UPAYA MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI MELALUI LAYANAN
KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS VII MTsN GODEAN
SLEMAN YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2016/2017
Oleh
Kristiawan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendiidkan
Universitas PGRI Yogyakarta
Abstrak
Penelitian bertujuan: untuk mengetahui upaya meningkatkan kepercayaan diri
melalui layanan konseling kelompok pada siswa kelas VII MTsN Godean, Sleman,
Yogyakarta tahun ajaran 2016/2017.
Metode Penelitian: Jenis penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau
Classroom Action Research (CAR). Subyek penelitian adalah siswa kelas VII MTsN
Godean Sleman pada tanggal 18 – 20 April Tahun 2017. Sempel Sebanyak 128 siswa
dengan menggunakan tehnik sampling, data dalam penelitian ini terkumpul dalam
bentuk Kuantitatif (angka) sehingga memungkinkan untuk dianalisis secara statistik
dilanjutkan dengan Uji t satu arah pada pada taraf signifikansi α = 0,05.
Hasil Penelitian: Layanan konseling kelompok dapat meningkatkan kepercayaan
diri pada siswa kelas VII MTsN Godean tahun ajaran 2016/2017 yang ditunjukkan dari
nilai t hitung (-9,888) < t tabel (2,131).
Kata kunci: kepercayaan diri, layanan konseling kelompok.
Abstrak
The research aims: to know the effort to improve self confidence through group
counseling service at grade VII student MTsN Godean, Sleman, Yogyakarta academic
year 2016/2017.
Research Methods: Type of Classroom Action Research (PTK) or Classroom
Action Research (CAR) research. The subjects of the study were the students of grade
VII MTsN Godean Sleman on April 18th - 20th of 2017. Sempel A total of 128 students
using sampling technique, the data in this study collected in the form of quantitative
(number) so it is possible to be analyzed statistically followed by t test one direction At
the level of significance α = 0.05.
Result: The group counseling service can increase self-confidence in grade VII
student of MTsN Godean academic year 2016/2017 which is shown from t value (-
9,888) <t table (2,131).
Keywords: confidence, group counseling services.
PENDAHULUAN
Masa remaja merupakan saat-saat yang dipenuhi dengan berbagai macam
perubahan dan terkadang tampil sebagai masa yang tersulit dalam kehidupannya
sebelum memasuki dunia kedewasaan. Begitu pula perubahan yang dialami seseorang
tidak saja menyangkut perubahan yang dapat teramati secara langsung, misalnya
perubahan tinggi badan, berat badan, wajah atau tingkah laku tetapi juga menyangkut
perubahan yang lebih halus yang tidak dapat dengan segera teramati misalnya
kepercayaan diri.
“Kepercayaan percaya diri merupakan sikap mental optimisme dari kesanggupan
anak terhadap kemampuan diri untuk menyelesaikan segala sesuatu dan kemampuan
diri untuk melakukan penyesuaian diri pada situasi yang dihadapi”. Sikap optimisme
inilah yang menjadikan orang itu percaya terhadap dirinya (Surya, 2007: 56).
Pentingnya memiliki Kepercayaan Diri adalah siswa dapat mengaktualisasikan
diri. Aktualisasi diri adalah kemampuan seseorang untuk menemukan dan
mengembangkan potensi yang dimiliki. Kepercayaan diri merupakan aspek yang sangat
penting bagi sesorang untuk dapat mengembangkan potensinya. Jika seseorang
memiliki bekal kepercayaan diri yang baik, maka individu tersebut dapat
mengembangkan potensinya dengan mantap. Namun jika seseorang memiliki
kepercayaan diri rendah, maka individu tersebut cenderung menutup diri, mudah
frustasi ketika menghadapi kesulitan, canggung dalam menghadapi orang, dan sulit
menerima realita dirinya. Dengan kepercayaan diri saat maju didepan kelas, dapat
meningkatkan keberanian siswa dalam menjawab pertanyaan, mempunyai penampilan
diri yang baik, dan mampu mengendalikan perasaan. Memiliki kepercayaan diri yang
tinggi dalam diri siswa dapat membantu mencapai prestasi dan hasil belajar yang lebih
baik lagi. Anak yang ragu terhadap kemampuan diri sendiri atau tidak percaya diri saat
pembelajaran biasanya kurang dapat berbicara ataumenyampaikan pesan kepada orang
lain. Dengan begitu akan terjadi proses perubahan dalam diri siswa bukan hanya pada
hasil belajar tetapi juga pada perilaku dan sikap siswa, yaitu keberanian, keaktifan, dan
aktualisasi diri siswa saat proses belajar mengajar.
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen penting dalam dunia
pendidikan. Diadakannya layanan bimbingan dan konseling di sekolah bukan karena
adanya landasan hukum, namun yang lebih penting adalah adanya kesadaran atau
komitmen untuk memfasilitasi siswa agar mampu mengembangkan potensi dirinya.
“Belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya
karena hasil dari pengalaman. Inilah yang membuat individu dari tidak tahu menjadi
tahu” (Gagne dan Berliner dalam Ani, 2006: 2). Siswa adalah individu yang sedang
mengalami masa perkembangan, yaitu berkembang kearah kematangan atau
kemandirian. Dalam masa inilah siswa membutuhkan banyak bimbingan untuk
memperluas pengetahuan dan wawasan tentang dirinya dan lingkungannya.
Pada remaja dibutuhkan dukungan, dukugan itu berasal dari dalam diri maupun
pihak luar, salah satu dari pihak luar adalah keluarga. Keluarga merupakan tempat
dimana seorang anak dilahirkan dan dibesarkan dimana keluarga sangat besar
pengaruhnya terhadap kepribadian anak dikemudian hari. Sikap orang tua dan perhatian
yang diberikan akan berpengaruh terhadap kepribadian anak dikemudian hari. Orang tua
berperan sebagai peletak dasar bagi pembentukan pribadi anak, termasuk percaya diri.
Rasa cinta, rasa kasih sayang, saling percaya dan sikap menerima yang diciptakan
dalam suasana rumah dapat membentuk rasa percaya diri pada anak. Begitu juga orang
tua yang memaksakan kehendak tidak mendengarkan suara anak cenderung
menghambat kepercayaan diri pada anak. Siswa yang merasa rendah diri diekspresikan
melalui sikap yang pemalu,kurang pandai bergaul, cenderung menarik diri, kurang
berani untuk berbicara dan mengemukakan pendapat,selalu takut berbuat kesalahan,
bahkan sulit menunjukan bakat atau kemahirannya dalam bidang tertentu.
Lingkungan sekolah juga merupakan salah satu faktor yang memiliki peran dalam
menumbuhkan kepercayaan diri siswa, disekolah bisa dibina dengan melihat kemajuan
dalam berprestasi baik bidang akademik maupun non akademik. Contoh: berprestasi
dibidang akademik yaitu anak merai juara dikelas, sedangkan yang non akademik yaitu
anak meraih juara dalam olah raga. Anak harus memperoleh kesan bahwa dirinya diakui
dan dihargai dengan anak lain, bahkan bila perlu bentuk penghargaan yang diberikan
berupa hadiah sederhana yang bisa membangun kepercayaan diri anak untuk berprestasi
dan dapat menimbulkan keinginan untuk selalu berusaha mencapai kemajuan atau
prestasi baru. Menumbuhkan kepercayaan diri siswa tidaklah mudah, hal ini
membutuhkan dorongan, motivasi dan perhatian dari teman, keluarga, maupun guru di
sekolah.
Layanan konseling kelompok dapat membantu penyelesaian masalah kurangnya
kepercayaan diri secara bersama – sama anggota kelompok. Melalui layanan konseling
kelompok diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas VII MTsN
Godean Sleman.
METODE DAN HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 12 sampai 22 April 2017 yang bertempat
di MTsN Godean Sleman. Kegiatan layanan konseling kelompok dalam penelitian ini
dilaksanakan dalam dua siklus yang setiap siklusnya terdiri dari 3 kali pertemuan,
sehingga jumlah pertemuan yang dilakukan untuk melaksanakan konseling kelompok
adalah 6 kali pertemuan.
Untuk mencapai tujuan penelitian, maka langkah yang harus ditempuh dalam
penelitian ini adalah menetapkan aspek – aspek yang diteliti yaitu hal – hal yang terkait
dengan cara untuk meningkatkan kepercayaan diri. Salain itu, peneliti juga melakukan
pengamatan dan mencatat hasilnya. Dalam setiap siklus terdiri dari beberapa kegiatan
yang meliputi perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi serta refleksi.
Sebelum melakukan kegiatan konseling kelompok peneliti menyebarkan angket
pre test pada kelas VII B,C,dan D MTsN Godean terlebih dahulu pada tanggal 12 April
2017. Hasil pre test siswa kelas VII MTsN Godean dari 88 siswa menunjukan 4 siswa
dalam kategori tinggi, 68 siswa dalam kategori sedang dan 16 siswa dalam kategori
rendah.
Berikut adalah penjelasan pada kegiatan siklus 1:
1. Penelitian Siklus 1
a. Perencanaan Siklus 1
Peneliti mengambil subyek peneltian yang memiliki masalah kepercayaan diri
rendah berdasarkan hasil pre test dan saran dari guru bimbingan dan konseling,
yaitu DNN, ANN, CY, DDP, FAM, FR, HW, NY, NIS, NAFS, N, NR, RMF,
DAFI, DAFA, dan VNL. Selanjutnya peneliti menentukan waktu dan tempat
pelaksanaan layanan konseling, yaitu pada tanggal 12, 13, dan 15 April 2017
bertempat diruang kelas. Peneliti mempersiapkan materi atau topik bahasan yang
akan disampaikan dalam layanan konseling kelompok. Selain itu, peneliti juga
menyiapkan lembar observasi untuk membantu peneliti merekam fakta yang
terjadi selama pelaksanaan layanan berlangsung.
b. Pelaksanaan Tindakan Siklus 1
Pertemuan pertama dilaksanakan pada tanggal 12 April 2017, pertemuan kedua
dilakukan pada tanggal 13 April 2017 dan pertemuan ketiga tanggal 15 April
2017. Layanan yang digunakan adalah layanan konseling kelompok melalui
kegiatan diskusi.
Adapun proses pelaksanaan tindakan siklus 1 adalah sebagai berikut:
1) Pelaksanaan Tindakan 1
Waktu : Rabu, 12 April 2017
Tempat : Ruang Kelas
Jumlah Siswa : 16 orang
a) Pendahuluan
Kegiatan diawali dengan mengumpulkan siswa yang akan diberikan
layanan konseling kelompok dalam satu ruangan. Selanjutnya, peneliti
membuka pertemuan dengan salam dan doa. Kemudian, untuk
mengawali layanan konseling kelompok, peneliti memperkenalkan diri
terlebih dahulu. Peneliti menyampaikan maksud dan tujuan pelaksanaan
konseling kelompok kepada siswa yaitu bersama – sama berusaha untk
meningkatkan kepercayaan diri pada siswa.
b) Kegiatan Inti
Pada tahap kegiata peneliti mempersilahkan siswa untuk
mengungkapkan masalah masing – masing yang berkaitan dengan rasa
percaya diri. Setelah siswa mengungkapkan dan menjelaskan masalah
masing – masing kemudian masalah tersebut didiskusikan antar siswa
yang dipimpin oleh peneliti. Dalam kegiatan konseling kelompok ini
permasalahan yang dialami siswa adalah sama atau homogen, yaitu
siswa kurang mempunyai rasa kepercayaan diri dengan kemampuan
yang dimiliki.
Pada pertemuan pertama ini hanya beberapa siswa yang nampak
cukup antusias dalam berdiskusi namun masih ada siswa yang malu dan
tertutup untuk menyampaikan pendapat. Peneliti berusaha memberi
semangat dan pujin agar siswa lebih aktif berpendapat. Peneliti
mangamati proses pelaksanaan konseling kelompok dan respon siswa
dalam mengikuti layanan konseling kelompok.
c) Penutup
Peneliti dan siswa mengevaluasi secara lisan proses konseling
kelompok yang telah dilakukan. Setelah itu peneliti dan siswa membuat
janji untuk pertemuan selanjutnya. Kemudian peneliti menutup kegiatan
dengan memimpin doa dan mengucapkan salam.
2) Pelaksanaan Tindakan 2
Waktu : Kamis, 13 April 2017
Tempat : Ruang Kelas
Jumlah Siswa : 16 orang
a) Pendahuluan
Peneliti mengawali kegiatan layanan dengan mengucapkan salam
dan memimpin doa. Kemudian peneliti mengucapkan terimakasih karena
siswa berkenan hadir kembali dalam kegiatan konseling kelompok.
Peneliti juga menanyakan kabar siswa dan perasaan siswa saat itu. Ada
beberapa siswa yang menanggapi dan ada juga yang masih malu – malu
unuk menjawab atau berbicara. Kemudian peneliti menjelaskan kontrak
kegiatan yang akan dilakukan mengenai lamanya durasi kegiatan dan
peraturan yang ada selama kegiatan.
b) Kegiatan Inti
Melanjutkan pertemuan tindakan pertama, peneliti menanyakan
kepada siswa kendala yang dihadapi untuk menumbuhkan rasa percaya
diri. Kemudian peneliti mempersilahkan siswa untuk menyampaikan
pendapat atau hal – hal yang dirasakan. Setelah semua siswa
menyampaikan perasaannya, peneliti mengajak siswa untuk berdiskusi
mengenai hal – hal yang dapat meningkatkan kepercayaan diri pada
siswa. Selain itu peneliti juga memotivasi siswa yang belum
mengungkapkan masalah agar siswa bersedia mengungkapkan masalah
yang berhubungan dengan rasa percaya diri.
Selama kegiatan berlangsung peneliti menjadi observer dengan
mengamati proses diskusi dan mencatat hal – hal yang terjadi selama
layanan konseling kelompok. Hal – hal yang diobservasi yaitu berupa
keterlaksanaan konseling kelompok dan respon siswa terhadap kegiatan.
c) Penutup
Dalam kegiatan ini peneliti memberitahu kepada siswa bahwa
kegiatan akan segera diakhiri. Peneliti mempersilahkan siswa untuk
menyampaikan kesan dan pesan dari kegiatan yang telah diadakan.
Kemudian peneliti dan siswa bersama – sama membuat janji untuk
pertemuan yang akan datang. Peneliti mengakhiri kegiatan konseling
kelompok dengan membaca doa dan mengucapkan salam.
3) Pelaksanaan Tindakan 3
Waktu : Sabtu, 15 April 2017
Tempat : Ruang Kelas
Jumlah Siswa : 16 orang
a) Pendahuluan
Peneliti mengawali kegiatan layanan dengan mengucapkan salam
dan berdoa, kemudian peneliti menanyakan kabar dan mengucapkan
terimakasih kepada siswa karena berkenan hadir kembali. Selain itu
peneliti juga menanyakan kepada siswa mengenai kemajua yang dialami
dari permasalahan mereka.
b) Kegiatan Inti
Peneliti mempersilahkan siswa untuk menceritakan dan
menyampaikan kendala yang masih dialami dalam menumbuhkan
kepercayaan diri. Peneliti memberikan tanggapan dan motivasi kepada
siswa agar terus meningkatkan rasa percaya diri. Kemudian peneliti
mendorong siswa untuk lebih aktif dengan cara mempersilahkan siswa
untuk menyampaikan pendapat melalui kegiatan diskusi. Setelah diskusi
selesai dan seluruh siswa telah menyampaikan pendapat, peneliti
mengajak siswa untuk merangkum kegiatan yang telah dilakukan dari
pertemuan pertama hingga ketiga. Selama kegiatan berlangsung peneliti
mengamati proses diskusi dan mencatat proses konseling kelompok dan
respon siswa pada lembar observasi.
c) Penutup
Peneliti mempersilahkan siswa untuk menyampaikan pesan dan
kesan. Seluruh siswa sudah berani menyampaikan pesan dan kesan
mereka, serta. Peneliti membuat janji untuk pertemuan selanjutnya dan
disepakati pada tanggal 18 April 2017. Peneliti menutup kegiatan
konseling kelompok dengan berdoa dan mengucapkan salam.
c. Hasil Observasi Siklus 1
Berikut adalah hasil observasi pelaksanaan layanan konseling
kelompok pada siklus 1:
1) Pelaksanaan kegiatan konseling kelompok pertemuan pertama berjalan
lancar hanya saja siswa masih malu – malu dan pasif dalam mengikuti
kegiatan. Pada pertemuan ke-2 nampak respon dari siswa mengalami
perubahan, siswa lebih aktif meskipun terlihat masih kurang antusias,
keterlaksanaan konseling kelompok juga mengalami peningkatan. Pada
pertemuan ke-3 respon siswa terhadap pelaksanaan konseling
kelompok juga meningkat, siswa terlihat semakin antusias dan
keterlaksanaan konseling kelompok berjalan lancar.
2) Situasi dalam pelaksanaan konseling kelompok sudah cukup kondusif
dari pertemuan pertama hingga ketiga, sehingga pelaksanaan konseling
kelompok berjalan lancar.
d. Hasil Refleksi Siklus 1
Berdasarkan kegiatan konseling kelompok yang telah dilakukan pada
siklus 1 terdapat beberapa hal yang didapatkan dari hasil refleksi sebagai
berikut:
1) Adanya peningkatan dari pertemuan pertama hingga ketiga yaitu antar
siswa yang awalnya tidak saling memperhatikan kini memiliki sikap
saling menghargai, seperti mendengarkan dan menerima pendapat.
2) Menurut siswa secara keseluruhan menyatakan bahwa mereka senang
diadakan konseling kelompok. Siswa menyatakan bahwa mereka
merasa terbantu dengan kegiatan konseling kelompok untuk
meningkatkan percaya diri. Pada dasarnya pelaksanaan konseling
kelompok berjalan lancar hanya saja terkendala dengan jam pelajaran
yang membuat mereka terburu – buru untuk masuk kekelas.
2. Penelitian Siklus II
a. Perencanaan Siklus II
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini merupakan kelanjutan pada siklus I
yang dinyatakan belum sesuai harapan dalam meningkatkan kepercayaan diri.
Peneliti dan guru bimbingan konseling melakukan diskusi untuk melakukan
tindakan perbaikan pada siklus II. Diskusi tersebut berisi tentang metode atau
cara yang akan dilakukan pada siklus ke II ini dan ketrampilan konseling apa saja
yang perlu untuk ditingkatkan. Peneliti dan guru bimbingan konseling sepakat
untuk siklus ke II ini akan mengunakan metode modeling atau percontohan kasus
beserta pemecahan masalahannya. Peneliti juga mempersiapkan waktu dan
tempat pelaksanaan yang disepakati ditempat yang sama yaitu diruang kelas
MTsN Godean dan waktunya pada tanggal 18, 19 dan 20 April 2017.
Selanjutnya peneliti mempersiapkan lembar observasi dengan format yang
sama seperti siklu pertama dan memberi penjelasan dengan guru pembimbing
mengenai pelaksanaan siklus ke II, dari penjelasan tersebut dengan guru
pembimbing didapatkan kesepakatan mengenai cara pengobservasian selama
konseling kelompok yang masih sama dengan siklus pertama.
b. Pelaksanaan siklus II
Pada siklus kedua ini dilaksanakan tiga kali pertemuan yaitu pertemuan
pertama dilaksanakan pada tanggal 18 April 2017, pertemuan kedua tanggal 19
April 2017, dan pertemuan ketiga pada tanggal 20 April 2017. Layanan yang
digunakan adalah layanan konseling kelompok dengan metode modeling atau
percontohan.
Adapun proses pelaksanaan tindakan siklus II adalah sebagai berikut:
1) Pelaksanaan Tindakan I
Waktu : Selasa, 18 April 2017
Tempat : Ruang kelas
Jumlah Siswa : 16 orang
a) Pendahuluan
Peneliti membuka kegiatan konseling kelompok dengan salam dan
doa serta menanyakan kabar siswa. Kemudian peneliti menjelaskan tujuan
diadakan konseling kelompok siklus ke II kepada siswa serta
menyampaikan aturan yang harus ditaati oleh para peserta konseling
kelompok.
b) Kegiatan Inti
Pada tahap kegiatan ini peneliti mempersilahkan siswa yang masih
belum dapat membangun rasa percaya diri untuk menyampaikan
permasalahan yang terjadi. Penelititi mempersilahkan siswa lain yang
dapat memberikan contoh ilustrasi untuk memecahkan masalah, kemudian
peneliti dan anggota membahas masalah yang mendalam. Pada kegiatan
ini peneliti juga memberikan motivasi dan dukungan terhadap siswa untuk
selalu berfikir positif, semangat dan percaya diri.
c) Penutup
Pada tahap penutup peneliti memberitahu bahwa kegiatan akan
diakhiri, kemudian peneliti mempersilahkan siswa untuk menyampaikan
pertanyaan jika ada yang ditanyakan. Pada kesempatan tanya jawab ini
tidak ada siswa yang merespon. Peneliti juga mengajak siswa untuk
merencanakan pertemuan berikutnya dan telah telah disepakati pada
tanggal 19 April 2017, selanjutnya peneliti menutup pertemuan dengan
berdoa dan mengucapkan salam.
2) Pelaksanaan Tindakan 2
Waktu : Rabu, 19 April 2017
Tempat : Ruang kelas
Jumlah Siswa : 16 orang
a) Pendahulan
Penelti membuka kegiatan konseling kelompok terlebih dahulu
dengan salam dan doa. Kemudian peneliti mengucapkan terimakasih
karena siswa sudah berkenan hadir kembali serta menanyakan kabar siswa.
Peneliti menanyakan kepada siswa mengenai perasaan yang sedang
dirasakan.
b) Kegiatan Inti
Peneliti mempersilahkan siswa CY dan NY untuk menyampaikan
kemajuan atau perubahan yang dialami, kemudian peneliti
mempersilahkan siswa lain untuk menanggapi pernyataan siswa CY dan
NY. Peneliti dan anggota membahas secara mendalam. Pada kegitan ini
peneliti juga tak lupa memberikan motivasi dan dukungan terhadap siswa
untuk berfikir positif, semangat dan percaya diri.
c) Penutup
Pada tahap penutup peneliti memberitahu bahwa kegiatan akan
diakhiri, peneliti mempersilahkan siswa untuk menyampaikan pertanyaan
jika ada yang ditanyakan. Dalam sesi pertanyaan ini siswa DAFI memberi
pertanyaan mengenei manfaat percaya diri bagi siswa. Peneliti
memberikan jawaban pertanyaan dari siswa DAFI tersebut. Peneliti
bersama siswa untuk memutuskan untuk pertemuan berikutnya
berlangsung pada hari kamis tanggal 20 April 2017. Peneliti juga
menyampaikan kepada siswa bahwa diakhir pertemuan akan diadakan post
test kemudian peneliti menutup dengan doa dan salam.
3) Pelaksanaan Tindakan 3
Waktu : Kamis, 20 April 2017
Tempat : Ruang kelas
Jumlah Siswa : 16 orang
a) Pendahuluan
Pada pertemuan ketiga ini peneliti membuka kegiatan konseling
kelompok dengan salam dan doa, peneliti juga mengucapkan terima kasih
kepada siswa karena sudah berkenan hadir kembali dan menanyakan kabar
siswa. Peneliti bertanya kepada siswa mengenai perasaan yang sedang
dirasakan, siswa menjawab dengan aktif pertanyaan dari peneliti sambil
sekali bercanda.
b) Kegiatan Inti
Peneliti mempersilahkan masing-masing siswa untuk menyampaikan
kemajuan yang telah dialami kaitannya dengan rasa percaya diri. Dalam
kegiatan ini siswa sudah dapat menunjukan rasa percaya dirinya dengan
menyampaikan pendapatnya didepan siswa lain. Siswa juga telah berani
memberikan sanggahan dan tanggapan dari pernyataan siswa yang lain.
Peneliti tidak lupa memberi pujian dan kesimpulan dari beberapa pendapat
siswa, selain itu juga tidak lupa memberikan motivasi dan dukungan
terhadap siswa untuk selalu berfikir positif, semangat dan percaya diri.
Setelah dirasa cukup peneliti memberikan post test untuk diisi oleh siswa
peserta konseling kelompok.
c) Penutup
Peneliti memberitahu siswa bahwa kegiatan akan diakhiri, serta
mempersilahkan siswa untuk menyampaikan kesan dan pesan selama
kegiatan dilaksanakan. Dari kegiatan menyampaikan kesan pesan ini
sebagian besar siswa merasa senang dengan kegiatan konseling kelompok
dan mengatakan bahwa kegiatan konseling kelompok sangat bermanfaat.
Peneliti juga meminta maaf kepada siswa karena dalam kegiatan masih
banyak kesalahan, kemudian peneliti menutup kegiatan dengan doa dan
salam.
c. Hasil Observasi Siklus II
Tindakan siklus II dilaksanakan tiga kali pertemuan yaitu tanggal 18– 20
April 2017. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan lembar observasi.
Berikut adalah hasil observasi pelaksanaan layanan konseling kelompok pada
siklus II:
1) Pelaksanaan kegiatan konseling kelompok pertemuan ke 4 sampai ke 6
berjalan lancar, siswa aktif mengeluarkan pendapat dan memberi perhatian
dengan teman serta terlihat sikap saling menguatkan antara sesama siswa.
2) Situasi dalam melakukan konseling kelompok kondusif, seperti lingkungan
yang tenang, keadaan fisik dan kesehatan siswa yang baik sehingga
pelaksanaan konseling kelompok berjalan lancar.
3) Selalu ada peningkatan sikap dan respon yang baik dari siswa.
d. Hasil Refleksi Siklus II
Berdasarkan kegiatan konseling kelompok telah dilakukan pada siklus II
terdapat beberapa hal yang didapatkan dari hasil refleksi yaitu sebagai berikut:
1) Adanya peningkatan dari pertemuan pertama hingga ketiga yaitu antar siswa
sudah memiliki sikap saling menghargai, seprti mendengarkan, menerima
pendapat dan saling menguatkan. Komunikasi antar siswa berjalan lancar
sehingga terjalin keakraban dalam proses konseling kelompok.
2) Siswa merasa bahwa konseling kelompok memberikan manfaat bagi siswa,
terutama dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa.
PEMBAHASAN
Menurut Juntika Nurihsan, (2006: 24) mengatakan bahwa konseling kelompok
adalah suatu bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan
dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan
dan pertumbuhan.
Hal ini dibuktikan dengan kegiatan konseling kelompok dapat meningkatkan
kepercayaan diri siswa kelas VII MTsN Godean. Adanya peningkatan kepercayaan diri
siswa dapat diketahui dari hasil observasi dan pemberian angket pre tes dan post tes
kepercayaan diri siswa. Sebelum dilakukan tindakan nilai rata – rata kepercayaan diri
siswa sebesar 68,87 dan setelah melakukan layanan konseling kelompok meningkat
menjadi 80,18. Hal ini menunjukan adanya peningkatan rata-rata skor kepercayaan diri
siswa sebesar 11,31 poin setelah dilakukan layanan konseling kelompok.
Adanya peningkatan kepercayaan diri juga dapat diketahui dari hasil observasi
setelah tindakan antara siklus 1 dan siklus 2. Pada siklus 1 terdapat 16 siswa yang
berada dalam kategori cukup. Hal ini dikarenakan pada siklus 1 siswa masih malu
bertanya, belum aktif, dan malu mengungkapkan pendapat. Pada siklus 2 dilakukan
kegiatan konseling kelompok dengan cara pemberian contoh. Pada akhir siklus 2
diketahui bahwa siswa yang memiliki kategori cukup ada 10 siswa dan yang 6 siswa
dalam kategori baik. Hal ini menunjukan bahwa siswa sudah mulai antusias dengan
kegiatan konseling kelompok, sehingga siswa berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan
kegiatan, berani menyampaikan pendapat, memiliki rasa empati dan menghargai
pendapat orang lain serta bersikap terbuka. Selain itu siswa patuh pada aturan yang
dibuat pada kegiatan konseling kelompok.
Melihat dari hasil observasi yang dicapai siswa setiap siklus tindakan, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kepercayaan diri siswa. Hal ini juga didukung
dari hasil uji t dapat diketahui bahwa nilai t hitung -9,889 < t tabel (2,131) sehingga H0
ditolak, yang mempunyai arti bahwa ada peingkatan kepercayaan diri siswa melalui
layanan konseling kelompok pada siswa kelas VII MTs Godean. Layanan konseling
kelompok terbukti mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap
kepercayaan diri siswa.
Dalam penelitian ini peneliti telah melaksanakan penelitian dengan semaksimal
mungkin, namun jika ada data yang kurang akurat maka hal tersebut dikarenakan
keterbatasan peneliti.
Keterbatasan tersebut yaitu:
1. Keterbatasan yang terkait dengan instrumen penelitian
Pengisian angket dilakukan pada saat jam pelajaran, sehingga ada
kemungkinan siswa merasa terburu – buru dalam mengisi angket sehingga hasil
kurang memuaskan dan nilai angket tidak masuk dalam hasil nilai pelajaran sehingga
siswa kurang serius dalam mengisi angket.
2. Keterbatasan terkait penelitian
Siswa masih asing dengan pelaksanaan konseling kelompok dan jarang sekali
melakukan konseling sehingga beberapa siswa masih pasif, kurang peduli dengan
kegiatan yang ada dan tidak memahami jalannya kegiatan sehingga menjadi
menghambat tersendiri dalam pelaksanaan konseling kelompok.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari analisis data dan pembahasan, maka dapat
disimpulkan:
1. Rata-rata skor kepercayaan diri siswa kelas VII MTsN Godean setelah diberi
tindakan layanan konseling kelompok lebih tinggi dari pada sebelum dilakukan
tindakan (80,18 > 68,87).
2. Layanan konseling kelompok mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas
VII MTsN Godean Sleman yang ditunjukan dari nilai t hitung -9,889 < t tabel
(2,131).
DAFTAR PUSTAKA
Angelis, De Barbara 2005. Confidence, Percaya Diri Sumber Sukses dan Kemandirian.
Jakarta: PT. Gramedia. Pustaka Utama
Anita Lie. 2004. 101 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Anak. Jakarta: PT.Elex Media
Komputindo Kelompok Gramedia..
_______. 2003. 101 Cara Menumbuhkan Percaya Diri Anak. Jakarta: PT.Elex
Komputindo Kelompok Gramedia
Ghufron, N & Risnawati, R. 2012. Teori-teori Psikologi. Yogyakarta. Ar-Ruzz Media
Hakim, Turshan. 2005. Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri. Jakarta: Puspa Swara
Iswandharmanjaya, Derry, dkk, 2004. Satu Hari Menjadi Lebih Percaya Diri. Pt.Elex
komputindo Kelompok Gramedia
Indri Mastuti. 2008. 50 Kiat Percaya Diri. Jakarta: HI-Frest Publising.
______. 2007. 50 Kiat Percaya Diri. Jakarta: PT Buku Kita.
Mungin Eddy Wibowo. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang: UPT
UNNES Press.
Natawidjaja, Rohman. 2009. Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan.
Bandung: Rizqi Press.
Rahman, Hibana S. 2003. Bimbingan dan Konseling Pola 17. Yogyakarta: UCY Press.
Sangkala, Candra SDW. 2010. Berdamai Dengan Diri Sendiri. Yogyakarta: Diva Press
Sugiyana. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
_______.2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
_______. 2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono & Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Bumi Aksara.
Syamsu Yusuf. 2009. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Tohirin. 2007. Bimbingan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Winkel, WS, Hastuti. 2006. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan.
Yogyakarta: Media Abadi.