Seminar MIPA: Inovasi Berbasis Lokal
Seminar MIPA: Inovasi Berbasis Lokal
PROSIDING
TEMA:
“PERAN PENDIDIK SEBAGAI INOVATOR PEMBELAJARAN MIPA
BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM KONTEKS
MERDEKA BELAJAR”
DITERBITKAN OLEH:
Susunan Panitia
Diterbitkan oleh:
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Persatuan Guru Repubik Indonesia
STKIP PGRI Banjarmasin
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur, Alhamdulillah, kita panjatkan Hadirat Allah SWT, Tuhan YME,
karena limpahan rahmat dan karunianya, STKIP PGRI Banjarmasin bisa
menyelenggarakan Webinar Nasional Pendidikan MIPA dengan tema “Peran Pendidik
sebagai Inovator Pembelajaran MIPA Berbasis Kearifan Lokal dalam Konteks
Merdeka Belajar”. Webinar ini adalah hasil kolaborasi tiga program studi di STKIP
PGRI Banjarmasin, yakni Program Studi Pendidikan Matematika, Program Studi
Pendidikan Biologi, dan Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi. Ada empat
narasumber utama webinar nasional ini yaitu Prof. Dr. Hj. Rahayu Kariadinata, M. Pd,
Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, MLS., Ph. D, Dr. Ir. Paristiyanti Nurwardani, MP,
dan Dr. Siti Ramdiah, [Link]. Webinar kali ini selain sesi utama, juga ada sesi paralel,
yang diikuti oleh 44 pemakalah dari berbagai background, baik dosen, peneliti, guru,
yang artikelnya akan dimuat pada prosiding ini.
Tak lupa, kami mengucapkan terimakasih, kepada seluruh pihak yang telah
membantu kelancaran acara ini, utamanya untuk Ketua PPLP, Drs. H. Dahri, MM. dan
ketua STKIP PGRI Banjarmasin, Dr. Hj. Dina Huriaty, M. Pd, serta para pemakalah,
sehingga Prosiding Webinar Nasional Pendidikan MIPA dengan tema “Peran Pendidik
sebagai Inovator Pembelajaran MIPA Berbasis Kearifan Lokal dalam Konteks
Merdeka Belajar” ini dapat diselesaikan. Harapan kami, semoga prosiding ini dapat
memberikan sumbang sih referensi bagi para pembaca sekalian. Aamiin YRA.
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur dipanjatkan ke-Hadirat Allah SWT, karena atas izin-Nya maka
Prosiding Webinar Nasional Pendidikan MIPA tahun 2020 dapat diterbitkan.
Prosiding Webinar Nasional Pendidikan MIPA ini merupakan kumpulan
makalah yang disampaikan dalam kegiatan Webinar Nasional Pendidikan MIPA yang
diselenggarakan oleh tiga Program Studi di STKIP PGRI Banjarmasin, yaitu Program
Studi Pendidikan Biologi, Program Studi Pendidikan Matematika, dan Program Studi
Pendidikan Teknologi Informasi. Dengan mengangkat tema “Peran Pendidik sebagai
Inovator Pembelajaran MIPA Berbasis Kearifan Lokal dalam Konteks Merdeka
Belajar, Prosiding ini memuat dan menyebarluaskan hasil penelitian, karya-karya
inovatif dan kajian-kajian kreatif dan ilmiah para pendidik.
Ucapan terima kasih kepada ketua PPLP-PT PGRI Banjarmasin, Panitia,
Pembicara, Pemakalah, serta seluruh dosen, mahasiswa dan alumni STKIP PGRI
Banjarmasin atas dukungan dan partisipasinya, baik saat pelaksanaan seminar hingga
terbitnya prosiding ini. Semoga prosiding ini dapat menjadi wahana inspirasi dan
informasi bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan. Aamiin.
v
DAFTAR ISI
vii
POTENSI PEMANFAATAN TUMBUHAN BAMBU SEBAGAI PENGEMBANGAN INDUSTRI
KREATIF KERAJINAN TANGAN ANYAMAN BAKUL DI DESA HARATAI KECAMATAN
LOKSADO
Dina, Yulianti Hidayah, & Fujianor Maulana | 57
VALIDITAS RPP BERBASIS STEAM PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN MANUSIA KELAS
VIII SMP
Miranti, Hj. Rezky Nefianthi, & Budi Prayitno | 121
Efektifitas Media Pertumbuhan Maggots Hermetia Illucens (Lalat Tentara Hitam) Dalam
Pemanfaatan Sampah Organik Dengan Cara Rekayasa Biokonversi
Muhammad Anwar, Lagiono, & Syahbudin | 137
viii
MANAJEMEN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DI SMA NEGERI KOTA BANJARMASIN PASCA
DESENTRALISASI PENDIDIKAN
Noor Fazariah Handayani & Nadya Huda | 151
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA SMP NEGERI 29 HULU SUNGAI
TENGAH MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Ratmi Heldayanti, Rabiatul Adawiyah, & Nana Citrawati Lestari | 201
ix
VALIDITAS TES HASIL BELAJAR BERBASIS STEAM PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN
MANUSIA DI KELAS VIII SMP
Sophia Rahmi, Hj. Rezky Nefianthi, & Nana Citrawati Lestari | 247
VALIDITASI LEMBAR KERJA BIOLOGI SISWA (LKBS) BERBASIS STEAM PADA MATERI
SISTEM PERNAPASAN MANUSIA DI SMP
Suci Murni, Rezky Nefianthi Wahab, & Budi Prayitno | 255
x
PENTINGNYA KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU
Aulia Akbar1
1
STKIP Sebelas April Sumedang
akbaraulia224@[Link]
ABSTRAK
Kualiatas seoang guru dapat diukur dari seberapa besar guru menguasai empat
kompetensi yang ada. Keempat kompetensi tersebut yaitu: kompetensi pedagogik,
kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi keperibadian. Dalam
praktiknya da satu kompetensi yang membedakan antara guru dan profesi lainnya yaitu
kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi yang mutlak
dimiliki oleh guru sekaligus kompetensi ini merupakan kompetensi yang membedakan
guru dengan profesi lainnya. Kompetensi ini mencakup pengetahuan dan keterampilan
yang luas serta mendalam mengenai karakteristik siswa serta psikologi siswa. dengan
menguasai kompetensi ini diharapkan guru dapat lebih efektif dan efisien dalm
berinteraksi dengan siswa serta dapat memacahakan permasalahan yang terjadi pada
siswa. Agar dapat mengembangkan diri, seorang guru harus selalu mengasah
pengetahuan dan keterampilan menganai pembelajaran dan siswa. beberapa cara yang
dapat dilakukan guru dalam mengasah kemempuannya yaitu: rajin rmembaca buku-buku
pendidikan, membaca dan menulis karya tulis ilmiah, mengikuti berita aktual dari media
pemberitaan, serta mengikuti pelatihan.
ABSTRACT
The quality of a teacher can be measured by how much the teacher has mastered the four
existing competencies. The four competencies are : pedagogical competence, social
competence, professional competence, and personal competence. In practice, there is one
competency that distinguishes teachers and other professions, namely pedagogical
competence. Pedagogic competence is a competency that is absolutely possessed by
teachers as well as this competency that differentiates teachers from other
professions. These competencies include broad and in-depth knowledge and skills
regarding student characteristics and student psychology. By mastering this competency,
it is hoped that the teacher can be more effective and efficient in interacting with students
and can solve problems that occur to students. In order to develop themselves, a teacher
must always hone knowledge and skills regarding learning and students. There are
several ways that teachers can hone their skills, namely: diligently reading educational
books, reading and writing scientific papers, following actual news from the news media,
and attending training.
PENDAHULUAN
Guru merupakan salah satu profesi yang mulia dan terhormat. Gurulah yang
memegang kendali dalam mencetak peradaban dan kemajuan suatu generasi. Begitu
pentingnya peranan seorang guru telah dibuktikan kaisar Jepang pada masa perang
saat melawan sekutu, dimana ketika dua kota terbesar di negara Jepang yaitu, Hirosima
dan Nagasaki di bom atom oleh sekutu yang menewaskan mayoritas penduduknya.
Ketika bencana aitu terjadi ada hal yang paling penting ditanyakan oleh kaisar pada
1
waktu itu adalah “berapa orang guru yang tersisa”. Hal imi membuktikan peranan guru
yang sangat besar bagi kemajuan suatu negara.
Dibalik pentingnya peranan seorang guru bagi kemajuan suatu bangsa terselip
tanggung jawab yang tidak mudah. Guru diharapkan mampu mengenguasai berbagai
keterapilan-keterampilan yang dibutuhkan dalam rangka menjadikan profesi guru
menjadi profesional. Dalam sistem pendidikan di Indonesia telah diatur kompetensi
yang harus dimiliki oleh guru dalam menjalankan kewajibannya. Kompetensi berasal
dari kata competency, suatu kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh seseorang
dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas di bidang tertentu, sesuai dengan
jabatan yang disandangnya. Pada hakikatnya kompetensi merupakan gambaran
mengenai terampilnya seseorang dalam melakukan suatu kegiatan atau tugas yang
diembannya secara nyata dan dapat diukur dengan pasti. Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dijelaskan bahwa,
kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus
dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas
keprofesionalan [1]. Undang-undang Guru dan Dosen No.14/2005 Pasal 10 ayat 1 Dan
Peraturan Pemerintah No.19/2005 pasal 28 ayat 3 juga menyatakan hal yang sama hal
tersebut diungkapkan Suprihatiningrum menyatakan bahwa, kompetensi guru meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi
profesional. Keempat kompetensi tersebut memiliki berbagai indikator/komponen
tersendiri, namuan keseluruh indikator/komponen memiliki keterkaitan yang erat
antara satu dengan yang lainnya. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat di katakan
syarat agar guru menjadi guru yang profesional hauslah menguasai ke empat
keterampilan tersebut. Empat pilar ini yang menjadi bekal dalam membangkitkan
kualitas pendidikan di Indonesia [2].
Salah satu kompetensi yang mutlak dan yang menjadi pembeda antara guru
dengan profesi lainnya adalah kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik ini berisi
kecakapan-kecakapan yang dibutuhkan seorang guru agar menjadi guru yang
profesional.
PEMBAHASAN
Secara etimologis kata pedagogi berasal dari kata bahasa Yunani, paedos dan
agagos (paedos=anak dan agage = mengantar atau membimbing) karena itu pedagogi
berarti membimbing anak. Membimbing dalam arti memberikan moral, pengetahuan
serta keterampilan kepada siswa. Dalam kaitannya dengan pembelajaran di kelas,
kompetensi pedagogis ini merupakan bekal bagi seorang guru dalam memasuki dunia
pendidikan yang sekaligus dalam peraktiknya berhubungan erat dengan siswa.
Siswa merupakan individu yang belum matang secara fisik dan mental, maka
perlu adanya bimbingan dari orang dewasa dalam mempelajari berbagai hal baik
dalam lingkungan sosial, spiritual, dan alam. Kompetensi pedagogik merupakan
kemampuan guru yang berkenaan dengan pemahaman terhadap peserta didik dan
pengelolaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantif, kompetensi
2
pedagogik ini menuntut agar seorang guru dapat memahami perkembangan peserta
didik, memahami menganai perancangan pembelajaran serta memahami bagimana
pelaksanaan pembelajaran, memahami bagaimana evaluasi pembelajaran, serta
memahami bagaimana peserta didik mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki
siswa. Tidak mengherankan bila kompetensi ini dianggap sebagai kompetensi yang
bersifat praktik dimana guru sebagai seorang yang berinteraksi langsung dengan siswa
mampunyai peran ganda tidak hanya sebagai pengajar namun sekaligus menjadi
pendidik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sari, Z. I., & Noe, [kompetensi
pedagogik merupakan kompetensi yang mempunyai kaitan yang sangat erat dengan
kinerja seorang guru. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa hubungan kompetensi pedagogik dengan kinerja mengajar guru yakni sebesar
46,7%, hal ini berarti bahwa semakin tinggi kompetensi pedagogik guru maka semakin
tinggi pula kinerja guru dalam mengajar [3].
Menurut Meutia, dkk. diantara keempat kompetensi tersebut terdapat satu
kompetensi yang membedakan guru dengan bidang profesi lainnya, yakni kompetensi
pedagogik. Seorang guru harus memiliki kompetensi pedagogik, dimana seorang guru
memiliki kemampuan dalam melaksanakan pembelajaran, baik dalam mengelola,
melaksanakan pembelajaran dan melakukan evaluasi pembelajaran [4]. Kompetensi
pedagogik ini menuntut seorang guru dalam memahami berbagai aspek dalam diri
siswa yang berhubungan dengan pembelajaran, adapun kompetensi pedagogik tersebut
meliputi:
1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural,
emosional, dan intelektual.
2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/bidang
pengembangan yang diampu.
4) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan
pembelajaran.
6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasi
berbagai potensi yang dimiliki.
7) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.
8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
9) Melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran [5].
Menguatkan pemaparan di atas Permendiknas No.16 Tahun 2007 tentang
Standar pendidik dan Kependidikan memaparkan bahwa, kompetensi pedagogik
merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran siswa yang sekurang-
kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut [2]:
1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan (kemampuan mengelola
pembelajaran)
2) Pemahaman terhadap peserta didik
3) Perancangan pembelajaran
3
4) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis
5) Pemanfaatan teknologi pembelajaran
6) Evaluasi hasil belajar
7) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan kompetensi
pedagogik merupakan kompetensi yang harus kuasai oleh guru dalam menjalankan
tugasnya. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang membedakan guru dengan
profesi lainnya. Maka dari itu, seorang guru mutlak menguasai kompetensi pedagogik.
Begitu penting eksistensi kompetensi pedagogik bagi sorang guru hingga
kualitas dari seorang guru dapat diukur sejauh mana penguasaan kompetensi tersebut.
Maka dari itu seorang guru haruslah terus mengambangkan kompetensi yang ada pada
dirinya. Pengembangan kompetensi menurut Asmaran dapat dilakukan dengan cara
berikut [6]:
a. Rajin Membaca Buku-Buku Pendidikan
Tidak dapat disangkal bahwa buku adalah gudangnya ilmu sekaligus melalui
jendela dunia. Dengan membaca seseorang dapat mengerti dan memahami suatu
materi maupun permasalahan. Guru sebagai seorang yang selalu berinteraksi
dengan siswa yang selalu berkembang seyogyanya terus mengembangkan
pengetahuan. Hal ini sangatlah penting karena dengan membaca guru dapat
mengerti permasalahan yang terjadi pada siswa serta mengetahui bagaimana
pemecahannya. Dengan membaca buku-buku pendidikan terutama yang
berhubungan pembelajaran mulai dari penguasaan karakteristik peserta didik dari
aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual, terori belajar,
kurikulum, teknologi pembelajaran, yang menjadikan pembelajaran lebih efektif
dan efisien.
b. Membaca dan Menulis Karya Ilmiah
Membaca dan menulis karya ilmiah merupakan kegiatan yang perlu dilakukan oleh
seorang guru dimana dengan membacan dan menulis karya ilmiah akan dapat
memperluas dan memperdalam pengatahuan guru akan suatu bidang permasalahan
yang dihadapinya. Dengan menulis juga dapat mengasah daya nalar sehingga lebih
peka terhadap permasalahan yang terjadi, selain itu dengan menulis karya ilmiah
dapat menmbah pengalaman dalam memperdalam keterampilan guru menyusun
rancangan pembelajaran secara sistematis.
c. Mengikuti Berita Aktual Dari Media Pemberitaan
Update terhadap perkembangan masa kini merupakan suatu tuntutan yang tidak
bisa diabaikan. Perkembangan jaman yang semakin modern akan melahirkan
permasalahan serta solusi yang baru. Sebagai seorang guru yang baik haruslah
dapat mengikuti apa yang terjadi pada lingkungan sekitar maupun masyarakat
global agar dapat mengikuti perkembangan siswa dengan baik. Mengetahui model
pembelajaran terbaru serta media pembelajaran yang dapat diunakan dalam
pembalajaran.
4
d. Mengikuti Pelatihan
Salah satu cara dalam mengupgrade pengetahuan dan keterampilan adalah
mengikuti pelatihan. Pelatihan biasanya diselenggarakan oleh lembaga yang
profesional atau instansi terkait yang ditunjuk pemerintah dalam mensosialisasikan
suatu kebijakan. Dengan mengikuti pelatihan ini guru dapat menambah
keterampilan dalam hubungannya dengan tugas yang sedang diemban. Pelatihan
mengenai model pembalajaran atau sosialisasi kurikulum dapat juga
diselanggarakan oleh interen sekolah. Kepala sekolah maupun pengawas menjadi
pemeteri bagi buru-guru.
Itulah beberapa cara dalam meningkatakan kompetensi pedagogik yang dapat
dilakukan oleh guru. namun demikian, kegiatan tersebut di atas haruslah dilakukan
secara berkelanjutan. Updating terhadap sesuatu yang bearu haruslah selalu dilakukan
guru demi menjaga kualitas dalam menjalankan kewajiban.
PENUTUP
Sebagai seorang guru yang baik dan profesional haruslah memiliki kompetensi
yang sesuai dengan profesinya. Terdapat empat ompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang guru agar menjadi seorang pengajar sekaligus pendidik yang profesional
yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan
kompetensi kepribadian.
Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi yang mutlak dimiliki oleh guru
sekaligus kompetensi ini merupakan kompetensi yang membedakan guru dengan
profesi lainnya. Kompetensi ini mencakup pengetahuan dan keterampilan yang luas
serta mendalam mengenai karakteristik siswa serta psikologi siswa. dengan menguasai
kompetensi ini diharapkan guru dapat lebih efektif dan efisien dalm berinteraksi
dengan siswa serta dapat memacahakan permasalahan yang terjadi pada siswa.
Agar dapat mengembangkan diri, seorang guru harus selalu mengasah
pengetahuan dan keterampilan menganai pembelajaran dan siswa. beberapa cara yang
dapat dilakukan guru dalam mengasah kemempuannya yaitu: rajin rmembaca buku-
buku pendidikan, membaca dan menulis karya tulis ilmiah, mengikuti berita aktual
dari media pemberitaan, serta mengikuti pelatihan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Mulyasa, E., Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. 2013. Hal. 25.
[2] Suprihatiningrum, J. Guru Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi &
Kompetensi Guru. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2014. Hal. 100.
[3] Sari, Z. I., & Noe, W. Hubungan Kompetensi Pedagogik Guru Dengan Kinerja
Mengajar Guru di SDIT Nurul Falah Kec. Tambun Utara Kab. Bekasi. Jurnal
Pedagogik, Vol. II, No. 1, hal. 52. 2014.
5
[4] Meutia, H., Johar, R., Ahmad, A. Kemampuan Mahasiswa Calon Guru
Menerapkan Penilaian Kinerja Untuk Menilai Hasil Belajar Siswa Dalam
Pembelajaran Matematika. Jurnal Peluang, Volume 1, N omor 2, hal. 20. 2013.
[5] Wahyudi, I. Panduan Lengkap Uji Sertifikasi Guru. (Jakarta: PT. Prestasi
Pustakarya. 2012. Hal. 22.
[6] Suprihatiningrum, J. Guru Profesional: Pedoman Kinerja, Kualifikasi &
Kompetensi Guru. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Hal. 101-103.
[7] Asmarani, N. Peningkatan Kompetensi Profesional Guru di Sekolah Dasar.
Bahana Manajemen Pendidikan. Jurnal Administrasi Pendidikan. Volume 2
Nomor 1, hal. 504-505. 2014.
6
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DI HUTAN MANGROVE PESISIR
PANTAI SWARANGAN KABUPATEN TANAH LAUT
ABSTRAK
Hutan mangrove salah satu ekosistem pesisir tropis atau subtropis yang sangat dinamis
serta mempunyai produktivitas, nilai ekonomis, dan nilai ekologis yang tinggi (Susetiono,
2005). Penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman tumbuhan di hutan mangrove
pesisir pantai Swarangan Kabupaten Tanah Laut. Jenis penelitian yang digunakan yaitu
deskriptif kuantitatif observasi langsung ke lapangan dengan metode VES (Visual
Encounter Survey/Survey Perjumpaan Visual) dengan kuadran, (daerah persegi dengan
berbagai ukuran). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 10 jenis tumbuhan di kawasan
hutan mangrove pesisir pantai Swarangan yaitu, Rhyzophora apiculata, Acanthus
ilicifolius, Lumnitzera racemosa, Bruguiera sexangula, Acrostichum speciosum, Nypa
frutican, Melastoma candidum, Pandanus tectorius, Hibicus tiliaceus dan Wedelia
biflora.
ABSTRACT
Mangrove forest is one of the most dynamic tropical or subtropical coastal ecosystems
and has high productivity, economic value and ecological value (Susetiono, 2005). This
study was to determine the diversity of plants in the mangrove forests on the coast of
Swarangan, Tanah Laut Regency. The type of research used is descriptive quantitative
direct observation to the field with the VES method (Visual Encounter Survey) with
quadrants, (rectangular areas of various sizes). Based on the research results found 10
types of plants in the coastal mangrove forest area of Swarangan, namely, Rhyzophora
apiculata, Acanthus ilicifolius, Lumnitzera racemosa, Bruguiera sexangula, Acrostichum
speciosum, Nypa frutican, Melastoma candidum, Pandanus tectorius, Hibicus tiliaceus
and Wedelia biflora.
PENDAHULUAN
Ekosistem mangrove adalah ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang
dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga lantainya selalu tergenang air. Hutan
mangrove salah satu ekosistem pesisir tropis atau subtropis yang sangat dinamis serta
mempunyai produktivitas, nilai ekonomis, dan nilai ekologis yang tinggi(Susetiono,
2005). Ekosistem mangrove berada di antara level pasang naik tertinggi sampai level
di sekitar atau di atas permukaan laut rata-rata pada daerah pantai yang terlindungi
(Supriharyono, 2009), dan menjadi pendukung berbagai jasa ekosistem di sepanjang
garis pantai di kawasan tropis (Donato, 2012).
Desa Swarangan terletak di Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut,
7
Kalimantan selatan memiliki garis pantai sepanjang ± 5 kilometer memiliki hutan
mangrove yang tumbuh alami. Hutan mangrove di pesisir pantai Swarangan memiliki
luasan 11294,64 Ha. Hutan mangrove di pesisir pantai Swarangan Kalimantan Selatan
merupakan bagian dari kawasan suaka alam dengan tipe ekosistem mangrove yang
berada di kawasan Cagar Alam Pantai Swarangan di bawah pengelolaan Balai
Konservasi Sumberdaya Alam Kalimantan Selatan. Sebagai bagian dari kawasan
suaka alam, hutan mangrove di Desa Swarangan perlu dilindungi dan
perkembangannya harus tetap berlangsung secara alami (Sisityo, 2017). Menurut
informasi yang didapat tumbuhan di hutan mangrove pesisir pantai Swarangan belum
teridentifikasi jenis -jenis nya.
Berdasarkan uraian di atas, peniliti tertarik untuk mengetahui keragaman jenis
tumbuhan yang hidup di hutan mangrove yang berada pada kawasan pesisir pantai
Swarangan, peneliti tertarik untuk mengambil judul ”KEANEKARAGAMAN
TUMBUHAN DI HUTAN MANGROVE PESISIR PANTAI SWARANGAN
KABUPATEN TANAH LAUT”.
METODE
Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di hutan mangrove pesisir pantai Swarangan Kabupaten
Tanah Laut. Populasi yang di amati dalam penelitian ini adalah seluruh jenis tumbuhan
di hutan mangrove dengan zonasi penelitian seluas 1 Ha di Pesisir Pantai Swarangan
Kabupaten Tanah Laut. Alat yang di gunakan untuk penelitian yaitu meteran tanah,
tabel kerja dan buku identifikasi tumbuhan mangrove.
Desain penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan observasi langsung ke
lapangan , untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang tumbuh di hutan
mangrove pesisir pantai Swarangan Kabupaten Tanah Laut. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode VES (Visual Encounter Survey/Survey Perjumpaan
Visual) dengan kuadran, (daerah persegi dengan berbagai ukuran).
Prosedur penelitian
Pengambilan sampel mangrove menggunakan metode VES, yaitu teknik (Visual
Encounter Survey/ Survey Perjumpaan Visual) dengan kuadran, (daerah persegi
dengan berbagai ukuran). Membuat jalur dengan luasan 1 Ha dan di bagi menjadi 10
plot dengan 1 plot seluas 10 × 10 meter.
Indeks Keanekaragaman
Untuk pengujian menghitung indeks keanekaragaman digunakan rumus yang
dikemukakan oleh Shannon – Wiener dalam sebagai berikut:
Pi = ni/N ni = Jumlah individu jenis (2015) yaitu tingkat keanekaragaman sedang
dengan 10 jenis tumbuhan. Pesisir pantai Swarangan banyak di tumbuhi tumbuhan
mangrove karena adanya subtrat berlumpur yang sangat baik untuk tumbuhan jenis
herba seperti Acanthus ilicifolius. Acanthus ilicifolius tumbuh secara berkelompok dan
8
sangat umum ditemukan di sepanjang tepi muara daerah pasang surut. Jenis tanaman
ini memilih daerah dengan masukan air tawar yang tinggi dan jarang terendam air
pasang, toleran terhadap naungan membuat jenis tanaman ini sangat banyak di
temukan di pesisir pantai Swarangan. ke-i, N = Jumlah individu keseluruhan Martuti
(2013), mendefinisikan Jenis mangrove selanjutnya yang mendominasi di pesisir pantai
Swarangan besarnya indeks keanekaragaman yaitu: H’= -Ʃ ( Pi ln Pi )
H' < 1 = Rendah
H' 1 – 3 = Sedang
H' > 3 = Tinggi
HASIL
Beradasarkan hasil penelitian yang dilakukan di hutan mangrove pesisir pantai
Swarangan ditemukan 10 jenis yaitu Rhyzophora apiculata, Acanthus ilicifolius,
Lumnitzera racemosa, Bruguiera sexangula, Acrostichum speciosum, Nypa frutican,
Melastoma candidum, Pandanus tectorius, Hibicus tiliaceus dan Wedelia biflora.
Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang di dapat oleh Raden Rodlyan
Ghufrona adalah Rhizophora apiculata. Jenis Rhyzophora sp umumnya mampu hidup
pada substrat berlumpur dan berpasir. Mendominasinya spesies Rhizophora apiculata
di area ini menunjukan bahwa Rhizophora apiculata mampu beradaptasi dengan baik.
Hal ini disebabkan karena Rhizophora apiculata memiliki batas toleran yang sangat
tinggi terhadap perairan tawar dan di tunjang dengan sistem perakaran napas.
Pandanus tectoriu, Hibicus tiliaceus, Melasto candidum dan Wedelia biflora
merupakan jenis mangrove ikutan yang juga banyak di temukan di pesisir pantai
Swarangan. Jenis tanaman ini tumbuh di daratan atau banyak di temukan pada pesisir
area pasang surut muara sungai.
Tabel 1 Indeks Keanekaragaman Tumbuhan Mangrove di Pesisir Pantai Swarangan
No Nama Spesies Jumlah Pi Ln Pi (-Pi Ln Pi)
1 Acanthus ilicifolius 129 0.33 -1.08 0.36
2 Acrostichum speciosum 14 0.03 -3.30 0.12
3 Bruguiera sexangula 4 0.01 -4.55 0.04
4 Hibicus tiliaceus 41 0.10 -2.22 0.24
5 Lumnitzera racemosa 15 0.03 -3.23 0.12
6 Melastoma candidum 9 0.02 -3.74 0.08
7 Nypa fruticans 9 0.02 -3.74 0.08
8 Pandanus tectorius 56 0.14 -1.9 0.28
9 Rhyzophora apiculata 96 0.25 -1.37 0.34
10 Wedelia biflora 7 0.01 -3.99 0.07
Jumlah 380 H' 1.78
9
Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman tumbuhan mangrove di
kawasan pesisir pantai swarangan didapatkan indeks keanekaragaman adalah 1.78.
Jika dilihat dari hasil yang didapat nilai tersebut menunjukkan bahwa
Keanekaragaman tumbuhan mangrove di kawasan pesisir pantai Swarangan tergolong
sedang.
Berdasarkan hasil yang didapat, nilai indeks keanekaragaman yang diperoleh
berada dalam tingkatan sedang karena H` berada pada 1 ≤ H` ≤ 3. Hal ini disebabkan
karena penebangan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan kayu
bakar dan pembuatan kandang ternak. Kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat
hutan mangrove membuat keanekaragaman berada pada tingkatan sedang.
Indeks Keanekaragaman tingkat mangrove sedang juga menunjukan keberadaan
mangrove di pesisir pantai Swarangan masih tergolong baik dan stabil namun perlu
adanya peran serta pemerintah dan juga masyarakat setempat dalam pelestarian hutan
mangrove yang ada di kawasan pesisir pantai Swarangan.
KESIMPULAN
Jenis tumbuhan yang di temukan di hutan mangrove pesisir pantai Swarangan
berjumlah 10 jenis yaitu Rhyzophora apiculata, Acanthus ilicifolius, Lumnitzera
racemosa, Bruguiera sexangula, Acrostichum speciosum, Nypa frutican, Melastoma
candidum, Pandanus tectorius, Hibicus tiliaceus dan Wedelia biflora dengan besar
indeks keanekaragaman yaitu 1,78 dan termasuk dalam tingkatan sedang.
DAFTAR PUSTAKA
Barbour, M.G., J.H. Burk and W.D. Pits. Terrestrial Plant Ecology. The
Benjamin/Cumings Publishing Company Inc. California. 1987.
Bengen, Dietriech. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem
Mangrov. Pusat Kajian Sumberdaya dan Lautan IPB. Bogor. 2004
Fahmi Aldy. 2014. "Identifikasi Tumbuhan Mangrove Di Sungai Tallo Kota Makassar
Sulawesi Selatan”. Skripsi. Sains dan Biologi. Biologi. Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar. Makassar.
Hardjosuwarno S. Metode Ekologi Tumbuhan. Universitas Gadjah Mada Fakultas
Biologi. Yogyakarta. 1994.
Hisyam. 2020. " 4 Faktor Mempengaruhi Keanekaragaman Hayati ".
[Link]
[Link] tanggal 24 April jam 07.40 WITA.
Kartawinata K. Diversitas Ekosistem Alami Indonesia. LIPI Press. Jakarta. 2013
Mas’ud. Dasar Umum Ilmu Kehutanan. Badan Kerjasama PTN Indonesia Bagian
Utara. 1998.
Mernisa dan Oktamarsetyani. 2017. Keanekaragaman Jenis Vegetasi Mangrove Di
Desa Sebong Lagoi, Kabupaten Bintan. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan
Biologi dan Biologi, B39 - B49.
10
Odum, P.E. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi Ketiga (Penerjemah [Link]). Gajah
Mada University Press : Yogyakarta. 1993
Purwanti, Susilo, Indrayani. Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan. Universitas
Brawijaya. Malang. 2017
Rahim S. Hutan Mangrove dan Pemanfatannya. CV Budi Utama. Sleman. 2017
Senoaji, Fajrin. 2016. Ekosistem Mangrove Di Pesisir Kota Bengkulu Dalam Mitigasi
Pemanasan Global Melalui Penyimpanan Karbon. Manusia dan Lingkungan,
23(3), 327-333.
Sisityo. 2019. Profil Desa Swarangan. [Link] [Link]
(diakses tanggal 30 Maret 2020).
Sridianti. 2020. "PengertianKeanekaragaman Jenis (Spesies)".
[Link] [Link]. Diakses
tanggal 24 April 2020 jam 09.00 WITA.
Yuniarti. Analisis Kebijakan Ekosistem Mangrove di Kabupaten Bengkalis Provinsi
Riau. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 2004.
11
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL
KALIMANTAN SELATAN UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN METAKOGNITIF DAN HASIL BELAJAR
KOGNITIF KONSEP BIOTEKNOLOGI
Alda
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmasin
Aldha357@[Link]
ABSTRAK
Pendidikan merupakan suatu bekal yang paling berharga dalam kehidupan, karena
pendidikan merupakan kunci utama dalam meraih sebuah kesuksesan. Pada pendidikan
ada suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat guru dan peserta didik, di mana
dalam proses pembelajaran tersebut guru sebagai moderator, motivator, dan fasilitator,
sedangkan peserta didik adalah penentu terjadi atau tidaknya proses belajar. Penelitian ini
bertujuan mendeskripsikan langkah pengembangan perangkat pembelajaran model
pembelajaran berbasis kearifan lokal Kalimantan selatan untuk meningkatkan
keterampilan metakognitif dan hasil belajar kognitif serta memotivasi belajar IPA di kelas
IX. Kualifikasi hasil pengembangan di tentukan berdasarkan kriteria dari Arikunto yaitu
kevalidan yang sesuai dengan kualifikasi yang telah di tentukan. Penelitian ini adalah
penelitian pengembangan yang mengacu pada pengembangan Research and
Development dengan pengembangan mengacu pada 4 D (four D) dengan tahapan yang
telah disesuaikan dengan penelitian ini yaitu melakukan pendefinisian (define),
perancangan (desain), dan pengembangan (develop. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu lembar penilaian RPP, LKPD, dan Soal Essay untuk ahli/praktisi agar
dapat mengukur kevalidan RPP, LKPD, dan soal. Kemudian mengumpulkan bahan yang
diperlukan untuk mendesain RPP, LKPD, dan soal Essay yang telah disusun, sehingga
dapat divalidasi oleh 3 Validator ahli/praktisi , dan di revisi sesuai saran validator. Hasil
Penelitian ini adalah perangkat pembelajaran (RPP, LKPD, dan Soal Essay) IPA pada
materi bioteknologi untuk siswa kelas IX dengan model kearifan lokal Kalimantan
Selatan. (1) Berdasarkan hasil penilaian kevalidan RPP dengan rata-rata jumlah skor yang
didapat 68% tingkat kevalidan perangkat pembelajaran RPP kualifikasinya “Cukup
valid”.Berdasarkan hasil penilaian kevalidan LKPD dengan rata-rata jumlah skor yang
didapat 69% tingkat kevalidan perangkat pembelajaran LKPD kualifikasinya “Cukup
valid”. (3) Berdasarkan hasil penilaian kevalidan LKPD dengan rata-rata jumlah skor
yang didapat 68% tingkat kevalidan perangkat pembelajaran LKPD kualifikasinya
“Cukup valid”. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan RPP,
LKPD, dan Soal essay IPA dengan model kearifan lokal pada materi bioteknologi kelas
IX dapat di uji cobakan karena sudah memenuhi syarat kevalidan.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu bekal yang paling berharga dalam kehidupan,
karena pendidikan adalah kunci utama dalam meraih suatu kesuksesan. Dalam
pendidikan ada suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat kegiatan interaksi
antara guru dan peserta didik dimana ada komunikasi timbal balik yang berlangsung
untuk mencapai tujuan belajar. Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk
mendukung terciptanya manusia yang cerdas serta mampu bersaing di era globalisasi.
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk meningkatkan perkembangan
13
potensi masyarakat. Beberapa permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia saat ini salah satunya yaitu kualitas pendidikan nasional. Yang masih rendah
kualitas pendidikan tersebut disebabkan oleh banyak faktor.
Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan
nasional antara lain menyempurnakan kurikulum, pengadaan buku, melengkapi sarana
dan prasarana, memperbaharui model dan metode pembelajaran serta berbagai
pelatihan dan peningkatan kualitas guru, namun dilapangan masih ditemukan
permasalahan diluar pembelajaran dalam hal ini pembelajaran IPA di SMP. Dalam
pendidikan terdapat guru yang berperan penting di mana guru yang profesional akan
selalu berupaya untuk meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi yang
diajarkan. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional. Upaya untuk
meningkatkan proses belajar, guru harus menciptakan strategi yang cocok, sebab
dalam proses belajar mengajar yang bermakna, keterlibatan peserta didik sangatlah
penting. Maka dari itu untuk membantu menjalankan suatu proses pembelajaran
seorang pendidik harus dapat menyesuaikan suatu model pembelajaran yang akan
digunakan dalam pembelajaran. Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual
yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar. Maka dapat dikatakan, model pembelajaran
juga merupakan strategi pembelajaran, yang berperan sebagai fasilitas belajar untuk
mencapai tujuan belajar. Setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan
dan lingkungan belajar yang berbeda, di mana memberikan peran yang berbeda kepada
siswa, pada ruang fisik, dan pada isosial kelas. Oleh karena itu pemilihan model
pembelajaran sangat perlu memperhatikan kondisi siswa, lingkungan belajar, dan
tujuan pengembangan perangkat pembelajaran Ramdiah dkk [1].
Pengembangan perangkat pembelajaran merupakan rumusan rumusan tentang
apa yang akan dilakukan oleh guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran untuk
mencapai tujuan atau kompetensi dasar yang telah ditentukan, sebelum kegiatan
belajar mengajar dilaksanakan. Model pengembangan perangkat 4-D dikembangkan
oleh Thiagarajan yang terdiri atas empat tahapan, yaitu: define, design, develop, dan
disseminate atau diadaptasikan menjadi model 4-D yaitu: pendefinisian, perancangan,
pengembangan, dan penyebaran. Sebagai suatu prosedur, desain pembelajaran dapat
diartikan sebagai langkah yang sistematis untuk menyusun rencana atau persiapan
pembelajaran dan bahan pembelajaran. Produk dari desain pembelajaran adalah
berupa persiapan pembelajaran, silabus, modul, bahan tutorial dan bentuk saran
pedagogis lainnya. Proses pengembangan perencanaan pembelajaran terkait erat
dengan unsur unsur dasar kurikulum yaitu tujuan materi pelajaran, pengalaman belajar
dan penilaian hasil belajar. Perangkat yang harus dipersiapkan dalam perencanaan
pembelajaran adalah : (a) memahami kurikulum; (b) menguasai bahan ajar; (c)
menyusun program pengajaran; (d) melaksanakan program pengajaran dan (e) menilai
program pengajaran dan hasil proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan pembelajaran. Keterampilan metakognitif yang diperlukan
14
oleh siswa untuk mengetahui perkembangan hasil belajar Peserta didik yang telah
dicapai. Ramdiah ddk mengungkapkan perkembangan pemaknaan biologi sebagai
metode berpikir ilmiah saat ini menempatkan biologi dalam posisi yang strategis dan
potensial memberdayakan keterampilan metakognitif Peserta didik. Keterampilan
metakognitif membantu siswa memantau proses kognitifnya melalui kesadaran proses
berpikir, sehingga berpengaruh pada pencapaian hasil belajar yang memuaskan.
METODE PENELITIAN
Jenis, tempat, dan waktu penelitian
Yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah model pengembangan
perangkat pembelajaran. Istilah model dapat diartikan sebagai suatu objek atau konsep
berupa tampilan grafis, prosedur kerja yang teratur dan sistematis, serta mengandung
pemikiran bersifat penjelasan berikut saran yang digunakan untuk mempresentasikan
suatu hal. Menurut Bock dalam “Getting It Right : R&D Methods in Science and
Engineering” dalam bukunya Nusa Putra menjelaskan pengertian pengembangan:
“Development is a process that applies knowledge to create new device on
effects”.Model pengembangan merupakan dasar yang digunakan untuk
pengembangan produk yang akan dihasilkan. Model pengembangan yang efektif
menuntut kesesuaian antara pendekatan yang digunakan dengan produk yang akan
dihasilkan Nurmiliati, dkk (2012:68).Model pengembangan yang akan direncanakan
dalam penelitian ini mengikuti alur dari SivasailamThiagarajan, Dorothy S. Semmel,
dan Melvyn I. Semmel (1974. ). Model pengembangan 4-D tahap utama yaitu Define,
Design, Develop, dan Disseminate atau diadaptasikan menjadi model 4-P, yaitu
pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran.3 Penerapan langkah
utama dalam penelitian tidak hanya merunut versi asli tetapi disesuaikan dengan
karakteristik subjek dan tempat asal. Di samping itu model yang akan diikuti akan
disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan di [Link] waktu penelitian ini
dilakukan di STKIP PGRI Banjarmasin pada bulan Maret - Juli 2020.
Prosedur Penelitian
Tahap I: Define (Pendefinisian)
Tahap define merupakan tahap untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-
syarat yang dibutuhkan dalam pengembangan pembelajaran. Penetapan syarat-syarat
yang dibutuhkan dilakukan dengan memperhatikan serta menyesuaikan kebutuhan
pembelajaran IPA. Tahap define mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis ujung
depan (front end analysis), analisis peserta didik (learner analysis), analisis konsep
(concept analysis), analisis tugas (task analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran
(specifying instructional objectives).
15
(1) penyusunan standar tes (criterion-test construction),
(2) pemilihan media (media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan
tujuan pembelajaran,
(3) pemilihan format (format selection), yakni mengkaji format format bahan ajar
yang ada dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan,
(4) membuat rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih.
16
Tahap pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk pengembangan
yang dilakukan melalui dua langkah, yakni:
(1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi.
(2) uji coba pengembangan (developmental testing).
Tujuan pada tahap pengembangan ini untuk menghasilkan bentuk akhir perangkat
pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para pakar ahli/praktisi dan
data hasil uji coba.
Pada penelitian ini yang dianalisis deskriptif kuantitatif data dari lembar
penilaian validasi menggunakan rumus untuk dapat menghitung hasil data tersebut
yaitu dengan perhitungan persentase berdasarkan menurut Arikunto [2] dengan rumus
sebagai berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = 𝑥 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙
17
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini, disajikan hasil penelitian dan pembahasan dari
pengembangan perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal Kalimantan selatan,
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kevalidan perangkat pembelajaran yang
dikembangkan. Sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya bahwa
pengembangan perangkat pembelajaran pada penelitian ini mengacu pada 4 D (four
D) dengan tahapan yang telah disesuaikan dengan penelitian ini yaitu melakukan
pendefinisian (define), perancangan (desain), dan pengembangan (develo). Namun
pada tahap Penyebaran (disseminate) tidak bisa dilakukan untuk saat ini karena pada
tahap ini merupakan tahapan penggunaan perangkat yang telah dikembangkan pada
skala yang lebih luas, misalnya digunakan di kelas lain, sekolah lain, oleh guru yang
lain, dan sebagainya. Tahap pertama pendefinisian merupakan tahap untuk
menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat yang dibutuhkan dalam pengembangan
pembelajaran. Penetapan syarat- syarat yang dibutuhkan dilakukan dengan
memperhatikan serta menyesuaikan kebutuhan pembelajaran IPA.
Tahap define mencakup lima langkah pokok, yaitu analisis ujung depan
(frontend analysis), analisis peserta didik (learner analysis), analisis konsep (concept
analysis), analisis tugas (task analysis) dan perumusan tujuan pembelajaran
(specifying instructional objectives).
Tahap kedua perancangan bertujuan untuk merancang perangkat pembelajaran.
Empat langkah yang harus dilakukan pada tahap ini, yaitu:
(1) penyusunan standar tes (criterion-test construction),
(2) pemilihan media (media selection) yang sesuai dengan karakteristik materi dan
tujuan pembelajaran,
(3) pemilihan format (format selection), yakni mengkaji formatformat bahan ajar
yang ada dan menetapkan format bahan ajar yang akan dikembangkan,
(4) membuat rancangan awal (initial design) sesuai format yang dipilih.
Tahap ketiga pengembangan adalah tahap untuk menghasilkan produk
pengembangan yang dilakukan melalui dua langkah, yakni:
(1) penilaian ahli (expert appraisal) yang diikuti dengan revisi.
(2) uji coba pengembangan (developmental testing).
Tujuan pada tahap pengembangan ini untuk menghasilkan bentuk akhir
perangkat pembelajaran setelah melalui revisi berdasarkan masukan para pakar
ahli/praktisi dan data hasil uji coba. Ketiga tahap telah dilakukan jadi hasil validasi
perangkat pembelajaran yang dinilai oleh tim validator dikatakan valid jika perangkat
pembelajaran yang dikembangkan harus memenuhi kriteria kevalidan. Menurut
Nurfathurrahmah perangkat pembelajaran dikatakan valid, jika penilaian ahli
menunjukan bahwa pengembangan perangkat tersebut dilandasi oleh teori yang kuat
dan memiliki konsistensi internal, yakni saling keterkaitan antar komponen dalam
perangkat yang dikembangkan. Ada yang dikemukakan oleh Nieveen perangkat
pembelajaran dikatakan valid bisa ditinjau dari isi dan konstruksi yang mengacu pada
karakteristik model pembelajaran.
18
Penilaian terhadap produk pengembangan perangkat pembelajaran di peroleh
dari persentase validasi validator. Ada tiga penilaian validasi yang diberikan kepada
validator pertama penilian untuk pengembang perangkat pembelajaran RPP kedua
pengembangan perangkat pembelajaran LKPD ketiga pengembangan perangkat
pembelajaran soal Essay. Sebenarnya validasi dari hasil tim validator sudah
menunjukan kareteria kualifikasi cukup valid dengan keterangan tidak revisi, artinya
produk pengembangan ini sudah layak di uji cobakan. Perangkat pembelajaran
merupakan bagian terpenting dalam proses pembelajaran, dimana proses pembelajaran
akan berjalan secara efesien dan efektif karena adanya perangkat pembelajaran. Selain
itu juga perangkat pembelajaran merupakan perlengkapan seorang guru dalam
melakukan proses pembelajaran. Zuhdan dkk. menyatakan bahwa perangkat
pembelajaran adalah alat atau perlengkapan seorang guru untuk melaksanakan proses
yang memungkinkan pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran
Berdasarkan hasil validasi perangkat pembelajaran yang dinilai oleh tim
validator yaitu 1 orang dosen ahli Biologi dan 2 orang Guru mata pelajaran IPA, maka
diperoleh penskoran yang menunjukan kevalidan terhadap perangkat pembelajaran
yang dikembangkan dengan 68% untuk pengembangan perangkat pembelajaran RPP,
69% untuk pengembangan perangkat pembelajaran LKPD, dan untuk pengembangan
perangkat pembelajaran soal essay sebesar 68%. Data temuan ini menunjukkan bahwa
persentase hasil penilaian validator > 67,19 yang termasuk dalam kualifikasi cukup
valid dan memiliki keterangan tidak revisi, sehingga layak diuji cobakan. Persentase
yang diperoleh sesuai dengan kriteria validator dengan rata-rata penilaian ahli untuk
setiap aspek berada dalam kriteria minimal kevalidannya dengan persentase 67,19 .
Dari data kuantitatif ada lembar penilaian validasi yang menggunakan rumus
untuk dapat menghitung hasil data tersebut yaitu dengan perhitungan persentase.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sebelum menggunakan kegiatan
pembelajaran hendaknya perangkat pembelajaran telah mampu mempunyai status
kevalidan [2].
Tahap penyebaran merupakan tahapan penggunaan perangkat yang telah
dikembangkan kemudian diuji cobakan di dalam kelas. Dalam penelitian ini tahap
penyebaran tidak dilaksanakan karena waktu yang tidak memungkinkan untuk saya
turun langsung kelapangan untuk menggunakan perangkat pembelajaran yang telah
dikembangkan. Namun berdasarkan tiga tahapan yang telah dilakukan menunjukkan
bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan dapat digunakan suatu saat jika
waktu yang memungkinkan untuk tahap penyebaran. Selanjutnya, hasil
pengembangan perangkat dengan kualifikasi cukup valid tersebut diyakini
memberikan informasi bahwa penggunaan model pembelajaran kearifan lokal
memiliki potensi dalam meningkatkan prestasi siswa SMP.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan revisi terhadap perangkat pembelajaran yang
telah dilakukan dalam proses pengembangan perangkat pembelajaran kelas IX IPA
19
beserta perangkatnya. Diperoleh hasil validasi perangkat pembelajaran berupa
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah 68%, dan Lembar Kerja Peserta
Didik (LKPD) adalah 69%, dan soal Essay 68% termasuk dalam kualifikasi cukup
valid dan memiliki keterangan tidak revisi, sehingga layak diuji cobakan.
DAFTAR RUJUKAN
[1] Ramdiah, Siti dkk. Model pembelajaran Kearifan lokal Kalimantan Selatan untuk
Pembelajaran Biologi di SMA. 2018. Hal: 11-14.
[2] Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
20
PENERAPAN MODEL INKUIRI TERBIMBING PADA KONSEP
SISTEM PERNAPASAN MANUSIA DI KELAS VIII
SMP NEGERI 5 HULU SUNGAI TENGAH
ABSTRAK
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA di SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah
bahwa siswa cenderung pasif dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, kurang
bersemangat, cepat bosan dan informasi tentang pembelajaran hanya diperoleh dari buku
mata pelajaran serta kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Sehingga salah satu
upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan model
inkuiri terbimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas guru dalam
menerapkan model inkuiri terbimbing pada konsep sistem pernapasan manusia di kelas
VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Subjek
penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah, dengan jumlah
siswa 26 orang terdiri dari 12 laki-laki dan 14 perempuan. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi untuk mendapatkan data tentang aktivitas guru. Teknik
analisis data yang digunakan adalah secara deskriptif. Hasil penelitian menggunakan
model pembelajaran inkuiri terbimbing hasil aktivitas guru pada pertemuan 1 sebesar
48,33% dengan kategori kurang baik, pertemuan 2 sebesar 61,66% dengan kategori cukup
baik dan pertemuan 3 sebesar 78,33% dengan kategori baik.
ABSTRACT
Based on the results of interviews with science teachers at SMP Negeri 5 Hulu Sungai
Tengah that students tend to be passive and less active in participating in learning, less
enthusiastic, get bored quickly and information about learning is only obtained from
subject books and less involved in the learning process. So that one of the efforts made to
overcome this problem is by applying a guided inquiry model. This study aims to describe
the teacher's activities in applying the guided inquiry model to the concept of the human
respiratory system in class VIII of SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah. This type of
research is qualitative. The research subjects were grade VIII students of SMP Negeri 5
Hulu Sungai Tengah, with 26 students consisting of 12 boys and 14 girls. The data
collection technique is done through observation to get data about teacher activities. The
data analysis technique used is descriptive. The results of the study used a guided inquiry
learning model. The results of teacher activity at meeting 1 were 48.33% in the poor
category, meeting 2 was 61.66% in the fairly good category and meeting 3 was 78.33 %
with good category.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar
tumbuh mandiri, bertanggung jawab, keriatif, berilmu, sehat dan berakhlak
(berkarakter) mulia. Di era globalisasi aspek kehidupan dituntut untuk terus maju dan
21
berkembang dengan cepat. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia
terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman yang
semakin global. Peningkatan sumber daya manusia juga berpengaruh terhadap dunia
pendidikan. Pendidikan merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya
manusia harus bisa berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas.
Upaya pengembangan tersebut harus sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar
anak didik dapat menerima didikan dengan baik. Dengan demikian diperlukan
pengembangan bahan ajar agar pembelajaran mencapai harapan tersebut.
Pencapaian pembelajaran yang menarik, efektif dan efisien membutuhkan bahan
ajar yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Seorang pendidik di
tuntut kreativitasnya untuk menyusun bahan ajar yang inovatif, variatif, menarik,
konstekstual dan sesuai dangan tingkat kebutuhan peserta didik. Guru yang mampu
mengajar dengan baik tentu akan menghasilkan kualitas siswa yang baik pula.
Sehingga dalam mengajar diperlukan metode, pendekatan, model, strategi, teknik,
taktik dan desain belajar dalam pembelajaran dan interaksi belajar mengajar
Pengembangan diri sangat penting, namun perkembangan diri siswa proses
pembelajaran tampak masih kurang dikembangkan. Para pendidik pada umumnya
hanya menyediakan bahan ajar yang menonton, bahan yang sudah tersedia dan tingal
pakai, pada akhirnya yang menjadi korban adalah peserta didik akan merasa bosan
mengikuti proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi tidak efektif
dan efisien.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA di SMP Negeri 5 Hulu Sungai
Tengah bahwa siswa cenderung pasif dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran,
kurang bersemangat, cepat bosan dan informasi tentang pembelajaran hanya diperoleh
dari buku mata pelajaran serta kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Sehingga
salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dengan pemilihan
model pembelajaran yang sesuai.
Model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah pendekatan inkuiri saat guru
membimbing siswa melakukan kegiatan dengan memberi perrtanyaan awal dan
mengarahkan kepada suatu diskusi. Guru pun mempunyai peran aktif dalam
menetukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahanya. Pada pendekatan ini, siswa
dihadapkan kepada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan, baik melalui diskusi
kelompok maupun individual, agar bisa menyelesaikan masalah dan menarik suatu
kesimpulan secara mandiri [1]. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan
dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep
pelajaran IPA [2].
Pada inkuiri terbimbing ini guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan
dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru pun
mempunyai peran aktif dalam mennetukan permasalahan dan tahap-tahap
pemecahanya. Pendekatan ini siswa lebih belajar beorientasi pada bimbingan dan
petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep pelajaran [3]. Pada
pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas yang relevan untuk diselesaikan baik
22
melalui diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan
masalah dan menarik kesimpulan suatu kesimpulan secara mandiri [1]. Bimbingan
yang diberikan dapat berupa pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring
siswa agar dapat memahami konsep pelajaran IPA [2].
Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang
biasa dengan pembelajaran inkuiri. Dalam hal ini peserta didik belajar lebih
berorientasi kepada bimbingan dan petunjuk dari seseorang pendidik, sehingga peserta
didik mampu memahami konsep-konsep pelajaran [4].
Berdasarkan permasalahan yang terjadi maka dilakukan upaya untuk aktivitas
guru dalam proses pembelajaran sistem pernapasan manusia. Salah satu upaya yang
dapat dilakukan adalah melakukan penelitian kualitatif dengan menerapkan model
pembelajaran inkuiri terbimbing. belajar dengan bimbingan guru
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana aktivitas guru dalam menerapkan
model inkuiri terbimbing pada konsep sistem pernapasan manusia di kelas VIII SMP
Negeri 5 Hulu Sungai Tengah?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
Mendeskripsikan aktivitas guru dalam menerapkan model inkuiri terbimbing pada
konsep sistem pernapasan manusia di kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah.
METODE PENELITIAN
Penelitian kualitatif yaitu dengan menguraikan hasil pengamatan aktivias guru
terhadap penerapan model inkuiri terbimbing.
Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020
dengan mengambil tempat di SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah beralamat di Jl.
Bundung Raya kode pos 71371, Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai
Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
Desain Penelitian
Penelitian ini direncanakan berlangsung dalam 3 pertemuan menguraikan hasil
pengamatan aktivitas guru.
Prosedur Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan (a) Meminta kesediaan sekolah sebagai tempat
pelaksanaan penelitian kualitatif. (b) Membuat skenario pembelajaran berupa Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (c) Menyusun Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD),
Aktivitas guru (a) pendahuluan: memberi salam, mengabsen, apersepsi,
motivasi, menyampaikan tujuan pembelajaran. (b) kegiatan inti: menyampaikan sintak
inkuiri terbimbing dan membagi peserta didik dalam kelompok, membimbing peserta
didik mengerjakan LKPD, membimbing peserta didik untuk merumuskan masalah,
membimbing peserta didik untuk merumuskan hipotesis, membimbing peserta didik
untuk mengumpulkan data, membimbing peserta didik untuk menguji hipotesis dan
membimbing peserta didik dalam presentasi. (c) Penutup: membimbing peserta didik
23
untuk membuat kesimpulan, memberitahukan pelajaran selanjutnya dan memberi
salam.
Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas guru dalam
pembelajaran pada konsep sistem pernapasan manusia dengan menerapkan model
inkuiri terbimbing di kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah. Observer aktivitas
guru bernama Riski Orlia dengan model bernama Armiyani Yoha.
Analisis data aktivitas guru ≤60% kategori kurang baik, 61%-70% kategori
cukup baik, 71%-90% kategori baik, dan 91%-100% kategori sangat baik mengacu
pada [5].
Pada Tabel 1 terlihat bahwa hasil observasi aktivitas guru pada pertemuan 1
sebesar 48,33% dengan kategori kurang baik, pertemuan 2 sebesar 61,66% dengan
kategori cukup baik dan pertemuan 3 sebesar 78,33% dengan kategori baik.
2. Pembahasan
Aktivitas guru dalam melaksanakan RPP terhadap penerapan model inkuiri
terbimbing pada konsep sistem pernapasan manusia di kelas VIII SMP Negeri 5 hulu
Sungai Tengah. Hasil observasi aktivitas guru pada Tabel 4.2 pertemuan 1 sebesar
48,33% dengan kategori kurang baik, pada pertemuan 2 sebesar 61,66% dengan
kategori cukup baik da pertemuan 3 sebesar 78,33% dengan kategori baik. Hal ini
menunjukan bahwa terjadi peningkatan aktivitas guru dengan penerapan model inkuiri
terbimbing.
Aktivitas guru dalam melaksankan RPP pada pertemuan 1 kategori kurang baik,
pada pertemuan 2 kategori cukup baik dan pada pertemuan 3 kategori baik. Aktivitas
guru yang perlu ditingkatkan adalah guru dalam membimbing peserta didik dalam
presentasi, membimbing peserta didik untuk menguji hipotesis dan membimbing
peserta didik untuk membuat kesimpulan. Kemampuan guru dalam mengolola kelas
menjadi sangat penting dan berpengaruh besar terhadap keberhasilan siswa dalam
mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri
24
terbimbing. Model pembelajaran inkuiri terbimbing peserta didik belajar lebih
berorientasi kepada bimbingan dan petunjuk dari seseorang pendidik, sehingga peserta
didik mampu memahami konsep-konsep pelajaran [2]. Pada pendekatan ini siswa
akan dihadapkan pada tugas yang relevan untuk menyelesaikan baik melalui diskusi
atau individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan
secara mandiri [3]. Model pembelajaran inkuiri terbimbing memiliki kelebihan yaitu
pembelajaraan menjadi lebih bermakna dan real karena siswa mencari solusi dari
sebuah masalah dan mengaitkan materi pembelajaran [6]. Aktivitas adalah proses
pembelajaran yang dilakukan didalam kelas merupakan aktivitas mentransformasikan
pengetahuan, sikap, ketrampilan dan aktivitas merupakan prinsip atau asas yag sangat
penting dalam interaksi belajar mengajar [4]. Keberhasilan aktivitas guru bergantung
pada motivasi guru, artinya guru yang memiliki motivasi yang tinggi akan dapat
mengelola kelas dengan baik dan tepat dalam proses pembelajaran. Tujuan guru pada
dasarnya adalah bagaimana guru dapat mentransfer materi pelajaran dengan baik,
sehingga siswa dapat mengerti dan menerima materi pelajaran yang diajarkan selama
proses pembelajaran berlangsung [7]. Hasil penelitian ini sejalan dengan Yuliani [3]
aktivitas guru meningkat dengan penerapan model inkuiri terbimbing sehingga hasil
belajar siswa juga meningkat.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap penerapan model inkuiri terbimbing pada
konsep sistem pernapasan manusia di kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah
dapat disimpulkan bahwa hasil aktivitas guru pada pertemuan 1 sebesar 48,33%
dengan kategori kurang baik, pertemuan 2 sebesar 61,66% dengan kategori cukup baik
dan pertemuan 3 sebesar 78,33% dengan kategori baik.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Putra, R.S.2013. Desain Belajar Mengajar Kriatif Berbasis Sains. Jember: DIVA
Perss.
[2] Misnah. 2019. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII B SMP Negeri 6
Martapura pada Konsep Materi Interaksi Makhluk hidup dengan Lingkungan
Menggunakan Inkuiri Terbimbing. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin:
Program Studi Biologi STKIP PGRI Banjarmasin.
[3] Yuliani, Fitri. 2018. Meningkatkan Kreativitas dan Hasil Belajar siswa Kelas
VIIIA MTsN 3 Hulu Sungai Tengah pada Konsep Sistem Pernapasan
Mengunakan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing. Skripsi tidak diterbitkan.
Banjarmasin: Program Studi Biologi STKIP PGRI Banjarmasin.
[4] Saputri, Wahyu Enggal. 2019. Pengaruh Model Inkuiri Terbimbing (Guided
Inqiry) Berbantu Jurnal Belajar ( Learning Journal) pada Materi Pokok
Ekosistem Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Kognitif Peserta didik Kelas X
SMA Negeri 2 Tulang Bawang Tengah. Universitas Lampung.
[5] Permendikbud. 2013. Pedoman Umum Pembelajaran. Jakarta: Permendikbud
25
[6] Haslini, Yanti. (2018). Meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri
1 Angkinang pada konsep sistem reproduksi manusia menggunakan model
pembelajaran inkuiri terbimbing. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin:
Program Studi Biologi STKIP PGRI Banjarmasin.
[7] Alianti, Lisda. 2018. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 4
Kandangan pada Konsep Tata Surya Menggunakan Model Pembelajaran
Inkuiri Terbimbing. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: Program Studi
Biologi STKIP PGRI Banjarmasin.
26
PENGOLAHAN TUMBUHAN AREN (ARENGA PINNATA)
SECARA TRADISIONAL DI DESA KAPUH KECAMATAN
SIMPUR KABUPATEN HULU SUNGGAI SELATAN
Hj. Widiyawati1, Yulianti Hidayah2, Syahbudin3
1
STKIP PGRI Banjarmasin
ABSTRAK
Aren adalah salah satu jenis tanaman palma yang hampir tersebar diseluruh wilayah
Indonesia. Seluruh bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan mulai nira yang dapat
diperoleh menjadi gula, batangnya dapat diolah menjadi tepung aren, buah yang belum
matang diolah menjadi kolang kaling daunnya dapat diolah menjadi atap dan lidinya
dapat dibuat menjadi sapu, serta ijuknya dapat diolah menjadi kerajinan. Eren mulai
berguna pada umur 12 sampai 16 tahun, tergantung pada ketinggian tempat tumbuh dan
sejak itu aren dapat disadap niranya dari tandan bunga jantan selama 3 sampai 5 tahun.
Pohon aren mempunyai bunga jantan dan betina. Kedua bunga tersebut dapat di sadap
niranya. Bunga jantan selalu menjdi bunga yang di sadap karena jumlah dan mutu lebih
memuaskan dibandiingkan bunga betina. Bunga jantan lebih pendek dari bunga betina.
Bunga jantan dapat disadap pada saat sudah mengeluarkan benang sarinya. Tandan ini
mula-mula dipukul dan di ayun-ayun secara ringan tanpa menyebabkan tandan luka dan
memar. Pemukulan dilakukan sehari 2 kali pada pagi dan sore hari selama tiga minggu,
tandan kemudian di potong dan diujungnya digantungkan tahang bambu untuk
menampung cairan yang menetes. Cairan manis yang diperoleh dinamai nira yang
berwarna jernih agak keruh. Aren sendiri merupakan tanaman tahunan, berukuran besar,
berbentuk pohon soliter tinggi hingga 12m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 60 cm.
pohon aren dapat tumbuh mencapai tinggi dengan diameter batang sampai 65 cm tinggi
15 m bahkan mencaapai 20 m dengan tajuk daun yang menjulang di atas batang. Pada
bagian pangkal pelepah daun diselimuti oleh ijuk yang berwarna hitam kelam dan bagian
atasnya berkumpul suatu masa yang mirip kapas yang berwarna cokelat, sangat halus dan
mudah terbakar. Masa yang menempel pada pelepah daun aren tersebut dikenal dengan
nama kawul. Pohon arena tau enau dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal yang
menjadikannya popular sebagai tanaman serbaguna, terutama sebagai penghasil gula
(nira) atau yang sering disebut gula aren. Gula aren di peroleh dengan menyadap tandan
bungga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna kuning.
Penelitian ini merupan suatu upaya dalam pemanfaatan tanaman yang ada dialam yang
memiliki nilai ekonomis tinggi agar dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat sekitar, dan juga penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi
terkait pengolahan taman aren tersebut.
PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan budaya dan kearifan lokal masyarakat. Setiap daerah di
Indonesia memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda, perbedaan ini disebabkan oleh
tantangan alam dan kebutuhan hidupnya berbeda-beda, sehingga pengalamannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan
baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial [1].
Indonesia juga merupakan negara pertanian, artinya sektor pertanian masih
memegang peran penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini
27
ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup pada sektor
pertanian.
Potensi lokal merupakan kemampuan atau kekuatan yang dimiliki oleh suatu
daerah yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan manfaat bagi daerah tersebut.
Sedangkan kearifan lokal (local wisdom) adalah pandangan hidup, ilmu pengetahuan
dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh
masyarakat setempat untuk menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan
mereka [2]
Kalimantan Selatan memliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, yang
berpotensi untuk diolah menjadi berbagai keperluan masyarakat lokal daerah. Potensi
lokal dan kearifan lokal yang ada di provinsi Kalimantan Selatan jika tidak
dimanfaatkan maka akan terbuang begitu saja. Memanfaatkan dan melestarikan
potensi alam memerlukan ilmu pengetahuan yang mendukung, selain itu sikap dan
keterampilan dalam mengembangkan kearifan lokal juga sangat diperlukan.
Semua tumbuhan yang tumbuh dimuka bumi ini memiliki faedah bagi kehidupan
manusia. Baik itu sebagai bahan sandang, pangan, peneduh, makanan ternak dan
sebagainya, tak terkecuali sebagai obat. Tumbuhan merupakan salah satu dari
klasifikasi makhluk hidup. Tumbuhan artinya luas, flora yang tumbuh dan
berkembang secara alami tanpa adanya campur tangan manusia atau pembudidayaan.
Tumbuhan memiliki klorofil atau zat hijau pada daun yang berfungsi sebagai media
penciptaan makanan dan untuk proses fotosentesis. Pada hakikatnya tumbuhan dan
tanaman adalah sama, namun pengertian diantara keduanya dibedakan penggunaannya
secara awam bahwa tumbuhan tumbuh secara alami sedangkan tanaman adalah
tumbuhan yang sengaja ditanam [3].
Menurut Azrai & Heryanti [4] berdasarkan perawakan atau habitus tumbuhan
terbagi menjadi beberapa golongan yaitu, pohon, perdu, liana (tumbuhan pemanjat),
semak dan herba. Definisi pohon yaitu tumbuuhan yang terbagi dalam 2 kelompok
yang beraakar tunggang dan berakar serabut, yang tngginya lebih dari 6 m.
Karakteristik berkayu, batang utama tumbuh tegak, memopang tajuk pohon, memiliki
batang sejati yang berkayu, batangnya keras dan tumbuh lengkap (akar, batang, dan
daun). Defnisi perdu yaitu tumbuhan berkayu yang dibedakan dengan pohon karena
cabangnya yang banyak dan tingginya yang lebih rendah kurang dari 4-5 m.
Karakterstiknya tumbuhan yang umumnya berakar tunggang, berbatang kayu, hidup
bergerombol tumbuh cepat dan menghasilkaan bunga dan biji dalam singkat periode
tertentu. Definisi liana yaitu tumbuhan memanjat pada tumbuhan lain yang lebih besar
dan tinggi, atau buatan manusia untuk dukungan dalam upaya mendapatkan sinar
matahari, tetapi akarnya masih berada didalam tanah sebagai sarana mendapatkan
makanan. Definisi semak yaitu tumbuhan berkayu yang memiliki banyak ranting dan
bercabang pendek, rendah dari pohon yaitu kurang dari 1 m. Karakteristiknya yaitu
memiliki kayu yang sedikit, batang yang lembut dan hijau, tumbuh cepat dan dapat
menghasilkan bunga dan biji dalam waktu singkat. Sedangkan tumbuhan herba adalah
tumbuhan yang batangnya lunk (tidak berkayu) atau hanya mengandung jaringan kayu
28
sedikit sekali sehingga ketika tumbuhan tersebut mati tidak ada bagian yang tersisa
dipermukaan tanah. Tumbuhan herba umumnya berbunga indah dan biasanya ditanam
untuk hiasan kebun atau pot. Tumbuhan ini berkhasiat untuk menyembuhkan,
tumbuhan macam ini merupakan tumbuhan semusim, dwimusim, ataupun tumbuhan
tahunan. Termasuk kedalam tumbuhan jenis rumput-rumputan, sayuran seperti katuk
dan bayam, tumbuhan ini juga digunakan sebagai tanaman obat [5].
Hasil Hutan Bukan Hanya Kayu (HHBK) merupakan bagian dari ekosistem
hutan yang memiliki peran terhadap alam maupun terhadap manusia. HHBK telah
dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Selain beberapa jenis HHBK mudah diperoleh dan tidak membutuhkan
teknologi yang rumit untuk mendapatkannya juga karena HHBK dapat di peroleh
secara gratis dan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Hal ini menjelaskan bahwa
keberadaan HHBK diyakini paling bersinggungan dengan kepentingan masyarat
sekitar hutan dalam memenuhi kebutuhan pangan, papan maupun ritual laiannya.
HHBK yang suadah dimanfaatkan dan dikomersilkan di antaranya adalah cendana,
gaharu, kayu putih, aneka tanaman obat, minyak atsiri dan madu. Salah satu HHBK
yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan merupakan salah satu sumber pencaharian
masyarakat pedesaan adalah Arenga pinnata atau yang dikenal dengan enau atau aren
[6].
Aren adalah salah satu jenis tanaman palma yang hampir tersebar diseluruh
wilayah Indonesia. Seluruh bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan mulai nira
yang dapat diperoleh menjadi gula, batangnya dapat diolah menjadi tepung aren, buah
yang belum matang diolah menjadi kolang kaling daunnya dapat diolah menjadi atap
dan lidinya dapat dibuat menjadi sapu, serta ijuknya dapat diolah menjadi kerajinan
[7].
Pengelolaan agroforestri berbasis aren dapat memberikan konstribusi terhadap
peningkatan pendapatan rumah tangga di Desa Palakka, Kecamatan Barru, Kabupaten
Barru [8].
Aren sendiri merupakan tanaman tahunan, berukuran besar, berbentuk pohon
soliter tinggi hingga 12m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 60 cm. pohon aren
dapat tumbuh mencapai tinggi dengan diameter batang sampai 65 cm tinggi 15 m
bahkan mencaapai 20 m dengan tajuk daun yang menjulang di atas batang. Pada bagian
pangkal pelepah daun diselimuti oleh ijuk yang berwarna hitam kelam dan bagian
atasnya berkumpul suatu masa yang mirip kapas yang berwarna cokelat, sangat halus
dan mudah terbakar. Masa yang menempel pada pelepah daun aren tersebut dikenal
dengan nama kawul.
Pohon aren atau enau dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal yang
menjadikannya popular sebagai tanaman serbaguna, terutama sebagai penghasil gula
(nira) atau yang sering disebut gula aren. Gula aren diperoleh dengan menyadap tandan
bunga jantan yang mulai mekar dan menghamburkan serbuk sari yang berwarna
kuning.
29
Aren mulai berguna pada umur 12 sampai 16 tahun, tergantung pada ketinggian
tempat tumbuh dan sejak itu aren dapat disadap niranya dari tandan bunga jantan
selama 3 sampai 5 tahun. Pohon aren mempunyai bunga jantan dan betina. Kedua
bunga tersebut dapat di sadap niranya. Bunga jantan selalu menjdi bunga yang di sadap
karena jumlah dan mutu lebih memuaskan dibandiingkan bunga betina. Bunga jantan
lebih pendek dari bunga betina. Bunga jantan dapat disadap pada saat sudah
mengeluarkan benang sarinya. Tandan ini mula-mula dipukul dan di ayun-ayun secara
ringan tanpa menyebabkan tandan luka dan memar. Pemukulan dilakukan sehari 2 kali
pada pagi dan sore hari selama tiga minggu, tandan kemudian di potong dan
diujungnya digantungkan tahang bamboo untuk menampung cairan yang menetes.
Cairan manis yang diperoleh dinamai nira yang berwarna jernih agak keruh.
Nira atau gula aren memiliki kandungan makro dan mikronutrien. Mikronutrein
yang ada dalam gula merah antara lain garam mineral dan banyak vitamin. Nira tidak
tahan lama maka tahang yang sudah berisi harus segera diambil untuk diolah niranya,
biasanya sehari bias dua kali pengambilan yakni pagi dan sore hari.
Penelitian ini merupan suatu upaya dalam pemanfaatan tanaman yang ada
dialam yang memiliki nilai ekonomis tinggi agar dapat menciptakan lapangan
pekerjaan bagi masyarakat sekitar, dan juga penelitian ini diharapkan dapat menjadi
sumber informasi terkait pengolahan taman aren tersebut
METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan metode kuantitatif. Metode
kuantitatif adalah metode yang objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari sampel
orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab sejumlah pertanyaan tentang
survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka. Proses
penelitian berlangsung selama 2 minggu efektif dilapangan dan pengolahan data serta
analisis kurang lebih 2 bulan lamanya. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kapuh
Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini didapat secara langsung dari
lingkungan jadi penulis turun langsung ke lapangan untuk melakukan observasi,
wawancara dengan menggunakan angket, dokumentasi, analisis, catatan selama di
lapangan berupa deskripsi bukan angka-angka.
Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisa kuantitatif.
Data hasil wawancara dan angket dikelompokkan berdasarkan jenis olahan, cara
memperoleh tumbuhan aren, manfaaat tumbuhan aren, bagian/organ tumbuhan yang
digunakan, dan cara pengolahan yang diketahui oleh masyarakat di Desa Kapuh
Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
30
sampai proses pencetakan, hingga alat yang digunakan seperti tempat penampungan
air nira, tungku dan kuali masih menggunakan alat tradisional.
31
Pada proses perebusan ini air nira atau banyu lahang hanya akan ditambahkan
kelapa parut apabila air nira mulai akan keluar kuali atau masyarakat menyebutnya
meruap, selain itu air nira tidak akan ditambahkan benda atau cairan lain.
Setelah beberapa jam merebus air nira atau banyu lahang tadi yang warna nya putih
berubah menjadi kecoklatan dan masyarakat menyebutnya juruh, juruh adalah air
nira yang sudah setengah matang atau sudah mulai mengental.
3. Proses Pengentalan
Setelah air nira atau banyu lahang sudah mulai mengering, air nira tidak langung di
cetak melaikan melalui proses pengentalan terlebih dahulu, pada proses
pengentalan ini masyarakat Desa Kapuh menyebutnya manuha. Manuha adalah
proses dimana air nira yang sudah berubah menjadi juruh tadi mengering lalu di
aduk-aduk sampai menjadi hangat atau mulai sedikit mengeras.
4. Proses Pencetakan
Setelah air nira yang berubah menjadi juruh tadi mulai mengental maka proses
terakhir adalah pencetakan, pada proses ini masyarakat tidak menggunakan alat
khusus hanya menggunakan tempat plastik biasa yang dijadikan sebagai cetakan.
Pada proses pencetakan ini harus dilakukan dengan cepat sebelum juruh atau gula
nya menjadi keras. Sebelum juruh dimasukan kedalam cetakan, cetakan terlebih
dahulu di olesi minyak gorong supaya nantinya gula akan mudah dilepas. Setelah
selesai dicetak juruh memerlukan waktu 30 sampai 40 menit untuk bisa lepas dari
cetakan atau semakin kental juruh semakin cepat proses pencetakan.
32
Mayarakat Desa Kapuh Sudah mengenal tumbuhan enau sejak dulu kala sampai
sekarang, tanaman enau yang dimanfaatkan masyrakat Desa Kapuh adalah enau yang
masih tumbuh secara liar (alami) dan belum ada pembudidayaan oleh masyrakat.
Pengrajin gula aren atau dalam masyrakat Desa Kapuh menyebutnya gula habang
menggunakan kalaras (daun pisang yang sudah mengering) untuk membungkus gula
aren tersebut. Penggunaan kalaras adalah perilaku masyarakat yang sangat arif karena
menggunakan materi organik yang limbahnya akan mudah terurai. Selain itu juga
masyarakat Desa Kapuh membuat tangga sepanjang 10-meter yang materinya terbuat
dari bambu dan untuk memasak nira masyarakat menggunkan kayu bakar.
Pembuatan gula aren sendiri tidak dilakukan dirumah melainkan melainkan
pengrajin akan memasaknya di pondok khusus. Nira yang di sadap akan langsung
dimasak tidak dibiarkan bermalam. Paudi [10] mengatakan, nira mempunyai sifat
mudah asam karena aadanya proses fermentasi oleh bakteri karena itu niraa harus
segera diolah setelah diambil dari pohon paling lambat 90 menit setelah di keluarkan
dari bumbung tempat penampungan nira. Selanjutnya Sunanto (dalam Damanik, 2013)
, mengatakan bahwa jika air nira didiamkan 7-8 jam dan dibiarkan berlangsung terus,
akaan terbentuk asam cuka yang rasanya sangat asam.
Gula yang terbuat dari nira enau tidak hanya memiliki bau yang khas akan tetapi
juga gula aren tersebut sangat baik untuk kesehatan, menurut pengrajin gula aren di
Desa Kapuh gula aren dapat menurunkan demam.
Aspek lingkungan pemanfaatan pohon enau tidak dipungkiri, bahwa
keberadaan pohon enau sangat penting bagi konservasi lahan dan air. Pohon enau
cukup ideal bagi konsevasi lahan, pohon enau memiliki daun yang cukup lebat dan
batang penuh dengan ijuk, maka dapat menahan air hujan yang langsung jatuh ketanah
sehingga akan mengurangi pengikisan tanah oleh air hujan. Kemudian aren memiliki
akar yang kuat didalam tanah sehingga akan mencegah terjadinya abrasi jika berada
dipinggir sungai. Selain pohon aren bermanfaat untuk menyanggah abrasi maupun
erosi, juga bermanfaat untuk kelastarian sumberdaya hayati, kepunahan atau
kelangkaan suatu spesies bergantung pada keberadaan spesies lainnya. Seperti halnya
antara populasi enau terdapat kaitannya dengan keberadaan musang.
Jadi dapat disimpulkan bahwa bentuk kearifan lokal dalam proses atau
pemanfaatan enau di Desa Kapuh Kecamatan Simpur Kabupaten Hulu Sungai Selatan
adalah sebagai berikut:
1. Proses pengolahan dan memasak nira aren menjadi gula aren masih
menggunakan alat-alat tradisional dan bahan organik seperti pada saat
pengganmbilan nira aren dari pohon pengrajin masih mengunakan tangga yang
terbuat dari bambu, bahan bakar menggunakan kayu, dan kemasan gula enau
masih menggunakan kalaras.
2. Pengrajin mempunyai pengetahuan lokal untuk melihat kapan tandan enau siap
disadap dan pengetahuan lokal untuk menjernihkan air nira yaitu dengan
mencampurkan cairan laro sebelum mengganti tempat penampungan air nira.
33
SIMPULAN
Manfaat tumbuhan aren (Arenga pinnata) banyak mulai dari daun hingga
batangnya misal pembuatan gula aren, berbagai minuman fermentasi, bahan
pembuatan tuak, bahan pembuatan cuka aren, kolang kaling, sebagai atap rumah, sapu
ijuk, pembuatan tali ijuk dan sapu lidi. Pohon aren yang dimanfaatkan masyarakat
adalah pohon aren yang tumbuh dikebun atau tanah milik masyarakat. Aturan
kepemilikan pohon aren sendiri didasarkan pada kepemilikan lahan dimana pohon
aren tersebut tumbuh, jadi dapat dikatakan ketika pohon aren tersebut tumbuh di lahan
milik satu warga, berarti kepemilikan pohon aren tersebut dimiliki oleh warga yang
bersangkutan dan pemilik lahan berhak untuk memanfaatkan pohon aren itu. Bagian
tumbuhan aren yang di manfaatkan masyarakat adalah air nira atau banyu lahang.
Pengolahan air nira atau banyu lahang menjadi gula masih dilakukan secara tradisional
yaitu masih menggunakan kayu bakar, serta masyrakat juga mengetahui cara
pembuatan serta penjernihan air nira dengan cara turun temurun.
DAFTAR RUJUKAN
[1] Ariyanto, Rachman, Imran, Toknok. [Link] Masyarakat Lokal dalam
Pengolahan Hutan Di Desa Rano Kecamatan Balaesang Tanjung Kabupaten
Donggala. Jurnal Warta Rimba, Volume 2, Nomor 2: Hlm 89-91. 2014.
(Online).([Link]/jurnal/[Link]/wartarimba/view/3618/2621,
diakses 18 Agustus 2020)
[2] Wagiran. Pengembangan Model Pendidikan Kearifan Lokal Dalam Mendukung
Visi Pembangunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2020 (tahun kedua).
Jurnal Penelitian dan Pengembangan, Volume III, Nomor 3: Hal. 85-100. 2012.
(Online)([Link]/upload/132297916/penelitian/pendidikan+kearifan
+[Link], diakses 20 juni 2020).
[3] Presetyono, Sunar D. A-Z Daftar Tanaman Obat Ampuh di Sekitar Kita. Terbitan
Pertama FlashBooks. Yogyakarta. 2012.
[4] Azrai, Eka, P., & Heryanti, E. 2015. Biodiversitas Tumbuhan semak di Hutan
Tropis Dataran Rendah Cagar Alam Pangandaran, Jawa Barat. Jurusan Biologi
FMIPA Universitas Negeri Jakarta. Jakarta.
[5] Wiwinda. Morfologi Tumbuhan Herba. 2011.
[6] Suhesti, E dan Hadinoto. Hasil Hutan Bukan Kayu Madu Salang di Kabupaten
Kampar (Studi Kasus: Kecamatan Kampar Kiri Tengah). Fakultas Kehutanan
Universitas Lancang Riau. 2015.
[7] Sembayang, L. Keragaman Eksisting Tanaman Aren (Arenga pinnata merr) di
Sumatera Utara (Peluang dan Potensi Pengembangannya). Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Sumatera Utara. 2016.
[8] Tamin, M. L. Sundawali & N. Wijayanto. Strategi Pengelolaan Agroforestri
Berbasis Aren di Pulau Bacan. Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB).
Bogor. 2015.
34
[9] Saam, Z. Rimbo Larangan: Kearifan Lokal Masyarakat Sentajo Kuantan Singing
Riau Dalam Pemeliharaan Hutan. 2015.
[10] Paudi, F. Pembuatan Gula Merah Aren Dan Gula Semut Aren.2012.
35
NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM PENGOLAHAN
PAKASAM DARI IKAN SEPAT (Trichogaster trichopterus Pall)
DI DESA MAHANG KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
Faisal Ansyari1*,
1
STKIP PGRI Banjarmasin, Jl. Swadaya Desa Paya Besar, Kecamatan Batu Benawa,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, 71371
*Email 1: ansyarifaisal07@[Link]
ABSTRAK
Kalimantan Selatan mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah yang dapat
diolah oleh masyarakat lokal seperti halnya di Desa Mahang Kecamatan Pandawan,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang mempunyai kearifan lokal yang khas seperti
pengolahan pakasam. Pakasam adalah makanan khas dari Kabupaten Hulu Sungai
tengah yang memanfaatkan sumber daya alam dari ikan sepat. Pengolahan pakasam
dari ikan sepat berhubungan dengan pendidikan Biologi, karena memanfaatkan ikan
di lingkungan sekitar, maka diperlukan sebuah perancangan komunikasi visual berupa
booklet untuk memperkenalkan pakasam sebagai salah satu warisan budaya
Kalimantan Selatan yang patut dihargai serta dilestarikan keberadaannya. Alasan
menggunakan booklet karena media ini mudah dibawa kemana saja dan dengan desain
yang menarik minat peserta didik maupun masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal dalam pengolahan pakasam serta
menghasilkan booklet yang akan dijadikan sebagai media informasi dalam
pengolahan pakasam.
Kata kunci: Nilai-nilai, Kearifan Lokal, Pengolahan Pakasam dari Ikan Sepat
(Trichogaster trichopterus Pall), Pembuatan Booklet
PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan budaya dan kearifan lokal masyarakat. Setiap daerah di
Indonesia memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda, perbedaan ini disebabkan oleh
tantangan alam dan kebutuhan hidupnya berbeda-beda, sehingga pengalamannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan
baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial.
Kearifan lokal erat kaitannya dengan budaya lokal. Kearifan lokal terbentuk
sebagai unggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti
luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus
menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang
terkadung didalamnya dianggap sangat universal. Artinya pembelajaran yang terjadi
di sekolah maupun di perguruan tinggi haruslah berbasis lokal berorientasi global.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal adalah pembelajaran yang mengajarkan peserta
didik untuk selalu dekat dan lekat lingkungan serta situasi konkrit yang mereka hadapi
[1].
Hulu Sungai Tengah yang kaya akan masakan kulinernya makanan khas daerah,
khususnya Barabai banyak ditemukan jenis-jenis makanan khas di daerah ini dikenal
iwak pakasam, mandai tiwadak, pais waluh, sarawa/kolak pisang, cengkaruk, rimpi,
37
apam/surabi. Salah satunya warisan turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat
sudah menjadi ciri khas daerah barabai yaitu usaha pengolahan iwak pakasam.
Pakasam adalah olahan ikan air tawar yang diperoleh dari rawa atau sungai ini
banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Beragam jenis ikan bisa diolah menjadi
makanan khas ini. Terdiri dari ikan seluang, lilimbihayam, anak ikan puyau dan ikan
sepat. Pakasam atau iwak samu juga dapat dibuat dari ikan yang berukuran sedikit
lebih besar seperti papuyu (betok) dan haruan (gabus). Pada prinsipnya semua jenis
ikan air tawar dapat diolah menjadi iwak samu atau pakasam ini. Cuma yang biasanya
dijumpai adalah ikan sepat atau ikan yang ukurannya kecil-kecil tidak terlalu besar.
Perkembangannya dari tahun ke tahun, keberadaan “Iwak Pakasam Barabai”
sebagai panganan khas banyak yang mencarinya bahkan setiap tahun semakin
meningkat. Selain itu dengan rasanya yang khas dan waktunya cukup bertahan lama,
faktor yang mempengaruhinya sehingga menjadi kendala seperti kalau hujan maka
akan banyak yang tidak laku tidak semua kualitas rasa iwak pakasamnya enak dan
pembuatan yang agak susah.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dibuat penelitian tentang nilai-nilai kearifan
lokal dalam pengolahan ikan sepat dan hasil penelitian dijadikan bahan atau sumber
belajar Biologi. Informasi berupa booklet dipilih untuk menarik minat siswa dalam
pembelajaran Biologi sekaligus memberikan informasi. Dengan demikian diharapkan
dapat meningkatkan pengetahuan siswa terutama pada konsep keanekaragaman hayati.
Hal inilah yang menjadi latar belakang peneliti untuk melakukan penelitian yang
berjudul “Nilai-Nilai kearifan lokal dalam pengolahan pakasam dari ikan sepat
(Trichogaster trichopterus Pall) di desa mahang matang landung kabupaten hulu
sungai tengah”.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dan pedekatan kaulitatif. Metode deskriptif yaitu metode dengan terjun
langsung kelapangan (observasi) untuk pengamatan dan pengambilan data guna
mengetahui pengolahan pakasam di Desa Mahang Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Mahang Kabupaten Hulu Sungai Tengah,
Kalimantan Selatan. Dilaksanakan selama bulan Maret – Juli 2020.
Desain penelitian
Pada tahap ini peneliti menganalisis potensi yang ada pada pengolaham pakasam
ikan sepat. Peneliti menyiapkan lembar pertanyaan kemudian melakukan wawancara
kepada pengrajin pengolahan pakasam untuk mendapatkan data guna mengetahui
bentuk perencanaan produk yang akan dibuat sehingga dapat menghasilkan produk
berupa booklet yang akan dijadikan sumber belajar Biologi
Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian memaparkan langkah-langkah prosedural yang ditempuh
oleh peneliti dalam membuat produk. Prosedur penelitian pengembangan secara tidak
38
langsung akan memberi petunjuk bagaimana langkah prosedural yang dilalui sampai
produk yang akan dispesifikasikan. Prosedur yang lakukan meliputi:
a) Tahap analisis produk.
b) Pengembangan produk awal.
c) Validasi ahli dan revisi.
d) Uji coba kelompok kecil.
e) Uji coba kelompok besar dan produk akhir.
Namun karena keterbatasan peneliti, tahap yang dilakukan hanya sampai pada
tahapan yang ke empat, yaitu uji coba kelompok kecil. Pengembangan produk yang
berupa media ini diharapkan dapat membantu proses pembelajaran disekolah dalam
meningkatkan kompetensi pembelajaran.
Pengumpulan Data dan Analisis Data
Pengumpulan data melalui tahap-tahap sebagai berikut: Teknik observasi ini
digunakan untuk menggali data berupa tempat atau lokasi serta pengambilan gambar.
Observasi dilaksanakan di tempat pengolahan pakasam di Desa Mahang Kabupaten
Hulu Sungai Tengah, (2) Teknik pengambilan data dilakukan dengan wawancara
secara langsung pada pengolahan pakasam di Desa Mahang Kabupaten Hulu Sungai
Tengah. Teknik wawancara bertujuan untuk mengetahui langsung tentang kearifan
lokal dalam pengolahan pakasam di Desa Mahang Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Teknik analisa data menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif.
(1)Instrumen validasi ahli materi yang menjadi acuan dalam penilaian adalah
ketetapan materi, komponen penyajian, tingkat keterbacaan dan keterkaitan dengan
tujuan pembelajaran., (2) Instrumen validasi ahli media pembelajaran yang menjadi
acuan dalam penilaian adalah komponen penyajian materi/isi, komponen bahasa dan
gambar, serta komponen grafika, (3) Lembar uji coba keterbacaan dilakukan pada
kelompok kecil, yang menjadi acuan dalam penilaian adalah peserta didik mampu
dalam memahami bahasa, gambar serta penjelasan materi pada booklet..
39
beberapa kali sampai bersih, setelah itu tiriskan ikan sepat yang sudah dibersihkan
dengan air.
Tahap Pembuatan samu, beras yang sudah dicuci kemudian direndam kembali
kedalam air selama 1 jam, setelah perendaman beras selama 1 jam buang air rendaman
dan tiriskan beras. Sementara itu panaskan minyak goreng untuk menggoreng beras,
masukkan beras kedalam minyak goreng yang sudah panas aduk selama 1 jam, setelah
beras sudah agak kecoklatan tiriskan beberapa kali. Kemudian beras yang sudah
matang dihaluskan kedalam penggiling. Tahap Pencampuran, beri garam pada ikan
sepat yang sudah dibersihkan, penambahan garam sesuai selera tidak terlalu asin dan
juga tidak terlalu hambar, diamkan selama 15 sampai 20 menit hingga garam meresap
pada ikan sepat, pada ikan sepat yang telah diberi garam campurkan samu aduk hingga
rata dipermukaan ikan sepat. kemudian setelah tercampur rata, masukkan ikan sepat
yang diberi samu kedalam wadah tertutup. Biarkan paling kurang semalaman agar
terjadi proses fermentasi.
Nilai-nilai kearifan lokal pada pengolahan pakasam ikan sepat perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui setiap proses pengolahan pakasam ikan sepat yaitu
dengan melakukan wawancara narasumber sebanyak 5 orang. Narasumbernya adalah
masyarakat Desa Mahang, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah,
Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara secara
langsung pada pengrajin pengolahan pakasam ikan sepat yang dapat dijadikan sebagai
pengetahuan tentang adanya warisan budaya lokal.
40
bahan-bahan yang akan digunakan dalam pengolahan pakasam ikan sepat, cara
pembuatan beras menjadi samu kemudian dicampur dengan ikan sepat dan
jadilah pakasam ikan sepat.
2. Nilai Keselamatan
Menurut KBBI nilai keselamatan berarti bagaimana orang merasa tenang,
berhubungan dengan nilai-nilai individu dan kelompok serta sikap dan persepsi
terhadap keselamatan. Hal ini bisa dilihat pada proses pembangkitan beras yang
sudah digoreng dan siap ditiriskan supaya menghindari resiko panas ketika
pembangkitan.
3. Nilai Kesabaran
Menurut KBBI nilai kesabaran berarti mempunyai arti sifat tenang. Hal ini bisa
dilihat pada tahap penggorengan beras diaduk selama 1 jam dengan penuh
kesabaran dan tidak tergesa-gesa.
4. Nilai Keawetan
Menurut KBBI nilai keawetan berarti lama berubah, lama bertahan, tidak mudah
rusak. Hal ini bisa dilihat pada tahap pencampuran ikan sepat dengan garam
kemudian dicampurkan lagi dengan samu sehingga terjadinya fermentasi
5. Nilai Kebersihan
Menurut KBBI nilai kebersihan berarti keadaan yang rapi, bersih dari kotoran.
Hal ini bisa dilihat pada proses pembersihan bahan pembuatan pakasam ikan
sepat yang harus dibersihkan beberapa kali dengan air.
6. Nilai Kemudahan
Menurut KBBI nilai kemudahan berarti tidak memerlukan banyak tenaga atau
pikiran dalam mengerjakan tidak berat dan gampang. Hal ini bisa dilihat pada
tahap penggilingan beras yang sudah menggunakan mesin.
KESIMPULAN
Pengolahan pakasam dari ikan sepat ada 4 tahapan yaitu: tahap persiapan bahan,
tahap pembersihan, tahap pembuatan samu, tahap pencampuran.
Nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada setiap tahapan pengolahan pakasam
dari ikan sepat ada 6 yaitu: nilai kreativitas, nilai keselamatan, nilai kesabaran, nilai
keawetan, nilai kebersihan, nilai kemudahan.
Booklet yang akan dijadikan sebagai media informasi untuk bahan ajar Biologi
SD, SMP dan SMA/MA melakukan uji coba kelompok kecil 10 peserta didik dari kelas
X SMAN 4 Hulu Sungai Tengah pada Juni 2019.
Instrumen pengumpulan data dengan menggunakan lembar validasi booklet
yang terdiri dari validasi ahli materi dan validasi ahli media pembelajaran, dan lembar
uji coba keterbacaan peserta didik.
41
DAFTAR PUSTAKA
[1] Abidinsyah. 2016. Implentasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sains
Berbasis Kearifan Lokal. Banjarmasin: Program Seminar Nasional Pendidikan
Biologi STKIP PGRI BANJARMASIN
42
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS
KEARIFAN LOKAL KALIMANTAN SELATAN UNTUK
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN
BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK KONSEP INTERAKSI
MAKHLUK DENGAN LINGKUNGAN
Melly Arpiana 1), Siti Ramdiah2), Fujianor Maulana3)
Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmain, Jl. Sultan Adam Kompleks H. Iyus Blok A
No.18 RT.23 Banjarmasin, Indonesia Kode Pos 70121
Email 1: [Link]@[Link]
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini “bagaimana validitas perangkat pembelajaran melalui model
pembelajaran berbasis kearifan lokal kalimantan selatan untuk meningkatkan hasil belajar
kognitif dan berpikir kritis peserta didik konsep interaksi makhluk hidup dengan
lingkungan” yang dilakukan di STKIP PGRI Banjarmasin. Metode penelitian ini
pengembangan (Research and Development) yaitu metode penelitian yang digunakan
untuk menghasilkan suatu produk. Menurut Hamdani (2010) model pengembangan 4-D
(Four-D) merupakan model pengembangan perangkat pembelajaran terdiri dari 4 tahapan
yaitu define (pendefinisian), design (perencanaan), develop (pengembangan), dan
disseminate (penyebaran). Tetapi dalam penelitian ini hanya sampai dengan tahap
develop (pengembangan) dikarenakan pandemi covid-19 dan juga melibatkan tiga
validator ahli untuk memvalidasi perangkat pembelajaran agar layak untuk digunakan
dalam pembelajaran IPA sekolah menengah pertama. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa hasil validasi untuk RPP penilaian oleh para ahli dengan nilai 74,66. Hasil validasi
untuk LKPD penilaian oleh para ahli dengan nilai 73,33. Selanjutnya, hasil validasi untuk
Soal Tes penilaian validasi RPP oleh para ahli dengan nilai 72, dari ketiga hasil validasi
perangkat pembelajaran tersebut termasuk dalam kualifikasi cukup valid dan tidak revisi
yang mengacu pada kriteria kevalidan menurut (Arikunto, 2010) yang berarti juga
perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal layak digunakan dalam proses
pembelajaran.
ABSTRACT
The purpose of this study "how the validity of learning tools through learning models
based on local wisdom of South Kalimantan to improve cognitive learning outcomes and
critical thinking of students on the concept of interaction between living things and the
environment" which was conducted at STKIP PGRI Banjarmasin. This research method
is development (Research and Development), namely the research method used to
produce a product. According to Hamdani (2010) the 4-D (Four-D) development model
is a learning device development model consisting of 4 stages, namely define, design,
develop, and disseminate. But in this study only up to the develop stage due to the Covid-
19 pandemic and it also involved three expert validators to validate learning tools to
make them suitable for use in junior high school science learning. The results showed
that the results of the validation for the RPP were assessed by experts with a value of
74.66. The validation results for LKPD were assessed by experts with a value of 73.33.
Furthermore, the results of the validation for the test questions for the assessment of RPP
validation by experts with a value of 72, of the three validation results of the learning tools
are considered valid enough and not revised which refer to the validity criteria according
43
to (Arikunto, 2010) which means wisdom-based learning tools. local feasible to use in the
learning process.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya
diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada peserta didik atau
orang yang sedang di didik.
Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan secara aktif mencari,
mengolah, dan menggunakan pengetahuan. Kurikulum 2013 merupakan
penyempurnaan dari kurikulum 2006 atau lebih dikenal dengan KTSP. Kurikulum
2013 terdapat beberapa perubahan pada proses pembelajaran dan dalam proses
penilaian. Pada kurikulum 2013 juga disebutkan tentang mata pelajaran IPA diajarkan
secara terpadu sebagai mata pelajaran integrative science, bukan sebagai pendidikan
disiplin ilmu [1].
Konsep dalam dunia pendidikan suatu metode pembelajaran sangat diperlukan
oleh seorang guru untuk dapat memberikan pembelajaran yang kontribusif. Namun,
berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru pada kenyataannya kecenderungan
peserta didik dalam kelas adalah kesulitan dalam memahami pembelajaran yang
dijelaskan oleh guru karena pembelajaran yang kurang menarik serta kesadaran
peserta didik dalam belajar pun masih kurang. Dalam kegiatan belajar mengajar,
peserta didik sering menjadi objek penerima informasi dari presentasi lisan guru,
kegiatan pembelajaran cenderung monoton dan juga membosankan. Beberapa peserta
didik setelah diwawancarai mengaku belajar hanya saat ada tugas dan ulangan saja
bahkan ada juga yang tidak belajar sehingga nilainya tidak bagus. Hal inilah yang
menyebabkan sebagian peserta didik malas untuk bertanya, kurang termotivasi dalam
belajar dan sikap ingin tahu nya rendah. Selain itu, guru juga seharusnya mereflesikan
diri apakah cara mengajarnya sudah baik atau belum, dan apakah metode atau
pendekatan yang diterapkan dalam pembelajaran sudah sesuai sehingga dapat diterima
oleh peserta didik dan sekaligus untuk mengetahui potensi tentang kearifan lokal yang
ada disekolah. Selanjutnya menurut pengamatan guru banyak peserta didik yang cuek
saja terhadap lingkungan sekitar dengan membuang sampah sembarangan, hal
tersebut disebabkan oleh tidak adanya sikap peduli terhadap lingkungan.
Berdasarkan alasan tersebut sebagian besar cara berpikir kritis peserta didik
pada mata pelajaran IPA khususnya pada materi interaksi makhluk hidup dengan
lingkungan masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil tugas dan juga ulangan
peserta didik, yaitu banyak yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yang ditetapkan yaitu 60. Dari hasil wawancara hal ini juga disebabkan oleh
metode dan juga perangkat pembelajaran yang diajarkan guru yang kurang inovatif
sehingga peserta didik kurang kreatif dan kurang termotivasi dalam mengikuti proses
pembelajaran dikelas.
44
Berdasarkan uraian tersebut peneliti berkeinginan untuk mengembangkan
perangkat pembelajaran (RPP, LKPD, dan soal tes) melalui model kearifan lokal yang
mampu meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran dan juga
diharapkan meningkatkan hasil belajar kognitif serta berpikir kritis. Karena model
tersebut memfasilitasi antara materi, informasi, potensi dan kearifan lokal sebagai
sumber belajar bagi peserta didik. Model Pembelajaran Kearifan lokal adalah salah
satu model pembelajaran inovatif yang membangun kondisi belajar aktif peserta didik
dengan memanfaatkan kearifan lokal Kalimantan selatan sebagai sumber belajar
biologi [2].
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengembangan (Research
and Development (R&D) yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan
suatu produk. Produk yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah perangkat
pembelajaran berbasis model pembelajaran kearifan lokal yaitu pengembangan RPP,
LKPD, dan juga Soal Tes yang akan diuji keefektifan produk tersebut.
Prosedur pada penelitian pengembangan ini menggunakan model pengem-
bangan four-D. Menurut Hamdani [3] model pengembangan 4-D (four-D) tetapi dalam
penelitian ini hanya sampai pada tahap ketiga yaitu develop (pengembangan)
dikarenakan kondisi dan situasi pandemik covid-19 yang terjadi saat ini. Tahap-tahap
tersebut sebagai berikut:
a. Tahap studi pendefinisian atau define dalam penelitian ini dimulai dengan
melakukan observasi untuk mengetahui kondisi siswa, kegiatan belajar mengajar
dan perangkat pembelajaran yang digunakan.
b. Tahap perencanaan atau design merupakan tahapan menyusun materi. Materi
dalam penelitian ini adalah interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.
Perangkat pembelajaran disusun dengan mengacu pada kurikulum dan
pembelajaran dimuati kegiatan yang dapat mengembangkan karakter positif
peserta didik.
c. Tahap pengembangan atau develop yang merupakan tahap untuk menguji
kelayakan perangkat tersebut. Perangkat pembelajaran di uji oleh pakar yang ahli
di bidang pendidikan dan pengembangan. Setelah diuji ahli, perangkat dianalisis
untuk mengetahui kelayakan dari perangkat yang dibuat.
Tempat dan Waktu
Penelitian ini di lakukan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(STKIP) Banjarmasin. Penelitian ini juga dilaksanakan selama ± 5 bulan terhitung
dari bulan Maret-Juli yang berlangsung pada tahun ajaran 2020.
Desain penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yang diperoleh, yaitu data kualitatif
dan data kuantitif. Data kualitatif yang digunakan untuk merivisi atau pun
memperbaiki produk yang berupa data deskriptif mengenai tanggapan atau saran dari
para ahli. Data kuantitatif pada penelitian ini berupa deskriptif skor yang diperoleh
45
dari para ahli.
Instrumen Peneliitan
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar validasi.
Lembar validasi yang dimaksudkan disini adalah alat untuk menguji kevalidan suatu
produk yaitu untuk mengetahui apakah rencana pelaksanaan perangkat pembelajaran
IPA berbasis kearifan lokal tersebut sudah sesuai atau tidak. Lembar validasi dalam
penelitian ini meliputi : a) Lembar validasi RPP b) Lembar validasi LKPD c) Lembar
validasi Soal.
Pengumpulan Data dan Analisis Data
Data kelayakan produk yang dihasilkan, ditentukan melalui analisis hasil
validasi ahli: Presentase = ∑ Skor Total X 100%
∑ Skor Maksimal
Tabel 3.1 Kriteria kevalidan data angket penilaian validator
Skala Nilai Kualifikasi Keterangan
85,94% - 100% Valid Tidak revisi
67,19% - 85,93% Cukup valid Tidak revisi
48,44% - 67,18% Kurang valid Revisi
25% - 48,43% Tidak valid Revisi
Analisis Data
Berdasarkan data hasil validasi perangkat pembelajaran yang dilakukan oleh
ketiga validator yaitu 1 ahli pembelajaran biologi dan 2 ahli praktisi, maka diperoleh
penskoran hasil validasi pada perangkat pembelajaran, yaitu RPP memperoleh
persentase 74,66%, sedangkan hasil validasi LKPD memperoleh persentse 73,33%.
Selanjutnya untuk validasi soal memperoleh persentase 72%. Dari data hasil validasi
tersebut dapat disimpulkan semua perangkat pembelajaran yang dikembangkan dan
juga telah divalidasi oleh validator telah mencapai kevalidan. Hal tersebut sesuai
dengan kriteria kevalidan Arikunto yang menyatakan bahwa persentase 67,19% -
85,93% termasuk dalam kualifikasi cukup valid dan memiliki keterangan tidak revisi,
sehingga layak diujicobakan.
Berdasarkan dari analisis data di atas mengenai kevalidan perangkat
pembelajaran yang telah dikembangkan, perangkat pembelajaran dikatakan valid, jika
46
perangkat pembelajaran memenuhi kriteria kevalidan data angket penilaian validator.
Menurut Akbar yang dikemukakan oleh Adawiyah [4] bahwa perangkat pembelajaran
dapat dikatakan valid jika perangkat tersebut memiliki kesesuaian dengan landasan
teoritik pengembangannya dan jika digunakan maka dapat mengukur kemampuan
yang diharapkan. Fitria, dkk [5] mengemukakan proses validasi produk dilakukan
oleh validator dalam hal ini dosen atau para ahli yang telah berpengalaman menilai
suatu produk baru. Hasil analisis tersebut dijadikan sebagai pedoman untuk merevisi/
memperbaiki kekurangan produk setelah melalui proses validasi.
Selanjutnya, Fatmawati[6] mengemukakan bahwa Perangkat pembelajaran
dikatakan valid apabila ada keterkaitan yang konsisten dari setiap komponen
perangkat pembelajaran yang dikembangkan dengan karakteristik model
pembelajaran yang diterapkan. Tujuan sebuah perangkat yang dikembangan agar
memudahkan seorang guru dalam proses pembelajaran, serta dapat guru dalam
mengajar dengan lebih baik, karena apabila sebuah perangkat lebih dikembangkan
dengan metode dan strategi yang matang dan disiapkan dengan baik akan tercapainya
hasil belajar sesuai KKM serta menambahkan berpikir kritis peserta didik dan juga
lebih bersemangat dalam proses belajar mengajar. Selain itu, peserta didik juga
memiliki sikap peduli peserta didik terhadap kearifan lokal kalimantan selatan.
Perangkat yang dimaksud adalah rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), lembar
kerja peserta didik (LKPD) dan juga soal tes yang mempunyai tujuan pembelajaran.
Rajabi,dkk [7] mengemukakan proses belajar atau pembelajaran terjadi dengan
banyak cara. Ada pembelajaran yang bersifat intensional (bertujuan) dan ada pula
yang tidak intensional (tidak bertujuan). Proses pembelajaran siswa di dalam kelas
merupakan contoh pembelajaran yang bersifat intensional.
Karena bersifat intensional, maka hasil belajar yang dilakukan harus dirujuk
pada tujuan belajarnya. Apakah tujuan belajar telah tercapai setelah melaksanakan
pembelajaran atau belum tercapai. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan cerminan
dari tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Berdasarkan temuan dan kajian referensi tersebut maka dapat diinformasikan
bahwa pengembangan perangkat pembelajaran dengan model pembelajaran kearifan
lokal Kalimantan selatan ini memiliki potensi dalam meningkatkan hasil belajar
kognitif dan berpikir kritis siswa, serta perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran.
Hal ini telah dijelaskan Ramdiah, dkk [2], bahwa model pembelajaran kearifan lokal
Kalimantan Selatan memiliki potensi dalam meningkatkan berpikir tingkat tinggi
siswa dan adanya sikap peduli terhadap kearifan lokal Kalimantan Selatan. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa tahapan-tahapan dalam model tersebut mampu melatihkan
dan membimbing peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang ada di
lingkungan sekitar.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul Pengembangan Perangkat
Pembelajaran MelaluiModel Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Kalimantan
47
Selatan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif dan Berpikir Kritis Peserta Didik
Konsep Interaksi Makhluk Hidup Dengan Lingkungan dan pembahasan diatas dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil Validitas Perangkat Pembelajaran
a. Validitas RPP
Hasil validitas menunjukkan penilaian validasi RPP oleh para ahli dengan nilai
74,66 yang termasuk dalam kualifikasi cukup valid dan tidak revisi.
b. Validitas LKPD
Hasil validitas menunjukkan penilaian validasi LKPD oleh para ahli dengan
nilai 73,33 yang termasuk dalam kualifikasi cukup valid dan tidak revisi.
c. Validitas Soal
Hasil validitas menunjukkan penilaian validasi Soal oleh para ahli dengan nilai
72 yang termasuk dalam kualifikasi cukup valid dan tidak revisi.
Sehingga dapat disimpulkan dari semua hasil validitas tersebut, perangkat
pembelajaran menunjukkan kevalidan yaitu presentase > 67,19% yang termasuk
dalam kualifikasi Cukup Valid dan Tidak Revisi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Kemendikbud. Pengembangan Kurikulum 2013. Jakarta: Kemendikbud. 2012.
[2] Ramdiah, Abidinsyah, dan M. Royani. Model Pembelajaran Kalimantan
Selatan. Banjarbaru: Scripta Cendikia. 2018.
[3] Hamdani. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV Pustaka Setia. 2010.
[4] Adawiyah, R., & Hidayah, Y. Pengembangan perangkat pembelajaran IPA
Biologi kelas VII SMP Negeri 27 Sungai Andai Banjarmasin berbasis Inquiry
Terbimbing. Lentera: Jurnal Pendidikan, 12(1). 2017.
[5] Fitria, A. D., Mustafi M. K., Taufiq, A. U. Pengembangan Media Gambar
Berbasis Potensi Lokal pada Pembelajaran Materi Keanekaragaman Hayati di
Kelas X SMAN 1 Pitu Riase Kab. Sidenreng Rappang (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar). 2017.
[6] Fatmawati, A. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Konsep Pencemaran
Lingkungan Menggunakan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah Untuk
SMA Kelas X. Edu Sains: Jurnal Pendidikan Sains dan Matematika, 4(2). 2016.
[7] Rajabi, M., Ekohariadi, E., & Buditjahjanto, I. G. P. Pengembangan perangkat
pembelajaran instalasi sistem Operasi dengan model pembelajaran berbasis
proyek. Pendidikan Vokasi: Teori dan Praktik, 3 (01). 2015.
48
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA PEMANASAN
GLOBAL MELALUI MODEL NUMBERED HEAD TOGETHER
1
Dessy Wahyuni, 2 Lagiono, 3Budi Prayitno
Program Studi STKIP PGRI Banjarmasin
*Email1: wahyunidessy27@[Link]
ABSTRAK
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan peneliti di SMP Negeri 8 Hulu Sungai
Tengah pada kelas VII B ditemui suatu permasalahan yaitu kurangnya pemahaman siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran, dari 24 orang siswa hanya 12 orang yang tuntas
yaitu ketuntasan klasikalnya 50%, yang seharusnya 80%. Siswa kurang berminat untuk
belajar dan cenderung pasif dalam pembelajaran. Hal ini berpengaruh terhadap hasil
belajar yang masih tergolong rendah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan
menerapkan model pembelajaran NHT. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang dirancang dalam 2 siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII B
SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah tahun ajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa 24
orang. Teknik pengumpulan data menggunakan tes tertulis. Teknik analisis data yang
digunakan adalah secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan
menggunakan model pembelajaran NHT dapat meningkatkan pemahaman siswa dengan
ketuntasan klasikal 75% pada siklus I meningkat pada siklus II menjadi 91,67%.
ABSTRACT
Based on the results of observations made by researchers at SMP Negeri 8 Hulu Sungai
Tengah in class VII B, a problem was found, namely the lack of understanding of students
in participating in the learning process, of 24 students only 12 of them completed, namely
50% classical completeness, which should be 80 %. Students are less interested in
learning and tend to be passive in learning. This has an effect on learning outcomes which
are still relatively low. One of the efforts that can be done is by applying the NHT learning
model. This type of research is Classroom Action Research (CAR) which is designed in 2
cycles. The research subjects were class VII B students of SMP Negeri 8 Hulu Sungai
Tengah in the academic year 2019/2020 with a total of 24 students. The data collection
technique used a written test. The data analysis technique used is descriptive. The results
showed that using the NHT learning model can improve students' understanding with
75% classical completeness in the first cycle increased in the second cycle to 91.67%.
PENDAHULUAN
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan
manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan sangat perlu untuk dikembangkan dari
berbagai ilmu pengetahuan, karena pendidikan yang berkualitas dapat meningkatkan
kecerdasan suatu bangsa. Pendidikan lebih dari sekedar pengajaran, yang dapat
dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu, transformasi nilai, dan pembentukan
kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya (Nurkholis, 2013).
49
Pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, telah menetapkan
kurikulum 2013 untuk diterapkan mulai tahun ajaran 2013/2014 pada sekolah/
madrasah di Indonesia. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa
pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Siswa adalah
subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah,
mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan, sehingga dalam kegiatan inti
pembelajaran kurikulum 2013 terdiri atas lima kegiatan yaitu Mengamati, Menanya,
Mencoba, Menalar, dan Mengkomunikasikan (5M) (Hosnan, 2014).
Sekolah yang menerapkan kurikulum 2013, tentu pembelajarannya harus
mengikuti tuntutan dalam kurikulum 2013, yang menerapkan pendekatan saintifik,
siswa harus terlibat aktif dalam pembelajaran, siswa juga harus memiliki sikap ilmiah
melalui kegiatan pembelajaran yang mengarah pada penyelidikan dan pengamatan,
untuk dapat membuat siswa memiliki sikap ilmiah tersebut maka sangat diperlukan
model pembelajaran yang tepat agar dapat mengingkatkan pemahaman dan aktivitas
belajar siswa sehingga hasil belajar siswa juga meningkat (Akhirida, 2015).
Hasil observasi yang telah dilakukan peneliti di SMP Negeri 8 Hulu Sungai
Tengah pada kelas VII B ditemui suatu permasalahan yaitu kurangnya pemahaman
siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, dari 24 orang siswa hanya 12 orang yang
tuntas yaitu ketuntasan klasikalnya 50%, yang seharusnya 80% dari KKM 70. Siswa
kurang berminat untuk belajar dan cenderung pasifdalam pembelajaran. Hal ini
berpengaruh terhadap hasil belajar yang masih tergolong rendah. Proses pembelajaran
cenderung monoton sehingga membuat siswa tidak dapat menggunakan dan
mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam belajar.
Keberhasilan belajar dapat tercapai dengan model pembelajaranNumbered Head
Together (NHT). Model pembelajaran NHT mengacu pada belajar kelompok siswa,
masing-masing anggota memiliki bagian tugas (pertanyaan) dengan nomor yang
berbeda-beda dan mengacu pada interaksi sosial sehingga pembelajaran NHT dapat
meningkatkan hubungan sosial antarsiswa.
Model NHT ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi
informasi, mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan.
Setiap siswa mendapatkan kesempatan sama untuk menunjang timnya guna
memperoleh nilai yang maksimal sehingga termotivasi untuk belajar, dengan demikian
setiap individu merasa mendapat tugas dan tanggung jawab sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai(Sukidin dan Sunarto, 2002).
Model pembelajaran NHT merupakan sebuah model pembelajaran yang
mengutamakan keaktifan siswa di dalam kelas dalam mencari, mengolah serta
melaporkan informasi hasil diskusi yang diakhiri dengan kegiatan presentasi siswa di
depan [Link] model pembelajaran NHT ini dapat meningkatkan pemahaman
dan aktivitas belajar siswa karena dengan model pembelajaran NHT guru dapat
memberi kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi gagasan, mempertimbangkan
jawaban yang paling tepat, dan untuk meningkatkan kerja sama siswa pada materi
Pemanasan Global, sehingga proses pembelajaran tidak lagi monoton.
50
Berdasarkan permasalahan yang terjadi maka dilakukan upaya untuk
meningkatkan pemahaman dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran pemanasan
global. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melakukan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran NHT. Penelitian Tindakan
Kelas ini dilaksanakan di SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah Semester II Kabupaten
Hulu Sungai Tengah. Sekolah ini dipilih karena peneliti menemukan adanya
permasalahan dalam pembelajaran IPA di Kelas VII B, serta adanya keinginan dari
peneliti untuk mencari penyelesaian masalah yang tepat untuk dapat meningkatkan
pemahaman dan aktivitas siswa.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa
dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) pada
materi pemanasan global di kelas VII B SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah.
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
Meningkatkan pemahaman siswa dengan menggunakan model pembelajaran
Numbered Head Together (NHT) pada materi pemanasan global di kelas VII B SMP
Negeri 8 Hulu Sungai Tengah.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian
Tindakan Kelas yaitu penelitian yang dilakukan di kelas atau di sekolah dengan tujuan
memperbaiki mutu proses dan hasil pembelajaran (Sanjaya, 2016).
Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020
dengan mengambil tempat di SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah beralamat di Jalan
Divisi IV ALRI kode pos 71363, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai
Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
Desain penelitian
Penelitian ini direncanakan berlangsung dalam 2 siklus, masing-masing siklus
dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan (tatap muka). Kedua siklus tersebut dilaksanakan
melalui 4 tahapan pokok, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan
(acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
Prosedur Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan mengacu pada 4 tahapan pokok PTK seperti
disebutkan sebelumnya dan dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Tahap perencanaan.
Hal-hal yang digunakan pada tahap perencanaan ini adalah: (a) Meminta kesediaan
sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan kelas. (b) Membuat skenario
pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (c) Menyusun
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), soal pretest, dan posttest beserta kunci jawaban.
Semua perangkat dan instrumen penelitian diatas dikonfirmasikan kepada guru dan
dilakukan perbaikan seperlunya jika terdapat kekurangan. (2) Tahap Pelaksanaan
Tindakan. Tahap ini guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan skenario
51
yang telah disusun dalam RPP, dengan langkah pokok sebagai berikut: melakukan
apersepsi dan memotivasi siswa, (b) menjelaskan tujuan pembelajaran, (c) guru
mengadakan pretest, (d) menyajikan materi pelajaran secara singkat, (e) guru
membentuk kelompok secara heterogen, (f) siswa dibagi dalam kelompok. Setiap
siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor, (g) guru memberikan tugas dan
masing-masing kelompok mengerjakannya, (h) setiap kelompok mengerjakan tugas
dari guru yaitu melaksanakan investigasi, (i) kelompok mendiskusikan jawaban yang
benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakan atau mengetahui
jawabannya dengan baik, (j) guru mengadakan posttest, (k) menjelang akhir
pembelajaran guru memberikan penjelasan singkat (klarifikasi) bila terjadi kesalahan
konsep dan memberikan kesimpulan. (3) Tahap Pengamatan. Tahap ini dilakukan
bersamaan sejak dimulainya kegiatan pembelajaran. (4) Refleksi. Tahap ini
dilaksanakan setelah siklus berakhir dan dilakukan secara kolaborasi antara peneliti
dan guru untuk mengkaji dan membahas secara menyeluruh tindakan dan hasil yang
telah dicapai. Apabila ditemukan hambatan maupun kekurangan maka akan dicari
penyebab dan solusinya sehingga dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan pada
pelaksanaan siklus berikutnya.
Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah tes.
Tes dilakukan secara tertulis digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar
siswa. Tes ini berupa pretest dan posttest serta LKPD yang diberikan sebagai bentuk
evaluasi siswa agar dapat mengetahui sejauh mana pemahaman siswa.
Indikator keberhasilan tindakan ini ditentukan dengan persentase peningkatan
pemahaman siswa dengan ketentuan sebagai berikut: (a) Hasil belajar siswa mencapai
ketuntasan individual yaitu 70. (b) Hasil belajar siswa mencapai ketuntasan klasikal
yaitu 80%.
HASIL
Hasil Penelitian
a. Hasil Belajar Siswa (Pretest dan Posttest) Siklus I
Data hasil belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah pada
Materi Pemanasan Global menggunakan model pembelajaran NHT yang dilihat dari
nilai pretest dan posttest pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Ringkasan Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
Hasil Belajar
Pertemuan
Tuntas Tidak Tuntas Ketuntasan Klasikal
1 (Protest) 5 19 20,83%
2 (Posttest) 18 6 75%
Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa ketuntasan klasikal pada pretest hanya
20,83 % dan pada posttest hanya 75%.
52
b. Hasil Belajar Siswa (LKPD)
Hasil selama proses pembelajaran LKPD siswa kelas VII B SMP Negeri 8 Hulu
Sungai Tengah pada Materi Pemanasan Global model pembelajaran NHT pada siklus
I pertemuan 1 dan pertemuan 2 dapat dilihat dari Tabel 2 berikut ini.
Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa ketuntasan klasikal pada pretest hanya
45,83% dan pada posttest ketuntasan klasikal sebesar 91,67%.
53
Hasil LKPD
Kelompok
Pertemuan 3 Pertemuan 4
Rata-rata 82 88
Pembahasan
Pemahaman siswa berdasarkan hasil belajar berupa postest pada tiap akhir siklus
I dan siklus II maka dapat dibandingkan hasil tes tersebut sehingga dapat diketahui
seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa dalam memahami materi interaksi
makhluk hidup dengan lingkungan yang telah dilaksanakan pada setiap siklus. Data
perbandingan pemahaman siswa pada siklus I dan siklus II tersaji dalam bentuk grafik
pada Gambar 1 berikut.
Perbandingan Pemahaman
Siswa
100
80
60
40
20
0
Siklus I Siklus II
Siklus I Siklus II
Berdasarkan hasil penelitian sesuai pada Tabel 1 bahwa pada pertemuan 1 dan 2
pada siklus I banyak peserta didik belum tuntas, pada pretest pertama yang mencapai
KKM sebanyak 5 sehingga ketuntasan klasikal 20,83%. Hasil tersebut harus ditindak
lanjuti agar hasil belajar siswa dapat memenuhi standar ketuntasan minimal. Hal ini
disebabkan karena pengetahuan siswa masih kurang, dan tidak adanya persiapan siswa
dalam melaksanakan tes diawal pembelajaran serta siswa belum mengenal dengan
model pembelajaran NHT yang dilakukan dengan pengaturan siswa bekerja dalam
kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian siklus I dan siklus II, ketuntasan belajar secara
klasikal dan selama proses pembelajaran meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa
tujuan penelitian untuk meningkatkan pemahaman berupa hasil belajar kognitif telah
tercapai. Ketuntasan dianggap berhasil apabila secara klasikal 80% sesuai ketentuan
KKM dari SMPN 8 Hulu Sungai Tengah yaitu ≥70.
54
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan siklus II pada Materi Pemanasan
Global melalui model NHT, dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai
berikut: Pembelajaran dengan model NHT pada materi Pemanasan Global dapat
meningkatkan pemahaman berupa hasil belajar siswa kelas VII B SMP Negeri 8 Hulu
Sungai Tengah. Hasil peningkatan ini dapat dilihat dari ketuntasan secara klasikal tiap
siklus dengan ketuntasan klasikal 75% pada siklus I dan meningkat pada siklus II
menjadi 92%.
DAFTAR PUSTAKA
Afta, Yuri, Clarry S dan Rosalyna Y2016. Penerapan Model Pembelajaran Tipe
Number Heads Together (NHT) Berbasis Pendekatan Saintifik Terhadap Hasil
Belajar [Link] Pendidikan Dasar, 4(1): 92104.
Akhirida, Resty. 2015. Studi Komparasi Hasil Belajar Kelas X SMAN 3 Banjarmasin
Tahun 2014 pada Pembelajaran Konsep Archaebacteria dan Eubacteria
Menggunakan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah dan Group
Investigation. Banjarmasin: Pendidikan Biologi FKIP UNLAM Banjarmasin.
Aqib, Zainal. 2014. Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual
(Inovatif). Bandung: Yrama Widya.
Hakim, Noor. [Link] Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas X Mia 3
SMA Negeri 2 Kandangan Dengan Model Teams Games-Tournament (TGT)
Pada KonsepAnimalia Invertebrata. Banjarmasin: STKIP PGRI Banjarmasin.
Hosnan. 2014. Pendekatan Sainstifik dan Kontekstual dalam pembelajaran Abad 21.
Bogor: Ghalia Indonesia.
Kusnandar. 2013. Peniliaian Autentik (Peniliaian Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: Rajawali Perss.
Rustaman, Nuryani. 2005. Strategi Belajar Mengajar Belajar. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Sanjaya, Wina. 2016. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media.
Shoimin, Aris. 2014.68 Model Pembelajan Inovatif dalam Kurikulum
[Link]: Ar-Ruz Media
55
POTENSI PEMANFAATAN TUMBUHAN BAMBU
SEBAGAI PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF
KERAJINAN TANGAN ANYAMAN BAKUL
DI DESA HARATAI KECAMATAN LOKSADO
ABSTRAK
Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan kekayaan sumber daya alam yang banyak
memberikan manfaat untuk kebutuhan masyarakat di sekitar hutan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui potensi dan pemanfaatan bambu di Desa Haratai kecamatan
Loksado. Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi usaha
pemberdayaan dan pemanfaatan bambu secara optimal dan alternatif bagi masyarakat.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juni 2020 di Desa Haratai Kecamatan
Loksado. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan observasi dan mencatat di lapangan,
serta wawancara dengan masyarakat/responden yang memanfaatkan tanaman bambu.
Data sekunder dikumpulkan melalui studi pustaka yang bersumber dari buku, jurnal, dan
data-data dari instansi-instansi terkait. Potensi tegakan bambu tali di Desa Haratai
Kecamatan Loksado relatif rendah yaitu sebanyak 3843 batang per ha, dengan jumlah
rumpun 61 rumpun dengan rata-rata 63 batang per rumpu. Rata rata bambu yang dipanen
per tahun masih relatif sedikit sebesar 11,25% dari potensi bambu tua. Bentuk
pemanfaatan bambu oleh petani selain untuk dijual pada umumnya digunakan sebagai
bahan bangunan, kerajinan tangan, dan sebagai pagar.
Kata kunci: Potensi Bambu, Anyaman Bakul
PENDAHULUAN
Negara Indonesia dikenal dengan kekayaan alam yang sangat melimpah
diberbagai aspek baik dari sumber daya alam hayati maupun non hayati. Di setiap
wilayah yang memiliki potensi kekayaan alam yang berlimpah tentunya akan
mengalami suatu perkembangan yang diharapkan dapat untuk dimanfaatkan potensi
kekayaan alam tersebut untuk kesejahteraan masyarakat sekitar. Terutama hasil
pertanian tanaman bambu di Indonesia sangat berlimpah banyak upaya yang
dilakukan agar hasil pertanian tanaman bambu bisa dimanfaatkan baik untuk dalam
negeri maupun keluar negeri. Hasil dari pertanian tanaman bambu ini diharapkan
mampu mengubah kondisi ekonomi masyarakat menjadi lebih baik. Pertanian di
Indonesia harus selalu dilaksanakan dan dikembangkan agar mampu mencukupi
kebutuhan hidup masyarakat Indonesia.
Di Indonesia bambu adalah tanaman serbaguna dan menempati tempat yang
istimewa di kehidupan masyarakat. Banyak sekali bambu yang dapat kita temui di
berbagai daerah perdesaan. Namun, banyak juga masyarakat yang tidak bisa
membudidayakan bambu dan menjadi bambu sebagai kegiatan ekonomi masyarakat
untuk mengatasi pengangguran dan menaikan taraf hidup masyarakat. Indonesia
57
merupakan salah satu wilayah yang menjadi surga bagi jenis tanaman yang disebut
juga sebagai buluh, aur, dan eru ini. Diperkirakan terdapat sedikitnya 159 jenis bambu
di Indonesia dan 88 diantaranya merupakan spesies endemik Indonesia (Departemen
Kehutanan dan Perkebunan, 1999 dalam Prasetiyo, 2010). Bambu merupakan jenis
rumput-rumputan yang beruas, tergolong dalam famili Poaceae, yang terdiri atas 70
genus. Bambu termasuk jenis tanaman yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang
tinggi. Beberapa jenis bambu mampu tumbuh hingga sepanjang 60 cm dalam sehari.
Meskipun bambu mendapatkan tempat yang penting di kehidupan masyarakat
Indonesia, budidaya secara perkebunan dan pelestarian bambu masih jarang di
lakukan. Di banyak tempat, keberadaan tanaman bambu cenderung diabaikan, banyak
warga yang memilih membabat rerumpunan bambu karena dianggap kurang berguna
dan menakutkan. Situasi tersebut membuat tanaman bambu terancam mengalami
kepunahan. Jika terus dibiarkan, maka akan menggangu ekosistem. Padahal, tanaman
bambu sangat bermanfaat dalam berbagai aspek lingkungan, sosial dan ekonomi.
Bambu merupakan kelompok hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang potensial
dapat mensubtitusi penggunaan kayu. Bambu tergolong sumber bahan baku yang
ramah lingkungan karena sekali menanam terus memanen. Untuk membangun industri
berbasis bahan baku bambu harus mengadakan penanaman bambu sendiri.
Penanaman dapat dilakukan sebagai tanaman bambu rakyat di lahan-lahan masyarakat
maupun di lahan-lahan negara di dalam kawasan yang kurang produktif ditanami kayu.
Selama ini, banyak industri penggunaan bahan baku bambu masih mengandalkan
bambu rakyat. Kelemahan dari bambu rakyat untuk industri berbasis bahan baku
bambu adalah letaknya terpencar-pencar, tidak terjaminnya kualitas batang, dan
pasokannya yang tidak dapat terus menerus.
Sementara itu, pemanfaatan bambu dari hutan bambu alam juga tidak
menguntungkan karena kondisi tegakan rumpun yang buruk, sulit di eksploitasi,
batang tidak berkualitas dan membutuhkan biaya lebih besar. Tentunya untuk
menunjang industri berbasis bahan baku bambu, diperlukan tegakan-tegakan rumpun
dengan produktivitas dan kualitas yang lestari. Tanaman bambu termasuk sumber daya
biologis, Sumber daya alam jenis ini mempunyai ciri seperti sumber daya alam yang
dapat di perbaharui karena mereka dapat di perbaiki setiap saat, asal ada perawatan
untuk melindunginya dan pemakaiaanya sesuai dengan kondisi persediaan mereka.
Dalam waktu-waktu tertentu sumber daya alam ini dapat digolongkan ke dalam
sumber daya alam yang tak dapat di perbaharui, yaitu pada saat mereka menjadi sangat
berkurang pertumbuhannya sebagai akibat dari pemakaian yang boros dan kurang
bertanggung jawab.
Anyaman bambu merupakan aset budaya daerah setempat serta warisan nenek
moyang yang seharusnya di jaga dan dipertahankan keberadaanya. Salah satu upaya
mengenal dan melestarikan nilai budaya pada anyaman bambu yaitu dengan
mengetahui, teknik, bentuk, fungsi dan motif. Namun kurang perhatian masyarakat
dan pemerintah setempat dalam mengembangkan dan mengelola hasil produk aset
daerah menjadikan anyaman bambu ini berkurang di ketahui masyarakat daerah. Disisi
58
lain, kurangnya informasi dan buku-buku yang membahas tentang anyaman bambu
menjadi salah satu faktor minimnya pengetahuan masyarakat tentang anyaman bambu,
sehingga dapat dikhawatirkan masyarakat setempat hanya mengetahui anyaman
bambu tetapi tidak mengenal dari segi teknik bentuk dan motif dan fungsi yang
terkandung pada anyaman bambu di Desa Haratai Kecamatan Loksado.
Budaya adalah bentuk jamak dari kata budi dan daya. Yang berarti cinta, karsa,
dan rasa. Kata budaya sebenarnya berasal dari bahasa sanskerta Budhayah yaitu bentuk
jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal (Setiadi, 2007:27). Sedangkan
menurut Koentjaraningrat dalam Setiadi (2007:28) “Kebudayaan adalah sebagai
keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka
kehindupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Anyaman bambu yang didaerah tersebut, awal mulanya muncul dari tuntutan
untuk membuat barang-barang bernilai guna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
dan keperluan adat (upacara ritual), diproduksi dalam jumlah yang terbatas dan
pemasaran terbatas. Akan tetapi kriya anyaman bambu di Desa Haratai telah
berkembang sesuai dengan permintaan pasar. Misalnya komoditi cendera mata
(souvenir), benda pakai benda pajang, elemen dekorasi dan untuk keperluan kesenian
secara umum.
Kearifan lokal merupakan tata nilai kehidupan yang terwarisi dari satu generasi
ke generasi berikutnya yang berbentuk religi, budaya ataupun adat istiadat yang
umumnya dalam bentuk lisan dalam suatu bentuk sistem sosial suatu masyarakat
(Juniarta, [Link]., 2013). Tiap-tiap masyarakat mempunyai kearifan lokal, kearifan
tradisional, pengetahuan lokal (local expertice) atau kecerdasan lokal (local genius)
dan kearifan asli pribumi (indigenous knowledge) yang berguna dalam kehidupan
mereka (Nurman, et. al., 2012).
Kearifan lokal dapat diartikan sebagai bentuk pemahaman atau pengetahuan dari
suatu masyarakat terhadap cara menghadapi sistem yang berlaku di masyarakat, dan
digunakan oleh masyarakat tersebut untuk berperilaku. Kearifan lokal yang begitu
mengagumkan pada dasarnya tidak ada ilmu yang rendah atau tinggi, dan terwujud
dengan ilmu tentang lingkungan yang disebut dengan etnoekologi. Etnoekologi
(ethnoecology) adalah ilmu yang mempelajari tentang manusia dan ekologi sebagai
jembatan penghubung antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan
kemasyarakatan melalui kronologi waktu sehingga menggambarkan suatu kekhasan
atau spesifikasi ekologi tertentu akibat adanya bentuk-bentuk interaksi manusia (Julie,
2005).
METODE
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, hasil
penelitian dapat dideskripsikan sebagaimana adanya dari objek teliti.
Mendeskripsikan temuan lapangan sesui dengan kenyataan yang ada pada saat
penelitian langsung. Penelian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu sosial
pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung dari pengamatan pada
59
manusia baik dalam kawasan maupun dalam peristirahatan (Kirk dan Miller dalam
Moleong (2005:4). Penelitian ini mendeskripsikan tentang produk anyaman bambu
di Desa Haratai Kecamatan Loksado.
Kajian tentang produk anyaman bambu di Desa Haratai Kecamatan Loksado
dengan mengunakan teknik triangulasi. Data penelitian ini adalah tentang produk
anyaman bakul. Sumber data penelitian ini adalah data primer yang dapat diperoleh
langsung dari lapangan atau tempat penelitian dan data sekunder adalah data yang
diperoleh melalui studi kepustakaan berupa dokumen arsip yang menyangkut
masalah yang diteliti serta foto-foto, setelah data produk anyaman bambu yang kita
teliti terkumpul teknik analisis data yang dilakukan merujuk pada teknik triangulasi
(Moleong 2005:330).
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan di Desa Haratai Kecamatan Loksado. Waktu penelitian
dilaksanakan selama ± 4 (empat) minggu dimulai pada tanggal 1 April sampai 1 Juni
2020. Objek penelitian ini adalah masyarakat yang memanfaatkan HHBK untuk
kerajinan tangan anyaman di Desa Haratai.
Sumber Data
a. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari responden yang
melakukan usaha anyaman bambu (bakul) melalui wawancara dan observasi
kepada responden yang melakukan usaha anyaman bambu (bakul). Pengumpulan
data primer dilakukan melalui pengisian kuisioner dengan teknik wawancara dan
pencatatan pada saat penelitian berlangsung. Wawancara tersebut dilakukan
langsung pada pengrajin anyaman bambu (bakul) dengan cara mendatangi
langsung tempat tinggal responden yaitu Desa Haratai Kecamatan Loksado.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari buku, jurnal, arsip, literatur dan
dokumen-dokumen penting yang masih ada hubungannya dengan materi strategi
pengembangan. Data sekunder meliputi daftar pengrajin disetiap Kecamatan dan
jumlah pengrajin disetiap desa.
Metode Pengumpulan Data
Data yang diambil dalam penelitian strategi pengembangan usaha anyaman
bambu (bakul) diambil dari hasil wawancara, observasi, studi pustaka dan
dokumetasi.
a. Wawancara yaitu menggunakan metode tanya jawab langsung dengan berbagai
pihak yang terkait di usaha kerajinan anyaman bambu (bakul) untuk memperoleh
keterangan sebagai tujuan penelitian.
b. Observasi/pengamatan yaitu melakukan pengamatan langsung terhadap masalah-
masalah yang sebenarnya terjadi dilapangan, hal ini dilakukan untuk
menyelaraskan wawancara dan pencatatan yang dilakukan.
c. Studi pustaka yaitu pengumpulan data dengan cara memanfaatkan data yang
tersedia dan menghubungkan dengan kegiatan penelitian. Data tersebut dapat
60
berupa buku, arsip, jurnal, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan
penelitian.
d. Dokumentasi yaitu merupakan teknik pengumpulan gambar untuk memperkuat
data-data yang diambil dengan menggunakan teknik pengambilan data
sebelumnya.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisa deskriptif
kualitatif. Data hasil wawancara dan angket dikelompokkan berdasarkan jenis
anyaman, cara memperoleh tumbuhan bambu, manfaaat tumbuhan bambu,
bagian/organ tumbuhan yang digunakan, dan cara pengolahan yang diketahui oleh
masyarakat di Desa Haratai Kecamatan Loksado.
HASIL
Bahan Pokok Anyaman Bakul
Bambu
Pada proses produksi anyaman bakul, pengrajin menggunakan bahan pokok
bambu tali untuk dijadikan sebuah karya kerajinan berupa bakul dan kreasi anyaman
bakul. Bahan pokok tersebut diambil di hutan Desa Haratai itu sendiri. Dalam
pemilihan bahannya, para pengrajin anyaman bakul memilih bahan pokok yang
berkualitas, karena dengan bahan baku yang berkualitas, disamping mendapatkan
hasil produksi yang berkualitas, juga menambah daya jualnya dan dapat menambah
kepercayaan pada konsumen terhadap produk yang dihasilkan. Bahan baku yang
dipilih menurut para pengrajin Anyaman bakul di Desa Haratai yang sedang dan
tinggi agar mudah dalam pembuatan anyaman bakul tersebut.
Alat bantu produksi anyaman bakul
a. Parang
b. Pisau
c. Pewarna (kasumba)
d. Rotan
Proses produksi anyaman bakul
Proses produksi dalam penelitian ini adalah proses produksi industri rumah tangga
kerajinan tangan anyaman bambu (bakul) yang berada di Desa Haratai. Produk
anyaman bambu (bakul) yang dihasilkan merupakan produk kerajinan tangan yang
berbahan baku bambu tali. Proses produksi tersebut dilakukan menggunakan
peralatan seperti, parang, pisau, pewarna dan rotan. Proses produksi anyaman bambu
(bakul) dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga dari tahap awal hingga tahap akhir.
Berikut ini adalah proses proses produksi anyaman bambu (bakul) di Desa Haratai.
a. Siapkan terlebih dahulu bahan utamanya yaitu bambu. bambu yang dipilih
adalah yang sudah kuat dan jangan menggunakan bambu yang terlalu tua.
Sedangkan jika menggunakan bambu yang muda juga tidak baik karena
seratnya masih tajam.
61
b. Selanjutnya ketika memilih bambu, perhatikan ruas bambu. Bambu yang dipilih
adalah bambu yang mempunyai ruas saling sejajar.
c. Setelah bahan sudah siap, maka siapkanlah alat-alat yang akan digunakan
seperti parang, dan pisau untuk menebang.
d. Setelah semua bahan dan alat sudah siap, maka langkah awal yang harus
dilakukan adalah membelah bambu secara sinkron dengan buku-bukunya.
Bambu dipangkas dengan rapi menggunakan parang.
e. Proses pengerokan, pengerokan yang dilakukan dalam produksi pembuatan
anyaman bambu (bakul) adalah mengerok pada bagian kulit luar bambu yang
berwarna hijau menggunakan parang, setelah bambu dikerok bagian luar bambu
dibuang menggunakan parang dan bambu
f. dibelah menjadi dua bagian yang sama kemudian dibelah lagi menjadi lima
bagian yang sama sampai lebar kurang lebih 1,2 cm dengan menggunakan
parang.
g. Proses pengiratan, pengiratan yang dilakukan dalam produksi anyaman bambu
(bakul) adalah mengirat bambu yang sudah dibelah dengan cara memberi jalan
iratan menggunakan pisau untuk dibuat iratan yang tipis-tipis lalu ditarik
dengan tangan.
h. Proses penghalusan, penghalusan yang dilakukan dalam produksi anyaman
bambu (bakul) adalah menghaluskan iratan bambu yang sudah dibelah dengan
menggunakan pisau.
i. Proses penjemuran, penjemuran yang dilakukan dalam produksi anyaman
bambu (bakul) adalah menjemur iratan bambu langsung terkena cahaya
matahari 3 sampai 4 hari. Penjemuran ini dimaksud untuk memperoleh daya
lenting yang kuat dan berwarna putih, sehingga bambu tidak mudah pecah dan
patah agar mempermudah proses penganyaman.
j. Proses pewarnaan, Pewarnaan ini dilakukan untuk menambah nilai estetika dari
produk kerajinan yang dihasilkan. Proses pewarnaan ini dimulai dengan
mendidihkan pewarna pakaian di atas wajan. Setelah mendidih, bilah bambu
dimasukkan sambil dipegang bagian pucuknya. Selanjutnya, diamkan selama
10-15 menit, lalu diangkat dan dikeringkan.
k. Proses penganyaman, penganyaman yang dilakukan dalam produksi anyaman
bambu (bakul) adalah menganyam iratan bambu yang sudah dihaluskan yang
dilandasi dengan landasan anyaman. Setelah itu, motif dasar pembuatan
kerajinan bambu pada dasarnya sama yaitu menggunakan motif anyaman silang
tunggal dan anyaman silang ganda. Dalam pembuatan motif anyaman, anyaman
dibentuk selebar mungkin dengan bentuk yang beraturan. Posisi bilah luar harus
menghadap ke luar sedangkan bilah dalam harus menghadap ke dalam. Hal ini
dimaksudkan agar hasil anyaman terlihat rapi dan rata. Proses menganyam
menggunakan teknik hitungan satu per satu. Setelah dirasa cukup lebar, maka
pinggiran anyaman dilipat agar rapi dan rata. Selanjutnya, anyaman yang telah
bermotif siap dibentuk menjadi berbagai produk kerajinan.
62
PEMBAHASAN
Berdasarkan dari hasil penelitian dan wawancara penulis dengan para perajin di
Desa Haratai Kecamatan Loksado. Teknik pengolahan bahan baku anyaman bambu
adalah menebang bambu setengah tua, memotong bambu, membelah bambu, meraut
bambu sampai menjadi pita-pita bambu, di jemur, setelah kering direbus, dan
diwarnai, kemudian pita dijemur kembali, dan setelah itu pita-pita anyaman bambu
itu siap diolah menjadi anyaman. teknik yang digunakan oleh perajin dalam membuat
produk anyaman bambu di Desa Haratai menggunakan teknik empat sumbu. Teknik
tersebut merupakan teknik anyaman bambu dasar yang umumnya para perajin, seperti
yang dikemukakan oleh Soemarjadi (1991:53) bahwa teknik anyaman terbagi
menjadi, anyaman silang tunggal, anyaman silang ganda dan empat sumbu.
Di Desa Haratai kecamatan Loksado bahwa perajin menggunakan teknik teknik
yang sama untuk membuat kedua produk tersebut yaitu teknik silang tunggal, silang
ganda atau anyaman silang satu, dua, tiga dan empat untuk anyaman dasar maupun
untuk membuat motif. Bentuk produk anyaman bambu di Desa Haratai kecamatan
Loksado adalah wujud yang di tampilkan satu bentuk yang mempunyai ukuran
panjang dan lebar, dua dimensioanal) dan bentuk yang mempunyai ukuran panjang
dan lebar dan tinggi (tiga dimensional). Hal ini sesuai dengan dikemukan oleh
Ramanto (2004:12).
Dari hasil penelitian dilapangan ada dua bentuk anyaman bambu di Desa
Haratai yaitu bentuk produk dua dimensional dan produk tiga dimensioanal. Bentuk
produk anyaman dua dimensi yang dimaksud adalah mempunyai ukuran panjang dan
lebar saja. Bentuk-bentuk anyaman bambu dua dimensional yang dibuat di Desa
Haratai tidak mengalami perekembang variasi bentuknya yang dihasilkan contoh
kipas, anyaman bilik dan hiasan dinding, sementara itu produk anyaman bambu tiga
dimensional adalah produk yang mempunyai ukuran panjang lebar dan tinggi. Bentuk
bentuk produk anyaman yang dihasilkan tempat tissue bakul tas nyelawat tempat
Koran, vas bunga, baki, nyiru. Bentuk itu sangat berkaitan dengan fungsi produk
anyaman bambu sebab anyaman adalah sebagian dari seni kriya.
Menurut yoyok dalam yani (2006:10) seni kriya dibagi menjadi dua yaitu
sebagai benda dekoratif yang tujuannya adalah untuk memenuhi kepuasan batin
senimanya dan tidak memiliki tujuan praktis. Sebagai benda pakai yang tujuan adalah
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian di Desa Haratai
bahwa perajin anyaman bambu memproduksi dua fungsi produk saja yaitu benda
pakai dan benda hias. Hasil yang produk yang terdapat di Desa Haratai yaitu:
anyaman bakul. Dalam fungsi produk anyaman bambu terdapat di Desa Haratai
Kecamatan Loksado terdapat nama motif anyaman bambu.
Pemberian nama motif pada produk anyaman bambu sangat berguna untuk
memberikan identitas pada bentuk motif produk anyaman bambu tersebut. Nama
motif yang terdapat pada produk anyaman di Desa Haratai mempunyai nama motif
campuran, pemberian nama motif tersebut berdasarkan bentuk motif yang
ditimbulkan oleh pengguna teknik anyaman silang tunggal, anyaman silang ganda
63
dan anyaman silang ganda silang satu, dua, tiga, dan lima yang mana proses
pembuatan motif yang dimulai dari tengah menyebar atas bawah kiri dan kanan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian di Desa Haratai Kecamatan Loksado perajin
mengunakan teknik silang ganda dua, Bentuk dan fungsi kriya bambu yang dihasilkan
oleh masyarakat Desa Haratai, ialah salah satu kegiatan tradisional yang dilakukan
secara turun temurun, disamping bertani pada umumnya pada masyarakat Desa
Haratai mengisi waktu luang dengan kegiatan membuat kerajinan bakul. Pada
awalnya kegiatan membuat kerajinan adalah pekerjaan sampingan saat menunggu
waktu bertani. Sebagai penolong dalam pemenuhan kelangsungan hidupnya. Dalam
pembuatan kerajinan pada awalnya diperoleh karena tuntutan, akan kebutuhan
peralatan keseharian yang bisa digunakan. Seperti perlengkapan pertanian, upacara
adat dan lain sebagainya. Akan tetapi melihat dari pada itu akhirnya pembuatan
kerajinan mulai dibuat sesuai dengan bentuk dan fungsinya seperti pada peralatan
dapur.
DAFTAR PUSTAKA
Juniarta, H.P., Susilo, Edi, Primyastanto, M. 2013. Kajian Profil Kearifan Lokal
Masyarakat Pesisir Pulau Gili Kecamatan Sumberasih Kabupaten
Probolinggo Jawa Timur. Jurnal ECSOFiM Vol. 1 No. 1
Julie (2005) Do Glaciers Listen: Local Knowledge, Colonial Encounters, and Social
Imagination. Seattle: University of Washington Press.
Linda, F. 2017. Pemanfaatan Rotan dan Bambu Yang Bernilai Ekonomis oleh
Masyarakat Suku Dayak Kanayant di Kecamatan Sengah Terlina Kabupaten
Landak. Jurnal Protobiant. Vol 6. (3): 233-239
Moleong, L. J. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Nurman, dkk. 2014. Kearifan Lokal Masyarakat Talang Mamak Dalam Berladang.
Program Studi Ilmu Lingkungan PPS Universitas Riau
Ramanto Muzni. 2004. Pengetahuan Bahan, Seni Rupa dan Kriya: UNP
Ridwan, Nurma Ali. 2007. Landasan Keilmuan Kearifan Lokal, dalam Jurnal Studi
Islam dan Budaya Ibda` Vol. 5 No. 1 Jan-Jun 2007, hal 27-38 P3M STAIN
Purwokerto.
Rohidi, Tjetjep Rohendi. 2000. Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung:
Sekolah Tinggi Seni Indonesia Press.
Sigit Prasetiyo (2010) Identifikasi Potensi dan Pemasaran Produk dari Hutan Rakyat
Bambu Desa Pertumbukan Kabupaten Langkat. Sumatra Utara. Diakses pada
tanggal 26 maret 2017.
Setiadi, elly M Dkk. 2007. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana.
Soedjono dan Hartanto. 1991. Budidaya bambu. DAHARA PRIZE.
64
Santosa Budi, Nurodo dan Jaidun Kurnaidi. 2013. Koleksi Kerajinan Bambu.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata. Museum
Jawa Tengah Ranggawarsita.
Santosa Budi, Nurodo dan Jaidun Kurnaidi. 2013. Koleksi Kerajinan Bambu.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata. Museum
Jawa Tengah Ranggawarsita.
Soemarjadi dkk. 1991. Pendidikan Keterampilan, Padang: IKIP.
Yani. 2007. Studi tentang proses pembuatan anyman nyiru di Nagari Bukik
Kanduang Kecematan X Koto Di Atas Kabupaten Solok. (skripsi)Padang
:Program Strata I UNP Padang.
65
INVENTARISASI SERANGGA TANAH DI PERKEBUNAN
KELAPA SAWIT PARLIN KECAMATAN SIMPANG EMPAT
KABUPATEN TANAH BUMBU
ABSTRAK
Serangga tanah dapat didefinisikan sebagai serangga yang menghabiskan sebagian atau
seluruh hidupnya di tanah, baik di permukaan tanah maupun di dalam lapisan tanah.
Kehadiran serangga tanah yang beraneka ragam di Ekosistem pertanian sangat penting
untuk melestarikan kesinambungan dan kecukupan pasokan hara melalui
keikutsertaannya dalam menghancurkan dan menguraikan bahan organik. Perkebunan
kelapa sawit parlin merupakan salah satu area yang sangat cocok untuk dijadikan spot
penelitian. Banyak serangga yang mendiami di Ekosistem perkebunan ini dengan
melakukan hubungan timbal balik untuk bertahan hidup. Saya tertarik untuk melakukan
penelitian ditempat ini dengan judul Iventarisasi serangga tanah yang bertujuan untuk
mengetahui jenis-jenis serangga tanah, mengetahui jenis serangga tanah yang
mendominasi, dan untuk mengetahui korelasi antara faktor abiotik dan biotik di
perkebunan kelapa sawit parlin kecamatan simpang empat kabupaten tanah bumbu.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sebanyak 118 individu serangga tanah dari 6 famili
dengan didominasi oleh serangga tanah famili formicidae karna tingkat produktivitas dari
famili ini sangat cepat sehingga mendominasi ekosistem tersebut. Dari penelitian yang
telah saya lakukan dapat disimpulkan bahwa ekosistem perkebunan kelapa sawit sawit
parlin masih dalam keadaan normal dan subur hal ini dapat dilihat dari jumlah spesies
yang diperoleh dalam penelitian dan parameter lingkungan yang masih kategori normal.
ABSTRACT
Soil insects can be defined as insects that spend part or all of their life in the soil, both
on the soil surface and in the soil layer. The presence of various soil insects in
agricultural ecosystems is very important to preserve the sustainability and adequacy of
nutrient supply through their participation in destroying and breaking down organic
matter. Parlin oil palm plantations are an area that is very suitable to be a research spot.
Many insects that inhabit this plantation Ecosystem by making a reciprocal relationship
in order to survive. I am interested in conducting research in this place with the title
Inventory of soil insects, which aims to determine the types of soil insects, to determine
the types of soil insects that dominate, and to determine the correlation between abiotic
and biotic factors in parlin oil palm plantations, Simpang Empat sub- district, spiced soil
district. Based on the research results, it was obtained that 118 individual soil insects
from 6 families were dominated by soil insects of the formicidae family because the
productivity level of this family was very fast so that it dominated the ecosystem. From
the research I have done, it can be concluded that the parlin oil palm plantation
ecosystem is still in a normal and fertile condition, this can be seen from the number of
species obtained in the study and environmental parameters which are still in the normal
category.
67
PENDAHULUAN
Perkebunan kelapa sawit parlin merupakan salah satu perkebunan sawit yang
ada di kecamatan simpang empat tetapnya di desa gunung besar. Perkebunan ini milik
pribadi orang cina dengan luas sekitar 600 hektar dan dikelola oleh salah seorang
pekerja dari flores ntt. Salah satu produksi pertanian yang memiliki keunggulan di
kabupaten tanah bumbu adalah kelapa sawit.
Kelapa sawit adalah tumbuhan industri/perkebunan yang berguna sebagai
penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan baka Pohon kelapa sawit
terdiri dari dua spesies yaitu spesies elaeis guineensis dan elaeis oleifera yang
digunakn untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Pohon
kelapa sawit elaeis guineensis, berasal dari afrika barat diantara angola dan gambia,
pohon kelapa sawit elaeis oleifera, berasal dari amerika tengah dan amerika selatan.
Kelapa sawit menjadi populer setelah revolusi industri pada akhir abad ke-19 yang
menyebabkan tingginya permintaan minyak nabati untuk bahan pangan dan industri
sabun.
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman yang memiliki daya tarik tersendiri
dimasyarakat. Saat ini perkebunan kelapa sawit indonesia berkembang sangat pesat.
Kelpa sawit tumbuh dan dibudidayakan hampir diseluruh nusantara, baik itu milik
perseorangan atau milik perusahaan. Tananaman ini mengandung banyak kasiat
membuat permintaan kelapa sawit menjadi terus meningkat. Penanaman suatu
komoditas pertanian secara luas dan monoklatur sangat berpeluang terserangnya
penyakit pada tanaman, hal serupa terjadi di lokasi penelitian diaman kondisi
pertumbuhan kelapa sawit kurang subur.
Berdasarkan permasalahan diatas, peneliti ingin mengkaji penyebab
terganggunya pertumbuhan kelapa sawit tersebut baik dari faktor biotik maupun
abiotiknya. Foktor biotik seperti serangga tanah yang merupkan hama bagi tanaman
kelapa sawit dan faktor abiotik seperti kandungan unsur fisika atau kiminya. Dalam
penelitian ini peneliti mengambil judul “Inventarisasi Serangga Tanah Di Perkebunan
Kelapa Sawit Parlin Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu”dengan
tujuan mengetahui serangga yang ada dilokasi penelitian baik yang berpengaruh
posistif maupun negatif bagi tanaman sawit, mengetahui keanekaragaman serangga
tanah dan mengetahui korelasi antara serangga tanah dengan lingkungannya.
METODOLOGI PENELITIAN
Lingkup Penelitian
Lokasi penelitian terbatas pada kawasan perkebunan kelapa sawit parlin
kecamatan simpang empat kabuoaten tanah [Link] penelitian terbatas pada
serangga tanah yang berhasil ditemukan dan di identifikasi selama masa
[Link] serangga tanah dilakukan sampai tingkat spesies. Penelitian ini
dilaksanakan mulai 16-19 juni 2020, sedangkan tempat penelitian berlokasi di
perkebunan kelapa sawit parlin kecamatan simpang empat kabupaten tanah bumbu.
Alat-alat yang digunakan adalah: Gelas plastik, kamera foto, thermometer, botol
68
spesimen, alat tulis, pisau, pinset, soil tester, mikroskop, dan alat identifikasi (boror,
pengenalan pelajaran serangga dan lilis kunci determinasi serangga), tiang penyangga
atap jebakan, meteran, baskom, saringan. Bahan-bahan yang digunakan adalah:
alkohol 70%, detergen, air bersih, kertas label, formalin 5%.
Desain Penelitian
Jenis penelitian yang dilaksanakan adalah penelitian deskriptif - eksploratif.
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk mengumpulkan
informasi mengenai status suatu gejala yang ada yaitu keadaan gejala menurut apa
adanya pada saat penelitian dilakukan. Pada penelitian ini menggunakan metode
survei dengan teknik eksplorasi yaitu segala cara untuk menetapkan lebih teliti atau
seksama dalam suatu penelitian, dan dokumentasi. Langkah- langkah yang dilakukan
dalam penelitian deskripsi ini adalah mengumpulkan spesimen, mendeskripsikan,
mengidentifikasi, mengklasifikasi dan selanjutnya menginventarisasi.
Prosedur Penelitian
Observasi lapangan kegiatan yang dilakukan dari observasi lapangan ini
merupakan tahap awal sebelum melakukan penelitian dengan tujuan untuk
mengetahui .Kondisi lokasi penelitian yang dipakai untuk menentukan metode dan
teknik pengambilan sampel pada penelitian yang akan dilakukan.
Pengamatan dilakukan titik stasiun dengan ukuran 40×20 meter. Pada tiap
stasiun dibuat satu transek yang berukuran 40 m kemudian pada satu transek
terdapat empat plot dan satu transek lainya terdapat 3 plot. Pada tiap-tiap plot
dipasang empat prangkap sumuran (pitfall trap). Jarak antara satu perangkap
dengan yang lainnya adalah 3 m dan pada plot terakhir dipasang satu prangkap
sumuran (pitfall trap).penelitian dilakukan dalam dua kali pengulangan setian 24
jm.
Perangkap yang digunakan adalah perangkap sumur pitfall trap yang biasanya
digunakan untuk serangga yang aktif dipermukaan tanah. Pada tiap plot
pengamatan dipasang 4 prangkap, penempatan perangkap dilakukan dengan cara
membenamkan perangkap ke dalam tanah dengan Permukaan perangkap sejajar
dengan permukaan tanah. Perangkap tersebut berisi air sabun secukupnya dan
dipasangkan atap setinggi
±30 cm dari permukaan tanah dan untuk mencegah masuknya air apabila turun
hujan maka dibuatkan paritkecil disebelah depan dan belakang perangkap.
69
berdasarkan tempat pengambilan.
Proses identifikasi dengan menggunakan buku identifikasi, lup dan
mikroskop. Buku identifikasi yang dipakai yaitu Borror et al., (pengenalan
pelajaran serangga “edisi keenam 1997) [1], Lilies (kunci identifikasi serangga
1992) [2]. Setiap sampel diidentifikasi hingga tingkat famili, untuk mendapatkan
gambaran tentang famili dilakukan perbedaan berdasarkan kenampakan morfologi
lalu di identifikasi.
HASIL PENELITIAN
Hasil invetarisasi serangga tanah
Tabel 1. Perolehan serangga tanah di perkebunan kelapa sawit Parlin
KecamatanSimpang Empat Kabupaten Tanah Bumbu.
Plot
No Spesies I II III IV V VI VII Jumlah
1 Dolichoderus thoracicus (semut hitam) 3 4 1 4 5 3 2 22
2 Solenopsis spp (semut api) 2 3 4 2 3 2 1 17
3 Iridomyrmex sp(semut kelapa) 1 1 2 4 - 1 1 10
4 Oecophilla smaragdina(semut - - 2 - 2 - - 4
rangrang)
5 Tapinoma melanocephalum(semuat 3 1 3 2 1 3 4 17
pudak)
6 Gryllotalpa hirsuta (anjing tanah) 2 - - - 2 2 - 6
7 Gryllus mitratus (jangkrik cliring) - - 2 - - - 6 8
8 Periplaneta (kecoak coklat) 2 1 - 1 - 1 1 6
9 Orthoptera - 1 - - 2 - - 3
10 Blattaria 1 1 1 - 2 1 2 8
11 Coleoptera 1 - 1 2 1 1 1 7
12 Araneae 2 2 - 1 1 - - 6
13 Araneida - - - - - 2 2 4
70
Tabel 3. Hasil pengukuran parameter lingkungan.
PEMBAHASAN
Inventarisasi Serangga Tanah
Inventarisasi adalah suatu kegiatan untuk mengoleksi jenis-jenis obyek
pengamatan yang terdapat pada suatu daerah. Berdasarkan hasil iventarisasi bahwa
jumlah individu Dolichoderus thoracicus (semut hitam) 22 spesies, Solenopsis spp
(semut api) 17 spesies, Iridomyrmex sp(semut kelapa) 10 spesies, Oecophilla
smaragdina(semut rangrang) 4 spesies, Tapinoma melanocephalum(semuat pudak) 17
spesies, Gryllotalpa hirsuta (anjing tanah 6 spesies, Gryllus mitratus (jangkrik cliring)
8 spesies, Periplaneta (kecoak coklat) 6 spesies, Orthoptera 3 spesies, Blattaria 8
spesies, Coleoptera 7 spesies, Araneae 6 spesies dan Araneida 4 spesies, jadi jumlah
spesies di peroleh hasil jebakan pitfall trap adalah 118 spesies dengan jumlah individu
terbanyak adalah famili formicidae.
71
Lingkungan merupakan ruang tiga dimensi, yang mana didalamnya organisme
merupakan salah satu bagian. Lingkungan bersifat berubah- rubah setiap saat,
perubahan dan perbedaan yang terjadi baik secara mutlak maupun relatif dari faktor-
fakor lingkungan terhadap organisme akan berbeda-beda menurut waktu, tempat dan
keadaan organisme tersebut. Serangga
KESIMPULAN
Famili serangga tanah yang ditemukan selama penelitian di perkebunan kelapa
sawit parlin kecamatan simpang empat kabupaten tanah bumbu sebanyak 118
individu serangga tanah yang diperoleh dari 6 famili yaitu formicidae 70 serangga,
gryllidae 14 serangga, blatidae 7 serangga, cicindelida 7 serangga, ctenizidae 6
serangga dan lycosidae 4 serangga. b) Famili serangga tanah yang mendominasi di
perkebunan kelapa sawit parlin kecamatan simpang empat adalah famili formicidae
dengan indek nilai penting adalah makhluk yang berdarah dingin. Apabila suhu
lingkungannya menurun, maka suhu tubuh mereka akan menurun dan proses
fisiologisnya juga akan menjadi lambat.
Ada beberapa serangga yang dapat hidup pada suhu yang sangat rendah dan
beberapa lagi yang mampu hidup pada suhu tinggi. Serangga tanah ada yang bersifat
menguntungkan dan ada yang merugikan bagi lingkungannya. Serangga yang
merugikan bisa menyebabkan kerusakan pada tanaman dan lain-lain. Serangga
bersifat menguntungkan sangat berperan penting di dalam lingkungannya, seperti
halnya serangga berperan sebagai penyerbuk makanan, pemakan bahan organik dan
ada juga serangga yang dapat merugikan bagi lingkungannya yaitu serangga sebagai
perusak tanaman atau biasa disebut dengan hama.
(INP) paling tinggi sebesar 0,81%. c) Indek keanekaragaman serangga tanah
diperkebunan kelapa sawit parlin senilai 1,2 dengan kategori sedang. d)Faktor yang
mempengaruhi kehidupan serangga di perkebunan kelapa sawit parlin adalah
kelembaban udara, suhu, kecepatan angin, itensitas cahaya, ph tanah dan
kelembaban tanah. e)Hasil pengukuran parameter lingkungan menunjukan bahwa
rata-rata diatas normal kecuali kecepatan angin dan kelembaban tanah berada
dibawah normal.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Borror, d. J., c. A. Triplehorn dan n. F. Johnson. Pengenalan pelajaran serangga
(Introduction of Insect Lesson). Terjemahan oleh drh. Soetiyono Partosoedjono,
[Link] Mada University Press: Yogyakarta. 1992.
[2] Lilies S, Christina. Kunci determinasi [Link]: Kanisius. 1991.
72
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA INTERAKSI
MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION
ABSTRAK
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran Biologi kelas VII A
SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah, terdapat sekitar 45% siswa yang belum mencapai
ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu sebesar 80%. Siswa kurang berminat
untuk belajar dan cenderung pasif dalam setiap pembelajaran. Hal ini berdampak pada
pemahaman siswa yang masih kurang maksimal. Salah satu cara untuk mengatasi
permasalahan ini adalah menggunakan model Group Investigation. Penelitian ini
bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dengan model pembelajaran Group
Investigation. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang
dirancang dalam 2 siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII A SMP Negeri 8 Hulu
Sungai Tengah tahun ajaran 2019/2020 dengan jumlah siswa 23 orang. Teknik
pengumpulan data menggunakan tes tertulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah
secara deskriptif. Hasil penelitian menggunakan model pembelajaran Group
Investigation dapat meningkatkan pemahaman siswa dengan ketuntasan klasikal 69,57%
pada siklus I meningkat pada siklus II menjadi 100%.
ABSTRACT
Based on observations and interviews with biology subject teacher class VII A SMP
Negeri 8 Hulu Sungai Tengah, there are about 45% of students who have not achieved
the predetermined classical completeness that is, 80%. Students are less interested in
learning and tend to be passive in every lesson. This matter impact on students'
understanding that is still not maximal. One way to solve the problem this is using the
Group Investigation model. This study aims to increase understanding students with the
Group Investigation learning model. This type of research is Classroom Action Research
(PTK) designed in 2 cycles. The research subjects were students of class VII A SMP
Negeri 8 Hulu Sungai in the middle of the 2019/2020 school year with 23 students. Data
collection techniques using tests written. The data analysis technique used is descriptive.
The results of the study used a model Group Investigation learning can improve students'
understanding with 69.57% classical completeness in cycle I increased in cycle II to
100%.
Keywords: understanding; group investigation; the interaction of living things with the
environment
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha yang terencana, hal ini berarti proses pendidikan di
sekolah bukanlah proses yang dilaksanakan secara asal-asalan dan untung-untungan,
73
akan tetapi proses yang bertujuan sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan
siswa diarahkan pada pencapaian tujuan [1].
Pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, telah menetapkan
kurikulum 2013 untuk diterapkan mulai tahun ajaran 2013/2014 pada sekolah/madra-
sah di Indonesia. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan
tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Siswa adalah subjek yang
memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan
menggunakan pengetahuan, sehingga dalam kegiatan inti pembelajaran kurikulum
2013 terdiri atas lima kegiatan yaitu Mengamati, Menanya, Mencoba, Menalar, dan
Mengkomunikasikan (5M) [2].
Sekolah yang menerapkan kurikulum 2013, tentu pembelajarannya harus
mengikuti tuntutan dalam kurikulum 2013, yang menerapkan pendekatan saintifik,
siswa harus terlibat aktif dalam pembelajaran, siswa juga harus memiliki sikap ilmiah
melalui kegiatan pembelajaran yang mengarah pada penyelidikan dan pengamatan,
untuk dapat membuat siswa memiliki sikap ilmiah tersebut maka sangat diperlukan
model pembelajaran yang tepat agar dapat mengingkatkan pemahaman dan aktivitas
belajar siswa sehingga hasil belajar siswa juga meningkat [3].
Hasil observasi yang telah dilakukan peneliti di SMP Negeri 8 Hulu Sungai
Tengah kelas VII A [4] menyatakan bahwa ditemui suatu permasalahan yaitu sulitnya
membuat siswa aktif dan mendapatkan hasil yang memuaskan dalam belajar IPA,
hampir dalam setiap materi pembelajaran yang disuguhkan kepada mereka selalu saja
ada kendala yang menyebabkan kurangnya pemahaman sehingga hasil belajar siswa
juga rendah. Hal ini terbukti dengan rendahnya hasil belajar IPA yang menunjukkan
bahwa hanya 45% siswa yang mendapatkan nilai diatas Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yang sudah ditentukan yaitu sebesar 70. Hal ini terjadi karena siswa hanya
duduk diam sambil memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru atau dengan kata
lain siswa kurang aktif. Siswa kadang terlihat bosan saat menerima pelajaran dan
mudah lupa terhadap materi yang diajarkan kepada mereka meskipun baru saja
disampaikan.
Hal tersebut terjadi karena IPA sering kali dianggap pelajaran yang sulit
dipahami dengan materi yang sangat kompleks, padahal IPA merupakan mata pelaja-
ran yang terdapat dalam kurikulum 2013 di sekolah yang dinilai cukup memegang
peranan penting, baik pola pikirnya maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari yang harus dikuasai siswa. Penguatan pendekatan saintifik sangat disarankan
untuk menerapkan pembelajaran berbasis penelitian [5]
Investigasi kelompok atau dikenal dengan Group Investigation merupakan
model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk
diterapkan karena siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari maupun
bagaimana jalannya penyelidikan mereka [6]
Group Investigation adalah suatu model pembelajaran yang lebih menekankan
pada pilihan dan kontrol siswa. Group Investigation memadukan prinsip belajar
74
demokratis di mana siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, baik dari
tahap awal sampai akhir pembelajaran [7].
Grup Investigation merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan
pengaturan siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan pertanyaan kooperatif,
diskusi kelompok, serta perencanaan dan proyek kooperatif. Group Investigation akan
sangat ideal untuk mengajari tentang pelajaran sejarah dan budaya sebuah Negara atau
tentang pelajaran biologi hutan hujan. Secara umum, guru merancang sebuah topik
yang cakupannya luas, dimana para siswa selanjutnya membagi topik tersebut ke
dalam subtopik. Subtopik ini merupakan sebuah hasil perkembangan dari ketertarikan
dan latar belakang siswa [8].
Berdasarkan permasalahan yang terjadi maka dilakukan upaya untuk
meningkatkan pemahaman dan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran interkasi
makhluk hidup dengan lingkungan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation. Materi ini tidak hanya mencakup serangkaian
spesies tumbuhan dan hewan saja, tetapi juga segala macam bentuk materi yang
melakukan siklus dalam sistem itu serta energi yang menjadi sumber kekuatan,
sehingga peserta didik akan lebih mandiri serta lebih dapat berkomunikatif dalam
menyampaikan kesulitan yang dihadapi dalam pembelajaran dengan model kooperatif
tipe Group Investigation [9].
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation pada
interaksi makhluk hidup dengan lingkungan di kelas VII A SMP Negeri 8 Hulu Sungai
Tengah?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
Meningkatkan pemahaman siswa dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Group Investigation pada interaksi makhluk hidup dengan lingkungan
di kelas VII A SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Penelitian
Tindakan Kelas yaitu penelitian yang dilakukan di kelas atau di sekolah dengan tujuan
memperbaiki mutu proses dan hasil pembelajaran [10].
Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020
dengan mengambil tempat di SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah beralamat di Jalan
Divisi IV ALRI kode pos 71363, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai
Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
Desain penelitian
Penelitian ini direncanakan berlangsung dalam 2 siklus, masing-masing siklus
dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan (tatap muka). Kedua siklus tersebut dilaksanakan
75
melalui 4 tahapan pokok, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan
(acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting).
Prosedur Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan mengacu pada 4 tahapan pokok PTK seperti
disebutkan sebelumnya dan dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Tahap perencanaan.
Hal-hal yang digunakan pada tahap perencanaan ini adalah: (a) Meminta kesediaan
sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan kelas. (b) Membuat skenario
pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (c) Menyusun
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), soal pretest, dan posttest beserta kunci jawaban.
Semua perangkat dan instrumen penelitian di atas dikonfirmasikan kepada guru
dan dilakukan perbaikan seperlunya jika terdapat kekurangan. (2) Tahap Pelaksanaan
Tindakan. Tahap ini guru melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan skenario
yang telah disusun dalam RPP, dengan langkah pokok sebagai berikut: (a) Melakukan
apersepsi dan memotivasi siswa. (b) Menjelaskan tujuan pembelajaran. (c) Guru
mengadakan pretest. (d) Menyajikan materi pelajaran secara singkat. (e) Guru
membentuk kelompok secara heterogen. (f) Guru mengidentifikasikan topik dan
mengatur murid ke dalam kelompok. (g) Setiap kelompok mengerjakan tugas dari guru
yaitu melaksanakan investigasi (h) Setiap kelompok melaporkan hasil pengamatannya
dengan mempresentasikan hasilnya dengan mempresentasikan hasil kerja
kelompoknya. (i) Guru mengadakan posttest (j) Menjelang akhir pembelajaran guru
memberikan penjelasan singkat (klarifikasi) bila terjadi kesalahan konsep dan
memberikan kesimpulan. (3) Tahap Pengamatan. Tahap ini dilakukan bersamaan sejak
dimulainya kegiatan pembelajaran. (4) Refleksi. Tahap ini dilaksanakan setelah siklus
berakhir dan dilakukan secara kolaborasi antara peneliti dan guru untuk mengkaji dan
membahas secara menyeluruh tindakan dan hasil yang telah dicapai. Apabila
ditemukan hambatan maupun kekurangan maka akan dicari penyebab dan solusinya
sehingga dapat dijadikan sebagai bahan perbaikan pada pelaksanaan siklus berikutnya.
Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah tes.
Tes dilakukan secara tertulis digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar
siswa. Tes ini berupa pretest dan posttest serta LKPD yang diberikan sebagai bentuk
evaluasi siswa agar dapat mengetahui sejauh mana pemahaman siswa.
Indikator keberhasilan tindakan ini ditentukan dengan persentase peningkatan
pemahaman siswa dengan ketentuan sebagai berikut: (a) Hasil belajar siswa mencapai
ketuntasan individual yaitu 70. (b) Hasil belajar siswa mencapai ketuntasan klasikal
yaitu 80%
76
Group Investigation yang dilihat dari nilai pretest dan posttest pada siklus I dapat
dilihat pada Tabel 1 berikut.
Ringkasan Hasil Belajar Siswa pada Siklus I
Hasil Belajar
Pertemuan
Tuntas Tidak Tuntas Ketuntasan Klasikal
1 (Protest) 4 19 17,39%
2 (Posttest) 16 7 69,57%
Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa ketuntasan klasikal pada pretest hanya
17,39% dan pada posttest hanya 69,57%.
Berdasarkan tabel 3, dapat dilihat bahwa ketuntasan klasikal pada pretest hanya
34,78% dan pada posttest ketuntasan klasikal sebesar 100%.
77
d. Hasil Belajar Siswa (LKPD)
Hasil selama proses pembelajaran LKPD siswa kelas VII A SMP Negeri 8 Hulu
Sungai Tengah pada Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan menggunakan
model pembelajaran Group Investigation pada siklus II pertemuan 3 dan pertemuan 4
dapat dilihat dari Tabel 4 berikut ini.
Pembahasan
Pemahaman siswa berdasarkan hasil belajar berupa postest pada tiap akhir siklus
I dan siklus II maka dapat dibandingkan hasil tes tersebut sehingga dapat diketahui
seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa dalam memahami materi interaksi
makhluk hidup dengan lingkungan yang telah dilaksanakan pada setiap siklus. Data
perbandingan pemahaman siswa pada siklus I dan siklus II tersaji dalam bentuk grafik
pada Gambar 1 berikut.
Perbandingan Pemahaman
Siswa
150
100
50
0
Siklus I Siklus II
Siklus I Siklus II
78
disebabkan karena pengetahuan siswa masih kurang, dan tidak adanya persiapan siswa
dalam melaksanakan tes diawal pembelajaran serta siswa belum mengenal dengan
model pembelajaran Group Investigation yang dilakukan dengan pengaturan siswa
bekerja dalam kelompok.
Memasuki pertemuan 2 didapat data terlihat dari Tabel 1 siklus I pertemuan 2
ketuntasan klasikal masih belum tercapai dengan hanya sebesar 69,57%. Hal ini terjadi
dikarenakan siswa baru beradaptasi dengan model Group Investigation dan materi
pembelajaran yang baru yaitu mengenai interaksi makhluk hidup dengan lingkungan.
Pemahaman berupa hasil belajar siswa pada siklus I belum bisa dikatakan
berhasil dalam penelitian ini. Ketuntasan klasikal yang tercapai masih dibawah batas
minimal ketuntasan yang ditetapkan yaitu 80%. Pertemuan 1 ketuntasan klasikal pada
nilai pretest tidak tercapai, sebab hanya ada 4 siswa yang mencapai KKM yaitu 70.
Pertemuan 2 ketuntasan klasikal siswa pada nilai posttest mencapai 69,57%. Oleh
karena itu, harus ada evaluasi dan perbaikan dari peneliti untuk melanjutkan kegiatan
pembelajaran pada siklus II.
Hasil belajar pada siklus II dengan menggunakan model pembelajaran Group
Investigation persentase ketuntasan klasikal meningkat yaitu sebesar 100%. Pada
pertemuan 3 ketuntasan klasikal nilai pretest mencapai 34,78%. Sedangkan pada
pertemuan 4 ketuntasan klasikal nilai posttest mencapai 100%. Peningkatan ini
disebabkan siswa sudah memahami model pembelajaran Group Investigation
sehingga pembelajaran berjalan sesuai harapan.
Hasil selama proses pembelajaran (LKPD) yang dicapai siswa berbanding lurus
dengan hasil ketuntasan klasikal pada Pretest dan Posttest. pada pertemuan 1 diperoleh
rata-rata hasil LKPD sebesar 72 dan pada pertemuan 2 diperoleh rata-rata hasil LKPD
sebesar 80, sehingga didapat rata-rata siklus I sebesar 76. pada pertemuan 3 diperoleh
rata-rata hasil LKPD sebesar 79 dan pada pertemuan 4 diperoleh rata-rata hasil LKPD
sebesar 88, sehingga didapat rata-rata siklus II sebesar 83,5.
Berdasarkan hasil penelitian siklus I dan siklus II, ketuntasan belajar secara
klasikal dan selama proses pembelajaran meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa
tujuan penelitian untuk meningkatkan pemahaman berupa hasil belajar kognitif telah
tercapai. Ketuntasan dianggap berhasil apabila secara klasikal 80% sesuai ketentuan
KKM dari SMPN 8 Hulu Sungai Tengah yaitu ≥70.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan siklus II pada Interaksi Makhluk
Hidup dengan Lingkungan melalui model Group Investigation, dari hasil dan
pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: Pembelajaran dengan model Group
Investigation pada materi Interaksi
Makhluk Hidup dengan Lingkungan dapat meningkatkan pemahaman berupa
hasil belajar siswa kelas VII A SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah. Hasil peningkatan
ini dapat dilihat dari ketuntasan secara klasikal tiap siklus dengan ketuntasan klasikal
69,57% pada siklus I dan meningkat pada siklus II menjadi 100%.
79
DAFTAR RUJUKAN
[1] Sanjaya, W. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana. 2016.
[2] Hosnan. Pendekatan Sainstifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21.
Bogor: Ghalia Indonesia. 2014.
[3] Akhirida, R. Studi Komparasi Hasil Belajar Kelas X SMAN 3 Banjarmasin Tahun
2014 pada Pembelajaran Konsep Archaebacteria dan Eubacteria Menggunakan
Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah dan Group Investigation.
Banjarmasin: Pendidikan Biologi PMIPA UNLAM. 2015.
[4] Akhirida, R. Masalah yang Terjadi pada Kelas VII SMPN 8 Hulu Sungai Tengah.
(I. Irviana, Interviewer). 2020.
[5] Arifin, Z. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Perss. 2017.
[6] Prassetyo, S. F. Pembelajaran Sains. Yogyakarta: Penerbit Ombak. 2014.
[7] Shoimin, A. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam kurikulum 2013. Yogyakarta:
Ar-Ruz Media. 2014.
[8] Slavin, R. E. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media. 2010.
[9] Aprilia, I. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI)
terhadap Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Biologi Pada Materi Ekosistem
di Kelas VII Semester II MTsN 1 Palangka Raya Tahun Pelajaran 2014/2015.
Jurnal Pendidikan Volume 3 Nomor 2 , 143. 2015.
[10] Sanjaya, W. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media. 2016.
80
PENGEMBANGAN PENUNTUN PRAKTIKUM INTERAKSI
MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN
BERBASIS INKUIRI TERBIMBING TERHADAP
KETERAMPILAN PROSES SAINS KELAS VII
MTs DARUL AMIN PALANGKA RAYA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas dan kepraktisan penuntun praktikum
materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan berbasis inkuiri terbimbing. Jenis
penelitian ini adalah Research and Development (R&D). Model pengembangan yang
digunakan yaitu ADDIE (Analyze, Design, Development, Implement dan Evaluation).
Namun pada penelitian ini hanya terdiri atas 4 tahap yakni analisis, desain,
pengembangan dan tahap evaluasi sedangkan pada tahap implementasi tidak dilakukan.
Hal ini dikarenakan penuntun praktikum yang dikembangkan hanya diujicobakan pada
ujicoba skala kecil tidak sampai pada uji coba skala besar. Hasil penelitian menunjukkan
penuntun praktikum yang dikembangkan berisi 3 topik praktikum. Kegiatan praktikum
didesain sesuai dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing serta dilengkapi dengan
aktivitas keterampilan proses sains. Penuntun praktikum ini juga ditambahkan
pengetahuan umum tentang lingkungan untuk menambah wawasan peserta didik
mengenai materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. Penuntun praktikum yang
dikembangkan mendapatkan nilai kevalidan dari pakar/ahli materi sangat valid dengan
presentase 83,19%, penilaian ahli media sangat valid dengan presentase 78%. Hasil
validasi peserta didik dengan kriteria sangat valid 81,20%. Nilai kepraktisan dihasilkan
presentase sekitar 83,00% dengan kriteria sangat baik. Adapun data hasil belajar peserta
didik melalui pretest-postest setelah dilakukan uji coba skala kecil menunjukkan rata-rata
n-Gain 0,29 dengan kategori rendah.
Kata Kunci: penuntun praktikum, inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains
ABSTRACT
This study aims to determine validity and practically of guilding practicum interaction of
living things with guided inquiry. This type of research is Research and Development
(R&D). The development used is ADDIE (Anlysis, Design, Development, Implement and
Evaluation). This research only consists of 4 stages, namely analysis, design,
development and evaluation stage while the implementation phase was not carried out.
Cause, practicum guides that were developed only tested on small-scale trial and did not
arrive at large scale trial. The results showed that practicum guide depeloved contains 3
practicum topics. Practical activities are designed according to the guided inquiry
learning model and complemented by science proces skills activities. This practical guide
also adds general knowledge about the environment to increase student insight about the
material interaction of living things with the environment. The guided inquiry-based
environment towards the science process skills at class VII MTs Darul Amin Palangka
Raya is very good. The results of science process skills of students both with a percentage
of 69, 72%. The practicum guide that was developed received validity from
experts/material experts with a very valid percentage of 83,19% while the assessment of
media experts was very valid with a percentage of 78%. Validity assessment was also
obtained from students with very valid criteria 81,20%. The practicality value obtained
resulted in a percentage of around 83,00% with very good criteria. The data of learning
outcomes of students trough the pretest-postest after a small-scale trial showed an
average of n-gain 0,29 with a low category.
Keywords: practical guided, guided inquiry, science process skills
81
PENDAHULUAN
Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menyebutkan IPA berkaitan dengan cara
memahami alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya sebatas penguasaan
kumpulan pengetahuan (produk ilmu) yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja, tetapi lebih sebagai proses penemuan [2]. Berdasarkan pernyataan
tersebut maka proses pembelajaran IPA sebaiknya menekankan pada pemberian
pengalaman langsung seperti mengembangkan keterampilan proses sains (KPS) yang
perlu dikembangkan dalam belajar sains. Menurut Wulanningsih, Prayitno dan
Porbosar (2012: 34) KPS dapat memfasilitasi peserta didik untuk mencapai
pembelajaran sains. KPS mendorong peserta didik untuk menemukan sendiri fakta,
konsep pengetahuan serta menumbuhkembangkan sikap dan nilai yang dituntut. KPS
yang dilakukan peserta didik disalurkan melalui berbagai aktivitas seperti kegiatan
praktikum yang meliputi kegiatan mengamati, menganalisa, melakukan percobaan
untuk menemukan sendiri konsep-konsep sebagai produk proses ilmiah [17].
Kegiatan-kegiatan tersebut mampu membuat peserta didik menemukan dan
mengembangkan sendiri fakta dan konsep yang sedang dipelajari.
Namun, kegiatan praktikum akan dapat berjalan teratur dengan adanya penuntun
praktikum yang mana penuntun praktikum ini merupakan bahan ajar tertulis yang
membantu guru pada proses pembelajaran. Penggunaan penuntun praktikum penting
dalam kegiatan praktikum karena dalam pelaksanaannya kegiatan praktikum perlu
adanya persiapan, selain pengetahuan dari materi yang diperoleh, peserta didik juga
memerlukan pedoman untuk menunjang terlaksananya praktikum. Pedoman tersebut
berupa penuntun praktikum. Budiarti (2013: 124) menyatakan penuntun praktikum
adalah pedoman pelaksanaan praktikum yang berisi tata cara persiapan, pelaksanaan,
analisis data dan pelaporan.[3] Penuntun praktikum merupakan rujukan peserta didik
dalam melaksanakan praktikum. Ketersediaan penuntun peserta didik dapat memiliki
kesiapan sebelum melaksanakan kegiatan praktikum dengan membaca buku tersebut
terlebih dahulu. Penuntun praktikum didesain sesuai model inkuiri terbimbing. Model
inkuiri terbimbing merupakan salah satu model pembelajaran yang membiasakan
peserta didik secara aktif. Menurut Rizal (2014, 161) Pembelajaran inkuiri lebih efektif
dalam membantu siswa untuk memperoleh KPS karena siswa terlibat secara langsung
seperti mengajukan pertanyaan dalam suasana informal, menguji hipotesis, dan
membangun penjelasan [10]. Selain itu menurut Sanjaya (2010), inkuiri terbimbing
memiliki keunggulan yakni dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk
belajar sesuai dengan gaya mereka dan merupakan strategi yang dianggap sesuai
dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah
proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman [11].
Berdasarkan hasil wawancara analisis kebutuhan yang didapatkan dari salah
seorang guru IPA kelas VII MTs Darul Amin Palangka Raya diketahui beberapa aspek
yakni mengenai potensi akademik peserta didik, karakter peserta didik dalam
pembelajaran IPA, sarana prasarana sekolah, media metode serta model yang
82
digunakan guru dalam pembelajaran, pelaksanaan kegiatan praktikum serta kebutuhan
guru dalam pembelajaran IPA. Potensi akademik peserta didik kelas VII MTs Darul
Amin Palangka Raya dapat dilihat dari hasil belajar peserta didik untuk materi
Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan. Hasil belajar peserta didik dinilai
kurang karena banyak peserta didik belum mencapai nilai ketuntasan minimal yang
ditetapkan oleh guru yakni sebesar 86 % peserta didik. Hasil belajar peserta didik pada
materi ini banyak yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan belajar (KKB) yang
ditetapkan oleh sekolah yaitu 70. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa
ketidaktuntasan hasil belajar peserta didik tersebut disebabkan karena karakter peserta
didik yang mudah merasa bosan dan kurangnya motivasi serta minat peserta didik
dalam pembelajaran IPA sehingga mereka cenderung kurang memahami materi yang
diajarkan khususnya pada materi Interaksi Makhluk Hidup dan Lingkungan. Namun,
peserta didik akan merasa antusias dan aktif ketika melakukan kegiatan praktikum
khususnya praktikum materi Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan. Guru
menerangkan bahwa penerapan praktikum materi interaksi makhluk hidup dengan
lingkungan ini hanya dilakukan di luar sekolah dengan melihat lingkungan di sekitar
sekolah. Penerapan model inkuiri terbimbing juga belum pernah digunakan oleh guru
tersebut.
Berdasarkan penuturan salah satu peserta didik kelas VII mengenai proses
pembelajaran IPA yakni pembelajaran IPA Terpadu mata pelajaran Biologi di sekolah
MTs Darul Amin Palangka Raya masih menggunakan metode konvensional, proses
belajar mengajar masih berpusat pada guru (teacher-centered) . Guru mendominasi
pembelajaran sehingga peserta didik pasif dalam pembelajaran. Guru lebih
menekankan pada penguasaan konsep dimana guru kebanyakan hanya memberikan
serangkaian latihan dan soal walupun terkadang pada proses pembelajaran guru juga
melakukan kegiatan praktikum terhadap konsep yang diajarkan namun hal itu jarang
dilakukan selain itu kegiatan praktikum tersebut hanya dilakukan secara sederhana.
Sulitnya belajar IPA karena kurangnya pemahaman mengenai konsep yang diajarkan
karena kurangnya penjelasan dari guru, lebih banyak tugas merangkum dan tidak
adanya praktek langsung untuk materi interaksi makhluk hidup dan lingkungan.
Kegiatan praktikum perlu dilakukan pada proses pembelajaran IPA untuk
mengembangkan keterampilan proses sains peserta didik. Pada penerapannnya perlu
penuntun praktikum agar jalannya kegiatan terorganisir dengan baik. Guru memiliki
penuntun praktikum materi ekosistem tapi tidak pernah digunakan sama sekali dan
bersifat sederhana. Ketika guru ingin melakukan kegiatan praktikum , guru hanya
mengacu pada penuntun praktikum yang ada di buku ajar peserta didik. Oleh karena
itu berdasarkan hasil wawancara analisis kebutuhan guru menginginkan penuntun
praktikum khusus materi Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan. Penuntun ini
dikembangkan dari bahan ajar peserta didik yaitu buku IPA terpadu dengan desain
gambar-gambar yang relevan serta pengetahuan tambahan mengenai materi Interaksi
Makhluk Hidup dengan Lingkungan agar dapat memberikan wawasan ilmu pada
peserta didik mengenai materi ini.
83
Uraian tersebut mendasari perlunya sebuah penelitian Pengembangan Penuntun
Praktikum Materi Interaksi Makhluk Hidup dengan Lingkungan Berbasis Inkuiri
Terbimbing terhadap Keterampilan Proses Sains Kelas VII Mts Darul Amin
Palangkaraya. Penuntun praktikum yang dikembangkan diharapkan bisa menjadi
pendamping pembelajaran utama yang ada di kelas dengan melakukan praktikum.
Dengan adanya penuntun praktikum ini diharapkan guru IPA kelas VII tidak lagi
terkendala dalam mengkondisikan peserta didik pada saat pelaksanaan praktikum.
METODE
Metode dalam penelitian ini yaitu model ADDIE. Adapun tahapan dalam
penelitian ini yaitu tahap analisis , desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi.
(Sugiono, 2011) [13]. Prosedur dalam penelitian ini terdiri atas lima tahap yaitu :
1. Tahap Analisis
Tahap analisis ada beberapa hal yang dilakukan oleh peneliti diantaranya
sebagai berikut : Analisis permasalahan di sekolah baik dari guru maupun peserta
didik
a. Analisis kebutuhan guru kelas VII untuk mengetahui potensi akademik peserta
didik, karakteristik peserta didik, sarana-prasarana sekolah, media pembelajaran,
metode pembelajaran, model pembelajaran, pelaksanaan praktikum, serta materi
pembelajaran yang dipraktikumkan.
b. Analisis kebutuhan peserta didik dalam proses pembelajaran IPA yakni
keperluan penuntun praktikum.
2. Tahap Desain
Hal-hal yang akan dilakukan peneliti dalam tahap desain yaitu membuat peta
kebutuhan penuntun praktikum, menentukan isi penuntun praktikum, menyusun
instrumen penelitian, dan validasi instrumen penelitian oleh dosen ahli. Pada tahap
ini penuntun praktikum dirancang dengan model inkuiri terbimbing .
3. Tahap Pengembangan
Hal-hal yang akan dilakukan peneliti pada tahap pengembangan yaitu
penulisan penuntun praktikum dan validasi penuntun praktikum oleh ahli materi
dan ahli media. Penuntun praktikum yang dibuat dilengkapi dengan pengetahuan
umum tentang lingkungan dengan tujuan menambah pengetahuan bagi peserta
didik. Kemudian penuntun praktikum juga dikembangkan juga dilengkapi dengan
beberapa aspek keterampilan proses sains seperti mengajukan pertanyaan,
merumuskan hipotesis, mengamati, merencanakan percobaan, interpretasi dan
berkomunikasi.
Validasi penuntun praktikum dilakukan oleh tiga orang validator. Satu
validator melakukan validasi terhadap materi dan media, dua orang validator
melakukan validasi terhadap materi dan media. Validasi dilakukan untuk
mengetahui kelayakan penuntun praktikum itu sendiri. Setelah dilakukan validasi
penuntun praktikum tersebut dilakukan perbaikan sesuai penilaian. Masukan dan
84
saran validator. Jika sudah dinyatakan valid maka penuntun praktikum bisa
diujicobakan. Uji coba penuntun praktikum hanya sampai pada uji coba skala kecil
pada 5 peserta didik. Peserta didik terdiri atas 1 laki-laki dan 4 perempuan. Peserta
didik yang mengkuti penelitian ini berasal dari 4 orang kelas VII C dan 1 orang
kelas VII B.
5. Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi merupakan tahap penilaian terhadap pengembangan praktikum
dilihat dari komponen kelayakan isi, penyajian dan bahasa untuk mengetahui
kualitas penuntun praktikum yang dikembangkan. Selain itu pada tahapan ini akan
dilakukan penilaian dalam memfasilitasi kebutuhan peserta didik. Teknik analisis
data yang dilakukan yaitu teknik analisis validasi, teknik analisis kuesioner dan
teknik analisis observasi.
Tabel 1. Kategorisasi Keterterapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Kategorisasi Keterterapan Model Interpretasi
Pembelajaran (%)
0,00-24,9 Sangat Kurang
25,0-37,5 Kurang
37,6-62,5 Sedang
62,6-87,5 Baik
87,6-100 Sangat Baik
(Anwar, 2016) [1]
Tabel 2 Kriteria Validitas
No Interval Kriteria
1 81-100 Sangat Valid
2 61-80 Valid
3 41-60 Cukup Valid
4 21-40 Kurang Valid
5 0-20 Tidak Valid
(Ridwan, 2013) [9]
Tabel 3 Kriteria Kepraktisan
No Interval Kriteria
1 81-100 Sangat Baik
2 61-80 Baik
3 41-60 Cukup Baik
4 21-40 Kurang Baik
5 0-20 Tidak Baik
(Ridwan, 2013) [9]
Tabel 4. Kategorisasi Perolehan Nilai N-Gain
Kategori Keterangan
> 0,7 Tinggi
0,31-0,7 Sedang
< 0,30 Rendah
(Melzer,2002) [4]
85
HASIL
Analisis
Menurut Trisnawati (2011: 122) menyatakan bahwa petunjuk praktikum
diperlukan sebagai panduan praktikum supaya dapat berjalan dengan lancar. Peserta
didik akan lebih teratur dalam melaksanakan kegiatan praktikum [16]. Oleh karena itu
maka dilakukan analisis kebutuhan pada peserta didik dan guru untuk mengetahui
kebutuhan akan penuntun praktikum itu sendiri. Berdasarkan data angket wawancara
kepada guru dan angket analisis kebutuhan pada peserta didik diketahui bahwa guru
maupun peserta didik memerlukan penuntun praktikum dalam proses pembelajaran.
Desain
Pada tahap ini ditemukan beberapa unsur-unsur yang harus dimuat dalam
penuntun praktikum yang meliputi penentuan struktur penuntun praktikum dan
membuat instrumen penelitian yang divalidasi oleh ahli. Struktur penuntun praktikum
yang dikembangkan terdiri atas sampul depan dan belakang, edisi, sambutan, kata
pengantar, daftar isi, karakteristik penuntun praktikum, petunjuk umum, format
penulisan laporan praktikum, kompetensi dasar dan indikator, topik praktikum,
glosarium dan daftar pustaka. Desain penuntun praktikum yang dikembangkan
mengacu kepada susunan kegiatan praktikum yang disesuaikan dengan langkah-
langkah inkuiri terbimbing, setiap kegiatan praktikum dikembangkan dengan beberapa
keterampilan proses sains yaitu keterampilan mengajukan pertanyaan, merumuskan
hipotesis, observasi atau mengamati, merencanakan percobaan, menafsirkan atau
interpretasi, dan berkomunikasi.
Pengembangan
Pada tahap ini peneliti mengembangkan bahan ajar yang yang sudah ada di
sekolah yakni berasal dari penuntun praktikum sederhana yang tercantum pada buku
peserta didik. Penuntun praktikum dikembangkan dalam bentuk buku cetak penuntun
praktikum berbasis inkuiri terbimbing MTs kelas VII menggunakan aplikasi Ms.
Office dan Adobe Ilustrator. Setiap kegiatan praktikum dikembangkan dengan
beberapa keterampilan proses sains yaitu keterampilan mengajukan pertanyaan,
merumuskan hipotesis, observasi atau mengamati, merencanakan percobaan,
menafsirkan atau interpretasi, dan berkomunikasi. Keterampilan proses sains menurut
Sagala (2010) memiliki beberapa kelebihan yakni memberi bekal cara memperoleh
pengetahuan dan dapat melatih peserta didik dalam berpikir kreatif dan aktif dalam
usahanya memperoleh pengetahuan [12]. Oleh karena itu KPS cukup ideal untuk
dimuat dalam penuntun praktikum ini untuk memahami materi interaksi makhluk
hidup dengan lingkungan.
Selain itu, di setiap topiknya disajikan informasi menarik terkait lingkungan
dengan judul “Tahukah Kamu ?” . Hal yang mendasari pengembangan ini yakni
materi nteraksi makhluk hidup dengan lingkungan yang mempelajari hal-ihwal tentang
lingkungan sekitar baik komponen-komponen pembentuk, pola interaksi juga
86
pengaruh kegiatan manusia terhadap lingkungan sebagaimana yang terdapat pada
buku pegangan peserta didik oleh Sukoco, Rumiyati, Sururi (2016). Selain teori
peserta didik juga perlu adanya pengetahuan umum mengenai lingkungan untuk
menambah wawasan pengetahuan peserta didik. Berdasarkan uji coba skala kecil yang
dilakukan didapatkan hasil pretest-postest peserta didik kelas VII yang dapat dilihat
pada tabel 5 berikut.
Evaluasi
Pada tahap ini merupakan tahap penilaian terhadap pengembangan penuntun
praktikum IPA yang telah dikembangkan. Pada tahap ini dilakukan penilaian terhadap
penuntun praktikum untuk mengetahui validitas dan kepraktisan penuntun praktikum.
Validitas merupakan keadaan dimana suatu instrumen dapat mengukur suatu keadaan
yang harus diukur secara tepat (Rahayu dan Festiyed, 2018) [8]. Uji validitas adalah
suatu langkah pengujian yang dilakukan terhadap isi (content) dari suatu instrumen,
dengan tujuan untuk mengukur ketepatan instrumen. Sedangkan kepraktisan mengacu
pada tingkat bahwa pengguna (atau para pakar lainnya) mempertimbangkan intervensi
dapat digunakan dan disukai dalam kondisi normal. Bahan ajar harus memenuhi aspek
kepraktisan yaitu pemahaman dan keterlaksanaan bahan ajar tersebut. Kepraktisan
menunjukkan tingkat kemudahan penggunaan, pelaksanaan serta pengelolaan dan
penafsiran hasilnya (Mudjijo, 1995) [5].
Validitas dan kepraktisan dari penelitian ini menunjukkan hasil valid dan
menghasilkan respon sangat baik. Sebagaimana akan dijabarkan di bawah ini.
a. Validasi Ahli Materi
Validasi ahli materi dilakukan oleh dua dosen IAIN Palangka Raya. Proses
validasi tersebut menghasilkan beberapa perbaikan yakni:
1. Pada bagian prosedur kerja lebih diperjelas misalnya dengan menambahkan
perintah menggambar hasil pengamatan untuk melatih keterampilan peserta
didik.
2. Pada bagian evaluasi topik 1 ditambahkan satu pertanyaan lagi mengenai
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kacang hijau
87
3. Setiap topik bisa ditambahkan integrasi ayat Al-Qur’an yang berhubungan
dengan interaksi makhluk hidup dengan lingkungan. Hal ini bertujuan agar
peserta didik tidak hanya memahami secara sains tapi pemahaman religius
yang juga lebih penting untuk menambah kecintaan kepada sang pencipta
Allah SWT.
Adapun hasil analisis validasi ahli materi terhadap penuntun praktikum dapat dilihat
pada tabel berikut.
88
Tabel 7 Tabulasi Data Validasi Oleh Pakar/ Ahli Media
Hasil Perolehan Skor
Indikator Penilaian
Validator I Validator II Rata-rata Persentase
Ukuran Penuntun Praktikum 6 6 6 81%
Desain Sampul Penuntun
25 22 23,5 74%
Praktikum
Desain Penuntun Praktikum 56 50 53 78%
Jumlah Skor (%) 80,55% 72,22% 76,38% 78%
Kriteria Sangat Valid Valid Valid Valid
Berdasarkan hasil validasi baik dari validator ahli maupun peserta didik
diketahui bahwa penuntun praktikum yang dikembangkan sangat valid sehingga baik
digunakan untuk membantu proses pembelajaran. Hasil validasi yang sama juga
terdapat pada penelitian Syamsu (2015) ) yang berjudul “Pengembangan Penuntun
Praktikum IPA Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Siswa SMP Kelas VII Semester
Genap” yang mana berdasarkan rata-rata skor penilaian validator dihasilkan kategori
89
sangat valid. Hal ini terjadi karena komponen-komponen yang ada telah terpenuhi
berdasarkan penilaian validator.
Kepraktisan pada penelitian ini juga dapat dilihat pada data keterterapan model
pembelajaran inkuiri terbimbing yang mana dihasilkan nilai observasi dengan
presentase keterterapan 100% dan dapat dikategorikan sangat baik. Hal ini sejalan
dengan penelitian Natalina, Mahadi, dan Suzane ( 2013) dalam jurnalnya yang
berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) untuk
meningkatkan sikap ilmiah dan hasil belajar biologi siswa kelas XI IPA SMA Negeri
5 Pekanbaru Tahun Ajaran 2011/2012” [6]. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa inkuiri terbimbing mendorong peserta didik secara aktif menggali
pengetahuannya sendiri sehingga peserta didik dapat menjadi pribadi yang aktif,
90
mandiri, serta terampil dalam memecahkan masalah berdasarkan informasi dan
pengetahuan yang mereka dapatkan. Inkuiri terbimbing memberikan siswa
pengalaman yang nyata dan aktif sehingga siswa dapat mengaitkan konsep yang dasar
yang sudah ada dengan konsep baru berdasarkan pemahamannya sendiri. Peserta didik
menjadi memiliki pemahaman yang lebih terhadap konsep yang dipelajari melalui
model inkuiri terbimbing.
Tabel 10 Tabulasi Data Lembar Observasi Keterterapan Model
Pembelajaran Inkuiri Terbimbing
Nilai Hasil Observasi Keterlaksanaan Aktivitas Pembelajaran
Guru
Ya Tidak
Skor 17 0
Presentase 100%
KESIMPULAN
Penuntun praktikum materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan berbasis
inkuiri terbimbing terhadap keterampilan proses sains peserta didik kelas VII MTs
Darul Amin Palangka Raya dikembangkan dalam bentuk cetak dengan kertas HVS
untuk bagian isi dan kertas sampul untuk bagian sampul. Penuntun praktikum disusun
berdasarkan urutan sintaks atau langkah-langkah inkuiri terbimbing serta terdapat
penilaian aspek keterampilan proses sains di dalamnya Selain itu pada penuntun
pratikum terdapat pengetahuan umum “Tahukah Kamu?” untuk menambah wawasan
peserta didik terkait lingkungan. Nilai kevalidan dari pakar/ahli materi sangat valid
dengan presentase 83,19% sedangkan penilaian ahli media sangat valid dengan
presentase 78%. Penilaian kevalidan juga didapatkan dari peserta didik dengan kriteria
sangat valid 81,20%. Kemudian dari segi kepraktisan didapatkan dari respon peserta
didik dan dihasilkan presentase sekitar 83,00%.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Anwar, K. Implementasi Model Pembelajaran Generatif Dalam Mata Pelajaran
Perawatan Perbaikan Mekanik Otomotif (Ppmo) Teknologi Sepeda Motor. E-
Jurnal Pendidikan Teknik Otomotif-S1, 13(1), 2016.
[2] BSNP. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 22
Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
Jakarta: Cipta Mini Jaya Abadi.
[3] Budiarti, W. & Anak Agung, O. Pengembangan Petunjuk praktikum Biologi
Berbasis Pendekatan Ilmiah untuk Siswa SMA Kelas XI Semester Genap Tahun
Pelajaran 2013/2014. Jurnal Bioedukasi, 6(2):123-130, 2014.
91
[4] Meltzer DE. “The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual
Learning Grains in Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostice Pretest
Scores”. American Journal Physics 70 (12):1259-1286, 2002.
[5] Mudjijo. 1995. Tes Hasil Belajar. Jakarta: Bumi Aksara
[6] Natalina, M., Mahadi, I., & Suzane, A. C. 2013. Penerapan Model Pembelajaran
Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) untuk Meningkatkan Sikap Ilmiah dan Hasil
Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA-5 SMA Negeri 5 Pekan Baru Tahun Ajaran
2011/2012. Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung. [Online].
Tersedia: jurnal. fmipa. unila. ac.
id/[Link]/semirata/article/download/591/411. [29 Oktober 2019].
[7] Nengsi, S. Pengembangan Penuntun Praktikum Biologi Umum Berbasis Inkuiri
Terbimbing Mahasiswa Biologi STKIP Payakumbuh. Jurnal IPTEKS Terapan,
10(1), 47-55, 2016.
[8] Rahayu, C., & Festiyed, F. Validitas perangkat pembelajaran fisika SMA berbasis
model pembelajaran generatif dengan pendekatan open-ended problem untuk
menstimulus keterampilan berpikir kritis peserta didik. Jurnal Pendidikan
Fisika, 7(1), 1-6, 2018.
[9] Ridwan. 2013. Cara Mudah Belajar SPSS 17 dan Aplikasi Statistik Penelitian.
Bandung: Alfabeta.
[10] Rizal, M. Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dengan Multi Representasi
Terhadap Keterampilan Proses Sains Dan Penguasaan Konsep IPA Siswa
SMP. Jurnal Pendidikan Sains, 2(3), 159-165, 2014.
[11] Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
[12] Sagala Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung : Alfabeta.
[13] Sugiono. 2011. Metode Penelitian & Pengembangan (Research and
Development) Bandung : Alfabeta.
[14] Sukoco Teo, Rumiyati, Sururi Adip Ma’rifu. 2016. Ilmu Pengetahuan Alam.
Klaten: Intan Pariwara.
[15] Syamsu, F. D. Pengembangan Penuntun Praktikum IPA Berbasis Inkuiri
Terbimbing untuk Peserta didik SMP Peserta didik Kelas VII Semester
Genap. Bionatural: Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi, 4(2), 2018.
[16] Trisnawati, E. 2011. Pengembangan Petunjuk Praktikum Biologi Materi Struktur
Sel dan Jaringan Berbasis Empat Pilar Pendidikan. Skripsi. Semarang:
Universitas Negeri Semarang.
[17] Wulanningsih, S., Prayitno, B. A., & Probosari, R. M. Pengaruh Model
Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Keterampilan Proses Sains Ditinjau
Dari Kemampuan Akademik Peserta Didik SMA Negeri 5 Surakarta. Jurnal
Pendidikan Biologi, 4(2), 33-43, 2012.
92
MENINGKATAN HASIL BELAJAR DENGAN
MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DALAM
MATERI SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA KELAS VIII
SMP NEGERI 2 HULU SUNGAI TENGAH
[Link]
3061624023
Jurusan Pendidikan Biologi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(STKIP- PGRI) BANJARMASIN
Jl. Sultan Adam Komp H. Iyus Rt.23 No.18 Banjarmasin
mhdayatullah17@[Link]
ABSTRAK
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan salah satu guru IPA di SMP Negeri
2 Hulu Sungai Tengah Hj. Tati Hariyati SP. i diketahui sebagaian besar siswa kelas VIII
memiliki hasil belajar yang rata-rata dibawah KKM yang di tetapkan sekolah yaitu 70
terhadap mata pembelajaran IPA. Hal ini dilihat dari aktivitas siswa selama proses
pembelajaran berlangsung kondisi siswa saat proses pembelajaran sering ditemukan
hampir keseluruhan siswa banyak terdiam diri dan kurang percaya diri dalam
mengeluarkan pendapatnya. Dan kemudian saat guru bertanya hanya siswa-siswa tertentu
yang merespon yang lainnya berdiam diri dan mengerjakan kegiatan lainya yang tidak
berhubungan dengan pembelajaran yang berlangsung sedangkan, proses pembelajaran
yang baik seharusnya banyak melibatkan siswa, sehingga siswa mempunyai peran
penting dalam kegiatan belajar mengajar. Hasil pengamatan aktivitas siswa berdasarkan
siklus I dan siklus II mengalami peningkatan pada siklus I dari 65% menjadi 67,5% di
siklus II mengalami peningkatan dari 70% menjadi 72%. Hasil belajar siswa berdasarkan
siklus I dan siklus II mengalami peningkatan dimana secara klasikal untuk posttest siklus
I pertemuan 1 40% menjadi 60 % pada petemuan 2 pada siklus II petemuan 1 83,3%
menjadi 86,7% pada pertemuan 2. Sikap afektif siswa berdasarkan siklus I dan siklus II
mengalami peningkatan pada siklus I 60,75% menjadi 64% pada siklus II mengalami
peningkatan dari 70,75% menjadi 71%. Penilaian psikomotor siswa berdasarkan siklus I
dan siklus II mengalami peningkatan pada siklus I 65% pada siklus II 70% menjadi
72,5%. Keterlaksanaan proses pembelajaran siswa pada sikulus I 84,61% mengalami
peningkatan pada siklus II menjadi 92,30%. Respon siswa tehadap pelaksanaan
pembelajaran dengan menggunakan PBL Sangat positif dengan 86% setuju dan 14% tidak
setuju dengan penggunaan PBL dalam pembelajaran.
Kata Kunci: Problem Based Learning (PBL), Hasil Belajar, Sistem Ekskresi Pada
Manusia.
PENDAHULUAN
Pendidikan menuntut guru untuk mengembangkan potensi siswa berdasarkan
standar kompetensi yang ada. Pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber
daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi, Pendidikan berorientasi
kecakapan hidup, pembelajaran berbasis kompetensi, dan menuntut lingkungan belajar
yang kaya dan nyata yang dapat memberikan pengalaman belajar. Inti dari kegiatan
pendidikan adalah kegiatan belajar mengajar cara siswa mengikuti kegiatan belajar
mengajar dan hasilnya akan terlihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa.
93
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
belajar dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara [1].
Setiap lembaga pendidikan memiliki tujuannya masing-masing. Yang berbeda
satu dengan yang lainnya, sesuai dengan karakteristik dari lembaga tersebut. Perlu
diketahui, dalam keseluruhan proses pendidikan disekolah, pembelajaran merupakan
aktivitas yang paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan
pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat
berlangsung secara efektif [2].
Inti dari kegiatan pendidikan adalah kegiatan belajar-mengajar, cara siswa
mengikuti kegiatan belajar-mengajar dan hasilnya akan terlihat dari hasil belajar yang
diperoleh siswa. Banyak kasus yang menunjukkan bahwa hasil belajar siswa banyak
yang kurang memuaskan dan banyak nilai siswa dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan
Minimal) yang telah ditentukan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan salah satu guru IPA di SMP
Negeri 2 Hulu Sungai Tengah Hj. Tati Hariyati SP. i diketahui sebagaian besar siswa
kelas VIII memiliki hasil belajar yang rata-rata dibawah KKM yang di tetapkan
sekolah yaitu 70 terhadap mata pembelajaran IPA. Hal ini dilihat dari aktivitas siswa
selama proses pembelajaran berlangsungkondisi siswa saat proses pembelajaran sering
ditemukan hampir keseluruhan siswa banyak terdiam diri dan kurang percaya diri
dalam mengeluarkan pendapatnya. Dan kemudian saat guru bertanya hanya siswa-
siswa tertentu yang merespon yang lainnya berdiam diri dan mengerjakan kegiatan
lainya yang tidak berhubungan dengan pembelajaran yang berlangsung sedangkan,
proses pembelajaran yang baik seharusnya banyak melibatkan siswa, sehingga siswa
mempunyai peran penting dalam kegiatan belajar mengajar.
Seorang guru yang professional, harus dapat menciptakan proses belajar
mengajar yang baik serta lingkungan belajar yang kondusif sehingga apa yang kita
ajarkan kepada siswa dapat diterima dan diserap siswa serta berguna bagi kehidupan
siswa baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Salah satu mata pelajaran yang berperan penting bagi siswa adalah biologi.
Proses pembelajaran itu sendiri berupa hubungan interaksi antara siswa, guru,
perlengkapan dan kurikulum. Suatu kegiatan pembelajaran dapat dikatakan berjalan
dengan baik dan efektif apabila hubungan interaksi tersebut dapat saling mendukung.
Guru sebagai salah satu komponen hubungan interaksi pada proses pembelajaran,
bertugas membimbing dan mengarahkan siswa belajar dan bagaimana supaya
mendapatkan hasil belajar yang maksimal.
Pembelajaran biologi disekolah menengah diharapkan dapat menjadi wahana
bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar serta proses
pengembangan lebih lanjut dalam penerapannya dikehidupan sehari-hari. Penting
sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar siswa, agar
94
dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan
serasi bagi siswa [3]
Persoalan sekarang adalah bagaimana menemukan cara yang terbaik untuk
menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan sehingga siswa dapat mengingat lebih
lama konsep tersebut dan menerapkannya. Bagaimana guru dapat membuka wawasan
berpikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga dapat mempelajari berbagai
konsep dan mengaitkannya dalam kehidupan [Link] belajar mengajar melalui
penyelesaia masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan
masalah secara terampil, apabila menghadapi permasalahan didalam kehidupan dalam
keluarga, bermasyarakat, dan bekerja kelak, suatu kemampuan yang sangat bermakna
bagi kehidupan manusia [4].
Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil berlajar,
melatih siswa menyelesaikan masalah dan meningkatkan aktitivitas siswa dalam setiap
pembelajaran adalah dengan penggunaan model PBL. Model ini dipilih oleh peneliti
karena merupakan model yang sangat cocok digunakan pada proses mengajar belajar.
Dengan metode ini siswa harus melatih keterampilan berpikirnya untuk memahami,
menguasai, dan mencari solusi atas permasalahan yang terdapat dalam pembelajaran
dan menghubungkannya dengan apa yang terjadi lingkungan sekitar.
PBL adalah tantangan, dan pendekatan pembelajaran menyenangkan yang
merupakan hasil dari proses bekerja ke arah atau tujuan untuk memahami atau
memecahkan masalah. Selain itu Jonassen mengatakan “PBL adalah pendekatan
konstruktivistik untuk pengajaran bahwa di sekeliling dunia nyata banyak terdapat
masalah. Dalam PBL siswa tidak hanya menerima informasi dari guru saja tetapi
mencari informasi tentang materi yang dipelajari, dan siswa terlibat langsung secara
aktif dalam merumuskan masalah, mengumpulkan informasi atau data, menganalisis,
hingga menemukan solusi terbaik, sedangkan guru bertindak sebagai fasilitator dan
motivator demi terciptanya pembelajaran yang efektif”.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa
kelas VIII SMP Negeri 2 Hulu Sungai Tengah dalam pembelajaran biologi sistem
ekskresi pada manusia dengan model pembelajaran tipe PBL, keterlaksanaan proses
pembelajar serta respon siswa terhadap penerapan model pembelajara PBL.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK)
yang terdiri dari 4 tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini direncakan di SMP Negeri 2 Hulu Sungai Tengah penelitian ini
berlangsung selama bulan Februari-April 2020, mulai dari tahap persiapan sampai
penyusunan laporan akhir.
95
Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian adalah guru dan siswa di SMP Negeri 2 Hulu Sungai Tengah
Kelas VIII dan objek penelitian adalah hasil belajar, aktivitas siswa, aktivitas guru dan
respon siswa.
Prosedur
Prosedur penelitian ini, dalam satu siklus terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan,
pelaksa-naan, pengamatan dan refleksi. Tahapan peren-canaan ini disusun rencana
tindakan yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan
hasil belajar siswa melalui penerapan model PBL. Perencanaan tindakan terdiri dari
mempersiapkan jadwal pembelaja-ran PBL, RPP, perangkat pembelajaran PBL,
persiapan peralatan dan bahan praktik, media pembelajaran yang digunakan,
sosialisasi pembelajaran dengan PBL kepada siswa dan mem-persiapkan instrumen
penelitian. Pada tahap ini peneliti melaksanakan pembelajaran yang telah
direncanakan.
Observasi
Pengamatan terhadap segala peristiwa dan kegiatan yang terjadi selama
pelaksanaan tindakan siklus I yang dilakukan dengan menggunakan lembar
pengamatan yang telah disiapkan.
Refleksi
Tindakan yakni mengevaluasi dari hasil pelaksanaan tindakan. Refleksi
didasarkan dari data yang terkumpul berupa hasil observasi dan penilaian. Hasil
refleksi dijadikan sebagai dasar untuk penentuan dilaksanakan atau tidak tindakan
pada siklus selanjutnya.
Instrumen Penelitian
a. Lembar tes, digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dan melakukan
penilaian terhadap hasil belajar tersebut dilakukan secara individu.
b. Lembar observasi, digunakan untuk memperoleh data keterampilan sosial siswa
selama mengkikuti kegiatan pembelajaran dan keterlaksanaan guru dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran.
c. Angket respon, yaitu teknik yang digunakan untuk memperoleh data tentang siswa
terhadap kegiatan pembelajaran dengan melalui model pembelajaran PBL.
Teknik Analisi Data
Tindakan kelas merupakan penelitian kasus disuatu kelas yang hasilnya tidak
untuk digeneralisasikan, maka analisis data cukup dengan mendeskripsikan data yang
terkumpul. Teknik statistik yang digunakan adalah statistik deskriptif. Masing-masing
variabel penelitian dianalisis dengan mengacu pada kriteria yang ditetapkan.
96
Aktivitas Siswa
Penilaian ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat
berpartisipasi dalam mengikuti pembelajaran dan bagaimana siswa dapat menghadapi
permasalah yang mungkin bisa timbul dikehidupan sehari-hari di keluarga dan
masyarakat yang meliputi kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan data,
mengasosiasi dan mengkomunika-
sikan.
Pada siklus I dan siklus II aktivitas siswa selalu mengalami peningkatan siklus I
pertemuan 1 65% dan pertemuan 2 67,5% dan pada siklus II pertemuan 1 70% dan
pertemuan 2 72 %.
97
kegiatan pembelajaran dan secara umum dapat diterima dan mendapat respon positif
dari siswa.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang penggunaan PBL untuk
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Materi Pembelajaran Sistem Ekskresi Pada
Manusia Kelas VIII SMP NEGERI 2 Hulu Sungai Tengah, dapat disimpulkan:
1. Hasil pengamatan aktivitas siswa berdasarkan siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan. Pada siklus I dari 65% menjadi 67,5% dan siklus II dari 70% menjadi
72%.
2. Hasil belajar siswa berdasarkan siklus I dan siklus II mengalami peningkatan
dimana secara klasikal untuk posttest siklus I pertemuan 1 40% menjadi 60% pada
petemuan 2 dan siklus II petemuan 1 83,3% menjadi 86,7% pada pertemuan 2.
3. Sikap afektif siswa berdasarkan siklus I dan siklus II mengalami peningkatan. Pada
siklus I 60,75% menjadi 64% di siklus II mengalami dari 70,75% menjadi 71%.
4. Penilaian psikomotor siswa berdasarkan siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan. Pada siklus I 65% dan pada siklus II 70% menjadi 72,5%.
5. Keterlaksanaan proses pembelajaran siswa pada siklus I 84,61% mengalami
peningkatan pada siklus II menjadi 92,30%.
6. Respon siswa terhadap proses pembelajaran dengan penerapan model PBL sangat
positif dengan 86% setuju dan 14% tidak setuju dengan penggunaan PBL dalam
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
[1] KEMENDIKBUD. 2013. Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013
SMP/MTS Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Badan PSDMPK-PMP.
[2] Putra, Sitiatava Rizema. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains.
Yogyakarta: DIVA Press.
[3] Hamalik, Oemar. 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: [Link] Aksara
[4] Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
98
AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR DALAM
PEMBELAJARAN TRIGONOMETRI MELALUI MODEL
DISCOVERY LEARNING KELAS X MIA 1 SMAN 4 BARABAI
TAHUN PELAJARAN 2019-2020
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas dan hasil belajar peserta didik pada
materi trigonometri di kelas X MIA 1 SMAN 4 Barabai tahun pelajaran 2019-2020.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif. Penelitian ini
dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan untuk pembelajaran dan satu kali pertemuan
untuk evaluasi. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik dari kelas X SMA Negeri
4 Barabai. Objek dalam penelitian ini adalah aktivitas dan hasil belajar dalam
pembelajaran trigonometri melalui model Discovery Learning. Teknik pengumpulan data
menggunakan dokumentasi, observasi dan tes. Teknik analisis data mengunakan
perhitungan persentase dan rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aktivitas
belajar peserta didik melalui model Discovery Learning dalam pembelajaran trigonometri
mencapai kualifikasi aktif, dan (2) hasil belajar peserta didik melalui model Discovery
Learning dalam pembelajaran trigonometri dengan kualifikasi baik.
ABSTRACT
This study aims to determine the activities and learning outcomes of students on
trigonometry material in class X MIA 1 SMAN 4 Barabai in the 2019-2020 school year.
The method used in this research is descriptive. This research was conducted in three
meetings for learning and one meeting for evaluation. The subjects in this study were
students from class X SMA Negeri 4 Barabai. The objects in this study are the activities
and learning outcomes in trigonometric learning through the Discovery Learning model.
Data collection techniques using documentation, observation and tests. Data analysis
techniques using percentage and average calculations. The results showed that: (1) the
learning activities of students through the Discovery Learning model in trigonometric
learning reached active qualifications, and (2) the learning outcomes of students through
the Discovery Learning model in trigonometric learning with good qualifications.
PENDAHULUAN
Konstruktivisme berasal dari kata kontruksi yang berarti “membangun”.
Konstruktivis percaya bahwa pembelajar membangun pengetahuan untuk dirinya.
Peran seorang pengajar sangat penting dalam teori kontruktivisme. Ketimbang
memberikan ceramah, seorang pengajar berfungsi sebagai fasilitator dimana yang
membantu pembelajar dengan pemahamannya. Dalam teori ini pembelajaran sebagai
proses konstruk pengetahuan menekankan pada keaktifan peserta didik untuk
membangun pengetahuan tersebut dalam pikirannya baik secara individual maupun
sosial. Sedangkan guru hanya sebagai motivator dan fasilitator.
99
Jadi, dapat disimpulkakan bahwa belajar adalah kegiatan aktif dimana peserta
didik membangun pengetahuan untuk dirinya baik secara individual maupun sosial.
Sedangkan guru hanya sebagai motivator dan fasilitator yang membantu pembelajar
dengan pemahamannya.
Pembelajaran adalah terjemahan dari instruction, yang diasumsikan dapat
mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu melalui berbagai macam media [1].
Pembelajaran adalah suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik untuk
menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan sistem
lingkungan dengan berbagai metode sehingga peserta didik dapat melakukan kegiatan
belajar secara efektif dan efesien. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang
menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri.
Sehubungan dengan peran guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran, maka
guru diharapkan dapat membangun keaktifan belajar peserta didik selama
berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam hal ini guru dapat menggunakan berbagai
macam pendekatan, teknik, metode, dan model pembelajaran untuk melihat sejauh
mana peserta didik dapat menerima dan menerapkan materi yang disampaikan guru
dengan mudah dan meyenangkan.
Aktivitas dan hasil belajar peserta didik merupakan salah satu faktor penting
dalam proses pembelajaran. Hal ini mengingatkan bahwa proses pembelajaran
dilakukan untuk memberikan pengalaman-pengalaman belajar pada peserta didik. Jika
peserta didik aktif dalam kegiatan tersebut kemungkinan besar akan dapat mengambil
pengalaman-pengalaman belajar pada peserta didik. Aktivitas dan hasil belajar
memiliki hubungan kesebandingan dengan peningkatan mutu pendidikan, yaitu
apabila dikehendaki peningkatan mutu pendidikan maka hasil belajar yang dicapai
harus ditingkatkan, dan dibutuhkan aktivitas belajar yang besar dalam pelaksanaan
proses pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang tepat sangat penting agar
dapat mengembangkan aktivitas dan hasil belajar.
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan
belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Proses pembelajaran yang dilakukan
di dalam kelas merupakan aktivitas mentransformasikan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan [2]. Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam
interaksi belajar mengajar [3]
Saat pembelajaran berlangsung peserta didik mampu memberikan umpan balik
terhadap guru. Aktivitas belajar merupakan aktivitas yang bersifat fisik maupun
mental.
Aktivitas belajar dapat terwujud apabila peserta didik terlibat belajar secara
aktif. Belajar aktif sebagai usaha manusia untuk membangun pengetahuan dalam
dirinya. Pembelajaran akan menghasilkan suatu perubahan dan peningkatan
kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan pada diri siswa [4].
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar
merupakan kegiatan atau tindakan baik fisik maupun mental yang dilakukan oleh
individu untuk membangun pengetahuan dan keterampilan dalam diri dalam kegiatan
100
pembelajaran. Aktivitas belajar akan menjadikan pembelajaran yang efektif. Guru
tidak hanya menyampaikan pengetahuan dan keterampilan saja. Namun, guru harus
mampu membawa peserta didik untuk aktif dalam belajar.
Indikator aktivitas peserta didik dalam pembelajaran di kelas antara lain :
a. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru (visual dan listening activities)
b. Peserta didik mencatat penjelasan guru (writing activities)
c. Peserta didik menanggapi penjelasan guru (oral activities)
d. Peserta didik berdiskusi dengan teman lain untuk membahas permasalahan yang
dihadapi (listening, mental, dan oral activities)
e. Peserta didik memcahkan soal-soal (mental activities)
Hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat
pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulils, tes lisan
maupun tes perbuatan [5]. Hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan
psikomotorik [6]. Hasil belajar yang difokuskan pada penelitian ini dengan
menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes tertulis yang disusun secara terencana.
Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan
yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Evaluasi berarti proses penilaian umtuk
menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa dengan kriteria yang telah
ditetapkan.
Proses adanya evaluasi ialah untuk mengetahui dampak dan efektivitas
penggunannya dalam kegiatan pembelajaran. Aspek yang ingin diketahui dalam
proses antara lain dampak media dan metode yang digunakan dalam proses
pembelajaran. Evaluasi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam proses
pembelajaran. Dengan melakukan evaluasi, guru sebagai pengelola kegiatan
pembelajaran dapat mengetahui kemampuan yang dimiliki peserta didik.
Untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik maka digunakan teknik tes. Tes
merupakan alat yang direncanakan untuk mengukur kemampuan, keahlian, atau
pengetahuan. Adapun teknik tes ialah suatu teknik dalam evaluasi yang digunakan
untuk mengetahui hasil belajar peserta didik menggunakan alat tes.
Salah satu alternatif model pembelajaran yang efektif dapat mengatasi
kejenuhan peserta didik dan dapat menumbuhkan keaktifan belajar serta meningkatkan
prestasi peserta didik, yakni dengan menggunakan model Discovery Learning. Model
ini memberikan peserta didik banyak waktu untuk berpikir, menjawab, dan membantu
satu sama lain. Discovery Learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara
belajar aktif dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang
diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan. Melalui belajar penemuan, siswa
juga bisa berpikir analisis dan mencoba memecahkan masalah yang dihadapi [7].
Discovery Learning adalah proses mental dimana siswa mengasimilasikan sesuatu
konsep atau sesuatu prinsip [8].
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru mata
pelajaran matematika kelas X MIA 1 diperoleh keterangan dari guru bahwa kegiatan
pembelajaran selama ini hanya berpusat pada guru sehingga tidak memotivasi siswa
101
untuk lebih aktif dalam mengikuti pelajaran matematika. Oleh karena itu untuk
memecahkan masalah ini dilakukan pembelajaran menggunakan model pembelajaran
Discovery Learning, model pembelajaran berbasis penemuan ini merupakan model
mengajar yang mengatur pengajar sedemikian rupa sehingga peserta didik
memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya tidak melalui
pemberitahuan, namun ditemukan sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi trigonometri di kelas X MIA 1 SMAN 4
Barabai tahun pelajaran 2019-2020.
METODE
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah Deskriptif. Penelitian ini
dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan untuk pembelajaran dan satu kali pertemuan
untuk evaluasi. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik dari kelas X SMA
Negeri 4 Barabai. Objek dalam penelitian ini adalah aktivitas dan hasil belajar dalam
pembelajaran trigonometri melalui model Discovery Learning. Teknik pengumpulan
data menggunakan dokumentasi, observasi dan tes. Teknik analisis data mengunakan
perhitungan persentase dan rata-rata.
Observasi dilakukan untuk memperoleh data mengenai aktivitas peserta didik
dalam proses pembelajaran trigonometri melalui model Discovery Learning.
Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi aktivitas peserta didik
untuk mengetahui bagaimana aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran
trigonometri. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru.
Tabel 1. Kisi-kisi lembar observasi
Aktivitas Peserta Didik
1. Peserta didik memperhatikan penjelasn guru
2. Peserta didik mencatat penjelasan guru
3. Peserta didik menanggapi penjelasan guru
4. Peserta didik berdiskusi dengan teman lain untuk membahas permasalahan yang dihadapi
5. Peserta didik memecahkan soal-soal
102
Perhitungan persentasi keaktifan siswa dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
f = frekuensi yang sedang dicari persentasinya
N = Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)
p = angka persentase
Selanjutnya nilai persentasi yang diperoleh kemudian diinterpretasikan
berdasarkan tabel berikut.
Tabel 2. Kriteria Interprestasi Aktivitas Peserta Didik
Nilai Kualifikasi
0% ≤ 𝑥 < 20% Tidak aktif
20% ≤ 𝑥 < 40% Kurang aktif
40% ≤ 𝑥 < 60% Cukup aktif
60% ≤ 𝑥 < 80% Aktif
80% ≤ 𝑥 < 100% Sangat aktif
Instrumen ini dilakukan dengan memberikan tes hasil belajar kepada peserta
didik yaitu berupa ulangan harian sebagai evaluasi. Dalam penelitian ini soal yang
digunakan soal berbentuk 5 soal essai.
Adapun rumus yang digunakan untuk perhitungan hasil belajar peserta didik
secara individual menurut yaitu:
Keterangan
N = Nilai akhir
Perhitungan rata-rata hasil belajar peserta didik menggunakan rumus:
∑𝑋
𝑋̅ = 𝑁
Keterangan:
𝑥̅ = rata-rata (mean)
∑ 𝑋 = jumlah seluruh skor
N = banyaknya subjek
Keterangan:
f = frekuensi yang sedang dicari persentasinya
N = Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)
p = angka persentase
103
Nilai akhir yang diperoleh peserta didik kemudian diinterpretasikan menggunakan
kriteria pada tabel berikut.
HASIL
Aktivitas peserta didik terhadap pelaksanaan pembelajaran matematika
menggunakan model Discovery Learning. Adapun aktivitas peserta didik dalam
pembelajaran diamati dari 5 indikator yaitu 1) peserta didik memperhatikan penjelasan
guru, 2) peserta didik mencatat penjelasan guru, 3) peserta didik menanggapi
penjelasan guru, 4) peserta didik berdiskusi dengan teman lain untuk membahas
permasalahan yang dihadapi, 5) peserta didik memecahkan soal-soal.
Berdasarkan hasil observasi, maka aktivitas peserta didik pada pertemuan 1 dapat
dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Aktivitas pada pertemuan 1
No Indikator % Kualifikasi
1 Memperhatikan penjelasan guru 75% Aktif
2 Mencatat penjelasan guru 71,43% Aktif
3 Menanggapi penjelasan guru 64,29% Aktif
4 Berdiskusi dengan teman lain untuk membahas 82,14% Sangat aktif
permasalahan yang dihadapi
5 Memecahkan soal-soal 60,71% Aktif
Rata-rata 70,71% Aktif
104
Gambar 1. Pertemuan I
Berdasarkan hasil observasi, maka aktivitas peserta didik pada pertemuan 1
dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Aktivitas pada pertemuan 2
No Indikator % Kualifikasi
1 Memperhatikan penjelasan guru 78,57% Aktif
2 Mencatat penjelasan guru 82,14% Sangat aktif
3 Menanggapi penjelasan guru 67,86% Aktif
4 Berdiskusi dengan teman lain untuk membahas 85,71% Sangat aktif
permasalahan yang dihadapi
5 Memecahkan soal-soal 75% Aktif
Rata-rata 77,86% Aktif
Gambar 2. Pertemuan 2
105
Tabel 6. Aktivitas pada pertemuan 3
No Indikator % Kualifikasi
1 Memperhatikan penjelasan guru 82,14% Sangat aktif
2 Mencatat penjelasan guru 85,71% Sangat aktif
3 Menanggapi penjelasan guru 71,43% Aktif
4 Berdiskusi dengan teman lain untuk 89,29% Sangat aktif
membahas permasalahan yang dihadapi
5 Memecahkan soal-soal 78,57% Aktif
Rata-rata 81,43% Sangat aktif
Gambar 3. Pertemuan 3
106
telah mencapai ketuntasan dari KKM yang ditetapkan dan rata-rata hasil belajar siswa
setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan menggunakan model Discovery
Learning yaitu sebesar 72,02 dan berada pada kualifikasi baik. Setelah rata-rata nilai
hasil belajar diperoleh, kemudian dikelompokkan menggunakan kualifikasi pada
Tabel 8.
Tabel 8. Kualifikasi Hasil Belajar Peserta Didik
Nilai Frekuensi Persentase Kualifikasi
80 ≤ 𝑥 < 100 7 25% Baik Sekali
70 ≤ 𝑥 < 80 7 25% Baik
65 ≤ 𝑥 < 70 11 39,29% Cukup
50 ≤ 𝑥 < 65 2 7,14% Kurang
0 ≤ 𝑥 < 50 1 3,57% Gagal
Berdasarkan hasil belajar peserta didik dari pertemuan keempat dapat dilihat nilai
siswa tersebut pada tabel 9.
Tabel 9. Nilai Evaluasi Pertemuan keempat
Nama Siswa Nilai Evaluasi
1. AA 66,7
2. AG 72,2
3. A 66.7
4. ELW 77,7
5. FNA 83,3
6. H 88,9
7. K 77,7
8. L 72,2
9. M 61,1
10. M 77,7
11. MA 66,7
12. MFR 61,1
13. MI 44,4
14. MM 66,7
15. MRA 55,6
16. MRP 88,9
17. MS 72,2
18. MWR 66,7
19. MYZ 88,9
20. MZI 61,1
21. NA 88,9
22. N 66,7
23. PPS 77,7
24. RH 66,7
25. R 66,7
26. SM 55,6
27. SH 88,9
28. SNA 88,9
107
Gambar 1. Peserta Didik Tes Evaluasi
108
Tabel 11 menunjukkan hasil belajar dalam pembelajaran trigonometri melalui
model Dicovery Learning. Pada tabel tersebut disebutkan bahwa jumlah peserta didik
yang mencapai KKM pada tes evaluasi peserta didik yang mencapai KKM sebanyak
20 atau 71,43% dengan rata-rata nilai 72,02.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar peserta didik pada
pembelajaran trigonometri melalui model Discovery Learning termasuk dalam
kualifikasi aktif. Hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran trigonometri melalui
model Discovery Learning termasuk dalam kualifikasi baik.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian tentang Aktivitas dan hasil belajar peserta didik dalam
pembelajaran Trigonometri melalui model Discovery Learning dikelas X MIA 1
SMAN 4 Barabai 2019-2020, dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) aktivitas belajar
peserta didik melalui model Discovery Learning dalam pembelajaran trigonometri
mencapai kualifikasi aktif, dan (2) hasil belajar peserta didik melalui model Discovery
Learning dalam pembelajaran trigonometri dengan kualifikasi baik.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Suprahatiningrum. 2013. Strategi Pembelajaran Teori dan Aplikasi. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
[2] Yamin, Martinis. 2007. Professionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta:
Gaung Persada Press
[3] A.M, Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
[4] Yamin, Martinis. 2007. Professionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta:
Gaung Persada Press
[5] Sudjana, Nana. 2010. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algensindo
[6] Suprijono. 2012. Cooperatif Learning: Teori dan Aplikasi Paikem. Yogyakarta:
Pustaka Peajar.
[7] Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad
21. Bogor: Ghalia Indonesia.
[8] Djamarah & Zain. 2014. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
109
IMPLEMENTASI MODEL DISCOVERY LEARNING
PADA KONSEP SISTEM EKSKRESI MANUSIA DI KELAS VIII
SMP NEGERI 5 HULU SUNGAI TENGAH
ABSTRAK
Berdasarkan wawancara dengan Guru IPA dengan penelitian di SMP Negeri 5 Hulu
Sungai Tengah, siswa cenderung pasif dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran,
kurang bersemangat, cepat bosan, dan informasi tentang pelajaran hanya diperoleh dari
buku mata pelajaran serta kurang terlibat dalam proses pembelajaran. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan aktivitas guru, aktivitas siswa dan mengetahui respon
siswa setelah mengikut pembelajaran pada konsep sistem ekskresi manusia dengan
menerapkan model discovery learning. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian
ini adalah kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 5
Hulu Sungai Tengah, dengan jumlah siswa 26 orang, yang terdiri dari 11 orang laki-laki
dan 15 orang perempuan. Implementasi model discovery learning pada konsep sistem
ekskresi manusia di kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah terjadi peningkatan
aktivitas guru, aktivitas siswa, serta respon siswa yang positif dalam proses pembelajaran.
ABSTRACT
Based on interviews with science teachers with research at SMP Negeri 5 Hulu Sungai
Tengah, students tend to be passive and less active in participating in learning, lack
enthusiasm, get bored quickly, and information about lessons is only obtained from
subject books and less involved in the learning process. This study aims to describe
teacher activities, student activities and determine student responses after participating
in learning on the concept of the human excretion system by applying the discovery
learning model. This type of research used in this study is qualitative. The subjects in this
study were students of class VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah, with a total of 26
students, consisting of 11 boys and 15 girls. The implementation of the discovery learning
model on the concept of the human excretion system in class VIII of SMP Negeri 5 Hulu
Sungai Tengah has increased teacher activity, student activity, and positive student
responses in the learning process.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan tidak hanya untuk
memanusiakan manusia tetapi juga manusia menyadari posisinya sebagai khalifatullah
filardhi, yang pada gilirannya akan semakin meningkatkan dirinya untuk menjadi
manusia yang bertaqwa beriman berilmu dan beramal sholeh [20]. Pendidikan
memegang peranan yang penting di setiap negara karena pendidikan akan menjamin
kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara.
111
Pada hakikatnya pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia
(SDM). Selain itu pendidikan berperan penting dalam pembangunan dan merupakan
satu hal penting dalam menentukan maju mundurnya suatu bangsa, sehingga tidak
salah jika pemerintah senantiasa meningkatkan mutu pendidikan. Pendidikan dapat
dilaksanakan dimana saja, salah satu lembaga yang memberikan pendidikan adalah
sekolah. Sekolah merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar yang
memberikan pengajaran secara formal, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu
pendidikan. Proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila siswa mampu
memahami dan menguasai mata pelajaran yang diajarkan.
Pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara pembelajaran yang efektif
harus dilakukan dengan berbagai cara dan menggunakan berbagai media
pembelajaran. Untuk proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu aspek
dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan
disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, tetapi dikarena tidak adanya motivasi
untuk belajar sehingga siswa tidak berusaha untuk mengerahkan segala
kemampuannya [17].
Pada K13 merupakan kurikulum berbasis kompetensi dengan memperkuat
proses pembelajaran dan penilaian untuk mencapai kompetensi sikap, pengetahuan,
dan keterampilan [10]. Penguatan proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan
saintifik, yaitu pembelajaran yang mendorong siswa lebih mampu dalam mengamati,
menanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi/ menalar, dan mengkomuni-
kasikan. Namun dalam kegiatan belajar mengajar, kurang senangnya seorang siswa
terhadap guru bisa jadi disebabkan gaya mengajar guru yang kurang bervariasi. Gaya
mengajar guru tidak sejalan dengan gaya belajar siswa. Model mengajar yang
digunakan itu-itu saja. Seharusnya guru mengajar dengan bantuan model-model.
Model yang dapat digunakan berupa alat peraga dua dimensi seperti gambar, foto,
grafik, peta denah, skema, dan sebagainya, atau merupakan alat peraga tiga dimensi
seperti globe, boneka, dan lain sebagainya [7]. Pada mata pelajaran IPA, ditentukan
beberapa istilah-istilah yang harus dipelajari dan dipahami serta ada beberapa masalah
yang harus dipelajari oleh siswa terutama pada konsep ini ada beberapa metode dan
model pembelajaran yang dapat digunakan.
Tujuan pendidikan adalah sesuatu yang dicita-citakan atau ingin diwujudkan
dari usaha dan proses pendidikan. Guru memegang peranan penting dalam peningka-
tan mutu pendidikan. Dalam pembelajaran guru harus mampu menciptakan kondisi
belajar yang dapat melibatkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya.
Kemampuan berfikir siswa dapat optimal tentunya dengan cara berperan aktif dalam
pembelajaran baik secara fisik, mental siswa sehingga termotivasi dalam mengikuti
proses mengajar. Hal ini dituntut keterampilan guru dalam memilih model pembela-
jaran yang baik. Sehingga apa yang diharapkan dapat mencapai tujuan yang sudah
direncanakan. Proses pembelajaran akan lebih bermakna apabila terjadi kegiatan
belajar siswa dengan baik. Untuk itu model yang dipakai guru sangatlah mempenga-
ruhi siswa yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi diri siswa yang dimilikinya.
112
Oleh karena itu, guru sangat penting memahami teori belajar dan pembelajaran agar
dapat memberikan bimbingan kepada siswa sebaik-baiknya. Keluhan guru sering
terlontar karena masalah sukarnya mengelola kelas agar siswa aktif dan termotivasi
untuk antusias berpendapat dan mengeluarkan gagasan–gagasan mereka. Salah satu
materi dalam pembelajaran IPA yang dapat dilaksanakan dengan menggunakan model
discovery learning adalah materi sistem ekskresi manusia. Kompetensi dasar tersebut
memuat materi yang dapat diperoleh siswa dengan cara menggali informasi melalui
pembelajaran penemuan sehingga siswa dapat mendeskripsikan tentang sistem
ekskresi manusia.
Berdasarkan wawancara dengan Guru IPA dengan penelitian di SMP Negeri 5
Hulu Sungai Tengah, siswa cenderung pasif dan kurang aktif dalam mengikuti
pembelajaran, kurang bersemangat, cepat bosan, dan informasi tentang pelajaran
hanya diperoleh dari buku mata pelajaran serta kurang terlibat dalam proses
pembelajaran. Sehingga salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi
masalah tersebut, dengan pemilihan model pembelajaran yang sesuai. Model
pembelajaran yang menjadi alternatif untuk materi tersebut adalah model
pembelajaran Discovery Learning. Model Disovery Learning adalah metode belajar
yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak
disajikan dengan pelajaran dengan dengan bentuk finalnya, tetapi diharapkan
mengorganisasikan sendiri [2]. Brunner memakai strategi yang disebutkan Discovery
Learning, dimana siswa mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk
akhir. Dengan demikian model pembelajaran mengharapkan siswa dapat mengorgani-
sasi diri mereka sendiri, sehingga dalam proses belajar mengajar tidak akan nampak
membosankan dan tidak terfokus pada guru.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti berkeinginan mengadakan suatu penelitian
yang berjudul “Implementasi Model Discovery Learning Pada Konsep Sistem
Ekskresi Manusia di Kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah.
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari
pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan. Belajar dan pembelajaran
merupakan aktivitas utama untuk yang dilakukan dalam sebuah proses pendidikan.
Secara umum belajar dapat diartikan sebagai sebuah proses untuk memperoleh
kompetensi. Kompetensi yang dimaksud mencakup pengetahuan, keterampilan, dan
sikap [15]. Seseorang dapat saja belajar melalui pengalaman diberbagai tempat,
sarana, sumber yang memungkinkan untuk mengubah perilakunya, kemaren dia tidak
tahu sekarang menjadi tahu, kemaren dia tidak mengerti sekarang sudah mengerti
lantaran berinteraksi dengan lingkungannya, oleh sebab itu belajar adalah proses
berfikir, menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui
interaksi antara individu dengan lingkungannya [14].
Belajar bukan hanya sekedar menghapal, melainkan suatu proses mental yang
terjadi dalam diri seseorang. Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses
interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan
tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media
113
pembelajaran. Didasari oleh adanya perbedaan interaksi tersebut, maka kegiatan
pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pola pembelajaran.
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses
berpikir yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kanan maupun
otak kanan. Belajar adalaha suatu proses mencoba berbagai kemungkinan yang segala
sesuatunya mungkin saja terjadi. Belajar merupakan proses yang bersifat internal yang
tidk dapat dilihat dengan nyata, maksudnya belajar bukan tingkah laku yang tampak
melainkan yang utama adalah prosesnya yang terjadi secara internal didalam individu
dalam usahanya [8].
Model pembelajaran discovery learning adalah metode mengajar yang mengatur
pengajaran sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum
diketahui. Dalam pembelajaran discovery (penemuan), kegiatan atau pembelajaran
dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Discovery Learning sebagai proses
pembelajaran yang terjadi bila materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk
finalnya. Tetapi model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan
hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan [1].
Model pembelajaran Discovery Learning adalah model pembelajaran yang mengajak
siswa untuk berproses melalui scientific guna memperoleh pengalaman yang dapat
dengan mudah diingat siswa karena siswa terlibat secara langsung dalam proses
pembelajaran.
Model Discovry Learning terdiri atas beberapa langkah [12], yaitu (1) pemberian
stimulasi, (2) perumusan masalah, (3) perumusan hipotesis, (4) pengumpulan data, (5)
pengolahan data, (6) pembuktian data dan (7) penarikan kesimpulan.
METODE
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian kualitatif yaitu dengan menguraikan hasil pengamatan aktivitas
guru, aktivitas siswa dan respon siswa terhadap penerapan model discovery
learning.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah dan waktu
pelaksanaan penelitian pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian
ini berlangsung pada bulan maret sampai juni 2020, mulai dari tahap persiapan
sampai penyusunan laporan akhir.
3. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai
Tengah, dengan jumlah siswa 26 orang, yang terdiri dari 11 orang laki-laki dan 15
orang perempuan.
4. Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik pengumpulan data dalam peneitian kualitatif dapat dilakukan dengan cara
observasi dan angket. Teknik analisis data terhadap kinerja guru ini merupakan
114
analisis data kualitatif, dengan cara mendiskripsikan hasil dari lembar observasi
kinerja guru yang dilakukan oleh satu orang pengamat yang bernama Risnawati.
Untuk aktivitas siswa dilakukan oleh satu pengamat yang bernama Wiwin Winarti
F dan Analisis terhadap respon siswa menggunakan angket yang dibagikan.
HASIL
Berdasarkan hasl penelitian tentang aktivitas guru, aktivitas siswa, dan respon
siswa terhadap penerapan model discovery learning pada konsep sistem ekskresi
manusia di kelas VIII SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah.
a. Aktivitas Guru
Tabel 1. Aktivtas Guru
Aktivitas guru
Pertemuan
1 2 3
Rata-rata 66,07 82,14% 87, 5%
Kategori Cukup baik Baik Baik
b. Aktivitas Siswa
Tabel 2. Aktivitas Siswa
Aktivitas Siswa
Pertemuan
1 2 3
Rata-rata 66,18% 73,78% 83,33%
Kategori Cukup aktif Cukup aktif aktif
115
Berdasarkan Tabel 2. aktivitas siswa dari penilaian observer pertemuan 1 sebesar
66,18 % dengan kategori cukup aktif, pertemuan 2 sebesar 73,78% dengan kategori
cukup aktif dan pertemuan 3 sebesar 83,33% dengan kategori aktif.
116
sosial saat kegiatan pembelajaran, seperti mendengarkan dengan baik saat
mengemukakan pendapat, agar terciptanya suasana yang kondusif.
c. Respon Siswa
Tabel 4. Respon Siswa
Ya Tidak
Jumlah 236 24
Rata-rata () 91 9
Kategori Baik Sekali Kurang
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi model
discovery learning pada konsep sistem ekskresi manusia di kelas VIII SMP Negeri 5
Hulu Sungai Tengah terjadi peningkatan aktivitas guru, aktivitas siswa, serta respon
siswa yang positif dalam proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Aini, Isna Malihatul. 2016. Pengaruh Pembelajaran Discovery Learning Tehadap
Hasil Belajar Tematik Siswa Kelas V SD Negeri 2 Labuhan Ratu Bandar
117
Lampung tahun Pembelajaran 2014/2015. Bandar Lampung: Universitas Bandar
Lampung.
[2] Darmadi, Hamid 2017. Pengembangan model dan metode pembelajaran dalam
dinamika belajar siswa. Yogyakarta: CV. Budi Utomo
[3] Erlidawati, Habibati. 2020. Penerapan Model Discovery Learning Untuk
Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi
Termokimia. Jurnal Pendidikan Sains Indonesia (Indonesian Journal of Science
Education) 8 (1), 92-104.
[4] Fitriani, Fatimah & Taufiq, M. 2020. Penggunaan Model Discovery Learning
Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Materi Gelombang Di Kelas
Viii Smp Negeri 1 Peusangan. Jurnal Edukasi Matematika dan Sains (JEMAS)
1.1
[5] Hamalik, Oemar. 2016. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. PT Bumi Aksara.
[6] Hariyani, S. (2020). Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar IPA Materi Sistem
Ekskresi Manusia melalui Model Pembelajaran Discovery Learning dan Metode
Eksperimen Siswa Kelas VIII G SMP Negeri 1 Boyolali pada Semester Genap
Tahun Pelajaran 2018-2019. JURNAL PENDIDIKAN, 28(3).
[7] Hariyanto & Suyono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Rosdakarya.
[8] Hatikah, 2018. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Kusan
Hilir pada Konsep Interaksi Makhluk dengan Lingkungannya Menggunakan
Model Pembelajaran Discovery learning. AR -Ruzz Media. Depok, Sleman,
Yogjakarta.
[9] Maimunah. 2018. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 1
Paringin pada Materi Permasalahan Lingkungan Melalui Model Pembelajaran
Discovery Learning. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: STKIP PGRI
Banjarmasin.
[10] Majid, Abdul & Rochman, Chaerul. 2015. Pendekatan Ilmiah dalam
Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[11] Putra. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan Kurikulum 2013). Ed. Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
[12] Ramdiah, Siti & Salmiah. 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Discovery
Learning Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII Mts. Nu Al-
Falah Pada Konsep Ekosistem. Jurnal Pendidikan Hayati. Vol. 5 No.3 Th.2019:
132-140.
[13] Rifani, Muhammad Erwin. 2019. Penerapan Model Pembelajaran Discovery
Learning Dalam Meningkatkan Partisipasi dan Prestasi Belajar Siswa Kelas VII
B SMP Negeri 16 Hulu Sungai Tengah Pada Konsep Materi Pemanasan Global.
Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: STKIP PGRI Banjarmasin.
[14] Sanainah. 2018. Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Pada
Konsep Ekosistem untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Peserta Didik
Kelas VII SMP Negeri 2 Paringin. Skripsi tidak diterbitkan. Banjarmasin: STKIP
PGRI Banjarmasin.
118
[15] Sani, Riswan Abdullah. 2019. Strategi Belajar Mengajar. Depok: Rajawali Pers.
[16] Sanjaya, D. H. Wina. 2016. Penelitian Tindakan Kelas. Prenada Media.
[17]Sanjaya, Wina 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Prenada Media.
[18] Setyawati, Endang. 2018. Upaya Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Model
Pembelajaran Discovery Learning pada Peserta Didik. Jurnal Kajian Teori dan
Praktik Kependidikan. Vol. 3 No. 1.
[19] Sudjana, Nana 2014. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
[20] Tim Pengembang Ilmu Pendidikan, 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. PT.
Imperial Bhakti Utama. Jakarta
119
VALIDITAS RPP BERBASIS STEAM PADA MATERI
SISTEM PERNAPASAN MANUSIA KELAS VIII SMP
Miranti1, Hj. Rezky Nefianthi2, Budi Prayitno3,
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmasin
Email1: mirantielsagifara@[Link]
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk Mendeskripsikan Validitas RPPBerbasis
STEAM pada Materi Sistem Pernapasan Manusia Kelas VIII SMP. Model pembelajaran
STEAM (Sains, Technology, Engineering, Art and Mathematic) yang mengaitkan bidang
ilmu pengetahuan (sains), teknologi, teknik, seni, dan matematika, sehingga siswa
diberikan pemahaman holistik keterkaitan bidang ilmu melalui pengalaman belajar. Jenis
penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah mengacu pada penelitian dan
pengembangan (Research and Development). hasil dari penelitian pengembangan yang
dilakukan melalui uji validitas RPP dapat disimpulkan bahwa RPP berbasis STEAM pada
Materi Sistem Pernapasan Manusia Kelas VIII SMP telah memenuhi kriteria kevalidan
pada tahap kedua. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian kevalidan RPP dalam
kategori valid ditinjau dari hasil validasi tahap satu dan dua yang dilakukan oleh dua
orang validator.
ABSTRACT
The purpose of this study, among others, was to describe the validity of the STEAM-based
RPP in Class VIII Middle School Human Respiratory System Material. STEAM (Science,
Technology, Engineering, Art and Mathematic) learning model which links the fields of
science (science), technology, engineering, art, and mathematics, so that students are
given a holistic understanding of the interrelationship of fields of knowledge through
learning experiences. This type of research used in this study refers to research and
development (Research and Development). The results of the development research
carried out through the RPP validity test can be concluded that the STEAM-based RPP
in Class VIII Middle School Human Respiratory System Material has met the validity
criteria in the second stage. This can be proven by the results of the research on the
validity of the RPP in the valid category in terms of the results of the first and second
stage validation conducted by two validators.
PENDAHULUAN
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani “paedagogie”, yang akar katanya
“pais” yang berarti anak dan “angin” yang artinya membimbing. Jadi, “pedagogik
“bimbingan yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa inggris, pendidikan
diterjemahkan menjadi “education”.” Education” berasal dari bahasa Yunani
“educare” yang berarti membawa keluar yang tersimpan dalam jiwa anak, untuk
dituntun agar tumbuh dan berkembang [13].
Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan model
STEAM (Sains, Technology, Engineering, Art and Mathematic pada materi Sistem
121
Pernapasan Manusia diharapkan mampu meningkatkan aktifitas siswa, melatihkan
keterampilan siswa, dan meningkatkan kemampuan efektif, kognitif, serta
psikomotorik siswa. Tidak hanya itu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ini
juga akan memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan berbagai informasi,
pemecahan masalah, dan inovasi. Selain itu memungkinkan siswa untuk
mengeksplorasi diri melalui berbagai kegiatan serta guru memberikan umpan balik
terhadap yang siswa hasilkan melalui pengalaman belajar.
Model pembelajaran STEAM (Sains, Technology, Engineering, Art and
Mathematic) yang mengaitkan bidang ilmu pengetahuan (sains), teknologi, teknik,
seni, dan matematika, sehingga siswa diberikan pemahaman holistik. Pembelajaran
dengan pendekatan STEAM merupakan pembelajaran kontekstual, di mana siswa akan
diajak memahami fenomena-fenomena yang terjadi yang dekat dengan dirinya.
Pendekatan STEAM mendorong siswa untuk belajar mengeksplorasi semua kemam-
puan yang dimilikinya, dengan cara masing-masing. STEAM juga akan memunculkan
karya yang berbeda dan tidak terduga dari setiap individu atau kelompoknya. Selain
itu kolaborasi, kerja sama dan komunikasi akan muncul dalam proses pembelajaran
karena pendekatan ini dilakukan secara berkelompok [12].
Dengan pembelajaran ini diharapkan akan lebih menghidupkan partisipasi siswa
dalam proses pembelajaran serta menghasilkan prestasi belajar siswa yang tinggi. Oleh
karena itu peneliti ingin mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
yang sesuai dengan pengembangan kurikulum sekolah di SMP dengan model STEAM
(Sains, Technology, Engineering, Art and Mathematic). Pada materi yang ingin
diangkat pengembangan RPP ini adalah membahas tentang Sistem Pernapasan
Manusia.
Berdasarkan uraian tersebut di atas peneliti tertarik untuk mengembangkan RPP
yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran serta dapat
meningkatkan kemampuan efektif, kognitif, serta psikomotorik. Guna menciptakan
sumber daya manusia yang siap bersaing di era globalisasi. Adapun judul dari
penelitian ini adalah “Validitas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Berbasis
STEAM Pada Materi Sistem Pernapasan Manusia Kelas VIII SMP”.
METODE
Jenis Penelitian
Penelitian merupakan penerapan pendekatan ilmiah (scientific approach) pada
pengkajian atau studi tentang suatu masalah. Penelitian merupakan suatu cara yang
tepat dan sangat berguna dalam memperoleh informasi yang sahih dan dapat
dipertanggungjawabkan [10].
Berdasarkan masalah peneliti, dan tujuan penelitian yang ditetapkan maka
Penelitian ini merupakan metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa
inggrisnya Research and Development (R & Dadalah metode penelitian yang
digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji kevalidan produk tersebut
[11].
122
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah mengacu pada
penelitian dan pengembangan (Research and Development). Penelitian ini
mengembangkan Validitas RPP berbasis STEAM yang valid. Penerapan pembelajaran
mengintegrasikan ke masing-masing komponen STEAM yang terdiri dari science
menjelaskan tentang pengetahuan di mana dalam pembelajaran ini yaitu mengenai
pemahaman konsep materi, technology menjelaskan mengenai penggunaan teknologi
terbaru yang memudahkan siswa dalam pelaksanaan aktivitas, engineering
menjelaskan tentang teknik-teknik yang digunakan siswa selama penyelesaian proyek,
arts yang akan memunculkan kreatifitas siswa dalam mendesain proyek, dan
mathematics yang merupakan rumus-rumus, perhitungan, ataupun bangun ruang yang
digunakan siswa selama aktivitas pembelajaran [10].
Pembelajaran ini menggunakan model STEAM dalam penelitian ini lebih
difokuskan untuk menghasilkan Validitas RPP Berbasis STEAMpada Materi Sistem
Pernapasan Manusia Kelas VIII SMP.
123
prototype penyesuaian masalah. Dikatakan prototype, karena telah berhubungan
dengan produk yang memenuhi bagian dari spesifikasi fungsional.
3. Fase Realisasi
Realisasi RPP yang disusun didasarkan pada komponen model STEAM, terutama
keterampilan yang dilatihkan dari pembelajaran model STEAM. RPP ini merupakan
panduan bagi guru untuk melakukan pembelajaran di kelas. RPP yang
direalisasikan, disusun berdasarkan pada komponen-komponen STEAM. RPP ini
berfungsi untuk merekam seluruh aktifitas siswa atau penyelesaian masalah dalam
pembelajaran sekaligus sebagai panduan siswa belajar yang capai lewat RPP
tersebut. Komponen-komponen RPP adalah (1) kompetensi dasar dan indicator
pencapaian, (2) petunjuk penggunaan RPP, dan (3) sajian langkah-langkah atau
aktifitas pembelajaran.
Instrument-instrument kevalidan yang telah dirancang pada fase-2 selanjutnya
direalisasikan pada fase ini. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah
merangkum dan merumuskan tujuan pengukuran, aspek-aspek yang diukur, dan
menetapkan pertanyaan-pertanyaan, pengukuran untuk setiap aspek menjadi satu
kesatuan yang utuh sebagai sebuah instrument yang digunakan untuk mengukur
kevalidan RPP.
4. Fase Pengujian, Evaluasi Oleh Ahli dan Praktisi serta Revisi.
Pada fase ini dilakukan kegiatan sebagai berikut, yaitu kegiatan validasi RPP model
STEAM berdasarkan penguasaan teori dan pengalaman ahli dan praktisi. Secara
berturut-turut kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam pengujian, evaluasi, dan revisi
RPP. Instrumen validasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrument
yang diadopsi dari Nefianthi (2015).
HASIL
Hasil Validasi RPP Berbasis STEAM Tahap Dua
Berdasarkan hasil validasi yang dilakukan oleh validator satu maupun validator
dua terhadap RPP yang dibuat maka didapatkan hasil sebagai berikut.
Berdasarkan hasil penelitian validator, maka pada tahap kedua ini perangkat
yang direvisi sesuai saran dari validator. Menurut validator secara keseluruhan
perangkat RPP sudah baik dan tidak ada revisi. Kevalidan perangkat pembelajaran
berbasis STEAM dapat dilihat berdasarkan hasil validasi perangkat pembelajaran oleh
validator. Validator melakukan penilaian menggunakan lembar penilaian Berbasis
STEAM terhadap tes RPP. Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa RPP
124
Berbasis STEAM memiliki derajat validitas yang memadai adalah jika validitas RPP
berada pada kategori valid.
Pertimbangan kevalidan terhadap RPP Kesatu, RPP Kedua, RPP Ketiga, dan
RPP Keempat terdiri dari dua orang validator yaitu Nana Citrawati Lestari, [Link]., M.
Pd dan Saudah, [Link]. Revisi rencana pelaksanaan pembelajaran validator tidak
terdapat saran/komentar. Validasi Tahap Kedua, yaitu Nana Citrawati Lestari, [Link].,
M. Pd memberikan penilaian pada RPP kesatu, RPP kedua, RPP ketiga, dan RPP
keempat itu sudah dapat digunakan tanpa revisi sedangkan Saudah, S. Pd
memberikan penilaian pada RPP kesatu, RPP kedua, RPP ketiga, dan RPP keempat itu
juga sudah dapat digunakan tanpa revisi.
Pada tahap kedua penilaian kevalidan RPP kesatu, RPP kedua, RPP ketiga, dan
RPP keempat oleh validator I yaitu Nana Citrawati Lestari, [Link]., M. Pd RPP kesatu
mendapatkan Rata-rata 4,32 dengan kriteria valid, RPP kedua mendapatkan Rata-rata
4,42 dengan kriteria valid, RPP ketiga mendapatkan Rata-rata 4,26 dengan kriteria
valid, dan RPP keempat mendapatkan Rata-rata 4,36 dengan kriteria valid. Sedangkan
oleh validator II yaitu Saudah, S. Pd RPP kesatu mendapatkan Rata-Rata 4,50 dengan
kriteria valid, RPP kedua mendapatkan Rata-rata 4,49 dengan kriteria valid, RPP
ketiga mendapatkan Rata-rata 4,47 dengan kriteria valid, dan RPP keempat
mendapatkan Rata-rata 4,47 dengan kriteria valid. Nilai rata-rata total aspek
keseluruhan pada RPP kesatu sebanyak 4,41 perolehan nilai total nilai aspek tersebut
termasuk dalam katagori valid, RPP kedua sebanyak 4,45 perolehan nilai total nilai
aspek tersebut termasuk dalam katagori valid, RPP ketiga sebanyak 4,37 perolehan
nilai total nilai aspek tersebut termasuk dalam katagori valid, dan RPP keempat
sebanyak 4,42 perolehan nilai total nilai aspek tersebut termasuk dalam katagori valid.
Jadi, dari keterangan-keterangan tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa RPP
kesatu, RPP kedua, RPP ketiga, dan RPP keempat yang dikembangkan sudah terbukti
Valid.
Hasil analisis tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian Nefianthi (2015)
menjelaskan bahwa perangkat pembelajaran divalidasi dengan memberikan perangkat
prototipe-2 yang dinilai oleh 2 orang validator memberikan hasil perangkat
pembelajaran yang dikembangkan termasuk dalam kategori valid yang terlihat dari
nilai RPP kesatu V A = 4,41. RPP kedua V A = 4,45. RPP ketiga V A = 4,37. RPP
keempat V A = 4,42.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari penelitian pengembangan yang dilakukan melalui uji
validitas RPPdapat disimpulkan bahwa RPP berbasisSTEAM pada Materi Sistem
Pernapasan Manusia Kelas VIII SMP telah memenuhi kriteria kevalidan pada tahap
kedua. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian kevalidan RPP dalam kategori
valid ditinjau dari hasil validasi tahap satu dan dua yang dilakukan oleh dua orang
validator, sebagai berikut:
125
a. Hasil validasi RPP Berbasis STEAM Tahap Pertama
Nilai pada RPP kesatu sebanyak 3,23 termasuk dalam katagori cukup valid, RPP
kedua sebanyak 3,20 termasuk dalam kategori cukup valid, RPP ketiga sebanyak
3,23 termasuk dalam kategori cukup valid, dan RPP keempat sebanyak 3,19
termasuk dalam kategori cukup valid. Jadi, dari keterangan-keterangan tersebut,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa RPP kesatu, RPP kedua, RPP ketiga, dan
RPP keempat yang dikembangkan adalah termasuk dalam kategori cukup valid.
Artinya masih belum memenuhi kriteria kevalidan. Sehingga dilakukan lagi uji
kevalidan tahap selanjutnya yaitu tahap dua.
b. Hasil Validasi RPP Berbasis STEAM Tahap Kedua
Nilaipada RPP kesatu sebanyak 4,41termasuk dalam kategori valid, RPP kedua
sebanyak 4,45termasuk dalam kategori valid, RPP ketiga sebanyak 4,37termasuk
dalam kategori valid, dan RPP keempat sebanyak 4,42termasuk dalam kategori
valid. Jadi, dari keterangan-keterangan tersebut, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa RPP kesatu, RPP kedua, RPP ketiga, dan RPP keempat yang dikembangkan
adalah termasuk dalam kategori valid. Artinya sudah memenuhi kriteria kevalidan.
Sehingga penelitian sudah selesai pada tahap dua.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Anshori. Muslich, 2009. Metodelogi Penelitian Kuantitatif. Surabaya: Airlangga
University Press.
[2] Khairuddin, 2009. Pengembangan Perangkat Pembelajaran. Bandung: Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu
Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).
[3] Mohammad Syarif Sumantri, 2016. Strategi Pembelajaran. Jakarta: PT.
Rajagrafindo Persada.
[4] Musfiqon, 2015. Desain Presentasi Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Prestasi
Pustakaraya.
[5] Nefianthi, Rezky. 2015. Efektivitas Model KNoS-KGS Untuk Meningkatkan
Keterampilan Generic Sains dan Hasil Belajar Biologi Siswa SMA PGRI 1
Banjarmasin. Seminar Nasional Pendidikan Sains 2015. Program Studi
Pendidikan Biologi UNS
[6] Nefianthi, Rezky. 2015. Uji Keefektifan Model KNoS-KGS Pada Siswa Kelas X8
SMA PGRI 2 Banjarmasin. Seminar Nasional Pendidikan Sains 2015, Progam
Studi Pendidikan Biologi Fakultas Biologi UKSW.
[7] Nefianthi, Rezky. 2016. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Model
KNoS-KGS pada Konsep Ekosistem Kelas X Semester Genap. Banjarmasin:
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmasin
[8] Nurdiansyah, 2016. Inovasi Model Pembelajaran Sesuai Kurikulum 2013.
Surabaya: Nizamia Learning Center.
[9] Prastowo. Andi, 2017. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Tematik Terpadu Implementasi Kurikulum 2013 untuk SD/MI. Jakarta: Kencana.
126
[10] Setyosari, Punaji. 2016. Metode Penelitian dan Pengembangan. Jakarta:
Prenadamedia Group.
[11] Sogiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV. Alfabeta.
[12] Tritiyatma, Hadinugrahaningsih. 2016. Keterampilan Abad 21 dan STEAM.
Jakarta: LPPM Universitas Negeri Jakarta.
[13] Zelhendri, Zen. 2017. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Depok : Kencana
Prenadamedia Group
127
PENGEMBANGAN BOOKLET SEBAGAI SUMBER BELAJAR
BIOLOGI MELALUI PENGOLAHAN TEMULAWAK
(CURCUMA ZANTHORRIZA) MENJADI PATI PADA
MASYARAKAT DESA IDA MANGGALA
ABSTRAK
Kalimantan Selatan mempunyai sumber daya alam yang sangat melimpah yang dapat
diolah oleh masyarakat lokal seperti halnya di Desa Ida Manggala Kecamatan Sungai
Raya, Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang mempunyai kearifan lokal yang khas seperti
pengolahan Tepung Pati. Tepung Pati adalah makanan khas dari Kabupaten Hulu Sungai
Selatan yang memanfaatkan sumber daya alam dari Tumbuhan Temulawak. Pengolahan
tepung pati dari tumbuhan temulawak berhubungan dengan pendidikan Biologi, karena
memanfaatkan tumbuhan temulawak di lingkungan sekitar, maka diperlukan sebuah
perancangan komunikasi visual berupa booklet untuk memperkenalkan tepung pati
sebagai salah satu warisan budaya Kalimantan Selatan yang patut dihargai serta
dilestarikan keberadaannya. Alasan menggunakan booklet karena media ini mudah
dibawa kemana saja dan dengan desain yang menarik minat peserta didik maupun
masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal
dalam pengolahan tepung pati serta menghasilkan booklet yang akan dijadikan sebagai
media informasi dalam pengolahan tepung pati. Jenis penelitian ini merupakan penelitian
dan pengembangan (Reseach and Developent) dengan menggunakan model ADDIE.
Jenis penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap I dan tahap II. Tahap I berisi tentang
alokasi waktu penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data, sedangkan
pada tahap II berisi analisis, desain, pengembangan, implementasi, serta evaluasi dari
penelitian yang dilakukan. Produk booklet yang dihasilkan akan dievaluasi oleh ahli
materi dan ahli media pembelajaran, serta diuji coba keterbacaan kelompok kecil oleh
peserta didik kelas VIII MTsN 5 Hulu Sungai Selatan.
ABSTRACT
South Kalimantan has abundant natural resources that can be processed by local
communities, such as in Ida Manggala Village, Sungai Raya District, Hulu Sungai
Selatan Regency which has unique local wisdom such as processing of Starch. Starch
flour is a typical food from Hulu Sungai Selatan Regency which utilizes natural resources
from the Temulawak Plant. Processing of starch flour from ginger plants is related to
Biology education, because it utilizes ginger plants in the surrounding environment, a
visual communication design in the form of a booklet is needed to introduce starch flour
as one of the cultural heritage of South Kalimantan which should be respected and
preserved. The reason for using booklets is because this media is easy to carry anywhere
and with a design that attracts both students and the public. The purpose of this study is
to determine the values of local wisdom in starch flour processing and to produce
booklets that will serve as information media in starch flour processing. This type of
research is research and development (Research and Development) using the ADDIE
model. This type of research consists of two stages, namely stage I and stage II. Phase I
contains research time allocation, data collection techniques, and data analysis
techniques, while stage II contains analysis, design, development, implementation, and
129
evaluation of the research carried out. The resulting booklet products will be evaluated
by material experts and instructional media experts, as well as small group readability
trials by grade VIII students of MTsN 5 Hulu Sungai Selatan.
PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan budaya dan kearifan lokal masyarakat. Setiap daerah di
Indonesia memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda, perbedaan ini disebabkan oleh
tantangan alam dan kebutuhan hidupnya berbeda-beda, sehingga pengalamannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan
baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial (Ariyanto, dkk, 2014).
Kalimantan Selatan memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah,berpotensi
untuk diolah berbagai keperluan masyarakat lokal.
Potensi lokal merupakan kemampuan atau kekuatan yang dimiliki oleh suatu
daerah yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan manfaat bagi daerah tersebut.
Sedangkan kearifan lokal (local wisdom)adalah pandangan hidup, ilmu pengetahuan
dan berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh
masyarakat setempat untuk menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan
mereka (Wagira,2011). Potensi lokal dan kearifan lokal yang ada di provinsi
Kalimantan Selatan , jika tidak dimanfaatkan maka akan terbuang begitu saja.
Memanfaatkan dan melastarikan potensi alam diperlukan ilmu pengetahuan yang
mendukung. Selain itu sikap dan keterampilan dalam mengembangkan kearifan lokal
juga sangat diperlukan.
Kearifan lokal erat kaitannya dengan budaya lokal. Kearifan lokal terbentuk
sebagai unggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti
luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus
menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang
terkadung didalamnya dianggap sangat universal. Artinya pembelajaran yang terjadi
di sekolah maupun di perguruan tinggi haruslah berbasis lokal berorientasi global.
Pembelajaran berbasis kearifan lokal adalah pembelajaran yang mengajarkan peserta
didik untuk selalu dekat dan lekat lingkungan serta situasi konkrit yang mereka hadapi
(Abidinsyah, 2016).
Hulu Sungai Selatan yang kaya akan masakan kulinernya makanan khas daerah,
khususnya Kandangan banyak ditemukan jenis-jenis makanan khas di daerah ini
dikenal kue, dodol, ketupat, kolak pisang, apam/surabi, bingka barandam, lupis,
hintalu karuang adalah salah satunya warisan turun temurun yang dilakukan oleh
masyarakat sudah menjadi ciri khas daerah kandangan yaitu pengolahan tepung pati.
Tepung Pati adalah olahan dari temulawak yang diperoleh dari perkebunan.
Temulawak ini bisa diolah menjadi makanan atau minuman khas seperti bubur, kue
dan obat untuk kesehatan. Perkembangannya dari tahun ke tahun, keberadaan “Tepung
pati temulawak Kandangan” di olah sebagai bahan pangan, banyak yang tidak
130
melestarikannya bahkan setiap tahun semakin menurun. Selain itu faktor pengolahan-
nya yang cukup rumit dan bertahap juga mempengaruhi orang enggan mengolahnya.
seperti kalau musim hujan maka tumbuhan temulawak kurang memiliki pati sehingga
hasil yang didapat tepung patinya hanya sedikit. Waktu pemanenan temulawak di
lakukan pada saat musim kemarau ketika rimpang sudah berwarna coklat dan daunnya
mulai berguguran.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dibuat penelitian tentang pengembangan
booklet dalam pengolahan tepung pati dari temulawak dan hasil penelitian dijadikan
bahan atau sumber belajar Biologi. Informasi berupa booklet dipilih untuk menarik
minat siswa dalam pembelajaran Biologi sekaligus memberikan informasi. Dengan
demikian diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan siswa terutama pada konsep
keanekaragaman hayati. Hal inilah yang menjadi latar belakang peneliti untuk
melakukan penelitian yang berjudul “Pengembangan Booklet Sebagai Sumber Belajar
Biologi Melalui Pengolahan Temulawak (Curcuma zanthorriza) Menjadi Pati Pada
Masyarakat Desa Ida Manggala”.
METODE
Metode penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggrisnya Research
and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan
produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut. Pengembangan berarti
memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada. Penelitian pengembangan
atau research and development (R&D) adalah aktivitas riset dasar untuk mendapatkan
informasi kebutuhan pengguna (needs assesment), kemudian dilanjutkan kegiatan
pengembangan (development) untuk menghasilkan produk dan menguji keefektifan
produk tersebut (Sugiyono, 2009).
Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu menghasilkan booklet dalam
pengolahan temulawak (Curcuma zanthorriza) sebagai sumber belajar Biologi. Model
pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model desain
pembelajaran ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evolution).
HASIL
Validasi Ahli Materi
Penilaian hasil validasi ahli materi pada booklet memberoleh skor sebesar 41,
sedangkan nilai skor maksimalnya 52 dengan persentase yang diperoleh sebesar 78,
84%. Berdasarkan Tabel 3.1 nilai tersebut termasuk dalam kualifikasi cukup valid
untuk diuji cobakan. Data hasil tangapan yang diperoleh dari validasi ahli materi
tentang Booklet, pada penguasaan materi masih kurang pendalaman pada hubungan
kearifan lokal sehingga perlu lebih menguasai kearifan lokal di daerah, gambar –
gambar di buat agar lebih menarik dan ditambahkan sejarah awal tentang asal muasal
adanya pengolahan tepung pati didesa tersebut pada penetian saya.
Materi pendahuluan berisi uraian materi mengenai sejarah temulawak dan
produk olahan dari temulawak. Penjelasan mengenai temulalawak disajikan sebagai
131
informasi awal sebelum mempelajari materi lainnya. Produk olahan dari temulawak
juga disajikan pada materi isi, karena tidak semua masyarakat, peserta didik sudah
mengetahui bahwa temulawak bisa diolah menjadi produk makanan, sehingga
diharapkan mampu menarik minat pembaca untuk lebih mempelajari materi
selanjutnya.
Berdasarkan hasil validasi menunjukkan kriteria sangat valid sehingga layak
digunakan. Kriteria valid diperoleh dikarenakan pada bagain materi pendahuluan
disusun menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga mudah
dipahami; dilengkapi ilustrasi gambar yang sesuai dan menarik; menggunakan huruf
yang mudah dibaca dan jelas; serta menggunakan perpaduan warna yang harmonis.
132
Hasil Skor Ahli Materi
Berdasarkan tabel jumlah skor yang di peroleh dari validasi ahli materi sebesar
41, sedangkan nilai skor maksimalnya 52 dengan persentase yang diperoleh sebesar
78, 84%. Berdasarkan Tabel 3.1 nilai tersebut termasuk dalam kualifikasi cukup valid
untuk diuji cobakan.
Skor nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa kelengkapan dalam
penyusunan materi booklet dinyatakan cukup valid. Penyusunan pada materi booklet
meliputi ; ketepatan materi, komponen penyajian, tingkat keterbacaan dan keterkaitan
dengan tujuan pembelajaran.
Pada aspek materi, kejelasan materi pada kalimat dan penyajian klasifikasi
tumbuhan temulawak dapat ditelaah oleh semua kalangan. Dengan skor 78,84%
artinya kejelasan tulisan pada booklet layak dipergunakan, sehingga dapat digunakan
sebagai materi pembelajaran. Pada pembuatan booklet sebaiknya di tambahkan sejarah
awal tumbuhan temulawak dengan memperhatikan penyusunan kalimat yang jelas
agar mudah dipahami dan penggunaan kalimat tidak menimbulkan penafsiran ganda
dan salah pengertian. Skor nilai rata-rata yang diperoleh pada validasi ahli materi ini
cukup valid namun terdapat saran dari beberapa validator untuk memperbaiki
penggunaan kalimat yang terdapat pada penulisan deskripsi tumbuhan temulawak.
Penggunaan kalimat yang jelas dan tidak menimbulkan penafsiran ganda akan
memudahkan siswa dalam mempelajarinya. Sebagaimana yang dikemukakan
Panjaitan dkk. (2016) penggunaan kosakata pada materi tidak menimbulkan makna
ganda sehingga peserta didik mudah memahami maksud dari kalimat dan kata yang
digunakan.
133
Lembar Keterbacaan Peserta didik
Berdasarkan data hasil penelitian yang diperoleh melalui kegiatan uji
keterbacaannya oleh kelompok kecil. Hasil data yang diperoleh dari keseluruhan
tanggapan peserta didik terhadap model ADDIE baik sekali. Hal ini diketahui dari
persentasi jawaban siswa yang memperoleh angka sebesar 89,25 % berarti 89,25%
siswa tertarik dengan isi booklet tersebut. Penggunakan model ADDIE ini bisa lebih
efektif untuk belajar.
Selain pembelajaran menggunakan booklet dari berbagai penelitian dinyatakan
efektif, penelitian lain yang mendukung booklet etnosains efektif dijadikan bahan ajar
yaitu dilihat dari sisi pendekatan etnosains. Penelitian yang dilakukan oleh Atmojo
(2012), bahwa hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan adanya peningkatan
hasil belajar antara siswa dalam pembelajaran dengan pendekatan etnosains, hal ini
disebabkan dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan etnosains
siswa lebih tertarik dan antusias terhadap pembelajaran karena siswa merasa
pembelajaran IPA pendekatan etnosains lebih menyenangkan dibandingkan pem-
belajaran konvensional. Penelitian lain yang mendukung dilakukan oleh Rosyidah
(2013)
KESIMPULAN
1. Nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada setiap tahapan pengolahan Tepung Pati
dari Temulawak ada 3 yaitu: nilai material, nilai vital dan nilai kerohanian.
2. Pengolahan Tepung Pati dari Temulawak ada 8 tahapan yaitu: tahap Pemanenan,
pengupasan, pencucian, pemarutan, pemerasan, pengendapan, pembentukan,
pengeringan.
3. Booklet yang akan dijadikan sebagai media informasi untuk bahan ajar Biologi SD,
SMP dan SMA/MA melakukan uji coba kelompok kecil 10 peserta didik dari kelas
VIII MTsN Hulu Sungai Selatan pada Juli 2020. Instrumen pengumpulan data
dengan menggunakan lembar validasi booklet yang terdiri dari validasi ahli materi
dan validasi ahli media pembelajaran, dan lembar uji coba keterbacaan peserta
didik.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto, Rachman, Imran, Toknok, Bau. 2014. Kearifan Masyarakat Lokal dalam
Pengelolaan Hutan Di Desa Rano Kecamatan Balaesang Tanjung Kabupaten
Donggala. Jurnal Warta Rimba, Volume 2, Nomor 2: Hlm 89-91, (Online).
([Link]/jurnal/[Link]/wartarimba/view/3618/2621, diakses 18
Februari 2020)
Wagiran. 2011. Pengembangan Model Pendidikan Kearifan Lokal Dalam Mendukung
Visi Pembangunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 2020 (Tahun Kedua).
Jurnal Penelitian dan Pengembangan, Volume III, Nomor 3: Hlm 85-100,
(Online) (staff new. [Link]/ upload / 132297916 / penelitian / pendidikan +
kearifan + lokal. pdf, diakses 30 Maret 2018).
134
Abidinsyah. 2016. Implentasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sains
Berbasis Kearifan Lokal. Banjarmasin: Program Seminar Nasional Pendidikan
Biologi STKIP PGRI BANJARMASIN
Atmojo, S.E. 2012. Profil Keterampilan Proses Sains dan Apresiasi Peserta didik
Terhadap Profesi Pengrajin Tempe dalam Pembelajaran IPA Berbasis etnosains.
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia, 1(2): 115-122.
Rosyidah, A, N. [Link] Modul Ipa Berbasis Etnosains Zat Aditif dalam
Makanan Untuk Kelas VIII SMP Negeri 1 Pegandon [Link] Science
Education Journal, USEJ 2 (1) (2013).
Sugiono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kuantitatif dan R&D. bandung: CV.
Alfabeta
135
EFEKTIFITAS MEDIA PERTUMBUHAN MAGGOTS
HERMETIA ILLUCENS (LALAT TENTARA HITAM) DALAM
PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK DENGAN CARA
REKAYASA BIOKONVERSI
Muhammad Anwar1), Lagiono2), Syahbudin3)
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmain
Email1: Muhajirin601@[Link]
ABSTRAK
Maggots Lalat tentara hitam, Black Soldier fly (Hermetia illucens) hampir tersebar
diseluruh dunia khusunya negara Indonesia, Maggots lalat tentara hitam termasuk
Maggots lalat kebal dan dapat hidup di lingkungan yang cukup ekstrim, seperti di
media/sampah yang banyak mengandung garam, alkohol, acids/asam dan amonia.
Berdasarkan uraian di atas, keberhasilan produksi dan kualitas maggot yang dihasilkan
melalui beberapa media pertumbuhan serta wadah perkembangbiakan maggot tersebut.
Dengan demikian, efektivitas media pertumbuhan maggot dapat terlihat sehingga dapat
menjadi solusi pemanfaatan sampah organik. Oleh karena itu dilakukan pembudidayaan
Maggots Lalat Tentara Hitam untuk mengetahui efektifitas pertumbuhan maggots
tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis media yang paling efektif
untuk pertumbuhan maggots Hermetia Illucens (Lalat Tentara Hitam). Metode yang
dipakai dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) yaitu penelitian
yang berusaha mengetahui kelompok media yang mana pengaruh perlakuan akan sulit
untuk nyata atau menonjol. Pengumpulan data diperoleh melalui hasil panen (berat)
maggots bsf dari pertumbuhan maggots dalam jangka 2 minggu sesuai variabel-variabel
penelitian. Analisis data dengan cara mengetuhi pengaruh media dan efektifitas media
yang baik untuk pertumbuhan maggots bsf. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan
bahwa media yang efektifi untuk pertumbuhan maggots berpengaruh yang mana
menghasilkan bio massa maggots berbeda-beda yang mana media efektif paling tinggi
diperoleh dari Sisa Sayuran Dedak (1328,6) 8dan terendah diperoleh dari Tulang Ayam
Dedak (140,56)
ABSTRACT
Maggots black Soldier fly (Hermetia illucens) are almost spread throughout the world,
especially in Indonesia, Maggots black soldier fly including Maggots are immune flies
and can live in quite extreme, environments such as in media/garbage that contains a lot
of salt, alcohol, acids/acids and ammonia. Based on the description above, the successful
production and quality of the maggot produced through several growth media and the
maggot breeding container. Thus, the effectiveness of the maggot growth media can be
seen so that it can be a solution for utilizing organic waste. Therefore, the cultivation of
Black Soldier Fly Maggots is carried out to determine the effectiveness of the growth of
these maggots. The purpose of this study was to determine the effect of the most effective
media type for the growth of Hermetia Illucens (Black Soldier Fly) maggots. The method
used in this research is a Randomized Block Design, which is a study that tries to find out
which media group the effect of the treatment will be difficult to manifest or stand out.
Data collection was obtained through the yield (weight) of bsf maggots from the growth
of maggots within 2 weeks according to the research variables. Data analysis by
examining the influence of media and the effectiveness of good media for the growth of
BSF maggots. The results obtained showed that the effective medium for the growth of
maggots had an effect which produced different bio-mass of maggots where the highest
137
effective medium was obtained from Bran Vegetable Remains (1328,6) 8 and the lowest
was obtained from Bran Chicken Bone (140,56)
PENDAHULUAN
Sampah di Indonesia menurut Damanhuri (2010), di dominasi oleh sampah
organik atau sampah yang mudah membusuk. Sampah jenis ini diantaranya adalah
sampah sisa makanan. Sampah makanan ini merupakan limbah padat organik yang
dibuang dari berbagai sumber sampah terbesar antara lain dari pabrik pengolahan
makanan, dapur domestik (rumah tangga), dapur komersial, kantin, dan restoran
(Kiran et al, 2014). Jenis sampah yang dihasilkan antara lain adalah limbah nasi,
limbah sayuran, kacang-kacangan, bawang merah, tomat, kentang, buah-buahan, dan
lain sebagainya. Ciri ciri dan masalah yang ditimbullkan dari sampah organik domestik
ini secara umum menghasilkan bau yang menyengat dan tidak enak, karena adanya
kandungan ammonia dan asam organik volatile lainnya. Sampah jenis ini biasanya
sangat mudah terurai dengan aktivitas alam karena dapat dibantu dengan kehadiran
mikroorganisme pengurai untuk menguraikan sampah jenis ini. Mirisnya di Indonesia
sekitar 74% limbah yang ditemukan berasal dari jenis sampah domestik ini dan hampir
semuanya dibuang ke TPA (Gurero et al, 2012 dan Shekdar, 2009).
Belakangan ini ditemukan kegiatan daur ulang sampah organik dengan metode
biokonversi. Newton et al. (2005) mendefinisikan biokonversi sebagai perombakan
sampah organik menjadi sumber energi metan melalui proses fermentasi yang
melibatkan organisme hidup. Proses ini biasanya dikenal sebagai penguraian secara
anaerob. Umumnya organisme yang berperan dalam proses biokonversi ini adalah
bakteri, jamur dan larva serangga (family: Chaliforidae, Mucidae, Stratiomydae).
Dalam kehidupan sehari-hari, proses ini sering ditemukan, seperti pada proses
pembuatan tempe yang memanfaatkan jamur (ragi) sebagai organisme perombak,
proses pembusukan sampah organic (pembuatan pupuk kompos) yang melibatkan
bakteri sebagai organisme perombak. Sedangkan pada limbah hewani agen perombak
yang sering ditemukan adalah larva serangga Diptera. Larva serangga dari famili:
Stratiomydae, Genus: Hermetia, spesies: Hermetia illucens, banyak ditemukan pada
limbah kelapa sawit. Larva Hermetia illucens atau Black Soldier Fly (BSF) ini, lebih
dikenal dengan istilah “maggot”. Istilah "maggot" mulai dikenal pada pertengahan
tahun 2005, yang diperkenalkan oleh tim Biokonversi IRD-Perancis dan Loka Riset
Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot merupakan larva
serangga (Diptera: Stratiomydae, Genus Hermetia) yang hidup di bungkil kelapa sawit
(Fahmi, dkk., 2007).
Biokonversi yang dilakukan oleh agen biokonversi yaitu larva BSF (Black
Soldier Fly) atau yang biasa disebut juga maggot, ternyata mampu mengurangi limbah
organik hingga 56% dan sebagai agen biokonversi, setidaknya ada tiga produk yang
dapat diperoleh dengan memberdayakan larva BSF sebagai agen biokonversi. Produk
pertama adalah larva atau pre-pupa BSF yang dapat dijadikan sebagai sumber protein
138
alternatif untuk pakan ternak, produk kedua adalah cairan hasil aktivitas larva yang
berfungsi sebagai pupuk cair dan yang ketiga adalah sisa limbah organik kering yang
dapat dijadikan sebagai pupuk (BB Veteriner, 2016). Budidaya maggot sebagai
sumber pakan ternak kini sudah tidak asing lagi. Maggot atau larva dari lalat black
soldier fly (Hermetia illicens) merupakan salah satu alternatif pakan yang memenuhi
persyaratan sebagai sumber protein. Murtidjo (2001) menyebutkan bahwa bahan
makanan yang mengandung protein kasar lebih dari 19 %, digolongkan sebagai bahan
makanan sumber protein.
Lalat tentara hitam, Black Soldier fly (Hermetia illucens) ini tersebar hampir di
seluruh dunia. Layaknya lalat lain, lalat tentara memakan apa saja yang telah
dikonsumsi oleh manusia, seperti sisa makanan, sampah, makanan yang sudah
terfermentasi, sayuran, buah buahan, daging bahkan tulang (lunak), bahkan makan
bangkai hewan. Larva lalat (maggots) ini tergolong "kebal" dan dapat hidup di
lingkungan yang cukup ekstrim, seperti di media/sampah yang banyak mengandung
garam, alkohol, acids/asam dan amonia. Mereka hidup “di suasana yang hangat”, dan
jika udara lingkungan sekitar sangat dingin atau kekurangan makanan, maka maggots
tidak mati tapi mereka menjadi fakum /idle/tidak aktif menunggu sampai cuaca
menjadi hangat kembali atau makanan sudah kembali tersedia. Mereka juga dapat
hidup di air atau dalam suasana alcohol. Serangga BSF memiliki beberapa karakter
diantaranya: (1) dapat mereduksi sampah organik, (2) dapat hidup dalam toleransi pH
yang cukup tinggi, (3) tidak membawa gen penyakit, (4) mempunyai kandungan
protein yang cukup tinggi (40-50%), (5) masa hidup sebagai larva cukup lama (± 4
minggu), dan (6) mudah dibudidayakan (Adrian, 2015).
Dalam siklus hidupnya lalat Hermetia illucens memiliki lima stadia. Lima stadia
tersebut yaitu fase dewasa, fase telur, fase prepupa, dan fase pupa. Dari ke-lima stadia
tersebut stadia prepupa sering digunakan sebagai pakan ikan (Newton, 2005). Lalat
Hermetia illucens menyukai aroma media yang khas maka tidak semua media dapat
dijadikan tempat bertelur bagi lalat Hermetia illucens (Katayane, dkk., 2014). Hartoyo
dan Sukardi P. (2007) mengungkap bahwa walaupun kandungan nutrien media cukup
bagus namun jika aroma media tidak dapat menarik lalat untuk bersarang maka tidak
akan dihasilkan maggot. Berdasarkan uraian di atas, keberhasilan produksi dan
kualitas maggot yang dihasilkan melalui beberapa media pertumbuhan serta wadah
perkembangbiakan maggot tersebut. Dengan demikian, efektivitas media pertum-
buhan maggot dapat terlihat sehingga dapat menjadi solusi pemanfaatan sampah
organik dan juga sebagai agen biokonversi yang nantinya dapat dijadikan sumber
protein pakan bagi ternak.
METODE
Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen, bertujuan untuk
mengetahui pengaruh berbagai jenis media pertumbuhan maggot, dengan parameter
yang diamati yaitu biomassa maggot, wadah, dan kondisi media tumbuh maggot. Data
parameter yang diolah dianalisis statistik dengan menggunakan Rancangan Acak
139
Kelompok (RAK) terkait untuk percobaan lapangan (field-experiment). Dalam hal ini
peneliti mencoba untuk meneliti kelompok media yang mana pengaruh perlakuan akan
sulit untuk nyata atau menonjol. Oleh karena itu, menurut Harfiah pada tahun 1991
dalam bukunya yang berjudul Rancangan Percobaan Teori dan Aplikasi bahwa untuk
mendapatkan galat yang lebih kecil perlu dilakukan upaya pengendalian homogenitas
pada lokal-lokal tertentu (local control). Pada RAK ini, lokal kontrol merupakan
pengelompokan perlakuan secara lengkap pada kelompok media yang akan digunakan
peneliti.
Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan di rumah keluarga peneliti, yaitu di halaman belakang
ruman keluarga peneliti. Media yang digunakan sebanyak 5 macam dengan masing-
masing 5 kali ulangan.
Tahap perlakuan
Tahap perlakuan dibawah ini mengikuti tahap perlakuan yang umum dilakuakan
pada efektivitas media pertumbuhan maggot
1) Menyiapkan air 250 ml dan gula 5 g, dedak 500 g dan Royko 2g dan media (ampas
tahu, atau ampas kelapa, atau sisa sayuran, atau ampas teh, atau tulang ayam)
250g.
2) Mencampurkan semuanya di dalam ember. Penggunaan royco bertujuan untuk
membuat bau lebih menyengat sehingga dapat memancing lalat bsf datang.
3) Menuangkan EM4 sebanyak 5ml.
4) Mencampurkan semua bahan media (ampas tahu, atau ampas kelapa, atau sisa
sayuran, atau ampas teh, atau tulang ayam), untuk tulang ayam disini saya giling
terlebih dahulu
5) Mengaduknya hingga rata.
6) Menyiapkan kantong plastik 5 kg atau 8 kg
7) Memasukkan dedak yang sudah di campur dengan setiap media tersebut ke
kantong plastik.
140
8) Mengisi dedak hingga setengah plastik agar di dalam kantong plastik masih
mempunyai ruang udara.
9) Mengikat kantong plastik yang sudah di isi dengan dedak tersebut rapat-rapat.
10) Melettakkan kantong plastik ke tempat yang sejuk biarkan 4-5 hari sampai benar-
benar sudah terfrementasi. Tanda sudah terfrementasi adalah kantong plastik akan
mengembang seperti habis di tiup.
11) Setelah hasil fermentasi benar-benar sempurna, selanjutnya menuangkan hasil
fermentasi tersebut kedalam ember. Lalu, menutup dengan daun pisang.
12) Panen Maggot Larva BSF (maggot) yang ada dalam media kultur dipanen setelah
2-3 minggu, cara pemanenan dengan menggunakan saringan/ tampah ayakan,
maggot dipisahkan dari media kultur dan dari berbagai media kotoran lainnya, lalu
ditimbang, menggunakan digital
Prosedur Penelitian
Kegiatan penelitian ini dibagi dalam beberapa tahapan. Tahap pertama adalah
tahap persiapan media dan wadah. Tahap kedua, menentukan lokasi penelitian. Tahap
selanjutnya adalah tahapan budidaya, dan terakhir adalah kegiatan memanen larva
BSF atau magggot yang sudah dikembangbiakan tersebut.
141
lebih menyengat sehingga dapat memancing lalat bsf datang. Setiap dosis dicampur
air, gula, dan EM4. Air ber-fungsi sebagai pelarut agar media tidak terlalu kering, dan
penambahan air dilakukan perlahan agar media tidak terlalu basah Media diaduk
secara merata dan digemburkan, lalu media yang telah siap dituang ke dalam wadah.
Wadah yang telah berisi media ditempatkan di lokasi yang sudah ditentukan, yaitu
ditempat yang teduh beratap, agar terhindar dari air hujan serta terik matahari
HASIL
Pengaruh Jenis Media Terhadap Pertumbuhan Maggots
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan selama 2 minggu, maka
diperoleh hasil total produksi maggot (Hermetia illuciens) untuk masing-masing
perlakuan memiliki nilai yang berbeda-beda. Produksi maggot tertinggi diperoleh pada
perlakuan SSD dengan komposisi media sisa sayuran 250g, dedak 500g dan
penggunaan EM4, kemudian diikuti oleh perlakuan ATEHD dengan komposisi media
ampas teh 250g, dedak 500g dan penggunaan EM4. Sedangkan total produksi terendah
diperoleh pada perlakuan TAD dengan komposisi media tulang ayam250g, dedak
500g, dan penambahan EM4. Untuk lebih jelas untuk total produksi maggot dapat
dilihat pada tabel.
Tabel 4. 1. Hasil Panen Perhitungan Maggots dari RAK
Perlakuan Ulangan Total
ATD 55,27 50,19 60,59 53,69 57,47 277,21
AKD 107,65 125,29 117,75 114,25 120,45 585,39
SSD 250,79 280,27 260,87 270,95 265,8 1328,68
ATEHD 150,25 137,6 145,55 140,65 147,85 721,9
TAD 25,6 30,26 27,55 27,75 29,4 140,56
Total 589,56 623,61 612,31 607,29 620,97 3053,74
Keterangan
ATD =Ampas Tahu Dedak
AKD =Ampas Kelapa Dedak
ATEHD =Ampas The Dedak
TAD =Tulang Ayam Dedak
SSD =Sisa Sayuran Dedak
142
Efektivitas Media Terhadap Pertumbuhan Maggots
Proses fermentasi dilakukan dengan menyiapkan air 250 mg dan gula 5 g, dedak
500 g dan Royko 2g, lalu mencampurkan semuanya di dalam ember, dan timbahkan
royco yang bertujuan untuk membuat bau lebih menyengat sehingga dapat memancing
lalat bsf datang, lalu menuangkan EM4, kemudian mencampurkan semua bahan media
(ampas tahu, atau ampas kelapa, atau tulang ayam), aduknya hingga rata. Kemudian
menyiapkan kantong plastik 5 kg atau 8 kg, masukkan dedak yang sudah di campur
dengan setiap media tersebut ke kantong plastik, isi dedak hingga setengah plastik agar
di dalam kantong plastik masih mempunyai ruang udara, ikat kantong plastik yang
sudah di isi dengan dedak tersebut rapat-rapat, lettakkan kantong plastik ke tempat
yang sejuk biarkan 4-5 hari sampai benar-benar sudah terfrementasi. Tanda sudah
terfrementasi adalah kantong plastik akan mengembang seperti habis di tiup.
Perlakuan SSD merupakan perlakuan terbaik pada penelitian ini, hal ini
disebabkan karena komposisi media pada perlakuan SSD mampu mencukupi
kebutuhan gizi untuk pertumbuhan maksimal lalat BSF. Hal ini karena pada media
tersebut terdapat nutrisi yang cukup untuk memacu pertumbuhan maggot dan
tingginya bahan organik pada media akan meningkatkan jumlah partikel organik hasil
dekomposisi oleh bakteri, sehingga dapat mempengaruhi peningkatan total produksi
maggot tersebut.
Media dikumpulkan dengan tempat yang berbeda-beda ampas tahu dikumpulkan
dari pabrik tahu, ampas kelapa dikumpulkan dari limbah minyak kelapa, sisa sayuran
dikumpulkan dari sampah sisa sayuran dipasar ampera, ampas the dikumpulkan dari
berbagai beberapa warung makanan, tulang ayam dikumpulkan dari limbash
pembuatan sate.
Pembuatan media dilakukan dengan menyediakan media (ampas tahu, atau
ampas kelapa, atau sisa sayuran, atau ampas teh, atau tulang ayam) sebanyak 250g
dengan campuran dedak 500g, gula 5g,royko 2g dan air 250ml serta EM4 sebanyak
5ml, Penggunaan royco bertujuan untuk membuat bau lebih menyengat sehingga dapat
memancing lalat bsf datang serta EM4 yang mempunyai (effetive microorganisme)
yang mengandung lactobacillus casei, saccharomyces cerevisiae, dan
rhodopseudomonas palustris yang mendukung fermentasi media yang akan digunakan.
Berdasarkan hasil analisis keragaman ANOVA terhadap total produksi maggot
menunjukkan bahwa F hitung = 0,841537 > F tabel 5% = 3,0069 dan > F tabel 1% =
4,773 hal ini menunjukkan bahwa perbedaan media yang berbeda sangat nyata
terhadap total produksi maggot, sehingga keputusan yang di ambil menerima H1 dan
menolak H0 yang berarti terdapat efektivitas penggunaan jenis media terhadap
pertumbuhan maggots hermetia illucens, dimana jumlah total produksi maggot untuk
perlakuan SSD, ATD, AKD, ATEHD, DAN TAD . Hal ini terjadi karena adanya
perbedaan media untuk efektivitas pertumbuhan yang digunakan pada budidaya
maggot, sehingga
Berpengaruh terhadap perkembangbiakan maggot dan total akhir produksi
maggot. Perlakuan SSD di pandang lebih baik dari perlakuan ATD, AKD, ATEHD,
143
dan, TAD. Total produksi maggot terendah diperoleh pada perlakuan TAD, hal ini
dikarenakan efektivitas media limbah SSD untuk pertumbuhan maggots.
Tabel 4. 2. Hasil dari hitungan ANOVA
SK DB JK KT F hit F 5% F 1% Notasi
Kelompok 4 146,64 36,66 0,841 3,0069 4,773 tn
Perlakuan 4 172149,70 43037,42 987,86 3,0069 4,773 n
Galat 16 697,05 43,56
Total 24 172993,40
Pada tabel diatas diketahui bahwa ada perbedaan jumlah yang dihasilkan antara
masing-masing media yang memiliki nilai terbesar jatuh kepada media SSD
(269,6936) dan yang terkecil jatuh kepada TAD (32,06963). Perbedaan jumlah rerata
antar media tersebut secara statistik dapat diketahui setelah dilakukan uji Anova,
kemudian dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui
adanya perbedaan yang nyata antar perlakuan. Hasil uji Anova menunjukkan adanya
perbedaan nyata antar kelompok
144
Sayuran Dedak) yaitu 1328,68 gr dan terendah pada perlakuan media TAD (Tulang
Ayam Dedak) yaitu 140,56
Data rata-rata jumlah massa maggots BSF akibat fermentasi campuran dedak,
royko, air, gula dan EM4 dianalisis secara statistik dapat dilihat pada Tabel. Analisis
ragam menunjukkan wadah dengan bentuk berbeda, berpengaruh nyata (P>0,05)
terhadap produksi maggots. Jumlah maggots cenderung semakin rendah, Hal ini
menggambarkan kinerja mikroorganisme yang mendegradasi bahan selama proses
fermentasi semakin berkurang.
Kecenderungan jumlah maggots yang semakin menurun, menggambarkan
media yang lebih buruk. Perbedaan jumlah maggots dari semua media yang lebih kecil
pada mengindikasikan adanya perubahan massa maggots pada yang lebih dikit.
Sampah organik dan mikroorganisme akan mempengaruhi perbedaan jumlah maggots.
Hal ini sesuai dengan hasil yang ditemukan yang bisa terlihat pada tabel.
Secara umum hasil analisa penelitian menunjukkan bahwa campuran dedak pada
media ampas tahu, ampas kelapa, sisa sayuran, ampas teh dan tulang ayam dedak
mempengaruhi biomassa maggot yang dihasilkan (Tabel 4.1). Hal ini terlihat dari
jumlah maggot pada setiap media yang dihinggapi lalat BSF untuk meletakkan telur-
telurnya. Media campuran dedak dengan sisa tulang aym secara fisik dalam kondisi
banyak lalat yang bukan dari jenis BSF, karena hal itulah diduga lalat BSF tidak semua
mempunyai keinginan untuk menetaskan telur dan larva (maggot). Sedikit adanya
maggot yang dihasilkan oleh karena media tulang ayam dedak yang digunakan masih
mengandung telur-telur dari lalat yang bukan BSF, dan hal ini menghambat
perkembangbiakan maggot pada media tersebut. Larva yang lebih besar sangat ideal
digunakan untuk campuran pakan atau bahan baku pelet karena mampu memenuhi
kuantitas produksi. Larva muda lebih sesuai diberikan untuk pakan ikan secara
langsung, karena bentuknya yang kecil sesuai dengan ukuran mulut ikan (Wardhana,
2016).
Disamping itu, larva BSF dilaporkan bersifat sebagai antibiotik. Studi
antibakteri yang dilakukan di Korea menunjukkan bahwa larva BSF yang diekstrak
dengan pelarut metanol memiliki sifat sebagai antibiotik pada bakteri Gram positif,
seperti Klebsiella pneumonia, Neisseria gonorrhoeae, dan Shigella sonnei. Sebaliknya,
hasil analisis tersebut juga menunjukkan bahwa ekstrak larva ini tidak efektif untuk
bakteri Gram positif, seperti Bacillus subtilis, Streptococcus mutans, dan Sarcina lutea
(Choi et al., 2012). Larva BSF ini mampu menurunkan populasi Escherichia coli
O157:H7 dan Salmonella enterica serovar Enteritidis pada kotoran unggas (Erickson
et al., 2004)
Efektifitas media
Waktu media yang diperlukan untuk lalat BSF datang dalam jangka satu minggu
dengan perubahan media mulai mengering yang dari lembab dikarenakan
memungkinkan belum ada interaksi dari lalat untuk datang kesuatu media yang telah
disediakan oleh peneliti, campuran lalat lain pun datang sebelum datangnya lalat bsf
145
dikarenakan efek dari fermentasi yang sudah dilakukan selama 4 hari didalam kantong
plastik yang berukuran 8 kg, hasil fermentasi media jika berhasil, akan mengeluarkan
bau seperti bau tapai disemua perlakuan media yang difermentasikan. Semua media
mampu bertahan dalam jangka 2 minggu dan jikalau semakin banyaknya massa
maggots maka media akan semakin lembab karna dileburkan oleh maggots bsf
tersebut.
Disamping itu, populasi lalat BSF mampu mengurangi populasi lalat Musca
domestica (lalat rumah). Apabila dalam limbah organik telah didominasi oleh larva
BSF, maka lalat Musca domestica tidak akan bertelur ditempat tersebut. Disamping
itu, larva BSF dilaporkan bersifat sebagai antibiotik. Studi antibakteri yang dilakukan
di Korea menunjukkan bahwa larva BSF yang diekstrak dengan pelarut metanol
memiliki sifat sebagai antibiotik pada bakteri Gram positif, seperti Klebsiella
pneumonia, Neisseria gonorrhoeae, dan Shigella sonnei. Sebaliknya, hasil analisis
tersebut juga menunjukkan bahwa ekstrak larva ini tidak efektif untuk bakteri Gram
positif, seperti Bacillus subtilis, Streptococcus mutans, dan Sarcina lutea (Choi et al.,
2012).
Aktivitas kawin BSF umumnya terjadi pada pukul 8.30 dan mencapai puncaknya
pada pukul 10.00 di lokasi yang penuh tanaman (vegetasi) ketika suhu lingkungan
mencapai 27°C. Lalat betina hanya kawin dan bertelur sekali selama masa hidupnya.
Saat melakukan aktivitas kawin, lalat jantan akan memberikan sinyal ke lalat betina
untuk datang ke lokasi yang telah ditentukan oleh pejantan. Perkawinan BSF terjadi di
tanah dengan posisi jantan dan betina berlawanan (saling membelakangi) atau di
daerah yang penuh dengan vegetasi. Namun, ada juga laporan yang menyebutkan
bahwa perkawinan dapat juga terjadi di udara. Kondisi ruang udara yang cukup dan
kepadatan jumlah lalat merupakan faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan
aktivitas kawin BSF. Intensitas cahaya dan suhu sangat berpengaruh terhadap
kesuksesan aktivitas kawin lalat BSF (Zhang et al. 2010; Gobbi et al. 2013).
Larva lalat BSF dapat tumbuh dan berkembang subur pada media organik,
seperti BIS, kotoran sapi, kotoran babi, kotoran ayam, sampah buah dan limbah
organik lainnya. Kemampuan larva BSF hidup dalam berbagai media terkait dengan
karakteristiknya yang memiliki toleransi pH yang luas (Mangunwardoyo et al. 2011).
Selain itu, kemampuan larva dalam mengurai senyawa organik ini juga terkait dengan
kandungan beberapa bakteri yang terdapat di dalam saluran pencernaannya (Dong et
al. 2009; Yu et al. 2011). Banjo et al. (2005) berhasil mengidentifikasi beberapa bakteri
yang diisolasi dari sistem pencernaan larva BSF, yaitu Micrococcus sp, Streptococcus
sp, Bacillus sp dan Aerobacter aerogens.
Kualitas dan kuantitas media perkembangan larva lalat sangat mempengaruhi
kandungan nutrien tubuh serta keberlangsungan hidup larva pada setiap instar dan
tahap metamorfosis selanjutnya (Gobbi et al. 2013; Makkar et al. 2014). De Haas et
al. (2006) menyatakan bahwa kualitas media perkembangan larva berkorelasi positif
dengan panjang larva dan persentase daya tahan hidup lalat dewasa. Jumlah dan jenis
media yang kurang mengandung nutrien dapat menyebabkan bobot pupa kurang dari
146
normal, akibatnya pupa tidak dapat berkembang menjadi lalat dewasa (Wardhana &
Muharsini 2004). Larva BSF yang dikoleksi dari alam dan ditumbuhkan pada media
organik dengan kualitas cukup memiliki performans yang lebih baik dibandingkan
dengan larva dari koloni laboratorium (Tomberlin et al. 2002). Bobot larva BSF yang
diberi pakan dalam jumlah terbatas tidak berbeda nyata dengan yang diberi pakan
melimpah (Myers et al. 2008). Namun, lalat dewasa yang menetas dari kelompok larva
dengan pakan terbatas memiliki umur yang lebih pendek (tiga sampai empat hari).
Menurut Zarkani & Miswati (2012) kualitas media pertumbuhan larva juga
berpengaruh terhadap jumlah rasio antara lalat jantan dan betina yang menetas dari
pupa. Lalat dewasa jantan akan banyak menetas dari larva yang dipelihara pada jumlah
media yang terbatas.
KESIMPULAN
1. Komposisi media memberikan pengaruh terhadap massa maggot yang dihasilkan.
Adanya perbedaan media yang digunakan memberikan pengaruh perbedaan
dikarnakan berdasarkan siklus hidup maggot dan jumlah kebutuhan pakan maggot
serta keinginan maggots menetaskan telurnya.
2. Berdasarkan hasil penelitian perbedaan media ampas tahu dedak, ampas kelapa
dedak, ampas teh dedak, sisa sayuran dedak, dan tulang ayam dedak menghasilkan
media yang paling efektif untuk pertumbuhan produksi maggots sehingga dapat
disimpulkan bahwa komposisi media yang menghasilkan total maggot tertinggi
adalah sisa sayuran dedak dengan jumlah total biomass maggot sebesar 1328,68g.
DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Unggas: Kemajuan Mutakhir. UI. Press.
Jakarta.
Anggraeni, Y. P., & Yuwono, S. S. (2013). Pengaruh Fermentasi Alami Pada Chips
Ubi Jalar (Ipomoea Batatas) Terhadap Sifat Fisik Tepung Ubi Jalar
Terfermentasi [In Press April 2014]. Jurnal Pangan Dan Agroindustri, 2(2), 59-
69.
Anjang. 2014. Produksi Bahan Pakan Ternak Dari Ampas Tahu Dengan Fermentasi
Menggunakan Em4 (Kajian Ph Awal Dan Lama Waktu Fermentasi). Universitas
Brawijaya. Malang.
Asmoro, L. C., Kumalaningsih, S., dan Mulyadi, A. F. 2012. Karakteristik
Organoleptik Biskuit Dengan Penambahan Tepung Ikan Teri Nasi (Stolephorus
spp.). Skripsi. Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
Balitbangtan (BB Veteriner). Maret 2016. Lalat Tentara Hitam Agen.
BPTP. (2016), “Teknologi Pengomposan Linbah Organik Kota Dengan
Menggunakan Black Soldier Fly”, Jakarta. Kementrian Pertanian, pp. 14 – 23
Darmawan. 2015. Budidaya larva black soldier fly (hermetia illucens.) Dengan
pakan limbah dapur (daun singkong) Universitas gadjah mada, yogyakarta
147
Bawono, B., Yuniarto, A. T., St M, E. N. G., & Anggoro, P. W. 2011. Perancangan
Dan Pembuatan Alat Uji Modulus Patah Untuk Pengujian Produk Keramik.
Chickenku Channel Ternak Rumahan. (2019). Tips Mendatangkan Maggot BSF bersih
dengan Yakult dan Royco. [Link].
[Link] Rumahan, C. C. T.
(2019). Tips Komplit Fermentasi Pakan Untuk Ayam, Bebek & Memancing
Maggot BSF. [Link]
Fahmi, M. R., Saurin H. dan Wayan S. 2007. Potensi Maggot Sebagai Salah Satu
Sumber Protein Pakan Ikan. Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar, Depok.
Fauzi, R.U.A. & Sari, E.R.N. 2018. Analisis Usaha Budidaya Maggot sebagai
Alternatif Pakan Lele. Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri.
7(1):39-46.
Fridata, I.G., Pranata, F.S., Purwijatiningsih, L.M.E. 2014. Kualitas Biskuit Keras
dengan Kombinasi Tepung Ampas Tahu dan Bekatul Beras Merah. Jurnal
Teknobiologi. 1-16.
Fahmi, M. R., Saurin H. dan Wayan S. 2007. Potensi Maggot Sebagai Salah Satu
Sumber Protein Pakan Ikan. Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar, Depok.
Gary. 2009. Black soldier fly larva. [Link] [Link] (on-line). (9
Desember 2016).
Hartoto, A.N. (2011), “Budidaya Maggot Lalat Hitam (Hermetia illucens) Pada
Limbah Sayuran Sebagai Bahan Pakan Ikan Dengan Menggunakan Pot
Biokonversi”, Magister Thesis, Magister Teknik Sistem, Program Pascasarjana,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pp. 29 – 32.
Jaedun, A. 2011. Metodologi penelitian eksperimen. Fakultas Teknik UNY, 12.
Murtidjo B. A. 2001. Pedoman Meramu Pakan Ikan. Yogyakarta. PT Kanisius Newton
L, Sheppard C, Watson DW, Burtle G, Dove R. 2005. Using the black soldier
fly, Hermetia illucens, as a value- added tool for the management of swine
manure. Report for The Animal and Poultry Waste Management Center. North
Carolina. North Carolina State University Raleigh.
Mudeng, N.E.G., Mokolensang, J.F., Kalesaran, O.J., Pangkey, H., & Lantu, S. 2018.
Budidaya Maggot (Hermetia illuens) dengan menggunakan beberapa media.
Budidaya Perairan. 6(3):1-6.
Nangoy, M.M., Montong, M.E.R., Utiah, W., & Regar, M.N. 2017. Pemanfaatan
Tepung Manure Hasil Degradasi Larva Lalat Hitam (Hermetia illucens L)
terhadap Performans Ayam Kampung Fase Layer. Jurnal Zootek. 37(2):370-
377.
Supriyatna, A. & Putra, R.E. 2017. Estimasi Pertumbuhan Larva Lalat Black Soldier
(Hermetia illucens) dan Penggunaan Pakan Jerami Padi yang Difermentasi
dengan Jamur P. chrysosporium. Jurnal Biodjati. 2(2):159-166.
Suciati, Faruq. 2016. Efektifitas Media Pertumbuhan Maggots Hermetia Illucens
(Lalat Tentara Hitam) Sebagai Solusi Pemanfaatan Sampah Organik Universitas
Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta Timur Suparmo. 1989. Aspek Nutrisi
148
Proses Fermentasi. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi Universitas
GadjahMada, Yogyakarta.
Supriyatna, Putra. 2017. Estimasi Pertumbuhan Larva Lalat Black Soldier (Hermetia
Illucens) Dan Penggunaan Pakan Jerami Padi Yang Difermentasi Dengan Jamur
P. Chrysosporium Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Bandung.
Wardhana. 2016. Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai Sumber Protein
Alternatif untuk Pakan Ternak, Bogor
Yulianti & Mutia, A.K. 2018. Analisis Kadar Protein Dan Tingkat Kesukaan Nugget
Ikan Gabus Dengan Penambahan Tepung Wortel. Gorontalo Agriculture
Technology Journal. 1(1):37-42.
149
MANAJEMEN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN
DI SMA NEGERI KOTA BANJARMASIN
PASCA DESENTRALISASI PENDIDIKAN
Noor Fazariah Handayani 1, Nadya Huda 2,
FKIP Universitas Achmad Yani Banjarmasin
Email korespondensi : noorfazariah@[Link]; nadyahuda2@[Link]
ABSTRAK
ABSTRACT
The purpose of this study is to: 1) Know the Implementation of Education Financing
Management in Banjarmasin City Senior High Schools after Education Decentralization.
2) Conduct an evaluation of the implementation of Education Financing Management in
Banjarmasin City Senior High School using the CIPP Model. 3) Knowing the role of the
Banjarmasin City Education Council in financing the education of the Banjarmasin City
Senior High School after the decentralization of education. This study used an evaluative
approach with the CIPP Model, the instruments used were questionnaires, observation,
interviews, and documentation. The object of this research is "Education Financing
Management in Public Senior High Schools in Banjarmasin, including: budget
formulation system, budget execution, budget allocation, financial administration,
financial accountability, and financial supervision. The population in this study were
SMAN 1, 2, 3, 4, and 5 Banjarmasin. The sampling technique used in this research is
purposive random sampling so that the research objectives to determine the effectiveness
151
of the implementation of education financing management can be achieved. The samples
in this study were teachers, education personnel, school principals and the Board of
Education. The results of this study indicate: (1) The management of education financing
in SMAN Banjarmasin on the variable of budget implementation, budget allocation,
financial administration, financial accountability, and financial supervision runs
Effectively / Well, while the budget formulation system variable runs quite effectively. (2)
Evaluation of the implementation of Education Financing Management in Public Senior
High Schools in Banjarmasin City using the CIPP Model runs with the results / criteria
of Effective / Good, which is shown a score of 19401 points and a value of 86.12%. (3)
The Provincial Education Council plays a role in providing considerations in
determining education policies, both regarding the management of education financing,
thoughts and personnel in the implementation of education in order to achieve
educational goals. And also functions in improving the quality of education by providing
direction, support for personnel, facilities and infrastructure as well as educational
supervision, especially in the management of education financing.
PENDAHULUAN
Dalam dunia pendidikan, sekolah formal maupun non-formal membutuhkan
pengelolaan pembiayaan dan pendanaan pendidikan yang baik agar proses
pembelajaran yang baik dapat tercapainya dan memiliki mutu lulusan yang
berkualitas. Pembiayaan dan pendanaan pendidikan yang dimaksud terdapat dalam
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan
Pendidikan yaitu pendanaan pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara
pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Berdasarkan peraturan tersebut
maka proses pendidikan memerlukan sumber pembiayaan dan pendanaan yang
memadai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, bahkan juga masyarakat.
Ketentuan anggaran pendidikan untuk sekolah formal terdapat dalam UU No. 20/2003
tentang Sisdiknas dalam pasal 49 tentang Pengalokasian Dana Pendidikan yang
menyatakan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan
kedinasan dialokasikan minimal 20% dari APBN pada sektor pendidikan dan minimal
20% dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah).
Pada kenyataannya masih terdapat beberapa permasalahan dalam hal anggaran
pembiayaan pendidikan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan
bahwa telah dianggarkan 20% dari APBN setiap tahunnya dalam sepuluh tahun
belakangan untuk memperbaiki pendidikan di dalam negeri, pada kenyataannya saat
ini anggaran biaya pendidikan belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal, salah
satunya karena kurang tertibnya dalam pelaksanaan manajemen pembiayaan
pendidikan pasca desentralisasi.
Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah
dijelaskan bahwa daerah memiliki kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung
jawab untuk mengelola sendiri segala hal yang telah didesentralisasikan. Bidang
pendidikan sebagai salah satu bidang yang didesentralisasikan kepada pemerintah
daerah memiliki konsekuensi seperti pemerintah daerah perlu merencanakan program
kependidikan yang selaras dengan kepentingan daerah, mengatur keuangan daerah
152
baik sumber maupun pengalokasiannya agar bidang pendidikan dapat diselenggarakan
sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dijelaskan peran dan fungsi kedua lembaga tersebut. Dewan Pendidikan
memiliki peranan selaku pemberi pertimbangan, pendukung, pengontrol, dan
mediator. Adapun fungsinya antara lain mendorong tumbuhnya perhatian dan
komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
Sedangkan peran Komite Sekolah adalah sama dengan peran Dewan Pendidikan,
tetapi Komite Sekolah berada pada tingkat satuan pendidikan baik pendidikan dasar
maupun pendidikan menengah.
Program Kerja Komite Sekolah yang dirancang setiap tahun ajaran merupakan
representasi dari seluruh kekuatan yang dimiliki Komite Sekolah baik kekuatan
sumber daya, tenaga, maupun program kerja. Program Kerja yang penting dilakukan
oleh Komite Sekolah adalah menggali dukungan dana untuk kebutuhan
penyelenggaraan sekolah agar terlaksana kegiatan sekolah secara efektif dan
berkelanjutan sehingga upaya peningkatan pendidikan baik proses maupun hasil dapat
memenuhi standar pembiayaan sekolah yang memadai. Komite Sekolah memegang
peranan berdasarkan konsep Manajemen Berbasis Sekolah(MBS) yaitu sebagai salah
satu jawaban pasca desentralisasi di bidang pendidikan dan telah diundangkan dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 51 ayat (1) yang
berbunyi, "Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan
prinsip manajemen berbasis sekolah” (Usman, 2014).
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa biaya
pendidikan adalah seluruh pengeluaran yang berupa sumber daya (input) baik berupa
barang (natural) atau berupa uang yang ditujukan untuk menunjang kegiatan proses
belajar mengajar. Pembiayaan pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara
pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Hal ini sesuai amanat Undang-
Undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 46 ayat (1) tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pembiayaan pendidikan merupakan hubungan saling keterkaitan yang didalamnya
terdapat komponen-komponen yang bersifat mikro dan makro pada satuan pendidikan.
Yang memiliki tujuan yaitu pada peningkatan potensi SDM yang berkualitas,
penyediaan komponen-komponen sumber-sumber pembiayaan pendidikan, penetapan
sistem dan mekanisme pengalokasian dana, pengefektifan dan pengefisiensian
penggunaan dana, akuntabilitas (dapat dipertanggungjawabkan) dari aspek
keberhasilan dan mudah terukur pada setiap satuan pendidikan, meminimalis
terjadinya permasalahan-permasalahan yang terkait dengan penggunaan pembiayaan
pendidikan (Ferdi, 2013:566).
Pengertian lain menurut Nanang Fattah (Mulyono, 2016:78), pembiayaan
pendidikan merupakan jumlah uang yang dihasilkan dan dibelanjakan untuk berbagai
keperluan penyelenggaraan pendidikan yang mencakup gaji guru, peningkatan
professional guru, pengadaan sarana ruang belajar, perbaikan ruang, pengadaan
153
peralatan/mobile, pengadaan alat-alat dan buku pelajaran, alat tulis kantor (ATK),
kegiatan ekstrakulikuler, kegiatan pengelolaan pendidikan, dan supervisi pendidikan.
Pembiayaan pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan tidak dapat
dipungkiri dalam pendidikan di sekolah. Pembiayaan pendidikan merupakan suatu
analisa tentang sumber-sumber pembiayaan, pengelolaan dan penggunaan biaya yang
diperuntukkan pada kegiatan terselenggaranya proses pendidikan di sekolah dengan
memanfaatkan sumber daya baik barang maupun uang secara efektif dan efisien.
Dalam praktik dan teori pembiayaan pendidikan pada tataran makro maupun
mikro, terdapat beberapa kategori biaya pendidikan, yaitu biaya langsung (direct cost)
adalah segala pengeluaran yang secara langsung menunjang penyelenggaraan
pendidikan, dan biaya tidak langsung (indirect cost) adalah pengeluaran yang tidak
secara langsung menunjang proses pendidikan tetapi memungkinkan proses
pendidikan tersebut terjadi di sekolah, misalnya biaya hidup siswa, biaya transportasi
ke sekolah, biaya jajan, biaya kesehatan, dan harga kesempatan (opportunity cost).
Kemudian biaya pribadi (private cost) adalah pengeluaran keluarga untuk pendidikan
atau dikenal juga pengeluaran rumah tangga (household expenditure). Biaya sosial
(social cost) adalah biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk pendidikan, melalui
sekolah maupun pajak yang dihimpun oleh pemerintah untuk digunakan dalam
pembiayaan pendidikan (Chairuwidha, 2019:16).
Biaya dalam bentuk uang (monetary cost) adalah semua bentuk pengeluaran
dalam bentuk uang, baik langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk
kegiatan pendidikan dan Biaya dalam bentuk bukan uang (non-monetary cost) adalah
semua bentuk pengeluaran yang tidak dalam bentuk uang, meskipun dapat dinilai ke
dalam bentuk uang, baik langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk
kegiatan pendidikan, misalnya pikiran, waktu, tenaga, dan lain-lain (Ferdi, 2013:570).
Menurut Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 2013 Standar Pembiayaan
Pendidikan adalah kriteria mengenai komponen dan besarnya biaya operasi satuan
pendidikan yang berlaku selama satu tahun. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya
investasi, biaya operasi, dan biaya personal. Ketiga jenis biaya tersebut harus tercatat
dalam RAPBS masing-masing (a) Biaya investasi satuan pendidikan meliputi biaya
penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal
kerja tetap, (b) Biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh
peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan
berkelanjutan, (c) Biaya operasi satuan pendidikan meliputi: Gaji pendidik, tenaga
kependidikan dan segala tunjangan yang melekat pada gaji; Bahan atau peralatan
pendidikan habis pakai; dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air,
jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi,
konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.
Berdasarkan paparan tersebut diketahui bahwa biaya kependidikan mempunyai
arti umum yang luas, dimana Seluruh sesuatu yang dikeluarkan dalam pengelolaan
pendidikan pasti bersangkutan dengan biaya. Maka dari itu, pembiayaan menjadi
masalah yang penting dalam pengelolaan penyelenggaraan pendidikan yang harus
154
dapat disikapi dan dikelola dengan baik. Ketidakmampuan dalam mengelola
pembiayaan pendidikan akan berdampak buruk pada kegiatan operasional sekolah
salah satunya proses pembelajaran.
Manajemen pembiayaan pendidikan sama dengan pengelolaan anggaran
pendidikan. Mulai dari sistem penganggaran pendidikan, pelaksanaan anggaran
pendidikan, menentukan alokasi anggaran, penatausahaan keuangan pendidikan,
pertanggungjawaban keuangan pendidikan, dan pengawasan anggaran (Matin,
2014:55).
Desentralisasi pendidikan memiliki implikasi yang dapat membedakan dengan
pradesentralisasi pendidikan yaitu keseragaman dalam proses pembiayaan yang tanpa
memperhatikan perbedaan kemampuan antardaerah. Pengalaman penyelenggaraan
pendidikan yang seragam itu sesungguhnya telah mengabaikan hak-hak daerah untuk
berkreasi sesuai dengan karakteristik masing-masing. Pradesentralisasi pendidikan,
sekolah-sekolah sebagai pelaksana pendidikan di daerah tidak memiliki kewenangan
untuk mengambil keputusan sendiri sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya.
Adapun pasca desentralisasi pendidikan, sumber-sumber pembiayaan pendidikan telah
menjadi urusan pemerintah daerah, masyarakat di daerah, orang tua siswa/ keluarga
siswa yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.
Dengan adanya desentralisasi pendidikan daerah dapat mengembangkan potensi
wilayahnya sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Salah satu kebijakan yang
dapat dikembangkan adalah membuat kurikulum sekolah yang berbasis keunggulan
lokal dan global. Desentralisasi pun mendorong terjadinya efisiensi manajemen
pendidikan, karena sebagian besar wewenang pengelolaan pendidikan, baik
perencanaan, pelaksanaan, pembiayaan dan pengendalian penyelenggaraan
pendidikan diserahkan kepada pemerintah daerah, yang disesuaikan dengan keadaan,
kebutuhan, keinginan, dan kemampuan masing-masing daerah. Dengan wewenang
yang besar dalam pengelolaan pendidikan, pemerintah daerah pun terdorong untuk
menggali berbagai potensi daerah dan mendorong partisipasi masyarakat untuk
membantu membiayai pembangunan pendidikan di daerahnya. Sebaliknya, partisipasi
masyarakat dapat dibangkitkan jika manajemen pendidikan di daerah atau sekolah
dapat dilaksanakan secara efisien, transparan, dan akuntabel, serta tanggap terhadap
kebutuhan, dan keinginan masyarakat (Toifur, 2011).
Pasca desentralisasi pendidikan, pembiayaan pendidikan yang memadai
hendaknya dapat dilakukan oleh daerah otonom penyelenggara sekolah. Komitmen
pemerintah daerah dalam pembiayaan pendidikan dapat dibuktikan melalui anggaran
pendidikan yang tersedia didalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Anggaran pendidikan yang terdapat pada APBD merupakan salah satu komitmen
terbesar dari Pemeruntah Daerah yaitu Pemerintah Provinsi yang paling mudah untuk
dilihat masyarakat.
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pascadesentralisasi
pendidikan, dapat memberikan implikasi antara lain memberikan kewenangan kepada
sekolah dalam menetukan sendiri jumlah dan jenis alokasi biaya pendidikan sesuai
155
dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah sebagaimana saran dari pemerintah dalam
Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 mengenai Standar Nasional Pendidikan.
Adanya kewenangan sekolah dalam menentukan jumlah dan jenis alokasi biaya
tersebut, merupakan salah satu dampak langsung dari adanya reformasi sistem
keuangan dalam bidang pendidikan.
Dalam penggunaan konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ada beberapa
hal yang perlu dikelolah, salah satunya adalah manajemen pembiayaan pendidikan.
Kurang lengkapnya data tentang pelaksanaan manajemen pembiayaan pendidikan ini
dapat berpengaruh pada perencanaan program pendidikan dan pelaksanaannya pada
masing-masing SMA Negeri di Kota Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi pelaksanaan manajemen pembiayaan pendidikan pada satuan
pendidikan khususnya pada Sekolah Menengan Atas Negeri (SMAN) 1, 2, 3, 4, Juga
SMAN 5 di Kota Banjarmasin.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif dengan model CIPP. Menurut
Kidder (Riduwan, 2010:50) penelitian evaluasi dapat dinyatakan juga sebagai
evaluasi, tetapi dalam hal lain juga dapat dinyatakan sebagai penelitian. Sebagai
evaluasi berarti hal ini merupakan bagian dari proses pembuatan keputusan, yaitu
untuk membandingkan suatu kejadian, kegiatan, produk dengan standar dan program
yang telah ditetapkan. Evaluasi sebagai penelitian berarti akan berfungsi untuk
menjelaskan fenomena Ada dua jenis dalam penelitian evaluasi yaitu: Penelitian
evaluasi formatif yang menekankan pada proses dan penelitian evaluasi sumatif yang
menekankan pada produk. Model CIPP merupakan singkatan dari, context evaluation:
evaluasi terhadap konteks, input evaluation: evaluasi terhadap masukan, process
evaluation: evaluasi terhadap proses, dan product evaluation: evaluasi terhadap hasil.
Keempat singkatan dari CIPP tersebut itulah yang menjadi komponen evaluasi
(Mawardi & Fadliah, 2020).
Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan evaluatif formatif, yang lebih
menekankan pada proses pelaksanaan manajemen pembiayaan pendidikan di SMA
Negeri 1, 2, 3, 4, dan 5 Banjarmasin, yang meliputi sistem penyusunan anggaran,
pelaksanaan anggaran, pengalokasian anggaran, penatausahaan keuangan,
pertanggung-jawaban keuangan, dan pengawasan keuangan.
Menurut Sugiyono (2016:39) Objek Penelitian merupakan Suatu atribut atau
sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variabel tertentu yang
ditetapkan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Objek penelitian ini adalah
“Manajemen Pembiayaan Pendidikan di SMA Negeri di Kota Banjarmasin, meliputi:
sistem penyusunan anggaran, pelaksanaan anggaran, pengalokasian anggaran,
penatausahaan keuangan, pertanggungjawaban keuangan, dan pengawasan
keuangan”. Subjek penelitian adalah yang mempunyai sifat/karakteristik/keadaan
yang akan diteliti. Subjek penelitian ini adalah SMA Negeri 1, 2, 3, 4, dan 5, di Kota
Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan.
156
Menurut Sugiyono (2016: 117) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas: obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Pada
penelitian ini, target yang dijadikan populasi adalah kepala sekolah, guru, dan tenaga
pendidikan yang ada di sekolah SMA Negeri 1, 2, 3, 4, dan 5 Banjarmasin, di Kota
Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan yang berjumlah 314 orang.
Menurut Sugiyono (2016: 118) Sampel adalah bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut, dan yang diambil harus bersifat
representative (mewakili). Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan
sampel untuk menentukan sampel dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling
yang digunakan (Sugiyono, 2016: 118). Teknik penarikan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling, yaitu salah satu teknik pengambilan
sampel dengan pertimbangkan khusus supaya data dari hasil penelitian yang dilakukan
menjadi lebih representatif. Sampel penelitian ini sebanyak 176 orang yang diperoleh
berdasarkan perhitungan Slovin, terdiri dari kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidik,
dari keseluruhan populasi penelitian sebanyak 314 orang.
Dalam hal pengumpulan data, penelitian ini menggunakan teknik angket,
observasi, dan wawancara terhadap responden yang sudah termasuk dalam daftar
responden. Selain wawancara responden juga mengisi angket yang sudah disediakan
peneliti.
Hasil pengolahan data dianalisa menggunakan model evaluasi CIPP yang
diharapkan dapat memberikan gambaran terhadap pelaksanaan manajemen
pembiayaan pendidikan di SMA Negeri 1, 2, 3, 4, dan 5 di Kota Banjarmasin. Untuk
mengetahui skor pelaksanaan, digunakan pendekatan sesuai contoh Arikunto
(2014:54) sebagai berikut:
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝐽𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑆𝑘𝑜𝑟 = 𝑥 100%
Skor Maksimal
HASIL
Penelitian yang telah dilaksanakan di SMA Negeri Kota Banjarmasin yaitu SMA
Negeri 1 Banjarmasin, SMA Negeri 2 Banjarmasin, SMA Negeri 3 Banjarmasin, SMA
Negeri 4 Banjarmasin, dan SMA Negeri 5 Banjarmasin mengenai manajemen
pembiayaan pendidikan di SMA Negeri Kota Banjarmasin pasca desentralisasi
pendidikan dengan menggunakan pendekatan evaluatif model CIPP menunjukkan
hasil sebagaimana pada tabel berikut:
157
III. Pengalokasian Anggaran 1180 1122 1233 1179 4714 83.70 Efektif/Baik
IV. Penatausahaan Anggaran 1218 1280 1308 1331 5137 91.21 Efektif/Baik
V. Pertanggungjawaban Keuangan 621 679 673 658 2631 93.43 Efektif/Baik
VI. Pengawasan Anggaran 601 631 667 612 2511 89.17 Efektif/Baik
Grand Total 4667 4755 5053 4926 19401 86.12 Efektif/Baik
Keterangan:
C : Context Evaluation (evaluasi terhadap konteks)
I : Input Evaluation (evaluasi terhadap masukan)
P : Process Evaluation (evaluasi terhadap proses)
P : Product Evaluation (evaluasi terhadap hasil)
Berdasarkan dari tabel 1 tersebut di atas, memperlihatkan bahwa hasil evaluasi proses
pelaksanaan manajemen pembiayaan pendidikan di SMA Negeri Kota Banjarmasin
adalah 19401 point dan 86,12% dengan hasil/Kriteria Efektif/Baik.
158
PEMBAHASAN
Manajemen Pembiayaan Pendidikan di SMA Negeri Kota Banjarmasin Pasca
Desentralisasi Pendidikan
Adapun hasil evaluasi berdasarkan variabel pelaksanaan manajemen
pembiayaan pendidikan pasca desentralisasi pendidikan adalah:
1. Sistem Penyusunan Anggaran
Pelaksanaan sistem penyusunan anggaran mempunyai skor sebesar 550 poin
dengan capaian nilai 74,43% yang termasuk dalam kategori hasil/kriteria
pelaksanaan Cukup Efektif.
2. Pelaksanaan Anggaran
Evaluasi Pelaksanaan anggaran mempunyai skor sebesar 596 poin dengan capaian
nilai 82,10% yang termasuk dalam kategori hasil/kriteria pelaksanaan
Efektif/Baik.
3. Pengalokasian Anggaran
Evaluasi Pelaksanaan pengalokasian anggaran mempunyai skor sebesar 1179 poin
dengan capaian nilai 83,70% yang termasuk dalam kategori hasil/kriteria
pelaksanaan Efektif/Baik.
4. Penatausahaan Keuangan
Evaluasi Pelaksanaan penatausahaan keuangan mempunyai skor sebesar 1331 poin
dengan capaian nilai 91,21% yang termasuk dalam kategori hasil/kriteria
pelaksanaan Efektif/Baik.
5. Pertanggungjawaban Keuangan
Evaluasi Pelaksanaan anggaran mempunyai skor sebesar 612 poin dengan capaian
nilai 93,43% yang termasuk dalam kategori hasil/kriteria pelaksanaan
Efektif/Baik.
6. Pengawasan Keuangan
Evaluasi Pelaksanaan pengawasan anggaran mempunyai skor sebesar 596 poin
dengan capaian nilai 89,17% yang termasuk dalam kategori hasil/kriteria
pelaksanaan Efektif/Baik.
159
Bila pelaksanaan Manajemen Pembiayaan Pendidikan ditinjau dari variabel
pengalokasian anggaran, maka nilai pada konteks sebesar 1180 poin, nilai input
sebesar 1122 poin, nilai proses sebesar 1233 poin, dan nilai produk sebesar 1179 poin.
Nilai terendah sebesar 1122 poin pada variabel input. Nilai tertinggi pada variabel
proses sebesar 1233 poin.
Pada pengalokasian anggaran nilai tertinggi terdapat pada variabel proses
sebesar 1233 poin, hal ini menunjukkan bahwa proses alokasi dana sangat penting dan
harus jelas skala prioritasnya. Setiap satuan pendidikan memiliki tujuan yang berbeda
sehingga alokasi dana harus disesuaikan berdasarkan tujuannya dan semua pihak
bersama-sama mempertimbangkan pengalokasian pembiayaan pendidikan secara
cermat agar efektif dan efisien.
Bila pelaksanaan Manajemen Pembiayaan Pendidikan ditinjau dari variabel
penatausahaan anggaran, maka nilai pada konteks sebesar 1218 poin, nilai input
sebesar 1280 poin, nilai proses sebesar 1308 poin, dan nilai produk sebesar 1331 poin.
Nilai terendah sebesar 1218 poin pada variabel konteks. Nilai tertinggi pada variabel
produk sebesar 1331 poin.
Pada penatausahaan anggaran ini nilai tertinggi terdapat pada variabel produk
sebesar1331 poin dikarenakan adanya kumpulan bukti-bukti penggunaan pembiayaan
pendidikan yang wajib dilakukan oleh semua pihak baik itu kepala sekolah, guru
maupun tenaga pendidik yang menggunakan dana pendidikan seperti tanda tangan
penerima honor, pembelian barang yang harus menggunakan materai dan sebagainya.
Bila pelaksanaan Manajemen Pembiayaan Pendidikan ditinjau dari variabel
pertanggungjawaban keuangan, maka nilai pada konteks sebesar 621 poin, nilai input
sebesar 679 poin, nilai proses sebesar 673 poin, dan nilai produk sebesar 658 poin.
Nilai terendah sebesar 621 poin pada variabel konteks. Nilai tertinggi pada variabel
input sebesar 679 poin.
Bila pelaksanaan Manajemen Pembiayaan Pendidikan ditinjau dari variabel
pengawasan anggaran, maka nilai pada konteks sebesar 601 poin, nilai input sebesar
631 poin, nilai proses sebesar 667 poin, dan nilai produk sebesar 612 poin. Nilai
terendah sebesar 601 poin pada variabel konteks. Nilai tertinggi pada variabel proses
sebesar 567 poin.
160
lembaga sekolah dalam hal manajemen berbasis sekolah (MBS) salah satunya bidang
manajemen pembiayaan pendidikan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebagai Pemerintah daerah
memberikan penguatan berupa program Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari APBD
yang disebut BOSDA yang diperuntukkan membantu pemenuhan kekurangan dari
dana BOS Pemerintah Pusat yang didaptkan sekolah selama ini. Dewan pendidikan
dalam hal ini Dinas Pendidikan Provinsi memperjuangkan agar APBD bisa
memberikan alokasi yang besar untuk BOSDA salah satunya untuk kesejahteraan para
tenaga pendidikan yang memiliki peran besar dalam mencerdaskan juga untuk
menambah kelancaran jalannya pendidikan dengan sarana dan prasarana yang
mencukupi.
Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 Dewan
Pendidikan memiliki peran sebagai: (1) Pemberi pertimbangan (advisory agency)
dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan (2) Pendukung (supporting
agency), baik yang berwujud financial, pemikiran maupun tenaga dalam
penyelenggaraan pendidikan. (3) Pengontrol (controlling agency) dalam hal
akuntabilitas transparansi pada penyelenggaraan pendidikan. (4) Mediator antara
masyarakat dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dan pemerintah
(eksekutif). Dewan pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan beranggotakan akademisi
dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Selatan.
Dewan Pendidikan juga memiliki fungsi antara lain: (1) Mendorong tumbuhnya
perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang
bermutu (2) Melakukan kerjasama dengan masyarakat (perorangan/organisasi),
pemerintah, dan DPRD berkenan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu
(3) Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan
pendidikan yang diajukan oleh masyarakat (4) Memberikan masukan, pertimbangan,
dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/DPRD mengenai kebijakan dan program
pendidikan; kriteria tenaga daerah dalam bidang pendidikan; kriteria tenaga
kependidikan, khususnya guru/tutor dan kepala satuan pendidikan; kriteria fasilitas
pendidikan; dan hal-hal lain yang terkait dengan pendidikan (5) Mendorong orangtua
dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan guna mendukung peningkatan mutu
dan pemerataan pendidikan (6)Melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap
kebijakan, program, penyelenggaraan, dan keluaran pendidikan.
KESIMPULAN
Manajemen pembiayaan pendidikan di SMA Negeri Kota Banjarmasin pada
variabel pelaksanaan anggaran, pengalokasian anggaran, penatausahaan keuangan,
pertanggungjawaban keuangan, dan pengawasan keuangan berjalan dengan
Efektif/Baik, sedangkan pada variabel sistem penyusunan anggaran berjalan Cukup
Efektif.
161
Secara umum pada evaluasi pelaksanaan Manajemen Pembiayaan Pendidikan di
SMA Negeri di Kota Banjarmasin dengan Model CIPP berjalan dengan hasil/kriteria
Efektif/Baik, yang ditunjukkan skor sebesar 19401 poin dan nilai sebesar 86,12%.
Dewan pendidikan Provinsi berperan memberi pertimbangan dalam menentukan
kebijakan pendidikan baik mengenai pengelolaan pembiayaan pendidikan, pemikiran
juga tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan agar tercapainya tujuan pendidikan.
Dan juga memiliki fungsi meningkatkan mutu kualitas pendidikan dengan pemberian
arahan dan dukungan berupa tenaga, sarana prasarana serta pengawasan kebijakan
kependidikan terutama dalam pengelolaan pembiayaan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2014). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Chairuwidha, Siti. (2019). Pengaruh Manajemen Pembiayaan Pendidikan terhadap
Mutu Lulusan Kelas IX di SMP IT Ar Ridwan (Issues 24-Sep-2019) [UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta].
Skripsi. [Link]
Ferdi, W. P. (2013). Pembiayaan Pendidikan: Suatu Kajian Teoritis. Jurnal
Pendidikan Dan Kebudayaan, Vol 19 Nomor 4.
[Link]
162
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KEARIFAN LOKAL
KALIMANTAN SELATAN UNTUK MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN RETENSI KONSEP
PENCEMARAN LINGKUNGAN
Noorlina1), Siti Ramdiah2), Budi Prayitno3)
1
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Banjarmasin
* Email : noorlina234@[Link]
ABSTRAK
Permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran di sekolah adalah rendahnya
kemampuan guru dalam membuat perangkat pembelajaran, dikarenakan kebiasaan guru
selalu menggunakan perangkat pembelajaran yang terdahulu. Maka dari itu diperlukan
pengembangan perangkat pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar kognitif dan
retensi peserta didk. Untuk mengetahui Validitas Perangkat Pembelajaran Melalui Model
Pembelajaran Kearifan Lokal Kalimantan Selatan Untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Kognitif dan Retensi Peserta Didik Konsep Pencemaran Lingkungan. Jenis Penelitian
termasuk model penelitian pengembangan (Research and Development). Model
pengembangan perangkat pembelajaran ini adalah 4D pada penelitian ini dilakukan hanya
sampai tahap 3, yakni 1) pendefinisian (define), 2) perancangan (design),
3)pengembangan (develop). Pada penelitian ini data yang dianalisis meliputi kelayakan
RPP, LKPD dan soal. Adapun cara untuk menganalisisnya dilakukan dengan cara validasi
perangkat pembelajaran oleh ahli/praktisi yang terdiri dari 1 orang ahli pembelajaran
biologi dan 2 orang praktisi pembelajaran biologi. Hasil Penelitian adalah validitas
perangkat pembelajaran RPP diperoleh sebesar 79,11 dengan kriteria cukup valid,
perangkat pembelajaran LKPD diperoleh sebesar 79,62 dengan kriteria cukup valid dan
perangkat pembelajaran Soal Essay diperoleh sebesar 78,66 dengan kriteria cukup valid.
Kesimpulan penelitian ini adalah perangkat pembelajaran yang dikembangkan berkriteria
cukup valid.
ABSTRACT
The problem faced in the learning process in schools is the low ability of teachers to make
learning tools, due to the habit of teachers always using previous learning tools.
Therefore, it is necessary to develop learning tools to improve cognitive learning
outcomes and student retention. To find out the validity of learning tools through the
South Kalimantan local wisdom learning model to improve cognitive learning outcomes
and student retention on the concept of environmental pollution. This type of research
includes a development research model (Research and Development). The development
model of this learning device is 4D. In this study, it is carried out only until stage 3,
namely 1) defining, 2) designing, 3) developing. In this study, the data analyzed included
the feasibility of RPP, LKPD and questions. The way to analyze it is done by validating
learning tools by experts / practitioners consisting of 1 biology learning expert and 2
biology learning practitioners. The results showed that the validity of the lesson plan
learning tools was 79.11 with sufficiently valid criteria, the LKPD learning tools were
obtained at 79.62 with sufficiently valid criteria and the Essay Question learning tools
were obtained at 78.66 with sufficiently valid criteria. The conclusion of this study is that
the learning tools developed are valid enough.
163
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk menumbuh
kembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM). Proses pendidkan dilaksanakan
melalui lembaga formal seperti pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan
bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, hal tersebut sesuai dengan amanat
UUD 1945. Sebagaimana tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang
tercantum dalam UU RI tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 No. 20 tahun 2003
(Amaliah, 2011).
Lebih lanjut dijelaskan Amaliah (2011) proses pembelajaran yang diharapkan
dari tujuan pendidikan nasional adalah pembelajaran yang aktif. Pembelajaran aktif
juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian peserta didik agar tetap pada proses
pembelajaran. Kualitas pendidikan erat kaitannya dengan pembelajaran karena proses
pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam pendidikan. Melalui proses
pembelajaran fungsi dan tujuan pendidikan dapat dicapai, sehingga dapat menciptakan
pendidikan yang berkualitas (Amalia, 2017).
Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar
dan Menengah menyebutkan bahwaproses pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memoti-
vasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Untuk itu setiap satuan pendidi-
kan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta
penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
ketercapaian kompetensi lulusan.
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan seorang
pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran
yang akan dilaksanakan hendaknya harus mencapai tujuan pembelajaran. Pencapaian
tujuan pembelajaran dapat dilihat dari perkembangan kognitif siswa salah satunya
adalah kemampuan mengingat materi (Safarina, 2016).
Kegiatan Pembelajaran dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama
semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
dirinya, kegiatan pembelajaran tersebut sangat dipengaruhi oleh peran guru dalam
mempersiapkan proses belajar mengajar (Rusdi dan Ramdiah, 2017).
Tugas pokok guru atau pendidik ialah merencanakan, melaksanakan dan
melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran. Penjabarannya seorang guru
merencanakan pembelajaran dalam bentuk membuat dan mempersiapkan perangkat
pembelajaran kemudian perangkat pembelajaran digunakan untuk melaksanakan
proses pembelajaran dan selanjutnya melakukan evaluasi untuk melihat berhasil atau
tidaknya pencapaian tujuan pembelajaran. Tetapi pada kenyataannya di dunia
pendidikan adalah lemahnya proses pembelajaran (Hala, 2015).
164
Salah satu permasalahan pendidikan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat
ini adalah rendahnya kualitas pendidikan nasional. Rendahnya kualitas pendidikan
tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Berbagai usaha telah dilakukan untuk
meningkatkan kualitas pendidkan nasional antara lain menyempurnakan kurikulum,
pengadaan buku, melengkapi sarana dan prasarana, memperbaharui model dan metode
pembelajaran serta berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru. Permasalahan
kurangnya pengetahuan tentang kearifan lokal untuk mengembangkan perangkat
pembelajaran yang berbasis kearifan lokal karena kemampuan serta pengetahuan guru
dalam bidang pengembangan yang minim menyulitkan guru untuk berinovasi lebih.
Proses belajar terjadi aktivitas Peserta didik serta didapatkan hasil belajar setelah
selesai proses belajar tersebut. Proses belajar yang berkulitas dan relevan tidak dapat
terjadi dengan sendirinya, melainkan perlu direncanakan. Pada saat merencanakan
inilah, diperlukan kecermatan untuk memilah, memilih, dan menerapkan model
pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik Peserta didik dan mata pelajaran.
Pengembangan model pembelajaran kearifan lokal juga didasari oleh temuan-temuan
data dan informasi terkait dengan pentingnya peranan potensi dan kearifan lokal
Kalimantan Selatan (Ramdiah dkk, 2018).
Seorang guru mempunyai tuntutan membuat perangkat pembelajaran,menguasai
kurikulum, menguasai materi,menguasai metode,dan mampu mengelola kelas
sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan.
Perangkat pembelajaran mempunyai peranan penting dalam pembelajaran yang dapat
membantu kegiatan belajar mengajar lebih efektif (Krisnawati, 2014). Perbaikan dan
peningkatan mutu proses pembelajaran dan hasil pembelajaran memerlukan
penyerasian proses pembelajaran yang didukung perangkat yang baik dengan
melakukan pengembangan perangkat [Link] pembelajaran yang
berkualitas baik mesti memerhatikan kriteria kevalidan.
Bahwa berdasarkan uraian di atas maka perlu adanya suatu pengembangan
perangkat yang berbasis pada kearifan lokal Kalimantan Selatan dalam hal ini di
tingkat sekolah menengah pertama pada pembelajaran IPA. Pengembangan suatu
perangkat pembelajaran yang terintegrasi dengan potensi daerah diharapkan dapat
mengembangkan potensi tiap wilayah serta meningkatkan hasil belajar kognitif dan
retensi peserta didik. Penelitian memiliki tujuan untuk mengembangkan perangkat
pembelajaran berbasis kearifan lokal dan mengujinya untuk mengetahui peningkatan
hasil belajar kognitif dan retensi peserta didik.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian termasuk model penelitian pengembangan (Research and
Development). Penelitian Pengembangan (Research and Development) adalah metode
penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu dan menguji
keaktifan produk tersebut. Model pengembangan pada penelitian mengikuti model 4D
yang dikemukakan oleh Thiagrajan (Ibrahim, 2002). Model 4D yang meliputi tahap
pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan disemi-
165
nasi (disseminate). Penelitian ini hanya dibatasi sampai pada tahap pengembangan
(develop).
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di STKIP PGRI Banjarmasin. Waktu yang digunakan
selama 5 bulan yaitu dari bulan Maret-Juli 2020.
Prosedur Pengembangan dan Penelitian
Prosedur pengembangan yang dilakukan melalui tahap pendefinisian (define),
Perancangan (design), dan Pengembangan (develop). Pada tahap pengembangan di
lakukan kegiatan validasi ahli (expert appraisal) dan uji pengembangan (develop
mental testing). Kegiatan validasi ahli dilakukan oleh 1 (satu) dosen ahli dan 2 (dua)
guru bertujuan untuk mendapatkan data mengenai kevalidan perangkat yang di
hasilkan.
Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: (1) instrument untuk
mengukur ke validan yang terdiri atas lembar validasi RPP, lembar validasi LKPD dan
lembar penilaian soal tes Essay. Lembar validasi diadopsii dari Ramdiah, dkk (2019).
Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini data yang dianalisis meliputi kelayakan RPP, LKPD dan soal.
Adapun cara untuk menganalisisnya dilakukan dengan cara validasi perangkat
pembelajaran oleh ahli/praktisi yang terdiri dari 1 orang ahli pembelajaran biologi dan
2 orang praktisi pembelajaran biologi. Validasi dilakukan untuk mengetahui tingkat
kevaliditas yang telah ditentukan.
Pada penelitian ini analisis deskriptif kualitatif data dari lembar penilaian validasi
menggunakan rumus untuk dapat menghitung hasil data tersebut yaitu dengan
perhitungan persentase berdasarkan menurut Arikunto (2010) dengan rumus sebagai
berikut:
∑Skor Total
Presentase =∑Skor Maksimal X 100%
Presentase yang telah diperoleh kemudian dirubah ke dalam kalimat yang bersifat
kualitatif. Penentuan kriteria kevalidan data perangkat pembelajaran seperti tabel
berikut ini.
Tabel 3.1 Kriteria Kevalidan Data Angket Penilaian Validator
Skala Nilai Kualifikasi Keterangan
85,94% - 100% Valid Tidak revisi
67,19% - 85,93% Cukup valid Tidak revisi
48,44% - 67,18% Kurang valid Revisi
25% - 48,43% Tidak valid Revisi
Sumber: Arikunto 2010
166
Hasil Penelitian dan Pengembangan
Penyajian Data Uji Coba
Proses pengembangan perangkat pembelajaran ini melalui pendefinisian
(define) yaitu analisis yang dilakukan oleh pengembang untuk mengumpulkan data-
data yang dibutuhkan dalam pengembangan perangkat pembelajaran berbasis kearifan
lokal, antara lain analisis kurikulum, analisis peserta didik dan analisis materi.
Analisis kurikulum diperlukan untuk mengkaji kurikulum yang berlaku pada
saat itu, dalam kurikulum terdapat kompetensi yang ingin dicapai. Analisis peserta
didik dilakukan dengan menganalisis karakteristik peserta didik dan latar belakang
pendidikan yang tengah mereka tempuh. Analisis materi dilakukan dengan merinci isi
materi ajar dalam bentuk garis besar isi materi pokok yang mencakup pemahaman
akan tugas dalam pembelajaran langkah tersebut dilakukan dengan jalan menganalisis
kata kerja pada kompetensi dasar dan indikator hasil belajar dari materi yang dipilih
yaitu pencemaran lingkungan.
Tahap selanjutnya adalah desain (design), tahap ini adalah tahap perancangan
awal dengan membuat rancangan perangkat pembelajaran untuk kemudian
dikembangkan menjadi perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal. Perangkat
pembelajaran yang dikembangkan antara lain RPP, LKPD , Soal Essay.
RPP yang dikembangkan yaitu berbasis kearifan lokal pada konsep materi
pencemaran lingkungan terdiri dari 4 kali pertemuan. LKPD terdiri dari pertanyaan-
pertanyaan yang berbasis kearifan lokal pada setiap pertemuan. Soal Essay terdiri dari
10 butir soal yang berkaitan dengan kearifan lokal Kalimantan selatan.
Tahap terakhir adalah tahap pengembangan (develop) perangkat pembelajaran
terlebih dahulu dilakukan validasi oleh satu orang ahli dan dua orang praktisi
Pembelajaran IPA untuk mendapatkan penilaian, komentar dan saran agar perangkat
pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan tujuan pengembangan yaitu
meningkatkan hasil belajar kognitif dan retensi konsep pencemaran lingkungan.
Tabel 1. Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran oleh Ahli atau Praktisi
No Perangkat Nilai Kualifikasi
1. RPP 79,11 % Cukup valid
2. LKPD 79,62% Cukup valid
3. Soal Essay 78,66% Cukup valid
Berdasarkan Tabel 1. Hasil validasi ahli dan praktisi terhadap perangkat pembelajaran
yang dikembangkan menunjukan dengan kualifikasi cukup valid.
Analisis Data
Berdasarkan hasil validasi terhadap perangkat pembelajaran setelah dilakukan
perhitungan dengan kriteria yang mengacu pada Arikunto (2010). Kriteria perangkat
pembelajaran yang dikembangkan dinyatakan cukup valid oleh validator, dengan
demikian maka perangkat pembelajaran melalui model pembelajaran kearifan lokal
Kalimantan Selatan konsep pencemaran lingkungan layak digunakan, dengan
presentase 67,19% - 85,93% termasuk dalam kualifikasi cukup valid dan tidak revisi.
167
Perangkat pembelajaran memiliki kriteria valid jika perangkat pembelajaran
tersebut mencerminkan kesesuaian antar bagian-bagian perangkat pembelajaran yang
disusun serta kesesuaian antara tujuan pembelajaran, materi pembelajaran dan
penilaian yang akan diberikan (Rajabi dkk, 2015 : 48-49). Proses belajar mengajar
didalam kelas dapat berhasil sangat ditentukan oleh perangkat pembelajaran yang
digunakan, mulai dari rencana pelaksanaan pembelajaran sampai penggunaan bahan
ajar (Hadi, 2017)
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan
perangkat pembelajaran dapat dikualifikasikan cukup valid oleh tim validator.
Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan ini
diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar kognitif dan retensi peserta didik.
Menurut Tanjung dan Nabahan (2018) Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan
sumber belajar yang disusun sedemikian rupa dimana peserta didik dan guru
melakukan kegiatan pembelajaran dan berfungsi untuk memberikan arah pelaksanaan
pembelajaran sehingga menjadi terarah dan efisien.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan didapatkan Perangkat Pembelajaran
berbasis Kearifan Lokal pada konsep pencemaran lingkungan yaitu:
1. Perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal antara lain:
a. RPP dapat dikatakan cukup valid , dengan nilai presentase 79,11% dengan
kualifikasi cukup valid.
b. LKPD dengan nilai presentase 79,62% dengan kualifikasi cukup valid.
c. Soal Essay dengan nilai presentase 78,66% dengan kualifikasi cukup valid.
2. Perangkat Pembelajaran berbasis kearifan lokal dengan presentase cukup valid
dan dapat dikatakan layak di gunakan dalam proses pembelajaran.
DAFTAR RUJUKAN
Amalia, H. 2017. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Keterampilan
Informasi Pokok Bahasan Ekosistem Kelas X di SMAN 9 Makasar. Skripsi.
Makassar : Universitas Islam Negeri Alauddin.
Amaliah, Siti. 2011. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Take and Give
Terhadap Retensi Peserta didik dalam Tatanama Ilmiah Pada Konsep Jamur.
Skripsi diterbitkan. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Hadi, Khairil. 2017. Pengembangan Model Problem Based Learning Berbasis
Kearifan Lokal Pada Materi Keanekaragaman Hayati Kelas X di Kabupaten
Aceh Selatan. BIOnatural. 4(2)
Hala, Yusminah, Siti Zaenab, Syahrir Kasim. 2015. Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Biologi Berbasis Pendekatan Saintifik Pada Konsep Ekosistem
Bagi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Jurnal of EST. 1(3) : 86
168
Krisnawati, Maria Nofi, Tjandrakirana, Soetjipto. 2014. Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Biologi Model Kooperatif dengan Pendekatan Scientific untuk
Melatih Berpikir Kritis Siswa SMA. Jurnal Pena Sains. 1(1)
Permendikbud No. 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan
Menengah. 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Rajabi, M., Ekohariadi, I.G.P., Asto Buditjahjanto. 2015. Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Instalasi Sistem Operasi dengan Model Pembelajaran Berbasis
Proyek. Jurnal Pendidikan Vokasi : Teori dan Praktek 3, no. 1 (28 Februari
2015): 48-49.
Ramdiah, Siti, Abidinsyah Royani, M. 2018. Model Pembelajaran Kearifan Lokal
Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Scripta Cendekia
Rusdi, Lamhani dan Siti Ramdiah.2017. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri
Terbimbing Dalam Meningkatkan Keterampilan Proses Sains (KPS) Dan Hasil
Belajar Peserta Didik Pada Konsep Saling Ketergantungan Dalam Ekosistem
Di Kelas VII B SMP Negeri 2 Batang Alai Utara. Jurnal Pendidikan Hayati.
3(1).
Saparina, Sepy. 2016. Efektivitas Buku Saku Berbasis Mnemonik terhadap Retensi
Siswa dengan Metode SQ3R pada Sub Materi Tulang di Kelas XI IPA MAN 2
Pontianak. Skripsi tidak diterbitkan. Pontianak: Program Studi Pendidikan
Biologi Universitas Muhammadiyah Pontianak.
Tanjung, Saputra, Henra, Siti Aminah Nabahan. 2018. Pengembangan Perangkat
Pembelajaran Matematika Berorientasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah
(PBM) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Se-
Kuala Nagan Raya Aceh. Genta Mulia. IX(2)
169
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII-C
KONSEP SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH(PBM)
DI SMP NEGERI 1 KANDANGAN
ABSTRAK
Berdasarkan data dari guru IPA kelas VIII-C, kegiatan belajar mengajar IPA cenderung
pasif. Hal ini karena siswa terbiasa hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa menggali
pengetahuan sumber lain dan penyajian materi oleh guru terlalu cepat karena keterbatasan
waktu dan tuntutan materi yang banyak, sehingga materi pelajaran kurang dipahami
siswa. Hasil belajar siswa hanya 50% yang mencapai ketuntasan klasikal sehingga belum
mencapai ketuntasan klasikal yang ditetapkan sekolah yaitu 85%. Penelitian ini bertujuan
untuk meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa, serta keterlaksanaan RPP dan
respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran setelah menerapkan model Pebelajaran
Berbasis Masalah pada konsep Sistem Pernapasan pada Manusia. Penelitian ini
merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan pada 2 siklus, dengan
tahapan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek yang
digunakan adalah 27 orang siswa kelas VIII-C SMPN 1 Kandangan. Teknik pengumpulan
data melalui tes, observasi, dan angket. Data dianalisis menggunakan kualitatif dan
kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan, bahwa hasil
belajar kognitif pengetahuan (pretes dan postes) siswa dalam pembelajaran meningkat
dari siklus I yaitu 81,48% ke siklus II 85,18% dan sudah mencapai indikator keberhasilan
dengan ketuntasan klasikal sebesar 85%. Hasil belajar kognitif proses (LKPD) siswa
dalam pembelajaran meningkat dari siklus I 79,16% ke siklus II 88,89%. Aktivitas siswa
dalam proses pembelajaran yaitu 92,03% (sangat baik) pada siklus I menjadi 97,53%
(sangat baik) pada siklus II. Keterlaksanaan RPP dalam pengelolaan proses pembelajaran
yaitu 94,73% (sangat baik) pada siklus I menjadi 100% (sangat baik) pada siklus II.
Respon siswa terhadap model Pembelajaran Berbasis Masalah menunjukkan respon
sangat baik.
Kata Kunci: hasil belajar; pembelajaran berbasis masalah; sistem pernapasan pada
manusia
ABSTRACT
Based on data from science teachers of class VIII-C, science teaching and learning
activities tend to be passive. This is because students are accustomed to only listening to
teacher explanations without exploring other sources of knowledge and the presentation
of material by the teacher too fast due to time constraints and the demands of a lot of
material, so that the subject matter is not understood by students. Student learning
outcomes are only 50% who achieve classical completeness so that they have not reached
the classical completeness set by the school, namely 85%. This study aims to improve
student learning outcomes and activities, as well as the implementation of lesson plans
and student responses to learning activities after applying the Problem Based Learning
model to the concept of the Respiratory System in [Link] research is a Classroom
Action Research (CAR) which was conducted in 2 cycles, with the stages of planning,
implementing action, observing, and reflecting. The subjects used were 27 students of
class VIII-C SMPN 1 Kandangan. Data collection techniques through tests, observations,
and questionnaires. Data were analyzed using qualitative and quantitative. Based on the
results of research and data analysis, it can be concluded, that the cognitive learning
171
outcomes of students' knowledge (pretest and posttest) in learning increased from the first
cycle of 81.48% to the second cycle of 85.18% and had achieved success indicators with
classical completeness of 85%. The results of students' cognitive learning process
(LKPD) in learning increased from cycle I 79.16% to cycle II 88.89%. Student activity in
the learning process was 92.03% (very good) in the first cycle to 97.53% (very good) in
the second cycle. The implementation of RPP in the management of the learning process
is 94.73% (very good) in the first cycle to 100% (very good) in the second cycle. Student
response to the Problem Based Learning model shows a very good response.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang berisikan interaksi antara siswa
dengan pendidik serta berbagai sumber pendidikan. Interaksi antara siswa dengan
pendidik dan sumber-sumber pendidikan tersebut dapat berlangsung dalam situasi
pergaulan (pendidikan), pengajaran, latihan, serta bimbingan. Tujuan pendidikan
minimal mengarahkan kepada pencapaian empat sasaran, yaitu (1) pengembangan
segi-segi kepribadian, (2) pengembangan kemampuan kemasyarakatan, (3) pengemba-
ngan kemampuan melanjutkan studi, (4) pengembangan kecakapan dan kesiapan untuk
bekerja (Slameto, 2010:16).
Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Hj. Heni Herlina, S. Pd guru mata
pelajaran IPA kelas VIII-C SMPN 1 Kandangan, diperoleh informasi hasil belajar
siswa kelas VIII-C tahun ajaran 2019/2020 pada konsep Sistem Pernapasan pada
Manusia mencapai 50% yang tuntas dari nilai kriteria ketuntasan minimal 74. Hasil
belajar tersebut tentu belum maksimal karena masih di bawah standar ketuntasan
secara klasikal yang ditetapkan sebesar 85%. Rendahnya hasil belajar siswa ini
disebabkan oleh siswa yang cenderung pasif yang mana siswa hanya mendengarkan
penjelasan dari guru tanpa berusaha menggali pengetahuan dari sumber lain. Di sisi
lain sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran,
dikarenakan saat penyajian materi kurang diminati, karena saat guru menjelaskan
terlalu cepat, mengingat terbatasnya waktu pembelajaran IPA di kelas yang hanya 5
jam pelajaran setiap minggunya dengan tuntutan materi yang banyak. Sehingga
mengakibatkan materi pelajaran kurang terserap secara maksimal yang berakibat
kurangnya pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran.
Tujuan dari pembelajaran ini diharapkan dapat mengatasi permasalahan tersebut
dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah. Tipe ini baik digunakan
karena dapat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan
keterampilan memecahkan masalah yang dapat disukai siswa, selain itu tipe ini juga
dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Maka dilakukan
penerapan model pembelajaran berbasis masalah sebagai upaya untuk meningkatkan
hasil belajar siswa kelas VIII-C pada konsep sistem pernapasan pada manusia.
172
METODE PENELITIAN
Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu penelitian
yang dilakukan oleh guru, bekerjasama dengan peneliti dikelas atau disekolah tempat
mengajar dengan menekankan penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis
pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus dengan 2 kali pertemuan tiap
siklusnya. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kandangan pada bulan Maret
sampai bulan Juni pada kelas VIII-C tahun pelajaran 2020/2021 yang berjumlah 27
orang siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui tes evaluasi
bentuk essay yaitu tes kognitif pengetahuan (pretes dan postes) dan tes kognitif proses
(LKPD), observasi dilakukan untuk menilai aktivitas siswa selama proses
pembelajaran dan keterlaksanaan rpp dalam pengelolaan pembelajaran, dan angket
yang digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap model pembelajaran yang
digunakan. Data dianalisis menggunakan kuantitatif dan kualitatif.
90,00%
85,00%
Siklus I
80,00% 88,89%
Siklus II
75,00% 79,16%
70,00%
173
3. Keterlaksanaan RPP
105,00%
100,00% Siklus I
95,00% 100% Siklus II
94,73%
90,00%
174
ditetapkan. Hal ini karena nilai ketuntasan klasikal pretes siklus I sebesar 66,67% dan
pada siklus II sebesar 74,07%. Faktor yang menyebabkan hal ini terjadi karena soal
pretes dikerjakan sebelum kegiatan pembelajaran dengan tujuan untuk menggali
pengetahuan awal peserta didik sebelum dilaksanakannya pembelajaran dengan
menerapkan model Pembelajaran Berbasis Masalah. Hasil postes siklus I sebesar
81,48% hal ini juga menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh pada siklus I masih
belum memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan, hal ini karena peserta didik
masih belum beradaptasi dengan model pembelajaran yang diterapkan. Namun pada
hasil postes siklus II mengalami peningkatan menjadi 85,18%. Peningkatan hasil
belajar peserta didik melalui model Pembelajaran Berbasis Masalah ini, sesuai dengan
hasil penelitian yang dilakukan Ikrimah dan Adawiyah (2018). Menunjukkan bahwa
peningkatan hasil belajar peserta didik kelas IX SMA Kecamatan Kusan Hilir
mengalami peningkatan dimana pada hasil pretes 22,92% meningkat menjadi 70,77
pada hasil postes. Hal ini menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh sudah memenuhi
indikator keberhasilan yang ditetapkan. Hal ini berarti model Pembelajaran Berbasis
Masalah merupakan salah satu model yang mampu meningkatkan hasil belajar peserta
didik.
Ketuntasan hasil belajar kognitif proses (LKPD) peserta didik, terlihat langkah
yang paling dimaksimalkan oleh peserta didik adalah langkah kedua, yaitu peserta
didik membuat renvcana penyelesaian masalah yang dapat membuat peserta didik
semakin aktif dalam belajar mencari sendiri penyelesaian dari pelajaran yang disajikan
guru. Hal tersebut menjadikan kegiatan pembelajaran menjadi semakin bermakna
sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar peserta didik. hal ini
sejalan dengan pendapat John Dewey (dalam Hamdani, 2011:23) yang
mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk memecahkan suatu masalah adalah
dengan mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan dilaksanakan dalam
pemecahan masalah.
Secara umum aktivitas peserta didik siklus I ke siklus II mengalami peningkatan,
hampir seluruh peserta ddik sudah tergolong aktif dalam proses Pembelajaran Berbasis
Masalah sebesar 5,50%. Peningkatan aktivitas peserta didik juga ditunjukkan dengan
penurunan dominansi guru dalam proses pembelajaran, hal ini sejalan dengan pendapat
Slameto (2013:21) [7] yang menyatakan bahwa peran guru yaitu sebagai pemandu para
peserta didik agar mereka dapat membangun pengetahuannya sendiri, sehingga
memungkinkan mereka mempelajari konsepkonsep dalam bahasa mereka sendiri.
Peningkatan aktivitas peserta didik dipengaruhi oleh beberapa fakor belajar seperti
faktor motivasi, hal ini dapat dilihat pada aspek mendengarkan penjelasan guru.
Apersepsi dari guru yang menarik perhatian peserta didik membuat semangat dan rasa
ingin tahu peserta didik tentang materi pelajaran yang akan dipelajari bertambah.
Apersepsi yang menarik membuat motivasi peserta didik dalam belajar meningkat. Hal
ini sejalan dengan pendapat Dmiyati dan Jauhar (2014:61) yang menyatakan bahwa
motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses
belajar, motvasi belajar pada diri peserta didik perlu diperkuat terus menerus agar
tercipta suasana belajar yang menggembirakan sehingga aktivitas peserta didik dalam
belajar meningkat.
175
Peningkatan aktivitas peserta didik juga dipengaruhi oleh konsentrasi peserta
didik itu sendiri. Kemampuan peserta didik untuk memusatkan perhatian pada
pelajaran terlihat saat mereka mengerjakan LKPD yang diberikan guru meningkat dari
siklus I ke siklus II. Pada saat mereka berdiskusi kelompok yang terlihat pada aspek
merumuskan permasalahan, melakukan penyelidikan, dan mencatat dan menganalisis
hasil penyelidikan guru harus jeli dalam mengamati peserta didik dan mengelola kelas,
agar mereka tetap fokus dan konsentrasi dengan materi yang dipelajari. Guru biasanya
berjalan-jalan mengamati masing-masing kelompok, sesekali memutar kembali video
pembelajaran atau memberikan sedikit humor agar mereka tidak cepat bosan. Menurut
Rooijakker (dalam Dimiyati dan Jauhar,2014:63) menyatakan bahwa kekuatan
perhatian peserta didik akan menurun setelah 30 menit proses pembelajaran
berlangsung sehingga guru perlu memberikan selingan beberapa menit. Semakin baik
daya konsentrasi peserta didik maka semakin menigkat pula aktivitas dan prestasi
peserta didik tersebut.
Faktor lain yang juga berpengaruh dalm peningkatan aktivitas peserta didik juga
rasa percaya diri mereka. Rasa percaya diri mereka terlihat pada aspek menyajikan
laporan atau hasil karya dan mengevaluasi/memberi tanggapan atau pertanyaan.
Keberanian mereka dalam menyajikan laporan atau hasil karya, terlibat dalam
mengevaluasi/memberi tanggapan atau pertanyaan dari guru atau teman, menandakan
rasa percaya diri mereka tinggi. Hal ini terlihat pada saat guru menawarkan untuk
menyajikan laporan atau hasil karya, masing-masing kelompok menawarka dirinya
untuk menyajikan laporan atau hasil karya mereka. Rasa percaya diri yang tinggi ini
menyebabkan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran meningkat seorang peserta
didik yang tidak punya rasa percaya diri, akan menghambat perkembangan prestasi
intelektual, keterampilan, dan kemandirian, serta membuat peserta didik tersebut tidak
cakap bersisoalisasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Dimiyati dan Jauhar (2014:65),
yang menyatakan bahwa rasa percaya diri timbul dari keinginan mewujudkan diri
bertindak dan berhasil, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari
lingkungan. Semakin tinggi rasa percaya diri semakin tinggi pula perwujudan untuk
bertindak (aktivitas).
Jumlah total aspek yang di observasi pada aktivitas peserta didik ada 6 aspek.
Walaupun secara umum mengalami peningkatan namun ada beberapa aspek yang
meningkat tetapi masih ada dalam katagori cukup yaitu mendengarkan penjelasan
guru. Adanya aspek yang memiliki katagori cukup pada aktivitas tersebut mungkin
karena pengelolaan kelas yang kurang baik. Aktivitas peserta didik dalam merancang
penyelesaian masalah memang memerlukan waktu yang banyak karena aktivitas
tersebut merupakan kegiatan yang melibatkan aktivitas otak. Hal ini sejalan dengan
pendapat Paul B. Diedrich (Sardiman,2010:27) [6], yang menyatakan bahwa aktivitas
untuk menyelesaikan suatu masalah termasuk dalam kegiatan-kegiatan mental.
Kemudian pendapat ini juga sejalan dengan teori belajar yang berhubungan dengan
model Pembelajaran Berbasis Masalah adalah teori belajar kontruktivisme
(Amir,2010:24), menyatakan bahwa peserta didik harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-
aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi.
176
Peningkatan aktivitas peserta didik melalui model pembelajaran berbasis
masalah pada penelitian ini, sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Sari
menunjukkan bahwa aktivitas peserta didik kelas X SMA PGRI Pelaihari mengalami
peningkatan dari 67,01% pada siklus I menjadi 76,70% pada siklus II. Menurut Amir
(2010:23), dari masalah yang diberikan dalam model pembelajaran berbasis masalah
peserta didik bekejasama dalam kelompok dalam mencoba memecahkan masalahnya
dengan pengetahuan yang dimilikinya sekaligus mencari informasi baru yang
relevanuntuk solusinya. Di sini, guru bertugas sebagai fasilitator yang mengarahkan
pembelajarandan untuk membantu peserta didik dalam mencari serta menemukan
solusi yang diperlukan (hanya mengarahkan, bukan menunjukkan), dan juga sekaligus
menemukan kriteria pencapaian proses pembelajaran itu. penyajian sebuah masalah,
dapat membantu pembelajaran lebih baik dalam belajar sehingga dapat meningkatakan
keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Keterlaksanaan RPP dalam pengelolaan pembelajaran konsep Sistem
Pernapasan pada Manusia dari siklus I ke siklus II. Secara kuantitas maupun kualitas
mengalami peningkatan dan sudah tergolong katagori sangat baik. Pada siklus I
keterlaksanaan RPP sebesar 86,50%. Hal ini menunjukkan bahwa dominansi guru
dalam membimbing peserta didik selama selama proses pembelajaran sangat tinggi,
kemudian pada siklus ke II mengalami peningkatan menjadi 88,00% dan tergolong
katagori sangat baik. Guru merupakan salah satu faktor eksternal yang sangat
mempengaruhi aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Peningkatan rata-rata
keterlaksanaan RPP secara kuantitatif dari siklus I ke siklus II memang bertujuan agar
aktivitas peserta didiknya lebih dominan. Hal ini sesuai dengan karateristik Kurikulum
2013 yang diungkapkan oleh Kunandar (2013:18), yaitu memberikan waktu yang
cukup leluarsa untuk mengembangkan berbagai pengetahuan dan keterampilan peserta
didik.
Total aspek yang diamati ada 19 aspek. Dari 19 aspek ada beberapa aspek yang
mengalami peningkatan yaitu menyampaikan tujuan pembelajaran, membimbing
kelompok melakukan analisis data dengan mengacu pada LKPD, membimbing
analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah, dan pengelolaan waktu. Peningkatan
ke empat aspek tersebut dikarenakan guru telah berhasil melakukan perbaikan pada
pelaksanaan tindakan yang belum terlaksana pada pertemuan sebelumnya. Selain itu
kondisi belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru sudah sepenuhnya melibatkan
peserta didik secara aktif. Dengan demikian guru sudah memberikan bimbingan
kepada peserta didik dalam keterlaksanaan pengelolaan pembelajaran berdasarkan
langkah-langkah Pembelajaran Berbasis Masalah, sehingga peserta didik lebih kreatif
dalam merumuskan masalah, merancang penyelesaian tersebut sehingga peningkatan
aktivitas peserta didik dapat terukur dan teramati.
Keterlaksanaan RPP dalam pengelolaan pembelajaran selalu memiliki katagori
baik yaitu aspek yang menunjukan peran guru dalam pengelolaan kelas (aspek 1-19).
Hal ini sejalan dengan pendapat Hosnan (2014:36) yang menytakan bahwa peran guru
dalam keterlaksanaan pembelajaran adalah sebagai fasilitator. Hal ini sesuai dengan
tuntutan kurikulum 2013, dimana keterlaksanaan RPP dalam kegiatan belajar
mengajar yaitu, menyediakan sumber belajar, mendorong peserta didik berinterkasi
dengan sumber belajar (menugaskan), mengajukan pertanyaan agar peserta didik
177
memikirkan hasil interaksinya, memantau presepsi dan proses berpikir peserta didik
serta memberikan scaffodling, mendorong peserta didik untuk merefleksikan
pengalaman belajar.
Keterlaksanaan RPP dalam pengelolaan pembelajaran melalui model
Pembelajaran Berbasis Masalah pada penelitian ini menggunakan pendekatan
saintifik (langkah-langkah ilmiah), hal ini sejalan dengan pendapat Putra (2013:18)
[4] yang menyatakan bahwa pembelajaran sains harus dikembangkan terhadap
peserta didik sebagai pengalaman yang bermakna. Sains tidak hanya mengutamakan
hasil (produk), tetapi proses juga sangat pentng dalam membangun pengetahuan
peserta didik.
Respon peserta didik terhadap model pembelajaran berbasis masalah yang
diterapkan pada konsep sistem pernapasan pada manusia di SMP Negeri 1 Kandangan
kelas VIII-C dapat diterima dengan respon yang baik dalam proses belajar mengajar.
Menurut Sanjaya (2011:21) [5] model pembelajaran merupakan strategi yang
menunjuk pada sebuah perencanaan untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran
agar dapat dicapai secara efektif dan efisien, dengan respon yang baik dan dapat
diterima oleh peserta didik serta menumbuhkan minat dan motivasi dalam belajar
maka proses pembelajaran berjalan sesuai harapan dan tujuan. Hasil respon peserta
didik yang diambil dari angket respon peserta didik menunjukan bahwa banyak
peserta didik menyukai model pembelajaran berbasis masalah. Walaupun beberapa
peserta didik juga berpendapat bahwa penerapam model pembelajaran berbasis
masalah membuat beberapa peserta didik merasa tidak dapat berkomunikasi dengan
baik dengan guru maupun peserta didik lain. Hal itu karena masih ada beberapa
peserta didik yang pasif dan malu mengemukakan pendapatnya. Meskipun demikian,
pembelajaran berbasis masalah mendapat respon yang sangat baik dari peserta didik,
hal ini ditunjukan dengan banyaknya peserta didik yang memilih Ya dan hanya sedikit
peserta didik yang memilih tidak. Ini membuktikan bahwa penggunaan model
pembelajaran berbasis masalah telah diterima peserta didik.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anisah (2013) [1]
menunjukkan bahwa respon peserta didik kelas X3 SMAN 1 Sungai Tabuk.
Berdasarkan angket respon peserta didik sangat tinggi dengan persentase 89% peserta
didik memilih respon (ya) dalam menggunakan model pembelajaran berdasarkan
masalah. Penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dapat membantu peserta
didik mengembangkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah, mereka juga
merasa lebih mudah mengerjakan soal-soal tes dan melatih kerjasama dalam kelompok
untuk mengumpulkan informasi serta aktif dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan
hasil penelitian pada siklus II, penelitian ini dapat dikatakan berhasil karena telah
memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditentukan sehingga tidak perlu
melanjutkan ke siklus berikutnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab
sebelumnya, maka penelitian yang telah dilakukan pada peserta didik kelas VIII-C
SMPN 1Kandangan dapat disimpulkan sebagai berikut:
178
1. Hasil belajar kognitif pengetahuan (pretes & postes) peserta didik mengalami
peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 81,48% pada siklus siklus I menjadi
85,18% pada siklus II. Hasil belajar kognitif proses (LKPD) peserta didik
mengalami peningkatan 79,16% pada siklus I menjadi 88,89% pada siklus II
2. Aktivitas peserta didik terhadap penerapan model pembelajaran berbasis masalah
dalam pembelajaran mengalami peningkatan 92,03% (sangat baik) pada siklus I
menjadi 97,53% (sangat baik) pada siklus II.
3. Keterlaksanaan RPP dalam mengelola kegiatan pembelajaran mengalami
peningkatan 94,73% (sangat baik) pada siklus I menjadi 100% (sangat baik) pada
siklus II.
4. Respon peserta didik terhadap pembelajaran berbasis masalah pada konsep sistem
pernapasan pada manusia mendapat respon yang sangat baik dari peserta didik
sebesar 92,60%.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Anisah. 2013. Meningkatkan proses dan hasil belajar terhadap peserta didik kelas
X-3 SMAN 1 Sungai Tabuk pada konsep ekosistem melalui model pembelajaran
berdasarkan masalah. Skripsi: STKIP PGRI Banjarmasin
[2] Hasanah, Nor Izzatil. 2020. Meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII-C konsep
sistem pernapasan manusia melalui model pembelajaran berbasis masalah di
SMP Negeri 1 Kandangan. Skripsi: STKIP PGRI Banjarmasin
[3] Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
[4] Putra, Sitiatava Rizema. 2013. Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains.
Yogyakarta: Diva Press
[5] Sanjaya, Wina. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenata Media
[6] Sardiman, A.M. 2010, Interaksi dan Motivasi belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada
[7] Slameto. 2010. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta: Rineka
Cipta
[8] Syah, Muhibbin. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Grafindo Persada
179
KEANEKARAGAMAN IKAN DI RAWA DESA SURIAN
HANYAR KECAMATAN CINTAPURI DARUSSALAM
KABUPATEN BANJAR
ABSTRAK
Rawa merupakan kawasan rendah yang senantiasa memiliki kepekaan tergenang air pada
kurun waktu tertentu maupun sepanjang tahun. Ikan merupakan salah satu sumber daya
penting yang dapat memberikan manfaat antara lain untuk ekonomi Kecamatan Cintapuri
Darussalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis ikan yang hidup di rawa
Kecamatan Cintapuri Darussalam Kabupaten Banjar. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode observasi dan deskriptif. Sampel penelitian adalah ikan yang
tertangkap pancing dan jala. Pemancingan dilakukan selama 20 menit dan pelemparan
jala dilakukan sebanyak 3 kali pelemparan di setiap titik stasiun pengambilan sampel.
Jumlah spesies yang ditemukan sebanyak 7 spesies dengan jumlah semuan jenis ikan 250
ekor yang terdiri dari ikan gabus, ikan betok, ikan sepat, ikan karper, ikan senggaringan,
ikan lele lokal, ikan lais. Jenis yang masuk ke dalam 2 ordo dan 6 family. Jenis ikan yang
ditemukan di dua stasiun dengan 10 titik. Kemelimpahan relatife tertinggi diantaranya
adalah betok 110 (anabas testudines) dan gabus 88 (channa striata). Ikan di Rawa Desa
Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam Kabupaten Banjar keanekaragaman nya
masuk ke dalam kategori sedang.
ABSTRACT
Swamp is a low area that is always sensitive to water logging at certain times or
throughout the year. Fish is one of the important resources that can provide benefits,
among others, for the economy of Cintapuri Darussalam District. This study aims to
determine the types of fish that live in the swamps of Cintapuri Darussalam District,
Banjar Regency. The methods used in this research are observational and descriptive
methods. The research sample is fish caught by fishing line and nets. The fishing is
carried out for 20 minutes and throwing the nets is done 3 times at each point of the
sampling station. The number of species found was 7 species with 250 fish consisting of
snakehead fish, betok fish, sepat fish, carp, senggaringan fish, local catfish, and lais. The
type that belongs to 2 orders and 6 families. Types of fish found in two stations with 10
points. The highest relative abundances were Betok 110 (Anabas testudines) and Cork 88
(Channa striata). Fish in Swamp, Surian Hanyar Village, Cintapuri Darussalam District,
Banjar Regency, its diversity falls into the medium category.
PENDAHULUAN
Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau
musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara
181
fisika, kimiawi, dan biologis. Di Indonesia, rawa–rawa biasanya terdapat di hutan.
Definisi yang lain dari rawa adalah semua macam tanah berlumpur yang terbuat secara
ilmiah, atau buatan manusia dengan mencampurkan air tawar dan air laut, secara
permanen atau sementara, termasuk daerah laut yang dalam airnya kurang dari
6 m pada saat air surut yakni rawa dan tanah pasang surut. Rawa-rawa yang memiliki
penuh nutrisi adalah gudang harta ekologis untuk kehidupan berbagai macam makhluk
hidup.
Rawa-rawa juga disebut "Pembersih alami", karena rawa-rawa itu berfungsi
untuk mencegah polusi atau pencemaran lingkungan alam. Dengan alasan itu, rawa-
rawa memiliki nilai tinggi dalam segi ekonomi, budaya, lingkungan hidup dan lain-
lain, sehingga lingkungan rawa harus tetap dijaga kelestariannya (Kordi, 2013:39).
Keanekaragaman jenis ikan di Indonesia sangat tinggi, diperkirakan terdapat
4000 - 6000 jenis ikan di seluruh perairan Indonesia (LIPI, 2010). Di Indonesia
terdapat 1300 jenis ikan yang hidup di perairan tawar (Wargasasmita, 2002). Family
Cyprinidae memiliki lebih dari 3.268 spesies dan 321 genus yang merupakan salah
satu Famili ikan air tawar terbesar di dunia (Cunha et al.,2002; Liu and Chen,2003).
Ikan adalah hewan yang berdarah dingin, ciri khasnya adalah mempunyai tulang
belakang, umumnya bernafas menggunakan insang, pergerakan dan keseimbangan
badannya menggunakan sirip, dan sangat bergantung pada air sebagai medium dimana
tempat mereka tinggal secara sistematik ditempatkan pada Filum Chordata dengan
karakteristik memiliki insang yang berfungsi untuk mengambil oksigen terlarut dari
dalam air dan juga dilengkapi dengan sirip yang berfungsi untuk berenang menurut
Adrim (2010).
Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam Kabupaten Banjar di
Provinsi Kalimantan Selatan, indonesia. Luas wilayah daerah adalah 8,50 Km 2 dan
penduduk kurang lebih 1500 jiwa (Ditjen Administrasi Depdagri 2018). Keberadaan
ikan-ikan di rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam sudah mulai
sangat berkurang, baik dari jumlah maupun keanekaragaman jenis ikan itu sendiri, di
karenakan banyak aktivitas masyarakat dalam mengambil ikan yang bersifat
merugikan dan dapat mengancam keanekaragaman jenis serta populasi ikan, seperti:
penggunaan setrum, penggunaan potas dan bahan lainnya yang dapat mengancam
kehidupan ikan yang ada di rawa
Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan penelitian tentang keaneka
ragaman ikan di Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam Kabupaten
Banjar.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan
deskriptif. Metode observasi digunakan dengan alasan peneliti melakukan pengamatan
secara langsung ke lapangan sehingga dapat mengetahui jenis ikan yang hidup di rawa
182
Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam. Metode Deskriptif yang
digunakan adalah identifikasi morfologi pada ikan yang ada di lapangan.
Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi, untuk mendapatkan data yang
diharapkan dapat mewakili daerah penelitian. Pengambilan sampel dilakukan secara
terpilih (purposive sampling) yaitu berdasarkan pertimbangan diwakilinya gambaran
keadaan perairan rawa, terutama berkaitan dengan kegiatan penangkapan ikan di rawa.
Teknik pengambilan Sampel
Untuk mengambil sampel jenis ikan rawa dilakukan pada pagi dan siang hari
08.00 - 17.00. Yang terdiri dari 2 Stasiun pengambilan. 2 stasiun terdiri dari 10 titik
atau sebanyak 3 x pengambilan sampel. Lokasi stasiun 1 dan 2 terletak di Desa Surian
Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam oleh masyarakat sekitar yang luasnya
kurang lebih mencapai 2343 hektar.
Analisis jenis Ikan
Analisis jenis ikan di rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri
Darussalam menggunakan identifikasi dalam bentuk Deskripsi. Pada pendeskripsian
biasanya menampilkan ciri-ciri morfologi ikan diantaranya bersisik atau tidak. Tipe
mulut, warna tubuh, sirip punggung, bentuk sirip ekor, kisaran panjang tubuh total,
kisaran lebar tubuh total. Klasifikasi, serta kualitas perairan meliputi suhu, pH, kadar
oksigen terlarut (DO), dan kecerahan. Untuk identifikasi jenis ikan menggunakan
kunci identifikasi menurut Hasanuddin Saanin (1968).
Kelimpahan Ikan
Kelimpahan ikan dihitung dengan menggunakan metode UVC (Underwater
Visual Census) yaitu mencatat semua jenis ikan yang terdapat pada luasan transek
(Manuputty dan Winardi, 2007). Kelimpahan adalah banyaknya jumlah individu dan
jumlah jenis yang ditemukan dalam satuan luas daerah pengamatan. Kelimpahan total
ikan dikelompokkan menurut stasiun, kemudian disajikan dalam bentuk grafik atau
table.
Indeks Keanekaragaman Jenis
Menurut Herdiansyah (2010;35) indeks keanekaragaman jenis dirumuskan
sebagai berikut:
ni
H’= - pi Ln pN
Keterangan:
H’ = Indeks keanekaragaman jenis
Pi = ni/N (peluang kepentingan untuk setiap jenis ikan)
ni = jumlah spesies jenis ikan yang diperoleh
N = jumlah spesies keseluruhan
Nilai indeks keanekaragaman jenis (diversitas) ini menurut Shannon Wiener
didefinisikan sebagai berikut:
Jika H’ < 1 maka keanekaragaman jenis rendah
183
Jika H’ = 1-3 maka keanekaragaman jenis sedang
Jika H’ > 3 maka keanekaragaman tinggi.
HASIL PENELITIAN
Hasil Penelitian Ikan
NO NAMA NAMA ILMIAH ORDO FAMILY JML
184
Tabel Keanekaragaman Ikan Di Rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri
Darussalam Kabupaten Banjar
Parameter Lingkungan
5 TDS 82 44 89 44 – 89
6 Kejernihan Air (cm) 130 120 125 120 – 130
7 Suhu Air (℃ ) 29 32 26 26 – 32
Tabel Hasil Pengukuran Parameter Lingkungan.
PEMBAHASAN
Jenis ikan yang ditemukan di Rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri
Darussalam Kabupaten Banjar
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Rawa Desa Surian Hanyar
Kecamatan Cintapuri Darussalam Kabupaten Banjar dengan daerah yang berbeda-
beda yaitu di dua stasiun pengambilan sampel ikan yang tertangkap menggunakan
pancing maupun jala, diperoleh 250 ekor
Total jumlah ikan yang didapat sepanjang Rawa Desa Surian Hanyar paling
banyak ditemukan adalah jenis anabas testudines sebanyak 110 ekor, diikuti oleh
channa striata sebanyak 88 ekor dan belontia hasselti sebanyak 23 ekor. Sedangkan
jumlah total ikan paling sedikit adalah jenis ikan trichogaster trichopterus, mystus
singaringan, clarias batrachus, ompok rhadinurus, masing-masing hanya 1-12 ekor.
Jumlah total ikan berhubungan dengan kehadiran jenis ikan di stasiun pengamatan.
Dan jenis ikan tersebut termasuk 2 ordo yaitu perciformes, dan siluriformes. Termasuk
6 family channidae, anabantidae, belontiidae, bagridae, clariidae, siluridae. Kehadiran
ikan berpengaruh terhadap jumlah jenis, individu, family dan mempengaruhi pula
dengan nilai keanekaragaman, kemerataan serta dominansi pada setiap stasiun
(Magurran 1988).
Sedangkan kemelimpahan ikan juga ditentukan oleh karakteristik habitat
perairan. Kecepatan arus rawa ditentukan perbedaan kemiringan rawa dan keberadaan
tumbuhan di sepanjang daerah aliran sungai yang berasosiasi dengan keberadaan
satwa penghuninnya (Ross 1997 dalam Yustina 2001). Selama penelitian dilakukan di
Rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam dapat diketahui bahwa
185
kemelimpahan ikan yang didapat adalah ikan betok (anabas testudines) sebanyak 110
ekor dan ikan gabus (channa striata) sebanyak 88 ekor. Ikan memiliki kemelimpahan
yang beragam pada waktu dan lokasi yang berbeda. Jenis-jenis ikan tersebut memiliki
kelimpahan tertinggi karena memiliki kemampuan dalam beradaptasi dan dapat
memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada untuk mencukupi hidup (Mann 1981
dalam Gonawi 2009).
Keanekaragaman jenis ikan yang di dapat selama penelitian di Rawa Desa Surian
Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam yaitu gabus, betok, sepat, karper,
Senggaringan, lele lokal, lais. Perhitungan selama penelitian yang telah dilakukan di
Rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam Kabupaten Banjar. Nilai
Indeks Keanekaragaman Jenis ini rendah. Keanekaragaman dan kelimpahan ikan juga
ditentukan oleh karakteristik habitat perairan. Kecepatan arus rawa ditentukan
perbedaan kemiringan rawa dan keberadaan tumbuhan di sepanjang daerah aliran rawa
yang berasosiasi dengan keberadaan satwa penghuninnya (Ross 1997 dalam Yustina
2001).
186
pengamatan. Kemampuan dalam mencari makan juga mempengaruhi kemelimpahan
jenis ikan. Jenis ikan catfish (Bagridae, Siluridae dan Claridae) memiliki semacam
sungut/ babel yang berfungsi dalam mendeteksi sumber makanan. Jenis ikan catfish,
umumnya memiliki tipe mulut inferior yang memungkinkan ikan mendapatkan
makanan di dasar rawa (Heok 2009).
Jenis-jenis ikan yang dapat dijumpai dan sangat melimpah di berbagai stasiun di
Rawa desa surian hanyar kecamatan cintapuri darussalam menunjukkan jenis-jenis
ikan yang bersifat kosmopolitan. Hal ini dapat dilihat pada anabas testudines, channa
striata dan belontia hasselti Jenis ikan tersebut mampu menyesuaikan dengan kondisi
habitat yang dikunjunginya sehingga memiliki jumlah yang melimpah. Adanya
banyak sumberdaya terutama makanan dan jarang dijumpai aktivitas manusia
merupakan faktor penting dalam kelangsungan kehidupan ikan.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa faktor ketersediaan makanan merupakan
salah satu penyebab banyaknya jenis ikan yang mengunjungi habitat stasiun tertentu
sebagai tempat perawatan ikan. Panjang dan luasnya area pengamatan pada stasiun
juga mempengaruhi jumlah jenis yang ditemukkan, semakin panjang dan lebar ukuran
rawa semakin banyak pula jumlah jenis ikan yang menempati (Whitton 1975, Kottelat
et al 1993). Sehingga pada titik stasiun tertentu menemukan paling banyak jenis ikan.
Kondisi lingkungan yang memiliki kadar salinitas yang tinggi pada stasiun juga
mempengaruhi dibandingkan dengan stasiun lain karena ikan ini tahan terhadap kadar
salinitas yang tinggi (Beamish et al 2003). Luciochephalus pulcer menjadi jenis ikan
yang jarang dijumpai karena hidup endemik di daerah yang memiliki vegetasi
pepohonan (Shah et al 2006).
Keberadaan ikan di suatu tempat tidak terlepas dari kondisi habitat sebagai
penyedia sumberdaya bagi kebutuhan hidup ikan. Adanya variasi kondisi habitat
menyebabkan ikan harus berinteraksi termasuk beradaptasi dengan habitatnya. Bentuk
adaptasi ikan terhadap habitat antara lain adaptasi morfologi pada tipe letak mulut, tipe
gigi rahang bawah dan bentuk sirip ekor. Tipe letak mulut, tipe gigi rahang bawah dan
bentuk sirip ekor menunjukan adaptasi ikan terkait dengan sumberdaya makanan dan
cara memperolehnya (guild). Pengelompokan ikan berdasarkan cara memperoleh
makanan (guild) telah dikenal yaitu herbivora endogenus (pemakan lumut dan alga),
herbivora eksogenus (pemakan buah, daun dan biji yang jatuh ke sungai), karnivora
pemakan binatang kecil (pemakan plakton, nematoda dan rotifera), karnivora pemakan
serangga, karnivora pemakan ikan lain dan omnivora (Kottelat et al 1993).
187
Indeks keanekaragaman ikan yang didapatkan adalah 1,323 yang mana hasil tersebut
masuk ke dalam kategori sedang.
Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) di Rawa Desa Surian Hanyar
Kecamatan Cintapuri Darussalam Kabupaten Banjar menandakan bahwa. Nilai
tersebut menunjukkan bahwa komunitas ikan di Rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan
Cintapuri Darussalam Kabupaten Banjar banyak jenis dan beranekaragam, dan sangat
melimpah terutama ikan betok, gabus. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan dan luas wilayah rawa sebagai habitat bagi ikan. Kondisi lingkungan
terutama pada kualitas perairan berpengaruh pada kehidupan ikan, sedangkan untuk
luas wilayah berpengaruh pada populasi dan pembentukan komunitas ikan.
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:
Jenis ikan yang tertangkap di Rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri
Darussalam berjumlah 7 jenis ikan. Adapun jenis ikan tersebut yaitu, gabus, betok,
sepat, karper, senggiringan, lele local, lais. 6 family tersebut yaitu channidae,
anabantidae, belontiidae, bagridae, clariidae, siluridae.
Kemelimpahan relatife tertinggi diantaranya adalah betok 110 (anabas testudines) dan
gabus 88 (channa striata).
Ikan di Rawa Desa Surian Hanyar Kecamatan Cintapuri Darussalam keanekaragaman
nya masuk ke dalam kategori sedang, ada 7 ekor jenis keanekaragaman ikan yang
ditemukan selama penelitian.
DAFTAR RUJUKAN
Achjar, Moh. & Rismunandar. 1986. Perikanan Darat. Bandung: CV Sinar Baru.
Beamish, F W H, Beamish R B & Lim S LH. 2003. Fish Assemblagages and Habitat
in a Malaysian Blackwater Peat Swamp. Environmental Biology of Fish 68: 1-
13.
Djuhanda, Tatang. 1981. Dunia ikan. Bandung: Armico
Gonawi G R. 2009. Habitat Struktur Komunitas Nekton Di Sungai Cihideung- Bogor
Jawa Barat (Skripsi). Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Heok TH. 2009. Rasbora Patricyapi, A New Species of Cyprinid Fish
From Central Kalimantan, Borneo. Journal of Zoology 57 (2): 505- 509.
Hardiansyah . H. M. 2010. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Banjarmasin: Kementerian
Pendidikan Nasional Universitas Lambung Mangkurat. Fakultas Keguruan Dan
ilmu Pendidikan.
Kulsum. 2013 Keanekaragaman Jenis Ikan Pada Terumbu Karang Di Pantai Angsana
Kecamatan Angsana Kabupaten Tanah Bumbu. (Skripsi). Banjarmasin:
Program Pascasarjana Skripsi STKIP-PGRI Banjarmasin Jurusan Pendidikan
Biologi.
Kordi. K. M. G. H. 2013. Budidaya Ikan Konsumsi Di Air Tawar. Yogyakarta: Lily
Publisher.
188
Kottelat,M; A.J. Whitten, S.N. Kartikasari dan S. Wirjoatmodjo. 1993. Ikan air tawar
Indonesia bagian Barat dan Sulawesi. Periplus ed, (Hk) dan Menteri Negara
kependudukan dan LH, Republik Indonesia.
Kottelat M , Anthony J. W, Sri Nurani K & Soetikno W. 1993. Freshwater
Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Jakarta : Periplus Editios (HK)
LIPI. 2010. Ikan di Indonesia. On line at [Link]
Mulyanto, 1995. Dasar-dasar Pengelolaan Sumberdaya Perairan. Sekolah Tinggi
Perikanan, Jakarta.
Nurudin. 2013 Keanekaragaman Jenis Ikan Di Sungai Sekonyer Taman Nasional
Tanjung Puting Kalimantan Tengah.(Skripsi). Semarang: Program Prasarana
Universitas Negeri Semarang Jurusan Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu
Pengetahuan Alam.
Novri F. 2006. Analisis Hasil Tangkapan dan Pola Musim Penangkapan Ikan Tenggiri
(Scomberomorus spp.) di Perairan Laut Jawa Bagian Barat Berdasarkan Hasil
Tangkapan yang Didaratkan di PPI Muara Angke Jakarta Utara. (Skripsi).
Bogor: Institit Pertanian Bogor
Radiopoetro. 1991. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Rahardjo, M.F. dkk, IKTIOLOGI. Bandung: Lubuk Agung, 2011
Ronny.2014. Barito Selatan Pelatihan Budi Daya Ikan Lokal.
[Link]
daya-ikan-lokal. Diakses tanggal 4 juli 2020
189
PEMBUDIDAYAAN LEBAH KELULUT (Trigona sp.)
DI DESA JATUH KECAMATAN PANDAWAN
KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH
ABSTRAK
Lebah kelulut (Trigona sp.) merupakan hewan yang sedikit menghasilkan madu tetapi
banyak memproduksi propolis. Madu yang dihasilkan oleh lebah kelulut ini bermanfaat
bagi kesehatan. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengembangan budidaya lebah
kelulut (Trigona sp.) di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai
Tengah. Metode yang digunakan adalah R&D (Research and Development). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa budidaya lebah kelulut (Trigona sp.) di Desa Jatuh
menggunakan teknik log sarang dan pembudidayaan lebah kelulut (Trigona sp.) tersebut
terdiri dari beberapa tahapan yaitu tahap pertama pencarian bibit lebah kelulut, tahap
kedua pembuatan toping madu, tahap ketiga pemindahan dan penyambungan log sarang,
tahap keempat pemeliharaan sarang lebah kelulut, dan tahap kelima atau terakhir
pemanenan madu lebah kelulut.
ABSTRACT
Kelulut bees (Trigona sp.) are animals that produce little honey but produce a lot of
propolis. The honey produced by kelulut bees is beneficial for health. The research
objective was to determine the development of cultivation kelulut bees (Trigona sp.) in
Jatuh Village, Pandawan District, Hulu Sungai Tengah Regency. The method used is
R&D (Research and Development). The results showed that the cultivation of kelulut bees
(Trigona sp.) in Jatuh Village used the nest log technique and cultivation of kelulut bees
(Trigona sp.) consists of several stages, namely the first stage of searching for kelulut bee
seeds, the second stage of making honey topping, the third stage of removing and
connecting the hive logs, the fourth stage of maintaining kelulut beehives, and the fifth or
final stage of harvesting kelulut honey.
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat tinggi dan berlimpah.
Kekayaan yang terkandung di dalamnya sangat beraneka ragam terutama dari hasil
hutan, baik berupa hasil hutan kayu (HHK) maupun hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Kekayaan sumber daya hutan mempunyai nilai ekonomi tinggi yang dapat menunjang
kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu merupakan salah satu sumber daya
alam yang memiliki nilai ekonomis (Ichwan et al., 2016).
Pembudidayaan lebah madu jika dikelola secara intensif dan modern akan
memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung yang dapat
191
diperoleh yaitu dihasilkannya berbagai produk lebah madu seperti madu, royal jelly,
propolis, tepung sari, lilin, perekat dan racun lebah. Manfaat tidak langsung yang dapat
diperoleh dari budidaya lebah madu yaitu berkaitan dengan proses pelestarian sumber
daya hutan, peningkatan produktivitas tanaman dan adanya hubungan simbiosis yang
saling menguntungkan (Ichwan et al., 2016).
Lebah kelulut (Trigona sp.) merupakan salah satu sumber daya hutan non kayu
yang potensial untuk dibudidayakan serta tersedianya sumber pakan yang berlimpah.
Hampir semua tumbuhan yang menghasilkan bunga dapat dijadikan sebagai sumber
pakan lebah baik yang berasal dari tanaman hutan, tanaman pertanian maupun tanaman
perkebunan. Berdasarkan penelitian, bahwa madu lebah kelulut (Trigona sp.) banyak
manfaatnya untuk kesehatan terutama propolis yang dihasilkan lebah tersebut (Ichwan
et al., 2016).
Banyak orang yang belum mengetahui manfaat dari madu dan propolis lebah
kelulut (Trigona sp.) sehingga mengakibatkan tidak banyak yang membudidayakan
koloni hewan tersebut termasuk di Desa Jatuh. Hal ini karena sebagian besar
masyarakat belum mengetahui teknik atau cara dalam membudidayakan lebah
tersebut. Hanya sebagian kecil masyarakat di Desa Jatuh yang mengetahui tentang
manfaat maupun teknik budidaya lebah kelulut (Trigona sp.).
Pembudidayaan lebah kelulut (Trigona sp.) dipengaruhi oleh beberapa faktor
pendukung. Adapun faktor pendukung antara lain keadaan sosial ekonomi masyarakat,
iklim, ketersediaan pakan dan potensi sumber daya alam yang mendukung
perkembangan lebah kelulut (Trigona sp.) tersebut. Manfaat membudidayakan lebah
kelulut (Trigona sp.) antara lain: 1) manfaat ekologis: proses penyerbukan oleh lebah
dalam keterkaitan pakan, 2) manfaat ekonomi: produk–produk yang dihasilkan lebah
kelulut (Trigona sp.) berupa madu, propolis, bee pollen dan lain-lain, 3) manfaat
sosial: sebagai sumber penghasilan, membuka peluang usaha bagi masyarakat, obyek
penelitian dan sebagai potensi daerah (Dyah, 2015).
Lebah kelulut (Trigona sp.) merupakan salah satu jenis dari genus Meliponinae
yaitu jenis lebah madu yang tidak bersengat (stingless bee) (Dyah, 2015). Tetapi lebah
ini memiliki sengat sisa, namun tidak digunakan sebagai alat pertahanan. Lebah ini
akan mengigit musuhnya atau membakar kulit musuhnya dengan larutan basa. Organ
vital (mata, hidung dan telinga) musuh akan dikelilingi oleh lebah lain dalam satu
koloninya. Lebah ini juga dilengkapi sistem kekebalan untuk menyerang serangga
pengganggu lain. Lebah trigona adalah serangga kecil berwarna hitam, dengan panjang
tubuh antara 3-4 mm, serta rentang sayap 8 mm (Surata, 2017). Lebah pekerja
memiliki kepala besar dan rahang panjang. Sedang lebah ratu berukuran 3-4 kali
ukuran lebah pekerja, perut besar mirip laron, berwarna kecoklatan dan mempunyai
sayap pendek.
Lebah kelulut (Trigona sp.) merupakan salah satu serangga sosial yang hidup
berkelompok membentuk koloni. Salah satu koloni lebah ini berjumlah 300 sampai
80000 lebah. Lebah ini banyak dijumpai di daerah tropis dan subtropis seperti di
Amerika Selatan, Australia dan Asia Tenggara. Lebah Trigona sp. ini di Indonesia
192
memiliki beberapa nama daerah, yaitu kelulut (Kalimantan), galo-galo (Sumatera),
klanceng, lenceng (Jawa), dan te’uweul (Sunda) (Syafrizal et al., 2014). Koloni lebah
Trigona sp. terdiri dari golongan reproduktif meliputi satu ekor lebah ratu (queen) dan
ratusan ekor lebah jantan (drones) dan golongan non reproduktif yaitu ribuan sampai
seratus ribu lebah pekerja.
Produksi dan perkembangan dari lebah kelulut (Trigona sp.) ini sangat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan, meliputi suhu, kelembaban udara, curah hujan dan
ketinggian tempat. Di samping itu ketersedian pakan sangat menentukan keberhasilan
budidaya lebah kelulut (Trigona sp.). Dalam upaya peningkatan produksi madu baik
dari segi kualitas maupun kuantitas sangat berkaitan dengan temperatur udara,
kebersihan dan keamanan stup, penggunaan stup yang modern, penerapan teknik
budidaya lebah yang baik, serta pengendalian hama dan penyakit lebah. Lebah kecil
yang tidak memiliki sengat ini tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga propolis
yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu
Sungai Tengah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-April 2020. Alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah alat perekam suara, alat tulis untuk mencatat
hasil wawancara dan kamera yang akan digunakan untuk dokumentasi saat peneliti
melakukan penelitian.
Adapun bahan yang dipakai ketika melakukan wawancara adalah kuesioner
yang akan diberikan kepada responden yaitu peternak lebah kelulut (Trigona sp.) di
Desa Jatuh Kecamatan Pandawan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Metode penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini yaitu R&D (Research and Development).
Menurut Sugiyono (2009) penelitian pengembangan (Research and Development)
adalah aktivitas riset dasar untuk mendapatkan informasi kebutuhan pengguna (needs
assessment), kemudian dilanjutkan kegiatan pengembangan untuk menghasilkan
produk dan menguji keefektifan produk tersebut.
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung ke tempat pembudida-
yaan lebah kelulut serta melakukan wawancara dengan peternak lebah kelulut
(Trigona sp.) tentang budidaya lebah kelulut tersebut. Analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif adalah
suatu bentuk penelitian yang paling dasar ditujukan untuk mendeskripsikan atau
menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah
maupun yang bersifat rekayasa manusia (Sugiyono, 2013).
193
penyambungan log sarang, pemeliharaan lebah kelulut serta pemanenan madu lebah
kelulut. Tahapan-tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut.
1. Tahap Pencarian Bibit
Bibit (sarang) lebah kelulut dapat diperoleh dari alam dan dapat membeli
langsung dari peternak lain. Bibit lebah kelulut yang dicari di alam adalah lebah kelulut
yang bersarang di pohon-pohon besar seperti di pohon kelapa, pohon jambu, pohon
jati dan lain-lain. Lebah kelulut yang bersarang di pohon bambu atau pohon kecil
lainnya tidak diambil karena tidak sesuai dengan teknik yang akan digunakan yaitu
teknik log sarang (natural).
Sarang lebah kelulut yang diperoleh dari alam kemudian dipotong dengan
gergaji mesin secara hati-hati dengan ukuran minimal 1,5 m dari pintu masuk sarang
lebah kelulut. Proses pemotongan dapat dilakukan pada siang hari dan saat
pemotongan pintu masuk sarang bisa ditutup atau bisa tidak tergantung koloni lebah
di dalam sarang. Penutupan pintu masuk sarang lebah kelulut dilakukan agar peternak
tidak dikerumuni dan digigit oleh koloni lebah caranya dengan memencet pintu masuk
sarang atau menutup dengan kain kasa (kapas). Apabila bibit lebah kelulut diperoleh
dari peternak lain maka sarang lebah tersebut langsung saja dipindahkan ke lahan
pembudidayaan. Proses pemotongan sarang lebah dapat dilihat pada Gambar 1 dan
Gambar 2.
194
2. Tahap Pembuatan Toping Madu
Toping madu dapat dibuat dari kayu meranti atau jati karena lebih tahan lama,
kuat dan tidak cepat lapuk. Toping madu dibuat berbentuk kotak dengan ukuran yaitu
panjang kayu bagian bawah 30 × 30 cm dengan tinggi 15 cm, panjang kayu bagian
atas 31 × 31 cm (lebih besar) dengan tinggi kotak 5 cm dan bagian bawah kotak harus
diberi lubang di tengah-tengah dengan ukuran 7 × 8 cm. Bagian samping kotak (toping
madu) diberi pegangan untuk memudahkan dalam pengikatan dan pemanenan madu.
Toping madu yang sudah selesai dibuat kemudian dibersihkan dengan kain
(kuas) supaya tidak ada serbuk-serbuk kayu yang tersisa. Antara bagian bawah dan
bagian atas toping madu harus diberi plastik transparan agar memudahkan dalam
pengontrolan, pemeliharaan sarang dan pemanenan madu. Proses pembuatan toping
madu dapat dilihat pada Gambar 3, Gambar 4 dan Gambar 5.
195
3. Tahap Pemindahan dan Penyambungan Log Sarang
Pemindahan log sarang ke lahan dilakukan setelah sarang lebah kelulut yang
diperoleh di alam sudah dipotong atau dibeli dari peternak lebah lain. Pemindahan log
sarang lebah kelulut dilakukan pada malam hari secara hati-hati setelah semua lebah
berkumpul di sarang. Pintu masuk sarang lebah bisa ditutup dengan kain kasa (kapas)
atau memencet pintu masuk sarang, jika jarak pemindahan sarang lebah cukup jauh
dari lahan budidaya. Hal tersebut dilakukan agar pada saat pemindahan lebah tidak
keluar (kabur) dari sarang.
Log sarang yang sudah dipindahkan ke lahan didiamkan terlebih dahulu selama
15 hari agar lebah kelulut dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Selama 15
hari tersebut peternak lebah dapat menyiapkan bahan-bahan untuk proses
penyambungan log sarang seperti membuat toping madu, menyiapkan tiang ulin, atap
daun, seng dan tali. Proses penyambungan log sarang alangkah baiknya dilakukan
pada jam 9 pagi – 2 sore disaat terik matahari karena saat itu resin tanaman (getah
pohon) keluar. Jadi, lebah kelulut dapat mengambil getah tersebut untuk menutupi
rongga-rongga (celah-celah) log sarang.
Proses penyambungan log sarang yang pertama dilakukan adalah pemasangan
tiang ulin ke dalam tanah sekitar 50 cm dengan panjang tiang 150 cm. Selanjutnya
adalah pemasangan log sarang ke tiang ulin tersebut kemudian memotong bagian atas
log sarang dengan gergaji mesin secara bertahap sedikit demi sedikit sampai terlihat
rongga batang pohon atau sarang lebahnya. Setelah itu, dilakukan pemasangan toping
madu yang sudah pakai plastik ke atas log sarang yang sudah dipotong bagian atasnya.
Kemudian dilakukan pengikatan antara tiang ulin dengan log sarang dan toping madu
dengan log sarang menggunakan tali. Selanjutnya pemasangan atap daun dan seng ke
bagian atas toping madu. Jarak antar sarang minimal 2 m dengan maksimal 20 sarang
per lahan, dan jarak antar lokasi (lahan) minimal 200 m atau semakin jauh semakin
baik. Proses penyambungan log sarang dapat dilihat pada Gambar 6, Gambar 7 dan
Gambar 8.
196
Gambar 7 Log Sarang Sudah Pakai Tiang Ulin dan Toping Madu
197
Gambar 10 Atap Daun dan Seng
5. Tahap Pemanenan Madu Lebah Kelulut
Pemanenan madu dilakukan tergantung lokasi masing-masing wilayah tersebut.
Madu lebah kelulut dapat dipanen antara bulan agustus - desember atau musim bunga.
Waktu pemanenan madu sekitar jam 9 pagi - 4 sore (tidak di waktu hujan). Rentang
waktu untuk memanen madu yaitu sekitar 15 hari setelah panen pertama yang dapat
menghasilkan lebih kurang 300 ml untuk 1 buah log sarang. Alat yang digunakan
untuk memanen madu lebah kelulut yaitu pisau kecil, penyaring (saringan) dan gelas
(tempat) untuk meletakkan madu tersebut.
Cara pemanenan madu lebah kelulut tergolong sangat mudah yaitu dengan
mengangkat toping madu yang berisi madu lebah kelulut dari log sarang dan dibawa
jauh dari tempat sarang agar saat pemanenan tidak dikerumuni oleh koloni lebah.
Kemudian semua kantong-kantong yang berisi madu lebah kelulut dibuka
menggunakan pisau kecil dengan meletakkan atau memegang toping madu tersebut
secara miring. Hal ini dilakukan agar madu tidak meleleh ke bagian tengah lubang
toping madu atau terbuang sia-sia.
Setelah semua kantong-kantong madu lebah kelulut dibuka selanjutnya madu
dituangkan ke dalam gelas dan disaring agar tidak ada kotoran yang ikut masuk.
Kemudian madu tersebut langsung dikemas ke dalam botol dan diberi label atau stiker
agar terlihat lebih indah dan menarik. Harga madu lebah kelulut ini relatif lebih mahal
daripada madu biasa karena masih belum banyak masyarakat yang
membudidayakannya dan mengetahui manfaat madu tersebut. Harga madu lebah
kelulut untuk 100 ml berkisar antara 40 ribu - 50 ribu rupiah. Proses pemanenan madu
lebah kelulut dapat dilihat pada Gambar 11, Gambar 12 dan Gambar 13.
198
Gambar12 Cara Memanen Madu Lebah Kelulut
SIMPULAN
Pembudidayaan lebah kelulut (Trigona sp.) di Desa Jatuh Kecamatan Pandawan
Kabupaten Hulu Sungai Tengah menggunakan teknik log sarang.
Pembudidayaan lebah kelulut (Trigona sp.) tersebut terdiri dari beberapa
tahapan yaitu tahap pertama pencarian bibit lebah kelulut, tahap kedua pembuatan
toping madu, tahap ketiga pemindahan dan penyambungan log sarang, tahap keempat
pemeliharaan sarang lebah kelulut, dan tahap kelima atau terakhir pemanenan madu
lebah kelulut.
DAFTAR PUSTAKA
Dyah, Septiantina R dan Krisnawati. 2015. Teknik Budidaya Lebah Madu Trigona sp.
(Online). ([Link] diakses 18
Februari 2020)
199
Ichwan, Fadli, Defri Yoza dan Evi Sri Budiani. 2016. Prospek Pengembangan
Budidaya Lebah Trigona spp. di Sekitar Hutan Larangan Adat Rumbio
Kabupaten Kampar. Mahasiswa Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Riau. Jom Faperta UR Vol 3 No 2 Oktober 2016. (Online).
([Link]
media/publications/[Link],
diakses 18 Februari 2020)
Surata, I.K. 2017. Budidaya Lebah Madu Kele-Kele (Trigona spp.). Buku saku /Buku
Pedoman.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV.
Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: CV.
Alfabeta.
Syafrizal, Daniel Tarigan dan Roosena Yusuf. 2014. Keragaman dan Habitat Lebah
Trigona pada Hutan Sekunder Tropis Basah di Hutan Pendidikan Lempake,
Samarinda, Kalimantan Timur. Jurnal Teknologi Pertanian 9(1):34-38, 3 Maret
2014. (Online).
([Link]
[Link]/2014/07/[Link], diakses 18 Februari
2020)
200
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA
SMP NEGERI 29 HULU SUNGAI TENGAH MENGGUNAKAN
MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
ABSTRAK
Pembelajaran IPA di SMP Negeri 29 Hulu Sungai Tengah diketahui bahwa pada proses
pembelajaran siswa hanya mendengarkan guru, sehingga kebanyakan siswa merasa bosan
dan tidak memperhatikan penjelasan dari guru tersebut dan mengakibatkan nilai hasil
belajar siswa rendah. Hal ini dibuktikan dengan ketuntasan klasikal hanya mencapai 65%
dari kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah. Penelitian ini
bertujuan untuk meningkatkan aktivitas siswa, hasil belajar siswa, keterlaksanaan RPP
dalam proses pembelajaran dan respon siswa terhadap model Pembelajaran Berbasis
Masalah (PBM). Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebanyak 2
siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan
dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 29 Hulu Sungai Tengah yang
berjumlah 20 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan tes untuk hasil belajar
siswa, lembar observasi untuk aktivitas siswa dan keterlaksanaan RPP, angket untuk
respon siswa. Teknik analisis data secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
mengalami peningkatan. Aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 dan 2 memperoleh
rata-rata 76,88% (baik). Terjadi peningkatan pada siklus II memperoleh rata-rata 85,21%
(sangat baik). Hasil belajar kognitif siswa siklus I pertemuan 1 dan 2 diperoleh ketuntasan
klasikal 80%, mengalami peningkatan pada siklus II diperoleh ketuntasan klasikal 90%.
Keterlaksanaan RPP menggunakan model PBM juga mengalami peningkatan dari siklus
I pertemuan 1 dan 2 memperoleh rata-rata 80% (baik) meningkat menjadi 100% (sangat
baik) pada siklus II. Respon siswa terhadap penggunaan model PBM dalam pembelajaran
sangatlah positif yaitu 91,5% menyatakan suka terhadap model pembelajaran yang
digunakan.
ABSTRACT
Learning science at SMP Negeri 29 Hulu Sungai Tengah is known that in the learning
process students only listen to the teacher, so most students feel bored and do not pay
attention to the explanation from the teacher and result in low student learning outcomes.
This is evidenced by the classical completeness only reaching 65% of the minimum
completeness criteria (KKM) set by the school. This study aims to improve student
activity, student learning outcomes, the implementation of lesson plans in the learning
process and student responses to the Problem Based Learning (PBM) model. This type of
research is a Classroom Action Research (PTK) with 2 cycles. Each cycle consists of 4
stages, namely planning, implementing, observing and reflecting. The subjects of this
study were 20 students of SMP Negeri 29 Hulu Sungai Tengah. The data collection
techniques used were tests for student learning outcomes, observation sheets for student
activities and lesson plan implementation, questionnaires for student responses.
Qualitative and quantitative data analysis techniques. The results showed that learning
with the Problem Based Learning (PBM) model had increased. Student activity in the
first cycle of meetings 1 and 2 obtained an average of 76.88% (good). There was an
increase in cycle II obtaining an average of 85.21% (very good). The cognitive learning
outcomes of students in the first cycle of meetings 1 and 2 obtained 80% classical
201
completeness, an increase in the second cycle obtained 90% classical completeness. The
implementation of the lesson plan using the PBM model also experienced an increase
from the first cycle of meetings 1 and 2 to get an average of 80% (good) increased to
100% (very good) in cycle II. Student responses to the use of the PBM model in learning
were very positive, namely 91.5% expressed their liking for the learning model used.
PENDAHULUAN
Guru adalah tenaga profesional dituntut untuk memiliki sejumlah kompetensi
profesional. Kompetensi itu dapat dicapai dengan baik, jika guru yang bersangkutan
memenuhi syarat ditinjau dari kualifikasi pendidikan. Standar kompetensi guru
merupakan ukuran yang ditetapkan bagi seorang guru dalam menguasai seperangkat
kemampuan agar kelayakan menduduki salah satu jabatan fungsional guru sesuai
dengan bidang tugas dan jenjang pendidikannya. Kemampuan yang dimaksud adalah
berkaitan dengan penguasaan proses pembelajaran, penguasaan pengetahuan, dan
jabatan funsional. Oleh sebab itu, guru perlu meningkatkan kemampuan
profesionalnya sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat. Berdasarkan pernyataan
diatas dapat kiranya ditegaskan bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan, guru
merupakan unsur yang sangat penting (Darmadi, 2018:11-12).
Pembelajaran IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi
kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah yang dapat diidentifikasikan.
Penerapan IPA di SMP perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga dan
memelihara kelestarian lingkungan. Aspek pokok dalam pembelajaran IPA adalah
dapat menyadari keterbatasan pengetahuan mereka, memilki rasa ingin tahu untuk
menggali berbagai pengetahuan baru dan akhirnya dapat mengaplikasikan dalam
kehidupan mereka dan semua itu dapat berwujud apabila siswa aktif dalam
pembelajaran dan guru sebagai fasilitator yang baik (Asih, 2014:24).
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru IPA di SMP Negeri 29 Hulu Sungai
Tengah, diketahui bahwa dalam proses pembelajaran IPA guru masih terfokus
terhadap pembelajaran dengan metode ceramah dan penugasan sehingga dalam proses
pembelajaran banyak siswa yang diam atau asik sendiri dengan kegiatannya yang
berakibat pada aktivitas siswa yang cenderung pasif karena metode yang digunakan
guru itu-itu saja. Pada proses pembelajaran siswa hanya mendengarkan guru, sehingga
kebanyakan siswa merasa bosan dan tidak memperhatikan penjelasan dari guru
tersebut dan mengakibatkan nilai hasil belajar siswa rendah. Hal ini dibuktikan dengan
ketuntasan klasikal hanya mencapai 65% dari kreteria ketuntasan minimal (KKM)
yang ditetapkan oleh sekolah yaitu ≤ 77 dari 80% untuk ketuntasan klasikal.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan sebagai alternatif untuk
mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pembelajaran di SMP Negeri 29 Hulu
Sungai Tengah adalah model pembelajaran berbasis masalah (PBM). Menurut Kosasih
(2014:89) PBM merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik
untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara kelompok untuk mencari solusi dari
202
permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat
peserta didik pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah
diberikan sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan
dengan masalah yang harus dipecahkan.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah metode Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) sebanyak 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan yaitu
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa
SMP Negeri 29 Hulu Sungai Tengah yang berjumlah 20 orang. Teknik pengumpulan
data yang digunakan tes untuk hasil belajar siswa, lembar observasi untuk aktivitas
siswa dan keterlaksanaan RPP, angket untuk respon siswa. Teknik analisis data yang
digunakan secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila
aktivitas siswa dalam kriteria baik dan hasil belajar ranah kognitif ketuntasan
individual siswa minimal 77 dari ketuntasan klasikal 80% dari ketuntasan individual.
HASIL
Aktivitas Siswa
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam upaya meningkatkan
aktivitas siswa kelas VII A SMP Negeri 29 Hulu Sungai Tengah pada konsep
pencemaran lingkungan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah.
Dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Ringkasan Aktivitas Siswa Siklus I dan II
Pertemuan Aspek yang diamati Nilai Rata-rata(%) Kriteria
1 6 Aspek 70,42 Baik
2 6 Aspek 83,33 Baik
1 6 Aspek 85,21 Sangat
Baik
203
b) Oral Activities, yaitu menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
wawancara, diskusi dan mengeluarkan pendapat, interupsi.
c) Listening Activities, yaitu mendengarkan uraian, percakapan, pidato, musik.
d) Motor Activities, yaitu seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model
mereparasi, bermain, berkebun, dan beternak.
e) Mental Activities, yaitu menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis,
melihat hubungan, dan mengambil keputusan.
Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa selama mengikuti proses
pembelajaran pada siklus I pertemuan 1 dan 2 memperoleh persentase 76,88% dengan
kriteria baik, sedangkan pada siklus II mengalami peningkatan dengan persentase
85,21% dengan kriteria sangat baik. Menurut Kosasih, (2014:89) Model PBM
merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar
bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari
permasalahan dunia nyata. Masalah yang diberikan ini digunakan untuk mengikat
siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan,
sebelum siswa mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang
harus dipecahkan Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah
dikatakan berhasil karena sudah mencapai indikator keberhasilam aktivitas belajar
minimal kriteria baik.
HASIL BELAJAR
Hasil belajar siswa siklus I diperoleh dari pretes dan postes. Pretes diberikan
pada awal pembelajaran dan postes diberikan di akhir pembelajaran dengan soal yang
sama. Hasil pretes dan postes pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Ringkasan Data Ketuntasan Individual dan Klasikal Siklus I dan II
Tes Hasil Belajar KK (%)
Tuntas Tidak
Pretes 6 14 30
1
Postes 11 9 55
Pretes 9 11 45
2
Postes 16 4 80
Pretes 14 6 70
1
Postes 18 2 90
204
Keterlaksanaan proses pembelajaran yang baik sangat berpengaruh pada hasil belajar
siswa, hal itu dapat menentukan hasil belajar siswa diakhir pembelajaran. Peningkatan
yang terjadi pada siklus I sudah mencapai indikator keberhasilan penelitian yang
ditetapkan yaitu nilai yang diperoleh siswa minimal 77 dan ketuntasan belajar klasikal
minimal 80%.
Sedangkan pada siklus II persentasi ketuntasan klasikal pada tiap siklusnya
sudah mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Hal ini karena telah dilakukan
3 kali pertemuan dalam penelitian ini, siswa sudah mulai terbiasa dengan penerapan
model pembelajaran berbasis masalah. Hasil belajar pada siklus II melalui pretes
ketuntasan siswa sebanyak 14 orang sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 6 orang,
hasil belajar melalui postes ketuntasan siswa meningkat menjadi 18 orang dan tidak
tuntas sebanyak 2 orang dengan ketuntasan klasikal 90%.
Dari hasil tersebut diketahui bahwa pengetahuan siswa kelas VII A SMP Negeri
29 Hulu Sungai Tengah pada konsep pencemaran lingkungan dengan model
pembelajaran berbasis masalah mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II dan
sudah memenuhi indikator keberhasilan penelitian yaitu apabila siswa memberoleh
ketuntasan individual ≥77 dan ketuntasan klasikal 80%.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4 diketahui bahwa hasil belajar siswa
pada siklus I pertemuan 1 dan 2 memperoleh ketuntasan klasikal 55% dan 80%. Hal
ini disebabkan karena keterlaksanaan proses pembelajaran sudah terlaksana dengan
baik pada pertemuan 2. Keterlaksanaan proses pembelajaran yang baik sangat
berpengaruh pada hasil belajar siswa, hal itu dapat menentukan hasil belajar siswa
diakhir pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4 diketahui bahwa hasil belajar siswa
pada siklus II memperoleh ketuntasan klasikal 90%, ini juga menunjukkan bahwa
hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan sudah dikatakan sangat berhasil dari
ketuntasan klasikal minimal 80%. Hal ini di karenakan keterlaksanaan proses
pembelajaran terlaksana dengan sangat baik. Pada siklus ini guru sudah sangat mampu
melakukan refleksi terhadap kekurangan-kekurangan yang dilakukan pada siklus I dan
diperbaiki lagi pada siklus II. Hal ini juga dikarnakan siswa sudah sangat memahami
model pembelajaran yang digunakan sehingga mempermudah guru untuk
memperbaiki apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya.
Berdasarkan pencapaian indikator keberhasilan ranah kognitif siswa, dapat
diambil kesimpulan bahwa dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis
Masalah dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada konsep pencemaran
lingkungan. Hal tersebut diduga karena kelebihan dari model Pembelajaran Berbasis
Masalah, menurut Mariyaningsih & Mistina (2018:25) kelebihan model Pembelajaran
Berbasis Masalah sebagai berikut.
a) Siswa mampu membangun dan menemukan pengetahuan baru.
b) Siswa memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dalam situasi nyata.
c) Mengurangi beban siswa untuk menghafal materi yang tidak perlu karena
pembelajaran berfokus pada masalah.
205
d) Siswa memiliki kemampuan dalam menggunakan berbagai sumber pengetahuan
untuk belajar.
e) Meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan siswa lain dalam kegiatan
kelompok.
f) Siswa memiliki kemampuan untuk melakukan refleksi dan penilaian terhadap
kemajuan belajarnya.
Menurut (Ibrahim dan Nur dalam Rusman, 2014:243) langkah-langkah tersebut
yaitu memberikan orientasi permasalahan kepada siswa, mengorganisasikan siswa
untuk belajar, membimbing penyelidikan individu/kelompok, mengembangkan dan
menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses penyelidikan.
Pemberian permasalahan atau pertanyaan terkait dengan materi yang dipelajari
merangsang siswa berperan aktif dalam kelompok untuk melakukan penyelidikan dan
berusaha menemukan solusi atas permasalahan tersebut. Selanjutnya siswa
mengembangkan pemikirannya melalui kegiatan menganalis dan mengevaluasi.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa
penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada konsep pencemaran lingkungan
di kelas VII A SMP Negeri 29 Hulu Sungai Tengah dapat meningkatkan Aktivitas
belajar siswa selama proses pembelajaran mengalami peningkatan dari persentase
siklus I 76,88% dengan kriteria baik menjadi 85,21% dengan kriteria sangat baik pada
siklus II dan dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa, dari hasil tersebut
diketahui telah mencapai ketuntasan klasikal pada siklus I yaitu 80% dan meningkat
pada siklus II menjadi 90%.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, dkk. 2015. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara
Asih, Widi Wisudawati. 2015. Metodelogi Pembelajaran IPA. Jakarta: Bumi Aksara
Darmadi. 2018. Guru Jembatan Revolusi. Surakarta: CV Oase Group.
Kosasih, E. 2014. Strategi Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Yrama Widya.
Mariyaningsih, N., Mistina, H. 2018. Teori dan Praktik Berbagai Model dan Metode
Pembelajaran Menerapkan Inovasi Pembelajaran di Kelas-kelas Inspiratif.
Surakarta: Kekata Publisher.
Nurmala, D. A., Tripalupi, L. E., & Suharsono, N. (2014). Pengaruh motivasi belajar
dan aktivitas belajar terhadap hasil belajar kuntansi. Jurnal Pendidikan Ekonomi
Undiksha, 4(1). (Online)
Permendikbud. (2015). Permendikbud Nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil
Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.
Permendikbud (2017). Panduan Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan
Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Pertama.
206
PENGEMBANGAN BOOKLET SEBAGAI SUMBER BELAJAR
BIOLOGI MELALUI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL
DALAM PEMBUATAN ANYAMAN NYIRU
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengetahui: (1) nilai-nilai
kearifan lokal melalui pembuatan kerajinan anyaman nyiru di desa Banua Batung, (2)
tanggapan validator dan peserta didik terhadap booklet tentang nilai-nilai kearifan lokal
dalam pembuatan anyaman nyiru. Jenis penelitian ini adalah penelitian dan
pengembangan (Research and Development) dengan menggunakan model ADDIE.
Metode penelitian dan pengembangan ini terdiri dari dua tahap. Tahap I adalah penelitian
deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini
adalah masyarakat desa Banua Batung dengan mengambil sampel pengrajin anyaman
nyiru. Tahap II adalah pengembangan produk sebagai sumber belajar biologi berupa
booklet yang disesuaikan dengan Kurikulum 2013. Validasi terhadap booklet dilakukan
oleh dosen ahli materi dan ahli media pembelajaran, sedangkan uji coba keterbacaan
kelompok kecil dilakukan oleh peserta didik kelas XI IPA SMAN 1 Angkinang. Hasil
penelitian dan pengembangan yang sudah dilakukan diperoleh 1) nilai-nilai kearifan lokal
yang terdapat pada setiap tahapan dalam pembuatan anyaman nyiru, yaitu: nilai
kesinambungan, nilai kemudahan, nilai keselamatan, nilai kreativitas, nilai kerapian, dan
nilai keindahan. 2) hasil validasi oleh ahli materi terhadap booklet yang dikembangkan
sebesar 77% termasuk dalam kualifikasi layak, dan hasil validasi oleh ahli media terhadap
booklet yang dikembangkan sebesar 84,72% termasuk kualifikasi sangat layak. (3) hasil
uji keterbacaan peserta didik kelas XI IPA SMAN 1 Angkinang terhadap booklet yang
dikembangkan diperoleh nilai sebesar 91,5 % termasuk kategori baik sekali.
PENDAHULUAN
Dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional,
pada pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh sebab itu, pendidikan nasional
menekankan pada pembentukan identitas nasional yang diwujudkan melalui
penekanan aspek sosial budaya.
Kearifan lokal merupakan suatu bentuk warisan budaya Indonesia. Kearifan
lokal terbentuk sebagai proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya dalam
rangka memenuhi berbagai kebutuhannya. Hal ini sependapat dengan Musafiri, dkk
(2016) yang menyatakan bahwa, kearifan lokal merupakan bagian dari budaya, selain
itu kearifan lokal mengakar sangat dalam pada kehidupan manusia yang berhubungan
207
dengan sumber daya manusia, budaya, ekonomi, keamanan hingga adat istiadat,
kearifan lokal juga dapat terlihat dari kegiatan pertanian, hal ini untuk menjaga
kelestarian budaya oleh generasi muda. Proses-proses terbentuknya kearifan lokal
sangat bergantung kepada potensi sumber daya alam dan lingkungan serta dipengaruhi
oleh pandangan, sikap, dan perilaku masyarakat setempat terhadap alam dan
lingkungannya. Kearifan lokal berbeda-beda di setiap daerah dan didalamnya
terkandung berbagai norma dan nilai religius tertentu. Namun pada dasarnya proses
kearifan lokal berjalan selaras dengan alam.
Salah satu kerajinan yang diolah oleh masyarakat sebagai kearifan lokal yang
dimiliki dalam suatu daerah adalah anyaman nyiru. Nyiru merupakan alat rumah
tangga yang dibuat dan digunakan oleh masyarakat, khususnya didesa Banua Batung,
kecamatan Pandawan, kabupaten Hulu Sungai Tengah. Umumnya nyiru digunakan
untuk membersihkan beras dari kotoran sebelum dimasak, menjemur ikan, menjemur
kerupuk, dan masih banyak kegunaannya yang lain.
Masyarakat desa Banua Batung pada dasarnya hidup pada bidang pertanian,
selain itu juga memiliki suatu keterampilan dalam mengolah sumber daya alam yang
ada di sekitar rumahnya. Kearifan lokal masyarakat, terutama masyarakat desa Banua
Batung dalam mengolah sumber daya alam, merupakan warisan yang diturunkan dari
satu generasi kegenerasi penerusnya dan telah berlangsung dalam kurun waktu yang
lama. Kemampuan untuk membuat kerajinan anyaman nyiru merupakan warisan
turun-temurun yang telah mengakar pada masyarakat desa Banua Batung, kemampuan
ini adalah kolaborasi yang tercipta dari banyaknya sumber daya alam yang melimpah
dan adanya kearifan lokal masyarakat dalam membuat kerajinan anyaman nyiru.
Namun, kenyataannya sekarang banyak masyarakat yang sudah beralih menggunakan
nyiru yang berbahan plastik, nyiru yang berbahan anyaman dari bambu sudah banyak
ditingglkan oleh masyarakat karena semakin berkurangnya pengrajin yang membuat
anyaman nyiru tersebut, hal ini terjadi karena kurangnya informasi serta pembelajaran
kepada masyarakat dan siswa sekolah tentang melestarikan lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti bermaksud untuk mengembangkan sumber
belajar alternatif untuk para siswa. Sumber belajar yang dikembangkan melalui
penelitian ini adalah booklet yang berjudul “Kerajinan Nyiru sebagai Sumber Belajar
Biologi” yang merupakan sebuah buku kecil yang berisikan materi pelajaran tentang
keanekaragaman hayati, khususnya dalam memanfaatkan sumber daya alam. Tujuan
dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk mengetahui: (1) nilai-nilai kearifan
lokal melalui pembuatan kerajinan anyaman nyiru di desa Banua Batung, (2)
tanggapan validator dan peserta didik terhadap booklet tentang nilai-nilai kearifan
lokal dalam pembuatan anyaman nyiru.
METODELOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D).
Menurut Sugiyono (2016), metode Research and Development (R&D) adalah metode
penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji
208
keefektifan produk tersebut. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitian yaitu
menghasilkan booklet sebagai sumber belajar biologi melalui pemanfaatan kerajinan
anyaman nyiru. Sedangkan model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah model desain pembelajaran ADDIE. Langkah penelitian ini dilakukan dalan
dua tahap yaitu:
Tahap I penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitaif.
Populasinya adalah masyarakat desa Banua Batung, sedangkan sampelnya adalah
pengrajin anyaman nyiru yang ada di desa tersebut. Pada tahap ini teknik pengumpulan
data dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi untuk mengetahui situasi yang ada di
lingkungan pengrajin, dan wawancara secara langsung antara peneliti dan responden
untuk memperoleh data yang valid. Kemudian data ini dianalisis secara deskriptif,
yaitu dengan menyajikan gambaran lengkap mengenai proses pembuatan anyaman
nyiru, dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.
Tahap II adalah pengembangan booklet sumber belajar biologi yang disesuaikan
dengan kurikulum 2013. Model yang digunakan dalam penelitian dan pengembangan
ini adalah model ADDIE, yang terdiri dari 5 tahapan yaitu: Analysis (analisis), Design
(desain), Development (Pengembangan), Implementation (Implementasi), dan
Evaluation (Evaluasi). Subjek uji coba dalam penelitian dan pengembangan ini adalah
peserta didik yang telah menempuh materi pelajaran tersebut, yakni kelas XI IPA SMA
Negeri 1 Angkinang, uji coba produk ditetapkan dalam skala kecil, yaitu mengambil
10 peserta didik. Instrumen pengumpulan data menggunakan instrumen validasi ahli
materi, instrumen validasi ahli media, dan instrumen uji coba keterbacaan. Kemudian
data dianalisis dengan dua cara, yaitu: 1) Deskriptif kualitatif adalah mengenai
tanggapan para ahli tentang produk booklet yang dibuat, dan 2) Deskriptif kuantitatif
merupakan skor yang diperoleh dari para ahli. Uji validasi booklet diukur
menggunakan angket validasi dengan 4 kriteria skor dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Skor yang diperoleh dari hasil validasi booklet oleh para validator, kemudian
dikonversi dala rumus sebagai berikut.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟
𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = × 100%
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖
(Sumber: Riduwan, 2016)
209
Agar dapat memberikan makna dalam keputusan yang digunakan maka
dilakukan kualifikasi tingkat pencapaian. Kualifikasi tingkat pencapaian penilaian
booklet dengan menggunakan Tabel 2 berikut.
Booklet yang telah dibuat dan divalidasi kemudian diuji coba keterbacaannya
oleh kelompok kecil. Hasil data yang diperoleh dari keseluruhan peserta didik
dijadikan presentase dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
210
dilihat dari batang bambu yang daunnya rimbun dibagian atas, dan menebang
bambunya pada bagian bawah batang bambu atau mendekati akar, supaya tidak ada
yang terbuang bagaian batang tersebut sehingga dapat menjaga bahan bakunya agar
tidak cepat habis.
Nilai keselamatan, dikaji dari kearifan lokal masyarakat pengrajin nyiru di desa
Banua Batung. Dalam pembuatan nyiru pada tahap meirat bertujuan agar permukaan
sambilo tampak lebih halus sehingga menghindari luka ketika menganyam.
Nilai kemudahan, dikaji dari kearifan lokal masyarakat pengrajin nyiru di desa
Banua Batung. Pada tahap membuat bingkai, bingkai dibuat agar nyiru mudah dibawa
dan mudah untuk dipegang pada saat menggunakan nyiru.
Nilai kreativitas, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berarti
kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang menarik. Hal ini bisa dilihat dari tahap
menganyaman, mangamuting dilakukan untuk memulai anyaman atau mendasari
anyaman, dan melebarkan anyaman sampai empat penampuk, penampuk adalah
sebutan tiap sisi pada lingkaran anyaman, yang mana sisinya dibagi menjadi empat,
yaitu sisi timur sisi utara, sisi barat, dan sisi selatan. Penampuk dibuat agar
memudahkan dalam membuat anyaman menjadi bundar.
Nilai kerapian, dikaji dari kearifan lokal masyarakat pengrajin nyiru di desa
Banua Batung. Bisa dilihat pada tahap menggunting yaitu membuang bagian ujung-
ujung sisa dari anyaman, tahap ini bertujuan agar anyaman rapi dan tidak ada lagi sisa
dari ujung sambilo. Pada tahap mamadu dan manutus, bingkai dipasang dan diikat
dengan tali paikat agar bagian-bagian sisi-sisi anyaman terlihat rapi.
Nilai keindahan, dikaji dari kearifan lokal masyarakat pengrajin nyiru di desa
Banua Batung dalam pembuatan nyiru. Bisa dilihat pada tahap Manutus yaitu tahap
mengikat bingkai menggunakan bahan penunjang tali yang disebut paikat dan susubak
sebagai penutup dibagian atas bingkai. Ini bertujuan agar bingkai tidak tampak terlihat.
Validasi Booklet
Hasil validasi ahli materi terhadap booklet yang dikembangkan disajikan pada
Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Hasil Validasi Ahli Materi
N Butir Pertanyaan Skor
O Total Maksimal
1 Ketepatan Materi
Keluasan materi 3 4
Akurasi fakta 3 4
Kebenaran konsep 3 4
2 Komponen penyajian
Daftar isi 2 4
Kelengkapan informasi yang disajikan disertai 3 4
dengan penekanan pada substansi dan konsep
penting
Mendukung proses pelestarian kearifan lokal 4 4
3 Tingkat Keterbacaan
Keterpahaman peserta didik terhadap pesan 3 4
211
Kesesuaian ilustrasi dengan substansi pesan 3 4
4 Keterkaitan dengan Tujuan Pembelajaran
Apresiasi terhadap potensi yang ada di daerahnya 3 4
Menumbuhkan rasa ingin tahu 4 4
Mendorong untuk mencari informasi lebih jauh 3 4
Jumlah 34 44
Presentasi (%) 77%
Berdasarkan penskoran yang diperoleh oleh ahli materi, produk berupa booklet
kerajinan nyiru mendapatkan nilai 77% termasuk dalam kualifikasi layak, dengan
keterangan tidak direvisi.
Hasil validasi ahli media terhadap booklet yang dikembangkan disajikan pada
Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Hasil Validasi Ahli Media
NO Butir Pertanyaan Skor
Total Maksimal
1 Komponen Penyajian Materi/Isi
Materi disajikan secara urut 3 4
Materi yang disajikan menggunakan jenis dan ukuran huruf 4 4
yang konsisten
Menggunakan huruf tebal atau ukuran lebih besar untuk judul 3 4
topik
2 Komponen Bahasa dan Gambar
Penulisan huruf, kalimat, dan tanda baca sesuai dengan EYD 2 4
Menggunakan kalimat yang efektif dan tidak ambigu 2 4
Keterkaitan antara kalimat dan paragraf 2 4
Ketepatan penggunaan kata/istilah 4 4
Gambar sesuai dengan materi/isi 4 4
Gambar membantu peserta didik mengingat isi booklet 4 4
Sumber dan keterangan gambar jelas 4 4
3 Komponen Grafika
Booklet dijilid dengan rapi dan kuat 4 4
Booklet dicetak dengan kualitas yang baik dan jelas 4 4
Booklet menggunakan kertas berkualitas dan aman 4 4
Desain cover menarik minat peserta didik 3 4
Desain dan judul cover mewakili isi buku 3 4
Bahan cover kuat dan tidak mudah rusak 4 4
Desain dan layout isi booklet menarik dan tidak monoton 3 4
Menggunakan warna-warna yang indah dilihat dan tidak 4 4
membosankan
Jumlah 61 72
Presentasi (%) 84,72%
Berdasarkan penskoran yang diperoleh oleh ahli media, produk berupa booklet
kerajina nyiru mendapatkan nilai 84,72%. Berdasarkan tabel kualifikasi tingkat
pencapaian termasuk kualifikasi sangat layak dan tidak direvisi.
Booklet yang dibuat sudah layak untuk diujicobakan kepada peserta didik,
karena memiliki aspek-aspek yang layak digunakan di sekolah. Ini sesuai dengan
212
Masnur (2010) dalam Gustaning (2014) bahwa suatu booklet yang layak digunakan di
sekolah harus memperhatikan 3 aspek yaitu yang berkaitan dengan materi atau isi,
penyajian materi atau isi, kaidah bahasa atau ilustrasi yang akan digunakan, dan aspek
grafika.
Booklet yang telah divalidasi oleh validator selanjutnya diuji cobakan dari segi
keterbacaannya kepada peserta didik yang telah menempuh materi pelajaran tersebut,
yakni kelas XI IPA SMA Negeri 1 Angkinang. Adapun hasil uji coba keterbacaan
dijabarkan dalam bentuk Tabel 6 berikut.
Uji coba keterbacaan dilakukan setelah merevisi kembali booklet kerajinan nyiru
sesuai dengan kritik dan saran dari para ahli. Uji coba ini dilakukan secara langsung
oleh peneliti terhadap peserta didik yang telah menempuh pelajaran tersebut, yakni
pada siswa kelas XI IPA 3 SMA Negeri 1 Angkinang. Hasil yang diperoleh adalah
nilai 91,5% termasuk kategori baik sekali.
213
3. Hasil uji keterbacaan peserta didik kelas XI IPA SMAN 1 Angkinang terhadap
booklet yang dikembangkan diperoleh nilai sebesar 91,5 % termasuk kategori baik
sekali.
B. Saran
1. Saran ini ditujukan kepada guru dan peserta didik untuk dapat menggunakan media
booklet ini sebagai salah satu sumber belajar Biologi untuk siswa SMA.
2. Bagi peneliti lain dengan adanya penelitian dan pengembangan produk berupa
Booklet sebagai sumber belajar biologi ini diharapkan bisa menjadi contoh dan
referensi untuk dapat melakukan penelitian dan pengembangan dengan
menghasilkan produk-produk yang lebih kreatif dan inovatif sehingga siswa lebih
berantusias dan memberikan gambaran pengetahuan baru untuk mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, H. 1992. Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa.
Guni, Gustaning. 2014. Pengembangan Media Booklet Menggambar Macam-Macam
Celana Pada Kompetensi Dasar Menggambar Celana Siswa SMKN 1 Jena.
Tidak diterbitkan. Skripsi Yogyakarta: Fakultas Teknik Universitas Negeri
Yogyakarta.
Musafiri, Utaya, Astina. 2016. Potensi Kearifan Lokal Suku Using Sebagai Sumber
Belajar Geografi SMA Di Kabupaten Banyuwangi. Tidak diterbitkan. Jurnal
Malang: Universitas Negeri Malang.
Purwanto, Ngalim. 2002. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Riduwan. 2016. Dasar-Dasar Statistika. Alfabeta: Bandung.
Ridwan, Nurma Ali. 2007. Landasan Keilmuan Kearifan Lokal. Jurnal Studi Islam dan
Budaya Ibda’ Vol.5 No.1 Jan-Jun 2007, hal 27-38 P3M STAIN Purwokerto.
Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
214
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KREATIVITAS
SISWA PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN MANUSIA
DI SMP NEGERI 1 HULU SUNGAI TENGAH KELAS VIII E
DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN
PROJECT BASED LEARNING (PJBL)
ABSTRAK
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran IPA di SMP
Negeri 1 Hulu Sungai Tengah diketahui bahwa proses pembelajaran lebih menekankan
pengetahuan dan pemahaman materi, proses pembelajaran berlangsung dengan metode
yang kurang bervariasi, sehingga membuat siswa tidak aktif dalam pembelajaran dan
bosan terhadap pelajaran yang disampaikan oleh guru, hal ini juga berdampak bahwa
rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa, meningkatkan kreativitas siswa, mengetahui
keterlaksanan proses pembelajaran mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran
menggunakan model Project Based Learning. Jenis penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas (PTK) yaitu penelitian ini terdiri dari 2 siklus, setiap siklus terdiri 2 kali
pertemuan. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VIII E SMP Negeri 1 Hulu Sungai
Tengah berjumlah 30 orang. Teknik pengumpulan data hasil belajar aspek kognitif
menggunakan tes, aspek afektif, aspek psikomotor, kreativitas siswa serta keterlaksanan
proses pembelajaran menggunakan lembar observasi, dan respon siswa menggunakan
angket. Hasil penelitian ketuntasan hasil belajar siklus I diperoleh ketuntasan klasikal
36,6% dan siklus II ketuntasan klasikal 86%. Sikap berkarakter siklus I kategori cukup
dan siklus II kategori baik. Sikap sosial siklus I kategori kurang dan siklus II kategori
baik. Hasil psikomotor siklus I kategori cukup dan siklus II kategori baik. Hasil kreativitas
siswa siklus I kategori kurang dan siklus II kategori baik. Keterlaksanaan proses
pembelajaran pada siklus I kategori baik dan siklus II kategori sangat baik. Respon siswa
menunjukkan respon positif terhadap penggunaan model Project Based Learning dengan
kategori baik.
Kata kunci: Hasil Belajar; Kreativitas Siswa; Sistem Pernapasan Manusia; Project Based
Learning (PjBL).
ABSTRACT
Based on the results of interviews conducted with science subject teachers at SMP Negeri
1 Hulu Sungai Tengah, it is known that the learning process emphasizes more knowledge
and understanding of the material, the learning process takes place with less varied
methods, so that it makes students inactive in learning and bored with the lessons
delivered. by the teacher, this also results in the low ability of students to think creatively.
This study aims to improve student learning outcomes, increase student creativity,
determine the feasibility of the learning process, and determine student responses to
learning using the Project Based Learning model. This type of research is classroom
action research (PTK), namely this research consists of 2 cycles, each cycle consisting of
2 meetings. The subjects of this study were 30 students of Class VIII E SMP Negeri 1
215
Hulu Sungai Tengah. The technique of collecting data on learning outcomes in cognitive
aspects uses tests, affective aspects, psychomotor aspects, student creativity and the
implementation of the learning process using observation sheets, and student responses
using questionnaires. The results of the research on completeness of the learning
outcomes of the first cycle were 36.6% classical completeness and the second cycle
classical mastery was 86%. Attitude with the character of the first cycle is sufficient and
the second cycle is good. The social attitude in cycle I is in poor category and cycle II is
in good category. The psychomotor results in the first cycle were adequate and the second
category was good. The results of the creativity of the students in the first cycle were in
poor category and in the second cycle in good categories. The implementation of the
learning process in cycle I is good category and cycle II is very good category. Student
responses show a positive response to the use of the Project Based Learning model with
good categories.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu proses yang diperlukan untuk mendapatkan
keseimbangan dan kesempurnaan dalam perkembangan individu maupun masyarakat.
Penekanan pendidikan dibanding dengan pengajaran terletak pada pembentukan
kesadaran dan kepribadian individu atau masyarakat disamping transfer ilmu dan
keahlian, dengan proses semacam ini suatu bangsa atau negara dapat mewariskan nilai-
nilai keagamaan, kebudayaan, pemikiran dan keahlian kepada generasi berikutnya,
sehingga mereka betulbetul siap menyongsong masa depan kehidupan bangsa dan
negara yang lebih cerah (Nurkholis, 2013).
Menyadari hal tersebut pemerintah Indonesia memberikan kesempatan
memperoleh pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang seluas-luasnya kepada
seluruh warga Indonesia melalui pendidikan. Hal tersebut sejalan dengan kurikulum
2013 yaitu dirancang dengan tujuan untuk mempersiapkan insan Indonesia supaya
memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warganegara yang beriman,
produktif, kreatif, inovatif dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradapan dunia. Kurikulum merupakan
instrumen pendidikan untuk dapat membawa insan Indonesia memiliki potensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat menjadi pribadi dan warga negara yang
produktif, kreatif, inovtif dan afektif. Kurikulum juga merupakan salah satu unsur
yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan yaitu yang memberikan kontribusi
yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas potensi siswa.
Kurikulum berisi seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan, karena pendidikan yang
berkualitas dipengaruhi oleh strategi dan perangkat pembelajaran yang direncanakan
dan disusun dengan baik, agar semua berkembang melalui proses pembelajaran
(Warso, 2014).
216
Strategi pembelajaran yang dipilih pendidik dalam proses pembelajaran yaitu
yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada siswa dalam menuju
tercapinya tujuan yang telah ditetapkan. Sehingga diperlukan strategi pembelajaran
yang memungkinkan berkembangnya kemampuan berpikir kreatif agar tercapainya
prestasi yang memuaskan.
Artinya disamping pembelajaran mengembangkan kemampuan kognitif untuk
suatu mata pelajaran juga dapat mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa.
Proses berpikir merupakan suatu pengalaman proses persoalan untuk mendapatkan
dan menentukan suatu gagasan yang baru sebagai jawaban dari persoalan yang
dihadapi, untuk memecahkan persoalan yang dihadapi sebagai upaya mencapai
kemajuan memerlukan kemampuan kreatif. Kemampuan kreatif akan mendorong
siswa merasa memiliki harga diri, kebanggan, dan kehidupan yang sehat. Dimilikinya
kemampuan kreatif, siswa tidak hanya menerima informasi dari pendidik, namun juga
berusaha mencari dan memberikan informasi dalam proses pembelajaran. Siswa yang
kreatif selalu mempunyai rasa ingin tahu, ingin mencoba-coba, berpetualang, memiliki
banyak ide, mampu mengelaborasi beberapa pendapat, suka bermain dan intuitif
(Suryosubroto, 2009).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan guru mata pelajaran IPA
di SMP Negeri 1 Hulu Sungai Tengah pada semester genap Tahun Pelajaran
2018/2019, diketahui bahwa proses pembelajaran IPA di Kelas VIII E masih
menekankan pengetahuan dan pemahaman materi, sehingga proses pembelajaran yang
terjadi disekolah cenderung konvensional. Guru menyampaikan materi pelajaran
dengan metode ceramah. Cara semacam ini masih menoton, sehingga membuat siswa
tidak aktif, tidak kreatif dan bosan terhadap pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
Rendahnya kemampuan berpikir kreatif siswa yang dilihat dari kurangnya
kemampuan siswa dalam menyampaikan/mengemukakan ide, kurang memahami
materi dalam mencari informasi yang berkaitan dengan materi yang diajarkan dan
berfokus pada guru untuk mendapatkan informasi. Berdasarkan permasalahan
tersebut, metode pembelajaran yang dilaksanakan kurang maksimal berdampak pada
hasil belajar siswa, hal ini terlihat dari jumlah siswa 30 orang dengan kriteria
ketuntasan maksimal (KKM) yang ditentukan sekolah adalah 70, dari seluruh jumlah
siswa tersebut terdapat 19 orang siswa yang tuntas mencapai KKM dengan ketuntasan
klasikal 63,3% yang seharusnya ketuntasan klasikal minimal 85% dari jumlah seuluruh
siswa. Berdasarkan ketuntasan klasikal tersebut hasil belajarnya dikatakan masih
rendah.
Berdasarkan urain di atas, untuk dapat meningkatkan tingkat berpikir kreatif
agar bisa mengembangkan kreativitas siswa sehingga siswa menjadi aktif dalam
pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat. Salah satu model pembelajaran yang
dapat diterapkan untuk mengatasi permasalah tersebut adalah model Project Based
Learning disingkat menjadi PjBL. Model PjBL adalah suatu model pembelajaran yang
menggunakan suatu proyek dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh
siswa dapat berupa proyek mandiri atau kelompok dan dilaksanakan dalam jangka
217
waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan
ditampilkan atau dipresentasikan. Proyek tersebut berfokus pada pemecahan masalah
yang berhubungan dengan kehidupan siswa. Model berbasis proyek merupakan bagian
dari model pembelajaran yang berpusat pada siswa (Kemendikbud, 2017).
Peranan pembimbingan guru pada saat pembelajaran berbasis proyek sangat
penting, kerena didalamnya guru akan membimbing pola pikir mereka sehingga
muncul kreativitas dari cara berpikir siswa yang kreatif. Kreativitas merupakan
kemampuan mengimajinasikan, menafsirkan dan mengemukakan gagasan serta usaha
yang memiliki daya cipta untuk kombinasi baru, dari unsur sebelumnya, yang telah
ada sehingga diperoleh peningkatan kualitas siswa dalam pengembangan dirinya
(Tirtiana, 2013).
Berdasarkan alasan yang ada pada model PjBL dapat dijadikan sebagai salah
satu solusi untuk meningkatkan hasil belajar serta kreativitas siswa adalah model ini
digunakan dalam permasalahan kompleks yang diperlukan siswa dalam investigasi dan
memahaminya. Hasilnya adalah pengetahuan dan keterampilan baru, yang hasilnya
berupa produk nyata. Berdasarkan uraian tersebut peneliti ingin mengadakan
penelitian dengan judul Meningkatkan Hasil Belajar dan Kreativitas Siswa pada Materi
Sistem Pernapasan di SMP Negeri 1 Hulu Sungai Tengah Kelas VIII E dengan
Menerapkan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL).
Hasil belajar adalah kompetensi atau kemampuan tertentu baik kognitif, afektif
maupun psikomotor yang dicapai atau dikuasai siswa setelah mengikuti proses belajar
mengajar (Kunandar, 2013). Hasil belajar pada dasarnya terjadi proses perubahan
tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu, dari sikap kurang baik menjadi lebih baik,
dari tidak terampil menjadi terampil pada siswa (Supardi, 2016). Benyamin Bloom
yang secara garis besar membagi menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah
afektif, dan ranah psikomotorik. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang
paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan
para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran (Sudjana, 2014). Kreativitas berasal
dari kata ‘to create’ artinya membuat. Dengan kata lain kreativitas adalah kemampuan
seseorang untuk membuat sesuatu, baik dalam bentuk ide, langkah, atau produk. Pada
saat akan membuat (to create) sesuatu, ada beberapa aspek penting yang menyertainya.
Pertama, mampu menemukan ide untuk membuat sesuatu. Kedua mampu menemukan
bahan yang akan digunakan dalam membuat produk tersebut. Ketiga, mampu
melaksanakannya, dan terakhir mampu menghasilkan sesuatu (Sudarma, 2013).
Untuk melihat seseorang telah memiliki kemampuan berpikir kreatif, tentunya
dibutuhkan suatau indikator yang dapat dijadikan sebagai patokan dalam menilai
kemampuan tersebut. Filsaime (2008) bahwa ada empat karakteristik berpikir kreatif
yaitu: (1) Orisinalitas berpikir, (2) Elaborasi, (3) Kelancaran, (4) Fleksibilitas.
Project Based Learning adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan
suatu proyek dalam proses pembelajaran. Proyek yang dikerjakan oleh siswa dapat
berupa mandiri atau kelompok dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu,
menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau
218
dipresentasikan. Proyek tersebut berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan
dengan kehidupan siswa. Pembelajaran berbasis proyek merupakan pembelajaran yang
berpusat pada siswa (Kemendikbud, 2017). Secara umum langkahlangkah kegiatan
(PjBL) menurut
Fathurrohman (2015) yaitu (1) Penentuan proyek (2) Perancangan langkah-
langkah penyelesaian proyek (3) Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek (4)
Penyelesaian proyek dengan fasilitasi dan monitoring guru. (5) Penyusunan laporan
dan presentasi/publikasi hasil proyek (6) Evaluasi hasil proses dan proyek.
METODE PENELITIAN
Desain penelitian ini merupakan penelitian tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini
dilakukan sebanyak dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan.
Diharapkan dalam dua siklus pembelajaran kemampuan siswa Kelas VIII E SMP 1
Negeri Hulu Sungai Tengah dalam menyelesaikan soal-soal meteri sistem pernapasan
dapat ditingkatkan.
Prosedur Penelitian
Penelitian PTK ini melalui 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan,
observasi dan refleksi. Pelaksanan penelitian tindakan kelas siklus 1 yaitu:
1. Perencanaan tindakan.
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan diantaranya meminta kesediaan sekolah dan
guru mata pelajaran IPA yang bersangkutan sebagai mitra pelaksanaan penelitian
tindakan kelas dan mendiskusikan prosedur jalannya penelitian, melakukan
kesepakatan antara peneliti dan guru IPA di sekolah yang bersangkutan,
menyelesaikan surat izin penelitian., membuat skenario pembelajaran melalui
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pada materi sistem pernapasan.
2. Pelaksanaan tindakan
Kegiatan pada tahap ini adalah pelaksanaan RPP yang telah disusun dengan
menggunakan model PjBL yang dilaksanankan pada setiap siklus dengan dua kali
pertemuan, alokasi waktu pada setiap pertemuan adalah 2 x 40 menit atau 2 jam
pelajaran.
3. Observasi dan evaluasi tindakan
Observasi atau pengamatan dilaksanakan selama penelitian berlangsung dengan
sasaran utama untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa melalui tes pada setiap
akhir pertemuan, sedangkan kreativitas siswa dan keterlaksanaan proses
pembelajaran dalam melaksanakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
telah disusun melalui lembar observasi.
4. Refleksi
Refleksi dilaksanakan setiap akhir siklus. Hasil yang diperoleh dalam tahapan
observasi melalui lembar pengamatan berdasarkan instrumen yang telah disusun,
kemudian dikumpulkan dan dianalisis, demikian juga dengan tes belajar siswa.
Dengan demikian peneliti dapat mengetahui sejauh mana ketercapaian dari tujuan
utama penelitian atau rencana tindakan dan mendiskusikan jika terdapat
219
kekurangan dan permasalahan dari siklus I yang nantinya akan ditindaklanjuti pada
siklus II
Selanjutnya pelaksanan penelitian tindakan kelas siklus II. Prosedur pelaksanaan
penelitian pada siklus II pada dasarnya sama dengan prosedur pelaksanaan penelitian
pada siklus I yang juga terdapat 2 kali pertemuan, perbedaannya materi yang disajikan
merupakan kelanjutan dari materi siklus I, pelaksanaan tindakan siklus II
mempertimbangkan hasil refleksi siklus I dan pada akhir kegiatan siklus II
membagikan angket kepada masing-masing siswa untuk mengetahui respon mereka
terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model PjBL.
KI = x 100%
Ket: KI = Ketuntasan Individual
Berdasarkan jumlah siswa yang tuntas belajar, kemudian dihitung ketuntasan
belajar secara klasikal. Ketuntasan klasikal dianggap tuntas minimal 85% dari
seluruh siswa yang mencapai ketuntasan individual. Ketuntasan belajar klasikal
dihitung dengan menggunakan rumus berikut.
KK x 100%
Ket: KK= Ketuntasan Klasikal
2. Kreativitas Siswa
Analisis data terhadap kreativitas siswa (kemampuan berpikir kreatif) dilakukan
dengan menghitung jumlah skor yang diperoleh siswa untuk setiap indikator yang
220
muncul dengan mengubah skor tersebut menjadi nilai dengan menggunakan
rumus berikut.
∑ Skor tiap aspek
Nilai PA = x 100%
∑ Skor maksimal tiap aspek
Ket: PA = Penguasaan Aspek
3. Keterlaksanaan Pembelajaran
Data hasil observasi keterlaksanaan sintak model PjBL dapat dihitung
menggunakan rumus berikut.
∑ Indikator yang muncul
Persentase = X 100%
∑ Seluruh indikator
4. Respon Siswa
Analisis data terhadap respon siswa dalam model pembelajaran dianalisis
menggunakan rumus berikut:
I
P = x 100%
N
Ket: P = Presentase respon siswa
I = Frekuensi yang sedang dicari (siswa yang memilih)
N = Banyak Siswa
Tabel 1. Kriteria Perhitungan Hasil Belajar Siswa, Kreativitas Siswa, Keterlaksanaan
Kriteria Kategori
91 -100 Sangat Baik
71 – 90 Baik
61 -70 Cukup
<60 Kurang
(Sumber: Kunandar,2013
221
Tengah pada materi sistem pernapasan manusia meliputi hasil belajar kognitif, afektif,
psikomotor, kreativitas siswa, keterlaksanaan proses pembelajaran dan respon siswa.
Pelaksanaan tindakan dilakukan dalam 2 siklus, dengan masing-masing siklus terdiri
2 kali pertemuan. a. Hasil Belajar
1) Ketuntasan Hasil Belajar
Tabel 1. Ketuntasan Hasil Belajar
Siklus Pertemuan Ketuntasan Klasikal (%)
1 20%
1
2 36,6%
1 60%
2
2 86%
222
pendidikan karakter bukan hanya sekedar mendidik mana yang benar dan mana yang
salah kepada siswa, tetapi juga menanamkan proses pembiasaan tentang perilaku yang
baik sehingga siswa dapat memahami, mampu merasakan, dan mau berperilaku baik
sehingga terbentuklah tabiat yang baik (Thoyyibah, 2017).
Tabel 3. Sikap Sosial
Siklus Rata-rata Kategori
1 40,53 Kurang
2 78,29 Baik
3) Asfek Psikomotor
Tabel 4 Aspek Psikomotor
Siklus Rata-rata Kategori
1 68,03 Cukup
2 82,61 Baik
Pada Tabel 4. diketahui pengamatan aspek psikomotor siswa mengalami
peningkatan dilihat dari nilai rata-rata siklus 1 sebesar 68,03 dengan kategori cukup
dan nilai rata-rata pada siklus 2 sebesar 82,61 dengan kategori baik.
Peningkatan penilaian psikomotor diukur dari kegiatan yang dilakukan siswa
saat proses pembelajaran berlangsung yang mengacu pada lembar kerja siswa (LKS)
sehingga kecakapankecakapan dan keterampilan fisik siswa mengalami perkembangan
menuju arah yang lebih baik untuk mampu memberi manfaat kepada orang lain
tentulah harus mempunyai kemampuan/kompetensi keterampilan. Hal tersebut sejalan
dengan pendapat bahwa hasil belajar psikomotor tampak dalam keterampilan (skill)
dan kemampuan bertindak individu. Perubahan tingkah laku atau
kemampuankemampuan yang dimilki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya (Handayani dan Yanti, 2017).
223
Pada Tabel 5. diketahui perolehan nilai kreativitas siswa mengalami peningkatan
dilihat dari nilai rata-rata siklus 1 sebesar 60,59 dengan kategori kurang dan nilai rata-
rata pada siklus 2 sebesar 86,84 dengan kategori baik.
Penerapan model Project Based Learning menunjukkan bahwa kreativitas siswa
telah mengalami peningkatan dari keseluruhan aspek. hampir semua komponen
dilakukan dengan baik, dari aspek kemampuan berpikir asli siswa telah bisa menguasai
menganalisis informasi untuk memahami suatu pengetahuan, untuk kemampuan
berpikir memperinci siswa telah mampu menguasai aspek memperinci detail suatu
objek atau gagasan, untuk kemampuan berpikir lancar siswa telah mampu banyak
jawaban gagasan, penyelesaian masalah dan pertanyaan, hal ini karena siswa terbiasa
berkopetensi secara sehat dan terbiasa berargumen, untuk kemampuan berpikir luwes
yaitu siswa dapat memecahkan suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda hal
ini karena siswa telah bisa memecahkan masalah tersebut dengan cara berdiskusi
sehingga siswa dapat bertukar pikiran dan menambah wawasan mereka.
d. Respon Siswa
Tabel 7. Respon Siswa
Tanggapan Rata-rata Kategori
Positif (Ya) 83,63
Baik
Negatif (Tidak) 16,37
Pada Tabel 7 diketahui respon siswa yang memberikan tanggapan positif dengan
nilai rata-rata 83,63 dan tanggapan Negatif dengan nilai 16,37. Dapat disimpulkan
224
bahwa banyak siswa yang menyukai menggunakan model pembelajaran Project Based
Learning.
Alasan siswa suka dengan model pembelajaran ini karena merupakan
pengalaman belajar yang baru bagi mereka tetapi siswa merasa termotivasi dan
dibimbing, bisa bekerjasama dan saling membantu. Siswa juga mendapatkan banyak
manfaat setelah mengikuti pembelajaran diantaranya dapat menumbuhkan rasa
percaya diri, rasa ingin tahu yang tinggi, melatih kerjasama dalam kelompok, aktif
dalam kegiatan pembelajaran, dan memudahkan memahami pelajaran.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dengan
2 siklus pada materi sistem pernapasan manusia menggunakan model dapat
meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa, kreativitas siswa, dan keterlaksanaan
proses pembelajaran. Siswa menyukai penggunaan model pembelajaran PjBL dengan
memberikan respon positif dengan kategori baik.
DAFTAR PUSTAKA
Apriani, Sela. 2019. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Percaya Diri dan Hasil Belajar Siswa pada Subtema Organ
Gerak Hewan (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SD Negeri
Solokan Jeruk 02 Kec. Solokan Jeruk Kab. Bandung) (Doktoral Disertation,
FKIP UNPAS).
Erlangga, Erwin. 2014. Model Pembelajaran Thingking Aloud Pair Problem Solving
(TAPPS) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa pada Materi
Tekanan: Penelitian Quasi Eksperimen di Kelas VIII E SMP Al-Maliyah
Sukaratani-Bekasi (Doktoral Disertation, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).
Fathurrohman, Muhammad. 2015. Model-model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
Filsaime, Dennis K. 2008. Menguak Rahasia Berpikir Kritis dan Kreatif. Jakarta:
Prestasi Pustakarya.
Handayani, Riska Dewi dan Yuli Yanti. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Thinking Pair Share Terhadap Hasil Belajar Pkn Siswa Di Kelas
IV MI Terpadu Muhammadiyah Sukarame Bandar Lampung. Jurnal Pendidikan
dan Pembelajaran Dasar. 4 (2). 107-123.
Kemendikbud. 2017. Buku Guru Ilmu Pengetahuan Alam SMP/MTs Kelas VIII E.
Jakarta: Kemendikbud.
Kunandar. 2013. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Siswa Berdasarkan
Kurikulum 2013). Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Novianti, Fety. 2013. Hubungan Efektifitas Pengelolaan Kegiatan Pembelajaran oleh
Pendidikan Kewarganegaraan dengan Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMK
Negeri 1 Pontianak. Jurnal Edukasi. 11(2). 164-172.
225
Nurkholis. 2013. Pendidikan Dalam Upaya Memajukan Teknologi. Jurnal
Kependidikan, 1(1), 24-44.
Sudarma, Momon. 2013. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Jakarta: PT
Grafindo Persada.
Sudjana, Nana. 2014. Penilaian Hasil Belajar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Supardi.2016. Penilaian Autentik Pembelajaran Afektif, Kognitif, dan Psikomotor.
Jakarta: PT Raja Drafindo Persada.
Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Tirtiana, Chandra Putri.2013. Pengaruh Kreativitas Belajar, Penggunaan Media Power
Point, dan Lingkungan Keluarga Terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran
Akuntansi Pada Siswa Kelas X AKT SMK Negeri 2 Blora Tahun Ajaran
2012/2013 (Motivasi Belajar Sebagai Variabel Intervening). Economic
Education Analysis Journal, 2 (2): 15-23.
Thoyyibah dan Hery Setiyatna. (2017). Implementasi Pendidikan Karakter Anak Usia
Dini di TK Pertiwi II Gagaksipat Ngemplak Boyolali Tahun Ajaran 2016/2017
(Doctoral disertation, IAIN Surakarta).
Warso, Agus Wasisto Dwi Doso. 2014. Proses Pembelajaran dan Penilaiannya.
Jakarta: Graha Cendekia.
226
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY
LEARNING PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN MANUSIA
ABSTRAK
Penelitian untuk mengatasi masalah yang dihadapi siswa dan guru di SMP Negeri 6 Hulu
Sungai Tengah. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk; (1) Meningkatkan
hasil belajar keterampilan abad 21 pada materi sistem pernapasan manusia melalui model
pembelajaran Descovery Learning di kelas VIII SMP Negeri 6 Hulu Sungai Tengah yang
di laksanakan dalam 2 siklus. Subyek Penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri
6 Barabai yang berjumlah 30 orang dengan rincian 15 orang siswa laki-laki dan 15 orang
siswa perempuan. Teknik pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian adalah
LKS/ LKPD dan Postes. Hasil kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut; (1)
Kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Hulu Sungai Tengah dalam sistem
pernapasan manusia dengan menggunakan model pembelajaran pembelajaran Descovery
Learning mengalami peningkatan. Pada siklus I ketuntasan klasikal yang hanya 50%
meningkat menjadi 83,3% pada siklus II dan secara klasikal pada siklus II ini telah tuntas.
Hasil Lkpd atau Lks Siklus 1 pertemuan 1 adalah 73,3 dan LKS atau LKPD pertemuan
II Siklus I 72,8 Sedangkan Siklus II pertemuan I adalah 72,4 dan siklus II pertemuan II
adalah 82 Sedangkan Postes siklus I Pertemuan I adalah 76,3 dan siklus I Pertemua II
73,6 Sedangkan Postes Siklus II pertemuan I adalah 76,3 dan siklus II pertemuan II postes
adalah 80,8 (2) Aktivitas guru dalam pembelajaran Descovery Learning juga terjadi
peningkatan yang dibuktikan dengan perolehan nilai aktivitas guru sebesar 50% (kategori
baik) pada siklus II menjadi 83,3% (kategori baik sekali).
PENDAHULUAN
Pendidikan memegang peranan yang penting di setiap Negara karena pendidikan
akan menjamin kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara. Konsepsi tentang tujuan
pendidikan disuatu Negara atau suatu komunitas ditentukan dan diarahakan oleh
pandangan dan falsafah hidup hidup Negara bersangkutan. Tujuan pendidikan adalah
sesuatu yang dicita-citakan atau ingin diwujudkan dari usaha dan proses pendidikan.
Pendidikan sendiri mengandung arti usaha sistematis dan terprogram yang dilakukan
para pendidik terhadap para pendidik agar mereka menjadi generasi terpelajar terdidik
sejalan dengan pandangan dan falsafah hidup tadi.
Pendidikan adalah proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar
tumbuh mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak
(berkarakter) mulia. Karena itulah kita dituntut untuk mampu mengadakan refleksi
ilmiah tentang pendidikan tersebut, sebagai pertanggungjawaban terhadap perbuatan
yang dilakukan, yaitu mendidik dan di [Link] pendidikan dalam arti luas adalah
227
usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah, melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di
luar sekolah sepanjang hayat, untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat
memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat di masa yang akan
datang. Perkembangan dunia yang semakin meningkat serta perubahan global dalam
berbagai aspek ke-hidupan menjadikan sebuah tan-tangan bagi manusia agar menjadi
sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Upaya yang tepat untuk menyiapkan
SDM yang berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dianggap sebagai alat untuk
mem-bangun SDM yang berkualitas adalah pendidikan. Oleh karena itu, salah satu
upayanya adalah dengan mem-buat sumber daya manusia yang lebih kreatif dan
mampu berpikir kritis, sehingga sesuai dengan Undang-undang no 20 tahun 2003 pasal
1 yakni: Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pem-belajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, ke-pribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta kete-
rampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Suriansyah,
2011:3).
Pembelajaran abad 21 yang menuntut manusianya memiliki keterampilan
teknologi dan manajemen informasi, belajar dan berinovasi, berkarir dan memiliki
kesadaran global, serta berkarakter untuk memenuhi tingginya permintaan pasar
terkait produk yang berbasis sains dan teknologi diperlukan pendidikan yang mampu
menjawab tantangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah.
1. Meningkatkan hasil belajar keterampilan abad 21 pada materi system pernapasan
manusia melalui model pembelajaran Descovery Learning di kelas VIII SMP
Negeri 6 Hulu Sungai Tengah.
METODE PENELITIAN
3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini ialah pendekatan kuantitatif yang
dalam praktiknya lebih mementingkan proses hasil. Penelitian. Penelitian ini bertujuan
mencari fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek yang diteliti (Tohirin,
2013:2). Hal lainnya dikemukakan oleh (Salahudin, 2015: 20). Penelitian ini
menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan guru dengan
tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik pembelajaran secara
berkesinambungan, sehingga dapat meningkatkan mutu hasil instruksional
mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi, meningkatkan efisiensi
pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru
(Aqib dan Rohmanto, 2010:173-174). Sedangkan Suhardjono (Asrori, 2009:5)
mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang dilakukan
kelas dengan tujuan memperbaiki/ meningkatkan mutu hasil pembelajaran.
228
Langkah-langkah dalam 4 tahapan penelitian kelas yang lazim dilalui, yaitu (1)
perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), (4)
refleksi (reflecting), seperti gabar di bawah ini:
Cara pengumpulan data menggunakan kuantitatif dari tes soal yang di berikan
oleh guru menggunakan aplikasi Wa karena di masa pendemic Covid 19.
a. Lingkup Penelitian
Penelitian ini di lakukan di rumah masing-masing karena tidak bisa mengumpulkan
siswa karena pendemic covid 19 dan sekolah di liburkan, Alat dan bahan yang
digunakan adalah Paket internet untuk menghubungi para siswa, polpen dan kertas
yang mereka gunakan untuk menjawab soal yang di berikan guru melalui Wa Grup
kelas VIII SMP Negeri 6 Hst.
b. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan
guru dengan tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas praktik
pembelajaran secara berkesinambungan, sehingga dapat meningkatkan mutu hasil
instruksional mengembangkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi,
meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya
meneliti pada komunitas guru (Aqib dan Rohmanto, 2010:173-174). Sedangkan
Suhardjono (Asrori, 2009:5).
c. Prosedur Penelitian
Mengumpulkan tugas yang di berikan guru secepatnya dan mendengarkan
penjelasan guru.
d. Pengumpulan Data dan analisa Data
1. Tes
Tes dalam penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa pada pokok
bahasan Sistem Pernapasan Manusia. Menggunakan aplikasi WA atau grup
Kelas VIII.
2. Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data data yang berkaitan dengan
sekolah yang menjadi tempat penelitian, seperti jumlah siswa dan nilai hasil
belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Hulu Sungai Tengah
229
e. Analisa Data
Analisis data merupakan cara yang paling menentukan untuk menyusun dan
mengolah data yang terkumpul, sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan
yang dapat dipertanggungjawabkan. Jenis data yang diperoleh ada satu, yaitu data
kuantitatif.
HASIL PEMBAHASAN
Hasil penelitian tindakan kelas yang saya lakukan ini diperoleh dari tindakan
wawancara dengan guru (pada prasiklus), siklus I, dan siklus II yang di lakukan dengan
membagikan soal LKPD/ LKS dan postes melalui aplikasi Wa di karenakan masa
Pendemi Covid 19. Hasil tes prasiklus berupa keterangan mengenai kemampuan dasar
siswa dalam sistem pernapasan manusia sebelum penelitian dilakukan. Hasil tes
tindakan siklus I dan siklus II berupa kemampuan siswa dalam materi sistem
pernapasan manusia melalui penerapan model pembelajaran Discovery Learning Hasil
tes prasiklus, siklus I dan siklus II disajikan dalam bentuk data kuantitatif.
Hasil Kemampuan Belajar Siswa dalam Sistem pernapasan manusia Pertemuan 1 dan 2 pada
Siklus I
No Nama Siswa LKPD I LKPD II
1 Abdussamad 75 80
2 Adeyatun Nikmah 75 80
3 Ahmad Sahid 75 80
4 Andre 75 80
5 Aqli Nursanudin 75 80
6 Arbainah 75 75
7 Artika Sri Hidayah 75 75
8 Aufa rahman 75 75
9 Elmi Muhammad Noor 75 75
10 Erlina 75 75
11 Erwin Ferdi Rusadi 75 75
12 Junaidi 75 75
13 Khairunnisa 75 80
14 M. Saibani 75 80
15 Maslian Febrianti 75 80
16 Maulida 75 80
17 Milda Palak 75 80
18 Muhammad Arsyad 75 80
19 Muhammad Dony Alfarizal 80 80
20 Muhammad Fajri Ramadhan 80 80
21 Muhammad Nazmi 80 80
22 Muhammad Randy Rahman 80 80
23 Nanda Ilia Agustina 80 80
24 Nanda Pradewi 80 80
25 Normita 75 75
26 Nurul Hikmah 75 75
27 Riska Hafizah 75 75
230
28 Sa'diah 75 75
29 Wahyu Riadi 75 75
30 Zainap 75 75
Jumlah 2. 200 2.185
Rata-rata 73,3 72,8
Pada siklus I perolehan nilai LKPD tergolong baik karena sudah mencapai kkm 75.
80 80 80 80
80
79
78
77
76 75 7575 75 75 75
75 Pertemuan 1
74
73 Pertemuan 2
72
231
Jumlah 2.291 2.210 T: 15
TT:15
Rata-rata 76,3 73,6
Ketuntasan Klasikal 50% 50%
Hasil Kemampuan Belajar Siswa Dalam Sistem Pernapasan Manusia Pertemuan 1 Dan 2
Pada Siklus II
LKPD III LKPD IV
No Nama Siswa
1 Abdussamad 77 80
2 Adeyatun Nikmah 77 80
3 Ahmad Sahid 77 80
4 Andre 77 80
5 Aqli Nursanudin 77 80
6 Arbainah 77 80
7 Artika Sri Hidayah 77 80
8 Aufa rahman 77 80
9 Elmi Muhammad Noor 77 80
10 Erlina 77 80
11 Erwin Ferdi Rusadi 77 80
12 Junaidi 77 80
13 Khairunnisa 75 80
14 M. Saibani 75 80
15 Maslian Febrianti 75 80
16 Maulida 75 80
17 Milda Palak 75 80
18 Muhammad Arsyad 75 80
19 Muhammad Dony Alfarizal 80 80
20 Muhammad Fajri Ramadhan 80 80
21 Muhammad Nazmi 80 80
22 Muhammad Randy Rahman 80 80
23 Nanda Ilia Agustina 80 80
24 Nanda Pradewi 80 80
25 Normita 80 90
26 Nurul Hikmah 80 90
27 Riska Hafizah 80 90
28 Sa'diah 80 90
29 Wahyu Riadi 80 90
30 Zainap 80 90
Jumlah 2.174 2.460
Rata-rata 72,4 82
232
6 Arbainah 60 60 TT
7 Artika Sri Hidayah 60 60 TT
8 Aufa Rahman 77 90 T
9 Elmi Muhammad Noor 77 77 T
10 Erlina 77 80 T
11 Erwin Ferdi Rusadi 77 80 T
12 Junaidi 77 80 T
13 Khairunnisa 75 80 T
14 M. Saibani 75 80 T
15 Maslian Febriyanti 75 80 T
16 Maulida 75 80 T
17 Milda Palak 75 80 T
18 Muhammad Arsyad 75 80 TT
19 Muhammad Dony Alfarizal 80 80 T
20 Muhammad Fajri Ramadhan 80 80 T
21 Muhammad Nazmi 80 80 T
22 Muhammad Randy Rahman 80 80 T
23 Nanda Ilia Agustina 80 80 T
24 Nanda Pradewi 80 90 T
25 Normita 80 90 T
26 Nurul Hikmah 80 90 T
27 Riska Hafizah 80 90 T
28 Sa’diah 80 90 T
29 Wahyu Riadi 80 90 T
30 Zainap 80 90 T
Jumlah 2.291 2.425 T: 25
TT: 5
Rata-rata 76,3 80,8
Ketuntasan Klasikal 83,3% 83,3%
85 82
80
73.3 72.8 72.4 Siklus 1
75
Siklus 2
70
65
Siklus 1 Siklus 2
233
Evaluasi Presentasi ketuntasan klasikal (%)
Siklus I Siklus II
Pertemuan 1 Pertemuan II Pertemuan 1 Pertemuan II
Postes 76,3 73,6 76,3 80,8
Kategori Baik Baik Baik Baik Sekali
80.8
82
80
78 76.3 76,3
Siklus 1
76 73.6 Siklus 2
74
72
70
Siklus 1 Siklus 2
KESIMPULAN
1) Kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Hulu Sungai Tengah dalam sistem
pernapasan manusia dengan menggunakan model pembelajaran pembelajaran
Descovery Learning mengalami peningkatan. Pada siklus I ketuntasan klasikal
yang hanya 50% meningkat menjadi 83,3% pada siklus II dan secara klasikal pada
siklus II ini telah tuntas.
DAFTAR PUSTAKA
Anas Salahudin 2015. Penelitian Tindakan Kelas. Pustaka Setia: Bandung
Aqib, Zainal. 2010. Penelitian Tindakan [Link] Widya, Bandung.
Arikonto, Suharsimi 2011. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi
Revisi VII. Jakarta.
Arikonto, Suharsimi 2014. Prosuder Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Rineka
Cipta. Jakarta.
Darmadi, H. Pengembangan Model dan Metode Pembelajaran dalam Dinamika
Belajar Siswa. Yogyakarta: CV. Budi Utomo
Darmadi 2017. Pengembangan Model Dan Metode Pembelajaran Dalam Dinamika
Belajar Siswa. Depublish. Yogyakarta
Daryanto, S. K. [Link] Abad 21. Gava Media. Malang
Djamarah, Syaiful Bahri 2011. Psikologi Belajar. Rineka Cipta. Jakarta.
Hasmyati. 2018. Efective Learning Models in Physical Education Teaching. Budi
Utama. Yogyakarta
Johar, Rahmah 2016. Strategi Belajar Mengajar. CV. Budi Utama. Yogyakarta
234
Kurniasih& Sani. [Link] Model [Link] Pena.
Jakarta
Shobirin, Ma’as. 2016. Konsep dan Implemnetasi Kurikulum 2013 di Sekolah
Menengah Atas. Deepublish. Yogyakarta
Sudjana. (2013). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Bandung Algensindo,
Jakarta.
Suprijono.2009. Cooperative Learning. PustakaPelajar, Yogyakarta.
Syah, M. [Link] Belajar. Rajawali Pers. Jakarta.
235
VALIDITAS MATERI SISTEM PERNAPASAN MANUSIA
BENTUK FOTONOVELA BERBASIS STEAM
DI KELAS VIII SMP
ABSTRAK
Pembelajaran dapat dikatakan berhasil bila terjadi pembentukan komunikasi yang efektif
diantara komponen-komponen belajar. Salah satu cara membentuk komunikasi yang
efektif adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang memiliki fungsi sebagai
pembawa informasi yang akan disampaikan kepada siswa sehingga pembelajran akan
berjalan secara efektif. Validitas materi sistem pernapasan manusia bentuk fotonovela
berbasis STEAM masih sangat jarang dipergunakan dalam jenjang pendidikan khususnya
pada materi Biologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui desain Validitas materi
sistem pernapasan manusia bentuk fotonovela berbasis STEAM di kelas VIII SMP dan
untuk mengetahui media pembelajran yang dikembangkan layak dalam pembelajaran
materi sistem pernapasan manusia kelas VIII SMP. Langkah-langkah penelitian atau
proses pengembangan dalam penelitian ini mengikuti model pengembangan dari
Thiagarajan yaitu pengembangan 4-D (Define, Design, Develop, dan Disseminate). Hasil
dari pengembangan media fotonovela sistem pernapasan manusia yaitu sangat layak
digunakan sebagai media pembelajaran Hasil dari validasi media fotonovela sistem
pernapasan manusia yaitu sangat valid digunakan sebagai media pembelajaran. Media
fotonovela diperoleh berdasarkan penilaian. Hasil uji validasi oleh ahli materi dan media
dalam kategori valid.
Kata kunci: Validitas, Materi Sistem Pernapasan Manusia, Berbasis STEAM, Bentuk
Fotonovela.
PENDAHULUAN
Pembelajaran dapat dikatakan berhasil jika terjadi pembentukan komunikasi
yang efektif diantara komponen belajar. Komponen-komponen yang terdapat dalam
pembelajaran yaitu tujuan, materi, metode alat, sumber belajar, kegiatan belajar
mengajar, dan evaluasi. Salah satu cara untuk membentuk komunikasi yang lebih
efektif adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang memiliki peran sebagai
teknologi. Pembawa informasi yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran
(Kustandi dan Bambang, 2011:9). Melalui media inilah materi pelajaran dapat
tersampaikan kepada siswa secara lebih efektif. Demikian pula dalam masalah
penerapan media pembelajaran, pendidik harus memperhatikan karakter dan
kepribadian siswa, karena faktor inilah yang justru menjadi sasaran media
pembelajaran (Ramli, 2015:133). Tanpa memperhatikan serta memahami karakter dan
kepribadian siswa, guru akan dikatakan gagal dalam proses pembelajaran.
Pemanfataan media pembelajaran dalam praktiknya IPA/Biologi masih minim
dipergunakan. Siswa juga masih kesulitan dalam memahami materi IPA/Biologi
karena tidak jarang materinya teramat banyak. Untuk menjembatani kesenjangan di
237
atas, pembelajaran di sekolah dapat menggunakan alternatif model pembelajaran
berbasis STEAM. Menurut (Yakman, 2013:1072). Science (Pendidikan sains),
Technology (Teknologi), Engineering (Teknik), Art (Seni), Mathematics
(Matematika). STEAM di Australia telah di identifikasi sebagai reformasi nasional
yang signifikan dalam pendidikan dan kurikulum 16 dalam rangka mempersiapkan
siswa untuk ekonomi global Abad ke-21. Korea telah menghadapi tantangan yang
sangat mirip untuk meningkatkan pendidikan sains, teknologi, dan matematika.
Khususnya, aspek afektif dari pembelajaran sains dan matematika. STEAM telah
menjadi masalah penting dalam sistem pendidikan Korea. Tujuan utama dari studi
eksplorasi ini adalah untuk menginformasikan kerangka kerja teladan pendidikan
STEAM di Australia untuk Korea dan untuk menyediakan akun deskriptif dan analitik
tentang pengajaran dan pembelajaran STEAM sebagai pendidikan konvergensi
terintegrasi yang inovatif. Studi ini mengintegrasikan hasil dari makalah penelitian
tentang pendidikan STEAM dan literatur terbaru. Ini mengunakan metodologi analisis
konten secara kualitatif dengan menganalisis dan mensintesis temuan, kesimpulan,
diskusi dan rekomendasi. Akumulsi karya penelitian terkait dengan pendidikan
STEAM.
Guru memiliki peran untuk menugaskan siswa melakukan kegiatan mengorien-
tasi siswa, mengeksplorasi pengetahuan awal, mengorganisasi siswa, untuk belajar
meneliti, membuat penyelidikan, menghasilkan, menyajikan hasil, menganalisis, dan
mengevaluasi (Muniroh, 2015:58). Bersamaaan dengan proses pencarian solusi
tersebut siswa akan mengalami suatu proses yang dimanakan belajar. Hasil studi
pendahuluan yang dilakukan di kelas VIII SMP diperoleh informasi bahwa
pembelajaran IPA/Biologi kebanyakan masih menggunakan pendekatan konvensional
yaitu hanya berpusat pada guru, buku paket, LKS, maupun gambar yang diambil dari
internet saja. Hal ini mengakibatkan pembelajaran menjadi pasif, jenuh dan
membosankan sehingga banyak siswa yang berbicara sendiri, bahkan acuh terhadap
materi yang diajarkan, akibatnya materi pembelajaran tidak diterima dengan baik oleh
siswa. Selain itu juga, media yang digunakan guru kurang menarik sehingga tidak
dapat membangkitkan minat siswa untuk mempelajari lebih serius terhadap materi
pelajaran tersebut.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti media yang
digunakan di SMP menggunakan media gambar. Media gambar merupakan
representasi dari bagaimana tampaknya suatu benda yang sesungguhnya. Media dapat
dinikmati dan memberikan penjelasan bila dibandingkan dengan media verbal.
Gambar yang ditampilkan dapat memberikan detail dalam bentuk apa adanya sehingga
siswa dapat mengingatnya dengan baik (Angkowo dan Kokasih, 2011:26). Dalam
penggunaannya, media gambar diharapkan dapat memberikan daya Tarik sehingga
memotivasi siswa untuk lebih senang belajar dan pada akhirnya memberikan hasil
pembelajaran yang lebih baik. Selain itu dengan adanya media gambar diharapkan
dapat memberikan pengalaman kepada siswa, memperjelas dan mempermudah
konsep-konsep abstrak sehingga materi dapat dimengerti oleh siswa. Berdasarka hasil
238
observasi di SMP menunjukkan bahwa siswa lebih cenderung menyukai membaca
komik dibandingkan dengan buku-buku bacaan.
Oleh karena itu, jika komik dipakai dalam proses pembelajaran maka akan
membawa suasana yang menyenangkan. Namun, penggunaan komik mempunyai
kelemahan yakni tidak semua orang dapat membuatnya, membutuhkan waktu yang
sangat lama dan desain komik lebih imajinatif. Materi sistem pernapasan manusia
membutuhkan pemahaman yang cukup bagi siswa karena materi yang disajikan cukup
banyak. Materi ini sangat erat kaitannya dengan permasalahan-pemasalahan yang ada
dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya penyakit yang menyerang sistem pernapasan
yang sering dialaminya setiap harinya. Sehingga sistem pernapasan manusia menjadi
materi yang sangat penting untuk dipelajari dan dipahami. Dalam menerangkan materi
ini tentu dibutuhkan suatu media yang tepat sehingga siswa dapat menguasai materi
ini.
Berdasarkan uraian diatas peneliti berkeinginan untuk mengembangkan materi
yang mampu meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran serta dapat
meningkatkan kemampuan efektif, kognitif serta psikomotorik. Guna menciptakan
sumber daya manusia yang siap bersaing di era globalisasi ini.
Berdasarkan latar belakang tersebut hal inilah yang mendasari peneliti untuk
melakukan penelitian dengan judul "Validitas Materi Sistem Pernapasan Manusia
Bentuk Fotonovela Berbasis STEAM di Kelas VIII SMP". Adapun media fotonovela
ini menjadi ciri khusus yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir siswa serta
menjadikan siswa lebih aktif selama proses pembelajaran.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan yaitu Research and Development (R and D)
atau biasa disebut dengan metode penelitian dan pengembangan. Menurut Brog & Gall
adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk
pendidikan. Penelitian ini mengikuti suatu langkah-langkah secara siklus. Langkah
penelitian atau suatu proses pengembangan ini terdiri atas kajian tentang temuan
produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan-
temuan tersebut, melakukan uji coba lapangan sesuai dengan latar di mana produk
tersebut akan dipakai dan melakukan revisi terhadap hasil uji lapangan (Setyosari,
2016:276-277).
Penelitian ini akan dikembangkan dan dihasilkan suatu produk baru berupa media
pembelajaran berupa fotonovela yang digunakan sebagai media pembelajaran guna
mendukung proses pembelajaran. Penelitian dirancang menggunakan pengembangan
yang dikembangkan oleh Thiagarajan Sammel dan Sammel yaitu model 4-D. Model
4-D merupakan kepanjangan dari Define (Pendefinisian), Design (Perancangan),
Develop (Pengembangan), dan Disseminate (Penyebaran). Konsep 4-D menurut
(Sutarti dan Edi, 2017:12).
239
Lingkup Penelitian
Bagian ini berisi tentang area penelitian yang akan di teliti. Bagian ini juga
menjelaskan populasi dan sample penelitian, metode yang digunakan, waktu dan
tempat, alat dan bahan yang digunakan yang bersifat khusus. Alat dan bahan yang
bersifat umun tidak perlu ditulis. Alat yang ditulis adalah alat yang secara spesifik
(khusus) saja yang digunakan dalam penelitian.
Bahan penelitian ditulis secara lengkap termasuk sample yang digunakan dalam
penelitian. Penulisan Sub Judul ditulis miring (Italic) tanpa penomeran mengguakan
font Times New Roman 11pt.
Desain penelitian
Kegiatan yang dilakukan pada fase ini adalah menyusun dan memetakan garis
besar Materi, yang sesuai dengan ciri model pembelajaran biologi kolaboratif
berorientasikan Nature of Science terintegrasi keterampilan generik sains. Rancangan
lengkap yang telah dibuat pada fase desain direalisasikan menjadi prototype
penyesuaian masalah. Dikatakan prototype, karena telah berhubungan dengan produk
yang memenuhi bagian dari spesifikasi fungsional.
Prosedur Penelitian
Plomp (1999:4) mendefinisikan penelitian dan pengembangan dari segi tujuan,
yaitu: (i) Supporting the development of protopical product dan (ii) generating
methodological direction for the design and evaluation of such product. Jadi
berdasarkan pandangan tersebut diatas, hakikat dari penelitian dan pengembangan
adalah meningkatkan kualitas produk berupa prototype dan membangun langkah-
langkah metedologi untuk perancangan dan penelitian dan penilaian produk itu,
sedangkan jika dilihat dari segi prosesnya lebih lanjut Akker, et al. (1999:7)
mengatakan bahwa pengembangan bersiklus (cycle) dan meliputi aktifitas analysis,
design, evaluasi, dan revisi. Siklus ini berulang hingga diperoleh produk yang
memiliki kriteria tertentu.
Pengumpulan Data dan Analisis Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, yaitu dari data hasil Validasi
Materi Model STEAM oleh validator satu dan dua yang dikembangkan dikatakan valid
jika memenuhi kriteria sebagai hasil penilaian validator terhadap Materi minimal pada
kategori valid.
Berikut ini dikemukakan tentang analisis dan kevalidan, analisis data kevalidan
Materi model pembelajaran berbasis STEAM yaitu dengan cara:
Melakukan rekapitulasi terhadap semua pernyataan validator ke dalam aspek, kriteria,
dan hasil penilaian validator. Lalu mencari rata-rata hasil validasi dari setiap kriteria.
Mencari rata-rata hasil validasi
Menentukan kategori kevalidan dengan mencocokkan rata-rata total dengan
kategori bearikut.
240
4,5 ≤ Validitas Model<5,0 : Sangat Valid
3,5 ≤ ValiditasModel<4,5 : Valid
2,5 ≤ Validitas Model<3,5 : Cukup
1,5 ≤ Validitas Model<2,5 : kurang Valid
Validitas Model<1,5 : Tidak Valid
Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa materi model pembelajaran
berbasis STEAM memiliki derajat validitas yang memadai adalah jika validitas materi
berada minimal dalam katagori valid. Jika tingkat pencapaian validitas dibawah, maka
perlu direvisi berdasarkan masukan (koreksi) para ahli dan praktisi. Selanjutnya
dilakukan kembali kegiatan validasi. Demikian seterusnya sampai diperoleh materi
model STEAM yang sesuai dengan memenuhi kiteria kevalidan.
241
validator. Validator melakukan penilaian menggunakan lembar penilaian Berbasis
STEAM terhadap tes materi. Kriteria yang digunakan untuk memutuskan bahwa materi
Berbasis STEAM memiliki derajat validitas yang memadai adalah jika validitas materi
berada pada kategori valid.
Tabel 4.1 Hasil Penilaian Validator terhadap Materi Organ Sistem Pernapasan
Manusia Bentuk Fotonovela Berbasis STEAM.
No Aspek yang dinilai Rata-Rata Nilai Aspek Kriteria
Indikator
untuk setiap
Aspek oleh
Validator
I II
I Kesesuaian Materi dengan KD 3,33 2,67 3,00 Cukup
Kelengkapan materi, keluasan materi, Valid
dan kedalaman materi.
II Keakuratan Materi 4,00 3,20 3,60 Valid
Keakuratan konsep dan definisi,
keakuratan data dan fakta, keakuratan
contoh dan kasus, keakuratan
gambar, diagram dan ilustrasi,
keakuratan istilah-istilah.
III Kemutakhiran Materi 2,33 4,00 3,16 Cukup
Gambar, diagram dan ilustrasi dalam Valid
kehidupan sehari-hari, menggunakan
contoh dan kasus yang terdapat
dalam kehidupan sehari-hari.
IV Mendorong Keingintahuan 4,00 4,00 4,00 Valid
Mendorong rasa ingin tahu,
menciptakan kemampuan bertanya
Jumlah 13,66 13,87
Rata-rata 3,41 3,46 3,43 Cukup Valid
Nilai V A atau Nilai Total Rata-Rata Aspek
Berdasarkan Tabel 4.1 diatas data hasil validasi yang diberikan oleh validator maka
diperoleh tingkat validasi Materi yang dihasilkan, nilai V A atau nilai total rata-rata
aspek = 3,43 yaitu dalam kategori Cukup Valid.
Tabel 4.9 Hasil Penilaian Validator Terhadap Materi Berbasis STEAM materi Organ
Sistem Pernapasan Manusia Sebagai Media Fotonovela.
No Aspek yang dinilai Rata-Rata Nilai Kriteria
Indikator untuk Aspek
setiap Aspek
oleh Validator
I II
I Kesesuaian Materi dengan KD 4,67 4,00 4,33 Valid
Kelengkapan materi, keluasan materi, dan
kedalaman materi.
II Keakuratan Materi 4,00 4,00 4,00 Valid
Keakuratan konsep dan definisi, keakuratan
data dan fakta, keakuratan contoh dan kasus,
242
keakuratan gambar, diagram dan ilustrasi,
keakuratan istilah-istilah.
III Kemutakhiran Materi
Gambar, diagram dan ilustrasi dalam
kehidupan sehari-hari, menggunakan contoh 3,00 4,00 3,50 Cukup
dan kasus yang terdapat dalam kehidupan Valid
sehari-hari.
IV Mendorong Keingintahuan
Mendorong rasa ingin tahu, menciptakan 4,00 5,00 4,50 Valid
kemampuan bertanya
Jumlah 15,67 17,00
Rata-rata 3,91 4,25 4,08 Valid
Nilai V A atau Nilai Total Rata-Rata Aspek
Berdasarkan Tabel 4.9 diatas data hasil validasi yang diberikan oleh validator
maka diperoleh tingkat validasi Materi yang dihasilkan, nilai V A atau nilai total rata-
rata aspek = 4,08 yaitu dalam kategori Valid.
Tabel 4.9 Hasil Penilaian Validator Terhadap Materi Organ Sistem Pernapasan
Manusia Bentuk Fotonovela Berbasis STEAM.
Rata-Rata
Indikator untuk
No setiap Aspek Nilai
Aspek yang dinilai Kriteria
oleh Validator Aspek
I II
I Kesesuaian Materi dengan KD 3,67 4,00 3,83 Valid
Kelengkapan materi, keluasan materi, dan
kedalaman materi.
II Keakuratan Materi 4,00 4,00 4,00 Valid
Keakuratan konsep dan definisi, keakuratan
data dan fakta, keakuratan contoh dan kasus,
keakuratan gambar, diagram dan ilustrasi,
keakuratan istilah-istilah.
III Kemutakhiran Materi 3,50 4,00 3,75 Valid
Gambar, diagram dan ilustrasi dalam
kehidupan sehari-hari, menggunakan contoh
dan kasus yang terdapat dalam kehidupan
sehari-hari.
IV Mendorong Keingintahuan 4,00 5,00 4,50 Valid
Mendorong rasa ingin tahu, menciptakan
kemampuan bertanya
Jumlah 15,67 17,00
Rata-rata 3,91 4,25 4,08 Valid
Nilai V A atau Nilai Total Rata-Rata Aspek
243
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan peneliti tentang
validitas materi sistem pernapasan manusia bentuk fotonovela berbasis STEAM di
kelas VIII SMP, dapat disimpulkan bahwa:
Berdasarkan hasil media fotonovela berbasis STEAM ini dihasilkan produk
berupa media cetak yang berukuran A5 mengenai sistem pernapasan manusia pada
siswa kelas VIII SMP. Konsep utama dari media fotonovela ini adalah media cetak
hamper seperti komik, akan tetapi didalamnya terdapat foto (baik foto asli maupun
gambar ilustrasi) yang dipadukan dengan narasi yang dijadikan sebagai sebuah cerita,
akan tetapi narasinya mengenai materi sistem pernapasan manusia. Porsi pada foto
media ini lebih banyak bila dibandingan dengan narasi karena narasi hanya akan
memperjelas foto saja.
Validasi tim ahli (ahli materi dan ahli media), validasi dari Dosen (ahli materi)
dan guru biologi (ahli media). media fotonovela berbasis STEAM dikategorikan valid
untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Hal itu dibuktikan dengan pencapaian
Nilai rata-rata total aspek keseluruhan pada materi kesatu sebanyak 4,08 perolehan
nilai total nilai aspek tersebut termasuk dalam katagori (valid), materi kedua sebanyak
4,14 perolehan nilai total nilai aspek tersebut termasuk dalam katagori (valid), materi
ketiga sebanyak 4,14 perolehan nilai total nilai aspek tersebut termasuk dalam katagori
(valid), dan materi keempat sebanyak 4,14 perolehan nilai total nilai aspek tersebut
termasuk dalam katagori (valid).
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Mikrajuddin. (2009). IPA terpadu SMP dan MTs jilid 2A untuk kelas VIII
Semester 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Angkowo, R dan A. Kokasih. (2011). Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta:: PT.
Grasindo.
Aryani, Wulan Dewi. (2017). Top Ten Finalis Inobel IPSB SMP 2017 Keterampilan
Mengajar Guru Abad 21. Bojonegoro: Praktek Mandiri.
Bruce, J., Weil, M., Calhou & Emily. (2007). Model of Teaching, 6th ed. Boston: Allyn
and Bacon.
Diantha, I Made Pasek. (2016). Metodologi Penelitian Hukum Norfatif dalam
Justifikasi Teori Hukum. Jakarta: Prenada Media Group.
Fathurrohman, Muhammad. (2017). Belajar dan Pembelajaran Modern: Konsep
Dasar, Inovasi dan Teori Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.
Ferdiand P, fictor. (2009). Praktis Belajar Biologi 2 Kelas 11 SMA. Jakarta: Pusat
Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Firmansyah, Rikky. (2009). Mudah dan Aktif Belajar Biologi 2 Kelas XI SMA. Jakarta:
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Gasong, Dina. (2018). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Deepublish.
Georgette, Yakman. (2013). Model Pembelajaran Berbasis STEAM. Australia.
Idrus, Enjang. (2017). Membongkar Psikologi Belajar Aplikatif. Bogor: Guepedia.
244
Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2017). Ilmu Pengetahuan Alam
untuk SMP/MTs Kelas VIII Semester 2. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
Iriantara, Yosal. (2014). Komunikasi Pembelajaran . Bandung: Simbiosa Rekatama
Media.
Kelompok Lansia. (2017). Fotonovela.
[Link] pada 2
Desember 2018.
Kustandi, Cecep dan Bambang Sutjipto. (2011). Media Pembelajaran; Manual dan
Digital, Cet.1. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.
Lusiana, Novita. (2017). Buku Ajar Metodologi Penelitian Kebidanan. Yogyakarta:
Deepublish.
Mais, Asrorul. (2018). Media Pembelajaran: Anak Berkebutuhan Khusus. Jember: VC
Pustaka Abadi.
Nefianthi, R. (2014). Perspektif Model Pembelajaran Kolaboratif NOS Integrasi
Keterampilan Generik Sains (KNOS-KGS) Dalam Mewujudkan Kurikulum
2013. Seminar Pendidikan Nasional, Jurusan Pendidikan Biologi STKIP PGRI.
Banjarmasin.
Ni'matuzahroh dan Susanti Prasetya nigrum. (2018). Observasi: Teori dan Aplikasi
dalam psikologi. Malang: Penerbit UNM.
Prasetyo, Eko. (2015). Ternyata Penelitian Itu Mudah: Panduan Melakasanakan
Penelitian Bidang Pendidikan. Jakarta: Penerbit Edunomi.
Rahma, Alina Dwi. (2016). Implementasi Pembelajaran Sains dengan Media
Fotonovela untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SD/SMP. JPE5 (1)
(2016).
Ramli,M. (2015). Media Pembelajaran dalam Prespektif Al-Qur'an dan Al-Hadist.
Ittihad Jurnal Kopertais Wilayah XI. XIII(13).
Saifuddin. (2014). Pengelolaan Pembelajaran Teoritis dan Praktis. Yogyakarta:
Deepublish.
Sanja, Wina. (2012). Media Komunikasi Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada
media Group.
Setiawan, M Andi. (2017). Belajar dan Pembelajaran. Ponogoro: Uwais Inspirasi
Indonesia.
245
VALIDITAS TES HASIL BELAJAR BERBASIS STEAM PADA
MATERI SISTEM PERNAPASAN MANUSIA DI KELAS VIII SMP
Sophia Rahmi 1), Hj. Rezky Nefianthi2), Nana Citrawati Lestari3)
1
STKIP PGRI Banjarmasin,
Jl. Sultan Adam Kompleks H. Iyus No. 18 RT. 23, Banjarmasin, Indonesia, 70121 *
Email:[Link]@[Link]
ABSTRAK
Model pembelajaran STEAM (Sains, Technology, Engineering, Art and Mathematic) yang
mengaitkan bidang ilmu pengetahuan (sains), teknologi, teknik, seni, dan matematika,
sehingga siswa diberikan pemahaman holistik. Pembelajaran dengan pendekatan STEAM
merupakan pembelajaran kontekstual, dimana siswa akan diajak memahami fenomena-
fenomena yang terjadi yang dekat dengan dirinya. Metode yang digunakan adalah R&D
(Research and Development). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui validitas
soal tes hasil belajar (THB) yang berbasis STEAM pada Materi Sistem Pernapasan Manusia
di kelas VIII SMP. Hasil dari penelitian ini hanya membatasi pada hasil validasi tes hasil
belajar (THB) saja atau disebut juga dengan validitas yaitu penilaian terhadap rancangan
suatu produk. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan sebuah
validitas/validasi terhadap suatu produk (THB) yang divalidator oleh dosen dan guru yang
mengajar IPA.
ABSTRACT
STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) learning model that
links the fields of science, technology, engineering, arts, and mathematics, so that students
provide a holistic understanding. Learning with the STEAM approach is contextual learning,
where students will be invited to understand the phenomena that occur near themselves. The
method used is R&D (Research and Development). The purpose of this study was to see the
validity of STEAM-based learning outcomes test (THB) questions on the Human Respiratory
System Material in grade VIII SMP. The results of this study are only limited to the results
of the validation of the learning outcomes test (THB) or also known as validity, namely
samples made by a product. The steps taken in this study were to validate / validate a product
(THB) which was validated by lecturers and teachers who teach science.
PENDAHULUAN
Perkembangan global yang amat pesat akibat kemajuan di bidang teknologi
mengharuskan bangsabangsa di dunia mengubah sistem pendidikan mereka. Pada
beberapa tahun terakhir, negara-negara maju maupun negara berkembang, berupaya
meningkatkan kualitas pendidikan, tak terkecuali Indonesia. Sistem pendidikan yang
menuntut siswa untuk berkreasi dan berinovasi sesuai dengan tujuan kurikulum 2013.
Adapun tujuan kurikulum 2013 yaitu untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar
memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif,
kreatif, inovatif, dan efektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia (Hasanah, 2019:1).
247
Model pembelajaran STEAM (Sains, Technology, Engineering, Art and
Mathematic) yang mengaitkan bidang ilmu pengetahuan (sains), teknologi, teknik, seni,
dan matematika, sehingga siswa diberikan pemahaman holistik. Pembelajaran dengan
pendekatan STEAM merupakan pembelajaran kontekstual, dimana siswa akan diajak
memahami fenomena-fenomena yang terjadi yang dekat dengan dirinya. Pendekatan
STEAM mendorong siswa untuk belajar mengeksplorasi semua kemampuan yang
dimilikinya, dengan cara masing-masing. STEAM juga akan memunculkan karya yang
berbeda dan tidak terduga dari setiap individu atau kelompoknya. Selain itu kolaborasi,
kerjasama dan komunikasi akan muncul dalam proses pembelajaran karena pendekatan
ini dilakukan secara berkelompok (Tritiyatma, 2016:5).
Hasil pengamatan dari beberapa guru yang saya lihat bahwa guru hanya
memberikan tes hasil belajar (THB) atau disebut juga dengan ulangan (ujian) terhadap
siswa, yang telah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Mayoritas guru hanya
menggunakan soal yang ada pada buku paket atau buku panduan yang telah diajarakan
kesiswa, yang berupa pilihan ganda, esai, dan isian. Soal pilihan ganda adalah soal yang
jawabannya harus dipilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan
(Arif, 2014:2).
Soal esai atau uraian adalah suatu soal yang jawabannya menurut siswa untuk
mengorganisasikan gagasan atau hal-hal yang telah dipelajarinya dengan cara
mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut menggunakan kalimatnya
sendiri dalam bentuk tertulis. Sedangkan soal isian adalah soal yang menuntut peserta tes
untuk mengisi jawaban singkat dengan cara kata, angka, dan simbol Sehingga dari
permasalahan ini saya ingin memvalidasi tes hasil belajar siswa dengan Memvaliditas Tes
Hasil Belajar Berbasis STEAM pada Materi Sistem Pernapasan Manusia di kelas VIII
SMP.
METODE PENELITIAN
Jenis, Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan
(Researh and Development). Penelitian ini untuk mengembangkan Tes Hasil Belajar
(THB) yang terintegrasi dengan model pembelajaran berbasis STEAM, yang valid,
praktis, dan efektif. Penelitian pengembangan berorientasi pada pengembangan produk
dimana proses pengembangan dideskripsikan sejelas mungkin dan produk akhirnya
dievaluasi. Proses pengembangan berkaitandengan kegiatan pada setiap tahap-tahap
pengembangan. Produk akhir dievalusi berdasarkan aspek kualitas produk yang
ditetapkan, dengan demikian yang menjadi produk penelitian ini adalah Tes Hasil Belajar
(THB) yang terintegrasi model pembelajaran berbasis STEAM, yang valid, praktis, dan
efektif. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP.
248
Rancangan Penelitian
1. Fase Insvestigasi Awal.
Penelitian mengkaji tentang kondisi pembelajaran yang terjadi dikelas termasuk
kondisi kemampuan siswa, aktifitas siswa dan guru pada proses pembelajaran selama
ini yang berlangsung dikelas. Sebelum penelitian ini, dilaksanakan kajian tentang
kenyataan pembelajaran dilapangan untuk mengorganisasikan THB. Pada tahap ini
juga dilakukan kajian materi untuk mengorganisasikan THB yang sesuai dengan
model pembelajaran berbasis STEAM.
2. Fase Desain
Kegiatan yang dilakukan pada fase ini adalah menyusun dan memetakan garis besar
materi THB, yang sesuai dengan ciri model pembelajaran biologi kolaboratif
berorientasikan Nature of Science terintegrasi keterampilan generik sains. Rancangan
lengkap yang telah dibuat pada fase desain direalisasikan menjadi prototype
penyesuaian masalah. Dikatakan prototype, karena telah berhubungan dengan produk
yang memenuhi bagian dari spesifikasi fungsional.
3. Fase Realisai
Realisasi THB yang disusun didasarkan pada komponen model berbasis STEAM,
terutama keterampilan yang dilatihkan dari pembelajaran model berbasis STEAM.
RPP ini merupakan panduan bagi guru untuk melakukan pembelajaran dikelas. THB
yang direalisasikan, disusun berdasarkan pada komponenkomponen berbasis STEAM.
THB ini berfungsi untuk merekam seluruh aktifitas siswa atau penyelesaian masalah
dalam pembelajaran sekaligus sebagai panduan siswa belajar yang capai lewat THB
tersebut. Instrument-instrument kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan yang telah
dirancang pada fase-2 selanjutnya direalisasikan pada fase ini. Kegiatan yang
dilakukan pada tahap ini adalah merangkum dan merumuskan tujuan pengukuran,
aspek-aspek yang diukur, dan menetapkan pertanyaan-pertanyaan, pengukuran untuk
setiap aspek menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai sebuah instrument yang
digunakan untuk mengukur kevalidan THB, menilai kepraktisan, dan keefektifan THB
berdasarkan teori dan pengalaman ahli dan praktisi.
4. Fase Pengujian, Evaluasi Oleh Pakar dan Praktisi serta Revisi
Pada fase ini dilakukan kegiatan sebagai berikut, yaitu (1) kegiatan validasi THB
model pembelajaran berbasis STEAM, (2) meminta penilaian kepraktisan/
keterlasanaan dan keefektifan THB berdasarkan penguasaan teori dan pengalaman ahli
dan praktisi. Secara berturut-turut kegiatan-kegiatan ini dilakukan dalam pengujian,
evaluasi, dan revisi THB. Instrumen validasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah instrument yang diadopsi dari Nefianthi (2015:1).
249
dan guru IPA ada dua tahap, tahap pertama dan kedua sehingga hasil produk THB dapat
memperoleh hasil yang valid.
a. Validitas THB Model Berbasis STEAM
Data validitas THB didapatkan berdasarkan hasil penilaian validator terhadap
komponen-komponen THB. Instrumen yang digunakan dalam penilaian validitas
adalah lembar validasi THB berbasis model pembelajaran berbasis STEAM yang
diadopsi dari Nefianthi (2015), yang selanjutnya diserahkan kepada validator ahli dan
praktisi. THB model pembelajaran berbasis STEAM yang dikembangkan dikatakan
valid jika, memenuhi kriteria hasil penilaian validator terhadap THB minimal pada
kategori valid.
b. Kepraktisan THB Model Berbasis STEAM
THB model pembelajaran berbasis STEAM dikatakan praktis jika, berdasarkan angket
respon siswa dan guru memberikan respon positif. Data respon siswa dan guru dijaring
melalui pemberian angket respon siswa dan guru pada setiap akhir pertemuan.
Indikator yang digunakan untuk mengukur kepraktisan THB yaitu:
1) Analisis hasil respon siswa menunjukkan respon siswa terhadap penggunaan THB
lebih dari 75% merespon positif
2) Analisis hasil respon guru menyatakan apabila respon guru terhadap penggunaan
THB lebih dari 75% merespon sangat membantu dan sangat baik.
c. Keefektifan THB Model Berbasis STEAM
Keefektifan THB Model pembelajaran berbasis STEAM ditentukan oleh indikator
sebagai berikut:
1) Hasil belajar siswa dari uji coba meningkat
2) Hasil pengamatan aktivitas siswa dan guru minimal sesuai dengan yang
diharapkan yaitu pada kategori [Link] menjaring data hasil belajar siswa
digunakan THB berbasis model pembelajaran berbasis STEAM.
3) Sedangkan aktivitas siswa dan guru didapatkan berdasarkan hasil pengamatan
yang dilakukan oleh 2 observer selama proses pembelajaran berlangsung.
250
Tabel 4.1 Hasil Validasi THB Organ Sistem Pernapasan Pada Manusia pada Soal 1
No Aspek yang dinilai Validator Rata-rata Kriteria
I II
1. Materi 4 4 4 Valid
2. Konstruksi 4 5 4,5 Sangat Valid
3. Bahasa 5 5 5 Sangat Valid
(Sumber: Lampiran 2 Hal 124-125)
Tabel 4.1 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal pertama yang membahas
tentang susunan struktur organ sistem pernapasan pada manusia. Rata- rata kriteria yang
di dapat adalah valid dan sangat valid.
Tabel 4.2 Hasil Validasi THB Organ Sistem Pernapasan Pada Manusia Pada Soal 2
No Aspek yang dinilai Validator Rata-rata Kriteria
I II
1. Materi 3 5 4 Valid
2. Konstruksi 5 4 4,5 Sangat Valid
3. Bahasa 4 4 4 Valid
(Sumber: Lampiran 2 Hal 125-129)
Tabel 4.2 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal kedua yang membahas
tentang susunan fungsi-fungsi organ sistem pernapasan pada manusia. Rata-rata kriteria
yang di dapat adalah valid dan sangat valid.
Tabel 4.4 Hasil Validasi THB Organ Sistem Pernapasan Pada Manusia Pada Soal 4
No Aspek yang dinilai Validator Rata-rata Kriteria
I II
1. Materi 5 5 5 Sangat Valid
2. Konstruksi 4 4 4 Valid
3. Bahasa 5 4 4,5 Sangat Valid
(Sumber: Lampiran 2 Hal 125-129)
Tabel 4.4 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal keempat yang
membahas tentang menggambarkan sebuah organ sistem pernapasan pada manusia. Rata-
rata kriteria yang di dapat adalah valid dan sangat valid.
Tabel 4.5 Hasil Validasi THB Organ Sistem Pernapasan Pada Manusia Pada Soal 5
No Aspek yang dinilai Validator Rata- Kriteria
I II rata
1. Materi 5 4 4,5 Sangat Valid
3. Bahasa 4 4 4 Valid
251
Tabel 4.6 Hasil Validasi THB Mekanisme Pernapasan Pada Manusia Pada Soal 1
No Aspek yang dinilai Validator Rata-rata Kriteria
I II
1. Materi 4 4 4 Valid
2. Konstruksi 5 5 5 Sangat Valid
3. Bahasa 4 4 4 Valid
(Sumber: Lampiran 2 Hal 125-129)
Tabel 4.6 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal pertama yang membahas
tentang proses mekanisme inspirasi dan mekanisme ekspirasi sistem pernapasan pada
manusia. Rata-rata kriteria yang di dapat adalah valid dan sangat valid.
252
Tabel 4.21 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal pertama yang
membahas tentang susunan struktur organ sistem pernapasan pada manusia. Rata- rata
kriteria yang di dapat adalah valid dan sangat valid.
Tabel 4.22 Hasil Validasi THB Sistem Pernapasan Pada Manusia Pada Soal 2
No Aspek yang dinilai Validator Rata-rata Kriteria
I II
1. Materi 3 4 3,5 Valid
2. Konstruksi 4 4 4 Valid
3. Bahasa 4 4 4 Valid
(Sumber: Lampiran 2 Hal 130-135)
Tabel 4.22 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal kedua yang membahas
tentang susunan fungsi-fungsi organ sistem pernapasan pada manusia. Rata-rata kriteria
yang di dapat adalah valid.
Tabel 4.23 Hasil Validasi THB Sistem Pernapasan Pada Manusia Pada Soal 3
No Aspek yang dinilai Validator Rata-rata Kriteria
I II
1. Materi 4 5 4,5 Sangat Valid
2. Konstruksi 3 4 3,5 Valid
3. Bahasa 4 5 4,5 Sangat Valid
(Sumber: Lampiran 2 Hal 130-135)
Tabel 4.23 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal ketiga yang
membahastentang hitungan dalam sebuah organ sistem pernapasan pada manusia. Rata-
rata kriteria yang di dapat adalah valid dan sangat valid.
Tabel 4.24 Hasil Validasi THB Sistem Pernapasan Pada Manusia Pada Soal 4
No Aspek yang dinilai Validator Rata-rata Kriteria
I II
1. Materi 3 5 3,5 Valid
2. Konstruksi 4 5 4,5 Sangat Valid
3. Bahasa 4 5 4,5 Sangat Valid
(Sumber: Lampiran 2 Hal 130-135)
Tabel 4.24 Menunjukkan hasil validasi THB untuk hasil nilai soal keempat yang
membahas tentang menggambarkan sebuah organ sistem pernapasan pada manusia. Rata-
rata kriteria yang di dapat adalah valid dan sangat valid.
253
sehingga tulisan tersebut menjadi kurang rapi. Seharusnya penulisan yang benar “Hidung
merupakan organ pernapasan yang paling luar. Udara dari luar akan masuk ke dalam
tubuh melalui hidung.” Cukup dengan satu titik saja. Warna pada tulisan masih ada yang
kurang jelas untuk dibaca dan dipahami, jadi ganti dengan warna yang lebih kontras
dengan warna kertas yang putih, seperti warna biru malam atau merah.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa
bahwa penerapan model berbasis STEAM pada materi sistem pernapasan manusia di
kelas VIII SMP dapat dikatakan produk THB dalam kategori valid, karena sudah melalui
proses validitas dengan 2 tahap yang divalidasi oleh validator ahli yaitu dosen dan guru
IPA. Produk dapat dikatakan valid apabila memenuhi kategori valid yaitu 4,5 ≤ validitas
model<5,0 : sangat valid, 3,5 ≤ validitas model<4,5 : valid, 2,5 ≤ validitas model<3,5 :
cukup, 1,5 ≤ validitas model<2,5 : kurang valid, dan validitas model<1,5 : tidak valid.
DAFTAR RUJUKAN
Arif, M. (2014). Penerapan Aplikasi Anates Bentuk Soal Pilihan Ganda. Jounal of
Informatics Education, (2).
Hasanah, l. (2019). Pengembangan Modul Bioteknologi Berbasis STEAM (Science.
Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) Dilengkapi Animasi Flash untuk
Pembelajaran Biologi di SMA/MA, 1-2
Nefianthi, Rezky1. (2015). Efektivitas Model KNOS-KGS untuk Meningkatkan
Keterampilan Generik Sains dan Hasil Belajar Biologi Siswa SMA PGRI
Banjarmasin. Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015. Program Studi
Pendidikan Biologi UNS.
Tritiyatma. H, 2016. Keterampilan Abad 21 dan STEAM. Jakarta: LPPM Universitas
Negeri Jakarta.
254
VALIDITASI LEMBAR KERJA BIOLOGI SISWA (LKBS)
BERBASIS STEAM PADA MATERI SISTEM PERNAPASAN
MANUSIA DI SMP
Suci Murni (1), Rezky Nefianthi Wahab (2) dan Budi Prayitno (3)
1 SMP Negeri 5 Hulu Sungai Tengah, Jl. Bundung Raya Kec. Batu Benawa, Kode Pos 71371
2 Program Studi Biologi STKIP PGRI Banjarmasin
* Email : sucimurni2807@[Link]
ABSTRAK
Hasil pengamatan yang saya lakukan dengan beberapa guru di kelas VIII SMP dalam proses
pembelajaran hanya menggunakan LKBS yang ada pada buku paket atau panduan yang
diajarkan kepada siswa. Sehingga dari permasalahan ini saya ingin melakukan penelitian
yang menggunakan pembelajaran berbasis STEAM karena dari model ini proses
pembelajaran akan bervariasi dan tidak membosankan sehingga siswa lebih aktif dan
hasil belajar siswa meningkat. P enelitian ini termasuk penelitian dan pengembangan
(Researh and Development). Penelitian ini untuk mengembangkan LKBS yang terintegrasi
dengan pembelajaran berbasis STEAM, yang valid. validitas Lembar Kerja Biologi Siswa
(LKBS) berbasis STEAM pada materi Sistem Pernapasan Manusia di SMP. dapat
menyimpulkan bahwa lembar kerja siswa dikatakan valid dengan nilai VA 3,5 dalam kategori
valid.
ABSTRACT
The results of the observations I did with several teachers in class VIII SMP in the learning
process only used LKBS in the textbook or guide taught to students. So from this problem I
want to do research using STEAM- based learning because from this model the learning
process will be varied and not boring so that students are more active and student learning
outcomes increase. This research includes research and development (Researh and
Development). This research is to develop LKBS integrated with STEAM-based learning,
which is valid. the validity of the STEAM-based Student Biology Worksheet (LKBS) on
the Human Respiratory System in SMP. can conclude that the student worksheet is said to
be valid with a VA value of 3.5 in the valid category.
PENDAHULUAN
Saat ini Pendidikan di Indonesia mengacu pada Kurikulum 2013. Pelaksanaan
kurikulum 2013 mengacu pada proses pengembangan kompetensi siswa seperti aspek
sikap (afektif), aspek Pengetahuan (kognitif) dan aspek keterampilan (psikomotor) untuk
setiap mata pelajaran yang di ajarkan kepada siswa. Berdasarkan konsep dan
implementasi kurikulum 2013 ini, menunjukkan bahwa pembelajaran tidak cukup hanya
untuk meningkatkan pengetahuan saja akan tetapi juga harus dilengkapi dengan
kemampuan kreatif dan inovasi, berpikir kritis, mampu menyelesaikan masalah,
berkarakter kuat, dan mampu berkomunikasi serta kolaborasi (Kemendikbud, 2013).
Untuk dapat mencapai tujuan-tujuan tersebut pembelajaran di sekolah-sekolah perlu
menggunakan model pembelajaran yang tepat agar proses pembelajaran berjalan
efektif dan maksimal.
255
Pengembangan model pembelajaran merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam
merancang pembelajaran sebagai bentuk pertanggung- jawaban guru kepada siswa. IPA
adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada
gejala-gejala alam, siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, hal ini tentu sangat
berdampak terhadap kreatifitas dan inovasi siswa. Menurut UU No. 18 tahun 2002.
Inovasi adalah kegiatan penelitian, pengembangan atau perekayasaan yang bertujuan
mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau
cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam
produk atau proses p r o d u k s i (Herak, dkk 2019). Potensi inovasi yang sangat
penting pada dasarnya dimiliki oleh setiap anak, misalnya: rasa ingin tahu yang besar,
senang bertanya, imajinasi yang tinggi, berani menghadapi resiko, senang akan hal-hal
yang baru. Meskipun demikian faktor orang tua, guru di sekolah, dan lingkungan
merupakan faktor penting yang sangat mempengaruhi perkembangan inovasi tersebut.
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan untuk melatih inovasi siswa
adalah pendekatan STEAM (Beers, 2011).
STEAM (Science, Technology, Engineering Arts Mathematics) merupakan isu
penting dalam pendidikan saat ini (Becker dan Park 2011). Pendekatan STEAM
merupakan integrasi dari pembelajaran sains, teknologi, teknik, dan matematika yang
disarankan untuk membantu kesuksesan (Beers, 2011).
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk mengoptimalkan kegiatan
pembelajaran Biologi, adalah membuat produk LKBS yang berbasis STEAM. Lembar
Kerja Biologi Siswa (LKBS) merupakan suatu bahan ajar cetak berupa lembaran berisi
tugas yang didalamnya berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan tugas.
Hasil pengamatan yang saya lakukan dengan beberapa guru di kelas VIII SMP
dalam proses pembelajaran hanya menggunakan LKBS yang ada pada buku paket atau
panduan yang diajarkan kepada siswa. Sehingga dari permasalahan ini saya ingin
melakukan penelitian yang menggunakan pembelajaran berbasis STEAM karena dari
model ini proses pembelajaran akan bervariasi dan tidak membosankan sehingga siswa
lebih aktif dan hasil belajar siswa meningkat. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Validitas Lembar Kerja Biologi Siswa
(LKBS) Berbasisi STEAM pada Materi Sistem Pernapasan Manusia di SMP.
METODE PENELITIAN
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian dan pengembangan (Researh and Development).
Penelitian ini untuk mengembangkan LKBS yang terintegrasi dengan pembelajaran
berbasis STEAM, yang valid.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 6 bulan, dari bulan januari 2020 sampai
dengan juni 2020 mulai dari penyusunan proposal, pengambilan data, analisis data,
pembuatan laporan, dan seminar hasil. Tempat penelitian ini dilaksanakan di SMP.
256
3. Pengumpulan Data dan Analisis Data
Dikemukakan tentang analisis dan kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan
Berdasarkan Hasil Tabel 1. Validasi LKBS Sistem Pernapasan Pada Manusia tahap
pertama yang di validasi oleh dua validator, validator pertama memberikan komentar
sebagai berikut, pada organisasi lembar kerja biologi siswa rumusan indikator dan
rumusan tujuan tidak ditemukan sehingga harus menambahkan kedua rumusan tersebut
misal pada rumusan indikator dituliskan memahami dan mengidentifikasi organ
pernapasan manusia, menyajikan karya tentang upaya menjaga kesehatan sistem
pernapasan dan pada rumusan tujuan misalnya peserta didik dapat memahami dan
mengidentifikasi organ pernapasan.
Tabel 2. Hasil Validasi LKBS Mekanisme Pernapasan Pada Manusia
Validator Rata-rata Kriteria
I II
Jumlah 29 36 32,5 Cukup
Rata-rata 2,9 3,6 325 valid
257
Berdasarkan Hasil Tabel 3. Validasi LKBS Frekuensi Pernapasan Pada Manusia
tahap pertama yang di validasi oleh dua validator, validator pertama memberikan
komentar sebagai berikut, pada aspek organisasi lembar kerja siswa, prosedur, dan
pertanyaan atau masalah, yaitu; tambahkan rumusan indikator dan rumusan tujuan karena
belum ditemukannya rumusan indikator dan rumusan tujuan dibagian awal, misal pada
bagian rumusan indikator ditambahkan “memahami berbagai frekuensi dan volume
pernapasan, menyajikan karya tentang upaya menjaga kesehatan sistem pernapasan”
pada bagian rumusan tujuan dituliskan “peserta didik dapat memahami berbagai frekuensi
dan volume pernapasan”.
I II
Jumlah 29 36 32,5 Cukup
Rata-rata 2,9 3,6 3,25 valid
Berdasarkan Hasil Tabel 4. Validasi LKBS tahap pertama yang di validasi oleh dua
validator, validator pertama memberikan komentar yang hamper sama dengan komentar
1, 2, dan 3 sebagai berikut, pada aspek organisasi lembar kerja biologi siswa, prosedur,
dan pertanyaan atau masalah, yaitu pada rumusan indikator dan rumusan tujuan belum
ditemukan sehingga harus ditambahkan misal, pada rumusan indikator yaitu “memahami
berbagai gangguan pada sistem pernapasan dan menyajikan karya tentang upaya menjaga
kesehatan sistem pernapasan” pada bagian rumusan tujuan yaitu “peserta didik dapat
memahami berbagai gangguan pada sistem pernapasan”.
Berdasarkan Hasil Tabel 5. Validasi LKBS Sistem Pernapasan Pada Manusia tahap
kedua yang di validasi oleh dua validator, validator pertama memberikan komentar
sebagai berikut, LKBS sudah cukup valid sehingga sudah dapat digunakan.
258
Berdasarkan Hasil Tabel 6. Validasi LKBS Mekanisme Pernapasan Pada Manusia
tahap kedua yang divalidasi oleh dua validator, validator pertama memberikan komentar
sebagai berikut, Berdasarkan aspek penelitian pada lembar validitas, bisa disimpulkan
bahwa LKBS ini sudah cukup valid dan bisa digunakan
Tabel 7. Hasil Validasi LKBS Frekuensi Pernafasan pada Manuasi
I II
Jumlah 40 47 43,5 Valid
Rata-rata 4 4,7 4,35
Berdasarkan Hasil Tabel 4.8 Validasi LKBS tahap kedua yang di validasi oleh dua
validator, validator pertama Gangguan Sistem Pernapasan dan Upaya Pencegahan dan
Penanggulangan Terhadap Gangguan Sistem Pernapasan validator pertama memberikan
komentar sebagai berikut, saran validator masih sama dengan saran sebelumnya yaitu
menambahkan cover agar lebih menarik dan jika ada istilah atau kata yang asing atau sulit
untuk dipahami maka harus diberi penjelasan supaya lebih mudah untuk memahami, misal
pada kata kardiovaskuler harus ditambahkan penjelasannya. Validator kedua juga
memberikan komentar sebagai berikut, semua aspek penilaian sudah valid
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang validitas Lembar Kerja
Biologi Siswa (LKBS) berbasis STEAM pada materi S i s t e m P e r n a p a s a n
M a n u s i a di SMP dapat menyimpulkan bahwa lembar kerja siswa dikatakan valid
dengan nilai VA 3,5 dalam kategori valid
DAFTAR PUSTAKA
Adam. 2018. Pengembangan LKBS Berbasis Model KNoS-KGS dalam Meningkatkan
Keterampilan Abad 21 pada Konsep Pencemaran Lingkungan dan Daur Ulang
Limbah di Kelas X SMA Negeri 1 Mekarsari.
Daryanto, Syaiful Karim. 2016. Pembelajaran Abad 21. Malang: 2-3.
259
Depdiknas. 2010. Panduan Pendidikan Karakter di SMP. Balitbang Depdiknas. Jakarta.
Hamdu, Ghullam dan Lisa, Agustina. 2011. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap
Prestasi Belajar IPA di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, 90-96.
Kemendikbud. 2013. Pengembangan Kurikulum 2013. Paparan Mendikbud dalam
Sosialisasi Kurikulum. Jakarta: Kemendikbud.
Kunandar, 2013. Penilaian Autentik. Jakarta: Rajagrafindo Perdasa.
Mahisti, Fita Dwi, dan Le stari, Nana Citra. 2019. Pengembangan LKBS model
pembelajaran KNoS-KGS pada materi sistem koordinasi SMA Negeri 13
Banjarmasin. Jornal Pendidikan Hayati, 5(3)
Nefianthi, Rezky. 2015a. Efektivitas Model KNOS-KGS untuk Meningkatkan
Keterampilan Generik Sains dan Hasil Belajar Biologi Siswa SMA PGRI 1
Banjarmasin. Seminar Nasional Pendidikan Biologi 2015. Program Studi
Pendidikan Biologi UNS.
Nefianthi, Rezky. 2015b. Uji Keefektifan Model KNoS- KGS Pada Siswa Kelas X8 SMA
PGRI 2 Banjarmasin. Seminar Nasional Pendidikan Sains 2015, Program Studi
Pendidikan Biologi Fakultas Biologi UKSW.
Nefianthi, Rezky. 2016a. Kepraktisan Model Pembelajaran Biologi Kolaboratif
Berorientasi Nature of Science Integrasi Keterampilan Generik Sains (Model
KNoS- KGS) di SMA PGRI 1 Banjarmasin. Jurnal Ilmiah Bio Smart (JIBS).
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi.
Nefianthi, Rezky. 2016b. Menilai Keterampilan Generik Sains Siswa Melalui Model
Pembelajaran Biologi [Link] Nasional IV. K3SD Kota Banjarbaru
& KP2D Kota Banjarbaru.
Nefianthi, Rezky. 2016c. Pengembangan model pembelajaran biologi kolaboratif
beroreintasi nature of science integrasi keterampilan generic sains (model KNoS-
KGS). Seminar Nasional Pendidikan Sains
2015. Surakarta: Program Studi Pendidikan Biologi UNS.
Sanjaya, Wina. 2012. Sistem Pembelajaran. Bandung: Kencana.
Siti, Zubaidah. 2016. Keterampilan abad ke-21: Keterampilan yang diajarkan melalui
pembelajaran. Seminar Nasional Pendidikan dengan tema "Isu-isu Strategis
Pembelajaran MIPA Abad, (Vol. 21, No. 10).
Trianto. 2010. Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksana.
. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresi. Surabaya:
Kencana.
260
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN
BERBASIS PBL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SMP
Suciyati1, Hardiansyah2
STKIP TAMAN SISWA BIMA
[Link]@[Link]
ABSTRAK
ABSTRACT
Problem solving is part of mathematical ability, but it has not been developed optimally
among students. Problem solving is considered a difficult math activity for both the
teacher who teaches it and the students who study it. This is accompanied by teachers
who believe that students have the same learning abilities and math problem solving
abilities. Beside in addition, there are not many learning tools that accommodate math
problem solving abilities. This type of research is development research using the ADDIE
procedure (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Testing of
learning tools was carried out at SMP Negeri 3 Woha with the test subject in class VII1.
The results showed that the learning tools was stated (1) Valid, based on the acquisition
score of the learning tools assessment of 4.32 with a very good category; (2) Practical,
with the assessment score of the positive response of students of 83%, it means that the
majority of students think that the learning they have obtained is carried out well and the
observation score of learning implementation is 4.23 with the very good category; (3)
Effective, with the percentage of completeness of mathematical problem solving abilities
of 87%. So that the learning tools that have been developed have met the very valid,
practical and effective criteria to improve students' mathematical problem solving
abilities.
261
PENDAHULUAN
Matematika merupakan bagian integral dari umat manusia. Matematika tidak hanya
melibatkan kumpulan angka, konsep, rumus, teorema, logika, gambar, dan langkah, tetapi
angka-angka ini harus diingat untuk menyelesaikan masalah. Siswa harus sadar akan
pentingnya matematika, karena mereka perlu mengembangkan pemikiran matematisnya
sendiri untuk mengamati dan menginterpretasikan dunia, mereka membutuhkan
kemampuan untuk memecahkan masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan
yang lebih penting, mereka harus memiliki sikap positif terhadap matematika [1].
Pemecahan masalah merupakan keseluruhan tujuan pembelajaran matematika,
artinya kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar
matematika [2]. Pentingnya kemampuan pemecahan masalah siswa merupakan syarat
utama yang harus dimiliki. Hal ini merupakan dasar utama untuk meningkatkan
kemampuan menguasai konsep lainnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika [3].
Pemecahan masalah merupakan bagian dari kemampuan matematika, tetapi belum
dikembangkan secara optimal di kalangan siswa [4]. Pemecahan masalah dianggap
sebagai aktivitas matematika yang sulit bagi guru yang mengajarnya dan siswa yang
mempelajarinya [5]. Dibarengi dengan guru yang percaya bahwa siswa memiliki
kemampuan belajar dan kemampuan memecahkan masalah matematika yang sama [6].
Selain itu, perangkat pembelajaran yang mengakomodasi kemampuan pemecahan
masalah matematika belum banyak tersedia.
Mengingat pentingnya kemampuan pemecahan masalah matematika siswa maka
perlu dicarikan jalan alternatif guna meningkatkan kemampuan pemecahan matematika
siswa. Sehingga dibutuhkan sebuah model pembelajaran yang efektif digunakan untuk
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Model pembelajaran
yang cocok untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa
yaitu model PBL.
Model PBL sangat cocok digunakan untuk pembelajaran matematika dalam
kemampuan pemecahan masalah karena memungkinkan siswa untuk berpartisipasi aktif
dalam kegiatan mengajar [7]. Didukung juga dengan hasil penelitian Sumartini bahwa
peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang mendapat
pembelajaran PBL lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional
[8].
Model PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan latar
belakang masalah aktual agar siswa dapat mempelajari keterampilan pemecahan masalah
[9]. PBL merupakan model pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada
masalah autentik sehingga siswa dapat menyusun pengetahuannya sendiri,
mengembangkan keterampilan dan kemampuan inkuiri yang lebih tinggi, menjadi siswa
yang mandiri dan meningkatkan rasa percaya diri [10].
262
1. Model PBL
Model PBL sesuai dengan filosofi konstruktivisme yaitu siswa diberi kesempatan
lebih banyak untuk aktif mencari dan memproses informasi sendiri, membangun
pengetahuan sendiri, dan membangun makna berdasarkan pengalaman yang diperolehnya
[11]. Duch mendefinisikan PBL sebagai pendekatan pembelajaran yang mempunyai ciri
menggunakan masalah nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis,
keterampilan pemecahan masalah, dan memperoleh pengetahuan mengenai esensi materi
pembelajaran [12].
PBL merupakan model pembelajaran yang menantang siswa untuk belajar dan
bekerja sama secara aktif, baik dengan berpasangan atau berkelompok untuk
mengembangkan cara berfikir dengan menemukan masalah, membangun pemahaman,
serta mencari alternatif penyelesaian masalah untuk memperoleh pengetahuan dan
keterampilan [13]. Dengan menerapkan model PBL saat pembelajaran dapat membantu
siswa menjadi lebih paham terhadap materi ajar, mendorong untuk mampu memecahkan
masalah, memotivasi dalam belajar, siswa dapat mencapai sikap yang baik dan
kemampuan yang tinggi dalam kinerja mereka dalam proses belajar dan outputnya [14,
15].
Ada 5 (lima) langkah dalam pembelajaran PBL antara lain: 1) orientasi siswa pada
masalah; 2) mengorganisasikan siswa untuk belajar; 3) membimbing pengalaman
individual/kelompok; 4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; 5) menganalisis
dan mengevaluasi proses pemecahan masalah [16].
2. Pemecahan Masalah
Menurut Turmudi, pemecahan masalah adalah proses melibatkan suatu tugas yang
metode pemecahannya belum diketahui lebih dahulu, untuk mengetahui penyelesaiannya
siswa hendaknya memetakan pengetahuan mereka, dan melalui proses ini mereka sering
mengembangkan pengetahuan baru tentang matematika, sehingga pemecahan masalah
merupakan bagian tak terpisahkan dalam semua bagian pembelajaran matematika, dan
juga tidak harus diajarkan secara terisolasi dari pembelajaran matematika [17]. Melalui
pemecahan masalah siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuannya dalam
membangun pengetahuan matematika yang baru, memecahkan masalah matematika,
menerapkan berbagai strategi yang diperlukan dan merefleksikan proses pemecahan
masalah matematik yang diperoleh melalui pemecahan masalah matematika sesuai
dengan prosedur yang tepat [18].
Terdapat 4 (empat) tahapan pemecahan masalah matematika ditunjukkan siswa
dalam: 1) memahami masalah yaitu dengan menyebutkan hal-hal yang diketahuidan
ditanyakan dari masalah yang diberikan; 2) merencanakan penyelesaian masalah, yaitu
dengan menuliskan tahapan/langkah rencana penyelesaian masalah; 3) menyelesaikan
masalah sesuai rencana, yaitu dengan menuliskan penyelesaian masalah dan jawaban
sesuai dengan prosedur yang telah direncanakan; dan 4) memberikan kesimpulan
terhadap solusi yang diperoleh [19, 20]. Melalui tahapan-tahapan dalam pemecahan
263
masalah tersebut, maka akan melatih kemampuan berpikir siswa untuk dapat
memecahkan masalah matematika secara efektif.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan perangkat pembelajaran berbasis
PBL yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang
berkualitas baik, berdasarkan aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian R & D (Research and Development) karena
metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji
keefektifan produk, dengan menggunakan model ADDIE yang meliputi tahap analysis,
design, development, implementation, dan evaluation. Produk yang dikembangkan diuji
validitas, kepraktisan dan efektivitasnya dalam penelitian ini adalah perangkat
pembelajaran berbasis PBL. Pengembangan perangkat pembelajaran diantaranya adalah
Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Bahan Ajar, Lembar Kerja Siswa
(LKS), dan Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa (TKPM).
Adapun penjelasan dari tahapan tersebut diuraikan sebagai berikut:
1. Analysis (Tahap Analisis)
Sebelum memulai pengembangan perangkat pembelajaran, langkah yang dapat
dilakukan adalah melakukan analisis permasalahan dan solusi yang disesuaikan dengan
kebutuhan siswa. Salah satunya dengan pengamatan secara langsung kegiatan
pembelajaran di kelas. Berdasarkan analisis masalah, maka masalah yang dihadapi oleh
siswa di kelas tersebut adalah siswa teridentifikasi mengalami kesulitan menyelesaikan
permasalahan matematika. Sehingga diperlukan perangkat pembelajaran yang mampu
membantu melatih kemampuan pemecahan matematika siswa.
2. Design (Tahap Perancangan)
Pada tahap ini dilakukan penyusunan rancangan perangkat pembelajaran,
pengumpulan referensi, dan penyusunan instrumen.
3. Development (Tahap Pengembangan)
Pada tahap ini, peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran berdasarkan
rancangan yang telah direncanakan. Produk yang akan dikembangkan adalah perangkat
pembelajaran yang terdiri dari Silabus, RPP, bahan ajar, LKS, dan TKPM berbasis PBL
yang dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa.
4. Implementation (Tahap Implementasi)
Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan yaitu uji coba perangkat pembelajaran
yang dilakukan dalam pembelajaran di kelas, pengisian lembar angket respon siswa dan
lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, dan tes kemampuan pemecahan masalah
siswa. Uji coba dilaksanakan sebanyak enam kali pertemuan dan ditambah dua kali
pertemuan untuk dilakukan tes kemampuan pemecahan masalah siswa.
5. Evaluation (Tahap Evaluasi)
Pada tahap evaluasi ini, peneliti mengevalusi perangkat pembelajaran yang
dikembangkan dengan melakukan analisis data menggunakan data hasi uji coba yang
telah dilakukan. Data kevalidan perangkat pembelajaran diperoleh dari hasil penilaian
264
perangkat pembelajaran yang divalidasi oleh validator ahli. Data kepraktisan perangkat
pembelajaran diperoleh dari hasil lembar angket respon siswa dan lembar keterlaksanaan
pembelajaran. Sedangkan aspek keefektifan dilihat dari hasil tes kemampuan pemecahan
masalah matematika siswa.
HASIL
Berikut analisis kualitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan meliputi
aspek kevalidan, kepraktisan dan keefektifan.
1. Kevalidan Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang peneliti rancang meliputi silabus, RPP, bahan ajar,
LKS, dan TKPM. Perangkat yang sudah dibuat kemudian divalidasi oleh validator ahli
yang terdiri dari 2 dosen dari program studi pendidikan matematika STKIP Taman Siswa
Bima dan 1 orang guru mata pelajaran matematika. Berikut hasil penilaian validator
terhadap semua perangkat pembelajaran.
Tabel 1. Hasil Perolehan Penilaian Perangkat Pembelajaran
Rata-rata Skor
Perangkat Validator Rata-rata Total Kategori
V01 V02 V03
Silabus 4,00 4,69 4,38 4,35 SangatBaik
RPP 3,91 4,22 4,55 4,23 SangatBaik
Bahan Ajar 4,00 4,00 4,40 4,13 Baik
LKS 4,13 4,25 4,88 4,42 Sangat Baik
TKPM 4,43 4,14 4,86 4,48 Sangat
Baik
Rata-rata perangkat pembelajaran 4,32 Sangat
Baik
Berdasarkan Tabel 1 di atas diketahui bahwa rata-rata nilai untuk silabus, RPP,
Bahan Ajar, LKS, dan TKPM yang dinilai oleh para validator adalah 4,32 termasuk dalam
kategori sangat baik, sehingga dapat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran yang
dikembangkan termasuk dalam kategori valid.
2. Kepraktisan Perangkat Pembelajaran
Kepraktisan perangkat pembelajaran yang dikembangkan diukur melalui hasil
respon siswa dan observasi keterlaksanaan pembelajaran. Hasil data respon siswa
didapatkan dengan memberikan angket respon siswa yang diisi oleh 30 siswa setelah
memperoleh pembelajaran. Sedangkan data pengamatan keterlaksanaan pembelajaran
didapatkan dari kegiatan observasi. Kegiatan observasi tersebut dilakukan oleh 2 orang
guru. Berikut adalah Tabel hasil penilaiannya.
Tabel 2. Respon Siswa terhadap Pembelajaran
Respon Positif Respon Negatif Porsentase
26 4 83% 17%
265
Tabel 3. Hasil Pengamatan Keterlaksanaan Pembelajaran
Keterlaksanaan
Rata-rata Kategori
Pembelajaran
Pertemuan 1 3,93 Baik
Pertemuan 2 4,25 Sangat Baik
Pertemuan 3 4,06 Baik
Pertemuan 4 4,19 Baik
Pertemuan 5 4,44 Sangat Baik
Pertemuan 6 4,50 Sangat Baik
Rata-rata Total 4,23 Sangat Baik
Berdasarkan Tabel 2 diperoleh hasil bahwa siswa yang memberikan respon positif
terhadap pembelajaran mencapai 83%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa
menganggap pembelajaran yang telah mereka peroleh dilaksanakan dengan baik.
Sedangkan hasil penilaian pengamatan keterlaksanaan pembelajaran (Tabel 3) yang
dilakukan pada pertemuan pertama sampai pertemuan keenam diperoleh nilai rata-rata
total 4,23 masuk dalam kategori sangat baik. Maka diperoleh kesimpulan bahwa
pembelajaran yang dikembangkan termasuk dalam kategori praktis.
266
PBL untuk siswa kelas VII SMP memenuhi kualitas valid, praktis, dan efektif dan mampu
meningkatkan kemampuan pemecahan matematika. Sejalan dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Mariani, dkk dan Etherington yang menyatakan bahwa pembelajaran PBL
dapat meningkatkan motivasi siswa untuk memecahkan masalah dunia nyata dan
menjadikan pembelajaran lebih efektif [21, 22]. Hasil penelitian dari Festus juga
menunjukkan bahwa penggunaan model PBL dalam pembelajaran matematika
merupakan strategi pembelajaran yang efektif di kelas, dan melalui pembelajaran model
PBL siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Penggunaan PBL untuk
pembelajaran akan memungkinkan siswa mengetahui informasi tentang masalah,
kemudian siswa akan menemukan informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
masalah dan strategi apa yang digunakan untuk memudahkan dalam menyelesaikan
masalah tersebut [23].
Model PBL merupakan model pembelajaran yang dapat menantang siswa untuk
aktif belajar dan bekerja sama secara berpasangan atau berkelompok untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan dengan menemukan masalah dan membangun
pemahaman, dan mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan [24]. Penerapan model PBL dapat membantu siswa
menjadi lebih mengenal materi ajar, mendorong mereka untuk memecahkan masalah,
memungkinkan siswa menunjukkan sikap dan kemampuan yang baik dalam proses dan
hasil pembelajaran.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai
berikut:
1. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan tergolong valid. Hasil didapatkan dari
penilaian perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, RPP, bahan ajar, LKS, dan
TKPM memperoleh rata-rata skor sebesar 4,32 dengan kriteria sangat baik.
2. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan tergolong praktis. Hasil didapatkan dari
lembar angket respon positif siswa sebesar 83% dan hasil lembar observasi
keterlaksanaan pembelajaran dengan skor 4,23 dengan kategori sangat baik.
3. Perangkat pembelajaran berbasis PBL untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah matematika siswa memenuhi kategori efektif. Hasil didapatkan dari nilai tes
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan porsentase ketuntasan
sebesar 87%.
DAFTAR PUSTAKA
[1] R. Zvenbergen, S. Dole, and, R. J. Wright, “Teaching Mathematics in Primary
School, ” New South Wales: Allen & Unwi, 2004.
[2] R. Sariningsih, and P. Ratna, “Pembelajaran Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis dan Self Efficacy
Mahasiswa Calon Guru,” JNPM (Jurnal Nasional Pendidikan Matematika), vol. 1,
no. 1, pp. 63-17, 2017.
267
[3] N. Izzati, “Meningkatkan Kemampuan Mahasiswa dalam Menyusun RPP melalui
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (Studi Kuasi Eksperimen
terhadap Mahasiswa Tadris Matematika IAIN Syekh Nurjati Cirebon),” Jurnal
Euclid. vol. 1, no. 1 pp. 659-674, 2017.
[4] B. E. S. Riau, and I. Junaedi, “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik
Siswa Kelas VII Berdasarkan Gaya Belajar Pada Pembelajaran PBL,” Unnes Journal
of Mathematics Education Research. vol 5. no. 2, pp. 166-178, 2016.
[5] E. Sulastri, S. Mariani, and Mashuri, “Studi Perbedaan Keefektifan Pembelajaran
LC-5E dan CIRC terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika,” Jurnal
Matematika Kreatif-Inovatif, vol. 6, no. 1, pp. 26-32, 2015.
[6] L. Vendiagrys, I. Junaedi, and Masrukan, “Analisis Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematika Soal Setipe TIMSS Berdasarkan Gaya Kognitif Siswa pada
Pembelajaran Model Problem Based Learning,” Unnes Journal of Mathematics
Education Research, vol. 4 no. 1, pp. 34-41, 2015.
[7] S. U. Olpado, and H. Yeni, “Korelasi antara Motivasi Belajar dengan Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematik Peserta Didik Menggunakan Model Problem Based
Learning (PBL),” Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pengajaran Matematika, vol. 3,
no. 1, pp. 63-70, 2017.
[8] T. S. Sumartini, “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
melalui Pembelajaran Berbasis Masalah,” Jurnal Pendidikan Matematika STKIP
Garut,” vol. 5, no. 2, pp. 148-158, 2016.
[9] R. I. Arends, “Classroom Instruction and Management,” New York: McGraw-Hill
Companies, Inc., 1997.
[10] M. Hosnan, “Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21,”
Jakarta: Ghalia Indonesia, 2014.
[11] N. L. Sudewi, dkk., “Studi Komparasi Penggunaan Model Pembelajaran Problem
Based Learning (PBL) dan Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) terhadap Hasil
Belajar Berdasarkan Taksonomi Bloom,” Journal Program Pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha. vol. 4, no. 1, pp. 1-9, 2014.
[12] Reflina, “Kaitan Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Kemampuan Self-Efficacy
Siswa.,” AXIOM: Jurnal Pendidikan dan Matematika, vol. 7, no. 1, 2018.
[13] E. Yunianti, J. Maxinus, and Mustamin, “Pengaruh Model Pembelajaran dan Self-
Efficacy terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMA Negeri 1 Parigi,” e-Jurnal
Mitra Sains, vol. 4, no. 1, pp. 8-19, 2016.
[14] G. Gunantara, dkk, “Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas V,” Jurnal
Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha, vol. 2, no. 1, 2014.
[15] Cheriani, et al, “Problem Based Learning Buginese Cultural Knowledge Model Case
Study: Teaching Mathematics at Junior High School,” International Education
Studies, vol. 8, no. 4, 2015.
[16] Rusman, “Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru,”
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014.
268
[17] Husna, dkk, “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Komunikasi
Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS),” Jurnal Peluang. vol. 1, no. 2, pp. 81-92,
2013.
[18] M. Anggo, “Pelibatan Metakognisi dalam Pemecahan Masalah Matematik,”
Edumatica, vo. 1, no. 1, pp. 25-32, 2011.
[19] Polya, “How to Solve It, A New Aspect of Mathematics Method,” New Jersey:
Princeton University Press, 1973.
[20] L. Kodariyati, and A. Budi, “Pengaruh Model PBL terhadap Kemampuan
Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas V SD,” Jurnal Prima
Edukasia., vol. 4, no. 1, pp. 93-106, 2016.
[21] S. Mariani, Wardono, and E. Kusumawardani, “The Effectiveness of Learning by
PBL Assisted Mathematics Pop Up Book Againts the Spatial Ability Grade VIII on
Geometry Subject Matter,” International Journal of Education and Research, vol. 3,
no. 2, pp. 79-94, 2014.
[22] M. B. Etherington, “The Effects of Problem Based Learning Instruction on
University Student’s Performance of Conceptual and Quantitative Problems in Gas
Concepts,” Australian Journal of Teacher Education, vol. 36, no. 9, pp. 48-50, 2011.
[23] A. B. Festus, “Activity Based Learning Strategies in the Mathematics Classrooms,”
Journal of Education Practice, vol. 4, no. 13, pp. 8-14, 2013.
[24] E. Yunianti, J. Maxinus, and Mustamin, “Pengaruh Model Pembelajaran dan Self-
Efficacy terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa SMA Negeri 1 Parigi,” e-Jurnal
Mitra Sains, vol. 4, no. 1, pp. 8-19, 2016.
269
ANALISIS IMPLEMENTASI FULL DAY SCHOOL DALAM
PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA SMP NEGERI
DI BANJARMASIN
Tati’ah, S. Pd, M. Pd
Dosen FKIP Universitas Achmad Yani Banjarmasin
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi full day school dalam
pembentukan karakter siswa SMP Negeri di Banjarmasin. Jenis penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif dengan metode survey. Desain penelitiannya adalah deskriptif.
Penelitian ini mendeskripsikan tentang implementasi full day school dalam pembentukan
karakter siswa SMP Negeri di Banjarmasin. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa
SMP Negeri Banjarmasin. Sampel penelitian adalah 66 siswa SMP Negeri 6 Banjarmasin
sebagai wakil sekolah yang telah menerapkan full day school. Teknik pengumpulan data
dengan menggunakan angket tentang implementasi full day school dalam pembentukan
karakter siswa SMP Negeri. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil
penelitian analisis implementasi full day school dalam pembentukan karakter siswa SMP
Negeri di Banjarmasin diperoleh nilai rata-rata 81,09 dengan kategori baik. Untuk
Implementasi full day school SMP Negeri di Banjarmasin diperoleh nilai rata-rata 79,69
dengan kategori baik. Pembentukan karakter siswa SMP Negeri di Banjarmasin diperoleh
nilai rata-rata 82,83 dengan kategori baik
ABSTRACT
This study aims to determine how the implementation of full day school in shaping the
character of students of SMP Negeri in Banjarmasin. This type of research is a quantitative
study with a survey method. The research design is descriptive. This study describes the
implementation of full day school in building the character of students of SMP Negeri in
Banjarmasin. The population in this study were all students of SMP Negeri Banjarmasin.
The research sample was 66 students of SMP Negeri 6 Banjarmasin as representatives of
schools that have implemented full day school. The data collection technique used a
questionnaire about the implementation of full day school in character building of state
junior high school students. The analysis used is descriptive analysis. The results of the
research on the analysis of the implementation of full day school in the character building of
the students of State Junior High Schools in Banjarmasin obtained an average score of 81.09
with good categories. For the implementation of full day school SMP Negeri in Banjarmasin
an average score of 79.69 was obtained in the good category. The character building of State
Junior High School students in Banjarmasin obtained an average score of 82.83 in the good
category.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal yang mendasar dan harus menjadi perhatian pemerintah
dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia. Dalam meningkatkan sumber daya
manusia maka pendidikan harus terus mengalami perbaikan. Perbaikan tersebut harus
bertahap mulai dari kurikulumnya sampai pelaksanaan proses pembelajarannya.
271
Pelaksanaan proses pembelajaran saat ini dianggap kurang optimal sehingga masih ada
waktu yang terlalu longgar bagi siswa melakukan kegiatan di luar sekolah. Waktu longgar
itulah yang dianggap mampu mempengaruhi siswa untuk bertingkah laku kurang
terkontrol oleh pihak sekolah.
Program full day school (delapan jam belajar) dilaksanakan mulai bulan Juli 2017.
Namun bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya dan sarana transportasi yang
memadai, maka kebijakan ini dilakukan secara bertahap [2].
Dengan menerapkan full day school diharapkan mampu mengurangi gangguan-
gangguan dari luar sekolah, karena siswa lebih lama berada di sekolah yang selalu
terpantau oleh pihak sekolah. Sekolah-sekolah yang ada di Indonesia diharapkan
melaksanakan proses pendidikan dengan lima hari belajar atau sehari belajar selama
delapan jam (full day school). Menerapkan full day school siswa akan lebih banyak
melakukan kegiatan di sekolah dan pihak sekolah dapat menerapkan pembiasaan yang
mendukung program sekolah. Sehingga dapat membentuk siswa menjadi manusia yang
memiliki karakter.
Berdasarkan hasil penelitian Arioka (2018) masih ditemukan adanya pro kontra
dengan penerapan full day school. Penerapan full day school dianggap mampu
mengurangi waktu siswa yang banyak dihabiskan untuk keluyuran sepulang dari sekolah.
Namun ada pihak yang beranggapan dengan full day school akan menimbulkan banyak
masalah, mulai dari makan siang siswa, siswa tidak bisa istirahat siang, siswa tidak bisa
belajar sosialisasi di lingkungan, mengurangi waktu bermain siswa dan masih banyak
lagi alasan lain. Pro kontra inilah yang akhirnya membuat pemerintah untuk mengkaji
ulang kebijakan full day school, yang akhirnya kebijakan tersebut diserahkan kepada
pihak sekolah masing-masing boleh atau tidak menerapkan full day school [3].
Penerapan full day school diharapkan mampu membentuk karakter siswa. Karena
pendidikan karakter yang sudah diterapkan selama beberapa tahun belakangan ini belum
menunjukan hasil yang optimal. Hal ini terbukti dari fenomena sosial yang menunjukan
perilaku yang tidak berkarakter [4].
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka di Banjarmasin ada salah satu sekolah
yaitu SMP Negeri 6 Banjarmasin tertarik untuk menerapkan full day School, dengan
tujuan ingin lebih focus dalam membentuk karakter siswa. Sekolah beranggapan dengan
full day school sekolah memiliki waktu lebih banyak dalam melakukan pembiasaan dan
memantau perilaku siswa di sekolah.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah
“Bagaimana Implementasi full day school dalam pembentukan karakter siswa SMP Negeri di
Banjarmasin? “
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
bagaimana implementasi full day school dalam pembentukan karakter siswa SMP Negeri
di Banjarmasin.
272
a. Bagi Dinas Pendidikan Banjarmasin
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi dinas pendidikan
untuk bahan pertimbangan dalam rangka menerapkan system pendidikan di
Banjarmasin.
b. Bagi Sekolah
Dapat memberikan manfaat bagi sekolah terutama kepala sekolah dan para guru untuk
menambah wawasan, pengetahuan dan pemahaman tentang full day school sehingga
dapat menerapkan pembiasaan yang baik terhadap pembentukan karakter siswanya,
khususnya siswa-siswi di SMP NEGERI Banjarmasin.
c. Bagi Peneliti
Memberikan referensi bagi peneliti lain yang akan mengadakan penelitian dan ada
relevansinya dengan penelitian ini.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fullday School
Pengertian full day school secara umum adalah program sekolah yang
menyelenggarakan proses belajar mengajar di sekolah selama sehari penuh. Umumnya
sekolah yang menyelenggarakan pendidikan full day school dimulai pukul 07.30 sampai
pukul 16.30 WITA.
Menurut Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 23 tahun 2017
tentang hari sekolah, bahwa full day school merupakan belajar sehari yang lamanya
delapan jam selama lima hari dalam satu minggu. Dalam full day school semua program
dan kegiatan siswa di sekolah, baik belajar, bermain, beribadah dikemas dalam sebuah
system pendidikan [5].
Harapan dari mendikbud, dengan belajar delapan jam sehari sekolah mampu
memantau siswanya lebih baik dan menjauhkan siswa dari gangguan luar sekolah. Full
day school mampu menerapkan pembiasaan-pembiasan untuk bekal siswa dalam
kehidupannya.
Full day school mewajibkan aktifitas akademiknya berada di sekolah dan
mengikuti semua kegiatan akademik mulai dari sampai sore hari. Tugas sekolah [PR]
dalam full day school dilakukan di sekolah dengan bimbingan guru yang bertugas.
Pelajaran yang sulit diletakan di awal pembelajaran sedangkan pelajaran yang dianggap
mudah diletakan di akhir proses pembelajaran.
Dimulainya sekolah sejak pagi hari sampai sore hari, sekolah lebih leluasa mengatur
jam pelajaran. Sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Sistem pembelajaran
dalam Full day school biasanya dikondisikan dengan system yang tidak kaku, belajar
dengan menyenangkan bagi siswa dan membutuhkan kreatifitas dan inovasi seorang
guru.
Bagi sekolah yang menerapkan full day school, lamanya waktu pembelajaran tidak
akan menjadi beban karena sebagian waktunya digunakan untuk waktu-waktu informal.
Waktu istirahat saja bisa digunakan sebagai pembelajaran, karena disitu diterapkannya
273
pembiasaan dalam hal cara antri di kantin serta berdoa sebelum atau sesudah makan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Full day school adalah waktu belajar selama sehari
atau delapan jam yang dilaksanakan dalam lima hari, mulai dari pukul 07.30 sampai pukul
16.30 WITA [6].
274
1. Cinta kepada alloh
2. Tanggung jawab, disiplin dan mandiri
3. Jujur
4. Hormat dan santun
5. Kasih saying, peduli dan kerja sama
6. Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah
7. Keadilan dan kepemimpinan
8. Baik dan rendah hati
9. Toleransi, cinta damai dan persatuan
Sembilan karakter dasar ini merupakan pondasi utama dalam pendiidikan karakter dan
menjadi tujuan dari penanaman karakter pada peserta didik [11].
Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah dengan pembiasaan yang
diterapkan oleh pihak sekolah kepada siswa. Dalam proses pembelajaran juga harus
mampu memfasilitasi pembentukan dan pengembangan peserta didik, yaitu dengan
mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kegiatan pembelajaran. Mengintegrasikan
nilai-nilai karakter yaitu dengan memadukan, memasukan, dan menerapkan nilai-nilai
yang diyakini mampu membentuk dan mengembangkan tabiat. Termasuk kegiatan
ekstrakuler yang dilakukan oleh siswa juga harus diintegrasikan dengan nilai-nilai
karakter. Semua kegiatan siswa di sekolah secara keseluruhan harus diintegrasikan
dengan nilai-nilai sekolah. Waktu istirahatpun harus diintegrasikan nilai pendidikan
karakter, misalnya dengan membudayakan budaya antri di kantin, jujur serta toleransi
[12].
Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah dengan pembiasaan yang
diterapkan oleh pihak sekolah kepada siswa. Dalam proses pembelajaran juga harus
mampu memfasilitasi pembentukan dan pengembangan peserta didik, yaitu dengan
mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam kegiatan pembelajaran. Mengintegrasikan
nilai-nilai karakter yaitu dengan memadukan, memasukan, dan menerapkan nilai-nilai
yang diyakini mampu membentuk dan mengembangkan tabiat. Termasuk kegiatan
ekstrakuler yang dilakukan oleh siswa juga harus diintegrasikan dengan nilai-nilai
karakter. Semua kegiatan siswa di sekolah secara keseluruhan harus diintegrasikan
dengan nilai-nilai sekolah. Waktu isttirahatpun harus diintegrasikan nilai pendidikan
karakter, misalnya dengan membudayakan budaya antri di kantin, jujur serta toleransi.
Nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah menengah pertama terdapat beberapa
indicator yang sudah dikonsep oleh kementrian pendidikan dan kebudayaan. Di dalam
nilai-nilai tersebut terdapat nilai, jenjang, kelas serta indikator yang harus diperhatikan
dan direalisasikan oleh pihak sekolah dalam semua kegiatan siswa. Keterkaitan antara
nilai, jenjang, dan indikator untuk sekolah menengah pertama (SMP) adalah:
275
Mengagumi kebesaran Tuhan karena
kemampuan dirinya untuk hidup sebagai
anggota masyarakat
Mengagumi kekuasaan Tuhan yang telah
menciptakan berbagai alam semesta
Mengagumi kebesaran Tuhan karena
adanya agama yang menjadi sumber
keteraturan hidup masyarakat
Mengagumi kebesaran Tuhan melalui
berbagai pokok bahasan dalam berbagai
mata pelajaran
2. Jujur: Tidak menyontek ataupun menjadi plagiat
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dalam mengerjakan setiap tugas
dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya Mengemukakan pendapat tanpa ragu
dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan tentang suatu pokok diskusi
Mengemukakan senang atau tidak sengang
terhadap pelajaran
Menyatakan sikap terhadap suatu materi
diskusi kelas
Membayar barang yang dibeli di toko
sekolah dengan jujur
Mengembalikan barang yang dipinjam atau
ditemukan di tempat umum
3. Toleransi: Tidak mengganggu teman yang berbeda
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan pendapat
agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan Menghormati teman yang berbeda adat
orang lain yang berbeda dari dirinya istiadatnya
Bersahabat dengan teman kelas lain
4. Disiplin: Selalu tertib dalam melaksanakan tugas-
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan tugas kebersihan sekolah
patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan Tertib dalam berbahasa lisan dan tulisan
Patuh menjalankan ketetapan-ketetapan
organisasi peserta didik
Menaati aturan berbicara yang ditentukan
dalam sebuah diskusi kelas
Tertib dalam menerapkan aturan
Tertib dalam menerapkan aturan penulisan
untuk karya tulis
Tidak putus asa dalam menghadapi
kesulitan belajar
5. Kerja Keras: Tidak putus asa dalam menghadapi kesulitan
Perilaku ysng menunjukkan upaya sungguh- dalam belajar
sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan Selalu focus pada pelajaran
belajar, tugas, dan menyelesaikan tugas dengan
sebaik-baiknya.
6. Kreatif: Mengajukan yang berkenaan dengan suatu
Berfikir dan melakukan sesuatu yang pokok bahasan
menghasilkan cara atau hasil baru yang telah Bertanya mengenai penerapan suatu
dimiliki hokum/teori/prinsip dari materi lain ke
materi yang sedang dipelajari
7. Mandiri: Melakukan sendiri tugas kelas yang menjadi
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung tanggung jawabnya
pada orang lain Mencari sendiri I kamus terjemahan kata
Dalam menyelesaikan tugas tugas bahasa asing untuk bahasa Indonesia atau
sebaliknya
276
8. Demokratis Memilih ketua kelompok berdasarkan suara
Cara berpikir,bersikap dan bertindak yang menilai terbanyak
sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain Memberikan suara dalam pemilihan di kelas
dan sekolah
Mengemukakan pikiran tentang teman
teman sekelas
Ikut membantu melaksanakan program ketua
kelas
9. Rasa ingin tahu Bertanya kepada guru dan teman tentang
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk materi pelajaran
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari Bertanya kepada guru tentang sesuatu
sesuatu yang dipelajari,dilihat,dan didengar tentang gejala alam yang baru terjadi
Bertanya kepada guru tentang sesuatu yang
didengar dari ibu, bapak ,teman, radio atau
televisi
10. Semangat kebangsaan: Turut serta dalam upacara peringatan hari
Cara berfikir,bersikap,dan berbuat yang pahlawan dan proklamasi kemerdekaan.
menunjukkan kesetianaan,kepedulian,dan Mengemukakan pikiran dan sikap mengenai
penghargaan yang tinggi terhadap ancaman dari Negara lain terhadap bangsa
bahasa,lingkungan dan Negara Indonesia
fisik,social,budaya,ekonomi,dan politik Mengemukakan sikap dan tindakan yang
akan dilakukan aaaa Menyenangi
keunggulan geografis dan kesuburan tanah
wilayah Indonesia
Menyenangi keragaman budaya dan seni di
indonesia
11. Cinta tanah air Menyenangi keunggulan geografis dan
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang kesuburan tanah wilayah Indonesia
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan Menyenangi keragaman budaya dan seni di
penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, Indonesia
lingkungan fisik, social, budaya, ekonomi, dan Menyenangi keberagaman suku bangsa dan
politik bangsa bahasa daerah yang dimiliki Indonesia
Mengagumi keberagaman hasil-hasil
pertanian, perikanan, flora, dan fauna
Indonesia
Mengagumi dan menyenangi produk,
industry, dan teknologi
12. Menghargai Prestasi: Mengerjakan tugas dari guru dengan sebaik-
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk baiknya
menghasilkan sesuatu yang berguna bagi Berlatih keras untuk berprestasi dalam olah
masyarakat, mengakui, dan menghormati raga dan kesenian
keberhasilan orang lain Hormat kepada sesuatu yang sudah
dilakukan guru, kepala sekolah, dan
personalia sekolah lain
Menceritakan prestasi yang dicapai kepada
orang tua
Menghasilkan hasil kerja pemimpin di
masyarakat sekitarnya
Menghargai tradisi dan hasil karya
masyarakat sekitarnya
13. Bersahabat/komunikatif: Bekerja sama dalam kelompok di kelas
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang Berbicara dengan teman sekelas
berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang Bergaul dengan teman sekelas ketika
lain istirahat
Bergaul dengan teman lain kelas
277
Berbicara dengan guru, kepala sekolah, dan
personalia sekolah lainnya
14. Cinta damai: Melindungi teman dari ancaman fisik
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan Berupaya mempererat pertemanan
orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran Ikut berpartisipasi dalam system keamanan
dirinya sekolah
15. Gemar membaca: Membaca buku atau tulisan keiluan, sastra,
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca seni, budaya, teknologi, dan humaniora
berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi Membaca koran/majalah dinding
dirinya
16. Peduli social: Ikut dalam berbagai kegiatan social
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi Meminjamkan alat kepada teman yang tidak
bantuan bagi orang lain dan maasyarakat yang membawa atau tidak punya
membutuhkan
17. Peduli lingkungan: Mengikuti berbagai kegiatan berkenaan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya dengan kebersihan, keindahan, dan
mencegah kerusakan lingkungan alam di pemeliharaan lingkungan
sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya
untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah
terjadi
(13).
Berdasarkan beberapa pendapat maka dapat disimpulkan penerapan full day
school dengan melaksanakan kegiatan secara rutin di sekolah mampu membentuk
karakter siswa. Seperti yang tergambar dalam bagan di bawah ini.
Kondisional
Penerapan Full Day School
Kondisi Akhir
Penerapan Pembiasaan di
sekolah
METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan metode surve. Teknik
pengumpulan datanya dilakukan dengan kuesioner, wawancara, dan bisa juga dengan
tes [14]. Sedangkan desain penelitiannya adalah deskriptif yang berfungsi mendeskrip-
278
sikan tentang implementasi full day school dalam pembentukan karakter siswa SMP
Negeri di Banjarmasin.
2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di sekolah menengah pertama negeri (SMPN) 6
Banjarmasin. Lama penelitian selama 3 bulan yaitu tgl 16 Juni – 16 September 2020.
3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa sekolah menengah negeri 6
Banjarmasin. Adapun sampel dalam penelitian ini berjumlah 66 siswa yang dihitung
dengan rumus Slovin.
4 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah full day school, karakter siswa SMP Negeri.
5 Tahapan-tahapan Penelitian
Tahap awal dalam penelitian ini adalah 1). Membuat kisi-kisi angket tentang
implementasi full day school dalam pembentukan karakter siswa, 2). Membuat
instrument angket, 3). Melakukan penelitian.
6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan angket yang diisi oleh siswa melalui goggle
form.
7 Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Analisis
deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan nilai rata-rata yang diperoleh dalam
implementasi full day school dalam pembentukan karakter. Untuk menghitung nilai
tentang implementasi full day school dalam pembentukan karakter siswa sekolah
menengah pertama digunakan rumus:
279
Tabel 1. Rekapitulasi skor jawaban angket tentang implementasi full day school dalam
pembentukan karakter
No Implementasi Full Day School dan Pembentukan Karakter Skor yang diperoleh
1. Konsentrasi pada saat belajar 193
2. Melaksanakan kegiatan keagamaan 229
3. Menjalin komunikasi dengan guru dan teman 233
4. Menjaga kebersihan sekolah 186
5. Aktif mengikuti kegiatan 211
6. Menerapkan hidup jujur 407
7. Menerapkan kedisiplinan 640
8. Menerapkan hidup kerja keras 455
9. Menerapkan kepedulian sosial 691
Jumlah Skor 3.245
Dari data di atas maka selanjutkan dilakukan analisis yaitu mencari nilai
implementasi full day school dalam pembentukan karakter siswa SMP Negeri di
Banjarmasin berdasarkan skor yang diperoleh dengan skor maximal. Berikut rekapitulasi
nilai beserta kategori yang diperoleh pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. Rekapitulasi skor nilai implementasi full day school dalam pembentukan
karakter siswa sekolah menengah pertama di Banjarmasin
No Implementasi Full Day School Skor yang Skor maximal ( bobot Nilai Kategori
dan Pembentukan Karakter diperoleh maximal X jumlah soal X
(skor angket) jumlah responden)
1. Konsentrasi pada saat belajar 193 264 73,10 Baik
2. Melaksanakan kegiatan 229 264 86,74 Baik
keagamaan
3. Menjalin komunikasi dengan 233 264 88,26 Baik
guru dan teman
4. Menjaga kebersihan sekolah 186 264 70.45 Sedang
5. Aktif mengikuti kegiatan 211 264 79,92 Baik
6. Menerapkan hidup jujur 407 528 77,08 Baik
7. Menerapkan kedisiplinan 640 792 80,80 Baik
8. Menerapkan hidup kerja keras 455 528 86,17 Baik
9. Menerapkan kepedulian sosial 691 792 87,25 Baik
Rata-Rata 81,09 Baik
Berdasarkan tabel 2, maka SMP Negeri di Banjarmasin sudah menerapakan full day
school dengan baik. Dalam penerapan full day school, sekolah telah melaksanakan
pembiasaan atau kegiatan rutin pada siswa selama berada di sekolah mendapatkan nilai
dengan kategori baik. Kegiatan yang mendapat nilai kategori baik yaitu konsentrasi pada
saat belajar dengan skor nilai 73,10, kegiatan keagamaan dengan skor nilai 86,74,
menjalin hubungan komunikasi dengan guru dan teman dengan skor nilai 88,26, aktif
mengikuti kegiatan dengan skor nilai 79,92. Sedangkan kegiatan rutin yang masih dalam
kategori sedang adalah menjaga kebersihan sekolah dengan skor nilai 70,45. Berdasarkan
surve waktu meminta ijin untuk melaksanakan penelitian, peneliti mendapati beberapa
sampah daun di halaman sekolah. Karena halaman sekolah banyak terdapat pohon besar
280
yang selalu menggugurkan daunnya setiap saat. Sehingga ini menjadi kendala siswa
untuk selalu menjaga kebersihan sekolah.
Berdasarkan tabel 3 bahwa implementasi full day school memperoleh nilai rata-rata
79,69 dengan kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan full day school SMP
Negeri di Banjarmasin sudah baik. Sekolah telah menerapkan kegiatan rutin di sekolah
selama 8 jam.
281
juga pada indicator jika siswa menemukan barang teman yang hilang, siswa memberikan
barang temuan tersebut kepada gurunya.
Karakter kedisiplinan siswa memperoleh skor nilai 80.80 dengan kategori baik.
Karakter kedisiplinan dapat di lihat dari indicator siswa datang ke sekolah sebelum bel
masuk berbunyi, siswa tidak terlambat pada saat mengmpulkan tugas. Semua ini tidak
lepas peran sekolah yang menerapkan kedislinan setiap hari. Sejalan dengan hasil
penelitian Cindy dan Erny (2019), yang menyatakan bahwa implementasi full day school
berpengaruh terhadap karakter siswa yaitu disiplin dikarenakan sekolah selalu menerap-
kan kedisiplinan setiap hari (16)
Karakter hidup kerja keras siswa memperoleh skor nilai 86,17 dengan kategori baik.
Karakter hidup kerja keras dapat dilihat pada indicator siswa mengerjakan tugas-tugas
sekolah meskipun tugas tersebut sulit, siswa juga memiliki semangat untk sukses.
Karakter kepedulian sekolah siswa memperoleh skor nilai 87,50 dengan kategori
baik. Karakter kepedulian sekolah dapat dilihat pada indicator siswa membantu teman
yang membutuhkan bantuan, siswa ikut gotong royong membersihkan sekolah. Secara
keseluruhan nilai rata-rata pembentukan karakter siswa SMP Negeri di Banjarmasin
memperoleh nilai 82,83 dengan kategori baik.
Terbentuknya karakter siswa tidak lepas dari adanya kegiatan rutin yang diterapkan
sekolah serta peran guru yang selalu membina siswanya. Sejalan dengan hasil penelitian
Muh. David dkk. (2017) menyatakan bahwa pelaksanaan full day school dengan
menerapkan pembiasaan secara rutin mampu membentuk karakter siswa (17).
Rata-rata skor nilai implementasi full day school dalam pembentukan karakter
siswa SMP Negeri di Banjarmasin adalah 81,09 dengan kategori baik. Kategori baik dapat
tercapai karena pihak sekolah dalam menerapkan full day school dengan pembiasaan di
sekolah secara langsung telah melaksanakan pendidikan karakter. Implementasi full day
school dengan menerapkan pembiasaan sehari-hari di SMP Negeri di Banjarmasin sudah
berjalan dengan baik, sehingga dapat membentuk perilaku berkarakter siswa.
Berikut gambar yang menunjukan implementasi full day school dalam
pembentukan karakter siswa SMP Negeri di Banjarmasin:
282
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Wulandari, dkk (2018), menyatakan bahwa
pelaksanaan full day school dengan belajar sehari penuh mulai dari pukul 7.00 sampai
dengan pukul 15.00 wib dengan menerapkan pembiasaan yaitu kegiatan secara rutin
mampu membentuk karakter siswa (18).
Permen Dikbud Nomor 20 tahun 2018 tentang penguatan pendidikan karakter pada
satuan pendidkan formal pasal 3 poin c menyatakan bahwa penguatan pendidikan
karakter berlangsung melalui pembiasaan dan sepanjang waktu dalam kehidupan sehari-
hari (19).
Berdasarkan Permen Dikbud tergambar bahwa dalam membentuk karakter siswa
dibutuhkan waktu yang lama dalam kehidupan keseharian. Pembiasaan secara rutin yang
diterapkan di sekolah akan membentuk karakter siswa. Sehingga perlu ditingkatkan lagi
bagi sekolah untuk menerapkan full day school dengan melaksanakan kegiatan secara
rutin dalam membentuk karakter siswa.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi full day school dalam
pembentukan karakter siswa SMP Negeri di Banjarmasin diperoleh rata-rata nilai
81,09 dengan kategori baik. Implementasi full day school diperoleh rata-rata 79,69
dengan kategori baik dan pembentukan karakter siswa diperoleh rata-rata 82,83
dengan kategori baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa implementasi full day school
dalam pembentukan karakter siswa SMP Negeri di Banjarmasin sudah berjalan dengan
baik karena sudah mampu membentuk karakter siswa hidup jujur, disiplin, kerja keras
dan kepedulian sosial yang tinggi.
B. Saran
1. Bagi dinas pendidikan kota Banjarmasin, hasil penelitian ini dapat digunakan dalam
mengambil kebijakan dalam menerapkan full day school di Banjarmasin.
2. Bagi sekolah, lebih semangat lagi menerapkan kegiatan rutin selama proses
pembelajaran dalam membentuk karakter siswa.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Peraturan Presiden. Nomor 87 tahun 2017tentang Penguatan Pendidikan
Karakter. Jakarta
[2] Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65
Tahun 2013 tentang Standar [Link].
[3] Ambarwati, Ami. Suhartono dan Hidayah, R. Metode Pembentukan Karakter
Religius Peserta Didik Program Full Day School Di MI Terpadu Logaritama.
Jurnal Ilmiah Kependidikan. Vol. 8 no. 1. 2020.
[4] Arioka, Ni W. W. Pro Kontra Wacana Full Day School. Jurnal Studi Kultural. Vol.
3 no. 1. pp.1-5.2018.
283
[5] Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang
Hari Sekolah. Jakarta
[6] Leasa, Marleny dan Batlolona, John, R. Full Day School Dalam Pembentukan
Karakter Siswa SMKN 13 Kota Malang. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora.
Vol.6 No.1. 2017.
[7] Ilahi, Mohammad, T. 2014. Gagalnya Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media.
[8] Kurniawan, Syamsul. 2013. Pendidikan [Link]: Ar-Ruzz Media.
[9] Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Karakter Konsep dan Implementasi. Bandung:
Alfabeta.
[10] Kurniasih, Imas & Sani, Berlin. 2014. Pendidikan Karakter. Surabaya: Kata Pena.
[11] Aqib, Zainal. 2011. Pendidikan Karakter. Bandung: Yrama Widya.
[12] Adisusilo, Sutarjo. 2014. Pembelajaran Nilai-Karakter. Yogyakarta: PT
Rajagrafindo Persada
[13] Kementrian Pendidikan Nasional. 2010. Pendidikan Karakter Di Sekolah
Menengah Pertama. Jakarta
[14] Gugiyono. 2015. Metode Penelitian dan Pengembangan. Research and
Development. Bandung: Alfabeta.
[15] Arikunto, Suharsini. 2014. Prosedur Penelitian. Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
[16] Pratiwi, Cindy dan Roesminingsih, Erny. Pengaruh Implementasi Full Day School
Terhadap Karakter Siswa SMP Negeri di Kabupaten Lamongan. Jurnal Inspirasi
Manajemen Pendidikan. Vol. 7 No. 1. 2019.
[17] David, Muh. et. al. Peran Full Day School Terhadap Penanaman Karakter Pada
Peserta Didik Sekolah Dasar di Kota Makassar. Jurnal Pena. Vol. 4 No. 1. 2017.
[18] Wulandari, E. Taufik, M. dan Kuncahyono, K. Analisis Implementasi Full Day
School Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Siswa di SD Muhammadiyah 4 Kota
Malang. Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Sekolah Dasar. Vol 6 No. 1. 2018.
[19] Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang
Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal. Jakarata.
284
ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT TRADISIONAL
DI DESA DWI MARGA UTAMA KECAMATAN SUNGAI LOBAN
KABUPATEN TANAH BUMBU
Yulia Utami1), Bayu Hari Mukti2), Syahbudin3)
1) 2) 3)
STKIP PGRI Banjarmasin
Jl. Sultan Adam, Komplek H. Iyus No. 18 RT. 23 Banjarmasin, Kalimantan selatan
*Email1): yuliyuliautami@[Link]
ABSTRAK
Dwi Marga Utama merupakan desa yang berada di Kecamatan Sungai Loban Kabupaten
Tanah Bumbu. Masyarakat sekitar banyak memanfaatkan tumbuhan sebagai pengobatan,
dan kebanyakan usia di atas 30 tahun yang mengetahui hal tersebut, sedangkan anak muda
tidak mengetahuinya, hal tersebut yang membuat peneliti melakukan penelitian dengan
tujuan untuk mengetahui (1)jenis tumbuhan, (2)bagian tumbuhan yang dimanfaatkan
(3)proses pengolahan tumbuhan obat. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif
dengan metode kualitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive
Sampling dengan 2 tahap yakni observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan
(1)jenis tumbuhan obat yang dimanfaatkan sebanyak 25 jenis dan tergolong dalam 18
Famili, famili zingiberaceae paling banyak digunakan (2)bagian tumbuhan obat yang
dimanfaatkan meliputi rimpang, batang, daun dan buah, bagian terbanyak yang
digunakan bagian daun 53,8% (3)cara pengolahan tumbuhan dilakukan dengan 7 cara
yaitu diseduh, direndam, diiris, diblender, ditumbuk/parut, direbus, dan disayur,
persentase terbanyak dengan direbus sebanyak 48%.
ABSTRACT
Dwi Marga Utama is a village located in Sungai Loban District, Tanah Bumbu Regency.
The surrounding community uses many plants as medicine, and most people over 30 years
of age who know this, while young people do not know, this is what makes researchers
conduct research with the aim of knowing(1) types of plants, (2) parts of plants used (3)
processing of medicinal plants. This type of research is a descriptive study with
qualitative methods. The sampling technique used purposive sampling technique with 2
stages, namely observation and interviews. The results showed (1) there were 25 types of
medicinal plants used and classified into 18 families, the zingiberaceae family was the
most widely used (2) the parts of medicinal plants used included rhizomes, stems, leaves
and fruit, the most part used was the leaves 53, 8% (3) The processing method for plants
is carried out in 7 ways, namely brewing, soaking, slicing, blending, pounding / grating,
boiling, and cooking, with the highest percentage being boiled as much as 48%.
PENDAHULUAN
Kehidupan manusia sehari-hari tidak lepas dari keberadaan tumbuhan. Berbagai jenis
tumbuhan banyak dimanfaatkan dalam kehidupan manusia, baik sebagai makanan ataupun obat-
obatan[2]. Pengetahuan tradisional yang dimiliki setiap suku/etnis dalam memanfaatkan
tumbuhan merupakan unsur budaya yang muncul dari pengalaman individu yang disebabkan
adanya interaksi dengan lingkungannya dan diwariskan secara turun temurun yang bertujuan
285
untuk mempertahankan hidup, karena manusia akan selalu bergantung terhadap lingkungannya
begitu pula sebaliknya.
Etnobotani adalah sebuah istilah yang dikategorikan ke dalam lima kategori pemanfaatan
tumbuhan dalam kehidupan sehari-hari yaitu: pemanfaatan tumbuhan untuk pangan, pemanfaatan
tumbuhan untuk bahan bangunan (papan), pemanfaatan tumbuhan untuk obat-obatan,
pemanfaatan tumbuhan untuk acara adat, dan pemanfataan tumbuhan untuk perkakas rumah
tangga[9].
Tumbuhan obat adalah tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat
tradisional atau jamu, atau sebagai bahan pemula bahan baku obat, atau tanaman yang diekstraksi
dan ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat[4]. Sedangkan tumbuhan obat tradisional
adalah ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan yang secara turun-temurun telah
digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Pada umumnya yang dimaksud dengan
obat tradisional adalah ramuan dari tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat obat[6].
Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat sudah dilakukan sejak lama. Pengetahuan tentang
tumbuhan obat, merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang berdasarkan pengalaman yang
telah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang kita dari generasi yang satu ke generasi
berikutnya. Di pihak lain, sering kali keperdulian terhadap sejarah tersebut diabaikan sehingga
banyak bukti peninggalan yang tidak terdokumentasi dengan baik bahkan banyak yang hilang
begitu saja[8], padahal pengetahuan tersebut penting untuk di lestarikan, karena masyarakat
sekitar sekarang hanya mengenal tumbuhan secara umum saja. Sebagian besar dari mereka tidak
mengetahui bahwa tumbuhan tersebut dapat manjadi obat yang berkhasiat.
Kabupaten Tanah Bumbu adalah salah satu Kabupaten Provinsi Kalimantan Selatan
terletak di antara 2° 52' - 3° 47' Lintang Selatan (LS) dan 115° 15' - 116° 04' Bujur Timur (BT)[7].
Desa Dwi Marga Utama yang terletak di Kecamatan Sungai Loban, Kabupaten Tanah Bumbu
sampai saat ini masyarakatnya masih menggunakan tumbuhan untuk pengobatan secara
tradisional. Permasalahan yang terjadi sekarang ini adalah untuk para generasi muda yang kurang
mengetahui tentang pengobatan secara tradisional ini, sebab sering kali keperdulian terhadap
kebudayaan tradisional tersebut diabaikan dan banyak bukti peninggalan yang tidak
terdokumentasi dengan baik bahkan hilang begitu saja, selain itu kurangnya kesadaran
masyarakat untuk menurunkan pengetahuan tentang pengobatan tradisional dari yang tua ke yang
muda, sehingga pengetahuan tentang tumbuhan obat tidak berkembang di kalangan masyarakat
terutama di kalangan anak muda sekarang ini, jika hal ini dibiarkan begitu saja maka
kemungkinan yang akan terjadi generasi-generasi yang berikutnya tidak akan mengetahui lagi
tentang tumbuhan obat yang bisa dijadikan sebagai pengebotan secara tradisional sehingga lama
kelamaan pengobatan tradisional akan semakin punah.
Berdasar pada uraian latar belakang diatas untuk memberikan informasi kepada masyarakat
terutama generasi muda sekarang ini perlu diberikan pengetahuan mengenai kekayaan alam
berupa tumbuhan obat yang ada di tempat tinggal kita masing-masing yang dapat dijadikan
sebagai acuan pengobatan tradisional. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis memilih judul
“Etnobotani Tumbuhan Obat Tradisional Di Desa Dwi Marga Utama Kecamatan Sungai Loban
Kabupaten Tanah Bumbu”.
Berdasarkan permasalahan dan judul tersebut di atas, penting untuk dilakukan penelitian
berkelanjutan terutama oleh generasi muda mengenai etnobotani tumbuhan obat yang ada di
wilayah masing-masing yang bertujuan untuk (1)mengetahui jenis tumbuhan yang dimanfaatkan
sebagai obat, (2) mengetahui bagian tumbuhan yang telah dimanfaatkan sebagai obat, dan
(3)mengetahui bagaimana proses pengolahan tumbuhan obat secara tradisional oleh masyarakat
286
Desa Dwi Marga Utama untuk menjaga agar kebudayaan tradisional masyarakat mengenai
tumbuhan obat tetap terjaga dan juga terdokumentasi dengan baik sehingga tidak hilang begitu
saja dan pengetahuan lokal tetap berlanjut terus dari generasi ke generasi selanjutnya.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Metode kualitatif
digunakan untuk mengetahui penggunaan tumbuhan yang diketahui dan telah digunakan oleh
masyarakat di Desa Dwi Marga Utama Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu
sebagai obat tradisional[3].
Lingkup Penelitian
Proses penelitian berlangsung selama 2 minggu efektif dilapangan dan pengolahan data serta
analisis kurang lebih 2 bulan lamanya. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Dwi Marga Utama
Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu.
Desain penelitian
Data yang diperoleh dalam penelitian ini didapat secara langsung dari lingkungan alamiah,
jadi penulis turun langsung kelapangan untuk melakukan observasi, wawancara dengan
menggunakan angket, dokumentasi, analisis, catatan selama dilapangan. Data yang dibutuhkan
dalam penelitian kualiatif lebih melihat pada proses bukan hasil, jadi sumber data yang didapat
memberikan gambaran keadaan sebenarnya yang terjadi di lingkungan sekitar dan mengutamakan
makna dari persepsi atau pengetahuan seseorang dalam pemanfaatan tumbuhan obat yang selama
ini dijadikan sebagai obat tradisional.
Prosedur Penelitian
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik
Purposive Sampling. Purposive Sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan tidak
berdasarkan random, daerah atau strata, melainkan berdasarkan atas adanya pertimbangan yang
berfokus pada tujuan tertentu[1]. Identifikasi responden dilihat berdasarkan 287riteria inklusi
yang telah ditentukan: (1)masyarakat yang berdomisili di sekitar Desa Dwi Marga Utama,
(2)masyarakat yang secara langsung pernah menggunakan tumbuhan obat dan mengetahui jenis,
bagian, manfaat serta cara pengolahannya, (3)masyarakat dengan kriteria usia 30 tahun ke-atas,
serta (4)bersedia menjadi informan.
287
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
a. Jenis Tumbuhan Berkhasiat Obat yang terdapat di Desa Dwi Marga Utama
Kecamatan Sungai Loban
Tabel 1 Jenis Tumbuhan Berkhasiat Obat Di Desa Dwi Marga Utama Kecamatan Sungai
Loban Kabupaten Tanah Bumbu
Nama
No Nama Latin Nama Daerah Famili
Tumbuhan
Belimbing Belimbing wuluh (jawa, lombok),
1 Averrhoa bilimbi L. Oxalidaceae
wuluh Bimbing buluh (bali).
Sosor bebek (jawa, lombok), don
2 Cocor bebek Kalanchoe pinnata L. Crassulaceae
urip (bali).
Kumis kucing (jawa, lombok),
3 Kumis kucing Orthosiphon aristatus Lamiaceae
kumis kung (bali)
4 Keji beling Strobilanthes crispus Keji beling (jawa, lombok, bali) Acanthaceae
Suruh abang(jawa), Sirih bea
5 Sirih Merah Piper ornatum Piperaceae
(lombok), Base barak (bali)
Suruh (jawa),sirih (lombok),
6 Sirih Piper betle L. Piperaceae
base(bali).
Piper retrofractum Cabejawa/hutan (jawa), tabye jawa
7 Cabe jawa Piperaceae
Vahl. (bali)
8 Jahe Zingiber officinale Jae (jawa, lombok), jahe (bali) Zingiberaceae
Kunir putih (jawa), kunyit pute
9 Kunir putih Curcuma alba L. Zingiberaceae
(lombok), kunyit putih (bali)
10 Kunyit Curcuma longa Kunir (jawa), kunyit (lombok, bali) Zingiberaceae
Kencor (jawa), kencur (lombok),
11 Kencur Kaempferia galanga L. Zingiberaceae
cekuh (bali).
Temulawak (jawa, lombok),
12 Temulawak Curcuma xanthorrhiza Zingiberaceae
tamulawak (bali)
Brotowali (jawa, lombok),
13 Brotowali Tinospora crispa L. Euphorbiaceae
kantawali (bali)
Meladean (jawa), benalu (lombok),
14 Benalu Loranthus spec. Div Loranthaceae
kepasilan(bali).
Kates (Jawa),
15 Pepaya Carica papaya L. Caricaceae
gedang (Lombok, bali).
Jeruk nipis (jawa, lombok), juok
16 Jeruk nipis Citrus aurantifolia Ritaceae
nipis (bali)
Jambu klutok (jawa), jambu biji
17 Jambu Biji Psidium guajava L. Myrtaceae
(lombok), sotong (bali)
Salam (jawa, lombok), canggatulam
18 Salam Syzygium polyanthum Myrtaceae
(bali)
19 Mahkota dewa Phaleria macrocarpa Mahkota dewa (jawa, lombok, bali) Thymelaeaceae
288
Berdasarkan Tabel 4.1 di atas, dapat diketahui bahwa dari hasil wawancara dengan 20
responden telah diperoleh sebanyak 25 jenis tumbuhan berkhasiat obat yang telah digunakan oleh
masyarakat Desa Dwi Marga Utama Kecamatan Sungai Loban yang berasal dari 18 famili.
b. Bagian Tumbuhan yang Dimanfaatkan Sebagai Obat Oleh Masyarakat Desa Dwi Marga
Utama Kecamatan Sungai Loban
Hasil wawancara yang telah dilakukan dengan 20 orang masyarakat Desa Dwi Marga
Utama Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu didapatkan bagian tumbuhan
yangdimanfaatkan sebagai obat seperti tersaji pada tabel 4.2 berikut.
Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, telah didapatkan hasil wawancara dan diperoleh tumbuhan
yang telah dijadikan pengobatan tradisional oleh masyarakat desa Dwi Marga Utamasebanyak 25
289
jenis tumbuhandengan bagian tumbuhan yang dijadikan obat terdiri atas bagian rimpang, batang,
daun, dan buah.
Persentasepemanfaatan bagian tumbuhan yang telah digunakan oleh masyarakat desa Dwi
Marga Utama Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu dapat dilihat pada Tabel 4.3
Berikut.
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas, dapat diketahui bagian tumbuhan yang paling banyak
digunakan oleh masyarakat Dwi Marga Utama adalah bagian daun dengan jumlah tumbuhan 14
dan persentase mencapai 53,8%, sedangkan bagian tumbuhan yang paling sedikit digunakan
adalah bagian batang yakni dengan jumlah tumbuhan 3 dan persentase hanya sebesar 11,5%.
c. Cara Pengolahan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Desa Dwi Marga Utama
Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu
Berdasarkan hasil wawancara dengan 20 orang, telah didapatkan cara pengolahan
tumbuhan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Dwi Marga Utama Kecamatan Sungai Loban
Kabupaten Tanah Bumbu seperti pada Tabel 4.4 berikut.
Tabel 4 Cara Pengolahan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Desa Dwi Marga Utama
No. Cara Bagian Kegunaan Proses Pengolahan
Buah jeruk Peluruh lemak, - peras jeruk nipis secukupnya
Dimakan nipis penurun kolesterol, - tambahkan air panas/hangat
1 langsung/ dan batuk - minum sesering mungkin ketika sakit.
diseduh
a. Batang Obat kencing - cuci bersih batang benalu
Benalu manis, penyakit - rendam batang benalu dari pagi hingga sore
ginjal, dengan air matang sebanyak 1 gelas
tumor/kanker. - diminum 1 kali saat malam hari.
2 Direndam
b. Daun Obat meriang - 1 lembar daun sembung cuci bersih
Sembung - rendam dalam segelas air hangat sampai
berubah warna merah kekuningan.
- diminum sehari sekali sebelum tidur.
Obat luka bakar - Kupas lidah buaya
Daun ringan - ambil jel dan aplikasikan pada luka bakar.
3 Diiris Lidah - Cuci bersih daun lidah buaya
Buaya Berak lendir, - kupas dan iris kecil-kecil
keputihan, sembelit. - campurkan dengan madu lalu diminum.
Daun dan Penurun tekanan - ambil batang serta daun seledri secukupnya,
4 Diblender batang darah tinggi lalu cuci bersih
Seledri - blender sampai menjadi jus dan diminum.
290
Lanjutan Tabel 4 Cara Pengolahan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Desa Dwi Marga Utama
291
Lanjutan Tabel 4 Cara Pengolahan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Desa Dwi Marga Utama
Berdasarkan Tabel 4.4 sesuaihasil wawancara yang telah dilakukan bersama masyarakat
Dwi Marga Utama telah dipaparkan berbagai macam jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai
obat sejak dulu hingga sekarang, dimana terdiri atas 7 macam cara pengolahan.
Tabel 5 Persentase Cara Pengolahan Tumbuhan Yang Dimanfaatkan Sebagai Obat Oleh
Masyarakat Dwi Marga Utama
Berdasarkan Tabel 4.5 diperoleh data persentase cara pengolahatan tumbuhan obat oleh
masyarakat Dwi Marga Utama, di mana cara pengolahan dengan direbus memiliki
persentase tertinggi yakni 48% dengan jumlah tumbuhan 12, sedangkan persentase
terendah yaitu 4% dengan cara pengolahan diseduh, diiris, diblender dan disayur dengan
jumlah tumbuhan masing-masing 1.
292
Jenis tumbuhan yang paling banyak terdapat di Desa Dwi Marga Utama adalah jenis
tumbuhan dalam golongan famili Myrtaceae yaitu salam (Syzygium polyanthum) dan jambu biji
(Psidium guajava L.), famili Annonaceaeyaitu sirsat (Annona muricata L.), famili Caricaceae
yaitu pepaya (Carica papaya L.), famili Piperaceae yaitu sirih (Piper betle L.), famili crassulaceae
yaitu sosor bebek (Kalanchoe pinnata L.), famili xanthorrhoeaceae yaitu lidah buaya(Aloe vera),
famili Phyllanthaceae yaitu katuk (Sauropus androgynus L.), famili apiaceae yaitu seledri (Apium
graveolens L.), famili loranthaceae yaitu benalu (Loranthus spec. div), famili lamiaceae yaitu
kumis kucing (Orthosiphon aristatus), famili acanthaceae yaitu keji beling (Strobilanthes
crispus), dan terakhir famili zingiberaceae yaitu kunir putih (Curcuma alba L.), tumbuhan
tersebut banyak terdapat di Desa Dwi Marga Utama karena masyarakat banyak yang
membudidayakan dipekarangan rumah, kebun, bahkan tumbuh liar di sekitar rumah, ada yang
menjadikan sebagai hiasan rumah, bumbu masakan, makanan, obat, dan juga sebagai tumbuhan
pagar.
Jenis tumbuhan yang paling langka atau jarang terdapat di Desa Dwi Marga Utama adalah
jenis tumbuhan dengan famili piperaceae yaitu sirih merah (Piper ornatum) dan cabe jawa(Piper
retrofractum Vahl.), famili asteraceae yaitu sembung (Blumea balsamifera L.), dan terakhir
adalah famili oxalidaceae yaitu belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), tumbuhan tersebut langka
atau jarang aja di Desa Dwi Marga Utama karena hanya ada 1 sampai 2 orang saja yang
menanamnya di sekitar rumah, hal tersebutlah yang membuatnya menjadi sedikit sulit untuk
dicari ketika dibutuhkan. Terutama cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan jenis
tumbuhan yang paling langka karena hanya ada 1 orang yang menanamnya, bahkan terkadang
jika ingin dibutuhkan maka masyarakat harus mencarinya di hutan itu sebabnya terkadang
masyarakat menyebut cabe jawa sebagai cabai hutan.
b. Bagian Tumbuhan yang Dimanfaatkan Sebagai Obat Oleh Masyarakat Desa Dwi Marga
Utama Kecamatan Sungai Loban
Dari hasil wawancara sebelumnya telah diketahui bagian tumbuhan yang biasa
dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Desa Dwi Marga Utama Kecamatan Sungai Loban
Kabupaten Tanah Bumbu adalah bagian rimpang, batang, daun, serta buah.
Pada Tabel 4.3 dapat diketahui bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat Dwi Marga Utama adalah bagian daun dengan jumlah tumbuhan 14 dan persentase
mencapai 53,8%. Pada hasil wawancara banyak masyarakat menggunakan bagian daun dengan
alasan bagian daun dianggap lebih berkhasiat dan juga lebih mudah untukmendapatkannya.
Masyarakat menilai bahwa daun dipercaya memiliki khasiat sebagai obat dibandingkan
bagian tumbuhan obat lain. Hal ini, karena daun mengandung klorofil yang di dalamnya terdapat
senyawa antioksidan, antiperadangan, dan zat yang bersifat menyembuhkan penyakit[5].
c. Cara Pengolahan Tumbuhan Obat oleh Masyarakat Desa Dwi Marga Utama
Kecamatan Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu
Cara pengolahan tumbuhan obat oleh masyarakat Desa Dwi Marga Utama tentu berbeda-
beda setiap orangnya tergantung kebiasaan yang diturunkan pada setiap generasinya. Pengolahan
tumbuhan obat oleh masyarakat masih tergolong sederhana.
Berdasarkan pada Tabel 4.4 sesuai dengan wawancara telah didapatkan 7 macam cara
pengolahan tumbuhan obat yang telah dilakukan oleh masyarakat Dwi Marga Utama Kecamatan
Sungai Loban Kabupaten Tanah Bumbu sebagai berikut.
293
1) Dimakan langsung/diseduh
Proses ini dilakukan dengan cara memakan langsung bagian tumbuhan yang berkhasiat obat
tanpa melalui proses pengolahan telebih dahulu, biasanya proses ini banyak dilakukan pada
bagian buah. Contoh: buah jeruk nipis.
2) Direndam
Proses perendaman biasanya dilakukan pada bagian daun dan juga batang. Proses
perendaman biasanya berlangsung cukup lama sampai berubah warna atau sampai 24 jam.
Pada penelitian ini cotnohnya: daun sembung dan juga batang benalu.
3) Diiris
Proses ini dilakukan dengan cara mengiris bagian tumbuhan yang berkhasiat obat. Proses ini
diberlakukan pada tamanan lidah buaya.
4) Diblender
Proses ini dilakukan dengan cara menghancurkan bagian tumbuhan menggunakan blender.
Biasanya cara ini digunakan ketika penggunaan obat dengan cara dijus seperti pembuatan
jus seledri.
5) Ditumbuk/diparut
Proses ini biasanya dilakukan untuk pengobatan dari luar dengan cara menumbuk bagian
tumbuhan yang berkhasiat obat setengah halus atau sampai halus, biasanya bagian daun yang
paling sering kemudian ditempelkan atau dibalurkan pada bagian yang dituju (sakit). Proses
ini dilakukan pada tumbuhan cocor bebek, cabe jawa, kunir putih, kunyit, brotowali, pepaya,
dan ketepeng cina.
6) Direbus
Proses perebusan dilakukan dengan cara merebus bagian tanaman yang berkhasiat obat
kemudian meminumnya. Tujuan utama dalam proses ini adalah untuk mengambil sari pati
atau ekstrak tumbuhan obat dari hasil rebusan tersebut. Seperti pada tumbuhan belimbing
wuluh, kumis kucing, keji beling, sirih merah, sirih, jahe, kencur, temulawak, jambu biji,
daun salam, mahkota dewa, dan daun sirsat.
7) Dimasak/disayur
Di mana dalam proses ini bagian tumbuhan yang berkhasiat obat di olah berbagai macam
masakan bisa dengan cara ditumis, di buat sayur bening, dimakan dengan sambel dan
sebagainya. Masyarakat Desa Dwi Marga Utama kebanyakan mengolahnya menjadi sayur
bening seperti pada daun katuk.
Berdasarkan pada Tabel 4.5 tentang persentase cara pengolahan tumbuhan, diperoleh
data tentang persentase cara pengolahatan tumbuhan obat dimana cara pengolahan
direbus memiliki persentase tertinggi yakni 48% dengan jumlah tumbuhan 12,
ditumbuk/diiris mendapatkan 28% dengan jumlah 7 tumbuhan, direndam dengan 8% dan
jumlah tumbuhan 2, sedangkan persentase terendah yaitu 4% dengan cara pengolahan
diseduh, diiris, diblender dan disayur dengan jumlah tumbuhan masing-masing 1.
Cara pengolahan tumbuhan dengan cara direbus merupakan cara yang paling sering
dilakukan oleh masyarakat Desa Dwi Marga Utama dengan alasan karena pengolahannya
yang lebih mudah dibanding cara yang lainnya. Cara pengolahan dengan car direbus
sangat mudah dan sangat efektif karena masyarakat pada umumnya lebih senang
tumbuhan itu diolah menjadi rebusan dari pada mengkonsumsinya secara langsung.
294
Selain itu, proses penyembuhan dengan cara direbus lebih cepat karena langsung diproses
dari dalam tubuh[5].
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan sesuai rumusan masalah yang ada
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
Berdasarkan pada hasil wawancara yang telah dilakukan dengan 20 responden yang
telah memenuhi kriteria, diperoleh 25 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 18 famili dan
telah dimanfaatkan oleh masyarakat Dwi Marga Utama sebagai pengobatan tradisional.
Bagian tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat Desa Dwi
Marga Utama terdiri atas 4 bagian yaitu: rimpang, batang, daun, dan buah. Bagian daun
memilili persentase terbanyak yaitu sebesar 53,8% dan batang yang terendah dengan
11,5%.
Cara pengolahan tumbuhan obat oleh masyarakat Desa Dwi Marga Utama sangat
beragam setiap orangnya, diperoleh 7 cara pengolahan yaitu diseduh, direndam, diiris,
diblender, ditumbuk/diparut, direbus, dan dimasak. Persentase terbanyak yaitu dengan
cara direbus sebesar 48%, dan terendah dengan persentasemasing-masing 4% yaitu
dengan cara diseduh, diiris, diblender, dan disayur
DAFTAR PUSTAKA
[1] Adawiyah, Mariatul. 2019. Pemanfaatan Tumbuh-Tumbuhan Obat di Desa Saring Sungai
Bubu Kecamatan Kusan Hilir Kabupaten Tanah Bumbu Sebagai Bahan Pembuatan Booklet.
STKIP PGRI Banjarmasin. Skripsi
[2] Aljupri, Fachri. 2010. Tanaman Herbal I. Jakarta Timur: CV. Sahala Adidayatama.
[3] Dianto, I., Anam, S., & Khumaidi, A., 2015. Studi Etnofarmasi Tumbuhan Berkhasiat Obat
pada Suku Kaili Ledo di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Jurnal Farmasi
Galenika (Jurnal Farmasi Galenika), 1(2), 85-91.
[4] Komalasari, Devi. 2018. Kajian Etnobotani dan Bentuk Upaya Pembudidayaan Tumbuhan
yang Digunakan dalam Upacara Adat di Desa Negeri Ratu Tenumbang Kecamatan Pesisir
Selatan Kabupaten Pesisir Barat. Lampung: Universitas Islam Negeri Raden Intan
Lampung. Skripsi
[5] Lingga, D., A., Lestari, F., & Arisandy, D., A. 2016. Inventarisasi Tumbuhan Obat di
Kecamatan Lubuklinggau Utara II.
[6] Maulidiah. 2019. Pemanfaatan Organ Tumbuhan Sebagai Obat Yang Diolah Secara
Tradisional Di Kecamatan Kebun Tebu Kabupaten Lampung Barat. Lampung: Universitas
Islam Negeri Raden Intan Lampung
295
[7] Musleh, M., Angriani, P., & Arisanty, D.2015. Partisipasi Masyarakat Terhadap
Pengelolaan Kawasan Mangrove Di Kecamatan KusanHilir Kabupaten Tanah Bumbu,
Jurnal Biogenesis Volume2,No6,1-12.
[8] Tim Cahaya. 2011. Kumpulan Obat Tradisional Nusantara. Jakarta Timur: CV. Rama
Edukasitama
[9] Utomo, D. H. 2017. Etnobotani Tumbuhan Obat Oleh Perempuan Suku Osing di Kecamatan
Glagah Kabupaten Banyuwangi (DoctoralDissertation, Universitas Islam Negeri maulana
malik Ibrahim).
296
MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS
PADA KONSEP PENCEMARAN LINGKUNGAN DENGAN
MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI
1
Yuvita Mutia Sary, ²Abidinsyah, ³Fujianor Maulana
1) 2) 3)
Program Studi Pendidikan Biologi, STKIP PGRI Banjarmasin
Jl. Sultan Adam, Komplek H. Iyus No. 18 RT. 23 Banjarmasin, Kalimantan selatan
* Email 1: yuvitamutia98@[Link]
ABSTRAK
Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran Biologi kelas VII C SMP
Negeri 8 Hulu Sungai Tengah, ketuntasan klasikal hanya mencapai 65,51% yang seharusnya
indikator keberhasilan ketuntasan klasikal yaitu ≥ 85%. Proses belajar mengajar IPA di
Sekolah ini masih banyak terpusat pada guru. Hal ini berdampak pada keterampilan berpikir
kritis siswa yang masih kurang maksimal. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini
adalah menggunakan model pembelajaran Inkuiri. Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan berpikir kritis dengan model pembelajaran Inkuiri. Jenis
penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dirancang dalam 2 siklus. Subjek
penelitian adalah siswa kelas VII C SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah tahun ajaran
2019/2020 dengan jumlah siswa 22 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan tes
tertulis. Teknik analisis data yang digunakan adalah secara deskriptif. Hasil penelitian
menggunakan model pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis
siswa pada siklus I sebesar 58% meningkat pada siklus II menjadi 83%.
ABSTRACT
Background: Based on observations and interviews with class VII C biology teachers at SMP
Negeri 8 Hulu Sungai Tengah, classical completeness only reached 65.51%, which should
be the indicator of classical completeness success, namely ≥ 85%. The process of teaching
and learning science in this school is still much centered on the teacher. This has an impact
on students' critical thinking skills which are still not maximal. One way to overcome this
problem is to use the Inquiry learning model. This study aims to improve critical thinking
skills with inquiry learning models. This type of research is Classroom Action Research
(CAR) which is designed in 2 cycles. The research subjects were class VII C students of
SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah in the 2019/2020 academic year with 22 students. The
data collection technique used a written test. The data analysis technique used is
descriptive. The results of the study using the Inquiry learning model can improve students'
critical thinking skills in cycle I by 58%, increasing in cycle II to 83%.
PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mengalami perubahan
yang sangat pesat. Hal ini berdampak langsung pada berbagai bidang kehidupan,
termasuk dalam bidang pendidikan. Pendidikan juga mengalami pembaharuan dari
waktu ke waktu dan tidak pernah berhenti. Pendidikan sebagai suatu proses yang
disadari untuk mengembangkan pot e nsi individu sehingga memiliki kecerdasan pikir,
emosional, berwatak dan berketerampilan untuk siap hidup ditengah-tengah masyarakat.
297
Seiring dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun
2007 terjadi pergeseran paradigma dalam penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari
paradigma pengajaran menjadi paradigma pembelajaran. Pembelajaran adalah proses
interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses
pembelajaran harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi
siswa untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis siswa.
Paradigma pembelajaran bersesuaian dengan hakikat IPA. Menurut Kemendikbud
(2013), IPA termasuk di dalamnya biologi berkaitan dengan cara mencari tahu tentang
alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta, konsep, atau prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung
untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi da n memahami alam sekitar
secara ilmiah. Guna mencapai maksud tersebut, maka diperlukan suatu model
pembelajaran yang dapat memotivasi dan mendorong peran aktif siswa untuk kreatif,
percaya diri dan berpikir kritis.
Pada dasarnya siswa mempunyai kemampuan berpikir kritis dalam belajar
misalnya kemampuan bertanya, hipotesis, klasifikasi, observasi dan interpretasi. Namun
kemampuan ini terkadang tidak dapat berkembang dengan semestinya. Hal demikian
bisa terjadi karena pembelajaran ya n g disajikan guru terlalu monoton dan kurang
menarik sehingga kemampuan siswa tidak sepenuhnya tereksplorasi dengan baik.
Diperlukan suatu model yang mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis
siswa dalam pembelajaran biologi. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan
salah seorang guru mata pelajaran IPA pada s e m e s t e r g e n a p t a h u n p e l a j a r a n
2018/2019 kelas VII di SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah pada konsep pencemaran
lingkungan yaitu rendahnya keterampilan berpikir siswa diketahui bahwa proses
belajar mengajar IPA di Sekolah ini masih banyak terpusat pada guru. Metode mengajar
yang digunakan masih kurang bervariasi dan lebih sering menggunakan metode
ceramah. Guru jarang melakukan kegiatan praktik sehingga keterampilan berpikir siswa
menjadi kurang terlatih. Akibatnya keterampilan berpikir kritis siswa menjadi rendah.
Penuturan guru menjelaskan bahwa rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa
khususnya kelas VII SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah dapat dilihat dari kurang
mampunya siswa dalam merumuskan suatu pertanyaan, melakukan kegiatan praktik
sesuai prosedur, menganalisis/mengolah data, dan membuat kesimpulan. Siswa
cenderung pasif dan menerima apa adanya tanpa mau bertanya untuk dapat menguasai
materi pelajaran dengan lebih baik. Saat proses belajar mengajar berlangsung, siswa
terlihat tidak bersemangat dan kurang memperhatikan penjelasan guru. Berdasarkan
observasi hasil belajar semester genap tahun pelajaran 2018/2019, diketahui dengan
KKM 70 dari 22 orang hanya 12 orang yang tuntas, dengan ketuntasan klasikal hanya
mencapai 65,51% yang seharusnya indikator keberhasilan ketuntasan kl a si ka l y a i t u
≥ 85%. Dengan demikian hasil belajarnya masih rendah.
298
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas perlu dicari berbagai alternative
pemecahannya menggunakan berbagai model pembelajaran yang sesuai. Peneliti
berpendapat bahwa penggunaan model inkuiri dirasa lebih tepat dan utama karena
melalui model ini siswa didorong untuk berperan secara aktif dalam memperoleh
informasi melalui proses berpikir secara logis untuk memecahkan suatu masalah.
Memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber yang tidak
hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber balajar. Sanjaya (2016)
berpendapat bahwa model pembelajaran inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan
pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk
mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Melalui model inkuiri siswa dapat membangun pemahaman dan keterkaitan antara
materi yang dipelajarinya dengan dunia nyata yang dihadapinya. Dengan demikian
siswa akan terlatih kemampuan berpikirnya dan lebih mudah menerima materi
pelajaran. Suasana belajar juga akan menjadi lebih menarik dan tidak membosankan
bagi siswa. Hal demikian sesuai dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh
Hermayani (2015). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada peningkatan
kemampuan berpikir kritis siswa melalui penerapan model Inkuiri di kelas X MIA 5
SMA Negeri 1Surakarta tahun pelajaran 2014/2015.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah dengan menggunakan model
pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa kelas VII
SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah pada konsep pencemaran lingkungan?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
Mengetahui peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa kelas II SMP Negeri 8 Hulu
Sungai Tengah pada konsep pencemaran lingkungan dengan menggunakan model
pembelajaran inkuiri.
METODE PENELITIAN
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), merupakan salah satu upaya yang dapat
dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas peran dan tanggung jawab guru khususnya
dalam pengelolaan pembelajaran.
Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah dan waktu
pelaksanaan penelitian pada semester genap tahun pelajaran 2019/2020.
Desain penelitian
Penelitian i n i d i l a k s a n a k a n dalam dua siklus, pa da siklus I dengan dua
kali pertemuan da n siklus II dengan dua kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri
dari empat tahap kegiatan yaitu perencanaan, pe l a ksa na a n tindakan, pengamatan dan
refleksi.
299
Prosedur Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan mengacu pada 4 tahapan pokok PTK seperti
disebutkan sebelumnya dan dapat diuraikan sebagai berikut: (1) Tahap perencanaan.
Hal-hal yang digunakan pada tahap perencanaan ini adalah: (a) Meminta kesediaan
sekolah sebagai tempat pelaksanaan penelitian tindakan kelas. (b) Membuat skenario
pembelajaran berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). (c) Menyusun Lembar
Kerja Peserta Didik (LKPD), soal pretest, dan posttest beserta kunci jawaban. (d) Semua
perangkat dan instrumen penelitian di atas dikonfirmasikan ke pa d a guru dan
dilakukan perbaikan seperlunya jika terdapat kekurangan. (2) Tahap Pelaksanaan
Tindakan. Tahap ini guru melaksanakan prose s pembelajaran sesuai dengan skenario
yang telah disusun dalam RPP, dengan langkah pokok sebagai berikut: (a) Melakukan
apersepsi dan memotivasi siswa. (b) Menjelaskan tujuan pembelajaran. (c) Guru
mengadakan pretest. (d) Menyajikan materi pelajaran secara singkat. (e) Guru
membentuk kelompok secara heterogen. (f) Guru mengidentifikasikan topik dan
mengatur m u r i d ke dalam kelompok. (g) Setiap kelompok mengerjakan tugas dari
guru yaitu melaksanakan investigasi (h) Setiap kelompok melaporkan hasil
pengamatannya dengan mempresentasikan hasilnya dengan mempresentasikan hasil
kerja kelompoknya. (i) Guru mengadakan posttest (j) Menjelang akhir pembelajaran
guru memberikan penjelasan singkat (klarifikasi) bila terjadi kesalahan konsep dan
memberikan kesimpulan. (3) Tahap Pengamatan. Tahap ini dilakukan bersamaan sejak
dimulainya kegiatan pembelajaran. (4) Refleksi. Tahap ini dilaksanakan setelah siklus
berakhir dan dilakukan secara kolaborasi antara peneliti dan guru untuk mengkaji dan
membahas secara menyeluruh tindakan dan hasil yang telah dicapai. Apabila ditemukan
hambatan maupun kekurangan maka akan dicari penyebab dan solusinya sehingga dapat
dijadikan sebagai bahan perbaikan pada pelaksanaan siklus berikutnya.
300
Data keterampilan berpikir kritis siswa kelas VII C SMP Negeri 8 Hulu Sungai
Tengah pada konsep Pencemaran. Lingkungan menggunakan model pembelajaran
Inkuiri yang dilihat dari nilai LKPD pada siklus I dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Keterampilan Berpikir Kritis Siswa pada Siklus I
Aspek yang diamati Siklus I
Pertemuan 1 Pertemuan 2
Merumuskan masalah 60 60
Merumuskan hipotesis 55 60
Mengumpulkan data 55 60
Menguji hipotesis 50 50
Membuat kesimpulan 50 60
Rata-rata 54 58
Kriteria Kurang Cukup
Berdasarkan tabel 1, dapat dilihat bahwa keterampilan berpikir kritis pada pertemuan 1
hanya 54% dan pada pertemuan 2 hanya 58%.
2. Pembahasan
Hasil keterampilan berpikir kritis siswa selama proses pembelajaran mengalami
perbaikan dari siklus I ke siklus II. Perbandingan keterampilan berpikir kritis siswa
pada siklus I dan siklus II dapat dilihat dalam bentuk grafik pada Gambar 1 berikut.
301
Gambar 1 G r a f i k Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Model Pembelajaran Inkuiri.
302
kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Selain itu guru memaparkan permasalahan yang ada di masyarakat dengan sangat
menarik dan jelas sesuai dengan model pembelajaran inkuiri, sehingga menimbulkan
semangat siswa untuk merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan
data dari berbagai sumber, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan secara kreatif.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan siklus II pada konsep Pencemaran
Lingkungan melalui model pembelajaran Inkuiri, dari hasil dan pembahasan dapat
disimpulkan sebagai be ri k ut : Pembelajaran d e n g a n model Inkuiri pada konsep
Pencemaran Lingkungan dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa kelas
VII C SMP Negeri 8 Hulu Sungai Tengah. Hasil peningkatan ini dapat dilihat dari
t i a p s i k l u s d e n g a n 58% pada siklus I dan meningkat pada siklus II menjadi 83%.
DAFTAR RUJUKAN
Hermayani, Zahra. 2015. Peningkatan Motivasi Belajar dan Berpikir Kritis Siswa Pada
Materi Ekosistem Melalui Penerapan Model Inkuiri Terbimbing. Jurnal
P e n d i d i k a n Biologi Universitas Muhammadiyah Metro. ISSN 2086-4701.
Hidayah, Ratna dkk. Critical Thingking Skill: Konsep dan Indikator Penilaian.
Jurnal Taman Cendekia Vol. 01 No. 02 Desember 2017.
Kemendikbud. 2013. Permedikbud Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar
[Link]: Kemendikbud.
Sanjaya, W., 2016. Strategi Pembelajaran. Prenadamedia Group, Jakarta.
303
PERAN PENDIDIK SEBAGAI INOVATOR PEMBELAJARAN
MIPA BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM
KONTEKS MERDEKA BELAJAR
305
306
307
308
309
310
INTEGRASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL
DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
311
312
313
314
315
316
317
318
319
320
321
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
333
PEMBELAJARAN MIPA YANG KREATIF DAN INNOVATIF
BERBASIS KEARIFAN LOKAL
335
336
337
338
339
340
341
342
343
344
345
346
347
348
349
350
351
352
MODEL PEMBELAJARAN IPA/BIOLOGI BERBASIS
KEARIFAN LOKAL KALIMANTAN SELATAN
353
354
355
356
357
358
359
360