0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
397 tayangan5 halaman

Modul 3 Rangkuman

Dokumen tersebut membahas beberapa komponen pendukung manajemen berbasis sekolah seperti peningkatan kemampuan personel, pelatihan guru, pendanaan pendidikan berbasis sekolah, dan reorientasi pengawasan sekolah. Dokumen ini juga membahas pentingnya melibatkan berbagai pihak terkait seperti komite sekolah dan masyarakat dalam manajemen dan pendanaan pendidikan berbasis sekolah.

Diunggah oleh

Pipit Dyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
397 tayangan5 halaman

Modul 3 Rangkuman

Dokumen tersebut membahas beberapa komponen pendukung manajemen berbasis sekolah seperti peningkatan kemampuan personel, pelatihan guru, pendanaan pendidikan berbasis sekolah, dan reorientasi pengawasan sekolah. Dokumen ini juga membahas pentingnya melibatkan berbagai pihak terkait seperti komite sekolah dan masyarakat dalam manajemen dan pendanaan pendidikan berbasis sekolah.

Diunggah oleh

Pipit Dyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Pipit Dyah Palupi

NIM : 857794607

Kelas : S-1 PGSD SLTA

MODUL 3 Kebijakan Pemerintah untuk Menjamin Manajemen Berbasis Sekolah

KB 2. Mempersiapkan Komponen Pendukung Manajemen Berbasis Sekolah

Menyiapkan sekolah untuk melaksanakan MBS harus merupakan satu paket sosialisasi
dengan memperhatikan hubungan antarelemen terkait dalam manajemen sekolah sesuai
kaidah MBS. Kalau tidak demikian, akan timbul banyak salah paham di antara pelaksana dan
birokrasi sebagai bagian dari sistem yang mendukung.

A. Peningkatan Kemampuan Personel


Manajemen Berbasis Sekolah bukan sekadar memerlukan kewenangan yang lebih
luas. Tetapi di balik itu mensyaratkan kemandirian orang-orang yang terlibat di dalam
pengelolaan satuan pendidikan tersebut.
Untuk meningkatkan kemampuan personel dalam mendukung MBS ada beberapa
kegiatan yang dapat dilakukan :
1. Training-Workshop Manajemen pola MBS
Penerapan MBS memerlukan praktik kepemimpinan kolektif, kolaboratif, dan
partisipatif. Dari alasan tersebut, maka perlu diadakan workshop-training
bersama, yang diikuti oleh Kepala Sekolah, Guru dan Pengurus Komite Sekolah.
Slah satu materinya. Antara lain adalah perencanaan sekolah yang berwawasan
[Link] pada umumnya materi training ialah dasar-dasar konsep MBS, dasar-
dasar kebijakan/hukum, pengalaman praktik dan model pelaksanaan MBS dalam
kerangka Sisdiknas yang berorientasi pada mutu. Selain satuan pendidikan yang
diundang, perlu diikutsertakan juga para pengawas sekolah. Di dalam workshop,
kelompok pengawas harus merumuskan peran baru yang mendukung keberhasilan
MBS.
2. Training Kemampuan Profesional Guru/Tenaga Kependidikan
Kemampuan guru untuk mandiri sesuai tuntutan KBK, merupakan bagian penting
dalam pelaksanaan MBS. KBK akan berjalan lancar kalau didukung manajemen
yang berpola MBS. Dalam pelatihan guru, ada dua kategori, yaitu bersifat
remedial (memperbaiki kelemahan guru terutama dalam penguasaan
substansi/materi) dan yang bersifat fine-tuning (memperkenalkan model-model
pembelajaran baru dan inovasi lainnya. Selesai pelatihan mereka harus benar-
benar dapat melaksanakan tugas secara profesioanl dan mandiri.
3. Training-workshop bagi Kelompok Kerja Pengembang dan Pendamping MBS
Kelompok kerja yang terdiri dari orang-orang potensial perlu disiapkan, bukan
hanya melalui seleksi Dinas Pendidikan, tetapi harus diberi training-workshop
tentang MBS dan implementasinya di sekolah. Diharapkan KKPP ini menjadi
agen teknis berbagai pembaruan yang dilakukan, dan dapat dimobilisasikan oleh
dinas setempat sesuai keperluan.
B. Pendanaan Pendidikan Berbasis Sekolah
Salah satu elemen penting dalam pelaksanaan MBS adalah pendanaan dalam bentuk
hibah (grant) langsung pada setiap sekolah, kemudian oleh sekolah yang
bersangkutan dikelola sendiri dengan melibatkan komite sekolah terutama dalam hal
peruntukannya. Mengingat pentingnya masalah pendanaan sekolah dalam rangka
pelaksanaan MBS maka perlu dikaji landasan hukum, dasar-dasar kebijakan dalam
menentukan pendanaan sekolah, dan formula pendanaan sekolah yang memenuhi
prinsip-prinsip persamaan, keadilan, transparasi dan mendukung upaya peningkatan
mutu.
1. Landasan Hukum
Dalm Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, ketentuan mengenai Pendanaan Pendidikan diatur dalam Bab XIII pasal
46,47,48,49, masing masing pasal mengatur tentang Tanggung Jawab Pendanaan,
Sumber Pendanaan Pendidikan, Pengelolaan Dana Pendidikan dan Pengalokasian
Dana Pendidikan. Selain itu, terdapat pasal lain yang menyangkut Wajib Belajar
(Pasal 34) dan Pendidikan Berbasis Masyarakat (Pasal 55) yang terkait dengan
masalah pendanaan.
2. Formula Pendanaan Sekolah
Formula Pendanaan memiliki dua prinsip, yaitu :
a. Prinsip Kecukupan
Untuk menjamin prinsip kecukupan dalam pendanaan sekolah perlu dilakukan
perhitungan satuan biaya per anak untuk setiap bentuk satuan jenjang dan jenis
sekolah. Pendanaan sekolah dengan block grant atau hibah yang layak (UU
No. 20 Tahun 2003) dihitung berdasarkan jumlah siswa dikali biaya per siswa
nampak sudah baik, tetapi jika diteliti lebih jauh belum mencukupi prinsip
[Link] yang kaya, sedang dan kurang diperlakukan sama, padahal
kebutuhannya berbeda. Oleh karena itu, perlu ada perumusan kebijakan
pendanaan yang berprinsip kelayakan dan keadilan.
b. Prinsip Keadilan
Untuk memastikan setiap murid memperoleh layanan pendidikan yang layak
maka di samping satuan biaya per siswa dihitung secara layak, perlu
memerhatikan unsur-unsur penentu yang merupakan ciri sasaran perhitungan.
Unsur-unsur penentu tersebut antara lain :
1) Jenis dan bentuk satuan dan jenjang pendidikan.
2) Pada setiap bentuk satuan, jenjang, dan jenis yang sama, terdapat
perbedaan.
3) Biaya minimal atau biaya tetap (fix cost)
Biaya minimal adalah dana minimal yang harus dialokasikan ke skolah
berdasarkan kebutuhan minimal agar pengelolaan sekolah dapat berjalan
semestinya, tanpa memperhitungkan jumlah murid pada sekolah tersebut.
Biaya ini tidak dapat dikurangi. Bila dikurangi dapat mengganggu proses
pembelajaran.
4) Kombinasi banyaknya murid dan status sosial ekonomi.
Perhitungan biaya tambahan pada fix cost tidak disamaratakan,mengingat
ada sekolah yang secara ekonomi kuat, sedang dan lemah. Dengan
demikian terumuskan sebagai berikut :
ADSM = BMmbt + (Jms – mbt) x (IKSM) x (BSLM)
Ket :
ADSM : Alokasi Dana Masing masing Sekolah
BMmbt : Biaya minimal dengan jumlah murid sesuai batas yang
ditetapkan
Jms : Jumlah murid seluruhnya pada satuan pendidikan yang
bersangkutan
IKSM : Indeks Kategori Sekolah
BSLM : Biaya Satuan Layak per Murid
3. Bantuan Pendanaan bagi Sekolah Swasta (Dikelola oleh masyarakat)
Jika diteliti kembali pada Pasal 55 ayat (3) & ayat (4) terdapat dua hal penting,
salah satunya ialah bahwa lembaga pendidikan berbasis masyarakat dapat
memperoleh subsidi dan dan sumber daya lain secara adil dan merata dari
Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah. Hal itupun sama dengan Sisdiknas UU
No 20 Tahun 2003.
Hal yang ditunggu oleh penyelenggara sekolah swasta adalah kepastian subsidi
yang adil dan transparan. Pendanaan pendidikan yang terbatas bagi sekolah swasta
ditambah dengan kebijakan yang formulanya tidak jelas, tidak tegas dan kurang
transparan akan berakibat pada praktik negatif dan fitnah yang memojokan suatu
birokrasi.
4. Kebijakan Makro dan Mezzo Pendanaan Pendidikan Berbasis Sekolah
Dalam hal pendanaan sekolah, sangat bergantung dari bagaimana sikap
Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Bolanya ada di kebijakan makro (pusat) dan
mezzo (pemerintah daerah). Bila masalah tidak segera diperjelas maka semua
pembaruan dengan berbagai argumentasi yang tampaknya secara teknis
menjanjikan tidak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Bagi berbagai pihak
yang selalu menginginkan efektivitas, efisiensi, transparasi, dan akuntabilitas,
model pendanaan pendidikan dengan “hibah” langsung ke sekolah adalah sesuatu
yang sangat menjanjikan.
C. Reorientasi Kepengawasan Sekolah, Lembaga, Training Guru dan Tenaga
Kependidikan Serta Pengaturan Sarana dan Monitoring.
1. Kepengawasan
Tugas kepengawasan menurut Sisdiknas menjadi tanggung jawab Pemerintah,
Pemerintah Daerah, Dewan Pendidikan, dan Pengurus Komite Sekolah.
Kepengawawan berfungsi sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Daerah,
mereka juga harus berkoordinasi dengan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah
dan dalam era transparan, peran lembaga yang mewakili masyarakat sering
dianggap lebih dipercaya. Namun di setiap Pemerintah Daerah, sudah ada
Bawasda. Oleh karena itu, kepengawasan sekolah harus jelas bidang tugasnya.
Oleh karena itu, fungsi pengawas sekolah jika akan diefektifkan untuk membantu
profesionalisme guru dan tendik dalm praktik, perlu dirumuskan kembali.
2. Lembaga Pelatihan Guru dan Tendik
Lembaga Pelatihan Guru dan Tendik yang semula bersikap supply driven perlu
berubah menjadi demand driven.
3. Pengaturan Kembali Kebijakan Pengadaan Penyediaan Sarana dan Prasarana
pendidikan
Pengadaan/penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang semula dilakukan
secara terkonsentrasi baik di pusat maupun di daerah perlu diatur [Link]-jenis
sarana dan prasarana yang pengadaannya dapat dilakukanoelh sekolah perlu
diserahkan tanggungjawabnya kepada sekolah. Dan apa-apa yang dapat diadakan
oleh sekolah, dan jenis sarana apa yang pengadaanya perlu dipusatkan dan
dilaksanakan oleh Dinas Kabupaten/Kota. Sementara di daerah yang sulit,
terpencil atau sekolah di daerah bencana dapat saja ditangani secara terpisah
(sesuai dengan Pasal 45 ayat 1). Begitu pula mengenai standar nasional yang juga
mencakup standar sarana dan prasarana perlu dirumuskan secara arif.
4. Monitoring dan Evaluasi MBS
Sesuai tatanan Sisdiknas dalam pelaksanaan NMS yang baik, unsur monitoring,
evaluasi ataupun pengawasan bersifat melekat karena pengelolaan pendidikan
pada satuan pendidikan adalah pengelolaan bersama antara unsur sekolah dan
orangtua murid serta masyarakat. Pesoalannya dalam tahap – tahap awal
implementasi seperti sekarang apakah Dewan Pendidikan, Komite Sekolah, dan
Sekolah sudah melaksanakan tugas masing-masing sesuai fungsinya yang benar,
masih menjadi pertanyaan. Siapa yang mengawasi pengawas masih menjadi
problem sebelum suatu sistem membudaya secara baik. Maka dari itu, perlu
adanya pemonitoran dan evaluasi pelaksanaan MBS.
Kb. 1 Standar Pelayanan Minimal Pengelolaan Pendidikan

Kalau MBS ditujukan utk efektivitas (mutu) dan efisiensi pengelolaan serta akuntabilitasnya
kpd berbagai stakeholders, maka SPM menjadi permasalahan pokok dlm pencapaian
kualitasnya.

Pasal 51 ayat (1) Undang-undang No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pengelolaan satuan
pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan
berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis
sekolah/madrasah.

Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang


Pendidikan Dasar dan Menengah diatur dalam Surat Keputusan Mendiknas Nomor
035/U/2001.

Standar Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Pendidikan Dasar dan


menengah yang selanjutnya disebut SPM Persekolahan Bidang Pendidikan Dasar dan
Menengah adalah spesifikasi teknis sebagai patokan pelayanan minimal yang wajib dilakukan
oleh daerah kabupaten dan daerah kota dalam menyelenggarakan kegiatan persekolahan di
bidang pendidikan dasar dan menengah.

Pedoman penyusunan SPM Persekolahan bidang Pendidikan Dasar dan Menengah bertujuan
untuk memberikan acuan kepada provinsi berkenaan dengan pelayanan minimal yang wajib
dilakukan oleh daerah kabupaten dan daerah kota agar penyelenggaraan kegiatan pelayan
persekolahan kepada masyarakat di bidang pendidikan dasar dan menengah dapat mecapai
hasil sesuai indikator yang ditentukan.

Standar Pelayanan Minimal Persekolahan bidang Pendidikan Dasar dan Menengah


sekurang-kurangnya memuat dasar hukum, tujuan, standar kompetensi,
kurikulum/program kegiatan belajar, peserta didik, ketenagaan, sarana dan prasarana,
organisasi, pembiayaan, peran serta masyarakt, manajemen sekolah, dan indikator
keberhasilan.

Daerah dapat mengembangkan dan atau menambah sistematika dan substansi SPM
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan pedoman SPM sebagimana dimaksud dalam ayat
(2), sesuai dengan potensi, tuntutan, dan perkembangan daerah yang bersangkutan dalam
rangka meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah.

Menyiapkan sekolah untuk melaksanakan MBS harus merupakan satu paket sosialisasi
dengan memperhatikan hubungan antar elemen terkait dalam manajemen sekolah sesuai
kaidah MBS. Kalau tidak demikian, akan timbul banyak salah paham diantara pelaksana dan
birokrasi sebagai bagian dari sistem yang mendukung.

Tiga masalah penting dalam menyiapkan MBS yaitu pertama, kesipaan personel yang terlibat
dalam pelaksanaan. Kedua, kepastian pendanaan yang dikelola sekolah. Ketiga, dipahaminya
sistem penyelenggaraan dan pengelolaan sekolah.

Anda mungkin juga menyukai