Tugas 1
Silakan kerjakan Tugas 1 di bawah ini. Pastikan jawaban Anda tidak duplikasi dengan teman-
teman Anda
1. Jelaskan dasar berlakunya dan ciri-ciri hukum adat di Indonesia!
Jawab
Dasar berlakunya Hukum Adat ?
• Aturan untuk berlakunya kembali hukum adat ada pada Aturan Peralihan UUD 1945
Pasal II, yang berbunyi : “Segala badan Negara dan peraturan yang ada masih langsung
berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut Undang- Undang Dasar ini”.
• Dalam Pasal 131 ayat 2 sub b. I.S. menyebutkan bahwa bagi golongan hukum
Indonesia asli dan Timur asing berlaku hukum adat mereka, tetapi bila kepentingan
sosial mereka membutuhkannya, maka pembuat Undang-Undang dapat menentukan bagi
mereka :
1. Hukum Eropa
2. Hukum Eropa yang telah diubah
3. Hukum bagi beberapa golongan bersama dan
4. Hukum baru yaitu hukum yang merupakan sintese antara adat dan hukum mereka yaitu
hukum Eropa.
Berikut ini adalah ciri-ciri hukum adat, antara lain:
Lisan, maksudnya tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan dan tidak
dikodefikasi
Tidak sistematis
Terdapat keputusan kepala adat
Tidak berbentuk kitab atau buku perundang-undangan
Tidak teratur
Pengambilan keputusan tidak menggunakan pertimbangan.
2. Jelaskan perkembangan hukum adat sebelum dan setelah Kemerkekaan RI!
Jawab
Sejarah Perkembangan Hukum Adat
Pada masa kompeni V.O.C (1602-1800) di pusat pemerintahan dinyatakan berlaku
satustelsel hukum untuk semua orang dari golongan bangsa manapun, yaitu hukum Belanda,
naikhukum tatanegara, hukum privat maupun hukum pidana. Diluar wilayah itu adat pribumi
tidakdiindahkan sama sekali. Jika lambat laun di sana-sini, wilayah di sekitar tempat
kediamanGubernur, de facto masuk kedalam kekuatan V.O.C, maka diwilayah itu juga
dinyatakan berlakuhukum Kompeniuntuk orang-orang Indonesia dan Cina.
V.O.C juga membuat praturan-praturan mengenai ketetapan hukum adat antara
lain:Hukum adat masih belum di temukan sebagai hukum rakyat, sebaliknya hukum adat
didiindentifikasikan dengan hukum islam atau hukum raja-raja dan jika ada kesempatan hukum
adatitu direproduksikan dengan membuat bayak anaksir hukum barat V.O.C juga mengira
bahwahukum adat terdapat dalam tulisan-tulisan berupa kitab hukum, dan menganggap hukum
adat lebihrendah drajatnya dari pada hukum Belanda.
Pada masa pemerintahan Dendels (1808-1811) hukum adat dianggap dilekati dengan
beberapa kelemahan (terutama pada hukum pidana) namaun ia merasa segan mengganti
hukumadat tersebut. Oleh karena itu ia menempuh jalan tengah, pada pokoknya hukum adat
akandiberlakukan untuk bangsa Indonesia. Namun hukum adat tidak boleh diterapkan jika
bertentangan dengan perintah dari penguasa atau dengan asas-asas keadilan serta kepatutan.
Berdarkananggapan itu, Daendels memutuskan, Walaupun golongan Bumiputra di jawa tetap
dibiarkanmemakai hukumnya (materi dan formal) sendiri.
Seperti halnya dengan pimpinan V.O.C Deandels pun mengedentifikan hukum adat
denganhukum Islam dan memandang rendah hukum adat itu, sehingga tidak pantas diberlakukan
terhadaporang eropa
Pada masa Pemerintahan Rafless (1811-1816) mengadakan banyak perubahan
dalamsusunan badan-badan pengadilan akan tetapi hukum Materilnya tidak dirubah .Dalam
perkara antara orang Indonesia diberlakukan hukum adat dengan syarat tidak menentang dengan
prinsip- prinsip keadilan yang universal dan diakui. Tentang penilaiannya dibedakan menjadi dua
bidang.
Pertama,hukum pidana, Rafless mencela sanksi pidana yang tidak sesuai dengan
kemajuan zamanseperti bakar hidup-hidup atau ditikam dengan keris
Kedua, hukum perdata diterapkan ketikasalah seorang bersengketa baik penggugat
ataupun tergugat, maka perkaranya harus diadili olehCourt of Justice, yang menerapkan hukum
Eropa. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwahukum adat dipandang lebih rendah dari
hukum barat.
Pada tahun 1927 pemerintah Belanda mengubah haluannya dengan menolak
konsepsiunifikasi hukum dan saatnya untuk menuangkan materi hukum perdata bagi rakyat
Indonesiakedalam bentuk perundang-undangan. Hal ini lebih cenderung untuk melukiskan
hukum adatsedarah demi sedarah dan sesuai dengan keinginan Van Vollenhoven, pekerjaan ini
dapatdilakukan oleh seorang ahli hukum bangsa Indonesia yang disponsori oleh guru besar
hukum adat pada Rechts-Hoge School.
Van Vollenhoven mencatat bahwa tahun 1927 dan 1928 terjadi suatu titik balik dalam
politik hukum adat yang dianut pemerintah India Belanda yang telah melepaskan pendapat
lamayaitu: membuat suatu kodivikasi hukum bagi orang Indonesia asli yang sedapat-dapatnya
dansebanyak-banyaknya didasarkan kepada asas hukum Eropa, yang menganut paham baru
antaralain: hukum yang berlaku bagi orang Indonesia asli akan ditentukan sesudah diadakan
penyelidikan tentang kebutuhan hukum mereka yang sebenarnya. Dan apabila ternyata
bahwahukum adat itu belum dapat ditinggalkan atau diganti dengan hukum lain, maka hukum
adat yangmasih diperlukan itu tetap dipertahankan.
Masa 1928-1945 setelah berjalannya politik hukum adat baru Ter Haar
menggambarkanhasil perundang-undangan di lapangan hukum adat sebagai berikut
1.Peradilan adat di daerah yang diperintah secara langsung diberi beberapa aturan
dasardalam ordonasi dan peraturan pelaksanaan yang dibuat oleh residen setempat.
2.Hakim desa diberi pengakuan perundang-undangan dalam S1935-102 yang
menyisipkan pasa 3a kedalam RO
3.Tanggal 1 Januari 1938 merepakan hari sejarah bagi hukum adat, karena pada waktu
itu dalam Raud van Justice dikota Betawi mendirikan suatu Adatkamer (Kamar Adat)yang
mengadili dalam tingkat banding perkara-perkara hukum privat adat yang telahdiputuskan oleh
Landraden di Jawa, Palembang, Jambi, Bangka Blitung, Kalimantan dan Bali.
Pembentukan Adatkamer itu memberi jaminan lebih baik kepada penerapanhukum adat,
sebab persoalan hukum adat tidak lagi dititipkan kepada Civiele Kamer diEaad van Justice,
sehingga perhatian terhadap hukum adatdapat dicurahkan secara khusus
Setelah Indonesia merdeka, keberadaan hukum adat masih dipertanyakan terutama
berkisar, mampukah hukum adat itu untuk membawa bangsa kearah kemajuan. Mengenai hal
iniada pendapat yang saling bertentangan. Apakah yang harus kita utamakan untuk bangsa ini,
apakahkita mengutamakan kemajuan bidang ekonomi atau mengutamakan rasa kebanggaan
terhadap rasanasionalisame. Jika yang diutamakan adalah pembangunan bidang ekonomi, maka
hukum adattidak tepat untuk dijadikan dasar dalam pembentukan hukum nasional. Tetapi apabila
yangdiprioritaskan adalah menumbuhkan rasa kebanggaan sebagai suatu bangsa yang berdaulat,
makahukum adat itulah yang harus dijadikan sumber hukum nasional
Pemerintah pada waktu itu mengeluarkan Tap MPR No II/1960 yang menyatakan
Hukumadatlah yang dijadikan landasan atau dasar pembentukan hukum nasional. Dikeluarkan
pula UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan dasar Pokok-pokok agraria. Perhatikan Pasal 5
yang berbunyi :Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat,
sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas
persatuan bangsa,dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum
dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan
mengindahkanunsur-unsur yang bersandar pada hukum agama
Pada era reformasi terjadi empat kali amandemen UUD 1945. Pasal yang
berkenaandengan hukum adat mulai dimasukkan dalam Pasal Pasal 18B ayat 2 dan Pasal 28 ayat
3 UUD1945 amandemen kedua dan belum mengalami perubahan hingga amandemen keempat.
Namun,konsep masyarakat hukum adat adalah konsep yang masih terlalu umum, yang
memerlukan penjelasan lebih lanjut.
Lebih lanjut pengaturan mengenai masyarakat hukum adat ditemui dalam Pasal 51 ayat
(1)huruf b UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (MK) yang merumuskan salah
satu kategori pemohon adalah : “Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diaturdalam undang-undang. Menurut MK, suatu kesatuan masyarakat hukum adat untuk
dapatdikatakan secara de facto masih hidup (actual existence) baik yang bersifat teritorial,
genealogis,maupun yang bersifat fungsional setidak-tidaknya mengandung unsur-unsur
Substansi hak-hak tradisional tersebut diakui dan dihormati oleh warga
kesatuanmasyarakat yang bersangkutan maupun masyarakat yang lebih luas, serta tidak
bertentangandengan hak-hak asasi manusia. Pemikiran mengenai peranan hukum adat dalam
pembentukanhukum nasional sudah ada sebelum Indonesia merdeka, namun pada saat itu
pemikiran tersebut belum dapat diaplikasikan dalam bentuk peraturan. Awal penerapan
pemikiran tersebut baruterlihat di awal tahun 1960 dengan dikeluarkannya Tap MPR No II/1960
dan UU No 5 Tahun 1960tentang Peraturan dasar Pokok-pokok Agraria Dalam perkembangan
selanjutnya, masyarakathukum adat sempat terlupakan, namun di era sekarang, negara mulai
memperhatikan lagi hak-hakmasyarakat adat yang sudah terabaikan.
3. Sebutkan dan jelaskan prosedur pengangkatan anak dan dasar hukumnya!
Jawab
Pengangkatan Anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari
lingkungan kekuasaan orangtua, wali yang sah atau orang lain yang bertanggung jawab atas
perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut ke dalam lingkungan keluarga orang tua
angkat. (Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007).
DASAR HUKUM PENGANGKATAN ANAK
Dasar Hukum Pengangkatan Anak
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang tentang Perlindungan Anak.
PP No. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak.
Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 110/HUK/2009 tentang Persyaratan
Pengangkatan Anak.
Peraturan Jenderal Rehabilitasi Sosial Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman
Teknis Prosedur Pengangkatan Anak.
Berdasarkan Surat Edaran Makamah Agung Nomor 2 Tahun 1979 jo Surat Edaran Makamah
Agung Nomor 6 Tahun 1983 tentang penyempurnaan SEMA Nomor 2 Tahun 1979 Tentang
Pengangkatan Anak. Adapun prosedur pengangkatan anak:
1. Mengajukan surat permohonan kepada Pengadilan Negeri meliputi daerah
dimana anak yang hendak mau diangkat.
2. Dalam hal calon anak angkat berada dalam asuhan suatu yayasan sosial maka
harus melampirkan surat izin tertulis dari menteri sosial bahwa yayasan yang
bersangkutan telah diizinkan bergerak dibidang pengangkatan anak.
Syarat pengangkatan anak meliputi, belum berusia 18 (delapan belas) tahun, merupakan anak
terlantar atau ditelantarkan, berada dalam asuhan keluarga atau dalam lembaga pengasuhan anak
dan memerlukan perlindungan khusus.
Sedangkan syarat calon orang tua angkat adalah sehat jasmani dan rohani, berumur paling rendah
30 (tiga puluh) tahun dan paling tinggi 55 (lima puluh lima) tahun, beragama sama dengan
agama calon anak angkat, berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindak
kejahatan, berstatus menikah paling singkat 5 (lima) tahun, tidak merupakan pasangan sejenis,
tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak, dalam keadaan mampu
ekonomi dan sosial, memperoleh persetujuan anak dan izin tertulis orang tua atau wali anak,
membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi
anak, kesejahteraan dan perlindungan anak.
4. Jelaskan asas-asas dan sifat hukum waris adat yang anda ketahui!
Jawab
Asas-Asas Hukum Waris Adat
1. Asas Ketuhanan dan Pengendalian Diri
Asas ketuhanan dan pengendalian diri, yaitu adanya kesadaran bagi para ahli waris bahwa rezeki
berupa harta kekayaan manusia yang dapat dikuasai dan dimiliki merupakan karunia dan
keridhaan Tuhan atas keberadaan harta kekayaan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan ridha
Tuhan bila seseorang meninggal dan meninggalkan harta warisan, maka para ahli waris itu
menyadari dan menggunakan hukum-Nya untuk membagi warisan mereka, sehingga tidak
berselisih dan saling berebut warisan.
2. Asas Kesamaan dan Kebersamaan Hak
Asas kesamaan dan kebersamaan hak, yaitu setiap ahli waris mempunyai kedudukan yang sama
sebagai orang yang berhak untuk mewarisi harta peninggalan pewarisnya. Oleh karena itu,
memperhitungkan hak dan kewajiban tanggung jawab setiap ahli waris bukanlah berarti
pembagian harta warisan itu mesti sama banyak, melainkan pembagian itu seimbang berdasarkan
hak dan tanggungjawabnya.
3. Asas Kerukunan dan Kekeluargaan
Asas kerukunan dan kekeluargaan, yaitu para ahli waris mempertahankan untuk memelihara
hubungan kekerabatan yang tentram dan damai, baik dalam menikmati dan memanfaatkan harta
warisan tidak terbagi maupun dalam menyelesaikan pembagian harta warisan terbagi.
4. Asas Musyawarah dan Mufakat
Asas musyawarah dan mufakat, yaitu para ahli waris membagi harta warisannya melalui
musyawarah yang dipimpin oleh ahli waris yang dituakan dan bila terjadi kesepakatan dalam
pembagian harta warisan, kesepakatan itu bersifat tulus iklas yang dikemukakan dengan
perkataan yang baik yang keluar dari hati nurani pada setiap ahli waris.
5. Asas Keadilan
Asas keadilan, yaitu keadilan berdasarkan status, kedudukan dan jasa, sehingga setiap keluarga
pewaris mendapatkan harta warisan, baik bagian sebagai ahli waris maupun bagian sebagai
bukan ahli waris, melainkan bagian jaminan harta sebagai anggota keluarga pewaris
Sifat- Sifat Hukum Waris Adat
Adapun sifat Hukum waris Adat secara global dapat diperbandingkan dengan sifat atau prinsip
hukum waris yang berlaku di Indonesia, di antaranya adalah
a. Harta warisan dalam sistem Hukum Adat tidak merupakan kesatuan yang dapat
dinilaiharganya, tetapi merupakan kesatuan yang tidak dapat terbagi atau dapat terbagi
tetapimenurut jenis macamnya dan kepentingan para ahli waris,sedangkan menurut sistem
hukum barat dan hukum Islam harta warisan dihitung sebagai kesatuan yang dapat dinilai dengan
uang.
b. Dalam Hukum waris Adat tidak mengenal asas legitieme portie atau bagian
mutlak,sebagaimana diatur dalam hukum waris barat dan hukum waris Islam.
c. Hukum waris Adat tidak mengenal adanya hak bagi ahli waris untuk sewaktu-waktu menuntut
agar harta warisan segera dibagikan.
d. Hukum adat waris erat hubungannya dengan sifat-sifat kekeluargaan dalam masyarakat hukum
yang bersangkutan, misalnya patrilineal, Matrilineal, dan parental.
e.Pengoperan warisan dapat terjadi pada masa pemiliknya masih hidup yang disebut
"penghibahan" atau hibah wasiat, dan dapat terjadi setelah pemiliknya meninggal dunia yang
disebut warisan.
f. Dasar pembagian warisan adalah kerukunan dan kebersamaan serta memperhatikan keadaan
istimewa dari tiap ahli waris.
g. Adanya persamaan hak para ahli warish. Harta warisan tidak dapat dipaksakan untuk dibagi
para ahli waris.
i.Pembagian warisan dapat ditunda ataupun yang dibagikan hanya sebagian saja