0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
192 tayangan20 halaman

Modul Sediaan Galenika: Definisi & Pembuatan

Dokumen tersebut membahas tentang modul sesi 11 yang membahas tentang sediaan galenika, saturasi, dan netralisasi. Ringkasannya adalah: (1) modul ini membahas tentang definisi dan jenis-jenis sediaan galenika serta cara pembuatannya, (2) jenis-jenis sediaan galenika meliputi ekstrak, tinktur, sirup, dan lainnya, (3) modul ini juga menjelaskan proses pembuatan sediaan galenika seperti

Diunggah oleh

Putra Utomo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
192 tayangan20 halaman

Modul Sediaan Galenika: Definisi & Pembuatan

Dokumen tersebut membahas tentang modul sesi 11 yang membahas tentang sediaan galenika, saturasi, dan netralisasi. Ringkasannya adalah: (1) modul ini membahas tentang definisi dan jenis-jenis sediaan galenika serta cara pembuatannya, (2) jenis-jenis sediaan galenika meliputi ekstrak, tinktur, sirup, dan lainnya, (3) modul ini juga menjelaskan proses pembuatan sediaan galenika seperti

Diunggah oleh

Putra Utomo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL FARMASETIKA

(KODE PSF 102)

MODUL SESI 11
SEDIAAN GALENIKA, SATURASI
DAN NETRALISASI

DISUSUN OLEH
Apt. HERMANUS EHE HURIT, [Link]

UNIVERSITAS ESA UNGGUL


2020

Universitas Esa Unggul


[Link] 0 / 20
SEDIAAN GALENIKA

A. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan

Setelah mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa mampu :


1. Memahami dan Menjelaskan definisi sediaan galenik
2. Memahami dan Menjelaskan jenis-jenis sediaan galenik
3. Memahami dan Menjelaskan Carapembuatan Galenik

B. Uraian dan Contoh


1. Pengertian Galenika
 Sediaan galenik adalah sediaan yang diperoleh dengan cara melakukan penyarian
zat-zat yang bermanfaat bagi manusia, dari tumbuhan atau hewan menggunakan
cairan penyari yang sesuai.
 Dalam Permenkes No. 246/Menkes/Per/V/1990, sediaan galenik
didefinisikan sebagai: hasil ekstraksi bahan atau campuran bahan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan atau hewan. Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat
dalam sel-sel bagian tumbuh-tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering.
a. Tujuan dibuatnya sediaan galenik :
1. Untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian
lain yang dianggap tidak bermanfaat.
2. Membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai
3. Agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan
yang lama.
Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian tumbuh-
tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering. Cairan penyarimasuk kedalam
zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan diambil sarinya,kemudian,
zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dengancairan penyari, setelah itu
larutan yang mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia lain
yang kurang bermanfaat.
b. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik
diantaranya sebagai berikut:
1) Derajat kehalusanDerajat kehalusan ini harus di sesuaikan dengan mudah atau
tidaknyaobat yang terkandung tersebut untuk [Link] halus simplisianya

Universitas Esa Unggul


[Link] 1 / 20
ituakan mempermudah proses penyarian, ataupun sebaliknya semakinsukar
disari maka simplisia harus dibuat semakin halus.
2) Temperatur suhu dan lamanya waktu
Suhu harus disesuaikan dengan sifat dari obat, apakah mudah
menguap atau tidak, mudah tersari atau tidak
3) Bahan penyari dan cara menyari: Setiap simplisia atau bahan obat mempunyai
cara dan bahan penyari yang berbeda-beda, Oleh karena itu cara ini harus
disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam
simplisia.
4) Konsentrasi/kepekatan:
Jenis-jenis Sediaan galenik (definisi sesuai dengan yang tertera dalam FI III& IV) :
2. Bentuk-bentuk sediaan galenik :
 Hasil Penarikan : Extracta, Tinctura, Decocta / Infusa
 Hasil Penyulingan/ pemerasan : Aqua aromatika, olea velatilia (minyak
menguap), olea pinguia (minyak lemak)
 Syrup. (ilmu resep, 2006)
Sediaan galenik dapat digolongkan berdasarkan cara pembuatanya sebagai berikut:
1. Aqua aromatica
2. Extracta
3. Sirupi dan
4. Spiritus aromatici
Sediaan galenika yang menggunakan metoda khusus adalah seperti Infusum
Hyoscyami Oleosum, Solutio Carbonis detergens atau Liquor Carbonatis detergens
(Licadet).

 Tingtur (Tinctura)
Adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi simplisia
nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut
yang tertera pada masing – masing monografi. Kecuali dinyatakan lain, tingtur
dibuat menggunakan 20% zat berkhasiat dan 10 % untuk zat berkhasiat keras.

Jika dalam monografi tertera penetapan kadar, setelah diperoleh 80 bagian


perkolat, tetapkan kadarnya. Atur kadar hingga memenuhi syarat, jika perlu
encerkan dengan cairan penyari secukupnya. Penyimpanan Dalam wadah tertutup

Universitas Esa Unggul


[Link] 2 / 20
rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk. Sediaan tingtur harus jernih, untuk
bahan dasar yang mengandung harsa digunakan cairan penyari etanol 90% dan
pada umumnya cairan penyari adalah etanol 70%. Tingtur yang mengandung harsa
/ damar adalah Mira Tinctura, Asaefoetida Tinctura, Capsici Tinctura, Tingtur
Menyan.
Pembagian Tinctur
1). Menurut Cara Pembuatan
a. . Tingtur Asli: Adalah tingtur yang dibuat secara maserasi atau perkolasi.
Contoh Tingtur yang dibuat secara maserasi:
1. Opii Tinctura FI III
2. Valerianae Tinctura FI III
3. Capsici Tinctura FI II
4. Myrrhae Tinctura FI II
5. Opii Aromatica Tinctura FI III
6. Polygalae Tinctura Ext. FI 1974
Tingtur yang dibuat secara perkolasi, contoh :
b. Tingtur Tidak Asli (Palsu)
Adalah tingtur yang dibuat dengan jalan melarutkan bahan dasar atau
bahan kimia dalam cairan pelarut tertentu.
1. Iodii Tinctura FI III
2. Secalis Cornuti Tinctura FI III
2. Menurut Kekerasan (perbandingan bahan dasar dengan cairan penyari)
a. Tingtur Keras
Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 10 % simplisia yang berkhasiat
keras
b. Tingtur Lemah
Adalah tingtur yang dibuat menggunakan 20 % simplisia yang tidak
berkhasiat keras.
3. Berdasarkan Cairan Penariknya
a. Tingtura Aetherea, jika cairan penariknya adalah aether atau campuran
aether dengan aethanol. Contoh : Tingtura Valerianae Aetherea.
b. Tingtura Vinosa, jika cairan yang dipakai adalah campuran anggur
dengan aethanol. Contoh : Tinctura Rhei Vinosa (Vinum Rhei).
c. Tinctura Acida, jika ke dalam aethanol yang dipakai sebagai cairan

Universitas Esa Unggul


[Link] 3 / 20
penarik ditambahkan suatu asam sulfat. Contoh : pada pembuatan Tinctura
Acida Aromatica.
d. Tinctura Aquosa, jika sebagai cairan penarik dipakai air, contoh :
Tinctura Rhei Aquosa.
e. Tinctura Composita
 Ekstrak (Extracta)
Adalah sediaan kering, kental, atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati
atau hewani menurut cara yang cocok diluar pengaruh cahaya matahari langsung.
Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk.
Cairan penyari yang dipakai adalah air, eter dan campuran etanol dan air
Cara Pembuatan
Penyarian :
1. Penyarian simplisia dengan air dilakukan dengan cara maserasi, perkolasi atau
penyeduhan dengan air mendidih.
2. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan cara maserasi atau
perkolasi.
3. Penyarian dengan eter dilakukan dengan cara perkolasi.
 Maserasi
Lakukan maserasi menurut cara yang tertera pada tingtur, suling atau uapkan
maserat pada tekanan rendah pada suhu tidak leih dari 50 0C hingga konsistensi
yang dikehendaki.
 Perkolasi
1) Lakukan perkolasi menurut cara yang tertera pada tinctura. Setelah perkolator
ditutup dan dibiarkan selama 24 jam biarkan cairan menetes, tuangi massa
dengan cairan penyari hingga jika 500 mg perkolat yang keluar terakhir
diuapkan tidak meninggalkan sisa. Perkolat disuling atau diuapkan dengan
tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang
dikehendaki
2) Pada pembuatan ekstrak cair 0,8 bagian perkolat pertama dipisahkan, perkolat
selanjutnya diuapkan hingga 0,2 bagian campur dengan perkolat pertama.
3) Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dapat juga dilakukan dengan
cara reperkolasi tanpa menggunakan panas.
4) Ekstrak yang diperoleh dengan penyari air hangatkan segera pada suhu kurang
lebih 90 0C, enapkan, serkai. Uapkan serkaian pada takanan rendah pada suhu

Universitas Esa Unggul


[Link] 4 / 20
tidak lebih dari 50 0C hingga bobotnya sama dengan bobot simplisia yang
digunakan.
5) Enapkan di tempat sejuk selama 24 jam, serkai, uapkan pada tekanan rendah
pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsentrasi yang dikehendaki.
6) Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
7) Untuk ekstrak kering dan kental perkolat disuling atau diupkan dengan tekanan
rendah pada suhu tidak lebih dari 50 0C hingga konsistensi yang dikehendaki.
Contoh Ekstrak
1. Ekstrak Belladonae
Cara pembuatan : perkolasi 100 bagian serbuk belladon (85/100) dengan
campuran etanol encer dan larutan dalam air asam asetat 2% v/v volume sama
sehingga alkaloida tersari sempurna yang diperiksa dengan cara sebagai
berikut :
Kocok kuat-kuat campuran 3 ml eter, 5 tetes amonia encer dan 2 ml perkolat.
Uapkan 2 ml lapisan eter, larutkan sisa dalam 1 tetes H2SO4 encer, kemudian
tambahkan 5 tetes air dan 1 tetes larutan kalium tetraiodida hidrargyrat (II)
tidak terjadi kekeruhan. Suling etanol dengan perkolat, biarkan di tempat
sejuk selama 24 jam. Tambahkan talk, saring, cuci sisa dengan 100 bagian air.
Uapkan filtrat menurut cara yang tertera pada extracta hingga diperoleh
ekstrak kental. Ekstrak ini berkadar 1,3% alkaloida.
Penyimpanan : Ekstrak belladon dapat disimpan dalam persediaan dalam
bentuk serbuk kering yang dibuat sebagai berikut :
Gerus 1 bagian ekstrak dengan 2 bagian pati beras atau laktosa, keringkan pada
suhu tidak lebih dari 30 0C, tambahkan sejumlah pati beras atau laktosa hingga
tepat 3 bagian. Sisa dalam wadah berisi zat pengering.
2. Ekstrak Hiosiami (Hyosyami Extractum)
Cara pembuatan : sama dengan cara pembuatan Belladonae Extractum yang
dibuat dari serbuk hiosiamin. Ekstrak hiosiami kental disimpan dalam
persediaan dalam bentuk serbuk yang dibuat sebagai berikut :
Gerus 1 bagian ekstrak dengan 2 bagian pati atau laktosa keringkan pada suhu
tidak lebih dari 80 0C, tambahkan sejumlah pati atau laktosa kering hingga
tapat 3 bagian. Simpan dalam wadah berisi zat pengering.
3. Ekstrak Akar Manis (Glycyrrhizae Succus Extractum)

Universitas Esa Unggul


[Link] 5 / 20
Cara pembuatan : penyarian dilakukan dengan air mendidih kemudian
diuapkan hingga kering.
 Infus (Infusa)
Adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada
suhu 90 0C selama 15 menit.
Cara Pembuatan
Campur simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air
secukupnya, panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu
mencapai 90 0C sambil sekali-sekali di aduk. Serkai selagi panas melalui kain
flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume
infus yang dikehendaki.
Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membuat sediaan infus :
1. Jumlah simplisia
2. Derajat halus simplisia
3. Banyaknya ekstra air
4. Cara menyerkai
5. Penambahan bahan-bahan lain:
 untuk menambah kelarutan
 untuk menambah kestabilan
 untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain.
Banyaknya Air Ekstra
Umumnya untuk membuat sediaan infus diperlukan penambahan air sebanyak 2
kali berat simplisia. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang kita gunakan pada
umumnya dalam keadaan kering.
Cara Menyerkai
 Pada umumnya infus di serkai selagi panas, kecuali infus simplisia yang
mengandung minyak atsiri, diserkai setelah dingin. Infus daun sena, infus asam
jawa dan infus simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas.
 Untuk decocta Condurango diserkai dingin, karena zat berkhasiatnya larut
dalam keadaan panas, akan mengendap dalam keadaan dingin.
 Infus daun sena harus diserkai setelah dingin karena infus daun sena
mengandung zat yang dapat menyebabkan sakit perut yang larut dalam air
panas, tetapi tidak larut dalam air dingin.

Universitas Esa Unggul


[Link] 6 / 20
 Untuk asam jawa sebelum dibuat infus di buang bijinya dan diremas dengan
air hingga massa seperti bubur.
 Untuk buah adas manis dan buah adas harus dipecah dahulu.
 Bila sediaan tidak disebutkan derajat kehalusannya, hendaknya diambil derajat
kehalusan suatu bahan dasar yang keketalannya sama / sediaan galenik dengan
bahan yang sama.
 Air Aromatik (Aqua Aromatica)
Adalah larutan jenuh minyak atsiri atau zat-zat yang beraroma dalam air. Diantara
air aromatika, ada yang mempunyai daya terapi yang lemah, tetapi terutama
digunakan untuk memberi aroma pada obat-obat atau sebagai pengawet. Air
aromatika harus mempunyai bau dan rasa yang menyerupai bahan asal, bebas bau
empirematic atau bau lain, tidak berwarna dan tidak berlendir.
Cara pembuatan :
1. larutkan minyak atsiri sejumlah yang tertera dalam masing-masing monografi
dalam 60 ml etanol 95%.
2. tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume 100 ml sambil dikocok
kuat-kuat.
3. tambahkan 500 mg talc, kocok, diamkan, saring.
4. encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air.
Etanol disini berguna untuk menambah kelarutan minyak atsiri dalam air. Talc
berguna untuk membantu terdistribusinya minyak dalam air dan
menyempurnakan pengendapan kotoran sehingga aqua aromatik yang dihasilkan
jernih. Selain cara melarutkan seperti yang tertera dalam FI II, buku lain juga
mencantumkan aqua aromatik adalah hasil samping dari pembuatan olea volatilia
secara penyulingan sesudah diambil minyak atsirinya. Aqua aromatik yang
diperoleh sebagai hasil samping pembuatan minyak atsiri secara destilasi dapat
dicegah pembusukannya dengan cara mendidihkan dalam wadah tertutup rapat
yang tidak terisi penuh di atas penangas air selama 1 jam.
Pemerian aqua aromatika : cairan jernih, atau agak keruh, bau dan rasa tidak
boleh menyimpang dari bau dan rasa minyak atsiri asal.
Syarat untuk resep : jika air aromatik keruh, kocok kuat-kuat sebelum
digunakan.
Penyimpanan: dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat
sejuk.

Universitas Esa Unggul


[Link] 7 / 20
Khasiat : zat tambahan.
Air aromatika yang tertera dalam FI II ada 3 yaitu :
1. Aqua Foeniculi, adalah larutan jenuh minyak adas dalam air. Aqua foeniculi
dibuat dengan melarutkan 4 g oleum foeniculi dalam 60 ml etanol 90%,
tambahkan air sampai 100 ml sambil dikocok kuat-kuat, tambahkan 500 mg
talc, kocok, diamkan, saring. Encerkan 1 bagian filtrat dalam 39 bagian air.
Pemerian, penyimpanan sama seperti aqua aromatik.
Syarat untuk resep : seperti aqua aromatik dan sebelum digunakan harus
disaring lebih dahulu.
2. Aqua Menthae Piperitae = air permen, adalah larutan jenuh minyak permen
dalam air.
Cara pembuatan : lakukan pembuatan menurut cara yang tertera pada aqua
aromatika dengan menggunakan 2 g minyak permen.
Pemerian, penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatik.
3. Aqua Rosae = air mawar, adalah larutan jenuh minyak mawar dalam air. Cara
pembuatan : larutkan 1 g minyak mawar dalam 20 ml etanol, saring. Pada
filtrat tambahkan air secukupnya hingga 5000 ml, saring.
Pemerian, penyimpanan dan syarat untuk resep sama seperti aqua aromatika.
 Minyak Lemak (Olea Pinguia)
Adalah campuran senyawa asam lemak bersuku tinggi dengan gliserin (gliserida
asam lemak bersuku tinggi).
Cara-cara mendapatkan minyak lemak
1. diperas pada suhu biasa, misalnya : oleum arachidis, oleum olivae, oleum ricini
2. diperas pada suhu panas, misalnya : oleum cacao, oleum cocos
Syarat-syarat untuk minyak lemak antara lain :
1. harus jernih, yang cair harus jernih, begitupun yang padat sesudah dihangatkan
(diatas suhu leburnya) tidak boleh berbau tengik.
2. kecuali dinyatakan lain harus larut dalam segala perbandingan dalam CHCl3,
Eter dan Eter minyak tanah.
3. Harus memenuhi syarat-syarat minyak mineral, minyak harsa dan minyak-
minyak asing lainnya, senyawa belerang dan logam berat.
Penggunaan minyak lemak :
1. Sebagai zat tambahan

Universitas Esa Unggul


[Link] 8 / 20
2. Sebagai pelarut, misalnya : sebagai pelarut obat suntik, lotio dan lain-lain, anti
racun, untuk racun yang tidak larut dalam lemak (racunnya dibalut lemak, lalu
segera diberi pencahar atau emetikum) tetapi bila racun yang larut dalam
lemak maka dalam bentuk terlarut absorpsi dipercepat.
3. Sebagai obat, misalnya : oleum ricini, dapat dipakai sebagai pencahar.
Minyak lemak dibagi dalam dua golongan :
1. minyak-minyak yang dapat mengering misalnya : oleum lini, oleum ricini.
2. minyak-minyak yang tidak dapat mengering, misalnya : oleum arachidis,
oleum olivarum, oleum amygdalarum, oleum sesami.
Penyimpanan minyak lemak :
Kecuali dinyatakan lain, harus disimpan dalam wadah tertutup baik, terisi penuh,
terlindung dari cahaya.
Contoh-contoh minyak lemak :
1. Minyak kacang = Oleum Arachidis
Adalah minyak lemak yang telah dimurnikan, diperoleh dengan pemerasan biji
arachidis hypogeae L yang telah dikupas.
2. Minyak coklat = Oleum Cacao
Adalah lemak padat yang diperoleh dengan pemerasan panas biji Theobroma
cacao L yang telah dikupas dan dipanggang.
3. Minyak kelapa = Oleum Cocos.
Adalah minyak lemak yang di peroleh dengan pemerasan panas endosperm
cocos nucipera L yang telah di keringkan.

Universitas Esa Unggul


[Link] 9 / 20
C. Latihan
a. Apa yang dimaksudkan dengan Galenik?
b. Sebutkan penggolongan Galenik!
c. Apa saja yang harus dipwrhtikan dalam pembuatan Galenik?

D. Kunci Jawaban

a. Galenika menurut Permenkes No. 246/Menkes/Per/V/1990, sediaan galenik


didefinisikan sebagai: hasil ekstraksi bahan atau campuran bahan yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan atau hewan. Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat
dalam sel-sel bagian tumbuh-tumbuhan yang umumnya dalam keadaan kering.
b. Galenik dapat digolongkan berdasarkan cara pembuatanya sebagai berikut:
1. Aqua aromatica
2. Extracta
3. Sirupi dan
4. Spiritus aromatici
c. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik
diantaranya sebagai berikut:
1) Derajat kehalusan: Derajat kehalusan ini harus di sesuaikan dengan mudah
atau tidaknyaobat yang terkandung tersebut untuk disari. Semakin halus
simplisianya itu akan mempermudah proses penyarian, ataupun sebaliknya
semakin sukar disari maka simplisia harus dibuat semakin halus.
2) Temperatur suhu dan lamanya waktu
Suhu harus disesuaikan dengan sifat dari obat, apakah mudah
menguap atau tidak, mudah tersari atau tidak
3) Bahan penyari dan cara menyari: Setiap simplisia atau bahan obat mempunyai
cara dan bahan penyari yang berbeda-beda, Oleh karena itu cara ini harus
disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari ke dalam
simplisia.

Universitas Esa Unggul


[Link] 10 /
20
SATURASI DAN NETRALISASI

A. Kemampuan Akhir Yang Diharapkan

Setelah mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa mampu :


1. Memahami dan menjelaskan Pengertian dari Saturasi dan Netralisasi
2. Memahami dan menjelaskan Cara Pembuatan Saturasi dan Netralisasi
3. Memahami dan menjelaskan Komposisi dan cara penyimpanan Saturasi dan
Netralisasi

B. Uraian dan Contoh

1. SATURASI
a. Definisi Saturasi
Dari pengertian saturasi yaitu obat minum yang direaksikan dari suatu asam dan
suatu karbonat, dimana harus dijaga supaya cairan dijenuhkan dengan gas
karbondioksida. Koefisien absorbsi dari gas karbondioksida besarnya kira-kira1.2,
maka tiap obat minuman ini kira-kira mengandung 1ml CO2.
Pada pembuatan penjenuhan-penjenuhan, dikehendaki supaya baik asam maupun
hidrogenkarbonat atau karbonatnya dicampurkan dalam keadaan larut kedua-
duanya. Misalnya jika suatu penjenuhan harus dibuat dengan asam amigdalat dan
natrium hydrogen karbonat harus dilarutkan. Pada umumnya air yang tersedia
tidak cukup untuk melarutkan asam amigdalat, sehingga hanya dituangi dengan
sisa air. Pada penambahan natriumhidrogen karbonat, asam amigdalat akan mudah
larut.
Disini natriumhidrogen karbonat tepat sesuai dengan asam sitrat. Dari air yang
tersedia, 70% dipakai untuk melarutkan natriumhidrogen karbonat (bagian basa)
sedangkan sisanya 30% digunakan untuk melarutkan asam sitrat (bagian asam).
Penambahan asam kepada basa untuk membuat larutan seberat-beratnya . Bagian
asam akan lebih mudah turun melalui bagian basanya karena reaksi asam.
Penambahan asam secara teratur dan botol harus digoyang-goyang terus-menerus.
Jika hal ini tidak dilakukan maka didalam botol akan terbentuk dua lapisan yang
akan bercampur. Hal ini akan menyebabkan banyaknya gas karbondioksida dan
botol akan meledak.

Universitas Esa Unggul


[Link] 11 /
20
Tujuan pemberian obat saturasi:
1. Untuk menutupi rasa garam yang tidak enak
2. CO2 mempercepat absorbs
3. Merangsang keluarnya getah pencernaan yang banyak
4. Sebagai carminativum atau laxans
5. Untuk antioxidant
6. Memberi efek psikologi bahwa obat tersebut kuat
b. Teori Pembentukan
Dari pengertian saturasi yakni obat minum yang direaksikan darisuatu asam
dan suatukarbonat, di mana harus dijaga supaya cairan dijenuhkan dengan gas
karbondioksida. Koefisien absorbsi dari gas karbondioksida besarnya kira-kira 1.2,
maka tiap obatminuman ini mengandung kira-kira 1 ml CO2.
Pada pembuatan penjenuhan-penjenuhan, dikehendaki supaya baik asam
maupun hidrogenkarbonat atau karbonatnya dicampurkan dalam keadaan terlarut
kedua-duanya .Misalnya jika suatu penjenuhan harus dibuat dengan asamamigdalat
dan natrium hydrogen karbonat, maka natrium hidrogen karboat harus dilarutkan.
Pada umumnya air yang tersedia tidak cukup untuk melarutkan asam amigdalat,
sehingga hanya dituangi dengansisa air. Pada penambahan natrium hidrogen
karbonat , asam amigdalat akan mudah larut. Sebagai contoh berikutnya yakni Potio
effervescent yang merupakan saturatio yang CO2-nya lewat jenuh (Anonim,
2008).Di sini natrium hydrogen karbonat tepat sesuai dengan asamsitrat. Dari air
yangtersedia, 70% dipakai untuk melarutkan natrium hidrogen karbonat (bagian
basa), sedangkan sisanya yaitu 30% digunakan untuk melarutkan asam sitrat (bagian
asam).
Penambahan asam kepada basa untuk membuat larutan seberat-beratnya (B.J
besar). Bagian asam akan lebih mudah turun melalui bagian basanya karena reaksi
dari [Link] asam secara teratur dan botol harus digoyang-goyangkan
terus menerus. Jika hal ini tidak dilakukan, maka di dalam botol akan terbentuk dua
lapisan yang akan bercampur. Hal ini akan menyebabkan banyaknya gas
karbondioksida dan botol akan meledak. Prinsip terbentuknya saturasi sebagai
berikut :
1. Asam organik + garam bicarbonat --> CO2
2. Asam sitrat + NaHCO3 --> Na Citrat + CO2

Universitas Esa Unggul


[Link] 12 /
20
Pada pembuatan larutan secara saturasi, harus dibuat dalam keadaan dingin dan
tidak boleh dikocok.
c. Teori Preparasi
Pada saturasi larutan tersebut dijenuhkan dengan gas CO2. Pada pembuatan larutan
secara saturasi harus dibuat dalam keadaan dingin dan tidak boleh dikocok (Anief,
2000). Pada obat seperti tablet effervescent, apabila dimasukkan ke dalam air akan
membentuk CO2, karena reaksi kimia dari dua unsure dalam tablet carbonat atau
bicarbonate bereaksi dengan asamorganik. Bahan obat yang biasanya dicampurkan
pada kedua unsu rtersebut adalah yang larutdalam air (Nanizar, 2000).
Berikut adalah salah satu cara membuat larutan saturasi :
1. Komponen basa dilarutkan dalam dua per tiga bagian air yang tersedia. Misalnya
NaHCO3 digerus-tuang kemudian masuk botol.
2. Komponen asam dilarutkan dalam sepertiga bagian air yang tersedia.
3. Dua per tiga bagian asam masuk kedalam botol yang sudah berisi bagian
basanya,gas yang terjadi dibuang seluruhnya.
4. Sisa bagian asam dituangkan hati-hati lewat tepi botol, segera tutup dengan
sampagne knop (berdrat) sehingga gas yang terjadi tertahan didalam botol
tersebut
Penambahan bahan-bahan :
Zat yang dilarutkan dalam bagian asam adalah :
1. Zat netral dalam jumlah kecil. Jika jumlahnya banyak , sebagian dilarutkan ke
dalamasam dan sebagian lagi dilarutkan ke dalam bagian basa sesuai dengan
perbandingan jumlah airnya.
2. Zat-zat yang mudah menguap.
3. Ekstrak dalam jumlah kecil dan alcohol.
4. Sirop
Zat-zat yang dilarutkan dalam bagian basa :
1. Garam dari asam yang sukar larut, misalnya Na-benzoat, Na-salisilat.
2. Jika saturation mengandung asam tartrat, garam-garam kalium dan ammonium
harus ditambahkan kedalam bagian basanya, jika tidak, akan terbentuk endapan
kalium atau ammonium dari asam tartrat.
Untuk melihat berapa bagian asam atau basa yang diperlukan dapat melihat table
penjenuhan (saturation dan netralisasi) dalam farmakope Belanda V berikut ini.

Universitas Esa Unggul


[Link] 13 /
20
Universitas Esa Unggul
[Link] 14 /
20
d. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Agar Bentuk Sediaan Berhasil Dibuat:
1. Diberikan dalam botol yang kuat, berisi kira-kira 9/10 bagian dan tertutup kedap
dengan tutup gabus atau karet yang rapat. Kemudian diikat dengan sampagne
knop.
2. Tidak boleh mengandung bahan obat yag tidak larut, karena tidak boleh dikocok,
pengocokan membuat botol pecah karena botol berisi gas dalam jumlah besar.
Dalam hal ini, sediaan saturasi dibuat sedemikian rupa sehingga tidak perlu
digojok,karena penggojokan akan banyak menyebabkan gas CO2 yang hilang,
seperti:
1. Zat zat netral dilarutkan dalam larutan asam nitrat
2. Tintura, zat yang mudah menguap, dan dalam jumlah sedikit serta garam
alkaloid dilarutkan dalam bagian yang asam
3. Senyawa yang bereaksi alkalis meskipun dapat larut, dilarutkan dalam
bagian [Link] yang tidak dapat larut dalam larutan saturasi tersebut, tidak
boleh dilarutkan melainkan dipisah dan dibuat serbuk. Zat yang larut bagian
basa, tetapi pada penambahan bagian asam daapat terjadi endapan, maka zat
tersebut tidak boleh dicampur dalam sediaan saturasi tersebut. Pada
pembuatan larutan secara saturasiharus dibuat dalam keadaan dingin dan
tidak boleh digmpur dalam sediaan saturasi tersebut. Pada pembuatan larutan
secara saturasi harus dibuat dalam keadaan dingindan tidak boleh digojok.
Contoh :
1. Sirop. Jika sirop mengandung lendir maka penambahan harus dilakukan
dengansangat hati-hati untuk mencegah pembentukan busa yang terlalu
banyak.
2. Persenyawaan yang mudah menguap, seperti aether cum spiritus,
tincturae, spirituscitri dsb.
Universitas Esa Unggul
[Link] 15 /
20
3. Garam–garam netral. Jika terdapat dalam jumlah yang besar maka ini
kita bagikan kepada bagian asam dan bagian basanya menurut
perbandingan yang sama seperti air.
4. Garam alkaloida. Dengan bagian basa, garam-garam ini akan
menghasilkan suatuendapan.

e. Cara Penyimpanan
Sediaan saturasi sebaiknya disimpan dalam botol yang kuat, berisi kira-kira9/10
bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat. Kemudiandiikat
dengan sampagne [Link] boleh mengandung bahan obat yag tidak larut,karena
tidak boleh dikocok, pengocokan membuat botol pecah karena botol berisi gasdalam
jumlah besar.
f. Cara Pemakaian
Sediaan saturasi digunakan dengan pemakaian secara oral.

2. NETRALISASI
a. Pengertian
 Netralisasi adalah larutan garam yang dibuat dengan mereaksikanasam dan basa.
Pada netralisasi gas CO2 yang terjadi dibiarkanmenguap sampai habis.
 Adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan suatu asam dengan basa
sehingga menjadi campuran netral (pH 7).Basa yang digunakan umumnya
berbentuk garam [Link] CO2 yang terbentuk pada proses pembuatan
dihilangkan seluruhnya.
Pada saturasi larutan tersebut dijenuhkan dengan gas CO2 (Anief, 2000), pembuatan
secara netralisasi harus dapat dipanasi dan dikocok. Pada pembuatan larutan secara
saturasi, harus dibuat dalam keadaan dingin dan tidak boleh dikocok (Anief, 2000) ada
obat seperti tablet effervescent, apabila dimasukkan kedalam air akan membentuk
CO2, karena reaksi kimia dari dua unsur dalamtablet carbonat atau bicarbonat beraksi
dengan asam oerganik.&ahan obat yang biasanya dicampurkan pada kedua unsur
tersebutadalah yang larut dalam air (Nanizar, 2000).
b. Persyaratan Pembuatan Netralisasi
Seluruh bagian asam direaksikan denganbagian basanya, jika perlu reaksi dipercepat
dengan pemanasan.

Universitas Esa Unggul


[Link] 16 /
20
c. Hal Yang Harus Diperhatikan Sediaan Netralisasi
1. Diberikan dalam botol yang tahan tekanan (kuat) dan tertutup kedap dengan tutup
gabus atau karet yang rapat. Kemudian diikat dengan sampagne knop
2. Tidak boleh mengandung bahan obat yang tidak larut, karena tidak boleh dikocok.
Pengocokan menyebabkan botol pecah, karena berisi gas dalam jumlah besar yang
menimbulkan

Universitas Esa Unggul


[Link] 17 /
20
C. Latihan

1. Apa yangdimaksudkan dengan saturasi dan Netralisasi?


2. Bagaimana cara penyimpanan Saturasi dan Netralisasi?
3. Apa tujuan pemberian Saturasi?

D. Kunci Jawaban

1. A. Saturasi yaitu obat minum yang direaksikan dari suatu asam dan suatu karbonat,
dimana harus dijaga supaya cairan dijenuhkan dengan gas karbondioksida
B. Netralisasi Adalah obat minum yang dibuat dengan mencampurkan suatu asam
dengan basa sehingga menjadi campuran netral (pH 7).Basa yang digunakan
umumnya berbentuk garam [Link] CO2 yang terbentuk pada proses
pembuatan dihilangkan seluruhnya.

2. Cara Penyimpanan
Sediaan saturasi sebaiknya disimpan dalam botol yang kuat, berisi kira-kira
9/10 bagian dan tertutup kedap dengan tutup gabus atau karet yang rapat.
Kemudiandiikat dengan sampagne [Link] boleh mengandung bahan obat
yag tidak larut,karena tidak boleh dikocok, pengocokan membuat botol pecah
karena botol berisi gas dalam jumlah besar.
3. Tujuan pemberian obat saturasi:
1. Untuk menutupi rasa garam yang tidak enak
2. CO2 mempercepat absorbs
3. Merangsang keluarnya getah pencernaan yang banyak
4. Sebagai carminativum atau laxans
5. Untuk antioxidant
6. Memberi efek psikologi bahwa obat tersebut kuat

Universitas Esa Unggul


[Link] 18 /
20
E. Daftar Pustaka

1. Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida
Ibrahim, UI Press, Jakarta

2. Anief, M., 2013, Ilmu Meracik Obat, Ed. Ke 16 Gadjah Mada University Press, Yogyakar
Anief, M., 2013, Ilmu Meracik Obat, Ed. Ke 16 Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

3. Anief, M, 2007, Farmasetika Ed. Ke 7 Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta : Direktorat


Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan

5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak


Tumbuhan Obat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

6. Syamsuni, H., 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, EGC,


[Link] Sutrisno. 1993. Analisis Jamu. Jakarta : Fakultas Farmasi
Universitas Pancasila, hal. 9-10.

Universitas Esa Unggul


[Link] 19 /
20

Anda mungkin juga menyukai