0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan14 halaman

Dampak Dana Bagi Hasil pada Kemiskinan Kaltim

This document analyzes the relationship between revenue sharing funds (DBH) and regional revenues and poverty levels in East Kalimantan Province. It finds that while fiscal decentralization policies aim to reduce inequality, DBH revenues received by East Kalimantan have actually decreased in recent years due to declining natural resource production and prices. Lower DBH revenues impact regional development programs and poverty reduction efforts. The province must find alternative uses for DBH funds to invest in productive activities that spur economic growth, as the province's growth remains below the national average.

Diunggah oleh

fitri adfirafika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan14 halaman

Dampak Dana Bagi Hasil pada Kemiskinan Kaltim

This document analyzes the relationship between revenue sharing funds (DBH) and regional revenues and poverty levels in East Kalimantan Province. It finds that while fiscal decentralization policies aim to reduce inequality, DBH revenues received by East Kalimantan have actually decreased in recent years due to declining natural resource production and prices. Lower DBH revenues impact regional development programs and poverty reduction efforts. The province must find alternative uses for DBH funds to invest in productive activities that spur economic growth, as the province's growth remains below the national average.

Diunggah oleh

fitri adfirafika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN DANA BAGI HASIL DENGAN PENERIMAAN DAERAH

DAN KEMISKINAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR


(Relationship of Revenue Sharing with Regional Revenue
and Poverty in East Kalimantan Province)
Mandala Harefa
Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI
Jl. Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Pusat 10270,
Email: [email protected]
Naskah diterima: 13 November 2018
Naskah direview: 22 November 2018
Naskah diterbitkan: 31 Desember 2018

Abstract
The policy of regional autonomy within fiscal decentralization has significantly increased the amount of fiscal transfer fund to province,
as well as municipality/district level. Those policy aims to reduce inter-regional inequality of regional fiscal capacity in order to improve
the quality of public services in each regional government. But, based on other previous research, those policy doesn’t have significant
impact on overall revenue of East Kalimantan Province Budget. This study aims to analysis whether fiscal transfer policy such as
revenue sharing from natural resources giving positive impact on revenue of East Kalimantan Province. This study uses qualitative
methods to explain problems related to the implementation of fiscal decentralization policy. The results of this study showed that the
revenue sharing from natural resources received by East Kalimantan Province in recent years had exactly decrease. One of the factors
is the impact of the declining of natural resource production, in this case, the simultaneous decline of coal production which is due to
a drastic decrease in prices on the world market. This factor has a significant impact on the implementation of regional development
programs and on the efforts to reduce poverty. Therefore, the government of East Kalimantan Province must find any alternatives
in spending funds sourced from DBH for productive investments that have a multiplier effect on regional economic development.
This condition can be seen from the results of the accelerated economic growth of East Kalimantan Province which is still below the
national average of 0.90 percent.
Keywords: fiscal transfers, local revenue, revenue sharing funds, balancing funds, natural resources

Abstrak
Kebijakan otonomi daerah yang disertai desentralisasi fiskal secara signifikan telah meningkatkan jumlah dana yang ditransfer ke
daerah provinsi dan kabupaten/kota. Dari beberapa hasil kajian, kebijakan tersebut ternyata belum berdampak pada peningkatan
penerimaan daerah bagi Provinsi Kalimantan Timur. Studi ini dilakukan untuk mengkaji apakah transfer fiskal melalui Dana Bagi
Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) dan Pajak akan berpengaruh terhadap penerimaan daerah dan diharapkan dapat mengurangi
kemiskinan di Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki sumber daya alam cukup besar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif
yang menjelaskan permasalahan terkait pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal pada Provinsi Kalimantan Timur. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa DBH SDA dan Pajak yang diperoleh Provinsi Kalimantan Timur dalam beberapa tahun terakhir mengalami
penurunan, sehingga berpengaruh pada penerimaan daerah secara keseluruhan. Salah satu faktornya adalah dampak menurunnya
jumlah produksi SDA dalam hal ini produksi batu bara yang bersamaan akibat penurunan harga secara drastis di pasaran dunia. Faktor
ini berdampak signifikan terhadap pelaksanaan program pembangunan daerah dan dalam upaya menekan tingkat kemiskinan. Oleh
Karena itu, pemerintah Provinsi Kalimantan Timur harus mencari alternatif dalam membelanjakan dana yang bersumber dari DBH
untuk investasi yang produktif yang berdampak ganda terhadap perkembangan perekonomian daerah. Kondisi ini dapat dilihat dari
hasil akselerasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Timur masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 0,90 persen.
Kata kunci: transfer fiskal, pendapatan asli daerah, dana bagi hasil, dana perimbangan, sumber daya alam

PENDAHULUAN optimal apabila diikuti dengan pemberian pendapatan


Berdasarkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 yang cukup. Pemerintah daerah akan memiliki
tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah keleluasaan dalam menyikapi aspirasi masyarakat
Pusat dan Pemerintah Daerah, kebijakan transfer fiskal dan mengakomodasi prioritas pembangunan daerah
bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keuangan sehingga mempercepat peningkatan kesejahteraan,
daerah dalam APBD, khususnya penerimaan daerah, pelayanan umum, dan pertumbuhan ekonomi (Dirjen
guna melaksanakan kebijakan otonomi daerah atau Keuangan Daerah, 2013). Meskipun peningkatan
desentralisasi. Sesuai konsep ‘money follow functions’, kualitas pelayanan publik dapat diperbaiki melalui
kebijakan desentralisasi memerlukan sumber perbaikan manajemen kualitas jasa (service quality
pendanaan bagi masing-masing daerah, terutama management), namun pengalokasian belanja dengan
kabupaten/kota. Penyelenggaraan fungsi pemerintahan baik dari sumber-sumber pendapatan daerah menjadi
daerah dalam konteks otonomi akan terlaksana dengan hal yang sangat krusial (Bastian, 2006).

Mandala Harefa, Hubungan Dana Bagi Hasil dengan Penerimaan Daerah dan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur | 147
Menurut Pasal 5 dalam Undang Undang yang diberikan ke daerah dapat berfluktuasi tergantung
sama sumber pendapatan tersebut dapat berasal pengelolaan SDA dan pajaknya. Salah satu daerah
dari Dana Perimbangan dan lain-lain Pendapatan dengan porsi DBH sangat tinggi (3 tertinggi) adalah
yang Sah, di luar Pendapatan Asli Daerah (PAD). di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Pada tahun
Dana perimbangan, sebagai salah satu instrumen 2017, penerimaan transfer fiskal dalam APBD
pendukung desentralisasi dalam menyelenggarakan Provinsi Kaltim menurun drastis. Dari kesepakatan
pembangunan daerah, mencakup Dana Alokasi Pemprov dan Badan Anggaran Dewan Perwakilan
Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Rakyat Daerah Kaltim, rancangan APBD tahun depan
Khusus (DAK), dan Dana Insentif Daerah (DID). sebesar Rp8,098 triliun. Nominal tersebut terendah
Keempatnya bersumber dari pendapatan Anggaran dalam tujuh tahun terakhir. Pada tahun 2011,
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang APBD Provinsi Kaltim sebesar Rp11,47 triliun dan
dialokasikan untuk mendanai kebutuhan daerah meningkat menjadi Rp15,13 triliun pada tahun 2013.
bersama-sama dengan Pendapatan Asli Daerah Namun sejak saat itu, anomali APBD mulai terjadi,
(PAD). Masing-masing dana perimbangan tersebut di mana angkanya terus menurun. Pada tahun 2016
memiliki fungsi yang berbeda-beda. Menurut Mahi APBD hanya sebesar Rp10,2 triliun dan tahun depan
(2000:58), pada era otonomi yang berjalan saat ini, diperkirakan hanya Rp8,098 triliun. Hal ini dapat
dalam upaya untuk kemandirian daerah, tampaknya terjadi karena pengaruh fluktuasi dari DBH SDA dan
PAD masih belum dapat diandalkan sebagai pajak akibat kebijakan pemerintah pusat terkait TKD.
sumber pembiayaan karena relatif rendahnya basis Proporsi APBD Provinsi Kaltim terdiri dari PAD sebesar
pajak atau retribusi daerah. Selain itu, rendahnya 48 persen dan dana perimbangan sebesar 52 persen.
kemampuan daerah dalam menggali PAD yang sah Penyusun dana perimbangan terbesar berasal DBH
disebabkan pula oleh batasan hukum (Mardiasmo SDA dari minyak dan gas (migas) dan tambang serta
dan Makhfatih, 2000). Bastian (2006) menambahkan DBH pajak. Pada tahun 2014 Provinsi Kaltim menjadi
apabila peningkatan kualitas pelayanan publik dapat penerima DBH SDA tertinggi dibandingkan provinsi
diperbaiki melalui perbaikan manajemen kualitas lain di Indonesia (Ahmad Zaini, 2017). Bahkan
jasa (service quality management). Dengan demikian, Provinsi Kaltim pernah juga menerima transfer dari
pemerintah daerah harus mampu mengalokasikan pemerintah pusat (DBH SDA) sebesar Rp5 triliun-Rp6
alokasi belanja dengan baik untuk memberikan triliun (News.ddtc.co.id, 2018).
pelayanan kepada publik. Penerapan kebijakan TKD dari SDA dan pajak
DBH lebih berfungsi sebagai penyeimbang fiskal didasarkan pada daerah penghasil (by origin)
antara pusat dan daerah dari pajak dan sumber dan penyaluran dilakukan berdasarkan realisasi
daya alam (SDA) yang dibagihasilkan, termasuk penerimaan (based on actual revenue). Permasalahan
sebagai pengkoreksi atas eksploitasi SDA selama DBH muncul, termasuk di Provinsi Kaltim, terkait
ini. Menurut (Devas, 1989:179), DBH menjadi salah dengan (a) sering terjadi keterlambatan penerimaan
satu sumber pembiayaan yang berguna dalam DBH. Rumitnya proses transfer dana dari pemerintah
menunjang kegiatan-kegiatan sektor publiknya pusat ke pemerintah daerah membuat proses
(Devas, 1989:179). Oleh sebab itu, daerah yang pembangunan di daerah menjadi tidak optimal
memiliki kekayaan SDA dan penghasilan pajak tinggi (Kabar24.Bisnis, 2012), (b) jumlah yang diterima
maka akan memiliki porsi pendapatan yang juga daerah sering tidak pasti karena adanya perubahan
tinggi. Namun sayangnya potensi karakteristik SDA nilai dan selisih DBH akibat perbedaan hitung antara
dan sumber pajak di Indonesia sangat beragam pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hal
sehingga hal itu memengaruhi sumber pendapatan tersebut implikasi dari perhitungan realisasi PNBP
daerah melalui mekanisme Transfer ke Daerah (TKD). SDA sampai akhir tahun anggaran dengan DBH yang
Menurut Bird and Vaillancourt (2002) pada akhirnya telah disalurkan dan diperhitungkan sebagai kurang
keterbatasan anggaran daerah tersebut akan bayar/lebih bayar untuk diselesaikan pada tahun
menyebabkan penyediaan layanan publik menjadi anggaran berikutnya. Perubahan atau perbedaan
lebih rendah. tersebut akibat adanya perubahan eksternal karena
Menurut data dari Kementerian Keuangan menurunnya kegiatan perekonomian, menurunnya
pada tahun 2004-2017, dana TKD mencapai Rp81,1 jumlah produksi dan harga minyak dunia, dan
triliun menjadi Rp 764,9 triliun atau naik hingga 9 kali perubahan kurs nilai mata uang, dan (c) penetapan
lipat. DBH juga memiliki tren yang menaik, di mana jumlah DBH yang diterima seringkali tidak sesuai
pada tahun 2008 mencapai Rp78,4 triliun menjadi dengan yang diharapkan. Hal ini terjadi penetapan
sebesar Rp92,8 triliun pada tahun 2017, serta perhitungan DBH dianggap kurang terbuka. Terlebih
pada tahun 2019 dialokasikan meningkat menjadi lagi TKD dilaksanakan melewati pertengahan tahun
Rp106,4 triliun. Namun masalahnya porsi DBH yang anggaran karena penetapan berdasarkan realisasi

148 | Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, (E-ISSN: 2528-4673 P-ISSN: 2086-6313) Vol. 9, No. 2, Desember 2018 147 - 160
penerimaan. Hal tersebut akan mengganggu mencakup studi dokumentasi dan kepustakaan serta
penerimaan pemerintah daerah dan perencanaan diskusi kelompok terfokus dengan narasumber yang
dalam penggunaan DBH. Bagi daerah penghasil memiliki kepakaran di bidangnya masing-masing.
SDA, DBH menjadi sumber pendapatan daerah yang
potensial (Sri Mulyati Yusriad, 2017). HASIL DAN PEMBAHASAN
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan Struktur Perekonomian dan Dana Bagi Hasil
untuk menganalisis (a) hubungan kebijakan DBH Struktur ekonomi Provinsi Kaltim selama
terhadap penerimaan di Provinsi Kaltim. Menurut periode tahun 2010-2017 ternyata tidak mengalami
Dispenda-kaltim.org (2017) kondisi APBD Provinsi pergeseran yang berarti. Bahkan untuk lapangan
Kaltim menjadi rentan karena ketergantungannya usaha utama, yaitu pertambangan dan penggalian
yang tinggi terhadap DBH. Sedangkan menurut sejak tahun 2010 share-nya cenderung mengalami
Brojonegoro dan Vazquez (2005), DBH digolongkan penurunan. Hal ini karena di samping adanya
ke dalam conditional transfer (transfer bersyarat) gejolak harga komoditas pertambangan (migas
dengan formulasi dalam persentase tertentu yang dan batu bara) di pasar global, juga dipengaruhi
masih banyak dikritik oleh daerah penghasil SDA, dan oleh produktivitasnya yang cenderung menurun
(b) pelaksanaan atau implementasi kebijakan DBH (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 2016).
terhadap kondisi riil, khususnya kaitannya dengan Pada tahun 2017 lapangan usaha ini hanya mampu
kemiskinan di Provinsi Kaltim. memberi kontribusi sebesar 47,5 persen, di mana
pada masa booming pada tahun 2012 dapat
METODE memberikan kontribusi hingga sebesar 53,3 persen.
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Salah satu komoditas yang terpenting adalah batu
kualitatif deskripsi. Langkah-langkah pendekatannya bara (dengan harga USD110 per meter kubik), yang
mencakup (a) menjelaskan permasalahan berkaitan kemudian mengantarkan Provinsi Kaltim sebagai
dengan pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal, salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi
khususnya DBH dari proporsi persentase yang tertinggi se-Indonesia. Kondisi ini akhirnya secara
telah diatur dalam regulasi dan (b) menjelaskan langsung memengaruhi peranan masing-masing
implementasi kebijakan DBH melalui informasi lapangan usaha lainnya yang memiliki tren meningkat
terkait dengan penetapan jumlah dan penerimaan pada tahun 2017, kecuali beberapa sektor seperti
DBH. Adapun data yang digunakan mencakup industri pengolahan (Tabel 1).
data primer dan sekunder. Data primer diperoleh Selama kurang lebih 20 tahun, yaitu tahun
dari melakukan (a) wawancara mendalam dengan 1970 hingga 1990, sektor kehutanan menjadi tulang
stakeholders terkait, seperti Biro Perekonomian, punggung ekonomi di Provinsi Kaltim. Kemudian
Dinas Pendapatan, Bappeda Provinsi Kaltim, Badan pergeseran struktur ekonomi terjadi pada era
Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Badan Pusat 1990an, di mana sektor pertambangan mulai menjadi
Statistik (BPS), dan akademisi Universitas dan (b) basis ekonomi menggantikan sektor kehutanan.
focus group discussion (FGD). Kegiatan pengumpulan Periode tahun 1990-2000, sektor pertambangan,
data primer dilakukan di Provinsi Kaltim pada migas, dan industri pengilangan minyak bumi dan
tahun 2017. Seluruh stakeholders tersebut dipilih gas alam cair mulai mendominasi ekonomi wilayah
dengan pertimbangan sebagai pelaku langsung dan Kaltim. Memasuki tahun 2000an, sektor tambang
juga pemerhati isu kebijakan DBH. Sedangkan data nonmigas, yakni batu bara, menggeser posisi sektor
sekunder berasal dari berbagai terbitan terpercaya, tambang migas. Saat ini, sektor pertambangan
seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bappeda Provinsi batu bara sudah tidak lagi dapat diandalkan untuk
Kaltim, jurnal, surat kabar, majalah, dokumen resmi, menopang perekonomian Kaltim. Selain harga batu
artikel lain yang sumber dari internet. Seluruh data bara yang cenderung menurun, juga pengaruh faktor
primer yang diperoleh kemudian dikelompokkan kondisi perekonomian global. Misalnya China sebagai
dan disesuaikan dengan tema, elaborasi isu masalah, pembeli utama batu bara dari Provinsi Kaltim telah
dan kebijakan yang dilakukan untuk memudahkan menetapkan kebijakan green industry (Petriella,
dalam menganalisis dan menarik kesimpulan serta 2016).
rekomendasi dalam rangka perbaikan kebijakan Penurunan sektor pertambangan dan
desentralisasi fiskal secara umum dan kebijakan DBH penggalian tersebut tidak hanya akan memengaruhi
secara khusus. pertumbuhan ekonomi Provinsi Kaltim tetapi juga
Untuk meningkatkan presisi hasil analisis, kontribusinya terhadap sektor migas dan minerba
penelitian ini juga melakukan pra penelitian nasional. Hal ini karena sumber produksinya banyak
lapangan sebelum melakukan wawancara mendalam yang berasal dari Provinsi Kaltim, misalnya (a) minyak
dengan stakeholders. Kegiatan tersebut dilakukan bumi di Blok Rokan, lepas pantai Blok Mahakam,

Mandala Harefa, Hubungan Dana Bagi Hasil dengan Penerimaan Daerah dan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur | 149
Tabel 1. PDRB Atas Dasar Harga Konstan (2010=100) Provinsi Kalimantan Timur Berdasarkan Lapangan Usaha,
Tahun 2010-2017
(dalam persentase)
Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017
Pertanian 5,5 5,5 5,6 5,8 6,1 6,5 6,5 6,7
Pertambangan dan Penggalian 49,9 51,9 53,3 53,1 52,0 50,0 48,4 47,5
Industri Pengolahan 24,7 22,3 20,5 19,7 19,4 20,2 21,3 21,4
Pengadaan Listrik dan Gas 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,1 0,1
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan
0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0
Daur Ulang
Konstruksi 6,5 6,4 6,5 6,6 6,9 7,0 6,8 7,0
Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan
4,4 4,5 4,5 4,6 4,7 4,9 5,0 5,2
Sepeda Motor
Transportasi dan Pergudangan 2,3 2,3 2,4 2,5 2,6 2,7 2,8 2,9
Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 0,6 0,6 0,6 0,6 0,7 0,7 0,8 0,8
Informasi dan Komunikasi 1,0 1,0 1,1 1,2 1,3 1,4 1,5 1,6
Jasa Keuangan 1,2 1,2 1,3 1,4 1,4 1,5 1,5 1,4
Real Estate 0,7 0,7 0,8 0,8 0,9 0,9 0,9 0,9
Jasa Perusahaan 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0,2
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan
1,6 1,6 1,6 1,6 1,8 1,8 1,8 1,7
Sosial Wajib
Jasa Pendidikan 0,7 0,8 0,9 1,0 1,1 1,3 1,4 1,4
Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,5 0,5 0,6
Jasa Lainnya 0,4 0,4 0,4 0,4 0,4 0,5 0,5 0,5
Sumber: https://kaltim.bps.go.id, 2018.

Blok East Kalimantan, Blok Sanga Sanga lepas pantai untuk Provinsi Aceh dan Provinsi Papua Barat juga
Kaltim; (b) gas bumi di lepas pantai Kaltim, Blok Sanga mendapatkan alokasi DBH SDA minyak bumi dan DBH
Sanga lepas pantai Kaltim; dan batu bara di Sangatta. SDA gas bumi dalam rangka Otonomi Khusus (Otsus)
Khusus pada Blok Mahakam menghasilkan gas bumi masing-masing sebesar 55 persen dan 40 persen
terbanyak dengan pencapaian di semester I/2017 yang diperuntukkan untuk mendanai program/
sebanyak 1.504 juta standar kaki kubik per hari atau kegiatan bidang pendidikan dan kesehatan. Untuk
20 persen dari total produksi nasional. Sementara daerah lain, termasuk Kaltim, penggunaan dana
realisasi produksi minyak bumi di semester pertama sebesar 15,5 persen tersebut tergantung cara dari
tahun 2017 sebanyak 55 ribu barel minyak per hari, pemerintah daerah mengaturnya.
yang berada di urutan keempat dari daftar produsen
minyak nasional (Yuliawati dan Amelia, 2018). Hubungan antara Dana Bagi Hasil dan Penerimaan
Potensi yang sangat besar tersebut memiliki Daerah
implikasi penting terhadap DBH yang akan diterima Menurut Davey (1980:14) terdapat 4 (empat)
oleh Provinsi Kaltim. Pada Tabel 2 disajikan kriteria yang perlu diperhatikan untuk menjamin
perkembangan 15 provinsi penerima DBH terbesar sistem hubungan pemerintah pusat dan pemerintah
di Indonesia dan Kaltim menempati urutan ketiga. daerah bekerja, yaitu sistem tersebut harus (1)
Untuk Provinsi DKI Jakarta menikmati DBH pajak yang memberikan kontribusi kekuasaan yang rasional
sangat besar, sedangkan Provinsi Jatim, porsi DBH di antara tingkat pemerintahan dalam menggali
besar banyak berasal dari cukai rokok atau Dana Bagi sumber-sumber pendapatan pemerintah dan
Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), selain SDA. kewenangan melalui pembagian yang sesuai dengan
Menurut Kemenkeu (2017), selain mendapatkan pola umum desentralisasi, (2) menyajikan bagian
alokasi DBH SDA minyak bumi sebesar 15,5 persen yang memadai dari sumber-sumber pendapatan
dan DBH SDA gas bumi sebesar 30,5 persen, khusus masyarakat untuk membiayai fungsi penyediaan

150 | Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, (E-ISSN: 2528-4673 P-ISSN: 2086-6313) Vol. 9, No. 2, Desember 2018 147 - 160
Tabel 2. Kontribusi Dana Bagi Hasil Provinsi Kaltim dan Salah satu indikator dalam menganalisis
Beberapa Provinsi Lainnya Tahun Anggaran 2018 kemampuan keuangan daerah adalah dengan
(dalam persentase) melihat derajat otonomi fiskal yang dihitung melalui
ukuran kontribusi realisasi PAD terhadap APBD. Bila
DBH DBH DBH DBH
No. Provinsi
Pajak SDA Migas Total
mengkaji kemampuan keuangan Provinsi Kaltim
pada periode-periode sebelumnya, dapat dilihat
1. DKI Jakarta 57,1 2,0 4,0 46,1 dalam realisasi dan kemampuan pemerintah daerah
2. Jawa Timur 8,4 8,8 17,3 8,5 dalam pembangunan daerah apakah sesuai dengan
kemampuan pendanaan yang ada. Perangkat Daerah
Kalimantan
3.
Timur
2,4 23,7 16,8 6,7 (PD) merupakan satuan entitas akuntansi dalam
pemerintahan daerah sehingga memiliki tanggung
4. Jawa Barat 6,4 3,2 3,7 5,8
jawab terhadap anggarannya masing-masing
5. Riau 3,0 9,5 18,1 4,3 termasuk dalam pencatatan akuntansi. Realisasi
Sumatera dari penggunaan anggaran tersebut disusun dalam
6. 2,6 9,4 13,0 3,9 Laporan Realisasi Anggaran yang harus dilaporkan
Selatan
secara fungsional kepada Bendahara Umum Daerah
7. Jawa Tengah 4,5 0,1 0,1 3,6
atau Pejabat Pengelola Keuangan Daerah, yaitu
8. Papua 1,0 5,5 0,0 1,9 Biro Keuangan Sekda Provinsi Kaltim dan secara
Kalimantan administratif harus dilaporkan kepada Satuan Kerja
9. 0,7 6,9 0,0 1,9 Perangkat Daerah (SKPD), yaitu Pejabat Pengguna
Selatan
Anggaran masing-masing PD.
10. Banten 2,2 0,0 0,0 1,8
Dari segi pengawasan terhadap rangkaian
11. Aceh 0,7 5,0 9,9 1,6 pengelolaan keuangan daerah periode tahun tahun
Sumatera sebelumnya, disusun laporan keuangan oleh Biro
12. 1,7 0,7 0,0 1,5
Utara Keuangan sebagai entitas pelaporan yang terdiri
Kalimantan dari laporan realisasi anggaran, neraca, laporan
13. 0,5 4,8 0,0 1,3 arus kas, dan catatan atas laporan keuangan sesuai
Tengah
dengan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005
14. Papua Barat 0,5 4,4 7,4 1,3
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Nusa Laporan keuangan inilah yang kemudian akan
15. Tenggara 1,1 1,3 0,0 1,2 diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di
Barat
mana pengelolaan keuangan ini mencakup seluruh
Sumber: http://www.djpk.kemenkeu.go.id, 2018. transaksi keuangan yang dikelola oleh setiap PD dan
pelayanan dan pembangunan ekonomi, (3) dikoordinir oleh Biro Keuangan.
mendistribusikan pengeluaran pemerintah secara Pengelolaan keuangan daerah tersebut berawal
adil, dan (4) pajak atau retribusi yang dikenakan oleh dari penyusunan anggaran pendapatan dan belanja
pemerintah daerah harus sejalan dengan distribusi daerah, perubahan anggaran pendapatan dan belanja
yang adil atas beban keseluruhan dari pengeluaran daerah, laporan semester, laporan prognosis realisasi
pemerintah dalam masyarakat. anggaran, laporan realisasi anggaran, neraca, hingga
Terkait dengan sumber pendapatan daerah, catatan atas laporan keuangan. Laporan tersebut
ketika penerimaan daerah dari DBH meningkat maka disusun secara otonomi oleh perangkat daerah
pemerintah daerah dituntut juga memperbesar sebagai entitas akuntansi yang kemudian diverifikasi
pengeluarannya. Hal ini karena DBH yang berasal dan dikompilasi oleh Biro Keuangan sebagai entitas
dari pungutan pajak akan menurunkan pendapatan pelaporan menjadi Laporan Keuangan Provinsi
masyarakat. Turunnya pendapatan masyarakat Kaltim. Sementara itu, Laporan Arus Kas disusun
berdampak pada turunnya permintaan masyarakat secara sentralistik oleh Biro Keuangan.
terhadap barang dan jasa. Penurunan permintaan atas Berdasarkan pelaporan dan pengawasan dari
barang dan jasa tersebut dapat menurunkan kegiatan Laporan Keuangan Provinsi Kaltim tahun 2013 maka
perekonomian. Menurut Case dan Fair (2007:102) sesuai hasil opini audit BPK menunjukkan hasil
pengeluaran pemerintah akan menyebabkan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Namun tahun
bertambahnya output dan pendapatan. Implikasi 2014, opini BPK tersebut menurun kategorinya
dari semakin tingginya penerimaan maka akan menjadi Wajar Dengan Pengecualian (WDP) yang
semakin memperbesar investasi pemerintah melalui mengindikasikan terjadinya penurunan performa
belanja modal. pelaporan dan pengawasan pengelolaan keuangan
daerah. Penurunan tersebut perlu menjadi

Mandala Harefa, Hubungan Dana Bagi Hasil dengan Penerimaan Daerah dan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur | 151
perhatian penting mengingat fokus utama reformasi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan
birokrasi salah satunya adalah tertib administrasi kekayaan daerah, dan lain-lain PAD yang sah.
yang mengindikasikan meningkatnya tata kelola Kontribusi PAD terhadap total Pendapatan Daerah
pemerintahan daerah. Provinsi Kaltim mulai tahun 2014 tumbuh sebesar
Gambaran mengenai perkembangan Pendapatan 13,24 persen, tahun 2015 turun sebesar 25,72
Daerah Provinsi Kaltim selama kurun waktu tahun persen, dan tahun 2016 turun sebesar 20,78 persen
2013-2016 dapat dilihat pada Tabel 3 di mana analisis sehingga rata-rata pertumbuhan PAD berada pada
terhadap perkembangan pendapatan daerah secara kisaran -9,86 persen.
umum dapat dijelaskan sebagai berikut. Meskipun Hal ini menunjukkan tingkat ketergantungan
rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah keuangan daerah terhadap bantuan keuangan dari
mencapai -12,36 persen. Penurunan ini dipicu pemerintah pusat berada pada tingkat sedang.
oleh menurunnya hampir seluruh unsur-unsur Realisasi penerimaan dana perimbangan pun terus
pendapatan daerah, kecuali lain-lain pendapatan mengalami penurunan selama kurun waktu empat
yang sah, DAK dan pendapatan hibah dari kelompok tahun terakhir dengan rata-rata penurunan sebesar
masyarakat yang peningkatannya tidak signifikan. 9,24 persen. DBH pajak dan bukan pajak yang juga
Sebagian besar pendapatan daerah berasal dari turun sebesar 18,32 persen. Namun di sisi lain
pajak daerah dan DBH pajak/bagi hasil bukan pajak pemerintah pusat melalui kebijakan transfer DAK
terutama dari sektor pertambangan dan penggalian untuk pembangunan infrastruktur publik meningkat
yang memiliki sumbangan perekonomian terbesar di sangat tinggi sekali hingga mencapai 7.081,32 persen.
Kaltim. Namun secara totalitas realisasi anggaran dengan
Sedangkan realisasi PAD menurun dengan rata- lain-lain pendapatan daerah yang sah rata-rata
rata pertumbuhan sebesar -11,49 persen. Secara pertumbuhannya juga turun sebesar 24,73 persen.
umum, selama kurun waktu empat tahun terakhir, Pengelolaan keuangan pemerintah daerah Kaltim
unsur-unsur PAD menunjukkan penurunan yaitu dan kerangka pendanaan ini menjadi dasar utama

Tabel 3. Kinerja Pendapatan dan Transfer Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2013-2016 (Realisasi)
Rata-Rata
2013 2014 2015 2016
Uraian Pertumbuhan
(dalam Rupiah) (dalam Rupiah) (dalam Rupiah) (dalam Rupiah)
(Persen)
Pendapatan Daerah 11.631.697.051.829 11.287.300.941.021 8.999.519.970.923 7.987.877.780.773 -11,49
PAD 5.885.262.003.582 6.664.586.023.490 4.484.753.878.953 4.031.514.706.408 -9,86
Pajak Daerah 4.929.791.598.766 5.429.125.998.687 3.753.718.935.815 3.127.250.928.432 -12,47
Retribusi Daerah 33.676.707.132 15.494.252.850 14.722.788.428 19.435.790.560 -8,99
Hasil Pengelolaan 291.684.072.009 310.199.925.478 230.816.057.794 167.385.377.650 -15,57
Keuangan Daerah
yang Dipisahkan
Lain-lain PAD yang 630.109.625.673 909.765.846.475 485.496.096.914 717.442.609.764 15,17
sah
Dana Perimbangan 5.335.759.149.747 4.253.320.982.625 4.024.025.055.410 3.941.626.961.365 -9,24
DBH Pajak/ Bagi Hasil 5.272.171.973.247 4.194.970.542.625 3.805.373.705.410 2.844.821.387.413 -18,32
Bukan Pajak
DAU 55.539.336.500 57.312.515.000 - 80.402.179.000 -
DAK 8.047.840.000 1.037.925.000 218.651.350.000 1.016.403.394.952 7.081,32
Dana Penyesuaian - - - -
Dana Insentif Daerah - - - -
Lain-Lain PAD yang 410.675.898.500 369.393.934.905 490.741.036.560 14.736.113.000 -24,73
sah
Pendapatan Hibah 16.045.173.000 16.781.978.000 11.404.893.000 9.736.113.000 -14,03
Dana Penyesuaian 394.630.725.500 352.611.956.905 479.336.143.560 5.000.000.000 -24,56
Sumber: RKPD Provinsi Kaltim, Tahun 2017 (diolah).

152 | Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, (E-ISSN: 2528-4673 P-ISSN: 2086-6313) Vol. 9, No. 2, Desember 2018 147 - 160
Tabel 4. Realisasi Pendapatan, Transfer Daerah dan Belanja Daerah Dana Perimbangan dan Proposi Provinsi Kalimantan
Timur Tahun 2012- 2016*
2012 2013 2014 2015 2016
Tahun
(Realisasi) (Realisasi) (Realisasi) (Realisasi) (Realisasi)

Dana Perimbangan
6,089,860,849,779.00 5,335,759,149,747.00 4,253,320,982,625.00 4,024,025,055,410.00 3,941,626,961,365.00
(rupiah)

Bagi Hasil Pajak/Bagi


Hasil Bukan Pajak 5,984,332,194,779.00 5,272,171,973,247.00 4,194,970,542,625.00 3,805,373,705,410.00 2,844,821,387,413.00
(rupiah)

Proporsi DBH (persen) 98,27 98,65 94,57 72,17 56,42

Dana Alokasi Umum


52,637,761,000.00 55,539,336,500.00 57,312,515,000.00 0.00 80,402,179,000.00
(rupiah)

Proporsi DAU (persen) 0,86 1,04 1,35 0 2,04

Dana Alokasi Khusus


34,616,130,000.00 8,047,840,000.00 1,037,925,000.00 218,651,350,000.00 1,016,403,394,952.00
(rupiah)

Proporsi DAK (persen) 0,57 0,15 0,02 54,34 25,79

Dana Penyesuaian 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Dana Insentif Daerah


18,274,764,000.00 0.00 0.00 0.00 0.00
(rupiah)

Lain-Lain Pendapatan
Daerah yang Sah 404,935,033,000.00 410,675,898,500.00 369,393,934,905.00 490,741,036,560.00 14,736,113,000.00
(rupiah)

Sumber: Bappeda Provinsi Kaltim, 2017 (diolah).

penentuan target dampak serta hasil dari sasaran Dana perimbangan merupakan kontributor
dan program pembangunan. Dengan dilakukan revisi terbesar pendapatan daerah pada tahun 2012,
perencanaan, di mana kebijakan pembangunan namun mengalami penurunan pada tahun 2013 yang
telah dilaksanakan dalam 2 tahun fiskal dan satu berimbas pada proyeksi dana perimbangan periode
tahun fiskal sedang berjalan, analisis gambaran tahun 2016-2018. Penurunan dana perimbangan
umum kinerja keuangan dilakukan terhadap realisasi pada tahun 2013-2015 cenderung fluktuaktif, dana
APBD tahun 2014, APBD tahun 2015, penetapan perimbangan tahun 2013 yang mencapai Rp5,35
APBD tahun 2016, serta proyeksi APBD tahun 2017. triliun secara umum diproyeksi akan terus menurun
Realisasi beberapa tahun sebelumnya dimungkinkan hingga tahun 2018 hanya sebesar Rp2,63 triliun.
untuk dicantumkan dalam rangka memperkaya Bila dilihat proporsi DBH dari jumlah penerimaan
analisis. Data dan informasi dimaksud digunakan dana perimbangan Provinsi Kaltim proporsi DBH
sebagai bahan analisis dan perspektif untuk mendominasi, yaitu sebesar 98,27 persen, tahun
mengetahui kemampuan pendanaan pembangunan 2015 menurun menjadi 72,17 persen dan proposi
jangka menengah, khususnya pada pada tahun 2018. DBH tahun 2017 hanya 56,42 persen. Namun
Pelaksanaan otonomi daerah memberikan demikian secara umum penurunan penerimaan dana
keleluasaan bagi Pemerintah Daerah Provinsi tranfer fiskal dikonversi melalu pnerimaan dana
Kaltim dalam merencanakan pembangunan dan perimbanagn DAU dan DAK (Tabel 4).
mengembangkan potensi sumber daya di wilayahnya. Dari Tabel 4 tersebut dapat diperhatikan bahwa
Ciri utama suatu daerah yang mampu melaksanakan terdapat beberapa indikator pemicu penurunan
otonominya secara efektif, yaitu (1) besarnya proyeksi dana perimbangan, yaitu (a) pada dana
kemampuan keuangan daerah, yang berarti daerah perimbangan dari hasil bagi pajak, khususnya
tersebut memiliki kemampuan dan kewenangan untuk penurunan penerimaan bagi hasil PBB. Penurunan
menggali sumber-sumber keuangan, mengelola, dan bagi hasil PBB ini terjadi karena penerimaan sektor
menggunakan keuangannya sendiri untuk membiayai PBB P2 (pedesaan dan perkotaan) telah diserahkan
penyelenggaraan pemerintahan dan (2) berkurangnya ke pemerintah kabupaten/kota sehingga penerimaan
ketergantungan kepada bantuan pusat, di mana sektor PBB pemerintah provinsi hanya berasal dari PBB
PAD harus menjadi sumber pendanaan utama yang P3 (Perhutanan, Perkebunan, dan Pertambangan).
didukung oleh pendanaan dari perimbangan keuangan Selain itu, dengan diterbitkannya Surat Edaran
pusat dan daerah tahun 2018. Gubernur 180/1375-HK/2013 tertanggal 25 Januari

Mandala Harefa, Hubungan Dana Bagi Hasil dengan Penerimaan Daerah dan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur | 153
2013 terkait moratorium perijinan pembukaan lahan Hasil realisasi itu tidak lepas dari kondisi
pertambangan dan kehutanan, akan menyebabkan perekonomian Provinsi Kaltim yang masih mengalami
PBB P3 juga mengalami penurunan dan (b) pada kontraksi pada tahun 2015 dan tahun 2016 sehingga
dana perimbangan dari hasil bukan pajak; pemicu masih berdampak terhadap penurunan alokasi TKD.
terbesar penurunan dana perimbangan berasal dari Penurunan tersebut khususnya terjadi pada DBH,
bagi hasil sektor migas dan batu bara. Penurunan di mana alokasi tahun lalu sebesar Rp12,90 triliun
bagi hasil pertambangan batu bara terjadi karena menjadi hanya Rp9,34 triliun di 2017 atau turun
(1) adanya pembatasan jumlah produksi batu bara sebesar 27,55 persen. Namun penurunan DBH
oleh pemerintah pusat, (2) harga batu bara dari tersebut juga diiringi dengan adanya peningkatan
tahun ke tahun cenderung menurun akibat adanya alokasi untuk pos-pos TKD Lainnya, kecuali DAK Non
krisis ekonomi global yang dibarengi penurunan Fisik (Dirjen Perbendaharaan, 2017).
permintaan batu bara, dan (3) penurunan produksi
batu bara karena merupakan SDA tidak terbarukan. Hubungan antara Dana Bagi Hasil dengan Kemiskinan
Sedangkan terjadinya penurunan bagi hasil Secara umum, tujuan transfer fiskal adalah
sektor migas disebabkan belum diketemukannya untuk menginternalisasikan eksternalitas fiskal
cadangan baru untuk eksplorasi migas (wilayah 0-12 yang muncul lintas daerah, memperbaiki sistem
mil) dan terjadinya penurunan produksi migas secara perpajakan, mengoreksi ketidakseimbangan fiskal,
alamiah sekitar 6-10 persen per tahun. Dengan dan mengakomodasi pemerataan fiskal antardaerah
demikian dalam perencanaan proporsi penerimaan dalam suatu negara (Oates, 1999). Berdasarkan
DBH sekitar 56,42 persen pada tahun 2017 dan 75, pandangan itu, desentralisasi fiskal, salah satunya
65 persen pada tahun 2018 yang seharusnya proporsi melalui DBH, harus dimanfaatkan serius oleh
dari DBH SDA masih fluktuatif. pemerintah daerah untuk mendukung pertumbuhan

Bagi Hasil Sumber Pusat (20%)


Daya Alam Iuran Hak Penguasaan
Provinsi (16%)
Hutan (IHPH)
Daerah (80%)
Kabupaten/Kota (64%)
Pusat (20%)

Provinsi Sumber Daya Provinsi (16%)


Kehutanan
Hutan (PSDH)

Daerah (80%) Kabupaten/Kota Penghasil (32%)

Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (32%)

Pusat (60%)
Dana Reboisasi
Daerah (40%)

Pusat (20%) Provinsi (16%)


Iuran Tetap (Land Rent)
Pertambangan Daerah (80%) Kabupaten/Kota (64%)
Umum Pusat (20%) Provinsi (16%)
Iuran Ekspiorasi dan
Eksploitasi (Royalty) Daerah (80%) Kabupaten/Kota Penghasil (32%)

Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (32%)


Pungutan Pengusahaan
Perikanan Pusat (20%)
Perikanan
Pungutan Hasil Kabupaten/Kota (80%)
Perikanan

Provinsi (3,1%) 0,1% untuk Anggaran Pendidikan Dasar


Pertambangan Pusat (84,5%)
Kabupaten/Kota Penghasil (6,2%) 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar
Minyak Bumi Daerah (15,5%)
Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (6,2%) 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar

Pertambangan Pusat (69,5%) Provinsi (6,1%) 0,1% untuk Anggaran Pendidikan Dasar
Gas Bumi Daerah (30,5%) Kabupaten/Kota Penghasil (12,2%) 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar

Setoran Bagian Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (12,2%) 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar
Pemerintah
Pertambangan
Pusat (20%)
Panas Bumi
Setoran Bagian
Pemerintah Daerah (80%) 16% Provinsi; 32% Kab/Kota Penghasil; 32% Kab/Kota dalam satu provinsi

Sumber: Kemenkeu, 2017.


Gambar 1. Jenis Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam

154 | Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, (E-ISSN: 2528-4673 P-ISSN: 2086-6313) Vol. 9, No. 2, Desember 2018 147 - 160
Sumber: https://kaltim.bps.go.id, 2018.
Gambar 2. Hubungan antara Dana Bagi Hasil dan Tingkat Kemiskinan di Kabupaten/Kota
Provinsi Kaltim Tahun 2018
ekonomi. Di Indonesia, desentralisasi fiskal dalam sisi minyak bumi dan gas bumi, pengusahaan panas bumi
pengeluaran dibiayai melalui dana transfer daerah. dan perikanan.
DBH merupakan dana yang bersumber dari DBH PBB dan PPh dibagi kepada daerah
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada penghasil sesuai dengan porsi yang ditetapkan dalam
daerah berdasarkan angka persentase tertentu Undang-Undang No. 33 Tahun 2004. DBH CHT dan
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka DBH SDA dibagi dengan imbangan daerah penghasil
pelaksanaan desentralisasi. Tujuan DBH adalah untuk mendapatkan porsi lebih besar dan daerah lain (dalam
memperbaiki keseimbangan vertikal antara pusat provinsi yang bersangkutan) mendapatkan bagian
dan daerah dengan memerhatikan potensi daerah pemerataan dengan porsi tertentu yang ditetapkan
penghasil. Pembagian DBH dilakukan berdasarkan dalam Undang-Undang. Meskipun penggunan DBH
prinsip by origin. Penyaluran DBH dilakukan diserahkan pada pemerintah daerah namun sebagian
berdasarkan prinsip based on actual revenue. daripadanya di-earmark untuk bidang pendidikan,
Maksudnya adalah penyaluran DBH berdasarkan baik DBH di tingkat provinsi maupun kabupaten/
realisasi penerimaan tahun anggaran berjalan (Pasal kota. Secara normatif hal tersebut dapat dilihat pada
23 Undang-Undang No. 33 Tahun 2004). Jenis- Gambar 1.
jenis DBH meliputi DBH Pajak dan DBH SDA. DBH Salah satu hasil akhir dari pengelolaan DBH
Pajak meliputi pajak bumi dan bangunan, pajak yang efektif dan efisien dapat dilihat dari bagaimana
penghasilan dan cukai hasil tembakau. Sedangkan terjadi perbaikan kehidupan masyarakatnya melalui
DBH SDA meliputi kehutanan, mineral dan batu bara, penurunan tingkat kemiskinan di Provinsi Kaltim.
Tabel 5. Kontribusi Dana Bagi Hasil Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2018
(dalam persentase)
DBH Pajak DBH SDA
Kab/Kota
PPH PBB CHT Migas Minerba Kehutanan Perikanan Panas Bumi
Kab. Berau 5,1 7,6 0,0 19,6 66,6 1,1 0,1 0,0
Kab. Kutai Kartanegara 3,1 41,5 0,0 27,3 27,7 0,4 0,0 0,0
Kab. Kutai Barat 4,7 8,9 0,0 23,5 60,4 2,5 0,2 0,0
Kab. Kutai Timur 4,8 12,9 0,0 10,7 70,8 0,7 0,1 0,0
Kab. Paser 4,6 7,7 0,0 19,1 67,6 0,8 0,1 0,0
Kota Balikpapan 30,1 1,8 0,0 26,2 41,2 0,6 0,2 0,0
Kota Bontang 15,6 14,7 0,0 26,8 42,1 0,6 0,2 0,0
Kota Samarinda 16,5 6,6 0,0 27,1 49,1 0,6 0,2 0,0
Kab. Penajam Paser Utara 5,1 12,7 0,0 30,8 49,6 1,5 0,2 0,0
Kab. Mahakam Ulu 5,4 2,5 0,0 34,2 54,0 3,6 0,2 0,0
Keterangan: PPH: pajak penghasilan, PBB: pajak bumi dan banguann, CHT: cukai hasil tembakau.
Sumber: http://www.djpk.kemenkeu.go.id, 2018.

Mandala Harefa, Hubungan Dana Bagi Hasil dengan Penerimaan Daerah dan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur | 155
Dibandingkan dengan wilayah Kalimantan, capaian melakukan evaluasi pelaksanaan pembangunan
pembangunan manusia Kaltim merupakan yang ekonomi daerah dan perencanaan pembangunan
tertinggi. Namun, kecepatan pertumbuhannya masih daerah kedepan disusun dengan memperkirakan
di bawah rata-rata nasional yang mencapai 0,90 kemampuan fiskal daerah dalam membiayai
persen. Namun secara spasial, jumlah penduduk program-program pembangunan daerah.
miskin Kaltim paling banyak berdomisili di Kukar Dari hasil evaluasi pelaksanaan pembangunan
sebanyak 26 persen, diikuti oleh Kabupaten Kutai ekonomi daerah di Kaltim dapat disimpulkan bahwa
Timur sebesar 15 persen dan Kabupaten Paser permasalahan utama pembangunan di Kaltim adalah
sebesar 11 persen (Bank Indonesia-Kaltim, 2018). Di (1) masih rendahnya kualitas SDM yang ditunjukkan
mana hal ini menjadi pertanyaan mengapa DBH SDA dengan IPM, harapan lama sekolah, rata-rata lama
dan Pajak yang relatif tinggi untuk daerah kabupaten/ sekolah, angka harapan hidup, tingkat kemiskinan,
kota di Provinsi Kaltim namun penurunan tingkat dan tingkat pengangguran (2) struktur ekonomi
kemiskinan tidak terlalu signifikan. Berdasarkan daerah sangat tergantung pada sektor migas dan batu
Gambar 2 terlihat bahwa DBH kabupaten/kota bara yang direfleksikan dari PDRB sektor migas dan
yang tinggi tidak selalu berdampak pada tingkat batu bara sebesar 43 persen dari total PDRB, (3) daya
kemiskinan yang rendah. saing investasi masih belum tinggi karena minimnya
Apabila dilihat lebih detail, ketiga kabupaten kuantitas dan kualitas pelayanan infrastruktur dasar,
tersebut memiliki komposisi DBH dari migas dan seperti jalan, energi, dan air baku, dan (3) penurunan
minerba yang relatif tinggi dibandingkan kabupaten/ kualitas lingkungan hidup sebagai akibat ekploitasi
kota lainnya di Provinsi Kaltim (Tabel 3). Hal ini SDA. Hal ini juga sejalan dari hasil analisis yang
menunjukkan salah satu indikasi adanya “kutukan menyatakan bahwa manajemen keuangan Kaltim,
SDA”. Di mana suatu daerah sangat bergantung pada menurut BPK, juga buruk, indikasinya dilihat dari
sektor SDA dan tidak menginvestasikan hasil SDA- sisa anggaran lebih (silpa) cenderung meningkat
nya ke dalam aset produktif atau yang memberikan tiap tahun. Seperti kekawatiran yang dikemukakan
multiplier effect tinggi atau mengembangkan sektor (Gamu et al., 2015), besarnya anggaran yang dikelola
non ekstraktif. Bagaimanapun sektor industri mendorong terjadinya penyelewengan anggaran,
ekstraktif (migas dan minerba) memiliki rentang waktu serta tidak tanggap terhadap kepentingan publik
produksi yang terbatas untuk menjadi penyumbang kondisi ini kemungkinan ini dapat saja terjadi
pendapatan daerah dan juga pusat (nasional). juga di Kaltim, meskipun untuk pembuktiannya
Oleh sebab itu, perencanaan daerah menjadi kunci perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Adanya
penting dalam mengantisipasi volativitas pendapatan program-program yang tidak tepat sasaran, dimana
dan memilih prioritas belanja yang sesuai dengan program yang disusun tidak sesuai dengan apa yang
kebutuhan daerah (Perkasa, 2013). Menurut dibutuhkan oleh masyarakat.
Martawardaya, et al. (2016) menjelaskan bahwa Kenaikan DBH dari sektor migas dan gas yang
terdapat korelasi negatif antara DBH SDA dengan sedang dituntut Kaltim, akan berpotensi meningkatkan
status opini BPK (kinerja pemerintah). Jadi daerah inefisiensi alokasi dana di daerah penghasil, karena dana
yang kaya SDA ternyata cenderung mempunyai opini tersebut cenderung digunakan untuk meningkatkan
audit yang relatif buruk, di mana pada 20 persen kesejahteraan pegawai dibanding kesejahteraan
daerah terkaya DBH SDA ternyata sebesar 1 persen masyarakat secara umum. Dalam konteks ini, pemerintah
kenaikan DBH SDA hanya akan menurunkan peluang pusat berpendapat bahwa berapapun nilai DBH yang
pemerintah daerah mendapatkan opini audit WTP diperoleh daerah dalam hal ini Provinsi Kaltim, jika tata
dan WDP sebesar 0,20 persen. kelola kebijakan dan anggaran tidak menggunakan
prinsip tranparansi dan akuntabilitas, akan tidak
Kebijakan Dana Bagi Hasil dan Penerimaan Daerah berpengaruh terhadap upaya mendorong terpenuhinya
Provinsi Kaltim sesuai amanat Undang- layanan publik dan ketersediaan infrastruktur yang
Undang No. 25 Tahun 2004, dalam otonomi daerah memadai bagi masyarakat (Kurniati, 2012).
perencanaan pembangunan daerah dituangkan Dari hasil kajian, DBH SDA yang di transfer
dalam perencanaan jangka panjang (RPJPD), oleh APBN melalui amanat UU No. 33 Tahun 2004
Perencanaan Jangka Menengah (RPJMD) dan tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah,
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Pada era dengan rincian 15,5 persen untuk minyak dan 30,5
sebelumnya perencanaan pembangunan daerah persen untuk gas, ternyata tidak mampu mentriger
dituangkan dalam bentuk Rencana Strategis Daerah kesenjangan sosial ekonomi di daerah penghasil
(Perencanaan Jangka Menengah) dan Repetada dan pengolah SDA, daerah/provinsi, seperti Kaltim
(Perencanaan Tahunan). Terkait dengan pelaksanaan dan daerah penghasil lainnya. Dalam kenyataannya
desentralisasi fiskal maka daerah juga telah masih jauh dari sejahtera, dana perimbangan DBH

156 | Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, (E-ISSN: 2528-4673 P-ISSN: 2086-6313) Vol. 9, No. 2, Desember 2018 147 - 160
SDA yang diperoleh masih tidak sebanding dengan Terkait minimnya dana transfer ke daerah,
kebutuhan fiskal yang diperlukan untuk mencapai permasalahan yang dihadapai daerah adalah
tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. besarnya beban anggaran pemerintah daerah
Faktor penyebabnya bukan hanya persoalan dalam menyediakan pelayanan publik yang wajib
bahwa dalam proses penentuan DBH SDA migas (pendidikan, kesehatan, jalan, dan infrastrukur).
tersebut tidak memiliki formula yang ilmiah (sampai Dengan demikian, pemerintah daerah Kaltim
saat ini, tidak ada satu orangpun di Kementerian belum mampu secara maksimal melaksanakan
Keuangan atau Kementerian ESDM, yang mampu program-program pembangunan yang strategis
menjawab mengapa persentase DBH SDA minyak tsb menuju peningkatan daya saing dan kemandirian
15,5 persen dan untuk gas 30,5 persen) sementara ekonomi daerah. Sesuai regulasi yang mengatur
untuk Papua dan Aceh mengingat daerah ini adalah tentang perencanaan dan pengelolaan keuangan
daerah dengan otonomi khusus, (UU No. 11 Tahun daerah tidak ada amanat yang mengatur tentang
2006) angka persentasenya adalah 70 persen untuk pengelolaan penerimaan daerah dari DBH terkait
migas, faktor penyebabnya jelas. Penjelasannya dengan penggunaannya dalam alokasi belanja
bahwa di kedua daerah tesebut, telah terjadi konflik rencana pembangunan di daerah. Adapun kebijakan
politik dan keamanan. Selain itu kelemahan yang yang dilakukan daerah adalah mengoptimalkan
mendasar juga ternyata DBH SDA migas tersebut penerimaan daerah yang berasal dari DBH pada
juga tidak fokus untuk meningkatkan kesejahteraan program-program yang merupakan prioritas
masyarakatnya, itulah sebabnya mengapa besaran dan berorintasi pada pemecahan permasalahan
persentase DBH migas tersebut tidak menjadi pembangunan di daerah.
jaminan, apakah daerah tersebut lebih sejahtera Pemerintah telah memiliki kebijakan yang sudah
atau tidak (Effendi dan Ikbal, 2017). dilaksanakan dalam upaya mendukung pembangunan
Dari permasalahan tersebut tentunya ekonomi dan daerah yang telah disesuaikan dengan
perencanaan pembangunan Kaltim ke depan kondisi daerah yang termuat dalam jangka panjang,
diarahkan pada upaya transformasi struktur jangka menengah dan jangka pendek. Melalui
ekonomi dari struktur yang mengandalkan SDA yang pengendalian dan evaluasi terhadap kebijakan dan
tidak terbaharukan pada struktur ekonomi yang hasil-hasil pembangunan secara berkala terhadap
mengandalkan SDA yang terbaharukan. Untuk upaya RPJMD Provinsi Kaltim tahun 2013-2018 maka
tersebut maka diperlukan pembiayaan pembangunan strategi dan arah kebijakan dapat diperbaiki untuk
yang berorientasi dan fokus pada pemecahan meningkatkan efektivitasnya dalam mewujudkan
permasalahan yang dijelaskan sebelumnya. visi dan misi RPJMD. Perbaikan atau revisi strategi
Bila dilihat perkembangan penerimaan dan kebijakan juga dilakukan untuk menyesuaikan
daerah yang bersumber dari DBH, walaupun dengan tantangan dan permasalahan yang belum
daerah selalu merasa belum sesuai harapan, tetapi terantisipasi serta perubahan-perubahan asumsi
pemerintah daerah terus berupaya memaksimalkan makro pembangunan dan pendanaan.
penerimaan daerah tersebut pada program-program Dalam mengatasi permasalahan kekurangan
pembangunan yang mengarah dan berdampak dana pembangunan untuk penyediaan kebutuhan
langsung pada perkuatan struktur ekonomi daerah dasar masyarakat, pemerintah daerah mendorong
yang mandiri. Perencanaan pembangunan yang pembiayaan pembangunan infrastruktur dengan
ditunjukkan untuk kepentingan masyarakat tidak membagi pembiayaan pembangunan diantaranya
akan berhasil tanpa peran serta masyarakat di dalam melalui dana APBN maupun APBD kab/kota sesuai
pembuatan perencanaan tersebut. Menyadari dengan kewenangan.Dalam kebijakan perimbangan
akan pentingnya peran masyarakat, pemerintah keuangan daerah, maka institusi yang berwenang
mengharuskan di dalam pembuatan perencanaan dan bertanggung jawab dalam pelaksanaan
pembangunan baik pusat maupun daerah dilakukan koordinasi antarinstitusi dan kabupaten/kota adalah
musyawarah secara berjenjang dari tingkat bawah Badan Pendapatan Daerah (Bappenda) dan Badan
(bottom up). Proses tersebut diawali dengan Pengelola Keunagan dan Aset Daerah (BPKAD).
Musrenbang Desa/Kelurahan, Musrenbang Mengingat informasi kebijakan transfer ke
Kecamatan, Musrenbang Kabupaten/Kota dan daerah dilakukan secara tahunan maka kesesuaian
Musrenbang Provinsi kemudian tingkat Musrenbang antara rencana pendanaan yang bersumber dari
Nasional dengan tujuan untuk mengoptimalkan DBH pada RPJMD Kaltim tahun 2013-2018 masih
partisipasi masyarakat dan pengembangan potensi menggunakan angka proyeksi berdasarkan rata-rata
ekonomi daerah sesuai dengan amanat Undang- realisasi selama 5 (lima) tahun sebelumnya dengan
Undang. (Jawaban Bappeda Provinsi Kaltim, 2017). memerhatikan kebijakan ekonomi nasional serta
asumsi-asumsi perkiraan kondisi ekonomi global

Mandala Harefa, Hubungan Dana Bagi Hasil dengan Penerimaan Daerah dan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur | 157
dan nasional. Upaya yang dilakukan seharusnya produksi dan nilai tukar yang telah disepakati dalam
dalam mencapai prioritas daerah adalah dengan asumsi makro. Selain itu tentunya sesuai dengan
mengoptimalkan potensi PAD yang belum digarap formulasi kebijakan transfer dan perimbangan
secara maksimal sebagai pengganti dana DBH serta keuangan, DBH dari migas selama ini pastinya akan
mendorong pembiayaan program-program prioritas bisa membantu pemerintah daerah untuk membiayai
pembangunan dengan sumber pendanaan lainnya program-program pemenuhan hak-hak dasar
seperti APBN dan kerja sama pemerintah dengan masyarakat bila dimanfaatkan sesuai prioritas dan
swasta. efektif. Prioritas penerimaan DBH adalah diutamakan
Bila ditelaah secara keseluruhan, mekanisme untuk menangani persoalan masyarakat di Provinsi
penyaluran Dana Perimbangan (DBH, DAU, DAK) perlu Kaltim yang belum diselesaikan dengan baik, di
dibangun sistem yang transparan terkait penghitungan antaranya terkait rendahnya tingkat kesejahteraan,
dan kepastian jumlah dan waktu transfer ke daerah. sulitnya pendidikan dan lapangan kerja, buruknya
Di samping itu, juga perlu dipertimbangkan adanya kesehatan, maupun lingkungan hidup masyarakat,
jeda waktu antara penyusunan APBN dengan APBD dan ketersediaan infrastruktur.
dengan pertimbangan unsur penerimaan pada APBD
tergantung pada jumlah dana yang ditransfer pusat KESIMPULAN
ke masing-masing daerah. Hal ini dengan tujuan Provinsi Kaltim yang merupakan salah satu
agar daerah dapat memperoleh kepastian jumlah daerah penghasil SDA dalam perkembangannya
penerimaan dan rencana program prioritas daerah dan realisasi dari tahun ke tahun mengalami
pada tahun rencana. penurunan, baik penerimaan PAD dan penerimaaan
Harapan Pemerintah Provinsi Kaltim adalah secara keseluruhan. Demikian pula halnya dengan
agar pemerintah pusat dapat memfasilitasi daerah transfer dana perimbangan secara keseluruhan
untuk dapat terlibat dalam menghitung perkiraan mengalami penurunan, terutama DBH yang
DBH ke daerah dengan memperkuat akses daerah mengalami penurunan cukup signifikan. Di sisi
pada sumber informasi sumber-sumber data yang lain transfer melalui DAK yang merupakan dana
berkaitan dengan DBH (data produksi migas dan batu pembangunan bagi infratsruktur publik meningkat
bara). Namun dalam mengimbangi ketidakpuasan sangat tinggi sekali. Namun demikian dana bagi
daerah penghasil terhadap perimbangan DBH yang hasil tersebut belum secara signifikan memengaruhi
diterima adalah dengan kebijakan memperbesar tingkat kemiskinan beberapa daerah kabupaten di
alokasi dana DAK pada daerah penghasil terutama Kalimantan Timur
pada program-program pembangunan infrastruktur Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal
(jalan dan listrik air baku) dan program-program masih menghadapi beberapa tantangan antara lain
pemulihan kualitas lingkungan. bahwa penurunan angka kemiskinan di Provinsi Kaltim
Persoalan lainnya adalah bahwa formula alokasi tidak terlalu signifikan. Pemerintah Provinsi Kaltim
DBH saat ini terlalu komplek dan kurang memiliki hendaknya mencari alternatif sumber penerimaan
landasan yang kuat. Rumusan bagi hasil untuk daerah lainnya di luar DBH SDA seperti pajak daerah
setiap jenis pajak dan juga penerimaan SDA sangat guna membiayai berbagai kebutuhan belanja daerah
bervariasi satu dengan yang lain, dan semenjak terutama belanja modal dalam APBD-nya.
ditetapkan rumusan alokasi ini pada tahun 2001, Kondisi tersebut tentunya menjadi faktor yang
tidak ada argumentasi yang jelas tentang formula memengaruhi program kebijakan belanja daerah
bagi hasil tersebut. Formula DBH menjadi makin pemerintah Provinsi Kaltim, mengingat Provinsi
kompleks lagi karena pemberlakuan formula yang Kaltim merupakan daerah penghasil yang cukup
berbeda untuk daerah-daerah dengan fasilitas besar dari berbagai SDA. Menurunnya penerimaan
otonomi khusus, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam dari DBH bisa jadi kerumitan dari alokasi DBH karena
dan Papua. beragamnya dasar penetapan untuk bagi hasil. DBH
Sedangkan bila melihat hasil penelitian dari migas kepada daerah didasarkan pada nilai net‐
Murniasiha dan Mulyadi tahun 2011 menunjukkan operating income setelah dikurangi berbagai jenis
bahwa setiap peningkatan DBH menyebabkan pajak (PPh, PPN, dan PBB), dengan formula yang
peningkatan belanja daerah yang lebih besar bila berbeda untuk migas. Hal ini bisa terjadi mengingat
dibandingkan peningkatan daerah yang disebabkan semakin menurunnya jumlah produksi SDA yang
DAU dan PAD di daerah-daerah se-Provinsi Kaltim. berasal dari Provinsi Kaltim, terutama batu bara yang
Namun permasalahan yang utama dalam terkait harganya menurun secara drastis di pasaran dunia.
proporsi penerimaan DBH untuk Provinsi Kaltim Hal ini jelas akan berdampak langsung pada kapasitas
harus dipahami bahwa fluktuasi atau penurunan APBD Provinsi Kaltim dalam membiayai berbagai
penerimaan DBH sangat tergantung dari jumlah program pembangunan dan pengurangan tingkat

158 | Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, (E-ISSN: 2528-4673 P-ISSN: 2086-6313) Vol. 9, No. 2, Desember 2018 147 - 160
kemiskinan. Sebab sampai saat ini ketergantungan Gamu, J., Billon, P. Le, & Spiegel, S. (2015). The
APBD terhadap transfer fiskal dari pusat masih cukup extractive industries and poverty: A review of
besar. recent findings and linkage mechanisms. The
Extractive Industries and Society, Vol. 2(No. 1),
162–176
Kurniati, T. (2012). Konflik dalam penentuan
dana bagi hasil antara pemerintah pusat dan
pemerintah propinsi Kalimantan Timur. Jurnal
DAFTAR PUSTAKA
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 16, No. 1, hal.
16-25.
Murniasiha, E. dan Mulyadi, M. S. (2011). Pengaruh
Buku transfer pemerintah pusat terhadap perilaku
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi fiskal pemerintah daerah di Provinsi Kalimantan
Kalimantan Timur. (2017). Analisis PDRB, Produk Timur. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan
Domestik Regional Bruto menurut lapangan Indonesia, Vol. 12, No.1, hal. 56-71.
usaha tahun 2011-2015 Provinsi Kalimatan Oates, W. E. (1999). An essay on fiscal federalism.
Timur. Samarinda: Pemerintah Provinsi Journal of Economic Literature, Vol. 37, No. 3,
Kalimantan Timur. pp. 1.120-1.149.
Bastian, I. (2006). Akuntansi sektor publik: Suatu Yusriadi, Sri Mulyati, (2017). Dana bagi hasil dan
pengantar. Jakarta: Erlangga. dana alokasi umum terhadap belanja daerah
Bird, R. M. dan Vaillancourt, F. (2000). Desentralisasi pada Provinsi Aceh. AGREGAT: Jurnal Ekonomi
fiskal di negara-negara berkembang. Jakarta: dan Bisnis, Vol. 1, No. 2, September 2017, hal
Gramedia Pustaka Utama. 211-220.
Case, K. E. dan Fair, R. C. (2007). Prinsip-prinsip ekonomi. Zaini, Ahmad (2017). Pengaruh kekayaan sumberdaya
Edisi Kedelapan. Jakarta: Penerbit Erlangga. alam batubara terhadap ketimpangan
pendapatan di Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal
Davey, K. J. (1988). Pembiayaan Pemerintah Daerah:
Borneo Administrator, Volume 13/No. 2/2017,
Praktek-praktek internasional dan relevansinya
hal.111-130
bagi dunia ketiga. Jakarta: UI Press.
Devas, N. (1989). Keuangan pemerintah daerah di Makalah
Indonesia. Jakarta: UI-Press. Effendi, A. S. dan Ikbal, M. (2017). Reformulasi Dana
Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) dan
Kemenkeu. (2017). Buku pegangan, pengalokasian
transformasi ekonomi dalam upaya mengatasi
dana bagi hasil sumber daya alam. Jakarta:
kesenjangan kesejahteraan antara daerah
Direktorat Dana Perimbangan, Direktorat
penghasil SDA dan daerah bukan penghasil SDA
Jenderal Perimbangan Keuangan, Kementerian
di Indonesia. Makalah FGD di Fakultas Ekonomi
Keuangan.
& Bisnis Universtas Mulawarman-Samarinda, 14
September 2017.
Jurnal dan Working Paper
Bird, R. and Tarasov, A. V. (2002). Closing the gap:
Dokumen Resmi
Fiscal imbalances and intergovernmental
Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan
transfers in developed federations. Working
Timur, (2018), Kajian Ekonomi dan Keuangan
Paper No. 02-02, International Studies Program,
Regional (KEKR) Provinsi Kalimantan Timur
Andrew Young School of Policy Studies.
(Kaltim), Bulan Mei 2018
Boadway, R. and Tremblay, Jean-Francois. (2005). A
BPS Provinsi Kalimantan Timur. (2016). Kaltim dalam
theory of vertical fiscal imbalance. IFIR Working
Angka 2016. BPS Provinsi Kalimantan Timur.
Paper No. 2006-4.
Dirjen Perbendaharaan. (2017). Kajian Fiskal Regional
Brodjonegoro, B. and Martinez-Vazquez, J. (2002) An
Kalimantan Timur 2017. Kantor Wilayah Ditjen
analysis of Indonesia’s transfer system: Recent
Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Timur.
performance and future prospects. Working
Paper 02-13. Georgia State University, Andrew Nota Keuangan dan RAPBN Tahun 2017, Bab II 5-3.
Young School of Policy Studies.
RKPD Provinsi Kalimantan Timur tahun 2017.

Mandala Harefa, Hubungan Dana Bagi Hasil dengan Penerimaan Daerah dan Kemiskinan Provinsi Kalimantan Timur | 159
Sumber Digital News.ddtc.co.id. (2016). APBD drop, bantuan
Dispenda-kaltimprov.org. (2017). Pemda dituntut keuangan terancam nol. Diperoleh tanggal 21
inovatif dan kreatif. Diperoleh tanggal 21 Juli Agustus 2017, dari http://news.ddtc.co.id/
2017, dari http://dispenda -kaltimprov.org/ artikel/8991/provinsi-kalimantan-timur-apbd-
drop-bantuan-keuangan-terancam-nol/
Haryanto, J. T. (2015). Desentralisasi fiskal seutuhnya.
Diperoleh tanggal 20 April 2017, dari http:// Perkasa, A. (2013). 6 kabupaten DBH tertinggi
www.kemenkeu.go.id/ en/node/46912. masih jadi daerah miskin?. Diperoleh tanggal
07 Desember 2018, dari http://kabar24.bisnis.
Kabar24.bisnis.com. (2012). Keuangan daerah:
com/read/20130310/78/2941/6-kabupaten-
Ada 21 masalah pada proses transfer dana
dbh-tertinggi-masih-jadi-dadaerah-miskin
dari pusat ke daerah. Diperoleh tanggal 14
Mei 2017, dari http://kabar24.bisnis.com/ Petriella, Y. (2016). Nasib Kalimantan Timur setelah
read/20120607/78/80400/keuangan-daerah- masa kejayaan batu bara. Diakses tanggal 07
ada-21-masalah-pada-proses-transfer-dana- Desember 2018, dari http://kalimantan.bisnis.
dari-pusat-ke-daerah,. com/read/20160607/411/555459/nasib-
kalimantan-timur-setelah-masa-kejayaan-batu-
Keuda.kemendagri.go.id. (2013). Dana perimbangan,
bara.
sumber pendapatan daerah terbesar. Diperoleh
tanggal 27 Februari 2017, dari http://keuda. Yuliawati dan Amelia, A.R. (2018). Jalan panjang Blok
kemendagri.go.id/artikel/detail/24-dana- Mahakam ke pangkuan Pertamina. Diperoleh
perimbangan--sumber-pendapatan-daerah- tanggal 07 Desember 2018 dari https://katadata.
terbesar. co.id/telaah/2018/01/01/jalan-panjang-blok-
mahakam-ke-pangkuan-pertamina.

160 | Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik, (E-ISSN: 2528-4673 P-ISSN: 2086-6313) Vol. 9, No. 2, Desember 2018 147 - 160

Anda mungkin juga menyukai