0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
188 tayangan11 halaman

Keadilan dan Kebenaran dalam PL

Tugas etika Perjanjian Lama ini membahas tentang kebenaran dan keadilan dalam konteks Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama. Dibahas mengenai pengertian keadilan dan kebenaran dalam bahasa Ibrani, hubungan keadilan dengan hukum dalam konteks Perjanjian Lama, serta relevansi konsep keadilan dan kebenaran tersebut untuk etika sosial.

Diunggah oleh

Injil Sembel
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
188 tayangan11 halaman

Keadilan dan Kebenaran dalam PL

Tugas etika Perjanjian Lama ini membahas tentang kebenaran dan keadilan dalam konteks Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama. Dibahas mengenai pengertian keadilan dan kebenaran dalam bahasa Ibrani, hubungan keadilan dengan hukum dalam konteks Perjanjian Lama, serta relevansi konsep keadilan dan kebenaran tersebut untuk etika sosial.

Diunggah oleh

Injil Sembel
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS ETIKA PERJANJIAN LAMA

Pembahasan :
BAB VI dari Buku HIDUP SEBAGAI UMAT ALLAH

“KEBENARAN DAN KEADILAN”


DOSEN MK : Pdt. DENNY NAJOAN S.Th, M.Si

Di Susun Oleh:

Kelompok IX

INJILIA SEMBEL (201941042)

YEHEZKIEL MALONDA (201941055)

STEVI LUMENTA (201641204)

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TOMOHON


FAKULTAS TEOLOGI
PRODI TEOLOGI KRISTEN PROTESTAN

2020
DAFTAR ISI

COVER…………………………………………………………………… ... 1
DAFTAR ISI………………………………………………………………. 2
BAB I………………………………………………………………………. 3
BAB II…………….………………………………………………………... 4
BAB III…………………………………………………………………….. 9
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….. 11

2
BAB I

Menurut kami kebenaran dan keadilan mempunyai keterkaitan dan sering


disamakan dalam terjemahan. Misalnya dari bahasa Ibrani yaitu kata “Tsedeq” dalam
terjemahannya diartikan “adil” dan “benar”. Begitupun juga dalam bahasa Yunani
(Duyverman ‘Pembimbing ke PB’, hal.92) kata “Dikaios” dan “Dikaisyê” yang jika
diterjemakan tidak bisa dengan satu kata saja. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan
“benar” “kebenaran” dan “adil” “keadilan”.
Tentang hubungan keadilan dan kebenaran kami berfilosofi “Orang berpihak
pada keadilan, orang adil menjunjung kebenaran”
Kenapa orang (khususnya orang Kristen) harus berlaku adil dan benar? Dari
sudut pandang teologi kami berpendapat bahwa :
1. Allah adalah Adil dan benar. Keadilan dan kebenaran berpusat dari Allah
2. Keadilan dan kebenaran adalah perintah dan tuntutan Allah :
a. Ditujukan terutama kepada para pemimpin ( 2 Sam 23 :3, Yeh 45 : 9)
b. Tuntutan Allah atas umatnya (Ul 16 :20,Yes 56 :1,Mik 6 :8); Orang
kudus harus berlaku adil (Mzr 119:121, Yeh 18:8); Allah memberikan
hikmat untuk melakukan keadilan (1 raj 3 :12 Ams 2 :6,9)
c. Dalam praksisnya : mengambil keputusan ( Yer 21:12), terhadap orang
miskin, terhadap anak yatim piatu dan janda ( Yes 1 :17) dalam berjual
beli ( Im 19 :36, Ul 25 : 15) dll
3. Allah berkenan dan menghargai kepada orang yang melakukan keadilan
(Ams 11: 11, Ams 21 :3 )
4. Keadilan mendatangkan pahala (Yer 22:15) dan ketidakadilan
mendatangkan hukuman.
Keadilan atau kebenaran merupakan suatu esensi yang mendasari suatu hidup
sehingga dari hidup itu bisa mengalirkan semacam norma-norma etika yang benar.
Ukuran keadilan kebenaran adalah dari Allah sendiri, dengan melalui hukum-
hukum Allah. Sebab Allah adalah adil dan ukuran tertinggi dalam hidup manusia
adalah yang diturunkan oleh Allah. (Yes 45:19).

3
BAB II

Orang Yahudi mempergunakan istilah hukum untuk merangkum seluruh kitab


suci bukan hanya kelima kitab taurat saja. Dalam pasal ini akan digaris besarkan
suatu pengertian tentang keadilan dan hukum dalam konteks PL.
A. Kosa kata tentang keadilan
Dalam kosa kata tentang keadilan dalam PL (berasal dari bahasa Ibrani) ada dua
nada utama yaitu Tsedeq dan Mishpat.
a. Tsedeq dan tsedaqa secara etimologis diterjemahkan kebenaran/pembenaran
dan keadilan. Akar kata itu mungkin lurus : sesuatu yang tetap dan
sepenuhnya menjadi apa yang seharusnya, sehingga sesuai dengan suatu
norma. Jadi kata itu dapat diterjemahkan kebenaran apa yang harus terjadi
kemudian.
Tsedaqa berarti pernyataan keadilan Allah dalam pemeliharaannya akan
hidup manusia, perkataanNya yang benar dan lurus. Tsedaqa berarti
menjabarkan ukuran susila yang dipakai Allah untuk mengukur tindak tanduk
manusia. Berhubungan dengan pemerintahan ilahi: keadilan dan kebenaran
khususnya pada hukuman, Ul 32:22, tsedaq juga menunjukkan tindakan
pembelaan Allah bagi orang-orang yang dianggap layak menerimanya, Hak 5:
11, 2 sam 15:4, Ams 3:33, tsedaqa menunjukan penebusan Yes 45:21,
Tsedaqa merupakan pemberian Allah kepada mereka yang percaya.
Menurut Stephen Tong, keadilan/kebenaran Allah mempunyai 5 segi
arti yaitu yang lurus yang tidak bengkok dan yang benar, yang menghadapi
semua orang dengan prinsip sama rata, yang menjadikan kebenaran sebagai
intisari hidup, yang hidup dalam kesucian, yang senantiasa tegas dan tidak
kompromi dengan dosa.
b. Mishpat yang berkenaan dengan kegiatan peradilan / memutuskan /
mempertimbangkan pada setiap tingkatan. Mishpat (kata kerja Sy-p-t)
syapat menyebut tindakan hukum dalam arti yang luas: bertindak sebagai
pemberi hukum, sebagai hakim yang memutuskan perkara, menjatuhkan vonis
bersalah atau tidak bersalah, melaksanakan hukuman yang telah dijatuhkan
itu. Kata benda misypat dapat berarti seluruh proses peradilan atau hasil akhir
putusan peradilan dan pelaksanaannya yaitu ketentuan hukum, yaitu hukum
kasuistik yang didasarkan atas kasus-kasus yang telah lalu. Misypat juga
berarti keputusan yang tepat yang diberikan mengenai masalah-masalah yang

4
sukar. Misypat merupakan apa yang perlu di lakukan dalam keadaan tertentu
untuk memulihkan manusia dan lingkungannya agar sesuai dengan Tsedeq/
Tsedaqa.
Ada tiga kata yang mengungkapkan arti kesetiaan yang paling penting
adalah khesed “kasih setia” yang menyebut kesetian Allah yang kekal kepada
perjanjianNya, kehendakNya yang tidak dapat digoyahkan untuk memegang
janji anugerahNya. Perjemahan kasih setia adalah lebih dekat dengan arti yang
sebenarnya. Khesed dan tesedeqa dipasang sejajar baik sebagai sifat perbuatan
Allah (Mzm 36:11) maupun tuntutan etis kepada manusia Hos 10:12; Mik 6:8.
Kata syalom “damai sejahtera” artinya mencakup keseluruhan kesejahteraan
yang menyeluruh, keadaan yang sehat dan keharmonisan seperti yang Allah
inginkan. Oleh karena itu syalom erat hubungannya dengan tsedeq. Secara
sosial sifat-sifat itu harus menjadi sifat hubungan orang dengan sesamanya.
Dengan demikian kita kembali kepada masing-masing bidang, bidang teologis
dan bidan sosial. Bidang sosial ini mencakup sudut ekonomi, sebab di situlah
keadilan atau lawannya paling jelas terlihat.
B. Konteks teologis
Sebagaiman telah dikemukakan Allah sendiri adalah tolak ukur yang paling akhir
untuk kebenaran dan keadilan karena hal itu adalah bagian mutlak dari sifatnya.
Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhtahmu, kasih dan kesetiaan berjalan di
depanmu Maz 89:15.
a. Kebenaran dan keadilan dalam pemeliharaan Allah.
Allah menyatakan diriNya melalui apa yang dilakukanNya,
kebenaranNya dikenal manusia karena Ia memerintah dunia dengan benar dan
adil. Apapun yang dilakukan Allah adalah benar dan adil (Kej 18:25). Allah
berlaku adil dalam pemeliharaanNya bukan karena Allah terikat oleh suatu
perundang-undangan yang diatas diriNya atau di luar diriNya tetapi Dia
adalah Allah yang berkarya. Allah tidak mungkin berbuat di luar keadilan
(Ayub 34:12; Mzm 9:8-9; 96:10, 13). Sifat Allah yang adil dan keadilanNya
yang dilaksanakan khususnya demi orang lemah dan yang tertindas yang erat
kaitannya dengan pemeliharaanNya atas alam semesta. Hal ini didasarkan atas
kemanusiaan yang sama yang diciptakan Allah.
b. Kebenaran dan keadilan dalam penebusan Allah
Ketika Allah bertindak dalam kebenaranNya untuk menegakkan
keadilan Ia menghukum penjahat dan membenarkan orang yang menderita

5
akibat kejahatan itu. Dari pihak orang yang jahat keadilan Allah dialami
sebagai murka dan penghukuman, tetapi bagi pihak orang benar keadilan
Allah dialami sebagai pembenaran dan pemulihan. Pihak orang benar berada
di bawah serangan hukum atau ancaman maka putusannNya merupakan
pembebasan atau penyelamatan.
Penyelamatan pembebasan atau penebusan Allah atas bangsa Israel
sering digambarkan sebagai perbuatan Allah yang adil. Ada tiga bukti yang
membenarkan perbuatan itu:
1. Karena perbuatan-perbuatan Allah konsisten dengan sifat-sifatNya.
2. Perbuatan-perbuatan Allah dengan adil membedakan antara yang
salah dengan tidak bersalah, pelaku dan korban kejahatan,
penindas dan yang ditindas.
3. Perbuatan-perbuatan Allah itu menegakkan atau memulihkan
keadilan.
c. Relevansinya untuk etika sosial
Kebenaran dan keadilan Allah dalam pemeliharaanNya secara umum
dan dalam rencana penebusanNya perlu dibedakan. Namun hal tersebut sesuai
dengan kehendak Allah pencipta dan hakim yang adil yang memelihara semua
manusia dan menata seluruh ciptaan.
Kebenaran Allah yang menyelamatkan mencakup pula ancaman
penghukumanNya yang adil atas umatNya sendiri dan secara lebih luas atas
seluruh dunia menurut pemeliharaanNya yang benar. Motivasi dan model bagi
usaha kita berasal dari penebusan dan keanggotaan kita dalam umat Allah
yang dengan sadar hidup di bawah kekuasaanNya. Tetapi Allah yang kita
layani karena hubungan kita dengan Dia adalah pencipta seluruh manusia.
C. Konteks Sosial
a. Keadilan sebagai landasan sosial di Israel
Sebagai titik berangkat harus disadari bahwa bagi masyarakat Israel
keadilan dan kebenaran adalah sesuatu yang diberikan. Kedua hal itu menjadi
landasan bagi keberadaan bangsa Israel karena peristiwa keluaran terutama
sekali merupakan perbuatan keadilan dalam kedua, artinya penghukuman dan
penyelamatan. Dengan membawa Israel keluar dari Mesir Ia memberikan
kemerdekaan kepada suatu bangsa yang tertawan. Ia menyelamatkan mereka
dari ketidakadilan, memulihkan keadaan mereka yang benar dan adil serta
memberikan mereka hak milik atas tanah sebagai tempat untuk menikmati

6
dan melindungi keadilan. Keadilan adalah landasan sosial bagi Israel yang
tidak diprakarsai kuasa Allah yang menebus mereka merupakan tindakan
keadilan.
b. Dasa titah : kemerdekaan yang bertanggungjawab
Dalam hal ini dasa titah diberikan untuk memelihara hak-hak asasi
dalam kemerdekaan yang diperoleh melalui keluaran yakni dengan
menerjemahkannya dalam bentuk tanggungjawab. Allah telah memberikan
kepada Israel hak dan kebebasan untuk beribadah kepadaNya. Jadi mereka
harus menyembah Allah saja (titah pertama), oleh karena itu menyembah
gambar atau berhala apa pun adalah menghina Allah (titah kedua), mereka
tidak boleh menyebut nama Tuhan untuk kepentingan diri sendiri dengan
maksud yang jahat atau yang sia-sia (titah ketiga). Allah telah membebaskan
Israel dari kerja paksa yang kejam sehingga mereka harus memelihara hak
istirahat secara teratur pada hari sabat (titah keempat), melindungi keluarga
dengan menghormati orang tua (titah kelima), menghormati kekudusan
seksual (titah ketujuh), menghormati hidup dan tidak mengijinkan
pembunuhan (titah keenam), mereka tidak boleh mengingini hak milik orang
asing tetapi mereka memiliki tanah sendiri dan tidak menginginkan harta
orang lain tetapi tetap mencintai hartanya sendiri sesuai dengan pemberian
Allah (titah kedelapan dan kesepuluh). Allah memberikan teladan keadilan
melalui mereka tidak menghianati satu dengan yang lain, dan tidak boleh
bersaksi yang memutarbalikkan fakta (titah kesembilan). Titah merupakan
suatu piagam hak asasi yang bersifat manusiawi dan ilahi yang
bertanggungjawab sebab mereka memelihara dan menikmati kemerdekaan
sebagai umat Allah.
c. Memelihara keadilan: fungsi hukum dan pemimpin
Dasa titah adalah benar tentang hukum-hukum lainnya, Allah
menetapkan israel dalam keadilan dan mengikatnya dengan diriNya dalam
perjanjian. Menaati hukum berarti memelihara kebenaran dan keadilan yang
merupakan pemberian Allah kepada israel yang ditebusnya.
Tugas memelihara keadilan secara jelas terletak di pundak raja-raja,
jika raja setia dalam tugasnya menjalankan keadilan dan meneladani Allah
yang melindungi orang lemah dan miskin (Ul. 17:18-20). Allah akan
mengaruniakan kepadanya keberhasilan dan kemakmuran dalam bidang
militer.

7
d. Berlaku adil : berita para nabi
Nabi-nabi mengamati kejahatan-kejahatan sosial yang sama seperti
penulis kitab pengkhotbah. Keadilan sendang diinjak-injak, diputar-balikkan,
diremehkan, diingkari, demikianlah penilaian mereka. Dalam kehidupan
sosialnya Israel tidak hidup sesuai dengan keadilan yang dituntut oleh
perjanjiannya oleh Tuhan Allah. Oleh karena itu para nabi memanggil Israel
kembali ke dasar-dasar atau akar-akar kebangsaannya sendiri yaitu
hubungannya dengan Allah dan tuntutan-tuntutan yang diberlakukannya
kepada mereka.
Ada dua ciri pemberitaan para nabi yang dapat ditekankan di sini:
1. Dasar teologisnya. Bagi para nabi Allah adalah sumber dan dasar
segala perkataan mereka, Allah adalah sumber kebenaran dan
keadilan, itulah sebabnya nabi-nabi dengan yakin menghubungkan
kegagalan dan tragedi ketidakadilan sosil dan kejahatan umum
dengan kegagalan untuk mengenang Allah (Yes 1:2; Hos 4:1).
2. Dasar sosialnya. Keprihatinan para nabi kepada orang miskin,
lemah, tertindas, terbuang dan menderita cukup nyata. Bahkan
sebelum para nabi-nabi besar kita membaca tentang Natan dan
Daud demi Uria dan Elia yang melawan Ahab dengan Nabot,
demikian pula dengan nabi istana seperti Yesaya, nabi pedesaan
seperti Amos. Dalam memproklamasikan hal ini dengan semangat
nabi-nabi sesungguhnya mempertahankan ketidak berpihakan
Allah. Sebab dengan berpihak kepada orang tertindas mereka
menghilangka prasangka bahwa Allah sebenarnya berpihak pada
orang kaya dan berkuasa yang dapat menyatakan kekayaan dan
kekuasaan mereka sebagai bukti berkat Allah atas mereka.

8
BAB III

Dari Kajian pandangan Alkitab dan ajaran Gereja tentang keadian dan
kebenaran mempunyai makna bahwa seseorang yang menjadi pengikut Yesus
dipanggil untuk mewujudnyatakan nilai keadilan dan kebenaran dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam lingkup yang paling kecilpun keadilan menjadi tuntutan jika kita
menghendaki keharmonisan dengan orang lain. Ruang lingkup interaksi seperti dalam
rumah tangga. Kita dapat belajar banyak tentang keadilan dan kebenaran dimulai dari
rumah yakni dalam keluarga, dengan mudah kita bisa pahami dan hayati baik
keadilan maupun kebenaran adalah salah satu prinsip dan praktek hidup yang sangat
nyata dan sederhana. Anak-anak bahkan yang masih kecil pun dengan gampang
mengetahui dan merasakan seandainya ketidakadilan terjadi dan akan memprotesnya.
Di rumah juga kita dengan mudah sekali menangkap maknaungkapan “no justice no
peace”. Tidak ada keadilan maka tidak ada damai. Keluarga pasti segera bertengkar
dan berkelahi jika tidak merasakan keadilan. Itulah sebabnya kita selalu berusaha adil
dan benar dan menjunjung prinsip keadilan ini dalam keluarga dan rumah tangga kita.
Supaya membuat keluarga kita damai dan bahagia

Selain dalam ruang lingkup keluarga, tempat lain yang paling baik untuk
belajar tentang keadilan adalah dunia olahraga.Dalam dunia olahraga atau sport kita
sangat menghayati prinsip fairness atau keadilan. Semua orang dewasa dan anak-anak
tahu bahwa dalam bermainsepak bola, bulu tangkis, lomba lari dan lain-lain kita harus
fair dan tidak bolehcurang. Kalah menang soal biasa yang penting semua bermain
sesuai aturanyang ada. Semua baik namun ada yang terbaik dan semua
menerimanyadengan lapang dada. Piala, hadiah, atau imbalan diberikan kepada
yangterbaik. Dan semua kita tahu yang terbaik tidak jatuh tiba-tiba dari langit,namun
buah ketekunan, kerja keras dan perjuangan yang bersangkutan. Praktek keadilan
yang kita hayati dalam keluarga dan dunia olahraga dapat dipraktikkan dalam ruang
lingkup yang lebih luas seperti masyarakat dan negara. Masyarakat dapat
diidentifikasi dalam dua kategori yaitu masyarakat profesi dan masyarakat umum
yang mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Tentu keadaan masyarakat dan
negara jauh lebih besar dan rumit,namun tetap membutuhkan prinsip-prinsip keadilan
yang sangat sederhana itu. Sama seperti dalam rumah atau dunia olahraga, di dalam
masyarakat dan negarapun kita harus selalu menjunjung tinggi keadilan dan
kebenaran. Setiap orang mendapat apa yang menjadi hak-nya, kebutuhannya dan
imbalan yang wajar atas prestasinya, juga akses yang sama ke sumber-sumber
kehidupan (Suseno : 2006).

Dalam dunia kerja, menjadi sorotan tempat terjadinya ketidakadilan bagi para
perkerja oleh pemilik modal (kaum kapitalis), kasus ketidakadilan seperti kesempatan
untuk mendapatkan pekerjaan hanya terbatas bagi mereka yangmempunyai akses
dengan pemilik modal, perilaku pemberi kerja yang tidak adildalam memberikan
upah kepada buruh dan ketidakberdayaan kaum buruhuntuk menuntut keadilan
dengan sanksi pemecatan jika mereka melakukantuntutan keadilan, merupakan
implikasi dari ketidakadilan bagi kaum pekerja.Ketidakadilan dalam dunia kerja tidak
hanya pada ketidakadilan aksesbilitas dan financial tetapi juga dapat terjadi

9
ketidakadilan mental. Bahwa seseorang dipaksa untuk melaksanakan pekerjaan yang
secara moral bertentangan dengan suara hatinya namun karena tekanan sang
pemimpinatau pemilik terpaksa melanggar nilai-nilai moral dan etika profesi yang
telahdirumuskan dalam dunia profesi. Perlakuan adil dan tidak adil bagi pekerja pada
profesi apapun akan dialami jika dia membandingkan dirinya dengan orang lain.

Dalam lingkup masyakarat perilaku tidak adil banyak dipertontonkan oleh


individu atau kelompok masyarakat kaya di tengah masyarakat lain yang miskin.
Konsumerisme individu dan masyarakat kaya menjadi pemandangan sehari-hari.
Individu dan masyarakat yang mempunyai banyak uang banyak dijumpai melakukan
konsumsi berlebihan. Individu yang kaya bukan lagi melihat konsumsi sebagai suatu
kebutuhan tetapi menjadi candu yang menjadikan mereka ketagihan (Suseno: 2008).
Sementara untuk mendapatkan kekayaan tersebut mungkin berasal dari perilaku tidak
adil atas individu lainyang lemah seperti memberi upah yang rendah dan tidak
manusiawi. Perjuangan untuk mengupayakan terciptanya kadilan dalam masyarakat
dapat dilakukan dengan beragam bentuk yang dijalankan atas dasar keyakinandan
prinsip hidup yang diyakini.

10
DAFTAR PUSTAKA

Christopher J.H. Wright, “HIDUP SEBAGAI UMAT ALLAH”, hal 136-150,


2010
Drs. M.E. Duyverman, “Pembimbing ke dalam PB”, hal. 92, 2015
https://www.academia.edu/9477979/REFLEKSI_MAKNA_KEADILAN_DALA
M_PERSPEKTIF_IMAN_KRISTIANI
https://www.google.com/search?q=kenapa+orang+harus+adil+dan+benar&oq=ke
napa+orang+harus+adil+dan+benar&aqs=chrome..69i57.10966j0j7&sourceid=ch
rome&ie=UTF-8
https://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=kebenaran
https://yanewainarisi.blogspot.com/2017/05/konsep-tentang-kasih-dan-keadilan-
dalam.html
http://romapandiangan.blogspot.com/2014/11/makalah-etika-kristen-
keadilan.html
http://www.sarapanpagi.org/adil-keadilan-dan-kebenaran-vt3582.html

11

Anda mungkin juga menyukai