IKATAN IONIK
A. Senyawa Ionik
1. Sifat Senyawa Ionik
Sifat dari senyawa ionik berbeda dari senyawa kovalen, karena adanya
kation dan anion dalam kisi. Ada susunan geometris tertentu ion-ion dalam kisi
yang menghasilkan tarikan maksimal antara kation-anion dan tolakan minimal
antara kation-kation dan anion-anion. Beberapa karakteristik sifat senyawa ionik
adalah sebagai berikut:
1. Stereokimia. Ikatan ionik sangat kuat dan omnidirectional. Kekuatan ionik
memperluas seluruh ruang dan sama kuat ke segala arah.
2. Titik Leleh dan Titik Didih. Karena kuatnya interaksi elektronik antara
kation-anion, dan dengan memperluas seluruh kisi kristal, senyawa ionik
memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi. Oleh karena itu butuh panas
yang tinggi untuk peleburan dan penguapan. Sebagai contoh, dalam kristal
natrium klorida, setiap ion natrium dikelilingi oleh enam ion klorida dan
setiap ion klorida dikelilingi oleh enam ion natrium. Susunan ini meluas di
seluruh kisi kristal menghasilkan kekuatan tarikan yang kuat di seluruh
kristal. Semakin dekat ion dalam kristal (semakin rendah nomor atomnya),
semakin besar kekuatan tarikannya dan semakin tinggi titik lelehnya (Tabel
5.1).
Tabel 1 Titik Leleh Beberapa Garam Natrium
Anion F– Cl– Br– I– AlMe4–
Titik Leleh (K) 1268 1073 1023 924 513 (d)
3. Kekerasan. Gaya tarik elektrostatik multi valent dalam kristal ionik
membuat kristal keras. Kekerasan meningkat seiring penurunan jarak antar
ion dan peningkatan muatan ion (Tabel 5.2). Selanjutnya, ion dengan
konfigurasi kulit seperti gas mulia (dengan 8-elektron) memberikan kristal
lebih keras daripada ion dengan konfigurasi kulit seperti gas mulia (dengan
18 elektron) (Tabel 5.2).
1
Tabel 2 Kekerasan Senyawa Ionik dalam Skala moh dengan Diamond = 10
LiF NaF MgO CaO SrO
M–X (pm) 202 231 205 240 257
Kekerasan 3,3 3,2 6,5 4,5 3,5
LiCl NaCl MgS CaS SrS
M–X (pm) 257 281 259 284 300
Kekerasan 3,0 2,5 4,5 4,0 3,3
LiBr CuBr
M–X (pm) 275 246
Kekerasan 2,5 2,4
4. Kerapuhan. Apabila terdapat cukup energi diberikan ke lapisan kristal unit
sel, maka gaya tarik akan menjadi gaya tolak yang disebabkan oleh tolakan
anion-anion dan kation-kation sehingga akan mengakibatkan kristal hancur.
Oleh karena itu, kristal ionik, meskipun keras, tetapi rapuh dan dapat
dengan mudah dijadikan serbuk dengan memalu (lih. logam, yang keras dan
ulet).
5. Kelarutan. Senyawa ionik larut dalam pelarut polar memiliki konstanta
dielektrik tinggi disebabkan oleh (i) penurunan gaya tarik antara ion dalam
media dielektrik dan (ii) interaksi kutub ion-pelarut, yang menyediakan
energi yang cukup besar untuk memutuskan kisi ionik.
Akan tetapi banyak senyawa ion yang larut dalam pelarut memiliki
konstanta dielektrik rendah (dioksan, nitrobenzena, eter, alkohol, dll), tetapi
kelarutan ini disebabkan oleh (i) sifat kovalen parsial senyawa dan (ii)
koordinasi molekul pelarut melalui atom O.
6. Konduktivitas. Dalam wujud padat, senyawa ionik memiliki konduktivitas
yang sangat rendah karena ion-ion terikat erat dalam posisi kisinya. Sebuah
padatan kecil seperti MAg4I5 (M =K, NH4, Rb) memiliki konduktivitas sama
dengan ion-ion dalam larutan karena tingginya mobilitas ion Ag+ dalam kisi
kristal biasa. Dalam keadaan cair dan dalam larutan, senyawa ionik
menghantarkan listrik disebabkan oleh terbentuknya ion-ion yang bebas
bergerak di sekitar medan listrik dan dengan demikian dapat membawa arus
listrik.
2
2. Pembentukan Ion
Berikut ini akan dijelaskan pembetukan ion-ion, baik pada kation
maupun anion.
a. Tidak Ada Elektron Terluar
Ion H+ pada hidrogen terbentuk karena hilangnya satu elektron di dalam
atom adalah satu-satunya ion dari jenis ini. Proton, inti memiliki muatan
positif, stabil dalam larutan dan memiliki sifat yang unik.
b. Ion dengan Konfigurasi Gas Mulia
Ion-ion ini memiliki konfigurasi gas mulia ns2 np6 di kulit terluarnya,
kecuali untuk n = 1 untuk yang tidak ada orbital p dan konfigurasi kulit unsur
gas mulia adalah 1s2. Konfigurasi ini dicapai oleh unsur-unsur pada golongan
I, II, dan III oleh hilangnya seluruh elektron valensi pada kulit terluarnya dan
oleh unsur-unsur golongan VII, VI, dan V dengan menerima berturut-turut 1,
2, dan 3 elektron pada kulit terluarnya. Beberapa contoh yang disebutkan di
bawah. Disebabkan oleh efek perlindungan yang tidak efisien dari inti dengan
elektron 1s2, ion 1s2 memiliki sifat berbeda dari unsur lain dalam golongan
yang sama dan cenderung untuk membentuk senyawa yang lebih kovalen.
H– He (1s2) Li+
3– 2–
N , O , F– Ne (2s2 2p6) Na+, Mg2+, Al3+,
P3–, S2–, Cl– Ne (5s2 5p6) K+, Ca2+, Sc3+, Ti4+
As3–, Se2–, Br– Ne (5s2 5p6) Rb+, Sr2+, Y3+, Zr4+
Te2–, I– Ne (5s2 5p6) Cs+, Ba2+, La3+, Ce4+
At– Ne (5s2 5p6) Fr+ Ra2+, Ac3+, Th4+
c. Ion dengan Kulit Terluar berisi Delapan belas-Elektron
Unsur past-transisi golongan IB, IIB, IIIA, IVA memiliki konfigurasi kulit
terakhir dan kulit sebelumnya sebagai (n-1) s2 (n-1) p6 (n-1) d10 ns1,2 np0,1,2,
bisa kehilangan elektron pada kulit terluarnya membentuk ion memiliki
konfigurasi terluar ns2 np6 nd10. Contohnya Cu2+, Zn2+, Ga3+, dan Ge4+, dengan
konfigurasi 3s2 3p6 3d10. Sedangkan Ag+, Cd2+, In3+, dan Sn4+, dengan
konfigurasi 4s24p64d10 dan Au+, Hg2+, Tl3+, dan Pb4+ untuk konfigurasi
5s25p65d10.
3
Karena konfigurasi ini hanya dapat dicapai dengan melepaskan elektron-
elektronnya, maka anion tidak memungkinkan untuk terbentuk. Kecuali pada
Au- dengan konfigurasi 5s25p65d106s2 yang ditemukan pada CsAu.
d. Pasangan Gas Mulia s2
Ketika unsur-unsur yang memiliki konfigurasi elektron valensi ns2npx (x =
1,2,3) kehilangan elektron pada orbital p saja, kation dengan konfigurasi ns2
akan terbentuk. Hal ini dimungkinkan hanya bila energi dari elektron ns dan
np cukup berbeda sehingga mengakibatkan ionisasi bertahap selama
pembentukan ikatan kimia. Oleh karena itu, hanya unsur-unsur metaloid
(sebelah kanan unsur transisi) golongan IIIA, IVA dan VA memberikan ion
seperti: Ga+, Ge2+, dan As3+ untuk 4s2; In+, Sn2+, dan Sb3+ untuk 5s2 dan Tl+,
Pb2+, dan Bi2+ untuk ion 6s2.
e. Ion d dan f
Ion-ion logam transisi terbentuk oleh hilangnya elektron valensi kulit
terluar tanpa ionisasi elektron d memiliki konfigurasi kulit luar sebagai
ns2np6ndx (x = 1 sampai 9) dan diklasifikasikan sebagai ion d karena
kesamaan antara mereka sendiri. Contoh ionnyaTi3+, V2+, Cr2+, Co2+, Fe3+,
Cu2+, dll.
Ion f berasal dari unsur-unsur transisi dalam karena hilangnya elektron
terluar s dan d dan memiliki konfigurasi (n-1)s2 (n-1)p6 (n-1) d10 (n-1) f1-13 ns2
np6, dimana n=6 untuk aktinida dan 5 untuk lantanida. Ion-ion ini sangat
mirip satu sama lain karena ukuran dan konfigurasi elektron yang serupa di
mana elektron f tidak menentukan pembentukan ikatan kimia.
f. Ion-ion poliatomik
Suatu unsur yang berikatan dengan unsur elektronegatif seperti O, F atau Cl
melalui ikatan kovalen, dapat mengurangi elektronegativitas dan muatan
formalnya. Pembentukan sejumlah besar anionokso, aniontio, kationokso, ion
kompleks halogen, dll terlalu rumit untuk dijadikan satu pokok bahasan. Ion-
ion tersebut dan ion lain seperti [Cu(NH 3)4]2+ lebih tepat apabila dibahas pada
pokok bahasan senyawa koordinasi.
4
g. Ion dengan Konfigurasi tidak teratur
Ada ion tertentu yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam kelas tertentu,
misalnya Hg22+, Ge22+, Pb94–,dll.
Berdasarkan hal di atas, dapat dilihat bahwa pembentukan ion mudah jika:
a. Muatan pada ion, terutama kation kecil, biasanya satu atau dua unit saja.
b. Anion berukuran kecil dan kation yang berukuran besar, dan
c. Ion yang terbentuk ini mempunyai struktur yang stabil, yaitu 8 elektron
valensi, 18 elektron valensi, pasangan inert 6s2, d atau f ion (dalam urutan
penurunan kestabilan).
Perbandingan ketidakstabilan dari ion 3d10 dan 5f10 pada emas dan perak
harus perhatikan, ion stabilnya adalah Cu2+ (3d9) dan Au3+ (5d8). Sebuah
penjelasan yang mungkin adalah bahwa muatan inti unsur ini tidak cukup tinggi
untuk membentuk 18 elektron, untuk emas dimana peningkatan muatan menjadi
3+ adalah keadaan yang paling stabil.
Stabilitas Ag+(4d10) dan pembentukan dari anion emas (Au-),
bagaimanapun, tidak sejalan dengan penjelasan ini.
B. Rasio Jari-Jari
1. Struktur Senyawa ionik
Karena kation dan anion dalam senyawa ionik terikat oleh gaya
elektrostatiknya saja, kation dan anion mencoba untuk menempatkan diri dalam
suatu susunan geometris agar tolakan antara muatan sejenis diminimalkan dan daya
tarik antara muatan yang berlawanan dimaksimalkan. Hal ini dapat dilihat dengan
mempertimbangkan efek peningkatan ukuran dari ion pusat. Untuk menduga suatu
susunan ion oktahedral, susunan spasial terlihat paling mudah dimana setiap empat
ion yang sejenis (katakanlah, anion) mengelilingi ion pusat (katakanlah, kation).
Susunan yang paling stabil adalah jika salah keempat anion saling menyentuh
dengan kation secara bersamaan [Gambar. 5.1 (b)]. Jika ukuran anion menurun,
anion tidak akan lagi menyentuh anion lain, meskipun mereka menyentuh kation
[Gambar. 5.1 (a)]. Jika ukuran kation secara relatif meningkat, anion lebih mungkin
berada di sekelilingnya memberikan stabilisasi lebih besar dengan mengubah
bilangan koordinasi dan strukturnya. Di sisi lain, jika ukuran anion meningkat,
anion-anion tersebut tidak akan lagi menyentuh kation dan meningkatkan tolakan
5
interelektronik yang akan mendorong salah satu dari anion jauh dari bidang
koordinasi kation, sehingga mengubah struktur.
(a) (b) (c)
Gambar 5.1 Pengaruh peningkatan ukuran ion luar.
(a) (b) (c)
Gambar. 5.2 Kisi tetrahedral (a), oktahedral (b), dan kubus (c) hanya
menampilkan satu ion pusat.
Kisi ionik yang paling umum dan stabil adalah kisi tetrahedral, oktahedral dan
kubus sesuai dengan bilangan koordinasi masing-masing dari 4, 6 dan 8 (Gambar
5.2). Kisi ionik diketahui setelah nama dari mineral yang mengkristal dalam bentuk
kisi yang sama terbentuk (Gambar 5.3). Hal ini terlihat bahwa untuk bilangan
koordinasi 4 (kisi tetrahedral) terdapat dua struktur yang berbeda yaitu wurtzite dan
seng blende (perbedaan keduanya ditampilkan dengan jelas pada Gambar. 5.4).
6
Gambar. 5.3. Beberapa kisi ionik umum. Seng blende atau ZnS sfalerit (a) ;
wurtzite, ZnS (b); batu garam, NaCl (c); dan cesium klorida CsCl (d) untuk kisi
ionik 1: 1 dan kisi kubus fluoritCaF2 (f), dan octahedralrutil, TiO2 (e) untuk senyawa
ionik1: 2.
Gambar. 5.4 Perbedaan struktur antara blende seng dan wurtzite
2. Perhitungan Perbandingan Jari-Jari
a. Kisi Kubus
Pada kisi kubus, anion terletak di sudut-sudut kubus dan kation terletak di
pusat. Dalam hal ini masing-masing anion saling bersentuhan, dan dengan kation,
sehingga sisi kubus akan sama dengan dua kali jari-jari anion (= 2ra). Diagonal
terpanjang akan sama dengan jari-jari dua anion di sudut diagonal (= 2ra) ditambah
dengan diameter kation (= 2rc) di mana ra adalah jari-jari dari anion dan rc adalah
7
jari-jari kation (Gambar 5.5). Jika sisi kubus adalah b, maka diagonal ruang kubus
akan menjadi b , sehingga
b = 2ra dan b = 2ra + 2rc
Dengan demikian,
Secara sederhana adalah
0.732. (5.1)
Oleh karena itu, diasumsikan bahwa ion merupakan bola pejal yang keras, dan
perbandingan jari-jari minimum untuk kisi kubus secara geometris didapatkan
sebesar 0,732.
Gambar 5.6 Kisi oktahedral. Hanya empat
Gambar 5.5 Kisi kubus. anion di sudut persegi coplanar dengan ion
pusat yang akan ditampilkan. Kisi penuh
akan memiliki dua anion lagi,satu diatas dan
lainnya di bawah dengan pusat ol linear
dengan kation pusat.
[Link] Oktahedral
Secara geometris, kisi oktahedral seperti pada Gambar. 5.6. Keempat anion di
sudut-sudut bidang datar segi empat, kation di pusat, dan satu anion masing-masing
diatas dan bawah bidang yang dibentuk oleh empat anion yang mengelilingi
8
kation. Semua ion saling menyentuh untuk susunan yang paling stabil. Oleh karena
itu, jika sisi segi empat adalah b, maka akan sama dengandua kali jari-jari anionik
ra dan diagonal persegi, b , akan sama dengan diameter kation (2rc) ditambah dua
kali jari-jari anion (2 ra). Oleh karena itu,
b = 2ra dan b = 2ra + 2rc
dalam bentuk pembagian adalah,
Secara sederhana adalah
0.414. (5.2)
Ini adalah rasio minimum yang dihitung untuk kisi oktahedral bidang non-
kompresibel.
C. Energi Kisi
Energi kisi U dari senyawa ion didefinisikan sebagai jumlah energi yang
dilepaskan ketika satu mol senyawa terbentuk dalam struktur kisi biasa dari
sejumlah ion dalam keadaan gas. Jadi energy kisi adalah perubahan energi untuk
reaksi
M+(g)+ X-(g) M+X-(s)
Mn+ (g)+nX-(g) Mn+Xn-(s) (5.6) atau
mMn+ (g)+nX-(g) Mmn+Xnm–(s)
Pentingnya energi kisi dapat dilihat dengan mengamati pembentukan
senyawa ionik A+B- dari A dan B. Proses ini melibatkan tiga langkah.
(1) Pemindahan sebuah elektron dari A yang membutuhkan energi ionisasi (IE)
dari A:
A(g) A+(g)+e– H = IEA, (5.7)
9
(2)Penambahan elektron ke B membentuk B- dengan melepaskan afinitas elektron
(EA) dari B:
B(g) +e– B–(g) H = –EAB (5.8)
(3)Penyusunan senyawa ion dalam keadaan gas dengan pola geometris yang teratur
melepaskan energi kisi dari senyawa A+B-:
A+(g) + B–(g) A+B–(s) H=U (5.9)
Pembentukan ion gas A+B–, dimana ion berada pada jarak yang tak terbatas
memerlukan masukan energi (=IEA–EAB). Energi ionisasi (IE) minimum adalah
sama dengan 375,7 kJ mol-1 (94 kkalmol-1) untuk cesium, dan afinitas elektron (EA)
maksimum adalah 349,7 kJ mol-1 (89.5 kkal mol-1) untuk klorin, pembentukan ion
bahkan dalam hal kombinasi yang paling baik membutuhkan energi sekitar 27
kJmol-1. Bentuk yang lebih stabil adalah dalam bentuk gas, oleh karena itu atom
berbeda dari ion karena ion mengalami pemisahan.
Pada pembentukan padatan ionik, tarikan Coulomb antara ion yang berbeda
muatan harus dipertimbangkan. Energi dari susunan ion dalam kisi-kisi dapat
dengan mudah dihitung oleh model elektrostatik sederhana. Mengingat dua ion Mz+
dan Xz–, titik muatan dipisahkan oleh jarak r, energi tarik-menarik elektrostatik
adalah sebagai berikut:
Ecoul = z+z–e2/4 o r (5.10)
dimana e adalah muatan listrik (1.6 x 10-19 Q) dan ∈o adalah permitivitas hampa.
Pada muatan negatif, energi ini adalah negatif sehubungan dengan energi pada
pemisahan ion yang tak terbatas dan menjadi tak terbatas sebagai r mendekati nol.
Tapi ion tidak bermuatan titik dan memiliki elektron di kulit terluarnya.
Sebagai ion mendekat, gaya tolakan antar elektron mempunyai rentang pendek,
yang tidak memungkinkan ion-ion untuk ber-fusi bersama-sama. Born menyatakan
bahwa gaya tolakan Erep diberikan oleh Persamaan (5.11)
Erep = B/rn (5.11)
Di mana B adalah faktor proporsionalitas dan n yang disebut eksponen Born, dapat
diperoleh dari kompresibilitas K karena kita mengukur resistensi ion:
10
K= (5.12)
Nilai n tergantung pada jumlah elektron yang ada dalam ion, 5, 7, 9, 10, 12, dan 14
untuk 2, 10, 18 dan 28, 36 dan 46, 54 dan 78, dan 86 elektron pada masing-masing
kulit (seperti yang diberikan oleh Pauling).
Energi U dari pasangan ion bisa ditulis sebagai Persamaan (5.13)
U = Ecoul+Erep = – + (5.13)
Sebagai dua istilah yang berbeda, kurva dari U terhadap r (Gambar 5.9) akan
menampilkan kesetimbangan minimal jarak antar inti r0.
Pada r = r0, dan dU/ dr = 0, sehingga,
=– – = 0 padar = r0
memberikan
B=– (5.14)
Gambar 5.9. Kurva perbedaan istilah energi terhadap r (kualitatif saja)
memberikan r minimal pada jarak antar inti r0
11
Substitusi dari persamaan (5.14) ke persamaan (5.13) memberikan energi dari
pasangan ion pada jarak antar inti r0 sebagai
U0 = –
= (5.15)
= untuk pasangan ion 1 : 1 (5.16)
Sebuah kisi kristal akan memberikan lebih banyak tarikan Coulomb daripada
pasangan ion. Misalnya pada kristal NaCl, untuk setiap ion natrium, enam ion
klorida pada jarak r0, dua belas ion natrium pada jarak , delapan lebih ion
klorida , enam ion natrium pada , 24ion klorida di , [Link]
Coulomb dari masing-masing tarikan ini akan dinyatakan mirip dengan Persamaan
(5.10), sehingga Ecoul untuk pasangan ion dalam kisi adalah sebagai berikut:
Ecoul = – + – + – ....
= (5.17)
dimana A disebut konstanta Madelung, adalah jumlah interaksi yang disebabkan
susunan geometris ion-ion. Ternyata A dapat dihitung secara matematis, meskipun
tidak menarik dan tidak tergantung pada muatan ion.
Dalam literatur lama, konstanta Madelung M didefinisikan sebagai
12
M = (5.18)
Dimana z adalah faktor umum tertinggi dari muatan ion. Hal ini sama seperti
perhitungan energi dari molekul MX2 sebagai
E = (5.19)
Untuk menghindari kebingungan, nilai-nilai dari kedua A dan M yang diberikan
untuk struktur yang umum pada Tabel 5.5.
Tabel 5.5 Konstanta Madelung untuk Beberapa Kisi Kristal yang Umum
Bilangan
Struktur A M
Koordinasi
Rock Salt
Caesium
6:6 1.74756 1.74756
chloride NaCI
8:8 1.76267 1.76267
Zinc blende or CsCl ZnS
4:4 1.63806 1.63806
sphalerite ZnS
4:11 1.64132 1.64132
Wurtzite CaF2
8:4 2.51939 5.03878
Fluorite TiO2
6:3 2.408 4.816
Rutile SiO2
4:2 2.2197 4.4394
Quartz Cu2O
2:4 2.05776 4.11552
Cuperite TiO2
6:3 2.4000 4.8000
Anatase CdI2
2.355 4.71
Cadmium Al2O3
6:4 4.17186 25.03116
iodide
Corundum
Sehingga energi dari pasangan ion dalam kisi, menjadi
U0 =
Energi total darisatu mol pasangan ion dalam kisi kristal akan menjadi energi
pasangan N, dimana N adalah bilangan Avogadro, sehingga
Uc = NU0= (5.20)
Ini adalah persamaan Born-Lande untuk energi kisi dari senyawa ionik dan
hanya membutuhkan nilai r0, jarak kisi antar inti untuk perhitungan kisi energi
Uc. Karena sebagian dari nilai-nilai mengacu pada 298 K, sedikit penyesuaian
13
dalam nilai-nilai yang diperlukan, tetapi perbedaannya jarang melebihi 5–10 kJ
mol-1.
Kapustinskii telah menyarankan Persamaan (5.21) untuk Uc, dimana struktur
kristal suatu senyawa diketahui
Uc = (5.21)
di mana v adalah jumlah ion tiap molekul, yaitu 3 untuk BeCl2, Li2O, dll dan r0
adalah jumlah jari-jari ionik dari ion.
D. Kesalahan dalam Persamaan Born-Lande
Dalam perhitungan yang sangat akurat, berikut ini diterapkan dalam perhitungan
di atas. Nilai Uc, pada 0 K disebut sebagai U0, di mana diasumsikan bahwa
fibrasi antar atom diabaikan.
(1) Gaya van derWaals atau gaya dispersi London. Kekuatan-kekuatan yang
lemah terjadi pada semua atom, molekul atau ion, karena tarikan antara
dipol berosilasi dalam atom yang berdekatan. Ini bervariasi sekitar sebagai
r-6, dan dihitung dari polarisabilitas dan energi ionisasi ion.
(2) Titik nol energi kristal adalah energi fibrasi dari ion dimana terjadi kristal
pada 0K, dan dihitung dari frekuensi fibrasi kisi.
(3) Pernyataan yang lebih teliti dari Persamaan (5.11) juga dapat digunakan,
tetapi hasilnya tidak berbeda jauh.
(4) Jangka kapasitas panas [Persamaan. (5.22)] harus ditambahkan pada hasil,
suhu T dimana Cc mengacu pada kapasitas panas dari jenis bahan yang
terlibat pada volume konstan. Hal ini diasumsikan bahwa ion dan molekul-
molekul gas berperilaku sebagai ideal (dan umumnya Cv=3R/2).
E= dT (5.22)
Memasukkan poin di atas, Mayer, Born dan Helmboltz menyarankan
persamaan (5.23) di mana k dan ca dalah parameter baru dan E0 adalah
energi titik nol dari kristal.
14
U = + NB – + NE0 (5.23)
Batas besaran relatif yang berbeda pada dalam Persamaan (5.23) diberikan
dalam Tabel5.6 untuk beberapa padatan ionik
Tabel 5.6 Komponen Persyaratan Energi Kisi
Batas Energi LiF NaCl CsI
kJ Ev kJ eV kJ eV
Coulomb -1200 -12.4 -860 -8.92 -620 -6.4
Tolakan 180 1.9 100 1.03 52 0.63
Gaya van der -16 -0.17 -12 -0.13 -46 -0.48
Waals Titik nol 16 0.17 8 0.08 29 0.3
Perhitungan energi kisi untuk senyawa ionik ini sangat penting karena
tidak ada cara langsung untuk mengukur energi kisi dari senyawa. Ketika garam
ionik menguap, menghasilkan pembentukan spesies baik kovalen maupun atom
sehingga tidak mungkin dapat langsung menggunakan persamaan (5.6) untuk
penentuan energi kisi.
E. Siklus Born-Haber
Siklus
Sulit menentukan energi kisi langsung secara eksperimental, energy kisi
ditentukan dengan perhitungan tidak langsung menggunakan proses siklik yang
dikenal sebagai siklus Born-Haber atau siklus Born-Haber-Fajans.
Berdasarkan hukum pertama termodinamika, entalpi reaksi akan sama
baik reaksi berlangsung dalam satu tahap atau beberapa tahap. Ini adalah hukum
Hess dan merupakan pernyataan dari hukum kekekalan energi. Siklus Born-
Haber berhubungan dengan entalpi molar pembentukan standar ΔHf ketika satu
mol senyawa ionik M+X– terbentuk dari unsur-unsurnya dalam keadaan fisik
yang lebih stabil pada suhu 298,15K dan tekanan 101,3kPa (1atm).
Perhitungan pembentukan M+X– dari M danX2 (misalnya, NaCl dari Na
dan Cl2) dalam dua tahap seperti yang ditunjukkan di bawah ini.
15
Tahap I
M(s)+ X2(g) M+X–(s)
X(g) X– (g)
+
M(g) M+(g)
Tahap II
Jalur I
Satu mol M dan setengah mol X2 dalam keadaan standar langsung berikatan
membentuk kristal M+X– dalam keadaan standar. Jika panas yang dilepaskan
adalah QkJ, dengan reaksi sebagai berikut
M(s)+ X2(g) M+X– (s) HI = – Q kJ mol-1
Jalur II
Reaksi yang sama dilakukan dalam langkah-langkah berikut.
a) Unsur padat M dikabutkan (diuapkan) yang melibatkan masuknya dari S
kJrnol-1dari energi sublimasi M(s),
M(s) M(g) H = SkJ mol-1
b) M(g) kemudian diubah menjadi kation gas M+ yang melibatkan masuknya
energi ionisasi I dan melepaskan satu elektron per atom,
M(g) M+(g) + e– H = IkJ mol-1
c) Setengah mol gas diatomik X2, terurai menjadi atom-atom yang melibatkan
masuknya D dimana D adalah energi disosiasi gas X2 menjadi atom:
X2(g) X(g) H = DkJ mol-1
d) Elektron kemudian ditambahkan ke atom X untuk membentuk anion X–
dengan melepaskan afinitas elektron X:
16
X(g) + e– X–(g) H = – XkJ mol-1
e) Akhirnya kation gas dan anion gasbergabung untuk membentuk kristal
M+X– dengan melepaskan energi kisi kristal Uc:
M+(g)+ X–(g) M+X– (s) H = + Uc kJ mol-1
Perubahan total entalpi untuk tahap II untuk pembentukan kristal M+X–
pada keadaan standar dari M danX2, ΔHII adalah
HII = S + I + D– X + Uc
Berdasarkan hukum Hess, HI = HII, sehingga
– Q = S + I + D– X + Uc
memberikan
–Uc= S + I + D– X + Q (5.24)
Istilah S, I, D, X dan Q dapat ditentukan secara eksperimental, energi kisi Uc dari
kristal ionik dapat dengan mudah dihitung.
Dalam praktek sebenarnya, EA untuk semua anion sederhana sulit
ditentukan, terutama karena EA orde kedua dan yang lebih tinggi untuk semua
spesies adalah endotermis. Siklus Born-Haber umumnya digunakan untuk
penentuan EA unsur, kisienergi yang dihitung daripersamaan (5.20) atau
persamaan (5.21)
X= S + I + D + Q+ Uc (5.25)
17
18