0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
542 tayangan4 halaman

Tugas 2 Hubungan Pusat Dan Daerah

Dokumen tersebut membahas perkembangan susunan organisasi pemerintah daerah di Indonesia secara kronologis berdasarkan peraturan perundang-undangan. Mulai dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 yang membagi Indonesia menjadi 8 provinsi hingga Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang mengatur bentuk dan susunan organisasi pemerintah daerah berdasarkan kewenangan, karakteristik, dan sumber daya daerah.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
542 tayangan4 halaman

Tugas 2 Hubungan Pusat Dan Daerah

Dokumen tersebut membahas perkembangan susunan organisasi pemerintah daerah di Indonesia secara kronologis berdasarkan peraturan perundang-undangan. Mulai dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 yang membagi Indonesia menjadi 8 provinsi hingga Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang mengatur bentuk dan susunan organisasi pemerintah daerah berdasarkan kewenangan, karakteristik, dan sumber daya daerah.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : MUNTASIR

NIM : 030693539
Mata Kuliah : Hubungan Pusat dan Daerah
HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH DALAM
BIDANG KEORGANISASIAN

I. PENDAHULUAN
Pada prinsipnya aktivitas yang dilaksanakan organisasi pemerintah daerah
dalam rangka menapai tujuannya didasarkan pada kewenangna/ urusan yang
dimilikinya. Dengan kata lain, untuk menjalankan kewenangan/ urusan yang
dimiliki oleh pemerintah daerah diperlukan suatu organisasi. Dalam kaitan ini yang
dimaksud organisasi pemerintah daerah adalah susunan organisasi pemerintah
daerah. Dilihat dari perjalanan sejarah pembentukan daerah di Indonesia, susunan
organisasi pemerintah daerah berubah-ubah sejalan dengan perubahan peraturan
perundang-undangan yang menjadi landasannya.
Untuk mengetahui perkembangan susunan organisasi pemerintah daerah
secara kronologis akan dibahas berdasarkan peraturan perundang-undangan tentang
pemerintah daerah.

II. PEMBAHASAN
Suatu proses pembagian kerja atau pengaturan kerja bersama dari para
anggota suatu organisasi. Dalam pengorganisasian pemerintahan pada prinsipnya
berguna untuk menunjukkan cara-cara tentang upaya pemberdayaan sumber daya
manusia (pegawai) agar dapar bekerja sama dalam suatu sistem dengan harapan
dapat mencapai tujuan pemerintah daerah yang telah ditetapkan. Untuk mencapai
tujuan organisasi secara efektif dan efisien, maka pengorganisasian dapat dimaknai
sebagai berikut:
a. Cara manajemen merancang struktur formal untuk menggunakan yang paling
efektif sumberdaya-sumberdaya keuangan, fisik, bahan baku, dan pegawai.
b. Pengelompokan kegiatan-kegiatan yang diikuti dengan penugasan seseorang
pimpinan yang diberi wewenang untuk mengawasi anggotaanggota kelompok.
c. Hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan-jabatan, tugas-tugas, dan
para pegawai.
d. Cara pimpinan dalam membagi tugas-tugas lebih lanjut yang harus
dilaksanakan pada masing-masing unit kerja dengan cara mendelegasikan
wewenangnya.
Dari petunjuk di atas, secara umum dapat dipahami bahwa fungsi
pengorganisasian dalam penyelenggaraan pemerintahan merupakan proses
pembagian kerja atau pengelompokan tugas-tugas diantara anggota pemerintah
daerah. Maksudnya adalah agar tujuan pemerintah secara menyeluruh dapat dicapai
secara efisien mungkin.
Menurut Y.Warella, pengorganisasian mencakup beberapa aspek penting
yang menyangkut struktur organisasi, yaitu:
a. Departementalisasi, yaitu pengelompokan kegiatan sehingga pekerjaan yang
serupa dan saling berkaitan dapat dilakukan bersama.
b. Pembagian kerja, yaitu pemecahan tugas sehingga setiap individu hanya
bertanggung jawab dan melakukan sejumlah kegiatan-kegiatan tertentu saja.
c. Koordinasi, yaitu proses untuk memadukan kegiatan-kegiatan dan sasaran unit-
unit organisasi yang terpisah guna mencapai tujuan bersama secara efisien.
Nama : MUNTASIR
NIM : 030693539
Mata Kuliah : Hubungan Pusat dan Daerah
Perkembangan susunan organisasi Pemerintah daerah terdiri berbagai jenis
organisasi sebagaimana dijelaskan dalam peraturan perundang-undangan tentang
pemerintah daerah sebagai berikut :
A. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945 Tentang Kedudukan Komite Nasional
Daerah indonesia dalam undang-undang ini dibagi menjadi 8 provinsi yang
masing-masing dikepalai oleh gubernur. Provinsi dibagi dalam keresidenan
yang dikepalai oleh residen. Gubernur dibantu oleh Komite Nasional Daerah
(KND). Dalam penjelasan undang-undang ini ditegaskan bahwa KND berubah
sifatnya menjadi Badan Perwakilan Rakyat Daerah (BPRD) yang diketuai oleh
Kepala Daerah (KDH), namun KDH bukan merupakan anggota badan tersebut.
Susunan Pemerintah Daerah menurut undang-undang ini terdiri dari BPRD dan
Badan Eksekutif. Keduanya diketuai oleh KDH. KDH merupakan organ daerah
dan organ pemerintah pusat. Badan eksekutif menjalankan pemerintah sehari-
hari. BPRD sebagia badan legislatif mempunyai wewenng sebagai berikut :
1. Kemerdekaan mengadakan peraturan untuk kepentingan daerahnya
(otonom).
2. Pertolongan kepada pemerintah atasan untuk menjalankan peraturan yang
ditetapkan oleh pemerintah.
3. Membuat peraturan mengenai suatu hal yang diperintahkan oleh undang-
undang umum dengna ketentuan bahwa perautran itu harus disahkan
terlebih dahulu oleh pemerintah atasan.

B. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 Tentang Pemerintah Daerah


Pemerintah daerah menurut undang-undang ini terdiri dari Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Dewan Pemerintah Daerah (DPD)
keduanya memiliki ketuanya sendiri-sendiri, yaitu ketua DPRD dipilih oleh dan
dari para anggota DPRD, sedangkan ketua DPD adalah Kepala Daerah. Ketua
dan wakil ketua DPRD tidak boleh menjadi anggota DPD. Anggota DPD
dipilih selama lima tahun. DPD menjalankan pemerintahan sehari-hari dan
mereka itu berasama-sama atau masing-masing bertanggung jawab kepada
DPRD serta diwajibkan memberi keterangan yang diminta DPRD. DPD
mewakili daerahnya didalam dan diluar pengadilan.

C. Undang-Undang Nomor 1 Tahn 1957 Tentang Pokok-Pokok Pemerintah


Daerah
Bentuk dan susunan pemerintah daerah menurut undang-undang ini
meliputi Daerah Tingkat I, Daerah Tingkat II, dan Daerah Tingkat II. Unsuk
pemerintah daerah terdiri dari DPRD dan DPD, dan corak pemerintahannya
adalah collegial bestuur. Kedudukan KDH adalah sebagai alat daerah semata-
mata, dan secara ex officio sebagai ketua dan anggota DPD. KDH dipilih oleh
dan dari anggota DPRD, disahkan oleh pejabat berwenang, KDH dan DPD
menjalankan pemerintahan yang telah diatur oleh DPRD dan secara kolektif
bertanggung jawab kepada DPRD.
Nama : MUNTASIR
NIM : 030693539
Mata Kuliah : Hubungan Pusat dan Daerah
D. Undang-Undang Pemerintah Daerah Menuurut Penpres Nomor 6 Tahun
1959 tentang Pemerintah Daerah
Bentuk dan susunan pemerintahan daerah sama dengan yang diatur
dalam UU Nomor 1 Tahun 1957. Unsur pemerintah Daerah terdiri dari Kepala
Daerah dan DPRD. Sifat dan corak pemerintahannya adalah tunggal
(eenhoofdif besttur). KDH dibantu oleh Badan Pemerintah Harian (BPH) yang
bebas dari keanggotan partai politik. Kedudukan KDH adalah sebagai alat pusat
dan daerah, ketua DPRD tetapi bukan anggota DPRD. KDH diangkat oleh pusat
dan tidak dapat diberhentikan karena keputusan DPRD. KDH menjalankan
urusan untuk menangguhkan keputusan DPRD. KDH bertanggung jawab
kepada presiden dan dibidang otonomi memberikan pertanggung jawaban
kepada DPRD.

E. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintah


Daerah
Susunan dan tingkatan pemerintah daerah dalam undang-undang ini
meliputi provinsi/ kotaraya Dati I, Kabupaten/Kotamadya Dati II dan
Kecamatan/Kotapraja Dati III. Unsur pemerintah daerah terdiri dari kepala
daerah dan DPRD. Sidat atau corak pemerintahannya tunggal (eenhoofdig
besttur). Keduudkan KDH mempunyai kedudukan rangkap (dual function),
yaitu sebagai aat pusat dan alat daerah, namun tidak merangkap lagi menjadi
ketua dan anggota DPRD. KDH dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh
BPH. KDH diangkat oleh presiden dari calon yang diajukan oleh DPRD.
Wewenang dan pertanggung jawaban KDH tidak secara eksplisit ditegaskan
dalam undang-undang ini. Pimpinan DPRD dalam menjalankan tugasnya
mempertanggung jawabkan kepada KDH.

F. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintah


Daerah
Pembagian wilayah negara RI meliputi daerah otonom setingkat provinsi
terdiri dari daerah Tingkat I, daerah istimewa, daerah khusus ibu kota, daerha
otonom dibawah provinsi yang terdiri dari kabupaten Dati II dan kotamadya
Dati II. Sedangkan wilayah administrasi terdiri dari Kabupaten Administrasi,
Kotamadya Administrasi, Kota administrasi dan kecamatan. Unsur
pemerintahan daerah terdiri dari Kepala Daerah dan DPRD. KDH mempunyai
keduudkan rangkap, yaitu sebagai alat daerah dan alat pusat. Di samping itu,
KDH merupakan penguasan tunggal di daerahnya Administrastor pemerintahan,
pembangunan dan kemasyarakatan dalam penyelenggaraan pemerintahan di
daerah. KDH secara ex officio adalah kepala wilayah.

G. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah


Pemerintah daerah meliputi pemerintah daerah sebagai lembaga
eksekutif dan DPRD sebagai lembaga legislatif. Pemerintah daerah terdiri dari
Kepala daerh dan perangkat daerah. Menurut undang-undang ini, daerah
otonom tidak bertingkat. Daerah otonom terdiri dari daerah otonom provinsi
dan kabupaten/ kota yang satu sama lain tidak hierarki dan tidak mempunyai
hubungan subordinasi.
Nama : MUNTASIR
NIM : 030693539
Mata Kuliah : Hubungan Pusat dan Daerah
H. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
Menurut undang-undang ini bentuk dan susunan organisasi pemerintah
daerah didasarkan pada kewenangan pemerintahan yang dimiliki daerah,
krakteristik, potensi dan kebutuhan daerah, kemampuan daerah, ketersediaan
sumber daya aparatur, pengembangan pola kerjasama antardaerah dan/atau
tidak dengan pihak ketiga. Dalam penjelasan undang-undang ini lembaga
pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan perangkat daerh sebagai
unsur penyelenggara pemerintah daerah. Kepala daerah seabgai unsur
penyelenggara pemerintah daerah yang dipilih secara demokratis, dipilih secara
angsung oleh rakyat yang persyaratan dan tata caranya ditetapkan dalam
perautran perundang-undangan. Daam penyelenggaran pemerintah daerah
pemerintah daerah, kepala daerah dibantu oleh perangkat daerah. Secara umum
perangkat daerah terdiri dari unsur staf yang membantu penyusunan kebijakan
dan koordinasi, diwadahi dalam lemabga sekretariat.

III. KESIMPULAN
Di dalam negara kesatuan tanggung jawab pelaksanaan tugas-tugas
pemerintahan pada dasarnya tetap berada ditangan Pemerintah Pusat. Akan tetapi,
karena sistem pemerintahan Indonesia salah satunya menganut asas negara
kesatuan yang didesentralisasikan, maka ada tugas-tugas tertentu yang diurus
sendiri, sehingga menimbulkan hubungan timbal balik yang melahirkan adanya
hubungan kewenangan, keuangan, pengawasan, dan antar satuan organisasi
pemerintahan (Huda, 2014:241).
Upaya menemukan format hubungan antara pusat dan daerah yang ideal
dalam kerangka negara kesatuan bukanlah persoalan yang mudah ditemukan,
karena hal itu merupakan proses yang berjalan seiring dengan perjalanan bangsa
Indonesia. Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi pola hubungan antara
pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah susunan organisasi pemerintahan
daerah, terlebih dalam negara kesatuan yang desentralistik. Kewenangan yang
dijalankan oleh pemerintah pusat dalam negara kesatuan sangatlah luas dan
mencakup seluruh warga negara yang ada di dalam maupun di luar negeri.
Sebagai konsekuensi dibentuknya satuan pemerintahan di tingkat daerah,
sudah barang tentu disertai dengan tindakan lain yakni urusan-urusan pemerintahan
apa saja yang dapat diserahkan dan dijalankan oleh satuan pemerintahan di daerah.
Atau urusan-urusan pemerintahan yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah
sebagai konsekuensi pelaksanaan desentralisasi, titik berat pelaksanaan akan
diletakkan pada daerah yang mana. Berdasarkan hal tersebut, maka susunan
organisasi pemerintahan di daerah akan berpengaruh terhadap hubungan antara
pusat dan daerah. Hal ini dapat dilihat dari peran dan fungsi masing-masing
susunan atau tingkatan dalam penyelenggaaan otonomi. Artinya peran dan fungsi
tersebut dapat ditentukan oleh pelaksanaan titik berat otonomi yang dijalankan.

IV. REFERENSI
1. Modul Hubungan Pusat dan Daerah
2. https://media.neliti.com/media/publications/113543-ID-hubungan-antara-pusat-
dan-daerah-dalam-n.pdf

Anda mungkin juga menyukai