0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
241 tayangan15 halaman

Obat Emergency

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pengelolaan obat darurat di rumah sakit, termasuk mengisi formulir monitoring dan pengisian persediaan obat di kotak darurat. Prosedur penggunaan dan pengisian kembali obat darurat dijelaskan secara rinci untuk memastikan ketersediaan obat yang diperlukan dalam keadaan darurat.

Diunggah oleh

Rahma A. Chandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
241 tayangan15 halaman

Obat Emergency

Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari pengelolaan obat darurat di rumah sakit, termasuk mengisi formulir monitoring dan pengisian persediaan obat di kotak darurat. Prosedur penggunaan dan pengisian kembali obat darurat dijelaskan secara rinci untuk memastikan ketersediaan obat yang diperlukan dalam keadaan darurat.

Diunggah oleh

Rahma A. Chandra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMASI KLINIS

MONITORING DAN PENGISIAN OBAT / ALKES


DI KOTAK EMERGENCY

Dosen Pengampu:
Apt. Umi Fatmawati, [Link], M. Farm, Klin,

Disusun oleh:
Kelompok I
Yovita Aprilia Putri 1704101019
Andarista 1804101010
Rahmawati Ariyan Candra 1804101014
Riska Gian Setyani 1804101019

UNIVERSITAS PGRI MADIUN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN DAN SAINS
PROGRAM STUDI FARMASI
TAHUN 2021
A. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Untuk Menentukan obat – Obat yang tergolong Emergency
2. Untuk mampu mengisi formulir monitoring dan pengisian persediaan
obat / alkes dalam kotak emergency

B. DASAR TEORI
Pengobatan darurat adalah medis spesialisasi dengan misi utama
mengevaluasi, mengelola, merawat, dan mencegah penyakit pada siapapun
yang secara tak terduga membutuhkan perawatan medis kapan saja yang
mana perawatan medis tersebut harus tersedia dalam 24 jam sebagai
komponen kebutuhan dalam pemberian perawatan kesehatan.
Upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya
pelayanan kegawatdaruratan, maka diperlukan penyediaan emergency Kit
yang lengkap. Emergency kit merupakan tempat penyimpanan obat-obatan
yang bersifat live saving (mempertahankan hidup) dan diperlukan segera
untuk pertolongan pasien yang mengalami penurunan status kesehatan
dengan tiba-tiba. Untuk itu, pengelolaan emergency Kit harus
diperhatikan.
Penggunaan emergency kit pertama kali digunakan untuk
pengembangan standar obat essensial dan persediaan medis yang
digunakan dalam keadaan darurat. The world health organization (WHO)
mengarahkan dan mengkoordinasi otoritas pekera kesehatan international
agar bisa memfasilitasi tanggap darurat melalui langkah-langkah
kesiapsiagaan yang efektif. Dan setelah melalui studi, pengujian dan
modifikasi selama beberapa tahun, penggunaan dan standarisasi
Emergency Kit sangatlah penting guna peralatan medis dapat disimpan
dalam kesiapan untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
Menurut Permenkes nomor 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Rumah Sakit, pengelolaan obat emergensi harus menjamin
beberapa hal antara lain:

1
1. Jumlah dan jenis obat emergensi sesuai dengan standar/daftar obat
emergensi yang sudah ditetapkan RS
2. Tidak boleh bercampur dengan persediaan obat untuk kebutuhan lain
3. Bila dipakai untuk keperluan emergensi harus segera diganti
4. Dicek secara berkala apakah ada yang kadaluarsa
5. Dilarang dipinjam untuk kebutuhan lain.
Trolley Emergency sendiri merupakan alat yang digunakan untuk
membawa segala macam perlengkapan emergency untuk pasien termasuk
sediaan farmasi berupa cairan dasar. Emergency kit (trolley) ini selain
tersedia di unit gawat darurat juga disediakan di ruang perawatan atau
ruang inap pasien. Trolley emergency dalam keadaan tidak digunakan
harus selalu terkunci untuk menjamin keamanan dan kelengkapan obat/alat
kesehatan, diberi segel plastik di bagian luar dan diletakkan di tempat yang
mudah diakses oleh petugas. Penataan sediaan emergensi juga harus
memenuhi prinsip keamanan, sebagai pertimbangan untuk obat yang
penampilan dan penamaannya mirip (Look Alike Sound Alike atau
LASA), ditempatkan tidak berdekatan dan diberi label LASA untuk
mencegah adanya kesalahan pengambilan. Untuk obat-obat yang termasuk
dalam daftar High Alert Medication (HAM) juga diberi label HAM.
Obat emergensi harus tersedia pada unit-unit dan dapat terakses
segera saat diperlukan di rumah sakit. Idealnya obat-obat emergensi harus
ada pada setiap unit perawatan atau pelayanan. Jika terkendala dengan
jumlahnya, maka obat-obat tersebut bisa ditempatkan pada titik-titik lokasi
yang sering atau rawan terjadi kondisi emergensi. Apabila terjadi keadaan
emergensi yang jauh dari lokasi perawatan atau tempat sediaan emergensi,
maka untuk pertolongannya dapat dilakukan dengan cara pemanggilan tim
code blue rumah sakit.
Rumah sakit sebaiknya menetapkan daftar obat emergensi yang
sama untuk setiap unit perawatan. Daftar tersebut dapat berisi nama obat,
kekuatan sediaan, bentuk sediaan dan jumlah.  Alangkah baiknya juga
disediakan daftar dosis untuk obat emergensi. Daftar obat emergensi dapat
ditempatkan/ditempel pada tempat penyimpanan obat emergensi  agar

2
memudahkan dokter/perawat yang akan memakai obat tersebut. Obat-obat
emergensi tidak boleh dicampur dengan obat lain dan dapat disimpan pada
troli, kit, lemari, tas atau kotak obat emergensi sesuai dengan kebutuhan
unit. Perbedaan tempat penyimpanan tersebut menyesuaikan dengan isi
dan kebutuhan unit tersebut.

C. SOAL
Soal 1
No Tanggal Obat / Alkes Jumlah No Segel

1 1 Oktober 2020 Aminophyllin inj 1 ampul 1234

2 2 Oktober 2020 Atropin Sulfas inj 3 ampul 2345

3 5 Oktober 2020 Amiodaron inj 1 ampul 3456

4 6 Oktober 2020 Na Bic inj 1 fls 4567

5 8 Oktober 2020 Simple Masker O2 1 biji 5678

6 10 Oktober 2020 D40 inj 1 fls 6789

7 12 Oktober 2020 Iv Catheter ukuran 20 1 biji 7890

8 14 Oktober 2020 Dopamin inj 1 ampul 8901

9 16 Oktober 2020 Epinephrin inj 5 ampul 9012

10 18 Oktober 2020 Ringer Laktat inf 1 fls 0123

11 19 Oktober 2020 Ca Gluconas inj 1 ampul 0987

12 25 Oktober 2020 Spuit 5 cc 4 biji 9876

13 27 Oktober 2020 Diazepam inj 1 ampul 8765

14 28 Oktober 2020 Infus Set 1 biji 7654

15 29 Oktober 2020 Lidocain 2 % 3 biji 6543

16 31 Oktober 2020 Aminophyllin inj 2 ampul 4365

3
Soal 2

1. Pada tanggal 2/10/20 jam 12.05 pasien atas nama Tn. Zulfan dengan No
RM 0000xxxx tanggal lahir 22/10/1965. Tn. Zulfan didiagnosa Acidosis
Metabolik + penurunan kesadaran dengan gcs 234, TD 90/60 kemudian dr.
Rania bergegas segera membuka segel emergency kit dengan no segel
7564 digunting dan mengambil obat-obat sbb:
- Na Bic 1 fls
- Dopamin 1 amp
- Ringer Laktat 500 ml 1 fls
- Spuit 10 cc 2 biji
- Simple Masker O2 1 biji
Perawat yang membantu dr. Rania adalah Nurse Camalia, TTK yang
berjaga pada saat itu adalah Camalia dan Apoteker Sonia. Dr. Rania lapor
ke TTK jam 12.35 pada hari yang sama dan TTK mengisi kembali
emergency kit dengan obat – obat yang diambil tersebut pada hari yang
sama dan jam 13.05

2. Pada tanggal 5/11/20 jam 02.05 pasien atas nama Ny. Zaenab dengan No
RM 1111xxxx tanggal lahir 14/08/1971. Ny. Zaenab didiagnosa Asma
Bronkiale + PPOK eksaserbasi akut dengan gcs 134, TD 80/60 kemudian
dr. Aditya bergegas segera membuka segel emergency kit dengan no segel
9876 digunting dan mengambil obat – obat sbb:
- Simple Masker O2 1 biji
- Dexamethason inj 3 amp
- Aminophyllin 2 amp
- NS 2 fls
- Spuit 3 cc 2 biji
- Simple Masker O2 1 biji

4
Perawat yang membantu dr. aditya adalah Nurse Fely, TTK yang berjaga
pada saat itu adalah Erisa dan Apoteker Poppy. [Link] lapor ke TTK
jam 02.15 pada hari yang sama dan TTK mengisi kembali emergency kit
dengan obat – obat yang diambil tersebut pada hari yang sama dan jam
02.55.

5
D. PENYELESAIAN

6
7
8
9
10
E. PEMBAHASAN
Obat emergensi adalah persediaan perbekalan farmasi yang
disimpan dalam trolley emergency yang terdapat di rawat inap dan IGD
sebagai persiapan kebutuhan obat untuk kasus darurat/emergensi yang
diusulkan oleh masing-masing unit pelayanan terkait. Pada praktikum kali
ini dilakukan pemantauan atau pengelolaan terhadap obat emergency
dalam kit emergency.
Prosedur Pembukaan Troley Emergensi/Box Emergency:
1. Tekan nomor kode trolley emergency (ex. 123)
2. Arahkan kunci emergency dalam posisi open (terbuka)
3. Trolley emergency dalam keadaan terbuka dan siap digunakan
4. Ambil alat atau obat yang dibutuhkan sesuai dengan laci penyimpanan
alat atau obat tersebut. Jika trolley emergency selesai digunakan,
arahkan kunci emergency ke posisi close (tertutup), tekan nomor kode
trolley emergency dilanjutkan dengan menekan tombol merah (“C”-
Completed) maka lemari trolley emergency akan terkunci kembali.

Prosedur penggantian obat emergency :

1. Perawat melaporkan ke instalasi farmasi setiap kali ada pemakaian obat


atau alat kesehatan yang digunakan dari dalam troli emergensi
2. Petugas farmasi memeriksa obat atau alat kesehatan yang tersisa
3. Periksa kesesuaian dengan daftar obat atau alat kesehatan yang dipakai
yang telah dibuat oleh perawat
4. Jika sesuai, beritahukan perawat untuk meminta resep dari dokter sesuai
dengan obat atau alat kesehatan yang telah digunakan
5. Buka troli emergensi lalu isi kembali troli/box emergensi dengan obat
atau alat kesehatan yang baru sesuai dengan daftar isi yang ditentukan
6. Buat daftar isi yang baru, tempelkan pada sisi luar box/troli emergensi.
7. Kunci kembali box/troli emergensi
8. Serah terima dengan perawat ruangan di buku serah terima box/troli
emergensi.
Dalam praktikum ini pada soal 1 terdapat obat emergency dalam kit
emergency antara lain :

11
1. Aminophyllin inj
2. Atropin Sulfas inj
3. Amiodaron inj
4. Na Bic inj
5. Simple Masker O2
6. D40 inj
7. Iv Catheter ukuran 20
8. Dopamin inj
9. Epinephrin inj
10. Ringer Laktat inf
11. Ca Gluconas inj
12. Spuit 5 cc
13. Diazepam inj
14. Infus Set
15. Lidocain 2 %
16. Aminophyllin inj
Dalam praktikum di soal 1 terjadi pembukaan segel kit emergency
sebanyak 16 kali dalam sebulan. Setelah pengambilan obat dalam trolly
emergency harus dilakukan penggantian obat sesuai yang telah diambil.
Dilakukan pengecekan mengenai kadaluarsa obat.
Pada soal ke 2 dilakukan pengisian di formulir penggunaan troli/kotak
emergency pada tanggal 2/10/20 jam 12.05 dengan pasien atas nama Tn.
Zulfan dengan No RM 0000xxxx tanggal lahir 22/10/1965. Pasien Tn.
Zulfan didiagnosa Acidosis Metabolik dan mengalami penurunan
kesadaran dengan gcs 234, Tekanan Darah 90/60. Kemudian [Link]
yang dibantu Nurse Camalia bergegas segera membuka segel emergency
kit dengan no segel 7564 digunting dan mengambil obat-obat antara lain
Na Bic 1 fls, Dopamin 1 amp, Ringer Laktat 500 ml 1 fls, Spuit 10 cc 2
biji dan Simple Masker O2 1 biji. TTK yang berjaga pada saat itu adalah
Camalia dan Apoteker Sonia. Dr. Rania lapor ke TTK jam 12.35 pada hari
yang sama dan TTK mengisi kembali emergency kit dengan obat-obat
yang diambil tersebut pada hari yang sama dan jam 13.05.

12
Selanjutnya pada Pada tanggal 5/11/20 jam 02.05 terdapat pasien
atas nama Ny. Zaenab dengan No RM 1111xxxx tanggal lahir 14/08/1971.
[Link] didiagnosa mengalami Asma Bronkiale dan PPOK eksaserbasi
akut dengan gcs 134, Tekanan Darahnya 80/60 kemudian dr. Aditya yang
dibantu oleh Nurse Fely bergegas segera membuka segel emergency kit
dengan no segel 9876 digunting dan mengambil obat-obat antara lain
Simple Masker O2 1 biji, Dexamethason inj 3 amp, Aminophyllin 2 amp,
NS 2 fls, Spuit 3 cc 2 biji dan Simple Masker O2 1 biji. TTK yang berjaga
pada saat itu adalah Erisa dan Apoteker Poppy. [Link] lapor ke TTK
jam 02.15 pada hari yang sama dan TTK mengisi kembali emergency kit
dengan obat – obat yang diambil tersebut pada hari yang sama dan jam
02.55.

F. KESIMPULAN
1. Obat emergensi adalah persediaan perbekalan farmasi yang disimpan
dalam trolley emergency yang terdapat di rawat inap dan IGD sebagai
persiapan kebutuhan obat untuk kasus darurat/emergensi yang
diusulkan oleh masing-masing unit pelayanan terkait.
2. Trolley emergency dalam keadaan tidak digunakan harus selalu
terkunci untuk menjamin keamanan dan kelengkapan obat/alat
kesehatan, diberi segel plastik di bagian luar dan diletakkan di tempat
yang mudah diakses oleh petugas.
3. Pengelolaan obat emergency dilakukan dengan pencatatan pada
formulir penggunaan troli/kotak emergency.

13
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan R.I., 2016, Peraturan Menteri Kesehatan RI No 72 Tahun


2016: Standar Pelayanan Kefarmasian di RS, Departemen Kesehatan, Jakarta.

KARS, 2012, Panduan Penyusunan Dokumen Akreditasi, Komisi Akreditasi


Rumah Sakit, Jakarta.

14

Anda mungkin juga menyukai