0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan35 halaman

Kimia Koordinasi

Teori ikatan valensi menjelaskan pembentukan kompleks sebagai hasil overlap antara orbital ligan dan logam. Teori ini mampu meramalkan struktur beberapa kompleks berdasarkan sifat magnetiknya, namun masih memiliki kelemahan seperti gagal menjelaskan mengapa beberapa kompleks bersifat paramagnetik. Prinsip elektronetralitas diperkenalkan untuk menjelaskan stabilitas kompleks dengan mempertimbangkan elektrone

Diunggah oleh

Ayu Nurtikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan35 halaman

Kimia Koordinasi

Teori ikatan valensi menjelaskan pembentukan kompleks sebagai hasil overlap antara orbital ligan dan logam. Teori ini mampu meramalkan struktur beberapa kompleks berdasarkan sifat magnetiknya, namun masih memiliki kelemahan seperti gagal menjelaskan mengapa beberapa kompleks bersifat paramagnetik. Prinsip elektronetralitas diperkenalkan untuk menjelaskan stabilitas kompleks dengan mempertimbangkan elektrone

Diunggah oleh

Ayu Nurtikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KIMIA KOORDINASI

Oleh
AYU WIKA NURTIKASARI
NIM 19070795029

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS
2019
1. Valence Bond Theory
Penerapan teori ikatan pada senyawa koordinasi (kompleks) pertama yang
cukup berhasil dikemukakan oleh Linus Pauling dan dikenal dengan Teori Ikatan
valensi (valence bond theory, VBT). Teori ini merupakan perluasan dari konsep
yang mengkaitkan antara proses hibridisasi dan bentuk atau struktur senyawa non-
kompleks. Teori ini mengemukakan bahwa ikatan dalam kompleks merupakan
ikatan kovalen koordinasi hasil overlap antara orbital ligan yang berisi pasangan
elektron bebas dengan orbital ion logam yang kosong. Pada proses pembentukan
kompleks, ion pusat menyiapkan sejumlah orbital kosong yang sesuai dengan
disertai proses hibridisasi. Elektron 4s dalam atom logam yang ada dalam keadaan
dasar harus dipromosikan ke orbital 3d sehingga memungkinkan orbital 4s
ditempati sepasang elektron ligan. Dalam teori ini pembentukan kompleks dapqat
dipanang sbagai reaksi asam basa Lewis. Sebagai contoh kompleks karbonil dapat
dijelaskan secara sederhana dengan mengasumsikan bahwa hibridisasi d2sp3
(oktahedron), dsp3 (trigonal bipiramida), sp3 (tetrahedron) terjadi dalam molekul-
molekul Co(CO)6, Fe(CO)5 dan Ni(CO)4.
Untuk menyatakan proses pembentukan kompleks biasanya orbital logam
dituliskan dengan symbol kotak atau lingkaran, untuk maksud menentukan
distribusi elektron logam dan yang diterima dari ligan.
Untuk besi pentakarbonil, dengan cara yang sama;

Untuk tetrahedron nikeltetrakarbonil;

Untuk ion-ion logam seperti Cu2+, Zn2+ dan Ga3+ dan ion-ion segolongan
seperti Ag+, Cd2+ dan seterusnya, konfigurasi elektron yang digunakan adalah 3d10
4s0 atau lebih umum nd10 (n+1)s0 dan untuk ion-ion logam golongan utama seperti
Li+, Be2+ dan B3+ serta logam-logam segolongan, konfigurasi elektron yang
digunakan adalah ns2 (n+1)s0 (n+1)p0. Unsur-unsur ini sebgian besar membentuk
kompleks dengan bilangan koordinasi 4 dan juga dijumpai beberapa kompleks yang
bilangan koordinasinya kurang dari 4. Hal ini dimungkinkan karena adanya
perbedaan tingkat energy yang cukup besar antara orbital d dengan s dan p yang
terlibat dalam pembentukan ikatan, terutama untuk logam-logam ringan. Sebagai
contoh proses pembentukan kompleks BeF42- dapat dinyatakan sebagai berikut;
Ion-ion Ni2+, Pd2+ dan Pt2+ memiliki konfigurasi elektron d8. Kompleks Pd2+ dan
Pt2+ biasanya koordinat 4, dengan bentuk bujursangkar, diamagnetik dan biasanya
penyusunnya sering didapatkan dalam kompleks Ni2+. Dalam keadaan dasar, ion-
ion ini bersifat paramagnetik sehingga ligan dalam kompleks harus menyebabkan
dua elektron tak berpasangan menjadi berpaangan. Pauling mengusulkan bahwa
satu ligan menempati satu orbital d:

Selain itu khususnya pada ion Ni2+, kompleks koordinasi-4 bersifat paramagnetik
banyak juga dikenal. Dengan demikian kelima orbital d mesti ditempati oleh 8
elektron. Pembentukan kompleks ini oleh Pauling dijelaskan sebagai berikut;
Berdasarkan pada interpretasi tersebut diatas, struktur kompleks d8 dapat
ditentukan apabila sifat kemagnetan kompleks telah diketahui. Jika bersifat
dimagnetik berarti strukturnya bujursangkar, sedangkan jika paramagnetik
strukturnya tetrahedron. Sayangnya Pauli tidak mampu menjelaskan mengapa
kompleks d8 bersifat paramagnetik sedangkan yang lain dimagnetik. Hal ini
merupakan salah satu kelemahan teori ikatan [Link] yang sama juga terjadi
dua kemungkinan jenis ikatan untuk kompleks koordinat-6 dari ion d6 seperti Fe2+,
Co3+ dan lain-lain. sebagai contoh kompleks Co3+ yang telah banyak disintesa oleh
Werner. Kompleks diamagnetik dijelaskan oleh teori ikatan valensi sebagai berikut;

Dari penjelasan diatas teori ikatan valensi dapat menerangkan bahwa kompleks itu
berbentuk oktahedron dan tidak mengandung elektron tak berpasangan sehingga
bersifat diamagnetik. Kemudian setelah ditemukan kompleks paramagnetik dari ion
Co3+ seperti [CoF6]3- yang memiliki empat elektron tak berpasangan diperlukan
pengaturan elektron lagi. Satu usulan untuk menjelaskan kompleks itu adalah
bahwa ion frluorida tidak menggunakan orbital 3d atom kobalt. Pauling
mengusulkan bahwa ion fluoride dapat berikatan dengan orbital yang berada lebih
luar, yaitu 4d, sehingga hibridisasi sp3d2 yang identik dengan hibridisasi d2sp3 yang
telah diuraikan sebelumnya. Heksafluorokobalt(III) dapat digambarkan sebagai
berikut;

Karena orbital luar 4d dilibatkan pada pembentukan kompleks


paramagnetik Co3+, kompleks semacam ini disebut sebagai kompleks orbital luar
(outer orbital complexes). Untuk kompleks yang logamnya berelektron ganjio,
seperti Fe3+, d5, perbedaan sifat magnetiknya yang menunjukkan jenis orbital atom
logam yang terlibat dalam pembentukan kompleks tidak mungkin teramati. Untuk
mengidentifikasi jenis orbital yang terlibat, kemudian teori ini menyarankan agar
digunakan derajat paramagnetisitas kompleks, yang ditunjukkan oleh harga momen
magnetiknya.
Sebagai contoh kompleks [Fe(H2O)6]3+ bersifat paramagnetik dengan 5
elektron tak berpasangan, sedangkan ion [Fe(CN)6]3- berrsifat paramagnetik dengan
satu elektron tak berpasangan. Pernyataan teori ikatan valensi terhadap komplek-
komplek tersebut adalah;
Struktur dan jenis hibridisasi beberapa kompleks menurut VBT dapat di lihat dalam
table.
Orbital Elektron
Spesies (n-1)d ns np nd
hibrida tak psgn
8-elektron metal ions
Be2+, B3+ [He]
2- -
[BeCl4] , [BCl4] [He] xx xx xx xx sp3 0
Al3+, Mg2+ [Ne]
[AlCl4]-, [MgCl4]2- [Ne] xx xx xx xx xx sp3 0
[Al(H2O)6]3+ [Ne] xx xx xx xx xx sp3d2 0
18-elektron metal ions
Ag+, Cd2+, In3+ [Kr] :::::
[AgX2]- [Kr] ::::: xx xx Sp 0
[ML4]n- [Kr] ::::: xx xx xx xx sp3 0
[ML6]n- [Kr] ::::: xx xx xx xx xx sp3d2 0
M=Cu+, Zn2+, Ga3+ [Ar] :::::
[ML4] [Ar] ::::: xx xx xx xx sp3 0
[ML6] [Ar] ::::: xx xx xx xx xx sp3d2 0
d-elektron ions
Ti (d2s2) [Ar] : :
Ti3+ [Ar] .
[TiL6] [Ar] . xx xx xx xx xx xx d2sp3 1

Orbital Elektron
Spesies (n-1)d ns np nd
hibrida tak psgn
Fe (d0s2) [Ar] ::::: :
Fe(O) (d8) [Ar] ::::
[Fe(CO)6] [Ar] : : : : xx xx xx xx xx dsp3 0
Ni(O) (d8) [Ar] :::::
[Ni(CO)4] [Ar] ::::: xx xx xx xx sp3 0

Co3+ (d8) [Ar] :::..


[CoF6]3- [Ar] :::.. xx xx xx xx xx sp3d2 0
[Co(NH3)6]3+ [Ar] : : : xx xx xx xx xx xx xx d2sp3 0
Fe3+ [Ar] .....
[Fe(H2O)6]3+ [Ar] ..... xx xx xx xx xx sp3d2 5
[Fe(CN)6]3- [Ar] : : . xx xx xx xx xx xx xx d2sp3 1

 Prinsip Elektronetralitas dan Ikatan Balik


Kejanggalan yang muncul dengan mengasumsikan bahwa pembentukan
kompleks merupakan reaksi antara asam Lewis dan basa Lewis adalah timbulnya
muatan negative pada logam pusat akibat penerimaan elektron dari ligan. Hal ini
akan menyebabkan densitas elektron pada ion pusat menjadi besar dan tentu saja
keadaan ini tidak diinginkan (tidak stabil). Sebagai contoh kompleks Co2+ seperti
[CoF6]4-. Enam ligan menyediakan 12 elektron untuk berikatan dengan logam dan
karena semua elektron berasal dari ligan, maka ada muatan formal -6 ditambahkan
pada ligan yang hanya digunakan untuk menetralisir muatan +2. Dari perhitungan
muatan formal kobalt akan menjadi negatif besar dan seharusnya tidak stabil. Tetapi
fakta menunjukkan bahwa kompleks itu stabil. Pauling menjelaskan bahwa ada dua
alasan mengapa fakta menunjukkan bahwa logam tidak bermuatan negatif.
Pertama, karena ligan donor pada umumnya atom yang
berelektronegativitas tinggi, seperti N dan O, sehingga elektron ikatan tidak akan
terdistribusi sama antara logam dan ligan. Jadi induksi muatan positif pada logam
membantu mengurangi muatan formal negatif ion pusat. Pauling mengatakan
bahwa kompleks akan stabil jika elektronegativitas ligan sedemikian sehingga
logam dapat mencapai kondisi netral. Aturan semacam ini dikenal sebagai prinsip
elektronetralitas. Pauling telah membuat perhitungan semikuantitatif yang
menghubungkan stabilitas kompleks dengan muatan atom logam pusat.
Perhitungan melibatkan persamaan;
Dngan Δx adalah perbedaan elektronegativitas atom-atom yang berikatan
dan P adalah persentase sifat ionik. Dia tidak menghitung dengan teliti dan metode
perhitungan t5idak dijelaskan. Namun hasil perhitungan telah menunjukkan
bagaimana munculnya muatan negatif pada logam dapat mengurangi stabilitas
kompleks. Sebagai contoh dibandingkan muatan logam pusat Be dalam kompleks
[Be(H2O)4]2+ dan [Be(H2O)6]2+.
Walaupun harga-harga tersebut tidak diterangkan secara jelas bagaimana
cara memperolehnya, harga-harga tersebut dapat bermanfaat untuk menerangkan
beberapa prinsip secara kualitatif tentang informasi senyawa kompleks Pertama;
empat molekul air secara efektif menetralisir muatan ionik +2 berelium, tetapi 6
molekul air memberikan terlalu banyak elektron. Tetapi, Al3+ dapat mengimbangi
muatan negatif dari 6 molekul air. Oleh karena itu, [Be(H2O)4]2+ dan
[Al(H2O)6]3+.merupakan kompleks stabil, sedangkan [Be(H2O)4]2+ tidak. Hal
serupa [Al(NH3)6]3+ tidak stabil karena nitrogen dalam ligan ammonia kurang
bersifat elektronegatif untuk mengurangi muatan negatif yang muncul pada ion
pusat. Berdasarkan alasan tersebut dapat dipahami bahwa untuk mengurangi
adanya kerapatan elektron yang berlebihan dalam atom pusat pada oksida logam
dan kompleks fluorida dijumpai atom berada pada tingkat oksidasi tinggi, antara
lain; [CoF6]2-, [MnF6]2-, [RuF6]- , [CrO3F]-, dan [MnO4]-.
Namun ternyata dalam kompleks karbonil dan nitrosil, logam biasanya
berada pada tingkat oksidasi rendah dan telah diketahui bahwa karbon dan nitrogen
elektronegativitasnya rendah. Ikatan sigma yang terbentuk oleh pemberian elektron
dari ligan pada logam menyebabkan kerapatan elektron pada logam menjadi tinggi.
Kompleks ini tidak akan stabil bila tidak ada faktor lain yang dapat mengurangi
kerapatan elektron tersebut. Dalam hal seperti ini, Pauling menjelaskan bahwa
kerapatan elektron dalam logam diturunkan melalui pembentukan ikatan balik
(back bonding) atau resonansi ikatan parsial. Ion pusat memberikan kembali
pasangan elektron pada ligan π melalui pembentukan ikatan, seperti;

Adanya bentuk hibrida resonansi (bentuk II), kerapatan elektron akan


berkurang dari niikel ke oksigen. Pembuktian lebih tepat tentang proses ini
menunjukkan bahwa delokalisassi kerapatan elektron terjadi karena overlap orbital
d pada logam dengan orbital ligan karbonil. Teori ikatan valensi menerangkan
bahwa proses ini melibatkan penggunaan orbital p dari karbon sehingga orbital itu
dpat overlap lagi membentuk ikatan pi dengan oksigen. Teori orbital molekul
menjelaskan dengan cara lain yang akan dibicarakan kemudian.
 Keunggulan dan Kelemahan Teori Ikatan Valensi
Dengan adanya pendekatan VBT, kimia koordinasi berkembang dengan
pesat karena hampir semua senyawa kompleks dapat diinterpretasikan. Selain itu,
teori ini sangat sederhana sehingga mudah diterima dan memiliki kemampuan yang
cukup tinggi dalam menjelaskan struktur dan sifat magnetik berbagai senyawa
kompleks. Kelemahan dari teori ini adalah ketidakmampuan menjelaskan secara
tepat apakah suatu kompleks koordinat-4 akan tetrahedron atau bujursangkar dan
apakah kompleks oktahedron akan mempunyai spin rendah atau spin tinggi. Salah
satu kelemahan itu adalah ion kompleks [Cu(NH3)4]2+. Ion Cu2+ memiliki struktur
elektron d9. Koordinasi keempat molekul ammonia dimungkinkan terjadi melalui
orbital tetrahedron sp3 seperti dalam d10 pada ion [Zn(NH3)4]2+.

Penentuan secara kristalografi sinar-X menunjukkan bahwa struktur ion ini adalah
bujur sangkar. Agar sesuai dengan fakta, teori ikatan valensi menjelaskan struktur
ini seperti berikut ;

Dalam pembentukan kompleks, satu elektron diprmosikan dari 3d ke 4p.


Orang akan menerima bahwa hibridisasi dsp2 adalah sangat cukup menyediakan
energi yang diperlukan untuk promosi elektron. Akan tetapi orang tentu akan
berpendapat lain mengapa ikatan yang sama tidak dapat menyediakan energi yang
diperlukan untuk elektron tak berpasangan menjadi berpasangan seperti pada
kompleks Ni2+ yang ditemukan bersifat paramagnetik. Selanjutnya orang juga
berpendapat mengapa elektron hanya dipromosikan ke tingkat yang cukup tinggi
(4p) dan tidak lepas oleh oksidasi menjadi kompleks Cu3+. Walaupun kompleks ks
Cu3+ dikenal tetapi tidak stabil dan berfungsi sebagai oksidator kuat. Sebaliknya
spesies isoelektronik Au3+ adalah sangat stabil dan Au2+ tidak dikenal. Kemudian
pengamatan menggunakan resonansi spin elektron menunjukkan bahwa elektron
tak berpasangan tidak berada pada orbital 4p.
Selain hal tersebut diatas, teori ikatan valensi juga gagal mendiskusikan
bentk-bentuk tertentu seperti bentuk tetragonal, bentuk oktahedron yang telah
mengalami distorsi. Kompleks Cu2+ sebenarnya merupakan kompleks tetragonal
hasil distirsi dari oktahedron. Teori ini tidak menjelaskan hal itu. Kelemahan VBT
yang sangat fatal adalah tidak dapat menjelaskan adanya proses eksitasi elektron.
Salah satu aspek menarik pada senyawa kompleks adalah munculnya perbedaan
atau variasi warna senyawa. Sebagai contoh [Cu(NH3)4]2+ memiliki warna biru.
Tentunya warna inii merupakan hasil dari penyerapan sinar tampak ketika elektron
naik dari keadaan dasar ke tingkat energi lebih tinggi. VBT sama sekali tidak
mendiskusikan hal itu.

2. Crystal Field Theory


Teori medan kristal (crystal field theory, CFT) dikembangkan oleh Bethe
dan Van Vleck. Walaupun teori ini telah lama digunakan oleh orang-orang fisika,
baru mulai 1950 orang kimia mengetahui teori tersebut. Teori ini mengasumsikan
bahwa interaksi antara ion pusat dan ligan hanya merupakan interaksi elektrostatik
(ionik). Ion atau atom pusat dipandang sebagai partikel bermuatan positif,
sedangkan ligan sebagai partikel bermuatan negatif, karena pada umumnya ligan
bermuatan negatif atau molekul polar. Karena keterlibatan orbital d ion logam
sangat besar, hubungan geometri kelima orbital d perlu diketahui lebih dahulu
untuk mengetahui secara jelas mengenai interaksi yang mungkin terjadi. Geometri
kelima orbital tersebut dapat dilihat dalam gambar
Lima orbital d
Kelima orbital d ion bebas dalam keadaan gas berada pada kondisi
terdegenerasi (pada tingkat energi sama). Jika ada medn simetri muatan negatif
disekitar ion logam itu, semua tingkat orbital akan meningkat akibat hasil tolakan
antara medan negatif dengan elektron-elektron pada orbital d, tetapi tingkat energi
kelima orbital itu masih tetap sama (terdegeneret).
Jika medan hasil pengaruh ligan seswungguhnya (apakah ligan anion atau
ligan netral), pengaruh itu tidak simetris (tidak dari segala arah) sebab ligan yang
terlibat dengan jumlah tertentu (empat atau enam). Jika liganberjumlah enam
membentuk kompleks oktahedron dan kemuadian dibayangkan bahwa keenam
ligan itu masuk sep0anjang sumbu dari sistem koordinat, yaitu dari arah z, -z, x, -
x, y dan –y (gambar 4.2) maka pada kondisi ini, ligan-ligan itu berinteraksi kuat
dengan orbital-orbital yang terletak sepanjang sumbu x, y dan z, yaitu orbital dx2-
y2 dan dz2. Akibatnya tingkat energi kedua orbital itu akan naik, sedangkan ketiga
orbital lain kurang kuat interaksinya sehingga tingkat energinya lebih rendah.
Dengan kata lain kelima orbital itu akanterbelah (split) menjadi dua kelompok,
yaitu orbital dengan tingkat energi rendah (dxy, dxz dan dyz) yang disebut dengan
orbital t2g dan orbital dengan tingkat lebih tinggi (dx2-y2 dan dz2) yang disebut
dengan orbital eg. Perbedaan tingkat energi kedua kelompok orbital itu diberi harga
sebagai 10 Dq
Set orbita d dalam medan octahedral

Pembelahan orbital d oleh medan ligan oktahedral.


Perbedaan tingkat energi ini dapat besar atau kecil bergantung beberapa
faktor, tetapi semua itu didefinisikan sebagai 10 Dq. Pendekatan ligan ke ion logam
dapat dipandang melalui dua tahap. Tahap pertama; ligan mendekat menghasilkan
medan simetri (keseluruh arah) sehingga dihasilkan kenaikan tingkat energi kelima
orbital d (disebut orbital terdegenerasi hipotesis). Kedua; pendekatan ligan dari arah
tertentu (bentuk oktahedron) sehingga pembelahan orbital hipotesis menjadi dua
kelompok yang pusat gravitasnya tetap. Dengan demikian tidak ada perubahan
energi rata-rata dari orbital d secara keseluruhan. Dengan demikian tingkat energi
orbital eg sebesar 6 Dq lebih tinggi dari pusat gravitas dan orbital t2g sebesar 4 Dq
lebih rendah dari pusat gravitas.
 Pengukuran 10 Dq
Dalam mengukur besarnya energi 10 Dq digunakan contoh ion kompleks
[Ti(H2O)6]3+. Ion Ti3+ memiliki satu elektron pada orbital d atau konfigurasinya d1.
Elektron itu tentu saja akan menempati orbital d terendah. Dalam hal kompleks
oktahedral akan menempati orbital t2g. Larutan kompleks Ti3+ berwarna violet
sebagai hasil penyerapan foton untuk mengeksitasi elektron t2g1 eg0 t2g0 eg1.
Penyerapan maksimum ReF6 (juga sistem d1) = 32.500 cm-1 atau 92,9 kkal/mole
untuk harga 10 Dq. Besarnya harga 10 Dq dapat digunakan sebagai salah satu
ukuran untuk mempertimbangkan tentang stabilitas kompleks. Sistem d1
merupakan transisi yang sangat sederhana untuk menunjukkan transisi elektron dari
t2g1 eg0. Untuk sistem dn interaksi antar elektron harus dipertimbanggkan sehingga
transisi menjadi lebih rumit.


 Energi Stabilisasi Medan Kristal
Perbedan energi antara orbital t2g dan eg didefinisikan sebagai 10 Dq dan tingkat
energi t2g adalah -4 Dq relatif terhadap pusat gravitas atau pusat
tingkat energi orbital terdegenerasi hipotesis. Dalam hal sistem d1 energi stabilisasi
medan kristal (crystal field stabilization energy, CFSE) sama dengan -4 Dq dan
untuk sistem d2, CFSE = -8 Dq serta untuk d3 -12 Dq. Dalam pengisian elektron
aturan Hund tetap berlaku. Elektron tetap tidak membentuk pasangan lebih dahulu
apabila masih ada orbital lain yang tingkat energinya sama belum terisi elektron.
Dalam hal d4 ada dua kemungkinan konfigurasi, elektron keempat dapat memasuki
orbital eg atau orbital t2g dengan membentuk pasangan. Jika elektron menempati
orbital eg, maka pada kondisi ini dinamakan medn lemah atau spin tinggi.
Kompleksnya dinamakan kompleks medan lemah atau kompleks spin tinggi.
Kondisi itu terjadi apabila harga 10 Dq sedemikian kecil sehingga energi yang
diperlukan untuk membentuk pasangan elektron dalam satu orbital (P) lebih besar
daripada harga 10 Dq (P > 10 Dq). Karena elektron keempat menempati orbital eg
maka harga CFSE menjadi;
Sistem d4 untuk kompleks medan lemah memiliki konfigurasi elektron t2g3
eg1. Untuk sistem d5 elektron kelima akan masuk ke orbital eg sehingga konfigurasi
elektron menjadi t2g3 eg2 dan CFSE = 0. Dengan cara yang sama untuk sistem d6-
d10 dengan mudah dapat diperoleh. Jika pembelahan orbital d sedemikian besar
sehingga melebihi energi untuk pembentukan pasangan (10Dq > P), elektron
keempat cenderung menempati orbital t2g. Kondisi semacam ini dinamakan medan
kuat dan kompleksnya disebut sebagai kompleks medan kuat atau kompleks spin
rendah. Harga CFSE untuk sistem d4 sama dengan -16Dq + P, untuk sistem d5 -
20Dq + 2P dan untuk d6 -24Dq + 3P. besarnya harga CFSE untuk setiap sistem pada
medan lemah dan kuat dapat secara lengkap dilihat dalam tabel
Harga 10 Dq untuk kompleks oktahedral ligan kuat dan lemah
Medan Lemah Medan Kuat
n n
d Konfigur Elektron CFSE d Konfigur Elektron CFSE
asi tak psg asi tak psg
d1 t2g 1
1 -4 Dq d1 t2g 1
1 -4 Dq
d2 t2g2 2 -8 Dq d2 t2g2 2 -8 Dq
d3 t2g3 3 -12 Dq d3 t2g3 3 -12 Dq
3 1 4
d4 t2g eg 4 -6 Dq d4 t2g 2 -16 Dq+p
d5 t2g3 eg2 5 0 Dq d5 t2g5 1 -20 Dq+2p
d6 t2g4 eg2 4 -4 Dq+ p d6 t2g6 0 -24 Dq+3 p
7 5 2
d t2g eg 3 -8 Dq+2p d7 6 1
t2g eg 1 -18 Dq+3p
d8 t2g6 eg2 2 -12 Dq+3p d8 t2g6 eg2 2 -12 Dq+3p
6 3 6 3
d9 t2g eg 1 -6 Dq+4p d9 t2g eg 1 -6 Dq+4p
d10 t2g6 eg4 0 0 Dq+5p d10 t2g6 eg4 0 0 Dq+5p
Dalam tabel ini interaksi konfigurasi atau pengaruh elektron-elektron telah
diabaikan.
Dengan demikian teori medan kristal menjelaskan perbedaan sifat kemagnetan
antara kompleks [Co(NH3)6]3+ dan [CoF6]3- adalah sebagai berikut;
Kompleks [CoF6]3- bersifat paramagnetik karena harga 10 Dq lebih kecil
daripada harga P sehingga elektron cenderung tidak berpasangan sebelum orbital
eg terisi elektron sehingga kompleks itu disebut kompleks medan lemah dan ligan
yang menyebabkan terbentuknya kompleks medan lemah disebut sebagai ligan
medan lemah atau ligan lemah. Sedangkan kompleks [Co(NH3)6]3+ bersifat
diamagnetik karena 10 Dq lebih besar daripada P sehingga elektron cenderung
membentuk pasangan daripada menempati eg yang begitu tinggi tingkatannya.
Akibatnya keenam elektron menempati orbital t2g dan semua berpasangan.
Karena ligan ammonia dapat membentuk kompleks medan kuat, maka ammonia
disebut ligan kuat terhadap ion logam Co3+.
Energi Pasangan Elektron. Energi ini diperlukan apabila dua elektron
membentuk pasangan. Perbedaan energi antara konfigurasi spin rendah dan spin
tinggi disebabkan oleh dua hal. Pertama adalah tolakan elektron yang harus diatasi
ketika dua elektron ditempatkan dalam satu orbital (Pcoul). Kedua adalah adanya
energi perpindahan spin elektron (Peks), yaitu energi yang diperlukan untuk
mengubah spin dari paralel menjadi antiparalel. Harga-harga energi pasangan dari
beberapa ion logam 3d dapat dilihat dalam tabel.
Ion Pcoul Peks PT
4
d Cr+2 5,950 14,475 20,425
+3
Mn 7,350 17,865 25,215
d5 Cr+2 5,625 12,062 17,687
Mn+3 7,610 16,215 23,825
Fe+3 10,050 19,825 29,875
d6 Mn+ 6,145 8,418 14,563
Fe+2 7,460 11,690 19,150
Co+3 9,450 14,175 23,625
d7 Fe+ 7,350 10,330 17,680
Co+2 8,400 12,400 20,800
 Medan Kristal Tetrahedral
Dua geometri untuk kompleks koordinat-4 adalah tetrahedral dan
bujursangkar. Koordinasi tetrahedral dapat didekati sebagai koordinasi
tabung/kubus. Ditinjau 8 ligan mendekati atom logam pusat dan setiap sudut
kubus (gambar 4.6). dalam keadaan ini logam mendekat tidak berhadapan
langsung dengan arah orbital d atom logam. Walaupun demikian ligan itu lebih
dekat dengan orbital t2g daripada eg dalam medan oktahedral. Oleh karena itu
tingkat energi orbital t2g akan naik dan orbitaleg turun. Selanjutnya karena pusat
gravitas tetap sama, orbital t2g 4 Dq diatas pusat gravitas dan eg 6 Dq dibawah
pusat gravitas. Jadi pembelahan orbital pada koordinasi kubus yang terdiri atas 8
ligan akan merupakan kebalikan dari octahedral

Orbital d dalam medan kubus


Jika empat ligan kosong (gambar 4.6) dihilangkan maka tinggal 4 ligan lain
yang berbentuk tetrahedral. Posisi tingkat energi orbital tetap sama tetapi besarnya
akan berkurang menjadi separohnya karena perbedaan tingkat energi tidak besar
maka dalam kompleks tetrahedral hanya dikenal medan lemah dan konfigurasi
elektron dan besar CFSE akan menjadi sederhana. Energi pasangan tidak pernah
lebih besar daripada 10 Dq sehingga tidak akan membentuk pasangan terlebih
dahulu sebelum semua orbital terisi. Sistem d4, sebagai contoh; mempunyai
konfigurasi elektron eg2 t2g2 dengan CFSE -4 Dq. Akibat lain adalah harga CFSE
tidak pernah mencapai -16 Dq samapai -24 Dq.
Pembelahan orbital d dalam medan tetrahedral
 Faktor yang mempengaruhi harga 10 Dq
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besarnya pembelahan
orbital d oleh ligan. Beberapa haraga 10 Dq kompleks akuo dari kation transisi
pertama seperti dalam tabel
Data teori medan kristal untuk ion logam transisi pertama dalam kompleks
aquo
[Link] [Link] [Link] Dq(cm-1) Stabilisasi
dn Ion ion Medan Medan (kkal/mol)
bebas Okt. Tetr. Okt. Tetr Okt. Tetr
1 Ti3+ 2
D t2g1 eg1 2030 900 23,1 15,4
3 2 2
2 V3+ F t2g eg 1800 840 41,5 28,7
4 3 2 1
3 V2+ F t2g eg t2g 1180 520 40,2 8,7
Cr 3+ 4F t2g 3 2
eg t2g 1 1760 780 60,0 13,3
4 Cr2+ 5
D t2g3 eg1 eg2 t2g2 1400 620 24,0 7,0
Mn 3+ 5D
3
t2g eg 1 2
eg t2g 2 2100 930 35,9 10,6
3 2 2 3
5 Mn2+ 6S t2g eg eg t2g 750 330 0 0
3
t2g eg 2 2
eg t2g 3 1400 620 0 0
Fe3+ 6S

6 Fe2+ 5D t2g4 eg2 eg3 t2g3 1000 440 11,4 7,5


Co3+ 3D t2g6 eg3 t2g3 780 45,0 26
5 2 4 3
7 Co2+ 4F t2g eg eg t2g 1000 440 17,1 15,0
2+ 6 2 4 4
8 Ni 3F t2g eg eg t2g 860 380 29,3 6,5
9 Cu 2+ 2D
6
t2g eg 3 4
eg t2g 5 1300 580 22,2 6,6
10 Zn2+ 1
S t2g6 eg4 eg4 t2g3 0 0 0 0
Dari tabel diatas terlihat bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi harga
10 Dq. Pertama adalah muatan ion logam. Makin banyak muatan ion, makin besar
pula harga 10 Dq-nya. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan model medan
kristal elektrostatik. Semakin besr muatan ion logam akan semakin besar pula
kemampuannya untuk menarik ligan lebih dekat. Akibatnya pengaruh ligan
semakin kuat sehingga pembelahan orbital semakin besar. Secara teoritis perubahan
muatan dari +2 menjadi +3 akan menghasilkan kenaikan harga 10 Dq sebesar 50%.
Pembelahan medan oktahedral lebih kuat dua kalinya jika dibandingkan medan
tetrahedral. Hal ini dapat diterangkan dengan menggunakan dua faktor, yaitu hanya
empat ligan yang mempengaruhi tetrahedral, sedangkan ada enam ligan yang
mempengaruhi oktahedral. Akibatnya 10 Dq tetrahedral kira-kira 33% akan lebih
rendah. Kemudian dalam kompleks tetrahedral pengaruh ligan kurang efektif
karena posisi ligan tidak berhadapan langsung dengan orbital d sedangkan dalam
kompleks oktahedral pengaruh ligan maksimum terhadap orbital eg dan minimum
terhadap orbital t2g
Jenis ion pusat ternyata juga mempengaruhi harga 10 Dq. Logam-logam
yang terletak dalam satu periode pada sistem periodik memang tidak begitu
berbeda harga 10 Dq-nya. Tetapi bila dibandingkan logam-logam yang terletak
dalam satu golongan, logam-logam yang memiliki orbital 5d lebih kuat daripada
4d dan 3d. Faktor kedua adalah sifat ligan. Harga 10 Dq kompleks ion Cr dengan
beberapa ligan dapat dilihat dalam gambar berikut.

Dari gambar ini tampak bahwa ada peningkatan harga 10 Dq untuk ligan dengan
atom berurutan Cl S O N C. lebih lengkap daftar ligan-ligan dengan ukuran
kekuatan ligan dapat dilihat pada tabel. Meskipun tidak dapat dibandingkan
dengan membuat kompleks dengan satu jenis ion logam. Urutan kekuatan medan
ligan dapat dinyatakan sebagai berikut;
I- < Br- < S2- < SCN- < Cl- < NO3- < F- < OH- < C2O42- < H2O < NCS- < CH3CN
< en < dpy < phen < NO2- < fos < CN- < CO.
Urutan kekuatan medan ligan diatas nampaknya sulit diterangkan pada
suatu anggapan bahwa kompleks terbentuk karena interaksi ionik atau dipol saja.
Hal ini dapat diambil contoh bahwa andaikan kompleks terbentuk karena interaksi
ionik maka diharapkan ligan-ligan ammonia akan merupakan ligan medan kuat,
tetapi justru sebaliknya. Ligan OH- terletak dibawah H2O lebih besar (NH3 = 1,47
D, H2O = 1,85 D). Dengan demikian beberapa hal tersebut akan melemahkan teori
yang menganggap bahwa interaksi ion logam dengan ligan adalah elektrostatik
murni.

Kompleks 10 Dq Kompleks 10 Dq Kompleks 10 Dq


-3
[CrCl6] 13200 [MoCl6]-3 19200 [WCl6]-3 b
[Cr(dtp)3] 14400 [Mo(dtp)3] b [W(dtp)3] b
[CrF6]-3 15200 [MoF6]-3 b [WF6]-3 b
[Cr(H2O)6]+3 17400 [Mo(H2O)6]+3 b [W(H2O)6]+3 b
+3
[Cr(NH3)6] 21600 [Mo(NH3)6]+3 b [W(NH3)6]+3 b
+3
[Cr(en)3] 21900 [Mo(en)3]+3 b [W(en)3]+3 b
[CrCl6]-3 b [RhCl6]-3 20300 [IrCl6]-3 25000
[Co(dpt)3] 14200 [Rh(dpt)3] 22000 [Ir(dpt)3] 26600
+3
[Co(H2O)6] 18200 [Rh(H2O)6]+3 27000 [Ir(H2O)6]+3 b
[Co(NH3)6]+3 22900 [Rh(NH3)6]+3 34100 [Ir(NH3)6]+3 41000
+3
[Co(en)4] 23200 [Rh(en)4]+3 34600 [Ir(en)4]+3 41400
-3
[Co(CN)6] 33500 [Rh(CN)6]-3 45500 [Ir(CN)6]-3 b
Keterangan: a Singkatan dtp = dietilditiofosfat en = etilendiamin
Koordinasi tetrahedral dan Oktahedral. Tiga jenis kompleks telah diketahui,
yaitu oktahedral spin tinggi, spin rendah dan tetrahedral spin tinggi. Untuk logam-
logam transisi deret pertama, sejumlah kompleks dengan tipe geometrinya telah
dikenal. Berikut akan diuraikan beberapa faktor yang mempengaruhi jenis
kompleks sehingga cenderung membentuk oktahedral atau tetrahedral.
Berdasarkan penjelasan elektrostatik murni, koordinasi oktahedral lebih
cenderung daripada tetrahedral, tetapi jika dikaitkan dengan adanya tolakan antar
ligan koordinasi oktahedral kurang stabil. Pembentukan empat ikatan tetrahedral
lebih mudah terjadi daripada oktahedral, terutama untuk ligan-ligan besar. Hal ini
akan mirip dengan pemilihan bilangan koordinasi dalam kristal ionik yang
didasarkan pada perbandimgan jari-jari kation dan [Link] tetrahedral
selalu spin tinggi sehingga harga CFSE biasanya rendah, kecuali logam sistem d 7
yang memiliki harga -12 Dq. Lain halnya dengan koordinasi oktahedral yang
distabilkan oleh besarnya harga CFSE.
 Distorsi Tetragonal dari Oktahedral
Jika dua ligan trans dalam kompleks oktahedral (misalnya, sepanjang
sumbu z) menjauhi atau mendekati ion logam, maka kompleks mengalami
distorsi secara tetragonal. Biasanya beberapa distorsi sulit terjadi karena akan
kehilangan energi ikat. Walaupun pada kondisi tertentu memungkinkan terjadinya
suatu distorsi. Gambar ) yang menyajikan ligan-ligan pada sumbu z ditarik keluar
menjauhi ion pusat. Akibatnya interaksi ligan-ligan itu dengan orbital yang
memiliki komponen sumbu z, dz2, dxz dan dyz sehingga tingkat energi orbital-
orbital itu menjadi turun. Sebaliknya orbital yang tidak mengandung komponen
sumbu z, yaitu dx2-y2 dan dxy meningkat. Sedangkan jika ligan sumbu z mendekati
ion pusat, orbital-orbital yang mengandung komponen sumbu z akan naik dan yang
tidak mengandung komponen sumbu z turun tingkat energinya Salah satu kondisi
yang menyebabkan terjadinya distorsi adalah adanya efek Jahn Teller. Teorema
Jahn Teller mengatakan bahwa untuk sistem non-linier, yaitu sistem dimana orbital-
orbital yang berada dalam keadaan terdegenerasi terdistriibusi elektron secara tidak
merata, distorsi pasti terjadi dan menjadikan sistem kurang simetri serta orbitalnya
tidak terdegenerasi dan energinya turun.
Kompleks [Ti(H2O)6]3+, merupakan satu contoh sistem non linier karena
satu elektron ion logam ditempatkan dalam orbital t2g yang tersusun oleh tiga
orbital terdegenerate (sistem non linier). Berdasarkan teori Jahn Teller kompleks
itu harus mengalami distorsi. Sayangnya teori itu tidak meramalkan jenis
distorsicmana yang akan terjadi, apakah keluar (z-out) atau masuk (z-in). untuk
memahami jenis distorsi yang terjadi dapat digunakan suatu asumsi bahwa elektron
akan menempati tingkat energi yang lebih rendah agar memperoleh stabilitas
tambahan. Berdasarkan hal ini mudah dipahami bahwa jika elektron pada kompleks
Ti3+ menempati orbital dx2-y2 atau ligan sumbu z mendekati ion logam akan
memiliki stabilitas lebih tinggi daripada jika ligan sumbu z menjauhi ion logam.
Harga CFSE akan 2/3 lebih besar daripada jika tidak terjadi distorsi dan 1/3 lebih
besar daripada jika mengalami distorsi ligan sumbu z menjauhi ion pusat. Adanya
distorsi pada kompleks ini ditunjukkan oleh adanya dua spektrum hasil eksitasi t2g1
eg0 t2g0 eg1

Tingkat energi orbital d dalam [Ti(H2O)6]3+


Distorsi yang terjadi pada kompleks [CoF6]3- ditunjukkan oleh adanya dua puncak
pada spektra serapan kompleks tersebut. Penjelasan lain tentang terjadinya efek
Jahn Teller adalah kompleks logam Cu(II). Ion Cu2+ memiliki konfigurasi elektron
d9 sehingga elektron ke-9 pasti memasuki orbital dx2-y2 atau dz2. Sistem d9 dapat
dianggap sebagai sistem d10 dengan ada lobang yang berkelakukan seperi elektron.
Tempat kosong itu akan selalu berada pada orbital yang tertinggi sehingga harus
terjadi distorsi. Dalam hal Cu(II) jenis distorsi mana yang terjadi, apakah z-out atau
z-in sulit diterangkan menggunakan teori stabilisasi berdasarkan energi.
Spektra serapan K3CoF6
Suatu kenyataan bahwa tolakan antara elektron ion logam dengan elektron
ligan cenderung sekecil mungkin. Oleh karena itu jika orbital kosong itu dx2-y2,
tolakan akan berkurang (karena sumbu x dan y didekati oleh 4 ligan). Distorsi
sistem d9 dapat juga dipandang kebalikan dengan sistem d1 karena dalam sistem d9
hanya memerlukan satu elektron untuk mencapai keadaan penuh sedangkan dalam
sistem d1 hanya ada satu tempat terisi elektron. Dengan kata lain distorsi yang
terjadi dalam sistem d9 adalah ligan z menjauhi ion logam (z-out). Diagram tingkat
orbital dalam sistem d9 terlihat dalam gambar. Walaupun distorsi dapat diterangkan
secara teoritis, hasil eksperimen merupakan bukti nyata bahwa distorsi sungguh-
sungguh terjadi. Dari eksperimen diperoleh data bahwa kompleks Cu(II), distorsi
yang terjadi adalah pemanjangan ligan pada sumbu z. tabel 4.6 menyajikan
beberapa contoh yang didapatkan dalam kristal Cu2+ yang dikelilingi oleh enam
anion yang mendekati bentuk oktahedral.
Diagram tingkat orbital d9 pada distorsi tetragonal yang merupakan
kebalikan dengan d1

Jarak antara ligan dengan logam dalam senyawa Cu(II)


Degegenerasi orbital hanya akan terjadi apabila eg dan t2g terisi elektron setengah
penu atau penuh. Dengan demikian medan lemah, d4 dan d9, kemudian medan kuat
d7 dan d9 menunjukkan efek jahn Teller terbesar. Logam Cu(II) merupakan salah
satu contoh baik dari sistem d9 yang mengalami distorsi Jahn Teller. Hanya sedikit
data yang diperoleh untuk menunjukkan distorsi spin tinggi d4 dan spin rendah d7.
Logam Cr(II) dan Mn(III) adalah logam sistem d4 yang keduanya telah terbukti
secara eksperimen mengalami distorsi dalam beberapa senyawa .
Jarak antara ligan dengan logam dalam senyawa Cr(II) dan Mn(II)

Senyawa Jarak pendek rCu Jarak panjang rCu


CrF2 4F at 2,00 1,29 2F at 2,43 1,72
KCrF3 2F at 2,00 1,29 4F at 2,14 1,43
MnF3 2F at 1,79 1,08 4F at 1,91 1,20
2F at 2,09 1,38
-MnO(OH) 4O at 1,88 1,15 2O at 2,30 1,57
Ligan kelat ternyata juga dapat mempengaruhi terhadap efek Jahn Teller dalam
senyawa kompleks. Cincin kelat cenderung menahan agar kompleks tidak
mengalami distorsi dari bentuk oktahedral ke tetragonal karena kelat memiliki jarak
tertentu terhadap ion logam. Sebuah contoh pertentangan antara stabilisasi dari efek
Jahn Teller dan bentuka kelat tertentu diperoleh dalam kompleks etilendiamin dari
logam Cu(II). Hampir setiap logam transisi divalen membentuk kompleks dengan
etilendiamin (en) dinyatakan dalam persamaan reaksi ini.

Harga tetapan stabilitas, k1, k2 dan k3, merupakan ukuran kecederunganen untuk
menggantikan kedudukan dua, empat dan enam molekul air sehingga terbentuk
kompleks mono, bis dan tris en. Harga-harga itu dapat dilihat dalam gambar
berikut
Harga tetapan stabilitas bertahap, K1, K2 dan K3 dari kompleks etilendiamin
dalam pelarut air pada 25 C
Gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa harga k1, k2 dan k3 dari ion
logam Mn2+ sampai Cu2+ mengalami kenaikan secara teratur. Tetapi ada
pengecualian yang sangat menyolok yaitu harga k3 dari logam [Cu(en)3]2+.
Pengecualaian itu menunjukkan bahwa kompleks [Cu(en)3]2+ tidak satbil. Hal ini
dapat dijelaskan dengan adanya distorsi ion Cu2+, yaitu sistem d9. Kompleks bin
(en), [Cu(en)2]2+ terjadi distorsi dengan dua molekul air pada posisi trans menjauhi
ion Cu2+ dan dua cincin en relatif tidak dapat berubah. Tetapi untuk kompleks tris
(en), [Cu(en)3]2+, cincin kelat menekan agar tidak terjadi distorsi tetragonal,
sedangkan ion Cu2+ cenderung mengalami distorsi. Dengan kata lain, proses
penekanan sistem cincin kelat dapat menahan terjadinya distorsi tetragonal atau
bentuk oktahedral tidak mengalami distorsi, tetapi akibatnya stabilitas kompleks
akan berkurang karena adanya distorsi Jahn Teller.
Contoh menarik lain yang menunjukkan proses distorsi dalam kompleks Cu(II)
adalah adanya perbedaan spektra [Cu(acac)2] dalam berbagai solven, yang
dikemukakan oleh Brelford dan teman-temannya. Mereka mempelajari tembaga
asetilasetonat yang memunyai koordinat bujursangkar karena akibat distorsi
tetragonal yang sangat ekstrim. Dalam solven bersifat basa seperti ether, alkohol
dan amin, dua molekul solven terkoordinasi sepanjang sumbu z.

Molekul solven mempengaruhi medan komponen-z yang kekuatannya


sebanding dengan posisinya dalam deret spektrokimia. Solven seperti kloroform
mempengaruhi komponen-z sangat sedikit atau mungkin sama sekali tidak karena
sifat kebasaannya sangat lemah. Tetapi sebaliknya solven seperti amin bersifat
sangat basa sehingga dapat terkoordinasi cukup kuat. Adanya solven yang
terkoordinasi sangat kuat mengakibatkan terjadi tolakan yang kuat antara dua
molekul solven dengan dua elektron dalam orbital dz2. Dengan demikian ligan
dapat memaksa tolakan itu mengakibatkan tingkat energi orbital dz2 meningkat dan
mendekati tingkat orbital dx2-y2. Dengan kata lain prose3ss distorsi tetragonal
diperkecil. Ada tiga transisi elektron yang mungkin dalam kompleks tetragonal

Frekuensi transisi ini akan bergantung pada medan yang dialami oleh orbital d.

Transisi Cu(acac)2 dalam tetragonal


Frekuensi v2 praktis tidak berubah pada harga 10 Dq karena dxy atau dx 2-y2 tidak
mempunyai komponen z. orbital ini tidak terpengaruh oleh perubahan ligan pada
sumbu z dan pemisahnya sesuai dengan pembelahan 10 Dq dalam kompleks
oktahedral yang mempunyai 6 ligan tertentu. Frekuensi v1 harus berkurang dan
mendekati v2 karena medan tetragonal mendekati konfigurasi oktahedral. Transisi
ketiga, v3 juga harus berkurang karena ligan z naik dan kemudian tidak nampak
dalam batas oktahedral karena dz2 dan dx2-y2 bergabung membentuk orbital eg
terdegenerasi. Spektra Ca(acac)2 untuk berbagai solven ditunjukkan dalam gambar.

Spektra Cu(acac)2 yang dilarutkan dalam berbagai solven


Dari gambar terlihat bahwa dalam solven kloroform ada dua puncak yang
berubah menuju puncak tunggal, yang mendorong ke transisi dengan energi rendah
dalam solven piperidin. Selain itu gambar tersebut dapat dipandang terdiri atas tiga
pita, pita 2, frekuensinya tetap tidak berubah (14.800-15.200 cm-1) dan merupakan
transisi v2. Pita 1 frekuensinya turun (18.800 ke 15.100 cm-1) dan mendekati v2.
Jadi frekuensi ini merupakan v1. Pita 3 turun sesuai sebagai frekuensi v3. Semua
harga percobaan ini ternyata berkaitan secara baik dngan sifat kebasaan yang
diharapkan dalam pembelahan orbital d pada medan tetragonal. Basa sangat lemah,
kloroform memberikan medan tetragonal mendekati pembelahan bujursangkar
dengan selisih tingkat energi cukup besar antara logam z dan xy. Ligan ekstrim lain
yang memiliki sifat kebasaannya tinggi adalah piperidin, C5H10NH, yang
memberikan hamper mengalami medan oktahedral. Perubahan transisi dari medan
bujursangkar murni ke arah medan oktahedral murni dapat dilihat dalam gambar .
Interpretasi semacam tersebut diatas nampaknya merupakan suatu pendorong kuat
untuk menggantikan teori ikatan valensi oleh teori medan kristal.

Perubahan transisi dari medan bujursangkar ke octahedral


 Kompleks Bujursangkar
Jika distorsi tetragonal z-keluar sedemikian kuat sehingga ligan pada sumbu
z jauh tak terhingga, kompleks bujursangkar akan diperoleh. Teori medan kristal
tidak memandang kompleks bujursangkar sebagai kompleks jenis baru, tetapi
merupakan keadaan khusus dari distorsi tetragonal ekstrim. Gambar 4.16
melukiskan hubungan antara oktahedral dan bujursangkar. Ion logam yang
memiliki konfigurasi d8 dengan ligan medan kuat cenderung membentuk kompleks
bujursangkar.
Distorsi kompleks oktahedral sampai terbentuk kompleks bujursangkar

Kombinasi ligan kuat dengan ion logam d8 akan menghasilkan kompleks


spin rendah dan orbital dengan tingkat energinya tertinggi, dx2-y2 tetap tidak terisi.
Energi untuk transisi elektron dari orbital dxy ke dx2-y2 merupakan harga 10 Dq.
Kompleks tipe bujursangkar spin rendah adalah [Ni(CN)4]2-, [Pd(Cl)4]2-,
[Pt(NH3)4]2+, [Pt(Cl)4]2- dan [Au(Cl)4]-. Semua kompleks tersebut berasal dari ion
logam sistem d8. Untuk logam transisi pertama, hanya dengan ligan medan kuat
saja seperti CN- yang dapat mempengaruhi pasangan spin untuk stabilisasi
pengaturan bujursangkar. Sebaliknya untuk logam-logam besar dapat membentuk
kompleks bujursangkar walaupun dengan ligan-ligan medan lemah, bahkan dengan
ligan halida.
Hubungan antara medan tetragonal dan medan bujursangkar dalam
kaitannya dengan pengaruh keefektifan medan ligan dapat dapat digunakan untuk
menerangkan kestabilan ion logam transisi golongan IB. untuk ion logam
tembaga(II), sebagai contoh merupakan ion sangat stabil dan seperti telah diketahui
berada dalam kompleks tetragonal. Sedangkan logam emas dikenal stabil sebagai
ion Au(I) dan Au(III). Karena Au adalah unsur 5d maka akan mengalami spliting
orbital d 80% lebih besar daripada tembaga. Kompleks Au(II) sistem d9, akan
terdisosiasi tetragonal dengan kuat dan elektron ke-9 akan menempati orbital
tertinggi, dx2-y2. Karena terlalu besarnya perbedaan tingkat energi, maka elektron
itu cenderung lepas dan terjadi proses ionisasi sehingga Au(II) berubah menjadi
campuran Au(I) dan Au(III).
Pembelahan orbital d ion Cu(II) dan Au(II)
Dengan memandang bahwa kompleks bujursangkar merupakan spin rendah, teori
ikatan valensi dan medan kristal sama-sama menempatkan delapan elektron dari
sistem d8 pada orbital dxy, dxz, dyz dan dz2. Kemudian penggunaan orbital dx2-y2
untuk keperluan berbeda. Teori ikatan valensi harus menggunakan untuk
hubridisasi dsp3, sedangkan teori medan kristal dx2-y2 tidak ditempati elektron
karena tingkat energinya sangat tinggi akibat dari pengaruh ligan. Teori medan
kristal mengenal dua jenis kompleks yaitu spi rendah dan spin tinggi. Bagaimana
jika terjadi kompleks bujursangkar spin tinggi sehingga tidak terbentuk hibridisasi
dsp3. Eksperimen menunjukkan bahwa belum pernah ditemukan kompleks
bujursangkar spin tinggi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa jika ada spliting kuat, tidak
ada kemampuan untuk mengubah kompleks oktahedral menjadi bentuk
bujursangkar
Perbandingan stabilitas medan oktahedral dan tetragonal untuk medan kuat
(kiri) dan medan lemah (kanan).
3. Molecular Orbythal Theory
Meskipun teori medan kristal telah dapat menyajikan penjelasan cukup baik
terhadap senyawa kompleks dan disertai dengan data-data eksperimen, nampaknya
ada kekeliruan yang sangat fatal, yaitu adanya anggapan bahwa pembentukan
kompleks merupakan interaksi ionik antara ligan dan ion logam. Anggapan itu
terlalu sederhana karena ada beberapa eksperimen dan alasan semiteoritis yang
dapat menjelaskan anggapan bahwa pembelahan orbital d semata-mata merupakan
hasil efek elektrostatik dan bahwa ikatan yang terjadi adalah ionik murni tanpa ada
sifat kovalen. Seperti telah diketahui bahwa interpretasi deret spektrokimia sangat
bertentangan dengan model muatan. Ligan CO sebagai contoh, merupakan ligan
medan kuat meskipun tidak bermuatan dan hanya mempunyai momen dipol sangat
kecil ( µ=0,112 D).
Berdasarkan pada teori saja, teori medan kristal sudah memiliki kelemahan.
Jika dipandang bahwa orbital merupakan fungsi gelombang maka antara orbital dari
ligan dan dari ion pusat harus ada overlap meskipun belum diketahui fungsi
gelombang untuk unsur-unsur logam berat. Overlap itu ditunjukkan oleh eksperin
bahwa jarak antara ligan dan ion pusat pada kompleks lebih pendek daripada
penjumlahan jari-jari kedua spesies sebelum membentuk kompleks. Sebelum
diuraikan secara detail mengenai interaksi antara orbital dan beberapa elektron yang
ada didalamnya, hal menarik jika dibandingkan dahulu perbedaan dasar antara teori
medan kristal yang telah panjang lebar dibicarakan dengan teori orbital molekul.
bebas dari asam Lewis (ion logam) A+ yang memiliki orbital hibrida sp dan sebuah
elektron.

Dalam ion A+ terisolasi 2 orbital sp berada dalam keadaan terdegenerat . tetapi


setelah pasangan elektron bebas mendekat kedua orbital tersebut tersplit menjadi
orbital dengan tingkat energi rendah (A2*) dan orbital dengan tingkat energi tinggi
(A1*). Interpretasi teori medan kristal sangat sederhana, yaitu pasangan 1 elektron
dalam A+ akan menempati orbital (A2*) karena tolakan oleh ligan realtif kecil.
Transisi (A2*) (A1*) dinyatakan oleh 10 Dq
Model medan kristal untuk ion [AB]+.
Teori orbital molekul menjelaskan proses tersebut agak berbeda tetapi
hasilnya mirip. Dianggap bahwa orbital A1 pada ion logam berhadapan dengan
orbital pada B dan kemudian mengalami overlap. Menurut teori orbital molekul,
jika dua orbital atom berinteraksi, maka akan dihasilkan dua orbital baru yang
merupakan kombinasi linier dari dua orbital atom itu, yaitu orbital bonding (ikatan)
dan orbital anti-ikatan (antibonding). Kedua orbital itu mempunyai fungsi
gelombang;

Orbital A2 tidak mengalami overlap sehingga energi tidak berubah dan menjadi
orbital non-bonding. Ketiga elektron akan menempati orbital-orbital yang tingkat
energinya rendah

Model teori orbital molekul untuk ion [AB]+, untuk kovalen murni
Bibliograph (MIESSLER & TARR )y
Huheey , J. E., Keiter , E. A., & Keiter , R. L. (1993). Inorganic Chemistry Principle (Fourth
Edition ed.). HarperCollinsCollegePublishers.
MAJID , A. (2011). KIMIA KOORDINASI.
MIESSLER , G. L., & TARR , D. A. (n.d.). Inorganic Chemistrv (Third Edition ed.). St. Olaf
College Northfield, Minnesota .

Anda mungkin juga menyukai