0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
215 tayangan20 halaman

Tafsir dan Dakwah Q.S An-Nahl 125

Ayat 125 surat An-Nahl memerintahkan umat Islam untuk berdakwah dengan cara-cara yang bijak dan baik sesuai dengan sasaran dakwah. Terdapat pendapat berbeda mengenai sebab turunnya ayat ini. Ayat ini secara umum berlaku untuk semua sasaran dakwah dan tidak hanya terkait dengan satu peristiwa tertentu. Ayat ini menjelaskan tiga metode dakwah yaitu dengan hikmah, mauizhah

Diunggah oleh

Muhammad Pajran
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
215 tayangan20 halaman

Tafsir dan Dakwah Q.S An-Nahl 125

Ayat 125 surat An-Nahl memerintahkan umat Islam untuk berdakwah dengan cara-cara yang bijak dan baik sesuai dengan sasaran dakwah. Terdapat pendapat berbeda mengenai sebab turunnya ayat ini. Ayat ini secara umum berlaku untuk semua sasaran dakwah dan tidak hanya terkait dengan satu peristiwa tertentu. Ayat ini menjelaskan tiga metode dakwah yaitu dengan hikmah, mauizhah

Diunggah oleh

Muhammad Pajran
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

TEKS ASBAB AL-NUZUL DAN ANALISIS TAFSIR


Q.S AN-NAHL AYAT 125

A. Teks dan Terjemah Q.S An-Nahl Ayat 125

             

(٥٢١ :‫ ) النحل‬          
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah
yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapat petunjuk”(Q.S An-Nahl: 125)1

B. Asbab al-Nuzul Q.S An-Nahl Ayat 125

Para mufasir berbeda pendapat seputar asbab al-nuzul (latar

belakang turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat

ini turun setelah Rasulullah SAW menyaksikan jenazah 70 sahabat

yang syahid dalam Perang Uhud, termasuk Hamzah, paman

Rasulullah.2 Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini turun di

Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW, untuk

1 Tubagus Najib al-Bantani, Al-Qur’an Mushaf Al-Bantani (Serang:


Majelis Ulama Indonesia Provinsi Banten, 2012), 281.
2
Al-Wahidi, Al Wajid fi Tafsir Kitab Al Ajizi, Mawaqi’ At-Tafasir ,Mesir,
tt, hal. 440/ [Link] juga: Al-Wahidi An- Nasyabury, Asbâb an-Nuzul, Mawaqiu’
Sy’ab, t-tp, tt, 191/1

57
58

melakukan gencatan senjata (muhadanah) dengan pihak Quraisy.

Akan tetapi, Ibn Katsir tidak menjelaskan adanya riwayat yang

menjadi sebab turunnya ayat tersebut.3

Meskipun demikian, ayat ini tetap berlaku umum untuk

sasaran dakwah siapa saja, Muslim ataupun kafir, dan tidak hanya

berlaku khusus sesuai dengan asbab al-nuzul-nya (andaikata

ada asbab al-nuzul-nya). Sebab, ungkapan yang ada memberikan

pengertian umum.4 Ini berdasarkan kaidah ushul:

ِ ِ ِ ِ ِ َّ ‫أ‬
‫السبَب‬
َّ ‫وص‬ ُ ُ‫َن الْعْب َرَة ل ُع ُموم اللَّ ْفظ ََل ِب‬
ِ ‫ص‬
Artinya: “Yang menjadi patokan adalah keumuman ungkapan,
bukan kekhususan sebab.”5

Setelah kata ud‘u (serulah) tidak disebutkan siapa obyek

(maf‘ûl bih)-nya. Ini adalah uslub (gaya pengungkapan) bahasa

Arab yang memberikan pengertian umum (li at-ta’mîm).6

Dari segi siapa yang berdakwah, ayat ini juga berlaku umum.

Meski ayat ini adalah perintah Allah kepada Rasulullah, perintah

ini juga berlaku untuk umat Islam.

3
Abu Al-Fida Ibn Umar Ibn Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al –Adzim, Tahqiq
oleh Samy bin Muhammad Salamah, Dar at-Thoyyibah Linasyri Wa Tawji’, Madinah
, 1420 H, 613/IV.
4
Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki, Zubdah al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân,
tp, tt, t-tp, 12.
5
As Sarkhasy, Ushul As Sarkhasy, Mawaqi’u ya’sub, tt, t-tp, 164/I.
6
As Sarkhasy, Ushul As Sarkhasy, 164/I.
59

C. Tafsir Q.S An-Nahl Ayat 125

1. Tafsir Al-Misbah

Menurut beliau, sementara ulama memahami bahwa ayat

ini menjelaskan tiga macam metode dakwah yang

harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. Terhadap

cendikiawan yang memiliki intelektual tinggi diperintahkan

menyampaikan dakwah dengan hikmah, yakni berdialog

dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkat kepandaian

mereka. Terhadap kaum awam diperintahkan untuk

menerapkan mau’izhah, yakni memberikan nasihat dan

perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf

pengetahuan mereka yang sederhana. Sedang terhadap Ahl al-

kitab dan penganut agama-agama lain yang di perintahkan

menggunakan jidal ahsan/ perdebatan dengan cara yang

terbaik, yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari

kekerasan dan umpatan.7

Selanjutnya beliau menjabarkan kata al-hikmah dalam

ayat tersebut, berikut ini penjabarannya.

7
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-
Qur’an, Cet. IV, Jilid. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2011), 774.
60

Kata (‫ )حكمة‬hikmah antara lain berarti yang paling utama

dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Ia

adalah pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan

atau kekeliruan. Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang

bila digunakan/diperhatikan akan mendatangkan

kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar

serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang

besar atau lebih besar. Makna ini ditarik dari

kata hakamah, yang berarti kendali, karena kendali

menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak di

inginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik

dan sesuai adalah perwujudan dari hikmah. Memilih yang

terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun

dinamai hikmah, dan pelakunya dinamai hakim (bijaksana).

Siapa yang tepat dalam penilaiannya dan dalam

pengaturannya, dialah yang wajar menyandang sifat ini atau

dengan kata lain dia yang hakim. Thahir Ibn ‘Asyur menggaris

bawahi bahwa hikmah adalah nama himpunan segala ucapan

atau pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan keadaan

dan kepercayaan manusia secara bersinambung. Thabathaba’i


61

mengutip ar-Raghib al-Ashfihani yang menyatakan secara

singkat bahwa hikmah adalah sesuatu yang mengena

kebenaran berdasar ilmu dan akal. Dengan demikian, menurut

Thabathaba’i, hikmah adalah argumen yang menghasilkan

kebenaran yang tidak diragukan, tidak mengandung

kelemahan tidak juga kekaburan.8

Berdasarkan teori di atas penulis dapat simpulkan bahwa,

Hikmah adalah cara seseorang dalam berdakwah dengan

materi yang bersumber dari al-Qur”an dan As-Sunnah yang

menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan dalam isi

dakwahnya dan kemampuan berdakwah dengan melihat

kondisi atau keadaan orang yang kita dakwahi. Sehingga apa

yang kita sampaikan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat

kecerdasan yang dimilikinya.

Kemudian lebih lanjut beliau menjelaskan al-mau’izhah,

berikut ini penjelasannya.

Kata (‫ )الموعظة‬al-mau’izhah terambil dari kata (‫)وعظ‬

wa’azha yang berarti nasihat. Mau’izhah adalah uraian yang

menyentuh hati yang mengantar kebaikan. Demikian

8
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-
Qur’an, Cet. Ke-IV, Jilid. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2011), 775.
62

dikemukakan oleh banyak ulama. Sedang, kata )‫)جادلهم‬

jadilhum terambil dari kata (‫ )جدال‬jidal yang bermakna diskusi

atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra

diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang

dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh

mitra bicara.9

Menurut M. Quraish Shihab, mau’izhah baru dapat

mengena hati sasaran bila apa yang disampaikan itu disertai

dengan pengamalan dan keteladanan dari yang

menyampaikannya. Inilah yang bersifat hasanah. Kalau tidak

demikian, maka sebaliknya, yakni yang bersifat buruk, dan ini

yang seharusnya dihindari.10

Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa

mau’izhah adalah bentuk berdakwah dengan memberikan

nasihat dan peringatan baik dan benar, perkataan yang lemah

lembut, penuh dengan keikhlasan, menyentuh hati dan

menggetarkan jiwa sasaran dakwah untuk menerima,

9
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-
Qur’an, 775.
10
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-
Qur’an, Cet. Ke-IV, Jilid. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2011), 776.
63

memahami dan menghayati terhadap materi yang

disampaikan.

Mengenai jidal, M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa

jidal terdiri dari tiga macam. Pertama, jidal buruk yakni “yang

disampaikan dengan kasar, yang mengundang kemarahan

lawan, serta yang menggunakan dalih-dalih yang tidak benar.

“Kedua jidal baik yakni” yang disampaikan dengan sopan

serta menggunakan dalil-dalil atau dalih walau hanya yang

diakui oleh lawan. “Ketiga, jidal terbaik yakni “yang

disampaikan dengan baik dan dengan argumen yang benar lagi

membungkam lawan”.11

Sedangkan menurut Hamka, Jidal bahwasanya adalah

bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik, kalau telah

terpaksa timbul perbantahan atau pertukaran fikiran, yang

dizaman kita ini disebut polemic, ayat ini menyuruh agar

dalam hal yang demikian, kalau sudah tidak dapat dielakkan

lagi, pilihlah jalan yang sebaik-baiknya. diantaranya adalah

memperbedakan pokok soal yang tengah dibicarakan dengan

11
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-
Qur’an, 776.
64

perasaan benci atau saying kepada pribadi orang yang tengah

diajak berbantah.12

Berdasarkan teori di atas, penulis dapat menyimpulkan

bahwa yang dimaksud jidal adalah memberi bantahan yang

baik dan halus tanpa menyakiti, serta dengan argumen yang

benar terhadap sasaran dakwah yang menentang dakwah kita.

Dalam proses pendidikan, jidal di sini mengandung makna

sebagai proses penyampaian materi melalui diskusi atau

bertukar pikiran dengan menggunakan cara yang terbaik,

sopan santun, saling menghormati dan menghargai serta tidak

arogan.

2. Tafsir Jalalain

{ ‫ك } دينه‬ َ ّ‫{ ادع } الناس يا حممد صلى اهلل عليه وسلم { إىل َسبِ ِيل َرب‬
‫باحلكمة } بالقرآن { واملوعظة احلسنة } مواعظة أو القول الرقيق { وجادهلم‬
‫َح َس ُن } كالدعاء إىل اهلل بآياته والدعاء إىل‬ ِ
ْ ‫بالىت } أي اجملادلة اليت { ه َى أ‬
‫ض َّل َعن َسبِيلِ ِه َو ُه َو أ َْعلَ ُم‬َ ‫ك ُه َو أ َْعلَ ُم } أي عامل { ِِبَن‬
َ َّ‫حججه { إِ َّن َّرب‬
‫باملهتدين } فيجازيهم‬

Artinya: “(Serulah) manusia, wahai Muhammad (ke jalan


Rabb mu) agama-Nya (dengan hikmah) yaitu
dengan Al-Qur’an (dan nasihat yang baik) yaitu

12
Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu Ke-13-14 (Jakarta: Pustaka Panjimas,
1983), 321.
65

pelajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an atau


nasihat-nasihat/perkataan yang halus (Dan
bantahlah mereka dengan sesuatu) yaitu dengan
bantahan (bantahan yang baik) yaitu menyeru
kepada Allah dengan ayat-ayat Allah dan menyeru
kepada dalil-dalilnya (sesungguhnya Tuhanmu Dia-
lah yang lebih mengetahui) yaitu yang maha
mengetahui (tentang siapa yang tersesat dari jalan-
Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-
orang yang mendapat petunjuk)”.13

Dalam ayat ini, Allah SWT memberikan pedoman kepada

Rasul-Nya tentang cara mengajak manusia (dakwah) ke jalan

Allah SWT. Jalan Allah di sini maksudnya ialah agama Allah

yakni syariat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad

SAW. Allah SWT meletakkan dasar-dasar dakwah untuk

pegangan bagi umatnya di kemudian hari dalam mengemban

tugas dakwah.

Pertama, Allah SWT menjelaskan kepada Rasul-Nya

bahwa sesungguhnya dakwah ini adalah dakwah untuk agama

Allah sebagai jalan menuju rida-Nya, bukan dakwah untuk

pribadi dai (yang berdakwah) ataupun untuk golongan dan

kaumnya. Rasul SAW diperintahkan untuk membawa manusia

ke jalan Allah dan untuk agama Allah semata.

13
Al-Alamah Jalaludin Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Syeikh
Mutabahir Jalaludin Abdurrahman bin Abu Bakar Asy Suyuti, Kitab Jalalain
(Surabaya: Darul Ilmi), 226.
66

Kedua, Allah SWT menjelaskan kepada Rasul SAW agar

berdakwah dengan hikmah.

Ketiga, Allah SWT menjelaskan kepada Rasul agar

dakwah itu dijalankan dengan pengajaran yang baik, lemah

lembut dan menyejukkan, sehingga dapat diterima dengan

baik.

Keempat, Allah SWT menjelaskan bahwa bila terjadi

perdebatan dengan kaum musyrikin ataupun ahli kitab,

hendaknya Rasul membantah mereka dengan cara yang baik. 14

Penulis memaparkan bahwasanya Allah SWT menyeru

kepada Nabi Muhammad SAW untuk memerintahkan manusia

berdakwah menyebarkan agama Allah dengan cara hikmah,

yaitu al-Qur’an. Makna nya adalah dengan tutur kata yang

halus , yang telah diperintahkan dalam al-Qur’an. Lalu dengan

cara pelajaran yang baik, maksudnya adalah pelajaran atau

nasihat-nasihat yang terkandung dalam al-Qur’an untuk

memgenai hati sasaran dakwah. Dan yang terakhir adalah

membantah dengan cara yang baik apabila sasaran dakwah

14.
Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya (Jakarta: Widya
Cahaya, 2011), 418.
67

tidak puas atas argumen kita dengan ayat-ayat Allah atau dalil-

dalil al-Qur’an untuk membungkam argumen sasaran dakwah.

3. Tafsir Al Maragi

Tafsir ayat yang berbunyi:

            

Hai rasul, serulah orang-orag yang kau diutus kepada

mereka dengan cara, menyeru mereka kepada syari’at yang

telah digariskan oleh Allah bagi makhluk-Nya melalui wahyu

yang diberikan kepadamu, dan membei mereka pelajaran dan

peringatan yang diletakkan di dalam kitab-Nya sebagai hujjah

atas mereka, serta selalu diingatkan kepada mereka, seperti

diulang-ulang seperti di dalam surat ini. Dan bantahlah mereka

dengan bantaha yang lebih baik dari pada bantahan lainnya,

seperti memberi maaf kepada mereka jika mereka mengotori

kehormatanmu, serta bersikaplah lemah lembut terhadap

mereka dengan menyampaikan kata-kata yang baik,

sebagaimana firman Allah di dalam ayat lain.15

...            

15
Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi (Semarang: CV
Toha Putra, 1994), 289.
68

(٦٤ :‫) العنكبوت‬

Artinya: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab,


melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali
dengan orang-orang zalim di antara mereka,...”
(Q.S. Al-Ankabut: 46).16

Dan firman-Nya kepada Musa da Harun ketika diutus

kepada Fir’aun :

(٦٦ :‫)طه‬        

Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan


kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia
ingat atau takut "(Q.S. Thaahaa : 44)17

Kemudian Allah mengancam dan berjanji :

            

Bahwasanya Tuhan engkau, mengetahui orang yang

menyimpang dari jalan yang lurus,, baik dari antara orang-

orang yang berselisih tentang hari Sabtu, maupun yang

selainnya dan Allah SWT itu mengetahui orang yang

menjalani jalan yang lurus dari antara mereka. Dan Allah SWT

16
Tubagus Najib al-Bantani, Al-Qur’an Mushaf Al-Bantani (Serang:
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Banten, 2012), 402.
17
Tubagus Najib al-Bantani, Al-Qur’an Mushaf Al-Bantani (Serang:
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Banten, 2012), 314.
69

akan memberi pembalasan kepada semua mereka di hari akhir,

masing-masing menurut haknya. 18

Ringkasan, gunakanlah metode terbaik di dalam

berdakwah dan berdebat, yaitu berdakwah dengan cara yang

terbaik. Itulah kewajibanmu. Adapun pemberian petujuk dan

penyesatan, serta pembalasan atas keduanya, diserahkan

kepada-Nya semata, bukan kepada selain-Nya. Sebab, Dia

lebih mengetahui tetang keadaan orang yang tidak mau

meninggalkan kesesatan karena ikhtiarnya yang buruk, dan

tentang keadaan orang yang mngikuti petunjuk karena dia

mempunyai kesiapan yang baik. Apa yang digariskan Allah

untukmu di dalam berdakwah, itulah yang dituntut oleh

hikmah, dan itu telah cukup untuk memberikan petunjuk

kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk, serta

menghilangkan uzur orang-orang yang sesat.19

Mengenai penerapan tiga metode yang terdapat dalam

surah al-Nahl ayat 125 diatas, telah dikemukakan bahwa

sementara ulama membagi ketiga metode ini sesuai dengan

18
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqy, Tafsir Al-Qur’anul Majid An-
Nur, Cet Ke-II (Jakarta: PT. Pustaka Rizki Putra Semarang, 1995), 2219.
19
Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi (Semarang: CV
Toha Putra, 1994), 290-291.
70

tingkat kecerdasan sasaran dakwah. Yakni cendikiawan diajak

dengan hikmah. Adapun orang awam, mereka disentuh dengan

mau’izhah. Sedang, penganut agama lain dengan

jidal. Menurut M. Quraish Shihab pendapat ini tidak

disepakati oleh ulama’. Ia mengutip pendapat Thabathaba’i,

salah seorang ulama’ yang menolak penerapan metode dakwah

itu terhadap tingkat kecerdasan sasaran, berikut ini pendapat

Thabathaba’i.

Bisa saja ketiga cara ini di pakai dalam satu

situasi/sasaran, dikali lain hanya dua cara, atau satu masing-

masing sesuai sasaran yang di hadapi. Bisa saja cendikiawan

tersentuh oleh mau’izhah, dan tidak mustahil pula orang-orang

awam memperoleh manfaat dari jidal dengan yang terbaik.20

M. Quraish Shihab juga mengutip pendapat Thahir Ibn

‘Asyur yang juga berpendapat serupa dengan Thabathaba’i.

Thahir Ibn ‘Asyur menyatakan bahwa: jidal adalah bagian dari

hikmah dan mau’izhah. Hanya saja, tulisnya, karena

tujuan jidal adalah meluruskan tingkah laku atau pendapat

sehingga sasaran yang dihadapi menerima kebenaran, kendati

20
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-
Qur’an, Cet. Ke-IV, Jilid. 6 (Jakarta: Lentera Hati, 2011), 777.
71

ia tidak terlepas dari hikmah atau mau’izhah, ayat ini

menyebutnya secara tersendiri berdampingan dengan

keduanya guna mengingat tujuan dari jidal itu.21

Oleh sebab itu, penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam

menyampaikan dakwah hendaklah menggunakan metode yang

terbaik, bersikaplah lemah lembut dengan menyampaikan

kata-kata yang baik tanpa harus menyakiti perasaannya.

Adapun tanggapan dari mereka yang menyakiti hati kita, kita

serahkan semuanya kepada Allah SWT.

Penulis juga dapat menyimpulkan bahwa penerapan 3

metode tersebut tidak harus diterapkan berdasarkan tingkat

kecerdasan saja. Akan tetapi harus diterapkan secara

berdampingan guna ketika kita menggunakan jidal untuk

membantah bantahan sasaran dakwah, kita tidak melupakan

hikmah dan mau’izhah itu sendiri.

D. Analisis Tafsir Q.S An-Nahl Ayat 125

Dari interpretasi ahli tafsir di atas, dapat dipahami bahwa ayat

ini terdapat kata kunci sebagai berikut:

21
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-
Qur’an, Cet. Ke-IV, 777.
72

Hikmah, yaitu dialog dengan menggunakan kata-kata yang

benar, bijak, lembut, sopan, memudahkan, disertai dengan dalil-

dalil yang kuat (ilmiah dan logis) dan perumpamaann yang dapat

meresap dalam diri atau dapat mempengaruhi jiwa peserta didik.

Sehingga mereka dapat mengaplikasikan sikap-sikap positif yang

bisa membawa maslahat bagi hidupnya. Di samping itu, hikmah

diartikan dengan seuatu yang diturunkan dan berasal dari Nabi

Muhammad SAW. yaitu al-Quran dan as-sunnah.

Hal ini mempertegas dan memperjelas, bahwa hikmah harus

bersih dari sesutau yang bersifat negatif. Sebab al-Qur’an dan as-

sunnah merupakan simbol dari segala sesuatu yang bersifat positif

dan kemaslahatan. Hikmah ini dapat diaplikasikan ketika sedang

melakukan kegiatan belajar mengajar di dalam kelas sebelum

memulai pelajaran seorang pendidik harus memberikan kata-kata

yang bijak, lembut, sopan dan dapat dimengerti dengan baik

sehingga peserta didik terbuka pikirannya untuk mengikuti

pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Contoh lainnya adalah

ketika seorang guru menghadapi murid yang keras, tidak bisa

diatur maka seorang guru harus lebih menitikberatkan pada kata-

kata yang bijak dan lembut dibandingkan dengan tindakan karena


73

kekerasan tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan pula. Seorang

pendidik harus dapat menyentuh hati seorang murid dengan kata-

kata bijak dan lembut. Dengan menggunakan hikmah ini akan

membuat murid tersadar dengan perilakunya sebab pada

hakikatnya manusia adalah makhluk fitrah. Ia akan menerima kata-

kata dari seorang guru yang penuh dengan hikmah.

Mau’izhah, yaitu nasehat-nasehat yang lemah lembut lagi

benar, ajakan pada suatu hal yang positif atau memberi pelajaran

dan peringatan dengan dalil-dalil (argumentasi) yang dapat

diterima oleh akal atau kemampuan peserta didik, disertai

keteladanan dari yang menyampaikan. Ada suatu hal yang harus

diperhatikan oleh seorang pendidik lebih-lebih ketika

menggunakan mau’izhah ini, yaitu adanya ketauladanan, artinya

ada kesesuaian antara yang ia sampaikan dengan prilakunya sehari-

hari. Sebab ketika ada seorang guru yang menggunakan

mau’izhah, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan perilakunya,

maka jangan berharap banyak terhadap perubahan perilaku peserta

didiknya. Sebagai mana yang dikatakan M. Quraish shihab, metode


74

ini baru dapat mengena hati sasaran bila ucapan yang disampaikan

itu disertai dengan pengamalan dan keteladanan dari pendidik.22

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat As-Shaf ayat 2-3:

     )٢(        

(٣-٢ :‫) )الصف‬٣(    

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu


mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat
besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaf: 2-3)23

Berdasarkan pengertian ayat tersebut dapat dipahami bahwa

seorang pendidik ketika menyampaikan sesuatu kepada peserta

didiknya, harus terlebih dahulu mampu mengerjakan atau

mengamalkannya. Terutama sesuatu yang disampaikan terkait

dengan masalah agama dan nilai-nilai kebaikan. Sebab ketika apa

yang ia sampaikan belum diamalkan, sungguh Allah SWT amat

benci terhadap pendidik yang demikian.

Di samping itu peserta didik akan menjadi ragu dengan

kebenaran ilmu yang disampaikan oleh pendidik. Salah satu contoh

22
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Volume-7 (Jakarta: Lentera Hati,
2002), 387.
23
Tubagus Najib al-Bantani, Al-Qur’an Mushaf Al-Bantani (Serang:
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Banten, 2012), 551.
75

tindakan ketika seorang guru memberikan nasihat pada peserta

didiknya untuk tidak merokok karena dapat merusak kesehatan

tubuh, sedang guru tersebut pun melakukan kegiatan tersebut maka

ketika memberikan nasihat untuk tidak merokok pada muridnya

seorang pendidik jangan berharap muridnya akan mengikuti

nasihat yang disampaikannya.

Jidal, yaitu berdebat atau membantah dengan peserta didik

yang tidak menerima pendapat atau ajakan dengan cara-cara yang

terbaik, dengan argumentasi dan ide atau dengan bukti-bukti dan

alasan-alasan yang tepat serta tanggapan yang tidak emosional,

tidak ada unsur celaan, ejekan, sindiran dan kesombongan.

Sehingga memuaskan bagi peserta didik yang tidak menerima

pendapat atau ajakan pendidik. Lebih lanjut kemudian, berjidal

disifati dengan kata (‫ )أحسن‬ahsan yang mempunyai arti “terbaik”,

bukan sekedar yang baik.

Dalam hal ini, jidal dapat diklasifikasikan menjadi tiga

macam, yaitu:

1. Yang buruk adalah berdebat yang disampaikan dengan kasar,

yang mengundang kemarahan peserta didik serta yang

menggunakan dalil-dalil yang tidak benar.


76

2. Yang baik adalah berdebat yang disampaikan dengan sopan,

serta menggunakan argumen atau dalih wahyu hanya yang

diakui oleh peserta didik.

3. Yang terbaik adalah yang disampaikan dengan baik, dan dengan

argumen yang benar, lagi membungkam peserta didik.24

Dalam melakukan perdebatan harus dilakukan dengan cara

yang terbaik. Contohnya adalah dalam kegiatan diskusi maka

seorang guru terlebih dahulu harus sudah mempersiapkan diri dan

menguasai materi jauh dari peserta didiknya. Sehingga dalam acara

forum diskusi tersebut lebih dapat mengarahkan dan menjawab

pertanyaan-pertanyaan murid dengan jelas berdasarkan bukti-bukti

dan dalil-dalil yang ada. Disampaikan secara lugas dan cerdas

sehingga membuat murid-murid dapat menerima ajaran dengan

baik.

24
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, Volume-7 (Jakarta: Lentera Hati,
2002), 387-388.

Anda mungkin juga menyukai