1.
Jelaskan perbedaan benda privat (private domain) dan benda publik (public
domain) dalam konteks Barang Milik Negara (BMN) Sertakan masing-masing
contoh!
Menurut saya iyalah:
Proudhon (Prancis) membagi staats domain menjadi dua, kepunyaan privat (private domain) dan
kepunyaan publik (public domain).
Kepunyaan privat meliputi benda-benda yang dipakai oleh aparat pemeritah secara langsung dimana
kemanfaatan benda-benda tersebut jarang diperuntukan untuk umum. Contohnya: rumah dinas, gedung
BUMN dan lain-lain.
Sedangkan kepunyaan publik meliputi benda-benda yang disediakan pemerintah untuk masyarakat secara
umum. Contohnya: jalan-jalan umum, sungai-sungai, termasuk juga kantor pemerintah dan lain
sebagainya.
2. Jelaskan dan uraikan metode penggunaan dan pemanfaatan barang milik
negara!
Bagian Kelima
Bentuk Pemanfaatan
Pasal 5
Bentuk Pemanfaatan BMN berupa:
a. Sewa;
b. Pinjam Pakai;
c. KSP;
d. BGS/BSG; dan
e. KSPI.
BAB II
KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB
Bagian Kesatu
Pengelola Barang
Pasal 6
(1) Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang memiliki kewenangan dan
tanggung jawab:
a. menetapkan Pemanfaatan BMN dan perpanjangan jangka waktu
Pemanfaatan BMN yang berada pada Pengelola Barang;
b. memberikan persetujuan atas usulan Pemanfaatan BMN atau
perpanjangan jangka waktu Pemanfaatan BMN dalam bentuk:
1. Sewa;
2. Pinjam Pakai;
3. KSP; dan
4. KSPI,
yang berada pada Pengguna Barang;
c. menetapkan besaran Sewa BMN yang berada pada Pengelola Barang;
d. menetapkan formula tarif Sewa BMN;
e. menetapkan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan dari
KSP BMN yang berada pada Pengelola Barang;
f. memberikan persetujuan besaran kontribusi tetap dan pembagian
keuntungan dari KSP BMN yang berada pada Pengguna Barang;
g. menetapkan besaran kontribusi tetap dan pembagian keuntungan untuk
KSP BMN penyediaan infrastruktur yang berada pada Pengelola Barang
oleh Badan Usaha Milik Negara/Daerah;
h. menerima BMN yang akan dilakukan BGS/BSG dari Pengguna Barang;
i. menetapkan besaran kontribusi tahunan dari BGS/BSG dan bagian objek
BGS/BSG yang digunakan untuk tugas dan fungsi Pengelola
Barang/Pengguna Barang;
j. menetapkan formula dan/atau besaran pembagian kelebihan keuntungan
dari KSPI;
k. menandatangani perjanjian Pemanfaatan BMN yang berada pada
Pengelola Barang;
l. melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan
Pemanfaatan BMN;
m. melakukan penatausahaan BMN yang dilakukan Pemanfaatan BMN;
n. melakukan penatausahaan atas hasil pelaksanaan Pemanfaatan BMN;
o. melakukan penyimpanan dan pemeliharaan dokumen Pemanfaatan BMN;
p. menetapkan sanksi dan denda yang timbul dalam pelaksanaan
Pemanfaatan BMN berupa tanah dan/atau bangunan yang berada pada
Pengelola Barang; dan
q. kewenangan dan tanggung jawab lainnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(2) Kewenangan dan tanggung jawab Menteri Keuangan selaku Pengelola Barang
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara fungsional dilaksanakan oleh
Direktur Jenderal.
(3) Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan dapat menunjuk pejabat
struktural di lingkungan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk
melaksanakan kewenangan dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada
ayat (2).
Bagian Kedua
Pengguna Barang
Pasal 7
(1) Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Barang memiliki kewenangan
dan tanggung jawab:
a. mengajukan usulan persetujuan Pemanfaatan BMN dalam bentuk:
1. Sewa;
2. Pinjam Pakai;
3. KSP;
4. BGS/BSG; atau
5. KSPI,
yang berada dalam penguasaannya kepada Pengelola Barang.
b. melakukan Pemanfaatan BMN, setelah mendapat persetujuan dari
Pengelola Barang;
c. menerbitkan keputusan pelaksanaan dan menandatangani perjanjian
Sewa, Pinjam Pakai, KSP, atau KSPI BMN yang berada pada Pengguna
Barang setelah mendapat persetujuan dari Pengelola Barang;
d. melakukan pembinaan, pengawasan dan pengendalian atas pelaksanaan
Pemanfaatan BMN yang berada dalam penguasaannya;
e. melakukan penatausahaan BMN yang dimanfaatkan yang berada dalam
penguasaannya;
f. melakukan penatausahaan atas hasil Pemanfaatan BMN;
g. menyerahkan BMN yang akan dilakukan BGS/BSG kepada Pengelola
Barang;
h. melakukan penyimpanan dan pemeliharaan dokumen pelaksanaan
Pemanfaatan BMN yang berada dalam penguasaannya; dan
i. menetapkan sanksi dan denda yang timbul dalam pelaksanaan
Pemanfaatan BMN yang berada dalam penguasaannya.
(2) Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Barang dapat menunjuk pejabat
struktural/fungsional di lingkungannya untuk melaksanakan sebagian
wewenang dan tanggung jawab Pengguna Barang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1).
Bagian Kedua
Objek Pemanfaatan BMN
Pasal 10
(1) Objek Pemanfaatan BMN meliputi:
a. tanah dan/atau bangunan; dan
b. selain tanah dan/atau bangunan,
yang berada pada Pengelola Barang/Pengguna Barang.
(2) Objek Pemanfaatan BMN berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a, dapat dilakukan untuk sebagian atau
keseluruhannya.
(3) Dalam hal objek Pemanfaatan BMN berupa sebagian tanah dan/atau
bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), luas tanah dan/atau bangunan
yang menjadi objek Pemanfaatan BMN adalah sebesar luas bagian tanah
dan/atau bangunan yang dimanfaatkan.
Referensi :kemenkeu
3. Ada dua aspek perlindungan hukum bagi warga negara terkait dengan HAN,
jelaskan dan uraikan! Jelaskan dan uraikan penyelesaian sengketa administrasi
negara!
Ada dua macam perlindungan hukum bagi rakyat, yaitu perlindungan hukum
preventif dan represif. Perlindungan hukum preventif memberikan rakyat
kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu
keputusan pemeritah mendapat bentuk yang defintif. Artinya perlindungan
hukum preventif ini bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa,
sedangkan represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa.
Ada beberapa hal yang menjadi alasan warga negara harus mendapat
perlindungan hukum dari tindakan pemerintah, yaitu:
1. Karena dalam berbagai hal warga negara dan badan hukum perdata
tergantung pada keputusan-keputusan pemerintah, seperti kebutuhan terhadap
izin yang diperlukan untuk usaha perdagangan, perusahaan atau
pertambangan. Karena itu warga negara dan badan hukum perdata perlu
mendapat perlindungan hukum.
2. Hubungan antara pemerintah dan warga negara tidak berjalan dalam
posisi sejajar, dan warga negara berada di pihak lemah dalam hal ini.
3. Berbagai perselisihan warga negara dengan pemerintah berkenan
dengan keputusan, sebagai instrumen pemerintah yang bersifat sepihak dalam
menentukan intervensi terhadap kehidupan warga negara.
1. Upaya Administratif[3]
Upaya administratif adalah suatu prosedur yang dapat ditempuh oleh seorang atau badan hukum
perdata apabila ia tidak puas terhadap suatu Keputusan Tata Usaha Negara. Prosedur tersebut
dilaksanakan di lingkungan pemerintahan sendiri dan terdiri atas dua bentuk:
a. Keberatan
Penyelesaian sengketa Tata Usaha Negara yang dilakukan sendiri oleh Badan/Pejabat Tata
Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara.
b. Banding Administratif
Penyelesaian sengketa Tata Usaha Negara yang dilakukan oleh instansi atasan atau instansi lain
dari Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara, yang
berwenang memeriksa ulang Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan .
Berbeda dengan prosedur di Peradilan Tata Usaha Negara, maka pada prosedur banding
administratif atau prosedur keberatan dilakukan penilaian yang lengkap, baik dari segi penerapan
hukum maupun dari segi kebijaksanaan oleh instansi yang memutus. Dari ketentuan dalam
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha
Negara yang bersangkutan dapat dilihat apakah terhadap suatu Keputusan Tata Usaha Negara itu
terbuka atau tidak terbuka kemungkinan untuk ditempuh suatu upaya administratif.