1. Bagaimanakah penyusunan APBD dilakukan?
2. Bagaimanakah proses penatausahaan keuangan daerah di Indonesia serta jelaskan
permasalahan yang sering terjadi.
3. Jelaskan pembinaan pengelolaan keuangan daerah bersifat umum dan teknis yang dilakukan di
daerah kabupaten/kota serta bentuk-bentuk pengawasan keuangan daerah?
4. Bagaimanakah permasalahan yang sering terjadi dalam mekanisme pengawasan?
1. Proses perencanaan dan penyusunan APBD, mengacu pada PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah, secara garis besar sebagai berikut: (1) penyusunan rencana kerja
pemerintah daerah; (2) penyusunan rancangan kebijakan umum anggaran; (3) penetapan
prioritas dan plafon anggaran sementara; (4) penyusunan rencana kerja dan anggaran SKPD; (5)
penyusunan rancangan perda APBD; dan (6) penetapan APBD.
2. Penatausahaan keuangan daerah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses
Pengelolaan Keuangan Daerah, baik menurut Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
maupun berdasarkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah. Uraian tentang penatausahaan keuangan daerah mencakup hal-hal sebagai
berikut: (a) asas umum penatausahaan keuangan daerah; (b) pelaksanaan penatausahaan
keuangan daerah; (c) penatausahaan penerimaan; dan (d) penatausahaan pengeluaran.
Asas-asas umum Penatausahaan Keuangan Daerah menurut kedua peraturan
perundangundangan tersebut di atas menyebutkan bahwa:
1. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, bendahara penerimaan/ pengeluaran dan
orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/ barang/kekayaan daerah, wajib
menyelenggarakan penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
2. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat
bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBD bertanggung jawab atas kebenaran
material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti tersebut;
3. Semua penerimaan dan pengeluaran dana pemerintahan daerah harus dianggarkan dalam
APBD dan dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah;
4. Untuk setiap pengeluaran dana atas beban APBD, harus diterbitkan Surat Keputusan Otorisasi
(SKO) oleh Kepala Daerah atau surat keputusan lain yang berlaku sebagai surat keputusan
otorisasi;
5. Kepala Daerah, wakil kepala daerah, pimpinan DPRD, dan pejabat lainnya dilarang melakukan
pengeluaran dana atas beban anggaran daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan.
Untuk kepentingan pelaksanaan APBD, maka sebelum dimulainnya suatu tahun anggaran Kepala
Daerah sudah harus menetapkan pejabat-pejabat berikut ini:
1. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Penyediaan Dana (SPD);
2. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP);
3. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM);
4. Pejabat yang diberi wewenang mengesahkan Surat Pertanggungjawaban (SPJ);
5. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D);
6. Pejabat fungsional untuk tugas bendahara penerimaan/pengeluaran;
7. Bendahara pengeluaran yang mengelola belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja
bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan, belanja tak terduga, dan
pengeluaran pembiayaan pada SKPD;
8. Bendahara penerimaan pembantu dan bendahara pengeluaran pembantu; dan
9. Pejabat-pejabat lainnya yang perlu ditetapkan dalam rangka pelaksanaan APBD.
Pejabat pelaksana APBD lainnya mencakup:
1. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD} yang diberi wewenang melaksanakan
fungsi tata usaha keuangan pada SKPD;
2. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) SKPD yang diberi wewenang melaksanakan satu
atau beberapa kegiatan dari suatu program yang sesuai dengan bidang tugasnya;
3. Pejabat yang diberi wewenang menandatangani surat bukti pemungutan pendapatan daerah;
4. Pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani bukti penerimaan kas dan bukti
penerimaan lainnya yang sah; dan
5. Pembantu bendahara penerimaan dan/atau pembantu bendahara pengeluaran.
Suatu hal yang harus diperhatikan adalah bahwa penetapan pejabat oleh kepala daerah
tersebut dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan penetapan pejabat lainnya dalam rangka
pelaksanaan APBD dapat didelegasikan oleh kepala daerah kepada kepala SKPD.
3. pengelolaan keuangan oleh pemerintah daerah pada dasarnya tidak terlepas dari pembinaan
dan pengawasan pemerintah pusat. Pemerintah pusat melakukan pembinaan dan pengawasan
pengelolaan keuangan kepada pemerintah daerah yang dikoordinasikan oleh menteri dalam
negeri. Pembinaan pengelolaan keuangan daerah untuk kabupaten/kota dikoordinasikan oleh
gubernur selaku wakil pemerintah pusat. Sementara itu. DPRD melakukan pengawasan
terhadap pelaksanaan peraturan daerah tentang APBD. Pengawasan yang dilakukan DPRD
bukan pemeriksaan. tetapi pengawasan yang lebih mengarah untuk menjamin pencapaian.
Pembinaan umum sebagaimasa dimaksud meliput: a. pembagian urusan pemerintahan; b.
kelembagaan daerah; c. kepegawaian pada Perangkat Daerah; d. keuangandaerah; e.
pembangunan daerah; f. pelayanan publik di daerah; g. kerja sama daerah; h. kebljakan daerah;
i. kepala daerah dan DPRD; dan j. bentuk pembinaan lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Sedangkan pembinaan teknis dilakukan terhadap teknis penyelenggaraan urusan pemerintahan
yang diserahkan ke daerah provinsi. Pembinaan teknis sebataimana dimaksud dilakukan
terhadap tenis penyelenggaraan urusan pemerintahan yang diserahkan ke daerah
kabupaten/kota.
Sedangkan pengawasan teknis sebagaimana dimaksud dilakukan terhadap teknis pelaksanaan
substansi urusan pemerintahan yang diserahkan ke daerah provinsi, dan pengawasan teknis
sebagaimana dimaksud dilakukan terhadap teknis pelaksanaan substansi urusan pemerintahan
yang diserahkan ke daerah kabupaten/ kota.
a. Pengendalian Intern
Dalam rangka meningkatkan kinerja transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan
daerah, kepala daerah mengatur dan menyelenggara kan sistem pengendalian intern di
lingkungan pemerintahan daerah yang dipimpinnya. Pengendalian intern merupakan proses
yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai mengenai pencapaian tujuan
pemerintah daerah yang tecermin dari keandalan laporan keuangan, efisiensi dan efektivitas
pelaksanaan program dan kegiatan, serta dipatuhinya peraturan perundang-undangan.
Pengendalian intern sekurang-kurangnya memenuhi kriteria, seperti terciptanya lingkungan
pengendalian yang sehat, terselenggaranya penilaian risiko terselenggaranya aktivitas
pengendalian: terselenggaranya sistem informasi dan komunikasi serta terselenggaranya
kegiatan pemantauan pengendalian.
b. Pemeriksaan Ekstern
Pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah secara ekstern dilakukan
oleh BPK BPK mengaudit semua item post anggaran pemerintah daerah, baik yang anggarannya
bersumber dari APBD maupun APBN. Pemerintah daerah harus dapat
mempertanggungjawabkan setiap penggunaan anggaran. Penyalahgunaan dan penyimpangan
anggaran menjadi temuan BPK yang jika tidak bisa dipertanggungjawabkan akan membawa
akibat hukum, yaitu pelanggaran administrasi atau korupsi.
4. Menurut saya pengawasan dari eksternal sudah cukup maksimal terlihat dari rutinnya
pemeriksaan oleh BPK kepada pemerintah daerah setiap tahunnya adanya rekomendasi yang
diberikan dari hasil pemeriksaaan yang harus ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah
ADPU4440 – Administrasi Pemerintahan Daerah (Edisi 3)