0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
192 tayangan47 halaman

Tanggung Jawab Dokter dalam Malpraktik

Dokumen tersebut membahas tentang tanggung jawab perdata dokter dalam kasus malpraktik medis terhadap pasien berdasarkan studi kasus perkara no. 417/PDT.G/2012/PN.MDN. Dokumen menjelaskan bahwa profesi kedokteran memiliki peranan penting dalam masyarakat namun seringkali terjadi konflik antara dokter dan pasien akibat kelalaian medis yang dapat merugikan pasien.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
192 tayangan47 halaman

Tanggung Jawab Dokter dalam Malpraktik

Dokumen tersebut membahas tentang tanggung jawab perdata dokter dalam kasus malpraktik medis terhadap pasien berdasarkan studi kasus perkara no. 417/PDT.G/2012/PN.MDN. Dokumen menjelaskan bahwa profesi kedokteran memiliki peranan penting dalam masyarakat namun seringkali terjadi konflik antara dokter dan pasien akibat kelalaian medis yang dapat merugikan pasien.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TANGGUNG JAWAB PERDATA DOKTER DALAM HAL

TERJADINYA MALPRAKTIK MEDIK TERHADAP PASIEN (STUDI


KASUS PERKARA NO. 417/PDT.G/2012/PN.MDN)

Diajukan Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah Hukum Kejahatan Profesi

Yang Diampu Oleh :


Prof. Dr. Liliana Tedjosaputro, SH., MH., MM

Diajukan Oleh :

1. Felisitas Novela A.A., S.H. 191003741010821


2. Monika Fatma Aulianita S.Ked. 191003741010823
3. Muhammad Rizal Ardiana S.Ked. 191003741010824
4. Galuh Jelita Permatasari S.Ked. 191003741010832
5. Gilang Riyan Purwantoko S.Sos., S.H. 191003741010837

PROGRAM STUDI HUKUM PROGRAM MAGISTER


FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SEMARANG
2020

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kesehatan merupakan salah satu hal yang sangat mempengaruhi manusia untuk

melaksanakan kegiatannya sehari-hari. Tanpa kesehatan manusia tidak akan produktif

untuk hidup layak baik secara ekonomi maupun dalam menjalani pendidikan.

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang

harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa yang terdapat dalam Pancasila dan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 34 ayat (3)

Undang-Undang Dasar 1945 dari hasil amandemen, menyatakan bahwa negara

bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas

pelayanan umum yang layak.

Upaya peningkatan kualitas hidup manusia di bidang kesehatan merupakan

suatu usaha yang sangat luas dan menyeluruh. Di dalam Sistem Kesehatan Nasional

disebutkan, bahwa kesehatan menyangkut semua segi kehidupan yang ruang lingkup

1
dan jangkauannya sangat luas dan kompleks. Untuk mewujudkan tingkat kesehatan

yang optimal bagi setiap orang yang merupakan bagian dari kesejahteraan, diperlukan

dukungan hukum dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan di bidang kesehatan.

1
Bahder Johan Nasution, 2005, Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter, PT Rineka
Cipta , Jakarta, hlm. 1.

2
Hukum mengatur hubungan hukum yang terdiri dari ikatan-ikatan antara

individu dan masyarakat dan antara individu itu sendiri. Ikatan itu tercermin adanya

hak dan kewajiban. Hukum sebagai kumpulan peraturan atau kaidah mempunyai isi

yang bersifat umum dan normatif. Umum karena berlaku bagi setiap orang dan

normatif karena menentukan apa yang seyogyanya dilakukan, apa yang tidak boleh

dilakukan atau harus dilakukan serta menentukan bagaimana caranya melaksanakan


2
kepatuhan pada kaidah-kaidah.

Pada masa orde baru, pemerintah memberikan kepastian dan perlindungan

hukum bagi warga negara selanjutnya diberlakukan Undang-Undang Nomor 9 Tahun

1960 tentang Pokok-Pokok Kesehatan. Namun, masih ada tebang pilih pelayanan

kesehatan yang dapat dilihat secara kasat mata antara golongan elite dengan golongan

lainnya atau masyarakat pada umumnya.

Pemerintah melalui sistem kesehatan nasional, berupaya menyelenggarakan

kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dan dapat diterima serta

terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat luas, guna mencapai derajat kesehatan

3
yang optimal. Peningkatan derajat kesehatan masyarakat berarti investasi bagi

pembangunan negara, dan apabila terjadi gangguan kesehatan pada masyarakat

Indonesia akan menimbulkan kerugian ekonomi bagi negara. Upaya pembangunan

harus memperhatikan kesehatan masyarakat yang merupakan tanggung jawab semua

pihak baik pemerintah maupun masyarakat.

2
Sudikno Mertokusumo, 2010, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Universitas Atma Jaya
Yogyakarta, hlm. 50.
3
Bahder Johan Nasution, Op.Cit, hlm. 2.
Menurut Sri Siswati, kegiatan-kegiatan upaya kesehatan (preventitif, promotif,

kuratif dan rehabilitatih) memerlukan perangkat hukum yang memadai. Perangkat

hukum kesehatan yang memadai dimaksudkan agar adanya kepastian hukum dan

perlindungan yang menyeluruh baik bagi penyelenggara upaya kesehatan maupun

4
masyarakat penerima pelayanan masyarakat.

Dalam pada itu, untuk menjamin terlaksananya pelayanan kesehatan

sebagaimana dimaksudkan dalam ketentuan kesehatan di atas, maka peran tenaga

kesehatan sangat menentukan, diantaranya dengan keberadaan tenaga dokter. Hal ini

sesuai dengan penegasan penjelasan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang

Praktek Kedokteran menyatakan bahwa: “Dokter dan dokter gigi sebagai salah satu

komponen utama pemberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat mempunyai

peranan yang sangat penting karena terkait langsung dengan pemberian pelayanan

kesehatan dan mutu pelayanan yang diberikan.”

Hal di atas dapat diartikan, bahwa keberadaan dokter memiliki peranan yang

sangat penting dalam masyarakat, apabila seseorang atau anggota masyarakat

menderita suatu penyakit baik yang ringan maupun yang berat maka secara otomatis

mereka akan meminta pengobatan akan penyakit yang dideritanya kepada dokter dan

berharap dapat disembuhkan. Dokter sebagai anggota profesi yang mengabdikan

ilmunya untuk kepentingan umum dan mempunyai kebebasan yang berada dibawah

panji kode etik kedokteran.

4
Sri Siswati, 2013, Etika Dan Hukum Kesehatan Dalam Perspektif Undang-Undang
Kesehatan, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 8.
Berkaitan dengan itu, menurut Bahder Johan, bahwa pekerjaan profesi

kedokteran dilandasi oleh dua prinsip perilaku pokok, yaitu kesungguhan untuk

berbuat demi kebaikian pasien dan tidak ada niat untuk menyakiti, mencederai dan

merugikan pasien. Sebagai bagian dari rasa tanggung jawabnya dan sebagai

manifestasi dari dua prinsip perilaku pokok di atas, dokter wajib menghargai hak
5
pasien.

Sebagai pengemban profesi, dokter diikat oleh sebuah kode etik yang dijadikan

pedoman dalam menjalankan profesi kedokteran dan harus dipatuhi dan

dilaksanakan. Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) sebagai

sebuah lembaga independen yang bertanggungjawab kepada Konsil Kedokteran

Indonesia. MKDKI berwenang memberikan sanksi disiplin kepada dokter berupa

peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin
6
praktek dan sebagainya.

Profesi dokter merupakan suatu profesi yang sangat terhormat dalam

pandangan masyarakat. Karena pada profesi inilah digantungkan harapan hidup dan

kesembuhan dari pasien serta keluarga pasien. Apabila dokter berbuat suatu

kesalahan atau kelalaian, akan berdampak sangat merugikan pasien. Salah satu

konsekuensinya adalah mendapat sorotan dari masyarakat lewat media massa, baik

media televisi, majalah maupun surat kabar.

5
Bahder Johan Nasution, Op.Cit, hlm. 41.
6
H. Yunanto, 2009, “Pertanggung Jawaban Dokter Dalam Transaksi Teraupetik”, Tesis
Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, hlm. 4.
Dalam pelaksanaan profesi kedokteran seringkali dijumpai konflik antara

dokter dengan pasien, pembahasan tidak lepas dari masalah hak dan kewajiban dari

pihak-pihak yang terlibat dari perselisihan atau perkara tersebut, dalam keadaan

seperti ini kaidah hukum dapat diberlakukan. Setiap hubungan hukum yang

diciptakan oleh hukum selalu mempunyai dua segi yang isinya disatu pihak hak,

sedang di pihak lain kewajiban. tidak ada hak tanpa kewajiban, sebaliknya tidak ada
7
kewajiban tanpa hak. Namun permasalahannya adalah seberapa jauh pihak yaitu

dokter dan pasien mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing.

Dahulu hubungan antara dokter dengan pasien bersifat paternalistik, pasien

umumnya hanya mengikuti apa yang dikatakan dokter tanpa bertanya apapun.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran pasien terhadap hak-haknya, sehingga pola

hubungan seperti ini mengalami perubahan, sekarang dokter adalah partner pasien

yang keduanya sama-sama memiliki hak dan kewajiban tertentu.

Hal di atas ditandai dengan kedatangan Pasien ke dokter dalam rangka

penyembuhan penyakit yang dideritanya merupakan awal dari timbulnya relasi medis

dan relasi hukum yang disebut transaksi terapeutik. Hubungan hukum antara pasien

dan dokter memerlukan persetujuan, dengan adanya persetujuan tersebut tercapai

suatu perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban secara timbal balik. Perjanjian

terapeutik memiliki sifat dan ciri yang khusus, yaitu obyek perjanjian dalam transaksi

terapeutik bukan kesembuhan pasien atau hasil (Resultaatverbintenis), melainkan

upaya (Inspaningsverbintenis) yang tepat untuk kesembuhan pasien. Dalam hukum


7
Sudikno Mertokusumo, Op.Cit, hlm. 51.
perdata dapat dikatakan sebagai suatu perjanjian untuk melakukan jasa-jasa tertentu.

Terkait hal ini dokter bukan menjamin atau memastikan kesembuhan pasien

melainkan mengusahakan kesembuhan dari pasien secara maksimal sesuai dengan

prosedur yang ada. Hubungan hukum yang demikian menghasilkan suatu hubungan

hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak yang dapat dituntut pemenuhannya.

Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan 434/Men.Kes/X/1983 tentang

berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia bagi para dokter Indonesia

menyebutkan, bahwa transaksi terapeutik adalah hubungan antara dokter dengan

penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial) serta senantiasa

diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makluk insani.

Adanya kesenjangan antara harapan pasien dengan kenyataan yang

diperolehnya merupakan predisposing (mempengaruhi) faktor. Kebanyakan pasien

kurang dapat memahami bahwa masih ada banyak faktor lain di luar kemampuan

dokter yang dapat mempengaruhi hasil dari upaya medis, seperti misalnya tingkat

stadium penyakit, kondisi fisik pasien, daya tahan tubuh dan juga kepatuhan pasien

untuk mentaati anjuran dokter. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa hasil suatu

upaya medis penuh dengan uncertainty (tidak tentu) dan tidak dapat diperhitungkan

secara pasti.

Seorang dokter diwajibkan untuk melaksanakan kewajibannya sesuai dengan

kemampuan yang dimilikinya dengan tanggung jawab yang penuh atas setiap upaya

tindakan kedokteran terhadap pasien. Namun, dokter juga tidak luput dari salah

karena kelalaian atau kealpaan. Terkadang dokter terbukti melakukan kesalahan atau
kelalaian yang menyebabkan penyakit pasien bertambah parah, dalam hal ini

perbuatan dokter disebut juga sebagai perbuatan yang melanggar hukum atau dokter

melakukan wanprestasi tindakan kedokteran tidak sesuai dengan yang terdapat dalam

perjanjian teraupetik. Kesalahan atau Kelalaian dokter dalam menangani pasien

dikenal dalam ilmu kedokteran dengan Malpraktek Medis.

Melihat masyarakat saat ini masih belum dapat membedakan antara kejadian

tidak diinginkan yang terjadi karena risiko medik disebabkan penyakit yang berlanjut,

komplikasi penyakit atau mungkin medication error dengan malpraktik medik,

sehingga semua risiko medik dianggap sebagai malpraktik. adapun kata malpraktik

tidak disebut dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik

Kedokteran atau Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Pada dasarnya kesalahan atau kelalaian dokter dalam melaksanakan profesi

medis, merupakan suatu hal yang penting untuk dibicarakan, hal ini disebabkan

karena akibat kesalahan atau kelalaian tersebut mempunyai dampak yang sangat

8
merugikan. Kesalahan atau kelalaian yang menimbulkan kerugian terkait perbuatan

dokter dan tenaga kesehatan lainnya lebih dikenal dengan sebutan malpraktik. Untuk

mengetahui seorang dokter melakukan malpratik atau tidak dapat dilihat dari standar

profesi kedokteran. Standar profesi adalah batasan kemampuan pengetahuan

(knowledge), keterampilan (skill) dan sikap profesional (professional


attitude)

8
Bahder Johan Nasution, Op.Cit, hlm. 5.
minimal yang harus dikuasai oleh seorang dokter untuk dapat melakukan kegiatan

9
profesionalnya pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.

Beberapa tahun belakangan ini sering timbul gugatan oleh pasien yang merasa

dirugikan untuk menuntut ganti rugi yanng ditimbulkan oleh kelasahan atau kelalaian

dokter dalam melaksanakan pekerjaannya. Seperti kasus di Medan dalam Perkara

Nomor 417/Pdt.G/2012/PN.Mdn yang menimpa Mariani Sihombing di Medan

Sumatera Utara, ia mendatangi seorang dokter spesialis kandungan untuk mengobati

penyakit yang dideritanya. Karena kesalahan atau kelalaian dokter dalam operasi

menyebabkan pasien mengalami cacat seumur hidup. Dimana para pihak dalam

perkara ini adalah Mariana Sihombing sebagai pasien atau penggugat, dr. Hotma

Partogi Pasaribu, SpOG sebagai Tergugat I, Pimpinan Rumah Sakit Santa Elisabeth

sebagai Tergugat II dan dr. Paulus Damanik, SpOG sebagai Turut Tergugat.

Adapun uraian kasus ibu Mariani Sihombing sebagai berikut, ibu Mariani

Sihombing berobat pada dr. Paulus Damanik, SpOG berpraktik di Kota Pematang

Siantar, keluhannya, yaitu jika ia Haid (menstruasi) darahnya bergumpal seperti

bluiding dan lamanya haid 2 hingga 3 hari, sehingga dilakukan pemeriksaan USG dan

hasilnya ditemukan adanya myomas uteri (pembesaran otot-otot rahim), yang harus

dibuang melalui tindakan operasi. Dan ia menyetujui saran dari dr. Paulus Damanik,

SpOG untuk dilakukannya operasi, namun pada saat pemeriksaan Hb (Hemoglobin)

rendah, oleh karenanya tidak dimungkinkannya dilakukan tindakan operasi. Untuk itu

9
Lihat Penjelasan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal
50.
Hb harus dinaikkan melalui transfusi darah. dr. Paulus Damanik, SpOG merujuk

Mariani Sihombing kepada dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG yang berpraktik pada

Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan.

Pada tanggal 27 Mei 2009 dr. Hotma Partogi Pasaribu, SpOG melakukan

tindakan operasi pada Mariani Sihombing. Setelah tindakan operasi Mariani

Sihombing tidak mengeluarkan urine di kateter, sampai keesokan harinya. dr. Hotma

Partogi Pasaribu, SpOG melakukan USG terhadap Mariani Sihombing dan hasilnya

ada penyumbatan, kemudian dilakukan kembali operasi untuk kedua kalinya. Namun

setelah 3 (tiga) hari dan selanjutnya, ada urine dari vagina (seperti beser). Setelah 25

hari dirawat di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Mariani Sihombing memutuskan

untuk pindah ke Rumah Sakit Columbia Asia- Medan. Di rumah sakit tersebut

dilakukan pemeriksaan oleh dr.J.S. Khoman, SpOG dan hasil pemeriksaan

menyebutkan ada kanker dan perlu untuk dirawat untuk kemoterapi dan radiasi.

Namun karena sering beser, kemo tidak jadi dilaksanakan. Kemudian Mariani

Sihombing dipindahkan ke Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta sesampainya di Rumah

Sakit PGI Cikini, Mariani Sihombing ditangani oleh dr. Eben Ezer Siahaan, SpU.

Dan selama 2 (dua) minggu dilakukan pemeriksaan ulang terhadap dirinya dan

dioperasi, setelah 2 (dua) jam operasi dilaksanakan, ternyata ditemukan hasil operasi

yang pernah dilakukan di Medan yaitu adanya 2 (dua) robekan sebesar jempol dan

tidak mungkin diperbaiki lagi serta masih adanya kelenjar yang belum bersih.

Sejak saat itu sampai dengan sekarang memakai pasien kateter ginjal dan sudah

berulangkali melakukan pergantian selang kateter ginjal serta sudah 25 (dua puluh
lima) kali radiasi luar dan 2 (dua) kali radiasi dalam yang telah mengeluarkan biaya

yang tidak sedikit jumlahnya. Karena perbuatan dokter yang telah melakukan operasi

pengangkatan rahim terhadap pasien merupakan perbuatan melawan hukum, pasien

mengalami kerugian baik secara materil maupun immateril/moral. Kerugian

immateril atau moral adalah sebagai akibat tindakan dan perbuatan dokter tersebut

yang menyebabkan pasien mengalami cacat seumur hidup yang berimplikasi

terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan pasien mengalami gangguan maupun

dalam pekerjaan pasien. Kerugian immateril ini tidak dapat dinilai dengan uang akan

tetapi dalam perkara ini patut dan beralasan hukum untuk ditetapkan sebesar Rp.

5000.000.000,- (lima milyar rupiah). Dengan kata lain jumlah kerugian yang dialami

pasien baik secara materi maupun immateril adalah sebesar Rp. 5.021.300.524,-

ditambah Rp. 5.000.000.000,- sama dengan Rp. 10.021.300.524,- (sepuluh miliar dua

puluh satu juta tiga ratus ribu lima ratus dua puluh empat rupiah).

Dalam putusan hakim Pengadilan Negeri Medan pada perkara

No.417/Pdt.G/2012/PN.Mdn ini, hakim menyatakan bahwa tergugat 1 dan tergugat 2

telah melakukan tindakan perbuatan melawan hukum, serta menghukum tergugat 1

dan tergugat 2 secara tanggung renteng membayar ganti kerugian immateril kepada

penggugat sebesart Rp.200.000.000 (dua ratus juta rupiah).

Terjadinya kesalahan atau kelalaian dokter dalam penanganan medis, berakibat

terjadinya kerugian yang dialami oleh pihak pasien. Diharapkan para dokter dan

tenaga kesehatan lainnya harus berhati-hati dan menjalankan tanggungjawabnya

sebaik mungkin. banyaknya kasus malpraktik yang terjadi dalam proses penanganan
medis menjadikan masyarakat lebih waspada dan kritis dalam menjalani proses

pelayanan medik dan tidak mau lagi menerima begitu saja cara pengobatan seperti

yang dilakukan sebelumnya.

Pada dasarnya pertanggungjawaban perdata dokter bertujuan untuk

memperoleh ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh pasien akibat adanya

wanprestasi atau perbuatan melawan hukum dari tindakan kedokteran.

Berdasarkan dari pembahasan di atas penulis tertarik untuk mengkaji tanggung

jawab dokter terhadap pasien karena terjadinya malpraktik medik ditinjau dari sudut

hukum perdata, hasil dari kajian ini akan dituangkan dalam bentuk Tesis yang

berjudul “Tanggung Jawab Perdata Dokter Dalam Hal Terjadinya Malpraktik Medik

Terhadap Pasien (Studi Kasus Perkara No. 417/Pdt.G/2012/PN.Mdn)”

B. Rumusan Masalah

Agar lebih terarahnya penelitian ini, maka permasalahan yang akan

dikemukakan dalam tesis ini adalah:

1. Bagaimana hubungan hukum dokter dan pasien dalam upaya tindakan

kedokteran menurut hukum perdata?

2. Bagaimana tanggung jawab dokter terhadap pasien dalam hal terjadinya

malpraktik tindakan kedokteran dalam perkara No. 417/Pdt.G/2012/PN Mdn?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan yang

ingin dicapai dalam penulisan ini adalah:


1. Untuk mengetahui dan memahami bentuk hubungan hukum dokter dan pasien

dalam upaya tindakan kedokteran menurut hukum perdata.

2. Untuk mengetahui dan memahami tanggung jawab dokter terhadap pasien

dalam hal terjadinya malpraktik tindakan kedokteran perkara No.

417/Pdt.G/2012/PN Mdn.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan tesis ini adalah sebagai

berikut :

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran yang bermanfaat

dalam menambah informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya

serta perkembangan hukum kesehatan pada khususnya. Serta diharapkan dapat

menambah khasanah kepustakaan yang berkaitan dengan substansi hukum kesehatan.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau manfaat bagi

individu, masyarakat, maupun pihak-pihak yang berkepentingan terkait hukum

kesehatan di Indonesia. Serta Memberikan gambaran yang jelas tentang tanggung

jawab perdata dokter dalam hal terjadinya malpraktik medik terhadap pasien.

E. Keaslian Penelitian

Menelusuri kepustakaan, ternyata sudah ada hasil penelitian dan karya ilmiah

dibidang tanggung jawab dokter dan hak-hak terhadap pasien. Penelitian-penelitian

tersebut di antaranya:
1. Penelitian dalam bentuk Tesis yang berjudul “Pertanggungjawaban Dokter

Dalam Transaksi Terapeutik”, yang ditulis oleh H. Yunanto Program Magister

Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 2009. Penelitian

tersebut membahas tentang hubungan hukum antar dokter dengan pasien dalam

transaksi terapeutik, penyelesaian perkara - perkara ingkar janji / wanprestasi

dan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh dokter dalam transaksi

terapeutik dan peranan IDI dalam rangka membantu penyelesaian masalah pada

kasus-kasus malpraktek.

2. Penelitian dalam bentuk Tesis yang berjudul “Hubungan Dokter-Pasien

Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik

Kedokteran”,yang ditulis oleh Rony D E Hariwaluyo Program Magister Ilmu

Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 2006. Penelitian tersebut

membahas tentang pandangan Hukum Medik dalam hubungan terapeutik

dokter pasien dan persepsi masyarakat terhadap tindakan medis yang gagal

(cacat/ hilangnya nyawa pasien).

Penelitian ini tentang tanggung jawab perdata dokter dalam hal terjadinya

malpraktik medik terhadap pasien. Dengan demikian penelitian ini dapat dikatakan

asli baik bagi substansi maupun permasalahan. Apabila ternyata pernah dilaksanakan

penelitian yang sama, maka penelitian ini diharapkan dapat melengkapinya.


F. Kerangka Teoritis dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Dalam setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran

teoritis, oleh karena adanya hubungan timbal balik yang erat antara teori dengan

10
kegiatan pengumpulan, pengelolaan, analisa dan konstruksi data. Teori

menguraikan jalan pikiran menurut kerangka yang logis artinya mendudukkan

masalah penelitian yang telah dirumuskan didalam kerangka teoritis yang

11
relevan, yang mampu menerangkan masalah tersebut.

Berkaitan dengan itu, maka ada beberapa teori yang dijadikan alat ukur

teoritis untuk mengkaji judul dan permasalahan yang telah dirumuskan, antara

lain:

1. Teori Tanggung Jawab Hukum

Membicarakan tanggung jawab tidak lepas dari kewajiban-kewajibaan

yang telah ditentukan baik karena pengaturan dalam undang-undang maupun

dari isi perjanjian. Judul ini sesuai dengan judul penelitian yang telah

ditentukan yang berkaitan dengan tanggung jawab.

Hans Kelsen mengemukakan sebuah teori yang menganalisis tentang

tanggung jawab hukum, yang ia sebut dengan teori tradisional. Di dalam teori

tradisional tanggung jawab dibedakan menjadi tanggung jawab yang didasarkan

10
Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers,
Jakarta, hlm. 122.
11
Made Wiratha, 2006, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis, Andi,
Yogyakarta, hlm. 6.
kesalahan (liability based on fault) dan tanggung jawab mutlak (strict

12
liability).

Tanggung jawab yang didasarkan kesalahan adalah tanggung jawab yang

dibebankan pada subjek hukum yang melakukan perbuatan melawan hukum

karena kelalaian atau kekeliruan. Sedangkan tanggung jawab mutlak adalah

perbuatannya menimbulkan akibat yang merugikan oleh pembuat undang-

13
undang, dan ada suatu hubungan eksternal antara perbuatan dengan akibat.

Wright mengembangkan teori tanggung jawab yang disebut dengan

interactive justice. Esensi dari interactive justice adalah adaanya kompensasi

sebagai perangkat yang melindungi setiap orang dari interaksi yang merugikan,

14
seperti dalam perbuatan melawan hukum.

Menurut Amad Sudiro teori tanggung jawab hukum dapat dibagi menjadi
15
beberapa teori, yaitu :

a. Teori tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (based on fault


liability theory) dikenal dengan tangung jawab berdasarkan perbuatan
melanggar hukum yang membawa kerugian kepada orang lain, dan
diwajibkan bagi orang yang menimbulkan kerugian untuk mengganti
kerugian.
b. Teori tanggung jawab berdasarkan praduga (presumption of liability
theory). Teori ini menyatakan bahwa tergugat dianggap bertanggung
jawab sampai tergugat dapat membuktikan bahwa tergugat tidak bersalah.
c. Teori tanggung jawab mutlak (strict liability theory), teori yang mengkaji
bahwa tanggung jawab yang berlaku tanpa keharusan adanya pembuktian
unsur kesalahan/kelalaian.

12
Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, 2014, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian
Disertasi Dan Tesis, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 211.
13
Ibid, hlm. 212.
14
Ibid, hlm.213.
15
s Ibid, hlm. 215.
Tanggung jawab hukum dokter dalam hal terjadinya malpraktik dapat

dilihat dari beberapa teori yang menyebutkan sumber dari perbuatan malpraktik

yaitu:

a. Teori Pelanggaran Kontrak

Teori ini mengatakan bahwa sumber perbuatan malpraktek adalah karena

terjadinya pelanggaran kontrak. Ini berprinsip bahwa secara hukum seorang

tenaga kesehatan tidak mempunyai kewajiban merawat seseorang bilamana

diantara keduanya tidak terdapat suatu hubungan kontrak antara tenaga

kesehatan dengan pasien. Hubungan antara tenaga kesehatan dengan pasien


16
baru terjadi apabila telah terjadi kontrak diantara kedua belah pihak tersebut.

Timbulnya hubungan kontrak antara dokter dengan pasien dimulai terjadi

saat seorang pasien datang ketempat dokter atau ke rumah sakit dan dokter

bersedia untuk melakukan pemeriksaan dan dilanjutkan dengan diagnosa dan

terapi. Seorang dokter harus berusaha dengan segaladaya usahanya yang

dibenarkan dan menurut standar profesinya untuk menyembuhkan pasiennya.

Tanggung jawab kontraktual dokter atau tenaga kesehatan dan pasien

didasarkan adanya hubungan kontraktual. Hubungan kontraktual adalah

hubungan hukum yang menimbulkan akibat hukum berupa hak dan kewajiban

terhadap para pihak dalam perjanjian. Apabila salah satu pihak tidak

melaksanakan kewajibannya dan oleh karenanya menimbulkan kerugian, maka

pihak yang dirugikan tersebut dapat mengugat dengan dalil wanprestasi.

16 Sri Siswati, Op.Cit, hlm.


128.

16
b. Teori Kelalaian

Teori ini menyebutkan bahwa sumber perbuatan malpraktek adalah

kelalaian (negligence). Kelalaian yang menyebabkan sumber perbuatan yang

dikategorikan dalam malpraktek ini harus dapat dibuktikan adanya, selain itu

kelalaian yang dimaksud harus termasuk dalam kategori kelalaian yang berat

(culpa lata). Untuk membuktikan hal yang demikian ini tentu saja bukan
17
merupakan tugas yang mudah bagi aparat penegak hukum.

Pasal 1366 KUHPerdata menyebutkan bahwa “Setiap orang bertanggung

jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya tetapi juga

kerugian yang diakibatkan kelalaian atau kurang hati-hati.” Dokter dalam

menjalankan kewajibannya, karena kelalaianya menimbulkan suatu kerugian,

maka ia berkewajiban untuk mengganti kerugian tersebut. Dokter dapat

dianggap telah melakukan pelanggaran hukum apabila dalam tindakannya

bertentangan dengan asas kepatutan, ketelitian, serta sikap hati-hati yang

seharusnya dapat diharapkan darinya.

2. Teori Perjanjian

Pada prinsipnya perjanjian lahir karena adanya kata sepakat para pihak,

terutama mengenai isi dari perjanjian yang dilaksanakan. Berkaitan dengan itu

menurut Subekti perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji

kepada seorang lainnya atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk

17 Sri Siswati, Op.Cit, hlm.


129.

17
melaksanakan sesuatu hal. Arti kata kontrak lebih sembit karena ditujukan

18
untuk perjanjian yang tertulis.

Menurut Pasal 1313 Kitap Undang-Undang Hukum Perdata perjanjian

adalah suatu perrbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya

terhadap satu orang lain atau lebih. Ada beberapa macam hal yang diperjanjikan

19
untuk dilaksanakan yaitu:

a. Perjanjian untuk memberikan sesuatu

b. Perjanjian untuk berbuat sesuatu

c. Perjanjian untuk tidak berbuat sesuatu.

Ada beberapa asas yang dapat ditemukan dalam hukum perjanjian, asas-

asas tersebut antara lain:

a. Asas Konsesualisme

Menurut asas konsensualisme, suatu perjanjian lahir pada detik

tercapainya kesepakatan atau persetujuan antara kedua belah pihak mengenai


20
hal-hal pokok dari apa yang menjadi objek perjanjian. Terdapat beberapa teori
21
mengenai waktu terjadi kesepakatan, diantaranya yaitu:

1) Teori Pernyataan, menurut teori ini perjanjian telah terjadi apabila


pernyataan dua belah pihak sudah saling bertemu, dan karenanya
mengikat para pihak.
2) Teori Kepercayaan, menurut teori ini sepakat terjadi apabila pernyataan
kedua belah pihak menurut ukuran normal saling membangkitkan

18
Subekti. 2005, Hukum Perjanjian, PT, Intermasa, Jakarta, hlm. 1.
19
Ibid, hlm. 36.
20
Ibid, hlm. 26.
21
J. Satrio, 1998, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bhakti, Bandung, hlm. 139.

18
kepercayaan bahwa antara mereka telah terjadi sepakat yang sesuai
dengan kehendak para pihak.

b. Asas kebebasan berkontrak

Menurut asas ini para pihak bebas mengadakan perjanjian yang

dikehendakinya, tidak terikat pada bentuk tertentu.

c. Asas Pacta Sunt Servanda

Asas ini disebut juga asas kekuatan mengikat dari perjanjian, para pihak

yang melakukan perjanjian harus memenuhi apa yang diperjanjikan. Pasal 1338

menyatakan bahwa perjanjian berlaku sebagai undanng-undang bagi para pihak.

d. Asas Iktikad Baik

Asas ini berkenaan dengan pelaksanaan perjanjian antara para pihak

berdasarkan kepatutan, kebiasaan dan undang-undang.

e. Asas Keseimbangan

Asas ini menghedaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan

perjanjian.

f. Asas Kepatutan

Asas ini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian yang

berdasarkan kepatutan.

g. Asas kebiasaan

Asas ini bagian dari perjanjian, perjanjian tidak hanya mengikat yang

diatur secara tegas, namun juga hal yang menurut kebiasaan lazim diikuti.
Dari rumusan-rumusan perjanjian jika dikaitkan dngan tanggung jawab

perdata dokter dalam hal terjadinya malpraktik medik terhadap pasien diawali

dengan adanya perjanjian tindakan kedokteran hal ini dibuktikan dengan

kedatangan pasien ke rumah sakit dan kesanggupan dokter untuk melakukan

tindakan kedokteran.

2. Kerangka Konseptual

Peranan konsep dalam penelitian adalah untuk menghubungkan teori dan

observasi, antara abstrak dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang

menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang

22
disebut definisi operasional.

Pentingnya definisi operasional bertujuan untuk menghindari salah

pengertian dan pamahaman. Untuk menghindari kerancuan dalam memahami

pengertian judul yang dikemukakan, maka perlu adanya definisi dan beberapa

konsep dasar agar penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan, yaitu:

a. Tanggung jawab

Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya

dan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka boleh dituntut,

23
dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya. Tanggung jawab hukum

diartikan sebagai kewajiban untuk melakukan sesuatu dan berprilaku tidak

menyimpang dari peraturan yang telah ada. menurut Purbacaraka bahwa


22
Samadi Surya Brata, 1998, Metodeologi Penelitian, RajaGrafindo Persada, Jakarta , hlm.
28.
23
Desi Anwar, Op.Cit, hlm.364.
tanggung jawab hukum bersumber dari penggunaan fasilitas dalam penerapan

kemampuan tiap orang untuk menggunakan hak dan melaksanakan

kewajibannya. Setiap pelaksanaan kewajiban dan setiap penggunaan hak tetap

harus disertai dengan pertanggung jawaban, demikian pula dengan pelaksanaan

24
kekuasaan.

b. Perdata

Perdata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah hukum sipil

sebagai lawan kriminal atau pidana, dalam arti formal yaitu yang mengatur hak,

harta benda dan hubungan antara orang atas dasar logika, dalam arti material

yaitu yang mengatur hak, harta benda, hubunngan antar orang atas dasa

25
kebendaan.

c. Dokter

Dokter adalah seseorang yang ahli dalam pengobatan dan penyakit, gelar

26
kesarjanaan. Dokter dan dokter gigi menurut Undang-Undang Nomor 29

Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 1 adalah dokter, dokter spesialis,

dokter gigi, dan dokter spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran

gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik

Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

24
Purbacaraka, 2010, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya, Bandung, hlm. 37
25
Website KBBI; http//kbbi.web.id/perdata (terakhir dikunjungi pada 3 Oktober 2015 jam
11.45).
26
Desi Anwar, 2002, Kamus Bahasa Indonesia Modern, Amelia, Surabaya, hlm.106.
d. Malpraktik

Malpraktik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga

menyebutkan istilah malpraktik dengan malapraktik yang diartikan dengan:

“praktik kedokteran yang salah, tidak tepat, menyalahi undang- undang atau

kode etik.” Kamus besar Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hasan Shadily

Cetakan ke 12 mengartikan malpractice atau malpraktik adalah: “(1) salah

mengobati, cara mengobati pasien yang salah;(2) tindakan yang salah”.

J.Guwandi menyebutkan bahwa malpraktik adalah istilah yang


mempunyai konotasi buruk, bersifat stigmatis, menyalahkan. Praktik buruk dari
seseorang yang memegang suatu profesi dalam arti umum seperti dokter, ahli
hukum, akuntan, dokter gigi, dan sebagainya. Apabila ditujukan kepada profesi
medis, maka akan disebutkan malpraktik medik. Malpraktik medik menurut
Safitri Hariyani yang mengutip dari pendapat Vorstman dan Hector Treub dan
juga atas rumusan Komisi Annsprakelijkheid dari KNMG (IDI-nya Belanda),
adalah: “Seorang dokter melakukan kesalahan profesi jika ia tidak melakukan
pemeriksaan, tidak mendiagnosis, tidak melakukan sesuatu, atau tidak
membiarkan sesuatu yang oleh dokter yang baik pada umumnya dan dengan
situasi kondisi yang sama, akan melakukan pemeriksaan dan diagnosis serta
27
melakukan atau membiarkan sesuatu tersebut.”

e. Tindakan Kedokteran

Tindakan Kedokteran Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor

290/MEN.KES/PER/III/2008 adalah suatu tindakan medis berupa preventif,

diagnostik, terapeutik atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter

gigi terhadap pasien.

27
Ari Yunanto dan Helmi, 2010, Hukum Pidana Malpraktik Medik tinjauan Dan Perspektif
Medikolegal, Andi, Yogyakarta, hlm. 27-28.
f. Pasien

Pasien menurut Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik

Kedokteran Pasal 1 adalah setiap orang yang melakukan konsultasi masalah

kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang diperlakukan baik

secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau dokter gigi.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan masalah

Dalam penelitian ini, Penulis menggunakan metode penelitian hukum

normatif, yang mencakup tentang norma-norma hukum positif, yang terdapat

dalam peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan dan bahan hukum

lainnya. Metode penelitian hukum normatif adalah metode atau cara yang

dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti


28
bahan pustaka yang ada.

2. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan untuk

menguraikan objek penelitiannya, atau penelitian yang bertujuan untuk

29
mendeskripsikan tentang sesuatu hal di daerah tertentu dan pada saat tertentu.

penelitian hukum deskriptif (descriptive legal study) berupa pemaparan dan

bertujuan untuk memperoleh gambaran lengkap tentang penerapan hukum.

28
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, 2009, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 13.
29
Bambang Waluyo, 2002, Penelitian Hukum dalam Praktik, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 8.
3. Sumber Bahan Hukum

Sebagai penelitian hukum normatif, penelitian ini menitikberatkan pada

studi kepustakaan. Sumber hukum yang digunakan adalah sumber hukum

primer dan sumber hukum sekunder, yaitu :

a. Bahan Hukum Primer, yaitu berasal dari peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, Undang-

Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, Undang-

Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan undang-undang

serta peraturan-peraturan lainnya.

b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan

30
mengenai bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder berasal dari

buku-buku teks yang berisi prinsip-prinsip hukum dan pandangan-

31
pandangan para sarjana.

c. Bahan hukum tersier, merupakan bahan hukum yang memberikan

petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan

32
hukum sekunder. Seperti kamus hukum, ensiklopedia, indeks kumulatif,

Kamus Besar Bahasa Indonesia dan internet.

4. Metode Pengumpulan Data

30
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, loc.cit.
31
Ronny Hanitijo, 1993, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indo, Jakarta, hlm 43.
32
Sorjono Soekanto, 2006, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
hlm. 61.
metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan studi

kepustakaan (library research), untuk mendapatkan objek teori atau doktrin,

pendapat atau pemikiran konseptual dari penelitian pendahulu yang

berhubungan dengan objek telaah penelitian ini.

5. Pengelolaan Data dan Analisis Data

a. Pengelolaan Data

Pengolahan data adalah kegiatan merapikan hasil pengumpulan data di

33
lapangan, yaitu dengan cara menyeleksi atas dasar reabilitas dan validitasnya.

Data yang telah didapat dilakukan edditing yaitu meneliti kembali terhadap

catatan-catatan, berkas-berkas, informasi yang dikumpulkan oleh pencari data

yang diharapkan akan dapat meningkatkan mutu yang hendak dianalisis.

b. Analisis Data

Bahan hukum yang diperoleh dari penelitian selanjutnya dipilah-pilah

untuk memperoleh bahan hukum yang mempunyai kaedah-kaedah hukum yang

mengatur tentang tanggung jawab perdata dokter dalam hal terjadinya

malpraktik medik terhadap pasien. Kemudian bahan hukum tersebut

disistematiskan sehingga dapat dihasilkan klasifikasi yang sejalan dengan

permasalahan. Selanjutnya data yang diperoleh tersebut akan dianalisis secara


34
induktif kualitatif untuk sampai pada suatu kesimpulan.

33
Sumardi Suryabrata, 2006, Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm.
40.
34
Bambang Sugono, 2001, Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
hlm. 195-196

25
BAB
II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Etika Profesi Dokter

1. Etika

Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”,

yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Menurut Kamus

Besar Bahasa Indonesia: etika adalah nilai mengenai benar dan salah yang

dianut suatu golongan atau masyarakat.

2. Fungsi etika

Di era modernisasi dengan segala kecanggihan yang membawa perubahan

dan pengaruh terhadap nilai-nilai moral, adanya berbagai pandangan ideologi

yang menawarkan untuk menjadi penuntun hidup tentang bagaimana harus

hidup dan tentunya kita hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik,

untuk itu sampailah pada suatu fungsi utama etika, sebagaimana disebutkan

Magnis Suseno (1991 : 15), yaitu untuk membantu kita mencari orientasi

secara kritis dalam berhadapan dengan moralitas yang membingungkan.

3. Pengertian Profesi

Profesi dalam kamus besar bahasa indonesia adalah bidang pekerjaan yang

dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dan sebagainya)

tertentu. jenis profesi yang dikenal antara lain : profesi hukum, profesi bisnis,

profesi kedokteran, profesi pendidikan (guru). menurut Budi Santoso ciri-ciri

profesi adalah :

a. suatu bidang yang terorganisir dari jenis intelektual yang terus menerus dan

berkembang dan diperluas;

b. suatu teknis intelektual;


c. penerapan praktis dari teknis intelektual pada urusan praktis ;

d. suatu periode panjang untuk suatu pelatihan dan sertifikasi;

e. beberapa standar dan pernyatan tentang etika yang dapat diselenggarakan;

f. kemampuan memberi kepemimpinan pada profesi sendiri;

g. asosiasi dari anggota-anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang

akrab dengan kualitas komunikasi yang tinggi antar anggota;

h.pengakuan sebagai profesi;

i. perhatian yang profesional terhadap penggunaan yang bertanggung jawab

dari pekerjaan profesi;

j. hubungan erat dengan profesi lain.

4. Etika Profesi

Etika profesi adalah bagian dari etika sosial, yaitu filsafat atau pemikiran

kritis rasional tentang kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagia anggota

umat manusia (Magnis Suseno et.al., 1991 : 9). untuk melaksanakan profesi

yang luhur itu secara baik, dituntut moralitas yang tinggi dari pelakunya

( Magnis Suseno et.al., 1991 : 75). Tiga ciri moralitas yang tinggi itu adalah :

1. Berani berbuat dengan bertekad untuk bertindak sesuai dengan tuntutan

profesi.

2. Sadar akan kewajibannya, dan

3. Memiliki idealisme yang tinggi.

5. Profesi Dokter

Dokter (bahasa latin: guru) seseorang yang karena keilmuannya berusaha

menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tidak semua orang yang

mennyembuhakan disebut dokter . untuk menjadi dokter diperlukan pendidikan

dan pelatihan khusus dan mempunyai gelar dalam bidang kedokteran.


6. Etika Profesi Kedokteran

Etika profesi kedokteran merupakan kesadaran dan pedoman yang

mengatur prinsip-prinsip moral dan etik dalam melaksanakan kegiatan profesi

kedokteran, sehingga mutu dan kualitas profesi kedokteran tetap terjaga dengan

cara yang terhormat. Etika profsi kedokteran merupakan seperangkat perilaku

dokter dalam hubungannya dengan pasien, keluarga, masyarakat, teman

sejawat, dan mitra kerja.

B. Kewajiban Dokter

1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur

operasional serta kebutuhan medis pasien;

2. Merujuk pasien ke dokter atau dokter lain yang mempunyai keahlian atau

kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau

pengobatan;

3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah

pasien itu meninggal dunia;

4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin

ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan

5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

Sedangkan kewajiban hukum srang dokter menurut Fuady (2005) yang paling

utama adalah sebagai berikut :

1. Kewajiban melakukan diagnosis penyakit.

2. Kewajiban mengobati penyakit.

3. Kewajiban memberikan informasi yang cukup kepada pasien dalam bahasa

yang dimengerti oleh pasien, baik diminta atau tidak.


4. Kewajiban untuk mendapatkan persetujuan pasien (tanpa paksaan atau

penekanan) terhadap tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter setelah

dokter memberikan informasi yang cukup dan dimengerti oleh pasien.

C. Larangan untuk dokter

1. Memuji diri sendiri

2. Perbuatan atau nasihat yang melemahkan daya tahan pasien

3. Mengumumkan dan menerapkan teknik yang belum diuji kebenarannya

4. Melepaskan kemandirian profesi karena pengaruh tertentu.

D. Pelanggaran Etika Profesi Kedokteran

1.      Pelanggaran etik murni

1. Menarik imbalan jasa tidak wajar 

2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawat

3. Memuji diri sendiri

4. Pelayanan diskriminatif

5. Kolusi dengan perusahaan farmasi

6. Tidak mengikuti pendidikan berkesinambungan

7. Mengabaikan kesehatan sendiri 

2.      Pelanggaran Etikolegal

1. Pelayanan kedokteran di bawah standar 

2. Menerbitkan keterangan palsu

3. Melakukan tindakan medis yang bertentangan dengan hukum

4. Melakukan tindakan medik tanpa indikasi

5. Pelecehan seksual

6. Membocorkan rahasia pasien


BAB III

HUBUNGAN HUKUM ANTARA PASIEN DENGAN TENAGA MEDIS

(DOKTER) DALAM MEMBERIKAN PELAYAN KESEHATAN

1. HUBUNGAN HUKUM ANTARA PASIEN DENGAN TENAGA MEDIS

(DOKTER) DALAM MEMBERIKAN PELAYAN KESEHATAN

Hubungan hukum antara dokter dengan pasien telah terjadi sejak dahulu (zaman

Yunani kuno), dokter sebagai seorang yang memberikan pengobatan terhadap orang yang

membutuhkannya. Hubungan ini merupakan hubungan yang sangat pribadi karena

didasarkan atas kepercayaan dari pasien terhadap dokter yang disebut dengan transaksi

terapeutik. Transaksi terapeutik adalah perjanjian antara dokter dan pasien berupa

hubungan hukum yang melahirkan hak dan kewajiban kedua belah Pihak. Objek dari

perjanjian ini adalah berupa upaya atau terapi untuk menyembukan pasien. Hubungan

hukum antara dokter dengan pasien ini berawal dari pola hubungan vertikal paternalistik

seperti antara bapak dengan anak yang bertolak dari prinsip “father knows best” yang

melahirkan hubungan yang bersifat paternalistik. Hubungan hukum timbul bila pasien

menghubungi dokter karena ia merasa ada sesuatu yang dirasakannya membahayakan

kesehatannya. Keadaan psikobiologisnya memberikan peringatan bahwa ia merasa sakit,

dan dalam hal ini dokterlah yang dianggapnya mampu menolongnya dan memberikan

bantuan pertolongan. Jadi, kedudukan dokter dianggap lebih tinggi oleh pasien dan

peranannya lebih penting daripada pasien. Hak-hak dokter sebagai pengemban profesi

dapat dirumuskan sebagai berikut :

1. Hak memperoleh informasi yang selengkap-lengkapnya dan sejujurjujurnya dari

pasien yang akan digunakannya bagi kepentingan diagnosis maupun terapeutik.

2. Hak atas imbalan jasa atau honorarium terhadap pelayanan yang diberikannya

kepada pasien.
3. Hak atas itikad baik dari pasien atau keluarganya dalam melaksanakan transaksi

terapeutik.

4. Hak membela diri terhadap tuntutan atau gugatan pasien atas pelayanan

kesehatan yang diberikannya.

5. Hak untuk memperoleh persetujuan tindakan medik dari pasien atau keluarganya.

Hak-hak tersebut di atas, dokter juga mempunyai kewajiban yang harus

dilaksanakan yaitu sebagai berikut :

1. Kewajiban untuk memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi,

yaitu dengan cara melakukan tindakan medis dalam suatu kasus yang konkret

menurut ukuran tertentu yang didasarkan pada ilmu medis dan pengalaman.

2. Kewajiban untuk menghormati hak-hak pasien, antara lain rahasia atas kesehatan

pasien bahkan setelah pasien meninggal dunia.

3. Kewajiban untuk memberikan informasi pada pasien dan/atau keluarganya

tentang tindakan medis yang dilakukannya dan risiko yang mungkin terjadi

akibat tindakan medis tersebut.

4. Kewajiban merujuk pasien untuk berobat ke dokter lain yang mempunyai

keahlian/kemampuan yang lebih baik.

5. Kewajiban untuk memberikan pertolongan dalam keadaan darurat sebagai tugas

perikemanusiaan.

2. Tanggung Jawab Hukum Dokter Terhadap Pasien Dokter sebagai tenaga

professional bertanggung jawab dalam setiap tindakan medis (dokter) yang

dilakukan terhadap pasien.

Dalam menjalankan tugas profesionalnya didasarkan pada niat baik yaitu

berupaya dengan sungguh-sungguh berdasarkan pengetahuannya yang dilandasi

dengan sumpah dokter, kode etik kedokteran dan standar profesinya untuk

menyembuhkan atau menolong pasien. Antara lain adalah: Tanggung Jawab Etis :
terjadinya Wanprestasi atau perbuatan melawan hukum dari tindakan dokter,

menurut Pasal 1426 KUH Perdata ganti rugi yang dapat dibebankan jika terjadi

Wanprestasi adalah, Kerugian yang nyata-nyata diderita kreditur yang disebut

dengan Damnun Emergens; Keuntungan yang seharusnya diperoleh yang disebut

Lucrum Cegans.Pada asasnya bentuk dari ganti rugi yang lazim dipergunakan ialah

uang, oleh karena menurut ahli-ahli hukum perdata maupun yurisprudensi, uang

merupakan alat yang paling praktis, yang paling sedikit menimbulkan selisih dalam

menyelesaikan suatu sengketa.

Selain uang masih ada bentuk-bentuk lain yang diperlukan sebagai bentuk ganti

rugi yaitu pemulihan keadaan semula (innatura) dan larangan untuk mengulangi.

Keduanya ini kalau tidak ditepati dapat diperkuat dengan uang paksa. Jadi harus

diingat bahwa uang paksa bukan merupakan bentuk atau wujud ganti rugi. Gugatan

untuk membayar ganti rugi atas dasar persetujuan atau perjanjian yang terjadi hanya

dapat dilakukan bila memang ada perjanjian dokter dengan pasien. Perjanjian

tersebut dapat digolongkan sebagai persetujuan untuk melakukan atau berbuat

sesuatu. Perjanjian itu terjadi bila pasien memanggil dokter atau pergi ke dokter,

dan dokter memenuhi permintaan pasien untuk mengobatinya. Dalam hal ini pasien

akan membayar sejumlah uang. Sedangkan dokter sebenarnya harus melakukan

prestasi menyembuhkan pasien dari penyakitnya. Tetapi penyembuhan itu tidak

pasti selalu dapat dilakukan sehingga seorang dokter hanya mengikatkan dirinya.

untuk memberikan bantuan sedapatdapatnya, sesuai dengan ilmu dan ketrampilan

yang dikuasainya. Artinya, dia berjanji akan berdaya upaya sekuat-kuatnya untuk

menyembuhkan pasien.

Tanggung Jawab Perdata Dokter Karena Perbuatan Melanggar Hukum

(onrechtmatige daad) berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata. Adanya tindakan atau

perbuatan Unsur-unsur yang tersimpul dari perumusan Pasal 1365 adalah:


1. Perbuatan itu harus melawan hukum (onrecht matigedaad)

2. Pelakunya mempunyai unsur salah

3. Tindakan atau perbuatan itu menimbulkan kerugian.

Berdasarkan Pasal 1366 KUH Perdata, seorang dokter selain dapat dituntut

atas dasar wanprestasi dan melanggar hukum seperti tersebut di atas, dapat pula

dituntut atas dasar lalai, sehingga menimbulkan kerugian. Gugatan atas dasar

kelalaian ini diatur dalam Pasal 1366 KUH Perdata, menyatakan : “Setiap orang

bertanggung

jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya, tetapi juga

untuk kerugian yang disebabkan karena kelalaian atau kurang hati-hatinya”.

Berdasarkan Pasal 1367 KUH Perdata, apabila kita simpulkan maka dari segi

hukum perdata, tanggung jawab tersebut dapat mengandung beberapa aspek yaitu

dapat ditimbulkan karena “wanprestasi” (tidak memenuhi prestasi), karena

perbuatan melanggar hukum (onrecht matigedaad), dapat juga karena kurang hati-

hatinya mengakibatkan matinya orang (moedwillige/onrecht matigedoodslag) dan

juga karena kurang hati-hatinya mengakibatkan cacat badan.

2.3. Hubungan Hukum Dokter Dengan Pasien Hubungan hukum dokter-pasien

akan menempatkan dokter dan pasien berada pada kesejajaran, sehingga setiap apa

yang dilakukan oleh dokter terhadap pasien tersebut harus melibatkan pasien

dalam menentukan apakah sesuatu tersebut dapat atau tidak dapat dilakukan atas

dirinya. Salah satu bentuk kesejajaran dalam hubugan hukum dokter pasien adalah

melalui informed consent atau persetujuan tindakan medik. Pasien berhak

memutuskan apakah menerima atau menolak sebagian atau seluruhnya rencana

tindakan dan pengobatan yang akan dilakukan oleh dokter terhadap dirinya.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang

Praktik Kedokteran, khusunya mengatur tentang Hak dan Kewajiban Dokter atau

tenaga medis, dokter mempunyai hak :

1. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan

standar profesi dan standar prosedur operasional;

2. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur

operasional;

3. memperoleh informasi yang iengkap dan jujur dan pasien atau keluarganya;

4. menerima imbalan jasa.

Hubungan hukum dokter pasien yang sesuai Pasal 1320 KUHPerdata yang

mengatur syarat-syarat sahnya sebuah perjajiajan atau perikatan hukum Syarat-

syarat tersebut yaitu antara lain :

1. Pelaku perjanjian harus dapat bertindak sebagai subjek hukum.

2. Perjanjian antara subjek hukum tersebut harus atas dasar sukarela dan tanpa

paksaan.

3. Perjanjian tersebut memperjanjikan sesuatu di bidang pelayanan kesehatan.

4. Perjanjian tersebut harus atas sebab yang halal dan tidak bertentangan dengan

hukum.

Hubungan hukum rumah sakit-pasien adalah sebuah hubungan perdata yang

menekankan pelaksanaan hak-hak dan kewajibankewajiban masing-masing pihak

secara timbal balik. Dokter berkewajiban untuk memenuhi hak-hak pasien dan

sebaliknya pasien berkewajiban memenuhi hak dokter. Kegagalan salah satu pihak

memenuhi hak-hak pihak lain, apakah karena wanprestasi atau kelalaian akan

berakibat pada gugatan atau tuntutan perdata yang berupa ganti rugi atas kerugian

yang dialami oleh pasien.


Dalam hubungan antara dokter dan pasien sering timbul masalah dengan

adanya dugaan terjadinya kelalaian medis, hal itu dapat juga disebabkan karena

kurangnya pemahaman atau persepsi yang sama atas hak dan kewajiban baik

pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Masalah hukum yang timbul tersebut

dapat diakibatkan kesalahan atau kelalaian para petugas kesehatan atau

diakibatkan kesalahan dalam menerapkan kebijaksanaan atas peraturan dan juga

diakibatkan kekurangan pengetahuan para petugas tentang Hukum Kesehatan atau

peraturan perundangundangan dibidang kesehatan. Perkembangan saat ini

masyarakat semakin sadar atas hak-haknya yang secara otomatis menuntut adanya

transparansi pelayanan kesehatan, terutama dalam kaitan hubungan dokter dengan

pasien dan menyangkut keluhan yang dialami pasien serta terapi, pengobatan yang

dilakukan oleh dokter terhadap pasien. Hal yang sangat mendasar dalam

pelayanan kesehatan yang selalu dipermasalahkan masyarakat, pasien adalah

menyangkut keterbukaan, transparansi, mutu pelayanan, penerapan aturan,

kedisiplinan waktu, sehingga sering diduga melakukan kelalaian medis atau

musibah klinis.

Dalam hal ini, rumah sakit harus dapat memberikan perlindungan dan

kepastian hukum bagi seluruh tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan

kesehatan melalui pembentukan berbagai perangkat aturan meliputi, peraturan

internal staf medis, standar prosedur operasional dan berbagai pedoman pelayanan

kesehatan serta melalui penyediaan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang

medikolegal. Hal lain yang perlu mendapat perhatian bersama oleh seluruh pihak

di rumah sakit adalah menyangkut pelaksanaan etika profesi dan etika rumah sakit

sehingga penyelenggaraan Pelayanan secara beretika akan sangat mempermudah

seluruh pihak dalam menegakkan aturan-aturan hukum.


Permasalahan hukum yang dihadapi tenaga medis atau dokter dalam

pelayanan medis. Adapun dalam suatu sistem kesehatan, interaksi yang nampak

adalah interaksi antara dokter dan pasien yang mungkin juga melibatkan unsur-

unsur lainnya. Unsur-unsur lain tersebut mungkin para medis baik bagian

perawatan maupun non perawatan, pekerja sosial dan rumah sakit, di mana

mereka secara pribadi atau bersama-sama terikat oleh kaidah-kaidah tertentu, baik

kaidah-kaidah hukum maupun kaidah sosial lainnya.

Sistem kesehatan adalah profesi kedokteran, karena menurut anggapan

umum, seseorang yang mempunyai profesi ini adalah menyenangkan, yaitu

dianggap merupakan profesi yang mulia. Oleh karena itu perlunya ditinjau

kembali Perangkat hukum yang mengatur penyelenggaraan praktik kedokteran

dirasakan belum memadai, selama ini masih didominasi oleh kebutuhan formal

dan kepentingan pemerintah,sedangkan porsi profesi masih sangat kurang. Dokter

dengan perangkat keilmuan yang dimilkinya mempuyai karakteristik yang khas.

Kekhasannya ini terlihat dari pembenaran yang diberikan oleh hukum yaitu

diperkenankannya melakukan tindakan medik terhadap tubuh manusia dalam

upaya memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan.

Tanggungjawab Dokter Dalam Kasus Malpraktik Medis (Medical

Malpractice) Kritik masyarakat terhadap profesi kedokteran di Indonesia akhir-

akhir ini makin sering muncul di berbagai media, baik media cetak maupun

elektronik. Dunia kedokteran yang dahulu seakan tak terjangkau oleh hukum,

dengan berkembangnya kesadaran masyarakat akan kebutuhan tentang

perlindungan hukum yang merupakan hak dasar sosial (the right to health care)

dan hak individu (the right of self determination), menjadikan dunia pengobatan

bukan saja sebagai hubungan keperdataan, bahkan sering berkembang menjadi

persoalan pidana.
Banyak persoalan malpraktik atas kesadaran hukum msyarakat diangkat

menjadi masalah perdata. Pasal 1365 KUH Perdata menyatakan bahwa tiap

perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain,

mewajibkan orang yang karenasalahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti

kerugian tersebut. P

erbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad) dalam perkembangannya

diperluas menjadi 4 (empat) kriteria.

Pertama, bertentangan dengan kewajiban hukum si pelaku; atau kedua,

melawan hukum hak subjektif orang lain; atau ketiga, melawan kaidah tata susila;

atau keempat bertentangan dengan kepatutan, ketelitian dan sikap hati-hati yang

seharusnya dimiliki seseorang dalam pergaulan dengan sesama warga masyarakat

atau terhadap harta benda orang lain. Masalah tanggungjawab dokter dalam kasus

malpraktik medik, ada relevansi dengan perbuatan melanggar hukum Pasal 1366

dan 1364 K.U.H Perdata, yaitu pertama pasien harus mengalami suatu kerugian;

kedua, ada kesalahan atau kelalaian (disamping perseorangan, rumah sakit juga

dapat bertanggungjawab atas kesalahan atau kelalaian pegawainya);

ketiga, ada hubungan kausal antara kerugian dan kesalahan; dan keempat,

perbuatan itu melanggar hukum. Apabila seseorang pada waktu melakukan

perbuatan melawan hukum itu tahu betul perbuatannya akan berakibat suatu

keadaan tertentu yang merugikan pihak lain dapat dikatakan bahwa pada

umumnya seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Syarat untuk dapat

dikatakan bahwa seorang tahu betul hal adanya keadaan-keadaan yang

menyebabkan kemung-kinan akibat itu akan terjadi.8 Kesalahan bertindak ini

terjadi karena kurangnya ketelitian dokter di dalam melakukan observasi terhadap

pasien sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan bersama. Ketidaktelitian ini
merupakan tindakan yang masuk di dalam kategori tindakan melawan hukum

hukum, sehingga menyebabkan kerugian yang harus ditanggung oleh pasien.

Vollman mempersoalkan apakah syarat kesalahan (schuldvereiste) harus

diartikan dalam arti subyektifnya (konkrit). Dalam hal syarat kesalahan harus

diartikan dalam arti subjektifnya maka mengenai pelaku pada umumnya dapat

diteliti apakah perbuatannya dapat di persalahkan kepadanya, apakah keadaan

jiwanya adalah sedemikian rupa sehingga ia dapat menyadari maksud dari arti

perbuatannya dan apakah si pelaku pada umumnya dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun mengenai syarat kesalahan dalam arti obyektif maka yang dipersoalkan

adalah apakah si pelaku pada umumnya dapat dipertanggungjawabkan, dapat

dipersalahkan mengenai suatu perbuatan tertentu dalam arti bahwa ia harus dapat

mencegah timbulnya akibat-akibat dari perbuatannya yang konkrit. Si pelaku

secara lain daripada yang seharusnya dilakukannya dan dalam hal yang demikian

itu kesalahan dan sifat melawan hukum menjadi satu.

Perlindungan Hukum Korban Malpraktik Dokter Doktrin adalah pendapat

para ahli hukum dan landasan penggunaan doktrin yaitu asas hukum yang

mengedepankan communis opinio doctorum atau seseorang tidak boleh

menyimpang dari pendapat umum para sarjana atau ahli hukum. Doktrin yang

berlaku di dalam ilmu kesehatan yaitu Res Ipsa Loquitur artinya doktrin yang

memihak pada korban. Pembuktian dalam hukum acara perdata yang menentukan

bahwa pihak korban dari suatu perbuatan melawan hukum dalam bentuk kelalaian

tidak perlu membuktikan adanya unsur kelalaian tersebut, cukup menunjukkan

faktanya. Tujuannya adalah untuk mencapai keadilan. Doktrin ini biasanya

digunakan di dalam kasus-kasus malpraktik kedokteran.

Syarat berlakunya Res Ipsa Loquitur adalah, pertama, kejadian tersebut

tidak biasanya terjadi; kedua, kerugian tersebut tidak ditimbulkan pihak ketiga;
ketiga, instrumen yang di gunakan di dalam pengawasan pelaku tindakan; dan

keempat, bukan kesalahan korban. Doktrin ini dirasa lebih memberikan kedilan

pada pasien, mengingat pasien adalah orang awam bidang ilmu kedokteran.

Sangatlah bertentangan dengan asas keadilan jika pasien yang menjadi korban

suatu tindakan kelalaian, masih harus membuktikan terjadinya kelalaian. Padahal

pasien sama sekali tidak tahu proses bagaimana kelalaian tersebut terjadi, karena

ia telah mempercayakan hidup dan kesehatannya pada dokter yang dianggap lebih

ahli. Untuk itu beban pembuktian ini oleh doktrin Res Ipsa Loquitur dibebankan

kepada petugas medis yang dianggap lebih tahu proses dan standar yang

digunakan di dalam melakukan tindakan medis tersebut. Pasien tidak perlu

membuktikan/membeberkan proses terjadinya kelalaian, cukup memperlihatkan

akibat yang dideritanya saja. Dengan demikian, doktrin Res Ipsa Loquitur

sebenarnya merupakan semacam bukti sirkum-tansial (circumstantial evidence),

yakni suatu bukti tentang suatu fakta dimana faktafaktanya dapat digunakan untuk

menarik kesimpulan.
BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian serta analisis dan pembahasan yang telah

penulis lakukan pada bab-bab terdahulu, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai

berikut:

1. Hubungan dokter dan pasien ditinjau dari sudut hukum perdata merupakan

hubungan perikatan yang lahir dari perjanjian dan dari undang-undang, yang

merupakan hubungan pelayanan kesehatan (medical service) sebagai

tindakan kedokteran antara pemberi layanan kesehatan dengan penerima

layanan kesehatan. Pola hubungan antara dokter dengan pasien disebut juga

dengan perjanjian terapeutik, dasar dari perjanjian terapeutik adalah

persetujuan tindakan kedokteran atau informed consent. Hubungan hukum

antara dokter dengan pasien berkembang dari dokter dianggap paling tahu

segala yang terbaik bagi pasien atau father know best dan pasien

mengikutinya saja sampai dengan kedudukan pasien dan dokter seimbang.

2. Tanggung jawab perdata dokter dalam hal terjadinya malpraktik medik

bersumber dari dua dasar hukum yaitu tanggung jawab atas wanprestasi dan

tanggung jawab atas perbuatan melawan hukum. Pertanggung jawaban

tersebut bertujuan untuk memperoleh ganti rugi terhadap kerugian pasien

dalam terjadinya kesalahan atau malpraktik medik. Dengan terpenuhinya

unsur wanprestasi, pasien dapat memintakan pertanggung jawaban dokter


atas kerugian yang dideritanya. Pasien dapat mengajukan gugatan terhadap

dokter ke Pengadilan Negeri di mana terjadi sengketa. Timbulnya tanggung

jawab perdata dokter dalam hal ini terjadi kerugian karena perbuatan

melawan hukum dalam melakukan tindakan kedokteran yang bertentangan

dengan asas kepatutan, ketelitian dan kehati-hatian yang diharapkan

daripadanya.

2. Saran

1. Bagi dokter, Rumah Sakit dan pasien, seharusnya mengetahui tentang

hukum kesehatan agar dapat mengetahui hak dan kewajiban dari masing-

masing pihak sehingga pihak-pihak tersebut tidak ada yang merasa

dirugikan.

2. Bagi aparat penegak hukum, dalam terjadinya sengketa medik, sebaiknya

dapat menentukan terlebih dahulu, tindakan dokter tersebut masuk kategori

malpraktik medik atau masuk kategori risiko medik. Apabila termasuk

resiko medik, maka dokter tidak dapat dimtakan pertanggungjawabannya.

3. Bagi pemerintah, sebaiknya dibuat rumusan yang pasti mengenai malpraktik

medik dalam sebuah undang-undang agar semua pihak mengerti batasan-

batasan yang termasuk malpraktik medik sehingga tidak terjadi kerancuan.


DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU-BUKU

Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, PT Citra Aditya, Bandung,


2000.

, Hukum Perusahaan Indonesia, Citra Aditya Bakti,


Bandung, 2010.

Andi Hamzah, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor, 2005.

Anny Isfandyarie, Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi bagi Dokter, Buku 1,
Prestasi Pustaka, Jakarta, 2006.

, Malpraktek dan Resiko Medis dalam Kajian Hukum Pidana,


Prestasi Pustaka, Jakarta, 2005.

Ari Yunanto dan Helmi, Hukum Pidana Malpraktik Medik tinjauan Dan
Perspektif Medikolegal, Andi, Yogyakarta, 2010.

Bahder Johan Nasution, Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter, PT


Rineka Cipta, Jakarta, 2005.

Bambang Sugono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta,


2001.

Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktik, Sinar Grafika, Jakarta, 2002.

Chrisdiono M. Achadiat, Dinamika Etika Dan Hukum Kedokteran Dalam


Tantangan Zaman, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2007.

Desi Anwar, Kamus Bahasa Indonesia Modern, Amelia, Surabaya 2002.

Hendrik, Etika dan Hukum Kesehatan, Penerbit Buku Kedokteraan EGC, Jakarta,
2010.

J Guwandi , Dokter, Pasien dan Hukum, FKUI, Jakarta, 1996.

J. Satrio, Hukum Perikatan, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1998.

Koeswadji, Beberapa Permasalahan Hukum Dan Medik, Citra Aditya, Bandung,


1992.
M.A. Moegni Djojodirdjo, Perbuatan melawan hukum: tanggung gugat
(aansprakelijkheid) untuk kerugian, yang disebabkan karena perbuatan
melawan hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 1979.

M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan Edisi
4, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2009.

Made Wiratha, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi dan Tesis, Andi,
Yogyakarta, 2006.

Mariam Darus Badrulzaman, KUH Perdata Buku III: Hukum Perikatan dengan
Penjelasan, Cet. 1, Alumni, Bandung, 1996.

Muhammad Hasbi, Hukum Perdata dan Perkembangannya, Suryani Indah,


Padang, 2012.

Mukadir Iskandarsyah, Tuntutan Pidana dan Perdata Malpraktik, Permata


Aksara, Jakarta, 2011.

Munir Fuady, Sumpah Hippocrates, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005.

, Perbuatan Melawan Hukum Pendekatan Kontemporer, PT. Citra


Aditya Bakti, Bandung, 2013.

Ninik Maryati, Malpraktek kedokteran dari segi Hukum Pidana dan Perdata,
Bina Aksara, Jakarta, 1998.

Oemar Seno Adji, Etika Profesional Huku Pertanggungjawaban Pidana Dokter,


Profesi Dokter, Erlangga, Jakarta, 1991.

Purbacaraka, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya, Bandung, 2010.

Ronny Hanitijo, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indo, Jakarta, 1993.

R. Setiawan, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Binacipta, Bandung, 1977.

Samadi Surya Brata, Metodeologi Penelitian, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1998

, Metodologi Penelitian, PT. Raja Grafindo Persada,


Jakarta, 2006.

Siska Elvandari, Hukum Penyelesaian Sengketa Medis, Thafa Media, Yogyakarta,


2015.

Soekidjo Notoatmojo, Etika dan Hukum Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, 2010.
Soerjono Soekanto dan Kartono Mohamad, Aspek Hukum Dan Etika Kedokteran
di Indonesia, Grafiti Pers, Jakarta, 1983.

, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Pers,


Jakarta, 1986.

, Penelitian Hukum Normatif, PT. Raja Grafindo Persada,


Jakarta, 2006.
dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009.

Sri Siswati, Etika Dan Hukum Kesehatan Dalam Perspektif Undang-Undang


Kesehatan, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2013.

Subekti, Hukum Perjanjian, PT, Intermasa, Jakarta, 2005.

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Universitas Atma


Jaya, Yogyakarta, 2010.

Syahrul Machmud, Penegakkan Hukum dan Perlindungan Hukum Bagi Dokter


Yang Melakukan Medikal Praktik, Mandar Maju, Bandung, 2008.

Titik Triwulan dan Shinta Febrian, Perlindungan Hukum bagi Pasien,Prestasi


Pustaka, Jakarta, 2010.

Veronica Komalawati, Peranan Informed Consent dalam Ttransaksi Terapeutik,


PT Citra aditya Bakti, Bandung, 2002.

B. PERUNDANG-UNDANGAN

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 585/MEN. KES/PER/IX/1989 tentang


Persetujuan Tindakan Medik

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290/MEN.KES/PER/III/2008 tentang


Persetujuan Tindakan Kedokteran
C. SUMBER LAIN

Putusan.mahkamahagung.go.id

Putusan Pengadilan Negeri Medan No. 417/Pdt.G/2012/PN.Mdn

Wawancara pribadi dengan dr.Ressy Permatasari

Website KBBI; http//kbbi.web.id/perdata

46

Anda mungkin juga menyukai