122
BAB IV
ANALISIS DATA
A. Analisis Suluk Sunan Bonang dan Implementasinya Sebagai Terapi Islam
Sebagaimana suluk adalah menempuh jalan menuju tasawuf atau tarekat,
maka disini penulis mewawancarai masyarakat dari berbagai kalangan.
1. Hasil Wawancara dengan salah Seorang yang Mengikuti Tarekat AS Sadziliyah
di Tuban
menjadi pengikut tarekat sudah menjadi kebutuhan tersendiri bagi bapak
Imam Musholli 62 tahun, beliau sangat bersyukur di kehidupannya beliau
mengenal tarekat, Allah memberikan jalan yang tepat sekali di saat beliau ingin
dekat dengan sang Khaliq. Sudah menjadi kebiasaan beliau jika setelah sholat
melakukan beberapa amalan yang telah dianjurkan dalam ajaran di tarekat.
Amalan-amalan tersebut sudah menyatu dalam diri, sehingga ketika beliau tidak
melakukannya maka akan ada rasa yang sangat kurang sekali. Di antara amalan-
amalan tersebut pun ada kegunaannya sendiri-sendiri, untuk melatih diri kita
menjadi terbiasa melakukan amalan-amalan tersebut. Di samping itu juga sebelum
kita menginginkan menjadi seorang penempuh tarekat maka kita akan
berkomitmen dulu artinya kita benar-benar sungguh-sungguh untuk melakukan
tarekat, yang biasanya kita mengenanya dengan nama ba’iat. Pentingnya guru
mursyid dalam hal ini adalah untuk menuntun murid dan menentukan serta
123
menyaksikan sumpah yang diucapkan oleh murid yang berkeinginan untuk
menempuh tarekat.
Dalam tarekat kita juga mengenal istilah َ رَﺑ ِﻂdengan maksud
berkesinambungan artinya disini adalah berkesinambungan dengan guru, memiliki
kedekatan dengan guru. Biasanya seorang pengikut tarekat akan memajang
gambar-gambar atau foto-foto gurunya di rumahnya, atau bisa juga di gambar
walpaper hapenya, hal ini bertujuan agar seorang penempuh jalan tarekat merasa
selalu diawasi gurunya dalam setiap tindakan, perbuatan dan perkataan sekecil
apapun. Untuk itu mereka selalu berhati-hati dan tidak sembarangan dalam
melakuakn suatu tindakan.
Orang yang melakukan tarekat hidupnya menjadi terarah, tidak mudah putus
asa, tenang dan selalu semangat dalam hidup karena mereka merasa gurunya atau
mursyidnya selalu mengawasi dan terlebih lagi ada Allah yang selalu mengatur
dan mengawasi di setiap tindak laku apa yang mereka kerjakan.
Sama halnya dengan ketika kita melakukan suluk, menempuh jalan menuju
tasawuf agar lebih dekat dengan Allah, seperti yang diajarkan oleh Sunan Bonang,
dengan melalui media tembang atau syi’iran untuk mempengaruhi masyarakat saat
itu. Beliau menggunakan media syi’iran atau tembang karena pada waktu itu
masyarakat sudah lekat sekali dengan tembang Jawa seperti dandanggula, kinanti,
asmaradana, sinom dan lain-lain. Beliau menjelaskan pengalaman dan perjalanan
rohaninya melalui tembang tersebut.
124
2. Hasil Wawancara dengan Salah Seorang yang Mengikuti Tarekat Qodiriyah
Wanakhsabandiyah
Baginya amalan-amalan tarekat sudah sangat melekat dalam dirinya, tanpa
amalan-amalan tersebut maka, hilang sudah kekuatan pada dirinya, begitu ketika
beliau mengungkapkan pendapatnya mengenai pentingnya tarekat dalam hidup,
mas Halim Akbar Al Rasyid ini sudah lumayan lama mengikuti tarekat ini, tetapi
baginya beliau benar-benar bisa mengenal arti hidup yang sesungguhnya yaitu
ketika 3 tahun terakhir ini. Hidup yang biasanya tidak tahu tujuannya sekarang
sedikit demi sedikit sudah bisa mengetahui makna yang terkandung dalam hidup.
Tidak mau mengecewakan dan menyianyiakan waktu yang ada beliau
mempergunakan sisa-sisa hidup ini dengan baik dan istiqomah melakukan amalan-
amalan yang diajarkan dalam tarekat.
Tidak semua orang bisa menikmati dekat dengan Allah, dan tidak semua
orang juga mengikuti tarekat, untuk itu beliau bersyukur sekali dalam usia yang
masih 23 an beliau sudah mengenal tarekat agar dapat mengatur hidupnya, dengan
mengikuti perjalanan ruhani yang beliau nikmati saat ini. Nikmat, nyaman,
menjadi pribadi yang istiqomah pada hakikatnya adalah dambaan setiap manusia
yang hidup di bumi ini.
3. Hasil Wawancara dengan Juru Kunci di Makam Sunan Bonang
125
Amalan istiqomah yang sang Auliya’ ajarkan di setiap ibadah yang beliau
kerjakan, menjadi kata kunci tersendiri bagi bapak yang sudah berusia 65 an bapak
H. M. Imron, yang menjadi juru kunci makam Sunan Bonang ini. Amalan
istiqomah ini akan menjadi pegangan tersendiri bagi bapak Imron, beliau sudah
membuktikan sendiri begitu besar barokah yang didapat jika kita mau dan
melakukan amalan yang istiqomah.
Menjadi kunci dalam menjalani kehidupan yang beliau yakini akan mendapat
barokah dan bertemu dengan Sang Auliya’ ketika di akhirat kelak, memang tidak
mudah, karena menjaga amalan istiqomah itu pasti ada ujiannya juga, entah itu
godaan dari sendiri, teman, atau masyarakat sekitar. tetapi beliau yakin bahwa niat
yang beliau tancapkan mantab dalam hati, akan dilihat oleh Allah SWT.
menjaganya memang sulit tetapi beliau akan berusaha tetap memegang teguh
amalan tersebut.
4. Hasil Wawancara dengan Penjaga Makam
Baginya pengabdian yang beliau lakukan saat ini tidak sebanding dengan apa
yang telah Sang Wali perjuangkan di bumi Tuban saat itu. Sang Sunan yang gigih,
tak kenal lelah dan ikhlas memperjuangkan agar masyarakat Tuban saat itu tidak
terjerumus pada perbuatan yang maksiat, beliau menggunakan berbagai macam
cara yang bisa masyarakat terima. Hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi
masyarakat sekitar Tuban saat itu. Tidak asing dengan agama baru yang muncul,
126
tetapi malah sangat antusias sekali menyambut agama yang dibawa oleh Sang
Auliya’ Sunan Bonang.
Untuk itu bapak Irfan rela mengabdikan seumur hidupnya demi menjaga
kemuliaan makam sang Motivator di bumi Tuban ini. Tidak menjadi penghalang
hidupnya malah beliau yang diinginkan adalah mendapat barokah yang tidak
semua orang bisa mendapatkannya.
5. Hasil Wawancara dengan Masyarakat di Sekitar Masjid
Banyaknya peziarah yang berdatangan dari berbagai nusantara adalah
keistimewaan tersendiri bagi sang Wali, apalagi ketika hari libur telah tiba, maka
pengunjung akan bertambah sampai 3x lipatnya. Kepribadian beliau yang tidak
membeda-bedakan antara kaum kecil ataupun bangsawan, menjadi idola tersendiri
bagi masyarakat Tuban. Dalam berdakwah pun beliau tidak memaksa atau dengan
cara kekerasan tetapi beliau menyesuaikan dengan kebudayaan yang ada di
wikayah Tuban tersebut. Itu yang membuat masyarakat Tuban sangat menerima
dakwah beliau, untuk mensyiarkan agama Islam.
6. Hasil Wawancara dengan Ketua Pengurus Yayasan Mubarrot Sunan Bonang
Tuban
Pengalaman rohani bersama Sunan Bonang melalui mimpi yang tak pernah
beliau lupakan adalah awal beliau menulis buku tentang “Menapak Jejak Sultanul
Auliya’ Sunan Bonang”, dari situlah beliau tergugah inspirasi untuk menulis
127
biografi tentang Sang Wali. Rasa syukur yang sangat dalam bisa menulis dan
menyelesaikan buku ini, karena dengan itu beliau bisa mendapatkan wawasan
yang luas sekali.
Beliau merupakan tokoh yang multitalent dan pemimpin yang disegani tetapi
tidak ditakuti oleh masyarakat awam. Karena dalam mengajak dan
menyebarluaskan agama Islam beliau mengetahui kondisi psikologis warga
masyarakat Tuban sehingga beliau menempatkan dakwah yang bisa diterima oleh
orang banyak. Hebatnya beliau dalam memberikan bimbingan kepada masyarakat,
itu akan beda antara satu dengan yang lain karena dilihat dari faktor keilmuan dan
kondisi psikologis serta yang paling penting adalah menyesuaikan masalah yang
dihadapi.
7. Hasil Wawancara dengan Orang Awam (pendatang dari luar kota Tuban)
Berziarah di kota Tuban itu sangat menyenangkan sekali karena kota yang
sejuk, rapi dan bersih. Tuban memiliki banyak wali yang menjadi center di pulau
Jawa. Apalagi akhir-akhir ini kota Tuban diperbaiki dengan hiasan Asmaul Husna
yang dipasang di sepanjang jalan kota. Semakin menjadikan alasan jika kota
Tuban merupakan bumi wali yang sekarang mulai diperkenalkan di masyarakat
luar.
Dari berbagai wawancara yang telah dilakukan maka, bisa dikatakan bahwa
tahapan-tahapan Suluk itu bisa ditempuh dengan berbagai cara diantaranya bisa
128
dengan jalan mengikuti tarekat, atau bahkan dengan amalan-amalan yang
dikerjakan dengan istiqomah, semua itu bertujuan untuk mendekatkan diri dengan
Allah SWT agar kita mampu untuk menata hati, jiwa, pikiran yang nantinya akan
mempengaruhi tindakan kita yang kita kerjakan. Seperti melakukan istiqomah
dengan mengamalkan Al Fatihah untuk baginda Rosulullah Muhammad SAW,
Membaca Syahadat 100x, Membaca Takbir 100x, Tawassulnya ditujukan kepada:
(Rosulullah Muhammad SAW, Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab, Usman
bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Cucu Nabi Hasan Husain, Mbah Panjali, Semua
Wali Songo (disebutkan namanya), Syekh Abdul Jaelani, Syekh Abdul Rozaq,
Syekh Abdi Salam bil Mahshis, Abil Hasan As Sandili, H. Fathul Huda (pembina
Tarekat As Sandiliyah), Gus Solah, Syekh Abdul Jalil, Syekh Mustaqim, Untuk
kedua orang tua, Nabi Adam, Ibu Hawa’, Muslimin Muslimat, Syuhada’, Sholihin,
Auliya’, ulama’, malaikat muqorrobin, mukminin mukminat, Nabi Khidir As)
Istighfar 100x, Sholawat Sandiliyah 100x, Tahlil Laailaahaillah 100x, Do’a khusus
(yang dibaca anggota tarekat), Khizib Kharbi (harus dibaca meskipun sudah hafal).
Dalam setiap tahapan seseorang akan mengalami keadaan ruhani tertentu,
sebelum akhirnya memperoleh cahaya penglihatan batin, mengenal Yang Tunggal
secara mendalam tanpa ragu-ragu lagi, dalam artian sebenarnya menurut
pandangan ahli tasawuf, ialah mereka yang demikian menyadari bahwa manusia
sebenarnya tidak memiliki apa-apa, kecuali keyakinan dan cinta yang mendalam
terhadap Tuhannya.
129
Ketika seseorang sudah melakukan ba’iat artinya sudah berkomitmen
melakukan hal yang hanya diridlohi Allah saja, maka dia sudah berjanji pada
dirinya sendiri dan Allah sebagai Tuhannya, untuk itu dia harus jaga betul jangan
sampai dia melanggar janji yang sudah dibuat sendiri itu. Dalam bahasa tarekat
kita mengenal َرَ ﺑ ِﻂ, untuk mengikat rohani maka seorang murid harus
membayangkan wajah gurunya setiap saat, hal ini bertujuan untuk mendekatkan
hati antar sang mursyid dan sang guru, bahkan sangat dianjurkan jika harus
memasang foto sang guru di rumahnya atau di walpaper hapenya.
B. Analisis Mekanisme Perubahan yang Terjadi pada Masyarakat Tuban
1. Dari segi budaya
Tuban sangat terkenal dengan pohon siwalannya, dan itu sangat berpotensi
sekali untuk dijadikan minum-minuman seperti legen dan tuak (minuman yang
berasal dari pohon siwalan yang diolah sedemikian rupa sehingga dapat
memabukkan bagi yang meminumnya). Dari kenyataan tersebut beliau
menerapkan langkah-langkah yang ada dalam Al Qur’an. Beliau tidak serta
melarangnya tetapi secara bertahap beliau menjelaskan bahwa tuak lebih banyak
keburukannya dari pada manfaatnya, kemudian beliau melarang meminum tuak
murid-muridnya atau masyarakat yang ingin sholat atau sekedar mendengarkan
gamelan yang beliau tabuh. Setelah dianggap mau menerima dan mengerti,
barulah beliau fatwakan pada masyarakat bahwa minum tuak itu haram.
130
Jadi perlahan-lahan budaya meminum tuak dan bertayuban lama-lama
berkurang dan tergantikan dengan kebudayaan Islam, tayuban merupakan tradisi
masyarakat Tuban yang berupa tarian tradisional penarinya terdiri dari beberapa
penari putri yang diikuti oleh penari pria yang harus mengeluarkan saweran.
Biasanya mereka menari dalam keadaan mabuk.
Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan
estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator
gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambah instrumen bonang.
Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada
kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu
karya Sunan Bonang. Lagu ini ternyata begitu sangat dekat dengan hati kaum
muslimin. Selain didengarkan dengan berbagai versi kedaerahan, lagu tersebut
begitu menyayat hati (ndudut ati) sehingga tak terasa membuat si pendengar
mengeluarkan air mata. Lagu ini juga sebagai petunjuk bagi umat Islam dalam
menjalankan kehidupan keagamaan pada kehidupan sehari-hari.
Jika direnungkan secara mendalam maka lagu terebut begitu sangat cocok
untuk menggapai tujuan sejati, yaitu mengenal Allah (ma’rifatullah). Gambaran
orang yang demikian itulah yang akhirnya bisa dikatakan menjadi hamba Allah
yang taat. Dan dalam praktek sehari-hari tentu berusaha untuk itba’ rasul
(mengikuti tauladan Nabi Muhammad Saw).
Sunan Bonang selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan
masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang dan gamelan. Beliau
131
memanfaatkan pertunjukan tardisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan
menyisipkan nafas Islam ke dalamnya. Syair lagu gamelan ciptaam para wali
tersebut berisi pesan tauhidm sikap menyembah Allah SWT, dan tidak
menyekutukan-Nya. Setiap bait lagu di diselingi dengan syahadatain (ucapan
dua kalimat syahadat), gamelan yang mengiringi ini dikenal dengan istilah
sekaten, yang berasal dari syahadatain.
2. Dari segi politik
Untuk melancarkan dakwah beliau juga berdakwah di lingkungan keluarga
kerajaan (cara beliau berdakwah persis ditiru oleh muridnya yaitu Sunan
Kalijaga). Beliau adalah guru daru Raden Patah putra dari raja Majapahit,
Brawijaya V.
Sunan Bonang menanamkan ajaran Islam pada keluarga raja bukan tanpa
alasan. Beliau ingin mendirikan kerajaan Islam di Tanah Jawa. Untuk itu beliau
meminta Raden Patah untuk mendirikan kerajaan sendiri di wilayah Demak,
yaitu kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa, Kerajaan Demak. Setelah Demak
dirasa kuat, Sunan Bonang menyarankan pada Raden Patah untuk mengislamkan
Brawijaya V. Karena apabila Brawijaya V telah masuk Islam, maka otomatis
seluruh wilayah kekuasaan Majapahit akan ikut menganut agama Islam.
3. Dari segi agama
132
Sebelum kedatangan para pemuka agama yaitu para wali yang mensyiarkan
agama Islam, dulu masyarakat Tuban senang untuk menyembah pohon yang
dikeramatkan, yang mereka percayai akan membawa berkah jika
menyembahnya. Percaya dengan hal-hal yang ghaib dan tidak masuk akal
tersebut karena mereka tidak mengetahui baik buruknya yang mereka sembah
tersebut.
Akhirnya setelah kedatangan Sunan-Sunan yang bertempat tinggal di Jawa
khususnya Sunan Bonang yang mensyiarkan agama Islam di Tuban tersebut
maka lambat laun penduduk setempat mulai bisa untuk diajak berfikir yang
rasional sehingga menyembah pohon dan sebagianya, sedikit demi sedikit bisa
terhapuskan.
C. Tuban Bumi Wali
Jika dulu sering kita mendengar Tuban Kota tuak maka sekarang sudah
berubah menjadi Tuban Kota Wali. Menurut Bupati Tuban yaitu bapak H. Fathul
Huda, Kabupaten Tuban sangat beruntung karena memiliki putra besar seperti Sunan
Bonang dan makam Sunan Bonang. Sunan Bonang merupakan salah satu seorang
anggota Wali Songo, dimana kebesarannya diakui oleh dunia Islam. Maka tepat
sekali, salah satu lambang Kabupaten Tuban berupa gapura makam Sunan Bonang
dan sudah selayaknya dijadikan ikon utama Kabupaten Tuban. Maka tidaklah
berlebihan kiranya ungkapan yang sering terucap dari banyak tokoh dan ulama’,
“Tuba liman dakhala Tuban”. (Sungguh beruntung orang yang masuk Tuban).
133
Masuk ke Tuban saja sudah sangat beruntung, dan bagaimana rasanya sebagai
penduduk Kabupaten Tuban sungguh luar biasa.
Dengan keberadaan makam Sunan Bonang, kini Tuban menjadi salah satu
destinasi (tujuan) wisata ziarah yang amat besar. Jumlahnya satu setengah hingga dua
juta orang peziarah setiap tahunnya.
Tuban dikenal dengan sebutan “Bumi Para Wali” karena di dalam wilayah
Kabupaten Tuban bersemayam ratusan makam wali-wali (auliya) Allah. Bahkan
sebagian ahli menyebutkan, para auliya yang dimakamkan di Kabupaten Tuban
konon mencapai lebih dari 300-an auliya. Selain sebagai kuburan atau atau makam
para wali, di Tuban juga banyak sekali tokoh-tokoh wali atau ulama’ besar yang
terlahir dari Tuban, di antaranya : Raden Mas Sahid (Sunan Kalijaga), Syekh Ahmad
Mutamakkin (Waliyullah di wilayah Kajen, Pati), KH. Muhammad Sholeh Tsani
(Ulama dan Pengasuh Pondok Pesantren Qomaruddin Bungah, Gresik), KH.R.
Fathurrohman Kafrawi (Menteri Agama Kedua RI era Bung Karno), KH. Abdullah
Faqih (Ulama’ kharismatik dan Pengasuh Pondok Pesantren Langitan Widang), KH.
Tolchan Hasan (Menteri Agama era Gus Dur), KH. Hasyim Muzadi (Ketua Umum
PBNU 1999-2010 dan Ketua CSIS), dan KH. Abdul Muchith Muzadi (Tokoh penting
dibalik kembalinya NU ke khithah 1926).
Peninggalan masa lalu yang sampai kini masih dapat ditemui antara lain Watu
Gilang, Makam Sunan Bonang. Makam Ronggolawe, Masjid Agung Tuban dan
Klenteng, yang semua terletak di wilayah Kutorejo dan Kajongan. Sedang, di
Kelurahan Latsari terdapat Klenteng Kwan Sing Bio. Ronggolawa adalah salah satu
134
prajurit Raden Wijaya, ia sangat berjasa dalam membantu berdirinya Kerajaan
Majapahit. Saat Raden Wijaya menjadi Raja Majapahit, Ronggolawe diangkat
menjadi adipati Tuban. Adipati Ronggolawe adalah Adipati yang adil dan bijaksana,
ia sangat menjunjung tinggi sifat-sifat seorang ksatria sejati. Rakyat Tuban pun
sangat mencintai Adipati Ronggolawe mampu membawa rakyatnya ke puncak
kemakmuran.59
Tiga tokoh utama yang hingga saat ini dikenal oleh masyarakat Tuban dan
menjadi tujuan utama ziarah makam wali, yaitu Sunan Bonang, Syekh Maulana
Ibrahim Asmaraqandi, dan Mbah Bejagung. Makam Mbah Bejagung atau Mbah
Modin Asy’ari. Dalam keyakinan lokal Mbah Modin Asy’ari adalah orang yang
membikin benteng Kumbakarna dalam waktu semalam. Juga ditanyakan bahwa
Mbah Modin Asy’ari inilah yang menghidupkan lampu-lampu masjid di Masjid al-
Haram di Makkah al Mukarramah. Karena kesaktiannya itulah, makamnya banyak
dikunjungi orang. Benteng Kumbakarna sekarang hanya tinggal gundukan tanah di
sebelah utara jalan menuju pasar Tuban dari arah Surabaya atau tepatnya di
Kelurahan Kebonsari.
Nama Sunan Bejagung adalah Sayyid Abdullah Asy’ari bin Sayyid
Jamaluddin Kubro. Menurut salah seorang Kyai di Tuban, Sayyid Abdullah Asy’ari
tidak sama dengan Mbah Asy’ari (Syekh Asy’ari). Sayyid Abdullah Asy’ari bin
Sayyid Jamaluddin Kubrp adalah adik Sayyid Maulana Ibrahim Asmaraqandi (ayah
59
Santosa, Edy, Cerita Rakyat dari Tuban Jawa Timur, (Jakarta : Grasindo, 2004) hal. 32
135
Sunan ampel) dan termasuk kelompok Pra Wali Songo. Sayyid Abdullah Asy’ari
bermukim di Bejagung Tuban, setelah wafat dimakamkan di kompleks makam
Bejagung Lor, Kecamatan Semanding, yang sekarang disebut Sunan Bejagung.
Sedangkan ,makam Mbah Asy’ari (Syekh Asy’ari) ada di kompleks makam Bejagung
Kidul dan masa hidupnya bersamaan dengan pangeran Dalem, Bupati Tuban ke
XVII.
Ibu dan kakak perempuan Sunan Bonang, Nyai Ageng Manila dan Nyai
Ageng Manyuro, beserta murid-murid Sunan Bonang juga dimakamkan di Tuban.
Sedangkan Maulana Iskak, kakak Sunan Ampel, yang wafat pada tahun 1460,
dimakamkan di desa Gesikharjo Kecamatan Palang. Di wilayah Semanding (Makam
Tapakan) juga terdapat Makam Pangeran Penghulu, Kebayan Tuhu, dan Kyai
Sudimoro. Sedang di desa Ngepon yang merupakan utusan Brawijaya dan Majapahit.
Petilasan yang berupa barang, diantaranya Keeramik China dan Belanda (dari
abad ke 18), Batu Granit (dari luar Jawa) di Desa Bancar, pecahan Keramik China
(abad ke 10 sampai abad ke 14) di Dukuh Bagobg, dan Keramik China (abad ke 12)
di situs Sawah Gong. Sedangkan pecahan Keramik China dari Dinasti Ming
ditemukan di sepanjang Pantai Sedayu Lawas sampai Banjarwati (Karangbeling).
Ketokohan “Kadipaten Tuban” pernah bersinar di kala pemerintahan Islam
Jawa, diawali dari Kerajaan Bintoro, yang diiringi dengan kebesaran “Wali Songo”,
yang mana ketokohan Sunan Bonang adalah presentasi dari “Kadipaten Tuban”.
Maka tak salah kiranya jika kepemimpinan Kabupaten Tuban di bawah Bupati, H.
136
Fathul Huda, dan Wakil Bupati (Wabup), Ir. H. Noor Nahar Hussein, M.Si berporos
pada nuansa religius pula.
Niatan untuk menggelorakan nuansa religius terlihat dari getolnya pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Tuban dalam syiar keagamaan di setiap even penting
pemerintahan. Mulai dari safari jum’atan, pengajian sabtu pagi di Musholla
kompleks pendopo Kridha Manunggal Tuban, serta perhatiannya terhadap lembaga-
lembaga keagamaan dan lainnya.
Salah satu program yang tak pernah muncul sebelumnya, dan muncul saat
pada kepemimpinan Pak Huda dan Pak Noor Nahar, adalah memberikan bantuan
operasional kepada rumah-rumah ibadah yang sudah terealisasi pada tahun 2011 dan
tahun 2012. Semangat Pemkab Tuban dalam rangka menstimululasi maraknya
kegiatan di rumah-rumah ibadah sangat diapresiasi segenap lapis masyarakat Tuban.
Pemerintah Kabupaten Tuban terus mendorong geliatnya sektor pariwisata.
Seiring dengan itu menggelorakan tumbuhnya industri kreatif di segala bidang, baik
yang mendukung sektor pariwisata, maupun bidang-bidang yang lain.
Kabupaten Tuban memiliki sejumlah potensi Wisata Alam. Beberapa potensi
itu telah menjadi daya tarik wisata masyarakat, serta diupayakan terus
penyempurnaan fasilitas pendukungnya. Potensi Wisata Alam yang dimiliki, antara
lain, Goa Akbar, terletak di jantung kota Tuban, Goa Ngerong, berada di Kecamatan
Rengel, Pemandian Alam Bektiharjo, berlokasi di Kecamatan Semanding, Pemandian
Air Hangat Prataan, di Kecamatan Parengan, dan Air Terjun Nglirip, menghiasi
Kecamatan Singgahan.
137
Selain Wisata Alam, Bumi Wali juga memiliki potensi Wisata Bahari, potensi
wisata kelautan yang masih alam, yaitu Pantai Sowan, berada di pesisir pantai
Kecamatan Bancar. Sampai saat ini, daya tarik Pantai Sowan masih mempesona.
Keberadaan potensi Wisata Bahari terus menggelitik Pemkab Tuban. Saat ini terus
memoles keberadaan Pantai Boom Tuban, pantai Boom Tuban memiliki nilai-nilai
kesejarahan. Bahkan letaknya sangat strategis, sebelah Utara alon-alon kota Tuban.
Wisata Laut Kambang Putih yang berlokasi di Desa Sugihwaras Kecamatan
Jenu pun memiliki daya tarik wisatawan. Keberadaannya hasil rekayasa positif
Pemkab Tuban, yakni memanfaatkan keindahan pesisir pantai Desa Sugihwaras
Kecamatan Jenu.