Daftar isi
Daftar Isi ..........................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah......................................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................3
2.1 Arti zaman Aufklarung ........................................................................3
2.2 Penyebab terjadinya zaman Aufklarung..............................................4
2.3 Perkembangan zaman Afklarung.........................................................5
2.4 Dampak terjadinya zaman Aufklarung................................................9
BAB III PENUTUP .......................................................................................11
3.1 Kesimpulan ..........................................................................................11
Daftar Pustaka
i
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Zaman Aufklarung (Aufklärung) merupakan istilah yang digunakaan untuk
menggambarkan aliran utama pemikiran Abad ke-18 di Eropa dan Amerika. Pada
Zaman Aufklarung, pendekatan berdasarkan rasio dan ilmu pengetahuan terhadap
agama, sosial, ekonomi, dan politik menjadi tren di masyarakat, sehingga hal ini
menghasilkan sebuah pandangan yang bersifat duniawi atau sekular dan juga
membangun opini umum tentang kemajuan dan kesempurnaan di berbagai bidang.
Semuaini tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan
intelektual pada Abad ke-17 yang sangat menjunjung tinggi prinsip universal dan
kepercayaan terhadap hukum alam, dimana perkembangan itu pun menumbuhkan rasa
kepercayaan akan akal manusia.
Pengaruh perkembangan dari penggunaan Rasio sebagai pegangan hidup itu
tidak hanya pada pegangan hidup masyarakat saja tetapi pada semua bidang
dalam hidup masyarakat Eropa dan Amerika baik itu dari bidang Agama,
Ekonomi, Sosial, dan Politik. Salah satu contoh bidang politik kehidupan
masyarakat Eropa yang terpengaruh filsafat Rasio yakni dalam bidang Politik
yang banyak dipengaruhi oleh ilmu hukum, dimana bentuk pemerintahan yang
Absolutisme sangat berlawanan dengan aliran Rasionalisme (Rasio). Rasio hanya bisa
dikembangankan dengan adanya kebebasan pribadi, tetapi karena
Absolutisme mengekang kebebasan pribadi jadi mengekang juga pengembangan
Rasio yang tidak sesuai dengan hukum alam. Menurut hukum alam manusia itu
bebas, tetapi oleh penguasa-penguasa yang Absolut atau oleh dogma-dogma agama
manusia itu diikat dengan peraturan-peraturan yang merugikan dalam bentuk
pengekangan. Walaupun filsafat Rasionalisme mempunyai kelemahan-kelemahan
namun masyarakat Abab ke-18 meyakininya sabagai pegangan hidup mereka.
Mereka yakin bahwa Rasio itu agung dan mampu mencari kebenaran yang akan
membawa keselamatan bagi umat manusia, segala malapetaka yang menimpa
kemanusiaan dimasa-masa lampau karena kurangnya mengembangkan rasio.
1
Salah seorang filsuf yang menggagas dalam bidang Politik pada abad ke-18
adalah Jean Jacques Rousseou tentang Teori Kontrak Sosial. Namun Rousseou bukan
orang pertama yang mencetuskan teori kontrak sosial. Ada yang lebih awal
dibandingkan Rousseau yaitu Thomas Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-
1704).
Menurut penjelasaan di atas, penulis dan penyusun menjadi tertarik untuk
meneliti leih lanjut seperti apa Zaman Aufklarung (Aufklarung) dan mengkaji lebih
dalam ada apa saja di dalam zaman tersebut. Maka dari itu penulis dan penyusun
menuangkan semua ide dan menyusunnya dalam makalah ini yang berjudul “Zaman
Aufklarung (Aufklarung)”.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Zaman Aufklarung ?
2. Apa saja faktor penyebab terjadinya Zaman Aufklarung ?
3. Apa saja aliran yang berkembang pada Zaman Aufklarung ?
4. Negara mana saja yang mengalami Aufklarung ?
5. Bagaimana dampak dari terjadinyanya Zaman Aufklarung ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui arti dari Zaman Aufklarung.
2. Untuk mengetahui penyebab trejadinya Zaman Aufklarung.
3. Untuk mengetahui aliran-aliran yang berkembang pada Zaman
Aufklarung.
4. Untuk mengetahui Negara mana saja yang mengalami Aufklarung.
5. Untuk mengetahui dampak yang disebabkan oleh adanya Zaman
Aufklarung. kita jadimengetahui dampak yang disebabkan oleh adanya
Zaman Aufklarung.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Arti Zaman Aufklarung
2
Zaman Aufklarung (age of enlightenment 1685-1815) adalah suatu periode
dalam sejarah manusia yang ditandai dengan optimisme yang tinggi pada kemampuan
rasio manusia untuk menciptakan kemajuan.Namun Aufklarung diberikan untuk zaman
ini karena manusia mulai mencari cahaya baru melalui rasionya sendiri. Dengan kata
lain, abad Aufklarung merupakan era ketika manusia mencari cahaya baru melalui
rasionya.
Menurut Immanuel Kant, Aufklarung adalah bangkitnya manusia dari rasa
ketidakmatangan. Orang-orang yang tercerahkan selalu berpikir ke depan dan selalu
memikirkan kemungkinan yang lebih baik dari kondisi yang ada. Karena itulah mereka
berani menggunakan pemahamannya sendiri dan membuang jauh-jauh pandangan-
pandangan dari masa silam yang tak lagi relevan.
Zaman Aufklarung didahului oleh beberapa rentetan peristiwa yang saling
berkaitan satu sama lain, seperti zaman Renaissance dan gerakan Reformation di abad
16, juga Revolution of Science di abad ke 17. Rentetan atau rangkaian proses ini,
kemudian disebut “Rationalization” oleh Max Weber. Rationalization terlihat pada
adanya reinterpretasi agama katolik, rasionalisasi agama, bahkan, bagi kalangan
tertentu, adalah penolakan agama, seperti filsafat ateis-nya David Hume dan
D’Holbach.
Keyakinan pada kemampuan rasio untuk mencapai kemajuan sedemikian tinggi
sehingga pada masa ini tumbuh keyakinan bahwa peran tuhan dianggap berhenti setelah
proses penciptaan alam smesta dan segala isinya selesai. Setelah itu, tuhan tidak terlibat
atau campur tangan lagi dengan urusan dunia.Urusan di dunia siderahkan sepenuhnya
kepada manusia yang telah tuhan anugerahi dengan rasio.Dengan rasionya, manusia
dituntut untuk memahami hukum-hukum yang berlaku objektif dan ketat demi
kemajuan dan perkembangan hidupnya.Gagasan Aufklarung semacam ini disebut
dengan deisme.Dalam pandangan ini, tuhan ibarat seorang pembuat jam (watchmaker).
Setelah jam dibuat, pembuat jam membiarkan jam itu bekerja sendiri tanpa campur
tangannya lagi.
Dengan kata lain, menurut pandangan deisme, dunia ilmiah ini bekerja secar
mekanis menurut hukum-hukum yang berlaku objektif dan ketat yang disebut hukum
3
alam. Jadi, sekiranya allah itu dapat diyakini keberadaannnya, paling-paling dia hanya
menciptakan dunia mekanis itu dan selanjutnya membiarkannya berjalan sendiri
(hardiman, 2007)
Abad Aufklarung berlangsung pada abad 17-18 masehi (1685-1815). Sumber
lain mengatakan, periode ini membentang antara apa yang disebut “The Glorious
Revolution” 1688 di Inggris dan Prancis. Dikedua Negara ini lahir banyak ilmuwan, dan
pemikir atau filsuf, yang gagasan-gagasannya sangat berperan memicu lahirnya abad
Aufklarung.
Gagasan Aufklarung mencapai puncaknya dalam revolusi prancis (1789-1799).
Melalui revolusi ini, tatanan sosial-politik hierarkis tradisional seperti monarki prancis,
privilese-privilese bagi kaum bangsawan, serta kekuasaan politik dan otoritas gereja,
dihancurkan secara kejam, kemudian digantikan oleh tatanan sosial-politik yang
diilhami ide-ide Aufklarung : kebebasan (liberte), kesetaraan(egalite), dan
persaudaraan(fraternite). Meski demikian, dampak kemanusiaa yang ditimbulkan
revolusi ini serentak juga menunjukkan bahwa gagasan Aufklarung, terutama rasio
manusi, memiliki keterbatasan.
2.2 Penyebab terjadinya Zaman Aufklarung
Adanya anggapan bahwa melakukan tugas dengan meneliti secara kritik (sesuai
dengan kaidah-kaidah yang diberikan akal) segala yang ada,baik didalam negara
maupun didalam masyarakat.
Seorang ahli pikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara
rasionalisme dengan empirisme. Zaman ini muncul dimana manusia lahir dalam
keadaan belum dewasa dalam pemikiran filsafatnya.
Masa ini disebut dengan masa Aufklarung atau Aufklarung yang menurut
Immanuel Kant,di zaman ini manusia terlepas dari keadaan tidak baik yang
disebabkan oleh kesalahan manusia itu sendiri yang tidak memanfaatkan akalnya.
4
Voltaire menyebut Zaman Aufklarung sebagai “zaman akal” dimana manusia
merasa bebas, zaman perwalian pemikiran manusia dianggap sudah berakhir,
mereka merdeka dari segala kuasa dari luar dirinya.
Para tokoh era Aufklarung ini juga merancang program-program khusus
diantaranya adalah berjuang menentang dogma gereja dan takhayul populer.
Senjatanya adalah fakta-fakta ilmu dan metode-metode rasional.
Adanya gerakan pembebasan manusia dari ketidakdewasaan yang dibuatnya
sendiri. Ketidakdewasaan adalah ketidakmampuan untuk mempergunakan
pengertiannya sendiri tanpa bimbingan orang lain. Ketidakdewasaan ini dibuatnya
sendiri bila penyebabnya bukannya pada kurangnya pikiran melainkan kurangnya
ketegasan dan keberanian untuk mempergunakan pikiran itu tanpa bimbingan orang
lain.
Adanya semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional, memisahkan
pengaruh-pengaruh keagamaan dari pemerintahan. Bertolak dari pemikirian ini,
masyarakat mulai menyadari pentingnya diskusi-diskusi dan pemikiran ilmiah.
Ideologi Sekularisme menjadi dasar tonggak peradaban maju Eropa.
2.3 Aliran Perkembangan Zaman Aufklarung
A. Rasionalisme
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan
bahwa kebenaran haruslah ditentukan atau didapatkan melalui pembuktian, logika, dan
analisis yang berdasarkan fakta, bukan berasal dari pengalaman indrawi.
Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan
humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan
sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau
takhayul. Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut:Di luar diskusi
keagamaan, rasionalisme dapat diterapkan secara lebih umum, misalnya kepada
masalah-masalah politik atau sosial. Dalam kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-
5
ciri penting dari perpektif para rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi),
adat-istiadat atau kepercayaan yang sedang populer.
Ahli pikir yg muncul pda zaman ini antara lainDescrates, Spinoza, dan
Leibniz.Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana,
yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual.
Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme
kontinental yang diterangkan René Descartes. Perbedaan paling jelas terlihat pada
ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan
pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme kontinental sama sekali.
B. Empirisme
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman
dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal.Istilah empirisme di
ambil dari bahasa Yunani “empeiria” yang berarti coba-coba atau
pengalaman.Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang
sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca
indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain,
kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Ajaran-ajaran pokok empirisme yaitu:
1. Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk
dengan menggabungkan apa yang dialami.
2. Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal
atau rasio.
3. Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
4. Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung
dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan
matematika).
5. Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa
acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi
mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman.
6
6. Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-
satunya sumber pengetahuan.
C. Kantianisme
Kantianisme adalah falsafah Immanuel Kant, seorang ahli falsafah Jerman yang
dilahirkan di Königsberg, Prussia (kini Kaliningrad, Rusia).Kantianisme atau Kantian
juga digunakan untuk menggambarkan kedudukan kontemporari dalam falsafah pikiran,
epistemologi, dan etika.Kantianisme adalah pahaman di mana setiap kita mengambil
keputusan, kita harus membayangkan bagaimana kita adalah pihak yang dirugikan.
Pahaman ini menjelaskan bahwa bila melakukan sesuatu tindakan, maka tindakan itu
dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain.
Menurutnya, pengetahuan adalah hasil kerjasama dua unsur, yakni pengalaman dan
kearifan akal budi.Pengalaman indrawi adalah unsur a posteriori (yang datang
kemudian), sedangkan akal budi merupakan unsur a priori (yang datang lebih dlu).
Ketidakseimbangan ini diselesaikan Kant dgn membedakan kebenaran menjadi 3
macam, kebenaran akal budi, kebenaran rasio dan kebenaran indrawi.
Pemikiran-pemikiran Kant yang terpenting di antaranya ialah pemikirannya akal murni.
Menurutnya bahwa dunia luar itu kita ketahui hanya dengan sensasi, dan jiwa bukanlah
sekadar tabula rasa, tetapi jiwa merupakan alat yang positif, memilih dan
merekonstruksikan hasil sensasi yang masuk itu dikerjakan oleh jiwa dengan
menggunakan kategori yakni mengklasifikasikan dan mempersepsikannya ke dalam ide.
D. Idealisme
Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa
pengetahuan dan kebenaran tertinggi adalah ide.Idealisme menganggap, bahwa yang
konkret hanyalah bayang-bayang, yang terdapat dalam akal pikiran manusia.Kaum
idealisme sering menyebutnya dengan ide atau gagasan.Seorang realisme tidak
menyetujui pandangan tersebut.Kaum realisme berpendapat bahwa yang ada itu adalah
7
yang nyata, riil, empiris, bisa dipegang, bisa diamati dan lain-lain. Dengan kata lain
sesuatu yang nyata adalah sesuatu yang bisa diindrakan (bisa diterima oleh panca indra).
Idealisme merupakan suatu aliran yang mengedepankan akal pikiran manusia.Sehingga
sesuatu itu bisa terwujud atas dasar pemikiran manusia.Dalam pendidikan, idealisme
merupakan suatu aliran yang berkontribusi besar demi kemajuan pendidikan.Hal
tersebut bisa dilihat pada metode dan kurikulum yang digunakan.Idealisme
mengembangkan pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta didik mampu
menggunakan akal pikiran atau idenya dengan baik dalam mengembangkan ilmu
pengetahuan.
Aliran idealisme ini diwakili oleh beberapa tokoh, diantaranya J.G.Fitche (1762-1914),
F.W.S.Schelling (1775-1854), dan F.Hegel (1770-1031).
J.G.Fitche membedakan pengetahuan menjadi 2, yaitu pengetahuan teoritis dan
pengetahuan praktis.
F.W.S.Schelling membedakan 4 periode dlm pikirannya, yaitu : periode filsafat alam,
periode sistem idealism, periode siknkretisme dan periode teosofi.
E. Positivisme
Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala
hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi
antara istilah-istilah.
Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga
neo-positivisme).Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan
apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai
satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan
dengan metafisika.Positivismemerupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu
sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan
pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat
menjadi pengetahuan.
8
Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz
Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya
tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama terhadap
pendekatan neo-positivis ini.
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan
mempunyai sikap skeptis terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau
metafisika.Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan
inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini
mendukung teori-teori paham realisme, materialisme , naturalisme, filsafat dan
empirisme.
2.4 Dampak terjadinya Zaman Aufklarung
A. Bagi Eropa
Bidang politik :
1. Konstitusi menjadi kekuasaan tertinggi
2. Lahirnya konsep negara republik di Eropa
3. Munculnya nasionalisme
4. Revolusioner untuk menggulingkan absolutisme raja.
Bidang ekonomi :
1. Petani dapat memiliki tanah
2. Sistem pajak feodal dihapuskan
3. Lahirnya industri besar sosial.
Bidang sosial :
1. Penghapusan feodalisme secara bertaha
2. Susunan masyarakat baru
3. Pendidikan merata bagi setiap golongan
4. Lahirnya Code Napoleon sebagai cikal bakal hukum modern.
B. Bagi dunia
9
1. Membawa perubahan pada pola pikir manusia
2. Banyak tokoh pelopor aliran yang menyuarakan pendapatnya
3. Perjumpaan akal budi dengan pengalaman manusia
4. Kemajuan dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi
C. Bagi Indonesia
Pengaruh Aufklarung di Eropa menyebabkan terjadinya Politik Etis, sebuah
kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan Kolonial Belanda di Indonesia.Politik etis
ini gerakan pada masalah kemanusiaan dan keuntungan ekonomi. Selama zaman Liberal
( 1870-1900), pengaruh kapitalisme memainkan peran, dimana Indonesia dijadikan
sebagai pasar yang potensial. Untuk memperoleh keuntungan dan mengembangkan
usaha yang diinginkan maka diterapkannya Politik Etis.Hal ini dilakukan semata-mata
keuntungan, dimana Belanda dapat mempekerjakan tenaga terdidik dan murah dalam
pembayaran. Politik Etis ini terdiri dari Edukasi,Irigari, dan Emigrasi.
Kebijakan inilah yang kemudian menyebabkan terjadinya perubahan dan
perkembangan pendidikan di Indonesia. Pemerintah Belanda tidak menyadari bahwa
sebenarnya politik etis ini dapat menjadi ancaman karena saat kebijakan ini diterapkan
para pejuang pendidikan di Indonesia dengan cepat merespon hingga akhirnya muncul
generasi terdidik dan melahirkan pergerakan nasional melawan penjajahan.
10
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab sebelumnya, penulis dapat menyimpulkan
tentang Aufklarung ini bahwa: hegemoni antara akal dan iman pada zaman ini
(aufklarung) benar-benar tidak seimbang pada. Pada abad itu akal kalah total dan
iman menang mutlak. Abad ini telah mempertontonkan kelambanan kemajuan
manusia dalam bidang pemkiran, padahal manusia itu sudah membuktikan bahwa ia
sanggup maju dengan cepat. Abad ini juga telah dipenuhi lembaran hitam berupa
pemusnahan orang-orang yang berfikir kreatif diluar dogma gereja, karena
pemikirannya berlawanan atau berbeda dengan pikiran tokoh gereja pada saat itu.
Abad ini tidak saja lamban, lebih dari itu secara pukul rata filsafat mundur
pada abad ini jangankan menambah, menjaga warisan sebelumnya pun abad ini
tidak mampu. Zaman Aufklarung di Eropa pada abad ke 18 sering dikaitkan dengan
kemodernan Eropa, baik pemikiran maupun institusi politik dan sosial. Sebagai
contoh, Revolusi Perancis yang tercetus pada 1789, dikatakan, sebagai pengaruh
filsafat Aufklarung, termasuk para filsof perancis, seperti Voltire, Holbach,
D’Alembert dan lainnya. Dimana perubahan pemikiran telah membawa kepada
perubahan sosial dan institusional yang kemudian membawa eropa pada era modern.
Aufklarung melahirkan banyak pemikiran baru. Dari sinilah muncul semakin
banyak ketertarikan di bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Sampai pada suatu saat
lahirlah sebuah penemuan besar yang menjadi ilmu pengatahuan modern, dan
mungkin inilah yang menjadi penemuan terbesar pada masa itu. Penemuan itu
adalah teori Gravitasi yang diungkapkan oleh Sir Isaac Newton, dia dianggap
sebagai ilmuwan paling besar dan paling berpengaruh yang pernah hidup di dunia
(M. Hart, 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh, 2005).
Seperti itulah pembahasan kami tentang abad Aufklarung di Eropa
(Aufklarung) yang terjadi pada awal ke-18 sebagai reaksi dari ketidak terbukaan
terhadap pikiran tentang dunia luar (ilmu pengetahuan). Semoga kita dapat
mengambil pelajaran dari pembahasan kali ini bahwa keterbukaan terhadap ilmu
pengetahuan bisa memberikan kemajuan pada diri kita sendiri untuk masa depan
kelak.
11
DAFTAR PUSTAKA
Akhmadi, Asmoro, Filsafat Umum, Jakarta:Raja Gravindo, 2003
Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta:Prenada Media, 2005.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta:Kanisius, 1993.
Nara Wirabumi, Pendidikan Zaman Pencerahan,
(Online:http://narawirabumi.blogspot.com/p/ pendidikan
zaman pencerahan.html).
R. ravertz, Jerome, Filsafat Ilmu, Yogyakarta:Pustaka Belajar, 2014.
Stephen Palimous, The Tree of Philosophy, diterjemahkan oleh Muhammad
Shodiq, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2002.
Syekhudin, Filsafat Abad Ke 18 Era Aufklarung,
(Online:http://jaringskripsi.wordpress.com /2009/09/22/filsafatabad ke-
18-era-aufklarung/)
12