Pemikiran Ekonomi Islam
Pemikiran Ekonomi Islam
PEMIKIRAN EKONOMI
DALAM ISLAM
Pemikiran Ekonomi
dalam Islam:
Suatu Tinjauan Teori Dan Praktek
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 49 ayat 1 dan ayat 2 dipidana dengan pidana
penjara masing-masing paling singkat satu bulan dan/atau denda paling sedikit Rp
1.000.000,- (Satu Juta Rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) Tahun dan/atau
paling banyak Rp 5.000.000.000,- (Lima Milyar Rupiah).
Kata Pengantar
BAB I PEMIKIRAN EKONOMI DALAM ISLAM
1. Islam Sebagai Sistem Hidup (Way Of Life) ........................................... 1
2. Kedudukan Akal Pemikiran dalam Islam serta Pengaruhnya Terhadap
Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan............................... 3
3. Pase dan Kontribusi Pemikiran Islam dalam Ekonomi............................ 4
1. Pase Pertama .................................................................................... 5
a. Zaid bin Ali (80-120 H/699-738 M) ........................................... 6
b. Abu Hanafiah (80-150 H/699-767 M)......................................... 7
c. Abu Yusuf (113-182 H/731-798 M) ........................................... 8
d. Muhammad bin Al-Hasan (132-189 H/750-804 M) .................... 9
e. Ibnu Maskawai (W. 421H/1030M) ............................................. 9
2. Pase Kedua ...................................................................................... 10
a. Al-Gazali (451-505 H/1055-1111 M) ......................................... 10
b. Ibnu Taimiyah (W. 728H/1328 M) ............................................. 11
c. Al-Magh Rizi (845H/1441 M) .................................................... 12
3. Pase Ketiga ...................................................................................... 12
i
BAB VII TINJAUAN UMUM TENTANG PERBANKAN SYARI’AH
A. Produk Pembiayaan ............................................................................... 50
B. Equity Financing.................................................................................... 50
C. Debet Financing ..................................................................................... 63
BAB IX MURABAHAH
A. Rukun Murabahah.................................................................................. 92
B. Landasan Syari’ah Murabahah ............................................................... 92
C. Aplikasi Pada Perbankan........................................................................ 92
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahhirrahmanirrahim
Buku ini disusun dengan beberapa pertimbangan. Pertama buku-buku yang memuat
tentang Ilmu Ekonomi Islam; Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya sangat sedikit
tersedia dalam bahasa Indonesia. Sedangkan para pembaca di Indonesia, baik dikalangan
mahasiswa maupun dikalangan masyarakat banyak yang tidak mengetahui bahasa Arab
sebagai bahasa yang banyak dipergunakan dalam membahas yang berkaitan dengan Ilmu
Ekonomi Islam. Kedua. buku ini dirasakan perlu dikalangan mahasiswa Universitas Islam
Riau dan STAIN terutama dalam menambah khazanah kepustakaan dalam Mata Kuliah
Dasar Umum (MKDU) dan Mata Kuliah Keahlian (MKK)bagi Prodi Ekonomi Islam.
Banyak kesulitan dan kendala yang penulis hadapi pada saat melakukan penyusunan
buku ini, baik yang bersipat teknis maupun non teknis. Namun berkat bantuan dan dorongan
dari berbagai pihak serta Ridho Allah kesemuanya dapat teratasi. Pada Kesempatan ini juga
penulis mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada Rektor Universitas islam Riau ,
Bapak Prof.DR.H. Detri Karya,SE ,MA ; Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Islam
Riau, Bapak Drs. M.Yusuf Ahmad, MA; Direktur Penerbit Pusat Kajian Pendidikan Islam
Fakultas Agama Islam Universitas Islam Riau; Bapak Syahraini Tambak, MA , segenap
Pimpinan Fakultas Agama Islam Universitas Islam Riau serta rekan-rekan Dosen Fakultas
Agama Islam Universitas Islam Riau. Dengan diiringi do`a semoga Allah SWT. memberikan
balasan dengan pahala yang berlipat ganda. Semoga buku ini bermanfaat bagi semua
pembaca dalam menambah wawasan keilmuannya. Saran dan kritik dari semua pihak sangat
diharapkan untuk kesempurnaan buku ini pada masa yang akan datang. Semoga Allah SWT.
memberkati kita semua, amin ya rabbal `alamin
ZULKIFLI RUSBY
BAB I
PEMIKIRAN EKONOMI DALAM ISLAM
________________________
1
Lihat Kembal. QS. Al-Haj: 22:41.
2
Muhammad Quraisihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peranan Wahyu dalam Kehidupan
Masyarakat, Bandung: Mizan, 1994), Cet ke-14.Hal, 166).
1
ajaran Islam yang bersiafat konstan, tidak mengalami perubahan apapun
seiring dengan perbedaan temnpat dan waktu, syari’ah senantiasa berupah
sesuai dengan kebutuhan dan tarap kehidupan umat. Allah Swt berfirman
yang artinya: Untuk tiap-tiap umat antara kamu kami berikan aturan dan jalan
yang terang. 3
Sebagai penyempurnaan dari agama-agama terdahulu, Islam memiliki
syari’ah yang sangat istimewa., yang bersifat komprehensif dan universal.
Komprehensif bearti syari’ah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik
ritual (ibadah) maupun social (muamalah), sedangkan universal bearti syari;ah
Islam dalam setiap waktu dan tempat sampai yaumal hisaab nanti. 4
Selanjut Allah menegasakan bahwa dalam Surat Al-Qur’an Surat An-
Biya’ 21 ayat 107 yang artinya dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan
untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Dalam pada itu, al-qur’an tidakmemuat berbagai aturan yang terperinci
tentang syari’ah yang dalam sistematika Hukum Islam terbagai kepada dua
bidang sebagai berikut: yaitu ibada (ritual dan mualmalah (social). Hal
tersebut menunjukkan bahwa prinsip-prinsip bagi berbagai masalah hokum
dalam Isl.am, tertutama sekali yang berkaitan dengan mu’amalah. (Ajaran Al-
qur’an yangf bersifat Global ini selaras dengan fitrah Manusia yang bersifat
Dinamis mengikuti perubahan Zaman. Andaikan mayoritasayat-ayat ahkam
AlQur’an bersifat Absolut dan terperinci, Manusia niscaya menjadi sangat
terikat yang pada akhirnya akan menghambat perkembangan masayarakat.
Inilah letak dari keumuman ayat-ayat tersebut. 5
Berdasarkan prinsip tersebut, Nabi SAW, menjelaskan dalam
hadistnya. Dalam kerangka yang sama dengan al-qur’an, mayoritashadist
tersebut juga tidak bersifat absolute, terutrama yang berkaitan dengan
mu’amalah. Dengan kata lain kedua sumber hokum Islam hanya memberikan
berbagai orinsip dasar yang harus dipegang oleh umat manusia selama
menjalani kehidupan manusia didunia.
________________________
3
Lihat Kembali QS.Al-Maidah: 5 ayat 48.
4
(Muhammad Syafii Antonio, Bank Syari;ah:Bagi Bankkir dan Praktisi Keuangan, (Jakarta Bank
Indonesia dan Tazkia Institute, 1999), Cet. Ke-1, hal,38.)
5.
Lihat Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta: UI Press, 1986), hal, 29.
2
Adapun untuk meresfon perputaran zaman dan mengatur kehidupan
duniawi manusia secara terperinci, Allah SWT menganugrahi akal pikiran
kepada manusia. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda yang artinya Kamu lebih
mengetahui urusan kedunia’anmu (HR.Muslim).
3
Sebelum dia, Telah ada rasul-rasul. Apakah jika sekiranya mati atau
tertbunuh, kamu berpaling kepada agamu terdahulu? Siapa-siapa yang
berpaling menjadi kafir, yang pasti tidak merugikan Tuhan sedikitpun dan
Allah memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur kepadaNya.
11
4
bahwa sejarah pengetahuan merupakan suatui proses yang berkesenambungan,
yang dibangun di atas pundasi yang diletakklan oleh para ilmua generasi
sebelumnya. Jika proses evolusi ini disadari sepenuhnya, menurut Chapra
Schunmpeter mungkin toidakl mengasumsikan adanya kesenjangan yang
besar selama lima ratus tahun, tetapi mencoba menemukan pondasi diatas para
ilmua skolastik dan Barat menjadi banguna intelektual mereka.13
Sejalan dengan ajaran Islam tentang pemberdayaan akal pikirean
dengan tetap berpegang tegu kepada al-qur’an danb hadist Nabi konsep dan
teori ekonomi dalam Islam pada hakekatnya merupakan respon para
cendikiawan muslim terhadap berbagai tantangan ekonomi pada waktu-waktu
tertentu ini juga bearti bahwa pemikiran ekonomi IUslam seusia Islam itu
sendiri. Berbagai praktek ekomi yang berlangsung dimasa Rasulullah Saw,
DAN Al-Khulafah al-Rasidun merupakan contoh empiris yang dijadikan
pijakan bagi para cendikiawan Muslim dalam melahirkan teori-teori
ekonominya. Satu hal yang jelas pokus perhatian mereka tertuju pada
pemenuhan kebutuhan keadilan efisiensi, pertumbuhan, dan kebebasan, yang
tidak lain merupakan objek utama yang meninspirasikan pemikiran ekonomi
Islam sejal masa awal.14
Berkenaan dengan hal tersebut, Siddiqi menguraikan sejarah pemikiran
ekonomik Islam dalam tiga pase; yaitu pase dasdar-dasar ekonomi Islam, pase
kemajuan dan pase staknasi sebagai berikut:
1. Pase pertama.
Pase pertama merupakan pase abadawal sampai dengan abad ke-5 H
atau abad ke 11 M. Yang dikenal sebagai adasar-dasar ekonomi Islam
yang dirintis oleh para fukoha, diikuti oleh sufi kemudian oleh filosof.
Pada awal, pemikiran mereka berasal darti orang berbeda, tetapi
dikemudian hari, para ahli harus mempunyai dasar-dasar pengetahuan
dari ketiga kedisplin tersebut. Fokus fikih adalah apa yang diturunkan
oleh syari’ah dan dalam kontek ini para fukoha mendiskusikan
penomena ekonomi.
Tujuan mereka tidak terbatas para penggambaran dan penjelasan
fenomena ini. Namun demikian dengan mengacu kepada al-qur’an dan
hadist nabi, mereka mengeksplorasi kosep maslahah (utility) dan
mafsadah (disuntility) yang terkait dengan aktivitas ekonomi pemikiran
yang timbul terfokus pada manfaat sesuatu yang dianjurkan dan apa
kerugiuan bila melaksanakan sesuatu yang dilarang agama. Pemaran
ekonomi fara fukaha tersebut mayoritas bersifat normative dengan
wawasan p;ositif ketika berbicara tentang prilaku yang adil, kebijakan
yang baik dan batasan yang diperolehkan dalam kaitannya dengan
permasalahan dunia.
______________________
13
Muham Umir Chapora, Ibid., hal,261-262.
14
Ibit.M.Nejatullah Siddiqi, Op.cit; hal,34.
5
Sedangkan kontribusi tasawwuf terdapat pemikiran ekonomi
adalah pada keajegannya dalam mendorong kemitraan yang saling
menguntungkan, tidak rakus pada kesemlpatan yang diberikan oleh
Allah SWt, dan secara tetap menolak penempatan tuntutan kekayaan
dunia yang terlalu tinggi. Sementara itu, filosof muslim, dengan tetap
berazaskan syari’ah dalam keseluruhan pemikirannya mengikuti para
pendahulunya dari Yunani terutama Aristoteles (367/322 SM), yang
pokus pembahasannya tertuju pada sa’ada (kebahagian). Dalam arti
luas. Pendekatannya global dan rasional serta metodologinya syarat
dengan anal.isis ekonom,I positif dan cendrung makro ekonomi. Hal
ioni ber beda dengan fukoha yang terfokus perhatian pada madsalah-
masalah mikro ekonomi.
Tokoh-tokoh pemikir ekonomi Islam pada pase pertama ini
antara lain , diwakili oleh Zaid bin Ali (w.80-H/738 M), Abu Hanafiah
(w. 150. H/767 M), Abu Yusuf (w.182 H/798 M), Al- Syaibani (w.189
H/804 M), Abu Ubaid bin Sallam (w.224 H/838 M), Harits bin Asad al-
Muhasibi (w.243H/858 M), Junaed al Baghdadi (297 H/910 M), Ibnu
Maskawai (w.421H/1030 M), Al-Mawardi (450H/1058M).
6
mengindikasikan bahwa harga yang lebih tinggi selalu berkaitan
dengan waktu. Seseorang yang menjual secara kredit dapat pula
menetaspkan harga yang lebih rendah dari pada harga pembeliannya
dengan maksud untuk menghabiskan stok dan memperoleh uang tunai
karena khawatir harga pasar akan jatuh dimasa dating. Dengan maksud
yang sama, seseorang dapat juga menjual barangnya, baik secara tunai
ataupun kredit, dengan harga yang lebih rendah dari pada harga
poembeliannya.
Hal yang tepenting dari permasalahan ini adalah bahwa dalam
syari’ah, setiap baik-buruknya SUAtu akad ditentukaqn oleh akad itu
sendiri, tidak dihububnfganb dengan akat yang lain. Akad jual beli
yang pembayarannya ditangguhkan adalah suatu akat tersendiri dan
memiliki hak sendiri untuk diperiksa apakah adil atau tidak, tanpa
dihubungkannya dengan akat lain. Akat jual beli yang pembayaran
yang ditangguhkan adalah suatu akat tersendiri dan memiliki hak
sendiri untuk diperiksa apakah adil atau tidak, tanpa dihubungkan
dengan akat yang lain. Dengan akata lain, jika diketemukan fakta
bahwa dalam suatui kontrak yang terpisah, hjarga yang dibayar tunai
lebih rendah, hal itu tidak mempengaruhi keabsasahan akat jual-beli
kredit dengan pembayaran yang lebih tinggi, karena kedua akat tersebut
independent dan berbeda satu sama lain.
7
jual-beli. Pengalamannya dalam bidang perdagangan memungkin Abu
Hanafiah dapat menentukan aturan-aturan yang adil dalam transaksi ini
dan transaksi yang sejenis.
Disamping itu, Abu Hanafiah mempunyai perhatian terhadap orang-
orang yang lemah Ia tidak akan membebaskan kewajiban zakat
terhadap perhiasan dan sebaliknya, membebaskan pemilik harta yang
dililit hutang dan tidak sanggup menebusnya dari kewajiban membayar
zakat. Ia juga tidak memperkenalkan pembagian jhasil panen
(muzara’ah) daslam kasus tanah yang menghasilkan apapun. Hal ini
dilakukan untuk melindungi para penggarap yang umumnya adalah
orang-orang yang lemah.
8
Penting diketahui, para penguasa pada periode itu umumnya
memecahkan masalah kenaikan harga dengan menambah suplai bahan
makanan dan mereka menghindari control harga. Kecendrungan yang
ada dalam pemikiran ekonomi Islam adalah membersihkan pasar dari
praktek penimbunan, monopoli, dan praktek korup lainnya dan
kemudian membiarkan penentuan harga kepada kekuatan permintaan
dan penawaran. Abu Yusuf tidak kecualikan dalam hal kecendrungan
ini.
Kekuatan utama pemikiran Abu Yusuf adalah dalam masalah
keuangan public. Terlepas dari prinsip-prinsip perpajakan dan
pertangungjawaban Negara Islam terhadap kesejahteraan rakyatnya, I
memberikan beberapa saran tentang cara-cara memperoleh sumber
perbelanjaan untuk pembangunan jangka panjang, seperti membangun
jembatan dan bendungan serta menggali saluran besar danb kecil.
9
akan menjadi reward jika kedua karya tersebut seimbang. Dalam hal
ini, dinar akan menjadi suatu penilaian dan penyeimbang diantara
keduanya. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa logam yang dapat
dijadikan sebagai mata uang adalah logam yang dapat diterima secara
universal melalui konvensi, yakni tahan lama mudah dibawa, tidak
mudah rusak, dikehendaki orang dan fakta orang senang melihatnya.
2. Pase kedua.
Pase keduia yang dimulai pada abad ke-11 sampai dengan ke-15 M
dikenal sebagai pase yang cemerlang karena meninggalkan warisan
intelektual yang sangat kaya. Para cendikiawan muslim mampu
menyusun suatu konsep tentang bagaimana umat melaksanakan
ekonomi yang seharusnya berlandaskan al-qur’an dan hadist nabi. Pada
saat yang bersamaan, disisilain, mereka menghadapi realistas politik
yang ditandai oleh dua hal pertama, disintegrasi pusat kekuasaan Bani
Abbasiyah yang mayoritas didasarkan pada kekuatan (power)
ketimbang kehendak rakyat; kedua, merebaknya korupsi dari kalangan
para penguasa diiringi dengan dekadinsi moral dari kalangan
masyarakat yang mengakibatkan ketimbangan yang semakin melebar
antara sikaya dengan simiskin. Pada masa ini wilayah kekuasaan Islam
yang terbentang dari Maroko dan Spanyol di Barat hingga Hindia di
Timur telah melahirkan berbagai pusat intelektual. Tokoh-tokoh
pemikir ekonomi Islam antara lain diwakili oleh Al-Gazali (w.505
H/1111M), Ibnu Taymiyah (w.728H/1328 M), AlSyatibi
(w.790H/1388M), Ibnu Khaldun (w.808 H/1404 M), AL Maqrizi
(845H/1441M).
10
tercukupi dari kasnegara yang telah tersedia. Bahkan jika hal yang
demik,mian terjadi, Negara diperkenalkan melakuksn peminjaman.
Al-Gazali juga mempunyai wawasan yang sangat luas mengenai
evolusi pasar dan pengenalan uang. Ia juga mengemukakan alasan
pelarangan riba Fadhl, yakni karena melanggar sifat dan fungsi uang,
serta mengutuk mereka yang melakukan penim, bunan uang dengan
dasar uang itu sendiri dibuat untuk memudahkan pertuikaran.
11
mencatat pengaruh dari pajak tidak langsung dan bagaimana beban
pajak itu digeserkan dari penjual yang seharuisnya menanggung pajak
kepada pembeli yang harus membayar lebih mahal untuk barang yang
kena pajak.
12
BAB II
DEFINISI EKONOMI ISLAM DAN ILMU ISLAM
13
2.Kekayaan Manusia Dan Cara Pengelolaan
Setiap fasilitas atau kekayaan yang dimiliki manusia tidak
lebih hanya sebagai titipan Allah swt. Titipan tersebut dapat diperoleh
langsung atau melalui kerja keras manusia. Secara khusus semua indra
yang dimiliki manusia merupakan titipan-Nya yang langsung di berikan
tanpa usaha atau diminta terlebih dahulu. Demikian pula anggota tubuh
yang lain rata – rata yang di peroleh manusia sebagai titipan Nya secara
langsung. Begitu juga sumber daya alam yang berlimpah mulai dari
oksigen sampai kepada air dan semua sumberdaya alam lainnya Allah
Swt. titip langsung untuk kemakmuran manusia. Kesalahan besar bagi
manusia apabila sumberdaya tersebut tidak berhasil mensejahterakan
manusia. Masalah pengelolaan ( management ) adalah kata kunci yang
paling menentukan. Management yang dimaksud adalah management
Ilahyah yang patuh kepada kaidah umum yang keberatannya
mutlak.manusia dapat melakukan inovasi dan kretaifitas khusus
sepanjkang tidak ada kaidah umum yang mengatur.
Fasilitas atau kekayaan lain adalah yang diperoleh manusia
dengan berusaha atau kerja keras, walaupun kekayaan di maksud benar
– benar diperoleh dari hasil keringat sendiri namun tidak berarti dapat
dimanfaatkan hanya sesuai selera sendiri karena ketika fasilitas tersebut
diperoleh bukan tanpa campur tangan Allah. Manusia hanya berusaha,
yang memberikan adalah Allah Swt. Maka manusia tidak bebas
memanfaatkan harta atau kekayaan yang dimiliki. Karena ada hak dan
kewajiban yang mesti di tunaikan. Di samping itu harta atau kekayaan
yang dimiliki oleh manusia, pada suatu hari di “ Yaumul Mashar” akan
dipertanggung jawabkan di mana di poroleh dan kemana di belanjakan.
Disinilah keteriakan manusia terhadap tuntunan syariah.
3.Menghemat Sumber Daya
Pada dasarnya ekonomi Islam, sangat mengutamakan perilaku
hemat, baik dalam konsumsi maupun di dalam proses produksi, maka
tingkat efesiensi tertentu dapat dicapai dan peluang untuk mendapatkan
keuntungan cukup besar. Dengan berlaku hemat pada bidang konsumsi
maka tercapai kepuasan yang optimal ( keseimbangan ) jika tidak
berlaku boros ( mubazir ). Apabila konsumen mencapai posisi
keseimbangan berarti secara teoritis konsumen tersebut berada pada
jalur yang sesuai dengan tuntunan syariah. Karena syariah
menghendaki agar konsumen tidak kikir dan tidak boros. Posisi
diantara kikir dan boros titik hemat yang membawa posisi optimal bagi
konsumen.
4.Mencapai Kepuasan atau Keuntungan Secara Halal
Tujuan konsumen seperti di jelaskan pada butir 3 diatas, adalah
untuk mencapai kepuasan yang optimal. Sedangkan tujusn perusahaan
adalah memperoleh keuntungan yang optimal. Kepuasan yang optimal
14
bagi konsumen dicapai dengan proses yang benar, atau sesuai syariah.
Artinya barang yang dikonsumsi baik sumbernya maupun zatnya
adalah barang yang halal dan baik. Demikian pula dalam proses
produksi keuntungan yang diharapkan harus berlandaskan pada input,
proses output dan outcome yang sesuai tuntunan syariah. Bukan dengan
input, proses atau output dan outcome yang melawansyariah termasuk
tidak membawa mudharat bagi kepentingan manusia, baik untuk
dunianya maupun untuk kehidupan akhiratnya.
15
tegakkan. Namun ketika berhadapan dengan sesuatu yang ingin ditutup
– tutupi, barulah tahu bahwa jujur itu tidaklah mudah di aplikasikan.
Memang dalam aspek kehidupan termasuk dalam rumah tangga,
memulai usaha apaun kelanjutannya hanya dapat terjamin jika ada
kejujuran para pelakunya. Maka dalam ekonomi Islam berdagang
dengan jujur menjadi persyaratan pertama dan utama. Rasulullah Saw.
Dan para sahabat melakukan bisnis adalah penuh dengan kejujuran.
Bila pada saat memperdagangkan barang yang cacat, walaupun cacat
itu tersembunyi namun harus di sampaikan pada calon pembeli secara
terbuka. Demikian pula semua aktivitas lain selalu di landasi dengan
kejujuran. Disinilah letaknya salah satu keindahan ekonomi Islam
karena jujur itu sendiri adalah bagian utama dari keindahan hidup.
16
menyuruh umatnya yang mempunyai bisnis dengan tenaga kerja agar
membanyar upah sebelum keringatnya mengalir, sunnah Rasululllah
seperti ini sangat logis, karena posisi tenaga kerja sering termaginalkan
oleh majikan/pimpinan perusahaan, sehingga mereka lemah, miskin
dan tidak berdaya. Pada berbagai kasus kalau uapah terlambat di bayar,
maka keluar tenaga kerja yang hidup paspsan akan mengalami tekanan,
karena tidak terpenuhi kebutuhan – kebutuhan pokok sehari – harinya.
Bahkan akan membawa konsekuensi yang tidak hanya merugikan
pihak buruh, tetapi juga pihak majikan atau pihak perusahaan. Maka
sangat indah dan harmonis hubungan buruh – majikan jika ekonomi
Islam yang berlandaskan syariah menjadi referensi utama dalam
berbagai praktek bisnis.
17
masyarakat, sehingga jumlah penduduk miskin menjadi bertambah,
sebagai akibat pinjaman uang atau modal yang karena suatu hal
perusahaan mengalami kerugian. Demikian pulapinjaman – pinjaman
yang berlaku secara perorangan, penambahan berapapun tidak boleh
ditetapkan dari awal. Akan tetapi peminjam atau debutor, dengan
menambah berapapun jumlahnya, sepanjang ikhlas dan tidak diminta
dari awal.jadi prinsipnya adalah pemiliki modal ( sang kapitalis )
berkewajiban membantu modal saudaranya yang membutuhkan modal
usaha dan sebaliknya sang peminjam atau debitur, berkewajiban untuk
mengembalikan pinjaman dengan menyenangkan pemiliki modal ( sang
kapasitas ). Disinilah letak keseimbangan hak dan kewajiban dalam
ekonomi Islam. Dan disini pulalah salah satu keindahan yang ada pada
ekonomi Islam.keindahan itu akan berlangsung terus, posisi apapun
yang dicapai oleh pihak debitor. Umpanya perusahaan yang ada pada
posisi ”break event” (BEP), maka pemiliki modal tidak memperoleh
bagi hasil karena perusahan tidak berada pada posisi untung.
Sebaliknya kalau perusahaan rugi maka yang merugi adalah pemiliki
modal karena bagi pengelola usaha atau perusahaan yang telah
mengorbankan waktu pikiran dan tenaganya tidak harus dirugikan lagi
bagi pemilliki modal. Jika usaha masih mungkin untuk bangkit maka
dana segar dari pemilik modal dapat dialirkan kemnbali, sesuai
kesepakatan baru. Namun bila usaha tidak mungkin bangkit lagi karena
itu harus bubar, maka pemilik modal sesuaikonsep ejonomi Islam
sangat dianjurkan untuk memutihkan semuia piutang yang bermasalah,
Insya Allah akan menjadi kebajikan khusus atau sedekah yang tak
ternilai nilainya, Insya Allah.
18
7. Menghindari Sistem Monopoli
Sistem ekonomi Islam memberikan hak dan peluang yang sama
bagi setiap orang dalam berbagai bisnis dan berkarir, sepanjang halal,
dan legal karena itu setiap pelaku ekonomi atau pengusaha tidak mutlak
atas dasar sumber daya alam yang menjadi milik bersama. Pengusaha
atas tanah, hutan,tambang, ssumber daya perairan dan kekayaan lainnya
bahwa dilakukan oleh negar atau pemerintah untuk kemaslahatan
manusia bukan untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu.
Demikian pula halnya bumi dan air dan semua kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya harus di jaga, di pelihara dan di manfaatkan
bersama secara wajar dan lestari. Sementara itu dalam berbagai temuan
ilmiah dan hasil daya cipta atau kreatifitas manusia, sistem ekonomi
Islam sangat menghargai, namun tidak harus menggunakan dalam
bentuk monopoli mutlak. Prinsip ekonomi Islam bahwa apa yang
dimiliki oleh manusia adalah titipan Allah yang dapat dinikmati oleh
orang lain secara wajar, karena ganjaran atau keuntungannya kembali
juga pada pemilik realitifnya atau pemegang lisensi hak patennya.
Masing – masing otang turut serta dalam proses produksi berhak
menikmati hasil proses dalam bahagian yang lebih adil. Fakir miskin,
tuna karya, tuna aksara, tuna wisma, dan semua yang tidak berdaya,
masih mempunyai hak atas ekkayaan yang kita miliki, yang kita
perolehtanpa keterlibatan mereka. Mereka minimal mendapat 2,5
persen dari harta tersebut yang harus didistribusikan secara adil dan
proposional.
19
cara memperolehnya, tanpa membedakan satu dengan yang lain. Keduanya di
pandang secara sama dan sejalan. Karena itu pula mereka memandang ilmu
ekonomi ekonomi berdasarkan dua hal di atas.Dengan kata lain, di kalangan
ekonomi kapitalis, kebutuhan dan sarana – serana pemuasnya di jadikan
sebagai dua hal yang menjadi pembahasan yang tidak terpisah antara satu
dengan kata lain. Keduanya saling berkait secara sinergis. Maka distribuusi
barang dan jasa menjadi satu pembahasan dengan produksi baramg dan jasa.
Di sampaing itu, mereka memandang ekonomi dengan pandangan yang
meliputi barang – barang produksi sekaligus cara memperolehnya, tanpa
membedakan satu dengan yang lain. Keduanya di pandang secara sama dan
sejalan. Karena itu pula mereka memandang ilmu ekonomi ekonomi
berdasarkan dua hal di atas.
____________________
1. Taiyuddin al- Nabhani, Membangun sistem Ekonomi Alternatif ( Surabaya Risalah Gusti, 1999,
Halaman 47.
1. Kapitalisme, sebagaimana di tekankan oleh karl Marx, adalah suatu sistem produksi komoditi.
Dalam sistem akapitalis, para produsen tidak sekedar menghasilkan keperluan sendiri atau
untuk kebutuhan – kebutuhan individu yang mempunya kontak pribadi dengan diri mereka.
Kapitalisme melibatkan pasar pertukaran. Menurut Karl Marx, setiap komoditi mempunyai
aspek ganda, nilai di satu pihak dan pertukaran nilai ( exchange market ) dipihak lain. Lihat
Anthony Gidden, Kapitalisme dan Teori Sosial Modern (Jakarta: UI Press 1986 M, halaman
57.
2. aqiyuddin Al- Nabhin, Membangun sistem Ekonomi Alternatif ( Surabaya Risalah Gusti, 1999.
hal,16
3. Monzer Kahf, Ekonomi Islam Telaah Analitik terhadap Fungsi Sistem Ekonomi, terjemahan
(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1995), hal.32.
20
Dengan kata lain, di kalangan ekonomi kapitalis, kebutuhan dan
sarana – serana pemuasnya di jadikan sebagai dua hal yang menjadi
pembahasan yang tidak terpisah antara satu dengan kata lain. Keduanya saling
berkait secara sinergis. Maka distribuusi barang dan jasa menjadi satu
pembahasan dengan produksi baramg dan jasa. Di sampaing itu, mereka
memandang ekonomi dengan pandangan yang meliputi barang – barang
produksi sekaligus cara memperolehnya, tanpa membedakan satu dengan
yang lain. Keduanya di pandang secara sama dan sejalan. Karena itu pula
mereka memandang ilmu ekonomi ekonomi berdasarkan dua hal di atas.
Ilmu ekonomi secara umum dapat di definisikan sebagai kajian
tentang perilaku manusia dalam hubungannya dengan pemanfatan sumber –
sumber produktif yang langka untuk memproduksi barang – barang dan jasa –
jasa serta mendistribusikannya untuk konsumsi4. Ilmu ekonomi dapat
dikatakan pula sebagai studi kehidupan manusia yang membuktikan bahwa
perbuatan sosial individu erat hubungannya dengan hasil yang dicapai5.
___________________________
2. Abu Saud Mahmud, Garis-Garis Besar Ekonomi Islam, terjemahan (Jakarta: Gema Insani Press,
1991), hal. 11
21
Paul Anthony Samuelson, seperti di kutip Suherman Rosadi, telah
mengumpulkan sekurang – kurangnya enam buah definisi ilmu ekonomi,
yaitu:
1) Ilmu ekonomi atau ekonomi politik ( political economy ) adalah
suatu studi tentang kegiatan – kegiatan denganatau tanpa
menggunakan uang yang mencakup atau melibatkan transaksi –
transaksi penukaran antara manusia.
2) Ilmu ekonomi adalahsuatu studi mengenai bagaimana orang – orang
menjatuhkan pilihan yang tepat untuk memanfaatkan sumber –
sumber produktif ( tanah, tenaga kerja, barang – barang modal
semial mesin dan pengetahuan teknik ) yang langka dan terbatas
jumlahnya untuk menghasilkan berbagai barang serta
mendistribusikannya kepada berbagai anggota masyarakat untuk
mereka pakai atau konsumsi.
3) Ilmu ekonomi adalah studi tentang manusia oleh kegiatan hidup
mereka sehari – hari untuk mendapat atau menikmati kehidupan.
4) Ilmu Ekonomi adalah suatu studi tentang bagaimna manusia
bertingkah laku untuk mengorganisir kegitan – kegiatan konsumsi
dan produksi.
5) Ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang kekayaan.
6) Ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang cara – cara memperbaiki
masyarakat.6
_________________
3. Abu Saud Mahmud, Garis-Garis Besar Ekonomi Islam, terjemahan (Jakarta: Gema Insani Press,
1991), hal. 11
4. Suherman Rosyidi, Pengantar Teori Ekonomi: Pendekatan Kepala Teori Ekonomi Mikro dan
Makro ( Jakarta : Rajawali Press, 2003) halaman 7
22
Dengan demikian, dapat di katakan bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu
yang mengkaji tentang aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup
secara individu maupun kolektif yang menyangkut perolehan, produksi,
interaksi – interaksi, pendistribuasian, atau penggunaan harta. Teori – teori
dalam ilmu ekonomi terus berkembang sesuai dengan perkembangan kegiatan
ekonomi masyarakat karena pada dasarnya ilmu ini bersifat empirik yang
mendasarkan teori – teorinya pada data dilapangan sehingga bila terjadi
perubahan data yang signifikan, teori – teori dapat berubah atau bahkan dganti
dengan teori – teori yang baru. Perubahan teori ini pada akhirnya juga dapat
berakibat pada perubahan defenisi ilmu ekonomi. Karena itu, tidak ada
kesempatan di kalangan ahli ekonomi tentang definisi ilmu ekonomi itu sebab
di samping karena sifatnya yang empirik, kecenderungan melihat aspek apa
perbedaan akan di tonjolkan dalam suatu definisi juga mempengaruhi
perbedaan dalam membuat definisi tentang ekonomi atau lmu ekonomi
tersebut.
_____________________
5. Suherman Rosyidi, Pengantar Teori Ekonomi: Pendekatan Kepala Teori Ekonomi Mikro dan
Makro ( Jakarta : Rajawali Press, 2003) halaman 7.
23
C. Ekonomi Islam dan Ilmu Ekonomi Islam
Jika di telusuri dalam sejarah Islam Klasik, istilah ilmu ekonomi Islam
tidak banyak di bicarakan para ulama atau ilmuan saat itu berbeda dengan
ilmuan – ilmuan saat itu berbeda dengan ilmu-ilmu lain baik ilmu agama
seperti ilmu tafsir, ilmu hadist, fiqih, Kalam, sastra maupun ilmu umum
seperti filsafat, kedokteran, kimia, dan sebagainya. Para ilmuan ekonomi Islam
juga jarang disebutkan dalam beberapa literatur klasik, berbeda dengan para
ilmuan dibidang ilmu lain tersebut. Disiplin ilmu ekonomi Islam juga tidak
banyak dibahas, pembahasan umumnya berkenaan dengan hukum ekonomi
Islam. Yang dikenal dengan fiqih muamalah dan bahasanya tidak bersangkut
secara langsung dengan ilmu ekonomi Islam. Dalam kondisi demikian,
mendefenisikan ilmu ekonomi Islam sebagaimana dinyatakan Syeh Mawab
Haidar Naqvi, merupakan kebiasaan baru yang radikal dalam praktek ekonomi
Islam. 7 Dewasa ini beberapa ekonomi muslim berusaha mendefenisikan
ekonomi Islam, mendefinisikan ekonomi Islam, tetapi hal itu tidak lepas dari
konteks permasalahan-permasalahan ekonomi yang mereka hadapi sehingga
kesan yang terjadi dalam mendefinisikannya dipengaruhi oleh kondisi para
ekonom muslim sendiri. Ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kegiatan
manusia dalam bidsang ekonomi antara suatu masa denmgan masa lain,
daerah satu dengan yang lain berbeda dengan disebabkan dengan ada
perbedaan-
__________________
6. Syehd Nawab Haidar Naqvi, Menggagas Ilmu Ekonomi Islam, Terjamahan (Yogyakarta: Pustaka
Pelajaran, 2003), hal. 18.
24
geografi, ideologi, dan demografi. Kondisi tersebut membuat kegiatan
manusia menjadi interaksi antara satu dengan lain terkadang efektif dan tidak
jarang pula kurang efektif. Manusia sering tidak menyatukan konsep
penanganan dalam mengefisienkan kegiatan ekonomi kedalam suatu konsep.
Karena itu, upaya untuk mengantisipasi kondisi tersebut dengan
mengembalikan pada konsep ketentuan al-qur’an dan hadist dalam rangka
penyelesaian masalah ekonomi dikalangan umum muslim.
Perbedaan mendefinisikan ekonomi muslim dapat diartikan sebagai
uasaha para ekonomi muslim untuk menjawab masalkah ekonomi yang
ditangfkapnya sesuai kondisi dan situasi dimana mereka berada yang disesuai
dengan sinar al-qur’an dan hadist nabi itu. Hal itu sebagaimana yang
dikatakan oleh Najatullah Siddiqi: ”Ekonomi Islam adalah jawaban dari
pemikir Ahli muslim terhadap ekonomi pada zamannya. Dalam upaya ini
mereka dibantu oleh Al-Qur’an dan sunnah Nabi, akal fikiran, dan
pengalaman”. 8
M. Abdul Manan, misalnya mendefinisikan ekonomi Islam sebagai
upaya untuk mengoptimalkan nilai Islam dalam kehidupan ekonomi
masyarakat. Ia mengatakan bahwa ekonomi Islam merupakan ilmun
pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat
diilhami dengan nilai-nilai Islam 9.
_________________
7. M.Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi: Islamisasi Ekonomi Kontemporer, Terjemahan
(Sura Baya: Risalah Gusti, 1999), hal.121.
8. M.A. Manan, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, terjemahan (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima
Yasa, 1997), hal. 19
25
Definisikan yang diberikan oleh Manan hampir semakna dengan
difinisikan yang diberikan oleh MM...Metwelly yang menekan pada usaha
dalam mempelajari masalah masyarakat Islam dalam memenuhi
kebutuhannya. Ia menyatakan: ”Ekonomi Islam dapat difenisikan sebagai ilmu
yang mempelajari prilaku muslim (orang beriman) dalam suatu masyarakat
islam yang mengikuti al-qur’an dan hadis nabi, ijmal’ dan kiyas”. 10 Jika
Abdul Manan dan MM. Welly menekankan ekonomi Islam pada masalah-
masalah dan perilaku ekonomi masyarakat muslim yang bersumber dari nilai-
nilai dan sumber-sumber Islam, Yusuf Al-Qard Lawi, menekankan pada
pendekatakan teologis ketika mendefinisikan ekonomi Islam, I a menyatakan:
”Ekonomi Islam adalah ekonomi yang beradasarkan Ketuhanan. Sistem ini
bertitik dari Allah bertujuan akhir pada Allah dan menggunakan sarana yang
tiodak lepas dari syari’at Allah.” 11.
Berkenaan denmgan masalah ekonomi dan perilaku manusia dalam
upaya pemenuhan kebutuhan yang beraneka, Kursit Ahmad mendefinisikan
ekonomi Islam sebagai suatu Usaha sitimatis untuk memahami masalah
ekonomi dan perilaku manusia dalam hubungan kepada persoalan tersebut
mwenurut perspekti Islam 12.
_______________
9. M.M. Merwally, Teori dan Model Ekonomi Islam. hal.1
10. Yusuf Qardawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, terjemahan (Jakarta Gema
Insani Pers, 1997), hal.31.
11. M.Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi Islam, hal.31.
26
Berbeda dengan definisi di atas, Set Nawab Haidar Naqi mencoba
memahami ekonomi Islam perspektif sosiologi yang mempelajari perilaku
manusia dalam perekonomian disegala aspek kehidupan dengan corak yang
khas. Bagi Naqvi, ekonomi Islam lebih ditekan sebagai sain yang bertugas
menimba permasalahan-permasalahan manusia dalam sebuah masyarakat
muslim dengan pola dan corak hidup yang tifikal. Ia menyatakan sebagai
berikut: ”Ekonomi Islam adalah perwakilan perilaku kaum muslimin dalam
suatu masyarakat muslim tifikal”. 13
Masalah pokok dalam perekjonomian yang menjadi masalah besar
dalam kehidupan ekonomi adalah ketidakadilan dan distribusi. Ketidakadilan
menimbulkan ketidakoptimalnya proses produksi, sehingga menghambat
peningkatan produksi, menimbulkan rasa tidak memiliki satu dengan lain
(Selfi loging) sehingga mengurangi etos kerja masyarakat secara umum.
Ilmu ekonomi Islam tidak hanya membahas masalah-masdalah dan perilaku
ekonomi masyarakat yang bersumber dari nilai-nilai dan sumber-sumber
Islam, tetapiu lebih dari itu menyangkut pula produksi dan distrinbusi yang
diilhami oleh kemajuan ekonomi modern, tentunya tetap dalam koridor hadis
Nabi. Dalam ekonomi Islam kemudian diformulisikan sebuah ilmu ekonomi
yang disebut dengan ilmu ekonomi Islam. Loys Contori, sebagaimana dikutip
oleh M.Umer Chapra, menyatakan sebagai berikut: ”Ekonomi Islam pada
hakikatnya suatu upaya untuk memformulasikan-
_________________________
12. M.Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi Islam, hal.31.
27
suatu ilmu ekonomi yang berorientasi kepada manusia dan masyarakat yang
tidak mengakui individualisme yang berlebih-lebihan sebagaimana didalam
ekonomi klasik”. 14
Definisi ilmu ekonomi Islam dikemukan oleh M.Umer Chapra,
mengutif pendapat Hamuzzaman, sebagai berikut: ”Ilmu ekonomi Islam
adalah pengetahuan dan aplikasi dari anjuran dan aturan Syari’ah yang
mencegah ketidakadilan dalam mempewroleh sumber-sumber daya material
sehingga tercipta kepuasan-kepuasan manusia dan memungkinkan mereka
menjalan perintah Allah dan menmgikuti aturan masyarakat”. 15
Selanjutnya, M.Umer Chapra sendiri mengemukakan definisi ilmu
ekonomi Islam dari segi aksiologis ilmu itu dalam kaitannya dengan
penciptaan kesejahteraan hidup manusia sebagai berikut: ”Suatu cabang
pengetahuan yang membantu merealisasikan kesejahteraan manusia melalui
suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber daya langkah yang seirama dengan
maqashid, tanpa mengekang kebebasan indiidu menciptakan-seimbangan
makro ekonomi dan ekologi yang berkepanjangan, atau melemahkan
solidaritas keluarga dan sosial serta jaringan masyarakat. 16
__________________
13. M.Umer Chapra, Islam dan Tantangan Ekonomi Islam, hal.121
14. Ibid, hal 121.
15. Ibid, hal.121
28
Definisi yang dikemukan Chapra tersebut lebih luas dari defini-definisi
sebelumnya yang mencakup setiap aspek ekonomi dalam masyarakat terutama
yang muslim dengan batasan maqashid al-Syari’ah, kebebasan indiidu, makro
ekonomi dan ekologi, solidaritas dan jaringan social masyarakat.
Dapat dinyatakan bahwa ekonomi Islam adalah sebuah disiplin ilmu
yang membahas aktiitas ekonomi dalam suatu masyarakat Islam denmgan
corak yang khas karena berdasarkan pada sumber-sumber ajaran Islam (Al-
Qur’an, Hadits Nabi, Ijtima’ dan Qiyas) serta maqashid Al-Syari’ah
umumnya. Orientasi ilmu ekonomi Islam adalah untuk merealisasikan
kesejahteraan manusia melalui suatu alokasi dan distribusi sumber-sumber
daya, menciptakan keseimbangan makro dan ekologi memperkuat solidaritas
keluarga serta sosial masyarakat dan menciptakan keadilan terutama dalam
distribusi.
29
setiap konsep, ajaran atau prinsip – prinsip dalam ekonomi islam tidak di
perkenankan bertentangan dengan ketentuan Al – Qura’an. Ketentuan Al
Qu’an merupakan pedoman bagi manusia di setiap waktu dan dalam segala
bidang termasuk dalam bidang perekonomian yang meliputi pengelolaan
harta, perdagangan, riba, piutang, dan sebagainya.17
Sunnah atau hadits Nabi merupakan sumber hukum setelah al-qur’an
yang memerintahkan kaum muslimin agar mengikuti perilaku Nabi SAW,
yang menjadi tauladan dan sebagai penjelas ayat-ayat al-qur’an baik melalui
sabda-sabda, perbuatan, sikap, dan perilakunya. Banyak ayat al-qur’an yang
menyuruh umat muslim yang mengikuti Rasulullah yang juga sebagai
manisfestasi ketaatan kepada Allah. Ada beberapa model perilaku ekonomi
yang dicontohlan nabi misalnya cara menjual barang yang benar, melakukan
gadai, berserikat dalam bisnis, dan sebagainya.
Di samping al-qur’an dan sunnah, sumber inspiransi konsep dan teori
ekonomi Islam adalah Ijma’. Ijma’ merupakan kesempatan semua mujtahid
umat Muhammad SAW. Dalam satu masa setelah beliau wafat tentang hukum
syari’ah. Kebenaran Ijma’ menjadi solusi pemecahan persoalan yang dihadapi
umat muslim termasuk dalam bidang ekonomi karena dengan kesempatan itu,
perpecahan pendapat dapat dihindari dan umat muslim tinggal melaksanakan
hasil kesepakatan tersebut. Karena itu, ijma’ melaksanakan hasil kesepakatan
tersebut merupakan faktor-faktor paling dalam memecahkan kepercayaan dan
praktek rumit kaum muslimin padsa suatu masa tertentu dan memiliki
kesohehan dan daya profesional yang tinggi.
Dikalangan umat muslim, jika suatu persoalan tidak secara tegas
dutegaskan dalam al-qur’an, sunnah, atau ijma’, maka mereka
menyelesaikannya dengan qiyas atau metode ijtihad lain. Qiyas pada suatu
sisi menjadi sumber Islam dan pada sisi yang laion sebagai metode penetapan
hukum Islam. Qiyas dapat didefinisikan dengan pemindahan hukum yang
terdapat pada ash/kepada furu’ atas dasar, atas illat yang tidak dapat diketahui
dengan logika bahasa. Qiyas tersebut sering pula dikaitkan dengan ijtihad,
yaitu upaya untuk mencurahkan segala daya kemampuan untuk menghasilkan
hukum syaria’ dari dalil-dalil syara’ secara terperinci yang bersifat operasional
dengan cara istimbath untuk mencapai kesimpulan hukum. Qiyas berperan
dalam memperluas hukum ayat al-qur’an atau hadits. Nabi kepada soal-soap
yang tidak termasuk kedalam ketentuan keduanya secara eksplinsit dengan
adsanya persamaan alasan atau sebab ‘efektif yang disebut’ illat yang terdapat
pada dua peristiwa yang dianalogkan.
___________
16. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan bidang ekonomi antara lain terdapat pada surat: al-
Baqarah/2:188, 280, 270, al-Nisa’/4: 32,10,29, al-A’raf/7:128, al-Taubah/9: 60, Yunus/10: 67, al-
Ra’ad/13:11, al-Dzariyat/51:19. al-Ma’ary/70: 24-25, dan lainnya.
30
Disamping keempat sumber tersebut ‘urf merupakan salah satu sumber
inspiransi nilai-nilai Ekonomi Islam. Urf dapat diartikan dengan sesuatu yang
diketahui dan dilakukan orang. 18 Atau sesuatu yang biasa dilakukan
masyarakat muslim yang telah internalisasi dalam bentuk adat istiada baik
berupa perkataan sikap, perbuatan atau lain-lainnya. Demikian halnya istihsan
dapat menjadi pertimbangan untuk menelusuri ekonomi Islam dengan cara
mendahulukan qiyas khafi (yang tersembunyi dari) qiyas jali (jelas) atau dari
hukum kulli (umum atau global) kepada hukum istisna’I (pengecualian). 19
Metode lain yang dapat digunakan untuk menggali nilai atau hukum
ekonomi Islam adalah dengan istishhab, yaitu dengan cara menetapkan nilai
atau hukum tertentu sampai sesuatu keadaan yang sebelumnya, sampai adanya
adil yang mengubah keadaan itu atau menjadikan hukum nilai yang ada
dimasa lalu tetap dipakai sekarang sampai ada adil yang mengubahnya. 20
Disamping itu nilai-nilai hukum Islam dapat ditelusuri melalui metode
mashlahah al-mussalah yanbg berupa kemaslahatan yang tidak di syari’ahkan
oleh Allah wujud hukum nash dalam rangka menciptakan kemaslahatan
manusia. Nilai-nilai bidang ekonomi banyak yang sebagian tidak tersentu nash
dapat ditentukan melalui mashlahah ini.21
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya ekonomi
Islam adalah sistem keilmuan yang bersumberkan ajaran Islam dalam hal yang
menyangkut harta pada sumber daya ekonomi yang diberikan Allah kepada
makhluk Nya untuk meningkatkan kemakmuran umat manusia. Oleh karena
itu sesuai dengan ajaran Islam, ekonomi Islam mementingkan nilai
kemakmuran,- ketakwaan, peningkatan taraf kehidupan yang selaras dengan
material dan spiritual, pelaksanaan tanggung jawab sosial, dan pelestraian
lingkungan.
_________________
17. Abd. Wahab Khallaf, Ilm Ushul al-Fiqh (Beirut: Dar al-Fikr, 1988), hal. 104
18. Ibid, hal. 93
19. Ibid, hal. 107.
20. Achmad Ramzy Tadjoedin, Berbagai Aspek Ekonomi Islam (Yogyakarta: PT Tiara Wacana,
1992), hal. 2003-204
31
BAB III
PARADIGMA EKONOMI ISLAM
A. Pendahuluan
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk Allah yang terbaik diantara
semua makhluk. Pada diri manusialah terletak dimensi rohani dan jasmani
sebagai bagian dari kesempurnaan. Karena itu hanya makhluk Allah inilah
yang mendapat amanah untuk menjadi kahalifah dibumi. Khalifah yang
mewakili Allah, untuk memakmurkan bumi dan harus memwakili sifat – sifat
Allah yang mulia ( Akhlakul Karimah ) yang sepadanm untuk manusia.
Adapun akhlak mulia yang dapat dilakukan oleh manusia diantaranya yaitu:
pengasih, penyayang, penolong, pemurah, pemaaf, penegak keadilan, dan
kebenaran serta sebagainya. Sedapat mungkin dalam semua aktifitas manusi
menggambarkan akhlak – akhlak mulia sehingga bumi yang dipimpinnya
menjadi makmur, aman, dan tentram di bawah naungan Allah. Diantara
berbagai aktifitas itu ada yang disebut aktifitas ekonomi. Aktifitas ini
termasuk dalam cabang muamalah atau ”hablumminnannas”. Anamun dalam
mengerjakannya tidak terlepas dengan ” habluminaallah” atau bersandar pada
syariah dalam bentuk tuntunan Allah dan Rasulnya. Ketika manusia
melakukan aktifitas ekonominya, manusia banyak yang terkoda untuk
mengambil untung yang sebesar – besarnyahanya sesuai dengan nanfsu
dunianya. Padahal dalam tuntunan Allah dan Rasulnya, sudah jelas bahwa
semua aktifitas manusia harus bermuara kepada satu tujuan yaitu mencapai
kebahagiaan yang hakiki dunia wal akhirat. Disini Allah mengajarkan kepada
manusia melalui rasulnya agar manusia berusaha untuk mencapai dimensi
kebahagian tersebut, karena manusia dalam kehidupannya supaya sering
berdo’a ” Robbana Atina fitdunya hasanah wakina adzabannar”, ”Tuhan
berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan lindungi
kami dari azab api neraka”.
Disinilah sebenarnya terletak subtansi dari aktivitas ekonomi
bernuansa Islam yang kemudian dikenal dengan ekonomi Islam.ekonomi
Islam bukan hanya sekedar mengejar keuntungan untuk akhirat. Karena itu
ekonomi Islam akan di tengah – tengah umat yang bukan penganut agama,
agama apapun yang dianut
B. Fenomena-Fenomena Ekonomi
Walaupun ekonomi islam memahami manusia dengan kebutuhan yang
sifatnya terbatas, dan alat pemuas kebutuhan yang bersifat tanpa batas (
khusus sumber daya ilmiah, namun bukan tanpa masalah. Dalam rangka
manusia untuk memenuhi kebutuhannya, baik secara lahiriah, maupun secara
bathiniah, dengan harapan untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.
Adapun masalah ekonomi yang menjadi sorotan ekonomi islam adalah
sebagai berikut:
32
1. Ketimpangan Ekonomi
1) Individu dengan Individu, yaitu lahir sebagai akibat keserakahan
individu yang lebih kuat, dan lebih mampu dalam banyak aspek,
sehingga menimbulkan eksploitasi seumber daya yang tidak
seimbang. Dengan tanpa peduli mereka yang kuat makin
menguasai sumber daya yang ada, sementara yang lemah menjadi
korban. Disini hak dan kewajiban masing – masing individu tidak
terwujud dengan baik.
2) Kelompok dengan koleompok, yaitu sekelompok orang – orang
kuat, membangun kerja sama dalam bisnis. Maupun organisasi
tertentu, supaya lebih kuat lagi dalam menguasai sumber daya
ekonomi dengan tanpa peduli terhadap kelompok lemah lain yang
jumlahnya lebih banyak. Maka lahirlah kesenjangan yang makin
melemahkan kelompok yang lemah.
3) Sektor dengan sector, yaitu ketimbangan yang terjadi sebagai
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ketimbangan kelompok,
dimana sector kuat ( industri ) yang dikelola dengan tekhnologi
maju. Berhadapan dengan sector yang lemah yang dikelola secara
tradisional atau memiliki ketergantungan dengan sector yang kuat.
Nilai dan harga produksi yang hasilnya sangat mencolok
perbedaannya, dengan posisi tawar yang sangat lemah bagi sector
yang lemah. Ketimbangan sector inilah yang banyak membawa
kemelaratan umat manusia, dimana mereka berbeda disektor
lemah sangat sulit untuk bangkit.
4) Wilayah dengan wilayah,
Sadar atau tidak setiap wilayah baik secara ilmiah, cultural
maupun structural banyak memiliki perbedaan. Apabila perbedaan
tersebut, tidak dikelola dengan baik, maka lahirlah wilayah yang
kuat dan dapat mengekploitasikan wilayah yang lemah. Kenyataan
seperti ini bisa terjadi secara local, regional, nasional, maupun
internasional.
5) Negara dengan Negara
Dengan adanya perbedaan pemilikan sumber daya alam, sumber
daya manusia,sumber daya modal, dan sumber daya teknologi,
maka perbedaan antar Negara tak akan dapat di elakkan. Negara
yang terlanjur maju sumberdaya manusianya, modal, dan
tekhnologinya memiliki kekuatan yang dasyat untuk
mengekploitasikan Negara yang lemah yang secara umum hanya
memiliki sumber daya alam. Posisi tawar dari Negara yang hanya
memiliki sumber daya alam sangat lemah, semantara dengan
Negara yang telah maju dengan teknologi yang mereka miliki
menciptakan berbagai jenis kebutuhan manusiayang di butuhkan
33
pula oleh mereka yang berada di Negara lemah. Sekalipun negar
maju mendapatkan penemuan, maka penemuan itu akan
mendatangkan pendapatan yang sebanyak – banyaknya, buat dia
karena penemuan itu diperoleh dengan biaya yang mahal,
sehingga dijual dengan harga yang sangat mahal pula. Jika tercipta
hubungan dagang antara Negara kuat dengan Negara lemah, maka
posisi tawar sangat tidak berimbang. Seluruh hasil bumi Negara
yang lemah yang hanya memiliki sumber daya alam, maka
terkuras habis untuk mendatangkan seperangkat alat yang
diperlukan, misal di bidang militer, kesehatan, industri lainnya.
Untuk mencukupi kebutuhan Negara yang lemah yang hanya
dapat melakukannya dengan cara berhutang. Sementara hasil
teknologi yang mereka jual untuk Negara yang lemah tidak
mungkin dapat ditiru oleh Negara yang lemah bagaimanapun
pandainya, karena penemuan mereka telah dilinndungi oleh UU (
hak Paten) sampai dengan dunia kiamat hak produksi, hhak cipta,
hak jual, dan semua hak yang lainnya telah melekat pada mereka.
Dan kalau sudah terkuras sumberdaya alam Negara yang lemah,
utang, akan semakin sulit untuk di banyar dan ketergantungan
akan semakin dalam, dengan berbagai masalaah yang makin
menghimpit Negara. Kemiskinan penduduk akan semakin parah
penjajahan ekonomi yang dihadapi oleh Negara jika ekonomi
islam tidak di terapkan.
2. Akhlak Ekonomi Manusia
Sudah merupakan Sunatullah bahwa manusia lahir kebuni dengan dua
sisi. Ada sisi malaikat dan ada sisi hewaniyah. Bila sisi hewaniyah
yang di perturutkan oleh manusia maka yang muncul adalah naluri
hewan yang tidak mengenal aturan sehingga nafsulah yang diikuti.
Pemerasan, pemalsuan, penipuan, pengutamaan Kepentingan sendiri
( egois ) dan semua akhlak buruk lainnya akan mengambil peran
dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk aspek ekonomi (
bisnis ). Bisnis apapun yang dilaksanakan orientasi profit yang
maksimal merupakan berhala yang harus di patuhi tanpa peduli
dengan persoalan “ maslahah”. Sebaiknya bila sisi malaikat yang
dikembangkan naka yang muncul adalah sifat – sifat yang terpuji.
Ekonomi islam hanya akan tegak manakala semua pelakunya
berakhlak mulia ( akhlakul kharimah ). Karena akhlak manusia masih
banyak yang liar, maka din pandang mutlak untuk diijinkan dengan
tuntunan syariah.
3. Distribusi Sumberdaya Alam
Di dalam suatu Negara yang memiliki sumberdaya alam, dalam
bentuk hasil laut, hasil hutan, dan beraneka ragam hasil tambang (
logam, bakan baker, uranium, dan berbagai tambang lainnya )
34
sesungguhnya adalah milik rakyat. Karena itu harus diolah,
dimanfaatkan atau dijual untuk kepentingan rakyat, bukan untuk
kepentingan pejabat keluarga atau kelompok pejabat. Masalah
distribusi sumberdaya alam semakain memperbesar kemiskinan
sebuah bangsa jika tidak tertangani dengan baik. Dan ekonomi islam
mempunyai sebuah bangsa jika tidak tertangani dengan baik. Dan
ekonomi islam mempunyai konsep yang jelas, bagaimana mengelola
sumberdaya alam milik Negara.
4. Pengelola Ekonomi Umat
Ekonomi umat islam adalah ekonomi yang berlandaskan
persaudaraan ( brotherhood economic ) yang berarti segala sesuatu
yang dapat di selesaikan secara ikhlas, damai, saling menguntungkan,
laksana seperti orang yang bersaudara dalam satu keluarga besar,
yang penuh kasih saying diantara semua keluarga. Dengan demikian
akan jauh dari perbuatan yang merugikan, mencelakakan dan
membawa penderitaan bagi sesame saudara.
Masalah ekonomi masyarakat masih sangat memprihatinkan karena
tingginya pemerasan antara satu denagn yang lain, yang menimbulkan
kemiskinan yang berkepanjangan.
Ekonomi islam sejak kelahirannya, telah memiliki peralatan yang
sempurana untuk mengatasi persoalan ekonomi umat. Diantara alat –
alat itu adalah” lembaga keuangan syariah, zakat, infak, sadakah,
jiziah wakaf, warisan dan lembaga distribusi lain berdasarkan syariah
termasuk peran pemerintah yang amanah, jujur, bersih, dan
berwibawa.
35
bertentangan dangan syariah. Dunia ini bebas di kelola untuk
mewujudkan kamasyahatan dan kebahagiaan manusia dunia akhirat.
Rasio manfaat dan mudharat, sangat dekat dengan analisa benefit
cost ratio dalam ekonomi konvensional.
3) Pendekatan transcendental, inilah satu – satunya pendekatan yang
tidak dimiliki oleh ekonomi konvensional. Pendekatan ini berangkat
dari kenyakinan mengenai adanya hari pembalasan di hari
kemudian. Pendekatan ini lah yang membimbing manusia dalam
berprilaku ekonomi, guna mencapai tujuannya, yaitu mencapai
kebahagian yang tinggi di dunia dan di hari kemudian. Dengan
pendekatan ini pengorbanan yang dilakukan manusia mungkin
secara realitas, nampak tidak mendatangkan keuntungan langsung
yang bersifat duniawi, namun dengan pertimbangan untuk
kebahagiaan ukhrawi pengorbanan ( cost ) akan tetap dikeluarkan
karena harapan pahala dari sisi Allah Swt. Ketiga pendekatan
tersebut tak akan pernah terpisahkan dalam mempelajari dan
mempraktekkan ekonomi Islam, guna mencapai tujuan yang hakiki.
36
BAB IV
MASALAH DAN METODOLOGI EKONOMI ISLAM
A. Pendahuluan
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk Allah yang terbaik diantara
semua makhluk. Pada diri manusialah terletak dimensi rohani dan jasmani
sebagai bagian dari kesempurnaan. Karena itu hanya makhluk Allah inilah
yang mendapat amanah untuk menjadi kahalifah dibumi. Khalifah yang
mewakili Allah, untuk memakmurkan bumi dan harus memwakili sifat – sifat
Allah yang mulia ( Akhlakul Karimah ) yang sepadanm untuk manusia.
Adapun akhlak mulia yang dapat dilakukan oleh manusia diantaranya yaitu:
pengasih, penyayang, penolong, pemurah, pemaaf, penegak keadilan, dan
kebenaran serta sebagainya. Sedapat mungkin dalam semua aktifitas manusi
menggambarkan akhlak – akhlak mulia sehingga bumi yang dipimpinnya
menjadi makmur, aman, dan tentram di bawah naungan Allah. Diantara
berbagai aktifitas itu ada yang disebut aktifitas ekonomi. Aktifitas ini
termasuk dalam cabang muamalah atau ”hablumminnannas”. Anamun dalam
mengerjakannya tidak terlepas dengan ” habluminaallah” atau bersandar pada
syariah dalam bentuk tuntunan Allah dan Rasulnya. Ketika manusia
melakukan aktifitas ekonominya, manusia banyak yang terkoda untuk
mengambil untung yang sebesar – besarnyahanya sesuai dengan nanfsu
dunianya. Padahal dalam tuntunan Allah dan Rasulnya, sudah jelas bahwa
semua aktifitas manusia harus bermuara kepada satu tujuan yaitu mencapai
kebahagiaan yang hakiki dunia wal akhirat. Disini Allah mengajarkan kepada
manusia melalui rasulnya agar manusia berusaha untuk mencapai dimensi
kebahagian tersebut, karena manusia dalam kehidupannya supaya sering
berdo’a ” Robbana Atina fitdunya hasanah wakina adzabannar”, ”Tuhan
berikanlah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat dan lindungi
kami dari azab api neraka”.
Disinilah sebenarnya terletak subtansi dari aktivitas ekonomi bernuansa
Islam yang kemudian dikenal dengan ekonomi Islam.ekonomi Islam bukan
hanya sekedar mengejar keuntungan untuk akhirat. Karena itu ekonomi Islam
akan di tengah – tengah umat yang bukan penganut agama, agama apapun
yang dianut, selama percaya dengan hati akhirat, walaupun demikian bagi
mereka bukan penganut agama ketika mereka memahami makna dan hakekat
ekonomi islam, maka mereka pun merasakan bahwa ekonomi islam itu indah
dan bermanfaat untuk manusia.
Mengapa indah, karena ekonomi islam didasarkan moral yang tinggi
dan akhlak mulia sehingga semua perilaku manusia dalam aktivitas
ekonominya tidak akan pernah mentimpang dari kebenaran, kejujuran,
keadilan, dan semua akhlak mulia lainnya. Dengan kata lain, ekonomi islam
tidak akan pernah berbuat yang hanya menguntungkan diri sendiri, sementara
orang lain dirugikan, yang berarti bahwa ekonomi islam rtidak akan pernah
37
menciptakan kebahagian sendiri sementara orang lain disengsarakan. Adakah
diantara manusia yang bersaudara, akan berbuat kecelakaan terhadap
saudaranya sendiri. Mungkin ada dan bisa terjadi pada manusia yang
abnormal, atau hanya mementingkan keuntungan sesaat yaitu keuntungan
duniawi, sementara kepentingan ukhrawi dikorbankan, dan kasusu seperti ini
sering terjadi pada aktiitas ekonomi konensional ( ekonomi kapitalis dan
sosialis komunis ) karena para pendiri dan pengikut sistem – sistem ekonomi
tersebut tidak mengenal nilai – nilai transendantal. Salah satu landasan
ekonomi Islam yang paling kuat adalah firman – firman Allah dalam Al –
Qur’an Surat Qasas ayat 77 bermakna sebagai berikut ” Carilah dengan,
karunia Rabmu, untuk kebahagianmu di akhirat, tetapi jangan lupakan
nasibmu di dunia. Dan berbuat jahat, sesungguhnya Allah tidak suka kepada
hambanya yang berbuat jahat”.
Berdasarkan pernyataan Allah tersebut, maka ekonomi islam dengan
berbagai perilaku bisnisnya, perilaku konsumsinya dan perilaku produksinya
akan selalu bersandar pada tujuan utama yaitu keseimbangan (Equilibrium)
utnuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Sebagai ilustrasinya adalah ”manusia
dalam mengarungi samudera kehidupan boleh kaya dan boleh juga miskin ”.
Baik kaya maupun miskin sama – sama berpeluang untuk masuk surga dan
neraka. Maka ekonomi islam mengambil sikap yang kokoh dan sangat prinsip
yaitu hidup kaya dan masuk surga. Demikianlah tujuan utama yang hendak di
capai oleh para pelaku ekonomi Islam. Maka pantas kiranya kalau di katakan
ekonomi islam itu indah.
38
ekonomi dengan tanpa peduli terhadap kelompok lemah lain yang
jumlahnya lebih banyak. Maka lahirlah kesenjangan yang makin
melemahkan kelompok yang lemah.
3) Sektor dengan sector, yaitu ketimbangan yang terjadi sebagai
bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ketimbangan kelompok,
dimana sector kuat ( industri ) yang dikelola dengan tekhnologi
maju. Berhadapan dengan sector yang lemah yang dikelola secara
tradisional atau memiliki ketergantungan dengan sector yang kuat.
Nilai dan harga produksi yang hasilnya sangat mencolok
perbedaannya, dengan posisi tawar yang sangat lemah bagi sector
yang lemah. Ketimbangan sector inilah yang banyak membawa
kemelaratan umat manusia, dimana mereka berbeda disektor
lemah sangat sulit untuk bangkit.
4) Wilayah dengan wilayah,
Sadar atau tidak setiap wilayah baik secara ilmiah, cultural
maupun structural banyak memiliki perbedaan. Apabila perbedaan
tersebut, tidak dikelola dengan baik, maka lahirlah wilayah yang
kuat dan dapat mengekploitasikan wilayah yang lemah. Kenyataan
seperti ini bisa terjadi secara local, regional, nasional, maupun
internasional.
5) Negara dengan Negara
Dengan adanya perbedaan pemilikan sumber daya alam, sumber
daya manusia,sumber daya modal, dan sumber daya teknologi,
maka perbedaan antar Negara tak akan dapat di elakkan. Negara
yang terlanjur maju sumberdaya manusianya, modal, dan
tekhnologinya memiliki kekuatan yang dasyat untuk
mengekploitasikan Negara yang lemah yang secara umum hanya
memiliki sumber daya alam. Posisi tawar dari Negara yang hanya
memiliki sumber daya alam sangat lemah, semantara dengan
Negara yang telah maju dengan teknologi yang mereka miliki
menciptakan berbagai jenis kebutuhan manusiayang di butuhkan
pula oleh mereka yang berada di Negara lemah. Sekalipun negar
maju mendapatkan penemuan, maka penemuan itu akan
mendatangkan pendapatan yang sebanyak – banyaknya, buat dia
karena penemuan itu diperoleh dengan biaya yang mahal,
sehingga dijual dengan harga yang sangat mahal pula. Jika tercipta
hubungan dagang antara Negara kuat dengan Negara lemah, maka
posisi tawar sangat tidak berimbang. Seluruh hasil bumi Negara
yang lemah yang hanya memiliki sumber daya alam, maka
terkuras habis untuk mendatangkan seperangkat alat yang
diperlukan, misal di bidang militer, kesehatan, industri lainnya.
Untuk mencukupi kebutuhan Negara yang lemah yang hanya
dapat melakukannya dengan cara berhutang. Sementara hasil
39
teknologi yang mereka jual untuk Negara yang lemah tidak
mungkin dapat ditiru oleh Negara yang lemah bagaimanapun
pandainya, karena penemuan mereka telah dilinndungi oleh UU (
hak Paten) sampai dengan dunia kiamat hak produksi, hhak cipta,
hak jual, dan semua hak yang lainnya telah melekat pada mereka.
Dan kalau sudah terkuras sumberdaya alam Negara yang lemah,
utang, akan semakin sulit untuk di banyar dan ketergantungan
akan semakin dalam, dengan berbagai masalaah yang makin
menghimpit Negara. Kemiskinan penduduk akan semakin parah
penjajahan ekonomi yang dihadapi oleh Negara jika ekonomi
islam tidak di terapkan.
2. Akhlak Ekonomi Manusia
Sudah merupakan Sunatullah bahwa manusia lahir kebuni dengan dua
sisi. Ada sisi malaikat dan ada sisi hewaniyah. Bila sisi hewaniyah
yang di perturutkan oleh manusia maka yang muncul adalah naluri
hewan yang tidak mengenal aturan sehingga nafsulah yang diikuti.
Pemerasan, pemalsuan, penipuan, pengutamaan Kepentingan sendiri
( egois ) dan semua akhlak buruk lainnya akan mengambil peran
dalam semua aspek kehidupan manusia, termasuk aspek ekonomi (
bisnis ). Bisnis apapun yang dilaksanakan orientasi profit yang
maksimal merupakan berhala yang harus di patuhi tanpa peduli
dengan persoalan “ maslahah”. Sebaiknya bila sisi malaikat yang
dikembangkan naka yang muncul adalah sifat – sifat yang terpuji.
Ekonomi islam hanya akan tegak manakala semua pelakunya
berakhlak mulia ( akhlakul kharimah ). Karena akhlak manusia masih
banyak yang liar, maka din pandang mutlak untuk diijinkan dengan
tuntunan syariah.
3. Distribusi Sumberdaya Alam
Di dalam suatu Negara yang memiliki sumberdaya alam, dalam
bentuk hasil laut, hasil hutan, dan beraneka ragam hasil tambang (
logam, bakan baker, uranium, dan berbagai tambang lainnya )
sesungguhnya adalah milik rakyat. Karena itu harus diolah,
dimanfaatkan atau dijual untuk kepentingan rakyat, bukan untuk
kepentingan pejabat keluarga atau kelompok pejabat. Masalah
distribusi sumberdaya alam semakain memperbesar kemiskinan
sebuah bangsa jika tidak tertangani dengan baik. Dan ekonomi islam
mempunyai sebuah bangsa jika tidak tertangani dengan baik. Dan
ekonomi islam mempunyai konsep yang jelas, bagaimana mengelola
sumberdaya alam milik Negara.
4. Pengelola Ekonomi Umat
Ekonomi umat islam adalah ekonomi yang berlandaskan
persaudaraan ( brotherhood economic ) yang berarti segala sesuatu
yang dapat di selesaikan secara ikhlas, damai, saling menguntungkan,
40
laksana seperti orang yang bersaudara dalam satu keluarga besar,
yang penuh kasih saying diantara semua keluarga. Dengan demikian
akan jauh dari perbuatan yang merugikan, mencelakakan dan
membawa penderitaan bagi sesame saudara.
Masalah ekonomi masyarakat masih sangat memprihatinkan karena
tingginya pemerasan antara satu denagn yang lain, yang menimbulkan
kemiskinan yang berkepanjangan.
Ekonomi islam sejak kelahirannya, telah memiliki peralatan yang
sempurana untuk mengatasi persoalan ekonomi umat. Diantara alat –
alat itu adalah” lembaga keuangan syariah, zakat, infak, sadakah,
jiziah wakaf, warisan dan lembaga distribusi lain berdasarkan syariah
termasuk peran pemerintah yang amanah, jujur, bersih, dan
berwibawa.
41
namun dengan pertimbangan untuk kebahagiaan ukhrawi pengorbanan
( cost ) akan tetap dikeluarkan karena harapan pahala dari sisi Allah
Swt. Ketiga pendekatan tersebut tak akan pernah terpisahkan dalam
mempelajari dan mempraktekkan ekonomi Islam, guna mencapai
tujuan yang hakiki.
4. Dengan demikian pendekatan berdasarkan kaidah umum ( deduktif )
dilengkapi dengan pendekatan induktif yang bersifatnya lebih konkrit
( berwujud ), menjadi metode yang tak terpisahkan satu sama lainnya.
42
BAB V
KONSEP TENTANG UANG DAN PERBANKAN
43
adalah uang bukan capital. Karena sebagaimana dikatan oleh Ibnu Khaldun
dalam Adiwarman bahwa kekayaan suatu Negara tidak ditentukan oleh
banyak uang, tetapi ditentu oleh tingkat produksi Negara dan neraca
pembayaran yang positif. Bisa saja suatu Negara mencetak uang sebanyak-
banyaknya, tetapi bila hal itu bukan merupakan refleksi pesatnya
pertumbuhan sector produksi, maka uang itu tidak ada nilainya. Sektor
produksilah yang menjadi motor pembangunan, menyerap tenaga kerja,
meningkatkan pendapatan pekerja, dan menimbulkan permintaan atas factor
produksi lainnya.18. Artinya suatu Negara yang telah mengekspor bearti
mempunyai kemampuan produksi lebih besar dari kebutuhan domistiknya
sekaligus menunjukkan bahwa negaranya lebih efisien dalam produksinya
sekaligus membuktikan bahwa Negara mempunyai uang.
Sementara itu konsep uang dalam ekonomi konvensional bahwa konsep
uangnya tidak jelas. Misalnya dalam buku Money, Interest and Capital tahun
1989 karya Colin Rogers, uang diartikan bertukaran (interchangeability),
seabagai uang atau sebagai capital. Kalau uang diartikan bertukaran, maka
orang atau Negara bisa saja mencetak uang sebanyak-banyaknya, apa bila
uang dicetak sebanyak maka Negara itu akan kaya. Jadi disilah letaknya
ketidak jelasan dalam konsep uang yang pada gilirannya menimbulkan
kekacauan. Realisasi dari kekacauan konsep uang ini sehingga sistim uang
pada ekonomi konvensional selalu mengarah kepada pasar uang atau bursa
atau mealalui perdagangan uang. Sebagaimana upaya yang dilakukan oleh
Robert Merton dan Myton Scholes, yang mencari kekayaan dengan memutar
uang bukan dengan memproduksi. Bayangkan saja, perusahaan mereka,
dengan modal US$2,2 miliar dapat dengan mudah meminjam uang dari
berbagai sumber untuk dibelikan surat berharga senilai US$90 miliar.
Celakanya, surat jaminan itu dijadikan jaminan untuk transaksi yang jauh
lebih besar, senilai US$ 1,25 triliun. Kekacauan dalam sector financial yang
bersifat semu atau tidak jelas, yang mengakibatkan mereka rugi. Dan inilah
suatu bukti bahwa dikala uang mengelembung tidak diimbangi dengan
produksi akan menyebabkab malapetaka berupa kerugian besar, yang pada
gilirannya menyebabkan yang lain menderita seperti Negara dan masyarakat,
baik berskala nasional maupun internasional.
Konsep yang jelas sebagai mana yang diatur dalam ekonomi Islam bahwa
uang adalah sesuatu yang bersifat flow concept. Sedangkan dalam system
konvensional (capital) adalah bersifat stock consept. Selain itu, dalam system
konvensional tersebut juga terdapat beberapa makna seperti yang
diungkapkan oleh Frederick Mishkin dalam bukunya Economics of money,
Banking, and
__________________
18
Adiwarman A. Karim. Ekonomi Islam. Suatu Kajian Kontemporer. (Gema Insani Jakarta, 2001),
hal, 55.
44
Financial Institutions 1990, dengan mengungkap konsep Irving Fisher
sebagai berikut:
MV=PT
M= : Jumlah uang
V= : Tingkat pertukaran uang
P= : Tingkat harga barang
T= : Jumlah barang yang diperdagangkan.19
Persamaan di atas menunjukkan semakin cepat perputaran uang (V’)
akan besar pendapatan. Selain itu juga menegaskan bahwa uang adalah flow
concept. Fisher mengatakan, sama sekali tidak ada korelasi antara kebutuhan
memegang uang (temand for holding money) dengan tingakat suku bunga.
Konsep ini hamper sama dengan konsep ekonomi Islam bahwa uang adalah
flow concept, bukan stoc concept.
Namun demikian tidak boleh menyederhanakan masalah dengan
mengatakan bahwa perbedaan ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional
semata-mata terletak pada fakta Islam memandang uang sebagai flow concept
sedangkan ekonomi konvensional memandang uang seabagai stoc concept.
Pandangan seperti ini keliru. Sebab, kenyataannya dalam ekonomi
konvensional sendiri terjadi pertentangan pendapat antara kelompok Fied
mand kaum monetaris disuatu kubu dengan kaum Keynesian dan
Cambridge school di kubu lain.
Misalnya, Fiesher mengatakan uang adalah flow concept sedangkan kelompok
dari Cambridge mengatakan uang adalah stock concept.
Menurut konsep ekonomi Islam, capital is private goods sedangkan
money is public goods. Uang yang mengalir adalah public good ( flow concept
), sedangkan yang mengendap sebagai milik seseorang ( stock concept )
adalah memiliki pribadi – pribadi ( private good ).
Konsep Islam Konsep Konvensional
1. Uang tidak identik dengan modal. 1. Uang sering diidentikkan dengan
2. Uang adalah public goods modal
3. Modal adalah private goods. 2. Uang ( modal ) adalah private
4. Uang adalah flow concept. goods.
5. modal adalah flow concept. 3. Uang ( modal ) adalah concept
bagi fiester.
4. Uang (modal) adalah stock
concept bagi Cambridge School.
___________________
19
Bambang Rinto Rustam. Perbankan Syari’ah. Mumtaz Cendekia Press Pekanbaru, 2004), hal, 23
45
2. Fungsi uang
Fungsi uang berbeda antara system ekonomi konvensional dan system
ekonomi Islam. Dalam ekonomi konvensional, di kenal 3 fungsi uang yaitu:
1. Alat pertukaran ( medium of exchange ).
2. Satuan nilai ( Unit of account )
3. Penyimpan nilai ( Store of value )
Dalam ekonomi Islam fungsi uang dikenal sebagai berikut:
1. Alam pertukaran ( medium of exchange for transaction ).
2. Satuan nilai ( unit of account ).
Tegasnya, Islam hanya mengenal dalam fungsinya sebagai alat
pertukaran
( medium of change ), yaitu media untuk pengubah barang dari satu bentuk
satu kebentuk yang lain fungsinya yang kedua adalah sebagai satuan nilai (
unit Of account ).
Menurut Imam Ghazali, dalam ekonomi barter sekalipun, fungsi uang
sebagai unit of account tetap di perlukan; misalnya untuk mengukur apakah 5
baju sama dengan nilai1 kue. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ghazali berkata,
“ uang itu seperti cermin tidak berwaarna tetapi dalam memreflrksikan warna”
uang tidak mempunyai harga tetapi dapat merefleksikansikan semua harga.
Yang dalam istilah ekonomi klasik dikatakan bahwa uang tidak memberikan
kegunaan langsung, (direct utility fungtion). Hanya bila uang itu digunakan
untuk membeli barang, barang itu akan memberi kegunaan. Dalam teori neo-
klasik dikatakan bahwa kegunaan uang timbul dari daya belinya. Jadi memberi
kegunaan tidak langsung (indirect utility function). Apapun debat para
ekonomi tentang konvensi ini kesimpulannya tetap sama dengan yang
dikatakan seorang ahli ekonomi Islam seperti Al-Gazali, bahwa uang tidak
dibutuhkan untuk uang itu sendiri
46
4.Nilai Ekonomi Waktu
Konsep koin dikenal oleh islam adalah nilai ekonomi waktu ( economi
value of time ). Misalnya, dalam menghitung disbah bagi hasil di bank
syariah, return on capital diperhitungkan. Return on capital tidak sama dengan
return money karena return on capital tergantung pada jenis bisnis yang
dijalankan dan berkaitan dengan sector real sedangkan return on money
berkaitan dengan tingkat suku bunga ( interest rate ) penentuan nisbah bagi
hasil harus dilakukan pada tahap awal dengan mengguakan project retrun jika
ternyata return bisnis yang di biarnya tidak sama dengan angka proyeksinya,
yang digunakan angka adalah angka actual, bukan angka proyeksi.
Hal tersebut menunjukan bahwa islam tidak mengenal nilai – waktu
uang. Waktu hanya memiliki nilai – ekonomi jika dan hanya di manfaatkan
untuk menambahkan factor produksi yang lain, sehingga menjadi capital. Dan
dapat memperoleh return.
47
BAB VI
PERMINTAAN DAN PENAWARAN
48
tersebut untuk meningkatkan dan memperbesar keuntungannya dengan
cara menaikkan harga jual produsinya. 7
Sebaliknya, ketika pada suatru pasar permintaan terhadap produk relatif
sedikit, maka harga turun. Barang tersedia pada produsen atau penjual relatif
banyak sehingga ketika jumlah permintaan sedikit, produksi akan berusaha
menjual produknya sebanyak mungkin dengan cara menurunkan harga jual
produknya. Produsen atau penjual akan meningkatkan kekuatan dari volume
penjual. Dalam hubungan ini, permintaan dan harga dinyatakan dengan
pernyataan positif. Dalam teori demand (permintaan) dikenal adanya
pembandingan.
Lurus antara permintaan terhadap harga yaitu apabila permintaan naik,
maka harga relatif akan naik sebaliknya bila permintaan turun maka harga
akan relatif turun. 8
Kajian tenbtang teori permintaan dalam ekonomi Islam meliputi konsep
tentang kebutuhan pengalokasian sumber untuk memenuhi kebutuhan, dan
konsep pemilihan dalam konsumsi sesuai nilai-nilai Islam. 9 Menurut M
A..Mannan, teori permintaan merupakan teori tentang konsumsi dan teori
produksi adalah teori tentang penawaran. 10 Permintaan berkaitan dengan
konsumsi dan penawaran berkenaan dengan produksi. Semakin banyak orang
mengkonsumsi barang-barang (goods) baik dalam pengertian
menggunakannya secara konsumtif maupun produktif, maka akan semakin
banyak permintaan terhadap barang-barang itu. Hal tersebut berakibat kepada
tuntutan bertambahnya produksi barang-barang tersebut.
Dengan bertambahnya permintaan terhadap suatu barang, tidak terlepas
dari semakin tingginya pola hidup dan peradaban manusia yang berakibat
mereka terkalahkan oleh kebutuhan fisiologik. Cita rasa seni, keangkuhan, dan
dorongan untuk pamer berperan dominant dalam menentukan bentuk-bentuk
lahiriah konkrit, sebagai cerminan kebutuhan-kebutuhan fisiologik. 11
Permintaan akan barang yang berlebihan tercermin pada pola hidup
yang konsumtif konsumeris. Pola hidup glamour yang menjadi ikon
masyarakat kelas menengah ke atas jauh melampaui kebutuhan dasar dan
pokok manusia secara normal pada umumnya.
__________________
7.Iskandar Putong, Pengantar Ekonomi, hal.33.
49
BAB VII
TINJAUAN UMUM TENTANG PERBANKAN SYARI’AH
A. Produk Pembiayaan
Dalam Bank Konvensional untuk penyaluran dananya kita mengenal
istilah kredit/pinjaman. Sedangkan dalam bank syari’ah penyaluran dananya
kita kenal dengan istilah pembiayaan. Jika dalam bank konvensional
keuntungan bank diperoleh dari bunga yang dibebankan, maka dalam bank
syari’ah tidak ada istilah bunga akan tetapi bank syari’ah menerapkan sistem
bagi hasil. Prinsip bagi hasil dalam bank syari’ah yang diterapkan dalam
pembiayaan dapat dilakukan dalam 4 akad utama yaitu :
• Al Musyarakah
• Al Mudharabah
• Al Mizara’ah
• Al Musaqah
Pembiayaan dengan prinsi jual beli ditujukan untuk memiliki barang,
sedangkan yang menggunakan prinsip sewa ditujukan untuk mendaatkan jasa.
Prinsip bagi- hasil digunakan untuk usaha kerja sama yang ditujukan guna
mendapatkan barang dan jasa sekaligus.
Pada kategori pertama dan kedua, tingkat keuntungan bank ditentukan
didepan dan menjadi bagian harga atas barang atau jasa yang dijual. Produk
yang termasuk dalam kelompok ini adalah roduk yang menggunakan prinsip
jual beli seperti Murabahah, Salam dan Istishna serta produk yang
menggunakan prinsi sewa, yaitu Ijarah dan IMBT. Sedangkan pada kategori
ketiga, tingkat keuntungan bank ditentukan dari besarnya keuntungan usaha
sesuai dengan prinsip bagi hasil. Pada produk bagi hasil keuntungan
ditentukan oleh nisbah bagi hasil yang diseakati dimuka. Produk perbankan
yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah Musyarakah dan Mudharabah.
B.Equity Financing.
Ada 2 macam kontrak dalam kategiri ini yaitu :
1. Musyarakah (Joint Venture Profit Sharing, Partnership, Project
Financing Participation)
a. Pengertian Al Musyarakah
Al Musyarakah adalah akad kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentudimana masing – masing pihak memberikan kontribusi
dana (atau amal/exertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan
50
resiko kerugian akan di tanggung bersama sesuai dengan persentase yang
disepakati
Landasan Syari’ah
a.Al Qur’an
Al Qur’an surah An Nisaa’ :12 dan surat Shaad :24. kedua ayat ini
menunjukkan perkenan dan pengakuan Allah SWT.akan adanya
perserikatan dalam kepemilikan harta . Hanya saja dalam Surah Annisa’
:12 perkongsian terjadi otomatis (jabr) karena waris, sedangkan dalam
surah Shaad:24 terjadi atas dasar akad (ikhtiyari’)
b. Al Hadits.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. Bersabda /” Sesungguhnya Allah Azza
wa jalla berfirman, “Aku pihak ketiga dari 2 orang yang berserikat selama
salah satunya tidak mengkhianati yang lainnya.’ (HR Abu Dawud no. 2936,
dalam kitab al- Buyu, dan Hakim).
Hadist Qudsi tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba –
hambaNya yang melakukan perkongsian selama saling menjunjung tinggi
amanat kebersamaan dan menjauhi pengkhianatan.
Ijma’.
Ibnu Qudamah dalam kitabnya, al Mughni, telah berkata, “Kaum muslimin
telah berkonsensus terhadap legitimasi musyarakah secara global walau
terdapat perbedaan pendapat dalam beberapa elemen darinya.”
c.Jenis akad
Al Musyarakah ada dua jenis yaitu musyarakah kepemilikan dan musyarakah
akad (kontrak). Musyarakah kepemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau
kondisi lainnya yang mengakibatkan pemilikan satu asset oleh dua orang atau
lebih. Sedangkan musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan dimana
dua orang atau lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal
musyarakah. Mereka pun sepakat untuk berbagi keuntungan atau kerugian.
d.Aplikasi pada Perbankan
Akad al-musyarakah dapat dijadikan landasan dalam transaksi pembiayaan
proyek dimana nasabah dan bank sama – sama menyediakan dana untuk
membiayai proyek tersebut. Setelah proyek selesai nasabah mengembalikan
dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati. Dalam hal ini nasabah
yang dibiayai dengan bank sama – sama menyediakan dana untuk
melaksanakan proyek tersebut. Keuntungan dari proyek dibagi sesuai dengan
51
kesepakatan untuk bank.setelah terlebih dahulu mengembalikan dana yang
dipakai nasabah. Aplikasinya dalam perbankan terlihat pada akad yang
diterapkan pada usaha atau proyek dimana bank membiayai sebagian saja dari
kebutuhan jumlah investasi atau modal kerjanya. Selebihnya dibiayai sendiri
oleh nasabah. Akad ini juga diterapkan juga pada sindikasi antar bank atau
proyek lembaga keuangan.
e.Pembiayaan proyek.
Al Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan proyek dimana
nasabah dan bank sama – sama menyediakan dana untuk membiayai proyek
tersebut. Setelah proyek itu selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut
bersama bagi hasil yang telah disepakati untuk bank.
f.Modal Ventura.
Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan investasi dalam
kepemilikan erusahaan,al-musyarakah diterakan dalam skema modal ventura.
Penanaman dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu bank
melakukan investasi atau menjual sebagian sahamnya,baik secara singkat
maupun bertahap.
Melalui kontrak ini,dua pihak atau lebih(termasuk bank dan lembaga
keuangan bersama nasabahnya) daat mengumpulkna modal mereka untuk
membentuk sebuah perusahaan (syirkah al inan) sebagai sebuah Badan
Hukum (legal entity). Setiap pihak memiliki bagian secara proporsional sesuai
dengan kontribusi modal mereka dan mempunyai hak mengawasi (Voting
Right) perusahaan sesuai dengan proporsinya. Untuk pembagian
keuntungan,setiap pihak menerima bagian keuntungan secara proporsional
dengan kontribusi modal masig-masing atau sesuai dengan kesepakatan yang
telah ditentukan sebelumnya. Bila perusahaan mengalami kerugian, maka
kerugian itu juga dibebankan secara proporsional kepada masing-masing
pemberi modal.
Dalam kontrak tersebut, salah satu pihak dapat mengambil alih modal pihak
lain sedang pihak lain tersebut menerima kembali modal mereka secara
bertahap. Inilah yang disebut dengan Musyarakah al-Mutanakishah.
Aplikasinya dalam perbankan adalah pada pembiayaan proyek oleh bank
bersama nasabahnya atau bank dengan lembaga keuangan lainnya dimana
bagian dari bank atau lembaga keuangan diambil alih oleh pihak lainnya
dengan cara mengangsur. Akad ini juga dapat dilaksanakan pada Mudharabah
yang modal pokoknya dicicil, sedangkan usahanya berjalan terus dengan
modal yang tetap. Misalnya : Pak Usman adalah seorang pengusaha yang akan
melaksanakan suatu proyek. Usaha tersebut membutuhkan modal sejumlah
Rp. 100.000.000 ternyata, setelah dihitung, pak Usman hanya memiliki Rp.
50.000.000 atau 50% dari modal yang diperlukan. Pak Usman kemudian
datang ke sebuah bank syariah untuk mengajukan pembiayaan dengan skema
Musyarakah. Dalam hal ini, kebutuhan terhadap modal sejumlah Rp.
100.000.000 dipenuhi oleh 50% dari nasabah dan 50% dari bank. Setelah
52
proyek selesai,nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang
telah disepakati untuk bank. Seandainya keuntungan dari proyek tersebut
adalah Rp. 20.000.000 dan nisbah atau porsi bagi hasil adalah 50:50 (50%
untuk nasabah dan 50% untuk bank), pada akhir proyek Pak Usman harus
mengembalikan dana sebesar Rp. 50.000.000 (dana pinjaman dari bank)
ditambah Rp. 10.000.000 (50% dari keuntungan untuk bank).
g.Jenis-jenis Musyarakah.
Al-Musyarakah ada 2 jenis: Musyarakah pemilikan dan Musyarakah akad
(kontrak). Musyarakah kepemilikan tercipta warisan, wasiat, atau kondisi
lainnya yang mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih.
Dalam musyarakah ini, pemilikan dua orang atau lebih berbagi dalam sebuah
aset nyata dan berbagi pula keuntungan yang dihasilkan aset tersebut.
Musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan dimana dua orang atau
lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah.
Merekapun sepakat membagi keuntungan dan kerugian. Musyarakah akad
terbagi menjadi :
a) Syirkah al ’Inan. Yaitu kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap
pihak memberikan satu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi
dalam kerja. Kedua pihak berbagi keuntungan dan kerugian
sebagaimana yang diseakati mereka. Syirkah al- ’Inan, yakni kerja
sama atau percampuran dana antara dua pihak atau lebih dengan porsi
dana yang tidak mesti sama.
b) Syirkah muwafadah, yakni kerja sama atau percampuran dana antara
dua pihak atau lebih dengan porsi dana yang sama. Syirkah
muwafadhah. Yaitu kontrak kerja sama antara dua orang atau lebih.
Dimana setiap pihak membagi keuntungan dan kerugian secara sama.
Dengan demikian, syarat utamanya adalah kesamaan dana yang
diberikan, kerja, tanggung jawab, dan beban utang dibagi oleh masing
– masing pihak.
c) Syirkah ’abdan, yakni kerja atau percampuran antara pihak pemilik
dana dengan pihak lain yang memiliki kredibitas ataupun kepercayaan.
Syirkah ’abdan, yakni kerja sama atau percampuran tenaga atau
profesionalisme antara dua pihak atau lebih (kerja sama profesi)
d) Syirkah wujuh. Yaitu kontrak antara dua orang atau lebih yang
memiliki prestasi atau prestise baik serta ahli dalam bisnis, jenis al-
musyarakah ini tidak memerlukan modal karena pembelian secara
kredit berdasar pada jaminan tersebut. Karenanya, kontrak inipun
lazim disebut sebagai musyarakah piutang.
e) Syirkah ’Al maal. Yaitu kontrak kerja sama dua orang seprofesi untuk
menerima pekerjaan secara bersama – sama dan berbagi keuntungan
dari pekerjaan itu.
53
f) Syirkah Al-mudharabah. Syirkah al- mudharabah, yakni kerja sama
atau percampuran dana antara pihak pemilik dana dengan pihak lain
yang memiliki profesionalisme atau tenaga.
Manfaat Al Musyarakah.
Terdapat banyak manfaat dari pembiayaan secara musyarakah ini, di
antaranya sbb :
Ø Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu pada saat
keuntungan usaha meningkat.
Ø Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu pada
nasabah pendanaan secara tetap, tetapi di sesuaikan dengan
pendapatan/hasil usaha bank, sehingga bank tidak akan pernah
mengalami negative spread.
Ø Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow/ arus
kas usaha nasabah , sehingga tidak memberatkan nasabah.
Ø Bank akan lebih selektif dan hati – hati (prudent) mencari usaha yang
benar – benar halal, aman, dan menguntungkan. Hal ini karena
keuntungann yang riil dan benar – benar terjadi itulah yang dibagikan.
Ø Prinsip bagi hasil dalam mudharabah/ musyarakah ini berbeda dengan
prinsip bunga tetap di mana bank akan menagih penerima pembiayaan
(nasabah) satu jumlah bunga tetap berapapun keuntungan yang
dihasilkan nasabah, bahkan sekalipun merugi dan terjadi krisis
ekonomi.
h.Risiko.
Risiko yang terdapat dalam mudharabah, terutama pada penerapannya dalam
pembiayaan, relatif tinggi, yaitu sbb;
1) Side Streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang
disebut dalam kontrak.
2) Lalai dan kesalahan yang disengaja.
3) Penyembunyian keuntungan oleh nasabah, bila nasabahnya tidak
jujur.
54
Skema al- Musyarakah
PROYEK
USAHA
KEUNTUNGAN
Rukun Musyarakah :
1) Para pihak yang bersyirkah
2) Orsi kerja sama
3) Proyek/usaha
4) Ijab Qabul
5) Nisbah bagi hasil
Musyarakah Mutaqishah
Nasabah dan bank berkongsi dalam pengadaan suatu barang (biasanya rumah
atau kendaraan), misalnya 30 % dari nasabah dan 70 % dari bank. Untuk
memiliki barang tersebut, nasabah harus membayar kepada bank sebesar porsi
yang dimiliki bank. Karena pembayarannya dilakukan secara angsuran,
penurunan porsi kepemilikan bank pun berkurang secara proporsional sesuai
dengan besarnya angsuran. Barang yang telah di beli secara kongsi tadi baru
akan menjadi milik nasabah setelah porsi nasabah menjadi 100% dan porsi
bank 0%. Jika kita mengambil rumah sebagai contoh kasus, perhitungannya
adalah sbb. Harga rumah, misalnya, Rp 100.000.000,00. bank berkontribusi
Rp 70.000.000,00 dan nasabah Rp 30.000.000,00. karena kedua pihak (bank
dan nasabah) telah berkongsi bank memiliki 70 % saham rumah, sedangkan
bnasabah memiliki 30 % kepemilikan rumah. Dalam syari’ah Islam, barang
milik perkongsian bisa disewakan kepada siapapun, termasuk keada anggota
perkongsian itu sendiri, dalam hal ini adalah nasabah.
55
Seandainya sewa yang dibayarkan penyewa (nasabah) adalah Rp
1.000.000,00 per bulan, pada realisasinya Rp 700.000,00 akan menjadi milik
bank dan Rp 300.000,00 meruakan bagian nasabah. Akan tetapi, karena
nasabah pada hakikatnya ingin memiliki rumah itu, uang sejumlah Rp
300.000,00 itu dijadikan sebagai pembelian saham dari porsi bank. Dengan
demikian, saham nasabah setiap bulan akan semakin besar dan saham bank
semakin kecil. Pada akhirnya, nasabah akan memiliki 100 % saham dan bank
tidak lagi memiliki saham atas rumah tersebut. Itulah yang disebut dengan
perkongsian yang mengecil atau yang di sebut musyarakah muntanaqishas
atau disebut juga dengan decreasing participation dari pihak bank.
Bentuk umum dari usaha bagi hasil adalah musyarakah (syirkah atau
syarikah). Transaksi musyarakah dilandasi adanya keinginan para pihak yang
bekerja sama untuk meningkatkan nilai asset yang mereka miliki secara
bersama – sama. Semua bentuk usaha yang melibatkan dua pihak atau lebih
dimana mereka secara bersama – sama memadukan seluruh bentuk sumber
daya baik yang berwujud maupun tidak bewujud.
Secara spesifik bentuk kontribusi dari ihak yang bekerja sama daat
berua dana, barang perdagangan (trading asset), kewiraswastaan
(entrepreneurship), kepandaian (skill), kepemilikan (property), peralatan
(eqiupment), atau intangible asset (seperti hak paten atau goodwill),
kepercayaan/reputasi (credit- worthiness) dan barang – barang lainnya yang
dapat dinilai dengan uang. Dengan merangkum seluruh kombinasi dari bentuk
kontribusi masing – masing ihak dengan atau tanpa batasan waktu menjadikan
produk ini sangat fleksibel.
56
• Biaya yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan jangka waktu proyek
harus diketahui bersama. Keuntungan dibagi sesuai porsi kesepakatan
sedangkan kerugian dibagi sesuai dengan porsi konstribusi modal.
• Proyek yang akan dijalankan harus disebut dalam akad. Setelah proyek
selesai nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang
telah diseakati untuk bank.
57
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul
Muthalib ” Jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia
mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni
lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi aturan
tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut.
Disampaikanlah syarat – syarat tersebut kepada Rasulullah SAW dan
Rasulullah pun membolehkannya.”(HR Thabrani)
Dari Shalih bin Shuhaib r.a bahwa Rasulullah bersabda,” Tiga hal yang
didalamnya keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradah (mudharabah),
dan mencampur gandum dengan teung untuk keperluan rumah, bukan untuk
dijual”.(HR Ibnu Majah)
Ijma
Imam Zilai telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus
terhadap legitimasi pengolahan harta anak yatim secara mudharabah.
Kesepakatan para sahabat ini sejalan dengan spirit hadts yang dikutip Abu
Ubaid.
Jenis Akad
Ada dua jenis akad mudharabah, yaitu mudharabah muthalqah dan
muqayyadah. Mudharabah muthlaqah merupakan bentuk kerja sama antara
shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi
oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis. Sedangkan dalam
mudharabah muqayyadah atau sering disebut restricted mudharabah pihak
shahibul maal membatasi jenis usaha, waktu atau tempat usaha.
a. Mudharabah Muthlaqah.
Yang dimaksud dengan transaksi mudharabah muthlaqh adalah bentuk
kerja sama antara shahibul maal dan mudharib yang cakupannya sangat luas
dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis, usaha, waktu, dan daerah bisnis.
Dalam pembahasan fiqh ulama salafus saleh sering dicontohkan dengan
ungkapan if’al ma syi’ta (lakukanlah sesukamu) dari shahibul ke mudharib
yang memberi kekuasaan sangat besar.
b. Mudharabah Muqayyadah.
Mudharabah Muqayyadah atau disebut juga dengan istilah restricted
mudharabah/specifed mudharabah adalah kebalikan dari mudharabah
muthlaqah. Si mudharib di batasi dengan batasan usaha jenis usaha, waktu,
atau tempat usaha. Adanya batasan ini sering kali mencerminkan
kecendrungan shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usaha.
Aplikasi dalam Perbankan
Al- Mudharabah biasanya diterapkan ada produk-produk pembiayaan dan
pendanaan. Adapun pada sisi pembayaran, mudharabah diterapkan untuk :
a. Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa.
58
b. Investasi khusus, disebut juga mudharabah muqayyadah, dimana
sumber dana khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-
syarat yang telah ditetapkan oleh shahibul maal.
Manfaat al-Mudharabah
Ø Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan
usaha nasabah meningkat
Ø Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah
pendanaan secara teta, tetai disesuaikan dengan pendapatan/hasil usaha
bank sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread.
Ø Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow/arus
kas usaha nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah.
Ø Bank akan lebih selektif dan hati – hati (prudent) mencari usaha yang
benar – benar halal, aman, dan menguntungkan karena keuntungan
konkret dan benar – benar terjadi itulah yang akan di bagikan.
Ø Prinsip bagi hasil dalam al–mudharabah/al-musyarakah ini berbeda
dengan prinsip bunga tetap dimana bank akan menagih penerima
pemiayaan (nasabah) satu jumlah bunga teta berapapun keuntungan
yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.
Resiko al-Mudharabah.
Resiko yang terdapat dalam al-Mudharabah, terutama dalam
penerapannya, dalam pembiayaan, relative tinggi. Diantaranya :
Ø Side streaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang
disebut dalam kontrak
Ø Lalai dan kesalahan yang disengaja.
Ø Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur.
59
PERJANJIAN
BAGI HASIL
KEAHLIAN MODAL
Nasabah Bank
KETRAMPILAN 100% (Shahibul
(Mudharib
)
PROYEK/USAHA
PEMBAGIAN
KEUNTUNGAN
MODAL
60
itu bukan akibat dari kelalaian si pengelola. Aabila kerugian diakibatkan
kelalaian pengelola, maka si engelolalah yang bertanggung jawab.
Secara spesifik terdapat bentuk masyarakah yang populer dalam produk
perbankan syari’ah yaitu mudharabah. Mudharabah adalah bentuk kerja sama
antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahib al maal)
mempergayakan sejumlah modal kepada engelola (midharib) dengan suatu
perjanjian pembagian keuntungan. Bentuk ini menegaskan kerja sama dalam
paduan konstribusi 100% modal kas dari shahib al maal dan keahlian dari
mudharib.
Transaksi jenis ini tidak mensyaratkan adanya wakil shahib al maal
dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus
bertindak hati – hati dan bertanggung jawab untuk setiap kerugian yang terjadi
akibat kelalaian. Sedangkan sebagai wakil shahib al maal dia diharapkan
untuk mengelola modal dengan cara tertentu untuk menciptakan laba optimal.
Perbedaan yang esensial dari musyarakah dan mudharabah terletak
pada besarnya konstribusi atas manajemen dan keuangan atau salah satu
diantara itu. Dalam mudharabah, modal hanya berasal dari satu pihak,
sedangkan dalam musyarakah modal berasal dari dua pihak atau lebih.
Musyarakah dan mudharabah dalam literatur fiqih berbentuk perjanjian
kepercayaan (uqud al-amanah) yang menuntut tingkat kejujuran yang tinggi
dan menjunjung keadilan. Karenanya masing – masing pihak harus menjaga
kejujuran untuk kepentingan bersama dan setiap usaha dari masing – masing
pihak untuk melakukan kecurangan dan ketidak adilan pembagian pendapatan
betul – betul akan merusak ajaran Islam.
Mudharabah adalah salah satu jenis transaksi musyarakah dimana pihak
yang berdyirkah adalah pemilik dana dan pemilik tenaga.
1. Pemilik modal
2. Pemilik usaha
3. Proyek/usaha
4. Modal
5. Ijab qabul
6. Nisbah bagi hasil
Ketentuan umum pembiayaan mudharabah adalah sebagai berikut :
Ø Jumlah modal yang diserahkan kepada nasabah selaku pengelola
modal yang diserahkan tunai, dan dapat berupa uang atau barang
yang dinyatakan nilainya dalam satuan uang. Apabila modal
diserahkan secara bertahap, harus jelas tahapannya dan
disepakati bersama.
Ø Hasil dari pengelolaan modal pembiayaan mudharabah dapat
diperhitungkan dengan cara, yakni :
Perhitungan dari pendapatan proyek (recenue sharing)
Perhitungan dari keuntungan proyek (profit sharing)
61
Ø Hasil usaha dibagi sesuai dengan persetujuan dalam akad, pada
setiap bulan atau waktu yang di sepakati. Bank selaku emilik
modal menanggung keseluruhan kerugian kecuali akibat
kelalaian dan penyimpangan pihak nasabah, seperti
penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan dana.
Ø Bank berhak melakukan pengawasan terhadap pekerjaan namun
tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan/usaha nasabah. Jika
nasabah cidera janji dengan sengaja, misalnya tidak mau
membayar kewajiban atau menunda pembayaran kewajiban
maka ia dapat dikenakan sanksi administrasi.
Seorang pedagang yang memerlukan modal untuk berdagang dapat
mengajukan permohonan untuk pembiayaan bagi hasil seperti mudharabah,
dimana bank bertindak selaku shahibul maal dan nasabah selaku mudharib.
Caranya adalah dengan menghitung dulu perkiraan pendapatan yang akan
diperoleh nasabah dari proyek yang bersangkutan. Misalnya, dari modal Rp
30.000.000,00 di peroleh pendapatan Rp 5.000.000,00 per bulan. Dari
pendapatan ini harus disishkan dahulu untuk tabungan pengembalian modal,
misalnya R 2.000.000,00. selebihnya dibagi antara bank dengan nasabah
dengan kesepakatan di muka, misalnya 60 % untuk nasabah dan 40 % untuk
bank.
3. MUZARA’AH
Muzara’ah adalah akad kerja sama atau percampuran pengolahan
pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap. Pemilik lahan menyediakan
lahan kepada penggarap untuk ditanami produk pertanian dengan imbalan
bagian tertentu dari hasil panen. Dalam dunia perbankan kasus ini
diaplikasikan untuk pembiayaan bidang plantation atas dasar bagi hasil panen.
Dapat dismpulkan bahwa pemilik lahan dalam hal ini menyediakan lahan,
benih, dan pupuk. Sedangkan penggarap menyediakan keahlian, tenaga, dan
waktu. Keuntungan diperoleh dari hasil panen dengan imbalan yang telah
disepakati.
4. MUSAQAH
Musaqah merupakan bentuk sederhana dari muzara’ah, dimana si
penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan.
Pengertian al musaqah merupakan bagian dari al muzara’ah yaitu penggarap
hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan dengan
menggunakan dana dan peralatan mereka sendiri. Imbalan tetap diperoleh dari
62
persentase hasil panen pertanian. Jadi tetap dalam kontek adalah kerja sama
pengolahan pertanian antara pemilik lahan dengan penggarap.
C. Debet Financing
Jenis akad jual beli terbilang banyak jumlahnya, namun ada tiga jenis
jual beli yang telah di kembangkan sebagai sandaran pokok dalam
pembiayaan modal kerja dan investasi dalam perbankan syari’ah, yaitu al
bai’al murabahah, bai’ as-salam dan bai’ al-istishna.
Kalimat Al Qur’an ”... Allah menghalalkan jual beli (al bai’) dan melarang
riba...” (QS :275) menunjukkan bahwa praktek bunga adalah tidak sesuai
dengan spirit Islam. Istilah jual beli (Al Bai’) memiliki arti yang secara umum
meliuti semua tipe kontrak pertukaran, kecuali tipe kontrak yang dilarang oleh
syari’ah. Al Bai’ berarti setiap kontrak pertukaran barang dan jasa dalam
jumlah tertentu atas barang (termasuk uang) dan jasa yang lain. Penyerahan
jumlah atau harga barang dan jasa tersebut dapat dilakukan dengan segera
(cash ) atau dengan tangguh(deferred). Oleh karenanya syarat – syarat Al bai’
dalam Debt Financing menyangkut berbagai tipe dari kontrak jual beli
tangguh (Deferred Contract of Exchange) yang melipiti transaksi – transaksi
sbb:
Rukun Murabahah
Ø Penjual (bai’)
Ø Pembeli (musytari’)
Ø Barang / objek (mabi’)
Ø Harga (tsaman)
Ø Ijab qabul (sighat)
Landasan Syari’ah
” Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba...”(QS Al
Baqarah:275).
Dari Shuhaib ar- Rumi r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda, ”Tiga hal
yang didalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah
(mudharabah), dan mencampur gandung dengan tepung untuk keperluan
rumah, bukan untuk di jual”.(HR Ibnu Majah).
63
Aplikasi pada perbankan
Di terapkan pada produk pembiayaan untuk embelian barang – barang
investasi, baik domestic maupun luar negeri seperti melalui letter of credit
(L/C). Murabahah yaitu kontrak jual beli dimana barang yang dierjual belikan
tersebut diserahkan dengan segera, sedang harga (baik pokok dan margin
keuntungan yang disepakati bersama) atas barang tersebut dibayar di
kemudian hari secara sekaligus (Lump Sum Deferred Payment). Dalam
prakteknya, bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli
dengan kewajiban membayar secara tangguh dan sekaligus. Pengertian bai’ al
Murabahah merupakan kegiatan jual beli pada harga pokok dengan tambahan
keuntungan yang disepakati. Dalam hal ini penjual harus terlebih dahulu
memberitahukan harga pokok yang ia beli ditambah keuntungan yang
diinginkannya. Sebagai contoh harga pokok barang ”X”Rp. 100.000,00.
keuntungan yang diharapkan sebesar 5.000 sehingga harga jualnya
Rp105.000,00 kegiatan bai’ al Murabahah ini baru dilakukan stelah ada
kesempatan dengan pembeli, baru kemudian dilakukan pemesanan.
Sebagai contoh Ny. Anum memerlukan sebuah mobil senilai Rp
30.000.000,00. jika Bank Riau Syari’ah mengharapkan suatu keuntungan
sebesar Rp. 6.000.000 selama 3 tahun, maka harga yang ditetapkan kepada
Ny. Anum adalah Rp 36.000.000,00. kemudian jika nasabah setuju maka
nasabah dapat mencicil dengan angsuran Rp. 1.000.000,00 / bulan ( diperoleh
dari Rp 36.000.000 36 bulan) kepada Bank Riau Syari’ah)
Atau seorang nasabah ingin memiliki sebuah motor. Ia dapat datang ke
Bank Syari’ah dengan memohon agar bank membelikannya. Setelah diteliti
dan dinyatakan dapat diberikan, bank membelikan motor tersebut dan
diberikan kepada nasabah. Jika harga motor tersebut Rp 4.000.000,00 dan
bank ingin mendapat keuntungan Rp 800.000,00 selama 2 tahun, harga yang
ditetapkan kepada nasabah seharga Rp 4.800.000,00. nasabah dapat mencicil
bayaran tersebut Rp 200.000,00 / bulan.
Murabahah (al-bai’ bi tsaman ajil) lebih dikenal sebagai murabahah
saja. Murabaha yang berasal dari kata ribhu (keuntungan), adalah transaksi
jual-beli dimana Bank menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak
sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga
beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (margin).
Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu
pembayaran. Harga jual di cantumkan dalam akad jual beli dan jika telah
disepakati tidak daat berubah selama berlakunya akad. Dalam perbankan,
murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (bi tsaman ajil
atau muajjal). Dalam transaksi ini barang di serahkan segera setelah akad,
sedangkan pembayaran di lakukan secara tangguh/cicilan.
64
b. Al Bai’ Bitsaman Ajil,
yaitu kontrak al murabahah dimana yang di perjual belikan tersebutdiserahkan
dengan segera sedang harga atas barang tersebut harga atas barang tersebut di
bayar di kemudian hari secara angsuran ( Installment Deferred Payment).
Dalam prakteknya pada bank sama dengan murabahah, hanya saja kewajiban
nasabah dilakukan secara angsuran.
c. Bai’ As Salam
Salam adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari, sedangkan
pembayarannya dilakukan dimuka. Bai’ as Salam adalah prinsip bai’ (jual
beli) suatu barang tertentu antara pihak penjual dan pembeli sebesar harga
pokok ditambah nilai keuntungan yang disepakat, dimana waktu penyerahan
barang nilai keuntungan yang disepakati, dimana waktu penyerahan barang
dilakukan dikemudian hari sementara penyerahan uang dilakukan dimuka
(secara tunai).
Rukun bai’ as Salam
1. Pembeli (muslam)
2. Penjual (muslam iiaih)
3. harga (ra’sul maal as-salam)
4. Barang (muslam fihi)
5. Ijab qabul (sighat)
Landasan Syari’ah
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak
secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”
(QS Al-Baqarah :282).
65
harus diketahui terlebih dahulu jenis, kualitas, dan jumlah barang dan hukum
awal pembayaran harus dalam bentuk uang. Sebagai contoh seorang petani
lada yang bernama Tn. Adrian Rasheed hendak menanam lada dan
membutuhkan dana sebesar Rp 200.000.000,00 untuk satu hektar Bank Riau
Syari’ah menyetujui dan melakukan akad dimana Bank Riau Syari’ah akan
membeli hasil lasda tersebut sebanyak 10 ton dengan harga Rp
200.000.000,00. Pada saat jatuh tempo petani harus menyerahkan lada
sebany6ak 10 ton. Kemudian Bank Riau Syari’ah dapat menjual lada tersebut
dengan harga yang relative lebih tinggi misalnya RP 25.000,00 /kilo. Dengan
demikian penghasilan Bank adalah 10 ton X Rp. 25.000,00 = R
250.000.000,00. dari hasil tersebut Bank Riau Syari’ah akan memperoleh
keuntungan sebesar Rp 50.000.000,00 setelah dikurangi modal yang diberikan
oleh Bank Riau Syari’ah yaitu R 250.000.000,00 dikurangi Rp
200.000.000,00.
Contoh lain adalah Seorang petani memerlukan dana sekitar 2 juta
rupiah nutuk mengelola sawahnya seluas satu hektar. Ia dating ke bank dan
mengajukan permohonan dana untuk keperluan itu. Setelah diteliti dan
dinyatakan dapat diberikan, bank melakukan akad bai’ as Salam dengan
petani, dimana bank akan membeli gabah, misalnya, jenis IR dari petani untuk
jangka waktu 4 bulan sebanyak 2 ton dengan harga Rp 2.000.000,00. Pada
saat jatuh tempo, petani harus menyetorkan gabah yang dimaksud kepada
bank. Jika bank tidak membutuhkan gabah untuk ”keperluan sendiri”, bank
dapat menjualnya kepada pihak lain atau meminta petani mencarikan
pembelinya dengan harga yang lebih tinggi, misalnya Rp 1.200,00 / kg.
Dengan demikian, keuntungan bank dalam hal ini adalah Rp 400.000, atau
(200 x 2000 kg).
Salam adalah transaksi jual beli dimana barang yang diperjual belikan
belum ada. Oleh karena itu barang diserahkan secara tangguh, sedangkan
pembayaran dilakukann tunai. Bank bertindak sebagai pembeli, sementara
nasabah sebagai penjual. Sekilas transaksi ini mirip jual beli ijon, namun
dalam transaksi ini kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan barang
harus ditentukan secara pasti.
Ketentuan umum pembiayaan Salam adalah sbb:
o Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jelas
seperti jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlahnya. Misalnya jual beli
100 kg mangga harum manis kualitas A dengan harga Rp 5000,00/kg,
akan dieserahkan pada panen dua bulan mendatang.
o Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai dengan
akad maka nasabah atau produsen harus bertanggung jawab dengan
cara antara lain mengembalikan dana yang telah diterimanya atau
mengganti barang yang sesuai dengan pesanan.
o Mengingat bank tidak menjadikann barang yang dibeli atau yang
dipesannya sebagai persediaan (inventory), maka dimungkinkan bagi
66
bank untuk melakukan akad Salam kepada pihak ketiga (pembeli
kedua) seperti BULOG, pedagang pasar induk atau rekanan.
Mekanisme seperti ini disebut dengan paralel salam.
d. Bai’ Al-Istishna
Pengertian Bai’ Al Istishna’ merupakan kontrak penjualan antara pembeli dan
pembuat barang. Dalam akad ini pembuat barang menerima pesanan dari
pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat
atau membeli barang menurut spesifikasi yang telah disepakati dan
menjualnya kepda pembeli akhir. Kedua belah pihak bersepakat atas harga
serta sistem pembayaran : apakah pembayaran dilakukan di muka, melalui
cicilan, atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang.
Bai’ Al Istishna’ adalah salah satu pengembangan prinsip bai’ assalam,
dimana waktu penyerahan barang dilakukan dikemudian hari sementara
pembayaran dapat dilakukan melalui cicilan atau ditangguhkan.
Rukun Bai’ al-Istishna
1. Penjual/penerima pesanan(shani’)
2. Pembeli/pemesan (mustashni’)
3. Barang (mashnu’)
4. Harga (tsaman)
5. Ijab qabul (sighat)
Landasan Syari’ah
Karena bai’ al-istishna’ merupakan lanjutan dari bai’ as salam maka
secara umum landasan syari’ah yang berlaku pada bai’ as-salam juga berlaku
pada bai’ al-istishna’. Bai’ al istishna’, hampir sama dengan bai’ as salam
yaitu kontrak jual beli dimana harga atas barang tersebut dibayar lebih dulu
tetapi dapat diangsur sesuai dengan jadwal dan syarat-syarat yang disepakati
bersama, sedangkan barang yang dibeli diproduksi (manufactured) dan
diserahkan kemudian. Dalam prakteknya bank bertindak sebagai penjual
(mustashni’ ke 1) kepada pemilik atau pembeli proyek (bohir) dan
mensubkannya kepada kontraktor (mustashni’ ke 2). Bai’ al Ishtishna’
merupakan bentuk khusus dari akad abi’ as salam, oleh karena itu ketentuan
dalam bai’ al Istishna mengikuti ketentuan dan aturan bai’ as salam.
Pengertian bai’ al Istishna’ adalah kontrak penjualan antara pembeli dengan
produsen (pembuat barang). Kedua belah pihak harus saling menyetujui atau
sepakat lebih dulu tentang harga dan sistem pembayaran. Kesepakatan harga
dapat dilakukan tawar menawar dan sistem pembayaran daat dilakukan
dimuka atau secara angsuran perbulan atau di belakang. Contoh untuk kasus
ini sbb:
CV.Trias Synergic yang bergerak dalam bidang pembuatan dan penjualan
sepatu memperoleh order untuk membuat sepatu anak sekolah SMU Plus
senilai Rp 60.000.000,00 dan mengajukan permodalan kepada Bank Riau
67
Syari’ah. Harga perpasang sepatu yang diajukan adalah Rp 85.000,00 dan
pembayarannya di angsur selama 3 bulan. Harga perpasang sepatu di pasaran
sekitar Rp 90.000,00.
Contoh lain adalah Seseorang yang ingin membangun atau merenovasi
rumah dapat mengajukan permohonan dana untuk keperluan itu dengan cara
bai’ al Istishna’ . dalam akad bai’ al Istishna’, bank berlaku sebagai penjual
yang menawarkan pembangunan/renovasi rumah. Bank lalu
membeli/memberikan dana, misalnya Rp 30.000.000,00 secara bertahap.
Setelah rumah itu jadi, secara hukum Islam rumah itu masih menjadi milik
bank dan sampai tahap ini akad istishna’ sebenarnya telah selesai. Karena
bank tidak ingin memiliki rumah tersebut, bank menjualnya kepada nasabah
dengan harga dan waktu yang disepakati, misalnya Rp 39.000.000,00 dengan
jangka waktu pembayaran 3 tahun. Dengan demikian, bank mendapat
keuntungan Rp 9.000.000,00. Produk Istishna’ merupakan roduk salam,
namun dalam istishna’ pembayarannya dapat dilakukan oleh bank dalam
beberapa kali (termin) pembayaran. Skim Istishna’ dalam Bank Syari’ah
umumnya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.
Ketentuan umum pembiayaan Istishna’ adalah sbb:
Spesifikasi barang pesanan harus jelas seperti jenis, macam ukuran, mutu, dan
jumlahnya. Harga jual yang telah diseakati dicantumkan dalam akad Istishna’
dan tidak boleh berubah selama berlakunya akad. Jika terjadi erubahan dari
kriteria pesanan dan terjadi perubahan harga setelah akad di tandatangani,
maka seluruh biaya tamabahn tetap ditanggung nasabah.
2. Prinsi sewa-beli
1. Sewa (Operational Lease and Financial Lease, al Ijarah)
Pengertian Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau
jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan
kepemilikan (ownership / milkiyyah) atas barang itu sendiri. Ijarah adalah
transaksi pertukaran antara ‘ ayn berbentuk jasa atau manfaat dengan dayn.
Landasan Syari’ah
“ Dan, jika kamu ingin anakmmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa
bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.
Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat
apa yang kamu kerjakan”
(QS Al Baqarah : 233).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saw. Bersabda ,
“Berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada tukang
bekam itu”. (HR. Bukhari Muslim).
Rukun Ijarah :
1. Penyewa
68
2. Pemberi sewa
3. Obyek sewa
4. Harga sewa
5. manfaat sewa
6. Ijab qabul
Jenis Ijarah Menurut Objeknya
Berdasarkan Obyeknya, Ijarah terdiri dari:
1. Ijarah dimana obyeknya manfaat dari barang, seperti sewa mobil, sewa
rumah dll.
2. Ijarah dimana obyeknya adalah manfaat dari tenaga seseorang seperti
jasa taxi, jasa guru, dll.
69
melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan
atas barang itu sendiri. Dalam praktiknya kegiatan ini dilakukan oleh
perusahaan leasing, baik untuk kegiatan operating lease maupun financial
lease. Bank Syari’ah yang mengoperasikan ijarah dapat melakukan leasing,
baik operational lease maupun financial lease. Akan tetapi pada umumnya,
bank-bank syariah lebih banyak melaksanakan financial lease with purchase
option atau ijarah muntahia bit-tamlik. Hal ini karena skema ini lebih
sederhana dari sisi pembukuan dan bank tidak direpotkan oleh beban
pemeliharaan asset. Ditinjau dari hal tersebut, ijarah lebih sering dipakai
untuk pembiayaan investasi dan customer loan.
Sebagai contoh, seorang nasabah yang sedang melakukan proyek
pembangunan jalan raya, memerlukan alat-alat berat sebagai penunjang
operasinya. Karena keberadaan alat tersebut hanya dibutuhkan pada saat dia
sedang melaksanakan proyek, dia memutuskan untuk tidak membeli peralatan
itu, melainkan menyewanya. Akan tetapi, jika ternyata alat – alat tersebut akan
terus dibutuhkan dan dia kemudian memutuskan untuk membelinya, dia bias
melakukan dengan ijarah muntahia bit-tamlik, yaitu mnyewa peralatan
tersebut dan pada akhir masa sewa dia membelinya.
Transaksi Ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat. Jadi pada
dasarnya prinsip ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, namun
perbedaannya terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual-beli objek
transaksinya adalah barang, maka pada ijarah objek transaksinya adalah jasa.
Pada akhir nya masa sewa, Bank dapat saja menjual barang yang
disewakannya kepada nasabah. Karena itu dalam perbankan syariah dikenal
ijarah muntahiyyah bit tamlik (IMBT), sewa yang diikuti dengan
berpindahnya kepemilikan). Ijarah (Sewa)
Jenis kegiatan ijarah antara lain penyewaan kota simanan (safe deposit
box) dan jasa tatalaksana administrasi document (custodian). Bank mendapat
imbalan sewa dari jasa tersebut.
Al Qard al Hasan
Dalam rangka mewujudkan tanggung jawab sosianya, bank dapat
memberikan fasilitas yang disebut Al Qard al Hasan, yaitu penyediaan
pinjaman dana kepada pihak-pihak yang patut mendapatkannya. Secara
syariah peminjam hanya berkewajiban membayar kembali pokok
pinjamannya, walauu syari’ah membolehkan pinjaman untuk memberikan
imbalan sesuai dengan keikhlasannya, tetapi bank sama sekali dilarang untuk
menerima imbalan apapun Qard.
Qard adalah pinjaman uang. Aplikasi qardh dalam perbankan biasanya
dalam empat hal, yaitu :
Ø Sebagai pinjaman talangan haji, dimana nasabah calon haji
diberikan pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran
biaya perjalanan haji. Nasabah akan melunasinya sebelum
keberangkatan ke haji.
70
Ø Sebagai pinjaman tunai (cash advanced) dari produk kartu kredit
syari’ah, dimana nasabah diberi keleluasan untuk menarik uang
tunai milik bank melalui ATM. Nasabah akan mengembalikan
sesuai waktu yang ditentukannya.
Ø Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil, dimana menurut
perhitungan bank akan memberatkan si pengusaha bila diberikan
pembiayaan dengan skema jual beli, ijarah atau bagi hasil.
71
Bank Islam menjalankan fungsi-fungsi financing tersebut adalah dalam
kapasitasnya sebagai mudharib dengan menggunakan dana-dana yang
diperoleh dari para nasabah sebagai shahib al maal, yang menyimpan dan
menanamkan dananya pada bank melalui rekening-rekening sbb:
a) Rekening Koran
Jasa simpanan dana dalam bentuk Rekening Koran diberikan oleh Bank
Islam dengan prinsi Al Wadi’ah yad Dhamanah, dimana penerima
simpanan tertanggung jawab penuh atas segala kehilangan atau kerusakan
yang terjadi pada asset titipan tersebut. Dengan prinsip ini, bank menerima
simpanan dana dari nasabah yang memerlukan jasa penitipan dengan
kebebasan mutlak untuk menariknya kembali sewaktu-waktu.
Jadi, Bank memperoleh izin dari nasabah untuk menggunakannya
selama dana tersebut mengendap di Bank. Nasabah sewaktu-waktu dapat
menarik sebagian atau seluruh saldo yang mereka miliki. Dengan
demikian mereka memerlukan jaminan pembayaran kembali dari bank
atas simpanan mereka. Semua keuntungan yang dihasilkan dari
penggunaan dana tersebut selama mengendap di bank adalah menjadi hak
bank. Bank diperbolehkan memberikan bonus kepada nasabah atas
kehendaknya sendiri, tanpa diikat oleh perjanjian. Bank menyediakan cek
dan jasa-jasa lain yang berkaitan dengan rekening koran tersebut.
Berdasarkan prinsip wadi’ah ini penerima simpanan juga dapat bertindak
sebagai Yad Al Amanah (tangan penerima amanah), artinya ia tidak
bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada aset
titipan selama hal itu bukan akibat kelalaian atau kecerobohan yang
bersangkutan (terjadi karena faktor diluar kemampuan penerima
simpanan). Penerapannya dalam perbankan dapat kita saksikan, misalnya
dalam pelayanan safe deposit box.
b) Rekening Tabungan.
Bank menerima simpanan dari nasabah yang memerlukan jasa penitipan
dana dengan tingkat keleluasaan tertentu untuk menariknya kembali
berikut kemungkinan memeroleh keuntungan berdasarkan rinsip Wadi’ah.
Bank memperoleh izin dari nasabah untuk menggunakan dana tersebut
selama mengendap di bank. Nasabah dapat menarik sebagian atau seluruh
saldo simpanannya sewasktu-waktu atau sesuai dengan perjanjian yang
disepakati. Bank menjamin pembayaran kembali simpanan mereka.
Semua keuntungan atas pemanfaatan dana tersebut adalah milik bank,
namun tetapi berbeda dengan rekening koran, bank dapat memberikan
imbalan keuntungan yang berasal dari sebagian keuntungan bank. Bank
menyediakan buku7 tabungan dan jasa-jasa yang berkaitan dengan
rekening tersebut.
c) Rekening Investasi Umum
Bank menerima simpana dari nasabah yang mencari kesempatan
investasi dari dana mereka dalam bentuk Rekening Investasi Umum
72
berdasarkan prinsip mudharabah mutlaqah. Simpanan diperjanjikan
untuk jangka waktu tertentu. Bank dapat menerima simpanan tersebut
untuk jangka waktu 1, 3, 6, 12, 24 bulan dst. Dalam hal ini bank
bertindak sebagai Mudharib dan nasabah bertindak sebagai Shahib al
Maal, sedang keduanya menyepakati pembagian laba (bila ada) yang
dihasilkan dari penanaman dana tersebut dengan Nisbah tertentu.
Dalam hal ini terjadi kerugian, nasabah menanggung kerugian tersebut
dan bank kehilangan keuntungan.
d) Rekening Investasi Khusus
Bank dapat juga menerima simpanan dari pemerintah atau nasabah
korporasi dalam bentuk rekening simpanan khusus. Rekening ini juga
dioperasikan berdasarkan prinsi mudharabah, tetapi bentuk investasi dan
nisbah pembagian keuntungannya biasanya dinegosiasikan secara kasus
per kasus (mudharabah muqayyadah).
73
seperti simpanan giro dan tabungan dan deposito berjangka untuk
dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat dan kepentingan negara. Yang
terpenting dalam hal ini si penyimpan bertanggung jawab atas segala
kehilangan dan kerusakan yang menimpa uang tersebut.
Konsekuensi dari diterapkannya prinsi ayd adh-dhamah pihak bank
akan menerima seluruh keuntungan dari penggunaan uang, namun
sebaliknya bila mengalami kerugian juga harus ditanggung oleh bank.
Sebagai imbalan kepada pemilik dana disamping jaminan keamanan
uangnya juga akan memperoleh fasilitas lainnya seperti insentif atau
bonus untuk giro wadiah. Artinya bank tidak dilarang untukk memberikan
jasa atas pemakaian uangnya berupa insentif atau bonus, dengan catatan
tanpa perjanjian terlebih dahulu baik nominal maupun persentase dan ini
murni merupakan kebijakan bank, biasanya digunakan istilah nisbah atau
bagi hasil antara bank dengan nasabah. Bonus biasanya diberikan kepada
nasabah yang memiliki dana rata-rata minimal yang telah ditetapkan.
Dalam praktiknya nisbah antara bank (shahibul maal) dengan deposan
(mudharib) biasanya bonus untuk giro wadiah sebesar 30%, nisbah 40%
:60% untuk simpanan deposito.
Landasan Syari’ah
Beberapa dasar hukum akad wadi’ah antara lain:
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. Bersabda :”
Sampaikanlah (tunaikanlah) amanat kepada yang berhak menerimanya
dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah mengkhianatimu
(HR. Abu Dawud dan menurut Tirmidzi hadits ini hasan , sedang Imam
Hakim mengkategirikannya shahih).
Menurut Syafe’i Antonio (1999), wadi’ah adalah titipan murni dari satu
pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan
dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki.
Menurut bank Indonesia (1999), wadi’ah adalah akad penitipan
barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan piihak yang
diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan,
serta keutuhan barang/uang.
Dalil Al-Qur’an Tentang wadi’ah
” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya ...” (QS. An-Nisa :58)
Rukun Wadi’ah :
1. Barang / uang yang dismpan / dititipkan (wadi’ah)
2. Pemilik barang / uang yang bertindak sebagai pihak yang menitipkan
(muwaddi’)
3. Pihak yang menyimpan atau yang memberikan jasa custodian
(mustawda’)
4. Ijab qabul (sighat)
WADI’AH YAD AL-AMANAH
74
Pada pelaksanaannya, wadi’ah terdiri dari dua jenis , yakn :
1. Wadi’ah yad al-amanah
2. Wadi’ah yad adh-dhamanah
Wadi’ah yad al amanah adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak
penerima titipan tidak diperkenankan menggunakan barang /uang yang
dititipkan dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kehilangan barang
titian yang bukan diakibatkan perbuatan atau kelalaian penerima titipan.
75
Prinsip Mudharabah
Dalam mengaplikasikan prinsip mudharabah, penyimpanan atau
deposan bertindak sebagai shahibul maal (pemilik modal) dan Bnak sebagai
mudharib (pengelola). Dana tersebut digunakan bank untuk melakukan
murabahah atau ijarah seperti yang telah dijelaskan terlebih dahulu. Dapat ula
dana tersebut digunakan bank untuk melakukan mudharabah kedua. Hasil
usaha ini akan dibagi hasilkan berdasarkan nisbah yang disepakati. Dalam hal
bank menggunakannya untuk melakukan mudharabah kedua, maka bank
bertanggung jawab penuh atas kerugian yang terjadi.
76
• Ketentuan-ketentuan yang lain yang berkaitan dengan tabungan dan
deposito tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip
syari’ah.
Jenis mudharabah ini merupakan simpanan khusus, dimana emilik dana
data menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi oleh bank.
Misalnya diisyaratkan digunakan untuk bisnis tertentu, atau diisyaratkan
digunakan dengan akad tertentu, atau diisyaratkan digunakan untuk nasabah
tertentu.
Karakteristik jenis simpanan ini adalah sebagai berikut :
• Pemilik dana wajib menetapkan syarat-syarat tertentu yang harus
diikuti oleh bank dan wajib membuat akad yang mengatur
persyaratan penyaluran dana simpanan khusus.
• Bank wajib memberitahukan kepada pemilik dana mengenai nisbah
dan tata cara pemberitahuan keuntungan dan/atau pembagian
keuntungan secara resiko yang dapat ditimbulkan dari
penyimpangan dana. Apabila telah dicapai kesepakatan maka hal
tersebut harus dicantumkan dalam akad.
• Sebagai tanda bukti simpanan bank menerbitkan bukti simpanan
khusus. Bank wajib memisahkan dana ini dari rekening lainnya.
• Untuk deposito mudharabah, bank wajib memberikan sertifikat
atau tanda penyimpanan (bilyet) deposito kepada responden.
77
bank yang mencari keuntungan lewat jasa-jasa bank lainnya. Mengingat
keuntungan yang diperoleh dari spread based semakin sulit akibat berbagai
factor sedangkan perolehan keuntungan dari jasa-jasa bank lainnya ini
walaupun relatif kecil, namun mengandung suatu kepaastian. Disisi lain resiko
kerugian terhadap jasa-jasa bank lainnya ini lebih kecil jika dibandingkan
dengan resiko dalam pemberian fasilitas kredit.
3. Produk jasa-jasa
a) Rahn
Adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan
atas pinjaman yang diterimanya. Barang yang ditahan tersebut memiliki
nilai ekonomis. Dengan demikian pihak yang menahan memperoleh
jaminan untuk dapat mengambil seluruh atau sebagian piutangnya.
Singkatnyarahn adalah sejenis jaminan utang atau gadai.
Menurut Syafe’i Antonio (1999), rahn adalah menahan salah satu harta
milik sipeminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.
Menurut bank Indonesia (1999), rahn adalah akad penyerahan
barang/harta (marhun) dari nasabah (rahin) keada bank (murtahin)
sebagai jaminan sebagian atau seluruh hutang.
Dalil Al-Hadist Tentang Ar-Rahn
” Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai)
sedang kamu tidak memeroleh seoramg penulis, maka hendaklah ada
barang tanggungan yang diegang (oleh yang berpiutang)...” (QS.Al
Baqarah: 283)
Dalil al Hadist Tentang Ar Rahn
” Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah membeli makanan dari
seorang Yahudi dan menjaminkan kepadanya baju besi. ”(HR.>
Bukhori, Ahmad Nasa’i dan Ibnu Majah)
Rukun Ar-Rahn :
1. Pihak yang menggadaikan (raahi)
2. Pihak yang menerima gadai (murtahin)
3. Obyek yang digadaikan (marhun)
4. Hutang (marhun bih)
5. Ijab qabul (sighat)
78
nasabah untuk keerluan yang bersifat konsumtif, seperti pendidikan,
kesehatan, dan sebagainya. Lembaga keuangan tidak menarik manfaat apapun
kecualibiaya pemeliharaan atau keamanan barang yang digadaikan tersebut.
Ar-Rahn meruakan kegiatan menahan salah satu harta milik sipeminjam
sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. Kegitaan seperti ini
dilakukan seperti jaminan utang atau gadai.
Tujuan akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran
kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan.
Barang yang digadaikan wajib memenuhi kriteria :
Ø Milik nasabah sendiri
Ø Jelas ukuran, sifat dan nilainya ditentukan berdasarkan nilai riil pasar
Ø Dapat dikuasai namun tidak boleh dimanfaatkan oleh bank.
Atas izin bank, nasabah dapat menggunakan barang tertentu yang
digadaikan dengan tidak mengurangi nilai dan merusak barang yang
digadaikan. Apabila barang yang digadaikan rusak atau cacat, maka
nasabah harus bertanggung jawab.
Apabila nasabah wasprestasi, bank dapat melakukan penjualan
barang yang digadaikan atas perintah hakim. Nasabah mempunyai hak
untuk menjual barang tersebut dengan seizin bank. Apabila hasil
penjualan melebihi kewajibannya, maka kelebihan teersebut menjadi
milik nasabah. Dalam hal hasil penjualan tersebut lebih kecil dari
kewajibannya, maka nasabah harus menutupi kekurangannya.
b). Wakalah
Menurut Syafi’i Antonio (1999), wakalah adalah penyerahan,
pedelegasian atau pemberian amanat. Menurut bank Indonesia (1999),
wakalah adalah akad pemberian kuasa dari pemberi kuasa kepada penerima
kuasa untuk melaksanakan suatu tugas atas nama peemberi kuasa.
Dalil Al-Qur’an tentang Wakalah
”... Maka suruhlah salah seorang diantara kamu pergi ke kots dengan
membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia melihat manakah makanan
yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu..”
”Berkata Yusuf :jadilah aku berbendaharawan negara (Mesir);
sesungguhnya aku adalah seorang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
(QS. Yusuf:55)
Dalil Al- Hadist Tentang Wakalah
” Bahwasanya Rasulullah SAW mewakilikan kepada Abu Rafi’ dan
seorang Anshar untuk mewakilinya Maimunah binti al-Harist.
” Sesunguhnya Rasulullah SAW mengutus Assa’ah untuk memungut
zakat” (HR. Bukhori dan Muslim)
Rukun Wakalah :
1. Pihak pemberi kuasa (muwakkil)
2. Pihak penerima kuasa (wakil)
3. Obyek yang dikuasakan (taukil)
79
4. Ijab qabul (sighat)
Al-Wakalah dimana nasabah memberikan kuasa terbatas kepada bank
untuk mewakili nasabah melakukan pekerjaan atau urusan tertentu
(melakukan transfer dana sesuai permohonan nasabah).
Wakalah adalah akad perwakilan anatara dua belah pihak. Dalam
aplikasinya ada Perbankan Syari’ah, Wakalah biasanya diterapkan untuk
penerbitan Letter of Credit (L/C) atau penerusan permintaan akan barang
dalam negeri dari bank di luar negeri (L/C ekspor). Wakalah juga diterapkan
untuk mentransfer dana nasabah kepada pihak lain. Wakalah atau wakilah
artinya penyerahan atau pendelegasian atau pemberian mandat dari satu pihak
kepada pihak lain. Mandat ini harus dilakukan sesuai dengan yang telah
disepakati oleh si pemberi mandat Wakalah (Perwakilan).
Wakalah dalam aplikasi perbankan terjadi apabila nasabah memberikan
kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu,
seperti pembukuan L/C, inkaso dan transfer uang.
Bank dan nasabah yang dicantumkan dalam akad pemberian kuasa
harus caka hukum. Khusus untuk pembukaan L/C apabila dana nasabah
ternyata tidak cukup, maka penyelesaian L/C (settlement L/C) daapt dilakukan
dengan pembiayaan murabahah, salam, ijarah, mudharabah atau
musyarakah.
Kelalaian dalam menjalankan kuasa menjadi tanggung jawab bank,
kecuali kegagalan karena force majeure menjadi tanggung jawb nasabah.]
Apabila bank yang ditunjukkan lebih dari satu, maka masing-masing
bank tidak boleh bertindak sendiri-sendiri tanpa musyarakah dengan bank
yang lain, kecuali dengan seizin nasabah. Tugas, wewenang dan tanggung
jawab bank harus jelas sesuai kehendak nasabah bank. Atas pelaksanaan
tugasnya tersebut bank mendapat pengganti biaya berdasarkan kesepakatan
bersama. Pemberian kuasa berakhir setelah tugas dilaksanakan dan disetujui
bersama antara nasabah dengan bank.
c) Kafalah
Pengertian
Kafalah adalah pemberian jaminan (makful’alaih) oleh satu pihak ke
pihak lainnya dimana pemberi jaminan (kafiil) bertanggung jawab atas
pembayaran kembali suatu hutang yang menjadi hak penerima jaminan
(makful).
Landasan Syari’ah
Dalil Al-Qur’an tentang Kafalah
” Penyeru-penyeru itu berseru, kami kehilangan piala raja barang siapa yang
dapat mengembalikannya akan memperoleh makanan seberat beban unta dan
aku menjamin terhadapnya”. (QS Yusuf :72).
Dalil Al Hadist tentang Kafalah
Rasulullah SAW telah dihadapkan kepadanya mayat laki-lak untuk
dishalatkan. Rasulullah bertanya : apakah dia mempunyai warisan?”
80
Sahabat menjawab :” Tidak”. Rasulullah bertanya lagi :” Apakah ia
mempunyai hutang?” Shahabat menjawab :” Ya sejumlah 2 dinar”.
Rasulullah pun menyuruh para sahabat untuk menshalatkannya (tetapi
Beliau sendiri tidak. Dalam pada itu Abu Qatadah berkata :” Saya
menjamin hutangnya Ya Rasulullah”. Maka Rasulullha un menshalatkan
mayat tersebut”. (HR. Bukhori).
Kafalah adalah akad jaminan satu pihak kepada pihak lain. Dalamm
lembaga keuangan, akad ini terlihat dalam peenrbitan garansi bank (Bank
Guarantee), baik dalam rangka mengikuti tender (Bid bond), pelaksanaan
proyek (Performance bond), ataupun jaminan atas pembayaran lebih dulu
(Advance Payment bond). Al Kafalah merupakan jaminan yang diberikan
enanggung keada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau
yang ditanggung. Dapat pula diartikan sebagai pengalihan tanggung jawab
dari satu pihak kepada pihak lain. Dalam dunia perbankan dapat dilakukan
dalam hal pembiayaan dengan jaminan seseorang.
Garansi bank dapat diberikan dengan tjuan untuk menjamin
pembayaran suatu kewajiban pembayaran. Bank dapat mensyaratkan nasabah
untuk menempatkan sejumlah dana untuk fasilitas ini sebagai rahn. Bank
dapat pula menerima dana tersebut dengan prinsip Wadi’ah. Untuk jasa-jasa ii,
bank mendapatkan pengganti biaya atas jasa yang diberikan.
Menurut Syafe’i Antonio (1999), kafalah adalah jaminan yang dibrikan
oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua
atau yang ditanggung. Menurut Bank Indonesia (1999), kafalah adalah akad
emberian jaminan yang diberikan satu pihak kepada pihak lain dimasa
pemberi jaminan bertanggung jawab atas pembayaran kembali suatu hutang
yang menjadi bhak penerima jaminan.
Rukun Kafalah :
1. Pihak penjamin (kaafil)
2. Pihak yang dijamin (makful)
3. Obyek yang dijamin (makful ’alaih)
4. Ijab Qabul (sighat)
d) Hawalah
Pengertian Hawalah
Al Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada
orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam istilah para ulama, hal ini
merupakan pemindahan beban utang dari orang yang berutang (muhil)
menjadi tanggungan muhal’alaih atau orang yang berkewajiban membayar
hutang.
Menurut Syafi’i Antonio (1999), hawalah adalaaah engalihan hutang
dari seorang yang berhutang keada orang lain yang wjib menanggungnya
(artinya ada satu pihak yang menjamin hutang pihak lain). Menurut Bank
Indonesia (1999), hawalah adalah akad pemindahan piutang nasabah (muhil)
keada bank (muhal’alaih) dari nasabah lain (muhal). Muhil meminta
81
muhal’alaih untuk membayarkan terlebih dahulu piutang yang timbul dari
jual-beli. Pada saat piutang tersebut jatuh tempo, muhal akan membayar keada
muhal’alaih. Muhal’alaih memperoleh imbalan sebagai jasa pemindahan.
Dalil al-Hadist Tentang Hawalah
” Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah adalah suatu
kedzaliman. Dan jika salah seorang dari kamu diikutkan (dihawalahkan)
kepada orang yang mampu/kaya,terimalah hawalan itu.”(HR>Bukhari dan
Muslim)
Landasan Syariah
” Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu
kedhaliman.Dan jika salah seorang dari kamu diikutkan (di-hawalahkan)
kepada orang yang mampu/kaya,terimalah hawalan itu”(HRBukhari dan
Muslim).
Aplikasi pada Perbankan
Berdasarkan al-hawalah perbankan syariah dapat menyelenggarakan:
Ø Factoring atau anjak piutang, dimana para nasabah yang memiliki
piutang kepada pihak ketiga memindahkan piutang itu kepada bank,
bank lalu membayar piutang tersebut dan bank menagihnya dari pihak
ketiga.
Ø Post-dated chack, bank bertindak sebagai juru tagih, tanpa
membayarkan piutang dulu piutang tersebut.
Hawalah adalah akad pemindahan hutang/piutang suatu pihak kepada
pihak lain. Prakteknya dapat dilihat pada transaksi anjak piutang (factoring).
Namun kebanyakan ulama tidak memperbolehkan mengambil manfaat
(imbalan) atas pemindahan hutang atau piutang tersebut. Al Hawalah
merupakan pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain
yang wajib menanggungnya atau dengan kata lain pemindahan beban hutang
dari satu pihak keada lain pihak. Dalam dunia keuangan atau perbankan
dikenal dengan kegiatan bank piutang atau factoring. Tujuan fasilitas Hiwalah
adalah unntuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat
melanjutkan produksinya. Bank mendaat ganti biaya atas jasa pemindahan
piutang. Untuk mengantisipasi resiko kerugian yang akan timbul, bank perlu
melakukan penelitian atas kemauan pihak yang berhutang dan kebenaran
transaksi antara yang memindahkan piutang dengan yang berhutang.
Katakanlah seorang supplier bahan bangunan menjual barangnya kepada
pemilik proyek yang akan dibayar dua bulan kemudian. Karena kebutuhan
supplier akan liquiditas, maka ia meminta bank untuk mengambil alih
piutangnya. Bank akan menerima pembyaran dari pemilik proyek.
Rukun Hawalah :
1. Pihak yang berhutang dan berpiutang (muhil)
2. Pihak yang berpiutang (muhal)
3. Pihak berhutang dan berkewajiban membayar hutang pada muhil
(mual’alaih)
82
4. hutang muhil kepada muhal (muhalbih)
5. Hutang muhal alaih kepada muhil
6. ijab qabul (sighat)
Jenis Hawalah :
Berdasarkan jenis obyeknya, hawalah terdiri dari :
Ø Hawalah ad-dain ; yakni hawalah dimana obyeknya adalah hutang.
Ø Hawalah al-haq ; yakni hawalah obyeknya adalah piutang atau hak
penagihan.
e) Jo’alah
Jo’alah adalah suatu kontrak dimana pihak pertama menjanjikan
imbalan terteantu keada pihak kedua atas pelaksanaan suatu tugas/pelayanan
yang dilakukan oleh pihak kedua untuk kepentingan pihak pertama. Prinsip ini
dsapat diterakan oleh bank dalam menawarkan berbagai pelayanan dengan
mengambil fee dari nasabah.
f) Sharf
Sharf adalah transaksi pertukaran antara emas dengan perak atau
pertukaran valuta asing, dimana mata uang asing dipertukarkan dengan mata
uang domestic atau dengan mata uang asing lainnya. Bank Islam sebagai
lembaga keuangan dapat menerapkan prinsip ini, dengan catatan harus
memenuhi syarat-syarat yang disebutkan dalam beberapa hadits antara lain:
Harus tunai; serah terima harus dilaksanakan dalam majelis kontak, Bila
dipertukarkan mata uang yang sama harus dalam jumlah / kuantitas sama.
Pada prinsipnya jual valuta asing sejalan dengan prinsip Sharf. Jual beli
mata uang yang tidak sejenis ini, penyerahannya harus dilakukan pada waktu
yang sama (spot).
Bank mengambil keuntungan dari jual beli valuta asing ini.
Sharf adalah transaksi pertukaran antara dua mata uang yang berbeda.
Rukun Sharf :
1. Penjual
2. Pembeli
3. Mata uang yang diperjualbelikan
4. Nilai tukar
5. Ijab Qabul
APLIKASI JASA-JASA BANK
1. Jasa Pengiriman Uang (Transfer)
Transfer merupakan jasa pengiriman uang atau pemindahan uang lewat
bank baik pengiriman uang dalam kota, luar kota atau ke luar negeri. Lama
pengiriman dan besarnya biaya kirim sangat tergantung dari sarana yang
digunakan.
Pemilihan sarana yang akan digunakan dalam jasa transfer ini
tergantung kemauan nasabah apakah lewat Telex, Telepon atau On Line
Komputer. Sarana yang dipilih akan mempengaruhi kecepatan pengiriman dan
besar kecilnya biaya pengiriman.
83
Keuntungan yang diperoleh bank lewat pengiriman uang atau transfer
lewat bank, jika dibandingkan dengan jasa pengiriman lainnya adalah sebagai
berikut :
§ Pengiriman uang lebih cepat
§ Aman sampai tujuan
§ Pengiriman dapat dilakukan lewat telepon melalui pembebanan
rekening
§ Prosedur mudah dan murah.
Jasa Kliring (Clearing)
Pengertian Kliring adalah penagihan warkat Bank yang berasal dari
dalam kota melalui Lembaga Kliring. Pengertian lainnya Kliring merupakan
jasa penyelesaian hutang piutang antar bank dengan cara saling menyerahkan
warkat-warkat yang akan dikliringkan di lembaga kliring. Lembaga kliring
dibentuk dan dikoordinir oleh Bank Indonesia setiap hari kerja.
Tujuan dilaksanakan kliring oleh Bank Indonesia antara lain :
Ø Untuk memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral
Ø Agar perhitungan penyelesaian hutang piutang daapt dilaksanakan lebih
mudah, aman dan efisien.
Ø Salah satu pelayanan Bank keada nasabahnya.
Jasa Inkaso (Collection)
Pengertian Inkaso adalah warkat-warkat bank yang beerasal dari luar
kota atau luar negeri. Contoh jasa inkaso adalah apabila kita memperoleh
selembar cek yang diterbitkan oleh Bank BNI dikota Surabaya, maka cek
tersebut dapat dicairkan di bankyang berada di Jakarta melalui jasa inkaso.
Dalam hal ini bank yang di Jakarta lah yang menagihkannya ke Bank di BNI
Surabaya dan proses penagihan ini kita sebut inkaso dalam negeri.
Jasa Penyimpanan Dokumen (Safe Deposit Box)
Safe Deposit Box (SDB) merupakan jasa-jasa persewaan kotak untuk
menyimpan documen atau surat-surat berharga. Jasa ini dikenal juga dengan
nama safe loket. SDB berbentuk kotak dengan ukuran tertentu dan disewakan
kepada nasabah yang berkepentinga untuk menyimpan documen-documen
atau benda-benda berharga miliknya. Pembukaan SDB dilakukan dengan 2
buah anak kunci, di mana satu dipegang bank dan satu lagi dipegang oleh
nasabah.
Jasa Valuta Asing (Bank Notes)
Merupakan uang kartal asing dikeluarkan dan diterbitkan oleh bank
diluar negeri. Bank notes dikenal juga dengan istilah ”devisa tunai” yang
mempunyai sifat-sifat seperti uang tunai. Tidak semua ank notes dapat
diperjualbelikan, hal ini tergantung daripada peraturan devisa di negara asal
bank notes diterbitkan.
Dalam transaksi jual beli bank notes, bank mengelompokkan bank
notes ke dalam dua klasifikasi, yaitu bank notes yang lemah dan bank notes
84
yang kuat. Bank biasanya lebih menyukai bank notes yang nilainya kuat
ketimbang yang lemah.
Pengelompokkan bank notes yang kuat berdasarkan kategori sbb:
1. Bank notes tersebut mudah diperjual belikan
2. nilai tukar terkendali/stabil
3. frekuensi pejualan sering terjadi
4. dan pertimbangan lainnya.
Sedangkan kelompok bank notes yang lemah adalah kebalikan dari bank
notes yang kuat. Dalam praktiknya bank tidak selalu menerima penjualan
dan pembelian bank motes. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan yaitu :
1. Kondisi bank notes cacat / rusak
2. Tergolong dalam valuta lemah
3. Tidak memiliki persediaan
4. Diragukan keabsahannya.
Untuk bank notes yang lemah dan sulit diperdagangkan maka bank
menjualnya kembali ke Bank Indonesia atau kantor pusat bank yang
bersangkutan.
Penjualan bank notes juga dilakukan antar bank dan juga
diperjualbelikan antar di travel, authorized money changer (pedagang
valuta asing) dan tempat lainnya.
Contoh bank notes yang tergolong dalam kategori kuat adalah sebagai
berikut: United State Dollar (America), GBP:Great Britian Poundstarling
(Inggris), DEM : Deutsche Mark (Jerman), JPY : Japanese Yen (Jepang),
HKD : Hongkong Dollar (Hongkong)
Dalam transaksi jual beli bank notes ada dua macam kurs yaitu kurs
beli(buying rate) dan kurs jual (selling rate). Penggunaan kurs beli dan kurs
jual dalam transaksi bank notes adalah sbb:
1. Kurs jual pada saat bank mnejual, artinya dalam hal ini nasabah
membeli
2. Kurs beli pada saat bank membeli artinya dalam hal ini nasabah
menjual.
Jasa Cek Wisata (Travellers Cheque)
Pengertian Travellers Cheque adalah merupakan cek wisata atau cek
perjalaanan yang biasanya digunakan oleh mereka yang hendak bepergian atau
sering dibawa oleh wisatawan. Travelers Cheque diterbitkan dalam nominal
tertentu seperti halnyauangkartal dan diterbitkan dalam mata uang rupiah dan
mata uang asing. Penggunaan travelers cheque dapat dibelanjakan di berbagai
tempat terutama dimana bank yang mengeluarkan travelers cheque tersebut
melakukan pengikatan dan perjanjian. Di samping itu travelers cheque juga
dapat diuangkan di berbagai bank. Travellers cheque yang diterbitkan dalam
mata uang asing dalam setiap transaksinya baik transaksi penjualan maupun
transaksi pencairan menggunakan kurs. Kurs yang digunakan baik dalam
85
pembelian maupun penjualan Travellers Cheque Valas adalah kurs devisa
umum.
86
BAB VIII
MUDARABAH
1. Pengertian Mudharabah
Mudharabah berasal dari kata dharb, bearti memukul atau berjalan.
Pengertian memukul atau berjalan ini lebih tepatnya adalah proses seorang
memukulkan kakinya dalam menjalankan usaha. Secara teknis, al-
Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak
pertama (shahibul ma’al menyediakan seluruh seratus persen modal,
sedangkan pihak lainnya menjadi peneglola. Keuntungan usaha secara
mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak,
sedangkan apabila rugi diutanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu
bukan akibat kelalaian pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena
kecurangan atau kelalaian si pengelola, sipengelola harus bertanggung jawab
atas kerugian tersebut. Mudharaba adalah akad kerja sama usaha antara dua
pihak dimana pihak pertama sebagai penyandang dana (shabul ma’al)
menyediakan seluruh seratus persen modal sedangkan pihakl lainnya sebagai
pengelola dana (mudharib). Keuntungan usaha dibagi secara menurut
kesepakatan (nisba bagi hasil) yang dituangkan dsalam kontrak apabila usaha
yang dibiayai mengalami kerugian maka pemilik modal yang menanggung
resiko tersebut selama kerugian tersebut bukan akibat kelalian pengelola.
2. Dasar Mudharabah
Yang menjadi landasan syari’ah dalam mudharabah lebih mencermin
anjuran melakukan usaha. Hal ini dapat dilihat pada ayat-ayat dan hadist
sebagai berikut:
Al-qur’an
,…… dan orang-orang yang bejalan dimuka bumi mencari sebagian karunia
Allah Swt…” Al-Muzammil: 20.
Yang menjadi argumen dari surah ini adalah adanya kata ya ribun yang
sama akar kata mudharabah yang bearti melakukan perjalanan usaha”apa bila
telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah
karunia Allah Swt…” (Al-Jumu’ah:10). “Tidak ada dosa (halangan) bagi
kamu untuk mencari karunia Tuhanmu…” (Al-Baqarah: 198).
Surah Al-Jumu’ah:10 dan al-Baqarah:198 sama-sama mendorong kaum
muslim untuk mendorong perjalanan usaha.
Diriwayatkan dari Ibn Abbas Sayyidina bin Abdul Muthallib”jika
memberikan dana kemitra usahanya secara mudharaba ia menyaratkan agar
dana nya tidak dibawah mengarungi lautan, menunai lemah yang berbahaya,
atau membeli ternak. Jika menyalahi aturan tersebut yang bersangkutan
bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikan syarat-syarat tersebut
kepada Rasullah Saw dan Rasullah membolehkannya” (HR. Tabrani).
87
Dari Shalin bin Shuhaib r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda tiga hal
yang didalamnya kebarkatan: jual beli secara tangguh, mukharadah
(mudharabah) dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan
rumah, bukan untuk dijual.”
( HR. Ibn Majah)
Imam Zilai telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsesus terhadap
legitimasi pengelolaan harta anak yatim secara mudharabah. Kesepakatan para
sahabat tersebut sejalan dengan spirit hadist yang dikutif Abu Ubaid.
5. Manfaat Mudharabah
a. Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan
usaha nasabah meningkat.
88
b. Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah
pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan/hasil
usaha bank sehingga baik tidak akan pernah mengalami negatif spren.
c. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash law/harus
cash usaha nasabah sehingga tidak memberatkan nasabah.
d. Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang
benar-benar halal, aman, dan menguntungkan karena keuntungan
konkret dan benar-benar terjadi dan itulah yang akan dibagikan.
e. Prinsip bagi hasil dalam mudharabah/al-musyarakah ini berbeda
dengan prinsip bunga tetap dimana bank akan menagih penerima
pembiayaan (nasabah) satu jumlah bunga tetap berapapun keuntungan
yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi dan terjadi krisis ekonomi.
6. Resiko Al-Mudharabah
Resiko yang terdapat mudharabah, terutama dalam penerapannya dalam
pembiayaan, relatif tinggi. Diantaranya:
a. Sidestrdaming, nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang
disebut dalam kontrak.
b. Lalai dan kesalahan yang disengaja.
c. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur.
PERJANJIAN
BAGI HASIL
Nasabah Bank
(Mudharib (Shahibul
) )
PROYEK/USAHA
PEMBAGIAN
KEUNTUNGAN
MODAL
89
peroragan, rumah tangga perusahaan atau unit ekonomi) memperoleh modal
dari unit ekonomi lainnya untuk tujuan melakukan perdagangan atau
peninggalan. Mudharabah dalam kmontrak ikni menjadi truste atas modal
tersebut. Dalam objek yang didanai ditentukan oleh penyedia dana, maka
kontrak tersebut dinamakan mudharabah al muqayyadah. Dia menggunakan
modal tersebut dengan tujuan yang dinyatakan secara khusus, untuk
menghasilkan keuntungan pada saat proyek sudah selesai, mudharib akan
mengembalikan modal tersebut kepada punya modal berikut porsi keuntungan
yang telah disetujui sebelumnya. Bila terjadi kerugian maka seluruh kerugiuan
dipikul oleh shahib al maal. Bank dan lembaga keuangan dalam kontrak ini
dapat menjadi salah pihak. Mereka dapat menjadi penyedia dana (mudharib)
dalam hubungan mereka dengan para penabung, atau dapat menjadi penyedia
dana (shahib al maal) dalam hubungan mereka dengan pihak yang mereka beri
dana. Pengertian al mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak,
dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi
pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang ditingkatkan dalam
kontrak. Apabila rugi maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian
itu bukan akibat dari akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kerugian
diakibatkan kelalaian pengelola, maka si pengelola yang akan bertanggung
jawab.
Secara spesifik terdapat bentuk musyaraqah yang populer dalam bentuk
perbankan syari’ah yaitu mudharabah. Mudharabah adalah bentuk kerjasama
antara dua atau lebih pihak dimana pemilik modal (shahib al maal)
mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu
perjanjian pembagian keruntungan bentuk ini menegaskan kerjasama dalam
panduan konstribusi seratus persen modal cash dari shahib al maal dan
keahlian dari mudharib.
Transaksi jenis ini tidak menyaratkan adanya wakil shahio al maal
dalam manajemen proyek. Sebagai orang kepercayaan, mudharib harus
bertindak hati-hati dan bertanggung jawab untuk setiap kerugian yang terjadi
akibat kelalaian. Sedangkan sebagai wakil shahib al maal diharapkan untuk
mengelola modal dengan cara tertenbtu untuk menciptakan laba optimal.
Perbedaan esensial dari musyarakah dan mudharabah terletak pada
besarnya konstribusi atas manajemen dan keuangan atau salkah satu diantara
itu. Dalam mudharabah, modal hanya berasal dari satu pihak sedangkan
musyarakah modal berasal dari dua pihak atau lebih.
Musyarakah dan mudharabah dalam literatur fikih berbentuk perjanjian
kepercayaan (aqud/al amanah) yang menuntut tingkat kejujuran yang tinggi
dan menjunjung keadilan. Karena masing-masing pihak harus menjaga
kejujuran untuk kepentingan bersama dan setiap usaha dari masing-masing
pihak untuk melakukan kecurangan dan ketidakadilan pembagian pendapatan
betul-betul akan merusak ajaran Islam.
90
Mudharabah adalah salah satu jenis transaksi musyarakah dimana pihak
yang mendirikan adalah pemilik dana dan pemilik tenaga.
7.Rukun Mudharabah:
1. Pemilik modal
2. Pemilik usaha
3. Proyek/usaha
4. Modal
5. Ijab Kabul
91
BAB IX
MURABAHAH
Bai’ Al-Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan
tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam al-murabahah, penjual dalam
hal ini bank harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan
suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya. Bai’ al-Murabahah adalah
prinsip bai’ (jual-beli) dimana harga jualnya terdiri dari harga pokok barang
ditambah nilai keuntungan (ribhun) yang disepakati.
A. Rukun murabahah.
Adapun rukun dalam murabahah adalah sebagai berikut:
a. Penjual (bai’)
b. Pembeli (musytari’)
c. Barang/obyek (mabi’)
d. Harga (tsaman)
e. Ijab qabul (sighat)
92
Murabahah (al-bai’ bi tsaman afil) lebih dikenal sebagai murabahah
saja. Murabahah yang berasal dari kata ribhu (keuntungan), adalah transaksi
jual-beli dimana bank menyebutr jumlah keuntungannya. Bank bertindak
sebagai penjual, sementara nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga
beli bank dari pemasok ditambah keuntungan (margin).
Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu
pembayaran. Harga jual dicantum dalam akad jual beli dan jika telah
disepakati tidak dapat berubah selama berlakunya akad. Dalam perbankan,
dalam murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan (bi tsaman
ajil atau muajjaf). Dalam transaksi yang dilakukan barang diserahkan segera
setelah akad, sedangkan pembayaran dilakukan secara tangguh atau secara
cicilan.
Pada Al Bai’ Bitsaman Ajil, kontrak al-Murabahah barang yang
diperjual belikan diserahkan dengan segera sedangkan harga atas barang
tersebut di bayar dikemudian hari secara angsuran (Installment Deferred
Payment). Yang dalam prakteknya pada bank sama dengan murabahah, hanya
saja kewajiban nasabah dilakukan secara angsuran.
Pada Bai’as Salam. Salam adalah pembelian barang yang diserahkan di
kemudian hari, sedangkan pembayarannya dilakukan dimuka. Bai’As Salam
adalah prinsip Bai’a (jual beli) suatu barang tertentu antara pihak penjual dan
pembeli sebesar harga pokok ditambah nilai keuntungan yang disepakati,
dimana waktu penyerahan barang dilakukan dikemudian hari sementara
penyerahan uang dilakukan dimuka secara tunai. Jadi dapat dipastikan bahwa
Bai’as Salam dapat dilakukan apabila ada: 1) pembeli, 2) penjual, 3) harga, 4)
barang dan, 5) ijab Kabul.
Adapun yang menjadi dasar syari’ah Bai’ As Salam adalah Qur’an
surat Al-baqarah ayat 282 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman,
apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan,
hendaklah kamu menuliskannya ….” (QS. Al-Baqarah ayat 282).
“Barang siapa yang melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan
takaran yang jelass dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang
diketahui. (HR. Ibnu Abbas).
Adapun aplikasi pada perbankan salam biasa diterapkan pada
pembiayaan bagi petani dengan jangka waktu yang relative pendek yaitu 2-6
bulan. Ba’I Assalam, yaitu kontrak jual beli dimana harga atas barang yang
diperjual – belikan dibayar dengan segera (secara sekaligus), sedangkan
penyerahan atas barang tersebut dilakukan kemudian. Ba’I Assalam tersebut
biasanya dipergunakan untuk produk-produk pertanian yang berjangka
pendek. Dalam tersebutr bank bertindak sebagai pembeli produk dan
menyerahkan uangnya lebih dahulu sedangkan para nasabah menggunakannya
sebagai modal untuk mengelola pertaniannya. Karena kewajiban nasabah
berupa produk pertanian, biasanya bank melakukan parallel salam yaitu
mencari pembeli kedua sebelum saat panen tiba. Ba’as Assalam artinya
93
pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sedangkan pembayaran
dilakukan dimuka. Prinsip yang harus dianut adalah harus diketahui terlebih
dahulu jenis, kualitas dan jumlah barang dan hokum awal pembayaran harus
dalam bentuk uang. Sebagai contoh seorang petani lada yang ber nama Lala.
Adnan Rasheed hendak menanam lada dan membutuhkan dana sebesar
Rp.200.000.000 untuk satu hektar bank Riau Syari’ah menyetujui dan
melakukan akad diomana bank syari’ah akan membeli hasil lada tersebut
sebanyak sepuluh ton dengan harga jual jumalah RP 200.000.000. Pada saat
jatu tempo panen harus menyerahkan lada sebanyak sepuluh ton kemudian
bank Riau syari’ah dapat menjual lada tersebut dengan harga lebih tinggi
misalnya Rp 25.000 perkilo. Dengan demikian penghasilan bank adalah 10 ton
x 25.000= 250.000.000. Dari hasil tersebut Bank Riau syari’ah akan
memperoleh keuntungan sebesar Rp 50.000.000. Setelah dikurangi modal
yang diberikan bank Riau yaitu Rp. 250.000.000 dikurangi 200.000.000.
Selanjutnya, ketentuan umum pembiasaannya Salam adalah sebagai
berikut:
1. Pembelian hasil produksi harus diketahui spesipikasinya secara jelas
seperti jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlahnya. Misalnya jumlah
beli 100 kg mangga harus manis kualitas a dengan harga Rp.5.000 atau
kg, akan disaerahkan pada panen dua bulan mendatang.
2. Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai dengan
akad maka nasabah (produsen) harus bertanggung jawan dengan cara
antara lain dengan mengembalikan daqna yang telah diterimanya atau
mengganti barang yang sesuai dengan pesanan.
3. Menginginkan dan tidak menjadikan barang yang dibeli atau yang
dipesanya sebagai persediaan (investory), maka dimungkinkan bank
untuk melakaukann akad salam kepada pihak ketiga (pembeli kedua)
seperti buloG, pedagang pasar induk atau rekanan. Mekanisme seperti
itu disebut dengan paralel salam.
Selanjutnya dalam Bai’ Istisna. Bai’ Isthisna “ merupakan kontrak
penjualan antyara pembeli dan pembuat barang. Dalam akad tersebut pembuat
barang menerima pesan dari pembeli. Pembuat barang lalu berusaha melalui
orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut spesifikasi yang
telah disepakati dan menjual kepada pembeli akhir. Kedua belah pihak
bersepakat atas harga serta sistem pembayaran”. Apakah pembayaran
dilakukan dimuka melalui cicilan, atau ditanggungkan sampai suatu waktu
apada masa yang akan datang.
Bai’ Isthisna “adalah salah satu pengembangkan prinsip Bai’ as-salam
dimana waktu penyerahan barang dilakukan dikemudian hari sementara
pembayaran dapat dilakukan melalui cicilan atau ditangguhkan.
94
Rukun Bai’ Isthisna
13. Penjual atau penerima pesanan (shani’)
14. Pembeli atau pemesan (mustashni)’.
15. Barang (mashnu).
16. Harga (tsaman)
95
BAB X
RIBA, BUNGA, DAN ISLAM
1. Riba
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa sebelum ajaran Islam datang
atau sebelum turun ayat pelarangan tentang riba, transaksi ribawi telah terbiasa
dilaksanakan oleh masyarakat Thaif, Mekah, maupun Madinah. Kebiasaan
tersebut juga dilakukan oleh empat bersaudara yaitu Mas’ud, Abdullah, Lail,
dan Habib bin Amr bin Umar ats-Tsaqafi dari keluarga Bani Tsaqif yang
dikenal biasa meminjamkan uang. Dikala Rasulullah berhijrah ke Thaif,
keempat saudara ini masuk Islam. Salah seorang pengutang pada keempat
bersaudara itu adalah salah seorang dari Bani Mughira. Suatu ketika, utang
Bani Mughira jatuh tempo. Keempat saudara tersebut meminta Bani Mughira
melunasi pokok dan bunga, atau memilih dua pilihan yaitu melunasi seluruh
pinjaman atau perpanjangan waktu dengan tambahan bayaran. Seorang yang
harus mengembalikan seekor unta betina berumur satu tahun bila meminta
perpanjangan waktu pada saat jatuh temponya, harus membayar dengan unta
betina berumur dua tahun. Bila ia meminta masa perpanjangan kedua maka
unta betina tiga tahun, dan seterusnya. Hanya saja Bani Mughira menolak
dengan alasan riba dilarang dalam Islam. Perselisihan dibawa kepada Attab
bin Usaid yang kemudian membawanya kepada Rasulullah. Pada saat inilah
turunnya ayat, “Dan tinggalkanlah segala sisa riba”.4
Menurut Imam Baihaqi bahwa riba baru dikenakkan pada saat
peminjam tidak mampu melunasi utangnya dan meminta perpanjangan waktu,
sedangkan bila si peminjam mampu melunasi pada saat jatuh temponya maka
tidak ada riba. Jadi riba baru dikenakan bila ada perpanjangan waktu.5
Hal tersebut sangat berbeda bila dibandingkan dengan system bunga
perbankan modern yang berkembang di era globalisasi sekarang ini, sebab
tanpa meminta perpanjangan waktu pun, si peminjam atau yang menerima
kredit dari bank tersebut akan tetap membayar bunga, yang telah diatur oleh
bank yang memberikan kredit atau hutang. Ini membuktikan bahwa bank
modern di era globalisasi sekarang memberatkan dan tidak berrbeda dengan
riba dijaman Jahiliah.
Nabi Besar Muhammad SAW telah mengingatkan melalui sabdanya
yang berbunyi “Bila seorang yang berutang memberimu hadiah atau
menawarimu menaiki kenderaannya, jangan pernah engkau terima hadiahnya
jangan pernah engakau naiki kenderannya kecuali sudah demikian keadaannya
(saling memberi hadiah, saling memberikan tumpangan) sebelum kalian
berutang piutang.”
________________
96
Sekarang, coba bandingkan dengan praktek perbanka convensional.
Bukan aneh lagi bila pejabat bank menerima sesuatu dari nasabanya, ditraktir
makan, diberi tumpangan, hadiah-hadiah kecil maupun besar, dan kemudian
lainnya. Masihkan kita akan berdalih praktek pertbankan konvensional bebas
dari riba?
Imam Razi mencoba menjelaskan alasan pealarangan riba. Pertama
karena riba mengambil harta sipeminjam secara tidak adil. Pemilik uang bisa
biasanya berdalih ia berthak atas keuntungan bisnis yang dilakukan
sipeminjam. Namun, ia tanpanya lupa bila ia tidak meminjamkan, uangnya
tidaknya bertambah. Ia pun berdalih kesempatannya berrbisnis hilang karena
meminjamkan uangnya karenanya berhak atas riba. Inipun keliru karena
belum tentu bisnisnya menghasilkan untung dan yang pasti ia harus
menanggung resiko bisnis.
Keduanya, dengan riba, saeseorang akan malas bekerja karena dapat
duduk-duduk tenang sambil menunggu uangnya berbunga. Imam Razi
mengatakan bahwa kegiatan produksi dan perdagangan akan lesuh. Lihat saja
saat ini, bisnis mana yang akan berkembang dengan bunga 60%. Ketiga, riba
akan merendahkan martabat manusia karena untuk memenuhi hasrat dunianya
seseorang tidak segan-segan meminjam dengan bunga tinggi walaupun
akhirnya dikejar-kejar penagih hutang. Saat ini berapabanyak orang yang
terpandang kedudukannya menjadi
pesakitan karena tidak mampu membayar bunga kartu kerditnya. Keempat,
riba akan membuat yang kaya bertambah kaya dan yang miskin bertambah
miskin. Dalam masa krisis saat ini, orang kaya mala bertambah kaya karena
bunga deposito dan simpanan dolarnya. Kelima, riba-riba jelas-jelas dilarang
oleh Al-Qur’an dan Sunnah.
Dari atas kita telah berbicara tentang riba, lalu apa yang dimaksud
dengan riba itu? Ditinjau dari segi bahasa riba bearti ziyadah atau tambahan.
Seadangkan secara linguistic riba adalah pengambilan tambahan dari harta
pokok/modal secara bathil. Begitu banyak para ahli yang memberi pengertian
tentang riba akan tetapi secara garis besarnya menjelaskan bahwa riba adalah
pengambilan tambahan baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam-
meminjam. Dan riba ini dapat dikelompokkan kepada riba hutang-piutang dan
riba jual beli. Riba hutang-piutang dapat pula dibagi kepada riba qarth yaitu
suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang
berhutang, dan riba jahillyyah yaitu hutang yang di bayar lebih dari pokok,
karena sipeminjam tidak mampu membayar hutang pada waktunya. Kelompok
riba jual beli yang bagi kepada fadhi dan nasi’ah. Riba fadhi adalah pertukaran
antara barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan
barang yang ditukar itu termasuk dalam jenis barang ribawi. Dan riba nasi’ah
adalah penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang
dipertukarkan dengan jenis barang ribawi sejenis.
97
Adapun jenis barang yang tergolong kepada ribawi tersebut dapat pula
dikelompokkan kepada, 1) emas dan perak baik itu dalam bentuk uang,
maupun dalam bentuk lainnya, 2) bahan makanan pokok seperti beras,
gandum, jagung dan sayur-sayuran.
2.Bunga .
Dalam kosa kata bahasa Inggris, riba biasa diterjemahkan sebagai
usury, sedangkan bunga diterjemahkan sebagai interest. Dilarangnya riba oleh
agama-agama samawi, tidak ada yang membantah. Setidaknya, itulah yang
ditulis dalam Taurat dan Injil. Lihatlah dalam perjanjian lama (Leviticus
(Imanat) 25:36-37, Deuteronomy (ulangan) 23: 19, Exodus (keluaran)
22:23), juga dalam perjanjian Baru (Luke (Lukas) 6:34
Sampai abad ke-13, ketika keusahaan gereja di Eropa masih dominan,
riba dilarang oleh gereja atau hokum Canon. Akan tetapi, pada akhir abad ke-
13, pengarug gereja ortodoks mulai melemah dan orang mulai kompromi
dengan riba. Bacon, seorang tokoh saat itu, menulis dalam buku Discourse on
Usury, karena kebutuhannya, manusia harus meminjamkan uang, kecuali dia
akan menerima suatu manfaat dari pionjaman itu, maka bunga harus
diperbolehkan.
Secara perlahan tapi pasti, pelarangan riba di Eropa dihilangkan. Di
Inggris pelarangan itu dicapu pada 1545, saat pemerintahan Raja Hendry
VIII. Pada zaman itulah istilah usury (riba) diganti dengan istilah interest
(bunga). Ketika Raja Hendry VIII wafat ia digantikan oleh Raja Enward VI
yang membatalkan kebolehan bunga uang. Ini tidak berlangsung lama. Ketika
Edward VI wafat ia digantikan oleh Ratu Elizabeth I yang kembali
membolehkan uang. Lima puluh tahun kemudian, kekuatan Eropa yang
sedang demam membolehkan bunga uang, mencapai tanah air Indonesia
dengan bendera VOC. Awalnya, dengan dalih berdagang. Setelah berjalan
ratusan tahun, terciptalah citra sampai ini bahwa riba tidak sama dengan
bunga. Riba dilarang, bunga tidak.
Baru belakangan ini, seorang guru besar di Columbia Universiti
Frederic mishkin (1992), menela’ah secara kritis teori pembungaan uang. Ia
menjelaskan bahwa ekonomi Amerika bernama Irving Fisher (1911)
berkesimpulan bahwa permintaan akan uang semataq-mata ditentukan oleh
besarnya pendapatan seseorang, sedangkan tingkat suku bunga tidak
mempunyai pengaruh apa pun terhadap permintaan uang. Motif orang
memegang uang adalah untuk memenuhi kebutuhan transaksinya saja. Jika
demikian, mengapa ekonomian sekarang penuh riba? Dalam hal Mishkin
menjelaskan bahwa pada saat yang bertsamaan, nun di Inggris sana, sejumlah
ekonom Cambridge, antara lain Marshall dan Pigou, menulis teori yang
berbeda. Menurut mereka, uang mempunyai dua fungsi, yaitu untuk
melakukan trasaksi dan salah satu cara untuk menyimpan nilai. Fungsi kedua
inilah akan cikalbakal yang menimbulkan permasalahan. Dalam menyimpan
98
nilai hartanya, seseorang mempunyai pilihan pribadi, apakah berbentuk tanah,
surat berharga, uang, dan lain-lain. Tentunya resiko dan seberapa produktif
asset itu yang menjadi pertimbangan. Menurut Keynes seorang ekonomi
Cambridge, telah menjabarkan lebih lanjut bahwa pilihan pribadi sangat
ditentukan beberapa motif diantaranya motif untuk memenuhi kebutuhan
transaksi, untuk berspekulasi, dan untuk berjaga-jaga. Akan tetapi Keynes
membuat kekeliruan fatal dengan mengelompokkan semua harta non uang
menjadi nonmonetary assets, yang ukur dengan membuat tingkat bunga. Atau
secara implicit, Keynes mengasumsikan adanya substitusi sempurna antara
uang-misalnya-obligasi. Yang dalam istilah ekonomi, kurva indiferen akan
mengalami corner solution, pegang, uang seluruhnya atau obligasi seluruh
yang ada.
Apa yang dilakukan oleh Keynes tersebut mendapat kritikan oleh
murid-muridnya. Baumol (1952) dan Tobin (1956) mengingatkan bahwa
seseorang dapat saja memegang uang dan obligasi sekaligus. Dikala suatu saat
uangnya habis, maka ia akan dapat mencairkan obligasinya. Lalu apa
motifnya? Lag-lagi bunga. Sampai disini untuk melihat dominasi pemikiran
ekonomi Inggris. Baru dikemudian hari ada seorang ekonomi ekonom
Amerika yang membela Fisher, yaitu Milton Fredmand. Bagi pengikut
Fredmend, teori Keynes dianggap tidak mempunyai alas an ekonomi yang
kuat karena tidak menimalkan sesuatu atau memaksimalkan sesuatu, pada hal
itulah dasar ilmu ekonomi. Guru besar ekonomi Harverd universiti
Robertbarro, bahkan menempatkan pemikiran Keynes dalam bab terakhir dari
bukun teks makro ekonomi yang ditulisnya pada tahun 1996, sekandar
sejaktera pemikiran ekonomi.
Bagaimana pandangan ulama Islam terhadap bunga? Bunga uang
merupakan bagian dari teori riba. Lihat saja definisi Ibnu Qoyyim yang
membedakan antara terang-terangan (al-jali) dan riba terselubung (al-khafi).
Lihat pula definisi fikih yang menjelaskan riba karena perpanjangan waktu
(An-Nasi’ah) dan riba dalam pertyukaran barang jenis (al-Fadl). Bunga bank
termasuk dsalam riba an nasi’ah ini. Jadi teori pembungaan uang merupakan
bagian dari teori riba yang jauh lebih konprehensif.
Celakanya, praktik pembungaan uang oleh bank lebih para dari praktik
nasi’ah pada zaman Jahiliyah. Bagaimana tidak? Imam Suyuti (durrul mashur,
1, hlm.365), Imam Tabari (jami’ulbayyan IV, hlm 56), Imam Bayhaqi (Sunan
Kubra, bab”riba”), Imam Ar-razi (Tafsit Kabir, III, hlm:2) menjelaskan bahra
riba Nasi’ah dizaman Jahiliyah dikenakan pada saat peminjam tidak mampu
meluanasi hutangnya dalam minta perpanjangan waktu. Bila sipeminjam
mampu melunasi pada saat jauh temponya tidak dikenakan riba, pada
bankkonvensional telah mengenakan bunga sehari setelah uang dipinjamkan.
99
1. Konsep bunga dikalangan Yahudi
Orang Yahudi dilarang mempraktikkan pengambilan bunga. Pelarangan ini
dapat terdapat dalam kitab suci Yahudi, baik dalam Oeld testament
(perjanjian lama) maupun undang-undang Tal mod.
Kitan Exondus (keluaran) Pasal 22 ayat 25 menyhatakan: Jika engkau
meminjam uang kepada sala seorang umatku, orang yang miskin
diantaramu, maka jangalah engkau berlaku sebagai penagi hutang terhadap
dia, jangan enbgkau bebankan bunga terhadap dia”.
100
ketentuan riba nasiyah, yakni tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang
terjadi karena penangguhan pembayaran, yang diperjanjikan sebelumnya.
Kontroversi keharaman bunga bank sebenarnya bukan hal baru.
Cukuop lama diskursus tersebut melibatkan ulama-ulama besar, baik
ditimur tengah maupun Indonesia. Secara garis besar terdapat tiga macam
pendapat dari kalangan Islam mengenai bunga bank tersebut yaitu haram,
subhat, dan halal. Pendapat yang mengatakan haram, dengan alasannya
ada praktik penambahan dari kapitaql yang diidentikkan dengan parktik
riba pada zaman Rasulullah pengelompok penganut ini (dengan
mengusung segala dalil tentang riba) memastikan bunga bank benar-benar
identik dengan prakti riba sebagaimana di haramkan pada zaman
Raszulullah.
Adapun yang mengatakan syubhat (menurut kalangan awam sesuatu
antara haram dan halal, sedangkan menurut ushuliyyin adalah perbuatan
yang bisa dipandang dari dua dalil, yang menerapkan dan yang
menghalalkan). Karena itu, menurut kalangan tersebut hal tersebut
sebaiknya dihindari batau tawaqqub karena sebagaimana diungkapkan oleh
Nabi, siapa yang melakukan perbuatan subhat berpoptensi melakukan
sesuatu yang haram. Namun, kenyataannya karena dalil syubhazt tersebut
pulalah banyak kalangan memanfaatkan bunga bank, sehingga klausul dari
hadist nabi yang cendrung ke haram dihapus dan dianggap perbuatan itu
sebagai suatu maslahat. Pendapat halal banyak variasinya, mulai karena
ada anggapan bahwa mu’amalah merupakan kem,aslahatan duniawi.
Dalam hal tersebut, manusia yang lebih tahu persoalannya dengan alas an
mendesak (darurat) sampai alas an halal jika digunakan bukan untuk
konsumsi ndan perorangan.
Alasan factor darurat dan praktik konsumtif mungkin bisa dihindari
dengan adanya bank Islam di Indonesia khususnya. Akan tetatpi, bagi yang
menganggap persoalan manusia merupakan kompetensi tidak ada
persoalan bagi mereka bunga bank konvensional atau bagi hasil bank Islam
hanyalah merupakan pilihan. Masalahat, bergantung kepada siapa dan
memilih apa.
Masalah bunga bank sejak lama menjadi kontroversi dalam hokum
Islam. Karena ketidak jelasan itu Nahdatul Ulama Musyawarah nasional
ulama di Lampung (1992) mengeluarkan tiga kategori bunga bank.
Pertama haram karena bunga bank dipandang samar denga riba secara
mutlak. Hukum haram tersebut seperti riba tetapi boleh diambil sementara
sebelum ada bank yang Islami; bunga bank haram tapi boleh diambil
karena adanya kebutuhan mendesak (hajah rajihah).
Kedua, halal karena tidak ada hasrat pada waktu akad. Pendapat ini
juga bervariasi : bunga konsumtif sama dengan riba (haram), sedangkan
bunga produktif tidak sama dengan riba (halal), bunga bank halal kalau ia
menetapkan tariff bunganya terlebih dahulu dan diketahui secara umum.
101
Ketiga, subhat (samar, tidak jelas halal atau haram) karena adanya
banyak pendapat mengenai bunga bank. Pendapat terakhir ini tidak jauh
berbeda dengan pendapat majelis Tarjih Muhammadiyah pada 2001, meski
dengan titik tekan yang agak berbeda.
Majelis ulama telah mengambil keputusan menganai hokum
ekonomi/keuangan diluar zakat, maupun masalah perbankan (1968 dan
1972), keuangan secara umum (1976) dan koperasi simpam pinjam).
Majelis Tarjih Sidoarjo (1986) memutuskan:
1. Riba hukumnya haram dengan nash syari al-qur’an dan assunnah.
2. Bank dengan system riba hukumnya haram dan bank tanpa riba
hukumnya halal.
3. Bunga yang diberikan oleh bank-bank milik Negara kepada para
nasabahnya atau sebaiknya yang selama ini berlaku termasuk
perkara musitabihat.
4. Menyarankan kepada PP Muhammadiyah untuk mengusahakan
terwujudnya konsepsi perekonomian, khususnya lembaga
perbankan yang sesuai dengan kaidah Islam.
Menjelaskan keputusan ini menyebutkan bahwa bank Negara secara
kepemilikan dan misi yang diemban sangat berbeda dengan bank
swasta. Tingkat suku bunga bank pemerintah (pada saat itu) relative
lebih rendah dan suku bank swasta nasional. Meskipun demikian,
kebolehan bank Negara ini masih tergolong mustabihat (dianggap
meragukan).
Bukan hanya di Indonesia, kontroversi bank juga terjadi
dibelahan dunia Islam. Majma’ al-Buhust Islamiyah, sebuah lembaga
penelitian keagamaan di Mesir menyebutkan kehalalan bunga bank
yang diumumkan pada Desember 2002. Pada hal sebelumnya tahun
1965, lembaga ini bersama dengan lembaga fatwa lainnya, seperti Fiqih
Jeddah, lembaga fiqih OKI dan lembaga fiqih Wasingthon, secara tegas
menyatakan bunga bank sebagai ribaq yang diharamkan. Alasan
kehalalan tersebut adalah hubungan antara nasabah dan bank hanyalah
hubungan wikalah (perwakilan). Pihak bank seolah-olah mendapat
mandat mutlak dari nasabah untuk menyalurkan dana dalam berbagai
usaha yang halal.
Selain Majma’ al-Buhust Islamiyah yang menghalalkan bunga
bank, tidak sedikit lembaga dan ulama yang mengharamkan, konsul
kajian Islam Dunia pada tahun 1965 menyelenggarakan konferensi II di
Universitas Al-Azhar, Kairo yang secara tegas menyatakan keharaman
bunga bank konvensional. Pendapat ini diikuti oleh banyak ulama,
seperti Abu Zahra, Abdullah Darraz, atau Musthafa Zarqa. Berdasarkan
ilustrasi tersebut keluarnya fatwa MUI sebenarnya tidak terlalu
mengetahui. Namun fatwa MUI itu menjadi kontroversi karena
beberapa hal. Pertama, fatwa tersebut diduga berbau politis untuk
102
mengangkat bank syari’ah disatu sisi dan mengebiri bank konvensional
disisi lain. Fatwa ini dikeluarkan seiring dengan semangkin suburnya
bank syari’ah dan terus bersaing dengan bank konvensional. Kedua,
MUI sebagai “kumpulan para ulama” seringkali menjadi kelompok elit
agama yang justru merasakan masalah masyarakat dengan interest
politik yang cukup tinggi. Masih ingat fatwa pengharaman
mengucapkan selamat natal yang justru menimbulkan ketegangan antar
umat beragama: fatwa pengharaman presiden perempuan yang hanya
untuk menghadang laju Megawati dalam pemilu tahun 1999; ketidak
bolehan pemilih parpol yang celengnya non muslim menjelang pemilu
1999, sebagainya. Karena itu, tidak salah kalau banyak orang
mencurigai bahwa ada kekuatan-kekuatan lain dibalik fatwa MUI.
Ketiga, ada kesan MUI kurang memikirkan dampak dari fatwa tersebut.
Jika fatwa ini diikuti oleh umat Islam dan terjadi rusuh besar-besaran
dari bank konvensional ke bank syari’ah, dapat dibayangkan akan
terjadi guncangan perekonomian nasional. Belum lagi kesiapan bank
syari’ah yang juga dipertanyakan banyak orang. Bahkan secara ekstrem
bisa dikatakan, bila banyak konvensional dianggap haram, bank-bank
konvensional dianggap sebagai tempat kemaksiatan. Bila ini terjadi,
bank konvensional akan menjadi tempat sasaran penyerbuan kelompok
Islam radikal karena disamakan dengan tempat perjudian dan
pelacuran. Mungkin imajinasi ini terlalu jauh, namun bila tidak
diperhitungakan sejak awal, tidak tertutup kemuingkan hal demikian
akan terjadi.
Dalam jajak pendapat ber bagai media mengenai respon atas
fatwa tersebut bahwa masyarakat tidak begitu menghiraukan. Bila ini
yang terjadi, patut mempertanyakan kredibilitas MUI dalam
mengelkuarkan fatwa. Fatwa dalam konsep fikih memang tidak
memiliki kekuatan mengikat, kecuali bagi yang mengeluarkan dan
meyakini. Tapi kalau sebuah fatwa tidak banyak diikuti oleh
masyarakat merupakan indikator bahwa kredibilitas lembaga yang
mengeluarkan fatwa tersebut patut dipertanyakan. Keempat, ada kesan
kurang memahami mekanisme kerja kapitalisme dalam sistem
pertbankan. MUI kurang menyadari bahwa penerimaan bank kalangan
sehingga banyak bank konvensional yang membuka gerak-gerai
syari’ah merupakan permainan pasar kaum kapitalis dengan
memasnfaatkan simbol agama. Bagi kaum kapitalis, ini tentu saja
merupakan momentum bisnis yang menarik, karena prinsipo mereka
adalah bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan
modal kecil.
Di indonesia yang secara tegas menolak keharaman bunga bank
adalah manrtan Mentri Agama Prof.Dr. Munawir Sazali MA. Salah
satu alasan ia mengahalalkan adalah tidak sedikit praktek ekonomi
103
dengan kedok syari’ah justru lebih banyak mendatang beban bagi
peminjam.
Pernyataan itu didasari pengalamannya ketika menjadi duta
besar RI di negara Timur Tengah. Menurutnya, ia sering
menandatangani pinjaman yang retump-nya lebih besar dibandingkan
dengan standar perbankkan konvensional. Terlepas dari kontroversi itu,
tanpaknya fatwa haram yang akan dikeluarkan oleh MUI tidak akan
banyak berpengaruh, apalagi sampai menimbulkan guncangan dalam
perbankan konvensional. Di samping perbankkan konvensional dinilai
lebih estabilihet, juga lebih memberikan kepastian seberapa besar
keuntungan yang bisa diperoleh oleh seseorang dibandingkan dengan
devositokan uangnya dibank syari’ah.
Kenyataan memang membuktikan banyak orang secara ritual
agamais tapi dalam implementasinya kepada sesama sangat rendah.
Menurut saya, karena mereka sibuk dengan persoalan kesolehan ritual,
tidak akan banyak ambil pusing dengan persoalan ekonomi, karena
yang lebih penting bagi mereka dalam situasi sulit ini bagaimana peruir
bisa terisi. Karena itu, merteka akan berdalih dengan keadaan terdesak
atau darurat. Dengan demikian, meskipun MUI memegang supremasi
dalam hal fatwa, fatwa-fatwa mereka tidak akan serta merta bisa
berjalan efektif. Sebab bisa saja orang-orang akan mencari fatwa
kepada ormas Islam seperti NU dan Mujhammadiyah yang dalam soal
ini mempunyai fatwa dan praksis sendiri. Itu sah-sah saja dalam
pandangan Islam. Meskipun demikian MUJI selalu lembaga yang
mempunyai otoritas untuk itu harus menjalankan pungsinya secara
benar konsekwan dan menjaga umat ini dari penyimpangan. Paling
tidak secara moral lembaga itu harus menunjukkan jalan benar yang
hatsu diikuti dan jalan salah yang harus dihindari. Iotu memang harus
dilakukan oleh MUI mengingat didalamnya berkumpul orang-orang
yang mengklem sebagai pewaris nabi.
Hanya, ketika harus melakukannya harus benar-benar
mempertimbangan kemaslahatan yang luas atau menurut istilah al-
syatibi, al- masalahah al-uzma, agar apa yang dilakukan benar-benar
bermanfaat bagi umat. Tinggal sekarang memilih apakah mau
menggunakan konsep maslahat dalam pandangan Abu Hamid Al-
Gazali, Abu Ishal al-Syatibi, atau Mala najmudin tupi yang menjadi
kepentingan manusia dalam persoalan mu’amalah sebagai landasan
utama.
3. Zakat
Masih ingat rancangan ekonomi dalam Islam! Pilar ketiganya adalah
kesejahteraan sosial yang berkeadilan ( Panji No. 29 Tahun III, 3 November
1999). Instrument utamanya adalah zakat, infak, sedekah, wakaf, Khiba, dan
104
bentuk – bentuk sejenisnya. Memang, hal ini bukan monopoli ajaran Islam
karena Instrument sejenis biasanya disebut tithe juga di temukan pada ajaran
lainnya.
Dalam ajaran hindu, khususnya dalam Dharma sastra dan Puranas, kita
juga dapat menemukan konsep sejenis zakat yang disebut dengan datria
datriun dan definisi mustahiq ( orang yang berhak menerimanya ) yang disebut
dengan dana patra ( geben, “charity,almsgifing, (hindu”, the Encyclopaediaop
religin and Ethis:387-388). Kasta Dharma yang bertugas menerima dan
menyalurkan data, sedang kasta kastria dan pasias tidak boleh menerima data
juga dikenal ada data yang sifatnya reguler misalnya untuk tanah dan yang
sifatnya isindetil sebagai persyaratan dalam pelaksanaan upacara – upacara
keagamaan.
Dalam ajaran Buddha, konsep sejenis dikategorikan sebagai etika atau
sebagai suttanipata, dengan lima pilar yaitu, memberi dalam iman, memberi
dengan seksama, memberi dengan segera, memberi dengan sepenuh hati, dan
memberi dengan tidak menyelakakan orang lain dan diri sendiri”,(Rhys
Dafinsd,”almsgifing (buddhaist)”, the Encyclopaediaop religian and Ethics:
381-382).
Kista memumentalnya adalah ketika raja Sipi memberikan matanya dan
pesantara yang tidak saja menyerahkan kerajaannya, tapi juga seluruh
milikinya termasuk istri dan anaknya (ibid). Pada awalnya konsep data tidak
ditemui dalam Eightfoldphth atau pipe precepts-Nya ajaran buddha. Begitu
juga dana bukan merupakan salah satu dari 26 subjek penting ajaran buddha
yang tercantum dalam dharma parda, namun konsep dana dapat ditemui dalam
buku-buku klasik budddha .
Dalam ajaran konfunsiann juga dikenal pembanyaran 2/10 kepada raja
walaupun sempat di protes Yewjo karena bisa hanya sepersepuluh (legge, the
chinseclassics, hongkong, 1861-72:119).
Dalam ajaran yahudi dikenal dengan istilah masartu (Syaro-palestina
Ma’ser (Hebrew) yang dibanyar kepada rumah ibadat ataukepada raja untuk
membanyar pegawainya, ( Encyclopaedia Jaudaica:1156 ). Dalam Genesis
14:20, dikisahkan Nabi Ibrohim memberikan tithe kepada raja Jerusselem
Melchizedek, setelah peperangannya dengan empat raja di utara. Kisah serupa
tentang Nabi Yakub dapat diketemui dalam Genesis 28:22. objek “zakat” nya
biji-bijian, anggur,minyak ( Deut 14:23 ) juga sapi dan kambing ( Lev 27:32 ).
Secara umum, tithe dikenakan pada semua jenis kepemilikan, misalnya di
kisahkan Nabi Ibrohim membanyak sepersepuluh dari setiap jenis dan Nabi
Yakup membanyarnya semua yang didapat dari Allah( Gen. 28:22 ). Pada
awalnya, tithe di bayar dalam bentuk barang, namun belakangan dapat pula di
bayar dalam bentuk uang. Setiap tahun, ketiga tithe harus ditinggalkan untuk
kepentingan lokal,untuk para levite yang tidak mempunyai lahan sendiri,
untuk orang asing, untuk anak yatim, dan untuk para janda ( Encyclopaedia
Judaica:1160).
105
Dalam ajaran kristiani, tithe atau zakat sepersepuluh didefinisikan
sebagai bagian dari pendapatan seseorang yang ditentukan oleh hukum untuk
dibayar kepada gereja bagi pemeliharaan kelembagaan, dukungan untuk The
New Catholic Encyclopaedia, dan membantu orang miskin. (Dietlein, Tuthes;
selama beberapa abad sampai abad keempat, misalnya Epiphaniys menulis,
tithe tidak lagi mengikat sebagaimana khitan (Mac Culloch, Tithes, The
Encyclopaedia of Religion and Ethics, 349).
Dengan perkembanganm kebutuhan masyarakat, tithe kemabali sebagai
kewajiban moral. Baru pada 585, Council of Macon mewajibkannya untuk
menjadi hukum negara menjadi satu. Ada tiga penggunaan tithe yaitu untuk
pastor dan pendeta, untuk miskin, dan untuk mendukung aktivitas gereja. Hal
ini tidak berlangsung lama dengan tejadinya reformasi yang diikuti oleh
sekularisasi gereja dan negara, dan revolusi Prancis mengakhirinya.
Dengan tidak mengecilkan arti konsep yang dimiliki oleh ajaran lain,
secara harus dikatakan bahwa konsep Islam demikian rinci dan sistematik.
Konsep zakat sedemikian pentingnya karena seringnya disebut beriringan
dengan kewajiban shalat. Ayat tentang zakat yang turun di Mekah berisi kritik
terhadap doktrin, moral, kondisi sosial, dan perilaku bangsa Arab jahiliah dan
juga berisi peringatan, hukuman, dan ganjaran pada hari akhir. Lihat saja Surat
adh-Dhuhaa, al-Mudadatstsir, al-Ma’aarij, atau al-Haaqqah. Sementara ayat
tentang zakat yang turun di Madinah memberi rincian sistematik tentang
kewajiban zakat. Bahkan, ceramah pertama Rasullah di Madinah setelah hijrah
berisi kewajiban zakat dan infak (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, II:118).
Dengan demikian konsep Islam telah secara rinci mengatur tentang
zakat. Bangsa Arab sangat terkenal dengan kemurahan dan keramah-tamahan.
Oleh karena itu, memberi santunan kepada orang miskin bukanlah hal baru
bagi mereka. Namun ketika Islam mengajarkan zakat sebagai suatu kewajiban
(haqq ma’lum, al-Ma’arij: 21-26), bukan sekedar kemurahatian, wajar saja
bila kemudian timbul rewsitensi dari sebagian mereka.
Selama tigabelas tahun di Mekah, kaum muslimin didorong untuk
menginfakkan harta mereka buat para fakir, miskin, dan budak, namun
sebelum ditentukan nisab dan beberapa kewajiban zakatnya, juga belum
diketahui apakah telah diorganisasikan pengumpulan dan penyalurannya.
Yang jelas kaum muslimin awal memberikan sebagian besar harta mereka
untuk kepentingan Islam. Seperti Abu Bakar memerdekakan sejumlah budak
setelah membeli mereka dengan harga mahal.
Ayat-ayat dalam surah al-Hajj yang turun di awal periode yang turun
diawal periode Madinah menjelaskan salah satu cirri orang mukmin, yaitu
menegakkan shalat dan membayar zakat. Pada zaman Rasulullah zakat
dikenakan pada al-masyiyah (ternak), al-‘ayn (emas, perak, koin), al-harts
(pertanian), dan ar-rikaz (barang terpendam). Dalam beberapa riwayat
dijelaskan bahwa zakat juga dikenakan pada perniagaan (Abu Dawud, Sunan,
106
II, hlm,95), madu (Malik ibn Anas, al-Muwathttha, versi asy-SAyaibani, 118),
namun kuda dan budak tidak dikenakan zakat (ibit, versi Yahya, I, hlm, 206).
Selain itu, jkuga dikenal zakat fitrah yang diwajibkan pada tahun ke-2
H. Pada periode ditentukan nisab dan jumlah kewajiban zakat, admionistrasio,
pengumpulan, dan penyalurannya. Rasulullah pernah mengirim Ala al-
Hadrami ke BaHRAIN DAN Amr ke Oman pada tahun 8 H, Muadz ke
Yaman pada tahun 9 H (Hasnuz Zaman, The Economic Functions of the Early
Islamic, state hlm 135). Dalam banyak riwayat dikisahkan bahwa zakat dari
suatu daerah disalurkan ke daerah itu juga, tidak dibawa ke Madinah
meskipun demikian, beberapa riwayat mengisahkan sebagian zakat ada juga
yang dikirimkan ke Madina. Konsep zakat tidaklah statis, tapi terus
dikembangkan oleh khulapaur Rasidin dan para ulama setelahnya. Di zaman
Abu Bakae r.a, sebagian orang menolak membayar zakat. Pertama, pengikut
para nabi palsu saat itu, Musyailama, Sajatulayhah, dan pengikut Aswat al-
Ansi. Kedua, kaum Kalb Tayy, Duyban, dan lainnya, meskipun mereka bukan
pengikut nabi palsu. Ketiga, mereka yang bersikap menunggu setelah
wafatnya Rasullah, yaitu antara lain kaum Sulayim, Khawazin, dan Amir (ibit,
hlm, 147). Menurut At-thabari dalam Tarikhur-Rasul wal Muluk, sebagian
dari mereka menolak membayar kepada pemerintah pusat karena telah
membayar kepada petugas local, bahkan ada pula yang terpaksa membayar
zakat dua kali dalam (ibit, hlm. 147).
Di zaman Umar r.a. Abjad zakaty diperluas. Misalnya kuda yang
tadinya tidak dikenakan zakat menjadi abjek zakat karena di Surya dan Yaman
menjadi barang dagangan yang mahal. Begitu pula penggenaan miju-miju
kacang polong, dan zaitun yang telah dibudidayakanm secara masal. Disatu
sisi umar r.a. sangat fleksibel, yaitu pada saat paceklik yang dikenal sebagai
tahun ar-rahmada, pungutan zakat ditunda. Diosini lain, beliau sangat keras,
yaitu pengenaan denda dua puluh persen dari total harta bagi mereka yang
tidak jujur menghitung zakatnya (al-Bahlathuri, Putuhul Baldan, hlm.135:
Siddiki, The Early Development of Zakat Law and ijtihad, hlm. 95).
Di zaman Utsman r.a. dengan kemajuan perekonomian umat saat itu,
timbul masalah baru, antara lain hokum zakat atas pinjam. Utsman r.a.
berpendapat bahwa jika utang itu dapat ditagih pada waktunya berzakat,
namun ia tidak melakukannya, ia harus membayar zakat dariu seluruh
hartanya termasuk utang yang seharusnya dapat ditagi itu. Ibnu Abbas dan
Ibnu Umar juga berpendapat sama. Belakangan berkembang teori yang
membedakan antara utang yang diharapkan dapat dibayar (Marju al-Ada) dan
utang yang macet (ghsir marju al-ada,). Jenios pertama saja yang wajib
dizakati tiap tahun, sedangklan jenis yang kedua baru wajib dizakati pada saat
dibayar.
Di zaman Ali r.a, ternak yang dipekerjakan (al-Khawamil wal
khawamil) tidak dikenakan zakat karena dianggap kebutuhan dasar petani.
Sedana dengan itu, menurut Az-Zuhri dan At-Thanuki, karena hasil pertanian
107
telah ditentukan zakat 5% bila menggunakan air hujan atau 10% bila
diupayakan pengairannya, pada hal ternak pekerja merupakan salah satu
komponen biaya semisal pengairan (Siddiki, Ibid, hlm 125: Abu Ubait,
Kitabul Amwal,hlm. 381).
Dengan demikian dapat diketahui dan dipahami bahwa melakukan
zakat bearti mengeluarkan sebagian dari harta, yang dimiliki untuk orang lain,
yuang juga bearti mengurangi jumlah harta yang ada pada orang yang akan
mengeluarkan zakat. Namun pada hakekatnya adalah menambah harta yang ,
dimiliki. Kalau dianalisis al-qur’an, Allah Swt menyebutkan zakat terdapat
sekurang-kurangnya sebanyak 26 kali. Maka berdasarkan pernyataan Allah
Swt, tersebut dan didukung oleh banyak Hadist Rasullah Saw, zakat telah
diterapkan sebagai rukun Islam yang keempat, yang wajib ditunaikan oleh
umat Islam yang memiliki harta senisab. Mengeluarkan zakat bearti
melakukan pengeluaran dijalan Allah, sesuai dengan janjinya. Allah Swt di
dalam Al-Qur’an akan melipat gandakan sampai 700 kali lipat bahkan sampai
jumlah yang tidak terhingga jika Allah kehendaki. Janji ini mutlak kebenaran
dan harus menjadi keyakinan setiap hamba Allah. Lalu dapatkah diselidiki
secara empiris kebenaran janji tersebut?. Mungkin kemampuan akal manusia
akan mengalami jalan buntu, ketika mencoba menganalisisnya, namun secara
sederhana teori ekonomi konvensional menemukan efek ganda pendap[atan
yang dikeluarkan untuk kegiatan konsumsi dengan angka maksimal 10 kali
lipat, sementara janji Allah berkaitan dengan jangka waktu yang sangat
panjang, bahkan melampauhi waktu dan ruang yang dapat dijangkau oleh
manusia, hingga hari kiamat. Maka keofisien multiplier 700, bukan sesuatu
yang mustahil. Perhatikan pula ketika penanaman jagung, panen pertama 2-3
bulan saja, sebiji jagung , telah menghasilkan 1-3 buah jagung yang
butirannya menjadi ratusan bahkan ribuan. Bila musim tanam berikutnya
ditanam lagi butiran-butiran jagung tersebut, maka pada panen kedua, sudah
mulai pusing menghitungnya. Lalu bagaimana dengan musim tanam
berikutnya kalau dihitung? Sungguh maha besar Allah dengan segala
firmannya. Ini baru dengan teori jagung bagaimana dengan teori Allah Swt.
108
BAB XI
ASURANSI DAN MACAM-MACAM KREDIT DALAM ISLAM
A. Asuransi
a.. Prinsip-prinsip asuransi dalam Islam
Prinsip-prinsip syari’ah dalam asuransi Islam dapat digambarkan
sebagai berikut:
1. Sesama muslim saling bertanggung jawab. Kehidupan sesame
muslim terkait dalam suatu akidah yang sama dalam menegakkan
nilai-nilai Islam. Oleh karena itu kewsulitan seorang muslim dalam
kehidupan menjadi tanggung jawab sesame muslim. QS. Al-Imrasn
Allah Swt berfirman: Artinya Dan berpeganglah kamu semua
kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dsahulu (masa
jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatyukan hatimu,
lalu menjadikan kamu karena niukmat Allah orang-orang yang
bersaudara dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikian Allah menerangkan
ayat-0ayatnya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuknya.
2. Sesama muslim saling bekerja sama atau Bantu membantyu.
Seorang muslim dituntut mampu merasakan dan memikirkan apa
yang dirasakan dan difikirkan saudaranya. QS.At-Taubah Allah
berfirman: “Artinya dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan sebagaimana mereka (adalah menjadi penilong bagi
sebagian yang lain mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf
mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan
diberi rahmat Allah sesungguhnya Allah Maha Perkasa dan lebih
bijaksana.
3. Sesama muslim harus saling melindungi penderitaan satu sama lain,
saling tolong menolong dan membantu menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dalam sistim masyarakat m,uslim.
b. Produk Asuransi dalam Islam.
1. Produk Takaful Individu yaitu produk tabungan, non tabungan.
2. Produk takaful group yaitu takaful al-Khairat dan tabungan haji,
takaful kecelakaan siswa, takaful wisata dan perjalanan, takaful
kecelakaan diri kumpulan, takaful majelis ta’lim, takaful
pembiayaan.
3. Produk takaful Umum yaitu takaful kebakaran, kenderaan bermotor,
rekayasa, pengangkutan, rangka kapal, asuran takaful aneka.
Perbedaan asuran syari’ah dan asuran konvensional meliputi. 15
15
Sudar Sonio, 2003:104.
109
1. Keberadaan dewan syari’ah (DPS), yang bertugas memberi fatwa
tentang prodak yang dihasilkan, tidak bertentangan dengan syari’ah.
Sedangkan produk asuran konvensional tanpa pertimbangan hal
tersebut.
2. Prinsip asuran syari’ah adalah takafulli (tolong menolong)
seadangkan prinsip konvensional tabaduli (jual beli)
3. Premi diimvestasikan berdasarkan syari’ah berdasarkan system bagi
hasil (mudharabah).
4. Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sama sebagai dana
nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk
mengelolanya. Pada asuransi konvensional, premi milik perusahaan,
sehingga perusahaan mempunyai kewenangan penuh mengelolanya.
5. Untuk kepentingan pembayaran klem nasabah, dana diambil dari
rekening tabarru seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk
kepentingan tolong ,menolong. Sedangkan pada asuran
konvensional diambil dari perusahaan.
6. Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik
dana dengan perusahaan selaku pengelola dengan prinsip bagi hasil,
sedangkanm asuransi konvensionalk keuntungan sepenuhnya milik
perusahaan.
___________________
16
Rifaat Ahmad Abd Karim. The Impac of the Basic Capital Adequacy Rasio Regulation on the
Financial Strategi of Islamic dalam Proceeding of the 9 tahun Expert Level Conprence on Islamic
Banking Disponsori oleh Bank Indonesia dan International Aso Citation of Islamic BANKS, 7-8 April
1995. Jakarta.
110
Menurut sifat penggunaannya, pembiayaan dapat dibagi hal berikut :
1. Pembiayaan produktif, yaitu pembiayaan yang ditujukan untuk
pembiayaan produksi dalam arti luas, yaitu untuk peningkatan usaha
baik usaha produksi, perdagangan, maupun investasi.
2. Pembiayaan Konsuptif, yaitu pembiayaan yang digunakan untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi, yang akan habis digunakjan untuk
memenuhi kebutuhan.
Menurut keperluannya, pembiayaan produktif dapat dibagi menjadi dua hal
berikut:
1. Pembiayaan modal kerja, yaitu pembiayaan untuk memenuhi
kebutuhan: (a) peningkatan produksi, baik secara kwantitatif, yaitu
jumlah hasil produksi, maupoun secara kwalitatif, yaitu peningkatan
kwalitas atau mutu hasil produksi. (b) Untuk keperluan perdagangan
atau peningkatan utility of place dari suatu barang.
2. Pembiayaan Investasi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan barang-
barang modal (capital goods) serta pasilitas-pasiliotas yang erat
kaitannya dengan itu., Secara umum pembiayaan dapat
digambarkan sebagai berikut
111
DAFTAR PUSTAKA
112
Yusuf Qardawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, terjemahan (Jakarta
Gema Insani Pers, 1997).
113
Zulkifli Rusby, Lahir di Bengkalis, pada 25 Juni 1970. Ia adalah
Alumni SMA Negeri 2 Bagan Siapiapi, Rokan Hilir. Saat ini, ia
tercatat sebagai Dosen Prodi Ekonomi Syariah pada Fakultas
Agama Islam Universitas Islam Riau (UIR). Selain aktif sebagai
Dosen juga aktif melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat
pada Bidang Ilmu Ekonomi Syariah dan Manajemen, dan sebagai instruktur
pelatihan tentang kewirausahaan dan manajemen serta nara sumber pada acara
Seminar dan Workshop.
Karya-karyanya yang telah dipublikasikan antara lain : Analisis Sistem
Penilaian Prestasi Kerja Pada PT. Bank Negara Indonesia Syariah Cabang Pekanbaru,
Analisi pengaruh Likuiditas dan Solvabilitas terhadap Rentabilitas Koperasi Syariah
BMT Al-Amin Pekanbaru, Analysis Problem Of Baitul Maal Wat Tamwil (BMT)
Operation In Pekanbaru Indonesia Using Analytical Network Process
(ANP)Approach Jurnal HR Mars Nomor 8 Volume 3 ISSN 2222-6990, Analisis
Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Pelayanan Jasa Rahn Pada Pengadaian
Syariah Pekanbaru, Penerapan Pembiayaan Mudharabah pada Bank Muamalat
Indonesia Pekanbaru.
Pendidikan S1 diselesaikan pada Fakultas Agama Islam Universita Islam
Riau, S2 Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) di selesaikan pada
Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sedangkan S2 Ekonomi Syariah diselesaikan
pada Universitas Islam Negeri (UIN Pekanbaru). S3 diselesaikan pada University
Utara Malaysia (UTM).
Pusat Kajian Pendidikan Islam FAI UIR
Pekanbaru 2014