NAMA : Tirmidzi Hasan
NIM : 171560003338
PRODI / S : HKI/ VI
MATA KULIAH : Manajemen Administrasi URAIS
Kesimpulan dari Jurnal MASJID DAN KEMISKINAN.(Pemanfaatan Dana Masjid
Untuk Pemberdayaan Ekonomi Umat)
Pemberdayaan masyarakat merupakan proses untuk memfasilitasi dan mendorong
masyarakat agar mampu menempatkan diri secara proporsional dan menjadi pelaku utama
dalam memanfaatkan lingkungan strategisnya untuk mencapai suatu keberlanjutan dalam
jangka panjang. Jadi pemberdayaan harus dilihat secara komprehensif dengan produk akhir
masyarakat menjadi berdaya, memiliki otoritas, menjadi subyek dalam pembangunan, dan
kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Berdasarkan berbagai sumber tentang pemberdayaan masyarakat yang telah saya
baca, bila dihubungkan dengan pemberdayaan masyarakat dalam berbagai bidang terutama
dalam bidang ekonomi sebenarnya cukup banyak hal yang bisa dilakukan oleh manajemen
masjid, seperti yang dilakukan oleh masjid-masjid yang telah dikelola profesional antara lain,
Masjid Al Azhar yang dikelola Yayasan Pesantren Islam Al Azhar. Masjid Al Azhar telah telah
diberdayakan dengan mendirikan sekolah-sekolah TK, SD, SMA, dan Universitas Al Azhar
yang dipercaya oleh masyarakat karena kualitasnya. Selain mengembangkan pendidikan,
mesjid ini juga membangun ruang-ruang usaha di sekelilingnya, seperti ruang pertemuan,
warung telekomunikasi, hingga biro perjalanan. Dari berbagai usahanya ini, pengurus Masjid
Al Azhar bisa mencukupi kebutuhan rutinnya, termasuk menggaji pegawainya.
Pemberdayaan masjid lainnya antara lain Masjid Istiqomah di Bandung dan Masjid Salman
ITB.
Adapun alasan tidak adanya program pemberdayaan ekonomi yang dilaksanakan
oleh masjid ditemukan beragam jawaban. Rangkuman dari jawaban tersebut dapat
disimpulkan sebagai berikut:
Menurut Tgk M. Dahlan, Imam Masjid Baitu al-Mu‟minin, tidak dibolehkan oleh
hukum syaraʻ, karena dana tersebut diperuntukkan untuk keperluan masjid, tidak dibolehkan
untuk digunakan kepada tujuan-tujuan lain, apalagi sumber dana masjid berasal dari sadaqah
para jamaʻah yang diperuntukkan (mungkin) hanya untuk kelancaran operasional masjid.
Selain itu tidak terdapat perintah secara konkrit baik dalam al-Qur‟an maupun hadist yang
menyatakan bahwa salah pemberdayaan ekonomi adalah salah satu bagian dari tugas
masjid.
Berdasarkan hasi studi yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa kegiatan-kegiatan
pemberdayaan ekonomi umat belum dilakukanoleh masjid. Alasan tidak digunakannya dana
tersebut untuk pemberdayaan ekonomi umat, antara lain: karena tidak dibolehkan oleh
hukum syaraʻ, karena dana tersebut diperuntukkan untuk keperluan masjid.
Berdasarkan realitas di atas, ada beberapa rekomendasi yang hendak diberikan, di
antaranya: Pertama, sosialisasi tentang pemberdayaan ekonomi yang berbasis masjid harus
dilakukan oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan masjid dan pemberdayaan ekonomi,
seperti Dinas Koperasi, Dinas Syari‟at Islam, Kementerian Agama maupun oleh organisasi
kemasjidan. Kedua, kepada pemerintah Aceh disarankan untuk dapat menempatkan seorang
pegawai di masjid untuk mengelola dan pemberdayaan manajemen masjid dan
meningkatkan kompetensi pengurus masjid.