0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan7 halaman

Tugas 2 Pengantar Sosiologi

Artikel tersebut membahas tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan yang masih kurang mendapat perhatian karena adanya pemikiran sempit bahwa perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Artikel juga menjelaskan bahwa kesuksesan pendidikan anak tidak hanya tergantung pada tingkat pendidikan orang tua tetapi juga tingkat wawasan keilmuan dan keteladanan orang tua.

Diunggah oleh

Ikke Dina Safitri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan7 halaman

Tugas 2 Pengantar Sosiologi

Artikel tersebut membahas tentang pentingnya pendidikan bagi anak perempuan yang masih kurang mendapat perhatian karena adanya pemikiran sempit bahwa perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Artikel juga menjelaskan bahwa kesuksesan pendidikan anak tidak hanya tergantung pada tingkat pendidikan orang tua tetapi juga tingkat wawasan keilmuan dan keteladanan orang tua.

Diunggah oleh

Ikke Dina Safitri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

FAKULTAS HUKUM, ILMU SOSIAL DAN ILMU

POLITIK
(FHISIP)

TUGAS 2
PENGANTAR SOSIOLOGI

Nama : Ikke Dina Safitri


NIM : 043008073
Jurusan Prodi : Ilmu Administrasi Negara
UPBJJ – UT : Banjarmasin
Kerjakanlah Tugas 2 berikut ini

Pendidikan Anak Perempuan

Oleh A. Fatih Syuhud

Ditulis untuk Buletin El-Ukhuwah Ponpes Al-Khoirot Putri Malang

Apabila pendidikan anak secara umum harus mendapat perhatian penuh dari orang tua sejak
lahir, maka pendidikan anak perempuan harus mendapat perhatian yang lebih khusus lagi.
Hal itu karena anak perempuan adalah calon ibu. Banyak orang yang salah dan meremehkan
peran ibu. Hal ini terjadi terutama di kalangan masyarakat pedesaan. Mereka menganggap
pendidikan anak perempuan, baik formal atau nonformal, adalah tidak atau kurang penting.
ٍMereka berfikir, setinggi apapun pendidikan seorang anak perempuan nantinya akan berakhir
menjadi ibu rumah tangga.

Anggapan meremehkan seperti itu menunjukkan dua hal. Yaitu, bahwa pekerjaan sebagai ibu
rumah tangga dinilai sebagai sesuatu yang tidak penting. Dan bahwa segala sesuatu yang
dilakukan di dalam rumah seakan bukanlah pekerjaan. Suatu pekerjaan baru dianggap
terhormat kalau dilakukan di luar rumah, keluar pagi pulang sore dan mendapat gaji bulanan.

Itulah sebabnya, banyak orang tua lebih memprioritaskan pendidikan anak laki-lakinya.
Sementara pendidikan untuk anak perempuan dilakukan secara sambil lalu sambil menunggu
ada yang meminang. Dan begitu ada lelaki yang melamar, pendidikannya pun ditinggalkan.
Walaupun saat itu sekolahnya baru tingkat SLTP atau baru masuk jenjang SLTA. Orang tua
ingin cepat melihat anak perempuannya mentas alias cepat menikah agar beban orang tua
segera lepas. Keadaan ini semakin diperparah dengan adanya mitos di sebagian daerah bahwa
menolak lamaran pertama adalah pantangan karena akan berakibat nasib sial akan menimpa
sang anak seperti akan kesulitan mendapat jodoh.

Semua anggapan yang salah kaprah di atas berasal dari satu hal: kurangnya pendidikan orang
tua. Terutama, minimnya pendidikan ibu. Lemahnya level pendidikan atau minusnya
wawasan keilmuan seorang ibu akan berdampak sangat besar pada sukses dan gagalnya
pendidikan seorang anak. Padahal kesuksesan seorang pemuda adalah cermin dari kesuksesan
pendidikan waktu kecil di rumah yang notabene sebagian besar berada di tangan ibu. Kalau
kita membaca buku biografi tokoh-tokoh sukses tingkat nasional maupun dunia, umumnya
kesuksesan mereka tidak lepas dari peran sang ibu. Presiden RI ke-3 B.J Habibie dan
Presiden RI ke-4 menjadi orang besar karena hasil didikan ibu mereka masing-masing karena
ayah mereka meninggal saat masih anak-anak. Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack
Hussein Obama dalam buku otobiografinya Dreams from My Father menjelaskan panjang
lebar betapa besar peran ibu dan neneknya yang tak kenal lelah dalam mendidik dan
membentuk kepribadian dan kesuksesan hidupnya sejak balita sampai dewasa.

Apabila Anda yang membaca tulisan ini adalah seorang ibu yang menikah di usia muda dan
berpendidikan minim, tidaklah perlu sedih dan berputus asa. Karena kesuksesan mendidik
anak tidak hanya terletak pada tingginya level pendidikan, tapi yang utama adalah tingginya
level wawasan keilmuan. Khususnya, wawasan dalam bidang parenting (ilmu mendidik dan
mengasuh anak). Selain itu, hal-hal berikut perlu dilakukan secara terus menerus:
Pertama, selalu banyak belajar dari siapa saja yang lebih berpengalaman. Mulai dari masalah
mendidik anak, kesehatan, kepribadian, dan lain-lain.

Kedua, banyak membaca apa saja yang berguna. Termasuk membaca biografi tokoh-tokoh
nasional dan dunia dan kisah-kisah sukses yang lain.

Ketiga, ibadah yang rajin baik fardhu maupun yang sunnah. Terutama shalat tahajud untuk
mendoakan diri sendiri dan keluarga. Usaha dzahir yang maksimum baru sempurna apabila
dilengkapi dengan usaha batin yang optimal pula. Sekaligus ini sebagai pendidikan
keteladanan bagi anak.

[Link]

SOAL :

1. Saudara mahasiswa cermatilah artikel di bawah ini. Jelaskan mengapa pendidikan


bagi anak perempuan masih kurang mendapat perhatian, kaitkan dengan pembahasan
tentang sosialisasi gender

Jawab :
Menurut pendapat saya apa yang tertulis dalam artikel ,pendidikan bagi anak perempuan
kurang mendapat perhatian karena pemikiran orang tua yang mengalami pemikiran sempit
khususnya seorang ibu karena menganggap seorang perempuan nantinya akan larinya
kedapur juga,menjadi seorang ibu untuk anaknya jika sdh menikah serta menganggap
pendidikan untuk anak perempuan lebih mubazir padahal pemikiran yang seperti ini adalah
hal yang salah kaprah. Harusnya sebagai orang tua lebih memandang Gender lebih
ditekankan pada perbedaan peranan dan fungsi yang ada dan dibuat oleh masyarakat. Oleh
karena itu, gender penting di pahami dan dianalisa untuk melihat apakah perbedaan tersebut
menimbulkan diskriminasi dalam artian perbedaan yang membawa kerugian dan penderitaan
terhadap pihak perempuan. Berdasarkan permasalahan yang terjadi, sudah waktunya
perempuan dan laki - laki di Indonesia sama - sama berfungsi sebagai pengatur rumah tangga
pada khususnya dan pengatur beberapa kebijakan negara pada umumnya. Dengan tercapainya
kondisi ini, dapat terjalin dengan harmonis bagi perempuan dan laki - laki di Indonesia.
Perempuan juga harus mendapatkan kesempatan yang sama memilih dan meraih posisi yang
sejajar dengan laki laki di [Link] mewujudkan kondisi ini, mau tidak mau, kaum
perempuan harus sadar bahwa selama ini konsep yang berlaku adalah konsep yang
berorientasi gender yang membuat membedakan peran antara perempuan dan laki - laki
dinegeri ini, menghambat kesempatan mereka. Kesadaran perempuan lah yang sangat di
butuhkan untuk dapat meningkatkan kondisinya sendiri di bidang kesehatan, pendidikan,
pekerjaan, dll. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara melakukan perubahan keputusan
bagi dirinya sendiri tanpa harus di bebani konsep gender.
2. Perilaku kolektif mengandung makna bahwa ada penyimpangan perilaku yang
dilakukan oleh suatu kelompok, dan ada beberapa faktor yang menunjang tersebarnya
suatu perilaku kolektif di masyarakat

a. Carilah contoh perilaku kolektif yang sudah tersebar di masyarakat


Jawab :

A. Perilaku Kolektif

Perilaku kolektif adalah cara berpikir, berasa dan bertindak yang berkembang
dikalangan sebaian besar warga masyarakat dan yang relativ baru. Menurut Bruce J
Cohen (1992), perilaku kolektif (colective behaviour) adalah jenis perilaku yang
relativ tidak tersusun, bersifat spontan, emosional dan tak terduga. Perilaku ini juga
terjadi apabila cara-cara mengerjakan sesuatu yang telah dikukuhkan secara
tradisional tidak lagi memadahi. Individu-individu yang terlibat dalam perilaku
kolektif tanggap terhadap rangsangan tertentu yang mungkin datang dari orang lain
atau peristiwa khusus. Kelompok yang berperilaku kolektif merupakan kolektivitas
yang tidak tertruktur dan bersifat temporer tanpa ada pembagian peraanan atau hirarki
kekuasaan secara formal. Perilku kolektif merupakan ciri khas dari masyarakat
kebudayaan kompleks atau heterogen. Perilaku demikian tidak terlihat dalam
masyarakat sederhana. Upaya membatasi perilaku kolektif dapat dilakukan oleh
kubutuha emosi dan sikap para anggota, pemimpin kerumunan yang menciptakan
hubungan baik yang meredakan ketegangan serta kontrol eksternal, seperti
pengamanan dari polisi. Termasuk perilaku kolektif adalah rumor, gaya dan mode,
kegemaran, histeria massa, kepanikan, publik dan opini publik, dan kerumunan
massa. Rumor (desas-desus) merupakan suatu bentuk perilaku kolektif sekaligus suatu
elemen penting dalam tipe-tipe perilaku kolektif yang lain. (Zanden, 1990). Desas-
desus (rumor), yakni sekeping informasi yang sulit diverivikasi yang beredar dari
mulut ke mulut dengan cara relatif cepat atau berita yang menyebar luas secara cepat
dan tidak ditunjang dengan fakta. Sementara itu, ada sosiologi yang menyatakan
bahwa individu-individu yang terlibat dalam perilaku kolektif dapat berbentuk
kerusuhan, kebrutalan maupun tindakan-tindakan menyimpang lainnya. Perilaku
kolektif terdiri dari perilaku kerumunan, perilaku massa dan gerakan sosial.

contoh perilaku kolektif yang sudah tersebar di masyarakat :

1) Tindak Kenakalan
Suatu kelompok yang didonimasi oleh orang-orang yang nakal umumnya suka
melakukan sesuatu hal yang dianggap berani dan keren walaupun bagi masyarakat
umum tindakan itu tidak baik. Contoh penyimpangan kenakalan bersama yaitu
seperti aksi kebut-kebutan di jalan, mendirikan geng yang suka buat onar,
menggoda dan mengganggu cewek yang melintas, coret-coret tembok orang dan
sebagainya.
2) Tawuran / Perkelahian Antar Kelompok
Pertemuan antara dua atau lebih kelompok yang sama-sama nakal atau kurang
berpendidikan mampu menimbulkan perkelahian di antara mereka di tempat umum
sehingga orang lain yang tidak bersalah banyak menjadi korban. Contoh tauran
antar SMA 7 dengan anak SMA 6, tawuran penduduk berlan dan matraman, dan
sebagainya.
3) Tindak Kejahatan Berkelompok / Komplotan
Kelompok jenis ini suka melakukan tindak kejahatan baik secara sembunyi-
sembunyi maupun secara terbuka. Jenis menyimpangan ini bias bertindak sadis
dalam melakukan tindakan kejahatannya dengan tidak segan melukai hingga
membunuh korbannya. Contoh: Perampok, perompak, bajing loncat, penjajah, grup
koruptor, sindikat curanmor dan lain-lain.
4) Penyimpangan Budaya
Penyimpangan kebudayaan adalah suatu bentuk ketidakmampuan seseorang
menyerap budaya yang berlaku sehingga bertentangan dengan budaya yang ada di
[Link] : merayakan hari-hari besar Negara lain di lingkungan tempat
tinggal sekitar sendirian, syarat mas kawin yang tinggi, membuat batas atau hijab
antara laki-laki dengan wanita pada acara resepsi pernikahan, dan sebagainya.

b. Berdasarkan jawaban di atas, jelaskan faktor-faktor yang menyebabkan


perilaku kolektif tersebut bisa tersebar.

Jawab :

Perilaku kolektif bisa terjadi dimasyarakat mana saja, baik masyarakat yang sederhana
maupun yang kompleks. Menurut teori Le Bon perilaku kolektif dapat ditentukan oleh 6
faktor berikut ini :
1) Situasi sosial
Situasi yang menyangkut ada tidaknya pengaturan dalam instansi tertentu.
2) Ketegangan Struktural
Adanya perbedaan atau kesenjangan disuatu wilayah akan menimbulkan
ketegangan yang dapat menimbulkan bentrok ketidakpahaman.
3) Berkembang dan menyebarnya suatu kepercayaan umum.
Misalnya : berkembangnya isu-isu tentang pelcehan suatu agama atau penindasan
suatu kelompok yang dapat menyinggung kelompok lain.
4) Faktor yang mendahului
Yakni faktor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan yang dikandung
masyarakat. Misalnya desas-desus isu kenaikan harga BBM, yang diperkuat
dengan pencabutan subsidi BBM, hal ini dapat memicu kuat sekelompok orang
untuk protes.
5) Mobilisasi perilaku oleh pemimpin untuk bertindak
Perilakukolektif akan terwujud apabila khalayak ramai dimobilisasikan oleh
pimpinannya.

Berlangsungnya suatu pengendalian sosial merupakan hal penentu yang dapat menghampat,
menunda bahkan mencegah ke 5 faktor di atas, misalnya pengendalian polisi dan aparat
penegak hukum lainnya.
SEKIAN
DAN
TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai