a.
Porifera
Porifera adalah hewan invertebrata akuatik yang memiliki banyak saluran air
atau pori-pori di permukaan tubuhnya. Hewan ini sering disebut juga dengan spons
(sponge).
1. Ciri-ciri porifera
Porifera mempunyai beberapa ciri sebagai berikut.
a) Tubuhnya tersusun atas banyak sel (multiseluler)
b) Habitatnya di air tawar, air payau, dan air laut. Beberapa ada juga yang hidup
di sungai dan danau.
c) Belum memiliki lapisan tubuh sejati.
d) Termasuk hewan yang asimetri karena tubuhnya tidak mempunyai
kesetangkupan.
e) Memiliki tubuh yang berbentuk seperti bola atau piala, hidupnya bersifat bebas
(sesil) atau menetap, atau menempel pada substrat tertentu.
f) Melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual reproduksi aseksual
porifera dilakuakan dengan cara pembentukan tunas yang disebut gemmule.
Pada saat induk porifera mati maka gemmule dapat tumbuh menjadi individu
baru. Pada reproduksi seksual, ovum dan spermatozoid dihasilkan oleh sel
arkeosit. Setelah terjadi proses fertilisasi, ovum yang telah dibuahi
berkembang menjadi larva berbulu cambuk, kemudian larva tersebut berenang
bebas dan menempel pada substrat sampai tumbuhmenjadi individu baru.
Gambar 1.1 reproduksi porifera
Sumber: https://www.psychologymania.com
2. Struktur tubuh porifera
Struktur tubuh porifera tersusun atas dua lapisan, yaitu lapisan luar dan
lapisan dalam. Lapisan luar dibentuk oleh sel-sel pinakosit, sedangkan lapisan
dalam dibentuk oleh sel-sel koanosit yang berflagel (berbulu cambuk). Diantara
lapisan luar dan lapisan dalam terdapat zat gelatin dari sel-sel mesoglea dengan
sejumlah spikula yang berfungsi sebgai penyokong tubuh. Spikulanya dapat
diubuat dari protein spongin, kalsium karbonat (CaCO3), dan kristal silikat
(H2Si3O).
Sistem saluran iar pada porifera dimulai dari pori-pori (ostium) dan diakhiri
pada lubang utama (oskulum). Sebelum dikeluarkan melalui oskulum, air akan
ditampung lebih dulu di dalam spongosol.
Gambar 1.2 struktur tubuh porifera
Sumber: https://www.zonasiswa.com
Porifera mempunyai sistem saluran air dengan tipe tertentu. Tiga tipe
saluran air pada porifera, yaitu sebgai berikut
a) Tipe Ascon
Tipe ascon merupakan tipe porifera yang mempunyai sistem saluran air
sederhana. Air masuk melalui pori yang pendek, lurue ke spongosol (rongga
tubuh bagian tengah) dan keluar melalui oskulum. Contoh tipe ascon,
misalnay Leucosolenia, ciri-cirinya dinding tubuh tipis, dilengkapi dengan
kanal yang langsung bermuara ke dalam spongosol (rongga udara bagian
tengah), dindingnya dilengkapi dengan koanosit.
b) Tipe Sycon
Tipe sycon merupakan porifera yang mempunyai dua tipe saluran air, tetapi
hanya radialnya yang memiliki koanosit. Air masuk melalui pori ke saluran
radial yang berdinding koanosit, spongosol dan keluar melalui oskulum.
Misalnya, Scypha.
Ciri-ciri tipe sycon adalah sebagai berikut:
1) pada prinsipnya sam dengan ascon, tetapi dinding spongosol
mengadakan pelekukan ke arah epidermis sehingga membentuk:
c) Tipe Rhagon (Leukon)
Tipe rhagon merupakan porifera dengan tipe saluran air yang paling
kompleks/rumit. Porifera ini mempunyai lapisan mesoglea yang tebal
dengan sistem saluran air bercabang-cabang. Koanosit dibatasi oleh suatu
rongga yang bersilia berbentuk bulat. Air masuk melalui pori-pori saluran
radial yang bercabang-cabang dan keluar melalui oskulum. Misalnya,
Euspongia dan Spongia.
Ciri-ciri porifera tipe ini, yaitu dinding tubuh dilengkapi dengan
musenchum yang tebal dan di dalammya terdapat sistem kanal yang
bercabang-cabang dan kompleks, dimana pada suatu tempat sistem kanal
tersebut memulat dan membentuk rongga yang dindingnya dilengkapi
dengan sel-sel leher (koanosit).
Gambar 1.3 tipe-tipe saluran air pada porifera (a) ascon
(b) sycon (c) leucon
Sumber: https://efineko.wordpress.com
3. Pengelompokan porifera
Berdasarkan rangka pembentuknya,porifera dikelompokkan menjadi tiga kelas,
yaitu sebagai berikut:
a) Calcarea
Ciri-ciri kelas calcarea, yaitu sebagai berikut:
1) Rangka tubuhnya berupa spikula seperti duri-duri kecil ysng terbentuk dari
zat kapur (CaCO3).
2) Spikula berbentuk monoakson dan triakson.
3) Tipe saluran air ascon, sycon, dan leukon.
4) Biasanya memiliki bentuk yang sederhana dengan koanosit yang relatif
besar.
5) Hidup di pantai dangkal.
Contoh: Leucosolenia, Schypa, dan Grantia.
b) Hexactinellida
Ciri-ciri kelas Hexactinellida, yaitu sebagai berikut.
1) Memiliki kerangka berupa spikula yang mengandung silikat (CaSiO3) atau
kersik (SiO2).
2) Spikula berbentuk triakson.
3) Biasanya tubuhnya berbentuk silinder atau corong.
Contoh: Euplectella, Hyalonema, dan Pheronema.
c) Demospongiae
Ciri-ciri kelas Demospongiae, yaitu sebagai berikut.
1) Rangka tubuhnya dibentuk dari silikat bersama-sama spongin atau hanya
berupa serabut-serabut spongin.
2) Bentuk spikula monoakson dan tetraakson.
3) Tipe aliran air leucon.
4) Memiliki warna yang cerah.
5) Termasuk jenis porifera yang paling banyak ditemukan di pantai, namun
beberapa jenis hidup di air tawar.
Contoh: Spongilla, Halichondria, dan Euspongia.
4. Peranan porifera bagi kehidupan
Porifera memiliki peranan dalam kehidupan manusia, ada yang
menguntungkan, ada juga yang merugikan. Beberapa peranan menguntungkan
dari porifera antara lain, penyusun biodiversitas dalam lingkungan, brperan
sebagai konsumen, untuk membuat alat pembersih kaca dan spons mandi, sebagai
aksesoris, dan bersimbiosis dengan bakteri menghasilkan bioaktif. Sementara itu,
porifera merugikan bagi peternak karang dan tiram karena melubangi dan merusak
kulit kerang.
b. Coelenterata
1. Ciri-ciri coelenterata
Ciri-ciri coelenterata antara lain sebagaii berikut.
a) Tubuhnya tersusun atas banyak sel (multiseluler), bentuknya menyerupai
kantung dengan beberapa tentakel di sekitar mulut.
b) Tersusun atas dua lapis jaringan (diploblastik)
c) Termasuk hewan yang mempunyai simetris tubuh berupa simetri radial.
d) Habitatnya kebanyakan di air laut, beberapa ada yang hidup di air tawar.
e) Mempunyai dua tipe bentuk tubuh, yaitu polip dan medusa. Polip hidupnya
menempel sehingga tidak dapat bergerak bebas, sedangkan medusa dapat
bergerak bebas.
f) Cara hidupnya soliter atau membentuk koloni.
g) Reproduksinya secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara aseksual
dengan cara menghasilkan tunas atau kuncup yang menempel pada hewan
induknya dan kemudian dilepasnkan. Sementara itu, secara seksual dengan
penyatuan sel telur dan spermatozoid yang membentuk zigot. Beberapa jenis
lainnya Coelenterata ada yang berumah satu (monoeceus) dan jenis lainnya
ada yang berumah dua (dioeceus).
h) Beberapa Coelenterata mengalami pergiliran keturunan.
2. Struktur tubuh coelenterata
Semua jenis Coelenterata mempunyai sel-sel penyengat (nematokist) yan
terletak pada ektoderm, terutama pada tentakel. Nematokist berperan untuk
mempertahankan diri dan melumpuhkan mangsa.
Polip yang membentuk koloni, umunya mempunyai beberapa macam
bentuk dengan fungsi yang berbeda, seperti berikut.
a) Gastrozooid: polip untuk makan.
b) Gonozooid: polip untuk pembiakan dengan menghasilkan medusa.
c) Dactylozooid: polip untuk pertahanan.
d) Nectopore: polip untuk berenang.
Koloni dengan beberapa macam bentuk polip disebut polimorfisme.
3. Pengelompokan coelenterata
Coelenterata dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu Hydrozoa, Scyphozoa, dan
Anthozoa.
a) Hydrozoa
Hydrozoa ada yang hidup berkoloni dan ada juga ynag soliter. Hydrozoa
yang berkoloni mempunyai bentuk polip dan medusa, sedangkan Hydrozoa
yang soliter hanya mempunyai bentuk polip. Contohnya, Hydra, Obelia dan
Physalia.
1) Hydra
Hydra berbentuk polip, berukuran antara 10-30 mm, dan hidup di
air tawardengan melekat pada daun atau batang tanaman air. Makannya
berupa tumbbuhan dan hewan kecil. Tubuh bagian bawah membentuk kaki
untuk melekat dan bergerak. Pada ujung atas terdapat mulut yang
dikelilingi oleh hipostom dan 6-10 buah tentakel. Tentakel berfungsi
sebagai alat untuk menangkap makanan dan selanjutnya makanan dicerna
di dalam rongga gastrovaskuler.
Hydra berkembang biak secara aseksual dan seksual.
Perkembangbiakan secara aseksual dengan membentuk kuncup atau tunas
pada sisi tubuhnya. Tunas yan telah memiliki epidermis, mesoglea, dan
rongga gastrovaskuler dapat melepaskan diri dan tubuh menjadi individu
baru. Perkembangbiakan secara seksual terjadi melalui peleburan sel telur
(dari ovarium) dengan sperma (dari testis). Hasil peleburan membentuk
zigot yang dapat membentuk kista. Kista dapat berenang bebas dan di
tempat yang sesuai akan melekat di dasar perairan. Jika menemukan
lingkungan yang baik, inti kista pecah dan embrio tumbuh menjadi Hydra
baru.
Gambar 2.1 struktur tubuh Hydra
Sumber: http://dpengertian.blogspot.com
2) Obelia
Obelia berbentuk polip dan medusa yang hidup di laut. Obelia yang
hidup berkoloni di laut dangkal membentuk polip yang melekat di batu
karang. Polip pada obelia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hidran yang
bertugas mengambil dan mencernakan makanan dan gonangium yang
bertugas melakuakan perkembangbiakan aseksual. Obelia mengalami
pergiliran keturunan (metagenesis) antara keturunan seksual dengan
keturuanan aseksual
Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan oleh gonangium.
Pada gonangium terbentuk tunas yang dapat memisahkan diri dan
berkembang menjadi medusa muda yang dapat berenang bebas. Medusa
muda kemudia berkembang menjadi medusa dewasa. Medusa dewasa
mempunyai dua alat kelamin (hermafrodit) yang menhasilkan sel telur dan
sperma. Pembuahan terjadi secara eksternal di luar tubuh dan membentuk
zigot. Zigot akan berkembang menjadi larva bersilia yang disebut planula.
Pada tempat yang sesuai, planula akan melekatkan diri menjadi polip
muda, kemudian tumbuh menjadi Obelia. Selanjutnya Obelia membentuk
tunas sehingga terbentuk koloni Obelia yang baru.
Gambar 2.2 metagenesis obelia
Sumber: http://www.nafiun.com
3) Physalia
Physalia yang lebih dikenal dengan nama kapal perang portugis,
merupakan hewan plimorfisme. Kolono-koloni yang membentuk individu
Physalia adalah sebagai berikut.
a) Dactylozooid, berperan dalam pertahanan diri, banyak mengandung
nematokist.
b) Gonozooid, berperan dalam reproduksi.
c) Gastrozooid, berperan dalam nutrisi (makanan).
d) Nectopore, berperan dalam berenang.
e) Hydrophyllum, berperan dalam pertahanan diri, seluruh koloni,
bertuknya seperti lembaran daun.
b) Scyphozoa
Scyphozoa (dalam bahasa yunani, scyphos = mangkuk, zoon = hewan)
karena dalam tubunya yang menyerupai mangkuk atau cawan transparan
sehingga sering disebut ubur-ubur mangkuk. Medusa Scyphozoa dikenal
dengan ubur-ubur.
Pada permukaan tubuh bagian bawahh Scyphozoa terdapat rongga mulut
yang dikeliligi oleh empat tentakel. Mulut ini berhubungan dengan rongga
pencernaan. Percernaan pada Scyphozoa terjadi secara ektraseluler.
Scyphozoa telah memiliki beberapa indra sederhanan misalnya tentakel
sebagai alat keseimbangan, oselus untuk membedakan gelap dan terang, dan
celah olfaktoris yang merupakan indra pembau.
Namun demikian, Scyphozoa elum mempunyai alat respirasi dan ekskresi
khusus. Contohnya adalah Aurelia aurita, berupa medusa dengan tepi
berlekuk-lekuk yang banyak ditemukan di daerah pantai. Aurelia juga
mngalami pergiliran keturunan seksual dan aseksual. Aurelia memilki alat
kelamin yang terpisah pada individu jantan dan betina. Pembuahan terjadi
secara internal di dalam tubuh betina. Zigot yang terbentuk berkembang
benjadi larva yang bersilia yang disebut planula. Planula kan berenang dan
menempel pada tempat yang sesuai, kemudian tumbuh menjadi polip muda
yang disebut skifistoma. Skifistoma membentuk tunas-tunas lateral sehingga
tampak seperti tupukan piring yang disebut strobilasi. Kuncup dewasa paling
atas akan melepaskan diri dan menjadi medusa muda yang disebut efira.
Selanjytnya, efira akan berkembang menjadi medusa dewasa. Medusa
umumnya berukuran 2-40 cm.
Gambar 2.3 metagenesis Scypozoa
Sumber: http://trisniatma.com
c) Anthozoa
Anthozoa meliputi anemon laut dan hewan-hewan karang. Hewan ini hanya
mempunyai bentuk polip. Ada yang hidup soliter di pantai dengan laut yang
jernih dan ada juga yang berkoloni dan membentuk rumah dari kapur yang
disebut karang. Contoh hewan yang termasuk ke dalam Anthozoa adalah
Metridium sp. (mawar laut), Montastrea cavernosa, dan Acropora humilis
(koral-karang).
1) Mawar laut (Metridium sp.)
Mawar laut menempel pada dasar peraiaran mengguanakan bagian
tubuh yang disebut cakram kaki. Pada permukaan atas tubuhnya terdapat
mulut yang dikelilingi banyak tentakel berukuran pendek yang tersusun
seperti mahkota bunga. Tentakel ini berfungsi untuk mencegah agar pasir
dan kotoran lain tidak melekat sehingga tubuhnya tetap bersih. Mawar laut
mempunyai sistem saraf difus yang tidak memilki sistem saraf pusat.
2) Karang (koral)
Karang atau koral hidup berkoloni membentuk massa yang kaku dan
kuat karena mempunyai kerangka yang terbuat dari kalsium karbonat.
Koral hidup di laut dangkal dengan suhu rata-rata 20 oC (daerah tropis
antara 30 oLU hingga 30 oLS). Koral melakukan reproduksi aseksual
dengan pembentukan kuncup atau tunas. Beberapa contoh koral antara lain
Acropora humilis, Montastrea cavernosa, Stylophora, dan Leptoria. Koral
yang sudah mati, rangga kapurnay akan menjadi abtu karang/terumbu. Ada
tiga tipe batu karang, yaitu karang panatai, karang penghalang, dan karang
atol.
4. Peranan coelenterata bagi kehidupan
Coelenterataterutama kelas Anthozoa, yaitu koral atau karang merupakan
komponen utama membentuk ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu
karang merupakan tempat hidup beragam jenis hewan dan ganggang.
Keanekaragaman organisme terumbu karang yang paling tinggi di asia tenggara,
mulai dari filipina dan indonesia hingga great barrier reef di australia. Dua puluh
lima persen ikan ynag dikonsumsi manusia juga hidup pada ekosistem ini. Selain
itu, terumbu karang sangat indah sehingga dapat dijadikan objekwisata. Karang di
pantai sangat bermanfaat sebagai penahan ombak untuk mencegah pengikisan
pantai (abrasi).
c. Platyhelminthes
1. Ciri-ciri platyhelminthes
Ciri-ciri Platyhelminthes antara lain sebagai berikut.
a) Merupakan hewan tripoblastik, artinya sudah mempunyai tiga lapisan tubuh
(ektoderm, mesoderm dan endoderm).
b) Tidak mempunyai rongga tubuh (aselomata).
c) Termasuk hewan yang mempunyai simetri tubuh berupa simetri bilateral.
d) Platyhelminthes memiliki ukuran tubuh beragam, mulai dari yang berukuran
hampir mikroskopis hingga panjangnya 20 cm.
e) Struktur tubuh memanjang pipih dorsoventral. Tubuhnya simetri bilateral. Di
antara hewan bilateral, Platyhelminthes merupakan hewan yang paling
sederhana.
f) Bagian tubuhnya terdiri atas anterior (depan/kepala), posterior
(belakang/ekor), dorsal (punggung), ventral (perut), dan lateral (samping).
g) Sistem pencernaannya belum sempurna (hanya mempunyai mulut, faring, dan
usus tanpa anus). Usus bercabang-cabang ke seluruh tubuhnya.
h) Tidak memilki sistem peredaran darah.
i) Sebagian besar tidak memiliki sistem respirasi dan ekskresi. Sistem ekskresi
pada kelompok Platyhelminthes tertentu berfungsi untuk menjaga kadar air
dalam tubuh.
j) Bernafas dengan seluruh permukaan tubuh dan melalui rongga gastrovaskuler.
k) Kelompok Platyhelminthes tertentu memilki sistem saraf tangg atali. Sistem
saraf tangga tali terdiri atas sepasang simpul saraf saraf (ganglia) dengan
sepasang tali saraf yang memanjang dan bercabang-cabang melintang seperti
tangga.
l) Reproduksi Platyhelminthes dilakukan secara seksual dan aseksual. Pada
reproduksi seksual akan enghasilkan gamet. Fertilisasi ovum oleh sperma
terjadi di dalam tubuh (internal). Fertilisasi dapat dilakukan sendiri ataupun
dengn apasangan laian. Reproduksi aseksual tidak dilakukan oleh semua
Platyhelminthes. Kelompok Platyhelminthes tertentu dapat melakukan
reproduksi aseksual sengan cara membenlah diri (fragmentasi), kemudian
regenerasi potongan tubuh tersebut menjadi individu baru dari perkawinan
silan.
m) Ada yang hidup bebas dan ada juga yang hidup parasit. Platyhelminthes yang
hidup bebas banyak yang ditemukan di laut, beberapa di air tawar dan di
tempat-tempat lembab. Sementara itu, Platyhelminthes yang hidup parasit
mempunyai lapisan kutikula, silia (hilang setelah dewasa), alat penghisap, dan
mungki memilki kait untuk menempel).
2. Pengelompokan platyhelminthes
a) Turbellaria
Turbellaria merupakan kelompok cacing pipih yang hidup bebas. Contoh
hewan yang termasuk kelompok ini adalah Planaria.
Planaria umumnya hidup di bebatuan atau menempel di daun yang
tergenang air jernih sehingga hewan ini bisa digunakan untuk indikator air
bersih. Planaria bersifat karnivora, panjang tubuhnya antara 5 sampai 25
mmm, dan bergerak dengan menggunakan silia yang terdapat di bagian
epidermis atas.
Planaria mempuanyai daya regenerasi yang sangat tinggi. Hewan ini
termasuk hermafrodit, tetapi tidak bisa membuahi sendiri karena sperma yang
dihasilkan oleh alat reproduksinya langsung dilepaskan ke luar tubuhnya.
Planaria umunya berkembangbiak secara seksual, sedangkan
perkembangbiakan secara aseksual dengan fragmentasi hanya dilakukan pada
sat-saat tertentu saja, misalnya apabila terpotong atau sengaja dipotong.
Bagian anterior tubuh Planaria berbentuk segitiga dan memiliki sistem indra
berupa sepasang bintik mata serta celah yang disebut aurikel. Bintik berfungsi
untuk membedakan keadaan gelap dan terang, sedangkan aurikel berfugsi
sebagai indra pembau saat Planaria mencari makannya.
Permukaan tubuh bagian ventral Planaria memilki silai yang berfungsi
untuk pergerakan. Pada bagian tengah tubuhnya terdapat mulut. Melalui
mulut, faring dapat dijulurkan keluar untuk menangkap mangsa yang
selanjutnya dicerna di dalam usus. Sistem ekskresi Planaria terdiri atas saluran
bercabang-cabang yang disebut protonefrida., memanjang dari pori-pori pada
permukaan tubuh bagian dorsal sampai ke sel-sel api dalam tubuhnya. Sel-sel
api berbentuk seperti bola lampu dan memilki silsia di dalamnya. Pergerakan
silia berfungsi untuk menggerakkan air dalam sel menyerupai nyala api
sehingga sel tersebut dinamakan sel api.
Gambar 3.1 daya regenerasi Planaria
Sumber: https://www.quora.com
b) Trematoda
Trematoda merupakan kelompok cacing pipih yang hidup parasit pada
hewan dan manusia. Contoh hewan ynga termasuk kelompok ini adalah
Fasciola hepatica, Clonorchis sinensis, dan Schistosoma japonicum.
1) Fasciola hepatica
Fasciola hepatica (cacing hati) hidup di saluran empedu pada hati
ternak, seperti kambing, sapi , kerbau, dan biri-biri. Cacing dewasa
bentuknya seperti daun dengan panjang 2,5-3 cm dan lebar 1-1,5 cm.
Mulutnya dikelilingi oleh alat penghisap. Cacing ini bersifat hermafrodit
dan berkembang biak secara seksual dengan pembuahan silang atau
pembuahan sendiri.
Pada waktu muda, Fasciola hepatica hidup dijaringan hati dan
merusak jaringan hati tersebut. Sementara itu, pada waktu dewasa hidup di
saluran empedu karena makanannya berupa cairan empedu.
Gambar 3.2 daur hidup Fasciola
Sumber: http://www.ebiologi.net
2) Clonorchis sinensis
Clonorchis sinensis disebut cacing hati manusia. Cara berkembang
biaknya sama dengan Fasciola hepatica. Serkarianya terdapat di dalam
tubuh (daging) ikan. Cara menghindari penyakit ini adalah dengan
memasak ikan yang matang sehingga serkaria cacing akan mati. Cacing ini
terdapat di Tiongkok, jepang, vietnam, dan pulau yang berdekatan.
3) Scistoma japonicum
Scistoma japonicum (cacing darah) hidup sebagai parasit pada
manusia, kucing, anjing, hewan mengerat, sapi, biri-biri dan babi. Di
indonesia cacing ini terdapat di sulawesi.
Cacing inimenyebabkan penyakit Schistosomiasis yang dapat
menyebabkan kerusakan dan kelainan fungsi pada hati, jantung, limfa,
kandung kemih, dan ginjal. Penyakit ini diderita oleh jutaan orang di
seluruh dunia., terutama Afrika dan Asia.
Cacing ini dapat dibedakan antara jantan dan betinanya. Cacing
yang jantan tubuhnya lebar dengan panjang 9-22 mm dan melipat
(menggulung) menutupi tubuh yang betina. Sementara itu, ang betina
tubuhny aramping dengan panjang 14-26 mm.
Cacing ini bertelur pada pembuluh balik (vena) dan dapat
bermigrasi ke rektum dan kantung air seni. Kemudian telur keluar bersama
feses atau air seni. Telur berkembang menjadi mirasidium. Selanjutnya
mirasidium masuk ke berbagai siput, berkembang secara aseksual seperti
pada Fasciola hepatica. Ekor serkaria bercabang dan dapat menembus kulit
atau termakan masuk ke tubuh manusia.
c) Cestoda
Cestoda adalah berbagai jenis cacing pita yang semuanya hidup parasit
pada hewan dan manusia. Lebih dari 1500 jenis cacing pita hidup pada
berbagai jenis vertebrata, mulai dari ikan sampai mamalia. Tidak semua cacing
pita berbahaya, akan tetapi banyak yang menyebabkan gejala yang serius dan
kemunduran kesehatan. Contoh hewan yang termasuk kelompok ini adalah
Taenia solium, Taenia sagita, Echinococcus granulosus, dan
Dibothriocephalus latus.
Taenia solium merupakan satu contoh cacing pita yang hidup di usus
halus manusia. Tubuhnya ditutupi oleh lapisan kutikula dan terdiri atas
segmen. Segmen tubuh disebut proglotid. Proglotid merupakan satu individu
yang di dalamnya terdapat alat kelamin jantan dan betina (hermafrodit).
Panjang cacing pitaantara 2-3 m.
Perkembangbiakan dan daur ulang hidupnya diawali dari terlepasnya
proglotid (ruas) yang sudah tua bersama-sama dengan feses dari tubuh
penderita. Tiap ruas mengandung ribuan telur yang telah dibuahi. Kemudiam,
ruas-ruas itu hancur dan telur yang telah dibuahi membnetuk zigot. Zigot
kemudian terus berkembang membentuk larva onkosfer di dalam kulit telur.
Apabila telur tersebut termakan oleh babi, maka kulit telur akan dicerna dalam
usus dan larva oskosfer berubah menjadi kista. Kista terus membear
membentuk sistiserkus (cacing gelembung). Pada dinding sistiserkus
berkembang skoleks.
Apabila seseorang memakan daging babi yang tidak matang, maka
kemungkin sistiserkus masih hidup sehingga di dalam usus manusia yang
memakannya, skoleks akan keluar dan menempel pada dinding usus,
sedangkan bagian gelembungnya akan dicerna. Dari “leher” cacing akan
tumbuh proglotid-proglotid. Kemudian, proglotid tua kan menghasilkan sel
telur yang telah dibuahi.
Daur hidup Taenia saginata sam aseperti daur hidup Taenia salium hanya
sistisrkusnya terdapat pada daging sapi dan skoleksnya tidak mempunyai
pengait. Selain itu, Taenia saginata leih mudah diberantas daripada Taenia
solium.
Gambar 3.3 daur hidup cacing pita
Sumber: http://masterblogpelajar.blogspot
d. Nemathelminthes
1. Ciri-ciri nemathelminthes
Ciri-ciri Nemathelminthes antara lain sebagai berkut.
a) Merupakan hewan tripoblastik, artinya tubuhnya mempunyai tiga lapisan
tubuh (ektoderm, mesoderm dan endoderm).
b) Sudah mempunyai selom semu (pseudoselomata).
c) Termasuk hewan yang mempunyai simetri tubuh berupa simetri bilateral.
d) Ukuran tubuh pada umumnya kecil dan banyak yang mikroskopis. Tubuh
bagian luar dilapisi oleh kutikula. Pada umumnya ukuran tubuh cacing betina
lebih besar daripada ukuran tubuh cacing jantan.
e) Sistem pencernaannya sudah sempurna, artinya sudah memiliki mulut dan
anus.
f) Tidak mempunyai sistem sisrkulasi dan sistem pernafasan.
g) Berkembang biak secara seksual, dimana alat kelamin jantan dan betina
terpisah. Pada cacing jantan di bagian posterior (ekornya) dekat lubang anus.,
terdapat tonjolan yang disebut penial setae yang berfungsi untuk kopulasi.
h) Cacing ini ditemukan di semua habitat, umumnya hidup bebas di air dan tanah.
Sebagian lagi ada yang hidup parasit pada jaringan atau cairan tubuh manusia.,
hewan, dan tumbuhan.
2. Contoh cacing yang termasuk nemathelminthes
a) Ascaris limbricoides (cacing perut)
Cacing ini hidup sebagai parasit dalam usus manusia dan sering disebut
sebagai cacing usus atau cacing gelang, mempunyai panjang sekitar 20 cm,
dengan kedua ujungnya meruncing dan berwarna merah muda. Karena
hidupnya di dalam usus halus manusia, maka cacing ini menhisap sari
makanan yang ada di dalam usus.
Ascaris lumbricoides merupakan hewan dioseus, yaitu hewan dengan jenis
kelamin berbeda, bukan hermafrodit. Ascaris lumbricoides hanya berkembang
biak secara seksual. Ascaris lumbricoides jantan memiliki sepasang alat
berbentuk kait yang menyembul dari anus, disebut spikula. Spikula berfungsi
untuk membuka pori kelamin cacing betina dan memindahkan sperma saat
kawin. Infeksi cacing ini menyebabkan penyakit askariasis atau cacingan.
Umumnya penyakit tersebut diderita oleh anak-anak. Infeksi ini terjadi pada
saat mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar oleh Ascaris.
Daur hidupnya dimulai dari telur yang telah membentuk embrio keluar
bersama feses, kemudian termakan oleh manusia dan menetas di usus.
Kemudian larva menembus dinding usus dan masuk ke peredaran arah sampai
ke paru-paru. Dari paru-paru, larva keluar menuju trakea, kemudian ke faring,
selanjutnya tertelan kembali dan masuk ke usus lagi hingga berkembang
sampai dewasa.
Gambar 4.1 daur hidup Ascaris lumbricoides
Sumber: https://yusthinmanglapy.wordpress.
b) Ancylostoma/Necator (ccaing tambang)
Cacing ini dikenal sebagai cacing tambang yang persebarannya di daerah
tropis asia dan afrika. Di daerah amerika terdapat cacing yang serupa yang
dikenal dengan Necator americanus. Cacing tambang berukuran 1-1,5 cm dan
bersifat parasit dalam usus manusia. Pada mulutnya terdapat kait berupa gigi
dari kitin untuk melekat dan melukai dinding usus inangnya. Cacing ini
mengsap darah inang sehingga dapat mengakibatkan anemia yang disebabkan
oleh pendarahan pada bekas gigitan cacing karena cacingnya mengeluarkan
antikoagulan ketika ia menghisap darah. Akibatnya dapat menurunkan gairah
kerja serta enurunkan prodiktivitas. Penyakit yang disebabkan oleh cacing
tambang disebut ankilostomiasis.
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan mulut melekat pada
mukosa dinding usus. Cacing betina menghasilkan 9000-10000 butir telur
perhari. Cacing betina mempunyai panajng 1 cm dan cacing jantan kira-kira
0,8 cm . cacing dewasa berbentuk S atau C dan di dalam mulutnya ada
sepasang gigi. Rongga mulutnya sangat besar. Cacing jantan mempunyai bursa
kopulastrik. Telur cacing tambang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk
bujur, dan mempunyai dinding yang tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel
di antaranya larva rabditiform yang panjangnya kira-kira 250 mikron dan larva
filariform yang panjangnya kira-kira 600 mikron.
Pada daur hidupnya telur menetas di tanah yang becek menjadi larva. Larva
menembus kulit telapak kaki, kemudian masuk ke peredaran darah. Cacing
dewasanya berada di usus halus, menempel pada dinding usus halus,
danmenghisap darah.
Gambar 4.2 daur hidup cacing tambang
Sumber: http://habibana.staff.ub.ac.id
c) Wuchereria bancrofti
Cacing ini merupakan menyebab penyakit elephantiasis (penyakit kaki
gajah) penyakit ini ditularkan malalui vektornya berupa nyamuk Culex.
Cacing dewasa hidup pada pembuluh limfe manusia.
Cacing dewasa menyerupai benang, berwarna putih kekunung-kuningan.
Cacing betina berukuran 90-100x0,25 mm, ekornya luruh dan ujungnya
tumpul serta uerusnya berpasangan. Cacing jantan berukuran 250-300x7-8
mikron. Mikrofilaria terdapat di dalam darah dan paling sering ditemukan di
aliran darah tepi, tetapi pada waktu tertentu saja. Pada umumnya mikrofilaria
cacing ini mempunyai periodisitas nokturna karena mikrifilaria pada darah tepi
banyak ditemukan pada malam hari., sedangkan pada siang hari mikrofilaria
terdapat di kapiler organ-organ viseral (jantung, ginjal, paru-paru dan
sebagainya).
Untuk melengkapi daur hidupnya, Wuchereria bancrifti membutuhkan
manusia (inang sesungguhnya) dan nyamuk (inang perantara). Nyamuk
terinfeksi dengan menelan mikrofilaria yan terisap bersama-sama dengan
darah. Di dalam lambung nyamuk, mikrofilaria melepaskan sarungnya dan
berkembang menjadi larva stadium 1 (L-1), larva stadium 2 (L-2), dan larva
stadium 3 (L-3) dalam otot toraks dan kepala.
L-1 memiliki panjang 135-375 mikron, bentuknya seperti sosis, ekornya,
memanjang dan lancip, dan masa perkembangannya 0,5-5,5 hari (di toraks).
L-2 memilki panjang 310-1.370 mikron, bentuknya gemuk dan lebih panjang
daripada L-1, ekornya pendek membentuk kerucut, dan masa
perkembanganannya antara 6,5-9,5 hari (di toraks dan kepala). L-3 memilki
mobilitas yang cepat sekali, kadang-kadang ditemukan di probosis nyamuk
sehingga larva ini bersifat inektif dan ditularkan pada manusia melalui gigitan
nyamuk.
Apabila L-3 ini masuk ke dalam jarigan manusia kemudian masuk ek sistem
limfatik perifer dan bermigrasi ke saluran limfe distal dan akhirnya ke kelenjar
limfe, maka akan tumbuh menjadi L-4 dan L-4 (cacing betina dewasa dan
jantan dewasa).
Gambar 4.3 daur hidup Wucheria bancrofti
Sumber: https://www.tentorku.com
d) Enterobius vermicularis (cacing kremi)
Ukuran telur E. vermicularis yaitu 50-60 mikron x 20-30 mikron (rata-rata
55x26 mikron). Telurnya berbentuk asimetri, tidak berwarna, mempunyai
dinding yang tembus sinar, dan salah satu sisinya datar. Di dalam telur terdapat
bentuk larvanya. Seekor cacing betina memproduksi telur sebanyak 11.000
butir setiap harinya selama 2 sampai 3 minggu, sesudah itu cacing betina akan
mati.
Cacing dewasa E. vermicularis berukuran kecil, berwarna putih. Cacing
betina jauh lebih besar daripada yang jantan. Ukuran cacing jantan adalah 2-5
mm, mempunyai sayap dan ekornya melingkar seperi tanda tanya. Sementara
itu, ukuran cacing betina adalah 8-13 mm x 0,4 mm, mempunyai sayap, bulbus
esofagus jelas sekali, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing betina
berbentuk gravid melebar dan penuh dengan telur. Bentuk khas dari cacing
dewasa ini adalah tidak terdapat rongga mulut tetapi dijumpai adanya 3 buah
bibir, bentuk esofagus bulbus ganda dan di daerah anterior sekitar leher,
kutikulanya melebar. Pelebaran yang khas ini disebut sayap leher (cervcal
alae).
Manusia merupakan satu-satunya inang definiti E. vermicularis dan tidak
diperlukan inang perantara. Cacing dewasa betina mengandung banyak telur
pada malam hari dan akan melakukan migrasi keluar melalui anus ke daerah
perianal dan perinium. Migrasi ini disebut nocturnal migration. Di daerah
perinium tersebut cacing-cacing ini bertelur dengan cara kontraksi uterus,
kemudian telur melekat di daerah tersebut. Telur dapat menjadi larva infektif
pada tempat tersebut, terutama pada temperatur optimal 23-26 oC dalam waktu
6 jam.
Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelan telur
matang sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah
perianal, berlangsung kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan. Mungkin, daur
hidupnya hanya berlangsung kira-kira 1 bulan karena telur-telur cacing dapat
ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu sesudah pengobatan.
e. Annelida
1. Ciri-ciri annelida
Ciri-ciri Annelida antara lain sebagai berikut.
a) Merupakan hewan triploblastik, artinya sudahmempunyai tiga lapisan tubuh
(ektoderm, mesoderm, dan endoderm).
b) Sudah mempunyai rongga tubuh sejat (selomata).
c) Bentuk tubuhnya simetri bilateral, tubuh beruas-ruas, dan dilapisi lapisan
kutikula. Tubuhnya ditutupi oleh duri-duri halus yang disebut seta. Pada
cacing dewasa terdapat bagian tubuh yang agak membesar disebut klitelum.
Klitelum berfungsi sebagai alat kopulasi.
d) Sistem pencernannya sudah sempurna (mulut-faring-esofagus-tembolok-
ampela-usus halus-anus).
e) Sistem ekskresi berupa nefridia.
f) Sistem respirasi berupa kulit dan insang.
g) Berkembang biak secara aseksual dan seksual. Annelida bersifat hermafrodit,
tetapi pembuahan terjadi dari perkawinan dua individu. Pada saat terjadi
perkawinan, terjadi pertukaran sperma. Sperma kemudian disimpan dalam
reseptakulum seminalis. Klitelum mempunyai kelenjar-kelenjar yang dapat
membentuk lapisan lendir yang kuat untuk membentuk kokon. Meluncur ke
depan setelah perkawinan antara dua individu cacing selesai. Kemudian,
kokon lepas dan berisi beberapa butir telur yang telah dibuahi.
h) Hidup di berbagai tempat, baik di air tawar, air laut, atau daratan. Umunya
hidup bebas, beberapa ada juga yang hidup parasit.
2. Pengelompokan annelida
a) Polychaeta
Polychaeta (dalm bahasa yunani, poly = banyak, chaeta = rambut kaku)
merupakan annelida berambut banyak. Tubuh Polychaeta dibedakan menjadi
daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus.
Polychaeta memilki sepasang stuktur seperti dayung yang disebut parapodia
(tunggal = parapodium) pada setiap segmen tubuhnya. Fungsi parapodia
adalah sebagai alat gerak dan juga seperti insang untuk bernapas. Setiap
parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin.
Semua Polychaeta hiidup di laut. Pada Polychaeta, cacing jantan dan cacing
betina sudah dapat dibedakan. Polychaeta mempunyai larva yang bersilia dan
bergerak bebas yang disebut trokopor.
Cotoh cacing yang termasuk ke dalam kelompok Polychaeta adaah cacing
Palolo (Eunice viridis) dan cacing Wawo (Lysidice oele). Kedua cacing ini,
begian tubuhnya dapat dimakan. Pada musim berkembang biak, cacing Palolo
dan cacing Wawo melepaskan bagian tubuh yang menghasilkan gamet. Bagian
tubuh ini banyak dikumpulkan karena dapat dimakan dan rasanya sangat lezat.
b) Oligochaeta
Hewan yang termasuk ke dalam kelompok ini mempunyai sedikit rambut
pada ruas-ruas tubuhnya dan tidak mempunyai parapodia. Kepalanya kecil,
tidakmempunyai alat peraba atau tentakel dan mata. Hidupnya di air tawar atau
di darat.
Contoh cacing yang termasuk ke dalam kelompok Oligochaeta adalah
cacing tanah (Lumbricus terrestris), cacing air (Tubifex), dan cacing hutan
(Perichaeta). Cacing tanah banyak dipelihara orang untuk makanan ikan dan
ternak lainnya karena mengandung protein dengan kadar tinggi. Selain itu,
cacing tanah dapat membantu menghancurkan sampah menjadi humus sehingg
atanah menjadi subur. Ccaing tanah juga membantu aerasi pada tanah.
Cacing Tubifex yang hidup di air limbah organik sekarang sudahbanyak
dimanfaatkan dengan cara dikeringkan. Tubifex yang dikeringkan merupakan
bahan makanan untuk ikan hias.
c) Hirudinea
Hewan yang termasuk ke dalam kelompok ini tidak mempunyai rambut dan
parapodia pada tubuhnya. Tubuhnya berbentuk pipih. Pada bagian depan dan
belakang tubuhnya terdapat alat penghisap yang digunakan untuk
menempelkan diri pada tubuh korbanya dan menghisap darahnya. Contohnya,
lintah (Hirudo medicinalis) yang hidup di air dan bersifat parasit pada
vertebrata.
Sebelum menhisap darah, lintah akan menyuntikkan zat anastesi atau bius
ke dalam tubuh korbanya, sehingga ketika dihisap darahnya, korban tidak akan
merasakan sakit. Lintah juga dapat menghasilkan zat antikoagulan (zat anti
pembekuan darah), yang disebut hirudin. Adanya zat antikoagulan tersebut
menyebabkan darah korban yang dihisap tidak akan membeku. Linta memiliki
dua alat penghisap yang terletak di bagian anterior dan posterior. Contoh
hewan lainnya yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah pacet. Pacet hidup
di darat.
f. Arthropoda
Arthropoda adalah kelompok hewan yang mempunyai kaki beruas-ruas. Arthropoda
merupakan kelompok hewa yang mempunyai jumlah paling besar, kelompok hewan
ini ditemukan hampir di semua habitat.
1. Ciri-ciri arthropoda
a) Merupakan hewan triploblastik selomata.
b) Bentuk tubhnya simetri bilateral.
c) Mempunyai rangka luar (eksoskeleton) dari kitin yang berfungsi untuk
menutupi dan melindungi alat-alat dalam serta memberi bentuk tubuh.
Eksoskeleton melekat pada kulit atas lempengan-lempengan yang
dihubungkan oleh ligamen yang fleksibel dan lunak. Eksoskeleton tidak dapat
membesar mengikuti pertumbuhan tubuh. Oleh karena itu, tahap pertumbuhan
Artrophoda selalu diikuti dengan pengelupasan eksoskeleton lama dan
pembentukan eksoskeleton baru. Tahap pelepasan eksoskeleton disebut
dengan molting atau eksidis. Hewan yang biasanya melakukan eksidis
misalnya kepiting, udang dan laba-laba.
d) Sistem pencernaan sudah lengkap (mulut-kerongkongan-usus-anus).
Mulutnya dilengkapi dengan berbagai alat tambahan yang beragam, misalnya
mandibula dan maksila pada belalang.
e) Pernapasan dengan menggunakan insang, trakea, permukaan tubuh, atau paru-
paru buku.
f) Berkembang biak secara aseksual maupun seksual. Secara aseksual dengan
cara partenogenesis dan paedogenesis. Partenogenesis adalah
perkembangbiakan tanpa adanya pembuahan oleh individu jantan. Sementara
itu, paedogenesis adalah perkembangbiakan pada larva.
g) Tubuh Artrophoda bersegmen dengan jumlah segmen yang bervariasi. Pada
tiap segmen tubuh tersebut terdapat sepaang kaki yang beruas. Segmen
bergabung membentuk bagian tubuh, yaitu kkaput (kepala), toraks (dada), dan
abdomen (perut).
h) Sistem saraf Artrophoda berupa sistem saraf tangga tali berjumlah sepasang
yang berada di sepanjang sisi ventral tubuhnya. Pada berbagai tempat di
segmen tubuh, ada perbesaran saraf tangga tali yang disebut ganglia. Ganglia
berfungsi sebagai pusat refleks dan pengendalian berbagai kegiatan. Ganglia
bagian naterior yang lebih besar berfugsi sebagai otak.
i) Sistem sirkulasi Artrophoda bersifat terbuka. Sistem sirkulasinya erdiri atas
jantung, pembuluh darah pendek, dan ruang di sekitar organ tubuh yang
disebut sinus atau hemosol. Darah Artrophoda disebut juga hemolimfa.
j) Cara hidup Artrophoda sangat beragam, ada yang hidup bebas, parasit,
komensalisme, atau simbiotik. Kelompok hewan ini sering kita jumpai di
kehidupan sehari-hari, misalnya nyamuk, lalat, semut, kupu-kupu, capung,
belalang dan lebah
2. Pengelompokan artropoda
Artrophoda dibedakan menjadi lima kelas, yaitu Crustacea, Insecta, Diplopoda,
Chilopoda dan Arachnida.
a) Crustacea
Crustacea merupakan hewan omnivora, makanannya berupa tumbuhan
ataupun hewan-hewan kecil yang ada di perairan.
1) Ciri-ciri Crustacea
(a) Mempunyai rangka luar dari kitin yang mungkin menjadi keras karena
mengandung kapur.
(b) Tubuh Crustacea terdiri atas kepala yang bergabung dengan dada
membentuk kepala-dada (sefalotoraks) dan perut (abdomen).
Mempunyai dua pasang antena, satu pasang mandibula (rahang atas),
satu pasang maksila (rahang bawah), dan satu pasang maksiliped.
Maksila dan maksiliped berfungsi untuk menyaring makanan dan
menghantarkan makanan ke mulut. Bagian kepala dan dada dilindungi
oleh tameng, yaitu kulit keras yang disebut karapaks.
(c) Umumnya mempunyai sepasang kaki pada tiap ruas tubuh. Pada udang
dan kepiting terdapat 5 pasang kaki jalan. Selain digunakan untuk
berjalan, kaki juga dapat digunakan untuk berenang atau menempel di
dasar perairan.
(d) Ukurannya sangat bervariasi, dari ukuran planktonyang sangat kecil
sampai yang berukuran besar, seperti kepiting yang hidup di daar laut
dengan panjang kakinya kira-kira 3,5 m.
(e) Sistem pencernaannya dimulai dari mulut, kerongongan, lambung,
usus dan anus.
(f) Sisa metabolismenya keluar melewati kelenjar hijau.
(g) Sistem sarafnya menggunakan susunan saraf tangga tali. Ganglion otak
berhubungan dengan alat indra, yaitu antena, statosit (alat
keseimbangan), dan mata majemuk (faset) yang bertangkai.
(h) Sistem peredaran darahnya terbuka. Darah tidak berwarna karena
mengandung hemoglobin, melainkan hemosianin.
(i) Respirasinya menggunakan insang.
(j) Jenis kelamin Crustacea sudah dapat dipisahkan dan bersifat
hermafrodit. Pembuahan terjadi secara internal, telur yang berisi zigot
menetas menjadi larva, selanjutnya tumbuh menjadi dewasa melalui
pergantian kulit berkali-kali.
(k) Contoh dari anggota ini adalah udang windu (Penaeus), udang galah
(Macrobrachium rosenbergii), udang air tawar (Cambarus virilis),
ketam (Parathelphusa tridentata), kepiting (Portunus sexdentalus),
dan rajungan (Neptunus pelagicus).
2) Pengelompokan Crustacea
Crustacea dikelompokkan menjadi dua subkelas, yaitu Entomostraca dan
Malacostraca.
(a) Subkelas Entomostraca.
Subkelas ini merupakan kelompok udang tingkat rendah yang
kebanyakan menyusun zooplankton di perairan. Hewan ini
dikelompokkan menjadi lima ordo, yaitu sebagai berikut.
(1) Branchiopoda, tubuhnya transparan, sering disebut kutu air, dan
merupakan salah satu penyusun zooplankton. Contohnya Daphnis
pulex, Notostraca, dan Asellus aquaticus.
(2) Obtracoda, hidup di air tawar dan laut sebagai plankton, tubuhnya
kecil dan dapat bergenrak dengan antena. Contohnya, Candona
suburbana.
(3) Copecoda, hidup di air laut dan iar tawar, merupakan plankton dan
parasit, mempunyai segmentasi tubuhnya yang jelas. Contohnya,
Argulus indicus dan Cyclops.
(4) Cirripedia, tubuhnya seperti kerang, kepala dan dada ditutupi
karapaks berbentuk cakram, hidup di laut melekat pada substrat,
ada yang hidup bebas dan ada yang bersifat parasit. Contohnya,
Bernakel dan Sacculina. Bernakel hidup melekat pada dasar kapal
dan tiang-tiang yang terpancang atau mengapung di laut.
(5) Branchiura, hidup di laut atau di air tawar sebagai parasit pada
hewan air ata hidup bebas. Contohnya, Argulus yang merupakan
parasit pada ikan.
(b) Subkelas Malacostraca
Malacostraca meliputi berbagai jenis udang tingkat tinggi yang
hidup di laut, di air tawar, dan di darat. Tubuhnya terdiri atas
Sefalotoraks (kepala dan dada yang bersatu), dan perut (abdomen).
Hewan ini dikelompokkan menjadi tiga ordo, yaitu sebagai berikut.
(1) Isopoda, tubuhnya pipih dorsoventral, mempunyai kaki yang
berukuran sama, serta hidup di darat, air tawar, dan iar laut.
Contohnya adalah Onicus asellus dan Limnoria lignorum,
keduanya adalah penggerek kayu sehingg abersifat merugikan.
(2) Stomatopoda, hidup di air laut, bentuk tubunya seperti belalng
sembah dengan warn aynag mencolo. Bagian kepala dilindungi
karapkas yang dilengkapi dengan alat gerak, mata, dan antena.
Contohnya adalah Squilla empusa (udang belalang).
(3) Decapoda, meliputi kelompok Crustacea berkaki sepuluh yaitu
udang dan ketam/kepiting. Ada yang hidup di air tawar dan
beberapa jenis hidup di laut. Kepala dan dada menyatu
(sefalotoraks) yang ditutupi oleh karapaks. Udang berperan penting
bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai sumber makanan yang kaya
protein. Contohnya adalah Penaeus setiferus (udang windu),
Cambarus virilis (udang air tawar), Panulirus versicolor (udang
karang), Portunus sexdentatus (kepiting), Neptunus pelagicus
(rajungan), Scylla serrata (kepiting), dan Birgus latro (ketam
kenari).
(c) Peranan Crustacea
Crustacea memiliki peran yang cukup penting karena sebagian
zooplankton di laut dan samudra adalah Crustacea sehingga merupakan
sumber makanan bagi beberapa jenis ikan. Crustacea juga mempunyai
nilai ekonomi yang sangat penting karena beberapa jenis Crustacea
merupakan bahan makanan yang mengandung kadar protein tinggi
sehingga menjadi salah satu bahan makanan yang dibutuhkan oleh
manusia.
Crustacea yang bersifat merusak hanya sedikit, yaitu yang biasa
membuat lubang pada kayu yang menjadi bagian luar dari perahu atau
kapal.
b) Insecta (Serangga)
Insecta merupakan hewan yang mempunyai jenis (spesies) yang paling
banyak jumlahnya di antara semua hewan sehingga tidak heran jika Insecta
merupakan hewan yang paling sering dijumpai oleh manusia. Insecta
mempunyai sekitar 750.000 spesies di alam. Insecta sering disebut juga
heksapoda, yang berarti mempunyai 6 kaki.
1) Ciri-ciri insecta
Ciri-ciri insecta antara lain sebagai berikut.
(a) Tubuh umumnya terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala (caput), dada
(toraks), dan perut (abdomen).
(b) Kepala dilengkapi dengan antena, mata majemuk, dan mulut.
(c) Bagian dada mempunyai tiga pasang kaki yang beruas-ruas. Selain itu,
dilengkapi juga dengan sepasang atau dua pasang sayap atau bahkan
tidak mempunyai sayap.
(d) Perut terbagi atas 10-11 segmen. Perut merupakan tempat bagi organ
pencernaan, reproduksi, respirasi, sekresi dan jantung.
(e) Sistem pencernannya mulut dan dibantu oleh kelenjar ludah.
(f) Sistem respirasi berlangsug dengan sistem trakea yang terdiri atas
saluran-saluran halus.
(g) Alat ekskresi tersusun dalam badan Malpighi.
(h) Sistem sarafnya terdiri atas ganglion atau serabut-serabut saraf.
(i) Pada beberapa insecta terdapat alat untuk melepaskan telur serta
kantung untuk menyimpan sperma.
(j) Insecta dapat ditemukan hampir di semua haitat, kecuali laut.
(k) Umumnya ukuran tubuhnya relatif kecil, berkisar antara 0,2 mm
sampai 4 cm.
(l) Mengalami perubahan bentuk (metamorfosis). Metamorfosisnya
dibedakan menjadi metamorfosis sempurna dan tidak sempurna.
2) Pengelompokan Insecta
Serangga dibagi dalam sejumlah ordo, tetapi ordo yang paling
banyak terdapat disekitar kita dan mudah kita lihat hanya beberapa saja.
Ordo-ordo pada serangga dapat ditentukan hanya dengan mengamati sayap
dan alat mulutnya. Beberapa ordo tersebut adalah Orthoptera, Isoptera,
Hemiptera, Homoptera, Odonata, Coleoptera, Lepidoptera, dan Diptera.
3) Peranan Insecta
Serangga mempunyai peranan dalam kehidupan sehari-hari.
Peranannya ada yang menguntungkan dan ada juga yang merugikan.
Serangga yang menguntungkan bagi manusia umuny aberperan
dalam proses penyerbukan (polinasi) tanman. Beberapa serangga seperti
lebah madu dan ulat sutra menghasilkan prosuk yang bernilai ekonomi
tinggi. Serangga lak (Laccifer lacca) dapat menghasilkan lac, yaitu
senyawa resin atau damar yang dimanfaatkan dalam industri kimia sebgai
bahan baku untuk membuat mika dan asbes. Selain itu, serangga juga
dimanfaatkan sebagai predator alami, misalnya kembang kepik digunakan
untuk memangsa serangga sisik.
Serangga yang merugikan jumlahnya sedikit, tetapi dampak yang
ditimbulkannya cukup besar. Misalnya, lalat, nyamuk, dan kutu busuk
sering menjadi vektor atau perantara penyakit. Jenis serangga seperti
belalang dan kumbang penggerek kapas menjadi hama yang merusak
tanaman pertanian. Serangga yang menjadi hama tanaman merugikan
karena dapat bersifat sebagai pemakan daun, penggerek batang, buah, biji
dan akar, serta penghisap cairan tumbuhan.
c) Diplopoda
Hewan yang termasuk ke dalam kelompok ini hidup di darat dan merupakan
hewan herbivora. Tubuhnya terdiri atas kepala dan badan, bentuknya silindris
dan beruas-ruas. Pada tiap ruas terdapat dua pasang kaki.
Pada hewan jantan, dua buah kaki pada ruas ketujuh mengalami modifikasi
sebagai lat kpulasi. Geraknnya sangat lambat dan ada yang menggulung jika
dalam keadaan bahaya. Umunya hidup di tempat lembab dan gelap yang
banyak mengandung sisa-sisa tumbuhan yang telah membusuk sebagai
makanannya. Alat peredaran darah Diplopoda berupa suatu jantung pembuluh.
Alat ekskresinya berupa dua buah saluran Malpighi. Reproduksi secara seksual
dan alat kelamin terpisah menghasilkan telur.
Pada kepala terdapat sepasang antena yang pendek dan dua kelompok mata
tunggal. Diplopoda bernapas dengan menggunakan trakea. Contoh hewan
yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah kaki seribu.
Gambar 5.1 kaki seribu (Diplopoda)
Sumber: https://www.britannica.com
d) Chilopoda
Hewan yang termasuk ke dalam kelompok ini hidup di darat dan merupakan
hewan karnivora. Tubunya terdiri atas kepala dan badan, bentuknya gepeng
(agak pipih)dan beruas-ruas. Pada tiap ruas terdapat satu pasang kaki.
Alat pencernaan makanannya lengkap dari mulut sampai anus. Alat ekskresi
berupa dua buah saluran Malpighi. Reproduksinya berlangsung secara seksual
dengan pembuahan internal dan menghasilkan telur yang sering diletakkan di
bawah batu-batuan. Chilopoda memilki rahang yang kuat dan berbisa untuk
memangsa hewan-hewan kecil.
Pada kepala terdapat sepasang antena panjang, dua kelompok mata tunggal,
dan alat mulut. Chilopoda bernapas dengan menggunakan trakea. Contoh
hewan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah kelabang (lipan).
Diplopoda dan Chilopoda umunya ada yang dikelompokkan dalam satu
kelompok, yaitu Myriapoda.
Gambar 5.2 kelabang (Chilopoda)
Sumber: https://www.merdeka.com
e) Arachnida
1) Ciri-ciri Arachnida
Ciri-ciri Arachnida antara lain sebagai berikut.
(a) Tubuhnya terdiri atas kepala yang bersatu dengan dada (sefalotoraks)
dan perut.
(b) Pada sefalotoraks terdapat sepasang kelisera, sepasang pedipalpi,
empat pasang kaki, serta beberapa mata tunggal.
(c) Pada kepalanya tidak memiliki antena.
(d) Bernapas dengan paru-paru buku, trakea, atau kedua-duanya.
(e) Alat pencernaannya lengkap dari mulut hingga anus.
(f) Alat ekskresinya berupa saluran Malpighi.
(g) Sistem saraf berupa tangga tali dengan ganglion otak dan saraf ventral
membentuk pasangan ganglia yang menjulur ke seluruh tubuh.
(h) Reproduksi secara seksual, alat kelamin jantan dan betina terpisah dan
pembuahan secara internal.
2) Pengelompokan Arachnida
Arachnida dikelopokkan menjadi tiga ordo, yaitu Scorpionida, Araneae,
dan Acarina.
(a) Scorpionida, meliputi berbagai jenis kala, memiliki perut beruas-ruas
dan ruas terakhir berubah menjadi alat pembela diri (alat penyengat),
pedipalpus berukuran besar seperti catut dan kelisera berukuran kecil.
Contohnya, Buthus sp. (ketonggeng) dan Cetrutus sp. (kalajengking).
(b) Araneae, meliputi berbagai macam laba-laba, umumnya perut tidak
beruas-ruas. Di dekat anus terdapat spineret, yaitu alat untuk
mengeluarkan benang yang digunakan untuk membuat jaring atau
sarang dan kokon. Contohnya, Rhechostica hentz (tarantula), Nephila
maculata (laba-laba), latrodectus natans, dan Loxoxceles reclusa (laba-
laba beracun).
(c) Acarina, meliputi berbagai jenis tungau dan caplak yang umunya
bersifat parasit. Tubuhnya berukuran kecil dan tidak beruas, abdomen
bersatu dengan sefalotoraks, dan tidak mempunyai alat pernapasan
khusus. Contohnya, Octodectes cynotis (tungau penyebab kudis telinga
pada kucing dan anjing), Sarcopes scabiei (caplak kudis), Dermacentor
sp. (caplak mamalia), Boophilus annulatus (caplak sapi), dan
Tarsomenus sp. (hama tanaman Solanaceae).
Kalisera dan pedipalpi fungsinya berbeda, tergantung jenis
Arachnidanya. Misalnya, pada laba-laba, kalisera berfungsi untuk
melumpuhkan mangsa karena mempunyai saluran bisa dan bentuknya
seperti cakar. Sementara itu, pada hewan yang lain, kalisera berfungsi
untuk memegang dan meremukkan makanan.
Pada Limulus, pedipalpi berfungsi sebagai alat gerak, pada
kalajengking berfungsi sebgai penangkap dan pemegang makanan, dan
pada laba-laba jantan berfungsi untuk memasukkan sperma ke tubuh
laba-laba betina.
3) Peranan Arachnida
Beberapa Arachnida ada yang bersifat merugikan seperti caplak,
tunagu, sarcoptec. Caplak merugikan karena mengisap darah pada burung
dan mamalia, bahkan mungkin juga manusia, sedangkan Sarcoptes
merugikan karena dapat menyebabkan penyakit kulit yang disebut scabies.
g. Mollusca
Mollusca merupakan hewan yang memiliki tubuhn lunak.
1. Ciri-ciri mollusca
Ciri-ciri mollusca antara lain sebagai berikut.
a) Merupakan hewan triploblastik selomata.
b) Tubuhnya simetri bilateral dan tidak beruas-ruas.
c) Umunya tubuh ditutupi oleh cangkang yang terbuat dari zat kapur yang
berfungsi untuk melindungi organ-organ dalam.
d) Dapat ditemukan di air laut, air tawar, dan daratan. Akan tetapi, umunya
terdapat di laut.
e) Semuanya mempunyai mantel. Pada beberapa jenis mantel dapat membentuk
cangkang atau rumah.
f) Mempunyai struktur yang disebut “kaki: yang bentuk dan fungsinya berbeda
untuk tiap kelas.
g) Tubuhnya mengeluarkan lendir untuk membantu berjalan.
h) Berkembang biak secara seksual dengan cara pembuahan di dalam tubuh
(fertilisasi internal).
i) Ada yang berumah satu dan ada juga yang berumah dua.
2. Pengelompokan mollusca
Mollusca dibagi ke dalam lima kelas berdasarkan simetri tubuh, bentuk kaki,
bentuk cangkang, mantel, insang, dan sistem sarafnya. Kelima kelas tersebut
adalah Amphineura, Gastropoda, Scaphopoda, Pelecypoda, dan Cephalopoda.
a) Amphineura
Hewan yang termasuk kelompok ini semuanya hidup di laut dan banyak
ditemukan di pantai. Kaki perutnya melekat pada batu-batuan. Insang terdapat
di dalam rongga mantelnya. Di bagian dorsal, tubuhnya ditutupi mantel yang
dilengkapi dengan delapan kepingan kapur.
Contoh Amphineura yang sering ditemukan adalah Chiton. Chiton
mengalami daur hidup, dimana dalam daur hidupnya membentuk larva
trokofor.
Gambar 6.1 Chiton
Sumber: http://www.ucmp.berkeley.edu
b) Gastropoda
Gastropoda merupakan kelas Mollusca terbesar. Gasropoda disebut juga
siput. Gastropoda berkaki lebar dan pipih sehingga membentuk “kaki perut”.
Gastropoda hidup di daratan dan perairan, baik di air tawar maupun air laut.
Siput selain bermanfaat sebagai sumber makanan dan seagai pengurai
(dekomposer), juga dapat merugikan manusia karena dapat merusak tanaman
pertanian dan juga menjadi perantara (vektor) penyakit.
Umunya, Gastropoda mempunyai sebuah cangkang berbentuk spiral.
Bebrpa tidak bercangkang banyak yang hidup di darat dan sering disebut siput
telanjang. Gastropoda bersifat hermafrodit. Akan tetapi, tidak pernah terjadi
pembuahan sendiri. gastropoda darat bernapsa dengan paru-paru. Telurnya
mempunayai cangkang (kulit).
Gastropoda air bernapas dengan insang. Telurnya dilepas satu-satu atau
berkelompok dalam zat semacam gelatin. Telur menetas menjadi berbagai fase
larva sebelum menjadi dewasa. Banyak telurnya menetas dalam uterus
(ovovivipar).
Gambar 6.2 siput
Sumber: https://sains.me
c) Scaphopoda
Scaphopoda mempunyai cangkang berbentuk taring atau terompet dengan
kedua ujungnya yang terbuka. Hidupnya di laut pad apantai-pantai yang
berlumpur. Oleh karena itu, kita akan menemukan cangkangnya jika kerkarya
wisata ke pantai. Contoh hewan yang termasuk kelompok ini adalah Dentalium
vulgare.
Gambar 6.4 Dentalium vulgare
Sumber: https://www.biologiedukasi.com
d) Pelecypoda
Pelecypoda mempunyai cangkang yang terdiri atas dua bagian. Dua bagian
tersebut digunakan dengan semacam engsel. Pelecypoda mempunyai kaki
yang berbentuk pipih seperti kapak dan insang (bronkia) berupa lembaran-
lembaran.
Pada cangkang menempel mantelnya. Di tepi cangkang, mantel membentuk
bagian cangkang yang baru secara terus-menerus sehingga cangkang makin
lama makin membesar.
Cangkang Pelecypoda terdiri atas tiga lapisan, yaitu periostrakum, lapisan
prismna, dan lapisan nakre.
(1) Periostrakum adalah lapisan terluar yang dibentuk dari zat kitin, berfungsi
sebagai lapisan pelindung.
(2) Lapisan prisma adalah lapisan kedua, tersusun dari kristal-kristal kalsit
berbentuk prisma.
(3) Lapisan nakre adalah lapisan ketiga, tersusun dari lapisan-laisan tipis
paralel dari kalsit (karbonat).
Diantara kristal-kristal kalsit pada lapisan prisma maupun lapisa nakre
terdapat bahan organik yang membentuk kerangka tempat terbentuknya
kristal.
Gambar 6.5 Pelecypoda
Sumber: https://www.tentorku.com
e) Cephalopoda
Cephalopoda merupakan Mollusca yang mempunyai kepala jelas dan mata
yang besar. Kaki otot dimodifikasi menjadi tangan, tentakel di sekeliling
mulut, dan corong yang merupakan saluran keluar dari rongga mantel.
Umunya mempunyai kelenjar tinta.
Cephalopoda yang memiliki cangkok yang lengkap adalah Nautilus. Pada
cumi-cumi dan sotong, cangkang direduksi dan letaknya di dalam, sedangkan
pada gurita sam asekali tidak mempunayi cangkang.
Gambar 6.6 cumi-cumi
Sumber: https://manfaat.co.id
3. Peranan mollusca
Jenis Pelecypoda ada yang dapat menghasilkan mutiara, yaitu tiram
mutiara. Butir mutiara dapat terbentuk karena adanya benda asing seperti pasir
yang masuk di antara cangkok dan mantel. Mutiara juga dapat dihasilkan dengan
cara memasukkan inti mutiara di antara matel dan lapisan nakre.
Cephalopoda merupakan mata rantai yang penting dalam jaring-jaring
makanan pada ekosistem laut. Cumu-cumi merupakan sumber makanan ikan.
Selain itu juga, cumi-cumi dan sotong merupakan makanan laut (seafood) yang
mempunyai kadar protein tinggi dan digemari karena rasanya yang lezat.
h. Echinodermata
Echinodermata merupakan hewan yang kulitnya berduri.
1. Ciri-ciri echinodermata
Ciri-ciri Echinodermata antara lain sebagai berikut.
a) Merupakan hewan triploblastik selomata.
b) Tubuhnya simetri radial yang dibagi menjadi lima bagian.
c) Rangka berupa keping-keping kapur terdapat di dalam kulit,dan umumnya
memepunyai duri.
d) Sistem pencernaannya sudah sempurna, meskipun ada sebagian
Echinodermata anusnya tidak berfungsi.
e) Bergerak dengan menggunakan kaki ambulakral (kaki pembuluh).
f) Berkembang biak secar aseksual dan seksual. Perkembangbiakan secara
aseksual dengan cara regenerasi atau pembelahan sel. Sementara itu,
perkembangbiakan seksual dengan fertilisasi (pembuahan) yang terjadi dalam
air laut.
g) Larva berbentuk simetri bilateral dan dapat berenang bebas, disebut bipinnaria.
h) Semuanya hidup di laut, bersifat sesil dan menetap.
i) Makanannya berupa sisa organisme yang telah mati atau organisme lain yang
lebih kecil.
2. Pengelompokan echinodermata
Berdasarkan bentuk tubuhnya Echinodermata dibagi menjadi lima kelas,
yaitu Asteroidea, Echinoidea, Ophiuroidea, Crinoidea, dan Holothuroidea.
a) Asteroidea
Bentuk hewan ini seperti bintang atau segilima. Permukaan bawah disebut
permukaan oralm sedangkan permukaan atas disebut permukaan aboral.
Pada permukaan oral terdapat mulut dan kaki ambulakral, sedangkan pada
permukaan aboral terdapat anus dan madreporit. Madreporit adalah lubang
yang mempunyai saringan yang menghubungkan air laut dengan sistem
pembulih air dan lubang kelamin. Contoh hewan yang termasuk ke dalam
Asteroidea adalah macam-macam bintang laut.
Gambar 7.1 Bintang laut
Sumber: http://lampung.tribunnews.com
b) Echinoidea
Bentuk hewan ini hampir bulat atau gepeng, tubuhnya tidak memiliki
tangan. Rangkanya tersusun dari zat kapur dan umunya memiliki duri.
Pada permukaan oral terdapat mulut yang dilengkapi oleh alat untuk
mengambil makanan yang disebut lentera Aristoteles. Sementara itu, pada
permukaan aboral terdapat anus, madreporit, dan lubang kelamin. Contoh
hewan yang termasuk ke dalam Echinoidea adalah landak laut dan bulu babi.
Gambar 7.2 Bulu babi
Sumber: https://www.dictio.id
c) Ophiuroidea
Ophiuroidea tubuhnya memiliki lima tangan yag dapat digerakkan. Hewan
ini aktif pada malam hari. Mulut dan madreporit terletak di sisi oral dan tidak
mempunyai lubang anus. Makanannay berupa udang-udangan, Mollusca,
bangkai hewan, dan organisme lain yang sudah mati.
Ophiuroidea hidup di laut dangkal sampai laut dalam. Contoh hewan yang
termasuk ke dalam Ophiuroidea adalah bintang ular.
Gambar 7.3 Bintang ular
Sumber: http://www.galeripustaka.com
d) Crinoidea
Hewan ini tubuhnya memilki lima tangan yang bercabang-cabang,
bentuknya dapat menyerupai bunga lili, bunga bakung, atau bulu nurung. Pada
permukaan oral terapat mulut dan anus, tetapi tidak mempunyai madreporit.
Semsentara itu, pada permukaan aboral terdapat kaliks dan tangkai atau hanya
kaliks saja.
Crinoidea hidup dengan cara menempel di dasar laut dan membentuk taman
laut, meskipun mempunyai kemampuan untuk berenang secara bebas. Jenis-
jenis Crinoidea banyak yang ditemukan sudah menjadi fosil. Contoh hewan
yang termasuk ke dalam Crinoidea adalah lili laut.
Gambar 7.4 Lili laut
Sumber: https://travel.detik.com
e) Holothuroidea
Bentuk tubuh hewan ini memanjang atau seperti mentimun. Tubuhnya
fleksibel dan lembut karena rangkanya direduksi menjadi butir-butir kapur di
dalam kulit.
Di sekeliling mulut terdapat tentakel yang bercabang. Tentakel
dihubungkan dengan sistem pembuluh air. Holothuroidea bergerak degan tiga
baris kaki pembuluh yang terdapat pada permukaan bawah dan dua baris kaki
pembuluh dorsal untuk bernapas. Selain itu, mempunyai alat pernapasan yang
disebut paru-paru air.
Holothuroidea hidup di dasar laut dengan cara bersembunyi di lumpur atau
pasir. Contoh hewan yang termasuk ke dalam Holothuroidea adalah teripang
dan mentimun laut.
Gambar 7.5 Timun laut
Sumber: http://jogja.tribunnews.com
3. Peranan echinodermata
Beberapa jenis Echinodermata bermanfaat sebagai bahan makanan dan
sebagai pembersih, karena memakan bangkai atau sisa-sisa hewan lain yang
terdapa di panatai. Akan tetapi, ada jenis-jenis tertentu dari hewan laut yang dapat
merusak karang. Hewan karang banyak yang mati karena dimakan. Selain itu, ada
bintang laut yang memakan jenis-jenis tiram, seperti tiram mutiara (Nurhayati dan
Resty,2017: 252-287).