Nama : Nisrina Nur Tsabita
Prodi/Semester : BK/IV
NIM : 18012022
Mata Kuliah : Konseling Lintas Budaya
BAB I
1. Jelaskan bahwa layanan bimbingan dan konseling tidak dapat lepas dari
kebudayaan?
Jawaban: Karena sebagai suatu usaha pendidikan, bimbingan dan konseling tidak
terlepas dari kebudayaan. Bimbingan dan konseling dengan segala
aspeknya adalah hasil budaya manusia. Di sisi lain usaha bimbingan dan
konseling adalah usaha mengembangkan, mempertahankan kebudayaan,
dengan cara menginternalisasikan nilai-nilai ke dalam diri klien selama
bimbingan dan konseling berlangsung. Bimbingan konseling yang terlepas
dari kebudayaan masyarakat, akan menjadikan pelayanannya asing, tidak
dikenal oleh masyarakat, dan akan kehilangan makna. Demikian pula
kebudayaan tanpa usaha bimbingan dan konseling, dapat menyebabkan
kebudayaan kurang berkembang, bahkan dapat terjadi kepunahan.
2. Kebudayaan bimbingan dan konseling memiliki dimensi temporal dan spasial.
Jelaskan!
Jawaban: Dimensi temporal artinya kebudayaan BK dapat berbeda, berubah, dan
berkembang dari waktu ke waktu, sedangkan dimensi spasial artinya
kebudayaan BK dapat berbeda dari satu tempat atau wilayah dengan
tempat lain, tergantung dari kebudayaan masyarakat.
3. Jelaskan bahwa dalam pelayanan BK di sekolah sangat terkait dengan
kebudayaan pendidikan.
Jawaban: Menurut Tilar (1999) menyebut salah satu budaya pendidikan Indonesia
adalah intelektualisme, verbalisme, foramlisme, monolog. Kebudayaan
intelektualisme verba menjadikan praksis pendidikan dipola oleh
EBTANAS, metodologi pengajaran yang verbalistik, proses belajar
mengajar yang monolog sehingga berkembang pada siswa budaya diam
(silent culture), atau istilah Paulo Freire (1983) pendidikan bergaya bank
(banking concept). Dengan budaya prndidikan tersebut,maka umumnya
budaya BK di sekolah menjadi subordinat budaya pendidikan yang
intelektualis, metode bimbingan yang monolog (pembimbing bicara klien
diam), bimbingan yang bergaya bank, bimbingan konseling yang counselor
centered, intelektual oriented dan sebagainya.
4. Jelaskan bahwa pendekatan konseling, model-model konseling yang
berkembang dewasa ini dipengaruhi oleh kebudayaan.
Jawaban: Dewasa ini pendekatan konseling serta model-model konseling
dipengaruhi oleh budaya, hal ini terjadi karena gelombang peradaban
manusia berkembang bersamaan dengan kemajuan teknologi yang semakin
maju. Akibatnya konselor atau pembimbing harus mampu menyelaraskan
antara kaidah-kaidah yang berlaku dalam bimbingan dan konseling dalam
prakteknya memberi layanan bimbingan dan konseling yang kekinian.
Konselor juga harus memperhatikan bahwa konseling berkembang di
masyarakat merupakan hasil dari produk budaya serta dipengaruhi oleh
nilai budaya sistem sosial dan kebudayaan fisik.
5. Secara umum layanan BK bertujuan untuk membantu klien agar dapat
menyesuaikan diri, dan mengoptimalisasi potensi yang dimiliki klien. Jelaskan
bahwa tujuan tersebut pada dasarnya adalah BK kebudayaan, yaitu dalam hal
transmisi budaya dan kreasi budaya.
Jawaban: BK memiliki fungsi transmisi dan kreasi budaya. Fungsi transmisi terlihat
dalam pelayanan BK yang membantu subjek yang dibimbing dapat
mengatasi masalah, menyesuaikan diri, atau berperilaku sesuai dengan
budaya (nilai, norma, tata hubungan) yang ada dalam masyarakat. Fungsi
kreasi kebudayaan terlihat dalam pelayanan BK yang membantu
aktualisasi dan optimalisasi seluruh potensi subjek bombing, perencanaan
masa depan.
BAB II
1. Jelaskan problem masyarakat dengan adanya dinamika masyarakat dan
transformasi sosial budaya yang berlangsung cepat dan dahsyat dewasa ini!
Jawaban: Dewasa ini memang sedang berlangsung dinamika masyarakat dan
transformasi sosio-kultural yang dahsyat, luas dan cepat, yang kesemuanya itu
disebabkan oleh peradaban manusia, terutama kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Tofler (1980) menyebut dunia memasuki gelombang peradaban
informasi, setelah sebelumnya mengalami peradaban agricultural dan
industrial. Dalam era globalisasi ini, manusia mengalami perubahan yang
begitu cepat dalam segala hal. Dari aspek ekonomi berkembang perdagangan
bebas, kerjasama regional dan internasional, perdagangan akan penuh
persaingan, begitu bebas aliran barang, modal pelayanan. Dari aspek politik,
proses globalisasi merupakan proses demokratisasi, dan muncul kesadaran
akan penegakan hak-hak asasi manusia. Dari aspek sosial budaya terjadi
transformasi budaya, gelombang budaya global, sehingga melahirkan dunia
tanpa batas (borderless world).
2. Mengapa dengan adanya dinamika masyarakat dan transformasi budaya tersebut
memerlukan layanan konseling yang berwawasan budaya?
Jawaban: Karena dengan melihat adanya dinamika seperti ini dalam masyarakat dan
transformasi budaya tersebut, maka dibutuhkan konseling lintas budaya agar
menjadikan relevansi dan urgensinya untuk diterapkan dalam pelayanan
bimbingan dan konseling, agar mengetahui adanya perubahan sosial budaya
serta timbangan sosial budaya.
3. Jelaskan bahwa praktek konseling yang tidak mempertimbangkan budaya klien,
digunakan sebagai alat penindasan terhadap klien?
Jawaban: Konseling yang tidak mempertimbangkan budaya klien yang berbeda akan
merugikan klien. Dalam hal ini Sue (1992:6) menyatakan konseling telah
digunakan sebagai alat untuk menindas (menekan), dan didesain untuk
menanamkan nilai-nilai budaya indivualistik. Tradisi konseling telah
mengabaikan kelompok minoritas dan para wanita. Konseling telah menjadi
alat untuk mempertahankan status quo.
4. Sebutkan latar belakang perlunya konseling lintas budaya.
Jawaban:
a. Adanya kecenderungan budaya global dan transformasi budaya, dimana
kehidupan masyarakat semakin terdiri dari berbagai budaya yang selalu
berinteraksi dan berubah.
b. Bahwa setiap budaya akan membentuk pola kepribadian, pola
bertingkah laku secara khusus, termasuk dalam proses konseling.
c. Adanya proses akulturasi atau percampuran antar budaya.
d. Adanya berbagai keterbatasan, hambatan dalam praktek konseling yang
selama ini dilakukan, terutama pendekatan psikodinamik,
behavioristickognitivistik, eksistensial humanistic, yang kurang
mempertimbangkan aspek budaya.
e. Adanya berbagai pendekatan konseling yang bersumber dari nilai-nilai
budaya asli masyarakat (indigineous value), dan berkembang dalam
praktik konseling di masyarakat.
5. Jelaskan bahwa gerakan konseling lintas budaya disebut sebagai “fourth force”.
Jawaban: Fourth force atau kekuatan keempat dalam gerakan konseling, yaitu setelah
gerakan psikodinamik (Freud, Yung, Adler, From dkk),
behaviorismecognitivisme (Skinner, Perls dkk), Humanistik-eksistensial
(Rogers-Frankl dkk). Gagasan konseling lintas budaya muncul sekitar tahun
1970, sehingga belum begitu dikenal secara luas dalam masyarakat bimbingan
konseling itu sendiri. Tulisan-tulisan tentang ties and habits acquired by man
as a member of society. Kuncaraningrat (1981: 193) mendefinisikan
kebudayaan adalah “keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat, yang dijadikan milik diri
manusia dengan belajar.”
6. Kemukakan definisi konseling lintas budaya menurut saudara
Jawaban: Konseling lintas budaya menurut saya yaitu individu yang mengikuti proses
konseling itu terdapat perbedaan budaya dengan konselor. Perbedaan budaya
tersebut dapat terjadi karena perbedaan bangsa, suku bangsa, jenis kelamin,
aliran politik, usia, pekerjaan, agama, tempat tinggal dan sebagainya.
7. Jelaskan konsep konseling lintas budaya menurut pendekatan universal dan
pendekatan khusus
Jawaban: Pendekatan universal mensyaratkan bahwa dalam setiap proses konseling
terkait dengan budaya dan harus mempertimbangkan budaya, konselor harus
memiliki kesadaran budaya. Sedangkan pendekatan khusus
lebih memfokuskan pada suatu budaya kelompok tertentu, yaitu melihat
individu dan sebagai anggota kelompok suatu budaya, seperti konseling pada
kelompok keturunan Asia, komunitas homoseks, wanita, dan sebagainya.
BAB III
1. Jelaskan dalam layanan bimbingan konseling lintas budaya harus dilakukan
berdasarkan asas-asas dan prinsip-prinsip layanan.
Jawaban: Karena jika tidak berdasarkan asas-asas dan prinsip-prinsip pada layanan
tidak akan mencapai proses pada proses konseling tersebut dan mungkin
justru akan menghambat proses layanan tersebut. Yang dimana asas-asas
layanan tersebut merupakan kaidah-kaidah yang menjamin efisiensi dan
efektifitas layanan. Kaidah tersebut didasarkan keilmuan layanan, kondisi
masyarakat dengan beragam latar belakang budaya, dan tuntutan
optimalisasi proses penyelenggaraan layanan. Sedangkan prinsip-prinsip
layanan tersebut dalam konseling lintas budaya, prinsip-prinsip yang
digunakan bersumber dari kajian filosofis, teoritis, hasil penelitian dan
kajian pengalaman dalam praktek bimbingan dan konseling yang
berwawasan budaya. Prinsip-prinsip konseling lintas budaya banyak yang
bersifat hipotesis, berupa pemikiran, dan masih terus berkembang.
2. Sebutkan asas-asas layanan konseling lintas budaya Jawaban:
a. Asas kerahasiaan
b. Asas kesukarelaan
c. Asas keterbukaan
d. Asas kegiatan
e. Asas kemandirian
f. Asas kekinian
g. Asas keterpaduan
h. Asas kedinamisan,
i. Asas kenormatifan
j. Asas keahlian
k. Asas alih tangan
3. Jelaskan prinsip-prinsip layanan konseling lintas budaya Jawaban:
a. Teknik atau aktivitas para konselor semakin berubah, yaitu
menyesuaikan atau menerapkan dalam lingkungan yang berbeda. Hal
ini bukan berarti konseling secara otomatis mengikuti budaya klien apa
adanya
b. Permasalahan dalam proses konseling akan cenderung meningkat, jika
antara klien dan konselor terdapat perbedaan kebudayaan yang
semakin melebar
c. Permasalahan atau problem, pola pola perilaku bermasalah akan
berbeda beda dalam berbagai kebudayaan
d. Norma, harapan, perilaku stress juga memiliki keragaman antar
kebudayaan. Klien- klien dari berbagai budaya memiliki cara yang
berbeda dalam penyesuaian diri
e. Konsep-konsep konseling dan pola-pola membantu berkaitan dengan
satu kebudayaan
4. Menurut Sue ada tiga hal yang menjadi sumber hambatan konseling lintas
budaya, yaitu program pendidikan dan latihan konselor, literature kesehatan
mental, dan proses dan praktek konseling professional. Jelaskan Jawaban:
1. Program pendidikan dan latihan konselor, umumnya program
pendidikan/latihan konselor (kurikulum,proses pembelajaran dll) mengacu
pada budaya klas yang menengah ras kulit putih, sehingaa para konselor
kurang memiliki pemahaman, kesadaran, keterampilan dan pengalaman
konseling yang memiliki budaya berbeda dengan budaya barat (Eropa-
Amerika)
2. Kesehatan mental, program pendidikandan latihan konselor
umumnya menghasilkan konselor yang cultural encapsulation, mereka
memiliki pandangan monokultural tentang kesehatan mental dan
pandangan stereotipe yang negatif terhadap budaya lain. Pandangan
tentang seha atau normal tidaknya suatu perilaku sangat diwarnai oleh satu
budaya (budaya barat, budaya kulit putih). Padahal setiap budaya memiliki
ukuran normal tidaknya suatu perilaku
3. Praktek konseling profesional selama ini dilakukan menggunakan
pendekatan ilmiah, yang mengacu pada budaya empiristik, individualistik,
kebebasan dan sebagainya, dan kurang memperhatikan aspek-aspek
budaya lain subyek yang dilayani, sehingga sering terjadi ketidakefektifan,
saling berlawanan, ketidak cocokan dengan budaya lain
5. Jelaskan beberapa permasalahan konseling lintas budaya yang menyangkut
isu etic dan emic, isu autoplastic dan alloplastic Jawaban:
a. Isu etic dan emic, permasalahannya yaitu untuk menguji suatu teori
dengan menggunakan metode instrument yang sudah ada mengukur
sejumlah konstruk atau konsep psikologi. Pendekatan emic mengacu pada
pandangan bahwa data dapat dilihat dari sudut pandang budaya subyek
yang diteliti, atau indigenouse (budaya asli) dan unik. Etic dan emic
merupakan perbedaan cara mendeskripsikan suatu kebudayaan, pandangan
dari dalam budaya klien atau dari luar budaya klien. Isu ini sering menjadi
perdebatan karena pada akhirnya berkaitan dengan masalah hubungan
konselor-klien. Sebab ada kalanya konseling lintas budaya berusaha
mengembangkan budaya klien yang mungkin tidak sejalan dengan arus
utama budaya yang berlaku.
b. Isu autoplastic dan alloplastic
Konsep autoplastic mengacu pada bagaimana cara mengakomodasikan
seseorang pada latar dan struktur sosial yang bersifat given (jadi). Konsep
alloplastic mengacu pada pembentukan realita eksternal yang sesuai
dengan kebutuhan individu. Secara sederhana isu ini menyangkut apakah
dalam konseling lintas budaya konselor hanya mengikuti budaya klien
atau konselor dapat dan perlu mengubah nilai-nilai budaya lain yang
menurut pertimbangan konselor itu perlu, tentu saja jika nilai budaya
sudah bagus maka konselor terus mengikuti budaya klien, tetapi jika
budaya klien bertentangan dengan budaya masyarakat, atau nilai-nilai
yang berlaku maka cukup beralasan jika konselor berusaha merubah nilai
budaya klien kearah yang lebih baru dan sesuai.
6. Jelaskan beberapa sumber konflik yang sering terjadi antara klien dengan
konselor pada konseling lintas budaya.
Jawaban:
a. Adanya upaya menyatukan budaya klien ke budaya yang dominan
memiliki konselor. Seperti berpesan sebagai agen transmisi
budaya, klien diajari bahwa beberapa budaya dari arus utama
budaya (mainstream) adalah menyimpang, berkelainan atau sakit.
b. Berpusat pada individu. Padahal budaya merupakan identitas
seseorang yang tidak dapat dipisahkan dari kelompoknya. Seorang
siswa perlu pertimbangan orangtuanya dalam mengambil
keputusan. Hal seperti ini bagi konselor sangat berat sebagai
ketidakmatangan (immature)
c. Konselor menghendaki klien agar mau mengekspresikan perasaan
melalui bahasa dan tingkah laku, seperti assertive, punya pendirian
pasif.
Ekspresi perasaan dalam konseling sering menjadi tujuan yang diinginkan.
Perhatian orang Jawa pada umumnya mengekspresikan emosinya.
d. Penggunaan insight atau pencerahan dalam konseling didasarkan
pada asumsi bahwa klien yang mencapai insight pada dirinya
sendiri akan dapat menyesuaikan diri dengan baik. Tapi banyak
budaya yang menganggap tidak penting insight. Orang dari kelas
sosial ekonomi rendah sering tidak menganggap penting insight.
e. Sebagian besar konseling menginginkan self
disclosure
(keterbukaan dan kekariban), yaitu klien yang mau terbuka dan berbicara
tentang aspek-aspek kehidupan dirinya. Budaya Asia termasuk Jawa yang
kehidupan komunalnya lebih penting dari individu, umumnya sulit
terbuka. Orangtua menyarankan supaya tidak membuka masalah pribadi
pada oranglain.
f. Pola komunikasi dalam konseling umumnya menghendaki
komunikasi yang bergerak dari klien ke konselor, atau klien lebih
aktif. Dalam budaya masyarakat tertentu, termasuk Indonesia, yang
umumnya paternalistic, sangat menghargai orangtua (yang
dituakan), pemimpin, komunikasi umumnya dari atas ke bawah.
Oleh karena itu kalau klien diminta memulai berbicara umumnya
merasa tidak enak, dan tidak sopan.
g. Hambatan bahasa. Di Indonesia misalnya, konseling menggunakan
bahasa baku, padahal kliennya berasal dari suku tertentu yang
belum mampu berbahasa dengan baik, hal ini dapat menjadi
hambatan dalam konseling lintas budaya.
BAB IV
1. Sebutkan unsur-unsur dalam sistem budaya
Jawaban: Unsur-unsur dalam sistem budaya meliputi bahasa, sistem teknologi,
sistem mata pencaharian, organisasi, sosial, sistem pengetahuan, religi
dan kesenian. Semua unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang
mempunyai dimensi sistem budaya, sistem sosial, sistem kebudayaan
fisik
2. Jelaskan orientasi nilai budaya menurut Kluchkohn Jawaban: Orientasi nilai
budaya menurut Kluchkohn yaitu:
a. Hakekat hidup manusia, ada yang memandang hidup itu buruk, hidup
itu baik, hidup itu buruk tetapi manusia wajib berusaha menuju hidup
yang baik.
b. Hakekat waktu, ada yang berorientasi masa lampau, masa kini, masa
depan.
c. Hakekat karya, ada yang memandang karya bertujuan untuk hidup,
karya memberikan kedudukan dan kehormatan, karya itu untuk
menambah karya.
d. Hakekat hubungan sesame manusia, ada yang berorientasi horizontal
(sesama, bersama, gotong royong), orientasi vertical (dengan
tokohtokoh atasan berpangkat), orientasi individualistik.
e. Hakekat hubungan manusia dengan alam, ada yang berpandangan
manusia tunduk pada alam, manusia berusaha menjaga keselarasan
dengan alam, manusia menguasai alam.
3. Sebutkan unsur-unsur dalam sistem bimbingan dan konseling Jawaban:
a. Bidang-bidang bimbingan, yaitu bimbingan pribadi, bimbingan sosial,
bimbingan belajar
b. Layanan bimbingan konseling, yaitu layanan orientasi, layanan
informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan penguasaan
konten, layanan konseling individual, layanan bimbingan kelompok,
layanan konseling kelompok, layanan mediasi, dan layanan
konsultasi.
c. Kegiatan pendukung bimbingan dan konseling yaitu aplikasi
instrumentasi, himpunan data, konferensi kasus, kunjungan rumah,
dan alih tangan kasus.
4. Jelaskan dimensi-dimensi budaya dalam sistem bimbingan dan konseling
Jawaban: Dimensi-dimensi budaya dalam sistem bimbingan dan konseling
a. Budaya akan memberi warna dan arah bagi subsistem konsep dasar
BK, yang mencakup landasan filosofik, tujuan konseling, prinsip
dan asas BK, serta kode etik BK. Landasan filosofis BK
(pandangan akan kenyataan, kebenaran, kebaikan, keindahan, dll.)
pada dasarnya adalah nilai-nilai budaya. Tujuan konseling yang
akan dicapai harus sejalan atau diwarnai nilai budaya orientasi
nilai. Masyarakat jawa mungkin lebih mementingkan keselarasan,
masyarakat ilmiah mungkin lebih menekankan insight/pencerahan
dan sebagainya. Demikian pula prinsip, asas, dan etika atau tata
karma konseling sangat diwarnai nilai budaya dan sistem sosial.
b. Budaya akan memberikan warna terhadap subsistem pembimbing,
baik yang berkaitan dengan kualifikasi, pendidikan dan latihan,
penempatan pembimbing. Kualifikasi (personal, professional)
pembimbing di masyarakat Jawa akan berbeda dengan
pembimbing untuk masyarakat Eropa Amerika. Demikian pula
dalam hal pendidikan dan latihan pembimbing akan diwarnai oleh
budaya dimana pendidikan konselor itu diselenggarakan.
c. Budaya akan memberikan warna bagi subsistem subyek yang
dibimbing. Konsep orang bermasalah akan berbeda antara satu
budaya dengan budaya lain. Kriteria yang mallajusted akan
berbeda pada setiap kebudayaan. Individualism bagi masyarakat
Eropa mungkin dipandang baik, tetapi bagi masyarakat Jawa sikap
tersebut dipandang bermasalah.
d. Budaya juga menentukan dan mewarnai metode memahami
individu, dan metode/teknik bimbingan konseling. Pemahaman
individu pada masyarakat ilmiah akan menggunakan metode-
metode ilmiah (pengamatan, tes, wawancara dsb), sedang pada
masyarakat tradisional, akan banyak menggunakan metode yang
sifatnya non ilmiah (perhitungan hari kelahiran, astrologi, meditasi
dsb). Budaya juga akan mewarnai dalm penggunaan teknik-teknik
layanan BK. Masyarakat animisme dan dinamisme akan
menggunakan teknik-teknik mistik, masyarakat religious akan
menggunakan metode-metode religious, masyarakat ilmiah akan
menggunakan metode-metode ilmiah.
e. Budaya akan memberikan arah bagi program-program BK.
Program-program apa yang akan diberikan dalam layanan BK
tergantung pada budaya masyarakat. Program meditasi tentu cocok
bagi masyarakat yang memiliki budaya meditasi. Program doa,
dzikir, puasa cocok bagi masyarakat yang berbudaya religious.
Program training, study banding dan sebagainya cocok bagi
masyarakat yang berbudaya keilmuan.
f. Budaya menentukan sistem administrasi dan organisasi BK. Pada
masyarakat yang berbudaya professional, maka seluruh layanan
BK diadministrasikan secara professional. Bagi masyarakat yang
berbudaya tradisional, maka sistem administrasi dan organisasinya
akan cenderung secara tradisional.
g. Budaya juga menentukan sistem sarana, prasarana, dan tempat
biaya. Sarana dan prasarana seperti komputer, internet,video, alat-
alat tes, dan sebagainya hanya diperlukan dalam budaya bimbingan
yang ilmiah/professional. Bagi pelayanan BK yang tradisional
tidak memerlukan sarana seperti diatas, mungkin diperlukan bunga,
keris, tungku, kemenyan, air putih, dan sebagainya
h. Budaya menentukan sistem proses layanan. Apakah suatu layanan
perlu registrasi, kapan jam layanan, berapa waktunya, bagaimana
model komunikasinya sistem interaksi, birokrasi, kontak mata, cara
duduk, cara mengekspresikan masalah, pengambilan keputusan,
sistem evaluasi dan sebagainya semua sangat diwarnai oleh
budaya, baik nilai budaya, sistem sosial, maupun kebudayaan fisik.
Konseling dalam setting budaya Jawa tidak memerlukan kontak
mata secara langsung, hubungannya bersifat patron-klien, klien
diam, konselor aktif, dan sebagainya.
i. Budaya mewarnai subsistem lingkungan konseling. Lingkungan
konseling di kota akan berbeda dengan lingkungan layanan
konseling di desa. Lingkungan yang berupa etnis, politik, ekonomi,
pendidikan, agama akan diwarnai oleh budayanya.
j. Budaya juga mempengaruhi dan mewarnai sistem pengembangan
bimbingan dan konseling. Dengan cara apa dan kemana arah
pengembangan teori dan praktek BK dilakukan, semuanya akan
sangat diwarnai budayanya. Pada masyarakat ilmiah, maka
pengembangan BK akan dilakukan secara ilmiah, seperti studi
lanjut, seminar, konvensi, penerbit jurnal, pengembangan
organisasi profesi, dan sebagainya.
5. Jelaskan konsep indexial self dan refferential self, dan bagaimana implikasinya
dalam konseling
Jawaban:
Konsep indexial self yaitu self atau diri pribadi yang kurang mandiri,
kurang dapat mengontrol diri, jiwanya lemah dan kering, kurang kreatif,
mudah dipengaruhi. Sedangkan referential self adalah self atau diri yang
sendiri, mandiri, asli, kreatif, dapat mengontrol perilaku, menentukan diri,
pemikir, self yang terbungkus dalam budaya barat. Kedua pola self
tersebut memiliki implikasi penting dalam konseling, yaitu pada
referential self maka konseling lebih terbuka, permissiveness, memberi
kebebasan kepada klien, hubungan antara konselor dan klien seimbang,
konseling yang bebas dan sebagainya. Pada indexial self pelayanan
konseling lebih formal, kaku, otoriter, hubungan konselor dank lien seperti
hubungan antara patron-klien, klien diam, pasif, dipilihkan, diputuskan,
dan sebagainya.
6. Sebutkan dimensi-dimensi kepribadian dari Hofstede, dan bagaimana
implikasinya dalam layanan bimbingan dan konseling Jawaban:
Dimensi pola kepribadian menurut Hofstede:
a. Individualisme menunjukkan kecondongan seseorang terhadap diri
sendiri, yang memiliki kesungguhan, berusaha atau mampu mencapai
tujuan, merealisasi hidupnya sendiri. Collectivisme menunjukkan
kecenderungan seseorang berada dalam jaringan sosial, hidupnya selalu
ada bersama dengan yang lain. Konsep individualisme-collectivisme ini
hampir sama dengan konsep referential self dan indexial self. Menurut
Martin dan Triandis (1985) individualism-collectivisme untuk matra
nasional, sedang matra individual menyebut dengan istilah idiocentrisme
dan allocentrisme. Shweder dan Bourne (dalam Barry dkk, 1999)
menyebutnya dengan istilah budaya keterpisahan (culture of
separatedness). Pada budaya individualism, tujuan kkonseling lebih
menekankan pada pencerahan dan pemahaman, perkembangan individu
dan tanggung jawab, konselor sebagai figure ayah. Pada budaya
collectiveness, konseling lebih bertujuan pada integrasi sosial, penerimaan
sosial, dan konselor sebagai figure ibu.
b. Power distance merupaakn konsep yang menunjukkan
ketidaksamaan atau jurang pemisah (suatu tatanan berjenjang) antara
atasan dan bawahan dalam suatu organisasi, atau antara perasaan superior
dan inferior. Dimensi ini diukur dari penerimaan atau penolakan terhadap
ketidaksamaan status, penghasilan, kekuasaan, dan sebagainya. Ada orang
yang tidak toleran terhadap kesenjangan (high power distance) ada pula
yang sangat toleran terhadap jarak jenjang kekuasaan (low power
distance). Pada masyarakat hifh power distance, konseling lebih
menekankan teknik direktif, konselor sebagai agen perubahan. Pada
masyarakat low power distance, konseling lebih menekankan pada client
centered, konselor sebagai katalis, tujuan konseling lebih menekankan
pada self discovery, self actualization, self im-procement.
c. Uncertainty avoidance atau penghindaran akan ketidak menentuan
merupaka konsep yang menunjukkan tingkat kebutuhan seseorang akan
struktur, aturan, norma, petunjuk atau informasi untuk mengantisipasi
kehidupan yang kompleks, yang sulit diprediksi. High uncertainty
avoidance ditandai dengan adanya penekanan pada aturan, tradisi, ritual,
orangnya cenderung kaku atau kurang toleran. Low uncertainty avoidance
ditandai adanya spontanitas, fleksibilitas, tolerans, kreatif dan sebagainya.
Implikasinya dalam konseling, pada high uncertainty avoidance konseling
lebih berorientasi pada pendekatan behavioristic, eksplanasi biologis,
berorientasi medic, direktif. Pada low uncertainty avoidance konseling
lebih menggunakan pendekatan clien centered, eksplanasi psikologi.
d. Masculinity dan feminity, menunjukkan pola kepribadian atau
kebudayaan yang membedakan peran antara laki-laki dan perempuan.
Budaya laki-laki berorientasi pada kekuatan, penampilan, hasil, prestasi.
Budaya perempuan berorientasi pada pemeliharaan, kelmbutan,
kesenangan, kebahagiaan. Dalam konseling, budaya masculinity
menekankan orientasi sosial, tanggungjawab, konseling kognitif . pada
feminity menekankan orientasi pribadi, emphaty, bersifat affektif.
7. Jelaskan kerangka kerja teoritis dalam konseling lintas budaya menurut Casas
dan Vaquez Jawaban:
Berdasarkan kerangka kerja teori dalam konseling lintas budaya
terdapat tiga variable, yaitu :
a. Variabel konselor
Konselor yang akan memberikan pelayanan sudah membawa
seperangkat karakteristik, baik yang sifatnya personal, sosiokultural,
maupun professional. Secara personal dan sosiokultural, konselor terikat
dengan aspek biologis yang dimiliki, seperti: gender, ras, seksual
preference, yang kesemuanya sangat mempengaruhi pola hidupnya.
Disamping itu konselor juga membawa pengalaman-pengalam hidup,
budaya yang menentukan dalam cara pandang terhadap dunia, orientasi,
keyakinan, nilai, sikap-sikap hidup. Konselor juga membawa gaya
kognitifnya (cognitive style), seperti kemampuan berfikir, stereotype,
persepsi ini tentang identitas suku, level, akulturasi, keasaran dan
sensitivitas ras, juga perilaku-perilaku tertentu. Semua variable personal
dan sosiokultural tersebut akan dibawa dalam proses konseling, dimana
antara satu orang dengan oranglain berbeda.
Konselor juga membawa karakteristik kompetensi professional sebagi
konselor, seperti budaya profesi yang mencakup asumsi-asumsi,
keyakinan, nilai, sikap-sikap profesi, keterampilan-keterampilan profesi
dan sebagainya. Dalam pendidikannya dibekali konsep, filosofi, orientasi
teori, keterampilan konseling termasuk ketrampilan konseling lintas
budaya, juga perilaku professional. Semua karakteristik professional
konselor tersebut dibawa dan akan mempengaruhi seluruh proses
konseling.
b. Variabel klien
Sebagaimana konselor, klien juga membawa seperangkat karakteristik,
baik personal-sosio-kultural dan pengalam hidup. Beberapa aspek
personal-sosial-kultural yaitu aspek biologis (gender, ras, preferensi
seksual), budaya (asumsi-asumsi, keyakinan, nilai, dan sikap), gaya
kognitif (proses penerimaan informasi, berfikir, stereotype), bakat,
kecakapan, minat, harapan, perilaku. Sedangkan aspek pengalaman hidup
seperti: tempat lahir, status penduduk (asli/pendatang), pengalaman kerja,
kondisi keluarga, kehidupan lingkungan (kota, desa, sub-urban, daerah
kumuh, dan lain-lain), pendidikan, kesehatan fisik dan mental, dan
sebagainya. Semua variable tersebut dibawa klien dalam proses konseling.
c. Variabel proses konseling
Dalam proses konseling terlibat dua pihak yaitu klien dan konselor,
yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam proses
konseling tersebt, klien membawa harapan tentang proses konseling yang
akan berlangsung, harapan peran konselor dan peran dirinya, memilih
konselor (ras, jenis kelamin, keahlian, kepribadian, teknik). Klien juga
memiliki sikap terhadap proses konseling, konselor (etnik, keahlian,
kepribadian), membawa masalah keyakinan terhadap konselor maupun
proses konseling, dan sebagainya.
Variable proses konseling yang berasal dari konselor mencakup setting
dan perlakuan, seperti setting (lokasi, bahasa, tenaga, birokrasi), tingkat
sensitivitas, pemahaman dan penerimaan terhadap udaya klien,
kemampuan membangun hubungan baik, pemilihan tujuan konseling,
pemilihan pendekatan teori dan strategi, kemampuan mengevaluasi dan
menghentikan layanan, dan sebagainya.
Semua aspek baik konselor, klien dan proses terlibat dalam konseling.
Pendek kata dalam konseling, dimensi kultural selalu terlibat dan
mewarnai seluruh usaha konseling, baik sebelum proses konseling dimulai
(budaya yang melekat pada konselor dan klien). Alasan dilakukan
konseling, proses (awal, inti, sampai pengakhiran) konseling.