BAB II
PEMBAHASAN
PENGETAHUAN SAINS, FILSAFAT DAN MISTIK
A. PENGETAHUAN SAINS
Pada bab ini dibicarakan ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Uraian mengenai ontology
sain membahas hakikat dan struktur sain.
a. ONTOLOGI SAIN.
Disini dibicarakan haki
kat dan struktur sain. Hakikat sain menjawab pertanyaan apa sain itu sebenarnya.
1. Hakikat Pengetahuan Sain.
Cara kerja saya dalam memperoleh teori ialah cara kerja metode ilmiah. Rumus
baku metode ilmiah adalah : logico-hypothetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis,
tarik hipotesis, ajukan bukti empiris). Harap dicatat bahwa istilah logico dalam rumus
itu adalah logis dalam arti rasional. Pada dasarnya cara kerja sain adalah kerja mencari
hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi ini
oleh Fred N. Kerlinger (Foundation of Behavior Research, 1973 : 378) dirumuskan
dalam ungkapan post hoc, ergo propter hoc (ini, tentu disebabkan oleh ini).
Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional. Ilmu atau sain
berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerangkan hubungan sebab akibat. Sain tidak
memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan tidak sopan. Sain hanya
memberikan nilsi benar atau salah. Kenyataan ini lah yang menyebabkan ada dua orang
yang menganggap sain itu netral. Dalam konteks seperti itu memang ya, tapi dalam
kontek lain belum tentu ya.
b. EPISTEMOLOGI SAIN.
1) Objek Pengetahuan Sain.
Objek pengetahuan sain (yaitu objek-objek yang diteliti sain) ialah semua
objek yang empiris. Jujun S. Suriasumantri (Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar
Populer, 1994 : 105) menyatakan bahwa objek kajian sain hanyalah objek yang
berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud pengalaman
di sini ialah pengalaman indera.
Objek-objek yang dapat diteliti oleh sain banyak sekali : alam,
tetumbuhan, hewan dan manusia, serta kejadian-kejadian sekitar alam,
tetumbuhan, hewan dan manusia itu ; semuanya dapat diteliti oleh sain.
2) Cara Memperoleh Pengetahuan Sain.
Perkembangan sain didorong oleh paham Humanisme. Humanisme
adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur
dirinya dan alam. Humanisme telah muncul pada zaman Yunani lama (kuno).
Rasionalisme ialah paham yang mengatakan bahwa akal itulah alat
pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya
diukur dengan akal pula.
Empirisisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar
ialah yang logis dan ada bukti empiris. Positivisme mengajarkan bahwa
kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yamg terukur. “terukur” inilah
sumbangan penting positivisme. Metode ilmiah mengatakan, untuk memperoleh
yang benar dilakukan langkah berikut : logico-hypothetico-verificartif.
Maksudnya, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis
(berdasarkan logika itu), kemudian lakukan pembuktian hipotesis itu secara
empiris.
3) Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain.
Ada teori sain ekonomi : bila penawaran sedikit, permintaan banyak, maka
harga akan naik. Teori ini sangat kuat, karena kuatnya maka ia ditingkatkan
menjadi hukum, disebut hukum penawaran dan permintaan. Jika jika teori itu
selalu didukung bukti empiris, maka teori itu naik tingkat keberadaannya
menjadi hukum atau aksioma.
Hipotesis (dalam sain) ialah pernyataan yang sudah benar secara logika,
tetapi belum ada bukti empirisnya.
c. AKSIOLOGI SAIN
1. Kegunaan Pengetahuan Sain.
Secara umum, teori artinya pendapat yang beralasan. Alasan itu dapat berupa
argument logis, ini teori filsafat ; berupa argument perasaan atau keyakinan dan
kadang-kadang empiris, ini teori dalam pengetahuan mistik, berupa argument logis-
empiris, ini teori sain. Sekurang-kurangnya ada tiga kegunaan teori sain : sebagai alat
membuat eksplanasi, sebagai dan sebagai alat pengontrol.
a.) Teori Sebagai Alat Eksplanasi.
Menurut T. Jacob (Manusia, Ilmu dan Teknologi, 1993 : 7-8) sain
merupakan suatu system eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan
dengan system lainnya dalam memahami masa lampau, sekarang, serta mengubah
masa depan. Menurut teori sain pendidikan, anak-anak yang orang tuanya cerai
(biasanya disebut broken home), pada umumnya akan berkembang menjadi anak
yang nakal. Penyebabnya ialah karena anak-anak itu tidak mendapat pendidikan
yang baik dari kedua orang tuanya. Padahal pendidikan dari kedua orang tua amat
penting dalam pertumbuhan anak menuju dewasa.
c.) Teori Sebagai Alat Pengontrol.
Perbedaan prediksi dan control ialah prediksi bersifat pasif, tatkala ada
kondisi tertentu, maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan menjadi ini,
itu, begini atau begitu. Sedangkan control bersifat aktif, terhadap sesuatu keadaan,
kita membuat tindakan atau tindakan-tindakan agar terjadi ini, itu, begitu atau
begini.
2. Cara Sain Menyelesaikan Masalah.
Yaitu pertama, ia mengidentifikasi masalah. Kedua, ia mencari teori tentang
sebab-sebab kenakalan remaja. Ketiga, ia kembali membaca literature lagi.
B. PENGETAHUAN FILSAFAT
Ontologi filsafat membicarkan tentang hakikat filsafat. Yaitu apa pengetahuan filsafat itu
sebenarnya. Struktur filsafat juga dibicarakan disini. Yang dimaksut dengan struktur disini
ialah cabang-cabang filsafat serta isi yaitu teori dalam setiap cabang itu. Struktur dalam arti
cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat.
1. Hakikat Pengetahuan Filsafat.
Hatta mengatakan bahwa pengertian filsafat lebih baik tidak dibicarakan lebih
dulu ; nanti bila orang telah banyak mempelajari filsafat orang itu akan mengerti dengan
sendirinya apa filsafat itu (Hatta, Alam Pikiran Yunani, 1996, I: 3). Langeveld juga
berpendapat seperti itu katanaya, setelah orang berfilsafat sendiri, barulah ia maklum apa
itu filsafat, makin dalam ia berfilsafat akan semakin mengerti ia apa filsafat itu
(Langeveld, menudju ke pemikiran filsafat, 1961 : 9).
2. Struktur Filsafat.
filsafat teridiri tiga cabang besar yaitu: ontoligi, epistimologi, dan aksiologi.
Ketiga cabang itu sebenarnya merupakan satu kesatuan:
ontologi, membicarakan tentang hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan
tentang hakikat segala sesuatu.
Epsitimologi cara memperoleh pengetahuan itu.
Aksiologi membicarkan guna pengetahuan itu.
1) Filsafat Perennial.
Istilah perennial berasal dari bahasa latin perenis kemudian diadopsi
kedalam bahasa inggris perennial yang berarti kekal (Komaruddin Hidayat dan
Muhammad Wahyuni Nafis, Agama Masa Depan : Perspektif Filsafat Perennial,
1995 : 1). Dengan demikian, filsafat perennial (philosophia perennis) ialah filsafat
yang di pandang dapat menjelaskan segala kejadian yang bersifat hakiki,
meyangkut kearifan yang diperlukan dalam menjalani hidup yang benar, yang
menjadi hakikat seluruh agama dan tradisi yang besar spritualitas manusia (lihat
Komarudin Hidayat dan M. Wahyuni Nafis, 1995: xx).
Psikologi ialah jalan untuk mengetahui adanya sesuatu dalam diri manusia
(yaitu soul) yang identik dengan realitas ilahi. Dan etika adalah yang meletakkan
tujuan akhir kehidupan manusia. Dengan demikian maka filsafat perenial
memperliahatkan kaitan seluruh eksistensi yang ada di alam semesta ini dengan
realitas ilahi itu.
Filsafat Post Modern (Post Modern Phylosopy).
Didalam literature filsafat, biasanya bahkan sejarah filsafat dibagi tiga :
1. Filsafat yunani kuno (Ancient Philoshopy) yang di dominasi rasionalisme.
2. Filsafat abad tengah (Middle Ages Philosophy), filsafat abad kegelapan yang
didominasi oleh pemikiran tokoh Kristen.
3. Filsafat modern (Modern Philosophy) yang didominasi lagi oleh rasionalisme.
Akhir-akhir ini agaknya telah muncul babakan keempat, yaitu filsafat
Pascamodern (Post Modern Philoshopy). Pada dasarnya rasionalisme adalah
paham filsafat yang mengatakan akal itulah alat pencari dan pengukur
kebenaran.
b. EPISTIMOLOGI FILSAFAT.
1. Objek Filsafat.
Tujuan berfilsafat adalah menemukan kebenaran yang sebenarnya, jika
hasil pemikiran itu disusun , maka susuna itulah yang kita sebut sistematika
filsafat. Sistematika atau struktur filsafat dalam garis besar terdiri atas ontologi,
epistimologi, dan aksiologi.
Objek penelitian filsafat lebih luas dari objek penelitian sain. Sain hanya
meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti abjek yang ada dan mungkin
yang tidak ada. Sebenarya masih ada objek lain ayng disebut objek forma yang
menjelaskan sifat kemendalaman penelitian filsafat.
2. Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat.
Pertama-tama filosof harus membicarakan (mempertanggungjawabkan)
cara mereka memperoleh pengetahuan filsafat. Yang menyebabkan kita hormat
kepada para filosof ialah karena ketelitian mereka.
Berfilsafat adalah berfikir, berfikir itu tentu menggunakan akal. Yang
menjadi persoalan itu apa itu sebenranya akal. Jika kita ingin mengetahui sesuatu
yang tidak empiric, yang kita gunakan adalah akal, bahkan akal sekaliputn sangat
diragukan hakikat kebenarannya.
3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat.
Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang logis tidak empiris.
Pernyataan ni menjelaskan bahwa kebenaran fisalafat ialah logis tidakanya
pengetahuan itu, bila logis benara, bila tidak logis salah.
Ada hal yang patut anda ingat, anada tidak boleh menutut bukti empiric
untut menutut kebenaran filsafat. Pengetahun filsafat adalah pengetahuan yang
logisa dan hanya logis. Bila logis dan empiris, itu adalah pengetahuan sain.
Kebenaran dalam filsafat ditentukan oleh logis tidakanya teorai itu.
Ukuran logis tidaknya tersbut akan telihat pada argument yang menghasilkan
kesimpulan itu.
c. AKSIOLOGI PENGETAHUAN FILSAFAT.
1) Kegunaan Filsafat Bagi Hukum.
Istilah hukum sering rancu. Kadang-kadang hukum Islami itu dikatakan syari’ah,
kadang-kadang fiqih. Yang dimaksud disini adalah fiqih.
Fiqih secara bahasa berarti mengetahui. Kata fiqih bukan berarti paham tentang
hukum Islam, tapi paham dalam arti umum. Butir-butir dan ketentuan hukum yang ada
dalam fiqih pada garis besaranya mencakup tiga unsure :
1. Perintah, seperti shalat, zakat, puasa dan lain sebagianya.
2. Larangan, seperti larangan musyrik, zina dan lain sebaginya
3. Petunjuk. Seperti cara shalat.
Hukum islami yang dijadikan aturan beramal ada di dalam hukum fiqih sebagai
kumpulan hukum. Selain dalam ushul al-fiqh filsafat berguna juga dalam menafsirkan
teks dan memberikan kritik ideologi.
Dalam menafsirkan teks wahyu atau teks hadis yang akan dijadikan sumber aturan
hukum. Misalnya dalam menafsirkan ayat-ayat Al-qur’an dan As-sunah. Dalam
perkembagan bahasa pun filsafat ada gunanya.
2) Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah.
Kegunaan filsafat yang lain ialah sebagai methodology, maksudnya
sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebgai
metode dalam memandang dunia (world view).
Sesuai dengan sifatnya, filasafat menyelesaikan masalah secara mendalam
dan universal. Penyelesaian filsafat bersifatr mendalam artinya ia ingin mencari
asal masalah. Universal artinya ingin masalah itu dilihat dalam hubungan seluas-
luasnya agar nantinya penyelesaian itu cepat dan berakibat seluas mungkin.
C. PENGETAHUAN MISTIK.
A. ONTOLOGI PENGETAHUAN MISTIK.
1. Hakikat Pengetahuan Mistik
Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional, ini pengertian yang [Link]
pengertian mistik dikaitkan dengan agama ialah pengetahuan ajaran atau keyakinan tentang
tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau spiritual, bebas dari ketergantungan pada indera
dan rasio (A.S. Hornby, A Leaner’s Dictionary of Current English, 1957 : 828).
Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami oleh rasio,
maksudnya hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini
kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Pengetahuan mistik sebenarnya pengetahuan yang bersifat mistik ialah pengetahuan yang
supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.
2. Struktur Pengetahuan Mistik.
Dilihat dari sifatnya kita membagi mistik menjadi dua bagian yaitu mistik biasa dan
misitk magis. Mistik-biasa ialah mistik tanpa kekuatan tertentu. Dalam Islam mistik yang ini
ialah tasawuf. Mistik magis ialah mistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya
untuk mencapai tujuan tertentu. Mistik magis dibagi dua macam, yaitu mistik-magis-putih dan
mistik-magis-hitam. Contoh magis putih di dalam Islam seperti mukjizat, karomah ilmu
hikmah. Sedangkan contoh magis hitam seperti santet, dan sejenisnya yang menginduk ke
sihir. Magis hitam berasal dari luar agama.
Perbedaan mendasar ada pada segi filsafatnya. Magis putih selalu dekat dan berhubungan
dan bersandar pada Tuhan, sehingga dukungan Ilahi sangat mendukung. Hal ini berjalan sejak
zaman kenabian, pada pemilik magis putih selain Nabi disebut karamah. Kekuatan
supranatural pada Nabi ada juga yang ditunjukan melalui benda seperti mukjizat Nabi Musa.
Dalam benda seperti itu telah terdapat kekuatan Ilahiah (Ibn Khaldun, Muqaddimah, 1986 :
690).
Magis hitam selalu dekat, bersandar dan bergantung pada kekuatan setan dan roh jahat.
Menurut Ibn Khaldun (1986 : 684) mereka memiliki kekuatan di atas rata-rata manusia,
kekuatan mereka itu memungkinkan mereka mampu melihat hal-hal gaib, karena adanya
dukungan setan atau roh jahat tadi. Jiwa-jiwa yang memiliki kemampuan magis ini dapat
digolongkan menjadi tiga, yaitu :
Pertama, mereka yang memiliki kemampuan atau pengaruh melalui kekuatan mental atau
himmah. Kedua, mereka yang melakukan pengaruh magisnya dengan menggunakan watak
benda-benda atau elemen-elemen yang ada didalamnya, baik benda angkasa atau benda yang
ada dibumi. Ketiga, mereka yang mekakukan pengaruh magisnya melalui kekuatan imajinasi
sehingga menimbulkan berbagai fantasi pada orang yang dipengaruhi. Kelompok ini disebut
kelompok pesulap (sya’badzah).
B. EPISTEMOLOGI PENGETAHUAN MISTIK.
Pengetahuan mistik ialah pengetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan
melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat merasa. Kalau
indera dan rasio ialah alat mengetahui yang dimiliki oleh manusia, maka rasa atau hati juga
alat mengetahui.
1. Objek Pengetahuan Mistik.
Yang menjadi objek pengetahuan mistik ialah objek yang abstrak-supra-rasional,
seperti alam gaib termasuk Tuhan, Malaikat, surga, neraka, jin dan lain-lain. Termasuk
objek yang hanya dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek-objek yang
tidak dapat dipahami oleh rasio, yaitu objek-objek supra-natural (supra-rasional), seperti
kebal, debus, pelet, penggunaan jin dan santet.
2. Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik.
Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik ialah latihan yang disebut
juga riyadhah. Dari riyadhah itu manusia memperoleh pencerahan, memperoleh
pengetahuan yang dalam tasawuf disebut ma’rifah.
3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik.
Satu-satunya tanda pengetahuan disebut pengetahuan (bersifat) mistik ialah kita
tidak dapat menjelaskan hubungan sebab akibat yang ada di dalam sesuatu kejadian
mistik. Akan lebih merepotkan kita memahami sesuatu teori dalampengetahuan mistik
bila teori itu tidak punya bukti empirik; sulit diterima karena secara rasional tidak
terbukti dan bukti empirik pun tidak ada.