MATA KULIAH KRISTOLOGI DAN PNEUMATOLOGI
Dosen Pengampu: Dr. [Link] Riyadi,Pr
Tugas: UAS
Oleh :
-Felix Kris Alfian (186114021)
Semester V
Tahun Ajaran 2020/2021
FAKULTAS TEOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
TESIS VI
Prolog Injil Yohanes menampilkan Yesus sebagai Sang Sabda yang menjadi daging, tinggal
di antara manusia dan menampakkan kemuliaan Allah kepada manusia supaya mereka yang
percaya kepada-Nya dapat tinggal bersama dengan-Nya di rumah Bapa
1. Pengantar: Prolog Injil Yohanes
Prolog adalah sebuah overture (pembukaan) sebuah komposisi musik. Ada
kemungkinan bahwa prolog ini merupakan madah liturgi kuno yang ditambahkan kemudian
pada awalan Injil Yohanes sebagai ringkasan atas seluruh Injil. 1 Prolog berisi 18 ayat dan
sebagaimana yang telah dikatakan di atas, merupakan rangkuman atau ringkasan dari
keseluruhan Injil Yohanes.
Ciri khas Injil Yohanes adalah tentang Yesus sebagai Logos (Firman) meskipun tidak
disebutkan secara gamblang. Konsep ini menggabungkan konsep Yahudi (pewahyuan diri
Allah) dan Yunani (alasan di balik alam semesta). Yesus adalah Firman, yang difirmankan
Allah, yang datang ke dunia sebagai manusia 2 Kata “Logos” ada dalam filsafat Yunani dan
dikaitkan pula dengan pemikiran Filo. Ia meyakini bahwa Logos adalah perantara Tuhan
dengan dunia.3
Prolog terbangun atas dua bagian yaitu bagian yang bercerita tentang Firman (Yoh 1: 1-
5, 9-14, 16-18) dan bagian kedua berbicara tentang Yohanes (Yoh 1: 5-8.15). 4 Ayat 1-2
mengisahkan, Firman tersebut dipersonifikasi. Ia bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah
Allah. Meskipun Logos disebut sebagai Allah, namun Logos bukanlah Bapa. Yesus
digambarkan sebagai yang sama dengan Allah tetapi sekaligus yang berbeda dengan Allah.5
Pengaruh Gnostisisme juga mempengaruhi Injil Yohanes. Hal ini nampak dalam pandangan
yang khas mengenai dua kelompok: “atas-bawah, terang-gelap, surga-dunia.” Injil Yohanes
sangat kental akan dua kelompok tersebut.6
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, gagasan tentang Firman (Logos) ini
awalnya sering dikaitkan dengan pemikiran Yunani tetapi kini lebih dilihat dari latar
belakang Yahudi yaitu dalam Perjanjian Lama secara khusus dalam sastra kebijaksanaan.
Susunan dari prolog ini sebagian dipengaruhi oleh tema “Kebijaksanaan yang
dipersonifikasikan” dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Kebijaksanaan (Yun: Sophia, Ibr:
Hokmah) yang semula bersama dengan Allah kemudian mengambil bagian dalam penciptaan,
akan datang ke dunia dan memberikan karunia kepada manusia (Amsal 2:22-31; Keb 7:22-
28; 9:9-12; Sir 24:1-22).7 Pun Secara khusus, Yesaya 55:10 dst berbicara tentang Firman
yang keluar dari mulut Allah dan tidak akan kembali sebelum menuntaskan misinya di
dunia.8
1
Martin Suhartono,SJ, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2009), 51
2
Michael Keene, Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 38
3
filsuf keturunan Yahudi dari Aleksandria yang hidup sekitar tahun 20 SM sampai 45 M
4
[Link] Riyadi, Yohanes “Firman menjadi Manusia”, (Yogyakarta, Kanisius, 2011 ), 56
5
A.S Hadiwiyata, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 24
6
[Link] Riyadi, Yohanes “Firman menjadi Manusia”, (Yogyakarta, Kanisius, 2011 ),22
7
Neal [Link] OSM, Yohanes, dalam Dianne Bergant dan Robert Karvis, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru,
(Yogyakarta: Kanisius, 2002), 163
8
Martin Suhartono,SJ, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2009), 51
Berkaitan dengan itu, isi dari Prolog Yohanes sebagaian besar adalah tentang
pewahyuan Allah. Allah menyatakan diri-Nya melalui banyak hal. Dalam Perjanjian Lama
digambarkan bahwa Allah mewahyukan diri dalam penciptaan, tulisan-tulisan Musa, para
nabi dan sastra kebijaksanaan. Akhirnya Allah mewahyukan diri yang paling utama dalam
inkarnasi Firman. Dalam inkarnasi itu, kemuliaan Allah dan kehadiran-Nya menjadi tanda
kasih Allah secara nyata dan terus-menerus.9
Kata pertama dalam Prolog yaitu “Pada permulaan” (Yun: en arche) jelas menunjuk
pada awal Kitab Kejadian. Prolog ini ingin menunjukkan bahwa Yesus berada dalam konteks
penciptaan baru. En Arche ini dimengerti bukan hanya sebagai waktu tetapi sebagai “prinsip
dasariah” keberadaan segala sesuatu.10 Prolog Yohanes mengisyaratkan akan indentitas
Firman Allah. Ia dikirim Allah ke bumi untuk suatu pekerjaan ilahi, dan kembali kepada
Bapa setelah misinya selesai.
2. Yesus sebagai Sang Sabda yang menjadi Daging
Yesus Kristus di dalam Yoh 1:1-5 digambarkan sebagai “Fiman” atau Logos.
Penyebutan Yesus sebagai Firman adalah khas dari Yohanes. Firman yang adalah Sabda
Allah itu datang ke dunia sebagai manusia dalam diri Yesus Kristus (inkarnasi).11
Lebih lanjut lagi, Sabda Allah atau Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman
itu adalah Allah (Yoh 1:1). Gambaran tersebut nampak sebagai hal yang [Link]
digambarkan sebagai yang sama dengan Allah tetapi sekaligus yang berbeda dengan Allah.12
Kristus yang pada mulanya bersama-sama dengan Allah menandakan bahwa Kristus tidaklah
diciptakan. Ia adalah abadi.13 Hal ini semakin diperjelas dengan frasa awal “Pada mulanya”
atau “En Arche”. Dari frasa tersebut, dapat dipahami dari mana asal Sang Firman atau pra-
eksistensinya yaitu dari Allah dan Ia adalah Allah.14
Hubungan antara Firman dengan Bapa dapat dilihat dari frasa “bersama-sama dengan
Allah” (Yoh 1:1). Kristus yang adalah Sang Firman telah ada sejak awal mula (Arche).
Sebelum dunia dijadikan, Kristus telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa dalam
persekutuan abadi. Kristus itu juga Ilahi (Firman itu adalah Allah) karena Ia memiliki sifat
dan hakikat yang sama dengan Bapa.15
Frasa “Bersama-sama dengan Allah” ini menunjukkan bahwa ada satu pribadi yang
berbeda dari Allah Bapa yaitu sang Firman (Logos). Namun, Firman tersebut adalah Allah,
artinya satu substansi dengan Allah Bapa. Oleh karena itu, Sang Firman dengan Allah Bapa
itu pribadi yang dapat dibedakan namun adalah satu substansi. Dengan kata lain, Firman itu
juga adalah Allah yang tinggal di antara manusia. Kemanusiaan Yesus menunjukkan bahwa
Sang Firman telah menjadi “daging” (Yoh 1:14). 16
9
Neal [Link] OSM, Yohanes, dalam Dianne Bergant dan Robert Karvis, Tafsir Alkitab Perjanjian Baru,
(Yogyakarta: Kanisius, 2002), 163
10
Martin Suhartono,SJ, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2009), 51
11
Michael Keene, Yesus, (Yogyakarta: Kanisius, 2007) 38
12
A.S Hadiwiyata, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), 24
13
__, The Life Study Bible, Life Publishers International, 1992.
14
[Link] Riyadi, Yesus Kristus Tuhan Kita, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 164
15
__, The Life Study Bible, Life Publishers International, 1992.
16
St. Eko Riyadi, Yohanes; FIrman menjadi Manusia. Yogyakarta: Kanisius, 2011, 65
Firman itu kemudian berinkarnasi dan menjadi manusia. Inkarnasi menunjukkan ketaatan
Sang Firman (Yesus) pada kehendak Bapa. Melalui Inkarnasi, Yesus yang berasal dari Allah
juga menyatakan Allah Bapa kepada manusia.17
Logos atau Firman itu tidak lebih rendah dari Bapa. Logos dan Bapa adalah kesatuan
yang mendalam, sekalipun Allah dan Yesus bukanlah dua pribadi yang identik. Sebagaimana
sebuah ucapan manusia itu mencerminkan isi hati dan pikirannya, begitu pula Kristus yang
adalah Firman juga menyatakan hati dan pikiran Allah. Maka, Allah Bapa dan Firman itu satu
kesatuan namun tidak identik.18
Ungkapan “telah menjadi manusia” berasal dari kata sarx egeneto. Kata sarx hendak
menunjukkan bahwa Firman, secara murni, menjadi manusia sejati yang memiliki daging. 19
Hal ini hendak menunjukkan tentang kemanusiaan Yesus yang sejati. Sabda yang menjadi
daging (Sarx egeneto) adalah bukti dari kemahakuasaan Allah. Allah yang berkuasa dapat
dialami oleh manusia dengan kelahiran Sang Firman ke dunia menjadi daging/manusia (Sarx
Egeneto). Kelahiran Sang Sabda menjadi manusia Yesus bukan atas keinginan biologis
manusia melainkan oleh karena kuasa Allah yang melahirkan Yesus melalui seorang anak
dara.20
3. Yesus Tinggal di antara Manusia
Sang Firman pada mulanya berada bersama-sama dengan Allah dan juga berorientasi
pada Allah. Firman itu bukan hanya dekat dengan Allah melainkan Ia sendiri adalah Allah.
Sabda Allah yang dari awal mula berada bersama-sama dengan Allah itu kemudian diutus ke
dunia dan menjalankan tugasNya. Nantinya, setelah tugasnya selesai, Ia kembali kepada Bapa
dalam kemuliaan.21
Sang Sabda (Logos) yang menjelma menjadi manusia, tinggal di antara kita (eskenosen
hemin). Kata Eskenosen sendiri hanya muncul di dalam Injil Yoh 1:14 dan di dalam Kitab
Wahyu. Kata ini ingin menunjukkan bahwa Sang Logos bertempat/bersemayam/tinggal di
dalam “daging/sarks”. Daging sebagai tanda kemanusiaan menjadi tempat bersemayamnya
Allah dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, manusia dapat melihat dan mengenal Allah
melalui manusia Yesus Kristus karena di dalam manusia (daging) Yesus, di sana ada Allah
(Yoh. 1: 18). Sedangkan Frasa “di antara kita” (en hemin) menunjuk pada Yohanes dan juga
para saksi mata yang lainnya yaitu murid-murid Yesus.22
Sang Firman akhrinya menjadi manusia secara utuh tanpa kehilangan hakekatnya sebagai
Allah. Ia masuk dalam kemanusian secara utuh baik secara jasmani maupun rohani. Dia
menjadi manusia Kristus ( Yohanes 1:14; Filipi 2:6-8; 1 Timotius 2:5; bdk Galatia 4:4; Ibrani
2:14,17). Yesus adalah manusia utuh, meskipun juga Ia tepat sebagai Allah. Yesus berada
dalam dua kodrat (dwikodrati) yaitu sebagai sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh
17
[Link] Riyadi, Yesus Kristus Tuhan Kita, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), 164
18
Dr. Harun Hadiwijana, Iman Kristen, (Jakarta: Gunung Mulia, 2007),128
19
Laurens Tutupoly, “Ketuhanan dan Kemanusiaan Yesus Kristus Berdasarkan Injil Yohanes 1:1-18”, Jurnal
Pendidikan Afama Kristen Regula Fidei Vol. 3 No. 1, Maret 2018, 54.
20
Laurens Tutupoly, “Ketuhanan dan Kemanusiaan Yesus Kristus Berdasarkan Injil Yohanes 1:1-18”,dalam
Jurnal Pendidikan Afama Kristen Regula Fidei, 56.
21
Martin Suhartono,SJ, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2009), 51
22
Sheri D Kling, Wisdom Became Fles: An Analysis of The Prologus to the Gospel of John, dalam Jurnal: Currents
in Theology and Mission Vol.40, No.3 (June 2013), 183
manusia.23 Merujuk pada Surat Ibrani dikatakan secara jelas bahwa “Ia adalah cahaya
kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr 1:3). Di dalam Injil Yohanes 14:9 juga jelas
disebutkan, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa”.
4. Yesus Menampakkan Kemuliaan Allah kepada Manusia supaya Mereka yang Percaya
kepada-Nya dapat Tinggal BersamaNya di Rumah Bapa
Injil Yohanes identik dengan gerak turun dan naik. Firman yang hadir ke dunia itu
akhirnya nanti kembali lagi kepada Bapa melalui Salib. Salib oleh Yohanes direflesikan
sebagai saat di mana Yesus dipermuliakan dan ditinggikan.24
Prolog Injil Yohanes menjadi lambang dari seluruh sejarah keselamatan dan seluruh
rencana Allah abgi manusia. Allah ingin berbagai dalam kemuliaan hidup batin-Nya. Prolog
diawali dengan frasa “pada awalnya” yang merujuk pada frase yang sama dalam Kitab
Kejadian. Suasana ini ingin menunjukkan keselarasa antara Injil Yohanes dengan Perjanjian
Lama terkhusus dalam Kitab Kejadian. Beberapa tema selaras yang muncul adalah tentang
tema kisah penciptaan serta tema tentang terang dan gelap.25
Di ayat 14 terdapat kata “menjadi”. Kata kerja ini dalam bahasa Yunani adalah ginomai.
Hal ini mencerminkan suatu perpindahan yang kekal temporal. Yesus hadir dalam sejarah
hidup manusia. Yesus Sang Sabda yang hadir menyejarah itu memiliki peran dalam
kehidupan manusia yaitu “membuat orang menjadi tinggal” dalam Allah (ayat 14b). Kata
tinggal di sini juga dikaitkan dengan kata skenos yang berarti “tabernakel” atau “kemah”.
Tabernakel atau kemah adalah tempat di mana Tuhan berbicara kepada Musa dalam Kel 33:9
dan sebagai tempat di mana Kemuliaan Tuhan nampak (Kel 40:34). Di dalam komunitas
hidup kristiani, Yesuslah yang menjadi tempat di mana manusia dapat melihat dan
mengenali Allah. Oleh karena itu, manusia dapat melihat kemuliaan yang diberikan oleh
Allah. 26
5. Kesimpulan
Prolog Injil Yohanes menggambarkan Sabda yang bersama-sama dengan Allah
berinkarnasi menjadi manusia. Sabda tinggal bersama dengan manusia dan menjadi daging.
Dengan tinggalnya Sabda ke dunia bersama dengan manusia, Allah dapat diamati. Allah yang
mulia dapat dilihat secara nyata dalam manusia. Tujuan dari tinggalnya manusia ke dalam
dunia adalah untuk menampakkan kemuliaan Allah bagi manusia agar manusia dapat percaya
kepada Allah. Dengan manusia percaya kepada Allah, maka kelak manusia akan tinggal
bersama Allah dan juga bersama dengan Putra dalam Rumah Bapa.
6. Daftar Pustaka
St. Eko Riyadi. 2011. Yohanes; FIrman menjadi Manusia. Yogyakarta. Kanisius.
Martin Suhartono,SJ. 2009. Tafsir Injil Yohanes. Yogyakarta. Fakultas Teologi
Wedabhakti.
23
J. D. Douglas (Ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1: A-L, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1992),
440
24
Martin Suhartono,SJ, Tafsir Injil Yohanes, (Yogyakarta: Fakultas Teologi Wedabhakti, 2009), 51
25
St. Eko Riyadi, Yohanes; FIrman menjadi Manusia, ( Yogyakarta: Kanisius, 2011) ,65
26
St. Eko Riyadi, Yohanes; FIrman menjadi Manusia, ( Yogyakarta: Kanisius, 2011), 65
J. D. Douglas (Ed.). 1992. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1: A-L. Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih.
Sheri D Kling. Wisdom Became Fles: An Analysis of The Prologus to the Gospel of John,
dalam Jurnal: Currents in Theology and Mission Vol.40, No.3 (June 2013).
Laurens Tutupoly, “Ketuhanan dan Kemanusiaan Yesus Kristus Berdasarkan Injil
Yohanes 1:1-18”,dalam Jurnal Pendidikan Afama Kristen Regula Fidei.
Dr. Harun Hadiwijana. 2007. Iman Kristen. Jakarta. Gunung Mulia.
Neal [Link] OSM. 2002. Yohanes, dalam Dianne Bergant dan Robert Karvis,
Tafsir Alkitab Perjanjian Baru. Yogyakarta. Kanisius.
Michael Keene, 2007, Yesus , Yogyakarta: Kanisius
A.S Hadiwiyata. 2008. Tafsir Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius.
__. 1992. The Life Study Bible, Life Publishers International,