0166 Ba Fmipa 2009 PDF
0166 Ba Fmipa 2009 PDF
ANALISIS l(UANTITATIF
t
I
.f I , • �'.'
.;
• ;,
:: .,,
. ';• ,. -:. :. .
.......
-���-�-�-��-DlDT�SETJYOvVf[fO_b_d
RUM HASTUTI
GUNAWAN
ANALISIS KUANTITATIF
dipersernbahkan kepada:
•
"Institusi Jurusan Kirnia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro"
I •
"Mahasiswa
•
"Orang-orang tercinta
yang melahirkan inspirasi dan motivasi bagi penulis"
iii
. - ., --· ...
, . _.. -�····-�·-··- ·-·
I
I
\
i
BIOGRAFI PENULIS
(e-mail: [email protected])
\
Didik Setiyo Widodo
Lahir di Ponorogo Jawa Timur.
Setelah menyelesaikan sekolah W, SMP dan SMA
di tanah kelahiran, kemudian menempuh pendidikan Strata 1
di Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam .
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Semasa kuliah aktif pada organisasi
kemahasiswaan disamping mengajar pada lembaga pendidikan.
Tahun 1993 menjadi Asisten Dosen untuk mata kuliah
Kimia Dasar. Memulai karir Pegawai Negeri
pada tahun 1998, sebagai Pengajar pada
J urusan Kimi a F111P A
Universitas Diponegoro bersamaan
dengan tugas belajar S-2 (1997) pada jurusan
yang sama dengan pendidikan S-1. Bidang keahlian
mencakup Kimia Analitik, Elektrosintesis dan elektroanalisis.
Buku ajar interaktif ini merupakan pengalaman pertama dalam penulisan buku.
Rum Hastuti
Lahir di Jogjakarta. Setelah
menyelesaikan SD, SMP dan SMA di tanah kelahiran,
kemudian menempuh pendidikan Strata 1 di Jurusan Kimia Fakultas MIPA
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Semasa kuliah aktif
pada organisasi kemahasiswaan. Di bidang
akademik pernah aktif
menjadi asisten laboratorium Kimia Dasar
IV
dan Kimia Analitik. Memulai karir Pegawai Negeri pada tahun 1979,
sebagai Pengajar bidang kimia pada Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro.
Tugas belajar S-2 padajurusan yang sama dengan
pendidikan S-lditempuh pada tahun 1993. Bidang keahlian
mencakup Kimia Analitik, Kimia Lingkungan dan elektroanalisis.
Bahan ajar interaktif ini merupakan pengalaman pertama dalam penulisan buku.
Gunawan
Lahir di Pasuruan Jawa Timur.
Sekolah SD, SMP dan SMA di tanah kelahiran,
kemudian menempuh pendidikan Strata 1 di Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta. Semasa kuliah aktif pada organisasi
kemahasiswaan disamping mengajar
pada lembaga pendidikan.
Memulai karir Pegawai Negeri pada tahun 1990,
sebagai Pengajar pada Jurusan Kimia FMIP A Universitas Diponegoro.
Gelar Magister diraih di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
pada jurusan yang sama dengan pendidikan S-1.
Bi dang keahlian mencakup kimia anaHtik,
biosorpsi logam berat dan elektroanalisis. Bahan ajar ini merupakan
pengalaman pertama dalam penulisan buku interaktif
v
.. - . - ..
- - - - -..-- .. - __ ..... --- - -- -- --·- --·-·-· ·-·-·-�-- .. ,-- .. ·· - --·---· ----·-�-----" --····-" ·-·
.-·, .,. ..
KATAPENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Illahi atas anugerah ilmu dengan
bimbingan rahman dan rahim-Nya kepada kita, hingga akhimya penyusun dapat
menyelesaikan penulisan bahan ajar ini.
Kita menyadari bahwa kimia analitik merupakan cabang ilmu kimia yang
berperan sebagai alat bagi perolehan data-data kimia yang mensyaratkan tingkat
presisi dan akurasi yang tinggi. Sebagai tool maka cabang-cabang kimia lain bahkan
melintas ke sektor interdisipliner; bidang kesehatan, pertanian, biologi, lingkungan
hingga eksplorasi perut bumi dan angkasa luar mutlak memerlukan analisis kimia.
Meski untuk keperluan ini dituntut tingkat pemahaman dan cam analisis yang
komprehensif, dari kajian kualitatif hingga kuantitatif instrumental tingkat tinggi,
namun sangat.tidak mungkin untuk merangkum seluruh kajian tersebut hanya dalam
satu buku ajar. Sehingga buku ini disusun untuk menjadi bagian dari kontek kajian
yang luas tersebut dan tidak dapat dipisahkan dari pendekatan lain suatu kajian
analisis dan bahan studi ilmu kimia lain.
Berpijak dar:i fakta di atas, Bahan Ajar Analisis Kuantitatif ini didesain
dengan penekanan pada konsep dasar analisis kuantitatif klasik (semata) sehingga
diharapkan pemakai akan memiliki kemampuan nalar yang tinggi untuk
menyelesaikan pennasalahan analisis kuantitatif klasik dan mengembangkannya ke
arah dan proporsi yang sejajat fi antara metode analisis kuantitatiflainnya. Penyusun
juga meletakkan kesejajaran �eran dan saling membutuhkannya antara analisis
--�--k:l:1a:litat+f, kuantitatif-darranaltsis modem(lnstrumental J.
Muncul sebagai edisi pertama, bahan ajar ini akan terus ditingkatkan sisi
kualitas dan desain penyajiannya sehingga akan tampil lebih menarik dan aktual.
Untuk keperl.uan tersebut penyusun mengharapkan adanya input dari para pengguna
dan pembaca; mahasiswa dan kolega. Faktor ini akan menjadi bagian penting bagi
pencerahan paradigma penyusun dalam menyajikan bahan ajar yang ideal.
Penyusun
VI
DAFTAR ISI
Persembahan 111
Biografi Penulis lV
Pengantar V1
Daftar Tabel Xl
Silabus Xll
\111
BAB IV Titrasi Redoks 79
Perubahan Potensial Reduksi selama Titrasi 79
Penentuan titik akhir titrasi 80'
Titrasi Perrnanganometri 91
Titrasi Bikromatometri 99
Titrasi Bromatometri 101
Titrasi Iodometri dan Iodimetri 104
Latihan dan Soal 114
I
BABV Analisis Gravimetri 121
Pendahuluan 121
Metode, Kemurnian dan Kondisi Pengendapan 122
l Tahap-tahap Analisis Gravimetri 125
\
Pereaksi Pengendap Organik 127
I Aplikasi 130
Contoh, Latihan dan Soal 137
V111
DAFTAR GAMBAR
IX
-- .•. -
- .... . - . -· - - . � .. . .. -·- - ...
Gambar 7.4 Ilustrasi perpindahan ion di dalam larutan sebagi akibat gaya
tarik elektrostatik antara ion-ion dan elek:troda 161
Gambar7.5 Aparatus elek'rogravimetri (elektrodeposisi) logarn tanpa
kontrol potensial katoda 169
Gambar 7.6 Sistem peral.atan elektrogravimetri (elektrolisis) pada
potensial terkontrol 171
Gambar 8.1 Skema penetapan nefelometri dan turbidimetri 179
Gambar 8.2 Absorpsi cahaya oleh larutan 181
Gambar9.l Gelornbang elektromegnatik 191
Gambar 9.2 Perubahan panjang gelombang ketika radiasi melewati
udara-gelas-udara 192
Gambar 9.3 Hubungan transmitansi terhadap absorbansi sebagai fungsi
logaritma 195
Gambar 9.4 Konfigurasi sistem instrumen pada metode absorpsi 196
Gambar9.5 Konfigurasi sistem instrumen pada metode fluoresensi dan
hamburan 196
Gambar 9.6 Konfigurasi siste.m instrumen pada metode ernisi 197
Gambar9.7 Kurva standar dalam penentuan konsentrasi analit secara
intrapolasi 199
x
DAFTAR TABEL
xi
. , _ � . - ,_. . -- - .. . -··
-- -· ·-· .. ...... -·· .--
SILABUS
ANALISIS KUANTITATIF
KIM232
3 SKS
Xll
BABI
DASAR-DASAR ANALJSJS KUANTITA TIF
Mahasiswa mengetahui beberapa reaksi dasar yang rnenjadi reaksi basis analisis
kuantitatif; memahami reaksi-reaksi tersebut hingga mengetahui hubungan gram
mol dan gram ekivaJen spesies-spesies yang berinteraksi pada reaksi tersebut;
memiliki kemampuan dalam membuat larutan berbagai zat dan larutan standar
untuk analisis dan rnarnpu menye]esaikan problem kuantitatif analisis
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif
�������-I.-l�R_e_a_ks_i_-1_·e_a_ks�iD�a-sa_1_·A�n_a_li_si_s--,aa���������
-:--����������
JL:
adalah EDT A. Gambar I.1 berikut memaparkan struktur molekul dan tiga dimensi
EDT.A.
EDTA
Struktur 3D
Referensi: www.camsoft.com
E-mail : [email protected]
Struktur moleh1l
Referensi : \VW\V. cams oft. com
E-mail: [email protected]
Mol merupakan satuan massa, disamping gram molekul, gram ion dan sebagainya.
Dengan mengadopsi definisi ini satuan massa dalam ekivalen (dan konsentrasi dalam
normal) mulai ditinggalkan dalam kontek konsep dan tetap penting untuk digunakan
dalam aspek praktis, sebagaimana direkomendasikan oleh TIJPAC tentang definisinya
sebagai berikut
Pada definisi tersebut jum]ah hidrogen yang dimaksud digantikan oleh jumlah
ekivalen listrik atau satu e.kiYal.en.zatJain..pada-reaksi-ter-tentu,--sebagai-contoh-:------
Larutan satu normal didefinisikan sebagai larutan yang mengandung satu ekivalen
zat per liter, yang secara tegas menggunakan konsep ekivalen, Pentingnya
penggunaan konsep ini pada aspek praktis dibicarakan lebih lanjut pada subbab
berikut.
Reaksi Netralisasi, Ekivalen suatu asarn adalah jumlah massa asam yang
mengandung 1,0078 gram hidrogen yang dapat digantikan oleh atom lain. Ekivalen
suatu asam rnonoprotik, seperti HCl, HBr, HN03 sama dengan jumlah mol asam,
sehingga satu normal larutan asam monoprotik mengandung I mol per liter larutan.
Ekivalen suatu asam diprotikdan triprotik sama dengan Yi dan 1/3 rnol. Ekivalen
suatu bass ada]ah jurnlah massa basa tersebut yang mengandung satu gugus hidroksil
yang dapat digantikan oleh atom atau gugus Iain, yaitu sebesar 17,008 gram hidroksil.
Ekivalen natrium hidroksida sama dengan jumlah molnya, dan kalsium hidrksida
sama dengan Yz mol. Garam-garam dari basa kuat dan asam lemah mengalami reaksi
alkalin karena pengaruh hidrolisis . Satu mol natrium karbonat bereaksi dengan 2 mol
asarn klorida rnernbentuk 2 mol natrium klorida, sehingga satu ekivalen garam ini
sama dengan � mol.
1,0078 g hidrogen atau 8,000 g oksigen (Yi mol oksigen). Jumlah oksigen yang
tersedia dapat ditentukan dengan menuliskan persamaan hipotetik. Misalnya, untuk
KMn04 reaksi hipotetik dapat dituliskan sebagai
I
I
I Dari persamaan ini terlihat bahwa dalam suasana asam, 2 K.Mn04 menghasilkan 5
atom oksigen yang dapat ditangkap oleh suatu agen pereduksi, sehingga ekivalen
KMn04 sama dengan 1/5 mol.
Metode lain adalah dengan memperhatikan jumlah elektron yang dilepaskan
atau ditangkap oleh zat dalam reaksi dan perubahan bilangan ok.sidasi unsur utama
agen pereduksi atau pengoksidasi. Pada metode kedua, satu ekivalen zat adalah
jumlah mol zat yang dimaksud yang dapat menerima (oksidator) atau melepaskan
(reduktor) sebuah e1ektron. KMn04 pada suasana asam menangkap 5 elektron, maka
satu ekivalen K.Mn04 sama dengan 1/5 mol.
Metode ketiga, perubahan bilangan oksidasi. Satu ekivalen zat adalah
banyaknya mol zat yang dimaksud yang dapat mengalami perubahan satu satuan
bilangan oksidasi. Pada reduksi K2Cr201 menjadi 2 Cr3+ bilangan oksidasi Cr
berubah 6 satuan. Sehingga I ekivalen K2Cr207 sama dengan 1/6 m.ol.
Konsep di atas sangat membantu dalam pembuatan Iarutan standar, sehingga
mempermudah da mempecepat perhitungan dalam analisis volumetri.
dengan V1, V2 adalah volume larutan pekat dan volume setelah pengenceran, N1 dan
N2 berturut-turut adalah nonnalitas larutan pekat dan setelah pengenceran.
Apabila konsentrasi zat belum diketahui, untuk membuat larutan dengan
normalitas tertentu diperlukan data kerapatan dan kadar zat tersebut. Misalkan
kerapan cairan, L g/mL maka setiap 1 mL cairan merniliki berat sebesar L gram.
Cairan dengan kadar K % berat, maka setiap 100 gram cairan, mengandung zat
murni sebanyak K gram. Berarti setiap 1 mL cairan mengandung zat murni
sebanyak (UlOO) K gram, atau = (L . KI 100) gram, maka untuk x mL cairan,
terkandung zat mumi sebanyak x . L . K I 100 gram
10.x.K.L
=---- mmol
Mr
10.x.K.L.n k
mgre
Mr
Untuk membuat larutan dengan normalitas N, harus terkandung N grek zat terlarut
dalam setiap 1 L larutan, dan setiap V mL Jarutan N, terkandung V.N mgrek. Maka
10.x.K.L.n = N.V
Mr
Sehingga x= N. V.Mr mL
10.n.K.L
Apabila reagen tersedia dalam kondisi yang tidak murni, larutan standar harus
distandardisasi dengan Iarutan standar primer; Larutan standar primer dipreparasi dari -
zat standar primer. Suatu zat standar primer hams memenuhi syarat sebagai berikut:
Tugas I : Diskusi
Contoh
Contoh 1:
Hitung berapa gram 1 ekivalen H2S04·?
Jawaban: Dari definisi di atas, I ekivalen suatu asam sama dengan jumlah asam
tersebut yang mengandung 1,0078 gram hidrogen. H1S04 adalah. suatu
asam diprotik sehingga ekivalen suatu asam sama dengan Yi mol, maka
soal di atas, I ekivalen H2S04 sama dengan Yi. 1 mo!= 49,039 gram.
Contoh 2:
Hitungjumlah mol At yang digunakan untuk bereaksi dengan 1 ekivalen HCl?
Contoh 3:
Dengan membuat persamaan hipotetik untuk oksidasi H2C204, tentukan hubungan
gram ekivalen terhadap mol asam oksalat.
Contoh 4:
Hitunglah nonnaiitas HCI yang dibuat dari pengenceran asam pekat dengan kadar
40 % dan kerapatan 1,1980 gr/mL !
Latihan
3. Tentukan hubungan gram ekivalen terhadap mol bahan berikut dengan menyusun
reaksi hipotetik reduksi atau oksidasinya :
a. KMn04 dalam suasana asam dan basa,
Kuis
TITRASI N ETRALISASI
Reaksi asam-basa
Menghitung pH selama titrasi
Pemilihan indikator
Titrasi asam kuat dengan basa kuat
Titrasi basa kuat dengan asarn kuat
Titrasi asam lemah dengan basa kuat
Titrasi basa lemah dengan asam kuat
Titrasi asam lemah dengan basa lemah
Titrasi asam poliprotik dengan basa kuat
Titrasi pemindahan
Reaksi ini merupakan reaksi transfer proton dari molekul air satu ke rnolekul yang
lain, dan mengalami kesetimbangan. Tetapan kesetimbangan air, Kw dirumuskan
sebagai
Kw = a1-1+ x aoH
-
dengan a adalah aktivitas ion. Aktivitas air, au,o . dalam Jarutan encer adalah satu .
. I-Targa K, di atas merupakan fungsi temperatur; K.,�. = 1,008-. 10· 14 pada 25 ° c:
Titrasi Nerralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 14
\
Apabila suatu asam (misalnya asam asetat) dilarutkan di dalam air, maka
reaksi peruraian asam, HOAc adalah :
Air dalam reaksi ini berperan sebagai basa dan OAc- merupakan basa konjugasi asam
asetat. Tetapan kesetimbangan untuk reaksi transfer proton ini merupakan tetapan
disosiasi asam yang didefinisikan sebagai:
all+ X aOAc
Ka=
aHOAc
Reaksi antara ion asetat (basa konjugasi dari asam asetat) dengan air adalah
HOAc + Off
Kb = aHOAc x aOir
aOAc-
Hasil kali kedua tetapan kesetimbangan tersebut di atas sama dengan hasitkalij _
-----fitm air.
Kw = Ka x Kb
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 15
Kb = aNH. • x aoH
dan K, =Ka x Kb
aNH1
Titrasi N etralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 16
\
1
I
3. menghitung pH pada saat titik akivalen,
4. menghitung pH sesudah titik ekivalen.
l Untuk menghitung pH Iarutan-Iarutan di atas digunakan perumusan
sebagaimana diturunkan pada [Mata Kuliah Analisis Kualitatif].
Titrasi Netralisasi
I Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 17
dengan 1 menrpakan koefisien aktivitas dan K1n adalah konstanta ionisasi indikator,
Bila koefisien .aktivitas diasurnsikan berharga 1, rnaka persamaan di atas dapat
disederhanakan rnenj adi
Persamaan di atas menunjuk.kan bahwa wama indikator, yang bergantung pada rasio
konsentrasi bentuk tak terion dan bentuk terion suatu indikator, berbanding lurus
dengan konsentrasi ion hidrogen. Dengan memberikan fungsi -log (= p) maka
persamaan tersebut menjadi :
[OH]= [lnOH] x K .
[J,t] Ill
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 18
In A
- -- H + + Tn B
aH, x abta
dengan ko.nstanta kesetimbangan : K,n = ----
Wama indikator yang tampak ditentukan oleh harga rasio konsentrasi bentuk asam
dan basa tersebut. Dengan asumsi koefisien aktivitas ion adalah satu, maka dengan
modifikasi, persamaan di atas dapat dirumuskan sebagai
dengan K '111 merupakan konstanta indikator nyata. Secara empiris ditunjukkan bahwa
mata manusia dapat mengamati perubahan gradasi dua warna bi.la logaritma rasio
tersebut sekitar 10, atau harga rasio sekitar l. Interval perubahan warna yang dapat
teramati akan berada pada daerah selebar 2 satuan pH. [Tabel 2.1] berisi daftar
indikator yang sering digunakan pada analisis kuantitatif volumetrik (titrimetri) dan
kolorimetri, sedangkan interval perubahan warna beberapa indikator d.isajikan pada
[Gambar2.1J.
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 19
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 20
"�B�8lffi�!lm�·
. . '¥atlllijn1lil�r
Neutral red Amino-dimetilamino- 6,8-8,0 me rah orange
tolu-fenozonium
klorida
�rp'�:trmre··fffo·n·1-prrue'Ml!l1.�rr���l
, .mtri1,nftffffE''".'.n;e·,'Hn1�"0·'!.:"""'t·-fWS,t}fn�o�1n"'am-JRa"�,e:ffll nn�mtU.!lt1}lfi6,-,�-8-'l;fil l!�ffl'�Tim1f1,U.ii�f·ff�(nf:!P"�;.IP,!�:4-µram�m"{.lh!e)r�!1a�cr·:,t;i;'fHJt}�;::fmr,r{"7fg"'1m_f,]
}i_i.,��Jl�if�J!tmrutU!ill!11ID,lF.:�£... U"'>MA•;J;... �!�.....�!. . :L . -l:�mb·ttrm, ... 1.-.•-::tm:h��f:tJ':H�t:P�..-.8"liti!f!�tEw�'!,: �---��·�·-·!!illtl1�::�Jµt_:?rn�1l!Jt.• ,�:�,t'\1
Cresol red (basa) l-Kresol-sulfona- 7,2 - 8,8 kuning merah 8,2
ftalein
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 21
Pada penambahan tetes demi tetes NaOH pada larutan HCl, pH HCl akan
berubah secara bertahap seiring dengan jumlah volume NaOH yang ditambahkan. pH
teoritis larutan selama titrasi adalah :
1. pH laruan awal merupakan pH suatu asam kuat :
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 22
Kurva titrasi disajikan pada [Gambar 2.2]. Apabila disyaratkan bahwa kesalahan
maksimum yang diijinkan adalah 10 %, yaitu pada kelebihan 2 mL penitrasi maka
indikator yang dapat dipilih untuk digunakan antara lain adalah indikator metil
merah (methyl red) dengan rentang pH 3,1 - 4,4 atau pp (phenolphthalein)
dengan rentang pH 8,3 - 10,0.
Tro aeolin O
Nitramine
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
pH
Titrasi Netralisasi
��������������������
Bohan Ajar Analisis Kuantitatif 23
14
c:
ro
:i
,._ 12
�
� 10
0 .0. . �---,.------"T------,.------T------r------��
5, 10 15 20 25 30 35
Volume NaOH
-,.
1\.w
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 24
Pada titik ekivalen, dengan konsentrasi ion hidronium dan hidroksida adalah
samamak.a
Contoh
Titrasi I 00 mL asam kuat HCl dengan basa kuat NaOH. pH larutan asam
mula-mula adalah nol. Apabila 50 mL NaOH IM telah ·ditambahkan maka 50 mL
HCl masih belum dinetralkan di dalam sistem dengan jumlah volume total larutan
adalah 150 mL.
,I [W] pada penambahan tersebut adalah 50 x 11150, atau sama dengan
3,33 . 10·1 M, sehingga pH= 0,48.
,I .Pada penambahan 75 mL NaOH; [HJ = 25 x 1/175 , atau sama dengan
1,43. 10·1 M, sehingga pH = 0,84
,I Pada penambahan 90 mL NaOH; [HJ 10 x 1/190, atau sama dengan
5,26. 10-1 M, sehingga pH = 1,3
./ Pada penambahan 98 mL NaOH; pH = 2,0
v' Pada penambahan 99 mL NaOH; pH= 2,3
./ Pada penambahan 99,9 mL NaOH; pH = 3.3
./ Pada penambahan 100 �L 1-�aOH, pH ak�n naik tajam sampai 7,0
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 25
../ Pada penambahan 100,1 mL NaOH� [Off] = 0,1 x 1/200,1 = 5,00. 10-4 M,
pOH = 3,3 dan pH = 10,7
../ Pada penambahan 101 mL NaOH; [Off] 1/201 = 5,0 .10-3 M, pOH = 2,3
dan pH = 11,7
Dari perhitungan di atas tampak bahwa seiring dengan titrasi berjalan pH larutan
mula-mula naik secara perlahan. Pada penambahan 99,9 mL dan 100, l mL NaOH pH
larutan melonjak dari 3,3 menjadi l 0,7. Dengan kata lain, di sekitar titik ekivalen laju
perubahan pH larutan berlangsung sangat cepat.
Tabet di bawah ini memuat perubahan pH larutan selama titrasi HCl dengan
NaOH pada konsentrasi yang berbeda-beda. Kolom pH larutan untuk konsentrasi
penitrasi, NaOH 0,1 M dan 0,01 M dihitung dcngan cara yang analog dengan cara di
atas,
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 26
14
I
a.
12
10
-i4r-HCL 1 M
8
6 -t-HCI0,1 M
-HCI0,01 M
Titrasi Basa Kuat dengan Asam Kuat. Kurva titrasi basa kuat dengan suatu
asam kuat diperoleh dengan earn yang analog dengan titrasi asarn kuat dengan basa
kual. Sebelum titik ckivalen, Jarulan bersifat sanga; basa dengan konsentrasi .ion
hidroksida sama dengan konsentrasi larutan basa mula-mula, Pada titik ekivalen
larutan bcrsifat nctral dan akan rncnjadi bcrsifat asam pada penambahan Icbih lanjut
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 27
pH= Iog�Ka.[HA]
[garam]
+ I og�--
[HAt,.v,,
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 28
[ Contoh ]
[ Kurva Titrasi ]
Titrasi asam Iemah, 100 mL HCH.,COO 0,1 M (Kn = 1,82. 10-5) dengan basa
kuat NaOH 0,1 M
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 29
umum HA 0,1 M dengan Ka= 1 . 10-7. Kolom pH larutan untuk asam ini dihitung
dengan cara yang analog dengan cara di atas.
I
I
l
l
I
0
10.
2,9
3,8
4,0
6,0
25 4,3 6,5
\
I 50
90
4,7
5,7
7,0
8,0
1I 99 6,7 9,0
l
99,5 7,0 9,3
99,8 7,4 9,7
1
99,9 7,7 9,8
100,0 8,7 9,9
100,2 10,0 10,0
100,5 10,4 10,4
101 10,7 10,7
110 11,7 11, 7
125 12,0 12,0
150 12,3 12 3
200 12,5 12,5
Titrasi Basa Kuat dcngan Asam Lemah .. Kurva titrasi basa kuat dengan
suatu asam lemah diperoleh dengan cara yang analog dengan titrasi asam iemah
dengan basa kuat. Sebelum titik ekivalen, larutan bersifat basik dengan konsentrasi
ion hidroksida sama dengan konsentrasi basa mula-mula, Pada titik ekivalen larutan
bersifat busik dun ukan -menjadi bersifat lebih asam pada penumbahan lebih lanjut
volume asain penitrasi. Konsentrasi ion hidronium H30+ sama dcngan konsentrasi
kclcbihan asam.
Titrasi Nctrnlisasi
\
I
I Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 30
\
\I
!
II 14
I
I
12
I 10
-2
c:
\l Ctl 8
..!!!
:c
I 0.
6
4
-+-0, 1 M asam asetat
2 --0,1 MHA
o ...__... .,.. ,...__.., __
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200
Gambar 2.4 Kurva titrasi .isam lemah (asam asetat dan HA) dengan basa
kuatNaOH ·
pH= 7,0
Titrasi .Netralisasi
__________________B_a_h_a_n---=Aj_ar Analisis Kuantitatif 31
dan Ka1 > Ka2 > Ka3 > ... >Ka0 . Suatu basa poliprotik memiliki analogi dengan
konsep tersebut.
Apabila angka banding antara Ka satu dengan Ka lain secara berturut
memiliki harga faktor sebesar 104 hingga 105, maka asam poliprotik dianggap
sebagai campuran beberapa asam rnonoprotik yang memiliki harga Ka sendiri-
sendiri. Titrasi asam poliprotik yang demikian akan dijumpai adarrya lebih dari satu
titik ekivalen.
Suatu contoh asam poliprotik adalah asam fosfat, H3P04. Asam fosfat akan
mengalami reaksi dissosiasi sebagai berikut:
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 32
Kai = [H+][H2P04-]
[H3P04]
Ka = [H+][HPO/]
2 [H2P04]
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 33
[MH(ni)A]
pH= pKa1 + log--��--
[H,,A] nntln=nnila
So' pH pada titik ekivalen I:
dan seterusnya, untuk pH pada t:itik ekivalen ke-n merupakan pH suatu garam
terhidrolisis :
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 34
[ Contoh]
8
= 2,148 + log --- =2,75
(10- 8)
3. pH pada titik ekivalen I = 'h ( pKa1 + pKa2)
= 'h ( 2,148 + 7,199)
=4,67
4. pH pada penambahan 12 mL NaOH:
[garam]
pH =pKa2+log ,
[asam]
=7,199+log2/8*)
NaH2P04 + H20
1 mmol
NaH2P04 + NaOH
1 rnmol ( 2 . 0.1 \ mmol
.__I ,. 0.2 mmol
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 35
0,71:
Sehingga pH= 7,199 + log 0,&)2,
/22
dan diperoleh pH = 6,597
�H = 7,8
6. pH pada titik ekivalen II = 1/z ( pKa2 + pKa3)
= 1/z ( 7,199 + 12,346)
= 9,773
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 36
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 37
• pH sebelum titik ekivalen : pH buffer asam (sistem Na2C03 sisa dan NHC03
terbentuk)
• pH pada titik ekivalen I(==: 'Ii netral) = 'Ii ( pKa1 + pKa2)
• pH sesudah titik ekivalen I : ·pH buffer asam (sistem NaHC03 sisa dan H2C03
terbentuk)
• pH pada titik ekivalen II : pH asam lernah yang terbentuk , H2C03
• pH sesudah ekivalen ke II: pH asam kuat (sisa HCl).
11 NaHC03+HCl indikator mo
Perhatikan bahwa pada titik ekivalen I Jarutan terdiri dari campuran NaCl dan
NaHC03 . Apabila titrasi tahap l mernerlukan HC1 sebanyak a mL dan b mL pada
tahap II, rnaka dalam V mL campuran
• NaOH = volume HCl PP - volume HCl mo
= ( aX - bX ) mmol
= X (a-b) mmol
atau =40.(a-b)Xmgram
• Na2C03 = 2 . volume HCI m�
=2. bXmgrek
= 2. 11:z • bX mmol
=bXmmol
atau = 106 . bX mgram
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 38
[ Contoh soal ]
PENYELESAIAN :
3X/56 XJ20
Karena: Jumlah mol KOH> mol KHC03,
maka campuran yang terbentuk terdiri dari K2C03 dan KOH sisa .
. K2CO
l--�������-=--=
1'""'". =_;X/20 m111-0J... = 2..xJ2.D...mgzek = X/.1-0-mgr.ek.,----------
KOH sisa = ( 3X/56-3X/60) mmof = 3X ( J/56 -1160) mgrek
= 251250. X/10
= XI100 mgrek (2)
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 39 .
Dari titrasi :
• KOH sisa = volume HCI (pp - mo)
= { ay - ( by - ay ) } mgrek
= y (2a - b ) mgrek (3)
Sehingga y(2a-b) = 0,3X91156-1160) (4)
= 2 . volume HCI mo
=2. (by-ay)
= 2y (b-a) (5)
Sehingga X /JOO= 2y ( b - a) (6)
b-a =Xl200y
atau b =X/200y + a (7)
Latihan:
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 40
2. Di laboratorium seorang mahasiswa akan membuat 500 rnL larutan HCI O,lN.
Untuk maksud tersebut ia mengencerkan 3,9 mL HCI pekat yang kerapatan
dan kadarnya bertumt-turut 1,29 gr/mL dan dan 39,71 % bib hingga
volumenya tepat 500 ml. Larutan hasil pengenceran digunakan untuk
menitrasi 25 ml larutan basa lemah MOH (Kb = 1,82 . 10 -s ) yang pH-nya
11,13.
a. Hitunglah faktor normalitas larutan HCl encer ! (4 tempat desimal )
b. Hitunglah molaritas larutan MOH mula-mula !
c. Hitunglah pH setengah netral larutan yang dititrasi ! Beri ulasan
tentang harga tersebut !
d. Berapa ml larutan HCJ yang telah digunakan untuk: menitrasi
MOH, pada saat pH larutan 3,303 ?
4. Suatu cuplikan berbentuk serbuk, da1am larutan encer bersifat alkali, yang
dimungkinkan adalah salah satu campuran K2C03 dan KOH atau K2C03 dan
KHC03. Hitunglah jum1ah persen masing-rnasing komponen dalam
campuran tersebut, apabila diperoleh data sebagai berikut:
Titrasi Netralisasi
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 41
Pada titrasi dengan indikator pp dari larutan yang mengandung 1,5 gram
cuplikan dapat bereaksi dengan 26,27 mL larutan HCl 0,3333 N; dan dengan
indikator mo dari larutan yang mengandung cuplikan dengan berat tersebut
memerlukan HCl sebanyak 59, 17 mL.
2. Suatu indikator asam 1emah monobasa didalarn 1arutan asam tidak berwarna,
dan berwama biru pada kondisi basa. Apabila wama biru tampak saat 2/5
bagian indikator telah berubah menjad:i ion-ionnya, dan saat itu besarnya pH
Jarutan adalah 10,4, tentukan tetapan ionisasi indikator tersebut !
3. Seorang mahasiswa rnenitrasi .larutan bash lernah .MOH dengan Iaruan HC1
encer. Pada saat penambahan HCI rnencapai 15 mL larutan merniliki pH
Titrasi Netra1isasi
I Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 42
1���������·
4 07Q_gram dititrasi dengaILNaD_H_dan....titrasLbalik_dengan-HCl.-NaQ.M-----
yang diperlukan adalah 46,40 mL dan HCl 5,35 mL. Bila tiap mL HCl
ek:ivalen dengan 0,0160 gram Na20, berapakah volume H20 atau 6,0 N
NaOH yang harus ditambahkan ke dalam 500 mL NaOH di atas agar
konsentrasinya menjad:i 0,500 N ?
Titrasi Netralisasi
,-·-- - �- ..---- __ ,.._ -·- -�- .. - - ....... _ _. ....... - .. -·
BAB ID
TITRASJ PENGENDAPAN DAN/ATAll PEMBENTUJ{AN SE1'TYAWA
KOJVIPLEKS
�ITRASIPENGENDAPAN
Kurva Titrasi. Kurva titrasi pengendapan diperoleh dengan cara yang serupa
dengan titrasi yang melibatkan asam kuat dan basa kuat. Perbedaan yang ada adalah
penggunaan besaran konstanta basil kali kelarutan, Ksp pada posisi Kw. Pada kurva
dapat digambarkan bagaimana profil fungsi p (= - log) pada daerah sebelum, pada
saat dan sesudah titik ekivalen dicapai.
0 1,0 1,0
50 1,5 8,4 1,5 14,3
90 2,3 7,6 2,3 13,5
95 2,6 7,3 2,6 1,2
98 3,0 6,9 3,0 12,8
99 3,3 6,6 3,3 12,5
99,5 3,7 6,2 3,7 12, 1
99,8 4,0 5,9 4,0 11,8
99,9 4,3 5,6 4,3 11,5
100,0 5,0 5,0 7,9 7,9
100,1 5,6 4,3 11,5 4,3
100,2 5,9 4,0 12,2 3,6
100,5 6,3 3,6 12,5 3,3
· ··l02;0 6-;6 3-;.3 2:8 Y,O
105,0 7,3 2,6 13,2 2,6
110,0 7,6 2,3 13,5 2,4
16
14
12
10 -'llk-AgCI + Cl-
+CJ)
<( 8 -11-Agl+I-
Q_
0
90 95 100 105 110
Volume penitrasi, ml
·Penentuan-titik-akhir-titras-i-dapat-di+akuka1'.-dengan-beberapa-carn7indikato
kimiawi, potensiometrik clan amperometrik. Titik akhir titrasi potensiometrik
didasarkan pada pengukuran potensial elektroda Ag yang dicelupkan di dalarn larutan
analit, Titik akhir titrasi amperornetrik dilakukan dengan pengukuran arus yang
muncul dan rnengalir di antara elektroda-elektrcda Ag yang dicelupkan di dalam
larutan analit.
Indikator kimiawi biasanya dilandai dcngan adanya pcrubahan warna atau
muncul atau hilangnya kekeruhan larutan yang dititrasi. Untuk titras] pengendapan
diperlukan syarar yang analog dengan syarat indikator titrasi netralisasi; (i) perubahan
warna reagen atau analit pada rentang harga fungsi p yang sempit, (ii) perubahan
wama tersebut terjadi pada daerah perubahan tajam dari kurva titrasi analit.
Konsentrasi ion kromat yang diperlukan untuk mernulai pembentukan perak kromat
pada kondisi tersebut dapat dihitung dari harga Ksp perak kromat,
Pada prinsipnya harga ini adalah jumlah ion kromat yang harus ditambahkan
pada larutan untuk menghasilkan endapan berwarna merah bata tepat setelah titik
ekivalen dicapai. Realita menunjukkan bahwa konsentrasi sebesar harga di atas akan
memberikan warna kuning pada larutan sehingga pembentukan warna merah bata
perak kromat tak dapatse�era dideteksi. Untuk me_ngantisip_a.siba.Lters.eb.uLdigunakan----
konsentrasi ion kromat yang Iebih rendah, sehingga diperlukan AgN03 yang lebih
banyak untuk membentuk endapan perak kromat yang teramati secara visua1. Akibat
dari keadan ini ada1ah adanya kesalahan titrasi yang lebih besar. Koreksi terhadap
kesalahan titrasi dapat dilakukan dengan melakukan titrasi terhadap larutan blanko
suspensi kalsium karbonat bebas klorida, atau dengan melakukan standardisasi
larutan perak nitrat dengan NaCl kualitas standar primer. Teknik ini sekaligus
memperbaiki ketajaman analis dalam mendeteksi munculnya warna.
Titrasi Mohr hams dilakukan pada pH 7 - 10 karena ion kromat merupakan
basa konjugasi dari asam lernah, asam kromat. Pada kondisi yang lebih asidik,
konsentrasi ton kromat terlalu rendah untuk menghasilkan endapan pada titik
ekivalen.
OH
Pada tahap awal titrasi, partikel koloid perak klorida akan bermuatan negatif
,-----�arena-menyerap--secara-ekses-+on=i-o-n-klorrda::-A:Tii"C>n--=-atTio,rberwarn a· , n 1 15erfo I alfan
terhadap pennukaan karena gara repulsi elek:trostatis dan menghasilkan wama
kuning-hijau larutan. Setelah titik ekivalen partikel AgCl akan mengadsorpsi ion Ag
sehingga bennuatan positip. Anion fluoresinat kemudian tertarik menuju lapisan dan
mengelilingi setiap partikel koloid perak klorida. Interaksi ini menghasilkan wama
merah perak fluoresinat di lapisan permukaan larutan yang melingkungi padatan. Satu
poin penting dari fenomena ini bahwa perubahan warna tersebut adalah suatu proses
_ adsorpsi (bukan pengendapan) karena .Kspp:ak Iluoresinat tak pernahterlewati. Adsorpsi
ini bersifat reversibel dan pewarna tersebut dapat didesorpsi dengan titrasi balik
!l1
,II.
Di-iodo-(R) - Oranye-merah rentangpH
dimethyl-(R)- menjadi biru-rnerah bennanfat 4 - 7
fluorescein
[Fe(CN)6] ·, Mo04.
����--:-��;..::..;..;..;;..:.;;._����d=e=n=ganPb�2 +_.__���
Lannan akan berubab berwama merah pada penambahan berlebih ion tiosianat:
Titrasi harus dilakukan pad.a pH asidik untuk menghindari pengendapan ion ferri
sebagai oksida terhidratnya.
Penerapan metode Volhard antara lain adalah penentuan tak langsung ion
halida. Sejumlah ekses terentu larutan standar perak nitrat ditambahkan ke dalam
sampel, dan kelebihan ion perak ditentukan dengan metode titrasi balik menggunakan
larutan standar tiosianat. Kondisi asarn dari metode Volhard ini menonjolkan
keuntunan metode ini dibandingkan metode lain dalam penentuan halida; ion-ion
karbonat, oksalat dan arsenat tidak mernberikan interferensi analisis ion halida
(karena ion-ion tersebut membentuk garam perak yang sedikit larut dalam media
netral dan tak larut dalam kondisi asam}.
Perak klorida bersifat lebih mudah larut dibandingkan perak tiosianat,
sehingga dalam penentuan k1orida , dengan metode Vo1hard, reaksi
berlangsung terns hingga mendekati akhir titrasi balik ion perak ekses. Reaksi ini
menyebabkan indikasi titik ekivalen kurang !egas dan cenderung menimbulkan .
konsumsi ion tiosianat secara berkelebihan, Kesalahan titrasi ini dapat dikondisikan
dengan menyaring perak klorida sebelum melakukan titrasi balik. Filtrasi tidak
diperlukan bila analisis ini ditujukan untuk ion halida lain karena ion halida lain ini
akan membentuk garam perak yang kurang larut dibandingkan peak tiosianat.
Penggantian secara berturut molekul air oleh gugus ligan dapat berlangsung terus
hingga membentuk kompleks ML0• Indeks n merupakan bilangan koordinasi senyawa
kompleks, dan menggarnbarkan jumlah maksimum ligan monodentat yang dapat
terlikat.
Suatu ligan monodentat adalah ligan dengan sebuah pasang�n elektron yang
didonorkan pada spesies lain. Dengan membedakan jumlah pasangan elektron bebas
yang dimiliki dan didonorkan kepada spesies penerima ini dapat kita bedakan adanya
---·-- .. - ,., - - . '- '
I
II ligan bidentat, tridentat dan seterusnya , yang tergolong dalam ligan polidentat..
Kompleks dengan bilangan koorinasi 6, sepe.ti kompleks dari kation Co (III)
i dibentuk dari koordinasi dengan molekul EDTA (bidentat). Tiap rnolekul EDTA
l
terikat pada ion logam rnernalui pasangan elektron bebas dari dua aton nitrogen
I !
molekul tersebut. Proses ini menghasilkan tiga cincin beranggota lima yang rnasing-
masing memiliki ion logam puast. Proses pembentukan cincin ini disebut chelation,
! clan ligan pembentuknya disebut pengkelat.
Senyawa kompleks dapat mengandung Iebih dari satu jenis ion logam pusat,
yaitu dua ion 1ogam (kornpleks binuclear) atau lebih dari dua ion logam pusat
( kompleks polynuclear). Proses pembentukan kompleks poliinti ini terutama terjadi
pada konsentrasi ion Iogam yang tinggi. Conteh dari fenomena ini ada1ah interaksi
dari ion Zn2+ dengan ion er membentuk kompleks biinti [Zn2Cl6]2- disamping spesies
sederhana ZnCh- dan ZnC1/ .
L _:MM,J+_.LJ.___;��=--_..;ML-;--dengmr¥:,- fMtrt!JvtrtLJ
ML + L ML2; dengan K2 = [ML2] I [ML) [L)
Konstanta kesetimbangan f31. f32, ... f3n adalab konstanta kesetimbangan overal dan
merniliki hunungan dengan K sebagai
dengan asumsi bahwa tidak ada produk reaksi yang tak larut maupun terbentuknya
kompleks multiinti, Harga konstanta di atas sangat berguna dalam menghitung
konsentrasi spesies kompleks yang dibentuk oleh suatu 1ogam da1am campuran
kesetimbangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas kompleks meliputi hal-
hal berikut.
bila konfigurasi elek:tron semakin rrunp gas mulia dan semakin kurang
elektronegatif atm donor ligan.
3. Ion logam transisi dengan subkulid d yang kurang lengkap terisi elektron.
Konsep asm basa keras clan lunak juga berguna dalam mengkaakterisasi
perilaku keJas A dan B. Basa lunak dapat digarnbarkan sebagai basa dengan atom
donor yang sangat mudah terpolarisasi dan elektronegativitas yang rendah , mudah
teroksidasi, terasosiasi dengan orbital kosong energi rendah. Dengan kata lain,
elektron atom donor mudah terdistorsi. Basa keras memiliki karakter yang
berlawanan dengan sifat di atas; atom donor kurang mampu terpolarisasi dan
memiliki elektronegativitas yang tinggi; su1it untuk direduksi dan terasosiasi dengan
orbital kosong energi tinggi. Atas dasar tinjauan konsep ini, akseptor kelas A
cenderung berikatan dengan basa keras, dan sebaliknya kelas B.
Akseptor kelas A menunjukkan karakter ukuran yang kecil, tingkat oksidasi
positip yang besar dan tak ada elek:tron lapisan luar yang tereksitasi dengan mudah ke
tingkat energi yang lebih tinggi. Akseptor ini disebut sebagai asam keras, yang
kurang mampu terpolarisasi. Karakter yang berlawanan dengan sifat di atas disebut
asam lunak, Secara umum dapat dikemukakan bahwa asam keras berasosiasi dengan
basa keras <lan asam lunak dengan basa lunak.
Karakteristik Logam. Karakteristik ini meliputi (i) kekuatan basa Iigan, (ii)
sifat pengkelat, (iii) clan efek strik. Dari ketiganya, karakter sebagai pengkelat
memiliki peran menonjol dalam aplikasi analisis. Kompleks dalam bentuk kelat
· · memiliki faktor stabilitas yang jauh lebih baik dari pada kompleks tanpa pengkelat.
Bila reaksi di atas berlangsung sempurna, penambahan larutan perak nitrat berikutnya
akan membentuk endapan tak larut, perak sianoargentat (perak sianida tak larut).
Terbentuknya endapan ini menandai titik akhir pad.a titrasi sianida dengan larutan
perak nitrat. Sedikit kesulitan yang ditemui da1am memperoleh titik akhir titrasi yang
tajam adalah lambatnya perak sianida utnuk terlarut kembali sehingga titrasi cukup
memakan waktu.
Pada modifikasi Deniges, ion iodida digunakan sebagai indikator dan larutan
amonia ditambahkan untuk melarutkan perak sianida, Keduanya ditambahkan
sebelum titrasi dimulai, dan pembentukan perak iodida yang keruh menjadi indikasi
akhir titrasi :
Agl + 2 NH3
Selama titrasi perak iodida selalu ada hingga titik ekivalen tercapai
Metode ini juga bisa diaplikasikan pada analisis perak halida deugan prosedur
pelarutan dalam larutan sianida berlebih dan rnelakukan titrasi balik dengan larutan
standar perak nitrat; analisis tak langsung penentuan logam-logam seperti Ni, Co, Zn
yang membentuk kompleks stabil dengan ion sianida,
Reagensia. EDTA bebas dan garam natrium dihidrat dari EDTA tersedia di.
pasaran sebagai bahan dengan kualitas reagensia. Asam bebas EDTA digunakan
sebagai standar primer setelah melalui pemanasan beberapa jam pada 130 °c hingga
145 OC.
AgY3-
AlY
EDTA membentuk kompleks dengan stabil dan tak diragukan bahwa kestabilan ini
karena ion ]ogam akan terkurung di da1am struktur mirip sangkar ( cage-like-
structure) dan terisolasi dari molekul pelarut, [ gambar 3.5].
(MYin-4)+
[(MY)'"-4J+]
dengan K =
[Mn+] [Y4]
Beberapa harga konstanta stabilitas (sebagai log l-..1 dari logarn-logam dengan EDTA
disajikan pada tabel 3.3.
Tabel 3.3 Konstanta Stabilitas Kompleks Ion Logam-EDTA sebagai log K*J
(MYin-4)+
l(MYi"-.ii+]
dengan K =
[Ji.1"+ J [Y4]
Barga o: dihitung dari KEl)TA dan bervariasi terhadap pH. Kurva log a. terhadap pH
menunjukkan variasi tersebut, dan log a= 18 pada pH= l; log a= 0 pada pH= 12.
Keberadaan agen pengompleks lain dalam larutan memberikan konstribusi
pada rumus perhitungan KH , faktor !3. 13 merupakan ratio jumlah konsentrasi ion
logam da1am bentuk kompleks lain (nonEDT A) terhadap jumlah ion logam sebagai
bentuk terhidrat. Faktor 13 muncul dalam persarnaan sebagai :
-----------..---·----·-----··--··-----------·-·-----· .
Titras] Pengcndapun dan Pembcntukan Senyawa Kompleks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 61
I
10 · . J .
I
8 . ··-·······-···· ····-··········· .
�
� 6· ··········-·······················-- • .
4 !... .
�--+---r
J I
2.
-------------------------·-- ---
Titrasi Pengendapan dan Pernbentukan Senyawa Kompleks
Buban Ajar Analisis Kuantitatif 62
Titrasi Balik. Beberapa logam tidak dapat dititrasi secara langsung dengan
larutan EDTA. Keadaan ini bisa disebabkan oleh terbentuknya endapan saat titrasi
berlangsung, membentuk kompleks lembam (inert), atau pemilihan indikator yang
sesuai tidak diternukan. Dalam keadaan seperti ini larutan EDTA diberikan secara
berlebih, larutan di-buffer pada pH tertentu dan kelebihan larutan dititrasi balik
dengan larutan ion logam stander, Beberapa ion logam yang memerlukan perlakuan
seperti ini antara lain adalah larutan klorrida dan sulfat dari ion Zn2+ dan Mg2+ . Titik
akhir titrasi ditandai dengan penggunaan indikator 1ogam yang memberikan respon
terhadap ion logam standar yang digunakan.
(MYin-4>+ + Mg2+
Jumlah Mg2+ yang dibebaskan proporsional denganjum1ah kation da1am sampel dan
dapat dititrasi dengan larutan standar EDT A dengan indikator logam tetentu.
Ion It yang dilepaskan kernudian dititrasi dengan larutan standar NaOH dan
indikator asam-basa. Prosedur dapat juga dikerjakan dengan pemberian campuran
iodat-iodida. lodin yang dibebaskan dititrasi dengan larutan standar tiosulfat.
Reaksi di atas akan berlangsung bila kompleks logam-indikator M-In kurang stabil
dari pada kompleks logam-EDTA, M-EDTA.Kompleks M-1!1 akan terdissosiasi dan
selama titrasi ion logam akan dilepaskan untuk bereaksi membentuk kompleks ion
logam-EDTA., menyisakan indikator dalam bentuk molekul bebas, In. Stabilitas
kompleks logam-indikator dapat diekspresikan dalam persamaan
Calcichrome
Nama resmi indikator adalah siklotris- 7-(l-azo-8-hidroksinaftalen-3,6-di-
asam sulfonat), memiliki struktur siklis yang tak biasa clan sangat selektif terhadap
kalsi um. Indikator ini tidak memberikan hasil yang rnemuaskan dalam titrasi dengan
EDTA, tctapi akan sangat baik bila EDT A diganti dcngan CDTA Titrasi dengan
CDTA akan mcmberikan hasil yang baik untuk analisis kalsium dengan keberadaan
barium dan stronsiurn.
Keterangan :
·-------- -----------------
Titrasi Pengendapan dan Pembentukan Senyawa Kompleks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 65
a. Strnktur molekul :
I
I
I
Sikl otri s- 7-( l-azo-Sshidroksinaftalen-S, S-di-asam sulfonat)
I
b. Struktur tiga dimensi :
_______
,,,, .. ,, .. _ -- .. ·----- .. ,·-·----····- ---·-····· .. -- - __ ,
,, ,____________ ------
Titrasi Pengendapan dan Pembentukan Senyawa Kompleks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 66
Mureksida
Larutan mureksida berwarna ungu-kerncrahan pada pH sampai dengan 9
2-),
(H4ff), ungu pada rentang pH 9 - 11 (H3D2 dan biru-violet pada pH di atas 11
3-).
(H2D3 Mureksida merupakan garam ammoniom dari asam furfurat dengan strnktur
anion seperti di bawah ini. Perubahan warna di atas dimungkinkan karena
perpindahan proton pada gugus imido (4 buah gugus). Dua dari empat hidrogen
asidik dapat direaksikan dengan alkali hidroksida. Anion ini pada pH O mampu
mengikat proton menjadi asam furfurat yang berwarna kuning dan tidak stabil.
a. Struktur molekul :
,·
HN-C
/ '\
.c-�
I \\ \
O=C ' I
C N=C .C-0
.\ .,/
\ /
'
C-NH
','
0 0
Iantanoid. Larutan dalam kondisi alkalis akan berwarna orange (untuk Cu), kuning
(Ni dan Co) dan merah (Ca). Intensitas warna bervariasi terhadap pH.
Indikator Patton and Reeder's
Indikator ini memiliki nama kimia 2-hidroksi-1-(2-hidroksi-4-sulfo-1-
naftiazo)-3-asam naftonat, disingkat HHSNNA. Aplikasinya adalah untuk titrasi
langsung kalsium, terutama dengan keberadaan magnesium. Apabila kalsium dititrasi
dengan EDTA pada pH antara 12 - 14 akan diamati perubahan warna dari merah
anggur menjadi biru. lndikator ini tidak cukup stabil pada kondisi alkalis.
a. Struktur molekul :
OH HO COOH
\
+H-o,s-(_( N-N-<-'
.. < ;}
..
Gambar 3.9 Struktur mclekul dan tiga dimensi Indikator Patton and Reeder's
Solochrome black
Solochrome black atau eriochrome black T adalah molekul natrium 1-(1-
hidroksi-z-naftilazo )-6nitro-2-naftol-4-sulfonat (ll). Di dalam larutan asam cenderung
membentuk produk polimer yang berwarna merah-coklat sehingga jarang digunakan
pada titrasi EDTA untuk tingkat keasaman di bawah 6,5.
a. Struktur molekul:
---
Titrasi Pengendapan dan Pembentukan Senyawa Kompleks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 69
Dua atom hidrogen pada gugus fenolat dipandang sebagai situs yang
terdissosiasi, sehingga indikator ini dilambangkan sebagai H2D-. pKa masing-rnasing
dari kedua atom hidrogen yang dilepaskan adalah 6,3 dan 11,5. Di bawah pH 5,5
larutan indikator ini berwarna merah (H2D"), dan antara pH 7 - 11 berwama biru
(HD2) dan di atas pH 11,5 berwarna orange-kekuning-kuningan (D3). Pada rentang
pH 7 - 11 ini penambahan garam logam menghasilkan perubahan warna dari biru
menjadi merah :
M2+ + HD2- (him) ------ MD"(mcrnh) + 1-:i:+
Perubahan wama tersebut dapat diarnati pada penambahan ion-ion 1ogam Mg, Zn,
Cd, Hg, Pb, Cu, Al, Fe, Ti, Co, Ni dan logam Pt.
------·-··--·----·----------- .. ----·-··--------··-·------····-------------
Titrasi Pengendapan dan Pembentukan Senyawa Kompleks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 70
a. Struktur molekul :
N-N
Gamhar 3.11 Struktur molekul dan tiga dimensi solochrome dark blue
Methylthymol Blue
lndikator ini berfungsi pada kondisi asam maupun basa, dari pH O hinggan pH
12. Pada pH 0, digunakan untuk titrasi bismut dengan perubahan warna dari biru
menjadi kuning, Pada pH 12, digunakan untuk titrasi logam-Iogam alkali tanah
dengan perubahan warna dari biru menjadi transparan (tak berwarna). Pada pH
pertengahan digunakan untuk titrasi beberapa ion divalen, terutarna Hg (II) yang tak
tersedia indikator lain pada titrasi dengan EDT A.
a. Strnktur molekul :
u.ethylthymol Blue
Indikator ini berfungsi pada kondisi asam maupun basa, dari pH O hinggan pH
12. Pada pH 0, digunakan untuk titrasi bismut dengan perubahan warna dari biru
menjadi kuning. Pada pH 12, digunakan untuk titrasi logam-logam alkali tanah
dengan perubahan warna dari biru menjadi transparan (tak berwarna). Pada pH
pertengahan digunakan untuk titrasi beberapa ion divalen, terntama Hg (TT) yang tak
tersedia indikator lain pada titrasi dengan EDTA
a. Struktur molekul :
x 0,1801- x
(BM KC! /1000 + BM NaC!/1000)
Sehingga
Conteh 4: Metode Liebig. Berapa gram NaCN yang ada dalam larutan yang
dititrasi hingga membentuk larutan keruh permanen dengan 26,05 mL
AgN03 yang rnengandung 8,125 gram AgN03 per liter?
Jawaban: 2 CN + Ag+
. 8125
Normalitas AgN01 = -'- = 0,04782
. 169,9
ATAU
}--�����������-
maka dua kali .iwnlah te,��ebuu_fjp_exlukGJJ....WJi.uk..mengendapkan-sianida----�
secara sempurna;
Sehingga
Latihan:
Soal (tu g as ):
TITRASI REDOKS
·-····· .. ·-·····---··--··--··---
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 80
mendapatkan elektron, sehingga hanya dapat mengoksidasi zat pereduksi yang paling
kuat (yang paling siap menghasilkan elektron). Kekuatan berbagai zat pengoksidasi
dan peredukci ditunjukkan oleh nilai potensial reduksinya.
E = E _ RT ln [spesiesteruduksi]
O
nF [spesiesteroksidasis
Karena reaksinya reversibel, larutan tersebut selalu rnengandung kedua ion awal dan
ion yang terbentuk selama reaksi, dengan kata lain pada tiap tahapan titrasi larutan
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 81
tersebut se1a1u mengandung dua sistem redoks: Fe:i+/Fe2+ dan MnQ4-;Mn2+. Sehingga
kita memiliki dua persamaan untuk menghitung E:
E = 0 77 - 0,059 Jo [Fe2+]
(1)
' 1 g [Fe3+]
(2)
[ Contob J
[ Gambar 4.1 ]
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 82
E = 0 77 - 0,059 lo [0,1]
, 1 g [99,9]
E = 0,944 V
Saat kelebihan KMn04 sebanyak 0,1 rnl., dengan anggapan konsentrasi H+ adalah
lM diperoleh
E = 0 77 - 0,059 io [Fe2+]
' I g [Fe3+]
!--�-------·--.---·-···-··--0;0s-�--[-F�-J[Mn2t-]
6E = 0,77 + 5xl,51- -- log--1----
J [Fe.+][t\.1n0,1]
Pada titik ekivalen banyaknya ion Mno4· yang ditambahkan sesuai dengan
persamaan reaksi berikut:
dalam kesetirnbangan harus ada 5 ion Fe++ untuk setiap ion Mn04-. Sehingga pada
titik ekivalen
Titrasi Redol.s
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 83
[Fe2+J = 5 [Mn04 ·1
[Fe3 J = 5 [Mn2 +J
rnaka
[Fe2+J [Nfn2+]
[Fe3+]
= [Jv!J104 - ]
dan
[Fe2..] x [Mn2+] =I
[Fe3+] [lvfi104 - ]
6 E = 0,77 + 5 x J ,51
E = 1 /6 ( 0,77 + S x 1,51)
E = 1,387 V
Secara umum, jika potensial standar zat pengoksidasi dan pereduksi adalah
·Eo.:..aan-Eo�.-dan-k0e-fisien�st0ikiometr-:i-Rya-aaa-1-ah-a-Eiar1-i,;-ma°Ka-130!'eF1s1al-larutan
saat ekivalen adalah:
E= bE0 + aE0"
Cl+ b
Perhitungan di atas disajikan pada tabel 4.1 dan kurvanya dialurkan pada
garnbar 4.1.
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 84
Tabel 4.1 Variasi potensial selama titrasi 100 mL FeS04 dengan KMn04
(normalitasnya sama)
50 50 50:50 = 1 0,770
91 9 9:91::::: 1/10 0,828
99 1 1/99::::: 1/100 0,886
99,9 0,1 0,1/99,9 � 1/1000 0,944
100 (t. ekiv.) 1,387
100,1 0,1 100:0,1=1000 1,475
101,0 · 1,0 100:1 = 100 1,487
110,0 10 100:10 = 10 1,498
200,0 100 100:100 = 1 1,510
1.6
,:;::;-
-
0
>
w
1.4
•r , 2
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0 50 100 150 200 250
Pada gambar 4. 1 tcrlihat bahwa kurva ti. rasi oksidimctri secara umum sama
dengan bcntuk kurva titrasi asam-basa. Potensial berubah tiba-tiba di dekat titik
--·······-----···-----------------------------
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 85
ekivalen, dan berikutnya bentuk kurvanya tetap mendatar, yang berarti E berubah
sangat 1ambat selarna titrasi. Belokan pada kurva titrasi dapat digunakan untuk
penentuan t�at titik ekivalen dengan bantuan indikator tertentu. Besamya perubahan
potensial tergantung pada perbedaan potensial standar dari kedua sistem redoks
tersebut, semakin besar perbedaannya, perubahan potensialnya semakin besar.
Kurva oksidimetri biasanya tidak tergantung pada pengenceran, karena
persamaan Nernst terdiri dari perbandingan konsentrasi ;qentuk teroksidasi dan
tereduksi, sehingga tidak berubah dengan pengenceran. Hal ini benar jika koefisien
bentuk teroksidasi dan tereduksi sama.
Keuntungan lain adaJah titik belok pada kurva titrasi oksidimetri dapat
diperlebar jika salah satu ion yang terbentuk membentuk kompleks. Sebag.t\i�ntoh
jika ditambahkan ion P04--, F. dll, maka akan bergabung dengan ion Fe+++
menbentuk kompleks yang stabil seperti [Fe(P04)2t, (.FeF6t dsb. Sehingga ordinat
semua titik pada kurva titrasi akan turun dan belokan mulai terjadi pada nilai E yang
lebih rendah daripada tanpa penambahan ion pembentuk kompleks.
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Ana1isis Kuantitatif 86
sedangkan indikator redoks secara umum akan dibahas pada kajian selanjutnya.
Indikator redoks umwn adalah zat yang dapat secara reversibel teroksidasi dan
tereduksi, dengan warna yang berbeda pada bentuk teroksidasi dan tereduksinya.
Jika kita tuliskan bentuk tersebut dengan simbol Indoks dan Indred, rnaka dapat
ditulis:
E = E� o - -- 1 og '==
0,059 [Ind."'d.J
n [lnd.01:.t.l
dengan E0 ;::: potensial standar untuk indicator. Untuk kepentingan praktek rentang
jangkauan indikator redoks dinyatakan dengan :
E = Eo ± 0,059
n
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 87
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 88
asam oksalat dititrasi dengan permanagat akan terjadi reaksi ketika percobaan
dijalankan pada suhu 70-80°C. Pemanasan larutan tidak selalu mungkin dilakukan,
karena ini akan menyebabkan penguapan salah satu zat pereaksi (sebagai contoh h
dalam penentuan Iodometri) atau terjadi oksidasi oleh oksigen dari atmosfer
( oksidasi Fe++ selama titrasi larutan FeS04 dengan permanganat).
Dalam kasus seperti itu digunakan metoda lain untuk meningkatkan kecepatan
reaksi; sebagai contoh memperbesar konsentrasi zat pereaksi. Sebagai contoh, reaksi
yang lambat berikut
v=kC5
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 89
reaksi tetapi tidak berubah oleh reaksi tersebut. Contoh reaksi yang menggunakan
katal is homo gen adalah oksidasi thiosulfat oleh hidrogen peroksida:
dengan adanya MnS04 akan berfungsi sebagai katalis dengan reaksi; pertarna kali
MnS04 yang ditambahkan teroksidasi oleh permarganat:
(1)
Mangan dioksida yang terbentuk segera mengoksidasi H2C204 dan akan tereduksi
menjadi garam mangan trivalen:
(2)
Akhirnya Mn2(S04)3 bereaksi dengan H2C204 dan tereduksi menjadi senyawa mula-
mula MnS0.1:
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 90
(3)
Jika persamaan (1) dikalikan dengan 2 dan persamaan (2) dan (3) dengan 5 dan
selanjutnya ketiga persamaan tersebut tambahkan, maka akan diperoleh persamaan
reaksi seperti persamaan di atas (persamaan reaksi asam oksalat dengan
permanganat). Terlihat bahwa MnS04 yang ditambahkan ke dalarn larutan terambil
kembali semua dan tidak dikonsumsi dalam reaksi tersebut. Namun reaksinya
meningkat cepat dengan adanya MnS04. Juga harus dicatat bahwa salah satu produk
dalam reaksi ini adalah garam mangan bivalen yang rnengkatalis reaksi tersebut.
Reaksi seperti itu disebut dikena1 denan otokatalitik.
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 91
Klor bebas yang terbentuk dalam reaksi tersebut harus mengoksidasi sendiri ion Fe2+:
2 Fe2+ 2 Fe3+ + 2 er
jika semua k1or tetap berada dalam Iarutan, banyaknya besi yang teroksidasi ekivalen
dengan banyaknya permanganat yang yang dipergunakan dalam pembentukan reaksi
sarnping Ch. Namun dalam praktek beberapa klor rnenguap dan ini yang
mengakibatkan K.Mn04 yang dibutubkan selama titrasi menjadi lebih banyak.
Pertanyaan-Pertanyaan Latihan
1. Mana dari logam berikut yang dapat tereduksi oleh ion H+,Cd, Sn, Sb, Aldan
Ag.
2. Hitung potensial permangat jika [Mn04-J [Mn2+J pada konsentrasi ton
hidrogen: (a) I molar (b) 105 molar.
3. Basil kali kelarutan Agl �1 10-16. Dengan perhitungan potensial, tentukan
apakah logarn perak dapat digantikan hid.rogen dari Iarutan 1 N HI.
Jawab: ya. (;:'<: - 0,J 28V).
4. Apa yang disebut indikator redoks dan proses kirnia apa yang menyebabkan
terjadinya perubahan kimia.
5. a. Dapatkah Jarutan Kl digunakan sebagai indikator redoks? (b) Dapatkah
larutan amilum yang digunakan dalam titrasi berbagai zat pereduksi dengan
-�-----.aru.tanJ2-.dikelo_mp_okkao�s_e_l2agaiJJJ.dikator. redoksc.-,.•�---
a. ya b. tidak
Titrasi Redoks
1:. ahan Ajar Analisis Kuantitatif 92
pereduksi dan teroksidasi oleh KMn04 dengan adanya asam sulfat reaksinya
ditunjukkan oleh persamaan berikut:
Selama oksidasi dalam suasana basa atau netral mangan valensi 7 tereduksi
menjad.i mangan valensi 4 dengan pembentukan mangan dioksida, Mn02, dalam
bentuk endapan coklat, sebagai contoh:
- Perbedaan reaksi dala�n tarut�n as�m clan b�a disebabkan terjadi reaksi berikut
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 93
Sehingga dengan peningkatan konsentrasi ion f-f'" dalam' larutan akan menggeser
kesetimbangan ke kanan rnembentuk Mn++, sebaliknya dengan sedikit ion ft akan
menggeser kesetimbangan ke kiri.
+ 4KOH + 3 02
2C02 + 2e
Konsentrasi asam oksalat dan sodium oksa1at yang digunakan biasanya 0,02 N.
Banyaknya besi dalam larutan sampel dalat dengan mudah dihitung dari volume
larutan KMn04 yang diperlukan titrasi tersebut dan normalitasnya.
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 95
I
I
J>enentuan Hiclrogen Peroksida, H202. Penentuannya berdasarkan reaksi:
Pada reaksi tersebut H202 bertindak sebagai zat pereduksi dan teroksidasi rnenjadi
02 sbb:
N02- +2e
'itrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 96
Ciri khusus penetapan ini bahwa nitrit siap terurai oleh asarn membentuk
nitrogen oksida:
NO (g)
Agar tidak terjadi kehilangan nitrit dalam penetapannya prosedur titrasinya harus
dibalik, Dalam kasus ini larutan pennanganat yang sudah diasamkan dititrasi dengan
lamtan nitrit netral. Ketika larutan nitrit bertemu dengan larutan KMn(?4, maka akan
teroksidasi langsung menjadi nitrat dan tidak terbentuk nitrogen oksida,
Untuk penetapannya, diarnbil Iarutan nitrit dengan berat tertentu dan tepat sehingga
diperoleh konsentrasi nitrit sekitar 0,02N ketika dimasukkan da1am labu ukur .250
ml, Selanjutnya buret diisi dengan larutan nitrit tersebut. Larutan permanganat
sebanyak 25,00 mL dipipet dan dimasukkan erlenmeyer 500 mL, dan ditambahkan
larutan H2S04 encer (1:4), dan diencerkan sampai 250 mL dengan akuades dan
sedikit dipanaskan, Selanjutnya dititrasi dengan nitrit. Hasil perhitungannya
dinyatakan dalam persen.
Penentuan Besi dalam Larutan Ferri .Klorida. Garam ferri tidak teroksidasi
oleh permanganat, dan dapat ditetapkan jika sud ah direduksi dari Fe++r menjadi Fe++.
----�R_e_du_k_s_i�.a dapat dilakukan oleh berbagai zat .seperti H2S, berbagai metal . dan
amalgam, larutan SnCh dsb.
Pada penentuan berikut FeCh direduksi oleh SnCb dengan adanya HCI:
Kelebihan SnCh harus dihilangkan semua, karena juga dioksidasi oleh Klvfn04.
Penghilangannya dengan HgCb, yang bereaksi sbb: .
SnCh + 2HgCh
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 97
Hg2Cb diendapkan dalam bentuk endapan putih sutra. Endapan tersebut tidak perlu
disaring, selanjutnya larutannya dititrasi dengan K.Mn04. Reaksi yang terjadi sbb:
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 98
fosfat yang akan mengubah ion Fe3+ menjadi ion kompleks tidak
berwarna (Fe(P04)2J3°, sehingga menghilangkan warna kuning karena ·
hidrolisis dari larutan FeCh, agar supaya mernudahkan mengamati
akhir titrasi. Dalam pralctek biasanya ditambahkan MnS04, H3P04 dan
H2S04.
Jika digunakan berlebih larutan FeS04 standar dengan volume tertentu pada larutan
sampel K2Cr201 dengan adanya H2S04, maka kelebi.han FeS04 dapat dititrasi dengan
K.Mn04 (ini sering disebut dengan metoda titrasi balik). Biasanya digunakan garam
ferro yang lebih stabil, misalnya garam Mohr.
Penentuan Mangan dalam Baja (Cast _iron). Dalarn _semua contoh titrasi
permanganat yang dfbahas sebelumnya, larutan KMn04 digunakan unruk titrasi
berbagai zat pereduksi. Dal am metoda yang dikaj i berikut adalah penetapan mangan
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 99
dalam baja, cast iron, dan zat Ia-in. Sampel dilarutkan dalam asam, ion Mn2+ yang ada
dioksidasi menjadi ion Mn04-, dan Iarutan berwarna ungu tersebut dititrasi dengan zat
pereduksi sampai tidak berwarna. Zat pengoksidasi yang digunakan ada1ah
ammonium persufat, (NH4)2S20s, reaksinya berlangsung dengan adanya katalis
AgN03 pada pernanasan:
Tanpa adanya katalis akan terbentuk endapan berwarna coklat dari MnO(OH)2
bukannya I-IMn04. Asam permanganat yang terbentuk biasanya d.ititrasi dengan
larutan sodium arsenit, Na3As03.
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis KuantitatiflOO
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis KuantitatiflOl
Penentuan Besi dalam Bijih Besi, Setelah dilarutkan Fe:i+ direduksi dengan
prosedur sebelurnnya. Fe2+ selanjutnya dititrasi dengan bikromat dengan reaksi sbb:
Titrasi Rcdoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 102
6W +
adanya Br2 rnenyebabkan larutan berwama kuning pucat. Wama tersebut tidak tegas
terarnati sehingga kesulitan muncul dalarn menetapkan titik ekivalen, Namun
pewama organik tertentu terurai oleh brom bebas dan rnenyebabkan larutan menjadi
tidak berwarna. Zat warna yang paling banyak digunakan dalarn titrasi bromatometri
adalah rnetil jingga dan metil merah. Zat wama terse but tidak dikelompokkan sebagai
indikator redoks karena reaksinya tidak reversibel, sedangkan indikator redoks
reversibel.
Bromatometri banyak digunakan untuk penentuan arsen dan antimon valensi
tiga; penetapannya dapat dilakukan dengan adanya Sn valensi empat. Metoda
brornatornatri u.ntuk penentuan antirnon banyak digunakan dalam anal isis alloy
babbitt dan analisis senyawa organik tertentu.
Seperti diketahui banyak senyawa organik dapat dibrominasi dengan brorn,
sebagai contoh:
Reaksi jenis ini banyak digunakan untuk penetapan kation yang diendapkan oleh
hidroksikuinolin. Endapan kornpleks hidroksikuinolin dilarutkan da1am BC1 dan
hidroksikuinolin yang dilepaskan dititrasi dengan Iarutan bromat dengan adanya KBr.
Carutan ··sfa11dar aalambromarornerri adalah-la"rurn:n-KBre3-e-;1-N-:-yang-dapardibua:+-------
dcngan penimbangan tepat garam kristalnya yang telah dikeringkan pada
150- 180 °C.
Penentuan antirnon dalarn dalarn tartar emetic. Tartar emetic adalah tartrat
dari antimon trivalen. Rumus molekulnya adalal .K(SbO)C4H40G . .Ketika larutan
garam ini dititrasi dengan larutan KBr03 dengan adanya HCl akan terjadi reaksi
berikut:
3 K(SbO)C4I-l40c, + KBr03 + 15 HCl 3 SbCls + KHC.iH40c, + KBr
+ 61-hO
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 103
Karena setiap atom antimon trivalen dalam reaksi ini kehilangan dua elektron dan
teroksidasi rnenjadi antimon valensi lima, maka 1 grek Sb = 112 mo1. Indikator yang
digunakan adalah meti1 jingga atau metil merah.
hidroksikuinolin yang dilepaskan dititrasi dengan larutan KBrO:, dengan adanya KBr.
Reaksinya sebagai berikut:
Dari persamaan di atas terlihat bahwa satu atom magnesium ekivalen dengan
dua molekul hidroksikuinolin, yang masing-masing ekivalen dengan empat atom
brom. Sehingga 1 grek Mg dalam reaksi tersebut = 118 mol. Metoda ini presisinya
O,CJJ mg lebih tinggi daripada metoda gravirnetri, disarnping itu lebih cepat Metoda
ini dapat digunakan untuk penentuan magnesium dengan adanya AlJ+ dan FeJ+, yang
sebelumnya diubah menjadi kompeks tartratnya.
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatifl04
Pertanyaan
Sebanyak 0,2000 g bijih menga.ndung Mn02 direaksikan dengan HCL Klor
yang terbentuk didestilasi dan diserap dalam larutan Kl Titrasi iod yang
dilepaskan membutuhkan 42,50 ml, larutan thiosulfat 0,0520 N. Hitting
persen Mn02 da1am bijih tersebut.
Jawab: 48,03%
Prinsip Umum Metode Iodometri. Iod bebas seperti halogen lain dapat
menangkap elektron dari zat pereduksi, sehingga Iod sebagai oksidan. Ion I' siap
memberikan elektron dengan adanya zat penangkap elektron, sehingga f bertindak
sebagai zat pereduksi. Metoda Iodometri dalarn analisis volumetri didasarkan pada
proses oksidasi reduksi yang melibatkan
Ii + 2e 2r
dengan melihat potensial standar h/r terlihat relatif rendah dibandingkan dengan
KMn04 dan K2Cr201, sehingga ion Ii adalah oksidan relatif lemah. Sebaliknya T
merupakan zat pereduksi yang kuat dibandingkan ion Cr3+ atau Mn2+.
Penetuan Zat Pereduksi. Iod bebas bereaksi dengan larutan sodium tiosulfat
sbb:
Pada reaksi tersebut terbentuk senyawa sodium tetrathionat, Na2Si\Oe,, garam dari
asarn tetrathionat. Reaksi Iodornetri y<1n{� p�Ji.ng penring .ini dapat <litulis .dalarn
bentuk ion sbb:
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatifl05
2S203-- + I2 == 2[ + S40G--
2S203 - = S406- + 2e
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 106
S (endapan) + 2 r + 2 H+
Sn2+ + h == Sn4+ + 2r
3h + 8KCI
akhir reaksi ditandai oleh penghentian pe1epasan iod. Namun keadaan tersebut tidak
dapat diamati. Ketika larutan digunakan sebagai indikator, pengamatan I2 yang
muncul dapat terpantau dengan mudah (warna biru) namun bukan 'ketika tercapai
pembentukan h pertama kali.
Karena itu dalam kasus ini digunakan metoda subtitusi tidak langsung, yaitu
pa-Ia carnpuran kalium iodida dan larutan asam (dalarn jurnlah berlebih) ditambahkan
dengan volume tertentu oksidan yang akan ditentukan (sebagai contoh larutan
K2Cr207). ��emudian dibiarkan sekitar 5 menit untuk rnenyelesaikan reaksi tersebut.
Selanjutnya iod yang dilepaskan dititrasi dengan tiosulfat. Banyaknya grek iod
e.ki.v'.alen.__dan...grek-t:ios_ulfaLakan_s_am.a_d�J:lga;rLz..�.LJ.1engoksidasL(K2Cr2.Qi2.c....·....
K...a'"-re=n=a'"-'iC...tt.....t _�---
meski penentuan K2Cr207 dan Na2S203 rnasing-masing tidak bereaksi langsung,
narnun banyaknya akan ekivalen, dengan perhitungan berikut:
berikut:
a. Kl + asam (berlebih dalam erlenrneyer) + oksidan yang akan ditetapkan
Titrasi Redoks
Bihan Ajar Analisis Kuantitatif 107
Persamaan reaksi tersebut menunjukkan bahwa ion I-i+ terlibat dalam reaksi dan
jurnlahnya ekivalen dengan iod bebas yang dilepaskan. Iod yang dilepaskan dititrasi
dengan tiosulfat, dan normalitas larutan asarn dihitung dari volume tiosulfat yang
diperlukan dan normalitasnya.
Bahasan di atas secara jelas menunjukkan bahwa metoda analisis volumetri
iodometri merniliki penerapan yang sangat luas. Keuntungan yang utama adalah
presisi yang tinggi disebabkan indikator yang digunakan sangat sensitif (larutan
kanji). Konscntrasi iod bebas terendah yang dapat diamati pada suhu kamar oleh
reaksi iod-kanji adalah antara 1. 1 o-6 sampai 2. 10-5 N, dengan syarat bahwa di dalam
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 108
larutan tersebut harus mengandung paling tidak sej urnlah kecil ion r (0,00 lN atau
lebih), Tidak adanya ion r menyebabkan reaksi di ats kurang sensitif
Syarat untuk penentuan secara iodornetri :
a. Reaksi dapat berlangsung sempurna hanya bila pada kondisi yang sesuai. Hal
ini disebabkan harga potensial sistern h/2r tidak tinggi, sehingga banyak
reaksi iodometri berlangsung reversibel dan tidak bereaksi sempurna.
b. Karena h volatil, maka titrasiharus dilakukan dalam keadaan dingin,
disamping juga untuk mempertahankan sensitivitas kanji sebagai indicator
yang berkurang dengan kenaikan suhu. Jika larutan biru kanji karena pada
penambahan iod dipanaskan, wama biru akan hilang; sedangkan kalau larutan
didinginkan lagi warna b:iru muncuJ kembali.
c. Titrasi iodometri tidak dapat dijalankan dalam larutan basa kuat, karena iod
bereaksi dengan alkali dengan reaksi berikut:
Adanya hipoiod (ion IO) tidak diperkenankan karena rnerupakan oksidan kuat
dibandingkan dengan h dan mengoksidasi sebagian tiosulfat rnenjadi sulfat:
sernakin besar konsentrnsi OJ:f dalam larutan, maka akan semakin banyak
tiosulfat yang berubah menjadi sulfa; Adanya reaksi samping ini
menyebabkan perhitungan hasil analisis yang tepat menjadi tidak mungkin.
Sehingga harus dijaga agar pB larutan tidak Iebih dari 9. Jika reaksi tersebut
menghasilkan pembentukan ion H", maka keberadaannya harus dihilangkan
agar reaksinya dapat berlangsung sernpurna seperti yang diinginkan; ini
dilakukan dengan penambahan NaHC03, yang bereaksi. sbb:
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 109
larutan tersebut menjadi sangat sedikit alkalis (pH � 8), tetapi iru tidak
berpengaruh ketika titrasi.
d. Dibutuh.kan penggunaan KI yang cukup berlebihan. Hal ini karena kelaruan
iod di dalam air sangat kecil. Iod yang dilepaskan dalam reaksi tersebut
kemudian melarut dengan Kl membentuk gararn kompleks tidak stabil K[l]3:
KI K[lh atau r + h
2 h + 2 H20
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 110
dan tiosulfat 0,02 N daripada 0,1 N. Seperti telah diketahui kesalahan tetesan dalam
titrasi berkura.ng dengan menurunnya konsentrasi larutan standar. Disamping juga
untuk rnenghemat biaya operasi , karena Kl dan h rnahal.
Sodium tiosu.lfat, Na2S203.5H20 berupa kristal yang dapat diperoleh dalam
keaadan murni. Meski demikian standar tiosulfat tidak dapat dibuat dengan
penimbangan tepat, karena tiosulfat tidak memenuhi syarat sebagai standar primer.
Sodium tiosulfat re1atif tidak stabi1-dapat bereaksi dengan asam karbonat yang
terl.arut dalam air dengan reaksi sebagai berikut:
Larutan standar Iod. Larutan standar iod dapat d.ibuat baik dengan
penirnbangan tepat kristal iod murni, atau dari iod perdagangan. Jika digunakan iod
perdagangan, maka harus distandardisasi dengan tiosulfat standar,
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 111
CaCl.(OCl) + 2HC1
CaCl(OCl) + 2 KI + 2 Cl
lod yang dilepaskan (banyaknya ekivalen dengan banyaknya klor aktif dalam bubuk
pemutih tersebut) dititrasi dengan tiosulfat dengan adanya kanji. Hasil yang akurat
tidak dapat diperoleh dengan penetapan klor aktif dalarn ekstrak cair bubuk pemutih,
karena kapur menyerap dengan kuat senyawaklor rcrtentu. Sehingga harus digunakan
suspensinya,
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif l 12
dari persamaan tersebut terlihat bahwa setiap ion Cu2+ menangkap satu elektron dari
ion r dan tereduksi menjadi ion Cu+ yang selanjutnya terendapkan dalam bentuk
kupro iodida Cul yang kurang 1arut (hasil kelarutan � 10·22). 1 grek Cu2+ = 1 mol.
KI berlebih diperlukan untuk membuat reaksi reversibel tersebut menuju ke
arah yang diinginkan; semakin banyak KI, konsentrasi Cu2+ semakin kecil dan
semakin besar potensial sistem Cu2+/Cu ", Me.kipun dalam reaksinya tidak melibatkan
ion H+, untuk mencegah terjadinya hidrolisis garam kupri perlu ditambahkan sedikit
larutan asarn ke dalam reaksinya. Bila hidrolisis terj adi potensial sistem akan turun,
yang berakibat pada reaksi yang berlangsung lam bat.
+ 2Hl
atau
zr + 2H+
Agar reaksinya berjalan ke arah yang diinginkan, ion W yang terbentuk harus
dihilangkan-dalam kasus ini tidak dapat ditambahkan alkali atau Na2C03 dan
karena itu reaksi tersebut dijalankan dengan adanya kelebihan NaHC03, yang
mcmherikan pl-l ,:::,· 8 dnlarn larutnn. Pcrlu diingat bnhwa larutan Na3As03 biasanya
dibuat dengan melarutkan As203 dalarn NaOH. Larutannya banyak mengandung
alkali, sehingga harus dinetralkan dahulu dengan asam.
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 113
+ 2H1
Sekilas larutan Na2S03 dapat langsung dititrasi dengan larutan Ii, namun dalam
praktek titrasi langsung memberikan hasil yang sangat tidak akurat. Alasannya adalah
reaksi iod dengan sebagian besar zat pereduksi berlangsung relatif lambat, khususnya
mendekati akhir titrasi, ketika konsentrasi zat pereduksinya sangat rendah. Sebagai
akibatnya, iod yang belum bereaksi dengan zat pereduksi memberikan warna (kanji)
sebelum titik ekivalen tercapai. Basil penentuannya diperoleh lebih rendah, Oksidasi
parsial zat pereduksi oleh oksigen atmosfer turut menywnbangkan pengaruh ini.
Kerumitan tersebut dapat dihindari dengan titrasi balik. Zat pereduksi-da1am hal ini
Na2S03-pertama kali diperlakukan dengan iod standar dengan volume tepat dan
diketahui berlebih, kelebihan iod dititrasi dengan tiosulfat. Reaksi :
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 114
Contoh:
Titrasi Redoks
-. .. . . . -� � ..... -- --�
69 BM Mn02j
' x 12000 x 100 = 74,99%
0,4
?6
9,5- x
BM As203· = 0,4711 gram As20,
4000 c: ·'
Titrasi Redoks
. . - ,... ·- ·-·- . --· ..... •.·
. - -·-·. , __ .. ·- ' . ,. ' ... - .
0,004750 = O 0850 N
1000 x BA Fe/1000 ' ..
---- S + 2r + 2I-f'
(cndapan)
Jawaban: Persentase S
BAS l
1,6 x0,5 x-- --
----�2--l_O_OO_ x 100 = 0 032 %
4 '
Jumlah 1 ml. iodin sebagai As203
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 117
BM As2 O3 1
1 ml x 0,0500 N x -- = 0,002473 gram
4 ]000
penambahan KI pada larutan Cu2+ akan mereduksi ion ini menjadi Cu+
dengan membebaskan sejumlah iodin yang ekivalen dengan jumlah
Cu2+ yang ada. Iodin bisa dititrasi dengan larutan tiosulfat dan
normalitas larutan dapat ditentukan dari jumlah Cu yang ada. Dalam
ha! di atasn normaliutas larutan tiosulfat adalah
0,006354 = O l 000
lOOO BA Cu I '
x /1000
x = 1,67 mL
Reaksi
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 118
,Jawaban: Reaksi-reaksi
20 mL x 0,125 N
=
25 ml
= O,IN
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif l 19
Latihan:
1. Tentukan jumlah Pb3Q4 (= Pb02.2Pb0) yang harus dilarutkan dalam
campuran 30 mL H2S04 6 N dan 2,0 mmol KHC204.H2C204.2H20 sehingga
30 mL larutan K.Mn04 0,1000 N setara dengan jurnlah kelebihan oksalat,
2. Suatu sampel baja seberat 2,2 gram dan menandung 0,620 % Mn dilarutkan
dalam pelarut yang sesuai dan Mn dititrasi dengan 1arutan standar KMN04
(suasana netra1). Reaksi adalah
Bila jumnlah KMn04 yang diperlukan adalah sebanyak 6,88 ml., Tentukan
jumlah KMn04 tiap mL sebagai
a. H2C204.2H20
b. As203
Titrasi Redoks
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 120
dengan 30 mL larutan 0,5 N NaOH. Berapa gram As20+3 dalam suasana asam ·
dapat teroksidasi rnenjadi asam arsenat, H3As04.
4. Suatu sampel baja 5 gram diberi perlakuan HCl dengan membebaskan gas
H2S. Gas ini di titrasi dengan larutan yang mengandung 0,01 mol Kl03 dan 80
gram KI per liter. Bila titrasi memer1ukan volume penitrasi sebanyak 3 ml.,
Tentukan persentase S da1am sapel baja !
Soal-soal (Tugas):
1. Tentukan persentase Fe203 dalarn bijih besi jika 0,5 gram cuplikan dilarutkan
dalam asam dan direduksi menjadi fero, memerlukan 35,15 mL K2Cr201
dimana tiap 15 mL K2Cr201 ekivalen dengan 25 mL larutan KMn04. Larutan
KMn04 tiap mL dapat mengoksidasi sempurna 0,00475 gram Fe.
Titrasi Rcdoks
BABV
ANALJSJS GRA VTh1ETRl
5.1 Pendahuluan
Anali sis gravimetri merupakan bagian analisis kuantitatif untuk menentukan
jumlah zat berdasarkan pada penimbangan.dari hasil reaksi setelah bahan/analit yang
dianalisis diperlakukan terhadap pereaksi tertentu. Hasil reaksi dapat berupa: gas,
atau suatu endapan yang dibentuk dari bahan yang dianalisis, dan residu. Berdasarkan
macam hasil yang ditimbang, metode gravimerri dibedakan dalam kelompok metode
evolusi gas dan metode pengendapan.
Pada cara evolusi bahan direaksikan dcngan cara pemanasan atau
ditambahkan pereaksi tertentu sehingga tirnbul /menghasilkan gas. Pada umumnya
yang dicari adalah banyaknya gas yang dihasilkan dari reaksi tersebut. Untuk mencari
/menentukan banyaknya gas yang terjadi dapat dilakukan
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuanti.tatif 122
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 123
Dari reaksi tersebut diperoleh satu mol AgCl dari satu mol er rnaka
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 124
Berat ( g ) x
Beratmolekul subs tssi yang dicari a b di ·c )
x - = su s tan yang icart g
Berat molekul subs tan yang diendapkan b
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 125
Contoh:
Tahap perubahan yang terjadi pada pemanasan dengan suhu tinggi adalah :
900 - 1000 OC
2 Fe(OH)3 Fe203 + mH20
bentuk stabil
2 BA Fe
gram F�03 = ----
BM Fe203
% Fe dalam bahan
w
= -1 x 100
Wo
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuanti.tatif 126
3. pengendapan
4. .menumbuhkan krista1 endapan (digestion atau.aging)
5. penyaringan dan pencucian endapan
6. pemanasan atau pemijaran endapan untuk mendapatkan endapan kering
dengan susunan tertentu yang stabi1 dan spesifik.
7. pendinginan dan penimbangan endapan
8. perhitungan
Endapan Bulky. Yaitu endapan dengan volume atau berat besar tetapi berasal
dari analit yang sedikit. Endapan ini sering diupayakan untuk mengurangi kesalahan
relatif dalan Analisis. Sebagai contoh, pada penentuan Mg dengan pemijaran: Mg
diendapkan sebagai MgNfuP04, setelah pemijaran Mg diperoleh dalam bentuk
Mg2P201. Cara lain tanpa pemijaran; Mg diendapkan sebagai
NaMg(U02)3(C2H302)9.6H20, setelah dikeringkan kemudian ditimbang. Dari
penimbangan dua endapan tersebut, cara kedua akan lebih besar mengkonsumsi
vo1ume analisis dan diperoleh endapan yang lebih berat. Se1ama proses pengendapan,
pencucian, pengeringan dan langkah-langkah fain apabila ada endapan
tertinggal/tercecer sehingga tidak ikut tertimbang, maka 'kesalahan dalarn perhitungan
yang timbul akan lebih bear pada cara pertama.
Analisis Gravimetri
• •·••·· --·-·-···---�·· .... _ .• _. ···-·-------·· .. -··-· -·-· ·----�------� --·-······- .•.. ,v ··-···- ---·-- -
Annlisis Gravirnctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 128
y()
OH
(ii) (iii)
(i)
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 129
-'N
r KJ
-N N=\
H3C CH3
(iv) (v) (vi)
[C���k-o l
� HN-0
Na+
(vii) (viii)
Endapan organik merniliki sifat penting, dapat larutkan dalam asam dan
reagen yang dibebaskan dianalisis secara titrimetri redoks. Logam-logam oksin
dilarutkan dalam asam (H2S04) kemudian dititrasi dengan ]arutan KBr03. Kedua,
beberapa endapan membentuk warna yang bermanfaat da1am analisis lanj utan dengan
I kolorimetri atau metode 1ain. Sifat lain, adalah sifat kuat ikatan kova1en pada
[-·�--··· ---·-·-··-·-··kompleks-l(:)gam-datl-pereaksi-ada1a11-kuat-maka-dimafaatkan-untuk-anahsis--ekstraksi----
pelarut untuk pernisahan 1ogam-1ogam tertentu dari logarn lain. Sifat suatu kelat yang
umumnya anhidrat memerlukan pencucian dengan alkohol (bukan asetat, yang bisa
melarutkan kelat). Kelat dapat dikeringkan pada temperatur 105 - 110 "c karena sifat
hidrofobi.nya.
Dengan adanya beberapa keuntungan ini, pereaksi organik tetap dihadapkan
pada kendala. Kecilnya kelarutan pereaksi di dalam air dan sulitnya mendapatkan
pereaksi dalam keadaan murni. Kelarutan tersebut memunculkan penggunaanalkohol
atau asarn asetat sebagai pelarut, padahal dengan pelarut ini tak dapat diketahui
berapa banyak pereaksi harus ditarnbahkan untuk mengetahui kondisi ekses
Analisis Gravimetri
Bah an Ajar Analisis Kuantitatif 130
5.5 Aplikasi
Contoh-contoh analisis gravimetri sampel berikut akan menghasilkan data-
data gravimetrik yang bermanfaat dalam analisis kimia, dari persentase komponen
penyusun sampel, penentuan berat atom suatu unsur, berat rnolekul (massa molekul
relatif) senyawa dan rumus ernpiris senyawa dan mineral; yang dapat dicapai dengan
cara analisis gravimetri langsung, tak langsung atau menggabungkan dengan data dari
metode analisis lain.
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 131
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 132
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 133
hanya bisa digeser secara parsial arau total oleh AbOJ dan sebaliknya, CaO dapat
digeser oleh MgO; .MnO; FeO dsb. Karena pergeseran .ini terjadi pada tingkat yang
tidak rnenentu, maka jumlah mol konstituen mineral tersebut tidak meberikan
hubungan perbandingan yang sederhana terhadap konstituen lain. Seba1iknya, bila
konstituen B menggeser secara parsial A jumlah mol A dan B sama dengan jumlah
mol Abila kebearadaannya tidak digeser oleh B. Sehingga bila jurnlah mol konstituen
tidak menunjukkan hubungan rasio yang sederhana maka jumlah konstituen-
konstituen tersebut ditambahkan untuk memperoleh angka rasio dengan konstituen
lain yang bulat dan sederhana. Untuk memperjelas uraian ini akan diambil contoh
analisis mineral pada bagian lain (lihat contoh, latihan dan soal).
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 134
er+ Ag AgC1cndapan
Pada awal terbentuknya, endapan AgCl akan merupakan koloidal yang akan kristal
padat dengan bantuan pemanasan pengadukan cepat. Endapan yang telah disaring
dicuci dengan asam nitrat, untuk mencegah pembentukan koloid dikeringkan pada
130 - 150 °c dan ditimbang sebagai AgCL
Perak klorida memiliki sifat sensitif terhadap cahaya, yang dapat
terdekomposisi rnenjadi perak dan klorin. Perak yang terdispersi pada larutan perak
klorida akan memunculkan wama ungu. Dekornposisi ini bisa diabaikan bila
Analisis Gravirnetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 135
endapan tidak terpapar cahaya marahari langsung dan dengan pengadukan. Penentuan
perak akan lebih baik bila dilakukan di lingkungan dengan tingkat cahaya yang
serendah-rendahnya.
atau sebagai
--- Fe(OH)3 + 3 � +
Selama analisis besi, maka unsur lain yang dapat terendapkan oleh keberadaan
ammonia hams dihilangkan. Beberapa kation yang dapat terendapkan dengan
perlakuan ammonia, antara lain Al, Cr(III), titanium dan zirkonium. Keberadaan
reagen pengoksidasi (terutarna oksigen di udara) mangan akan terendapkan sebagai
dioksida terhidrat, Anion-anion seperti arsenat, fosfat, vanadat dan silikat yang dapat
----�memhentuLs.enJro�an._:hesLta:LJaruLdalam-...:1ingkungan-asam.....:1emah---..:harus,----
dihilangkan. Keberadan garam-garam asarn hiroksi organik (seperti asam-asam sitrat,
tartrat dan salisilat), senyawaan hidroksi (gliserol dan gula), alkali pirofosfat dan
florida harus dijaga karena dapat membentuk garam-garam kompleks dan bentuk
nonendapan Fe(OH)3.
Hasil kali kelarutan besi(lII)oksida berada pada tinglat l 0-38 sehingga
memungkinkan terjadinya pengendapan kuantitatif, bahkan pada lingkungan larutan
asam lemah. Endapan pada awal pembentukaanya akan merupakan suatu fasa
terdispersi ynng akan terkoaguilasi rnenjadi massa bersifat gelatin pada perlakuan
pemanasan larutan dan dengan keberadaan elektrolit. Pemanasan lanjut akan
Annlisis Grnvimctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 137
Proses ini dilakukan pada 15 - 30 °c untuk mernastikan bahwa di dalam sistem tak
terdapat bentuk monohidrat MgNH,J'04.H20. Garam ini bersifat stabil pada kondisi
suhu di atas 62 °c. Bila hal ini terjadi, maka sistem harus didiamkan pada temperatur
ruang selama _24 jam untuk mengubahnya ke bentuk heksahidrat,
Endapan ini memiliki kelarutan yang relatif tinggi ( sekitar 65 mg dm" pada
suhu 10 °c dalam akuades). Keberadaan ammonia akan menurunkanjumlah tersebut,
dan memiliki kecenderungan membentuk larutan lewat jenuh; karena itu larutan
hendaknya didiamkan beberapa jam sebelum difiltrasi. Endapan dicuci dengan
larutan amonia dan ditirnbang sebagai bentuk heksahidrat atau pirofosfat. Untuk
pirofosfat, endapan dipanaskan pada suhu yang lebih tinggi (lebih dari 1000 "c
se1ama satujam) menjadi magnesium pirofosfat.
Contoh:
Contoh 1: Tentukan jumlah Fe304 yang hams ada untuk menghasilkan
0,5430 gram Fe20J pada analisis grs vimetri ?
Analisis Gravirnetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 138
sehingga
2 463,l
O 5430 x BM Fe304 = 0 5430 x = 0 5249 ram Fe2 O3
, 3 BM Fe203 ' 479,1 ' g
Jawaban: Satu mo! Ba2+ bereaksi dengan I mo! SO/. Satu mo! BaCl2.2H20 (244
gram) bereaksi dengan 1 mo! Na2S04• J OH20 (322 gram). Rasio berat
molekul tersebut merupakan faktor gravimetri yang akan digunakan
pada perhitungan selanjutnya.
7,5&
= 84 2 ml:
0,0900 '
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 139
Conteh 3: Metode gravimetri tak Iangsung: Dalam analisis 2 gram sampel batu
kapur berat oksida besi dan aluminium (Fe203 dan Ah03) adalah
0,0812 gram. Dengan metode volurnetri, persentase batu kapur sebagai
FeO ada1ah 1,5. Berapakah persentase Ah03 dalam sampel?
Jawaban:
BM FeO
2 3
BeratFe203 = 0,0300 x = 0,0333 gram
2 BM FeO .
Jawaban: Dari data densitas, maka berat molekul kira-kira adalali 2,81 x BM 02
= 90. Untuk satu mo! senyawa tersebut (90 gram)
90 x 0,4
--- = 3 gram atom C
12,01
90 x 0,0671
---- = 6 gram atom H
1,008
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 140
90 x 0,5329
----- = 3 gram atom O
16,00
Contoh 5: Analisis terhadap sampel batuan dipe1:01eh data Ah03 20,69 %; Fe203
7,03 %; CaO 27,71 % dan Si02 44,55 %. Tentukan rumus empiris
sampe1.
Jawaban: Apabila diasumsikan jumlah sampel adalali JOO gram, jumlah mo!
masing-masing pertyusun adalah
27 71
' = 0,4941 mol CaO
BMCaO
44,55
= 0. 7414 mo! Si02
Si02
Dari angka-angka di atas, hanya mo! dua komponen pertama saja yang
bisa dibuat rasio sederhana satu terhadap yang lainnya, yaitu 1 :2 :
3. Hal ini mengindikasikan adanya isomorfz antara Fe203 dan Al203
sehinggan rumus mineral dapat dituliskan sebagai
(Al,Fe)i03.2Ca0.3SiO:! atau
Cai(Al,Fe) 2Si3011
Analisis Gravirnetri
__________________B_a_ha_n_A::....ja_r�nal isis Kuantitatif 141
Latihan:
1. Dua gram sampe] NaCl yang mengandung pengotor dilarutkan di dalam air dan
diendapkan dengan penambahan perak nitrat berlebih menghasilkan 4,6280 gram
perak klorida. Tentukan persentase klorin dalam sampel.
3. Suatu sampel batu kapur seberat 1,2456 gram mengandung 0,0228 gram Fe203,
1,3101 gram CaSQ4 dan 0,0551 gram Mg2P201. Tentukan persentase a) Fe,
b) CaO, c) MgO dalam batu kapur, d) Jumlah C02 yang digunakan dalam asosiasi
dengan CaO.
Seal (Tugas):
1. Analisis 0,5 gram mineral feldspar diperoleh data adanya campuran klorida
natrium dan kalium sebanyak 0,1180 gram. Perlakuan lanjutan dengan
penambahan AgN03 menghasilkan 0,2451 gram AgCL Tentukan persentase
Na20 dan K20 dalam sampel.
2. Data analisis mineral menunjukkan persentase oksida-oksida sebagai berikut:
CaO 45, 18 %; MgO 8, 10 %; FeO 4 %; Si02 6,02 %; C02 34,67 % dan H20
2,03 %. Pada pernanasan dengan oksigen bahan yang dipanaskan tidak Jagi
Analisis Gravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 142
mengandung air dan kadar C02 3,3 %. Pada proses tersebut besi mengalami
oksidasi rnenjadi besi(IlI). Hitung persentase CaO dan Fe203 dalam material
yang dipanaskan.
Analisis Gravimetri
BAB VI
ANAL1S1S VOLl7METRIK GAS
Pada bagian ini analisis gas hanya akan mernbahas problem penentuan
komponen campuran gas dan jumlah substan tertentu dengan mengukur jumlah gas
yang dihasilkan pada reaksi kimia selama proses pengukuran. Perhitungan-
perhitungan j umlah gas mengasumsikan berlakunya hukum-hukum gas ideal.
Analisis gas dapat dilakukan dengan beberapa cara; pengukuran volume
(volumetrik), fisik, dan titrasi volumetri. Metode volumetrik; pengukuran volume
campuran gas dilakukan pada kondisi standar atau pada tekanan dan temperatur
tertentu. Sejumlah bahan untuk menyerap gas ditambahkan, apabila bahan ini tidak
sesuai untuk gas tertentu dimungkinkan untuk digunakan sebagi katalisator dalam
penentuan komponen Jain pata kondisi tertentu. Volume yang terukur digunakan
untuk menghitung komposisi carnpuran gas. Pengukuran secara fisik dilakukan
dengan refraktometer atau spekrofotometer untuk mengkarakterisasi indeks panas,
konduktivitas panas dan densitas gas. Gas-gas yang larut dalam air, seperti amonia,
HCN, HCI dilakukan dengan metode titrasi volumetri.
Suatu contoh analisis gas diilustrasikan pada penentuan CO berikut. Gas CO
dilewatkan pada T20s hingga terbentuk C02 dan h. C02 dapat ditangkap dengan
Ba(OH)2 untuk membentuk endapan BaCO:i. Endapan kemudian ditimbang untuk
menentttkm1 .Jumlaff-CO . yang .. aan-s-e·cnTa-sto-i-k-iomet:fi·s-.Metode-ckedua.cdapat _
dilkakukan dengan menitrasi 12 yang terbentuk deugan larutan standar Na2S203. Titik
akhir titrasi mengindikasikan jumlah I2 yang terbentuk dan proprosional dengan
sampel CO.
Beberapa alat dapat digunakan pada pengukuran volumetrik, pesawat
Hample, Orsat, Amber dan Bone/Whell. Prinsip kerja alat-alat ini adalah sama. Gas
dari penampungan dilewatkan kolom kaca (buret) melalui pipa kaca. Dari buret gas
melewati sederet botol kaca yang berisi adsorben yang spesifik terhadap gas-gas
tertentu. Dengan mengarnati tinggi air raksa pada skala pengamat dan jenis adsorben
yang digunakan komponen gas dapat ditentukan.
pv = p'v' = k
dengan pv dan P 'v' adalah tekanan dikalikan volume pada kondisi l dan 2 dari
sejumlah tertentu gas, dank adalah konstanta.
v T
v' T'
dengan v dan v ' adalah volume 1 dan 2, T dan T' adalah ternperatur (K). Kedua
hukum gas tersebut dapat digabung menjadi
Hukum Dalton. Tekanan dari beberapa gas merupakan jumlahan dari tekanan
masing-masing komponen gas. Tekanan gas tungga! sama dengan tekanan partial gas
tersebut pada volume yang sama.
dua bagian volume hidrogen bereaksi .dengan satu bagian volume oksigen
menghasilkan dua bagian volume uap air.
Contoh:
Lima liter campuran gas terdiri dari 0,5 bagian H2, 0,5 bagian CO dan sisanya CH-1.
Apabila campuran ini dibakar, berapa jumlah 02 yang dibutuhkan ?
Jawaban:
Reaksi-reaksi pembakaran:
H2 + t 02 __....
2CO + 02 --.-
V H1 = 50 % x 5 L = 2,5 1:-,··---------�---�----
V CO = 25 % x 5 L = 1,25 L
VCH-1 = 5 L- (2,5 + 1,25) L = 1,25 L
Hukum Avogadro. Pada kondisi tekanan dan ternperatur yang sama, gas-gas
ideal yang volumenya sama memiliki jumlah partikel yang sama. Jumlah molekul 1
mol gas sama dengan 6,023. 1023 ( bilangan Avogadro).
0 4,6 21 18,5
1 4,9 22 . 19,7
2 5,3 23 20,9
3 5,7 24 22,2
4 6,1 25 23,6
5 6,5 26 25,0
6 7,0 27 26,5
7 T,5 28 28;-1
8 8,0 29 29,8
9 8,6 30 31,6
10 9,2 31 33,4
11 9,8 32 35,4
12 10,5 33 37,4
13 11.2 34 39,6
14 l.1,9 35 41,9
15 12,7 40 55,0
16 13,5 50 92,2
17 14,4 60 149,2
18 15,4 70 233,8
19 16,4 80 355,5
20 17,4 90 526,0
Contoh:
Sesuai hukum Charles dan Boyle, bila suatu gas kering pada tekanan 755 mm_Bg dan
suhu 26 °c memiliki volume 50 mL, maka pada kondisi standar volume gas dihitung
sebagai beriikut:
Kondisi standar: p = 760 mmllg dan T = 273 K.. maka volume gas adalah
50 mL x 755/760 x 273/299 = 45,4 mL
Untuk keadaan di atas, apabila volume gas diukur di atas permukaan air, adanya
falctor koreksi dari tekanan uap air:
Dari tabel 6.1 tekanan uap air pada 26 °c adalah 25 mmHg.
Tekanan parsial gas sama dengan 755 - 25 = 730 mmHg.
Volume gas pada kondisi standar adalah
. 50 mL x 730/760 x 273/299 = 43,9 mL.
Perhatikan perbedaan volume terhitung karena perbedaan kondisi pengukuran.
Metode Absorpsi. Campuran gas dilewatkan pada suatu seri adssorben pada
temperatur dar, tekanan yang dijaga konstan selama pengukuran. Selisih volume gas
sebelum dan sesudah dilewatkan pada adsorben menunjukkan jumlah gas yang
terserap dan jumlah ini biasanya diekspresikan sebaga:i persen volume. Tabel 6.2
merangkum sejumlah reagen yang digunakan sebagai adsorben penentuan gas-gas.
Contoh soal:
Sampel gas sebanyak 80 mL dilewatkan pada deretan adsorben larutan KOH, asam
sulfat berasap, larutan pirogalol alkalin dan larutan CuCl amoniakal. Setelah tiap
perlakuan residu gas pada temperatur dan tekanan tetap diukur sebanyak 78,7; 75,5;
75,1 dan 68,3 mL. Tentukan komposisi gas(%) !
Jawaban:
Volume C02 = 80 78, 7 = 1,3 mL (pada KOH)
Volume illuminant = 78, 7 - 75,5 = 3,2 tnl. (pada asam sulfat berasap)
Volume 02 = 75,5 - 75,I = 0,4 ml. (pada lart. Pirogalol alkalin)
Volume CO = 75, l - 68,3 = 6,8 ml, (pada CuCl amoniakal)
Persentase komponen gas adalah:
1,3/80 x JOO =· 1,6 % gas C02
3. 2/80 x I 00 = 4 % illuminant
Metode Pembakaran. Bila suatu campuran gas mengandung satu atau lebih
kornponen, dapat terbakar oleh oksigen, maka kornposisi carnpuran dapat ditentukan
dengan pengukuran penurunan volume gas, jumlah C02 terbentuk, volume oksigen
yang dikonsumsi atau gabungan pengukuran tersebut. Suatu reaksi pembakaran
maka menurut hukum Gay-Lussac dua bagian volume CO dibakar dengan satu bagian
02 menghasilkan dua bagian C02. Pembakaran ini disertai kontraksi (penurunan)
setengah volume karbon monoksida yang ada dan menghasilkan sejumlah karbon
dioksida sebanyak jumlah volume karbon monoksida awal. Tabel 6.3 berikut
merangkum sejumlah reaksi pembakaran yang biasa dijumpai pada analisis gas.
Bagian kanan tabel menunjukkan hubungan volumenya. Apabila gas pembakar yang
digunakan adalah udara, maka diasumsikan jumlah 02 yang bereaksi adalah 20,9 %
dari volume udara.
Contoh soal:
Suatu campuran gas sebanyak 20 mt. terdiri dad CO, CH4 dan N2. Delapan puluh
mililiter 02 ditambahkan ke dalam sistem untuk mernbakar gas-gas tersebut. Setelah
pendinginan volume gas tercatat 79 ml., Setelah gas ini dilewatkan lam.tan KOH.
volume residu tercatat 61 ml.. Tentukan kornposisi campuran gas tersebut !
.Jawaban:
Apabila dimisalkan x = volume CO, y = volume CH4, dan z = volume N;,
maka
x + y + z = 20 mL (!)
Perubahan (kontraksi) vomule karena pembakaran Tabel 6.3 adalah
Yix + 2y = JOO 79 = 21 (2)
Karban dioksida yang dihasilkan (tabel 6.3):
x + y = 79 - 6 I = 18 (3)
Penyelesaian dari tiga persamaan ini adalah
x = IO,O ml CO
y = 8,0 mL CH4
z = 2,0 ml.N,
3. Hitunglah jumlah air yang dihasilkan dari 8 gram H4CanAloSi100.n (BM= 1-616)
yang diukur pada
4. Campuran gas mengandung CO, CR4 dan asetilen. Ke dalam 50 ml, sampel
ditarnbahkan 140 ml, 02 dan campuran dibakar. Setelah pendinginan diperoleh
volume 116 mL, dan setelah dilewatkan larutan KOH disisakan volume 54 mL.
Tentukan persentase campuran gas.
5. Dari data berikut hitunglah komposisi (%) sampel gas penerang. Jumlah sampel
100,6 mL. Volume setelah perlakuan:
KOH= 98,4 ml.; Br2 = 94,2 mL; pirogalol = 93,7 mL; CuCl = 85,2 mL. Gas residu
untuk dibakar sejumlah 10,3 ml.; volume udara yang ditambahkan = 87,3 ml.;
volume setelah pembakaran dan pendinginan = 80,1 mL; C02 yang dihasilkan =
5,2 mL.
Soal-soal:
l. Hitunglah jumlah 02 ( mol dan gram) sebanyak 8 L yang diukur di atas uap air
pada 40 °c dan tekanan barometrik 750 mmHg.
a. Bila sejumlah 02 di atas merniliki volume 7 L diukur pada suhu 14 °c di
atas-uap·air;--tentukan�tekanan-yang-d-itim-bulk:an-gas-02-sendi-tian _
b. Hitunglah suhu gas 02 kering dengan jumlah yang sarna menempati
volume 9 L pada tekanan 720 mmHg.
2. Suatu gas cerobong asap mengandung 3,8 % 02, 15 % C02 dan N2. 95 mL sampel
diambil da.ri Jokasi dengan me.ngaJirkannya ke dalam perlengkapan absorpsi.
Hitunglah volume yang terbaca setelah absorpsi pada sederet absorben beriktu;
KOH, pirogalol dan CuCl amoniakal.
3. Campuran C2H6, H2, CO dan N2 memiliki volume 28 mL. Campuran ini dibakar
dengan 72 mL 02. Setelah pendinginan diperoleh residu 60 mL. Perlakuan dengan
KOH mencatat residu kedua 34 mL dan pada pengaliran melewati fosfor kuning
menyisakan 4 mL gas. Tentukan kornposisi capuran gas (%).
Tu gas:
Sampel gas dari tungku kokas mengadung hidrogen, metana, etana, hidrokarbon tak
jenuh (iluminan) karbon monoksida, karbon dioksi-ia, nitrogen dan oksigen. Analisis
100 mL melalui pengliran berseri pada KOH, asam sulfat berasap dan pirogalol
alkalin rnenunjukkan volume terbaca 96,7� 95,2 dan 95 mL. Residu dialirkan pada
CuO (dengan pemanasan). Setelah dingin (temperatur ruang) diperoleh volume
35,5 mL dan 5,5 mL darinya diabsorpsi Iarutan KOH. 10 mL gas residu dibakar
dengan 90 mL 02 dan penyusuitan volume rnenjadi 83,5 mL. Larutan KOH kembali
dapat menyerap 9 mL residu ini. Hitunglah persentase setiap komponen campuran
gas tersebut
...• ,�, •·
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif
ELEKTROGRA YlMETRl
Hukum Ohm. Hukum Ohm menyatakan hubungan antara tiga besaran ams,
daya dorong listrik dan tahanan, bahwa arus I yang mengal ir berbanding lurus dengan
daya dorong listrik F dan herbanding terhalik denan tahanan R, atau
Elcktrogrnvi mctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 154
E (7.1)
I=
R
Sel Volta (Galvani) clan Sel Elektrolisis. Suatu sel tersusun dari dua
·----elektroda.-dan-satu_atatLJ.ehilLlaru.t.an.__dalam......s_u_a_tJJ wa_q_a h. _A.Ra bi la ... suatu sel _
menghasilkan energi listrik disebut sel Volta (Galvani). Sebaliknya apabila energi
listrik diaplikasikan dari sumber eksternal ke dalam sel terbentuk suatu sel elektrolisis
dan perubahan material pada elektrodanya mengikuti hukum Faraday. Elektroda
ternpat terjadinya reaksi reduksi disebut katoda, Katoda suatu sel elektrolisis
tersambung dengan kutub negatip sumber eksternal. Pada sel galvani katoda
merupakan kutub positip, Elektroda tempat terjadinya reaksi oksidasi adalah anoda.
Anoda merupakan terminal positip pada sel elektrolisis dan negatip pada sel galvani.
Elektroda-elektroda dapat mengalami deviasi pctensial dari potensial
kesetimbaugannya, Kcadaan dernikian disebut bah va elektroda mengalarni polarisasi
(polarised electrode). Elektroda yang terpolarisasi oleh zat bila zat tersebut
menurunkan tingkat polarisasi. Selanjutnya akan dibicarakan lebih rinci pada subbab
lain dari bahasan ini.
Dcnsitas arus, Densitas arus didefinisikan sebagai arus tiap satuan luas
permukaan elektroda. Densitas arus biasa diekspresikan dalam ampere per cm2
permukaan elektroda,
Potcnsial Dekomposisi. Apahila kepada sel yang tersusun atas dua elektroda
Pt di dalam larutan asam diaplikasikan tegangan kecil maka ammeter pada sirkuit
akan menunjukkan adanya aliran arus listrik. Arus ini kemudian mengecil hingga
mencapai nol. Bila tegangan aplikasi dinaikkan arus akan bertambah hingga
ruencapai suatu harga, Aplikasi tegangan yang leb.h besar pada saat kondisi tersebut
tercapai akan meuaikkan arus secara cepat seiring kenaikan daya dorong listrik yang
diberikan. Secara umum pada saat arus listrik naik secara tajam akan terarnati adanya
-�----gelembung-gas-yan:g-keluar-da-r-i-elek:tr0cla�A13ahi-1-a-ar-us-yang-menga-li-r�dial1.:1:r-kan-···-·· -··-·-·-
terhadap tegangan aplikasi akan diperoleh kurva dengan pola seperti pada gambar
7.1. Pada kurva tersebut teramati adanya titik belok yang rnengindikasikan letak
potensial dekomposisi sistem,
Elcktrogrnvi met ri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 156
Potensial dekomposisi
... .
... .. Tegangan aplikasi (volt)
..
Garn bar 7.1 Hubungan arus terhadap tegangan aplikasi dalam penentuan
potensial dekomposisi analit
Elcktrogravimctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 157
Untuk membangkitkan arus sebesar I amper dalam sel elektrolisis diperlukan suatu
potensial eksternal sebesar IR volt lebih tinggi dari pada potensial termodinamik Es::1·
Sehingga
Dengan Eeks. Merupakan tegangan aplikasi yang hams diberikan dari luar (eksternal),
Esel adalah potensial termodinamik sel (selisih potensial elektrcda-elektrodanya), E,?1cs.
Ammeter Ammeter
�Rt
-2,00mA
.................................. ,.;.
J_ �J--1M4
Saklar Saklar
.......
+ +
: �
Cambar 7.2 Pengaruh JR drop pada potensial sel: a) arus dan IR nol
b) sel galvani dengan Rsei = 40 Q dan c) sel elektrolisis
dengan R�c1 = 40 .0.
terbuka. Pada voltmeter terukur resisensi sel yang tinggi karena tak ada arus dari sel.
Pada kondisi ini potensial terukur merupakan potyensial termodinamik, sebesar
0,412 V.
Garnbar 7.2.b pada saat sirkuit ditutup arus mengalir pada tahanan variabel Rr.
dan ammeter. Besarnya arus akan berubah d.engan posisi kontak pada RL, Bila posisi
kontak adalah sedemikian hingga arus terukur di ammeter sebesar 2,00 mA, maka IR
drop pada sel adalah 2,00 mA x 40 Q = 0,08 V. Sehingga potensial yang melewati
sel sebesar 0,412 V - 0,08 V = 0,332 V.
Pada gambar 7.2.c suatu sumber eksternal diaplikasikan ke dalam sel dalam
arah berlawanan dengan Esc1- Dengan mengatur RL (load resistor) arus dapat dibalik
sehingga proses galvani akan terbalik membentuk sistem elektrolisis. Bila RL diatur
hingga arus terbaca 2,00 mA maka tegangan aplikasi eksternal Eeks. Iebih besar dari
pada Escl , 0,08 V atau
atau
r = R.l 1�
.',,r.k.,. -
l , ..
R .',,sci (7.3)
Pada kondisi arus yang sangat kecil dan periode yang singkat E sel relatif konstan
selama elektrolisis. Berdasarkan pcrsamaan 9 .3 apabila arus dialurkan sebagai fungsi
potensial eksternal akan dipcrolch suatu garis lurus dengan kerniringan adalah
kebalikan resisteusi set dan intersep -l�clR . Bila tegangan aplkasi dinaikkan
elektrolisis akan berlangsung dan ams- akan mengalami deviasi-yang signifikan dari
gans linear. Bila E ck:.. diturunkan hingga seharga dengan Ese1 maka l= 0. Bila
Elelctrogravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif l 59
tegangan ini diturunkan terus kc harga negatip, proses yang terjadi adalah sel
galvani. Ketika Ecks.cukup negatip, kurvajuga akan mengalami deviasi dari linearitas.
Kondisi pada saat sel menunjukkan perilaku hubungan arus-tegangan nonlinear
dikatakan bahwa sel mengalami polarisasi. Tingkat polarisasi sel digambarkan pada
istilah overvoltage atau overpotential, yang disimbolkan sebagai IT. Dengan
melibatkan IT persamaan 7.2 menjadi
.lcktrogravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 160
massa berikut akan ditinjau proses tersebut pada katoda (proses serupa juga terjadi
pada anoda).
Difusi. Bila di dalam larutan terjadi beda konsentrasi pada suatu daerah
tertentu terhadap daerah lain, ion atau molekul akan bergerak dari daerah dengan
konsentasi pekat ke konsentrasi yang lebih encer. Laju difusi ini proporsional
terhadap beda konsentrasi.
Lapisan difusi Bulk solution
Et> EB
ED
ED
EB EB
... C) EB EB
•
EB
- ... EB
EB
- •
EB EB
EB
... ED EB
ED
ED
© ED
Elektroda 104 101 A
F
'koiud�
= r: _ 0,0591
'c111• ?
1 a
O.::, [("'
1
2+] () (7.5)
.. u
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 161
dengan Erw,oda rneruipakan potensial aplikasi pada katoda. Ketika potensial aplikasi
menjadi dan semakin negatip, maka {Cu2+)0 akan semakin kecil sehingga laju difusi
dan arus menjadi semakin besar.
Konveksi. Reaktan juga dapat ditransfer menuju atau dari elektroda dengan
bantuau mekanik. Konvcksi buatan cenderung menurunkan ketebalan lapis ti.pis
difusi sehingga menurunkan polarisasi konsentrasi. Konveksi serupa juga mungkin
tyerjadi karcna fnktor alami yaitu berasal dari pengaruh temperatur atau bcda densitas
larutan. ·
- ·-·····----------------------
Elcktrogravi mctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 162
Polarisasi Kinetika, Pada polarisasi kinetika, besarnya arus dibatasi oleh laju
reaksi elektroda. Untuk mengimbangi polarisasi ini diperluk:an potensial yang lebih
besar sehingga reaksi paroh pada elektroda tetap berlangsung. Polarisasi kinetika
kebanyakan ctisebabkan oleh proses pembentukan gas-gas dan sering diabaikan pada
reaksi-reaksi deposisi. Efek kinetika biasanya rnenurun dengan naiknya temperatur
dan menurunnya densitas arus. Efek ini berganiung pula pada komposisi elektroda
dan pada elektroda-elektroda logam yang lebih kunsk; Pb, Zn dan Hg. Efek tegangan
lebih ini menyebabkan potensial sel galvani lebi h rendah dari pada perkiraan teoritis
dan memerlukan potensial yang lebih besar un.tuk menghantarkan sel elektrolisis
bekerja pada arus tertentu.
Potensial lebih terkait dengan pembentukan hidrogen dan oksigen berada pada
kisaran 1 V atau lebih dan menjadi suatu tinjauan pertimbangan penting da1am proses
elektrolisis. Logam-1.ogam seperti CuLPb,_Zn.dan:...Jig-dan-heherapalogam lain dapat
----dia.eposisl tanpa tertinterferensi pembentukan hidrogen. Secara teoritis, tidak
mungkin mendeposisi Zn dari larutan netral kar'ena pembentukan hidrogen pada
potensial dibawah potensia; deposisi Zn. Fakta, Zn dapat dideposisi pada pennukaan
Cu tanpa adanya pembentukan hidrogen yang signifikan., karena l.aju hidrogen
terbentuk pada Zn dan Cu dapat diabaikan.
Elektrogravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 163
elektroda, akan dibahas suatu contoh elektrolisis larutan seng klorida dengan
elektroda pt. Pernberian tegangan ke dalam set akan menyebabkan terjadinya deposisi
Zn pada katods dan bromin pada anoda. Reaksi tersebut adalah
Zn2+ + 2e Zn (7.6)
(7.7)
yang merupakan reaksi oksidasi. Jadi reaksi reduksi berlangsung di katoda dan
oksidasi di anoda.
Pada subbab terdahulu telah dibicarakan adanya potensial lebih. Secara
eksperimental, terbukti potensial dekomposisi suatu elektrolit bervariasi terhadap
variasi sifat elektroda yang digunakan dan selalu lebih besar dari pada potensial yang
dihitung dari selisih potensial-potensial elektrodanya. Sehingga potensial
dekomposisi
Sebagai resume berikut disarikan bahwa potensial lebih merupakan fungsi dari
variabel-variabe l:
I. Sifat dan keadaan fisik elektroda. Reaksi-reaksi yang melibatkan
pernbentukan gas biasanya mcmcrlukan potcnsial lebih yang lebih kecil bila
dilakukan pada elektroda yang dilapis Pt dari pada Pt yang kilap. Hal ini
karena luasan permukaan elektroda menjadi lebih besar dan pada arus tertentu
memiliki densitas arus yang lebih kecil.
2. Keadaan fisik deposit. Adanya gas yang terbentuk menyumbangkan harga
potensial lebih yang lebih tinggi.
3. Densitas arus. Pada harga densitas arus :i�ang kurangdari 0,01 cm", Potensial
lcbih naik secara tajam dan di alas hurga itu kcnaikan kurang tajam.
Elektrogravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 164
0 0,0591 0
EM,. + log c1 = EM2. + 0,0296 logc1 volt (798)
2
�ila kousentrnsi"-i·on-diturunkan;-dengan-adany�-pe1lgendapan,......menj.adLl/J.OOO _
.alinya maka potensial katoda menjadi
'enurunan potensial tni tak bergantung pada konsentrasi awal e1; clan pada saat .
�!ektrogravimetri
··- ·- -,. _ -·�--·· ·- ···-· -�. --··· ··--·- -- - .� .
ersebut bervariasi sebesar faktor 4 x 0,0591/2 = 0,118 volt (untuk ion bivalen).
Jntuk ion univalen: 4 x 0,0591/1 = 0,236 volt dan trivalen: 4 x 0,0591(3 = 0,079
-olt. Satu hal penting adalah kondisi deposisi logarn, bahwa beda potensial antara
.lektrolit dan katoda, E1aru1.an, logam harus lebih kecil dari potensial deposisi hidrogen
litambah potensial lebih hidrogen, secara singkat
E1nrutnn, lognrn
II Dari tabel potensial standar (Tabet 7.1) diketahui bahwa potensial reduksi
ion-ion tersebut adalah
II
I
C.. 11 2+ Cu(s! J::1 = 0,337 V
I -------------�·--·--�--------------------
l.:\cktrogravi metri
··-- ¥•- .. ·--·" "··-··-·· ··- ""- -·.. ···-·---·--··· ....
Dari harga /;,....(} Cu2·� akan terdeposisi terlebili dulu dari pada Pb2+. Akan
dihitung potensial katoda yang diperulkan untuk menurunkan konsentrasi
. dir 104 k a 1·1
C u }+ tnenja konsentrasi sebelum awal (menjadi 1 . 10-5Jv1).
Apabila harga ini dimasukkan ke dapam persamaan Nernst diperoleh:
E = 0 337 - O,OS9l lo l = 0 J 89 V
' 2 g 1 ' 0 ..10-5 ,
E = -0126
,
- 0,059l log -1
2 01
= - 0156
'
V
'
Sehingga bila potensial katoda dijaga pada rentang 0, 189 V hingga - 0, 156 V
(vs. SHE) akan terjadi pemisahan kuantitatif kedua ion. Konversi lee potensial
relat if terhadap kalomel jenuli adalah
----· ...
Elektrogravi metri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 167
dan potensial lebih. Dengan demikian sisi praktis dalam pemisahan spesies yang
memiliki perbedaan potensial yang sangat kecil (satu per sekian volt) adalah
mengukur potensial katoda secara kontinyu (terhadap potensial referensi), dan
potensial aplikasi kemudian dapat diatur untuk menjaga kekonstanan potensial katoda
sampai harga yang diinginkan. Pendekatan seperti ini dikenal dengan elektrolisis
potensial (katoda) terkontrol (yang akan dibahas pada subbab lain).
·--����������"�����������-����������
Fick t rogrnv: me! ri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 168
diikuti oleh spesies dengan potensial standar yang kurang positip, dan seterusnya.
Jadi, sebagai contoh, apabila ke dalam larutan yang mengandung cu2+, hidrogen dan
Cd2+ maka ion tembaga akan terlebih <lulu terdepoisisi pada.katoda. Ketika tembaga
mengendap, potensial akan turun sampai suatu harga yang sama dengan potensial
pembentukan gas hidrogen. Potensial katoda akan tetap hingga seluruh hiodrogen
terbentuk (hingga seluruh air terelektrolisis); dan potensial katoda tidak cukup
negatip untuk mengendapkan Cd. Ion-ion 1ogam dengan potensial reduksi positip
dapat dipisahkan dari ion logam lain (tanpa kontrol potensial dari sumber luar) yang
memiliki potensial reduksi lebih negatip, Secara ringkas, potensial lebih hidrogen
pada katoda ditambah potensial reduksi reversibel ion hidrogen harus kurang dari
harga negatip potrensial reduksi ion-ion logam yang ada di dalam larutan.
Pengendapan ( deposisi) elektrolitik di atas tel ah lama digunakan dalam
penentuan Iogam-logam secara gravimetri. Biasanya logam-logam dideposisi pada
elektroda platina ( dengan berat telah diketahui) dan kenaikan berat elektroda setelah
deposisi ditentukan. Metode serupa juga dikenal dalam deposisi logam sebagai
senyawaan tertentu pada anoda; seperti deposisi Pb sebagai Pb02 pada ancda Pt dan
klorida sebagai perak klorida. pada anoda Ag.
Ada dua kategori metode elektrogravimetri; pertama, metode tanpa kontrol
potensial elektroda kerja dan potensial aplikasi dijaga tetap pada suatu harga yang
lebih kecil atau lebih besar untuk memastikan
.._, ....... ,_._._ ,;,J,rc,t')
........... ._""'._, _,............,
'.>r"llC J""""'b
lll>MO' memadai
.. ._,_,1.t.".""'-'i,4. untuk
o.L'\o '"-
1
,I1.Qtcnsialano<l� terkontrot-yang bergantung padaelektroda kerjanya.
Instrumentasi. Sistem instrumen terdiri dari sel dan sumber arus searah.
Pencatu daya arus searah tersusun atas suatu penyearah arus, atau langsung dad
baterai, Tegangan aplikasi dikontrol dengan reostat, R. Ams dan tegangan aplikasi
Elektrogravimctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 169
dibaca dari suatu ammeter dan volmeter. Selama elektrolisis, tegangan apliaksi diatur
dengan R untuk mengahsilkan arus sebesar beberapa mA. Tegangan dijaga pada
kisaran harga tersebut hingga deposisi berlangsung sempurna. Susunan instrumentasi
ini disajikan pada gambar 7.5 di bawah.
Sel Elektrolisis. Sel untuk pengendapan 1ogam pada suatu elektroda biasanya
terdiri dari elektroda kerja; logam Pt berbentuk silinder gauze (membentuk sistem
seperti ayakan) dengan diameter 2 -3 cm dan panjang 6 cm. Anoda didesain sebagai
kawat Pt yang berada di dalam lingkaran elektroda kerja yang tersambung dengan
sirkuit luar.
�---l
6-12 V de
Ammeter
r 1 f I rl\N\,,
R
,_____. . . , vVoltmeter
sm�t Fisik Endapan Elcktrclitik, Endapan logam secara ideal harus bersifat
kuat, lunak, padat dan Iicin (smooth) sehingga dapat dicucui.. dikeringkan dan
ditimbang tanpa mengalami pengurangan atau reaksi dengan atmosfer, Endapan yang
baik harus memiliki serbuk hlus, kilau metalik. Endapan yang berpori {spongy),
serbuk atau endapan berlapis akan berkarakter kurang murni dan kurang lunak.
Elektrogravimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 170
Elektrogravimetri
,· ····· - ,, ·.· ..·, ······-··. -·-·. ··-··�·--·-· --- ····-----·· ---�- - ·---·-- -
Satu kelemahan metode ini adalah kurang selektif, tetapi tetap memberikan
keuntungan pada beberapa aplikasi penting,
Sumber listrih de
s
Sirkuit acuan
"':.�·:;f:jt;h_; �.;.w.·r�:�.-.·'.;�1;·�
Counter electrode
O.B'ii� u ,_·::____,_� Elektrode referensi/acuan
�__,. Elektroda kerja
Voltmeter
Elektrogravimetri
..... � ' .. , ·- ., ... �--· """·-'·'····-·-- . ...._ -. -- ···-- ...•
Pada gambar 7.6 di atas disajikan dua buah sirkuit kelistrikan yang saling
independen dan disambung dengan elektrode yang sama, elektroda kerja, Sistem
elektrolisis pada rangkaian tersebut tersusun atas sumber listrik de, pernbagi potensial
ACB yang mernungkinkan variasi potensial aplikasi secara kontinyu, counter
electrode, dan suatu pengukur arus. Sirkuit kontrol tersusun atas elektroda referensi,
voltmeter dan elektroda kerja. Sirkuit kontrol memiliki resistensi yang sangat besar
sehingga sirkuit elektrolisis memasok seluruh arus yang diperlukan untuk elektrolisis.
Fungsi dari sirkuit kontrol adalah memonitor potensial antara elektroda kerja
dan referensi secara kontinyu. Apabila potensial ini mencapai tingkat yang
memungkinkan terjadinya kodeposisi spesies nonanalit maka potensial tersebut
diturunkan dengan menggeser posisi C ke kiri. Karena potensial elektroda
pasangannya (counter electrode) adalah tetap selama perubahan tersebut maka
potensial katoda menjadi lebih kecil dan mencegah terjadinya kodeposisi.
I
I Aplikasi, Metode ini merupakan cara yang efektif untuk penentuan dan
I
!
pemisahan logam-logam yang merniliki patensial elektrcde yang hampir berhimpit,
Contoh aplikasi ini adalah analisis campuran logam-logarn ternbaga, timbal,
kadmium, seng dan timah dengan elektrogravimetri menggunakan elektroda Pt. Tiga
logam pertama terdeposisi pada kodisi larutan netral yang mengandung tartrat. Ti mah
terkomp1eks menjadi timah(IV)tartrat dan tak terdeposisi. Tembaga terdeposisi pada
potensial - 0,2 V (vs SCE), Bi pada - 0,4 V (vs SCE) dan Pb pada - 0,6 V (vs SCE).
Kadmium. dan. seng terendaplfan fracitrkondrsd-arutan--am0Ria-f)ada-=-1..,.2..dan - 1 �5...:f.., _
sehingga seluruh logam dapat terpisahkan dan tertentukan kandungannya di dalam
sampel.
Contoh: Tembaga diendapkan dari larutan yang mengandung 0,l M CuS04 dan
0,1 M H2S04. Eaplikmi awal minimal = 0,87 V. Potensi� lebi�
pengendapan logam-logam lunak pada katoda sangat kecil , sedangkan
pelepasan oksigen pada anoda Pt memerlukan potensial tambahan 0,4 V.
Elektrogravi metri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 173
Diinginkan bahwa arus terjaga pada 0,25 A dan resistensi total adalah
0,2 .0., IR drop terjadi pada potensial ekstra 0,05 V.
Tentukan konsentrasi Cu2+ yang tertinggal dalam larutan saat ioh hidrogen
mulai terbentuk? (catatan: potensial lebih hidrogen pada deposisi Cu
adalah 0,4 V).
Jawaban: Pertama yang harus diingat baltwa seluruh ion Cu2+ terendapkan sebelum
ioh hidrogen mulai tereduksi. Sejumlah ion hidrogen juga terbetk pada
anoda, sehingga jumlali ion hidrogen total adalah 0,2 M + 0,2 M = 0,4
M. Potensial yang diperlukan untuk mereduksi ion hidrogen adalah
1
=- 0 04 + O - 0,059 l lo = - 04 V
' 2 g (0,4)2 '
tegangan lebih, maka potensial elektroda harus 0,4 V lebih negatip, untuk
mereduksi ft pada tembaga. Sehinggan l�wt,m.l'ial lebih disajikan dalam
tanda ncgatip. Tcmbaga berada dalam keseteimbangan dengan elektroda
yang sama dan pada potensial yang sama pula. Konsentrasi tembaga
pada keadaan ini diperoleh dari
0,0591 l 1
EH - Ec
- EC11 0 l• "
11 ,<,II 2 og [Cu2+]
- O 4 = O 34 - 0,059I lo 1
' ' 2 g [Cu2+]
[Cu2+] = 10-25 M
Dari hitungan ini maka fraksi Cu yang tertinggal dalam larutan adalah
I fT25/0, J atau I 022%.
Latihan:
1. Hitunglah potensial teoritis yang diperlukan untuk memulai elektrogravimetri
(elektrolisis)
a. tembaga dari larutan 0,150 M pada kondisi pH buffer 3,00. Oksigen
terbentuk di anoda pada 1 atm.
b. Perak bromida pada anoda perak dari larutan 0,0864 M Br· pada
lingkungan p11 buffer 3,4. Hidrogen terbentuk pada katoda pada
765 torr.
I
Col Co2+ (6,4 x 10-2M) JI Zn2+ (3,75 x 10-3 'M) I Zn
I
'!
l
J. Bila arus yang mengalir- 0,078 Adan tahanan sel 5 n.
--------------------------------------
Elektrogravimetri
.... .... ----- �. .., -- - ---·-· ... -- . - ·- -�-
Mungkinkah dilakukan pemisahan ion Br" dari ion iodida dengan kontrol
potensia1 anoda di da1am 1arutan yang rnengandung 0,250 M masing-masing
ion? (catatan: kriteria ion terpisah bila konsentrasi sisa 1,00 x 10·5 M). Bila
mungkin dipisahkan, tentukan rentang potensial anoda yang harus digunakan
(vs SCE).
oal (Tugas):
Suatu larutan mengandung dua buah ion Adan B dengan konsentrasi masing-
masing 0, 1 M. Pengambilan A (lebih mudah tereduksi) dengan
elektrogravirnetri dianggap selesai bial setelah proses hanya tersisa A
sebanyak l . 10·5 M. Tentukan beda potensial standar minimum yang
memungkinkan dilakukannya proses tersebut tanpa mendapat gangguan dari
spesies B, bila
a. A dan B adalah spesies univalen
,-----------b-:--:.i\.-dan-B-di¥alen;�==�---------------
c. A trivalen dan B univalen
Elektrogravi metri
BABVUI
1\/lETODE KOLORJMETRJ
METODE KOLORIMETRI
Dalam aspek praktek analisis, sering diperlukan penentuan kuantitas zat pada
tingkat sangat kecil (runut) yang mungkin ada sebagai pengotor berbagai bahan.
Sebagai contoh; kandungan pengotor logam yang secara teknik murni dapat diukur
dalam satu per ratusan persen, kandungan besi atau klor pada asam sulfat kemurnian
tinggi (reagent grade) yang tidak boleh melewati ambang beberapa ppm, dan
sebagainya. Kuantitas yang sangat kecil tersebut sering tidak mungkin ditentukan
dengan metoda gravimetri atau volumetri biasa, karena diperlukan sampel dalam
jumlah besar untuk memastikan konsentrasi yang cukup pengotor dalam larutan.
Dalam kasus seperti ini perlu menggunakan metoda analisis khusus; diantaranya
kolorimetri.
Mctodc Kolorirnctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 177
rnemiliki warna yang cukup inrensif Narnun, yang lebih sering wama harus dibuat
dengan penambahan beberapa reagen yang bereaksi secara kimia dengan unsur atau
ion yang ditentukan. Sebagai contoh dalam penentuan besi secara kolorirnetri,
ammonium tiosianat ditambahkan pada Iarutan analit; yang bereaksi dengan Fe3+
membentuk Fe(CNS)3 yang memiliki warna merah darah yang intensif; titanium
ditentukan dengan penambahan hidrogen peroksida (H202), yang membentuk warna
jingga kuning dengan pembentukan asam pertitanat H2[Ti02(S04)2]. Untuk larutan
dengan warna yang kurang tegas, perlu penggunaan reagen yang sesuai untuk
memberikan warna larutan menjadi intensif. Sebagai contoh, garam tembaga
berwarna biru, tetapi warnanya lemah. Karena itu untuk penetapan kolorimetri
tembaga biasanya lebih disukai mengubah ion Cu2+ dengan NH40H menjadi
kompleks berwarna kuat [Cu�3)4J2+ yaitu berwarna biru langit.
Reaksi yang melibatkan pernbentukan ion kompleks berwarna kuat dengan
mereaksikan kation logam dengan ammonia, ion CNS-, atau berbagai senyawa
organik sering digunakan untuk penentuan kolorirnetri. Diketahui bahwa ion
kompleks dapat terdisosiasi menjadi penyusun ion sederhananya (atau ion atau
molekul). Sebagai contoh ion [Cu(NH�)4]2+ terurai sebagian dalam air sebagai
berikut:
Cu2+ + 4 NH3
------�-----1-uga-diketahui-bahwa-peruraian-..kompleks..._dapat-dici:r:ikan�olelLkonstanta---
ketidakstabi lannya. Dalarn kasus ini konstanta ketidakstabilannya adalah:
Semakin kecil nilai K;mi. semakin kecil kompleks yang terurai dan kornpleksnya
semakin stabil,
Nilai Kimt kompleks berwarna sangat penting pada analisis kolorimetri.
Semakin rendah nilai Kinsr semakin sempurna reaksi pembentukan kompleks. Karena
Metode Kolorimetri
Bahan Ajar Anal isis Kuantitatif 178
itu untuk kompleks dengan Kimi yang rendah cukup ditambahkan reagen sedikit
berlebih untuk mengubah ion menjadi kompleksnya. Berbeda dengan kornpleks
dengan Kime besar, warna larutan kornpleks yang terjadi · sangat tergantung pada
banyaknya kelebihan reagen yang ditambahkan, Ketika reaksi pembentukan
kompleks digunakan untuk analisis ko1orimetri, maka sangat penting dalam hal
pemilihan pelarut yang sesuai yang mempengaruhi Ki11s1 kornpleks, pH larutan,
kondisi reaksi (seperti konsentrasi reagen yang digunakan), dan sebagainya,
Selain reaksi pernbentukau kornpleks, reaksi lain seperti reduksi oksidasi,
sintesis organik juga sering digunakan dalam kolorimetri. Sebagai contoh, mangan
dan krom ditentukan secara kol.orimetri dengan oksidasi menjadi ion Mn04- dan
CrO/ yang berwarna; penentuan nitrit didasarkan pada reaksi dengan reagen organik
cc-naftilatnin dan asam sulfanilat, yang membentuk pewarna merah yang kuat dengan
ion N02-. Kadangkala digunakan reaksi yang melibatkan pembentukan senyawa
peroksida berwarna, seperti asam pertitanat H2[Ti02(S04)2] dalam penetapan
titanium.
Metoda kolorimetri sangat sentitif, artinya metoda ini sangat sesuai untuk
penetapan unsur pada konsentrasi sangat rendah, disamping sederhana dan lebih cepat
daripada penetapan dengan gravimetri dan volumetri. Metoda analisis kuantitatif lain
yang terkait dengan kolorimetri adalah nefelometri dan turbidimetri, Perbedaan pada
keduanya adalah bahwa nefelometri dan turbidimetri didasarkan pada reaksi yang
melibatkan pembentukan senyawa sukar larut dan jumlah analit dihitung dari
turbfditas-yat1g-di·hasi-tkan-clalam-larntan-clengan--n\e+Hea-nding-kan�dengan--turb.iditas,...�---
larutan standar yang sesuai.
Dalam penentuan turbidimetri larutan tersebut diuji dengan melewatkan
cahaya, berkurangnya intensitas cahaya disebabkan oleh adanya partikel tersuspensi
fasa padatan yang diukur. Pada nefelometri, penetapan kadar analit lamtan diuji
dengan arah tegak lurus dengan berkas sinar. Dalam hal ini yang diamati intensitas
cahaya yang dihamburkan oleh partikel fasa padatan. Perbedaan keduanya
ditunjukkan pada garnbar 8. 1.
Metode Kolorimetri
Bahun Ajar Analisis Kuantitatif 179
a b
----.. Mata/
-. photocell
Mata/
photocell
Gambar 8.1 Garn bar skema penetapan nefelometri (a) dan turbidimetri (b)
Mctodc Kolorimctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif t 80
Dal am hal larutan cair, yang biasa digunakan dalam kolorimetri, I, kecil dibandingkan
dengan la dan It, sehingga
Besarnya I, tergantung adanya larutan molekul atau ion zat berwarna yang menyerap
cahaya Iebih kuat daripada pelarut (air, alkohol, ether, dll.). Sehingga setelah
melewati larutan berkas cahaya tersebut intensitasnya berkurang; berkurangnya
intensitas tersebut meningkat dengan banyaknya molekul atau ion zat berwarna yang
ditemui dalam lintasan cahaya, dan karena itu berkurangnya intensitas tergantung
pada konsentrasi dan tebal lapisan larutan (b) yang dilewati cahaya.
log�=cbC
I,
besarnya log IJI1 adalah ukuran bcrkurangnya cahaya ketika melewati larutan, yang
dikenal dengan absorbansi A. (dulu :ekstingsi atau kerapatan optik, D). Konstanta 6
tergantung sifat zat penyerap dan panjang gelombang cahaya. Jika konsentrasi C
dinyatakan dalam mol per lite,, maka konstanta tersebut dikenal dengan absorptivitas
molar (dulu : koerisien eKStings1 molarJTarut'"i'i"ann.-------�-�---------
Rurnus tersebut adalah ungkapan hukum absorpsi cahaya oleh larutan
berwaroa. Hukum ini (Hukurn Lambert-Beer) dapat dinyatakan sbb: kerapatan optik
suatu larutan sebanding dengan hasil konsentrasi zat penyerap (berwarna) dan
ketebalan lapisan 1arutan. Dari rumus di atas kita peroleh
] =] xJQchC
I n
Mctode Kolorimctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 181
Andaikan berkas cahaya melewati kolom larutan ABCD dengan arah yang
ditunjukkan oleh anak panah. Jika kita meninjau dalam kolom ini, lapisan tipis sangat
kecil dengan ketebalan dh; ketika cahaya melewati lapisan ini intensitas cahaya akan
berubah sebesar -dl. Karena dT sangat kecil, kita dapat rnengasurnsikan bahwa
intensitas cahaya (T) y<1ng melewati lapisan ini konstan.
Dengan mcngasumsikan pcngurangan intcnsitas cahaya (-dl) sebanding
dengan intensitas 1 dalam lapisan tersebut dan ketcbalan lapisan dh, dapat kita tulis:
-dl Kil db
atau
Melodi: Kolori111L·tri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 182
atau
(1)
c: = 0,4343 K1
Dengan cara "yang sama, dengan mengasumsikan perubahan intensitas cahaya (dl)
disebabkan penambahan konsetrasi zat penyerap yang sangat kecil sebanding dengan
I dan dC, kita peroleh
dt = K2I dC
Jelaslah bahwa dari persamaan 1 dan 2 bahwa absorbansi sebanding dengan tebal
larutan dan konsentrasinya. Sehingga dapat ditulis sebagai
Sejauh ini telah ditinjau transmisi cahaya monokromatik, yang diikuti oleh
pcngurungan intensitas /0 ke /. Da'am hal cahaya putih, karena ketidaksamaan
Mctodc Kolorirnctri
.,. -. �-. .,-- -·---....... r � - -
absorpsi cahaya pada panjang gelombang berbeda oleh zat berwarna, maka larutan
tersebut mendapatkan warna komplementer dengan cahaya yang sesuai dengan
cahaya yang diserap, lntensitas warna harusnya bervariasi terhadap konsentrasi dan
ketebalan lapisan larutan sesuai dengan hukum Lambert-Beer. Karena itu hukum ini
dapat digunakan untuk penentuan kolorimetri yang didasarkan pada perbandingan
warna larutan.
Marilah kita tinjau hukum Lambert-Beer yang digunakan untuk perbandingan
warna dalaui kuloi imeu i visual, Seandainya kita memiliki dua larutan (analit dan
standar) yang mengandung zat berwarna yang sama pada konseutrasi Cun dau C�1.
dengan ketebalan lapisan hun dan llst· Dengan menggurrakan huk.um Lambert-Beer,
dapat ditulis untok kedua larutan
I
Karena kedua larutan mengandung zat berwarna yang sama ada, maka
konstanta e memiliki harga yang sama pada kedua persamaan di atas demikianjuga
I juga Io masing-masing. Jika ketebalan lapisan larutan yang dilewati cahaya dibuat
I
sedem1kian l1ingga-kedua-larutaR-me1n.i.!iki-wama.y.ang sama, maka It dan 11' memiliki
harga yang sama pula. Sehingga dapat ditulis
I
I
!
(3)
Mctoclc Kolorimctri
�-"- _.__ ,,,_, ... ----· .......� ·- �-., ... " ..
I
Namun sering dijumpai zat berwarna mengalami perubahan kimia yang
mempengaruhi wamanya ketika konsentrasi divariasi. Larutan seperti itu tidak
mengikuti hukum Lambert-Beer. Dalarn kasus seperti itu absortivitas molar e, yang
I
dalam hukum ini harus dibuat tetap untuk zat yang diinginkan, akan berubah dengan
konsentrasi. Sehingga persamaan 4 tidak dapat diterapkan dan metoda
pengeimbangan tidak dapat digunakan.
Sebagai ilustrasi, akan ditinjau contah asam pikrat (C6H2(N02)30H yang
rnerupakan asam lemah. Untuk memudahkan penulisan, selanjutnya hanya digunakan
HA untuk asam tersebut. Ketika asam ini dilarutkan, kesetirnbangan yang terjadi
HAo .=====, HA
tidak bcrwarna kuning kuning
[H+][A]
[HA] =K
-------···-·--------------------------
Mctodc Kolorimctri
- -�-- .. ,.�- -· ·- ... "-· . .
X+R = XR
[X][R]
[XR] = K,11s1
Persamaan ini menunjukkan bahwa kompleks berwarna harus mengurai ketika larutan
diencerkan. Akan tetapi pengurangan intensitas warna ketika larutan diencerkan lebih
cepat daripada pengurangan konsentrasi total kompleks. Terlihat bahwa hukum
Lambert-Beer juga fiaardap-ardtterapka:n-da-1-am-ka-su-s-inic-N.amun-Jka...di.gunak.an�----
kelebihan reagen (R), disosiasi kornpleks XR banyak dikurangi sehingga
penyimpangan hukum Lambert-Beer dapat diabaikan. Un:tuk mencapai kondisi ini,
larutan diencerkan tidak dengan air melainkan dengan reagen, sehingga konsentrasi
kompleksnya dapat dijaga konstan.Besarnya penyimpangan hukum Lambert-Beer
juga tergantung pada nilai Kinst· kompleks. Sernakin kecil harganya maka
pcnyimpangan dari hukurn itu sernakin kecil dan semakin kecil kelebihan reagen
yang digunakan untuk mencegah disosiasi kompleks tersebut.
Metodc Kolorimetri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 186
II
bergabung tanpa menghasilkan produk berwarna
2. Ion lain tersebut memang berwarna
3. Ion lain ad.alah anion yang bergabung dengan kation yang akan ditentukan
j membentuk senyawa atau kompleks dengan derajad disosiasi rendah.
l Dalam penetapan dengan kolorirnetri pengaruh ton ll:tmpa-dn-,,..,ama-htrtttan-har-us,-----
dihilangkan. Penghilangan dapat dilakukan dengan metoda fisik atau kimia.
Mctodc Kolorimctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 187
atau Nl{4f dalam larutannya, agar supaya ion ferri membentuk kompleks tidak
berwarna yang sangat stabil [FeF6]3-. Pengaruh ion Fe3+ dapat juga dihilangkan
dengan asam tartrat atau sitrat, dan pirofosfat.
lon pengganggu dapat juga dihilangkan dengan mengubah valensinya.
Sebagai contoh pembentukan F(CNS)3 dapat juga dicegah dengan mereduksi Fe3+
menjadi Fe2+, yang tidak rnembentuk senyawa berwarna dengan �CNS.
Kadangkala penggunaaan zat pelindung tidak mernungkinkan, maka cara yang lain
dengan melakukan pernisahan, atau ekstraksi.
Mctoda Dcret Standar. Dalam metoda ini digunakan seri Iarutan standar analit
yang akan ditetapkan dengan konsentrasi berbeda yang berurutan, sehingga akan
diperolch skala kolorimctri.
Metode Kolorimetri
·- ····· ......... ---·· ,-.. -· ··- -· � ·- ..
Metoda Pengenceran. Dalam metoda ini hanya digunakan satu larutan standar,
dan konsentrasinya dibuat sama dengan analit dengan pengenceran. Pengencerannya
biasanya dilakukan pada silinder gelas dengan skala mililiter .. Kedua silinder analit
dan standar diletakkan pada rak dan salah satu larutan yang lebih pekat diencerkan
sampai warnanya terlihat tepat sama. Volume diukur sebelurn dan setelah
pengenceran.
Titrasi Kolorimetrl. Dalam metoda ini juga digunakan satu larutan standar,
tetapi warnanya disesuaikan agar sama dengan analit dengan penambahan bertetes-
tetes dengan buret larutan standar unsur yang akan ditentukan.
h.tl
C,,,, = Cs,-1-
2""
dua silinder tcrsebut. Kemudian kedua silinder tersebut di lihat dari atas dan larutan
yang lebih pekat warnanya dikeluarkan secara perlahan ke gelas beaker yang ada di
bawahnya. Ketika warna kedua larutan tersebut telah sama maka dibaca skala pada
silinder gelas dan dihitung konsentrasi analit dengan rumus di atas.
Metode Kolorimetri
,., -------·- .. - --· •,. ,_ ··-·.
A,111
cw,= c; T SI
,----------------�-·-�-----------�-----. ---·
i
i
I
!
'
I
I
I Metode Kolorirnetri
BABJX
PENGANTARSPEKTROFOTOMETRI
PENGANTAR SPEKTROFOTOMETRI
Variasi warna dari suatu sistem yang berubah terhadap perubahan konsentrasi
komponen larutan menjadi dasar bagi rnetode kolorirnetri-sebagaimana telah lebih
dulu dibicarakan pada bab 8, bagian dari buku ajar ini. Warna biasanya muncul
karena terbentuknya senyawa berwarna yang terjadi karena penambahan suatu reagen
atau telah dcngan scndirinya karcna komponen terscbut memiliki warna tetentu.
Pada metode kolorimetri, kolorimetri visual memanfaatkan sumber cahaya
alami atau lampu yang diaplikasikan pada suatu kolorirneter dan mata pengamat
adalah suatu detektor pembanding warna tersebut. Apabila mata digantikan oleh suatu
sel fotolistrik, maka instnunen ini dikenal dengan kolorimetcr fotolistrik.
Metode analisis spektrofotometri menggunakan sumber radiasi yang memiliki
spektra panjang gelombang sampai daerah ultraungu (ultraviolet). Instrumen untuk
realisasi metode ini dikenal dengan spektrofotometer. Nama instrnmentasi
spektrofotomcter mcngindikasikan adanya dua sistcm instrumen dalarn satu kesatuan,
spektrorneter dan fotometer.
Spektrornetcr optik merupakan instrumcn yang memiliki sistem optik yang
mampu mendispersikan radiasi elektrornagnetik. Instrumen ini marnpu mengukur
racfias1 yang a1tenrskan-oleh-sampe·l-yang-<:ii-ukur.,_.F-otome.tewne_mp_a.kan a lat pengukur
------
intensitas radiasi yang diteruskan tersebut atau sinyal yang proporsional dengan
besaran tcrsebut.
·----------·----·-··---.. -----------------------
Pengantar Spcktrofotometri
..., -·- , · :.--- :
-· ·�
_.,,
........ """"·'-- ,."'""-""
- -.•
I
e1ektromagnetik digambarkan sebagai aliran partikel diskrit atau paket
gelombang,foton. Energi satu foton setara dengan frekuaensi radiasinya. Dua sifat
radiasi ini- gelornbang dan partikel- tidak bisa saling dipisahkan tetapi justru saling
melengkapi.
�--·· J ,...
Frckuensi ditcntukan. olch sumber dan bcrsifat tetap (tak berubah) selama
I
rnasa perambatannya. Kecepatan v bergantung pada medium dan frekuensi. ·r�mja·ng
-·-··-----�--..·-·------------ �---
I
..... -----···----·-··-·····-·-·--·-··-··- ..
Pengantar Spektrofotometri
I
Balian Ajar Analisis Kuantitatif l 92
gelombang A rnerupakan jarak linear anatar dua titik maksimum atao rmmmum
berturutan. Perkalian antara panjang gelornbang ( cm) dengan frekuensi (per detik)
merupakan kecepatan v propagasi gelombang ( cm per detik) ..
vr = VAi
l�����---���-1
'A= 500 nm
I
1
.g
:E i----"------14"
I 0.
1 E
! �
I Udara Udara
I ·-·------··---·-·--------------------------
Pcngantar Spektrofotornetri
I
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 193
Daya Radiasi dau Intensitas. Daya radiasi, P, adalah energi suatu berkas
radiasi yang mencapai luasan tertentu per detik, dan intent as, l adalah daya radasi per
unit solid angle. Kedua besaran berkorelasi dengan amplitude radiasi.
E=hv
Dengan h adalah tetapan Placnk (6,63 . 10·34 Js), hubungan dengan panjang
gelombang adalah
E = lt v = he!;.,
II
dikenakan pada suatu materi-atom, rnolekul atau ion=-maka radiasi tersebut
sebagian akan diserap oleh materi tersebut, dipantulkan atau dihamburkan dan
sebagian lagi diteruskan. Bila intensitas cahaya disimbolkan dengan lo. cahaya yang
diserap la, cahaya yang diteruskan It dan cahaya yang dipantulkan Ir maka
1
I Pengantar Spektrofotometri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 194
Pada antarmuka udara dan gelas, sekitar 4 % cahaya yang dikenakan akan
dipantulkan. Ir biasanya dieliminasi dengan sistem kontrol, seperti penggunaan sel
pernbanding, maka
I
I
fraksi cahaya yang diteruskan terhadap cahaya yang diradiasikan; tingkat penurunan
intensitas atau daya radiasi dari sumber sinar setelah mengalami h�ter�b;i · dengan
I
I materi da1am larutan.
I Secara prinsip, transmitansi dan absorbansi sebenarnya bukanlah suatu
besaran yang dapat diukur di laboratorium. Larutan yang berisi sampel berada di
dalam wadah (sel serapan) yang sebenamya juga mengalami inetraksi dengan energi
yang diirmdiasikan dnri sumbcrnya. Intcraksi ini dapat berupa cahaya yang
I
dipantulkan, dihamburkan oleh molekul-molekul besar atau inhornogenitas solven
dun mungkin juga cuhuya yang diserap oleh wadah. Faktor-faktor ini secara
I
Pcngantar Spektrofotometri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 195
100
-
'ii,
c
cu
.E
C/)
c 75
._.cu....
'#.
50
25
O+-�--��-.-'----------��-,-.::=::�
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00
Absorbansi
---·-···--····-····--··-·······················---------------- --------------
Pcngantar Spcktrofotometri
···-·--· � - - -·· . ----,�-------··- ·- .
Surnber radiasi
Pemroses sinyal
clan readout
I ����
· Se! sampel
,
jl����-�'-5��������-�������������������d-an�re_a_d_m_,,_������
Sumber radiasi
Pada metcdc fluorcscnsi dan hamburan cahaya, sumber radiasi merangsang sampel
untuk mcngcmisikan radiasi karaktcristik yang akan diukur pada sudut (biasanya
0)
{)() tcrtcniu tcrhadnp sumher radiasi.
----------------···----------------------------
Pengantar Spektrofotometri
Bahan Ajar Anal isis K uantit.a.t.if 197
Sumber radiasi
Pemroses sinyal
danreadout
Se! sampel
Mctodc cmisi mcmiliki pcrbcdaan dcngan yang lain; tidak dibutuhkan sumber radiasi
eksternal. Sampel mengernisikan radiasi sendiri. Untuk memperoleh emisi dari
sampcl, sci sampcl bcrada diluar sisicm instrumcn dan diurnpankan kc suatu arc,
,�---�-spc11:k-atau_n.y1tla...api ....Eada roses selanjutnya sumber radiasi yang sekaligus sarnpel
rnenyebabkan suber tersebut mengerniskan radiasi yang khas.
I ·------·-----------··-----------------------
Pengantar Spektrofotometri
II
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 198
l'cnguntur Spcktrofotomctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 199
"iii
c
-e0
(0
0.8
Cl)
.0
<(
0.6
y = 0.0873x
A samoel R2 = 0.9963
I
I
I
0.4 I
I
I
I
I
I
I
I
1
0.2 I
: Konsentrasi analit
I
I
II
I
I
0 2 4 6 8 10
Konsentrasi, ppm
/ 9.5 Aplikasi
' Metode spektrofotornetri digunakan untuk mengukur/menentukan konsentrasi
analit di dalam sampel sampui pada tingkut runutan. Bidang analisis yang dapat
jl dikerjakan dcngan mctodc ini meliputi analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap
saTiYpd-=sampeJ-0rgan-i·k,-n.r-10.r:ganik_(J.ugnm.:Jo1:rnm\. langsung mnupun tak langsung
dcngan proscdur pcngukuran bcrbasis absorpsi radiasi gclombang clcktromagnetik.
Dasar analisis ini mcrupakan akibat yang ditirnbulkan olch intcraksi antara
energi (radiasi). f nstrumen mencatat perubahan intensitas radiasi yang diserap oleh
sampel. Perubahan ini diproses untuk ditarnpilkan pada panel display sebagai respon
analitik yang scbanding dcngan jumlah anal it di dalam sampcl.
Aplikasi lain yang terkait dengan metode ini adalah dalam penentuan
konstanta-konstauta Iisik dan sifat-sifatnya. Conteh dari aplikasi ini adalah penentuan
konstanta dissosiasi suatu asam atau basa, indikator (suatu asam/basa organik lemah),
atnu scuyawn lain yang diukur dengan menggunakana data-data spektrofotornetrik.
·---------·····-··-·--·-··-·--·-··------------------------
Pengantar Spektro Iotometri
·-·· · , -�. �- .. ·--�··-· ·----,----------·-··-··-·- , ' .
pKa = pH - Jog-[b_a_sa-'-]
[asam]
Kurva yang terben.tuk akan menunjukkan adanya perubahan drastis dalam konsentrasi
spesies ketika spesies berubah ke bentuk lainnya.
Conteh:
Contoh l: Pada berkas cahaya monokrornatis, bila 65 % cahaya yang diirradiasikan
ke sel larutan berwarna diserap,
a. Berapakah absorbansi Jarutan
b. Berapakan fraksi radiasi yang ditransmisikan bila panjang sel
direduksi menjadi 4/5-nya
��������������.
. Jawaban: a. Perscntasc transmitan.,·,-----------�----�
1
1
I
= 100 x- = 35
Io
I
j Maka absorbansi
lo .
= log -1 = log 2 , 86 = 0 ' 456
···--····-·-- ··- ···-····-· ····· ..... ·-···-··· ·--. ·-······-- -..··----�·-· -- ··-····-- -----··-··--·-·· - ···-·-··--··------··-----··--·-----
Pcnganlar Spcktrofotomctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 20 l
Pcngnniar Spcktrofotomctri
Bahan Ajar Analisis Kuantitatif 202
p
Ka= 9 20 - lo T (3,33 x w-s
' g 6,67 .r 10-5
J
..· 9,20 - log 0,5
= 9,50
Latihan:
1. Suatu larutan difenilenemetan dalam benzen dapat diukur absorbansinya pada
301 mu, dengan £ = 1,10 x 104 (log s= 4,04). Bila larutan yang tak diketahui
kensentrasinya di dalam benzen menunjukkan absorbansi 0,720 dalam sel
1 cm, tentukan konsentrasi larutan tersebut.
3. Sampel asarn organik tertentu seberat 0,5 gram dilarutkan dalam air hingga
I 00 mL, dan dititrasi secara fotometri dengan basa 0,1 N. Hitunglah berat
ekivalen asam dari data berikut (volume yang mengikuti adalah volume total
s-a:ste·11r)·;-o-1rri:-=-0�2·:-4-nrL=--0:6�;,:�"l-nn:: ·=-o:s5-:--1'2:-1·0-1wc-=-o:-4B;
16, 15 mL = 0,40� 20,02 mL = 0,40 dan 24, 15 mL = 0,39.
4, Bentuk basa dari suatu asarn monobasis memiliki serapan maksimum pada
450 mu (log s = 4,20), sedangkan bentuk asamnya tidak merniliki karakter
menyerap pada panjang gelombang ini. Dalam Jarutan buffer 2,85 serapan
2,55 x 10-5 M asam tcrsebut adalah 0,201 pada 450 mu, Tcntukan harga pKa
dan Ka asarn tersebut. Se lama pengukuran digunakan sel yang sarna.
Pengantar Spektrofotometri
·. -· --�··--· ···--· - .,, ... - .. ·····-·- ...
0,0 0,04
0,8 0,11
1,4 0,16
2,2 0,22
3,0 0,29
I
Soal (Tugas):
II
Adanya etilen dalam sampel etana ditentukan dengan pengukuran absorbansi
etilen pada daerah 5,2 mu. Data berikut diberikan untuk sederet larutan
standar:
f
I
I 0,5 75,8
I
1,0 57,5
1,5 43,6
I
2,0 33,1
2,5 25,1
3,0 19, I
·--------·-------·------ .. ----------------------------
Pengantar Spektrofotometri
DAFTAR PUSTAKA
.asset, J., Denny, R.C., Jefferey, G.H., clan Mendham, J., 1978, Textbook of
Inorganic Analysis including Elementary Instrumental Analysis, edisi ke-4,
T .ongman Group ltd., J .ondon
crnando, Q dan Ryan, M.D., tcrjcmahan olch Susetyo W., 1997, Kirnia Analitik
Kuantitatif, edisi ke-l , cetakan ke-z, ANDI offset, Jogjakarta
larnilton, L.F., Simpson, S.G., clan El'lis, D.W., 1969, Calculation or Analytical
Chemistry, McGraw-Hill Book Co., New York
.kcog, D.A., West, D.M. dan ]:toner, F.J., .1994, Analytical Chemistry:
An Introduction, Saunders College Pub., Philadelphia
LAMPlRAN 1
b. Reaksi hipotetik:
I
Dengan beranalogi pada penjabaran jawaban 3 a, diperoleh
I
l ekivalen K2Cr207 = 1/6 mol
LAMPIRAN2
2. a. [= 1,0947
b. [MOH]= 0,1 M
c. pH setengah netral = 9 ,26
d. 23,056 ml,
3. a. 14,0345 M
b. [HCI] = 0,2 M, volume titrasi = 12,475 mL
c. 5,2179
S. a. 1 : 1
l. 15,14 ml.
2. 0,08343 N
3. 6,34 %
4. 49,95 % dan 3,75 %
5. 50mL
6. 4 rnmol KCN dan I mmo1 KC1
7. 11,67 mL
LAMPID:\N 4
1. J ,714 gram
2. a. 0,00758 gram
b. 0,00594 gram
3. 0,5 N; (0,1 x 198) mgram
4. 0,0577 %
5. 0,000359 gram
LAMPIRAN 5
J awaban Latihan 5. 5
1. 57,25 %
2. a. 0,5880 b. 0,6990 c. 0,3623 d. 0,3399 e. 1,032
4. 3,07 %
5. K2CaA14Sh014
I
I
I
j
I:
LAMPIRAN 8
1. A= sbc
2. 65,4 mgram/L
3. 343
·�
4. pKa=2,85 danKa= 1,41 x 10-·
5. Plotting kurva standar (regresi linear), (Si]= 1,7 %
l.