0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
386 tayangan59 halaman

Aromaterapi Eucalyptus vs Lavender untuk Kecemasan Ibu Inpartu

Proposal ini membahas tentang efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dan lavender untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin tahap aktif di RSUD Soewondo Kendal. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 339 per 100.000 kelahiran hidup. Di Jawa Tengah angka kematian ibu 118,2 per 100.000 kelahiran hidup dan di Kendal sebesar 44 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab utamanya adalah perdarahan

Diunggah oleh

Reny Harjanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
386 tayangan59 halaman

Aromaterapi Eucalyptus vs Lavender untuk Kecemasan Ibu Inpartu

Proposal ini membahas tentang efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dan lavender untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin tahap aktif di RSUD Soewondo Kendal. Angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi yaitu 339 per 100.000 kelahiran hidup. Di Jawa Tengah angka kematian ibu 118,2 per 100.000 kelahiran hidup dan di Kendal sebesar 44 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab utamanya adalah perdarahan

Diunggah oleh

Reny Harjanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STIKES KARYA HUSADA

SEMARANG
Entrepreneur Campus

EFEKTIVITAS PEMBERIAN AROMATERAPI EUCALYPTUS


DENGAN AROMATERAPI LAVENDER TERHADAP
KECEMASAN PADA IBU INPARTU KALA I FASE AKTIF
DI RSUD SOEWONDO KENDAL.

PROPOSAL

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Terapan
Kebidanan Pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

Disusun Oleh :
INDRA KURNIASARI
NIM.1804393

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2019

i
HALAMAN PERSETUJUAN

Proposal yang disusun oleh:

Nama : INDRA KURNIASARI

NIM : 1804393

Prodi : Sarjana Terapan Kebidanan

Judul : Efektivitas Pemberian Aromaterapi Eucalyptus Dengan Aromaterapi


Lavender Terhadap Kecemasan Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif
Di RSUD Soewondo Kendal.

Telah disetujui oleh pembimbing pada:

Hari :
Tanggal :

Untuk dipertahankan di hadapan tim penguji Proposal Program Studi Sarjana


Terapan Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang

Pembimbing I Pembimbing II

Heni Wijayanti, SSiT, [Link] NS. Amrih Widiyanti, [Link]

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Proposal yang disusun oleh:

Nama : INDRA KURNIASARI

NIM : 1804393

Prodi : Sarjana Terapan Kebidanan

Judul : Efektivitas Pemberian Aromaterapi Eucalyptus Dengan Aromaterapi


Lavender Terhadap Kecemasan Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif
Di RSUD Soewondo Kendal.

Telah dipertahankan di hadapan tim penguji Proposal Program Studi Sarjana


Terapan Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang
pada:

Hari :

Tanggal :

Tim penguji:

Nama Tanda Tangan

1. Lestari Puji Astuti, SSiT, [Link] Penguji Utama ......................

2. Heni Wijayanti, SSiT, [Link] Penguji II ......................

3. NS. Amrih Widiati, [Link] Penguji III ......................

iii
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

segala rahmat dan karunia-Nya yang tidak bisa ternilai. Shalawat dan salam kita

ucakan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat dan

para pengikutnya. Proposal Skripsi dengan judul “Efektivitas Pemberian

Aromaterapi Eucalyptus Dengan Aromaterapi Lavender Terhadap Kecemasan

Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif di RSUD Soewondo Kendal.” Ini dapat

tersusun atas bantuan berbagi pihak, instasi terkait. Untuk itu, kami

perkenankanlah penulis dengan segala kerendahan hati mengaturkan terima kasih

kepada :

1. Dr. Ns. Fery Agusman,M.M.,[Link],[Link] Selaku Ketua Stikes Karya

Husada Semarang.

2. Lestari Puji Astuti, [Link],[Link] selaku Ka. Prodi Sarjana Terapan Kebidanan

Stikes Karya Husada Semarang.

3. Lestari Puji Astuti, [Link],[Link] selaku Penguji.

4. Heni Wijayanti, SSiT, [Link] selaku pembimbing I , atas masukan ,

pengarahan dan motivasi bagi penulis.

5. NS. Amrih Widiati, [Link] selaku pembimbing II, atas masukan , pengarahan

dan motivasi bagi penulis.

6. Keluarga tercinta khususnya suami dan anak – anak yang selalu memberikan

dukungan serta doa yang tulus kepada penulis.

iv
7. Teman – teman seperjuangan angkatan 2018/2019 yang telah memberikan

dukungan serta membantu dalam penyelesaian proposal ini.

Sebagai buah karya manusia, penulis menyadari tulisan ini tidak luput

dari segala kekurangan. Oleh karena itu penulis berharap adanya masukan

kritikan serta saran yang membangun demi perbaikan karya ini.

Semarang Agustus 2019

Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………. i

HALAMAN PERSETUJUAN ………………………………………… ii

HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………….. iii

KATA PENGANTAR………………………………………………… iv

DAFTAR ISI………………………………………………………….. vi

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………. viii

DAFTAR TABEL …………………………………………………..... ix

DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………. x

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang………………………………………………… 1

B. Perumusan Masalah…………………………………………… 6

C. Tujuan Penelitian……………………………………………… 7

D. Manfaat Penelitian…………………………………………….. 8

E. Keaslian Penelitian…………………………………………….. 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Persalinan …………………………………………………. .......... 11

B. Kecemasan Persalinan Kala 1....................................................................15

C. Aroma Terapi ...............................................................................................23

D. Kerangka Teori………………………………………………….... 32

E. Kerangka konsep………………………………………………. .... 33

F. Hipotesis ......................................................................................... 33

vi
BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian………………………………………….. 34

B. Waktu dan Tempat Penelitian………………………………….. 35

C. Populasi dan sampel ..............…………………………………. 35

D. Definisi Operasional…………………………………………….. 37

E. Instrumen Penelitian……………………………………………. 38

F. Tehnik Pengumpulan Data……………………………………… 38

G. Tehnik Pengolahan Data………………………………………... 42

H. Analisa Data…………………………………………………….. 43

I. Etika Penelitian………………………………………………… . 45

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Keaslian Penelitian ......................................................................... 9

Tabel 3.1. Definisi Operasional ..................................................................... 37

viii
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1. Kerangka Teori……………………………………….. 32

Bagan 2.2. Kerangka Konsep…………………………………….. 33

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Permohonan Menjadi responden

Lampiran 2 Surat Persetujuan Menjadi responden

Lampiran 3 Lembar Observasi

Lampiran 4 Lembar Oponen

Lampiran 5 Lembar Bimbingan

x
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peningkatan kesehatan ibu dan anak mendapatkan perhatian yang

khusus dan diprioritaskan dalam upaya meningkatkan kesehatan. Penilaian

terhadap kesehatan ibu sangat penting untuk dilakukan pengawasan,

dikarenakan angka kematian ibu salah satu indicator penting yang

menggambarkan kesejahteraan masyarakat di suatu negara.1

Menurut World Health Organization (WHO), angka kematian ibu

(AKI) menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab

kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak

termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan

dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama

kehamilan per 100.000 kelahiranhidup. Data kematian ibu yang digunakan

saat ini masih menggunakan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia

Tahun 2013, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi sebesar 339

per100.000 kelahiran hidup.1

Angka kematian ibu provinsi Jawa Tengah tahun 2017 berdasarkan

laporan dari kabupaten/ kota sebesar 118,2/ 100.000 kelahiran hidup, angka

kematian ibu di Jawa Tengah mengalami peningkatan dibandingkan dengan

angka kematian ibu pada tahun 2016.2 Penurunan AKI yang ditargetkan oleh

provinsi Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan dengan target nasional

sebesar 90/100.000 kelahiran hidup. Di Kota Kendal sendiri mengikuti target

1
2

yang ingin dicapai oleh target AKI di Provinsi Jawa Tengah. AKI yang terjadi

di kabupaten Kendal tahun 2017sebesar 44/ 100.000 kelahiran hidup.

Penyebab langsung yang berkaitan dengan kematian ibu ini adalah karena

perdarahan yaitu sebesar 43,7%, infeksi sebesar 12,3%, dan Eklamsia/Pre

Eklamsia sebesar 37,5%. Sedangkan angka kematian ibu paling banyak

adalah pada waktu bersalin sebesar49,52%, kemudian disusul pada waktu

nifas 30,06% dan pada waktu hamil sebesar 20,42%.3

Salah satu penyebab terjadinya AKI yaitu factor persalinan. Karena

persalinan sendiri dilalui dengan situasi yang penuhdengan kecemasan dan

membuat emosi pada ibu bersalin, sehingga dibutuhkan seorang pendamping

yang bisa menenangkan emosi ibu dan membuat proses persalinan tersebut

dapat dilalui dengan lancar. Salah satu pendamping yang dibutuhkan oleh ibu

yaitu suami4.

Keberhasilan sebuah proses persalinan sangat dipengaruhi oleh kondisi

fisik ibu dan bayi, kondisi psikis maupun penolong yang membantu proses

persalinan. Bila salah satu dari factor tersebut ada yang tidak sesuai bisa

terjadi masalah dalam proses persalinan, baik terhadap ibu atau bayinya. Hal

ini sangat penting, mengingat beberapa kasus kematian ibu dan bayi

diakibatkan oleh tidak terdeteksinya secara dini adanya salah satu dari faktor-

faktor tersebut, sehingga terjadi keterlambatan penanganan.5

Dalam perjalanan Persalinan Kala 1 ibu mengalami gangguan

psikologi yaitu kecemasan dimana kecemasan merupakan sebagai reaksi fisik,

mental, kimiawi dari tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan,


3

membingungkan, membahayakan dan merisaukan seseorang. Secara

psikologis kecemasan meningkat dipengaruhi oleh koordinasi dan gerak

reflek. Kesulitan mendengarkan atau mengganggu hubungan dengan orang

lain. Kecemasan dapat membuat individu menarik diri dan menurunkan

keterlibatan dengan orang lain.6

Perasaan cemas pada ibu bersalin dengan memikirkan kondisi bayi

dan proses persalinan. Ibu bersalin yang mengalami rasacemas yang berlebih

akan beresiko terjadinya rangsangan kontrak si janin yang dapat

mengakibatkan keguguran dan tekanan darah meningkat sehingga timbul

kejadian preeklampsia. Selain preeclampsia ibu bersalin yang kurang

mendapatkan dukungan dan mengalami stres mental sehingga beresiko

mengalami kelahiran premature.6 Tingkat katekolamin yang tinggi dalam

darah bisa memperpanjang persalinan dengan mengurangi efisiensi kontraksi

rahim dan dapat merugikan janin dengan mengurangi aliran darah menuju

plasenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan penatalaksanaan persalinan

menjadi kurang terkendali dan memungkinkan terjadi trauma pada bayi.7

Banyak cara yang dapat digunakan dalam menghilangkan kecemasan

saat persalinan, cara tersebut antara lain dengan tindakan farmakologis dan

tindakan non farmakologis. Tindakan farmakologis yang digunakan antara

lain penggunaan analgesik, suntikan epidural, Intracthecal Labor Analgesik

(ILA). Tindakan-tindakan tersebut hampir semua mempunyai efek samping

pada ibu dan juga. Penatalaksanaan nyeri secara farmakologi lebih efektif

dibanding dengan tindakan non farmakologi, namun tindakan farmakologi


4

lebih mahal dan sebagian besar memiliki efek yang merugikan sedangkan

tindakan non farmakologi lebih murah, sederhana, efektif dan tanpa efek yang

merugikan.8

Metode nonfarmakologis juga dapat meningkatkan kepuasan selama

persalinan, karena ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya.

Relaksasi, teknik pernafasan, pergerakan dan perubahan posisi, massage,

hidroterapi, terapi panas/dingin, musik, guided imagery, akupresur,

aromaterapi merupakan beberapa teknik nonfarmakologis yang dapat

meningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh pada

koping yang efektif terhadap pengalaman persalinan. Keunggulan aromaterapi

dibandingkan dengan metode non farmakologis adalah dapat membantu

meringankan stress, anti depresan, meningkatkan memori, meningkatkan

jumlah energi, penyembuhan dan pemulihan, mengatasi insomnia, sistem

kekebalan tubuh, menghilangkan rasa sakit, meringankan gangguan

pencernaan.9.

Pertama diperkenalkan di Inggris pada awal tahun 1990, aromaterapi

menggunakan ekstrak wewangian tertentu untuk menebar aroma dalam

ruang bersalin. Efeknya dapat menenangkan, hilangnya rasa cemas dan

relaksasi ibu bersalin. Dalam penelitian di Inggris, aroma bunga mawar

mempunyai efek yang paling besar, kemudian bunga lavender.10

Aromaterapi lavender atau terapi menggunakan minyak atsiri bunga

lavender dapat mempengaruhi suasana hati menjadi tenang, meningkatka

nkewaspadaan, kemampuan berkonsentrasi, dan menurunkan kecemasan


5

seseorang. Ia mengatakan aromaterapi lavender mampu meningkatkan

aktivitas gelombang alfa yang merupakan penanda seseorang dalam keadaan

tenang, dapat merangsang otak, dan membangun konsentrasi.11

Sebagaimana minyak kayu putih, minyak eucalyptus juga banyak

dimanfaatkan untuk menghangatkan tubuh. Namun tidak hanya itu, minyak ini

memiliki berbagai manfaat lain. Eucalyptus merupakan sejenis pohon yang

daun dan minyaknya dapat digunakan untuk membuat obat. Setelah daun

eucalyptus melalui proses penyulingan, maka akan diperoleh minyak

eucalyptus. Penggunaa nminyak eucalyptus sangat luas, mulai dari produk

farmasi, pengharum, antiseptik, hinggapenggunaan di bidang industri. Meski

butuh penelitian lebih lanjut, namun eucalyptus seringkali digunakan untuk

penderita kondisi kesehatan tertentu, seperti asma, bronkitis, plak, gingivitis,

serta kutu pada kepala. Minyak eucalyptus mungkin tidak dapat membantu

menyembuhkan sakit kepala, namun produk ini dapat membantu

menenangkan, sehingga penderita dapat berpikir lebih baik.12

Dalam penelitian Nova Winda 2019 didapatkan hasil bahwa terjadi

penurunan tingkat kecemasan setelah diberi aromaterapi lavender. Rasa

cemas ini bisa dipengaruhi oleh arti cemas yang dirasakan seseorang, persepsi

cemas, dan reaksi cemas yang merupakan respon seseorang terhadap

cemas seperti ketakutan, gelisah, menangis dan menjerit dan dapat juga

dipengaruhi oleh kondisi sosial dan letak daerah. Kecemasan ini dapat

diatasi dengan menggunakan aromaterapi lavender. Pasien yang

mendapatkan aromaterapi ini akan merasa tenang, nyaman, rileks, puas dan
6

akan lebih dekat dengan petugas kesehatan yang melayani sehingga secara

tidak langsung hal ini bisa mengurangi tingkat cemas yang dirasakan.13

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati (2017) tentang

perbedaan kecemasan ibu bersalin primigravida Kala I yang diberi dengan

yang tidak diberi aromaterapi lavender dengan hasil penelitian

menunjukkanRata-rata ibu bersalin yang diberi aromaterapi tidak mengalami

kecemasan dibandingkan dengan ibu yang tidak diberi aromaterapi. Sehingga

dapat disimpulkan ibu bersalin yang ada di Pondok Bersalin Hikmah rata-rata

tidak mengalami kecemasan, yang perlu diupayakan tenaga kesehatan

memberikan aromaterapi di tempat bersalin agar ibu dapat beradaptasi dengan

lingkungan sekitar.14

RSUD Soewondo merupakan rumah sakit rujukan pertama di

Kabupaten Kendal, kasus persalinan dengans ectio caesarea pada bulan April

sampai Juni 2019 sebanyak 40,37 % dimana 42,13 % sc atas indikasi partus

lama. 26,72% atas indikasi ketuban pecah dini, 16,91% karena pre eklamsia,

11, 21% karena fetal distress dan lain – lain. Persalinan pervaginam 59,05%

vacum ekstraksi 0,29% sebagian besar persalinan pervaginam adalah

persalinan dengan induksi yaitu 71,8%, dengan indikasi ketuban pecah dini,

serotinus, pre eklamsi, oligohidramnion, inersia uteri dan lain-lain.

Berdasarkan data di atas partus lama bisa menyebabkan kecemasan karena

biasanya ibu akan bersalin takut dan selama ini diruang bersalin untuk

mengurangi kecemasan pasien hanya diminta untuk berdoa, tarik nafas

panjang dan suami atau keluarga untuk mendampinginya. Untuk mengurangi


7

kecemasan pada ibu inpartu belum diterapkanmetode non farmakologi

aromatherapy lavender dan aromatherapy eucalyptus.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang

dapat dirumuskan adalah “Adakah bagaimana efektivitas pemberian

aromaterapi eucalyptus dengan aromaterapi lavender terhadap kecemasan

pada ibu impartu kala I di RSUD Soewondo Kendal.?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan

aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di

RSUD Soewondo Kendal.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah

pemberian aromaterapi eucalyptus pada ibu bersalin kala I di RSUD

Soewondo Kendal.

b. Mendeskripsikan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah

pemberian aromaterapi lavender pada ibu bersalin kala I di RSUD

Soewondo Kendal.

c. Menganalisa pengaruh pemberian aromaterapi eucalyptus terhadap

kecemasan ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal


8

d. Menganalisa pengaruh pemberian aromaterapi lavenderterhadap

kecemasan ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal

e. Menganalisa efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan

aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di

RSUD Soewondo Kendal.

D. Manfaat Penelitian

1. Ibu bersalin

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman ibu dalam

memilih dan menggunakan aromaterapi dalam rangka mengelola nyeri

persalinan kala I sehingga benar-benar dapat menurunkan nyeri persalinan.

2. Bagi institusi kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai intervensi dan

pertimbangan dalam melaksanakan pemberian aromaterapi pada ibu

bersalin dengan tujuan untuk menurunkan intensitas nyeri dan

memberikan relaksasi pada ibu bersalin kala I.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan

dan wawasan bagi mahasiswa tentang efektivitas pemberian aromaterapi

eucalyptus dengan aromaterapi lavender pada ibu bersalin kala.


9

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan informasi untuk

peneliti selanjutnya tentang manfaat aromaterapi eucalyptus dan

aromaterapi lavender terhadap pengendalian nyeri persalinan kala I.


10

E. Keaslian Penelitian

Tabel.1.1. Keaslian Penelitian


Peneliti, Perbedaan
Judul penelitian Metode penelitian Hasil penelitian
tahun
Nova Winda Efektivitas Pemberian Rancangan Hasil penelitian Perbedaan dengan
2019 Aromaterapi Lavender penelitian eksperimen menunjukkan bahwa penelitian sekarang
Untuk Menurunkan menggunakan model pemberian aromaterapi adalah variabel dan
Kecemasan Ibu Hamil quasi experiment dapat menurunkan metode penelitian
Trimester Iii Dalam dengan bentuk two- kecemasan ibu hamil yang digunakan
Persiapan Menghadapi group pretest- trimester III dalam srta tempat
Persalinan Di Bidan posttest design persiapan menghadapi penelitian
Praktek Mandiri persalinan terbukti
Nurussyifa Kecamatan bahwa hasil uji
Buniseuri Ciamis diperoleh nilai
sebesar3,494dengan
signifikansi sebesar
0,000. Hal ini
menunjukkan bahwa
nilai ρ< 0,05 yang
berarti pemberian
aromaterapi dapat
menurunkan
kecemasan ibu hamil
trimester III dalam
persiapan menghadapi
persalinan.
Rahma Dwi Pengaruh aromaterapi Penelitian dilakukan Hasil penelitian Perbedaan dengan
Syukrini terhadap tingkat dengan menunjukkan terdapat penelitian sekarang
2016 kecemasan pada ibu menggunakan quasi pengaruh inhalasi adalah subyek
persalinan kala I di experimental dengan aromaterapi mawar penelitian, metode
kamar bersalin RSU non equivalent terhadap tingkat dan tempat
Kab Tangerang. control group design. kecemasan pada ibu penelitian
persalinan kala I
kelompok intervensi
dengan nilai
(p=0,000) <0,05.
Terdapat perbedaan
rerata skor tingkat
kecemasan pada
kelompok kontrol
(p=0,005) <0,05.
Terdapat perbedaan
rerata skor tingkat
kecemasan yang
bermakna antara
kelompok intervensi
dan kelompok kontrol
(p=0,000) <0,05
Nike Sari Efek aroma ekstrak Penelitian ini Hasil yang didapatkan Perbedaan dengan
Oktavia, melati terhadap menggunakan metode antara lain, pada penelitian sekarang
2017 Pengurangan nyeri eksperimen semu kelompok Ekstrak adalah variabel dan
persalinan kala i fase dengan total 48 orang Melati terjadi metode penelitian
aktif Pada parturient parturient yang penurunan nilai median yang digunakan
11

berada dalam kala I 6 dengan rentang 4–9 srta tempat


fase aktif persalinan menjadi median 4 (3– penelitian
9), sementara pada
kelompok Kontrol
mengalami eningkatan
intensitas nyeri dengan
nilai median 4.5 (2–10)
menjadi 9 (4–10)
Siti cholifah, Pengaruh aromaterapi Rancangan penelitian Hasil penelitian rata- Perbedaan dengan
2016 inhalasi lemon Quasi experiment rata nyeri persalinan penelitian sekarang
Terhadap penurunan dengan pre test– pada kelompok yang adalah variabel dan
nyeri persalinan post test non diberikan aromaterapi metode penelitian
Kala i fase aktif equivalent control lebih rendah 4,74 + yang digunakan
group design. 1,327 dibandingkan srta tempat
kelompok kontrol 5,79 penelitian
+ 1,316. Hasil uji
Mann-Whitneyp 0,001
< 0,05. Variabel luar
yang berpengaruh
terhadap nyeri
persalinan adalah
kecemasan dengan nilai
p<0,05. Aromaterapi
inhalasi lemon dapat
menurunkan nyeri
persalinan kala I fase
aktif.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Persalinan

1. Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban

keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi

pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai

penyulit. Persalinan (inpartu) dimulai sejak uterus berkontraksi dan

menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan

berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap.26

Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya

kontraksi uterus yang menyebabkan terjadinya dilatasi progresif dari

serviks, kelahiran bayi, dan kelahiran plasenta, dan proses tersebut

merupakan proses alamiah.27 Bentuk persalinan berdasarkan teknik

persalinan spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu

sendiri dan melalui jalan lahir. Persalinan buatan, yaitu persalinan dengan

tenaga dari luar dengan ekstraksi forceps, ekstraksi vakum dan sectio

sesaria Persalinan anjuran yaitu bila kekuatan yang diperlukan untuk

persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsang.28.

2. Tahap persalinan

Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I serviks membuka

dari 0 sampai 10 cm. Kala I dinamakan juga kala pembukaan. Kala II

disebut juga dengan kala pengeluaran, oleh karena kekuatan his dan

12
13

kekuatan mengedan, janin didorong keluar sampai lahir. Dalam kala III

atau disebut juga kala uri, plasenta terlepas dari dinding uterus dan

dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam kemudian.

Dalam kala tersebut diobservasi apakah terjadi perdarahan postpartum.27

3. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan

a. Faktor Power

Power adalah tenaga atau kekuatan yang mendorong janin keluar.

Kekuatan tersebut meliputi his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi

diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerja sama yang sempurna.

1) His (kontraksi uterus)

Adalah kekuatan kontraksi uterus karena otot – otot polos rahim

bekerja dengan baik dan sempurna. Sifat his yang baik adalah

kontraksi simetris, fundus dominan, terkoordinasi dan relaksasi.

a) Pembagian his dan sifat-sifatnya:

(1) His pendahuluan: his tidak kuat, datangnya tidak teratur,

menyebabkan keluarnya lender darah atau bloody show.

(2) His pembukaan (kala I) : menyebabkan pembukaan serviks,

semakin kuat, teratur dan sakit.

(3) His pengeluaran (kala II): untuk mengeluarkan janin,

sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi.

(4) His pelepasan uri (kal III) : terkoordinasi sedang untuk

melepaskan dan melahirkan plasenta.


14

(5) His pengiring (kala IV) : kontraksi lemah, masih sedikit

nyeri, terjadi pengecilan rahim setelah beberapa jam atau

hari.

b) Tenaga mengejan

(1) Setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah, tenaga

yang mendorong anak keluar selain his, terutama

disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding perut, yang

mengakibatkan peninggian tekanan intra abdominal.

(2) Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita

buang air besar, tapi jauh lebih kuat lagi.

(3) Saat kepala sampai ke dasar panggul, timbul reflex yang

mengakibatkan ibu menutup glottisnya, mengkontraksikan

otot-otot perut da nmenekan diafragmanya ke bawah.

(4) Tenaga mengejan ini hanya dpat berhasil bila pembukaan

sudah lengkap, dan paing efektif sewaktu ada his.

(5) Tanpa tenaga mengejan, anak tidak dapat [Link]

pada penderita yang lumpuh otot-otot perutnya, persalinan

harus dibantu dengan forceps.

(6) Tenaga mengejan ini juga melahirkan plasenta setelah

terlepas dari dinding rahim.


15

b. Faktor Passager

Faktor lain yang berpengaruh terhadap persalinan adalah faktor janin,

yang meliputi sikap janin, letak, presentasi, bagian terbawah dan posisi

janin.

c. Faktor Passage (Jalan Lahir)

Passage atau faktor jalan lahir dibagi menjadi:

1) Bagian keras : tulang – tulang panggul (rangka panggul)

2) Bagian lunak : otot-otot, jaringan-jaringan dan ligament - ligament.

d. Faktor Psikologi Ibu

Keadaan psikologi ibu mempengaruhi proses persalinan. Ibu bersalin

yang didampingi oleh suami dan orang - orang yang dicintainya

cenderung mengalami proses persalinan yang lebih lancar

dibandingkan dengan ibu bersalin yang tanpa didampingi oleh suami

atau orang – orang yang dicintainya. Ini menunjukkan bahwa

dukungan mental berdampak positif bagi keadaan psikis ibu, yang

berpengaruh pada kelancaran proses persalinan.

e. Faktor Penolong

Kompetensi yang dimiliki penolong sangat bermanfaat untuk

memperlancar proses persalinan dan mencegah kematian maternal

neonatal. Dengan pengetahuan dan kompetensi yang baik diharapkan

kesalahan maupun malpraktek dalam memberikan asuhan tidak

terjadi.29
16

4. Fase Persalinan Kala 1

Kala I persalinan memiliki 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif.

Kala I persalinan dibagi menjadi tiga bagian : persalinan awal, persalinan

aktif dan persalinan transisi. Untuk ibu primipara, fase laten dimulai saat

serviks yang keras dan tertutup melunak, dan diameter ostium eksterna

atau diameter pembukaan serviks meningkat. Perubahan ostiumakan

disertai kontraksi teratur yang terjadi sekitar setiap 5 menit. Kala

persalinan berakhir dengan pembukaan serviks 10 cm. Faselaten pada ibu

primipara dianggap memanjang jika selama 20 jam.

Persalinan normal (pembukaan 1-10) harus berlangsung selama 9-

12 jam untuk ibu primipara. Pada umumnya, ibu diharapkan mengalami

pembukaan serviks sekitar 1cm perjam setelah fase aktif persalinan

dimulai atau setelah ibu mengalami pembukaan 4 cm. Persalinan normal

(pembukaan 4-10cm) harus berlangsung selam 5-8 jam.30

B. Kecemasan Persalinan Kala 1

1. Pengertian Kecemasan

Kecemasan merupakan reaktivitas emosional berlebihan, depresi

yang tumpul ,atau konteks sensitif, respon emosional.31 Pendapat lain

menyatakan bahwa kecemasan merupakan perwujudan dar iberbaga

iemosi yang terjadi karena seseorang mengalami tekanan perasaan dan

tekanan batin. Kondisi tersebut membutuhkan penyelesaian yang tepat

sehingga individu akan merasa aman. Namun, pada kenyataannya tidak

semua masalah dapat diselesaikan dengan baik oleh individu bahkan ada
17

yang cenderung dihindari. Situasi ini menimbulkan perasaan yang tidak

menyenangkan dalam bentuk perasaan gelisah, takut atau bersalah.32

Kecemasan timbul karena adanya sesuatu yang tidak jelas atau

tidak diketahui sehingga muncul perasaan yang tidak tenang, rasa

khawatir, atau ketakutan.33Kecemasan merupakan perwujudan tingkah

laku psikologis dan berbagai pola perilaku yang timbul dari perasaan

kekhawatiran subjektif dan ketegangan.34

Timbulnya kecemasan dalam, persalinan biasanya berhubungan

dengan kondisi kesejahteraan ibu dan bayi yang akan dilahirkan,

pengalaman keguguran, rasa aman dan nyaman selama kehamilan,

penemuan jatidirinya dandan persiapan menjadi orangtua, sikap member

dan menerima kehamilan, keuangan keluarga, dukungan keluarga, support

tenagamedis, usia ibu hamil, dukungan suami ,tingkat persiapan personal

ibu, pengalam traumatis ibu dan tingkat aktifitas.35

2. Klasifikasi Tingkat Kecemasan

Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak

berdaya. Ada empat tingkatanyaitu :36

a. Kecemasan Ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari- hari.

Individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan

indera. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu

memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan

dan kreatifitas.
18

b. Kecemasan Sedang

Individu terfokushanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya,terjadi

penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu

dengan arahan orang lain.

c. Kecemasan Berat

Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada

detil yang kecil dan spesifik dan tidak dapat berfikir hal-hal lain.

Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan

perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus pada area lain.

d. Panik

Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatian hilang. Karena

hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun

dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik,berkurangnya

kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan

persepsidan hilangnya pikiranrasional, tidak mampu berfungsi secara

efektif. Biasanya disertai dengan disorganisasi kepribadian.

3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kecemasan

Faktor yang mempengaruhi kecemasan dibedakan menjadi

duayaitu:37

a. Faktor prediposisi yang menyangkut tentang teori kecemasan:

1) Teori Psikoanalitik

Teori Psikoanalitik menjelaskan tentang konflik emosional

yang terjadi antara dua elemen kepribadian diantaranya Id dan


19

[Link] mempunyai dorongan naluri dan impuls primitive

seseorang, sedangkan Ego mencerminkan hati nurani seseorang

dan di kendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Fungsi

kecemasan dalam ego adalah mengingatkan ego bahwa adanya

bahaya yang akan datang.

2) Teori Interpersonal

Kecemasan merupakan perwujudan penolakan dari

individu yang menimbulkan perasaan takut. Kecemasan juga

berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan

kehilangan yang menimbulkan kecemasan. Individu dengan harga

diri yang rendah akan mudah mengalami kecemasan.

3) Teori perilaku

Pada teoriini, kecemasan timbul karena adanya stimulus

lingkungan spesifik, pola berpikir yang salah, atau tidak produktif

dapat menyebabkan perilaku maladaptive .Penilaian yang

berlebihan terhadap adanya bahaya dalam situasi tertentu dan

menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman

merupakan penyebab kecemasan pada seseorang.

4) Teori biologis

Teori biologis menunjukan bahwa otak mengandung

reseptor khusus yang dapat meningkatkan neuroregulator inhibisi

(GABA) yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang

berkaitan dengan kecemasan. Gangguan fisik dan penurunan


20

kemampuan individu untuk mengatasi stressor merupakan

penyerta dari kecemasan.

b. Faktor presipitasi

1) Faktor Eksternal

a) Ancaman Integritas Fisik

Meliputi ketidakmampuan fisiologis terhadap kebutuhan dasar

sehari-hari yang bisa disebabkan karena sakit, trauma fisik,

kecelakaan.

b) Ancaman Sistem Diri

Diantaranya ancaman terhadap identitas diri, harga diri,

kehilangan, dan perubahan status dan peran, tekanan

kelompok, social budaya.

2) Faktor Internal

a) Usia

Gangguan kecemasan lebih mudah dialami oleh

seseorang yang mempunyai usia lebih muda dibandingkan

individu dengan usia yang lebih tua.

b) Stressor

Stressor merupakan tuntutan adaptasi terhadap

individu yang disebabkan oleh perubahan keadaan dalam

kehidupan. Sifat stressor dapat berubah secara tiba-tiba dan

dapat mempengaruhi seseorang dalam menghadapi

kecemasan, tergantung mekanisme koping seseorang.


21

Semakin banyak stressor yang dialami mahasiswa, semakin

besar dampaknya bagi fungsi tubuh sehingga jika terjadi

stressor yang kecil dapat mengakibatkan reaksi berlebihan.

c) Lingkungan

Individu yang berada dilingkungan asing lebih mudah

mengalami kecemasan dibanding biladia berada dilingkungan

yang biasa dia tempati.

d) Jenis kelamin

Wanita lebih sering mengalami kecemasan dari pada

pria. Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi

disbanding kanpria. Halini dikarenakan bahwa wanita lebih

peka dengan emosinya, yang pada akhirnya mempengaruhi

perasaan cemasnya.

e) Pendidikan

Dalam Kaplan dan Sadock (2010), kemampuan

berpikir individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu semakin

mudah berpikir rasional dan menangkap informasi baru.

Kemampuan analisis akan mempermudah individu dalam

menguraikan masalah baru.

Menurut Carpenito (2009), faktor yang mempengaruhi kecemasan

yaitu :38

a. Situasional (personal, lingkungan)


22

Lingkungan pembelajaran klinik sangat berpengaruh dalam

outcome mahasiswa saat dilingkungan pekerjaan. Eksplorasi

lingkungan pembelajaran mencerminkan area klinik yang sebenarnya

dan dapat memberikan kepada pengajar dalam proses pembelajaran

b. Maturasional

Seseorang dikatakan mencapai maturitas ketika mereka sudah

mencapai keseimbangan pertumbuhan fisiologis, psikososial dan

kognitif. Individu yang matur merasa nyaman dengan kemampuan,

pengetahuan dan respon yang telah mereka kembangkan selama

[Link]-orang yang matang terbuka untuk menerima

saran dan kritik yang membangun tanpa kehilangan kepercayaan

[Link] mempertimbangkan masukan dan ekomendasi orang lain

ketika membuat keputusan tetapi tidakterlalu terpengaruh atau

terintimidasi dengan orang lain. Perubahan itu dialami oleh dewasa

awal termasuk proses alami maturasi.

Kriteria diagnostik untuk gangguan kecemasan pada umumnya

adalah berusia 18 tahun atau [Link] maturasi individu akan

mempengaruhi tingkat kecemasan. Pada bayi kecemasan lebih

disebabkan karena perpisahan, lingkungan atau orang yang tidak

dikenal dan perubahan hubungan dalam kelompok sebaya. Kecemasan

pada remaja mayoritas disebabkan oleh perkembangan seksual.

Pada dewasa berhubungan dengan ancaman konsep [Link] diri

adalah pengetahuan individu tentang diri.


23

c. Tingkat Pendidikan

Individu yang berpendidikan tinggi akan mempunyai koping

yang lebih baik daripada yang berpendidikan rendah sehingga dapat

mengeliminir kecemasanyang terjadi.

d. Karakteristik Stimulus

1) Intensitas stressor

Seseorang dapat saja mencerapintensitas atau besarnya

stressor sebagai minimal, sedang atau berat. Makin besar stressor,

makin besar respon stress yang di [Link] dari

mentor dapat diatasi dengan melakukan training pada mentor dan

halini akan sulit diterima olehmaha siswa bila mentor tidak

bekerja secara maksimal.

2) Lamastressor

Memanjangnya terpapar stresor menurunkan kemampuan

seseorang mengatasi masalah karena sudah lelah dan kehabisan

tenaga.

3) Jumlah stressor

Jika pada waktu yang sama tertumpuk sejumlah stressor

yang harus dihadapi, sehingga apabila terjadi stressor kecil akan

dapat mengakibatkan reaksi yang berlebihan.

4. Alat Ukur Kecemasan

Teskecemasan telah dikonsep tualisasikan dalam berbagai cara

sepanjang tahun. Beberapa peneliti merujuk pada gangguan kognitif yang


24

terlibat dan orang lain untuk reaksi emosional. Ada kesepakatan bahwa

kecemasan dapat diklasifikasikan menjadi dua komponen, keadaan

dan ciri kecemasan.39

Alat ukur kecemasan yaitu Hamilton Rating Scalefo rAnxiety

(HRS-A).Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-

masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.

Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka antara 0-4, yang

artinya adalah nilai 0 tidak ada gejala (keluhan), nilai1gejala ringan, nilai2

gejala sedang, nilai 3 gejala berat, dan nilai 4 gejala berat sekali.

Kemudian masing-masing nilai angka dari1 4 kelompok gejala tersebut

dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat

kecemasan seseorang, yaitu total nilai kurang dari 14 tidak ada

kecemasan, 14-20 kecemasan ringan, 21-27 kecemasan sedang, nilai 28-

41 kecemasan berat dan nilai 42-56 kecemasan berat sekali.40

C. Aromaterapi

1. Pengertian Aromaterapi

Aromaterapi berasal dari kata aroma yang berarti harum atau

wangi, dan therapy yang dapat diartikan sebagai cara pengobatan atau

penyembuhan. Sehingga aromaterapi dapat diartikan sebagai suatu cara

perawatan tubuh dan atau penyembuhan penyakit dengan menggunakan

minyak essensial.15

Aromaterap iberarti pengobatan menggunakan wangi- wangian.

Istilah ini merujuk pada penggunaan minyak esensial dalam penyembuhan


25

holistic untuk memperbaiki kesehatan dan kenyamanan emosional dan

dalam mengembalikan keseimbangan badan.16Aromaterapi adalah terapi

yang menggunakan essential oil atau sari minyak murni untuk membantu

memperbaiki atau menjaga kesehatan, membangkitkan semangat,

menyegarkan serta menenangkan jiwa dan raga. Aromaterapi memiliki

manfaat yang sangat beragam, mulai dari pertolongan pertama sampai

membangkitkan rasa gembira.17

Aromaterapi adalah terapi atau pengobatan dengan menggunakan

bau-bauan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, bunga, pohon yang berbau

harum dan enak. Minyak astiri digunakan untuk mempertahankan dan

meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, sering digabungkan untuk

menenangkan sentuhan penyembuhan dengan sifat terapeutik dari minyak

astiri.18

Menurut jurnal penelitian aromaterapi merupakan salah satu teknik

penyembuhan alternatif yang sebenarnya berasal dari sistem pengetahuan

kuno. Aromaterapi merupakan metode pengobatan yang menggunakan

minyak essensial dalam penyembuhan holistik untuk memperbaiki

kesehatan dan kenyamanan emosional serta mengembalikan

keseimbangan badan.19

Aromaterapi dapat didefinisikan sebagai penggunaan terkendali

essensial tanaman untuk tujuan terapeutik.20 Jenis minyak aromaterapi

yang umum digunakan yaitu:


26

a. Minyak eukaliptus, radiata ( Eucalyptus Radiata Oil )

b. Minyak Rosemary ( Rosemary oil )

c. Minyak Ylang – Ylang ( Ylang – Ylang oil )

d. Minyak Lavender ( Lavender oil )

e. Minyak Geranium ( Geranium oil )

f. Minyak Peppermint.

Terapi dengan menggunakan minyak esensial dapat dilakukan

secara internal maupun eksternal. Penggunaan cara terapi yang tepat akan

sangat membantu daya kerja bahan aktif sekaligus efisien dan akurat

dalam penggunaan sediaan aroma terapi. Meskipun demikian, setiap

bahan yang akan digunakan perlu diketahui terlenih dahulu efektifitas

bahan aktifnya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh efek terapi yang

optimal dan tepat guna.15

2. SejarahAromaterapi

Aromaterapi telah digunakan sejak zaman Mesir kuno yang

memang terkenal dengan ilmu pengetahuan yang tinggi. Merekalah yang

menciptakan dan meramaikan dunia pengobatan, farmasi, parfum serta

kosmetik. Dari Mesir, aromaterapi dibawa ke Yunani, Cina, India

sertaTimur Tengah sebelum masuk ke Eropa di abad pertengahan. Pada

abad ke19 dimana ilmu kedokteran mulai terkenal, beberapa dokter pada

zaman itu tetap memakai minyak esensial dalam praktek sehari-hari

[Link] zamanaroma terapimodern, aromaterapi digali oleh Robert

Tisserand yang meniulis buku The Art of aromatherapy.21


27

Dewasa ini, riset membuktikan aneka penggunaan minyak aroma.

Riset kedokteran pada tahun-tahun belakang anini mengungkapkan fakta

bahwa bau yang kita cium memiliki dampak penting pada perasaan kita.

Menurut hasil penelitian ilmiah ,bau berpengaruh secara langsung

terhadap otak seperti obat. Misalnya, mencium lavender meningkatkan

rekuensi gelombang alfa terhadap kepala bagian belakang dan keadaan ini

dikaitkan dengan relaksasi.16

3. Aromaterapi Lavender

Dari minyak-minyak esensial tersebut, minyak lavender

merupakan minyak esensial yang paling populer. Minyak lavender berasal

dari semak yang sangat digemari di daerah mediterania. Istilah lavender

berasal dari kata lavandus, yang berarti membersihkan.17

Minyak lavender sangat aman dan bahkan dapat digunakan tanpa

dilarutkan untuk kulit. Minyak lavender juga dapat menyembuhkan

berbagai macam gangguan. Manfaat minyak lavender adalah merangsang

nafsu makan, sebagai tonik dan antispasmodik, menyembuhkan luka bakar

ringan dan berat, luka karena sayatan, rasa nyeri, memiliki efek anti septik

yang sangat kuat, digunakan dalam banyak persiapan kosmetik, sebagai

pengusir serangga, penyembuhan sakit dan nyeri otot, gangguan

pernafasan, influensa, gangguan pencernaan, gangguan alat kelamin –

buang air seperti Cystitis dan Dysmenorrhoea, sakit kepala dan

ketegangan pra menstruasi.22 Karena banyak sekali khasiatnya, minyak

lavender merupakan salah satu minyak terpopuler dalam aromaterapi.17


28

Kandungan kimia dari lavandula angustivolia ini sangat bervariasi

tergantung dari musim dan maturasi dari tanaman tersebut sewaktu

dipanen. Selain itu cara ekstrasi juga sangat berpengaruh terhadap

konsentrasi zat yang terdapat dalam minyak atisirinya. Tetapi dengan

metode destilasi uap minyak atsirinya dapat mengandung alfa-terpineol,

inalool dan linalil asetat dalam konsentrasi yang paling tinggi

dibandingkan dengan metode destilasi air superfisial.23

Nama minyak atsiri dari lavandula angustivolia ini adalah minyak

lavender dan biasanya diperoleh dengan ekstraksi dari bunga segar dan

dari kumpulan bunga pada tangkainya dengan menggunakan metode

destilasi uap. Kandungan minyakatsiri yang didapat dengan metode ini

adalah 1-3%.24

Berikut ini efek farmakologi untuk relaksasi yang dapat

ditimbulkan dari minyak lavender adalah :

a. Memiliki sifat analgesik.

b. Memiliki sifat antispasmodik (menurunkan kontaktilitas otot lurik).

c. Meneimbangkan sistem saraf tepi.

d. Memiliki sifat menenangkan.

e. Memiliki efek sedatif

f. Menurunkan frekuensi jantung

g. Antidepresan
29

4. Manfaat Aromaterapi

Aromaterapi memiliki banyak khasiat dan manfaat yang cukup

banyak. Adapun manfaat penting yang dapat diperoleh dari metode

aromaterapi adalah sebagai berikut:

a. Merupakan bagian utama dari parfum keluarga, yaitu dengan

memberikan sentuhan keharuman dan suasana wewangian yang

menyenangkan, ketika sedang berada dirumah maupun berpergian.

b. Merupakan salah satu metode perawatan yang tepat dan efisien dalam

menjaga tubuh agar tetap sehat

c. Banyak dimanfaatkan dalam pengobatan, khususnya dalam membantu

beragam penyakit, meskipun lebih ditujukan sebagai terapi pendukung

(support therapy).

d. Dapat membantu kelancaran fungsi sistem tubuh (improving body

function), antara lain, dengan cara mengembalikan keseimbangan

bioenergi tubuh.

e. Membantu meningkatkan stamina dan gairah seseorang, walaupun

sebelumnya tidak atau kurang memiliki gairah dan semangat hidup.

f. Dapat menumbuhkan perasaan yang tenang pada jasmani, pikiran dan

rohani (soothing the physical, mind and spiritual), dapat menciptakan

suasana yang damai, serta dapat menjauhkan dari perasaan cemas dan

gelisah.15
30

5. Teknik pemberian aroma terapi

Penyerapan minyak esensial ke dalam system sirkulasi

membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk diserap sepenuhnya oleh

system tubuh sebelum dikeluarkan kembali melalui paru-paru, kulit dan

urine dalam waktu beberapa jam kemudian.25 Berikut ini adalah beberapa

teknik yang lazim digunakan dalam aromaterapi:

a. Aromaterapi Inhalasi (menggunakan oil burner)

Penghirupan dianggap sebagai cara penyembuhan paling

langsung dan paling cepat, karena molekul- molekul minyak esensial

yang mudah menguap tersebut bertindak langsung pada organ-organ

penciuman dan langsung dipersepsikan oleh otak. Metode yang

populer adalah penghirupan yang dianggap bermanfaat. Ketika

aromaterapi dihirup, molekul yang mudah menguap dari minyak

tersebut dibawa oleh arus udara ke “ atap “hidung di mana silia –silia

yang lembut muncul dari sel-sel reseptor. Ketika molekul-molekul itu

menempel pada rambut-rambut tersebut, suatu pesan elektrokimia

akan ditransmisikan melalui saluran olfactory ke dalam system limbic.

Hal ini akan merangsang memori dan respons emosional.15

Hipotalamus berperan sebagai relay dan regulator,

memunculkan pesan-pesan yang harus disampaikan kebagian lain otak

serta bagian badan yang lain. Pesan yang diterima itu kemudian diubah

menjadi tindakan yang berupa pelepasan senyawa neurokimia yang

menyebabkan euforia, relaks, dan sedatif.17


31

b. Aromaterapi Massase atau Pijat

Massase merupakan metode perawatan yang paling banyak dikenal

dalam kaitannya dengan aroma terapi. Minyak esensial mampu

menembus kulit dan terserap ke dalam tubuh, sehingga memberikan

pengaruh penyembuhan dan menguntungkan pada berbagai jaringan

dan organ internal.17

c. Aromaterapi Mandi

Mandi yang sebagian besar orang merasakan manfaatnya untuk

relaksasi adalah mandi panas yang sebelumnya telah ditambahkan

persiapan wewangian yang memiliki kasiat tertentu. Mandi dapat

menenangkan dan melemaskan, meredakan sakit dan nyeri dan

jugadapat menimbulkan efek rangsangan, menghilangkan keletihan

dan mengembalikan tenaga.

d. Aromaterapi Kompres

Kompres efektif untuk penyembuhan berbagai macam sakit, nyeri otot

dan rematik, ruam-ruam dan sakit kepala. Untuk nyeri akut kompres

harus diulang – ulang bila telah mencapai blood temperature, jika

tidak maka kompres harus dibiarkan pada komposisinya selama

minimal dua jam dan yang lebih baik adalah semalam.

6. Cara Menggunakan Aromaterapi (aromaterapi Lavender dan

aromaterapi eucalyptus) pada ibu bersalin

Lavender dan eucalyptus membantu meningkatkan kekebalan

tubuh sekaligus bersifat analgesik yaitu mengurangi rasa nyeri. Salah satu
32

cara menggunakan aroma lavender adalah dengan cara dihirup termasuk

salah satu cara terapi yang sudah berumur tua. Terapi inhalasi sangat

berguna untuk mengatasi dan meringankan keadaan – keadaan yang

berhubungan dengan kondisi kesehatan tubuh seseorang. Adapun maksud

dari cara terapi ini adalah untuk menyalurkan khasiat zat – zat yang

dihasilkan oleh minyak esensial secara langsung. Yaitu, dengan

mengalirkan uap minyak esensial secara langsung atau melalui alat bantu

aroma terapi.15

Adapun cara menggunakan aromaterapi adalah sebagai berikut :

mengisi wadah tungku dengain air 5cc, kemudian tambahkan 3 tetes / 4

tetes minyak essensial aromaterapi lavender dan minyak kenanga dalamair

hangat tersebut, selanjutnya menyalakan lilin dibawah mangkuk tersebut

selama 10 menit.15
33

D. Kerangka Teori
Persalinan Faktor predisposisi
kala I a. Biologis: nyeri
persalinan,riwayat komplikasi -
b. Psikologis: takut akankelainan
bentuk tubuh, takut melukai
Kecemasan
bayi, pengalaman masa lalu
c. Sosiokultura: pengetahuan,
dukungan, sosial ekonomi
Penanganan

Farmakolog
Nonfarmakologi
i

1. Benzodiazepine
2. Alprazolam Aromaterapi lavender Aromaterapi eucalyptus

Meningkatkan aktivitas gelombang alfa yang


merupakan penanda seseorang dalam keadaan tenang,
dapat merangsang otak, dan membangun konsentrasi

Perasaan tenang pada jasmani, pikiran dan rohani


Kecemasan (soothing the physical, mind and spiritual), dapat
berkurang menciptakan suasana yang damai, serta dapat
menjauhkan dari perasaan cemas dan gelisah

Gambar 2.1 Kerangka Teori29, 33


34

E. Kerangka Konsep

Aromaterapi
lavender
Kecemasan
Persalinan
Aromaterapi
eucalyptus

Bagan 2.2. Kerangka Konsep

F. Hipotesis

Ha : Ada perbedaan efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus

dengan aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu

impartu kala I di RSUD Soewondo Kendal.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan

metode Pre-eksperimen. “penelitian pre-eksperimen hasilnya merupakan

variabel dependen bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen.”

Hal ini dapa tterjadi, karena tidak adanya varia belkontrol, dan sampel tidak

dipilih secara random.41

Desain penelitian merupakan rancangan bagaimana penelitian

dilaksanakan. Rancangan penelitian ini adalah pre-post two treatment

comparison.. Pendekatan yang digunakan adalah case control (kasus kontrol),

yaitu metode penelitian yang menilai hubungan paparan dan penyakit dengan

cara menentukan sekelompok orang berpenyakit (kasus) dan sekelompok

orang tidak berpenyakit (kontrol) kemudian membandingkan frekuensi

paparan pada kedua kelompok.42Berikut merupakan tabel desain penelitian

pre-post two treatment comparison.

Tabel3.1

Desainpenelitian pre-post two treatment comparison

Pretest Treatment Posttest


O1 X1 O2
O3 X2 O4

35
36

Keterangan:

O1 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sebelum pemberian

aroamterapi lavender

O2 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sesudah pemberian

aroamterapi lavender

O3 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sebelum pemberian

aroamterapi eucalyptus

O4 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sesudah pemberian

aroamterapi eucalyptus

X1 : pemberian aroma terapi lavender

X2 : pemberian aromaterapi eucalyptus

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei – Desember 2019. Adapun

lokasi penelitian di RSUD Soewondo Kendal.

C. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari suatu variable yang menyangkut

masalah yang diteliti.37Populasi yang digunakan dalam penelitian ini

adalah ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal. Populasi jumlah

seluruh ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal sebanyak 52 ibu

bersalin.
37

2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau

sebagai jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi.37 Besaran

sampel ditentukan menggunakan Roscoe, memberikan acuan umum untuk

menentukan ukuran sampel.37

a. Ukruan sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk

kebanyakan penelitian

b. Jika sampel dipecah kedalam sub sampel (pria atau wanita, junior atau

senior dan sebagainya) ukuran sampel minimum 30 untuk tiap

kategori adalah tepat.

c. Dalam penelitian multivariate (termasuk analisis regresi linier

berganda), ukuran sampel sebaiknya 10 x lebih besar dari indicator

dalam penelitian

d. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eksperimen

yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran

sampel kecil antara 10-20.

Berdasarkan penjelasan teori diatas penelitian ini termasuk ke dalam

penelitian eksperimental. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah

10 responden dalam masing – masing kelompok. Dengan jumlah 20

responden. Terdiri dari 10 ibu kelompok intervensi dan 10 ibu kelompok

kontrol.
38

a. Kriteria Inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang dipenuhi oleh setiap

anggota populasi yang dapat diambil sampel, kriteria inklusi dalam

penelitian ini adalah:38

1) Ibu bersalin tidak mengalami komplikasi persalinan

2) Bersedia menjadi responden

b. Kriteria Eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat

diambil sebagai sampel.

1) Ibu yang tidak ada di tempat saat penelitian

2) Ibu bersalin yang menjalani persalinan sectio caesarea

3. Tehnik Sampling

Teknik sampling adalah suatu proses seleksi sampling yang

digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada.42 Pengambilan

sampel dengan cara nonprobability sampling, dengan metode yang

digunakan accidental sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan

berdasarkan kebetulan yaitu responden yang secara kebetulan atau

insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila

dipandang orang yang ditemui itu cocok sebagai sumber data. Pada

penelitian ini peneliti mengambil sampel dengan menindentifikasi jumlah

responden di RSUD dr. H. Soewondo Kendal.


39

D. Definisi Operasional

Tabel 3.1. Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala


1 Aroma terapi Pemberian aromaterapi SOP - -
lavender lavender bentuk essensial oil
yang ditetes di atas tisu dan
digunakan dengan cara
dihirup melalui hidung.
Proses ini dilakukan selama
15 menit.
2 Aromaterapi Pemberian Aromaterapi SOP - -
eucalyptus eucalyptus kepada ibu
bersalin kala I fase aktif
2 Tingkat Tingkat kecemasan Kuesioner Skala Rasio
Kecemasan responden pada saat HARS kecemasan
pengambilan data karena pada ibu
menghadapi persalinan yang bersalin dari
diukur oleh peneliti 0 – 56
menggunakan Kuesioner berdasarkan
HARS kuesioner
HARS

E. Instrumen Penelitian

Alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan

data agar mempermudah dalam memperoleh informasi sehingga mudah

untuk diolah.37Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

1. lembar observasi skala nyeri persalinan kala I sebelum dan sesudah

diberikan aromaterapi Lavender dan eucalyptus.

2. SOP Aromaterapi eucalyptus

3. SOP Aroma terapi lavender

4. Lembar Observasi

5. Informed Choice

6. Lembar PSP
40

F. Teknik pengumpulan data

1. Jenis Data

Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur kuesioner

yang telah dibuat oleh peneliti dengan mengacu pada kepustakaan yang

terdiri dari beberapa pertanyaan dan responden diminta untuk mengisi

sendiri kuesioner yang [Link]-data yang menyebar pada masing-

masing sumber data/subyek penelitian perlu dikumpulkan untuk

selanjutnya diambil kesimpulan. Menurut sumbernya, data dibedakan

menjadi dua jenis:

a. Data primer

Data primer disebut juga data tangan pertama. Data primer diperoleh

secara langsung dari responden dengan cara mengisi lembar

observasi tingkat kecemasan persalinan kala I fase aktif ibu bersalin

di RSUD Soewondo Kendal.

b. Data sekunder

Disebut juga dengan data tangan kedua yang diperoleh lewat pihak

lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari subyek penelitian, berupa

data dokumentasi atau laporan yang tersedia di RSUD Soewondo.

2. Langkah penelitian

Penelitian ini meliputi tiga tahap yaitu tahap persiapan penelitian,

tahap pelaksanaan penelitian dan tahap akhir penelitian.

a. Tahap Persiapan Penelitian

1) Studi pendahuluan
41

Melakukan studi literatur terhadap teori yang relevan mengenai

model pembelajaran yang akan digunakan.

a) Konsultasi dengan pihak yang terkait dan responden mengenai

waktu penelitian, populasi dan sampel yang akan dijadikan

sebagai subjek dalam penelitian.

b) Pembuatan instrumen penelitian berupa tesuraian untuk

mengukur keterampilan proses sains dan hasil belajar,

lembarobservasi untuk mengukur keterlaksanaan model yang

digunakan.

(1) Menjudgment instrumen tes kepada dosen ahli

(2) Melakukan uji coba instrumen tes.

(3) Menganalisis hasil uji coba instrumen penelitian untuk

mengetahui layak atau tidaknya soal tersebut digunakan

sebagai instrumen penelitian.

2) Tahap Pelaksanaan Penelitian

a) Setelah peneliti mendapatkan ijin dari Dinas Kesehatan dalam

kemudian peneliti memberikan tembusan pada kepala RSUD

Soewondo.

b) Menentukan periode dan teknik pengambilan populasi

c) Menghitung jumlah sampel yang akan dilakukan pemberian

aroma therapi

d) Melakukan penapisan terhadap calon sampel untuk memenuhi

criteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan


42

e) Peneliti mengundang calon responden, kemudian

memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, manfaat, dan

prosedur penelitian

f) Peneliti meminta ibu membuat surat permohonan menjadi

respon dendan menandatangani lembar inform consent agi yang

bersedia menjad iresponden penelitian

g) Peneliti mencatat data responden termasuk no telephone

responden untuk pemberitahuan pelaksanaan pemberian aroma

therapi berikutnya

h) Peneliti melakukan pengukuran tingkat kecemasan awal

responden sebelum pemberian aroma therapi lavender dan

Aromaterapi eucalyptus dicatat dalam lembar observasi hasil

pengukuran tekanan darah

i) Peneliti melakukan pengukuran tingkat kecemasan awal

responden sebelum pemberi anoma therapi lavender dan

Aromaterapi eucalyptus dicatat dalam lembar observasi hasil

pengukuran tekanan darah

j) Peneliti memberikan therapi lavender dan Aromaterapi

eucalyptus

k) Peneliti melakukan pengukuran tingkat kecemasan sesudah

pemberi anoma therapi lavender dan Aroma terapi eucalyptus

dicatat dalam lembar observasi hasil pengukuran tekanan

darah
43

3) Tahap Akhir Penelitian

a) Mengolah data hasil penelitian serta menganalisis instrumen

yang lain seperti lembar observasi.

b) Menganalisis data hasil penelitian dan membahas temuan

penelitian

c) Memberikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data.

d) Memberikan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian.


44

Populasi
N = 52

Sampel
n = 32

Kelompok 1 (aromaterapi lavender) Kelompok 2 (aromaterapi eucalyptus)


n = 16 n = 16

Pre Test Pre Test

Ukur Kecemasan UkurKecemasan

aromaterapi aromaterapi eucalyptus


lavenderLama 10- Lama 10–15menit
15menit

Post Test Post Test


Ukur Kecemasan Ukur Kecemasan

Hasil Hasil

Uji Normalitas
( SaphiroWilk )

Tidak Normal
Normal
Independent t test Mann Whitney

Ha :Ada perbedaan efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan aromaterapi


lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di RSUD Soewondo Kendal.
H0 :tidak ada perbedaan efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan
aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di RSUD
Soewondo Kendal.

Bagan 4.1 Alur Penelitian


45

G. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan dapat dilakukan dengan langkah sebagi berikut :

1. Editing

Editing dilakukan setelah semua data yang kita kumpulkan melalui

kuesioner [Link] pertama yang kita lakukan adalah

memeriksa kembali semua kuesioner tersebut satu persatu.

2. Scoring

Setelah diberikan lembar observasi HARS, maka dilakukan pemberian

skor pada semua [Link] adalah mempermudah tabulasi dan

proses analisis data dengan menggunakan metode SPSS. Pada lembar

observasi apabila tidak ada gejala nilainya “0” (nol), terdapat satu gejala

nilainya “1” (satu), terdapat separuh gejala nilainya “2” (dua), lebih dari

separuh gejala nilainya “3” (tiga), dan apabila terdapat semua gejala

nilainya “4”(empat). Jika jawaban dijumlahkan dan hasilnya <14 maka

ibu dinyatakan tidak ada kecemasan, jika jawaban dijumlahkan dan

hasilnya >14 maka ibu dinyatakan ada kecemasan.

3. Coding

Memeberikan tanda kode-kode pada setiap jawaban yang dijawab

responden terhadap pertanyaan yang telah diajukan, hal ini dimaksudkan

untuk mempermudah waktu pengadaan tabulasi dan analisis data.

Kode 1 : aroma therapi lavender

Kode 2 : Aromaterapi eucalyptus :


46

4. Tabulating

Yaitu pengelompokan data kemudian dengan menggunakan daftar

distribusi frekuensi memasukan data sesuai variabel-variabel pertanyaan

dan item-itemnya dilanjutkan dengan mengambil kesimpulan dari hasil

tabel-tabel yang dikenakan.

5. Processing

Dilakukan dengan cara mengenter data setelah diedit dari coding, dan

ditabulasi bisa dengan manual maupun dengan computer.

6. Cleaning

Kegiatan pengecekan kembali data yang sudah ada kesalahan atau

tidak.

H. Analisa Data

Analisa data adalah di lakukan untuk menjawab suatu hipotesa dalam

penelitian, dan mempergunakan uji statistik yang sesuai dengan variabel

penelitian. Dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

1. Analisa Univariat.

Analisis univariat merupakan metode analisis yang paling

mendasar terhadap suatu data.41Model analisis univariat dalam

penelitian ini menampilkan angka hasil pengukuran dengan ukuran

tendensi sentral. Ukuran tendensi sentral meliputi perhitungan mean,

median, kuartil, desil persentil, dan modus.


47

2. Analisa Bivariat.

Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan terhadap dua variabel

untuk mengetahui hubungan dari kedua variabel. Analisis yang

menghubungkan satu variabel independen dengan satu variabel

dependen, maka di gunakan uji normalitas jika data berdistribusi normal

maka menggunakan tabel parametrik, tapi jika data berdistribusi tidak

normal maka di gunakan tabel non parametrik. Shapiro Wilk digunakan

jika subyek atau sampel kurang dari 50. Jika probalitas ≥ 0,05 maka

data tersebut berdistribusi normal,Jika probalitas <0,05 maka data

tersebut berdistribusi tidak normal.

Perbedaan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah

pemberian aromaterapi eucalyptus pada ibu bersalin kala I di RSUD

Soewondo Kendal, dilakukan uji normalitas bila data data terdistribusi

normal maka uji bivariat menggunakan uji Paired Sampel T-test apabila

data berdistribusi tidak normal maka menggunakan Wilcoxon.

Perbedaan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah

pemberian aromaterapi lavender pada ibu bersalin kala I di RSUD

Soewondo Kendal. Dilakukan uji normalitas bila data data terdistribusi

normal maka uji bivariat menggunakan uji Paired Sampel T-test apabila

data berdistribusi tidak normal maka menggunakan Wilcoxon.

Efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan aromaterapi

lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di RSUD

Soewondo Kendal. Data diuji dengan independent T-test, namun karena


48

termasuk uji parametrik maka data perlu dilakukan uji normalitas

terlebih dahulu dengan menggunakan uji Shapiro Wilk karena jumlah

responden < 50, jika data berdistribusi normal (p value> 0,05) maka

data selanjutnya diuji dengan independent T test, namun jika data

berdistribusi tidak normal selanjutnya data diuji dengan Mann-Whitney.

I. Etika Penelitian

Etika penelitian merupakan bagian yang penting dalam penelitian

keperawatan. Hal ini dikarenakan objek dalam penelitian keperawatan

menggunakan manusia. Manusia memiliki hak-hak asasi yang harus

dihormati oleh peneliti. Etika penelitian yang perlu dilakukan meliputi

antara lain:31 Etika dalam mendapatkan data meliputi :

1. Lembar persetujuan menjadi responden (inform consent)

Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti.

Dengan tujuan agar responden mengerti maksud dan tujuan penelitian

yang dilakukan. responden bersedia untuk .

2. Anonimity ( tanpa nama)

Demi untuk menjaga kerahasiaan responden maka peneliti tidak

mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data

(lembar kuesioner ) cukup dengan menberikan kode – kode pada

masing –masing lembar pengumpulan data.


49

3. Confidentiality ( kerahasiaan )

Setiap informan memiliki hak mengundurkan diri, sehingga informan

dapat menyatakan untuk tidak ikut sertakan dalam penelitian dengan

alasan tertentu. Dalam menentu etika penelitian yang subyeknya

adalah manusia, peneliti berpedoman pada 3 prinsip dasar.

Anda mungkin juga menyukai