Wijayakusuma (bunga)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Wijayakusuma
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
(tanpa
Angiospermae
takson):
(tanpa
Eudikotil
takson):
(tanpa
Core Eudikotil
takson):
Ordo: Caryophyllales
Famili: Cactaceae
Subfamili: Cactoideae
Bangsa: Hylocereeae
Genus: Epiphyllum
Spesies: E. oxypetalum
Nama binomial
Epiphyllum oxypetalum
(DC.) Haw
Sinonim
Cactus oxypetalus Moc. &
Sessé ex DC. Cereus latifrons
Zucc. Cereus oxypetalus DC.
Epiphyllum acuminatum
[Link]. Epiphyllum grande
(Lem.) Britton & Rose
Epiphyllum latifrons (Zucc.)
Pfeiff. Epiphyllum purpusii
(Weing.) [Link]
Phyllocactus acuminatus (K.
Schum.) K. Schum.
Phyllocactus grandis Lem.
Phyllocactus latifrons (Zucc.)
Link ex Walp. Phyllocactus
oxypetalus (DC.) Link
Phyllocactus purpusii Weing.
Bunga Wijayakusuma atau disebut juga Bunga Wiku (Epiphyllum oxypetalum) termasuk
jenis tanaman kaktus yang mempunyai kelas dicotiledoneae.[1] Tanaman ini berasal dari
Kabupaten Cilacap (Amerika tropika (Venezuela dan Caribia)) dan dapat hidup pada daerah
dengan iklim sedang sampai beriklim tropis.[1] Meskipun begitu, tidak semua jenis tanaman
ini bisa berbunga karena hal ini dipengaruhi oleh keadaan iklim, kesuburan tanah juga cara
pemeliharaan.[1] Bunga Wijayakusuma hanya merekah dalam semalam, kecuali yang jenis
hibrida bisa bertahan 2-3 hari.[1] Pada umumnya tanaman jenis kaktus agak sulit ditentukan
morfologinya, berbeda halnya dengan wijayakusuma.[1] Tanaman ini mudah diidentifikasi
setelah berusia tua, kita dapat melihat mana daunnya, mana batangnya, dan bagian-bagian
yang lain.[1] Kenop bunga ini mulai terbuka setelah matahari terbenam, dan mekar sempurna
mulai pukul 22:00 wib.[2]
Daftar isi
1 Etimologi
2 Bentuk Tanaman
3 Khasiat Tanaman
4 Mitologi
5 Dalam Kesenian
6 Referensi
Etimologi
Wijayakusuma berasal dari dua kata, yakni wijaya dan kusuma. Dalam bahasa Jawa Kuno,
wijaya berarti kemenangan/keberhasilan dan kusuma berarti bunga.[3]
Bentuk Tanaman
Bentuk bunga Wijayakusuma yang sedang mekar.
Batangnya terbentuk dari helaian daun yang mengeras dan mengecil yang mana bentuk
batang induknya adalah silinder.[1][4] Tinggi batang dapat mencapai 2-3 meter, sedang
daunnya berkisar 13–15 cm.[4] Helaian daunnya sendiri berbentuk pipih serta berwarna hijau
dengan permukaan daun halus tanpa duri tidak seperti kaktus-kaktus yang lain.[1] Kemudian
setiap tepian daunnya terdapat lekukan-lekukan yang biasanya ditumbuhi tunas daun maupun
bunga.[1]
Adapun diameter bunganya adalah 10 cm, berwarna putih dan hanya mekar di malam hari.[4]
Bentuk buahnya bulat yang mempunyai warna merah dan mempunyai biji yang berwarna
hitam.[4] Pembiakkan biasanya dilakukan dengan penyetekkan ataupun biji.[4]
Khasiat Tanaman
Bunga wijayakusuma mempunyai khasiat untuk meredam rasa sakit serta menetralisir
pembekuan darah.[1] Bunga ini juga mempunyai daya mempercepat penyembuhan luka
abses.[1] Caranya mudah, tinggal menumbuk satu helai daun wijayakusuma lalu oleskan pada
luka dan setelah itu gunakan perban untuk membungkus luka yang telah diolesi tumbukan
daun.[1] Selain itu, bunga ini juga dapat mengobati bisul, cukup menempelkan bunganya pada
bisul tersebut sebelum tidur dan melakukannya secara teratur.[5] Selain itu, Wijayakusuma
bisa digunakan sebagai obat anti radang, obat batuk, juga pendarahan (hemostatis).[4] Khasiat
lainnya adalah mengatasi tuberkulosis paru dengan batuk asma, batuk darah dan muntah
darah.[6]
Mitologi
Dalam mitologi Jawa, tumbuhan ini dianggap pohon sakti dan dapat menghidupkan orang
mati.[7] Kalangan masyarakat Yogyakarta dan Surakarta, khususnya keraton, percaya bahwa
seorang raja yang akan naik tahta haruslah memiliki bunga wijayakusuma sebagai syarat.[8]
Bunga ini juga dipercaya sebagai pusaka keraton Dwarawati titisan Wisnu sang pelestari
Alam, Batara Kresna.[8]
Dalam Kesenian
Karena peranannya yang cukup signifikan dalam kebudayaan Jawa, bunga wijayakusuma
menginspirasi banyak kesenian rupa, khususnya berkaitan dengan ornamen atau ragam hias.
Ragam hias berbentuk kuncup bunga wijayakusuma seringkali dipakai untuk menghiasi
pagar-pagar di Jawa, seperti kantor pemerintahan, Keraton, sekolah dll. Selain itu, terdapat
batik bermotif bunga wijayakusuma, yang diangkat sebagai batik khas dari Cilacap.[9]
Ujung-ujung gerbang yang dihiasi dengan ragam hias wijayakusuma.
Referensi
1. ^ a b c d e f g h i j k l A.N., Thomas (1989).Tanaman Obat
[Link]:Penerbit Kanisius. Hal 20-21 Cet 23
2. ^ "Buku Wijaya Kusuma". [Link]. Diakses tanggal 2019-03-25.
3. ^ P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson. Kamus Jawa Kuno Indonesia. (2011:1433)
4. ^ a b c d e f Dalimartha, Setiawan (2007).Atlas Tumbuhan Obat
[Link]:Puspa Swara. Hal 182 Cet IV
5. ^ G.W., Riyanti (2007).Muslimah Cerdas dan [Link]:Qultum Media. Hal 73
Cet 1
6. ^ Hariana, [Link] Obat dan [Link]:Penebar Swadaya. Hal 162
7. ^ "Hasil Pencarian - KBBI Daring". [Link]. Diakses tanggal 2018-10-
14.
8. ^ a b Bangunjiwa, Ki Juru (200).Belajar Spiritual bersama The Thinking
[Link]:Jogja Bangkit Publisher. Hal 95-96 Cet 1
9. ^ "Motif Wijaya Kusuma Jadi Icon Batik Khas Cilacap". Informasi Batik Indonesia.
2018-02-13. Diakses tanggal 2018-10-14.
Pranala luar
Sastra Jawa: Serat Centhini yang mengisahkan sejarah Mataram, khususnya suatu
sejarah tempat -- yang dilihat dari Ujung Alang, Gunung Ciwiring oleh Mas Cebolang
dan para santrinya dan Ajar Naradhi -- bernama Pulo Bandhung dengan mitologi
Kresna yang melabuhkan bunga Wijayakusuma yang selanjutnya menjadi sebuah
pulau -- sesuai dengan gambaran posisinya dan kisahnya di dalam teks tersebut,
kemungkinan tempat tersebut sekarang dikenal sebagai pulau Nusakambangan--
[Link]
kamajaya-1986-1988-92-761-jilid-021-.
Kategori:
Spesies berisiko rendah
Menu navigasi
Belum masuk log
Pembicaraan
Kontribusi
Buat akun baru
Masuk log
Halaman
Pembicaraan
Baca
Sunting
Sunting sumber
Versi terdahulu
Lainnya
Pencarian
Halaman Utama
Perubahan terbaru
Peristiwa terkini
Halaman baru
Halaman sembarang
Komunitas
Warung Kopi
Portal komunitas
Bantuan
Wikipedia
Tentang Wikipedia
Pancapilar
Kebijakan
Menyumbang
Hubungi kami
Bak pasir
Bagikan
Facebook
Twitter
Dalam proyek lain
Wikimedia Commons
Wikispecies
Cetak/ekspor
Buat buku
Unduh versi PDF
Versi cetak
Perkakas
Pranala balik
Perubahan terkait
Halaman istimewa
Pranala permanen
Informasi halaman
Item di Wikidata
Kutip halaman ini
Pranala menurut ID
Bahasa lain
Deutsch
English
Español
Jawa
Bahasa Melayu
Sunda
Svenska
Tiếng Việt
中文
Sunting interwiki
Halaman ini terakhir diubah pada 27 Oktober 2019, pukul 06.56.
Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Co