ulet,
sehingga tak heran bila Den Bei Asisten Wedana sangat menyayanginya
meskipun ia hanya seorang sopir pribadi saja. Selama Rapingun bekerja
pada Asisiten Wedana, ia banyak mendapatkan pelajaran hidup. Sekarang
ia yakin jika sebenarnya seorang manusia tetaplah tidak bisa lepas dari
bantuan orang lain. Pasti manusia tetaplah membutuhkan bantuan dari
keluarga dan teman. Selama ia bekerja ia juga mendapatkan seorang rekan
kerja, yaitu Kreta. Kreta sangat baik dan perhatian pada Rapingun.
Rapingun sering mengantarkan Raden Ayu Supartinah, putri dari
Den Bei Asisiten wedana ketika bepergian. Dari kedekatan ini, muncul
perasaan sayang Rapingun pada Raden Ayu Asisten Wedana. Sebagai
seorang sopir Rapingun juga mampu melindungi Raden Ayu Asisiten
Wedana. Misalnya ketika Raden Ayu pulang dari sebuah pesta, dia
dihadang oleh Harjana, pria yang menyukai Raden Ayu Tien dan mencoba
mengangganggu Raden Ayu Tien, Rapingun melindungi tuannya dengan
sekuat tenaganya. Saat itu tangan Rapingun sampai cedera, namun
152
Rapingun tetep mencoba bertahan sampai rumah asisiten Wedana.
Semenjak saat itu muncullah rasa cinta di antara Rapingun dan Raden Ayu
Tien. Pada suatu hari ia menyadari kesalahannya, yaitu ia pergi jauh dari
orang tuanya, sehingga ia memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya
dan berhenti menjadi sopir pribadi. Setibanya di kota asalnya, ia
memutuskan untuk merintis usaha kembali. Pada suatu hari, tanpa sengaja
ia bertemu kembali dengan Asisten Wedana dari Ngadireja, dan ia
melamar Raen Ayu Tien untuk menjadi istrinya. Mereka berdua pun hidup
bahagia.
3. Tata Cara
Tata Cara merupakan cerita yang ditulis oleh Padmasusastra. Novel
ini menceritakan tentang keluarga Raden Nganten Tangkilan yang
dikarunia dua orang anak yaitu Raden Bagus Suwarna yang berusia 12
tahun dan Raden Rara Suwarni yang berusia 10 tahun. Raden Nganten
hendak mengadakan pesta ulang tahun untukny ayang sekarang sudah
genap 33 tahun. Ia menginginkan peata ulang tahunnya ini dibarengi
dengan sunatan putra pertamanya dan syukuran untuk putrinya juga.
Tangkilan meminta Tangkilan mempersiapkan segala sesuatunya. Raden
Ngenten meminta Mbok Karyaboga untuk berbelanja keperluan yang
dibutuhkan untuk pesta. Setelah selesai membicarakan segala
perlengkapan bersama Karyaboga, Raden Nganten kemudian menyuruh
Karyaboga untuk memanggil Jagakarsa. Ia juga meninta Jagakarsa untuk
ikut membantu mempersiapkan pesta tersebut.
153
Selain pada Karyaboga dan Jagakarsa, Tangkilan juga meminta
bantuan dari Sastraubaya untuk membuatkan undangan. Tangkilan
menyuruh Jayanimpura untuk mencari penari tledhek, namun Jayanimpura
tidak menyanggupinya, ia hanya memberikan saran kelompok mana yang
bagus dan meminta Raden Tangkilan untuk menemui pemimpin
kelompoknya. Persiapan untuk pesta ini dilakukan sangat maksimal,
semua emban keluarga Raden Nganten Tangkilan bekerja sama
mempersiapkan dan mensukseskan pesta ulang tahun ini. Pesta ulang
tahun dan sunatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 7 Rabingulakir.
Tepat pada tangaal tersebut, mulai pukul delapan para tamu sudah hadir.
Pesta ulang tahun tersebut sangatlah meriah. Beberapa hari setelah pesta
dilanjutkan dengan sunatan putra pertamanya Raden Bagus Suwarna.
4. Adipati Madiun
Cerita ini ditulis oleh Raden Ngenten Sumardi. Dalam cerita ini
dikisahkan perjalanan seorang Bupati Madiun yang bernama Pangeran
Rangga Prawiradirja menuju ke Yogyakarta. Dalam perjalanan ini ia
bersama anak dan cucunya. Ketika perjalanan mereka sampai di Delanggu,
putranya yang masih muda melihat seekor kambing yang aneh, ia
menginginkan kambing itu menjadi miliknya. Pangeran Rangga
Prawiradirja memanggil demang Delanggu untuk menanyakan kambing
itu milik siapa, dan ternyata pemiliknya ialah Pangeran Adipati
Mangkunegara. Ia meminta kambing itu pada Demang Delanggu namun
demang Delanggu tidak memberikannya karena ia diberi amanah untuk
154
tidak memberikan kambing kepada siapapun kecuali pemiliknya. Mereka
berdebat, Kemarahan Adipati Madiun memuncak, hingga akhirnya ia
menmbak demang Delanggu dengan pistolnya Beberapa bulan setelah itu
Raden Rangga sakit keras, dan ia kemudian meninggal dunia.
5. Kendhil Isi Woh Jetun
Cerita ini ditulis oleh Ali Rahmat. Kendil Isi Woh Jetun
menceritakan tentang seseorang yang bernama Pak Ali, seorang saudagar
kaya yang akan mengembara berdagang ke mancanegara. Kepergiannya
ini akan lama. Pak Ali memiliki tabungan satu dinar. Ia merasa takut untuk
membawa tabungannya ketika pergi, sehingga ia memikirkan suatu cara
untuk menyimpan tabungannya ini agar aman. Akhirnya, ia menemukan
cara untuk menyimpan uang tabungannya, yaitu dengan menyimpan
uangnya di dalam kendhil dan menutupi isi uangnya dengan buah jetun,
kemudian ditutup rapat dan dititipkan pada temannya Kasim yang juga
seorang saudagar kaya. Kasim menyanggupi permintaan Pak Ali, ia mau
dititipi kendhil berisi uang itu. Pak Ali dan Kasim pergi ke tempat yang
aman untuk menyimpan kendhil tersebut.
Suatu hari, istri Kasim menginginkan buah jetun. Seketika ia ingat
kalau Pak Ali pernah menitipkan kendhil berisi buah jetun padanya,
sehingga muncul keinginan untuk mengambil jetun titipan Pak Ali
tersebut, apalagi sudah beberapa tahun Pak Ali tidak ada kabarnya.
Istrinya memperingatkan untuk tidsk mengambil buah itu dari kendhil Pak
Ali, namun Kasim tidak menghiraukannya. Kasim mengambil lilin
155
kemudian pergi ke gudang penyimpanan kendhil. Ia membuka kendhil
yang tertutup rapat, dan melihat ternyata buah jetunnya sebagian sudah
busuk. Ia berpikir kalau yang busuk hanyalah bagian atas saja sehingga ia
mencoba mengambil bagian dalam. Ketika ia mencoba untuk mengambil,
tiba-tiba ia mendengar bunyi kepingan uang logam. Kendhil kemudian
ditumpahkan. Ternyata kendhil itu berisi kepingan uang emas. Ia
mengembalikan uang dan buah jetun isi kedhil. Seminggu kemudian ia
masuk ke dalam gudang dan mengambil semua uang yang ada dalam
kendhil, dan mengganti buah jetunnya dengan buah jetun yang baru. Uang
itu disimpannya dalam peti besi.
Beberapa hari kemudian, Ali pulang dari pengembaraan
dagangnya. Ia berniat mengambil kendhilnya yang dititipkan pada Kasim.
Pak Ali mengambil kendhil yang ia titipkan. Sampai di rumah, Pak Ali
membuka tutup kendhil, dan betapa kagetnya ia, ternyata emas di dalam
kendhil sudah hilang. Ia tidak yakin kalau Kasim yang mengambilnya. Pak
Ali menceritakan tentang isi kendhil itu pada Kasim, namun Kasim malah
marah-marah dan pura-pura tidak tahu. Mereka bertengkar.
Pak ali memutuskan untuk melaporkan kejadian ini pada jaksa. Pak jaksa
pergi ke kampung Pak Ali dan Kasim sambil mencari bukti dan saksinya.
Berbagai pendapat didengar oleh pak jaksa. Pak Jaksa bingung. Selama
dalam perjalanan ia melihat anak kecil yang sedang bermain maling-
malingan. Pak jaksa berhenti dan meilhat permainan itu. Ternyata anak-
anak itu bermain peran dengan cerita yang dialami Pak Ali dan Kasim. Pak
156
jaksa memperhatikan dengan seksama. Ia mendapat inspirasi penyelesaian
masalah dari sandiwara anak-anak yang dilihatnya.
Keesokan hari setelah Pak jaksa melihat sandiwara itu, ia
memanggiil Pak Ali dan Kasim, dan meminta Pak Ali membawakan jetun
yang sudah disimpannya selama 7 tahun. Pak jaksa memamnggil seorang
saudagar jetun dan menyuruhnya untuk mencicipi jetun yang dibawa Pak
Ali. Ternyata buah jetun yang dibawa Pak Ali bukanlah jetun yang sudah
disimpan tujuh tahun lalu, melainkan jetun yang masih baru. Pak jaksa
kemudian memutuskan bahwa Kasimlah yang bersalah. Pak Ali senang
uangnya bisa kembali. Ia mendengar kalau keputusan pak jaksa ini didapat
setelah pak jaksa melihat sandiwara anak-anak. Pak Ali memberikan 100
dinar pada anak yang berperan sebagai jaksa.
157
158
159