RESIDU KLORIN
. JUDUL : RESIDU KLORIN
II. TUJUAN : Mengetahui kadar klorin dalam air
III. TINJAUAN PUSTAKA
Clorinasi air ditujukan untuk membunuh mikroorganisme (desinfektan). Namun kadang juga
menimbulkan bau yang tidak enak. Clorinasi biasa terdapat dalam bentuk bebas (sebagai hipoklorit
atau hipoklorat) dan dalam bentuk terikat misalnya chloramine. Klorida atau Cl dalam bentuk bebas
ditentukan sebagai Cl2 sebaiknya tidak terdapat dalam air minum.
Tujuan clorinasi pada pipa air minum maupun air tercemar :
1. Membunuh mikroba
2. Meningkatkan kualitas air karena klor bereaksi dengan ammonia, besi, mangan, sulfide dan beberapa
senyawa organic lain yang terdapat dalam air minum.
Prinsip reaksi oksidasi reduksi yang terjasi I 2 dan F (Iodometri)
Reaksi :
CaCl(OCl) + 2KI + H2SO4 CaCl2 + K2SO4 + H2O + I2
2Na2S2O3 + I2 2NaI + Na2S2O3
Korin merupakan bahan oksidasi yang popular untuk pengolahan air limbah. Klorin adalah suatu zat
pasteurizer yang efektif dan juga penting untuk penguraian campuran organik, hydrogen sulfide dan
cyanide didalam air.
Untuk menentukan dosis disinfektan yang dibubuhkan, perlu dilakukan percobaan Daya Pengikat
Klor (DPK) yang pada dasarnya ditentukan dengan cara selisih antara klor yang dibubuhkan dengan
sisa klor setelah kontak 30 menit. Pemeriksaan & pengukuran sisa klor bebas dapat dijadikan satu
indikator yang bisa dimanfaatkan untuk mendapat jaminan keamanan bakteriologis air tersebut.
Berikut beberapa kegunaan klorin:
a. Memiliki sifat bakterisidal dan germisidal.
b. Dapat mengoksidasi zat besi, mangan, dan hydrogen sulfide.
c. Dapat menghilangkan bau dan rasa tidak enak pada air.
d. Dapat mengontrol perkembangan alga dan organisme pembentuk lumut yang dapat mengubah bau
dan rasa pada air.
e. Dapat membantu proses koagulasi.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor:416/[Link]/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat
Dan Pengawasan Kualitas Air, kadar klor yang diperbolehkan adalah minimal 0,2 mg/L dan maksimal
0,5 mg/L. Tujuan klorinasi pada air adalah untuk mempertahankan sisa klorin bebas sebesar 0,2 mg/l
dalam air. Nilai tersebut merupakan margin of safety (nilai batas keamanan) pada air untuk membunuh
kuman pathogen yang mengantominasi pada saat penyimpanan dan pendistribusian air.
IV. ALAT DAN BAHAN
Alat:
1. Erlenmeyer
2. Buret
3. Klem
4. Statif
5. Plastik
6. Pengikat (karet)
Bahan:
1. Larutan KI 20%
2. Larutan H2SO4 4 N
3. Larutan Amylum 1%
4. Larutan Na2S2O30,05 N
V. CARA KERJA
Standarisasi larutan Na2S2O3
1. 10 ml larutan KIO3 dimasukkan dalam erlenmeyer
2. Menambahkan 5 ml larutan H2SO4
3. Menambahkan 5 ml larutan KI 20%
4. Menitrasi dengan Na2S2O3 sampai berwarna kuning muda
5. Menambahkan 1 pipet amylum 1%
6. Melanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang
Percobaan pada sampel
1. 20 ml sampel dimasukkan dalam erlenmeyer
2. Menambahkan 5 ml larutan H2SO4
3. Menambahkan 5 ml larutan KI 20%
4. Menitrasi dengan Na2S2O3 sampai berwarna kuning muda
5. Menambahkan 1 pipet amylum 1%
6. Melanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang
Kadar Cl =
VI. HASIL PERCOBAAN
Pembuatan larutan standar primer
Berat KIO3
Data penimbangan :
Kertas timbang + KIO3 = 469,0 mg
Kertas timbang + sisa = 287,5 mg
KIO3 = 181,5 mg
Koreksi Kadar KIO3
Standarisasi larutan Na2S2O3
Pembacaan buret :
1. 10,1 ml
2. 10,1 ml
3. 10,1ml
Volume rata – rata = 10,1 ml
Perhitungan :
( V x N ) KIO3 = ( V x N ) Na2S2O3
10x 0,0509 = 10,1 x N
Normalitas Na2S2O3 = 0,0504 N
Sampel nomer 4A
Tidak terbentuk warna coklat pada penambahan KI, sehingga sampel 4A tidak mengandung klorin.
Sampel nomer 4B
Pembacaan buret :
1. 1,5 ml
2. 1,2ml
3. 1,4ml
Volume rata – rata = 1,45 ml
Kadar Cl =
=
= 259,07 gram/ml
VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum Residu Klorin, tujuannya adalah Mengetahui kadar klorin dalam air. Klorin adalah
suatu zat pasteurizer yang efektif dan juga penting untuk penguraian campuran organik, hydrogen
sulfide dan cyanide didalam air. Clorinasi air ditujukan untuk membunuh mikroorganisme (desinfektan).
Prinsip penentuan residu klorin adalah reaksi oksidasi reduksi (Iodometri)
Sebelum melakukan titrasi iodometri adalah standarisasi larutan Na 2S2O3, yaitu dengan memipet 10
ml larutan KIO3 dimasukkan dalam erlenmeyer. Tambahkan 5 ml larutan H 2SO4 dan 5 ml larutan KI
20%. Titrasi dengan Na2S2O3 sampai berwarna kuning muda kemudian tambahkan 1 pipet amylum 1%
dan dilanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang. Dari praktikum standarisasi didapatkan hasil
Normalitas larutan Na2S2O3 sebesar 0,0504 N.
Untuk percobaan pada sampel adalah dengan memipet 20 ml sampel dimasukkan dalam
erlenmeyer. Tambahkan 5 ml larutan H 2SO4 dan 5 ml larutan KI 20%. Titrasi dengan Na 2S2O3 sampai
berwarna kuning muda kemudian tambahkan 1 pipet amylum 1% dan melanjutkan titrasi sampai warna
biru tepat hilang. Reaksi :
CaCl(OCl) + 2KI + H2SO4 CaCl2 + K2SO4 + H2O + I2
2Na2S2O3 + I2 2NaI + Na2S2O3
Untuk menghitung kadar klorin dalam air adalah dengan rumus :
Kadar Cl =
Dari hasil percobaan dan perhitungan didapatkan hasil bahwa pada sampel 4A tidak terbentuk warna
coklat pada penambahan KI, sehingga sampel 4A tidak ada residu klorin dan sampel 4B kadar Cl
sebesar 259,07 gram/ml.
VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum Residu klorin yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pada sampel 4A
tidak ada residu klorin dan sampel 4B kadar Cl sebesar 259,07 gram/ml.
IX. DAFTAR PUSTAKA
Khuntari, w. 2012. KLORINASI. Online :[Link] Diakses
pada tanggal 25 September 2014.
Sunardi. 2007. Petunjuk Praktikum Analisis Pengolahan Limbah. Surakarta : Jurusan D-III Analis Kimia
Fakultas Teknik Universitas Setia Budi.
Metode Titrimetri dan Termokimia
Klimenko [28] dan Salzer [29] mengembangkan a
metode titrimetri berdasarkan reaksi dengan
kalium iodida. HOCl juga telah
ditentukan dengan titrasi dengan metil berair
oranye minimal 0,5 mg Cl / l) [30] sementara
Stojkovic et al [31] mengembangkan metode untuk
penentuan konstanta disosiasi berdasarkan
pengukuran pH dalam 5M NaCl. Nilai
diukur dari intersep dan kemiringan a
garis lurus dan dari termodinamika
pengukuran. Denis [32] dilakukan
studi termokimia pada hipobrom dan
HOCl di mana derajat Delta H ditentukan.
KESIMPULAN
Meskipun HOCl adalah agen antimikroba yang kuat
dan memiliki kelebihan seperti non-toksisitas dalam
jaringan biologis dan ramah lingkungan, itu
memiliki aplikasi terbatas karena penurunannya
kemanjuran antimikroba dengan adanya organik
penting dan stabilitas penyimpanan rendah. HOCl hadir
dalam banyak wadah yang digunakan sebagai komersial
produk dan mengikuti masing-masing menggunakan, jumlah
HOCl berkurang. Oleh karena itu, penentuan
HOCl dengan berbagai metode analitik adalah
perlu.