SOAL UAS HUKUM BISNIS
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PASIR PENGARAIAN
Isilah “Nama, Nim, dan Prodi/Kelas” padatempat yang telahtersedia.
NAMA : Lisa Sri Ayu Lestari
NIM : 1825038
PRODI/ KELAS : Manajemen 4 A
SOAL PILIHAN GANDA:
Petunjuk:
Jawablahsoalberikutdengancaramenebalkan (BOLD) pilihanjawaban yang saudaraanggapbenar!
1. Berikut ini yang merupakan unsur-unsur pajak adalah…
a. Ada UU Pajak yang mendasarinya
b. Ada subjek & objek pajak
c. Dapat dipaksakan dan Imbalan tidak langsung
d. a, b, dan c benar
2. Berikutiniadalahundang-undang yang mengaturtentangperlindungankonsumen…
a. UU No. 39 Tahun 1999
b. UU No. 8 Tahun 1999
c. UU No. 48 Tahun 2009
d. UU No. 31 Tahun 2010
3. Di bawah ini yang merupakan perusahaan pembiayaan adalah…
a. Leasing, Factoring, dan Usaha kartu kredit
b. Consumer finace, Leasing, dan Modal ventura
c. Usaha kartukredit, Factoring,Modal ventura
d. Consumer finace, dan Pembiayaan infrastruktur
4. Berikutini yang merupakansaranadalampengangkutanlautbisnis, kecuali…
a. Kapal
b. PengirimdanPenerima
c. Pelabuhan
d. Prasaranapelayaran
5. Bentuk ADR/APS dalamUndang-Undang No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa adalah…
a. KonsultasidanNegosiasi
b. MediasidanKonsiliasi
c. Penilaianahli
d. a, b, dan c benar
6. Berikut ini adalah yang berhak mengajukan permohonan pailit, kecuali…
a. Menteri Keuangan, dalam hal debitur adalah perusahaan asuransi, reasuransi, dan
apensiun, BUMN yang bergerak untuk kepentingan publik.
b. Badan Pengawas Pasar Modal dalam hal debitur merupakan perusahaan efek.
c. Ketua pengadilan niaga sebagai tempat penyelesaian sengketa pailit dan pemberi
keputusan PKPU.
d. Jaksa atas dasar kepentingan umum.
SOAL ESAI:
Petunjuk:
Jawablah soal berikut ini dengan cara ketik jawaban di tempat yang telah disediakan!
1. Jelaskan tentang “Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea balik nama kendaraan bermotor” !
JAWABAN:…..
a) Pajak Kendaraan Bermotor sebagaimana yang didefinisikan dalam Pasal 1 angka 12 dan
13 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2009 adalah
pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.
Pajak Kendaraan Bermotor adalah kepemilikan dan/atau penguasaan Kendaraan
Bermotor. Termasuk dalam pengertian Kendaraan Bermotor adalah kendaraan bermotor
beroda beserta gandengannya, yang dioperasikan di semua jenis jalan darat dan
kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran isi kotor GT 5 (lima Gross
Tonnage) sampai dengan GT 7 (tujuh Gross Tonnage).
b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak milik
kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau
keadaan terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke
dalam badan usaha.
2. Tanggung jawab hokum pelaku usaha dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen
didasarkan pada prinsip-prinsip:
a. Contractual liability
b. Product liability
c. Professional liability, dan
d. Criminal responsibility.
Jelaskanmaksuddariprinsip-prinsiptersebut !
JAWABAN:……
a) Contractual Liability atau pertanggung jawaban kontaktual adalah tanggung jawab
perdata atas dasar perjanjian atau kontrak dari pelaku usaha baik barang maupun
jasa atas kerugian yang dialami konsumen akibat mengkonsumsi barang yang
dihasilkan atau memanfaatkan jasa yang diberikan. Artinya dalam kontraktul ini
terdapat suatu perjanjian atau kontrak langsung antara pelaku usaha dengan
konsumen
b) Product liability adalah tanggung jawab perdata secara lansung dari pelaku usaha
atas kerugian yang dialami konsumen akibat mengkonsumsi barang yang dihasilkan
inti sari dari product liability adalah tanggung jawab berdasarkan perbuatan
melawan hukum (toritious liability) yang telah diratifikasi menjadi strict liability.
Product liability akan digunakan oleh konsumen untuk memperoleh ganti rugi
secara lansung dari produsen sekali pun konsumen tidak memiliki kontaktual
dengan pelaku usaha tersebut.
c) profesional (profesional liability) merupakan tanggung jawab hukum (legal
liability) dalam hubungannya dengan jasa profesional yang diberikan kepada klien.
Sejalan dengan tanggung jawab produk, tanggung jawab profesional ini timbul
karena para penyedia jasa profesional tidak memenuhi perjanjian yang disepakati
dengan klien atau akibat kelalaian penyedia jasa tersebut yang mengakibatkan
terjadinyakerugian/perbuatanmelawanhukum.
d) criminal Liability Bahwa tanggung jawab pelaku usaha didasarkan pada
professional liability yaitu criminal liability (tanggungjawab pidana) dari pelaku
usaha atas tanggungan keselamatannya keselamatan dan keamanan masyarakat
konsumen.
3. Sebutkandasarhukum“lembagapembiayaan” sertajelaskan pula
fungsidarilembagapembiayaan!
JAWABAN:……
a) Dasar Hukum Pembiayaan : Kepres 61/1988 tentang Lembaga Pembiayaan dan KepMenkeu
1251/ KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tatacara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan.
Dasar Hukum :
1. SK Menkeu No. Kep-38/MK/IV/1/1972 ttg Lembaga Keuangan, diubah No.
562/KMK/011/1982.
2. SKB Menkeu, Menperind & Menperdag RI ttg Perizinan Usaha Leasing.
3. Keppres RI No. 61 th 1988 ttg Lembaga Pembiayaan.
4. Kepmenkeu RI No. 1251/KMK.013/1988 ttg Ketentuan dan Tatacara Pelaksanaan
Lembaga Pembiayaan, diubah No.1256/KMK.00/1989.
5. Kepmenkeu 634/KMK.013/1990 ttg Pengadaan Barang Modal Berfasilitas melalui
Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing).
6) Kepmenkeu 1169/KMK.01/1991 ttg Kegiatan Sewa Guna Usaha (Leasing).
b) Fungsi lembaga pembiayaan bagi masyarakat berfungsi untuk membantu
masyarakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah agar terhindar dari jerat rentenir
yang pada umumnya memberikan pinjaman dengan prosentase bunga yang relatif tinggi.
Harapannya dengan adanya lembaga pembiayaan, pengusaha kecil dengan modal yang
terbatas dapat menikmati kredit modal atau barang modal dengan syarat mudah dan
bunga yang ringan.
Fungsi lembaga pembiayaan tidak hanya terbatas bagi masyarakat kalangan
menengah ke bawah saja, akan tetapi dapat digunakan dalam bisnis terutama untuk
pengembangan infrastruktur. Keberadaan lembaga pembiayaan ini sangatlah
diperlukan, hal ini disebabkan tidak semua pengembang infrastruktur dan pelaku bisnis
memiliki modal yang besar untuk menutup jumlah biaya yang tidak sedikit.
4. Jenis usaha pengangkutan laut terdiri dari:
a. Pelayaran dalam negeri
b. Pelayaran luar negeri
c. Pelayaran rakyat
d. Pelayaran perintis.
Jelaskansetiapjenisusahapengangkutanlauttersebut!
JAWABAN:…..
a) Pelayaran Dalam Negeri
Menurut PP No. 17 tahun 1988, pelayaran dalam negeri merupakan kegiatan angkutan
laut antarpelabuhan di Indonesia yang dilakukan secara tetap dan teratur dengan
menggunakan semua jenis kapal.
Selanjutnya pasal 73 UU No. 21 Tahun 1992 menyatakan bahwa penyelenggaraan
angkutan laut dalam negeri ini dilakukan dengan menggunakan kapal berbendera
Indonesia dan kapal berbendera asing yang dioperasikan oleh badan hukum Indonesia
dalam keadaan tertentu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh pemerintah.
b) Pelayaran Rakyat
Menurut PP No. 17Tahun 1988, pelayaran rakyat merupakan kegiatan angkutan laut
khusus untuk barang atau hewan antar pelabuhan di Indonesia dengan menggunakan
kapal layar motor sesuai dengan persyaratan di antaranya:
a. Dilakukan oleh perusahaan dalam satu badan usaha, termasuk koperasi
b. Memiliki unit perahu layar atau kapal motor dengan ukuran sampai dengan 850 m3 isi
kotor atau kapal motor dengan ukuran sampai dengan 100m3
Sementara itu pasal 77 UU No. 21 Tahun 1992 mengatakan pelayaran rakyat sebagai
usaha rakyat yang bersifat tradisional merupakan bagian dari usaha angkutan di perairan,
mempunyai peranan yang penting dan karakteristik tersendiri.
c) Perairan Perintis
Menurut Pasal 84 UU No. 21 Tahun 1992, pelayaran perintis ini berupa angkutan
perairan yang menghubungkan daerah-daerah terpencil dan belum berkembang. Adapun
sebagai penyelenggaranya adalah pemerintah. Mengenai pelayaran perintis ini, PP No.
17 Tahun 1988 menyatakan bahwa pelayaran perintis merupakan kegiatan angkutan laut
yang dilakukan secara tetap dan teratur.
d) Pelayaran Luar Negeri
Pelayaran luar negeri merupakan pelayaran samudra sebagai kegiatan angkutan laut ke
atau dari negeri yang dilakukan secara tetap dan teratur atau dengan pelayaran tidak tetap
dan tidak dengan menggunakan semua jenis kapal (Pasal 9 ayat 5 PP No. 17 Tahun
1988)
Pelayaran luar negeri ini, menurut UU No. 21 Tahun 1992 dilakukan oleh badan hukum
Indonesia yang menurut UU No. 1 Tahun 1985 berbentuk perseroan terbatas dan atau
perusahaan asing.
5. Diantara bentuk ADR/APS (konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli)
manayang sering digunakan oleh para pihak yang bersengketa (dalambisnis) untuk
menyelesaikan sengketanya? Sebutkan alasannya!
JAWABAN:…..
Negoisasi
Karena : Negosiasi merupakan prinsip dasar dalam komunikasi penyelesaian sengketa maupun
dalam komunikasi bisnis, dalam mediasi ataupun konsiliasi, negosiasi tetap memainkan peranan
ini, walaupun ada pihak ketiga tapi para pihak tetap saling melakukan negosiasi. Ada dua
permasalahan dalam ketentuan ini yaitu mengenai “dalam penyelesaian sengketa dilakukan
pertemuan langsung oleh para pihak” dan “diselesaikan dalam waktu paling lama 14(empat belas)
hari”.
6. Sebutkan kekhususan-kekhususan prosedur beracara dalam hokum acara kepailitan pada
pengadilan niaga!
JAWABAN:…..
Hukum acara di Pengadilan Niaga dalam perkara kepailitan agak berbeda dengan hukum acara
perdata biasa. Beberapa hal yang khusus dalam perkara kepailitan adalah:
1) Acara dengan surat. Acara perdata di muka Pengadilan Niaga berlaku dengan tulisan atau
surat (schiftelijke procedure), berlainan dengan acara yang berlaku di Pengadilan Negeri yang
memungkinkan acara lisan (modelinge procedure).
2) Kewajiban dengan bantuan ahli. Undang-Undang Kepailitan dan PKPU mewajibkan bantuan
seorang ahli hukum. Hal ini karena di dalam suatu proses kepailitan dimana memerlukan
pengetahuan tentang hukum dan kecakapan teknis, perlu kedua pihak yang bersengketa dibantu
oleh seorang atau beberapa ahli yang memiliki kemampuan teknis.
3) Hakim pasif. Hukum acara dalam proses kepailitan berpangkal pada pendirian bahwa hakim
pada intinya pasif. Hakim hanya mengawasi supaya peraturan-peraturan acara yang ditetapkan
dengan undang-undang dijalankan oleh kedua belah pihak.
4) Pembuktian sederhana. Pemeriksaan perkara kepailitan di Pengadilan Niaga berlangsung lebih
cepat, hal ini dikarenakan Undang-Undang Kepailitan memberikan batasan waktu proses
kepailitan. Selain itu, lebih cepatnya waktu pemeriksaan perkara di Pengadilan Niaga antara lain
dipengaruhi oleh sistem pembuktian yang dianut, yaitu bersifat sederhana atau pembuktian
secara sumir.
5) Waktu pemeriksaan terbatas. Undang-Undang Kepailitan menentukan Putusan Pengadilan
atas permohonan pernyataan pailit harus diucapkan paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah
tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan.
6) Putusan bersifat serta merta. Putusan atas permohonan pernyataan pailit di Pengadilan Niaga
dapat dilaksanakan lebih dahulu, meskipun terhadap putusan tersebut masih diajukan upaya
hukum.
7) Klausula Arbitrase. Eksistensi Pengadilan Niaga, sebagai Pengadilan yang dibentuk
berdasarkan Pasal 280 ayat (1) Perpu No. 1 tahun 1998 memiliki kewenangan khusus berupa
yurisdiksi substansif eksklusif terhadap penyelesaian perkara kepailitan. Dengan status hukum
dan kewenangan (legal status and power), Pengadilan Niaga memiliki kapasitas hukum (legal
capacity) untuk menyelesaikan permohonan pailit.
8) Tidak tersedia Upaya Banding. Pasal 11 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2007
dengan tegas menyatakan bahwa Upaya hukum yang dapat diajukan terhadap putusan atas
permohonan pernyataan pailit adalah kasasi ke Mahkamah Agung. Jadi, terhadap putusan pada
Pengadilan Niaga tingkat pertama tidak dapat diajukan upaya hukum banding.