71% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
4K tayangan3 halaman

Optimalisasi Aset Daerah: Tantangan dan Strategi

Diskusi membahas optimalisasi aset negara di beberapa daerah. Beberapa kasus menunjukkan kontribusi pemanfaatan aset sangat kecil, seperti di Nusa Tenggara Barat hanya Rp22,5 juta per tahun atas kerjasama 65 hektar selama 70 tahun. Kerjasama jangka panjang dapat menggerus aset, bahkan aset beralih kepemilikan. BPK menemukan permasalahan yakni aset belum dioptimalkan, tidak efisien, peman

Diunggah oleh

Idhal Hartono
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
71% menganggap dokumen ini bermanfaat (7 suara)
4K tayangan3 halaman

Optimalisasi Aset Daerah: Tantangan dan Strategi

Diskusi membahas optimalisasi aset negara di beberapa daerah. Beberapa kasus menunjukkan kontribusi pemanfaatan aset sangat kecil, seperti di Nusa Tenggara Barat hanya Rp22,5 juta per tahun atas kerjasama 65 hektar selama 70 tahun. Kerjasama jangka panjang dapat menggerus aset, bahkan aset beralih kepemilikan. BPK menemukan permasalahan yakni aset belum dioptimalkan, tidak efisien, peman

Diunggah oleh

Idhal Hartono
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Diskusi.

5
Thursday, 10 September 2020, 10:20 PM
Number of replies: 0

Berikut adalah studi kasus yang perlu didiskusikan:


Banyak daerah yang melakukan optimalisasi aset negara baik dalam
bentuk sewa, pinjam pakai, kerja sama pemanfaatan, bangun guna serah dan
bangun serah guna. Beberapa kasus diantaranya kontribusi atas pemanfaatan
aset sangat minim seperti beberapa contoh kasus dibawah ini:
1. Aset Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) di Gili
Trawangan seluas 65 hektare dikerjasamakan dengan PT. Gili
Trawangan Indah (GTI) sesuai  perjanjian kontrak produksi Nomor
1 Tahun 1995 dengan jangka waktu kerjasama selama 70 tahun.
Nilai royalti yang diperoleh Pemprov per tahun dari kontrak
panjang ini hanya sebesar Rp 22,5 juta. Informasi lengkap dapat
dilihat pada link berikut:
[Link]
Tahun,[Link]/
 
2. Kerja sama Pemerintah Daerah dengan pemodal/dunia usaha
untuk pemanfaatan aset daerah. Dengan dalih kerja sama untuk
mendapatkan keuntungan agar ada bagian pendapatan
pemerintah daerah atas pemanfaatan dan pengelolaan aset
tersebut, namun pada kenyataannya, aset Pemerintah Daerah
yang dijadikan modal tergerus habis. Oleh karena jangka waktu
kerjasama begitu panjang melewati batas kepemimpinan seorang
gubernur/bupati atau walikota dan diperparah dengan kacaunya
administrasi pencatatan aset, lambat laun aset daerah tersebut
dikuasai oleh pihak ke tiga. Pemerintahan dengan beberapa
periode berikutnya kehilangan jejak untuk menelusuri keberadaan
aset daerah tersebut hingga aset tersebut berpindah tangan dari
satu kepemilikan kepada pemilikan berikutnya. Informasi
selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
[Link]
pengelolaan-barang-milik-daerah/

3. Hasil riset dan pemeriksaan BPK terdapat 4 permasalahan dalam


pemanfaatan aset, yaitu:
a. Aset belum dioptimalkan
b. Inefisiensi aset
c. Pemanfaatan aset belum optimal bagi pemasukan daerah
d. Rendahnya fungsi manfaat aset
Informasi selengkapnya dapat dilihat pada link berikut:
[Link]
[Link]
 
Berdasarkan beberapa studi kasus yang telah dikemukakan, diskusikan
hal-hal berikut:
1. Apa yang menjadi permasalahan utama daerah belum mampu
mengoptimalkan pemanfaatan aset?
Jawab :
Diantaranya adalah ketidakjelasan status hukum atau
bersengketa, pemanfaatan aset oleh pihak lain yang tidak sesuai dengan
prosedur, tukar menukar aset negara serta sumber daya manusia yang
tidak memahami administrasi pengelolaan aset negara.

2. Apa strategi yang harus dilakukan oleh daerah jika dikaitkan


dengan konsep pendekatan quality function deployment (QFD) dan
industri kreatif dalam pemanfaatan aset?
Jawab :
a. Focus pada pelanggan;
Organisasi TQM merupakan organisasi yang berfokus pada
pelanggan, ia membutuhkan masukan dan umpan balik dari
pelanggan.

b. Efisiensi waktu;
Dengan QFD dapat mengurangi waktu pengembangan produk
karena focus pada persyaratan pelanggan uang spesifik dan telah
teridentifikasi dengan jelas.

c. Orientasi kerjasama tim;


QFD ini merupakan pendekatan kerjasama tim, di mana
keputusan didapat berdasar hasil diskusi mendalam dan
brainstorming.

d. Orientasi pada dokumentasi


Salah satu produk yang dihasilkan dari proses QFD adalah
dokumen komprehensif mengenai semua data yang berhubungan
dengan segala proses yang ada.

Anda mungkin juga menyukai