Tanggung Jawab Dokter dalam Malpraktik
Tanggung Jawab Dokter dalam Malpraktik
Diajukan Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Kejahatan Profesi
Diajukan Oleh :
1
BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi manusia untuk
untuk hidup layak baik secara ekonomi maupun dalam menjalani pendidikan.
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang
harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa yang terdapat dalam Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 34 ayat (3)
suatu usaha yang sangat luas dan menyeluruh. Di dalam Sistem Kesehatan Nasional
disebutkan, bahwa kesehatan menyangkut semua segi kehidupan yang ruang lingkup
1
dan jangkauannya sangat luas dan kompleks. Untuk mewujudkan tingkat kesehatan
yang optimal bagi setiap orang yang merupakan bagian dari kesejahteraan, diperlukan
1
Bahder Johan Nasution, 2005, Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter, PT Rineka
Cipta , Jakarta, hlm. 1.
2
Hukum mengatur hubungan hukum yang terdiri dari ikatan-ikatan antara
individu dan masyarakat dan antara individu itu sendiri. Ikatan itu tercermin adanya
hak dan kewajiban. Hukum sebagai kumpulan peraturan atau kaidah mempunyai isi
yang bersifat umum dan normatif. Umum karena berlaku bagi setiap orang dan
normatif karena menentukan apa yang seyogyanya dilakukan, apa yang tidak boleh
1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan. Namun, masih ada tebang pilih pelayanan
kesehatan yang dapat dilihat secara kasat mata antara golongan elite dengan golongan
kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dan dapat diterima serta
terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat luas, guna mencapai derajat kesehatan
3
yang optimal. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat berarti investasi bagi
2
Sudikno Mertokusumo, 2010, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Universitas Atma Jaya
Yogyakarta, hlm. 50.
3
Bahder Johan Nasution, Op.Cit, hlm. 2.
Menurut Sri Siswati, kegiatan-kegiatan upaya kesehatan (preventitif, promotif,
hukum kesehatan yang memadai dimaksudkan agar adanya kepastian hukum dan
4
masyarakat penerima pelayanan masyarakat.
kesehatan sangat menentukan, diantaranya dengan keberadaan tenaga dokter. Hal ini
Praktek Kedokteran menyatakan bahwa: “Dokter dan dokter gigi sebagai salah satu
peranan yang sangat penting karena terkait langsung dengan pemberian pelayanan
Hal di atas dapat diartikan, bahwa keberadaan dokter memiliki peranan yang
menderita suatu penyakit baik yang ringan maupun yang berat maka secara otomatis
mereka akan meminta pengobatan akan penyakit yang dideritanya kepada dokter dan
ilmunya untuk kepentingan umum dan mempunyai kebebasan yang berada dibawah
4
Sri Siswati, 2013, Etika Dan Hukum Kesehatan Dalam Perspektif Undang-Undang
Kesehatan, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 8.
Berkaitan dengan itu, menurut Bahder Johan, bahwa pekerjaan profesi
kedokteran dilandasi oleh dua prinsip perilaku pokok, yaitu kesungguhan untuk
berbuat demi kebaikian pasien dan tidak ada niat untuk menyakiti, mencederai dan
merugikan pasien. Sebagai bagian dari rasa tanggung jawabnya dan sebagai
manifestasi dari dua prinsip perilaku pokok di atas, dokter wajib menghargai hak
5
pasien.
Sebagai pengemban profesi, dokter diikat oleh sebuah kode etik yang dijadikan
peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin
6
praktek dan sebagainya.
pandangan masyarakat. Karena pada profesi inilah digantungkan harapan hidup dan
kesembuhan dari pasien serta keluarga pasien. Apabila dokter berbuat suatu
kesalahan atau kelalaian, akan berdampak sangat merugikan pasien. Salah satu
konsekuensinya adalah mendapat sorotan dari masyarakat lewat media massa, baik
5
Bahder Johan Nasution, Op.Cit, hlm. 41.
6
H. Yunanto, 2009, “Pertanggung Jawaban Dokter Dalam Transaksi Teraupetik”, Tesis
Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, hlm. 4.
Dalam pelaksanaan profesi kedokteran seringkali dijumpai konflik antara
dokter dengan pasien, pembahasan tidak lepas dari masalah hak dan kewajiban dari
pihak-pihak yang terlibat dari perselisihan atau perkara tersebut, dalam keadaan
seperti ini kaidah hukum dapat diberlakukan. Setiap hubungan hukum yang
diciptakan oleh hukum selalu mempunyai dua segi yang isinya disatu pihak hak,
sedang di pihak lain kewajiban. tidak ada hak tanpa kewajiban, sebaliknya tidak ada
7
kewajiban tanpa hak. Namun permasalahannya adalah seberapa jauh pihak yaitu
umumnya hanya mengikuti apa yang dikatakan dokter tanpa bertanya apapun.
hubungan seperti ini mengalami perubahan, sekarang dokter adalah partner pasien
penyembuhan penyakit yang dideritanya merupakan awal dari timbulnya relasi medis
dan relasi hukum yang disebut transaksi terapeutik. Hubungan hukum antara pasien
suatu perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban secara timbal balik. Perjanjian
terapeutik memiliki sifat dan ciri yang khusus, yaitu obyek perjanjian dalam transaksi
Terkait hal ini dokter bukan menjamin atau memastikan kesembuhan pasien
prosedur yang ada. Hubungan hukum yang demikian menghasilkan suatu hubungan
hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak yang dapat dituntut pemenuhannya.
penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial) serta senantiasa
kurang dapat memahami bahwa masih ada banyak faktor lain di luar kemampuan
dokter yang dapat mempengaruhi hasil dari upaya medis, seperti misalnya tingkat
stadium penyakit, kondisi fisik pasien, daya tahan tubuh dan juga kepatuhan pasien
untuk mentaati anjuran dokter. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa hasil suatu
upaya medis penuh dengan uncertainty (tidak tentu) dan tidak dapat diperhitungkan
secara pasti.
kemampuan yang dimilikinya dengan tanggung jawab yang penuh atas setiap upaya
tindakan kedokteran terhadap pasien. Namun, dokter juga tidak luput dari salah
karena kelalaian atau kealpaan. Terkadang dokter terbukti melakukan kesalahan atau
kelalaian yang menyebabkan penyakit pasien bertambah parah, dalam hal ini
perbuatan dokter disebut juga sebagai perbuatan yang melanggar hukum atau dokter
melakukan wanprestasi tindakan kedokteran tidak sesuai dengan yang terdapat dalam
Melihat masyarakat saat ini masih belum dapat membedakan antara kejadian
tidak diinginkan yang terjadi karena risiko medik disebabkan penyakit yang berlanjut,
sehingga semua risiko medik dianggap sebagai malpraktik. adapun kata malpraktik
medis, merupakan suatu hal yang penting untuk dibicarakan, hal ini disebabkan
karena akibat kesalahan atau kelalaian tersebut mempunyai dampak yang sangat
8
merugikan. Kesalahan atau kelalaian yang menimbulkan kerugian terkait perbuatan
dokter dan tenaga kesehatan lainnya lebih dikenal dengan sebutan malpraktik. Untuk
mengetahui seorang dokter melakukan malpratik atau tidak dapat dilihat dari standar
8
Bahder Johan Nasution, Op.Cit, hlm. 5.
minimal yang harus dikuasai oleh seorang dokter untuk dapat melakukan kegiatan
9
profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.
Beberapa tahun belakangan ini sering timbul gugatan oleh pasien yang merasa
dirugikan untuk menuntut ganti rugi yanng ditimbulkan oleh kelasahan atau kelalaian
penyakit yang dideritanya. Karena kesalahan atau kelalaian dokter dalam operasi
menyebabkan pasien mengalami cacat seumur hidup. Dimana para pihak dalam
perkara ini adalah Mariana Sihombing sebagai pasien atau penggugat, dr. Hotma
Partogi Pasaribu, SpOG sebagai Tergugat I, Pimpinan Rumah Sakit Santa Elisabeth
sebagai Tergugat II dan dr. Paulus Damanik, SpOG sebagai Turut Tergugat.
Adapun uraian kasus ibu Mariani Sihombing sebagai berikut, ibu Mariani
Sihombing berobat pada dr. Paulus Damanik, SpOG berpraktik di Kota Pematang
bluiding dan lamanya haid 2 hingga 3 hari, sehingga dilakukan pemeriksaan USG dan
hasilnya ditemukan adanya myomas uteri (pembesaran otot-otot rahim), yang harus
dibuang melalui tindakan operasi. Dan ia menyetujui saran dari dr. Paulus Damanik,
rendah, oleh karenanya tidak dimungkinkannya dilakukan tindakan operasi. Untuk itu
9
Lihat Penjelasan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal
50.
Hb harus dinaikkan melalui transfusi darah. dr. Paulus Damanik, SpOG merujuk
Mariani Sihombing kepada dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG yang berpraktik pada
Pada tanggal 27 Mei 2009 dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG melakukan
Sihombing tidak mengeluarkan urine di kateter, sampai keesokan harinya. dr. Hotma
Partogi Pasaribu, SpOG melakukan USG terhadap Mariani Sihombing dan hasilnya
ada penyumbatan, kemudian dilakukan kembali operasi untuk kedua kalinya. Namun
setelah 3 (tiga) hari dan selanjutnya, ada urine dari vagina (seperti beser). Setelah 25
hari dirawat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Mariani Sihombing memutuskan
untuk pindah ke Rumah Sakit Columbia Asia- Medan. Di rumah sakit tersebut
menyebutkan ada kanker dan perlu untuk dirawat untuk kemoterapi dan radiasi.
Namun karena sering beser, kemo tidak jadi dilaksanakan. Kemudian Mariani
Sakit PGI Cikini, Mariani Sihombing ditangani oleh dr. Eben Ezer Siahaan, SpU.
Dan selama 2 (dua) minggu dilakukan pemeriksaan ulang terhadap dirinya dan
dioperasi, setelah 2 (dua) jam operasi dilaksanakan, ternyata ditemukan hasil operasi
yang pernah dilakukan di Medan yaitu adanya 2 (dua) robekan sebesar jempol dan
tidak mungkin diperbaiki lagi serta masih adanya kelenjar yang belum bersih.
Sejak saat itu sampai dengan sekarang memakai pasien kateter ginjal dan sudah
berulangkali melakukan pergantian selang kateter ginjal serta sudah 25 (dua puluh
lima) kali radiasi luar dan 2 (dua) kali radiasi dalam yang telah mengeluarkan biaya
yang tidak sedikit jumlahnya. Karena perbuatan dokter yang telah melakukan operasi
immateril atau moral adalah sebagai akibat tindakan dan perbuatan dokter tersebut
dalam pekerjaan pasien. Kerugian immateril ini tidak dapat dinilai dengan uang akan
tetapi dalam perkara ini patut dan beralasan hukum untuk ditetapkan sebesar Rp.
5000.000.000,- (lima milyar rupiah). Dengan kata lain jumlah kerugian yang dialami
pasien baik secara materi maupun immateril adalah sebesar Rp. 5.021.300.524,-
ditambah Rp. 5.000.000.000,- sama dengan Rp. 10.021.300.524,- (sepuluh miliar dua
puluh satu juta tiga ratus ribu lima ratus dua puluh empat rupiah).
dan tergugat 2 secara tanggung renteng membayar ganti kerugian immateril kepada
terjadinya kerugian yang dialami oleh pihak pasien. Diharapkan para dokter dan
sebaik mungkin. banyaknya kasus malpraktik yang terjadi dalam proses penanganan
medis menjadikan masyarakat lebih waspada dan kritis dalam menjalani proses
pelayanan medik dan tidak mau lagi menerima begitu saja cara pengobatan seperti
memperoleh ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh pasien akibat adanya
jawab dokter terhadap pasien karena terjadinya malpraktik medik ditinjau dari sudut
hukum perdata, hasil dari kajian ini akan dituangkan dalam bentuk Tesis yang
berjudul “Tanggung Jawab Perdata Dokter Dalam Hal Terjadinya Malpraktik Medik
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
417/Pdt.G/2012/PN Mdn.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan tesis ini adalah sebagai
berikut :
1. Manfaat Teoritis
2. Manfaat Praktis
jawab perdata dokter dalam hal terjadinya malpraktik medik terhadap pasien.
E. Keaslian Penelitian
Menelusuri kepustakaan, ternyata sudah ada hasil penelitian dan karya ilmiah
tersebut di antaranya:
1. Penelitian dalam bentuk Tesis yang berjudul “Pertanggungjawaban Dokter
tersebut membahas tentang hubungan hukum antar dokter dengan pasien dalam
dan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh dokter dalam transaksi
terapeutik dan peranan IDI dalam rangka membantu penyelesaian masalah pada
kasus-kasus malpraktek.
dokter pasien dan persepsi masyarakat terhadap tindakan medis yang gagal
Penelitian ini tentang tanggung jawab perdata dokter dalam hal terjadinya
malpraktik medik terhadap pasien. Dengan demikian penelitian ini dapat dikatakan
asli baik bagi substansi maupun permasalahan. Apabila ternyata pernah dilaksanakan
1. Kerangka Teoritis
teoritis, oleh karena adanya hubungan timbal balik yang erat antara teori dengan
10
kegiatan pengumpulan, pengelolaan, analisa dan konstruksi data. Teori
11
relevan, yang mampu menerangkan masalah tersebut.
Berkaitan dengan itu, maka ada beberapa teori yang dijadikan alat ukur
teoritis untuk mengkaji judul dan permasalahan yang telah dirumuskan, antara
lain:
dari isi perjanjian. Judul ini sesuai dengan judul penelitian yang telah
tanggung jawab hukum, yang ia sebut dengan teori tradisional. Di dalam teori
10
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers,
Jakarta, hlm. 122.
11
Made Wiratha, 2006, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis, Andi,
Yogyakarta, hlm. 6.
kesalahan (liability based on fault) dan tanggung jawab mutlak (strict
12
liability).
13
undang, dan ada suatu hubungan eksternal antara perbuatan dengan akibat.
sebagai perangkat yang melindungi setiap orang dari interaksi yang merugikan,
14
seperti dalam perbuatan melawan hukum.
Menurut Amad Sudiro teori tanggung jawab hukum dapat dibagi menjadi
15
beberapa teori, yaitu :
12
Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, 2014, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian
Disertasi Dan Tesis, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 211.
13
Ibid, hlm. 212.
14
Ibid, hlm.213.
15
s Ibid, hlm. 215.
Tanggung jawab hukum dokter dalam hal terjadinya malpraktik dapat
dilihat dari beberapa teori yang menyebutkan sumber dari perbuatan malpraktik
yaitu:
saat seorang pasien datang ketempat dokter atau ke rumah sakit dan dokter
hubungan hukum yang menimbulkan akibat hukum berupa hak dan kewajiban
terhadap para pihak dalam perjanjian. Apabila salah satu pihak tidak
16
b. Teori Kelalaian
dikategorikan dalam malpraktek ini harus dapat dibuktikan adanya, selain itu
kelalaian yang dimaksud harus termasuk dalam kategori kelalaian yang berat
(culpa lata). Untuk membuktikan hal yang demikian ini tentu saja bukan
17
merupakan tugas yang mudah bagi aparat penegak hukum.
jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya tetapi juga
2. Teori Perjanjian
Pada prinsipnya perjanjian lahir karena adanya kata sepakat para pihak,
terutama mengenai isi dari perjanjian yang dilaksanakan. Berkaitan dengan itu
kepada seorang lainnya atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk
17
melaksanakan sesuatu hal. Arti kata kontrak lebih sembit karena ditujukan
18
untuk perjanjian yang tertulis.
adalah suatu perrbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya
terhadap satu orang lain atau lebih. Ada beberapa macam hal yang diperjanjikan
19
untuk dilaksanakan yaitu:
Ada beberapa asas yang dapat ditemukan dalam hukum perjanjian, asas-
a. Asas Konsesualisme
18
Subekti. 2005, Hukum Perjanjian, PT, Intermasa, Jakarta, hlm. 1.
19
Ibid, hlm. 36.
20
Ibid, hlm. 26.
21
J. Satrio, 1998, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bhakti, Bandung, hlm. 139.
18
kepercayaan bahwa antara mereka telah terjadi sepakat yang sesuai
dengan kehendak para pihak.
Asas ini disebut juga asas kekuatan mengikat dari perjanjian, para pihak
yang melakukan perjanjian harus memenuhi apa yang diperjanjikan. Pasal 1338
e. Asas Keseimbangan
perjanjian.
f. Asas Kepatutan
berdasarkan kepatutan.
g. Asas kebiasaan
Asas ini bagian dari perjanjian, perjanjian tidak hanya mengikat yang
diatur secara tegas, namun juga hal yang menurut kebiasaan lazim diikuti.
Dari rumusan-rumusan perjanjian jika dikaitkan dngan tanggung jawab
perdata dokter dalam hal terjadinya malpraktik medik terhadap pasien diawali
tindakan kedokteran.
2. Kerangka Konseptual
observasi, antara abstrak dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang
22
disebut definisi operasional.
pengertian judul yang dikemukakan, maka perlu adanya definisi dan beberapa
konsep dasar agar penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, yaitu:
a. Tanggung jawab
dan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka boleh dituntut,
23
dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya. Tanggung jawab hukum
24
kekuasaan.
b. Perdata
sebagai lawan kriminal atau pidana, dalam arti formal yaitu yang mengatur hak,
harta benda dan hubungan antara orang atas dasar logika, dalam arti material
yaitu yang mengatur hak, harta benda, hubunngan antar orang atas dasa
25
kebendaan.
c. Dokter
Dokter adalah seseorang yang ahli dalam pengobatan dan penyakit, gelar
26
kesarjanaan. Dokter dan dokter gigi menurut Undang-Undang Nomor 29
Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 1 adalah dokter, dokter spesialis,
dokter gigi, dan dokter spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran
gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik
24
Purbacaraka, 2010, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya, Bandung, hlm. 37
25
Website KBBI; http//kbbi.web.id/perdata (terakhir dikunjungi pada 3 Oktober 2015 jam
11.45).
26
Desi Anwar, 2002, Kamus Bahasa Indonesia Modern, Amelia, Surabaya, hlm.106.
d. Malpraktik
“praktik kedokteran yang salah, tidak tepat, menyalahi undang- undang atau
kode etik.” Kamus besar Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hasan Shadily
e. Tindakan Kedokteran
diagnostik, terapeutik atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter
27
Ari Yunanto dan Helmi, 2010, Hukum Pidana Malpraktik Medik tinjauan Dan Perspektif
Medikolegal, Andi, Yogyakarta, hlm. 27-28.
f. Pasien
secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.
G. Metode Penelitian
1. Pendekatan masalah
lainnya. Metode penelitian hukum normatif adalah metode atau cara yang
2. Sifat Penelitian
29
mendeskripsikan tentang sesuatu hal di daerah tertentu dan pada saat tertentu.
28
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 13.
29
Bambang Waluyo, 2002, Penelitian Hukum dalam Praktik, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 8.
3. Sumber Bahan Hukum
30
mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder berasal dari
31
pandangan para sarjana.
32
hukum sekunder. Seperti kamus hukum, ensiklopedia, indeks kumulatif,
30
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, loc.cit.
31
Ronny Hanitijo, 1993, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indo, Jakarta, hlm 43.
32
Sorjono Soekanto, 2006, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
hlm. 61.
metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi
a. Pengelolaan Data
33
lapangan, yaitu dengan cara menyeleksi atas dasar reabilitas dan validitasnya.
Data yang telah didapat dilakukan edditing yaitu meneliti kembali terhadap
b. Analisis Data
33
Sumardi Suryabrata, 2006, Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm.
40.
34
Bambang Sugono, 2001, Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
hlm. 195-196
25
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Etika
yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia: etika adalah nilai mengenai benar dan salah yang
2. Fungsi etika
hidup dan tentunya kita hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik,
untuk itu sampailah pada suatu fungsi utama etika, sebagaimana disebutkan
Magnis Suseno (1991 : 15), yaitu untuk membantu kita mencari orientasi
3. Pengertian Profesi
Profesi dalam kamus besar bahasa indonesia adalah bidang pekerjaan yang
tertentu. jenis profesi yang dikenal antara lain : profesi hukum, profesi bisnis,
profesi adalah :
a. suatu bidang yang terorganisir dari jenis intelektual yang terus menerus dan
4. Etika Profesi
Etika profesi adalah bagian dari etika sosial, yaitu filsafat atau pemikiran
kritis rasional tentang kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagia anggota
umat manusia (Magnis Suseno et.al., 1991 : 9). untuk melaksanakan profesi
yang luhur itu secara baik, dituntut moralitas yang tinggi dari pelakunya
( Magnis Suseno et.al., 1991 : 75). Tiga ciri moralitas yang tinggi itu adalah :
profesi.
5. Profesi Dokter
kedokteran, sehingga mutu dan kualitas profesi kedokteran tetap terjaga dengan
B. Kewajiban Dokter
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau
pengobatan;
3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah
Sedangkan kewajiban hukum srang dokter menurut Fuady (2005) yang paling
penekanan) terhadap tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter setelah
4. Pelayanan diskriminatif
5. Pelecehan seksual
Hubungan hukum antara dokter dengan pasien telah terjadi sejak dahulu (zaman
Yunani kuno), dokter sebagai seorang yang memberikan pengobatan terhadap orang yang
didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap dokter yang disebut dengan transaksi
terapeutik. Transaksi terapeutik adalah perjanjian antara dokter dan pasien berupa
hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban kedua belah Pihak. Objek dari
perjanjian ini adalah berupa upaya atau terapi untuk menyembukan pasien. Hubungan
hukum antara dokter dengan pasien ini berawal dari pola hubungan vertikal paternalistik
seperti antara bapak dengan anak yang bertolak dari prinsip “father knows best” yang
melahirkan hubungan yang bersifat paternalistik. Hubungan hukum timbul bila pasien
dan dalam hal ini dokterlah yang dianggapnya mampu menolongnya dan memberikan
bantuan pertolongan. Jadi, kedudukan dokter dianggap lebih tinggi oleh pasien dan
peranannya lebih penting daripada pasien. Hak-hak dokter sebagai pengemban profesi
2. Hak atas imbalan jasa atau honorarium terhadap pelayanan yang diberikannya
kepada pasien.
3. Hak atas itikad baik dari pasien atau keluarganya dalam melaksanakan transaksi
terapeutik.
4. Hak membela diri terhadap tuntutan atau gugatan pasien atas pelayanan
5. Hak untuk memperoleh persetujuan tindakan medik dari pasien atau keluarganya.
yaitu dengan cara melakukan tindakan medis dalam suatu kasus yang konkret
menurut ukuran tertentu yang didasarkan pada ilmu medis dan pengalaman.
2. Kewajiban untuk menghormati hak-hak pasien, antara lain rahasia atas kesehatan
tentang tindakan medis yang dilakukannya dan risiko yang mungkin terjadi
perikemanusiaan.
dengan sumpah dokter, kode etik kedokteran dan standar profesinya untuk
menyembuhkan atau menolong pasien. Antara lain adalah: Tanggung Jawab Etis :
terjadinya Wanprestasi atau perbuatan melawan hukum dari tindakan dokter,
menurut Pasal 1426 KUH Perdata ganti rugi yang dapat dibebankan jika terjadi
Lucrum Cegans.Pada asasnya bentuk dari ganti rugi yang lazim dipergunakan ialah
uang, oleh karena menurut ahli-ahli hukum perdata maupun yurisprudensi, uang
merupakan alat yang paling praktis, yang paling sedikit menimbulkan selisih dalam
Selain uang masih ada bentuk-bentuk lain yang diperlukan sebagai bentuk ganti
rugi yaitu pemulihan keadaan semula (innatura) dan larangan untuk mengulangi.
Keduanya ini kalau tidak ditepati dapat diperkuat dengan uang paksa. Jadi harus
diingat bahwa uang paksa bukan merupakan bentuk atau wujud ganti rugi. Gugatan
untuk membayar ganti rugi atas dasar persetujuan atau perjanjian yang terjadi hanya
dapat dilakukan bila memang ada perjanjian dokter dengan pasien. Perjanjian
sesuatu. Perjanjian itu terjadi bila pasien memanggil dokter atau pergi ke dokter,
dan dokter memenuhi permintaan pasien untuk mengobatinya. Dalam hal ini pasien
pasti selalu dapat dilakukan sehingga seorang dokter hanya mengikatkan dirinya.
yang dikuasainya. Artinya, dia berjanji akan berdaya upaya sekuat-kuatnya untuk
menyembuhkan pasien.
(onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata. Adanya tindakan atau
Berdasarkan Pasal 1366 KUH Perdata, seorang dokter selain dapat dituntut
atas dasar wanprestasi dan melanggar hukum seperti tersebut di atas, dapat pula
dituntut atas dasar lalai, sehingga menimbulkan kerugian. Gugatan atas dasar
kelalaian ini diatur dalam Pasal 1366 KUH Perdata, menyatakan : “Setiap orang
bertanggung
jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga
Berdasarkan Pasal 1367 KUH Perdata, apabila kita simpulkan maka dari segi
hukum perdata, tanggung jawab tersebut dapat mengandung beberapa aspek yaitu
perbuatan melanggar hukum (onrecht matigedaad), dapat juga karena kurang hati-
akan menempatkan dokter dan pasien berada pada kesejajaran, sehingga setiap apa
yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien tersebut harus melibatkan pasien
dalam menentukan apakah sesuatu tersebut dapat atau tidak dapat dilakukan atas
dirinya. Salah satu bentuk kesejajaran dalam hubugan hukum dokter pasien adalah
tindakan dan pengobatan yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang
Praktik Kedokteran, khusunya mengatur tentang Hak dan Kewajiban Dokter atau
operasional;
3. memperoleh informasi yang iengkap dan jujur dan pasien atau keluarganya;
Hubungan hukum dokter pasien yang sesuai Pasal 1320 KUHPerdata yang
2. Perjanjian antara subjek hukum tersebut harus atas dasar sukarela dan tanpa
paksaan.
4. Perjanjian tersebut harus atas sebab yang halal dan tidak bertentangan dengan
hukum.
secara timbal balik. Dokter berkewajiban untuk memenuhi hak-hak pasien dan
sebaliknya pasien berkewajiban memenuhi hak dokter. Kegagalan salah satu pihak
memenuhi hak-hak pihak lain, apakah karena wanprestasi atau kelalaian akan
berakibat pada gugatan atau tuntutan perdata yang berupa ganti rugi atas kerugian
adanya dugaan terjadinya kelalaian medis, hal itu dapat juga disebabkan karena
kurangnya pemahaman atau persepsi yang sama atas hak dan kewajiban baik
pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Masalah hukum yang timbul tersebut
masyarakat semakin sadar atas hak-haknya yang secara otomatis menuntut adanya
pasien dan menyangkut keluhan yang dialami pasien serta terapi, pengobatan yang
dilakukan oleh dokter terhadap pasien. Hal yang sangat mendasar dalam
musibah klinis.
Dalam hal ini, rumah sakit harus dapat memberikan perlindungan dan
internal staf medis, standar prosedur operasional dan berbagai pedoman pelayanan
kesehatan serta melalui penyediaan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang
medikolegal. Hal lain yang perlu mendapat perhatian bersama oleh seluruh pihak
di rumah sakit adalah menyangkut pelaksanaan etika profesi dan etika rumah sakit
pelayanan medis. Adapun dalam suatu sistem kesehatan, interaksi yang nampak
adalah interaksi antara dokter dan pasien yang mungkin juga melibatkan unsur-
unsur lainnya. Unsur-unsur lain tersebut mungkin para medis baik bagian
perawatan maupun non perawatan, pekerja sosial dan rumah sakit, di mana
mereka secara pribadi atau bersama-sama terikat oleh kaidah-kaidah tertentu, baik
dianggap merupakan profesi yang mulia. Oleh karena itu perlunya ditinjau
dirasakan belum memadai, selama ini masih didominasi oleh kebutuhan formal
Kekhasannya ini terlihat dari pembenaran yang diberikan oleh hukum yaitu
akhir ini makin sering muncul di berbagai media, baik media cetak maupun
elektronik. Dunia kedokteran yang dahulu seakan tak terjangkau oleh hukum,
perlindungan hukum yang merupakan hak dasar sosial (the right to health care)
dan hak individu (the right of self determination), menjadikan dunia pengobatan
persoalan pidana.
Banyak persoalan malpraktik atas kesadaran hukum msyarakat diangkat
menjadi masalah perdata. Pasal 1365 KUH Perdata menyatakan bahwa tiap
kerugian tersebut. P
melawan hukum hak subjektif orang lain; atau ketiga, melawan kaidah tata susila;
atau keempat bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan sikap hati-hati yang
atau terhadap harta benda orang lain. Masalah tanggungjawab dokter dalam kasus
malpraktik medik, ada relevansi dengan perbuatan melanggar hukum Pasal 1366
dan 1364 K.U.H Perdata, yaitu pertama pasien harus mengalami suatu kerugian;
kedua, ada kesalahan atau kelalaian (disamping perseorangan, rumah sakit juga
ketiga, ada hubungan kausal antara kerugian dan kesalahan; dan keempat,
perbuatan melawan hukum itu tahu betul perbuatannya akan berakibat suatu
keadaan tertentu yang merugikan pihak lain dapat dikatakan bahwa pada
pasien sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan bersama. Ketidaktelitian ini
merupakan tindakan yang masuk di dalam kategori tindakan melawan hukum
diartikan dalam arti subyektifnya (konkrit). Dalam hal syarat kesalahan harus
diartikan dalam arti subjektifnya maka mengenai pelaku pada umumnya dapat
jiwanya adalah sedemikian rupa sehingga ia dapat menyadari maksud dari arti
Adapun mengenai syarat kesalahan dalam arti obyektif maka yang dipersoalkan
dipersalahkan mengenai suatu perbuatan tertentu dalam arti bahwa ia harus dapat
secara lain daripada yang seharusnya dilakukannya dan dalam hal yang demikian
para ahli hukum dan landasan penggunaan doktrin yaitu asas hukum yang
menyimpang dari pendapat umum para sarjana atau ahli hukum. Doktrin yang
berlaku di dalam ilmu kesehatan yaitu Res Ipsa Loquitur artinya doktrin yang
memihak pada korban. Pembuktian dalam hukum acara perdata yang menentukan
bahwa pihak korban dari suatu perbuatan melawan hukum dalam bentuk kelalaian
tidak biasanya terjadi; kedua, kerugian tersebut tidak ditimbulkan pihak ketiga;
ketiga, instrumen yang di gunakan di dalam pengawasan pelaku tindakan; dan
keempat, bukan kesalahan korban. Doktrin ini dirasa lebih memberikan kedilan
pada pasien, mengingat pasien adalah orang awam bidang ilmu kedokteran.
Sangatlah bertentangan dengan asas keadilan jika pasien yang menjadi korban
pasien sama sekali tidak tahu proses bagaimana kelalaian tersebut terjadi, karena
ia telah mempercayakan hidup dan kesehatannya pada dokter yang dianggap lebih
ahli. Untuk itu beban pembuktian ini oleh doktrin Res Ipsa Loquitur dibebankan
kepada petugas medis yang dianggap lebih tahu proses dan standar yang
akibat yang dideritanya saja. Dengan demikian, doktrin Res Ipsa Loquitur
yakni suatu bukti tentang suatu fakta dimana faktafaktanya dapat digunakan untuk
menarik kesimpulan.
BAB IV
PENUTUP
1. Kesimpulan
penulis lakukan pada bab-bab terdahulu, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai
berikut:
1. Hubungan dokter dan pasien ditinjau dari sudut hukum perdata merupakan
hubungan perikatan yang lahir dari perjanjian dan dari undang-undang, yang
layanan kesehatan. Pola hubungan antara dokter dengan pasien disebut juga
antara dokter dengan pasien berkembang dari dokter dianggap paling tahu
segala yang terbaik bagi pasien atau father know best dan pasien
bersumber dari dua dasar hukum yaitu tanggung jawab atas wanprestasi dan
jawab perdata dokter dalam hal ini terjadi kerugian karena perbuatan
daripadanya.
2. Saran
hukum kesehatan agar dapat mengetahui hak dan kewajiban dari masing-
dirugikan.
A. BUKU-BUKU
Anny Isfandyarie, Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi bagi Dokter, Buku 1,
Prestasi Pustaka, Jakarta, 2006.
Ari Yunanto dan Helmi, Hukum Pidana Malpraktik Medik tinjauan Dan
Perspektif Medikolegal, Andi, Yogyakarta, 2010.
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktik, Sinar Grafika, Jakarta, 2002.
Hendrik, Etika dan Hukum Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteraan EGC, Jakarta,
2010.
M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Edisi
4, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2009.
Made Wiratha, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis, Andi,
Yogyakarta, 2006.
Mariam Darus Badrulzaman, KUH Perdata Buku III: Hukum Perikatan dengan
Penjelasan, Cet. 1, Alumni, Bandung, 1996.
Munir Fuady, Sumpah Hippocrates, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005.
Ninik Maryati, Malpraktek kedokteran dari segi Hukum Pidana dan Perdata,
Bina Aksara, Jakarta, 1998.
Soekidjo Notoatmojo, Etika dan Hukum Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2010.
Soerjono Soekanto dan Kartono Mohamad, Aspek Hukum Dan Etika Kedokteran
di Indonesia, Grafiti Pers, Jakarta, 1983.
B. PERUNDANG-UNDANGAN
Putusan.mahkamahagung.go.id
46