STIKES KARYA HUSADA
SEMARANG
Entrepreneur Campus
EFEKTIVITAS PEMBERIAN AROMATERAPI EUCALYPTUS
DENGAN AROMATERAPI LAVENDER TERHADAP
KECEMASAN PADA IBU INPARTU KALA I FASE AKTIF
DI RSUD SOEWONDO KENDAL.
PROPOSAL
Disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Terapan
Kebidanan Pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang
Disusun Oleh :
INDRA KURNIASARI
NIM.1804393
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2019
i
HALAMAN PERSETUJUAN
Proposal yang disusun oleh:
Nama : INDRA KURNIASARI
NIM : 1804393
Prodi : Sarjana Terapan Kebidanan
Judul : Efektivitas Pemberian Aromaterapi Eucalyptus Dengan Aromaterapi
Lavender Terhadap Kecemasan Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif
Di RSUD Soewondo Kendal.
Telah disetujui oleh pembimbing pada:
Hari :
Tanggal :
Untuk dipertahankan di hadapan tim penguji Proposal Program Studi Sarjana
Terapan Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang
Pembimbing I Pembimbing II
Heni Wijayanti, SSiT, [Link] NS. Amrih Widiyanti, [Link]
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Proposal yang disusun oleh:
Nama : INDRA KURNIASARI
NIM : 1804393
Prodi : Sarjana Terapan Kebidanan
Judul : Efektivitas Pemberian Aromaterapi Eucalyptus Dengan Aromaterapi
Lavender Terhadap Kecemasan Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif
Di RSUD Soewondo Kendal.
Telah dipertahankan di hadapan tim penguji Proposal Program Studi Sarjana
Terapan Kebidanan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Karya Husada Semarang
pada:
Hari :
Tanggal :
Tim penguji:
Nama Tanda Tangan
1. Lestari Puji Astuti, SSiT, [Link] Penguji Utama ......................
2. Heni Wijayanti, SSiT, [Link] Penguji II ......................
3. NS. Amrih Widiati, [Link] Penguji III ......................
iii
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
segala rahmat dan karunia-Nya yang tidak bisa ternilai. Shalawat dan salam kita
ucakan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabat dan
para pengikutnya. Proposal Skripsi dengan judul “Efektivitas Pemberian
Aromaterapi Eucalyptus Dengan Aromaterapi Lavender Terhadap Kecemasan
Pada Ibu Inpartu Kala I Fase Aktif di RSUD Soewondo Kendal.” Ini dapat
tersusun atas bantuan berbagi pihak, instasi terkait. Untuk itu, kami
perkenankanlah penulis dengan segala kerendahan hati mengaturkan terima kasih
kepada :
1. Dr. Ns. Fery Agusman,M.M.,[Link],[Link] Selaku Ketua Stikes Karya
Husada Semarang.
2. Lestari Puji Astuti, [Link],[Link] selaku Ka. Prodi Sarjana Terapan Kebidanan
Stikes Karya Husada Semarang.
3. Lestari Puji Astuti, [Link],[Link] selaku Penguji.
4. Heni Wijayanti, SSiT, [Link] selaku pembimbing I , atas masukan ,
pengarahan dan motivasi bagi penulis.
5. NS. Amrih Widiati, [Link] selaku pembimbing II, atas masukan , pengarahan
dan motivasi bagi penulis.
6. Keluarga tercinta khususnya suami dan anak – anak yang selalu memberikan
dukungan serta doa yang tulus kepada penulis.
iv
7. Teman – teman seperjuangan angkatan 2018/2019 yang telah memberikan
dukungan serta membantu dalam penyelesaian proposal ini.
Sebagai buah karya manusia, penulis menyadari tulisan ini tidak luput
dari segala kekurangan. Oleh karena itu penulis berharap adanya masukan
kritikan serta saran yang membangun demi perbaikan karya ini.
Semarang Agustus 2019
Penulis
v
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………. i
HALAMAN PERSETUJUAN ………………………………………… ii
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………….. iii
KATA PENGANTAR………………………………………………… iv
DAFTAR ISI………………………………………………………….. vi
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………. viii
DAFTAR TABEL …………………………………………………..... ix
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………. x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang………………………………………………… 1
B. Perumusan Masalah…………………………………………… 6
C. Tujuan Penelitian……………………………………………… 7
D. Manfaat Penelitian…………………………………………….. 8
E. Keaslian Penelitian…………………………………………….. 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Persalinan …………………………………………………. .......... 11
B. Kecemasan Persalinan Kala 1....................................................................15
C. Aroma Terapi ...............................................................................................23
D. Kerangka Teori………………………………………………….... 32
E. Kerangka konsep………………………………………………. .... 33
F. Hipotesis ......................................................................................... 33
vi
BAB III METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian………………………………………….. 34
B. Waktu dan Tempat Penelitian………………………………….. 35
C. Populasi dan sampel ..............…………………………………. 35
D. Definisi Operasional…………………………………………….. 37
E. Instrumen Penelitian……………………………………………. 38
F. Tehnik Pengumpulan Data……………………………………… 38
G. Tehnik Pengolahan Data………………………………………... 42
H. Analisa Data…………………………………………………….. 43
I. Etika Penelitian………………………………………………… . 45
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. Keaslian Penelitian ......................................................................... 9
Tabel 3.1. Definisi Operasional ..................................................................... 37
viii
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1. Kerangka Teori……………………………………….. 32
Bagan 2.2. Kerangka Konsep…………………………………….. 33
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Permohonan Menjadi responden
Lampiran 2 Surat Persetujuan Menjadi responden
Lampiran 3 Lembar Observasi
Lampiran 4 Lembar Oponen
Lampiran 5 Lembar Bimbingan
x
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan kesehatan ibu dan anak mendapatkan perhatian yang
khusus dan diprioritaskan dalam upaya meningkatkan kesehatan. Penilaian
terhadap kesehatan ibu sangat penting untuk dilakukan pengawasan,
dikarenakan angka kematian ibu salah satu indicator penting yang
menggambarkan kesejahteraan masyarakat di suatu negara.1
Menurut World Health Organization (WHO), angka kematian ibu
(AKI) menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab
kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak
termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan
dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama
kehamilan per 100.000 kelahiranhidup. Data kematian ibu yang digunakan
saat ini masih menggunakan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
Tahun 2013, angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi sebesar 339
per100.000 kelahiran hidup.1
Angka kematian ibu provinsi Jawa Tengah tahun 2017 berdasarkan
laporan dari kabupaten/ kota sebesar 118,2/ 100.000 kelahiran hidup, angka
kematian ibu di Jawa Tengah mengalami peningkatan dibandingkan dengan
angka kematian ibu pada tahun 2016.2 Penurunan AKI yang ditargetkan oleh
provinsi Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan dengan target nasional
sebesar 90/100.000 kelahiran hidup. Di Kota Kendal sendiri mengikuti target
1
2
yang ingin dicapai oleh target AKI di Provinsi Jawa Tengah. AKI yang terjadi
di kabupaten Kendal tahun 2017sebesar 44/ 100.000 kelahiran hidup.
Penyebab langsung yang berkaitan dengan kematian ibu ini adalah karena
perdarahan yaitu sebesar 43,7%, infeksi sebesar 12,3%, dan Eklamsia/Pre
Eklamsia sebesar 37,5%. Sedangkan angka kematian ibu paling banyak
adalah pada waktu bersalin sebesar49,52%, kemudian disusul pada waktu
nifas 30,06% dan pada waktu hamil sebesar 20,42%.3
Salah satu penyebab terjadinya AKI yaitu factor persalinan. Karena
persalinan sendiri dilalui dengan situasi yang penuhdengan kecemasan dan
membuat emosi pada ibu bersalin, sehingga dibutuhkan seorang pendamping
yang bisa menenangkan emosi ibu dan membuat proses persalinan tersebut
dapat dilalui dengan lancar. Salah satu pendamping yang dibutuhkan oleh ibu
yaitu suami4.
Keberhasilan sebuah proses persalinan sangat dipengaruhi oleh kondisi
fisik ibu dan bayi, kondisi psikis maupun penolong yang membantu proses
persalinan. Bila salah satu dari factor tersebut ada yang tidak sesuai bisa
terjadi masalah dalam proses persalinan, baik terhadap ibu atau bayinya. Hal
ini sangat penting, mengingat beberapa kasus kematian ibu dan bayi
diakibatkan oleh tidak terdeteksinya secara dini adanya salah satu dari faktor-
faktor tersebut, sehingga terjadi keterlambatan penanganan.5
Dalam perjalanan Persalinan Kala 1 ibu mengalami gangguan
psikologi yaitu kecemasan dimana kecemasan merupakan sebagai reaksi fisik,
mental, kimiawi dari tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan,
3
membingungkan, membahayakan dan merisaukan seseorang. Secara
psikologis kecemasan meningkat dipengaruhi oleh koordinasi dan gerak
reflek. Kesulitan mendengarkan atau mengganggu hubungan dengan orang
lain. Kecemasan dapat membuat individu menarik diri dan menurunkan
keterlibatan dengan orang lain.6
Perasaan cemas pada ibu bersalin dengan memikirkan kondisi bayi
dan proses persalinan. Ibu bersalin yang mengalami rasacemas yang berlebih
akan beresiko terjadinya rangsangan kontrak si janin yang dapat
mengakibatkan keguguran dan tekanan darah meningkat sehingga timbul
kejadian preeklampsia. Selain preeclampsia ibu bersalin yang kurang
mendapatkan dukungan dan mengalami stres mental sehingga beresiko
mengalami kelahiran premature.6 Tingkat katekolamin yang tinggi dalam
darah bisa memperpanjang persalinan dengan mengurangi efisiensi kontraksi
rahim dan dapat merugikan janin dengan mengurangi aliran darah menuju
plasenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan penatalaksanaan persalinan
menjadi kurang terkendali dan memungkinkan terjadi trauma pada bayi.7
Banyak cara yang dapat digunakan dalam menghilangkan kecemasan
saat persalinan, cara tersebut antara lain dengan tindakan farmakologis dan
tindakan non farmakologis. Tindakan farmakologis yang digunakan antara
lain penggunaan analgesik, suntikan epidural, Intracthecal Labor Analgesik
(ILA). Tindakan-tindakan tersebut hampir semua mempunyai efek samping
pada ibu dan juga. Penatalaksanaan nyeri secara farmakologi lebih efektif
dibanding dengan tindakan non farmakologi, namun tindakan farmakologi
4
lebih mahal dan sebagian besar memiliki efek yang merugikan sedangkan
tindakan non farmakologi lebih murah, sederhana, efektif dan tanpa efek yang
merugikan.8
Metode nonfarmakologis juga dapat meningkatkan kepuasan selama
persalinan, karena ibu dapat mengontrol perasaannya dan kekuatannya.
Relaksasi, teknik pernafasan, pergerakan dan perubahan posisi, massage,
hidroterapi, terapi panas/dingin, musik, guided imagery, akupresur,
aromaterapi merupakan beberapa teknik nonfarmakologis yang dapat
meningkatkan kenyamanan ibu saat bersalin dan mempunyai pengaruh pada
koping yang efektif terhadap pengalaman persalinan. Keunggulan aromaterapi
dibandingkan dengan metode non farmakologis adalah dapat membantu
meringankan stress, anti depresan, meningkatkan memori, meningkatkan
jumlah energi, penyembuhan dan pemulihan, mengatasi insomnia, sistem
kekebalan tubuh, menghilangkan rasa sakit, meringankan gangguan
pencernaan.9.
Pertama diperkenalkan di Inggris pada awal tahun 1990, aromaterapi
menggunakan ekstrak wewangian tertentu untuk menebar aroma dalam
ruang bersalin. Efeknya dapat menenangkan, hilangnya rasa cemas dan
relaksasi ibu bersalin. Dalam penelitian di Inggris, aroma bunga mawar
mempunyai efek yang paling besar, kemudian bunga lavender.10
Aromaterapi lavender atau terapi menggunakan minyak atsiri bunga
lavender dapat mempengaruhi suasana hati menjadi tenang, meningkatka
nkewaspadaan, kemampuan berkonsentrasi, dan menurunkan kecemasan
5
seseorang. Ia mengatakan aromaterapi lavender mampu meningkatkan
aktivitas gelombang alfa yang merupakan penanda seseorang dalam keadaan
tenang, dapat merangsang otak, dan membangun konsentrasi.11
Sebagaimana minyak kayu putih, minyak eucalyptus juga banyak
dimanfaatkan untuk menghangatkan tubuh. Namun tidak hanya itu, minyak ini
memiliki berbagai manfaat lain. Eucalyptus merupakan sejenis pohon yang
daun dan minyaknya dapat digunakan untuk membuat obat. Setelah daun
eucalyptus melalui proses penyulingan, maka akan diperoleh minyak
eucalyptus. Penggunaa nminyak eucalyptus sangat luas, mulai dari produk
farmasi, pengharum, antiseptik, hinggapenggunaan di bidang industri. Meski
butuh penelitian lebih lanjut, namun eucalyptus seringkali digunakan untuk
penderita kondisi kesehatan tertentu, seperti asma, bronkitis, plak, gingivitis,
serta kutu pada kepala. Minyak eucalyptus mungkin tidak dapat membantu
menyembuhkan sakit kepala, namun produk ini dapat membantu
menenangkan, sehingga penderita dapat berpikir lebih baik.12
Dalam penelitian Nova Winda 2019 didapatkan hasil bahwa terjadi
penurunan tingkat kecemasan setelah diberi aromaterapi lavender. Rasa
cemas ini bisa dipengaruhi oleh arti cemas yang dirasakan seseorang, persepsi
cemas, dan reaksi cemas yang merupakan respon seseorang terhadap
cemas seperti ketakutan, gelisah, menangis dan menjerit dan dapat juga
dipengaruhi oleh kondisi sosial dan letak daerah. Kecemasan ini dapat
diatasi dengan menggunakan aromaterapi lavender. Pasien yang
mendapatkan aromaterapi ini akan merasa tenang, nyaman, rileks, puas dan
6
akan lebih dekat dengan petugas kesehatan yang melayani sehingga secara
tidak langsung hal ini bisa mengurangi tingkat cemas yang dirasakan.13
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fatmawati (2017) tentang
perbedaan kecemasan ibu bersalin primigravida Kala I yang diberi dengan
yang tidak diberi aromaterapi lavender dengan hasil penelitian
menunjukkanRata-rata ibu bersalin yang diberi aromaterapi tidak mengalami
kecemasan dibandingkan dengan ibu yang tidak diberi aromaterapi. Sehingga
dapat disimpulkan ibu bersalin yang ada di Pondok Bersalin Hikmah rata-rata
tidak mengalami kecemasan, yang perlu diupayakan tenaga kesehatan
memberikan aromaterapi di tempat bersalin agar ibu dapat beradaptasi dengan
lingkungan sekitar.14
RSUD Soewondo merupakan rumah sakit rujukan pertama di
Kabupaten Kendal, kasus persalinan dengans ectio caesarea pada bulan April
sampai Juni 2019 sebanyak 40,37 % dimana 42,13 % sc atas indikasi partus
lama. 26,72% atas indikasi ketuban pecah dini, 16,91% karena pre eklamsia,
11, 21% karena fetal distress dan lain – lain. Persalinan pervaginam 59,05%
vacum ekstraksi 0,29% sebagian besar persalinan pervaginam adalah
persalinan dengan induksi yaitu 71,8%, dengan indikasi ketuban pecah dini,
serotinus, pre eklamsi, oligohidramnion, inersia uteri dan lain-lain.
Berdasarkan data di atas partus lama bisa menyebabkan kecemasan karena
biasanya ibu akan bersalin takut dan selama ini diruang bersalin untuk
mengurangi kecemasan pasien hanya diminta untuk berdoa, tarik nafas
panjang dan suami atau keluarga untuk mendampinginya. Untuk mengurangi
7
kecemasan pada ibu inpartu belum diterapkanmetode non farmakologi
aromatherapy lavender dan aromatherapy eucalyptus.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang
dapat dirumuskan adalah “Adakah bagaimana efektivitas pemberian
aromaterapi eucalyptus dengan aromaterapi lavender terhadap kecemasan
pada ibu impartu kala I di RSUD Soewondo Kendal.?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan
aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di
RSUD Soewondo Kendal.
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah
pemberian aromaterapi eucalyptus pada ibu bersalin kala I di RSUD
Soewondo Kendal.
b. Mendeskripsikan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah
pemberian aromaterapi lavender pada ibu bersalin kala I di RSUD
Soewondo Kendal.
c. Menganalisa pengaruh pemberian aromaterapi eucalyptus terhadap
kecemasan ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal
8
d. Menganalisa pengaruh pemberian aromaterapi lavenderterhadap
kecemasan ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal
e. Menganalisa efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan
aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di
RSUD Soewondo Kendal.
D. Manfaat Penelitian
1. Ibu bersalin
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengalaman ibu dalam
memilih dan menggunakan aromaterapi dalam rangka mengelola nyeri
persalinan kala I sehingga benar-benar dapat menurunkan nyeri persalinan.
2. Bagi institusi kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai intervensi dan
pertimbangan dalam melaksanakan pemberian aromaterapi pada ibu
bersalin dengan tujuan untuk menurunkan intensitas nyeri dan
memberikan relaksasi pada ibu bersalin kala I.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan
dan wawasan bagi mahasiswa tentang efektivitas pemberian aromaterapi
eucalyptus dengan aromaterapi lavender pada ibu bersalin kala.
9
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan informasi untuk
peneliti selanjutnya tentang manfaat aromaterapi eucalyptus dan
aromaterapi lavender terhadap pengendalian nyeri persalinan kala I.
10
E. Keaslian Penelitian
Tabel.1.1. Keaslian Penelitian
Peneliti, Perbedaan
Judul penelitian Metode penelitian Hasil penelitian
tahun
Nova Winda Efektivitas Pemberian Rancangan Hasil penelitian Perbedaan dengan
2019 Aromaterapi Lavender penelitian eksperimen menunjukkan bahwa penelitian sekarang
Untuk Menurunkan menggunakan model pemberian aromaterapi adalah variabel dan
Kecemasan Ibu Hamil quasi experiment dapat menurunkan metode penelitian
Trimester Iii Dalam dengan bentuk two- kecemasan ibu hamil yang digunakan
Persiapan Menghadapi group pretest- trimester III dalam srta tempat
Persalinan Di Bidan posttest design persiapan menghadapi penelitian
Praktek Mandiri persalinan terbukti
Nurussyifa Kecamatan bahwa hasil uji
Buniseuri Ciamis diperoleh nilai
sebesar3,494dengan
signifikansi sebesar
0,000. Hal ini
menunjukkan bahwa
nilai ρ< 0,05 yang
berarti pemberian
aromaterapi dapat
menurunkan
kecemasan ibu hamil
trimester III dalam
persiapan menghadapi
persalinan.
Rahma Dwi Pengaruh aromaterapi Penelitian dilakukan Hasil penelitian Perbedaan dengan
Syukrini terhadap tingkat dengan menunjukkan terdapat penelitian sekarang
2016 kecemasan pada ibu menggunakan quasi pengaruh inhalasi adalah subyek
persalinan kala I di experimental dengan aromaterapi mawar penelitian, metode
kamar bersalin RSU non equivalent terhadap tingkat dan tempat
Kab Tangerang. control group design. kecemasan pada ibu penelitian
persalinan kala I
kelompok intervensi
dengan nilai
(p=0,000) <0,05.
Terdapat perbedaan
rerata skor tingkat
kecemasan pada
kelompok kontrol
(p=0,005) <0,05.
Terdapat perbedaan
rerata skor tingkat
kecemasan yang
bermakna antara
kelompok intervensi
dan kelompok kontrol
(p=0,000) <0,05
Nike Sari Efek aroma ekstrak Penelitian ini Hasil yang didapatkan Perbedaan dengan
Oktavia, melati terhadap menggunakan metode antara lain, pada penelitian sekarang
2017 Pengurangan nyeri eksperimen semu kelompok Ekstrak adalah variabel dan
persalinan kala i fase dengan total 48 orang Melati terjadi metode penelitian
aktif Pada parturient parturient yang penurunan nilai median yang digunakan
11
berada dalam kala I 6 dengan rentang 4–9 srta tempat
fase aktif persalinan menjadi median 4 (3– penelitian
9), sementara pada
kelompok Kontrol
mengalami eningkatan
intensitas nyeri dengan
nilai median 4.5 (2–10)
menjadi 9 (4–10)
Siti cholifah, Pengaruh aromaterapi Rancangan penelitian Hasil penelitian rata- Perbedaan dengan
2016 inhalasi lemon Quasi experiment rata nyeri persalinan penelitian sekarang
Terhadap penurunan dengan pre test– pada kelompok yang adalah variabel dan
nyeri persalinan post test non diberikan aromaterapi metode penelitian
Kala i fase aktif equivalent control lebih rendah 4,74 + yang digunakan
group design. 1,327 dibandingkan srta tempat
kelompok kontrol 5,79 penelitian
+ 1,316. Hasil uji
Mann-Whitneyp 0,001
< 0,05. Variabel luar
yang berpengaruh
terhadap nyeri
persalinan adalah
kecemasan dengan nilai
p<0,05. Aromaterapi
inhalasi lemon dapat
menurunkan nyeri
persalinan kala I fase
aktif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban
keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi
pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai
penyulit. Persalinan (inpartu) dimulai sejak uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan
berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap.26
Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya
kontraksi uterus yang menyebabkan terjadinya dilatasi progresif dari
serviks, kelahiran bayi, dan kelahiran plasenta, dan proses tersebut
merupakan proses alamiah.27 Bentuk persalinan berdasarkan teknik
persalinan spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu
sendiri dan melalui jalan lahir. Persalinan buatan, yaitu persalinan dengan
tenaga dari luar dengan ekstraksi forceps, ekstraksi vakum dan sectio
sesaria Persalinan anjuran yaitu bila kekuatan yang diperlukan untuk
persalinan ditimbulkan dari luar dengan jalan pemberian rangsang.28.
2. Tahap persalinan
Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I serviks membuka
dari 0 sampai 10 cm. Kala I dinamakan juga kala pembukaan. Kala II
disebut juga dengan kala pengeluaran, oleh karena kekuatan his dan
12
13
kekuatan mengedan, janin didorong keluar sampai lahir. Dalam kala III
atau disebut juga kala uri, plasenta terlepas dari dinding uterus dan
dilahirkan. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam kemudian.
Dalam kala tersebut diobservasi apakah terjadi perdarahan postpartum.27
3. Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
a. Faktor Power
Power adalah tenaga atau kekuatan yang mendorong janin keluar.
Kekuatan tersebut meliputi his, kontraksi otot-otot perut, kontraksi
diafragma dan aksi dari ligament, dengan kerja sama yang sempurna.
1) His (kontraksi uterus)
Adalah kekuatan kontraksi uterus karena otot – otot polos rahim
bekerja dengan baik dan sempurna. Sifat his yang baik adalah
kontraksi simetris, fundus dominan, terkoordinasi dan relaksasi.
a) Pembagian his dan sifat-sifatnya:
(1) His pendahuluan: his tidak kuat, datangnya tidak teratur,
menyebabkan keluarnya lender darah atau bloody show.
(2) His pembukaan (kala I) : menyebabkan pembukaan serviks,
semakin kuat, teratur dan sakit.
(3) His pengeluaran (kala II): untuk mengeluarkan janin,
sangat kuat, teratur, simetris, terkoordinasi.
(4) His pelepasan uri (kal III) : terkoordinasi sedang untuk
melepaskan dan melahirkan plasenta.
14
(5) His pengiring (kala IV) : kontraksi lemah, masih sedikit
nyeri, terjadi pengecilan rahim setelah beberapa jam atau
hari.
b) Tenaga mengejan
(1) Setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah, tenaga
yang mendorong anak keluar selain his, terutama
disebabkan oleh kontraksi otot-otot dinding perut, yang
mengakibatkan peninggian tekanan intra abdominal.
(2) Tenaga ini serupa dengan tenaga mengejan waktu kita
buang air besar, tapi jauh lebih kuat lagi.
(3) Saat kepala sampai ke dasar panggul, timbul reflex yang
mengakibatkan ibu menutup glottisnya, mengkontraksikan
otot-otot perut da nmenekan diafragmanya ke bawah.
(4) Tenaga mengejan ini hanya dpat berhasil bila pembukaan
sudah lengkap, dan paing efektif sewaktu ada his.
(5) Tanpa tenaga mengejan, anak tidak dapat [Link]
pada penderita yang lumpuh otot-otot perutnya, persalinan
harus dibantu dengan forceps.
(6) Tenaga mengejan ini juga melahirkan plasenta setelah
terlepas dari dinding rahim.
15
b. Faktor Passager
Faktor lain yang berpengaruh terhadap persalinan adalah faktor janin,
yang meliputi sikap janin, letak, presentasi, bagian terbawah dan posisi
janin.
c. Faktor Passage (Jalan Lahir)
Passage atau faktor jalan lahir dibagi menjadi:
1) Bagian keras : tulang – tulang panggul (rangka panggul)
2) Bagian lunak : otot-otot, jaringan-jaringan dan ligament - ligament.
d. Faktor Psikologi Ibu
Keadaan psikologi ibu mempengaruhi proses persalinan. Ibu bersalin
yang didampingi oleh suami dan orang - orang yang dicintainya
cenderung mengalami proses persalinan yang lebih lancar
dibandingkan dengan ibu bersalin yang tanpa didampingi oleh suami
atau orang – orang yang dicintainya. Ini menunjukkan bahwa
dukungan mental berdampak positif bagi keadaan psikis ibu, yang
berpengaruh pada kelancaran proses persalinan.
e. Faktor Penolong
Kompetensi yang dimiliki penolong sangat bermanfaat untuk
memperlancar proses persalinan dan mencegah kematian maternal
neonatal. Dengan pengetahuan dan kompetensi yang baik diharapkan
kesalahan maupun malpraktek dalam memberikan asuhan tidak
terjadi.29
16
4. Fase Persalinan Kala 1
Kala I persalinan memiliki 2 fase yaitu fase laten dan fase aktif.
Kala I persalinan dibagi menjadi tiga bagian : persalinan awal, persalinan
aktif dan persalinan transisi. Untuk ibu primipara, fase laten dimulai saat
serviks yang keras dan tertutup melunak, dan diameter ostium eksterna
atau diameter pembukaan serviks meningkat. Perubahan ostiumakan
disertai kontraksi teratur yang terjadi sekitar setiap 5 menit. Kala
persalinan berakhir dengan pembukaan serviks 10 cm. Faselaten pada ibu
primipara dianggap memanjang jika selama 20 jam.
Persalinan normal (pembukaan 1-10) harus berlangsung selama 9-
12 jam untuk ibu primipara. Pada umumnya, ibu diharapkan mengalami
pembukaan serviks sekitar 1cm perjam setelah fase aktif persalinan
dimulai atau setelah ibu mengalami pembukaan 4 cm. Persalinan normal
(pembukaan 4-10cm) harus berlangsung selam 5-8 jam.30
B. Kecemasan Persalinan Kala 1
1. Pengertian Kecemasan
Kecemasan merupakan reaktivitas emosional berlebihan, depresi
yang tumpul ,atau konteks sensitif, respon emosional.31 Pendapat lain
menyatakan bahwa kecemasan merupakan perwujudan dar iberbaga
iemosi yang terjadi karena seseorang mengalami tekanan perasaan dan
tekanan batin. Kondisi tersebut membutuhkan penyelesaian yang tepat
sehingga individu akan merasa aman. Namun, pada kenyataannya tidak
semua masalah dapat diselesaikan dengan baik oleh individu bahkan ada
17
yang cenderung dihindari. Situasi ini menimbulkan perasaan yang tidak
menyenangkan dalam bentuk perasaan gelisah, takut atau bersalah.32
Kecemasan timbul karena adanya sesuatu yang tidak jelas atau
tidak diketahui sehingga muncul perasaan yang tidak tenang, rasa
khawatir, atau ketakutan.33Kecemasan merupakan perwujudan tingkah
laku psikologis dan berbagai pola perilaku yang timbul dari perasaan
kekhawatiran subjektif dan ketegangan.34
Timbulnya kecemasan dalam, persalinan biasanya berhubungan
dengan kondisi kesejahteraan ibu dan bayi yang akan dilahirkan,
pengalaman keguguran, rasa aman dan nyaman selama kehamilan,
penemuan jatidirinya dandan persiapan menjadi orangtua, sikap member
dan menerima kehamilan, keuangan keluarga, dukungan keluarga, support
tenagamedis, usia ibu hamil, dukungan suami ,tingkat persiapan personal
ibu, pengalam traumatis ibu dan tingkat aktifitas.35
2. Klasifikasi Tingkat Kecemasan
Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak
berdaya. Ada empat tingkatanyaitu :36
a. Kecemasan Ringan
Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari- hari.
Individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan
indera. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu
memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan
dan kreatifitas.
18
b. Kecemasan Sedang
Individu terfokushanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya,terjadi
penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu
dengan arahan orang lain.
c. Kecemasan Berat
Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada
detil yang kecil dan spesifik dan tidak dapat berfikir hal-hal lain.
Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan
perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus pada area lain.
d. Panik
Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatian hilang. Karena
hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun
dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik,berkurangnya
kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan
persepsidan hilangnya pikiranrasional, tidak mampu berfungsi secara
efektif. Biasanya disertai dengan disorganisasi kepribadian.
3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi kecemasan
Faktor yang mempengaruhi kecemasan dibedakan menjadi
duayaitu:37
a. Faktor prediposisi yang menyangkut tentang teori kecemasan:
1) Teori Psikoanalitik
Teori Psikoanalitik menjelaskan tentang konflik emosional
yang terjadi antara dua elemen kepribadian diantaranya Id dan
19
[Link] mempunyai dorongan naluri dan impuls primitive
seseorang, sedangkan Ego mencerminkan hati nurani seseorang
dan di kendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Fungsi
kecemasan dalam ego adalah mengingatkan ego bahwa adanya
bahaya yang akan datang.
2) Teori Interpersonal
Kecemasan merupakan perwujudan penolakan dari
individu yang menimbulkan perasaan takut. Kecemasan juga
berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan
kehilangan yang menimbulkan kecemasan. Individu dengan harga
diri yang rendah akan mudah mengalami kecemasan.
3) Teori perilaku
Pada teoriini, kecemasan timbul karena adanya stimulus
lingkungan spesifik, pola berpikir yang salah, atau tidak produktif
dapat menyebabkan perilaku maladaptive .Penilaian yang
berlebihan terhadap adanya bahaya dalam situasi tertentu dan
menilai rendah kemampuan dirinya untuk mengatasi ancaman
merupakan penyebab kecemasan pada seseorang.
4) Teori biologis
Teori biologis menunjukan bahwa otak mengandung
reseptor khusus yang dapat meningkatkan neuroregulator inhibisi
(GABA) yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang
berkaitan dengan kecemasan. Gangguan fisik dan penurunan
20
kemampuan individu untuk mengatasi stressor merupakan
penyerta dari kecemasan.
b. Faktor presipitasi
1) Faktor Eksternal
a) Ancaman Integritas Fisik
Meliputi ketidakmampuan fisiologis terhadap kebutuhan dasar
sehari-hari yang bisa disebabkan karena sakit, trauma fisik,
kecelakaan.
b) Ancaman Sistem Diri
Diantaranya ancaman terhadap identitas diri, harga diri,
kehilangan, dan perubahan status dan peran, tekanan
kelompok, social budaya.
2) Faktor Internal
a) Usia
Gangguan kecemasan lebih mudah dialami oleh
seseorang yang mempunyai usia lebih muda dibandingkan
individu dengan usia yang lebih tua.
b) Stressor
Stressor merupakan tuntutan adaptasi terhadap
individu yang disebabkan oleh perubahan keadaan dalam
kehidupan. Sifat stressor dapat berubah secara tiba-tiba dan
dapat mempengaruhi seseorang dalam menghadapi
kecemasan, tergantung mekanisme koping seseorang.
21
Semakin banyak stressor yang dialami mahasiswa, semakin
besar dampaknya bagi fungsi tubuh sehingga jika terjadi
stressor yang kecil dapat mengakibatkan reaksi berlebihan.
c) Lingkungan
Individu yang berada dilingkungan asing lebih mudah
mengalami kecemasan dibanding biladia berada dilingkungan
yang biasa dia tempati.
d) Jenis kelamin
Wanita lebih sering mengalami kecemasan dari pada
pria. Wanita memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi
disbanding kanpria. Halini dikarenakan bahwa wanita lebih
peka dengan emosinya, yang pada akhirnya mempengaruhi
perasaan cemasnya.
e) Pendidikan
Dalam Kaplan dan Sadock (2010), kemampuan
berpikir individu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.
Semakin tinggi tingkat pendidikan maka individu semakin
mudah berpikir rasional dan menangkap informasi baru.
Kemampuan analisis akan mempermudah individu dalam
menguraikan masalah baru.
Menurut Carpenito (2009), faktor yang mempengaruhi kecemasan
yaitu :38
a. Situasional (personal, lingkungan)
22
Lingkungan pembelajaran klinik sangat berpengaruh dalam
outcome mahasiswa saat dilingkungan pekerjaan. Eksplorasi
lingkungan pembelajaran mencerminkan area klinik yang sebenarnya
dan dapat memberikan kepada pengajar dalam proses pembelajaran
b. Maturasional
Seseorang dikatakan mencapai maturitas ketika mereka sudah
mencapai keseimbangan pertumbuhan fisiologis, psikososial dan
kognitif. Individu yang matur merasa nyaman dengan kemampuan,
pengetahuan dan respon yang telah mereka kembangkan selama
[Link]-orang yang matang terbuka untuk menerima
saran dan kritik yang membangun tanpa kehilangan kepercayaan
[Link] mempertimbangkan masukan dan ekomendasi orang lain
ketika membuat keputusan tetapi tidakterlalu terpengaruh atau
terintimidasi dengan orang lain. Perubahan itu dialami oleh dewasa
awal termasuk proses alami maturasi.
Kriteria diagnostik untuk gangguan kecemasan pada umumnya
adalah berusia 18 tahun atau [Link] maturasi individu akan
mempengaruhi tingkat kecemasan. Pada bayi kecemasan lebih
disebabkan karena perpisahan, lingkungan atau orang yang tidak
dikenal dan perubahan hubungan dalam kelompok sebaya. Kecemasan
pada remaja mayoritas disebabkan oleh perkembangan seksual.
Pada dewasa berhubungan dengan ancaman konsep [Link] diri
adalah pengetahuan individu tentang diri.
23
c. Tingkat Pendidikan
Individu yang berpendidikan tinggi akan mempunyai koping
yang lebih baik daripada yang berpendidikan rendah sehingga dapat
mengeliminir kecemasanyang terjadi.
d. Karakteristik Stimulus
1) Intensitas stressor
Seseorang dapat saja mencerapintensitas atau besarnya
stressor sebagai minimal, sedang atau berat. Makin besar stressor,
makin besar respon stress yang di [Link] dari
mentor dapat diatasi dengan melakukan training pada mentor dan
halini akan sulit diterima olehmaha siswa bila mentor tidak
bekerja secara maksimal.
2) Lamastressor
Memanjangnya terpapar stresor menurunkan kemampuan
seseorang mengatasi masalah karena sudah lelah dan kehabisan
tenaga.
3) Jumlah stressor
Jika pada waktu yang sama tertumpuk sejumlah stressor
yang harus dihadapi, sehingga apabila terjadi stressor kecil akan
dapat mengakibatkan reaksi yang berlebihan.
4. Alat Ukur Kecemasan
Teskecemasan telah dikonsep tualisasikan dalam berbagai cara
sepanjang tahun. Beberapa peneliti merujuk pada gangguan kognitif yang
24
terlibat dan orang lain untuk reaksi emosional. Ada kesepakatan bahwa
kecemasan dapat diklasifikasikan menjadi dua komponen, keadaan
dan ciri kecemasan.39
Alat ukur kecemasan yaitu Hamilton Rating Scalefo rAnxiety
(HRS-A).Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-
masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.
Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka antara 0-4, yang
artinya adalah nilai 0 tidak ada gejala (keluhan), nilai1gejala ringan, nilai2
gejala sedang, nilai 3 gejala berat, dan nilai 4 gejala berat sekali.
Kemudian masing-masing nilai angka dari1 4 kelompok gejala tersebut
dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat
kecemasan seseorang, yaitu total nilai kurang dari 14 tidak ada
kecemasan, 14-20 kecemasan ringan, 21-27 kecemasan sedang, nilai 28-
41 kecemasan berat dan nilai 42-56 kecemasan berat sekali.40
C. Aromaterapi
1. Pengertian Aromaterapi
Aromaterapi berasal dari kata aroma yang berarti harum atau
wangi, dan therapy yang dapat diartikan sebagai cara pengobatan atau
penyembuhan. Sehingga aromaterapi dapat diartikan sebagai suatu cara
perawatan tubuh dan atau penyembuhan penyakit dengan menggunakan
minyak essensial.15
Aromaterap iberarti pengobatan menggunakan wangi- wangian.
Istilah ini merujuk pada penggunaan minyak esensial dalam penyembuhan
25
holistic untuk memperbaiki kesehatan dan kenyamanan emosional dan
dalam mengembalikan keseimbangan badan.16Aromaterapi adalah terapi
yang menggunakan essential oil atau sari minyak murni untuk membantu
memperbaiki atau menjaga kesehatan, membangkitkan semangat,
menyegarkan serta menenangkan jiwa dan raga. Aromaterapi memiliki
manfaat yang sangat beragam, mulai dari pertolongan pertama sampai
membangkitkan rasa gembira.17
Aromaterapi adalah terapi atau pengobatan dengan menggunakan
bau-bauan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, bunga, pohon yang berbau
harum dan enak. Minyak astiri digunakan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, sering digabungkan untuk
menenangkan sentuhan penyembuhan dengan sifat terapeutik dari minyak
astiri.18
Menurut jurnal penelitian aromaterapi merupakan salah satu teknik
penyembuhan alternatif yang sebenarnya berasal dari sistem pengetahuan
kuno. Aromaterapi merupakan metode pengobatan yang menggunakan
minyak essensial dalam penyembuhan holistik untuk memperbaiki
kesehatan dan kenyamanan emosional serta mengembalikan
keseimbangan badan.19
Aromaterapi dapat didefinisikan sebagai penggunaan terkendali
essensial tanaman untuk tujuan terapeutik.20 Jenis minyak aromaterapi
yang umum digunakan yaitu:
26
a. Minyak eukaliptus, radiata ( Eucalyptus Radiata Oil )
b. Minyak Rosemary ( Rosemary oil )
c. Minyak Ylang – Ylang ( Ylang – Ylang oil )
d. Minyak Lavender ( Lavender oil )
e. Minyak Geranium ( Geranium oil )
f. Minyak Peppermint.
Terapi dengan menggunakan minyak esensial dapat dilakukan
secara internal maupun eksternal. Penggunaan cara terapi yang tepat akan
sangat membantu daya kerja bahan aktif sekaligus efisien dan akurat
dalam penggunaan sediaan aroma terapi. Meskipun demikian, setiap
bahan yang akan digunakan perlu diketahui terlenih dahulu efektifitas
bahan aktifnya. Hal ini bertujuan untuk memperoleh efek terapi yang
optimal dan tepat guna.15
2. SejarahAromaterapi
Aromaterapi telah digunakan sejak zaman Mesir kuno yang
memang terkenal dengan ilmu pengetahuan yang tinggi. Merekalah yang
menciptakan dan meramaikan dunia pengobatan, farmasi, parfum serta
kosmetik. Dari Mesir, aromaterapi dibawa ke Yunani, Cina, India
sertaTimur Tengah sebelum masuk ke Eropa di abad pertengahan. Pada
abad ke19 dimana ilmu kedokteran mulai terkenal, beberapa dokter pada
zaman itu tetap memakai minyak esensial dalam praktek sehari-hari
[Link] zamanaroma terapimodern, aromaterapi digali oleh Robert
Tisserand yang meniulis buku The Art of aromatherapy.21
27
Dewasa ini, riset membuktikan aneka penggunaan minyak aroma.
Riset kedokteran pada tahun-tahun belakang anini mengungkapkan fakta
bahwa bau yang kita cium memiliki dampak penting pada perasaan kita.
Menurut hasil penelitian ilmiah ,bau berpengaruh secara langsung
terhadap otak seperti obat. Misalnya, mencium lavender meningkatkan
rekuensi gelombang alfa terhadap kepala bagian belakang dan keadaan ini
dikaitkan dengan relaksasi.16
3. Aromaterapi Lavender
Dari minyak-minyak esensial tersebut, minyak lavender
merupakan minyak esensial yang paling populer. Minyak lavender berasal
dari semak yang sangat digemari di daerah mediterania. Istilah lavender
berasal dari kata lavandus, yang berarti membersihkan.17
Minyak lavender sangat aman dan bahkan dapat digunakan tanpa
dilarutkan untuk kulit. Minyak lavender juga dapat menyembuhkan
berbagai macam gangguan. Manfaat minyak lavender adalah merangsang
nafsu makan, sebagai tonik dan antispasmodik, menyembuhkan luka bakar
ringan dan berat, luka karena sayatan, rasa nyeri, memiliki efek anti septik
yang sangat kuat, digunakan dalam banyak persiapan kosmetik, sebagai
pengusir serangga, penyembuhan sakit dan nyeri otot, gangguan
pernafasan, influensa, gangguan pencernaan, gangguan alat kelamin –
buang air seperti Cystitis dan Dysmenorrhoea, sakit kepala dan
ketegangan pra menstruasi.22 Karena banyak sekali khasiatnya, minyak
lavender merupakan salah satu minyak terpopuler dalam aromaterapi.17
28
Kandungan kimia dari lavandula angustivolia ini sangat bervariasi
tergantung dari musim dan maturasi dari tanaman tersebut sewaktu
dipanen. Selain itu cara ekstrasi juga sangat berpengaruh terhadap
konsentrasi zat yang terdapat dalam minyak atisirinya. Tetapi dengan
metode destilasi uap minyak atsirinya dapat mengandung alfa-terpineol,
inalool dan linalil asetat dalam konsentrasi yang paling tinggi
dibandingkan dengan metode destilasi air superfisial.23
Nama minyak atsiri dari lavandula angustivolia ini adalah minyak
lavender dan biasanya diperoleh dengan ekstraksi dari bunga segar dan
dari kumpulan bunga pada tangkainya dengan menggunakan metode
destilasi uap. Kandungan minyakatsiri yang didapat dengan metode ini
adalah 1-3%.24
Berikut ini efek farmakologi untuk relaksasi yang dapat
ditimbulkan dari minyak lavender adalah :
a. Memiliki sifat analgesik.
b. Memiliki sifat antispasmodik (menurunkan kontaktilitas otot lurik).
c. Meneimbangkan sistem saraf tepi.
d. Memiliki sifat menenangkan.
e. Memiliki efek sedatif
f. Menurunkan frekuensi jantung
g. Antidepresan
29
4. Manfaat Aromaterapi
Aromaterapi memiliki banyak khasiat dan manfaat yang cukup
banyak. Adapun manfaat penting yang dapat diperoleh dari metode
aromaterapi adalah sebagai berikut:
a. Merupakan bagian utama dari parfum keluarga, yaitu dengan
memberikan sentuhan keharuman dan suasana wewangian yang
menyenangkan, ketika sedang berada dirumah maupun berpergian.
b. Merupakan salah satu metode perawatan yang tepat dan efisien dalam
menjaga tubuh agar tetap sehat
c. Banyak dimanfaatkan dalam pengobatan, khususnya dalam membantu
beragam penyakit, meskipun lebih ditujukan sebagai terapi pendukung
(support therapy).
d. Dapat membantu kelancaran fungsi sistem tubuh (improving body
function), antara lain, dengan cara mengembalikan keseimbangan
bioenergi tubuh.
e. Membantu meningkatkan stamina dan gairah seseorang, walaupun
sebelumnya tidak atau kurang memiliki gairah dan semangat hidup.
f. Dapat menumbuhkan perasaan yang tenang pada jasmani, pikiran dan
rohani (soothing the physical, mind and spiritual), dapat menciptakan
suasana yang damai, serta dapat menjauhkan dari perasaan cemas dan
gelisah.15
30
5. Teknik pemberian aroma terapi
Penyerapan minyak esensial ke dalam system sirkulasi
membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk diserap sepenuhnya oleh
system tubuh sebelum dikeluarkan kembali melalui paru-paru, kulit dan
urine dalam waktu beberapa jam kemudian.25 Berikut ini adalah beberapa
teknik yang lazim digunakan dalam aromaterapi:
a. Aromaterapi Inhalasi (menggunakan oil burner)
Penghirupan dianggap sebagai cara penyembuhan paling
langsung dan paling cepat, karena molekul- molekul minyak esensial
yang mudah menguap tersebut bertindak langsung pada organ-organ
penciuman dan langsung dipersepsikan oleh otak. Metode yang
populer adalah penghirupan yang dianggap bermanfaat. Ketika
aromaterapi dihirup, molekul yang mudah menguap dari minyak
tersebut dibawa oleh arus udara ke “ atap “hidung di mana silia –silia
yang lembut muncul dari sel-sel reseptor. Ketika molekul-molekul itu
menempel pada rambut-rambut tersebut, suatu pesan elektrokimia
akan ditransmisikan melalui saluran olfactory ke dalam system limbic.
Hal ini akan merangsang memori dan respons emosional.15
Hipotalamus berperan sebagai relay dan regulator,
memunculkan pesan-pesan yang harus disampaikan kebagian lain otak
serta bagian badan yang lain. Pesan yang diterima itu kemudian diubah
menjadi tindakan yang berupa pelepasan senyawa neurokimia yang
menyebabkan euforia, relaks, dan sedatif.17
31
b. Aromaterapi Massase atau Pijat
Massase merupakan metode perawatan yang paling banyak dikenal
dalam kaitannya dengan aroma terapi. Minyak esensial mampu
menembus kulit dan terserap ke dalam tubuh, sehingga memberikan
pengaruh penyembuhan dan menguntungkan pada berbagai jaringan
dan organ internal.17
c. Aromaterapi Mandi
Mandi yang sebagian besar orang merasakan manfaatnya untuk
relaksasi adalah mandi panas yang sebelumnya telah ditambahkan
persiapan wewangian yang memiliki kasiat tertentu. Mandi dapat
menenangkan dan melemaskan, meredakan sakit dan nyeri dan
jugadapat menimbulkan efek rangsangan, menghilangkan keletihan
dan mengembalikan tenaga.
d. Aromaterapi Kompres
Kompres efektif untuk penyembuhan berbagai macam sakit, nyeri otot
dan rematik, ruam-ruam dan sakit kepala. Untuk nyeri akut kompres
harus diulang – ulang bila telah mencapai blood temperature, jika
tidak maka kompres harus dibiarkan pada komposisinya selama
minimal dua jam dan yang lebih baik adalah semalam.
6. Cara Menggunakan Aromaterapi (aromaterapi Lavender dan
aromaterapi eucalyptus) pada ibu bersalin
Lavender dan eucalyptus membantu meningkatkan kekebalan
tubuh sekaligus bersifat analgesik yaitu mengurangi rasa nyeri. Salah satu
32
cara menggunakan aroma lavender adalah dengan cara dihirup termasuk
salah satu cara terapi yang sudah berumur tua. Terapi inhalasi sangat
berguna untuk mengatasi dan meringankan keadaan – keadaan yang
berhubungan dengan kondisi kesehatan tubuh seseorang. Adapun maksud
dari cara terapi ini adalah untuk menyalurkan khasiat zat – zat yang
dihasilkan oleh minyak esensial secara langsung. Yaitu, dengan
mengalirkan uap minyak esensial secara langsung atau melalui alat bantu
aroma terapi.15
Adapun cara menggunakan aromaterapi adalah sebagai berikut :
mengisi wadah tungku dengain air 5cc, kemudian tambahkan 3 tetes / 4
tetes minyak essensial aromaterapi lavender dan minyak kenanga dalamair
hangat tersebut, selanjutnya menyalakan lilin dibawah mangkuk tersebut
selama 10 menit.15
33
D. Kerangka Teori
Persalinan Faktor predisposisi
kala I a. Biologis: nyeri
persalinan,riwayat komplikasi -
b. Psikologis: takut akankelainan
bentuk tubuh, takut melukai
Kecemasan
bayi, pengalaman masa lalu
c. Sosiokultura: pengetahuan,
dukungan, sosial ekonomi
Penanganan
Farmakolog
Nonfarmakologi
i
1. Benzodiazepine
2. Alprazolam Aromaterapi lavender Aromaterapi eucalyptus
Meningkatkan aktivitas gelombang alfa yang
merupakan penanda seseorang dalam keadaan tenang,
dapat merangsang otak, dan membangun konsentrasi
Perasaan tenang pada jasmani, pikiran dan rohani
Kecemasan (soothing the physical, mind and spiritual), dapat
berkurang menciptakan suasana yang damai, serta dapat
menjauhkan dari perasaan cemas dan gelisah
Gambar 2.1 Kerangka Teori29, 33
34
E. Kerangka Konsep
Aromaterapi
lavender
Kecemasan
Persalinan
Aromaterapi
eucalyptus
Bagan 2.2. Kerangka Konsep
F. Hipotesis
Ha : Ada perbedaan efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus
dengan aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu
impartu kala I di RSUD Soewondo Kendal.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan
metode Pre-eksperimen. “penelitian pre-eksperimen hasilnya merupakan
variabel dependen bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen.”
Hal ini dapa tterjadi, karena tidak adanya varia belkontrol, dan sampel tidak
dipilih secara random.41
Desain penelitian merupakan rancangan bagaimana penelitian
dilaksanakan. Rancangan penelitian ini adalah pre-post two treatment
comparison.. Pendekatan yang digunakan adalah case control (kasus kontrol),
yaitu metode penelitian yang menilai hubungan paparan dan penyakit dengan
cara menentukan sekelompok orang berpenyakit (kasus) dan sekelompok
orang tidak berpenyakit (kontrol) kemudian membandingkan frekuensi
paparan pada kedua kelompok.42Berikut merupakan tabel desain penelitian
pre-post two treatment comparison.
Tabel3.1
Desainpenelitian pre-post two treatment comparison
Pretest Treatment Posttest
O1 X1 O2
O3 X2 O4
35
36
Keterangan:
O1 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sebelum pemberian
aroamterapi lavender
O2 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sesudah pemberian
aroamterapi lavender
O3 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sebelum pemberian
aroamterapi eucalyptus
O4 : kecemasan persalinan kala I pada ibu bersalin sesudah pemberian
aroamterapi eucalyptus
X1 : pemberian aroma terapi lavender
X2 : pemberian aromaterapi eucalyptus
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei – Desember 2019. Adapun
lokasi penelitian di RSUD Soewondo Kendal.
C. Populasi, Sampel Penelitian dan Teknik Sampling
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari suatu variable yang menyangkut
masalah yang diteliti.37Populasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal. Populasi jumlah
seluruh ibu bersalin kala I di RSUD Soewondo Kendal sebanyak 52 ibu
bersalin.
37
2. Sampel
Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau
sebagai jumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi.37 Besaran
sampel ditentukan menggunakan Roscoe, memberikan acuan umum untuk
menentukan ukuran sampel.37
a. Ukruan sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk
kebanyakan penelitian
b. Jika sampel dipecah kedalam sub sampel (pria atau wanita, junior atau
senior dan sebagainya) ukuran sampel minimum 30 untuk tiap
kategori adalah tepat.
c. Dalam penelitian multivariate (termasuk analisis regresi linier
berganda), ukuran sampel sebaiknya 10 x lebih besar dari indicator
dalam penelitian
d. Untuk penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eksperimen
yang ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran
sampel kecil antara 10-20.
Berdasarkan penjelasan teori diatas penelitian ini termasuk ke dalam
penelitian eksperimental. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah
10 responden dalam masing – masing kelompok. Dengan jumlah 20
responden. Terdiri dari 10 ibu kelompok intervensi dan 10 ibu kelompok
kontrol.
38
a. Kriteria Inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang dipenuhi oleh setiap
anggota populasi yang dapat diambil sampel, kriteria inklusi dalam
penelitian ini adalah:38
1) Ibu bersalin tidak mengalami komplikasi persalinan
2) Bersedia menjadi responden
b. Kriteria Eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat
diambil sebagai sampel.
1) Ibu yang tidak ada di tempat saat penelitian
2) Ibu bersalin yang menjalani persalinan sectio caesarea
3. Tehnik Sampling
Teknik sampling adalah suatu proses seleksi sampling yang
digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada.42 Pengambilan
sampel dengan cara nonprobability sampling, dengan metode yang
digunakan accidental sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan
berdasarkan kebetulan yaitu responden yang secara kebetulan atau
insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila
dipandang orang yang ditemui itu cocok sebagai sumber data. Pada
penelitian ini peneliti mengambil sampel dengan menindentifikasi jumlah
responden di RSUD dr. H. Soewondo Kendal.
39
D. Definisi Operasional
Tabel 3.1. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala
1 Aroma terapi Pemberian aromaterapi SOP - -
lavender lavender bentuk essensial oil
yang ditetes di atas tisu dan
digunakan dengan cara
dihirup melalui hidung.
Proses ini dilakukan selama
15 menit.
2 Aromaterapi Pemberian Aromaterapi SOP - -
eucalyptus eucalyptus kepada ibu
bersalin kala I fase aktif
2 Tingkat Tingkat kecemasan Kuesioner Skala Rasio
Kecemasan responden pada saat HARS kecemasan
pengambilan data karena pada ibu
menghadapi persalinan yang bersalin dari
diukur oleh peneliti 0 – 56
menggunakan Kuesioner berdasarkan
HARS kuesioner
HARS
E. Instrumen Penelitian
Alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan
data agar mempermudah dalam memperoleh informasi sehingga mudah
untuk diolah.37Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. lembar observasi skala nyeri persalinan kala I sebelum dan sesudah
diberikan aromaterapi Lavender dan eucalyptus.
2. SOP Aromaterapi eucalyptus
3. SOP Aroma terapi lavender
4. Lembar Observasi
5. Informed Choice
6. Lembar PSP
40
F. Teknik pengumpulan data
1. Jenis Data
Pengumpulan data dilakukan menggunakan alat ukur kuesioner
yang telah dibuat oleh peneliti dengan mengacu pada kepustakaan yang
terdiri dari beberapa pertanyaan dan responden diminta untuk mengisi
sendiri kuesioner yang [Link]-data yang menyebar pada masing-
masing sumber data/subyek penelitian perlu dikumpulkan untuk
selanjutnya diambil kesimpulan. Menurut sumbernya, data dibedakan
menjadi dua jenis:
a. Data primer
Data primer disebut juga data tangan pertama. Data primer diperoleh
secara langsung dari responden dengan cara mengisi lembar
observasi tingkat kecemasan persalinan kala I fase aktif ibu bersalin
di RSUD Soewondo Kendal.
b. Data sekunder
Disebut juga dengan data tangan kedua yang diperoleh lewat pihak
lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari subyek penelitian, berupa
data dokumentasi atau laporan yang tersedia di RSUD Soewondo.
2. Langkah penelitian
Penelitian ini meliputi tiga tahap yaitu tahap persiapan penelitian,
tahap pelaksanaan penelitian dan tahap akhir penelitian.
a. Tahap Persiapan Penelitian
1) Studi pendahuluan
41
Melakukan studi literatur terhadap teori yang relevan mengenai
model pembelajaran yang akan digunakan.
a) Konsultasi dengan pihak yang terkait dan responden mengenai
waktu penelitian, populasi dan sampel yang akan dijadikan
sebagai subjek dalam penelitian.
b) Pembuatan instrumen penelitian berupa tesuraian untuk
mengukur keterampilan proses sains dan hasil belajar,
lembarobservasi untuk mengukur keterlaksanaan model yang
digunakan.
(1) Menjudgment instrumen tes kepada dosen ahli
(2) Melakukan uji coba instrumen tes.
(3) Menganalisis hasil uji coba instrumen penelitian untuk
mengetahui layak atau tidaknya soal tersebut digunakan
sebagai instrumen penelitian.
2) Tahap Pelaksanaan Penelitian
a) Setelah peneliti mendapatkan ijin dari Dinas Kesehatan dalam
kemudian peneliti memberikan tembusan pada kepala RSUD
Soewondo.
b) Menentukan periode dan teknik pengambilan populasi
c) Menghitung jumlah sampel yang akan dilakukan pemberian
aroma therapi
d) Melakukan penapisan terhadap calon sampel untuk memenuhi
criteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan
42
e) Peneliti mengundang calon responden, kemudian
memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, manfaat, dan
prosedur penelitian
f) Peneliti meminta ibu membuat surat permohonan menjadi
respon dendan menandatangani lembar inform consent agi yang
bersedia menjad iresponden penelitian
g) Peneliti mencatat data responden termasuk no telephone
responden untuk pemberitahuan pelaksanaan pemberian aroma
therapi berikutnya
h) Peneliti melakukan pengukuran tingkat kecemasan awal
responden sebelum pemberian aroma therapi lavender dan
Aromaterapi eucalyptus dicatat dalam lembar observasi hasil
pengukuran tekanan darah
i) Peneliti melakukan pengukuran tingkat kecemasan awal
responden sebelum pemberi anoma therapi lavender dan
Aromaterapi eucalyptus dicatat dalam lembar observasi hasil
pengukuran tekanan darah
j) Peneliti memberikan therapi lavender dan Aromaterapi
eucalyptus
k) Peneliti melakukan pengukuran tingkat kecemasan sesudah
pemberi anoma therapi lavender dan Aroma terapi eucalyptus
dicatat dalam lembar observasi hasil pengukuran tekanan
darah
43
3) Tahap Akhir Penelitian
a) Mengolah data hasil penelitian serta menganalisis instrumen
yang lain seperti lembar observasi.
b) Menganalisis data hasil penelitian dan membahas temuan
penelitian
c) Memberikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data.
d) Memberikan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian.
44
Populasi
N = 52
Sampel
n = 32
Kelompok 1 (aromaterapi lavender) Kelompok 2 (aromaterapi eucalyptus)
n = 16 n = 16
Pre Test Pre Test
Ukur Kecemasan UkurKecemasan
aromaterapi aromaterapi eucalyptus
lavenderLama 10- Lama 10–15menit
15menit
Post Test Post Test
Ukur Kecemasan Ukur Kecemasan
Hasil Hasil
Uji Normalitas
( SaphiroWilk )
Tidak Normal
Normal
Independent t test Mann Whitney
Ha :Ada perbedaan efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan aromaterapi
lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di RSUD Soewondo Kendal.
H0 :tidak ada perbedaan efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan
aromaterapi lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di RSUD
Soewondo Kendal.
Bagan 4.1 Alur Penelitian
45
G. Teknik Pengolahan Data
Pengolahan dapat dilakukan dengan langkah sebagi berikut :
1. Editing
Editing dilakukan setelah semua data yang kita kumpulkan melalui
kuesioner [Link] pertama yang kita lakukan adalah
memeriksa kembali semua kuesioner tersebut satu persatu.
2. Scoring
Setelah diberikan lembar observasi HARS, maka dilakukan pemberian
skor pada semua [Link] adalah mempermudah tabulasi dan
proses analisis data dengan menggunakan metode SPSS. Pada lembar
observasi apabila tidak ada gejala nilainya “0” (nol), terdapat satu gejala
nilainya “1” (satu), terdapat separuh gejala nilainya “2” (dua), lebih dari
separuh gejala nilainya “3” (tiga), dan apabila terdapat semua gejala
nilainya “4”(empat). Jika jawaban dijumlahkan dan hasilnya <14 maka
ibu dinyatakan tidak ada kecemasan, jika jawaban dijumlahkan dan
hasilnya >14 maka ibu dinyatakan ada kecemasan.
3. Coding
Memeberikan tanda kode-kode pada setiap jawaban yang dijawab
responden terhadap pertanyaan yang telah diajukan, hal ini dimaksudkan
untuk mempermudah waktu pengadaan tabulasi dan analisis data.
Kode 1 : aroma therapi lavender
Kode 2 : Aromaterapi eucalyptus :
46
4. Tabulating
Yaitu pengelompokan data kemudian dengan menggunakan daftar
distribusi frekuensi memasukan data sesuai variabel-variabel pertanyaan
dan item-itemnya dilanjutkan dengan mengambil kesimpulan dari hasil
tabel-tabel yang dikenakan.
5. Processing
Dilakukan dengan cara mengenter data setelah diedit dari coding, dan
ditabulasi bisa dengan manual maupun dengan computer.
6. Cleaning
Kegiatan pengecekan kembali data yang sudah ada kesalahan atau
tidak.
H. Analisa Data
Analisa data adalah di lakukan untuk menjawab suatu hipotesa dalam
penelitian, dan mempergunakan uji statistik yang sesuai dengan variabel
penelitian. Dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. Analisa Univariat.
Analisis univariat merupakan metode analisis yang paling
mendasar terhadap suatu data.41Model analisis univariat dalam
penelitian ini menampilkan angka hasil pengukuran dengan ukuran
tendensi sentral. Ukuran tendensi sentral meliputi perhitungan mean,
median, kuartil, desil persentil, dan modus.
47
2. Analisa Bivariat.
Analisis bivariat yaitu analisis yang dilakukan terhadap dua variabel
untuk mengetahui hubungan dari kedua variabel. Analisis yang
menghubungkan satu variabel independen dengan satu variabel
dependen, maka di gunakan uji normalitas jika data berdistribusi normal
maka menggunakan tabel parametrik, tapi jika data berdistribusi tidak
normal maka di gunakan tabel non parametrik. Shapiro Wilk digunakan
jika subyek atau sampel kurang dari 50. Jika probalitas ≥ 0,05 maka
data tersebut berdistribusi normal,Jika probalitas <0,05 maka data
tersebut berdistribusi tidak normal.
Perbedaan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah
pemberian aromaterapi eucalyptus pada ibu bersalin kala I di RSUD
Soewondo Kendal, dilakukan uji normalitas bila data data terdistribusi
normal maka uji bivariat menggunakan uji Paired Sampel T-test apabila
data berdistribusi tidak normal maka menggunakan Wilcoxon.
Perbedaan kecemasan persalinan kala I sebelum dan sesudah
pemberian aromaterapi lavender pada ibu bersalin kala I di RSUD
Soewondo Kendal. Dilakukan uji normalitas bila data data terdistribusi
normal maka uji bivariat menggunakan uji Paired Sampel T-test apabila
data berdistribusi tidak normal maka menggunakan Wilcoxon.
Efektivitas pemberian aromaterapi eucalyptus dengan aromaterapi
lavender terhadap kecemasan pada ibu impartu kala I di RSUD
Soewondo Kendal. Data diuji dengan independent T-test, namun karena
48
termasuk uji parametrik maka data perlu dilakukan uji normalitas
terlebih dahulu dengan menggunakan uji Shapiro Wilk karena jumlah
responden < 50, jika data berdistribusi normal (p value> 0,05) maka
data selanjutnya diuji dengan independent T test, namun jika data
berdistribusi tidak normal selanjutnya data diuji dengan Mann-Whitney.
I. Etika Penelitian
Etika penelitian merupakan bagian yang penting dalam penelitian
keperawatan. Hal ini dikarenakan objek dalam penelitian keperawatan
menggunakan manusia. Manusia memiliki hak-hak asasi yang harus
dihormati oleh peneliti. Etika penelitian yang perlu dilakukan meliputi
antara lain:31 Etika dalam mendapatkan data meliputi :
1. Lembar persetujuan menjadi responden (inform consent)
Lembar persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti.
Dengan tujuan agar responden mengerti maksud dan tujuan penelitian
yang dilakukan. responden bersedia untuk .
2. Anonimity ( tanpa nama)
Demi untuk menjaga kerahasiaan responden maka peneliti tidak
mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data
(lembar kuesioner ) cukup dengan menberikan kode – kode pada
masing –masing lembar pengumpulan data.
49
3. Confidentiality ( kerahasiaan )
Setiap informan memiliki hak mengundurkan diri, sehingga informan
dapat menyatakan untuk tidak ikut sertakan dalam penelitian dengan
alasan tertentu. Dalam menentu etika penelitian yang subyeknya
adalah manusia, peneliti berpedoman pada 3 prinsip dasar.