Para mahasiwa yang saya banggakan, setelah Anda mempelajari materi d atas mari kita
diskusikan kasus di bawah ini:
Indra dan Indri telah menikah selama 5 tahun lamanya, dan telah memiliki dua orang
anak bernama Dina ( 4 tahun) dan Dini (2 tahun). Indra adalah seorang pengusaha
sukses. Namun karena kesuksesannya itu Indra menjadi gelap mata dia sering keluar
malam dan mabuk-mabukan. Indri tidak tahan dengan kelakuan suaminya dan
mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama dan dimenangkan oleh Indri.
Namun, Indra menolak untuk menafkahi anak-anaknya. Menurut Anda, apa yang harus
dilakukan oleh Indri dan bagaimanakah seharusnya kewajiban mantan suami kepada
Isteri dan Anak Pasca Perceraian!
Diskusikan jawaban Anda dengan teman-teman Anda.
Selamat berdiskusi!
Sebelumnya, dalam sebuah perkawinan dikenal dengan adanya istilah akibat perkawinan.
Dimana, dijelaskan bahwa akibat dilangsungkannya perkawinan akan berimplikasi pada tiga
hal, yaitu terhadap hubungan suami istri, terhadap anak, dan terhadap harta kekayaan.
Terkait dengan akibat perkawinan terhadap anak dijelaskan pada BAB X Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun
1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan), dimana pada Pasal 45 dijelaskan bahwa:
1. Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.
2. Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu
kawin atau dapat berdiri sendiri, kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan
antara kedua orang tua putus.
Kemudian pada Pasal 49 dijelaskan pula bahwa:
1. Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasannya terhadap seorang
anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain,
keluarga anak dalam garis lurus keatas dan saudara kandung yang telah dewasa
atau pejabat yang berwenang, dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal :
a. la sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya;
b. la berkelakuan buruk sekali.
2. Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih tetap berkewajiban untuk
memberi biaya pemeliharaan kepada anak tersebut.
Dalam kasus di atas, Indra dapat dikategorikan sebagai orang tua yang lalai akan
kewajibannya terhadap anak dan memiliki kelakukan yang buruk sekali. Kewajiban orang
tua dalam Pasal 45 dijelaskan bahwa kewajiban tersebut berlaku terus meskipun
perkawinan antara kedua orang tua telah putus akibat perceraian.
Selanjutnya, dalam Pasal 41 UU Perkawinan dijelaskan pula bahwa:
a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya,
semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada perselisihan mengenai
penguasaan anak anak, Pengadilan memberi keputusannya;
b. Bapak yang bertanggung-jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang
diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi
kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya
tersebut;
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya
penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri.
Dalam kasus ini, Indri dapat mengajukan gugatan perceraian kepada Indra dengan alasan
sesuai tercantum pada poin a Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, dengan
alasan yaitu salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan
lain sebagainya yang sukar disembuhkan.
Jika putusan pengadilan agama yang mengatur perceraian sudah ditetapan, maka dalam
hal Indra yang tidak mau melaksanakan kewajibannya pasca perceraian, berdasarkan dari
beberapa sumber yang saya baca, indri dapat melakukan dua cara. Cara pertama adalah
dengan melalui hukum perdata, dimana pihak penggugat dapat mengajuakn eksekusi
terhadap putusah Hakim Pengadilan Agama terhadap pihak tergugat. Sedangkan, cara
kedua dalam penanganan atau penyelesaian hukum terhadap pihak yang mengabaikan
putusan Hakim Pengadilan Agama, yaitu dengan cara pemindanaan yakni dimana pihak
penggugat dapat megajukan delik aduan tindak pidana pasal penggelapan.
Cara pertama yang menggunakan hukum perdata dapat dilaksanakan dengan diawali
teguran terlebih dahulu kepada pihak tergugat agar melaksanakan isi putusan pengadilan
secara sukarela. Apabila pihak lawan tetap tidak mau melaksanakan putusan tersebut,
maka dapat dilakukan eksekusi Pengadilan dapat melakukan eksekusi bila memungkinkan
dilakukan secara riil atau bisa juga eksekusi dengan pembayaran sejumlah uang. Apabila
eksekusi secara riil tidak dapat dilakukan secara natural, maka eksekusi akan dilakukan
dengan cara penyitaan terhadap harta kekayaan yang dimiliki oleh termohon eksekusi
asalkan hak tersebut benar hak dan kepemilikannya (menurut Hukum Perdata), hal tersebut
dapat dilakukan dengan cara pelelangan secara umum sebagai pengganti biaya yang harus
dibayarkan. Konsekuensinya kalau eksekusi dapat dilaksanakan maka hak tergugat akan
dipaksa untuk diserahkan kepada pihak penggugat senilai dengan yang ada dalam putusan.
Sumber:
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang Perkawinan